P. 1
Peran dan Tugas Dai

Peran dan Tugas Dai

5.0

|Views: 1,711|Likes:
Published by Joko
Berdakwah ke masyarakat memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks. Jika kita melihat masyarakat Indonesia berarti harus memperhatikan keragaman budaya, status sosial, pendidikan, bahasa, usia, dan lain-lain.
Berdakwah ke masyarakat memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks. Jika kita melihat masyarakat Indonesia berarti harus memperhatikan keragaman budaya, status sosial, pendidikan, bahasa, usia, dan lain-lain.

More info:

Published by: Joko on Aug 25, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2013

pdf

text

original

Tugas dan Peran Dai Page 1

Peran dan Tugas Dai







Tugas dan Peran Dai Page 2



Oleh: Tim dakwatuna.com

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/allah-swt-tidak-membebani-seseorang-diluar-kemampuannya/

1. Allah SWT Tidak Membebani Seseorang Diluar Kemampuannya (halaman 2)
2. 7 Proyek Amal Islami (halaman 8)
3. Berdakwahlah Agar Selamat Dunia-Akhirat (halaman 12)
4. Pilar-Pilar Kesuksesan Dakwah (halaman 18)
5. Tiga Tugas Dai Dalam Memenangkan Dakwah (halaman 25)


Allah SWT Tidak Membebani Seseorang Diluar Kemampuannya
dakwatuna.com - Allah Yang Mahaagung menghendaki agar dakwah dilakukan dengan seluruh
sarana kemanusiaan. Seorang dai wajib mencari berbagai cara yang manusiawi untuk
mensukseskan dakwahnya. Karena itu Rasulullah saw. tidak selalu berkata, “Hal ini telah
diwahyukan kepadaku.” Tapi beliau lebih sering berkata, “Aku punya cara dan ide lain.” Bahkan
di Perang Uhud sebagian sahabat berbeda pendapat dengan Nabi dalam hal taktis dan strategi
perang, padahal Nabi berada di tengah-tengah mereka dan wahyu turun kepada beliau.
Firman Allah '+·-و `إ ً '--- -ا -'´- ` , bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar
kemampuannya (Al-Baqarah: 286) adalah penjelasan yang menguatkan prinsip tersebut.
Pembebanan adalah perkara yang menyulitkan. Karena itu harus berbanding lurus dengan
kemampuan. Imam Qurtuby berkata, “Allah menggariskan bahwa Dia tidak akan membebani
hambanya –sejak ayat ini diturunkan– dengan amalan-amalan hati atau anggota badan, sesuai
dengan kemampuan orang tersebut. Dengan demikian umat Islam terangkat kesulitannya.
Artinya, Allah tidak membebani apa-apa yang terlintas dalam perasaan dan tercetus dalam hati.”
Banyak orang memahami ayat ini dengan mengatakan, kemampuan yang dimaksud dalam ayat
ini adalah batasan minimal kemampuan seseorang. Oleh karena itu, kemampuan dapat berubah-
ubah tergantung dengan motivasi. Ada orang yang tidak mampu, ada orang yang mampu. Tentu
saja pendapat ini keliru. Sebab, para sahabat mencontohkan secara nyata kepada kita bahwa
mereka berkomitmen dengan seluruh kapasitas kemampuan mereka.
Jika kita buka lembaran sirah sahabat, kita dapati kebanyakan mereka wafat di luar negeri. Abu
Ayub Al-Anshari misalnya. Beliau wafat di Benteng Konstantinopel. Ummu Haram binti Milhan
berakhir hidupnya di Pulau Qobros, Yunani. Uqbah bin Amir meninggal di Mesir. Bilal
dimakamkan di Syria. Demikianlah mereka mengembara ke segala penjuru dunia untuk
berdakwah. Mereka mengerahkan semua yang berharga dalam hidupnya untuk meninggikan
panji Islam. Begitulah semestinya memahami ayat '+·-و `إ ً '--- -ا -'´- `.
Tugas dan Peran Dai Page 3

Pada Perang Uhud para sahabat tetap memenuhi seruan Allah untuk mengejar orang-orang
musyrik. Usaid bin Hudhair r.a. berkata, “ª'·-·'و - ª='=و ً '·--”. Ia langsung menyiapkan
senjatanya, padahal ia baru saja mengobati tujuh buah luka yang bersarang di tubuhnya. Bahkan
dalam peperangan “Hamra Al-Asad”, empat puluh orang sahabat masih tetap keluar ikut
berperang meski mereka masih dalam keadaan terluka. Di antara mereka adalah Thufail bin
Nu’man dengan 13 luka di tubuhnya dan Kharrasy bin As-Simmah dengan 10 luka di tubuhnya.
Semua menunjukan bahwa:
“ '- -+='ا .- ل--- ª-·-'ا ةدار`ا م``او -='--'ا ى-=-- . د·=و ·- -= ة·='= ª--·-'ا ةدار`ا نأو
ت'--'´-`او .-'-·'ا.”
“Kemauan yang kuat akan mengerahkan seluruh kesungguhan, walau menghadapi banyak
kesulitan penderitaan. Sebaliknya, kemauan yang lemah menjadi tak berdaya meskipun sarana
dan waktu tersedia.”
Karena itulah Allah swt. menyebutkan sikap mereka dalam Al-Qur’an:
اْ·َ-´-اَ و ْ»ُ+ْ-ِ- ا·ُ-َ-ْ=َ أ َ .-ِ -´'ِ' ُ حْ·َ-ْ'ا ُ »ُ+َ-'َ-َ أ 'َ- ِ -ْ·َ- ْ.ِ- ِ ل·ُ-´ ·'اَ و ِª´'ِ' ا·ُ-'َ=َ-ْ-ا َ .-ِ -´'اٌ»-ِ=َ= ٌ·ْ=َ أ
“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat
luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan
yang bertakwa, ada pahala yang besar.” (Ali Imran: 172)
Kemampuan dan Keinginan
Kemampuan untuk berdakwah adalah dorongan kehendak jiwa dan melaksanakannya atas izin
Allah. Bila dorongan itu tidak ada pada diri seseorang, maka ia menjadi tak berdaya. Karena itu
Nabi saw. mengajarkan kita untuk berdoa:
” .-´'او ·=·'ا .- =- ذ·=أو ن·='او »+'ا .- =- ذ·=أ ¸-إ »+''ا، ذ·=أو ،.=-'او .-='ا .- =- ذ·=أو
ل'=·'ا ·+·و .--'ا ª-'= .- =-”
“Ya Allah, aku berlindungan kepadaMu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung
kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan
kikir, dan aku berlindung kepadaMu dari dilingkupi utang dan dominasi manusia.”
Rasulullah saw. juga bersabda:
” =·--- '- '= ص·=ا ،·-= .آ ¸·و --·-'ا .-·-'ا .- -ا 'إ -=أو ·-= ي·-'ا .-·-''
·=·- `و -'- .·--او”
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah.
Segala sesuatunya lebih baik. Tampakanlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta
tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya.” (Muslim)
Tugas dan Peran Dai Page 4

Sesungguhnya perasaan tak berdaya dan tidak punya kemampuan yang selalu diucapkan
berulang kali oleh para dai hanya akan meredupkan kekuatan Islam dan lambatnya laju
kendaraan dakwah. Bila seorang dai tidak berani membangun dakwahnya tanpa ada perasaan
takut, hal itu akan menghancurkan dakwahnya. Bila seorang dai tidak tahan menghadap kritikan,
ia tidak akan pernah maju. Ia tidak akan sampai pada kemampuan memberikan arahan (taujih)
dan perubahan (taghyir).
Batas Kemampuan Kapasitas Dai
Apakah batasan kemampuan seorang dai dalam berdakwah? Jawabnya ada di firman Allah
berikut ini:
·ُ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا ُ »ُه َ =ِ-َ'وُ أ اوُ ·َ-َ-َ و اْوَ واَ ء َ .-ِ -´'اَ و ِª´''ا ِ .-ِ-َ- ¸ِ· اوُ -َه'َ=َ و اوُ ·َ='َهَ و ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ وٌ»-ِ ·َآ ٌقْزِ رَ و ٌةَ ·ِ-ْ·َ- ْ»ُ+َ' '´-َ= َ ن
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang
yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin),
mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki
(nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal: 74)
َهَ و ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ-ْ'ا ُ »ُه َ =ِ-َ'وُ أَ و ِª´''ا َ -ْ-ِ= ًªَ=َ رَ د ُ »َ=ْ=َ أ ْ»ِ+ِ-ُ-ْ-َ أَ و ْ»ِ+ِ'اَ ·ْ-َ 'ِ- ِª´''ا ِ .-ِ-َ- ¸ِ· اوُ -َه'َ=َ و اوُ ·َ='َ نوُ ·ِ-'
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat
kemenangan.” (At-Taubah: 20)
ُ-ْ-َ أَ و ْ»ِ+ِ'اَ ·ْ-َ 'ِ- اوُ -َه'َ=َ و ا·ُ-'َ-ْ·َ- ْ»َ' ´ »ُ` ِªِ'·ُ-َ رَ و ِª´'''ِ- ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'ا َ ن·ُ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا 'َ-´-ِ إِ-َ'وُ أ ِª´''ا ِ .-ِ-َ- ¸ِ· ْ»ِ+ِ-َ ن·ُ·ِ د'´-'ا ُ »ُه َ =
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa
mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)
ٍ»-ِ'َ أ ٍ باَ -َ= ْ.ِ- ْ»ُ´-ِ=ْ-ُ- ٍ ةَ ر'َ=ِ- َ'َ= ْ»ُ´´'ُ دَ أ ْ.َه ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'ا 'َ+´-َ أ'َ-(10) ْ»ُ´ِ'اَ ·ْ-َ 'ِ- ِª´''ا ِ .-ِ-َ- ¸ِ· َ نوُ -ِه'َ=ُ-َ و ِªِ'·ُ-َ رَ و ِª´'''ِ- َ ن·ُ-ِ-ْ·ُ-
ْ-ُآ ْنِ إ ْ»ُ´َ' ٌ·ْ-َ= ْ»ُ´ِ'َ ذ ْ»ُ´ِ-ُ-ْ-َ أَ و َ ن·ُ-َ'ْ·َ- ْ»ُ-(11)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya.” (Ash-Shaff: 11)
ْ-ُآ ْنِ إ ْ»ُ´َ' ٌ·ْ-َ= ْ»ُ´ِ'َ ذ ِª´''ا ِ .-ِ-َ- ¸ِ· ْ»ُ´ِ-ُ-ْ-َ أَ و ْ»ُ´ِ'اَ ·ْ-َ 'ِ- اوُ -ِه'َ=َ و 'ً''َ-ِ`َ و 'ً·'َ-ِ= اوُ ·ِ-ْ-اَ ن·ُ-َ'ْ·َ- ْ»ُ-
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah
dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.” (At-Taubah: 41)
Tugas dan Peran Dai Page 5

Maksud dari firman Allah swt.: ً `'-`و ً '·'-= او·--ا, sama saja apakah kalian dalam keadaaan ringan
untuk pergi berjihad atau dalam keadaan berat. Keadaan ini mengandung beberapa pengertian.
Pertama, ringan, karena bersemangat untuk keluar berjihad; berat, karena merasa sulit untuk
berangkat. Kedua, ringan, karena sedikit keluarga yang ditinggalkan; berat, karena banyaknya
keluarga yang ditinggalkan. Ketiga, ringan, ringan persenjataan yang dibawa; sebaliknya berat,
karena beratnya persenjataan yang dibawa. Keempat, ringan, karena berkendaraan; berat, karena
berjalan kaki. Kelima, ringan, karena masih muda; berat, karena telah uzur usia. Keenam, ringan,
karena bobot badan yang kurus; berat, karena kelebihan bobot berat badan. Ketujuh, ringan,
karena sehat dan fit; berat, karena sakit atau kurang enak badan. Jadi, mencakup seluruh aspek.
Kebanyakan para sahabat dan tabi’in memahami ayat itu dengan pengertian yang mutlak.
Mujahid berkata, “Sesungguhnya Abu Ayub turut menyaksikan Peperangan Badar bersama
Rasulullah saw., dan ia belum pernah absen dari peperangan. Ia berkata, ‘Allah telah berfirman:
ً `'-`و ً '·'-= او·--ا, maka itu artinya aku dapati diriku dalam keadaan ringan atau berat’.” Dari
Shofwan bin Amr, ia berkata, “Ketika aku menjadi Gubernur Hums (Syria), aku menjumpai
seorang bapak tua warga Syria yang telah turun kedua alisnya. Ia berada di atas kendaraannya
bersiap-siap hendak ikut berperang. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Wahai Paman, engkau
dimaklumi oleh Allah untuk tidak ikut berperang.’ Seraya mengangkat kedua alisnya, bapak tua
itu berkata, ‘Hai Nak, Allah telah menyuruh kita keluar baik dalam keadaan ringan maupun
berat. Ketahuilah, sesungguhnya Allah selalu menguji orang yang dicintainya.’”
Diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhry, suatu ketika Said bin Al-Musayyib r.a. keluar untuk
berperang, sedangkan salah satu matanya tidak dapat melihat. Lalu ia berkata, “Allah meminta
kita untuk keluar berperang, baik terasa ringan atau berat. Jika aku tak berdaya untuk berjihad,
maka berarti aku telah memperbanyak pasukan musuh dan aku hanya menjaga harta bendaku.”
Juga ketika Al-Miqdad bin Al-Aswad dikatakan kepadanya pada saat beliau hendak berperang,
“Engkau dimaklumi.” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kita surah
Al-Bara’ah: pergilah dalam keadaan ringan ataupun berat.”
Dakwah Adalah Manuver Di Jalan Allah
Manuver di jalan Allah, tidak hanya berperang. Tapi punya pengertian yang luas. Dakwah –
dengan segala bentuknya– adalah bentuk manuver di jalan Allah. Karena itu dalam surat At-
Taubah Allah swt. menyebutkan:
َ ·َ-َ- 'َ'ْ·َ'َ· ًª´·'َآ اوُ ·ِ-ْ-َ-ِ' َ ن·ُ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ ن'َآ 'َ-َ و ´'َ·َ' ْ»ِ+ْ-َ'ِ إ ا·ُ·َ=َ ر اَ ذِ إ ْ»ُ+َ-ْ·َ· اوُ رِ -ْ-ُ-ِ'َ و ِ .- -'ا ¸ِ· ا·ُ+´-َ-َ-َ-ِ' ٌªَ-ِ-'َ= ْ»ُ+ْ-ِ- ٍªَ·ْ·ِ· .ُآ ْ.ِ- ْ»ُ+
َ نوُ رَ -ْ=َ-
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(At-Taubah: 122)
Tugas dan Peran Dai Page 6

Imam Ar-Razy berkata, “Kewajiban berdakwah bagi para sahabat terbagi menjadi dua golongan,
satu golongan keluar untuk berperang, golongan lainnya tetap tinggal bersama Rasulullah saw.
Golongan yang berperang mewakili golongan yang tidak ikut serta. Yang tidak ikut berperang
mewakili yang berperang dalam hal mendalami ilmu pengetahuan. Dengan cara inilah urusan
agama dapat terselesaikan secara sempurna.
Bila kita analisis ada dua keterkaitan yang erat pada ayat tersebut, keterkaitan antara manuver
tafaqquh (dirasah) dan manuver indzar (dakwah). Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk
memaksimalkan kesungguhannya dan ditanya tentang beban kemampuan dirinya untuk membela
agama Islam dengan bentuk jihad yang beraneka macam. Diawali dengan dakwah penuh hikmah
dan nasihat yang baik hingga jihad dengan mengorbankan jiwa-raga.
Seorang mukmin sadar betul bahwa setiap kesungguhan yang dikerahkannya dalam ketakwaan
adalah kesungguhan yang disesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan manusiawi dirinya
yang lemah dan tidak akan sampai pada derajat yang sesuai dengan keagungan Allah swt.
Karena itu para mufassirin berpendapat bahwa firman Allah: ª-'-- ·= -ا ا·--ا “bertakwalah
engkau kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” (Ali Imran: 102), di-mansukh dengan
ayat ا '- -ا ا·--'·»-·=-- , “bertakwalah kepada Allah semampu kalian”. Hal ini didasari
oleh keterangan dalam asbabunnuzul bahwasanya tatkala ayat pertama turun kaum muslimin
merasa keberatan karena sebenar-benarnya takwa berarti tidak boleh bermaksiat sekejap mata
pun, harus selalu bersyukur, tidak boleh kufur, harus selalu diingat, tidak boleh lupa. Tiada
seorang hamba pun mampu melakukannya.
Bila tidak sependapat bahwa ayat tersebut mansukh, maka harus dikatakan –wallahu a’lam–ada
dua kapasitas ketakwaan: kapasitas yang hanya pantas untuk Allah swt. dan kapasitas ketakwaan
yang sesuai dengan kemampuan seorang hamba. Kapasitas yang sesuai dengan kemampuan
seseorang adalah kapasitas individu yang berbeda dengan individu lainnya, dan berbeda pada
satu kondisi dengan kondisi lainnya. Seyogyanya seorang mukmin harus senantiasa berada di
antara dua kapasitas tersebut. Berusaha mengarah kepada keagungan Allah swt., karena bagi
seorang Mukmin esok harus lebih baik dari hari ini dan hari ini harus lebih baik dari hari
kemarin. Juga hendaknya seorang Mukmin harus meningkatkan level ketakwaannya bersamaan
dengan bertambahnya pengetahuan, bertambahnya kenikmatan yang diperolehnya, dan
bertambahnya usia.
Bila seorang memahami dengan baik hal tersebut di atas, pasti dirinya akan merasa takut jika
belum mengerahkan kemampuan sesuai yang dituntut kepadanya dan semakin berhati-hati dalam
melaksanakannya. Seorang Mukmin yang paham akan hal ini selalu tidak puas dengan amalnya,
tidak puas dengan kesungguhan yang telah dikerahkannya. Ia selalu khawatir telah mengabaikan
tuntutan yang diminta Allah swt. dari seorang Mukmin. Itulah keadaan orang-orang yang
beriman, sebagimana yang disebutkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya:
َ ن·ُ-ِ-ْ-ُ- ْ»ِ+-َ ر ِªَ-ْ-َ= ْ.ِ- ْ»ُه َ .-ِ -´'ا ´ نِ إ(57)ْ»ُه َ .-ِ -´'اَ و َ ن·ُ-ِ-ْ·ُ- ْ»ِ+-َ ر ِ ت'َ-'ِ-(58)َ ن·ُآِ ·ْ-ُ- 'َ' ْ»ِ+-َ ·ِ- ْ»ُه َ .-ِ -´'اَ و(59) 'َ- َ ن·ُ-ْ·ُ- َ .-ِ -´'اَ و
َ ن·ُ·ِ=اَ ر ْ»ِ+-َ ر َ'ِ إ ْ»ُ+´-َ أ ٌªَ'ِ=َ و ْ»ُ+ُ-·ُ'ُ·َ و اْ·َ-اَ ء(60)َ ن·ُ-ِ-'َ- 'َ+َ' ْ»ُهَ و ِ تاَ ·ْ-َ=ْ'ا ¸ِ· َ ن·ُ=ِ ر'َ-ُ- َ =ِ-َ'وُ أ(61)ُ- 'َ'َ و 'َ+َ·ْ-ُ و '´'ِ إ 'ً-ْ-َ- ُ -'َ´
َ ن·ُ-َ'ْ=ُ- 'َ' ْ»ُهَ و ·َ=ْ''ِ- ُ ·ِ=ْ-َ- ٌب'َ-ِآ 'َ-ْ-َ -َ'َ و(62)
Tugas dan Peran Dai Page 7

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, (57) Dan
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, (58) Dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), (59) Dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa)
sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (60) mereka itu bersegera untuk
mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (61)
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada
suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (62).” (Al-Mu’minun:
57- 62)
Kehati-hatian dan Rasa Takut
Salah satu sifat orang-orang Mukmin yang disebutkan ayat tersebut di atas adalah kehati-hatian
dan rasa takut. Kehati-hatian mencakup kekhawatiran bersamaan dengan semakin lemah dan tak
berdaya. Imam Ar-Razy berkata, “Di antara mereka ada yang cenderung mengartikan isyfaq dari
presfektif pengaruhnya, yaitu ª='='ا ¸· ماو-'ا, ketaatan yang kontinu, dan makna ayat tersebut
menjadi ª-='= ¸· ن·--اد »+-ر ª--= .- »ه .--'ا , orang-orang yang taat secara kontinu karena
takut kepada Tuhan mereka, dan berobsesi mencapai keridhaannya. Jelasnya, bila seseorang
sampai pada perasaan takut yang membawanya pada sikap kehati-hatian. Kesempurnaan rasa
takut adalah puncak ketakutan akan murka Allah dan adzab akhirat, sehingga ia selalu
menghindari maksiat. Maka, barangsiapa yang memiliki kesempurnaan rasa takut kepada Allah,
ia akan memenuhi perintah Allah unuk berdakwah, menjalankan perintahnya dan menjauhi
larangannya. Sedangkan keadaan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan
dengan hati yang takut, maksudnya adalah komitmen menyampaikan setiap kebenaran. Oleh
karena itu, barangsiapa yang beribadah dan ia marasa takut dari sikap lalai dan salah, disebabkan
oleh kekurangan atau yang lainnya, maka demi rasa takut tersebut, ia akan bersungguh-sungguh
menunaikan ibadahnya.
Rasa takut terhadap kekurangan yang menyebabkan seseorang mengerahkan kesungguhannya
dalam bertakwa adalah level para shiddiqin (orang yang konsisten). Sesungguhnya Allah telah
menjelaskan bahwa sebab rasa takut itu muncul karena mereka akan kembali kepada Allah swt.
Beruntunglah orang yang memiliki sifat luhur sperti itu, dan menjadikan jiwa mereka bersih dari
riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang) serta mengarahkan keinginan-keinginan
kepada optimalisasi amal.
Setelah arahan tersebut di atas, ayat-ayat di surah Al-Mu’minun itu mendorong peningkatan
kapasitas dan kapabilitas seseorang. Ia dapat berhujjah .´- `و'+·-و `إ ً '--- ف. Tampaklah
keterpaduan antara seseorang yang memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan dan
Allah yang senantiasa mengetahui hakekat kemampuan yang diawasi dan dihisabnya. Sampainya
seorang dai ke tingkat rasa takut dan hati-hati akan sampai pada kebenaran dan ketepatan dalam
menentukan batas kemampuan.


Tugas dan Peran Dai Page 8

5/7/2008 | 02 Rajab 1429 H | Hits: 1.407
7 Proyek Amal Islami
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com - Seluruh teori kesuksesan yang ditulis dan dikembangkan masyarakat modern
bermuara pada satu kata, yaitu amal atau kerja. Kerja dan terus kerja tanpa kenal lelah. Never
give up (jangan pernah menyerah). Kemudian lahirlah penemuan-penemuan yang spektakuler.
Penemuan listrik, atom, nuklir, pesawat terbang, telepon, mobil, dan lain-lain. Seluruh peradaban
modern dibangun atas teori ini. Mereka sangat ahli tentang kehidupan dunia. Dan kesuksesan
yang mereka kejar juga hanya kesuksesan di dunia. “Mereka Hanya mengetahui yang lahir
(saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-
Ruum: 7)
Islam tidak pernah menafikan seluruh karya positif manusia. Tetapi yang disayangkan adalah
ketika mereka lalai dan tidak beriman pada prinsip dan pedoman hidup Al-Qur’an, yang sengaja
diturunkan Allah untuk manusia. ‘Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu
tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan
(kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami
tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al-Kahfi: 103-15)
Islam memiliki teori dan konsep kesuksesan yang lebih lengkap dan sempurna. Konsep amal
shalih, bukan sekedar kerja, tetapi kerja yang dilandasi keimanan, keikhlasan dan ilmu yang
benar. Kerja yang menembus batas-batas kebendaan duniawi, jauh menuju wilayah tanpa batas,
orientasi ukhrawi. Oleh karena itu Imam Syafi’i mengomentari kandungan surat Al-Ashr, ”
Kalau saja Allah hanya menurunkan surat ini, maka cukuplah (untuk dijadikan pedoman bagi
manusia).”
Bagi umat Islam yang ingin sukses di dunia dan akhirat, maka mereka harus terus menerus
beramal shalih. Apalagi jika diukur dengan batas waktu atau umur yang disediakan Allah sangat
terbatas. Sehingga mereka harus memprioritaskan waktunya hanya untuk amal shalih saja.
Bahkan amal shalih itu sendiri ada tingkatan-tingkatannya. Dalam hukum Islam dikenal lima
macam hukum, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Sehingga umat Islam harus
berupaya keras untuk selalu dalam ruang lingkup wajib dan sunnah saja, minimal mubah, tetapi
jangan berlebihan pada yang mubah. Dan ketika jatuh pada batas makruh dan harus, disana
masih ada kesempatan bagi umat Islam, yaitu istighfar dan bertaubat. Jangan putus asa!
Dan puncak amal shalih adalah jihad, baik jihad dakwah maupun jihad perang, maka
berbahagialah orang-orang beriman yang masuk wilayah ini. Inilah proyek amal islami yang
Tugas dan Peran Dai Page 9

harus menjadi konsens seluruh gerakan Islam, ormas Islam dan lembaga-lembaga keislaman.
Ada urutan amal proyek amal islami. Dan amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Seperti
yang Allah swt. firmankan, “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu
apa yang Telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)
Maraatib Al-‘amal (Grand Desain Proyek Amal Islami)
Ada 7 langkah Grand Desain Proyek Amal Islami yang harus menjadi acuan gerakan Islam,
yaitu: Islaahun nafs (reformasi diri), takwiin baitil muslim (membentuk keluarga islami),
irsyaadul mujtama (penyadaran masyarakat), tahrirul wathan (memerdekakan negeri), ishlahul
hukumah (reformasi pemerintahan), i’aadah al-kiyaan ad-dauli lillummah al-islamiyah
(mengembalikan peran umat Islam dalam percaturan internasional), dan ustaadiyatul aalam
(menjadi pemimpin dunia).
1. Ishlaahun nafs sehingga menjadi qawiyyul jism (kuat fisik), matiinul khuluq (kokoh akhlaq),
mutsaqqaful fikr (cerdas wawasan), qaadiran ‘alal kasam (mampu berusaha), saliimul aqidah
(bersih aqidah), shahihul ibadah (benar ibadah), mujaahidan linafsihi (bersungguh-sungguh),
hariishan ‘alaa waqtihi (perhatian terhadap waktu), munazhzhaman fii syuunihi (tertib dalam
urusan), dan naafi’an lighairihi (bermanfaat untuk orang lain). Ini adalah kewajiban individu
setiap anggota.
Sepuluh proyek perbaikan diri itu sangat lengkap untuk setiap individu muslim dan dai muslim
yang ingin terus meningkatkan kualitas dirinya. Karena mencakup semua nilai yang sangat
penting dan dibutuhkan untuk menuju sukses dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Aqidah,
ibadah, akhlak, pemikiran, fisik, usaha, manajemen kegiatan, manajemen waktu, keseriusan, dan
memberi orientasi manfaat. Konsep ini lebih lengkap dari setiap konsep pengembangan diri yang
digagas dan dilakukan oleh pakar modern.
Segala konsep perbaikan harus dimulai dari diri sendiri, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’du: 11). Dan
motor perubahan dalam diri adalah hati, “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada segumpal darah,
jika baik maka seluruhnya baik, dan jika buruk, maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa
segumpal daging itu adalah hati.” (Bukhari dan Muslim)
2. Takwiin baitil muslim dengan cara mengarahkan keluarganya agar menghormati fikrah,
menjaga adab Islam dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam mencari istri dan melaksanakan
hak dan kewajibannya, baik dalam mendidik anak dan khadimah serta membentuk mereka sesuai
prinsip-prinsip Islam. Ini juga kewajiban setiap anggota.
Keluarga adalah lembaga yang sangat strategis dalam Islam, begitu strategisnya sampai Al-
Qur’an dan Sunnah, dua sumber ajaran Islam memberikan porsi pembahasan tentang keluarga
Tugas dan Peran Dai Page 10

yang begitu besar. Surat-surat An-Nisaa’, An-Nuur, Al-Ahzaab, At-Thalaq begitu sarat
membahas detail-detail aturan keluarga dan pola hubungan antara pria dan wanita. Begitu juga
surat-surat dan ayat-ayat lainnya tidak pernah lepas dari sentuhan terhadap aspek pembahasan
keluarga. Bahkan lebih dari itu, ada beberapa surat yang langsung menceritakan suatu keluarga
dan diabadikan sebagai nama surat, seperti surat Ali ‘Imran, Yusuf, Ibrahim, Maryam, dan
Luqman.
Begitu juga Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan lebih detail lagi tentang apa
dan bagaimana membangun keluarga. Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan
tentang keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga teladan yang harus dicontoh oleh
setiap muslim. Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membahas pola hubungan antara
suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara keluarga dengan kerabat dan tetangga. Tidak
salah kalau Islam disebut dinul usrah. Pembentukan keluarga muslim menjadi proyek kedua
amal islami yang harus diperioritaskan.
3. Irsyaadul Mujtama dengan menyebarkan dakwah kebaikan kepada masyarakat, memerangi
kehinaan dan kemungkaran, mendorong kemuliaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan
berlomba melaksanakan kebaikan, mengarahkan opini umum agar berfihak pada fikrah Islam,
dan senantiasa mewarnai kehidupan umum. Ini adalah kewajiban anggota dan jamaah.
Berdakwah ke masyarakat memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks. Jika kita melihat
masyarakat Indonesia berarti harus memperhatikan keragaman budaya, status sosial, pendidikan,
bahasa, usia, dan lain-lain.
Ada 3 pertimbangan utama jika ingin sukses berdakwah di tengah masyarakat, yaitu pertama:
shidqul ma’lumat (benarnya ilmu dan informasi yang disampaikan). Sampai sekarang lembaga
Islam dan tokoh-tokoh islam yang bergerak di bidang dakwah masih banyak kesalahan dalam
menyampaikan ilmu dan informasi, termasuk ilmu yang sangat mendasar seperti salah dalam
membaca dan menafsirkan Al-Qur’an, salah dalam menukil hadits dan menerangkan derajat
hadits. Banyak mubaligh dan penceramah yang masih menyebarkan hadits-hadits dhaif bahkan
palsu dalam ceramahnya.
Lebih parah lagi, jika lembaga yang menamakan Islam itu adalah lembaga dakwah yang
menyimpang, baik dari aspek aqidah, ibadah, fikrah maupun manhaj. Maka sejatinya, lembaga
semacam ini, bukan menjadi lembaga dakwah Islam, tetapi obyek dakwah dan irsyaadul
mujtama .
Kedua, tanasub lissaami’ (materi dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan pendengar atau
obyek dakwah). Oleh karenannya dalam berdakwah di tengah masyarakat yang kompleks harus
memperhatikan Fiqih Dakwah dan Fiqih Waqi. Berdakwah dikalangan mahasiswa dan pelajar
berbeda dengan berdakwah di kalangan karyawan dan profesional, berdakwah di tengah
masyarakat tradisional berbeda dengan berdakwah di masyarakat modern.
Ketiga, al-usluub al-jayyid (metodologi yang menarik). Di era modern ini sangat memperhatikan
kemasan, retorika, keindahan dan penampilan, sehingga bagi para aktivis dakwah harus
Tugas dan Peran Dai Page 11

memperhatikan aspek ini agar dakwahnya tidak ditinggalkan oleh orang. Dan Islam tidak
menolak segala hal yang terkait dengan keindahan dan penampilan yang menarik. Namun
demikian Islam tetap sangat menitikberatkan aspek keikhlasan dan nilai. Husnul bidho’ah
muqaddamun min husnid di’aayah (barang dagangan yang baik lebih diutamakan dari promosi
yang menarik).
4. Tahriirul wathan dengan membersihkannya dari setiap kekuasaan asing-tidak islami- baik
politik, ekonomi maupun moral.
Inilah problem dunia Islam sekarang, kekuasaan asing begitu sangat dominan. Di Indonesia
misalnya, kekuasaan multinasional menjarah dan mengambil kekayaan negeri kita dengan dalih
telah melakukan kesepakatan secara legal formal. Sementara pemerintah Indonesia begitu sangat
lemah di mata asing, mereka tidak memiliki dirinya sendiri dan tidak memiliki harga diri,
padahal secara mayoritas masyarakat telah mengamanahkan kepemimpinan kepada mereka.
Melihat realitas dominasi asing di negeri yang sangat besar dan kaya raya ini maka bangsa
Indonesia harus berjuang kembali untuk meraih harga dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan
memiliki kehormatan dimata asing.
5. Ishlaahul hukumah sehingga benar-benar sesuai dengan nilai Islam, dengan demikian
pemerintah akan menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat dan bekerja untuk
kemaslahatannya. Dan pemerintah Islam yaitu dimana anggotanya muslim menjalankan
kewajiban Islam tidak terbuka dalam bermaksiat dan menjalankan hukum Islam dan ajarannya.
Harakah Islam sekarang sudah masuk pada tahapan musyarakah (partisipasi) dalam
pemerintahan. Musyarakah ini dilakukan harus dalam konteks ishlahuul hukumah dan
berpartisipasi dalam kebaikan dan ketakwaan bukan ikut-ikutan mengambil kesempatan
rusaknya pemerintah. Terutama dalam hal pengelolaan harta umat, maka harokah Islam dan
seluruh aktivisnya harus amanah dan transparan.
6. I’aadah al-kiyaan ad-dauli lil ummah al-islamiyah dengan memerdekakan tanah air,
mengembalikan kejayaan, mendekatkan budaya dan menyatukan kalimatnya. Semua itu
dilakukan sehingga dapat mengembalikan sistem khilafah yang hilang dan kesatuan yang
diharapkan.
Khilafah Islam harus menjadi cita-cita bersama umat Islam dan semuanya harus bersatu dalam
mewujudkannya. Maka disinilah bertemu antara iradah rabbaniyah dan ikhtiyar basyariyah.
Namun cita-cita khilafah Islam tidak berhenti hanya pada tataran slogan dan retorika, tetapi
khilafah Islam adalah sasaran akhir dari seluruh tahapan perjuangan yang dilakukan harakah
Islam.
7. Ustadziyaatul ‘aalam dengan menyebarkan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia, “Supaya
jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al-Anfaal: 39). “Dan
Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya.” (At-Taubah: 32)
Tugas dan Peran Dai Page 12

Dan akhir dari seluruh masyruu’ islami adalah bahwa harokah Islam menjadi guru dunia.
Manusia tunduk dan patuh pada Islam, baik sukarela maupun terpaksa. “Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maa-idah: 3).” Apabila telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-
bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)
18/6/2008 | 13 Jumadil Akhir 1429 H | Hits: 1.325
Berdakwahlah Agar Selamat Dunia-Akhirat
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com - Seorang dai pasti tahu bahwa Allah swt. telah menciptakan manusia untuk
tunduk hanya kepada-Nya. ِ نوُ -ُ-ْ·َ-ِ' '´'ِ إ َ .ْ-ِ 'ْ'اَ و ´ .ِ=ْ'ا ُ -ْ-َ'َ= 'َ-َ و. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Al-Dzariyat: 56 ).
Ibadah hanya benar dilakukan bila didasari pengetahuan yang jelas. Pengetahuan yang jelas tidak
akan terwujud kecuali mengacu kepad manhaj (pedoman) yang telah digariskan oleh Allah swt.
yang telah mengutus para rasul dan nabi-Nya. Mereka, para rasul dan nabi adalah penyeru
(du’at) yang menunjukan kepada kebenaran. Demikianlah kesibukan mereka dalam rangka
merealisasikan kehendak Allah yang telah manjadikan Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi,
memutuskan perkara dengan ketetapan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
ًªَ--ِ'َ= ِ ضْرَ 'ْ'ا ¸ِ· ٌ.ِ='َ= ¸-ِ إ ِªَ´ِ-'َ'َ-ْ'ِ' َ =´-َ ر َ ل'َ· ْذِ إَ و
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah: 30). Maka dari itu, tujuan Allah
menciptakan manusia agar dirinya sibuk dengan perintah-Nya.
Imam Ar-Razy berkata, “Ibadah yang bagaimanakah yang menjadi sebab diciptakannya jin dan
manusia?” Kami tegaskan, “Ibadah yang dimaksud adalah mengagungkan perintah Allah dan
menyayangi ciptaannya.” (Tafsir Ar-Razy, 28/453). Kemudian Ar-Razy berkata,
“Mengagungkan Allah menuntut konsekuensi keharusan mengikuti syariat-Nya dan mentaati
sabda rasul-Nya, Allah telah memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan
mengutus para rasul dan menjelaskan berbagai jalan dalam merealisasikan kedua bentuk ibadah
tersebut di atas. Pembagian ini terkait dengan tugas ibadah adalah pembagian yang mutlak dan
menyeluruh.
Tugas dan Peran Dai Page 13

Dakwah kepada Allah swt. adalah fenomena keagungan Allah swt. yang paling tinggi. Dan
seorang dai yang menyerukan kepada fikrah atau sasaran tertentu dengan mengarahkan segala
kesungguhan di jalannya, sesungguhnya hal itu dilakukan agar ia dapat memenuhi pencapaian
sasaran dan fikrahnya. Barangsiapa yang menyerukan kepada fikrah, maka ia akan dievaluasi
atas fikrahnya, sebagaimana fikrahnya juga akan dievaluasi berkenaan dengan dirinya.
Dalam berdakwah kepada Allah terdapat bukti kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, karena
seorang dai ingin mengeluarkan manusia dari jurang kehancuran dan perpecahan di bawah
kungkungan penguasa lokal menuju keluasan Islam dan cakrawalanya yang menyejukan, serta
aturannya yang mengarahkan kepada kebahagiaan manusia. Juga mengeluarkan mereka dari
lobang api neraka menuju taman surga.
Itulah dua sasaran ibadah, juga sekaligus menjadi sasaran dakwah, keselamatan ada pada capaian
kedua sasaran tersebut. Para nabi Allah dan rasul-Nya telah berkomitmen dengan perintah Allah
dalam berdakwah kepada-Nya dan memelihara tujuan penciptaan-Nya. Setiap rasul yang mulia
selalu berobsesi dalam menyerukan manusia kepada keselamatan. Al-Qur’an telah menceritakan
tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya, selalu dipastikan bahwa pertarungan itu berakhir
dengan kemenangan para du’at dan binasanya kaum penzalim penentang dakwah.
Pada kisah Nabi Nuh a.s. bersama kaumnya berakhir dengan:
َ-ِ-'َ-'ِ- ا·ُ-´ -َآ َ .-ِ -´'ا 'َ-ْ·َ ·ْ=َ أَ و َ -ِ-'َ'َ= ْ»ُه'َ-ْ'َ·َ=َ و ِ =ْ'ُ-ْ'ا ¸ِ· ُªَ·َ- ْ.َ-َ و ُ -'َ-ْ-´=َ-َ· ُ -·ُ-´ -َ´َ·ِ رَ -ْ-ُ-ْ'ا ُªَ-ِ·'َ= َ ن'َآ َ -ْ-َآ ْ·ُ=ْ-'َ· 'َ .-
“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya
di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)
Dalam kisah Hud a.s. bersama kaumnya juga berakhir dengan:
-ِ'َ= ٍ باَ -َ= ْ.ِ- ْ»ُه'َ-ْ-´=َ-َ و '´-ِ- ٍªَ-ْ=َ ·ِ- ُªَ·َ- ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ و اً د·ُه 'َ-ْ-´=َ- 'َ-ُ ·ْ-َ أ َ ء'َ= '´-َ'َ وٍ=(58)
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama
dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang
berat.” (Hud: 58)
Sedangkan dalam kisah Nabi Saleh a.s. bersama kaumnya, hasilnya adalah:
َ ر ´ نِ إ ٍ -ِ-ِ-ْ·َ- ِ يْ·ِ= ْ.ِ-َ و '´-ِ- ٍªَ-ْ=َ ·ِ- ُªَ·َ- ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ و 'ً=ِ''َ- 'َ-ْ-´=َ- 'َ-ُ ·ْ-َ أ َ ء'َ= '´-َ'َ·ُ ·-ِ ·َ·ْ'ا ´ يِ ·َ-ْ'ا َ ·ُه َ =´-
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman
bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu.
Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Hud: 66)
Dalam kisah Nabi Luth a.s. dakwahnya berhasil dengan:
Tugas dan Peran Dai Page 14

