P. 1
TRAGEDI AMBON BERDARAH

TRAGEDI AMBON BERDARAH

4.63

|Views: 40,019|Likes:
Published by jodi p

More info:

Published by: jodi p on Aug 24, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

K ERUSUHAN

Ambon

yang

dipicu

untuk

mencapai

tujuan

politik telah menerobos masuk ke dalam wilayah yang amat rawan yaitu penghinaan
kepada agama Islam dan pembersihan masyarakat yang beragama Islam. Apa yang terjadi ini
oleh ummat Islam di Ambon dan sekitar dinilai sebagai pihak Kristen melancarkan perang
agama.

Penyelesaiannya harus jujur, objektif dan transparan karena itu harus oleh pejabat yang
bersikap adil bisa menyatakan bersalah kepada mereka yang berdasarkan fakta dan hukum
yang berlaku adalah pihak yang bersalah. Tuntutan ummat Islam adalah dilakukan dahulu
tindakan penyelesaian yang tuntas membongkar organisasi perencana dan pelaku serta para
aktor intelektualnya kemudian menghukum mereka.
Perdamaian diproses secara alamiah tidak ada pemaksaan yang berakibat semu dan rawan,
yang didahulukan adalah tidak adanya kemauan kedua bela pihak untuk saling menyerang.
Insya Allah damai yang hakiki bisa tercapai, tetapi sekali lagi memperhatikan proses alamiah

LAMPIRAN – LAMPIRAN

Lampiran A:

Dalam tiap kasus pada lampiran ini mengandung unsur Tempat Kejadian (TKP), Tanggal / waktu yang
berurutan dan Korban rumah / Masjid / Kendaraan.

Lampiran B :

Kedua lampiran ini adalah hasil penulisan untuk Harian Suara Maluku yang gagal dimuat. Ditempatkan
sebagai lampiran dalam Buku putih ini untuk memperjelas bahwa pihak Kristen telah melakukan perencanaan
untuk aksi kerusuhan ini jauh sebelum tanggal 19 Januari 1999

Lampiran : A

PEMBUKTIAN DENGAN 3 FAKTOR

98

1. Tanggal 16-18 Nov’98 Jam 15.00 WIT
Depan Makorem 174/PTM

Demo kekerasan menghujat TNI dalam rangka membuat TNI mental Break Down (Periode Perencanaan tahap

Pematangan situasi).

Korban Mahasiswa UKIM dan UNPATTI luka berat/ringan 70 orang serta aparat keamanan 25 orang luka berat

ringan juga.

2. Tanggal 20 Nov’98 jam 20.00 WIT

Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Maluku
Rapat pertanggung jawab DANREM 174/PTM tentang kasus Batu gajah beradarah (lihat lampiran D).
Danrem 174/PTM dilecehkan dan dihujat seperti pengadilan oleh para Pendeta 5 orang dan Pastor juga 5 orang.
Sedangkan perwakilan tokoh Islam hanya 3 orang dan yang sempat berbicara hanya 2 orang.
Kolonel Hikayat selaku objek Hujatan tidak diberi kesempatan memberikan tanggapan sebagai jawaban /

beladiri

3. 13 Desember 98
Desa Wailete (Kampung Islam)

Penyerangan dan pembakaran desa Wailete (Islam) oleh massa Desa Hative besar (Kristen) yang penyebabnya
hanya pesta yang tidak tertib. Tidak ada perlawanan pihak Islam mereka hanya menyelamatkan diri dengan pakaian
di badan saja. Seluruh rumah dalam kampung terbakar.
Tidak ada pengusutan yang jelas oleh Polri.

4. 27 Desember’98

Desa Bak Air (kampung Islam)

Pelemparan oleh masyarakat desa Tawiri terhadap rumah-rumah desa Bak Air (Islam) hanya karena Babi dari
desa tawiri yang memasuki kebun masyarakat desa Bak Air dilempar. Tidak ada pengusutan dari pihak Polri.

5. 14 Januari 99

Dobo Ibukota Kecamatan P. Aru (Mayoritas Kristen)

Di Dobo kecamatan P.Aru (Mayoritas Kristen) menyerang warga muslim dikampungnya menimbulkan korban 8
orang meninggal. (Pemanasan menjelang tanggal 19 januari Hari H)

6. 16 Januari’ 99

Didesa Batu Merah atas terjadi pelemparan terhadap rumah Imam Masjid Al-Mustaqim oleh pemuda-pemuda
kristen dari desa Karang Panjang (Pemanasan pihak Islam tidak mengerti)

7. 19 Januari’ 99

Di kota Kecamatan. Dobo setelah selesai shalat Idul Fitri 1 Syawal 1419 H massa Kristen menyerang lagi
masyarakat Islam diperkampungannya. Korban 55 buah rumah milik ummat Islam terbakar. Peristiwa ini
sesungguhnya dalam rangka Hari-H Jam-J secara bersamaan dengan peristiwa kerusuha Ambon, tetapi Peristiwa
Dobo mendahului beberapa jam kemungkinan ada perubahan waktu tetapi pihak Kristen di Dobo tidak
mengatahuinya. (Mendahului pelaksanaan di Ambon)

8. Jam 14.00

Di Desa Batu Merah (Islam) Ambon terjadi pemalakan yang katanya oleh Usman terhadap Yopie sedangkan
ummat Islam melihatnya sebagai hal yang terbalik. Berkelanjutan dengan perkelaian massal dan dibakarnya 2 buah
rumah yang letaknya diantara desa Batu Merah dan Mardika.
Terbakarnya 2 rumah ini sebagai tanda dimulainya penghancuran terhadap ummat Islam.

9. Jam 16.30

Terjadi di Kampung Waringin Batu Gantung (Islam BBM). Intimidasi dan ancaman oleh masyarakat desa
Kudamati dan Batu Gantung (Kristen) untuk menakut-nakuti sambil mengusir warga kampung tersebut yang pada
umumnya dari suku BBM agar segera tinggalkan Ambon. Dengan yel-yel Hidup RMS Mena Moeria Menang (Salam
Kebangsaan RMS). Masyarakat Islam diberi beberapa waktu sampai malam nanti jam 24.00 untuk segera mengungsi
karena akan dilakukan pembakaran kampung itu dan yang tidak mengungsi akan dibunuh.

10. Jam 17.30

Terjadi pengungsian Masjid Raya Al-Fatah Ambon
Pengusiran terhadap penghuni Islam yang berumah di tengah Kampung Kristen (BBM)
Sehingga terjadi ribuan massa Islam mengungsi ke Masjid Al-Fatah Ambon

11. Jam 18.00

Jalan Raya disektor Kampung Kristen
Di jalan-jalan raya pada sektor perkampungan Kristen terjadi pembakaran kendaraan bermotor roda 4 and roda
2 serta ratusan becak milik ummat Islam. Akibat pembakaran ini menimbulkan bekas terbakar pada aspal yang
dapat dijadikan saksi bisu yang tidak mungkin berbohong. Pada jalan Raya di sektor Islam tidak terdapat
pembakaran kendaraan milik Kristen ( aspal bekas terbakar tidak ada, kecuali pada Kerusuhan II.

12. Jam 18.30 WIT

99

Kampung Diponegoro diserang oleh kampung Kristen diatasnya dengan lemparan puluhan Bom Molotov dan
usaha pembakaran rumah-rumah Muslim di Kampung diatas. Usaha ini dapat digagalkan oleh aparat keamanan
yang segera tiba. Kampung Kristen diatas kampung Diponegoro ini tidak terdapat jalan untuk kendaraan roda dua
padahal mereka menggunakan bom molotov yang bahan bakunya bensin. Itu menandakan bahwa mereka sengaja
menyediakan bahan bakar untuk tujuan pembuatan bom molotov.

Pukul 19.00 WIT

Pembakaran di Kampung Waihaong terhadap sebuah Gereja dan beberapa rumah Kristen yang terjepit diantara
dua kampung Islam yang besar oleh para pemuda yang bereaksi atas serangan bertubi-tubi terhadap sejumlah
kampung Islam dan pembakaran kenadraan bermotor milik ummat Islam di Jalan-jalan raya pada sektor Kristen.

Pukul 21.00 WIT

Kampung Batugantung Waringin diserang lagi oleh massa Kristen dari Batu Gantung dan Kuda Mati. Massa
Islam yang belum mengungsi dipaksa segera meninggalkan kampung ini karena akan dibakar, apabila masih
bertahan akan terjadi pembunuhan.

Tanggal 20 Januari 1999 - Pukul 01.00 WIT

TK, SD Yayasan Al Hilal dibakar oleh massa Kristen yang datang dari kompleks Gereja Maranatha ikut dibakar,
tempat praktek Notaris Abua Tuasikal, SH.

Pukul 02.30 WIT

Masjid As Sa’adah di kampung Karang Panjang dibakar oleh massa Kristen dari kampung sekitarnya. Masjid ini
adalah yang diserang sesudah menyerang Masjid Raya Al Fatah pada pukul 22.00. Masjid ini berhasil dibakar habis
padahal baru saja diresmikan setelah melalui proses pembangunan yang panjang selama 9 tahun.

Pukul 02.30 WIT

Kampung Diponegoro atas diserang lagi dan berhasil membakar 3 buah rumah tetapi segera dapat dipadamkan

oleh massa Islam.

Pukul 02.30 WIT

Perusakan rumah-rumah Islam disepanjang Jl. Nn. Sar Sopacua dirusak dan dijarah oleh massa Kristen dari

kampung sekitarnya.

Pukul 03.00

Pasar Mardika, Pasar Gambus dan Pertokoan Pelita dibakar oleh massa Kristen dalam jumlah besar yang datang
dari tempat konsentrasi dari lapangan Merdeka. Pasar-pasar tersebut yang umumnya terdapat Toko, Kios dan
tempat usaha ummat Islam, dibakar habis, sedangkan deretan pertokoan milik China diselamatkan.

Pukul 04.00

Rumah-rumah ummat Islam di kampung OSM dibakar oleh ummat Kristen dari arah Kudamati.

Pukul 05.00

Masjid Raya Al Fatah diserang untuk yang kedua kalinya bertepatan dengan sedang berlangsungnya shalat
Subuh sehingga menimbulkan kepanikan para pengungsi, tetapi dapat dihalau oleh aparat keamanan dan massa
Islam

Pukul 08.00

Kampung Waringin diserang untuk yang ketiga kali oleh massa Kristen dari Batu Gantung dan Kudamati
membakar habis rumah-rumah suku BBM di Kampung itu, kecuali Masjid Al Muhlisin berdiri tanpa cacat.

Pukul 08.00

Pembakaran rumah rumah Muslim di Pohon Puleh dan Jl. Baru oleh massa Kristen yang daerah asalnya tidak
jelas, sejumlah rumah Islam dan Pasar Buah terbakar.

Pukul 08.30

Masjid An Nur di. Jalan A.M. Sangaji diserang oleh massa Kristen yang datang dari Jl. Anthony Rebook, usaha
pembakaran berhasil di padamkan oleh Ummat Islam dan Massa Kristen berhasil dipukul mundur.

Pukul 09.00

Massa Islam dai Jazirah Leihitu bergerak ke Ambon untuk memperkuat pertahanan Masjid Raya Al Fatah, tetapi
di tengah jalan dihadang massa Kristen di Kampung Benteng Karang. Terjadi bentrokan fisik yang mengakibatkan
rumah-rumah Kristen dan beberapa Gereja dibakar habis. Massa ini berhasil melannjutkan perjalanan ke Ambon
tetapi dihadang oleh satuan Brimob di Desa Air Besar Passo. Ketika mereka kembali dihadang oleh massa Kristen di
Kampung Negeri Lama, Nania dan Durian Patah. Bentrokan fisik di ketiga desa ini mengakibatkan terbakarnya
rumah-rumah Kristen dan Islam serta Gereja.

Pukul 10.00

Masjid Raya Al Fatah diserang untuk yang kedua kali, mereka berhasil mencapai perempatan jalan di depan
Masjid Raya Al Fatah, tetapi berhasil dihalau oleh massa dari Waihaong

Pukul 10.00

Massa kristen dari Kudamati dan Batu Gantung Dalam menyerang lagi ke kampung Batu Gantung Waringin
dengan tujuan mengusir semua warga BBM untuk keluar dari Kampung tersebut. Pengungsian besar-besaran terjadi
lagi ke Masjid Raya Al-Fatah Ambon.

100

Tanggal 21 Januari 1999

Pukul 06.00. Kampung Diponegoro. Massa Kristen menyerang dan membakar rumah-rumah milik warga
Muslim di Diponegoro Atas. Pardeis Tengah (Kp. Islam) Massa Kristen dari arah jalan Said Perintah menyerang
serta membakar rumah milik warga muslim di kampung Pardeis Tengah.

Jam 06.10

Kampung Wailette diserang kembali oleh massa Kristen dari Desa Hative Besar. Masjid dibakar serta mengusir
semua warga Muslim yang ada.
Kampung Pardeis Tengah kembali diserang, rumah-rumah Muslim dibakar

Jam 16.00

Di Kampung Waihaong bertempat dirumah Edwin Manuputty (Peg. BAPPEDA Tk. I) ditemukan sebuah
dokumen RMS yang ditanda tangani oleh Presiden RMS F.J.L. Tutuhatunewa.

Jam 20.30

Di Jalan Baru dan Pohon Pule, rumah-rumah warga muslim diserang dengan menggunakan Panah Api (Panah
Wire) dari arah Gereja Silo, sehingga rumah-rumah Muslim yang berada di belakang Gereja Silo musnah terbakar.

Tanggal 22 Januari 1999

Pukul 12.00 WIT Rumah-rumah di OSM diserang oleh massa Kristen dari kampung-kampung Kristen
sekitarnya seperti Kuda mati, Benteng Tapal Kuda dll.

Pukul 16.00

Menhankam Pangab Jenderal TNI Wiranto melakukan kunjungan di Ambon dan mengadakan Tatap Muka
dengan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan Muspida membicarakan Kasus Kerusuhan Ambon dan mencari
solusi damai.

Pukul 18.30

Pangab / Panglima TNI mengeluarkan Instruksi Perintah Tembak Ditempat bagi warga yang membawa Senjata
Tajam dan tidak mau menyerahkannya..

Tanggal 23 Januari 1999

Pukul 10.40 di Kampung Mangga Dua, massa Kristen membantai dengan membakar 5 orang Muslim asal
Waihaong yang sedang melewati Mangga Dua dengan menggunakan mobil truk, yaitu : La Tisa (Supir ), La Halilu
(Peg, Cool Storage), La Haini (Peg, Cool Storage), Baharudin (adik Supir), Mustafa (Anak Lasanu). Mayat-mayat
tersebut dibakar kemudian ditimbun dengan sampah.

Pukul 12.00 – 14.00

Kampung Banda (O S M) diserang dengan membakar rumah-rumah milik warga Muslim.

Pukul 14.00

Bertempat di Kampung Tanah rata ( Jl. Jenderal Sudirman ) seorang Aparat Keamanan menembak seorang
muslim Pegawai. Kantor Asuransi Jasa Raharja Cabang Ambon),

Jam 21.30 WIT

Di daerah Gudang Arang (Benteng) Massa Kristen melakukan pengroyokan terhadap anggota Kostrad yang
berasal dari Bali dan senjata dirampas, Korban dibacok hingga tewas.

Pukul 21.45

Di Jalan Jenderal A.Yani, massa Kristen melakukan penggeledahan KTP terhadap warga muslim yang sedang
dievakuasi, Aparat keamanan yang mengawal pengungsi mengeluarkan tembakan peringatan kearah massa Kristen
yang bringas itu. Dan salah satu Polwan dibacok oleh massa.

Tanggal 24 Januari 1999

Jam 21.40 WIT di Kampung Karang Tagepe diserang oleh massa Kristen dari Kudamati. Massa melakukan
penggedoran terhadap rumah-rumah warga Karang Tagepe dan memerintahkan agar semua laki-laki keluar dari
kampung dan mengancam tidak boleh kembali, bagi yang kembali berarti melawan. Sedangkan kaum perempuan
masih diberi kesempatan untuk pelan-pelan mengurus dan menyelamatkan anak-anaknya untuk dibawa pergi.
Setelah kaum Perempuan keluar dari kampung, pada malam itu juga kampung dibakar habis termasuk Masjid Al
Husaim. Pada siang harinya salah satu Imam Masjid kembali ke kampung bermaksud mau menyelamatkan barang
yang tersisa, tapi malang Pak Imam tersebut malah dibunuh.

