P. 1
Jurnalwidyaswara Vol.1/ No.1 Maret 2011

Jurnalwidyaswara Vol.1/ No.1 Maret 2011

1.0

|Views: 600|Likes:
Published by jurnalwidyaswara
JURNAL WidyaSwara
ISSN 2088-1096 Pengarah : Kepala Badan DIKLAT Provinsi KALTIM Dra. Hj. Farida Widiawati, M. Si Penanggung Jawab : Ir. H. Maksum Abdullah, M., MS Pemimpin Redaksi : Ery Arifullah, ST, MT Anggota Dewan Redaksi : M. Deny Syahroni, S.Th.I, MM Muchamad Awaludin, SE, MM Ady Akhmad Ghazali, ST, MM Zuhriah, S.Pt, M.Si H. Fitriansyah, ST, MM Hernawaty, Amd.Kep, SE, MM Imbran, S.Sos, M.Si Diterbitkan oleh : Badan Pelatihan dan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Jl. H.M. Riffadin Sama
JURNAL WidyaSwara
ISSN 2088-1096 Pengarah : Kepala Badan DIKLAT Provinsi KALTIM Dra. Hj. Farida Widiawati, M. Si Penanggung Jawab : Ir. H. Maksum Abdullah, M., MS Pemimpin Redaksi : Ery Arifullah, ST, MT Anggota Dewan Redaksi : M. Deny Syahroni, S.Th.I, MM Muchamad Awaludin, SE, MM Ady Akhmad Ghazali, ST, MM Zuhriah, S.Pt, M.Si H. Fitriansyah, ST, MM Hernawaty, Amd.Kep, SE, MM Imbran, S.Sos, M.Si Diterbitkan oleh : Badan Pelatihan dan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Jl. H.M. Riffadin Sama

More info:

Published by: jurnalwidyaswara on Mar 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

JURNAL WidyaSwara

ISSN 2088-1096 Pengarah : Kepala Badan DIKLAT Provinsi KALTIM Dra. Hj. Farida Widiawati, M. Si Penanggung Jawab : Ir. H. Maksum Abdullah, M., MS Pemimpin Redaksi : Ery Arifullah, ST, MT Anggota Dewan Redaksi : M. Deny Syahroni, S.Th.I, MM Muchamad Awaludin, SE, MM Ady Akhmad Ghazali, ST, MM Zuhriah, S.Pt, M.Si H. Fitriansyah, ST, MM Hernawaty, Amd.Kep, SE, MM Imbran, S.Sos, M.Si Diterbitkan oleh : Badan Pelatihan dan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Jl. H.M. Riffadin Samarinda Seberang Telp. (0541) 7270208 E-mail : jurnal.widyaswara@gmail.com Web : www.jurnalwidyaswara.blogspot.com

Jurnal WidyaSwarA terbit 4 kali setahun. Redaksi menerima kiriman naskah jurnal, artikel, hasil penelitian, resensi buku, serta berbagai hasil pemikiran yang relevan dengan pengembangan kediklatan aparatur pemerintah. Untuk persyaratan penulisan naskah dapat dilihat pada bagian akhir jurnal ini.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

i

JURNAL WidyaSwara
Prawacana Jurnal Edisi Perdana
Duapuluh itu angka yang istimewa; gabungan antara angka 2 dan 0 yang mendasari sistem binari sebagai basis pengembangan teknologi komputasi yang memacu ledakan revolusi teknologi informasi. Secara historis, tepat pada Hari Jum’at tanggal 11 Maret tahun 2011 ini genaplah duapuluh tahun usia kami sebagai sebuah institusi resmi; Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Kalimantan Timur. Untuk memaknai momentum ini agar tidak lewat begitu saja tanpa makna, kamipun meluncurkan edisi pertama jurnal WidyaSwarA ini. Proses pematangan kelahirannya memang relatif cepat, namun jurnal ini tidaklah lahir prematur, karena proposal penerbitannya telah digagas sejak 2006, lima tahun lalu. Branding jurnal anak kandung Badan Diklat Kaltim ini diperkenalkan dengan nama yang sederhana dalam satu kata, WidyaSwarA, yang secara harfiah berarti Suara Pendidikan. Secara maknawi, WidyaSwarA ini ditulis dengan tiga huruf kapital; W untuk Widya (pendidikan) sebagai core bisnis kami, S untuk Sains sebagai karakter utama jurnal ini sebagai media ilmiah, dan A untuk Aktual, merefleksikan upaya kami untuk mengaktualisasikan diri menjadi lembaga kediklatan profesional. Sajian utama jurnal WidyaSwarA adalah perkembangan dan pengembangan berbagai aspek sistem kediklatan aparatur pemerintah, dalam empat kelompok penyajian; substansi, metode dan teknik, manajemen kediklatan, dan complementary. Sebagai menu pelengkap, jurnal triwulanan WidyaSwarA ini juga berusaha menyajikan berbagai rubrik dan artikel ilmiah yang relevan dan dapat menunjang pengembangan kediklatan. Sajian pelengkap itu antara lain artikel tentang psikologi, pendidikan, kebijakan publik, teknologi informasi, dll. Keragaman menu itu kami sajikan untuk memperluas cakrawala, ii perspektif dan kedalaman pemahaman kita tentang berbagai dimensi kediklatan tanpa kehilangan fokus pada kediklatan aparatur pemerintah. WidyaSwarA dilahirkan untuk menjadi wacana yang ditunjang dan menunjang jalinan sinergi yang ”mengakar” di kalangan para pembaca kami. Sebagai konsekuensinya, kami berusaha memenuhi kebutuhan pembaca kami; widyaiswara dan personil Badan Diklat Kaltim maupun dari berbagai institusi kediklatan di Kalimantan Timur. Kami berusaha agar jurnal WidyaSwarA ini diterima serta bermanfaat bagi semua mitra kami dalam kediklatan, serta siapapun yang peduli pada kediklatan. WidyaSwarA terbit untuk menumbuhkembangkan sinergi profesional dalam dunia kediklatan, demi ”Membangun Kaltim untuk Semua”, menuju Kaltim Bangkit tahun 2013, sebagai bagian integral dari NKRI tercinta. Memasuki tahun ke 21 Badan Diklat Kaltim pada tanggal 11 Maret tahun 11 millenium ini kami lahir bersama saudara kembar kami WidyaKaltiM sebagai Bulletin Badan Diklat Kaltim yang mewadahi aspek kehumasan Badan Diklat Kaltim. Kami berdua ingin berperan serta mewujudkan Kaltim Green secara nyata melalui edisi virtual dalam dunia maya. Kami ingin berperan tidak hanya dalam teriakan slogan dan acungan kepalan, namun berperan secara nyata melalui pengurangani penggunaan kertas dalam edisi konvensional, demi kelestarian lingkungan hidup kita. Doakan dan dukunglah kami agar senantiasa eksis menyapa anda dalam edisi-edisi mendatang. Selamat menikmati sajian perdana kami. (@S@) Beserta salam hangat kami semua, Redaksi WidyaSwarA

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

JURNAL WidyaSwara
Daftar Isi

Substansi Kediklatan
• TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI H. Fitriansyah, ST, MM • MEMAHAMI PERAN DAN MAKNA PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK Ady Akhmad Ghazali, ST, MM 9 – 16 1–8

Metode, Teknis dan Kiat Kediklatan
• KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN Pendekatan “AFDHAL” dalam Andradogi Ir. H. Maksum Abdullah Marhamah M., MS 17 – 22

Complementary Kediklatan
• MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFORMASI BIROKRASI H. Diddy Rusdiansyah A, SE, MM • NASIB KEDAULATAN EKONOMI INDONESIA Ery Arifullah, ST, MT • PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PEKERJA Hernawaty Amd.Kep, SE, MM • SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA 35 – 41 42 – 47 30 – 34 23 – 29

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

iii

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

iv

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI Substansi Kediklatan NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI Oleh: H. Fitriansyah, ST, MM Widyaiswara Muda Badan Diklat Prov. Kaltim Abstrak Sebuah fenomena unik terjadi pada organisasi pemerintah, dimana banyak para Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mengetahui atau tidak hafal pada visi dan misi di instansinya. Riset ini mencoba untuk menggambarkan fakta yang terjadi dikebanyakan instansi pemerintah, khususnya dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur. Riset ini menggunakan teknik survei deskriptif untuk menggambarkan fakta yang ada dengan menggunakan metode kuesioner dengan sampel diambil secara random sampling. Hasil riset menunjukkan bahwa hanya 8,9% PNS di Kalimantan Timur yang mengetahui visi di instansinya dan hanya 6,1% PNS yang mengetahui misi di instansinya masing-masing. Riset ini juga mencoba memberikan beberapa saran dan cara agar bagaimana visi dan misi instansi pemerintah dapat disosialisasikan secara baik. Kata kunci: visi, misi, survei deskriptif, Pegawai Negeri Sipil, Pemerintah Daerah Kalimantan Timur. Latar Belakang Salah satu masalah budaya kerja pada kebanyakan organisasi pemerintah yang telah diindikasi oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (KEMENTERIAN PAN RI) adalah sangat rendahnya komunitas dan konsistensi terhadap visi dan misi organisasi pada institusi pemerintah. Hal ini memang benar-benar terjadi pada kebanyakan organisasi pemerintah dan telah menjadi sebuah fenomena tersendiri. Cara yang paling mudah untuk mengetahui fenomema tersebut adalah menanyakan kepada seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara random apa visi dan misi JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011 organisasi di instansinya masing-masing. Hasilnya dapat ditebak, kebanyakan mereka kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut. Memang sangat mengejutkan bahwa terjadi fenomena yang sangat menarik dikalangan aparatur pemerintah yang seharusnya tidak boleh terjadi, dimana banyak aparatur pemerintah yang tidak mengetahui atau tidak hafal visi dan misi di instansinya masing-masing. Hal ini tidak hanya terjadi dilevel staf atau bawahan saja, bahkan banyak aparatur pemerintah yang mempunyai kedudukan atau jabatan di eselon IV maupun eselon III yang tidak tahu atau tidak hafal atau bahkan tidak mau tahu akan visi dan misi di instansinya. Padahal secara visual, visi organisasi dapat mudah diketahui dan dihafal karena pada umumnya hanya berisi satu kalimat pendek saja, sedangkan misi mungkin agak sulit dihafal karena berisi beberapa poin kalimat. Keadaan yang sesungguhnya tidak boleh terjadi dan dibiarkan berlarut-larut begitu saja karena akan mempengaruhi motivasi dan kinerja para aparatur pemerintah. Visi dan misi dalam suatu organisasi, khususnya instansi pemerintah, merupakan suatu pedoman (guideline) arah dan tujuan kemana masa depan atau cita-cita dari organisasi tersebut beserta cara-cara (secara garis besar) untuk mencapainya. Jika seorang aparatur pemerintah (PNS) tidak mengetahui visi dan misi di instansinya menunjukkan bahwa PNS tersebut hanya bekerja secara rutinitas belaka, tidak mempunyai keinginan dan motivasi untuk maju menggapai cita-cita organisasi yang tergambar didalam visi. Berdasarkan uraian di atas, maka 1

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

dipandang perlu untuk membuat suatu reset ilmiah untuk menggambarkan berapa besar tingkat pengetahuan aparatur pemerintah terhadap visi dan misi di instansinya masing-masing. Riset ini juga mencoba untuk mendapatkan masukan dari para aparatur pemerintah bagaimana cara mensosialisasikan visi dan misi instansi dengan baik, agar setiap aparatur minimal dapat mengetahui dan hafal visi di instansinya masing-masing. Rumusan Masalah Latar belakang di atas dapat diuraikan menjadi 2 (dua) besar rumusan masalah utama, yakni: 1. Berapa banyak aparatur pemerintah dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur (Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota) yang mengetahui visi di instansinya masing-masing? Berapa banyak aparatur pemerintah dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur (Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota) yang mengetahui misi di instansinya masing-masing? Bagaimana seharusnya cara mensosialisasikan visi dan misi dengan baik menurut para responden (aparatur pemerintah)

2.

Dapat memberikan saran atau masukan bagi para pengambil keputusan dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, khususnya dalam hal cara mensosialisasikan visi dan misi instansi pemerintah.

Dasar Teori Visi dan Misi Sebuah visi menggambarkan arah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu organisasi, yakni gambaran masa depan yang lebih baik dan lebih sukses yang dinginkan daripada keadaan masa sekarang (Bennis, Mason, Mitroff; 1992). Secara umum visi merupakan gambaran masa depan suatu organisasi yang realistik, kredibel dan atraktif, sedangkan misi merupakan suatu pengaturan komprehensif dan singkat mengenai tujuan suatu organisasi, program ataupun sub program. Visi mempunyai peranan yang sangat penting, tidak hanya ditahap awal sebuah organisasi, tetapi juga pada keseluruhan siklus hidup organisasi (organization’s life-cycle). Sebuah visi menunjukkan suatu titik perjalanan dimana organisasi tersebut ingin menuju ke arah tersebut. Dan cepat atau lambat, waktu akan datang dimana sebuah organisasi ingin merubah arah atau ingin melengkapi perubahan yang telah dijalankan demi terwujudnya kesempurnaan tujuan akhir organisasi. Misi yang dirumuskan dengan tepat mengidentifikasikan secara umum hal-hal yang ingin dicapai dan memungkinkan penerjemahan hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga operasionalisasi berbagai kegiatan dan hasilnya dapat diukur dan dikendalikan berdasarkan berbagai kriteria yang rasional dan obyektif seperti kriteria biaya, waktu, tenaga dan sarana serta prasarana yang dimanfaatkan (Siagian, 2007). Oleh karena itu, meskipun misi cukup dinyatakan secara umum, ia harus pula memberi arah yang spesifik serta ”rambu-rambu” yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan organisasi. Secara spesifik, pemerintah mendefinisikan misi sebagai suatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

2.

3.

Tujuan Dan Manfaat Riset ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak aparatur pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) yang mengetahui visi dan misi di instansinya masing-masing. Disamping itu, riset ini juga bertujuan untuk menjaring masukan dari aparatur pemerintah bagaimana sebaiknya upaya untuk mensosialisasikan visi dan misi instansi secara baik. Manfaat yang didapatkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dapat menggambarkan secara ilmiah seberapa banyak aparatur pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kalimantan Timur, yang mengetahui visi dan misi di instansinya masingmasing.

2

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

pemerintah, sesuai yang ditetapkan agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik (sesuai INPRES No. 7/1999). Dengan adanya pernyataan visi dan misi disetiap organisasi pemerintah diharapkan seluruh pegawai pemerintah dari instansi yang bersangkutan dapat mengenal instansinya dan mengetahui peranan dan program-programnya serta hasil yang akan diperoleh diwaktu yang akan datang. Pegawai Negeri Sipil di Kalimantan Timur Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai salah satu unsur Aparatur Negara dan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam penyeleggaraan tugastugas umum pemerintahan dan pembangunan. Pegawai Negeri Sipil yang mampu memainkan peranan tersebut antara lain dapat dilihat sikap dan perilakunya yang memiliki mental baik, berwibawa, kuat, berdaya guna, berhasil guna, bersih, berkualitas tinggi dan sadar akan tanggung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Pegawai Negeri Sipil harus memiliki kepribadian dan sikap dasar sebagai aparatur pemerintah yang berdisiplin, berjiwa pengabdian, berdedikasi, dan mempunyai etos kerja serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu, PNS juga dituntut untuk dapat meningkatkan wawasannya mengenai sistem adminstrasi negara, administrasi perkantoran, serta keterampilan operasional, kepemimpinan dan manajerial. Bagi daerah Kalimantan Timur sebagai salah satu provinsi yang terluas setelah Papua dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia tentu harus dapat mempersiapkan sumber daya manusianya, khususnya sumber daya aparatur pemerintahnya. Keberhasilan sumber daya aparatur dalam menjalankan roda pemerintahan tidak hanya tergantung dari jumlah aparaturnya, tetapi yang lebih penting adalah kualitas sumber daya aparatur yang bersangkutan. JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

Keterampilan operasional sumber daya aparatur, khususnya PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur yang terdiri dari 1 Pemerintah Provinsi dan 14 Pemerintah Kabupaten/ Kota, tidak akan berhasil jika tidak diikuti dengan pengetahuan atau wawasan sistem administrasi negara dan manajerial. Hal ini dikarenakan wawasan sistem administrasi negara dan manajerial dapat membentuk budaya kerja yang baik pada organisasi atau instansi pemerintah. Berdasarkan data akhir tahun 2008, Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur (Provinsi/Kabupaten/Kota) berjumlah sekitar 60.212 orang. Angka ini dapat berubah-rubah sesuai kondisi yang terjadi, misalnya pensiun, mutasi, pengadaan PNS baru, dan lain sebagainya. Tingkat pendidikan PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur pun didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi kualitas dari PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur. Metodologi Penelitian Jenis dan Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis metode survei deskriptif. Jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau obyek tertentu. Jenis survei ini digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) populasi yang sedang diteliti. Fokus riset ini adalah perilaku yang sedang terjadi (what exist at the moment) dan terdiri dari satu variabel. Dalam penelitian ini, variabel yang ingin digambarkan adalah tingkat pengetahuan aparatur pemerintah terhadap visi dan misi pada instansinya masing-masing. Metode Pengumpulan Data dan Sampel Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data primer dengan 3

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

teknik pengumpulan data dengan cara penyebaran kuesioner, sedangkan data sekunder didapatkan dengan cara studi kepustakaan untuk mendukung analisis dan pembahasan penelitian ini. Kuesioner (angket) adalah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Tujuan penyebaran angket ini adalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan. Penelitian ini menggunakan gabungan antara dua jenis angket, yakni angket terbuka dan angket tertutup. Jenis angket tertutup dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dengan skala Guttman (skalogram), yang merupakan skala kumulatif. Artinya skala ini disusun secara kontinum sedemikian rupa sehingga seseorang yang setuju/ menerima sebuah item pertanyaan akan setuju/menerima item pertanyaan selanjutnya. Skala ini biasanya digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya: Ya-Tidak, PernahTidak Pernah, Benar-Salah, dan lainnya. Sedangkan jenis angket terbuka digunakan untuk menjaring saran atau masukan dari para responden mengenai cara yang paling efektif untuk mensosialisasikan visi dan misi instansi. Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang merupakan respresentasi dari populasi dihitung dengan menggunakan Rumus Yamane. Rumus ini digunakan untuk populasi yang besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi. dimana: n
N Nd 2 1

ambil berjumlah 397 sampel atau responden (jumlah populasi PNS di Kalimantan Timur adalah kurang lebih 60.212 orang). Dalam penelitian ini, ditetapkan jumlah sampel (responden) adalah 550 orang agar hasil penelitian lebih dapat mendekati perilaku populasi. Karena keterbatasan sumber daya yang ada dalam penelitian ini, maka ditetapkan Pemerintah Daerah yang akan dijadikan obyek penelitian adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pemerintah Kota Balikpapan Pemerintah Kota Bontang Pemerintah Kabupaten Bulungan Pemerintah Kabupaten Malinau Pemerintah Kabupaten Nunukan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara Pemerintah Kabupaten Kutai Timur Pemerintah Kabupaten Kutai Barat Pemerintah Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan

10. Pemerintah Timur. Alat Analisis

Alat analisis dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Tabel dan diagram pie (pie-chart) dipilih untuk menggambarkan seberapa banyak Pegawai Negeri Sipil yang mengetahui visi dan misi instansinya. Diagram ini dipilih agar lebih memudahkan dalam menggambarkan hasil penelitian. Untuk mengetahui cara sosialisasi Visi dan Misi Instansi dilakukan dengan pengumpulan jawaban atas kuesioner terbuka dan akan dirangking berdasarkan frekuensi yang terbanyak sampai dengan yang terkecil.

n = ukuran sampel N = ukuran populasi
d = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat Berdasarkan rumusan di atas, jumlah sampel minimal yang harus di4

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

Hasil Penelitian Dan Pembahasan Tingkat Pengetahuan PNS Terhadap Visi Instansi Jumlah responden yang berasal dari berbagai instansi dan daerah yang mengembalikan kuesioner berbeda-beda, hal ini dikarenakan berbagai hambatan yang ada dalam penelitian ini terutama hambatan geografis. Hasil jawaban kuesioner menunjukkan bahwa jumlah responden yang mengetahui visi di instansinya dengan pasti berjumlah 49 orang (8,9%), sedangkan yang tidak mengetahui berjumlah 501 orang (91,1%). Sedangkan perinciannya hasil jawaban responden berdasarkan daerah adalah sebagai berikut: Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap VISI Berdasarkan Daerah
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Prov/Kab/Kota Balikpapan Bontang Bulungan Malinau Nunukan Penajam Paser Utara Kutai Timur Kutai Barat Berau Provinsi Jumlah Responden 40 99 70 80 34 83 40 40 40 24 Jawaban TIDAK TAHU TAHU 16 24 13 2 2 8 4 1 0 0 3 86 68 78 26 79 39 40 40 21

Gambar 1. Tingkat Pengetahuan PNS di Kalimantan Timur Terhadap VISI Instansi

TIDAK TAHU 91.1%

TAHU 8.9%

Sumber: data diolah Tingkat Pengetahuan PNS Terhadap Misi Instansi Selanjutnya, jawaban para responden yang mengetahui misi di instansinya adalah 34 orang (6,1%), sedangkan yang tidak mengetahui misi instansi adalah 516 orang (93,9%). Rincian tingkat pengetahuan misi instansi berdasarkan daerah adalah sebagai berikut: Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap MISI Berdasarkan Daerah
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Prov/Kab/ Kota Balikpapan Bontang Bulungan Malinau Nunukan Penajam Paser Utara Kutai Timur Kutai Barat Berau Provinsi Jumlah Responden 40 99 70 80 34 83 40 40 40 24 Jawaban TAHU 5 9 0 5 8 4 1 0 0 2 TIDAK TAHU 35 90 70 75 26 79 39 40 40 22

Sumber: data diolah Secara keseluruhan tingkat pengetahuan Pegawai Negeri Sipil di Kalimantan Timur terhadap Visi Instansi digambarkan dalam diagram berikut.

Sumber: data diolah

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

5

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

Secara keseluruhan tingkat pengetahuan Pegawai Negeri Sipil di Kalimantan Timur terhadap Misi Instansi digambarkan dalam diagram berikut. Gambar 2. Tingkat Pengetahuan PNS di Kalimantan Timur Terhadap MISI Instansi
TIDAK TAHU 93.9%

Tabel 3. Cara Sosialisasi VISI dan MISI Instansi Pemerintah Menurut Responden
No 1 Pendapat Responden Menuliskan VISI dan MISI di depan instansi (berbentuk baliho) Menuliskan VISI dan MISI instansi pada dinding di setiap ruangan kantor VISI dan MISI selalu diingatkan oleh pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan (apel, rapat, dll) Menuliskan VISI dan MISI instansi disetiap meja kerja masing-masing pegawai Mewajibkan PNS agar hafal VISI dan MISI instansi Ditulis pada map instansi Menuliskan di buku agenda atau buku kerja Dituliskan pada leaflet atau brosur instansi Lembaran VISI dan MISI instansi dibagikan ke setiap PNS bersangkutan Dituliskan pada ID Card PNS bersangkutan Jumlah Responden 163

2

143

3

112

4
TAHU 6.1%

89

5 6 7 8 9 10

7 3 3 2 2 1

Sumber: data diolah Cara Sosialisasi Visi dan Misi Instansi Hasil penelitian juga berhasil menjaring beberapa pendapat responden mengenai cara mensosialisasikan visi dan misi di instansi pemerintah. Semua pendapat responden kemudian disusun dalam sebuah tabel dan dirangking berdasarkan frekuensi terbanyak (tersering) dijawab oleh responden. Pada penelitian ini diambil 10 (sepuluh) besar pendapat responden yang dianggap dapat mewakili PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur. Tabel berikut menunjukkan pendapat responden mengenai cara sosialisasi visi dan misi.

Sumber: data diolah Berdasarkan tabel di atas, ternyata menurut responden cara terbaik untuk melakukan sosialisasi Visi dan Misi Instansi adalah dengan menuliskan Visi dan Misi di depan instansi (berbentuk baliho), kemudian disusul dengan menuliskan Visi dan Misi Instansi pada dinding di setiap ruangan kantor, serta selanjutnya Visi dan Misi selalu diingatkan oleh pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas Pegawai Negeri Sipil tidak mengetahui Visi dan Misi di instansinya masing-masing. Hal ini sebenarnya tidak dapat dibiarkan begitu saja mengingat Visi dan Misi merupakan citacita dan arah tujuan yang hendak dicapai

6

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

oleh suatu instansi. Dengan demikian berarti banyak PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur yang tidak tahu kemana arah tujuan instansinya masing-masing. Untuk mengatasi hal tersebut memang tidak mudah, harus ada perhatian khusus dari para pimpinan di masingmasing instansi yang bersangkutan. Untuk itulah diperlukan suatu komitmen dari para pimpinan instansi, terutama komitmen pimpinan puncak (top management) untuk mensosialisasikan atau mengkomunikasikan mengenai visi dan misi instansinya kepada segenap jajarannya, baik di level middle management sampai pada level lower management (staf yang paling bawah). Karena proses mensosialisasikan dan memberikan fokus yang sama mengenai visi dan misi kepada seluruh staf merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses penciptaan nilai-nilai atau norma-norma budaya kerja yang bersifat positif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa salah satu cara yang paling mudah dan efektif untuk mensosialisasikan Visi dan Misi Instansi adalah membuat tulisan besar (baliho) di setiap instansi yang memuat tentang visi dan misi instansi yang bersangkutan. Jika misi organisasi terlalu panjang, mungkin hanya visi saja yang dicantumkan disana. Hal ini terlihat sepele, tetapi mungkin efeknya dapat sangat luar biasa karena penulisan visi dan misi di depan kantor atau instansi dapat memberikan pengaruh yang sangat positif. Tidak hanya bagi seluruh pegawai di instansi tersebut, akan tetapi juga berfungsi bagi pihak-pihak luar (stakeholders) yang berkepentingan terhadap instansi tersebut, dimana pihak-pihak eksternal pun dapat mengetahui kemana arah tujuan organisasi atau instansi tersebut melangkah. Bagi para pegawai, penulisan visi didepan kantor mereka dapat berfungsi sebagai pedoman, penunjuk arah, motivator, pemicu, penggerak semangat dan sarana pengingat terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan bagi instansi yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

kinerja yang sedang dan akan dilakukan dimasa mendatang. Di beberapa daerah di pulau Jawa ataupun didaerah lainnya sudah banyak menerapkan hal ini, memang kebanyakan mereka hanya mencantumkan visinya saja dengan tulisan yang besar (berbentuk baliho) di depan kantornya masing-masing. Kondisi ini sedikit berbeda di daerah provinsi Kalimantan Timur, dimana beberapa instansi pemerintah hanya menuliskan slogan pembangunan. Seyogyanya tulisan tersebut juga dibarengi dengan penulisan visi dan misi dari instansi yang bersangkutan. Alternatif lain untuk mensosialisasikan Visi dan Misi adalah menuliskan Visi dan Misi Instansi dibeberapa tempat seperti pada dinding setiap ruangan kantor, di meja kerja PNS, map instansi, dan lain-lainnya yang mudah untuk dilihat oleh para PNS. Disamping itu juga, pimpinan instansi juga seharusnya dapat terus mengingatkan Visi dan Misi Instansinya pada berbagai kesempatan dan terus memotivasi bawahannya agar dapat mencapai Visi dan Misi tersebut. Kesimpulan Dan Rekomendasi Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah: 1. Prosentase tingkat pengetahuan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kalimantan Timur yang mengetahui Visi Instansinya adalah 8,9%, sedangkan PNS yang tidak mengetahui visi instansinya adalah 91,1%. Prosentase tingkat pengetahuan PNS di Kalimantan Timur yang mengetahui Misi Instansinya adalah 6,1% dan yang tidak mengetahui adalah 93,9%. Beberapa cara terbaik mensosialisasikan Visi dan Misi di instansi adalah: Menuliskan Visi dan Misi di depan instansi (berbentuk baliho).

2.

3. a.

b. Menuliskan Visi dan Misi instansi pada dinding di setiap ruangan kantor.

7

TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI

c.

Visi dan Misi selalu diingatkan oleh pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan (apel, rapat, dan lainlain).

Daftar Pustaka Adair, J. 2007. Cara Menumbuhkan Pemimpin, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

d. Menuliskan Visi dan Misi instansi disetiap meja kerja masing-masing pegawai. e. f. Mewajibkan PNS agar hafal Visi dan Misi instansi. Menuliskan Visi dan Misi pada map instansi.

Bennis, W., Mason, RO., and Mitroff, II., 1992. Visionary Leadership: Creating a Compelling Sense of Direction for Your Organization, Jossey-Bass Publishers, San Francisco. Gibson JL., Ivancevich JM., and Donnelly JH. 1994. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses, Erlangga, Jakarta. Gitosudarmo I. and Sudita IN., 1994. Perilaku Keorganisasian, BPFE, Yogyakarta Ivancevich, JM. 1998. Human Resource Management Seventh Edition, Irwin McGraw-Hill, New York. Kast, FE. and Rosenzweig, JE., 2002. Organisasi dan Manajemen Jilid 1, Bumi Aksara, Jakarta. Kriyantono, Rachmat, 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Kencana, Jakarta. Robbins, SP., 2007. Perilaku Organisasi, Edisi Kesepuluh, Prentice-Hall, New Jersey. Siagian, SP., 2007. Manajemen Stratejik, Edisi Ketujuh, Bumi Aksara, Jakarta. Sunarto, 2005. MSDM Strategik, Amus, Yogyakarta. Supriyadi G, and Guno T. 2006. Budaya Kerja Organisasi Pemerintah, Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III, LAN RI, Jakarta. _______________ , 2009. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Fokusmedia, Bandung. http://www.bkn.go.id http://www.kalimantan-timur.go.id http://www.kaltimbkd.info http://www.menpan.go.id

g. Menuliskan Visi dan Misi pada buku agenda atau buku kerja. h. Menuliskan Visi dan Misi leaflet atau brosur instansi. i. j. Lembaran Visi dan Misi instansi dibagikan ke setiap PNS bersangkutan. Menuliskan Visi dan Misi pada ID Card PNS bersangkutan.

Rekomendasi Rekomendasi atau saran-saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Para pimpinan instansi harusnya sadar akan pentingnya sosialisasi Visi dan Misi Instansinya agar para bawahannya dapat fokus dan termotivasi untuk mencapai cita-cita organisasi. Berdasarkan saran dari responden, para pemimpin instansi dapat mensosialisasikan Visi dan Misi Instansinya dengan cara membuat atau menuliskan Visi dan Misi di depan instansi masing-masing, sebaiknya berbentuk baliho.

2.

8

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI Substansi NEGARA DAN PELAYANSIPIL Kediklatan SEBAGAI ABDI PUBLIK

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK Oleh : Ady Akhmad Ghazali, ST, MM Calon Widyaiswara Abstrak Pegawai Negeri Sipil adalah abdi negara dan pelayan publik. Hal ini perlu dipahami agar seorang pegawai negeri sipil dapat melakukan tugas dan tanggung jawabnya dalam mewujudkan cita-cita besar negara yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan. Karya tulis ini mencoba untuk mengulas peran pegawai negeri serta hal-hal yang membuat seorang pegawai negeri melupakan perannya. Kata Kunci : Pegawai Negeri Sipil, Abdi Negara, Pelayan Publik Pendahuluan Indonesia sudah memasuki 3 era diusianya yang ke 66 tahun, yaitu orde lama, orde baru dan era reformasi. Terlepas dari semua kritik dan segala penyimpangan yang terjadi, ketiga era tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang mulia, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Orde lama dan orde baru telah gagal mewujudkan tujuan tersebut dan di era reformasi pun pemerintah mulai kehilangan arah dan langkah yang perlu diambil. Ketiga era ini memiliki satu kelemahan yang sama yaitu belum maksimalnya peran pegawai negeri sipil sebagai abdi negara dan pelayan publik. Pegawai negeri sipil memiliki peran yang vital dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur melalui posisinya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat. Sebab pegawai negeri sipil adalah perancang, penggerak dan pelaku roda pemerintahan, serta melayani masyarakat. Kata melayani bukan berarti pegawai negeri sipil sebagai pelayan tetapi lebih kepada pemenuhan JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011 kebutuhan dasar masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, perumahan, transfortasi, listrik, air bersih. Pada era orde lama dan orde baru, pegawai negeri sipil diposisikan sebagai pemegang kekuasaan atau orang yang berkuasa sehingga sering bertindak otoriter. Pada era reformasi, posisi pegawai negeri sipil diarahkan untuk kembail ke hakekat yang sebenarnya. Tetapi ada hal-hal yang membuat strategi tersebut belum maksimal. Oleh karena itu tulisan ini mencoba mengupas peran dan makna pegawai negeri sipil sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, kemudian hal-hal yang membuat pegawai negeri sipil melupakan peran dan maknanya, serta solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Agar era reformasi tidak mengulangi kesalahan di orde lama dan orde baru serta bisa kembali lagi ke arah dan langkah yang sebenarnya. Peran Pegawai Negeri Sipil Undang Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian menjelaskan beberapa hal, antara lain : 1. Pegawai negeri adalah pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pegawai negeri terdiri dari: • • • Pegawai Negeri Sipil (PNS) Anggota Tentara Indonesia (TNI) Anggota Kepolisian Nasional Negara 9

2.

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

Republik Indonesia (POLRI) 3. Pegawai Negeri Sipil (PNS) terdiri dari: • Pegawai Negeri Sipil Pusat  Pegawai Negeri Sipil yang gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bekerja pada Departemen, Lembaga Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga tertinggi/Tinggi Negara, dan kepaniteraan pengadilan.  Pegawai Negeri Sipil Pusat yang bekerja pada perusahaan jawatan.  Pegawai Negeri Sipil Pusat yang diperbantukan atau dipekerjakan pada daerah otonom.  Pegawai Negeri Pusat Pusat yang berdasarkan suatu peraturan perundangundangan diperbantukan atau dipekerjakan pada badan lain, seperti perusahaan umum, yayasan, dan lain-lain.  Pegawai Negeri Sipil Pusat yang menyelenggarakan tugas negara lain, seperti hakim pada pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan lain-lain. • Pegawai Negeri Sipil Daerah Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di daerah otonom seperti daerah provinsi/kabupaten/ kota dan gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dipekerjakan pada pemerintah daerah maupun dipekerjakan di luar instansi induknya. 4. Jabatan kepemerintahan Pegawai Negeri Sipil • Jabatan struktural Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkan 10 berstatus

tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi negara. Seperti : sekretaris jenderal, direktur jenderal, kepala biro, staf ahli, sekretaris daerah, kepala dinas/badan/kantor, kepala bagian, kepala bidang, kepala seksi, camat, sekretaris camat, lurah, sekretaris lurah, dll. • Jabatan fungsional Jabatan yang tidak secara tegas disebutkan dalam struktur organisasi pemerintah, tetapi dari sudut pandang fungsinya diperlukan oleh organisasi pemerintah. Pangkat Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan fungsional berorientasi pada prestasi kerja, sehingga tujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil sebagai aparatur negara yang berdaya guna dan berhasil guna dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan dapat dicapai. Seperti : guru, dokter, widyaiswara, bidan, perawat, bidan, apoteker, auditor, statistisi, pranata laboratorium pendidikan, pranata komputer, arsiparis, pustakawan, dll. Dalam sambutannya saat menyerahkan Piala Citra Pelayanan Prima (CPP) 2008 kepada 80 unit pelayanan publik terbaik di Istana Negara, Jumat (31/10) sore. Bapak Presiden Susilo Bambang yudhoyono berpidato bahwa birokrasi dan jajaran pemerintahan pada hakikatnya memiliki dua peran. Pertama, berperan sebagai abdi negara dan abdi untuk menjalankan kehidupan bernegara ini sesuai dengan tatanan yang berlaku serta Undang Undang Dasar. “Yang kedua, sebagai abdi rakyat memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat,” kata Presiden SBY. Dengan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat bisa ditingkatkan secara bertahap. Kualitas pelayanan JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

juga harus meningkat. ”Perlu diingat bahwa pelayanan publik yang baik juga membantu rakyat kita, terutama golongan ekonomi lemah dan komunitas rakyat kita yang belum sejahtera. Katakanlah pendapatan mereka belum terlalu besar, pendapatannya pas-pasan. Dengan program bantuan langsung kepada masyarakat di bidang kesehatan, pertanian, dan sebagainya hal itu bisa mengurangi pengeluarannya karena sebagian diambilalih pemerintah melalui kebijakan fiskal APBN sehingga hidupnya relatif layak,” Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono menjelaskan. ”Kalau disumbang lagi oleh kita melalui pelayanan yang lebih baik, sehingga mengurus KTP tidak berharihari, tidak mondar-mandir, keluar uang untuk naik oplet atau untuk yang lain, maka pengeluaran itu makin sedikit lagi. Sehingga kita bisa mengurangi beban hidupnya. Ini adalah keadilan,” Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono menegaskan. Memberikan pelayanan yang terbaik kepada rakyat bisa menjadi sarana untuk mengukur dedikasi dalam tugas. ”Saya sering mengatakan bahwa di negeri ini kita pelit mengucapkan terimakasih, pelit untuk memberikan apresiasi, pelit untuk memberikan penghargaan bagi mereka yang sudah berjuang keras berusaha sekuat tenaga. Mari kita bangun etika dan etiket yang baik, memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih bagi yang patut menerimanya,” kata Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono. Sejak tahun 2004 akhir Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono telah menyampaikan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota bahwa dari sekian banyak tugas pimpinan, baik pusat maupun daerah, ada tujuh hal yang harus digarisbawahi. Pertama, setiap pemimpin harus mengurangi angka kemiskinan. Kedua, mengurangi pengangguran. Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan. Keempat, meningkatkan pelayanan kesehatan. Kelima, terus berikhtiar dengan kemampuan yang ada membangun dan merawat infrastruktur. Keenam, membangun tata pemerintahan JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

yang baik, birokrasi yang baik, mencegah dan memberantas korupsi. Ketujuh, meningkatkan kualitas pelayanan publik. Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 mengatakan “Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) merupakan pilihan dan panggilan hidup seseorang. Setiap profesi atau pekerjaan memiliki “roh”nya masing-masing yang menyebabkan profesi itu dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat. Rohnya PNS adalah sebagai Abdi Negara yang berarti juga sebagai pelayan masyarakat. Roh melayani masyarakat tidak boleh luntur atau hilang karena masalah karier atau penggajian PNS yang belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup, karena kemampuan pemerintah yang masih terbatas. Beberapa indikasi yang menunjukkan berkurangnya roh pelayanan ditandai dengan kasus-kasus indisipliner pegawai, disiplin yang merosot, penyalahgunaan waktu kerja, pelayanan publik yang kurang memuaskan, inefisiensi penggunaan keuangan negara sampai tindak korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan sebagainya. Sebagian PNS bahkan harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Era Reformasi harusnya dibarengi dengan reformasi mental di kalangan Abdi Negara”. Faktor Yang Membuat Pegawai Negeri Sipil Melupakan Perannya Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 berpendapat “bahwa pada umumnya motivasi seseorang menjadi PNS karena berpenghasilan tetap dan ada jaminan hari tua (mendapat pensiun)”. Dalam blognya Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep, menulis bahwa hampir dalam setiap tahun, pemerintah membuka pendaftaran rekruitmen CPNS dengna jumlah yang sangat banyak, bahkan sampai ribuah tenaga PNS yang dibutuhkan oleh pemerintah, untuk meningkat pelayanan terhadap masyarakat Rekruitmen dilakukan dalam rangka mengisi pos pemerintahan, sehingga proses pemerintahan akan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan pemerintah dan masyarakat. 11

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep berpendapat dalam konteks ini, perekrutan PNS, di satu sisi merupakan peluang yang sangat strategis bagi masyarakat, karena hal itu merupakan momentum bagi masyarakat untuk bekerja dalam struktur pemerintahan untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Menjadi PNS pada hakekatnya adalah menjadi abdi negara dengan tujuan luhur untuk berkorban dan memberikan yang terbaik bagi perjalanan negara, dengan cara memberikan pelayanan yang baik kepentingan masyarakat. Dengan kata lain, menjadi PNS juga berkmakna peluang kerja dan mengabdikan diri untuk memperbaiki dinamika pemerintahan. Sehingga dalam setiap momentum rekruitmen CPNS, para peminatnya kadangkala jauh lebih besar dari jatah yang dibutuhkan oleh pemerintah. Masyarakat berlomba-lomba untuk merebut untuk memberikan yang terbaik bagi negara, dengan cara bekerja sebagai abdi negara dalam pemerintahan. Hal itu sekaligus menunjukkan kalau minat masyarakat dalam menjadi PNS sangat luar biasa, tetapi jika dilihat dari sisi lain, bisa juga karena faktor masih besarnya jumlah pengangguran di tengah-tengah masyarakat, sehingga rekruitmen CPNS, dianggap sebagai solusi mencari pekerjaan, bukan bagaimana mengabdi dan menjadi abdi negara yang baik, dimana komitmen dan keikhlasan menjadi bagian penting dalam diri mereka. Menurut Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep. Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 berpendapat bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup manusia masa kini antara lain berkembangnya faham materialisme yang mengutamakan kebendaan, hedonisme atau hidup untuk bersenangsenang, dan konsumerisme yang selalu ingin memuaskan naluri konsumtif. Konsumerisme sudah begitu merasuk kehidupan, sehingga orang merasa tak terpuaskan jika belum mengikuti arus iklan, memenuhi diri dengan tawaran produksi dan memuaskan naluri konsumtifnya. Dimensi ‘having’ lebih 12

berperan daripada dimensi ‘being’. Orang cenderung berlomba-lomba ‘memiliki lebih’ (materi/uang) ketimbang menjadi ‘pribadi lebih’ atau ‘lebih bermartabat’. Akibatnya, dalam bekerja orang cenderung mengabaikan semangat pelayanan. Abbot Lawrence Lowell, Presiden Harvard University (1930), mengatakan hal yang menarik tentang hubungan antara pekerjaan, uang dan pelayanan, sebagai berikut : “Siapa pun yang memandang pekerjaannya sebagai cara untuk menciptakan uang, sesungguhnya ia mendegradasikan pekerjaannya sendiri. Tetapi seseorang yang melihat pekerjaannya sebagai pelayanan kepada umat manusia, sesungguhnya ia memuliakan pekerjaan dan dirinya sendiri”. Jati Diri yang Perlu Dimiliki Seorang Pegawai Negeri Sipil Komitmen Mengabdi Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep menulis pada dasarnya menjadi PNS adalah untuk mengabdi pada masyarakat dan negara. Menjadi PNS bukan mencari kewibawaan dan kharisma posisi atau bahkan mencari peluang untuk memperdaya masyarakat, tapi diarahkan untuk mengabdi dan siap berkorban pada masyarakat, bangsa dan negara. Semangat pengabdian inilah yang melandasi pemikiran mereka yang mengincar posisi sebagai PNS, sehingga posisi yang nanti berhasil diraihnya akan bisa dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi luhur sebagai PNS. Oleh karena itu, semangat mengabdi harus diutamakan dan dimasukkan dihati setiap PNS dengan kuat, sehingga posisi sebagai PNS semata untuk dan demi tekat untuk mengabdi kepada masyarakat. Pengabdian adalah niatan luhur yang wajib dimiliki oleh semangat mengabdi akan mampu memperkuat basis kesadaran PNS untuk memantapkan kinerja dan kerja-kerja nya sebagai PNS dengan maksimal dan baik. Bukan PNS yang hanya memanfaatkan posisinya tidak didasari oleh nilai-nilai pengabdian yang total. Inilah yang pada JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

gilirannya bisa menghambat proses kinerja dan sudah tentu akan sangat merugikan terhadap masyarakat bangsa dan negara. Menurut Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep. Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sebenarnya pegawai negeri sipil sedang memenuhi kebutuhannya sendiri atau dengan kata lain dalam mensejahterakan orang lain sebenarnya pegawai negeri sipil sedang mensejahterakan dirinya sendiri, sebab pemerintahan demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Akhir-akhir ini persaingan dalam dunia usaha telah mendorong perusahaan-perusahaan berlombalomba meningkatkan pelayanan untuk menarik pelanggan atau konsumen. Beberapa perusahaan swasta mulai menerapkan standar pelayanan tertentu untuk meningkatkan kinerja lembaga dan perusahaan. Tidak hanya pada kualitas pelaksanaan jasa pelayanan kepada pelanggan tetapi juga menentukan waktu yang lebih singkat untuk suatu jasa pelayanan. Misalnya, beberapa rumah sakit berstandar internasional telah menetapkan waktu maksimal untuk suatu jenis pelayanan dan bila melebihi waktu tersebut maka pasien/penderita dapat menyampaikan laporan pengaduan. Sebaliknya, pelayanan yang buruk seringkali menghambat pembangunan dan kemajuan daerah. Pelayanan yang buruk antara lain terlihat pada urusan birokrasi yang berbelit-belit, tidak ada kepastian waktu, serta pelayanan yang berorientasi mendapat imbalan tertentu Martabat Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 menulis sikap mental yang harus dimiliki sebagai seorang Abdi Negara adalah menjunjung tinggi martabat diri dengan bekerja untuk melayani masyarakat. Martabat atau harga diri seseorang tergantung dari apa yang diperbuat untuk orang lain, bukan karena apa yang dimilikinya. Dimensi “being” atau menjadi lebih bermartabat JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

lebih utama daripada dimensi “having” atau apa yang dimiliki. Sikap mental untuk selalu memelihara martabat diri harus dilandasi keimanan dan moralitas yang luhur. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa dengan melayani sesama menjadikan seseorang lebih bermartabat di hadapan sesama dan Tuhan. Lebih baik melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa meningkatkan martabat diri Anda daripada berusaha memiliki banyak materi dengan cara-cara yang merendahkan martabat diri. Tidak sedikit Abdi Negara yang mengakhiri masa tugas dengan kehilangan martabat diri karena kasus-kasus hukum. Semua yang dimilikinya tidak berarti dibandingkan dengan penderitaan karena kehilangan harga diri. Sebaliknya, tidak sedikit Abdi Negara yang dapat mengakhiri masa tugas dengan baik karena mengabdi tanpa cela, walaupun mereka tidak memiliki banyak harta. Kebaikan, keutamaan dan pelayanan yang ditanam pada masa pengabdian Anda, akan menuai kebahagiaan pada masa purnatugas. Sebaliknya bila menanam keburukan selama bertugas, akan menuai akibat buruk pada masa purnatugas. Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership) Mereka yang diberi talenta untuk menjadi pemimpin harus menyadari bahwa ia adalah hamba Tuhan dan pelayan bagi rakyat yang dimpimpinnya. Orientasi pemimpin-pelayan (Servant leader) adalah melayani dan bekerja dengan standar moral-spiritual. Ia lebih mengutamakan terciptanya followership (kepengikutan) daripada mengejar kekuasaan. Profesor Robert E Kelley, pelopor pengajar Follwership and Leadership mengatakan bahwa keberhasilan organisasi 80 persen ditentukan oleh para pengikut (followers), selebihnya 20 persen merupakan kontribusi pemimpin (leader). Pengikut yang bekerja dengan semangat dan memiliki komitmen penuh akan menentukan keberhasilan tugas seorang pemimpin. Beberapa sifat utama pemimpin-pelayan antara lain adalah : mendorong pengikutnya untuk mengembangkan potensi diri, selalu 13

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

memelihara kontak dengan Tuhan, setia pada misi, memiliki sauh batiniah, tahu bersyukur, membentuk dan bekerja dengan tim, melatih dan mendidik pengganti, memberdayakan kaum perempuan, memberi tanggungjawab, memberi teladan, melayani sesama dalam bekerja untuk kemuliaan nama Tuhan. Berpikir Positif Setiap orang pasti ingin berhasil dalam pekerjaannya dan mencapai tujuan dalam hidupnya. Kebanyakan orang yang berhasil adalah orang-orang yang berpikir positif. Berpikir positif adalah kunci untuk meraih sukses. Pikiran adalah asal-usul atau “nenek moyang” nya perbuatan. Dengan berpikir positif maka banyak masalah bisa dipecahkan, karena orang yang berpikir positif selalu berusaha mengatasi masalah dan berbuat konstruktif. Sebaliknya orang yang berpikir negatif berusaha menghindari beban kerja, membuat masalah baru dan cenderung destruktif. Berpikir positif jalan menuju sukses, berpikir negatif jalan menuju kegagalan. Menurut Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998. Bersyukur/Berterima Kasih Sikap tahu berterima kasih adalah sikap yang harus dimiliki Abdi Negara karena sikap tahu berterima kasih adalah bagian dari mentalitas Abdi Negara. Ungkapan terima kasih bisa dilakukan dengan ucapan dan melalui perbuatan dengan bekerja lebih baik. Orang yang tahu berterima kasih akan berusaha melakukan tugasnya dengan lebih baik dari waktu ke waktu karena ia meyakini bahwa dengan itu ia memuliakan dirinya, organisasi dan Tuhan. Sebaliknya orangorang yang tidak tahu bersyukur / berterima kasih selalu merasa tidak puas dan lebih banyak menuntut hak daripada melakukan kewajibannya. Menjadi Teladan Sikap keteladanan harus dimiliki seorang Abdi Negara karena ia adalah “pemimpin” bagi keluarga, 14

lingkungan masyarakat dan orang-orang dalam tanggungjawab pekerjaannya. Pemimpin di daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota, dan di bawahnya ada pemimpin-pemimpin dinas, unit kerja, kecamatan, desa sampai RT/RW. Menjadi teladan sangat penting bagi seorang pemimpin agar ia bisa memiliki pengaruh pada para pemimpin bawahannya. Hakikat memimpin adalah cara, seni (art) untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Untuk menjadi teladan maka ia harus meneladankan perilaku yang baik kepada sekitarnya, menganjurkan kebaikan itu, dan setelah itu baru bisa mengharuskan orang lain untuk melakukan misi yang diinginkan. Disiplin Disiplin adalah faktor penunjang dalam keberhasilan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. Sulit untuk membayangkan suatu lembaga dengan kewenangan mengelola anggaran/dana, atau memiliki peralatan senjata untuk perang, atau kewenangan memutuskan kebijakan penting tetapi tanpa didukung oleh displin aparatnya. Penyalahgunaan kekuasaan selalu diawali dengan merosotnya disiplin dan peraturan dengan mudahnya dilanggar, atau dicari celah-celahnya untuk dilanggar. Disiplin adalah nafasnya suatu organisasi. Tanpa disiplin maka anggota dalam organisasi hanya kumpulan orang-orang yang hanya mencari keuntungan pribadi dan organisasi itu hanya menunggu waktunya untuk runtuh. Disiplin dapat berupa disiplin bekerja, disiplin mematuhi aturan/ hukum, disiplin menggunakan waktu, disiplin anggaran, disiplin menggunakan fasilitas negara, dan disiplin dalam perencanaan serta pelaksanaan program kerja. Disiplin harus ditanamkan sejak usia dini di sekolah, sehingga setelah orang dewasa sudah terbiasa dengan disiplin. Menanamkan disiplin pada awalnya perlu dengan latihan-latihan yang keras untuk mematuhi aturan. Bila sudah terbiasa hidup berdisiplin, maka beban pekerjaan yang berat akan terasa JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK

lebih ringan. Menjadi Agen Pembangunan Program pembangunan yang direncanakan oleh Pemprov atau Pemkab/ Pemkot tidak akan mencapai hasil maksimal apabila tidak didukung oleh partisipasi para PNS untuk menyukseskan program-program tersebut. Selain program-program yang bersifat sektoral, ada kegiatan-kegiatan lintas sektoral yang bisa dilakukan dengan melibatkan para PNS. Keterlibatan para PNS bisa dalam bentuk perorangan, relawan, satuan tugas, kepanitiaan, atau bentuk lain yang telah ditentukan. Dalam hal ini para PNS menjalankan misinya sebagai Abdi Negara/pemerintah, agen pembangunan dan pelopor dalam bidang-bidang kehidupan tertentu. Hal-Hal Yang Dapat Menunjang Peningkatan Kinerja Pegawai Negeri Sipil Diklat Upaya yang apat dilakukan pemerintah dalam memperbaiki kinerja aparaturnya adalah pendidikan dan pelatihan (Diklat) pegawai), dan sistem remunerasi di lingkungan kerja instansi pemerintah. Dalam upaya peningkatan profesionalitas pegawainya, pemerintah menggalakkan pendidikan dan pelatihan (diklat) pegawai. Diklat dapat berupa diklat prajabatan dan diklat dalam jabatan antara lain diklat kepemimpinan, diklat fungsional dan diklat teknis. Remunerasi Remunerasi adalah pemberian imbalan kerja yang dapat berupa gaji, honorarium, tunjangan tetap, insentif, bonus atau prestasi, pesangon dan/ atau pensiun. Dengan remunerasi diharapkan adanya sistem penggajian pegawai yang adil dan layak. Besaran gaji pokok didasarkan pada bobot jabatan. Penggajian PNS juga berdasar pada pola keseimbangan komposisi antara gaji pokok dengan tunjangan dan keseimbangan JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

skala gaji terendah dan tertinggi. Dengan remunerasi pula, peningkatan kesejahteraan pegawai dikaitkan dengan kinerja individu dan kinerja organisasi. Menciptakan Rancangan Kerja Yang Menyenangkan Selain kebutuhan ekonomi setiap manusia juga perlu memenuhi kebutuhan psikologi, salah satu caranya dengan menciptakan rancangan kerja yang menyenangkan seperti, membuat pekerjaan lebih berarti, lebih menarik dan lebih memberikan tantangan. Memberikan otonomi dan tanggung jawab lebih besar untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sendiri. Memberikan tambahan tugas pada pegawai agar pekerjaan lebih bervariasi tanpa menuntut kemampuan yang lebih tinggi. Penutup Karya tulis ini dibuat oleh penulis dalam kapasitasnya sebagai calon pegawai negeri sipil untuk memahami arti dari menjadi seorang pegawai negeri sipil dan tindakan yang harus dilakukan. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat. Daftar Pustaka http://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_ negeri http://tabloid_info.sumenep.go.id/ index.php?option=com_content&task=vi ew&id=317&Itemid=27 http://www.presidenri.go.id/index. php/fokus/2008/10/31/3655.html http://hermanmusakabe.nttprov. go.id/?p=22 http://www.scribd.com/doc/2523600/ PENINGKATAN-KINERJA-PEGAWAINEGERI-SIPIL http://pormadi-simbolon.blogspot. com/2008/06/upaya-meningkatkankinerja-pns.html

15

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

Metode, Teknis dan Kiat Kediklatan

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN Pendekatan “AFDHAL” dalam Andradogi Oleh : Ir. H. Maksum Abdullah Marhamah M., MS *) Widyaiswara Madya Badan Diklat Prov. Kaltim

