P. 1
Aspek Hukum Penyertaan Modal Pemerintah Sumatera Utara Pada PT. Bank Sumut_Agung Yuriandi

Aspek Hukum Penyertaan Modal Pemerintah Sumatera Utara Pada PT. Bank Sumut_Agung Yuriandi

|Views: 1,256|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Pemprovsu sebagai penguasa di daerah Sumatera Utara berkewajiban untuk meningkatkan PARD masyarakat daerahnya. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan bank pembangunan daerah. Hal tersebut ditempuh agar PARD meningkat, penerimaan PAD juga meningkat.... Namun, yang menjadi kejanggalan adalah DPRD dan Pemprovsu masih bingung ingin menyertakan APBD ke PT. Bank Sumut ataukah membangun sarana dan prasarana rakyat....
Pemprovsu sebagai penguasa di daerah Sumatera Utara berkewajiban untuk meningkatkan PARD masyarakat daerahnya. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan bank pembangunan daerah. Hal tersebut ditempuh agar PARD meningkat, penerimaan PAD juga meningkat.... Namun, yang menjadi kejanggalan adalah DPRD dan Pemprovsu masih bingung ingin menyertakan APBD ke PT. Bank Sumut ataukah membangun sarana dan prasarana rakyat....

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Mar 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2015

1

ASPEK HUKUM PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA PADA PT. BANK SUMUT
Oleh : Agung Yuriandi Medan 2011

2

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Semakin berkembangnya kegiatan perekonomian di suatu daerah maka,

diperlukan sumber-sumber penyediaan modal guna membiayai kegiatan usaha. Dengan demikian modal yang diperlukan untuk kegiatan suatu usaha dapatlah disebut juga sebagai faktor produksi yang sejajar dengan faktor-faktor produksi lainnya seperti tenaga kerja, peralatan mesin-mesin, bahan baku, kemampuan teknologi, manajemen dan lain sebagainya. Adapun sumber utama dari modal tersebut salah satunya adalah Bank. Aktivitas pertama dalam dunia perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat luas yang dikenal dengan istilah funding. Pengertian menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau mencari dana dari masyarakat luas. Setelah memperoleh dana dalam bentuk simpanan dari masyarakat, maka oleh perbankan dana tersebut disalurkan kembali atau dijualkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan istilah kredit (lending). Dalam pemberian kredit juga dikenakan jasa pinjaman kepada penerima kredit (debitur) dalam bentuk bunga dan biaya administrasi. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dapat berdasarkan bagi hasil atau penyertaan modal. 1 Bentuk hukum suatu lembaga yang berusaha di bidang perbankan berdasarkan ketentuan terakhir, yakni Pasal 21 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, hanya terdiri

Hartono Ginting, “ Analisis Pengaruh Rasio Keuangan dan Kebijakan Mon eter terhadap Persetujuan Pemb erian Kredit Modal Kerja Pada PT. Bank Sumut Cabang Utama Medan”, (Medan : Tesis, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2010), hal. 1.

1

3

dari : 1). Perseroan Terbatas; 2). Koperasi; dan 3). Perusahaan Daerah.2 Sementara itu, untuk Bank Pembangunan Daerah dan Bank Perkreditan Rakyat – kecuali bentukbentuk usaha di atas – diberikan ketentuan “bentuk lain yang ditetapkan dengan peraturan daerah” yang tidak jelas bentuknya, apalagi yang diakui oleh undangundang yang berkaitan dengan bentuk hukum perusahaan yang berlaku di Indonesia; apakah kembali ke bentuk perusahaan dagang biasa (perseorangan), bentuk komanditer atau kembali lagi ke bentuk persero yang sudah dihindari oleh UndangUndang No. 10 Tahun 1998.3 Adapun kata “Persero” dalam Pasal 21 Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 masih ada, dalam undang-undang yang baru (Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan) juga masih dipertahankan, perkataan “Persero” ini kelanjutan dari ketentuan Pasal 1 Undang-Undang No. 9 Tahun 1969.4 Banyak dari Bank M ilik Negara sekarang ini menyebutkan namanya sebagai “PT.(Persero)” sebagai akibat dari perubahan pada Pasal 21 Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 (dari yang semula bentuk hukumnya Perusahaan Negara yang masing-masing berdasarkan undangundang khusus dan bilamana diubah lagi akan memerlukan dana dan proses yang

Undang-Und ang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan At as Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790. 3 Gunarto Suhardi, Usaha Perban kan Dalam Perspektif Huku m, (Yogjakarta : Kanisius, 2009), hal. 29. 4 Undang-Undang No. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Und ang No. 1 Tahun 1969 (Lemb aran Neg ara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890 ) tentang Bentuk-B entuk Usaha Neg ara M enjadi Undang -Undang, Lembaran Negara Republik Indon esia Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lemb aran Neg ara Republik Indonesi a Nomor 2904.

2

4

panjang), tampaknya pembentuk undang-undang sekarang ini menganggap “Persero” tersebut sudah tidak ada artinya lagi. 5 M engenai Perusahaan Daerah sebagai salah satu bentuk hukum perusahaan yang diizinkan untuk berusaha di bidang perbankan, semula ketentuannya mengacu pada kewenangan daerah berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962, dimana Peraturan Daerah (Perda) yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) memberikan wewenang pada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendirikan Perusahaan Daerah yang berusaha di bidang perbankan. 6 Ketentuan ini memperoleh nuansa yang baru, yakni dengan berlakunya Otonomi Daerah yang ditetapkan dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 7 dan UndangUndang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 8 M enurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dalam Bagian M enimbang huruf a., menyebutkan : “bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Gunarto Suhardi, Loc.cit., hal. 29-30. Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 59. 7 Undang-Und ang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Lemb aran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomo r 4437. 8 Undang-Und ang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keu angan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Neg ara Republik Indonesia Nomor 4438.
6 5

5

Bertolak dari ketentuan di atas secara tersirat ada pemisahan kekuasaan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka Pemerintah Daerah perlu berdaya upaya sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah. Dalam ketentuan perimbangan keuangan mengatur tentang hubungan antara pusat dan daerah agar adil dan selaras. Dalam hal ini, pendirian bank daerah baik milik Pemda maupun Swasta Daerah sangat bermanfaat bagi daerah, karena selain memperlancar keuangan daerah juga untuk memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD).9 Bank Sumut atau dulunya disebut Bank Pemerintah Daerah Sumatera Utara (BPDSU) adalah sebuah Lembaga Keuangan yang berfungsi untuk mengumpulkan uang yang ada di daerah, atau dapat juga disebut dengan tempat Pemerintah Daerah melakukan penyimpanan Anggaran Belanja Pemerintah Daerah (ABPD).10 Usaha Pemda dalam mendirikan bank-bank daerah dan perusahaan-perusahaan daerah ini jauh lebih sehat daripada menggantungkan diri untuk memperoleh PAD dari pajak atau pungutan-pungutan daerah semata, yang terasa membebani rakyat dan pada tahun 2010 ini justru digalakkan Pemda. Prinsipnya adalah bahwa PAD berasal dari pajak daerah, maka terlebih dahulu harus ada Pendapatan Asli Rakyat Daerah (PARD) sebab bagaimana mungkin rakyat membayar pajak daerah kalau tidak ada pendapatan rakyat terlebih dahulu. Usaha Pemda untuk menggerakkan perekonomian daerah yang bukan hanya semata-mata menggantungkan diri pada sumber kekayaan alam daerah adalah hal yang penting. Perekonomian daerah yang berasal dari

Gunarto Suhardi, Op.cit., hal. 30. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendah araan Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Neg ara Republik Indonesia Nomo r 4355.
10

9

6

kreativitas warga, menarik investor, dan mengembangkan industri teknologi tepat guna bukan hanya dapat dan menjadi hak daerah, tetapi berdasarkan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 justru menjadi kewajiban daerah. 11 Di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dikenal ada 3 (tiga) unsur dari suatu perusahaan yaitu : pengurus perusahaan (direksi), pengawas perusahaan (komisaris), dan pemegang saham. Permodalan dalam suatu bank daerah yang sudah pasti berasal dari pemegang saham. Pemegang saham bertugas untuk menyuntikkan modal yang kegunaannya tidak lain adalah untuk menunjang operasional bank. 12 M odal adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik (pemegang saham) dalam rangka pendirian badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank di samping memenuhi peraturan yang ditetapkan. Dalam perkembangan kegiatan operasi perusahaan modal tersebut dapat berkurang akibat terjadinya kegagalan atau kerugian usaha. Pertambahan modal berasal dari keuntungan usaha atau sumber lainnya yang diperoleh. Selain itu posisi modal juga akan mempengaruhi keputusan-keputusan manajemen dalam hal pencapaian tingkat laba di satu pihak dan kemungkinan timbul resiko di pihak lain. Permodalan yang terlalu besar, akan dapat mempengaruhi jumlah perolehan laba bank. Sedangkan modal yang terlalu kecil di samping akan membatasi kemampuan ekspansi bank juga akan mempengaruhi

Gunarto Suhardi, Loc.cit., hal. 30. Rachmadi Usman, Aspek-Asp ek Hukum Perbankan di Indonesia, (Jak arta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 112-113.
12

11

7

penilaian khsusnya para deposan13, debitor dan juga pemegang saham bank. Dengan kata lain, besar kecilnya permodalan bank akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan keuangan bank yang bersangkutan.14 Penggunaan modal bank secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan berbagai tujuan guna menunjang kegiatan operasional bank. Jumlah modal suatu bank dianggap tidak mencukupi apabila tidak memenuhi maksud-maksud tersebut. Dalam manajemen bank umum penetapan jumlah kebutuhan modal merupakan masalah yang cukup kompleks. Kesulitan tersebut antara lain menentukan penggunaan dan kebutuhan modal bank. Pada dasarnya memutuskan tujuan modal jauh lebih sederhana karena tujuan modal bank dengan modal perusahaan non bank dapat dikatakan tidak jauh berbeda. 15 Fungsi utama modal bank umum pada prinsipnya ada 3 (tiga), yaitu fungsi operasional, fungsi perlindungan, dan fungsi pengaturan. Dari ketiga fungsi utama tersebut, fungsi modal bank dapat disimpulkan untuk16 : 1. M elindungi deposan dengan menyanggah semua kerugian atau bila terjadi insolvensi dan likuidasi, terutama bagi sumber dana yang tidak diasuransikan; 2. Untuk memenuhi kebutuhan gedung kantor, inventaris guna menunjang kegiatan operasional dan aktiva tidak produktif lainnya; 3. M emenuhi ketentuan permodalan minimum, yaitu untuk menutupi

kemungkinan terjadi kerugian pada aktiva yang memiliki resiko yang tidak
Deposan adalah orang yang melakuk an deposito pada sebuah bank dan boleh mengambil bunganya terhadap uang y ang didepositokan setiap bulannya. Sumber : Gun arto Suhardi, Op.cit., hal. 109. 14 Rachmadi Usman, Loc.cit. 15 Ibid. 16 Ibid.
13

8

dapat diperkirakan, sehingga operasi bank dapat tetap berjalan tanpa mengalami gangguan yang berarti; 4. Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat mengenai kemampuan bank memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo dan memberi keyakinan mengenai kelanjutan operasi bank meskipun terjadi kerugian.

Dengan demikian, modal merupakan salah satu faktor yang penting bagi bank dalam rangka pembangunan usaha dan menampung resiko kerugian. Oleh karena itu, Bank Indonesia selaku pemegang otoritas moneter melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/KEP/DIR tanggal 29 M ei 1993 mewajibkan semua bank untuk menyediakan modal minimum sebesar 8% (delapan persen) dari aktiva tertimbang menurut resiko. Penetapan ini sejalan dengan pedoman permodalan yang berlaku secara internasional seperti yang ditetapkan Bank for International Settlement. Penetapan persentase modal minimum bank tersebut mengingat kegiatan perbankan Indonesia dewasa ini secara bertahap mengikuti globaliasi perbankan. Agar perbankan Indonesia dapat berkembang secara sehat dan mampu bersaing dengan perbankan internasional, permodalan bank senantiasa harus mengikuti ukuran yang berlaku secara internasional seperti yang ditetapkan Bank for International Settlement, dimana masing-masing negara dapat melakukan penyesuaian dalam penerapan prinsip-prinsip perhitungan permodalan dengan memperhatikan kondisi perbankan setempat. Oleh karena itu, dalam penerapan perhitungan modal di Indonesia terdapat beberapa penyesuaian dengan usaha yang telah dilakukan oleh

9

dunia perbankan di Indonesia, namun secara umum prinsip -prinsip yang ditetapkan oleh Bank for International Settlement telah diterapkan. 17 M odal standar bank sebagaimana dimaksud oleh Bank for International Settlement Part 2 : The First Pillar – Minimum Capital Requirements dalam Basel II : International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Framework – Comprehensive Version June 2006, adalah sebagai berikut 18 : “I. Calculation of minimum capital requirements, in Act No. 40 : Part 2 presents the calculation of the total minimum capital requirements for credit, market and operational risk. The capital ratio is calculated using the definition of regulatory capital and risk-weighted assets. The total capital ratio must be no lower than 8%. Tier 2 capital is limited to 100% of Tier 1 capital”.

Sejalan dengan isi Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum, pada Pasal 2 ayat 1 yang mengatakan bahwa : “Bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% (delapan perseratus) dari Aktiva Tertimbang M enurut Resiko (ATMR) terhitung sejak akhir bulan Desember 2001”. 19

Ibid., hal. 114. Bank fo r Intern ational Settlement, International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Work June 2006, (Basel : Basel Committee on Banking Supervision Press & Communications, 2006), hal. 12. 19 Dalam perbank an baik Bank Konv ensional maupun Bank Syariah ada aturan d ari Bank Indonesia yaitu mengenai kemampu an menanggung resiko Bank tersebut terutama terhad ap pembiayaan/kredit, pendanaan dan permodalan. Untuk mengukur resiko tersebut dibuatkan aturan d an rasio yang tel ah ditetapk an Bank Indon esia, dan disebut d engan ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Resiko). Dimana p erbank an diwajibkan memiliki ATMR minimal 8%, apabila kurang d ari 8% mak a akan mempeng aruhi tingkat kes ehatan Bank t ersebut. Kaitanny a deng an pembiay aan adalah agar ATMR dikurangi dari 50% menjadi 25%, terkait dengan m asalah resiko ters ebut, mempengaruhi nilai ATMR dan kesehatan Bank menjadi menurun. Akhirnya akan sang at berp engaruh terhad ap modal dan kinerja, karen a kalau nilai ATMR menurun terus bisa jadi harus menambah modal disetor k e Bank tersebut. Sumber : Bank Indonesia, International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Fra mework Jun e 2004, Uno ffi cial Translation by Directo rate o f Banking Research and Regulation, (Jakarta : Bank Indonesia, 2004), hal. 16.
18

17

10

Kewajiban penyediaan modal minimum tersebut berlaku bagi semua bank, termasuk Bank Pembangunan Daerah. Dalam hal bank yang berkantor pusat di Indonesia, perhitungan modal didasarkan pada laporan keuangan gabungan yang meliputi semua kantor cabang suatu bank yang berkantor pusat di luar negeri, laporan keuangan gabungan tersebut meliputi seluruh kantornya di Indonesia. Walaupun modal bank telah memenuhi minimum sebesar 8% dari Aktiva Tertimbang M enurut Resiko (ATM R) seperti yang dimaksud di atas, tetapi jika menurut penilaian bank tersebut atau Bank Indonesia terdapat faktor lain yang dapat menambah resiko di luar resiko-resiko yang telah dihitung secara kuantitatif, maka bank perlu menyediakan modal yang lebih dari 8%.20 Faktor lain tersebut maksudnya adalah alasan kenapa suatu bank butuh penyertaan modal tambahan di dalamnya. Dalam hal PT. Bank Sumut mengenai faktor lain tersebut adalah terkait dengan tingginya permintaan kredit/pembiayaan proyek pembangunan pemerintah sehingga modal yang sudah ada tidak mencukupi untuk penyaluran kredit/pembiayaan tersebut. Berdasarkan Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/KEP/DIR tanggal 29 M ei 1993 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/2/BPPP tanggal 29 M ei 1993 perihal Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Perkreditan Rakyat, pengertian modal bagi bank dibedakan antara modal bank yang didirikan dan berkantor pusat di Indonesia dan modal kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri. 21

20 21

Rachmadi Usman, Op.cit. Ibid.

11

Dalam usaha bank untuk mengumpulkan dana minimal tersebut, sudah barang tentu bank harus mengenal sumber-sumber dana yang terdapat di dalam berbagai lapisan masyarakat dengan bentuk yang berbeda-beda pula. Dalam garis besarnya sumber dana bagi sebuah bank ada 3 (tiga), yaitu22 : 1. Dana yang bersumber dari bank sendiri; 2. Dana yang berasal dari masyarakat luas; dan 3. Dana yang berasal dari Lembaga Keuangan, baik berbentuk bank maupun non-bank.

Dana yang bersumber dari bank sendiri ini adalah dana berbentuk modal setor yang berasal dari para pemegang saham dan cadangan-cadangan serta keuntungan bank yang belum dibagikan kepada para pemegang saham. Dana yang berasal dari masyarakat luas ini umumnya berbentuk simpanan yang secara tradisional disebut sebagai Giro, Deposito, dan Tabungan, sedangkan dana yang berasal dari lembagalembaga keuangan pada umumnya diperoleh bank dalam bentuk pinjaman. Sebagai catatan, perlu diperhatikan bahwa dalam buku Ikhtisar Ketentuan-Ketentuan Perbankan Indonesia (IKPI) Jilid II yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, sumber dana yang berasal dari masyarakat dan dari lembaga keuangan tersebut dicakup sebagai “sumber dana dari pihak ketiga”. 23 Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) yang sekarang menjadi Bank Sumut memiliki pemegang saham yang tidak lain adalah Pemerintah Provinsi

Thomas Suyatno, et.al., Kelembagaan Perbankan, (Jakarta : Gramedi a Pustaka Utama, 1999), hal. 32. 23 Ibid., hal. 32-33.

22

12

Sumatera Utara, Pemerintah Kota, maupun Pemerintah Kabupaten.24 Pemerintah Provinsi, Kota, dan Kabupaten menyetorkan modalnya kepada Bank Sumut sesuai dengan Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) PT. Bank Sumut itu sendiri. Jumlah besaran modal yang disetorkan berbeda-beda antara satu dengan yang lain tergantung dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing daerah. Inilah yang disebut dengan penyertaan modal. Penyertaan modal yang dilakukan Pemda disini dimasukkan ke dalam jenis permodalan yaitu : jenis dana yang berasal dari lembaga keuangan baik bank maupun non-bank. Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA) menyatakan bahwa upaya pengembangan modal Bank Pembangunan Daerah (BPD) kerap terhambat oleh persetujuan pemegang saham. BPD sering kesulitan meyakinkan pemegang saham bahwa penambahan modal sangat penting.25 BPD merupakan bank milik Pemda. Dengan demikian, segala tindakan yang dilakukan oleh BPD harus meminta persetujuan dari pemerintah dan dewan. Hal ini juga dipersulit dengan aturan-aturan yang berbelit-belit mengenai penambahan modal. Penambahan modal menurut Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah harus dilakukan dengan cara penerbitan Peraturan Daerah. 26

Bank Sumut, “Info Saham”, http://www.banksumut.com/saham.php., diakses pada 16 Februari 2011. 25 Tempointeraktif, “Permodalan BPD Terhambat Pemerintah Daerah ”, http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/09/26/brk,20100926-280664,id.html., diakses pada 16 Februari 2011. 26 Pasal 3 ayat (1 ), Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, yang menyebutk an bahwa : “ Bank didirikan dengan Peraturan Daerah Daswati I yang bersangkutan at as kuasa Undang-Und ang ini”.

24

13

Bank Indonesia dalam kedudukannya sebagai Bank Sentral yang bertugas mengawasi setiap gerak-gerik bank-bank yang ada di Indonesia meminta BPD untuk terus meningkatkan modalnya di atas permodalan minimum yaitu 8% sekitar Rp. 100 miliar. Keinginan BPD untuk menjadi tuan rumah di daerahnya baru bisa terwujud apabila didukung sepenuhnya terutama dalam hal permodalan. Kontribusi BPD kepada daerahnya akan lebih signifikan jika modal terus ditambah. Tambahan modal diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan terhadap nasabah seperti penyediaan sarana teknologi informasi dan pembukaan cabang-cabang baru. 27 Dalam tingkat persaingan usaha sekarang ini, pelayanan nasabah menjadi perhatian pokok yang sangat penting. Kualitas pelayanan kepada nasabah berasal dari dukungan sarana Informasi dan Teknologi (IT) yang memadai. Padahal, dalam hal belanja sarana komunikasi dan informasi teknologi tidaklah murah dan hanya dapat dilakukan dengan modal yang kuat. Hal ini penting untuk dibicarakan dan dilakukan oleh Pemda sebagai pemegang saham BPD. Pemegang saham BPD harus disadarkan dengan pendidikan pengetahuan terhadap dunia perbankan akan menjadi penggerak yang lebih efektif bagi perekonomian daerah. 28 Total aset 26 BPD per Juni 2010 sebesar Rp. 237,9 triliun, tumbuh 18,6% dari bulan Desember 2009 sebesar Rp. 200,54 triliun. Total kredit mencapai Rp. 132,74 triliun dengan dana pihak ketiga Rp. 198,67 triliun. Laba semester pertama 2010 mencapai Rp. 4,06 triliun. 29 Dalam hal Bank Sumut menyertakan modalnya sebesar Rp. 291,83 miliar pada tahun 2008 dan begitu juga pada tahun 2007. Tambahan
27 28 29

Tempointeraktif, “Permodalan BPD Terhambat Pemerintah Daerah”, Loc.cit. Ibid. Ibid.

14

penyetoran modal tahun 2007 oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara serta seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Utara sebesar Rp. 23,05 miliar telah disyahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada tanggal 10 Juni 2008. M odal disetor sampai dengan tahun 2008 sebesar Rp. 468,78 miliar dengan nilai nominal untuk setiap lembar saham sebesar Rp. 10.000,-.30 Penyertaan modal yang dilakukan oleh pemerintah ini didasari oleh Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999.31 Pada tahun 1999, pemerintah menetapkan pada Pasal 2 ayat (2) huruf b Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 bahwa “Nilai penyertaan modal negara pada Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, sebesar Rp. 302,871 miliar”. Pelaksanaan penyertaan modal dilakukan dengan aturan yang dibuat oleh M enteri Keuangan berdasarkan Pasal 3 ketentuan tersebut. Untuk divestasinya dilakukan dengan Keputusan M enteri Keuangan juga disebut pada Pasal 4. Peraturan pelaksana untuk penyertaan modal ini juga diatur oleh M enteri Keuangan. Hal inilah yang mengakibatkan proses penyertaan modal itu berbelit-belit. Walaupun sudah menjadi kewenangan daerah untuk berusaha sendiri dalam hal penin gkatan PAD namun tetap saja harus meminta Keputusan M enteri Keuangan, artinya tetap berhubungan dengan pemerintah pusat.

Bank Sumut, “ Info Saham”, Op.cit. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Ut ara, Bank Pembangun an Daerah Bengkulu, Bank Pembangunan Daerah Lampung, Bank Pembangunan Daerah-Daerah Khusus Ibukota J akarta, Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat, Bank Pembangunan Sulawesi Utara, Bank Pembangunan Daerah M aluku, Bank Pembangunan Daerah Nus a Tenggara Barat, dan Bank Pemb angunan Daerah Nusa Tenggara Timur dalam Rangk a Program Rekapitalisasi Bank Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 79.
31

30

15

Belum lagi dipermasalahkan dengan persetujuan DPRD. Saling berargumen antara menambahkan modal untuk PT. Bank Sumut atau untuk rakyat adalah hal yang paling sering dibicarakan dalam rapat-rapat di DPRD Sumut. Bank Daerah yang dimiliki oleh pemerintah daerah ini sudah ada sejak tahun 1980-an dan diberikan keleluasaan untuk menghimpun dana dari masyarakat. Namun, PT. Bank Sumut belum menunjukkan prestasi yang cemerlang dalam hal memberikan PAD bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Jika, Bank Sumut berargumen penyertaan modal perlu dilakukan lagi maka DPRD berargumen bahwa pembangunan untuk rakyat yang perlu ditingkatkan. 32 Hal di atas diperburuk oleh kepengurusan perusahaan yang lebih

mengutamakan relasi dan koneksi. Dapat dilihat pada saat mengantri di bank selalu saja ada yang memotong dengan menyebutkan relasi atau “kenal” dengan pejabatpejabat penting di perusahaan tersebut. Kinerja yang seperti inilah yang dapat mencoreng bank tersebut. Kembali ke sudut pandang DPRD Sumut yang mengatasnamakan rakyat, namun setiap anggota dewan hanya memikirkan golongan dan pribadi saja dengan bermain proyek-proyek pembangunan pada setiap instansi pemerintah seperti Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jadi, apabila ada “memo” dari anggota dewan yang bermain tersebut maka pihak-pihak yang

Rajawali News, “ Minta Dana Penyertaan Modal Rp. 150 M, Bank Sumut Jangan Bebani APBD”, http://rajawalinews.com/2011/minta-dana-peny ertaan-modal-rp150-m-bank -sumut-jangan bebani-apbd/., diakses pada 16 Februari 2011.

32

16

melaksanakan proyek akan dengan mudah meminta modal untuk melaksanakan proyek dari SKPD tersebut.33 Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka judul penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut”.

B.

Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang yang sudah dipaparkan maka rumusan masalah

dalam tulisan ilmiah ini, antara lain : 1. Bagaimana pengaturan mengenai penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut? 2. Bagaimana tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sehubungan dengan penyertaan modal pada PT. Bank Sumut? 3. Bagaimana ketentuan atau kebijakan mengenai pembagian deviden pada PT. Bank Sumut dari penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebagai pemegang saham setiap tahunnya?

C.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek hukum penyertaan modal

pemerintah daerah dalam hal membangun masyarakat daerahnya melalui penyertaan modal dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bertolak dari rumusan
Gagah Rezkiawan Sinaga, “ Analisis Penerapan Sistem Antrian pada Proses Transaksi di PT. Bank Sumut Cabang Utama Medan”, (Medan : Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, 2010).
33

17

masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini, antara lain : 1. Untuk mengetahui pengaturan mengenai penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut; 2. Untuk mengetahui tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sehubungan dengan penyertaan modal pada PT. Bank Sumut; dan 3. Untuk menganalisis ketentuan atau kebijakan pembagian deviden dari penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebagai pemegang saham setiap tahunnya.

D.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberi manfaat, yaitu : 1. Secara Teoritis a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya. b. M emperkaya khasanah kepustakaan dalam hal literatur mengenai penyertaan modal yang masih sedikit. 2. Secara Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan PT. Bank Sumut dalam hal bersinergi dan berkolaborasi untuk meningkatkan PAD.

18

b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (sebagai nasabah) agar terbentuk peraturan dan kebijakan yang mampu meningkatkan pembangunan ekonomi daerah.

E.

Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran literatur di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara

maupun Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Cabang Fakultas Hukum, bahwa penelitian dengan judul “Peranan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam Penyertaan M odal di PT. Bank Sumut” belum pernah dilakukan. Namun, jika ditelusuri dengan kata kunci “penyertaan modal bank sumut” maka hasil yang didapat, adalah Tesis dengan judul “Penyertaan M odal Sementara Bank Untuk M engatasi Akibat Kegagalan Kredit (Debt To Equity Swap)” yang dilakukan di M edan pada tahun 2005 oleh Syapri Chan dan dibimbing oleh Bismar Nasution, Zulkarnain Sitompul, dan Ningrum Natasya Sirait. Penelitian tersebut di atas memiliki rumusan masalah dan kajian yang berbeda. Penelitian lanjutan ini mengkaji mengenai peranan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam penyertaan modal di PT. Bank Sumut. Penelitian ini juga menjunjung tinggi kode etik penulisan karya ilmiah dengan cara mencantumkan pada footnote seluruh nama pengarang pada tulisan yang dikutip. Oleh karena itu, penelitian ini adalah benar keasliannya baik dilihat dari materi, rumusan masalah, dan pengkajian materi juga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

19

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Teori Hukum digunakan untuk memecahkan permasalahan. Teori hukum

adalah pisau analisis untuk judul “Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut” adalah bahwa pemerintah bisa mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh PT. Bank Sumut. Cara yang ditempuh oleh pemerintah daerah tersebut adalah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda). Perda adalah salah satu produk hukum hasil pemerintah daerah yang apabila Pemda ingin mengeluarkannya harus dengan persetujuan dari DPRD sebagai lembaga legislatif. M asalah ini harus disesuaikan dengan sistem hukum yang sudah ada. Sehubungan dengan sistem hukum tersebut, ada baiknya mengikuti teori yang dikemukakan oleh Ludwig von Bertalanffy, yakni The General System Theory, dan teori yang dikemukakan oleh Hans Kelsen dalam Lord Lloyd of Hampstead mengenai struktur hukum yang sistematis dan hierarkis. Rasionalitas dari pernyataan ini adalah bahwa tidak mungkin ada satu peraturan hukum yang berdiri sendiri dalam suatu ruang hampa karena objek yang diaturnya juga tidak mungkin lepas dari pengaruh norma-norma hukum yang lain. Norma hukum ini harus saling bekerja sama dan saling menunjang dalam suatu sistem hukum menuju suatu titik tujuan bersama yakni berupa kesejahteraan seluruh anggota masyarakat. Norma hukum spesifik, yakni norma hukum moneter dan perbankan, harus sejalan dengan rangkaian norma hukum lainnya. Dengan kata lain, norma hukum spesifik tersebut haruslah ditetapkan agar norma tersebut saling menunjang norma hukum lainnya. Apabila terjadi pertentangan

20

antara norma hukum, maka hakim wajib meluruskan antimoni ini sehingga hukum tetap dapat bekerja dalam suatu sistem. Itulah sebabnya pembahasan mengenai legal system menyatakan bahwa suatu proses konvergensi terjadi dalam keseluruhan hukum yang merupakan suatu sistem yang kompleks, namun teratur dan tertata rapi.34 Untuk menganalisis permasalahan pertama dalam penelitian ini yang dibahas dalam Bab II, maka pembahasan tersebut adalah hierarki peraturan perundangundangan penyertaan modal dimulai dengan Pancasila Sila ke-5 yang mengatakan bahwa “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dari sila ke-5 Pancasila tersebut turun lagi ke UUD 1945 pada Pasal 5 ayat (1) yang menyatakan bahwa : “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”. Pada Pasal 20 ayat (1) UUD 1945, “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan untuk membentuk Undang-Undang”. M aka dengan dasar itu keluarlah Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Pada permasalahan kedua yang akan dibahas pada Bab III, maka pembahasan tersebut adalah dengan adanya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah maka setiap daerah dapat mengatur dan mengelola sendiri keuangannya, begitu juga dengan bank daerahnya. Setiap daerah harus meningkatkan PARD agar dapat PAD yang tinggi sehingga APBD yang diperoleh menunjukkan hal yang positif juga. Jadi, daerah-daerah provinsi harus memiliki rencana untuk membangun sebuah lembaga keuangan di daerahnya. Didukung lagi dengan UndangUndang No. 01 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang menginstruksikan
34

Gunarto Suhardi, Op.cit., hal. 14.

21

agar setiap daerah menyimpan uang kas atau APBD di bank-bank daerah masingmasing. Selanjutnya muncullah Peraturan Bank Indonesia No. 03/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum. Peraturan tersebut mangamanatkan agar setiap daerah melakukan penyertaan modal kepada setiap bankbank daerahnya. Bank daerah tersebut di dasari dengan Undang-Undang No. 9 Tahun 1969 tentang BUM N. Namun tidak terlepas juga dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dalam hal pengaturan di dalamnya. Penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut tidak terlepas dari kesejahteraan masyarakat. Hal ini dikarenakan dana yang dipakai adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). APBD adalah anggaran untuk mensejahterakan rakyat daerah. Jadi, pembahasan mengenai “Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut” menggunakan teori hukum mengenai “peranan hukum dalam pembangunan ekonomi”. Untuk permasalahan ketiga yang akan dipaparkan pada Bab IV maka teori yang digunakan adalah teori hukum dalam pembangunan ekonomi pertama sekali dicetuskan oleh Williams Burg dalam bukunya mengenai hukum dalam

pembangunan terdapat 5 (lima) unsur yang harus dikembangkan supaya tidak menghambat pertumbuhan ekonomi yaitu stabilitas (stability), prediksi

22

(predictability), keadilan (fairness), pendidikan (education), dan pengembangan khusus bagi para sarjana hukum (the special development abilities of the lawyer). 35 Burg’s menjelaskan bahwa unsur pertama dan kedua merupakan prasy arat agar sistem perekonomian dapat berfungsi dengan baik. Dalam hal ini, stabilitas berfungsi untuk mengakomodasi dan menghindari kepentingan-kepentingan yang saling bersaing (conflict of interest), sedangkan prediksi merupakan suatu kebutuhan untuk bisa memprediksi ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan

perekonomian suatu negara. 36 Stabilitas (stability), maksudnya adalah bahwa hukum itu harus stabil dan tidak cepat berubah. Prediksi (predictability), maksudnya adalah bahwa setiap ketentuan yang akan keluar berikutnya sudah bisa disikapi dengan baik oleh masyarakat. Keadilan (fairness), maksudnya adalah bahwa keadilan adalah tujuan dari hukum itu sendiri. Pendidikan (education), maksudnya adalah bahwa pendidikan hukum itu penting dalam menjalankan sebuah perusahaan. Lalu, pengembangan khusus bagi para sarjana hukum (the special development abilities of the lawyer), maksudnya adalah bahwa setiap bagian hukum perusahaan tersebut haruslah memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan yang lainnya. Stabilitas (stability) pada penyertaan modal disini diartikan bahwa peraturanperaturan daerah yang dikeluarkan oleh Pemprovsu dan DPRD agar tidak terus berubah-ubah seiring dengan perkembangan perekonomian di Sumatera Utara. Jika Peraturan Daerah yang dikeluarkan memberatkan pengusaha maka akan sulit untuk mengembangkan usahanya. Dengan begitu akan menghambat para pengusaha untuk
Bismar Nasution, “ Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 36. 36 Ibid., hal. 37-38.
35

23

mengambil kredit di Bank Sumut. Selanjutnya jika permohonan kredit menurun dan penyaluran dana untuk kredit berkurang maka akan memberatkan pemerintah itu sendiri. Hasilnya pelaku usaha tidak mengembangkan usahanya. Prediksi hukum (predictability) diartikan bahwa setiap peraturan yang dikeluarkan itu berlaku bagi masyarakat dan setiap instansi. Keberlakuannya itu harus bisa diperkirakan bagaimana keadaan masyarakat setelah diaplikasikannya peraturan tersebut. Hukum itu harus dapat diprediksi terkait dengan penyertaan modal yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut. Jika penyertaan modal dilakukan maka PT. Bank Sumut sudah bisa memperkirakan dananya tersebut akan digunakan untuk kepentingan nasabah-nasabahnya yang tidak lain adalah masyarakat daerah Sumatera Utara. Keadilan hukum (fairness) maksudnya adalah bahwa peraturan daerah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan DPRD harus berdasarkan atas keadilan hukum. Keadilan tersebut antara pembangunan sarana dan prasarana bagi rakyat atau penyertaan modal dilakukan kepada PT. Bank Sumut. Dengan dilakukannya penyertaan modal tersebut, masyarakat daerah Sumatera Utara akan dapat berusaha melalui kredit lunak atau apapun itu namanya. Pendidikan hukum (education) adalah bahwa setiap orang harus memiliki dasar hukum yang baik. Hukum itu berasal dari dalam diri bukan dari intervensi dari luar. Jika setiap orang yang berhubungan dengan penyertaan modal ini berpendidikan hukum yang tinggi maka akan tercipta peraturan dan kebijakan yang mengarah kepada kepentingan rakyat tanpa mengenyampingkan penyertaan modal pada PT. Bank Sumut.

24

Pengembangan khusus bagi para sarjana hukum (the special development abilities of the lawyer), terkait dengan penyertaan modal adalah bahwa antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan PT. Bank Sumut harus memiliki Sumber Daya M anusia (SDM ) yang memiliki keahlian khusus di bidang hukum. Contohnya dalam menyalurkan kredit PT. Bank Sumut harus memiliki orang-orang yang handal dalam membuat akad kredit. Dengan terciptanya hukum seperti yang disebutkan di atas, maka akan tercapai tujuan hukum dalam pembangunan ekonomi yang tidak lain adalah kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat yang merata akan menciptakan negara yang makmur (welfare state). Apabila negara makmur maka akan mengangkat harkat dan martabat bangsa kepada negara lain. Dalam pembangunan ekonomi tidak terlepas dari ruang lingkup hukum ekonomi.37 Pada negara welfare state, pemerintah hanya sebagai “penjaga malam” dalam kegiatan perekonomian masyarakat. Jadi, pemerintah tidak turut campur tangan terhadap bank-bank pembangunan daerahnya. Bank-bank tersebut dibiarkan untuk bersaing sendiri. Sehingga akan tercipta persaingan yang ketat antar bank. Rachmat Sumitro mengemukakan bahwa hukum ekonomi berkembang karena ikut campurnya pemerintah dalam soal kepentingan pribadi, dengan demikian hakhak dan kepentingan pribadi dibatasi demi kepentingan umum dengan pertimbangan

Rachmadi Usman, Hu kum Ekonomi dalam Dinamika, (Jak arta : Djambat an, 2000), hal. 1, menjelaskan bahwa hukum ekonomi disebabkan oleh semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembang an perekonomian. Dalam hal ini hukum berfungsi mengatur d an membatasi kegiatan kegiatan ekonomi dengan harapan pemb angunan pembangun an perekonomian tidak mengabaikan hak hak dan kep entingan masy arak at, sebag aimana dikutip Didi Duh arsa, “ Analisis Hukum Peran an Reorganisasi Perus ahaan dalam Menghindari Pembubaran (Studi Pada PT. Bank Sumut)”, (Tesis : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 36.

37

25

untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya. M aksudnya adalah bahwa pemerintah sebagaimana tujuannya didirikan suatu negara, berfungsi memberikan jaminan perlindungan dan keamanan kepada rakyatnya. Sehingga pada saat itu pula lahir upaya timbal balik dari rakyat yang merasa terlindungi untuk memberikan trust yang seluas-luasnya sebagai bentuk kompensasi sehingga dapat melakukan apa saja yang perlu bagi keselamatan rakyat. Disinilah sebenarnya fun gsi awal (pelayanan atau public service) sebuah pemerintahan diwujudkan. 38 Dalam memimpin, unsur kepercayaan (trust) memainkan peranan yang teramat penting. Tidak mungkin seseorang menjalankan sebuah organisasi atau perusahaan bila di dalamnya tidak ada unsur kepercayaan baik itu kepercayaan vertikal 39, maupun kepercayaan horizontal40. Kepercayaan (trust) didefinisikan sebagai kemauan untuk bertumpu pada seseorang yang kita percaya dan yakini. 41 Dari pembahasan di atas, yakni mengenai kondisi umum yang melingkupi usaha perbankan dan berbagai teori hukum yang relevan menuju ke arah kesejahteraan seluruh anggota masyarakat, maka jelaslah bahwa pembahasan yang dilakukan yakni pembahasan norma-norma hukum positif baik berupa peraturan perundang-undangan maupun berupa norma-norma yang berlaku dalam praktek perbankan yang baik adalah masih dalam kerangka pembahasan ilmu hukum khususnya dalam kerangka

Muhadam Labolo, Memahami Ilmu Pemerintahan, Suatu Kajian, Teori, Konsep dan Pembangunannya, (J akart a : Raja Grafindo Persada, 2006), h al.7, sebagaimana dikutip Didi Duharsa, Op.cit., hal. 35. 39 Kep ercayaan v ertikal adalah kepercayaan ant ara masyarak at deng an p emerintah yang berkuas a. 40 Kepercayaan horizontal ad alah kep ercayaan antar ses ama masyarak at dalam hidup rukun bermasyarak at 41 Robby Johan, Leading In Crisis, Praktik Kepemimpinan dalam Merger Bank Mandiri, (Jakart a : Penerbit Bara, 2006), hal 165, sebagaimana dikutip Didi Duharsa, Op.cit., hal. 36.

38

26

ketiga lapisan ilmu hukum tersebut. Sehubungan dengan itu, maka pengaturan hukum bidang ini sudah jelas mutlak diselenggarakan dengan baik. Oleh karenanya, paparan yang bersifat teknis ekonomis dalam pembahasan ini kiranya juga perlu diikuti dengan baik untuk memahami karakter berbagai hukum positif yang menyangkut bidang ekonomi moneter ini. Selanjutnya untuk mengkaji pandangan mana yang dipakai dalam penulisan penelitian ini adalah dengan menggunakan Teori Utility oleh Jeremy Bentham yang mengatakan bahwa kegunaan dari hukum itu adalah demi kemaslahatan rakyat banyak.42 Sebagai prinsip pedoman kepada kebijakan publik, Bentham mengambil sebuah pepatan yang telah dikemukakan sejak awal abad 18 oleh seorang filsuf Skotlandia-Irlandia bernama Francis Hutcheson : “Tindakan yang terbaik adalah yang memberikan sebanyak mungkin kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang”. Bentham mengembangkan pepatah ini menjadi sebuah filsafat moral, yang menyatakan bahwa43 : “benar salahnya suatu tindakan harus dinilai berdasarkan konsekuensikonsekuensi yang diakibatkannya (maka motif atau alasan, misalnya : adalah hal yang sama sekali tidak relevan). Konsekuensi yang baik adalah konsekuensi yang memberikan kenikmatan kepada seseorang, sedangkan konsekuensi yang buruk adalah konsekuensi yang memberikan penderitaan kepada seseorang. M aka dalam situasi apapun, pedoman tindakan yang besar adalah arah memaksimumkan kenikmatan dibandingkan penderitaan, atau dengan kata lain, meminimumkan penderitaan dibandingkan kenikmatan”. Filsafat ini lantas dikenal sebagai Utilitarianisme karena filsafat ini menilai setiap tindakan berdasarkan utilitasnya, yakni kegunaannya dalam membawakan
Mard zelah Makhsin, Sains Pemi kiran & Etika, (Malaysia, Selangor : PTS Professional Publishing, 2006), hal. 116. 43 Bryan Magee, The Story of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, (London : Dorling Kindersley Limited, 2001), hal. 182-184.
42

27

konsekuensi-konsekuensi. Para pendukung filsafat ini menerapkan prinsip -prinsip ini dalam bidang moralitas individu, kebijakan politik, hukum, dan sosial. Filsafat utilitarian amat kentara mempengaruhi pemerintahan Inggris. The greatest good of the greataest number, kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar, sudah menjadi ungkapan keseharian yang sangat akrab di telinga setiap orang. 44 Prinsip ini cenderung mudah diterima. Satu-satunya kesulitan dalam penerapan prinsip ini adalah dalam proses pengambilan keputusan yaitu bagaimana caranya menghitung konsekuensi-konsekuensi itu. Dalam hal ini, berlakulah prinsip “setiap orang dihitung sebagai satu, dan tidak seorangpun dihitung lebih dari satu”. Dampak penerapan prinsip Utilitarian cukup khas dibandingkan filsafat lainnya. M isalnya, kegiatan seksual apapun, sejauh tidak mengakibatkan penderitaan terhadap orang lain, bukanlah perkara yang bisa dilarang di mata para Utilitarian meskipun norma hukum pada masa itu menghukum keras aktivitas seksual tersebut. Di lain pihak, ada banyak praktek bisnis yang mengakibatkan penderitaan berlebihan kepada banyak orang, bahkan berpotensi merusak, meskipun menurut norma hukum praktek bisnis itu sepenuhnya sah. M aka tersebarnya ide-ide Utilitarian telah membantu terciptanya perubahan-perubahan praktis yang penting dalam masyarakat. Dalam hal penghukumannya, prinsip Utilitarian mengatur agar hukuman harus cukup keras sehingga menimbulkan efek jera, tetapi tidak boleh lebih keras daripada itu karena dapat menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Selama pertengahan kedua abad 19, prinsip-prinsip Utilitarian telah memasuki institusi pemerintahan dan administrasi di Inggris. Antara lain, inilah yang membedakan Inggris dan Amerika Serikat yang
44

Ibid.

28

cenderung menekankan hak individu, lebih sulit untuk mengorbankan individu demi mayoritas, dan lebih tidak rela menerima campur tangan pemerintah. 45 Untuk mengatasi kesulitan yang disebutkan di atas maka digunakan teori Kebijakan Deviden oleh M erton M iller dan Franco M odigliani, yaitu : “kebijakan dividen tidak berpengaruh baik terhadap harga saham perusahaan maupun terhadap biaya modalnya (dividen tidak relevan atau irrelevance dividend policy theory). Dengan kata lain, nilai suatu perusahaan tergantung kepada pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi antara dividen dan laba ditahan (pertumbuhan).46 Apabila menemui kasus yang permasalahannya seperti pedang bermata dua. Jadi, untuk memilih mana yang paling baik antara pembangunan sarana dan prasarana demi rakyat ataukah mengalokasikan dana APBD untuk penyertaan modal di PT. Bank Sumut adalah dengan melihat posisi mana yang lebih banyak diuntungkan Bank Sumut yang pantas untuk dikembangkan demi meningkatkan PAD atau sarana dan prasarana rakyat yang diserahkan pengaturannya kepada pemerintah setempat. Bagaikan pedang bermata dua yang semuanya menguntungkan untuk rakyat. Jika, APBD dikonsentrasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana masyarakat, hal ini juga demi kepentingan rakyat. Namun, penyertaan modal di bank daerah dalam hal ini PT. Bank Sumut perlu juga dilakukan agar bank tersebut dapat menyalurkan kredit kepada masyarakat agar masyarakat lebih mandiri dan dapat berusaha pada bidangnya masing-masing sehingga perekonomian daerah meningkat
Ibid. Merton Miller dan Franco Modigliani, “Teori Kebijakan Deviden ”, http://www.slideshare.net/riswono/dividend-policy-1875607., diakses pada 28 Februari 2011.
46 45

29

dengan baik dan signifikan. Kesadaran pelaku usaha yang meminjam kredit juga harus tinggi untuk mengembalikan modal yang telah diberikan. Sehingga tidak terjadi kredit macet yang dapat menyebabkan tidak baiknya angka-angka pada cash flow keuangan perusahaan.

2.

Kerangka Konsep Dalam melakukan penelitian tesis ini, perlu dijelaskan beberapa istilah di

bawah ini sebagai definisi operasional dari konsep-konsep yang dipergunakan untuk menghindari kesalahan dalam memaknai konsep-konsep, yaitu : 1. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.47 Bank yang dimaksud dalam penelitian tesis ini adalah PT. Bank Sumut. 2. Bank Umum adalah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.48 3. Bank Pembangunan Daerah adalah bank-bank yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah dan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah. Didirikan

Pasal 1 angka 2, Undang-Undang 10 Tahun 1998 tentang Perb ankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomo r 3790. 48 Pasal 1 angka 3, Undang-Undang 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

47

30

berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 49 4. Perseroan Terbatas (PT) adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan pelaksanaannya.50 5. PT. Bank Sumut adalah suatu usaha Pemerintah Daerah yang bertujuan untuk menghimpun dana dari masyarakat daerah dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965 tentang Bentuk Badan Usaha Diubah M enjadi Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D). 6. M odal M inimum Bank adalah sebesar 8% (delapan perseratus) dari Aktiva Tertimbang M enurut Resiko (ATMR).51 7. Penyertaan M odal adalah suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Sumber dana dari penyertaan modal adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) guna menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Atau dengan kata lain, penyertaan modal adalah pemisahan kekayaan Negara
Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ket entuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 50 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4756. 51 Pasal 2 ay at (1 ), Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
49

31

dari Anggaran Belanja Pendapatan Negara atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan modal BUM N dan/atau Perseroan Terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi.52 Penyertaan M odal yang dimaksud dalam tesis ini adalah penyertaan modal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut. 8. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan daerah dan dikelola sendiri oleh pemerintah daerah. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas : 1) hasil pajak daerah; 2) hasil retribusi daerah; 3) hasil perusahaan milik Daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan 4) lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.53 9. Pendapatan Asli Rakyat Daerah (PARD) adalah pendapatan yang benar-benar nyata merupakan perolehan sah tiap-tiap individu rakyat, dan bukan merupakan hasil perhitungan rata-rata Gross National Product (GNP) atau Product Domestic Regional Bruto (PDRB) dibagi jumlah penduduk. 10. Rapat Umum Pemegang Saham adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan/atau Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT).54

Pasal 1 angka 7, Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyert aan dan Penatausah aan Modal Neg ara pada Bad an Usaha Milik Negara dan Pers ero an Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 116, Tambahan Lembaran Neg ara Republik Indonesi a Nomor 4555. 53 Pasal 157 huruf a, Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 54 Pasal 1 angka 4, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

52

32

11. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah lembaga legislatif daerah yang berfungsi sebagai pembuat Peraturan Daerah dan penyeimbang Pemerintah Daerah berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. 55 12. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. 56 13. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.57 14. Dividen adalah keuntungan terhadap laba positif dari saham yang dimiliki oleh pemegang saham. 58 15. Hasil investasi adalah dapat berupa keuntungan atau kerugian terhadap perseroan. Hasil investasi sudah jelas berbeda dengan dividen karena dividen merupakan profit sharing dari saham yang dimiliki sedangkan hasil investasi dapat berupa kerugian perseroan.59

Pasal 1 angka 7, Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Und angan, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389. 56 Pasal 1 angka 7, Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Und angan. 57 Pasal 1 angka 1, Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 58 Pasal 70 Ay at (1) Undang -Undang No. 40 Tahun 2007, menyebutkan bahwa : “ Perseroan wajib menyisihkan jumlah tertentu dari laba bersih setiap tahun buku untuk cadangan”. 59 Gunarto Suhardi, Op.cit., hal. 109.

55

33

16. M odal Awal Bank Umum adalah modal minimum bank, dalam hal penulisan tesis ini modal awal Bank Pembangunan Sumatera Utara adalah sebesar Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).60

G.

Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan

pendekatan juridis normatif. 61 Dengan demikian objek penelitian adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah hukum dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah dalam sejumlah peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang terkait secara langsung dengan ”Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di PT. Bank Sumut”.

1.

Jenis dan Sifat Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif dengan

menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dalam melakukan pengkajian peranan pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam hal penyertaan modal di PT. Bank Sumut. Pendekatan tersebut berkaitan dengan pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan teori hukum murni yang berupaya membatasi pengertian hukum pada bidang-bidang hukum saja, bukan karena hukum itu mengabaikan atau memungkiri pengertian-pengertian yang berkaitan, melainkan
Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965. Adapun tahap -tahap d alam analisis juridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-peng ertian hukum; pembentukan standarstandar hukum; dan perumusan kaidah-k aidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167.
61 60

34

karena pendekatan seperti ini menghindari pencampuradukan berbagai disiplin ilmu yang berlainan metodologi (sinkretisme metodologi) yang mengaburkan esensi ilmu hukum dan meniadakan batas-batas yang ditetapkan pada hukum itu oleh sifat pokok bahasannya.62 Sifat penelitian adalah penelitian deskriptif yang ditujukan untuk

menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala hukum terkait Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di PT. Bank Sumut.

2.

Sumber Bahan Hukum Penelitian hukum normatif yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan

dan berdasarkan pada data sekunder, maka sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu : 1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : UndangUndang No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah; Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, Undang-Undang No. 9 Tahun 1969 tentang Badan Usaha M ilik Negara (BUM N), Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, UndangUndang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999
Hans Kelsen, Teori Hu kum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hu kum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, disunting oleh Nurainun Mangunsong, Cetakan Ketiga, (Bandung : Nusamedia & Nuansa, 2007).
62

35

tentang Penyertaan M odal Negara Republik Indonesia ke dalam M odal Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Bank Pembangunan Daerah Bengkulu, Bank Pembangunan Daerah Lampung, Bank Pembangunan Daerah-Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat, Bank Pembangunan Sulawesi Utara, Bank Pembangunan Daerah M aluku, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat, dan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur dalam Rangka Program Rekapitalisasi Bank Umum, Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait. 2. Bahan hukum sekunder digunakan untuk membantu memahami berbagai konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik jurnal, buku-buku, makalah, serta karya ilmiah mengenai pasar modal dan pencucian uang, berita, dan ulasan media, juga sumber-sumber lain yang relevan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, penyertaan modal, dan PT. Bank Sumut. 3. Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum primer, khususnya kamus-kamus hukum dan ekonomi.

36

3.

Teknik Pengumpulan Data Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tehnik studi

kepustakaan63 (library research) dan studi dokumen dari berbagai sumber yang dipandang relevan, antara lain instansi terkait seperti Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan PT. Bank Sumut. Perpustakaan yang digunakan adalah Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4.

Analisis Data Bahan hukum primer yang terinventarisasi terlebih dahulu disistematisasikan

sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan pengelompokan konsep hukum yang lebih umum, yaitu : prediktabilitas hukum, mencari keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain. 64 Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya men ggunakan teori sebagai

Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dap at membantu p eneliti dalam berb agai keperluan, misalnya : a) Mend apatkan g ambaran atau in form asi tentang penelitian yang sej enis dan berkaitan d engan permasalah an yang diteliti; b) Mendapatk an metode, teknik, atau cara pend ekat an pemecahan perm asalah an yang digunakan; c) Sebag ai sumber data sekunder; d) Menget ahui historis dan persp ekti f dari permasalah an pen elitiannya; e) Mend apatkan in formasi tent ang cara ev aluasi at au analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Meng etahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan siapa pemak ai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukak an Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113. 64 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda, 2006), hal. 248, dalam Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 144-145.

63

37

alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. M aka deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut.65 Penerapan deduktif – induktif adalah menggunakan teori yang disebutkan dalam sub bab kerangka teoritis di atas untuk memecahkan permasalahan mengenai penyertaan modal yang dilakukan pemerintah. Penyertaan modal dilakukan apabila sudah diketahui mana yang dipilih antara menyalurkan penyertaan modal ke PT.Bank Sumut atau membangun sarana dan prasarana daerah dengan

menyalurkan/menambah anggaran pada setiap SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah). Penyaluran anggaran tersebut harus didukung dengan program-program yang jelas. Program tersebut harus diajukan terlebih dahulu ke DPRD untuk dikaji ulang apakah baik atau tidak.

65

Ibid., hal. 26-29.

38

BAB II PENGATURAN PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH PROVINS I S UMATERA UTARA KEPADA PT. BANK S UMUT

Definisi secara umum penyertaan modal yaitu suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Penyertaan M odal Negara adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUM N dan/atau Perseroan Terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi.66 Penyertaan modal pemerintah pusat/daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham negara atau daerah pada badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum lainnya yang dimiliki negara. 67 Pasal 1 angka 4 Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah menyatakan Penyertaan M odal adalah bentuk Investasi Pemerintah pada Badan Usaha dengan mendapat hak kepemilikan, termasuk pendirian Perseroan Terbatas dan/atau pengambilalihan Perseroan Terbatas. Dalam pengelolaan dan

Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausah aan Modal Neg ara pada Bad an Usaha Milik Negara dan Pers ero an Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 116, Tambahan Lembaran Neg ara Republik Indonesi a Nomor 4555. 67 Pasal 1 angk a 19 Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Peng elolaan Barang Milik Negara/Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesi a Tahun 2006 Nomor 20, Tambah an Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609.

