PENGKAJIAN CARA, DOSIS DAN SUMBER PEMUPUKAN PHOSFOR DAN RESIDUNYA PADA ALFISOL DI KABUPATEN SUMBAWA

Hasil Sembiring, L.Wirajaswadi, Awaludin Hipi1 dan Paulina Evy R. Prahardini2 1.
Peneliti pada BPTP Nusa Tenggara Barat

2. ABSTRAK

Peneliti pada BPTP Jawa Timur

Informasi status hara dan arahan pemupukan P di Kabupaten Sumbawa sangat terbatas, sehingga rekomendasi teknologi pemupukan P sangat diperlukan. Tujuan pengkajian adalah mengevaluasi rekomendasi pemupukan P, dosis, sumber dan cara pemupukan P dan residunya. Pengkajian telah dilakukan pada MH 1999/2000 dan MK. 2000 di Desa Maronge Kecamatan Plampang Kabupaten Sumbawa di lahan sawah milik petani. Perlakuan yang diuji adalah 11 perlakuan meliputi: T1 (27 kg P2O5/ha), T2 (18 kg P2O5/ha), (Kontrol), T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001), T5 (E 2001), T6 (25 kg P2O5/ha akar celup), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha), T10 (5 t pupuk kandang/ha), T11 (45 kg P2O5/ha). Pengkajian residu P dilaksanakan pada musim berikut (MK) dengan membagi petak percobaan pertama menjadi 2 bagian yang sama dimana petak pertama diperlakukan sama dengan perlakuan tahun sebelumnya sedangkan petak kedua tidak diberi perlakuan. Variabel yang diamati adalah jumlah malai, panjang malai, jumlah gabah isi, bobot 1000 biji, bobot jerami basah dan hasil. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua tidak berpengaruh terhadap hasil. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanam padi sawah. Untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa, pemupukan P 2O5 dapat dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. Sumber dan cara pemberian pupuk tidak berbeda nyata, sehingga pencelupan dengan 25 kg P2O5/ha tidak ada pengaruhnya dibandingkan dgn cara normal (cara yang biasa dilakukan petani). Kata kunci: phosphor, residu, padi sawah, Kabupaten Sumbawa

ABSTRACT
Limited information for used P fertilizier at Sumbawa district, more needed a recomendation of tecnology for P fertilizier. The objective of assesment was to evaluated recomendation P fertilizier, dosage, and residu. The assesment was conducted in farmers lowland in Maronge, Plampang, Sumbawa, at WS. 1999/2000 and DS. I. 2000. The eleven treatments on test i.e : T1 (27 kg P2O5/ha), (T2 (18 kg P2O5/ha), (control), T4 (18 kg P2O5/ha + E- 2001), T5 (E-2001), T6 (25 kg P2O5/ha), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t organik matter /ha), T10 (5 t organik matter/ha), T11 (45 kg P 2O5/ha). All of treatments using 115 kg N/ha. Assesment of residu P was conducted at DS. I. The result indicated that phosphor fertilizier at the second season (DS. I) not significant difeerent from residu for yield. This indicated that residu P still enaught for growth rice in lowland. Applicated P at Sumbawa could be conduct once times for two planting season with dosage 18 kg/ha. Key words: phosphor, residu, low land rice, Sumbawa district

PENDAHULUAN Produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa bervariasi dengan rata-rata 4,42 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas tingkat Propinsi adalah 4,61 t/ha (BPS, 1998). Hal ini menggambarkan bahwa produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa masih memiliki potensi untuk ditingkatkan. Upaya meningkatkan produktivitas, harus diikuti dengan usaha peningkatan pendapatan petani tanpa merusak lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi adalah pemberian pupuk antara lain pupuk fosfor (P). Dengan pemberian pupuk yang tepat, diharapkan petani memperoleh peningkatan hasil yang menguntungkan. Ketersediaan hara P dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga pemberian dosis pupuk yang tepat memerlukan pemahaman tentang informasi dasar seperti status hara tanah, sifat fisik, kimia dan latar belakang penggunaan lahan. Masalah ini mengakibatkan pemberian pupuk yang tidak efisien, yang ditunjukkan dengan meningkatnya pemakaian pupuk P secara terus menerus, tetapi tidak diikuti peningkatan produksi yang memadai. Kondisi seperti ini menyebabkan biaya produksi tinggi dan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Tabel 1.3. Di sisi lain. 1993).708 . Rekomendasi pemupukan padi sawah di Kecamatan Lape Lopok telah ditentukan sebanyak 115 kg N/ha + 27 . sehingga pengaruh residu P perlu diteliti. Pengaruh pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang 5000 kg/ha tampak peranannya dalam waktu panjang lebih kurang dalam tiga musim tanam berikutnya (Basyir. Oleh sebab itu. Kecamatan Moyo Hilir sebanyak 115 kg N/ha + 18 kg P2O5/ha dan tanpa K2O.981 ha. Kusuma. 1997). dan Idris. cara dan memverifikasi rekomendasi pupuk serta mengidentifikasi pengaruh residu pupuk P dari penelitian tahun pertama di Kecamatan Plampang Sumbawa. Tahun pertama ditujukan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap produksi padi. Bahan organik tersebut berperan dalam memperbaiki sifat fisik. cara dan sumber pupuk P disajikan pada Tabel 1. Hal ini untuk mendapatkan efisiensi pemupukan dengan modifikasi yang tepat. 27 dan 45 kg P2O5/ha). kimia.01 % dengan masukan organik jerami kedelai dengan takaran 20 ton/ha (Prijatno. dan K perlu diimbangi dengan pemberian bahan organik untuk mendukung hasil panen yang tinggi. E-2001 dan pupuk kandang.710 ha (Anonimous. sedangkan pada musim kedua adalah untuk melihat pengaruh pemupukan pada musim pertama terhadap produksi padi. saat pemberian pupuk. 18. Perlakuan pengaruh residu pupuk phospor.217 ha) dan kecamatan Moyo Hilir (4. Pengelolaan tanah vertisol dengan bahan organik mampu meningkatkan efisiensi pupuk Urea sebesar 18.704 ha). sedangkan kecamatan yang lain masih belum diketahui status unsur haranya. Bahan organik yang diberikan dapat berupa jerami. cara pemberian dan bentuk pupuk yang digunakan secara tepat (Landon. 1984).981 ha) mempunyai luasan tertinggi diikuti kecamatan Taliwang (6. Tujuan pengkajian adalah mengkaji dosis. P. Kecamatan Plampang Sumbawa selama 2 musim yaitu pada MH. diduga keras bahwa dengan program intensifikasi padi selama lebih dari 20 tahun terakhir ini. sedangkan kecamatan . dan biologi tanah yang mendukung ketersediaan unsur hara N dan P (Soepardi. 1999/2000 (Desember 1999 s/d Maret 2000) dan MK. 9. Lebih lanjut Bastari (1996) mengemukakan bahwa penggunan pupuk yang berupa unsur makro N. 1979). Berdasarkan jenis tanahnya. 1997). Hasil penelitian Baharuddin (1996) menyatakan bahwa di kecamatan Lape Lopok dan Moyo Hilir yang termasuk daerah irigasi Mamak Kakiang mempunyai kandungan P dan K yang cukup. Perlakuan yang diuji adalah cara (celup dan tidak celup). pupuk hijau sesbania dan pupuk kandang yang berperan mengembalikan unsur hara yang telah diserap oleh tanaman dari dalam tanah. Plampang. diperkirakan hara P dalam tanah. BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan di Desa Maronge.kecamatan lain seluas 1. Kombinasi dosis.36 kg P2O5/ha dan tanpa K2O. Penanaman padi sawah di Kabupaten Sumbawa menyebar di 14 kecamatan dengan kisaran luas panen antara 1. 2000 Perlakuan 1 T1 T1A (Residu T1) T2 T2A (Residu T2) T3 (Kontrol) T3A (Kontrol) P2O5 (kg/ha) 2 27 0 18 0 0 0 K2O (kg/ha) 3 0 0 0 0 0 0 E-2001 1) (lt/ha) 4 0 0 0 0 0 0 N (kg/ha) 5 115 115 115 115 115 115 Pupuk kandang (t/ha) 6 0 0 0 0 0 0 . sedangkan hara P yang diberikan dalam bentuk pupuk P tidak seluruhnya diserap oleh tanaman (hanya + 20%) dan selebihnya stabil dan terakumulasi dalam tanah.708 sampai 8. kecamatan Lape Lopok (6. kabupaten Sumbawa khususnya kecamatan Plampang termasuk jenis tanah Vertisol. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik pada tanah vertisol mampu meningkatkan efisiensi pemberian pupuk. dimana pemupukan P diberikan pada setiap musim.978 ha).Upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi pemberian pupuk antara lain melalui dosis pemberian pupuk. 1996).776 ha). dosis P (0. MK I. Pemberian pupuk untuk kecamatan lain di pulau Sumbawa perlu disesuaikan dengan status hara tanah di setiap kecamatan. kecamatan Alas (5. Berdasarkan luasan panen terlihat kecamatan Plampang (8. sedangkan kecamatan lain di pulau Sumbawa direkomendasikan sebanyak 92 kg N/ha + 27 kg P2O5/ ha dan tanpa K2O (SPH Bimas Propinsi NTB. 2000. K2O.

1995). Pada berbagai tingkat dosis P perbandingan antara yang diberikan E-001 dengan tanpa E-2001 memberikan hasil yang tidak berbeda. Hal ini diduga disebabkan kandungan P tanah masih cukup tinggi seperti hasil yang dinyatakan (Adiningsih dan Soepartini. penampilan tanaman lebih buruk terhadap jumlah malai dan produksi.6 gr P2O5/liter direndam selama 12 jam sebelum tanam dengan dosis 2500 liter larutan/ha yang setara dengan 9 kg P2O5/ha. panjang malai dan produksi sangat nyata pada berbagai keadaan (Tabel 2 dan 3). Pengendalian gulma. hama dan penyakit disesuaikan dengan kondisi pertanaman.1 T4 T4A (Residu T4) T5 T5A (Residu T5) T6 (Akar celup) T6A (Residu T6) T7 T7A (Residu T7) T8 T8A (Residu T8) T9 T9A (Residu T9) T10 T10A (Residu T10) T11 T11A (Residu T11) 2 18 0 0 0 9 0 0 0 27 0 27 0 0 0 45 0 3 0 0 0 0 0 0 45 0 45 0 0 0 0 0 0 0 4 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 5 0 0 0 Sawah yang digunakan adalah sawah dengan irigasi teknis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan efisiensi P (tahun pertama) disajikan pada Tabel 2 dan 3. Penanaman secara tanam pindah dengan jarak 20 x 20 cm. jumlah malai/anakan produktif. Tanah diolah secara sempurna dengan kedalaman olah 15 . bobot 1000 biji gabah berisi dan hasil GKG. Efisiensi penggunaan pupuk P (Tahun Pertama) Pengaruh P terhadap jumlah malai per rumpun. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam (AOV). Produksi terlihat cukup dengan dosis 18 kg P2O5/ha. dan pupuk kandang (pakan) diberikan sebelum tanam. Terlihat bahwa kalau tidak diberi P maka produksi cenderung menurun. Pengaruh pupuk E-2001 terhadap komponen hasil dan produksi tidak nyata. Pupuk N diberikan sebanyak 3 kali masing-masing 1/3 dosis sesuai perlakuan. sedangkan pengkajian residu P disajikan pada Tabel 4. Pengaruh pencelupan akar dengan larutan P terhadap produksi juga tidak terlihat (T5 vs T6). yang diberikan pada saat seminggu setelah tanam. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan masing. Demikian juga dengan penambahan K tidak memberikan hasil nyata (T7 vs T5). dengan menggunakan konsentrasi 3. Pemberian pupuk P pada perlakuan akar dicelup. Tanpa P. Pupuk P. K.20 cm. analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Untuk mengetahui tingkat keragaman antara perlakuan yang diuji. . Bahkan (T3 vs T6) produksi tanpa P tidak berbeda nyata dengan yang dicelupkan P serta penambahan E2001. Varietas yang digunakan adalah IR-64. saat anakan aktif dan saat primordia bunga. (T1vs T2 vs T3 vs T4). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman. jumlah anakan maksimum.masing plot perlakuan berukuran 5 m x 4 m. Jenis tanah adalah alfisol. jumlah gabah isi dan gabah hampa.

57 bc 12.99 7.02 32.63 abc 12.80 6.E-2001) (115 .90 bcd 4.**) = perlakuan celup akar Tabel 3.20 121. penambahan dosis P tidak meningkatkan hasil yang berbeda.33 119.77 c*) 12. tidak berpengaruh terhadap hasil dan jumlah biji berisi/malai.0 – 45 .kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p. Hal penting yang diperoleh dari pengkajian ini adalah petak dipupuk dengan P memberikan hasil yang tidak berbeda dengan petak yang tidak diberi pupuk P.94 9.03 5.18 ab 28.29 31.97 5. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Rata-rata bobot 1000 biji.63 12. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.37 bc 10.42 ab 29.22 ab 29.60 Jumlah gabah bernas (butir) 128.18 bc 11.07 ab *) 16.31 ab 14.49 ab 14.11 6.79 32.45 ab 29.98 a 5.28 b*) 29.kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p.25 – 0 .52 abc 4.31 abc 5. tetapi berpengaruh pada jumlah anakan produktif/rumpun (Tabel 4).48 31.40 a 12. menunjukkan bahwa perbedaan nyata pada jumlah anakan produktif/rumpun tidak menimbulkan perbedaan pada hasil gabah.00 6.40 107.80 ab 13.40 bc 13. Implikasinya adalah residu P dari pemupukan musim sebelumnya tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga penambahan pupuk P tidak meningkatkan hasil.25 Jumlah gabah hampa (butir) 8.90 6. Rata-rata jumlah malai/rumpun.57 abc 11.57 ab 13.K (%) Bobot 1000 biji (gram) 34.57 a 13.57 31. jumlah gabah bernas.13 110.67 5.83 ab 13.47 6.27 – 45) (115 –27 – 0 – p.97 tn 126.75 efisiensi penggunaan pupuk P di Hasil GKG (t/ha) 6.E-2001) **) (115 .90 a 29.29 d 5. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Perlakuan (115 . bobot jerami. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (. .37 ab 29. tn = Tidak berbeda nyata.E-2001) (115 .E-2001) (115 .90 ab 11.6 Bobot jerami (t/ha) 16.19 32.E-2001) (115 .40 118.70 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.68 31.E-2001) **) (115 .Pengaruh pupuk kandang tidak terlihat langsung berpengaruh terhadap peningkatan produksi. tn = Tidak berbeda nyata .27 ab 12.68 ab 4.15 31. dan hasil GKG pada uji adaptasi kecamatan Plampang.kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K.62 ab 5.59 cd 5.33 ab 29.51 ab 16.62 ab 27.67 ab 15.31 9. Kenyataan ini didukung penelitian Yoshida (1981) yang melaporkan bahwa jumlah biji/malai berbanding terbalik dengan jumlah anakan produktif.25 – 0 .51 abc 5. 1999/2000. **) = perlakuan celup akar Uji Residu Pupuk Phosphor (P) Pemupukan P pada pertanaman padi MK I yang pada MH mendapatkan pemupukan P.2 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.37 120. Disamping itu.70 113.95 a 27.55 31.27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 .38 32.33 c 11.07 7.27 – 45) (115 –27 – 0 – p. panjang malai.83 b 14.77 126. Tabel 2. 1999/2000.05).K (%) Jumlah malai/ rumpun 12.03 7.05). Perlakuan (115 -27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 .11 a*) 5.8 Panjang malai (cm) 30. dan jumlah gabah hampa pada uji adaptasi efisiensi penggunaan pupuk P di kecamatan Plampang. MH.73 27.05 3. Disamping pemberian pupuk kandang dan K (T9 vs T8 vs T1) tidak menunjukkan manfaat terhadap peningkatan produksi.43 117.63 6. Data pada Tabel 4.0 – 45 .92 bcd 4.83 ab 28. MH.53 abc 10. Hal ini berarti pemupukan P pada padi kedua yang mendapatkan pupuk pada padi pertama tidak perlu dilakukan. Hal ini diduga karena anakan produktif yang banyak tidak selalu meningkatkan jumlah biji/malai.43 tn 8.67 116.kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K.08 tn 33.

Jones. Baharuddin. Priyono. T1A (Residu T1) 3.02 5.02 74. T2A (Residu T2) 5.06 6.45 72.60 d 12. Dompu dan Bima pemupukan P dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. DAFTAR PUSTAKA Anonimous.25 79. Penerapan pemupukan berimbang pada lahan irigasi Mamak dan Kakiang Sumbawa. A.46 ab 12. Biro Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat.145. Perlakuan 1.28 5.17 Hasil GKG (t/ha) 5. T8 (75 kg P2O5 + 75 kg K2O/ha) 16. hal.46 a-d 12. Badan Litbang Pertanian Deptan.34 5.33 bcd 12. Basyir. T10 (5 t pupuk kandang/ha) Anakan prod.60.91 74. T6A (Residu T6) 13. Pengaruh residu pupuk P dari berbagai takaran pupuk P musim sebelumnya terhadap komponen hasil dan hasil padi Maronge Sumbawa MK I 2000. BPS.24 86. T3 (Kontrol) 6. T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001) 8.70 cd 12.M.228. Pemupukan Jangka Panjang Padi Sawah.41 6. T1 (75 kg P2O5/ha) 2.18 74. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Bidang Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unram. T10A (Residu T10) 21.13 abc 13.39 6. AB. 1996. Kerjasama BPS Kabupaten Sumbawa dengan Bappeda Baharudhin. Fakultas Pertanian Unram.91 5.33 ab Biji isi/malai (butir) 78.26 ab 11.79 10. T5A (Residu T5) 11. T3A (Kontrol) 7.24 71.Tabel 4.7 5. Kabupaten Sumbawa. Mataram.26 bcd 13.72 75.36. AB. 1996.07 5. 1979. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Reston Publishing Company. Penerapan Anjuran Teknologi Untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Pupuk. 7 .33 85. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun 1992. 1998. maka untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa. USA.40 80.265. Fagi.04 5. T7 (75 kg K2O/ha) 14.90 a 1. A.76 a-d 13.26 77.40 ab 13. p 29 . walaupun pengaruh pemupukan P nampak pada komponen hasil.82 6./rumpun (batang) 13.13 5.06 76.57 72. No.97 78. Status Pengetahuan Teknik Pemupukan Pada Padi Sawah.65 77. Fakultas Pertanian UNRAM.86 79. • Pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua setelah dilakukan pemupukan P pada padi musim pertama tidak berpengaruh terhadap hasil.40 a-d 13.78 5.16 bcd 13. • Memperhatikan kriteria 4 dan 5.S. T11A (Residu T11) CV (%) Ket : 12. T7A (Residu T7) 15.80 a-d 12.71 tn 75. hal. T4A (Residu T4) 9.74 tn 5.09 5. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.40 ab 12. T9A (Residu T9) 19. T.49 5. Bastari. 37 . T2 (18 kg P2O5/ha) 4. 1996.33 ab 12. 1997.20 abc 13. T9 (75 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha) 18. 222 . hal. T11 (45 kg P2O5/ha) 22.60 a-d 11. dan J. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. T8A (Residu T8) 17. Rangkuman Laporan Penelitian Kajian Pemupukan Berimbang Pada Lahan/ Daerah Irigasi Mamak Kakiang Sumbawa NTB Menunjang Pelestarian Swasembada Pangan. 48 hal.00 bcd 13. Badan Litbang Pertanian Deptan. U. Nusa Tenggara Dalam Angka 1997.26 bcd 13.26 5. T6 (25 kg P2O5/ha akar celup) 12. 7 . hal. T5 (E 2001) 10.06 83.45 5.5 *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.08 5. Fertilizers and Soil Fertility.09 5.05). 1993. Kabupaten Sumbawa Dalam Angka.84 20.82 78.79 16. .62 6.06 a-d 12.98 78. tn = Tidak berbeda nyata ESIMPULAN DAN SARAN • Pemupukan Phosphor (P) tidak berpengaruh terhadap hasil gabah.65 71. 1995. Pusat dan Penelitian Tanah dan Agoklimat. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanaman padi sawah.

M.23-35. Booker Agriculture Internati0nal Limited. G. Makalah . Moersidi. Schoool of Crop Sceinces. S. Supardi. Status hara P dan K serta sifat-sifat tanah sebagai penduga kebutuhan pupuk padi sawah di pulau Lombok.. Kesuburan Tanah dan Nuheisi Tanaman PPS. Setiyono. Anintermediate Biometry Course Manual. 18 hal.144. dan J. Kasno.E. 1986. 1979. Subandi. Malang 55 hal. Laporan Penelitian Pengkajian Pengaruh Masukan Organik Terhadap Ketersediaan N dan Efisiensi Pupuk Urea Pada Tanaman Jagung di Tanah Vertisol.Landon. Booker Tropical Soil Manual. Soepardi. Sekertariat Pembina Harian Bimas NTB. 106 . 1994. M. 1996. H. Kusuma dan M. 1994. Rekomendasi Pemupukan di Wilayah NTB. 1995. A.H. Pemupukan kalium bagi upaya meningkatkan produksi padi di Nusa Tenggara Barat. Nurjaya. 17-19 Desember 1995. S. Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB Bogor. Ardjakusuma. disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi di IPPTP Mataram. 1997. Sifat dan Ciri Tanah. Idris. 12. 1984. S. J.159. 872 hal. P 114 .R. Prijatna. B. Pemberitaan Penelitan Tanah dan Pupuk No. Soepartini. The University 0f Sidney. P. 0’Neill. Unibraw. Dep. Sri Adiningsih. p. 1997. Mataram 12 hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful