PENGKAJIAN CARA, DOSIS DAN SUMBER PEMUPUKAN PHOSFOR DAN RESIDUNYA PADA ALFISOL DI KABUPATEN SUMBAWA

Hasil Sembiring, L.Wirajaswadi, Awaludin Hipi1 dan Paulina Evy R. Prahardini2 1.
Peneliti pada BPTP Nusa Tenggara Barat

2. ABSTRAK

Peneliti pada BPTP Jawa Timur

Informasi status hara dan arahan pemupukan P di Kabupaten Sumbawa sangat terbatas, sehingga rekomendasi teknologi pemupukan P sangat diperlukan. Tujuan pengkajian adalah mengevaluasi rekomendasi pemupukan P, dosis, sumber dan cara pemupukan P dan residunya. Pengkajian telah dilakukan pada MH 1999/2000 dan MK. 2000 di Desa Maronge Kecamatan Plampang Kabupaten Sumbawa di lahan sawah milik petani. Perlakuan yang diuji adalah 11 perlakuan meliputi: T1 (27 kg P2O5/ha), T2 (18 kg P2O5/ha), (Kontrol), T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001), T5 (E 2001), T6 (25 kg P2O5/ha akar celup), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha), T10 (5 t pupuk kandang/ha), T11 (45 kg P2O5/ha). Pengkajian residu P dilaksanakan pada musim berikut (MK) dengan membagi petak percobaan pertama menjadi 2 bagian yang sama dimana petak pertama diperlakukan sama dengan perlakuan tahun sebelumnya sedangkan petak kedua tidak diberi perlakuan. Variabel yang diamati adalah jumlah malai, panjang malai, jumlah gabah isi, bobot 1000 biji, bobot jerami basah dan hasil. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua tidak berpengaruh terhadap hasil. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanam padi sawah. Untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa, pemupukan P 2O5 dapat dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. Sumber dan cara pemberian pupuk tidak berbeda nyata, sehingga pencelupan dengan 25 kg P2O5/ha tidak ada pengaruhnya dibandingkan dgn cara normal (cara yang biasa dilakukan petani). Kata kunci: phosphor, residu, padi sawah, Kabupaten Sumbawa

ABSTRACT
Limited information for used P fertilizier at Sumbawa district, more needed a recomendation of tecnology for P fertilizier. The objective of assesment was to evaluated recomendation P fertilizier, dosage, and residu. The assesment was conducted in farmers lowland in Maronge, Plampang, Sumbawa, at WS. 1999/2000 and DS. I. 2000. The eleven treatments on test i.e : T1 (27 kg P2O5/ha), (T2 (18 kg P2O5/ha), (control), T4 (18 kg P2O5/ha + E- 2001), T5 (E-2001), T6 (25 kg P2O5/ha), T7 (45 kg K2O/ha), T8 (27 kg P2O5 + 45 kg K2O/ha), T9 (27 kg P2O5 + 5 t organik matter /ha), T10 (5 t organik matter/ha), T11 (45 kg P 2O5/ha). All of treatments using 115 kg N/ha. Assesment of residu P was conducted at DS. I. The result indicated that phosphor fertilizier at the second season (DS. I) not significant difeerent from residu for yield. This indicated that residu P still enaught for growth rice in lowland. Applicated P at Sumbawa could be conduct once times for two planting season with dosage 18 kg/ha. Key words: phosphor, residu, low land rice, Sumbawa district

PENDAHULUAN Produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa bervariasi dengan rata-rata 4,42 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas tingkat Propinsi adalah 4,61 t/ha (BPS, 1998). Hal ini menggambarkan bahwa produktivitas padi di Kabupaten Sumbawa masih memiliki potensi untuk ditingkatkan. Upaya meningkatkan produktivitas, harus diikuti dengan usaha peningkatan pendapatan petani tanpa merusak lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi adalah pemberian pupuk antara lain pupuk fosfor (P). Dengan pemberian pupuk yang tepat, diharapkan petani memperoleh peningkatan hasil yang menguntungkan. Ketersediaan hara P dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga pemberian dosis pupuk yang tepat memerlukan pemahaman tentang informasi dasar seperti status hara tanah, sifat fisik, kimia dan latar belakang penggunaan lahan. Masalah ini mengakibatkan pemberian pupuk yang tidak efisien, yang ditunjukkan dengan meningkatnya pemakaian pupuk P secara terus menerus, tetapi tidak diikuti peningkatan produksi yang memadai. Kondisi seperti ini menyebabkan biaya produksi tinggi dan mengganggu keseimbangan lingkungan.

diduga keras bahwa dengan program intensifikasi padi selama lebih dari 20 tahun terakhir ini. E-2001 dan pupuk kandang. 2000. 1997). Kusuma. dan biologi tanah yang mendukung ketersediaan unsur hara N dan P (Soepardi. Pemberian pupuk untuk kecamatan lain di pulau Sumbawa perlu disesuaikan dengan status hara tanah di setiap kecamatan. diperkirakan hara P dalam tanah. sedangkan kecamatan . dimana pemupukan P diberikan pada setiap musim. 1984). Hal ini untuk mendapatkan efisiensi pemupukan dengan modifikasi yang tepat. Oleh sebab itu. kabupaten Sumbawa khususnya kecamatan Plampang termasuk jenis tanah Vertisol. P. 1993). Pengelolaan tanah vertisol dengan bahan organik mampu meningkatkan efisiensi pupuk Urea sebesar 18. sedangkan hara P yang diberikan dalam bentuk pupuk P tidak seluruhnya diserap oleh tanaman (hanya + 20%) dan selebihnya stabil dan terakumulasi dalam tanah. dan Idris. sedangkan kecamatan yang lain masih belum diketahui status unsur haranya. Pengaruh pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang 5000 kg/ha tampak peranannya dalam waktu panjang lebih kurang dalam tiga musim tanam berikutnya (Basyir. cara dan sumber pupuk P disajikan pada Tabel 1. K2O. cara pemberian dan bentuk pupuk yang digunakan secara tepat (Landon.978 ha). dosis P (0. sedangkan kecamatan lain di pulau Sumbawa direkomendasikan sebanyak 92 kg N/ha + 27 kg P2O5/ ha dan tanpa K2O (SPH Bimas Propinsi NTB. sehingga pengaruh residu P perlu diteliti. 27 dan 45 kg P2O5/ha). kecamatan Alas (5. Kecamatan Moyo Hilir sebanyak 115 kg N/ha + 18 kg P2O5/ha dan tanpa K2O. 1999/2000 (Desember 1999 s/d Maret 2000) dan MK.981 ha) mempunyai luasan tertinggi diikuti kecamatan Taliwang (6.36 kg P2O5/ha dan tanpa K2O. Berdasarkan jenis tanahnya. Bahan organik tersebut berperan dalam memperbaiki sifat fisik.01 % dengan masukan organik jerami kedelai dengan takaran 20 ton/ha (Prijatno.708 . 18.776 ha). 9. dan K perlu diimbangi dengan pemberian bahan organik untuk mendukung hasil panen yang tinggi. Kecamatan Plampang Sumbawa selama 2 musim yaitu pada MH.217 ha) dan kecamatan Moyo Hilir (4. Rekomendasi pemupukan padi sawah di Kecamatan Lape Lopok telah ditentukan sebanyak 115 kg N/ha + 27 . cara dan memverifikasi rekomendasi pupuk serta mengidentifikasi pengaruh residu pupuk P dari penelitian tahun pertama di Kecamatan Plampang Sumbawa. Tujuan pengkajian adalah mengkaji dosis. saat pemberian pupuk.981 ha. kimia. Lebih lanjut Bastari (1996) mengemukakan bahwa penggunan pupuk yang berupa unsur makro N. Perlakuan yang diuji adalah cara (celup dan tidak celup). Di sisi lain. 1996). Perlakuan pengaruh residu pupuk phospor. 2000 Perlakuan 1 T1 T1A (Residu T1) T2 T2A (Residu T2) T3 (Kontrol) T3A (Kontrol) P2O5 (kg/ha) 2 27 0 18 0 0 0 K2O (kg/ha) 3 0 0 0 0 0 0 E-2001 1) (lt/ha) 4 0 0 0 0 0 0 N (kg/ha) 5 115 115 115 115 115 115 Pupuk kandang (t/ha) 6 0 0 0 0 0 0 . kecamatan Lape Lopok (6.708 sampai 8. 1979). pupuk hijau sesbania dan pupuk kandang yang berperan mengembalikan unsur hara yang telah diserap oleh tanaman dari dalam tanah.3. Berdasarkan luasan panen terlihat kecamatan Plampang (8. Tahun pertama ditujukan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap produksi padi. Penanaman padi sawah di Kabupaten Sumbawa menyebar di 14 kecamatan dengan kisaran luas panen antara 1.704 ha).Upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi pemberian pupuk antara lain melalui dosis pemberian pupuk. 1997). Hasil penelitian Baharuddin (1996) menyatakan bahwa di kecamatan Lape Lopok dan Moyo Hilir yang termasuk daerah irigasi Mamak Kakiang mempunyai kandungan P dan K yang cukup.kecamatan lain seluas 1. Bahan organik yang diberikan dapat berupa jerami. Tabel 1. MK I. Kombinasi dosis. sedangkan pada musim kedua adalah untuk melihat pengaruh pemupukan pada musim pertama terhadap produksi padi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik pada tanah vertisol mampu meningkatkan efisiensi pemberian pupuk. Plampang. BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan di Desa Maronge.710 ha (Anonimous.

(T1vs T2 vs T3 vs T4). jumlah malai/anakan produktif. Hal ini diduga disebabkan kandungan P tanah masih cukup tinggi seperti hasil yang dinyatakan (Adiningsih dan Soepartini. jumlah gabah isi dan gabah hampa. Tanpa P. Pengaruh pencelupan akar dengan larutan P terhadap produksi juga tidak terlihat (T5 vs T6). dan pupuk kandang (pakan) diberikan sebelum tanam.6 gr P2O5/liter direndam selama 12 jam sebelum tanam dengan dosis 2500 liter larutan/ha yang setara dengan 9 kg P2O5/ha. Tanah diolah secara sempurna dengan kedalaman olah 15 . Pupuk P. sedangkan pengkajian residu P disajikan pada Tabel 4. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman. 1995). Pemberian pupuk P pada perlakuan akar dicelup. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan masing. Pada berbagai tingkat dosis P perbandingan antara yang diberikan E-001 dengan tanpa E-2001 memberikan hasil yang tidak berbeda.20 cm. Pengaruh pupuk E-2001 terhadap komponen hasil dan produksi tidak nyata. panjang malai dan produksi sangat nyata pada berbagai keadaan (Tabel 2 dan 3).1 T4 T4A (Residu T4) T5 T5A (Residu T5) T6 (Akar celup) T6A (Residu T6) T7 T7A (Residu T7) T8 T8A (Residu T8) T9 T9A (Residu T9) T10 T10A (Residu T10) T11 T11A (Residu T11) 2 18 0 0 0 9 0 0 0 27 0 27 0 0 0 45 0 3 0 0 0 0 0 0 45 0 45 0 0 0 0 0 0 0 4 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 5 0 0 0 Sawah yang digunakan adalah sawah dengan irigasi teknis. . dengan menggunakan konsentrasi 3. analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). hama dan penyakit disesuaikan dengan kondisi pertanaman. saat anakan aktif dan saat primordia bunga. K. Bahkan (T3 vs T6) produksi tanpa P tidak berbeda nyata dengan yang dicelupkan P serta penambahan E2001. jumlah anakan maksimum. Terlihat bahwa kalau tidak diberi P maka produksi cenderung menurun. Pupuk N diberikan sebanyak 3 kali masing-masing 1/3 dosis sesuai perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan efisiensi P (tahun pertama) disajikan pada Tabel 2 dan 3. yang diberikan pada saat seminggu setelah tanam. Untuk mengetahui tingkat keragaman antara perlakuan yang diuji. penampilan tanaman lebih buruk terhadap jumlah malai dan produksi.masing plot perlakuan berukuran 5 m x 4 m. bobot 1000 biji gabah berisi dan hasil GKG. Penanaman secara tanam pindah dengan jarak 20 x 20 cm. Pengendalian gulma. Efisiensi penggunaan pupuk P (Tahun Pertama) Pengaruh P terhadap jumlah malai per rumpun. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam (AOV). Demikian juga dengan penambahan K tidak memberikan hasil nyata (T7 vs T5). Varietas yang digunakan adalah IR-64. Produksi terlihat cukup dengan dosis 18 kg P2O5/ha. Jenis tanah adalah alfisol.

