P. 1
Api Islam Soekarno

Api Islam Soekarno

|Views: 504|Likes:
Published by Peter Kasenda
Sering orang salah duga. Seperti halnya pada diri Soekarno. Kebanyakan orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang selalu sibuk dengan mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Ada yang terlewat sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak menyebut Soekarno sebagai pemikir Islam. Soekarno sebenarnya mempunyai andil dalam menyumbangkan pikiran-pikiran tentang Islam. Soekarno mempunyai pengetahuan yang lebih luas ketimbang sejumlah politisi Islam.

Pandangan yang keliru bisa jadi kesalahan terletak pada para sejarawan yang telah menempatkan Soekarno sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Akibatnya buah pikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam kurang begitu mendapat perhatian yang sewajarnya dari khalayak ramai. Kebanyakan orang tersentak ketika mengetahui buah pikiran Soekarno mengenai Islam begitu inspiratif.

Untuk itu ada baiknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Prof Dr Harun Nasution Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). “Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang pada waktu itu statis.

Hampir sama dengan pendapat diatas, Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis bahwa pikiran-pikiran Soekarno tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimannya.

Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas tentang Soekarno kaitan dengan Islam. Seperti Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930), Badri Yatim, sarajana Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Sebuah disertasi yang dikerjakan Mohammad Ridwan Lubis dengan judul “Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya“, yang dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama. Mungkin saja ada tulisan lain yang belum diketetahui.

Sosialisasi

Soekarno dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut agama Jawa, kalau boleh meminjam istilah Cliford Gertz. Tetapi setelah Soekarno pindah ke Surabaya, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminto, tokoh Sarekat Islam yang terkenal. Pada waktu itu, Tjokroaminoto sudah tiga tahun lamanya memimpin Sarekat Islam (SI). Organisasi berubah dari sebuah organisasi dengan tujuan terbatas – perbaikan kaum pedagang yang beragama Islam – menjadi sebuah organisasi yang kian lama bersifat politik dan akhirnya menjadi partai, yang menjadi tempat bertemu beragam orang.
Sering orang salah duga. Seperti halnya pada diri Soekarno. Kebanyakan orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang selalu sibuk dengan mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Ada yang terlewat sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak menyebut Soekarno sebagai pemikir Islam. Soekarno sebenarnya mempunyai andil dalam menyumbangkan pikiran-pikiran tentang Islam. Soekarno mempunyai pengetahuan yang lebih luas ketimbang sejumlah politisi Islam.

Pandangan yang keliru bisa jadi kesalahan terletak pada para sejarawan yang telah menempatkan Soekarno sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Akibatnya buah pikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam kurang begitu mendapat perhatian yang sewajarnya dari khalayak ramai. Kebanyakan orang tersentak ketika mengetahui buah pikiran Soekarno mengenai Islam begitu inspiratif.

Untuk itu ada baiknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Prof Dr Harun Nasution Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). “Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang pada waktu itu statis.

Hampir sama dengan pendapat diatas, Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis bahwa pikiran-pikiran Soekarno tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimannya.

Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas tentang Soekarno kaitan dengan Islam. Seperti Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930), Badri Yatim, sarajana Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Sebuah disertasi yang dikerjakan Mohammad Ridwan Lubis dengan judul “Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya“, yang dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama. Mungkin saja ada tulisan lain yang belum diketetahui.

Sosialisasi

Soekarno dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut agama Jawa, kalau boleh meminjam istilah Cliford Gertz. Tetapi setelah Soekarno pindah ke Surabaya, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminto, tokoh Sarekat Islam yang terkenal. Pada waktu itu, Tjokroaminoto sudah tiga tahun lamanya memimpin Sarekat Islam (SI). Organisasi berubah dari sebuah organisasi dengan tujuan terbatas – perbaikan kaum pedagang yang beragama Islam – menjadi sebuah organisasi yang kian lama bersifat politik dan akhirnya menjadi partai, yang menjadi tempat bertemu beragam orang.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Mar 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Api Islam Soekarno

Berbagai problem umat Islam Indonesia, dan dalam hal ini umat Islam di mana saja ialah kesenjangan yang cukup parah antara ajaran dan kenyataan. Dahulu Bung Karno menyeru umat Islam untuk “menggali api Islam”, karena agaknya ia melihat bahwa kaum Muslimin saat itu, mungkin sampai sekarang, hanya me mewarisi “abu” dan “arang“ yang mati dan statis dari warisan kultural mereka. Nurcholis Madjid, 1992 Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan

Sering orang salah duga. Seperti halnya pada diri Soekarno. Kebanyakan orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang selalu sibuk dengan mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Ada yang terlewat sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak menyebut Soekarno sebagai pemikir Islam. Soekarno sebenarnya mempunyai andil dalam menyumbangkan pikiran-pikiran tentang Islam. Soekarno mempunyai pengetahuan yang lebih luas ketimbang sejumlah politisi Islam. Pandangan yang keliru bisa jadi kesalahan terletak pada para sejarawan yang telah menempatkan Soekarno sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Akibatnya buah pikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam kurang begitu mendapat perhatian yang sewajarnya dari khalayak ramai. Kebanyakan orang tersentak ketika mengetahui buah pikiran Soekarno mengenai Islam begitu inspiratif. Untuk itu ada baiknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Prof Dr Harun Nasution Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). “Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang pada waktu itu statis. Hampir sama dengan pendapat diatas, Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis bahwa pikiran-pikiran Soekarno tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimannya. Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas tentang Soekarno kaitan dengan Islam. Seperti 1 www.peterkasenda.wordpress.com

Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930), Badri Yatim, sarajana Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Sebuah disertasi yang dikerjakan Mohammad Ridwan Lubis dengan judul “Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya“, yang dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama. Mungkin saja ada tulisan lain yang belum diketetahui. Sosialisasi Soekarno dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut agama Jawa, kalau boleh meminjam istilah Cliford Gertz. Tetapi setelah Soekarno pindah ke Surabaya, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminto, tokoh Sarekat Islam yang terkenal. Pada waktu itu, Tjokroaminoto sudah tiga tahun lamanya memimpin Sarekat Islam (SI). Organisasi berubah dari sebuah organisasi dengan tujuan terbatas – perbaikan kaum pedagang yang beragama Islam – menjadi sebuah organisasi yang kian lama bersifat politik dan akhirnya menjadi partai, yang menjadi tempat bertemu beragam orang. Di sana Soekarno mulai mengenal Islam lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Ia belajar di pengajian Muhamadiyah, Surabaya. Setelah menyelesaikan HBS di Surabaya, kemudian Soekarno pindah ke Bandung untuk melanjutkan THS. Kemudian Soekarno mendirikan Algemeene Studi Club di Bandung, yang nanti menjadi cikal bakal Perserikatan Nasional Indonesia kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia. Dan Soekarno menjadi ketuanya. Sebuah partai politik yang berdasarkan paham kebangsaan. Karena aktivitasnya dalam pergerakan kemerdekaan, Soekarno ditangkap pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan hendak menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Soekarno dimasukkan dalam penjara Banceuy pada bulan Desember 1929. Setelah mendapat putusan hukuman penjara selama 4 tahun, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Selama di penjara Soekarno dilarang membaca buku-buku politik. Di dalam penjara Sukamiskin, ia mulai merenungkan arti hidup ini. Di tempat itu pula ia mulai berhasrat mempelajari agama Islam secara lebih mendalam. Soekarno membaca buku-buku Islam yang diberikan tokoh Persis (Persatuan Islam) Ahmad Hasan yang sering mengunjunginya. Soekarno juga mendalami AlQuran. Sejak itu, sebagaimana dituturkan kepada penulis biografinya, Cindy Adam, Soekarno tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Setelah keluar dari penjara pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) pada 1932, yang merupakan penjelmaan dari PNI. Pada Agustus 1933 ia kembali ditangkap pemerintah Hindia Belanda dan diasingkan ke Flores pada tahun 1934. Di Ende Flores, tempat pengasingannya itu, untuk pertama kalinya Soekarno merasakan ketidakberdayaan melawan kekuasaan kolonial Hindia Belanda Di dalam kesepian itu Soekarno mulai menyadarkan diri pada perlindungan Sang Pencipta. Di pengasingan ini, Soekarno kembali banyak merenung tentang Islam. Kepada Ahmad Hasan di Bandung, ia sering minta dikirimi buku-buku Islam, yang ditulis oleh orang-orang Islam maupun kalangan orientalis. Ahmad Hasan mengirim buku-buku untuk Soekarno dan dalam balasannya Soekarno memberi komentar tentang isi buku itu sambil mengatakan perasaannya mengenai Islam pada umumnya.