Tanggal 2 Februari 1999
Jam 11.00 WIT

Insiden terjadi di Terminal Mardika. Seorang penumpang angkot turun dari mobil dengan tidak mau membayar
ongkos ( Pasasi ), Sopir dan Kernet menagihnya tetapi tetap tidak mau membayar bahkan penumpang tersebut lari.
Disaat melarikan diri orang yang melihatnya berteriak copet-copet kemudian dikejar massa, pada saat itu aparat
keamanan yang bertugas di Pasar mengeluarkan tembakan. Massa semakin panik ditambah lagi Patroli Helikopter
juga mengeluarkan tembakan. Tidak berapa lama secara bersamaan/serempak terjadi dibeberapa Instansi
Pemerintah yaitu di Dinas Tanaman Pangan, di Dinas Kesehatan, Dinas Perkebunan dan di Kanwil Sosial Karang
Panjang yaitu pegawai-pegawai yang beragama Islam dicari dan dikejar untuk dibunuh, oleh massa Kristen,
sementara pegawai lain yang melihat membiarkannya. Dari pengejaran itu Pegawai Dinas Kesehatan ( Maryan

101

Maruapey) dicegat dan dibunuh sehingga meninggal dunia. Dalam waktu singkat suasana kota saat itu menjadi
tegang yang sangat, sebagian warga/petugas keamanan tidak mengetahui sebab musababnya, hampir semua jalan-
jalan diblokkir sehingga jalan-jalan macet total.
Tepat Pukul 11.00 6 Orang Menteri tiba. Di Ambon. Tatap muka para Menteri yang diadakan di Aula Kantor
Gubernur hanya dihadiri oleh sebagian Tokoh Masyarakat. Para undangan tidak semua bisa hadir karena hampir
semua jalan-jalan diblokade.

Jam 08.30 WIT

Urimessing

Seorang warga Muslim bernama Ali Helmi Tuasamu dibacok oleh 6 orang Pemuda Kristen di jalan Diponegoro.
Penyerangan terhadap para pengungsi Muslim dari Karang Tagepe yang berlindung dalam tenda-tenda kompleks
Transmisi RCTI/SCTV Gunung Nona. Salah satu orang kena bacok.

Tanggal 3 Februari 1999

Jam 14.00 WIT

Kairatu (Ibu Kota Kecamatan Seram Barat). Warga Desa, Rumberu dan Rumalatu mengadakan Pesta Makan
Patita Damai dengan masyarakat Muslim Kairatu. Ternyata dibalik Pesta itu ada rencana jahat kaum Nasrani.
Mereka datang dengan membawa Senjata Tajam, Tombak dan Panah sehingga suasana Pesta tadi bukan dijadikan
wahana Perdamaian melainkan justru berubah menjadi ajang pertempuran. Dalam insiden itu 4 orang warga
Muslim terkena panah Rencana makan patita damai antara warga Kairatu Rumberu dan Rumalatu dengan
masyarakat Muslim Kairatu. Pertikaian meluas menjadi pembakaran Pasar, rumah-rumah Muslim disekitar Masjid.

Tanggal, 4 Februari 1999

Jam 05.30 Desa Waraloki yang sedang melakukan Shalat Subuh diserang oleh massa dari Desa Kamariang
dipimpin oleh Letda Sitorus, akibatnya 7 orang warga Muslim meninggal dunia.

Jam 10.30

Kota Kairatu kembali diserang oleh Massa Kristen yang datang dari kampung-kampung yang berada di
pegunungan, sehingga 40 buah rumah terbakar.

Tanggal 8 Februari 1999

Pukul 11.00 di Desa Batu Merah untuk pertama kalinya dilempari dengan bom-bom rakitan.

Tanggal 13 Februari 1999

Tertangkap 6 orang Kristen asal Maluku Tenggara yang melecehkan Islam dengan menghujat Rasulullah dan
menulis “Yesus Maju Terus” pada rumah warga Muslim disimpang tiga air besar STAIN-Ahuru.

Tanggal 19 Pebruari 1999

Warga Kristen di desa Passo melempari mobil penumpang DE. 401 AU yang dikendalikan oleh Sapri.

Lampiran : B

Pelanggaran Perdamaian Akbar

Kristen terbukti tidak berkehendak untuk perdamain karena sasaran yang direncanakan belum tercapai. Pihak Islam
sekalipun tidak melanggar perjanjian damai yang telah di ikrarkan. Tidak pernah ada sangsi untuk pihak Kristen
yang melakukan pelanggaran sebagai berikut:
1. Kesepakatan damai tanggal 23 Januari 1999 jam 20.00 WIT dihadapan/ disaksikan Menhankam / Pangab yang
dilaksanakan di Aula Makorem 174/PTM.

Kamis, 21 Januari 1999

- Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto melakukan perte-muan dengan tokoh-tokoh agama di Makorem

174/PTM.

- Pertemuan pukul 20.00 WIT telah diadakan kesepakatan damai yang ditanda tangani oleh kedua kelompok dari
masing-masing tokoh/pimpinan Organisasi keagamaan.
- Kesepakatan damai dihadapan Menhankam/Pangab ternyata tidak menghasilkan kemajuan berarti karena sesudah itu masih terjadi
tindak kekerasan secara sistematis oleh pihak Kristen sedangkan Pendeta/Pastor penanda tanganan kesepakatan damai tidak bertindak
apapun (delay action). Oleh karena itu sejumlah pelanggaran dibawah ini harus dipertanggung jawabkan antara lain:

Jum’at, 22 Januari 1999

- Pukul 15.00 WIT dikeluarkan perintah tembak ditempat bagi yang melanggar ketentuan membawa senjata
tajam keluar rumah/dijalan.
- Sepanjang malam terjadi pelemparan batu dan ancaman serangan ke perkampungan Islam.

Sabtu, 23 Januari 1999

102

- Pukul 10.40 WIT, pembantaian terhadap 5 (lima) warga asal Buton di Mangga Dua, mayatnya ditimbuni
sampah, disirami dengan bensin kemudian dibakar termasuk truk yang ditumpangi ikut terbakar.
- Pukul 20.30 WIT, aparat keamanan (Polri) yang beragama Kristen menembak seorang warga Muslim asal Jawa
tanpa alasan yang jelas di dusun Tanah Rata desa Batu Merah.
- Pada sore hari warga perkampungan Muslim di kampung Air Mata Cina diserang dan dibakar.

Senin, 1 Februari 1999

- Pukul 14.30 WIT rombongan Wali Kotamadya Ambon serta Dandim 1504 menuju desa Hitu ditahan
masyarakat Kristen dengan penghalang jalan.
- Dengan cukup berdialog tidak diijinkan jalan, rombongan mengalah dan kembali dikawal satu regu pasukan.

Selasa 2 Februari 1999

- Pukul 11.00 WIT terjadi kerusuhan yang diawali kasus kecil di pasar Mardika yang ditangani tidak tepat oleh
aparat keamanan.
- Seorang tukang copet dikejar oleh aparat keamanan dengan melepaskan tembakan yang menyebabkan
masyarakat menjadi panik. Aparat keamanan yang jauh dari TKP pun ikut mengeluarkan tembak dengan
cukup gencar.
- Sekitar kira-kira 15 menit setelah peristiwa itu seberang ruas jalan di perkampungan Kristen dipasang barikade.
- Kenderaan ummat Islam yang terjebak pada sektor Kristen dibakar dan supirnya dibunuh.
- Tercatat satu orang terbunuh, satu buah mobil, empat buah sepeda motor dan sebuah becak ikut terbakar. Di
beberapa perkantoran yang berada di daerah Kristen, pegawai yang beragama Islam didatangi kelompok
tertentu dan diperiksa KTP, beberapa orang nyaris terbunuh sedangkan seorang wanita terkena bacok.
Peristiwa yang segera dieksploitasi ini seperti telah masuk dalam skenario.
- Bersama dengan itu sejumlah pejabat yang akan menghadiri pertemuan dengan lima Menteri dilantai III Kantor
Gubernur Maluku terjebak barikade, pada umumnya diancam dengan kekerasan.
- Pemukulan terhadap seorang Mahasiswi Unpatti (Ani) oleh masya rakat Galala mengeksploitir situasi menjadi

kacau.

- Pukul 13.00 rumah penduduk Muslim di Talake Dalam dilempari massa Kristen dan banyak yang rusak
sedangkan seorang warga Bugis dibacok di kampung Belakang Soya.
- Di desa Passo kenderaan Truk dari desa Tulehu dihadang dengan barikade ditengah jalan. Sejumlah massa
dengan parang dan tombak langsung memecahkan kaca dan membacok sopir sehingga perlu dijahit 8 jahitan
diluar dan 6 jahitan didalam.

Rabu, 3 Februari 1999

- Pukul 08.30 WIT Ali Helau dibacok oleh 5 pemuda di Batu Gajah setelah keluar dari Kantor BRI.
- Pada waktu yang sama juga terjadi serangan dan perusakan rumah di dusun Karang Tagepe Kudamati
- Pelemparan terhadap perumahan Muslim di Batu Meja (belakang Polda) dan warga Muslim terpaksa
mengungsi ke Masjid Al-Fatah.
- Pengungsi dari dusun Karang Tagepe yang berada di penampungan RCTI/SCTV diserang lagi oleh massa

Kristen.

Kasus Kairatu.
Selasa, 2 Februari 1999

- Sekitar pukul 14.00 atas ajakan pihak Kristen dibuat kesepakatan perjanjian untuk tidak saling menyerang
dengan melakukan makan Patita (acara adat), ternyata diketahui bahwa pihak Kristen telah menyiapkan
sejumlah parang, tombak dan panah.
- Pihak Kristen menyerang dan timbul korban dipihak Islam yakni 3 orang luka terkena panah dan Imam Masjid
(Jalil Usemahu) ditombak di dalam Masjid yang sedang sholat untuk keselamatan ummat Islam.
- Beberapa rumah sekitar Masjid serta pasar ikut dibakar massa Kristen.

Kamis, 4 Februari 1999

- Pihak Kristen menyerang lagi dan membakar sejumlah rumah sehingga keseluruhan berjumlah 40 buah dan
bangunan pasar. Pada penyerangan ini tewas seorang warga Muslim.
- Masyarakat suku Buton dusun Alinong diserang dengan batu oleh masyarakat Kristen dari Kudamati.
- Pada pukul 07.00 WIT Dusun Waraloki (desa Kamarian) – Kairatu diserang massa Kristen menimbulkan korban
jiwa warga Muslim berjumlah 7 orang, sedangkan rumah-rumah penduduk yang dihancurkan sebanyak 52
buah.

Jum’at, 5 Februari 1999

- Warga Muslim di desa Kairatu mendapat serangan dan membakar sejumlah rumah. Masyarakat telah
mengungsi dengan perahu ke pulau Haruku dan pulau Ambon
- Pukul 10.15 masyarakat Muslim dusun Waraloki (desa Kamarian) diserang, tetapi dapat dihalau oleh aparat
keamanan karena telah ada perintah tembak ditempat pada tanggal 4 Februari 1999.
- Imam Masjid Karang Tagepe beserta istrinya tewas terkena sengatan aliran listrik di rumahnya dengan kabel
tanpa pembungkus yang dilakukan pihak Kristen.
- Perjanjian damai akbar dihadapan Menhankam/Pangab pada tanggal 12 Mei 1999 di lapangan Merdeka

Ambon.

Selasa, 11 Mei 1999

103

- Pembunuhan terhadap 2 (dua) orang warga Muslim desa Tulehu di desa Passo ketika dengan kenderaan
menuju ke Ambon.

Rabu, 12 Mei 1999

- Penyerangan dan pelemparan terhadap rumah-rumah penduduk warga Muslim di dusun Tawiri oleh massa

Kristen.

Kamis, 13 Mei 1999

- Pembunuhan dan pembantaian 4 orang penumpang bus (warga Muslim) di desa Waai oleh massa Kristen yang
sengaja menghadang bus tersebut.
- Bus tersebut tidak dibakar, tetapi penumpang dikejar massa Kristen, beberapa diantaranya berhasil
menyelamatkan diri dari amukan massa.

Sabtu, 15 Mei 1999

- Pukul 11.00 WIT terjadi pembakaran 8 buah rumah di Batu Merah oleh massa Kristen Mardika.
- Pembakaran ini terjadi akibat pemuda Kristen kampung Mardika merebut Obor Pattimura yang dibawah
pemuda Islam dari desa Batu Merah menuju lapangan Merdeka.
- Di perbatasan desa Batu Merah dan kampung Mardika Obor Pattimura dikembalikan ke desa Batu Merah,
sehingga menimbulkan konflik yang nyaris terjadi kerusuhan.
- Akibat kasus Obor Pattimura yang sengaja direkayasa panitia untuk menimbulkan kerusuhan.
- Upacara Obor Pattimura bertepatan dengan peresmian Kodam XVI/PTM oleh Kasad Jenderal TNI Subagyo HS.

Rabu, 14 Juli 1999

- Penebangan sekitar 300 pohon cengkih milik warga desa Siri-Sori Islam (P. Saparua) oleh massa Kristen desa
Ulath yang berkelanjutan dengan perkelahian massal yang menimbulkan korban jiwa dipihak Muslim termasuk
aparat Kepolisian.
- Pertikaian berlanjut antara desa Siri-Sori Islam dan desa-desa Kristen di pulau Saparua mengakibatkan timbul
korban jiwa di kedua belah pihak.

Sabtu, 17 Juli 1999

- Pembakaran Masjid Al-Ikhlas kota Saparua dan rumah-rumah penduduk Muslim.

Selasa, 20 Juli 1999

- Pelemparan bom terhadap perkampungan Islam Diponegoro.
- Penyerangan dilakukan massa Kristen ke perkampungan Islam Diponegoro.

Rabu, 21 Juli 1999

- Pelemparan bom terhadap desa Batu Merah Dalam (Muslim).

Jum’at, 23 Juli 1999

- Diserangnya perkampungan desa Poka/Perumnas (Muslim) dengan lemparan batu yang kemudian dilanjutkan
dengan penyerangan oleh massa Kristen.

Sabtu, 24 Juli 1999

- Pukul 00.00 WIT, dilakukan serangan ulang dengan kekuatan yang lebih besar terhadap perkampungan
Muslim desa Poka/Perumnas dan Masjid Al-Muhajirin Perumnas, sehingga menyebabkan mengungsinya
warga setempat setelah rumah-rumah mereka terbakar.
- Pukul 11.00 WIT, di Kampus Unpatti Mahasiswa Muslim mendapat intimidasi dan diteror Mahasiswa Kristen.
- Pada pukul 16.00 WIT ada inisiatif antara warga di Perumnas/Poka untuk melakukan perundingan agar tidak
saling menyerang.
- Tetapi ternyata perundingan tersebut mengalami jalan buntu, karena dipihak Kristen melakukan penyerangan,
pelemparan batu, pemboman bahkan pembakaran terhadap rumah-rumah disekitar Perumnas/Poka, desa Poka
Pantai dan sekitar Kompleks Masjid An-Nashar serta BTN Tihu/Poka.
- Pembantaian terhadap warga Muslim (Perumnas/Poka) yang bernama Noho Rahawarin oleh massa Kristen di
depan Puskesmas Perumnas/Poka – Rumah Tiga.

Penanda tangan Ikrar Perdamaian

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini rabu 22 Mei 1999, bertempat di Lapangan Merdeka Ambon,
pimpinan Ummat beragama, tokoh masyarakat/adat, tokoh pemuda, pimpinan paguyuban serta segenap lapisan masyarakat
menyatakan dengan bulat ikrar Perdamaian.

Pertama

Bahwa bencana sosial yang terjadi di kota Ambon dan beberapa tempat lain di wilayah Maluku, merupakan
tragedi kemanusiaan yang telah menghancurkan harkat dan martabat kemanusiaan kita sebagai ciptaan Tuhan.
Tragedi kemanusiaan itu pula telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan beragama, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

Kedua

104

Sebagai insan beriman dan bertakwa, kami sungguh-sungguh menyesali semua pengalaman pahit yang
memilukan itu dan bertekad untuk membangun kembali hubungan-hubungan kemanusiaan baru yang dimotivasi
dengan rasa cinta sesama, saling menghargai dan menghormati dan dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan,
kekeluargaan dan persaudaraan.

Ketiga

Bahwa tekad dan akad untuk membangun hubungan kemanusiaan baru dalam suasana yang penuh damai,
mengharuskan kita untuk dengan sadar mengakhiri semua bentuk konflik dan kekerasan, menghilangkan segala
bentuk rasa kecurigaan, dendam, kebencian dan permusuhan, dengan terus mengupayakan cara-cara damai yang
dialogis dalam menangani masalah-masalah yang belum terselesaikan.

Keempat

Menghargai kebhinekaan, baik agama, suku bangsa, tradisi, adat istiadat, serta terus berupaya menggalang dan
mempererat tali persaudaraan dan kesatuan bangsa yang dijiwai oleh semangat dan wawa-san kebangsaan.

Kelima

Mendukung sepenuhnya upaya semua pihak dalam penyelesaian tuntas dan menyeluruh semua masalah yang
belum selesai dengan tetap menjunjung azas keadilan, penegakan hukum dan kemanusiaan.

Keenam

Mengharapkan aparat keamanan untuk mengungkapkan dengan terbuka untuk masyarakat para provokator
dan mengadilinya sesuai ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.

Ketujuh

Menindak tegas siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja melanggar ikrar perdamaian ini, berdasarkan
hukum adat dan atau hukum negara.
Dengan adanya ikrar perdamaian yang disaksikan serta diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa seperti
disebutkan diatas, sebagai makhluk Tuhan, sudah saat kita semua tunduk dan bersujud di hadapan-Nya seraya
memohon ampun atas segala kekhilapan, keteledoran dan kedurhakaan kita.

Ikrar Perdamaian di Tanda Tangani oleh :

Ketua MUI Propinsi Maluku

: R.R Hasanussi.

Ketua BPH Sinode GPM

: Pdt.S.P. Titaley

Uskup Diosis Amboina

: Mgr. Joseph Tethol

Remaja Masjid

: Husein Tuasikal, SH

Angkatan Muda GPM

: Ferry Nahusona, STh

Pemuda Paroki Keuskupan Amboina

: F.R. Simon P Matruty

Kecamatan Pulau Saparua

: A. Tanalepy

Latupati Kecamatan P.Haruku

: R.E Latuconsina

Latupati Kecamatan Amahai

: A.L. Loilosa

Latupati Kecamatan Kairatu

: Corputy

Raja Hitu Lama

: Pellu

Keluarga Sulawesi Selatan

: Drs. Abdul Azis Abide

Keluarga Sulawesi Tenggara : Drs La Hamsidi
Serta Masyarakat Bali

: DR. Ir. Ngurah Nyoman

Wiandnyana

Kendati ikrar tersebut sudah didengungkan sebelumnya dan sudah ditanda tangani serta disaksikan Tuhan

Yang Maha Kuasa.

Lampiran : C

MENELUSURI KESALAHAN DANREM 174/PTM KOL. INF. HIKAYAT
MENANGANI KASUS BATU GAJAH

PERISTIWA demonstrasi Mahasiswa UNPATTI bersama UKIM pada tanggal 18 Nopember 1998 untuk
menyampaikan sejumlah tuntutan diantaranya agar TNI tidak berdwi fungsi, telah menimbulkan korban luka-luka
pada kedua belah pihak. Demontrasi yang dinilai tidak wajar oleh berbagai pihak ini diperkirakan telah ditunggangi
oleh pihak ke 3. Ekses dari kasus batu gajah ini berkelanjutan dengan berbagai hujatan kepada TNI dan tuntutan
agar Kolonel Infantri Hikayat selaku Danrem 174/PTM dan Letkol Infantri Gatot Marwoto selaku Kasrem 174/PTM
agar diberhentikan dari jabatan mereka dan dituntut agar segera meninggalkan kota Ambon. Banyak pihak termasuk
para tokoh dan pejabat menilai bahwa Danrem 174/PTM kurang persuasif, telah melakukan tindakan kekerasan
(Represif) terhadap Mahasiswa yang memperjuangkan aspirasi rakyat banyak. Hujatan dan tuntutan lengser nya
kedua pejabat tersebut terus berlangsung termasuk polemik di Harian Suara Maluku.
Saya tertarik untuk mengajak masyarakat khususnya Mahasiswa mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi
agar cooling down dengan menggunakan media massa Suara Maluku disamping berkomunikasi langsung perorangan

105

pada kesempatan yang ada. Untuk itu pada kolom surat pembaca Harian Suara Maluku terbitan tanggal 5 Desember
1998 saya menulis dengan judul TPF hasil kerjanya dipercepat. Setelah tanggal 18 Nopember 1998, pihak UNPATTI
mengumumkan dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF) yang hasil kerjanya menemukan jumlah korban pihak
Mahasiswa serta kerusakan pada bangunan umum, selanjutnya tidak ada lagi pengumuman hasil temuan padahal
sangat diperlukan untuk mendukung tuntutan Maha-siswa agar Kol. Inf. Hikayat dan Letkol Inf. Gatot Marwoto
lengser dan segera meninggalkan Ambon. Banyak rekan yang menyarankan agar saya segera menulis di Suara
Maluku menjelaskan pendapat saya bahwa Danrem dan Kasrem setiap saat dapat dicopot dari jabatan asalkan TPF
dapat melaporkan kesalahan-kesalahan kedua pejabat tersebut kepada Pangdam VIII/Trikora yang akan menilainya
dari aspek militer. Naskah ini disiapkan tetapi Kol. Inf. Hikayat minta agar tidak dimuat ke Harian Suara Maluku
karena ia inginkan ketena-ngan apalagi dengan adanya peristiwa Jum'at malam di Kantor Guber-nur, tampak yang
bersangkutan sangat terpukul (lihat peristiwa Jum’at malam terlampir). Situasi seperti sudah cooling down mudah-
mudahan ada pengaruh dari tulisan-tulisan saya yang lalu diantaranya : “Mahasiswa irama tabuhanmu asyik didengar
– “Saya mengajak Mahasiswa melihat dirinya karena tampak sekali sudah ditunggangi”, Karena batal ke Harian Suara
Maluku naskah ini diselesaikan untuk dokumen saja yang barangkali bermanfaat bagi yang ingin memahami duduk
permasalahannya. Bila ada tokoh yang mempermasalahkan kembali secara pribadi naskah ini saya sampaikan.

Sebab Terjadinya Tragedi

Banyak pihak menamakannya sebagai suatu Tragedi karena korban yang luka-luka mendekati 100 orang dari
kedua belah pihak. Kasus ini tidak terlepas dari kondisi Nasional dimana adanya konspirasi untuk memojokkan TNI
bahkan cenderung membuat TNI tak berdaya, sehingga menyebabkan TNI ragu-ragu dan tak berani bertindak.
Peristiwa semanggi dan beberapa kasus dimana TNI telah bertindak keras dijadikan acuan untuk terus menghujat
TNI karena peranannya selama Orde Baru dengan tuntutan kembali Ketangsi lepaskan Dwi fungsi. Saya melihat
konspirasi untuk meruntuhkan TNI berkelanjutan di Ambon dan pasti ada kaitannya secara Nasional.
Di Ambon tuntutan tersebut juga dilaksanakan oleh Mahasiswa UKIM dan UNPATTI dengan kekerasan
disamping tuntutan lainnya termasuk muatan lokal. Kebringasan Mahasiswa kedua perguruan tinggi ini sudah
terlihat beberapa hari sebelumnya dengan aksi pengrusakan yang tidak jelas sebabnya apalagi tujuannya. Situasi
panas dimulai dari aksi demo Mahasiswa UNPATTI pada Sabtu 13 November 1998 yang diijinkan memasuki
Makorem 174/PTM tetapi telah berlaku tidak sopan dengan menghujat dan memaki, kemudian demo yang sama
tanggal 15 November 1998 dengan tuntutan bertemu Danrem 174/PTM berlangsung sampai malam hari dengan
menguasai perempatan Tugu Trikora yang berakhir dengan apa yang disebut sebagai Mahasiswa disergap aparat
keamanan di jalan diponegoro yang berakibat dirawatnya beberapa orang. Dari dua demo itu dilakukan demo
tanggal 18 November 1998 yang berakhir dengan korban yang besar itu. Jadi peristiwa tanggal 18 November 1998 itu
tidak terjadi tiba-tiba tetapi berkembang dari peristiwa tanggal 13 November 1998 dan 15 November 1998, seperti
telah diprogramkan oleh pihak ketiga karena itu TNI dihadapkan pada dilema yang dipaksakan dengan
menggunakan Mahasiswa kedua Perguruan Tinggi tersebut di atas. Karena itu Danrem 174/PTM harus ekstra hati-
hati dan meminta petunjuk Komando atas (Pangdam VIII/Trikora).

Betulkah Mahasiswa Ditunggangi?

Mudah-mudahan apa yang saya jelaskan dibawah ini cukup objek-tif sehingga kesimpulan yang kita ambil
untuk menjawab pertanyaan di atas mengandung kebenaran (valid). Urut-urutan peristiwa dibawah ini perlu dikaji :
1. Tanggal 14 November 1998 di halaman Makorem 174/PTM Maha-siswa diterima dengan baik, melakukan
berbagai tuntutan diantaranya hapus Dwi fungsi TNI dan Menhankam/Pangab agar lengser. Hujatan dan
makian sangat memanaskan telinga, apalagi setelah bendera diturunkan setengah tiang tanpa tata cara
perlakuan terhadap Bendera Sang Merah-Putih, Kasrem Inf. Letkol. Gatot Marwoto dipaksa membacakan
tuntutan Mahasiswa yang ditulis tangan yang tidak kalah dengan tulisan dokter. Karena salah membaca
dipaksa mengulang sambil menunjuk-nunjuk hidung perwira tersebut yang kalau tidak menghindar niscaya
hidung perwira menengah ini menjadi mainan. Para anggota yang panas melihat perlakuan terhadap
pimpinannya tetap beku bagaikan es karena begitu isi perintah pimpinan untuk tidak berbuat apapun kecuali
terpaksa karena keselamatan dan keamanan satuan terancam (ada keterangan khusus tentang pengamanan
instalasi militer).
2. Dalam perjalanan pulang dari Makorem ketika melewati Markas Yonif 733/BS para demonstran ini melakukan
pengrusakan terhadap lampu-lampu hias di pintu gerbang Markas Komando. Hal tersebut bagi anggota jaga
merupakan provokasi terang-terangan dan menantang, mereka memaki anggota yang sedang berdiri di pos
jaga dengan senjata lengkap dengan peluru tajam. Namun demikian prajurit Yonif 733/BS dalam jumlah yang
besar menyaksikan sambil bergeleng kepala melihat keberanian yang tidak pantas dan cenderung menantang.
3. Tanggal 16 november 1998 siang Markas Korem 174/PTM didemo lagi oleh perguruan tinggi yang sama
dengan tuntutan bertemu dengan Danrem 1174/PTM Kol.Inf.Hikayat, karena Danrem 174/PTM sedang dalam
perjalanan dari Jakarta setelah mengikuti SI MPR, demo dilanjutkan dengan menguasai perempatan Tugu
Trikora sampai malam hari dimana gedung PLN yang tak ada hubungan apapun dengan tuntutan Mahasiswa
jadi sasaran pelemparan batu. Turun tangannya Rektor ternyata tidak digubris sampai sekitar jam 22.00 mereka
berada di perempatan Tugu Trikora. Dari penguasaan Tugu ini mereka tetap menuntut agar Danrem 174/PTM
dihadirkan untuk mempertanggung jawabkan penyergapan itu. Tuntutan itu jelas tidak akan dipenuhi karena
prosedur Militer tidak membenarkan karena Danrem harus kuasai dulu duduk permasalahannya dan
sesungguhnya tak perlu pemak saan di malam seperti itu. Meninggalkan Tugu Trikora ternyata sebagian
berputar ke arah Makorem 174/PTM dari jalan A. Yani. Di depan Makorem beberapa anggota yang bertugas
jaga diprovo-kasi dengan kata-kata sambil menusuk-nusuk petugas tersebut dengan bambu yang mereka bawa.
Pancingan untuk konflik fisik seperti ini, sepertinya tidak masuk akal terutama didepan penjagaan dan malam

106

hari. Kalau tidak masuk akal sebagai inisitif mahasiswa yang terpelajar lantas siapapun aturnya. Pada 2 hari
yang sama terjadi juga demo yang dilakukan oleh Mahasiswa UNIDAR dan STAIN tetapi semuanya berjalan
mulus tanpa kekerasan tuntutan dan aspirasinya disampaikan sesuai aturan, TNI pun menyambut dengan
tepukan tangan tanda seaspirasi.
4. Tanggal 18 November 1998 berulang lagi demo yang dilakukan oleh mahasiswa UNPATTI yang sejak dalam
perjalanan sudah melakukan aksi kekerasan dan cari gara-gara dengan para pengendara mobil sepanjang jalan.
Jumlah mereka ada yang memperkirakan 7000 orang tetapi saya perkecil saja sekitar 5000 orang. Demo hari ini
dihembuskan bahwa akan dilakukan besar-besaran menuntut pertanggung jawaban Danrem 174/PTM
terhadap kasus penyergapan karena itu saya sengaja turun ke TKP untuk menyaksikan dari depan gedung RRI
Ambon paling dekat maju ke Apotik Vita Farma massa demo sebanyak itu berkumpul di depan Makorem pada
jarak yang sangat rapat dengan pintu gerbang tanpa memperhatikan UU No.9 / 98 yang mengatur jarak
maksimal 150 meter dari pagar instansi militer. Hujatan dan kata-kata Anjing, Babi, Pendidikan cuma SD sangat
menekan moril prajurit yang berhadap-hadapan di pintu gerbang. Batu sudah mulai berkumpul yang sebagian
besar diambil dari sungai Batu Gajah yang disaksikan penduduk setempat, berpuluh-puluh tas beribut sudah di
transport ke depan Makorem dan dibagi-bagikan. Persiapan seperti itu sangat menghawatirkan karena tampak
nekad untuk bentrok adu fisik, barangkali dianjurkan untuk revans peristiwa penyergapan. Dari hasil negosiasi
diijinkan 4 orang mahasiswa diterima Danrem 174/PTM untuk berdialog menyampaikan aspirasi. Yang terjadi
ternyata lain, keempat anggota delegasi baru memasuki Makorem sekitar 20 meter dari pintu gerbang ternyata
mahasiswa mulai menyerang petugas dengan lemparan batu seperti hujan dari langit. Keadaan sudah amat
kritis, petugas di pintu gerbang kewalahan, terlihat akan segera jebol dan para demonstrans sebanyak itu pasti
berhamburan ke halaman bahkan kedalam ruangan yang ada. Bisa kita perumpa-makan ibarat karet gelang
yang ditarik pada kedua belah ujungnya sampai batas maksimal yang bila tidak dikendorkan pasti akan putus.
Itulah gambaran bobolnya barikade pak dipintu gerbang. Saya yang didepan Apotik Vita sambil garuk-garuk
telapak tangan kapan karet itu dikendorkan sebentar lagi putus dan kalau itu terjadi yang menang adalah
Provokator terutama aktor intelektualnya yang mungkin sedang siap-siap meninggalkan kota Ambon.
Untunglah tak lama kemudian pasukan barikade itu bergerak maju mengayunkan tongkat menghalau para
demo dan bentrokan fisik tak dapat dielakan lagi. Saat gerak maju pasukan PMH itulah secara tidak sadar saya
ucapkan EXEL LENT, karena saya sedang membayangkan korban meninggal dunia akan banyak seperti akibat
putusnya karet itu. Terlihat jelas bahwa provokator tidak mengacarakan bentuk perwakilan bernegosiasi karena
itu kesepakatan dengan petugas segera dipatahkan oleh Mahasiswa dengan serangan batu dengan tujuan
menyerbu ke dalam Markas. Bisa kita membayangkan apa yang akan terjadi, baik sesuai skenario atau pun
tidak. Berhamburannya sekian banyak Mahasiswa pasti tidak ada pihak yang tidak dapat mengendalikan,
mereka akan memasuki semua ruangan dan kantor, gudang senjata dan amunisi serta bahan peledak yang
akan di jarah. Semua ruangan akan terbakar termasuk gudang bahan bakar dan bagaimana akibat ledakan
bahan peledak dan granat bagi penduduk sekitar Makorem. Senjata dan amonisi di biarkan terbakar atau
berpindah tangan. Dalam keadaan begitu regu jaga harus bertindak melakukan penyelamatan, mereka
berdasarkan COUSIGNES (Konsinyes) berhak dan wajib melepaskan tembakan untuk menghentikan aksi
pengacau keamanan tersebut. Kalau begitu akan berapa banyak korban Mahasiswa calon pimpinan masa depan
bangsa ? tidak ada satu pun yang menang yang ada hanya tangis dan air mata, penyesalan tak habis-habisnya
Ambon tidak manis lagi bahkan jadi contoh paling buruk se Indonesia. Tetapi ada yang tertawa terbahak-bahak
karena berhasil luar bisa, siapa mereka ? tidak ada lain yang kita namakan provokator dan aktor intelektualnya.
5. Sebelum mencapai Makorem, demo yang bergerak melalui Jl. A.M. Sangaji ternyata sudah mulai bertindak
bringas. Beberapa bendera Merah Putih yang dipasang di Jl. A.M. Sangaji menggunakan tiang kayu rep 5/3 cm
dicabut benderanya dirobek untuk ikat kepala, tiangnya dijadikan tongkat/alat pukul setelah dipatahkan jadi
dua. Mahasiswa seperti tak mengerti telah berbuat kesalahan besar merobek Merah Putih. Bagi TNI yang
mempertaruhkan nyawanya dan telah menyaksikan korban banyak rekan karena memperta-hankan Merah
Putih amat tersinggung atas perbuatan Mahasiswa tersebut apakah ini juga atas suruhan provokator, atau
Mahasiswa sedang lupa diri.
6. Penguasaan perempatan tugu Trikora bukan tanpa resiko, saya menganggap-nya sebagai titik rawan karena
disitu terdapat Gereja Silo, Masjid An-Nur dan ke utara lagi terdapat Masjid Al-Fatah. Bila disekitar Tugu
terjadi benturan fisik maka situasi akan berkembang buruk bila rumah-rumah ibadat itu dilempari oleh orang-
orang khusus yang telah disiapkan seakan-akan aksi massa terbuka atau lempar batu sembunyi tangan. Karena
itu pengua-saan sektor Tugu Trikora menjadi pertanyaan. Dari gambaran perilaku para demonstaran di atas
siapapun tidak percaya bahwa itu direncanakan sendiri oleh Mahasiswa, ada kekuatan lain yang mengatur,
Mahasiswanya sendiri tidak menyadari penunggangan tersebut. Jadi Mahasiswa jelas terkena provokasi hanya
siapa dia dan aktor intelektualnya yang mana tidak ada pengusutan. Korem 174/PTM terlibat langsung karena
itu tidak mungkin melakukannya. Polri secara fungsional harus melakukan pengusutan tetapi seorangpun tidak
ada yang ditangkap. Banyak pihak berkomentar bahwa Polda khawatir bahkan takut akan jadi sasaran amukan
demo hari-hari berikut. Kalau sudah begini apakah tidak merupakan hal yang amat kita sayangkan ?
7. Issu adanya korban tewas 3 orang Mahasiswa salah seorang Wanita tersebar merata di dalam kota Ambon dari
sini terlihat bahwa pemberitaan tersebut sudah direncanakan untuk mengeksplitasi situasi yang sedang panas.
Rencana itu segera dipatahkan karena tidak terbukti yang kemudian dibantah Gubernur Maluku setelah
menyaksikan korban-korban di RSU Haulussy. Berikut ini kita telusuri proses pengambilan keputusan operasi
taktis dilingkungan Militer, bagaimana pelaksanaannya serta hasil yang dicapai termasuk untung-rugi (korban).
Dari hasil penelusuran ini dapat kita memberikan penilaian – apakah Danrem 174/PTM Kol Inf. Hikayat dalam
menangani kasus Batu Gajah tanggal 18 November 1998 bertindak salah atau tidak.

Proses Pengambilan Keputusan

107

Di Militer semua kegiatan yang berulang dikuatkan tata cara pelak-sanaannya terutama hal-hal penting seperti
Operasi Militer. Karena itu keputusan taktis untuk melaksanakan sesuatu operasi diproses melalui suatu prosedur
yang berlaku tetap (Protap). Karena itu apabila terjadi kegagalan maka ditelusuri proses pengambilan keputusan
maka itu kita sering dengar hasil suatu tim Pencari Fakta menyimpulkan – adanya kesalahan prosedur. Dilapangan
keputusan diambil tidak selalu melalui kegiatan administratif, cukup in mind tetapi harus dipenuhi semua unsur-
unsur pengambilan keputusan.
Kasus Batu Gajah yang telah ada informasi rencana demo besar-besaran (dengan kekerasan) pasti sudah
ditanggapi Korem 174/PTM dengan rencana penanganannya. Ada perkiraan intelejen perkiraan Operasi dan
perkiraan komandan, kesemuanya untuk mendapatkan cara bertindak terbaik diantaranya agar tidak ada korban
yang tidak perlu.

Pelaksanaan Operasi

Ketegangan antara para demo dan pasukan PHH di depan Gerbang Makorem sudah mencapai puncak.
Bertepatan dengan itu ada perintah untuk menghalau massa demo yang segera dilaksanakan oleh satuan PHH.
Dengan sigapnya Pasukan PHH mengayunkan tongkat untuk menghalau massa demo, sedangkan massa demo
bertahan dengan melakukan pelemparan dengan batu yang berakibat timbul korban luka-luka pada kedua belah
pihak. Akibat luka itu kedua belah pihak semakin emosional dan keadaan sudah tidak terkendali baik mahasiswa
maupun pasukan PHH yang terlihat keluar dari formasi melakukan pengejaran. Bentrokan fisik seperti itu tidak
terhindari karena massa demo tampaknya telah siap melakukan benturan itu. Dengan demikian korban yang jatuh
pada kedua belah pihak adalah wajar.
Penghalauan dilakukan sampai ke tugu Trikora karena Makorem harus aman serta massa demo harus
disalurkan ke empat jurusan yang ada yaitu jalan Imam Bonjol, Jalan AM Sangadji, Jl. Diponegoro dan Jalan Said
Perintah agar tidak terkoordinir terpecah di tugu Trikora aksi PHH dihentikan karena berada dititik rawan. Yang
disalurkan kejalan Iman Bojol menimbulkan korban materi Korem 174/PTM berupa dua buah mobil dinas dibakar
massa demo. Kerugian lainnya berupa kaca pintu dan jendela sejumlah bangunan di sepanjang jalan Diponegoro
hancur oleh lemparan massa demo. Keadaan kemudian berangsur reda, korban luka kedua belah pihak dievakuasi
ke RS. Haulussy, RS. GPM dan RS. Bhakti Rahayu.

Akibat Operasi

Pihak TPF UNPATTI melaporkan terdapat 63 korban luka-luka, terdiri dari 59 Mahasiswa, 1 orang Dosen dan 3
orang masyarakat. Yang perlu dirawat inap 20 orang. Kaca jendela ….. buah dengan kerugian Rp………
Pihak korem melaporkan prajuritnya luka-luka 24 orang dan 2 buah kendaraan dinas dibakar. Hal-hal lain yang
lebih prinsip tidak ditangani TPF seperti :
1. Benarkah Mahasiswa tersusupi Provokator ? Siapa mereka dan siapa Aktor intelektualnya.
2. Benarkah aparat melakukan pengejaran sampai memasuki rumah ibadah dan kamar penduduk
3. Buktikan adanya kesalahan Danrem 174/PTM dan laporkan ke Pangdam VIII/TKR agar dapat
dipertimbangkan untuk mencopot Danrem 174/PTM dan Kasremnya, juga melakukan tuntutan tetapi tidak
bisa membuktikan dimana salahnya.
Dari hasil perawatan korban yang luka-luka di dapat penjelasan bahwa semua korban akibat benturan benda tumpul tidak ditemukan
luka akibat peluru tajam, peluru hampa, peluru karet atau sangkur. Sedangkan para Prajurit yang berada di RST pada umumnya akibat
terkena lemparan batu; berita yang tersiar di luar bahwa terdapat korban meninggal dunia 3 orang ternyata tidak benar yang langsung
dibantah Gubernur melalui TVRI Ambon sehingga keadaan yang sudah memanas segera reda.

Penilaian

1. Rencana menjebak Makorem telah digagalkan sehingga perkiraan akan timbul korban yang besar di pihak
massa demo dapat dihindari.
2. Provokator gagal memaksakan rencananya karena TNI tidak terpancing bertindak menggunakan alat lain
kecuali tongkat, sehingga kekacauan dapat diiliminir.
3. Tidak adanya korban akibat terkena peluru tajam, peluru hampa, peluru karet apalagi sangkur menunjukan
adanya pembatasan penggunaan kekerasan (alat).
4. Pasukan tidak menggunakan alat lain seperti barang tajam kecuali tongkat dan lemparan batu yang terdapat di
sepanjang jalan Diponegoro hasil lemparan mahasiswa. Hal ini menunjukan pengendalian operasi yang cukup
baik dengan disiplin prajurit yang kuat.
5. Korban yang terjadi karena massa demo melakukan perlawanan dan bersedia bentrokan fisik dengan aparat
keamanan yang sedang melaksanakan tugasnya mengamankan situasi.
6. Kayu rep yang diisukan ternyata tiang bendera yang dipatahkan untuk dijadikan alat pukul oleh Mahasiswa

sendiri.
7. Issu adanya korban meninggal 3 orang mahasiswa tidak berhasil memicu situasi.

Kesimpulan

1. Puncak ketegangan tidak terjadi seperti putusnya karet yang dipaksakan semakin tegang dengan demikian
korban jiwa yang besar dapat dihindari. Tindakan penghalauan oleh satuan PHH dilaksankan tepat waktu, bila
tertunda sekitar 5 menit keadannya menjadi sangat berbahaya.
2. Wewenang yang diberikan kepada Danrem 174/PTM digunakan secara tepat tidak dilampau, dibuktikan
semua korban tidak terkena peluru tajam, peluru karet, peluru hampa maupun sangkur.
3. Pasukan PHH tidak berhasil dipertahankan dalam formasi. Semua-nya keluar formasi melakukan pengejaran
terhadap Mahasiswa di area jalan Diponegoro. Pengejaran terjadi karena solider sekaligus emosi. menyaksikan
rekannya terluka kena lemparan batu.

108

4. Disiplin pasukan dapat dipertahankan terbukti mereka hanya menghalau/memukul dengan tongkat sebagai
perlengkapan yang disediakan komando.
5. Tidak ada korban jiwa, issu adanya 3 mahasiswa meninggal dunia tidak benar.
6. Keseluruhan rencana provokator/aktor intelektual dapat dipatah-kan/gagal.
Dari penjelasan tersebut di atas saya tidak melihat adanya kesalahan Danrem 174/PTM mulai dari
keputusannya, pelaksanaannya sampai dengan konsolidasi tidak ditemukan kesalahan sehingga sulit di dapat alasan
untuk memintakan Pangdam VIII/TKR menggantikan Danrem 174/PTM Kol. Inf.Hikayat dan Kasrem Letkol Inf
Gatot Marwoto.

Jadi peristiwa Jum'at malam ( terlampir ) adalah rekayasa untuk mematahkan moril Danrem 174/PTM termasuk
Kapolda Maluku Kol. Pol. Karyono. Demikian analisa ini didasarkan pada pertimbangan militer yang barangkali
sebagai rekan sipil sulit menerima, tetapi begitulah pimpinan melihat prestasi pelaksanaan tugas prajuritnya.
Selanjutnya periksa halaman lampiran, terima kasih.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat meredakan suasana panas didalam kota dimana prajurit TNI yang bertempat tinggal diluar asrama
militer merasa aman. Pemukulan, pengeroyokan anggota TNI oleh Mahasiswa dan pemuda-pemuda yang bergerombol ditepi jalan bisa
segera dihentikan. Apabila tindakan brutal terhadap anggota TNI itu dibiarkan berlarut maka akan terjadi hal-hal yang sulit kita perkirakan.

Lampiran : D

MAHKAMAH PERADILAN TERHADAP DANREM 174/PTM Kol. Inf.
HIKAYAT

SELESAI Shalat Jum’at tanggal 27 November 1998 seperti biasa saya tidak langsung pulang karena para pengurus
Organisasi Ikatan Kekeluargaan Masyarakat Banda yang pimpinannya Dr. Paing Surya-man selalu kumpul dekat
pintu keluar bagian depan ngobrol ngalor-ngidul sekurang-kurang setengah jam. Banyak ide untuk Organisasi di
hasilkan dari ngobrol ba’da Jum’at itu. Di sayap kanan depan sudah jadi kebiasaan berkelompok generasi muda ada
yang mahasiswa sam-pai para sarjana. Ada sekitar tiga orang dalam kelompok kecil sambil bersiap pulang berbicara
serius sekali, ketika jalan di dekatnya saya dipanggil, abang dengar ini dulu. Mereka pun menceritakan apa yang
terjadi pada Jum’at malam yang lalu di kantor Gubernur ketika ada rapat dengan tokoh agama dari Katholik,
Protestan dan Islam. Beta dengar dari sumber berita, ucapannya. Abang percaya ini A-1, sumber-nya tak perlu abang
tau. Karena informasi itu menguatkan analisa saya maka saya telusuri hal tersebut dari dua tokoh Islam yang hadir
pada acara tersebut yaitu : K.H Abdul Wahab Abu Bakar Polpoke dan Al-Ustadz Abdurahman Khouw sedangkan
orang ketiga yang hadir tidak saya cross check karena yang bersangkutan pada kesem-patan rapat itu tidak mendapat
kesempatan berbicara karena waktu habis.
Manuver kelompok Kristen memang sedang dalam pengamatan saya karena ada beberapa kasus yang menarik
perhatian terutama back up mereka terhadap aksi demo yang terus menerus dan semakin meningkat kualitas
pelanggarannya. Kekerasan demo yang tidak memperdulikan aturan telah membingungkan masyarakat kota
Ambon karena aparat keamanan seperti musuh mereka, mau dibuat lumpuh tak berdaya. Dengan para demonstran
itu pernah saya berdiskusi tentang orang ketiga yang menunggangi aktivitas mereka. Kita sampai kepada suatu
kesimpulan bahwa TNI tidak boleh dilumpuhkan sebab ancaman dalam berbagai bentuk akan muncul dan
menghancurkan, perbuatan itu ibarat palang pintu telah dipatah-kan dan pintu terbuka lebar siang dan malam
maling mudah masuk. Kedua mahasiswa yang gigih mempertahankan pendapat tersebut menerima contoh soal
yang saya berikan. “Mari kita buktikan perlu atau tidak Polri itu; Bagaimana kalau kita coba tidak pakai mereka
sebulan saja, Polisi dicutikan keseluruhannya sampai dengan Kapolda. Anda bisa memperkirakan apa yang terjadi?
Tolong dirinci akibat-akibat itu”, jawabnya: wah contoh Bapak ekstrim, tidak mungkin Polri dicutikan begitu, bisa-
bisa berlaku lagi hukum rimba, yang jelas Amplas itu bisa habis dijarah belum lagi saling bunuh karena ada dendam
dan ketersinggungan di masyarakat”. Kalau begitu cara demo yang melumpuhkan TNI ini tidak benar dong,
keduanya mengangguk, tetapi menolak keras kalau dikatakan ditunggangi. Saya ikut membe-narkan sikap
penolakan mereka, saya katakan watak Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak mungkin begitu, kecuali
punya kepentingan.

Mari kita memasuki judul cerita ini ! rapat pada tanggal 20 November 1998 malam itu dirancang untuk meminta
pertanggungan jawab Danrem 174/PTM tentang kasus Batu Gajah berdarah tanggal 18 November 1998. Istilah
peratanggungan jawab yang digunakan sumber informasi tidak tepat sebab Danrem hanya bertanggung jawab
kepada Pangdam. Karena di lingkungan TNI tugas-tugas seperti yang dilaksanakan oleh Danrem hakekatnya adalah
tugas Pangdam dalam bentuk rinci yang dilaksanakan Danrem, jadi tugas itu didelegasikan kebawah tetapi
tanggung jawabnya (Responsibility) tidak didelegasikan.
Jadi istilah yang tepat bukan mempertanggung jawabkan tetapi menjelaskan kalau masih kurang jelas silahkan
tanya. Beda dengan menjelaskan karena pertanggungan jawab bisa berakibat kena teguran dan sangsinya berat
seperti dicopot dari jabatan atau diberhentikan tidak dengan hormat. Yang terjadi malam itu justru Pola
pertanggungan jawaban yang oleh pemberi informasi dikatakan sebagai Mahkamah peradilan yang sengaja
bersidang untuk mengadili Pelanggaran Pidana oleh Danrem 174/PTM Kol. Inf. Hikayat, masya Allah hebat sekali
mereka itu !

Bagaimana ceritanya ? Yang hadir pada barisan pimpinan yakni Gubernur, Danrem serta Kapolda. Pada barisan
peserta adalah 5 tokoh Katolik (lengkap), 5 tokoh Protestan (lengkap) dan 3 tokoh Islam (kurang 2 tokoh). Posisi
duduk berurutan dari 5 Katolik, 5 Protestan dan 3 Islam yang relatif segaris.
Setelah rapat dibuka Gubernur langsung disambar dengan pertanyaan oleh pihak Katolik yang paling ujung
berturut-turut sampai orang terakhir kemudian dari unsur Protestan jadi 10 orang, tidak ada yang melepaskan

109

kesempatan berbicara, berbicara dengan selalu melihat catatan pada buku kerjanya. Kesepuluh tokoh agama itu
(Pastor dan Pendeta) berbicara keras, memaki-maki, menghina dan meng-hujat kedua pejabat aparat keamanan itu
secara membabi buta, tidak sepantasnya keluar dari mulut orang-orang yang dihormati di masyarakat itu. Memang
yang lebih parah Danrem 174/PTM karena ialah yang terlibat langsung kasus Batu Gajah itu tetapi Kapolda pun
tidak sedikit mendapat perlakuan tidak adil dan tidak memperhatikan tata krama diantara pejabat apalagi oleh para
tokoh agama, cerita ini obyektif tidak dilebih-lebihkan. Kesempatan berikutnya diberikan kepada KH Abd Wahab
Polpoke dan Ustadz Abd.Rahman Khouw, yang ketiga tidak diberi kesempatan karena katanya habis waktu. Kedua
tokoh Islam ini membela gigih Danrem 174/PTM dan Kapolda bukan karena tidak terbukti tuduhan kesalahan
kedua pejabat tersebut tetapi menolak cara penghujatan yang dilakukan oleh orang-orang terhormat yang kalau di
atas mimbar gereja selalu menganjurkan kasih tetapi kenyataan di malam itu lebih kejam dari seorang penjahat-
pembunuh. Al-Ustadz Abd. Rahman Khouw secara khusus meminta agar para pemuka agama jangan bermain
politik praktis karena itu bukan lapangan kita, bisa-bisa ummat tak terurus. Kita tidak pantas bereaksi keras seperti
itu, karena awam apalagi tidak tahu persis peristiwanya sebaiknya kita dengar penjelaskan Danrem Kol. Inf.
Hikayat. Ternyata Danrem 174/PTM dan Kapolda Maluku tidak diberi kesempatan membela diri atau menjawab
tudingan 10 tokoh agama Kristen tadi. Luar biasa rekayasa acara yang disengaja untuk melumpuhkan kemampuan
TNI sebagai pengamanan negara. Acara rapat yang sudah keluar jalur itu ternyata tidak diluruskan/kembalikan
sesuai tujuan rapat apalagi waktu terlalu banyak disita pihak Kristen, jadi kalau dihitung secara matematis maka
perbandingannya adalah 10 : 2 = 5 : 1. Orang-orang itu telah begitu berani mengambil resiko mematahkan palang
pintu, membuka pintu itu lebar siang dan malam padahal keadaan lingkungan pada waktu itu sangat mencekam
(situasi nasional sedang memburuk). Kebenaran cerita kasus ini dapat dilakukan cross check kepada kedua pejabat
TNI tersebut, Gubernur dan mereka yang hadir, asalkan mau jujur.
Dari apa yang terjadi pada kasus di atas saya berkesimpulan bahwa :
1. Acara rapat ini merupakan babak berikut dari upaya melum-puhkan TNI yang justru menghantam titik
pusatnya karena itu berhasil secara efektif.
2. Urutan acara telah keluar dari rencana sebab yang normal harus dimulai dengan penjelasan kedua pejabat
tersebut (mempersiapkan dulu secara tertulis hadir bersama staf).
3. Bila ada yang tidak puas dengan expose kedua pejabat tersebut dilakukan dengan diskusi tanya jawab. Begitu
hebatnya mereka menguasai dan mengendalikan acara rapat, tidak dapat disangkal bahwa ini acara yang
direkayasa oleh mereka, sekurang-kurangnya perencana terjebak.
4. Keseluruhannya sudah dirancang jauh sebelumnya terbukti dari polemik di media massa.
Tulisan ini untuk menjadi pelengkap (lampiran) tulisan saya yang baru selesai dengan judul menelusuri
kesalahan Danrem 174/PTM Kol.Inf Hikayat menangani kasus Batu Gajah.
Mudah-mudahan kasus ini akan memperjelas kemana arah gerak kelompok yang sedang saya amati itu.

