Kembali

SNI 03-6572-2001

Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.

1.

Ruang lingkup.

1.1. Standar “ Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung” ini dimaksudkan sebagai pedoman minimal bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pembangunan dan pengelolaan gedung, dan bertujuan untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan bagi tamu dan penghuni yang berada maupun yang menempati gedung tersebut. 1.2 Standar ini diberlakukan terhadap kinerja peralatan (equipment) dan komponen sesuai kriteria penggunaan energi yang efektip untuk instalasi baru dan penggantian peralatan dan komponen sistem ventilasi dan pengkondisian udara. Tidak termasuk dalam standar ini peralatan refrigerasi yang tidak dipakai untuk ventilasi atau pengkondisian udara dalam gedung.

2.

Acuan.

ASHRAE Handbook : Fundamentals, 1997, ASHRAE,Inc.

3.

Istilah dan Definisi

Untuk tujuan standar ini, pengertian sebagai berikut dipakai : 3.1 daya. dalam hubungannya dengan mesin, daya adalah kecepatan kerja yang dilakukan. Dalam hubungannya dengan transmisi semua jenis energi, daya menjelaskan kecepatan energi yang dipindahkan. Dalam unit SI dinyatakan dalam Joule per detik (J/detik) atau dalam Watt (W); unit umum dinyatakan dalam Watt (W). 3.2 efisiensi sistem pengkondisian udara. perbandingan antara keluaran energi yang terpakai terhadap masukan energi dalam jangka waktu yang direncanakan, dinyatakan dalam persen (%). 3.3 energi kapasitas untuk melakukan kerja; mengambil suatu bentuk energi yang selanjutnya ditransformasikan kebentuk yang lain, seperti termal, mekanis (kerja), listrik dan kimia; dalam unit SI dinyatakan dalam Joule (J), dimana 1 Joule = 1 watt-detik; unit umum dinyatakan dalam kilo-watt-jam (kWj = kWh = kilo Watt hour).

1 dari 55

SNI 03-6572-2001

3.4 kenyamanan. Hasil dari proses mengolah udara secara serempak dengan mengendalikan; temperatur, kelembaban nisbi, kebersihan dan distribusinya untuk memperoleh kenyamanan penghuni dalam ruang yang dikondisikan. 3.5 paket peralatan pengkondisian udara. kombinasi dari komponen pendingin yang dipilih oleh pabrik dalam bentuk terakit, yang dimaksudkan untuk melayani suatu ruangan atau zona. Definisi teknis yang lebih lengkap lihat ARI standard 310.70. 3.6 peralatan paket air sejuk jenis sentrifugal atau rotari. direncanakan oleh pabrik dan dirakit awal di pabrik (tidak harus dikirim dalam satu paket) satu atau lebih kompresor sentrifugal atau rotari, kondenser dan evaporator, dengan sambungan-sambungannya dan asesori, dipakai untuk menghasilkan air sejuk. 3.7 peralatan pendingin unitari (Unitary Cooling Equipment). satu atau lebih yang dirakit di pabrik yang umumnya meliputi kombinasi evaporator atau koil pendingin, kompresor dan kondenser. Dimana peralatan disediakan lebih dari satu rakitan, rakitan yang terpisah harus direncanakan untuk dipakai bersama. 3.8 psychrometric pengetahuan termodinamika yang membahas sifat-sifat udara dan pengaruhnya terhadap bahan-bahan dan kenyamanan manusia. 3.9 sistem. kombinasi peralatan dan/atau pengendali (control), asesori, sarana hubung antara, dan terminal dimana energi yang ditranformasikan menunjukkan fungsi spesifik, seperti VAC, pemanas air atau pencahayaan. 3.10 terminal. sarana akhir dimana energi yang ditransformasikan dari suatu sistem dialirkan. 3.11 vac. singkatan dari Ventilating and Air Conditioning = Ventilasi dan pengkondisian udara.

4.
4.1. 4.1.1.

Ventilasi.
Tujuan. Ventilasi bertujuan :

2 dari 55

SNI 03-6572-2001

a).

menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh keringat dan sebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang ditimbulkan oleh pernafasan dan proses-proses pembakaran. menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan sebagainya. menghilangkan kalor yang berlebihan. membantu mendapatkan kenyamanan termal.

b). c). d).

4.1.2. Ventilasi merupakan proses untuk mencatu udara segar ke dalam bangunan gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. 4.2 Ventilasi Ruangan.

Suatu ruangan yang layak ditempati, misalkan kantor, pertokoan, pabrik, ruang kerja, kamar mandi, binatu dan ruangan lainnya untuk tujuan tertentu, harus dilengkapi dengan : a). b). 4.3. ventilasi alami yang memenuhi butir 4.3 ; atau ventilasi mekanis atau sistem pengkondisian udara yang memenuhi butir 4.4 dan bab 5. Ventilasi Alami.

4.3.1. Ventilasi alami terjadi karena adanya perbedaan tekanan di luar suatu bangunan gedung yang disebabkan oleh angin dan karena adanya perbedaan temperatur, sehingga terdapat gas-gas panas yang naik di dalam saluran ventilasi. 4.3.2 Ventilasi alami yang disediakan harus terdiri dari bukaan permanen, jendela, pintu atau sarana lain yang dapat dibuka, dengan : a). b). jumlah bukaan ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai ruangan yang membutuhkan ventilasi; dan arah yang menghadap ke : 1). 2). 3). 4.3.3 halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai, atau daerah yang terbuka keatas. teras terbuka, pelataran parkir, atau sejenis; atau ruang yang bersebelahan seperti termaksud di butir 4.3.3. Ventilasi yang Diambil dari Ruang yang Bersebelahan.

Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela, bukaan, ventilasi di pintu atau sarana lain dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup), jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau teras tertutup milik umum, dan a). dalam bangunan klas 2, dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 atau sebagian bangunan klas 4, pada :

3 dari 55

SNI 03-6572-2001

1). 2). 3).

ruang yang diventilasi bukan kompartemen sanitasi. jendela, bukaan, pintu dan sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai dari ruangan yang diventilasi. ruangan yang bersebelahan memiliki jendela, bukaan, pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap kombinasi luas lantai dari kedua ruangan; dan

b).

dalam bangunan klas 5, 6, 7, 8 dan 9 : 1). jendela, bukaan, pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% terhadap luas lantai dari ruang yang akan diventilasi, diukur tidak lebih dari 3,6 meter diatas lantai; dan ruang yang bersebelahan mempunyai jendela, bukaan, pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% terhadap kombinasi luas lantai kedua ruangan, dan

2).

c). 4.3.4.

luas ventilasi yang dipersyaratkan dalam butir a) dan b) boleh dikurangi apabila tersedia ventilasi alami dari sumber lainnya. Penghalang Posisi Kloset dan Peturasan.

Jika suatu ruangan terdapat kloset atau peturasan, tidak boleh terbuka langsung ke arah : a). b). c). d). e). 4.3.5. a). b). dapur atau pantri. ruang makan umum atau restoran; atau asrama dalam bangunan klas 3, atau ruang pertemuan. ruang kerja lebih dari satu orang. Ruang Antara. Jika suatu ruangan terdapat kloset atau peturasan, yang dilarang menurut butir 4.3.4. tersebut diatas, terbuka langsung terhadap ruang lain; Dalam hunian tunggal pada bangunan klas 2, 3 atau sebagian klas 4, 1). 2). jalan masuk harus melalui ruang antara, koridor atau ruang lainnya; atau ruang yang tidak berhubungan dengan udara luar, terdapat kloset atau peturasan harus dilengkapi dengan ventilasi pembuangan mekanis ; dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. Gedung Parkir.

4.3.6

Setiap lantai gedung parkir, kecuali pelataran parkir terbuka, harus mempunyai sistem ventilasi :

4 dari 55

SNI 03-6572-2001

a). b). 4.3.7

mengikuti ketentuan yang berlaku. alami permanen yang memadai. Dapur dengan Ventilasi Pembuangan Setempat.

Pada dapur komersial harus dilengkapi dengan tudung (hood) pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku, jika : a). setiap peralatan masak yang mempunyai : 1). 2). b). total daya masukan listrik maksimum tidak lebih dari 8 kW; atau total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam ( 7000 kKal/jam); atau

total daya masukan ke lebih dari satu alat masak, lebih dari : 1). 2). 0,5 kW daya listrik; atau 1,8 MJ (450 kKal) gas.

setiap m2 luas lantai ruangan atau tertutup. 4.3.8. 4.3.8.1 a). b). Perancangan Sistem Ventilasi Alami. Perancangan sistem ventilasi alami dilakukan sebagai berikut :

Tentukan kebutuhan ventilasi udara yang diperlukan sesuai fungsi ruangan. Tentukan ventilasi gaya angin atau ventilasi gaya termal yang akan digunakan. Ventilasi Gaya Angin.

4.3.8.2

4.3.8.2.1. Faktor yang mempengaruhi laju ventilasi yang disebabkan gaya angin termasuk : a). b). c). d). Kecepatan rata-rata. Arah angin yang kuat. Variasi kecepatan dan arah angin musiman dan harian. hambatan setempat, seperti bangunan yang berdekatan, bukit, pohon dan semak belukar.

Liddamnet (1988) meninjau relevansi tekanan angin sebagai mekanisme penggerak. Model simulasi lintasan aliran jamak dikembangkan dan menggunakan ilustrasi pengaruh angin pada laju pertukaran udara. Kecepatan angin biasanya terendah pada musim panas dari pada musim dingin. Pada beberapa tempat relatif kecepatannya di bawah setengah rata-rata untuk lebih dari beberapa jam per bulan. Karena itu, sistem ventilasi alami sering dirancang untuk kecepatan angin setengah rata-rata dari musiman.

5 dari 55

3. akan berkurang lagi.1 Jika tahanan di dalam bangunan tidak cukup berarti. dalam area tekanan rendah yang disebabkan oleh aliran angin yang tidak menerus. pada atap.3 Ventilasi Gaya Termal. (4.2 akan berkurang.SNI 03-6572-2001 Persamaan 4. dalam pantauan pada sisi arah tempat teduh. = kecepatan angin.3. d) e).8. = CV.3.6 untuk angin yang tegak lurus dan 0. aliran disebabkan efek cerobong dapat dinyatakan dengan persamaan : Q = K.2 di bawah ini menunjukkan kuantitas gaya udara melalui ventilasi bukaan inlet oleh angin atau menentukan ukuran yang tepat dari bukaan untuk menghasilkan laju aliran udara : Q dimana : Q A V CV = laju aliran udara.3.A.2).8..∆h NPL . ∆hNPL= tinggi dari tengah-tengah bukaan terendah sampai NPL .8. 6 dari 55 .2.3. b). m3 / detik.5 ~ 0. Jika tida ada tempat yang menguntungkan. pada sisi yang berdekatan ke muka arah angin dimana area tekanan rendah terjadi. m Ti = Temperatur di dalam bangunan. m2. Inlet sebaiknya langsung menghadap ke dalam angin yang kuat.35 untuk angin yang diagonal).8.25 ~ 0. K. K = koefisien pelepasan untuk bukaan.1) Ti dimana : Q = laju aliran. = luas bebas dari bukaan inlet.A.(Ti − To ) ……………. aliran yang dihitung dengan persamaan 4. atau pada cerobong.3. m/detik. dalam ventilator atap.3. c). f) Penepatan outlet yang diinginkan : pada sisi arah tempat teduh dari bangunan yang berlawanan langsung dengan inlet. = effectiveness dari bukaan (CV dianggap sama dengan 0. K. outlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah negatip atau bertekanan rendah. Inlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah bertekanan tinggi.8.2 a). jika penempatannya kurang lazim.V …………. 4. m3 / detik. 4.3.3. 4.8. ( 4.8.. To = Temperatur luar. 2g.

3.3.8. …………. aliran yang melalui bukaan dua arah.3. seperti ditunjukkan pada kurva 4.3. luas outlet dan inlet dianggap sama. aliran udara yang melalui bukaan akan tidak terarah dan campuran batas tidak dapat terjadi. Campuran batas terjadi dikedua sisi antar muka aliran yang berlawanan. dan koefisien orifis dapat dihitung sesuai dengan persamaan (Kiel dan Wilson. ganti Ti dengan To. jika Ti < To .3.3.8.1 digunakan jika Ti > To .8. Koefisien pelepasan K dihitung untuk semua pengaruh yang melekat. menaikkan aliran udara tetapi tidak proportional terhadap penambahan luas.8. Gambar 4.( Ti – To ).3. Aliran terbesar per unit luas dari bukaan diperoleh jika inlet dan outlet sama. Perkiraan ∆hNPL sulit.3. Untuk kondisi ini.3. 4.3.40 + 0. Koefisien pelepasan K = 0.65 sebaiknya dipakai.3.3.3. seperti hambatan permukaan.2.8.3. Jika bangunan mempunyai lebih dari satu bukaan. ( 4.8. NPL adalah tinggi tengah-tengah lubang. dan ∆hNPL sama dengan setengah tingginya.3.2.2 didasarkan pada kesamaan ini. Jika ada bukaan lain yang cukup.3. Kenaikan luas outlet di atas luas inlet atau sebaliknya. yaitu udara dari sisi hangat mengalir melalui bagian atas bukaan.2 : Kenaikan aliran disebabkan kelebihan dari satu bukaan di atas lainnya 7 dari 55 . Persamaan 4. dan campuran batas.8. dan udara dari sisi dingin mengalir melalui bagian bawah. dan ganti (Ti-To) dengan (To – Ti). Jika bukaan tidak sama.0045. 1986) : K’ = 0. Temperatur rata-rata untuk Ti sebaiknya dipakai jika panasnya bertingkat.3. 4.8.1 dan 4.SNI 03-6572-2001 Persamaan 4. gunakan luas yang tgerkecil dalam persamaan dan tambahkan kenaikannya. Jika satu jendela atau pintu menunjukkan bagian-bagian yang besar (mendekati 90%) dari luas bukaan total dalam selubung.2 ). Tambahan informasi pada cerobong yang disebabkan aliran udara untuk ventilasi alami bisa dipenuhi pada referensi Foster dan Down (1987).

4. baik menggunakan cerobong udara (ducting) atau fan yang dipasang pada dinding/atap. dapat dihitung dengan persamaan : 8 dari 55 . Pabrik.1 a) b). tentukan kapasitas fan. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. Penempatan Fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar atau sebaliknya. Pasar Swalayan.4. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruangan harus sesuai ketentuan yang berlaku (lihat tabel 4.SNI 03-6572-2001 4. c). d). rancang sistem distribusi udara.2 a). Jumlah laju aliran udara yang perlu disediakan oleh sistem ventilasi mengikuti persyaratan pada tabel 4. 1). Tipe Kantor Restoran/kantin Toko.1 : Kebutuhan ventilasi mekanis.1). Perancangan Sistem Ventilasi Mekanis. Persyaratan Teknis. Sistem ventilasi mekanis bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. 4. Sistem ventilasi mekanis harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai.6 meter dari lantai.4. tangga Kamar mandi. Tabel 4. koridor. peturasan. Ventilasi Mekanik. b). f). 3). Dapur Tempat parkir Catu udara segar minimum Pertukaran m3/jam per orang udara/jam 6 18 6 18 6 18 6 18 8 4 10 20 6 e). bioskop Lobi. diperlukan laju aliran udara dengan jumlah tertentu untuk menjaga supaya temperatur udara di dalam ruangan tidak bertambah melewati harga yang diinginkan. Untuk mengambil perolehan kalor yang terjadi di dalam ruangan. 4. 2). bengkel.4. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi mekanis untuk membuang udara kotor dari dalam dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Jumlah laju aliran udara V (m3/detik) tersebut. Kelas. Perancangan sistem ventilasi mekanis dilakukan sebagai berikut : tentukan kebutuhan udara ventilasi yang diperlukan sesuai fungsi ruangan. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (besmen) yang terdiri dari lebih satu lantai.4.4. c).2.

45 0.2. : Kebutuhan laju udara ventilasi Fungsi gedung 1. Ruang kecantikan. a. Service mobil a. Ruang umum a.15 0. f. Tabel 4. Ruang pertemuan 6.4.25 1. Ruang kerja b.15 0.05 0.45 0. Satuan (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/kloset (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/m2 (m3/min)/orang Kebutuhan udara luar Merokok Tidak merokok 1.21 0.2. (tL – tD ) = kenaikan temperatur terhadap udara luar (0C).15 0.60 0.SNI 03-6572-2001 V = q f.45 1.21 0. a. Kantor.25 0. Lantai atasKamar tidur c. Toko kembang. q = perolehan kalor (Watt). Panti cukur & salon.75 0.21 0. Kamar tidur b.30 0. Ruang makan b.15 0. b. Ruang locker/Ruang ganti baju 7.05 0. WC umum c. Ruang rapat 5.21 0. Salon binatang peliharaan.05 0.46 1.c.30 1. d. Hotel. a. Besemen & Lantai dasar b.4. Bengkel. Kamar mandi/Toilet d. Ruang pertemuan (kecil).(t L . 2.15 0. Ruang olahraga. c.42 0.05 2. c. Fast food 3.75 0.21 0. Ruang merokok 8. Laundri.21 0.42 0.50 0.21 0. Garasi (tertutup) b.21 0.75 0. Restoran : a.05 0.21 2. f = densitas udara (kg/m3).(1) }. Motel.87 0. c = panas jenis udara (joule/kg.0C). 4.15 0. Dapur c.05 1. dsb : a. Lif e. Mal & Arkade.60 1. Koridor b. Ruang tamu/ruang duduk.30 9 dari 55 . Pertokoan. d. dimana : V = laju aliran udara (m 3/detik).21 0. Lobi e.t D ) ……………{ 4.05 1.

30 1. Ruang gelap.21 0.15 0. Ruang otopsi 15.00 0.21 0.45 0.05 1. Industri.05 0.21 1.60 0. Sekolah. d.21 0. a. Aktivitas rendah. 11. e.60 0. Ruang pasien b. a. Ruang hiburan.50 3. 13.45 3. distribusi udara disesuaikan dengan lokasi pekerja dan mesin. Teater.30 0.75 0. Ruang bermain.05 1. Ruang gawat darurat/ terapi e.05 0. 10. Studio Fotografi. Dapur d. peron. b. memberi kapasitas terpasang. b.05 0. Ruang tidur. a. Laboratorium. Garasi bersama 16. c.00 0. e.05 1. b. Perpustakaan. c : kamar mandi & toilet. b.50 1.15 0. Ruang periksa c.21 0. Rumah sakit. Panggung & studio.20 0. dsb. Rumah tinggal : a. 4. Lobi & Lounge. Kolam renang. Aktivitas tinggi. a. Ruang duplikasi/cetak foto.00 1. (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/m2 (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/bed (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/kloset (m3/min)/kamar (m3/min)/kamar (m3/min)/kamar (m3/min)/kamar (m3/min)/mobil (m3/min)/m2 (m3/min)/orang (m3/min)/orang (m3/min)/orang 1. Ruang duduk. Disco & bowling. 9. Khazanah Bank c.75 0. Transportasi Ruang tunggu. 14.21 0.30 0.15 0. f. Proses makanan b.15 0. Ruang penonton. c. c.60 1. c. a & b : garasi dan bengkel.60 0.21 0.21 Catatan 1 : 3. e. c.15 0.75 1. a.15 0. Ruang kelas. Farmasi d. 10.05 1. menerus.30 3.30 0.21 0. mungkin diperlukan ventilasi lebih tinggi untuk pengendalian kelembaban. Loket b. Garasi (Rumah) f. Lantai gerak. Aktivitas sedang. 10 dari 55 . Toilet. e : kolam renang.21 0.05 0.. gymnasium. Ruang kerja. 12.15 0. dimana sistem tidak bekerja secara terus .SNI 03-6572-2001 9. c : panggung. a.30 0.05 1. Ruang bedah & bersalin d.

Kelembaban Udara Relatif.10C. 5. b). Kriteria Kenyamanan.50C ~ 22. udara ruang mayat dan sebagainya tidak boleh disirkulasikan ke ruang lain.1. kelembaban udara relatif yang dianjurkan antara 40% ~ 50%. c & f : ruang cetak foto.1. 5.15 (m3/menit)/orang.80C. tetapi untuk ruangan yang jumlah orangnya padat seperti ruang pertemuan. antara temperatur efektif 25. antara temperatur efektif 20.1. Kelembaban udara relatif dalam ruangan adalah perbandingan antara jumlah uap air yang dikandung oleh udara tersebut dibandingkan dengan jumlah kandungan uap air pada keadaan jenuh pada temperatur udara ruangan tersebut. Faktor yang Mempengaruhi Kenyamanan Termal Orang.80C. Vm = laju udara ventilasi segar minimum sebesar 0. Catatan 2 : Laju udara ventilasi diberikan untuk kondisi rancangan 100% udara segar.80C ~ 25. Untuk mempertahankan kondisi nyaman.(2) }. Temperatur Udara Kering.1. VR = laju udara balik (setelah pembersih) yang ditambahkan pada udara segar. 5.4 diperhitungkan per orang.Vm ……………. Bila udara balik dibersihkan dan dicampurkan dengan udara segar. dsb).SNI 03-6572-2001 diperlukan ventilasi khusus bila ada efek panggung khusus (asap. kelembaban udara relatif masih diperbolehkan berkisar antara 55% ~ 60%.3. 5. Temperatur udara kering sangat besar pengaruhnya terhadap besar kecilnya kalor yang dilepas melalui penguapan (evaporasi) dan melalui konveksi. 5. a). kecepatan udara yang jatuh diatas kepala tidak boleh lebih besar dari 0. Untuk daerah tropis. Daerah kenyamanan termal untuk daerah tropis dapat dibagi menjadi : 1) sejuk nyaman. peralatan percetakan dan sebagainya harus mempunyai saluran pembuangan positif untuk pengendalian uap-uap bahan kimia yang toksik. 15.4. E = efisiensi pembersihan dari sistem pembersih udara. 14.15 m/detik. 3). E dimana : V0 = laju udara ventilasi menurut tabel 2. 13. a) b). rumah tinggal : perlu dibantu oleh jendela bila terjadi penghunian lebih atau ada pekerjaan yang menimbulkan kontaminasi ventilasi kamar mandi dan toilet terjadi bila digunakan. { 4. perlu sistem pengendalian kontaminasi khusus bila terdapat proses kimia atau pemeliharaan hewan. laju udara balik untuk menjamin kelayakan ventilasi dihitung sebagai berikut : VR = V0 .25 m/detik dan sebaiknya lebih kecil dari 0.80C ~ 27. Pergerakan Udara (Kecepatan Udara). antara temperatur efektif 22. hangat nyaman. : rumah sakit : peraturan/ketentuan tentang tekanan udara dalam ruang akan menentukan ventilasi yang terjadi prosedur yang membangkitkan kontaminasi memerlukan ventilasi lebih tinggi. 2) nyaman optimal. 11 dari 55 . a).2. b : laboratorium.1. 12.2.

Tabel 5. 0C 25 26. akan mempengaruhi kenyamanan seseorang di dalam ruangan tersebut. Apabila temperatur radiasi rata-rata lebih tinggi dari temperatur udara kering ruangan. b). Gambar 3.8 26.25 m/detik tergantung dari temperatur udara kering rancangan (tabel 5. Apabila di dalam suatu ruangan dinding .9 27.1.15 m/detik harus dinaikkan menjadi 0. Usahakan temperatur radiasi rata-rata sama dengan temperatur udara kering ruangan. Radiasi Permukaan yang Panas.35 27.25 0.2 0.4.1 0.3 Temperatur udara kering.1 0.1.: Kebutuhan peningkatan kecepatan udara untuk mengkompensasi kenaikan temperatur udara kering.625 m/detik. Gambar 5. Penjelasan : Misalnya temperatur udara kering dalam ruangan berubah dari 250C menjadi 27.: Kecepatan udara dan kesejukan Kecepatan udara. 12 dari 55 . 5. 0. m/detik.20C untuk mengkompensasi kenaikan temperatur ini maka kecepatan udara yang mula-mula hanya 0.2 c). c).1. menunjukkan kebutuhan peningkatan kecepatan udara untuk mengkompensasi kenaikan temperatur udara kering agar tingkat kenyamanannya tetap terpelihara.dinding sekitarnya panas. meskipun temperatur udara disekitarnya sesuai dengan tingkat kenyamannya (misalnya di dekat oven atau dapur). Kecepatan udara ini dapat lebih besar dari 0.1. maka temperatur udara ruangan rancangan dibuat lebih rendah dari temperatur rancangan biasanya.1.3. a).20C atau naik 2.SNI 03-6572-2001 b).3.3).3.

a). 13 dari 55 . Btu/jam W 330 350 400 450 450 500 550 750 850 1000 1450 1450 1600 1800 97 103 117 132 132 146 162 220 249 293 425 425 469 528 Kalor sensibel Btu/jam 225 245 245 250 250 250 275 275 305 375 580 580 635 710 W 66 72 72 73 73 73 81 81 89 110 170 170 186 208 Kalor laten Btu/jam 105 105 155 200 200 250 275 475 545 625 870 870 965 1090 W 31 31 45 59 59 73 81 139 160 183 255 255 283 320 Catatan : a). Duduk. a Tingkat aktivitas Duduk di gedung pertunjukan Duduk di gedung pertunjukan. pertokoan. pria Btu/jam 390 390 450 475 550 550 490 800 900 1000 1500 1500 1600 2000 W 114 114 132 139 162 162 144 235 264 293 440 440 469 586 Kalor total yang disesuaikan b untuk wanita. b). c Pekerjaan bengkel ringan Berdansa Berjalan 3 mph. Temperatur operatif didefinisikan sebagai temperatur rata-rata dari temperatur radiasi rata-rata dan temperatur udara kering ruangan. tetapi nilai kalor sensibel harus diturunkan mendekati 20%. tRAD + t RUANGAN 2 Aktivitas Orang. hotel. Tabel 5. berjalan Berjalan. kerja amat ringan Kerja kantor dengan keaktifan sedang Berdiri. Untuk 800F temperatur udara kering. Untuk kecepatan udara yang rendah ( V = 0. hotel.1. Tabel 5. d Pekerjaan berat Pekerjaan mesin yang berat. apartemen Kantor. dan nilai kalor laten menyesuaikan naik.5.4 ). Untuk perhitungan sistem pengkondisian udara. berdiri Pekerjaan terus menerus.5. orang lebih tertarik terhadap besarnya kalor yang dihasilkan dari sesorang pada suatu aktifitas tertentu. apartemen. kerja ringan. mengangkat Atletik Tipe penggunaan siang hari malam hari Kantor.1. Pusat belanja.1.5 menunjukkan besarnya kalor total yang dihasilkan untuk suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang pria dewasa. Apotik.1 m/detik). Pabrik Pabrik Gimnasium Kalor total Dewasa. pekerjaan mesin yang ringan Bowling.SNI 03-6572-2001 d).: Laju Pertambahan Kalor dari Penghuni dalam Ruang yang Dikondisikan. total panas tetap sama. ……………. e).1. Bank Restoran Pabrik Hal dansa Pabrik Bowling alley. Untuk wanita dewasa dapat diambil 85% dari kalor yang dihasilkan pria dewasa dan anak-anak 75% dari kalor yang dihasilkan pria dewasa. ( 5. besarnya temperatur operatif : tOP = 5. Nilai dalam tabel didasarkan pada temperatur udara kering 750F.

d).22 (a.06 0.1. Untuk Bowling.04 0.37 (a) 0. wanita dan anak-anak sesuai daftar penggunaan.15 0.09 0.17 0.22 (b) 0. (b). didasarkan pada prosentase normal pria.K / Watt.26 0.26 0.6.05 0. Waistcoat-ringan Waistcoat-berat Celana – ringan Celana – berat Sweater – ringan Sweater – berat Jacket – ringan Jacket – berat Kaos tumit Kaos dengkul Sepatu Sepatu bot clo 0. Besarnya kalor yang dilepas oleh tubuh dipengaruhi oleh jenis pakaian yang sedang dipakai pada saat itu.19 0. Pakaian yang Dipakai . terutama mengenai besar kecilnya isolasi termal dari bahan pakaian dan tebalnya. c).10 (b) 0. b).SNI 03-6572-2001 b) c). dikurangi 5% jika diatas dengkul.20 (a) 0. Ditambah 5% jika panjangnya dibawah dengkul.22 0.37 (a) 0.01 0.29 0.70 (a. dengan rumus bahwa penambahan untuk wanita dewasa 85% dari pria dewasa.1.10 0.: Isolasi termal untuk beberapa jenis baju Pria Singlet tanpa lengan Kaos berkerah Celana dalam Kemeja. Penambahan total kalor yang diatur untuk pekerjaan yang menerus. Dikurangi 10% jika tanpa lengan atau lengan pendek. ringan lengan panjang.32 0. 5. 14 dari 55 . dan lainnya duduk (400 Btu/jam) atau berdiri atau berjalan perlahan (550 Btu/jam).13 0.44 0.14 0.08 Wanita Kutang dan celana dalam Rok dalam – setengah Rok dalam – penuh Blus – ringan Blus – berat Pakaian – ringan Pakaian – berat Rok .1.04 0. Celana panjang wanita – berat.b) 0.22 0. gambaran satu orang bermain bowling. dan penambahan untuk anak-anak 75% dari pria dewasa. Sweater – ringan Sweater – berat Jacket – ringan Jacket – berat Kaos kaki panjang. restoran. termasuk 60 Btu/jam makanan per orang (30 Btu/jam sensibel dan 30 Btu/jam laten). Besarnya isolasi termal dari bahan pakaian yang dipakai ditunjukkan pada tabel 5.04 0.17 (a) 0.6. Tabel 5.ringan Rok – berat Celana panjang wanita – ringan.20 (a) 0.6 a). dimana : 1 clo = 0.49 0. Isolasi termal dari bahan pakaian yang dipakai dinyatakan dalam clo. Sandal Sepatu Sepatu bot clo 0.05 0.08 Catatan : (a). ringan lengan pendek.29 (a) 0. Kemeja.02 0.b) 0.37 0.155 m2. Penambahan kalor yang diatur.

SNI 03-6572-2001 d).425. h0. m2 menunjukkanluas permukaan kulit tubuh.7. kemeja lengan pendek/panjang). 5.5 ~ 0. Pengaruh Aktivitas dan Pakaian yang Dipakai Orang terhadap Temperatur Operatif. a). (5.1.113. m0. nilai clo total menjadi 1.7). Untuk menghitung seluruh clo dari pakaian yang dipakai.050 ……………{ (5.7.8 m . luas kulit tubuhnya : A Kulit tubuh = 0. m. dan besarnya dinyatakan rumus : A Kulit tubuh = 0.∑(masing-masing clo) + 0. dapat pula dinyatakan dalam satuan met. dimana : 1 met = 58. kg. nilai clo-nya berkisar antara 0. sedangkan apabila memakai tambahan jas. sepatu kulit. b) Besarnya kalor yang dihasilkan dari aktifitas orang dinyatakan dalam met. Penjelasan : Untuk pria dewasa dengan berat badan 70 kg dan tinggi badan 1. rumus : Penjelasan : Untuk pakaian kantor yang biasa dipakai oleh pria dewasa (celana panjang.770.202. Untuk wanita : Nilai clo = 0.725.2 Watt/m2 . h = tinggi tubuh.727..∑ (masing-masing clo) + 0.1.202. ditunjukkan dalam tabel 5.9 m2.1.(2) }.725 = 1.1.700.65 . …………….6.1.6.(1) }.7. Besarnya kalor yang dihasilkan dari aktivitas orang selain ditunjukkan dalam tabel 5. dimana : m = massa tubuh.80. ………….425. { 5.1.1. dengan 15 dari 55 . ditunjukkan dengan Untuk pria : Nilai clo = 0.

0 1.7. c).2 met. pertandingan 13 15 18 22 37 48 70 18 18 20 22 26 31 39 18~37 22 33 44 59 29~37 37~63 41 33 37~44 37 ~ 44 74 74 ~ 88 44~81 55~74 66~74 190~140 130~160 Penjelasan : Orang dengan aktifitas berdansa menurut tabel 3. Btu/(jam-ft ) 2 met 0.6~2.4 3. berdiri.6 3.4 1. Senam Tenis. tunggal.1.2 (Watt/m2.0 1.6~4.4 4.8 1.0~8.89 m/detik.2 2. Menulis Mengetik Mengarsip. kalor yang dihasilkan sebesar 3 met. Menyetir atau menerbangkan : Mobil Pesawat terbang.0~2.0~3.0 1.4 3.0 5.0 4. 1. Basket bal. nilainya sebesar 264 Watt untuk pria dan 249 Watt untuk wanita. Gulat. aktivitas waktu luang : Berdansa.8 2. membungkus.0 4. Ringan (industri kelistrikan) Berat Mengangkat tas 50 kg.0~4. Aktivitas kantor : Membaca. tenang berdiri.(1) untuk kelembaban udara relatif 50%. Berjalan pada jalan datar : 0.34 m/detik.8 2. duduk. Pesawat terbang.2 1. sosial.2 1. rileks.7 2.5 .1. duduk.7.4~4.2 1. Pengaruh pakaian yang dipakai yang dinyatakan dengan clo terhadap temperatur operatif ditunjukkan pada gambar 5. Berjalan Mengangkat.SNI 03-6572-2001 Tabel 5.0 1. atau sebesar = 3 (met) x 58.9 (m2) = 332 Watt. Lain-lain.4 2.0 3.0~2.met) x 1.0~4. gerakan berat anggota badan Pekerjaan mesin : Menggergaji (meja gergaji). Mengambil dan pekerjaan mencangkul.1.7 0. 1. Kendaraan berat.79 m/detik.8 2. Mengarsip.7.1 1. Lain-lain aktivitas penghuni : Memasak Membersihkan rumah Duduk. instrumen mendarat.15 m/detik serta aktifitas kurang dari 1.6 7.2 1.0 2.: Macam Metabolik Pembangkit Panas untuk Beragam Aktivitas. Sedangkan menurut tabel 5.0 2.7 Istirahat Tidur Santai duduk. tempur.1 1.8 1. rutin.1. kecepatan udara 0. Pesawat terbang.0~7. 16 dari 55 .

Makin besar clo pakaian.(2) : Temperatur operatif optimal untuk orang yang aktif dalam lingkungan dengan kecepatan udara rendah (V < 30 fpm atau 0. makin rendah temperatur operatif yang dibutuhkan memperoleh tingkat kenyamanan yang optimal. untuk 17 dari 55 .SNI 03-6572-2001 Gambar 5. : Pengaruh clo pakaian yang dipakai terhadap temperatur operatif ruangan.7. Gambar 5.7.(1).15 m/detik) d).1.1.

Musim panas. ASHRAE mengeluarkan standar untuk zona kenyamanan (comfort zone) seperti ditunjukkan pada gambar 5. dengan pakaian yang sama.SNI 03-6572-2001 e). 5.4.50C.9 clo pada kecepatan udara tidak lebih dari 0. Untuk memperoleh daerah zona yang dapat diterima sebagai daerah temperatur operatif dan kelembaban udara relatif yang memenuhi kenyamanan untuk orang melakukan aktifitas ringan dengan met kurang dari 1.5 untuk musim panas dan clo = 0.2 Zona kenyamanan ruangan.1. Musim dingin.7. dan untuk perancangan umumnya diambil : 250C ± 10C dan kelembaban udara relatif 55 % ± 10 %. serta memakai pakaian dengan clo = 0. 5.2 .1 clo ~ 0. Temperatur efektif didefinisikan sebagai indeks lingkungan yang menggabung kan temperatur dan kelembaban udara menjadi satu indeks yang mempunyai arti bahwa pada temperatur tersebut respon termal dari orang pada kondisi tersebut adalah sama.(2).50 C.2. dimana orang memakai pakaian standar dan melakukan aktifitas tertentu serta menghasilkan temperatur kulit dan kebasahan kulit yang sama. maka temperatur ruangan harus 24.15 m/detik. b).50 C ~ 270 C pada 200 C dew point dan dibatasi oleh temperatur efektif 230 C dan 260 C.50C agar kondisi kenyamanan tetap sama.1. 18 dari 55 . 5. maka temperatur ruangan harus diubah menjadi 20.5 clo .50 C pada kelembaban udara relatif 60% dan berkisar antara 20. Penjelasan : Apabila aktifitas dari orang yang berada di ruangan sebesar 1. menunjukkan temperatur operatif optimal untuk orang dengan aktifitas dari 1 ~ 3 met dan clo pakaiannya dari 0. meskipun mempunyai temperatur dan kelembaban yang berbeda. Temperatur operatif tOP berkisar antara 200 C ~ 23. tetapi keduanya harus mempunyai kecepatan udara yang sama.1.50 C ~ 260 C pada kelembaban udara relatif 60% dan berkisar antara 23.1.2 met.9 untuk musim dingin. 5. Standar ASHRAE untuk temperatur efektif ini didefinisikan sebagai temperatur udara ekuivalen pada lingkungan isotermal dengan kelembaban udara relatif 50%.50 C pada 200 C dew point dan dibatasi oleh temperatur efektif 200 C dan 23. dengan batasan koordinat sebagai berikut : a). Gambar ini mempunyai batasan ketidak puasan sebesar 10%. Zona kenyamanan termal untuk orang Indonesia seperti disebutkan dalam butir 5. Gambar 5.50 C ~ 24.2. 2. 5.2.5.3.2. dan pakaian yang dipakai 0. Apabila aktifitasnya berubah menjadi 2 met.2. 5. Temperatur operatif tOP berkisar antara 22.2.

1. dan kelembaban relative yang memenuhi kenyamanan untuk orang-orang yang melakukan aktivitas ringan dengan met < 1. Prosedur perancangan sistem pengkondisian udara pada bangunan gedung dilakukan mengikuti bagan seperti ditunjukkan pada gambar 6. 6. Pengkondisian udara. 6.SNI 03-6572-2001 Gambar 5.1. Prosedur. : Daerah zona yang dapat diterima sebagai daerah temperatur operative. 19 dari 55 .2.2.

kegiatan utama yang berlangsung dalam ruang (aktifitas). waktu kegiatan puncak. 6.1.SNI 03-6572-2001 MULA I Perancangan Beban Pendinginan Fungsi Ruang Penentuan Kondisi Termal Dalam Gedung Data Gedung Perhitungan Beban Pendinginan Data Cuaca & Iklim Analisa Psikrometri Perancangan Sistem Sistem Pengkondisian Udara Optimasi Pemakaian Energi Pemakaian Energi < Standar Selesai Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara Gambar 6. a) b) c) Fungsi ruang dalam gedung. pola pakaian penghuni.2. Terdiri dari : 20 dari 55 .: Perencanaan Teknis Sistem Pengkondisian Udara.

c). 6.SNI 03-6572-2001 6. tuntutan ketelitian untuk pengendalian besaran termal dalam ruangan. Data gedung. misalnya karena penghuni ruangan atau peralatan yang menghasilkan uap. Penambahan kalor sensibel (sensible heat gain) adalah kalor sensibel yang secara langsung masuk dan ditambahkan ke dalam ruangan yang dikondisikan melalui konduksi. Jenis Kalor. adalah suatu kalor yang berhubungan dengan perubahan fasa dari air. Kondisi termal dalam gedung.2. data temperatur udara luar di lokasi. a). Beban Pendinginan Ruangan. karakteristik termal selubung bangunan. Kalor Sensibel. a).4. data cuaca tahunan. kelembaban udara relatif.6. adalah laju aliran kalor yang harus diambil dari dalam ruangan untuk mempertahankan temperatur dan kelembaban udara relatif ruangan pada kondisi yang diinginkan. 6. 6. adalah suatu kalor yang berhubungan dengan perubahan temperatur dari udara. data pemakaian gedung.3. Penambahan kalor laten (latent heat gain) terjadi apabila ada penambahan uap air pada ruangan yang dikondisikan.6. b). Beban Pendinginan. seperti misalnya profil beban pendinginan. data kelembaban udara relatif di lokasi. data fisik bangunan gedung. konveksi atau radiasi. 6. kuantitas udara yang diperlukan. 21 dari 55 . b). c). Kalor Laten. Data cuaca dan iklim.6. temperatur udara. a) b) c) d) 6.5.1. Terdiri dari : Terdiri dari : Terdiri dari : b). a).

: Contoh beban pendinginan ruangan Beban pendinginan ruangan dibagi dalam 2 bagian : a).6. Sumber kalor luar yang termasuk beban pendinginan ini adalah : 1).2. 22 dari 55 . langit dan lantai. penambahan kalor konduksi matahari melalui benda transparan seperti kaca. penambahan kalor radiasi matahari melalui benda transparan seperti kaca. 2). Beban pendinginan ini terjadi akibat penambahan panas di dalam ruangan yang dikondisikan karena sumber kalor dari luar yang masuk melalui selubung bangunan (building envelope). 5). penambahan kalor melalui partisi. infiltrasi udara luar yang masuk ke dalam ruangan yang dikondisikan. atau kerangka bangunan (building shell) dan dinding partisi. langit. 3). Beban Pendinginan Luar (external cooling load). penambahan kalor konduksi matahari melalui dinding luar dan atap. 6). ventilasi udara luar yang masuk ke dalam ruangan yang dikondisikan.SNI 03-6572-2001 Gambar 6. 4).

3 a). 2). penambahan kalor karena adanya motor-motor listrik yang ada di dalam ruang yang dikondisikan. juga harus mampu melayani penambahan kalor dan kebocoran pada saluran udara (ducting). Beban Pendinginan Dalam (internal cooling load).3. Beban pendinginan ini terjadi karena dilepaskannya kalor sensibel maupun kalor laten dari sumber yang ada di dalam ruangan yang dikondisikan. 6. 23 dari 55 . 3). penambahan kalor karena adanya pencahayaan buatan di dalam ruang yang dikondisikan.2. Penjelasan : Yang termasuk beban pendinginan ruangan seperti ditunjukkan dalam gambar 6.SNI 03-6572-2001 b). Koil pendingin selain harus mampu melayani beban pendinginan ruangan. Sumber kalor yang termasuk beban pendinginan ini adalah : 1).6. penambahan kalor karena orang yang ada di dalam ruang yang dikondisikan. Beban Koil Pendingin. Koil pendingin juga harus mampu melayani beban pendingin dari motor listrik penggerak fan AHU bila motor listriknya berada di dalam AHU atau di ruang yang dikondisikan. b).6. penambahan kalor karena adanya peralatan-peralatan listrik atau pemanas yang ada di dalam ruangan yang dikondisikan.: Kurva psikrometri beban pendinginan ruangan dan beban koil pendingin. Gambar 6.6. 4).

baik kalor sensibel maupun kalor laten yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penghuni dan lain sebagainya. beban b). 6. a). qss = penambahan kalor pada sistem pasokan udara (supply air). yang diperkenalkan oleh ASHRAE pada tahun 1972. Keseimbangan kalor. 24 dari 55 . Pada sistem chiller (sistem dengan air sejuk). yaitu menggunakan Metoda Perbedaan Temperatur Beban Pendinginan (CLTD = Cooling Load Temperature Difference).SNI 03-6572-2001 Penjelasan : AHU = Air Handling Unit = unit pendistribusian udara dingin. faktor beban pendinginan karena matahari (SCL = Solar Cooling Load Factor). 6.6.3 qrc = beban pendinginan ruangan. a).5. Penjelasan : Penambahan kalor pada pipa air sejuk. Bagian ini menjelaskan tiga metoda perhitungan beban pendinginan untuk menentukan besarnya mesin pengkondisian udara.6.6. Prosedur perhitungannya menempuh dua langkah : Langkah pertama : menetapkan penambahan kalor dari semua sumber. qrs = penambahan kalor pada sistem udara kembali (return air). Umum.6. Langkah kedua : menentukan konversi dari penambahan kalor menjadi pendinginan. pompa air sejuk dan tanki ekspansi air sejuk. dan faktor beban pendinginan internal (CLF = Internal Cooling Load Factor). Gambar 6. c). b). Beban Pendinginan Refrigerasi.6. Beban pendinginan refrigerasi merupakan laju pengambilan kalor oleh refrigeran di koil pendingin (evaporator) pada sistem ekspansi langsung ( DX = Direct expansion).3. Versi yang lebih sederhana dari TFM selanjutnya dikembangkan oleh ASRAE pada tahun 1977. q0 = beban pendinginan dari udara luar. Kurva Psikrometri Beban Pendinginan Ruangan dan Beban Koil Pendingin. beban pendinginan refrigerasi merupakan penjumlahan dari beban koil pendingin (qc) dengan penambahan kalor pada pipa air sejuk.6.6. merupakan konsep dasar dalam perhitungan beban pendinginan. 6.4. Prosedur perhitungan beban pendinginan yang sangat dekat dengan konsep keseimbangan kalor adalah “Metoda Fungsi Transfer” (TFM = Transfer Function Method). qc = beban koil pendingin. Prosedur perhitungannya menempuh hanya satu langkah. merupakan kurva psikrometri yang menunjukkan besarnya beban pendinginan ruangan dan beban koil pendingin. Metoda Perhitungan Beban Pendinginan. Penjelasan : Penjelasan gambar 6.6. 6.1. pompa air sejuk dan tanki ekspansi air sejuk berkisar antara 5 sampai 10% dari beban koil pendingin.

a. Prosedurnya juga menempuh dua langkah.2. Penambahan Kalor Konveksi Beban Pendinginan Pembuangan Kalor Radiasi Perabot.. …………………. te = to + α. Struktur.1. Pilihan lain dari teknik keseimbangan kalor menggunakan Metoda Perbedaan Temperature Ekuivalen Total (TETD = Total Equivalent Temperature Diffrenece) dan Waktu Rata-rata (TA = Time Average).6.ε. a). yaitu : 1) 2) Langkah pertama : Penambahan kalor.6. δ.SNI 03-6572-2001 d). 6.6.2 . dalam menghitung beban pendinginan.6 : Perbedaan besarnya penambahan kalor sesaat dan beban pendinginan sesaat.1 }. 25 dari 55 .6.It/ho . Metoda Perbedaan Temperatur Ekuivalen Total (TETD/TA). Penambahan kalor dari luar ruangan yang dikondisikan. Langkah kedua : Beban pendinginan.6.{ 6. Beragam penyimpan kalor Konveksi (dengan tunda waktu) Penyimpangan TFM Fungsi Transfer Konduksi TFM Fungsi Transfer Ruang Fungsi Transfer Udara Ruang TETD TA Proses Waktu Rata-Rata CLTD/CLF Gambar 6. dan oleh Carrier pada tahun 1965 dengan metoda ETD (tanpa TA).R/ho . Metoda ini diperkenalkan ASHRAE tahun 1967. 1).

λ = faktor pengurangan. temperatur di dalam ruangan yang direncanakan. Konveksi : q Matahari : q = U. δ.tea) ……………………….1.6. dari atap atau dinding luar.3. = 0. α.A. (4. = 0. ti = temperatur udara kering di dalam ruangan.A. = 1. dimana : U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk kaca. = faktor warna permukaan. toa = temperatur udara kering rata-rata 24 jam. Partisi.6.6. ε.2 ).{ 6.6. = 00F untuk vertikal.dihitung dari gambar bangunan. langit-langit dan lantai. SC = koeffisien peneduh. = temperatur udara kering pada jam tertentu.(teδ . ……………… ( 6.2 – a.2 – a. It = beban kejadian matahari total.1 }. q = U. te to α α/ho TETD = tea – ti + λ. Atap dan dinding luar.2 – a.2 – a.R/ho …………… { 6. SHGF = faktor penambahan kalor matahri. ………………………………. Kaca. 3).( t0 – ti ). IDT = penambahan kalor matahari harian total. TETD = perbedaan temperatur ekuivalen total. jam dan bulan. = .6.2.(IDT /24) .6.R/ho = faktor radiasi gelombang panjang. teδ = temperatur udara matahari pada waktu tertinggal 0jam.3.SNI 03-6572-2001 tea = toa + α/ho.2.6. = absorbtansi permukaan untuk radiasi matahari. dimana : U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk atap atau dinding luar.(TETD).( tb – ti ) …………………………………( 6.6.30 untuk warna gelap. A = luas permukaan atap atau dinding luar.A.(SHGF). dimana : tb = ti = 26 dari 55 . t0 = temperatur bola kering udara luar pada jam tertentu.2 – a.6.2 . ……………. temperatur di dalam ruangan yang bersebelahan. q = U.6. 4).2 }..6.6.15 (SHGF).1 ).a.{ 6. = A.4 ).ε.15 untuk warna terang.70F untuk permukaan horisontal. asimut. sesuai orientasi. tea = temperatur udara matahari rata-rata 24 jam. dimana : = temperatur udara matahari.(SC).2 }. 2).

Fua.6.6.1 ). q laten = 3010.6. …………………………………( 6. ……….1 ). ………………………………………..6.2 – b.6. faktor radiasi. (Wo – W i) …………………………………( 6. N.2 – b. Daya (tenaga).2 – b.SNI 03-6572-2001 b).(6.c. c). Fra ………………………………( 6. 3). Ffl = faktor pemakaian.2 ).2 ). ………( 6. liter/detik.6.2 – b.23.6. Orang. ( to – ti ). Fra)/Ffl. aliran udara ventilasi atau infiltrasi . dimana : P = EF = 4).2 ).2 ).6.6.EF ………………………………………….. (penambahan kalor laten). q laten = qil . qel = W.. qil = penambahan kalor sensibel dan laten dari peralatan.6.2 – b.1.4.2 – b.udara 27 dari 55 .Fua.3 ). qp = P. faktor effisiensi.( 6. N. Fra .6. temperatur udara di luar dan di dalam ruangan 0C. faktor toleransi khusus. Peralatan lain. atau : q sensibel = (qis .6. dimana : qis.3 ). Pencahayaan.2 . Q.6. Fsa .1. q sensibel = 1.( 6. Udara ventilasi dan infiltrasi. …………………………( 6.uap air/kg. Q. Fua.2 – b. kandungan uap air di luar dan di dalam ruangan ( kg. jumlah orang yang berada di dalam ruangan yang dikondisikan.Ful . 1). q sensibel = qis .6. Fua.6.1 ).( 6. (penambahan kalor sensibel)..6.4. faktor cerobong asap. Penambahan kalor dari dalam ruangan yang di kondisikan.. qSensibel = qLaten = dimana : N = 2). W i = kering).6. faktor penggunaan pencahayaan. daya listrik. …………………………………….4.2 – c.6. dimana : W = Ful = Fsa = Watt dari listrik untuk pencahayaan atau armatur lampu. ti = W o. dimana : Q = to .

1 = penambahan kalor sensibel jam untuk elemen beban 1.1 + qsc.θ sampai hα .1. untuk sebagian kecil radiasi dari penambahan kalor sensibel yang akan dirata-ratakan untuk setiap n elemen beban. 1).1. qarf = sebagian kecil radiasi rata-rata penambahan kalor sensibel jam untuk n elemen beban.6.6. 1). Sensibel : qSensibel = qcf + qarf + qc ……………………………( 6.It/ho . tea = toa + α/ho. qarf = [ ] [ ] (6.2 ). 6..1.β ).6.. qsc. ………………………( 6.6.. δ. qc = penambahan kalor sensibel konveksi jam (jam tertentu) untuk unsur beban β yang tidak mempunyai komponen radiasi.2 + ql.3 – a.rf n . Laten..2 .3) qc = (qsc. Beban pendinginan.6..4 ). n.rf n )γ ]/ θ …( 6.2 – d.1. γ = satu dari jam perhitungan.6.2 + qsc..6.. dimana : te = to = α = α/ho = temperatur udara matahari.. θ = jumlah jam di atas sebagian kecil radiasi rata-rata penambahan panas sensibel.2 ). qcf = q s . 28 dari 55 . δ. dimana beban pendinginan dihitung. Watt..(1 − rf 1 ) + q s ..1. dimana : qSensibel = beban pendinginan sensibel.2 . Metoda Fungsi Transfer (TFM Method). …………………… ……( 6.1. qcf = sebagian kecil konveksi penambahan kalor sensibel jam (jam tertentu) untuk elemen beban n..1 ). γ =hα +1−θ ∑ [(q s. rf1 = sebagian kecil radiasi penambahan kalor sensibel jam untuk elemen beban 1. ….2 ).6.2 – d. Watt.6..( 6.R/ho …………………...R/ho . 2 . dari hα+1. temperatur udara kering pada jam tertentu. 2). hα = jam tertentu. qlaten = (ql.6..3.(1 − rf 2 ) + . Penambahan kalor dari luar ruangan yang dikondisikan. ql = penambahan kalor laten jam (jam tertentu) untuk elemen beban b.1 . Watt.6.6..SNI 03-6572-2001 d).6. dimana : qlaten = beban pendinginan laten.rf1) + (qs. faktor warna permukaan.rf 2 ) + . watt.1.β ) ………………………… (6.ε.2 – d.n.3 .d.a.1 ).6... watt. a).ε.1 + ql.6. te = to + α.... absorbtansi permukaan untuk radiasi matahari.. Watt. 1 sampai 24. …….(IDT /24) .2 – d.6.

3 – a. Partisi. koefisien perpindahan kalor konstruksi atap atau dinding luar.4 ). jam dan bulan.A. = .6.(t e.a. qeo = A.(SHGF). = = = = = jam di mana perhitungan dibuat. ε. 2). temperatur di dalam ruangan yang direncanakan.( tb – ti ) ………………………………( 6.6. IDT = penambahan kalor matahari harian total.6.. ……. = 1.   n =0 ∑ bn . ( 6.[(qe.026 untuk warna terang.15 (SHGF). asimut.2 ).3 – a. δ.6.(SC). It = beban kejadian matahari total.3. SC = koeffisien peneduh. ……………… ( 6. interval waktu ( 1 jam ). dimana : U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk kaca. jumlah jam dimana b dan d nilainya cukup berarti. langit-langit dan lantai. atap atau dinding. koefisien perpindahan kalor rancangan konstruksi atap atau dinding luar. Konveksi : q Matahari : q = U.θ −nδ ) / A] − t rc ∑ cn  ……(6.6.3. q = U.( t0 – ti ). = A.3 – a. luas elemen yang dianalisis.3 . toa = temperatur udara kering rata-rata 24 jam.6.1 ).9 0C untuk permukaan horisontal. c dan d Utabel = Uaktual = = koefisien fungsi transfer konduksi atap atau dinding luar. sesuai orientasi.A.6.R/ho = faktor radiasi gelombang panjang.3.2 ) ∑   1 n=0 dimana : b. A = luas area kaca. elemen yang dianalisa. temperatur di dalam ruangan yang bersebelahan. Penyesuaian b dan c dengan perbandingan Uaktual / Utabel.052 untuk warna gelap.6. Kaca.θ −nδ ) − n= d n .SNI 03-6572-2001 = 0. tea = temperatur udara matahari rata-rata 24 jam. = 00 C untuk vertikal. 4).……. dimana : tb = ti = 29 dari 55 . θ δ n e A 3). SHGF = faktor penambahan kalor matahari. Atap dan dinding luar. = 0.

dimana : Q = aliran udara ventilasi atau infiltrasi . qlaten = qil . ( Ho – Hi ). Q.6.23.( 6. atau : qsensibel = (qis . Q.6. daya listrik.b. Ffl = penambahan kalor sensibel dan laten dari peralatan. (Wo – W i) ………………………………( 6.6.6.SNI 03-6572-2001 b).6.2 ).3 – b. qel = W.4.20. = N.6.3 – b.1 ) qlaten = 3010. Fua.4. dimana : qis. dimana : P = EF = 4). qsensibel = qis . Daya (tenaga).3 . Pencahayaan. to . faktor penggunaan pencahayaan. Peralatan lain.2 ). qsensibel = 1.Fua. Fra)/Ffl.3 – b. c). jumlah orang yang berada di dalam ruangan yang dikondisikan.3 – b. ………….…( 6.6. …………………………….3 ).6. ……………………………………. W o.6. qtotal = 1.6. 30 dari 55 . Fua. ti = temperatur udara di luar dan di dalam ruangan 0C.6. ……………………………(4. faktor toleransi khusus. N. Orang. qSensibel qLaten = dimana : N = 2).6. 3).EF ………………………………………….3 ).6. Fra ………………………….1.6.3 – c.3 – b. faktor cerobong asap.3 – c.( 6.(4. qil = Fua. (penambahan kalor laten). Q.6..6.6.3 – c. 1).2 ). qp = P.1 ).2 ). ( to – ti ). ………………………………( 6.( 6. faktor pemakaian. ………………………………………. W i = kandungan uap air di luar dan di dalam ruangan ( kg. liter/detik.3 ).uap air/kg.1 ). Fra .4.udara kering). …….( 6..…( 6.Ful .3 – b. Fsa . faktor effisiensi. Penambahan kalor dari dalam ruangan yang di kondisikan.6. Udara ventilasi dan infiltrasi.6.1. (penambahan kalor sensibel). faktor radiasi. dimana : W = Ful = Fsa = Watt dari listrik untuk pencahayaan atau armatur lampu.6.

) ……….6. beban pendinginan sensibel dari elemen penambah kalor yang hanya mempunyai komponen konveksi.qθ.. Metoda CLTD/SCL/CLF.Qθ-2δ+……. ( 6.3 ).2 ) Qsc = j =1 ∑ (qc.1.6.6. entalpi udara di luar dan di dalam ruangan. ………………………………. Penambahan kalor dari luar ruangan yang dikondisikan. setiap i elemen penambah kalor yang hanya mempunyai komponen konveksi. Sensibel : Qθ = Q tf + Qsc ………………………………. = δ = Qsc = qc 2). dimana : qc = 6.……………( 6.1) . = Laten : Ql = n =1 ∑ (qc.Qθ-δ+w2.(SC). Beban radiasi matahari melalui kaca.1. koeffisien fungsi transfer ruangan.6.4.i-2δ + . Beban Pendinginan.3 – d.6. SCL = faktor beban pendinginan matahari dengan tanpa peneduh dalam.(SCL). setiap n elemen penambah kalor laten. q = A.n).( 6. a).SNI 03-6572-2001 Ho .i-δ + v2.6. kJ/kg(udara kering). ……………………………( 6.3 – d..j ) …………………. dimana : A = luas permukaan kaca luar. v. 1).qθ.3 – d.(6. interval waktu ( 1 jam ).6.6.)+(w1.i + v1.. atau dengan peneduh dalam.6.qθ. 31 dari 55 . dimana : Qtf = beban pendinginan sensibel dari elemen penambah kalor yang mempunyai komponen konveksi dan radiasi. Qtf = ∑ i= 1 (vo.1.1 ).6.4 – a.6.2 ). w = qθ . Hi = d). setiap i elemen penambah kalor yang mempunyai komponen radiasi.6. 1).……….3 – d. SC = koeffisien peneduh.

Penambahan kalor sensibel dan laten dari penghuni.3 ). faktor beban pendinginan. dihitung dari gambar bangunan.(penambahan kalor sensibel).4 . atap..a. (CLTD) = perbedaan temperatur beban pendinginan.2 ). atau lantai.6.6. beban pendinginan dalam. faktor toleransi khusus. b). …………………………(6.6.(CLF).4 – b.Ful. Konduksi matahari melalui kaca.6. faktor penggunaan pencahayaan. q = W. dimana : U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk partisi.4 – a. trc = temperatur ruangan yang direncanakan. dimana : U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk atap atau dinding.1 ).6. 1).. dinding 3). tb = temperatur ruangan yang bersebelahan. ( 6. q = U. dinding luar. CLF = Catatan : CLF = 1. watt dari listrik atau data armatur pencahayaan. A = luas permukaan partisi. Pencahayaan. q = U. 1. langit-langit. A = luas permukaan atap. Beban pendinginan dari partisi. langit-langit atau lantai. Orang.SNI 03-6572-2001 2). qSensibel = dimana : N = jumlah orang di dalam ruangan.6.0 dengan 24 jam pemakaian pencahayaan dan/atau jika pendinginan dimatikan pada malam hari atau selama libur. dihitung dari gambar bangunan. faktor beban pendinginan sesuai jam penghunian. atau kaca luar. atau untuk kaca. …… ( 6. langit-langit dan lantai. sesuai jam penghunian.6.Fsa. dimana : W = Ful = Fsa = CLF = Catatan : CLF = 32 dari 55 .2 ). atap dan dinding. …………………………. 2).( 6.6.(CLF). N.0 dengan kepadatan tinggi atau 24 jam penghunian dan/atau jika pendinginan dimatikan pada malam hari atau selama libur.A.A.(CLTD) ………………………….(tb – trc). atau kaca.4 – b.

6. Penjelasan : Untuk contoh cara menghitung dari ketiga metoda tersebut dapat digunakan buku referensi yang ada.6.udara kering). CLF = faktor beban pendinginan.3 ). tO .1.Q.(tO – tI ).6.6.6. EF = faktor efisiensi.4. HO. sesuai skedule jam.2 ). Daya listrik.(WO – W I ).4. dimana : qis .4 – c.3 ). 33 dari 55 . tI = temperatur udara luar dan temperatur udara di dalam ruangan.EF. Catatan 1 : CLF = 1. W O.6.4 – b.Q.1 ). 1. …………………. qil .6. …………………….4 – b. Udara ventilasi dan udara infiltrasi. dan infiltrasi. (CLF)]/Ffl ………………( 6. CLF = faktor beban pendinginan sesuai jam penghunian.6.1.6.Q.SNI 03-6572-2001 3). dimana : Q = ventilasi dalam liter per detik.23). W I = kandungan uap air di luar dan di dalam ruangan.4.6. faktor radiasi. Catatan 2 : Set beban laten = 0 jika peralatan menggunakan tudung pembuangan. Catatan : CLF = 4). dan petunjuk teknis ini tidak mencakup data informasi untuk perhitungan beban pendinginan.1 ). Fra.4 – c. Fua.6. faktor kerugian pembakaran. (kg.0 dengan 24 jam peralatan beroperasi dan/atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur. …………………………………( 6.1. q = P.4 – b. ………………………. qil = penambahan kalor sensibel dan laten dari peralatan. …………………………… ( 6. qSensibel = atau : qSensibel = qLaten = [qis . qis . (CLF). Fra .( 6. Peralatan lainnya..Ffl = faktor penggunaan. . HI = entalpi udara di luar dan di dalam ruangan.uap air/kg. kJ/kg (udara kering). (1.20). Fua. Fua .4 – b.( 6. (HO – HI ). Fua.4 – c.Fra.…………………. (CLF). qSensibel = qLaten qTotal = = (1.6.2 ). (3010).0 dengan 24 jam beroperasinya daya listrik dan / atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur.( 6.3 ). dimana : P = daya listrik yang digunakan.6. c).6.( 6.

6.1 Dalam penggunaannya.7.6.6.6. Gambar 6.6. 6.6.5 : Perhitungan Beban Pendinginan dengan Metoda TFM/ CLTD/CLF dan TETD/TA 6. 34 dari 55 . CLTD/SCL/CLF dan TETD/TA untuk bangunan gedung yang sama ditunjukkan pada gambar 6.5. Hasil perhitungan dengan metoda TFM.7.5. Analisa Psychrometrik.SNI 03-6572-2001 6. Komparasi Metoda Perhitungan Beban Pendinginan. kurva psychrometric harus diperluas termasuk cara pengendalian sifat-sifat panas dari udara tersebut.

sesuai yang dipersyaratkan untuk memelihara kondisi yang diinginkan. Jadi dicampurnya dengan udara luar adalah untuk kebutuhan ventilasi. Udara mengalir melalui koil pendingin (3-4) dan dipasok ke ruangan (4). Elemen-elemen ini adalah : 1). c) Secara normal udara yang dipasok ke ruangan oleh sistem pengkondisian udara. hanya yang berpengaruh terhadap sifat-sifat psychrometric udara yang dibicarakan. b).2.7.: Kurva Psychrometric untuk pengkondisian udara ruangan 6. Proses Pengkondisian Udara. dikembalikan ke koil pendingin. Faktor kalor sensibel ruangan (RSHF) Faktor kalor sensibel total (GSHF) e).7. Udara yang dipasok ke ruangan bergerak sepanjang garis (4-1) mengambil beban ruangan. Pemilihan peralatan yang tepat untuk melengkapi pengkondisian ini dan untuk mengendalikan sifat thermodinamis dari udara tergantung pada keragaman elemenelemen. d). Campuran kemudian mengalir melalui koil pendingin dimana kalor dan pengembunan ditambahkan atau dipindahkan. 35 dari 55 . a).SNI 03-6572-2001 Gambar 6. menunjukkan proses pengkondisian udara yang digambarkan pada kurva psychrometric. dan siklus berulang. 2). Udara luar (2) dicampur dengan udara balik dari ruang (1) dan masuk ke dalam koil pendingin (3) (apparatus).1. Gambar 6.7. Jadi.1.

Sistem ini terdiri dari kipas udara. 7.1. air sejuk (chilled water) dialirkan melalui unit Fan koil untuk pengkondisian udara.2. 5). 7. 4). b). 7. lubang masuk pada dinding dan dimasukkan ke dalam ruangan melalui saluran khusus. Ada 4 jenis alat pengkondisian udara yang termasuk dalam kelompok ini : jenis paket. Pada sistem ini udara didinginkan secara langsung oleh koil pendingin dimana media di dalam koil pendingin adalah refrigeran. Udara yang diperlukan untuk ventilasi dimasukkan melalui celah celah pintu atau jendela. terdiri dari : 7.3 : Sistem ekspansi langsung 7. koil pendingin dan mesin refrigerasi yang berada di dalam satu kotak.1.2.1.SNI 03-6572-2001 3).3. 36 dari 55 . jenis atap. Gambar 7. c). Sistem Ekspansi Langsung (DX). Sistem pengkondisian udara. jenis lantai.1. Sistem Pengkondisian Udara.1. d). Mesin refrigerasi yang ada didalamnya terdiri dari kondenser (jenis pendingin air atau udara) dan kompressor yang terpisah dari unit Fan Koil. tetapi dihubungkan dengan pipa refrigran. Sistem Air Penuh. Pada sistem air penuh. a). jenis jendela. Temperatur efektif permukaan (t es) Faktor bypass (BF) Faktor kalor sensibel efektif (ESHF) 7.1.

Sistem Udara Penuh.1.1. 37 dari 55 .: Sistem air penuh Gambar 7. Dalam keadaan di mana beban kalor dari beberapa ruangan yang akan dilayani berbeda. Campuran udara luar dan udara ruangan didinginkan dan dikurangi kadar uap airnya. Masalah tersebut dapat dipecahkan dengan melayani ruangan dengan kondisi yang sama oleh satu alat pengkondisian udara.2.3.: Unit Fan koil dengan pemasukan udara luar secara langsung 7.3.1.a.b.SNI 03-6572-2001 Gambar 7. tidak mungkin mempertahankan udara ruangan pada suatu temperatur tertentu. 7. kemudian dialirkan kembali ke dalam ruangan melalui saluran udara.2.

Daerah ini meliputi ruangan yang menghadap ke dinding luar gedung.3. Sistem pembagian daerah ini disebut Zoning.3.3.3. ditunjukkan suatu alat pengkondisian udara dimana ruangan dibagi menjadi 2 daerah. Gambar 7. atau daerah pinggir atau daerah perimeter.1 :Sistem udara penuh 7. Dalam hal tersebut. Pada gambar 7.a dan 7.2.2.3.3.: Pembagian daerah 7.3. 38 dari 55 . meliputi ruangan yang dikelilingi oleh daerah luar. udara luar masuk ke dalam alat pengkondisian udara sentral melalui saluran udara yang sama.b ). b). Daerah luar.3. gedung bertingkat diatur sedemikian rupa sehingga zoning dilakukan berdasarkan tingkat lantai yang berada pada tingkat kondisi dan beban kalor yang berbeda.2 Pada gambar 7.3.3. a). Masing-masing daerah dilayani oleh alat pengkondisian udara yang terpisah. Pada sistem unit tingkat lantai. atau diolah terlebih dahulu secara bersama-sama dan baru kemudian masuk ke dalam alat pengkondisian udara masing-masing ( gambar 7.3.b dapat dilihat jenis zoning lainnya berdasarkan tingkat lantai.3.a).3. Maka setiap lantai dilayani oleh alat pengkondisan udara yang terpisah satu sama lain. tetapi udara ruangan dapat masuk kembali langsung ke dalam alat pengkondisian udara masing-masing lantai (gambar 7.3. Dearah interior.SNI 03-6572-2001 Gambar 7.

3. dapat dilihat sistem yang menggunakan pemanas ulang. Kemudian udara tersebut masuk ke dalam ruangan melalui alat pemanas yang dipasang pada saluran cabang masing-masing.3.SNI 03-6572-2001 Gambar 7.: Sistem unit setiap tingkat 7.4. Pemanas tersebut memanaskan udara dan diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh temperatur udara yang sesuai dengan temperatur udara ruangan yang diinginkan.: Sistem unit setiap tingkat Gambar 7.a.b.3.3. Pada gambar 73. 39 dari 55 .3.4. Udara segar yang mengalir di dalam saluran utama dipertahankan konstan pada temperatur rendah.

Gambar : 7.5. Selanjutnya udara tersebut bersirkulasi di dalam ruangan. Dalam sistem air-udara.3. sedangkan kalor laten diatasi oleh udara primer. Sistem Air – Udara. unit Fan koil dipasang di dalam ruangan yang akan dikondisikan. Air sejuk (untuk pendinginan) atau air panas (untuk pemanasan) dialirkan ke dalam unit tersebut sehingga menjadi dingin atau panas.3.: Sistem pemanas terminal 7.SNI 03-6572-2001 Gambar : 7. Pada umumnya.5 : Sistem air – udara 40 dari 55 . udara luar yang telah didinginkan dan dikeringkan atau udara luar yang telah dipanaskan dan dilembabkan dialirkan dari mesin pengkondisian udara sentral ke ruangan yang akan di kondisikan. sebagian kalor sensibel dari ruangan diatasi oleh unit ruangan (unit sekunder).3. Udara luar yang telah dikondisikan ini disebut udara primer.4. Demikian pula untuk keperluan ventilasi.

Persyaratan Kinerja. 7. 7. pendingin udara dengan kontrol temperatur dan penurunan kelembaban 41 dari 55 . Pompa kalor merupakan metoda operasional dari unit refrigerasi yang mengubah sistem pengkondisian udara pada dirinya sendiri tanpa menggunakan unit ketel uap yang terpisah. Setiap sistem pengkondisian udara dapat dirubah menjadi pompa kalor. Sistem pompa kalor adalah siklus refrigerasi yang direncanakan untuk mengendalikan kalor dalam dua arah (dingin atau panas).4. Sistem Pompa Kalor. pembersih udara. sarana sirkulasi udara. Peralatan sistem pengkondisian udara menyediakan satu (paket tunggal) atau lebih (sistem terpisah/split system) paket yang dirakit di pabrik yang terdiri dari . Gambar 7.5.6.3.SNI 03-6572-2001 Gambar : 7. Peralatan Sistem Pengkondisian Udara.3. Pompa kalor merupakan penyelesaian alami bila beban kalor pendinginan dan beban kalor pemanasan mendekati sama. Sistem air – udara 7.1.: Sistem pompa kalor.4.6.3.

Ambien Kondenser 35. dan kondenser refrigeran didinginkan oleh udara.1.1.1.4. Besarnya kalor bersih yang dilepaskan harus didefinisikan sebagai perubahan total kalor yang terkandung dari udara yang masuk dan yang meninggalkan peralatan (tanpa reheat). 2).4. ANSI 2234. Standar juga didasarkan pada kondisi standar lain. Air Conditioner ruang. b).1. Tabel 7.1. besar masukan energi listrik untuk pendinginannya disesuaikan dengan kondisi standar tertentu seperti ditunjukkan pada tabel 7. Peralatan sistem pengkondisian udara (tanpa batas) yang dipakai untuk unit (sentral) peralatan pendingin ( yang didinginkan dengan udara.khusus. dan nilainya tidak kurang seperti ditunjukkan dalam tabel 7.4 35 kondenser 0C Catatan : 1). paket yang dipisahkan harus oleh pabrik direncanakan untuk dapat dipakai bersama.9 (pendinginan udara) 0C Air pendingin 29.7 19.4. COP adalah perbandingan antara kalor bersih yang dilepaskan (net heat removal) dengan total masukan energi .1.2. Sentral Air Conditioner yang didinginkan dengan udara.: Standar temperatur2 – pendinginan Peralatan sistem pengkondisian udara yang digerakkan dengan listrik1 Uraian Pendinginan udara Pendinginan air Temperatur Temperatur masuk keluar bola basah bola kering (WB) (DB) Udara ruang yang 26.4. minimum statik luar yang dikondisikan (external static).4.2. ARI std 360-75. Peralatan Sistem Pengkondisian Udara.2. 7. sump heater 42 dari 55 .0 23.4. jumlah aliran udara kondenser. dinyatakan dalam unit yang konsisten dan dibawah kondisi yang ditetapkan dalam perencanaan (lihat tabel 7. c). tahanan aliran udara seperti dijelaskan pada standar pemakaian.1. air atau evaporasi. d). air dan evaporasi). ditunjukkan dengan Koefisien performansi (COP) pendinginan seperti didefinisikan pada butir 7. Data dalam tabel ini dipakai untuk jenis peralatan sebagai berikut : a). jumlah aliran udara pada koil pendingin.2). yang Dioperasikan dengan Listrikuntuk Pendinginan. evaporasi dan air.Pendinginan. 7.1 dan tabel 7.1.1 – 1972. paket terminal air conditioner dan air conditioner ruang. Apabila peralatan disediakan lebih dari satu paket. Kondisi standar tambahan yang dispesifikasikan dalam standar pemakaian untuk peralatan sistem pengkondisian udara . Fungsi pendinginan dioperasikan antara lain oleh listrik atau kalor. ARI std 310-76. Koefisien Performansi dari Peralatan (COPP ) . kompresor.4.SNI 03-6572-2001 (dehumidification). ARI std 210-78. Peralatan unitari air conditioner untuk komersial/industri.1.4. Terminal paket air conditioner. Total masukan energi harus ditentukan oleh kombinasi masukan energi untuk semua elemen dari paket peralatan yang dipasok. termasuk (tanpa batas) .2.2.4 masuk peralatan 0C. seperti untuk listrik. kebutuhan untuk rakitan terpisah.

Chiller jenis sentrifugal.1.2 Komponen Sistem Pengkondisian Udara. 7.2. fan udara balik.: Peralatan sistem pengkondisian udara yang digerakkan dengan listrik1 COP minimum – (pendinginan) Kapasitas standar Kurang dari 19 kW 19 kW ke atas Pendinginan Pendinginan Pendinginan Pendinginan udara dengan evaporasi udara dengan evaporasi atau air atau air 2. 43 dari 55 .4. digerakkan dengan listrik atau absorpsi (digerakkan dengan kalor). untuk unit kondensing.2.1.2.4. Pemakaian peralatan seperti ditunjukkan pada tabel diatas.2.2.1.2. nilainya tidak kurang seperti ditunjukkan dalam tabel 7. fan menara pendingin. sarana untuk menyejukkan air (chilling water) dengan kontrol temperatur. yang isapannya menerima uap refrigeran dari koil pendingin dan Fan (AHU) paket atau kombinasi yang dirakit di lapangan.2.4.4.4.6 2.4. rotari atau torak. COP seperti didefinisikan pada butir 7. Tabel 7. Komponen Pengkondisian Udara yang Digerakkan dengan Listrik Pendinginan.2.2.(2).3 2.(1) dan 7. fan pemasok udara. harus memenuhi kondisi standar tertentu yang dispesifikasikan pada tabel 7. menunjukkan koefisien performansi-pendinginan (COP) seperti didefinisikan dalam butir 7.2.1.4.1.2.2.4. pompa-pompa.7 Catatan : 1. standar tambahan tertentu yang dispesifikasikan dalam standar pemakaian untuk komponen sistem pengkondisian udara khusus. pompa sirkulasi air. mengalirkan air dingin ke unit terminal untuk melayani ruangan yang dikondisikan dalam gedung. Semua performansi di dasarkan atas ketinggian di atas permukaan air laut.1. Komponen sistem pengkondisian udara menyediakan.4.4.SNI 03-6572-2001 kompresor.(1) dan 7.(2) masukan energinya diperoleh dari listrik . Komponen sistem pengkondisian udara seperti ditunjukkan pada tabel 7. dan sirkit kontrol peralatan sistem pengkondisian udara. Jenis kedua dari komponen sistem pengkondisian udara adalah unit kondensing torak.2. dan mengalirkan refrigeran cair ke AHU. 7. satu atau lebih paket rakitan pabrik. fan udara untuk kondenser.2.4.(1) untuk peralatan penghasil air sejuk (water chiller) dan tabel 7.(2).4 2.

K/W 0.2 masuk Temperatur air pendingin kondenser yang 0 C 35. lihat standar sebagai berikut : ARI standar 450-74 untuk kondenser dengan pendinginan air.7 6. 3).6 0 didinginkan dengan udara C 48.00018 0.2 12. C 23. Paket Chiller torak sesuai ARI standar 590-76. C 40.00000 refrigeran). seperti standar listrik.00009 Tabung baja.00000 0.3 Tabung non ferrous. m2.0 DB 0 didinginkan dengan evaporasi.9 WB Temperatur saturasi yang dilepaskan kompresor.0 0 didinginkan dengan udara. dan lain-lain. C 43. Kondenser bukan didalam unit paket 44 dari 55 . ARI standar 480-74 untuk kondenser dengan pendinginan air. m2.7 keluar Temperatur air sejuk (chilled water) yang 0 C 12.1 (1) : Komponen sistem pengkondisian udara.4. 0 didinginkan dengan air atau evaporasi. tahanan aliran luar minimum. jumlah aliran udara kondenser.4 masuk Faktor kekotoran air untuk kondenser (fouling factor).K/W 0. 0 didinginkan dengan udara C 35. Data dalam tabel dipakai untuk komponen jenis Sistem pengkondisian udara sebagai berikut : Paket Chiller centrifugal atau rotary sesuai ARI standar 550-77.00018 Faktor kekotoran refrigeran (fouling factor m2.3 Temperatur udara luar kondenser. Standar juga didasarkan pada kondisi standar lain. 4). jenis remote. 2).2. C 35. ARI standar 550-77 dan 590-76 juga berisi prosedur untuk mengatur standar faktor fouling.K/W 0. Kondisi standar – pendinginan2 Paket Paket Chiller Chiller torak centrifugal Kondisi tanpa atau paket kondenser4 chiller torak Temperatur air sejuk (chilled water) yang 0 C 6.SNI 03-6572-2001 Tabel 7.00009 0.0 keluar Temperatur air pendingin kondenser yang 0 C 29. digerakkan dengan listrik 1 untuk Chiller. Untuk informasi faktor fouling.9 Temperatur cair dari refrigeran : 0 didinginkan dengan air atau evaporasi. seperti dijelaskan dalam standar pemakaian.3 Keterangan : 1).

2. fan kondenser pendinginan udara.(2).4.SNI 03-6572-2001 Tabel 7.3 29. Dengan 350C DB udara ambien sekeliling unit. kondisi dipelihara dengan perlengkapan konsender yang terpisah..2. e). Masukan energi total ke komponen-komponen harus ditentukan oleh kombinasi masukan energi ke semua elemen dan asesori dalam komponen. dalam b). Data dari tabel 3 ARI 520-78. 45 dari 55 . Bukan bagian unit kondensing.2 18.4. Data dalam tabel ini dipakai untuk unit kondensing sistem pengkondisian udara.(2). motor pompa sirkulasi juga harus diperhitungkan dalam menentukan COPK. pompa air menara pendingin.4.1. dinyatakan dalam satuan yang konsisten dan dibawah kondisi standar tertentu yang direncanakan (lihat tabel 7. energi untuk fan motor termasuk penentuan COPK dari paket. f). dalam 0C.3 35 2 4.2.4 18. harus dinyatakan oleh pabrik seperti diperoleh pada kondisi yang ditunjukkan pada garis cair refrigeran meninggalkan unit kondensing.1. d).(1) dan 7.1.9 Keterangan : 1). dan perubahan enthalpy dari refrigeran yang masuk dan meninggalkan unit kondensing.: Komponen sistem pengkondisian udara. Pada paket dengan pendinginan udara.4. jika menara pendingin atau kondenser evaporasi masuk dalam paket. Koefisien Performansi dari Komponen (COPK). 4). digerakkan dengan listrik1 untuk unit kondensing Kondisi standar – pendinginan Temperatur Kondenser3 Pendinginan Pendinginan Evaporator2 Pendinginan air Group udara4 evaporasi Udara masuk Air Udara masuk Saturasi Gas kembali Bola kering Masuk Keluar Bola basah 0C 0 0 0 0 0 C C C C C 1 7. pompa sirkulasi. Refrigeran cair sub dingin. Lihat ARI standar 520-78 untuk Kompresor refrigerant langkah positip. dan komponen kontrol sirkit dari sistem pengkondisian udara. COP dari unit kondensing torak didasarkan pada masukan energi ke unit kondensing. Koefisien performansi komponen (COPK) adalah perbandingan laju kalor bersih yang dilepaskan terhadap laju masukan energi total. Unit kompresor dan unit kondensing.2.4 35 23. 2). Group 1 dan 2. Pada pendinginan dengan air atau evaporasi. alat-alat pembilas. Laju pelepasan kalor bersih dari komponen-komponen didefinisikan sebagai perbedaan total kandungan kalor dari air atau refrigeran yang masuk dan yang keluar dari komponen.2. 3). c). 7. termasuk (tanpa batas) ke kompresor. a).

Koefisen performansi (COP) . 1).(1) : Komponen sistem pengkondisian udara.4. R = jenis torak (ARI standar 590-76). a). Peralatan/ Komponen Sistem Pengkondisian Udara yang Dioperasikan dengan Kalor. 2). Tabel 7.0 3. 46 dari 55 .5 Keterangan : 1). 2. unit kompresor dan unit kondensing. termasuk masukan perlengkapan listrik.5 Udara Air h). dinyatakan dalam unit yang konsisten dan dibawah kondisi tertentu yang direncanakan. Tabel 7.3 2.7 Keterangan : 1).7 Udara 2. Energi yang dikonsumsi oleh alat pelepas kalor ( menara pendingin atau penukar kalor) tidak termasuk dalam perhitungan COPK untuk unit kondensing.4. Sesuai ARI-standar 520-78 untuk kompresor refrigerasi langkah positip.9 3.8 Air 3.2.2.pendinginan. kecuali alat (seperti kondenser pendinginan udara) yang menyatu dalam paket dari pabrik pembuatnya.SNI 03-6572-2001 g). Didasarkan kapasitas standar pada ketinggian permukaan laut. Pemakaian peralatan seperti ditunjukkan pada tabel diatas. Pompa air dingin mensirkulasikan air dingin melalui sistem pemipaan luar ke paket. 7. Kinerja dari paket pendingin air tidak termasuk energi untuk mengalirkan air dingin dan pompa air kondenser atau fan menara pendingin. semua kinerjanya didasarkan atas ketinggian di atas permukaan laut. digerakkan dengan listrik untuk unit kondensing 19 kW dan lebih1 : COP minimum – pendinginan2 Langkah positip Sarana kondensing Evaporasi 3.2. Koefisien performansi adalah perbandingan laju kalor bersih yang dilepaskan terhadap laju masukan energi total. C = jenis sentrifugal atau rotary (ARI standar 550-77).(2) : Komponen sistem pengkondisian udara. 2).5 Air 4.3.4. dan pompa menara pendingin dan fan mensirkulasikan air atau udara melalui kondenser dan menara air tidak termasuk perhitungan COPK untuk komponen. digerakkan dengan listrik1 COP minimum – pendinginan2 Paket pendingin air Jenis3 Lengkap Tanpa kondenser Sarana pendinginan kondenser C R Udara 2.2.2.

00018 35.7 DB.(1) : Peralatan/Komponen pendingin sistem pengkondisian udara. 23.(1). (b). 4). Tabel 7.9 WB 7.K/W 0 C L/W.3.4. Air pendingin masuk ke kondenser Faktor kekotoran (Fouling factor) untuk kondenser. Laju kalor yang masuk ke peralatan/komponen didefinisikan sebagai perbedaan kandungan kalor total dari air atau udara yang masuk dan yang meninggalkan peralatan/komponen tersebut. pompa yang masuk dalam paket untuk sirkulasi refrigeran dan cairan absorber dalam siklus refrigerasi.4 WB 35. nilai minimumnya seperti ditunjukkan pada tabel 7. Laju aliran air pendingin di kondenser C C C 0 2 m .7 0. dioperasikan dengan kalor. Udara masuk kondenser Peralatan penghasil air sejuk2 (Water chiller) : Air sejuk ke luar dari evaporator Faktor kekotoran (Fouling factor) untuk evaporator. energi yang diperoleh kembali dari proses lain. energi matahari.pendinginan. langsung. (Uap.K/W 0 C C 0 m2.0 DB. 19.3.min. Pada peralatan/komponen sistem absorpsi (yang digerakkan dengan kalor).0 per spesifikasi pabrik Kondisi standar Unit 0 0 Peralatan pengkondisian udara1 : Udara yang dikondisikan masuk.3.2. 47 dari 55 .4 0. Air pendingin ke luar dari kondenser.2. Untuk kalor yang diperlukan mengoperasikan peralatan/komponen pendingin.4. minyak) panas) Temperatur Temperatur 26. 5). Kalor yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan/komponen pendingin yang menunjukkan COP . Kondisi standar – pendinginan Sumber panas Pembakaran Pembakaran tak langsung.4. termasuk diperhitungkan dalam menentukan COP dari peralatan/ komponen.2 29. masukan energi kalornya harus dibatasi untuk : (a). 3).9 12. air (Gas. Air sejuk masuk ke eaporator.SNI 03-6572-2001 2).2.2 6.(2) bila diuji pada kondisi standar tertentu seperti ditunjukkan pada tabel 7.00009 Per spesifikasi pabrik 23.

daya yang dibutuhkan motor untuk sistem fan gabungan tidak melebihi 2. 2). 7.5 kw pada aliran rancangan. air panas) 0. 48 dari 55 . Untuk sistem fan dengan volume aliran berubah. daya yang dibutuhkan motor pada sistem fan gabungan tidak melebihi 1. pompa ganda bertahap. Sistem Fan. b). b.36 W/(m 3/jam). Untuk sistem fan dengan volume tetap.48 Pembakaran tak langsung (Uap. minyak) 0.SNI 03-6572-2001 Keterangan : 1).4. Keluaran bersih pedinginan 2). Sesuai untuk ketinggian diatas permukaan laut.4.(2).40.4. c). Sesuai standar ARI 560-75 untuk paket pendingin air absorpsi. Aliran fluida harus dapat diubah dengan penggerak pompa berkecepatan variabel.2.3. yang dioperasikan dengan kalor1 COP2 minimum – pendinginan.: Peralatan/komponen pendingin sistem pengkondisian udara. Sistem Pompa.1-1973 dan adendum untuk Absorpsi pembakaran gas dari peralatan air conditioning. b). atau pompa yang bekerja pada kurva karakteristik performansi. Sistem pompa yang melayani katup kontrol yang dirancang untuk membuka dan menutup kontinu atau berlangkah harus dirancang untuk memompakan aliran fluida yang variabel. Ketentuan butir a.3.4. Sumber panas Pembakaran langsung (Gas. Setiap fan pada sistem volume aliran berubah atau VAV (Variable Air Volume) dengan motor 60 kW atau lebih harus memiliki kontrol dan peralatan yang diperlukan agar fan tidak membutuhkan daya lebih dari 50 % daya rancangan pada 50 % volume rancangan berdasarkan data uji. COP minimum = Total masukan kalor (termasuk perlenkapan listriknya 7. Sistem pompa dan pemipaan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a). Tabel 7. d). Sistem pemipaan harus dirancang agar laju kehilangan tekanan akibat gesekan tidak lebih dari 4 meter air/100 meter panjang ekuivalen pipa. dan c di atas tidak berlaku untuk fan dengan daya lebih kecil dari 7.12 W/(m 3/jam). c).68 Keterangan : 1). Rancangan sistem fan harus memenuhi ketentuan : a). Sesuai Standar ANSI Z21.

dan atau jika aliran minimum yang diperlukan lebih dari 50% aliran rancangan. selama ruang tidak dipakai. Zona yang memerlukan kondisi khusus harus dilayani sistem distribusi udara yang terpisah dari sistem yang melayani zone hunian. waktu kosong atau penggunaan bergantian dari ruang-ruang yang dilayani oleh suatu sistem. c).4. Termostat sebagai pengontrol temperatur harus dapat diset di tempat atau dari jauh. Sistem distribusi udara terpisah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a). b). c) dan d) di atas tidak berlaku untuk sistem pompa dengan daya motor kurang dari 7. b). 7. e).6. Pencatu energi pendinginan untuk tiap zona harus dilengkapi kontrol termostatik yang memberikan respons pada temperatur di zona itu. harus dipertimbangkan adanya sistem distribusi udara terpisah untuk masing-masing zona. e). Sistem Distribusi Udara Terpisah. Sistem kontrol harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a).SNI 03-6572-2001 d). atau sistem harus dilengkapi dengan perlengkapan kontrol tambahan agar sistem primer dapat dikontrol khusus untuk kenyamanan biasa.4. 7. b). Ketentuan pada butir d di atas tidak berlaku jika : 1). d). d). pada suatu temperatur dalam batas 230C hingga 270C. tetapi sistem distribusi udara terpisah tidak diperlukan bila udara untuk zone penghunian tidak lebih dari 25 % udara catu sistem primer atau bila luas zona penghunian tidak melebihi 100m2. c). Ketentuan butir a). atau sistem yang dilengkapi dengan kontrol jam kosong. Sistem Kontrol. 49 dari 55 . Gedung yang mempunyai beberapa zone dengan karakteristik berbeda seperti zona perimeter dan zona dalam.5 kW. harus dilayani oleh sistem distribusi udara terpisah. Ketentuan pada butir b) dan c) di atas tidak harus dipenuhi.5. zona gedung yang digunakan untuk penghunian harus dilayani secara terpisah. jika sistem pompa hanya melayani satu katup kontrol. Bila sistem catu udara primer dimaksudkan bukan untuk kenyamanan. Sistem melayani ruangan-ruangan yang dirancang untuk beroperasi secara terus menerus . Beberapa zona dalam gedung yang beroperasi tidak serentak selama lebih dari 750 jam/tahun. Tiap sistem tata udara harus dilengkapi dengan paling sedikit satu alat kontrol temperatur. Sistem tata udara harus dilengkapi dengan alat kontrol otomatis yang dapat memberikan penurunan pemakaian energi dengan mematikan peralatan.

i). Untuk bahan dengan resistansi termal lebih besar dari 32 m2 K/W per meter. j). Sistem mempunyai aliran udara rancangan 1800 m3/jam atau lebih kecil. Untuk bangunan dengan pola penghunian yang belum diketahui pada saat rancangan. Isolasi pipa harus diberi pelindung untuk mencegah kerusakan. 3). Sistem ventilasi mempunyai damper gravitasi sistem tanpa listrik lainnya dan dapat dengan mudah dikontrol secara manual. pemisahan ini tidak diperlukan untuk zona yang beroperasi secara terus-menerus. tebal isolasi dihitung dengan : 50 dari 55 . Ketentuan pada butir f) di atas tidak berlaku jika : 1).4.7. d). 2).c). Untuk bahan dengan resistansi termal lebih kecil dari 28 m2 K/W per meter. Diperlukan ventilasi khusus untuk kebutuhan proses.K/W per meter) ………… (7. Semua pemipaan air dingin pada sistem tata udara diberi isolasi termal sesuai yang tercantum dalam Tabel 7. dalam hal ini dapat diterapkan sakelar on-off setempat yang manual. h). Sistem yang melayani zone yang diharapkan beroperasi tidak serentak lebih dari 750 jam dalam 1 tahun harus mempunyai peralatan pemisah atau kontrol yang dapat menutup catu aliran pendinginan ke tiap daerah secara terpisah. 4). c).7. b).7.7 nilai R aktual (m2 .4.SNI 03-6572-2001 2). f).4. atau tidak lebih dari satu lantai. Isolasi Pemipaan. Peralatan tata udara hanya melayani beban kurang dari 2 kW. g). pemisahan daerah dapat dirancang dari awal. Zona-zona dapat dikelompokkan ke dalam sebuah daerah pemisahan dengan syarat luas lantai yang dikondisikan tidak melebihi 250 m2 per daerah. Isolasi pemipaan air dingin harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a). 7. seperti pada masukan udara untuk proses pembakaran. Sistem melayani ruangan-ruangan yang beroperasi secara menerus. tebal (t) isolasi minimum dihitung memakai rumus berikut : t (dalam mm) = 32 x tebal pada tabel 7. Sistem catu udara luar dan pembuangan udara harus dilengkapi dengan damper bermotor atau penutup otomatis lainnya yang berfungsi selama waktu ruang tidak dipakai atau waktu jam kosong.2.

c).K/W). Sistem pemipaan Jenis Temperatur Fluida 0C Jelajah 2 Tebal Isolasi minimum untuk ukuran pipa Hingga Kurang dari Antara Diatas 50 mm 25 mm 31 ~ 50 mm 200 mm Air dingin 4.4. Semua cerobong dan plenum yang terpasang sebagai bagian dari sistem distribusi udara harus diberi isolasi termal.8 ).SNI 03-6572-2001 t (dalam mm) = 28 x tebal pada tabel 7.4.7.. 7. Isolasi Sistem Distribusi Udara. R = resistansi termal dalam m2 K/W. Tabel 7.d). b).5 ~ 130C 12 mm 12 mm 20 mm 25 mm (Chilled water) 0 Refrigeran dibawah 4. 51 dari 55 .7.8.5 C 25 mm 25 mm 38 mm 38 mm Keterangan : 1).: Tebal Isolasi Minimum untuk pipa air dingin 1. nilai R aktual (m2 . 47. b). Tebal isolasi ini berlaku untuk bahan dengan resistansi termal 28 hingga 31 m2. Besarnya resistansi termal bahan isolasi ditentukan oleh rumus berikut : R= T (m2.4. udara atau cerobong-cerobong udara harus memenuhi Isolasi bagi sistem distribusi ketentuan sebagai berikut : a). Resistansi R dihitung tidak mencakup resistansi film luar maupun dalam.2.K/W per meter) dimana : t = tebal isolasi. 2).7 …………… (7.3 dimana : T = beda temperatur rancangan antara udara dalam cerobong dengan udara sekeliling dalam K.K/W per meter tebal isolasi pada temperatur rata-rata permukaan 240C. Berlaku untuk tarikan sambungan pipa ke unit-unit atau coil pendingin hingga panjang 4 meter. a. Bila pipa berada di lingkungan ambien perlu ditambah isolasi 12 mm. dalam mm. Tebal isolasi perlu ditambah bila ada kemungkinan terjadi kondensasi permukaan. ( 7.2. ………….

b). rumah tamu. satu rumah tunggal . rumah tamu. Klas 3 : Bangunan Hunian di Luar Bangunan Klas 1 atau 2. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. A. hostel. unit town house. 52 dari 55 . atau satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan.1. Klas 1a : bangunan hunian tunggal. Klas 1b : rumah asrama/kost. c). satu atau lebih bangunan yang merupakan : a). losmen . Klas 2 : Bangunan Hunian yang terdiri atas 2 atau lebih Unit Hunian. atau panti untuk orang berumur. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. A. atau b).SNI 03-6572-2001 Apendiks A Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. 2). atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. villa. e). pelaksanaan. dan tidak terletak di atas atau di bawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. rumah taman. Kelas 1 : Bangunan Hunian Biasa. cacat. berupa : 1). yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api.3. A.2. termasuk : a). rumah asrama. d). atau anak-anak. termasuk rumah deret.

termasuk : a). pengurusan administrasi. hal. termasuk : a). tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. A. Klas 5 : Bangunan Kantor. bar. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel . tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. A. bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. Klas 6 : Bangunan Perdagangan. atau tempat gunting rambut/salon. ruang penjualan. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. yaitu : a). atau pasar. 8 atau 9. atau ruang makan malam. perubahan. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/Industri/Pabrik.SNI 03-6572-2001 A. c). tempat cuci umum. b).9. bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. ruang makan. 8. atau usaha komersial. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. atau bengkel. 53 dari 55 . bangunan peribadatan. A. b). Klas 9 : Bangunan Umum. kafe. termasuk bengkel kerja. bangunan budaya atau sejenis. A.7. atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. tempat parkir umum. atau gudang. bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barangbarang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat.6. perbaikan. pengepakan. A. 7. ruang pamer. finishing. d). b). atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. Klas 9b : bangunan pertemuan. restoran . laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan.8. Klas 7 : Bangunan Penyimpanan/Gudang. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran.4. Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. perakitan. di luar bangunan klas 6. 7.5. 6.

54 dari 55 . atau sejenisnya. ruang mesin lif. klas 1a. 9b. atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak. atau sejenisnya. c).SNI 03-6572-2001 A. Klas 10 : Bangunan atau Struktur yang Bukan Hunian. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi utamanya .10. Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 sampai dengan 10 tersebut. 1b. Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang tidak mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya.12. Bangunan-bangunan yang Tidak Diklasifikasikan Khusus. ruang ketel uap. 10a.11. a). Bangunan yang Penggunaannya Insidentil. dan bukan laboratorium. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan dengan bangunan utamanya. tonggak. dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. ruang mesin. b). Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. antena. kolam renang. dalam standar ini dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai peruntukannya. A. carport. Klasifikasi Jamak. A. dan : a). dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. A.13. Ruang-ruang pengolah. Klas 10b : Struktur yang berupa pagar. Klas 10a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. 9a. b). bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan.

ASHRAE. Analysis and Design . Harris : MODERN AIR CONDITIONING PRACTICE. John Wiley & Sons.Hill Company. Shan K. 1994 . Pradnya Paramita. Third Edition 1983. Inc. Herb Wendes. McGraw. MECHANICAL AND ELECTRICAL EQUIPMENT FOR BUILDINGS.SNI 03-6572-2001 Bibliografi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Carrier : HANDBOOK OF AIR CONDITIONING SYSTEM DESIGN. Wendes Engineering and Contracting Services. 1994 : McGraw-Hill.Wang : HANDBOOK OF AIR CONDITIONING AND REFRIGERATION. Mc Guinness . PE . TESTING AND BALANCING HVAC SYSTEMS MANUAL. VENTILATING. ASHRAE. 7th Edition 1986. Reynolds. 1981. Heizo Saito : PENYEGARAN UDARA. 1965. .Inc. Jerald D. 55 dari 55 . Inc. 1995 ASHRAE HANDBOOK : APPLICATION. AND AIR CONDITIONING. Faye C. John Wiley & Sons. Edisi ke IV 1991. Inc. Stein. McQuiston. 1997 ASHRAE HANDBOOK : FUNDAMENTALS. McGraw-Hill International Editions. Wiranto Arismunandar.Parker : HEATING. Norman C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful