P. 1
Tanaman Obat Tradisional

Tanaman Obat Tradisional

|Views: 3,725|Likes:
Published by NoNO

More info:

Published by: NoNO on Mar 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemanfaatan tanaman sebagai obat pada dasarnya sudah seumur dengan peradaban manusia. Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki sejuta manfaat, termasuk untuk obat berbagai penyakit. Sementara itu kemampuan meracik obat dan jamu adalah merupakan warisan turun-temurun yang telah mengakar kuat pada masyarakat. Indonesia diketahui memiliki keragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Dari berbagai penelitian menyebutkan, bahwa dari sekitar 30.000 spesies tumbuhan yang terdapat di hutan tropis Indonesia sebanyak 9.600 spesies tumbuhan diketahui memiliki khasiat obat, namun demikian baru sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional. Sampai saat ini telah banyak dilakukan penelitian untuk membuktikan khasiat dari tanaman obat. Namun demikian, percobaan yang dilakukan sampai pada fase penelitian klinik masih sangat sedikit dan umumnya masih bersifat pendahuluan. Oleh karena itu pengalaman empiris yang ditunjang dengan penelitian tanaman obat juga memiliki andil dalam memberikan keyakinan akan khasiat dan keamanan obat tradisional. Istilah tanaman obat diartikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman yang digunakan sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan. Obat tradisional adalah warisan budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan untuk menunjang pembangunan kesehatan serta juga untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Obat-obatan tradisional Indonesia umumnya memiliki peranan yang sangat besar terutama dalam kaitannya dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun demikian tampaknya pemanfaatan tanaman obat di Indonesia masih belum dilakukan secara optimal untuk kesehatan. Hal ini juga diperkuat dengan adanya pernyataan sikap dari dunia medis yang belum sepenuhnya menerima efektifitas dari khasiat obat tradisional. Padahal saat ini biaya pengobatan modern cukup mahal ditambah lagi dengan krisis ekonomi yang belum sepenuhnya berakhir. Namun demikian penggunaan bahan alam sebagai sumber obat cenderung mengalami peningkatan, terkait dengan adanya isu back to nature dan krisis 1

berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obatobatan modern yang relatif lebih mahal harganya. Selain itu adanya pendapat yang menyatakan bahwa obat bahan alam dianggap hampir tidak memiliki efek samping yang membahayakan, namun pernyataan tersebut tidak selalu benar dikarenakan untuk mengetahui manfaat dan efek samping obat tersebut secara pasti, maka perlu dilakukan penelitian dan uji praklinis dan uji klinis.

B. Tujuan Adapun tujuan dari praktek tanaman obat tradisional yaitu : 1. Inventarisasi Tanaman Obat Tradisional pada masyarakat Kampung Nendali. 2. Menambah wawasan tentang pengetahuan Tanaman Obat Tradisional.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tanaman Obat Tanaman obat diartikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman yang digunakan sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan. Selain dari pengertian tersebut, beberapa ahli lain juga mengelompokkan tanaman berkhasiat obat menjadi tiga kelompok, yakni : 1. Tumbuhan obat tradisional, merupakan spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. 2. Tumbuhan obat modern, merupakan spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis. 3. Tumbuhan obat potensial, merupakan spesies tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah medis sebagai bahan obat. Sedangkan Departemen Kesehatan RI mendefinisikan tanaman obat Indonesia seperti yang tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/MENKES/IV/1978, yaitu : 1. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu. 2. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (precusor). 3. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi atau ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat. Untuk penyakit yang belum dapat diobati secara efektif dengan obat modern, seperti kanker, penyakit virus termasuk AIDS dan penyakit degeneratif, obat tradisional sangat sering digunakan. Selain itu obat tradisional juga digunakan pada keadaan terdesak dimana obat modern tidak tersedia atau tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Obat bahan alam Indonesia dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

