P. 1
Proposal Cara Merawat BBL

Proposal Cara Merawat BBL

|Views: 3,074|Likes:
Published by Fahriadi

More info:

Published by: Fahriadi on Mar 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2013

pdf

text

original

Sections

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Strategi pembangunan nasional adalah pembangunan berwawasan kesehatan untuk mencapai Indonesia Sehat 2010. Strategi ini harus diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia berkualitas, yang bercirikan manusia sehat, cerdas, produktif, dan mandiri. Upaya ini harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak manusia itu masih berada dalam kandungan, bayi dan semasa balita. Setiap tahun diperkirakan delapan juta bayi lahir meninggal pada bulan pertama setelah kelahiran dan sekitar 80 persen kematian neonatal ini terjadi pada minggu pertama. Sebagian besar dari kematian ini terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Angka kematian bayi di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup. Tingginya kematian bayi pada usia hingga satu tahun menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya, serta perilaku ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang bersifat negatif bagi perkembangan kehamilan sehat, persalinan yang aman dan perkembangan dini anak.

Perawatan bayi baru lahir yang baik dan benar merupakan salah usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi. Perawatan bayi baru lahir merupakan bagian perawatan maternal. Bayi baru lahir akan menjadi orang yang berdiri sendiri yang membutuhkan perhatian, perawatan dan pengawasan yang baik (Manuaba, 2002). Perawatan bayi baru lahir berkembang sejalan dengan pengetahuan bahwa bayi adalah lemah dan tidak berdaya, membutuhkan panas tubuh ekstra, dan merupakan periode hidup yang berbahaya sehingga harus mendapatkan perlindungan, pengaturan lingkungan dibawah pengawasan yang konstan (Hamilton, 2000). Infeksi pada talipusat atau tetanus neonatorum merupakan salah satu contoh dari perawatan bayi baru lahir yang kurang baik. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetanus neonatorum menyebabkan kematian bayi yang cukup tinggi karena pemotongan tali pusat masih banyak menggunakan alat-alat tradisional. Masuknya kuman tetanus Clostridum tetani sebagian besar melalui tali pusat. Masa inkubasinya sekitar 3 – 10 hari dan semakin pendek masa inkubasinya maka penyakit akan semakin fatal. Tetanus neonatorum menyebabkan kerusakan pada pusat motorik, jaringan otak, pusat pernafasan dan jantung (Manuaba, 2002). Sebagian besar ibu yang mempunyai bayi merasa takut dan malas untuk merawat tali pusat yang tampak tidak menarik apalagi bila bayi baru berumur beberapa hari dan tali pusat masih basah. Selain itu dalam

budaya masyarakat kita masih banyak ditemui mitos-mitos tentang

perawatan talipusat bayi yang beresiko terhadap terjadinya infeksi pada talipusat. Salah satunya adalah anjuran untuk menempelkan uang logam diatas pusat bayi setelah talipusatnya puput, tujuannya adalah agar pusat bayi tidak menonjol (bodong). Kemudian masih banyak masyarakat kita yang melakukan hal yang dapat mengakibatkan talipusat terinfeksi, contohnya talipusat bayi yang dibubuhkan dengan kopi dan air jeruk yang muda agar talipusat cepat mengkerut dan kering. Tindakan pencegahan aseptik yang baik hendaknya perlu diperhatikan pada perawatan dini tali pusat. Yang paling penting dalam perawatan tali pusat adalah hygiene perawatan yang baik, terutama mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi. Suatu cara pencegahan lain yang merupakan prosedur rutin adalah mengoleskan ujung tali pusat dan kulit abdomen disekitarnya dengan antiseptik dalam hal ini povidone iodine. Dengan cara ini maka populasi bakteri pada daerah tempat masuknya infeksi pada bayi sangat menurun terutama kuman patogennya (Yu dan Monintja, 1997). Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok, masyarakat dikelompokan menjadi 4 yaitu lingkungan (environment), perilaku (behavior), pelayanan kesehatan (health services), dan keturunan (hereditas) (Blum, 1974 dalam Notoatmodjo, 2005). Pengetahuan dan motivasi adalah salah satu unsur perilaku manusia dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan.

Pengetahuan dapat dikatakan sebagai pengalaman yang mengarah pada

kecerdasan serta akan meningkatkan minat dan perhatian. Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indera yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan informasi dan keterampilan (Hidayat, 2003). Semakin tinggi tingkat

pengetahuan individu tentang masalah kesehatan akan sangat membantu dalam penanganan/pencegahan terjadinya masalah kesehatan tersebut (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan uraian tersebut, maka menarik dilakukan penelitian mengenai hubungan motivasi dan tingkat pengetahuan terhadap perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin Tahun 2010.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : “Apakah ada hubungan motivasi dan pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin Tahun 2010 ?”.

C. Tujuan Penelitan 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan motivasi dan pengetahuan tentang

perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin Tahun 2010.

2. a.

Tujuan Khusus Mengidentifikasi motivasi ibu tentang perawatan bayi baru

lahir di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru

lahir di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin c. Mengidentifikasi perawatan talipusat bayi baru lahir oleh ibu di

wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin d. Menganalisis hubungan motivasi tentang perawatan bayi baru

lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. e. Menganalisis hubungan pengetahuan tentang perawatan bayi

baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin.

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Bagi Ibu Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan bayi baru lahir. 2. Bagi Ilmu dan Profesi Kebidanan Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap

pengembangan ilmu kebidanan serta merupakan informasi yang berharga bagi profesi bidan dalam memberikan asuhan dan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan tali pusat bayi baru lahir 3. Bagi Puskesmas Penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi terhadap pelayanan yang telah diberikan khususnya dalam memberikan asuhan dan dan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan tali pusat bayi baru lahir 4. Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan serta dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan.

5.

Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan sebagai sarana dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama pendidikan dengan kenyataan yang ada di lapangan dan pengalaman yang sangat berguna dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu serta untuk menambah wawasan dalam pembuatan karya tulis ilmiah.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori 2.1.1. Relaksasi Napas Dalam Relaksasi adalah teknik yang dilakukan untuk merangsang nyeri pada thalamus yang dihantarkan ke cortex cerebri. Teknik relaksasi merupakan teknik yang bersifat modulasi psikologis nyeri. Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan beberapa keuntungan, antara lain (7) : a. atau stres b. c. d. e. f. Menurunkan nyeri otot Menolong individu untuk melupakan rasa nyeri Meningkatkan periode istirahat dan tidur Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain dan Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul Menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan nyeri

akibat nyeri Relaksasi napas dalam merupakan salah satu teknik

nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh pada koping yang efektif terhadap pengalaman persalinan. Relaksasi napas dalam selama proses persalinan bertujuan untuk mempertahankan komponen sistem saraf simpatis dalam keadaan homeostasis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, mengurangi

kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradaptasi dengan nyeri selama jalannya proses persalinan (4). Menurut Priharjo, R (8), ada empat komponen utama dari tehnik relaksasi yaitu : a. Lingkungan yang tenang, menghindarkan sebanyak mungkin

kebisingan dan gangguan –gangguan. b. c. Posisi yang nyaman Sikap yang dapat diubah, mengosongkan semua pikiran-pikiran

dari alam sadar. d. Keadaan mental yang baik, memusatkan perhatian pada suara,

kata-kata, ungkapan, imaginasi, objek atau pola napas untuk merubah pikiran-pikiran secara internal menjadi pikiran yang lebih dapat diterima). Stewart (1976) menganjurkan beberapa teknik relaksasi napas dalam untuk mengatasi nyeri yaitu sebagai berikut (8) : a. b. Klien menarik nafas dalam dan menahannya di dalam paru. Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh

menjadi kendor dan rasakan betapa nyaman hal tersebut. c. d. Klien bernafas dengan irama normal dalam beberapa waktu. Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara

perlahan-lahan, pada saat ini biarkan telapak kaki relaks. e. Ulangi langkah tersebut dan konsentrasikan fikiran pada

lengan, perut, punggung dan kelompok otot-otot lain

f.

Setelah klien merasa relaks, klien dianjurkan bernafas secara

perlahan. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara dangkal dan cepat. Sementara Penny, S (9) menganjurkan agar saat persalinan, tenaga kesehatan mampu mengajarkan dua pola napas yaitu lambat dan dangkal untuk mengurangi nyeri persalinan. Pola napas lambat hendaknya dimulai pada persalinan ketika wanita tidak dapat berjalan atau berbicara saat kontraksi tanpa menahan napas selama puncak kontraksi. Ajarkan ibu untuk menghembuskan napas secara total, perlahan dan dapat didengar selama kontraksi. Sedangkan pola napas dangkal dijadikan cadangan untuk suatu saat dalam persalinan aktif. Ajarkan untuk bernapas lebih dangkal dan lebih cepat, tetapi tetap dalam kecepatan yang ibu merasa nyaman sepanjang kontraksi. Petugas dapat mengatur napas ibu dengan gerakan tangan atau kepala yang berima, dan bicara menenangkannya dan sesuai dengan irama napas. Berdasarkan teori-teori tersebut, maka disusunlah langkah-langkah pelaksanaan relaksasi napas dalam selama jalannya proses persalinan sebagai berikut (7) : 1. Hal-hal yang perlu dilakukan saat relaksasi napas dalam a. Pasien dalam keadaan tenang b. Tenangkan pikiran c. Lingkungan yang tenang

2. Persiapan pasien a. Beritahu klien tentang prosedur yang akan dilakukan b. Beri posisi yang nyaman c. Beri tahu klien untuk menenangkan perasaannya 3. Penatalaksanaan a. Beritahu klien tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan b. Ciptakan lingkungan yang tenang c. Usahakan klien tetap rileks dan tenang d. Anjurkan klien menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1 - 3 e. Perlahan-lahan udara dihembuskan membiarkan tubuh menjadi kendor f. Anjurkan bernafas beberapa kali dengan irama normal g. Klien menarik nafas lagi dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan h. Membiarkan telapak tangan dan kaki kendor i. Usahakan agar klien tetap konsentrasi j. Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri k. Anjurkan pada klien untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang l. Rapikan klien kembali melalui mulut sambil

1.2.2. Nyeri Persalinan The International Associat ion for the Study of Pain (IASP) tahun 1979 memberikan batasan tentang nyeri adalah sebagai suatu pengalaman perasaan dan emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan sebenarnya ataupun yang potensial dari pada jaringan (2). Nyeri sebagai keadaan penderitaan seseorang yang menderita nyeri atau kehilangan, suatau keadaan distres berat yang mengancam keutuhan seseorang (4). Nyeri merupakan tanda penting terhadap adanya gangguan fisiologi. Nyeri secara umum dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang rasa tidak nyaman, baik ringan maupun berat (8). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun (10). Dari definisi-definisi tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian antara lain : a. Nyeri adalah perasaan inderawi yang tidak menyenangkan,

artinya unsur utama yang harus ada untuk disebut nyeri, adalah rasa tidak menyenangkan. Tanpa unsur itu, tak dapat dikategorikan sebagai nyeri, walaupun sebaliknya, tidak semua yang tidak menyenangkan dapat disebut sebagai nyeri.

b.

Nyeri

merupakan

pengalaman

emosional

yang

tidak

menyenangkan, artinya persepsi nyeri seseorang ditentukan oleh pengalamannya dan status emosionalnya. Persepsi nyeri sangat bersifat pribadi dan subjektif. Oleh karena itulah maka, suatu rangsang yang sama dapat dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda, bahkan suatu rangsang yang sama dapat dirasakan berbeda oleh satu orang karena keadaan emosionalnya yang berbeda. c. Nyeri terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata

(pain associated with actual tissue damage). Nyeri yang demikian disebut sebagai nyeri akut (acute pain) yang diharapkan menghilang seirama dengan proses penyembuhannya. Nyeri yang demikian inilah yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. d. Nyeri dapat juga terjadi oleh suatu rangsang yang cukup kuat

yang berpotensi merusak jaringan. Nyeri yang demikian disebut sebagai nyeri fisiologik (physiological pain) yang fungsinya untuk membangkitkan refleks proteksi guna mencegah terjadinya kerusakan jaringan lebih lanjut. e. Nyeri dapat juga terjadi tanpa adanya kerusakan jaringan, tetapi

tergambarkan seolah-olah terdapat kerusakan jaringan yang hebat (pain described interm such damage). Nyeri yang terakhir ini justru timbul setelah penyembuhan usai, dan jika berlangsung lebih dari 3 bulan digolongkan sebagai nyeri kronik (chronic pain).

Menurut Hutajulu (2), nyeri pada persalinan ada dua macam yaitu : nyeri rahim-mulut rahim dan nyeri perineal. Nyeri rahim-mulut rahim adalah perasaan subjektif, terdapat pada kala I persalinan. Sejalan dengan meningkatnya kontraksi rahim yang menyebabkanteregangnya bagian bawah rahim terjadinya pembukaan mulut bawah rahim dan iskemia otot rahim secara progresif, sehingga meningkat pula rasa nyeri. Nyeri paling hebat dirasakan pada fase akhir persalinan ketika pembukaan mulut rahim dan kekuatan kontraksi rahim mencapai maksimal. Nyeri parineal terdapat pada kala II persalinan dan saat melahirkan, sebagai akibat meregangnya jaringan vagina, vulva dan perineum. Rangsang nyeri persalinan disalurkan melalui dua jalur utama. Serabut sarafsensorik rahim dan mulut rahim berjalan bersama saraf simpatis rahim memasuki sumsum tulang belakang melalui saraf thorakal 10, 11 dan 12. Karena itu nyeri rahim terutama dirasakan pada dermatom thorokal 10, 11 dan 12. Nyeri perineal disalurkan melalui persarafan sensorik nervus pudendus yang memasuki susunan saraf pusat melalui syaraf sakral 2, 3 dan 4. Karena itu nyeri perineal dirasakan pada dermatom sakral 2, 3 dan 4. Rangsang nyeri pada persalinan ini juga mempengaruhi susunan saraf otonom, sistim kardiovaskular, pernafasan dan otot rangka.

Gambar 2.1

Pernafasan dan jalur rasa nyeri selama persalinan (2)

Rasa nyeri pada alat-alat tubuh didaerah pelvis, terutama pada daerah traktus genitalia interna disalurkan melalui susunan saraf simpatik menyebabkan kontraksi dan vasokonstriksi. Sebaliknya saraf parasimpatik mencegah kontraksi dan menyebabkan vasodilatasi. Oleh karena itu efeknya terhadap uterus yaitu bahwa simpatik menjaga tonus uterus, sedangkan saraf parasimpatik mencegah kontraksi uterus, jadi

menghambat tonus uterus. Pengaruh dari kedua jenis persarafan ini menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang intermitten. Rangkaian susunan saraf simpatik daerah pelvik terdiri dari tiga rangkaian, yaitu

rantai sakralis, pleksus haemorhoidalis superior, dan pleksus hipogastrika superior (2).

Nyeri persalinan dirasakan selama kala pembukaan dan makin hebat dalam kala pengeluaran. Pada wanita yang baru pertama sekali bersalin, kala pembukaan berlangsung kira-kira 13 jam dan kala peneluaran kira-kira 1 ½ jam. Pada wanita yang pernah melahirkan maka kala pembukaan berlangsung lebih singkat yaitu sekitar 7 jam dan kala pengeluaran sekitar ½ jam.

Gambar 2. 2

Kala pembukaan pada primi dan multi gravida menurut Friedman (2)

Intensitas nyeri yang dirasakan bergantung pada beberapa faktor seperti: Intensitas dan lamanya kontraksi rahim, besarnya pembukaan mulut rahim, regangan jalan lahir bagian bawah, umur, paritas, besarnya janin, dan dan keadaan umum pasien. Pasien yang bersalin pertama kali pada usia tua umumnya mengalami persalinan yang lebih lama dan lebih nyeri dibandingkan dengan pasien muda. Intensitas kontraksi rahim pada persalinan yang pertama cenderung lebih tinggi pada awal persalinan. Juga pada kemacetan persalinan akibat janin yang besar atau jalan lahir yang sempit pasien mengalami rasa nyeri yang lebih hebat dari pada persalinan normal. Kelelahan dan kurang tidur berpengaruh juga terhadap toleransi pasien dalam menghadapi rasa nyeri. Ranta dalam penelitiannya terhadap 70 wanita para 2 - 5 dan 70 wanita grandemultipara, mendapatkan bahwa nyeri persalinan pada awal kala I lebih berat pada primigravida dibandingkan pada kala II, nyeri persalinan lebih berat pada

grandemultigravida. Reaksi pasien terhadap rasa nyeri pada persalinan berbeda-beda. Hal ini antara lain tergantung dari sikap dan keadaan mental pasien, kebiasaan dan budaya. Mengalihkan perhatian seperti mendengar musik, bercakap-cakap sering digunakan untuk mengurangi reaksi terhadap rasa nyeri. Keletihan, kekhawatiran, dan ketakutan akan rasa nyeri dapat meningkatkan rasa nyeri yang dialami seorang ibu selama persalinan sehingga menjadi tak tertahankan. Peristiwa berat ringannya rasa nyeri

yang dialami seorang ibu dibanding ibu yang lain atau oleh seorang ibu dari satu persalinan di banding persalinan berikutnya berbeda-beda. Jika seorang ibu mudah mengeluh rasa nyeri akan sulit dilakukan dan pasien akan semakin merasa nyeri tak tertahankan. Lingkaran rasa nyeri tersebut akan sulit diputuskan karena reaksi stress yang kuat dan berkelanjutan sehingga akhirnya akan berdampak negatif terhadap ibu dan janinnya. Terapi obat-obatan penghilang stress (anxiolitic) seperti diazepam atau golongan benzodiazepin menyebabkan kelemahan otot pada bayi baru lahir. Felman et al, Pada penelitiannya tentang pengalaman ibu melahirkan, menemukan bahwa lebih dari 12 % ibu-ibu yang pernah melahirkan mengatakan bahwa melahirkan adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan dalam hidupnya. Nyeri dan ketakutan menimbulkan stress. Stress berakibat meningkatnya sekresi adrenalin. Salah satu efek adrenalin adalah kontraksi pembuluh darah sehingga suplai oksigen dan janin menurun. Penurunan aliran darah juga menyebabkan melemahnya kontraksi rahim dan berakibat memanjangnya proses persalinan. Semua efek tersebut diatas berpotensi membahayakan ibu dan janinnya, khususnya ibu dan janin dengan resiko tinggi. Karena alasan tersebut diatas, penanggulangan nyeri persalinan bukan hanya untuk kenikmatan saja tetapi menjadi kebutuhan yang mendasar untuk memutuskan lingkaran nyeri dan segala akibat yang ditimbulkannya. Hiperventilasi dapat dicegah, alkalosis respiratorik dapat dihindari,

kejadian asidosis metabolik dapat diturunkan dan akhirnya melahirkan akan merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan (2). Pengukuran secara kuantitatif rasa nyeri pada persalinan mulai dikembangkan untuk memperoleh penanganan yang tepat. Untuk mengukur intentitas rasa nyeri ini biasanya digunakan (2) : a.Alat Dolorimeter dari Hardy-Wolff-Goodell Alat ini bekerja dengan memproduksi rangsangan panas pada kulit yang diukur selama 3 detik. Intensitas rangsangan memberikan rasa hangat dan dapat dicatat pada alat Dolorimeter sebagai ambang rasa sakit. Jika kita meningkatkan rangsangan sebanyak dua kali lipat, akan mengakibatkan rasa nyeri yang hebat, dan pada alat Dolorimeter akan tercatat sebesar 10,5 dols. Tingkat panas ini sebanding dengan rasa nyeri yang ditimbulkan akibat luka bakar tingkat tiga. Intensitas panas yang diberikan mulai dari nilai ambang nyeri hingga terjadi rasa nyeri yang hebat yaitu pada sekitar 10,5 dols, diberi satuan dalam milikalori. Selama persalinan, pengukuran intensitas rasa nyeri ini dilakukan selama kontraksi uterus berlangsung atau segera sesudah selesai kontrksi. Hasil yang diperoleh dalam satuan milikalori disesuaikan pada skala alat dolorimeter, sehingga intensitas rasa sakit dalam satuan dols dapat diperoleh. b. Gaston Johansson pain O Meter dan Gaston Johansson pain O meter visual analog scale

Alat ini dapat mengukur kualitas dan intensitas nyeri pada kala I, II, dan III. Gaston, Hudson, Sittner (1998) pada penelitiannya menggunakan Gaston Johansson pain O meter pada 33 persalinan, selama tiga fase dari persalinan (pembukaan 2 - 4, 5 - 7, 8 - 10). Mereka menemukan bahwa intesitas nyeri paling tinggi berada pada fase III (pembukaan 8 - 10) dan pada saat partus. c.Visual Analog Scale (VAS) Skala analogi visual (VAS) sangat berguna dalam mengkaji intensitas nyeri. Skala ini berbentuk garis horizontal sepanjang 10 cm dan ujungnya mengindikasikan nyeri yang berat. Pasien diminta untuk menunjuk titik pada garis yang menunjukkan letak nyeri terjadi disepanjang rentang tersebut. Ujung kiri biasanya menandakan tidak ada atau tidak nyeri, sedangkan ujung kanan biasanya menandakan berat atau nyeri yang paling buruk. Untuk menilai hasil, sebuah

penggaris diletakkan sepanjang garis dan jarak yang dibuat pasien pada garis dari "tidak ada nyeri" diukur dan ditulis dalam centi meter. Skala intensitas nyeri deskriptip sederhana

Tidak ada nyeri

Nyeri ringan

Nyeri sedang

Nyeri hebat

Nyeri sangat

Nyeri paling

Skala intensitas nyeri numerik 0 - 10

0

1

2

3

4

5 Nyeri sedang

6

7

8

9

10 Nyeri paling hebat

Tidak ada nyeri

Gambar 2.3

Visual Analog Scale (VAS) (10)

d. Skala Penilaian Verbal Suatu penilaian subjektif dengan memberikan skor pada nyeri yang dirasakan para pasien yaitu : skor 1 apabila tidak mengeluh sakit dan tenang; skor 2 bila mengeluh sakit tapi tenang; skor 3 bila mengeluh sakit dan gelisah dan skor 4 bila sangat kesakitan dan sangat gelisah. Manajemen nyeri persalinan dapat dilakukan baik secara farmakalogi dan non farmakologi yaitu sebagai berikut : a. Farmakologi

Pemberian analgetik berfungsi untuk mengganggu penerimaan nyeri dan interpretasinya dengan menekan fungsi thalamus dan kortek serebri. Nyeri dapat ditanggulangi dengan memberikan obat-obatan yang berfungsi untuk mengganggu penerimaan/stimuli nyeri dan interpretasinya dengan menekan fungsi thalamus dan kortek serebri antara lain dengan pemberian analgetik, anestesi, jenis narkotika, dan sedative, dengan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (2) : 1). Aman bagi ibu dan anak 2). Tidak mempengaruhi sistim pernafasan, jantung dan pembuluh darah 3). Tidak mempengaruhi perjalanan persalinan; 4). Tidak mempengaruhi bayi selama dalam rahim dan setelah lahir 5). Tanpa efek samping yang berbahaya. b. Non farmakologi Banyak pasien dan anggota tim kesehatan cenderung untuk memandang obat sebagai satu-satunya metode untuk menghilangkan nyeri. Namun begitu, banyak aktivitas keperawatan non farmakologi yang dapat membantu dalam menghilangkan nyeri. Meskipun pada beberapa laporan anekdot mengenai ketidakefektifan tindakantindakan ini, diantaranya yang belum dievaluasi melalui penelitian riset yang sistematik. Metode pereda nyeri non farmakologi biasanya mempunyai resiko yang sangat rendah. Meskipun tindakan tersebut bukan merupakan pengganti untuk obat-obatan, tindakan tersebut

mungkin dipelukan atau sesuai untuk mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik atau menit. Dalam hal ini, terutama saat nyeri hebat yang berlangsung berjam-jam atau berharihari, mengkombinasikan teknik non farmakologi dengan obat-obatan mungkin cara yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri. 1). Sentuhan terapeutik. Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat

mempunyai keseimbangan energi antara tubuh dengan lingkungan luar. Orang sakit berarti ada ketidakseimbangan energi, dengan memberikan sentuhan pada klien, diharapkan ada transfer energi dari perawat ke klien (11). 2). Akupresur. Akupresur disebut juga akupunktur tanpa jarum, atau pijat akupunktur. Teknik ini menggunakan tenik penekanan, pemijatan, dan pengurutan sepanjang meridian tubuh atau garis aliran energi. Teknik akupresur dapat menyebabkan pelepasan endorphine, memblok reseptor nyeri ke otak, menyebabkan dilatasi serviks dan meningkatkan efektifitas kontraksi uterus. Metode akupresur merupakan tindakan yang mudah dilakukan, memberi kekuatan pada wanita saat melahirkan dan mendorong keterlibatan pasangan lebih dekat dalam proses persalinan dan pendidikan antenatal (1) 3). Guided imagery.

Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut (10). 4). Distraksi. Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan (massage, memegang mainan), distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur) (10). 5). Relaksasi. Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam meredakan nyeri punggung. Beberapa penelitian, telah

menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi. Ini mungkin karena relatif kecilnya otot-otot skeletal dalam nyeri pasca operatif atau kebutuhan pasien untuk melakukan teknik relaksasi tersebut agar efektif. Pasien yang sudah mengetahui tentang teknik relaksasi mungkin hanya diingatkan untuk menggunakan teknik tersebut untuk menurunkan atau mencegah meningkatnya nyeri.

Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas napas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Pasien dapat memejamkan matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman. Irama yang konstan dapat dipertahankan dengan menghitung dalam hati dan lambat bersama setiap inhalasi dan ekhalasi. Pada saat petugas mengajarkan teknik ini, akan sangat membantu bila menghitung dengan keras bersama pasien pada awalannya. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegagan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri (4). 6). Anticipatory guidance. Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri. Contoh tindakan : sebelum klien menjalani prosedur pembedahan, perawat memberikan penjelasan/informasi pada klien tentang pembedahan, dengan begitu klien sudah punya gambaran dan akan lebih siap menghadapi nyeri (11). 7). Hypnobirthing Hypnobirthing merupakan teknik untuk mencapai relaksasi mendalam, menggunakan pola pernapasan lambat, fokus, tenang dan dalam keadaan sadar sepenuhnya. Hypnobirthing merupakan metode yang mengajarkan pada ibu bersalin memahami dan melepaskan fear-tansion-pain-syndrome (sindrom takut-tegangnyeri) yang menyebabkan kesakitan dan ketidaknyamanan selama

persalinan. Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena hipnotis yang digunakan lebih menekankan pada penanaman sugesti saat otak telah berada dalam kondisi rileks. Jadi lebih pada penanaman mindset ibu bahwa persalinan adalah bukan peristiwa yang menyakitkan. Hypnobirthing efektif dalam meredakan nyeri atau

menurunkan jumlah analgesik yang dibutuhkan pada nyeri akut dan kronis. Mekanisme bagaimana kerjanya hipnosis tidak jelas tetapi tidak tampak diperantari oleh sistem endorphin. Keefektifan hipnosis tergantung pada kemudahan hipnotik individu. Pada beberapa kasus hipnosis dapat efektif pada pengobatan pertama; keefektifannya berikutnya (12). 8). Biofeedback. Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis (11). meningkat dengan tambahan sel hipnotik

9).

Stimulasi kutans. Stimulasi saraf transkutan (TENS) menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit

untuk menghasilkan sensasi kesemutan , menggetar pada area nyeri. TENS telah digunakan baik pada nyeri akut dan kronik. TENS diduga dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nosiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang menstrasmisikan nyeri. Mekanisme ini sesuai dengan teori nyeri gate control. Reseptor tidak nyeri diduga memblok transmisi sinyal nyeri ke otak pada jaras asendens saraf pusat. Mekanisme ini akan menguraikan keefekitan stimulasi kutan saat digunakan pada araea yang asama seperti pada cedera. Cara ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan massage, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (11).

2.2. Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian ini mengacu pada konsep teoritis tentang manajemen nyeri persalinan menurut Hutajulu, P (2), Brunner & Suddarth (10), dan Perry & Potter (11) yaitu sebagai berikut :

Manajemen Nyeri Secara Farmakologi 1. Analgetik / sedativa 2. Anestesi 3. Antispasmodik Manajemen Nyeri Secara Non Farmakologi 4. Sentuhan terapeutik 5. Akupresur 6. Guided Imagery 7. Distraksi 8. Relaksasi 9. Anticipatory guidance 10. Hypnobirthing 11. Biofeedback 12. Massage

NYERI PERSALINAN

Gambar 2.4

Bagan Kerangka Teori Penelitian (2, 10, 11)

Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan kerangka teori tersebut, maka disusunlah kerangka konseptual penelitian sebagai tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis yaitu sebagai berikut : Manajemen Nyeri Secara Farmakologi 1. Analgetik / sedativa 2. Anestesi 3. Antispasmodik Sentuhan terapeutik Akupresur Guided Imagery Distraksi Anticipatory guidance Hipnotis Biofeedback Massage Napas Dalam Relaksasi NYERI PERSALINAN

Keterangan : = Diteliti = Tidak diteliti

Gambar 2.5

Bagan Kerangka Konsep Penelitian

2.3. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka konsep yang ada, maka disusun suatu hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yaitu sebagai berikut : “Ada pengaruh relaksasi napas dalam terhadap tingkat nyeri persalinan ibu inpartu fase aktif di Bidan Praktek Swasta Desa Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura tahun 2009”.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan desain eksperimental, dengan model pendekatan pre – post test dalam satu kelompok (one group pre test-post test design) yang menghubungkan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subyek (13).

3.2. Subjek Penelitian 3.2.1. Populasi Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu inpartu di bidan praktek swasta Desa Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura pada periode tahun 2009. 3.2.2. Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah ibu inpartu di bidan praktek swasta Desa Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura pada periode Mei 2009 dan memenuhi kriteria inklusi penelitian.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : 1. Ibu bersedia bersedia menjadi responden. 2. Ibu inpartu dalam fase aktif 3. Ibu dengan kesadaran penuh Pengambilan sampel pada pada penelitian ini dilakukan secara Purposive sampling .

3.3.

Instrumen Penelitian Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah berupa Visual Analog Scale (VAS) dan lembar observasi untuk mengetahui tingkat nyeri persalinan.

3.4. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.4.1. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah perbedaan tingkat nyeri persalinan pada ibu inpartu fase aktif antara sebelum dan sesudah intervensi relaksasi napas dalam. 3.4.2. Definisi Operasional Penelitian Tabel 3.1. Definisi Operasional Penelitian Variabel Perbedaan Suatu Definisi Alat Ukur Skala Rasio Hasil Ukur 1 – 10 pada VAS

kegiatan Visual Analog mengetahui Scale (VAS)

Tingkat Nyeri untuk Persalinan

ungkapan perasaan

pada inpartu aktif

ibu yang fase menyenangkan pada inpartu akibat rahim menjalani diri

tidak

ibu sebagai

kontraksi selama

persalinan sebelum dan sesudah

diberikan intervensi relaksasi dalam 3.5. Prosedur penelitian Prosedur penelitian ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut : 1. Sebelum penelitian ini dilakukan, peneliti mengajukan surat napas

permohonan untuk mendapatkan rekomendasi dari Akademi Kebidanan Martapura . 2. Permintaan ijin penelitian kepada Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten Banjar dan Kepala Puskesmas Martapura. 3. Setelah mendapatkan persetujuan instansi, kemudian peneliti

melakukan penelitian yang sesuai dengan prinsip-prinsip etis penelitian yaitu meminta persetujuan kepada responden, menjelaskan maksud dari penelitian serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data.

4.

Pengumpulan data dimulai dengan melakukan pengamatan dan

pengukuran tingkat nyeri (VAS) terlebih dahulu sebelum diberikan perlakuan (relaksasi napas dalam). Setelah diberi perlakuan dilakukan pengamatan dan pengukuran tingkat nyeri lagi. 5. Setelah data terkumpul, kemudian peneliti melakukan tahap

pengolahan dan analisis data dengan menggunakan uji statistik untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk sebuah laporan penelitian.

3.6.

Tekhnik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Editing yaitu mengoreksi jawaban yang telah diberikan responden, apabila ada data yang salah/kurang segera dilengkapi. b. Coding yaitu pemberian kode pada atribut variabel penelitian untuk memudahkan dalam pengolahan data c. Tabulasi data yaitu pengelompokan data dalam suatu data tertentu menurut sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian. d. Entry data yaitu memasukkan data dalam variabel sheet dengan bantuan komputer (14).

3.7. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis perbedaan tingkat nyeri persalinan pada ibu inpartu fase aktif antara sebelum dan sesudah intervensi relaksasi napas

dalam maka dilakukan Uji Beda Dua Mean Berpasangan atau

Uji T

Dependen (Paired Sample) dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis ini menggunakan bantuan program statistik komputer.

3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.8.1. Tempat Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di Bidan Praktek Swasta Desa Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura. 3.8.2. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini secara keseluruhan mulai dengan pembuatan proposal sampai selesainya penulisan hasil penelitian adalah dari bulan Maret 2009 sampai dengan Juli 2009. Adapun rencana jadwal pelaksanaan dapat dilihat pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Rencana Jadwal Pelaksanaan Penelitian BULAN URAIAN NO KEGIATAN A 1 2 3 4 5 Persiapan Pengajuan judul Studi pendahuluan Penyusunan proposal Konsultasi proposal Sidang proposal Maret‘0 April’08 Mei’09 Juni’09 Juli’09

8 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 √

√ √ √ √ √ √ √ √ √ √

6 B 7 8 C 9 10 11 12 13

Revisi proposal Pelaksanaan Pengumpulan Data Pengolahan data Penyelesaian Penyusunan KTI Konsultasi KTI Sidang KTI Revisi KTI Pengumpulan

√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

3.9. Rencana Biaya Penelitian

Rencana biaya penelitian secara keseluruhan seperti tergambar pada tabel 3.3. dibawah ini : Tabel 3.3. Rencana biaya penelitian NO KEGIATAN 1 Biaya persiapan a. Bahan dan perizinan 2 3 b. Survei awal Biaya operasional Pembuatan laporan TOTAL JUMLAH BIAYA Rp. 100.000,-

Rp. 100.000,Rp. 500.000,Rp. 500.000,Rp. 1.200.000,-

DAFTAR PUSTAKA

1. Persalinan. (online)

Yuliatun,

L.

Teknik

Akupresur

pada

Nyeri

(http://www.nursingeducate.com)

diakses 25 Nopember 2008

2.

Hutajulu, P. (2003). Pemberian Valemat Bromida

dibandingkan dengan Hyoscine untuk mengurangi nyeri persalinan. (online). (http://usu digital library) diakses tanggal 20 Maret 2008

3.

Purnama, D. (2008). Pengaruh Teknik Relaksasi

Bernafas Terhadap Respon Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I (online). 25 Nopember 2008 (http://www.one.indoskripsi.com) diakses

4.

Mander, R.

Nyeri Persalinan. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta. 2004

5.

Nurhaska, A. Pengaruh pijat usap (massage

rubbing) punggung terhadap tingkat nyeri persalinan ibu inpartu fase aktif pada BPS di wilayah kerja Puskesmas Landasan Ulin Banjarbaru. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Kebidanan Martapura. 2008

6.

Rif’ah. Hubungan Tingkat Nyeri Persalinan dengan

Motivasi Ibu Post Partum Untuk Melakukan Mobilisasi Dini di wilayah kerja

Puskesmas Martapura Tahun 2008. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Kebidanan Martapura. 2008

7. Napas Dalam.

Anonim. (2008). Prosedur dan SAP Relaksasi (online). (http://www.elearning.unej.ac.id). diakses 25

Nopember 2008

8.

Priharjo, R. Perawatan Nyeri. Pemenuhan Aktivitas Istirahat Pasien.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1999

9.

Penny, S. Buku Saku Persalinan. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta. 2005

10.

Brunner

&

Suddarth.

(2001).

Buku

Ajar

Keperawatan Medikal Bedah. Jilid 8. Vol.1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

11.

Perry & Potter, (2006). Fundamental Perawatan,

Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

12.

Nursalam. Konsep dan Penerapan Metodologi

Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi Revisi. Penerbit Salemba Medika. Jakarta. 2008

13. Press. Jakarta. 2007

Hastomo, SP. Analisis Data Kesehatan. Penerbit UI

PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth Ibu Calon Responden Di – Tempat

Sebagai persyaratan tugas akhir mahasiswa Akademi Kebidanan Martapura, saya akan melakukan penelitian tentang “ Pengaruh relaksasi napas dalam terhadap tingkat nyeri persalinan ibu inpartu fase aktif di Bidan Praktek Swasta Desa Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura Tahun 2009”. Untuk keperluan tersebut saya mohon kesedian ibu untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Jawaban ibu di jamin kerahasiannya. Demikian permohonan, atas bantuan dan partisipasinya disampaikan terima kasih Martapura, ..................2009

Peneliti

MUDHIA LESTARI

NIM. 032401S06034

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Setelah saya membaca maksud dan tujuan dari penelitian ini maka saya menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

No. Responden Tanggal Tanda tangan

: : :

FORMAT PENGUMPULAN DATA

Judul Penelitian

: PENGARUH

RELAKSASI

NAPAS

DALAM

TERHADAP TINGKAT NYERI PERSALINAN IBU INPARTU FASE AKTIF DI BIDAN PRAKTEK SWASTA DESA TANJUNG REMA DARAT

KECAMATAN MARTAPURA TAHUN 2009

Kode Responden

:

Tanggal Pengisian

: ....................2009

A.

Karakteristik Responden KARAKTERISTIK RESPONDEN Umur a. ≤ 20 tahun b. 21 - 25 tahun c. 26 - 30 tahun d. 31 - 35 tahun e. > 35 tahun Diisi Peneliti

1.

2. Pendidikan a. Tidak Sekolah a. SD / sederajat b. SMP / sederajat c. SMA / sederajat d. D. III / Sarjana 3. Pekerjaan a. Ibu Rumah Tangga b. Bekerja

Tingkat

4.

Paritas a. Ke - 1 b. Ke - 2 c. Ke - 3 d. Lebih dari 3

B.

Tingkat Nyeri Persalinan (VAS)

Petunjuk :

Ibu diminta untuk menunjuk titik pada garis yang menunjukkan letak nyeri yang terjadi disepanjang rentang garis.

Skala intensitas nyeri numerik 0 - 10

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Tidak ada nyeri

Nyeri sedang

Nyeri paling hebat

C.

Identifikasi Tingkat Nyeri Persalinan

Sebelum dan Sesudah Intervensi Relaksasi Napas Dalam

Tingkat Nyeri No Sebelum Intervensi ( Skala 1 – 10 )

Tingkat Nyeri Sesudah Intervensi (Skala 1 – 10) Ket

D.

Pelaksanaan Relaksasi Napas Dalam

No 1

KEGIATAN Persiapan pasien a. Beritahu klien tentang prosedur yang akan dilakukan b. Beri posisi yang nyaman c. Beri tahu klien untuk menenangkan

PELAKSANAAN YA TIDAK

perasaannya dan tetap rileks .

2

Penatalaksanaan a. Anjurkan klien menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1 - 3 b. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil membiarkan tubuh menjadi kendor c. Anjurkan bernafas beberapa kali dengan irama normal d. Klien menarik nafas melalui lagi mulut dan secara

menghembuskan perlahan-lahan e. Membiarkan

telapak

tangan dan kaki

kendor f. Usahakan agar klien tetap konsentrasi g. Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri h. Anjurkan pada klien untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang i. Rapikan klien kembali

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->