66

39

pertanggungjawaban keuangan negara terdapat beberapa jenis penyertaan modal yaitu, antara lain : a. Penyertaan modal pemerintah pusat adalah pengalihan kepemilikan Barang M ilik Negara yang semula merupakan kekayaan negara yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan negara yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham negara pada Badan Usaha M ilik Negara (BUM N), Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D), atau Badan Hukum lainnya yang dimiliki Negara/Daerah. 68 b. Dalam APBD, penyertaan modal pemerintah daerah kedalam perusahaan daerah adalah salah satu bentuk kegiatan/usaha pemda untuk meningkatkan pendapatan daerah guna mensejahterakan masyarakat. Berdasarkan peraturan perundang-undangan dinyatakan bahwa setiap penyertaan modal atau penambahan penyertaan modal kepada perusahaan daerah harus diatur dalam perda tersendiri tentang penyertaan atau penambahan modal. Perlu diingat bahwa penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. Penambahan penyertaan modal oleh Pemda bersumber dari APBD tahun anggaran berjalan pada saat penyertaan atau penambahan penyertaan modal tersebut dilakukan.

Lampiran X Peraturan Ment eri Keuang an No. 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara.

68

40

c. Penyertaan M odal Bank Indonesia : sesuai dengan Pasal 64 Undang Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009 dan Penjelasannya, Bank Indonesia hanya dapat melakukan penyertaan modal pada badan hukum atau badan lainnya yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia dan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Penyertaan di luar badan hukum atau badan lain yang sangat diperlukan tersebut hanya dapat dilakukan apabila telah memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Dana untuk penyertaan modal tersebut hanya dapat diambil dari dana cadangan tujuan.

Dalam hal penyertaan modal yang dilakukan Pemerintah Daerah pada Badan Umum M ilik Daerah (BUMD) perlu dilihat modal awal yang dibutuhkan oleh BUM D tersebut. Adapun aturan-aturannya terdapat di dalam Bank for International Settlement sebagai lembaga yang dipayungi oleh Bank Dunia. Selanjutnya dapat dilihat kebijakan dari Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia. Kebijakan Bank Indonesia tersebut dikeluarkan melalui Peraturan Bank Indonesia yang berlaku pada Bank-Bank di Indonesia. Antara peraturan Bank Indonesia dengan Bank for International Settlement adalah tidak boleh bertentangan satu sama lain.

A.

Modal Awal Bank Umum Bagi suatu organisasi atau perusahaan ada istilah yang terkenal yaitu bahwa

uang adalah darah bagi organisasi atau perusahaan tersebut karena tanpa uang

41

organisasi atau perusahaan tidak akan berjalan, untuk hal ini uang tersebut umumnya terkonsentrasi pada sisi aktiva. Lain halnya dengan bank, bagi bank dana merupakan darah, karena tanpa adanya sumber dana, bank tidak akan dapat beroperasi. Kebalikan dari suatu organisasi atau perusahaan yaitu bahwa sumber dana yang merupakan darah bagi bank justru terkonsentrasi pada sisi pasiva. Oleh karena itu, untuk mendapatkan dana guna memenuhi kebutuhan operasional, bank melakukan penghimpunan dana dari masyarakat (dana pihak ketiga), dari pasar uang atau pasar modal (dana pihak kedua), maupun dari pemilik (pihak kesatu) melalui pasar modal. 69 Di negara-negara maju bank sudah merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat setiap kali bertransaksi. M engenai permodalan bank, di setiap negara dan daerah berbeda-beda. Peraturan tersebut ada yang bersifat internasional dan ada yang bersifat nasional. Peraturan perbankan yang bersifat internasional dikeluarkan oleh World Bank, sedangkan yang bersifat nasional dalam konteks Indonesia adalah Bank Indonesia.

1.

Bank for International Settlement (BIS ) Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yang

meningkatkan kerjasama moneter dan keuangan internasional dan berfungsi sebagai bank sentral. BIS memenuhi mandat tersebut dengan bertindak sebagai : Forum untuk mendorong diskusi dan analisis kebijakan di antara bank sentral dan dalam komunitas keuangan internasional; Pusat untuk riset ekonomi dan moneter; Suatu mitra utama

Boy Leon dan Sonny Ericson, Manajemen Aktiva Pasiva Bank Nondevisa : Pengetahuan Dasar Bagi Mahasiswa dan Praktisi Perbankan, (Jakarta : Grasindo, Tanpa Tahun), hal. 32.

69

42

bagi bank sentral dalam transaksi keuangan; dan Agen atau wali amanat sehubungan dengan operasi keuangan internasional. BIS berkantor pusat di Basel, Swiss dan ada 2 (dua) kantor perwakilan di Hong Kong Daerah Administratif Khusus dari Republik Rakyat Cina dan di M exico City. BIS didirikan pada tanggal 17 M ei 1930, BIS adalah organisasi tertua keuangan dunia internasional. 70 M odal standar bank sebagaimana dimaksud oleh Bank for International Settlement Part 2 : The First Pillar – Minimum Capital Requirements dalam Basel II : International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Framework – Comprehensive Version June 2006, adalah sebagai berikut 71 : “I. Calculation of minimum capital requirements, in Act No. 40 : Part 2 presents the calculation of the total minimum capital requirements for credit, market and operational risk. The capital ratio is calculated using the definition of regulatory capital and risk-weighted assets. The total capital ratio must be no lower than 8%. Tier 2 capital is limited to 100% of Tier 1 capital”.

Perhitungan kebutuhan modal minimum dalam Act. 40, Part 2 menyajikan perhitungan kebutuhan modal minimum jumlah kredit, pasar, dan risiko operasional. Rasio modal dihitung dengan menggunakan definisi modal peraturan dan Aset Tertimbang M enurut Risiko (ATM R). Rasio modal harus tidak lebih rendah dari 8%. Bank for International Settlement (BIS) melalui Bank Indonesia mewajibkan setiap Bank Umum termasuk di dalamnya Bank Sumut harus memiliki ATM R minimal 8%, apabila kurang dari 8% maka akan mempengaruhi tingkat kesehatan Bank. Kaitannya
Bank For International Settlements, “Tentang BIS”, http://www.bis.org/about/index.htm., diakses pada 05 April 2011. 71 Bank for International Settlements, Basel II : International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Framework – Comprehensive Version June 2006 The First Pillar – Minimum Capital Requirements, http://www.bis.org/publ/bcbs107b.pdf., diakses pada 04 April 2011.
70

43

adalah dengan kredit/pembiayaan agar ATM R dikurangi dari 50% menjadi 25%, terkait dengan masalah resiko tersebut, mempengaruhi nilai ATM R dan kesehatan Bank menjadi menurun. Akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap modal dan kinerja, karena kalau nilai ATM R menurun terus bisa jadi harus menambah modal disetor ke Bank tersebut.72

2.

Kebijakan Direksi Bank Indonesia Mengenai Modal Minimum Bank Umum Kebijakan Direksi Bank Indonesia mengenai modal minimum bank umum

diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum, Peraturan Bank Indonesia No. 9/16/PBI/2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No. 7/15/PBI/2005 tentang Jumlah M odal Inti M inimum Bank Umum. Dalam latar belakang Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum menyebutkan bahwa dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat dan mampu bersaing secara nasional dan internasional, maka diperlukan penyesuaian struktur permodalan bank sesuai standar internasional yang berlaku. 73 M enurut Pasal 2 peraturan ini menyebutkan bahwa bank wajib menyediakan modal minimum 8% (delapan perseratus) dari aktiva tertimbang menurut risiko terhitung sejak akhir bulan Desember 2001. Sejalan dengan yang disebutkan dalam Act. 40, Part 2 Bank for
Bank Indon esia, International Convergen ce of Capital Measurement and Capital Standards: A Revised Framework June 2004, Op.cit., hal. 16. 73 Bagian Menimbang, Peraturan B ank Indon esia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
72

44

International Settlement yang menyebutkan rasio modal harus tidak lebih rendah dari 8% (delapan perseratus). M odal tersebut diambil dari Pemerintah untuk status bank pemerintah. Bank pemerintah dimaksud adalah bank-bank konvensional maupun syariah. Jika, bank tersebut tidak bisa memenuhi modal minimum tersebut maka akan ditempatkan dalam pengawasan khusus maksudnya adalah daftar list dari Bank Indonesia, yaitu Bank dalam Pengawasan. M odal tersebut terdiri dari modal inti dan modal pelengkap.74 Besaran dari modal pelengkap ini adalah 100% (seratus perseratus) dari modal inti. M aksudnya jika modal inti Rp. 100 juta, maka modal pelengkap harus lebih kecil atau sama dengan Rp. 100 juta juga. Jadi modal bank tersebut sudah ada kurang dari Rp. 200 juta. M odal inti terdiri dari 2 (dua) yaitu modal disetor dan cadangan tambahan modal (disclosured reserve).75 Selanjutnya cadangan tambahan modal dibagi lagi dalam 8 (delapan) faktor penambah yaitu : agio; modal sumbangan; cadangan umum modal; cadangan tujuan modal; laba tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan pajak; laba tahun berjalan setelah diperhitungkan taksiran pajak sebesar 50% (lima puluh perseratus); selisih lebih penjabaran laporan keuangan kantor cabang luar negeri; dan dana setoran modal. 76 Ada juga yang disebut faktor pengurang, yaitu : disagio; rugi tahun-tahun lalu; rugi tahun berjalan; selisih kurang penjabaran laporan keuangan

Pasal 3 ay at (1 ), Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 75 Pasal 4 ay at (1 ), Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 76 Pasal 4 ayat (3) huru f a., Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

74

45

kantor cabang luar negeri; dan penurunan nilai penyertaan pada portofolio yang tersedia untuk dijual. 77 Dalam hal perhitungan laba atau rugi sebuah bank harus dikeluarkan terlebih dahulu hitungan pajak tangguhan. 78 Dengan kata lain, setiap pajak harus didahulukan untuk dibayarkan kepada pemerintah. Pada modal pelengkap terdiri dari : cadangan revaluasi aktiva tetap; cadangan umum dari penyisihan penghapusan aktiva produktif setinggi-tingginya 1,25% (seratus dua puluh lima per sepuluh ribu) dari aktiva tertimbang menurut risiko; modal pinjaman (hybrid/quasi capital); pinjaman subordinasi setinggi-tingginya sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari modal inti; dan peningkatan nilai penyertaan pada portofolio yang tersedia untuk dijual setinggitingginya sebesar 45% (empat puluh lima per seratus).79 Bank dilarang untuk mendistribusikan modal atau laba jika distribusi tersebut mengakibatkan kondisi keuangan permodalan bank tidak tercapai rasio 8% (delapan per seratus) tadi yang dijadikan modal awal sebuah bank. 80 Hal ini menunjukkan kondisi keuangan bank adalah yang nomor satu harus diprioritaskan. Walaupun begitu pajak yang timbul harus dibayarkan terlebih dahulu.

Pasal 4 ayat (3 ) huru f b., Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 78 Pasal 4 ay at (4 ), Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 79 Pasal 4 ay at (5 ), Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 80 Pasal 5, Peraturan Bank Indon esia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyedi aan Modal Minimum Bank Umum.

77

46

B.

Penyertaan Modal Didasarkan Dengan Peraturan Daerah Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)

Atas

Setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemerintah dengan menggunakan APBN maka harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dalam hal PT. Bank Sumut penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah harus ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang dalam hal ini adalah Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Karena PT. Bank Sumut merupakan suatu Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D) maka Pemerintah Daerah yang berwenang untuk menetapkan peraturannya. Penyertaan modal yang dilakukan Pemerintah Daerah dilakukan berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Penyertaan M odal Daerah pada modal saham PT. Bank Sumut antara lain berasal dari APBD merupakan kekayaan negara yang dipisahkan, Penyertaan M odal Negara tersebut mengandung arti pemisahan kekayaan negara yang dipisahkan, dipisahkan dari sistem pengelolaan dan pertanggung jawabkan APBD. M odal yang telah disetor pada BUM D PT. Bank Sumut akan menjadi harta kekayaan Bank Sumut selaku badan hukum yang mandiri dan selanjutnya tunduk pada mekanisme berdasarkan hukum korporasi. Dengan demikian maka modal pemerintah pada PT. Bank Sumut akan diperlakukan sama seperti investor lain selaku pemegang saham. Yang mempengaruhi terhadap kontrol perusahaan adalah jumlah saham yang dimiliki, semakin besar persentase perusahaan adalah jumlah saham yang dimiliki, semakin besar persentase kepemilikan saham terhadap perusahaan maka akan

47

semakin besar pula kewenangan untuk mengendalikan perusahaan melalui mekanisme RUPS. 81

1.

Sejarah Bank Pembangunan Daerah Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia-

Belanda. Pada masa itu De Javasche Bank, NV didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828 kemudian menyusul Nederlendsche Indische Escompto Maatschappij, NV pada tahun 1918 sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan ke luar negeri serta terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia-Belanda. Bank-bank tersebut, antara lain 82 : 1. De Javasche NV; 2. De Post Poar Bank; 3. Hulp en Spaar Bank; 4. De Algemenevolks Crediet Bank; 5. Nederland Handles Maatscappi (NHM ); 6. Nationale Handles Bank (NHB); 7. De Escompto Bank NV; 8. Nederlansche Indische Handelsbank.

Kusmono, “Tanggung Jawab Direksi Pers ero Pad a Pengelolaan Peny ertaan Modal Negara Dalam Hal Terjadi Kerugian ”, (Tesis : Sekolah Pasca Sarjana Univ ersitas Sumatera Utara, 2008), hal. 129. 82 Wikipedia, “Bank”, Op.cit.

81

48

Di samping itu, terdapat pula bank-bank milik orang Indonesia dan orangorang asing seperti dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Nama-nama bank tersebut antara lain 83 : 1. NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank; 2. Bank Nasional Indonesia; 3. Bank Abuan Saudagar; 4. NV Bank Boemi; 5. The Chartered Bank of India, Australia and China; 6. Hongkong & Shanghai Banking Corporation; 7. The Yokohama Species Bank; 8. The Matsui Bank; 9. The Bank of China; 10. Batavia Bank.

Di zaman kemerdekaan, perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang lagi. Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Bank-bank yang ada di zaman awal kemerdekaan antara lain : 1. NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (saat ini Bank OCBC NISP), didirikan 04 April 1941 dengan kantor p usat di Bandung; 2. Bank Negara Indonesia, yang didirikan tanggal 05 Juli 1946 yang sekarang dikenal dengan BNI ’46;

83

Ibid.

49

3. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946. Bank ini berasal dari De Algemenevolks Crediet Bank atau Syomin Ginko; 4. Bank Surakarta M askapai Adil M akmur (M AI) tahun 1945 di Solo; 5. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946; 6. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di M edan; 7. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogjakarta kemudian menjadi Bank Amerta; 8. NV Bank Sulawesi di M anado tahun 1946; 9. Bank Dagang Indonesia NV di Samarinda tahun 1950 kemudian merger dengan Bank Pasifik; 10. Bank Timur NV di Semarang berganti nama menjadi Bank Gemari. Kemudian merger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949.

Di Indonesia, praktek perbankan sudah tersebar sampai ke pelosok pedesaan. Lembaga keuangan berbentuk bank di Indonesia berupa Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Bank Umum Syariah, dan juga Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). M asing-masing bentuk lembaga bank tersebut berbeda karakteristik dan fungsinya. 84 Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara disingkat PT. Bank Sumut didirikan di M edan pada tanggal 04 November 1961 dalam bentuk Perseroan Terbatas berdasarkan Akta Notaris Rusli Nomor 22.85 Berdasarkan Undang-Undang

84 85

Ibid. Bank Sumut, “Tentang Kami”, http://www.banksumut.com/tentang.php., diakses pada 06

April 2011.

50

No. 13 tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan sesuai dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965, bentuk usaha diubah menjadi Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D). Modal dasar sebesar Rp. 100 juta dan saham yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Tingkat II se-Sumatera Utara. Untuk meningkatkan modal disetor sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya telah terjadi beberapa kali perubahan peraturan daerah. Berdasarkan Peraturan M enteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah, yang diundangkan tanggal 04 Februari 1998, maka untuk mendukung gerak dan kinerja bank serta untuk menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan perbankan di tanah air dan arah perkembangan perbankan di masa yang akan datang. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara melakukan perubahan kembali dalam bentuk hukum menjadi Perseroan Terbatas (PT), dengan demikian nama Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara berubah menjadi PT. Bank Sumut. PT. Bank Sumut dibentuk pada tanggal tanggal 16 April 1999 sesuai dengan Akte Pendiri Perseroan Terbatas No. 38 Tahun 1999 Notaris Alina Hanum Nst, SH yang telah mendapat izin atas pengesahan M enteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor C-8224 HT.01.01. Tahun 1999, dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 Tanggal 6 Juli 1999, sebagaimana telah diubah dengan Akta Notaris Pengganti, M arwansyah Nasution, SH, Nomor 31 tanggal 15 Desember 1999 dan terakhir diubah dengan Akta

51

Notaris Alina Hanum, SH, Nomor 21 tanggal 9 M ei 2003 yang telah mendapat persetujuan dari M enteri Kehakiman. 86 Dalam perjalanan sejarahnya, PT. Bank Sumut pernah menempati gedung kantor yang sangat sederhana di jalan Palang M erah M edan. Kemudian pindah ke jalan Imam Bonjol No.7 M edan. Pada tanggal 20 April 1989 M enteri Dalam Negeri telah meresmikan penggunaan gedung kantor baru yang cukup megah dan representatif terletak di jantung kota M edan di Jalan Imam Bonjol No. 18 M edan yang ditempati hingga saat ini. Visi dari Bank Sumut adalah menjadi Bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang, serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat. Dalam menjalankan kegiatanny a, PT. Bank Sumut berusaha untuk mewujudkan visinya dengan cara memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu berupa bantuan beasiswa kepada anak-anak yatim, bantuan kepada fakir miskin/dhuafa, berpartisipasi dalam pembangunan rumah

ibadah melalui lembaga amil zakat PT. Bank Sumut dan kegiatan olah raga serta kegiatan kemasyarakatan yang lainnya. 87 Adapun yang menjadi misi PT. Bank Sumut adalah mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan kepada prudential banking principle. Sebagai alat kelengkapan otonomi daerah di bidang perbankan, PT. Bank Sumut berfungsi sebagai penggerak dan pendorong laju pembangunan di Propinsi Sumatera Utara, dan bertindak sebagai pemegang kas daerah yang

86 87

Ibid. Ibid.

52

melaksanakan penyimpanan kas milik pemerintah daerah serta sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah melalui deviden yang diberikan kepada pemerintah daerah. 88

2.

Perubahan Perusahaan Daerah dari Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Perubahan Perusahaan Daerah dari BPDSU menjadi PT. Bank Pembangunan

Daerah Sumatera Utara, terletak pada Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Awal mula Bank Sumut adalah BPDSU yang merupakan Perusahaan Daerah. Dengan dikeluarkannya Perda tersebut maka seharusnya bentuk hukumnya juga berubah menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Pada Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara ada mencantumkan kata “Tbk” pada judul Peraturan Daerah tersebut yang dikeluarkan oleh Pemprovsu. Seharusnya kata “Tbk atau Terbuka” tidak boleh digunakan pada akhir nama perusahaan apabila perusahaan tersebut belum melakukan penawaran umum.

88

Ibid.

53

Dalam Pasal 1 angka 12 Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha M ilik Negara, menyebutkan bahwa “Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”.89 Pada Privatisasi, ada tiga elemen penting yang harus dicermati. Pertama, timing, kalau market tidak kondusif maka penerimaannya rendah. Jadi, timing mempengaruhi pricing. Pricing adalah elemen kedua. Ketiga, target size, atau besaran yang hendak dicapai dalam privatisasi.90 Pemerintah Daerah akan berkurang pendapatan dividennya setiap tahun jika PT. Bank Sumut di privatisasi karena harus berbagi deviden dengan Pemegang Saham yang lainnya dari sektor swasta. Dari sisi waktu (timing), PT. Bank Sumut belum dapat bersaing dengan kancah perbankan Internasional. Ditakutkan nantinya PT. Bank Sumut akan memperoleh harga yang tidak stabil dan cenderung memiliki grafik menurun. Sudah jelas hal tersebut dapat merugikan Pemerintah Daerah. Dari sisi target size, untuk ukuran Bank Pembangunan Daerah, PT. Bank Sumut memang sudah tergolong besar dan maju. Kemajuan tersebut diukur dari hasil laba yang diperoleh oleh Pemerintah Daerah. Laba tersebut dapat dilihat pada Laporan Keuangan Rugi Laba setiap tahunnya yang dikeluarkan oleh PT. Bank Sumut. Laporan keuangan tersebut juga sudah diaudit oleh Auditor Independen.
Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomo r 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon esia Nomo r 4297. 90 Riant Nugroho Dwijowijoto dan Ricky Siahaan, BUMN Indonesia : Isu, Kebijakan, dan, Strategi, (Jakarta : Gramedia, 2005), hal. 24.
89

54

M aka PT. Bank Sumut jika ditinjau dari besaran laba yang didapat adalah belum memenuhi target yang diharapkan. Pada konteks pricing tingkat saham yang dikeluarkan oleh PT. Bank Sumut adalah seharga Rp. 10.000,- per lembar sahamnya. Namun, jika sudah dilakukan privatisasi maka harganya akan berfluktuasi. Tidak menentu perubahannya bisa cenderung naik bisa juga turun. PT. Bank Sumut sudah cukup menjadi Bank Pembangunan Daerah saja yang membangun dan mengelola asset daerah. Dengan begitu Pendapatan Asli Rakyat Daerah (PARD) akan meningkat pula. PT. Bank Sumut adalah milik masyarakat daerah. Jadi, tidak perlu diprivatisasi karena PT. Bank Sumut menyimpan hampir seluruhnya anggaran daerah. Perihal privatisasi PT. Bank Sumut ini merupakan issue saja, bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang menguntungkan Pemerintah Daerah dilepas begitu saja. 91

3.

Pengaturan Penyertaan Modal oleh Pemprovsu pada PT. Bank S umut Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965 tentang

Pendirian Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara berisikan mengenai aturanaturan yang banyak diambil dari ketentuan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Perda Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965 tentang Pendirian Bank Pembangunan Daerah

Wawancara deng an Bahrein H. Siagian sebagai Pemimpin Divisi Sumber Daya Manusia PT. Bank Sumut, tanggal 20 April 2011 di Kantor Pusat Bank Sumut.

91

55

Sumatera Utara tersebut mengatakan bahwa penyertaan modal yang dilakukan Pemprovsu pada BPDSU adalah sebesar Rp. 100 juta.92 Dalam laporan tahunan PT. Bank Sumut tahun 2007, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara didirikan pada tanggal 4 November 1961 dengan Akta Notaris Rusli No. 22 dalam bentuk Perseroan Terbatas dengan call name BPDSU. Pada tahun 1962 berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, bentuknya diubah menjadi Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D) melalui Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 Tahun 1965. M odal dasar pada saat itu sebesar Rp. 100 juta dan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Tingkat II se-Sumatera Utara. Pada tanggal 16 April 1999, berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999, bentuk badan hukum diubah kembali dengan call name Bank Sumut. Perubahan tersebut dituangkan dalam Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 38 Tahun 1999 Notaris Alina Hanum Nasution,SH., dan telah mendapat pengesahan dari M enteri Kehakiman Republik Indonesia dibawah No. C-8224HT.01.01 TH 99 tanggal 5 M ei 1999, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 tanggal 6 Juli 1999. M odal dasar pada saat itu meningkat menjadi Rp. 400 miliar. Selanjutnya karena pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan bank, maka pada tanggal 15 Desember 1999 melalui Akta No. 31, modal dasar ditingkatkan menjadi Rp. 500 miliar. 93

92 93

Didi Duharsa, Op.cit., hal. 30-31. Ibid.

56

Selain penyertaan modal yang menggunakan dana kas APBD, Pemerintah Daerah juga menetapkan penggunaan penerimaan daerah dari sektor jasa giro yang ditempatkan juga ke Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Peraturan tersebut adalah Peraturan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 384/4039/K/1987 tentang Penerimaan Hasil Jasa Giro Kas Daerah Tingkat II seSumatera Utara pada Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, mengatakan bahwa94 : “Pertama : Pendapatan daerah dari hasil jasa giro kas daerah tingkat II diberikan sebagai perolehan kepada BPDSU, seluruhnya dibukukan sebagai penerimaan daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Dari hasil jasa giro tersebut ditetapkan penggunaannya sebagai berikut : a. Sebesar 50% untuk Anggaran Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan; b. Sebesar 50% untuk penambahan setoran M odal Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan di BPDSU. Penyetoran untuk modal saham sebesar 50% dari jasa giro dilakukan pada awal tahun takwim, sebelum tahun anggaran berjalan berakhir dengan ketentuan : a. Untuk penyetoran tahun takwim 1988 diperoleh dari hasil jasa giro bulan September 1987 sampai dengan Desember 1987; b. Untuk penyetoran tahun takwim berikutnya diperoleh dari hasil jasa giro selama tahun takwim sebelumnya. Pelaksanaan setoran modal saham dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tentang tata cara pengeluaran uang Kas Daerah. Keputusan ini mulai berrlaku sejak bulan September 1987 dan apabila terdapat kekeliruan akan diperbaiki sebagaimana mestinya”.

Kedua

:

Ketiga

:

Keempat :

Kelima

:

Keputusan Gubernu r Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 584/4039/K/1987 tentang Penggunaan Hasil Jasa Giro Kas Daerah Tingkat II Se-Sumatera Utara pada B ank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

94

57

Dari peraturan yang di atas dapat dilihat bahwa penerimaan daerah dalam bentuk jasa giro juga ditempatkan kembali ke Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Suntikan dana yang terus menerus inilah yang menjadikan bank tersebut kokoh ditinjau dari segi permodalannya. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara seperti anak emas bagi Pemerintah Daerah. Hal ini dikarenakan tidak ada kerugian yang signifikan jika menginvestasikan dana kas daerah. Selanjutnya dari peraturan tersebut diperbaharui lagi dengan Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Dari Hasil Pajak Bumi dan Bangunan yang M erupakan Penerimaan Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai Penyertaan M odal pada PT. Bank Sumut. Pergubsu tersebut memerintahkan agar penerimaan daerah dari hasil pajak bumi dan bangunan juga dimasukkan dalam penyertaan modal pada PT. Bank Sumut. Dari penyertaan modal tersebut PT. Bank Sumut mengeluarkan saham-saham kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jumlah penyertaan yang dilakukan adalah 5% dari hasil bersih seluruh penerimaan pajak bumi dan bangunan.

a.

Pengaturan Penyertaan Modal di dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengatur mengenai

Bank pada Pasal 16 ayat (2) yang mengatakan bahwa 95 : “Untuk memperoleh izin usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dipenuhi persyaratan sekurangkurangnya tentang : a. Susunan organisasi dan kepengurusan;
95

Pasal 16 ayat (2), Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

58

b. c. d. e.

Permodalan; Kepemilikan; Keahlian di bidang Perbankan; Kelayakan rencana kerja”.

Untuk permodalan diatur lebih lanjut di dalam Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum. Dalam penulisan tesis ini, PT. Bank Sumut adalah sebagai Bank Umum. Jadi, peraturan yang mengatur mengenai permodalan tunduk kepada Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 bukan UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas karena PT. Bank Sumut bergerak dalam sektor perbankan. Selanjutnya yang dimaksud dengan setoran modal pada PT. Bank Sumut adalah dana yang telah disetor penuh oleh Pemprovsu untuk tujuan penambahan modal. 96 M odal awal minimum bank diperhitungkan sebagai dana setoran modal harus ditempatkan pada rekening khusus dan tidak boleh ditarik kembali oleh Pemegang Saham. Penggunaan dana pada rekening khusus tersebut harus dengan persetujuan Bank Indonesia. Dalam hal dana setoran modal berasal dari calon pemilik Bank maka jika berdasarkan penelitian Bank Indonesia, calon pemilik Bank atau dana tersebut tidak memenuhi syarat sebagai pemegang saham atau modal, maka dana tersebut tidak dapat dianggap sebagai komponen modal, dan dapat ditarik kembali oleh calon pemilik (dalam hal ini Pemegang Saham). 97

Penjelasan Pasal 4 ayat (3) angka 8, Peraturan Bank Indonesi a No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. 97 Penjelasan Pasal 4 ayat (3) angka 8, Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

96

59

Pada penambahan modal harus dilakukan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 98 RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menyetujui pelaksanaan keputusan RUPS dalam hal penambahan modal. Penyerahan kewenangan tesebut dapat ditarik kembali oleh RUPS. 99 Dalam hal penambahan modal PT. Bank Sumut oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, PT. Bank Sumut harus mengadakan RUPS, memanggil Pemegang Saham (Kepala Daerah se-Sumatera Utara) dan mengutarakan maksud dan tujuannya dalam undangan RUPS yaitu penambahan modal. Setelah mengundang para Pemegang Saham selanjutnya PT. Bank Sumut harus menyiapkan dokumen-dokumen rapat, dalam hal penambahan modal yang menjadi dokumen rapat adalah studi kelayakan (feasibility study) mengenai penambahan modal tersebut. Isi dari studi kelayakan itu bisa berupa alasan-alasan penambahan modal, tujuan penambahan modal, dana yang ditambahkan disalurkan kemana saja. Jadi, intinya PT. Bank Sumut harus tunduk dan menjalankan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas karena pengaturan mengenai perusahaan tidak diatur dalam Perda Pendirian Bank Pembangunan Daerah. Dalam hal pengaturan modal awal digunakan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank. Jika dianalogikan, ketentuan perseroan terbatas dapat dikatakan sebagai rambu-rambu lalu lintasnya sedangkan PT. Bank Sumut sebagai mobil yang sedang jalan.
98 99

Pasal 41 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 41 ayat (2 ) d an ay at (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas.

60

b.

Undang-Un dang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Bank Pembangunan Daerah diundangkan dengan tujuan untuk mempercepat terlaksananya usaha-usaha pembangunan yang merata di seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu adanya pengerahan modal dan potensi di daerah-daerah untuk pembiayaan pembangunan daerah. 100 Di dalam undang-undang ini juga diatur mengenai fungsi, lapangan kerja, cara mengurus dan cara menguasai serta bentuk hukum dari Bank Pembangunan Daerah dalam rangka Ekonomi Terpimpin.101

1.

Tujuan Bank Pembangunan Daerah Tujuan Bank Pembangunan Daerah adalah untuk membangun perekonomian

daerah juga tidak terlepas dari tujuan dari jasa perbankan. jasa bank pada umumnya terbagi atas 2 (dua) tujuan. Pertama, sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efisien bagi nasabah. Untuk itu, bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Inilah peran bank yang sangat penting bagi kehidupan ekonomi. Tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efisien ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu.102

Bagian M enimbang huru f a., Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 t entang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 101 Bagian M enimbang huru f d., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 102 Wikipedia, “Bank”, http://id.wikipedia.org/wiki/Bank#Sejarah_Perbankan_di_Indon esia., diakses pada 06 April 2011.

100

61

Kedua, dengan menerima tabungan dari nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih baik produktif. Bila peran ini berjalan baik, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik maka ekonomi suatu negara akan meningkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman. 103 Jasa perbankan sebenarnya sangat banyak, hanya saja sedikit sekali masyarakat yang mengetahui. Tujuan dan manfaatnya juga sangat baik bagi para nasabah. Akan tetapi, banyak yang memanfaatkan untuk tindakan kriminal, seperti pembobolan Automatic Teller Machine (ATM ) pemalsuan buku tabungan dan lainlain. 104 Dalam hal PT. Bank Sumut, tujuan didirikannya adalah sebagai alat kelengkapan otonomi daerah di bidang perbankan. PT. Bank Sumut berfungsi sebagai penggerak dan pendorong laju pembangunan di daerah, bertindak sebagai pemegang kas daerah yang melaksanakan penyimpanan uang daerah serta sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah dengan melakukan kegiatan usaha sebagai Bank umum seperti dimaksudkan pada Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

103 104

Ibid. Ibid.

62

Adapun tujuan Bank Sumut didirikan adalah untuk membiayai pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah, sehingga modal pembelanjaannya dapat diperoleh dari hasil proyek-proyek pembangunan tersebut. Pembiayaan proyekproyek daerah dalam rangka Pembangunan Nasional Semesta Berencana maka Bank Sumut bertugas mengerahkan modal dan potensi di daerah-daerah yang

mengikutsertakan pihak swasta nasional progresip.105 Untuk melaksanakan maksud tersebut di atas, Bank memberikan pinjaman untuk keperluan investasi, perluasan dan pembaruan proyek-proyek pembangunan daerah di daerah yang bersangkutan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah maupun yang diselenggarakan oleh Perusahaan-perusahaan campuran antara Pemerintah Daerah dan Swasta. 106 Dengan kata lain, Bank Sumut bertindak sebagai saluran kredit bagi proyek-proyek Pemerintah Daerah. 107 Tetapi, Bank tidak dapat memberikan untuk keperluan lainnya.108 PT. Bank Sumut menyimpan deposito uangnya di Bank Indonesia, tidak boleh di bank lain karena Bank Indonesia adalah bank sentral Indonesia. BPD dapat menerima uang dari pihak ketiga sebagai deposito tetapi tidak menerima uang giro dan tidak menjalankan tugas-tugas bank umum. BPD bukanlah bank devisen, jadi tidak dapat memperdagangkan mata uang asing karena tidak memperoleh surat

Bagian Menimbang hu ru f b d an c., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 106 Pasal 5 ayat (1) huruf a., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 107 Pasal 5 ayat (1) huru f b -c., Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 108 Pasal 5 ayat (3), Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

105

63

penunjukan dari Bank Indonesia untuk itu.109 Jika bank devisa maka dapat menawarkan jasa-jasa bank yang berkaitan dengan mata uang asing tersebut seperti transfer ke luar negeri, jual beli valuta asing, transaksi ekspor-impor, dan jasa-jasa valuta asing lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan keuangan daerah, karena BPD banyak menyimpan dana APBD.

2.

Modal, S aham-Saham dan S umber Keuangan Lain M odal PT. Bank Sumut berasal dari Pemerintah Daerah. M enurut Pasal 7

Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah menyebutkan bahwa besarnya modal BPD ditetapkan dalam peraturan pendirian Bank dengan ketentuan, bahwa modal yang disetor harus berjumlah paling sedikit Rp. 20 juta. Dalam penyetoran awal modal PT. Bank Sumut adalah sebesar Rp. 100 juta. Selanjutnya modal tersebut terbagi dalam saham-saham. Saham-saham tersebut dibagi kepada Pemerintah Propinsi, Kotamadya, dan Kabupaten terdiri dari saham-saham prioritas dan saham-saham biasa. 110 Sahamsaham tersebut dikeluarkan disebut dengan ”saham atas nama”. 111 Jadi dalam konteks PT. Bank Sumut, sahamnya ada yang bernama Saham Kota M edan, Saham Kabupaten Langkat, dan lain sebagainya. Namun, untuk pengaturan mengenai sahamsahamnya diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Pasal 6, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 110 Pasal 8 ayat (1), Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 111 Pasal 8 ayat (5), Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.
109

64

Bank dapat mengeluarkan obligasi dan mengadakan pinjaman-pinjaman lainnya kecuali pinjaman-pinjaman ke luar negeri yang memerlukan izin terlebih dahulu dari dan pengawasan penggunaannya oleh Pemerintah Pusat.112 PT. Bank Sumut juga mengggunakan sumber-sumber pembiayaan tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Pembiayaan tertentu tersebut adalah penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan otonomi daerah. Tambahan penyetoran modal tahun 2007 oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara serta keseluruhan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Utara sebesar Rp. 23,05 miliar telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada tanggal 10 Juni 2008. M odal disetor sampai dengan tahun 2008 sebesar Rp. 486,78 miliar dengan nilai nominal untuk setiap lembar saham sebesar Rp. 10.000,-. Adapun komposisi kepemilikan saham pada tahun 2007-2008 adalah sebagai berikut :

Pasal 9 ayat (1), Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

112

65

TABEL 1 KOMPOSISI KEPEMILIKAN SAHAM PT. BANK SUMUT 2007-2008 (dalam miliar rupiah)

Pemegang Saha m

2008 Modal Persentase Disetor

2007 Modal Disetor 291.83 19 .64 8 .84 12 .93 18 .04 13 .80 7 .47 23 .10 8 .13 7 .86 6 .61 7 .39 4 .61 2 .61 5 .27 3 .91 2 .95 2 .81 3 .96 4 .53 4 .32 0 .85 1 .37 0 .16 0 .74 463.73

Persentase 62 ,42 4 ,27 1 ,92 2 ,81 3 ,92 2 ,92 1 ,62 4 ,78 1 ,70 1 ,65 1 ,44 1 ,47 0 ,94 0 ,57 1 ,09 0 ,85 0 ,64 0 ,61 0 ,86 0 ,98 0 ,86 0 ,18 0 ,30 0 ,04 0 ,16 100,00

Pemerintah Provinsi Sumatera U tara Pemerintah Kabupaten L abuhan Batu Pemerintah Kabupaten Asahan Pemerintah Kabupaten D eli Serdang Pemerintah kota M edan Pemerintah Kabupaten Simalungun Pemerintah Kabupaten L angkat Pemerintah Kota Tapanuli Selatan Pemerintah Kabupaten N ias Pemerintah Kabupaten Tap. Tengah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara Pemerintah Kota Tebing Tinggi Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Pemerintah Kota Binjai Pemerintah Kota Pematang Siantar Pemerintah kota T anjung Balai Pemerintah Kabupaten D airi Pemerintah Kabupaten Karo Pemerintah Kabupaten Toba Samos ir Pemerintah kota Sibolga Pemerintah Kota Padang Sidempuan Pemerintah Kabupaten Pakpak Barat Pemerintah Kabupaten H . H asundutan Pemerintah Kabupaten N ias Selatan Pemerintah Kabupaten Samosir Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai JUML A H

291.83 19 .64 8 .84 17 .40 18 .04 17 .70 7 .47 26 .57 8 .86 8 .67 7 .36 7 .99 4 .91 3 .41 5 .84 4 .31 3 .79 2 .81 4 .71 4 .70 4 .95 1 .35 2 .93 1 .19 1 .01 0 .5 486.78

59 ,95 4 ,04 1 ,82 3 ,57 3 ,71 3 ,64 1 ,53 5 ,46 1 ,82 1 ,78 1 ,51 1 ,64 1 ,01 0 ,70 1 ,20 0 ,88 0 ,78 0 ,58 0 ,97 0 ,96 1 ,02 0 ,28 0 ,60 0 ,24 0 ,21 0 ,10 100,00

Sumber : Bank Sumut, ”Info Saham ”, http://www.banksumut.com/saham.php., diakses pada 07 April 2011.

66

M aksud dari pencantuman Tabel 1 di atas mengenai komposisi kepemilikan saham PT. Bank Sumut adalah untuk melihat besaran saham yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota. Jadi, dengan mengetahui besaran saham tersebut dapat dilihat bahwa saham yang paling besar adalah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp. 291,83 miliar, dengan persentase 62,42%. Kebijakan yang telah dilakukan selama tahun 2000 hingga tahun 2008 telah meningkatkan kinerja usaha PT. Bank Sumut dari tahun ke tahun. Target laba yang telah ditetapkan berhasil dicapai setiap tahunnya, sedangkan asset terus mengalami pertumbuhan secara signifikan. Peningkatan kinerja usaha tersebut telah menjadikan PT. Bank Sumut berada pada level yang baik untuk penilaian tingkat kesehatan Bank sejak tahun 2002 sampai dengan 2007 berdasarkan penilaian Bank Indonesia. Kantor Akuntan Publik Grant Thornton Hendrawinata, Gani & Hidayat sebagai auditor independen memberikan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian untuk tahun buku 2003 sampai dengan tahun 2007. Demikian juga Kantor Akuntan Publik Doli, Bambang, Sudarmadji dan Dadang sebagai auditor independen tahun buku 2008 memberikan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. 113 Kegiatan operasional bank selain dibiayai dengan modal sendiri, juga dari dana pihak ketiga seperti Giro, Tabungan, dan Deposito. Komposisi dana pihak ketiga yang dihimpun oleh Bank Sumut pada tahun 2008 terdiri dari Giro sebesar Rp.3.237 miliar, Tabungan sebesar Rp. 2.567 miliar dan Deposito sebesar Rp. 1.847 miliar. M odal dasar PT. Bank Sumut sesuai dengan Akta Notaris Alina Hanum, SH No. 31 tanggal 15 Desember 1999 berjumlah Rp. 500 miliar. Anggaran dasar PT.
113

Bank Sumut, ”Info Saham”, Op.cit.

67

Bank Sumut mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta No. 39 tanggal 10 Juni 2008 yang dibuat di hadapan H. M arwansyah Nasution, SH di M edan berkaitan dengan Akta Penegasan No. 05 tanggal 10 November 2008 yang telah mendapat pengesahan dari M enteri Hukum dan Hak Azasi M anusia No. AHU87927.AH.01.02 tahun 2008 tanggal 20 November 2008 yang diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 10 tanggal 03 Februari 2009, maka modal dasar ditambah dari Rp. 500 miliar menjadi Rp. 1 triliun.114 Penyetoran M odal oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara serta seluruh Pemerintah Kabupaten dan se-Sumatera Utara sampai dengan tahun 2008 sebesar Rp.486,78 miliar dan pada tahun 2007 sebesar Rp. 463,73 miliar dengan nilai nominal untuk setiap lembar saham sebesar Rp. 10.000,-. Rasio Kecukupan Pemenuhan M odal M inimum atau CAR tahun 2008 sebesar 16,48%. Hal ini sudah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh peraturan Bank for Settlement International (BIS) dan Peraturan Bank Indonesia yaitu sebesar minimal 8%, maka dari itu PT. Bank Sumut adalah bank yang sehat. Sehatnya keuangan dari PT. Bank Sumut tidak luput dari peran serta Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota Sumatera Utara. Peran sertanya berupa penambahan penyertaan modal setiap penerimaan yang berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan sesuai dengan Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Dari Hasil Pajak Bumi dan

114

Ibid.

68

Bangunan yang M erupakan Penerimaan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota Sebagai Penyertaan M odal pada PT. Bank Sumut.115 Pada peraturan tersebut memerintahkan bahwa ada dana yang disisihkan dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai penerimaan daerah sebesar 5% setiap tahun anggaran sebagai penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut. Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 1998 – 2008 telah menyetorkan dalam bentuk saham sebesar Rp. 25 miliar lebih. Seperti yang diutarakan Wakil Bupati Deli Serdang berikut ini 116 : “Sejak tahun 1998 hingga tahun 2008 Pemkab Deli Serdang telah menyertakan modalnya dalam bentuk saham sebesar Rp. 25 miliar lebih sesuai dengan Peraturan Gubsu No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Dari Hasil Pajak Bumi dan Bangunan Penerimaan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebesar 5% setiap tahun anggaran sebagai penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut. Pada tahun 2009, Pemkab Deli Serdang telah mengalokasikan penambahan penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut sebesar Rp. 3,5 miliar lebih, namun karena belum memiliki payung hukum berupa Perda, maka penyertaan modal itu tidak bisa direalisasikan. Kemudian, pada tahun 2010 juga telah dianggarkan sebesar Rp. 4,6 miliar lebih, sehingga diharapkan alokasi anggaran penyertaan modal tersebut bisa direalisasikan setelah DPRD menetapkan Ranperda yang diusulkan menjadi Perda sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditetapkan. Penyertaan modal pada PT. Bank Sumut ini, di samping berperan aktif bagi peningkatan pertumbuhan dan perkembangan BUM D Sumut, juga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan daerah dalam bentuk deviden bank yang hingga kini telah tercatat mencapai Rp. 16 miliar lebih”.

Lain halnya dengan Pemerindah Kabupaten Dairi yang menambah penyertaan modal melalui Peraturan Daerah Kabupaten Dairi No. 11 Tahun 2008 tentang
Peraturan Gub ernur Sumatera Utara No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Dari Hasil Pajak Bumi dan Bangun an Yang Merupak an Penerimaan Pem erintah Provinsi Dan Kabupaten/Kot a Sebag ai Peny ertaan Modal Pada PT. Bank Sumut, Berita Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005 Nomor 11 Seri C Nomor 9. 116 Obrolan Ekonomi, ”Saham Pemkab Deli Serd ang di Bank Sumut Capai Rp. 25 m”, http://obrolanbisnis.com/saham-pemkab-d eli-serd ang-di-bank -sumut-cap ai-rp -25-m/., diakses pada 13 April 2011.
115

69

Penambahan Penyertaan M odal Daerah pada PT. Bank Sumut yang langsung menambahkan modal daerah kepada PT. Bank Sumut.117 Penyertaan modal yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan jasa perbankan dan

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).118 Nilai penyertaan modal terhitung 4 November 1961 sampai dengan 3 Juli 2008 sebanyak 379.122 lembar saham atau senilai Rp. 3.791.220.000,-.119 Penambahan tersebut didapat dari 5% dana dari penerimaan daerah yang berasal dari dana bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan tahun 2007, deviden yang diinvestasikan kembali menjadi saham, dan jasa giro dari rekening Pemerintah Daerah.120 Penerimaan Daerah yang bersumber dari PT. Bank Sumut atas penyertaan modal daerah berupa deviden tersebut ditetapkan dalam APBD dan Penjabaran APBD Tahun Anggaran Berjalan. Penerimaan Daerah tersebut disetorkan ke rekening kas umum daerah. M asalah pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam hal penyertaan modal yang dilakukan pemerintah daerah harus menggunakan Perda sebagai payung hukumnya. Namun, Ranperda yang diajukan terlalu lama dibahas di DPRD sehingga dapat menghambat penyertaan modal pada PT. Bank Sumut. Pemerintah Daerah harus mematuhi ketentuan tersebut sesuai dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Adanya unsur kepercayaan antara Pemerintah Daerah dan PT. Bank Sumut dalam hal penyertaan

Peraturan Daerah Kabup aten Dairi No. 11 Tahun 2008 tentang Penambahan Penyertaan Modal Daerah pada PT. Bank Sumut, Lembaran Daerah Kabup aten Dairi Tahun 2008 Nomor 11, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 133. 118 Pasal 2 ayat (3), Peraturan Daerah Kabupat en Dai ri No. 11 Tahun 2008 tentang Penambahan Penyert aan Modal Daerah pada PT. Bank Sumut, Ibid. 119 Pasal 5, Ibid. 120 Pasal 6 ayat (1), Ibid.

117

70

modal disebabkan karena langkah yang diambil Pemda tersebut aman dalam konteks investasi. Aman maksudnya adalah Pemda tidak perlu takut kehilangan dana daerahnya karena PT. Bank Sumut membelikannya ke Surat Berharga dengan mendapatkan selisih keuntungan dari deviden yang dikeluarkan. 121 Hal tersebut dapat dilihat pada Laporan Perhitungan Laba Rugi Periode 1 Januari – 30 September 2010 dan 2009 di bawah ini :
Tabel 2. Laporan Perhitungan Laba Rugi Periode 1 Januari – 30 September 2010 dan 2009
No. POS-POS 30 September. 2 01 0 (dalam jutaan rup ia h) 30 September. 2009

PENDAPATAN DAN BEB AN OPERASIONAL A. P en dapata n da n Beban Bunga 1. Penda pa ta n Bunga a. Rupiah b. V aluta Asin g 2. Beb an Bunga a. Rupiah b. V aluta Asin g Penda pa ta n (Be ba n) Bunga bersih B. P enda patan dan Beban Opera sion al sel ai n Bunga 1. Penda pa ta n Operasional Selain Bunga a. P eningkatan nilai wajar a set keuang an (mark to market ) i . Surat Be rharga i i. Kredit i ii. Spot dan Deriva tif i v. Aset Ke ua ngan L ainn ya b. P enurunan ni la i wajar kewaj ib an keuan ga n (mark to ma rket ) c. K euntu ng an pe njualan aset keu angan i . Surat Be rharga i i. Kredit i ii. Aset Ke ua ngan L ainn ya d. K euntu ng an t ransaksi spot da n d erivatif (realised ) e. Dividen, keu ntung an dari p enye rtaan d enga n equity me th od , ko misi/ prov isi/ fe e dan ad minist rasi f . K oreksi atas cadan gan keru gian pe nuru nan n ilai, pe nyisihan p engh ap usa n aset no n prod uktif, dan peny isihan pe nghapu san t ran saksi reke ning a dministra tif g. P endapa tan La in nya

1.2 38.71 8 3 72.52 0 8 66.19 8

1.0 61.44 3 3 06.78 9 7 54.65 4

8. 85 1 5. 94 5 8. 30 8 1 25.97 4

11.98 1 22.58 0 -

49.94 8

40.42 5

Sumber

: Laporan Keu angan PT. Bank Sumut Bulan September http://www.banksumut.com/laporan.php., diakses pada 13 April 2011.

2010,

Pemda tidak perlu takut kehilang an dan a daerahny a maksudnya adalah jika Pemerintah Daerah menemp atkan pad a pembangun an sarana tempat wisata misalnya akan membutuhkan waktu yang panjang untuk penerimaan kembali. Hal inilah yang menjadikan penyertaan modal pad a PT.Bank Sumut menjadi alternatif yang dipilih oleh Pemerintah Daerah.

121

71

M aksud Tabel 2 tentang Laporan Perhitungan Laba Rugi Periode 1 Januari – 30 September 2010 dan 2009 adalah untuk mengetahui usaha yang dijalankan PT.Bank Sumut dalam mengembangkan dana yang disertakan oleh Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota. Hasil yang didapat adalah setelah menerima pendapatan melalui penyertaan modal yang dilakukan Pemerintah Daerah selanjutnya PT. Bank Sumut membelikannya ke surat-surat berharga ataupun melakukan penempatan ke bank-bank lain untuk mencari keuntungan. Adapun yang dilakukan selain dari pembelian surat berharga dan penempatan dana ke bank lain, PT. Bank Sumut juga menjual surat-surat berharga seperti Garansi Bank, cek, giro, dan lain sebagainya. 122

3.

Penggunaan dan Pengurusan Bank Pembangunan Daerah PT. Bank Sumut dipimpin oleh suatu Direksi di bawah pimpinan suatu Badan

Pengawas. Badan pengawas di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas disebut dengan Komisaris. Badan pengawas terdiri dari 3 (tiga) orang, dan salah satu komisaris tersebut dinamakan Komisaris Utama. Pada bagian pengurus perusahaan disebut dengan direksi yang terdiri dari 4 (orang) dan dipimpin oleh salah satunya disebut Direktur Utama (Presiden Direktur). Seluruh Komisaris dan Direksi adalah Warga Negara Indonesia. 123 Pemberhentian dan pengangkatan direksi maupun komisaris pada PT. Bank Sumut harus meminta persetujuan dari Kepala Daerah selaku Pemegang Saham

Bank Sumut, ”Info Saham”, Op.cit. Komisaris adalah Badan Peng awas d an Pengurus Perusah aan adalah Direksi adalah s esuai dengan Pasal 11 Und ang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.
123

122

72

melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 124 Pemberhentian juga dapat diajukan atas permintaan sendiri, melakukan tindakan yang merugikan bank, melakukan tindakan atau sikap yang bertentangan dengan kepentingan negara. 125 Komisaris dalam hal ini disebut Badan Pengawas yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah apabila Direksi diduga melakukan tindakan atau sikap yang bertentangan dengan kepentingan daerah. Atas dugaan yang diajukan secara tertulis tersebut Kepala Daerah dapat memberhentikan untuk sementara anggota Direksi yang bersangkutan. 126 Pemberitahuan sementara tersebut dilakukan juga secara tertulis kepada Direksi yang bersangkutan disertai dengan alasa-alasan yang menyebabkan tindakan tersebut.127 Anggota Direksi yang bersalah tersebut diberikan kesempatan untuk membela diri pada sidang yang khusus diadakan untuk itu oleh Badan Pengawas sebagai Komisaris dalam waktu satu bulan sejak anggota Direksi tersebut diberitahu tentang pemberhentian sementara.128 Pada sidang tersebut dihadiri Kepala Daerah sebagai Pemegang Saham dan atas permintaan Pemegang Saham dapat pula dihadiri oleh anggota-anggota Pemerintah Harian dan/atau anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).129 Badan Pengawas sebagai Komisaris juga

Pasal 94 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 12 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 126 Pasal 12 ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 127 Pasal 12 ayat (3), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 128 Pasal 12 ayat (4) hu ru f a. dan c., Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 129 Pasal 12 ayat (4 ) huru f b., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.
125

124

73

hadir dan memutuskan pembatalan pemberhentian sementara juga memberitahukan secara tertulis mengenai hasil dari sidang tersebut kepada Pemegang Saham dalam hal ini adalah Kepala Daerah. 130 Jika Kepala Daerah tidak mengambil keputusan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal sidang tersebut maka dengan sendirinya pemberhentian sementara itu menjadi batal demi hukum, begitu juga jika Badan Pengawas dalam jangka waktu 1 (satu) bulan setelah pemberhentian sementara itu diberitahukan kepada Direksi keputusan pemberhentian sementara tersebut akan menjadi batal demi hukum. 131 Jika keputusan Kepala Daerah memuat pemberhentian, anggota Direksi yanag bersangkutan dapat meminta banding secara tertulis disertai dengan alasan-alasan dalam waktu 2 (dua) minggu setelah pemberitahuan diterima kepada M enteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah (dalam hal ini M enteri Dalam Negeri). Keputusan diambil setelah mendengar kebijakan ataupun masukan dari Gubernur Bank Indonesia dalam waktu 2 (dua) bulan sejak surat banding diterima. 132 Putusan M enteri atas keberatan tersebut mengikat semua pihak yang bersangkutan. 133 Pemberhentian tersebut dapat dilakukan secara tidak hormat oleh M enteri Dalam

Pasal 12 ayat (4 ) huru f d., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 131 Pasal 12 ayat (4) hu ru f e. dan ayat (5)., Undang -Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan-Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 132 Pasal 12 ayat (6) huru f a., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 133 Pasal 12 ayat (6 ) huru f b., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

130

74

Negeri jika terbukti telah melanggar ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan atau ketentuan pidana lainnya.134 Keanggotaan Direksi Bank Pembangunan Daerah tidak boleh memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat ketiga, baik menurut garis lurus maupun garis kesamping, termasuk menantu dan ipar. Jika sesudah pengangkatan ternyata Direksi diketahui mempunyai hubungan tersebut maka harus mendapatkan izin dari Kepala Daerah yang bersangkutan dan anggota Direksi tidak boleh rangkap jabatan tanpa ada persetujuan tertulis dari Kepala Daerah.135 Hal ini dikarenakan Direksi mewakili Bank di dalam maupun di luar Pengadilan. Direksi juga dapat memberikan kuasa kepada anggota Direksi lainnya atau kepada staff pegawai bank baik sendir i ataupun bersama-sama atau kepada orang dan badan hukum lainnya untuk mengurusi masalah Pengadilan atau masalah lain yang berkaitan dengan pengurusan perusahaan.136 Kebijaksanaan Bank dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh Direksi menurut kebijaksanaan umum yang digariskan oleh Badan Pengawas sebagai Komisaris. Kebijaksanaan umum tersebut biasanya disebut dengan Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) Perusahaan yang disesuaikan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. ADRT Perusahaan tadi harus juga diberitakan

Pasal 12 ayat (7), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 135 Pasal 13, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 136 Pasal 14, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah.

134

75

dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI) yang disahkan oleh M enteri Hukum dan Hak Azasi M anusia (M enkumham).137 Hubungan antara pengaturan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah bahwa Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah sudah tidak digunakan lagi dalam hal pengaturan di dalam PT. Bank Sumut sejak dikeluarkannya Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Nama Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara ke PT. Bank Sumut. Perubahan bentuk badan hukum tersebut adalah demi mengikuti globalisasi ekonomi dunia. Ketentuan Bank Pembangunan Daerah sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dunia usaha perbankan. Setelah melakukan riset penelitian terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah didapat hasil bahwa adanya ketentuan tersebut tidak mengakomodir kebutuhan PT. Bank Sumut itu sendiri mengikuti perkembangan perusahaan yang begitu pesat. M enurut penelitian Didi Duharsa mengenai peranan reorganisasi PT. Bank Sumut untuk menghindari pembubaran didapat bahwa program rekapitalisasi perbankan yang telah dilaksanakan ternyata telah berhasil

menyehatkana PT. Bank Sumut.138

Pasal 15, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 138 Didi Duhars a, “ Analisis Hukum Peranan Reo rganisasi Perusahaan Dalam Menghind ari Pembubaran : Studi Pada PT. Bank Sumut”, (Medan : Tesis, Sekolah Pascas arjan a Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 119.

137

76

4.

Tanggung Jawab dan Tuntutan Ganti Rugi Pegawai Tanggung jawab dan tuntutan ganti rugi pegawai diatur dalam Pasal 17

Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Pasal 17 menyatakan bahwa139 : (1) “Presiden Direktur dan para Direktur dalam kedudukannya sebagai anggota Direksi serta semua pegawai Bank, yang karena tindakan-tindakan melawan hukum, peraturan Bank atau ketentuan-ketentuan Badan Pengawas, atau yang karena kelalaian kewajiban dan tugas yang dibebankan kepada mereka, dengan langsung ataupun tidak langsung telah menimbulkan kerugian bagi Bank, diwajibkan mengganti kerugian tersebut. (2) Ketentuan-ketentuan tentang tuntutan ganti rugi terhadap pegawai Daerah berlaku sepenuhnya terhadap Bank”.

Direksi Bank Pembangunan Daerah disebut dengan organ perseroan. Apabila dalam melakukan pekerjaannya, Bank mengalami kerugian yang disebabkan oleh pekerjaannya itu maka Direksi tersebut harus dan wajib mengganti seluruh kerugian yang diderita Bank. Namun, prinsip Business Judgement Rules sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dapat dipakai untuk pembelaan Direksi yang meny ebabkan kerugian tersebut apabila dalam hal ini 140 : a. “Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; b. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; c. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik laingsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yagn mengakibatkan kerugian; dan d. Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut”.

Pasal 17, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 140 Pasal 97 ayat (5), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

139

77

Benar adanya bahwa pengaturan Bank Pembangunan Daerah (dalam hal ini PT. Bank Sumut) berdiri atas Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah tapi untuk pengaturan yang tidak diatur dalam peraturan tersebut dapat dilihat pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

5.

Rapat Pemilik Saham Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan

Pokok Bank Pembangunan Daerah, Rapat Umum Pemegang Saham (yang disebut RUPS dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas). Namun dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah disebut Rapat Pemilik Saham. Seluruh tata tertib rapat pemilik saham biasa dan saham prioritet diatur dalam Peraturan Pendirian Bank yaitu Perda dengan mengingat petunjuk-petunjuk Gubernur Bank Indonesia sebagai gubernur bank sentral. 141 Keputusan dalam rapat pemilik saham diputuskan berdasarkan mufakat.142 Jika kata mufakat tidak tercapai maka harus disampaikan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan. Kepala Daerah mengambil keputusan (jalan tengah) dengan mendengarkan pendapat-pendapat dalam rapat terlebih dahulu dan

Pasal 18 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 142 Pasal 18 ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

141

78

memutuskan kebijakan dengan melaporkan ke Gubernur Bank Indonesia. 143 Jika keputusan tersebut tidak digubris oleh Gubernur Bank Indonesia dalam jangka waktu 1 (satu) bulan maka putusan tersebut harus dilaksanakan. 144

6.

Pengawasan Badan yang bertindak sebagai pengawas pada Bank Pembangunan Daerah

disebut dengan Badan Pengawas, dalam Perseroan Terbatas disebut dengan Komisaris. Badan Pengawas bertugas untuk menentukan garis kebijaksanaan bank. 145 Ketentuan tersebut harus disetujui oleh Kepala Daerah yang bersangkutan dengan mengingat peraturan Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah yang ditetapkan dalam peraturan pendirian bank. 146 Keanggotaan Badan Pengawas paling sedikit adalah 3 (tiga) orang dan paling banyak 5 (lima) orang dan diantaranya diketuai oleh Ketua Badan Pengawas, 147 pada saat ini disebut Komisaris Utama. Seluruh Badan Pengawas harus berkewarganegaraan Indonesia begitu juga dengan Dewan Direksi.148 Pengangkatan dan pemberhentian dilakukan oleh Kepala Daerah atas usul DPRD dari daerah yang memiliki saham prioritet (maksudnya

Pasal 18 ay at (3 ) dan (4), Und ang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 144 Pasal 18 ayat (5), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 145 Pasal 19 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 146 Pasal 19, ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 147 Pasal 20 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 148 Pasal 20 ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

143

79

saham paling mayoritas).149 M asa jabatan dari Badan Pengawas adalah 3 (tiga) tahun, namun setelah itu berakhir maka dapat diangkat kembali dengan ketentuan yang berlaku. Pengawasan teknis dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia. 150

7.

Rencana Kerja Tahunan Rencana kerja tahunan tidak terlepas dari tahun tutup buku. Setiap perusahaan

pastilah memiliki buku keuangan. Buku laporan keuangan tersebut ada tahun bukunya disebut tahun takwim. Dalam Bank Pembangunan Daerah tahun buku bank adalah tahun takwim. 151 Tahun takwim adalah dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.152 Pada jangka waktu 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku berjalan, Direksi diwajibkan menyampaikan sebuah rencana kerja tahunan kepada Badan Pengawas untuk disetujui. 153 Setelah diajukan, selanjutnya Badan Pengawas dapat merubah dan dirundingkan dengan Direksi. Paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tahun berjalan, rencana kerja tersebut sudah sampai ke Pemerintah Pusat untuk disahkan. Jika pemerintah mengemukakan keberatan atau menolak proyek yang
Pasal 20 ayat (3), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 150 Undang-Und ang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lemb aran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843. Pasal 8, mengatakan bahwa : “ Untuk mencapai tujuan sebag aimana dimaksud dalam Pasal 7, Bank Indonesia mempunyai tugas s ebag ai berikut : a. menet apkan d an melaks anakan k ebijakan mon eter; b. mengatur dan menjaga kelan caran sistem pembayaran; c. mengatur dan mengawasi bank”. 151 Pasal 23, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah. 152 Pasal 1, Undang-Und ang No. 28 Tahun 2007 t entang Perub ahan Ketiga At as UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajak an, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomo r 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon esia Nomo r 4740. 153 Pasal 24 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.
149

80

dibuat oleh Direksi dan Badan Pengawas maka rencana kerja tersebut tidak dapat berjalan dengan semestinya.154 Rencana kerja tahunan yang ditambahkan atau dirubah yang terjadi dalam tahun buku yang bersangkutan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Badan Pengawas dan baru bisa dijalankan setelah mendapat pengesahan dari Pemerintah Pusat.155 Ada keambiguan peraturan disini, Bank Pembangunan Daerah dalam hal ini adalah produk dari Pemerintah Daerah. Namun, tetap saja harus meminta persetujuan pemerintah pusat. Otonomi Daerah memerintahkan agar setiap Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mengelola dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya dengan cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

8.

Laporan Perhitungan Hasil Keuangan Berkala dan Kegiatan Bank Laporan perhitungan hasil keuangan berkala dilakukan oleh Dir eksi kepada

Badan Pengawas, Kepala Daerah dan Pemerintah Pusat menurut cara dan waktu yang ditentukan dalam Perda Pendirian Bank. 156 Laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan laba-rugi. Perhitungan tersebut diserahkan kepada Badan Pengawas, para Kepala Daerah dan Pemerintah Pusat menurut cara dan waktu yang ditentukan dalam

Pasal 25 ayat (2) huruf a. sampai dengan huru f c., Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 155 Pasal 24 ayat (3), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 156 Pasal 25, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 t entang Ketentuan -Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah.

154

81

Perda Pendirian Bank Pembangunan Daerah. 157 Cara penilaian pos-pos anggaran dalam perhitungan tahunan juga harus disebutkan dalam laporan keuangan tersebut.158 Perhitungan Laporan Keuangan Rugi-Laba yang dibuat oleh Direksi disahkan oleh Kepala Daerah setelah mendengar pendapat dari badan Pengawas. 159 Jika dalam jangka waktu yang telah ditentukan dalam Perda Pendirian BPD tidak ada keberatan oleh Kepala Daerah maka laporan keuangan rugi-laba tersebut disahkan.160 Setelah disahkan lalu Direksi diwajibkan mengumumkan kepada publik melalui surat kabar yang mempunyai peredaran terbanyak dalam daerah usaha Bank yang bersangkutan, seperti : Harian Waspada atau Harian Analisa. 161

9.

Penetapan Penggunaan Laba Setiap perusahaan pastilah memiliki laba ataupun kerugian. Penggunaan laba

bersih setelah dikurangi dengan penyusutan terlebih dahulu, harus dikurangi juga dengan cadangan dan pengurangan-pengurangan lain yang wajar dalam perusahaan Bank. M enurut Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang

Pasal 26 ayat (1), Undang-Undang Pokok Bank Pembangunan Daerah. 158 Pasal 26 ayat (2), Undang-Undang Pokok Bank Pembangunan Daerah. 159 Pasal 26 ayat (3), Undang-Undang Pokok Bank Pembangunan Daerah. 160 Pasal 26 ayat (4), Undang-Undang Pokok Bank Pembangunan Daerah. 161 Pasal 26 ayat (5), Undang-Undang Pokok Bank Pembangunan Daerah.

157

No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan

82

Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, menyebutkan penetapan penggunaan laba, antara lain 162 : a. “Untuk dana pembangunan Daswati I yang bersangkutan 15%; b. Untuk para pemilik saham prioritet dan biasa 40% dibagi menurut perbandingan nilai nominal saham-saham; c. Untuk cadangan umum 25%, sedangkan sisanya dipisahkan untuk disumbangkan dana pensiun dan sokongan pegawai, pendidikan dan jasa produksi yang jumlah persentasenya masing-masing ditentukan dalam peraturan pendirian Bank”. Dana pembangunan Daswati I maksudnya adalah pemerintah provinsi. Dalam konteks PT. Bank Sumut adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara itu sendiri. Untuk dapat melihat penerimaan Pemprovsu dapat dilihat di Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara ataupun laporan keuangan laba-rugi PT. Bank Sumut pada tahun berjalan. Pada Februari 2010, laba sebelum Pajak Rp. 130,8 miliar, kredit Rp. 8,4 triliun dan DPK Rp. 9,5 triliun dengan total aset Rp. 11 triliun.163 Laba dari saham prioritet dimasukkan dalam dana pembangunan daerah yang memiliki saham prioritet.164 Pada cadangan yang diam dan atau rahas ian tidak boleh diadakan. Cara mengurus dan menggunakan dana penyusutan dan cadangan tujuan diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah Tingkat I yaitu Gubernur Sumatera Utara setelah mendengar pendapat dari Badan Pengawas selaku Komisaris. 165 M engenai dana cadangan umum disimpan untuk pembayaran pensiun dan tunjangan lainnya. Pensiun dan tunjangan tersebut diberikan kep ada staff dan
Pasal 27 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 163 Media SMS, “ Kinerja PT. Bank Sumut Meningkat”, http://media-sms.com/?p=112., diakses pada 15 April 2011. 164 Pasal 27 ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 165 Pasal 27 ay at (3 ) dan (4), Und ang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.
162

83

karyawan Bank Pembangunan Daerah. Pengelolaan dana cadangan tersebut dilakukan oleh Bank Pembangunan Daerah itu sendiri.

10.

Pembubaran Pembubaran Bank Pembangunan Daerah dan penunjukan likuidatornya

ditetapkan dalam Perda Tingkat I yang bersangkutan. 166 Sisa kekayaan bank setelah dilikuidasi akan dibagikan kepada para pemilik saham prioritet dan saham biasa menurut perbandingan nilai nominal saham-saham tersebut.167 Pertanggung jawaban Likuidator dalam hal likuidasi dilakukan kepada Kepala Daerah yang memberikan pembebasan tanggung jawab tentang pekerjaan ayng telah diselesaikan oleh Likuidator. 168 Di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga diatur mengenai Likuidasi dalam hal pembubaran perseroan yang diatur dalam Pasal 142 ayat (2) yang menyatakan bahwa : “Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan sebagaimana dimaksud ayat (1) : a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh Likuidator atau Kurator; dan b. Perseroan yang tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali diperlukan untuk membereskan semua urusan Perseroan dalam rangk Likuidasi”.

Pasal 28 ayat (1), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 167 Pasal 28 ayat (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. 168 Pasal 28 ayat (3), Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan -Ket entuan Pokok Bank Pembangunan Daerah.

166

84

Nama perusahaan yang dilikuidasi akan berubah menjadi Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi. Kata “Dalam Likuidasi” harus disertakan dalam setiap surat yang keluar pada stempelnya.169 Pembubaran perseroan terjadi karena : a. “Berdasarkan keputusan RUPS; b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir; c. Berdasarkan penetapan pengadilan; d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan; e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; dan f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan Likuidasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan”.

Pada ketentuan Bank Pembangunan Daerah dan ketentuan Perseroan Terbatas ternyata proses pembubaran harus melalui tahapan likuidasi. Likuidasi tersebut dilaksanakan oleh Likuidator. Likuidator tetap ditunjuk oleh Pemegang Saham. Jika pada BPD ditetapkan oleh Perda dari Gubernur, sedangkan pada Perseroan Terbatas ditetapkan dalam Keputusan RUPS terdapat dalam Risalah Rapat dan dibuat di depan Notaris.

c.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Peraturan M enteri Dalam Negeri tahun 1967 tidak ada yang mengatur

mengenai perubahan Bentuk Badan Hukum dari Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara ke Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Sumatera

169

Pasal 143 ayat (2), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

85

Utara.170 Adapun Permendagri yang mengatur mengenai badan hukum bank pembangunan daerah adalah Peraturan M enteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah. Pada dasarnya peraturan ini memerintahkan Pemerintah Provinsi untuk mengubah bentuk badan hukum perusahaan daerah dari Perusahaan Daerah Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Perintah tersebut dituangkan di dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.171 Perda Provsu No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, disahkan oleh M enteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No. 584.22-306 pada tanggal 12 April 1999. Konsekuensi hukumnya adalah bahwa pengaturan perusahaan PT. Bank Sumut harus berpijak pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan karena PT. Bank Sumut bergerak di bidang usaha perbankan. Konsekuensi selanjutnya adalah nama Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara berubah resmi menjadi PT. Bank Sumut.

Kementerian Dalam Negeri, “ Katalog Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Dari Tahun 1950 s.d. 2010 Dengan Status/Aspek Legalitasnya”, (Jakart a : Pusdatinkomtel, April 2010), hal. 20-27. 171 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 t entang Perubahan Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusah aan Daerah Menjadi Persero an Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Tbk., Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara Tahun 1999 Nomor 47.

170

86

Lalu bentuk perusahaan juga berubah dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Jika hanya Perusahaan Daerah maka akan sulit untuk berkembang sedangkan jika menggunakan Perseroan Terbatas akan cepat berkembang karena tidak terbatas oleh batas-batas wilayah kekuasaan Pemerintah Daerah.

d.

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal BPD Dalam Rangka Program Rekapitalisasi Bank Umum, termasuk Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan M odal Negara

Republik Indonesia ke dalam M odal Bank Pembangunan Daerah D.I. Aceh, BPD Sumut, BPD Bengkulu, BPD Lampung, BPD DKI Jakarta, BPD Jateng, BPD, Jatim, BPD Kalbar, BPD Sulut, BPD M aluku, BPD NTB, dan BPD NTT dalam rangka Program Rekapitalisasi. 172 Pada dasarnya peraturan pemerintah itu merupakan turunan dari Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Pada Pasal 2 ayat (2) huruf b., ketentuan ini menyebutkan besaran penyertaan modal yang dilakukan oleh Negara kepada BPD Sumatera Utara, yaitu : Rp.302.871.000.000,- (tiga ratus dua miliar delapan ratus tujuh puluh satu juta rupiah).173 Penetapan besaran penyertaan modal ini disesuaikan dengan kemampuan

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyert aan Mod al Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Bank Pembangunan Daerah D.I. Aceh, BPD Sumut, BPD Bengkulu, BPD Lampung, BPD DKI Jak arta, BPD Jateng, BPD, Jatim, BPD Kalbar, BPD Sulut, BPD Maluku, BPD NTB, dan BPD NTT dalam rangka Program Rekapitalisasi, Lembaran Negara Republik Indonesi a Tahun 1999 Nomor 79. 173 Pasal 2 ayat (2) huru f b., Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dal am Modal Bank Pembangunan Daerah D.I. Aceh, BPD

172

87

daerah masing-masing. Berdasarkan ketentuan peraturan pemerintah inilah berikutnya dikeluarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara yang mengatur mengenai penyertaan modal. Lain halnya mengenai divestasi dan tata cara penyertaan modal yang dilakukan ditetapkan dengan Peraturan M enteri Keuangan. 174

e.

Peraturan Daerah Mengenai Penyertaan Modal (Perda Provsu No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara) Pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang

Penyertaan M odal PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara mengatur mengenai tujuan dari penyertaan modal, asal dana, dan pengelolaan dana yang disertakan.175 Adapun tujuan dari penyertaan modal menurut Perda ini diatur dalam Pasal 2, yang menyebutkan bahwa : “Penyertaan M odal bertujuan : a. M eningkatkan Pendapatan Asli Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara; b. M eningkatkan kemampuan PT. Bank Sumut dalam rangka perluasan usaha guna meningkatkan perekonomian; c. M emenuhi ketentuan modal PT. Bank Sumut sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan”.

Sumut, BPD Bengkulu, BPD Lampung, BPD DKI Jakarta, BPD Jateng, BPD, Jatim, BPD Kalbar, BPD Sulut, BPD Maluku, BPD NTB, dan BPD NTT dalam rangka Program Rekapitalisasi. 174 Pasal 3, Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia k e d alam Modal B ank Pembangun an Daerah D.I. Aceh, BPD Sumut, BPD Bengkulu, BPD Lampung, BPD DKI Jakarta, BPD Jateng, BPD, Jatim, BPD Kalbar, BPD Sulut, BPD Maluku, BPD NTB, dan BPD NTT dalam rangka Program Rekapitalisasi. 175 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 16.

88

Peningkatan PAD dilakukan dengan cara penyaluran kredit yang dilakukan oleh PT.Bank Sumut. Namun, penyaluran kredit masih bisa dikatakan belum tercapai ke seluruh lapisan masyarakat. Karena pihak Bank hanya mengeluarkan kredit kepada kreditur-kreditur yang mampu saja dalam hal keuangan, tidak kepada krediturkreditur yang benar-benar membutuhkan. Persyaratan pengajuan kredit sudah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia yang berlaku kepada semua Bank. Persyaratan tersebut haruslah dengan syarat usaha sudah berjalan selama 2 (dua) tahun atau lebih. Namun, yang menjadi polemik di dalam masyarakat adalah bahwa harus ada agunan berupa sertifikat kendaraan ataupun sertifikat tanah. Bagaimana dengan kreditur yang sama sekali tidak punya harta untuk diagunkan, dan tidak punya usaha yang sudah berjalan karena usahanya baru akan dibuat pada saat pencairan kredit dilakukan. Tentu saja hal ini ada yang pro dan ada yang kontra. Namun, untuk lebih jelasnya hal ini dapat dikaji pada penelitian selanjutnya yang membahas mengenai kredit masyarakat. Pada pembahasan ini hanya dikaji masalah penyertaan modal saja, jadi tidak dengan hal-hal lain yang tidak terkait dengan penyertaan modal. Dengan demikian, penyertaan modal menurut ketentuan Perda ini, hanya diatur pada Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4. Pada Pasal 3 mengatur mengenai sumber dana penyertaan modal yang berasal dari : a. dana bagi hasil dari penerimaan PBB; b. dividen pada PT. Bank Sumut; c. dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Pada Pasal 4 mengatur mengenai penyertaan modal yang dilakukan harus berdasarkan RUPS. Pasal 4 Perda ini sejalan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mengatakan bahwa penambahan modal harus dilakukan

89

berdasarkan RUPS. Pada dasarnya RUPS adalah meminta persetujuan dari Pemegang Saham.

C.

Hierarki Peraturan Perundang-Undangan Tentang Penyertaan Modal Pempropsu Pada PT. Bank S umut Sejak awal para pendiri bangsa (founding fathers) telah menyadari bahwa

Indonesia sebagai suatu kolektivitas politik tidak memiliki modal yang cukup untuk melaksanakan pembangunan ekonomi, sehingga Negara yakni Pemerintah

mengambil peranan yang cukup penting dalam kegiatan ekonomi. 176 Hal ini secara eksplisit diatur dalam Pasal 33 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi sebagai berikut : (2) “Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Dalam kaitannya di atas, dirasa perlu untuk meningkatkan seluruh kekuatan ekonomi nasional baik melalui regulasi sektoral maupun kepemilikan Negara terhadap unit-unit usaha tertentu dengan maksud untuk memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, selama Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia masih tercantum dalam konstitusi maka selama itu pula keterlibatan pemerintah dalam perekonomian Indonesia masih

Sumi Fratiwi, “ Aspek Hukum Penyertaan dan Penataus ahaan Modal Neg ara pad a Bad an Usaha Milik Negara”, (Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010), hal. 18.

176

90

diperlukan.177 Dalam hal penyertaan modal yang dilakukan pemerintah juga berpijak dari Pasal 33 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 ini. Selanjutnya diatur lagi berdasarkan Pasal 5 ayat (1) bahwa “Presiden mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”, dan Pasal 20 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang”. Berdasarkan kedua pasal yang disebutkan tadi, maka diundangkanlah Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah sebagai landasan berpijak dari Bank Pembangunan Daerah yang ada di setiap daerah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak sekali peraturan mengenai Bank Pembangunan Daerah ini. Contohnya mengenai pengelolaan asetnya diatur dalam peraturan pemerintah, selanjutnya keputusan menteri keuangan mengatur tentang tata cara penyetoran penyertaan modal bank. Untuk tidak membingungkan mengenai hierarki peraturan perundang-undangan tentang penyertaan modal pada PT. Bank Sumut dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini mengenai daftar peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Bank Pembangunan Daerah :

177

Ibid.

91

Tabel 3. Daftar Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dengan PT. Bank Sumut NO 1. 2. 3. NAMA PERATURAN Pancasila & UUD 1945, Pasal 33 Undang-Und ang No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah Undang-Und ang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentu an Pokok Bank Pembangunan Daerah Undang-Und ang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Undang-Und ang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Und ang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Undang-Und ang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendah araan Negara Undang-Und ang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas DIGUNAKAN UNTUK Landasan sistem perekonomian di Indonesia yang menggunakan sistem ekonomi Pancasila Bentuk Bank Pembangunan Daerah berb adan hukum Perusahaan Daerah Dasar pijakan dari berdirinya Bank Pembangunan Daerah Tata kelola perusahaan yang berg erak dalam bidang perbankan Dasar pijakan Pemerintah Daerah untuk mengeluark an Peraturan Daerah Pengawasan PT. Bank Sumut yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Memerintahkan kep ada Pemerintah Daerah agar menyimpan Kas Daerah di PT. Bank Sumut Pengelolaan PT. Bank Sumut berdasark an Undang-Und ang ini karena UU 13/1962 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan perusah aan sekarang ini Mengatur tentang tata cara menyert akan modal pemerintah kepad a PT. Bank Sumut Perintah untuk menyertakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) ke Bank Pembangunan Daerah dalam hal ini adalah PT.Bank Sumut Merubah bentuk hukum BPDSU menjadi PT.Bank Sumut barulah dikeluarkan Perda Merubah badan hukum BPDSU dari Perusahaan Daerah menjadi Persero an Terbatas Sumber lain penyertaan modal PT. Bank Sumut beras al dari bagi hasil pendapatan PBB sebagai penerimaan daerah Sumatera Utara Melihat anggaran yang disiapkan Pemerintah Daerah kepad a PT. Bank Sumut

4. 5. 6. 7.

8.

9.

Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Neg ara RI ke dalam modal semua BPD di Seluruh Wilayah Negara Kesatu an Republik Indonesia dalam Rangka Program Rekapitalisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Hukum BPD Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum BPDSU kepada PT. Bank Sumut Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Hasil PBB Sebagai Penyertaan Modal PT. Bank Sumut Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Sumut

10.

11. 12.

13.

14.

Sumber

: Website Resmi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.

92

M enurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, jenjang-jenjang tersebut adalah sebagai berikut 178 : a. b. c. d. e. ”UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; Peraturan Daerah”.

Pancasila adalah sebagai Norma Dasar (grundnorm) dalam Teori Stufenbau, memperlihatkan bahwa seluruh sistem hukum mempunyai suatu struktur piramidal, mulai dari yang abstrak (ideologi negara dan undang-undang dasar) sampai yang konkret (peraturan-peraturan yang berlaku). 179 Dalam hal kedudukan Akta Notaris disini adalah hanya sebagai legalitas bahwa perusahaan tersebut berbentuk badan hukum. Akta Pendirian harus disahkan di Pengadilan Negeri untuk selanjutnya mendapat pengesahan dari M enteri Hukum dan HAM agar diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia. Pada Pasal 12, Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyebutkan bahwa 180 : ”M ateri muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi”.

Pasal 7 ay at (1 ), Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Und angan, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389. 179 Theo Huijbers, Filsafat Hukum, (Yogjakarta : Kanisius, 1995) hal. 44. 180 Pasal 12, Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan.

178

93

Jadi, berdasarkan ketentuan di atas, seharusnya Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara tidak diatur mengenai tata cara penyertaan modal. Cara tersebut sebaiknya diatur lebih konkrit. Pengaturan mengenai penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada PT. Bank Sumut jika ditinjau oleh Stufenbau Theory adalah bahwa pengaturan tersebut belum berdasarkan The General System Theory (Hukum itu harus sistematis dan hierarkis). Kebijakan PT. Bank Sumut harus berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas karena UndangUndang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah sudah tidak mengikuti perkembangan zaman lagi. Dengan kata lain, dasar pembentukan PT. Bank Sumut yang berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan perusahaan sekarang ini. Jadi, harus mengikuti Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas baik itu pengaturan mengenai kebijakan dividennya maupun mengenai pengaturan pengambilan kebijakan dari direksi yang harus berdasarkan atas RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Adapun pembagian dividen PT. Bank Sumut adalah disebut dengan pembagian dividen interim. 181 Pembagian dividen interim PT. Bank Sumut kepada Pemprovsu harus dimasukkan di dalam Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) PT. Bank Sumut. Hal
Pasal 72 ay at (1), Und ang-Und ang No. 40 Tahun 2007 t entang Persero an Terbatas, mengatakan b ahwa : “ Perseroan dapat m embagikan dividen interim sebelum tahun buku Pers ero an berakhir sep anjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan ”.
181

94

ini dilakukan demi kemaslahatan masyarakat banyak karena dividen interim tersebut disetorkan ke Kas Daerah agar dapat digunakan untuk pembangunan oleh Pemprovsu. Pembagian dividen secara interim maksudnya adalah bahwa PT. Bank Sumut dapat mencicil pembagian dividen kepada Pemprovsu secara menyicil. Penarikan dividen interim tersebut juga tidak perlu mengadakan RUPS karena cukup dengan Surat Keputusan Direksi saja dengan persetujuan dari Dewan Komisaris.182

182

Pasal 72 ayat (4), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

95

BAB III TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH PROVINS I S UMATERA UTARA DALAM PENYERTAAN MODAL PADA PT. BANK S UMUT

M engenai tanggung jawab maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai hak dan kewajiban. Baik itu Pemerintah Daerah maupun PT. Bank Sumut itu sendiri. Dengan kata lain, jika ada hak dan kewajiban Pemerintah Daerah maka ada juga hak dan kewajiban PT. Bank Sumut. Selain itu, juga akan dibahas mengenai hubungan antara Bank Pembangunan Daerah dan Perekonomian Daerah. Eksistensi PT. Bank Sumut banyak mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Persoalan intinya adalah Bank Pembangunan Daerah dinilai tidak dapat menjadi instrumen bagi peningkatan pembangunan ekonomi di daerah. Indikasinya adalah tingginya penempatan dana BPD dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Padahal, dana BPD tersebut umumnya berasal dari Pemerintah Daerah (Pemda) dan dana Pemda tersebut sebagian merupakan dari alokasi dari APBN.183 Kaitan BPD dengan Pemerintah Daerah adalah dalam hal Peningkatan Asli Daerah (PAD) dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Sistem pemerintahan Republik Indonesia mengatur asas pembantuan yang dilaksanakan desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas bersama-sama. Untuk mewujudkan

secara

pelaksanaan asas desentralisasi tersebut maka dibentuklah daerah otonom yang terbagi dalam daerah provinsi, daerah kabupaten dan daerah kotamadya yang bersifat otonom sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 32 Tahun

Sunarsip, “Relasi Bank Pembangunan Daerah dan Perekonomian Daerah ”, Harian Republika, Rabu 09 Januari 2008, Rubrik Pareto, hal. 16.

