PENGKAJIAN CARA, DOSIS DAN SUMBER PEMUPUKAN PHOSFOR DAN RESIDUNYA PADA ALFISOL DI KABUPATEN SUMBAWA

Hasil Sembiring, L.Wirajaswadi, Awaludin Hipi1 dan Paulina Evy R. Prahardini2 1.
Peneliti pada BPTP Nusa Tenggara Barat

2. ABSTRAK

Peneliti pada BPTP Jawa Timur

Informasi status hara dan arahan pemupukan P di Kabupaten Sumbawa sangat terbatas, sehingga rekomendasi teknologi pemupukan P sangat diperlukan. Tujuan pengkajian adalah mengevaluasi rekomendasi pemupukan P, dosis, sumber dan cara pemupukan P dan residunya. Pengkajian telah dilakukan pada MH 1999/2000 dan MK. 2000 di Desa Maronge Kecamatan Plampang Kabupaten Sumbawa di lahan sawah milik petani. Perlakuan yang diuji adalah 11 perlakuan meliputi: T1 (27 kg P2O5/ha), T2 (18 kg P2O5/ha), (Kontrol), T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001), T5 (E 2001), T6 (25 kg P2O5/ha akar celup), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha), T10 (5 t pupuk kandang/ha), T11 (45 kg P2O5/ha). Pengkajian residu P dilaksanakan pada musim berikut (MK) dengan membagi petak percobaan pertama menjadi 2 bagian yang sama dimana petak pertama diperlakukan sama dengan perlakuan tahun sebelumnya sedangkan petak kedua tidak diberi perlakuan. Variabel yang diamati adalah jumlah malai, panjang malai, jumlah gabah isi, bobot 1000 biji, bobot jerami basah dan hasil. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua tidak berpengaruh terhadap hasil. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanam padi sawah. Untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa, pemupukan P 2O5 dapat dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. Sumber dan cara pemberian pupuk tidak berbeda nyata, sehingga pencelupan dengan 25 kg P2O5/ha tidak ada pengaruhnya dibandingkan dgn cara normal (cara yang biasa dilakukan petani). Kata kunci: phosphor, residu, padi sawah, Kabupaten Sumbawa

ABSTRACT
Limited information for used P fertilizier at Sumbawa district, more needed a recomendation of tecnology for P fertilizier. The objective of assesment was to evaluated recomendation P fertilizier, dosage, and residu. The assesment was conducted in farmers lowland in Maronge, Plampang, Sumbawa, at WS. 1999/2000 and DS. I. 2000. The eleven treatments on test i.e : T1 (27 kg P2O5/ha), (T2 (18 kg P2O5/ha), (control), T4 (18 kg P2O5/ha + E- 2001), T5 (E-2001), T6 (25 kg P2O5/ha), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t organik matter /ha), T10 (5 t organik matter/ha), T11 (45 kg P 2O5/ha). All of treatments using 115 kg N/ha. Assesment of residu P was conducted at DS. I. The result indicated that phosphor fertilizier at the second season (DS. I) not significant difeerent from residu for yield. This indicated that residu P still enaught for growth rice in lowland. Applicated P at Sumbawa could be conduct once times for two planting season with dosage 18 kg/ha. Key words: phosphor, residu, low land rice, Sumbawa district

PENDAHULUAN Produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa bervariasi dengan rata-rata 4,42 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas tingkat Propinsi adalah 4,61 t/ha (BPS, 1998). Hal ini menggambarkan bahwa produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa masih memiliki potensi untuk ditingkatkan. Upaya meningkatkan produktivitas, harus diikuti dengan usaha peningkatan pendapatan petani tanpa merusak lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi adalah pemberian pupuk antara lain pupuk fosfor (P). Dengan pemberian pupuk yang tepat, diharapkan petani memperoleh peningkatan hasil yang menguntungkan. Ketersediaan hara P dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga pemberian dosis pupuk yang tepat memerlukan pemahaman tentang informasi dasar seperti status hara tanah, sifat fisik, kimia dan latar belakang penggunaan lahan. Masalah ini mengakibatkan pemberian pupuk yang tidak efisien, yang ditunjukkan dengan meningkatnya pemakaian pupuk P secara terus menerus, tetapi tidak diikuti peningkatan produksi yang memadai. Kondisi seperti ini menyebabkan biaya produksi tinggi dan mengganggu keseimbangan lingkungan.

1999/2000 (Desember 1999 s/d Maret 2000) dan MK. dimana pemupukan P diberikan pada setiap musim. 2000. Tabel 1. 1979). Tahun pertama ditujukan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap produksi padi.kecamatan lain seluas 1. sehingga pengaruh residu P perlu diteliti. cara dan sumber pupuk P disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan jenis tanahnya. MK I.710 ha (Anonimous. 1993). dan K perlu diimbangi dengan pemberian bahan organik untuk mendukung hasil panen yang tinggi. sedangkan pada musim kedua adalah untuk melihat pengaruh pemupukan pada musim pertama terhadap produksi padi. Tujuan pengkajian adalah mengkaji dosis. Pemberian pupuk untuk kecamatan lain di pulau Sumbawa perlu disesuaikan dengan status hara tanah di setiap kecamatan.Upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi pemberian pupuk antara lain melalui dosis pemberian pupuk. Hal ini untuk mendapatkan efisiensi pemupukan dengan modifikasi yang tepat. sedangkan hara P yang diberikan dalam bentuk pupuk P tidak seluruhnya diserap oleh tanaman (hanya + 20%) dan selebihnya stabil dan terakumulasi dalam tanah.776 ha).981 ha) mempunyai luasan tertinggi diikuti kecamatan Taliwang (6. Penanaman padi sawah di Kabupaten Sumbawa menyebar di 14 kecamatan dengan kisaran luas panen antara 1. Pengelolaan tanah vertisol dengan bahan organik mampu meningkatkan efisiensi pupuk Urea sebesar 18. diduga keras bahwa dengan program intensifikasi padi selama lebih dari 20 tahun terakhir ini. Hasil penelitian Baharuddin (1996) menyatakan bahwa di kecamatan Lape Lopok dan Moyo Hilir yang termasuk daerah irigasi Mamak Kakiang mempunyai kandungan P dan K yang cukup. sedangkan kecamatan . pupuk hijau sesbania dan pupuk kandang yang berperan mengembalikan unsur hara yang telah diserap oleh tanaman dari dalam tanah. sedangkan kecamatan lain di pulau Sumbawa direkomendasikan sebanyak 92 kg N/ha + 27 kg P2O5/ ha dan tanpa K2O (SPH Bimas Propinsi NTB. Di sisi lain. Oleh sebab itu. Perlakuan pengaruh residu pupuk phospor. Kecamatan Plampang Sumbawa selama 2 musim yaitu pada MH. saat pemberian pupuk.981 ha. Kusuma. dosis P (0. dan biologi tanah yang mendukung ketersediaan unsur hara N dan P (Soepardi. sedangkan kecamatan yang lain masih belum diketahui status unsur haranya.01 % dengan masukan organik jerami kedelai dengan takaran 20 ton/ha (Prijatno. Berdasarkan luasan panen terlihat kecamatan Plampang (8. Bahan organik yang diberikan dapat berupa jerami. 1996).217 ha) dan kecamatan Moyo Hilir (4. Lebih lanjut Bastari (1996) mengemukakan bahwa penggunan pupuk yang berupa unsur makro N.978 ha). kecamatan Lape Lopok (6. diperkirakan hara P dalam tanah. 9. kabupaten Sumbawa khususnya kecamatan Plampang termasuk jenis tanah Vertisol. cara pemberian dan bentuk pupuk yang digunakan secara tepat (Landon.3. 18. kimia. kecamatan Alas (5.708 sampai 8. 1997). Plampang. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik pada tanah vertisol mampu meningkatkan efisiensi pemberian pupuk. Kombinasi dosis. K2O. 27 dan 45 kg P2O5/ha). E-2001 dan pupuk kandang.704 ha).36 kg P2O5/ha dan tanpa K2O. dan Idris. Perlakuan yang diuji adalah cara (celup dan tidak celup). P. 1984). Kecamatan Moyo Hilir sebanyak 115 kg N/ha + 18 kg P2O5/ha dan tanpa K2O. cara dan memverifikasi rekomendasi pupuk serta mengidentifikasi pengaruh residu pupuk P dari penelitian tahun pertama di Kecamatan Plampang Sumbawa. Rekomendasi pemupukan padi sawah di Kecamatan Lape Lopok telah ditentukan sebanyak 115 kg N/ha + 27 . 1997). BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan di Desa Maronge. Pengaruh pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang 5000 kg/ha tampak peranannya dalam waktu panjang lebih kurang dalam tiga musim tanam berikutnya (Basyir.708 . Bahan organik tersebut berperan dalam memperbaiki sifat fisik. 2000 Perlakuan 1 T1 T1A (Residu T1) T2 T2A (Residu T2) T3 (Kontrol) T3A (Kontrol) P2O5 (kg/ha) 2 27 0 18 0 0 0 K2O (kg/ha) 3 0 0 0 0 0 0 E-2001 1) (lt/ha) 4 0 0 0 0 0 0 N (kg/ha) 5 115 115 115 115 115 115 Pupuk kandang (t/ha) 6 0 0 0 0 0 0 .

K. Jenis tanah adalah alfisol.20 cm. Tanah diolah secara sempurna dengan kedalaman olah 15 . . Varietas yang digunakan adalah IR-64. penampilan tanaman lebih buruk terhadap jumlah malai dan produksi. saat anakan aktif dan saat primordia bunga. Untuk mengetahui tingkat keragaman antara perlakuan yang diuji. Bahkan (T3 vs T6) produksi tanpa P tidak berbeda nyata dengan yang dicelupkan P serta penambahan E2001. Hal ini diduga disebabkan kandungan P tanah masih cukup tinggi seperti hasil yang dinyatakan (Adiningsih dan Soepartini. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam (AOV). Pengaruh pupuk E-2001 terhadap komponen hasil dan produksi tidak nyata. sedangkan pengkajian residu P disajikan pada Tabel 4. Efisiensi penggunaan pupuk P (Tahun Pertama) Pengaruh P terhadap jumlah malai per rumpun. analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT).1 T4 T4A (Residu T4) T5 T5A (Residu T5) T6 (Akar celup) T6A (Residu T6) T7 T7A (Residu T7) T8 T8A (Residu T8) T9 T9A (Residu T9) T10 T10A (Residu T10) T11 T11A (Residu T11) 2 18 0 0 0 9 0 0 0 27 0 27 0 0 0 45 0 3 0 0 0 0 0 0 45 0 45 0 0 0 0 0 0 0 4 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 5 0 0 0 Sawah yang digunakan adalah sawah dengan irigasi teknis. dan pupuk kandang (pakan) diberikan sebelum tanam. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan masing. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan efisiensi P (tahun pertama) disajikan pada Tabel 2 dan 3. Produksi terlihat cukup dengan dosis 18 kg P2O5/ha. jumlah anakan maksimum. dengan menggunakan konsentrasi 3. yang diberikan pada saat seminggu setelah tanam.masing plot perlakuan berukuran 5 m x 4 m. panjang malai dan produksi sangat nyata pada berbagai keadaan (Tabel 2 dan 3). jumlah gabah isi dan gabah hampa. Demikian juga dengan penambahan K tidak memberikan hasil nyata (T7 vs T5). Pupuk P. jumlah malai/anakan produktif. Pada berbagai tingkat dosis P perbandingan antara yang diberikan E-001 dengan tanpa E-2001 memberikan hasil yang tidak berbeda. Tanpa P. Penanaman secara tanam pindah dengan jarak 20 x 20 cm. hama dan penyakit disesuaikan dengan kondisi pertanaman. Pemberian pupuk P pada perlakuan akar dicelup. bobot 1000 biji gabah berisi dan hasil GKG. Pengaruh pencelupan akar dengan larutan P terhadap produksi juga tidak terlihat (T5 vs T6). Terlihat bahwa kalau tidak diberi P maka produksi cenderung menurun. 1995). (T1vs T2 vs T3 vs T4).6 gr P2O5/liter direndam selama 12 jam sebelum tanam dengan dosis 2500 liter larutan/ha yang setara dengan 9 kg P2O5/ha. Pengendalian gulma. Pupuk N diberikan sebanyak 3 kali masing-masing 1/3 dosis sesuai perlakuan.

.57 bc 12.03 7.05 3.**) = perlakuan celup akar Tabel 3.79 32.kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K. Hal ini diduga karena anakan produktif yang banyak tidak selalu meningkatkan jumlah biji/malai.31 ab 14. Hal ini berarti pemupukan P pada padi kedua yang mendapatkan pupuk pada padi pertama tidak perlu dilakukan. Disamping itu. Hal penting yang diperoleh dari pengkajian ini adalah petak dipupuk dengan P memberikan hasil yang tidak berbeda dengan petak yang tidak diberi pupuk P.92 bcd 4.83 b 14.57 ab 13.37 bc 10.29 d 5.40 a 12.0 – 45 .25 Jumlah gabah hampa (butir) 8.97 tn 126.83 ab 28.33 119.18 bc 11.kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p.E-2001) (115 .90 ab 11.59 cd 5.E-2001) (115 .05).80 ab 13. 1999/2000.99 7.51 abc 5.31 9.97 5.11 a*) 5. Tabel 2.55 31.8 Panjang malai (cm) 30.E-2001) **) (115 .47 6. Kenyataan ini didukung penelitian Yoshida (1981) yang melaporkan bahwa jumlah biji/malai berbanding terbalik dengan jumlah anakan produktif.90 bcd 4.K (%) Jumlah malai/ rumpun 12.53 abc 10.43 117.Pengaruh pupuk kandang tidak terlihat langsung berpengaruh terhadap peningkatan produksi.07 ab *) 16.6 Bobot jerami (t/ha) 16.63 abc 12. panjang malai.70 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.27 ab 12.48 31.63 12.70 113. penambahan dosis P tidak meningkatkan hasil yang berbeda.25 – 0 .40 bc 13.03 5.94 9.63 6.68 ab 4. dan jumlah gabah hampa pada uji adaptasi efisiensi penggunaan pupuk P di kecamatan Plampang.02 32.31 abc 5. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Rata-rata bobot 1000 biji.90 a 29.28 b*) 29. tn = Tidak berbeda nyata.60 Jumlah gabah bernas (butir) 128.37 ab 29. Implikasinya adalah residu P dari pemupukan musim sebelumnya tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga penambahan pupuk P tidak meningkatkan hasil. MH. menunjukkan bahwa perbedaan nyata pada jumlah anakan produktif/rumpun tidak menimbulkan perbedaan pada hasil gabah.67 5.37 120. Perlakuan (115 -27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 .13 110. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.49 ab 14.45 ab 29. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Perlakuan (115 .11 6.25 – 0 .K (%) Bobot 1000 biji (gram) 34.29 31. jumlah gabah bernas.38 32. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (. tn = Tidak berbeda nyata .19 32.77 126.62 ab 5.33 c 11.27 – 45) (115 –27 – 0 – p.22 ab 29.E-2001) (115 . dan hasil GKG pada uji adaptasi kecamatan Plampang.57 abc 11.75 efisiensi penggunaan pupuk P di Hasil GKG (t/ha) 6.08 tn 33. tetapi berpengaruh pada jumlah anakan produktif/rumpun (Tabel 4).57 31. Rata-rata jumlah malai/rumpun.80 6.43 tn 8.90 6. 1999/2000.67 ab 15.20 121.57 a 13.51 ab 16. MH.68 31.27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 . bobot jerami.98 a 5.62 ab 27. Disamping pemberian pupuk kandang dan K (T9 vs T8 vs T1) tidak menunjukkan manfaat terhadap peningkatan produksi.27 – 45) (115 –27 – 0 – p.kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K. **) = perlakuan celup akar Uji Residu Pupuk Phosphor (P) Pemupukan P pada pertanaman padi MK I yang pada MH mendapatkan pemupukan P.0 – 45 .42 ab 29.52 abc 4. Data pada Tabel 4.73 27.E-2001) (115 .77 c*) 12.2 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.83 ab 13.kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p.67 116.95 a 27.05). tidak berpengaruh terhadap hasil dan jumlah biji berisi/malai.E-2001) **) (115 .33 ab 29.40 118.15 31.40 107.00 6.18 ab 28.07 7.

No.145.07 5.265.04 5. 7 . 1998. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanaman padi sawah. Kabupaten Sumbawa Dalam Angka. Fertilizers and Soil Fertility. Mataram.24 71. 222 .18 74.09 5.26 77.79 16. T1 (75 kg P2O5/ha) 2. • Pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua setelah dilakukan pemupukan P pada padi musim pertama tidak berpengaruh terhadap hasil. • Memperhatikan kriteria 4 dan 5. Basyir.Tabel 4.60 d 12.26 bcd 13. T5 (E 2001) 10. 1993.46 ab 12. tn = Tidak berbeda nyata ESIMPULAN DAN SARAN • Pemupukan Phosphor (P) tidak berpengaruh terhadap hasil gabah.60 a-d 11. Pusat dan Penelitian Tanah dan Agoklimat.26 ab 11. maka untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa. 1979. T8A (Residu T8) 17. Penerapan pemupukan berimbang pada lahan irigasi Mamak dan Kakiang Sumbawa. p 29 .98 78. Pengaruh residu pupuk P dari berbagai takaran pupuk P musim sebelumnya terhadap komponen hasil dan hasil padi Maronge Sumbawa MK I 2000.97 78. Kerjasama BPS Kabupaten Sumbawa dengan Bappeda Baharudhin.02 5.65 71. hal. T3 (Kontrol) 6. 37 .05).91 5. T11A (Residu T11) CV (%) Ket : 12.06 6.26 5. T9A (Residu T9) 19. Penerapan Anjuran Teknologi Untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Pupuk. Jones. U. walaupun pengaruh pemupukan P nampak pada komponen hasil. T5A (Residu T5) 11.40 ab 12. 1996. hal.24 86.40 a-d 13.26 bcd 13.25 79. 7 . 1996. USA.76 a-d 13. Perlakuan 1. T10A (Residu T10) 21. Baharuddin.86 79.62 6.7 5.33 ab 12. hal.40 ab 13. dan J. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.78 5.33 85.82 78. DAFTAR PUSTAKA Anonimous.17 Hasil GKG (t/ha) 5. T11 (45 kg P2O5/ha) 22.13 5. Reston Publishing Company. Kabupaten Sumbawa.40 80.06 a-d 12. Biro Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat. Pemupukan Jangka Panjang Padi Sawah. Fakultas Pertanian UNRAM.20 abc 13.46 a-d 12.M. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. BPS. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.09 5.49 5.28 5. T3A (Kontrol) 7.70 cd 12. Fakultas Pertanian Unram. Bastari.84 20. Badan Litbang Pertanian Deptan.57 72.74 tn 5.45 5. T8 (75 kg P2O5 + 75 kg K2O/ha) 16.5 *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama. T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001) 8.60.80 a-d 12. 1996. T9 (75 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha) 18. T6A (Residu T6) 13.72 75. T7 (75 kg K2O/ha) 14. T7A (Residu T7) 15. Badan Litbang Pertanian Deptan. .71 tn 75.06 76.33 ab Biji isi/malai (butir) 78.65 77.82 6.39 6. Rangkuman Laporan Penelitian Kajian Pemupukan Berimbang Pada Lahan/ Daerah Irigasi Mamak Kakiang Sumbawa NTB Menunjang Pelestarian Swasembada Pangan.06 83.34 5. Status Pengetahuan Teknik Pemupukan Pada Padi Sawah. 1997. T2 (18 kg P2O5/ha) 4. Nusa Tenggara Dalam Angka 1997. Priyono.13 abc 13. Fagi. T.91 74.36.90 a 1.00 bcd 13.33 bcd 12.79 10. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Bidang Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unram.228. T6 (25 kg P2O5/ha akar celup) 12.02 74. 1995. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun 1992. T10 (5 t pupuk kandang/ha) Anakan prod./rumpun (batang) 13.16 bcd 13. T1A (Residu T1) 3.S.08 5. AB. T4A (Residu T4) 9.45 72. A.41 6. hal. Dompu dan Bima pemupukan P dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. T2A (Residu T2) 5. 48 hal. AB. A.

0’Neill. Anintermediate Biometry Course Manual. 1997. Soepartini. Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB Bogor.144.H. Supardi. Dep. 12. Kusuma dan M. M.Landon. Pemupukan kalium bagi upaya meningkatkan produksi padi di Nusa Tenggara Barat. 1994. 106 . 1979. Booker Agriculture Internati0nal Limited. Nurjaya. Rekomendasi Pemupukan di Wilayah NTB. Sifat dan Ciri Tanah. Setiyono. Laporan Penelitian Pengkajian Pengaruh Masukan Organik Terhadap Ketersediaan N dan Efisiensi Pupuk Urea Pada Tanaman Jagung di Tanah Vertisol. 17-19 Desember 1995. dan J. A. P. Ardjakusuma. 1986.E. M. Sri Adiningsih. Schoool of Crop Sceinces. Soepardi. S. 872 hal. Unibraw. Booker Tropical Soil Manual. Kesuburan Tanah dan Nuheisi Tanaman PPS. 1997. 1984. Kasno. J. Pemberitaan Penelitan Tanah dan Pupuk No. Subandi. Malang 55 hal. Prijatna. p.159. S. Makalah . disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi di IPPTP Mataram. 1995. Sekertariat Pembina Harian Bimas NTB. Moersidi. 1996..R. Idris. G.23-35. P 114 . B. 1994. Mataram 12 hal. S. Status hara P dan K serta sifat-sifat tanah sebagai penduga kebutuhan pupuk padi sawah di pulau Lombok. 18 hal. The University 0f Sidney. H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful