P. 1
paracetamol

paracetamol

|Views: 801|Likes:

More info:

Published by: Wiseza Komang Bagoezt on Mar 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

INTERAKSI FARMAKOKINETIK KOMBINASI OBAT PARASETAMOL DAN FENILPROPANOLAMIN HIDROKLORIDA SEBAGAI KOMPONEN OBAT FLU Taofik Rusdiana , Fauzi

Sjuib dan Sukmadjaja Asyarie ABSTRAK Telah diteliti pengaruh pemberian kombinasi parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida terhadap profil farmakokinetik masing-masing obat di dalam plasma darah manusia. Kadar masing-masing obat dalam plasma ditetapkan secara kromatografi cair kinerja tinggi dengan menggunakan kolom Hypersil C-18 dan fase gerak asetonitrildapar asetat pH 4,6 (7,5:92,5) untuk parasetamol dan asetonitril- natrium heptan 1sulfonat 0,005 M pH 2,5 (25:75) untuk fenilpropanolamin hidroklorida. Hasil menunjukkan bahwa jika parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida diberikan bersama maka Cmaks dan AUC0-∞ kedua obat tersebut lebih kecil, sedangkan t1/2β fenilpropanolamin hidroklorida lebih besar dari pada jika diberikan secara tersendiri. ABSTRACT The effect of combination of paracetamol and phenylpropanolamine hydrochloride administration on pharmacokinetics profile of each drug has been studied. The quantitation of paracetamol and phenylpropanolamine hydrochloride in human plasma was determined by high performance of liquid chromatography using a Hypersil C-18 column and a mixture of acetonitrile-sodium acetate buffer of pH 4.6 (7.5 : 92.5) for parasetamol analysis and that of acetonitril-0,005 M solution of sodium 1heptanesulphonate of pH 2.5 (25 : 75) for phenylpropanolamine hydrochloride analysis. Result showed that when paracetamol and phenylpropanolamine hydrochloride were given concomitantly, their Cmax and AUC0-∞ were smaller, while t1/2β value of phenylpropanolamine hydrochloride was higher than those given separately. PENDAHULUAN Pada dasarnya suatu penyakit dapat diobati oleh satu obat. Obat tersebut ditetapkan dosis dan frekuensi pemakaiannya dalam sehari karena pada umumnya obat digunakan untuk pemakaian ganda (berulang). Frekuensi pemakaian ditetapkan berdasarkan parameter farmakokinetiknya seperti tetapan kecepatan eliminasi. Semakin kecil tetapan kecepatan eliminasi, maka semakin berkurang frekuensi pemakaiannya dibandingkan dengan obat yang mempunyai tetapan kecepatan eliminasi yang lebih besar. Oleh karenanya, jika seseorang mendapatkan dua jenis obat atau lebih yang mempunyai waktu paruh biologis berbeda maka frekuensi pemakaiannya seharusnya berlainan. Aspek-aspek tersebut di atas dipelajari di dalam ilmu farmakokinetik. Dewasa ini, banyak obat yang dibuat oleh industri farmasi berupa obat kombinasi tetap dalam satu bentuk sediaan farmasi (misalnya tablet atau kapsul) yang mengandung dua zat berkhasiat atau lebih yang diberikan dengan frekuensi pemakaian yang sama. Tampaknya pertimbangan utama yang dipakai oleh industri farmasi tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan logic pharmacodynamic, dan masih kurang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida terhadap profil farmakokinetik dari masing-masing obat dalam plasma darah manusia. Gambar 2. dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi pada salah satu obat atau keduanya. . Dari pustaka dan hasil penelitian sebelumnya diketahui parasetamol memiliki waktu paruh eliminasi antara 1– 3 jam sedangkan fenilpropanolamin hidroklorida memiliki waktu paruh eliminasi antara 3–6 jam. Berdasarkan uraian diatas. Dengan demikian kombinasi obat ini dapat menimbulkan akumulasi fenilpropanolamin dalam tubuh apabila diberikan sehari tiga kali.memperhatikan aspek farmakokinetik dari obat-obat tersebut. sehingga apabila dikonsumsi secara bersamaan dan dengan pemberian berulang yang sama. Senyawa ini mempunyai nama kimia N-asetil-paminofenol atau p-asetamidofenol atau 4’hidroksiasetanilid. kita perlu untuk mengetahui lebih jauh mengenai profil farmakokinetik dari masing-masing obat dan sejauh mana pengaruh pemberian dalam bentuk kombinasi antara kedua obat dibandingkan profil farmakokinetik masing-masing obat tersebut.1 Struktur Molekul Parasetamol Fenilpropanolamin hidroklorida adalah senyawa yang termasuk dalam obat simpatomimetis yang secara struktur berkaitan dengan efedrin hidroklorida. diantaranya kombinasi obat yang mengandung parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida sebagaimana dapat dilihat tabel 1. khususnya waktu paruh eliminasi. Kombinasi obat semacam ini banyak terdapat dalam obat flu atau obat batuk. bobot molekul 151. Parasetamol (asetaminofen) merupakan turunan senyawa sintetis dari p-aminofenol yang memberikan efek analgesia dan antipiretika. Nama kimia dari Fenilpropanolamin hidroklorida (dl.2 Struktur Molekul fenilpropanolamin Hidroklorida Gambar 2.16 dengan rumus kimia C8H9NO2 dan mempunyai struktur molekul sebagai berikut : molekul sebagaimana ditunjukkan gambar 2. Oleh karena itu dapat terjadi dalam suatu kombinasi obat terdapat komponen-komponen zat aktif yang berlainan parameter farmakokinetiknya. Senyawa ini mempunyai berat molekul 187.norefedrin) adalah α-(1aminoetil) benzyl alkohol hidroklorida atau 1-fenil-1-amino-1-propanol hidroklorida.67 dengan struktur Apabila kombinasi obat tersebut diberikan secara berulang (misalnya tiga kali dalam sehari) maka parasetamol dengan waktu paruh elimasi 1 jam tidak akan menimbulkan akumulasi tetapi fenilpropanolamin hidroklorida dengan waktu paruh eliminasi 6 jam akan memiliki indeks akumulasi (R) diatas 1.

5 25 30 15 7.5 15 15 25 9 25 25 25 25 25 25 25 10 25 50 Keterangan : P = Parasetamol SA = Salisilamid Et = Etenzamida Ctm = Klorfeniramin maleat PPA = Fenilpropanolamin HCl Ef = Efedrin HCl Pz = Prometazin HCl FE = Fenilefrin HCl Caf = Caffein Dmp = Dekstrometorphan HBr GG = Gliserilguaiakolat PE = Pseudoefedrin HCl Vit B = Vitamin B Vit C = Vitamin C BAHAN DAN METODE 1. instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (Hewlett-Packard TM). Natrium Asetat. Alat Timbangan analitik (Sartorius n2442). spektrofotometer UV-Vis (Beckman DU7500i). Natrium hidroksida. Rotator Roller Mixer. 5 μm.5 15 10 12.5 17. tabung ekstraksi. 200 x 4. tipe . Sanbe Farma). Parasetamol dan Fenilpropanolamin Hidroklorida BPFI (PPOM). kolom C-18 (ODS Hypersil TM. jarum suntik.6 mm) dan alat-alat gelas yang digunakan dalam laboratorium analisis. pH meter (BeckmanΦTM 50). tabung plasma (Vacuette 7 ml).5 25 12. C Vit B1 2 250 1. agitator vortex. Asam asetat glasial.5 1 2 3 1 1 1 2 2 2 12. Asam klorida. Bahan . Natrium 1-heptan sulfonat. Metanol (grade HPLC) Etilasetat.5 12.Tabel 1. Dikaliumhidrogenfosfat. Subyek percobaan Dalam penelitian ini digunakan enam orang sukarelawan sebagai subjek percobaan yang telah memenuhi persyaratan uji ketersediaan hayati melalui pengujian laboratorium klinik. Beberapa contoh Poduk Obat Flu yang beredar di Indonesia Nama Produk Combiflu Congestril Contrex Decolgen Farapon Ficosin Flumin Flutamol Flutamol plus Flutop C Fluvit C Mixagrip Neozef Forte Procold Sanaflu Tuzalos Ultraflu 500 300 250 325 300 600 500 160 500 500 250 250 500 500 500 500 1 2 Kandungan Obat (mg/tablet) P 250 SA Et 250 2 2 1 ctm PPA Caf dmp GG 20 12. Alat dan Subyek Penelitian Bahan Parasetamol dan Fenilpropanolamin Hidroklorida (PT. Asetonitril.5 15 30 25 50 25 30 50 10 Ef FE d-ctm Vit. Metilen klorid dan Aqua bidestilata.

0.0.0.25. 5.0.0. 10.5.0. Residu dilarutkan kembali . kadar gula darah. 3. Sebanyak 20 μl larutan disuntikkan ke dalam Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Metode Pemberian Obat kepada Sukarelawan Sukarelawan Periode I Parasetamol 500 mg Fenilpropanolamin HCL 50 mg Kombinasi Parasetamol 500 mg dan PPA HCl 50 mg Periode II Kombinasi Parasetamol 500 mg dan PPA HCl 50 mg Parasetamol 500 mg Fenilpropanolamin HCL 50 mg Periode III Fenilpropanolamin HCL 50 mg Kombinasi Parasetamol 500 mg dan PPA HCl 50 mg Parasetamol 500 mg 1-2 3-4 5-6 Pengambilan Sampel Darah Pengambilan sampel darah dilakukan pada jam ke.2. 1. 0. Metode Pemeriksaan Bahan Baku Pemeriksaan bahan baku parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida yang dilakukan meliputi pemerian. Diambil 1 ml plasma dari setiap konsentrasi di atas dan masukkan ke dalam tabung ekstraksi. Lapisan bening dipindahkan ke dalam tabung lain dan diuapkan. 6. dan identifikasi secara spektrfotometri UV. Tambahkan 5 ml etil asetat ke dalam tabung tersebut kemudian dikocok dengan menggunakan agitator vortex selama 30 detik dan diputar dalam alat pencampur “Roller Mixer” selama 15 menit kemudian disentrifuga selama 10 menit pada 400g.0. 8. 4.75. Pemberian Obat Pemberian obat kepada sukarelawan dilakukan dengan metode three way crossover berikut ini : Tabel 2. 1. Sampel darah disentrifuga dan diambil plasma-nya kemudian disimpan pada temperatur – 20o C.0 setelah pemberian obat secara oral.5 mg dan dilarutkan dengan metanol dalam labu takar 25 ml. Penetapan Kadar Parasetamol dalam Plasma Sukarelawan Sebanyak 1 ml plasma sukarelawan ditambahkan 5 ml etil asetat dalam tabung ekstraksi. kemudian dikocok dengan menggunakan agitator vortex selama 30 detik dan diputar dalam alat pencampur “Roller Mixer” selama 15 menit kemudian disentrifuga selama 10 menit pada 400g. 4. 0. dan 12.0. 8. dan darah rutin di Laboratorium Klinik Pramita Bandung. Seleksi Sukarelawan Dilakukan pengujian klinik terhadap enam orang sukarelawan yang meliputi pengujian terhadap SGOT dan SGPT. Penetapan Kadar Obat dalam Plasma a. Parasetamol Kurva Baku Parasetamol Ditimbang parasetamol uji sebanyak 2.5. Residu dilarutkan kembali dalam 200 μl metanol. 6. Lapisan bening dipindahkan ke dalam tabung lain dan diuapkan. dan 10 μg/ml parasetamol dalam plasma. 2. 2. kelarutan. Dari larutan induk tersebut dibuat variasi konsentrasi sebesar 1. 0.0.0. kadar kreatinin serum.

0. Diambil 1 ml dari setiap konsentrasi di atas dan masukkan ke dalam tabung ekstraksi yang telah diisi dengan 100 μl larutan K2HPO4 0.04.08. dan 0.2. Kurva serapan UV fenilpropanolami hidroklorida dalam air Seleksi Sukarelawan Hasil seleksi dan data sukarelawan diberikan dalam tabel 3 di bawah : . Sebanyak 20 μl larutan disuntikkan ke dalam KCKT.dalam 200 μl metanol. Tabung dikocok dengan vortex selama 30 detik dan ditambahkan 5 ml Metilenklorida ke dalam tabung tersebut kemudian diputar dalam alat pencampur “Roller Mixer” selama 15 menit kemudian disentrifuga selama 10 menit pada 3000g. b. Penetapan Kadar Fenilpropanolamin Hidroklorida dalam Plasma Sukarelawan Sebanyak 1 ml plasma sukarelawan dimasukkan ke dalam tabung ekstraksi yang telah diisi dengan 100 μl larutan K2HPO4 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Bahan : Hasil pemeriksaan spektroskopi UV dari parasetamol dan fenilpropanolamin HCl menunjukkan kesesuaian dengan referensi sebagaimanana diperlihatkan gambar di bawah ini : Gambar 1. 0. Residu dilarutkan kembali dalam 200 μl aqua bidestilata.5 mg dan dilarutkan dengan aqua bidestilata dalam labu takar 25 ml. Kurva serapan UV parasetamol dalam etanol 95 % Gambar 2. Tabung dikocok dengan vortex selama 30 detik dan ditambahkan 5 ml Metilenklorida ke dalam tabung tersebut kemudian diputar dalam alat pencampur “Roller Mixer” selama 15 menit kemudian disentrifuga selama 10 menit pada 3000g.06. Sebanyak 20 μl larutan disuntikkan ke dalam KCKT. Sebanyak 20 μl larutan disuntikkan ke dalam KCKT.1.4 μg/ml Fenilpropanolamin Hidroklorida dalam plasma. Residu dilarutkan kembali dalam 200 μl aqua bidestilata. Dari larutan induk tersebut dibuat variasi konsentrasi sebesar 0. Fenilpropanolamin Hidroklorida Kurva Baku Fenilpropanolamin Hidroklorida Ditimbang Fenilpropanolamin Hidroklorida uji sebanyak 2. 0. Lapisan bening dipindahkan ke dalam tabung lain dan diuapkan. Lapisan bening dipindahkan ke dalam tabung lain dan diuapkan.5 M pH 11. 0.5 M pH 11.

105 Gambar 4.0 0.9 1.121 .9 0.Tabel 3.9 0.9 0. Data Usia.201 ± 0. Contoh kromatogram diperlihatkan gambar berikut : Gambar 5. Kromatogram fenilpropanolamin hidroklorida dalam plasma sukarelawan Keterangan : a) Kromatogram Fenilpropanolamin HCL BPFI dalam plasma (b) Kromatogram Fenilpropanolamin HCL dalam plasma sukarelawam yang diambil 3 jam setelah pemberian Fenilpropanolamin HCL 50 mg secara oral Waktu tambat Fenilpropanolamin HCl (rata-rata) = 5. Kromatogram parasetamol dalam plasma sukarelawan Keterangan : (a) Kromatogram Parasetamol BPFI dalam plasma b) Kromatogram Parasetamol dalam plasma sukarelawan yang 3 jam setelah pemberian parasetamol 500 mg secara oral Waktu tambat parasetamol (rata-rata ) = 6. Penetapan Kadar Obat dalam Plasma Darah Penetapan kadar parasetamol dan fenilpropanolamin HCl dalam plasma dilakukan secara kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC).9 Glukosa Puasa (mg/dl) 78 95 87 82 79 82 1 2 3 4 5 6 Dari tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa ke-enam sukarelawan tersebut memenuhi persyaratan sebagai subjek penelitian farmakokinetik.375 ± 0. Bobot dan Tinggi Sukarelawan dan Uji Laboratorium Klinik Sukarelawan Usia (tahun) 24 24 23 24 24 20 Bobot (kg) 59 60 62 57 55 58 Tinggi (cm) 170 168 173 169 169 170 SGOT (U/l) 29 16 16 21 38 25 SGPT (U/l) 32 11 12 11 23 13 Kreatinin Serum (mg/dl) 0.

350 8.2 μg/ml : 0.256 0.00 1.059 10.1519 R2 =0.302 2. Kurva kalibrasi fenilpropanolamin HCl dalam plasma pada λ = 208 nm Persamaan garis : Luas Area = 67.553 12.999 : 0.526 0.271 1.1.609 0.098 3.907 0.215 7.67 μg/ml Hasil penetapan kadar obat dalam plasma darah pada enam sukarelawan diperlihatkan dalam 3-6 berikut : Tabel 3.079 12.025 6.456 0.593 12.615 5.00 4.00 6.272 0.954 6.818 1.670 11.733 11.140 0.00 5.000 9.719 4.257 1.176 8.951 12.4 0. Kurva kalibrasi parasetamol dalam plasma pada λ = 254 nm Gambar 6.306 1.000 S5 0.025 μg/ml Batas Kuantisasi : 0.1 0.3 0.775 : 0.481 0.881 5.569 1.5 y =67.342 9.360 7.782 0.833 2.720 11.493 0.569 2.531 13. C – 1.198 0.692 0.667 3.514 0.704 1.805 1.00 Kadar (μg/ml) S1 0.152 r : 0.00 0.116 1.951 11.582 6.75 1.50 2.123 3.859 6.580 0.589 8.593 10.00 10.000 9.358 0.343 5.998 Batas Deteksi : 0.593 S2 0.261 15.055 2.478 8.073 5.000 S4 0. C + 3.000 X 0.320 9.631 0.283 10.346 14.9995 30 25 20 15 10 5 0 0 0. Kadar Parasetamol dalam Plasma Darah Sukarelawan Setelah Pemberian Dosis Tunggal 500 mg Parasetamol Secara Oral t (jam) 0.646 1.000 9.616 2.379 13.872 2.7753 R2 = 0.9964 0 0 2 4 6 Kadar (μg/ml) 8 10 12 c ( μ g/ ml ) Gambar 3.988 2.784 0.122 12.712x + 3.473 8.000 1.738 10.000 S6 0.00 12.788 2.456 1.951 12.25 0.748 4.00 8.389 3.237 0.439 1.593 S3 0.712.176 No.399x .705 3.812 5.50 0.399.394 4.851 0.848 0.844 10.660 1.758 2. Kurva Baku C thd Area Kurva baku parasetamol dalam plasma diperlihatkan oleh gambar berikut : 350 300 Luas Area (mAu) 250 200 150 100 50 y = 29.441 9.Kurva baku parasetamol dan fenilpropanolamin HCl dalam plasma diperlihatkan gambar 6 dan 7.951 14.583 2.428 6.271 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 9.225 10.654 .388 SD 0.387 12.2 0.698 0.137 0.084 12.00 3.946 0.204 0.068 μg/ml Persamaan garis r Batas Deteksi Batas Kuantisasi : Luas Area = 29.780 6.

164 0.052 0.017 0.123 3.892 3.055 X 0.932 2.302 0.556 1.123 X 0.302 0.000 0.201 0.435 0.150 0.842 6.841 1.000 0.011 0.356 0.163 0.107 0.094 0. Kadar Fenilpropanolamin Hidroklorida dalam Plasma pada Enam Sukarelawan Setelah Pemberian Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg Secara Oral Kadar (μg/ml) S1 0.067 0.351 0.00 3.00 5.235 0.047 0.037 0.045 S3 0.247 0.377 S2 0.051 0.055 2.228 0.00 1.056 0.000 0.130 0.401 0.000 0.132 S3 0.00 12.163 0.249 0.063 0.549 1.641 2.000 0.087 0.176 0.115 0.168 0.040 S4 0.462 4.235 2.151 0.621 0.152 0.250 0.042 SD 0.231 0.253 1.50 0.748 3. t (jam) 0.280 0.050 1.423 0.221 0.242 0.186 6.000 4.530 0.057 0.340 0.00 1.530 0.063 0.000 3.095 0.00 12.265 Kadar (μg/ml) S4 0.163 6.000 7.497 8.058 0.228 0.012 0.675 0.019 0.376 4.000 6.198 0.548 1.292 0.000 6.281 0.321 S5 0.901 2.009 0.865 1.089 0.350 0.052 0.140 5.218 0.040 0.Tabel 4.107 0.009 No.00 3.039 0.00 6.00 10.028 S2 0.202 0.231 1.290 0.331 0.346 3.00 0.140 0.021 0.000 0.771 1.519 5.045 0.668 1.102 5.000 0. t (jam) S1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 0.195 0.864 0.572 3.50 0.069 0.094 4.912 0.156 0.072 0.059 0.042 S6 0.25 0.130 0.158 0.063 0.837 7.224 0.172 0.00 4.00 8.042 0.024 0.567 0.756 0.281 0.000 0.474 1.25 0.080 0.139 3.731 3.084 4.069 0.321 0.75 1.000 0.071 0.285 0.157 0.043 0.00 10.241 0.150 0.352 0.005 0.851 0.000 0.236 1.365 S6 0.370 0.050 0.057 0.353 4.141 6.897 0.264 SD 0.698 0.997 1.50 2.763 1.000 6.459 4.113 Tabel 5.483 1.00 5.640 5.293 0.333 0.119 0.75 1.267 0.772 1.118 6.303 0.051 0.957 6.399 0.156 5.074 0.432 0.093 0.000 3.078 0.102 2.069 0.266 0.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 .00 8.00 6.526 8.094 0.191 0.074 0. Kadar Parasetamol dalam Plasma Darah Enam Sukarelawan Setelah Pemberian Kombinasi Parasetamol 500 mg dan Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg Secara Oral No.971 0.152 4.032 S5 0.303 2.060 0.622 5.373 0.044 1.035 0.50 2.00 0.077 0.383 5.00 4.159 4.264 0.200 0.556 0.00 0.415 7.115 5.290 2.313 0.168 0.546 0.080 0.150 8.303 5.564 0.

000 0.032 0.041 0.068 0.119 0.039 0.000 0.074 0.00 0.055 0.105 0.054 0.012 0.085 0.058 0.171 0.080 0.131 0.062 0.091 0.066 0.022 0.026 0.112 0.063 0.50 0.086 0.009 No.00 12.070 0.037 0.079 0.065 0.046 0.029 0.120 0.023 S5 0.130 0.048 0.017 0.149 0.053 0.032 0.062 0.130 0.118 0.188 0.028 0.102 0.046 0.042 0.079 0.167 0.030 S SD X S3 0.103 0.055 0.059 0.041 S6 0.113 0.066 0.153 0.000 0.153 0.020 0.051 0.011 0.75 1.026 S2 0.030 0.153 0.068 0.00 8.095 0.099 0.215 0.232 0.048 0.070 0. Kadar Fenilpropanolamin Hidroklorida dalam Plasma pada Enam Sukarelawan Setelah Pemberian Kombinasi Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg dan Parasetamol 500 mg Secara Oral Kadar (μg/ml) S1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 0.158 0.00 0.50 2.077 0. t (jam) Keterangan : = Sukarelawan = Standar Deviasi = Rata-rata .000 0.00 1.010 0.Tabel 6.118 0.044 0.049 0.046 0.037 0.032 SD 0.030 0.069 0.052 0.000 0.036 0.039 0.00 5.091 0.165 0.143 0.049 0.127 0.000 0.000 0.00 3.032 0.043 0.136 0.243 0.160 0.044 X 0.197 0.00 4.093 0.042 0.000 0.032 0.00 6.00 10.082 0.081 0.026 S4 0.017 0.052 0.25 0.

698. Kurva hubungan antara kadar parasetamol dalam plasma sukarelawan (rata-rata enam sukarelawan) terhadap waktu Keterangan : -----------Pemberian parasetamol 500 mg (tunggal) secara oral Persamaan farmakokinetik : Cp = 4.0.t − 10.623.195.t _______Pemberian parasetamol 500 mg dan fenilpropanolamin HCl 50 mg (Kombinasi) secara oral Persamaan farmakokinetik : Cp = 2. Kurva 100.0 1.e −0.e −2.521.Untuk melihat kinetika obat dalam tubuh dan persamaan farmakokinetika dari masing-masing obat beserta kombinasinya dibuat hubungan/plot antara kadar obat versus waktu.e −4.584.t + 7.566.0 0.e −0.t .0 kinetik parasetamol yang diberikan secara tersendiri dan kombinasi dengan fenilpropanolamin HCl dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Kadar (mg/ml) 10.128.1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu (jam) Gambar 7.057.t − 16.174.872e −0.461.e −0.t + 12.

t − 0.07.541.014.e −0.538.t − 0.e −0. fase distribusi dan fase eliminasi. Perhitungan parameter farmakokinetik dan persamaan kurva kinetik dari kedua obat tersebut diselesaikan dengan menggunakan persamaan-persamaan matematika yang berlaku untuk model dua kompartemen terbuka.124.0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu (jam) Gambar 8. dihitung parameter farmakokinetiknya . Kedua jenis obat.0 kombinasi dengan parasetamol dapat dilihat pada gambar berikut : Kadar (mg/ml) 0.09.303.e −1.e −0.665.e −0.t + 0.1 0.t _______Pemberian fenilpropanolamin hidroklorida 50 mg dan Parasetamol 500 mg (Kombinasi) secara Oral Persamaan Farmakokinetik Cp = 0.468.t Perhitungan Parameter Farmakokinetik Dari hasil penetapan kadar obat dalam plasma darah diperoleh kurva yang menggambarkan perubahan kadar obat dalam plasma terhadap waktu.138.t + 0. Selanjutnya dari persamaan farmakokinetik masing-masing obat. Dengan demikian obat mengikuti model dua kompartemen terbuka.e −1. Kurva hubungan antara kadar fenilpropanolamin hidroklorida dalam plasma sukarelawan (Rata-rata enam sukarelawan) terhadap waktu Keterangan : -----------Pemberian fenilpropanolamin hidroklorida 50 mg (Tunggal) secara Oral Persamaan Farmakokinetik : Cp = 0.074. parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida baik yang diberikan secara tunggal maupun kombinasi memperlihatkan kurva kinetik trieksponensial yang berarti kedua jenis obat tersebut mengalami tiga fase perubahan di dalam tubuh yakni fase absorspi.229.Kurva kinetik fenilpropanolamin HCl yang diberikan secara tersendiri dan 1.

189 0.229 22.396 0.534 0.044 0.416 X SD 18.527 0.536 4.353 1.483 0.459 1.563 24.409 1.384 0.314 8.170 0.549 0.554 0.000 1.berdasarkan persamaan yang berlaku untuk model kompartemen dua.120 15.520 0.581 3.697 1.174 4.795 13.055 0.109 0.747 0.307 0.139 0.093 0.129 1.366 1.195 7.383 0.910 7.244 4.199 1.045 0.159 2.204 4.50 0.951 15.466 1.106 0.495 2 8.046 2.211 0.058 0.972 19.968 3.252 0.323 5.928 4.156 0.042 1.28 0.231 21.559 0.924 0.694 0.240 0.000 0.168 2.418 8.075 16.056 0.228 0.327 0.072 0.076 0.185 1.963 24.372 0.500 0.840 0. Hasil perhitungan parameter farmakokinetik diperlihatkan dalam tabel berikut : Tabel 7.000 0.403 0.500 0.959 16.290 12.142 44.590 2.656 10.049 9.285 1.351 16.710 5.879 1.186 0.041 0.308 0.133 9.593 1.061 5.468 4.161 4.514 49.244 49.435 1.700 8.736 6.755 19.250 .951 13.313 14.246 0.680 0.395 11.340 9.044 0.722 8.041 0.534 51.531 0.067 0.386 0.503 3.323 0.708 0.262 2.348 0.941 7.307 0.111 3.572 24.08 1.579 5.750 0.337 0.279 1.061 4.284 0.220 0.212 0.00 0.469 0.557 2.912 0.935 18.682 1.238 4.195 6.138 0.375 0.215 0.122 3.358 12.75 0.303 Tabel 8.50 13.906 1.738 12.939 17.000 0.580 0.605 0.461 0.246 0.244 47.870 1.145 2.147 5.692 0.489 6.476 2.896 0.135 26.273 3.808 0.978 4.285 0.065 0.333 3.714 0.976 0.241 0.795 0.439 0.188 39.158 1.443 5.75 0.750 1.278 2.066 0.013 3.445 0.399 13.141 0. Parameter Farmakokinetik Parasetamol pada Enam Sukarelawan setelah Pemberian Kombinasi Parasetamol Dosis 500 mg dan Fenilpropanol-amin Hidroklorida Dosis 50 mg secara Oral Parameter Farmakokinetik A B C α β ka t1/2 α t1/2 β k12 k21 ke Cmaks t maks AUC0-∞ Sukarelawan 1 9.009 12.472 0.000 15.418 8.182 1.207 0.55 0.250 1.384 3 4 5 6 12.153 28.070 9.785 1. Parameter Farmakokinetik Parasetamol pada Enam Sukarelawan setelah Pemberian tersendiri Parasetamol Dosis 500 mg secara Oral Parameter Farmakokinetik Sukarelawan 1 2 3 4 5 6 X SD A B C α β ka t1/2 α t1/2 β k12 k21 ke Cmaks t maks AUC0-∞ 11.231 3.081 12.526 21.735 20.207 0.315 2.163 0.662 20.772 0.076 0.207 4.529 0.831 29.171 4.557 3.556 3.083 0.489 17.163 5.310 4.75 0.438 1.

050 5.500 1.102 0.228 1.083 0.158 1.Tabel 9.621 0.460 0.771 0.070 0. B adalah perpotongan ordinat dengan fase eliminasi dan C adalah perpotongan ordinat dengan fase absorpsi.071 1.660 0.000 1.358 0.00 1.079 1.616 0.862 0.144 0.449 0. ke adalah tetapan kecepatan eliminasi (jam-1).121 1.974 0.893 0.442 X SD 7.070 0.320 1.401 2.Cmaks = kadar puncak (μg/ml).282 0.640 0.336 0. Parameter Farmakokinetik Fenilpropanolamin Hidroklorida pada Enam Sukarelawan setelah Pemberian Kombinasi Fenilpropanolamin Hidroklorida Dosis 50 mg dan Parasetamol Dosis 500 mg secara Oral Parameter Farmakokinetik A B C α β ka t1/2 α t1/2 β k12 k21 ke Cmaks t maks AUC0-∞ Sukarelawan 1 1. ka adalah tetapan kecepatan absorpsi (jam-1).058 1. α adalah tetapan kecepatan distribusi (jam-1).162 0.069 1.717 0.496 0.114 0.370 0.366 0.027 0.282 2 0.085 6 0.50 1.344 0.648 0.538 0.407 0.129 0.588 8.548 0.180 1.153 0.072 0.434 0.638 1.154 0.139 1.232 1. t1/2 β = waktu paruh eliminasi (jam).940 5 0.990 0.250 0.813 5 0.525 0.014 0.434 1.165 0.772 0.158 1.083 0.109 1.153 0.107 0.019 0.510 0.996 0. β adalah tetapan kecepatan eliminasi (jam-1).491 0.131 0.jam).128 0.022 0. Parameter Farmakokinetik Fenilpropanolamin Hidroklorida pada Enam Sukarelawan setelah Pemberian Tersendiri Fenilpropanolamin Hidroklorida Dosis 50 mg secara Oral Parameter Farmakokinetik A B C α β Ka t1/2 α t1/2 β k12 k21 Ke Cmaks t maks AUC0-∞ Sukarelawan 1 1.121 1.132 0.138 0.119 1.500 2.249 0.359 0.000 0.50 2.333 0.075 0.607 6.109 0.233 0.356 0.967 7. t maks = waktu tercapainya kadar puncak (jam).131 0.600 Keterangan : A adalah perpotongan ordinat dengan fase distribusi.933 0.397 0.379 1.662 0.172 0.076 0. SD = Standar Deviasi .077 1. k21 = tetapan laju distribusi dari kompartemen tepi ke kompartemen sentral. X=ratarata.061 0.043 0.066 0.471 0.048 0.151 0.613 0.465 0.009 0.667 1.168 0.359 0.148 0.743 0.623 3 0.236 0.019 0.317 0.806 0.885 0.277 X SD Tabel 10.373 1.141 0.227 0.189 0.165 0.086 1.161 0.116 1.543 4 1.703 7.550 0.640 0.306 0.118 0.174 0.053 2.500 0.556 16.171 0.354 0.533 0.233 0.392 0.330 0.127 5.258 0.500 1.092 0.070 0.458 0.000 1.217 0.727 0.020 3 0.051 1.316 0.243 1.966 0.170 0.435 0.577 0.174 1.320 0. k12 = tetapan laju distribusi dari kompartemen sentral ke kompartemen tepi.093 1.197 2.200 9.302 1.213 0.775 0.294 0.813 3.180 0.062 0.384 0.102 1.118 10.886 0.271 0.087 1.208 6 0.782 8.121 0.177 0.000 1.772 0.935 1.878 0.536 0.500 1.093 1.944 0.331 2.332 0.854 1.808 2 0.184 1.00 1.161 0. AUC0-∞= luas daerah di bawah kurva dari t =0 sampai t = ∞ (μg/ml.452 13.605 0.097 0.092 4 0.314 0.946 4.061 0.179 0.597 5.107 0.615 0.319 1.120 1. t1/2 α = waktu paruh distribusi (jam).50 2.081 1.285 1.092 0.50 1.097 0.035 0.116 9.198 0.

artinya pemberian secara bersamaan (kombinasi) antara parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida tidak mempengaruhi kecepatan absorpsi masing-masing obat yang diberikan secara tunggal. Hal yang sama ditunjukkan nilai tetapan laju elimiasi dari kompartemen sentral (ke) dan waktu tercapainya konsentrasi puncak (tmaks) yang tidak berbeda secara bermakna antara pemberian secara tunggal dengan .148 1.091 6.571 2.Interpretasi Data Untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang bermakna diantara parameter farmakokinetik masingmasing obat yang diberikan secara tersendiri/tunggal dan kombinasi. Hasil Uji t-student Pasangan Sepadan terhadap Pemberian Parasetamol 500 mg (Tunggal) dengan Pemberian Parasetamol 500 mg dan Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg (Kombinasi) secara Oral Parameter Farmakokinetik ka t t kritis pada p= 0.877 1.571 2.754 10.571 2.238 13.000 t kritis pada p= 0.571 2.571 2.571 Keterangan TB B TB B B TB t1/2 β ke AUC total C maks t maks Keterangan : P= aras keberartian. maka data-data parameter farmakokinetik utama yang terdapat dalam tabel 7-10 diinterpretasikan secara statistik dengan menggunakan uji t-student pasangan sepadan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 11.571 2. Hasil Uji t-student Pasangan Sepadan terhadap Pemberian Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg (Tunggal) dengan Pemberian Fenilpropanolamin Hidroklorida 50 mg dan Parasetamol 500 mg (Kombinasi) secara Oral Parameter Farmakokinetik ka t 0.512 1.05 2. TB = Tidak Bermakna Hasil penetapan parameter farmakokinetik dari kedua obat baik tunggal maupun kombinasi menunjukkan nilai tetapan absorpsi (ka) tidak berbeda secara bermakna.343 3.571 2.463 5.571 Keterangan 0.614 0.571 2.861 TB TB TB B B TB t1/2 β ke AUC total C maks t maks Tabel 12.05 2. B= Bermakna.571 2.056 1.571 2.

Dengan demikian pemberian secara bersamaan antara parasetamol dosis 500 mg dan fenilpropanolamin hidroklorida dosis 50 mg. mempengaruhi waktu paruh eliminasi fenilpropanolamin hidroklorida yakni menjadi lebih lama. Sehingga diperlukan adanya pengkajian lebih lanjut untuk menentukan frekuensi pemakaian dan dosis dari kedua obat tersebut apabila diberikan sebagai kombinasi tetap. sebagaimana terdapat dalam obat flu atau obat batuk yang banyak beredar di Indonesia.05.60 jam). Dengan demikian pemberian bersamaan antara parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida dalam bentuk kombinasi tetap dapat menurunkan tingkat absorpsi dari masing-masing obat. Pada profil farmakokinetik parasetamol yang diberikan secara kombinasi dengan fenilpropanolamin HCl menunjukkan nilai kadar puncak (Cmaks) dan Luas Area di bawah Kurva (AUC0-∞) lebih kecil dari pada nilai Cmaks dan AUC0-∞ dari parasetamol yang diberikan secara tersendiri/ tunggal. Perbedaan waktu paruh eliminasi untuk dari seluruh tubuh (t½β) parasetamol antara pemberian tunggal dan kombinasi. KESIMPULAN Pemberian kombinasi parasetamol dosis 500 mg dan fenilpropanolamin hidroklorida dosis 50 mg secara oral pada enam orang sukarelawan mempengaruhi profil farmakokinetik masing-masing obat yang diberikan secara tersendiri/tunggal. Oleh karena itu pemberian secara bersamaan (kombinasi tetap) dari parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida berpengaruh terhadap nilainilai parameter atau profil farmakokinetik dari masing-masing obat tersebut. sedangkan pada parasetamol tidak berpengaruh. Parameter t½β. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat absorpsi untuk parasetamol yang diberikan secara tunggal lebih besar dari pada tingkat absorpsi parasetamol yang diberikan secara kombinasi. ) yang lebih .99 jam) dan yang diberikan secara kombinasi dengan pemberian parasetamol (rata-rata 10. Nilai AUC0-∞ (luas daerah di bawah kurva) dan Cmaks (konsentrasi puncak) dari kedua obat memiliki perbedaan bermakna baik nilai AUC0-∞ dan Cmaks untuk parasetamol maupun fenilpropanolamin hidroklorida antara obat yang diberikan secara tunggal dan kombinasi. Sedangkan pada profil farmakokinetik fenilpropanolamin HCl yang diberikan secara kombinasi dengan parasetamol juga menunjukkan nilai Cmaks dan AUC 0∞ yang lebih kecil serta nilai waktu paruh eliminasi dari tubuh (t½β. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profil farmakokinetik fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal berbeda secara bermakna dengan profil farmakokinetik parasetamol yang diberikan secara kombinasi dengan parasetamol. Sementara pengaruh pemberian kombinasi obat ini terhadap parasetamol hanya mempengaruhi nilai Cmaks dan AUC0-∞. tidak bermakna secara statistik dengan metode uji t-student pasangan sepadan pada aras keberartian (p) 0. Akan tetapi untuk nilai t½β dari fenilpropanolamin hidroklorida berbeda secara bermakna antara nilai t½β fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal (rata-rata 6. Demikian pula tingkat absorpsi fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal lebih besar dari tingkat absorpsi fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara kombinasi. Cmaks dan AUC0-∞ merupakan parameter farmakokinetik yang sangat penting untuk menetapkan profil farmakokinetik suatu obat.kombinasi baik pada parasetamol maupun fenilpropanolamin hidroklorida .

vol. AUC 0-∞.. J. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Greenblatt. 1989. Vol. Dengan kata lain sebaiknya masyarakat mengkonsumsi obat dalam bentuk tunggal.. 224-230.R. Vol. . S. 1018-1020. in Analytical Profile of Drug Substances.. . K. 1992. New York. J. Litvak and O. 300-311. DepKes RI. B. Al-Badr A. Inc. 14. Mc Evoy. 11th ed.. M. Welsh. Validasi Uji Ketersediaan Hayati. 78-90. Vol. Kanfer. 551-596. XXXV. 1985. dan t½β dari fenilpropanolamin HCl yang diberikan secara tersendiri/tunggal. in Analytical Profile of Drug Substances... 1977.72. Drug Information. D. ITB. 1995. R.. 1981. Divoll. I.. 669..4. G. El-Obeid. SARAN Dari hasil penelitian ini perlu untuk melakukan penelitian farmakokinetik lebih lanjut dari kombinasi obat yang mengandung komponen lain yang terdapat dalam obat flu atau kombinasi obat lain yang banyak beredar di masyarakat. 2001. R. Dowse. Sci. Kami juga menyarankan bagi masyarakat umum untuk berhati-hati mengkonsumsi produk obat berupa kombinasi dari berbagai zat aktif karena dikhawatirkan kombinasi semacam itu tidak rasional dipandang dari aspek farmakokinetik.M. (Ed. Budavari.. Academic Press. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.M. 1137-1139. 226. Jakarta. I. 649. Jakarta. Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia. Haigh. Chromatogr.H. Shargel. Phenylpropanolamine Hydrochlroride. The Merck Index. Pharm. American Hospital Formulary Service. DAFTAR PUSTAKA Ameer... A. Rahway NJ. L.. 357-383. Acetaminophen. Ed. ed. 40. J. 1999. K. Ed..K. Florey.J. Cahyati. Abdullah. J. 12. Determination of Phenylpropanolamine in Serum and Urine by High-Performance Liquid Chromatography. Farmakope Indonesia. Academic Press. Highperformance Liquid Chromatographic Determination of Acetaminophen in Plasma : Single-dose Pharmacokinetic studies. Proceedings Seminar Validasi di Industri Farmasi sebagai Pendukung CPOB. K. 1826-1833. New York. 1983. Dowse.).H. Merck and Co. D. and Kanfer. Abernethy. Florey. American Society of Health-System Pharmacist. Y...besar dari pada nilai Cmaks. New York. edisi Farmakoterapi.. Haigh. Ditjen POM.

98-102. Inc. Fauzi. 2003. Bandung. F... 4th ed. Drug Intelligence Publication. Rusdiana. 1978. Shargel.. Textbook of Biopharmaceutics and Clinical Pharmacokinetics.. 3. Pertimbangan Farmakokinetik dari Obat Kombinasi Tetap di Indonesia. Drug Intelligence Publication. Profil Farmakokinetik Fenilpropanolamin Hidroklorida Dalam Plasma Darah Manusia Setelah Pemberian Dosis Tunggal Secara Oral.. Wagner. Farmaka.. A. Illinois. first ed. S. Profil Farmakokinetik Parasetamol Dalam Plasma Darah Manusia Setelah Pemberian Dosis Tunggal Secara Oral. . 1987. 1999. AppletonCentury-Crofts. 1. T. dan Asyarie. 141-173. Illinois.. 433. J. Farmasi. G. 11-17. Sjuib. Prosiding Forum Temu Ilmiah Farmasetika. Inc.Niazi.. Bandung. Vol. 2003. 1979.. New York... Fundamentals of Clinical Pharmacokinetics.C. F.. Biopharmaceutics and Relevant Pharmacokinetics..... Farmaka. J. G. 2. Sjuib. L and Yu. Schefler. Sjuib. Diterjemahkan: Suroso. 1971.. Rusdiana. W. 105-106. 2000. T. Vol. Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics. Statistika untuk Biologi. Wagner. first ed. 94-97. dan Asyarie. No. 1. Appleton & Lange.. 237-241.. 1-6. Penerbit ITB. No. Kedokteran dan Ilmu yang Bertautan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->