183

96

2004 tentang Pemerintah Daerah. 184 M enurut Pasal 1 angka 6 dalam ketentuan tersebut dirumuskan bahwa : ”Daerah Otonom”, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengertian daerah otonom dimaksud agar daerah yang bersangkutan dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri yang tidak bergantung kepada pemerintah pusat, oleh karena itu daerah otonom harus mempunyai kemampuan sendiri untuk menguru dan mengatur rumah tangganya sendiri melalui sumbersumber pendapatan yang dimiliki. Hal ini meliputi semua kekayaan yang dikuasai oleh daerah dengan batas-batas kewenangan yang ada dan selanjutnya digunakan untuk membiayai semua kebutuhan dalam rangka penyelenggaraan urusan rumah tangganya sendiri. Jadi agar daerah dapat menjalankan kewajibannya dengan sebaikbaiknya perlu ada sumber pendapatan daerah, sesuai dengan apa yang dikatakan Soedjito yaitu185 : ”Semakin besar keuangan daerah, semakin besar pulalah kemampuan daerah untuk menyelenggarakan usaha-usahanya dalam bidang keamanan, ketertiban umum, sosial, budaya dan kesejahteraan pada umumnya bagi wilayah dan penduduknya, atau dengan kata lain semakin besarlah kemampuan daerah untuk memberikan pelayanan umum kepada masyarakat”.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Soedjito dalam Elita Dewi, “ Identifikasi Sumber Pend apat an Asli Daerah Dalam Rangk a Pelaksanaan Otonomi Daerah ”, (Medan : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, 2002), hal. 1.
185

184

97

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah, seperti yang dikemukakan Ibnu Syamsi sebagai ahli hukum administrasi negara dalam bukunya Pengambilan Keputusan sebagai berikut 186 : ”faktor-faktor tersebut adalah kemampuan struktural organisasinya, kemampuan aparatur daerah, kemampuan mendorong partisipasi masyarakat dan kemampuan keuangan daerah, diantara faktor-faktor tersebut, faktor keuangan merupakan faktor essensial untuk mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya”

Dikatakan demikian, karena pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab harus didukung dengan tersedianya dana guna pembiayaan pembangunan. M aka daerah otonom diharapkan mempunyai pendapatan sendiri untuk membiayai penyelenggaraan urusan rumah tangganya, hal ini sejalan dengan pendapat Suparmi Pamudji, ahli hukum tata negara, yang menyatakan187 : ”Pemerintah Daerah tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan, keuangan inilah merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam urusan rumah tangganya sendiri”.

Pendapat di atas juga didukung oleh D. J. M amesah sebagai ahli hukum tata negara, yaitu188 : ”Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengna uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki/dikuasai oleh

Ibnu Syamsi, Pengambilan Keputusan (Decision Making), Cet akan Pertama, (J akart a : Bina Aksara, 1989). 187 Suparni Pamudji, Pelaksanaan Azas Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cetakan Pertama, (Jakarta : Yayas an Kary a Dharma, 1984). 188 D. J. Mamesah, Sistem Administrasi Keuangan Daerah, (Jakarta : Gram edia Pustaka Utama, 1995).

186

98

negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Sejalan

dengan

pemberian

urusan kepada daerah

termasuk sumber

keuangannya, maka bunyi Pasal 157 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dicantumkan sumber-sumber pendapatan daerah terdiri atas 189 : a. ”Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu : 1. Hasil Pajak Daerah; 2. Hasil Retribusi Daerah; 3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan 4. Lain-lain PAD yang sah. b. Dana Perimbangan; dan c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah”.

Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sumber keuangan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih penting dibandingkan dengan sumber-sumber di luar PAD karena PAD dapat digunakan sesuai den gan prakarsa dan inisiatif daerah sedangkan untuk pemberian pemerintah (NON-PAD) sifatnya lebih terikat. Dengan penggalian dan peningkatan PAD diharapkan Pemerintah Daerah juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam penyelenggaraan urusan daerah. 190 Dalam usaha menggali sumber pendapatan daerah dapat dilakukan dengan berbagai cara, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sumber PAD yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus adalah perusahaan daerah. Dalam hal ini adalah mengenai PT. Bank Sumut sebagai perusahaan daerah Sumatera Utara. M aka dari uraian di atas, ditemukan
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Elita Dewi, “Identifikasi Sumber Pendapatan Asli Daerah Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah ”, (Medan : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, 2002), hal. 2.
190 189

99

bahwa ada kewenangan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah untuk melakukan usaha-usaha (penyertaan modal) meningkatkan PAD. Penyertaan modal tersebut dilakukan dengan cara mengeluarkan Peraturan Daerah. Untuk mengeluarkan Perda maka perlu persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

A.

Penyertaan Modal Penyertaan modal adalah suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru

atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Penyertaan M odal Negara adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN dan/atau Perseroan Terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi.191 Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D) sesungguhnya memiliki karakteristik yang sama dengan Badan Usaha M ilik Negara (BUM N). Secara legal, BUM N dan BUM D sama-sama merupakan bagian dari keuangan negara. 192 Perbedaannya terletak pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun, sangat disayangkan meskipun BUM D memiliki karakteristik yang sama dengan BUM N kinerja BUM D jauh ketinggalan dibanding BUM N. Salah satu penyebabnya adalah stakeholders BUM D terlihat kurang responsif dalam mengikuti dinamika yang ada, khususnya pengelolaan

Pasal 1 angk a 7, Peraturan Pem erintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Peny ertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Badan Usah a Milik Negara dan Persero an Terbatas. 192 Pasal 1 angka 5 dan 6, Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Neg ara, Lembaran Neg ara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286.

191

100

(governance) di BUM D. Padahal jika dicermati banyak hal yang berlaku di BUM N dapat menjadi role model atau benchmark bagi pengelolaan BUM D.193 Pada PT. Bank Sumut, pengelolaan seluruh asset dan penentuan kebijakan berasal dari Dewan Direksi. Pengawasannya dilakukan oleh Dewan Komisaris dan pemegang sahamnya adalah Pemerintah Daerah. 194 Pada pengelolaan PT. Bank Sumut belum berdasarkan Good Corporate Governance (GCG),195 dapat dilihat dari sisi pelayanannya yang dapat memotong antrian; perilaku Pemegang Saham, Direksi dan Staff Pegawai yang masih melakukan Nepotisme; penerimaan pegawai yang juga tidak mencerminkan prinsip GCG yaitu dengan adanya “titipan-titipan” dari pejabatpejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan menurunkan kinerja dari perusahaan. 196 Prinsip GCG tersebut belum diterapkan dengan baik dalam perusahaan. Budaya-budaya seperti ini perlu diawasi agar dapat meningkatkan pelayanan kepada nasabah. Karena

193

Sunarsip, “Membuka Belenggu BUMD”, dimuat Harian Jawa Pos Group, Jum’at 13 Maret

2009.

PT. Bank Sumut memiliki kebijakan dan ketentuan yang mengatur Tata Kelola Perusahaan yang lengkap melalui Peraturan Direksi Bank Sumut No. 003/Dir./DKMR-CQA/PBS/2007 tanggal 26 Desember 2007 tentang Pedoman Pelaksan aan Penerap an Good Corporate Governance (GCG) PT.Bank Sumut. 195 Perkembangan t erbaru membuktikan bah wa man ajemen tidak cukup hanya m emastikan bahwa proses p engelolaan man ajemen berjalan deng an efisien. Diperlukan instrumen baru, yaitu Good Corporate Governan ce (GCG) untuk memastikan bahwa man ajemen berjalan d engan baik. Dalam Thomas S. Kaihatu, “ Good Corporate Governance dan Pen erapannya di Indonesia”, (Jurnal Ekonomi Manajemen : Universitas Kristen Petra Surabaya, Tanpa Tahun), hal. 1. 196 Definisi Good Corporate Governan ce (GCG) menu rut Bank Dunia adalah aturan, standar dan organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan, direktur dan manajer serta p erincian dan penjab aran tugas d an wewen ang s erta pert anggungjawab annya kep ada inv estor (pemegang s aham dan k reditor). Tujuan utama dari GCG adalah untuk men ciptakan sistem pengendalian dan kes eimbangan (ch eck and balances) untuk mencegah penyal ahgunaan dari sumber daya perusah aan dan tetap mendorong terj adinya pertumbuhan perus ahaan. Sumber : Ibid.

194

101

nasabah adalah salah satu dari sumber dana Bank. Tidak ada nasabah maka tidak ada bank.197 Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat bagi perbankan di Indonesia yang merupakan salah satu tugas Bank Indonesia, sebagaimana diatur dalam UndangUndang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia pada Pasal 8 butir c., implementasi Bank Indonesia telah menerbitkan berbagai regulasi dalam rangka mengawal operasional Bank, agar senantiasa memenuhi azas-azas atau prinsip kehati-hatian, manajemen resiko dan Good Corporate Governance (GCG).198 Sehingga apabila PT. Bank Sumut menjalankan operasionalnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut, sepatutnya Bank tersebut akan sehat dan hidup secara konsisten dan berkesinambungan yang pada akhirnya bertujuan untuk mengamankan dana simpanan masyarakat pada PT.Bank Sumut. Harapan ini tentunya dapat terwujud dengan iklim dan kondisi yang komprehensif mendukung pelaksanaan GCG baik dari internal perusahaan (Peraturan Direksi Bank Sumut No. 003/Dir./DKM R-CQA/PBS/2007) dan eksternal perusahaan (PBI No. 8/4/PBI/2006 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Oleh Bank Umum).199

197

Aso Sentana, Excellent Ser vice & Customer Satisfaction, (Jakarta : Gramedia, 2006), h al.

138-144.

Peraturan Bank Indonesi a No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Man ajemen Risiko Bagi Bank Umum dan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tentang Penerap an Tata Kelola Perusahaan Oleh Bank Umum. 199 Didi Duharsa, “ Analisis Hukum Peranan Reorganisasi Perusahaan Dalam Menghindari Pembubaran, Op.cit., hal. 22.

198

102

1.

Sumber Dana Bank adalah bisnis keuangan, dimana yang dijual dan dibeli adalah jasa

keuangan. Sebelum melakukan penjualan jasa keuangan, bank harus terlebih dahulu membeli jasa keuangan yang tersedia di masyarakat dan jasa keuangan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang ada, terutama sumber dana dari masyarakat.200 Sumber dana bank adalah usaha bank dalam memperoleh dana dalam rangka membiayai kegiatan operasionalnya. Untuk menopang kegiatan bank sebagai penjual uang (memberikan pinjaman), bank harus lebih dahulu membeli uang (menghimpun dana) sehingga dari selisih bunga tersebutlah bank dapat memperoleh keuntungan. 201 Kemudian untuk membiayai operasinya dana bank dapat pula diperoleh dari modal sendiri yaitu dengan mengeluarkan atau menjual saham. Perolehan dana disesuaikan pula dengan tujuan dari penggunaan dana tersebut. Pemilihan sumber dana akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung. Oleh karena itu, pemilihan sumber dana harus dilakukan secara tepat. Jika tujuan perolehan dana untuk kegiatan sehari-hari jelas berbeda sumbernya, dengan jika bank hendak melakukan investasi baru atau melakukan perluasan suatu usaha. Kebutuhan dana untuk kegiatan utama bank diperoleh dalam berbagai simpanan, sedangkan kebutuhan dana digunakan untuk investasi baru atau perluasan usaha diperoleh dari modal sendiri. 202

Soetanto Hadinoto, Bank Strategy on Funding and Liability Management, (Jakarta : Gramedia, 2008), hal. 55. 201 Website Gunadarma, “ Sumber-sumber Dana Bank”, peni.staff.gunad arma.ac.id/.../files/.../Sumber-sumber+Dana+Bank.ppt., diakses pada 21 April 2011. 202 Soetanto Hadinoto, Bank Strategy on Funding and Liability Management, (Jakarta : Gramedia, 2008), hal. 55.

200

103

Adapun hal terpenting bagi bank adalah memilih dan mengelola sumber dana yang tersedia dengan menggunakan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Bagi bank pengelolaan sumber dana dari masyarakat, terutama dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan deposito adalah sangat penting. Dalam pengelolaan sumber dana dimulai dari perencanaan akan kebutuhan dana, kemudian pelaksanaan pencarian sumber dana dan pengendalian terhadap sumber-sumber dana yang tersedia. Dengan kata lain pengertian M anajemen Dana Bank adalah suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian terhadap penghimpun dana yang ada di masyarakat.203 Selain dari dana masyarakat pada PT. Bank Sumut harus bisa menentukan kemana investasi dari Pemerintah Daerah akan disalurkan dalam hal penyertaan modal Pemerintah Daerah. M enurut Pasal 3 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, menyebutkan bahwa 204 : “Dana Penyertaan M odal bersumber dari : a. Dana bagi hasil dari penerimaan PBB; b. Dividen pada PT. Bank Sumut; c. dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah”.

Penyertaan modal oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara masuk kepada sumber dana bank yang bersumber dari lembaga lain. Hal ini dikarenakan Pemerintah Daerah Sumatera Utara adalah sebuah lembaga pemerintahan. Diketahui sumber-

Ibid., hal. 55-56. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 16.
204

203

104

sumber dana bank, antara lain : a. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri; b. Dana yang berasal dari masyarakat luas; dan c. Dana yang bersumber dari lembaga lain. 205 Dalam praktiknya sumber dana yang berasal dari lembaga lain ini sifatnya merupakan tambahan jika bank mengalami kesulitan dalam pencarian dana pertama dan kedua di atas. Pencarian dari sumber dana ini relatif lebih lama dan sifatnya hanya sementara waktu saja. Kemudian dana yang diperoleh dari sumber ini digunakan untuk membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu. Kaitannya dengan penyertaan modal adalah bahwa dana dari Pemerintah Daerah dilakukan pertama sekali pada saat Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara tersebut didirikan. Dengan kata lain disebut juga dengan modal awal bank. Pada Pasal 4 ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, menyebutkan bahwa206 : “Penyertaan M odal sebagaimana dimaksud ayat (1) telah terealisasi sebagai berikut : a. Tahun 2001 sebesar Rp. 91.407.800.000,b. Tahun 2002 sebesar Rp. 90.000,c. Tahun 2003 sebesar Rp. nihil d. Tahun 2004 sebesar Rp. nihil e. Tahun 2005 sebesar Rp. 113.690.650.000,f. Tahun 2006 sebesar Rp. 62.487.380.000,g. Tahun 2007 sebesar Rp. 24.246.880.000,h. Tahun 2008 sebesar Rp. nihil T OT A L Rp. 291.832.800.000,- ”.

Soetanto Hadinoto, Loc.cit., hal. 58. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.
206

205

105

Setelah mendapatkan modal awal melalui penyertaan modal barulah PT. Bank Sumut selanjutnya mencari tambahan modal dari dana yang bersumber dari masyarakat luas. Dana yang bersumber dari masyarakat luas berupa tabungan, deposito, giro, surat-surat berharga, dan lain sebagainya. Surat berharga tersebut biasanya dalam bentuk referensi bank dan garansi bank. Surat berharga tersebut digunakan oleh nasabah bank untuk berbagai macam keperluan. Contohnya dalam hal pengajuan dokumen tender pengadaan barang dan jasa pada instansi pemerintahan ataupun swasta.207

2.

S aham Pemerintah Propinsi, Kotamadya/Kabupaten di PT. Bank Sumut Saham PT. Bank Sumut dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi

Sumatera Utara dan Kabupaten/Kota. PT. Bank Sumut adalah bank yang 59,95% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan 40,05% dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi Sumatera Utara. 208 Kantor cabang PT. Bank Sumut juga tersebar di seluruh daerah Tingkat II dan juga di Jakarta. Setelah mengeluarkan modal maka perusahaan biasanya memberikan keuntungan yang disebut dengan dividen. Dividen diatur dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pada laporan keuangan PT. Bank Sumut tidak bisa dilihat saham-saham yang dimiliki oleh Pemrovsu, Pemkab, maupun Pemko. Begitu juga dengan website resmi
Rocky Marbun, Tanya Jawab Seputar Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, (Jakart a : Visimedia, 2010). 208 Bank Sumut, “ Info Saham”, Op.cit.
207

106

PT. Bank Sumut yang tidak menyediakan informasi untuk itu. Dengan kata lain, saham-saham tersebut tidak diupdate dan dipublikasikan setiap kali terjadi perubahan saham. Setelah ditanyakan melalui Bagian Umum dan SDM PT. Bank Sumut di Lantai 3 Gedung Bank Sumut, Jl. Imam Bonjol juga tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Hal ini menyangkut kerahasiaan bank. 209 M engenai ketidakjelasan informasi dari saham ini, seharusnya pihak PT. Bank Sumut mengutamakan Paragraf 8 Bagian Umum Penjelasan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, bahwa untuk maksud tertentu (dalam hal ini pendidikan) rahasia bank dapat dikesampingkan.

B.

Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi PT. Bank S umut Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota juga

bertanggung jawab dalam hal pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris PT. Bank Sumut. Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah pada Pasal 11 ayat (4) mengatakan bahwa : “Anggota Direksi diangkat oleh Kepala Daerah Daswati I yang bersangkutan untuk selama-lamanya 4 tahun; setelah waktu itu berakhir, anggota yang bersangkutan dapat diangkat kembali”. Untuk pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Paragraph 8 Pada Bagian Umum Penjelas an Undang -Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, mengat akan b ahwa : “ dalam rangka meningkatkan fungsi kontrol sosial terhad ap lembag a perbank an, ketentuan mengen ai rahasia bank yang s elama ini sangat t ertutup harus ditinjau ulang, Rahasia Bank dimaksud merup akan s alah satu unsur yang harus dimiliki oleh setiap bank sebag ai lembaga kep ercayaan masyarakat yang meng elola dan a masyarakat, tetapi tidak seluruh aspek y ang ditatausahakan bank merup akan hal-h al yang dirahasiak an”.

209

107

Terbatas juga mengatakan bahwa pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris harus berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). M enurut Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara pada Pasal 13 menyebutkan bahwa210 : (1) “Bank dipimpin oleh Direksi, yang terdiri dari seorang Direktur Utama dan sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang Direktur. (2) Direksi diangkat oleh RUPS untuk jangka waktu 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) periode berikutnya. (3) Prosedur, persyaratan, pengangkatan, masa jabatan, tugas dan wewenang serta pemberhentian direksi diatur dalam Akta Pendirian”.

Jika dilihat pada Pasal 13 ayat (2) Perda Provsu No. 2 Tahun 1999, Pengaturan mengenai periode direksi hanya bisa diangkat kembali untuk 1 (satu) periode berikutnya setelah masa jabatan pada periode pertama telah berakhir. Pada ketentuan ini melarang direksi untuk menduduki jabatan direksi sebagai pengurus perusahaan lebih dari 2 (dua) periode. Namun, kedudukan Direktur Utama PT. Bank Sumut pada tahun 2011 ini sudah memasuki periode ketiga. Hal ini dapat dilihat pada laporan Khaeruddin sebagai Wartawan Harian Kompas di bawah ini 211 : “Beberapa waktu lalu sempat ada pertemuan informal antara anggota DPRD dan salah seorang unsur Pimpinan DPRD dengan Gus Irawan. Setelah pertemuan itu, tiba-tiba muncul berita di media kalau DPRD dan salah seorang pimpinannya tidak mempermasalahkan jabatan Direksi Bank Sumut
Pasal 13, Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pemb angunan Daerah Sumatera Ut ara dari Perus ahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, , Lembaran Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara Tahun 1999 Nomor 47 Seri D Nomor 47. 211 Khaeruddin, “ Makin Kuat Indikasi Aliran Dana Bank Sumut ke DPRD”, http://tekno.kompas.com/read/2008/05/29/18424227/Makin.Kuat.Indikasi.Aliran.Dana.Bank.Sumut.ke .DPRD., diakses pada 09 Juni 2011. Laporan ini diterbitkan pada 29 Mei 2008.
210

108

diperpanjang lagi. Padahal itu sama sekali bukan pertemuan resmi DPRD Sumut. Gus Irawan membantah jika ada aliran dana dari Bank Sumut ke anggota DPRD. Rencana perpanjangan masa jabatan Gus Irawan itu sudah dibahas sejak RUPS tahun 2007 lalu. Tidak ada kaitannya masa jabatan direksi dengan DPRD karena yang memutuskan adalah Pemegang Saham. Sebelumnya pada tanggal 28 M ei RUPS Luar Biasa PT. Bank Sumut mengubah Anggaran Dasar. Salah satunya soal masa jabatan direksi yang sebelumnya ditentukan selama empat tahun untuk maksimal dua periode diubah menjadi tidak terbatas, atau dapat dijabat berkali-kali. Perubahan ini untuk memuluskan Gus Irawan kembali menjabat sebagai Direktur Utama untuk periode ketiga”. Berdasarkan Perda No. 2/1999 periode jabatan direksi maksimal dua kali. Namun dengan alasan Bank Sumut saat ini sudah merupakan perseroan, maka tunduk pada UU Perseroan yang tidak mengatur secara tegas periode jabatan direksi. M enanggapi hasil RUPS Luar Biasa PT. Bank Sumut yang mengubah Anggaran Dasarnya, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Sumut mengirimkan Surat ke M enteri Hukum dan Hak Asasi M anusia, Andi M attalata, mempertanyakan produk hukum hasil RUPS Luar Biasa tersebut. Ketua FPKS DPRD Sumut, Sigit Pramono Asri mengatakan, tidak ada alasan mengatakan Perda No. 2/1999 bertentangan dengan UUPT. Bahkan jabatan direksi BUM N yang merupakan Perseroan pun tetap dibatasi periodenya berdasarkan UU No. 19/2003 tentang BUM N. Dalam UU ini sangat jelas disebutkan bahwa pembatasan masa jabatan direksi tidaklah diartikan sebagai peniadaan atau mengurangi ketentuan-ketentuan yang mengatur perseroan terbatas. Untuk itulah FPKS DPRD Sumut, lanjut Sigit meminta M enkumham untuk menolak Perubahan ADRT PT. Bank Sumut sebagai hasil RUPS Luar Biasa. Perubahan ketentuan Anggaran Dasar BUM D seperti Bank Sumut harus mendapat persetujuan M enteri. Untuk itu kami mengirimkan surat resmi agar perubahan ditolak. Di sisi lain, Hidayatullah menyesalkan sikap sebagian Anggota DPRD Sumut yang membiarkan saja ketika ada Perda dilanggar. Fungsi Dewan sudah enggak jalan. Berarti kalau jabatan direksi tetap dibiarkan tanpa batas, Perda soal Bank Sumut ini tidak berlaku lagi. Padahal sampai hari ini masih belum ada pencabutan terhadap Perda tersebut”.

Kedudukan Direksi PT. Bank Sumut pada saat sekarang ini jelas kelihatan sudah menyalahi aturan yang berlaku yaitu Pasal 13 ayat (2) Perda Provsu No. 2 Tahun 1999. Seharusnya pengawasan dan penindakan perlu dilakukan oleh DPRD

109

Sumut selaku perimbangan kekuasaan dari Lembaga Eksekutif yaitu Pemprovsu yang notabene adalah sebagai Pemegang Saham PT. Bank Sumut. Adapun pengangkatan dan pemberhentian direksi harus didasarkan pada RUPS, tetapi RUPS juga tidak boleh mengabaikan Perda Provsu No. 2 Tahun 1999 yang telah berlaku dan belum dicabut. Jika dikaitkan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pelaksanaan RUPS Luar Biasa tidak menyalahi aturan. Namun, substansi dari putusan RUPS Luar Biasa itulah yang bertentangan dengan Pasal 13 ayat (2) Perda Provsu No. 2 Tahun 1999. Hal ini dikarenakan PT. Bank Sumut adalah usaha dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten/Kota. Dengan begitu y ang bertanggung jawab untuk mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Komisaris adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang pemegang sahamnya adalah Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten/Kota. Dalam Pasal 15 ayat (1) huruf h., dijelaskan bahwa : “Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) memuat sekurang-kurangnya : h. tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris”. 212 Jadi, dengan kata lain, Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Bank Pembangunan Daerah dan UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mengatur mengenai pengangkatan dan pemberhentian Dewan Direksi dan Dewan Komisaris adalah tidak bertentangan. Di dalam ketentuan Bank Pembangunan Daerah, Pemegang Saham disini adalah setiap Kepala Daerah se-Provinsi Sumatera Utara yang melakukan

212

Pasal 15 ayat (1) huru f h., Undang-Und ang No. 40 Tahun 2007 t entang Persero an

Terbatas.

110

Rapat Umum Pemegang Saham. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, RUPS adalah sebuah acara untuk menentukan kebijakan-kebijakan perseroan oleh Organ Perseroan yaitu Direksi, Komisaris, dan Pemegang Saham. M aka dari itu, karena ketertinggalan Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah digunakanlah Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. M emang kedua Undang-Undang tersebut kelihatan tidak bertentangan tapi jika dilihat lebih lanjut lagi kata-kata atau istilah-istilah yang dipakai pada Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 adalah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dunia perbankan. Dasar pijakannya adalah Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Bank Pembangunan Daerah selanjutnya mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris diatur oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam hal ini dapat dilihat pada Anggaran Dasar Rumah Tangga PT. Bank Sumut yang sudah diberitakan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Kedudukan Anggaran Dasar Rumah Tangga PT. Bank Sumut berarti harus diselaraskan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

C.

Peran Pemprovsu dalam Pengalihan S aham dari Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara ke PT. Bank Sumut Pemprovsu sangat berperan aktif dalam pengalihan Bank Pembangunan

Daerah Sumatera Utara kepada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (PT. Bank Sumut). Peran aktif tersebut dikarenakan Pemprovsu memiliki saham terbesar

111

pada PT. Bank Sumut dibandingkan dengan Pemkab dan Pemko lainnya. Hal ini dapat dilihat pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT). Apapun tindakan dari Pemegang Saham harus dimuat di dalam Akta Notaris yang disahkan dengan Keputusan M enteri Hukum dan HAM . Namun, dalam hal perubahan bentuk hukum ini harus dibuat terlebih dahulu Perda pembentukannya sebagai dasarnya selanjutnya barulah Notaris membuat Akta Pendirian PT. Bank Sumut. Dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) memerintahkan agar PT. Bank Sumut menjadi Perusahaan Terbuka. Perusahaan terbuka adalah perusahaan yang sudah go public. Tujuan dari perusahaan terbuka ini adalah untuk menarik dana dari masyarakat luas. Namun, hal ini belum tercapai dikarenakan penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemprovsu belum mencapai Rp. 400 miliar. 213 Pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dapat dilihat pada Pasal 4 ayat (4) bahwa total penyertaan modal yang dilakukan adalah Rp. 291.832.800.000,-. Belum mencapai Rp. 400 miliar makanya PT. Bank Sumut belum menjadi Perusahaan Terbuka. Jika dibandingkan kedua Peraturan Daerah Provinsi
Pasal 7 ayat (1) menyatakan bah wa : “ modal dasar bank untuk pertama kali, ditetapkan sebesar Rp.400.000.000.000,- (empat ratus miliar rupiah)”. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Pers ero an Terbat as (PT) Bank Pembangun an Daerah Sumatera Utara, Tbk.
213

112

Sumatera Utara tersebut ada kelihatan ketidakkonsistenan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dapat dilihat pada modal awal pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999, Pasal 7 ayat (1) disebutkan modal awal Rp. 400 miliar namun pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009, pada Pasal 4 ayat (4) hanya terkumpul total Rp.291.832.800.000,-. Juga pada bagian judul peraturan daerah tersebut menyebutkan PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, tidak menggunakan PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Tbk. (Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Sumatera Utara, Tbk). Walaupun Pemprovsu memiliki peran aktif dalam perubahan bentuk hukum tersebut namun tidak diikuti dengan keseriusan penegakan hukum dari produk hukum yang dikeluarkan. Setelah melakukan riset untuk memperoleh data berupa peraturan daerah tersebut juga ditemukan berbagai kesulitan salah satunya adalah masalah birokrasi yang carut marut. Untuk membalas surat riset yang diberikan kepada Pemprovsu membutuhkan waktu yang lama dan adanya transaction cost. Hal ini disebabkan kesadaran hukum para aparatur negara masih rendah.

D.

Tanggung Jawab Pemerintah Provinsi Penyertaan Modal pada PT. Bank Sumut

Sumatera

Utara

dalam

Jika ada tanggung jawab disitu ada hak dan kewajiban. Pemprovsu mempunyai tanggung jawab kepada PT. Bank Sumut dalam hal penyertaan modal.

113

Pemprovsu juga mempunyai hak berupa dividen dari PT. Bank Sumut. Tanggung jawab tersebut berlangsung selama PT. Bank Sumut masih berdiri begitu juga dengan hak berupa deviden tersbeut. Hal ini dikarenakan PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara adalah Badan Usaha M ilik Daerah dan merupakan alat kelengkapan otonomi daerah yang berfungsi sebagai alat pengembangan ekonomi daerah dan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah. 214 Pemerintah Daerah Sumatera Utara diberikan tanggung jawab oleh UndangUndang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan M odal Negara Republik Indonesia ke Dalam M odal Bank Pembangunan Daerah-Daerah Istimewa Aceh, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Bank Pembangunan Daerah Bengkulu, Bank Pembangunan Daerah Lampung, Bank Pembangunan Daerah-Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara, Bank Pembangunan Daerah M aluku, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat, Dan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur Dalam Rangka Program Rekapitalisasi Bank Umum. Jadi, tanggung jawab inilah yang menimbulkan peran kepada Pemprovsu untuk mengatur sepenuhnya mengenai PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Penyertaan modal dipandang perlu karena kesulitan permodalan yang dialami Bank Pembangunan Daerah pada awal pertama kali berdiri.

Bagian Menimbang huruf a., Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

214

114

M enurut The General System Theory, “Struktur Hukum yang Sistematis dan Hierarkis”, peraturan perundang-undangan mengenai penyertaan modal kepada PT.Bank Sumut belum baik. Hal ini dikarena banyaknya kata-kata yang salah dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara yang mengatur mengenai penyertaan modal ini. Contohnya dapat dilihat pada judul Perda Provsu No. 2 Tahun 1999 yang kata PT. Bank Sumut sudah menggunakan kata “Tbk” padahal PT. Bank Sumut belum melakukan privatisasi. Penggunaan kata terbuka tidak boleh dilakukan jika perusahaan belum melakukan penawaran umum. Selanjutnya, diikuti juga dengan aparatur yang tidak baik dan budaya hukum yang tidak baik pula maka peraturan tersebut akan sia-sia. Dalam hal Peraturan Daerah mengenai penyertaan modal bank sumut, terdapat redaksi yang salah. Inilah substansi hukum yang tidak baik.

1.

Hak dan Kewajiban Pemprovsu M engenai hak dan kewajiban Pemprovsu dalam hal penyertaan modal.

Pemprovsu berkewajiban menyertakan modal kepada PT. Bank Sumut sebesar Rp. 400 miliar. 215 Penyertaan modal tersebut bertujuan untuk : meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara; meningkatkan kemampuan PT. Bank Sumut dalam

Pasal 7 ayat (1), Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusah aan Daerah Menjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Tbk.

215

115

rangka perluasan usaha guna meningkatkan perekonomian; dan memenuhi ketentuan modal PT. Bank Sumut sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. 216 Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Bank Sumut, Pemprovsu mempunyai kewajiban untuk menghadiri rapat tersebut.217 Kehadiran Pemprovsu dalam hal ini Kepala Daerah Tingkat I yaitu Gubernur Sumatera Utara terkait dengan prinsip duty of care dan duty of loyality. 218 Setelah melakukan penyertaan modal dan menghadiri RUPS maka Pemprovsu mempunyai hak yaitu surat bukti penyertaan modal berupa Sertifikat Kolektif Saham atas nama Pemerintah Daerah. 219 Saham atas nama daerah ini disimpan oleh Pemerintah Daerah yaitu Kepala Daerah Sumatera Utara tepatnya Gubernur Sumatera Utara. Hak pemegang saham atas saham yang dipegangnya antara lain : hak atas dividen; hak menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); hak mengemukakan pendapat pada RUPS; hak mendapatkan laporan keuangan tahunan.

Pasal 2, Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Ut ara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. 217 RUPS diatur dalam Pasal 75-91, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 218 Duty of Loyality adalah istilah yang digunakan dal am hukum perusah aan untuk menggambark an kes etiaan dari p engurus p erusah aan yang m enhindark an kep entingan p ribadi dibanding kepentingan perusahaan. Intinya pengurus p erusah aan h arus menged epank an kep entingan perusah aan. Dal am hal ini ad alah RUPS, setiap unsur dari perus ahaan harus menghadi ri RUPS untuk menunjukkan bahwa pengu rus tersebut memiliki Duty of Loyality. Dalam Beatty Samuelson, Introduction to Business Law, Third Edition, (USA : South Western Cengage Learning), hal. 350., lihat juga Dedy Sutanto, “Penentuan Standar Duty of Loyality dan Duty of Care Dalam Pertanggungjawab an Direktur Perseroan Terbatas ”, (Medan : Tesis, Universitas Sumatera Utara, 2006), hal. 69. 219 Pasal 6, Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Ut ara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

216

116

2.

Hak dan Kewajiban PT. Bank Sumut M engenai hak dan kewajiban PT. Bank Sumut, antara lain :

menyelenggarakan RUPS; menerbitkan saham atas nama Pemerintah Daerah; dan mengeluarkan deviden kepada Pemprovsu. PT. Bank Sumut wajib menerima penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemprovsu karena hal tersebut merupakan hak dari PT. Bank Sumut sendiri. PT. Bank Sumut juga berhak atas dana bagi hasil dari penerimaan PBB setiap daerah Sumatera Utara sebesar 5%. 220 Namun, penyertaan modal disesuaikan dengan kemampuan daerah. Dalam hal ini, tidak ada paksaan kepada daerah mengenai besaran penyertaan modal yang dikeluarkan. Kewajiban lain PT. Bank Sumut adalah mengelola perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. M engenai hasil deviden yang diperoleh Pemerintah Daerah, PT. Bank Sumut wajib menyetorkan ke Kas Daerah dan disetorkan kembali sebagai Penyertaan M odal kepada PT. Bank Sumut.221 Dalam ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa ada sebuah siklus perputaran uang Pemprovsu mengeluarkan penyertaan modal, PT. Bank Sumut membagikan deviden dan membaginya ke Kas Daerah lalu sisanya kembali ke perusahaan sebagai penambahan penyertaan modal. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut sangatlah singkat hanya mengatur masalah

Pasal 4 ayat (1), Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. 221 Pasal 5 ayat (2), Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

220

117

penyertaan modal saja. Tidak mengatur hal-hal yang kompleks. Jadi, hak dan kewajiban Pemprovsu dan PT. Bank Sumut juga tidak dapat dilihat dengan lengkap.

3.

Tanggung Jawab Pemprovsu dalam Penyertaan Modal pada PT. Bank Sumut Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bertanggung jawab penuh terhadap

penyertaan modal PT. Bank Sumut. Hal ini dapat dilihat dari hierarki peraturan perundang-undangan mengenai penyertaan modal Bank Sumut. Tanggung jawab tersebut tersirat dari Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang KetentuanKetentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan M odal Negara Republik Indonesia kepada Bank Pembangunan Daerah di Indonesia. Tanggung jawab Pemprovsu kepada PT. Bank Sumut terhadap penyertaan modal yang dilakukan dapat dilihat pada pernyataan Wakil Bupati Deli Serdang, Zainuddin M ars, yang menyatakan bahwa 222 : ”Eksistensi PT. Bank Sumut sebagai Badan Usaha M ilik Daerah (BUM D) merupakan bagian dari tanggung jawab moral dari segenap jajaran Pemerintahan Daerah (Pemda) di Sumatera Utara. M aka itu, sejak tahun 1988 hingga 2008 Pemkab Deli Serdang telah menyertakan modalnya dalam bentuk saham sebesar Rp. 25 miliar lebih. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, penyertaan modal Pemerintah Daerah dapat dilaksanakan bila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran itu telah ditetapkan dalam Perda. Diperkuat Peraturan Gubernur No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan sebagian dari hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) penerimaan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebesar 5% setiap tahun anggaran sebagai penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut.

Waspada Online, “Wabup : Bank Sumut Tanggung Jawab Moral Pemda”, http://www.waspada.co.id/index.php/images/index.php?option=com_content&view=article&id=99208 :wabub-bank -sumut-tanggungjawab -moral-p emda-& catid=15&Itemid=28., diakses pada 06 Mei 2011.

222

118

Pada tahun 2009, Pemkab Deli Serdang, telah mengalokasikan penambahan penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut sebesar Rp. 3,5 miliar, namun karena belum memiliki payung hukum berupa Perda, maka penyertaan modal itu tidak bisa direalisasikan. Pada tahun anggaran 2010, telah dianggarkan sebesar Rp. 4,6 miliar lebih, diharapkan bisa direalisasikan setelah Dewan terhormat menetapkan Ranperda yang diusulkan menjadi Perda sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditetapkan. Penyertaan modal pada PT. Bank Sumut ini, disamping berperan aktif bagi peningkatan pertumbuhan dan perkembangan BUM D Sumut ini, Pemerintah Daerah juga mendapatkan kontribusi pendapatan daerah dalam bentuk dividen Bank, yang hingga kini telah tercatat mencapai Rp. 16 miliar lebih”.

Dari pernyataan di atas, PT. Bank Sumut yang dianalogikan sebagai sebuah kendaraan yang menuju ke suatu tempat, pengemudinya adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumatera Utara. Caranya adalah dengan peningkatan penyaluran kredit kepada masyarakat dan pembiayaan-pembiayaan proyek Pemerintah Daerah. Jadi, ada timbal balik disini antara PT. Bank Sumut dengan Pemerintah Daerah yaitu keuntungan berupa dividen. Dengan demikian sudah pasti Pemerintah Daerah memelihara kendaraannya agar sampai ke tujuan. Cara memeliharanya diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

119

BAB IV KETENTUAN ATAU KEBIJAKAN PEMBAGIAN DIVIDEN PADA PT. BANK S UMUT D ARI PEN YERTAAN MODAL YANG DILAKUKAN PEMERINTAH PROVINS I S UMATERA UTARA

PT. Bank Sumut adalah bank yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara. PT. Bank Sumut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber Penerimaan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, PT. Bank Sumut juga diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pertambahan ekonomi di Sumatera Utara. PT. Bank Sumut harus memenuhi tuntutan walaupun menghadapi persaingan yang sangat ketat yang ditunjukkan dari banyaknya bank yang beroperasi di Sumatera Utara. Suatu perusahaan di dalam melakukan aktivitasnya mempunyai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan suatu perusahaan adalah memperoleh atau menghasilkan laba, baik itu perusahaan di bidang jasa, industri maupun di bidang perbankan. 223 Berkembangnya suatu perusahaan sangat ditentukan oleh laba atau pendapatan, sehingga perusahaan tersebut dalam usaha untuk memperoleh laba pasti akan mengeluarkan beban-beban yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan tersebut.224 Salah satu bebannya adalah pembagian deviden kepada investor, dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Sumatera Utara.
223

Anju Seth mengutarak an bah wa ”tujuan p erusah aan ad alah mem aksimalkan lab a”, sebagaiman a dikutip Indra Gunawan, Menelusuri Buku Kehidupan : Sebuah Perjalanan Mencari Keutuhan, (Jakarta : Gram edia, 2004), hal. 50. Lihat juga Gunawan Wijaya, Risiko Hukum sebagai Direksi, Komisaris, dan Pemilik PT, Cetakan Pertama, (Jakarta : Forum Sahabat, 2008), hal. 29. 224 Gunawan Wijaya, 150 Tanya Jawab t entang Pers eroan Terbatas, Cetakan Pertama, (Jakart a: Forum Sahabat, 2008), hal. 253.

120

Beban-beban tersebut dapat dilihat pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), penyajian pada laporan laba rugi atau pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan mencakup hal tersebut tetapi tidak terbatas pada unsur-unsur pendapatan dan beban berikut ini 225 : 1. Pendapatan bunga; 2. Beban bunga; 3. Pendapatan komisi; 4. Beban provisi dan komisi; 5. Pendapatan dividen; 6. Pendapatan operasional lainnya; 7. Beban penyisihan kerugian kredit dan asset produktif lainnya; 8. Beban administrasi umum; 9. Beban operasional lain.

Jika membahas masalah beban tidak terlepas dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (P SAK). Namun, dalam hal penulisan tesis ini tidak dibahas mengenai PSAK melainkan peraturan-peraturan tentang kebijakan pembagian dividen tersebut. Pembagian dividen yang merupakan beban perusahaan ada diatur dalam hukum perusahaan maupun hukum perbankan. Pada hukum perbankan dapat dilihat pada Peraturan Daerah mengenai pendirian Bank Pembangunan Sumatera Utara. Berikutnya akan dibahas mengenai pembagian dividen perusahaan menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan menurut
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Cetakan Kedua, (Jakarta : Salemba Empat, 2008), hal. 78-80.
225

121

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara juga Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Pembahasan peraturan daerah tersebut tidak terlepas dari Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

A.

Ketentuan Pembagian Dividen dalam Hukum Perusahaan Kebijakan dividen menyangkut keputusan apakah laba akan dibayarkan

sebagai dividen atau ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan. Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang kontroversial karena : pertama, bila dividen ditingkatkan, arus kas untuk investor akan meningkat, dengan kata lain akan menguntungkan investor; dan kedua, jika dividen ditingkatkan, laba ditahan yang direinvestasi dan pertumbuhan masa depan akan menurun, sehingga merugikan investor.226 Kebijakan dividen yang optimal adalah menyeimbangkan kedua hal tersebut dan memaksimalkan harga saham. Kebijakan dividen suatu perusahaan dihadapkan pada dua masalah utama, yaitu227 : 1. Pengaruh dividen; berkaitan dengan pertanyaan apakah jumlah atau tingkat dividen yang dibayarkan mempengaruhi nilai saham suatu perusahaan atau hasil yang akan dinikmati oleh pemegang saham.
Agnes Sawir, Kebijakan Pendanaan dan Restrukturisasi Perusahaan, (Jakarta : Gramedia, 2004), hal. 138. 227 Ibid.
226

122

2. Informasi yang terkandung pada dividen; masalah ini mempertanyakan apakah kebijakan dividen, terutama perubahan-perubahan kebijakan tersebut (misalnya membayar dividen berupa saham bonus), memberikan indikasi kepada pasar mengenai prospek laba di tahun yang akan datang.

Jika kebijakan pembagian dividen tersebut ditahan dan Pemprovsu melakukan reinvestasi kepada PT. Bank Sumut maka akan dapat disalurkan melalui kredit usaha kepada masyarakat. Sebaliknya jika tidak dilakukan reinvestasi kepada PT. Bank Sumut maka Pemprovsu akan memperoleh laba yang dapat digunakan untuk kemaslahatan rakyat banyak. Namun, dalam hal ini pengelolaan anggaran pemerintah masih lemah, dan ada baiknya Pemprovsu membagikan ada yang direinvestasikan dan ada yang diambil ke Kas Daerah. Dengan demikian tercapailah keadilan dan kemanfaatan dari kebijakan pembagian dividen tersebut.228 Ketentuan pembagian dividen pada PT. Bank Sumut harus tunduk pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pada Pasal 15 ayat (1) menyebutkan bahwa229 : ”Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) memuat sekurang-kurangnya : a. nama dan tempat kedudukan Perseroan; b. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan; c. jangka waktu berdirinya Perseroan; d. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor; e. jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk tiap klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham; f. nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris;
Pranoto Iskandar dan Yudi Junaidi, Memaha mi Hukum di Indon esia : Sebuah Korelasi antara Politik, Filsafat, dan Globalisasi, (Cianjur : IMR Press, 2011), hal. 44. 229 Pasal 15 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
228

123

g. penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS; h. tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris; i. tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen”.

Jadi, setelah melihat ketentuan hukum perusahaan dapat diketahui bahwa tata cara penggunaan dan pembagian dividen terdapat dalam Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) Perusahaan dalam hal ini adalah PT. Bank Sumut. Berarti terdapat dalam Akta Notaris perubahan terakhir yang mengubah bentuk hukum perusahaan dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Namun, dapat juga dilihat pada Laporan Keuangan Laba Rugi PT. Bank Sumut pada tahun berjalan. Pada Laporan Keuangan Perhitungan Laba Rugi Periode 1 Januari – 30 September 2010 dan 2009 didapat angka dividen, keuntungan dari penyertaan dengan equity method, komisi/provisi/fee dan administrasi. Pada 30 September 2010 didapat angkat Rp. 8.308.000.000,- dan pada tahun 2009 sebesar Rp. 22.580.000.000,-. Penarikan dividen pada PT. Bank Sumut tidak bisa sebanyak 100% atau seluruhnya, karena mengingat ada penyertaan kembali kepada penyertaan sebagai saham Pemprovsu. Ada tiga jenis kebijakan pembayaran dividen yang biasa dilakukan oleh perusahaan, antara lain 230 : 1. Stable Amount Per Share; dividen diberikan dalam nilai rupiah yang relatif stabil per sahamnya. Alasan untuk memberikan dividen yang stabil adalah :

230

Agnes Sawir, Op.cit., hal. 138.

124

a. Dividen yang berfluktuasi lebih berisiko daripada dividen yang stabil, karena itu tingkat diskonto yang lebih rendah akan diterapkan pada dividen yang stabil sehingga nilai saham lebih tinggi; b. Pemegang saham yang mengharapkan pendapatan dari penerimaan dividen akan lebih suka untuk menerima dividen dalam jumlah yang stabil; c. Persyaratan listing saham mensyaratkan dividen yang stabil dan tidak terputus. 2. Constant Payout Ratio; dividen atas dasar persentasi tetap dari laba bersih perusahaan; 3. Low Regular Dividend Plus Extra; tingkat dividen yang relatif rendah tetapi sudah pasti jumlahnya ditambah suatu ekstra, yang besarnya disesuaikan dengan tingkat keuntungan perusahaan.

PT. Bank Sumut melakukan pembagian dividen kepada Pemerintah Daerah se-Sumatera Utara sebesar Rp. 127 miliar pada tahun 2006. Seperti yang yang diungkapkan oleh Chaidir Ritonga dalam Harian Waspada sebagai berikut 231 : “BUMD didisain sama dengan badan usaha atau korporasi lainnya. BUM D bisa bekerja profesional secara bussiness as usual (bisnis yang lazim), sebagaimana swasta lainnya. BUM D juga bisa untung, maju dan tumbuh berkembang bahkan memberikan manfaat yang besar bagi rakyat. Contoh yang sederhana dekat dengan kita sendiri adalah Bank Sumut. BUM D perbankan milik Pemprovsu, Pemkab dan Pemko se-Sumatera Utara itu telah memberikan jawaban atau lebih tepat harapan rakyat terhadap keberadaan setiap BUM D. Tahun 2006 untuk pertama kalinya, Bank Sumut mampu

Chaidir Ritonga, “Tantangan Mengelola BUMD”, Kolom Opini, Harian Waspada, Rabu 05 Desember 2007.

231

125

memberikan pembagian dividen dari perolehan labanya kepada pemegang saham tidak kurang dari Rp. 127 miliar”.

Berdasarkan keterangan di atas pembagian dividen PT. Bank Sumut didasarkan dari perolehan laba. Jadi kebijakan pembayaran dividen PT. Bank Sumut berdasarkan Stable Amount Per Share karena tujuan dari penetapan kebijakan ini adalah untuk mendapatkan harga saham yang tinggi. Diketahui bahwa harga per lembar saham PT. Bank Sumut adalah Rp. 10.000,-. Pendapatan Pemprovsu dari pembagian dividen PT. Bank Sumut adalah stabil sehingga nilai sahamnya tinggi. Sampai saat ini PT. Bank Sumut belum menjadi Perusahaan Terbuka. Karena belum melakukan go public, walaupun desas-desus ke arah itu sudah ada dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

B.

Ketentuan Pembagian Dividen dalam Hukum Perbankan Beralih ke hukum perbankan yaitu Undang-Undang No. 7 Tahun 1992

tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 mengatur tentang laba perusahaan perbankan yaitu bank. Pada Pasal 34 yang menyatakan bahwa232 :

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan seb agaimana diubah deng an Undang-Und ang No. 10 Tahun 1998.

232

126

(1) “Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia neraca dan perhitungan laba/rugi tahunan serta penjelasannya, serta laporan berkala lainnya, dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; (2) Neraca serta perhitungan laba/rugi tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib terlebih dahulu diaudit oleh akuntan publik; (3) Tahun buku bank adalah tahun takwim”.

M aksudnya adalah setelah pembagian dividen dilakukan oleh PT. Bank Sumut dengan menggunakan cara-cara yang disebutkan sebelumnya maka selanjutnya akan dilaporkan pada Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia. Berkaitan dengan fungsi dari bank sentral yaitu mengawasi setiap bank-bank yang ada di Indonesia. Laporan keuangan laba/rugi tersebut menjadi suatu kewajiban bagi PT. Bank Sumut kepada Bank Indonesia. 233 Ketentuan hukum perbankan juga mengatakan agar dilakukan divestasi atau penarikan kembali saham yang disertakan. Seperti yang tercantum dalam Pasal 7 huruf c., yang menyatakan bahwa 234 : “Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Bank Umum dapat pula : c. M elakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia”.

Penyertaan modal tersebut wajib ditarik kembali apabila : i. Telah melebihi jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun; atau ii. Perusahaan telah memperoleh

Pasal 35, Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaiman a diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. 234 Pasal 7 huruf c., Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaiman a diubah dengan Undang-Und ang No. 10 Tahun 1998.

233

127

laba. 235 Dalam hal Pemprovsu yang melakukan penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut, Pemprovsu sebagai pemegang saham tidak melakukan penarikan penyertaan modal tersebut. Hal ini dikarenakan Pemprovsu mempunyai tanggung jawab yang melekat untuk menyertakan modalnya di PT. Bank Sumut sesuai dengan UndangUndang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Dari ketentuan bank pembangunan daerah tersebut, turunannya adalah Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut. Pembagian dividen menurut ketentuan penyertaan modal diatur dalam Pasal 5 ayat (2), yang menyatakan bahwa236 : “Hasil Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) disetor ke Kas Daerah Provinsi Sumatera Utara dan pada bulan berikutnya disetorkan sebagai penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut”.

Dari ketentuan di atas makna eksplisitnya adalah bahwa pembagian dividen dilakukan setiap bulannya. Kaitannya dengan pembagian deviden interim menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah bahwa di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas membuka peluang untuk dilakukan pembagian dividen interim melalui Pasal 72 ayat (4) yang menyatakan bahwa : “Pembagian dividen interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi setelah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris, ...”. Selanjutnya kebijakan pembagian dividen interim dirinci kembali dengan membagi antara Kas
Penjelasan Pas al 7 hu ru f c., Undang-Und ang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbank an sebagaiman a diubah dengan Undang-Und ang No. 10 Tahun 1998. 236 Pasal 5 ayat (2), Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal PT. Bank Sumut.
235

128

Daerah dan reinvestasi pada Perda Provsu No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut. Selanjutnya, walaupun penarikan dividen tidak dapat 100% dilakukan melainkan dibagi antara dilakukannya penyertaan modal kembali (reinvestasi) dengan pembagian deviden bulan berikutnya yang disetorkan ke Kas Daerah. Pada Pasal 4 ayat (2) menyebutkan bahwa237 : “Penyertaan M odal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b., dan huruf c., ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan disesuaikan dengan kemampuan daerah”.

Kemampuan daerah disini adalah berbeda-beda antara Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Sudah jelas Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memiliki saham yang lebih besar dari Kabupaten dan Kota. Dengan demikian pembagian dividennya juga memperoleh pembagian yang lebih besar pula. Pada Pasal 3 menyebutkan bahwa : “Dana Penyertaan M odal bersumber dari : a. dana bagi hasil dari penerimaan PBB; b. dividen pada PT. Bank Sumut; c. dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah”.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) lainnya adalah pembagian dana bagi hasil dari penerimaan jasa giro. Dana penyertaan modal juga dapat diambil dari dividen pada PT. Bank Sumut. Berarti dividen tersebut digunakan kembali untuk penyertaan modal kepad PT. Bank Sumut. Pada Pasal 4 ayat (2) menyatakan bahwa “penyertaan modal ... ditetapkan dalam RUPS dan disesuaikan dengan kemampuan daerah”. Ketentuan RUPS dilihat dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Hukum Perusahaan. RUPS tidak diatur dalam Peraturan Daerah tersebut.
Pasal 4 ayat (2), Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal PT. Bank Sumut.
237

129

C.

Kebijakan Pembagian Dividen pada PT. Bank S umut M engenai kajian hukum antara dividen guna meningkatkan APBD dengan

pembangunan sarana dan prasarana daerah ini terdapat di dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan M odal Negara pada Badan Usaha M ilik Negara dan Perseroan Terbatas, Pasal 10 mengatur tata cara penyertaan modal negara, menyebutkan bahwa : (1) “Penyertaan M odal Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dan huruf b diusulkan oleh M enteri Keuangan kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan M enteri dan M enteri Teknis. (2) Rencana Penyertaan M odal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif M enteri Keuangan, M enteri atau M enteri Teknis. (3) Pengkajian bersama atas rencana Penyertaan M odal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh M enteri Keuangan. (4) Pengkajian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat pula mengikutsertakan menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu atau menggunakan konsultan independen”.

Pada pasal tersebutlah yang menyebabkan kericuhan yang terjadi pada DPRD dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Dapat dilihat pada Kantor Berita Antara yang memberitakan jurubicara Fraksi Keadilan Sejahtera yaitu Hidayatullah yang menyatakan238 : “Pemanfaatan APBD untuk penyertaan modal harus didasarkan pada analisa yang mendalam akan urgensi dan kemanfaatan apalagi APBD Sumut tahun 2009 berada dalam posisi minus atau defisit dalam jumlah yang cukup besar (defisit Rp. 366,976 miliar). Dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan M odal Negara pada BUM N dan PT, secara tegas dinyatakan pertimbangan penyertaan modal penambahan penyertaan modal harus didasarkan pada suatu kajian oleh kementerian dan instansi terkait atau oleh konsultan independen. Dalam ketentuan tersebut
Arvino Zulka, “FKS Pertanyakan Urgensi Penyertaan Mod al Bank Sumut”, Kantor Berita Antara, Jum’at 09 Januari 2009.
238

130

menyatakan penyertaan modal dan/atau penambahan penyertaan modal hanya dapat dilakukan bila berdasarkan analisa memang layak dilakukan. Dapat dipahami penyertaan modal pada BUMN dapat menjadi bagian dari pelaksanaan pembangunan daerah untuk mensejahterakan masyarakat. Namun, yang harus ditegaskan adalah kebutuhan dana untuk pembangunan Sumut masih sangat besar, sehingga Sumut harus menentukan skala prioritas dalam pembangunan. Penjelasan dan informasi yang terungkap dalam pembahasan kajian tersebut akan dapat dilihat atau ditentukan skala prioritas mana yang lebih penting, apakah penyertaan modal atau langsung dialokasikan untuk kepentingan masyarakat Sumut. Ranperda yang diajukan ke DPRD juga tidak mencerminkan adanya kepastian hukum, karena Ranperda itu sama sekali tidak memberikan gambaran yang jelas tentang nilai nominal modal yang akan disetujui, apakah Rp. 10 miliar, Rp. 50 miliar, Rp. 100 miliar, Rp. 500 miliar atau justru tidak terhingga. Penyertaan modal itu direncanakan berasal dari 5% penerimaan dana bagi hasil PBB Sumut. Namun, Fraksi Keadilan Sejahtera tidak melihat kejelasan soal jangka waktu pengembalian dana dari bagi hasil PBB tersebut. Apa yang dipahami tentang PBB adalah pungutan yang berasal dari rakyat yang sesegera mungkin juga harus dikembalikan lagi kepada rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Apalagi saat ini rakyat masih membutuhkan pembangunan pada hal-hal yang mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur”.

PT. Bank Sumut adalah alat atau motor penggerak perekonomian daerah yang perlu disuntikkan dana agar dapat disalurkan kepada masyarakat.239 Didukung pula dengan Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan M odal Negara pada Badan Usaha M ilik Negara dan Perseroan Terbatas yang mengisyaratkan apabila perusahaan BUMN atau PT tersebut disertakan modal oleh Pemerintah Daerah maka harus ada kajian-kajian mendasar yang dilakukan oleh M enteri Keuangan dan yang lainnya.

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal PT. Bank Sumut.

239

131

Disini terlihat urgensi dari penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah haruslah melakukan kajian terlebih dahulu. PT. Bank Sumut harus membuat proposal kepada Pemerintah Daerah untuk diperiksa dan dibahas. Setelah pembahasan dan pemeriksaan selesai barulah diputuskan atau dibawa ke DPRD untuk dibahas kembali. Jika anggaran tersebut diserahkan kembali kepada Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) untuk membangun sektor-sektor yang membutuhkan seperti Pertanian, Pendidikan, dan lain sebagainya maka akan sulit untuk melakukan penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut yang dirasakan tidak langsung kepada masyarakat. Penggunaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang diserahkan kepada SKPD harus disertai dengan pengawasan yang baik juga. Tidak sedikit Kepala Dinas yang melakukan korupsi dan bagi-bagi proyek kepada anggota DPRD. Jika, hal ini terjadi alangkah baiknya ditempuh jalan penyertaan modal kepada PT.Bank Sumut.

1.

Pembagian Dividen dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pembagian dividen diatur dalam Akta Notaris No. 39 tanggal 10 Juni 2008

yang dibuat di hadapan notaris H. M arwansyah Nasution, SH di M edan. Selanjutnya Akta Penegasan No. 05 tanggal 10 November 2008 yang telah mendapat pengesahan dari M enteri Hukum dan Hak Azasi M anusia No. AHU-87927.AH.01.02 tahun 2008 tanggal 20 November 2008 yang diumumkan dalam Tambahan Berita Negara

132

Republik Indonesia No. 10 tanggal 03 Februari 2009, maka modal dasar ditambah dari Rp. 500 miliar menjadi Rp. 1 triliun.240 Pembagian dividen pada Akta Notaris tersebut tidak terlepas dari UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.241 Pemegang saham yaitu Pemerintah Daerah berhak untuk menerima dividen. 242 Pembagiannya dapat dilakukan dengan kumulatif atau non-kumulatif. Kumulatif maksudnya adalah hak pemegang saham preferen untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerima dividennya. Dividen dibagikan kepada Pemegang Saham apabila Perseroan memunyai saldo laba yang positif.243 Dividen juga dapat dibagikan sebelum tahun buku Perseroan berakhir. 244

2.

Kebijakan Pembagian Dividen pada PT. Bank S umut Kebijakan pembagian dividen pada PT. Bank Sumut diatur di dalam Akta

Notaris sebagai Anggaran Dasar Perseroan Terbatas. Namun, bisa juga dilihat pada Perda Provsu No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut. Pasal 5 menyebutkan bahwa : (1) ”Penyertaan M odal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) disetorkan pada bulan berikutnya sebagai penyertaan modal pada PT. Bank Sumut. (2) Hasil Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) disetor ke Kas Daerah Provinsi Sumatera Utara dan pada bulan berikutnya disetorkan sebagai penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut.
Bank Sumut, ”Info Saham”, Op.cit. Pasal 15 ayat (1) huruf i., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang menyatak an bahwa “ anggaran dasar m emuat sekurang -kurangnya : … i. tata cara p enggunaan laba dan pembagian dividen”. 242 Pasal 53 ayat (4) huru f d., Undang-Und ang No. 40 Tahun 2007 t entang Persero an Terbatas. 243 Pasal 71 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 244 Pasal 72 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
241 240

133

(3) Dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 butir c., disetorkan sebagai penyertaan modal pada PT. Bank Sumut. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) berpedoman kepada Pengelolaan Keuangan Daerah”.

Pada ketentuan di atas kelihatan bahwa hasil dividen dimasukkan ke Kas Daerah secara langsung dan sekaligus agar dapat dengan cepat diserap oleh Pemerintah Daerah. Pada bulan selanjutnya barulah disertakan kembali ke PT. Bank Sumut sebagai penyertaan modal. M emang benar jika dana yang ada dapat dengan cepat diserap maka pembangunan akan berjalan, namun korupsi juga berjalan. Namun, untuk mengikuti globalisasi ekonomi dunia PT. Bank Sumut menerapkan pembagian dividen interim berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pada Pasal 72 menyebutkan bahwa 245 : (1) ”Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan. (2) Pembagian dividen interim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan apabila jumlah kekayaan bersih Perseroan tidak menjadi lebih kecil daripada jumlah modal ditempatkan dan disetor ditambah cadangan wajib. (3) Pembagian dividen interim sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh mengganggu atau menyebabkan Perseroan tidak dapat memenuhi kewajibannya pada kreditor atau mengganggu kegiatan Perseroan. (4) Pembagian dividen interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi setelah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris, dengan memperhatikan ketentuan pada ayat (2) dan ayat (3). (5) Dalam hal setelah tahun buku berakhir ternyata Perseroan menderita kerugian, dividen interim yang telah dibagikan harus dikembalikan oleh pemegang saham kepada Perseroan. (6) Direksi dan Dewan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian Perseroan, dalam hal pemegang saham tidak dapat mengembalikan dividen interim sebagaimana dimaksud pada ayat (5)”.

245

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

134

Pembagian dividen interim yang diterapkan oleh PT. Bank Sumut pada dasarnya melindungi Pemegang Saham yang telah menyertakan modalnya yaitu Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Alasan menggunakan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Gunanya adalah untuk disalurkan kepada setiap SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) agar dapat diserap untuk pembangunan daerah setiap

Kabupaten/Kota sebagai Pemegang Saham. PAD harus dilaporkan setiap 31 Desember setiap tahunnya. Pelaporan PAD tersebut didasarkan pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Tebatas.246 Dengan kata lain, pelaksanaan pembagian deviden boleh dibuat oleh Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut. Namun, pelaksanaannya tetap menggunakan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pembagian saham menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah bisa dibagikan sebelum tahun buku takwim tetapi perlu meminta persetujuan dari RUPS. Pada UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pembagian dividen interim hanya berdasarkan surat keputusan dari Direksi saja. Jadi, PT. Bank Sumut harus mengikuti Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menggunakan persetujuan Direksi untuk pembagian dividen interim. M aka dari itu Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan

Pasal 69 ayat (1), Undang -Undang No. 40 Tahun 2007 t entang Persero an Terbat as, yang mengatakan bahwa : “ Persetujuan laporan tahunan term asuk peng esahan laporan keu angan sert a laporan tugas pengawasan Dewan Komisaris dilakukan oleh RUPS”.

246

135

M odal PT. Bank Sumut menyebutkan bahwa pembagian dividen ke Kas Daerah selanjutnya baru reinvestasi kembali tanpa perlu adanya RUPS. Jika pembagian deviden pertahun maka saham akan menjadi 0 (nol) maka dari itu agar tidak terjadi kekosongan saham harus dilakukan pembagian dividen berdasarkan pembagian saham interim. Oleh karena itu, teori kebijakan dividen menurut M erton M iller dan Franco M odigliani yang mengatakan bahwa : ”Kebijakan deviden tidak berpengaruh baik terhadap harga saham perusahaan maupun terhadap biaya modalnya”.247 Pengaruh baik disini artinya bahwa penarikan seluruh deviden akan menyebabkan hal yang negatif, maksudnya adalah bahwa PT. Bank Sumut akan kesulitan dalam pengalokasian modalnya. Pengalokasian modal dalam hal pembangunan cabang-cabang baru dan penyediaan layanan berupa penempatan ATM , dan lain sebagainya. Jika, dividen ditahan akan menyebabkan kebaikan kepada PT. Bank Sumut untuk membuka cabang-cabang baru dan peningkatan layanan karena modal lebih besar dapat digunakan dengan baik.

3.

Alokasi Penggunaan Dividen dari Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank S umut M engenai alokasi penggunaan dividen dari penyertaan modal Pemerintah

Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut dapat diketahui melalui Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara. Selanjutnya, dari hasil dividen yang dialokasikan untuk pembangunan daerah, diserahkan untuk percepatan pembangunan

247

Merton Miller dan Franco Modigliani, “Teori Kebijakan Deviden”, Op.cit.

136

daerah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan R.E. Nainggolan sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut 248 : “Saat ini sebenarnya sudah dalam tahapan pengerjaan proyek, namun belum sampai kepada tahap pembayaran. Karenanya, serapan masih sekitar 54% dan kebanyakan yang belum terserap itu ada pada proyek-proyek fisik di empat SKPD. Empat SKPD tersebut adalah Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarukim), Dinas Bina M arga, Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA). Kita berharap percepatan ini memberikan peningkatan terhadap daya serap dan pelaksanaan program juga semakin cepat. Hal ini penting untuk mempercepat pembangunan sehingga bisa cepat dirasakan oleh masyarakat. Dari laporan kepala SKPD serapan anggaran akan besar pada bulan November dan Desember. A gar setiap SKPD mengajukan tahapan kegiatan secepat mungkin. Tahapan dimaksud seperti pengajuan pantian lelang bagi SKPD yang akan melaksanakan tender dan kesiapan lainnya. Sehingga ketika anggaran sudah berjalan, maka proses tender sudah bisa dilaksanakan di awalawal tahun. APBD 2011 sudah disetujui, untuk itu SKPD yang akan melaksanakan lelang sudah harus membuat usulan kepanitiaan lelang. Sehingga, pelaksanaan tender bisa lebih cepat dan pada akhirnya serapan juga bisa dipercepat. Tidak lagi di akhir tahun. Serapan anggaran tahun ini sudah lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya”.

Jelas kelihatan bahwa hasil dividen dari PT. Bank Sumut disertakan di dalam APBD yang disalurkan kepada SKPD untuk menyelenggarakan tender-tender pemerintahan. Pelaksanaan tender tersebut rentan terhadap korupsi, sehingga menghambat pembangunan ekonomi. Investor akan sulit masuk ke Sumatera Utara jika infrastrukturnya tidak baik.

Medan Bisnis, “ Sekdaprovsu Desak Empat SKPD Percepat Serap Anggaran”, http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/10/27/5282/sekdapropsu_desak_empat_skpd_perce pat_serap_ anggaran/., diakses pada 06 Mei 2011.

248

137

BAB V KES IMPULAN DAN S ARAN

Setelah melakukan pembahasan mengenai ”Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut” selanjutnya dapat ditarik kesimpulan atau benang merah dari permasalahan yang diutarakan pada bab sebelumnya. Setelah kesimpulan didapat selanjutnya diikuti dengan saran yang diutarakan pada bab ini.

A.

Kesimpulan Adapun kesimpulan dari penelitian mengenai penyertaan modal Bank Sumut

yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, didapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Pengaturan mengenai penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut adalah belum baik dan lengkap berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan. M enurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan pada Pasal 12 menyebutkan bahwa seluruh “materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi”, jadi, dengan kata lain materi muatan dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal Pemprovsu pada PT. Bank Pembangunan Daerah

138

Sumatera Utara tidak diatur mengenai tata cara penyertaan modal. Perda tersebut hanya memuat mengenai besaran dana yang telah direalisasikan dalam penyertaan modal kepada PT.Bank Sumut. Setelah menyusun ketentuan-ketentuan tentang penyertaan modal yang terkait dengan menggunakan hierarki peraturan perundang-undangan didapat bahwa penyertaan modal yang dilakukan tidak bisa ditarik 100% karena bertentangan dengan ketentuan keuangan negara.

Pertentangan tersebut adalah keharusan Pemprovsu untuk melakukan penyertaan modal kepada PT. Bank Sumut (dalam hal ini PT. Bank Sumut sebagai tempat penyimpanan Kas Daerah). Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah sudah tidak mengikuti perkembangan zaman karena tidak bisa mengarah kepada Globalisasi Ekonomi. PT. Bank Sumut adalah perusahaan daerah yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah untuk meningkatkan PAD. Oleh karena itu, Globalisasi Ekonomi yang mengharuskan setiap perusahaan agar diprivatisasi adalah tidak terpenuhi pada Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Jadi, peraturan yang digunakan oleh PT. Bank Sumut adalah Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Tebatas. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun Kabupaten/Kota pasti tidak akan memprivatisasi PT. Bank Sumut karena perusahaan tersebut menghasilkan banyak dividen bagi daerah sebagai PAD. Lagipula, modal awal pembangunan PT. Bank Sumut adalah berasal dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara baik itu Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota.

139

2. M engenai tanggung jawab Pemprovsu terhadap penyertaan modal pada PT. Bank Sumut adalah Pemprovsu bertanggung jawab penuh karena telah diberikan kewenangan dari pemerintah pusat melalui peraturan pemerintah dan undangundang. Jadi, kewenangan tersebut berujung pada peran dan fungsi Pemprovsu terhadap penyertaan modal pada PT. Bank Sumut, antara lain : menyertakan modal; memegang saham atas nama daerah; menghadiri RUPS; dan lain sebagainya.

3. Kebijakan pembagian dividen pada PT. Bank Sumut dari penyertaan modal yang dilakukan oleh Pemprovsu adalah menggunakan jalan tengah yaitu dana dividen tersebut sebagian dimasukkan ke Kas Daerah sementara sebagian lagi dimasukkan dalam penyertaan modal kembali ke PT. Bank Sumut. Inilah yang menggunakan teori kemanfaatan dapat dilihat bahwa kedua-duanya (antara pembangunan sarana dan prasarana dengan penyertaan modal) sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pada penyertaan modal efeknya tidak langsung kepada masyarakat sedangkan pada pembangunan sarana dan prasarana melalui SKPD efeknya langsung kepada masyarakat. Namun, dalam penambahan anggaran pada setiap SKPD sangat rentan terhadap korupsi para Pejabat Daerah. Kebijakan pembagian dividen adalah menggunakan ketentuan hukum perusahaan karena seluruh RUPS jelas diatur di dalam ketentuan tersebut sedangkan dalam Perda Penyertaan M odal tidak jelas. Namun kenyataannya pembagian dividen mengikuti Perda Provsu No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal PT. Bank Sumut, yang menginstruksikan agar pembagian dividen dilakukan dengan cara

140

langsung menkreditkan rekening Kas Daerah di Bank itu sendiri. Dengan begitu, langsung dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah guna pembangunan daerah.

B.

S aran Setelah mengetahui kesimpulan dari rumusan masalah yang ada, maka

selanjutnya saran dari penelitian “Aspek Hukum Penyertaan M odal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut” antara lain : 1. Sebaiknya peraturan-peraturan mengenai penyertaan modal Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada PT. Bank Sumut dilakukan pengkajian ulang. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebaiknya dalam mengambil keputusan harus melalui koridor hukum yang tersedia. Adanya pengkajian terhadap penyertaan modal tersebut diperlukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mengetahui latar belakang penyertaan modal yang dilakukan. Caranya adalah dengan membahas proposal penyertaan modal dari PT. Bank Sumut melalui RUPS. Jika tidak ada sebaiknya PT. Bank Sumut segera membuat bahan kajiannya dan dipersentasikan di depan Pemegang Saham yaitu Kepala Daerah Pemerintahan se-Sumatera Utara.

2. Sebaiknya Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai pemegang saham mayoritas harus beriktikad baik untuk menghadiri RUPS yang diselenggarakan oleh PT. Bank Sumut. Hal ini ditempuh agar terpenuhinya duty of care dan duty of loyality dari Pemegang Saham yaitu Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak bisa

141

melepaskan tanggung jawabnya begitu saja dalam hal pengambilan kebijakankebijakan mengenai pengelolaan perusahaan.

3. Kebijakan pembagian dividen sudah baik dan harus diteruskan dengan konsisten. Dengan begitu tercapailah kemanfaatan hukum dari peraturan daerah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Jika kemanfaatan hukum sudah tercapai maka hukum akan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kemanfaatan hukum adalah peraturan atau kebijakan yang berkeadilan.

142

DAFTAR PUS TAKA

BUKU Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Bank for International Settlement, International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Work June 2006, Basel : Basel Committee on Banking Supervision Press & Communications, 2006.

Bank Indonesia, International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Framework June 2004, Unofficial Translation by Directorate of Banking Research and Regulation, Jakarta : Bank Indonesia, 2004.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, Jakarta : Kencana, 2009.

Duharsa, Didi., “Analisis Hukum Peranan Reorganisasi Perusahaan dalam M enghindari Pembubaran (Studi Pada PT. Bank Sumut)”, M edan : Tesis, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Dewi, Elita., “Identifikasi Sumber Pendapatan Asli Daerah Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah”, M edan : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, 2002.

Dwijowijoto, Riant Nugroho., dan Ricky Siahaan, BUMN Indonesia : Isu, Kebijakan, dan, Strategi, Jakarta : Gramedia, 2005.

Fratiwi, Sumi., “Aspek Hukum Penyertaan Dan Penatausahaan M odal Negara Pada Badan Usaha M ilik Negara”, M edan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010.

143

Ginting, Hartono., “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan dan Kebijakan M oneter terhadap Persetujuan Pemberian Kredit M odal Kerja Pada PT. Bank Sumut Cabang Utama M edan”, Tesis : Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2010.

Gunawan, Indra., Menelusuri Buku Kehidupan : Sebuah Perjalanan Mencari Keutuhan, Jakarta : Gramedia, 2004.

Hadinoto, Soetanto., Bank Strategy on Funding and Liability Management, Jakarta : Gramedia, 2008.

Huijbers, Theo., Filsafat Hukum, Yogjakarta : Kanisius, 1995.

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Cetakan Kedua, Jakarta : Salemba Empat, 2008.

Iskandar, Pranoto., dan Yudi Junaidi, Memahami Hukum di Indonesia : Sebuah Korelasi antara Politik, Filsafat, dan Globalisasi, Cianjur : IM R Press, 2011.

Kaihatu, Thomas S., “Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia”, Jurnal Ekonomi M anajemen : Universitas Kristen Petra Surabaya, Tanpa Tahun.

Kelsen, Hans., Teori Hukum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul M uttaqien, disunting oleh Nurainun M angunsong, Bandung : Nusamedia & Nuansa, Cet. III, 2007.

Kementerian Dalam Negeri, “Katalog Peraturan M enteri, Keputusan M enteri, dan Instruksi M enteri Dalam Negeri Dari Tahun 1950 s.d. 2010 Dengan Status/Aspek Legalitasnya”, Jakarta : Pusdatinkomtel, April 2010.

Kusmono, “Tanggung Jawab Direksi Persero Pada Pengelolaan Penyertaan M odal Negara Dalam Hal Terjadi Kerugian”, Tesis : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

144

Leon, Boy., dan Sonny Ericson, Manajemen Aktiva Pasiva Bank Nondevisa : Pengetahuan Dasar Bagi Mahasiswa dan Praktisi Perbankan, Jakarta : Grasindo, Tanpa Tahun.

M agee, Bryan., The Story of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, London : Dorling Kindersley Limited, 2001.

M akhsin, M ardzelah., Sains Pemikiran & Etika, M alaysia, Selangor : PTS Professional Publishing, 2006.

M amesah, D. J., Sistem Administrasi Keuangan Daerah, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995.

M arbun, Rocky., Tanya Jawab Seputar Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Jakarta : Visimedia, 2010.

Nasution, Bismar., “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, M edan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Pamudji, Suparni., Pelaksanaan Azas Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta : Yayasan Karya Dharma, 1984.

Samuelson, Beatty., Introduction to Business Law, Third Edition, USA : South Western Cengage Learning.

Sawir, Agnes., Kebijakan Pendanaan dan Restrukturisasi Perusahaan, Jakarta : Gramedia, 2004.

Sentana, Aso., Excellent Service & Customer Satisfaction, Jakarta : Gramedia, 2006.

Sinaga, Gagah Rezkiawan., “Analisis Penerapan Sistem Antrian pada Proses Transaksi di PT. Bank Sumut Cabang Utama Medan”, M edan : Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, 2010.

145

Suhardi, Gunarto., Usaha Perbankan Dalam Perspektif Hukum, Yogjakarta : Kanisius, 2009.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Sutanto, Dedy., “Penentuan Standar Duty of Loyality dan Duty of Care Dalam Pertanggungjawaban Direktur Perseroan Terbatas”, Tesis : Universitas Sumatera Utara, 2006.

Suyatno, Thomas., et.al., Kelembagaan Perbankan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Syamsi, Ibnu., Pengambilan Keputusan (Decision Making), Cetakan Pertama, Jakarta : Bina Aksara, 1989.

Usman, Rachmadi., Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Wijaya, Gunawan., 150 Tanya Jawab tentang Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, Jakarta : Forum Sahabat, 2008.

---------------------., Risiko Hukum sebagai Direksi, Komisaris, dan Pemilik PT, Cetakan Pertama, Jakarta : Forum Sahabat, 2008.

ARTIKEL D AN MAJALAH Bank for International Settlements, Basel II : International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards : A Revised Framework – Comprehensive Version June 2006 The First Pillar – Minimum Capital Requirements, http://www.bis.org/publ/bcbs107b.pdf., diakses pada 04 April 2011.

------------------------------------------, “Tentang http://www.bis.org/about/index.htm., diakses pada 05 April 2011.

BIS”,

146

Bank Sumut, “Info Saham”, http://www.banksumut.com/saham.php., diakses pada 16 Februari 2011.

--------------, “Tentang Kami”, http://www.banksumut.com/tentang.php., diakses pada 06 April 2011.

Gunadarma, “Sumber-Sumber Dana Bank”, peni.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../Sumber-sumber+Dana+Bank.ppt., diakses pada 21 April 2011.

Khaeruddin, “M akin Kuat Indikasi Aliran Dana Bank Sumut ke DPRD”, http://tekno.kompas.com/read/2008/05/29/18424227/M akin.Kuat.Indikasi.Ali ran.Dana.Bank.Sumut.ke.DPRD., diakses pada 09 Juni 2011.

M edia SM S, “Kinerja PT. Bank Sumut M eningkat”, http://media-sms.com/?p=112., diakses pada 15 April 2011.

M iller,

M erton., dan Franco M odigliani, “Teori Kebijakan Dividen”, http://www.slideshare.net/riswono/dividend-policy-1875607., diakses pada 28 Februari 2011.

Rajawali News, “M inta Dana Penyertaan M odal Rp. 150 M , Bank Sumut Jangan Bebani APBD”, http://rajawalinews.com/2011/minta-dana-penyertaan-modalrp150-m-bank-sumut-jangan-bebani-apbd/., diakses pada 16 Februari 2011.

Ritonga, Chaidir., “Tantangan M engelola BUM D”, Kolom Opini, Harian Waspada, Rabu 05 Desember 2007.

Sunarsip, “Relasi Bank Pembangunan Daerah dan Perekonomian Daerah”, Harian Republika : Rubrik Pareto, Rabu 09 Januari 2008.

----------, “M embuka Belenggu BUM D”, dimuat Harian Jawa Pos Group, Jum’at 13 M aret 2009.

147

Tempointeraktif, “Permodalan BPD Terhambat Pemerintah Daerah”, http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/09/26/brk,20100926280664,id.html., diakses pada 16 Februari 2011.

Waspada Online, “Wabup : Bank Sumut Tanggung Jawab M oral Pemda”, http://www.waspada.co.id/index.php/images/index.php?option=com_content &view=article&id=99208:wabub-bank-sumut-tanggungjawab-moral-pemda&catid=15&Itemid=28., diakses pada 06 M ei 2011.

Wikipedia, “Bank”, http://id.wikipedia.org/wiki/Bank#Sejarah_ Perbankan _di _Indonesia., diakses pada 06 April 2011.

Zulka, Arvino., “FKS Pertanyakan Urgensi Penyertaan M odal Bank Sumut”, Kantor Berita Antara, Jum’at 09 Januari 2009.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 584/4039/K/1987 tentang Penggunaan Hasil Jasa Giro Kas Daerah Tingkat II Se-Sumatera Utara pada Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001 tentang Kewajiban Penyediaan M odal M inimum Bank Umum.

Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Oleh Bank Umum.

Peraturan Bank Indonesia No. 9/16/PBI/2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No. 7/15/PBI/2005 tentang Jumlah M odal Inti M inimum Bank Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 145 DPNP/DPbS, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4786 DPNP.

Peraturan Daerah Kabupaten Dairi No. 11 Tahun 2008 tentang Penambahan Penyertaan M odal Daerah pada PT. Bank Sumut, Lembaran Daerah

148

Kabupaten Dairi Tahun 2008 Nomor 11, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 133.

Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 11 Tahun 2005 tentang Penyisihan Sebagian Dari Hasil Pajak Bumi dan Bangunan Yang M erupakan Penerimaan Pemerintah Provinsi Dan Kabupaten/Kota Sebagai Penyertaan M odal Pada PT. Bank Sumut, Berita Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005 Nomor 11 Seri C Nomor 9.

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 2 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dari Perusahaan Daerah M enjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Tbk., Lembaran Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara Tahun 1999 Nomor 47 Seri D Nomor 47.

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2009 tentang Penyertaan M odal pada PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 16.

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1999 tentang Penyertaan M odal Negara Republik Indonesia ke dalam M odal Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Bank Pembangunan Daerah Bengkulu, Bank Pembangunan Daerah Lampung, Bank Pembangunan Daerah-Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat, Bank Pembangunan Sulawesi Utara, Bank Pembangunan Daerah M aluku, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat, dan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur dalam Rangka Program Rekapitalisasi Bank Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 79.

Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan M odal Negara pada Badan Usaha M ilik Negara dan Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4555.

149

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang M ilik Negara/Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609.

Peraturan M enteri Keuangan No. 96/PM K.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang M ilik Negara.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 10.

Undang-Undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 59.

Undang-Undang No. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) tentang BentukBentuk Usaha Negara M enjadi Undang-Undang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2904.

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843.

Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286.

150

Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha M ilik Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297.

Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355.

Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437.

Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438.

Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4740.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4756.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->