P. 1
FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK

FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK

|Views: 14,312|Likes:
Published by taufiknurohman25

More info:

Published by: taufiknurohman25 on Mar 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2014

pdf

text

original

FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK

Present by : Taufik Nurohman Program Studi Ilmu Politik Fisip Universitas Siliwangi

Apa itu Formulasi Kebijakan ?  

Formulasi kebijakan publik adalah langkah yang paling awal dalam proses kebijakan publik secara keseluruhan. Oleh karenanya, apa yang terjadi pada fase ini akan sangat menentukan berhasil tidaknya kebijakan publik yang dibuat itu pada masa yang akan datang. Menurut Anderson (Dalam Winarno, 2007 : 93) formulasi kebijakan menyangkut upaya menjawab pertanyaan bagaimana berbagai alternatif disepakati untuk masalah masalah yang dikembangkan dan siapa yang berpartisipasi. 

Lindblom (dalam Solichin Abdul Wahab, 1997:16) mendefinisikan formulasi kebijakan publik (public policy making) sebagai berikut:³An extremely complex, analytical and political process to which there is no beginning or end the boundaries of which are most uncertain. Somehow a complex set fo forces that we call policy-making all taken together, produces effect called policies´. (merupakan proses politik yang amat kompleks dan analisis dimana tidak mengenal saat dimulai dan diakhirinya dan batas dari proses itu sesungguhnya yang paling tidak pasti, serangkaian kekuatan yang agak kompleks itu kita sebut sebagai pembuatan kebijakan publik, itulah yang kemudian membuahkan hasil yang disebut kebijakan) 

Udoji, seorang pakar kebijakan publik (dalam Solichin Abdul Wahab, 1997:17) merumuskan formulasi kebijakan ini sebagai berikut:³The whole process of articulating and defining problems, formulating possible solution into political demands, chanelling those demands into political system, seeking sanction or legitimation of the preferred course of action, legitimation and implementation, monitoring and review (feedback)´. (keseluruhan proses yang menyangkut pengartikulasian dan pendefinisian masalah, perumusan kemungkinankemungkinan pemecahan masalah dalam bentuk tuntutan-tuntutan politik, pengaturan tuntutan-tuntutan tersebut ke dalam sistem politik, pengupayaan pemberian sanksi-sanksi atau legitimasi dari arah tindakan yang dipilih pengesahan dan pelaksanaan atau implementasi, monitoring dan peninjauan kembali (umpan balik).

Model-model Formulasi Kebijakan 
        

Model Elite Model Kelompok Model Kelembagaan Model Proses Model Rasionalisme Model Inkremental Model Teori Permainan Model Pilihan Publik Model Sistem Model Mixed Scanning

Model Elit 
  

Kebijakan sebagai Preferensi Elite Rakyat dibuat apatis dan miskin informasi sehingga elitlah yang membentuk pendapat umum serta kebijakan mengalir dari elit ke massa melalui administrator-administrator (pejabat pemerintah, birokrat). Masyarakat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kecil (elit) yang mempunyai kekuasaan dan kelompok besar (massa) yang tidak mempunyai kekuasaan. Hanya elit yang menentukan kebijakan sedangkan massa tidak menentukan kebijakan Kelompok kecil yang memerintah pada umumnya mempunyai kedudukan sosial ekonomi yang tinggi.   

Kebijaksanaan negara tidak memantulkan kebutuhankebutuhan rakyat tetapi lebih banyak mengutamakan kepentingan elit, oleh karena itu perubahan terhadap kebijakan lebih banyak dilakukan secara lamban dan bertahap (inkremental) daripada bersifat revolusioner. Untuk mencapai stabilitas dan menghindari terjadinya revolusi, bergeraknya kelompok non-elit ke posisi elit dibuat secara lamban dan harus dikendalikan secara kontinyu karena hal itu dipandang dapat membahayakan kepentingan elit. Elit secara aktif selalu berusaha agar dapat mempengaruhi massa yang sifatnya pasif dan apatis. Elit lebih banyak mempengaruhi melalui para administrator dan selanjutnya para administrator yang menjabarkan kebijaksanaan pemerintah kepada masyarakat.

Model Kelompok    

Individu-individu yang memiliki kepentingan yang sama mengikat baik secara formal maupun non-formal ke dalam kelompok kepentingan yang dapat mengajukan dan memaksakan kepentingannya kepada pemerintah. Interaksi dalam kelompok akan menghasilkan keseimbangan dan keseimbangan adalah yang terbaik. Mengandaikan kebijakan publik sebagai titik keseimbangan. Untuk menjaga keseimbangan itu maka tugas atau peranan sistem politik adalah unauk menengahi konflik yang terjadi diantara kelompokkelompok tersebut. Kelompok-kelompok kepentingan berusaha untuk mempengaruhi isi dan bentuk kebijakan secara interaktif.

Model kelembagaan   

Kebijakan dianggap sebagai hasil dari lembaga-lembaga pemerintah (parlemen, kepresidenan, kehakiman, pemerintah daerah dan sebagainya) yang meliputi proses-proses perumusan, pelaksanaan dan pemeksaan secara otoritatif oleh lembaga-lembaga pemerintah tersebut. Pemerintah memberikan legitimasi terhadap kebijaksanaan yang akan ditempuhnya, sedangkan rakyat sebagai penerima kebijakan tersebut. Pemerintah melaksanakan kebijakannya secara universal dan tidak ada seorangpun yang bisa menghindar. Hanya pemerintah yang berhak memaksakan pelaksanaan kebijakan kepada masyarakat.

Model Proses   

Menekankan pada bagaimana tahapan aktivitas yang dilakukan para aktor politik dalam menghasilkan kebijakan. Kebijakan dimaknai sebagai suatu aktivitas yang menyertakan rangkaian-rangkaian kegiatan (yang berproses) yang berakhir pada evaluasi kebijakan. Dalam memformulasikan kebijakan ada standar-standar yang seharusnya dilakukan oleh para formulator kebijakan agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan apa yang hendak dicapai

Identifikasi Masalah

Melaksanakan pengidentifikasian atas masalah-masalah yang ada Memutuskan isu-isu yang hendak diselesaikan Menuangkan isu-isu yang hendak diselesaikan dalam sebuah draft kebijakan Mencari dukungan politik agar dapat diterima dan direalisasikan

Agenda Setting

Perumusan Kebijakan

Legitimasi Kebijakan

Implementasi Kebijakan

Pelaksanaan Keputusan politik yang telah ditetapkan Melakukan studi evaluasi atas program mulai dari output, outcome, hingga rekomendasi penyempurnaan kebijakan

Evaluasi Kebijakan

Model Rasionalisme 

Bagaimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah harus memperhitungkan rasionalistas costs ang benefitsnya bagi masyarakat melalui cara-cara :  Mengetahui pilihan-pilihan dan kecenderungankecenderungan yang diinginkan oleh masyarakat  Menemukan pilihan-pilihan kebijakan yang mungkin untuk diimplementasikan  Menilai perbandingan perhitungan untung-rugi yang akan diperoleh apabila kebijakan itu diimplementasikan  Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien dan ekonomis.

Model Inkremental 
  

Model formulasi kebijakan publik yang berusaha merevisi formulasi model rasional. Model formulasi kebijakan yang ³melanjutkan´ atau ³memodifikasi´ kebijakan-kebijakan yang tengah berlangsung ataupun kebijakan-kebijakan yang telah lalu. Biasa disebut dengan model praktis karena pendekatannya yang terlalu sederhana dan praktis Banyak digunakan oleh negara-negara berkembang karena pemerintah-pemerintah negara berkembang selalu berhadapan dengan berbagai problem dari keterbatasan waktu untuk menyelesaikan permasalahan yang terus berkembang, keterbatasan dana yang dimiliki.   

Asumsi dasar dari model ini adalah bahwa perubahan inkremental (penambahan) adalah proses perubahan kebijakan yang paling aman dan tidak menimbulkan resiko dengan melanjutkan kebijakan sesuai dengan arah tujuan kebijakan lama. Model ini membatasi pertimbangan-pertimbangan kebijakan alternatif dengan kebijakan-kebijakan yang secara relatif mempunyai tingkat perbedaan yang kecil dengan kebijakan yang sudah berlaku. Kebijakan selalu bersifat serial, fragmentary dan sebagian besar remedial.

Model Teori Permainan   

Kebijakan publik berada dalam kondisi kompetisi yang sempurna, sehingga pengaturan strategi agar kebijakan yang ditawarkan pada pengambil kepeutusan lain dapat diterima, khususnya oleh para penentang. Pengaturan/pemilihan strategi menjadi hal yang paling utama. Serasional apapun kebijakan yang diajukan tetapi tidak pandai mengatur strategi, maka sangat dimungkinkan kebijakan publik yang baik dan rasional justru tidak banyak didukung oleh para pengambil keputusan. Sebaliknya apabila ada kebijakan yang tidak terlalu baik untuk publik, tetapi sang inisiator kebijakan mampu mengatur strategi dengan baik, maka akan sangat mungkin kebijakan yang ditawarkan akan banyak mendapat dukungan.

Model Pilihan Publik    

Kebijakan yag dibuat oleh pemerintah haruslah kebijakan yang memang berbasis pada ublik choices (pilihan publik mayoritas). Asumsinya dalam negara yang demokratis yang mengedepankan one-men-one-vote, maka siapa yang dapat menghimpun suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemegang kekusaan/keputusan. Kebijakan yang mayoritas merupakan konstruksi teori kontrak sosial, sehingga ketika kebijakan akan diputuskan akan sangat tergantung pada preferensi publik atas pilihan-pilihan yang ada. Ketika ada satu pilihan dari banyak pilihan yanmg ditawarkan oleh pemerintah dipilih oleh mayoritas publik/warga negara, maka serta merta pilihan publik itulah yang menjadi kebijakan.

Model Sistem 
 

Kebijakan merupakan hasil dari sistem politik Kebijakan sebagai interaksi yang terjadi antara lingkungan dengan para pembuat kebijakan dalam suatu proses yang dinamis. Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembuatan kebijakan terjadi interaksi yang terbuka dan dinamis antara pembuat kebijakan dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi dalam bentuk keluaran dan masukan (input dan output). Keluaran yang dihasilkan oleh organisasi pada akhirnya akan menjadi bagian lingkungan dan seterusnya akan berinteraksi dengan organisasi.

LINGKUNGAN

LINGKUNGAN

Tuntutan MASUKAN INPUT Dukungan SISTEM POLITIK Tindakan

keputusan KELUARAN OUTPUT

Feedback/Umpan Balik LINGKUNGAN LINGKUNGAN 

Kebijakan publik dipandang sebagai taggapan dari sistem politik terhadap tuntutan-tuntutan yang timbul dari lingkungan yang merupakan kondisi atau keadaan yang berada di luar batas-batas sistem politik.  

Kekuatan-kekuatan yang timbul dari lingkungan dan mempengaruhi sistem politik dipandang sebagai masukan-masukan (input) bagi sistem politik sedangkan hasil-hasil yang dikeluarkan oleh sistem politik yang merupakan tanggapan terhadap tuntuta-tuntutan tadi dipandang sebagai keluaran (output) dari sistem politik. Sistem politik adalah sekumpulan struktur dan proses yang saling berhubungan yang berfungsi secara otoritatif untuk mengalokasikan nilai-nilai bagi masyarakat. Keluaran-keluaran (output) dari sistem politik merupakan alokasi-alokasi nilai secara otoritatif dari sistem dan alokasi-alokasi ini merupakan kebijakan publik.

Model Mixed-scanning 
 

Model formulasi kebijakan hibrida (gabungan unsur-unsur kebaikan yang ada pada model rasional dan inkremental) Model pengamatan terpadu diajurkan pertama kali oleh Amitai Etzioni yang merupakan perbaikan dari model inkremental dan resionalisme sekaligus. Model ini memberikan jalan bagi pengambilan keputusan yang memperhitungkan baik keputusan yang bersifat pundamental maupun keputusan yang bersifat inkremental. Etzioni mengilustrasikannya dengan dua buah kamera, yaitu kamera pertama memiliki sudut lebar yang mampu menjelajahi seluruh permukaan langit, tetapi tidak terlalu rinci dan kamera yang kedua yang berfungsi untuk memfokuskan pengamatan pada daerah yang memerlukan pengamatan yang lebih rinci. Dengan demikian, model ini akan memungkinkan penggunaan model rasionalisme maupun inkremental pada situasi yang berbeda beda.

Tahap-Tahap Formulasi kebijakan 

Winarno (2002:80-84) membagi tahapan Formulasi kebijakan publik menjadi empat tahap, yaitu: perumusan masalah, (defining problem), agenda kebijakan, pemilihan alternatif kebijakan untuk memecahkan masalah dan tahap penetapan kebijakan. A. Perumusan Masalah 
Mengenali dan merumuskan masalah  mengidentifikasi problem yang akan dipecahkan, kemudian membuat perumusan yang sejelasjelasnya terhadap problem tersebut.

B. Agenda Kebijakan Tidak semua permasalahan akan masuk dalam agenda kebijakan. Masalah-masalah tersebut saling berkompetisi antara satu dengan yang lain. Hanya masalah-masalah tertentu saja yang pada akhirnya akan masuk dalam agenda kebijakan. C. Pemilihan Alternatif Kebijakan Setelah permasalahan dapat didefinisikan dengan baik dan para perumus kebijakan sepakat untuk memasukan masalah-masalah tersebut dalam agenda kebijakan, maka langkah selanjutnya adalah membuat pemecahan masalah. Di sini para perumus kebijakan akan berhadapan dengan alternatif-alternatif pilihan kebijakan yang dapat diambil untuk memecahkan permasalahan.

Islamy (1984:92) menyebut tahap ini dengan perumusan usulan kebijakan. Dalam hal ini perumusan usulan kebijakan adalah kegiatan menyusun dan mengembangkan serangkaian tindakan yang perlu untuk memecahkan masalah. Perumusan usulan kebijakan ini terdiri dari kegiatan mendefinisikan dan merumuskan alternatif, menilai masingmasing alternatif yang tersedia, dan memilih alternatif yang memuaskan atau paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Dalam tahap ini para perumus kebijakan akan berhadapan pada pertarungan kepentingan antar berbagai aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, maka pilihan-pilihan kebijakan akan didasarkan pada kompromi dan negosiasi antar aktor yang berkepentingan dalam pembuatan kebijakan tersebut (Winarno, 2002:83-84).

D. Penetapan Kebijakan Setelah salah satu dari sekian alternatif kebijakan diputuskan diambil sebagai cara untuk memecahkan masalah kebijakan, maka tahap yang paling akhir dalam pembuatan kebijakan adalah menetapkan kebijakan yang dipilih tersebut sehingga mempunyai kekuatan hukum yang mengikat (Winarno, 2002:84).

Aktor-Aktor Dalam Formulasi Kebijakan   

Jones (1991:142-149) secara garis besar membagi aktor-aktor yang terlibat dalam proses formulasi kebijakan menjadi dua, yaitu aktor-aktor di dalam pemerintahan dan aktor-aktor di luar pemerintahan. Aktor-aktor dalam pemerintahan dapat diidentifikasikan menjadi dua yaitu eksekutif dan legislatif Sedangkan aktor-aktor di luar pemerintahan menurut Jones (1991:146-147) terdiri dari organisasi masyarakat, dan swasta, organisasi nirlaba (non profit), maupun organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan umum.  

Winarno (2000:84) membagi aktor-aktor dalam perumusan kebijakan publik menjadi dua, yaitu : pemeran serta resmi dan pemeran serta tidak resmi. Pemeran serta resmi terdiri dari agen-agen pemerintah (birokrasi), presiden (eksekutif), legislatif dan yudikatif. Sedangkan pemeran serta tidak resmi adalah kelompokkelompok kepentingan, partai politik dan warga negara individu.

Tipe-Tipe Golongan/Aktor yang Terlibat Dalam Formulasi Kebijakan 

Golongan Rasionalis
Golongan rasionalis mempunyai ciri dalam melakukan pilihan alternatif kebijakan selalu menempuh metodemetode atau langkah-langkah yang terstruktur, yaitu: mengidentifikasi masalah, merumuskan tujuan dan menyusunnya dalam jenjang tertentu, mengidentifikasi semua alternatif kebijakan, meramalkan dan memprediksikan akibat-akibat dari setiap alternatif, membandingkan akibat-akibat tersebut dengan selalu mengacu pada tujuan dan memilih alternatif yang terbaik. Golongan aktor rasionalis ini identik dengan perencana dan analis kebijakan professional dan terlatih. 

Golongan teknisi
Golongan teknisi adalah aktor yang dilibatkan karena bidang keahliannya atau spesialisasinya, dengan tujuan yang sudah ditetapkan oleh pihak lain. Peran yang dimainkan adalah sebagai seorang spesialis atau ahli yang dibutuhkan tenaganya untuk menangani bidangbidang tertentu. 

Golongan Inkrementalis
Golongan inkrementalis menurut Solichin Abdul Wahab (1997:30) dapat diidentikan dengan para politisi, karena cenderung memiliki sikap kritis namun acap kali tidaksabaran terhadap gaya kerja para perencana dan teknisi walaupun sebenarnya mereka sangat tergantung pada mereka. 

Kebijakan menurut golongan inkrementalis cenderung dilihat sebagai suatu perubahan yang terjadi sedikit demi sedikit, serta tujuan kebijakan dianggap sebagai konsekuensi dari adanya tuntutan-tuntutan, baik karena didorong kebutuhan untuk melaksanakan sesuatu yang baru atau karena kebutuhan untuk menyesuaikan dengan apa yang sudah dikembangkan dalam teori. Golongan inkrementalis ini dikategorikan sebagai aktor yang mampu melakukan tawarmenawar atau bargaining secara teratur sesuai dengan tuntutan, menguji seberapa jauh intensitas tuntutan tersebut dan menawarkan kompromi. Golongan Reformis Golongan reformis merupakan golongan yang berpendirian bahwa keterbatasan informasi dan pengetahuan adalah yang mendikte gerak dan langkah dalam proses pembuatan kebijakan dengan tekanan perhatian pada tindakan sekarang karena urgensi permasalahan yang dihadapi. Pendekatan ini umumnya ditempuh oleh para lobbyist.

Nilai-Nilai Yang berpengaruh dalam Formulasi Kebijakan  

Nilai-nilai politik yaitu dasar yang dipakai oleh para pembuat keputusan untuk menilai alternatif-alternatif kebijakan berupa kepentingan partai politik beserta kelompoknya (clientele group). Nilai-nilai organisasi, dipakai para pembuat keputusan khususnya birokrat karena organisasi-organisasi menggunakan banyak imbalan (reward) dan sanksi dalam usahanya untuk mempengaruhi anggota-anggotanya agar menerima dan bertindak atas dasar nilai-nilai organisasi yang telah dirumuskan. Keputusan individu bisa juga diarahkan oleh pertimbangan-pertimbangan semacam keinginan-keinginan untuk melihat organisasi agar tetap eksis, untuk memperbesar program atau kegiatan, kekuasaan atau hak istimewanya.   

Nilai-nilai pribadi, yaitu kriteria keputusan yang didasarkan usaha untuk melindungi dan mengembangkan kepentingan ekonomi, reputasi atau kedudukan. Nilai-nilai kebijakan, yaitu tindakan pembuat keputusan dengan dasar persepsi mereka tentang kepentingan masyarakat atau kepercayaan-kepercayaan mengenai apa yang merupakan kebijakan publik secara moral benar atau pantas. Nilai-nilai ideologi adalah seperangkat nilai dan kepercayaan-kepercayaan yang berhubungan secara logis yang memberikan gambaran dunia yang disederhanakan dan merupakan pedoman bagi rakyat untuk melakukan tindakan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->