KORELASI ANTARA STATUS GIZI IBU MENYUSUI DENGAN KECUKUPAN ASI DI POSYANDU DESA KARANG KEDAWANG KEC.

SOOKO KAB. MOJOKERTO
Nurul Pujiastuti
Abstract: This study aims to analyze the relationship between the status of breastfeeding mothers with the adequacy of breastfeeding in the village Karangkedawang Kec. Sooko Kab. Mojokerto. Free variables that are examined nutrition status of mothers breastfeeding measure Body Mass Index, arm circumference above and Hb level. While the dependent variable examined is the adequacy of breastfeeding. The adequacy of breastfeeding seen through the 3 indicators, namely the adequacy of sign breastfeeding, body weight baby suckle before and after the increase in and 1 month after the baby. This research is analytical research with longitudinal design up (Cohort). Population of this research is that breastfeeding mothers have a baby aged 1-6 months and come in Posyandu Karangkedawang Village Kec. Sooko Kab. Mojokerto amounted to 73 people. Research sample is breastfeeding mothers who meet the criteria inklusi. Large sample is calculated using the formula and then be random. Large sample of 54 respondents. Data analysis techniques used to test the relationship between free variables and dependent variable is the Mann Whitney test. Based on the results of test statistics with the Mann Whitney test on the 95% level of confidence between the nutritional status of breastfeeding mothers with the adequacy of breastfeeding showed a significant relationship (p = 0.009). This explains that breastfeeding mothers who have poor nutrition affects the adequacy milk product. With the results of the research above, it is expected that the health through the Village Midwifes for more attention on the status of maternal nutrition on the nutritional needs of breastfeeding so that breastfeeding mothers can be improved by providing more counseling related to maternal nutrition and breastfeeding, such as the provision of vitamin tablets to the blood. Keywords: nutritional status, mother suckle, breastfeeding

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah gizi di Indonesia dan negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), anemia besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kekurangan Vitamin A (KVA) dan masalah obesitas terutama di kota besar. Anemi gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling umum dijumpai terutama di negara berkembang. Anemi gizi umumnya dijumpai pada golongan rawan gizi yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita serta anak sekolah (Supariasa, 2002). Prevalensi anemia yang tertinggi tidak hanya pada anak balita tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui dan ibu balita. Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma Buana pada tahun 2006-2007 menemukan 57% anak balita di 21 posyandu Jakarta, Bekasi dan Sumedang menderita kekurangan zat besi dengan konsentrasi hemoglobin <12 g/dl, sedangkan

ibu hamil 61,5%, ibu menyusui 80%, dan ibu balita 76,2% (Lubis, 2008). Studi pendahuluan yang dilakukan di Posyandu Desa Karangkedawang tanggal 13 Pebruari 2009 pada 12 ibu menyusui. Ditemukan 9 orang dengan status gizi kurang (75%) dan 3 orang dengan status gizi baik (25%). Ibu dengan gizi kurang tersebut (9 orang) didapatkan 4 (44,5%) bayi berat badannya tetap, 2 (22,2%) bayi berat badannya turun dan 3 (33,3%) bayi berat badannya naik. Ibu yang mempunyai status gizi baik (3 orang), semua bayinya (100%) mempunyai berat badan meningkat dibanding dengan berat badan bulan Januari 2009. Ibu dengan status gizi cukup akan menimbun cadangan makanan nutrien dalam tubuh yang digunakan untuk mengimbangi kebutuhan selama laktasi. Hal ini sangat penting untuk proses adaptasi terhadap perubahan anatomi dan fisiologi bayi yang berlangsung selama bulan pertama. Pada periode ini bayi juga berkembang dengan sangat cepat, oleh karena itu dibutuhkan gizi yang tinggi. Bila kebutuhan gizi bayi tidak terpenuhi maka akan memberikan kondisi

Nurul Pujiastuti adalah dosen Prodi Keperawatan Lawang Poltekkes Malang 1

1

Hal ini jelas menimbulkan gangguan pertumbuhan bagi bayi yang disusuinya (Soeharyo. pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi. produksi ASI umumnya sangat banyak sehingga akan banyak keluar diisap oleh bayi dan ibu akan lebih cepat haus serta lapar. maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian tentang hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI. Kebutuhan gizi ibu menyusui lebih besar dibanding saat hamil. Pada ibu dengan gizi buruk umumnya memproduksi ASI dalam jumlah yang lebih sedikit. Volume ASI pada bulan berikutnya menyusut menjadi 600 ml. saat ini Indonesia mengalami krisis global sehingga keadaan ekonomi masyarakat semakin menurun yang menyebabkan daya beli masyarakat juga semakin rendah. upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK). pemberian tablet besi. 2005). Ratarata volume ASI wanita berstatus gizi baik sekitar 700-800ml. Status gizi tidak berpengaruh terhadap mutu (kecuali volume) ASI. Sekresi pada hari pertama hanya terkumpul sebanyak 50 ml yang kemudian meningkat menjadi 500. Anemi pada ibu menyusui akan menyebabkan gangguan nutrisi dan produksi ASI menjadi kurang. Jumlah ASI yang disekresikan pada 6 bulan pertama sebesar 750 ml sehari. Mengukur status gizi secara biokimia (Hb/Hemoglobin). dan 750 ml masing-masing pada hari kelima bulan pertama dan ketiga. 2007). Berdasarkan hal tersebut diatas.kesehatan kurang atau kondisi defisiensi yang menyebabkan pertumbuhannya tidak optimum. Agar jumlah kalori yang keluar tersebut seimbang maka diperlukan masukan nutrisi yang seimbang karena energi ini akan diproses lagi untuk pembentukan ASI. Saat menyusui diperlukan energi ekstra untuk memulihkan kondisi kesehatan setelah melahirkan. Tanda awal gizi buruk: berat badan anak letak titiknya dalam kartu menuju sehat (KMS). Upaya penanggulangan masalah gizi kurang yang dilakukan secara terpadu antara lain: upaya pemenuhan persediaan pangan nasional. pemberian makanan tambahan (PMT). Ditambah lagi. 650. 2007). 2 . tinggi badan. Kondisi defisiensi ini merupakan awal dari keadaan gizi bayi yang buruk. 2002). Status gizi tidak mempengaruhi kualitas dari ASI sehingga ibu dengan status gizi kurang tetap dapat memberikan ASI kepada anaknya agar pertumbuhan dan perkembangan anaknya menjadi optimal (Arisman. peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dalam Posyandu hingga Puskesmas dan Rumah Sakit. Gizi buruk adalah kondisi tubuh yang tampak sangat kurus karena makanan yang dimakan setiap hari tidak dapat memenuhi zat gizi yang dibutuhkan. Penilaian status gizi ibu hamil dan ibu menyusui meliputi pengukuran Antropometri serta biokimiawi (Arisman. iodium. 2007). 2007). terutama kalori dan protein. lingkar lengan atas serta indeks massa tubuh yaitu berat badan dibagi tinggi badan dikuadratkan. 1999). sedangkan kualitasnya tergantung pada makanan yang sedang dimakan. Pada bulan pertama sesudah persalinan. Kenyataannya. 2003). Umumnya terdapat penurunan kadar lemak. meskipun pemerintah telah melaksanakan upaya penanggulangan masalah gizi kurang seperti pemberian makanan tambahan melalui posyandu tetapi masih saja ditemukan ibu menyusui atau anak balita yang mengalami kekurangan gizi. karbohidrat dan vitamin (Irawan. Selama menyusui ibu memproduksi sekitar 800-1000cc ASI (Paath. jauh berada di bawah garis merah (BGM) dan bila hal ini tidak segera ditangani maka akan terjadi kurang energi protein (KEP) (Arisman. meskipun kadar vitamin dan mineralnya sedikit lebih rendah (Arisman. 1999). Jumlah produksi ASI bergantung pada besarnya cadangan lemak yang tertimbun selama hamil dan dalam batas tertentu. Tujuan Penelitian Mengukur status gizi secara antropometri (BMI dan LILA/lingkar lengan atas). Untuk mengukur status gizi bisa dilakukan secara biokimiawi dengan pemeriksaan Hb (Soeharyo. serta upaya fortifikasi bahan makanan dengan vitamin A. dan zat besi (Almatsier. Sementara yang berstatus gizi kurang hanya berkisar 500-600 ml. untuk aktivitas sehari-hari serta pembentukan ASI. Status gizi ibu menyusui dapat diukur secara indeks antropometri yaitu kombinasi antara beberapa parameter seperti mengukur berat badan.