Catatan :

Naskah ini diangkat sebagai lampiran buku induk Untuk membuktikan bahwa memang ada program Khusus
untuk menghancurkan wibawa TNI Hasilnya sudah kita lihat pada kerusuhan Ambon ini

DAFTAR MASJID YANG RUSAK AKIBAT KERUSUHAN DI KOTA MADYA AMBON -
PROPINSI MALUKU TH 1999

No. NAMA

ALAMAT

KEADAAN KET

Masjid – Musholla T RB RR

1 2

3

4 5 6 7

KECAMATAN : NUSANIWE

1. Al Hikmah

Wemi Kec. Nusaniwe

Dibakar

2. Sam’iyat

Air Louw Kec. Nusaniwe

Dibakar

3. Al Mubaraqah Labuhan Raja Kec. Nusanive

Dibakar

4. An Nur

Kampung Ani Kec. Nusaniwe

Dibakar

5. Nurul Bahri

Amahung

Dibakar

6. Nurul Iman

IHU Kec. Nusaniwe

Dibakar

7. Kanwil Trans Taman Makmur Kec. Nunaniwe

Dibakar

8. Jabal Tsur

Bentas Kec. Nusaniwe

Dibakar

9. Al Manaar

Bentas Kec. Nusaniwe

Dibakar

10. Jabal Rahmah Kramat Jaya Kec. Nusaniwe

Dibakar

11. An-Nur

Komplek TVRI Sta Ambon

Dibakar

12. Al Muhajirin OSM Pantai Kec. Nusaniwe

Dibakar

13. An-Nashar

OSM Atas Kec. Nusaniwe

Dibakar

14. Nurul Bahri

Wainitu Kec. Nusaniwe

Dibakar

15. Kanwil Agama Air Salobar Kec. Nusaniwe

Dibakar

16. Hidayatullah Wainitu Kec. Nusaniwe

Dibakar

17. Nurul Afiah Komp. RSU Ambon Kec Nusaniwe

Dibakar

18. Nurul Mu’min Kamp. Ganemong Kec. Nusaniwe

Dibakar

110

19. Al-Mukar rom Karang Tagepe Kec. Nusaniwe

Dibakar

20. Al Musayyim Alinong Kec. Nusaniwe

Dibakar

21. Al Muklishin Batu Gantung waringin Kec. Nus

Dibakar

22. Al Hijrah

Kayu Besi Kec. Nusaniwe

Dibakar

23. Al Wahyu

Polres Perigilima Kec. Nusaniwe

Dibakar

24. At-Taqwallah Air Mata Cina Kec. Nusaniwe

Dibakar

KECAMATAN SIRAMAU

25. An-Nur

AM Sangadji Kec. Sirimau

Dibakar

26. As-Saadah

Karpan Kec. Sirimau

Dibakar

27. Asy Syuhada Belakang Soya Kec. Sirimau

Dibakar

28. Darul Hasanah Wisma Atlit Karpan Sirimau

Dibakar

29. Al Muhajirin Kamp. Khairun Kec. Sirimau

Dibakar

30. At-Taqwa

Batu Bulan Kec. Sirimau

Dibakar

31. Al Ikhwan

Pasar Mardika

Dibakar

32. Baiturridha

Hative Kecil Kec. Sirimau

Dibakar

33. Ar-Rahman Hative Kecil Kec. Sirimau

Dibakar

34. Asy Syukur Hative Kecil Kec. Sirimau

Dibakar

KECAMATAN BAGUALA

42. Nurul Amal Halong Batu-batu Kec. Baguala

Dibakar

43. Ar Rahman Wabula Halong atas Kec. Baguala

Dibakar

44. Baitul Ma’ruf Halong Baru Kec. Baguala

Dibakar

45. Al Huda

Halong TM Kec. Baguala

Dibakar

46. Asy Syukur Halong AB Kec. Baguala

Dibakar

47. Nurul H

Lata Kec. Baguala

Dibakar

48. Al Huda

Lateri Kec. Baguala

Dibakar

49. Nurul Ishlah Passo Kec. Baguala

Dibakar

50. Al Muhajirin Wayari Kec. Baguala

Dibakar

51. As Sakinah

Waimahu

Dibakar

52. Nurul Jihad Larier Kec. Baguala

Dibakar

53. Al Falah

Larier

Dibakar

54. Al Muhajirin Waimahu Kec. Baguala

Dibakar

55. Nurul Akbar Air Besar Passo Kec. Baguala

Dibakar

56. Al Ikhlas

Kamp. Siompu Kec. Baguala

Dibakar

57. Al Makmur BTN Passo Kec. Baguala

Dibakar

58. Nurul Hijrah Nania Bawah Kec. Baguala

Dibakar

59. Al Istiqomah BKPI Poka Kec. Baguala

Dibakar

60. Al Muhajirin Wailela Pantai Kec.Baguala

Dibakar

61. Al Huda

Weilela Perumahan – Baguala

Dibakar

62. At Taqwa

Hatve Besar Kec. Baguala

Dibakar

63. Al Huda

Kamp. Dusun Kec. Baguala

Dibakar

64. Al Ikhsan

Riang Kec. Baguala

Dibakar

65. Al Ikhlas

Batu Gong Kec. Baguala

Dibakar

66. Nurussilmi

Wailiha

Dibakar

67. Bubussalam Wailiha Kec. Baguala

Dibakar

68. Al Muhajirin Hutumuri Kec. Baguala

Dibakar

69. Amissalam

Rutong Kec. Baguala

Dibakar

70. Al Mukmin

Leahari Kec. Baguala

Dibakar

71. Al Inayah

Air Bak Tawiri Kec. Baguala

Dibakar

72. Wailawa

Wailawa Kec. Baguala

Dibakar

MALUKU TENGAH

73. Al Falah

Saparua Kec. Saparua

Dibakar

74. Al Muhajirin Saparau Kec. Saparua

Dibakar

75. Al Huda

Gunung Panjang Kec. Saparua

Dibakar

76. Al Muhajirin Kairatu Kec. Kairatu

Dibakar

77. Ama Ina

Kec. Kairatu

Dibakar

78. Dusun Siompo Dusun Siompo Kec. Kairatu

Dibakar

79. Waimeten Pan Waimeten Kec. Kairatu

Dibakar

80. La Ala

La Ala Kec. Seram Barat

Dibakar

81. Nurul Khairat Batu Naga Kec. Seram Barat

Dibakar

82. Nurul Huda

Ujung Batu Kec. Salahutu

Dibakar

83. Al-Ikhlas

Waitatiri

Dibakar

111

84. Waitatiri

kampung Waitatiri Kec. Salahutu

Dibakar

MALUKU UTARA

85. Bobawa

Bobawa Kec. Makian

Dibakar

86. Soma

Soma Kec. Makian

Dibakar

87. Tahane

Tahane Kec. Makian

Dibakar

88. Malapa

Malapa Kec. Makian

Dibakar

89. Ngofabobawa Ngofabobawa Kec. Makian

Dibakar

90. Samsuma

Samsuma Kec. Makian

Dibakar

91. Talapao

Talapao Kec. Makian

Dibakar

92. Mailoa

Mailoa Kec.Makian

Dibakar

93. Tagono

Tagono Kec. Makian

Dibakar

94. Matsa

Matsa Kec. Makian

Dibakar

95. Paleri

Paleri kec. Makian

Dibakar

96. Tafasoho

Tafasoho Kec. Makian

Dibakar

97. Ngofagita

Ngofagita Kec. Makian

Dibakar

98. Sabale

Saba;e Kec. Makian

Dibakar

99. Ngaimadodere Ngaimadodere Kec. Makian

Dibakar

100. Dumdum

Dumdum Kec. Makian

Dibakar

101. Tabnoma

Tabanoma Kec. Makian

Dibakar

MALUKU TENGGARA

102. Al-Huda

Debut R. Islam Kec. Kei Kecil

Dibakar

103. Al-Ichwan

Ngursit Kec. Kei Kecil

Dibakar

104. Al- Manaf

Dian Pulau Kec. Kei Kecil

Dibakar

105. Nurul Sholeh Ohoira Kec. Kei Kecil

Dibakar

106. Al-Munawar Totoat Kec. Kei Kecil

Dibakar

107. Al-Badar

Ohoiten Kec. Kei Kecil

Dibakar

108. Jami’

Ohoibadar Kec. Kewi Kecil

Dibakar

109. Jami’ uf

Uf Mar Kec. Kei Kecil

Dibakar

110. Madwaer

Madwaer Kec. Kei Kecil

Dibakar

111. Jami’

Wirin Kec. Kei Kecil

Dibakar

112. Al Badrun

Letfuan Islam Kec. Kei Kecil

Dibakar

113. Al-Mujibah

Selayar. Kec. Kei Kecil

Dibakar

114. At-Taqwa

Madwat Kec. Kei Kecil

Dibakar

115. Nurul Iman

Warbal Kec. Kei Kecil

Dibakar

116. Tarwah

Tarwah Kec. Kei Kecil

Dibakar

117. Al-Mazar

Tamangil Nuhuten Kec. Kei Besar

Dibakar

118. Nurul Iman

Wurfrafau/ Weer Kec. Kei Kecil

Dibakar

119. An Nur

Weer Ohoinam Kec. Kei Besar

Dibakar

120. At Taqwa

Weer Ohoiker Kec. Kei Besar

Dibakar

121. Nurul Fajrin Ngafan Kec. Kei Besar

Dibakar

122. Al Qoba

Vatqidat Kec. Kei Besar

Dirusak

123. Ar Ridha

Uat Kec. Kei Besar

Dirusak

124. Ma Mur

Ngan Kec. Kei Besar

Dirusak

125. An Nur

Waer Maaf Kec. Kei Besar

Dibakar

126. Al Mujahidin Mun Kahar Kec. Kei Besar

Dibakar

127. Nurul Jannah Nerong Islam Kec. Kei Besar

Dibakar

DAFTAR NAMA : GEREJA/ SEKOLAH – KRISTEN PROTESTAN YANG RUSAK AKIBAT
KERUSUHAN DI MALUKU TH 1999

A. KODYA AMBON

1. Hanwela

Nania

Dibakar

2. Marannata

Negeri Lama

Dibakar

3. Bethabara

Batu Merah Dalam

Dibakar

4. Sumber Kasih Waihaong

Dibakar

5. Betlehem

Jl. Anthoni Rhebook

Dibakar

6. Gidion

Air Mata China

Dibakar

7. Pantekosta

Jl. Dr. Latumeten

Dibakar

B. MALUKU TENGAH

8. Gereja Hila

Desa Hila Kec. Leihitu

Dibakar

9. Benteng Karang Desa Benteng Karang

Dibakar

112

10. G S J A

Desa Banteng Karang

Dibakar

11. GPM Parora Desa Parora

Dibakar

12. GPM Tomalehu Tomalehu P. Manipa

Dibakar

13. GPM Kariu

Desa Kariu P. Haruku

Dibakar

14. GSJA

Kariu P. Haruku

Dibakar

15. GST. J. Betlehem Banda Neira

Dibakar

C. MALUKU UTARA

16. GPM Sanana Sanana Utara – Malut

Dibakar

17. BTHL Indone Sanana Utara – Malut

Dibakar

18. Stasi Yohanes Sanana Pariki Diaspora

Dibakar

19. Stasi Yohanes Malifut Paroki Tobelo

Dibakar

20. SD. Naskat

Sanana

Dibakar

21. Stasi Yohanes Sanana Pariki Diapora

Dibakar

22. Stasi Yohanes Maliput Paroki Tobelo

Dibakar

23. SD. Naskat

Sanana

Dibakar

E. HALTENG

24. Stasi St. Petrus Tidore

Dibakar

DATA MUSYAHID PADA KERUSUHAN KEDUA 1999

No Nama

Umur Pekerj Alamat

Tkp

Sebab

Keterangan

1

La Muane

32

Sopir Talake

Bt.Merah

Tembak

27 Juli 1999

2

Irfan Kiat

22

Mhs

Bt. Merah

Sda

Tembak

27 Juli 1999

3

Jamrah

21

Mhs

Nani

Tembak

27 Juli 1999

4 Muh. Semarang

Mhs

Bt. Merah

Tembak

27 Juli 1999

5 Pelemsen .L

23

Mhs

Poka

Bakar

27 Juli 1999

6 Ahmad Silawane 17

Mhs

Bt.Merah

Tembak

27 Juli 1999

7 Affandi Attamimi 15

Smp

Talake

Taeno

Tembak

27 Juli 1999

8 Faisal Launuru

25

Mhs

Hila

Taeno

Tembak

27 Juli 1999

9 Jamil Launuru

25

Hila

Tembak

27 Juli 1999

10 Syamsul Lapula 25

Bt. Merah Tembak

27 Juli 1999

11 Jaflul Lating

45

Tani

Hila

Taeno

Tembak

27 Juli 1999

12 Rustam M

20

Soabali

Tembak

27 Juli 1999

13 Muhtar Kaliu

15

Bt. Merah

Tembak

27 Juli 1999

14 Muhtar R

25

Tembak

27 Juli 1999

15 Majid Ahmad

Tembak

27 Juli 1999

16 Husen Ollong

Peg. TelkLarike

Mardika

Tembak

27 Juli 1999

17 Ali Ulath

Tembak

27 Juli 1999

18 Kadir Rehalat

Tembak

27 Juli 1999

19 Syamsul Latua

21

Sma

Tembak

27 Juli 1999

20 Ummar Rehalat 25

Liang

Tembak

27 Juli 1999

21 Hi. La Mone

56

Buruh Osm

Potong

22 Kadir Arsyad

26

Mhs

Talake

Tembak

28 Juli 1999

23 Ahmad

Mhs

Tembak

24 La Ane

Mhs

Latta

Tembak

25 La Ali

27

Latta

26 Salim Selamet

Mhs

Hitu

27 Nurdin Amir

30

Mardika

Kena Bom

28 A Tarabubun

60

Peg.Bkpi Poka

Potong

29 Rasbianto

Osm Pantai

Dibacok

30 P. Asbian
31 La Ala

Wailiha

Dibacok

32 La Utha

Wailiha

Dibacok

33 Risman

Wailiha

Dibacok

34 La Nahia

Wailiha

Dibacok

35 La Madi Kange

30

Wailiha

Dibacok

36 Lampone

65

Wayame

Tembak

37 Nurhaya

48

Wayame

Tembak

38 Suhartono

Galala

Aniaya

39 Ahmad Tuhulele

Galala St.Hairun

Aniaya

40 Ali Tuharea

Dipotong

41 Tak Dikenal

Dipotong

42 Syabur M. L

35

Galunggung

Tembak

43 La Ode Man

Dipotong

44 M. Pacinan

42

Btm Atas Merdika

Tembak

9 Agustus 1999

45 Rizal Watianan

18

SMEA Osm Pantai Bt.Merah

Tembak

9 Agustus 1999

46 Marubu

Bt.Merah

Bt.Merah

Tembak

47 Jalil Karepesina

18

Bt.Merah

Bt.Merah

Tembak

10 Agustus 1999

48 Amir M. Bone

Tembak

49 Haris

Tembak

113

50 La Ade

Tembak

51 Husen Wakan

Poka

Tembak

11Agustus 1999

52 Muh. As Wala

22

Iha - Luhu

Aster

Tembak

12 Agustus1999

53 Muh. Yusuf K

60

Sepa Kebun Cengkih

Tembak

12 Agustus 1999

54 Junaidi Arsyad

15

Siswa K. Kolalam K.Kolam

Tembak

12 Agustus 1999

55 Said Kurdi

26

Peg

Gg.Melintang

Tembak

12 Agustus1999

56 Suwardi Djufri

14

Siswa K.CengkihGng.Melintang Tembak

12 Agustus1999

57 Sukri Mun

23

Bt.Merah

Tembak

13 Agustus 1999

58 Effendi Tuharea

22

Bt.Merah

Tembak

13 Agustus 1999

59 Saleh

30

Nelayan Bt.Merah

Aster/Kisar Tembak

13 Agustus 1999

60 Belum Dikenal

Aster

Dibakar 13 Agustus 1999 61 A. Rahman Wally

Aster

Tembak

14 Agustus 1999

62 Muh. Saleh Lestusen Aster

Kena Bom 14 Agustus 1999

63 Laka Doa Bin L.

27

Dok Wayane

Tembak

14 Agustus 1999

64 Rifan Salong

32

Tani

N. L. Poka

Kena Bom 12-16Agust 1999

65 Halijah/Bugis

Bentas

Aniaya

15 Agustus1999

66 La Ongke

Galala

Tusuk

16 Agustus 1999

67 Djen Sangaji

Piru

16 Agustus 1999

68 Supardi

Bt.Merah

Bt.Merah Tembak

16 Agustus 1999

69 Mapuang S.

21

Bentas Osm

Tembak

10-16 Agust 1999

70 M. Marasabessy

42

Pasar Lama T.Viktoria

Tembak

21 Agustus 1999

71 Jabir M (Labili)

18

Pelajar Batu Meja

T.Viktoria Tembak

21 Agustus 1999

72 La Ode Inu 40

Dagang Btm.Tanjung T.Viktoria

Tembak

21 Agustus 1999

73 Ali Wagola

39

Tani

Limboro

Wailela

Tembak

19 Agustus 1999

74 Syahril Silehu

20

Guru Aq Luhu

Talake

Tembak

26 Agustus 1999

75 Abdul Gafur P

24

Tani

Luhu

Talake

Tembak

26 Agustus 1999

76 Katausa S

37

Tani

Luhu

Talake

Tembak

26 Agustus 1999

77 Muh. Ramli P

26

Pedagang Luhu

Talake

Tembak

26 Agustus 1999

78 Awad Lumaela

21

Kitetu

Talake

Tembak

26 Agustus 1999

79 Jabir (Bugis)

Balai Kota

Tembak

28 Agustus 1999

80 Abd. Gani Ely

Laha

Tembak

01 Septemb 1999

81 Ronald

Laha

Tembak

01 Septemb 1999

82 Sulaiman Kaliky

29

Tani

Luhu

Talake

Tembak

26-28 Agust 1999

83 Hi Hujair Watihelu

Kamp.Gadihu Kamp.Jawa Tembak

03 Septemb 1999

84 La Aca

15

Aster Dalam

Kamp.Jawa Tembak

03 Septemb 1999

85 Hamdun Sabloe

30

Tani

Morella

Perum.Poka Tembak

26 Juli 1999

86 Min Lisaholit

Luhu

Ariati

22 Agustus 1999

87 Umar Suneth

Luhu

Ariati

22 Agustus 1999

88 Arifin Yoyo

Luhu

Ariati

22 Agustus 1999

89 Duhair Selang

Iha-Luhu

Iha

90 Ofan Kaisupy

Iha-Luhu

Iha

91 Ramli Kaisupy

Iha-Luhu

Iha

92 Ibrahim Samal

Iha-Luhu

Iha

93 Mansur Tutupoho 31

Tani

Kulur

Kulur

Dianiaya

31 Agustus 1999

94 Alwan Tutupoho 35

Karyawan Kulur

Kulur

Tembak

31 Agustus 1999

95 Hendra Bugis

16

Siswa Kapaha

Kp.Jawa

Luka Bakar 01 Septem 1999

96 Aman Silehu

Luka Bakar

97 Azhar Tuarita

20

Mhs

Tial

Tial

Tembak

07 Septemb 1999

98 Sedek Rolobessy

14

Smp

Tial

Tial

07 Septemb 1999

99 La Man

20

Tani

Keranjang

Ds.Kamiri

Tembak

10 Septemb 1999

100 Jusmin

13

Tani

Keranjang

Ds.Kamiri

Potong L 10 Septemb 1999

101 Muh. Taher W

40 Pns

Galunggung Pos Kota

Tembak 10 Septemb 1999

102 Safwan H. N

35

Seith

Pos Kota Tembak

10 Septemb 1999

103 Jamal Nahalehu

28

Pos Kota

Tembak

10 Septemb 1999

104 Rahim Bugis

20

Dagang Pasar Lama Pos Kota Tembak

10 Septemb 1999

105 Salahuddin A

13

Siswa Galunggung Galunggung

Tembak

10 Septemb 1999

106 Bakri Ingratubun

47

Guru Galunggung Al Fatah

Tembak

10 Septemb 1999

107 Sudin Ode

26

Pos Kota

Tembak

