HUKUM ISLAM DALAM DINAMIKA PERUBAHAN SOSIAL

Secara etimologis, kata hukum bermakna “menetapkan sesuatu pada yang lain” seperti menetapkan mana yang diperintah dan mana yang dilarang. Isyilah yang ditemukan Abu Zahrah, hokum adalah titah Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun wad’i. Hokum islam disyariatkan Allah kepada manusia di dunia yang menyangkut berbagai macam persoalan, mereka diharapkan mengikuti hokum islam tersebut agar mendapat kebahagiaan dalam hidupnya. Tata kehidupan manusia perlu diatur dengan hokum Allah ( An-Nisa : 105 ). Tujuan disyaritkan hokum islam adalah untuk mewujudkan kehidupan hasanah bagi mereka, baik hasanah di dunia maupun hasanah di akhirat. Hukum islam adalah hokum yang ditetapkan Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul-Nya, melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadist. Keberadaan hukum islam adalah untuk mengatur kehidupan masyarakat agar menjadi teratur. Menurut Al-Qur’an surat An-Nisa:59, stiap muslim wajib menetapi kemauan atau kehendak Allah, rasul, daan kehendak Ulil Amri, yakni orang yang mempunyai kekuasaan dengan ilmu yang dimiliki. Kehendak Allah berupa ketetapan dalam AlQur’an, kehendak Rasullah berupa kitab-kitab hadist sebagai penjelas al-quran, sedangkan kehendak penguasa sekarang termaktub dalam konstitusi.

HUKUM ISLAM DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN SOSIAL
Konsep hukum islam adalah menegakkan keadilan dan kebersamaan dalam kebaikan. Keadilan dan kebersamaan adalah inti yang membangun hokum itu sendiri. Artinya bahwa penerapan hokum tak pandang bulu, semuanya berposisi sama. Hukum merupakan “panglima” yang menjaga hak dan kewajiban antar warga dengan Negara sebagaimana telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sumber Hukum Islam
Pada umumnya, ulama memaparkan bahwa sumber hukum islam ada 3, yaitu al-qur’an, hadits, dan ijtihad. 1. Al-Qur’an Al-quran adalah wahyu Allah dan merupakan landasan syari’at islam. Ditinjau dari sumber hokum, posisi al-quran adalah sumber hokum yang utam. Disamping sebagai

Secara terminology ijtihad berarti mengarahkan kemampuan secara maksimal dalam mengungkap kejelasan dan memahami ayat Al-Qur’an dan Sunnah yang penunjukkan materi serta memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan masyarakat berdasarkan prinsip dan nilai islam. Menetapkan hukum yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an (bayan tasyri’) 1. berusaha keras.sumber hokum. Al-quran mempunyai criteria-kriteria antara lain : • • • • • Firman Allah atau Kalamullah Mukjizat Disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikay Jibril Diawali surat al-Fatihah ditutup dengan surat An-Nas Diperintahkan untuk dibaca Fungsi al-Qur’an antara lain • • • Sebagai petunjuk Sebagai penjelas Sebagai pembeda 1. Memberi penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an 3. As-Sunnah atau Al-Hadits Sunnah atau Hadits merupakan sumber kedua setelah al-qur’an. Ijtihad bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat islam yang tak terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah dalam menanggapi hal-hal baru dan kemodernan. Fungsi Hukum Islam dalam kehidupan Bermasyarakat . Ijtihad Kata ijtihad dan jihad mempunyai akar kata yang sama yaitu jahada (jahd) yang artinya berusaha sekuat tenaga. al-quran juga sebagai penegas dibidang aqidah. Menetapkan dan memperkuat hokum-hukum yang ditentukan dalam Al-Qur’an (bayan ta’qid) 2. ibadah dan member motivasi bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Fungsi dan kedudukan hadits sebagai sumber hukum 1. Sebagai sumber kedua merupakan kewajiban umat dapat merealisasikan perjalanan nabi (sunahnya) kedalam kehidupan sehari-hari karena dalam kehidupan rasul itu sudah ada contoh teladan yang baik untuk manusia. bersungguh-sungguh.

yakni : • • Fungsi Ibadah : fungsi paling utama hokum islam yaitu adalah pdoman dalam beribadah kepada Allah SWT. Marx Weber dan Emile Durkheim menyatakan bahwa “hukum merupakan refleksi dari solidaritas yang ada dalam masyarakat”. aman dan sejahtera. Pada dasarnya pembaruan pemikiran hukum Islam hanya mengangkat aspek lokalitas dan temporalitas ajaran Islam.17 tahun 1999 tentang penyelenggaraan haji. adanya kontak atau konflik antarkehidupan masyarakat.menuju keseimbangan manusia antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. adalah dengan cara menghidupkan dan menggairahkan kembali semangat berijtihad di kalangan umat Islam. Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum Pada akhir-akhir ini kontribusi umat islam semakin nampak jelas dengan diundangkannya peraturan UU yang berkaitan hokum islam. dan setiap perubahan sosial pada umumnya meniscayakan adanya perubahan sistem nilai dan hukum. Menurutnya. misalnya UU RI No. adanya komulasi progresif dari penemuanpenemuan di bidang teknologi.Peranan dan fungsi hokum islam dalam kehidupan bermasyarakat adalah untuk mengatur agar hubungan itu berjalan dengan baik.2 Menurut teori-teori di atas. Fungsi Tanzim wa islah al-ummah : sarana untuk mengatur sebaik mungkin dan memperlancar proses interaksi social.7 tahun 1989 tentang peradilan agama smapai UU RI No. Arnold M. dan ketiga. Pada posisi ini ijtihad merupakan inner dynamic bagi lahirnya perubahan untuk mengawal cita-cita universalitas Islam sebagai sistem ajaran yang shalihun li kulli zaman wal makan.28 tentang perwakafan tanah milik. tanpa mengabaikan aspek universalitas dan keabadian hukum Islam itu sendiri. responsif dan punya adaptabilitas yang tinggi terhadap tuntutan perubahan. Umat . Senada dengan Marx Weber dan Durkheim. jelaslah bahwa hukum lebih merupakan akibat dari pada faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan sosial. termasuk di dalamnya pembaruan hukum Islam. Usaha yang dilakukan untuk menegakkan hokum islam dalam praktik bermasyarakat dan bernegara harus melalui proses cultural dan dakwah. sehingga dapat terwujud masyarakat yang harmonis. Rose mengemukakan teori umum tentang perubahan sosial hubungannya dengan perubahan hukum. pertama. Islam dan Perubahan Sosial Masyarakat dengan berbagai dinamika yang ada menuntut adanya perubahan sosial. UU RI No. adanya gerakan sosial (social movement).1 tahun 1974 tentang perkawinan. PP No. perubahan hukum itu akan dipengaruhi oleh tiga faktor. Tanpa adanya upaya pembaruan hukum Islam akan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam memasyarakatkan hukum Islam khususnya dan ajaran Islam pada umumnya. Pengaruh-pengaruh unsur perubahan di atas dapat menimbulkan perubahanperubahan sosial dalam sistem pemikiran Islam. kedua. Smentara peran utamanya. Untuk mengawal hukum Islam tetap dinamis.

ijtihad dalam melakukan qiyas terhadap hukum-hukum . terutama dalam hubungannya dengan penerapan di dalam dan di Dinamisasi Ajaran Islam Melalui Ijtihad Landasan normatif ijtihad sebagai sumber hukum sekaligus sebagai metodologi istinbat hukum dalam rangka dinamisasi ajaran agama adalah dialog Rasulullah dengan sahabat Muadz Ibn Jabal yang menyatakan bahwa ia akan melakukan ijtihad bila tidak mendapatkan ketentuan hukum dalam al-Qur’an dan Hadis dari suatu kasus hukum.4 Semangat atau pesan moral yang bisa kita pahami dari pernyataan Ibnu Rusyd di atas adalah anjuran untuk melakukan ijtihad terhadap kasus-kasus hukum baru yang tidak secara eksplisit dijelaskan sumber hukumnya dalam nash. sementara jumlah nash (baik al-Qur’an dan al-Hadis). Ijtihad merupakan satu-satunya jalan untuk mendinamisir ajaran Islam sesuai dengan tuntutan perubahan zaman dengan berbagai kompleksitas persoalannya yang memasuki seluruh dimensi kehidupan manusia. tetapi ada larangan mengucapkan kata-kata kasar (uff) terhadap orangtua. Karena tidak jelas dan tidak langsungnya penjelasan al-Qur’an dan al-Hadits. Hukum memindahkan organ tubuh orang mati kepada orang yang masih hidup (tranplantasi) tidak ada ketentuan nashnya yang secara spesifik merujuk pada hal itu. menurut Amir Syarifudin dapat dilihat dari dua segi sebagai berikut. “Agama dalam pengertiannya sebagai wahyu Tuhan tidak berubah. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayat al-Mujtahid menyatakan bahwa: Persoalan-persoalan kehidupan masyarakat tidak terbatas jumlahnya. maka diperlukan upaya ijtihad. jumlahnya terbatas. pertama. kedua. 1. Contoh pada kasus ini adalah gerakan kodifikasi al-Qur’an dalam satu mushaf. ijtihad dalam rangka memberi penjelasan dan penafsiran terhadap nash. tetapi pemikiran manusia tentang ajarannya. al-Qur’an dan al-Hadis memang tidak menyinggung hukum suatu kasus. Al-Qur’an dan al-Hadis secara jelas dan langsung tidak menetapkannya. namun secara tidak langsung atau bagiannya ada penjelasannya. Contoh hukum memukul kepala orangtua tidak ada aturan secara eksplisit dalam alQur’an. maka perlu ditegaskan aspek mana yang mengalami perubahan (wilayah ijtihadiyah). mustahil sesuatu yang terbatas jumlahnya bisa menghadapi sesuatu yang tidak terbatas. Mengingat hukum Islam merupakan salah satu bagian ajaran agama yang penting. Sementara itu. namun ada larangan merusak jasad orang mati. Tidak terdapatnya penjelasan hukum dalam al-Qur’an dan al-Hadis. menurut Muhammad Musa al-Tiwana. Oleh karena itu. Menurut hasil seminar yang diselenggarakan oleh IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada awal Desember 1994 disebutkan. sementara kasus-kasus baru di bidang hukum tidak terbatas jumlahnya. Dengan demikian.Islam menyadari sepenuhnya bahwa sumber-sumber hukum normatif–tekstual sangatlah terbatas jumlahnya. tidak secara keseluruhan dan tidak pula sebagiannya. objek ijtihad itu dapat di bagi menjadi tiga bagian. 2. Secara jelas. Oleh karena itu.

7 Pendekatam Studi Keislaman Bertitik tolak dari objek ijtihad di atas. Dalam kajian ushul fiqh. Ketiga. tempat. Asumsi dasar dari penalaran ini bahwa nash-nash dalam masalah hukum sebagian diiringi dengan penyebutan illat-nya. perubahan sosial budaya dan letak geografis menjadi variabel penting yang ikut mempengaruhi adanya perubahan hukum. Islam meyakini perubahan sebagai suatu realitas yang tidak bisa diingkari.9 Di sinilah sesungguhnya tugas seorang cendekiawan muslim untuk merumuskan pendekatan dan metodologi yang tepat sesuai dengan konteks yang melingkupinya agar agama menjadi fungsional dan bisa membumi. dan penalaran istislahi. pendekatan ini mencoba memahami ketentuan nash tanpa terikat secara kaku dengan bunyi teks dan mengalihkan perhatiannya pada upaya mencari semangat moral yang terkandung dalam nash. Dua corak penalaran dalam berijtihad tersebut adalah. Oleh karena itu. Agama berjalan bersama beriringan dengan lajunya kehidupan. Kedua model penalaran di atas bertumpu pada penggunaan al-ra’yu. Pandangan al-Tiwana tersebut mengacu pada dua pemeliharaan objek ijtihad yang luas. corak ta’lili ini mewujud dalam bentuk qiyas dan istihsan. upaya merumuskan illat hukum dan pesan moral nash dengan melihat setting sosial dan konteks zamannya. Dalam hukum Islam. terdapat tiga karakter yang melekat dalam dua pendekatan di atas. al-mutlaq (mutlak) dan al-muqayyad (makna yang dibatasi). Pertama. Kedua. maka dua corak/pendekatan penalaran di atas tampak lebih responsif dan solutif dalam menjawab masalah hukum. Islam juga memberi posisi yang paling tepat demi memudahkan semua hal untuk berubah secara shahih dan aman. penalaran ta’lili. istihsan dan dalil-dalil hukum lainnya.yang telah ada dan telah disepakati. cara yang ditempuh adalah penelitian dalam menentukan makna al-‘aam (umum) atau al-khash (khusus). persoalan-persoalan yang sama sekali belum ada nashnya. maka pemecahannya dilakukan melalui ijtihad dengan menggunakan qiyas. Pada hal yang semacam ini. ada dua corak penalaran yang perlu dikemukakan dalam upaya menggali maqashid al-syari’ah. ijtihad dalam arti penggunaan ra’yu. Tugas agama adalah mengawal perubahan secara benar untuk kemaslahatan hidup manusia. Terhadap objek yang seperti ini. namun masih bersifat dzanny (dugaan). Adapun penalaran Istislahi adalah upaya penggalian hukum yang bertumpu pada prinsip-prinsip kemaslahatan yang disimpulkan diri nash. adalah persoalan-persoalan yang sudah ada ketentuan nashnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa “perubahan fatwa adalah dikarenakan perubahan zaman. dan kebiasaan”10 Dalam kaidah fiqh lainnya disebutkan “hukum itu berputar bersama illatnya (alasan hukum) dalam mewujudkan dan meniadakan hukum” . keadaan. Tawaran teoritik dua pendekatan ini adalah kerja ilmiah melalui deduksi analogis dengan dasar pijakannya kemaslahatan. Dalam kaitan dengan dinamika masyarakat yang selalu berubah diiringi dengan munculnya masalah yang kompleks. upaya mengganti pendekatan ta’abudi kepada pendekatan ta’aquli. Kedua. ketiga. Penalaran ta’lili adalah upaya penggalian hukum yang bertumpu pada penentuan illat-illat hukum yang terdapat dalam suatu nash. Pertama.

13 Dalam posisi demikian. Dalam konteks historis. Untuk menempatkan hukum pada posisi yang betul-betul fungsional dalam menghadapi setiap perubahan sosial. memahami faktor sosio–kultural dan setting politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk hukum agar dapat memahami partikularisme dari pemikiran hukum tersebut. Dalam konteks ini.12 Perbedaan pendapat hukum dalam masalah yang sama dari seorang Mujtahid Imam Syafi’i jelas disebabkan faktor struktur sosial. Pendapat lama (qaul qadim) adalah pendapat hukum Imam Syafi’i ketika beliau berada di Mesir. istishab. untuk melakukan upaya pembaruan pemikiran hukum Islam (fiqh) diperlukan beberapa syarat. Akan tetapi. pemikiran bidang hukum Islam sesungguhnya memperlihatkan kekuatan yang dinamis dan kreatif dalam mengantisipasi setiap perubahan dan persoalan-persoalan baru. diperlukan terobosan metodologis disertai kemampuan membaca fenomena zaman. dan ilmu tata bahasa Arab. kedua. budaya. Keterbatasan alternatif yang dibingkai dengan sekat . perlu juga memahami pemikiran hukum yang tidak dibatasi sekat-sekat madzhab. tetapi perlu dicari keterkaitan secara organik dan struktural dalam kehidupan sosial. adanya tingkat pendidikan yang tinggi dan keterbukaan dari masyarakat muslim. Diharapkan melalui pendekatan konvergensi antara ilmu ushul fiqh dan ilmu-ilmu lainnya akan dapat mengurangi formalisme hukum Islam. seperti ilmu-ilmu tafsir. hukum Islam (fiqh) harus dipandang sebagai variasi suatu keragaman yang bersifat partikular yang selalu dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. istihsan. mengorientasikan istinbat hukum dari aspek qaulan (materi hukum) kepada aspek manhajan (kerangka metodologis). tidak hanya dilihat sebagai fenomena keagamaan saja. segala permasalahan bisa didekati dan dicari legalitas hukumnya dengan metode qiyas. letak geografis yang berada antara daerah Iraq (Baghdad) dan Mesir. ketiga. Oleh karena itu. keempat. pemaknaan hukum Islam tidak harus dilihat dari perspektif nilai saja. antara nilai-nilai Islam dengan kenyataan struktural masyarakat. Transformasi pemikiran hukum Islam di Indonesia merupakan suatu pergumulan kreatif antara Islam dengan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari munculnya sejumlah madzhab hukum yang memiliki corak sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang sisiokultural dan politik di mana madzhab itu tumbuh dan berkembang. pertama. Dengan perangkat metodologi tersebut. hukum Islam akan berfungsi sebagai rekayasa sosial (social engineering) untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. maslahah al-mursalah.Salah satu bukti konkret betapa faktor lingkungan sosial budaya berpengaruh terhadap hukum Islam adalah munculnya dua pendapat Imam Syafi’i yang dikenal dengan qaul qadim dan qaul jadid. Banyak perangkat ilmu bantu yang bisa menopang perumusan hukum menjadi aplikatif. Di sinilah letak pentingnya fenomena transformasi pemikiran hukum Islam. dan ‘urf. tarikh. Warisan monumental yang sampai sekarang masih memperlihatkan akurasi dan relevansinya adalah kerangka metodologi penggalian hukum yang mereka ciptakan. Di samping itu. maka program pembaruan pemikiran hukum Islam adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari proses kehidupan masyarakat yang selalu berubah.

Hukum islam yang secara jelas dan tegas disebutkan melalui ayat atau nash AlQur’an atau Sunnah yang tidak mengandung makna metaforis (penta’wilan) dikenal dengan istilah “Syari’ah”. . Hukum – hukum itu merupakan jaminan dari Allah dan rasulnya terhadap manusia di muka bumi. yakni sumber penalaran akal melalui proses ijtihad para ahli (melalui jalur ijma. atau dengan kata lain untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia. Pada prinsipnya fungsi utama hukum islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Sedangkan hukum islam yang tidak/belum disebutkan secara jelas dan tegas oleh nash-nash tersebut yakni yang masih memerlukan proses ijtihad para ulama mujtahidin. dll). qiyas. karena hukum islam beorientasi pada keadilan dan kesetaraan manusia. Hukum islam bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang baik dan teratur bagi manusia dalam kehidupan individu maupun kemasyarakatan. Barang siapa yang berpedoman kepadanya dan berjalan diatas rel hukum agama. maka ia akan diberikan kehidupan yang baik.madzhab akan menghasilkan produk pemikiran yang rigid (kaku) dan akan mempersulit upaya pembaruan hukum Islam itu sendiri Hukum Islam bersumber pokok pada wahyu. disamping itu mempunyai sumber – sumber penunjang jika belum ada ketetapan yang jelas dari wahyu. dikenal dengan istilah “Fiqh”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful