« Berbagi Dalam Kehidupan About Me »

Lima Aliran dalam Filsafat Pendidikan
October 7, 2009 by srilinda Ada terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda terhadap pendidikan dan praktek pendidikan yang terjadi selama ini. Pendapat-pendapat dari para pakar pendidikan itu dapat dikelompokkan dalam beberapa aliran, diantaranya terdapat lima aliran dalam Filsafat Pendidikan menurut Wahyuddin (2008) sebagai berikut: 1. Essensialisme Aliran filsafat ini menunjukkan pendekatan pendidikan “tradisional” atau back to basic yang berupaya menanamkan pada peserta didik hal-hal yang esensial dari pengetahuan akademik dan perkembangan karakter peserta didik. Aliran ini dipopulerkan oleh William Bagley (1874-1946). Aliran ini didasarkan pada suatu filsafat konservatif di Amerika yang menerima struktur social, politik dan ekonomi dari masyarakat dan menuntut lebih banyak syarat pokok, hari sekolah yang lebih lama, tahun akademik yang lebih panjang serta buku-buku teks yang lebih menantang. Lebih lanjut para esensialis memandang bahwa ruang-ruang kelas harus diorientasikan di sekitar guru, yang secara ideal bertindak sebagai model peran intelektual dan moral bagi para siswa. Para guru dan administrator pendidikan memutuskan apa yang paling penting untuk dipelajari oleh para siswa dan menempatkan sedikit penekanan pada minat siswa, dan guru esensialis sangat berfokus pada skor-skor tes pencapaian sebagai alat untuk mengevaluasi kemajuan peserta didik.

2. Progresivisme Gerakan progresivis merangsang sekolah-sekolah untuk memperluas kurikulum merek, menjadikan pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan-kebutuhan dan minat para

siswa . Aliran ini dipopulerkan oleh John Dewey (1859-1952), beliau memberikan penghargaan esarnya terhadap sains dan berpendapat bahwa satu kebenaran yang konstan tentang alam semesta adalah eksistensi perubahan, perubahan bukanlah suatu kekuatan yang tidak dapat dikendalikan, lebih tepatnya, perubahan dapat diarahkan oleh intelegensi manusia. Pendidikan menurut Dewey adalah rekonstruksi pengalaman yaitu suatu kesempatan untuk menerapkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan cara-cara yang baru. Dengan bersandar pada metode ilmiah, di sekolah progesivis, para siswa didorong untuk berinteraksi satu sama lain dengan mengembangkan nilai-nilai luhur social seperti kerjasama dan toleransi dengan cara pandang yang berbeda, sehingga seorang guru tidak merasakan paksaan untuk memusatkan perhatian para siswa pada suatu disiplin ilmu tertentu dan para siswa boleh bertanggung jawab untuk mempelajari pelajaran-pelajaran yang menggabungkan beberapa bidang studi (subyek) yang berbeda. 3. Perenialisme Aliran ini dipopulerkan oleh Plato dan Aristoteles, perennial berarti “abadi”. Menurut para perenialis, saat para siswa larut dalam studi tentang gagasan-gagasan yang besar dan abadi, mereka akan mengapresiasi belajar untuk belajar itu sendiri dan menjadi kaum intelektual sejati. Seperti halnya essensialisme, perennialisme hanya menerima sedikit fleksibelitas dalam kurikulum, mereka mendukung suatu kurikulum yang universal berdasarkan pandangan bahwa semua manusia memiliki “nature” (fitrah, sifat, karakter)esensial yang sama. Tidak seperti essensialisme, perennialisme tidak berakar pada suatu waktu atau tempat tertentu, kaum perennialis berupaya membantu para siswa menemukan gagasan-gagasan yang paling berwawasan dan abadi dalam memahami kondisi-kondisi manusiawi, menurut mereka pengetahuan tumbuh terutama dari temuantemuan empiris para ilmuwan, merendahkan nilai penting kapasitas kita untuk bernalar sebagi individu-individu, yaitu untuk berpikir secara dalam, analitis, fleksibel dan imajinatif.

Prinsip pertama aliran ini adalah ” man is nothing but what he makes of himself ” (manusia adalah apa yang dia upayakan atas dirinya), dipopulerkan oleh Soren

Kierkegaard (1813-1855) dan Frederich Nietzsche (1811-1900), mereka sama-sama menjunjung tinggi individualisme, khususnya mereka berpandangan bahwa pendekatanpendekatan filsafat tradisional tidak cukup menghargai pertimbangan ilmiah dari tiap-tiap individu. Di dalam ruang kelas eksistensialisme, mata pelajaran berada pada tempat kedua untuk membantu para siswa memahami dan mengapresiasi diri mereka sendiri sebagai individuindividu yang unik yang menerima tanggung jawab sepenuhnya atas pikiran-pikiran, perasaan dan tindakan mereka sendiri. Peran guru adalah membantu siswa-siswa untuk menentukan esensi mereka sendiri dengan menghadapkan mereka pada berbagai jalur yang dapat mereka ambil dalam kehidupan dan menciptakan lingkungan dimana mereka dapat bebas menentukan cara yang lebih mereka pilih. 5. Behaviorisme Dipopulerkan oleh Ivan Pavlov(1848-1936), John Watson (1878-1958) dan B.F. Skinner (1904-1989). Behviorisme menegaskan bahwa satu-satunya realitas adalah dunia fisik yang kita kenali melalui observasi ilmiah yang dilakukan dengan seksama http://srilinda.wordpress.com/2009/10/07/filsafat-pendidikan/

Ada Apa dengan Buku Teks?
Oleh Masnur Muslich Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang: - pengaruh buku bagi pembacanya - buku dalam pendidikan; - pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks; dan - kondisi pemakaian buku teks. 1. Pengaruh Buku bagi Pembacanya Pada era global ini kehidupan manusia tidak bisa melepaskan diri dari buku. Lewat buku manusia bisa bertambah wawasannya yang pada akhirnya (langsung atau tidak langsung) akan mempengaruhi pola pikir dan pola hidupnya. Bahkan, larena kuatnya pengaruh bagi kehidupan manusia, ada sekelompok ”buku” yang disebut ”the great book”, yaitu Quran, Injil, Taurat, Zabur, Weda, dan Tripitaka. Selain itu, dikenal pula ”buku-buku pengubah dunia”, yaitu Trias Politika, Das Kapital, De Principle, dan Uncle Toms Cabin. Secara rinci D. Waples dkk. (1990) membagi pengaruh buku bagi pembacanya menjadi lima kategori, yaitu (1) pengaruh instrumental, (2) pengaruh prestise, (3) pengaruh pemantapan, (4) pengaruh estetis dan apresiatif, dan (5) pengaruh pelepasan. Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku, pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya. Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya Terakhir, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite) apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya. Pengaruh buku tersebut akan lebih terasa pada diri anak. Para ahli pendidikan berkesimpulan bahwa lewat membaca buku, anak akan berpengaruh perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalarannya. Konsekuensinya, apabila buku yang dibaca berisi hal-hal yang negatif, maka perkembangan jiwa anak juga mengarah ke negatif. Sebaliknya, apabila yang dibaca berisi hal-hal yang positif, maka perkembangan jiwa anak pun positif. Karena yang diharapkan oleh semua pihak (:orang tua, pemerintah, penddik) agar anak berkembang secara positif, persediaan buku bagi anak (buku bacaan, buku teks, dan sebagainya) haruslah buku yang memenuhi syarat positif. Permasalahan yang segera muncul adalah buku bagaimanakah yang memenuhi syarat positif bagi anak? Buku dikatakan mempunyai syarat positif apabila

yaitu (a) bisa memperluas wawasan anak. sosial. proses terjadinya hujan. Misalnya. cara membuat lampu minyak. Guru dapat mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien lewat sarana buku. dan sebagainya. dan sebagainya. Terakhir. teman yang baik. Buku hendaknya menjadi perhatian utama. (c) bisa membimbing berpikir konstruktif. proses terjadinya gunung meletus. Siswa pun dalam mengikuti kegiatan belajar dengan maksimal dengan sarana buku. Misalnya. Buku dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. Sebagai bangsa yang maju. dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam kehidupan anak. administratur pendidikan dapat mengelola pendidikan dengan efektif dan efisien dengan berpedoman ada aturan-aturan dan lebijakan yang tertuang dalam buku. atau naratif yang belum menjadi perhatian anak. dan sebagainya. mulai . dan (f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi informasi faktual. cerita tentang kerugian anak yang malas belajar.Syarat-syarat itulah yang secara ideal terdapat pada buku yang layak sebagai bacaan anak. berjuang melawan sakit menahun. dermawan cilik. Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral. Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara rasional. 2. dan sebagainya. Bahkan. kita patut tidak berseberangan pendapat dengan bangsa Eropa tentang buku.mengandung hal-hal berikut. keuntungan anak yang berbaik hati. buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. akbat anak yang ska berbohong. Buku dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. makanan sehat. sosial. cara menjernihkan air. informasi tentang cara meminum obat. buku merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan. misalnya pedoman pelaksanaan pendidikan dan kurikulum. cara mandi yang betul. keberhasil anak desa yang sebatang kara. Misalnya. dai cilik. (b) bisa menambah pengetahuan baru. Misalnya. (e) bisa menumbuhkan sikap moral. dan agama yang baik. dan sebagainya. deskriptif. Dengan buku. dan sebagainya. Misalnya. Atas dasar itulah. cerita pahlawan. (d) bisa mengarahkan kreativitas. kesuksesan anak cacat netra. perlunya kebersihan lingkungan. pelaksanaan pendidikan dapat lebih lancar. bangsa-bangsa Eropa (yang termasuk bangsa maju) berpendapat bahwa ”education without book is unthinkable”. Buku dalam Pendidikan Dalam dunia pendidikan. tokoh agama. cara membuat burung dari kertas. Misalnya.

tetapi juga masalah sosial dan imtak (iman dan takwa). yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaan atau bidang studi tertentu. Daerah terpencil justru mendapatkan perhatian utama. yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal tertentu. dan perkembangan siswa. Buku pegangan. Tugas-tugas ini bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas. yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu. Namun demikian. buku pendidikan setidak-tidaknyanya dapat dibedakan menjadi tujuh jenis. atau uraian yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu. Buku acuan. Dengan demikian ada keseimbangan antara perkembangan pemikiran dan kejiwaaan. Inilah yang biasa disebut ”manusia utuh” itu. niat pemerintah untuk program buku murah perlu mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. menganalisis. penggandaan. Oleh karena tu. . buku yang telah digandakan hendaknya disebarkan secara merata. Terkait dengan penyebaran buku ini. informasi. akan terjadi pemerataan perkembangan pola pikir dan wawasan. yaitu sebagai berikut. Buku ini dipakai oleh siswa secara periodik agar yang betrsangktan memiliki kemahiran dalam bidang tertentu. Buku kerja atau buku kegiatan. Buku latihan. Buku ini dipakai sebagai sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. orientasi pembelajaran. Buku ni dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan wawasan kepada siswa. yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu. Dari segi penyebaran. Buku teks atau buku pelajaran. Pihak swasta pun sebaiknya terlibat dalam penggandaan ini walaupun dalam bentuk transaksi bisnis. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi) oleh guru untuk memahami sebuah masalah secara teoretis. pemerintah hendaknya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk itu. Lewat buku catatan ini siswa dapat mendalami dan memahami kembal dengan cara membaca ulang pada kesempatan lain. Buku bacaan. dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada siswa. yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau hal-hal yang diperlukan dalam studinya.dari pengadaan (baca: penulisan). yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan tertentu. untuk diasimilasikan. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan. Dengan demkian. buku-buku yang telah ditulis hendaknya diproduksi secara proporsional dan memadai. apabila dilihat dari segi isi dan fungsinya. tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan. yaitu buku yang difungsikan siswa untuk menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Buku catatan. Jangan hanya diarahkan ke kota-kota besar saja. Dari segi penggandaan. Dari segi pengadaan. Buku-buku yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan bermacammacam. sampai dengan penyeberannya. buku-buku yang ditulis hendaknya diarahkan pada peningkatakan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif.

Pandangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks Kehadiran buku teks di dunia pendidikan disikapi oleh ahli pendidikan dengan berbagaimacam versi. . lewat pemakaian buku teks dapat terkontrol dengan ketat program pengajarannya. dan jenis bahan ajar yang terdapat dalam buku teks telah relatif pasti sehingga guru memungkinkan untuk mengalokasikannya berdasarkan jadwal sekolah. karena kondisi tertentu. program pendidikan yang telah dirancang dalam kurikulum tidak tercapai. ahli pendidikan yang bersikap positif atas kehadiran buku teks didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut. Ini terjadi karena antara waktu penyusunan buku teks dan waktu pemakaiannya berselang terlalu lama. Buku teks memuat bahan ajar yang sebaiknya disajikan (what to teach) dan sekuensi atau urutan cara penyajiannya. Desain buku teks sering tidak sesuai dengan desain kurikulum pendidikan. Apabila hal ini terjadi. dan adapula yan bersikap moderat. termasuk tata cara penyajian yang sesuai dengan jenis bahan dan kondisi siswa sasaran. ada yang bersikap positif. Ahli pendidikan yang apriori terhadap kehadiran buku tekas ini adalah ahli pendidikan yang mengikuti sistem pendiikan lama. Konteks dan bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering tidak sesuai dengan kondisi dan lingkunna siswa sasaran. Pandangan Negatif terhadap Buku Teks Para ahli pendidikan yang bersikap negatif atau “antipati” atas kehadiran buku teks di dunia pendidikan didasarkan oleh kenyataan berikut. Anggapan ini didasarkan oleh kenyataan bahwa pengajaran yang dianggap efektif dan efisien adalah pengajaran klasikal.3. Bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering bias dan basi. Ada yang bersikap negatif. dengan menggunakan buku teks tersebut. Pandangan Positif terhadap Buku Teks Sebaliknya. Akibatnya.jumlah. Buku teks kurang memperhatikan perbedaan individual siswa. buku teks akan terkesan ”memaksa” siswa untuk belajar sesuatu yang ”tidak sesuai” dengan kondisi dirinya. Jangkauan. Ketiga pandangan yang berbeda ini didasari oleh alasan yang bertolak belakangsatu dengan lainnya. bahkan tidak sesuai lagi dengan yang sedang dihadapi siswa. Kalau toh ada yang individual. Buku teks merupakan ”the foundation of learning in classroom”. sangatlah bersifat khusus. Siswa sasaran dianggap homgen sehingga bahan ajar yang ada pada buku teks tersaji tanpa memperhatikan siswa yang ”uper” dan siswa yang ”lower”. Oleh karena itu penyusunan buku teks tentu memperhatikan bahan ajar mana yang patut dan sebaiknya disajikan. Dengan demikian. informasi dan masalah yang terdapat dalam buku teks sudah ”kadaluarsa”. Akibatnya.

Beberapa argumentasi berikut ini menjadi alasan bagi pandangan yang moderat terhadap buku teks. Bahan ajar dalam buku teks tertata cukup baik. Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan guru dengan bahan ajar yang disusunnya sendiri. tidak dijumpai bahan ajar yang terlepas dari yang lain. terlebih dahulu disusun kerangka (outline) secara menyeluruh. dan diagram. misalnya gambar peta. klasifikasi bahan. tentu akan merugikan pihak pemerintah dan penerbit swasta itu sendiri. Pertimbangan kualitas ini merupakan konsekuensi logis. baik eksrem kiri dan ekstrem kanan. alat bantu semacam itu sulit diciptakan oleh guru dalam waktu yang relatif singkat. Pada umumnya. Sebaliknya. Kedua pendapat itu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Lebih-lebih. siswa terbebas dari kegiatan mencatat yang merupakan pemborosan waktu. Pandangan ketiga ini diilhami oleh kenyataan bahwa tidak semua buku teks menguntungkan bagi pendidikan dan tidak semua pula buku teks merugikan bagi kelangsungan pendidikan. a. Jika tidak lewat kemasan buku teks. ”No one textbook is the best for all situation” (Romero dalam ”What Textbook . Pandangan yang Moderat terhadap Buku Teks Kedua pandangan tersebut sebenarnya boleh dikatakan sangatlah ekstrem. bahkan tidak mau menggunakannya. Dengan menggunakan buku teks. Kesinambungan bahan ajar dalam buku teks telah diatur sedemikian rupa oleh penyusunnya. bahan-bahan itu merupakan rangkaian yang utuh. Para pemakai buku teks (terutama guru) tentu tidak akan menggunakan secara maksimal. bahan-bahan itu tentu berada di berbagai buku sumber. Sebab. dan pikiran. Buku teks sangat membantu sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Ketelitian ini terlihat mulai dari proses pemilihan bahan. Hal ini bisa dimaklumi karena buku teks berisi serangkaian bahan ajar yang minimal harus dikuasai atau dipahami siswa. Buku teks yang dipublikasikan oleh pemerintah dan pihak swasta telah dipertimbangkan kualitasnya. Tidak semua guru memiliki keterampilan menata bahan seperti yang terdapat pada buku teks. Lalu.Paparan masalah atau pokok persoalan (subject matter) dalam buku teks relatif teliti. kalau tidak. Ini dapat dilihat dari cara penyajian bahan ajar yang memperhatikan hierarkhi dan tataletaknya sehingga mudah dipahami siswa. Ahli pendidikan yang mendukung sepenuhnya kehadiran buku teks ini adalah ahli pendidikan modern. sebab sebelum penyusunan buku teks dimulai. sampai dengan proses penyusunannya. Buku teks cukup banyak memuat alat bantu pengajaran. tenaga. Dengan demikian. Hal ini dapat dimaklumi. timbullah pandangan yang moderat terhadap kehadiran buku teks. apabila buku tersebut merupakan buku berseri. Alat bantu ini akan dapat mempercepat pamahaman siswa atas bahan ajar yang sedang dipelajari. apabila buku teks tersebut tidak berkualitas. Buku teks merupakan batu loncatan bagi siswa.

1965). Forum 2. situasi dan kondisi sekolah. b. tetap tidak bisa menjamin bahwa buku teks dapat memenuhi kebutuhan kurikulum secra total. Buku teks memang disusun dengan mempertimbangkan program tertentu. (J. Kondisi Pemakaian Buku Teks Selama ini terdapat anggapan dari sebagian besar masyarakat (khususnya komunitas pendidikan) bahwa buku teks sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dikelompokkan menjadi dua. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. jenjang pendidikan tertentu. buku teks hanya cocok untuk “sasaran” tetentu saja. Pendapat seperti itu sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan sebab kedua ”jenis” buku teks tersebut sama-sama berorientasi kepada kurikulum yang sedang berlaku. keterbatasan ini tidak boleh dipakai sebagai “kambing hitam” untuk tidak menggunakan buku teks. buku teks tidak bisa mengajar. Sebab. Namun demikian. c. bahkan bisa dimakluminya. Walaupaun Garis-garis besar Program pengajaran (GBPP) atau silabus pada kurikulum tertentu dipakai sebagai acuan penyusunan bahan ajar pada buku teks. dan pola pikir siswa tertentu. baik dari segi pendekatan. Karena orientasinya sama. 1975) Argumentasi ini bisa dimaklumi sebab pada kenyataan memang tidak ada satu pun buku teks yang ampuh untuk semua situasi dan kondisi. isi. Pernyataan ini pun bisa dimaklumi. Pandangan ketiga inilah yang memandang buku teks secara lebih objektif dan rasional. yaitu guru pemakai buku teks. Akibatnya. Memang tidak ada satu pun buku teks yang bisa memenuhi kebutuhan kurikulum secara total. Pernyataan ini tidak mengada-ada. Tidak ada satu pun buku teks yang cocok untuk semua jenjang pendidikan. kedua jenis buku teks itu . Oleh karena itu.Shall We Use”. Buku teks hanyalah salah satu sarana bukan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. faktor-faktor lain di luar buku teks juga ikut menentukannya. Keterbatasan ini harus diantisipasi guru pada saat mengasimilasikannya di kelas. Sebab. Hook. siswa sasaran. N. dan aspek-aspek lainnya. yaitu buku teks wajib dan buku teks penunjang. Buku teks wajib (juga biasa disebut buku paket) adalah buku teks yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah. Yang bisa mengajar adalah guru lewat sarana antara lain buku teks. Tidak ada buku teks yang betul-betul bisa memenuhi harapan kurikulum. maupun strateginya. 4. Sementara itu. buku teks akan berpran secara maksimal apabila memenuhi criteria ideal dan diasimilasikan oleh guru yang professional. buku teks penunjang (juga biasa disebut buku pelengkap) adalah buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta. Yang peru dipahami adalah buku teks merupakan sarana untuk mencapai tujuan pengajaran dan buku teks bukanlah pengajaran.

.sebenarnya mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran di kelas. buku teks penunjang yang diterbitkan oleh swasta biasanya ditulis oleh penulis (baik sendiri mapun kelompok) yang berminat atau yang mempunyai pengalaman terhadap bidang pelajaran tertentu. buku teks wajib yang disebarkan hanyalah 20% dari kebutuhan real.Terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis. buku teks wajib yang diterbitkan oleh pemerintah disebarkan secara cuma-cuma ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. hal-hal tertentu yang dianggap lemah atau sumbeng dalam buku teks wajib akan dibenahi atau dilengkapi dalam buku teks penunjang ini. Dilihat dari penyusunnya. terlebih dahulu ditelaah kualitas atau kevaliditasannya baik dari segi isi. Anggapan dekotomis tersebut sebenarnya dipicu oleh kebijakan ”politis” pemerintah (sebelum era Reformasi) bahwa bahwa buku teks wajib mempunyai kedudukan ”utama”. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan baik-baik oleh penerbit swasta untuk mengisi kekosongan tersebut. buku teks yang beredar (baik buku teks wajib maupun penunjang) dijumpai keganjilan-keganjilan. . . Kebijakan semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila buku teks yang beredar (baik yang dterbitkan oleh pemerintah maupun swasta) telah mendapat kontrol lewat penilaian terlebih dahulu oleh lembaga yang kompeten atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah. Apabila keadaan ini terjadi. tentu akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan sandardisasi kualitas atau keberhasilan belajar siswa. Perhatian khusus terhadap keganjilan buku teks ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti buku teks dalam dunia pendidikan.Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan pola pikir siswa. Di sinilah peran buku teks penunjang bisa berkiprah untuk ”menggantikan” posisi buku teks wajib. Bahkan. Keganjilan yang dimaksud terlihat sebagai berikut. buku yang ditulisnya selain disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. . Sebagai konsekuensinya. Karena pertimbangan pasar. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. jumlah buku yang disebarkan jauh di bawah kebutuhan siswa. strategi. akan berdampak pada keheterogenan hasil belajar siswa.Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum. Kebijakan pemerintah ini didasari pertimbangan bahwa apabila buku teks wajib ini kalah pengaruhnya dengan buku teks penunjang. pernah mengakui bahwa karena keterbatasan dana. buku teks wajib ini biasanya disusun oleh tim yang para anggotanya tentunya mempunyai kualitas yang dipersyaratkan. sedangkan buku teks penunjang ini mempunyai kedudukan ”pelengkap”. lewat Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP). sebelum buku teks wajib ini diterbitkan. misalnya. Bahkan. Hanya saja. tetapi justru untuk memacu peningkatan kualitas buku teks setelah dikaitkan dengan kedudukan dan .Terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi (semacam ringkasan). juga disesuaiakan dengan keinginan pasar. Ini berarti masih 80% yang belum bisa terlayani buku teks wajib. . Sementara itu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1994).Terdapat buku teks yang kurang ”aplicable”. dan bahasa dalam forum lokakarya.

Sebab.fungsinya yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajran siswa di kelas. guru bisa memilih dengan leluasa: mana buku teks yang mempunyai kriteria ideal baik dilihat dari kesesuaiannya dengan kurikulum. Keberagaman buku teks yang beredar haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kalangan pendidikan. termasuk buku teks wajib. Selain itu.Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks. apakah sajian bahan ajarnya sudah sesuai dengan GBPP atau Kompetensi Dasar yang ingin dicapai. yang ampuh untuk segala-galanya: kapan dan di mana saja. dan sebagainya. Keadaan yang timpang ini tentunya patut dicari penyebabnya. apakah pola pengembangan bahan ajar sesuai dengan perkembangan siswa. Sehubungan dengan itu.Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi. masih dijumpai juga pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi penuh kepada buku teks. maupun tingkat dan daya aplikasinya. Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian serius pemerintah terhadap dunia pendidikan dan minat dominan penerbit swasta terhadap penerbitan buku teks. Anggapan yang ekstrem ini sebenarnya tidak perlu terjadi. .Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan. .Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku teks.Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks. kesesuaiannya bagi siswanya.Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan. terutama guru. Misalnya. apakah strategi penyampaiannya sudah sesuai dengan pembelajaran yang disarankan Kurikulum. . Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut. dan sebagainya. . pada saat diaplikasikan. tanpa melihat kurilulum (khususnya GBPP dan silabus yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. Sebab. Semenjak pemberlakuan kurikulum 1984 sampai dengan sekarang (Kurikulum 2006 atau KTSP) kehadiran buku teks sebagai penunjang pelaksanaan pembelajaran cukup dominan bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus. Di sisi lain. dengan demikian. tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah . Ketergantungan guru ini dibuktikan dengan gejal-gejala berikut. sebab pada dasarnya tidak ada satu pun buku teks. buku teks (termasuk yang wajib) masih tetap perlu disiasati guru sebelum dipakai dalam pembelajaran. di lapangan dijumpai adanya anggapan bahwa buku teks wajib merupakan ”buku suci”. . tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus. . tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus.

.Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prestasi belajar. q. Direktorat Sarana Pendidikan) maupun oleh lembaga pendidkan tenaga kependidikan (LPTK).Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.Tradisi yang menganggap bahw buku teks sebagai sumber lengkap yang siap disajikan masih sangat dominan. agar tidak terjadi ketimpangan yang berkelanjutan. . . baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (c.tempat mereka mengajar. Kelima faktor penyebab itu haruslah diantisipasi oleh pihak yang bertanggung jawab. Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:01 Label: Artikel .

Walaupun begitu.hubungan buku teks dan media pembelajaran. Dengan demikian. kurikulum itu ibarat resep masakan dan buku teks adalah bahanbahan yang dilakukan untuk mengolah masakan tersebut. Di samping itu. penulis perlu memahami benar landasanlandasan dan arah yang digunakan dalam penyusunan kurikulum agar penafsiran dan pengembangannya dalam bentuk buku teks dapat dipertanggungjaabkan dari berbagai segi. Mengingat keadaan kurikulum demikian itu. penulis masih perlu menyusun silabus. buku teks adalah sarana belajar yang digunakan di sekolah untuk menunjang suatu program pembelajaran. dengan perkataan lain.hubungan buku teks dan siswa. khususnya mengenai: . hasil belajar. mencari bahan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Hubungan Buku Teks dan Kurikulum Para guru yang setiap hari berkecimpung dalam dunia pembelajaran akan terasa benar betapa erat hubungan antara kurikulum dan buku teks. terasa hubungan itu saling menunjang antara satu dengan yang lain. penjelasan. 1. Begitu eratnya.hubungan buku teks dan guru. . Dalam penulisan buku teks. Namun demikian. karena buku teks merupakan sajian tertulis suatu pembelajaran. makin besarlah tanggung jawab penulis buku teks untuk menjabarkan kurikulum dalam bentuk silabus. dan pemaduan terhadap kompetensi. tidaklah menutup kemungkinan bahwa kurikulum lahir berdasarkan adanya buku teks yang dianggap relatif baik sehingga perlu disusun programnya secara bersistem. kurikulum itu tidak bersifat menentukan segalanya. . Dalam hal ini pengolah atau juru masaknya adalah guru. semua komponen pembelajaran layak tecermin di dalam buku teks. . Pada kurikulum KTSP. Buku teks dianggap sebagai sarana penunjang bagi kurikulum tersebut. kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan.hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran. keberadaan kurikulum dan buku teks selalu berdekatan dan berkaitan. menentukan metode pembelajaran. dan menentukan cara penyajian bahan yang sesuai dengan perkembangan anak. .hubungan buku teks dan strategi pembelajaran. Atau. Sementara itu. yang pengembangannya dilakukan sepenuhnya oleh sekolah masih diperlukan penafsiran.hubungan buku teks dan kurikulum.Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran Oleh Masnur Muslich Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang hubungan buku teks dan komponen pembelajaran. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kurikulum lebih dahulu daripada buku teks. perincian. . dan . Oleh karena itu. misalnya. dan materi pokok yang tercantum pada kurikulum itu. Pada hakikatnya. Mengapa buku teks dihubungkan dengan komponen pembelajaran? Ya. indikator.

Dengan demikian. Menurut Tyler. penguasaan siswa terhadap diperoleh secara bertahap dari yang mudah (keterampilan dasar) menuju yang sulit atau . atau sebagai gambaran tentang hasil akhir dan suatu kegiatan.Menurut Tyler. Sebagai contoh. Pada sisi lain. (2) Komponen isi. setiap pilihan dan bentuk yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum akan membawa dampak terhadap proses memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. (2) berurutan (sequence). Untuk itu perlu. maka pelatihan membaca perlu dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan. jika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia pengembangan keterampilan membaca dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting. baik secara proses maupun hasil. Sebagai contoh. dan (4) Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum. Komponen isi merupakan pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah. Metode kurikulum berkaitan dengan proses pencapaian tujuan sedangkan proses itu sendiri berkaitan dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi kurikulum diorganisasikan. Dengan demikian. Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan. Hasil evaluasi ini dapat dipakai sebagai dasar untuk melakukan perbaikan lebih lanjut agar tujuan pembelajaran yang diidealkan dalam kurikulum dapat tercapai secara maksimal. Dalam hal ini siswa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. (3) Komponen metode pembelajaran. kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum yang efektif adalah(1) berkesinambungan (continuity). dan (3) keterpaduan (integration). keterampilan siswa dalam membaca dapat berkembang secara efektif melalui pelajaran tersebut. ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan kurikulum. karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai. Komponen tujuan merupakan arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Komponen metode pembelajaran merupakan cara yang dilakukan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum merupakan cara yang dilakukan untuk mengukur kadar ketercapaian tujuan pembelajaran. ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif. Prinsip berurutan terlihat pada isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan bahan pelajaran sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasannya. Pengalaman-pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh siswa sesuai dengan tujuan. 1) Tujuan apa yang ingin dicapai? 2) Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan? 3) Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif? 4) Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan? Keempat pertanyaan tersebut terlihat pada (1) Komponen tujuan. pembelajaran keterampilan membaca dimulai dari membaca permulaan sampai dengan membaca lanjut. Prinsip berkesinambungan terlihat adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum secara vertikal.

2. Kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "baik" memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "cukup". pembelajaran membaca di sekolah sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran menulis sehingga keterampilan siswa lebih utuh. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu. tidak terpisahpisah. Sedangkan kelompok siswa yang kadang-kadang menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang hampir tidak pernah menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik. Hubungan Buku Teks dan Tujuan Pembelajaran Sebelum dijelaskan lebih jauh tentang hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran. Penyediaan buku teks yang lengkap di tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks dengan baik akan meningkatkan hasil belajar siswa. 3.kompleks (keterampilan lanjut). Ada perbedaan hasil belajar siswa berdasarkan cara mempelajari buku teks. Penyediaan buku teks yang lengkap di tangan siswa dapat dilakukan dengan . 1. Mereka selalu menerapkannya secara terpadu. siswa tidak pernah menerapkan secara terpisah keterampilan tertentu dengan keterampilan yang lain. 2. hasil penelitian tentang ”Hubungan Ketersediaan Buku dan Cara Mempelajarinya dengan Hasil Belajar Siswa dalam Ilmu Pengetahuan Sosial Si Sekolah Menengah Pertama Se-Kota Administratif Palu” yang dilakukan oleh Djamaludin Kantao berikut ini dapat dipakai sebagai ilustrasi awal. Dari hasil-hasil di atas ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar siswa tergantung kepada ketersediaan buku teks dan cara mempelajarinnya. Jawaban atas keempat pertanyaan yang dapat digali dari keempat komponen kurikulum tersebut harus dipakai sebagai dasar pengembangkan silabus dan penulisan buku teks. Sementara itu. Sebagai contoh. Penemuan ini merupakan suatu petunjuk bahwa mungkin ada interaksi antara cara mempelajari buku teks dengan minat dan sikap siswa terhadap bahan pelajaran dalam buku teks. Untuk maningkatkan hasil belajar siswa diperlukan penyediaan buku teks yang lengkap si tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks yang baik. Kelompok siswa yang selalu menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang kadang-kadang menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik. Ada perbedaan hasil belajar berdasarkan ketersediaan buku teks di tangan siswa. Sedangkan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "cukup" memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "kurang". pembelajaran berbasis kontekstual dan tematik sangat cocok untuk memenuhi kriteria keterpaduan ini. prinsip keterpaduan menampak pada tidak adanya pemisahan secara dikotomis antara isi yang satu dengan yang lain dalam kurikulum. Tidak ada interaksi antara ketersediaan buku teks dengan cara mempelajarinya terhadap hasil belajar siswa.

Tujuan pembelajaran atau kompetensi akan tercapai apabila penulis buku teks mempertimbangkan hal-hal berikut. perpustakaan sekolah menyediakan buku teks sesuai dengan kebutuhan siswa dan perpustakaan sekolah memberikan pelayanan sebaik-baiknya terhadap siswa. maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. a. Setiap tahapan uraian materi sebaiknya difokuskan pada satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi sehingga memudahkan untuk mengukur atau mengevaluasinya. Peningkatan cara mempelajari buku teks yang baik dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan kepada siswa tentang bagaimana cara mempelajari buku teks dengan baik. atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks. Tahapan-tahapan uraian materi harus diarahkan pada indikator-indikator pencapaian tujuan pembelajaran atau pencapaian kompetensi. Dengan demikian.cara: orang tua membelikan buku teks yang sesuai dengan kebutuhan anaknya. dengan menggunakan buku teks diharapkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai dapat terwujud.1 bahwa buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadian siswa. dan sosial. b. c.1992). Uraian materi yang tertuang dalam buku teks harus diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus. maka sajian buku teks harus memperhatikan (1) pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketiga hal tersebut diuraikan secara garis besar berikut ini. Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut. walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. . (2) perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai sejak saat pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan (Santrok dan Yussen. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua. 3. Pola gerakan ini kompleks dan merupakan produk dari beberapa proses. yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik. yaitu biologis. Hubungan Buku Teks dan Siswa Telah dijelaskan pada bagian 2. siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif. mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks. misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks. Berdasarkan rangkuman hasil penelitian di atas dapat diketahui betapa hubungan antara buku teks dan tujuan pembelajaran dengan penjelasan sebagai berikut. Buku teks berisi serangkaian uraian materi yang mendukung tujuan pembelajaran. b. Memperhatikan fungsi buku teks yang begitu penting bagi siswa. a. Buku teks berisi serangkaian kegiatan yang mendukung ketercapaian kompetensi tertentu. Dengan membaca buku teks. kognitif. dan (3) gaya belajar anak.

.Dalam perkembangan terdapat urutan yang dapat diramalkan. . . Misalnya. berkembang pada waktu dan kecepatan berbeda. otot.Kecepatan dan pola pertumbuhan dapat dimodifikasikan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Oleh karena itu.Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat masa-masa krisis. tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan otot-otot. Setiap fase perkembangan pada dasarnya sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. dan perkembangan psikososial. kemampuan berbahasa yang terjadi melalui proses belajar. psikis. Ketiga domain tersebut pada kenyataannya saling berhubungan dan saling berpengaruh. .Dalam perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal. perkembangan kognitif. Dalam hal pertumbuhan anak. . pada usia-usia tertentu seseorang harus mampu melakukan tugas-tugas perkembangan tersebut agar dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. dari yang umum kepada yang khusus.Perkembangan berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. . . . temanteman dan guru-gurunya. yaitu perkembangan fisik. yaitu fisik. Menurut Havighurst. Perkembangan psikososial berkaitan dengan perubahan-perubahan emosi dan identitas pribadi individu. moral dan sosial.Setiap individu berkembang sesuai dengan waktunya masing-masing. emosional. . .Perkembangan pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan berikutnya. semua aspek-aspeknya berhubungan sangat erat.Pertumbuhan adalah kompleks. .Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi. Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis.Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi. setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainnya. .Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat keteraturan arah. Seifert dan Haffnung membedakan tiga tipe (domain) perkembangan anak. . Hasil penelitian dan kajian teoretik Carol Gestwicki (1995) mengemukakan bahwa hukum-hukum perkembangan dideskripsikan sebagai berikut. yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan keluarga.Aspek-aspek berbeda dari pertumbuhan.Pertumbuhan mencakup hal-hal kuantitatif dan kualitatif. . Perkembangan kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir.Tempo pertumbuhan tiap anak tidak sama.Terkait dengan itu. Sutterly Donnely (1973) mendeskripsikan sepuluh prinsip dasar pertumbuhan sebagai berikut.Pada suatu organisme akan kecenderungan untuk mencapai potensi .Pertumbuhan adalah proses yang berkesinambungan dan terjadi secara teratur. pertumbuhan otak. . .

Sedangkan perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan tahapan usia. Perbedaan secara psikis meliputi perbedaan dalam tingkat intelektualitas.perkembangan yang maksimum. Hurlock (197 menyatakan bahwa dalam pemenuhan beberapa kebutuhan anak. c. yaitu perbedaan secara fisik dan psikis. kepribadian. sedangkan A. d. digunakan penggolongan kebutuhan oleh Lindgren (1980) menjadi empat tingkatan kebutuhan. atau “motif” pada kehidupan sehari-hari sering digunakan secara bergantian. Cole dan Bruce (1959) membagi kebutuhan menjadi dua golongan. Istilah “kebutuhan”. perbedaan individu dikategorikan menjadi dua. dan aktualisasi diri. kemampuan di antara anak-anak tersebut bisa berbeda. tetapi si B pada usia yang sama belum bisa melakukan hal yang dilakukan A. dan tinggi badan. Dalam kaitannya dengan perbedaan individu pada anak usia Sekolah dasar. Perbedaan kemampuan seorang anak bisa mencakup perbedaan dalam berkomunikasi. Misalnya. sikap dan kebiasaan belajar. Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Buku teks harus memperhatikan perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak. Jenis-Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar a. yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Namun demikian. disiplin dapat digunakan. sedangkan dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat psikologis. Namun demikian. Selain itu. Perbedaan Individu dan Kebutuhan Anak Usia Sekolah Menengah a. kemampuan anak pun meningkat. Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik. perhatian. Kebutuhan lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu karena adanya kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat fisiologis. yaitu kebutuhan jasmaniah. c. Secara garis besar. Faktor yang menonjol dalam membentuk kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan. Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu. Perbedaan individual anak usia Sekolah Dasar a. naik anak usia Sekolah Dasar maupun anak usia Sekolah Menengah. bersosialisasi atau perbedaan kemampuan kognitif. moral. perbedaan fisik juga dapat diidentifikasi dari segi kesehatan anak. Perbedaan pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk. berat. karena pengaruh berbagai faktor. b. intelektual. . secara konsep ada perbedaan di antaranya.Setiap individu tumbuh dengan caranya sendiri yang unik. “dorongan”. maupun aspek kemampuan. . minat. dan kasih sayang. b. Maslow (1954) membagi kebutuhan menjadi tujuh tingkatan atau jenjang dari yang mendasar hingga kebutuhan yang paling kompleks. Sedangkan DeCecco dan Grawford (1974) mengajukan empat sikap guru dalam memberikan dan meningkatkan motivasi siswa. kebutuhan untuk memiliki. si A pada usia 7 tahun sudah bisa membuat suatu karangan yang bersifat aplikasi dari suatu konsep.

Perbedaan gaya belajar anak harus terakomodasi pada buku teks. motives as well as his or her temperament. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu. gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Dalam pandangan yang lain. Gaya belajar anak Sama halnya dengan keunikan tiap individu. Sekedar contoh. Perbedaan itu bahkan terdapat pada anak-anak dari satu keluarga. Kebutuhan psychogenic dibagi lagi menjadi dua puluh kebutuhan. “Personality is the integration of all of persons traits abilities. meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. opinios. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan siswa sebagai pendengar setia. Sementara itu. masing-masing anak ternyata memiliki gaya belajar sendiri. Kebutuhan yang cenderung dominan pada siswa sekolah menengah berdasarkan dua puluh kebutuhan. bahkan anak kembar sekalipun. Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama. menurut konsep Murray. Kemampuan nyata dapat disebut sebagai prestasi belajar. adalah: (1) need for affiliation (2) need for aggression (3) autonomy needs (4) conteraction (5) need for dominance (6) exhibition (7) sex. yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Secara keseluruhan. attitudes. Gage dan Berlinier (1984:165) mempunyai pandangan tentang kepribadian sebagai berikut. characters and morals. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata dari pada mendengar penjelasan si guru. . ada sementara anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktik. kebutuhan individu dibagi menjadi dua kelompok besar. ada siswa yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjamjam. yaitu viscerogenic dan psychogenic. dan (6) imajinasi. Contohnya. beliefs. Menurut Murray. c. Menurut Witherington.b. d. emotional responses. (2) efisiensi dalam berbahasa. (5) kemudahan dalam memahami hubungan. (4) kemudahan dalam mengingat. guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan. cognitive styles. perbedaan individual siswa sekolah menengah dibedakan berdasarkan perbedaan dalam kemampuan potensial dan kemampuan nyata. (3) kecepatan dalam pengamatan. indikator perilaku intelegen antara lain: (1) kemudahan dalam menggunakan bilangan.” e. antara adik dan kakak.

ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. yang . . . . ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna.Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan. Untuk mendukung gaya belajar ini. biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak. . Perangkat grafis tersebut bisa berupa film. Konkretnya.Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu. gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Selain itu. juga cukup banyak anak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik. Selain ada anak yang harus “bersemedi” dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa bekonsentrasi belajar. ilustrasi. . entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. Perhatikan ciri lengkap visual learner pada boks berikut Ciri Visual Learner . Dari sekian banyak contoh gaya belajar di atas. Auditory Learner Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya.Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara. di samping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. . Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang “dibaca”. dan kinesthetic/tactile learner Visual Learner Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan. bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. slide. yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya. Artinya. auditory learner. Caranya. yaitu visual learner. Artinya. ada tiga tipe gaya belajar yang biasa dijumpai. untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu.Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.Tidak hanya itu.Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.

kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. . .Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika. seperti hadirnya anak baru. Perhatikan ciri lengkap kinesthetic/tactile learner pada boks berikut Ciri Kinesthetic/Tactile Learner . Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan. . . Kinesthetic/Tactile Learner Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Untuk membantu anak-anak seperti ini. seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Perhatikan ciri lengkap auditory learner pada boks berikut Ciri Auditory Learner . . Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya. peta.Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar. Hanya dengan memegangnya saja.Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.Cenderung banyak omong.bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.Memiliki koordinasi tubuh yang baik. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman. Selain itu. gunakan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah.Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode . .Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya. dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. .Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya. .Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis. .Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas. selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi. . keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. .Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis. bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.

Ketiga alasan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh guru dalam memilih buku. misalnya. guru mempunyai waktu yang terbatas untuk mengembangkan materi baru karena sifat dari profesinya itu. perlulah dibuat tim yang benar-benar menguasai materi bidang studi dan tatacara penulisan buku teks yang benar. dan peta. 4. Namun. jika kebijakan yang diambil adalah membuat buku teks sendiri.Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. misalnya gambar. dan juga kelancaran diskusi.Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari. karena mengembangkan materi ajar sendiri sangat sulit dan berat bagi guru.pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah. buku .Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah. Sheldon mengajukan tiga alasan utama yang diyakininya mengenai penggunaan buku teks oleh para guru. skema. .Buku teks memuat bahan ajar yang seragam. Itulah sebabnya mengapa penuls buku teks harus memahami aneka gaya belajar anak dan diterapkan pada buku teks yang ditulisnya.Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran. . . Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. adanya tekanan eksternal yang menekan banyak guru (Sheldon dalam Garinger 2001: 2). Ketiga. . . pengetahuan siswa pun akan menjadi salah. jika sesuatu yang ada dalam buku teks tersebut salah.Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu. Jika kebijakan pemilihan buku teks diberikan kepada guru mata pelajaran. peran buku teks menjadi penting dan sangat menentukan benar-tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Pada kondisi seperti ini. Pertama. yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaikbaiknya dan memberi hasil optimal. yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi. Kedua.Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi. Hubungan Buku Teks dan Guru Telah dijelaskan pad bahwa buku teks mempunyai nilai lebih bagi guru. . semesteran). Kelebihan itu terllihat pada hal-hal berikut. caturwulanan. Guru menggunakan buku teks karena ia memiliki beberapa fungsi. . perlulah memberikan bekal yang memadai pada para guru akan kriteria buku teks yang baik dan benar. . Kenyataan lain juga menunjukkan bahwa masih banyak guru yang bergantung penuh pada buku teks sehingga satu-satunya sumber dalam pembelajaran adalah buku teks tersebut. Penggunaan buku teks merupakan cara yang paling efisien karena waktu untuk mempersiapkan bahan ajar berkurang.Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan. Di samping itu. bulanan. Konsekuensinynya. diagram.

dan kemandirian siswa. Buku teks merupakan cara yang paling mudah untuk menyediakan bahan pembelajaran. dan mencemari dunia pendidikan. dan bantuan. Bagi guru baru yang kurang berpengalaman. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguraikan isi pelajaran . Apabila aspek-aspek ini tidak dipenuhi. ketika guru menggunakan buku teks dalam pembelajaran. petunjuk. 2. (2) buku guru. UNESCO menggariskan tiga fungsi pokok dari buku teks. buku teks dapat berperan sebagai silabus. 2002: 2) Alasan penggunaan buku teks seperti ini hanya berlaku jika: (1) buku teks memenuhi kebutuhan guru dan siswa. tidak ada buku teks berarti tidak ada tujuan. (5) buku teks beradaptasi dengan gaya belajar siswa. (Seguin 1989:18-19). (4) buku teks disusun dengan realistik dan memperhitungkan situasi pembelajaran di kelas. (Ansary. (2) fungsi pengaturan dan pengorganisasian pembelajaran. maka buku teks hanya akan menjadi masses of rubbish skillfully marketed. Di mata siswa. yang hanya akan menguntungkan secara materi bagi pihak-pihak yang dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi membisniskan buku teks. seperti diungkapkan oleh Brumfit (Ansary 2002: 2). 4. Dalam hal seperti ini. Alasan lain bagi penggunaan buku teks ialah karena buku teks merupakan kerangka kerja yang mengatur dan menjadwalkan waktu kegiatan program pembelajaran. menerima inisiatif. dan (3) sejumlah komponen yang meliputi: buku kerja atau buku kegiatan. dan buku tes (Supriadi. dan (6) buku teks tidak menjadikan guru sebagai budak dan pelayan. dalam hal ini buku pegangan untuk siswa yang juga dipegang guru dalam KBM. Buku teks menyediakan teks dan tugas pembelajaran yang siap pakai. Sementara itu. menganalisis. 2000: 1). yang terdiri atas (1) buku siswa. materi bacaan tambahan. Guru mendorong. yaitu (1) fungsi informasi. dapat ditentukan jenis-jenis buku yang diperlukan untuk menyertai buku teks. memprediksi. yang biasanya semuanya telah menjadi satu paket. sebaiknya guru dibekali dengan pengetahuan bagaimana memilih buku teks dan bagaimana mengaplikasi-kannya secara kreatif di kelas. (3) buku teks tidak membatasi kreativitas guru. 3. Yang perlu diparhatikan adalah. Selanjutnya berdasarkan fungsi-fungsi ini. Siswa tidak mempunyai fokus yang jelas tanpa adanya buku teks dan ketergantungan pada guru menjadi tinggi. buku teks berarti keamanan. Guru menggunakan data atau fenomena aktual dan kontekstual sebagai sumber utama pada fokus materi pembelajaran. Dalam banyak situasi. Guru memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi. (2) topik-topik dalam buku teks relevan dan menarik bagi guru dan siswa. Tanpa buku teks. guru harus tetap menerapkan pembelajaran sebagai sosok guru yang konstruktivis dengan ciri-ciri sebagai berikut. siswa mengira bahwa mereka tidak ditangani secara serius. 1. dan menciptakan.menyediakan aktivitas yang sudah siap untuk dilaksanakan dan membekali siswa dengan contoh konkret. dan (3) fungsi pemandu pembelajaran.

dkk. Dari masing-masing jenis media tersebut terdapat berbagai bentuk media yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar.dan memvariasikan strategi pembelajaran. b. 11. Hubungan Buku Teks dan Media Pembelajaran Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan media pembelajaran. terutama sekali mengurangi terjadinya verbalisme (salah penafsiran) terhadap bahan ajar yang disampaikan pada diri siswa. e. Guru melakukan elaborasi erhadap respons siswa. ketersediaan media tersebut. Pemilihan media pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses . baik yang sudah benar maupun yang belum benar. perlu dipahami terlebih dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan media pembelajaran sebagai berikut. Media mana yang akan digunakan tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai. Guru melakukan penelusuran pemahaman siswa terhadap suatu konsep sebelum memulai pembelajaran. dan media audio-visual. c. sifat bahan ajar. Dengan demikian konsep media pembelajaran itu mengandung pengertian adanya peralatan dan pesan yang disampaikannya dalam satu kesatuan yang utuh. nilai dan peranan yang sangat menguntungkan. Setiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan. a. dan juga kemampuan guru dalam menggunakannya. tetapi yang lebih utama yaitu pesan atau informasi (software) yang disajikan melalui peralatan tersebut. Guru mendorong siswa untuk berpikir. 12. melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan mendorong siswa untuk bertanya sesama teman. 2001) 5. d. dalam Waliman. tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan pembelajaran f. sebab media ini memiliki fungsi. 9. Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan penyalur pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya. yaitu media visual. Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui penggunaan media secara optimal. Ada tiga jenis media pembelajaran yang biasa dipakai dalam pembeljaran. Oleh karena itu. Guru mendorong terjadinya dialog dengan dan antarsiswa. media audio. 6. 7. Guru memberikan waktu berpikir yang cukup bagi siswa dalam menjawab pertanyaan. Konsep media pembelajaran tidak terbatas hanya kepada peralatan (hardware). Guru melibatkan siswa pada pengalaman yang menimbulkan kontradiksi dengan hipotesis siswa dan mendiskusikannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menghubungkan beberapa hal yang dipelajari untuk meningkatkan pemahaman. (Diadaptasikan Brooks & Brooks. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memfasilitasi proses penyimpulan melalui acuan yang benar. 8. 5. 10.

kesempatan melancong. Penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan tujuan yang ingin dicapai. (d) objek yang bergerak terlalu cepat. strategi yang digunakan. siswa seolah-olah berhadapan dengan guru. Juga perlu dipertimbangkan kesederhanaannya. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu objek. bila dibanding dengan media pembelajaran lainnya. . Hanya saja. sifat dari bahan ajar. 3. Buku teks tidak hanya sebagai “penyalur pesan” tetapi juga sebagai sumber pesan atau sebagai pengganti guru. tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak. karena : (a) objek terlalu besar. sifat materi yang akan disampaikan. Adanya pemilihan media ini disebabkan sangat banyak dan bervariasinya jenis media dengan karakteristik yang berbeda-beda. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. 2. dan siswa dapat mengukur kadar ketercapaian pembelajaran dengan cara mengerjakan tugas-tugas atau menjawab soal-soal yang terdapat dalam buku teks. seperti ketersediaan buku. di antaranya sebagai berikut. Media memiliki beberapa fungsi. dan kondisi tempat/ruangan. Objek dimaksud bisa dalam bentuk nyata. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar. adanya penonjolan/penekanan (misalnya dengan warna). Siswa dapat memperoleh informasi lewat buku teks. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar. 7. serta evaluasinya. dan realistis. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. buku teks mempunyai fungsi “lebih” dari pada sekedar media pembelajaran. maka objeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya. (f) objek yang bunyinya terlalu halus. 8. Media membangkitkan keinginan dan minat baru. siswa dapat melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk yang tertuang dalam buku teks. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda. direncanakan dengan baik. Media menghasilkan keseragaman pengamatan 5. konkret. 6. Melalui penggunaan media yang tepat. yang disebabkan. Dengan membaca buku teks. (b) objek terlalu kecil. miniatur. dan sebagainya. g. maka semua objek itu dapat disajikan kepada peserta didik. (e) objek yang terlalu kompleks. Media memberikan pengalaman yang integral atau menyeluruh dari yang konkret sampai dengan abstrak Berdasarkan konsep-konsep pokok tentang media pembelajaran di atas jelaslah bahwa buku teks merupakan salah satu jenis media pembelajaran. serta memungkinkan siswa lebih aktif belajar. menarik perhatian. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke objek langsung yang dipelajari. model. karakteristik sasaran belajar (siswa). (f) objek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. 1. (c) objek yang bergerak terlalu lambat. 4.

Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan. baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. d. Motivasi adalah dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. seperti. j. d. Aktivitas merupakan salah satu indikator belajar. kepercayaan dan penghargaan terhadap orang lain. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan. Apakah modalitas kita visual. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik. Strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun pengaruh penting terhadap beberapa aspek.6. dan guru. Pada awal pembelajaran. a. karena berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan f. Bila pikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran. Hasil belajar berupa perubahan perilaku. e. g. bahan pelajaran. Belajar berkat mengalami. c. Keterlibatan dalam pengalaman belajar mempunyai pengaruh penting terhadap pembelajaran. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial). saling mempengaruhi. Hubungan Buku Teks dan Strategi Pembelajaran Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan strategi pembelajaran. b. f. psikomotorik. apakah kinestetik. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan. alat. perlu dipahami terlebih dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan strategi pembelajaran sebagai berikut. Supaya pembelajaran terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip. strategi. aktivitas. umpan balik. dan perbedaan individu. Pada umumnya pembelajaran berpengaruh kepada hal-hal khusus seperti menghargai orang lain dan bersikap hati-hati kepada yang baru dikenal. siswa. Terdapat banyak pengaruh yang dapat dipelajari melalui model (contoh) sedang peserta didik berusaha menirunya. apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar. kematangan. h. Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta didik untuk mau melaksanakan tugas sekalipun mengandung risiko. e. Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. perhatian. baik yang menyangkut kognitif. i. langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita masing-masing yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. yaitu belajar melalui apa yang dilihat. yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan. Penggunaan metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar. Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya. usia. . maupun afektif. baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). yaitu motivasi.

Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan. jasmani maupun segi intelektualnya. Umpan balik di dalam belajar sangat penting. Hal ini hanya dapat dicapai bila penulis buku teks mengetahui karakteristik siswa yang visual. 1.pengaruh buku bagi pembacanya . yang auditorial maupun yang kinestik. Waples dkk. yaitu Quran. Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:12 1 komentar Label: Artikel Ada Apa dengan Buku Teks? Oleh Masnur Muslich Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang: . (2) pengaruh prestise. buku teks hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan.buku dalam pendidikan. . dan Uncle Toms Cabin. (1990) membagi pengaruh buku bagi pembacanya menjadi lima kategori. Buku teks tradisional yang mementingkan perkembangan intelektual haruslah diubah. Hal ini mengingat bahwa sebenarnya pribadi anak itu tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang terpisah-pisah. dan Tripitaka. Zabur. Injil. Lewat buku manusia bisa bertambah wawasannya yang pada akhirnya (langsung atau tidak langsung) akan mempengaruhi pola pikir dan pola hidupnya. Secara rinci D. Bahkan. De Principle. Dalam segala tindakannya manusia itu bersikap sebagai suatu keseluruhan yang utuh.pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks. yaitu (1) pengaruh instrumental. Das Kapital. dan . Weda.kondisi pemakaian buku teks. Buku teks modern lebih memperhatikan karakteristik kepribadian anak. larena kuatnya pengaruh bagi kehidupan manusia. baik mengenai segi emosi. Taurat. h. Terkait dengan konsep-konsep pokok strategi pembelajaran di atas. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut. sosial. agar siswa segera mengetahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Penulis buku teks berusaha dengan sengaja mengembangkan semua aspek pribadi anak dengan memberikan bahan pembelajaran yang sesuai dan dengan cara penyampaian yang bervariasi. yaitu Trias Politika. (3) . dikenal pula ”buku-buku pengubah dunia”. Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Selain itu. Pengaruh Buku bagi Pembacanya Pada era global ini kehidupan manusia tidak bisa melepaskan diri dari buku.g. ada sekelompok ”buku” yang disebut ”the great book”.

Permasalahan yang segera muncul adalah buku bagaimanakah yang memenuhi syarat positif bagi anak? Buku dikatakan mempunyai syarat positif apabila mengandung hal-hal berikut. Buku dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman . Para ahli pendidikan berkesimpulan bahwa lewat membaca buku. Misalnya. Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara rasional. persediaan buku bagi anak (buku bacaan. Misalnya. maka perkembangan jiwa anak juga mengarah ke negatif. (e) bisa menumbuhkan sikap moral. dan penalarannya. emosi. makanan sehat. yaitu (a) bisa memperluas wawasan anak. dan sebagainya) haruslah buku yang memenuhi syarat positif. sikap sosial. Buku dikatakan mempunyai pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku. Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat membaca buku itu. Misalnya. sosial. Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya Terakhir.pengaruh pemantapan. akbat anak yang ska berbohong. perlunya kebersihan lingkungan. Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku. dan sebagainya. Konsekuensinya. dan keruwetan yang ada pada dirinya. keuntungan anak yang berbaik hati. (d) bisa mengarahkan kreativitas. kericuhan. apabila yang dibaca berisi hal-hal yang positif. dan (f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi informasi faktual. proses terjadinya hujan. buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite) apabila dengan membaca buku. tingkah laku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya. apabila buku yang dibaca berisi hal-hal yang negatif. deskriptif. buku teks. yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari keresahan. dan agama yang baik. dan (5) pengaruh pelepasan. dan sebagainya. cerita tentang kerugian anak yang malas belajar. Karena yang diharapkan oleh semua pihak (:orang tua. atau naratif yang belum menjadi perhatian anak. pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya. cara mandi yang betul. pemerintah. dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. (4) pengaruh estetis dan apresiatif. maka perkembangan jiwa anak pun positif. informasi tentang cara meminum obat. (c) bisa membimbing berpikir konstruktif. yang bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya. teman yang baik. (b) bisa menambah pengetahuan baru. Pengaruh buku tersebut akan lebih terasa pada diri anak. proses terjadinya gunung meletus. anak akan berpengaruh perkembangan minat. pembaca bisa memantapkan pola pikir. penddik) agar anak berkembang secara positif. Sebaliknya.

buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. 2. administratur pendidikan dapat mengelola pendidikan dengan efektif dan efisien dengan berpedoman ada aturan-aturan dan lebijakan yang tertuang dalam buku. pelaksanaan pendidikan dapat lebih lancar. Bahkan. Dari segi pengadaan. bangsa-bangsa Eropa (yang termasuk bangsa maju) berpendapat bahwa ”education without book is unthinkable”. Misalnya. Dari segi penyebaran. yaitu sebagai berikut. buku yang telah digandakan hendaknya disebarkan secara merata. sosial.Syarat-syarat itulah yang secara ideal terdapat pada buku yang layak sebagai bacaan anak. dan sebagainya. dai cilik. Inilah yang biasa disebut ”manusia utuh” itu. tetapi juga masalah sosial dan imtak (iman dan takwa). buku-buku yang ditulis hendaknya diarahkan pada peningkatakan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif. keberhasil anak desa yang sebatang kara. dan sebagainya. kita patut tidak berseberangan pendapat dengan bangsa Eropa tentang buku. Terkait dengan penyebaran buku ini. sampai dengan penyeberannya. cara menjernihkan air. Dengan demkian. akan terjadi pemerataan perkembangan pola pikir dan wawasan. Namun demikian. penggandaan. Terakhir. tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Dengan demikian ada keseimbangan antara perkembangan pemikiran dan kejiwaaan. buku merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan. Pihak swasta pun sebaiknya terlibat dalam penggandaan ini walaupun dalam bentuk transaksi bisnis. Daerah terpencil justru mendapatkan perhatian utama. Guru dapat mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien lewat sarana buku. buku pendidikan setidak-tidaknyanya dapat dibedakan menjadi tujuh jenis. Oleh karena tu. apabila dilihat dari segi isi dan fungsinya. Siswa pun dalam mengikuti kegiatan belajar dengan maksimal dengan sarana buku. Dari segi penggandaan. kesuksesan anak cacat netra. Misalnya. Buku dalam Pendidikan Dalam dunia pendidikan. tokoh agama. niat pemerintah untuk program buku murah perlu mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral. pemerintah hendaknya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk itu. cara membuat lampu minyak. Atas dasar itulah. Misalnya. buku-buku yang telah ditulis hendaknya diproduksi secara proporsional dan memadai. cerita pahlawan. mulai dari pengadaan (baca: penulisan). Buku-buku yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan bermacammacam. misalnya pedoman pelaksanaan pendidikan dan kurikulum. Jangan hanya diarahkan ke kota-kota besar saja. berjuang melawan sakit menahun. Dengan buku. dan sebagainya. Sebagai bangsa yang maju. dermawan cilik. dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam kehidupan anak. cara membuat burung dari kertas.paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. Buku hendaknya menjadi perhatian utama. .

. yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu. Ada yang bersikap negatif. untuk diasimilasikan. yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal tertentu. yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaan atau bidang studi tertentu. 3. Lewat buku catatan ini siswa dapat mendalami dan memahami kembal dengan cara membaca ulang pada kesempatan lain. atau uraian yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu. informasi. Siswa sasaran dianggap homgen sehingga bahan ajar yang ada pada buku teks tersaji tanpa memperhatikan siswa yang ”uper” dan siswa yang ”lower”. yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu. Pandangan Negatif terhadap Buku Teks Para ahli pendidikan yang bersikap negatif atau “antipati” atas kehadiran buku teks di dunia pendidikan didasarkan oleh kenyataan berikut. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan. ada yang bersikap positif. Buku ini dipakai oleh siswa secara periodik agar yang betrsangktan memiliki kemahiran dalam bidang tertentu. Konteks dan bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering tidak sesuai dengan kondisi dan lingkunna siswa sasaran. Ketiga pandangan yang berbeda ini didasari oleh alasan yang bertolak belakangsatu dengan lainnya. orientasi pembelajaran. Akibatnya. Buku ni dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan wawasan kepada siswa. yaitu buku yang difungsikan siswa untuk menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Buku catatan. Buku ini dipakai sebagai sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Buku pegangan. yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau hal-hal yang diperlukan dalam studinya. Tugas-tugas ini bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas. dengan menggunakan buku teks tersebut. dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada siswa. menganalisis. Buku teks atau buku pelajaran. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi) oleh guru untuk memahami sebuah masalah secara teoretis. Apabila hal ini terjadi. Buku teks kurang memperhatikan perbedaan individual siswa. yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan tertentu. Desain buku teks sering tidak sesuai dengan desain kurikulum pendidikan. buku teks akan terkesan ”memaksa” siswa untuk belajar sesuatu yang ”tidak sesuai” dengan kondisi dirinya. Pandangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks Kehadiran buku teks di dunia pendidikan disikapi oleh ahli pendidikan dengan berbagaimacam versi. Buku latihan.Buku acuan. Buku bacaan. dan adapula yan bersikap moderat. dan perkembangan siswa. program pendidikan yang telah dirancang dalam kurikulum tidak tercapai. yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan. Buku kerja atau buku kegiatan.

termasuk tata cara penyajian yang sesuai dengan jenis bahan dan kondisi siswa sasaran. Dengan demikian. Buku teks merupakan ”the foundation of learning in classroom”. Akibatnya. misalnya gambar peta. Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan guru dengan bahan ajar yang disusunnya sendiri. Ahli pendidikan yang apriori terhadap kehadiran buku tekas ini adalah ahli pendidikan yang mengikuti sistem pendiikan lama. dan diagram. Oleh karena itu penyusunan buku teks tentu memperhatikan bahan ajar mana yang patut dan sebaiknya disajikan. tenaga. ahli pendidikan yang bersikap positif atas kehadiran buku teks didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut. Buku teks cukup banyak memuat alat bantu pengajaran. Jangkauan. Alat bantu ini akan dapat mempercepat pamahaman siswa atas bahan ajar yang sedang dipelajari. karena kondisi tertentu. apabila buku tersebut merupakan buku berseri. dan pikiran. Ini dapat dilihat dari cara penyajian bahan ajar yang memperhatikan hierarkhi dan tataletaknya sehingga mudah dipahami siswa. dan jenis bahan ajar yang terdapat dalam buku teks telah relatif pasti sehingga guru memungkinkan untuk mengalokasikannya berdasarkan jadwal sekolah.Bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering bias dan basi. Hal ini dapat dimaklumi. Kalau toh ada yang individual. bahan-bahan itu merupakan rangkaian yang utuh. Ini terjadi karena antara waktu penyusunan buku teks dan waktu pemakaiannya berselang terlalu lama. Buku teks memuat bahan ajar yang sebaiknya disajikan (what to teach) dan sekuensi atau urutan cara penyajiannya. bahkan tidak sesuai lagi dengan yang sedang dihadapi siswa. Kesinambungan bahan ajar dalam buku teks telah diatur sedemikian rupa oleh penyusunnya. alat bantu semacam itu sulit diciptakan oleh guru dalam waktu yang relatif singkat. Anggapan ini didasarkan oleh kenyataan bahwa pengajaran yang dianggap efektif dan efisien adalah pengajaran klasikal. informasi dan masalah yang terdapat dalam buku teks sudah ”kadaluarsa”. Sebaliknya. Tidak semua guru memiliki keterampilan menata bahan seperti yang terdapat pada buku teks. Dengan demikian. sangatlah bersifat khusus. sampai dengan proses penyusunannya. Dengan menggunakan buku teks.jumlah. Pandangan Positif terhadap Buku Teks Sebaliknya. siswa terbebas dari kegiatan mencatat yang merupakan pemborosan waktu. lewat pemakaian buku teks dapat terkontrol dengan ketat program pengajarannya. Buku teks merupakan batu loncatan bagi siswa. sebab sebelum penyusunan buku teks dimulai. Ketelitian ini terlihat mulai dari proses pemilihan bahan. Lebih-lebih. . tidak dijumpai bahan ajar yang terlepas dari yang lain. terlebih dahulu disusun kerangka (outline) secara menyeluruh. Paparan masalah atau pokok persoalan (subject matter) dalam buku teks relatif teliti. Pada umumnya. Bahan ajar dalam buku teks tertata cukup baik. klasifikasi bahan.

Forum 2. tetap tidak bisa menjamin bahwa buku teks dapat memenuhi kebutuhan kurikulum secra total. Yang peru dipahami adalah buku teks merupakan sarana untuk mencapai tujuan pengajaran dan buku teks bukanlah pengajaran. Lalu. timbullah pandangan yang moderat terhadap kehadiran buku teks. (J. Pandangan ketiga ini diilhami oleh kenyataan bahwa tidak semua buku teks menguntungkan bagi pendidikan dan tidak semua pula buku teks merugikan bagi kelangsungan pendidikan. Memang tidak ada satu pun buku teks yang bisa memenuhi kebutuhan kurikulum secara total. Keterbatasan ini harus diantisipasi guru pada saat mengasimilasikannya di kelas. yaitu guru pemakai buku teks. faktor-faktor lain di luar buku teks juga ikut menentukannya.Buku teks sangat membantu sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Oleh karena itu. apabila buku teks tersebut tidak berkualitas. Hook. ”No one textbook is the best for all situation” (Romero dalam ”What Textbook Shall We Use”. Sebab. Beberapa argumentasi berikut ini menjadi alasan bagi pandangan yang moderat terhadap buku teks. siswa sasaran. baik eksrem kiri dan ekstrem kanan. b. N. Yang bisa mengajar adalah guru lewat sarana antara lain buku teks. tentu akan merugikan pihak pemerintah dan penerbit swasta itu sendiri. Walaupaun Garis-garis besar Program pengajaran (GBPP) atau silabus pada kurikulum tertentu dipakai sebagai acuan penyusunan bahan ajar pada buku teks. Buku teks hanyalah salah satu sarana bukan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. buku teks tidak bisa mengajar. Pandangan yang Moderat terhadap Buku Teks Kedua pandangan tersebut sebenarnya boleh dikatakan sangatlah ekstrem. kalau tidak. Namun demikian. Hal ini bisa dimaklumi karena buku teks berisi serangkaian bahan ajar yang minimal harus dikuasai atau dipahami siswa. Pernyataan ini pun bisa dimaklumi. a. Jika tidak lewat kemasan buku teks. Buku teks yang dipublikasikan oleh pemerintah dan pihak swasta telah dipertimbangkan kualitasnya. 1975) Argumentasi ini bisa dimaklumi sebab pada kenyataan memang tidak ada satu pun buku teks yang ampuh untuk semua situasi dan kondisi. Tidak ada buku teks yang betul-betul bisa memenuhi harapan kurikulum. Kedua pendapat itu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Pertimbangan kualitas ini merupakan konsekuensi logis. Sebab. . keterbatasan ini tidak boleh dipakai sebagai “kambing hitam” untuk tidak menggunakan buku teks. bahkan tidak mau menggunakannya. 1965). bahan-bahan itu tentu berada di berbagai buku sumber. Para pemakai buku teks (terutama guru) tentu tidak akan menggunakan secara maksimal. situasi dan kondisi sekolah. dan aspek-aspek lainnya. Ahli pendidikan yang mendukung sepenuhnya kehadiran buku teks ini adalah ahli pendidikan modern.

Karena . Kebijakan semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila buku teks yang beredar (baik yang dterbitkan oleh pemerintah maupun swasta) telah mendapat kontrol lewat penilaian terlebih dahulu oleh lembaga yang kompeten atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah.c. buku teks wajib ini biasanya disusun oleh tim yang para anggotanya tentunya mempunyai kualitas yang dipersyaratkan. buku teks penunjang yang diterbitkan oleh swasta biasanya ditulis oleh penulis (baik sendiri mapun kelompok) yang berminat atau yang mempunyai pengalaman terhadap bidang pelajaran tertentu. dan pola pikir siswa tertentu. strategi. Pernyataan ini tidak mengada-ada. buku teks hanya cocok untuk “sasaran” tetentu saja. dan bahasa dalam forum lokakarya. Bahkan. Dilihat dari penyusunnya. baik dari segi pendekatan. Karena orientasinya sama. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Pandangan ketiga inilah yang memandang buku teks secara lebih objektif dan rasional. terlebih dahulu ditelaah kualitas atau kevaliditasannya baik dari segi isi. Sementara itu. Anggapan dekotomis tersebut sebenarnya dipicu oleh kebijakan ”politis” pemerintah (sebelum era Reformasi) bahwa bahwa buku teks wajib mempunyai kedudukan ”utama”. maupun strateginya. bahkan bisa dimakluminya. sedangkan buku teks penunjang ini mempunyai kedudukan ”pelengkap”. Sementara itu. akan berdampak pada keheterogenan hasil belajar siswa. buku teks akan berpran secara maksimal apabila memenuhi criteria ideal dan diasimilasikan oleh guru yang professional. Kebijakan pemerintah ini didasari pertimbangan bahwa apabila buku teks wajib ini kalah pengaruhnya dengan buku teks penunjang. lewat Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP). tentu akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan sandardisasi kualitas atau keberhasilan belajar siswa. isi. Pendapat seperti itu sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan sebab kedua ”jenis” buku teks tersebut sama-sama berorientasi kepada kurikulum yang sedang berlaku. Akibatnya. jenjang pendidikan tertentu. Buku teks memang disusun dengan mempertimbangkan program tertentu. Sebab. buku teks penunjang (juga biasa disebut buku pelengkap) adalah buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta. kedua jenis buku teks itu sebenarnya mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran di kelas. Tidak ada satu pun buku teks yang cocok untuk semua jenjang pendidikan. 4. Buku teks wajib (juga biasa disebut buku paket) adalah buku teks yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah. yaitu buku teks wajib dan buku teks penunjang. sebelum buku teks wajib ini diterbitkan. Apabila keadaan ini terjadi. Kondisi Pemakaian Buku Teks Selama ini terdapat anggapan dari sebagian besar masyarakat (khususnya komunitas pendidikan) bahwa buku teks sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dikelompokkan menjadi dua.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1994). termasuk buku teks wajib. apakah strategi penyampaiannya sudah sesuai dengan pembelajaran yang disarankan Kurikulum. guru bisa memilih dengan leluasa: mana buku teks yang mempunyai kriteria ideal baik dilihat dari kesesuaiannya dengan kurikulum. kesesuaiannya bagi siswanya. Sebab. .Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan pola pikir siswa. Anggapan yang ekstrem ini sebenarnya tidak perlu terjadi. . hal-hal tertentu yang dianggap lemah atau sumbeng dalam buku teks wajib akan dibenahi atau dilengkapi dalam buku teks penunjang ini. buku teks yang beredar (baik buku teks wajib maupun penunjang) dijumpai keganjilan-keganjilan. yang ampuh untuk segala-galanya: kapan dan di mana saja.Terdapat buku teks yang kurang ”aplicable”. apakah pola pengembangan bahan ajar sesuai dengan . Hanya saja.pertimbangan pasar. Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian serius pemerintah terhadap dunia pendidikan dan minat dominan penerbit swasta terhadap penerbitan buku teks. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Ini berarti masih 80% yang belum bisa terlayani buku teks wajib. buku yang ditulisnya selain disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. buku teks (termasuk yang wajib) masih tetap perlu disiasati guru sebelum dipakai dalam pembelajaran. tetapi justru untuk memacu peningkatan kualitas buku teks setelah dikaitkan dengan kedudukan dan fungsinya yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajran siswa di kelas. pada saat diaplikasikan. dengan demikian. Misalnya. Keganjilan yang dimaksud terlihat sebagai berikut. sebab pada dasarnya tidak ada satu pun buku teks. Di sinilah peran buku teks penunjang bisa berkiprah untuk ”menggantikan” posisi buku teks wajib. . Sebagai konsekuensinya. . di lapangan dijumpai adanya anggapan bahwa buku teks wajib merupakan ”buku suci”. buku teks wajib yang diterbitkan oleh pemerintah disebarkan secara cuma-cuma ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. juga disesuaiakan dengan keinginan pasar. .Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan baik-baik oleh penerbit swasta untuk mengisi kekosongan tersebut. maupun tingkat dan daya aplikasinya. Keberagaman buku teks yang beredar haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kalangan pendidikan. Bahkan. Di sisi lain. buku teks wajib yang disebarkan hanyalah 20% dari kebutuhan real.Terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis. pernah mengakui bahwa karena keterbatasan dana. apakah sajian bahan ajarnya sudah sesuai dengan GBPP atau Kompetensi Dasar yang ingin dicapai. Sebab. Semenjak pemberlakuan kurikulum 1984 sampai dengan sekarang (Kurikulum 2006 atau KTSP) kehadiran buku teks sebagai penunjang pelaksanaan pembelajaran cukup dominan bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. misalnya. terutama guru.Terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi (semacam ringkasan). Perhatian khusus terhadap keganjilan buku teks ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti buku teks dalam dunia pendidikan. jumlah buku yang disebarkan jauh di bawah kebutuhan siswa.

. 04 Oktober 2008 HAKIKAT DAN FUNGSI BUKU TEKS Sebagaimana tersebut pada bagian sebelumnya bahwa buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. agar tidak terjadi ketimpangan yang berkelanjutan. . Ketergantungan guru ini dibuktikan dengan gejal-gejala berikut. Direktorat Sarana Pendidikan) maupun oleh lembaga pendidkan tenaga kependidikan (LPTK).Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prestasi belajar. Keadaan yang timpang ini tentunya patut dicari penyebabnya. tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus.Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku teks.Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi.perkembangan siswa.Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks. . tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus. dan sebagainya. . Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut. .Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks. tanpa melihat kurilulum (khususnya GBPP dan silabus yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. dan sebagainya. Kelima faktor penyebab itu haruslah diantisipasi oleh pihak yang bertanggung jawab. Sehubungan dengan itu. Selain itu. . .Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan. q. baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (c. . masih dijumpai juga pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi penuh kepada buku teks.Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu.Tradisi yang menganggap bahw buku teks sebagai sumber lengkap yang siap disajikan masih sangat dominan. orientasi . yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu. Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:01 0 komentar Label: Artikel Sabtu. tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus. . tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah tempat mereka mengajar.

Pusat Perbukuan (2006: 1) menyimpulkan bahwa buku teks adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional). Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya. Dari kelima rumusan itu kiranya dapat diketahui indikator atau ciri penanda buku teks sebagai berikut. dalam bentuk tertulis yang memenuhi syarat tertentu dalam kegiatan belajar mengajar. Buku teks biasanya dilengkapi dengan sarana pembelajaran. kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rumusan senada juga disampaikan oleh A. Dari butir-butir indikator tesebut. Dilihat dari segi isinya. Buku teks disusun untuk menunjang program pembelajaran. dan perkembangan siswa. kepekaan dan kemampuan estetis. tataan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan. berkaitan dengan bidang studi tertentu. Substansi yang ada dalam buku diturunkan dari kompetensi yang harus dikuasai oleh pembacanya (dalam hal ini siswa). Buku teks merupakan buku sekolah yang ditujukan bagis siswa pada jenjang pendidikan tertentu. potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. Buku teks adalah alat bantu siswa untuk memahami dan belajar dari hal-hal yang dibaca dan untuk memahami dunia (di luar dirinya).pembelajaran. budi pekerti dan kepribadian.J. maupun fungsinya. baik dilihat dari segi isi. dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. biasa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman). buku teks mempunyai ciri tersendiri bila dibanding dengan buku pendidikan lainnya. untuk diasimilasikan. Buku teks selalu berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran tertentu Buku teks biasanya disusun oleh para pakar di bidangnya Buku teks ditulis untuk tujuan instruksional tertentu. Buku teks berisi bahan yang telah terseleksi. Buku teks disusun secara sistematis mengikuti strategi pembelajaran tertentu. ”Buku teks adalah buku sekolah yang memuat bahan yang telah diseleksi mengenai bidang studi tertentu. Buku teks untuk diasmilasikan dalam pembelajaran. disusun secara sistematis untuk diasimilasikan. Buku teks memiliki kekuatan yang luar biasa besar terhadap perubahan otak siswa. buku teks merupakan buku yang . Sementara itu Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004: 3) menyebutkan bahwa buku teks atau buku pelajaran adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu. Loveridge (terjemahan Hasan Amin) sebagai berikut.” Chambliss dan Calfee (1998) menjelaskannya secara lebih rinci. Buku teks dapat mempengaruhi pengetahuan anak dan nilai-nilai tertentu. yang disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku.

Sebagai kelengkapan kategori tersebut. penekanan pada nilainilai anak dan orang dewasa. Sepuluh kategori yang disodorkan Geene dan Petty tersebut pada dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketiga ciri buku teks yang disampaikan sebelumnya. Secara teknis Geene dan Pety (dalam Tarigan. Dikatakan demikian. • • • • • • • • • • Buku teks haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya. dan (5) kondisi guru pemakai. selain mempunyai fungsi umum sebagai sebagai sosok buku. Buku teks haruslah mempunyai sudut pandang atau ”point of view” yang jelas dan tegas sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia. (2) kurikulum dan struktur program pendidikan. Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya. Buku teks haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya. Buku teks haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya. (3) tingkat perkembangan siswa sasaran. Dari segi fungsinya. Dilihat dari segi tataanya. Buku teks haruslah dapat menstimuli. lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu.berisi uraian bahan ajar bidang tertentu. (2) sarana pemerlancar tugas akademik guru. Isi buku teks haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut. 1986: 21) menyodorkan sepuluh kategori yang harus dipenuhi buku teks yang berkualitas. dan pada kurun ajaran tertentu pula. karena butir-butir kategori tersebut bisa dimasukkan ke dalam tiga ciri buku teks. buku teks merupakan sajian bahan ajar yang mempertimbangkan faktor (1) tujuan pembelajaran. untuk jenjang pendidikan tertentu. agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya. merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunaknnya. Schorling dan Batchelder (1956) memberikan empat ciri buku teks yang baik. Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsepkonsep yang samar-samar dan tidak biasa. buku teks memupunyai fungsi sebagai (1) sarana pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan. yaitu (1) direkomendasikan oleh guru-guru yang berpengalaman sebagai buku teks yang baik. . Buku teks seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. (3) sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran. (4) kondisi dan fasilitas sekolah. Buku teks haruslah mamu memberi pemantapan. dan (4) sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran.

buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadiannya. Dengan buku teks. caturwulanan. Loveridge menyatakan sebagai berikut: “Pelajaran dalam kelas sangat bergantung pada buku teks. Sebagai buku pendidikan. buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dalam keadaan guru tidak memenuhi syarat benar. mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks. J. dan (4) memuat ilustrasi yang membantu siswa belajar. Buku teks memuat bahan ajar yang seragam. Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah. (3) cukup banyak memuat teks bacaan. sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. (1959) menyatakan”The textbook is one of the teacher’s major tools in guiding learning”. misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks. Grambs. walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut. maka buku teks merupakan pembimbing dan penunjang dalam mengajar. misalnya gambar. semesteran). yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua. Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu. Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. diagram. bulanan.(2) bahan ajarnya sesuai dengan tujuan pendidikan. atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks. dkk. Sementara itu. Dengan membaca buku teks. Terhadap pentingnya buku teks ini. siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif. program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur. bahan drill dan latihan/tugas. dan kebutuhan masyarakat. dan peta. Sebagai pemantapan tentang fungsi buku teks. D. skema. • • • • • • • Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan. Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari. Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran. Bagi siswa sasaran. Hubert dan Harl menyoroti nilai lebih buku teks bagi guru sebagai berikut. maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. dan juga kelancaran diskusi. buku teks bertugas sebagai dasar untuk . yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik. Bagi murid. kebutuhan siswa. Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi.

siswa perlu menempuh pengalaman dan latihan serta mencari informasi tertentu. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks berperan secara maknawi dalam prestasi belajar siswa. mengulang. 2005). Apabila daya serapnya kurang. pengalaman dan latihan yang perlu ditempuh dan informasi yang perlu dicari. perlu juga dilakukan langkahlangkah pemantapan atau pengayaan. penggunaan buku teks merupakan bagian dari upaya pencipataan ”budaya buku” bagi siswa.belajar sistematis. baik tentang substansinya maupun tentang caranya. misalnya. Dari keadaan ini orang tua akhirnya bisa mengetahui daya serap anaknya terhadap materi mata pelajaran tertentu. begitu pula tentang cara menempuh dan mencarinya.” Bagi orang tua pun buku teks mempunyai peran tersendiri. ditunjukkan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas lain berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. dan menyajikan materi pembelajaran. peningkatan rasio kepemilikan buku siswa dari 1 : 10 menjadi 1 : 2 di kelas 1 dan 2 secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa (World Bank. dan apabila daya serapnya baik. guru dapat mempertimbangkan pula apa yang tersaji dalam buku teks. Dengan demikian. Salah satu alat yang efektif untuk mencapai kompetensi tersebut adalah lewat penggunaan buku teks. Di Filipina. Dengan buku teks orang tua bisa memberikan arahan kepada anaknya apabila yang bersangkutan kurang memahami materi yang diajarkan d sekolah. Walaupun buku teks diperuntukkan bagi siswa. perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan. tersaji dalam buku teks secara terprogram. Untuk mencapai kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Pada waktu memberikan pembelajaran kepada siswa. Dipandang dari hasil belajar. guru tetap memiliki kebebasan dalam memilih. dan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Semua itu merupakan wewenang dan tanggung jawab profesionalitas guru. mengembangkan. untuk memperteguh. Pada sisi lain. buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan (Pusat Perbukuan. 1995). guru pun dapat memanfaatkannya. . Karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya. buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri. Dipandang dari proses pembelajaran pun demikian. Namuk demikian. yang menjadi salah satu indikator dari masyarakat yang maju. buku teks mempunyai peran penting. Sebab. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Supriadi (2000) yang menyatakan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku berkorelasi positif dan bermakna dengan prestasi belajar. Laporan World Bank (1995) mengenai Indonesia.

hubungan buku ajar dan siswa. hubungan buku ajar dan media pembelajaran. Landasan penyusunan buku ajar bahasa dan sastra Indonesia: Landasan keilmuan bahasa dan sastra. perbedaan buku ajar dan bahan aja 2. perbedaan buku ajar dan buku ilmiah. SLTP/MTs. Karakteristik buku ajar/buku ilmiah: pengertian buku ajar/buku ilmiah. Masnur Muslich. dan penguasa-an mahasiswa tentang penulisan buku ajar atau bahan ajar untuk pembelajaran bahasa Indinesia di berbagai tingkat satuan pendidikan atau buku ilmiah dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia. landasan keterbacaan materi dan bahasa yang digunakan . pemahaman. TOPIK DAN SUBTOPIK 1. landasan kebutuhan bahasa siswa. landasan ilmu pendidikan dan keguruan. hubungan buku ajar dan guru.Dari uraian tersebut jelaslah bahwa keberadaan buku teks sangat fungsional baik bagi kelancaran pengelolaan kelas. Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:17 0 komentar Label: Artikel Rencana Perkuliahan Semester (RPS) RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER (RPS) Matakuliah : Manulis Buku Ajar/Ilmiah Sandi MK : INB420 SKS/JS : 3/4 Prasyarat : INB418 Pembina : Drs. TUJUAN Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat menghasilkan buku ajar untuk pembelajaran bahasa Indonesia di TK. bagi guru. 3. hubungan buku ajar dan kompetensi yang ingin dicapai (tujuan pembelajaran). SMA/MA/SMK atau bahan untuk berbagai pelatihan atau buku ilmiah dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia. maupun bagi orang tua. M.Si Sandi Dosen : 802124 DESKRIPSI Matakuliah ini berusaha menumbuhkan pengetahuan. Hubungan buku ajar dan komponen pembelajaran: hubungan buku ajar dan kurikulum. hubungan buku ajar dan metode/teknik/strategi pembelajaran. bagi siswa. SD.

Staff. http://www. pemahaman karakteristik siswa dan guru. Appraisal. dan komponen kegrafikan 5. http://www. Model Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas 4: Panduan Pengembangan. Houtz.com/reading. Sumardi. World Bank. Dasar-dasar Pemahaman. (12/07/07). Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. dan Penilaian Buku Teks. 1995. Selecting Coursebook. Currents in Langauge Teaching. Depdiknas. Komponen buku ajar (versi BSNP): komponen isi.E. 1990. 2003. J. “Score Sheet for Selecting Textboks. Oxford: Heinemann. Alan. pengkajian keilmuan bahasa dan sastra Indonesia. Oxford University Press. pemilihan bahan/materi. Indonesia: Book and Reading Development Project. 1988. Muslich.com/reading. 2008.timetabler. O’Neill. komponen kebahasaan. 2002. Pusat Perbukuan. Pedoman Penulisan Buku Pelajaran: Penjelasan Standar Mutu Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.B. K. Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender. Masnur. 2006. . Rossner and R. “Why Use Texboks?” Dalam R.html. penggunaan bahasa dan keterbacaan 6. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Penulisan.timetabler. penyusunan silabus. H. html. penyajian bahan/materi.). New York: Macmillan. 1995. 1995. Coosing your Coursebook. (12/07/07). Problema penulisan buku ajar/buku ilmiah dan pemecahannya: identifikasi permasalahan setiap tahapan penulisan buku ajar dan upaya pemecahannya EVALUASI Nilai akhir (NA) mahasiswa ditetapkan berdasarkan: (a) kuantitas dan kualitas pertisipasi dalam perkuliahan (bobot 2) (b) hasil tugas harian individu (bobot 2) (c) hasil tugas harian kelompok dan pertangungjawabannya (bobot 3) (d) hasil tugas akhir individu dan pertanggungjawabannya (bobot 3) NA ditetapkan berdasarkan rumus: NA = (a X 2) + (b X 2) + (c X 3) + (d X 3): 10 SUMBER/RUJUKAN • • • • • • • • • • Brown. Pemakaian Buku Teks. Textbook Evaluation Form. Jakarta: Bumi Aksara. Johnson. R. May. pengorganisasian buku. Teknik dan prosedur penulisan buku ajar/buku ilmiah: pengkajian kurikulum.4. komponen komponen penyajian. 2004. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.” Dalam Reading for Today’s Children. Cunningsworth. Bolitho (Eds.

mengembangkan kecakapan hidup. koherensi. komponen kebahasa-an (: sesuai dengan perkembangan peserta didik). komponen komponen penyajian (:teknik penyajian. mengandung wawawsan produktivitas.• • Yulaelawati. hubungan buku ajar dan media pembelajaran. JADWAL PERTEMUAN Minggu I Karakteristik buku ajar: pengertian buku ajar/buku ilmiah. penyusunan silabus. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan. hubungan buku ajar dan siswa. hubungan buku ajar dan guru. dan komponen kegrafikan (: penampilan. kese-suaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. mengandung wawasan kontekstual). ilustrasi. Ella. penyajian pembelajaran). pemilihan bahan/materi. penggunaan istilah dan simbol atau lambang). landasan kebutuhan bahasa siswa. perbedaan buku ajar dan buku ilmiah. dialogis dan interaktif. kemutakhiran. Jakarta: Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan. pemahaman karakter-istik siswa dan guru. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Minggu V-XV Teknik dan prosedur penulisan buku ajar: pengkajian kurikulum. hubungan buku ajar dan kompetensi yang ingin dicapai (tujuan pembelajaran). 1994. hubungan buku ajar dan metode/teknik/strategi pembelajaran. tata letak. Penulisan Bahan-bahan Pelajaran: Buku Acuan bagi para Penulis Bahan-bahan Pelajaran dan Buku-buku Panduan Guru. keterbacaan huruf). merangsang keingintahuan. landasan keterbacaan materi dan ba-hasa yang digunakan Minggu IV Komponen buku ajar (versi BSNP): komponen isi(: cakupan materi. penggunaan bahasa dan keterbacaan Minggu XVI Problema penulisan buku ajar dan pemecahannya: identifikasi permasalahan setiap tahapan penulisan buku ajar dan upaya pemecahannya . komunikatif. landasan ilmu pendidikan dan keguruan. Dkk. perbedaan buku ajar dan bahan ajar Minggu II Hubungan buku ajar dan komponen pembelajaran: hubungan buku ajar dan kurikulum. penyajian bahan/ materi. akurasi mate-ri. pendukung penyajian materi. mengembangkan wawasan kebinekaan. pengorganisasian buku. pengkajian keilmuan bahasa dan sastra Indonesia. Minggu III Landasan penyusunan buku ajar bahasa dan sastra Indonesia: Landasan keilmuan bahasa dan sastra. keruntutan alur pikir. lugas.

com/2008_10_01_archive.Malang.blogspot.html . Agustus 2008 Pembinan MK http://masnur-muslich.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful