P. 1
TRAGEDI AMBON BERDARAH

TRAGEDI AMBON BERDARAH

4.63

|Views: 40,009|Likes:
Published by jodi p

More info:

Published by: jodi p on Aug 24, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

RMS dituduh terlibat sebagai dalang kasus kerusuhan Ambon karena sejak awal sebelum
meletus peristiwa 19 Januari 1999, RMS telah menampakkan kegiatannya seperti dalam aksi
demo kekerasan pada tanggal 16-18 November 1998 di kota Ambon. Yel-yel hidup RMS telah
berkumandang apalagi pick-up putih yang berkeliling kota berisi mahasiswa mempopulerkan
Yel Mena Mouria, salam kebangsaan RMS.
RMS sejak berdirinya pada tanggal 25 April 1950 tidak pernah berhasil ditumpas secara
ideologis, diantara para tokoh Kristen tetap memimpikan berdirinya RMS. Pada periode 10
Tahun terakhir terasa semangat RMS menjalar diantara generasi muda, pada saat reformasi
yang berjalan penuh kerusuhan mereka menunjukkan unjuk rasa kekerasan ingin menaklukkan
ABRI.

Karena itu RMS adalah suatu kekuatan laten yang tetap berada pada benak sejumlah tokoh
dan pemuda Kristen. Sejumlah dokumen penting tentang aktivitas RMS mempersiapkan
kerusuhan banyak ditemukan.

MENGAPA RMS DITUDUH

Mengulangi penjelasan pada buku II Tragedi Idul Fitri Berdarah Buku Putih bahwa
terpilihnya RMS sebagai pelaku kerusuhan ini didukung oleh beberapa alasan. Program
memperbesar prosentase Kristen di Maluku dilaksanakan dengan mengusir masyarakat Islam
dari Ambon dan sekitarnya yang akan berlanjut sampai keseluruhan pelosok Maluku terutama
pada daerah-daerah transmigrasi yang telah membuat perimbangan kekuatan Islam–Kristen
berubah, pihak Kristenpun sangat berkeberatan karena dampaknya luas bagi kepenti-ngan
Kristen yang sebelumnya selalu dominan.
Pengaturan pemerintahan yang akan datang dengan menonjolkan pelaksanaan otonomi
daerah yang luas apalagi berkembang sampai menjadi Negara dengan sistem federal maka
kekuatan pemerintahan di Maluku dengan segala kebijakannnya akan terus membuat posisi
ummat Islam menjadi minoritas yang tidak punya peluang apa-apa lagi. Nasib ummat Islam
akan berada tidak jauh seperti dibawah penja-jahan Belanda atau seperti Palestina dan Israel.
Inilah salah satu sasaran pihak Kristen yang ratusan tahun membenci dan memusuhi masya-
rakat Islam di daerah ini.