3

1. Jamu (empirical bused herbal medicine), yaitu obat tradisional yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan, mieral, dan atau sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang belum dibakukan dan dipergunakan dalam upaya pengobatan berdasarkan pengalaman). 2. Obat ekstak bahan alam (scientific based herbal medicine), yaitu obat tradisional yag disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. 3. Fitofarmaka (clinical based herbal medicine), yaitu sediaaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. B. Tujuan Penggunaan Obat Tradisional Tujuan pemakaian obat tradisional dibagi dalam 4 kelompok, yaitu: 1. Untuk memelihara kesehatan dan kebugaran jasmani (promotif) 2. Untuk mencegah penyakit (preventif) 3. Sebagai upaya pengobatan penyakit (kuratif) 4. Dan untuk memulihkan kesehatan (rehabilitatif) C. Penggolongan Tumbuhan Obat Sedangkan, berdasarkan aktifitas fisiologi dan khasiatnya, tumbuhan obat digolongkan dalam 8 golongan, yaitu : 1. Obat-obat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. 2. Obat yang bekerja pada SSP. 3. Obat Penyakit Pernafasan. 4. Obat Gastroenterologika. 5. Obat Antirematik. 6. Obat Endokrinologika. 7. Obat Antiparasit, termasuk antimalaria, amobisid, insektisida, dan antelmintik. 8. Obat untuk Kontrasepsi Oral. D. Simplisia Obat tradisional terdiri dari berbagai jenis tanaman dan bagian tanaman. Bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain, barupa bahan yang telah dikeringkan disebut

4

simplisia (bagian tumbuhan yang dipergunakan). Pengetahuan tentang kegunaan masing-masing simplisia sangat penting, sebab dengan diketahui kegunaan masingmasing simplisia, diharapkan tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan tanaman obat serta dapat mencarikan alternatif pengganti yang tepat apabila simplisia yang dibutuhkan ternyata tidak dapat diperoleh. NAMA LATIN DARI BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN DALAM TATA NAMA SIMPLISIA Nama Latin Bagian Tanaman Radix Akar Rhizome Rimpang Tubera Umbi Flos Bunga Fructus Buah Semen Biji Lignum Kayu Cortex Kulit Kayu Caulis Batang Folia Daun Herba Seluruh Tanaman Agar pemanfaatan obat tradisional dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah terutama dari segi keamanan khasiat dan penggunaannya, maka perlu dilakukan penelitian dan pengembangan dangan tahapan yag jelas dan sistematis. Tahapan tersebut meliputi : 1. Pemilihan (seleksi) simplisia berdasarkan informasi dari masyarakat tentang pemanfaatan dan penelusuran pustaka tentang kandungan kimia dari tanaman tersebut. 2. Uji penyaringan biologi (screening biologic) yang meliputi uji farmakologi dan toksisitas akut. 3. Uji farmakodinamik 4. Uji toksisitas lanjut seperti ; uji toksisitan sub-akut, kronis, dan khusus. 5. Pengembangan formulasi 6. Uji klinik pada manusia

5

E. Keunggulan dan Kelemahan Obat Tradisional Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat bahan alam adalah mengenai keunggulan dan kelemahan obat tradisional. Adapun keunggulan obat bahan alam antara lain : 1. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tanaman obat untuk indikasi tertentu. 2. Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat/komponen bioaktif tanaman obat. 3. Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. 4. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit metabolik dan degeneratif. Namun demikian, obat bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang menjadi kendala dalam pengembangan obat tradisional, antara lain; efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar, dan bersifat higrokospis serta volumines, belum dilakukan uji klinis dan mudah tercemar berbagai mikroorganisme.

6

BAB III METODOLOGI
A. Lokasi Lokasi Praktek Mata Kuliah Tanaman Obat Tradisional dilakukan di Kampung Nendali, Sentani. Dengan pertimbangan bahwa di Kampung Nendali mayoritas penduduk adalah suku asli Nendali

B. Waktu Waktu Praktek Mata Kuliah Tanaman Obat Tradisional dilaksanakan pada tanggal 08 Desember 2008, pukul 09.00 WIT sampai selesai.

C. Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam melaksanakan Praktek Mata Kuliah Tanaman Obat Tradisional adalah sebagai berikut : 1. • • • • • Alat Gunting Koran Tali pengikat Papan pengepres Pisau

2. Bahan Tanaman obat yang terdapat di sekitar Kampung Nendali

D. Prosedur Kerja a. Pengumpulan sampel tanaman obat, dengan melakukan wawancara pada informan pangkal, kunci, dan pelengkap serta observasi dan inventarisasi tumbuhan obat di Kampung Nendali. b. Identifikasi sampel tanaman obat, bertujuan untuk mengetahui morfologi dan karakteristik tumbuhan. c. Pembuatan herbarium

7

E. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data tanaman obat dilakukan dengan metode observasi, wawancara, serta tinjauan pustaka. Observasi dilakukan pada tumbuhan obat yang terdapat di sekitar Kampung Nendali, wawancara dilakukan pada beberapa informan, yakni informan pangkal, kunci dan pelengkap. Sementara tinjauan pustaka bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang terdapat di Kampung Nendali yang telah diketahui dengan pasti efek farmakologinya dan telah melalui uji klinis. F. Analisa Data Analisa data dilakukan dengan metoda deskriptif kualitatif, yang bertujuan mengumpulkan data dan mendeskripsikan objek secara rinci dan mendalam dengan maksud mengembangkan konsep atau pemahaman. Hal ini dilaksanakan karena ada banyak hal yang tidak mungkin diungkap hanya melalui pengamatan dan wawancara.

8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Praktikum Dari hasil wawancara baik dengan informan pangkal, kunci dan pelengkap di Kampung Nendali, diketahui bahwa terdapat 11 tumbuhan yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit dan berkhasiat sebagai obat, tumbuhan tersebut yakni: 1. Nama • Lokal : Kahalau atau Daun Suanggi

Gambar 1. Kahalau/Daun Suanggi (Sp. 1) Deskripsi tanaman Kahalau merupakan tumbuhan perdu yang hidup ditanah terbuka, menurut informan pangkal Kahalau hanya dapat dijumpai pada tanah yang telah dibersihkan dan akan dijadikan kebun. Letak daun Kahalau saling berhadapan dengan ujung daun yang tumpul serta bagian pinggir daun yang rata. Panjang daun Kahalau antara 13-15 cm sementara lebarnya 1,5 cm. Daun Kahalau memiliki bau yang sangat spesifik, sehingga dari bau inilah Kahalau bagi masyarakat Kampung Nendali sering juga digunakan sebagai pengusir nyamuk.

9

Simplisia • Daun (Folia)

Khasiat Daun Kahalau menurut masyarakat Kampung Nendali memiliki khasiat sebagai obat Sesak nafas atau Asma, dan meringankan badan. Selain itu Kahalau juga dapat digunakan sebagai tumbuhan pengusir nyamuk. Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk Sesak nafas atau Asma; daun Kahalau dicuci dan direbus dengan air secukupnya kemudian hasil rebusan diminum 2 kali sehari, yakni pagi sebelum makan dan malam sebelum tidur. • 2. Nama • Lokal : Hote Untuk meringankan badan; daun Kahalau dibersihkan kemudian dikunyah atau juga dapat dimakan bersama dengan Pinang dan Sirih.

Gambar 2. Hote (Sp. 2) Deskripsi Tanaman Hote merupakan tumbuhan herba liar yang hidup di tanah terbuka. Letak helaian daun Hote tumbuh berseling dan daun berbentuk lanset. Daun Hote 10

berwarna hijau-kekuningan dengan ujung daun yang meruncing dan bagian tepi daun yang rata, selain itu daun dan rimpang Hote juga memiliki bau yang spesifik. Simplisia • • Daun (Folia) Rimpang (Rhizome)

Khasiat Daun dan Rimpang Hote mempunyai khasiat untuk menambah stamina tubuh, dan untuk pengobatan penyakit Paru-paru basah. Cara Meramu dan Penggunaan • • 3. Nama • • Umum : Jambu Mede Ilmiah : Anacardium occidentale L. Untuk menambah stamina; daun Hote dicuci atau dibersihkan dan kemudian dikunyah. Untuk pengobatan penyakit Paru-paru basah; Rimpang Hote direbus dengan air secukupnya kemudian air hasil rebusan diminum 2 kali sehari.

Gambar 3. Jambu Mede (Anacardium occidentale L.)

11

Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spematophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Familia Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) : Rosidae : Sapindales : Anacardiaceae : Anacardium : Anacardium occidentale L.

Deskripsi Tanaman Pohan Jambu Mede dapat tumbuh di segala macam tanah, tinggi pohon Jambu Mede dapat mencapai antara 8-12 m serta memiliki cabang dan ranting yang banyak. Panjang daun antara 4-22 cm dengan lebar daun 2,5-15 cm. sementara itu daun berbentuk bulat telur sungsang, tepi rata dan ujung daun membulat. Daun Jambu Mede berwarna hijau dengan pertulangan menyirip. Simplisia • Daun (Folia)

Khasiat Daun Jambu Mede menurut warga Nendali memiliki khasiat untuk mengobati diare. Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk pengobatan Diare; Ambil daun Jambu Mede secukupnya kemudian direbus, air hasil rebusan diminum dan dihabiskan dalam sehari.

4. Nama • • Umum : Mayana Merah Ilmiah : Solenostemon scutellarioides (L.) Codd

12

Gambar 4. Mayana Merah (Solenostemon scutellarioides (L.) Codd) Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Familia Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) : Asteridae : Lamiales : Lamiaceae : Solenostemon : Solenostemon scutellarioides (L.) Codd

Deskripsi Tanaman Mayana tumbuh secara liar di tanah terbuka, dan tergolong dalam tumbuhan herba. Daun mayana berwarna merah dan bentuknya segitiga atau bentuk bulat telur, serta memiliki tangkai daun yang panjangnya mencapai 3-4 cm, pangkal daun membulat atau melekuk menyerupai bentuk jantung, ujung 13

daun meruncing, tepi beringgit, tulang daun menyirip jelas (berupa alur), permukaan daun agak mengkilap, berambut halus, panjang 7 - 11 cm dan lebar 3,5 - 6 cm. Letak daun mayana saling berhadapan dan jika seluruh bagian Mayana diremas maka akan mengeluarkan bau yang harum. Mayana merupakan tumbuhan terna setahun yang tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya, dan pada bagian yang menyentuh tanah keluar akar. Batang Mayana bersegi empat dengan alur yang agak dalam pada masing-masing sisinya, berambut, percabangan banyak, berwarna ungu kemerahan. Simplisia • • • Daun (Folia)

Khasiat Untuk mengobati sakit mata.

Cara Meramu dan Penggunaan Untuk pengobatan sakit mata; Daun Mayana Merah ditumbuk kemudian diperas dan air hasil perasan diteteskan pada mata yang sakit.

5. Nama • • Umum : Sambiloto Ilmiah : Andrographis paniculata (Burn.f) Ness)

14

Gambar 5. Sambiloto (Andrographis Paniculata (Burn.f) Ness) Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermathophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Family Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) : Asteridae : Scrophulariales : Acanthaceae : Andrographis : Andrographis paniculata (Burn.f) Ness)

Deskripsi Tanaman Sambiloto tergolong salah satu tumbuhan herba semusim yang rasanya pahit. Tumbuh pada tanah dengan kandungan humus tinggi serta dengan kelembaban dan penyinaran yang agak tinggi. Batang Sambiloto berkayu dengan 15

tangkai daun yang pendek. Daun Sambiloto tersusun berhadapan, berbentuk lanset, pangkal dan ujung daun meruncing dengan tekstur tepian daun yang rata. Selain itu daun Sambiloto memiliki permukaan yang halus, panjang daun umumnya antara 2-8 cm dan lebar 1-3 cm. Simplisia • • • Daun (Folia)

Khasiat Daun Sambiloto berkhasiat untuk pengobatan Malaria dan Sakit tulang

Cara Meramu dan Penggunaan Untuk pengobatan Malaria dan Sakit tulang; Ambil daun Sambiloto secukupnya kemudian direbus, dan air hasil rebusan diminum. Air hasil rebusan digunakan untuk sekali minum.

6. Nama • • • Umum : Gedi Lokal Ilmiah : Manggali : Abelmoschus manihot L.

Gambar 6. Daun Gedi/Manggali (Abelmoschus manihot L.)

16

Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Familia Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) : Dilleniidae : Malvales : Malvaceae (suku kapas-kapasan) : Abelmoschus : Abelmoschus manihot L.

Deskripsi Tanaman Gedi umumnya hidup pada tanah yang terbuka. Bentuk daun Gedi menjari dengan tekstur tepian daun yang bergelombang. Pertulangan daun Gedi menonjol pada permukaan serta memiliki tangkai daun yang panjang. Daun gedi tersusun berseling. Simplisia • • Daun (Folia)

Khasiat Bagi warga Kampung Nendali daun Manggali atau biasanya disebut dengan daun Gedi, sangat berkhasiat untuk mengobati sakit Maag. Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk pengobatan Maag atau Gastritis; Ambil daun Manggali atau daun Gedi secukupnya kemudian direbus, dan air hasil rebusan diminum sedikit demi sedikit dan dihabiskan dalam sehari.

7. Nama • • Indonesia : Sere Merah Ilmiah : Andropogon nardus L.

17

Gambar 7. Sere Merah (Andropogon nardus L.) Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spematophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Liliopsida (berkeping satu/monokotil) : Commlinidae : Poales : Poaceae (suku rumput-rumputan) : Andropogon : Andropogon nardus L.

Deskripsi Tanaman Habitus sere merah termasuk golongan rumput tahunan. Batang sere merah tidak berkayu serta memiliki ruas yang pendek, daun sere merah berbentuk

18

lanset dan berpelepah, serta pangkal pelepah memeluk batang. Letak daun sere merah berseling, dengan bagian ujung daun yang meruncing atau tajam. Panjang daun sere merah 25-75 cm dan lebar 5-15 mm, memiliki pertulangan yang sejajar. Tinggi batang Sere merah antara 60-70 cm. Sere merah memiliki akar serabut, selain itu sere merah juga memiliki bau yang khas. Simplisia • • Daun (Folia)

Khasiat Menurut warga Kampung Nendali daun Sere merah berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah. Cara Meramu dan Penggunaan • Melancarkan peredaran darah; Daun serai merah direbus dengan air secukupnya, kemudian air hasil rebusan diminum.

8. Nama • Lokal : Horoli

Gambar 8. Horoli (Sp. 3)

19

Deskripsi Tanaman Horoli hidup liar pada tanah terbuka yang tidak terlalu lembab dan hidup diantara rerumputan, daun horoli berwarna hijau kekuningan dengan letak daun yang saling berhadapan. Termasuk tumbuhan terna dengan panjang daun antara 45 cm dan lebar daun 2-2,5 cm. Tekstur tepi daun horoli bergerigi serta memiliki batang yang tidak berkayu dan akar berupa akar serabut. Simplisia • • Akar (Radix)

Khasiat Akar Horoli menurut warga Kampung Nendali dapat digunakan untuk mengobati Rematik Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk pengobatan Rematik; Ambil pada bagian akar dari tumbuhan Horoli secukupnya kemudian dibersihkan atau dicuci, selanjutnya akar Horoli direbus dengan 3 gelas air hingga air rebusan tersisa menjadi 1 gelas. 1 gelas air rebusan tersebut diminum 2 kali dalam sehari, yakni diminum sebelum makan dan sebelum tidur.

9. Nama • • • Umum : Meniran Lokal Ilmiah : Daun Blakang Biji atau Daun Gendong Anak : Phyllanthus urinaria Linn

20

Gambar 9. Meniran/Daun Blakang Biji/Daun Gendong Anak (Phyllanthus urinaria Linn) Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermathophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Family Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) : Rosidae : Euphobiales : Euphorbiaceae : Phyllanthus : Phyllanthus urinaria Linn

Deskripsi Tanaman Meniran atau dalam penamaan warga Nendali disebut dengan daun blakang biji adalah tanaman terna liar yang ditemukan hidup pada semua tempat seperti di semak-semak, pekarangan rumah, diantara rerumputan dan di tempat-

21

tempat lain. Daun blakang biji dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, terutama tanah berpasir. Selain itu Blakang biji juga menyukai tempat yang lembab dan akan tumbuh dengan subur apabila tanah kaya akan bahan organik. Batang Blakang biji bercabang-cabang dan berwarna hijau. Letak daun berseling, helaian daun bundar telur dengan bagian ujung tumpul dan tekstur tepi daun rata. Salah satu ciri khas dari meniran atau blakang biji adalah memiliki bagian yang menyerupai biji pada bagian bawah daun. Simplisia • • Daun (Folia)

Khasiat Menurut masyarakat Kampung Nendali Blakang biji atau Meniran memiliki khasiat untuk mengobati Diare dan melangsingkan badan Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk pengobatan Diare dan melangsingkan badan; Ambil Daun secukupnya kemudian direbus, dan air hasil rebusan diminum.

10. Nama • Lokal : Owa

22

Gambar 10. Owa (Sp. 4) Deskripsi Tanaman Batang Owa berkayu, dan termasuk tumbuhan golongan perdu yang tumbuh secara liar di dalam hutan. Daun owa memiliki tekstur yang rata pada bagian tepi, memiliki pertulangan daun yang menonjol pada permukaan dan terlihat jelas. Daun Owa berwarna hijau dan memiliki tangkai daun yang pendek. Kulit kayu Owa memiliki rasa yang spesifik dan sering digunakan warga Nendali untuk pengobatan maag. Simplisia • • Kulit kayu (Cortex)

Khasiat Kulit kayu Owa menurut warga Kampung Nendali berkhasiat untuk mengobati luka, dan penghilang bau mulut serta maag. Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk mengobati luka; kulit kayu ditempelkan pada bagian tubuh yang terdapat luka. 23

Untuk penghilang bau mulut dan sakit Maag; Cukup sedikit dari bagian kulit kayu dikunyah.

11. Nama • • Umum : Pinang Ilmiah : Ptychosperma macorthurii

Gambar 11. Pinang (Areca catechu L.) Klasifikasi Ilmiah • • • • • • • • Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermathophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Subkelas Ordo Family : Magnoliophyta (berbunga) : Liliopsida (berkeping satu/monokotil) : Arecidae : Arecales : Arecaceae

24

• •

Genus Spesies

: Areca : Areca catechu L.

Deskripsi Tanaman Pohon Pinang berbatang langsing, tumbuh tegak serta tidak bercabang. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul diujung batang membentuk roset batang. Pelapah daun membentuk tabung, dan tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, pada anak daun mempunyai panajang 85 cm, lebar 5 cm dengan bagian ujung yang sobek serta bergerigi. Simplisia • • Akar (Radix)

Khasiat Menurut warga Kampung Nendali akar pinang dapat digunakan untuk mengobati sakit pada hati (Liver) Cara Meramu dan Penggunaan • Untuk pengobatan sakit pada hati (Liver); Akar Pinang direbus dengan air secukupnya, kemudian air hasil rebusan diminum 3 kali sehari.

25

B. Pembahasan Dari hasil praktek lapangan Mata Kuliah Tanaman Obat Tradisional maka dapat dibuatkan tabel Tanaman Obat sebagai berikut :

26

TABEL 1.0 TANAMAN OBAT KAMPUNG NENDALI
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Magnoliopsida Magnoliopsida Magnoliopsida Magnoliopsida Liliopsida Magnoliopida Liliopsida Kelas Anacardiceae Lamiaceae Acanthaceae Malvaceae Poaceae Euphorbiaceae Arecaceae Family Sp. 1 Sp. 2 Anacardium occidentale L. Solenostemon scutellarioides (L.) Codd Andrographis Paniculata (Burn.f) Ness) Abelmoschus manihot L. Andropogon nardus L. Sp. 3 Phyllanthus urinaria Linn Sp. 4 Areca catechu L. Species Nama Lokal / Nama Umum Kahalau / Hote / - / Jambu Mede - / Mayana Merah - / Sambiloto Manggali / Gedi - / Sere Merah Horoli/ Daun Blakang Biji (Daun Gendong Anak) / Meniran Owa / - / Pinang Manfaat Sesak Nafas/Asma dan Meringankan Badan Penambah Stamina dan Mengobati Paru Basah Mengobati Diare Mengobati Sakit Mata Mengobati Malaria dan Sakit Tulang Mengobati Sakit Maag Melancarkan Peredaran Darah Pengobatan Rematik Mengobati Diare dan Melangsingkan Badan Mengobati Luka, Penghilang Bau Mulut dan Maag Sakit pada Hati (Liver) Simplisia Daun (Folia) Daun (Folia) dan Rimpang (Rhizome) Daun (Folia) Daun (Folia) Daun (Folia) Daun (Folia) Daun (Folia) Akar (Radix) Daun (Folia) Kulit Kayu (Cortex) Akar (Radix)

27

Berdasarkan tabel 1.0, bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat atau simplisia menurut masyarakat Kampung Nendali adalah daun, akar, kulit kayu dan rimpang. Persentase simplisia dapat dideskripsikan sebagai berikut :
PERSENTASE SIMPLISIA

8% 8% Daun (Folia) 17% 67% Akar (Radix) Kulit Kayu (Cortex) Rimpang (Rhizome)

Diagram 1.0 Persentase Simplisia Pada diagram 1.0 dapat diketahui bahwa persentase penggunaan simplisia secara berturut-turut adalah daun (folia) 67%, akar (radix) 17%, kulit kayu (cortex) dan rimpang (rhizome) 8%. Dari persentase tersebut, diketahui bahwa daun merupakan bagian dari tanaman yang paling banyak digunakan sebagai bahan pengobatan. Simplisia daun lebih banyak digunakan dibanding dengan bagian tumbuhan lainnya, dikarenakan kandungan zat aktif pada daun lebih banyak serta kualitas dan kuantitasnya selalu ada dan tersedia. Sementara itu mengenai cara pengolahan simplisia, 11 tumbuhan obat yang ditemukan di Kampung Nendali dapat dikelompokkan dalam 3 cara pengolahan, yakni direbus, diperas, dan dikonsumsi langsung tanpa pengolahan. Persentase pengolahan simplisia adalah sebagai berikut.
PERSENTASE CARA PENGOLAHAN SIMPLISIA
80 70 60 50 40 30 20 10 0 Direbus Diperas CARA PENGOLAHAN Dikonsumsi langsung tanpa pengolahan

%

Diagram 1.1 Persentase Cara Pengolahan Simplisia

28

Berdasarkan diagram 1.1 mengenai persentase cara pengolahan simplisia, diketahui bahwa cara merebus simplisia merupakan cara pengolahan yang paling banyak dilakukan dengan persentase 69%, sedangkan pengolahan dengan cara diperas 8% dan penggunaan (konsumsi) simplisia tanpa melalui tahap pengolahan 23%. Pengolahan simplisia dengan cara direbus paling sering digunakan karena cara tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun. Selain itu, sebagian besar senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan obat bersifat polar. Zat-zat aktif senyawa kimia yang bersifat polar dapat ditarik keluar apabila berikatan dengan senyawa yang juga bersifat polar. Air merupakan salah satu senyawa universal yang bersifat polar dan mudah didapatkan oleh masyarakat. Dalam suhu kamar, air mempunyai kemampuan yang kurang kuat untuk menarik zat-zat kimia yang terdapat dalam tanaman obat. Dengan demikian suhu perlu dinaikkan dengan cara pemanasan. Air dengan suhu yang tinggi mempunyai kemampuan yang kuat untuk menarik zat-zat kimia pada tanaman obat. Oleh sebab itu, cara pengolahan simplisia yang baik adalah dengan cara direbus. Hal ini dikarenakan, ketika tanaman obat direbus dengan air, maka semua zat kimia yang terdapat pada tanaman obat akan tertarik keluar dan larut dengan air. Dengan demikian, walaupun semua zat yang terdapat pada tanaman obat ikut larut dalam air, tetapi hanya zat kimia aktif yang bereaksi dan mampu menyembuhkan penyakit. Berdasarkan aktifitas fisiologi dan khasiatnya, tumbuhan obat yang ditemukan di Kampung Nendali dapat digolongkan sebagai berikut (penggolongan berdasarkan pendekatan emik) : 1. Obat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah : Daun Serai Merah (melancarkan peredaran darah). 2. Obat Penyakit Penafasan : Daun Kahalau (mengobati sesak nafas/asma), Rimpang Hote (mengobati penyakit Paru basah). 3. Obat Gastroenterologika : Daun Jambu Mede (mengobati diare), Daun Gedi (mengobati maag), Meniran (mengobati diare), Kulit kayu Owa (mengobati maag). 4. Obat Antirematik : Akar Horoli (mengobati rematik). 5. Obat Antiparasit : Sambiloto (mengobati malaria).

29

6. Obat dengan khasiat Lain : Daun Kahalau (meringankan badan), Daun Hote (menambah stamina tubuh), Mayana Merah (mengobati sakit mata), Sambiloto (mengobati Sakit Tulang), Meniran (melangsingkan badan), Kulit kayu Owa (mengobati luka, penghilang bau mulut), Akar Pinang (mengobati sakit pada hati/lever).

30

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa dari kegiatan praktikum Tumbuhan Obat Tradisional di Kampung Nendali, diketahui bahwa umumnya tumbuhan obat yang ditemukan merupakan tumbuhan yang hidup liar dan tidak termasuk jenis tumbuhan budidaya. Dari 11 tumbuhan berkhasiat obat yang ditemukan melalui kegiatan pratek lapangan, terdapat 4 tumbuhan obat lokal dan 7 tumbuhan obat umum yang sudah diketahui dengan jelas efek farmakologisnya.

31

DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Jilid 2. Trubus Agriwidya. Jakarta Http://www.plantamor.com Http://www.cybermed.cbn.net.id Notoadmojo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Rineka Cipta. Jakarta

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->