P. 1
Buku Teks

Buku Teks

5.0

|Views: 3,804|Likes:
Published by Febriani Tama

More info:

Published by: Febriani Tama on Mar 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1. Hubungan Buku Teks dan Kurikulum
  • 2. Hubungan Buku Teks dan Tujuan Pembelajaran
  • 3. Hubungan Buku Teks dan Siswa
  • 4. Hubungan Buku Teks dan Guru
  • 5. Hubungan Buku Teks dan Media Pembelajaran
  • 6. Hubungan Buku Teks dan Strategi Pembelajaran

« Berbagi Dalam

Kehidupan

About

Me

»

Lima Aliran dalam Filsafat Pendidikan

October 7, 2009 by srilinda

Ada terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda terhadap pendidikan dan
praktek pendidikan yang terjadi selama ini. Pendapat-pendapat dari para pakar
pendidikan itu dapat dikelompokkan dalam beberapa aliran, diantaranya terdapat lima
aliran dalam Filsafat Pendidikan menurut Wahyuddin (2008) sebagai berikut:

1. Essensialisme

Aliran filsafat ini menunjukkan pendekatan pendidikan “tradisional” atau back to basic
yang berupaya menanamkan pada peserta didik hal-hal yang esensial dari pengetahuan
akademik dan perkembangan karakter peserta didik. Aliran ini dipopulerkan oleh
William Bagley (1874-1946). Aliran ini didasarkan pada suatu filsafat konservatif di
Amerika yang menerima struktur social, politik dan ekonomi dari masyarakat dan
menuntut lebih banyak syarat pokok, hari sekolah yang lebih lama, tahun akademik yang
lebih panjang serta buku-buku teks yang lebih menantang.

Lebih lanjut para esensialis memandang bahwa ruang-ruang kelas harus diorientasikan di
sekitar guru, yang secara ideal bertindak sebagai model peran intelektual dan moral bagi
para siswa. Para guru dan administrator pendidikan memutuskan apa yang paling penting
untuk dipelajari oleh para siswa dan menempatkan sedikit penekanan pada minat siswa,
dan guru esensialis sangat berfokus pada skor-skor tes pencapaian sebagai alat untuk
mengevaluasi kemajuan peserta didik.

2. Progresivisme

Gerakan progresivis merangsang sekolah-sekolah untuk memperluas kurikulum merek,
menjadikan pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan-kebutuhan dan minat para

siswa . Aliran ini dipopulerkan oleh John Dewey (1859-1952), beliau memberikan
penghargaan esarnya terhadap sains dan berpendapat bahwa satu kebenaran yang konstan
tentang alam semesta adalah eksistensi perubahan, perubahan bukanlah suatu kekuatan
yang tidak dapat dikendalikan, lebih tepatnya, perubahan dapat diarahkan oleh intelegensi
manusia.

Pendidikan menurut Dewey adalah rekonstruksi pengalaman yaitu suatu kesempatan
untuk menerapkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan cara-cara yang baru.
Dengan bersandar pada metode ilmiah, di sekolah progesivis, para siswa didorong untuk
berinteraksi satu sama lain dengan mengembangkan nilai-nilai luhur social seperti
kerjasama dan toleransi dengan cara pandang yang berbeda, sehingga seorang guru tidak
merasakan paksaan untuk memusatkan perhatian para siswa pada suatu disiplin ilmu
tertentu dan para siswa boleh bertanggung jawab untuk mempelajari pelajaran-pelajaran
yang menggabungkan beberapa bidang studi (subyek) yang berbeda.

3. Perenialisme

Aliran ini dipopulerkan oleh Plato dan Aristoteles, perennial berarti “abadi”. Menurut
para perenialis, saat para siswa larut dalam studi tentang gagasan-gagasan yang besar dan
abadi, mereka akan mengapresiasi belajar untuk belajar itu sendiri dan menjadi kaum
intelektual sejati. Seperti halnya essensialisme, perennialisme hanya menerima sedikit
fleksibelitas dalam kurikulum, mereka mendukung suatu kurikulum yang universal
berdasarkan pandangan bahwa semua manusia memiliki “nature” (fitrah, sifat,
karakter)esensial yang sama. Tidak seperti essensialisme, perennialisme tidak berakar
pada suatu waktu atau tempat tertentu, kaum perennialis berupaya membantu para siswa
menemukan gagasan-gagasan yang paling berwawasan dan abadi dalam memahami
kondisi-kondisi manusiawi, menurut mereka pengetahuan tumbuh terutama dari temuan-
temuan empiris para ilmuwan, merendahkan nilai penting kapasitas kita untuk bernalar
sebagi individu-individu, yaitu untuk berpikir secara dalam, analitis, fleksibel dan
imajinatif.

Prinsip pertama aliran ini adalah ” man is nothing but what he makes of himself
(manusia adalah apa yang dia upayakan atas dirinya), dipopulerkan oleh Soren

Kierkegaard (1813-1855) dan Frederich Nietzsche (1811-1900), mereka sama-sama
menjunjung tinggi individualisme, khususnya mereka berpandangan bahwa pendekatan-
pendekatan filsafat tradisional tidak cukup menghargai pertimbangan ilmiah dari tiap-tiap
individu.

Di dalam ruang kelas eksistensialisme, mata pelajaran berada pada tempat kedua untuk
membantu para siswa memahami dan mengapresiasi diri mereka sendiri sebagai individu-
individu yang unik yang menerima tanggung jawab sepenuhnya atas pikiran-pikiran,
perasaan dan tindakan mereka sendiri. Peran guru adalah membantu siswa-siswa untuk
menentukan esensi mereka sendiri dengan menghadapkan mereka pada berbagai jalur
yang dapat mereka ambil dalam kehidupan dan menciptakan lingkungan dimana mereka
dapat bebas menentukan cara yang lebih mereka pilih.

5. Behaviorisme

Dipopulerkan oleh Ivan Pavlov(1848-1936), John Watson (1878-1958) dan B.F.
Skinner (1904-1989)
. Behviorisme menegaskan bahwa satu-satunya realitas adalah
dunia fisik yang kita kenali melalui observasi ilmiah yang dilakukan dengan seksama

http://srilinda.wordpress.com/2009/10/07/filsafat-pendidikan/

Ada Apa dengan Buku Teks?

Oleh Masnur Muslich

Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang:
- pengaruh buku bagi pembacanya
- buku dalam pendidikan;
- pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks; dan
- kondisi pemakaian buku teks.

1. Pengaruh Buku bagi Pembacanya

Pada era global ini kehidupan manusia tidak bisa melepaskan diri dari buku.
Lewat buku manusia bisa bertambah wawasannya yang pada akhirnya
(langsung atau tidak langsung) akan mempengaruhi pola pikir dan pola
hidupnya. Bahkan, larena kuatnya pengaruh bagi kehidupan manusia, ada
sekelompok ”buku” yang disebut ”the great book”, yaitu Quran, Injil, Taurat,
Zabur, Weda, dan Tripitaka. Selain itu, dikenal pula ”buku-buku pengubah
dunia”, yaitu Trias Politika, Das Kapital, De Principle, dan Uncle Toms Cabin.
Secara rinci D. Waples dkk. (1990) membagi pengaruh buku bagi pembacanya
menjadi lima kategori, yaitu (1) pengaruh instrumental, (2) pengaruh prestise, (3)
pengaruh pemantapan, (4) pengaruh estetis dan apresiatif, dan (5) pengaruh
pelepasan. Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat
membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat
membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya. Buku
dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku,
pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku dan sikapnya yang pada
akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya. Buku dikatakan mempunyai
pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang
bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam
kehidupannya. Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila
dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan
apresiasinya Terakhir, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite)
apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari
keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya.

Pengaruh buku tersebut akan lebih terasa pada diri anak. Para ahli pendidikan
berkesimpulan bahwa lewat membaca buku, anak akan berpengaruh
perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalarannya. Konsekuensinya,
apabila buku yang dibaca berisi hal-hal yang negatif, maka perkembangan jiwa
anak juga mengarah ke negatif. Sebaliknya, apabila yang dibaca berisi hal-hal
yang positif, maka perkembangan jiwa anak pun positif. Karena yang diharapkan
oleh semua pihak (:orang tua, pemerintah, penddik) agar anak berkembang
secara positif, persediaan buku bagi anak (buku bacaan, buku teks, dan
sebagainya) haruslah buku yang memenuhi syarat positif.
Permasalahan yang segera muncul adalah buku bagaimanakah yang memenuhi
syarat positif bagi anak? Buku dikatakan mempunyai syarat positif apabila

mengandung hal-hal berikut, yaitu
(a) bisa memperluas wawasan anak;
(b) bisa menambah pengetahuan baru;
(c) bisa membimbing berpikir konstruktif;
(d) bisa mengarahkan kreativitas;
(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik; dan
(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri
Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut
berisi informasi faktual, deskriptif, atau naratif yang belum menjadi perhatian
anak. Misalnya, informasi tentang cara meminum obat, cara mandi yang betul,
makanan sehat, teman yang baik, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa
menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang
pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. Misalnya,
proses terjadinya gunung meletus, proses terjadinya hujan, perlunya kebersihan
lingkungan, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir
konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa
merangsang anak untuk berpkir secara rasional. Misalnya, cerita tentang
kerugian anak yang malas belajar, keuntungan anak yang berbaik hati, akbat
anak yang ska berbohong, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa
mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman
paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. Misalnya, cara
membuat burung dari kertas, cara membuat lampu minyak, cara menjernihkan
air, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral, sosial,
dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang
melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru
dalam kehidupan anak. Misalnya, cerita pahlawan, tokoh agama, dermawan cilik,
dai cilik, dan sebagainya. Terakhir, buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah
kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas
problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara,
kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan
sebagainya.Syarat-syarat itulah yang secara ideal terdapat pada buku yang
layak sebagai bacaan anak.

2. Buku dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, buku merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan.
Dengan buku, pelaksanaan pendidikan dapat lebih lancar. Guru dapat mengelola
kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien lewat sarana buku. Siswa pun
dalam mengikuti kegiatan belajar dengan maksimal dengan sarana buku.
Bahkan, administratur pendidikan dapat mengelola pendidikan dengan efektif
dan efisien dengan berpedoman ada aturan-aturan dan lebijakan yang tertuang
dalam buku, misalnya pedoman pelaksanaan pendidikan dan kurikulum. Atas
dasar itulah, bangsa-bangsa Eropa (yang termasuk bangsa maju) berpendapat
bahwa ”education without book is unthinkable”.
Sebagai bangsa yang maju, kita patut tidak berseberangan pendapat dengan
bangsa Eropa tentang buku. Buku hendaknya menjadi perhatian utama, mulai

dari pengadaan (baca: penulisan), penggandaan, sampai dengan
penyeberannya. Dari segi pengadaan, buku-buku yang ditulis hendaknya
diarahkan pada peningkatakan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif,
tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga masalah
sosial dan imtak (iman dan takwa). Dengan demikian ada keseimbangan antara
perkembangan pemikiran dan kejiwaaan. Inilah yang biasa disebut ”manusia
utuh” itu. Dari segi penggandaan, buku-buku yang telah ditulis hendaknya
diproduksi secara proporsional dan memadai. Oleh karena tu, pemerintah
hendaknya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk itu. Pihak swasta pun
sebaiknya terlibat dalam penggandaan ini walaupun dalam bentuk transaksi
bisnis. Dari segi penyebaran, buku yang telah digandakan hendaknya
disebarkan secara merata. Jangan hanya diarahkan ke kota-kota besar saja.
Daerah terpencil justru mendapatkan perhatian utama. Dengan demkian, akan
terjadi pemerataan perkembangan pola pikir dan wawasan. Terkait dengan
penyebaran buku ini, niat pemerintah untuk program buku murah perlu
mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat.
Buku-buku yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan bermacam-
macam. Namun demikian, apabila dilihat dari segi isi dan fungsinya, buku
pendidikan setidak-tidaknyanya dapat dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu
sebagai berikut.
Buku acuan, yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal
tertentu. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi) oleh guru
untuk memahami sebuah masalah secara teoretis.
Buku pegangan, yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu.
Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan, menganalisis, dan
menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada siswa.
Buku teks atau buku pelajaran, yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata
pelajaan atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah
diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan
perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Buku ini dipakai sebagai sarana
belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Buku latihan, yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk memperoleh
kemampuan dan keterampilan tertentu. Buku ini dipakai oleh siswa secara
periodik agar yang betrsangktan memiliki kemahiran dalam bidang tertentu.
Buku kerja atau buku kegiatan, yaitu buku yang difungsikan siswa untuk
menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Tugas-tugas ini
bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas.
Buku catatan, yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau hal-hal
yang diperlukan dalam studinya. Lewat buku catatan ini siswa dapat mendalami
dan memahami kembal dengan cara membaca ulang pada kesempatan lain.
Buku bacaan, yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan, informasi, atau uraian
yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu. Buku ni
dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan wawasan kepada
siswa.

3. Pandangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks

Kehadiran buku teks di dunia pendidikan disikapi oleh ahli pendidikan dengan
berbagaimacam versi. Ada yang bersikap negatif, ada yang bersikap positif, dan
adapula yan bersikap moderat. Ketiga pandangan yang berbeda ini didasari oleh
alasan yang bertolak belakangsatu dengan lainnya.

Pandangan Negatif terhadap Buku Teks

Para ahli pendidikan yang bersikap negatif atau “antipati” atas kehadiran buku
teks di dunia pendidikan didasarkan oleh kenyataan berikut.
Buku teks kurang memperhatikan perbedaan individual siswa. Siswa sasaran
dianggap homgen sehingga bahan ajar yang ada pada buku teks tersaji tanpa
memperhatikan siswa yang ”uper” dan siswa yang ”lower”.
Desain buku teks sering tidak sesuai dengan desain kurikulum pendidikan.
Akibatnya, dengan menggunakan buku teks tersebut, program pendidikan yang
telah dirancang dalam kurikulum tidak tercapai.
Konteks dan bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering tidak sesuai
dengan kondisi dan lingkunna siswa sasaran. Apabila hal ini terjadi, buku teks
akan terkesan ”memaksa” siswa untuk belajar sesuatu yang ”tidak sesuai”
dengan kondisi dirinya.
Bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering bias dan basi. Ini terjadi karena
antara waktu penyusunan buku teks dan waktu pemakaiannya berselang terlalu
lama. Akibatnya, informasi dan masalah yang terdapat dalam buku teks sudah
”kadaluarsa”, bahkan tidak sesuai lagi dengan yang sedang dihadapi siswa.

Ahli pendidikan yang apriori terhadap kehadiran buku tekas ini adalah ahli
pendidikan yang mengikuti sistem pendiikan lama.

Pandangan Positif terhadap Buku Teks

Sebaliknya, ahli pendidikan yang bersikap positif atas kehadiran buku teks
didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut.
Buku teks merupakan ”the foundation of learning in classroom”. Anggapan ini
didasarkan oleh kenyataan bahwa pengajaran yang dianggap efektif dan efisien
adalah pengajaran klasikal. Kalau toh ada yang individual, sangatlah bersifat
khusus, karena kondisi tertentu.
Buku teks memuat bahan ajar yang sebaiknya disajikan (what to teach) dan
sekuensi atau urutan cara penyajiannya. Oleh karena itu penyusunan buku teks
tentu memperhatikan bahan ajar mana yang patut dan sebaiknya disajikan,
termasuk tata cara penyajian yang sesuai dengan jenis bahan dan kondisi siswa
sasaran.
Jangkauan,jumlah, dan jenis bahan ajar yang terdapat dalam buku teks telah
relatif pasti sehingga guru memungkinkan untuk mengalokasikannya
berdasarkan jadwal sekolah. Dengan demikian, lewat pemakaian buku teks
dapat terkontrol dengan ketat program pengajarannya.

Paparan masalah atau pokok persoalan (subject matter) dalam buku teks relatif
teliti. Ketelitian ini terlihat mulai dari proses pemilihan bahan, klasifikasi bahan,
sampai dengan proses penyusunannya. Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan
guru dengan bahan ajar yang disusunnya sendiri.
Bahan ajar dalam buku teks tertata cukup baik. Ini dapat dilihat dari cara
penyajian bahan ajar yang memperhatikan hierarkhi dan tataletaknya sehingga
mudah dipahami siswa. Tidak semua guru memiliki keterampilan menata bahan
seperti yang terdapat pada buku teks.
Buku teks cukup banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar peta,
dan diagram. Alat bantu ini akan dapat mempercepat pamahaman siswa atas
bahan ajar yang sedang dipelajari. Pada umumnya, alat bantu semacam itu sulit
diciptakan oleh guru dalam waktu yang relatif singkat.
Kesinambungan bahan ajar dalam buku teks telah diatur sedemikian rupa oleh
penyusunnya. Lebih-lebih, apabila buku tersebut merupakan buku berseri. Hal ini
dapat dimaklumi, sebab sebelum penyusunan buku teks dimulai, terlebih dahulu
disusun kerangka (outline) secara menyeluruh. Dengan demikian, tidak dijumpai
bahan ajar yang terlepas dari yang lain. Sebaliknya, bahan-bahan itu merupakan
rangkaian yang utuh.
Buku teks merupakan batu loncatan bagi siswa. Dengan menggunakan buku
teks, siswa terbebas dari kegiatan mencatat yang merupakan pemborosan
waktu, tenaga, dan pikiran.
Buku teks sangat membantu sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang
lengkap. Hal ini bisa dimaklumi karena buku teks berisi serangkaian bahan ajar
yang minimal harus dikuasai atau dipahami siswa. Jika tidak lewat kemasan
buku teks, bahan-bahan itu tentu berada di berbagai buku sumber.
Buku teks yang dipublikasikan oleh pemerintah dan pihak swasta telah
dipertimbangkan kualitasnya. Pertimbangan kualitas ini merupakan konsekuensi
logis. Sebab, kalau tidak, tentu akan merugikan pihak pemerintah dan penerbit
swasta itu sendiri. Para pemakai buku teks (terutama guru) tentu tidak akan
menggunakan secara maksimal, bahkan tidak mau menggunakannya, apabila
buku teks tersebut tidak berkualitas.

Ahli pendidikan yang mendukung sepenuhnya kehadiran buku teks ini adalah
ahli pendidikan modern.

Pandangan yang Moderat terhadap Buku Teks

Kedua pandangan tersebut sebenarnya boleh dikatakan sangatlah ekstrem, baik
eksrem kiri dan ekstrem kanan. Kedua pendapat itu masing-masing ada
kelebihan dan kekurangannya. Lalu, timbullah pandangan yang moderat
terhadap kehadiran buku teks. Pandangan ketiga ini diilhami oleh kenyataan
bahwa tidak semua buku teks menguntungkan bagi pendidikan dan tidak semua
pula buku teks merugikan bagi kelangsungan pendidikan. Beberapa argumentasi
berikut ini menjadi alasan bagi pandangan yang moderat terhadap buku teks.

a. ”No one textbook is the best for all situation” (Romero dalam ”What Textbook

Shall We Use”. Forum 2, 1975)
Argumentasi ini bisa dimaklumi sebab pada kenyataan memang tidak ada satu
pun buku teks yang ampuh untuk semua situasi dan kondisi. Namun demikian,
keterbatasan ini tidak boleh dipakai sebagai “kambing hitam” untuk tidak
menggunakan buku teks. Keterbatasan ini harus diantisipasi guru pada saat
mengasimilasikannya di kelas. Yang peru dipahami adalah buku teks merupakan
sarana untuk mencapai tujuan pengajaran dan buku teks bukanlah pengajaran.
Oleh karena itu, buku teks tidak bisa mengajar. Yang bisa mengajar adalah guru
lewat sarana antara lain buku teks.

b. Tidak ada buku teks yang betul-betul bisa memenuhi harapan kurikulum. (J. N.
Hook, 1965).
Pernyataan ini pun bisa dimaklumi. Memang tidak ada satu pun buku teks yang
bisa memenuhi kebutuhan kurikulum secara total. Buku teks hanyalah salah satu
sarana bukan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan kurikulum.
Walaupaun Garis-garis besar Program pengajaran (GBPP) atau silabus pada
kurikulum tertentu dipakai sebagai acuan penyusunan bahan ajar pada buku
teks, tetap tidak bisa menjamin bahwa buku teks dapat memenuhi kebutuhan
kurikulum secra total. Sebab, faktor-faktor lain di luar buku teks juga ikut
menentukannya, yaitu guru pemakai buku teks, siswa sasaran, situasi dan
kondisi sekolah, dan aspek-aspek lainnya.

c. Tidak ada satu pun buku teks yang cocok untuk semua jenjang pendidikan.
Pernyataan ini tidak mengada-ada, bahkan bisa dimakluminya. Buku teks
memang disusun dengan mempertimbangkan program tertentu, jenjang
pendidikan tertentu, dan pola pikir siswa tertentu. Akibatnya, buku teks hanya
cocok untuk “sasaran” tetentu saja.

Pandangan ketiga inilah yang memandang buku teks secara lebih objektif dan
rasional. Sebab, buku teks akan berpran secara maksimal apabila memenuhi
criteria ideal dan diasimilasikan oleh guru yang professional.

4. Kondisi Pemakaian Buku Teks

Selama ini terdapat anggapan dari sebagian besar masyarakat (khususnya
komunitas pendidikan) bahwa buku teks sebagai penunjang pelaksanaan
kegiatan pembelajaran di kelas dikelompokkan menjadi dua, yaitu buku teks
wajib dan buku teks penunjang. Buku teks wajib (juga biasa disebut buku paket)
adalah buku teks yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal
ini Departemen Pendidikan Nasional. Sementara itu, buku teks penunjang (juga
biasa disebut buku pelengkap) adalah buku teks yang diterbitkan oleh penerbit
swasta. Pendapat seperti itu sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan
dari segi keilmuan sebab kedua ”jenis” buku teks tersebut sama-sama
berorientasi kepada kurikulum yang sedang berlaku, baik dari segi pendekatan,
isi, maupun strateginya. Karena orientasinya sama, kedua jenis buku teks itu

sebenarnya mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dalam menunjang
pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Anggapan dekotomis tersebut sebenarnya dipicu oleh kebijakan ”politis”
pemerintah (sebelum era Reformasi) bahwa bahwa buku teks wajib mempunyai
kedudukan ”utama”, sedangkan buku teks penunjang ini mempunyai kedudukan
”pelengkap”. Kebijakan pemerintah ini didasari pertimbangan bahwa apabila
buku teks wajib ini kalah pengaruhnya dengan buku teks penunjang, akan
berdampak pada keheterogenan hasil belajar siswa. Apabila keadaan ini terjadi,
tentu akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan sandardisasi kualitas
atau keberhasilan belajar siswa. Kebijakan semacam ini sebenarnya tidak perlu
terjadi apabila buku teks yang beredar (baik yang dterbitkan oleh pemerintah
maupun swasta) telah mendapat kontrol lewat penilaian terlebih dahulu oleh
lembaga yang kompeten atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah, lewat
Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP).
Dilihat dari penyusunnya, buku teks wajib ini biasanya disusun oleh tim yang
para anggotanya tentunya mempunyai kualitas yang dipersyaratkan. Bahkan,
sebelum buku teks wajib ini diterbitkan, terlebih dahulu ditelaah kualitas atau
kevaliditasannya baik dari segi isi, strategi, dan bahasa dalam forum lokakarya.
Sementara itu, buku teks penunjang yang diterbitkan oleh swasta biasanya
ditulis oleh penulis (baik sendiri mapun kelompok) yang berminat atau yang
mempunyai pengalaman terhadap bidang pelajaran tertentu. Karena
pertimbangan pasar, buku yang ditulisnya selain disesuaikan dengan kurikulum
yang berlaku, juga disesuaiakan dengan keinginan pasar. Bahkan, hal-hal
tertentu yang dianggap lemah atau sumbeng dalam buku teks wajib akan
dibenahi atau dilengkapi dalam buku teks penunjang ini.
Sebagai konsekuensinya, buku teks wajib yang diterbitkan oleh pemerintah
disebarkan secara cuma-cuma ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Hanya
saja, jumlah buku yang disebarkan jauh di bawah kebutuhan siswa. Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (1994), misalnya, pernah mengakui bahwa karena
keterbatasan dana, buku teks wajib yang disebarkan hanyalah 20% dari
kebutuhan real. Ini berarti masih 80% yang belum bisa terlayani buku teks wajib.
Di sinilah peran buku teks penunjang bisa berkiprah untuk ”menggantikan” posisi
buku teks wajib. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan baik-baik oleh penerbit
swasta untuk mengisi kekosongan tersebut.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku teks yang beredar (baik buku
teks wajib maupun penunjang) dijumpai keganjilan-keganjilan. Keganjilan yang
dimaksud terlihat sebagai berikut.
- Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum.
- Terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi (semacam ringkasan).
- Terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis.
- Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan pola pikir siswa.
- Terdapat buku teks yang kurang ”aplicable”.
Perhatian khusus terhadap keganjilan buku teks ini tidak dimaksudkan untuk
mengecilkan arti buku teks dalam dunia pendidikan, tetapi justru untuk memacu
peningkatan kualitas buku teks setelah dikaitkan dengan kedudukan dan

fungsinya yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajran
siswa di kelas.
Semenjak pemberlakuan kurikulum 1984 sampai dengan sekarang (Kurikulum
2006 atau KTSP) kehadiran buku teks sebagai penunjang pelaksanaan
pembelajaran cukup dominan bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian serius pemerintah terhadap dunia
pendidikan dan minat dominan penerbit swasta terhadap penerbitan buku teks.
Keberagaman buku teks yang beredar haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya
oleh kalangan pendidikan, terutama guru. Sebab, dengan demikian, guru bisa
memilih dengan leluasa: mana buku teks yang mempunyai kriteria ideal baik
dilihat dari kesesuaiannya dengan kurikulum, kesesuaiannya bagi siswanya,
maupun tingkat dan daya aplikasinya.
Di sisi lain, di lapangan dijumpai adanya anggapan bahwa buku teks wajib
merupakan ”buku suci”. Anggapan yang ekstrem ini sebenarnya tidak perlu
terjadi, sebab pada dasarnya tidak ada satu pun buku teks, termasuk buku teks
wajib, yang ampuh untuk segala-galanya: kapan dan di mana saja. Sebab, pada
saat diaplikasikan, buku teks (termasuk yang wajib) masih tetap perlu disiasati
guru sebelum dipakai dalam pembelajaran. Misalnya, apakah sajian bahan
ajarnya sudah sesuai dengan GBPP atau Kompetensi Dasar yang ingin dicapai;
apakah strategi penyampaiannya sudah sesuai dengan pembelajaran yang
disarankan Kurikulum, apakah pola pengembangan bahan ajar sesuai dengan
perkembangan siswa, dan sebagainya, dan sebagainya.
Selain itu, masih dijumpai juga pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi
penuh kepada buku teks, tanpa melihat kurilulum (khususnya GBPP dan silabus
yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. Ketergantungan guru ini
dibuktikan dengan gejal-gejala berikut.
- Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks,
tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus.
- Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku
teks, tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam
GBPP atau silabus.
- Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar
yang terdapat dalam buku teks, tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi
dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam
GBPP atau silabus.
- Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat
dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau
mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar
yang telah ditentukan.

Keadaan yang timpang ini tentunya patut dicari penyebabnya. Sehubungan
dengan itu, Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor
penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut.
- Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan.
- Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan
tinggi, tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah

tempat mereka mengajar.
- Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.
- Tradisi yang menganggap bahw buku teks sebagai sumber lengkap yang siap
disajikan masih sangat dominan.
- Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prestasi belajar.
Kelima faktor penyebab itu haruslah diantisipasi oleh pihak yang bertanggung
jawab, baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (c. q.
Direktorat Sarana Pendidikan) maupun oleh lembaga pendidkan tenaga
kependidikan (LPTK), agar tidak terjadi ketimpangan yang berkelanjutan.

Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:01
Label: Artikel

Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran

Oleh Masnur Muslich

Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang
hubungan buku teks dan komponen pembelajaran, khususnya mengenai:
- hubungan buku teks dan kurikulum;
- hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran;
- hubungan buku teks dan siswa;
- hubungan buku teks dan guru;
- hubungan buku teks dan media pembelajaran; dan
- hubungan buku teks dan strategi pembelajaran.

Mengapa buku teks dihubungkan dengan komponen pembelajaran? Ya, karena
buku teks merupakan sajian tertulis suatu pembelajaran. Oleh karena itu, semua
komponen pembelajaran layak tecermin di dalam buku teks.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->