RMS Memenuhi Persyaratan Watak

133

Untuk tugas Moslem Cleansing, memang tepat diberikan kepada RMS yang sejak awal telah
membenci ummat Islam. Negara boneka ini dibentuk oleh Belanda, naskah proklamasi
berdirinya RMS ditanda-tangani pada tanggal 18 Januari 1950 oleh dua orang tokoh masing-
masing J.M. Manuhutu dan A. Wairisal dan diumumkan secara terbuka pada tanggal 25 April
1950 oleh Dr. Soumokil. Negara Boneka buatan Belanda ini dibentuk untuk melanjutkan
kepentingan Belanda di Maluku, karena itu ummat Islam menolak Negara Boneka ini, yang
langsung melakukan perlawanan dimana-mana. Di Maluku pemerin-tahan RMS dibawah
tanah tetap berdiri yang melakukan kegiatan tersembunyi, yang dibuktikan dengan adanya
penaikan bendera RMS di beberapa tempat pada tanggal 25 April setiap tahun. Organisasi dan
pemerintahan RMS dibawah tanah ini pernah dibongkar pada tahun 1989 oleh Korem 174/
PTM pada waktu itu. Tetapi organisasi dibawah tanah tentu memiliki komposisi,
kepengurusan yang berla-pis, diantara mereka ada di pemerintahan termasuk lembaga
legislatif dan ormas lainnya. Gerakan dibawah tanah ini semakin kuat setelah pemerintah RI
memberlakukan kebijaksanaan Repatriasi eks KNIL asal Maluku untuk dapat kembali ke
Maluku, bahkan peluang lebih terbuka setelah ada kebijaksanaan bebas visa kepada turis dari
bebe-rapa negara termasuk negeri Belanda. Pendatang asing ini telah ikut menyiapkan
berdirinya RMS yang dikaitkan dengan aktivitas RMS di Belanda yang terus menguat, RMS
digandrungi di kalangan pemuda.
Korban ummat Islam cukup banyak, para pemuda, tokoh agama banyak yang terbunuh,
kampung halamannya dibakar, perlawanan tetap berlanjut, tidak jauh berbeda seperti apa yang
terjadi dalam kerusuhan yang berkembang menjadi perang agama ini.
Setelah TNI mendarat di Seram banyak pemuda Muslim berga-bung sebagai prajurit TNI
maupun sekedar tenaga bantuan untuk penunjuk jalan, pengangkut amunisi maupun bekerja
di dapur umum. Mereka bahu membahu dengan kesatuan-kesatuan TNI yang menda-rat di
Seram untuk merebut kembali Ambon sebagai Ibu Kota dari tangan RMS. Akhirnya atas saling
bantu antara TNI dan ummat Islam, RMS berhasil ditumpas habis secara fisik dalam beberapa
tahun kedepan terutama setelah tertangkapnya Dr. Chr. Soumokil sebagai presiden RMS oleh
kesatuan Yon 328 Siliwangi.
Karena itu RMS sangat memusuhi ummat Islam dengan kebencian yang tinggi, dan karena
itu RMS sangat memenuhi syarat untuk melaksanakan kerusuhan melakukan pembersihan
ummat Islam di Ambon dan sekitarnya bahkan akan berkembang ke Maluku secara
keseluruhan dalam rangka menjadikan propinsi yang didominasi kekuatan Kristen dalam
rangka berdirinya RMS di Maluku.

RMS Memenuhi Syarat SDM

Walaupun secara fisik RMS telah berhasil ditumpas tetapi ideologi politik yang dipunyai
RMS tetap ada di benak sejumlah besar tokoh Kristen di Maluku bahkan yang berada diluar
Maluku, terutama yang melarikan diri ke Belanda dan mereka yang sengaja diselamatkan ke
Belanda. Dengan demikian RMS tetap eksis di Belanda dalam bentuk Pemerintah RMS di
pengasingan, di Maluku ada kekuatan yang bergerak di bawah tanah.
Mereka tetap merencanakan RMS akan bangkit lagi karena ideologi separatis itu tetap ada
dan terbuka peluang besar di era reformasi ini setelah Tim-Tim berhasil merdeka berdiri sendiri
yang disusul tuntutan Aceh dan Irian Jaya begitu keras. Para tokoh RMS berpen-dapat bahwa
mereka lebih berhak untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
dibandingkan Aceh, karena tuntutan itu telah dimulai sejak 1950.
SDM RMS yang tersedia di Ambon cukup untuk berdiri sendiri baik kuantitas maupun kualitas. Sumber
Daya Alam khususnya kekayaan di laut dan dibawah permukaan laut di perhitungkan mam-pu untuk
menghidupi negara sendiri dengan kemampuan SDM yang besar.

RMS Memenuhi Syarat Konsepsi

Kita ulangi sekali lagi dalam naskah ini tentang keberadaan RMS dan GPM dalam
kerusuhan ini. Masyarakat Protestan di Maluku ...%, Katolik ...% kedua kekuatan ini yang
melakukan kerusuhan secara bersama-sama. Dari perbandingan prosentase dapat dikatakan
bahwa Protestan yang terbesar dan dominan di lapangan, artinya dilapangan dapat dikatakan
pelakunya hampir keseluruhannya anggota GPM (Protestan). Kalau begitu sulit kita bedakan
mana RMS dan mana GPM. Dengan kata lain, tidak ada tokoh RMS yang bukan GPM, hanya
sebagian kecil saja dari mereka yang beragama Islam.

134

Mari kita lihat tujuan Oikumene sedunia yaitu Satu Tuhan, Satu Dunia, Satu Gereja, rencana
yang besar itu membawa GPM untuk membangun kekuatan Kristen di Maluku. Maluku harus
menjadi milik orang-orang Kristen secara serentak, berikutnya ber-tahap sampai habis terutama
semua pendatang yang ke Maluku lewat program transmigrasi, sedangkan lainnya terutama
para elit akan meninggalkan Ambon karena atmosfer dibawah Kristen tidak akan mendapat
kesempatan berkembang. Mereka satu persatu berusaha untuk memiliki peluang kehidupan
yang lebih baik di luar Maluku. Yang ada di Maluku hanya masyarakat Islam kelas bawah yang
mudah ditekan, diperlakukan diskriminatif dan tidak perlu diperlakukan adil seperti pernah
diperlakukan oleh penjajah yang telah menanamkan watak diskriminatif kepada yang Islam.
Karena itu RMS tepat sebagai pelaku kepentingan Kristen, dengan kata lain konsepsi dalam
kerusuhan ini adalah untuk membersihkan ummat Islam (Moslem Cleansing) dari bumi
Maluku adalah program bersama.

MANUVER ELIT GPM

Perjuangan merebut kemerdekaan seperti Al-Fatah di bawah pimpinan Yaser Arafat
Palestina ataupun ketika Indonesia merebut Irian Barat, selalu ada 2 sayap politik dan sayap
militer, bila hanya mengandalkan satu sayap sejak awal tidak akan berhasil bahkan bisa
dikalahkan.

Begitu juga dengan perjuangan GPM membentuk negara Republik Maluku Selatan. Dengan
strategi yang matang para elit Kristen mela-kukan manuver dibidang politik dengan berbagai
pernyataan dan tuntutan serta aktivitas di bidang militer (kerusuhan) dimana satu dengan
lainnya saling mendukung dan tampak sangat singkron. Dari hari ke hari sesuai dengan
kemajuan perjuangan fisik dan perjuangan politik ditingkat nasional dan internasional para elit
GPM mulai mengeluarkan sejumlah pernyataan dan tuntutan sehingga semakin jelas kearah
dukungan internasioanl, kita tahu bahwa tidak ada pemberontakan di dalam negeri tanpa
dukungan luar negeri.

PEMBUNUHAN TERHADAP PERSONIL TNI

Perjuangan dan tuntutan rakyat Aceh untuk merdeka ternyata mendapat kemajuan, begitu
juga rakyat Irian Jaya sedang menuntut kemerdekaan untuk berdiri sebagai negara Papua Barat
yang merde-ka. Pemerintahan Gus Dur sedang dihadapkan pada kesulitan besar. Para elit GPM
yang selalu bolak-balik ke negeri Belanda semakin berani menampakkan niatnya untuk
melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gejala yang berani itu dapat kita lihat dari hal-hal sebagai berikut:
1. Pernyataan Ketua Sinode GPM Pdt. Samy Titaley setelah selesai menghadap Wakil
Presiden bersama Gubernur dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Maluku kepada TVRI yang
disiarkan secara luas. Ketua Sinode secara terang-terangan menuntut dilakukannya
Referendum di Maluku. Pernyataan ini tidak lain ingin meniru keberhasilan Tim-Tim karena
dukungan dan tekanan Lobby Kristen Internasional. Dukungan dan tekanan seperti itu sudah
terasa dalam proses penyele-saian kerusuhan Ambon. Karena itu jelas sebagai upaya awal
untuk mendirikan RMS lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka telah
mempunyai perhitungan tersendiri tentang perkemba-ngan yang akan datang.
Pernyataan DPRD TK I. Maluku periode 1997/1999 kepada Presi-den B.J Habibie pada awal
Maret 1999 bahwa kerusuhan di Ambon bukan didalangi oleh RMS. Siapa pun mengerti bahwa
DPRD tidak membidangi masalah keamanan karena itu mereka tidak tahu tentang terlibat atau
tidaknya RMS, mereka tidak punya perangkat apapun yang mampu menditeksi perkembangan
kerusuhan di Ambon. Polda sebagai pemegang Komando dan pengendalian maupun Korem
174/PTM pada waktu itu (Maret 1999) belum mengeluarkan pernyataan tentang keterlibatan
atau tidaknya RMS karena masih dalam proses penyelidikan. Bagaimana mungkin DPRD TK I.
Maluku bisa begitu cepat mengeluarkan pernyataan ysng bukan kewenangannya. Pernya-taan
itu dilakukan dengan persiapan, jadi jelas melewati suatu pertim-bangan yang matang untuk
sampai pada mengirimkan delegasi menghadap Presiden. Tentu ada inisiatif makernya yang
dari luar sudah dapat diduga siapa dia kalau bukan Zeth Sahuburua yang sejak tahun 1998
sudah diditeksi ada benang merah RMS dibenaknya seperti hasil pengungkapan oleh Korem
174/PTM. Yang disayangkan mengapa Ketua DPRD TK I. Maluku Sdr. Fatah Syah Doa ikut
terbawa manuver RMS tesebut dan menjadi ketua delegasi, seharusnya Gubernur mencegah
delegasi RMS ini.

135

Kasus ini enak untuk diusut, mereka yang ikut sebagai delegasi dapat dimintakan
keterangan untuk mengusut penggagasannya. Dari kasus DPRD ini akan mudah mendapatkan
jalan untuk membongkar sejumlah tokoh yang terlibat gerakan RMS ini.
2. Bantahan keras Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI Markus Tamaela dihadapan para tokoh
pemuda, tokoh masyarakat dan para Latupatti se-Leihitu di desa Hitu pada pertemuannya
bersama-sama Gubernur bahwa RMS tidak terlibat dalam kasus kerusuhan Ambon. Jawaban
seperti itu sudah dapat diperkirakan karena sulit dipisahkan mana rencana GPM dan rencana
RMS. Max M. Tamaela tidak mungkin mengusut RMS kalau nanti yang terlibat secara langsung
sejumlah tokoh GPM.

Kerusuhan yang terjadi sejak 19 Januari 1999 sampai dengan saat pertemuan dengan
masyarakat Leihitu sudah cukup waktu untuk dapat membongkar organisasi mana sebagai
perencana sekaligus pelaksana kerusuhan ini. Kalau Pangdam XVI/PTM tidak dapat
menunjukkan organisasi perencana dan pelaku kerusuhan tiada lain karena RMS -lah
perencana dan pelaku semua itu, tetapi akan menjadi masalah besar bila RMS diangkat
kepermukaan.

Jadi sesungguhnya membongkar kasus kerusuhan Ambon ini tidak terlalu sulit asalkan ada
Political Will. Karena itu bila pengganti Max Tamaela bukan seorang Protestan maka peluang
untuk menangkap batang leher RMS terbuka lebar.
3. Pernyataan Wakil Ketua DPRD TK I. Maluku periode 1999/2004 John Mailoa juga
membantah keterlibatan RMS dalam kasus kerusuhan Ambon dan sekitarnya. Sekali lagi
pernyataan oleh seorang Wakil Ketua DPRD TK I. Maluku tidak profesioanal, bukan kewena-
ngannya untuk itu.

Tampaknya ada upaya keras tokoh GPM di DPRD TK I. Maluku untuk melepaskan diri dari
keterlibatan mereka, kita ketahui bahwa PDI-Perjuangan di Ambon bukan PNI partainya Bung
Karno, tetapi eks Parkindo dan partai Katholik, mereka adalah para perusuh dan tokoh
perencana kerusuhan, maka itu pernyataan saudara John Mailoa wakil ketua DPRD TK I.
Maluku bukan mewakili lembaga tetapi sebagai ketua PDI-P Tk.I Maluku.
4. Pernyataan Letjen Tias Tiyarso KABIA pimpinan Badan Inteljen ABRI tentang
keterlibatan RMS sebagai pelaku kerusuhan harus dilihat sebagai suatu pernyataan atas bukti
yang dihimpun dan telah melalui proses analisa yang mendalam. Pernyataan itu tidak
sepantas-nya ditolak oleh berbagai pihak apabila tidak membela RMS. BIA yang wilayah
operasionalnya meliputi seluruh wilayah Nusantara tentu mempunyai orang-orang yang
dipasang untuk memonitor perkembangan tiap daerah, terutama di daerah-daerah yang
memin-takan dilakukannya referendum seperti di Maluku. Tokoh-tokoh ini telah jelas terlibat
langsung untuk mempercepat proses terbentuknya negara RMS yag terlepas dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang sedang bergolak. Pernyataan Gubernur untuk meminta
rincian dari KABIA tentang keterlibatan RMS pun sangat disayangkan karena apa yang
dinyatakan KABIA Ambon, tempat kedudukan Pemerintah Daerah TK I. Maluku, Polda
Maluku dan Kodam XVI/PTM yang seharusnya dengan sejumlah fakta dan data yang
dihimpun selama 10 bulan sudah dapat menduga adanya keterlibatan RMS atau Badan lain
sebab tidak mungkin kerusuhan sebesar ini tanpa digerakkan oleh suatu organisasi. Kecuali
fakta dan data serta berbagai gejala yang tampak jelas sengaja dihilangkan atau tidak
berkehendak untuk diolah karena tahu siapa-siapa yang ada dibalik gerakan ini.
Jadi seharusnya pernyataan ini dijadikan dasar kuat untuk terus mengejar organisasi dan
aktor intelektual yang ada dibelakangnya. KABIA dalam menyampaikan pernyataan itu
kapasitasnya sebagai pejabat intelejen bukan seseorang yang boleh berbicara seenaknya tanpa
harus bertanggung jawab.
Jadi kalau ada niat yang kuat untuk membongkar RMS sebagi pelaku kerusuhan untuk
kepentingan politik yang besar, seharusnya pernyataan KABIA dijadikan acuan untuk
memperkuat upaya mem-bongkar RMS dan bukan beramai-ramai membantah dan
menanggapi secara tidak wajar. Itulah sikap pejabat negara dan putra bangsa yang
berkewajiban mempertahankan NKRI dari disintegrasi.
5. Pernyataan BAKIN yang diungkap Harian Republika tentang diselundupkannya 12 koli
senjata jenis FNC ke Maluku segera dibantah oleh Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI. Max
Tamaela dalam waktu berselang dua hari dari penyataan BAKIN. Pernyataan Pangdam
XVI/PTM itu cukup mengagetkan tentang menolak adanya penyelundupan itu sebab yang

136

namanya penyelundupan tentu melalui jalan berliku-liku menghindari aparat keamanan dan
mata orang luar. Wilayah Maluku yang begini luas terlalu terbuka untuk suatu penyelundupan
yang didukung kekuatan luar negeri, apalagi 12 koli senjata itu memasuki desa Kristen yang
hanya ada aparat keamanan yang bera-gama Kristen yang justru mendukung proses itu.
Kondisi wilayah Maluku khususnya di pulau Seram yang dipedesaannya berpenduduk
homogen Kristen dan Islam merupakan tempat yang gelap untuk suatu penyelaman atau
menghilangkan jejak. Pengawasan wilayah laut yang lemah serta alat transportasi laut yang
canggih dapat memonitor posisi aparat keamanan untuk dihindari atau menggunakan alat
angkut tradisional sehingga dapat mengelabui aparat keamanan di laut
Jadi logikanya aparat keamanan harus menggunakan waktu yang lama untuk penyelidikan
agar bisa sampai kepada pendapat bahwa tidak ada penyelundupan dimaksud. Bila pernyataan
dalam waktu dua hari seperti yang dilakukan Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI Max Tamaela
jelas sebagai upaya mengamankan kedatangan senjata-senjata tesebut. Tidak akan ada senjata
sebanyak itu kalau tidak ada kerusuhan yang telah mengarah pada persiapan pemberontakan.
Apakah ada operasi intelejen yang khusus untuk menemukan senjata-senjata itu? Senjata-
senjata itu tidak dipamerkan di alam terbuka tetapi telah tersimpan rapih dipedalaman atau
sedang digunakan berlatih membangun kekuatan bersenjata. Kalau analisis ini benar maka TNI
dan Polri yang ada di Ambon akan menghadapi ancaman besar. Kita perlu ketahui bahwa
mengahadapi gerilya mem-buat kalkulasi perbandingan antara kekuatan gerilya dan anti
gerilya adalah 1:10. Kita juga perlu sadari bahwa yang menjadi sasaran 12 koli senjata itu untuk
menumpas habis ummat Islam seperti yang kita saksikan dalam kerusuhan selama 11 bulan ini.
Karena itu semua pedesaan Islam akan di mangsa, TNI/Polri sebesar apapun tidak akan
mampu melindungi ancaman terhadap ummat Islam tersebut. Silahkan menghitung, 4 Batalyon
yang ada kewalahan menghadapi massa yang relatif tak bersenjata standar militer kecuali
senjata rakitan dan bom buatan sendiri. Bila 12 koli senjata tadi telah melengkapi mereka dan
berada di hutan dan gunung mustahil bila di kejar. Solusi yang paling tepat, ummat Islam
dipedesaan dilengkapi dengan senjata yang sama agar bersama TNI/Polri menghadapi gerilya
yang sasa-rannya bukan aparat keamanan tetapi rakyat banyak tak bersenjata. Masyarakat desa
yang hidupnya dari hasil hutan tidak akan mungkin kehutan lagi dan dapat kita bayangkan
kondisi Maluku pada waktu itu. Karenanya Max Tamaela harus segera diganti sebelum
keadaan menjadi sangat buruk.
6. Ditemukannya 20 pucuk senjata di loteng Gereja di desa Waai dan di Kariu sudah
menjadi rahasia umum, bagaimana tindakan aparat keamanan mengejar persiapan
pemberontakan ini. Apabila isu ini tidak benar seharusnya aparat kemanan secara transparan
mengklarifikasi-kannya, jangan membiarkan masyarakat Islam selalu dalam ketakutan.
7. Kedatangan Menteri dalam Negeri Letjen Pur. Suryadi Sudirja ke Ambon untuk bertemu
dengan para tokoh di kota Ambon ditang-gapi secara dingin. Acara pertemuan yang begitu
penting tidak diha-diri oleh para tokoh GPM, hanya oleh mereka pada lapisan kedua.
Penolakan terhadap utusan Presiden ini dibuktikan lagi dengan diblokirnya semua jalan darat
yang dapat mengancam keselamatan Menteri Dalam Negeri. Beliau terpaksa harus
menggunakan angkutan laut dengan pengamanan yang ketat. Ada informasi dari aparat
keamanan yang bertugas di daerah desa Laha bahwa jembatan besi di desa Tawiri di blokir
dengan pagar besi yang dilas pada tangan jembatan. Apa sesungguhnya manuver para tokoh
GPM ini kalau bukan aksi tidak mengakui pemerintah pusat, gejala ini harus dikaji sebaik-
baiknya karena bukan peristiwa biasa.
8. Penerimaan Calon Tamtama Kodam XVI/PTM yang sedang diproses tahun 1999/2000
telah menunjukkan iktikad buruk karena terdiri dari + 90% beragama Kristen. Selama ini
jumlah yang beragama Islam jauh lebih besar karena mereka terdiri dari putra daerah yang
beragama Islam dan Kristen yang sama besarnya ditambah para pendatang yang sudah lama di
Maluku dan sengaja datang ke Ambon dari luar Maluku seperti Sulawesi Selatan, Buton dan
Jawa untuk menjadi Calon Tamtama.
Tidak dapat dijadikan alasan bahwa pendaftaran dari golongan Islam sedikit, mereka tidak
bisa menembus areal Inmindam/Ajendam XVI/PTM untuk mendaftar karena daerah itu rawan
bagi yang Islam. Pengerahan harus dilakukan juga disektor Islam. Karena itu penempatan
Tantama ex pengerahan tahun 1999/2000 gelombang kedua ini harus keluar Maluku, apabila
tidak mereka dapat terbawa memperkuat kekuatan bersenjata RMS.

137

a. Usul pengosongan desa-desa yang selama ini di huni oleh masyarakat Buton yang dimulai
oleh nenek moyangnya lebih dari 100 tahun yang lalu tiada lain agar aktivitas RMS tidak
terpantau oleh TNI.

Pembunuhan terhadap pesonil TNI

Kalau selama ini pembunuhan dan pembakaran ditujukan kepada ummat Islam, maka
memasuki bulan November 1999 kekuatan Kristen meningkatkan aksinya membunuh aparat
keamanan khusus-nya dari TNI yang dilakukan dengan senjata rakitan laras panjang.
Aksi membunuh TNI di berbagai tempat telah menunjukan posisi Kristen sebagai lawan
Pemerintah dan aparat keamanan semakin jelas, sulit membedakan mereka sebagai kekuatan
Kristen yang melakukan kerusuhan menghabiskan ummat Islam dengan posisi mereka sebagai
kekuatan RMS memusuhi Negara/Pemerintah yang syah.
Berbagai kasus pembunuhan terhadap aparat keamanan sebagai berikut:
1) Pada tanggal….-11-1999 menembak 3 orang anggota Rindam XVI/PTM di Passo yang
sedang menggunakan kendaraan angkutan umum. Seorang tewas ada 2 orang luka-luka.
2) Pada tanggal…..-11-1999, menyergap sebuah truk Zidam XVI/PTM di daerah Passo
kemudian membantai 2 anggota yang sdang bertugas mengangkut bahan bangunan untuk
rehabilitasi bangu-nan rumah dinas. Jenazah ditarik keluar kendaraan kemudian disiram
bensin dan dibakar.
3) Pada tanggal …-11-1999, menembak seorang anggota Armed di posnya desa Batu Merah,
korban gugur terkena tembakan tepat dikepalanya.
4) Pada tanggal….-11-1999, membobol tembok Asrama Polres P.Ambon dan PP Lease
kemudian menyerbu ke dalam markas untuk membongkar gudang senjata dan amunisi,
tetapi berhasil digagalkan. Seluruh anggota Polres yang beragama Islam dengan
keluarganya lari keluar asrama karena tidak dilengkapi senjata. Kapolres Letkol Pol. Drs.
Gufron dan keluarganya terpaksa mengungsi ke kampung Islam di dekatnya.
5) Pada tanggal … 11 - 1999, anggota Kodim (Abubakar) P.Ambon disergap di Asrama OSM,
dipukul sampai babak belur kemudian sepeda motornya dibakar.
Pada tanggal 30-11-1999 + jam 23.00 KM Dobonsolo merapat di bekas pelabuhan Gudang
Arang, tidak sandar karena pelabuhan kecil, dangkal dan jembatannya telah lama rusak
tidak digunakan. Ketika kapal tersebut bertolak dari Benoa Bali. Kapolda Bali telah
menginformasikan kepada Kapolda Maluku bahwa KM Dobonsolo membawa barang yang
patut diduga senjata dan amunisi. Polda Maluku dan aparat keamanan telah berada di
pelabuhan untuk melakukan pemeriksaan ternyata kapal tersebut merapat dibekas
pelabuhan Gudang Arang.
Adpel pelabuhan Yos Sudarso, Sutejo telah memerintahkan Kapten Kapal untuk merapat di
pelabuhan Yos Sudarso, tetapi berdasarkan informasi Kapten Kapal bahwa sesudah
petunjuk Adpel ada perintah dari Kepala Pelni Frans Rumfebe agar menu-runkan
penumpang yang beragama Kristen di bekas pelabuhan Gudang Arang (lego Jangkar).
Setelah diperiksa ternyata dilakukan oleh pihak ke tiga (?). setelah selesai menurunkan
penumpang dan barang, kapal tersebut berpindah ke pelabuhan TNI-AL di Halong.
Pangdam XVI/PTM maupun Kapolda Maluku belum bisa mem-berikan keterangan
(tanggal 1-12-1999). Di darat para penjemput cukup banyak, hal ini menunjukkan bahwa
kapal tersebut mera-pat di pelabuhan Gudang Arang sudah dipersiapkan.
6) Pada tanggal 28 November 1999 pimpinan DPRD Tk. I Maluku dan anggota dari unsur
PDI-Perjuangan serta beberapa tokoh GPM menuntut dilakukan alih Komando dan
Pengadilan Operasi dari Kapolda kepada Pangdam XVI/PTM dengan alasan Kapolda tidak
mampu menyelesaikan kerusuhan. Jelas sekali rekayasa mereka padahal Kristen yang terus
menyerang. Tuntutan alih Pemerintah ternyata memahami tuntutan alih Kodal itu untuk
maksud tertentu sehingga tidak dipenuhi

138

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->