80 6.62 ab 5.19 32.40 107.03 7.67 5.27 ab 12.0 – 45 .77 c*) 12.60 Jumlah gabah bernas (butir) 128.20 121.63 abc 12.40 bc 13.31 9. Data pada Tabel 4. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Rata-rata bobot 1000 biji.38 32.11 6.29 31.33 c 11.33 119.90 ab 11.25 – 0 .22 ab 29.37 120.K (%) Bobot 1000 biji (gram) 34.07 ab *) 16.18 bc 11.11 a*) 5.92 bcd 4.40 118.27 – 45) (115 –27 – 0 – p. Perlakuan (115 -27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 .63 12.90 bcd 4.00 6. penambahan dosis P tidak meningkatkan hasil yang berbeda.E-2001) **) (115 . menunjukkan bahwa perbedaan nyata pada jumlah anakan produktif/rumpun tidak menimbulkan perbedaan pada hasil gabah.73 27.75 efisiensi penggunaan pupuk P di Hasil GKG (t/ha) 6. jumlah gabah bernas. dan hasil GKG pada uji adaptasi kecamatan Plampang.63 6.57 a 13.97 5.99 7. tn = Tidak berbeda nyata .98 a 5.49 ab 14.37 ab 29.90 6. Disamping itu.59 cd 5.70 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.51 abc 5. Tabel 2.45 ab 29.90 a 29.57 abc 11.31 abc 5. MH.57 ab 13.E-2001) (115 . 1999/2000.07 7. tn = Tidak berbeda nyata. Disamping pemberian pupuk kandang dan K (T9 vs T8 vs T1) tidak menunjukkan manfaat terhadap peningkatan produksi.83 ab 13. tetapi berpengaruh pada jumlah anakan produktif/rumpun (Tabel 4).47 6.8 Panjang malai (cm) 30. panjang malai. Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 Perlakuan (115 .E-2001) (115 .kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K.31 ab 14.83 ab 28.**) = perlakuan celup akar Tabel 3.0 – 45 . 1999/2000. Implikasinya adalah residu P dari pemupukan musim sebelumnya tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga penambahan pupuk P tidak meningkatkan hasil.Pengaruh pupuk kandang tidak terlihat langsung berpengaruh terhadap peningkatan produksi. Hal ini diduga karena anakan produktif yang banyak tidak selalu meningkatkan jumlah biji/malai.42 ab 29. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.03 5. Rata-rata jumlah malai/rumpun.70 113.28 b*) 29.33 ab 29.43 tn 8.05 3.25 Jumlah gabah hampa (butir) 8.K (%) Jumlah malai/ rumpun 12. MH.15 31. bobot jerami.97 tn 126.77 126. Hal ini berarti pemupukan P pada padi kedua yang mendapatkan pupuk pada padi pertama tidak perlu dilakukan.51 ab 16.27 – 0 – 0) (115 -18 – 0 – 0) (115 -0 – 0 – 0 ) (115 –18 – 0 – E-2001) (115 – 0 – 0 .68 31.40 a 12.48 31.29 d 5.02 32. tidak berpengaruh terhadap hasil dan jumlah biji berisi/malai.80 ab 13.6 Bobot jerami (t/ha) 16.68 ab 4.67 ab 15.37 bc 10.79 32.83 b 14.52 abc 4. tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.57 bc 12.55 31.13 110. Hal penting yang diperoleh dari pengkajian ini adalah petak dipupuk dengan P memberikan hasil yang tidak berbeda dengan petak yang tidak diberi pupuk P.53 abc 10.95 a 27.18 ab 28.kdg 5000) (115 – 45 – 0 – 0) Rata-rata K.E-2001) **) (115 .kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p.E-2001) (115 .E-2001) (115 .05).27 – 45) (115 –27 – 0 – p. dan jumlah gabah hampa pada uji adaptasi efisiensi penggunaan pupuk P di kecamatan Plampang.62 ab 27.94 9. Kenyataan ini didukung penelitian Yoshida (1981) yang melaporkan bahwa jumlah biji/malai berbanding terbalik dengan jumlah anakan produktif.25 – 0 .43 117.08 tn 33.05).57 31.kdg 5000) (115 – 18 – 0 – p. .67 116. **) = perlakuan celup akar Uji Residu Pupuk Phosphor (P) Pemupukan P pada pertanaman padi MK I yang pada MH mendapatkan pemupukan P.2 Ket : *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama.

26 ab 11. T2A (Residu T2) 5. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Kerjasama BPS Kabupaten Sumbawa dengan Bappeda Baharudhin. A. maka untuk efisiensi dan mempertahankan status P di Sumbawa. USA. Biro Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat.20 abc 13. 37 . hal. Pengaruh residu pupuk P dari berbagai takaran pupuk P musim sebelumnya terhadap komponen hasil dan hasil padi Maronge Sumbawa MK I 2000. hal. T9 (75 kg P2O5 + 5 t pupuk kandang/ha) 18. T3A (Kontrol) 7.36.60 d 12. T4 (18 kg P2O5/ha + E 2001) 8. T9A (Residu T9) 19.86 79. T. Badan Litbang Pertanian Deptan.76 a-d 13. 1995. T7 (75 kg K2O/ha) 14.40 80.84 20. AB.7 5./rumpun (batang) 13. Jones.79 10. Fakultas Pertanian UNRAM. T3 (Kontrol) 6.06 6.45 72.33 bcd 12.26 bcd 13.228. 1979. Badan Litbang Pertanian Deptan. Bastari.70 cd 12.25 79.13 5. dan J.91 74. T7A (Residu T7) 15.26 77. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Bidang Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unram.45 5.40 ab 12.62 6.M.80 a-d 12.46 a-d 12.13 abc 13.74 tn 5.09 5. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun 1992.02 74.09 5. A. tn = Tidak berbeda nyata ESIMPULAN DAN SARAN • Pemupukan Phosphor (P) tidak berpengaruh terhadap hasil gabah.Tabel 4. 7 .24 86. 1997. T8A (Residu T8) 17. Penerapan Anjuran Teknologi Untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Pupuk.33 85.26 bcd 13.06 a-d 12.82 78. Baharuddin. T11 (45 kg P2O5/ha) 22. • Memperhatikan kriteria 4 dan 5. Kabupaten Sumbawa Dalam Angka. 222 .71 tn 75.90 a 1. T11A (Residu T11) CV (%) Ket : 12.33 ab Biji isi/malai (butir) 78. Fagi.17 Hasil GKG (t/ha) 5. T6A (Residu T6) 13. Pemupukan Jangka Panjang Padi Sawah. T6 (25 kg P2O5/ha akar celup) 12.05). tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (.79 16.40 ab 13.33 ab 12. Penerapan pemupukan berimbang pada lahan irigasi Mamak dan Kakiang Sumbawa.72 75. 1993. Priyono.04 5.39 6. 1996. T4A (Residu T4) 9.145.00 bcd 13.78 5. U.265. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Reston Publishing Company. AB.40 a-d 13. .91 5. Nusa Tenggara Dalam Angka 1997. T1 (75 kg P2O5/ha) 2. Fertilizers and Soil Fertility.06 76. • Pemupukan Phosphor (P) pada padi musim kedua setelah dilakukan pemupukan P pada padi musim pertama tidak berpengaruh terhadap hasil.57 72.28 5.98 78. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. p 29 . Dompu dan Bima pemupukan P dilakukan sekali dalam dua musim tanam dengan takaran 18 kg/ha. Perlakuan 1. 1996.26 5. 7 . T1A (Residu T1) 3.49 5.65 77. 1998. Ini berarti bahwa residu P dalam tanah cukup memenuhi kebutuhan P tanaman padi sawah.82 6.07 5. T10 (5 t pupuk kandang/ha) Anakan prod.97 78.60 a-d 11. 1996. walaupun pengaruh pemupukan P nampak pada komponen hasil. T2 (18 kg P2O5/ha) 4. BPS. hal.34 5. Kabupaten Sumbawa. T8 (75 kg P2O5 + 75 kg K2O/ha) 16. hal.60. No.S.06 83. T5 (E 2001) 10.18 74.24 71.41 6.02 5.65 71. Basyir. Rangkuman Laporan Penelitian Kajian Pemupukan Berimbang Pada Lahan/ Daerah Irigasi Mamak Kakiang Sumbawa NTB Menunjang Pelestarian Swasembada Pangan. T10A (Residu T10) 21.08 5. Pusat dan Penelitian Tanah dan Agoklimat. Mataram. Status Pengetahuan Teknik Pemupukan Pada Padi Sawah.16 bcd 13.5 *) = Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama. 48 hal. T5A (Residu T5) 11.46 ab 12. Fakultas Pertanian Unram.

23-35. 1994. 0’Neill. Kasno.144.H. Sekertariat Pembina Harian Bimas NTB.R. Idris. 1995. Pemberitaan Penelitan Tanah dan Pupuk No. p. H. P 114 .159. Ardjakusuma. 1994. Sifat dan Ciri Tanah. Supardi. 12. Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB Bogor. 1984. 1996. A. Kesuburan Tanah dan Nuheisi Tanaman PPS. B.. Malang 55 hal. The University 0f Sidney. Booker Tropical Soil Manual. M. Schoool of Crop Sceinces. Prijatna. 1997. J. S. disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi di IPPTP Mataram. S. dan J. 106 . Status hara P dan K serta sifat-sifat tanah sebagai penduga kebutuhan pupuk padi sawah di pulau Lombok. Rekomendasi Pemupukan di Wilayah NTB. Booker Agriculture Internati0nal Limited. Soepardi. Mataram 12 hal. 18 hal. P. 1979. 1986. Nurjaya. G. 872 hal.E. Unibraw. M. Laporan Penelitian Pengkajian Pengaruh Masukan Organik Terhadap Ketersediaan N dan Efisiensi Pupuk Urea Pada Tanaman Jagung di Tanah Vertisol. Pemupukan kalium bagi upaya meningkatkan produksi padi di Nusa Tenggara Barat. Soepartini. Kusuma dan M. Subandi. 17-19 Desember 1995.Landon. Sri Adiningsih. S. Anintermediate Biometry Course Manual. Makalah . Moersidi. Setiyono. 1997. Dep.