10 Septemb 1999

108 Jufri Weno

25

Mhs Latu/Waihaong Pos KotaTembak

10 Septemb 1999

109 Jafar Kiat

Waihaong Pos Kota

Tembak

10 Septemb 1999

110 Panjinuddin

56

Waitatiri

Potong

06 Septemb 1999

111 Junaidi Wagola

35

Tani

Temi

Alang

Tembak

13 Septemb 1999

112 Andi Susanto

20

Gemba Gemba

Tembak

12 Septemb 1999

113 Rajab La Idi, Spi 34

Swasta Laha

Poka Dibacok

27 Septemb 1999

114 Muh. Bin B.L 30 Tani Liang Kairatu

Kepala Hil 16 Septemb 1999

115

24

Pedagang Latta

Ahuru

Tembak

20 Septemb 1999

116 Hasna Evi Rumodar

Ahuru

20 Septemb 1999

117 Nasaruddin L

50

Galunggung Ahuru

Tembak

20 Septemb 1999

118 La Ugo

50

Tani

Mangge-2

Ariati

Tumbak

23 Septemb 1999

119 Arifin

25

Tani

Luhu

Luhu

Bazoka

23 Septemb 1999

120 Muh. Yamin P

39

Tani

Luhu

Ariati

Bazoka

23 Septemb 1999

121 Umar Suneth

27

Tani

Luhu

Ariati

Tumbak

23 Septemb 1999

122 Djafar Banda

75

Imam La Ala Masjid La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

114

123 Wa Ima

45

La Ala

La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

124 La Tima

70

Marbot La Ala

La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

125 La Husen

55

Chotib La Ala

La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

126 Ahmad R

80

Modin La Ala

La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

127 Wa Leha

55

La Ala La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

128 Hasyim Payapo

90 Tani

La Ala

La Ala

Tembak

20 Septemb 1999

129 La Baudu

26 Tani

Ani

La Ala

Tembak

19 Septemb 1999

130 Ambona S

16 Sd

Tnh. Goyang Ariati

Parang

06 Septemb 1999

131 Sarlis Rumuar

47 Tani

Tnh. Goyang Ariati

06 Septemb 1999

132 Muhammad M 29 Tani Tnh. Goyang

Ariati

06 Septemb 1999

133 Tipidu Hukul

36 Tani

Tnh. Goyang Ariati

06 Septemb 1999

134 Hasyim Lestaluhu

Kariatu

Potong

20 Septemb 1999

135 Ihsan Latuconsina

Kariatu

Potong

20 Septemb 1999

136 La Boby

20 Septemb 1999

137 Mahfudz Suneth

20 Septemb 1999

138 Adi Cakra

17 Siswa

Nania

Batu Merah Tembak

04-Oktober 1999

139 Ali Semarang

22

Batu Merah Batu Merah Tembak

04-Oktober 1999

140 Zubaedah

43

Batu Merah Batu Merah Tembak

04-Oktober 1999

141 Letda Rizki

29 Danton Denzipur 3

Batu Merah Tembak

04-Oktober 1999

142 M. Ali Lestaluhu 26 Serda

Batu Merah

Tembak

04-Oktober 1999

143 La Im

13

Diponegoro Ahuru

Tembak

06-Oktober 1999

144 Yahdi L

37 Pns

Air Kuning

Ahuru

Tembak

06-Oktober 1999

145 Hamzah R.K

20

Waihaong

Ahuru

Tembak

06-Oktober 1999

146 Muhtar Efendy

30

Waihaong

Ahuru

Tembak

06-Oktober 1999

147 Udin Umanahu

16

Kapaha

Ahuru

Stroom

04-Oktober 1999

148 Abd. Manar R

40

Ahuru

Ahuru

Tembak

06-Oktober 1999

149 Muhammad Titi

Erang

Ahuru

Tembak

09-Oktober 1999

150 Haifun Mansyur

Bentas

Air Salobar Tembak

04-Oktober 1999

151 Rasyid Usia

32 Bentas

Air Salobar

Tembak

04-Oktober 1999

152 Sari Jayanti P 15

Sole

Air Salobar Tembak

04-Oktober 1999

153 Nyong P

18 Siswa

Siri Sori

Siri Sori

Aniaya

Oktober 1999

154 Hasan Ali K

40 Tani

Siri Sori

Siri Sori

Tembak

September 1999

155 Hasan Ismail K

30

Siri Sori

Siri Sori Tembak

September 1999

156 Sarifuddin S 21

Siri Sori

Siri Sori

Aniaya

15-Juli 1999

157 Ubed Kaplale

39 Guru

Siri Sori

Siri Sori

Aniaya

15-Juli 1999

158 Tepasiwa A

34

Pelauw

Pelauw

Dibacok

08-Oktober 1999

159 A. Rahman T

29

Pelauw

Pelauw

Tembak

08-Oktober 1999

160 Muhammad Samal

Iha-Luhu

Ariati

Tembak

09-Oktober 1999

161 Umar Syiauta

Iha-Luhu

Ariati

Tembak

09-Oktober 1999

162 La Mini

13

Btm

Laha

Tembak

16-Oktober 1999

163 Kamal

19

Btm

Laha

Tembak

16-Oktober 1999

164 Babah

18

Laha

Laha

Tembak

16-Oktober 1999

165 Harun Dusila

20

Tulehu

Tial

Tembak

16-Oktober 1999

166 Rinto G.K

19

Larike

Btm

Kena Bom 09-November ‘99

167 Hasyim R

31

Silale

Btm

Tertembak 09-November ‘99

168 Abu Bugis

40 Petani Tnh. Goyang Ariati

Dibakar

Oktober 1999

169 La Hayomu

29 Petani Tnh. Goyang Ariati

Dibantai

Oktober 1999

170 Ahmad Kaisury

42

Iha-Kulur

Ariati

Panah

25-Oktober 1999

171 Ahmad S

30

Iha-Kulur

Ariati

Panah

25-Oktober 1999

172 Saede Anakotta

27

Iha-Kulur

Ariati

Panah

25-Oktober 1999

173 Faisal Slamet

22

Hitu

Ariati

Hilang

25-Oktober 1999

174 Arman Lestaluhu

Tulehu

Suli

Tembak

175 Hasyim Laomba

41

Halong Baru Kp. Jawa

Tembak

24-November ‘99

176 La Nurdin

14

Oihu

Kp. Jawa

Tembak

24-November ‘99

177 Lantoga

38

Waihaong

Gd. Arang Tembak

20-November ‘99

178 Djafar T

39

Hitu

Nania

Tembak

20-November ‘99

179 Nasar Lulun

48

Hitu

Nania

Tembak

21-November ‘99

180 Syamsudin P

17

Hitu

Nania

Tembak

21-November ‘99

181 Ismail Waliulu

20

Hitu

Nania

Tembak

21-November ‘99

182 La Toga

24

Tel. Kodok

Nania

Tembak

21-November ‘99

183 Muh. Tuanani

20 Btm

Mardika

Tembak 26-November ‘99

183 Amidu

19 Btm

Mardika

Tembak

26-November ‘99

185 Boby Semarang 16 Btm

Mardika

Tembak

06-November ‘99

186 Ahmad

Mardika

Tembak

26-November ‘99

187 Yanto Wala

Btm

Mardika

Tembak

26-November ‘99

188 Nurdin Umamity

Air Kuning Mardika

Tembak

26-November ‘99

189 Prada Suparno

Armed

Mardika

Tembak

26-November ‘99

190 A. Kadir Pelu

Mardika

Tembak

26-November ‘99

191 Sulaiman Siwan

25 Btm

Mardika

Tembak

26-November ‘99

192 Hamid Soamole

19

Air Kuning

Mardika

Tembak

26-November ‘99

193 Saleh Lausepa

30

Manipa

Mardika

Tembak

26-November ‘99

194 Umar

24

Galunggung Mardika

Tembak

26-November ‘99

195 Sakti Harun

31

Galunggung Mardika

Tembak

26-November ’99

115

196 Basri Tuanaya

23

Soabali

Mardika

Tembak

26-November ’99

197 Gusaer Lekawa

Mardika

Tembak

26-November ’99

198 Ali Umarella

20

Tulehu

Mardika

Tembak

26-November ’99

199 Herry Tuhulele

15

Btm

Mardika

Tembak

26-November ’99

200 Slamet Divinubun 22

Btm

Mardika

Tembak

26-November ’99

201 Ismail Waliulu

27-November ’99

202 A. Rahman K

Air Kuning

Ahuru

27-November ’99

203 Bintarati P.

18

Wakal

Mardika

Tembak

28-November ’99

204 Sertu La Ali

29

Aspol

Perigi Lima Tembak

28-November ’99

205 A.D. Abbas

22

Mardika

26-November ’99

206 Ahmad Samal

28 Tani

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

207 Hadiah Samal

30 Tani

A. Asaude

Tembak

208 La Maolo

21 Swasta Bmt-Tanjung Mardika

Terbakar

26-November ’99

209 Asnawi

17 Smp

Kbn. Cengik Mardika

Terbakar

26-November ’99

210 Abidin Rumalusy 25

Geser

Mardika

Tembak

26-November ’99

211 Rahmat Lina

Waesala A. Asaude

Tembak

03-Desember 1999

212 La Bano

Sana Huni

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

213 Duba

Tiang Bender A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

214 Arif Fuluh H

Masika

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

215 La Wao

Masika

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

216 La Jais

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

217 La Kao

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

218 La Hane

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

219 Lanussi

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

220 La Jaelani

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

221 Usman

Tatinang

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

222 Nazar Watimena

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

223 Belum Ada Nama

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

224 Belum Ada Nama

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

225 Belum Ada Nama

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

226 Belum Ada Nama

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

227 Belum Ada Nama

Buano

A. Asaude Tembak

03-Desember 1999

228 Belum Ada Nama

Jawasati

A. Asaude Tembak

04-Desember 1999

229 Belum Ada Nama

Jawasati

A. Asaude Tembak

04-Desember 1999

230 Belum Ada Nama

Melati

A. Asaude Tembak

04-Desember 1999

231 Belum Ada Nama

Melati

A. Asaude Tembak

04-Desember 1999

232 Belum Ada Nama

Melati

A. Asaude Tembak

04-Desember 1999

233 Abd. Wakano

Hualo

Seriholo

Tembak

19-Desember 1999

234 Rustam Lyly

Hualo

Seriholo

Tembak

19-Desember 1999

235 Belum Ada Nama

Tani

Gemba

Gemba

Dibakar

236 Belum Ada Nama

Tani

Gemba

Gemba

Dibakar

237 Ali Latuconsina 55

Ruko Btm

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

238 Suardi Abbas 45

Jl. Baru

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

239 Fahmi Tuanaya 18

Cengkih

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

240 A.R. Waliulu 40 Swasta Air Salobar

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

241 Ahmad Suatrat 20 Pelajar Talake Dlm Trikora

Tembak

27-Desember 1999

242 Zulfikar Bin Umar

Waihaong

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

243 Dahlan Laitupa

Ureng

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

244 Ibrahim Idris 22 Sopir

Tantui

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

245 Rifai Killiani 14 Siswa

Geser

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

246 Iwan Bugis

Swasta Btm-Banjo

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

247 La Kaiku 27 Karya

Jl. Baru

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

248 Idrus Ohoibar 22 Swasta

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

249 A.Yani Tanassy 27

Soabali

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

250 M. Saleh R

Karya Btm-Dlm

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

251 Hamzah Mahu

Trikora

Tembak

252 Taufan Kelian

Trikora

Tembak

253 Rudi Rumra

21 Siswa Waihaong

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

254 Sudin Mony

25

Seith

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

255 Ch. Busri M

Swasta Diponegoro Trikora

Tembak

27-Desember 1999

256 Johny R. R

19 Siswa Waihaong

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

257 Rusdi Idrus 17 Siswa Kbn. Ceng. Trikora

Tembak

27-Desember 1999

258 Zainuddin I

29 Buruh Silale

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

259 M. Tahir Mara

45

Waihaong

27-Desember 1999

260 Acang

Galunggung Trikora

27-Desember 1999

261 Nafa Rumau

37

Talake

Trikora

Tebakar

27-Desember 1999

262 Abas Buton

27

Tahomu

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

263 Alimuddin Mara

Waihaong

Trikora

Tembak

27-Desember 1999

264 Ahmad Anggoda

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

265 M. Amin Rery

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

266 Rasyid Marasy-

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

267 Ali Tuanaya

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

268 La Bani

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

116

269 Mahdi Kaliu

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

270 Epang

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

271 Modal Usman

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

272 Hanafi Tuahuns

Talake

Trikora

Tembak

28-Desember 1999

273 Nanag Thamrin

Trikora

Tembak

29-Desember 1999

274 Tomoguru Sangaji 27

Rohumoni

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

275 Hasan Sangaji

46 Tani

Rohumoni

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

276 Haji Sangaji

40 Tani

Rohumoni

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

277 Amri Sangaji

17 Siswa

Rohumoni

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

278 Djarapatti Tuhuter

21

Rohumoni Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

279 Mahasuji

30 Guru

Rohumoni

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

280 Modar Wasahuwa 19

Kabauw

Rohumoni Tembak

29-Desember 1999

281 Surya Malik

45

Diponegoro Diponegoro

30-Desember 1999

282 Ibrahim Seul

TNI

Waihaong

Waihaong

Tembak

30-Desember 1999

283 Ismail Pangura

Kramat J

Kramat J

Tembak

31-Desember 1999

PEMBANTAIAN UMMAT ISLAM DI PROPINSI
MALUKU UTARA DALAM KISAH DAN GAMBAR

I. Kecamatan Malifut

Pada tanggal 18 Agustus 1999 Kristiani dari Desa Sosol dan Wangeotak Kecamatan Kao menghardik dan
membakar rumah-rumah warga Malifut yang Islam, mengakibatkan ter-jadinya bentrokan fisik sehingga terjadi
korban jiwa bagi warga Islam Malifut sebanyak dua orang.
Setelah peristiwa terse-but warga Kristen Kao me-ngumpulkan warga-warga Kristen se Maluku Utara
(Kecamatan Kao, Tobelo, Galela, Wasilea, Oba Ternate, Bacan, Loloda, Ibu, Sahu, Jailolo dan warga

Ambon)
di ibukota kecama-tan Kao kurang lebih 16.000 orang yang dilengkapi dengan Bom rakitan, Bom standar, panah,
tombak dan bahan bakar minyak (BBM), dan kemudian pada tanggal 24 s/d 28 Oktober 1999. Kaum Kristen
menyerang besar-besaran terhadap Ummat Islam Malifut, mengakibatkan semua rumah dan bangunan pemerintah,
sekolah-sekolah hangus dibakar dengan mobil tangki BBM, dan jatuh korban jiwa sebanyak 11 orang, dan luka-luka
berat luka ringan sebanyak 25 orang. Sementara itu seluruh warga Islam Malifut lari meninggalkan Malifut menuju
Ternate.

Warga Islam Malifut yang sempat dibunuh oleh warga Kristen Kao, mayatnya dihancurkan dengan melepaskan
kepala kemudian diarak keliling kota, sedangkan isi perut dibongkar, dan kaki dilepas.

II. Kecamatan Tobelo-Galela

Jum’at, 24 Desember 1999, Pukul 20 10.00 BTWI

Menyongsong Natal 1999 di Tobelo, didatangkan pasukan di gereja dari desa Leleoto, desa Paca dan desa Toba,
arah selatan Kecamatan Tobelo. Kedatangan pasukan pengaman gereja dari ketiga desa yang didominasi warga
Nasrani itu datang dengan perlengkapan senjata dan ikat kepala merah yang diangkut dengan truk milik Jansen
Pangkey. Kondisi ini pentingnya mendatangkan kemarahan warga Muslim di Dufa-dufa Tobelo, menurut warga
Muslim, mengapa pengamanan gereja dimalam natal itu, harus dengan perlengkapan senjata?
Pada saat yang sama, di Desa Gurua (yang didominasi warga Muslim) arah utara Kecamatan Tobelo, melalui
pendeta Yan Rubawange dengan alasan kebersamaan memintakan warga Islam Gurua menjaga gereja di desa
disampaikan kepala Posko. Desa Gurua Kecamatan Tobelo itulah, merupakan pertahanan ter-akhir Ummat Islam
Tobelo dan puluhan warga Muslim yang mengamankan diri dalam Masjid Al-Muttaqim Gurua, di Bom dan
dicincang mayatnya oleh warga Nasrani (korban yang terbantai kurang lebih 30 orang).
Pertahanan di Desa yang mayoritas Islam ini dibobol dan warga Nasrani dengan leluasa melanjutkan ke desa
Popilo arah utara kecamatan Tobelo yang juga penduduknya mayoritas Islam, dibantai oleh warga Nasrani.
Pembantaian dilakukan di dalam Masjid Muhajirin Desa Popilo sekitar jam 10.00 BTWI dan korban terbantai
sebanyak (kurang lebih) 30 orang.

III. Kecamatan Ibu

Pada tanggal 4 Januari warga Kristen Kecamatan Ibu sebanyak 33 Desa menyerang Ummat Islam sebanyak 7
Desa mengakibatkan seluruh rumah dan bangunan Mesjid hangus terbakar, sedangkan orang tua dan perempuan
yang tidak dapat melarikan diri dibantai sebanyak 25 orang dan puluhan yang luka berat dan luka ringan.
Sementara masyarakat Islam lainnya diselamatkan oleh kapal perang dan diungsikan ke Ternate.

IV. Kecamatan Sahu

Pada tanggal 4 Januari 2000 kaum Kristen kecamatan Sahu bersama-sama kaum Kristen dari Kecamatan Kao dan
Ibu serta Loloda menyerang Ummat Islam yang berada di Susupu dan Taba Cempaka mengakibatkan seluruh warga
Muslim diselamatkan ke Ternate.

V. Kecamatan Jailolo

Pada tanggal 4 Januari 2000, semua warga Kristen Jailo, Sahu, Ibu, Kao menyerang Ummat Islam di Jailolo dan
Sidangoli, Dodinga, Boso, Bobanego, Tabadami, mengakibatkan Ummat Islam lari menyelamatkan diri ke Ternate,
sementara ada aparat Kristen berpihak pada Kristen dan menembak kaum Muslimin.

Jum’at 31 Desember 1999.

117

VI. Kecamatan Gane Barat

Pada tanggal 5 Desember 1999 kaum Kristen desa Boso yang dibantu warga Kristen desa Senga dan Tawa
kecamatan Bacan + 3000 orang menyerang warga Islam desa Fulai dan Dolik Kecamatan Gane Barat dengan
menggunakan Bom rakitan, panah, tombak mengakibatkan korban jiwa bagi warga Islam sebanyak 12 orang,
sedangkan seluruh rumah warga Islam dibakar sehingga warga Islam mengungsi kepulau Makian dan kecamatan
Bacan.

Catatan :

1. Tragedi berdarah di Malifut, Tobelo, Galela, Sahu, Ibu, Jailolo serta Halmahera Utara ini merupakan tragedi
kemanusian terbesar dalam sejarah kerusuhan di Indonesia. Karena pembantaian dilakukan warga Nasrani
terhadap warga Muslim berlangsung dalam Masjid. Bahkan satu desa yang penduduk Islam di habiskan
didalam Masjid.
2. Tragedi dan kerusuhan yang dimulai oleh warga Nasrani ini mempunyai cara kerja yang sangat rapi dan
sistematis. Diduga keras memiliki jaringan konspirasi dengan tragedi Ambon yang dilancarkan oleh RMS
(Republik Maluku Sarani = Selatan). Karena tokoh-tokoh kunci dalam tragedi Tobelo, Galela, dan Halmahera
Utara dimotori oleh orang-orang Ambon. Seperti pendeta J. Soselissa (pimpinan jemaat Kupa-kupa Tobelo
selatan). J. Huwae (mantan camat Tobelo) Ny. May Luhulima (anggota DPRD Tkt. II Maluku Utara, Fraksi
PDIP, juga seorang provokator utama).
Serta ditambah tokoh-tokoh Kristen yang berpengaruh di Tobelo, yakni :
Ir. Hendrik (Hei), Namotemo, MSP, (kepala bidang perekonomian BAPPEDA Tk. II Maluku Utara), Drs. Djidon
Hangewa, MS (kepala Dinas LLAJ Maluku Utara), Zadrak Tongo-tongo (ketua pemangku dewan adat
Hibualamo Tobelo, pegawai statistik kecamatan Tobelo), suami istri Pieter H. SH (pengurus gereja Katholik)
dan Dra. Joice Mahura (pega-wai dinas pari-wisata kantor bupati Maluku Utara).
Hanoch Tonoro (pe-gawai kakancam P&K Tobelo) pen-deta Goltom (dari Batak yang menjadi pimpinan jemaat
Gamhoku), serta ketua sekolah tinggi Teologia (STT) GMIH Tobelo dan Civitas Academica-nya (di STT-GMIH
inilah tempat bagi warga Nasrani me-nyusun strategi dan pelatihan yang menyerang serta pengendalian alat
tempur dilakukan dengan bimbingan tenaga resimen Mahasiswa STT-GMIH dan tentunya tenaga ahli dari luar
lingkungan STT).
3. Tragedi di Malifut dimotori oleh Drs. Muhta D. Sangaji (Camat Kao), Beni (warga Kao), H.Sangkop pegawai B.I
Ternate), Yosep Jabarnase (guru SLTA Kao), Silfanus Bunga, Sh dan lain-lain. Sedangkan finansial dan
perlengkapan lain saat terjadi penyerangan didukung oleh beberapa penguasa warga keturunan (Cina) seperti :
- Haenart Kusuma ( pemilik KM. Garuda I) yang mengangkut bahan amunisi dari pulau Bobale, hate
mengabulkan permintaan itu. Malam itu gereja di Gurua dijaga oleh Muslim Gurua hingga pagi hari. Padahal
semua ini hanya sebuah siasat kelompok merah (Nasrani).

Sabtu, 25 Desember 1999

Pukul 20.45 BTWI

Seorang warga Kristen Tobelo purnawirawan Maitimu ini berjalan menuju kearah Gosoma (yang didominan
ditempati warga Kristen). Selanjutnya, dalam waktu tidak terlalu lama, terlihat 5 orang pemuda dari Gosoma mabuk
dan berteriak-teriak sambil berjalan kearah tempat pasar kaget (berhadapan dengan toko Central Asia). Padahal saat
itu Ummat Islam masih melaksanakan sholat Tarawih. Kelakuan 5 orang pemuda ini membuat masyarakat yang ada
dilokasi tersebut kaget dan melarikan diri. Disaat itulah, kelima pemuda yang mabuk itu jalan depan gereja
Pantekosta, dari sanalah tiang listrik dibunyikan, suasana mulai mencekam.

Minggu-Senin, 26-27 Desember 1999

Pukul 21.05 BTWI.

Amuk masa mulai pecah. Tiang listrik serta lonceng gereja mulai berbunyi dalam kota Tobelo. Pertikaian
berdarah terjadi dimana-mana dan tak dapat dicegah. Ummat Islam Tobelo yang selama ini tidak mengetahui
rencana jahat dari kelompok merah (Nasrani) berhadapan dengan perlengkapan senjata seadanya. Sebaliknya
masyarakat Nasrani Tobelo memiliki perlengkapan yang luar biasa. Menurut saksi, bahan peledak (Bom rakitan),
Bom ukuran standar, sangat banyak sampai-sampai diangkut dengan gerobak dan tiap warga merah (Nasrani)
membawanya serta amunisi lainnya dengan mamakai peti. Selain bom rakitan, warga merah (Nasrani) juga memiliki
senjata otomatis type “MM” dn ranjau darat (informasi yang berkembang perlengkapan canggih untuk
memusnahkan ini dikirim dari Philipina dan Australia melalui Angir talaud). Ledakan bom terjadi dimana-mana.
Warga muslim Tobelo banyak yang mengungsi di Masjid, terutama ibu-ibu dan anak. Banyak bangunan yang mulai
hancur termasuk Masjid-masjid yang ada di Tobelo. Juga penjarahan oleh warga Nasrani terhadap barang-barang
milik warga Muslim, terutama yang punya toko.
Kekuatan masa warga Nasrani justru lebih besar dari pada warga Muslim (sekitar 23.000 orang Nasrani
berbanding 7.000 orang Muslim). Kekuatan warga Nasrani yang besar itu ternyata para pengungsi yang ada di
Tobelo. Dengan kekuatan yang tidak seimbang itu, Ummat Muslim dibuat bulan-bulanan. Bahkan daging dan darah
babi mereka tebarkan dijalan-jalan, bahkan ada informasi hingga kedalam Masjid.
Pada hari Senin 27 Desember 1999 di Desa Dokulamo Kecamatan Galela, warga Nasrani melakukan
pembunuhan dan pembataian terhadap Imam Mesjid Nurul Huda Desa Dokulamo, bernama Hi. Jaelani Tobuku.
Setelah warga Muslim menguburkan jenazah Imam Hi. Jailani Tobuku tersebut, warga Nasrani membongkar
kembali kuburan tersebut, dan jenazah Imam lalu di salib dan memasukan daging babi kemulut Imam tersebut.

118

Tanggal yang sama (27 Desember 1999) juga terjadi pembantaian terhadap warga Muslim yang berlindung di
Koramil Tobelo. Pembantaian terjadi di dalam kantor Koramil dan beberapa warga Muslim dicincang dihadapan
aparat dan juga dihadapan Danramil Tobelo. Pihak Koramil tak berbuat apa-apa (atau sengaja membiarkan ?)

Selasa, 28 Desember 1999

Posisi warga Muslim Tobelo terdesak oleh pasukan merah. Akhirnya warga Muslim Tobelo digiring hingga ke
Masjid Raya Al-Amin Tobelo. Disinilah warga Muslim terkepung dari semua jurusan. Untunglah ada bantuan dari
aparat keamanan dan menghalau pasukan merah. Terjadi evakulasi warga Muslim ke kompi C Yonif 732 keadaan
kota Tobelo pada hari itu lumpuh total, tidak ada lagi perlawanan warga Muslim terhadap pasukan merah. Dan hari
itu juga, rumah-rumah milik warga Muslim di Tobelo di Bumi Hanguskan oleh pasukan merah.
Di Gamhoku (kearah selatan Tobelo), warga Muslim diajak oleh warga Nasrani Gamhoku, melalui pendeta
Gultom (orang Batak) untuk menghadiri peringatan Natal bersama yang dilaksanakan di gereja Gamhoku. Didalam
gereja itulah, warga Nasrani mengatur rencana untuk menghabiskan warga Muslim dan juga memaksakan warga
Muslim makan babi. Ada jatuh korban jiwa dari warga Muslim dalam gereja.

Rabu, 29 Desember 1999

Di Desa Togolius arah selatan Tobelo yang penduduknya beragama Islam seluruhnya dibantai oleh warga
merah (Nasrani) dalam jumlah korban sekitar 400 orang. Tanggal 2 Januari 2000 mayat-mayat di kebumikan jum’at
31 Desember 1999.

Pasukan merah Nasrani yang dipimpin oleh pendeta J. Soselissa dan G. Huwae (mantan Camat Tobelo) bergerak
ke Gurua beserta grup Drum band, dengan pengeras suara (megaphon) pendeta J. Soselissa (anjing asuh RMS ?)
mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Orang Islam di Indonesia harus dihabisi karena bikin kotor jangan takut,
maju terus karena ada bantuan dari Belamda, Inggris dan Australia. Jadikan Tobelo sebagai Israil ke-2. Tokoh-tokoh
Islam si Gurua harus ditangkap hidup-hidup seperti H. Abd. Rahim, H. Ahmad (Imam Desa Gurua) dan H. Husri
Hakim...” (ucapan ini sempat didengar oleh beberapa Muslim Gurua).

Kesaksian Korban Kebiadaban Kaum Kafir di Maluku

Kebiadaban massa Kristen terhadap umat Islam di Maluku memang sungguh keterlaluan. “Ini merupakan
peristiwa keji yang lebih sadis dari apa yang dilakukan PKI.” Tegas Camat Galela. Drs. Lehwan Marzuki (Republika,
5/1). Dibawah ini hanyalah segelintir dari saksi hidup yang berani memberi kesaksian seputar kekeja-man umat
Kristen di Maluku.

Muflih M. Yusuf (15 th) SMP Al-Khairat Kelas III, Desa Popelo, Tobelo: Rabu (21/12/99) pk. 09.00 WIT. Orang-
orang Kristen dari Kampung Kusur Telaga Panca, dan Kao menyerang Desa Togolihua yang Muslim. Kami, ribuan
umat Islam, berlindung ke Masjid Al-Ikhlas. Masjid dikepung lalu di bom (bom pipa rakitan, menunjukkan bahwa
pihak Kristen sudah mengadakan persiapan sebelumnya). Orang-orang kafir itu juga memanah ke dalam Masjid
dengan panah yang telah dilumur darah babi. Sebagian dari mereka melempari Masjid dengan batu-batu besar
hingga banyak tembok Masjid yang bolong.
Kami yang ada di Masjid kebanyakan anak kecil dan ibu-ibu akhirnya menyerah setelah satu jam di gempur
perusuh Kristen. Orang-orang kafir itu lalu menyerbu ke dalam Masjid, lebih dari 500 orang Islam lari keluar Masjid.
Ada yang masuk hutan, ada pula yang menyerah. Tubuh saya berlumur darah, mungkin sebab itu mereka mengira
saya sudah mati. Di sekeliling saya ada banyak sekali, sekitar 600 orang syahid dengan kondisi amat menyedihkan.
Dalam penyerangan itu, saya lihat banyak muslimah yang ditelanjangi orang Kristen. Walau para muslimah itu
berteriak-teriak minta ampun, tapi dengan biadab mereka diperkosa beramai-ramai di halaman Masjid dan di jalan-
jalan. Setelah itu mereka di bawa ke atas truk, juga anak-anak kecilnya, katanya mau dipelihara oleh orang Kristen.
Para muslimah yang tidak mau ikut langsung dicincang hidup-hidup. Orang kafir itu saling berebutan mencincang
bagai orang berebutan mencincang ular.
Seorang muslimah digantung hidup-hidup lalu dibakar. Pukul 13.00 WIT, perusuh Kristen itu membakar habis
Masjid dengan lebih 600 tubuh syuhada didalamnya. Saya yang penuh luka bakar dengan susah payah keluar dari
Masjid lewat tembok yang bolong. Saya mencari orang Islam yang masih hidup, tapi tidak ada. Semua rumah
penduduk Muslim juga sudah terbakar. Saya akhirnya bertemu dengan seorang Polisi Muslim dan dibawa ke
Polsek. Saya dirawat selama tujuh hari bersama korban yang lain. Dan kini saya berada di suatu tempat di Ternate.

Ibu Musriah (40 th) Pengungsi asal Makian Talaga:

Saya juga berlindung di Masjid yang sama. Lebih dari 50 laki-laki Muslim dicincang termasuk suami saya.
Bagian belakang kepala saya juga mereka tebas dengan golok, tapi alhamdulillah saya masih hidup. Telapak tangan
saya ini ditembus panah. Saya dan tiga orang anak lainnya diselamatkan aparat Muslim.

Ibu Nurain (20 th):

Suami saya, Asnan, telah syahid dibunuh orang kafir. Saya sendiri dalam peristiwa yang sama kena panah di
panggul kiri. Di dalam Masjid, ibu-ibu dan anak-anak kecil banyak yang ketakutan. Saya lihat dengan mata kepala
saya sendiri, banyak anak-anak usia balita diambil oleh orang Kristen dengan paksa. Saya memohon dengan lemah
agar saya dan anak saya yang masih kecil (3 th) jangan dibunuh. Akhirnya bersama enam Muslimah lainnya, saya
diikatkan kain merah di kepala dan di masukkan ke atas truk. Kami melewati Desa Kupa-kupa, di Desa Usosiat,
anak saya diambil dan diserahkan ke rumah pendeta. Saya waktu di Masjid juga melihat ada seorang Muslimah
yang masih gadis dibakar hidup-hidup gara-gara tidak mau melayani syahwat orang kafir itu.

119

Ibu Yani Latif (17 th) :

Suami saya telah syahid. Anak saya, yang masih bayi, Nita (13 bulan) diambil orang Kristen. Dengan truk saya
juga dibawa ke Desa Kupa-kupa, tapi saya melarikan diri dan kembali ke Togolihua. Masjid Al-Ikhlas telah jadi
puing dengan tumpukan mayat yang telah hangus terbakar.

Syahnaim (25 th):

Dua anak saya berusia enam dan tujuh tahun diambil orang Kristen. Sedang adik-nya, Awi (2 th) dicincang
mereka hingga syahid. Saya melihat sendiri, bagaimana sadisnya Bahrul (32 th) dibunuh orang kafir. Mayatnya
disalib, dan naudzubillah, kemaluannya dipotong. Lalu potongannya itu disumpalkan ke mulut mayatnya. Seorang
anak balita, Saddam (5 th) digantung lalu dibelah dari atas ke bawah seperti ikan. Nenek Habibab (80 th) digantung
di pohon jeruk yang diikat dengan rambutnya di pohon lalu dicincang.

Hamida Sambiki (18 th):

Muslimah ini diambil paksa oleh orang Kristen dari Masjid An-Nashr Desa Popelo. Ayahnya yang berusaha
menahan dibantai. Para perusuh Kristen merencanakan mau mengawinkan Hamida dengan anak pendeta di Tobelo.
Namun oleh seseorang yang mengaku keluarga Nasrani, Hamida berhasil diselamatkan ke Polsek Tobelo. Hamida
saat di Masid An-Nashr melihat pembantaian umat Islam oleh perusuh Kristen. Munir (25 th) dibakar hidup-hidup
dan mulutnya disumpal koto-ran manusia, Haji Man (70 th) dipenggal lalu kepalanya yang sudah terpisah dengan
tubuh-nya itu ditusuk dengan panah dan dibuat mainan diputar-putar di dalam Masjid. Hamida juga melihat
bagaimana se-orang Muslim, Malang (50 th), dibunuh secara sadis. Kemudi-an jantungnya diambil. Orang kafir yang
mengambil jantung-nya berkata, “Ini buat hadiah lebaran”

Ridwan Kiley (29 th) dan Ibu Rahmah Rukiah:

Keduanya penduduk Desa Lamo, Kecamatan Galela. Menuturkan kesaksiannya, setelah selamat dari neraka
pembantaian orang Kristen di Galela (26/12), di Islamic Centre, Ambon, seperti dikutip Republika (5/1). Pada ahad
sore (26/12/99), Kecamatan Galela yang didiami mayoritas Muslim diserang massa Kristen dari tiga Kecamatan
mayoritas Kristen: Loloda, Ibu, dan Tobelo. Penyerangan di Galela, juga menimpa Desa Lamo. Pukul 14.00 siang
lebih dari 7.000 massa Kristen menyerang. Sekitar 200 warga Muslim Desa Lamo bertahan. Perlawanan itu dipimpin
Imam Masjid Nurul Huda, Drs. Lamo, H. Jaelani. Saat itu, masa Kristen memotong puluhan ekor babi disepanjang
kampung dan darahnya dilumuri kesenjata-senjatanya. “Wanita-wanita mereka juga bertelanjang dan menari-nari di
sepanjang kampung,” kata Ridwan dan Ibu Rukiah. Tak berapa lama, serentak dilakukan dan Desa Lamo dikepung.
Dalam pertempuran, Imam Djailani menemui syahid. Dengan sadis mayat Imam Djailani di salib dan ditempatkan
di perbatasan Desa Lamo dan Kampung Duma. Setelah beberapa jam tergantung di tiang salib, baru pada malam
harinya mayat Imam Djailani diturunkan dan dikuburkan oleh warga Muslim yang berhasil menyelamatkan diri.

Imran S. Djumadil (37 th), Muslim Ternate:

Awalnya adalah serangan orang Kristen terhadap umat Islam di bulan Oktober 1999 di Ternate, bisa jadi
merupakan rembesan dari kasus Ambon. Sepekan setelah penyerangan itu 13 November, saya di datangi pasukan
Sultan Ternate, Mudafarsyah. Sultan itu beristeri tiga, ada yang Islam ada yang Kristen hingga akidah Mudafarsah
tak jelas. Sultan menyusun daftar nama seratus orang Islam Ternate yang akan dihabisi. Disamping kebenciannya
terhadap Islam, Sultan amat berambisi unutk jadi Gubernur Maluku Utara.
Untuk itu, semua orang Islam yang berpengaruh harus dihabisi. Pada 13 November 1999 siang, saya ada
dirumah. Tiba-tiba datang lima belasan orang pasukan Sultan lengkap dengan golok dan atributnya hendak
menculik saya. Namun batal disebabkan warga sekitar dengan cepat menolong saya. Pasukan Sultan dikenal dengan
istilah Pasukan Kuning. Sejak itu saya yang tergabung dalam Jamiatul Muslimin kian sulit berdakwah. Keamanan
tidak ada lagi di Ternate. Saya keluar dari tempat kerjaan karena ditekan Sultan.
Akhirnya saya berencana untuk bawa isteri dan anak saya tiga orang, yang terkecil 5 th dan terbesar 10 th ke
Jakarta. Pada 20 November, saya mengantar keluarga ke pelabuhan, berangkat dengan KM. Lambelu. Pukul 16.30
waktu setempat, kami meluncur ke pelabuhan Ahmad Yani. Ternyata disana sudah siap seratusan Pasukan Kuning
lengkap dengan golok. Di pintu masuk pelabuhan saya dikepung aparat keamanan yang ada di sekitar tak berbuat
apa-apa.

Saya langsung dibawa ke Pendopo Keraton Sultan Ternate. Anak-anak saya saat itu sudah naik kapal bersama
neneknya. Isteri saya tidak berangkat. Sampai di Pendopo, sekitar dua puluh menit mereka bersitegang, apa saya
akan di bawa ke Pendopo atau dibawa ke tempat lain. Saya sendiri sudah bertawakal pada Allah, merasa ajal sudah
dekat. Di Pendopo saya dikelilingi ratusan Pasukan Kuning. Mereka histeris, bernafsu sekali ingin mencincang saya.
Lalu, anak perempuan Sultan, keluar dan berkata, “Jou (bahasa Ternate, artinya ‘Yang Dipertuan’) suruh Imran
dibawa ke batalyon.” Saya segera diseret ke instalasi Militer Yon 732 Ternate.
Entah kebetulan atau memang sudah direkayasa, hari itu semua tentara yang piket beragama Kristen. Begitu
saya digelandang masuk, dua orang tentara mengejek, “O”, ini orangnya yang mendanai kerusuhan dengan uang
300 milyar!” Perasaan takut saya langsung hilang, saya malah ketawa mendengar fitnah yang malah terasa lucu.
Kredit saya di bank saja belum lunas, bagaimana saya punya uang 300 milyar? Jika saya ada uang begitu besar,
mugkin saya tidak tinggal di Ternate. Ada pula yang bilang, “Kamu ini yang menghina komandan Batalyon!” Saya
padahal tidak tahu siapa komandan Batalyon ataupu wakilnya.
Ternyata setelah belakangan saya ketahui bahwa komandannya seorang Katholik. Tanpa banyak bicara, saya
akhirnya langsung disiksa. Sepuluh orang bergantian menyiksa. Dari Pasukan Kuning ada empat orang, dan tentara
dari Yon 732 enam orang, semuanya kafir. Sekujur tubuh saya dipukul dengan popor senjata M-16 dan tendangan
sepatu laras. Baju saya compang-camping penuh berlumur darah. Mereka juga menggunakan tang untuk mencabut

120

kuku jari saya, tapi alhamdulillah tidak bisa. Lalu mereka ambil korek api. Dinyalakan dan dimasukkan ke dalam
mulut saya.

Api yang berkobar itu menghanguskan bibir saya. Belum puas dengan itu, orang-orang kafir itu menyulut
tangan saya dengan rokok berkali-kali. Tendangan dan poporan senjata asih saja bertubi-tubi mendarat di tubuh.
Badan saya hancur. Itu dilakukan sejak pukul 17.00 sore hingga jam sepuluh malam. Semua baju saya disobek-sobek,
hingga hanya celana dalam yang tersisa. Saya tidka pingsan, tapi mata saya sudah tertutup, tidak bisa melihat.
Kepala saya jadi besar, bengkak-bengkak. Saya hanya bisa beristigfar pada Allah SWT.
Isteri saya ketika pertama kali menjenguk bilang bahwa saya seperti Gajah Mada. Ketika keluar, doker bilang
bahwa tulang saya sudah remuk semua dan tak mungkin pulih. Tapi Maha Besar Allah, setelah di rontgen, dokter
bilang bahwa tak ada satu tulang pun patah. Beberapa orang yang menjenguk saya pingsan karena tidak tahan
menyaksikan keadaan diri saya yang tidak karuan wujudnya. Mengerikan. Banyak yang menganggap bahwa saya
sudah meninggal. Dari omongan para penyiksa itu, saya biasa dengar bahwa mereka berniat mau menghabisi saya
pagi harinya.

Namun Alhamdulillah, isteri saya dan teman-temannya berusaha agar saya bisa dikeluarkan. Mereka
menghubungi Sultan Bacan dan Komandan KODIM. Komandan KODIM tidak ada, digantikan wakilnya, yang
menggantikan adalah teman saya, Pak Slamet. Dia itulah yang menghubungi Polres untuk mengirim satu truk
pasukan Brimob dari Kalimantan ke Yon 732. Akhirnya saya bebas sekitar jam dua malam. Saya yang hanya
bercelana kolor dikembalikan ke rumah. Esoknya saya dirawat di RSU Ternate selama tiga hari, tapi karena keadaan
tidak aman, saya dilarikan ke salah satu Kabupaten di Tedore.
Di sana saya diobati secara tardisional, sekitar 18 hari. Hari ke-20 saya diloloskan dengan KM. Ciremai untuk
diobati di Jakarta. Tanggal 20 Desember 1999 saya tiba di Jakarta, pukul 12.00 WIB. Pada hari yang sama, jam 15.00
WIB, saya diterima oleh Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati. Saya yang tadinya berharap banyak pada
pemimpin bangsa malah jadi pesimis. Betapa tidak, ketika saya diperkenalkan oleh Thamrin Amal Tomagola-
Sosiolog UI kepada mereka, “Inilah salah satu korban kebiadaban yang ada di Maluku Utara, yang dilakukan oleh
orang-orang Kristen di sana.” Saya berharap ada sedikit empati akan nasib saya dengan menanyakan bagaimana
kesehatan saya selama ini. Tapi ternyata tidak. Gus Dur mungkin tidak bisa melihat kondisi saya, tapi Megawati
yang terang-terangan melihat saya ternyata hanya diam saja. Mega sama sekali tidak menanyakan saya.
Saya kecewa dengannya. Saya akhirnya berkumpul dengan keluarga di pengungsian di Jakarta dengan kondisi
seadanya. Saya hanya bisa berdoa pada Allah agar saudara-saudara saya di Maluku bisa selamat, “Ya Allah,
tunjukkan bahwa yang haq itu haq dan yang bathil adalah bathil.”
( Rizki Ridyasmara sumber :Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat Ternate).

-bagian ketiga-

KONAPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK
BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999

Ummat Islam Bangkit Membela diri mempertahankan hak hidup dan kemuliaan
agamanya

PENDAHULUAN

T RAGEDI Idul Fitri Berdarah di kota Ambon pada tanggal 19
Januari 1999 bertepatan dengan 1 Syawal 1419 H telah berlang-sung hampir setahun,
belum ada tanda-tanda akan berakhir bahkan cenderung semakin parah. Berbagai upaya telah
dilakukan, berulang kali kesepakatan dan ikrar perdamaian antara dua kelompok yang bertikai
tidak pernah bertahan lama, bahkan segera setelah ikrar damai diucapkan, kerusan terjadi lagi.
Pertikaian yang melibatkan masyarakat Ambon dan sekitarnya kini telah meluas kemana-
mana seperti Maluku Tenggara, Maluku Utara dan pulau-pulau lain sekitar pulau Ambon.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan seperti kehabisan akal untuk mencari penyele- saian,
tokoh agama dan tokoh adat diikutsertakan ternyata hasilnya tidak sedikitpun membekas.
Hal seperti itu tentu disebabkan karena formula penyelesaian tidak mengena ibarat
diagnosa dokter terhadap penyakit pasien keliru, karena itu obat yang diberikan tidak mampu
menyembuhkan bahkan pasien semakin parah hampir tak tertolong lagi.

121

Sampai hari ini pemerintah daerah dan aparat keamanan masih tetap berpendapat bahwa
ada masalah dengan kerukunan hidup antar kedua ummat beragama tersebut yaitu antara
masyarakat Kristen dan Islam yang telah luntur semangat PELA-GANDONG suatu buda-ya
peninggalan nenek moyang yang telah 400 tahun lalu memelihara keakraban dan persaudaraan
diantara kedua masyarakat di Maluku bagian tengah (Kota Madya Ambon dan Dati II Maluku
Tengah). Alasan lain yang terus dikemukakan sebagai alasan penyebab faktor ketidakadilan
dan kesenjangan sosial dimana suku pendatang BBM (Bugis, Buton dan Makasar) yang Islam
telah merebut kesempatan berusaha bagi pihak Kristen.
Pusat Rujuk Sosial (PRS) yang dibentuk gubernur KDH Tingkat I Maluku DR. Ir.
Mohammad Saleh Latuconsina untuk mencarikan penyelesaian kasus ini telah melakukan
berbagai upaya tetapi tidak pernah menampakan hasil. Yang dilakukan berikut adalah
menyeleng-garakan pertemuan para tokoh agama membahas cara penyelesaian melalui
pendekatan agama. Kesimpulannya bahwa ajaran agama bukan penyebab tetapi pengamalan
ajaran agama yang kurang dihaya-tilah sebagai penyebab kedua masyarakat beragama tersebut
berben-turan, dengan kata lain bukan perbedaan ajaran sebagai penyebab. Hari berikutnya PRS
menyelenggarakan Simposium dan Lokakarya (Simpoloka) yang direncanakan berlangsuang 2
hari membahas peranan Pela – Gandong dalam menyelesaikan Kasus Kerusuhan Ambon.
Pada hari kedua Simpoloka itu, terjadilah peristiwa yang mema-lukan penyelenggara yaitu
sejumlah pemuda Kristen memasuki ruang acara Simpoloka bersenjata parang dan tombak
mengejar para peserta Simpoloka yang beragama Islam. Peristiwa yang memalukan itu
seharusnya disadari oleh semua pihak untuk tidak lagi mengangkat-ngangkat Pela-Gandong
sebagai budaya yang dapat menyelesaikan masalah ini dan mencarikan penyebab yang
sesungguhnya. Pada tanggal 12 Desember 1999 Presiden dan Wakil Presiden tiba di Ambon
dengan acara khusus mencarikan solusi perdamaian, dalam perte-muan dengan para tokoh dan
pemuda. Presiden menetapkan bahwa kasus Ambon harus dan hanya diselesaikan oleh orang
Ambon sendiri. Pernyataan presiden itu membingungkan karena sudah 11 bulan ini orang
Ambon gagal total menyelesaikan sendiri kerusuhan ini. Apa yang dikatakan presiden pada
kunjungan ke Ambon lebih memperjelas pendapat pemerintah dan aparat keamanan bahwa
kerusuhan ini berasal dari permasalahan daerah antar warga yang berbeda agama. Rupanya 11
bulan belum cukup untuk memberikan pelajaran bahwa kegagalan demi kegagalan adalah
karena diagnosa yang salah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->