P. 1
STANDARDISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF

STANDARDISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF

|Views: 541|Likes:

More info:

Published by: Berly Amanda Nugraha on Mar 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2014

pdf

text

original

Prosiding PPI Standardisasi 2009 - Jakarta, 19 November 2009

STANDARDISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KAYU KONSTRUKSI
Iwan Suprijanto1, Rusli2, Dedi Kusmawan3
Oleh

Abstract Every year, the availability of wood as raw material has been rapidly decreases and causes the destruction of rainforest in Indonesia which lead to least productivity of wood. One of the main causes is the unbalancing between the demands of raw materials to the availability of woods in the forest. Tecnology of laminating bamboo soon to be expected as a friendly environment solution as an alternative material to replace woods as raw materials for contruction and furniture. Process of making laminating bamboo consists of: raw materials preparation; tools preparation; cutting process; preserving process; laminating process; finishing process; it is necessary to formulate stardardizatin for the process of making laminating bamboo. Formulation standar for the process of making laminating bamboo covers of: specifications technique; guidance of bamboo laminating preservation; guidance of bamboo laminating process. Keywords: bamboo, laminate, standardize/guidance

1

Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar dan Peneliti Madya Bidang Permukiman 2 Kepala Seksi Program dan Pelayan Teknis Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar dan Peneliti Muda Bidang Bahan Bangunan. 3 Staff Seksi Program dan Pelayan Teknis Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar

1

Prosiding PPI Standardisasi 2009 - Jakarta, 19 November 2009

I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Ketersediaan kayu konstruksi pada beberapa tahun terakhir mengalami penurunan dan harga kayu konstruksi di pasaran juga terus meningkat. Di samping itu, semakin menyempitnya hutan-hutan produksi di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan kayu konstruksi. Pada saat ini diperlukan usaha melakukan reboisasi untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Tetapi reboisasi memerlukan waktu yang sangat lama sedangkan kebutuhan kayu konstruksi semakin meningkat yang menyebabkan terjadinya kesulitan kayu konstruksi dengan kualitas baik dan dimensi sesuai kebutuhan. Dalam upaya mengatasi permasalahan di atas, perlu dikembangkan teknologi bahan alternatif pengganti kayu. Salah satu bahan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti kayu adalah bambu. Bambu mempunyai beberapa keunggulan untuk dapat dijadikan pengganti kayu sebagai bahan konstruksi serta meubel. Pada tahun anggaran (TA) 2008 dan 2009 telah dilakukan pengembangan teknologi bambu laminasi oleh Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar. Tujuan Tujuannya adalah menyusun/merumuskan standardisasi tentang bambu laminasi sebagai pengganti kayu konstruksi. Manfaat Tersedianya alternatif bahan bangunan pengganti kayu konstruksi dan terbukanya lapangan kerja baru. Ruang lingkup Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini adalah: a. Spesifikasi bambu laminasi b. Proses produksi c. Proses standardisasi II LANDASAN TEORI

2.1 Bambu Laminasi Teknologi bambu laminasi pada awalnya didasari oleh pemikiran dari balok glulam (glue laminated beam). Balok glulam dibuat dari lapisan-lapisan kayu yang relatif tipis yang dapat digabungkan dan direkatkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan balok kayu dalam berbagai ukuran dan panjang (Breyer, 1988:112-116).

2

3. 2. Bamboo Information Centre (1994).Jakarta. Berat jenis Berat jenis bambu menunjukkan banyaknya massa bambu. Dari eksperimen yang telah dilakukan diperoleh bahwa ketahanan lantai bambu adalah sekitar 130 persen dari ketahanan lantai kayu kempas (Koompasia Malaccensis). Teknologi laminasi secara tidak langsung dapat mengatasi masalah retak. Mengingat kekuatan tersebut. bambu lapis cocok digunakan sebagai lantai bangunan gedung. 3. Bambu lapis mempunyai kekuatan yang tinggi terhadap abrasi serta momen lentur. Arah serat lamina dapat dipasang saling bersilangan. Menurut Guisheng (1985) kayu lapis yang dihasilkan jika diperbandingkan dengan papan partikel secara acak. bahan bangunan berukuran kecil dapat direkatkan membentuk komponen bangunan sesuai dengan keinginan. serta Subiyanto dan Subyakto (1996). dengan kata lain jumlah sel-sel penyusun bambu dengan berat sel masing-masing menunjukkan berat total bambu.1 Sifat fisik Sebagai bahan material alam. Adapun yang termasuk karakteristik fisika bambu. atau sekitar 5 kali ketahanan kayu karet.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . pecah ataupun cacat akibat pengeringan karena lamina terdiri atas lembaranlembaran yang tipis sehingga pengeringan lebih cepat dan mudah. bambu mempunyai bermacam-macam sifat yang tergantung pada jenis. 19 November 2009 Pemakaian bambu sebagai bahan kayu lapis telah diperkenalkan oleh Guisheng (1985). Teknik laminasi juga merupakan cara penggabungan bahan baku yang tidak seragam atau dari berbagai kualitas. dan bekisting beton (Morisco 2006). secara garis besar keuntungan yang dapat diperoleh dari teknologi laminasi antara lain : 1. 2. lantai truk. Ketahanan lantai bambu terhadap abrasi telah diteliti oleh Mohmod dan kawan-kawan (1990).3 Sifat-Sifat Bambu Laminasi Bambu laminasi sebagai bahan konstruksi perlu ditinjau sifat-sifatnya mengenai sifat mekanis dan sifat fisiknya. Produk lamina yang berlapis-lapis memungkinkan untuk memanfaatkan lamina berkualitas rendah untuk disisipkan diantara lapisan luar (face) dan lapisan belakang (back) seperti halnya produk kayu lapis. dan MOE 4 – 6 kali. Berat jenis bambu dihitung sebagai nilai 3 . 2.2 Teknologi Perekatan Laminasi Teknologi perekatan bambu laminasi merupakan teknik pengabungan bahan dengan bantuan perekat. lingkungan pertumbuhan dan asalnya. Teknologi laminasi memungkinkan pembuatan struktur bangunan berukuran besar yang lebih stabil karena seluruh komponen (lembaran) yang digunakan telah dikeringkan sebelum dirakit menjadi produk laminasi. Menurut Morisco (2006). antara lain: a. sehingga susunan ini akan menjadikan kembang-susut produk tidak besar. 2. 4. mempunyai MOR 4 – 7 kali.

Kadar air dihitung sebagai persentase perbandingan berat air dalam bambu dengan berat kering tanur. Kadar air Adalah nilai yang menunjukkan banyaknya air yang ada dalam bambu. Kelembaban (kadar air kesetimbangan) pada batang bambu. Peningkatan nilai modulus elastisitas seiring dengan peningkatan keteguhan lentur suatu bahan (Prayitno. Keteguhan lentur adalah rasio beban terhadap regangan dibawah proporsional. 2004 dalam Sjelly Haniza.4 Landasan Teori Uji Bambu Laminasi 2. Bagian batang tanpa ruas memiliki kuat tekan (8 – 45)% lebih tinggi dari pada batang bambu yang beruas. atau kepala).2 Sifat mekanis Sifat . 19 November 2009 b. Modulus Elastisitas Modulus elastisitas merupakan keteguhan lentur pada batas elastis bahan. d. pertengahan. Kuat Tekan Kekuatan bambu untuk menahan gaya tekan tergantung pada bagian ruas dan bagian antar ruas batang bambu. Bagian ujung memiliki kekuatan terhadap gaya tarik 12% lebih rendah dibandingkan dengan bagian pangkal. c.Jakarta. c. Berat bambu kering tanur adalah berat bambu total tanpa air akibat pengeringan dalam tanur pada suhu 101 – 105°C. b. perbandingan antara berat bambu kering dibagi berat air dengan volume sama dengan volume bambu tersebut. 1995). Letak dan jarak ruasnya masing-masing (bagian ruas kurang tahan terhadap gaya tekan dan lentur) Beberapa sifat mekanika bambu yang penting untuk perencanaan konstruksi bambu (Frick.1 Kadar air dan kerapatan Kadar air dihitung sebagai prosentase perbandingan berat air dalam bambu dengan 4 . e. 2. b. Kuat Geser Kemampuan bambu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian bambu bergeser dari bagian lain di dekatnya disebut dengan kuat geser. Kuat geser bambu bergantung pada ketebalan dinding batang bambu. Kuat Tarik Kekuatan bambu untuk menahan gaya tarik tergantung pada bagian batang yang digunakan.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .3. 2. antara lain: a. d.4.sifat mekanis bambu secara teoritis menurut Frick (2004) tergantung pada: a. Jenis bambu yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan. Bagian batang bambu yang digunakan (bagian kaki. 2005). Umur bambu pada waktu penebangan. Bagian batang tanpa ruas memiliki kekuatan terhadap gaya geser 50% lebih tinggi dari pada batang bambu yang beruas.

P N Gambar 1 Tegangan pada Gelegar yang Diberi Beban P 5 . Akibat beban tersebut maka specimen akan mengalami tegangan yang terdistribusikan secara liniear pada penampangnya. Hasil yang diperoleh dihitung menggunakan persamaan: w = (m1 − m 2 ) m2 ρw = × 100% mw vw dengan: w = m1 = m2 = = ρw mw = vw = kadar air (%) berat benda uji sebelum dikeringkan (gr) berat benda uji setelah dikeringkan (gr) kerapatan (gr/cm3) berat bambu (gr) pada kadar air w volume (cm3) pada kadar air w 2. dengan menggunakan standar ISO 3130 – 1975 (E).Prosiding PPI Standardisasi 2009 .Jakarta.2 Kuat lentur Pada pengujian lentur statis specimen diberikan beban pada sisi radial atau tangensial. Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 sebagai berikut. 19 November 2009 berat kering tanur.4.

dengan menggunakan standar SNI 03 – 3960 – 1995. 19 November 2009 Rusak Beban maksimum Tegangan (σ) atau satuan beban Garis Batas proporsi (BP) Modulus elastisitas adalah kemiringan garis elastis Daerah di bawah kurva sampai BP adalah usaha yang dapat dipulihkan atau resiliensi Regangan (ε) atau satuan deformasi Gambar 2 Grafik Hubungan Beban dan Deformasi Bagian yang lurus dari kurva menunjukkan bahwa beban dalam keadaan sebanding dengan deformasi yang ditimbulkan. makin tegak garis elastis tersebut maka makin besar Moe atau makin kaku specimen. Deformasi naik lebih cepat daripada beban dan kurva saat ini berupa garis lengkung. Untuk setiap specimen yang diberi beban. dan deformasi tidak lagi sebanding lurus. Dengan demikian batas proporsi dapat didefinisikan sebagai beban per satuan luas dimana deformasi mulai naik lebih cepat daripada beban. Tegangan yang terjadi dalam specimen pada batas proporsi disebut tegangan serat (fiber stress at proportional limit). Jika beban itu dihilangkan maka specimen akan kembali ke bentuk semula. Tujuan pengujian adalah untuk mengukur modulus kekenyalan dengan cara mengukur defleksi pada daerah perlengkungan selama pembebanan berlangsung pada kecepatan konstan. Kemiringan garis elastis ini menunjukkan besarnya MOE. dengan dimensi 50x50x760 mm. Jadi sepanjang garis lurus ini specimen bersifat elastis dan kurva yang lurus itu disebut garis elastis.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . 6 .Jakarta. bagian yang lurus dari kurva beban – deformasi aqkhirnya akan mencapai suatu titik yang disebut batas proporsi. Untuk mengetahui sampai sejauh mana specimen mampu menahan beban yang diberikan maka dilakukan pengujian modulus elastisitas (MOE).

3 Kuat tarik sejajar serat (Tension Pararel to Grain) Yaitu ketahanan specimen terhadap beban yang meregang dan menarik specimen dalam arah serat. Pengujian ini menggunakan mesin uji kuat lentur yang dilengkapi alat khusus yang memegang tiap ujjung specimen sampai ke pundak dengan kecepatan tarikan 0.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Gambar 4 Spesimen Uji Tarik Sejajar Serat 7 .4. dengan dimensi specimen panjang 460 mm dengan tampang lintang 25 x 25 mm.25 inci/menit. 19 November 2009 Gambar 3 Uji Lentur Statis pada Gelagar Kecil Hasil yang diperoleh dihitung dengan menggunakan persamaan : dengan: = modulus elastisitas lentur (MPa) = selisih pembebanan dari satu tahap pembeban ke tahap pembebanan berikutnya (N) = lebar benda uji (mm) = tinggi benda uji (mm) = selisih lendutan dari satu tahap pembebanan ke tahap pembebanan berikutnya (mm) = jarak tumpuan (mm) P b h y L 2.Jakarta. Pengujian ini menggunakan standar SNI 03 – 3399 – 1994.

Pengujian ini menggunakan standar SNI 03 – 3399 – 1994. Pemberian beban tekanan pada spesimen dilakukan dengan kecepatan turunnya kapala mesin uji sebesar 0. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 27 – 1991 – 03.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Selain itu spesimen disangga dengan blok setengah bulatan sehingga beban terbagi merata diseluruh permukaan ujung spesimen. Specimen dipasang pada suatu alat penjepit yang menjepit specimen 25 mm dari tiap ujung sehingga bentangan bebas 150 mm. Adapun arah serat yang diuji adalah bidang radial dan bidang tangensial.5 Kuat tekan sejajar serat (Compression Pararel to Grain) Uji tekan sejajar serat dilakukan untuk menentukan kekuatan kayu terhadap beban aksial jika kayu digunakan sebagai kolom (tiang) pendek. Untuk menghindari tekanan yang eksentris terhadap spesimen.4 Kuat tarik tegak lurus serat (Tension Perpendiculer to Grain) Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan specimen terhadap beban tarik yang dikenakan perlahan-lahan tegak lurus serat.4. dengan dimensi berukuran 50x50x200 mm.024 inchi tiap detik dan defleksi 8 . dengan dimensi specimen 50x50x50 mm.4.Jakarta. 19 November 2009 Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan : dengan: = kuat tarik sejajar serat (MPa) P B H = beban uji maksimum (N) = lebar daerah uji (mm) = tinggi daerah uji (mm) 2. permukaan ujung harus benar-benar tegak lurus sumbu panjang spesimen. Gambar 5 Spesimen untuk uji tarik tegak lurus serat Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan sebagai berikut: dengan: = kuat tarik tegak lurus serat (MPa) P B H = beban uji maksimum (N) = lebar daerah uji (mm) = tinggi daerah uji (mm) 2.

Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Beban diberikan pada spesimen melalui suatu plat baja lebar 50 mm yang ditempatkan melintang panjang spesimen ditengah-tengah sehingga menutup panjang spesimen tepat ditengah-tengah. Gambar 7 Spesimen untuk Uji Tekan Tegak Lurus Serat Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan : dengan : = kuat tekan tegak lurus serat (MPa) 9 . Pembacaan beban dan defleksi dicatat tiap kenaikan beban 1000-2000 lbs hingga beban maksimum dilampaui. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 27 – 1991 – 03.4.6 Kuat tekan tegak lurus serat (Compression Perpendiculer to Grain) Merupakan kemampuan bahan menahan beban tekan maksimal tegak lurus arah serat.Jakarta. dengan dimensi 50x50x150 mm. Gambar 6 Spesimen untuk Uji Tekan Sejajar Serat Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan sebagai berikut: dengan: = kuat tekan sejajar serat (MPa) P b h = beban uji maksimum (N) = lebar benda uji (mm) = tinggi benda uji (mm) 2. 19 November 2009 specimen diukur dengan alat kompresormeter sampai 0.0001”. Seluruh panjangnya disangga oleh meja mesin penguji.

4. 19 November 2009 P b h = beban uji maksimum (N) = lebar benda uji (mm) = tinggi benda uji (mm) 2. Tahapan penelitian seperti terlihat pada Gambar 9 berikut ini. dengan dimensi 35x50x65 mm. 10 . Gambar 8 Spesimen untuk Uji Geser Sejajar Serat Hasil yang diperoleh dihitung dengan persamaan : dengan: = kuat geser (MPa) P b h III = beban uji maksimum (N) = lebar daerah uji (mm) = tinggi daerah uji (mm) METODOLOGI Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah metode eksperimental dengan melakukan beberapa pengujian di laboratorium.7 Kuat geser sejajar serat (Shear Pararel to Grain) Untuk mengetahui kekuatan atau keteguhan geser (ultimate Shearing stress) spesimen terhadap gaya yang berusaha menggeser satu bagian dari spesimensepanjang suatu bidang yang sumbunya sejajar serat. Pengujian ini menggunakan standar SK SNI M – 26 – 1991 – 03.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .Jakarta.

19 November 2009 Penyiapan Alat Pengadaan Bahan Pengawetan Bambu Pengolahan Bambu Pembuatan Sampel Pengujian I Pembuatan Sampel Pengujian II Hasil Pengujian I Berat Labur Optimum Hasil Pengujian II Hardener Optimum Pembuatan Sampel Pengujian III c A Hasil Pengujian III (Mekanika) Standardisasi Spesifikasi - Tata cara : Tata cara pengawetan Tata cara proses laminasi Gambar 9 Bagan Alir Pelaksanaan Standardisasi 11 .Jakarta.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .

ramah lingkungan dan ekonomis. ember plastik sebagai tempat perekat. Perekat Perekat yang digunakan adalah jenis polymer yang merupakan perekat berasal dari tumbuh-tumbuhan.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Proses pemotongan Bambu yang telah dipotong kemudian dibersihkan bagian kulit luar dan bagian dalamnya serta bagian tonjolan pada buku-bukunya dengan cara dikuliti. klem penjepit. meteran. dan tebal 15 mm. Bambu yang telah 12 . Namun pada waktu pembersihan bagian kulitnya diharapkan tidak habis dikuliti. 3. alat kempa hidrolik. diameter 120 mm. Di dalam bak perendam telah diisi campuran air dan larutan pengawet (boron) dengan perbandingan larutan boron sebesar 5% dari jumlah volume air di dalam bak perendam. Perekat jenis ini mudah mengeras pada variasi suhu yang luas.Jakarta. Bambu Bambu yang dipergunakan adalah bambu petung karena dinding batangnya yang tebal sehingga lebih hemat pada saat proses perekatan dengan ukuran batangan bambu dengan panjang 4000 mm. Setelah bambu bersih kemudian dibelah menjadi bilah-bilah dengan lebar 25-30 mm. yaitu: Penyiapan bahan baku Adapun spesifikasi dari bahan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Alat dalam proses laminasi antara lain: timbangan digital. Sedangkan bahan pengeras (crosslinker) digunakan isocyanate. Bak perendam dan air yang digunakan untuk merendam bambu harus bersih dan terbebas dari kandungan minyak dan kotoran. Perekat jenis ini berbentuk cairan putih dan agak kental. Pengawetan Bahan pengawet yang digunakan adalah boron. yaitu bahan kimia liquid yang berfungsi melindungi bambu dari serangan organisme perusak (kumbang bubuk). Proses pengawetan Teknik pengawetan yang digunakan adalah perendaman dalam larutan kimia. 19 November 2009 IV HASIL PENELITIAN Proses Produksi Bambu Laminasi Tahapan dalam proses produksi bambu laminasi. 2. gergaji tangan. antara lain: parang. amplas dan bejana panjang sebagai bak perendaman bambu. Penyiapan alat Alat yang digunakan untuk pengolahan dan pengawetan bahan baku. mesin serut (planner). dan kuas. karena kekuatan bambu terdapat pada bagian serat dindingnya.

sedangkan pada kondisi eksterior diperoleh kuat geser maksimum sebesar 10. Bambu petung yang digunakan berdasarkan pengujian memiliki nilai kuat geser rata-rata 4. diratakan setiap sisi-sisinya dan dihilangkan bagian-bagian lem yang meleleh keluar. Hal ini menunjukkan berat labur optimum menggunakan perekat polymer isocyanate terjadi 13 . f.5 MPa. Proses laminasi Proses laminasi dilakukan setelah bambu mengalami proses pengawetan dan pengolahan bambu menjadi bilah-bilah. Dilanjutkan dengan penyerutan dan pengampelasan bagian-bagian sisi-sisi balok hingga diperoleh permukaan yang halus dan rata. Pada kondisi interior diperoleh kuat geser maksimum dengan berat labur 225 gr/m2 sebesar 12. Proses perendaman dilakukan selama 5-6 hari. terlebih dahulu bilah diserut. Agar dalam satu susunan lapis diperoleh dimensi bilah yang seragam.08 Mpa dengan berat labur 225 gr/m2. c. Setelah itu lapisan bilah dikeluarkan dari cetakan. b. Proses pengeringan Setelah proses pengawetan. Spesifikasi Spesifikasi bambu laminasi diperoleh dari hasil pengujian sebagai berikut: Hasil pengujian keteguhan geser bambu laminasi dengan variasi komposisi perekat polymer Hasil pengujian kuat geser bambu laminasi dengan menggunakan perekat polymer isocyanate yang dibagi atas dua jenis kondisi yakni interior dan eksterior.Jakarta. d. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan/klem untuk kemudian dikencangkan. Penyelesaian akhir Balok-balok bambu laminasi yang sudah kering.0 Mpa. pada pengeleman bilah disusun melebar sekitar 5-7 bilah dengan lebar tiap lapis 30 mm. dilanjutkan dengan proses pengeringan dengan cara dijemur hingga kadar air mencapai 12 -15%.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Bilah dilem dengan cara dikuas pada kedua sisi lebarnya dengan campuran perekat dan hardener sesuai komposisi yang direncanakan. setelah proses perendaman kemudian bambu dikeringkan dengan cara dijemur sampai kadar air mencapai 12-15%. 19 November 2009 dipotong-potong menjadi bentuk bilah atau berbentuk bulat utuh selanjutnya dimasukkan ke dalam sebuah bejana/bak perendam. kemudian lapis bilah tersebut dikempa dengan tekanan kempa 2. Kemudian bilah siap dilem.93 MPa (N/mm2). Dilanjutkan dengan proses pengeringan/penjemuran selama + 2 jam. Setelah terkumpul 2 lapis susunan bilah dalam satu cetakan/klem. Adapun tahapan-tahapan kegiatan laminasi adalah sebagai berikut: a. e. Dipilih bilah-bilah bambu yang lurus dengan kadar air sudah mencapai 1215 %.

11 14.85 1.08 12. Kode Panjang (mm) 19 21 21 21 19 22 21 20 18 20 21 Lebar (mm) 23 23 22 17 20 19 21 20 18 22 29 Luas Bidang Rekat (mm ) 437 483 462 357 380 418 420 380 342 440 609 2 Beban (N) 350 1960 910 930 2700 5970 1030 5700 4370 2320 1520 Kuat Geser 2 (N/mm ) Masing 0.28 8.24 15.64 200 6.27 2.Jakarta.39 9.08 5.20 0.00 12.00 225 250 10.28 200 8.08 14 . Kode Panjang (mm) 21 22 21 20 20 19 21 21 19 20 19 20 21 20 21 21 22 20 Lebar (mm) 20 21 21 20 19 19 18 18 18 19 19 20 21 20 21 17 17 17 Luas Bidang Rekat (mm ) 420 462 441 400 380 361 378 378 342 380 361 400 441 400 441 357 374 340 2 Beban (N) 550 1110 530 340 390 6100 4250 5700 4260 2650 3390 3870 2590 3710 3650 2490 3620 3490 Kuat Geser 2 (N/mm ) Masing 1.28 2.68 5.28 6.97 9. 19 November 2009 pada variasi berat labur 225 gr/m2.90 11.46 6.26 225 12.97 9.68 275 7.81 300 8.97 Sumber : Balai PTPT Denpasar TA (2008) Tabel 2 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Berat Labur pada Kondisi Eksterior Variasi (gr/m ) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 175 1d 1e 1f 2d 2e 2f 3d 3e 3f 4d 4e 2 No.40 1.80 4.50 2 Rata 2 2.26 2 Rata 2 1.97 2.87 9.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . seperti ditunjukkan pada tabel 1 dan 2.31 2. Tabel 1 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Berat Labur pada Kondisi Interior Variasi (gr/m ) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 175 1a 1b 1c 2a 2b 2c 3a 3b 3c 4a 4b 4c 5a 5b 5c 6a 6b 6c 2 No.06 1.78 5.45 15.03 16.93 250 8.68 10.61 7.

51 2 Rata 2 12 13 14 15 16 17 18 275 4f 5d 5e 5f 6d 6e 6f 21 21 19 20 18 20 21 10.19 11. 19 November 2009 No. yang berpengaruh terhadap waktu proses pengerjaan.47 6. Kondisi interior didapatkan dengan berat labur 236.786 gr/m2.Jakarta. dan bahan perekat pada bambu laminasi. Persentase crosslinker dalam beberapa variasi berpengaruh pada kuat geser.72 Sumber : Balai PTPT Denpasar TA (2008) Untuk mengetahui kebutuhan berat labur optimal pada penggunaan bahan perekat polymer isocyanate guna mencapai kuat rekat maksimum pada kondisi interior dan eksterior.36 gr/m2 yang tidak terpaut jauh dengan kondisi eksterior didapatkan dengan berat labur 234. namun semakin banyak kadar crosslinker belum 15 . Variasi (gr/m ) 2 Kode Panjang (mm) Lebar (mm) 22 19 20 21 20 21 18 Luas Bidang Rekat (mm ) 462 399 380 420 360 420 378 2 Beban (N) 3450 2620 3420 6150 2690 3020 4350 Kuat Geser 2 (N/mm ) Masing 7. Gambar 2 Grafik Keteguhan Geser Interior dan Eksterior dengan Variasi Berat Labur Hasil pengujian kuat geser bambu laminasi dengan variasi komposisi crosslinker isocyanate Bahan perekat polymer isocyanate memiliki keunggulan dalam proses pengerasan yang relatif cepat.47 7.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . sehingga didapatkan berat labur optimum (lihat gambar 2 di bawah ini). daya rekat. Kenyataannya kadar crosslinker yang kecil membuat kuat rekat yang yang rendah dan kuat rekat akan bertambah dengan bertambahnya kadar crosslinker.64 7.07 300 8.57 9.00 14. maka dihitung kuat rekat maksimum melalui garis regresi pada grafik keteguhan geser masing-masing kondisi.

10 24.45 25.47 6.06 1025.76 1333.15 8.73 10 % 8.15 25. Dari gambar.75 10.10 6.85 5.00 45.30 1145.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .46 10.00 47.5 Mpa.55 23.20 29.85 25.65 43.30 24.65 1245.80 29.65 44.75 23.13 1211.96 1055.15 47.73 8.99 7.60 28.80 5.69 1137.85 26. Hardener (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 15 % BU-1A BU-1B BU-1C BU-1D BU-1E BU-2A BU-2B BU-2C BU-2D BU-2E BU-3A BU-3B BU-3C BU-3D BU-3E BU-4B BU-4C BU-4D BU-4E BU-5A BU-5B BU-5C BU-5D BU-5E BU-6A BU-6B BU-6C BU-6D BU-6E Kode Tinggi (mm) 45.76 1255.50 46.34 2.19 10.51 Rata2 2.53 7.53 7.30 1123.80 44.26 1049.20 45.67 1349.50 26.5% dengan rata-rata kuat rekat sebesar 9.90 47.30 44.50 44.85 6. Tabel 3 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Crosslinker pada Kondisi Interior Variasi No.58 1178.94 10.75 43.34 1111.45 45.25 46.73 Mpa dan pada kondisi eksterior dengan rata-rata kuat rekat tertinggi sebesar 6.97 7.44 8. 3 menunjukkan bahwa pada kondisi interior semua variasi kadar crosslinker nilai keteguhan geser yang diperoleh di atas nilai 16 .60 46.64 Beban (N) 10950 8720 10330 6120 2910 9910 8360 11870 9280 7460 11830 12450 11080 7580 11970 10750 7360 11000 9750 7850 10950 10710 9310 12080 11560 10770 7120 7190 10630 Kuat Geser (N/mm2) Masing2 9.90 12.77 9.99 1174.55 24.23 1190.50 24.70 23.77 8.20 45.76 1122.95 27.23 11.5 % 7. pada kondisi interior rata-rata kuat rekat tertinggi pada kadar crosslinker 7. Seperti terlihat pada tabel 3 dan 4.75 1161.70 44.10 44.15 7.50 25.80 1155.08 5.80 29.60 25.65 46.15 45.5 % 9.10 24.15 1217.75 25.45 5.Jakarta.66 9.90 26. 19 November 2009 tentu akan membuat kuat rekatnya semakin tinggi.75 45.79 1120.35 44.56 8.80 9.33 1179.01 1091.55 25.90 23.85 45.15 Lebar (mm) 24.65 Sumber : Balai PTPT Denpasar TA (2008) Bahan baku bambu petung setelah dilakukan pengujian diperoleh kuat geser rataratanya sebesar 4.24 8.24 1321.18 1181.10 45.25 Luas Bidang Rekat (mm2) 1097.80 25.60 24.44 1305.04 9.70 28.97 5% 7.55 45.70 46.89 MPa pada variasi kadar crosslinker 10%.85 43.25 10.20 45.5 % 8.00 1169.36 1158.70 25.55 1151.76 8.

75 1196.00 1162.90 24.61 7.01 4.65 Luas Bidang Rekat (mm2) 0. sedangkan pada kondisi eksterior tidak semua variasi crosslinker mampu melampui nilai keteguhan geser bambu petung dan crosslinker pada persentase 2.09 3.35 0.05 23.20 23.35 26.77 47.94 4.58 1264.55 44.83 995.48 7.25 5. Hardener (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 15 % BU-1F BU-1G BU-1H BU-1I BU-1J BU-2F BU-2G BU-2H BU-2I BU-2J BU-3F BU-3G BU-3H BU-3I BU-3J BU-4F BU-4G BU-4H BU-4I BU-4J BU-5F BU-5G BU-5H BU-5I BU-5J BU-6F BU-6G BU-6H BU-6I BU-6J Kode Tinggi (mm) 0.30 1283.23 4.32 1127.09 7.30 24.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .55 2.00 25.65 29.76 1042.5 % 1.50 1160.5 % 4.20 45.63 1066.28 1185.15 46.46 5.90 25.38 7.46 1388.00 4050 950 2810 1270 5720 5320 2300 1150 5980 5120 7320 4730 2260 5030 6160 7620 8230 8610 7510 1850 6080 6930 3250 5420 4580 4140 2340 5210 3150 Kuat Geser (N/mm2) Masing2 3.77 3.00 25.12 1166.65 841.00 1210.05 Lebar (mm) 0.00 24.85 47.70 46.46 1305.70 45.14 7.80 45.45 46.65 47.97 47.15 44.08 1111.43 Beban (N) 0.30 1375.70 25.25 1098.20 29.85 26.30 44.79 2.55 1169.27 1252.5 % tidak baik digunakan karena daya rekat yang dihasilkan hanya bersifat temporary dan durabilitasnya sangat kecil.00 45.45 22.83 4.55 22.50 37.20 1.60 45.28 10 % 6.5 % 3.68 1128.35 1.00 47.17 1.96 1157.80 25.00 29.50 1164.60 47.75 44.84 2.20 46.40 43.93 Sumber : Balai PTPT Denpasar TA 2008 17 . Tabel 4 Hasil Pengujian Bambu Laminasi dengan Variasi Crosslinker pada Kondisi Eksterior Variasi No.80 28.65 25.75 25.00 1149.31 1165.80 17.52 2.46 5.25 46.90 46.20 45.90 6.20 29.00 26.91 Rata2 2.99 1.40 6.91 5% 3.25 29.31 1285.30 3.25 47.00 24.80 1769.85 46.73 0.22 3.50 26.89 12.00 46.25 48.00 46.87 2.59 3.30 25.90 27.24 1325.00 39. 19 November 2009 kuat geser bahan bambu petung.Jakarta.98 1180.

01 MPa.22 Mpa.44 42815.73 111.43 1. kuat lentur 64.22 Kuat Geser Fv SNI Balam 6.89 64.16 Mpa.19 19.35 50.36 167 0. dan MOE 46671.80 Sumber : Balai PTPT Denpasar TA (2008) Hasil perbandingan bambu laminasi dengan perekat polymer isocyanate Tabel 6 Nilai Perbandingan Bambu Laminasi dengan Nilai Kuat Acuan Mekanis Kayu Kadar Air 15% (Mpa) Kode mutu Modulus Elastisitas Lentur Eb SNI Balam 25000 46671 Kuat Lentur Fb SNI Balam 66 Kuat Tarik Sejajar Serat Ft SNI Balam 60 135.34 128. kuat tekan tegak lurus serat 19. tarik tegak lurus serat 1.6 6.18 46671.22 19.43 MPa. kuat geser 6. 19 November 2009 Gambar 3 Grafik Keteguhan Geser Interior dan Eksterior dengan Variasi Crosslinker Hasil pengujian sifat mekanika bambu laminasi dengan kadar perekat optimum polymer isocyanate Hasil pengujian mekanika bambu laminasi perekat polymer isocyanate dengan menggunakan berat labur 225 gr/m2 dan crosslinker 10 % diperoleh data sebagai berikut: rata kuat tekan sejajar serat 50.34 50.89 Mpa.62 64.4 Kuat Tekan Sejajar Serat Fc SNI Balam 46 50.70 Rata-Rata 50.13 0.81 MPa.51 48190.17 1.59 49009.01 6.81 135.72 18.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .80 MPa ditunjukkan pada tabel 5 berikut. Tabel 5 Nilai Pengujian Mekanika Bambu Laminasi (Mpa) No.44 64.96 63. tarik sejajar serat 135. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Pengujian Tekan // serat Tekan tegak lurus serat Tarik // serat Tarik tegak lurus serat Geser // serat Kuat lentur MOE Kekuatan Benda Uji (MPa) 1 2 3 49.Jakarta.75 21.89 Kuat Tekan Tegak Lurus Serat Fc SNI Balam 24 E26 18 .

dan kaso yang dibuat melengkung.81 19 18 17 16 15 14 13 12 11 11 10 9 Keterangan : Balam = Bambu laminasi SNI = Kelas kayu sesuai Standar Nasional Indonesia Berdasarkan hasil perbandingan sifat mekanika bambu laminasi dengan nilai kuat acuan sifat mekanis kayu kadar air 15 %.6 4.2 6. sehingga produk bambu laminasi memiliki nilai yang sangat potensial sebagai bahan pengganti kayu di masa depan.4 6.5 6. Konstruksi bangunannya menggunakan sistem bongkar pasang (knock down) dan setiap sambungannya menggunakan pasak dari bambu laminasi.9 5. balok.5 4.6 5.8 5.1 4.dan Fv di atas kode mutu E26. dan gelegar lantai. Sedangkan Fb masuk dalam kode mutu E25. Dari gambar 4 memperlihatkan dengan jelas bahwa 80% komponen struktural bangunan menggunakan bambu laminasi. yang mana kode mutu E26 termasuk kedalam kelas kuat kayu I.4 5.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Ft. bambu laminasi dengan perekat polymer isocyanate memiliki nilai karakteristik mekanika untuk Eb. seperti pada bagian stuktur kolom. 19 .3 Kuat Tekan Tegak Lurus Serat Fc 23 22 21 20 19.Jakarta. Fc sejajar. dan Fc tegak lurus masuk dalam kode mutu E22 Apikasi Uji coba penerapan teknologi bambu laminasi telah dilaksanakan dengan pembuatan bangunan tradisional Bali lumbung padi atau Jineng skala 1:1.1 5.2 5.18 62 59 56 54 56 47 44 42 38 35 32 30 27 23 20 18 Kuat Tarik Sejajar Serat Ft 58 56 53 50 47 44 42 39 36 33 31 28 25 22 19 17 Kuat Tekan Sejajar Serat Fc 45 45 43 41 40 39 37 35 34 33 31 30 28 27 25 24 Kuat Geser Fv 6. panel dinding. Hal ini menunjukkan bahwa bambu laminasi dengan polymer isocyanate mampu diterapkan pada bangunan tradisional dengan kekuatan dan penampakan visual yang baik. rangka atap.4 5.9 4.8 4. 19 November 2009 Kode mutu E25 E24 E23 E22 E21 E20 E19 E18 E17 E16 E15 E14 E13 E12 E11 E10 Modulus Elastisitas Lentur Eb 24000 23000 22000 21000 20000 19000 18000 17000 16000 15000 14000 13000 12000 11000 10000 9000 Kuat Lentur Fb 64.

Spesifikasi Teknis Hal-hal yang diatur dalam spesifikasi teknis bambu laminasi antara lain: Modulus elastisitas . Tata cara Pengawetan Bambu untuk Bambu Laminasi Dalam standar/pedoman teknis ini diatur hal-hal sebagai berikut : Ruang lingkup yang diperlukan untuk menghindari organisme perusak. air. 19 November 2009 Gambar 10 Penerapan Teknologi Bambu Laminasi Pada Bangunan Lumbung /Jineng V PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian tersebut di atas dipandang perlu disusun 3 (tiga) standar/pedoman. b. Cara proses pengawetan dengan cara perendaman.Jakarta. dan boron + 3%. Kuat lentur. Tata cara Ada 2 (dua) sandar/pedoman teknis tata cara yang akan disusun diantaranya a. Kuat tekan sejajar serat. Tata cara pembuatan Bambu Laminasi Dalam standar/pedoman teknis ini diatur hal-hal sebagai berikut : 20 . Kuat geser sejajar serat. Alat yang digunakan berupa bejana dalam proses pengawetan. Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan. 2. Kuat tarik sejajar serat. Kuat tekan tegak lurus. untuk kondisi interior dan eksterior. Bahan yang digunakan adalah bambu petung. yaitu: 1.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .

3. Tata cara Pengawetan Bambu untuk Bambu Laminasi. 7. Alat yang digunakan adalah mesin serut. 3. 6. Cara/proses laminasi dengan cara kempa dingin. Tesis S2. 2006.morisco-bamboo. timbangan digital. Fakultas Teknik UGM.Jakarta. Penerbit Kanisius. 2. www. mesin ketam. Laporan Akhir. 2005. Denpasar Budi. Yogyakarta (tidak diterbitkan) Frick. Agus Setiya. Kuat Tekan Bambu Laminasi dan Aplikasinya Sebagai Kolom Ukir Pada Rumah Tradisional Bali (Bale Daje/Bandung). 2004. Pengaruh Dimensi Bilah. Yogyakarta (tidak diterbitkan) 4. Seri Konstruksi Arsitektur – Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu. 19 November 2009 Ruang lingkup proses pembuatan bilah-bilah bambu menjadi balok-balok bambu laminasi. 2008. 2.pdf -------. Heinz. Perilaku Mekanika Papan Laminasi Bambu Petung Terhadap Beban Lateral. Tesis S2. 2006. Fakultas Teknik UGM. Fakultas Teknik UGM. koas.2 Rekomendasi Perlu disusun standar/pedoman proses pembuatan bambu laminasi tentang spesifikasi dan tata cara. Yogyakarta (tidak diterbitkan) Eratodi. 5. Tata cara Pembuatan Bambu Laminasi. Jenis Perekat dan Tekanan Kempa terhadap Keruntuhan Lentur Balok Laminasi bambu Peting. Tesis S2. klem C.google. klem. Haniza. I Gusti Lanang Bagus. pres hidrolik. Sjelly. 5.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . mesin gergaji circular. Spesifikasi Teknis.co. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Edisi Pertama.id/hutan-apriheri. 21 . dan tempat penakaran. Bahan yang digunakan bilah bambu dan polymer isocyanate. VI PENUTUP 5. kunci pas. Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan.com Balai Pengembangan Teknologi Pemukiman Tradisional. VII 1. Yogyakarta. www. Peningkatan Kualitas & Pemanfaatan bahan Bangunan Lokal untuk Menunjang Pelestarian Arsitektur Tradisional. antara lain : 1.1 Kesimpulan Guna menjamin mutu teknologi bambu laminasi sebagai pengganti kayu konstruksi perlu dilakukan perumusan standar/pedoman.

Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. 2006. 10. 1995. Fakultas Teknik UGM. 2004.. Pengujian Sifat Fisika dan Mekanika Kayu menurut ISO. Yogyakarta 22 . G. Morisco. 19 November 2009 8. Bahan Kuliah Magister Teknologi Bahan Bangunan.A. 9. Program Studi Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tesis S2. T. M. Pengaruh Pengempaan Terhadap Keruntuhan Geser Balok Laminasi Horisontal bambu Petung. Teknologi Bambu.Jakarta. Oka. Yogyakarta (tidak diterbitkan) Prayitno.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .

19 November 2009 23 .Prosiding PPI Standardisasi 2009 .Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->