Buku-buku yang ditulis oleh pembaharu Islam dan orientalis adalah bacaan favorit Soekarno. Dalam berbagai tulisannya, Soekarno merujuk dan mengutip buku-buku Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Qoassim Amin, Ali Abd al-Raziq, Farid Wajdi, Ameer Ali, Mohammad Ali, Chawadja Kamaludin, Ernst Renan, Ruth Frances Woodsmall, dan Snouck Hurgronye. Namun dari semua buku-buku tentang Islam yang dimilikinya, karya Ameer Ali, The Spirit of Islam, paling sering dia kutip. Agaknya ini adalah buku yang sangat berpengaruh bagi Soekarno. Buku The Spirit of Islam, yaitu sebuah buku yang banyak membicarakan Islam dari sudut pandang rasional dan tuntutan kehidupan modern. Istilah The Spirit of Islam itu diterjemahkan oleh Soekarno dengan Api Islam, dan selalu dipopulerkan dalam kesempatannya menyampaikan pidato dalam berbagai upacara keagamaan. Hal yang menarik dari Soekarno dari buku tersebut adalah hasratnya yang kuat untuk untuk menunjukkan adanya persesuaian antara Islam dan kemajuan. Soekarno tidak memiliki pendidikan yang formal tentang agama. Karena itu, sumber pemikirannya hanya didapat dari pergaulannya dengan orang-orang semacam HOS Tjokroaminoto, Achmad Dachlan, dan orang-orang yang berpikiran maju pada saat itu. Dengan tidak adanya pendidikan formal ini membuat Soekarno mengalami kesulitan memahami ajaran Islam dari sumber aslinya, yaitu buku-buku yang berbahasa Arab. Yang menjadi bacaan utamanya adalah buku-buku yang ditulis dalam bahasa Inggris. Surat-surat dari Ende memperlihatkan kerisauan Soekarno terhadap kondisi kaum Muslim yang terbelakang sehingga perlu memikirkan bagaimana “mengoperasi Islam dari bisul-bisulnya”, bagaimana memerdekakan alam pikiran dari: “kejumudan”,”taklidisme”,“hadramautisme”. Kemudian Soekarno menyeruhkan untuk menggali api Islam. Islam yang harus kita warisi, pahami, dan amalkan, menurut Soekarno, adalah Islam sebagai “api”, bukan Islam sebagai “abu” dan “arang”. Islam adalah kemajuan, kata Soekarno. Dengan kata itu, kita mengetahui Soekarno telah berbicara preskriptif, berbicara tentang Islam –yang-seharusnya. Pada saat yang sama, dengan semangat yang bergelora, Soekarno cenderung untuk mengemukakan bahwa Islam –yangseharusnya” itu adalah hakikat Islam itu sendiri. Soekarno tak melihat Islam-sebagaimanaadanya-sekarang itu sebagai “Islam.” Kemudian setelah pindah tempat pembuangan dari Ende ke Bengkulu, Soekarno terjun ke dalam gerakan Muhamadiyah.Seperti diketahui umum diketahui, organisasi ini membawa pengaruh pemikiran Muhammad Abduh di Mesir dan menyebut diri sebagai “gerakan tadjid” yang hendak menghalau “takhayul, bid”ah dan khurafat.” Di masa-masa pengasingan di Ende (1934-1938) dan kemudian Bengkulu (1938-1942). Soekarno terlibat dalam pergumulan serius dengan pemikir-pemikir Islam. Tulisan-tulisan Soekarno tentang Islam kemudian memicu terjadinya polemik dengan tokoh seperti Achmad Hassan dan Muhammad Natsir. Konteks Berbagai gerakan dan perkembangan keislaman yang terdapat di Mesir, Turki dan India, tentunya mempengaruhi pemikiran keislaman Soekarno. Seperti halnya, Soekarno secara jelas menonjolkan cernaan akal pikiran yang bebas dalam memahami ajaran Islam, tentunya tidak 3 www.peterkasenda.wordpress.com

