ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN PATOLOGIS DENGAN DISTOSIA BAHU TERHADAP Ny.

T
Diposkan oleh MaPhia BlacK di 07.23 A. Pengertian

Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul, atau bahu tersebut bisa lewat promontorium, tetapi mendapat halangan dari tulang sakrum. B. Patofisiologi Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat ibu meneran akan meyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala. C. Etiologi Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk “melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul. D. Penilaian Klinik 1. Kepala janin telah lahir namun masih erat berada di vulva 2. Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi luar 3. Dagu tertarik dan menekan perineum 4. Tanda kepala kura-kura yaitu penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga tampak masuk kembali ke dalam vagina. 5. Penarikan kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang terperangkap di belakang symphisis. E. Faktor Risiko

1. Ibu dengan diabetes, 7 % insiden distosia bahu terjadi pada ibu dengan diabetes gestasional (Keller, dkk) 2. Janin besar (macrossomia), distosia bahu lebih sering terjadi pada bayi dengan berat lahir yang lebih besar, meski demikian hampir separuh dari kelahiran doistosia bahu memiliki berat kurang dari 4000 g. 3. Riwayat obstetri/persalinan dengan bayi besar 4. Ibu dengan obesitas 5. Multiparitas 6. Kehamilan posterm, dapat menyebabkan distosia bahu karena janin terus tumbuh setelah usia 42 mingu. 7. Riwayat obstetri dengan persalinan lama/persalinan sulit atau riwayat distosia bahu, terdapat kasus distosia bahu rekuren pada 5 (12%) di antara 42 wanita (Smith dkk., 1994) 8. Cephalopelvic disproportion The American College of Obstetrician and Gynecologist (1997,2000) meninjau penelitian-penelitian yang diklasifikasikan menurut metode evidence-based yang dikeluarkan oleh the United States Preventive Sevice Task Force, menyimpulkan bahwa : 1. Sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diramalkan atau dicegah karena tidak ada metode yang akurat untuk mengidentifikasi janin mana yang akan mengalami komplikasi ini. 2. Pengukuran ultrasonic untuk memperkirakan makrosomia memiliki akurasi yang terbatas. 3. Seksio sesarea elektif yang didasarkan atas kecurigaan makrosomia bukan merupakan strategi yang beralasan. 4. Seksio sesarea elektif dapat dibenarkan pada wanita non-diabetik dengan perkiraan berat janin lebih dari 5000 g atau wanita diabetik yang berat lahirnya diperkirakan melebihi 4500 g. F. Komplikasi pada Ibu

atau karena laserasi vagina dan servik yang merupakan risiko utama kematian ibu (Benedetti dan Gabbe. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi 4. 1978. Masih mampu untuk mengejan 3. Syarat-syarat agar dapat dilakukan tindakan untuk menangani distosia bahu adalah : 1.Distosia bahu dapat menyebabkan perdarahan postpartum karena atonia uteri. Kecacatan pleksus brachialis transien adalah cedera yang paling sering. H. . fraktur humerus. pelaku praktik obstetric harus mengetahui betul prinsip-prinsip penatalaksanaan penyulit yang terkadang sangat melumpuhkan ini. Penatalaksanaan Distosia Bahu Penatalaksanaan ditosia bahu juga harus memperhatikan kondisi ibu dan janin. selain itu dapat juga terjadi fraktur klavikula. dan kematian neonatal. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi Karena distosia bahu tidak dapat diramalkan. Komplikasi pada Bayi Distosia bahu dapat disertai morbiditas dan mortalitas janin yang signifikan. rupture uteri. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan persalinan 2. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup 5. 1978) G. Parks dan Ziel.

Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral promontory walaupun jarang terjadi dan karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul. 2005. Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitos panggul. tetapi mendapat halangan dari tulang sakrum. atau bahu tersebut bisa lewat promontorium. pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis. kegagalan bahu untuk “melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul.ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN PATOLOGIS DENGAN DISTOSIA BAHU TERHADAP Ny. bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior. T Diposkan oleh MaPhia BlacK di 07. Dorongan pada saat ibu mengedan akan meyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis. .23 DISTOSIA BAHU Pengertian Menurut buku acuan Nasional Pelayanan Maternal dan Neonatal. setelah kelahiran kepala. akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis.

1998) : 1. c. c. Pakai sarung tangan DTT atau steril 2. Catatan : Jangan lakukan dorongan pada pubis. 4. Ibu dengan diabetes Ibu dengan obesitas Janin besar karena macrossomia Riwayat obstetri dengan persalinan lama / persalinan sulit b. Cephalopelvic disproportion Penatalaksanaan Distosia Bahu (Menurut buku asuhan persalinan normal. e. minta dua asisten (boleh suami atau anggota keluarganya) untuk membantu ibu. f. karena akan mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan ruptur uteri . Dagu tertarik dan menekan perineum 3.Penilaian Klinik (Menurut sinopsis Obstetri Jilid I. Lakukan episiotomi secukupnya 3. Secara bersamaan minta salah satu asisten untuk memberikan sedikit tekanan supra pubis ke arah bawah dengan lembut. Riwayat obstetri/persalinan dengan bayi besar d. minta ibu untuk menarik kedua lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. b. Tanda kepala kura-kura yaitu penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga tampak masuk kembali ke dalam vagina. Penarikan kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang terperangkap di belakang symphisis. Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (kearah anus ibu) untuk menggerakkan bahu anterior di bawah symphisis pubis. Dengan posisi ibu berbaring pada punggunnya. Catatan : Hindari tekanan yang berlebihan pada bagian kepala bayi karena mungkin akan melukainya. Kepala janin telah lahir namun masih erat berada di vulva 2. Faktor-faktor yang harus diantisipasi dengan kemungkinan distosia bahu : a. Postdates g. 2004) : 1. Lakukan manuver Mc Robert a.

Masukkan satu tangan ke dalam vaginaa dan lakkan penekanan pada bahu anterior. Jika bahu masih tetap tidak lahir : a. minta ibu untuk berganti posisi merangka. Segera setelah lahir bahu anterior. Jika bahu masih tetap tidak lahir setelah melakukan manuver-manuver di atas. 5. lakukan penekanan pada bahu posterior ke arah sternum. Catatan : Mematahkan tulang selangka bayi hanya dilakukan bila semua cara lainnya mengalami kegagalan. Jika bahu tetaap tidak lahir : a. lahirkan bahu posterior dengan tarikan perlahan ke arah bagian bawah dengan hati-hati. b.4. Coba ganti kelahiran bayi tersebut dalam posisi ini dengan cara melakukan tarikan perlaharan pada bahu anterior ke arah atas dengan hatihati. Jika perlu. untuk memutar bahu bayi dan mengurangi diameter bahu. ke arah sternum bayi. Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan pegang tulang lengah atas yang berada pada posisi posterior Fleksikan lengan bayi di bagian siku dan letakkan lengan tersebut melintang di dada bayi. b. .

Keluhan Utama Ibu mengatakan hamil anak kedua usia kehamilan 38 minggu. T DI RB RS YUKUM MEDICAL TAHUN 2007 I. Tia Umur Agama Suku : 28 th : Islam : Jawa Nama Suami Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn.00 WIB 1.ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN DENGAN KASUS DISTOSIA BAHU TERHADAP Ny. mengeluh mulas dan nyeri dipinggang dan ibu mengatakan sudah mengeluarkan air-air sejak tanggal 02 November 2007 pukul 05. . Data Subjektif Pada tanggal 02 November 2007 Pukul 13. Kurniawan : 31 th : Islam : Jawa : SMA : Wiraswasta : Pendidikan : S1 Pekerjaan : PNS Alamat : Perumahan Wayhalim 2. Identitas Nama Istri : Ny.00 WIB.

tidak ada odema dan tidak ada cloasma gravidarum Temp : 370 C Nadi : 81 x/menit Kesadaran : Composmentis . Istirahat Ibu mengatakan tidur malam selama 8 jam. warna hitam dan tidak ada ketombe : Bersih. Psikologi Ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinannya II. tidak mudah dicabut.00 WIB 6. tidur siang 1-2 jam sehari 7. Keadaan umum : Baik Tanda-tanda vital : 120/80 mmHg : 21 x/menit Inspeksi a. Pergerakan Janin dalam 24 jam terakhir Ibu mengatakan masih merasakan gerakan janin. gerakan aktif sebanyak 20 kali dalam 24 jam. Eliminasi BAB terakhir 1 x pada 02 November 2007 pukul 06. Muka : Bersih.00 WIB BAK terakhir 1 x pada 02 November 2007 pukul 12. Rambut b. 2. Makan dan minum terakhir Ibu makan terakhir tanggal 01 November 2007 pukul 20. 4. TD RR 3. Data Objektif 1.3.00 WIB Ibu sering minum dan minum terakhir 1 gelas air putih 5.

Inspeksi l. luka dan cedera juga peradangan pada perineum tidak ada bekas luka. 4. : Bersih. tidak melenting dan kurang bundar yang berarti bokong Leopold 2 : Pada perut bagian sebelah kiri teraba ada tahanan yang lebar yang berarti bokong dan sebelah kanan teraba bagian-bagian yang kecil-kecil yang berarti ekstremitas Leopold 3 : Bagian terbawah janin teraba bulat. Donald : 38 cm (pada pemeriksaan Leopold 1) TJB : (TFU – 11) x 155 : Simetris. Mulut Telinga Leher Mamae Perut : Kanan dan kiri simetris. tidak ada sekret dan fungsi penciumaan : Bersih. conjungtiva merah muda dan sklera tidak : Bersih. tidak ada caries dan tidak ada stomatitis.c. Genetalia : : Pada vulva dan vagina tidak ada varises maupun oedema. keadaannya besih. Palpasi Leopold 1 : TFU pertengahan pusat dan px. tidak ada cacat dan berfungsi . terdapat linca nigra dan striae gravidarum serta tidak ada luka bekas operasi a. 4. pada fundus teraba 1 bagian yang lunak. terdapat oedema dan : Simetris. Ekstremitas atas dan bawah : Atas dengan baik Bawah berfungsi dengan baik. tidak ada serumen dan fungsi pendengaran baik : Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid dan vena jugularis : Simetris. keras. i. tidak ada benjolan yang abnormal. g. tidak ada k. d. f. h. terdapat hyperpigmentasi pada aerola mamae dan kolostrum sudah keluar : Pembesaran perut sesuai kehamilan. Punggung dan pinggang : Terdapat tanda michalaes yang simetris j. tidak ada polip. keadaannya bersih. 3. Mata ikterik Hidung baik. dan melenting yang berarti kepala Leopold 4 : Bagian yang terbawah janin sudah masuk PAP (divergen) Mc. 2. 1. e.

: (38 – 11) x 155 : 4.185 gram 5. puctum maximum dibawah pusat sebelah kiri Reflek patela ada (+) d. 8. Serviks Penurunan : Hodge I (+).00 2 cm 4/5 (+)/ 0 Kekuatan sedang 3x dalam 10 143 x/mnt menit 120/70 lamanya < 20 detik 80 21 370 C - 02-11-07 17. 4/5 Pengawasan Kala I Pemeriksaan Dalam Tanggal Waktu Pemb. tidak terdapat benjolan : Lunak : Tebal. b. 6. i. a. k. Auskultasi Perkusi Pemeriksaan pada pukul 13. e. g. UUK kiri depan : Elastis/tidak kaku : Ada : 3 x 10 menit : < 20 detik Introitus vagina DJJ terdengar 143 x/menit.00 WIB Vulva Portio Ketuban Presentasi Perineum His Frekuensi Lamanya : Tidak ada oedemaa. pembukaan 2 cm : Utuh : Kepala. j. Analisa . 7.00 4 cm 4/5 (+)/ 0 Kekuatan sedang 3x dalam 10 140 x menit 120/70 lamanya 2040 detik 82 20 370 C - III. h. f. tidak ada varises : Teraba rugei. c. Penurunan Serviks Kepala Ketuban/ Penyusupan DJJ Kontraksi TD Kondisi Ibu Pols RR Temp Obat/ cairan yang diberikan 02-11-07 13.

Temp : 370 C. DJJ ada. penurunan kepala : hodge I 2. a.1. tunggal. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan Beritahukan keadaan umum ibu : TD : 120/70 mmHg. Pengawasan kala I dengan partograf IV. Leopold 2 4. janin hidup. a. RR : 20 x/menit. b. penurunan kepala : 4/5. Diagnosa kepala. molase : tidak ada Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis pada ibu Anjurkan keluarga untuk selalu memberikan semangat dan dukungan pada ibu Lakukan pengawasan kala I dengan partograf Catat setiap hasil temuaan dan asuhan pada partograf Siapkan ruang bersalin dan alat pertolongan persalinan Siapkan ruang bersalin yang sejuk. Ketubahan : utuh (+). pada fundus teraba bokong : Punggun kiri : Bagian bawah teraba kepala : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP 6. keadaan umum ibu baik Beritahukan hasil PD : Pembukaan serviks : 4 cm. Masalah Nyeri adanya his Dasar : Ibu mengatakan merasa mules dan nyeri pada pinggang semakin sering 3. 2. bersih dan nyaman . Kebutuhan 1. Leopold 3 5. ketuban : utuh. Perencanaan kala I 1. a. Pemeriksaan dalam : Pembukaan 2 cm. intrauterine. Dukungan psikologis pada ibu untuk menghadapi persalinan 2. 3. frekuensi 143 x/menit 7. presentasi Dasar : 1. memanjang. inpartu kala I fase laten Ibu G2P1A0 hamil 38 minggu. Leopold 4 : TFU pertengahan pusat dan px. Leopold 1 3. Ibu mengatakan hamil anak kedua 2. Pols : 80 x/menit. 4. a.

f. DJJ 145 x/menit. a. Bedong. dan sarung tangan bayi. Ibu mengatakan rasa sakit bertambah sering dan lama menjalar dari pinggang ke perut bagian bawah 3. Keadaan kandung kemih kosong 5. 6. kaos kaki. b. c. a. dll dalam kondisi steril Siapkan alat pertolongan pada bayi baru lahir Siapkan alat resusitasi dalam kondisi steril Siapkan peralatan bayi : pakaian bayi. teratur 3. b. 7. Ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinannya O : 1. Ibu mengatakan rasa ingin BAB dan ingin mengedan 2. anus mengembang. a. Tanda vital . teratur lamanya > 40 detik 2.00 WIB S : 1. Siapkan alat pertolongan persalinan : partus set. Pada inspeksi terlihat vulva membuka. heating. Dinding vagina tidak ada kelainan Pembukaan serviks 10 cm (lengkap) Presentasi kepala UUK kiri depan Penurunan bagian terendah di Hodge IV b.b. PD. b. Ketuban (-) 7.00 WIB dengan hasil : a. Penuhi kebutuhan fisik ibu Berikan makan dan minum bila ibu merasa haus dan lapar Berikan ibu minuman manis untuk penambah tenaga Ajarkan ibu teknik relaksasi dan cara mengedan yang efektif Ajarkan ibu teknik relaksasi dengan menarik nafas dalam melalui hidung keluarkan dari mulut Ajarkan ibu cara mengedan yang efektif yaitu seperti orang BAB keras Kala II. Pengeluaran dari vagina berupa blood slym yang makin banyak 4. His 4 x dalam 10. e. perineum menonjol 6. pukul 20. pukul 16. 5. Portio tidak teraba d.

presentase kepala. Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi dalam 3. 2. Kepala bayi tersangkut di perineum. ketuban (-). pembukaan serviks 10 cm. anus mengembang. Leopold 3 : Bagian bawah teraba kepala 11. inpartu kala II fase aktif Dasar : 1. teratur. Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu 2. penurunan bagian terendahdi DJJ : 145 x/menit. UUK kiri depan. 6. Hodge IV. Ibu mengatakan hamil anak kedua HPHT : Umur kehamilan 38 minggu His 4 x/10 menit. 5. presentasi kepala. 9. Kepala bayi telah lahir tetepi tetap berada di vagina 2. pada fundus teraba bokong Leopold 2 : Punggung kiri 10. Menjaga kandung kemih tetap kosong 3. 4. seperti masuk kembali ke dalam vagina (kepala kura-kura) Kebutuhan : 1. terdapat 1 puctum maximum Leopold 1 : TFU pertengahan pusat dan px.TD : 120/80 mmHg RR : 22 x/menit A : Diagnosa : Pols : 82 x/menit Temp : 370 C Ibu G2P1A0 hamil 38 minggu. Memimpin meneran dan bernafas yang baik selama persalinan . 8. 7. 3. lamanya > 40 detik. teratur Pada inspeksi tampak : vulva membuka. perineum menonjol Pada periksa dalam : Portio tidak teraba. janin hidup tunggal. intrauterine. Leopold 4 : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP (divergen) Masalah : Distosia Bahu Dasar : 1. memanjang.

Pols : 85 x/menit.4. b. a. 2. fundus 3. 5. a. c. 4. Melakukan pertolongan persalinan Perencanaan 1. ajurkan ibu untuk menarik nafas dalam dari hidung dan keluargaan melalui mulut Berikan minum diantara his Siapkan pertolongan persalinan dengan teknik aseptik dan antiseptik Gunakan alat-alat yang steril serta menggunakan sarung tangan Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Lakukan pertolongan persalinan Tetap pimpin ibu untuk meneran Terdapat distosia bahu yaitu bahu anterior tertahan pada tulang symphisis Lakukan episiotomi dengan memberikan anastesi lokal Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini Beritahukan keadaan itu : TD : 120/70 mmHg. molase : tidak ada Libatkan keluarga dalam memberiklan dukungan psikologis Pimpin ibu untuk meneran Anjurkan ibu untuk mengedan saat his mulai mereda Anjurkan ibu untuk mengedan seperti orang BAB keras dan kepala melihat ke . a. RR : 23 x/menit. Penurunan kepala : 1/5. b. a. c. Beritahu itu untuk bernafas yang baik selama persalinan Anjurkan ibu untuk bernafas dengan teknik dog reathing Saat his hilang. a. Temp : 370 C. b. keadaan umum ibu baik Beritahukan hasil PD : pembukaan servik : 10 cm. c. b. b.

Lahirkan bahu belakang. tanggal 02-11-07 pukul 20. Robert : Dengan posisi ibu berbaring pada punggungnya. dan tubuh bayi seluruhnya Bayi lahir spontan pervaginam. jenis kelamin perempuan. Pada inspeksi terlihat adanya robekan jalan lahir akibat episiotomi A : Diagnosa : Ibu P2A0 partus spontan pervaginam. Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (ke arah anus ibu) untuk menggerakkan bahu anterior dibawah symphisis pubis. Plasentaa belum lahir : melakukan manajemen aktif kala III Temp : 370 C Pols : 84 x/menit . TFU : sepusat 6.45 WIB. pukul 20. Plasenta belum lahir 5.45 WIB S : 1. PB : 50 cm Kala III.45 WIB 2. Pada palpasi didapat : uterus teraba bulat dan keras. 2. BB : 4100 gram. bahu depan. minta ibu untuk menarik kedua lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya.d. Ibu mengatakan bahwa ia merasa lega dan senang atas kelahiran bayinya 2. hidup. Catatan : Jangan lakukan dorongan dengan fundus. Bayi lahir spontan pervaginam pukul 20. 6.45 WIB 2. karena bahu akan lebih jauh dari rupture uteri e. Minta suami atau anggota keluarga untuk membantu ibu. Tanda vital : TD : 120/80 mmHg RR : 20 x/menit 4. partu kala III Dasar : Kebutuhan 1. Ibu tampak senang dan bahagia 3. 1. Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya O : 1. Lakukan manuver Mc. Bayi baru lahir spontan pervaginam pukul 20.

periksa kelengkapan plasenta Katiledon dan selaput Diameter plasenta : utuh : 40 cm : 10 cm : 500 gram b. Temp : 370 C. Periksa fundus dan pastikan tidak ada janin lagi. b. RR : 20 x/menit. Lakukan peregangan tali pusat terkendali pada saat ada kontraksi 4. kandung kemih kosong. Melahirkan plasenta : periksa apakah plasenta lengkap dan tangan kiri konstruksi uterus baik melakukan masase dengan 4 jari palmar secara sirkulasi 6. kandung kemih kosong dan 2. dan kontraksi uterus baik Beritahu ibu bahwa akan disuntik 10 U IM pada 1/3 paha bagian luar Lakukan penegangan tali pusat terkendali pada saat ada kontraksi Observasi tanda-tanda pelepasan plasenta : semburan darah tiba-tiba. 2. f.00 WIB. Berat plasenta . Perencanaan 1. keadaan umum ibu baik Lakukan manajeman aktif kala III Periksa fundus dan pastikan tidak ada janin lagi. e. Pols : 84 x/menit. g. Panjang tali pusat d. Berikan oksitosin 10 U IM di 1/3 paha bagian luar 3. tali pusat memanjang Lahirkan plasenta Periksa kelengkapan plasenta dan tangan kiri melakukan masase dengan 4 jari palmer secara sirkuler selama 15 detik Ajarkan ibu untuk membantu melakukan masase dan beritahu ibu uterus yang berkontraksi baik. c.P : 1. Plasentaa lahir lengkap dan spontan pukul 17. Jelaskan keadaan ibu dan prosedur manajemen aktif kala III Beritahu hasil pemeriksaan : TD : 120 mmHg. Plasenta lahir spontan pukul 21. c. Observasi tanda-tanda pelepasan plasenta 5. 3. Jaga personal hygiene : membersihkan ibu dan mengganti pakaian ibu. d. a. a. a.00 WIB 7.

f. pukul 21. Tebal plasenta Insersi Jaga personal hygiene : 3 cm : marginal Terdapat robekan yang mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis.e. Berikan anastesi lokal : 10 ml lidokain c. Ibu melahirkan anak kedua 2.45 WIB 3. 4. a.00 WIB S : 1. Plasenta lahir lengkap dan spontan pukul 17. konsistensi berupaa darah segar cair 4. Lakukan heating jelujur dan jelujur subkutikuler Kala IV. kontraksi uterus baik 3.00 WIB 4. Pemeriksaan umum Keadaan umum : Baik TD RR : 120/80 mmHg : 21 x/menit Kesadaran : Composmentis Pols Temp : 84 x/menit : 370 C 2. tetapi tidak mengenai otot sfingter ani disebut luka episiotomi tingkat II b. partu kala IV Dasar : 1. Plasentaa lahir lengkap pukul 17. Ibu partus spontan pervaginam pukul 16. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas-mulas 3. Jumlah perdadarahan ± 150 cc. Ibu merasa legaa karena plasenta sudah lahir O : 1. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayi perempuannya 2.00 WIB A : Diagnosaa : P2A0 partus spontan. TFU 1 jari di bawah pusat. TFU 1 jari di bawah pusat Masalah : Nyeri luka akibat luka episiotomi .

Periksa kandung kemih. Ajarkan ibu cara menjaga personal hygiene dan cara merawat luka episiotomi Ajarkan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya post partum. RR : 21 x/menit. a. keadaan umum ibu baik. bila penuh. 4. Heating perineum dengan heating jelujur dan jelujur subkutikuler 3. c. a. Jumlah perdarahan 150 cc Kebutuhan : uterus. dan vital sign 1. Ajarkan ibu dan keluargaaa cara pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis Anjurkan ibu untuk makan dan minum yang cukup memenuhi kebutuhan nutrisi ibu. b. Beritahu keluarga untuk melapor ke bidan jika ada tanda-tanda bahaya. seperti demam. b. Anjurkan ibu untuk istirahat dan merelaksasikan pikiran Anjurkan keluarga untuk selalu memberikan dukungan dan semangat pada ibu d. 3. . b. perut tidak mulas dan fundus tidak ada kontraksi.Dasar : 1. Terdapat luka episiotomi derajat 2 2. kontraksi uterus : baik c. jumlah darah yang keluar : ± 100 cc Lakukan perawatan luka episiotomi Bersihkan tubuh ibu dan lakukan vulva hygiene untuk menghindari infeksi pada luka jahitan. rangsang untuk berkemih. 2. a. perdarahan berlebihan. involusi 2. Observasi keadaan ibu : keadaan umum. perdarahan. Teknik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri Perencanaan 1. Periksa perdarahan. a. 5. a. Periksa fundus : TFU : 1 jari bawah pusat. Observasi keadaan ibu Pantau terus keadaan ibu selama 2 jam postpartum Pastikan darah yang keluar berasal hanya dari luka episiotomi Lakukan pemeriksaan pada ibu setiap 15 menit pada 1 jam postpartum dan setiap 30 menit pada jam kedua Periksa tanda vital : TD : 120/80 mmHg. Pols : 84 x/menit. Temp : 370 C. b.

6. e. b. a. Beritahu ibu tanda-tanda bahaya BBL : panas tinggi. susah untuk bernafas . c. Berikan konseling pada ibu cara merawat bayi baru lahir Beritahu ibu cara merawat tali pusat Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya Beritahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan tubuh bayi Beritahu ibu untuk mengimunisasi bayinya ke bidan. kejang. d. biru.

Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi ke-2. 2004.DAFTAR PUSTAKA DepKes RI. H. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo : Jakarta . 1998. EGC : Jakarta Saifuddin Abdul B. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi : Jakarta Mochtar R. Ilmu Kebidanan. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 1999. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta . 2002. Asuhan Persalinan Normal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta Winkjosastro.