Pendahuluan Andragogi adalah pembelajaran bagi insan dewasa, yang antaralain dicirikan sebagai proses pembelajaran yang bersifat partisipatif, karena setiap pelaku proses pembelajaran ini, baik fasilitator/ pelatih/ tutor/ widyaiswara maupun peserta pembelajaran (pembelajar) dapat berperan sebagai narasumber. Sebagai konsekuensinya, andragogi memerlukan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learner oriented). Tulisan ini mengeksplorasi ”AFDHAL” sebagai sebuah alternatif pendekatan tersebut. Secara tekstual, AFDHAL adalah kata dari bahasa Arab, yang berarti lebih baik. Secara maknawi, pengertian ini disematkan pada konsep pendekatan dalam andragogi ini disertai asa dan semangat mewujudkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik. Konsep dasar pendekatan AFDHAL meliputi Aku Fahami, Dalami, Hayati, Amalkan dan Lestarikan. Konsep ini disusun berdasarkan pengalaman praktis penulis dalam tahun pertama (2009) sebagai widyaiswara pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Kalimantan Timur di Samarinda. Konsep ini juga disusun sebagai tindaklanjut dari evaluasi mandiri terhadap berbagai masalah aktual yang sering dihadapi dalam berbagai jenis dan tingkatan pendidikan dan pelatihan (diklat) aparatur pemerintah, baik diklat Prajabatan dan Kepemimpinan, maupun diklat Fungsional dan Teknis. Sebagai sebuah konsep yang baru dalam tahapan eksploratif, setiap tahapannya (identifikasi, analisis, pembahasan dan perumusannya) masih 16

disusun berdasarkan pendekatan empiris kualitatif. Sebagai konsekuensinya, pendekatan ini bersifat tentatif, dan tidak final, sehingga konsep pendekatan AFDHAL dalam andragogi ini masih terbuka untuk diuji validitas, perumusannya serta efektifitas dan efisiensi penerapannya. Namun kemungkinan penerapannya tidaklah tertutup sepenuhnya. Selama tahun 2010, konsep pendekatan pembelajaran ini sudah penulis terapkan dengan menggunakan beberapa metode dan instrumen, terutama dalam diklat Prajabatan dan Kepemimpinan. Secara umum, menurut para pembelajar (peserta diklat), penerapan konsep pendekatan AFDHAL ini cukup membantu mereka mengatasi beberapa masalah yang sering mereka hadapi ketika mengikuti proses pembelajaran dalam diklat tersebut ; antusiasme, penguasaan materi, serta internalisasi dan aktualisasi materi pembelajaran. Secara empiris, beberapa masalah yang sering dihadapi dalam proses pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah antara lain adalah sebagai berikut ; Kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran, • • Tidak optimalnya penguasaan pembelajar terhadap materi pembelajaran, Lemahnya internalisasi dan aktualisasi esensi materi pembelajaran,

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

Identifikasi Permasalahan 1. Kurang Antusiasnya Pembelajar Mengikuti Proses Pembelajaran

Kurang antusiasnya pembelajar pada proses pembelajaran bisa terjadi pada proses pembelajaran dalam kelas maupun dalam penyelesaian tugas–tugas mandiri di luar kelas. Di dalam kelas, hal ini dapat ditengarai dari berbagai gejala yang terlihat secara kasat mata, antara lain ; kurangnya minat para pembelajar untuk bertanya maupun berdiskusi. Hal inipun terlihat dari banyaknya pembelajar yangnmelamun, berbisik-bisik, bermain alat tulis dan handphone, saling berkirim “surat”, bolak-balik minta izin ke luar kelas dll. Dalam kelompok, hal ini dapat ditengarai dari ekstrimnya performance kelompok menyelesaikan tugas ; baik terlalu cepat (asal-asalan), maupun sebaliknya, terlalu lambat. Kurang antusiasnya pembelajar juga dapat ditengarai dalam keterlambatan penyelesaian tugas - tugas mandiri (tugas baca, observasi lapangan, penyusunan kertas kerja, dll),. Di sisi lain, kurangnya antusiasme pembelajar ini juga juga terlihat dari tampilan tugas yang dihasilkan ; kuantitas tugas yang tidak memadai, disajikan secara copy and paste, tidak sistematis, dengan kualitas paparan, analisis dan penyimpulan seadanya. 2. Tidak optimalnya Penguasaan Pembelajar terhadap Materi Pembelajaran,

Di sisi lain, pemahaman secara tekstual saja juga menyebabkan para pembelajar hanya mampu memahami materi pembelajaran secara fragmental (terpisah-pisah) sehingga tidak mampu memahaminya secara sistematis dalam kaitan kerangka keterkaitan yang logis dan relevan. Keterbatasan pemahaman seperti ini juga membatasi kemampuan para pembelajar membangun pemahaman masalah secara holistik (utuh). 3. Lemahnya Internalisasi dan Aktualisasi Esensi Materi Pembelajaran,

Internalisasi esensi materi pembelajaran adalah proses penghayatannya sebagai nilai-nilai (values) yang dapat digunakan dalam pembentukan karakter para pembelajar. Sedangkan aktualisasi esensi materi pembelajaran adalah proses pengamalan nilai-nilai itu dalam berbagai aspek kehidupan. Indikasi lemahnya internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai tersebut bisa dilihat dari tidak signifikannya perubahan perilaku para pembelajar. Beberapa indikatornya adalah ; kemauan dan kemampuan menyimak gejala dan fenomena, mengidentifikasi dan menganalisis masalah, berkomunikasi dan berdiskusi, serta menyelesaikan tugas, baik secara mandiri maupun secara sinergis dalam kelompok. Kelemahan ini bisa dilihat dalam perspektif substansi maupun dalam perspektif waktu. Secara substantif, lemahnya internalisasi dan aktualisasi materi pembelajaran dapat dilihat dari tidak mampunya para pembelajar menghayati dan mengamalkan esensi materi pembelajaran untuk merubah perilaku mereka, baik berupa kemampuan dalam menata dan memperbaiki pola pemikiran, pola komunikasi, maupun pola tindak mereka. Kelemahan pembelajar dalam penghayatan dan pengamalan nilai-nilai dari proses pembelajaran bisa menurunkan kinerja mereka, baik secara individual maupun komunal. Secara individual, lemahnya internalisasi dan aktualisasi ini dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam membangun karakter pribadi dan kemandirian mereka. Secara komunal, 17

Indikasi tidak optimalnya penguasaan pembelajar terhadap materi pembelajaran dapat dilihat dari pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran yang lebih bersifat tekstual, belum banyak pembelajar yang mencapai pemahaman secara kontekstual. Pemahaman secara tekstual saja membuat para pembelajar hanya mampu memahami materi secara terbatas pada hal-hal yang bersifat superficial (di permukaan), tanpa kedalaman, sehingga tak mampu menggali substansi materi pembelajaran yang disajikan, apalagi menyerap esensinya. JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

lemahnya internalisasi dan aktualisasi ini bisa menurunkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, berinteraksi, berkordinasi & bersinergi dalam kelompok. Dalam perspektif waktu, hal ini dapat dilihat melalui pengamatan atas perilaku mereka pada berbagai aspek proses pembelajaran selama mengikuti proses pembelajaran dalam diklat, maupun dalam berbagai aspek pelaksanaan tugas-tugas mereka setelah kembali ke lembaga mereka pasca diklat. Dalam perspektif waktu, kelemahan ini juga menggambarkan kelemahan pembelajar melestarikan dan mengembangkan nilainilai yang diserapnya dalam setiap tahap pembelajaran, baik selama maupun sesudah diklat. Analisis Penyebab Permasalahan 1. Kurang Antusiasnya Pembelajar Mengikuti Proses Pembelajaran

pembelajar, penguasaan substansi materi pembelajaran, serta metoda dan teknik pembelajaran yang kurang memadai. Sayangnya, ketiga kekurangan ini sering kali diperparah oleh kekurangan yang keempat ; banyak pengajar yang kurang menyadari ketiga kekurangan ”laten” tersebut di atas. Hal ini berpangkal dari ”penyakit” laten yang sering kali mewabah secara kronis tanpa disadari ; rutinitas. Rutinitas semacam ini kian merebak seiring meningkatnya frekuensi pelaksanaan diklat, sehingga menimbulkan fenomena ”kejar tayang” di kalangan para pengajar, yang pada gilirannya berpengaruh negatif baik terhadap performance mereka sendiri, proses pembelajaran, serta antusiasme para pembelajar dalam berbagai aspek proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran yang amat berpotensi menurunkan antusiasme pembelajar adalah proses pembelajaran yang monoton, tunggal nada tanpa rangsangan keragaman. Penyebabnya terutama bersumber pada interaksi antara pembelajar dan pengajar yang kurang baik, serta situasi lingkungan pembelajaran yang kurang mendukung interaksi itu. Interaksi antara pembelajar dan pengajar yang kurang baik berpangkal dari kurangnya pengenalan diri (AKU) pembelajar dan pengajar, pemahaman mendasar tentang asas-asas andragogi dalam diklat, serta penghayatan peran keduanya dalam proses pembelajaran. Situasi lingkungan pembelajaran yang kurang mendukung interaksi positif pembelajar dan pengajar bisa disebabkan prasarana dan sarana (fasilitas dasar) pembelajaran yang kurang memadai serta ”gangguan” dari lingkungan sekitar, termasuk dari kelas yang lain. 2. Tidak optimalnya Penguasaan Pembelajar terhadap Materi Pembelajaran

Penyebab kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran dapat ditelusuri dari tiga sisi ; sisi pembelajar, pengajar, serta proses pembelajaran itu sendiri. Ketiga sisi tersebut bisa ditemukan secara terpisah, namun lebih sering terjadi secara bersamaan, sehingga memperparah permasalahan yang dihadapi. Dari sisi pembelajar, ada beberapa penyebab yang mungkin ditemukan ; rendahnya motivasi pembelajar untuk mengikuti diklat, atau minimnya rasa ingin tahu pembelajar. Rendahnya motivasi pembelajar untuk mengikuti diklat bisa berpangkal dari persepsi pembelajar terhadap diklat yang diikutinya ; sekedar memenuhi persyaratan untuk pengangkatan (diklat Prajabatan), sekedar memenuhi perintah (diklat teknis/fungsional), ketidakyakinan akan manfaat diklat pada diklat kepemimpinan bagi peserta yang belum menduduki jabatan (”dik-duk”), atau sebaliknya bagi peserta yang telah menduduki jabatan (”duk-dik”). Dari sisi pengajar, kurang antusiasnya pembelajar dapat disebabkan kurangnya pengenalan kebutuhan 18

Penyebab titak optimalnya penguasaan pembelajar terhadap materi pembelajaran sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran. Di sisi lain, hal ini juga JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

disebabkan oleh beberapa kelemahan umum yang sering ditemukan dalam proses penguasaan materi pembelajaran ; lebih bertumpu pada kemampuan menghafal, bukan memahami ; pemahaman secara tekstual, bukan pada kontekstual ; pemahaman secara superficial, bukan pada pendalaman ; pemahaman secara fragmental, bukan integral ; serta pemahaman secara linier, bukan pemahaman secara sistematis. Berbagai kelemahan tersebut diperparah lagi oleh berbagai keterbatasan materi pembelajaran yang disajikan dalam proses pembelajaran. Beberapa keterbatasan materi pembelajaran yang sering kali ditemukan adalah ; format materi, volume materi, serta substansi dan aktualitas materi yang disajikan dalam proses pembelajaran suatu diklat. Format materi yang umum disajikan berupa modul, yang seringkali ”kering” dan tidak ”merangsang”, dengan volume yang terkadang terlalu banyak dibandingkan dengan alokasi waktu penyajian, serta substansi dan aktualitas yang sering ketinggalan zaman. 3. Lemahnya Internalisasi dan Aktualisasi Esensi Materi Pembelajaran

esensinya secara aktif dan kreatif. Kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung pasca proses pembelajaran sering kali terjadi akibat budaya kerja birokrasi yang cenderung rutin, mapan dan ”feodalistik” sehingga kurang kondusif bagi perbedaan pendapat, kreatifitas serta inovasi dan pembaharuan. Alternatif Pemecahan Permasalahan Pendekatan AFDHAL diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pendekatan untuk memecahkan tiga kelemahan yang sering dhadapi oleh para pelaku pembelajaran (pembelajar dan widyaiswara) dalam diklat aparatur pemerintah tersebut di atas melalui pengoptimalan penerapan prinsip-prinsip pembelajaran dalam andragogi. Secara tekstual, AFDHAL merupakan akronim dari Aku (Fahami, Dalami, Hayati, Amalkan dan Lestarikan). Konsep dasar pendekatan ini merupakan pengembangan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada pembelajar (learner oriented) menjadi pembelajaran yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pembelajar. Keenam aspek pendekatan tersebut merupakan suatu kesatuan proses yang dapat dllaksanakan secara simultan dan berkelanjutan. Proses penerapannya dilakukan dalam enam tahapan ; penemukenalan AKU (jatidiri) para pelaku pembelajaran, pemahaman materi, substansi dan esensi materi pembelajaran, pendalaman nilai-nilai dalam materi, substansi dan esensi pembelajaran, penghayatan nilai-nilai tersebut oleh para pelaku pembelajaran, serta pengamalan dan pelestariannya dalam berbagai aspek kehidupan. Penerapannya dilaksanakan secara simultan melalui pengoptimalan peranserta dan kerjasama antara pembelajar dan widyaiswara dalam enam aspek pendekatan AFDHAL berikut ini: 1. AKU. Penemukenalan (identifikasi) jatidiri para pelaku pembelajaran sebagai basis penumbuhkembangan proses pembelajaran secara partisipatif dan sinergis.

Akumulasi dari kedua kelemahan tersebut bermuara pada lemahnya internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai (values) yang bisa diserap dan diolah para pembelajar dari proses pembelajaran yang mereka ikuti dalam diklat. Kelemahan ini mungkin disebabkan oleh ; kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai tersebut, baik selama proses pembelajaran, maupun ketika mereka kembali bertugas pada instansinya masing-masing setelah proses pembelajaran. Kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung dalam proses pembelajaran sering kali terjadi akibat dominannya upaya menghabiskan materi pembelajaran ketimbang pendalaman dan pengembangan (behind & beyound) nya, sehingga kurang menyediakan rangsang dan ruang bagi pembelajar mengeksplorasi JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

19

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

Proses ini diawali pengenalan ”AKU” para pelaku pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan penemukenalan peranan para AKU tersebut, baik dalam konteks pembelajaran selama diklat, maupun dalam konteks pelaksanaan tugas dan fungsi para pelaku pembelajaran tersebut pasca diklat. 2. FAHAMI. Pengalihan proses penguasaan materi pembelajaran dari sekedar menghafal menjadi memahami , sebagai basis penumbuhkembangan pemahaman tekstual menjadi kontekstual, dari partial/fragmental menjadi sistematik/holistik. 4. Proses ini dilaksanakan secara simultan melalui pengembangan kemampuan pemahaman para pelaku pembelajaran; dari menghafal menjadi memahami ; dari pemahaman secara tekstual menjadi kontekstual ; dari pemahaman materi secara superficial menjadi substantial ; dari pemahaman secara fragmental menjadi integral ; serta dari pemahaman linier, menjadi pemahaman sistematis. 3. DALAMI. Perangsangan rasa ingin tahu (curiosity) para pelaku pembelajaran untuk mendalami dan memperkaya penguasaan materi pembelajaran yang tersurat agar dapat memahami substansi dan esensi yang tersirat dalam materi tersebut (what behind) , dan keterkaitan antar materi dalam suatu diklat (what beyound). Proses pendalaman ini dapat dilakukan pelaksanaan dan pembimbingan tugas-tugas mandiri, seperti tugas baca dan KKP, maupun melalui pelaksanaan tugas-tugas kelompok, seperti ”mading” (makalah dinding) serta KKK atau KKA. 20

HAYATI. Pengembangan upaya dan kemampuan para pelaku pembelajaran untuk menghayati (internalisasi) nilainilai yang dapat mereka eksplorasi ; dari esensi pembelajaran maupun dari setiap aspek dan tahapan proses pembelajaran. Proses penghayatan ini diawali dengan analisis dan penemukenalan nilai-nilai positif yang inheren dalam jatidiri para pelaku pembelajaran, dilanjutkan dengan penemukenalan nilai-nilai dari substansi dan esensi setiap materi pembelajaran, serta kemungkinan/potensi sintesis antara kedua nilai tersebut dalam kehidupan. AMALKAN. Pengembangan upaya dan kemampuan para pelaku pembelajaran untuk mewujudkan (aktualisasi) nilai-nilai yang telah mereka temukan di atas secara nyata dalam bentuk tindakan (just do it !), mandiri maupun berkelompok. Secara maknawi, pengamalan ini tidak hanya meliputi proses melakukan (to do) sebagai upaya mewujudkan kemandirian para pelaku pembelajaran secara individual, tetapi juga meliputi proses saling berbagi (to share) sebagai upaya mewujudkan kebersamaan mereka secara sinergis dalam kelompok/komunal. Sejalan dengan pelingkupan tersebut, proses pengamalan ini sudah diawali/diinisiasi sejak proses penemukenalan jatidiri serta kemandirian para pelaku pembelajaran, dikembangkan dalam proses penumbuhan kebersamaan dalam penyelesaian tugas-tugas kelompok selama pembelajaran dalam diklat, serta dimatangkan dalam kerjasama antar individu dan kelembagaan pasca diklat.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

5.

LESTARIKAN. Pengembangan upaya dan kemampuan pelaku pembelajaran untuk mempertahankan, menyesuaikan serta meningkatkan kelima upaya mereka tersebut di atas agar dapat mengimbangi berbagai perubahan yang mereka hadapi. Upaya ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi berbagai perubahan tersebut ; baik perubahan yang bersifat internal dari dalam diri mereka sendiri, seperti pertambahan usia, pengalaman, perubahan status, maupun perubahan yang bersifat eksternal seperti pergantian zaman, situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Rangkaian upaya tersebut perlu dilakukan melalui iterasi (”pengulangan”/RE) serta improvisasi terhadap kelima aspek pendekatan tersebut di atas, misalnya ; REdefinisi AKU (jatidiri) para pelaku pembelajaran, REorientasi pemahaman dan pendalaman nilai-nilai yang didapatkan para pelaku pembelajaran dari proses pembelajaran sebelum, selama dan sesudah diklat, serta REvitalisasi penghayatan dan pengamalannya.

bersamaan, sehingga memperparah permasalahan yang dihadapi. Pendekatan AFDHAL diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pendekatan untuk memecahkan tiga kelemahan yang sering dhadapi oleh para pelaku pembelajaran (pembelajar dan widyaiswara) dalam diklat aparatur pemerintah tersebut di atas melalui pengoptimalan penerapan prinsip-prinsip pembelajaran dalam andragogi. Secara tekstual, AFDHAL merupakan akronim dari Aku (Fahami, Dalami, Hayati, Amalkan dan Lestarikan). Konsep dasar pendekatan ini merupakan pengembangan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada pembelajar (learner oriented) menjadi pembelajaran yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pembelajar. Secara umum, menurut para pembelajar (peserta diklat), penerapan konsep pendekatan AFDHAL ini oleh penulis pada proses pembelajaran berbagai diklat PNS di Propinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 cukup membantu mereka mengatasi beberapa masalah yang sering mereka hadapi ; antusiasme, penguasaan materi, serta internalisasi dan aktualisasi materi pembelajaran. Metode dan teknik penerapan pendekatan AFDHAL ini insya ALLOH akan dipaparkan dalam edisiedisi Jurnal WidyaSwarA berikutnya, sebagai upaya berbagi pengalaman dan saling mengimprovisasi pelaksanaan tugas-tugas kediklatan yang diamanahkan kepada kita semua. (@S@). Daftar Pustaka De Porter dan Mike Hernacki. 2000. Quantum Learning ; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Penerjemah ; Alwiyyah Abdurrahman, Penyunting ; Sari Meutia. Penerbit Kaifa, Bandung. Sagala, Syaiful. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Penerbit Alfabeta, Bandung.

Penutup Secara empiris, beberapa masalah yang sering dihadapi dalam proses pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah antara lain adalah ; Kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran, Tidak optimalnya penguasaan pembelajar terhadap materi pembelajaran, serta Lemahnya internalisasi dan aktualisasi esensi materi pembelajaran, Penyebab kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran dapat ditelusuri dari tiga sisi ; sisi pembelajar, pengajar, serta proses pembelajaran itu sendiri. Ketiga sisi tersebut bisa ditemukan secara terpisah, namun lebih sering terjadi secara JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

21

KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI

CATATAN REDAKSI : Rubrik Kiat Praktis Kediklatan ini disajikan dalam format tulisan ilmiah populer untuk menampung berbagai gagasan, pengalaman dalam menghadapi dan memecahkan berbagai masalah praktis dalam dunia kediklatan. Sesuai dengan rubrikasi dan formatnya sebagai tulisan ilmiah populer, tulisan yang disajikan dalam rubrik ini tetap mengacu pada kaidah-kaidah umum penulisan ilmiah, disertai dengan literatur penunjang yang relevan, walaupun pengutipan substansinya tidak seeksplisit tulisan ilmiah ”formal” Kami tunggu tulisan dan tanggapan anda. Redaksi Jurnal ”WidyaSwarA Badan Diklat Propinsi Kalimantan Timur

22

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MANAJEMEN & PENERAPANNYA Complementary Kediklatan DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

Oleh : H. Diddy Rusdiansyah, SE, MM Sekretari Badan Diklat Prov. Kaltim Abstraksi Tanpa disadari bahwa pelaksanaan otonomi daerah yang sudah berlansung dalam sepuluh tahun terakhir ini, sejalan dengan beberapa perubahan mendasar dibidang ilmu manajemen, terutama dalam kaitannya dengan perubahan organisasi sebagai dampak daripada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Organisasi dimasa depan, baik dalam lingkup pemerintahan maupun swasta (bisnis), cenderung akan mengarah pada spesialiasi dan pembentukan sistem jaringan kerja, disamping melakukan desentralisasi pengambilan keputusan. Di Indonesia, kecenderungan tadi diwujudkan dengan keinginan bersama untuk melakukan reformasi birokrasi, yaitu menjadikan pemerintahan yang kompetitif, berorientasi pada pemberian pelayanan. Dalam konteks ini beberapa pengalaman praktis (best practice) dapat dijadikan rujukan, seperti pemberian pelayanan terpadu sistem satu pintu dan penerapan Badan Layanan Umum (BLU). Kedua contoh tadi telah membuktikan bahwa organisasi pemerintahan dapat lebih efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, tanpa dihambat sistem birokrasi yang kaku. Diharapkan keberhasilan ini dapat merambah pada pelbagai aspek pelayanan birokrasi lainnya, diawali dengan perubahan pola pikir (mind set) para pelaku birokrasi itu sendiri, yaitu mampu memposisikan diri sebagai entrepreneur. Tulisan ini mencoba memberikan sedikit gambaran tentang perubahan manajemen dimaksud, yang memiliki relevansi terhadap pelaksanaan otonomi daerah, khususnya dalam lingkup optimalisasi pemberian pelayanan kepada masyarakat, sejalan dengan keinginan menjadikan birokrasi pemerintahan yang efisien dan efektif.

Latar Belakang
Otonomi daerah yang sudah berlangsung sejak sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan positif dilihat dari aspek percepatan pelaksanaan pembangunan, karena bersamaan dengan pelaksanaan otonomi tersebut diikuti pula pemberlakuan kebijakan desentralisasi fiskal. Dalam kaitan ini, sering terjadi kesalahan persepsi bahwa desentralisasi sepenuhnya diartikan sebagai pelimpahan kewenangan untuk sepenuhnya mengatur pengelolaan keuangan, dengan pelbagai potensi sumber pendapatan yang menjadi hak daerah. Namun, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kemampuan Pemerintah Daerah dalam mengatur
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

pengeluarannya, untuk membiayai pelbagai kegiatan/program pemerintahan dan pembangunan yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, sehingga bukan hanya sekedar percepatan realisasi pembangunannya saja, namun memperhatikan pula ketepatan sasaran dan pemerataan hasilnya. Pemerintah Daerah sebagai unsur eksekutif berperan dalam domain pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, sedangkan unsur legeslatif sepenuhnya bertumpu pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dengan domain utama melakukan legeslasi terhadap produk hukum daerah dan menentukan hak budget. Kedua domain tadi secara politis sama-sama
23

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

mengklaim pemenuhan terhadap kepentingan masyarakat, dari setiap tindakan/kebijakan yang diambil. Namun tumpuan akhirnya tetap berada pada domain pemerintahan sebagai pelaksana (eksekutor). Dalam posisi demikian, dan sekaligus mewujudkan sikap pemerintahan yang bertanggungjawab maka tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) merupakan suatu keharusan, sehingga tindakan untuk melakukan reformasi birokrasi tidak terhindarkan pula, termasuk diantaranya terkait dengan perubahan mendasar terhadap manajemen pemerintahan. Dalam ranah Ilmu Manajemen kontemporer yang terus berkembang pemikirannya, sejalan dengan dunia yang sedang berubah saat ini dan pada perspektif waktu kedepan, maka timbul pertanyaan; Apakah reformasi birokrasi pemerintahan sudah sejalan dengan perkembangan pemikiran Ilmu Manajemen. Makalah ini mencoba melakukan tinjauan pragmatis antara teori dan realitas implementasinya dalam tataran pemerintahan daerah; Diawali dengan pembahasan mengenai perkembangan pemikiran Manajemen itu sendiri, kemudian dilanjutkan pada tataran implementasi secara pragmatis, dikaitkan reformasi birokrasi berdasarkan pemahaman “good governance”.

terhadap perilaku, kecakapan dan sikap. Dalam konteks ini, contoh yang paling mudah dilihat adalah outsourcing (pelimpahan pekerjaan ke pihak luar). Organisasi pemerintahan maupun swasta melimpahkan sebagian atau bahkan keseluruhan dari sebuah aktivitas kepada suatu organisasi indipenden yang mempunyai spesialisasi pada jenis aktivitas tersebut. Pemahaman spesialisasi ini tidak hanya menyangkut spesialisasi bagi organisasi yang fokus aktvitas/ bisnis tertentu saja (core bisnis), akan tetapi secara individual menciptakan para spesialis yang memiliki keahlian dibidang tertentu. Dalam buku lainnya, Peter Drucker (1997; hal 75); menyebutkan para pekerja berpengetahuan tidak menghasilkan produk, namun menghasilkan berbagai ide, informasi dan konsep. Pekerja dimaksud adalah spesialis, yang telah belajar untuk mengerjakan sesuatu dengan baik, Namun spesialisasi sendiri adalah suatu hal yang menjemukan; Outputnya perlu digabungkan dengan output spesialis lainnya, sebelum spesialisasi ini bisa menghasilkan. Perubahan lainnya dapat dilihat pada kecenderungan kearah aliansi sebagai sarana untuk pertumbuhan bisnis, sehingga struktur dan cara menjalankan bisnis tidak lagi didasarkan pada kepemilikan, tetapi bergeser pada kemitraan, yaitu usaha bersama (joint venture). Tanggungjawab sosial merupakan issue mendasar lainnya; organisasi moderen harus mempunyai kekuatan sosial, bahkan untuk organisasi non bisnis kekuatan sosialnya lebih kuat. Milton Friedman (ekonom terkemuka dan pemenang hadiah nobel) mengemukakan pendapatnya bahwa merupakan suatu kesia-sia belaka, apabila organisasi bisnis hanya memiliki orientasi pada pencapaian kinerja ekonomi. Namun ini, tidak salah, asalkan kinerja ekonomi menjadi dasar pijakan
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

Perubahan Peran organisasi
Peter F. Drucker dalam bukunya Managing in a Time of Great Change (1997); telah menyebutkan beberapa kecenderungan sebagai paradigma yang mempengaruhi manajemen; Dikatakannya bahwa Negara-negara maju yang dipelopori Amarika Serikat sudah bergerak menuju masyarakat jaringan, terutama dalam kaitannya dengan hubungan organisasi dengan para individu yang bekerja didalamnya, yang menyebabkan keharusan penyesuaian manajemen
24

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

untuk melakukan tanggungjawab sosial, karena tidak mungkin bagi organisasi bersangkutan melakakukan tanggungjawab sosial-nya, tanpa mendapatkan laba terlebih dahulu. Kemajuan teknologi menyebabkan perubahan dalam kehidupan masyarakat, menjadi masyarakat yang pengetahuan dengan berbasis pada pemanfaatan jaringan teknologi informasi. Masyarakat akan selalu selalu memiliki preferensi yang berubah dengan cepat, Oleh Kenichi Ohmae (2005; hal 293), setiap gelombang teknologi baru akan mempunyai korbannya masingmasing, yaitu mereka (“organisasi’) yang tidak mampu mengikuti perubahan zaman (maksudnya “perkembangan teknologi’), sehingga setiap organisasi harus mengerahkan segala kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Implikasinya terhadap pendekatan manajemen adalah keharusan mengikuti 3 (tiga) praktek yang sistematis; (1) peningkatan berkelanjutan pada segala sesuatu yang dilakukan organisasi, oleh masyarakat Jepang disebut “Kaizen”, yang tujuan utamanya adalah meningkatkan sebuah produk/layanan menjadi benar-benar berbeda dalam dua atau tiga tahun (memperpendek life cycle); (2) kemampuan mengeksploitasi pengetahuan yang dimiliki; dan (3) terus belajar untuk berinovasi. Ketiga hal disebutkan diatas, menyebabkan dampak ikutan terhadap kebutuhan untuk melakukan perubahan struktur organisasi (“khususnya lingkup bisnis”); desentralisasi, untuk segera mengambil keputusan dengan cepat, karena pertimbangan kedekatan dengan pencapaian kinerja, tuntutan pasar, kemajuan teknologi dan banyak hal lainnya. Dalam tulisan James A. Champy pada buku The Organization of the Future; Frances Hesselbein et all (1997; hal 9-10); untuk mencapai
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

tujuan organisasi pada perspektif waktu kedepan ada kecenderungan untuk melakukan reengineering, yaitu melakukan perubahan pola kerja organisasi yang tidak harus mengikuti fungsi, tetapi mengikuti proses hingga seringkali melewati batas-batas fungsional. Perubahan mendasar terhadap pencapaian tujuan organisasi, kadangkala berdampak terhadap upaya untuk membangun kembali bidang usaha (reinventing), ditandai dengan perubahan dalam berbagai unsur organisasi sekaligus. Kombinasi dari tindakan reengineering dan reinventing tadi, maka bagi organisasi bersangkutan akan melakukan; setiap prosedur dilakukan desain ulang, beberapa kesempatan dan strategi baru akan dimunculkan, struktur organisasi dan hubungan kerja akan terjadi pergeseran, baik kedalam maupun keluar organisasi, pekerjaan para manajer disesuaikan kembali dan perubahan terhadap tingkah laku karyawan. Keseluruhan perubahan tadi membutuh proses relatif lama, karena terkait dengan perubahan budaya organisasi, namun tetap harus dilakukan apabila ingin tetap bertahan (survive) ditengah ketatnya persaingan bisnis. Penulis lainnya; Riq Duques Paul Gaske, dalam buku yang sama (hal 41-51), mengatakan bahwa organisasi besar di masa depan akan melakukan strategi-strategi sebagai berikut; (1) Bertindak seperti perusahaan kecil ; (2) Menciptakan prioritas yang tinggi untuk inovasi; (3) Menciptakan fungsi organisasi yang ramping dan bernilai tambah; serta (4) Menciptakan budaya semangat kerja.

Reformasi Birokrasi & Implementasinya
Sebelum membicarakan penerapan Manajemen secara praktis dilingkungan pemerintahan daerah, terlebih dahulu dibicarakan reformasi birokrasi, dimana menurut Michael Dugget (lihat Asmawi Rewansyah;
25

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

2010, hal 123), disebutkan bahwa reformasi birokrasi adalah proses yang dilakukan secara kontinyu untuk mendesain ulang birokrasi, yang berada dilingkungan pemerintah dan partai politik, sehingga berdaya guna dan berhasil guna ditinjau dari aspek hukum dan politik. Adapun dasar pemikiran perlunya dilakukan upaya reformasi ini di Indonesia, ditentukan oleh; Pertama, perubahan paradigma sistem pemerintahan, yaitu perubahan dari sistem pemerintahan yang otoriterian-sentralis ke sistem pemerintahan demokratis-desentralisasi. Kedua, kondisi obyektif birokrasi pemerintahan yang dirasakan sudah tidak relevan lagi, diantaranya terdapat fakta-fakta; (1) Kelembagaan pemerintahan yang gemuk; (2) tidak didukung SD - Aparatur yang memiliki etos kerja, karena lemahnya perhatian pada aspek kesejahteraan; (3) sistem administrasi yang rumit dan berkonotasi berbiaya ekonomi tinggi; (4) budaya kerja kurang berdisiplin, bahkan cenderung terjadinya KKN; dan (5) kejenuhan masyarakat terhadap kualitas pelayanan yang diberikan pemerintah. David Osborne dan Peter Plastrik (2001; hal 21); menegaskan bahwa dalam dunia yang berubah dengan cepat, revolusi teknologi, persaingan ekonomi global, pasar yang mengalami demassalisasi, masyarakat yang semakin terdidik dan kritis, pelanggan (“masyarakat yang dilayani”) semakin menuntut dan keterbatasan pembiayaan publik, maka penerapan birokrasi yang bersifat monopoli atas ke bawah yang tersentralisasi, akan terjadi terlalu lamban, tidak responsif dan tidak mampu menampung perubahan (inovasi). Dari banyak pemikiran untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya merujuk pada langkah-langkah reformasi mendasar yang diajukan oleh David Osborne dan Ted Gaebler (1999), dimana reformasi yang relevan untuk dibahas lebih lanjut adalah menjadikan Pemerintahan yang Kompetitif – Orientasi pada Persaingan Kedalam Pemberian Pelayanan & Berjiwa Entrepreneur, dimana perbedaan dengan sistem birokrasi adalah sebagai berikut : Tabel 1. Perbandingan Sistem Birokrasi dengan Sistem Pemerintahan Entrepreneur Sistem Birokrasi
Mendayung (“bekerja”) sendiri - rowing Melayani – service Menguasai sendiri – monompoly Digerakkan oleh aturan – rule driven Menunggu anggaran – budgeting inputs Dikendalikan birokrat – bureaucracy driven Pengeluaran – spending Penyembuhan – curing Berjenjang – hierarchy Organisasi/kelembagaan – organization

Sistem Pemerintahan Entrepreneur
Menyetir (“mengarahkan”) - steering Memberdayakan – empowering Adanya persaingan – competition Digerakkan oleh misi – mission driven Menghasilkan dana – funding outcomes Dikendalikan oleh pelanggan/pembayar pajak – customer driven Penghasilan/tabungan – earning Pencegahan – preventif Keterlibatan/kerja kelompok – team work/ participation Pasar/keseimbangan banyak orang – market

Disalin ulang dari Syafuan Rozi Soebhan (2000; hal 5). Merujuk pada pemikiran diatas, penerapan praktis yang saat ini menjadi tren dilingkungan pemerintahan daerah adalah pembentukan unit pelayanan satu atap (terpadu), yang semula diawali dengan pembentukan Sistem Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (SAMSAT) dalam hal pengurusan STNK dan BPKB, yang didalamnya terdiri 3 (tiga) Instansi berbeda, yaitu Dinas Pendapatan

26

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

Daerah, Satlantas Polda dan PT (Persero) Asuransi Jasa Raharja. Perkembangan selanjutnya sistem pelayanan satu atap ini sudah mencakup jenis pelayanan lainnya, seperti; (1) pengurusan perizinan berupa IMB, SITU dan SIUP; (2) pembuatan KTP, Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran; serta (3) pelayanan kesehatan. Dalam Good Governance Brief (2009; hal 3); USAID melalui Local Governance Support Program (LGSP), mendefinisikan pelayanan satu atap adalah beberapa pelayanan Pemerintah Daerah yang disatukan dalam sebuah lokasi, dimana tujuan utamanya adalah peningkatan efisiensi dengan menggabungkan proses pelayanan yang berkaitan, mengurangi waktu perjalanan, waktu tunggu pelanggan serta biaya yang harus dikeluarkan. Secara teoritis, sistem pelayanan satu atap ini sudah menerapkan prinsip-prinsip sistem pemerintahan entrepreneur, yaitu mengendepankan pelayanan (services), dimana didalamnya terdapat beberapa unsur menonjol berupa kerjasama tim lintas fungsional, persaingan tim dan pengendalian oleh pelanggan (“masyarakat”) sebagai obyek pelayanan. Oleh James A. Champy, “reengineering” suatu organisasi mengharuskan dilakukannya perubahan pola kerja yang ditentukan oleh proses, sehingga didalam sistem pelayanan satu atap sudah diklasifikasikan sebagai reengineering, mengingat tim yang terlibat merupakan gabungan beberapa organisasi yang berbeda fungsi pokoknya, sehingga disini terjadi pola kerja bersifat lintas fungsional. Merujuk pada pemikiran Peter Drucker, pelayanan satu atap yang menggabungkan beberapa organisasi yang berbeda fungsi untuk melaksanakan proses pekerjaan (“pelayanan”) tertentu, dapat diidentikan sebagai penggabungan “spesialisasi keahlian” yang berbeda. Sebagai contoh
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

SAMSAT, pihak Dinas Pendapatan Daerah memiliki keahlian dalam hal penentuan perpajakan, Satlantas Polda memiliki keahlian identifikasi kendaraan dan PT (Persero) Asuransi Jasa Raharja dalam hal keahlian penentuan besaran asuransi. Kombinasi keahlian (spesialisasi) ini-lah, yang menurut Peter Drucker akan menghasilkan produk (“jasa layanan”) yang lebih baik. Kerjasama tim terjadi persaingan yang sehat, karena pola kerja yang ditentukan oleh proses, masing-masing anggota tim melaksanakan tugas menurut fungsi pokok-nya dalam satu rangkaian proses yang saling terkait. Identifikasi masalah dapat segera ditentukan; kelihatan dengan jelas fungsi mana sebagai pemicu masalah. Kondisi seperti ini-lah yang memberikan nilai positif terhadap terjadinya persaingan yang sehat, karena setiap anggota tim akan berusaha tidak membuat kesalahan. Pengendalian oleh pelanggan dipersepsikan sebagai rujukan dalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan disatu sisi, dan disisi lainnya akan menjadi indikator penilaian kinerja organisasi. Kepuasan pelanggan berkorelasi positif terhadap peningkatan kinerja organisasi. Tindakan “reinventing” dalam hal sistem pelayanan satu atap ini belum menjadi prioritas, karena tidak diperlukan perubahan struktur organisasi. Sesuai dengan pemikiran Kenichi Ohmae; setiap organisasi yang tergabung didalamnya cukup hanya mendesentralisasikan fungsi-fungsi teknis operasional, keputusan yang bersifat taktis diberikan kewenangan sepenuhnya kepada anggota tim sesuai fungsinya masing-masing. Tuntutan pelayanan dalam masyarakat yang berpengetahuan, baik oleh Kenichi Ohmae maupun Riq Dugues Paul Gaske, samasama merekomendasikan perlunya dilakukan inovasi. Dalam lingkup
27

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

pelayanan satu atap ini, upaya inovasi tidak berorientasi pada produk, tapi lebih ditekankan pada pola kerja dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, guna lebih mempercepat proses pelayanan. Implementasi lainnya yang dapat dijadikan rujukan dalam penerapan sistem pemerintahan entrepreneur adalah diberlakukannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 tentang Badan Layanan Umum (BLU). Konsepsi BLU ini pada prinsipnya pemberian desentralisasi pengelolaan keuangan bagi organisasi pemerintahan yang ditetapkan menjadi BLU, baik oleh Presiden bagi organisasi Pemerintah Pusat maupun Gubernur/ Bupati/Walikota untuk organisasi pada tingkat pemerintahan provinsi/ kabupaten/kota. Desentralisasi dimaksudkan dapat berdampak terhadap terjadinya “reinventing”, karena organisasi bersangkutan secara fungsional dapat melakukan perombakkan bidang usaha-nya dalam rangka meningkatkan pelayanan, tanpa menimbulkan perubahan struktur organisasi yang berlaku menurut ketentuan pemerintah. Umumnya, perombakkan tersebut mengarah pada pembentukan Strategic Bussiness Unit (SBU), dan sesuai dengan pemikiran Riq Duques Paul Gaske, maka SBU tadi sesuai dengan kecenderungan strategi organisasi masa depan, yaitu bertindak seperti perusahaan kecil dan menciptakan fungsi organisasi yang ramping dan bernilai tambah tinggi. Dilingkungan jasa layanan kesehatan, khususnya RSUD; pembentukan SBU dilakukan pada Instalasi Rawat Inap (IRNA), yang orientasinya sudah mengarah pada fungsi ekonomi (profit oriented), tanpa melepaskan fungsi sosial-nya. Konsepsi dasarnya adalah pelanggan (“pasien”) sebagai pengendali (pencipta pasar), dimana pelanggan yang memiliki latar belakang ekonomi yang
28

kuat menghendaki kualitas pelayanan medik lebih baik, dan tarif sepadan dengan fasilititas dan tindakan medik yang diberikan. Berdasarkan konsepsi tadi, maka pembentukan SBU dilakukan dengan membentuk Paviliun, yang dapat diidentikan dengan perusahaan kecil, dengan struktur organisasi yang ramping dan lebih menekankan pada pelaksanaan fungsi, keputusan operasional dilimpahkan sepenuhnya, sehingga pelayanan dapat dilaksanakan dengan profesional, cepat dan tepat waktu. Aliansi strategis terjadi dalam skala internal, berupa kemitraan antar Instalasi, misalnya dari Instalasi Penunjang Medik berupa Unit Laboratorium dan Radiologi, akan akan berperan menyediakan layanan uji lab dan foto rontgen yang diperlukan untuk diagnosis medik lanjutan, tanpa SBU bersangkutan membentuk unit kerja tersendiri untuk keperluan tersebut. Tanggungjawab sosial diwujudkan dalam bentuk subsidi silang (cross subsidiary), keuntungan SBU (“Paviliun”) digunakan untuk menutup kekurangan biaya operasional kesehatan bagi pasien tidak mampu (kelas ekonomi). Bukankah ini landasan pemikirannya dapat dibenarkan oleh Milton Friedman, sebagaimana disadur oleh Peter Drucker; tidak mungkin peran sosial dikedepankan tanpa terlebih dahulu mewujudkan kinerja ekonomi (profit). Dari gambaran diatas, pembentukan SBU dilingkungan RSUD mengandung banyak pemenuhan prinsip-prinsip sistem pemerintahan entrepreneur, yaitu antara lain : 1. Memberdayakan (empowering) semua potensi yang ada untuk memberikan pelayanan melalui kerjasama tim (team work), dengan melakukan kemitraan dan sekaligus menjadikan adanya

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

MANAJEMEN & PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFoRMASI BIRoKRASI

persaingan yang sehat (competion) diantara unit kerja yang ada ; 2. Menghasilkan dana (funding outcomes), sehingga mampu memberikan subsidi silang bagi pasien tidak mampu ; Menjadikan pelanggan sebagai faktor kendali (customer driven) dan menjadikan pasar (market) sebagai peluang untuk memberikan pelayanan terbaik.

(editor). 1997. The Organization of the Future. Alih Bahasa Ahmad Kemal. Jakarta; PT. Elex Media Komputindo. Ohmae, Kenichi 2005. The Next Global Stage – Tantangan dan Peluang di dunia yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan. Alih Bahas Achmad Fauzi, S.S. Jakarta; PT. Indeks. Osborne, David dan Ted Gaebler. 1999. Mewirausahakan Birokrasi – Mentrasformasi Semangat Wirausaha kedalam Sektor Publik. Penerjemah Abdul Rosyid. Cetakan Kelima, Mei 1999. Jakarta; PT. Pustaka Binaman Pressindo. Osborne, David dan Peter Plastrik. 2001. Memangkas Birokrasi – Lima Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha. Penerjemah Abdul Rosyid dan Ramelan. Cetakan Kedua (revisi), Febuari 2001. Jakarta; Penerbit PPM. Rewansyah, DR. Asmawi, MSc. 2010. Reformasi Birokrasi Dalam Rangka Good Governance. Cetakan Pertama. Perbruari 2010. Jakarta; PT. Yusaintanas Prima. Soebhan, Syafuan Rozi. 2000. Model Reformasi Birokrasi Indonesia (sebuah paper). Diunduh tanggal 30 Desember 2010. PPM LIPI. http://www.bpkp. go.id/ Unit/sutra/reformasi.pdf. Usaid. 2009. Pembaharuan dalam Manajemen Pelayanan Publik Daerah – Tantangan dan Peluang Dalam Desentralisasi di Indonesia. Publikasi Local Governance Support Program (LGSP). Juli 2009. http:// www.usaid.ksap. gov/pdf.docs/ PNADQ133.pdf.

3.

Kesimpulan
Reformasi birokasi yang orientasi-nya bergeser dari sistem pemerintahan birokratis manjadi sistem pemerintahan entrepreneur, menyebabkan perubahan mendasar, diantaranya terhadap struktur organisasi pemerintahan, yang tanpa sadari sudah sejalan dengan perkembangan pemikiran organisasi kedepan. Dalam skala kecil dan faktual diwujudkan dengan pembentukan unit kerja pelayanan sistem satu pintu (terpadu) dan Badan Layanan Umum (BLU), yang hasilnya dapat dibuktikan, dan dapat dijadikan inisiasi bagi kegiatan pemerintah lainnya. Perubahan-perubahan yang dicontohkan diatas merupakan positifisme dan normatifisme Ilmu Manajemen dalam ranah pemerintahan, yang saat ini memasuki tahap reformasi. Daftar Pustaka Drucker, Peter F. 1997. Managing in a Time of Great Change. Alih Bahasa Agus Teguh Handoyo. Jakarta; PT. Elex Media Komputindo. Drucker, Peter F. 1997. The Effective Executive. Alih Bahasa Agus Teguh Handoyo. Jakarta; PT. Elex Media Komputindo. Hesselbein, Frances, Marshal Goldsmith & Richard Bechard
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

29

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA

Complementary Kediklatan

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA Oleh : Ery Arifullah, ST, MT Widyaiswara Muda Bandiklat Prov. Kaltim Abstrak Sejarah pada dasarnya dibuat bukan terjadi begitu saja. Masa lalu adalah kunci masa sekarang dan masa sekarang adalah kunci masa depan. Kedaulatan ekonomi Indonesia dan bahkan negaranegara berkembang saat ini tidaklah seideal seperti banyak anggapan orang. Semua bermula dari berakhirnya Perang Dunia II. Mulai dari terbentuknya IMF dan Bank Dunia hingga kebijakan Presiden Nixon di tahun 1971. Seluruh kebijakan itu berdampak luar biasa bagi negera-negara berkembang. Atas nama globalisasi sebagian besar negara-negara di dunia masuk dalam IMF dan Bank Dunia termasuk Indonesia. Globalisasi sudah menjadi mantra yang menghipnotis. Ketika Indonesia mengalami krisis tahun 1997 secara terpaksa Indonesia menandatangai kesepakatan dengan IMF pada tahun 1998. Sejak saat itu permainan pun dimulai. Apa yang terjadi selanjutnya? Ekonomi kita tidak kunjung pulih. Sebagian besar kebijakan-kebijakan ekonomi tidaklah berpihak masyarakat dan lebih cendrung berpihak kepada pihak asing. Kedaulatan ekonomi kitapun lepas dari tangan kita. Tulisan ini mungkin sebagian menganggap sudah tidak relevan atau tidak up to date dalam kondisi kekinian. Namun saya percaya bukan masalah relevan atau tidak relevan, up to date atau tidak up to date. Permasalahan utamanya adalah menganggap angin lalu masalah ini, walaupun mungkin sudah banyak mendengar dan membaca topik ini. Tapi apakah kita sudah melihat maknanya? Melalui tulisan saya ingin mengajak pembaca untuk kembali melihat kondisi bangsa dan negara ini secara holistik agar kita bisa belajar dari masa lalu. Kata kunci : IMF, Bank Dunia, Kebijakan Nixon, globalisasi, kedaulatan ekonomi. 30 Sejarah Dimulai Bretton Wood Agreement. Pada tahun 1944, saat Perang Dunia II akan berakhir, pertemuan para bankir internasional digelar di sebuah resor di Bretton Woods, New Hampshire – United Nations Monetary and Financial Conference. Konferensi ini membawa hasil diciptakannya International Monetary Fund (IMF) Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia. Walaupun persepsi populer yang berkembang adalah kedua agen ini diciptakan untuk kebaikan dunia, sebenarnya keduanya membawa banyak kerusakan yang terbesar adalah menyebarnya sistem keuangan fiat ke seluruh dunia. Uang fiat adalah uang yang hanya didukung oleh kepercayaan baik oleh pemerintah maupun kredit. Kebijakan Presiden Richard Nixon. Pada tahun 1971 masa pemerintahan Presiden Nixon, dolar dipisahkan dari emas, IMF dan Bank Dunia menuntut seluruh dunia memisahkan mata uang dari standar emas atau dikeluarkan dari klub mereka. Krisis global dewasa ini menyebar karena perekonomian dunia menyandarkan diri pada uang yang tidak didukung oleh sesuatu apapun. IMF dan Bank Dunia adalah perpanjangan tangan Federal Reserves dan bank-bank sentral Eropa lainnya (Kiyosaki, 2009). Mereka meminta bankbank sentral seluruh dunia (termasuk Bank Indonesia) untuk mengganti uang mereka menjadi mata uang fiat, mata uang yang tidak didukung oleh emas dan perak, serupa dengan mata uang Jerman pra-Perang Dunia II. Dengan kata lain, Amerika Serikat, IMF dan Bank Dunia mulai mengekspor sistem moneter jenis Jerman ke dunia.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA

Tidak dapat dipungkiri lagi ketika IMF dan Bank Dunia meminta bank-bank sentral di seluruh dunia untuk mengganti uang mereka menjadi mata uang fiat (Kiyosaki, 2009) maka Indonesiapun mengikutinya. Bank sentral mencetak uang fiat tanpa didasari oleh adanya cadangan emas yang seharusnya, Kemudian uang ini digandakan oleh dunia perbankan melalui konsep fractional reserve banking melalui proses yang disebut penciptaan uang atau money creation (Kiyosaki, 2009). Kesepakatan 50 butir RI - IMF. Masih segar di ingatan kita, bagaimana pada tanggal 15 Januari 1998, Presiden Republik ini harus mengikuti kemauan IMF dengan menanda tangani 50 butir kesepakatan. Di butir-butir tersebutlah Indonesia kehilangan kedaulatan ekonominya sejak 15 Januari 1998 . Berikut adalah sebagian kecil dari 50 butir-butir kesepakatan dengan IMF (International Monetary Fund) yang menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi dari tangan kita: 1. Pemerintah diharuskan membuat Undang-Undang Bank Indonesia yang otonom, dan akhirnya pemerintah memang membuat undang-undang yang dimaksud, maka lahirlah Undang-undang no 23 tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. • Article V Section 1, menyatakan bahwa IMF hanya berhubungan dengan bank sentral (atau institusi sejenis, tetapi bukan pemerintah) dari negara anggota. Article IV Section 2, menyatakan bahwa sebagai anggota IMF harus mengikuti aturan IMF dalam hal nilai tukar uangnya, termasuk didalamnya larangan menggunakan emas sebagai patokan nilai tukar. Article IV Section 3.a., menyatakan bahwa IMF memiliki hak untuk mengawasi kebijakan moneter yang ditempuh oleh anggota, termasuk mengawasi kepatuhan negara anggota terhadap aturan IMF. 2.

Article VIII Section 5, menyatakan bahwa sebagai anggota harus selalu melaporkan ke IMF untuk hal-hal yang menyangkut cadangan emas, produksi emas, export import emas, neraca perdagangan internasional dan hal-hal detil lainnya.

Pengaruh IMF terhadap kebijakan-kebijakan Bank Indonesia tersebut tentu memiliki dampak yang sangat luas terhadap Perbankan Indonesia karena seluruh perbankan di Indonesia dikendalikan oleh Bank Indonesia. Dampak lebih jauh lagi karena perbankan juga menjadi tulang punggung perekonomian, maka perekonomian Indonesiapun tidak bisa lepas dari pengaruh kendali IMF. Pemerintah harus membuat perubahan Undang-Undang yang mencabut batasan kepemilikan asing pada bank-bank yang sudah go public. Inipun sudah dilaksanakan, maka ramai-ramailah pihak asing menguasai perbankan di Indonesia satu demi satu sampai sekarang. IMF pula yang mendorong merger empat bank pemerintah menjadi satu dan mendorong satu lagi bank pemerintah untuk go publik. Pemerintah Indonesia harus secara bertahap menurunkan tarif pajak untuk produk pertanian non-pangan dari luar sampai akhirnya tercapai maksimum pajak 10 %. Ini tentu akan membuat produk pertanian non-pangan asing menjadi sangat kompetitif di pasar ini dan dapat menyingkirkan produk local sejenis. Pemerintah harus menurunkan tarif bahan kimia, baja, metal dan alat-alat perikanan sampai dikisaran 5%-10%. Mirip dengan no 4, produsen lokal pelan-pelan bisa tersingkir oleh pemain asing. Pemerintah harus menurunkan pajak ekspor untuk kayu gelondongan, kayu gergajian, rotan dan mineral maksimum pada angka 30%. Dampak dari hal ini adalah berpindahnya proses yang 31

3.

4.

5.

6.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA

memberi nilai tambah dari dalam negeri ke luar negeri. Indonesia dikeruk hasil hutan dan mineralnya dengan nilai tambah yang minimal, nilai tambah yang lebih besar dinikmati oleh para pemain asing. 7. Pemerintah harus mencabut larangan ekspor minyak sawit dan boleh menggantinya dengan pajak ekspor maksimum 40 %. Minyak goreng yang sangat dibutuhkan oleh penduduk negeri ini, yang waktu itu sempat langka – justru harus di ekspor lagilagi untuk kepentingan pihak asing – dimana lagi mereka bisa memperoleh minyak sawit yang masih murah ? Pemerintah harus menambah saham yang dilepas ke publik dari Badan Usaha Milik Negara, minimal hal ini harus dilakukan untuk perusahaan yang bergerak di telekomunikasi domestik maupun internasional. Diawali kesepakatan dengan IMF inilah dalam waktu yang kurang dari lima tahun akhirnya kita benar-benar kehilangan perusahaan telekomunikasi kita yang sangat vital yaitu Indosat. Pemerintah harus mencabut larangan investor asing masuk dalam bisnis ritel dan penjualan skala besar. 5.

sentral dari negara anggota, lahirnya Undang-Undang no 23 tersebut tentu sejalan dengan kemauan IMF. Lantas hal ini menyisakan pertanyaan besar – siapa yang mengendalikan uang di negeri ini?. Dengan Undangundang ini Bank Indonesia memang akhirnya mendapatkan otonominya yang penuh, tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhinya (Pasal 4 ayat 2) termasuk Pemerintah Indonesia. Tetapi ironisnya justru Bank Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh IMF karena harus tunduk pada Articles of Agreement of the IMF. 4. UU No. 19/2003 tentang Privatisasi BUMN. Sejak UU ini dikeluarkan maka ada 44 BUMN yang akan dijual (Gatra, 14 – 20 Februari 2008). Nasionalisme kita mengajarkan bagaimana kita mengolah sendiri kekayaan alam yang diberikan Tuhan demi kemakmuran rakyat. Bukan sebaliknya dengan alasan globalisasi kita justru mengobral aset bangsa dengan nilai yang tidak wajar hanya untuk memperoleh pujian asing dan keuntungan segelintir orang (Bawazier, 2006). UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal.

8.

9.

Kebijakan pemerintah Indonesia paska perjanjian dengan IMF: 1. 2. 3. UU No. 10/1998 tentang Perbankan. Kepres No. 99/1998 & Keputusan Menteri Penanaman Modal No. 23/ SK/1998 tentang investasi asing. UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia. Pertanyaannya adalah, seandainya Indonesia masih berdaulat mengapa untuk membuat UndangUndang yang begitu penting harus dipaksakan oleh pihak asing? Kalau Undang-Undangnya dipaksakan oleh pihak asing – yang diwakili oleh IMF waktu itu, terus untuk kepentingan siapa Undang-Undang ini dibuat?. Dalam salah satu pasal Articles of Agreement of the IMF (Arcticle V section 1) memang diatur bahwa IMF hanya mau berhubungan dengan bank

Kesepakatan RI dengan IMF diatas, baru 9 dari 50 butir kesepakatan pemerintah Indonesia dengan IMF. Namun dari contoh-contoh ini, dengan gamblang kita bisa membaca begitu kentalnya kepentingan korporasi asing besar, pemerintah asing dan institusi asing atau sering disebut dengan Korporatorkrasi (Perkins, 2009) yang mendiktekan kepentingan mereka ketika kita dalam posisi yang sangat lemah, yang diawali oleh kehancuran atau penghancuran nilai mata uang Rupiah kita. Sejarah Kembali Berulang Penjajahan ekonomi ala IMF ini mirip dengan catatan sejarah kita 400 tahun lalu, berikut model penjajahan VOC. Menurut Suryanegara, (2009), pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

32

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA

Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta. Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauankepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budakbudak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten. Tujuan Akhir Sebenarnya apa tujuan dari ini semua? Jawabannya ada di dalam buku “The Confessions of an Economic Hitman”. Menurut Newsweek terbitan terakhir, buku ini termasuk dalam daftar bestseller dari New York Times selama tujuh minggu. Berikut beberapa halaman terjemahannya di halaman 15-16: 1. “Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan utang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsutan di mana John Perkins bekerja) dan perusahanperusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halli burton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.

2.

Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya se telah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara pengutang (baca: Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan dukungan, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.”

Selanjutnya: “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negaranegara penerima utang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masingmasing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima utang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintahpemerintah penerima utang. Maka semakin besar jumlah utang semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.” Saat ini hutang Indonesia sudah mendekati angka Rp. 2000 Trilliyun. Beberapa pertanyaan penting yang menjadi PR kita bersama adalah: 1. 2. Berada dimanakah nasib kedaulatan ekonomi Indonesia sekarang? Seandainya Indonesia masih berdaulat mengapa untuk membuat UndangUndang yang begitu penting harus dipaksakan oleh pihak asing? Kalau Undang-Undangnya dipaksakan oleh pihak asing – yang diwakili oleh IMF waktu itu, terus untuk kepentingan siapa UndangUndang ini dibuat?. Siapa yang mengendalikan uang di negeri ini? Siapakah yang paling bertanggungjawab terhadap keadaan 33

3.

4. 5.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

NASIB KEDAULATAN EKoNoMI INDoNESIA

nasib bangsa Indonesia? 6. Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Kesimpulan 1. Sejarah kembali berulang namun dalam bentuk yang berbeda namun motifnya tetap sama. Isi kesepakatan RI – IMF sangat kental dengan kepentingan korporasikorporasi besar dan telah memberi pengaruh luar biasa pada kebijakan pemerintah RI. IMF berperan banyak dalam proses penjualan banyak perusahaan negara ke pihak asing. Indonesia pada hakekatnya belumlah merdeka. Karena Neokolonialisme benar-benar memang ada.

2.

3.

4.

Daftar Pustaka Fuller, Buckminster., (1984). Grunch of Giant, St Martins Pr New York . Fuad Bawazier., (2006). “Kepemilikan asing di Indonesia”. Republika Online Kiyosaki, Robert., (2009). Rich Dad’s Conspiracy of the Rich – 8 aturan baru uang, Gramedia Jakarta, 300 p. Perkins, John., (2006). Confession of an Economic Hitman, Penguin Books, Ltd London. Rais, MA., (2008). Selamatkan Indonesia, PPSK Press Yogyakarta. Suryanegara, A.M., (2009). Api Sejarah, Salamadani Pustaka Semesta Bandung.

34

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

Complementary Kediklatan TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PENGARUH PENEMPATAN KERJA
PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA OLEH : HERNAWATY Amd.Kep, SE, MM Calon Widyaiswara

PENDAHULUAN

Pengelolaan suatu perusahaan, baik itu yang bergerak dibidang jasa maupun penghasil produk memerlukan suatu proses yang kompleks melibatkan berbagai disiplin ilmu dan teknologi yang mutakhir serta dibutuhkan suatu konsep manajemen berkualitas (quality control) sebagai upaya untuk meningkatkan kepuasan customer/ pelanggan yang berdampak pada performance dan profitabilitas perusahaan. Upaya ini dapat dicapai apabila didukung dengan manajemen sumber daya manusia yang berkualitas, penempatan karyawan yang tepat bukan atas suka dan tidak suka untuk menumbuhkan semangat kerja yang tinggi agar di hasilkan out put yang besar. Implementasi strategi yang harus ditempuh oleh perusahaan adalah dengan mengembangkan pola pikir pemberdayaan sumber daya manusia yang ada (pekerja), mengembangkan budaya organisasi termasuk budaya kerja, budaya tertib dan disiplin. Salah seorang ahli Manajemen Sumber Daya Manusia, Malayu B.P Hasibuan (2003 : 202)
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

menyatakan bahwa kepuasan kerja dipengaruhi oleh faktor – faktor : Balas jasa yang adil dan layak, Penempatan yang tepat dan sesuai dengan keahlian, Berat ringannya pekerjaan, Suasana dan lingkungan pekerjaan, Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan, Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya. Karyawan yang memiliki perasan positif atau puas dengan pekerjaannya karena ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan keahliannya akan lebih produktif ketimbang yang tidak puas karena itu penempatan pekerja sesuai dengan keahliannya merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian di dalam praktek manajemen sumberdaya manusia dan perilaku organisasi

IDENTIFIKASI MASALAH ”Belum Maksimalnya Budaya Penempatan Pekerja sesuai Keahlian di beberapa Perusahaan/Instansi” Proses awal rekrutmen karyawan dilakukan melalui seleksi. Menurut John Boudreau, seorang praktisi sumber daya manusia, me35

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

nyeleksi karyawan-karyawan yang berkualitas bagaikan menyimpan uang di bank (Mathis dan Jackson 2006: 261). Keputusan seleksi merupakan bagian yang penting bahkan mungkin bagian yang paling penting. Tujuan utama dari seleksi adalah penempatan (placement), penempatan seseorang ke posisi pekerjaan yang tepat (the right man on the right place). Kejelian dan ketepatan dalam hal menempatkan atau menugaskan karyawan pada bidangnya menjadi pertimbangan utama yang memegang peranan sangat penting dalam hal berhasil atau tidaknya suatu perusahaan meningkatkan produktivitas mereka. Apabila penempatan karyawan sudah tepat, karyawan akan merasa pendidikan dan keahlian yang dimiliki sangat bermanfat dan berharga (Soetjipto 2008:58). Karyawan akan bekerja sesuai latar belakang dan disiplin ilmu yang diperolehnya dan dapat langsung menerapkannya pada bidang tugasnya. Sebaliknya, apabila manajemen salah dan tidak tepat menempatkan karyawan tersebut, akan berdampak negatif karena dia tidak akan bisa bekerja dengan baik dan harus menyesuaikan diri sehingga tidak bisa memberikan hasil yang maksimal. Hutabarat dan Huseini (2007:257) mengatakan bahwa biasanya karyawan bintang atau cemerlang adalah karyawan yang memiliki sikap dan keahlian tinggi
36

serta ditempatkan pada bidang yang sesuai dengan bidangnya tersebut. Apabila bakat karyawan tersebut juga sesuai dengan pekerjaan yang digelutinya, maka dia akan memberikan kontribusi yang tinggi bagi perusahaan. Tanpa disadari seringkali suatu perusahaan atau instansi menempatkan pekerjanya pada tempat atau posisi yang sebenarnya tidak membuatnya nyaman untuk bekerja bahkan cenderung menurunkan kreatifitas atau kinerjanya. Dapat dicontohkan seorang pekerja yang memiliki skill untuk teknikal dilapangan ditempatkan pada posisi dibalik meja yang mana hanya berhubungan dengan kertas dan tulisan, secara tidak sengaja lambat laun pekerja akan merasa jenuh dengan pekerjaan tersebut dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. ANALISA PENYEBAB MASALAH ”Belum Maksimalnya Budaya Penempatan Pekerja sesuai Keahlian di beberapa Perusahaan/Instansi” Pemberdayaan sumber daya manusia bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang disiplin, profesional, berkualitas tinggi, produktif untuk mendapatkan hasil kerja yang efektif dan efisien. Pengalaman dilapangan menunjukkan, penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan keahlJURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

ian dan disiplin ilmu yang dimiliki, akan menimbulkan berbagai dampak negatif antara lain kesulitan dalam pelaksanaan tugas, bekerja tidak maksimal, cemburu sosial bahkan mampu menurunkan semangat kerja. Dalam penempatan pekerja pada perusahaan atau instansi sebaiknya mengacu pada prinsip utama yaitu : “The Right Man in The Right Place ” yang berarti bahwa setiap personel ditempatkan pada unit kerja yang sesuai dengan keahlian dan kecakapannya, dengan demikian suatu perkerjaan/ tugas dalam unit kerja dilakukan oleh orang yang tepat dan mendapat hasil pekerjaan yang optimal. Jika prinsip ini tidak diterapkan, dan menempatkan personel pada tugas dan jenis pekerjaan yang bukan keahliannya, maka akan menghambat upaya pencapaian tujuan administrasi itu sendiri, sebab hasil dari pekerjaan tersebut cenderung kurang berdaya guna bagi organisasi. Hal ini sering terjadi pada unit kerja yang kekurangan karyawan, sehingga memaksa seorang karyawan membawahi dan mengerjakan beberapa jenis pekerjaan yang bukan pada bidang keahliannya, atau bisa terjadi karena menempatkan seseorang atas pendekatan nepotisme tanpa memperhatikan keahlian orang tersebut, tindakan nepotisme ini tentu akan membuka peluang kolusi dan
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

korupsi yang berakibat buruk terhadap kemajuan unit organisasi kerja itu sendiri. ALTERNATIF MASALAH PEMECAHAN

1. Lakukan Tes Psikotes yang Tepat dan Benar pada Proses Penerimaan Pekerja Banyak orang yang mengatakan dan bertanya-tanya mengenai fungsi Psikotest dalam proses recruitment (rekrutmen / rekruitmen) dalam dunia kerja saat ini. Berikut adalah gambaran terhadap Psikotest dan mengapa organisasi sangat memerlukan Psikotest tersebut dalam proses recruitment seleksi. Untuk sebuah jabatan, organisasi memiliki profil sukses yang diperlukan agar siapa-pun yang menduduki jabatan tersebut berhasil. Profil ini yang harus dimiliki oleh para kandidat agar ia bisa malakukan pekerjaanya dengan baik sesuai dengan target dan kemampuan yang harus dikuasai dalam bidang tersebut. Sebelum memberikan suatu standar yang harus dipenuhi agar masuk kedalam kriteria profil maka perusahaan melakukan proses job analysis terlebih dahulu, untuk menganilisis dan menentukan kriteriakriteria profil yang cocok dengan sebuah jabatan yang akan diisi. Kriteria profil ini meli37

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

puti aspek kepribadian (who I am), experience (what I have done), technical knowledge (what I know) dan kompetensi (what I can do). Psikotest merupakan alat yang dimanfaatkan untuk mengetahui kepribadian dan intelektual seseorang yang akan memasuki jabatan tertentu. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka Psikotest digunakan oleh organisasi untuk memastikan bahwa kepribadian kandidat yang akan ditempatkan di posisi tertentu sesuai dengan profil kepribadian yang diperlukan. Perlu diingat bahwa Psikotest bukan satu-satunya alat yang digunakan organisasi dalam mengambil keputusan. Secara teoritis, proses recruitment, seleksi, dan penempatan kerja tidak saja menguntungkan organisasi atau perusahaan dalam arti mendapatkan orang yang tepat untuk jabatan yang lowong, tetapi juga membantu individu mendapatkan pekerjaan yang sesuai. dengan kemampuan, minat dan kepribadian yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologiknya. Contoh, posisi sales, organisasi memerlukan kandidat yang memiliki kepribadian yang komunikatif, senang menjalin relasi dengan banyak orang baru. Melalui Psikotest, organisasi akan dapat melihat apakah kandidat memiliki profil kepribadian tersebut
38

atau tidak. 2. Perhatikan Segala Aspek yang di Perlukan Dalam Penempatan Pekerja • Jenis kelamin Tempatkan karyawan pada bidang yang tugas dan jenis pekerjaannya sesuai dengan kodrati mereka, sebab tidak semua pekerjaan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih utama ditempatkan pekerja laki-laki daripada pekerja perempuan, dan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian umumnya lebih tepat dilakukan oleh pekerja perempuan. • Latar belakang pendidikan / ijazah yang dimiliki Posisi jabatan yang akan diberikan, disesuaikan dengan latar belakang pendidikannya, baik dari segi tingkatan jenjang pendidikan yang dimiliki sesuai ijazah, maupun jurusan yang dipilih pada waktu menempuh pendidikan tersebut. Misalnya, seorang sarjana teknik mesin dan sarjana pendidikan pada suatu organisasi pendidikan tentu ditempatkan pada unit kerja yang berbeda. Sarjana teknik ditempatkan pada unit teknisi dan sarjana pendidikan ditempatkan pada unit pengajaran/pendidikan sebagai tenaga pengajar.
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

• Pengalaman kerja Dalam hal ini, pengalaman kerja menentukan kecakapan seseorang pada bidangnya. Jika terdapat dua orang atau lebih karyawan yang memiliki tingkat pendidikan yang sama dengan jurusan yang juga sama, untuk memilih siapa yang lebih berhak ditempatkan pada jabatan tertentu, pengalaman kerja bisa dijadikan pertimbangan oleh administrator atau pemimpin. Pengalaman membuktikan bahwa seseorang tersebut sudah terbiasa mengerjakan suatu pekerjaan, terbiasa menghadapi segala permasalahan dan resiko kerja, serta lebih ahli dalam bidang pekerjaan tersebut. Ia dapat dijadikan pemimpin dalam kelompok kerjanya dibandingkan dengan karyawan lain yang baru lulus kuliah dan tidak pernah bekerja sebelumnya. • Kesehatan fisik Berhubungan dengan kuat atau tidaknya seorang pekerja melakukan tugas yang diberikan. Dalam proses seleksi wawancara dan pengisian data akan terindentifikasi riwayat kesehatan seorang karyawan. Hal ini harus diperhatikan oleh seorang pemimpin /administrator agar menempatkan para pekerja sesuai dengan riwayat kesehatannya. Misalnya, seorang pekerja dengan riwayat asma, tidak bisa
JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

ditempatkan pada unit kerja dimana terdapat faktor pencetus kambuh penyakit asmanya, biasanya penderita asma alergi terhadap zat-zat tertentu yang bisa membuatkan asmanya kambuh, misal pada bagian gudang arsip yang penuh debu, pada ruangan laboratorium kimia yang membutuhkan pendinginan (AC) tinggi, dll. Para pekerja yang memilki riwayat kesehatan yang buruk, sebaiknya diberikan kesempatan dan fasilitas untuk berobat atau jika perlu mengistirahatkan pekerja tersebut secara permanen/dipensiunkan, dan digantikan oleh pekerja lain. • Minat, bakat dan hobi Ketiga hal ini merupakan nilai tambah, khusus pada organisasi kerja dengan jumlah karyawan yang banyak, sehingga peranperan tanggungjawab terhadap suatu tugas akan lebih optimal bila dikerjakan sesuai minat, bakat dan hobi pekerja. Hal ini terjadi karena para pekerja akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan senang hati, bergairah dan semangat sesuai dengan hobi dan minat masingmasing. 3. Pengembangan dan Pembinaan karier yang terencana untuk setiap pekerja Pembinaan yang intensif terhadap para tenaga kerja yang dalam hal ini dikelola bidang
39

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

personalia atau kepegawaian adalah menjadi tugas dari manajemen sumber daya manusia untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai jalan agar manusia bisa diintergrasikan secara efektif kedalam berbagai organisasi jenis lainnya. Sumber daya manusia dan pendayagunaan adalah merupakan proses dari manajemen sumber daya manusia yang ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Manusia merupakan sumber daya organisasi perusahaan, dimana manusia memiliki hati nurani, skill dan bersifat kompetitif. Manajemen sumber daya manusia yang baik dan efektif diharapkan dapat menunjang efektivitas dan efisiensi kerja para karyawan dalam periode waktu yang lama didalam menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang sejuk dan dapat memberikan kepuasan pekerja maupun perusahaan hal ini adalah bagian dari disiplin manusia didalam menjalankan aktivitasnya. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang karyawan tidak mungkin statis, tetapi harus dinamis serta senantiasa berusaha untuk dapat meningkatkan prestasi dan hasil karyanya, oleh karena itu keterampilan dan pengetahuan karyawan perlu dikembangkan melalui “in service training”
40

Karyawan yang telah teruji keahlian dan tanggungjawabnya dalam bidang pekerjaan yang ditekuni, diberikan kesempatan pengembangan karier dengan kenaikan jabatan, kesempatan untuk mengikuti pelatihan, kesempatan melanjutkan pendidikan dll. Hal ini sesuai dengan UU No.8 tahun 1974 pasal 19 yang menyatakan bahwa pengangkatan dalam jabatan didasarkan atas prestasi kerja,disiplin kerja, kesetiaan, pengabdian, pengalaman, dapat dipercaya dan syarat objektif lainnya. KESIMPULAN Dari beberapa teori dan pengertian yang sudah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap positif yang dirasakan seseorang terhadap pekerjaan dan lingkungan yang ada dalam suatu organisasi. Seseorang akan senang bekerja jika pekerjaan yang dikerjakan dapat memenuhi kebutuhan individu dan lingkungan yang ada dapat mendukung pelaksanaan pekerjaan, dan salah satu faktor yang dapat mendukung pekerja menghasilkan kinerja yang maksimal adalah dengan menempatkannya pada posisi atau jabatan yang sesuai dengan keahliannya.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

PENGARUH PENEMPATAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

RUJUKAN KEPUSTAKAAN 1. Hasibuan, Malayu S.P. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT. Gunung Agung, Jakarta. 2. Hutabarat, Jemsly, Huseini, Martani, Manajemen Strategik Kontemporer : Strategi di Tengah Operasional, 2007, Elex Media Komputindo, Jakarta. 3. Mathis, Robert L., Jackson, John H., 2006, Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit Salemba Empat Jakarta. 4. Soetjipto, Budi W., 2008, HR Excellence 2007 Kisah Sukses Para Kampiun SDM, Penerbit Salemba Empat Jakarta 5. Psikologi Zone, ads by Klikyasa. com 6. Bidansmart.files.wordpress. com

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

41

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

I. PENDAHULUAN Widyaiswara merupakan pejabat fungsional dilingkungan lembaga pemerintahan yang mempunyai tugas pokok dan bertanggung jawab untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah. Widyaiswara sebagai unsur utama pendidik memiliki peran dan fungsi yang sangat menentukan dalam menjamin kualitas Pendidikan dan Latihan (Diklat) masing-masing. Widyaiswara tidak hanya berfungsi mengajar, mendidik, dan melatih dalam arti sempit, namun ia juga harus berfungsi sebagai fasilitator, moderator, konsultan, dinamisator, inspirator, peneliti, dan bahkan harus mampu sebagai pemimpin dan pengayom serta pelayan. Karena itu, kualitas menjadi penting dan merupakan keharusan karena widyaiswara adalah unsur inti dalam proses diklat. Widyaiswara harus dapat meningkatkan sumber daya manusianya agar tidak ketinggalan. Salah satu fungsi widyaiswara seperti yang telah disebutkan di atas adalah sebagai peneliti. Banyak sekali masukan-masukan, ide-ide, dan atau gagasan-gasasan positif dan ilmiah yang telah dikemukan oleh para widyaiswara. Namun sayangnya banyak hasil-hasil karya widyaiswara belum optimal untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memerlukannya. Seyogyanya hasil-hasil karya widyaiswara dapat digunakan oleh berbagai pihak sebagai bahan referensi atau mungkin hanya sekedar untuk menambah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sebaiknya perlu suatu wadah untuk menampung hasil-hasil karya ilmiah para widyaiswara dalam bentuk buku kumpulan jurnal ilmiah bagi widyaiswara. 42

Tidak hanya itu, kumpulan karya atau jurnal ilmiah tersebut juga perlu untuk dipublikasikan dan disirkulasikan ke masyarakat luas sehingga semua pihak dapat memanfaatkan jurnal ilmiah tersebut. Pada saat sekarang ini memang telah ada beberapa media atau jurnal ilmiah untuk menuangkan hasil ide atau karya ilmiah widyaiswara yang telah dipublikasikan, tetapi media tersebut hanya sedikit sekali yang khusus diperuntukkan bagi widyaiswara, contohnya: Jurnal Administrator Borneo yang diterbitkan oleh PKP2A III LAN Samarinda. Beberapa fakultas di berbagai universitas di Kalimantan Timur juga telah memiliki sebuah jurnal ilmiah untuk menampung karya ilmiah bagi para dosen-dosennya., contohnya: Jurnal Forum Ekonomi (Fekon Unmul), Dedikasi (Untag Samarinda), JEMI (Unikarta Tenggarong), dan lain-lain. Di beberapa instansi di lingkungan provinsi Kalimantan Timur juga telah memiliki wadah tempat penuangan hasil karya para pegawainya, baik berupa jurnal ilmiah, bulletin, ataupun majalah, contohnya: Bulletin Bappeda (Bappeda Prov. Kaltim), Membangun Bumi Etam (Kantor Gubernur Prov. Kaltim), Lembusuana (Balitbangda) dan lain-lain. Badan Diklat Provinsi Kalimantan Timur sebagai tempat pendidikan dan pelatihan yang mempunyai widyaiswara yang berjumlah lumayan banyak, belum mempunyai suatu jurnal ilmiah untuk menampung hasil-hasil karya ilmiah bagi para widyaiswaranya. Hal ini dapat merupakan suatu kelemahan yang sekaligus dapat dijadikan peluang bagi Badan Diklat Prov. Kalimantan Timur. Bertolak dari pemikiran di atas, maka Badan Diklat Provinsi KalimanJURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

tan Timur menerbitkan secara berkala suatu Jurnal Ilmiah yang dapat menampung atau mewadahi karya-karya, ideide, atau gagasan-gagasan yang bersifat ilmiah. Publikasi Jurnal Ilmiah ini sangat bermanfaat bagi semua pihak, disamping bagi widyaiswara itu sendiri dalam hal penuangan ide ilmiah dan pengumpulan angka kredit (AK), juga sangat bermanfaat bagi peneliti-peneliti lain diluar kewidyaiswaraan yang ingin menggunakan karya ilmiah tersebut sebagai acuan atau referensi ilmiah. II. TUJUAN DAN MANFAAT Manfaat dalam penerbitan jurnal ilmiah bagi widyaiswara dan Badan Diklat antara lain adalah sebagai berikut: 1. Dapat menjadi wadah penuangan gagasan, ide atau karya ilmiah bagi para widyaiswara di lingkup provinsi Kalimantan Timur. Dapat menjadi bahan masukan, kajian atau referensi bagi pihak-pihak lain yang memerlukan baik di lingkungan kewidyaiswaraan maupun untuk pihak luar. Dapat sebagai salah satu alat pemersatu bagi para widyaiswara di lingkungan provinsi Kalimantan Timur. Dapat membantu para widyaiswara dalam hal perolehan Angka Kredit (AK) pada item penulisan karya tulis/ jurnal ilmiah yang berskala nasional (berupa buku). Secara tidak langsung dapat menjadi ajang promosi bagi Badan Diklat Provinsi Kalimantan Timur.

Provinsi Kalimantan Timur. 2. 3. Berbahasa bilingual, dapat menggunakan bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris. Mempunyai ISSN (International Standard of Serial Number), sehingga diakui secara ilmiah dan mempunyai lingkup terbitan secara nasional. Dalam satu terbitan dapat memuat 6-10 buah karya ilmiah. Karya ilmiah yang akan diterbitkan terlebih dahulu diseleksi oleh Dewan Redaksi. Selain widyaiswara, kumpulan jurnal ilmiah dapat diisi oleh penulis luar (umum) dan/atau bahkan peserta diklat sepanjang memenuhi syarat dan disetujui oleh Dewan Redaksi. Kumpulan jurnal ilmiah dikelola oleh Tim Sekretariat Widyaiswara. Dipublikasikan dan disirkulasikan secara luas ke perpusatakaan, dinas/ instansi, dan toko-toko buku.

4. 5. 6.

7. 8.

2.

IV. oRGANISASI 1. Kepengurusan Kepengurusan untuk penerbitan jurnal ilmiah widyaiswara adalah terdiri dari formasi sebagai berikut: a. Pelindung (Kepala Badan Diklat Prov. Kaltim), sebagai penanggung jawab penerbitan jurnal ilmiah widyaiswara.

3. 4.

5.

b. Pemimpin Redaksi, bertugas memimpin dan mengelola seluruh kelancaran jalannya proses penerbitan jurnal. c. Dewan Redaksi, bertugas untuk menyeleksi jurnal ilmiah yang layak untuk diterbitkan.

III. KoNSEP JURNAL ILMIAH WIDYAISWARA Secara umum, konsep penerbitan jurnal ilmiah kewidyaiswaraan di Badan Diklat Prov. Kaltim ini adalah sebagai berikut: 1. Merupakan suatu jurnal ilmiah yang terbit secara berkala, secara 3 bulanan atau 4 bulanan dalam setahun, yang memuat hasil karya atau jurnal ilmiah bagi para widyaiswara dilingkungan

d. Asisten Redaksi, bertugas untuk meng-edit, membuat lay-out jurnal, dan mengurusi masalah pencetakan jurnal. e. Staf Administrasi dan Sirkulasi, bertugas untuk menangani administrasi, publikasi dan sirkulasi.

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

43

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

2.

Dewan Redaksi

V. PENERBITAN Secara garis besar tata cara atau proses penerbitan kumpulan jurnal ilmiah berkala adalah sebagai berikut: 1. Penerimaan dan pengumpulan manuskrip karya tulis atau jurnal ilmiah dari para penulis yang ditujukan pada redaksi. Penyeleksian format penulisan oleh Pimpinan Redaksi, jika dianggap kurang memenuhi persyaratan maka manuskrip dapat dikembalikan kepada penulis untuk disempurnakan. Penyeleksian jurnal ilmiah oleh Dewan Redaksi, berdasarkan hasil sidang atau rapat antar Dewan Redaksi untuk memutuskan jurnal mana saja yang layak untuk diterbitkan.

Dewan redaksi terdiri dari kumpulan atau tim ahli yang berfungsi untuk menyeleksi bahan-bahan jurnal ilmiah yang akan diterbitkan. Proses seleksi dilakukan dengan mengadakan semacam sidang (rapat) untuk menilai jurnal ilmiah mana yang layak untuk diterbitkan. Dewan redaksi dapat terdiri dari 5 – 8 orang staf ahli yang diambil dari para widyaiswara dan/atau staf ahli lain yang ada di lingkungan provinsi Kalimantan Timur. Pemilihan formatur Dewan Redaksi dapat dilakukan sesuai kesepakatan antar widyaiswara. 3. Alamat Redaksi

2.

3.

Redaksi dapat dialamatkan pada 4. Pembuatan tata letak (lay-out) kumSekretariat Widyaiswara, Badan Pendidipulan jurnal ilmiah, beserta desain kan dan Pelatihan Provinsi Kalimantan grafisnya agar tampilan buku jurnal Timur, Jalan H.M. Riffadin Samarinda ilmiah menjadi menarik. Seberang. Telepon: (0541) 7270208. E-mail : jurnal.widyaswara@gmail.com Web : 5. Pencetakan kumpulan jurnal ilmiah, 4. Pembuatan tata letak (lay-out) kumpulan jurnal ilmiah, beserta desain grafisnya agar www.jurnalwidyaswara.blogspot.com dengan melibatkan percetakan swasta tampilan buku jurnal ilmiah menjadi menarik. atau jika dimungkinkan mencetak 5. Pencetakan kumpulan jurnal ilmiah, dengan melibatkan percetakan swasta atau jika sendiri bila mempunyai peralatan dimungkinkan mencetak sendiri bila mempunyai memadai. percetakan yang percetakan yang peralatan memadai. 6. Publikasi dan sirkulasi jurnal ilmi 6. Publikasi dan sirkulasi jurnal ilmiah.

Gambar Rencana Tata Cara Penerbitan
Penerimaan & Pengumpulan Manuskrip Seleksi Format Manuskrip Seleksi Dewan Redaksi Penyusunan Lay-Out Jurnal Pencetakan Jurnal Publikasi dan Sirkulasi

Berkala 3 bulanan / 4 bulanan

44

VI. PUBLIKASI DAN SIRKULASI

Publikasi akan dilakukan JURNAL beberapa cara, misalnya 1 Maret 2011 secara dengan WidyaSwarA Volume 1 No. memberikan gratis setiap edisi kepada beberapa perpustakaan (daerah, universitas), dan dinas/instansi pemerintah, iklan dibeberapa media cetak, dan lain sebagainya yang

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

VI. PUBLIKASI DAN SIRKULASI Publikasi akan dilakukan dengan beberapa cara, misalnya memberikan secara gratis setiap edisi kepada beberapa perpustakaan (daerah, universitas), dan dinas/instansi pemerintah, iklan dibeberapa media cetak, dan lain sebagainya yang dianggap layak dan efektif untuk publikasi. Sirkulasi dilakukan secara berkala setiap kali terbit dan lebih diutamakan bagi yang telah berlangganan secara rutin (jika jurnal ilmiah diperjualbelikan). Sirkulasi untuk dalam kota maupun luar kota dapat menggunakan jasa ekspedisi khusus, sehingga biaya sirkulasi dapat diupayakan seminimal mungkin. VII. SYARAT PENULISAN JURNAL ILMIAH Persyaratan dalam penulisan jurnal ilmiah berdasarkan pada sebuah pedoman penulisan yang disusun sebagai berikut (pedoman ini merupakan saduran dari Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, Fakultas Ekonomi UGM Jogjakarta yang telah mendapatkan Akreditasi dengan peringkat A untuk jurnal ilmiah): 1. Format a. Semua manuskrip harus diketik pada satu sisi kertas kualitas baik berukuran kwarto, kecuali untuk kutipan langsung yang di-indent. Manuskrip harus dibuat sesingkat mungkin sesuai dengan subyek dan metodologi penelitian, biasanya antara 15 – 30 halaman, diketik spasi single. Dengan font Book Antiqua beerukuran 11

inya, ucapan terima kasih dan catatan kaki yang menunjukkan kesediaan penulis untuk memberikan data. e. Semua manuskrip harus disertai dengan disket/file yang berisi manuskrip tersebut. Sebutkan jenis pengolah kata yang digunakan dan versinya. Untuk halaman, semua halaman termasuk tabel, lampiran dan acuan, harus diberi nomor urut. Bagian pertama tulisan tidak boleh diberi judul dan halaman.

f.

g. Untuk angka, lafalkan angka dari satu sampai dengan sepuluh, kecuali jika digunakan dalam tabel atau daftar dan ketika digunakan dalam unit atau kuantitas matematis, statistik, keilmuan atau teknis seperti jarak, bobot dan ukuran. Misalnya: empat hari, 5 kilometer, 25 tahun. Semua angka lainnya disajikan secara numerik. Umumnya kalau dalam perkiraan, angka dilafalkan; misalnya: kirakira sepuluh tahun. h. Untuk persentase dan pecahan desimal, untuk penggunaan yang bukan teknis gunakan kata persen dalam teks; untuk penggunaan teknis gunakan simbol 1%. i. Untuk kata kunci, setelah abstrak cantumkan empat kata kunci yang akan memudahkan pemberian indeks.

2.

Abstrak Abstrak yang panjangnya kira-kira 100 – 300 kata harus dicantumkan pada halaman terpisah sebelum teks. Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris untuk artikel berbahasa Indonesia dan sebaliknya. Abstrak tidak boleh matematis dan mencakup ikhtisar pertanyaan penelitian, metode dan pentingnya temuan serta temuan dan kontribusi penelitian. Judul, tetapi bukan nama penulis dan institusinya harus dicantumkan pada halaman abstrak. Tabel dan Gambar 45

b. Marjin atas, bawah dan samping harus dibuat paling tidak satu inci. c. Untuk memungkinkan blank review, penulis tidak boleh mengidentifikasikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung pada makalahnya.

d. Halaman cover harus menunjukkan judul tulisan, nama penulis, gelar dan jabatan serta institusJURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

Penulis memperhatikan umum berikut ini: a.

petunjuk

Tiap tabel dan gambar (grafik) harus dicantumkan pada halaman terpisah dan harus ditempatkan pada akhir teks. Masingmasing tabel atau gambar harus diberi nomor dan judul lengkap yang menunjukkan isi tabel atau gambar.

sama dalam tahun penerbitan yang sama, gunakan akhiran a, b, dan seterusnya setelah tahun pada acuan; contoh: (Andoyo, 1991a) atau (Andoyo, 1991a; Hutabarat, 1992b). e. Jika nama penulis disebutkan dalam teks, tidak perlu diulang dalam acuan, contoh: “Andoyo (1991: 121) mengatakan....” Acuan ke tulisan yang merupakan karya institusional sedapat mungkin harus menggunakan akronim atau singkatan sependek mungkin; contoh: (Komite SAKIAI, PSAK28, 1997).

b. Acuan ke masing-masing grafik harus ada dalam teks. c. Penulis harus menunjukkan dengan notasi pada marjin mana grafik harus dicantumkan dalam teks.

f.

d. Grafik harus bisa diinterprestasikan tanpa mengacu ke teks. e. f. Baris yang menunjukkan sumber dan catatan harus dicantumkan. Untuk persamaan, persamaan harus diberi nomor dalam kurung dengan penulisan rata marjin kanan. Acuan, karya yang diacu harus menggunakan “sistem penulistahun” yang mengacu pada karya pada daftar acuan. Penulis harus berupaya untuk mencantumkan halaman karya yang diacu.

g. Daftar Acuan, setiap manuskrip harus mencantumkan daftar acuan yang isinya hanya karya yang diacu. Setiap entri harus berisi semua data yang dibutuhkan. Gunakan format berikut ini:  Urutkan acuan secara alpabet sesuai dengan nama akhir/ keluarga pengarang pertama atau institusi yang bertanggung jawab atas suatu karya.  Gunakan inisial nama depan pengarang.  Tahun terbit harus ditempatkan setelah nama pengarang.  Judul jurnal tidak boleh disingkat.  Kalau lebih dari satu karya oleh penulis yang sama urutkan secara kronologis waktu terbitan. Dua karya atau lebih dalam satu tahun oleh penulis yang sama dibedakan dengan huruf setelah tanggal. 4. Contoh Entri Acuan a. Untuk periodikal: Blum, T. C., D. L. Field, dan J.S. Goodman, 1994. Organization-level determinant of women in management. The Academy of Management Journal 37 (4): 467498.

3.

Dokumentasi a.

b. Dalam teks, karya diacu dengan cara berikut: nama akhir/keluarga penulis dan tahun dalam tanda kurung; contoh: (Andoyo, 1991), dua penulis (Andoyo dan Hutabarat, 1992), lebih dari dua penulis (Andoyo et al., 1993), lebih dari dua sumber diacu bersamaan (Andoyo, 1991; Ciptadi, 1994), dua tulisan atau lebih oleh satu penulis (Andoyo, 1991; 1993). c. Kecuali bisa menimbulkan kerancuan, jangan gunakan “H”, “hal”, atau “halaman” sebelum nomor halaman tetapi gunakan tanda titik dua; contoh: (Andoyo, 1991: 121).

d. Apabila daftar acuan lebih dari satu tulisan oleh pengarang yang 46

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

Palmer, R. J., T. Schimidt, dan J. Jordan-Wagner, 1996. Corporate procurement cards; the reenginereed future for non-inventory purchasing and payables. Journal of Cost Management 10 (3): 19-32. b. Untuk buku/monograf: Fabozzi, F., dan I. Pollack, eds., 1987. The Handbook of Fixed Income Securities. 2nd ed. Homewood, IL: Dow Jones-Irwin. Kahneman, D., P. Slovic, dan A. Tversky, eds., 1992, Judgment Under Uncertainty: Heuristic and Biases. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. c. Untuk artikel dalam karya kolektif: Brunner K. dan A. H. Meltzer, 1990, Money Supply dalam: B. M. Friedman dan F. H. Hahn, Handbook of Monetary Economics, Vol. 1, Amsterdam: North-Holland: 357-396. d. Untuk majalah, makalah tidak diterbitkan, disertasi/tesis/ skripsi, makalah seminar dan sebagainya menyesuaikan dengan pedoman di atas. e. Catatan kaki, catatan kaki tidak digunakan untuk acuan. Catatan kaki tekstual harus digunakan hanya untuk perluasan informasi yang jika dimasukkan dalam teks bisa mengganggu kontinuitas bacaan. Catatan kaki harus diketik dua spasi dan diberi nomor urut dengan superskrip angka arabik. Catatan kaki ditempatkan pada akhir teks.

iah antara widyaiswara, peserta diklat, alumni diklat, penyelenggara diklat, dan masyarakat pada umumnya. Usulan ini tentu jauh dari sempurna sehingga perlu masukan-masukan lagi dari berbagai pihak agar rencana penerbitan jurnal ilmiah ini dapat disempurnakan.

VII. PENUTUP Penerbitan kumpulan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Badan Diklat Prov. Kaltim dimaksudkan sebagai media pertukaran informasi dan karya ilmJURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011 47

SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA

48

JURNAL WidyaSwarA Volume 1 No. 1 Maret 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->