Contoh : 1. PKP "A" bulan Januari 1996 menjual tunai kepada PKP "B" 100 pasang sepatu @ Rp.100.000,00 = Rp.10.

000.000,00 PPN terutang yang dipungut oleh PKP"A" 10% x Rp.10.000.000,00 = Rp. 1.000.000,00 Jumlah yang harus dibayar PKP "B" = Rp.11.000.000,00 2. PKP "B" dalam bulan Januari 1996 : o Menjual 80 pasang sepatu @ Rp.120.000,00 = Rp. 9.600.000,00 o Memakai sendiri 5 pasang sepatu untuk pemakaian sendiri, DPP adalah harga jual tanpa menghitung laba kotor, yaitu Rp 100.000,- per pasang = Rp 500.000,00 PPN yang terutang : o Atas penjualan 80 pasang sepatu 10% x Rp.9.600.000,00 = Rp 960.000,00 o Atas pemakai sendiri 10% x Rp.500.000,00 = Rp 50.000,00 Jumlah PPN terutang = Rp 1.010.000,00 3. PKP Pedagang Eceran (PE) "C" menjual o BKP seharga = Rp.10.000.000,00 o Bukan BKP = Rp. 5.000.000,00 Rp.15.000.000,00 PPN yang terutang 10% x Rp.10.000.000,00 = Rp. 1.000.000,00 PPN yang harus disetor 10% x 20% x Rp.15.000.000,00 = Rp. 300.000,00 4. PKP "D" pabrikan yang menghasilkan mesin cuci pakaian. Mesin cuci pakaian dikategorikan sebagai BKP yang tergolong mewah dan dikenakan PPn BM dengan tarif sebesar 20%. Dalam bulan Januari 1996 PKP "D" menjual 10 buah mesin cuci kepada PKP "E" seharga Rp.30.000.000,00. o PPN yang terutang 10% x Rp.30.000.000,00 = Rp 3.000.000,00 o PPn BM yang terutang 20% x Rp. 30.000.000,000 = Rp 6.000.000,00 PPN dan PPn BM yang terutang PKP "D" = Rp. 9.000.000,00 5. PKP "E" bulan Januari 1996 menjual 10 buah mesin cuci tersebut diatas seharga Rp.40.000.000,00 PPN yang terutang 10% x Rp.40.000.000,00 = Rp. 4.000.000,00 Catatan : PKP "E" tidak boleh memungut PPn BM, karena PKP "E" bukan pabrikan dan PPn BM dikenakan hanya sekali. [ Tata Cara Pembayaran Dan Pelaporan PPN/PPnBM

harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk. SKPKBT. dan Surat Tagihan Pajak (STP).Yang disetor adalah selisih Pajak Masukan dan Pajak Keluaran. Khusus untuk impor tanpa LKP Kapan saat pembayaran/penyetoran PPN/PPnBM ? 1. kecuali BTN 3. Bank-bank lain penerima setoran pajak 6. b. PPN/PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh: . 4. Apa saja yang wajib disetor oleh PKP dan pemungut PPN & PPnBM ? 1. Oleh PKP adalah : a. PPN/ PPn BM atas Impor. dan STP tersebut. c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). Contoh : Masa Pajak Januari 1996. dan STP harus dibayar/ disetor sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB. 2. bila Pajak Masukan lebih kecil dari Pajak Keluaran. Oleh Pemungut PPN/PPn BM adalah PPN/PPn BM yang dipungut oleh Pemungut PPN/ PPn BM Dimana tempat pembayaran/penyetoran pajak ? 1. adalah : o KPKN o Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah o Direktorat Jenderal Bea dan Cukai o Pertamina o BUMN/ BUMD o Kontraktor Bagi Hasil dan Kontrak Karya bidang Migas dan Pertambangan Umum lainnya o Bank Pemerintah o Bank Pembangunan Daerah o Perusahaan Operator Telepon Selular. Bank Pemerintah. Pemungut PPN/PPn BM. 2. harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Impor. Bank Pembangunan Daerah 4. penyetoran paling lambat tanggal 15 Pebruari 1996. PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetorkan paling lambat tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah bulan Masa Pajak. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 2. PPN/ PPn BM yang ditetapkan oleh DJP dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Bank Devisa 5. PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB. 3. Kantor Pos dan Giro 2.Siapa saja yang wajib membayar/menyetor & melaporkan PPN/PPnBM ? 1. dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/ dibebaskan. PPn BM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. SKPKBT. Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

b. a. PPNBM PPnBM merupakan jenis pajak yang merupakan satu paket dalam Undang-undang . PPN dari penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Badan Urusan Logistik (BULOG). Apa sarana yang digunakan untuk melakukan pembayaran/penyetoran pajak? 1. Surat Setoran Pajak menjadi lengkap dan sah bila jumlah PPN/PPnBM yang disetorkan telah diberi teraan oleh : Bank. harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat selambatlambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP. harus menyetor dalam jangka waktu sehari setelah pemungutan pajak dilakukan. 5. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungut PPN/ PPn BM atas Impor. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai selain Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. Bendaharawan Pemerintah. PPN dan PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh : a. Catatan : Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas Impor. Untuk membayar/menyetor PPN dan PPn BM digunakan formulir Surat Setoran Pajak yang tersedia gratis di Kantor-kantor Pelayanan Pajak dan Kantor-kantor Penyuluhan Pajak di seluruh Indonesia. 4. 3. harus disetor selambatlambatnya tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. maka pelaporan harus dilaksanakan pada hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo. b. c. harus disetor selambat-lambatnya tanggal 7 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.O) ditebus. 2. c. Untuk penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh BULOG. maka PPN dan PPn BM dihitung sendiri oleh PKP. dan STP yang telah dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan. atau Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penerima setoran. harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada KPP setempat selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. Kapan saat pelaporan PPN/PPnBM ? 1. 2.a. maka pembayaran harus dilaksanakan pada hari kerja berikutnya. harus dilunasi sendiri oleh PKP sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (D. Kantor Pos dan Giro. harus dilaporkan secara mingguan selambat-lambatnya 7 hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir. b. Catatan: Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari libur. Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan selambat-lambatnya 14 hari setelah Masa Pajak berakhir. SKPKBT. Pemungut PPN selain Bendaharawan Pemerintah. c. PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB.

Pengertian Menghasilkan PPnBM dikenakan pada saat Pengusaha yang menghasilan BKP Mewah menyerahkan kepada fihak lain. membotolkan : memasukkan minuman atau benda cair ke dalam botol yang ditutup menurut cara tertentu. perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional. seperti merakit mobil. 2. mekanisme pengenaan PPnBM ini sedikit berbeda dengan PPN. PPnBM tidak dikenakan lagi pada rantai penjualan setelah itu. atau 3. merakit : menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu barang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. Termasuk dalam pengertian menghasilkan adalah sebagai berikut . Namun demikian. PPnBM hanya dikenakan pada saat penyerahan BKP Mewah oleh pabrikan (pengusaha yang menghasilkan) dan pada saat impor BKP Mewah. 1. perlu untuk mengamankan penerimaan negara. perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi. PPnBM atas impor BKP mewah dilunasi oleh importir berbarengan dengan pembayaran PPN impor dan PPh Pasal 22 Impor. 4. Pengertian BKP Mewah 1. memasak : mengolah barang dengan cara memanaskan baik dicampur bahan lain atau tidak. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dikenakan terhadap : 1. serta mengganggu ketertiban masyarakat.Pajak Pertambahan Nilai. bahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok. barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu. Sementara itu. 3. impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. perabot rumah tangga. pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. atau 5. 4. barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status. seperti minuman beralkohol. Dasar Pertimbangan Pengenaan PPnBM 1. atau 2. 5. mengemas : menempatkan suatu barang ke dalam suatu benda yang melindunginya dari kerusakan dan atau untuk meningkatkan pemasarannya. Adapun fihak yang memungut PPnBM tentu saja pabrikan BKP Mewah pada saat melakukan penyerahan atau penjualan BKP Mewah. . 3. perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. atau 4. Dengan demikian. barang elektronik. 2. apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat. dan sebagainya. mencampur : mempersatukan dua atau lebih unsur (zat) untuk menghasilkan satu atau lebih barang lain. Berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) Undang-undang PPN. 2.

2. 4.000 Rp 10.000.000 PT.000 Rp 15.000.” PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN DAN PPN BM) Minggu. Samsung pabrik AC harga jual Rp 4.000.000. Kelompok dan Jenis BKP Mewah Berdasarkan Pasal 8 Undang-undang PPN.000.000 Rp 25.termasuk PPN BM 20% PPN = Rp 4. Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah..000 Rp 10.oleh : admin Jatuh tempo : Menyetor tanggal 15 bulan berikutnya Melapor tanggal 20 bulan berikutnya Mata Rantai Harga Jual Pajak Keluaran Pajak Masukan PPN Pabrik (PT.000 PPN 10% x Rp 200.000 Rp 35.000 Contoh soal : Jasa kena pajak PT. 1 Maret 2009 22:42:17 .500/US$ Bea masuk 20% Jawaban : . X membangun outlet dengan luas bangunan 200 m2 dengan biaya Rp 500. Atas ekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dikenakan pajak dengan tarif 0% (nol persen).000 Rp 10.000 ¯ Pedagang Besar Rp 500.000 Rp 50.000. Jenis Barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.000 Harga Jual Rp 4.000.000 Yang harus dibayar Rp 5.200.000 ¯ Distributor (PT.000.000. ditentukan : 1.000.000 Rp 35. X) Rp 100.000 PPN BM = Rp 4.000 Rp 15.000 Rp 25.000 = Rp 20.000 ¯ Agen (PT. 3.000 Nilai konversi Rp 9.000 Rp 10.000 x 20% Rp 800.000 Konsumen Rp 50.Jawaban : DPP 40% x Rp 500.000 x 10% Rp 400.000 = Rp 200. Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen). Q) Rp 350. Y) Rp 250.000 Nilai Import Cost insurance freigh (CIF) US$ 20.000.Tarif.

Jumlah PPN yang terutang pada saat pembayaran uang muka tersebut dihitung secara proporsional dengan jumlah pembayarannya dan diperhitungkan dengan PPN yang terutang pada saat dilakukan penyerahan.000. 110.000) PPN Rp (25.000.000 DPP Rp 228.000.Rp 38. Korindo Motors mendapatkan tagihan dari PT.000 Contoh soal : PT.000.600.000.= Rp 25.000 PPN BM 20% Rp 45.Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp.000... maka PPN terutang pada saat diterimanya pembayaran tersebut.400...000.000.000.000) Rp 225.000 PPN BM Rp (125.000.Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 165.000.500..= Rp 125..000. . b.000.Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar sebesar Rp.000.000.. Suzuki atas pembelian mobil Rp 375.. sebesar 10/110 x Rp 55. Apabila atas penyerahan tersebut juga terutang PPn BM karena penyerahan .000..termasuk PPN dan PPN BM 40% PPN BM 50/150 x Rp 375.(termasuk PPN sebesar Rp 15.(10%)) ..000.dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000. sebesar 10/110 x Rp 110.000.000.000 Rp 150.000.000.000.x Rp 9.000. Contoh : .= Rp 5. Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan kendaraan bermotor atau pembayaran uang muka..PPN terutang dan harus dipungut : .800.000.000 a.Nilai import = US$ 20.000.Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000.000.000 PPN 10% Rp 22.000 Bea masuk 20% x Rp 190. 55.000.000.000 PPN 10/150 x Rp 375.000.dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.000 Harga Rp 375.000...000. PPN terutang pada saat terjadinya penyerahan kendaraan bermotor dari PKP (Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan/Distributor/Dealer/Sub-Dealer/Showroom).000.Rp 190.000 Yang harus dibayar Rp 68.Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000.000.000.= Rp 10.000.

PPN (10%) : Rp.000. 12.a) ------------------------ . 364.000..000. 240.000.(butir 1.PPn BM (50%) : Rp..a) -----------------------Harga Pembelian : Rp.000. 342.000. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CBU : 1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM : a) impor : .000.PPn BM (50%) : Rp.000.000.000.(Pajak Keluaran) . 100.000.000..Harga Jual (DPP) : Rp. 24..(Pajak Masukan) .000.000.PPn BM (50%) : Rp.000.PPn BM (50%) : Rp.000.a) -----------------------Harga Penjualan : Rp.b) penyerahan : .-----------------------Harga Impor : Rp.a) -----------------------Harga Penjualan : Rp.000. 22. 20...PPn BM (50%) : Rp..Nilai Impor (DPP) : Rp.000.000. 100.000.- 3) Dealer : a) Pembelian : .000.(Pajak Masukan) . 100. 320.PPN (10%) : Rp.000. maka dalam pembayaran uang muka yang diterima sebelum penyerahan kendaraan bermotor.b) penyerahan : ..(Pajak Keluaran) .000.000.(butir 1.000.000.000. terutang PPn BM disamping terutang PPN.000.000. 220.Harga beli (DPP) : Rp.- 2) Distributor : a) Pembelian : .000.000.. 100.PPN (10%) : Rp.000. Contoh mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM a. 100.000.000. 24.000.(butir 1.dilakukan oleh Pemungut PPn BM ("Pabrikan").. 200... 342. 22..PPN (10%) : Rp.PPN (10%) : Rp.000. 220.Harga Jual (DPP) : Rp.(Pajak Masukan) . 240.000..000.(butir 1.Harga beli (DPP) : Rp.

PPn BM (-%) : Rp..000.000.000.000.000. 15.000. 352.PPN (10%) : Rp.(butir 1.000. -. 408.000.000.000.000.000.000..(Pajak Masukan) .000.000.000.PPN (10%) : Rp.000.b) penyerahan : .. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CKD atau produksi dalam negeri : 1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM : a) impor : .b) penyerahan : .000..000.(butir 1..b) penyerahan : .000.000.PPN (10%) : Rp.a) -----------------------Harga Pembelian : Rp..000.PPn BM (50%) : Rp.. 386.000..a) -----------------------Harga Penjualan : Rp.(Pajak Masukan) .PPn BM (50%) : Rp.. 260. 260. 386..000.000.(Pajak Keluaran) .Harga Pembelian : Rp. 26.Nilai Impor (DPP) : Rp. 26. 280.000. 110.(yang dibayar konsumen) b.Harga beli (DPP) : Rp.Harga Jual (DPP) : Rp.000.- 4) Sub-Dealer/Showroom : a) Pembelian : ..PPn BM (50%) : Rp.000.000. 28..(butir 1.-----------------------Harga Impor : Rp. 100. 364.Harga Jual (DPP) : Rp.. 22.000.000.000. 100.000. 220.PPN (10%) : Rp.000. 150. 165. 100.000.- .PPn BM (50%) : Rp.(Pajak Keluaran) .-----------------------Harga Penjualan Rp.Harga Jual (DPP) : Rp.000.000.a) -----------------------Harga Penjualan : Rp..000.PPN (10%) : Rp.000.(Pajak Keluaran) .000.

b) -----------------------Harga Pembelian : Rp.(Pajak Masukan) . 110.000.000. 24.000. 396.000..PPN (10%) : Rp.Harga beli (DPP) : Rp......2) Distributor : a) Pembelian : .000.PPN (10%) : Rp.(Pajak Masukan) . 374.PPn BM (50%) : Rp.000.PPN (10%) : Rp.000.000.000.PPn BM (50%) : Rp. 280.b) -----------------------Harga Pembelian : Rp.PPN (10%) : Rp.000.000.- b) penyerahan : . 240.PPn BM (50%) : Rp.000.PPn BM (50%) : Rp.4) Sub-Dealer/Showroom : a) Pembelian : .000.000. 396.(Pajak Keluaran) .000.Harga Jual (DPP) : Rp...000..(butir 1. 110.000.Harga Jual (DPP) : Rp.000.(butir 1.000.PPN (10%) : Rp. 22. 374.PPN (10%) : Rp.Harga Jual (DPP) : Rp.000.000. 260. 110.(butir 1. 260.000. 26.000..- b) penyerahan : .000.000.000..000.000.3) Dealer : a) Pembelian : .000..Harga beli (DPP) : Rp.000. 110.000.000.000.000.(Pajak Keluaran) .Harga beli (DPP) : Rp.(butir 1.000.b) ----------------------Harga Pembelian : Rp. 220.b) ----------------------Harga Penjualan : Rp..000.000.. 24.(butir 1..(Pajak Masukan) .b) -----------------------Harga Penjualan : Rp. 110. 352. 240.(Pajak Keluaran) . 26.000.000.000..- b) penyerahan : . 28.000.000.000.PPn BM (50%) : Rp..000.

364.000.000.000.PPn BM (15%) Rp 8.Rp 186. CONTOH PENGHITUNGAN PPN DAN PPn BM KENDARAAN BERMOTOR YANG BERASAL DARI SASIS (DEALER SEBAGAI WAJIB PUNGUT PPn BM) 1. 4.273.-) = Rp 17.Rp 18. 3.272.000. Dealer "B" membeli sasis kendaraan bermotor dari Main Dealer "A" seharga Rp . Pengurusan balik nama kendaraan bermotor dilakukan oleh Main Dealer "A" dan pembeli membayar Rp 18..-) = Rp 177.Bea Balik Nama (BBN) Rp 18. Dealer "B" mendapat potongan harga dari Main Dealer "A".000.727.000.PPn BM (50%) : Rp.-) = Rp 186.000.000.000. PPn BM dan tidak termasuk Bea Balik Nama) yang dibeli dari Main Dealer "A"..636.PPN (10%) Rp 17.000.----------------------Harga Tebus Rp 221.000.000.727.kepada Main Dealer "A" melalui Dealer "B".273..15.000.000. 418. PPn BM sebesar Rp 8.000.272.-) = Rp 18..000.364.(butir 1. CONTOH PENGHITUNGAN PPN KENDARAAN BERMOTOR (Harga Jual On the Road) 1. PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH : Harga Jual Main Dealer "A" (On The Road) Rp 225.18.000.000..000.000.Rp 8.363.000 (termasuk PPN.----------------------..b) -----------------------Harga Penjualan : Rp.(yang dibayar konsumen) 14.727.363.636...727.16.Potongan harga untuk Dealer "B" Rp 4.000..000. Dealer "B" menjual satu unit kendaraan bermotor dengan harga jual kepada pembeli sebesar Rp 205.000.• JUAL 100/110 x (Rp 205.000.sudah dipungut dan dilaporkan oleh Main Dealer "A".---------------------PPN yang harus disetor Rp 909.Rp 8.----------------------JUMLAH Rp 203.000.17.363.000.091.000.727..----------------------Harga Beli Dealer "B" Rp 203.000. 110.Rp 8.000.000.000.PAJAK KELUARAN (10% x Rp 186..272. Atas pembelian tersebut.Rp 205.000.000. 2. Faktur Pajak (Off the Road) : BELI JUAL Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp 117.000. Perhitungan PPN Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer : .000.636.636..636. Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak : • BELI 100/110 X (Rp 203.PAJAK MASUKAN (10% x Rp 177.

Dasar Pengenaan Pajak (Karoseri "C") Rp 10.000.000.22..= Rp 2.120. Faktur Pajak (Off The Road) : BELI JUAL Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp 89.000.000.090.000.= Rp 89.909.Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 : 1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.091.2) PPn BM 15 % x Rp 101..000 (termasuk PPN dan PPn BM)..-) = Rp 10.000..000. PPn BM sebesar Rp 15.000. 225.000. Perhitungan PPN Dan PPn BM Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer : 1) PPN .PAJAK KELUARAN (10 % x Rp 101. 25.---------------------PPN yang harus disetor Rp 210.Beli Sasis 100/110 X Rp 98.000.000.909..091.500.909.200. sebagai pihak yang menyuruh melakukan pengubahan.000.000.120..PPn BM (15 %) Rp -.800..-) = Rp 9..PPN dan PPn BM terutang dan harus dipungut : .000.Karoseri (10 %) Rp 1.090..dipungut dan dilaporkan oleh Dealer "B".PAJAK MASUKAN (Rp 8.180.PPN (10 %) Rp 8.000.200.500.000.000.200.(10 %) dan PPn BM sebesar Rp 30..kemudian menyuruh Karoseri "C" mengubah sasis tersebut menjadi kendaraan bermotor angkutan orang dan kemudian menjualnya kepada pembeli dengan harga Rp 126.Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000.000.Rp 10.Rp 15.000.000.= Rp 15.----------------------.000.180.(15%)) .000.= Rp 101..000. PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH : Harga Jual Sasis Main Dealer "A" Rp 100. .000.000.----------------------JUMLAH Rp 109..000..000.dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan Agustus 2000..Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp.000.19. 2.20.Rp 101. Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak : . Contoh : .(termasuk PPN sebesar Rp 20.000.Jual Kendaraan Bermotor 100/110 x Rp 126..100.000..000.21.000.000.Potongan harga untuk Dealer "B" Rp 2..000.091 + Rp 1.Rp 126.000.090.909.dengan potongan harga sebesar Rp 2.200.909.000.----------------------Harga Tebus/Beli Dealer "B" Rp 98.000..000.Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar sebesar Rp.000.000..PPN .000.500.000.

2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000.000. 250.000.Rp 25.000. .000.000..000.000.dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000.000. .Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 : 1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp.000.000..Rp 25.= Rp 3.000.dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan September 2000.000.000.-) = Rp 27.000.-) = Rp 18..dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan Agustus 2000..2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.