P. 1
Kaidah Pemakaian Bahasa Indonesia Baku

Kaidah Pemakaian Bahasa Indonesia Baku

|Views: 11,165|Likes:
Published by hendra_s_back
tanks for all
tanks for all

More info:

Published by: hendra_s_back on Mar 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

pendidkan anak dapat ditempuh dengan dua cara, pendidikan formal dan

pendidikan nonformal. pendidikan formal dilakukan di sekolah-sekolah, sedang

pendidikan non formal dilakukan di tengah keluarga dan di tengah masyarakat.

pendidikan di tengah keluarga dan di tengah masyarakat biasanya dilakukan secara tidak

langsung, dan melalui perilaku anak sehari-hari. apabila seorang anak berperilaku tidak

baik, biasanya orang tua atau masyarakat langsung menegur dan mengarahkannya. atau

124

memberi sanksi deduai dengan sanksi yang berlaku di tengah masyarakat tersebut.

misalnya seorang anak yang sering berbuat tidak baik kepada teman-temannya akan

dikucilkan oleh teman-temannya. dari pengalaman itu, anak-anak dapat belajar ke arah

hal-hal yang positif.

pendidikan anak dapat juga dilakukan melalui media tembang dolanan. hal itu

disesuaikan dengan usia anak-anak yang masih suka bermain. dengan bermain, secara

tidak langsung anak-anak dapat menyerap unsur-unsur pendidikan. salah satu bentuk

permainan aanak-anak adalah tembang dolanan. pentingnya tembang dolanan sebagai

sarana pendidikan disadari oleh gubernur jawa timur pada zaman belanda. menurut trimo

s.m. (1984:19) ch. o van der plas pada saat menjadi gubernur jawa timur memberi

instruksi kepada semua sekolah angka ii (2e inlandschool) supaya mengajarkan tembang

dolanan kuna dengan cara menggali dari daerahnya sendiri-sendiri. di samping itu

pemerintah belanda (dep o&e) juga mengeluarkan buku metode lelagon.

tembang enthik-enthik si penunggul patenana seperti telah dikutip di atas juga

mengandung nolai edukatif di samping unsur filosofis. contoh lain tembang dolanan

bocah yang mengandung unsur pendidikan seperti berikut ini.

pring celumpring

prawane nini saridin

cilik-cilik njaluk kawin

gedhe-gedhe njaluk pegat

utange kebo sajagat

nyaur siji tinggal minggat

tembang di atas di samping mangandung unsur kritik sosial juga mengandung

unsur pndidikan, supaya perempuan tidak menikah di usia dini. demikian juga di dalam

menyelenggarakan perhelatan perkawinan tidak perlu diselenggarakan secara besar-

besaran dengan cara berhutang ke sana-sini. akibat pernikahan terlalu dini dan perhelatan

besar-besaran dengan cara berhutang akibatnya seperti keluarga nini saridin. oleh karena

itu masyarakat diharapkan jangan menirunya.

unsur pendidikan dalam tembang dolanan yang lain seperti terdapat dalam

tembang ³tatanya´. tembang ini merupakan bagian dari cerita rakyat bawang merah

125

bawang putih, yaitu ketika bawang putih mencari popok dan beruk yang hanyut saat

mencici di kali. tembang ini berbentuk dialog dengan syair seperti berikut ini.

tatanya

kang kakang sing ngguyang jaran

sampeyan wau napa sumerep popok beruk keli

ora ndhuk, takona sing ngguyang sapi

kang kakang sing ngguyang sapi

sampeyan wau napa sumerep popok beruk keli

popoke limaran nggih punika

ora ndhuk, takona nyai buta ijo.

terjemahan:

bertanya

kang kakang yang memandikan kuda

sampeyan tadi apa tau popok beruk hanyut

tidak nak, tanyalah yang memandikan sapi

kang kakang yang memandikan sapi

sampeyan tadi apa melihat popok beruk hanyut

popoknya yaitu limaran

tidak nak, tanyalah nyai buta ijo.

untuk memahami isi tembang dolanan di atas tidak akan dapat dilakukan tanpa

memahami cerita bawang merah bawang putih. pada intinya dalam tembang itu

terkandung ajaran bahwa seorang gadis harus berani menderita dulu demi kebahagiaan

yang akan datang. bawang putih yang hidup menderita tersia-sia akhirnya hidup bahagia

setelah mendapat hadiah harta benda dari nyai buta ijo.

selain ³bawang merah bawang putih´ cerita rakyat lain yang disertai dengan

nyanyian ialah dongeng ³andhe-andhe lumut´. larik awal tembang ini berbunyi seperti

berikut: ndhe andhe si andhe_andhe andhe lumut/tumuruna ana putri kang ngunggah-

unggahi (ndhe andhe si andhe andhe andhe lumut/tumrunlah ada putri yang sedang

melamar) menurut danandjaja (1986:471) dongeng ³andhe-andhe lumut´ bertipe

cinderella dan tersebar di nusantara. tembang dolanan dari cerita ³andhe-andhe lumut´

126

ini di samping mengajarkan agar wanita brani menderita telebih dahulu, juga mengajarkan

agar wanita dapat menjaga keperawanannya. kleting abang dan kleting ijo tidak diterima

oleh andhe-andhe lumut karena sudah dixcium oleh yuyu kangkang.

untuk mendidik anak agar rendah hati, tidak sombong dngan tembang dolanan

bocah ³jago kate´. tembang ini menceritakan seekor ayam jantan kate yang sombong,

tetpi ketika dilempar batu berlali dan menyembunyikan diri, tidak berani sombong lagi. di

dalam masyarakat jawa ada ungkapan ³jago kate wanine neng omahe dhewe´ (ayam

jantan kate beraninya di rumah sendiri) untuk orang yang sombong tetapi sebnarnya

penakut. berani dengan siapa saja di rumahnya sendiri, tetapi di luar rumah penakut.ayam

kate adalah jenis ayam yang lebih kecil dari ayam kebanyakan, yang jantan sangat aktif

dan suka berkokok, tetapi tidak dapat dijadikan ayam aduan. ³jago kate´ mendidik anak

agar tidak sombong dan penakut. dibalang watu bocah gundul/ keok kena telihe/jranthal

pelayune/mari umuk mari ngece/si akte katon yen liwung (dilempar batu anak

gundul/keok kena temboloknya/jranthal larinya/ tidak berani lagi sombong tidak berani

lagi mengejek/si kate kelihatan bingung).

tembang ³kembang jagung´ juga berfungsi sebagai sarana pendidikan anak.

tembang ini mengajarkan kepada anak untuk berani, dan bersikap satriya. kutipan dari

tembang ini sebagai berikut:

kembang jagung omah kampung pinggir lurung/jejer telu sing tengah bakal

omahku/cempa munggah guwa/medhun nyang bonraja/methik kembang

slaka dicaosna kanjeng rama/maju kowe tatu/mundur kowe ajur/tokna

sabalamu ora wedi sudukanmu/iki lo dhadha satriya/iki lo dhadha janaka

terjemahan:

kembang jagung rumah kampung pinggir jalan/berjajar tiga yang tengah

calon rumahku/cempa naik goa/turun ke kebunraja/memetik bunga slaka

diserahkan ayah/maju engkau luka/mundur engkau hancur/keluarkan semua

teman-temanmu tidak takut tusukanmu/ ini lo dasda satria/ini lo dada janaka

pulau jawa yang agraris menimbulkan tembang dolanan tentang petani. syair

tembang itu sebagai berikut: paman-paman tani utun den emut/aja age-age nyebar

127

srantekna den sabar/yen udan tumurun/sebaren den thukul mesthi babar/becik banget

thukulane 2x.

terjemahan bebas tembang di atas: paman-paman petani ingatlah/jangan segera

menyebar/tunggu dengan sabar/ jika hujan sudah turun/sebarlah pasti tumbuh dengan

baik/baik sekali tumbuhnya 2x

meskipun tembang di atas ditujukan kepada petani, namun sebenarnya tembang

itu lebih tepat sebagai pendidikan untuk anak-anak tentang bekajar bertani. kalau tembang

itu oleh anak-anak ditujukan pada orang tua, hal itu tidak mungkin karena para orang tua

pasti sudah tahu kapan menyemai benih.

iv. simpulan/penutup

tembang dolanan bocah bukan sekedar sarana untuk hiburan anak-anak, tetapi

mempunyai fungsi dan makna. meskipun tembang dolanan bocah merupakan konsumsi

anak-anak, namun ternyata tembang itu sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada anak-

anak.tembang dolanan bocah juga dapat dinikmati orang tua. dari segi bahasa, tembang

dolanan bocah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tembang dolanan bocah yang

memakai bahasa yang lugas dan tidak memerlukan penafsiran yang dalam. tembang

seperti ini adalah tembang yang diciptakan khusus untuk anak-anak. kedua adalah

tembang dolanan bocah yang bahasanya simbolis, penuh ketaksaan dan sulit dicerna

maknanya.

tembang dolanan bocah mengandung makna relegius, makna mantra, makna

politik, dan makna filoosofis. unsur religi yang terdapat dalam tembang dolanan bocah

adalah religi pra-hindu, hindu dan buda, serta religi islam. di samping itu masih ada lagi

tembang dolanan bocah yang mempunyai makna mantra. tembang semacam ini seperti

pada tembang ³cempe´ dan ³ndhek erek dhuwur kencur´. unsur politik seperti yang

terdapat pada tembang ³dhungkul sedhela dhalu dhembleng´.

di samping makna religi, mantra, dan politik tembang dolanan bocah juga

mempunai makna filosofis seperti pada tembang ³enthik enthik si temunggul patenan´

dan ³e dhayohe teka´. makna filosofis tersebut diantaranya bahwa seorang anak harus

menghormati orang tua padha tembang ³enthik enthik«´, dan manusia harus mamayu

ayuning bawana pada tembang ³e dhayohe teka´.

128

fungsi tembang dolanan bocah di samping sebagai sarana hiburan anak juga

sebagai sarana pendidikan anak serta sarana kritik sosial dan sindiran. sebagai bentuk

hiburan, beberapa tembang dolanan dipakai untuk mengiringi permainan atau tari-tarian.

sebagai sarana pendidikan, tembang dolanan anak dapat untuk menanamkan

sikap pada anak agar berani, bersikap jujur, dan berjiwa satriya, serta hemat tidak boros,

tidak takut menderita.. tembang dolanan bocah sebagai sarana kritik sosial dan sindiran

bertujuan untuk mencela orang lain, sebagai peringatan, atau agar orang agar orang yang

dikritik dapat memperbaiki kealahannya. hal itu muncul dalam tembang "menthok-

menthok. "gandolio them"´ dan "kembang pelem´

tembang dolanan bocah penting untuk sarana pendidikan anak serta masyarakat.

namun pada zaman penjajahan, pemerintah belanda sebagai penjajah merasakan betapa

perlunya tembang dolanan bocah diajarkan di tingkat sd, sehingga ch. o. van der plas

sebagai gubernur jawa timur memberikan instruksi agar tembang dolanan diajarkan di

tengkat sekolah angka loro (sd) pada waktu itu. tetapi saat ini masyarakat jawa sendiri

justru melupakannya. mengingat pentingnya fungsi dan makna tembang dolanan bocah,

materi itu perlu diajarkan lagi dalam pelajaran sastra atau kesenian untuk muatan lokal

bahasa daerah (jawa).

daftar pustaka

anonim. 1987. babad tanah jawi: de prozaversie van ng. kertapradja ingeleid door j.j.

ras. dordrecht-holland; foris publication.

danandjaja, james. 1986. ³andhe-andhe lumut: dongeng sinderela jawa yang mempunyai

nilai pedagogis´. dalam kesenian, bahasa dan foklor jawa. yogyakarta: dirjen

kebudayaan depdikbud.

129

______________. 1994. foklor indonesia: ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. jakarta:

grafiti.

endraswara, suwardi. 1999. lagu dolanan: wewadining uripe wong jawa?. dalam jaya

baya. surabaya, 1 agustus 1999.

harjawiyana, haryana. 1986. ³bentuk ulang dalam nyanyian rakyat jawa´. dalam kesenian,

bahasa dan foklor jawa. editor sudarsono. yogyakarta: dirjen kebudayaan

depdikbud.

hutomo, suripan sadi dan setyo yuwono sudikan. 1988. problematik sastra jawa: sejumlah

esei sastra jawa modern. surabaya: ikip surabaya.

hutomo, suripan sadi. 1991. mutiara yang terlupakan: pengantar studi sastra lisan.

surabaya: hiski jawa timur.

______________. 1996. ³tembang dolanan bocah saka blora´. dalam jaya baya. surabaya

2/li, 8 september 1996.

______________. 1998. kentrung warisan tradisi lisan. malang. mitra alam sejati.

______________. 1999. filologi lisan: telaah teks kentrung. lautan rezeki.

junus, umar. 1985. dari peristiwa ke imajinasi: wajah sastra dan budaya indonesia.

jakarta: gramedia.

karjono. 1993. ³werdining tembang ilir-ilir´. dalam jaya baya. surabaya, 3 oktober 1993.

keluarga karawitan studio rri surakarta. tanpa tahun. kupu kuwi. kaset rekaman. surakarta:

lokananta recording.

130

sudjiman, panuti dan aart van zoest. 1992. serba-serbi semiotika. jakarta: gramedia

pustaka utama.

supanto. 1986. ³foklor sebagai sumber informasi kebudayaan daerah´. dalam kesenian,

bahasa dan foklor. editor sudarsono. yogyakarta: dirjen kebudayaan depdikbud.

supratno, haris. 1998. ³transformasi cerita dewi rengganis dalam naskah ke dalam

pertunjukan wayang sasak: sebuajh kajian sastra bandingan´´laporan penelitian.

surabaya: ikip surabaya.

suryohatmodjo. 1979. ³ngudi dolanan ilir-ilir´. dalam jaya baya. surabaya, 6 agustus

1979.

teeuw, a. 1988. sastra dan ilmu sastra: pengantar teori sastra. jakarta: pustaka jaya.

trimo s.m. 1984. ³lelagon dolanan´ dalam jaya baya. surabaya, 12 februari 1984.

wahjono, parwatri. 1994. ilir-ilir satunggaling folklor jawi. dalam jaya baya, 10 juli 1994.

wellek, rene dan austin warren. 1990. teori kesusastraan. jakarta: gramedia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->