PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN DAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI

, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

MENIMBANG

: a.

bahwa sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai dijaga fungsinya sekitarnya. fungsi yang sangat dan penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, perlu kelestarian dengan kelangsungan daerah mengamankan

b.

bahwa berdasarkan pasal 4, pasal 5 dan pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai bidang mengatur pengelolaan daerah Sungai, Menteri lebih dan pengairan dalam yang rangka penguasaan jawab di untuk yang pada bertanggung

diberi lanjut

wewenang hal-hal lahan

menyangkut penetapan garis sempadan sungai, pemanfaatan sungai, dengan 1991 Sungai, daerah hal manfaat sehubungan 35 Tahun Menteri penguasaan dan

sungai dan bekas sungai c. bahwa Nomor Garis tersebut, sebagai Peraturan pelaksanaan Peraturan perlu Pemerintah ditetapkan tentang Manfaat

Pekerjaan

Umum

Sempadan

Daerah

U tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 7. 6. MENGINGAT : 1. PEKERJAAN DAERAH UMUM TENTANG SUNGAI. Nomor Nomor 39/PRT/1989 48/PRT/1990 tentang Pembagian Wilayah Sungai. tentang Sungai. MEMUTUSKAN: MENETAPKAN : PERATURAN SEMPADAN MENTERI SUNGAI. Presiden Presiden Menteri Menteri RI Nomor 32 64/M/1988 Tahun 1990 tentang Kabinet Pembangunan V. 9.Sungai. 2. Daerah Penguaasaan Sungai dan Bekas Sungai. Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1981 tentang Susunan Organisasi Departemen. Undang-undang Nomor. Peraturan Peraturan Pemerintah Pemerintah Nomor Nomor 22 35 Tahun Tahun 1982 1991 tentang Tata Pengaturan Air. Peraturan tentang Penggunaan Menteri Tata Cara P. Keputusan Keputusan Peraturan Peraturan Air.U P.U dan Nomor 49/PRT/1990 Izin Persyaratan Air atau Sumber Air. 3. 8. 5. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. 4. GARIS DAERAH MANFAAT PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI. Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen. . RINomor P. tentang Pengelolaan atas Air dan atau Sumber 10.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Tingkat I/Daerah Khusus/Daerah Istimewa. Kantor Wilayah adalah Kepala Departemen Pekerjaan Umum pada Propinsi yang bersangkutan. 2. Gubernur Kepala Daerah adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I/Kepala Daerah Khusus/Kepala Daerah Istimewa. Departemen Pekerjaan Umum.BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Dinas adalah Pekerjaan Umum Propinsi Daerah Tingkat I atau Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Propinsi di Daerah Tingkat I. 7. sebagai Menteri dan Badan PU. Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. 6. Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran dibatasi air kana mulai dan dari mata air sampai muara dengan oleh kirinya sepanjang pengalirannya garis sempadan. 4. 11 Tahun 1974. . bagi Milik mempunyai dan Negara tugas atau mengembangkan mengusahakan sumber digunakan kesejahteraan masyarakat menjaga kelestarian kemampuan lingkungan hidup. 8. 3. yang berstatus pembinaan untuk 9. Pejabatyang Kepala berwenang adalah Direktur Jenderal Kantor Pengairan Wilayah atas nama Menteri atau Gubenur Kepala Daerah. Badan Hukum tertentu adalah Usaha dan air Badan Hukum sebagaimana dibawah pokok air dengan dimaksud pada Pasal 4 Undang-undang No. 5. Direktur Direktorat Jenderal Jenderal adalah adalah Direktur Direktorat Jenderal Jenderal Pengairan.

Tanggul adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. Bekas sungai adalah sungai yang tidak berfungsi lagi. Daerah manfaat sungai adalha mata air. layanan social dan kegiatan ekonomi. yang mempunyai manfaat penting kanan fungsi untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. palung sungai dan daerah sempadan yang telah dibebaskan.10. 15. Daerah retensi. Banjir rencana adalah banjir yang kemungkinan terjadi dalam kurun waktu tertentu. 11. 17. yang mempunyai manfaat mempertahankan kelestarian danau/waduk. Kawasan kegiatan perkotaan utama adalah Wilayah kawasan dengan yang mempunyai fungsi bukan pertanian susunan kawasan sebgai tempat permukiman perkotaan. 18. 16. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. 13. Garis sempadan sungai adalah garis batas luar pengamanan sungai. 14. Tepi sungai adalha batas luar palung sungai yang mempunyai variasi bentuk seperti tergambar dalam lampiran peraturan ini. Daerah sungai penting sempadan termasuk untuk danau/waduk sungai adalah sepanjang kiri buatan. yang daerah tidak sempadan dibebaskan. Daerah sempadan adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan. Bagian Kedua Lingkup Pengaturan Pasal 2 . 12. penguasaan bantaran sungai atau adalh daerah dataran banjir. 19.

Agar fungsi sungai termasuk danau dan waduk tidak terganggu oleh aktifitas yang berkembang di sekitarnya. Bagian Kedua Tata Cara Penetapan Pasal 4 . Pemanfaatan lahan pada bekas sungai. c. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan pada daerah manfaat sungai. Agar kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya yang ada di sungai dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjada fungsi sungai. Pemanfaatan lahan pada daerah penguasaan sungai. b. b. Penetapan garis sempadan sungai bertujuan: a. dapat pengembangan. dilaksanakan penggunaan sesuai dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada sungai termsuk awaduk dengan tujuannya. Penetapan garis sempadan sungai termasuk danai dan waduk. c. BAB II GARIS SEMPADAN SUNGAI Bagian Pertama Maksud dan Tujuan Pasal 3 (1) Penetapan garis sempadan sungai dimaksudkan sebagai upaya agar danau (2) kegiatan dan perlindungan.Lingkup pengaturan yang tercantum pada Peraturan Menteri ini terdiri dari: a. Agar daya rusak air terhadap sungai dan lingkungannya dapat dibatasi. d.

Untuk sungai-sungai yang menjadi kewenangan Menteri batas garis sempadan sungai ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan Direktur Jenderal. Melakukan survei. (3) Garis sempadan sungai telah ditetapkan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri ini. dari hasilsurvei sebagaimana dimaksud dalam butir bagi sungai-sungai yang tidak jelas tepinya. Menentukan dimensi penampang sungai berdasarkan rencana pembinaan sungai yang bersangkutan. Bagian Ketiga Kriteria . (4) Penetapan garis sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila dipandang perlu dapat disempurnakan setiap lima tahun. Untuk sungaisungai yang dilimpahkan kewenangannya kepada Pemerintah Daerah. Untuk sempadan sungai-sungai sungai yang dilimpahkan dengan kewenangan Menteri yang pengelolaannya kepada Badan Hukum tertentu. b. c.(1) Penetapan garis sempadan sungai dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. batas garis sempadan sungai ditetapkan dengan Peraturan Daerah berdasarkan usulan dari Dinas. usulan Badan Hukum tertentu (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. b. batas garis ditetaplan dari Peraturan berdasarkan bersangkutan. Penetapan batas garis sempadan sungai dimaksud dalam butir b berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 10. c.

. baru fungsinya. Pasal 7 (1) Penetapan a. Pasal 6 (1) Garis a. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. sempadan Garis sungai bertanggul di tetapkan di luar sebagai kawasan berikut: sempadan sungai bertanggunl perkotaan. d. (3) Kegiatan diperlukan dalam diperkuat. Sungai garis sempadan yaitu sungai sungai tak yang bertanggul mempunyai di luas kawasan perkotaan diperkotaan didasarkan pada kriteria: besar daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus)Km2 atau lebih. b. Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. b. ditetapkan sekurang-kurangnya 5 (lima) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. ditetapkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. berakibat lahan yang ditinggikan berstatus bergesernya letak garis sempadan sungai.Pasal 5 Kriteria penetapan garis sempadan sungai terdiri dari: a. c. lahan yang untuk tapak tanggul sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksudn dalam ayat (2) harus dibebaskan. dapat dapat maka tanggul sebagaimana diperlebar. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. (2) Dengan pertimbangan dimaksud dan untuk peningkatan ayat (1) yang Negara.

b. Sungai yang mempunyao kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) (tiga meter. (3) Garis 100 sempadan (seratus)m. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. konstruksi penggunaan . Penetapan garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan pada sungai besar dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. sungai tidak bertanggul sungai di luar kawasan perkotaan pada sungai besar ditetapkan sekurang-kurangnya sedangkan pada kecil sekurangkurangnya 50 (lima puluhA) m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. garis sempadan ditetaplan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. puluh) garis meter sempadan dihitung sungai dari sekurang-kurangnya sungai pada 30 tepi waktu meter dihitung tepi waktu ditetapkan. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kuran dari 500 (lima ratus) Km2. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh)meter. c. garis sempadan ditetapkan dari sekurang-kurangnya sungai pada 10 (sepuluh) ditetapkan.b. Pasal 8 Penetapan garis sempadan sungai tak bertanggunl di dalam kawasan perkotaan didasarkan pada kriteria: a. Pasal 9 (1) Garis dengan dengan sempadan jalan ketentuan sungai tidak bertanggul jalan dan yang berbatasan jalan harus adalah tepi bahu yang bersangkutan.

garis sempadan ditetapkan sekurang. Bagian Keempat Pemanfaatan Daerah Sempadan Pasal 11 (1) Pemanfaatan lahan di daerah sempadan dapat dilakukan oleh masyarakat berikut: a.kurangnya 200 (dura ratus) meter di sekitar mata air. dengan jenis tanaman yang diizinkan. penggalian. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam Keputusan RI nNomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Pasal 10 Penetapan garis sempadan danau. waduk. maka segaka perbaikan atas kerusakan yang pada menjadi tanggung jawab pengelola jalan. Untuk kegiatan niaga. Untuk danau dan waduk. dan penimbunan. b. dan berfungsi sebagai jalur hijau. b. Untuk budidaya pertanian. sebagai berikut: a.menjamin (2) Dalam timbul hal bagi kelestarian dan keamanan dimaksud sungai sungai dalam sertai (1) bangunan sungai. ketentuan sungai sebagaimana dan bangunan ayat tidak terpenuhi. untuk kegiatan-kegiatan tertentu sebagai . c. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. Untuk mata air. mata air. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 50(lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

f. Untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan lemasyarakatan yang tidal menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan lalu fungsi air serta dan fisik sungai. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memperoleh berwenang (3) atau izin terlebih dahulu dari pejbat yang pejabat yang ditunjuk olehnya. e. kabel telepon dan pipa air minum. b. (2) Untuk pembangunan prasarana lintak bangunan pengambilan dan pembuangan air. serta memenuhi syart-syarat yang ditentukan. Membuang sampah. Untuk pemasangan papan reklame. papan penyuluhan dan peringatan . Untuk pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. serta rambu-rambu pekerjaan. BAB III DAERAH MANFAAT SUNGAI Bagian Pertama Umum yang diperlukan. limbah padat atau cair. Pejabatyang berwenang dapat menetapkan suatu ruas di daerah sempadan untuk membangun jalan inspeksi dan/atau bangunan sungai tanah. dengan ketentuan lahan milik perorangan yang diperlukan diselesaikan melalui pembebasan . d. Pasal 12 Pada daerah sempadan dilarang: a. Mendirikan bangunan permanen untuk hunian dan tempat usaha.c. Untuk pemasangan rentangan kabel listrik. g.

panjang. mengikuti ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Pasal 11 dan Pasal 12. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan oleh Direktorat Jenderal. b. b. dan kapasitas. memuat informasi antara lain mengenai nama. Bagian Kedua Pemanfaatan Pasal 14 (1) Maysarakat dapat memanfaatkan lahan di daerah manfaat sungai. Mata air. memuat informasi antara lain mengenai nama. memuat informasi antara lain mengenai lokasi. . dan Badan Hukum tertentu. dilakukan inventarisasi yang mencakup: a. luas. Dinas dan Badan Hukum tertentu.Pasal 13 (1) Pengelolaan dan pembinaan pemanfaatan sungai dilaksanakan oleh Direktur Jenderal. tahun pembebasan dan sumber dana. Daerah sempadan yang dibebaskan. c. lokasi. (4) Inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dilaporkan sekurang-kurangnya setiap 5 (lima) tahun kepada Direktur Jenderal. Palung sungai. c. dan debit air. lokasi. (2) Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). sesuai denganwewenang dan tanggung jawab masingmasing terhadap wilayah sungai yang bersangkutan. harus dengan izin pejabat yang berwenang. Pemerintah Daerah. dengan ketentuan sebagai berikut: a. memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

. dapat dikenakan kontribusi dlam rangka pemeliharaan daerah manfaat sungai. BAB IV DAERAH PENGUASAAN SUNGAI Bagian Pertama Umum Pasal 15 (1) Penetapan yang daerah penguasaan sungai dimaksud upaya agar pejabat sungai berwenang dapat melaksanakan pembinaan seoptimal mungkin bagi keselamatan umum. Direktur Jenderal atas nama Menteri dalam hal sungai yang bersangkutan mengalir pada lebih dari stu Propinsi. dan izin diberikan oleh: (5) Gubernur Kepala Daerah dalam hal sungai yang bersangkutan mengalir pada satu Propinsi. yang dapat berupa uang dan tenaga.d. (2) Izin pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai yang berada pada wilayah sungai yang pembinaannya dan menjadi kewenangan Kepala Menteri. diberikan teknis oleh dari Gubenur Dinas Kepala setelah rekomendasi berkonsultasi dengan Kepala Kantor Wilayah. Izin pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai yang berada pada wilayah sungai yang wewenang pembinaannya dilimpahkan kepada Badan Hukum tertentu dilengkapi dengan rekomendasi teknis dari Badan Hukum tertentu. diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Meneti dengan (3) memperhatikan saran pertimbangan dari Kantor Wilayah yang terkait. tidak menganggu upaya pembinaan sungai. Masyrakat yang memanfaatkan lahan di daerah manfaat sungai. Izin pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai yang berada pada wilayah sungai yang wewenang pembinaannya dilimpahkan kepada Daerah (4) Pemerintah dengan Daerah.

Bagian kedua Pemanfaatan Pasal 16 (1) Masyarakat sungai dapat memanfaatkan lahan di daerah penguasaan dengan untuk kegiatan/keperluan tertentu sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan Pasal 15 ayat (3). pemanfaatan di luar Daerah sungai oleh berada Kepala sempadan. dengan diberikan Gubernur peraturan perundang-undangan yang berlaku.(2) Batas daerah penguasaan sungai yang berupa daerah retensi ditetapkan 100 (seratus) meter dari evelasi banjir rencana di sekeliling daerah genangan. dengan lahan daerah sesuai di diberikan berwenang (3) Izin ketentuan daerah sebagaimana pengusaan dimaksud yang dalam Pasal 11 ayat (2). (2) Izin pemanfaatan di daerah sesuai lahan di daerah penguasaan oleh sungai Pejabat yang yang berada sempadan. (3) Pejabat yang berwenang mengatur rencana peruntukan daerah penguasaan sungai dengan memperhatikan kepentingan instasi lain yang bersangkuta. BAB V BEKAS SUNGAI Pasal 17 . sedangkan yang berupa dataran banjir ditetapkan berdasarkan debit banjir rencana sekurang-kurangnya periode ulang 50 (lima puluh) tahunan.

d. Keperluan budidaya dengan syarat tertentu (3) (4) Permohonan pemanfaatan lahan bekas sungai diajukan kepada Direktur Jenderal. dengan cara tukar bangun. Keperluan pembangunan prasarana pengairan. b. Keperluan pembangunan lainnya. (2) Pemanfaatan lahan bekas sungai diprioritaskan untuk: a. untuk pengawasan pada wilayah sungai yang menjadi kewenganan Pemerintah Daerah atau Badan Hukum tertentu.(1) Lahan negara bekas yang sungai berada merupakan di bawah inventaris pembinaan kekayaan milik Direktur Jenderal atas nama Menteri. c. (3) Pengusutan ata pelanggaran ketentuan di dalam Peraturan ini dapat dilakukan oleh: . BAB VI PENGAWASAN Pasal 18 (1) Pengawasan tertentu (2) Laporan atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang di dalam sesuai dalam Peraturan ini dilakukan oleh satuan kerja atau Badan Hukum yang atas menangani hasil sungai bersangkutan dimaksud dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing pengawasan sebagaimana ayat (1) disampaikan kepada: a. b. Dinas. Mengganti lahan yang terkena alur sungai baru. Direktur Jenderal untuk pengawasan pada wilayah sungai yang menjadi kewenangan Menteri atau Badan Hukum tertentu. Direktorat sungai dan Jenderal melakukan inventarisasi data lahan bekas mengadakan pemuktahiran inventarisasi sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sekali.

Pasal 16 ayat (1) Peraturan dikenakan sebagai berikut: pidana sebagaimana ditetabpkan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) untuk selanjutnya diteruskan kepada pihak kepolisian. Pasal 19 (1) Masyarakat daerah penguasaan (2) Masyarakat wajib sungai wajib menaati daerah dan ikut bekas serta ketentuan-ketentuan manfaatkan sungai secara yang pemanfaatan daerah oleh usaha sempadan. Pasal Sanksi terhadap 19 ketentuan-ketentuan ini dapat yang tercantum sanksi dalam Pasal 11 ayat (2). Sanksi administrative sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pihak kepolisian dalam hal belum terbentuk Penyidik Pegawai Negeri Sipoil (PPNS). dan peraturan perundangundangan yang berlaku.a. sungai. ditetapkan dalam pejabat yang berwenang. BAB VII SANKSI Pasal 20 Pelanggaran dan a. Pasal 12. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 21 . Pasal 14 ayat (1). aktif pelestarian dan pengamanan baik fungsi maupun fisik sungai. atau b. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1992 tentang Sungai. b.

maka peraturan yang telah dikeluarkan bertentangan oleh dengan pemanfaat mengikuti dalam Pemerintah peraturan lahan di Daerah ini masih sepanjang tetap tidak berlaku.(1) Dengan berlakunya Peraturan ini. para belum agar daerah sempadan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada yang bersangkutan untuk diketahui dan atau dilaksanakan. daerah sampai digantikan dengan yang baru. (2) Bagi yang ini. DITETAPKAN PADA TANGGAL : JAKARTA : 27 Februari 1993 ttd RADINAL MOOCHTAR Menteri ini mulai berlaku pada tanggal MENTERI PERKERJAAN UMUM . Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Menteri ini akan ditetapkan dengan keputusan tersendiri. daerah penguasaan sungai. dan bekas sungai ketentuan-ketentuan waktu 6 Peraturan sejak jangka (enam) bulan ditetapkannya daerah sempadan segera menyesuaikan> BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 21 (1) (2) (3) Peraturan ditetapkan. dalam manfaat sunngai.