P. 1
TRAGEDI AMBON BERDARAH

TRAGEDI AMBON BERDARAH

4.63

|Views: 40,015|Likes:
Published by jodi p

More info:

Published by: jodi p on Aug 24, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

KONSPIRASI POLITIK
RMS DAN KRISTEN
MENGHANCURKAN
UMMAT ISLAM DI
AMBON-MALUKU

Judul:
Fakta, Data dan Analisa

KONSPIRASI POLITIK RMS DAN KRISTEN
MENGHANCURKAN UMMAT ISLAM
DI AMBON - MALUKU
Mengungkap Konflik Berdarah Antar Ummat Beragama
dan Suara Hati Warga Muslim yang Teraniaya

Penulis:

Rustam Kastor

Editor:

Irfan S. Awwas

Disain Cover:

Dicky Hidayat

Type Lay Out/Setting:

Muflich.Asy

Cetakan Pertama:

Syawwal 1420 H / Februari 2000 M

Cetakan Kedua:

Dzulhijjah, 1420 H / Maret 2000 M

Penerbit:

WIHDAH PRESS

Penerbit dan Penyebar Buku Islami

Jl. Kusumanegara No. 98 Yogyakarta
Telp. / Fax. (0274) 389135

ISBN : 979 - 9311 - 07 - 1
Distributor :

CV. ADIPURA Yogyakarta Telp. ()274) 373019

Hak Pengarang dilindungi Unda

ndang

ng-u

All Rights Reserved

KATA PENGANTAR

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu membunuh orang lain,
atau melakukan kerusakan di muka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia seluruhnya”.

(Qs. Al-Maidah, 5:32)

KETIKA jarum jam sejarah dunia beranjak memasuki tahun 2000 dan mulainya abad ke-21,
Indonesia sedang terbakar oleh api permusuhan, akibat konflik kepentingan, ambisi kekuasaan
serta nafsu keserakahan.
Perjalanan menuju Indonesia Baru yang adil dan beradab, manusiawi dan demokratis, di
bawah naungan Pancasila, agaknya hanya utopia belaka. Sejak Indonesia merdeka, belum
pernah ada seorang penguasa di negeri ini yang, secara serius dan sungguh-sungguh berusaha
membawa Indonesia ke arah cita-cita dimaksud.
Kini, konstelasi politik nasional, justru memperlihatkan kecen- derungan yang sebaliknya.
Kita tengah menyaksikan suatu episode sejarah di mana tragedi kemanusiaan dijawab oleh
pemerintah hanya dengan retorika politik dan pelecehan atas derita ummat manusia.
Konflik horizontal antar ummat beragama dan sejumlah krisis sosial, politik dan ekonomi,
tengah mencengkeramkan taring- taringnya ke atas ubun-ubun bangsa ini. Semua ini amat
merisau- kan, sebagaimana ungkapan seorang penyair: “Jika terdapat seribu pembangun dan
seorang penghancur. Itu sudah cukup untuk meluluh lantakkan seluruh bangunan. Bagaimana
jika terdapat seribu penghancur dan hanya ada seorang pembangun?”
Itulah kenyataan yang mengharu-biru Indonesia kini. Betapa banyaknya kaum penghancur
dan perusak, provokator kerusuhan maupun propagandis kesesatan. Tragedi kemanusiaan,
yang demikian besar dan meresahkan sedang melingkupi hampir seluruh atmosfir bangsa ini.
Menghilangkan nyawa seorang manusia, tanpa alasan yang benar dan adil, dalam pandangan
Islam merupakan peristiwa besar yang tidak bisa disepelekan,karena sama artinya dengan
menghilangkan nyawa semua orang. Itulah faham kemanusiaan yang dianut Islam, dan yang
tertera di dalam al-Qur’an, surat al-Maidah ayat 32:

“Oleh karena itu Kami perintahkan kepada Bani Israil, ”Barang siapa yang membunuh seseorang,
bukan lantaran dia membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat bencana di muka bumi, maka
seakan-akan ia telah membunuh semua manusia. Dan siapa yang menghidupkan (tidak melakukan
pembunuhan dan kerusakan), maka berarti ia telah menghidupkan semua manusia. Dan sesungguhnya
telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami yang membawa keterangan yang nyata, Kemudian banyak
di antara mereka sesudah itu berbuat bencana yang melampaui batas di muka bumi”.

Respons Pemerintah dan TNI

Darah luka yang menetes di bumi Ambon, Tual, Tobelo, Namlea, Haruku, Halmahera, dan
entah dipojok manalagi di tanah Maluku, kian terasa perih dan memedihkan hati. Konspirasi
Politik antara RMS, GPM dan PDI-P (eks Parkindo dan partai Katholik), seakan telah dengan
sengaja menebar ranjau maut dalam setahun terakhir ini, untuk menghancurkan ummat Islam.
Terjadinya konflik berdarah antar pemeluk ummat beragama di Ambon dan Maluku, walau
dalam sekala lokal, namun mengakibatkan korban pembantaian yang luarbiasa dahsyatnya.
Ribuan nyawa manusia muslim dicabut, tubuhnya dicincang dan dibakar, ratusan Masjid
dihancurkan, rumah-rumah penduduk dibumi hanguskan, harta benda di lenyapkan, dan
puluhan ribu wanita, orang tua dan anak-anak menjadi warga pengungsi.
Mengherankan, respons pemerintah dalam hal ini, terkesan sangat lamban dan sama sekali
tidak memuaskan.Dalam kunjungan resminya ke daerah yang diselimuti awan kelabu bersama
Wapres Megawati Soekarno Putri, 12 Desember 1999, Presiden Abdurrahman Wahid bahkan
bersikap seakan-akan bukan sebagai Presiden. Dalam pertemuannya dengan tokoh-tokoh

2

agama, tokoh adat dan tokoh pemuda, beliau mengatakan:”Kerusuhan Ambon hanya dapat
diselesaikan oleh orang Ambon sendiri. Pemerintah pusat hanya akan berperan sebagai
pendorong dan membantu”.
Keputusan untuk menyerahkan penyelesaiannya kepada masyarakat Ambon sendiri,
setelah kerusuhan berlangsung lebih setahun dan korban terus berjatuhan setiap hari, memang
terasa aneh dan terkesan pemerintah ingin melepaskan tanggung jawabnya. Adalah mustahil
menyerahkan penyelesaian sendiri terhadap dua kelompok yang sedang bertikai, tanpa
hadirnya pihak ketiga sebagai pendamai.
Menanggapi kerusuhan yang, dalam retorika politik Indonesia, bernuansa SARA, sikap
pemerintahan Gus Dur selalu mengecewa-kan jika yang menjadi korbannya adalah ummat
Islam. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur malah seringkali menyepelekan pengorbanan
ummat Islam dan meremehkan penderitaan mereka.Berkenaan dengan solidaritas ummat Islam
terhadap situasi di Maluku misalnya, pak presiden malah mengancam sambil melecehkan.
Sikap beliau akan berbeda manakala yang menjadi korban adalah ummat Kristen, dia selalu
tampil membela dan melindungi. Untuk hal ini, Gus Dur pernah memberi alasan,”Kita tidak
ingin dikatakan oleh dunia luar, bahwa di Indonesia warga mayoritas muslim telah
membahayakan nasib warga minoritas non muslim”. Berhadapan dengan ummat Islam, seakan
tidak ada sesuatu apa pun yang perlu dikhawatirkan. Seakan membenarkan ungkapan, dalam
bahasa orang Ambon,”Gus Dur, seng ada lawan!”
Adapun TNI, sikapnya luar biasa gagah perkasa dan pasang kumis jika berhadapan dengan
massa Islam, tetapi terhadap massa selainnya mereka menjadi pasukan yang lemah dan tidak
berdaya. Dalam peristiwa Doulos Jakarta, misalnya. Banyak muballigh yang ditang-kap, tapi
tidak demikian halnya ketika masjid Istiqlal diledakkan manusia biadab. Ketika disinyalir
seribu orang preman jalan Ketapang Jakarta dikirim untuk melakukan kerusuhan di Ambon,
TNI tidak berbuat apa-apa. Tapi dalam kerusuhan di Mataram, NTB, Kapolda langsung
mengeluarkan perintah tembak di tempat, dan akan menindak siapapun yang mengadakan
pengumpulan massa atas nama agama. Jadi, berhadapan dengan massa Islam, TNI
memperlihatkan wajah rezim orde baru yang otoriter, sebaliknya terhadap massa yang bukan
Islam, TNI menunjukkan wajah yang reformatif dan demokratis.
Malangnya, setiapkali ummat Islam menunjukkan solidaritas imaniyah, kemudian bangkit
menjawab, menentang atau melawan kezaliman serta kedurjanan itu, tiba-tiba seluruh media
cetak dan elektronika, penguasa thaghut serta tokoh-tokoh sekuler dan munafik mengatakan
bahwa ummat Islam sebagai perusuh, pemberontak dan pengganggu keamanan. Mereka
mengutuk, melaknat, menghalangi dengan segala kekuatan yang mereka siapkan. Berbagai
istilah kotor bermunculan, kemudian mensifatkan tindakan ummat Islam sebagai provokator
dan penjahat. Akan tetapi yang mengherankan adalah, apabila kalangan Kristen atau musuh-
musuh Islam yang memulai pemerkosaan, penyiksaan maupun pembunuhan, tidak seorang
pun dari para dedengkot demokrasi atau pembela HAM yang dengan gagah perkasa bangkit
untuk menyelesaikan dan menghukum mereka sebagai penjahat perang, penjagal
kemanusiaan, dan istilah-istilah yang semisal dengannya, kecuali segelintir ummat Islam yang
berani tampil dengan gagah mengumandangkan kalimat Thayyibah, dan mengang- kat
setinggi-tingginya bendera Islam. Semoga Allah menolong mereka.
Peragaan ketidakadilan seperti ini, jelas tidak kondusif untuk mewujudkan perdamaian
dalam menyelesaikan pertikaian horizontal yang melanda masyarakat dewasa ini. Sikap
represif dan diskriminatif pemerintah, apapun alasannya, tidak akan membuat jera ummat
Islam. Sudah terlalu sering ummat Islam bangsa Indonesia diperlakukan secara zalim, nyatanya
tidak pernah menyurut-kan semangat mereka untuk melakukan perlawanan atas nama
agamanya. Ummat Islam tidak menuntut untuk dibela, atau di-perlakukan istimewa, tetapi
menuntut supaya pemerintah bersikap adil dalam merespons berbagai gejolak yang timbul di
masyarakat.