ِ- ْ-ِ-َ-ْ'َ- 'َ'َ و ِ .ْ-´''ا َ .ِ- ٍ ·ْ=ِ-ِ- َ =ِ'ْهَ 'ِ- ِ ·ْ-َ 'َ· َ =ْ-َ'ِ إ ا·ُ'ِ-َ- ْ.َ' َ =-َ ر ُ .ُ-ُ ر '´-ِ إ ُط·ُ''َ- ا·ُ''َ· ´ نِ إ ْ»ُ+َ-'َ-َ أ 'َ- 'َ+ُ--ِ-ُ- ُª´-ِ إ َ =َ-َ أَ ·ْ-ا '´'ِ إ ٌ-َ=َ أ ْ»ُ´ْ-
ْ-´-'ا َ .ْ-َ'َ أ ُ -ْ-´-'ا ُ »ُهَ -ِ=ْ·َ-ٍ --ِ ·َ-ِ- ُ -(81)ٍ د·ُ-ْ-َ- ٍ .-=ِ- ْ.ِ- ً ةَ ر'َ=ِ= 'َ+ْ-َ'َ= 'َ-ْ·َ=ْ-َ أَ و 'َ+َ'ِ·'َ- 'َ+َ-ِ''َ= 'َ-ْ'َ·َ= 'َ-ُ ·ْ-َ أ َء'َ= '´-َ'َ·(82)
Para utusan (malaikat) berkata, “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, sekali-
kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga
dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antaramu yang
tertinggal, kecuali isterimu.” Sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang menimpa mereka
karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh
itu sudah dekat? Maka tatkala telah datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang
di atas ke bawah (kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar
dengan bertubi-tubi. (Hud: 81-82).
Kisah dakwah Nabi Syuaib berakhir dengan:
'ا ا·ُ-َ'َ= َ .-ِ -´'ا ِ تَ -َ=َ أَ و '´-ِ- ٍªَ-ْ=َ ·ِ- ُªَ·َ- ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ و 'ً-ْ-َ·ُ- 'َ-ْ-´=َ- 'َ-ُ ·ْ-َ أ َ ء'َ= '´-َ'َ وَ .-ِ-ِ`'َ= ْ»ِهِ ر'َ-ِ د ¸ِ· ا·ُ=َ-ْ-َ 'َ· ُªَ=ْ-´-
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman
bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suatu suara
yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Hud: 94)
Dalam kisah Nabi Musa a.s. dan Fir’aun, berakhir dengan hasil sebagai beikut:
َ .-ِ'ِ·'َ= 'َ+ْ-َ= ا·ُ-'َآَ و 'َ-ِ-'َ-'ِ- ا·ُ-´ -َآ ْ»ُ+´-َ 'ِ- »َ-ْ'ا ¸ِ· ْ»ُه'َ-ْ·َ ·ْ=َ 'َ· ْ»ُ+ْ-ِ- 'َ-ْ-َ-َ-ْ-'َ·(136)َ-َ- َ ن·ُ-َ·ْ-َ-ْ-ُ- ا·ُ-'َآ َ .-ِ -´'ا َ مْ·َ-ْ'ا 'َ-ْ`َ رْوَ أَ و َ قِ ر'
ُ ·َ-َ- 'َ-ِ- َ .-ِ-اَ ·ْ-ِ إ ¸ِ-َ- َ'َ= َ-ْ-ُ=ْ'ا َ =-َ ر ُªَ-ِ'َآ ْ-´-َ-َ و 'َ+-ِ· 'َ-ْآَ ر'َ- ¸ِ-´'ا 'َ+َ-ِ ر'َ·َ-َ و ِ ضْرَ 'ْ'ا ُªُ-ْ·َ·َ و ُ نْ·َ=ْ·ِ· ُ ·َ-ْ-َ- َ ن'َآ 'َ- 'َ-ْ·´-َ دَ و او
َ ن·ُ-ِ ·ْ·َ- ا·ُ-'َآ 'َ-َ و(137)
“Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan
mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat
Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri bahagian
timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah
perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.
Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun
mereka.” (Al-A’raf: 136-137)
Demikian pula halnya dengan sebuah Desa Tepi Pantai:
َ- ٍ باَ -َ·ِ- ا·ُ-َ'َ= َ .-ِ -´'ا 'َ-ْ-َ=َ أَ و ِ ء·´-'ا ِ .َ= َ نْ·َ+ْ-َ- َ .-ِ -´'ا 'َ-ْ-َ=ْ-َ أ ِªِ- اوُ ·آُ ذ 'َ- ا·ُ-َ- '´-َ'َ·َ ن·ُ-ُ-ْ-َ- ا·ُ-'َآ 'َ-ِ- ٍ .-ِ-(165)
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang
zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165).
Ayat-ayat tersebut di atas menguatkan bahwa keselamatan bagi dakwah kepada Allah, dan inilah
janji Allah kepada orang-orang beriman:
Tugas dan Peran Dai Page 15

َ .-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا ِ -ْ-ُ- 'َ-ْ-َ'َ= '´-َ= َ =ِ'َ -َآ ا·ُ-َ-اَ ء َ .-ِ -´'اَ و 'َ-َ'ُ-ُ ر ¸=َ-ُ- ´ »ُ`(103)
“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah
menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Yunus: 103)
Kemenangan orang-orang mukmin adalah kemenangan para dai, terbukti karena janji dan
keputusan (Allah). Inilah garis yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah) di muka bumi. Inilah
janji untuk para penolong-Nya. Apabila terkadang perjalanan terasa panjang bagi bagi para dai,
maka harus dipahami seperti inilah jalannya. Hendaknya para dai tetap yakin kemenangan dan
pergantian kekuasaan akan menjadi milik orang-orang beriman. Juga hendaknya para dai jangan
tergesa-gesa terhadap janji Allah, hal itu pasti akan terjadi di tengah perjalanan. Allah tidak akan
menipu para penolong-Nya, tidak akan lemah untuk menolong mereka dengan kekuatan-Nya,
dan tidak akan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Bahkan, Allah akan selalu
mengajarkan mereka, menambah pengetahuan mereka, dan membekali mereka -dalam cobaan
dan penderitaan- dengan bekalan perjalanan.
Tidak Ada Ruginya Berdakwah ة:--····-ا ¸····- ةر'····~= V
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih,
penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak
terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena
itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan
berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi
kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang
lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan
kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Dakwah Nabi Muhammad adalah Memberi Perlindungan Bagi Kemanusiaan
Bila diamati beberapa ayat yang menjelaskan tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya,
maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang zalim seluruhnya dimusnahkan oleh azab Allah swt.
sehingga tidak ada lagi tersisa dan tidak luput seorang pun dari mereka. Dengan datangnya Nabi
Muhammad saw. tidak ada lagi pemusnahan massal, baik dengan topan, halilintar, ataupun
badai. Hal ini merupakan penghormatan bagi umat ini yang tidak pernah sunyi dari orang yang
berjuang untuk Allah dengan hujjah yang nyata dan kelompok yang terus eksis di atas perintah
Allah (dakwah), sampai tiba keputusan-Nya, kelompok tersebut adalah para dai. Lantaran
mereka Allah menetapkan keselamatan bagi umat ini dari kebinasaan secara massal. Akan tetapi
ketika di bumi ini tidak ada lagi golongan mulia di sisi Allah (para dai), maka kiamat akan segera
tiba, sebagaimana tertuang dalam beberapa hadits.
ل'· : س'-'ا را·-أ '= `إ ª='-'ا م·-- `
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak terjadi kiamat kecuali bila seluruh manusia berbuat
keburukan.” (Muslim)
Tugas dan Peran Dai Page 16

ل'·و : لا م·-- ` ل·-- -=أ '= ª='- : -ا -ا . ضر`ا ¸· ل'-- ` -= ª-اور ¸·و : -ا -ا .(
»'-- ª=·=أ 1/171 يو·-'ا ح·- )
Dan Bersabda Rasulullah saw., “Tidak akan terjadi kiamat bila masih ada orang yang menyebut,
‘Allah, Allah’.” Dalam riwayat yang lain, “Sampai tidak ada yang berkata lagi di muka bumi ini,
‘Allah, Allah’.” (Muslim)
ل'·و: ” ً '--- »+- -ا '-·- ` ·-·-'ا وأ ·--'ا ª''`=آ ª''`= ---و لو`'· لو`ا ن·=''-'ا .--ُ-
Rasulullah saw. berkata, “Diwafatkan orang-orang yang saleh dari generasi pertama hingga
generasi berikutnya, seperti buah kurma dan biji gandum, yang tersisa kemudian hanya yang
jelek-jeleknya saja, Allah tidak terbebani sedikitpun oleh keadaan mereka.” (Bukhari)
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa terjadinya kiamat berkaitan dengan hilangnya dawah
dan para dainya. Tentu saja ini bukan kaitan sebab akibat, tetapi maksudnya adalah Allah
senantiasa menghargai kemanusiaan dengan dakwah dan para dainya. Selama dakwah dan para
dainya terus berlanjut, maka tujuan penciptaan di muka bumi ini masih terus berlangsung.
Namun, bila dakwah dan para dainya lenyap, maka manusia telah rugi karena alasan kebaikan
keberadaannya di muka bumi ini pun menjadi hilang dan tidak berlaku lagi. Demikianlah,
sesungguhnya manusia berada di antara dua titik, titik permulaan atau titik penghabisan.
Titik permulaan diisyaratkan dalam firman Allah: ضر`ا ¸· .='= ¸-إ ª´-`-'' =-ر ل'· ذإو
ª--'= “Dan ketika berkata Tuhanmu kepada malaikat sesungguhnya aku menjadikan di muka
bumi ini seorang khalifah.” Sedangkan titik penghabisan diisyaratkan dalm hadits Rasulullah
saw.,
ª---· `إ ن'--إ .- ª-= ل'-`- ª-· ً ا-=أ ع-- `· ، ·-·='ا .- .-'أ .--'ا .- ً '=-ر -·-- -ا نإ. ( »'-- ª=·=أ 1/132 ح·-
يو·-'ا).
“Sesungguhnya Allah akan mengirim aroma wewangian dari Yaman yang lebih lembut dari
sutra, tidaklah engkau meninggalkan seseorang padanya keimanan seberat biji sawi, melainkan
engkau telah menangkapnya (menyelamatkannya).” (Muslim)
Imam Muslim telah mengeluarkan hadits dari Abdurrahman bin Syamasah r.a., “Ketika aku
bersama Maslamah bin Makhlad dan bersamanya Abdullah bin Amr bin Ash, berkata Abdullah,
-ا--= ل'-·: »+-'= -ا -در `إ ء¸-- -ا ن·=ْ-- ` ،ª-'ه'='ا .هأ .- ·- »ه ،·'='ا را·- '= `إ ª='-'ا م·-- `
“Tidak akan terjadi kiamat kecuali kepada manusia durjana, bahkan mereka lebih durjana dari
kaum jahiliyah, doa mereka ditolak oleh Allah.” (Muslim)
Tiba-tiba datanglah Uqbah bin Amir, maka berkata Maslamah, “Hai Uqbah, dengarlah apa yang
diucapkan Abdullah.” Uqbah menjawab, “Dia lebih tahu, sedangkan saya pernah mendengar
Rasulullah saw. bersabda,
Tugas dan Peran Dai Page 17

ل·-- -ا ل·-ر -·--·: »+--'- -= »+-''= .- »ه·-- ` ،»هو-= .-·ه'· ،-ا ·-أ '= ن·'-'-- ¸--أ .- ª-'-= لا·- `
-ا --= ل'· ،='ذ '= »هو ª='-'ا: ª-= ل'-`- ª-'· ¸· ً'--- ك·-- `· ، ·-·='ا ´ .- '+´-- =--'ا --·آ ً '=-ر -ا -·-- »` .-
ª='-'ا م·-- »+-'= س'-'ا را·- --- »` ،ª---· `إ ن'--إ ) . »'-- ª=·=أ 3/1524 يو·-'ا ح·- ، )
“Tidaklah sekelompok dari umatku berperang atas perintah Allah, mendesak musuh-musuh
mereka, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menentang mereka, sampai datangnya
kiamat, sementara mereka tetap seperti itu.”
Abdullah berkata, “Kemudian Allah mengirim aroma seperti aroma kasturi, sentuhannya seperti
sentuhan sutra, maka tidaklah engkau tinggalkan seseorang di dalam hatinya terdapat keimanan
seberat biji sawi melainkan engkau menangkapnya, kemudian yang tersisa hanyalah manusia
durjana, karena merekalah terjadi kiamat.” (Muslim)
Dapat disimpulkan dari riwayat tersebut ada satu petunjuk bahwa ada korelasi antara kelompok
orang beriman dengan datangnya kiamat dan datangnya kiamat karena kedurjanaan manusia.
Pengertian dari korelasi yang dimaksud adalah semakin dekatnya kiamat, sebagaimana pendapat
Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini. Sedangkan hadits lain yang menyatakan:
.= .-·ه'= ¸--أ .- ª--'= لا·- ` ·=`ا ·='ا '= ن·'ا·- ` »+-أ ا-ه -·- ن` ً '-''=- .-'· ª-'--'ا م·- 'إ ·='ا ى
--·'ا --ه »+---- ·=
“Tidaklah sekelompok umatku terus eksis di atas kebenaran hingga hari kiamat”, tidak
bertentangan, karena makna hadits mereka senantiasa di atas kebenaran, yaitu kebenaran mereka
memperoleh aroma kasturi.” (Muslim)
Manakala seorang dai telah mencanangkan dirinya untuk berjihad dan mendorong dirinya untuk
berkorban di jalan Allah, dan memasuki satu celah untuk menghadapi musuh-musuh Islam, maka
keahlian seperti itu akan menjadikan dirinya lebih mampu bermanuver, dan ia dengan izin Allah
akan menang dan selamat, sementara musuhnya akan hina binasa. Keselamatan yang dimaksud
bukanlah keselamatan individu dari penyakit dan penderitaan, tetapi yang dimaksud adalah
keselamatan jamaah dan fikrah pada akhir perjuangan. Adapaun di akhirat nanti gambaran
keselamatan adalah kenikmatan permanen dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, di
dalamnya terdapat sesuatu di mana mata (ketika di dunia) tidak pernah melihatnya, telinga tidak
pernah mendengarkannya dan tidak pernah terlintas dalam hati siapapun.





Tugas dan Peran Dai Page 18

4/6/2008 | 29 Jumadil Awal 1429 H | Hits: 1.867
Pilar-Pilar Kesuksesan Dakwah
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com - Alhamdulillah, perjalanan dakwah di Indonesia dalam batas-batas tertentu
telah mengalami banyak kemajuan dan kesuksesan. Para da’i sudah banyak yang memasuki
wilayah-wilayah strategis dalam berbagai lapangan kehidupan. Dan dakwah sekarang ini sudah
memasuki mihwar muasasi, yaitu fase di mana dakwah mulai tampil dan mengembangkan
aktivitasnya di berbagai macam lembaga, baik lembaga keagamaan, pendidikian, sosial, ekonomi
maupun politik. Bahkan dengan eksisnya beberapa partai Islam di pentas nasional, dakwah telah
memasuk mihwar dauli, fase mengelola negara.
Kesuksesan dan capaian-capaian dakwah jika diukur dengan realitas masyarakat, khususnya
umat Islam, tentu masih jauh. Karena secara umum yang dominan sekarang masih kekufuran dan
kemaksiatan. Peradaban masyarakat dunia masih dikuasai oleh negara-negara sekuler dan kufur
seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Cina, Hindia dan Korea. Sedangkan kondisi internal
umat Islam masih dihadapkan berbagai macam kendala dan tantangan, kendala kebodohan,
kemiskinan, dan kelemahan di berbagai macam lapangan kehidupan.
Sehingga, ketika dakwah memasuki fase baru, bukan berarti permasalahan semakin berkurang,
tetapi semakin bertambah. Dan pada saat yang sama, berarti dakwah telah memasuki fase yang
berat, penuh tantangan dan risiko. Semua problematika dakwah, baik dalam skala individu,
keluarga, masyarakat maupun negara harus menjadi konsens dan perhatian juru dakwah.
Keberhasilan dan capaian-capaian hasil dari dakwah dari terbukannya dunia baik berupa harta
maupun kedudukan harus dikapitalisasikan untuk meningkatkan peran dakwah dalam skala yang
lebih luas lagi. Bukan malah menjadi fitnah dan bumerang yang membahayakan perjalanan
dakwah dan sekaligus para dai.
Sejarah dan realitas merupakan bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa para dai dapat bersabar
dan tahan uji ketika menghadapi kesulitan dan kekurangan harta, namun banyak yang jatuh
ketika menghadapi kemudahan, gemerlapnya harta dunia, megahnya kedudukan dan manisnya
wanita. Sehingga untuk menjaga komitmen para dai terhadap dakwah dibutuhkan kematangan
iman dan takwa (sisi ruhiyah) serta kematangan pemahaman dan ilmu (sisi fikriyah). Kemudian
menjaga keseimbangan antara kedua sisi tersebut. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Ali Imran: 102)
Kematangan iman dan takwa hanya dapat diperoleh dengan menempuh proses-prosesnya. Sai’d
Hawwa menjelaskan dalam kitabnya Al-Mustakhlash (Mensucikan Jiwa) yang merupakan syarh
dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Gazali, menyebutkan ada 13 poin untuk menuju
Tugas dan Peran Dai Page 19

kematangan ruhiyah (iman dan takwa). Ke-13 poin itu harus dilaksanakan oleh para dai secara
konsisten, yaitu sholat, zakat dan infak, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, dzikir, tafakkur,
mengingat kematian dan pendek angan-angan, muraqabah, muhasabah, mujahadah dan
mu’aqabah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad, khidmah dan tawadhu, mengetahui pintu-pintu
masuk syetan ke dalam jiwa dan menutup jalan-jalannya, dan mengenal penyakit-penyakit hati
dan cara melepaskannya.
Sedangkan untuk meraih kematangan pemahaman dan ilmu tidak ada cara lain selain terus
belajar dan belajar, membaca dan membaca sampai akhir hayatnya. Etos belajar harus terus
ditingkatkan bagi setiap dai muslim sehingga dia mencapai karakteristik rabbani. “Tidak wajar
bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia
berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani,
karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali
Imran: 79)
Sholat adalah pilar utama untuk meraih kematangan iman dan takwa. Maka hendaknya para dai
senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas sholatnya. Kualitas sholat seseorang dapat
dilihat dari 5 faktor yaitu khusu’, menjaga syarat, rukun dan kesempurnaan pelaksanaan, tepat
waktu, berjamaah dan dilaksanakan di masjid (mushola). Begitu juga para dai tidak boleh
melupakan sholat-sholat tambahan seperti qiyamul lail, rawatib, dhuha, dan lain-lain. Jika
kewajiban sholat telah dilalaikan para dai, maka mereka lebih lalai lagi dalam melaksanakan
kewajiban yang lain.
Komitmen dalam menegakkan sholat telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah saw.
sahabat dan generasi salafu shalih dari umat ini. Hadits Rasulullah saw. menyebutkan: Dari Al-
Aswad berkata, saya bertanya kepada ‘Aisyah r.a., “Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika
bersama keluarganya?” Aisyah r.a. menjawab, “Beliau saw. membantu kerjaan keluarganya
tetapi jika datang waktu sholat maka bangkit untuk sholat.” (HR Bukhari). Umar bin Khattab r.a.
akibat lalai melaksanakan sholat ‘asar berjamaah, maka ia menghukum dirinya sendiri dengan
menginfakkan kebunnya yang membuat ia lalai. Begitulah karakteristik generasi terbaik dari
umat Islam sebagaimana diceritakan langsung dalam Al-Qur’an.
Seterusnya mereka harus disiplin melaksanakan faktor-faktor lainnya. Zakat dan infak dapat
menyembuhkan sifat kikir dan menumbuhkan kedermawanan, shaum sebagai sarana
mengendalikan hawa nafsu dan penguat kemauan, haji menumbuhkan jiwa pengorbanan, tilawah
Al Qur’an meningkatkan iman dan melembutkan hati, dzikir dan do’a mendekatkan diri kepada
Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad melatih keberanian, mengenal berbagai macam
penyakit hati dan pintu-pintu syetan agar kita tidak jatuh pada maksiat dan kesesatan, tawadhu
dan khidmah sebagai sarana penghilang kesombongan, muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan
mu’aqabah agar tidak tertipu dan lalai serta senantiasa bersungguh-sungguh dalam taat kepada
Allah. Tafakkur untuk menajamkan pemikiran dan perasaan dan mengingat kematian supaya
tidak cinta dunia dan segala tipuannya. Para dai juga harus waspada terhadap pintu-pintu masuk
syetan dan bahaya penyakit hati.
Tugas dan Peran Dai Page 20

Adapaun untuk mematangkan pemahaman dan ilmu, para dai harus senantiasa belajar dan
membaca. Yusuf Qardhawi menyebutkan 6 macam ilmu dan tsaqafah yang harus dipelajari dan
dikuasai oleh setiap dai, yaitu Ilmu-ilmu syariah, ilmu sejarah, ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu
sain dan teknologi, dan ilmu-ilmu yang terkait dengan informasi dan berita atau masalah-
masalah realitas.
Dakwah adalah suatu pekerjaan yang paling mulia, proyek besar dan warisan para nabi.
Sehingga dibutuhkan persiapan dan bekal bagi para dai untuk naik ke puncak kemuliaan. Kerja
keras yang dilakukan secara berjamaah dan amal jama’i serta penguasaan realitas kehidupan
yang kuat. Sehingga ada tiga kunci untuk meraih kesuksesan dakwah baik dalam sekala individu
maupun jamaah, dalam sekala lokal, nasional, regional maupun internasional. Tiga kata kunci itu
adalah rabbaniyah, waqi’iyah dan jama’iyah.
1. Rabbaniyah Dakwah
Rabbaniyah adalah kata yang berlawanan dengan madiyah (materialisme) dan juga berlawanan
dengan ruhbaniyah (kependetaan). Rabbaniyah berasal dari kata rabb (Allah yang Maha Pencipta
dan Pemelihara). Artinya dakwah yang bersumber dari wahyu Allah (Al-Qur’an dan Sunnah)
dan berorientasi pada Allah; Dakwah yang mengajak pada Islam dan untuk merealisasikan Islam.
Ketika Rib’i bin Amir diutus kepada Rustum, penguasa Parsia, maka dia berkata, “Kami diutus
Allah –bagi orang-orang yang mau– untuk membebaskan manusia dari penyembahan pada
manusia menuju penyembahan pada Rabb manusia, dari kezhaliman agama-agama menuju
keadilan Islam, dan dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.
Ungkapan Rib’i ini sangat jelas, jelas dari sisi visi dan misi dakwah. Dan dari ungkapan ini
menjelaskan bahwa kesuksesan dakwah sangat terkait dengan rabbaniyah manhaj, rabbaniyah
da’i dan rabbaniyah hadaf atau sasaran. Tetapi ketika dakwah menjauh dari nilai-nilai
rabbaniyah, dan lebih berorientasi pada materi dan kebendaan, maka Allah tidak akan
menolongnya, dan yang berlaku adalah logika matematis dimana semua akan diposisikan sama.
Dan inilah yang ditakutkan oleh Umar bin Khattab ra. ketika kader dakwah bermaksiat kepada
Allah, maka logika yang berlaku adalah logika matematis, dimana yang akan menang adalah
mereka yang memiliki sarana, prasarana dan persenjataan yang lebih lengkap.
Rabbaniyah juga lawan dari Rahbaniyah (kependetaan), yaitu dalam berdakwah tidak
berorientasi pada ketaatan pada Allah, tetapi ketaatan pad pendeta atau pemimpin dakwah.
Sehingga akan memunculkan kultus pada pemimpin dan berujung pada ketaatan buta yang tidak
dilandasi pada kebenaran. Ketaatan pada pemimpin baik benar atau salah. Dan kondisi ini akan
memunculkan pemimpin yang diktator, sulit menerima nasehat, kurang aspiratif dan tidak
menumbuhkan suasana syuro’. Allah swt. berfirman, “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang
Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan
disebabkan kamu mempelajarinya.” (Ali ‘Imran: 79)
Terkait dengan turunnya ayat di atas, Ibnu Abbas berkata, berkata Abu Rafi’ al-Quradhi, “Ketika
Pendeta dan Rahib dari Nashrani dan Yahudi Najran berkumpul bersama Rasulullah saw. , maka
Tugas dan Peran Dai Page 21

Rasul saw. mengajak mereka masuk Islam.” Mereka berkata, “Wahai Muhammad, apakah
engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana Nashrani menyembah Isa?” Rasul
menjawab, “Maha suci Allah, kami menyembah selain Allah, atau menyuruh menyembah selain
Allah. Bukan untuk itu aku diutus dan diperintah”. Maka turunlah ayat tersebut.
Ayat ini berisi larangan penyembahan kepada para nabi dan rasul yang mendapat risalah
kenabian. Dan jika larangan ini terkait dengan para nabi, maka larangan kepada selain nabi lebih
utama. Berkata al-Hasan al-Bashri, “Tidak layak bagi orang beriman memerintahkan manusia
menyembah para da’i dari orang beriman.” Berkata, “Karena dahulu suatu kaum satu sama lain
saling menyembah, yaitu bahwa ahli kitab menyembah pendeta dan rahib mereka sebagaimana
disebutkan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam.” (At-
Taubah: 31). Disebutkan dalam al-Musnad bahwa ‘Adi bin Hatim berkata, “Ya Rasulullah kami
tidak menyembah mereka.” Rasul saw. bersabda, “Ya, sesungguhnya mereka menghalalkan yang
haram dan mengharamkan yang halal dan ahli kitab mengikutinya. Itulah ibadah ahli kitab
kepada pendeta dan rahib.”
Ibnu Abbas berkata, “Jadilah Rabbani, yaitu pemimpin, ulama, dan orang yang santun.” Berkata
al-Hasan, “Fuqaha, ahli ibadah dan ahli taqwa.” Berkata ad-Dahak, “Bagi orang yang belajar Al-
Qur’an harus faqih yaitu mengetahui maknanya.” Jadi, para rabbani adalah orang yang
senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik belajar maupun mengajar. Mereka menyuruh
beribadah dan taat pada Allah, bukan taat pada dirinya. Dan kalaupun taat pada dirinya, dalam
konteks taat pada Allah swt. Mereka senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Islam bukan
berorientasi pada materi dan keduniaan.
Rabbani atau rabbaniyah adalah karakterisitik atau sifat dari orang dan lainnya. Maka rabbaniyah
harus melekat pada dakwah, manhaj (pedoman), masdar (sumber), hadaf (sasaran), dai, qiyadah,
dan jamaah. Dan warna inilah yang harus dominan dalam gerakan dakwah, “Warna (celupan)
Allah, siapakah yang paling baik warnanya melebihi warna Allah, dan kami beribadah kepada-
Nya.” (Al-Baqarah: 138)
2. Waqi’iyah
Waqi’iyah yang dimaksud di sini ialah bahwa dakwah harus dapat berjalan dalam raelitas
manusia dan tidak menjauh dari realitas manusia. Bahkan dakwah harus dapat menyelesaikan
problematika yang dihadapi manusia. Sehingga para dai harus menguasai Fiqhul Waqi’i
Fiqih Waqi adalah ilmu yang membahas tentang pemahaman terhadap suatu kondisi
kontemporer, seperti faktor-faktor yang berpengaruh pada masyarakat, kekuatan yang menguasai
suatu negara, pemikiran-pemikiran yang ditujukan untuk menggoncang aqidah dan jalan-jalan
yang disyariatkan untuk memelihara umat dan ketinggiannya baik pada saat sekarang maupun
yang akan datang (Fiqhul Waqi, Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr).
Jika salah satu fokus yang akan kita bahas itu pemuda dan mahasiswa, maka cakupannya di
antaranya: pengetahuan tentang realitas mahasiswa secara keseluruhan dan mahasiswa muslim
Tugas dan Peran Dai Page 22

sekarang, faktor-faktor yang mempengaruhi mereka, kekuatan yang berpengaruh pada mereka,
pemikiran-pemikiran yang berkembang di antara mereka dan yang merusak akidah mereka. Dan
terakhir, bagaimana solusi untuk memperbaiki mereka dan merubahnya sesuai tuntunan Islam.
Realitas mahasiswa muslim di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan realitas umat Islam di
Indonesia. Dan realitas umat Islam di Indonesia merupakan bagian dari realitas umat Islam
secara keseluruhan. Oleh karenanya seluruh umat Islam, di dalamnya mahasiswa muslim harus
mengetahui realitas itu semua kemudian ikut aktif menyelesaikan problem yang dihadapi dengan
selalu mengacu skala prioritas.
Realitas umat Islam sekarang di seluruh dunia hampir memiliki kesamaan. Apalagi dengan
semakin majunya teknologi informasi. Realitas itu dapat disimpulkan menjadi dua masalah
besar. Pertama, jahlul umat ‘anil Islam (bodohnya umat Islam terhadap Islam). Kedua,
saitharotul a’daa (umat Islam dikuasai musuh Islam). Dari realitas besar inilah semua umat
Islam yang mengetahui dan sadar akan ajarannya harus memberikan saham dalam
menyelesaikan problematika umat. Rasulullah saw. bersabda, dari Hudzaifah Bin Yaman r.a.
berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam, maka
bukan golongan mereka.” (At-Tabrani)
Adapun realitas perjuangan umat Islam di seluruh dunia sangat terkait dengan perjuangan umat
Islam di Palestina, Timur Tengah, Afghanistan, dan Irak. Nampaknya perubahan peta politik
dunia akan sangat dipengaruhi dengan pertarungan gerakan Islam Palestina yang dipimpin
Hamas melawan Yahudi Israel, kaum muslimin Afghanistan dan Irak melawan penjajahan
Amerika, gerakan Islam di Timur Tengah menghadapi rezim pemerintahan masing-masing, dan
gerakan Islam di Pakistan melawan kaum Hindu di India.
Sedangkan realitas Umat Islam di Indonesia tidak terlepas dengan dua masalah besar tersebut,
yaitu bodohnya umat akan ajaran Islam dan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam yang
menguasai umat Islam dan kekayaan negerinya. Dua sebab inilah yang menyebabkan semua
sistem kehidupan di Indonesia menjadi rusak. Sistem politik sangat sekuler dan dikuasai
politikus yang sekuler dan rusak. Ekonomi yang berkembang adalah ekonomi kapitalis yang
bersandar pada sistem perbankan ribawi dan pasar bebas yang tidak melindungi kaum yang
lemah. Kehidupan sosial sangat buruk jauh dari moral Islam. KKN masih mendominasi sistem
kehidupan sosial dan birokrasi pemerintahan. Tingkat kerusakan sosial sangat parah. Narkoba,
seks bebas, pornografi, dan bentuk kerusakan sosial selalu menghiasai kehidupan di masyarakat.
Sistem pendidikan sangat rapuh dan tidak melahirkan manusia yang bertakwa.
Kondisi sosial politik negara Indonesia dan negara muslim lain dapat digambarkan sebagaimana
hadits berikut: Segeralah menuju kematian, jika menemui 6 hal; pemimpin bodoh, banyak polisi,
menjual hukum, meremehkan (menumpahkan) darah, memutus persaudaraan dan orang
menjadikan Al-Qur’an seruling yang dinyanyikan dan menjadi rujukan walaupun paling minim
pemahamannya.” (HR Ahmad)
Jika 6 kondisi tersebut dominan dalam suatu bangsa, maka Rasulullah saw. seolah menganjurkan
untuk mati saja. Hadits ini adalah peringatan kepada unsur kebaikan dan reformis dalam suatu
Tugas dan Peran Dai Page 23

bangsa baik ulama, cendikiawan, pemuda dan mahasiswa untuk mencegah terjadinya kerusakan
masal dengan melakukan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar dan perbaikan atau reformasi.
Berbicara tentang reformasi, maka mahasiswa adalah pilar yang senantiasa berada di garda
terdepan, dan sejarah telah membuktikannya. Rezim Orde Lama dan Orde Baru jatuh karena
tekanan mahasiswa. Walaupun mahasiswa dan mahasiswa muslim di Indonesia masih bagian
dari produk keluarga-keluarga mereka dan produk dari masyarakat mereka serta produk dari
bangsanya, dan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dengan realitas sosial politik masyarakat dan
bangsa Indonesia, namun dibanding dengan unsur bangsa lainnya, merekalah yang masih relatif
bersih dan komitmen pada agenda reformasi. Oleh karena itu, mereka harus segera
menyelesaikan problem internalnya, melakukan konsolidasi kemudian keluar melakukan
reformasi secara menyeluruh. Utamanya reformasi terhadap kerusakan yang ada dalam tubuh
pemerintahan dan sistemnya. Dan kunci kekuatan kaum pelajar dan mahasiswa adalah idealisme:
kecerdasan, sikap kritis, dan kepekaan sosial; keberanian; dan pengorbanan.
Realitas umat Islam sekarang sangat terkait dengan periodisasi kekuasaan yang telah diprediksi
oleh Rasulullah, dimana era sekarang adalah era kepemimpinan malikan jabariyan atau
kepemimpinan orang-orang yang zhalim dan tidak menerapkan syariat Islam. Oleh karena itu
aktivitas yang terpenting dalam era sekarang adalah berdakwah mengembalikan ajaran Islam
dalam tataran kehidupan pribadi muslim, keluarga, masyarakat, dan negara.
Agar para dai dan aktivis muslim mengetahui kondisi riil secara nyata, maka mereka harus
senantiasa berinterkasi dengan setiap peristiwa yang dihadapinya. Peristiwa dan kejadian setiap
saat muncul dan berkembang, maka para dai tidak boleh lalai terhadap hal-hal yang terkait
dengan kejadian yang berakibat pada kemajuan dan kemunduran umat dan berupaya menganlisa
setiap peristiwa tersebut untuk kemudian berupaya mencari solusinya sesuai dengan fiqih syar’i.
Maka fiqih syari’i tidak akan begitu efektif dan menyelesaikan masalah jika tidak menguasai
waqi atau realita. Begitu realita yang dihadapi umat harus senantiasa diarahkan agar sesuai
dengan fiqih Syar’i.
3. Jama’iyah
Jama’ah (lembaga/organisasi) adalah keniscayaan dalam dakwah dan kesuksesan dakwah. Dan
amal jama’i harus menjadi bagian tak terpisah yang dilakukan para dai. Umar bin Khattab r.a.
berkata, “Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali
dengan imarah, tidak ada imarah kecuali dengan taat dan tidak ada taat kecuali dengan baiat.”
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Islam tanpa ditopang dengan sistem, maka akan dikalahkan oleh
kebatilan yang ditopang dengan sistem.” Dan era sekarang adalah era jaringan dan jama’ah.
Amal Jama’i dapat dilakukan dalam dua dimensi. Pertama, amal jama’i antara sesama dai secara
perorangan dalam satu gerakan dakwah. Kedua, amal jama’i yang dilakukan antara dua lembaga,
dua yayasan, dan dua harakah dakwah atau lebih untuk kemaslahatan Islam dan umat Islam.
Amal jama’i dalam bentuk yang pertama sudah biasa dilakukan, tetapi amal jama’i bentuk kedua
masih sangat jarang dilakukan.
Tugas dan Peran Dai Page 24

Jika antar partai dapat berkoalisi untuk tujuan pragmatis, kenapa antar gerakan Islam tidak dapat
beramal jama’i untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Dan sesungguhnya di sinilah rahasia
kemenangan dakwah dan kunci mendapat rahmat dari Allah. “Kalau Rabbmu menghendaki,
maka Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih. Kecuali
yang dirahmati oleh Rabbmu.” (Hud: 118). Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak menyatukan
umat ini pada kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah.” (Al-Hakim).
Proyek amal jama’i antar harakah itu sangat penting, karena sejatinya setiap harakah memiliki
kelebihan masing-masing. Ada yang memiliki kelebihan dalam pendekatan kepada umat yang
masih awam dan bergelimang dalam kemaksiatan. Mereka berhasil melakukan tabligh dan
membuat banyak umat Islam yang insaf dan menegakkan shalat serta berakhlak mulia. Jama’ah
ini sangat banyak dan tersebar keseluruh dunia. Mereka juga sangat bersemangat untuk
mendakwahi non muslim di negara-negara barat.
Ada juga harakah lain yang memiliki kelebihan dalam penyebaran fikroh Islam khususnya
masalah khilafah Islam. Pemikiran-pemikiran Islam berhasil mereka angkat untuk melawan
pemikiran sekuler dan pemikiran barat. Dan karya-karya para pemikir gerakan ini layak untuk
jadi kajian pemikiran Islam versus pemikiran sekuler. Sementara ada harakah lain yang memiliki
kelebihan dalam ta’shil (menjaga keaslian) akidah dan syariah dari kemusyrikan dan bid’ah.
Amal jama’i itu semuanya terkait dengan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya
orang-orang beriman. “Dan Allahlah yang yang menyatukan hati-hati orang beriman. Jika
engkau infakkan seluruh kekayaan yang ada di muka bumi, engkau tidak dapat menyatukan hati-
hati orang beriman, tetapi Allahlah yang menyatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Allah
Maha Perkasa dan Bijaksana. Wahai Nabi, cukuplah bagimu Allah dan orang-orang yang
mengikuti dari orang beriman.” (Al-Anfaal: 33-34). Dan puncak dari kesuksesan dakwah, ketika
gerakan Islam berhasil menyatukan umat. Jadi, saat berinteraksi dengan siapapun seorang dai
harus selalu ingat bahwa dirinya adalah unsur perekat umat. Bukan pelebar jurang perbedaan.
Wallahu a’lam.








Tugas dan Peran Dai Page 25

1/6/2008 | 26 Jumadil Awal 1429 H | Hits: 1.566
Tiga Tugas Dai Dalam Memenangkan Dakwah
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com - Siyasah Da’wah (politik dakwah) menegaskan prinsip bahwa kader
penggerak dakwah adalah aset utama gerakan (rashidul harakah). Kekuatan dakwah bertumpu
pada daya soliditas, responsivitas, dan produktivitas para kader penggeraknya dalam melakukan
manuver dakwah (munawarah da’wiyah). “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang
bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi
lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula
menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
Selain unsur kader penggerak dakwah adalah kekuatan sarana (anashirul-wasail) dan sifatnya
hanya sebagai pendukung kesuksesan manuver dakwah para kader penggerak dakwah. “Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-
kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh
Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak ketahui, sedang Allah
mengetahuinya….” (Al-Anfaal: 60)
Berpijak pada prinsip itu, ada tiga tugas penting yang harus dijalankan pada dai dalam kancah
ma’rakah da’wah (bisa dalam bentuk amal tabligh, siyasiyah (politik) hingga ghazwah (perang)).
Pertama, seorang kader penggerak dakwah harus punya tugas moral untuk menjadi penggerak
semua rekan-rekan seperjuangnya untuk mau berpartisipasi dalam pemenangan dakwah. Ini
dilakukan dengan membangkitkan orientasi perjuangan (ittijah jihadiyah) sebagai bukti
kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu
untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu,
mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu
kaum yang tidak mengerti.” (Al-Anfaal: 65)
Kedua, seorang penggerak dakwah yang sejati senantiasa mengawal perjuangan rekan-rekan
seperjuangannya agar mampu menjaga syakhsiyah rabbaniyah, sebagaimana telah ditempa
sebelumnya dalam proses panjang tarbiyah. Ma’rakah siyasiyah, sebagai contoh, adalah medan
ujian bagi soliditas kepribadian (matanah syakhsiyah) para kader penggerak dakwah, sebagai
medan aktualisasi nilai dan fikrah yang diyakini kebenarannya, serta sebagai medan tarbiyah
maydaniyah (pendidikan lapangan) yang sangat berharga. “Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah
sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan
Tugas dan Peran Dai Page 26

janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh
dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah….” (Al-
Anfaal: 45-47)
Ketiga, seorang penggerak dakwah yang istiqomah akan selalu melakukan konsolidasi
kepribadian dan barisan dengan rekan-rekan seperjuangannya, baik ketika bersiap maupun ketika
kembali dari medan ma’rakah. Tidak bisa dinafikan bahwa akan muncul masalah-masalah
operasional (qadhaya tathbiqiyah) yang menimpa sebagian jajaran kader dakwah sebagai
konsekuensi gesekan dan benturan di lapangan dakwah. Terutama ketika medan yang mereka
masuki adalah medan ma’rakah siyasiyah yang penuh fitnah. Karena itu, konsolidasi dan
merapatkan barisan adalah solusi yang harus senantiasa dilakukan; dan sarananya adalah kembali
melakukan tarbiyah. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya (dari medan perang), supaya mereka itu
dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)
Inilah tiga tugas penting yang harus dilakukan seorang kader penggeraka dakwah jika ingin
memenangkan dakwah di setiap medan ma’rakah. Tugas ini harus dilakukan secara terus
menerus. Dengan begitu, ia bisa menjadi kader penggerak dakwah yang responsif secara cepat
dan tepat kala dakwah membutuhkannya.
Tentu saja untuk menjadi kader dakwah yang seperti itu bukan perkara ringan. Namun, itu juga
sebuah kemestian. Sebab, kelalaian seorang kader penggerak dakwah untuk menunaikan ketiga
tugasnya itu, akan berakibat fatal. Setidaknya dakwah harus membayar perjuangan meraih
kemenangannya dengan harga yang lebih mahal karena terjadi kekeroposan pada kekuatan
internal para pengasungnya. Bila ini terjadi, kejayaan Islam, tegaknya syariat Allah di muka
bumi, dan umat yang memiliki izzah (harga diri) hanya tinggal mimpi. Naudzu billahi min dzalik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->