Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh :

Nama NIM

: ANDY KRISTIANTO : 07.01.53.0213

FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI UNISBANK SEMARANG 2010/2011

because such interpretation was explained in such book that its main feature is µcontemporary¶ reading. Keterlibatan riba dalam sebuah kontrak bisnis akan berakibat bisnis tersebut tidak sah (batil). Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto. Pengantar Dalam hukum ekonomi Islam (muamalat) etika bisnis merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi secara keseluruhan. there are two kinds of riba. Di antara syarat bagi keabsahan suatu perjanjian bisnis adalah tidak mengandung riba. ditentukan unsur-unsur yang harus ada beserta syarat sahnya agar kepentingan semua pihak terlindungi. Kontrak bisnis yang batil dipandang tidak pernah terjadi menurut hukum sehingga tidak mempunyai akibat hukum sama sekali. . In this book he introduces his new attractive interpretation of riba based on such theory. But the meaning and definition of riba is not so clear for the jurists and scholars of Islamic laws since early period of Islam till now. Dalam melakukan perjan -jian (akad.Riba dan Etika Bisnis Islam (Telaah atas Konsep Riba ¶Kontemporer· Muhammad Syahrur) Jamal Abdul Aziz *) Penulis adalah Magister Agama (M. according to the relatively conditions of each party. batas atas. Kecaman keras terhadap riba dapat dilihat dari digunakannya ungkapan yang paling tandas yang tidak digunakan untuk bentuk-bentuk dosa lainnya. According to him.) sebagai dosen tetap di Jurusan Syari¶ah. Hal ini dikarenakan. teori batas. Keyword: riba. misalnya. meskipun secara material pernah terjadi. between borrower and lender. a Syrian contemporary Muslim scholar who introduces the theory of limits in Islamic law in his book. berdasarkan sejumlah ayat dan hadis. Abstract: In Islamic business ethics riba is obviously prohibited and must be avoided. allowed riba and prohibited riba. Therefore riba always become one of the most attractive topics in Islamic laws inviting many Muslim scholars all along the history of Islam to introduce their opinions and theories of riba.Ag. praktik riba dilarang. One of them is Muhammad Shahrur. In this article such new interpretation of riba termed as µcontemporary¶ riba. dan batas bawah. kontrak). etika bisnis. al-Kitab wa al-Qurµan: A Contemporary Reading.

Jadi. maka penulis menamakan konsep tentang riba yang ditawarkannya tersebut dengan riba µkontemporer¶. sementara sebagian yang lain berpendapat sebaliknya. Riba fadl dikenal sebagai melebihkan keuntungan (harta) dari satu pihak terhadap pihak lain dalam transaksi jual beli atau pertukaran barang sejenis dengan tanpa memberikan imbalan terhadap kelebihan tersebut. di dalam bukunya al-Kitab wa al-Qur¶an: Qira¶ah Mu¶asirah (1990). Sebagian dari mereka menganggap bunga bank sebagai riba yang dilarang dalam Islam. sesuai dengan µmaskot¶ bukunya. Dalam konteks inilah riba ³kontemporer´ akan ditelaah untuk mendapatkan perspektif baru tentang riba. dan kelebihan tersebut akan terus meningkat menjadi berlipat-ganda bila telah lewat waktu. sementara riba fadl terjadi dalam transaksi jual-beli. tidak mengherankan bila kemudian muncul banyak sekali teori ataupun pandangan tentang riba. sedangkan penganut pandangan yang terakhir tentu akan berpendapat sebaliknya. Oleh karena itu. seorang insinyur berkebangsaan Syria. Para ahli hukum dan ekonomi Islam dalam hal ini secara umum terbagi kepada dua pandangan yang berbeda. riba nasi¶ah biasanya dihubungkan dengan bunga bank. riba nasi¶ah terjadi dalam transaksi hutang-piutang.Perdebatan Seputar Riba dan Bunga Bank Sejak semula riba diakui potensial menimbulkan masalah karena ketidakjelasan makna sesungguhnya yang dikehendaki. Untuk membedakan dengan konsep lain mengenai riba. Persoalan berkisar pada apakah bunga bank hukumnya sama dengan riba yang dilarang dalam Qur¶an ataukah berbeda. Judul ini secara bebas dapat dialihbahasakan menjadi al-Kitab dan al-Qur¶an: Sebuah Pemahaman Kontemporer. yakni riba nasi¶ah dan riba fadl. Di antara pandangan yang umum diterima (jumhur) adalah bahwa riba dibedakan menjadi dua. bahkan oleh sahabat Nabi Saw sekalipun. Dalam konteks sistem ekonomi moderen. Riba ³Kontemporer´ dan Etika Bisnis Islam Istilah riba ³kontemporer´ di sini digunakan untuk merujuk kepada konsep riba yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur (lahir 1938). untuk kemudian dikaitkan dengan etika bisnis Islam. . Bagi yang menganut pandangan yang pertama niscaya akan menganggap bisnis yang melibatkan bunga bank sebagai tidak etis dan tidak sah menurut agama. Perbeda-an pandangan ini tentu saja berpengaruh terhadap penilaian mengenai suatu bisnis sebagai etis atau tidak etis ketika melibatkan bunga bank. Riba nasi¶ah dipahami sebagai pembayaran hutang yang harus dilunasi oleh debitur lebih besar daripada jumlah pinjamannya sebagai imbalan terhadap tenggang waktu yang diberikan.

tetapi dimungkinkan untuk ditambah hingga mendekati perimbangan dengan bagian anak laiki-laki. tetapi dimungkinkan untuk dikurangi hingga mendekati perimbangan dengan bagian anak perempuan. Sebaliknya. ketentuan hukum yang memiliki batas bawah dan atas sekaligus yakni yang berlaku dalam hukum waris (fara¶id). misalnya dalam hal macam -macam makanan yang diharamkan. tetapi batas ini tidak boleh disentuh karena bila menyentuh batas berarti telah terjatuh dalam larangan. ketentuan hukum yang hanya diberikan batas bawahnya. Jadi. Kelima. Batas-batas yang dimaksud yaitu batas bawah (al-hadd al-adna). dan batas atas (al-hadd al-a¶la). Maksudnya jenis-jenis makanan dan minuman yang diharamkan dalam Qurµan limitasinya bersifat minimal. Keempat. sementara bagian anak perempuan yang hanya setengah bagian anak laki laki merupakan batas bawahnya. Kedua. Batas bawah merupakan batas minimum dari tuntutan hukum. dimungkinkan adanya hukuman dalam bentuk lain yang kualitasnya di bawah hukuman potong tangan. Ketiga. Ketentuan ini berlaku pada pergaulan laki-laki dan perempuan di mana batas bawahnya berupa kondisi tidak adanya persentuhan (interaksi) sama sekali di antara lawan jenis. sementara batas atas adalah batas maksimum. dan ini berlaku pada hukuman bagi orang yang berbuat zina (100 kali jilid) dengan syarat adanya empat orang saksi atau dengan melalui prosedur li¶an. Pertama. tidak bisa lagi ditambah. Berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah ayat yang berkenaan dengan aturan hukum atau perilaku hidup manusia pada umumnya. Berdasarkan kajiannya terhadap al-Qur¶an. Perilaku hidup yang melampaui batas bawah dan atau melampaui batas atas yang telah ditentukan dipandang telah melanggar hukum dan wajib dijatuhi hukuman secara proporsional menurut pelanggarannya. sementara batas . hukuman potong tangan yang disebutkan dalam Qurµan merupakan bentuk hukuman maksimal. contohnya hukuman bagi tindak pidana pencurian. Maksudnya bagian anak laki-laki sudah mentok. ketentuan yang memiliki batas bawah dan atas. ketentuan yang batas bawah dan atasnya berada dalam satu garis sehingga ia tidak dapat dikurangi maupun ditambahi. Syahrur menyimpulkan adanya enam kategori hukum dalam kaitannya dengan teori batas. ia menyimpulkan bahwa aturan hukum Islam sesungguhnya bersifat dinamis dan elastis yang dapat menampung berbagai kecenderungan perubahan kehidupan umat manusia dari masa ke masa dan dari satu tempat ke tempat lain sepanjang dalam batas-batas yang ditentukan oleh Allah. Bagian anak laki-laki yang dua kali lipat anak perempuan merupakan batas atasnya. bagian anak perempuan tidak dapat lagi dikurangi.Pandangan Syahrur tentang riba tidak dapat dilepaskan dari teori batas (nazhariyyah al hudud) yang diajukannya berkenaan dengan hukum Islam secara umum. ketentuan hukum yang hanya diberikan batas atasnya.

al-Taubah: 60. harta yang disalurkan kepada mereka pada prinsipnya bukan dalam bentuk kredit. Di antara kedua batas ini (positif dan negatif) terdapat keadaan yang bernilai nol. kendati riba merupakan persoalan yang sangat pelik. misalnya. sedangkan batas bawah yang negatif (-) berupa zakat. Setelah menghimpun dan menganalisis sejumlah ayat yang berkenaan dengan riba. Pertama. Batas atas. maka akan lebih utama jika pihak kreditur mau mem -bebaskan piutangnya. karena orang ini tergolong orang yang berhak menerima sedekah. berlaku ayat: ³Allah akan hapuskan (berkah) riba dan tumbuhkembangkan sedekah´ (al-Baqarah: 276). Oleh karena itu. 278. Batas atas tidak boleh dilampaui. yakni dengan memberikan sedekah sunat. terhadap para pengusaha yang nota bene bukan berkategori penerima zakat. ketentuan yang memiliki batas atas yang bernilai positif (+) dan batas bawah yang negatif (-). terhadap orang yang hanya mampu menutup hutang pokoknya dan tidak mampu membayar bunga. fakir dan miskin termasuk golongan orang yang berhak menerima zakat. namun karena keterkaitannya dengan zakat dan sedekah begitu kokoh² sementara keduanya cukup jelas maknanya²maka untuk menyingkap makna riba dapat dilakukan dengan memahami kedua hal tersebut (zakat dan sedekah). berdasarkan Q. bahkan bagi Umar ibn alKhattab sekalipun. dan pahalanya terserah kepada Allah. Di sini berlaku ayat 279 al-Baqarah yang menyatakan bahwa hanya harta pokok yang boleh diminta. setelah sebelumnya ia memaknai riba dengan tumbuh dan tambah. yang positif (+) berupa riba. yang wujudnya berupa pemberian kredit dengan tanpa memungut bunga (al-qard al-hasan). Menurut Syahrur bentuk keenam dari teori batas ini berlaku. Dalam bentuk keenam inilah pandangan Syahrur tentang riba ditempatkan. Terhadap orang dengan kondisi demikian. tidak mampu menutup hutangnya. Kendati demikian. Ketiga. dalam hal hubungan kebendaan di antara sesama manusia. tetapi dalam bentuk hibah. Syahrur akhirnya menyimpulkan adanya tiga kondisi menyangkut riba. sementara batas bawah boleh. kredit yang diberikan dapat dipungut bunganya dengan ketentuan besarnya tidak boleh .S. Melalui kerangka analisis semacam ini. Keenam. Batas bawah bisa dilampaui. Menurutnya. Menurutnya miskin adalah orang yang menurut kondisi sosial dan ekonomi yang ada. (ii) riba dikaitkan dengan zakat. maka diberikan pinjaman yang bebas bunga (al-qard al-hasan). (iii) ditetapkannya batas atas bagi bunga (riba) yang dipungut. dan (iv) adanya kondisi yang bernilai nol. di samping juga ayat-ayat lain yang berisi kecaman keras terhadap praktik riba (al-Baqarah: 275.atasnya adalah zina. yaitu: (i) riba dikaitkan dengan sedekah. Syahrur menyimpulkan adanya empat poin penting mengenai riba yang mesti diperhatikan. di samping membayar zakat yang memang hukumnya wajib. Kedua. dan 279).

Para ahli ekonomi dan . melainkah diberi hibah (sedekah). melainkan hibah. Selanjutnya. yakni bagi mereka yang pantas diberi sedekah. maka pihak debitur berhak menolak untuk membayar bunga yang melebihi batas tersebut. Hal ini berdasarkan ayat: ³Hai orang-orang mu¶min jangan makan riba yang berlipat ganda´ (Al µImran: 130). Dapat disimpulkan bahwa menurutnya. 3) Dalam bank Islam tidak boleh ada kredit yang tempo pembayarannya tidak dibatasi hingga beban bunga yang harus dibayar lebih besar daripada hutang pokoknya. 2) Dalam kondisi tertentu dibuka kemungkinan untuk memberikan kredit yang bebas bunga. ataupun harta dalam bentuk yang lainnya. Dalam konteks etika bisnis Islam. mungkin pantas diberi kredit. sebagian yang lain mungkin pantas diberi sedekah saja. Akan tetapi. bunga yang dipungut dari orang-orang yang tidak termasuk dalam kategori ekonomi kuat ataupun pelaku bisnis sebagaimana yang disebutkan di atas dianggap sebagai perilaku bisnis yang tidak etis. Sebagian di antara mereka. tidak boleh dipungut riba. Demikianlah teori yang dikemukakan Syahrur tentang riba. namun ia boleh dipungut asal memperhatikan kondisi objektif pihak debitur. Dengan demikian. tidak setiap bisnis yang melibatkan riba (bunga) itu dilarang. Selain dari kalangan mereka. riba boleh dipungut. tetapi bebas bunga. Batas atasnya adalah jumlah beban bunga yang harus dibayar sama dengan jumlah hutang pokoknya. bunga adalah riba. Syahrur mengajukan tiga prinsip dasar sistem bank Islam. Dalam menyalurkan dana. tetapi tidak boleh melebihi batas atas yang telah ditentukan. Jika hal ini terjadi juga. dan karenanya dianggap tidak etis. Debitur dari kalangan anggota masyarakat yang termasuk dalam kategori mustahiq zakat dan sedekah. Atas dasar pandangannya tentang riba dengan berbagai kondisi objektif yang melingkupinya sebagaimana disebutkan di atas. bunga bank konvensional menurut pandangan ini tidak dilarang karena bunga yang dipungut umumnya tidak berlipat ganda. Menurutnya. haruslah dilihat kondisi pihak-pihak yang akan diberi. menurut kondisi sosial dan ekonomi yang ada. yaitu: 1) Mereka yang berhak menerima zakat tidak diberikan kredit. bahkan sebagian dari mereka hendaknya tidak diberi kredit. Riba dalam perjanjian kredit yang dibebankan kepada kalangan pelaku bisnis dan orang-orang yang berekonomi kuat tidaklah melanggar etika ataupun hukum Islam sepanjang riba yang dipungut tidak melebihi batas maksimal yang telah ditentukan. bisnis apapun yang melibatkan bank konvensional sebagai mitra kerja dianggap tidak melanggar etika bisnis Islam. pemikiran Syahrur tentang riba memiliki implikasi yang berbeda dari pandangan yang umum dikenal.melampaui batas yang telah ditentukan. termasuk orang yang hanya mampu membayar hutang pokok.

Konsep riba ³kontemporer´ yang digagas oleh Syahrur hendaknya dilihat dalam konteks gerak dinami tersebut. riba dapat dipungut asal tidak melebihi batas atas yang telah ditentukan (Al µImran: 130). keterlibatan riba dalam bisnis tidak selalu bersifat tidak etis karena perlu dilihat dulu kondisi objektif para pihak yang terkait secara kasus per kasus dalam bingkai ketiga kondisi riba tersebut. menurutnya. Dengan demikian tampaklah bahwa aturan hukum Islam. khususnya mengenai riba. atau bahkan hutang pokoknya sekalipun. menurut kondisi objektif pihak-pihak yang dibebani riba. Pada dasarnya kaum muslimin sepakat bahwa bisnis yang melibatkan praktik riba merupakan bisnis yang tidak sah (illegal) dan tidak etis. terhadap orang-orang di luar itu. gerak ini s ditentukan oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang selalu berubah dari waktu ke waktu. pengaruh riba dalam etika bisnis Islam. Penutup 1. yang salah satunya muncul dalam bentuk bunga bank amat bergantung pada pandangan mana yang diikuti. bukan kredit. Konsep riba ³kontemporer´ yang diajukan Muhammad Syahrur. bersifat dinamis dan elastis yang pene-rapannya dapat mempertimbangkan kondisi objektif para pihak yang terlibat dalam sebuah perikatan bisnis.kemasyarakatan bisa membantu menentukan kriteria yang kongkrit tentang golongan ekonomi yang bagaimana yang pantas dipungut bunga dari kredit yang diterimanya. yang termasuk dalam kategori orang yang tidak berhak menerima zakat dan sedekah. Perbedaan pendapat muncul justru berkenaan dengan makna riba (yang dilarang) itu sendiri. yang menurut kondisi sosial ekonomi yang ada. tidak mampu membayar bunga. 2. Oleh karena itu. Berbagai kalangan mengakui bahwa sejak semula persoalan riba merupakan masalah yang sangat pelik yang hingga kini imbasnya masih terasa dalam bentuk beragamnya pandangan yang muncul mengenai hal tersebut. yang pantas diberikan kredit tanpa bunga. seperti para pengusaha dan orang -orang yang berekonomi kuat lainnya. sebagai salah satu bentuk teori yang muncul dari sekian banyak teori tentang riba yang ada. Riba (bunga) menjadi terlarang manakala ia dipungut dari orang-orang fakir miskin dan golongan ekonomi lemah. Kesimpulan . Sementara itu. pada dasarnya mengakui adanya riba yang dilarang dan riba yang tidak dilarang. 3. dan yang seharusnya diberi hibah (sedekah). Jadi.

cet. dan bunga nol persen. II: 221. akad (kontrak) dapat dibedakan menjadi dua. hal. Kitab al-Fiqh µala al-Mazahib al-Arba¶ah (Beirut: Dar al-Kutub al-¶Ilmiyyah. 1991). 107. Lihat misalnya Syamsul Anwar. hal.. Akad yang sah dibagi pula menjadi tiga yakni akad lazim. Untuk uraian lebih lanjut baca ibid.1 Sebagian pengamat menyatakan adanya tiga pilar utama dalam sistem ekonomi Islam.172-173. yang berupa riba nasa¶ dan riba fadl. Ahmad Azhar Basyir. 1 (Islamabad: The Internati-onal Institute of Islamic Thought. 1970). cet. 135164. ³Teori Kausa dalam Hukum Perjanjian Islam (Suatu Kajian Asas Hukum)´. yakni riba nasi¶ah. Dalam buku ini terdapat satu bab yang khusus membahas bentuk-bentuk perilaku bisnis yang tidak diperkenankan dan salah satunya adalah riba. tidak mengandung ketidakjelasan. 74. 18 (1986). sedangkan riba dalam jual-beli hanya dijumpai dalam hadis. 104-112. sedangkan akad yang tidak sah dibedakan menjadi dua yaitu akad fasid dan akad batil. Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam). hal. Riba dalam hutang-piutang didasarkan terutama pada ayat-ayat Qur¶an. yakni akad yang sah dan akad yang tidak sah. hal. 2 Syarat sah lainnya yaitu: tidak ada paksaan. yakni norma perilaku (etika bisnis). laporan penelitian tidak diterbitkan. 1995). hal. dan tidak mengandung syarat fasid. 3 (Bandung: C. sebagian ahli membedakan riba atas riba yang terjadi dalam hutang piutang. 1 (Ttp. 6 Secara lebih rinci. dalam International Journal of Middle East Studies. hal. al-Jami¶ fi Usul al-Riba. 19930). 73-74. Timur Kuran. 1999). 4 Mushtaq Ahmad. Riba nasa¶ terjadi manakala jual-beli barter dilakukan tidak secara tunai. Buhuts fi al-Riba. dan riba yang terjadi dalam jual-beli. Muhammad Abu Zahrah. dan akad mawquf. zakat. 66-67. 1990).: Dar Buhus al-¶Ilmiyyah. 1 (Damaskus: Dar alQalam. Rafiq Yunus al-Misri. Jamal Abdul Aziz ³Riba dalam Dunia Perdagangan (Menyoal . cet. (Yogyakarta: Proyek Perguruan Tinggi Agama IAIN Sunan Kalijaga. hal. cet. sedangkan riba fadl yakni jual-beli barter terhadap satu jenis komoditas tertentu dilakukan dengan tidak sama dan sebanding (kualitas dan kuantitasnya). ³The Economic System in Contempo-rary Islamic Thought: Interpretation and Assessment´. Bussiness Ethics in Islam. Kode Etik Dagang Menurut Islam: Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi. 5 Hamzah Ya¶qub. akad nafiz. (Yogyakarta: Perpustakaan FH-UII. 3 Dalam hukum muamalat.V. µAbd al-Rahman alJaziri. Lihat. Lihat Ibid. tidak menimbulkan kerugian. Lihat.78-79. hal. 65-66. menurut sifat dan macam hukumnya. misalnya. hal. 2000). Diponegoro. Vol.

13 Berdasarkan Q. 247 -250. 5. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul fiqh. Agaknya Syahrur tidak menganggap sistem bagi hasil (profit and loss sharing) sebagai prinsip dasar bank Islam sebagaimana diyakini oleh para ekonom muslim untuk . 469-470. 18 Syahrur. 10 Syahrur. 1996). 445-466. 463-466. cet. 12 Ibid. hal. 1997). 453-462. 11 Ibid. al-Kitab wa al-Qur¶an. No. 179-180. al-Rum: 39. yakni masalah pewarisan kakek. ³Ada tiga perkara yang sangat aku sukai andai saja Rasulullah Saw meninggalkan wasiat (yang berupa penjelasan) untuk kita. Al µImran: 130. Lihat Muhammad Syahrur. E. hal. al-Kitab wa al-Qur¶an: Qira¶ah Mu¶asirah. 16 Q. 17 Bagaimana peliknya persoalan riba ini tergambar dalam ungkapan (keluhan) Umar. al-Jami¶. al-Baqarah: 276.. Dengan ketiga disiplin ilmu yang berbeda tersebut ia mencoba ³membaca ulang´ Qur¶an dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman kontemporer dan ternyata ia memperoleh banyak temuan yang menakjubkan. al-Baqarah: 279. 7. 464. Penjelasan untuk persamaan ini menggunakan sistem kuadran yang memiliki sumbu X dan Y. termasuk tentang riba. Lihat misalnya al-Misri. Hallaq. 2 (Damaskus: Dar al-Ahali. kalalah. hal. hal.J. Syahrur menjelaskan teori ini dengan bantuan model analisis matematika dari Isaac Newton yang berupa persamaan Y= f(x). 15 Q. hal. 8 Di samping sebagai insinyur. 1 (Cambridge: Cambridge University Press.Legitimasinya dalam Hukum Islam)´.. dan persoalan riba´. al-Kitab wa al-Qur¶an. 8. hal.S. al-Kitab wa al-Qur¶an. Islamic Banking and Interest: A Study of the Prohibition of Riba and its Contemporary Interpretation (Leiden.S. hal.S. bandingkan pula Wael B. Bukunya yang setebal 800 -an halaman ini banyak menawarkan pandangan baru terhadap isi kandungan Qur¶an khususnya. 14 Q.S. Brill. Syahrur juga mendalami filsafat dan filologi (ilmu bahasa) sebagai hobi. 1990). 18-19. 7 Lihat perdebatan tentang bunga bank di jaman moderen dalam Abdullah Saeed. 19 Ibid. dan 41. cet. dan ajaran Islam pada umumnya. hal. 9 Mengenai ihwal teori batas ini baca Syahrur. hal. 15 Tahun IX (2003). Mukad-dimah: Jurnal Studi Islam Kopertais Wilayah III dan PTAIS DIY.

1990. 1999. Al-Jami¶ fi Usul al-Riba. . No. ³Teori Kausa Dalam Hukum Perjanjian Islam (Suatu Kajian Asas Hukum)´. ³The Economic System in Contemporary Islamic Thought: Interpretation and Assessment´.pengganti sistem bunga. Timur. Kitab al-Fiqh µala al-Mazahib al-Arba¶ah. 1991. Ahmad Azhar. 18 (1986). Ir. Karena ia menganggap sah bank Islam yang mendasarkan pada sistem bunga kendati dengan batasan tertentu. Vol. µAbd al-Rahman al-. Yogyakarta: Proyek Perguruan Tinggi Agama IAIN Sunan Kalijaga. Ttp. Beirut: Dar alKutub al-µIlmiyyah. dalam International Journal of Middle East Studies. Diponegoro. Wael B. Ahmad. Damaskus: Dar al-Qalam. Mushtaq. Al-Kitab wa al-Qur¶an: Qira¶ah Mu¶asirah. Brill.J. Kode Etik Dagang Menurut Islam: Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi. Yogyakarta: Perpustakaan FH-UII. Abdullah. Hallaq. 5 jilid. Bandung: C. 1997. Saeed. Damaskus: Dar alAhali. Ya¶qub.: Dar Buhus al-µIlmiyyah. Hamzah. Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam). Kuran. 178-191. Jaziri. Basyir. 15 Tahun. Syamsul. Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Kopertais Wilayah III dan PTAIS DIY. Islamic Banking and Interest: a Study of The Prohibition of Riba and its Contemporary Interpretation. 1993. Business Ethics in Islam. hal. Muhammad. Cambridge: Cambridge University Press. Islamabad: The International Institute of Islamic Thought. 1996. Jamal Abdul. 1970. Dr. A History of Islamic Legal Theories: an Introduction to Sunni Usul Fiqh. Aziz. ³Riba dalam Dunia Perdagangan (Menyoal Legitimasi-nya dalam Hukum Islam)´. Rafiq Yunus al-. Laporan Penelitian tidak diterbitkan. Daftar Pustaka Abu Zahrah. Buhus fi al-Riba. 1990. Anwar. IX (2003). Leiden: E. 1995. Syahrur. Muhammad. Misri.V. 2000.