dapat dipungkiri bahwa ia mendapat pengaruh dari jalan pikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh yang memang menempatkan peranan besar bagi akal dalam memahami ajaran Islam. Akal dan Islam mempunyai tujuan yang sama, yaitu membimbing kehidupan umat manusia, kata Soekarno, oleh karena itu keduanya harus bekerjasama guna saling menunjang satu sama lain. Jalan pikiran yang mengandalkan akal dalam memahami ajaran Islam telah menjadi landasan daripada kerangka pemikiran Soekarno dalam membicarakan unsur-unsur dari ajaran Islam. Lalu, bagaimana kalau akal kadang-kadang tidak mau menerima Al-Quran dan Hadist sahih. Menurut Soekarno, hal itu bukan karena Al-Ouran dan Nabi Muhammad SAW salah, tetapi oleh karena cara kita mengartikan adalah salah. Kalau ada sesuatu kalimat dalam Al-Quran atau sabda Nabi Muhammad SAW yang bertentangan dengan akal, maka segeralah rasionalisme itu mencari tafsir keterangan yang bisa diterima dan setuju pada akal itu, kata Soekarno. Kalau kemerdekaan rasio dalam Islam sudah terpenuhi atau sudah dijalankan sesuai dengan tuntutan agama, menurutnya ada kemungkinan Islam akan dapat kembali merebut kejayaannya yang telah hilang. Kemerdekaan akal bukanlah hanya merupakan tujuan dari rethinking of Islam, tetapi merupakan alat mencapai tujuan Ketika Soekarno berbicara mengenai rasionalisme, Soekarno tidak mengacu ke Al-Quran dan Hadist melainkan ke sebuah zaman ketika “pahlawan-pahlawan akal” hidup bebas. Itulah zamanya kaum mu”tazillah, zaman al-Kindi, al-Farabi, Ibu Sina, Ibnu Baja, Ibnu Tufail, Ibnu Rusdhi, atau zaman kekhalifatan di Bagdad abad ke-9 sampai dengan di Spanyol abad ke-12. Soekarno tentunya tahu pada masa itu orang-orang Islam membuka diri kepada filsafat Yunani, matematika Hindi dan sumber-sumber keilmuan lain – dan pada gilirannya melahirkan filsafat, teori aljabar, logaritma, ilmu-ilmu kimia serta kedokteran, ilmu bumi dan tentu saja astronomi, yang kemudian dipungut dan berkembang di Eropah. Natsir mengakui adanya peranan besar yang pernah disumbangkan aliran Muta”zilah pada pengetahuan pemikiran Islam yakni dengan munculnya critische zin atau ruh intigad, yaitu suatu daya banding membanding di kalangan umat. Keadaan ini menghasilkan pemikiran yang tambah terbuka dan biasanya keberanian berpikir di kalangan umat Islam. Meskipun diakui besarnya jasa aliran ini, namun ia membawa satu cacat besar pada sistem akidah Islam, yakni karena aliran ini berani mengupas zat dan sifat-sifat ketuhanan. Anjuran Soekarno agar memberi kedudukan penuh kepada akal yang merdeka dalam memahami ajaran islam ditolak oleh para pengeritiknya. Tampaknya Soekarno melihat “rasio” atau “rasionalisme” sama dengan élan kreatif, yakni dengan itulah manusia dalam sejarah melepaskan hidup dari kemandegan. Tapi rasionalisme sebenarnya tak ada hubungannya dengan ide tentang progresi, perubahan dan élan kreatif. Rasionalisme bertolak dari tesis bahwa akal bukan pengalaman, yang jadi penentu kebenaran. Pengetahuan yang bisa dipercaya sebagai kebenaran adalah pengetahuan a priori, bukan yang empiris. Pada waktu itu di Indonesia terdapat dua aliran pemikiran keislaman yang berkembang, yaitu aliran tradisional dan pembaharuan. Apabila aliran pesantren menekankan keharusan bagi orang Islam untuk mengikuti pendapat ulama-ulama masa lampau maka aliran pemhaharuan lebih

menekankan gerakannya pada usaha pemurnian ajaran Islam dan unsur-unsur yang bukan Islam, serta menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan politik. Sebaliknya Soekarno menempatkan diri dalam memahami ajaran Islam dengan tidak mengikatkan diri pada dua kecenderungan diatas. Sebenarnya Soekarno telah melakukan suatu lompatan pemikiran dalam memahami Islam melalui sikap rasional dan dinamis, sehingga memungkinkan menampung tuntutan zaman dan mampu berkembang dalam suatu masyarakat yang bergerak dinamis itu. Untuk tujuan tersebut, Soekarno menyarankan agar dilakukan penafsiran ulang tentang ajaran yang berbeda daripada pola kelompok tradisional dan kelompok pembaruan Islam di Indonesia. Secara tegas Soekarno menolak Islam “tradisional”, yakni dengan wajah yang terbelakang, yang diwarnai pratik takhayul, bid”ah, dan khurafat. Soekarno menginginkan Islam yang maju yang bisa beradaptasi dengan “masyarakat kapal udara” dan meninggalkan “masyarakat onta”. Soekarno sangat kritis dan tidak jarang sarkatis dalam menilai pemahaman dan praktik Islam yang dianggapnya terbelakang. Dalam sebuah artikelnya yang ia terbitkan di majalah Pandji Islam, Soekarno menganggap praktik-praktik Islam yang melepaskan konteks zaman dan waktu sebagai “Islam Sontoloyo” Dalam tulisannya Islam Sontoloyo Soekarno melihat adanya jarak antara ajaran dengan kenyataan. Dan untuk mendekatkan keduanya, ia memandang perlu adanya pembaruan pemikiran Islam. Soekarno juga mengeritik kecenderungan umat Islam yang berlebihan kepada fikih dan menganggap fikih sebagai satu-satunya tiang agama. “Kita lupa, atau tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak di dalam ketundukan kita punyai jiwa kepada Allah SWT. Kita lupa bahwa fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murni-nya, belum mencukupi semua kehendak agama.” Sejak abad ke-19 para pembaru Islam mengeritik pemahaman dan praktik keagamaan yang mereka anggap terbelakang dan tidak kondusif bagi perubahan zaman. Para pembaharu Islam seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua nama yang juga sering dirujuk Soekarno, menganggap bahwa doktrin atau ajaran Islam bukanlah sesuatu yang permanen, tapi ia dibentuk dan tumbuh dalam kesejarahan. Tugas para ulama bukanlah melestarikan doktrindoktrin yang keliru, tapi justru mempertanyakan dan menafsirkan kembali agar sesuai dengan zaman di mana kaum Muslim hidup. Islam memiliki konsep ijtihad sebagai sebuah instumen untuk menguji sebuah doktrin. Pembaharuan pemikiran Islam yang dimaksud Soekarno adalah pikiran maupun gerakan untuk menyesuaikan keagamaan Islam dengan perkembangan baru, yang diakibatkan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dan ternyata pemikiran Soekarno yang dianggap asing itu mendapat tanggapan dari tokoh-tokoh ulama dan intelektual muslim di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk polemik antara Soekarno dengan para pengeritiknya, seperti M Natsir, Tengku Mhd Hasbi, Ahmad Hasan dan Haji Agus Salim yang dipandang mewakili kelompok pembaharuan. Sedangkan Sirajuddin Abbas dan Kiai Machfoeds Shiddiq mewakili kelompok tradisional. Adalah menarik melihat bahwa ide pembaharuan yang dilontarkan Soekarno itu, ternyata 5 www.peterkasenda.wordpress.com

mengakibatkan bersatunya tokoh-tokoh dari kedua aliran tersebut dalam menghadapi pemikiran keislaman yang diajukan Soekarno. Bukanlah hal ini menunjukkan betapa seriusnya dimata pengeritiknya ide pembaruan yang dikemukakan Soekarno itu dan betapa berbahayanya ide itu apabila merasuk pada pola berpikir umat Islam. Walaupun begitu Soekarno tidak sendirian dalam menghadapi pengeritiknya, misalnya Faisal Hak membela Soekarno, dalam hal perlu tidaknya persatuan agama dan negara. Islam Menurut Soekarno, ada banyak faktor yang menyebabkan Islam terjerumus ke dalam jurang kemunduran, kekolotan dan keterbelakangan. Seperti apa yang telah dirumuskan Badri Yatim, antara lain. (1) Berubahnya demokrasi menjadi aristokrasi, dan republik menjadi dinasti; (2) Taqlik yang mematikan kehidupan berpikir dalam Islam; (3) Berpedoman terhadap hadist-hadist dhaif; (4) Aristokrasi dalam masyarakat Islam dan (5) Kurangnya kesadaran sejarah. Sebenarnya sejarah umat Islam telah mencatat bahwa mereka pernah mencapai kegemilangan dalam ilmu pengetahuan, arsitektur, filsafat, seni dan sebagainya. Situasi kemunduran, kekolotan dan keterbelakangan ini yang merisaukan hati Soekarno, ia ingin merubah keadaan itu. Soekarno melihat bahwa Islam tidak pantas mengalami kemunduran tersebut, karena Islam mengandung ajaran-ajaran yang justru membawa kemajuan. Ada tiga prinsip yang menjadi kunci keistimewaan Islam bidang kehidupan kedunian dibandingkan dengan agama lain, menurut Soekarno. Sebagaimana yang dirumuskan Bernhard Dahm, tiga prinsip tersebut adalah (1) Tidak ada agama selain Islam yang lebih menekankan persamaan; (2) Tidak ada agama selain Islam dan (3) Islam adalah kemajuan. Muhammad Ridwan Lubis menjelaskan lebih terperinci tentang hal diatas Prinsip pertama, menuju kepada bentuk struktur sosial umat manusia yang bersifat egaliter dan demokratis. Prinsip kedua, menyangkut hakekat ajaran Islam mengandung aspek-aspek kerasionalan, khususnya yang berhubungan dengan kepentingan umat manusia. Prinsip ketiga, menyangkut masa depan perkembangan dengan baik, apabila selalu dipahami dalam sikap kemajuan. Sebaliknya masa depan Islam menjadi lain, apabila pemahaman bersikap luwes. Menurut Bernhard Dahm, kesimpulan Soekarno bahwa Islam adalah kemajuan harus dilihat bahwa pendapat itu berkaitan erat dengan pemikiran yang berkembang dari Aligarch, India. Mempertanyakan Islam apakah identik dengan kemajuan atau sebaliknya memusuhi kemajuan, merupakan masalah yang berkembang dari gerakan pemikiran di India. Salah seorang penulis dari Aligarh yang bernama Khuda Bakhs menanyakan apakah Islam memusuhi kemajuan? Khuda Bakhs mengatakan bahwa pertanyaan itu harus dijawab dengan tidak. Persetujuan Soekarno terhadap pemikiran Aligarch itu diwujudkan dalam rumusan-rumusan pemikirannya yang menekankan kebebasan berpikir dalam Islam. Untuk mendukung pandangannya, bahwa Islam adalah kemajuan, Soekarno melanjutkan kebebasan akalnya dengan mengatakan bahwa umat Islam tidak sewajarnya memberi penghargaan yang mutlak terhadap setiap Hadist, dengan alasan bahwa salah satu sumber kemunduran umat Islam ialah karena mereka mempercayai dan mengamalkan Hadist yang belum tentu kedudukannya.

Penafsiran Berikut ini dibicarakan adalah pemikiran keislaman Soekarno, yang berkaitan dengan masalah riba, kedudukan wanita, tranfusi darah kepada non-muslim. Hal diatas erat kaitannya dengan pandangan Soekarno tentang kedudukan kedua sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Quran dan Hadist. dan peranan ilmu pengetahuan dalam memahami ajaran Islam khususnya yang menyangkut masalah kemasyarakatan. Sumber pokok ajaran Islam sebagaimana diketahui adalah Al-Quran dan Hadist. Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran Islam yang tak dapat dibantah lagi, sebab ia telah dibukukan tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, sedangkan Hadist baru mulai dikumpulkan dan dibukukan seabab setelah ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. Tentu saja hasilnya berlainan, mengandung beberapa kelemahan. Badri Yatim menyebutkan, bahwa hadist dapat dibagi menjadi beberpa bagian menurut kuat dan lemahnya hadis itu sendiri, baik segi riwayatnya maupun isinya. Karena posisinya yang sangat penting ada kemungkinan besar diselewengkan, karena ada golongan-golongan yang ingin memperkuat pendapat-pendapatnya atau untuk kepentingan pribadi dan golongan, kemudian menciptakan hadist-hadist palsu. Dan apalagi dalam perkembangan selanjutnya ada kesan bahwa hadist-hadist itu lebih lebih mendapat perhatian dari ayat-ayat Al-Quran. Ada keinginan Soekarno merombak cara berpikir umat Islam dari pola berpikir tekstual kepada kontekstual. Soekarno menjelaskan bahwa ajaran Islam bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern. Seperti pencucian panik yang dijilat anjing, tidak perlu menggunakan tanah, cukup hanya dengan menggunakan sabun dan kreolin. Di mata Soekarno yang penting adalah tujuan dari tindakan itu sendiri. Dan Soekarno mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sabda bahwa kamulah yang lebih mengerti urusan dunia. Soekarno tampaknya ingin mengubah cara berpikir masyarakat yang menganggapnya bahwa pencucian bejana itu harus mutlak menggunakan tanah. Pola berpikir ini memang sesuai dengan kondisi pemikiran keagamaan di Indonesia yang umumnya memang mengandung mazhab Syaffi. Berkaitan dengan riba, Soekarno menegaskan perlunya ada pemisahan antara riba dan bank. Sebab riba secara tegas dilarang Allah, oleh karena itu hukumnya haram. Hal ini disebabkan perbuatan diatas merupakan penindasan manusia atas manusia lain. Tentang pelarangan adanya riba, Soekarno mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran 3 : 129 yang artinya “ Janganlah makan riba berlpat ganda dan perhatikan kewajiban-mu terhadap Allah, moga-moga kamu beruntung.” Perbuatan riba dan membungakan uang adalah perbuatan yang bertujuan untuk memupuk kekayaan dengan cara tidak wajar. Sebaliknya bank, disatu pihak sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang tidak bertentangan dengan Islam, dan dilain pihak banyak membantu manusia yang ingin mengembangkan usahanya, kata Soekarno. Pertimbangan Soekarno dalam menerima haramnya riba dan mengakui kegiatan bank sebagai hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan modern 7 www.peterkasenda.wordpress.com

tidak bisa dipisahkan dari pandangan dasar politiknya yang anti-kapitalisme dan anti imperialisme. Di Bengkulu sudah menjadi kebiasaan bagi kalangan Muhamadiyah memasang tabir untuk memisahkan tempat laki-laki dengan perempuan pada pertemuan-pertemuan organisasi maupun keagamaan. Pemasangan tabir yang memisahkan antara jamaah laki-laki dengan perempuan, yang dianggap sebagai suatu usaha menjaga agar tidak timbul kemungkinan-kemungkinan akibat negatif dari hubungan laki-laki dan perempuan itu. Ternyata menimbulkan kritik dari Soekarno. Masalah yang dihadapi Soekarno adalah berkaitan erat hubungannya dengan perombakan cara berpikir umat Islam yang menganggap adat istiadat sebagai bagian daripada ajaran agama. Dan pada dasarnya tidak ada teks ayat suci Al-Quran maupun Hadist yang mengharuskan menggunakan tabir itu. Saya menolak sesuatu hukum agama yang tidak nyata diperintahkan oleh Allah dan Rasul, begitu kata Soekarno. Ia menganggap penggunaan tabir sebagai simbol perbudakan. Tetapi yang jelas bahwa sampai saat ini masalah tabir tidak ada kesepakatan di antara para ulama. Soekarno melihat banyak di antara para ulama di Indonesia yang menolak menyumbangkan darahnya kepada non-muslim. Maksudnya adalah tentara Belanda yang luka dan memerlukan pertolongan darah akibat keganasan tentara Jepang pada tahun 1940-an. Soekarno menyeruhkan tentang perlunya tranfusi darah diadakan, yang mana dikaitkan dengan pandangan Islam terhadap nilai-nilai kemanusian dan khususnya etika perang. Oleh karena itu, Soekarno dalam memperkuat argumennya mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, sebagaimana tercantum dalah Surat Al-Baqarah 20 : 190 yang artinya : “Perangilah di atas jalan Allah yang memerangi kamu dan janganlah melewati batas.” Maksud dari kutipan Soekarno itu sebenarnya untuk menunjukkan betapa tingginya kehalusan budi etika perang dalam Islam. Berdasarkan itu pula Soekarno berani menyatakan bahwa tidak ada salahnya menyumbang darah kepada non-muslim atas dasar pertimbangan kemanusian semata. Sebenarnya masalah tranfusi darah adalah masalah baru sebagai hasil perkembangan ilmu kedokteran. Sehingga merupakan suatu kewajaran apabila tidak tercantum dalam Al-Quran maupun Hadist. Tetapi yang jelas, apabila masalah itu tidak ditemukan aturan yang secara tegas melarangnya dalam kedua sumber pokok ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Maka hukumnya memperbolehkan untuk dilaksanakan. Dan masalah yang paling banyak disinggung Soekarno adalah hubunngan agama dan negara. Ketika dunia Islam sibuk dengan perdebatan, Apakah Islam harus menjadi dasar negara. Atau sebaliknya, Islam itu semestinya menjadi dasar negara karena Islam itu sendiri berwatak nonideologis. Soekarno dengan Mohammad Natsir sibuk dengan polemik, perlu tidaknya persatuan agama dengan negara lewat tulisan-tulisan di Pandji Islam pada tahun 1940 Kalau Mohammad Natsir menganjurkan perlunya persatuan agama dengan negara, Sokerno justru sebaliknya menentang. Di mata Soekarno, Islam adalah agama, bukanlah suatu sistim yang mengandung aturan-aturan kemasyarakatan, walaupun Islam membawa pedoman kehidupan bermasyarakat.

Kritik Soekarno terhadap konsep negara Islam didasarkan pada kenyataan bahwa banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim, tetapi tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Soekarno menyebut Turki di bawah Kemal Attartuk sebagi model yang ideal. Secara akademik, argumen-argumen Soekarno diperkuat dengan pandangan-pandangan teologis dan hukum dari Ali Abd al-Raziq di Mesir yang dengan tegas menyatakan tidak perlunya kaum Muslim mendirikan negara Islam. Menurut Soekarno, tidak ditemukan teks-teks dalam Al-Quran dan hadist yang menyebutkan tentang perlunya persatuan agama dengan negara. Dengan demikian pendapat yang mengatakan bahwa perlunya persatuan agama dan negara perlu ditolak. Tetapi yang jelas, walaupun Soekarno menganggap tidak perlunya persatuan agama dengan negara, Soekarno tetap memperhatikan agar cita-cita umat Islam dapat tersalur, dengan menawarkan Pancasila sebagai dasar negara. Tentu saja Soekarno memahami bahwa Hindia Belanda pada waktu itu adalah sebuah negeri Muslim. Namun, Soekarno juga menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural. Bahkan iapun tahu bahwa dalam masyarakat Muslim pun terdapat pluralistas, seperti nampak pada banyaknya aliran keagamaan, corak budaya, orgaisasi Islam dan partai politik Indonesia.Sebagai seorang pemimpin pergerakan, Soekarno berpendapat bahwa persatuan dalam keragaman adalah kunci keberhasilan perjuangan mencapai kemerdekaan. Soekarno berpendapat bahwa persatuan bangsa adalah fondasi pendirian sebuah negara. Dengan perkataan lain, kebangsaan adalah fondasio dasar. Secara implisit, Soekarno berpendapat bahwa agama mayoritas saja tidak mampu menjadi perekat kesatuan bangsa. Persoalannya adalah, jika suatu negara Muslim didasarkan pada Islam, akan timbul masalah. Islam menurut mazhab mana yang diplih menjadi agama resmi. Persoalan ini tentu akan menimbulkan konflik di antara kaum Muslim sendiri. Kecuali di negara bermahzab tunggal seperti Saudi Arabia yang Sunni, dan Iran yang Syafi”i. Persoalan bagi demokrasi adalah jika dalam negara-negara Muslim itu terdapat kelompok-kelompok minoritas. Golongan minoritas itu akan menjadi warga negara kelas dua yang terbuka pada tekanan dan diskriminasi. Penutup Jadi jelas, uraian diatas menunjukkan bahwa Soekarno menaruh minat terhadap ajaran Islam, walaupun dia dikenal sebagai tokoh nasionalis sekuler, dan disinilah perbedaan Soekarno dengan tokoh nasionalis sekuler lainnya. Sebenarnya Soekarno tidak bermaksud untuk menempatkan diri sebagai mujtahid. Apa yang dilontarkan semata sebagai pribadi Muslim yang mendedikasikan diri di ranah pergerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Dalam segala hal, Soekarno menyadari bahwa mayoritas penduduk Indonesia muslim dan tengah dirundung sial, ditindas dan dihina oleh stelsel imperialisme-kapitalisme. Soekarno sepenuhnya terkait dengan sebuah agenda untuk menumbangkan kolonialisme bersama kaum muslimin. Untuk itu kaum muslimin harus merupakan enersi yang sesuai dengan tantangan zaman. Ketika mewacanakan pembaruan pemikiran Islam, Soekarno merasa bahwa pemikiran Islam harus dibuat baru dan diperbaharui terus-menerus sehingga selalu relevan. Untuk mencapai itu, yang harus ditangkap dari Islam ialah apinya, bukan abunya. Soekarno memang tidak menawarkan satu metode bagaimana menggali api Islam itu. Tetapi itu jelas bukan pekerjaan 9 www.peterkasenda.wordpress.com

Soekarno Sebagai pemikir revolusioner, Soekarno. hanya menggebrak, dan berteriak supaya orang-orang terbangun dari tidurnya. Peter Kasenda adalah staf pengajar Kampus Merah Putih.

Bibliografi Ahmad Gaus AF. Api Islam Nurcholis Madjid. Jalan Hidup Seorang Visioner, Jakarta Kompas, 2010. Badri Yatim. Soekarmo, Islam dan Nasionalisme. Jakarta : Inti Sarana Aksara, 1985. :

Bernhard Dahm. Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta : LP3ES, 1987. Budhy Munawar-Rachman. Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme . Jakarta : Grassindo, 2010. Giat Wahyudi. Bung Karno : Buku Terbuka. Pokok-pokok pikiran untuk bahan bedah buku : Soekarno dan Modernisme Islam , Ridwan Lubis, Komunitas Bambu, 2010, Salihara, PejatenPasar Minggu, 1 Oktober 2010. Goenawan Muhamad. Bung Karno dan Islam. Makalah ini disampaikan untuk Kuliah Umum Ramadhan di KomunitasSalihara tentang “ Soekarno dan Islam”, Sabtu, 4 September 2010. Imam Toto K Rahardjo dan Suko Sudarso (ed) Bung Karno, Islam, Pancasila & NKRI. Jakarta : Komunitas Nasionalis Religius Indonesia, 2006. Luthfi Assyaukanie. Soekarno dan Islam. Makalah diskusi buku “Soekarno dan Modernisme Islam “karya M Ridwan Lubis, di Salihara, 1 Oktober 2010. M Ridwan Lubis, Sukarno dan Modernisme Islam. Jakarta : Komunitas Bambu , 2010 Peter Kasenda. Sukarno Muda Biografi Pemikiran 1926 –1933. Jakarta : Komunitas Bambu , 2010.

11 www.peterkasenda.wordpress.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->