Pelaksaaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma bagi terdakwa yang tidak mampu (studi kasus di pengadilan

negeri sukoharjo)

Penulisan Hukum (Skripsi)

Disusun dan diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

Teguh Triyanto NIM : E.1103162

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Penulisan Hukum (Skripsi)

PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN HUKUM SECARA CUMA-CUMA BAGI TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Sukoharjo)

Disusun oleh : TEGUH TRIYANTO NIM : E.1103162

Disetujui untuk Dipertahankan Dosen Pembimbing

KRISTIYADI S.H.,M.Hum. NIP.131 569 273

ii

PENGESAHAN PENGUJI

Penulisan Hukum (Skripsi)

PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN HUKUM SECARA CUMA-CUMA BAGI TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Sukoharjo)
Disusun oleh : TEGUH TRIYANTO NIM : E.1103162

Telah diterima dan di sahkan oleh Tim Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta pada : Hari Tanggal : ………………………… : …………………………

TIM PENGUJI 1. Edy Herdyanto , S.H.,M.Hum Ketua 2. Bambang Santoso , S.H.,M.Hum Sekretaris 3. Kristiyadi , S.H.,M.Hum Anggota : ………………………………..

: ………………………………..

: ………………………………..

MENGETAHUI Dekan,

Mohammad Jamin, S.H. M. Hum NIP. 131 570 154

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al An’aam: 162) “Jadikanlah Sabar dan Sholat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Q. S. Al-Baqarah : 45) “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (Q.S. Alam Nasyrah: 6-8)

PERSEMBAHAN Penulisan hukum (Skripsi) ini kupersembahkan dengan ikhlas kepada: Ø Bapak, Ibu, selaku orang tua yang paling kucintai Ø Segenap keluarga besarku mulai dari kakek hingga keponakanku Ø Dosen pembimbing skripsi yang senantiasa memberikan pengarahan Ø Bapak, ibu dosen Fakultas Hukum beserta civitas akademika UNS Ø Kawan-kawanku di FH UNS khususnya angkatan ’03, yang belum lulus Ø Shobat-shohabatku di kost putra bengkulu Ø Shobat-shobatku yang ada di UMS yang tidak henti-hentinya memberikan semanggat kepadaku Ø Semua pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul ”PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN HUKUM SECARA CUMA-CUMA BAGI TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI SUKOHARJO”. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi salah satu persyaratan untuk menempuh dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan hukum ini membahas tentang Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang Melakukan Tindak Pidana yang dapat di ancam pidana penjara atau pidana kurungan 5 tahun atau lebih di Pengadilan Negeri Sukoharjo. Selain itu penulisan hukum ini juga membahas tentang permasalahan dan Kendala apa yang di hadapi dalam pelaksanaan pemberian bantunan hukum terhadap Terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana dengan ancaman penjara atau kurungan di Pengadilan Negeri Sukoharjo dengan segala solusinya. Banyak permasalahan dan hambatan yang penulis alami dalam

menyelesaikan skripsi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dengan rendah hati, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik materiil maupun non materiil sehingga penulisan hukum ini dapat terselesaikan, terutama kepada: 1. Bapak Prof. Dr. dr. Much. Syamsulhadi, Sp.KJ, selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bapak M. Jamin, S.H, M.H selaku Dekan Fakultas Hukum UNS yang yang telah memberi izin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Bapak Edy Herdyanto, SH, MH selaku Ketua Bagian Acara yang telah memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

v

untuk itu kritik dan saran diperlukan dari para pembaca yang budiman.H selaku Pembimbing akademik yang senantiasa memberikan masukan dan kritikan kepada penulis agar lebih dewasa. kasih sayang.salasa’Bintang. M. yang telah ikhlas membagikan ilmu dan pengetahuan tentang hukum dan juga pengalamannya bagi penulis. 6.Rudi. Surakarta. Teman-teman senasib dan seperjuangan Uson.. Semua pihak yang telah membantu dalam skripsi ini. Hafis. Bapak dan Ibu tercinta yang tiada hentinya memberikan doa.. Ogan untung. sehingga dapat dijadikan bekal dalam penulisan skripsi dan masa depan penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini bukan karya yang sempurna. Mai 2008 Penulis vi . S.Bhegug’s.kethip.H. Bapak Kristiyadi. Abang Roni 12. 7.Hum. Ageng gribig. Alip genk cobra. semoga skripsi ini mampu memberikan suatu manfaat bagi kita semua. Pimpinan dan staf Pengadilan Negeri Sukoharjo yang telah membantu memberikan data guna menunjang penyelesaian skripsi ini.4. Sobat-sobatku di kost Putra Bengkulu mbah Darmo. Bapak dan ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret yang tak dapat disebutkan satu persatu. Ibu Subekti. Selaku Pembimbing Penulisan Skripsi yang telah menyediakan waktu dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan arahan bagi tersusunnya skripsi ini. Inggra curly. Akhirnya. 5. Paul. Dek apri. 11. Ari duapuluh. 8. Mas Edy. 9. kesabaran dan segalanya kepadaku hingga sekarang ini. 10. S. Mas Bowo yang telah banyak membantu penulis memberikan kelengkapan data yang sangat dibutuhkan guna penyelesaian skripsi. Nasrul. Putra lawu. pakdhe Simbah.baik langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu per satu.wantek dan seluruh angkatan 2003 Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

.............................................................................. B........................................................................................................... E............ HALAMAN PERSETUJUAN................................................................ BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ Pihak-Pihak yang dapat memberikan bantuan hukum........................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN............................................. BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................... Kerangka Teori... F...................................................................................................... A.... Kerangka Pemikiran ........................................................... B. Manfaat Penelitian ........................................................(Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Sukoharjo)................................... HALAMAN MOTTO ....... Daftar Lampiran ................................................................................................................................. D........................................................... DAFTAR ISI..... 3.... Sejarah Perundang-undangan tentang bantuan hukum di Indonesia......................................................................... Pengertian bantuan hukum.................. ABSTRAK ................ 1............................. Tujuan Penelitian .................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA........ 2... A................. HALAMAN PERSEMBAHAN ......DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................... i ii iii iv iv v vii ix x 1 1 4 4 5 5 7 8 8 8 9 11 20 22 23 23 vii .............. Metode Penelitian ................................................................................................................. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma Bagi terdakwa Yang Tidak Mampu .. Sistematika Penulisan Hukum .. KATA PENGANTAR ............................................................................................... Perumusan Masalah ............................................................................................... A.. 4 Prosedur pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma……….. Latar Belakang ............................................................................... C..............................

................................. Simpulan ............................................................................................................................................Identitas Terdakwa ......... 6..................................................................................... 5....1................................ BAB IV PENUTUP ................................................................................... B................. 4......... Pembelaan dari Terdakwa dan Penasehat hukum.................. Saran..................................................................................................... 23 2............................. 38 41 36 37 B.................... A.. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu......................................................... Dakwaan Penuntut Umum.............................. Pununjukan Penasehat Hukum.. Lampiran 44 46 46 46 47 viii ........ Daftar Pustaka ... Pembahasan.................... 24 3............ Hambatan dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum kepada Terdakwa yang kurang mampu.................

DAFTAR LAMPIRAN Lamp I Surat Ijin Penelitian/survey Kepada Kepala Kantor Pengadilan Negeri Sukoharjo Lamp II Surat Keterangan Penelitian /survey dari Kantor Pengadilan Negeri Sukoharjo Lamp III Surat Penunjukan Penasehat Hukum Oleh Ketua Pengadilan Negeri Sukoharjo Lamp IV Surat Kesanggupan Menjadi Penasehat Hukum Kepada para terdakwa dalam berperkara di Pengadilan Negeri Sukoharjo ix .

Pelaksanaan pemberian bantuan hukum Secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara atau kurungan di pengadilan negeri Sukoharjo terlaksana sesuai dengan ketentuan-ketentuan Undang-Undang yang mengatur. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Lokasi penelitian di pengadilan Negeri Sukoharjo. 4 tahun 2004. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui wawancara. x . 23 tahun 2003. 2008. Analisis data menggunakan analisis data deduktif dan induktif. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa : 1. Selain itu juga untuk mengetahui hambatan atau permasalahan apa yang ada dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum terhadap terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana 5 tahun penjara atau lebih di pengadilan Negeri Sukoharjo dan solusi atau cara untuk memecahkan masalah tersebut. Penulisan Hukum (Skripsi). E1103162. yakni ketentuan Undang-Undang No. 2. Ketentuan-Ketentuan Undang-Undang No. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris atau non doktrinal yang bersifat deskriptif. Permasalahan yang ada dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun berupa penolakan penasehat hukum yang ditunjuk oleh tersangka atau terdakwa dengan berbagai alasan tersangka atau terdakwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana cara pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma terhadap terdakwa yang tidak mampu yang melakukan Tindak Pidana dengan ancaman pidana 5 tahun penjara atau lebih Di Pengadilan Negeri Sukoharjo.ABSTRAK TEGUH TRIYANTO. PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN HUKUM SECARA CUMA-CUMA BAGI TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI SUKOHARJO : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana di Indonesia menimbulkan perubahan yang fundamental terhadap Hukum Acara Pidana. Asas Praduga Tak Bersalah yaitu setiap orang yang tersangkut perkara pidana wajib dianggap tak bersalah sebelum adanya keputusan Hakim yang tetap. Asas Keseimbangan yaitu setiap penegak hukum harus berlandaskan prinsip keseimbangan antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban umum. 1 xi . artinya apabila terdapat cukup bukti maka perkara harus diselesaikan. maka setiap perkara harus diselesaikan menurut hukum yang berlaku. Asas Deprensial Fungsional yaitu asas yang memberikan pembagian yang tegas fungsi masing-masing penegak hukum dalam pelaksanaan tugasnya. Asas Ganti Rugi dan Rehabilitasi yaitu diberikannya ganti rugi dan rehabilitasi bagi setiap orang yang menjalani pemeriksaan dalam perkara pidana yang didalamnya terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan perkara.BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berlakunya Undang-Undang No. Asas Koordinasi yaitu asas berupa adanya fungsi pengawasan bagi penegak hukum dan pelaksanaan tugasnya. Guna mewujudkan penghargaan terhadap harkat dan martabat hak-hak asasi manusia tersebut diterapkan beberapa asas yang mendasari hal-hal tersebut. Adapun asas-asas tersebut antara lain : Asas Legalitas yaitu apabila terdapat cukup bukti. Dikatakan demikian karena KUHAP lebih memberikan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

4. xii . Seorang tersangka atau terdakwa berhak secara langsung atau dengan perantara penasehat hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak saudara dalam hal yang tidak ada hubungan dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan pekerjaan atau kekeluargaan. 3. dan menerima surat dari penasehat hukumnya dan sanak saudara.Diantara asas tersebut salah satunya adalah asas praduga tak bersalah. tersangka atau terdakwa mempunyai hak-hak tertentu. Hal ini mengigat bahwa tidak semua orang yang tersangkut dalam perkara pidana mampu untuk memahami hal-hal yang terkait dalam perkara yang dihadapinya Dalam kaitannya dengan pemberian bantuan hukum. Tersangka atau terdakwa berhak diadili dalam persidangan yang terbuka unutuk umum.Tersangka atau terdakwa berhak mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memmiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan dirinya.Tersangka atau terdakwa berhak mengirim surat kepada penasehat hukumnya. sebagaimana dinyatakan bahwa asas ini adalah seseorang wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap.adapun hak-hak tersangka atau terdakwa adalah sebagai berikut: 1. Hak-hak tersangka atau terdakwa dalam kaitannya pemberian Bantuan Hukum diatur lebih lanjut dalam ketentuan Pasal 60 sampai dengan 68 KUHAP. Sebagai tindak lanjut dari asas ini adalah adanya ketentuan yang menyatakan bahwa semua pihak yang tersangkut perkara pidana boleh mendapatkan bantuan hukum dalam setiap tingkat pemeriksaan perkara. Tersangka atau terdakwa berhak menerima kunjungan dari rohaniawan. Ketentuan Pasal 60 KUHAP mengatur tentang seorang tersangka atau terdakwa berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan dan lainnya dengan tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan untuk usaha memperoleh bantuan hukum.. 2.

Hal ini diatur dalam ketentuan Pasal 56 ayat 1 KUHAP. 6. Tersangka atau terdakwa tidak dibebani pembuktian. bagaimana mungkin orang yang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja tidak mampu apalagi membayar jasa Advokat. maka KUHAP menyatakan tentang mereka yang tidak mampu membayar penasehat hukum untuk mendampinginya dalam hal mereka melakukan perbuatan pidana yang diancam dengan ancaman pidana 5 tahun atau lebih. Mengingat bahwa tidak setiap orang itu mampu secara ekonomi dalam kehidupannya.5. Tersangka atau terdakwa berhak mengajukan banding atau kasasi kecuali putusan bebas. Tersangka atau terdakwa berhak menuntut ganti rugi dan rehabilitasi atas kesalahan pemeriksaan pidana. Dalam penggunaan jasa Advokat juga tentunya membutuhkan biaya. 7. tetapi tidak semua pelaku tindak pidana mampu menyewa jasa Penasehat hukum sendiri. Berdasarkan dengan ketentuan tersebut tentunya setiap pelaku tindak pidana yang diancam dengan hukuman diatas lima tahun wajib di dampingi penasehat hukum. Apalagi jika tindak pidana yang dilakukan tersebut dapat diancam dengan hukuman penjara diatas lima tahun. Apabila pelaku tindak pidana tersebut tidak mampu membayar penasehat hukum tentunya pengadilan berkewajiban untuk menunjuk penasehat hukum guna mendampingi pelaku tindak pidana tersebut Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan tersebut di atas. Peran penasehat hukum tentunya sangat penting dalam melindungi dan membela hak – hak pelaku tindak pidana dalam proses persidangan di Pengadilan. Dalam Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana terdapat ketentuan mengenai kewajiban pendampingan penasehat hukum terhadap pelaku tindak pidana diancam hukuman diatas lima tahun. maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dan menyusunnya dalam bentuk skripsi sengan judul : “PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN xiii . karena sering kali suatu kejahatan dilakukan oleh orang yang tidak mampu dengan dalih mencukupi kebutuhan hidupnya.

Mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma dalam perkara pidana bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo.HUKUM SECARA CUMA-CUMA BAGI TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Sukoharjo)”. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma dalam perkara pidana bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo ? Hambatan-hambatan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma dalam perkara pidana bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan hal-hal yang hendak dicapai oleh penulis melalui penelitian yang berhubungan dengan perumusan masalah. Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut : Tujuan Obyektif Mengetahui pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma dalam perkara pidana bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo. Tujuan Subyektif Memberikan sedikit sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hukum khususnya Hukum Acara Pidana. perumusan masalah merupakan hal yang penting. agar dalam penelitian dapat lebih terarah dan terperinci sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. xiv . Perumusan Masalah Dalam suatu penelitian.

Manfaat penelitian dapat ditinjau dari dua segi yang saling berkaitan yaitu segi teoritis dan praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut : Manfaat Teoritis. Merupakan salah satu sarana bagi penulis untuk mengumpulkan data sebagai bahan penyusunan skripsi guna melengkapi persyaratan untuk mencapai gelar kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Metode Penelitian 1. Untuk mencocokkan bidang keilmuan yang selama ini diperoleh dalam teori-teori dengan kenyataan dalam praktek. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan di bidang hukum pada umumnya dan bidang pemberian bantuan hukum pada khususnya. Manfaat Penelitian Setiap penelitian harus dipahami dan diyakini bagi pemecahan masalah yang diselidikinya. Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan penulis dalam bidang Ilmu Hukum sebagai bekal untuk terjun ke dalam masyarakat nantinya.Memperoleh salah satu syarat guna memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Untuk lebih mendalami teori-teori yang telah penulis peroleh selama menjalani kuliah strata satu di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta serta memberikan sumbangan pemikiran yang dapat dijadikan data sekunder bagi pnelitian berikutnya. Jenis Penelitian xv . Manfaat Praktis Dapat memberikan suatu data dan informasi tentang sistem cara pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma bagi seorang terdakwa.

(Ammirudin dan Zainal Asikin. Analisis Data Setelah data-data terkumpul selanjutnya data tersebut dianalisa. Jenis dan Sumber Data Jenis sumber data yang digunakan adalah data primer. 4. 2. 3. Penelitian ini menggunakan metode analisa data kualitatif yaitu : xvi . 2004 : 118). Alat Pengumpulan Data a. 2. Sifat Penelitian Penelitian yang akan penulis lakukan ditinjau dari sifat penelitian merupakan penelitian deskriptif. 5. Pengacara yang mendampingi terdakwa yang tidak mampu. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama yang berupa surat kuasa dari tersangka atau terdakwa yang memberikan kuasa kepada penasehat hukum untuk mendampinginya. 3. Panitera yang memdampingi hakim dalam persidangan terhadap terdakwa yang tidak mampu. Hakim yang memeriksa dan memutus perkara pidana terhadap terdakwa yang tidak mampu.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris yaitu penelitian yang sumber datanya data primer. Dalam penelitian ini akan diberikan gambaran mengenai gejala hukum yang berlaku khususnya ketentuan hukum yang mengatur tentang pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara Cuma-cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun. Wawancara Merupakan alat pengumpul data dengan cara mengadakan interview dan tatap muka secara langsung dengan pihak responden yang sebelumnya telah ditentukan yaitu : 1. Studi dokumen Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan tehnik pengumpul data dengan jalan membaca dan mempelajari buku-buku kepustakaan. 2.

tujuan penelitian. BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini berisi hasil penelitian yang berupa paparan kasus berupa tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa yang kurang mampu serta adanya pembahasan mengenai bantuan hukum bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo dan hambatan yang ditemui dalam pemberian bantuan hukum bagi terdakwa yang tidak mampu di Pengadilan Negeri Sukoharjo BAB IV PENUTUP Pada bab terakhir ini merupakan Simpulan dari hasil penelitian dan saran.pihak-pihak yang dapat memberikan bantuan hukum. (Soerjono Soekanto. metode penelitian dan sistematika skripsi yang digunakan dalam penelitian. manfaat penelitian.sejarah perundang- undangan tentang bantuan hukum di Indonesia serta prosedur pemberian bantuan hukum secara Cuma-cuma. 1984 : 15) Sistematika Penulisan Hukum Sistematika penulisan ini akan diuraikan secara sistematis keseluruhan isi yang terkandung dalam skripsi ini.“Suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisa yaitu apa yang dikatakan oleh responden baik secara lisan atau tulisan dan juga perilaku secara nyata juga diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh”. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini berisi tentang kerangka teoritik dan kerangka pemikiran kerangka teoritik berisi Pengertian Bantuan Hukum. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan adanya latar belakang masalah. perumusan masalah. DAFTAR PUSTAKA xvii . BAB II. pembatasan masalah.

LAMPIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritik xviii .

Heri Tjandrasari dan Tien Handayani mengatakan bahwa : “Bantuan hukum (baik yang berbentuk pemberian nasehat hukum. sehingga ia tidak dapat membayar biaya (honorarium) kepada seorang pembeli atau pengacara”.1. Sedangkan “legal assistance” untuk menunjukkan pengertian bantuan hukum kepada mereka yang tidak mampu. Smith dan D. Bantuan Hukum pada hakekatnya segala upaya pemberian bantuan dan pelayanan hukum kepada masyarakat.J. Menurut Bambang Sunggono dan Aries Harianto : Bantuan hukum adalah suatu terjemahan dari istilah “Legal aid” dan “legal assistance” yang dalam prakteknya punya orientasi yang agak berbeda. Menurut Erni Widhayanti. ataupun pemberian bantuan hukum oleh para advokat dan atau pengacara yang mempergunakan honorarium. (Soerjono Soekanto. mengenai definisi-definisi pengertian bantuan hukum menurut para Ahli adalah sebagai berikut ini : Menurut K. Pengertian Bantuan Hukum Mengenai pengertian Bantuan Hukum di Indonesia terdapat beberapa para ahli hukum memberikan adapun definisi sesuai dengan pandangannya masing-masing. xix . 1987 : 9). Keenan yang dikutip oleh Soerjono Soekanto. maupun yang berupa menjadi kuasa dari pada seseorang yang berperkara) yang diberikan kepada orang yang tidak mampu ekonominya. 1988: 11). “Legal aid” biasanya lebih digunakan untuk menunjukkan pengertian bantuan hukum dalam arti sempit berupa pemberian jasa pada bidang hukum pada seseorang yang terlibat dalam suatu perkara secara Cuma-Cuma atau gratis khususnya bagi mereka yang tidak mampu (miskin). agar mereka memperoleh dan menikmati semua haknya yang diberikan oleh hukum dalam proses peradilan pidana (Erni Widhayanti. Heri Tjandrasari dan Tien Handayani.

Pengacara Pengacara memberikan pekerjaan jasa dan memberikan bantuan hukum secara terbatas bagi suatu perkara tertentu di muka pengadilan. orang atau badan tersebut harus memenuhi syarat -syarat tertentu serta keahlian terutama dalam bidang hukum . Pengacara dalam menjalankan tugasnya berdasarkan surat pengangkatan dari Pengadilan Tinggi setempat. Penasehat Hukum Penasehat Hukum menjalankan pekerjaan jasa hukum dan memberikan bantuan hukum berupa konsultasi hukum atau mendampingi klien dalam melakukan pembelaan hukum di muka pengadilan terbatas pada xx . 1987 : 4). Advokat Advokat menjalankan pekerjaan jasa hukum sebagai mata pencaharian pokok dan memberikan bantuan hukum dalam arti seluas-luasnya baik di muka pengadilan maupun di luar pengadilan. b. Bertindak sebagai pendamping dan membela seseorang yang dituduh atau didakwa melakukan kejahatan dalam perkara pidana”.Selanjutnya Nawawi memberikan batasan pengertian bantuan hukum sebagai berikut : “Bantuan hukum adalah bantuan memberikan jasa untuk : a. 2. c. (Nawawi. Memberikan nasehat hukum. Pihak – pihak yang dapat memberikan bantuan hukum Pada dasarnya tidak setiap orang dapat memberikan bantuan hukum. Advokat dalam menjalankan pekerjaannya tersebut berdasarkan surat pengangkatan dari Menteri Kehakiman. dan untuk dapat memberikan bantuan hukum dengan baik dan benar. Bambang Poernomo membagi organ bantuan hukum yang dapat memberikan bantuan hukum ke dalam 4 golongan yaitu : a. b.

b. Mereka yang karena sebab tertentu secara insidentil membela atau mewakili pihak-pihak yang berperkara. R. 3. Sejarah Perundang-undangan Tentang bantuan hukum Di Indonesia. c. yaitu mereka yang sebagai mata pencahariannya (beroep) menyediakan diri sebagai pembela atau kuasa/wakil dari pihak-pihak yang berperkara. 1988 : 42). susunan dan kekuasaan badan-badan peradilan di Hindia Belanda xxi . 23 jo Stb 1848 No. Perundang-undangan sebelum tahun 1945 1) Reglement op de rechtelijke Organisatie en het Belied der Justitie in Indonesia (R. akan tetapi tidak termasuk dalam golongan tersebut di atas.O ini mengatur Tentang dasar-dasar peradilan. Pengacara Praktek. Pokrol Pokrol menjalankan pekerjaan jasa atas dasar pengalaman dan membantu orang yang berperkara pidana atau perdata yang tidak terjangkau oleh Advokat. Pengacara dan Penasehat Hukum dengan tugas sesuai dengan surat kuasa yang diijinkan oleh Pengadilan negeri (Bambang Poernomo.O) Stb 1847 No. Mengenai Sejarah bantuan hukum di Indonesia bagi tersangka atau terdakwa di atur dalam: a. Pengacara yaitu mereka yang sebagai mata pencahariannya menyediakan diri sebagai pembela dalam perkara pidana atau kuasa/wakil dari pihak-pihak dalam perkara perdata dan yang telah mendapatkan surat pengangkatan dari Departemen Kehakiman. d.wilayah hukum tertentu dari Pengadilan Negeri yang berkuasa mengangkat atas nama Pengadilan Tinggi yang bersangkutan. Menurut Keputusan Mahkamah Agung Nomor 5/KMA/1972 tanggal 22 juni 1972 disebutkan bahwa pemberian bantuan hukum di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga golongan yaitu : a. 57.

(Indonesia). dan tidak boleh menghindari kecuali dengan alasan-alasan yang telah disetujui oleh pengadilan. Pasal 185 mengatur tentang suatu keharusan bahwa seorang advokat juga sekaligus seorang procureur. 8 tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). sedangkan advokat dan procureur yang diangkat pada Hooggerechtshof boleh menjalankan tugasnya pada Raad van Justitie di Jakarta (Batavia). Sebagian dari peraturan ini terutama yang menyangkut Tentang bantuan hukum sudah tidak berlaku lagi karena dihapuskan dengan adanya UU No.k Pasal 186 mengatur tentang pengangkatan dan pemberhentian seorang advokat dan procureur oleh Menteri Kehakiman. Sedangkan Pasal 192 mengatur tentang pengawasan terhadap advokat dan procureur oleh badan peradilan dimana mereka menjalankan tugasnya. Pasal 188 dan 189 mengatur Tentang advokat dan procureur yang diangkat pada Raad van Justitie hanya dapat menjalankan tugasnya di mana ia diangkat. Pasal 191 diatur Tentang adanya larangan bagi advokat dan procureur untuk memungut biaya yang melebihi tarif yang telah ditentukan. Pasal 190 mengatur tentang advokat dan procureur yang ditunjuk oleh badan peradilan di mana mereka diangkat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma atau separuh dari tarif biaya yang berlaku. Sebagian dari peraturan ini sampai sekarang masih berlaku di Indonesia berdasarkan Pasal II Aturan peralian UUD 1945. 2) Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) Stb 1941 No. 44 HIR merupakan peraturan hukum acara yang berlaku di Indonesia pada waktu Belanda. Khususnya Tentang bantuan hukum dalam peraturan ini diatur dalam Pasal 185-192. Ketentuan-ketentuan dari peraturan yang sudah tidak berlaku dan tidak di gunakan lagi diantaranya adalah sebagai berikut: xxii .

xxiii . sedangkan untuk daerah lain berlaku ketentuan Pasal 147 RBg. Pemberian bantuan hukum ini hanya merupakan suatu kebolehan saja yang sifatnya umum.a) Ketentuan yang menjadi landasan pelaksanaan bantuan hukum perkara perdata (Pasal 123 ayat 1 dan 2) yang hanya berlaku di Jawa dan Madura. sedangkan dalam Pasal 250 ayat 6 ditegaskan bahwa bantuan hukum diberikan secara cuma-cuma. Dalam Pasal 250 ayat 5 disebutkan bahwa apabila si tertuduh diperintahkan menghadap hakim karena suatu kejahatan yang dapat dijatuhkan pidana mati. e) Ketentuan Pasal 290 ayat (1) dan (2) tentang Requisitoer / Penuntut umum dan Pledoi dari terdakwa atau pembelanya. Penunjukan dilakukan dengan surat penetapan khusus oleh Ketua Pengadilan Negeri. apakah dia ingin didampingi oleh seorang Sarjana Hukum atau ahli hukum dalam persidangan nantinya (Pasal 83 ayat 6) c) Ketentuan tentang bantuan hukum di persidangan. dan si tertuduh. Namun penunjukan tersebut tidak akan dilakukan bila orangnya tidak ada. b) Ketentuan tentang kewajiban magistrate untuk menanyakan kepada tersangka yang diancam dengan pidana mati. d) Pasal 268 ayat (4) mengatur tentang hak untuk mengajukan pertanyaan pada saksi di persidangan setelah pemeriksaan terhadap para saksi selesai jika dipandang perlu untuk kepentingan terdakwa. khususnya perkara pidana yang terdakwanya diancam dengan pidana mati. baik dalam pemeriksaan oleh jaksa yang ditetapkan dalam ayat 6 Pasal 83 h baik kemudian hari menyatakan kehendaknya supaya pada waktu dipersidangkan dibantu oleh seorang sarjana hukum atau ahli hukum lainnya yang menyatakan bersedia melakukan itu.

1 tahun 1950 dan Undang-undang No. 13 tahun 1965 disebutkan bahwa pengawasan tertinggi atas notaris dan penasehat hukum dilakukan oleh Mahkamah Agung.hak ini bari di peroleh setelah perkara terdakwa di serahkan ke pengadilan . 1 tahun 1950 ditegaskan bahwa pengawasan tertinggi atas para Notaris dan para Pengacara dilakukan oleh Mahkamah Agung. 13 tahun 1965 Dalam Pasal 133 UU No. Dalam Pasal 54 UU No. Hal ini dapat diketahui dalam Pasal 254 HIR dimana seorang terdakwa baru boleh dihubungi oleh pembelanya setelah perkara diserahkan di pengadilan dan waktu untuk bertemu dengan pembelanya ditentukan oleh Ketua Pengadilan. g) Pasal 254 mengatur tentang hak-hak setiap orang yang di dakwa melakukan peristiwa pidana. sehingga kurang memuaskan dalam prakteknya terutama dalam hubungannya dengan jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia dalam proses peradilan. 13 tahun 1965 Tentang Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Mahkamah Agung. 2) Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 Ketentuan-ketentuan yang mengatur Tentang bantuan hukum yang terdapat dalam HIR masih sangat terbatas. Perundang-undangan setelah tahun 1945 1) Undang-undang No. untuk memperoleh bantuan hukum yang tidak hanya terbatas pada perkara pidana yang di ancam dengan pidana mati .f) Ketentuan Pasal 379 tentang besarnya biaya yang diberikan di dalam bantuan hukum. Undang-undang ini dinyatakan tidak berlaku lagi dengan diundangkannya UU No. berkaitan dengan hukuman untuk membayar biaya perkara baik pidana maupun perdata. xxiv .sedangkan waktu bagi terdakwa untuk berhubungan dengan pembela di tetapkan oleh ketua pengadilan. b.

6 tahun 1969 yang akhirnya digantikan dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 1970. Lembaran Negara 1970 No. 14 tahun 1964 Lembaran Negara Nomor 107 tanggal 31 Oktober 1964 Tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Adapun bunyi ketentuan Pasal-Pasal tersebut adalah sebagai berikut : Pasal 35 Setiap orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum .Usaha untuk memperbaiki dan menyempurnakan peraturan perundangundangan hukum acara (HIR) adalah dengan dikeluarkannya UU No. tambahan Lembaran Negara Nomor 2951. Namun Undang-undang inipun dinyatakan tidak berlaku dengan dikeluarkannya UU No. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya xxv . 3) Konferensi Cibogo Adanya krisis keadaan Tentang hak asasi bagi tersangka dan/atau terdakwa yang berlarut-larut sudah lama dirasakan oleh bangsa Indonesia. 74 tanggal 17 Desember 1970. Pasal 37 Dalam memberi bantuan hukum tersebut dalam Pasal 35 dan 36 di atas. Penasehat hukum membantu melancarkan penyelesaian perkara dengan menjunjung tinggi Pancasila. Dalam undang-undang ini untuk pertama kalinya eksistensinya bantuan hukum diakui secara yuridis yang diatur dalam bab VII yang mencakup Pasal 35 sampai dengan Pasal 38. Tentang Ketentuanketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Pasal 36 Dalam perkara pidana seorang tersangka terutama sejak saat dilakukan penangkapan dan / atau penahanan berhak menghubungi dan meminta bantuan Penasehat Hukum. hukum dan keadilan.

Jaksa Agung. Menyadari adanya keadaan yang krisis hukum dan hak asasi bagi tersangka dan/atau terdakwa tersebut yang makin jelas. Untuk lebih menekankan unsur manusia sebagai penegak hukum dan subyek hukum di negara kita. Dalam konferensi ini berhasil diambil beberapa kesepakatan yaitu bahwa seorang tersangka seyogyanya berhak menghubungi dan didampingi oleh pengacara dalam pemeriksaan sementara sejak penangkapan sampai penahanan. Akan tetapi hal ini tidaklah dapat terlaksana karena hanya merupakan consensus saja yang tidak mempunyai wewenang untuk memaksa para penegak hukum mentaatinya secara bersama-sama. Menteri untuk Kehakiman. Sebagai tindak lanjut dari consensus tersebut. kebenaran dan keadilan. dan KAPOLRI. tetapi terbatas pada “dalam jarak pendengaran dan penglihatan”. WAPANGAB. maka diserahkan pada masing-masing instansi yang terlibat dalam pertemuan tersebut. Kepala Kepolisian ABRI dan Oditur Jenderal ABRI. maka para pejabat tinggi hukum mengadakan konferensi pada tahun 1971. PANGKOPKAMTIB. KASKOMKAMTIV.tunggakan perkara dan adanya penahanan yang terlalu lama. Menteri Kehakiman. maka para pejabat xxvi . Namun keadaan ini segera ditanggulangi dengan adanya Surat Perintah Presiden RI tanggal 15 Agustus 1967 No. R-07/Pres/8/1967. Jaksa Agung. 4) Pernyataan Bersama Ketua Mahkamah Agung. Konferensi ini dilakukan untuk mengambil beberapa kebijakan dalam rangka menegakkan hukum. 1972 dan 1973 yang dikenal dengan nama Konferensi Cibogo. Tentang hak untuk mendapatkan bantuan hukum penasehat hukum seharusnya berarti bahwa berhak hadir secara fisik dan membantu tersangka. Konferensi ini dihadiri oleh Ketua Mahkamah Agung.

03/KOPKAM.1978.tinggi penegak hukum mengeluarkan pernyataan bersama Tentang masalah pemeriksaan pendahuluan dan pelaksanaan pemberian bantuan hukum. b) Yang bertindak sebagai penasehat hukum /pembela bagi tersangka adalah pengacara/penasehat hukum dan orang-orang tertentu yang diperbolehkan menurut peraturan perundangundangan dan mendapat surat kuasa dari tersangka. tersangka terutama sejak dilakukan penangkapan dan atau penahanan dapat memperoleh bantuan hukum dan mengadakan hubungan dengan keluarga atau penasehat hukum . Ins.XI. Adapun hasil dari pernyataan tersebut adalah sebagai berikut: a) Pada tingkat pemeriksaan pendahuluan. xxvii . INS. 03/KOPKAM/XI/1978 Tentang Pedoman Sementara untuk melaksanakan bersama sebagai pokok-pokok petunjuk berkenaan dengan bantuan hukum . maka PANGKOPKAMTIB mengeluarkan Instruksi No. seorang tersangka sejak saat dilakukan penangkapan dan atau penahanan dapat memperoleh bantuan hukum dan mengadakan hubungan dengan keluarga atau penasehat hukum . b) Bagi tertuduh yang ditahan harus diperlakukan sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Dalam Instruksi tersebut disebutkan bahwa : a) Pada tingkat pemeriksaan pendahuluan. Sebagai tindak lanjut dari pernyataan bersama pada tanggal 10 Nopember 1978. yang dilaksanakan pada tanggal 10 Nopember 1978. 5) Instruksi PANGKOPKAMTIB tanggal 27 Nopember 1978 No. c) Hubungan antara tersangka yang ditahan dengan penasehat hukumnya boleh dilakukan sebelum dan sesudah pemeriksaan oleh Kepolisian/Kejaksaan.

kecuali apabila oleh pejabat yang berwenang ditentukan lain karena telah terjadi pelanggaran berupa penyalahgunaan hubungan atau karena kepentingan pemeriksaan yang tidak memungkinkan. penguruan kepentingan tersangka di luar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka. dilarang mengadakan pembicaraan yang ada hubungannya atau yang dapat berakibat: i. xxviii . masalah kekeluargaan dan lain-lain yang tidak akan mempersulit penyidikan. h) Dalam setiap hubungan tersebut. Penghapusan atau pengaburan kebenaran materiil. Dalam hubungan tersebut dapat pula dibicarakan pengalaman dan tersangka cara-cara Tentang cara penangkapan/penahanan pendahuluan. e) Hal-hal yang dibicarakan sebelum pemeriksaan dimulai. pemeriksaan f) Demi kepentingan pemeriksaan petugas yang bersangkutan berwenang untuk mendampingi tersangka selama waktu hubungan dilakukan.c) Hubungan antara keluarga dan/ atau penasehat hukumnya dengan tersangka dapat dilakukan sejak hari pertama dan kedua segera setelah mereka mengetahui adanya penangkapan/ penahanan terhadap tersangka. g) Hubungan antara keluarga dan/atau penasehat hukum dengan tersangka dilakukan setidak-tidaknya setiap 3 (tiga) hari sekali atas izin pejabat yang berwenang. kepada pokoknya adalah mengenai legalitas penangkapan/penahanan. d) Hubungan antara yang ditahan dengan penasehat hukum diperbolehkan sebelum dan sesudah dilakukan pemeriksaan oleh petugas Kepolisian/Kejaksaan/Koordituran. sedangkan selama dalam pemeriksaan tidak diperkenankan untuk didampingi secara fisik oleh penasehat hukum.

m) Apabila tersangka selama pemeriksaan dipandang bersikap tidak wajar. iii. k) Yang berhak menentukan bahwa telah terjadi penyalahgunaan hubungan seperti tersebut dalam huruf (i) adalah atasan petugas pemeriksa yang setidak-tidaknya berpangkat golongan III atau perwira atau K/DAN dari instansi yang bersangkutan. hendaklah hal itu diperingatkan. dengan diawasi dalam arti pejabat pemeriksa/petugas berwenang memeriksa isi surat tersebut diterimakan atau dikirimkan. l) Dalam rangka pemeriksaan. i) Hubungan tersangka dengan penasehat hukum dan/ keluarganya sepanjang menyangkut materi perkara tersebut. n) Penasehat hukum / pengacara berhak untuk mengirim dan menerima surat kepada / dari tersangka/terdakwa setiap kali dikehendaki olehnya. Hilang atau larinya para peserta (deelnemer) yang belum tertangkap atau ditahan. Penghapusan atau pengaburan barang-barang bukti yang seharusnya dapat membuat terangnya perkara. j) Penyalahgunaan hubungan tersebut dapat berakibat pengetatan pembatasan atau larangan hubungan dalam waktu tertentu.ii. xxix . Bila tersangka bersikap tidak wajar meskipun telah diperingatkan. seorang tersangka dilarang diperlakukan sewenang-wenang baik dengan paksaan fisik maupun dengan kekerasan. pada dasarnya adalah untuk menunjukkan kebenaran dan keadilan yang dalam hal ini ditinjau dari tersangka dapat berupa persiapan diri guna pembelaannya. hal itu harus dilaporkan kepada atasan pemeriksa yang bersangkutan untuk mendapatkan petunjuk/pengarahan.

o) Ketentuan-ketentuan tersebut di atas dapat diperlakukan terhadap tahanan KOPKAMTIB/OPSTIB. 6) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman.09. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. karena merupakan hak asasi manusia yang harus di hormati dan di lindungi.08.M. yang akan diteruskan ke pengadilan/Mahkamah sebagai perkara pidana. Pasal 40 Ketentuan sebagaimana di maksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38 diatur dalam undang-undang.hak untuk memperoleh bantuan hukum sesuai dengan Undang-Undang No . 4 Tahun 2004 terutama Bab VII tentang Bantuan Hukum yaitu terdapat di dalam Pasal 37 Setiap orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum. Pasal 38 Dalam perkara pidana seorang tersangka sejak saat dilakukan penangkapan dan/atau meminta bantuan advokad Pasal 39 Dalam memberi bantuan hukum sebagai mana dimaksud dalam Pasal 37 . Salah satu hak setiap orang yang tersangkut perkara untuk memperolah bantuan hukum . advokad wajib membantu penyelesaian perkara dengan menjunjung tinggi hukum dan pengadilan . Sebagai dasar dikeluarkannya surat keputusan ini adalah : xxx . Prosedur Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma. Tahun 1980 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Hukum. 4. penahanan berhak menghubungi dan 02.UM.

Ketentuan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma sesuai dengan Pasal 1 ayat (2). maka Pengadilan berkewajiban memberitahukan kepada tertuduh Tentang hak untuk didampingi oleh Pemberi Bantuan Hukum menurut keputusan ini. Dari Pasal di atas dapatlah diketahui bahwa bantuan hukum yang dimaksud hanya dapat diberikan dalam hal perkara pidana saja serta hanya dalam perkara tertentu saja. perlu adanya pemerataan bantuan hukum khusus bagi mereka yang tidak atau kurang mampu b. Dalam rangka pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. B . sehingga timbul kesan bahwa untuk tindak pidana yang lain tidak akan mendapatkan bantuan hukum . Penyelenggaraan pemerataan bantuan hukum melalui Badan Peradilan Umum dilaksanakan berdasarkan peraturan yang berlaku dan untuk itu diperlakukan petunjuk pelaksanaan dari Menteri Kehakiman. Kerangka Pemikiran xxxi . seumur hidup atau pidana mati. Yang diancam dengan pidana lima tahun penjara atau lebih. apabila ia tidak mampu membiayai seorang pembela. b.a. Pasal II ayat 1 Apabila pengadilan berpendapat bahwa perkara yang diajukan itu termasuk perkara seperti dimaksud pada Pasal 1 ayat (2). Yang diancam dengan pidana kurang dari lima tahun tetapi perkara tersebut menarik perhatian masyarkat luas. selengkapnya bunyi perumusan Pasal 1 ayat (2) adalah sebagai berikut :Bantuan hukum diberikan kepada tertuduh yang tidak atau kurang mampu dalam perkara pidana : a.

Kelalaian Tentang hal ini berakibat pemeriksaan dianggap tidak sah. dan berakibat putusan hakim yang dijatuhkan batal demi hukum. xxxii . Khususnya terhadap tersangka/terdakwa yang melakukan tindak pidana dengan ancaman penjara 5 tahun / lebih yang tidak mampu membiayai penasehat hukum. maka penegak hukum dalam semua tingkat pemeriksaan wajib menunjuk penasehat hukum bagi kepentingan tersangka/terdakwa.Bagan Kerangka Pemikiran. Penyelesaian Tindak Pidana Penyelidikan/Penyidikan Penuntutan Pemeriksaan didepan persidangan Hak-hak Tersangka/Terdakwa Hak Mendapat Bantuan Hukum Hak mencari penasihat untuk sendiri Bantuan Hukum Secara cuma-cuma Penjelasan : Perubahan utama KUHAP apabila diperbandingkan dengan HIR adalah penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia yang terlibat dalam perkara pidana. Di antara hak-hak tersangka/terdakwa adalah hak tersangka /terdakwa untuk mendapatkan bantuan hukum oleh seorang atau lebih penasehat hukum dalam semua tingkat pemeriksaan perkara.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma Bagi Terdakwa Yang Tidak Mampu ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Sukoharjo) Berdasarkan penelitian tentang pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi xxxiii .

H.terdakwa yang tidak mampu dapat dikemukakan sebagai berikut ini: Data mengenai pelaksanaan pemberian bantuan hukum Secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan suatu tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 5 (lima ) tahun atau lebih. Dakwaan Penuntut Umum : SD (tamat) xxxiv . 1. Identitas Terdakwa Nama lengkap Tempat lahir Umur/tanggal lahir Jenis kelamin Kewarganegaraan Tempat tinggal di Kediri : SARONI bin SAMAN : Kediri : 17 tahun/23 Februari 1981 : Laki-laki : Indonesia : Kampung Balekambang Rt 2 Rw II Tanjung. Sritex Sukoharjo Pendidikan 2.KecamatanPagu Kediri Kabupaten Tempat tinggal Sukoharjo : Kanting V PT Sritex Sukoharjo Jl.Samanhudi Kecamatan Sukoharjo Kelurahan dan Jetis Kabupaten Agama Pekerjaan : Islam : Karyawan Kantin V PT.

Anjari menyuruh terdakwa untuk melakukan pembunuhan terhadap dokter SETIYONO. tanggal 10 Juli 1998. Mengenai waktu yang tepat untuk melakukan pembunuhan terhadap dokter SETIYONO. Kabupaten Sukoharjo atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Sukoharjo. DSA Pembicaraan rencana pembunuhan terhadap dokter Setiyono antara terdakwa SARONI bin SAMAN dengan saksi Imam Wahyudi bin Istamar disepakati akan dilaksanakan pada malam hari jam 24. Rencana itu didengar dan disetujui oleh saksi Ali Kosim bin Sani.00 wib Jum’at. Kecamatan Sukoharjo.Terhadap Saroni bin SAMAN dakwaan yang di susun oleh Penuntut Umum selengkapnya adalah sebagai berikut ini: PRIMAIR : Bahwa terdakwa SARONI bin SAMAN secara bersama-sama dan bersekutu atau bertindak sendiri-sendiri dengan saksi ALI KOSIM bin SANI dan saksi IMAM WAHYUDI bin ISTAMAR (yang disidangkan terpisah) pada hari Sabtu. Masalah biaya hidup dan pekerjaan akan ditanggung Ny. apabila dapat membunuh dokter SETIYONO. Pada malam harinya sekitar jam 20.00 wib terdakwa xxxv .15 Wib. Kalurahan Jetis. Sumarni. Kampung Purworejo. Ny. perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut : Pada hari Selasa. Ny. Pediyanto Setyo Wibowo dan Aprilia Setyo Windarti. malam hari (antara matahari terbenam dan matahari terbit) atau setidaktidaknya pada suatu waktu dalam bulan Juli 1998 bertempat di rumah dokter SETIYONO jalan Pemuda Nomor 35 Rt 3 Rw VIII. tanggal 11 Juli 1998 sekitar jam 00. tanggal 7 Juli 1998 sekitar jam 20.00 Wib bertempat di rumah kontrakan baru di jalan Kayor Sunaryo Nomor 36 Sukoharjo. dengan sengaja dan dengan direncanakan terlebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain yaitu dokter SETIYONO dsa. Anjari. DSA) dan juga akan dicarikan kos-kosan di Solo. DSA dengan memberi janji. DSA terdakwa akan dikawinkan dengan Endang (pembantu dokter SETIYONO.

Sesuai dengan kesepakatan mereka. Di ruang keluarga terdakwa berjalan ke utara menuju ruang makan untuk mencari jalan keluar terdakwa melihat kotak obat yang ditaruh di atas keset di depan pintu kamar tidur pembantu masih ada. Terdakwa kembali masuk ke ruang keluarga rumah dokter Setiyono di sana masih ada saksi Ali Kosim bin Sani dan saksi Imam Wahyudi bin Istamar. Beberapa saat kemudian saksi Sunarti alias Endang bangun dan memindahkan kotak obat tersebut kembali ke atas lemari makan. namun tidak ketemu lalu terdakwa pulang. pada jam 17. Pedang milik saksi Imam Wahyudi bin Istamar di serahkan kepada terdakwa dan terdakwa menutup pintu ruang makan. Sritex naik becak dan turun di depan SMP I Sukoharjo langsung menuju rumah kontrakan lama Ny.45 wib hari Jum’at tanggal 10 Juli 1998 saksi Ali Kosim bin Sani datang dari kantin PT. cincin akik serta sandal merk Ardiles warna merah. Saksi Ali Kosim bin Sani datang membawa sebilah bendo (pencacah daging) yang diselipkan dalam celananya untuk digunakan membunuh dokter Setiyono. Setelah melakukan pembunuhan. Pada saat saksi Sunaarti alias Endang hendak membuka pintu kamarnya ia melihat terdakwa berdiri di kamar makan terdakwa melambaikan tangan kanannya menyuruh supaya saksi Sunarti alias Endang masuk kamar. Saat itu pintu kamar praktek dokter Setiyono sudah tutup. terdakwa bersama saksi Imam Wahyudi bin Istamar dan saksi Ali Kosim bin Sani bergegas turun lewat tangga semula menuju ruang keluarga di lantai dasar rumah tersebut. Sebelum meninggalkan ruang keluarga terdakwa mengambil sandalnya xxxvi . terdakwa dengan memakai kaos oblong warna abu-abu ada tulisan Megadeg.datang naik sepeda ontel ke rumah dokter Setiyono untuk mencari pacarnya yang bernama Sunarti alias Endang. 33 B Kalurahan Jetis. Sritex Sukoharjo. Selanjutnya pada jam 23.15 wib terdakwa SARONI bin SAMAN datang naik becak dari Kantin PT. maka malam itu Jum’at tanggal 10 Juli 1998 sekitar jam 23. Anjari di jalan Pemuda No. Sukoharjo di samping kiri rumah dokter Setiyono. Ketika itu saksi sempat melihat ada bayangan orang di ruang keluarga setelah saksi Sunarti alias Endang masuk.30 wib sore harinya. DSA. celana blue jean panjang.

Umur : 50 tahun.5 cm j. Kecamatan Sukoharjo. Dahi sebelah kanan kulit terkelupas dari tulang ukuran 8 kali 8 cm sampai mengenai tulang pelipis d. Terdapat luka iris pada puncak kepala ukuran 6 kali 0. Bawah hidung terdapat luka bacok ukuran 17 kali 3 kali 2 cm f.4 cm i. Kalurahan. Alamat : Kampung Purworejo Rt 3/VIII. Tangan kanan terdapat luka bacok antara jari empat dan lima yang menembus sampai telapak tangan sehingga jari kelima terpisah dari jari keempat xxxvii . Gigi terlihat dari lubang empat gigi g. Dari lubang hidung kanan keluar darah.3 kali 0.merk Ardiles warna merah yang ditaruhnya di dekat tangga. Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 34/MF/VII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat oleh dokter Pudjo Pramono dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kulit kepala lepas pada batok dengan ukuran 17 kali 3 kali 1 cm sampai mengenai otak. Di atas siku dalam terdapat luka iris ukuran 8 kali 0. Saksi Ali Kosim bin dan saksi Imam Wahyudi bin Istamar sudah keluar duluan lewat ruang tunggu dokter Setiyono. Lengan atas terdapat luka iris ukuran 1. dalam pemeriksaan luar : Kepala : a.2 cm h. Jetis. b. Kelopak mata bagian luar kehitaman. DSA jenis kelamin : laki-laki.4 cm sampai tulang tengkorak c. . Laboratorium Kedokteran Forensik atas nama korban : Dokter Setiyono. sehingga rahang atas terputus. Kabupaten Sukoharjo. Pipi kanan terdapat luka iris ukuran dalamnya 0. cornea jenis sclera ada bercak darah e. Agama Islam. bangsa : Indonesia. DSA.

Punggung kanan luka bacok bentuk elips ukuran 6 kali 1 cm terdapat luka iris 18 kali 0.5 cm terdapat luka iris ukuran 9 kali 0.4 cm m. Lengan kiri terdapat luka bacok ukuran 3 kali 0. alamat : Kampung Purworejo Rt 3 Rw VIII. kelurahan Jetis.1 cm dari tengkuk Kesimpulan : Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak. agama Islam. Kecamatan Sukoharjo. Kabupaten Sukoharjo Dalam pemeriksaan luar : Kepala : a.5 cm r. Terdapat luka bacok ukuran 13 kali 2 kali 0.5 cm dan luka iris ukuran 18 kali 0. Bagian tertutup rambut terdapat luka bacok menembus tulang sampai otak xxxviii . Terdapat patah tulang pada pergelangan tangan kiri p. umur 48 tahun. jenis kelamin : perempuan. Terdapat luka sabit ukuran 9 kali 0.1 cm l.k. Laboratorium Kedokteran Forensik atas nama korban : Sunarni. akibat kekerasan tajam pada kepala Akibat perbuatan terdakwa : Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 35/MF/VIII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat oleh dokter Pudjo Pramono dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tangan kiri terdapat luka robek tak beraturan ukuran 2 kali 2. Luka bacok 5 kali 4 kali 2 cm di atas pergelangan tangan bagian dalam o.5 cm disertai retak tulang q. Punggung kiri terdapat luka bacok bentuk elips ukuran 9 kali 2.8 cm pada pergelangan tangan n.

Bangsa Indonesia.b. tak hilang pada penekanan. Punggung tangan sampai telapak tangan terdapat luka bacok menembus tulang ukuran 14 cm Kesimpulan : Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak akibat kekerasan tajam pada kepala. lipat paha. Terdapat luka bacok ukuran 21 cm. Lengan bawah kiri terdapat luka bacok mengenai tulang dan patah ukuran 12 x 1 cm lokasi di bawah siku f. posisi tangan kanan menggenggam. sendi bahu. 1 cm dari telinga kiri sampai 3 cm di bawah sudut bibir kanan e. umur 18 tahun. Kaku jenazah : pada leher. Dahi terdapat luka bacok menembus tulang sampai otak. peti dibuka jenazah terletak di atas meja porselin putih. Akibat perbuatan terdakwa : Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 32/MF/VII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat dokter Pudjo Pramono dokter bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta atas nama korban Pediyanto Setyo Wibowo. b. posisi tangan kiri tergenggam c. Terdapat luka bacok pada 6 cm di atas telinga kanan panjang 12 cm menembus tulang sampai ke otak c. jenis kelamin laki-laki. muka menghadap ke atas. Sikap jenazah : terlentang. kaki lutut sukar digerakkan d. Keadaan jenazah : di dalam peti berkain putih. Agama Islam. siku. ukuran jenazah panjang seratus lima puluh derajat xxxix . Bervak jenazah : pada leher. Kecamatan Sukoharjo. Alamat Kampung Purworejo Rt 3 Rw VIII Kalurahan Jetis. pantat. punggung. panjang 16 cm lokasi 4 cm di atas sudut luar mata kanan sampai dahi kiri d. Kabupaten Sukoharjo Dalam pemeriksaan luar : a.

lima centimeter dari garis tengah d. Dahi kanan sampai dagu sebelah kanan terdapat luka bacok ukuran dua puluh kali satu setengah kali setengah centimeter. Hidung terdapat luka bacok sampai tulang rahang atas g. delapan centimeter dari batas rambut. sukar dicabut Bagian tertutup rambut terdapat luka bacok b. Sekitar mata kulit dinilai karena luka bacok tersebut. gigi kelihatan tiga. lebar tiga centimeter. Cornea jernih. panjang setengah centimeter. sclera tampak bercak perfarahan pupil lima milimeter. mata kiri menutup. dari lobang mulut tak keluar cairan h. Pipi kanan luka bacok ukuran dua puluh centimeter memanjang dari pelipis kanan sampai garis tengah. c. Mata kanan membuka setengah centimeter. lokasi enambelas centimeter dari puncak kepala. Rambut hitam. pada leher empat centimeter dari telinga kanan. dalamnya satu centimeter Leher : xl . lokasi sepuluh centimeter dari telinga kanan. f. satu centimeter di bawah luka tersebut terdapat luka bacok ukuran sebelas kali satu kali satu centimeter. kelopak bagian luar dan dalam robek hingga bola mata terlihat e. Mulut terbuka setengah centimeter. Dagu terdapat luka bacok ukuran empat kali tujuh centimeter sampai sebagian jaringan dagu hilang i.Kepala : a.

a. Pada perut kiri kanan bawah tak ada pembusukan. panjang tiga centimeter. muka menghadap ke kiri. Keadaan jenazah : di dalam peti berkain putih. b. pada perabaan kenyal. sudah disunat. tak ada luka. pada ketukan redup. lokasi sepuluh centimeter dari bahu Bagian tubuh yang lain : Tidak ada kelainan Kesimpulan : Korban meninggal dunia karena rusaknya jaringan otak akibat kekerasan tajam pada kepala Akibat perbuatan terdakwa : Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 33/MF/VII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat dokter Pudjo Pramono dokter bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta atas nama korban Aprillia Setyo Windarti.Terdapat luka iris panjang sembilan centimeter lokasi sepuluh centimeter dari telinga kiri dan sepuluh centimeter dari telinga kanan Dada : Terdapat luka tusuk dua cantimeter pada dada kanan. Sikap jenazah : terlentang. Alat kelamin : Jenis kelamin laki-laki. Lobang kelamin tidak keluar cairan. lengan kanan disamping tubuh. Pada kantong pelir ada dua pelir Anggota atas kanan : Lengan atas terdapat luka tusuk sepanjang dua centimeter. rambut hitam. lengan kiri disamping tubuh. memar. peti dibuka jenazah terletak di atas meja porselin putih. xli . sebelas centimeter dari bahu kanan Perut : Setinggi dada. Sukar dicabut.

Pipi kanan terdapat luka bacok terbuka lanjutan dari kepala ukuran panjang enam centimeter h. Bagian tertutup rambut sebelah kanan terdapat luka bacok. sekitar matabaik. c. sendi lutut dan kaki sukar digerakkan d. Mata kanan membuka setengah centimeter. sendi siku. Rambut hitam. Bibir tak ada luka. Dahi tidak ada kelainan d. sclera putih. panjang lima belas centimeter. memar. sekitar mata baik. sukar dicabut b. cairan. rambut mata ukuran setengah centimeter. Pembusukan jenazah : tidak ada f. rambut mata ukuran setengah centimeter. Telinga kanan dan kiri tidak ada kelainan Kesimpulan : Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak yang disebabkan retaknya tulang kepala akibat kekerasan tajam. Ukuran jenazah panjang seratus empat puluh empat centimeter Kepala : a. Mata kiri menutup. f. Lubang hidung keluar xlii . cornea jernih. dari lobang mulut keluar cairan. Hidung tak ada luka. gigi kelihatan tiga buah. Mulut terbuka satu centimeter. Lidah tak ada kelainan g. cornea jernih sclera putih. Bola mata utuh teraba kenyal e.c. pupil nol koma empat milimeter. Bervak jenazah : terdapat pada punggung hilang pada penekanan e. Kaku jenazah : pada rahang. Perbuatan terdakwa SARONI bin SAMAN diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP SUBSIDAIR : memar retak tulang.

dengan sengaja menhilangkan nyawa orang lain yaitu dokter Setiono .35 B Kampung Purworejo .Saksi Ali Kosim BIN Sani datang membawa sebilah bendo (pencacah daging )yang di selipkan dalam celananya untuk di gunakan membunuh dokter Setiyono Setelah malakukan pembunuhan .3/Rw VIII .15 Wib malam hari (antara matahari terbenam dan matahari terbit atau setidak-tidaknya pada suatu waktu pada bulan juli 1998 . Anjani di Jalan Pemuda No.tanggal 10 Juli 1998 sekitr jam .bertempat di rumah doktersetiono jalan pemuda nomor 36 Rt.celana Blue Jeans selanjutnya pada jam .Wib terdakwa SARONI BIN SAMAN dating naik becak dari kantin V PT.Kecamatan Sukoharjo.DSA .23.3/RwVIII.Sritek naik becak turun di SMP 1 Sukoharjo .DSA.00.23.tanggal 11 Juli 1998 sekitar jam .Kecamatan Sukoharjo.Kabupaten Sukoharjo.Sunarni.Bahwa ia terdakwa SARONI bin SAMAN secara bersama-sama dan bersekutu atau bertindak sendiri-sendiri dengan saksi ALI KOSIM bin SANI DAN SAKSI Iman Wahyudi bin Istamar ( yang di sidang terpisah )pada hari sabtu.langsung menuju rumah kontrakan lama Ny Anjani di jalan Pemuda No 33 B.45 .perbuatan tersebut dilakukan sebagai berikut : Bahwa pada hari Jumat .Kelurahan Jetis Sukoharjo disamping kiri rumah dokter Setiyono . Kabupaten Sukoharjo atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yag masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Sukoharjo . Di ruang keluarga terdakwa berjalan ke utara menuju ruang makan Berdasar Visum et repertum Nomor 34/MF/VII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang di buat oleh dokter Pudj Pramono dari Fakultas Kedokteran xliii .Pendiyanti Setyo Wibowo dan Aprilla Setyo Windarti. terdakwa pada saat itu memakai kaos oblong Warna abu-abu .Kelurahan Jetis . Sritek Sukoharjo kerumah kontrakan lama Ny. terdakwa bersama saksi Imam Wahyudi bin Istamar dan saksi Ali Kosim bin Sani bergegas turun lewat tangga semula menuju ruang keluarga dilantai dasar rumah tersebut.Ny.Kampung PurworejoKelurahan Jetis .Rt.at saksi Ali Kosim bin Sani datang dari kantin PT.15.Wib hari Jum.

Luka bacok 5 kali 4 kali 2 cm di atas pergelangan tangan bagian dalam o.4 cm i.5 cm j. Terdapat luka bacok ukuran 13 kali 2 kali 0. lokasi 9 cm dari telinga kanan. cornea jenis sclera ada bercak darah e. Terdapat luka sabit ukuran 9 kali 0. Kulit kepala lepas pada batok dengan ukuran 17 kali 3 kali 1 cm sampai mengenai otak. Tangan kiri terdapat luka robek tak beraturan ukuran 2 kali 2. Bawah hidung terdapat luka bacok ukuran 17 kali 3 kali 2 cm f.8 cm pada pergelangan tangan n. Terdapat luka bacok sampai mengenai otak b.Hasil Pemeriksaan adalah sebagai berikut : a.1 cm l.2 cm h. Dari lubang hidung kanan keluar darah.4 cm m. Lengan atas terdapat luka iris ukuran 1. Terdapat luka iris pada puncak kepala ukuran 6 kali 0.5 cm disertai retak tulang xliv .Universitas Sebelas Maret Surakarta . Sehingga rahang atas terputus. Pipi kanan terdapat luka iris ukuran dalamnya 0. Kelopak mata bagian luar kehitaman. Di atas siku dalam terdapat luka iris ukuran 8 kali 0. Dahi sebelah kanan kulit terkelupas dari tulang ukuran 8 kali 8 cm sampai mengenai tulang pelipis d. 13 cm dari batas rambut. Lengan kiri terdapat luka bacok ukuran 3 kali 0. Gigi terlihat dari lubang empat gigi g. Tangan kanan terdapat luka bacok antara jari empat dan lima yang menembus sampai telapak tangan sehingga jari kelima terpisah dari jari keempat k.3 kali 0.4 cm sampai tulang tengkorak c. Terdapat patah tulang pada pergelangan tangan kiri p.

1 cm dari telinga kiri sampai 3 cm di bawah sudut bibir kanan e. Dahi terdapat luka bacok menembus tulang sampai otak. agama Islam. kelurahan Jetis. Punggung kiri terdapat luka bacok bentuk elips ukuran 9 kali 2. akibat kekerasan tajam pada kepala Akibat perbuatan terdakwa : Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 35/MF/VIII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat oleh dokter Pudjo Pramono dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.1 cm dari tengkuk Kesimpulan : Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak. 4 cm di atas sudut luar mata kanan melewati dahi sampai belakang kepala b. umur 48 tahun. panjang 36 cm. Bagian atas telinga kiri terpotong xlv . panjang 16 cm lokasi 4 cm di atas sudut luar mata kanan sampai dahi kiri d.5 cm terdapat luka iris ukuran 9 kali 0. Punggung kanan luka bacok bentuk elips ukuran 6 kali 1 cm terdapat luka iris 18 kali 0.5 cm r. alamat : Kampung Purworejo Rt 3 Rw VIII. Kabupaten Sukoharjo Dalam pemeriksaan luar : a. jenis kelamin : perempuan. Terdapat luka bacok ukuran 21 cm. Laboratorium Kedokteran Forensik atas nama korban : Sunarni. Bagian tertutup rambut terdapat luka bacok menembus tulang sampai otak. Kecamatan Sukoharjo.q. Terdapat luka bacok pada 6 cm di atas telinga kanan panjang 12 cm menembus tulang sampai ke otak c.5 cm dan luka iris ukuran 18 kali 0.

Akibat perbuatan terdakwa : Berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 32/MF/VII/98 tanggal 11 Juli 1998 yang dibuat dokter Pudjo Pramono dokter bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta atas nama korban Pediyanto Setyo Wibowo. pantat. ukuran jenazah panjang seratus lima puluh derajat. Bervak jenazah : pada leher. sendi bahu. jenis kelamin laki-laki. tak hilang pada penekanan. Sikap jenazah : terlentang. b. Penunjukan Penasehat Hukum xlvi . Lengan bawah kiri terdapat luka bacok mengenai tulang dan patah ukuran 12 x 1 cm lokasi di bawah siku g. Keadaan jenazah : di dalam peti berkain putih.f. Perbuatan terdakwa di atur dan diancam sebagai mana tersebut dalam Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP 3. kaki lutut sukar digerakkan d. Bangsa Indonesia. punggung. muka menghadap ke atas Kaku jenazah : pada leher. Tungkai bawah terdapat luka tusuk ukuran 3 cm di bawah lutut Kesimpulan : Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak akibat kekerasan tajam pada kepala. Punggung tangan sampai telapak tangan terdapat luka bacok menembus tulang ukuran 14 cm h. peti dibuka jenazah terletak di atas meja porselin putih. lipat paha. Alamat Kampung Purworejo Rt 3 Rw VIII Kalurahan Jetis. Kabupaten Sukoharjo Dalam pemeriksaan luar : a. umur 18 tahun. Kecamatan Sukoharjo. Agama Islam. c. siku.

Alfaq Hudaya SH c. sedangkan terdakwa menyatakan dirinya tidak mampu dan tidak mempunyai penasehat hukum. Guntoyo SH Pengacara dan advokad dari IKADIN Surakarta sebagai Penasehat Hukum Terdakwa 4. maka dengan penetapan Pengadilan Negeri Nomor 49/Pen. karena :disebutkan bahwa terdakwa yang membacok dengan pedang kepada dr. Splitsing dalam perkara ini bertentangan dengan masalah saksi mahkota b. sedangkan saksi Ali Kosim xlvii . serta dengan mengingat bahwa terdakwa adalah belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin. Sumarsoni SH b. Joko Suranto SH d. Dyah Listriningsih SH e. Imron Halimy SH f.Bahwa oleh karena terhadap diri terdakwa dikenakan dakwaan yang memuat ancaman pidana lebih dari lima tahun penjara. Surat dakwaan kabur dan obscuur libel. sejalan dengan ketentuan Pasal 56 KUHAP jo Undang-Undang nomor 3 tahun 1997. Setiyono dan isterinya sehingga meninggal dunia. Pembelaan dari Terdakwa dan Penasehat hukum Penasehat hukum terdakwa telah mengajukan keberatan / perlawanan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum tertanggal 10 September 1998 yang pada pokoknya adalah sebagai berikut : a.Pid/1998/PN. dan tidak di splitsing karena : mereka melakukan perbuatan tersebut bersama-sama. Bahwa perkara terdakwa dengan perkara saksi Ali Kosim serta saksi Imam Wahyudi seharusnya diperiksa dan diadili dalam satu perkara.Skh tertanggal 8 September 1998 maka Majelis Hakim telah menunjuk : a.

diancam karena pembunuhan dengan rencana . Dakwaan tersebut berlebihan karena : dalam dakwaan kesatu primair dan subsidair telah diuraikan bahwa terdakwa mempergunakan sebilah pedang untuk membacok korbannya. Perlu di kemukakan bahwa Pasal 340 KUHP mengatur tentang tindak pidana kejahatan terhadap nyawa .nama tersangka adalah SARONI bin SAMAN .paling lama dua puluh tahun”. Atas hal mana penasehat hukum terdakwa mohon agar dakwaan jaksa penuntut umum dinyatakan : 1) Tidak dapat diterima atau 2) Setidak-tidaknya dakwaan kedua dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima 5. c..Tentang kejahatan terhadap menghilangkan nyawa seseorang ..mengakibatkan korban Aprillia Setyo Widarti dan Pediyanto Setyo Wibowo meninggal dunia. akan tetapi dalam halaman 8 dan 9 Jaksa penuntut umum menyebutkan sebagai akibat perbuatan terdakwa. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma Bagi Terdakwa Yang Tidak Mampu Sebagaimana telah di kemukakan . Pasal yang dilanggar yaitu Pasal 340 jo 338 KUHP. sehingga tidak perlu dan tidak boleh diulangi lagi dalam dakwaan kedua (Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat nomor 12 tahun 1951). Sehingga pedang tersebut merupakan instrumen faktor pemberatan dalam dakwaan kesatu primair dan subsidiair.dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu ..membacok Aprilia Setyo Wardani sehingga meninggal dunia dan saksi Imam Wahyudi membacok Pediyanto Setyo Wibowo sehingga meninggal dunia. Ketentuan Pasal 340 KUHP bunyi perumusan selengkapnya adalah sebagai berikut : “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain .sehingga pasal 340 merupakan tindak xlviii ..

Dalam hal tersangka atau terdakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri. Menimbang. Sebagaimana diketahui bahwa penunjukan penasehat hukum terhadap SARONI bin SAMAN dilakukan melalui penetapan yang disampaikan melalui surat penetapan dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Penunjukkan penasehat hukum tersebut juga sangat tepat mengingat ketentuan Pasal 54 KUHAP yang perumusan selengkapnya adalah : xlix . b.diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. maka terhadapnya wajib didampingi penasehat hukum Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut penunjukan penasehat hukum yang dilakukan sudah tepat karena alasan ekonomi. dan pasal yang dilanggarnya cukup berat yaitu pembunuhan berencana yang ancaman hukumanya dua puluh tahun penjara. bahwa oleh karena terdakwa tidak mempunyai Penasehat Hukum sendiri dan tidak mampu untuk membiayai jasa Penasehat Hukum sendiri. pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka. yang ancaman hukumannya dua puluh tahun penjara.pidana yang pelakunya dapat diancam pidana penjara paling lama dua puluh tahun. Menimbang berdasarkan Pasal 56 KUHAP Hakim ketua majelis wajib menunjuk penasehat hukum bagi terdakwa c. Mengingat Pasal 340 jo 338 KUHP.Tentang kejahatan terhadap menghilangkan nyawa seseorang. Selanjutnya bunyi perumusan Pasal 338 KUHP tentang kejahatan terhadap menghilangkan nyawa seseorang bunyi perumusan selengkapnya adalah “ Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain .

Hal ini akan berakibat apabila perkara diteruskan ke Kejaksaan maka Surat Dokumen yang disusun oleh Penasehat Umum disusun atas dasar pemeriksaan yang tidak sah. Menurut Yahya Harahap yang dimaksudkan dengan hubungan koordinasi yaitu antara masing-masing instansi sama-sama berdiri setaraf dan sejajar. tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasehat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan. Akibat l . Dengan demikian kaitannya dengan pemberian bantuan hukum apabila tidak dipenuhi ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP maka dapat berakibat hasil penyidikan tidak sah. tersangka atau terdakwa berhak memilih sendiri penasehat hukumnya.Guna kepentingan pembelaan. karena kriteria yang ditentukan oleh Pasal 56 ayat (1) KUHAP penunjukan penasehat hukum akan dilakukan oleh pejabat pada semua tingkat pemeriksaan dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri. Penunjukkan penasehat hukum bagi tersangka oleh Kepolisian apabila dihubungkan dengan ketentuan Pasal 55 KUHAP seolah-olah adalah berlawanan mengingat ketentuan Pasal 55 KUHAP perumusannya adalah : Untuk mendapatkan penasehat hukum sebagaimana dimaksud Pasal 54. menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini. Tetapi apabila dicermati dengan seksama maka penunjukkan penasehat hukum ini tidak bertentangan utamanya apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP. Bahkan di dalamnya melihatkan tersangka / terdakwa dan penasehat hukumnya (Yahya Harahap : hal 50). Penunjukan penasehat hukum dalam penyelesaian perkara pidana merupakan syarat yang penting hal ini terutama juga apabila dikaitkan dengan salah satu asas yang dianut oleh KUHAP yang dianut asas koordinasi.

Penulis berpendapat bahwa perkara yang ancaman hukumannya diatas lima tahun lima tahun terkadang tidak menggunakan jasa penasehat hukum Cuma-cuma. khususnya di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sukoharjo beserta analisis kasus. Masing-masing instansi yakni Kepolisian memiliki kewenangan untuk menunjuk Penasehat Hukum untuk mendampingi tersangka atau terdakwa dalam proses pemeriksaan dalam tingkat tertentu. maka berikut ini penulis berikan analisis secara umum terhadap data yang penulis sajikan. 6. keadaan ekonomi yang tidak mampu untuk menggunakan jasa penasehat hukum. serta Pengadilan. Wewenang penunjukan Penasehat Hukum berada pada Hakim yang menangani perkara tersebut. selama proses pemeriksaan sampai selesainya tingkat pemeriksaan atau persidangan Penulis berpendapat bahwa pada prinsipnya penunjukan penasehat hukum adalah mendasarkan pada ketentuan yang secara normatif ditetapkan yakni dakwaan yang diberikan diatas lima tahun. Di samping itu juga pertimbangan sosiologis kondisi terdakwa.lebih lanjut adalah apabila perkara diteruskan ke pengadilan. seperti contoh perkara-perkara tersebut awalnya ketika Hakim Ketua menanyakan apakah terdakwa akan maju sendiri atau li . maka Majelis Hakim akan menyatakan Surat Dakwaan Tidak Diterima. Penunjukan Penasehat Hukum didasarkan Pasal 56 KUHAP dan juga atas suatu pertimbangan majelis hakim diperlukan atau tidaknya Penasehat Hukum melihat dakwaan yang ditujukan kepada terdakwa sesuai dengan penjelasan Pasal 56 KUHAP. pada prinsipnya seluruh instansi juga memiliki kewenangan untuk melakukan penunjukan yakni Kepolisian. Kejaksaan. Pembahasan Setelah penulis kemukakan tentang pelaksanaan pemberian bantuan hukum bagi masyarakat yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 5 tahun.

maka terdakwa harus didampingi oleh Penasehat hukum dan untuk itu perlu ditunjuk Penasehat hukum untuk mendampingi terdakwa dalam proses persidangan sampai selesai.didampingi Penasehat Hukum terdakwa memilih untuk maju sendiri karena ketidak tahuan akan adanya Penasehat Hukum Cuma-cuma tetapi karena perbuatan tersangka diancam dengan hukuman penjara diatas lima tahun maka Hakim manunjuk Penasehat Hukum. Namun karena perbuatan terdakwa tersebut ancaman hukumannya dua puluh tahun. tetapi dalam prakteknya ada sebagian perkara yang ancaman hukumannya diatas lima tahun tidak menggunakan penasehat hukum karena berbagai faktor diantaranya adalah tidak bersedianya terdakwa untuk didampingi penasehat hukum dan ancaman hukumannya tidak begitu tinggi tetapi hukumannya masih diatas lima tahun contoh Pasal 111. 134 KUHP dan masih banyak lagi. Kondisi sosiologis ini juga menjadi dasar pertimbangan bagi penetapan hakim untuk penunjukan penasehat hukum Secara umum pemberian bantuan hukum bagi tersangka / terdakwa oleh Pengadilan Negeri Sukoharjo telah memenuhi beberapa ketentuan lii . Pasal tersebut dianggap tidak begitu memerlukan penasehat hukum walaupun ancaman hukumannya diatas lima tahun. penjelasan tersebut bersifat tidak mengikat kepada Hakim dalam menunjuk Penasehat hukum Dalam perkara ini semula terdakwa tidak bersedia untuk didampingi Penasehat hukum dengan alasan tidak mempunyai uang. Penulis menyimpulkan demikian oleh karena Hakim Pengadilan Negeri Sukoharjo dalam menunjuk penasehat hukum meneliti mempertimbangkan faktor sosiologi yakni kondisi ekonomi terdakwa secara nyata yang dialami dalam hidup keseharian. 125. hal tersebut juga dipengaruhi dari penjelasan Pasal 56 KUHP ayat (1) yang isi kutipannya “maka untuk itu bagi mereka yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih tetapi kurang dari lima belas tahun. penunjukan penasehat hukumnya disesuaikan dengan perkembangan dan keadaan tersedianya tenaga penasehat hukum ditempat”.

Khususnya dalam hal pemberian bantuan hukum telah memenuhi harga sebagaimana diperintahkan oleh Undang-Undang nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Selanjutnya penulis kemukakan Tentang pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma ini sesuai dengan pendapat ayatnya terhadap pemberian bantuan hukum sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 56 KUHAP termasuk “legalaid” adalah Pemberian bantuan hukum dilakukan dengan cara cuma-Cuma Bantuan hukum dalam legal aid lebih dikhususkan bagi yang tidak “legalaid” oleh karena yang dimaksudkan dengan mampu dalam lapisan masyarakat miskin. Bunyi perumusan Pasal 22 ayat (1) adalah : Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu Bunyi perumusan Pasal 22 ayat (2) adalah Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Perlu dikemukakan bahwa baik Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman maupun Undang-Undang Nomor 18 th 2003 kedua-duanya merupakan sumber hukum acara pidana. disamping itu juga Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang advokat.peraturan perundang-undangan. tepatnya pada kalender Bab 6 Bantuan Hukum Cara Cepat sebagaimana dirumuskan Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2). liii . Kemudian Tentang pemberian bantuan hukum bagi tersangka / terdakwa sebagaimana diprasyaratkan dalam kalender Pasal 59 KUHP. implementasinya terdapat pada ketentuan undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang adanya advokat.

Dengan motivasi utama dalam konsep legalaid adalah menegakkan hukum dengan jalan membela kepentingan dan hak-hak asasi rakyat kecil yang tidak mampu dan bantuan hukum. mencoba untuk mencarikan penasehat hukum yang lain. Hanya saja kadangkadang terjadi nama advokat/pengacara yang telah diatunjuk oleh aparat penegak hukum tidak sesuai dengan keinginan tersangka/terdakwa. bahwa pemberian bantuan hukum oleh penasehat hukum ini sebenarnya bukan kepentingan tersangka /terdakwa semata. Penolakan penasehat hukum yang telah ditunjuk oleh penegak hukum ini biasanya didasarkan atas alasan yang bermacam-macam. Yahya Harahap. Apabila terjadi hal yang demikian ini. Biasanya aparat penegak hukum. sehingga akibat penolakan penasehat hukum ini jika tidak terselesaikan akan mengganggu jalannya proses penegakan hukum. maka penegak hukum dalam semua tingkat pemeriksaan harus memberikan penjelasan sepenuhnya. Atas dasar data tentang nama-nama advokat atau pengacara yang demikian ini. Pada umumnya alasan penolakan ini didasarkan atas kecurigaan atas reputasi penasehat hukum yang bersangkutan. Hambatan Dalam Pelaksanaan Pemberian Bantuan Cuma-Cuma Bagi terdakwa Yang Tidak Mampu Hukum Secara Hasil penelitian tentang Pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma bagi terdakwa yang tidak mampu di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sukoharjo pada umumnya instansi penegak hukum telah memiliki data tentang beberapa nama advokat atau pengacara yang menyatakan kesediaannya memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma setiap saat dibutuhkan. (M. apabila penasehat hukum pertama yang telah ditunjuk dinyatakan ditolak oleh tersangka/terdakwa dan apabila penasehat hukum yang kedua juga ditolak oleh tersangka/terdakwa maka pada umumnya liv . maka setiap saat pada semua tingkat pemeriksaan perkara mulai penegak hukum tinggal menghubungi untuk ditunjuk sebagai penasehat hukum bagi tersangka/terdakwa setiap saat diperlukan. 1993 : 361). tetapi lebih mendalam adalah kepentingan penegak hukum. B.

Penambahan alokasi dana oleh pemerintah untuk kepentingan membiayai proses beracara di persidangan dalam hal ini untuk membayar jasa penasehat hukum lv . 2. yakni dari ketentuan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat.penegak hukum memaksakan kehendaknya tentang penunjukkan penasehat hukum ini BAB IV PENUTUP A. Saran 1. maka kesimpulan-kesimpulan yang dapat penulis kemukakan adalah : 1. Hendaknya para penegak hukum dalam semua tingkat pemeriksaan perkara memberi penjelasan kepada pihak yang berperkara pidana dengan ancaman pidana 5 tahun yang tidak mampu untuk mendapatkan kejelasan bahwa ketentuan hukum oleh penasihat hukum baginya merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Permasalahan yang ada dalam pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara Cuma-cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun berupa penolakan penasehat hukum yang ditunjuk oleh tersangka/ terdawa dengan berbagai alasan tersangka/terdakwa B. Pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 5 tahun di Pengadilan Negeri Sukoharjo telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang berlaku. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pelaksanaan pemberian bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi terdakwa yang tidak mampu yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana 5 tahun. 2.

Gramedia Soemitro. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana lvi . Jakarta. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat Undang-Undang No. Hukum Acara Pidana Indonesia. Oetama Perc Yahya Harahap. Jakarta. Bantuan Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Jakarta. Jakarta. Pembahasan Permasalahan dan KUHAP(Penyidikan dan penuntutan). Pengantar Penelitian Hukum. Fh Ugm Bambang Sunggono. Semarang. 1994. 1987. Bantuan Hukum.1985. Bambang Poernomo. Yogyakarta. 1996. Fh Unisri Soerjono Sukanto. Sinar Grafika Penerapan Undang-undang No. Mandar Maju Frans Hendrawinata. 2001.Ui Press Suryono Sutarto Sri Oeripah Soerjanto. 1996. Jakarta. Aries Harianto. Asas-Asas Hukum Pidana. Tehnik Praktek Advokat. Hukum Pidana. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Andi Hamzah. Hukum Acara Pidana Ii. Taktik Dan Strategi Membela Perkara Pidana.1997. Gramedia Nawawi. 1984. Sapta Artha Jaya. Fajar Agung Ropaun Rambe. Bandung. 2000. 2002. Surakarta.