P. 1
TRAGEDI AMBON BERDARAH

TRAGEDI AMBON BERDARAH

4.63

|Views: 40,002|Likes:
Published by jodi p

More info:

Published by: jodi p on Aug 24, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

NASIB yang menimpa Ummat Islam di Maluku sekarang ini,
bukan semata-mata disebabkan sebagai akibat alamiah, melainkan ada sebab-sebab tertentu
dan pasti. Barangkali kita perlu mengkaji sebab musabab itu agar dapat memotivasi kita semua
untuk mencari solusinya. Dengan memiliki cendekiawan muda yang penuh energi dan gairah
serta kepeduliannya kepada nasib Ummat Islam yang besar, merupakan asset berharga. Jika
selama ini cendekiawan muda belum berperan, hal itu lebih banyak disebabkan karena
keberadaan mereka, ibarat sapu lidi yang terurai satu persatu. Bila saja sapu ini dapat

18

dihimpun dalam berkas yang utuh maka pasti ia amat bermanfaat. Mereka inilah yang bertugas
menghidupkan kembali semangat perjuangan leluhur untuk memper-juangkan harkat,
martabat dan milik bangsanya. Demikian pula sebagai upaya mempertahankan aqidah dari
gerakan Penginjilan dengan tekanan yang keras di waktu lalu.
Kita harus bangga bahwa di pulau Banda, leluhur kitalah yang meletakkan batu pertama
perjuangan besar bangsa Indonesia melawan penjajah sampai tercapai Indonesia Merdeka.
Mengangkat parang, tombak dan membidik panah melawan penjajah dimulai dari Maluku
dengan teriakan Allahu Akbar. Oleh karena itu kita juga punya hak untuk mendapatkan hidup
yang lebih baik di alam kemerdekaan ini. Dan untuk itu kita mesti berbuat lebih baik lagi. Maka
jangan melihat ini sebagai masalah kriminal yang sepele, tetapi lihatlah dalam konste- lasi yang
lebih luas dan menjangkau ke depan.

PERJUANGAN UMMAT ISLAM MALUKU MELAWAN PENJAJAH
BELANDA
Perdagangan Rempah-rempah.

Jauh sebelum Bangsa Eropa tiba di Maluku, para saudagar Nusan-tara telah berdagang
penuh kedamaian dengan masyarakat atau kera-jaan-kerajaan Islam di Maluku. Penyebaran
agama Islam dilakukan dengan penuh perdamaian, sehingga relatif segenap masyarakat
Maluku telah memeluk agama Islam. Pada tahun 1512 mulailah bang- sa Portugis menemukan
Maluku (Banda) dengan maksud mendapat- kan rempah-rempah langsung di bumi
penghasilnya, kemudian datanglah penjajah Belanda pada tahun 1605.

Perlawanan Fisik Bersenjata.

Perdagangan yang semula damai, berkembang menjadi bentrokan fisik karena sikap
monopoli yang disertai penyebaran agama Kristen oleh pihak Belanda dengan menggunakan
kekuatan bersenjata. Mulai- lah terjadi sejumlah peperangaan yang bukan saja untuk
memperta- hankan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, tetapi juga berjuang
mempertahankan aqidah agamanya.
Perlawanan dari Kerajaan-kerajaan Islam seperti Perang Hitu (1502-1605), Perang Banda
(1609-1621), Perang Hoamual (1625-1656), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapaha (1636-
1646), Perang Alaka (1625-1637), Perang Iha (1632-1651), dan sejumlah perang yang dilancarkan
oleh beberapa kesultanan di Maluku Utara, dan terakhir Perang Tidore (1780-1805) yang
dipimpin oleh Nuku yang sempat menunjukkan kekuatan dan kebesarannya. Sejumlah
pahlawan perang Ummat Islam seperti Pattiwane, Kakiali, Gimelaka Laliato, Gimelaka Lulu,
Tulukabessy, Kiayi Lessy, Rijali, Khairubia, Kapitan Ulupaha, Sudardi Monia Latuwirinnyai,
Sultan Babullah, Sultan Khairun dan terakhir Sultan Nuku adalah para pemimpin perang yang
gagah berani mampu mengalahkan penjajah di banyak medan pertempuran.
Kerajaan-kerajaan Islam, pada akhirnya secara bertahap dapat dikalahkan satu persatu
terutama oleh VOC yang kemudian menjadi Kompeni menggantikan kedudukan Portugis,
dengan memiliki armada dan kekuatan perang yang tangguh. Kegiatan perdagangan diwarnai
pula dengan missi penginjilan secara paksa yang dimulai dengan perkumpulan dagangnya
VOC. Perlawanan masyarakat dan kerajaan Islam di Maluku kini berkembang menjadi perang
memper- tahankan aqidah.

VOC dan Kompeni Penjajah

VOC sebagai organisasi dagang digantikan oleh Kompeni dengan kekuatan bersenjata yang
besar, meningkatkan penindasan terhadap Ummat Islam di Maluku yang tiada tara sampai
hampir tak kuasa lagi menerimanya, namum perlawanan terus berlanjut walau tidak mampu
lagi mengangkat senjata.

Perlawanan Non Fisik / Tak Bersenjata.

Kerajaan-kerajaan Islam di Maluku telah berhasil dihancurkan satu demi satu, tetapi tidak
demikian dengan semangat kebenciannya terhadap penjajah yang telah merenggut
kemerdekaan mereka sekali- gus memaksakan keyakinan yang bertentangan dengan paham ke-
Tauhidan Islam. Bersamaan dengan kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku terjadilah
peperangan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan melawan
kolonial Belanda. Kera-jaan-kerajaan inipun mengalami nasib yang sama, yaitu dikalahkan dan

19

ditaklukkan. Para pejuang yang tertangkap dibuang ke berbagai daerah di luar Jawa di
antaranya Maluku. Sebagai pejuang mereka tidak pernah mau berhenti memerangi Belanda,
dan sebagai pemim-pin dalam suatu peperangan mereka pasti menyandang gelar Kiyai atau
pemuka agama.

Dengan modal semangat perlawanan (pejuang) dan keahlian ilmu agama Islam (Kiyai)
mereka menyusup ke dalam Ummat Islam di Maluku dengan alasan kegiatan keagamaan,
tetapi sesungguhnya mereka memimpin dan menggerakkan perlawanan terhadap Belanda
secara non fisik/tanpa bersenjata. Terakhir sekali adalah kedatangan Pangeran Diponegoro
dengan rombongan sebagai buangan, dan bersama pengikutnya berdiam di kampung yang
sekarang bernama Kampung Diponegoro, yang semula tempat itu bernama Ajeng berubah
karena pengaruh dialek Ambon menjadi Ajang. Para pejuang ini memimpin Ummat Islam di
Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan yang memberikan pukulan berat bagi pihak
penjajah. Perlawanan non kooperatif/pembangkangan, yaitu bentuk perlawa-nan secara diam-
diam, yakni menolak bekerjasama dalam bentuk apa pun dengan penjajah serta merongrong
pada aspek-aspek tertentu dengan tujuan melemahkan dan menggerogoti wibawa serta
kekuatan pemerintah Belanda.
Perlawanan ini efektif pada 20-30 tahun pertama, saat para pemim-pinnya aktif memberikan
petunjuk, arahan dan dorongan semangat. Namum perlawanan yang memakan waktu seratus
tahun lebih terse-but menjadi kurang efektif, sebab kurang memiliki daya tahan, tidak ada
pembentukan kader dan pemimpin lapangan yang akan melan-jutkan perlawanan tersebut.
Kegagalan membentuk pemimpin Pelan-jut, mengakibatkan perlawanan menjadi kurang
terarah dan tidak punya tujuan yang jelas. Apa yang terus bergelora adalah semangat mereka
untuk tidak mau bekerja sama dan membangkang saja.
Pada waktu itu tidak ada Ummat Islam yang bersedia menjadi serdadu Belanda, guru dan
pekerjaan-pekerjaan yang berada di bawah kendali Belanda. Ummat Islam lebih memilih
pekerjaan non formal seperti nelayan, pedagang kecil (wiraswasta), tukang dan sejenisnya.
Bahkan bersekolahpun ditolak, Ummat Islam lebih memilih pengajian dan Madrasah. Di luar
Maluku, orang lebih mengenal orang Ambon adalah Kristen, hal ini disebabkan oleh serdadu
Belanda asal Maluku yang bertugas di luar Maluku (Jawa,dsbnya) relatif tidak ada yang
beragama Islam, sehingga yang terjadi ibarat gayung bersambut.
Dalam kisah perlawanan tanpa senjata ini, barangkali perlu kita telusuri adanya beberapa
marga (Vam) di kota Ambon yang bukan marga asli dari Maluku seperti Betawi, Bandung,
Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Diponegoro, Aceh dan sebagainya. Yang
jelas marga tersebut menunjukkan darimana mereka berasal, sebab waktu itu semua orang
harus mempunyai vam, mereka yang tidak mempunyai vam memilih daerah asal mereka
sebagai vam. Siapakah mereka ini, sekurang-kurangnya sebagiannya adalah para pejuang yang
dibuang oleh Belanda dulu yang memimpin Ummat Islam di Maluku melakukan aksi
pembangkangan/non kooperatif. Tanyalah para tetua kita, bagaimana orang Waihaong, Talake,
Silale, Soabali, Batu Gajah (Diponegoro) Batu Merah, Pardeis dsb belajar silat? Mereka belajar
tertutup dalam rumah atau di halaman belakang agar tidak diketahui kaum Nasrani. Bila ada
Nasrani yang datang, latihan segera dihentikan agar tidak diketahui jurus-jurusnya. Jadi para
tetua itu belajar untuk menghadapi Penjajah Belanda (dibenaknya) dan kaum Nasrani. Persis
seperti kisah dalam serial film Si Pitung dari Marunda
Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berlangsung lebih 100 tahun itu, sebagian
besar berlangsung tanpa koordinasi, bahkan tanpa pemimpin yang jelas sehingga semangat
melawan pemerintah kolonial tanpa disadari, berubah arah dan tujuannya. Sikap Ummat Islam
yang tampaknya kurang partisipatif saat ini, tidak lepas dari peninggalan masa lalu itu, yang
membentuk watak dan karakter sebagian besar di antara mereka, sehingga terhadap
pemerintahan sendiripun mereka juga kurang memberikan partisipasi yang berarti. Banyak
kerugian yang diderita Ummat Islam akibat proses perjuangan panjang tanpa koordinasi dan
pimpinan ini, yang pada akhirnya menghasilkan kon- disi yang amat tidak menguntungkan
seperti yang kita alami sekarang
Ummat Islam di Maluku tertinggal hampir di semua aspek kehi- dupan berbangsa dan
bernegara secara fisik, tampak maupun yang tidak tampak tetapi terasa sebagai suatu
kenyataan. Setelah Indonesia merdeka, Ummat Islam di Maluku mencapai banyak kemajuan di
semua sektor, tetapi kita harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Ummat Kristen kita

20

terlalu terlambat, ibarat berlomba dengan kaum yang menggunakan kendaraan, sedang kita
berjalan kaki. Dengan demikian jarak ketertinggalan kita dari hari ke hari kian jauh, sehingga
barangkali kondisi ini dapat memicu kecemburuan sosial. Di sisi lain kemajuan yang diperolah
Ummat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi
pihak Kristen yang walau pun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang
membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungguhnya tak seberapa besar), maka
kerukunan yang selama ini terjalin mulai goyah. Pihak Kristen melakukan aksi penghambatan
dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis. Ketidak adilan ini
semakin terasa, sementara yang Islam hanya dapat merasakan tetapi tidak ada upaya nyata
untuk mengatasi persaingan itu. Lebih diperparah lagi, bahwa barisan Ummat Islam masih
tercerai berai, para cendekiawan yang berkualifikasi pemimpin masih amat terbatas.
Hambatan terberat ke dalam tubuh Ummat Islam justru karena sikap non partisipatif itu.
Sebagai contoh riel, dapat kita saksikan pada prosentase kontingen Pekan Olah Raga Maluku.
Peserta yang beragama Islam hanya sekitar 10% saja, padahal mereka bukan tidak punya
kemampuan untuk menjadi atlet berprestasi, tetapi mereka tidak tertarik untuk ikut
berpartisipasi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->