LILA. keadaan puting susu menonjol. dan Dinas Kesehatan Kab. Data sekunder didapat dari Polindes. Data primer dilakukan dengan wawancara dan pengukuran BMI. Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman ibu menyusui tentang pentingnya mengenali kondisi gizi ibu sendiri karena berkaitan dengan produksi ASI. Mojokerto berjumlah 73 orang. (3) Ibu dapat menyusui bayinya dengan benar (areola mammae masuk semua dalam mulut bayi. (2) Melakukan pengukuran dan dicatat pada lembar yang telah disediakan.4 Total 54 100 3 . Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan usia Usia n % 15-20 th 4 7. (6) Bayi lahir cukup bulan (aterm). Tehnik Pengumpulan Data Data diperoleh dari data primer dan data sekunder. (4) Ibu segera menyusui bayinya setelah lahir. pekerjaan. usia bayi. Puskesmas Sooko. Dilakukan analisis data secara deskriptif yaitu dengan menggambarkan masing-masing variabel dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Menganalisis hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI. jumlah anak hidup (paritas). Sooko Kab.7. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di posyandu desa Karangkedawang Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada bulan Mei – Juni 2009. mengobservasi kecukupan ASI serta menimbang berat badan bayi sebelum dan sesudah menyusu serta menimbang kenaikan berat badan setelah 1 bulan. asupan makanan yang perlu dihindari / dapat menghambat penyerapan zat besi serta pentingnya memberikan ASI eksklusif pada bayinya agar tidak menderita gizi buruk. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian analitik dengan rancang bangun longitudinal (Cohort). berat badan lahir bayi.4 21-25 th 14 25. Untuk mengetahui tingkat signifikansi adanya hubungan status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI dilakukan uji Mann Whitney karena variabel bebas berskala data nominal sedangkan variabel tergantung berskala data ordinal. pendidikan.9 26-30 th 19 35. (5) Berat badan lahir ≥2500 gram. Mojokerto. Sampel penelitian adalah ibu menyusui yang memenuhi kriteria inklusi. (2) Ibu yang memiliki anak ≤ 3 orang. bayi menyusu pada kedua payudara secara bergantian).2 31-35 th 13 24. Tehnik Analisa Data Semua data yang telah terkumpul dilakukan proses editing kemudian data tersebut diolah baik secara manual maupun melalui komputer dengan menggunakan program statistik. (3) Setelah melakukan pengukuran.1 36-40 th 4 7. responden diberi pertanyaan mengenai keluhan yang dirasakan (bila ada). Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling. kadar Hb. Menentukan besar sampel dengan menggunakan rumus dan didapatkan besar sampel sebanyak 54 responden. dan keikutsertaan KB dapat dilihat pada tabel 1. Kriteria inklusi: (1) Ibu yang memberikan ASI eksklusif. HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden Karakteristik responden berdasarkan usia.Mengukur kecukupan ASI. Pengambilan dan pengumpulan data dilakukan sebagai berikut: (1) Pada awal penelitian responden diberikan pertanyaan untuk mengetahui identitas dan karakteristik responden. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah ibu menyusui yang mempunyai bayi berusia 1-6 bulan dan berkunjung di Posyandu Desa Karangkedawang Kec.

7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak mempunyai anak 2 orang yaitu 57. Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Bayi Usia bayi n % 2-<3 bulan 14 25. 4 .7% (9 orang).3 SMP/MTs 20 37 SMA/MA 29 53.7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak tidak bekerja yaitu 88. Tabel 8 Body Mass Index Responden BMI n % Kurus tk berat 2 3.1 Belum KB 48 88. Masing-masing 7.4% (31 orang) dan paling sedikit mempunyai anak 3 orang yaitu 16.4% (24 orang).4% (4 orang). Tabel 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Keikutsertaan KB KB n % Suntik 3 bulan 6 11.3% (5 orang).4 PNS 2 3. Status Gizi Ibu Menyusui Gambaran status gizi ibu menyusui dan kecukupan ASI dapat dilihat pada tabel 8.7 Normal 21 38. Tabel 5 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anak Hidup Jumlah anak n % 1 14 25.2% (19 orang) dan paling sedikit pada kelompok usia 15-20 tahun serta 36-40 tahun.7% (2 orang).9 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak belum mengikuti KB setelah melahirkan yaitu 88.5 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia bayi dari responden paling banyak berusia 3<4 bulan yaitu 42.3 Gemuk tk berat 4 7.1% (6 orang).7% (2 orang).9 3-<4 bulan 23 42.6% (30 orang) dan yang beresiko KEK ada 44.6% (23 orang) dan paling sedikit berusia 2-<3 bulan yaitu 25.9% (48 orang) dan paling sedikit bekerja sebagai PNS yaitu 3.6 Beresiko KEK 24 44.7 Kurus tk ringan 22 40.4 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak mempunyai Body Mass index adalah kurus tingkat ringan yaitu 40. Tabel 9 Lingkar Lengan Atas Responden LILA n % Tidak beresiko KEK 30 55.9% (34 orang) dan paling sedikit mempunyai berat badan lahir 3500-4000 gram yaitu 5.6 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak mempunyai bayi dengan berat badan lahir 2500-2999 yaitu 62.7% (22 orang) dan paling sedikit kurus tingkat berat yaitu 3.4 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak tidak beresiko KEK yaitu 55.6% (3 orang). Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan n % Tidak bekerja 48 88.6 4-<5 bulan 17 31.9 3000-3499 gram 17 31. Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Berat Badan Lahir Bayi Berat Badan Lahir n % 2500-2999 gram 34 62. Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan n % SD/MI 5 9.9 2 31 57.9 Swasta 4 7.7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak berpendidikan SMA yaitu 53.13 di bawah ini.9% (48 orang) dan yang sudah mengikuti KB suntik ada 11.Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak pada kelompok usia 26-30 tahun yaitu 35.9% (14 orang).5 3500-4000 gram 3 5.4 3 9 16.9 Gemuk tk ringan 5 9.7% (29 orang) dan paling sedikit berpendidikan SD/MI yaitu 9.

Umumnya penyebab langsung gizi kurang adalah asupan makanan yang kurang termasuk proses pengolahan dan pemasakan makanan karena berpengaruh terhadap kandungan zat gizi bahan makanan tersebut terutama vitamin dan mineral (Supariasa.7 Cukup 50 92.6 Anemia ringan 29 53. Untuk proses pembentukan ASI maka cadangan zat gizi pada tubuh dipergunakan sehingga semakin lama ibu menjadi kurus dan dalam keadaan tertentu ibu dapat menderita kurang gizi (Paath. 1998) menyatakan bahwa asupan kalori yang kurang dari 15001700 kcal per hari dapat mengurangi 15% volume ASI yang diproduksi sehingga merekomendasikan bahwa ibu menyusui tidak boleh melakukan diet untuk menurunkan berat badan. Hasil analisa statistik dengan uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95% antara status gizi dengan kecukupan ASI menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0.3 Buruk 2 3. Sedangkan tinggi badan tidak banyak terpengaruh. Tabel 12 Kecukupan ASI Kecukupan ASI n % Berlebih 2 3. Menurut (Mackey et al.7%. Dewasa ini di Indonesia terjadi dua masalah gizi yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Menurut peneliti.7% (2 orang).7% (2 orang). Penurunan berat badan ini tidak boleh melebihi 2 kg/bulan (Arisman. 2002).0 kg tiap bulan.6 Kurang 2 3.3% (49 orang). keadaan responden yang sebagian besar kurus tingkat ringan disebabkan kebiasaan ibu-ibu di desa karangkedawang yang lebih memberikan perhatian khusus pada kepala keluarga dan anak-anak yang lebih kecil dalam menyusun dan menghidangkan makanan.7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecukupan ASI paling banyak adalah cukup yaitu 92. Berat badan ibu menyusui akan berkurang sekitar 0. 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai BMI kurus tingkat ringan yaitu 40.Body Mass Index (BMI) Tabel 10 Kadar Hb Responden Hb n % Normal 23 42. Sedangkan gizi lebih disebabkan asupan kalori yang tinggi tetapi pemakaian energi rendah sehingga penyimpanan lemak meningkat (Supariasa.9 Buruk 0 0 1 50 1 50 Gizi Pada ibu menyusui dapat terjadi gizi kurang ataupun gizi lebih. Hal ini menjelaskan bahwa berat badan bersifat labil artinya dapat berubah dengan segera bila terjadi kondisi yang memburuk seperti asupan makanan yang kurang. berlebih dan kurang masing-masing 3.7% (2 orang). kurang pendidikan serta kurang ketrampilan. Tabel 13 Hubungan antara Status dengan Kecukupan ASI Status Kecukupan ASI gizi Berlebih Cukup Kurang n % n % n % Baik 2 3.7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden paling banyak menderita anemia ringan yaitu 53. Tabel 11 Status Gizi Responden Status Gizi n % Baik 52 96. Keteraturan memberikan ASI akan membantu penurunan berat badan.5-1.7 Total 54 100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu menyusui paling banyak adalah baik yaitu 96.009). Akar masalahnya adalah akibat krisis ekonomi. 2002). 2005).3% (52 orang) dan yang mempunyai status gizi buruk yaitu 3. PEMBAHASAN 5 . Ibu biasanya cenderung memilih konsumsi makanan yang tidak dihabiskan keluarga karena dibuang sayang sehingga lebih memilih untuk menghabiskannya tanpa Total n % 52 100 2 100 Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa responden paling banyak mengalami status gizi baik dengan kecukupan ASI cukup yaitu 94. Dengan pokok masalah adalah kemiskinan.6% (50 orang).7% (29 orang) dan paling sedikit menderita anemia berat yaitu 3. Gizi kurang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dan penyakit infeksi.3 1 1.7 Anemia berat 2 3.8 49 94.

2007). Ditemukan ada perbedaan angka prevalensi KEP yang cukup berarti antara penggunaan LILA dengan BB menurut umur atau BB menurut TB meskipun terdapat korelasi statistik yang berarti antara indeksindeks tersebut dengan LILA (Supariasa. masak. mandi. Ditambah keadaan ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk ibu menyusui memenuhi kebutuhan gizinya. Bila musim panen padi maupun hasil pertanian lainnya (kacang panjang. responden sebagian besar tidak beresiko KEK karena pengukuran LILA hanya ada 2 kategori sehingga responden yang mengalami kegemukan dan BB normal masuk dalam kategori tidak beresiko KEK. Kadar Hb Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan obyektif daripada hanya menilai konsumsi pangan atau pemeriksaan antropometri saja. Hal ini menjelaskan bahwa lingkar lengan atas kurang sensitif untuk orang dewasa tetapi sensitif untuk golongan prasekolah (Supariasa. pubertas. Dalam penelitian ini adalah anemia besi. Didapatkan p=0. 2005) menemukan bahwa tidak ada pengaruh antara status gizi ibu menyusui (LILA) terhadap eksklusifitas menyusui. dll. Menurut peneliti.menghiraukan keseimbangan gizinya. Hal ini menjelaskan bahwa ibu yang menyusui membutuhkan zat besi yang lebih besar untuk proses memproduksi ASI. Pada musim kemarau. Responden penelitian ada 80 orang. Menurut (Johannes. mengambil air dari sumur kemudian dibawa ke kebunnya untuk menyiram agar hasil panennya bagus.5cm (tidak beresiko KEK) yaitu 55.5cm). zat besi yang seharusnya hilang bersama darah haid dialihkan sebagian (±0.3mg) kedalam ASI sebagai tambahan kehilangan basal. Menurut peneliti. Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi. pola makan.5% yang terus berlanjut sampai proses menyusui. masa kehamilan dan menyusui (Arisman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami anemia ringan yaitu 53. 2002). pubertas. Menurut (Soemantri. jagung.6%. Menurut (Wahyuni.53 yang berarti tidak ada pengaruh antara ibu yang KEK maupun non KEK terhadap eksklusifitas menyusui. status gizi. fasilitas kesehatan serta daya tahan tubuh. 2004) menemukan bahwa prevalensi anemia besi yang terbesar adalah pada wanita hamil dan menyusui yaitu 50-70% dibanding dengan wanita yang tidak hamil/menyusui.5 cm ada 46 orang. 2002). dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok beresiko KEK ada 34 orang dan kelompok tidak beresiko KEK yang ditandai ukuran LILA ≥23. responden sebagian besar mengalami anemia ringan karena umumnya ibu-ibu mempunyai kebiasaan 6 . Selama menyusui. Hb adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Dari SKRT (1995) dikatakan bahwa prevalensi anemia besi rata-rata nasional ibu hamil adalah 63. masa kehamilan dan menyusui. pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai lingkar lengan atas ≥23. Pengukuran LILA merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh serta harganya murah (Supariasa. Lingkar Lengan Atas (LILA) Pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur (WUS) adalah salah satu cara deteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat umum untuk mengetahui kelompok beresiko kekurangan energi kronis (KEK). Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi. 2002). Pemeriksaan biokimia yang sering digunakan adalah tehnik pengukuran kandungan berbagai zat gizi dan substansi kimia lain dalam darah (misal pemeriksaan Hb). ketela pohon) ikut mengangkat hasil pertanian ke rumahnya atau membantu menumbuk padi. 1983) menyatakan bahwa anemia dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Sehingga umumnya ibu-ibu mempunyai ukuran lingkar lengan atas yang besar (≥23.7%. Ibu-ibu desa karangkedawang terbiasa bila mengambil air di sumur dengan menggunakan peralatan tradisional (kerekan / timba) untuk kegiatan sehari-hari seperti cuci.

Apabila bayi berhenti mengisap. 2002). Ditunjang kebiasaan mengonsumsi sayuran yang dapat meningkatkan produksi ASI seperti daun katuk. melancarkan metabolisme tubuh. Dan pendidikan responden yang sebagian besar SMA/MA sehingga mudah menerima dan memahami penjelasan yang diberikan oleh bidan. berlaku prinsip “supply and demand”. 2004). dilaksanakan oleh responden sehingga produksi ASI terus meningkat. Ada beberapa sayuran yang dapat memperbanyak pengeluaran ASI yaitu daun katuk. sehingga makin banyak ASI dikeluarkan. Gizi berfungsi sebagai sumber utama energi atau kalori yang berguna untuk metabolisme tubuh. Selain itu. maka makin banyak pula ASI diproduksi. Faktor yang dapat meningkatkan refleks oksitosin antara lain: melihat bayi. Responden dalam proses menyusui bayinya yang menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat. cara menyusui yang benar yang telah diajarkan oleh bidan saat persalinan.4%. Hal ini menjelaskan bahwa kecukupan ASI dipengaruhi oleh kekuatan. sawi dan kacang-kacangan (Paath. frekuensi. Kecukupan ASI Kecukupan ASI dapat dilihat dari tanda yang terlihat pada bayi seperti pengeluaran ASI. obat-obatan. kerja organ tubuh (seperti aktivitas fisik). dan kacang-kacangan. dan lama penyusuan sehingga produksi ASI terus berjalan. Sedangkan faktor yang dapat meningkatkan refleks prolaktin antara lain: rangsangan/isapan bayi. frekuensi menyusu. Produksi ASI dirangsang oleh pengosongan payudara. 2008). Untuk menunjang antropometri 7 . memikirkan untuk menyusu bayi serta isapan bayi. 1997). Bila kedua refleks tersebut berjalan dengan baik maka produksi ASI akan tetap berlangsung. 2002). keadaan buah dada serta frekuensi bayi mengompol (Purwanti. Komposisi makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi dengan menu yang kurang beragam sehingga asupan zat besi rendah. sedangkan pada anak kelima dan seterusnya mengalami penurunan volume ASI (Supariasa. selama itu payudara ibu akan tetap melanjutkan produksinya. 2007). jumlah paritas juga mempengaruhi produksi ASI yang dihasilkan (Soetjiningsih. Pada anak pertama sampai keempat volume ASI akan meningkat. riwayat obstetrik) dan eksternal (asupan makanan. mencium bayi. TB) dan proporsi jaringan tubuh (LILA). mendengarkan suara bayi. memberikan kekebalan tubuh untuk melawan penyakit atau resiko terkena penyakit serta untuk mengganti sel-sel yang baru (Eisenberg. Faktor yang mempengaruhi status gizi yaitu konsumsi makanan dan tingkat kesehatan. 2005). ASI diproduksi sesuai dengan jumlah permintaan dan kebutuhan bayi. Menurut peneliti. Ketidakseimbangan ini terlihat pada fisik (BB. lingkungan) (Supariasa. maka payudara ibu pun akan berhenti memproduksi ASI (Erlina. Kecukupan ASI juga dipengaruhi oleh refleks yang berperan dalam pembentukan dan pengeluaran ASI.6%. 2002). responden sudah berpengalaman dalam menyusui bayinya karena sebagian besar responden sudah mempunyai anak >1 yaitu 57. teh) secara bersamaan pada waktu/setelah makan sehingga menyebabkan serapan zat besi semakin rendah. frekuensi dan lama penyusuan (Arisman.V di New Guinea (1995) ditemukan bahwa kenaikan jumlah anak menyebabkan perubahan terhadap volume ASI yang dihasilkan. yaitu refleks prolaktin dan oksitosin. Cara pengolahan dan pemasakan sayuran juga mempengaruhi kandungan zat gizi terkandung. Selama bayi masih melanjutkan permintaannya akan ASI (dengan masih mengisap ASI). Hubungan status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi (Almatsier.mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi (seperti kopi. Berat badan lahir juga mempengaruhi kecukupan ASI karena berkaitan dengan kekuatan mengisap. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. 1999). Selain itu dipengaruhi oleh internal (genetik. kenaikan berat badan bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden cukup untuk kecukupan ASI yaitu 92. Disamping itu. Penilaian status gizi secara langsung salah satunya dengan mengukur antropometri. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh pendapatan dan tersedianya bahan makanan. Penelitian dari Bailey K.

Responden penelitian sebanyak 15 orang.319). 2007.com [diakses tanggal 20 Desember 2008] Erlina.009). 2007) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara status gizi ibu menyusui dengan volume ASI. Sunita. Saat dilakukan uji statistik antara BMI dengan kecukupan ASI maupun LILA dengan kecukupan ASI didapatkan hasil yang tidak bermakna (p=0. Status gizi ibu dilihat dengan mengukur BB ibu menyusui. Available from: http://kuliah_bidan. 1983.009). normal maupun gemuk tetap dapat menghasilkan volume ASI yang cukup untuk bayinya (Litbang. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Sedangkan pada uji statistik antara Hb dengan kecukupan ASI didapatkan hasil yang bermakna (p=0. penyuluhan tentang faktor yang dapat menghambat atau meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. 2002.wordpress. Nairobi: Oxford University Press Djaeni. Panduan Materi dan KIE Menuju Kehamilan yang Aman dan Sehat. hanya 1 orang mempunyai bayi dengan BB kurang dan 8 ibu mempunyai bayi dengan BB sesuai usia. PENUTUP Kesimpulan Ibu menyusui dengan gizi buruk akan mempengaruhi kecukupan ASInya karena tubuh membutuhkan zat gizi yang cukup untuk memproduksi ASI tetapi tubuh tidak dapat memenuhi sehingga zat gizi tersebut diambil dari tubuh ibu sehingga makin lama ibu akan mengalami gizi yang bertambah buruk.dilakukan pemeriksaan biokimia agar memberikan hasil yang lebih tepat dan obyektif daripada hanya menilai antropometri saja. bila dicari yang paling berpengaruh terhadap kecukupan ASI adalah kadar Hb ibu menyusui. Jakarta: EGC BKKBN Propinsi Jawa Timur. Apakah bayiku sudah cukup mendapatkan ASI? [internet] 19 Juli. Jakarta: Perinasia Almatsier.com [diakses tanggal 20 Desember 2008] Erlina.005). Saran Hendaknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang pentingnya asupan makanan yang mengandung zat besi untuk meningkatkan status gizi ibu menyusui. menghilangkan kebiasaan minum the/kopi setelah makan untuk penyerapan zat besi dalam tubuh serta pemberian vitamin yang mengandung zat besi (Tablet Tambah Darah) untuk ibu menyusui karena kebutuhan zat besi yang meningkat selama menyusui bayinya. 2008. DAFTAR PUSTAKA Akre. Ada hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI (p=0. 2008. Pemberian Makanan Untuk Bayi. Cameron. Ilmu Gizi. 2000.wordpress. James. Ibu dengan status gizi tidak baik ada 6 orang (40%). 1994. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Dian Rakyat Erlina. Hasil uji statistik dengan uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95% antara status gizi ibu menyusui dengan kecukupan ASI menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0. Ibu menyusui yang mengalami anemia akan terganggu dalam penyerapan nutrisi dan akhirnya dapat mempengaruhi produksi ASI. Jadi. Available from: http://kuliah_bidan. 2000). Status gizi ibu menyusui diukur dengan mengukur indeks massa tubuh. 2006) menemukan adanya hubungan antara gizi ibu menyusui dengan berat badan bayi usia 1-4 bulan. Achmad. Menurut (Admin. Hal ini disebabkan saat menyusui kebutuhan akan zat besi meningkat sehingga bila kadar zat besi dalam darah kurang akan mempengaruhi kecukupan ASI. Ibu dengan gizi baik ada 9 orang (60%). Surabaya: BKKBN. Manual on feeding infants and young children. Gramedia Pustaka Utama Arisman. 8 . Menurut (Yayak Dyah. semuanya mempunyai bayi dengan BB kurang.129 dan p=0. Jakarta: PT. Produksi ASI dan faktor yang mempengaruhinya [internet] 12 Oktober. Hal ini menjelaskan bahwa ibu menyusui dengan gizi buruk akan mempengaruhi kecukupan ASInya karena tubuh membutuhkan zat gizi yang cukup untuk memproduksi ASI tetapi tubuh tidak dapat memenuhi sehingga zat gizi tersebut diambil dari tubuh ibu sehingga makin lama ibu akan mengalami gizi yang bertambah buruk. Ibu menyusui yang kurus. 2008. Prolaktin (hormon yang menghasilkan ASI) [internet] 19 September.

Metode Penelitian Kuantitatif. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif. I Dewa Nyoman. Pola Dasar Makanan Bayi dan Anak. 1991. RSUD Dr. Available From: http://ipmg online. Jakarta: EGC. Available from: http://dokteranakku. Cegah anemi pada ibu dan anak di pulau seribu [internet] 3 Juli. Surabaya: Universitas Airlangga Yayak. Surakarta. Moewardi.2: 114-126 Paath. Hubungan antara gizi ibu menyusui dengan berat badan bayi usia 14 bulan di Malang. 2008. Surabaya Irwan. Florida: CRC press Irawan. Ibu Menyusui dan Anak Balita serta akibatnya. Jakarta: Arcan. 2005. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi Vol 6 No. 2001. 2005. 2002. Penilaian Status Gizi. Kualitatif dan R&D. Roedi. Pudjiati.com [diakses tanggal 24 Desember 2008] Lubis. Seminar: Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Gizi Keluarga di masa krisis. 2008.com [diakses tanggal 10 Januari 2009] Falkner. Alamat Penulis: Nurul Pujiastuti Prodi Keperawatan Lawang Poltekkes Malang Jl. Solihin. Hubungan Lingkar Lengan Atas dan Kadar Hb dengan BBLR di RSUD DR. 1999. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Alfabeta. 2004. Masalah Kurang Gizi Pada Ibu Hamil. Supariasa.Available from: http://kuliah_bidan. Semarang. 2003. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Satyanegara.com [diakses tanggal 20 Januari 2009] Mutalazimah. Available From: http://gizi-net.wordpress. Jakarta: EGC Wahyuni. 27 Oktober 1999 Sugiono. Soeharyo. Karya Tulis Ilmiah Poltekkes Malang. Soetomo. 2006. Boca Raton. Infant and child nutrition worldwide issues and perspectives. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. 2008.com [diakses tanggal 20 Januari 2009 Windhu. Panduan lengkap perawatan untuk bayi dan balita. Masalah kurang gizi di Indonesia [internet] 3 April. Bandung: CV. Praktek Menyusui yang Benar[internet] 6 Pebruari. A Yani Lawang 65218 Alamat koresponden: Griya Surya Asri A4-20 Candi Sidoarjo 61271 9 . 2008.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful