P. 1
makalah psikologi lingkungan

makalah psikologi lingkungan

|Views: 1,982|Likes:
Published by Etty Septia Sari

More info:

Published by: Etty Septia Sari on Mar 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

Sikap dan Perilaku Masyarakat Terhadap Pengembangan Program “Corporate Social Responsibility” di areal sekitar pertambangan (Studi Kasus

di pertambangan bauksit PT. Harita Prima Abadi Mineral Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat) PENDAHULUAN Industri pertambangan adalah salah satu industri yang mendukung program pembangunan nasional. Pendayagunaan secara bijak segala jenis bahan tambang (good mining practices) dapat meningkatkan pendapatan dan perekonomian nasional maupun daerah. Hal ini dikarenakan hasil tambang tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan domestik dalam negeri tetapi juga dapat diekspor dan menghasilkan devisa bagi negara Indonesia. Pertambangan sebagai salah satu industri yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional juga harus dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut pengelolaan pertambangan harus dilakukan secara bijak. Untuk itu pemerintah dalam melakukan pengelolaan pertambangan melibatkan peran swasta dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Pertambangan di satu sisi dapat memberikan dampak positif seperti terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar daerah pertambangan sehingga secara ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat dan secara sosial mengurangi angka pengangguran. Tetapi di sisi yang lain kegiatan pertambangan juga menimbulkan masalah terhadap lingkungan. Kegiatan pertambangan pasti akan berdampak negatif yaitu merusak lingkungan. Perusahaan sebagai pihak yang melakukan kegiatan pertambangan harus mempunyai program untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan pertambangan. Diantaranya adalah melakukan kegiatan reklamasi untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang rusak akibat kegiatan pertambangan, melakukan kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) sekitar areal pertambangan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan bauksit, PT. Harita Prima Abadi Mineral juga melakukan kegiatan reklamasi untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang rusak akibat pertambangan terbuka (open pit mining) dan program CSR untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sosial masyarakat. II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi dan Bentuk Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) Salah satu usaha swasta yaitu badan usaha yang diamanatkan oleh pemerintah dalam mendukung pembangunan nasional adalah melaksanakan Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan). CSR dicetuskan sebagai suatu visi akuntabilitas suatu bisnis. Kuncinya adalah terfokus pada proteksi lingkungan dan keselamatan kerja para pekerja, dan pengembangan komunitas masyarakat secara umum baik saat ini maupun di masa depan. (Djajadiningrat, Famiola, 2004) Pelaksanan CSR oleh badan usaha yang beroperasi di Indonesia telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. CSR selanjutnya lebih diarahkan kepada peningkatan keselarasan kegiatannya dengan program pemerintah dalam mendukung pembangunan nasional, antara lain termasuk pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) serta penanganan perubahan iklim. Sebelum memasuki isu dan prinsip CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan, harus diketahui terlebih dahulu definisi dari CSR. Ada beberapa definisi tentang Corporate Social Responsibility (CSR) yang oleh antara lain : 1) CSR adalah tanggung jawab yang dimiliki oleh suatu perusahaan terhadap masyarakat dimana perusahaan tersebut berdiri menjalankan usahanya (http://www6.miami.edu/ethics/pdf_files/csr_guide.pdf). 2) CSR merupakan suatu konsep bahwa organisasi (khususnya, tapi tidak terbatas pada perusahaan) memiliki kewajiban untuk memperhatikan 1 I.

kepentingan pelanggan, karyawan, pemegang saham, komunitas dan pertimbangan-pertimbangan ekologis dalam segala aspek dari usahanya (kamus wikipedia). 3) CSR merupakan operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, tetapi juga pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan.(Edi S., 2008). 4) Menurut Gunawan Widjaya dan Yeremia Ardi Pratama (2008), CSR adalah : a) Bahwa sebagai suatu artificial person, perusahaan atau korporasi tidaklah berdiri sendiri dan terisolasi, perusahaan atau perseroan tidak dapat menyatakan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap keadaan ekonomi, lingkungan dan sosialnya. b) Keberadaan (eksistensi) dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan atau korporasi sangatlah ditentukan oleh seluruh faktor stakeholder-nya dan bukan hanya stakeholder-nya. Para stakeholders ini, terdiri dari shareholders, konsumen, pemasok, klien, customer, karyawan dan keluarganya, masyarakat sekitar dan mereka yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan (the local cimmunity and society at large). c) Melaksanakan CSR berati juga melaksanakan tugas dan kegiatan sehari-hari perusahaan atau korporasi, sebagai wadah untuk memperoleh keuntungan melalui usaha yang dijalankan dan atau dikelola olehnya. Jadi ini berarti CSR adalah bagian terintegrasi dari kegiatan usaha (bussiness), sehingga CSR berarti juga menjalankan perusahaan atau korporasi untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa CSR, pada awalnya bukanlah suatu bentuk tanggung jawab yang mempunyai akibat hukum yang memaksa. Jadi lebih merupakan moral obligation perusahaan terhadap: a) Keadaan ekonomi, b) Keadaan sosial dan c) Keadaan lingkungan perusahaan yang terkait dengan kegiatan usaha atau jalannya perusahaan secara berkesinambungan. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk atau wujud pelaksanaan CSR tidak selalu harus sama antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Konsep pelaksanaan CSR bahkan telah dibuat suatu acuan oleh badan standar dunia (ISO, International Standard Organization) dengan dikeluarkannya ISO 26000 yang berisi Guidance Standard on Social Responsibility. ISO 26000 menjadi kunci penting untuk mendorong CSR yang substansial dan komprehensif. Jika merujuk pemahaman yang digunakan oleh para ahli yang menggodok ISO 26000 yang secara konsisten mengembangkan tanggung jawab sosial, maka masalah CSR akan mencakup 7 isu pokok yaitu: 1) Pengembangan Masyarakat 2) Konsumen 3) Praktek Kegiatan Institusi yang Sehat 4) Lingkungan 5) Ketenagakerjaan 6) Hak asasi manusia 7) Organizational Governance (governance organisasi) Sementara itu, dalam melaksanakan CSR, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu : a. Prioritas Perusahaan i. Penelitian b. Manajemen Terpadu j. Prinsip pencegahan c. Proses Perbaikan k. Kontraktor dan pemasok d. Pendidikan Karyawan l. Siaga menghadapi darurat e. Pengkajian m. Transfer best practice 2

f.

Produk dan Jasa

g. Informasi Publik

n. Memberikan sumbangan o. Keterbukaan

(disclosure) h. Fasilitas dan Operasi p. Pencapaian dan pelaporan Prinsip-prinsip dalam pelaksanaan CSR tersebut juga didukung oleh peraturan perundang-undangan dari berbagai sektor seperti perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, ketenagakerjaan, pertambangan dan lainnya. Dalam kaitannya dengan pertambangan seperti tertera pada Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, dikemukakan prinsip dan kewajiban perusahaan pertambangan untuk melaksanakan CSR seperi tercantum dalam tabel berikut ini :

Tabel 1. Prinsip-prinsip Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Ketentuan Pasal Substansi Prinsip CSR UU Nomor 4 Human capital, disclosure, Asas pengelolaan Tahun 2009 Pasal 2 akuntabilitas, keberlanjutan, pertambangan tentang Mineral dan berwawasan lingkungan dan Batubara Kewajiban pemegang izin GCG (Good Corporate Pasal 65 ayat pertambangan untuk Governance) (1) memenuhi berbagai persyaratan Penerapan kaedah GCG Pasal 96 pertambangan yang baik Penerapan standar dan Berwawasan lingkungan Pasal 97 baku mutu lingkungan Kewajiban melakukan dan Disclosure dan teknologi Pasal 99 dan menyediakan dana ramah lingkungan. 100 reklamasi Mengutamakan Human capital pemanfaatan tenaga kerja Pasal 106 setempat, barang, dan jasa dalam negeri Kemitraan Pasal 107 Mengikut sertakan UKM Pasal 108 Community development Disclosure dan akuntabilitas Pasal 145 Hak masyarakat menuntut ayat (1) ganti rugi Pelaksanaan CSR telah mengalami perubahan paradigma dari voluntary (sukarela menjadi mandatory (kewajiban). Hal ini sejalan dengan perubahan paradigma bahwa perusahaan tidak hanya dipandang sebagai suatu instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai institusi sosial yang saling terintegrasi. II.2. Kegiatan Corporate Social Responsibility yang dikembangkan oleh PT. Harita Prima Abadi Mineral PT. Harita Prima Abadi Mineral (HPAM) adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan bauksit dan berlokasi di desa Kuala Labai Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat. Penambangan dilakukan dengan sistem tambang terbuka (open pit mining). Sistem pertambangan terbuka adalah sistem pertambangan yang berpotensi besar dapat merusak lingkungan hidup. Oleh karena itu, perusahaan melakukan kegiatan reklamasi dengan penanaman karet dan kelapa sawit pada areal bekas pertambangan bauksit. Selain itu, sebagai wujud kewajiban perusahaan terhadap masyakarat, perusahaan juga melakukan kegiatan CSR dengan melakukan pengelolaan pelayanan kesehatan masyarakat antara lain :

3

Menyediakan poliklinik dengan 1 orang dokter sebagai penanggung jawab dan 1 orang tenaga paramedis. Selain itu, poliklinik juga dilengkapi dengan 1 ambulance. b) Melakukan pemberantasan penyebaran nyamuk malaria dengan menyediakan 2 buah mesin fogging untuk melaksanakan fogging secara berkala. Hal ini berkaitan dengan adanya wabah malaria di sekitar areal pertambangan yang dapat mengancam masyarakat dan karyawan perusahaan. c) Mengadakan penyuluhan dan pemasangan brosur (leaflet) tentang pola hidup bersih kepada masyarakat dan karyawan perusahaan. d) Mengadakan pemantauan terhadap terjadinya penyakit seperti malaria klinis, diare, kecelakaan akibat kerja, bertambahnya penderita ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) akibat debu dan lainnya. Selain melakukan pengelolaan kesehatan masyarakat tersebut, perusahaan juga melakukan pengelolaan dan pemantauan terhadap lingkungan seperti : a) Pertumbuhan flora dan fauna disekitar areal pertambangan yang dapat saja berkurang keanekaragamannya akibat kegiatan land clearing (pembukaan lahan) pada aktivitas pertambangan. b) Pemberantasan terhadap hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman reklamasi yaitu karet dan kelapa sawit. c) Pengelolaan limbah hasil pertambangan sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Dengan adanya kegiatan CSR tersebut, diharapkan sikap dan perilaku masyarakat di areal pertambangan dapat menerima kehadiran pertambangan tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka. II.3. Sikap dan Perilaku Masyarakat Berdasarkan Teori Psikologi Dalam teori psikologi, sikap dan perilaku adalah dua hal yang berbeda tetapi saling terkait. Menurut Donn dan Baron (2003), sikap sering kali mempengaruhi perilaku. Perilaku seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang yang bersangkutan. (Walgito, 2001). Walgito (2001) mendefinisikan sikap (attitude) : Sikap itu merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang yang relatif ajeg, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang realtif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara yang tertentu dipilihnya. Sikap yang ada pada seorang individu tidak dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk oleh perkembangan. Sikap (attitude) dalam pembentukan dan perubahannya dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. (Gerungan, 2002).

a)

Faktor internal : Fisiologis Psikologis Sika p Objek sikap

Faktor Reaks eksternal : i Pengalaman Situasi Skema 1. Faktor yang Mempengaruhi Sikap (Walgito, 2001) Norma-norma Seperti yang telah dikemukakan diatas, sikap dan perilaku saling terkait. Hambatan Perilaku pada individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi oleh stimulus. Jika Pendorong sikap dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, maka perilaku dipengaruhi

4

oleh stimulus eksternal dan internal. Perilaku adalah respon terhadap adanya stimulus. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme dalam hal ini manusia terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan yang menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. (Wibowo dalam Notoatmojdo,1997). Perilaku atau aktifitas individu dalam pengertian yang lebih luas mencakup perilaku yang nampak (over behavior) dan perilaku yang tidak nampak (inert behavior). Perilaku individu dan lingkungan saling berinteraksi yang artinya bahwa perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, juga berpengaruh terhadap lingkungan. Adapun secara spesifik faktor lingkungan dan individu adalah sebagai berikut : 1) Faktor Lingkungan Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan sering kekuatannya lebih besar dari faktor individu (Wibowo dalam Azwar,1998). Dalam hubungan antara perilaku dengan lingkungan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu lingkungan alam/fisik (kepadatan, kebersihan), lingkungan sosial (organisme social, tingkat pendidikan, mata pencaharian, tingkat pendapatan) dan lingkungan budaya (adat istiadat, peraturan, hukum) (Wibowo dalam Sumaatmaja,1998). 2) Faktor Individu Faktor individu yang menentukan perilaku manusia antara lain adalah tingkat intelegensia, pengalaman pribadi, sifat kepribadian dan motif (Azwar,1998:14).

Skema 2. Hubungan antara Perilaku dan Lingkungan Pembentukan perilaku sangat diperlukan untuk mengendalikan perilaku manusia agar seperti yang diharapkan antara lain dengan : 1) Pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, adalah pembentukan perilaku yang ditempuh dengan mengkondisikan atau membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan. 2) Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight), adalah pembentukan perilaku yang dilakukan dengan cara pembelajaran disertai dengan memberikan pengertian. 3) Pembentukan perilaku dengan model atau contoh, adalah pembentukan perilaku dengan mengunakan model atau contoh dan biasanya didasarkan atas bentuk-bentuk perilaku yang telah ada. (Walgito, 2001) Dalam rangkaian pembentukan perilaku manusia terdapat dua jenis pembelajaran yaitu pembelajaran secara fisik dan pembelajaran secara psikis dimana seorang mempelajari perannya dan peran orang lain dalam kontak sosial (social learning), dan selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajarinya. (Wibowo dalam Sarwono, 2002). Dengan kata lain, banyak pandangan manusia yang dibentuk saat berinteraksi dengan orang lain atau hanya dengan mengobservasi tingkah laku mereka.

Hubung lingku

Overt Behavior

5

Salah satu teori psikologi yang dapat dikaitkan dengan menganalisa sikap dan perilaku masyarakat terhadap kegiatan pertambangan adalah teori tindakan yang beralasan (theory of reasoned action). Dalam perkembangan selanjutnya, kerangka berfikir teori ini berkembang dan dikenal sebagai teori tingkah laku terencana (theory of planned behaviour). Teori ini pertama kali dinyatakan oleh Ajzen dan Fishbein (1980, Ajzen, 1991). Teori ini menyatakan bahwa keputusan untuk menampilkan tingkah laku tertentu adalah hasil dari proses rasional yang diarahkan pada suatu tujuan tertentu dan mengikuti urut-urutan berfikir. Pilihan tingkah laku dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap tingkah laku dievaluasi, dan dibuat sebuah keputusan apakah akan bertindak atau tidak. Kemudian keputusan itu direfleksikan dalam tujuan tingkah laku, dimana menurut Fishbein, Ajzen, dab banyak peneliti lain, sering kali dapat menjadi prediktor yang kuat terhadap cara kita akan bertingkah laku dalam situasi yang terjadi (Ajzen, 1987). Berdasarkan teori ini, intensi pada gilirannya ditentukan oleh dua faktor yaitu : 1) Sikap terhadap tingkah laku (attitudes toward a behaviour) Evaluasi positif atau negatif dari tingkah laku yang ditampilkan (apakah mereka berfikir tindakan itu akan menimbulkan konsekuensi positif atau negatif). 2) Norma subjektif Persepsi orang apakah orang lain akan menyetujui atau menolak tingkah laku tersebut. 3) Kontrol tingkah laku yang dipersepsikan Penilaian terhadap kemampuan sikap untuk menampilkan tingkah laku. Berikut ini digambarkan hubungan antara kegaitan CSR dengan sikap dan perilaku masyarakat yang dipandang dari sisi psikologi : Kegiatan Pertambangan

Dampak Positif

Dampak Negatif

Dikembangkan

Dikurangi

Pengembangan Corporate Responsibilty

Social

Pelaksanaan Reklamasi&Pengolahan Limbah

Sikap dan Perilaku Masyarakat Skema 3. Kerangka Pikir Hubungan antara CSR dengan Sikap dan Perilaku Masyarakat III. PEMBAHASAN Teori Tindakan Analisa dengan Beralasan (Theory of Metode Psikologi : Reasoned Actioned) 6 atau Teori Tingkah laku Terencana (Theory of Planned Behaviour)

Kegiatan pertambangan adalah kegiatan yang memiliki dampak positif dan negatif terhadap lingkungan biofisik, sosial dan ekonomi. Dengan adanya pembukaan perusahaan pertambangan di suatu daerah, PAD dari daerah tersebut akan meningkat. Dampak positif lainnya adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat sehingga secara sosial mengurangi angka penganguran dan secara ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, dengan dibukanya lokasi pertambangan, sentra perekonomian di daerah setempat juga tumbuh. Secara tidak langsung, masyarakat akan membuka pusat-pusat perekonomian di daerah sekitar perrtambangan untuk penyediaan kebutuhan logistik bagi karyawan perusahaan. Dampak positif dari suatu kegiatan pasti diiringi oleh dampak negatif. Apalagi untuk kegiatan pertambangan. Dari awal kegiatan pertambangan yaitu eksplorasi, pembukaan lahan (land clearing) sudah menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity), terjadinya polusi seperti kebisingan dan lainnya. Dampak negatif kegiatan pertambangan juga berlanjut ketika proses eksploitasi dimulai. Kegiatan tersebut menimbulkan polusi tanah dan air akibat limbah (tailing) yang dihasilkan serta menimbulkan polusi udara berupa kebisingan akibat penggunaan alat-alat berat. Masyarakat yang berada di areal pertambangan adalah pihak pertama yang merasakan dampak negatif dari polusi akibat kegiatan pertambangan. Hal ini berdampak terhadap sikap dan perilaku mereka. Bagi mereka yang merasa diuntungkan dengan kegiatan pertambangan, pasti akan menerima kehadiran perusahaan tambang tersebut. Sebaliknya yang merasa dirugikan akan menolak kehadiran perusahaan tambang tersebut. Dalam rangka mengatasi permasalahan akibat kegiatan pertambangan, perusahaan pertambangan seharusnya memperkecil (mengurangi) dampak negatif dari kegiatan pertambangan dan menegembangkan dampak positif dari kegiatan pertambangan. Mengurangi dampak negatif dari kegiatan pertambangan dapat dilakukan melalui kegiatan reklamasi dan pengolahan limbah yang sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Sedangkan mengembangkan dampak positif dari kegiatan pertambangan dapat dilakukan dengan merekrut karyawan dari masyarakat sekitar areal pertambangan dan mengembangkan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang baik sehingga dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan, salah satu tujuan pengembangan CSR adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap suatu kegiatan pertambangan (Mawarni, tanpa tahun).

Dalam teori psikologi mengenai perilaku (tingkah laku) yaitu teori tindakan yang beralasan (theory of reasoned action) yang juga disebut teori tingkah laku terencana (theory of planned behaviour), dijelaskan bahwa keputusan untuk mengambil suatu tindakan adalah hasil dari proses rasional. Jika dikaitkan dengan bidang pertambangan, sikap dan perilaku masyarakat dapat menerima suatu kegiatan pertambangan, pasti telah mengalami proses berfikir secara rasional apakah keadaan tambang tersebut menguntungkan maupun merugikan. Dalam teori psikologi lainnya yang dikembangkan oleh Albert Bandura melalui teori social learning, manusia belajar bertingkah laku (berperilaku) melalui konsekuensi yang diterimanya. Jika manusia menerima konsekuensi yang positif, maka responnya terhadap stimulus akan berulang. Sedangkan jika menerima konsekuensi negatif, manusia akan mengubah responnya terhadap stimulus yang ada. Demikian juga dengan sikap dan perilaku masyarakat terhadap kegiatan pertambangan. Jika perusahaan pertambangan mampu melakukan kegiatan pertambangan yang baik (Good Mining Practicre), masyarakat pasti akan memberikan respon yang baik (positif) dengan menerima kehadiran perusahaan tertsebut. Tetapi jika 7

perusahaan pertambangan tidak dapat melakukan kegiatan pertambangan yang baik dan bahkan merugikan, masyarakat pasti juga akan memberikan respon yang tidak baik (negatif) berupa penolakan terhadap kegiatan pertambangan. Keberhasilan perusahaan pertambangan dalam mengembangkan program CSR harus didukung oleh dana yang cukup dan berkelanjutan. Hal itu dikarenakan kegiatan CSR membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai pada tujuannya, yaitu mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Seperti yang dijabarkan diatas, sikap manusia dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya adalah faktor psikologis. Jika masyarakat secara psikologis diuntungkan dengan kehadiran pertambangan melalui program CSR, mereka akan menerima kegiatan tersebut. Program CSR merupakan salah satu faktor eksternal yang menjadi pendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat terhadap suatu kegaitan pertambangan. Kegiatan CSR yang dikembangkan dapat bersifat fisik dan nonfisik. Kegiatan yang bersifat fisik dapat segera dilihat hasilnya, sebaliknya yang bersifat nonfisik lama dan tidak tampak hasilnya. Umumnya kegiatan yang berupa pembangunan prasarana fisik seperti jalan, gedung sekolah, klinik, dan tempat ibadah telah dilaksanakan banyak perusahaan pertambangan.

Di PT. Harita Prima Abadi Mineral (HPAM), kegiatan fisik yang dikembangkan berupa pengelolaan klinik kesehatan. Sedangkan kegiatan nonfisik-nya berupa penyuluhan dan sosialisasi kesehatan. Kegiatan CSR yang dikembangkan oleh PT. HPAM memang belum maksimal, karena belum mengembangkan aspek pendidikan terhadap masyarakat di sekitar pertambangan. Tetapi secara umum keberadaan tambang bauksit ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat karena selain melaksanakan reklamasi dengan penanaman karet dan sawit, perusahaan ini juga sudah melakukan program CSR seperti yang diamanatkan oleh undang-undang, walaupun belum maksimal. IV. KESIMPULAN 1) Pertambangan adalah kegiatan yang dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan biofisik, sosial dan ekonomi. 2) Perusahaan pertambangan harus mempunyai program untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan pertambangan yaitu dengan melakukan kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) sekitar areal pertambangan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. 3) Keberhasilan perusahaan pertambangan dalam mengembangkan program CSR harus didukung oleh dana yang cukup dan berkelanjutan karena membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai pada tujuannya, yaitu mengubah sikap dan perilaku masyarakat. 4) Sikap dan perilaku masyarakat dalam menerima suatu kegiatan pertambangan menurut teori tingkah laku terencana (theory planned behaviour) dilakukan melalui proses berfikir secara rasional. V. DAFTAR PUSTAKA Ade Rusliana, 2007, Teori Belajar, melalui http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=4 Avin,F.H., 1999, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan, Bulletin psikologi th VII, No.2 Desember 1999, ISSN 0854-7108. Anne Ahira, tanpa tahun, Mengenal Psikologi Lingkungan, melalui http://www.anneahira.com/psikologi-lingkungan.htm

8

Anonim, tanpa tahun, Pendekatan Teori dan Metode Penelitian Psikologi Lingkungan, melalui http://www.scribd.com/doc/37323875/Bab2Pendekatan-Teori-Dan-Metode-Penelitian-Psikologi-Lingkungan. Anonim, tanpa tahun, Pengenalan Psikologi Kognitif, melalui http://www.pdffinder.com/PENGENALAN-PSIKOLOGI-KOGNITIF.html Bryne, Baron, 2003, Psikologi Sosial, Jakarta : Erlangga Djajadiningrat,S.,Famiola,M., 2004, Kawasan Industri Berwawasan Lingkungan (Eco-Industrial Park), Bandung : Rekayasa Sains. Gerungan,W.,A., 2002, Psikologi Sosial, Jakarta : Refika Aditama Hermawan Eko Wibowo, 2010, Perilaku Masayarakat Dalam Mengelola Sampah Permukiman di Kampung Kamboja Kota Pontianak, Tesis : UNDIP. Istiqomah Wibowo, 2009, Pola Perilaku Kebersihan, Studi Psikologi Lingkungan Tentang Penanggulangan Sampah Perkotaan, Makara, Sosial Humaniora, Vol.13, No.1, Juli 2009 : 37 – 47. Mahmudi Siwi, 2008, Psikologi Lingkungan, melalui http://mahmudisiwi.net/psikologi-lingkungan/ Mawarni, tanpa tahun, Community Development Dalam Perusahaan Pertambangan, melalui http://www.icsd.or.id/indexeng.php? menu=show_news.php&id=19&lang=eng Phil,H.,P., 2011, Behavourisme, melalui http://rumahbelajarpsikologi.com/index2.php? option=com_content&do_pdf=1&id=34 Sarlito, 2002, Teori-teori psikologi Sosial, Jakarta : PT. Raja Garfindo, Persada Suharto,E., 2004, Pendekatan Pekerjaan Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsep, Indikator dan Strategi, Malang. Walgito.B., 2001, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Yogyakarta : Andi Widjaya, Gunawan & Pratama, Yeremia Ardi, 2008, Resiko Hukum & Bisnis Perusahaan Tanpa CSR, PT Percetakan Penebar Swadaya, Jakarta. Theresia Kristianty, 2006, Teori behaviourisme, Jurnal Pendidikan Penabur No.06/Th.V/Juni 2006.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->