Mengapa Ummat Islam Dimusuhi

Pada zaman permulaan Islam, menjadi seorang muslim berarti menjadi manusia mulia dan
terhormat. Oleh karena itu, siapa saja yang menjadi muslim karena kesadaran, maka dengan
rela hati mereka meninggalkan seluruh masa lalu jahiliyahnya. Mereka berkeyakinan, tanpa
Islam mereka hanya sampah saja, tak bedanya dengan orang-orang kafir dan musyrik yang ada
ketika itu. Sebaliknya, dengan Islam mereka merasa terangkat harkat kemanu-siaannya,

3

sehingga semua orang Islam di masa itu, siap mati membela Islam. Pada saat itu, Islam sebagai
Ya’lu wala yu’la alaihi, tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya, benar-benar menjadi
realita, dan bukan sekedar cita-cita atau slogan.
Tetapi kini, sebagian besar ummat Islam tidak lagi merasa terhormat dengan Islam, malah
sebaliknya, merasa minder jika hanya hidup dengan pola Islam. Mereka menganggap, bahwa
Islam tidak akan mampu menyelesaikan problema kemanusiaan di zaman modern ini. Bahkan
banyak di antara tokoh Islam ber-pendapat, bahwa meyakini Islam sebagai satu-satunya
kebenaran, dan satu-satunya agama yang diridhai Tuhan adalah sikap sektarian dan tidak
menghargai adanya perbedaan. Padahal begitu ummat Islam tidak lagi meyakini Islam sebagai
satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah Swt., maka pada saat yang sama mereka
pasti menjadi pengikut syetan, dan terlunta-lunta dalam kehidupan tanpa pegangan.
KetikaRasulullah Saw. datang membawa risalah al-Islam, penduduk bumi terbagi menjadi
dua golongan, yaitu Ahlul Kitab dan kaum Zindiq, kaum yang tidak mengakui kitab. Saat itu,
Ahlul Kitab terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Yahudi sebagai kelompok yang dimurkai
Allah, dan Nasrani, kelompok yang mengikuti jalan sesat.
Mengapa kaum Yahudi dimurkai Allah? Di antara sebab-sebab nya, sebagaimana
diungkapkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya Hidayatul Hayari Fi Ajwibathil
Yahud wan Nashara
(terjemahan) yang daripadanya kami kutip ungkapan-ungkapan di bawah
ini, “bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang suka berdusta, suka mengada-ada, membuat
makar dan membunuh para Nabi, serta pemakan riba dan hasil sogokan” Selanjutnya
dikatakan, agama mereka adalah permusuhan, dusta dan taktik busuk. Dimanapun mereka
berada selalu membuat sengsara manusia lainnya. Mereka tidak pernah memberikan
perlindungan kepada orang-orang beriman, tidak pernah berbelas kasihan kepada orang yang
menempuh jalan kebenaran, dan tidak pernah memberi peluang kepada orang yang hendak
menjalankan keadilan.

Lebih jauh diungkapkan tentang karakteristik kaum Yahudi, bahwa yang paling berakal di
antara mereka adalah yang paling jahat, yang paling cerdik di antara mereka adalah yang
paling licik, yang berfikiran waras di antara mereka-jika memang ada, adalah yang paling
sempit dadanya, paling gelap tempat tinggalnya, paling busuk prilakunya dan paling jahat
perbuatannya. Salam mereka adalah laknat, semboyan mereka adalah kemarahan dan selimut
mereka adalah caci maki.

Adapun golongan Nasrani, mereka adalah ummat terinitas, kelompok sesat, dan para
budak salib. Mereka dianggap sesat karena mereka telah melecehkan Allah Rabbul Alamin.
Dasar keyakinan mereka adalah, menganggap Allah sebagai makhluk Three in One (salah satu
dari tiga), bahwa Maryam adalah istri-Nya dan Al-Masih adalah anak-Nya, dan menganggap
Allah telah turun dari kursi Keagungan-Nya lalu berse- mayam di dalam rahim seorang wanita.
Agama ummat ini adalah penyembahan salib, pemanjatan do’a kepada gambar-gambar,
minum khamer, makan babi, tidak berkhitan, dan beribadah dengan berbagai najis. Yang halal
bagi mereka adalah yang dihalalkan oleh pendeta, dan yang haram adalah yang
diharamkannya, sehingga agama adalah hasil karyanya, pendetalah yang berhak mengampuni
dosa-dosa mereka dan menyelamatkan mereka dari siksa neraka.
Demikianlah kondisi para ahlul kitab, sehingga Allah memerin-tahkan kepada orang-orang
beriman dengan firman-Nya:
”Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian,
dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak
beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi al-kitab kepada mereka (Yahudi dan
Nasrani), sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.
(Qs.
At-Taubah, 9:29).

Sedangkan kaum Zindiq, mereka tidak mengakui adanya kitab yang diturunkan Allah.
Sesembahan mereka adalah berhala, api, syetan dan matahari. Mereka musyrik kepada Allah,
mendustakan para rasul, tidak mengakui syari’at, mengingkari adanya hari kemu-dian, dan
mereka tidak menganut agama Sang Maha Pencipta. Agama mereka hawa nafsu, makanan
mereka adalah bangkai, minumannya khamer, wali mereka syetan. Mereka adalah manusia
paling nista, paling menyimpang prinsip hidupnya dan paling buruk keyakinannya.
Begitulah kondisi manusia tatkala Rasulullah Saw. diutus sebagai pembawa risalah-Nya.
Dan para pewaris mereka, ahlul kitab dan kaum zindiq, hingga kini masih tetap eksis dan

4

menyebarkan faham sesatnya. Mereka itulah yang membantai ummat Islam di seluruh dunia,
dan sekarang melakukan aksinya di Ambon dan Maluku.
Saksikanlah parade kejahatan kaum Yahudi dan Nasrani yang mereka pergelarkan, sejak
dari zaman kenabian hingga datangnya masa perang salib. Orang-orang Yahudi dan Nasrani
membantai ummat Islam di Turki dan Palestina. Mereka menghancurkan Masjid Babi di India,
membantai ummat Islam di Afghanistan, Moro, Chehnya dan sekarang di Ambon dan Maluku.
Yang terakhir ini, mereka telah mempersiapkan senjata-senjata canggih, senjata organic dan
granat-granat bermutu tinggi. Mereka juga memper-siapkan penembak-penembak jitu atau
Sniper, yang mengarahkan tembakannya kepada ummat Islam. Truk-truk berlapis baja di
Tobelo dan Halmahera beriringan membawa amunisi (granat dan bom), membawa bensin yang
disemprotkan laksana gas air mata, lalu diikuti oleh aparat beragama Kristen, yang melempar
granat dan bom serta tembakan-tembakan maut. Itulah yang menghabiskan nyawa ummat
Islam secara massal hingga mencapai tidak kurang dari lima ribu orang jumlahnya.
Menurut kesaksian seorang dokter sukarelawan, yang menolak ditulis namanya, dia
mengatakan:”Sekiranya Kapolda tidak menutup-nutupi masalah ini, banyak korban-korban
yang di-kumpulkan di depan masjid sebelum dapat dibantu oleh dokter yang sangat terbatas
jumlahnya, mereka beratus-ratus jumlahnya di bakar beramai-ramai guna menghilangkan
jejak. Di Halmahera dan Tobelo ummat Islam kekurangan air minum, karena sumber-sumber
air, sungai atau sumur yang ada sudah ditaburi racun oleh Si Obet ”, katanya. Hal yang sama
juga disampaikan oleh seorang aparat keamanan yang, lagi-lagi menolak ditulis identitasnya.

Gagasan Menerbitkan Buku ini

Gagasan awal menerbitkan buku ini, muncul ketika untuk perta-makalinya saya
berkesempatan berkunjung ke Ambon, 1 Januari 2000 lalu. Sejak lama saya ingin menyaksikan
dari dekat situasi Ambon yang terus bergolak, dan berharap jika bisa, hendak menulis
peristiwa tersebut. Keinginan ini muncul, setelah menyaksikan kondisi konflik berdarah antara
Islam dan Kristen yang tidak kunjung selesai. Sementara itu, informasi dari media massa
maupun pejabat negara yang kita peroleh selama ini penuh distorsi, meng-anggap konflik
hanya bernuansa SARA. Para komentator politik, kian membingungkan dan lebih banyak
memojokkan ummat Islam, dengan mengatakan bahwa,”konflik Ambon dipicu oleh orang-
orang Islam fanatik”. Padahal disana tidak ada muslim fanatik, bahkan di antara mereka yang
ikut berperang banyak yang tidak shalat, dan awam tentang dienul Islam, bagaimana mereka
disebut fanatik.

Kami merasa beruntung dapat menyaksikan situasi Ambon yang amat memprihatinkan
dan merasakan kegalauan warganya secara langsung. Hari pertama di bulan Januari tahun
2000, taqdir Allah menghantarkan kami ke daerah yang kaya rempah-rempah dan menjadi
incaran kaum penjajah Belanda dahulu.
Pesawat Merpati yang kami tumpangi, setelah transit selama 40 menit di bandara
Hasanuddin Ujung Pandang, mendarat di lapangan udara Pattimura Ambon, pukul 15.30 WIT.
Setelah turun dari pesawat yang hanya berpenumpang 5 orang saja, dan meng-injakkan kaki di
tanah Ambon Manise, hati saya mulai berdegup kencang. Situasi amat lengang, dan teman
yang datang menjemput membisiki, ”Sopir taksi disini hampir seluruhnya Obet (sebutan orang
Ambon untuk mereka yang beragama Kristen)”. Teman tadi ternyata sudah menyewa taksi
yang sopirnya Acang (sebutan untuk orang Islam), dikawal oleh seorang tentara. Taksi yang
kami tumpa-ngi tidak melewati jalur utama yang menghubungkan bandara dengan kota
Madya Ambon, sebab jalan-jalan sudah diblokir dan perkampungan disekitarnya seluruhnya
dikuasai Obet. Siapa saja yang lewat disitu dan ketahuan dia beragama Islam, pastilah
disembelih. Hal yang sama juga terjadi pada penumpang kapal Peri dari Ujung Pandang ke
Ambon. Banyak ummat Islam yang diceburkan ke laut, ada yang disembelih di atas kapal
terlebih dahulu, dan ada juga yang dilemparkan hidup-hidup ke dalam laut. Akhirnya, kami
mencari jalan yang aman dari blokir sehingga selamat sampai di tempat tujuan.
Pada hari kedua, saya bertemu dengan seorang tua, rambut dan janggutnya telah memutih,
penampilannya bersahaja, tapi penuh semangat, sehingga cepat akrab dengan lawan bicaranya.
Sambil ber-bicara, dia mengeluarkan naskah tulisan, ada yang sudah dipubli-kasikan secara
terbatas dan ada juga yang memang baru selesai ditulis. Naskah-naskah tersebut saya baca, dan
di dalam hati saya berkata, ”Inilah yang saya cari-cari”.

5

Dalam suatu dialog di ruang kerjanya di kantor Masjid Al-Fatah, beliau menjelaskan motiv
serta tujuan mempublikasikan tulisannya. “Saya menulis tentang apa yang saya lihat dan
rasakan, berdasar-kan fakta dan data di lapangan, tanpa prasangka”, katanya. Selan-jutnya
dikatakan: ”Apa yang terjadi di Ambon, jelas perang agama. Pihak Kristen, selalu memutar
balikkan fakta, menyebarkan dusta dan memanipulasi data. Dengan cara seperti itu, lalu
mereka menimpakan kesalahan kepada ummat Islam, selanjutnya menuduh mereka sebagai
pelaku kerusuhan, dan biangkeladi pertikaian. Semua ini wajib diluruskan, agar dunia luar
mengetahui, bahwa ummat Islam di Ambon telah menjadi korban radikalisme RMS dan
Kristen”.

Apa yang diprediksikan, sebagaimana ucapan di atas, bukannya tanpa bukti. Dalam upaya
pencarian data dan menyaksikan langsung kondisi perkampungan yang musnah dilalap api,
atau pertokoan serta gedung-gedung sarana umum yang luluh lantak, saya menemukan bukti
kebenaran dari ucapan di atas. Sebuah surat dari GPM Klasis Buru Utara, yang ditujukan
kepada Badan Pekerja Harian Sinode GPM di Ambon, tertanggal 10 September dan 11 Oktober
1999, kedua surat tersebut ditandatangani oleh Pjs. Ketua GPM Buru Utara, Pdt.I.C. Teslatu.
S.Th. Dalam kedua surat tersebut para pendeta Kristen telah dengan sadar menimpakan
seluruh kesalahan kepada ummat Islam sebagai pemicu kerusuhan di Namlea. Bukti lainnya
adalah penjelasan tentang Peristiwa Penghancuran Jemaat dan Negeri Kariu, 14 Februari 1999,
yang disebut sebagai hasil investigasi yang dilakukan oleh J. Manuputty, kemudian Himbauan
yang ditulis Tim Advokasi Gereja, 12 Maret 1999, semuanya bersifat memojokkan ummat Islam
dan dengan segala upaya memutar balikkan fakta.
Sesungguhnya ummat Islam tidak pernah memulai tindakan kega-nasan, intimidasi dan
provokasi, apalagi peperangan ataupun pembu-nuhan; sebab Islam tidak mengijinkan semua
bentuk kejahatan seperti itu dilakukan tanpa alasan yang benar dan adil.
Buku yang berada di tangan pembaca sekarang ini, berisi fakta, data dan analisa tentang
peristiwa yang menyengsarakan masyakat Maluku sejak setahun lalu. Buku ini tidak semata-
mata mengung- kapkan tentang kronologi peristiwa yang menyebabkan tragedi Idul Fitri
berdarah, tetapi juga merekonstruksikan berbagai kejadian, pola pertikaian serta akibat yang
ditimbulkannya. Lebih dari itu, buku ini mungkin baru satu-satunya publikasi tertulis yang
mengungkapkan tragedi Ambon dan Maluku, secara lengkap, transparan, jujur, obyektif dan
proporsional.

Pada mulanya, buku berjudul : KONSPIRASI POLITIK RMS DAN KRISTEN
MENGHANCURKAN UMMAT ISLAM DI AMBON- MALUKU ini, terdiri dari naskah-naskah
terserak, kemudian dikum-pulkan menjadi satu buku setelah melewati editing yang cermat,
selanjutnya mencarikan judul yang sesuai dengan isi naskah. Guna memudahkan pembaca,
buku ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berbicara tentang sejarah konflik Islam
dan Kristen di Ambon. Pada bagian kedua, khusus menyoroti tentang Konflik Berdarah Antar
Ummat Beragama di Ambon. Dan bagian terakhir atau ketiga, Konspirasi GPM, RMS dan PDI-
P eks Parkindo dan Partai Katholik Indonesia dalam Konflik Berdarah di Maluku ( Juli-
Desember 1999). Pada setiap bagian, selalu disertai pendahuluan dan dilengkapi dengan
lampiran data, sehingga semakin memperkuat informasi yang terdapat di dalam buku ini.
RUSTAM KASTOR, penulis buku ini adalah seorang purnawirawan TNI berpangkat
Brigadir Jendral. Lahir di Ambon, 9 Juli 1939. Pernah dipercaya sebagai Perwira Pembantu
(Paban) di Mabes ABRI. Dan terakhir sebelum purnawirawan dia menjabat sebagai Kepala Staf
Kodam VIII/ Trikora Jayapura.
Dalam konflik di Ambon, dia merupakan saksi sejarah dan mem- posisikan diri sebagai
warga muslim yang teraniaya, dan untuk itu dia berusaha keras menyuarakan jeritan hati serta
duka nestapa mereka. Tetapi, karena sikapnya itu pula dia malahan dituduh sebagai
provokator oleh pihak yang tidak menyukai sikapnya itu. Dalam kerusuhan ini, Rustam
sekeluarga hampir kehilangan segalanya, rumah, mobil angkutan yang menjadi sumber mata
pencahariannya, termasuk beberapa Speed Boat miliknya, semuanya habis musnah. Dia sendiri
sekarang tidak punya tempat tinggal lagi di Ambon, sedang keluarganya, seorang istri dengan
enam orang putra-putrinya mengungsi ke pulau Jawa. Dan yang tersisa pada dirinya sekarang,
adalah semangat pembelaan atas kebenaran, dan kerelaannya untuk berkorban apa saja demi
menyelesaikan konflik Ambon secara adil dan memuaskan bagi pihak-pihak yang bertikai.

6

“Saya sudah tua, tulisan ini merupakan sumbangsih saya, mudah-mudahan bermanfaat bagi
kepentingan sejarah generasi masa datang”, katanya dengan nada sendu.
Semoga penerbitan buku ini dapat memenuhi harapan penulis, sekaligus memenuhi
keingintahuan pembaca tentang situasi daerah yang kini dilanda konflik itu, langsung dari
narasumber sekaligus saksi mata dari tragedi yang memilukan ini. Apa yang ingin dicapai dari
penerbitan buku ini adalah, seperti sebuah ungkapan: ”Indonesia kini sedang terbakar oleh api
permusuhan serta konflik kepentingan. Adalah kewajiban setiap orang untuk menyiramkan air
walau sedikit, guna memadamkan api tanpa menunggu-nunggu orang lain untuk
melakukannya lebih dahulu”.
Manakala Allah berkehendak, mudah-mudahan fakta, data dan informasi yang terdapat di
dalam buku ini dapat memberi sumbangan berharga bagi penyelesaian konflik yang sekarang
sedang diupayakan oleh pemerintah. Amin Ya Mujibassailin.

Yogyakarta, 1 Februari 2000
Irfan S. Awwas

PENGANTAR CETAKAN KEDUA

UPAYA sosialisasi informasi mengenai kerusuhan di Ambon-Maluku, Alhamdulillah mendapat respons
yang cukup positif dari masyarakat. Terbukti, belum genap satu bulan edisi pertama buku ini beredar di
pasaran, persediaan telah habis tanpa sisa. Besarnya minat masyarakat untuk mengetahui peristiwa yang
sebenarnya terjadi, yang menimpa saudara sebangsa di Indonesia bagian Timur itu, mendorong kami
untuk mencetak ulang buku ini.
Pada edisi kedua ini telah diadakan revisi, tidak saja pada kesalahan yang mungkin terdapat pada
edisi pertama. Tetapi juga melengkapi isi buku dengan data-data baru, tentang kesaksian para korban
pembantaian yang masih hidup, disertai foto-foto yang menunjukkan kebengisan manusia melebihi
binatang buas.

Lebih dari itu, pada edisi kedua buku ini, kami merasa bergembira sekali dapat menyertakan Kata
Sambutan yang diberikan oleh Prof. Dr. Mohammad Mahfud, Guru Besar dan Pembantu Rektor I pada
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Untuk hal ini, kami amat berterimakasih sekali pada
beliau, yang dengan rela hati telah meluangkan waktu guna memenuhi permintaan penerbit.

SITUASI

di

Ambon,

pada

hari-hari

terakhir

ini,

agaknya

mulai

mereda. Akan tetapi, angkara murka kian menyebarkan hawa maut di daerah-daerah lain
di Maluku Tengah dan Utara. Api permusuhan hingga kini di daerah Tobelo dan Halmahera
terus membara.

“Penyelesaian sendiri”, yaitu menyerahkan penyelesaian kerusuhan pada masyarakat
Ambon dan Maluku sendiri, sebagai- mana yang diusulkan Presiden Abdurrahman Wahid,
dalam kunjungannya bersama Wapres Megawati, 12 Desember 1999 lalu, nampaknya terlalu
riskan dan berbahaya. Sebab, di antara masya-rakat Maluku tidak sedikit orang yang menerima
ucapan tersebut apa adanya. Artinya, di daerah tersebut jelas ada kelompok yang lebih dahulu
memulai peperangan, maka logika dari masing-masing pihak yang bertikai tentu, jika diminta
menyelesaikan sendiri masalahnya adalah, kelompok yang diserang harus membalas serangan
tersebut dengan setimpal atau bahkan lebih dahsyat. Jika demikian halnya, maka perang antar
agama ini akan semakin sulit dihentikan. Sebab, mustahil masing-masing pihak yang bertikai

7

disuruh menyelesaikan sendiri pertikaiannya, tanpa ada kelompok ketiga yang berupaya
mendamaikan mereka.

Kian berlarut-larutnya pertikaian di Maluku, dan semakin banyaknya korban yang
berjatuhan, sementara pemerintah Indonesia di bawah kabinet Persatuan Nasional pimpinan
Gus Dur berlepas tangan terhadap petaka kemanusiaan terbesar di awal abad 21 ini, membuat
rakyat kian frustasi.

Pada pertengahan Januari lalu, sejumlah 216 orang pria, wanita dan anak-anak warga
transmigrasi asal Pulau Jawa yang ditempatkan di UPT Togoliuwa, Kecamatan Tobelo,
seluruhnya tewas di dalam masjid akibat diserang dan kemudian masjidnya dibakar bersama
mayat yang ada di dalamnya oleh massa Kristen.
Selain itu, pada akhir minggu ketiga bulan Februari 2000, kerusuhan terjadi lagi di daerah
Masohi, Maluku Tengah, akibat sebuah masjid di daerah tersebut di bom oleh massa Kristen.
Hampir bersamaan dengan itu, serangan terhadap kaum muslimin juga terjadi di daerah
Morotai, Maluku Utara.

Berbagai pihak telah menunjukkan keprihatinannya yang mendalam terhadap nasib anak
bangsa di Ambon dan Maluku, yang kian hari kian tidak jelas kapan akan berakhir dan
bagaimana bentuk penyelesaiannya nanti. Masyarakat muslim peduli Ambon bermunculan di
mana-mana, yang berusaha meringankan beban saudaranya dengan mengirimkan bantuan
kemanusiaan, bahkan ada yang mengirim Pasukan Jihad yang siap perang.
Keprihatinan serupa juga muncul dalam acara Bedah Buku dan Diskusi, yang
diselenggarakan oleh LKBH UII Yogyakarta, 16 Februari 2000, dengan membentuk Tim
Advokasi untuk Ambon dan Maluku. Rustam Kastor, penulis buku ini, hadir sebagai
pembicara dalam acara tersebut, di dampingi oleh KH. Aly Fauzy dan Abdul Wahab Polpoke,
dua orang tokoh Islam di sana.
Dalam makalah yang disampaikan Rustam Kastor, dengan jelas terungkap, bahwa
masyarakat kedua belah pihak yang bersengketa ini sesungguhnya orang-orang yang berada
dalam suatu keluarga besar, ikatan kekeluargaan mereka cukup kuat, walau tanpa budaya Pela
yang nilai kohesivitasnya sangat lunak itu. Akan tetapi harus diakui, katanya lagi, bahwa sejak
zaman nenek moyang dahulu kala, banyak persoalan yang mengganjal, apalagi berbagai
persoalan itu telah berakumulasi dengan permasalahan di era orde baru yang lalu. Selain itu,
suasana reformasi telah ikut pula memicu dan bahkan memberikan peluang untuk saling
melemparkan fitnah serta tuduhan yang membuat anggota masyarakat kian saling membenci.
Selanjutnya dikatakan, siapapun sadar bahwa apa yang terjadi selama ini adalah adanya
upaya pihak-pihak tertentu untuk meraih kepentingan politiknya dengan mengeksploitasi
keberadaan ummat kedua belah pihak, dengan membenturkan titik-titik singgung maupun titik
gesekan secara amat tidak bermoral.
Allah Malikurrahman telah menunjukkan kepada kita semua akar kerusakan atas dosa-dosa
yang diperbuat, terutama oleh mereka yang telah menamakan diri sebagai pemimpin, tetapi
tidak punya rasa kasih dan sayang terhadap yang dipimpinnya. Kerusakan yang terjadi akibat
permusuhan ini terlalu berat untuk mampu dipikul oleh ummat kedua belah pihak yang
mayoritas dari mereka adalah rakyat kecil. Oleh karena itulah, maka semua pihak yang bertikai
harus menyadari kondisi yang tidak menguntungkan masa depan masyarakat Maluku
khususnya, dan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Kepentingan politik sekelompok
masyarakat yang telah mengakibatkan kehancuran sedemikian besar menimpa masyarakat
Ambon-Maluku harus ditinggalkan, dan kita menunjuk kan kemauan baik untuk menjadikan
masa depan Maluku yang maju sebagai kepentingan bersama. Bila kehendak baik dari kedua
belah pihak dapat diwujudkan dengan ikhlas, insya Allah, Tuhan akan menurunkan rahmat-
Nya dan membantu kita menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi dengan kasih dan
sayang-Nya.

Dalam upaya mencapai tujuan bersama tersebut, Rustam Kastor berupaya mengajukan
solusi, dan mengusulkan beberapa persya-ratan yang harus dipenuhi antara lain:
a. Menghadirkan mereka yang akan menangani penyelesaian konflik ini, yang terdiri dari
orang-orang yang netral dan tidak terlibat dalam merekayasa kerusuhan. Mereka adalah
orang-orang yang sejak awal menolak aksi kerusuhan untuk mencapai tujuan politik pihak
tertentu, sehingga bersedia membeberkan keseluruhan tabir penyebab kerusuhan. Sebab,

8

tanpa kehadiran mereka, sulit untuk dicarikan solusi penyelesaian, oleh karena berbagai
kepentingan akan menjadi ganjalan yang berat.
b. Adanya kesadaran bahwa kerusuhan yang bernuansa konflik, dengan berlatar belakang
agama adalah hasil rekayasa dan manipulasi pihak tertentu, dengan memanfaatkan kurang
pahamnya masyarakat awam atas duduk permasalahan yang sebenarnya. Oleh karena itu,
mereka harus melepaskan diri dari kelompok kepentingan, untuk kemudian tampil
membela kepentingan masyarakat Maluku demi masa depan. Mereka adalah putra bangsa,
putra Maluku yang kecintaannya kepada NKRI dan Maluku tidak diragukan lagi. Mereka
adalah para pejuang bangsa yang tetap konsisten membela kepentingan bangsa demi
kesejahteraan bersama.
c. Kesadaran itu mengharuskan mereka menunjukkan batang hidung dari oknum-oknum
yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya secara hukum. Kesadaran itu meng-
haruskan kita melakukan upaya revitalisasi dan mempercayakan hukum yang dapat
menegakkan keadilan. Hukum harus disepakati sebagai sarana yang paling ampuh untuk
menye-lesaikan konflik ini secara adil.
Kita semua telah menyadari bahwa sengketa yang terjadi ini telah menimbulkan dendam di
kedua belah pihak, dengan berbagai masalah dan akibat yang kompleks, sehingga sulit
mencarikan pemecahannya. Peluang bagi penyelesaian yang tinggal celah sempit ini, harus
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para tokoh yang dipercaya dalam upaya penyelesaian ini,
agar peluang ini tidak sirna ditiup angin emosi dan dendam.
Ketenangan yang dirasakan dalam hari-hari terakhir ini harus dilihat secara cermat dan
jujur, bahwa hal itu sama sekali tidak menunjukkan telah meredanya keinginan untuk saling
membunuh dan membakar. Akan tetapi kondisi yang nampak tenang ini, lebih disebabkan
intensifnya upaya aparat keamanan untuk mencegah terjadinya bentrokan, bukan upaya
penyelesaian akar permasala-han. Tanpa adanya upaya bersungguh-sungguh untuk
menyelesai-kan akar permasalahan yang sebenarnya, maka peluang yang tersedia akan hilang
percuma. Betapa pun pahit kenyataan yang harus diterima, tetapi harus diyakini bahwa itulah
obat mujarab yang harus diminum. Karena itu proses penyelesaian secara hukum, mengiringi
penyelesaian politik harus dilakukan secepat mungkin.
Para elit dari kedua belah pihak harus dapat menerima bahwa kehancuran dan dendam
yang begini besar adalah akibat penye- lesaian yang salah oleh aparat keamanan, bersama-sama
dengan pemerintah daerah. Mereka telah ikut membuat kondisi konflik semakin memburuk.
Itu artinya, kondisi yang seburuk sekarang ini sama sekali bukan atas kehendak kedua belah
pihak yang saling bertikai. Kekeliruan yang dilakukan oleh aparat keamanan besama-sama
dengan pemerintah daerah lah, yang mengakibatkan penderitaan rakyat terus berlanjut lebih
dari setahun ini, bahkan nampak ada kecenderungan sebagai suatu kesengajaan karena belum
adanya upaya untuk merubah pola penyelesaian yang terus gagal hingga masa lebih dari
setahun ini.

Apa yang dilakukan oleh aparat keamanan dan pemerintah daerah, ibarat memberi antalgin
pada pasien yang sedang mengidap penyakit parah. Bukan mengobati penyebab penyakit,
tetapi sekedar meredakan rasa sakit untuk sementara saja. Diagnosa yang salah terus saja
dipertahankan, karena itu tidak pernah ada terapi yang tepat. Tak habis mengerti, apa
sesungguhnya yang ada di dalam pikiran para penguasa tersebut, sampai hati membiarkan
ummat dikorbankan terus-menerus yang kini tak mampu lagi menanggung derita apalagi
menata masa depannya. Oleh karena itu, amatlah diperlukan adanya tokoh pioner dari kedua
belah pihak untuk tampil menyelesaikan kemelut ini.
Tiga persyaratan bagi para pioner seperti yang telah disebutkan di atas, apabila dapat
dipenuhi secara jujur, insya Allah akan mendapat petunjuk dari Tuhan yang Maha Kasih untuk
bisa duduk semeja mencarikan penyelesaian di mana kesepakatan pokok yang harus dicapai
adalah: “Kesedian untuk menyelesaikan pertikaian ini melalui proses hukum”.
Melalui cara ini, niscaya biang keladi dan penyebab pokok (akar permasalahan) akan
terungkap, persoalannya dapat diselesaikan secara hukum, sehingga mereka-mereka yang
bersalah mendapat-kan hukuman yang adil dan setimpal dengan kesalahan yang diperbuatnya.
Lebih dari itu, pertikaian berdarah yang, tidak mustahil akan berlangsung berkepanjangan
segera dapat di-hentikan, sehingga proses rekonsiliasi menuju perdamaian dapat diwujudkan
secara alamiah

9

Yogyakarta, 5 Maret 2000

KATA SAMBUTAN

POSISI UMMAT ISLAM DAN BERBAGAI TESIS TENTANG
KERUSUHAN
Oleh : Prof. Dr. Mohammad Mahfud

M ESKIPUN

pernah

memegang

jabatan

penting

di

Mabes

ABRI (kini TNI) dan Kodam VIII/Trikora Jayapura nama Brigjen (Purn) Rustam Kastor
tidak begitu dikenal, bahkan nama tersebut terasa agak asing di telinga rakyat Indonesia. Nama
Kastor justru mulai dikenal ketika Gus Dur, kini Presiden RI, menyebut Jenderal K sebagai
orang yang memanas-manasi alias provokator kerusuhan antar Kristen dan Islam di Ambon
yang mula pertama meletus pada hari raya Idul Fithri, tanggal 19 Januari 1999. seperti
diketahui konflik antar pemeluk kedua agama tersebut meletus ketika masjid Al Fatah yang
sedang dipenuhi oleh jama’ah kaum muslimin untuk melaksanakan shalat Ied diserang secara
tiba-tiba oleh sekelompok besar orang yang kemudian dipercaya sebagai kelompok kaum
nasrani (Kristen). Ketika kerusuhan terus berlanjut istilah provokator menjadi sangat sering
didengar oleh masyarakat karena kalangan petinggi-petinggi negara, terutama TNI, selalu
menyebut bahwa berbagai kerusuhan di Indonesia terjadi karena ulah provokator. Anehnya
makhluk yang disebut provokator itu, kecuali yang kelas teri, tidak pernah berhasil ditangkap
oleh TNI yang memiliki institusi intelijen dan monopoli (secara hukum) untuk menggunakan
senjata.

Dilambungkan oleh Gus Dur

Alkisah Ketua PB-NU Gus Dur yang merupakan tokoh yang banyak diminta keterangan
oleh pers karena pengaruh dan kekayaannya akan informasi menengarai juga adanya beberapa
orang yang disebutnya sebagai provokator. Mula-mula Gus Dur menyebut bahwa konflik
horizontal di Ambon adalah tetangganya yang “brewokan” di Ciganjur sehingga nama tokoh
Pemuda Pancasila Yoris Raweyai menjadi sorotan pers, namun ketika Yoris membantah habis-
haisan Gus Dur tidak juga memberikan penjelasan yang jelas tentang tetangganya itu sehingga
masalahnya hilang begitu saja. Tak lama setelah menyurutnya sorotan terhadap Yoris, kembali
Gus Dur melempar teka-teki ketika menyebut bahwa provokator kasus Ambon ada di Mabes
TNI yakni Jenderal K. Lemparan inisial nama ini kembali memancing heboh. Masyarakat dan
pihak TNI meminta Gus Dur untuk menunjuk hidung saja. Sementara dari kalangan TNI
disebut-sebut tidak ada nama Jenderal K kecuali yang telah pensiun dari Angkatan Darat yaitu
Brigjen Rustam Kastor dan seorang lagi dari angkatan lain. Karuan saja nama Kastor
melambung dan menjadi begitu populer karena Jenderal K yang dituding oleh Gus Dur
diasosiasikan kepada Brigjen purnawirawan ini. Pers menyorot dan turut menuding Rustam
Kastor yang putra Maluku dan beragama Islam sebagai provokator sehingga yang
bersangkutan merasa terpojok. Menurut pengakuannya kepada pers sejak Gus Dur menyebut
nama Jenderal K dan pers mengasosiasikan initial itu pada dirinya, Rustam Kastor banyak
mendapat telepon gelap dan teror sehingga diri dan keluarganya menjadi sangat terganggu
karena ancaman-ancaman. Sampai kini Kastor yang mempunyai rumah di Ambon mengungsi
dari Ambon, meniggalkan rumah dan tanah kelahirannya.

Jenderal Kunyuk

Tak tahan atas sorotan dan tudingan sebagai provokator itu Rustam Kastor mendatangi Gus
Dur di Ciganjur untuk minta klarifikasi dan bukti-bukti. Maklum sebagai prajurit yang pernah
menyatakan kesetiannya melalui Sapta Marga kepada negara Republik Indonesia Kastor
merasa sangat terpukul dituduh sebagai provokator, apalagi kemudian diri dan keluarganya
menjadi sasaran teror dan ancaman. Namun pada saat itu Gus Dur tidak dapat mengemukakan
bukti kecuali mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menyebut nama Kastor, artinya Jenderal

10

K itu bukan Jenderal Kastor. Dengan agak emosional Kastor kemudian berkata kepada Gus Dur
“Kalau begitu Jenderal K itu adalah Jenderal kira-kira, ya?” yang kemudian dijawab oleh Gus Dur
dengan entengnya bahwa Jenderal K adalah Jenderal Kunyuk. Sejak Jenderal Kastor
menunjukkan keberaniannya itu sorotan kepada dirinya mereda dan pers berhenti
memburunya sebagai orang yang diduga menjadi provokator dari kerusuhan yang kini, tak
dapat dibantah, merupakan konflik antara pemeluk agama (Kristen dan Islam).

Konspirasi RMS dan Kristen ?

Meskipun begitu kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Rustam Kastor adalah orang yang
tidak punya perhatian terhadap konflik yang terjadi di tanah kelahirannya itu. Rustam Kastor
memang bukan provokator seperti yang pernah dituduhkan sementara orang pada dirinya itu,
tetapi Jenderal Purnawirawan yang sudah berangkat tua ini tetap turut berjuang untuk
menyelesaikan kasus Maluku dengan berusaha mendudukkan persoalan Maluku pada
proporsi yang sebenarnya tanpa disertai upaya penyembunyian fakta-fakta. Dia memang
memosisikan diri sebagai bagian dari ummat Islam, tetapi dengan tepat mendasarkan diri pada
fakta dan data dalam bersikap. Buktinya adalah buku yang ada di hadapan pembaca ini.
Rustam Kastor melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi kasus
yang merembet dari Ambon sampai ke Maluku Utara tidak tepat karena pemerintah hanya
memberi terapi pada gejala-gejalanya dan bukan pada akar permasalahannya. Ibarat mengobati
orang sakit maka penghilangan rasa sakit sebagai gejala hanya berguna untuk sementara guna
mengurangi penderitaan si sakit, tetapi bersamaan dengan itu terapi pada akar masalah alias
sumber penyakit mutlak harus dilakukan. Bagi Kastor upaya membuat garis demarkasi antara
penduduk yang beragama Kristen dan beragama Islam hanyalah terapi atas gejala yang tidak
akan dapat menyelesaikan masalah begitu juga berbagai bentuk formalitas upacara untuk
berdamai. Bahkan pernyataan Presiden dan Wakil Presiden meminta rakyat Maluku untuk
menyelesaikan masalahnya sendiri dianggapnya sangat tidak tepat dan tidak mau melihat
sumber masalahnya secara jernih. Kasus Maluku ini memerlukan campur tangan pemerintah
secara serius, karena tidak mungkin selesai dengan baik jika masalahnya dikembalikan kepada
rakyat Maluku sendiri kecuali menunggu habisnya salah satu pihak yang bertikai.

Apa akar masalah yang dimaksud oleh Kastor ?

Seperti yang terlihat dari judul buku ini akar masalah dari persoalan di Maluku adalah
“konspirasi politik” antara gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) dan Kristen
untuk menghancurkan ummat Islam di Maluku. Konflik di Ambon akan sangat sulit
diselesaikan tanpa ada upaya membuka mata bahwa di sana sedang terjadi konspirasi antara
pihak Kristen dan RMS untuk menghancurkan Islam yang pada gilirannya akan memudahkan
bagi gerakan separatis RMS untuk melepaskan diri dari Indonesia, membangun negara
merdeka. Upaya RMS untuk membangun negara Maluku yang merdeka seperti yang diper-
juangkan sejak puluhan tahun yang lalu akan sangat sulit dicapai tanpa terlebih dahulu
memusnahkan ummat Islam di sana, sebab dalam kenyataannya ummat Islam lebih memilih
dan memberi dukungan kepada negara Republik Indonesia. Demikian yang dapat disimpulkan
dari buku karya Kastor ini.
Ketika menemui saya pada pertengahan Februari 2000 yang lalu Kastor yang disertai dua
orang tokoh Islam dari Ambon Kastor mengemukakan dengan nada hampir menangis bahwa
yang diperlukan adalah tindakan pemerintah agar Maluku diselamatkan dari rongrongan
separatis RMS. Di Ambon, kata mereka sekolah-sekolah Islam sudah tidak beroperasi lagi
karena selalu diteror, sementara SMUN 1 dan SMUN 2 yang merupakan sekolah negeri hanya
berisi murid-murid yang beragama nasrani. Murid-murid yang beragama Islam telah keluar
dari sana, bahkan secara umum kaum muslimin di Ambon telah mulai terdesak ke daerah
pantai, sementara kaum muslimin yang pendatang seperti dari Bugis dan daerah lain telah
pulang ke daerah asal masing-masing untuk menyelamatkan diri. Saat ini kaum muslimin
menjadi sangat sedikit jumlahnya sehingga agak kedodoran untuk mempertahankan diri.
Kastor dan kedua tokoh Islam itu menemui saya karena mereka mendengar bahwa saya adalah
Staf Ahli Menteri Negara Urusan Hak Azasi Manusia sehingga mereka berharap agar saya
dapat menyampaikan maasalah ini secara jelas kepada pemerintah melalui Menteri Negara
Urusan HAM.

11

Di dalam buku ini Kastor melampirkan beberapa data yang setelah dianalisis memang
membawa pada kesimpulan bahwa akar masalah di Maluku sekarang ini adalah “konspirasi
RMS dan Kristen” untuk menghancurkan ummat Islam yang jika itu berhasil akan lebih
memudahkan berdirinya negara Maluku merdeka, minimal berdirinya Republik Maluku
Selatan seperti yang mereka perjuangkan sejak tahun 1950. Jadi upaya penghancuran Islam
dalalm konspirasi tersebut bukan semata-mata karena Islamnya melainkan karena Islam
merupakan penghalang bagi upaya RMS untuk memisahkan diri dari negara republik
Indonesia. Lihatlah misalnya surat-surat dari Presidium Sementara Republik Maluku Selatan
Ambon (Lampiran Bagian III buku ini) yang telah dirilis sejak Nopember 1998 yang memberi
kesan kuat sebagai upaya pengondisian dan persiapan peristiwa 19 Januari 1999 di mana
ummat Islam yang sedang melakukan salat Ied di masjid Al Fatah diserang secara tiba-tiba oleh
massa Kristen dalam jumlah yang besar. Keseluruhan kronologi peristiwa “konflik SARA” dan
surat-surat dari Presedium Sementara RMS yang menginginkan kemerdekaan, terlepas dari
negara Republik Indonesia dapat dikonfirmasikan dari Surat Pengembalaan yang dikeluarkan
oleh Molucon People’s Mission tanggal 15 Nopember 1998 (Lampiran 1 Bagian III). Di dalam
surat yang ditujukan kepada Pemerintah RI (terutama Presiden Habibie dan Pangab Wiranto)
ini sangat jelas bahwa mereka menuntut agar gerakan kemerdekaan Maluku dapat diberikan
melalui Konstitusi Republik Maluku Selatan tanpa penindasan. Mereka meminta pula agar
tindakan-tindakan memfrustasikan perjuangan kemerdekaan Maluku di dalam maupun di luar
negeri dihentikan dengan pemakluman bahwa proklamasi Maluku Selatan itu “tidak pernah
pun tidak akan merugikan hak hidup bangsa mana pun juga…”

Penyelesaian secara Hukum

Rustam Kastor yang sudah berangkat tua namun masih bersemangat itu melihat
menguatnya gerakan separatis RMS inilah akar masalah dari konflik berkepanjangan di
Maluku. Dan dia berusaha meyakinkan semua pihak, melalui pemaparan fakta, data, dan
analisisnya, bahwa menguatnya gerakan RMS sebagai akar masalah telah muncul sebagai
konspirasi antara RMS dan Kristen seperti yang kemudian digambarkan secara berani oleh
judul buku ini. Oleh sebab itu bagi Kastor tidak ada jalan lain kecuali dilakukan upaya
pengungkapan secara jelas dan transparan melalui proses hukum. Dengan dilakukannya
pengungkapan melalui proses hukum yang fair Kastor meyakini bahwa kedok mereka yang
terlibat dalam konspirasi itu akan terbuka. Dan ketika kedok itu terbuka akan terlihat bahwa
pelaku-pelaku konspirasi itu adalah tokoh-tokoh RMS dan para pemimpin Kristen. Tetapi
anehnya, menurut Kastor, upaya penyelesaian secara hukum tidak pernah dilakukan secara
sungguh-sungguh dan pihak TNI pun tidak pernah melaku-kan operasi intelijen untuk
mengungkap kasus penginjakan atas harkat Kemanusiaan ini “Ada apa ini? Adakah peran
Gubernur dan Pangdam dalam kasus ini? Mengapa pengumuman Presiden Gus Dur untuk
mengganti Pangdam dan Gubernur tidak ditindak lanjuti. Itulah sejumlah pertanyaan yang
disampaikan oleh Kastor kepada saya pada pertengahan Februari 2000 yang lalu.

Tesis Lain

Tentu saja analisis dan kesimpulan Kastor tentang kasus Maluku ini bukanlah satu-satunya
tesis yang berkembang di dalam diskusi publik tentang kerusuhan. Jika dikaitkan dengan
berbagai kerusuhan dan kekerasan yang terjadi dibagian-bagian lain dari negara kita masih ada
beberapa tesis yang selama ini sudah dilemparkan ke tengah-tengah publik. Dari sudut
hubungan antara hukum dan kekuasaan misalnya, konflik horizontal terjadi di Indonesia
karena runtuhnya penguasa otoriter orde baru yang selama ini menjadi pengawal bagi
penegakkan hukum secara represif. Setelah penguasa otoriter itu runtuh maka hukum itu tidak
lagi mempunyai pengawal sehingga muncullah gerakan-gerakan dari bawah yang tidah
terkendali dan cenderung anarkis. Pemerintah yang tidak legitimated tidak mampu menguasai
situasi karena mereka pun menjadi sasaran kemarahan massa berhubung dengan perannya
yang korup di masa lalu. Terjadilah berbagai tindakan main hakim sendiri di tengah-tengah
masyarakat yang dalam tingkatannya yang tinggi memunculkan konflik horizontal dan
berbagai kekerasan politik. Di sini berlaku adagium tentang hubungan antara hukum dan
kekuasaan yang berbunyi “Hukum tanpa kekuasaan itu lumpuh, kekuasaan tanpa hukum itu dzalim”.
Di era Orde Baru kekuasaan diselenggarakan secara dzalim karena tidak berdasar hukum,

12

namun setelah Orde Baru runtuh hukum menjadi lumpuh karena tidak terkawal oleh
pemerintah yang legitimated. Pemerintahan Gus Dur yang legitimated secara hukum masih
membutuhkan penyesuaian untuk membangun hubungan yang benar antara hukum dan
kekuasaan.

Tesis lain menyebutkan bahwa timbulnya berbagai macam kekerasan politik dan kerusuhan
itu merupakan sesuatu yang sulit dihindari karena terjadinya situasi anomi. Di dalam situasi
anomi yang terjadi adalah ditolaknya nilai-nilai lama secara habis-habisan namun nilai-nilai
baru yang disepakati secara nasional belum muncul secara kokoh. Nilai-nilai yang dibangun
oleh Orde Baru ditolak secara kuat namun nilai-nilai baru yang diinginkan sebagai pengganti
belum juga mengkristal. Upaya mengkristalkan nilai-nilai baru di atas runtuhnya nilai-nilai
lama inilah yang menimbulkan kegoncangan-kegoncangan yang pada tingkatannya yang tinggi
muncul berbagai kekerasan politik dan kerusuhan-kerusuhan.
Masih ada tesis lain lagi yang juga banyak dipercaya oleh para pengamat yakni tentang
konflik elit politik. Dikatakan bahwa berbagai kerusuhan dan kekerasan politik muncul karena
elit politik, terutama antara penguasa baru dan penguasa lama yang ingin bertahan atau takut
akan akibat-akibat dari reformasi. Dalam kaitan tesis ini banyak dipercaya bahwa kekuatan
Orde Baru baik yang sudah ke luar dari kekuasaan maupun yang masih bercokol di birokrasi
pemerintahan sangat ketakutan akan akibat-akibat reformasi dan penegakkan hukum. Mereka
sangat takut jika misalnya kasus-kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) benar-benar
dibawa ke pengadilan sebab mereka pun akan terseret ke pengadilan. Maka mereka, kekuatan
lama, ini senantiasa berupaya untuk menghalang-halangi upaya pengusutan terhadap kasus
KKN yang salah satu bentuknya adalah membuat berbagai kerusuhan dengan provokasinya.
Teori ini sering dikaitkan dengan teori “state terrorism” atau “military terrorism” yang
menjelaskan bahwa berbagai kerusuhan itu berkaitan dengan upaya militer untuk
mempertahankan domain sosial politiknya yang sejak era reformasi digugat secara kuat. Untuk
tetap berperan secara dominan di dalam fungsi sosial-politik serta untuk memblokir upaya-
upaya pengungkapan atas kekerasan politik yang melibatkan militer di masa lalu, maka pihak
militer bekerjasama dengan kekuatan status quo radikal menciptakan berbagai kerusuhan. Ini
dimaksudkan agar perhatian pemerintah dan masyarakat berbelok, bahkan agar masyarakat
merasa sangat perlu kepada militer dan membiarkan militer tetap memainkan fungsi sosial-
politiknya. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai operasi dan provokasi bagi muncul-nya
berbagai kerusuhan dalam apa yang disebut sebagai state and military terrorism tersebut.
Itulah berbagai teori yang muncul di dalam wacana publik untuk menjelaskan berbagai
kerusuhan, konflik horizontal, dan kekerasan-kekerasan politik yang kini sedang menjadi
masalah serius bagi masa depan bangsa dan negara kita. Jadi banyak teori yang menge-depan
dan teori Kastor tentang “konspirasi RMS-Kristen” meru-pakan salah satu teori yang secara
spesifik menjelaskan kasus kerusuhan di Maluku.

Ummat Islam jangan dikorbankan

Yang manakah dari berbagai tesis itu yang paling benar untuk menjelaskan berbagai kerusuhan dan
kekerasan politik yang sangat mencemaskan kita sebagai bangsa?

Sudah pasti tidak hanya ada satu tesis yang dapat secara mutlak memberikan penjelasan.
Semua tesis tampaknya memberi penje-lasan yang mengandung kebenaran spesifik untuk skala
nasional. Tesis Kastor barangkali cukup dominan (meskipun tidak mutlak) dalam menjelaskan
kerusuhan di Maluku, namun tesis ini tidak dapat memberi penjelasan yang memuaskan
tentang kerusuhan dan kekerasan politik di bagian lain Indonesia. Dan ini dapat dimaklumi
karena Kastor memang hanya menjelaskan apa yang terjadi di Maluku.
Tetapi apa pun dan seberapa pun tingkat kebenaran setiap tesis yang dimunculkan sebagai
penjelasan ada satu kesan yang sulit dibantah, bahwa treatment pemerintah dalam
menyelesaikan berbagai konflik horizontal cenderung menjadikan ummat Islam sebagai
korban. Dengan alasan bahwa yang mayoritas harus mengayomi yang minoritas, maka ummat
Islam sering diperlakukan tidak adil. Jika kaum muslimin diganggu maka tidak terlihat
tindakan yang tegas bahkan kadang-kala dicari-cari kambing hitam yang tidak jarang orang
Islam sendiri yang dimunculkan sebagai biang keladi; tetapi jika golongan agama minoritas
yang diganggu maka tindakan tegas dan keras segera didemonstrasikan. Banding-kanlah sikap
pemerintah dalam menyikapi kasus Maluku, Tanjung Priok, Doulos, Mataram, peledakan

13

masjid Istiqlal dan sebagainya. Di sana tampak bahwa yang mayoritas harus bersedia
menerima perlakuan tidak adil, sedangkan yang minoritas dapat bermanja-manja. Ini
merupakan ironi bagi sebuah negara yang memilih “Negara Hukum” sebagai salah satu
pedomannya yang fundamental.
Ummat Islam tentu tidak boleh mengandalkan kebesaran jumlah pengikutnya untuk
berlaku sewenang-wenang, meminta keistimewaan perlakuan, dan menindas golongan
minoritas dengan cara anarkis, tetapi tidak boleh juga di dalam negara hukum terjadi
perlakuan tidak adil hanya karena dorongan agar yang besar selalu mengalah. Ini kesalahan
mendasar dalam penerapan prinsip negara hukum sebab di dalam negara hukum harus selalu
ditegakkan perlakuan yang sama kepada setiap warga negara dan golongan-golongan
masyarakat tanpa pertimbangan “mayoritas” dan “mino-ritas”. Upaya menghindari
“kesewenang-wenangan dan anarkis mayoritas.” Inilah salah satu tuntutan mendasar dalam
negara hukum dan negara yang menghormati hak-hak azasi manusia.
Semoga negara kita segera menemukan tracknya yang benar dalam membangun supremasi
hukum dan menegakkan peng-hormatan bagi hak-hak azasi manusia

PENGANTAR PENULIS

T RAGEDI

Ambon

berdarah

1

Syawal

1419

H

merupakan

pukulan berat bagi Kaum Muslim. Pukulan yang amat menyakitkan ini bukan saja
dirasakan secara fisik, tetapi juga amat berat secara moril karena disertai penghinaan terhadap
junjungan Rasulullah SAW dan agama Islam oleh kaum Nasrani di Ambon.
Ummat Islam tanpa salah sedikitpun dibunuh, rumah serta semua miliknya dibakar habis,
sehingga dikhawatirkan meng-hancurkan masa depan. Kekejaman seperti itu terasa lebih
menya-kitkan lagi setelah pemutar balikan fakta, seakan-akan ummat Islamlah yang sengaja
merencanakan kerusuhan ini guna menghan-curkan ummat Kristen. Dusta yang mereka
sebarkan sedemikian dahsyatnya, sehingga sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan oleh umat
beragama.

Buku ini menjelaskan hal yang terjadi secara objektif, tanpa bermaksud mencari kebenaran
yang tidak jujur, apalagi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Ummat Islam tidak perlu
mere-kayasa peritiwa ini karena mereka yakin akan kebenaran dirinya. Kebenaran ini akan
dibela sejujur-jujurnya, diungkap dalam naskah ini karena bertujuan sebagai upaya
meluruskan pemutar balikan fakta serta bahan untuk penyusunan sejarah oleh mereka yang
lebih ahli yang akan bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Semoga buku ini dapat mengajarkan kita, bagaimana ummat suatu agama bisa sedemikian
brutal dan kejam , untuk dijadikan peringatan dan selalu waspada agar peritiwa yang amat
menya-kitkan ini tidak berulang lagi. Kerukunan hidup antar ummat beragama di Ambon dan
Maluku pada umumnya bisa terbina apabila ummat Islam tidak terlena, tidak lemah dan terus
meme-lihara kewaspadaan.
Perlu pula kita sadari bahwa peristiwa ini adalah hasil suatu konspirasi kekuatan besar
yang jauh dari tingkat kemampuan ummat Islam di Maluku dan kota Ambon dan sekitarnya.
Konspirasi ini sesungguhnya merupakan ancaman terhadap Ummat Islam secara menyeluruh
apalagi dikaitkan dengan trend perkembangan politik akhir-akhir ini. Karena itu permasalahan
Ambon ini meru-pakan tanggung jawab ummat Islam seluruh Indonesia dimana sangat
diharapkan keterlibatan semua parpol Islam, Ormas Islam dan LSM Islam bahkan para tokoh

14

Islam. Naskah ini dapat dijadikan salah satu acuan dalam rangka penanganan kasus ini, aspek
yang lebih strategis tentu lebih dipahami para tokoh di tingkat Nasional.
Atas kerja sama dengan beberapa tokoh di Ambon, naskah ini dapat diselesaikan. Semoga
Allah SWT memberi petunjuk sehingga harapan menyusun naskah ini dengan sejujurnya dapat
mencapai tujuan.Dan tak lupa pula saya menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada
penerbit Wihdah Press yang dengan sukarela mau menerbitkan naskah-naskah yang tercecer
ini menjadi sebuah buku. Alhamdulillah.

Ambon, 31 Desember 1999

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................v
PENGANTAR CETAKAN KEDUA...............................................xvii
SAMBUTAN PROF. DR. MOH. MAHFUD MD........................xxiii
PENGANTAR PENULIS...............................................................xxxiii
Bagian Pertama: IDUL FITRI BERDARAH DI AMBON 19 JANUARI 1999 M/1 SYAWWAL
1419 H
.................................................................................................1
Pendahuluan.....................................................................................3
1. Sejarah Konflik Islam-Kristen di Maluku...............................9
2. Kondisi dan Realitas Budaya yang Kurang
Menguntungkan........................................................................15
3. Peristiwa Wailete dan Bak Air sebagai sebagai pemicu
Tragedi Idul Fitri berdarah ....................................................25
4. Rencana, Taktik dan Strategi Penyerangan..........................29
5. Pola Pelaksanaan Penghancuran Ummat Islam di Ambon39
6. Penanggulangan Kerusuhan oleh TNI..................................45
7. Pelanggaran Terhadap Konsesus Nasional .......................51
8. Kerugian dan Nestapa Ummat Islam....................................57
9. Rehabilitasi................................................................................61
Kesimpulan dan Penutup.............................................................63
Lampiran-Lampiran......................................................................65

Bagian Keduan: KONFLIK ANTAR UMMAT BERAGAMA DI AMBON DAN
MALUKU........................................................................................
97
Pendahuluan...................................................................................99
1. Latar Belakang Konflik............................................................101
2. Akar Permasalahan Tragedi Berdarah..................................105
3. Proses Terjadinya Kerusuhan dan Perkembangannya.......113
4. Cara Pandang Pimpinan TNI Tentang Kepemimpinan Putra Daerah 125
5. Kerusuhan Kedua.................................................................129
6. Posisi RMS, PDI-P dan Gereja Protestan Maluku............137
7. Dasar Hukum Melakukan Pembelaan Agama Bagi Ummat
Islam........................................................................................143
8. Sikap Damai Ummat Islam..................................................149
9. Penanganan Kerusuhan oleh Aparat Keamanan dan
Pemerintah Daerah...............................................................151
10. Penyelesaian Mudah Yang sengaja dipersulit..................159
11. Bukti-bukti Pihak Kristen sebagai Perencana dan

15

Pelaku Kerusuhan.................................................................165
12. Kondisi Keamanan pada Akhir Desember 1999...............173
13. Perkembangan ke depan .....................................................181
Kesimpulan...................................................................................184
Lampiran-Lampiran....................................................................185

Bagian Ketiga: KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI
MALUKU JULI-DESEMBER 1999
............................................231
Pendahuluan.................................................................................233
1. Kekeliruan Melihat Akar Permasalahan dan
Akibatnya yang Fatal bagi Ummat Islam...........................235
2. Kondisi dan Konflik Elit Mengorbankan Ummat .............245
3. Peningkatan Kondisi yang Terus Memburuk....................251
4. Keterkaitan GPM, RMS dan PDI-Perjuangan ....................255
5. Semakin Tampak Peran RMS ..............................................259
6. Jangan Mau Ditipu Nasrani Lagi.........................................271
7. Penyelesaian Sendiri..............................................................275
8. Masih Adakah Damai............................................................283
9. Situasi Terakhir Pada Bulan Desember 1999......................291
10. Membangun Diri Sendiri.......................................................295
Kesimpulan dan Penutup...........................................................303
Lampiran-lampiran......................................................................305

IDUL FITRI BERDARAH DI AMBON 19
JANUARI ‘99 M/1 SYAWWAL 1419 H

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->