BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul fiqhiyah. Maka dari itu, kami selaku penulis mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah fiqh, mulai dari pengertian, sejarah, perkembangan dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah fiqh. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqh, karena kaidah fiqh itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh, dan lebih arif di dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, keadaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politin, budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat. BAB II PEMBAHASAN I. Pengertian Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad warson menembahkan bahwa, kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 26 : ”Allah akan menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya”. (Q.S. An-Nahl : 26) Sedangkan dalam tinjauan terminologi kaidah punya beberapa arti, menurut Dr. Ahmad asy-syafi’i dalam buku Usul Fiqh Islami, mengatakan bahwa kaidah itu adalah : ”Kaum yang bersifat universal (kulli) yangh diakui oleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak”. Sedangkan mayoritas Ulama Ushul mendefinisikan kaidah dengan : ”Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagiannya”. Sedangkan arti fiqh ssecara etimologi lebih dekat dengan ilmu, sebagaimana yang banyak dipahami, yaitu : ”Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama” (Q.S. At-Taubat : 122) Dan juga Sabda Nabi SAW, yaitu : Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya kepahaman dalam agama.

Sedangkan menurut istilah, Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah (praktis) yang diambilkan dari dalil-dalil yang tafsili (terperinci) Jadi, dari semua uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Qawaidul fiqhiyah adalah : ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang banyak yang dengannya diketahui hukum-hukum cabang itu”. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa setiap kaidah fiqhiyah telah mengatur beberapa masalah fiqh dari berbagai bab. II. Sejarah Perkembangan Qawaidul Fiqhiyah Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah diklarifikasikan menjadi 3 fase, yaitu : 1. Fase pertumbuhan dan pembentuka Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 hijrah. Periode ini dari segi pase sejarahhukumi islam, dapat dibagi menjadi tiga zaman Nabi muhammad SAW, yang berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H / 12 SH-10 H), dan zaman tabi’in serta tabi’ tabi’in yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H). Tahun 351 H / 1974 M, dianggap sebagai zaman kejumudan, karena tidak ada lagi ulama pendiri maazhab. Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir al-Thabari (310 H / 734 M), yang mendirikan mazhab jaririyah. Dengan demikian, ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan, kaidah fiqh baru dibentuk dab ditumbuhkan. Ciri-ciri kaidah fiqh yuang dominan adalah Jawami al-Kalim (kalimat ringkas tapi cakupan maknnya sangat luas). Atas dasar ciri dominan tersebut, ulama menetapkan bahwa hadits yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. Oleh karena itulah periodesasi sejarah kaidah fiqih dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Sabda Nabi Muhammad SAW, yang jawami al-Kalim dapat ditinjau dari dua segi, yaitu : • Segi sumber : Ia adalah hadits, oleh karena itu, ia menjadi dalil hukum islam yang tidak mengandung al-Mustasnayat • Segi cakupan makna dan bentuk kalimat : Ia dikatakan sebagai kaidah fiqh karena kalimatnya ringkas, tapi cakupan maknanya luas. Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai kaidah fiqh, yaitu : ”pajak itu disertai imbalan jaminan” ”Tidak boleh menyulitkan (orang lain) dan tidak boleh dipersulitkan (oleh orang lain)” Demikian beberapa sabda Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai kaidah fiqh. Generasi berikutnya adalah generasi sahabat, sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh, karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka. Generasi berikutnya adalah tabi’in dan tabi’ tabi’in selama 250 tahun. Diantara ulama yang mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabi’in adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ibrahim (113-182), dengan karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj, kaidah-kaidah yang disusun adalah : ”Harta setiap yang meninggal yang tidak memiliki ahli waris diserahkan ke Bait al- mal”

dikenal sebagai zaman taqlid. Oleh karena itu kaidah fiqh tersebut adalah : “seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin” III. umpamanya : ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum” kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal. maka dibolehkan untuk dihibahkan dan digadaikan” 2. diantara kaidah yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal.Kaidah tersebut berkenaan dengan pembagian harta pusaka Baitul Mal sebagai salah satu lembaga ekonomi umat Islamdapat menerima harta peninggalan (tirkah atau mauruts). abad IV H. yaitu : ”Sesuatu yangh dibolehkan dalah keadaan terpaksa adalah tidak diperbolehkan ketika tidak terpaksa” Ulama berikutnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal (W. 761 H) • Al-Qawaid fi al-Fiqh. apbila yang meninggal dunia tidak memiliki ahli waris. karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. Pada abad VIII H. salah satu kaidah yang dibentuknya. 241 H). meskipun demikian tidak berarti tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. yang hidup pada fase kedua abad kedua hijriah (150-204 H). Buku-buku kaidah fiqh terpenting dan termasyhur abad ini adalah : • Al-Asybah wa al-Nazha’ir. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. Pada zaman ini. Salah satu kaidah yang disempurnakan di abad XIII H adalah “seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain. 716 H) • Kitab al-Qawaid. Usaha kodifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar kaidah-kaidah itu bisa berguna bagi perkembangan ilmu fiqh pada masa-masa berikutnya. kecuali ada izin dari pemiliknya” Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata-kata idznih menjadi idzn. Kaidah fiqh yang berperan sentral. 795 H) 3. yaitu sentral dan marginal. Fase kematangan dan penyempurnaan Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh. dikenal sebagai zaman keemasan dalam kodifikasi kaidah fiqh. Segi fungsi Dari segi fungsi. Ulama berikutnya yang mengembangkan kaidah fiqh adalah Imam Asy-Syafi’i. yaitu : ”Setiap yang dibolehkan untuk dijual. karena perkembangan kodifikasi kaidah fiqh begitu pesat. karya ibn wakil al-Syafi’i (W. karya ibn rajab al-Hambali (W. Pembagian Kaidah Fiqh Cara membedakan sesuatu dapat dilakukan dibeberapa segi : 1. Fase perkembangan dan kodifikasi Dalah sejarah hukum islam. karya al-Maqarri al-maliki (W. diantaranya : ”Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat” . 750 H) • Al-Majmu’ al-Mudzhab fi Dhabh Qawaid al-Mazhab. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat. karya al-Ala’i al-Syafi’i (W. sebagian besar ulama melakukan tarjih (penguatan-penguatan) pendapat imam mazhabnya masing-masing.

kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. Manfaat Kaidah Fiqh Manfaat dari kaidah Fiqh (Qawaidul Fiqh) adalah : 1. IV. Umpamanya adalah : ”Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat” Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama. Mempermudah dalam menguasai materi hokum . Segi mustasnayat Dari sumber pengecualian. meskipun dengan cara yang tidak langsung Menurut Imam Ali al-Nadawi (1994) 1. • Kaidah asasi Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. yaitu : • Kaidah kunci Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya. untuk keadaan dan adapt yang berbeda 4. yaitu : kaidah yang tidak memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian. kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu’ 2. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi 3. Kaidah fiqh tersebut adalah : ”Perbuatan / perkara itu bergantung pada niatnya” ”Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan” ”Kesulitan mendatangkan kemudahan” ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum” • Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni adalah ” majallah al-Ahkam al-Adliyyat”. karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar manusia terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan. yaitu : ”Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat” Kaidah diatas merupakan kaidah kunci. pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Qur’an dan alSunnah. 3. Kaidah fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW. kaidah ini dibuat di abad XIX M. Dengan kaidah-kidah fiqh kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh 2. oleh lajnah fuqaha usmaniah. dapat dikembalikan kepada satu kaidah. Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama. Dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat yang berbeda. Segi kualitas Dari segi kualitas.”Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh” Dengan demikian.

kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya. yaitu al-Qur’an dan sunnah. mempermudah orang yang berbakar fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hokum dengan mengeluarkannya dari tema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topic 5. Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang. Dari sudut sumber.2. maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu’ menjadi beberapa kelompok. Kaidah fiqh yang dijadikan . 4. yaitu : 1. karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu’-furu’ itu. baik mengenai perdata. pidana. kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan 3. kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai muqasid al-Syari’at. ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hokum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar 6. para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah. karena dengan mendalami beberapa nashsh. yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu’nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. VI. ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan 2. Kaidah fiqh sebagai pelengkap. Kedudukan Qawaidul Fiqhiyah Kaidah fiqh dibedakan menjadi dua. Mendidik orang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk memahami permasalahan-permasalahnan baru. Urgensi Qawaidul Fiqhiyah Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 1. Sedangkan alQrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah. Pengetahuan tentang kaidah fiqh merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu’ yang bermacam-macam V. Oleh karena itu. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah. Dari segi istinbath al-ahkam. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas. bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok.

yaitu ushul al-Fiqh yang didalamnya terdapat patokan-patokan yang bersifat kebahasaan.sebagai dalil pelengkap tidak ada ulama yang memperdebatkannya. Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu’ (cabang). 3. bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil hukumyang berdiri sendiri. Sedangkan kaidah fiqh adalah kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama. Menurutnya.” Dalam kontek studi fiqh. jumlah kaidah asasiah ada 5 macam. Kaidah-kaidah asasiah adalah kaidah yang disepakati oleh Imam Mazhahib tanpa diperselisihkan kekuatannya. Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah furu’.” Sedangkan kaidah ghairu asasiah adalah kaidah yang merupakan pelengkap dari kaidah asasiah. furu’. atau aktsariyat. Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam dalil yang rinciyang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil . Kesulitan itu dapat menarik kemudahan. kaidah fiqh tidak dijadikan sebagai dalil yang berdiri sendiri merupakan jalan keluar yang lebih bijak. Sebagian fuqaha’ menambah dengan kaidah “tiada pahala kecuali dengan niat. Imam al-Haramayn al-Juwayni berpendapat bahwa kaidah fiqh boleh dijadikan dalil mandiri. yaitu : 1. maka hukum fiqh yang bersifat furu’iyyat akan tetap bercerai berai. Segala macam tindakan tergantung pada tujuannya 2. aglabiyat. Sistematika Qawaidul Fiqhiyah Pada umumnya pembahasan qawaidul fiqhiyah berdasarkan pembagian kaidah-kaidah asasiah dan kaidah-kaidah ghairu asasiah. Ushul terdiri atas dua bagian. dan kedua. 2. Kebiasaan itu dapat menjadi hukum 4. Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara’ yang praktis. Karena memiliki pengecualian yang kita tidak mengetahui secara pasti pengecualian-pengecualian tersebut. artinya ulama “sepakat” tentang menjadikan kaidah fiqh sebagai dalil pelengkap. Al-syaikh Ahmad ibnu al-Syaikh Muhammad alZarqa berpendapat sebagai berikut : “kalau saja tidak ada kaidah fiqh ini. Oleh karena itu. Kaidah fiqh sebagai dalil mandiri. 2. walaupun keabsahannya masih tetap diakui. tanpa menggunakan dua dalil pokok. Namun al_Hawani menolak pendapat Imam al-Haramayn al-juwayni. dan kaidah fiqhyang di dalamnya terdapat pembahasan mengenai rahasia-rahasia syari’ah dan kaidah-kaidah dari furu’ yang jumlahnya tidak terbatas. Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan 5. berdalil hanya dengan kaidah fiqh tidak dibolehkan. ushul. Kemudaratan itu harus dihilangkan 3. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan kaidah fiqh sebagai dalil hokum mandiri. Al-Hawani mengatakan bahwa setiap kaidah bersifat pada umumnya. Kedudukan kaidah fiqh dalam kontek studi fiqh adalah simpul sederhana dari masalahmasalah fiqhiyyat yang begitu banyak. menurut al-Hawani. Perbedaan Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh 1. setiap kaidah mempunyai pengecualian-pengecualian. VII. VIII. al-Qurafi menjelaskan bahwa syar’ah mencakup dua hal : pertama.

Kaidah-kaidah Fiqh yang Asasi 1. Ataukah dia tidak niat karena Allah. Sebab. sehingga mukallaf mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan kesukaran. Kaidah-kaidah Fiqh yang umum Kaidah-kaidah Fiqh yang umum terdiri dari 38 kaidah. Seluruh maslahat itu diperintahkan oleh syari’ah dan seluruh yang mafsadat dilarang oleh syari’ah. d. Meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan Izzuddin bin Abdul as-Salam di dalam kitabnya Qawaidul al-Ahkam fi mushalih alAnam mengatakan bahwa seluruh syari’ah itu adalah muslahat. jangan ditinggalkan seluruhnya” 4. namun disini kami hanya menjelaskan sebagiannya saja.tersebut. apakah seseorang melakukan perbuatan itu dengan niat ibadah kepada Allah dengan melakukan perintah dan menjauhi laranganNya. 3. perbuatan demikian bisa diartikan tolong menolong dalam dosa. “Apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya. X. yaitu : 1. Kaidah asasi keempat “kemudhoratan harus dihilangkan” Kaidah tersebut kembali kepada tujuan merealisasikan maqasid al-Syari’ah dengan menolak yang mufsadat. 2. Kaidah asasi pertama “segala perkara tergantung kepada niatnya” Niat sangat penting dalam menentukan kualitas ataupun makna perbuatan seseorang. “ijthat yang telah lalu tidak bisa dibatalkan oleh ijtihat yang baru” Hail ini berdasarkan perkataan Umar bin Khattab : “itu adalah yang kami putuskan pada masa lalu dan ini adalah yang kami putuskan sekarang” 2. Kaidah asasi ketiga “kesulitan mendatangkan kemudahan” Makna dari kaidah diatas adalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan kesulitan dan kesukaran bagi mukallaf . “Petunjuk sesuatu pada unsure-unsur yang tersembunyi mempunyai kekuatan sebagai dalil” . IX. tetapi agar disanjung orang lain. b. yaitu : di dalam adapt ada unsure berulang-ulang dilakukan. Kaidah asasi kedua “keyakinan tisak bisa dihilangkan dengan adanya keraguan” c. adapula ynag menyebabkan mafsadat. maka syari’ah meringankannya. baik dengan cara menolak mafsadat atau dengan meraih maslahat. yang dikenal sebagai sesuatu yang baik. e. Kaidah asasi kelima “adat kebiasaan dapat dijadikan (pertimbangan) hukum” Adat yang dimaksudkan kaidah diatas mencakup hal yang penting. Al-Qawaid al-Khamsah (lima kaidah asasi) Kelima kaidah asasi tersebut sebagai berikut : a. dengan cara menghilangkan kemudhoratan atau setidaktidaknya meringankannya. “apa yang haram diambil haram pula diberikannya” Atas dasar kaidah ini. Sedangkan kaidah fiqh menjelaskan masalh fiqh yang terhimpun di dalam kaidah. Kerja manusia itu ada yang membawa kepada kemaslahatan. maka haram memberikan uang hasil korupsi atau hasil suap.

tetapi jika dibenarkan oleh syari’ah maka diperbolehkan. yaitu “Hukum asal pada masalah seks adalah haram” Maksud kaidah ini adalah dalam hubungan seks. wasiat. waris. maka menanggung akibat tidak mendapat sesuatu tersebut” Contah dari kaidah ini : Kita mempercepat berbuka pada saat kita puasa sebelum maghrib tiba. membahas tentang pelaku kejahatan dan perbuatannya. Kaidah fiqh yang khusus fiqh qadha (peradilan dan hukum acara) . Salah satu dari kaidah ini. pada asalnya haram sampai datang sebab-sebab yang jelasdan tanpa meragukan lagi yang menghalalkannya. akan tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan hal tadi. Kaidah fiqh yang khusuh di bidang al-Ahwal al-Syakhshiyah Dalam hukum islam. 5. pada dasarnya boleh. sewa-menyewa. yaitu : 1. hukum keluarga meliputi : pernikahan. Kaidah yang semacam ini hanya berlaku dalam cabang fioqh tertentu. “Barang siapa yang mempercepat sesuatu sebelum waktunya. Kecuali yang tegas-tegas diharamkan seperti yang mengakibatkan kemudharatan. judi dan riba. Kaidah fiqh yang khusus di bidang jinayah Fiqh jinayah adalah hukum islam yang membahas tentang aturan berbagai kejahatan dan sanksinya. Misalnya : petugas zakat dibolehkan mengambil harta zakat dari muzaki yang sudah wajib mengeluarkan zakat. XI. 5. 3. seperti : jual beli. kecuali dia bisa membuktikan bahwa barang tersebut bukan hasil curian. yaitu dengan adanya akad pernikahan. Kaidah fiqh yang khusus di bidang ibadah mahdah “Setiap yang sah digunakan untuk shalat sunnah secara mutlak sah pula digunakan shalat fardhu” 2. 4. keadaan ini setidaknya bisa jadi petunjuk bahwa si B adalah pencurinya. Salah satu kaidah khusus fiqh jinayah adalah : “Tidak boleh seseorang mengambil harta orang lain tanpa dibenarkan syari’ah” Pengambilan harta orang lain tanpa dibenarkan oleh syari’ah adalah pencurian atau perampokan harta yang ada sanksinya. bukan mengikuti keinginan hawa nafsunya atau keluarganya maupun golongannya.Maksud kaidah ini adalah ada hal-hal yang sulit diketahui oleh umum. Kaidah fiqh yang khusus di bidang muamalah atau transaksi “Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya” Maksud dari kaidah ini adalah bahwa setiap muamalah dan transaksi. penipuan. seperti : Barang yang dicuri ada pada si B. Kaidah-kaidah Fiqh yang khusus Banyak kaidah fiqh yang ruang lingkup dan cakupannya lebih sempit dan isi kandungan lebih sedikit. 6. kerja sama. Kaidah fiqh yang khusus di bidang siyasah “Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan” Kaidah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus beorientasi kepada kemaslahatan rakyat. Contoh dari kaidah ini. waqaf dzurri (keluarga) dan hibah di kalangan keluarga.

Maka dari itu penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah Qawaidul Fiqhiyah. 2006. tidak hanya sebatas membaca makalah ini saja. Muslih. HA. kecuali perdamaian yang berisi menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. BAB III PENUTUP I. Kaidah-kaidah fiqh ituterdiri dari banyak pengertian. Abdul. yaitu : • Sebagai pelengkap. 2005. kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dam kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalahfiqh. 1999. A Rahman. Hasbi. Al-Qawaidul Fiqhiyah. Mabahits fi al-Qawaidul Fiqhiyah. Kaidah Fiqh Jinayah. yaitu dari daerah sampai mahkamah agung. Saran Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya. Enceng Arif. 1976. yang hanya mengandalkan buku referensi. Ali Ahmad. membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit. Jaih. Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. diantara kaidah fiqh dalam bidang ini yaitu : “Perdamaian diantara kaum muslimin adalah boleh kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” Perdamaian antara penggugat dan tergugat adalah baik dan diperbolehkan. 2005. bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok. DAFTAR PUSTAKA Djazuli.Lembaga peradilan saat ini berkembang dengan pesat. 1999. Jakarta : Bulan Bintang Ash-shiddiqie. 2004. Kaidah-kaidah fiqh. Kesimpulan 1. Al-Nadwi. Jakarta : Kencana Asjmuni. 2002. Jakarta : Rajawali Pers Djazuli. karena kaidah itu bersifat menyeluruh yang meliputi bagian-bagiannya dalam arti bisa diterapkan kepada juz’iyatnya (bagian-bagiannya) 2. Kaidah-kaidah Fiqh. Ilmu Fiqh. Adapun kedudukan dari kaidah fiqh itu ada dua. Malang : Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Usman. Al-Qawaidul Fiqhiyah. agar setelah membaca makalah ini. 3. Kaidah Fioqh. HA. bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil hukum yang berdiri sendiri. Bandung : Pustaka Bani Quraisy . Dalam islam hal ini sah-sah saja. II. Ushul Fiqh. yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. 1998. baik dalam bidangnya. seperti mahkamah konstitusi maupun tingkatnya. Jakarta : Rajawali Pers Effendi. 1978. Jakarta : kencana Mujib. • Sebagai dalil mandiri. Satria. Beirut : Dar al-Kalam Faisal. tanpa menggunakan dua dalil pokok. Jakarta : Kencana Mubarok. Salah satu manfaat dari adanya kaidah fiqh.

Firdaus. Al-qawaid al-fiqhiyyah yang langsung didasarkan dan disandarkan pada dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah (nash) dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum. 02 Februari 2009 Kedudukan al-Qawa'id al-Fiqhiyyah dalam Penetapan Hukum Oleh : DR. M. Upaya merujuk terhadap kitab-kitab fiqh menjadi penting untuk menguasai seluk beluk suatu persoalan ketika memang dibutuhkan untuk mengetahui landasan filosofis dan rincian masalah agar pemahaman tentangnya menjadi komprehensif.Ag Al-qawaid al-fiqhiyyah merupakan kaidah yang bersifat umum meliputi sejumlah masalah fiqh dan melaluinya dapat diketahui hukum masalah fiqh yang berada dalam lingkupnya.skip to main | skip to sidebar LPPBI Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Budaya Islam Senin. Dengan menguasai alqawaid al-fiqhiyyah secara baik tidak perlu dalam setiap persoalan merujuk kepada uraian yang terdapat dalam berbagai kitab fiqh. baik dalam bentuk inderawi maupun maknawi. Qaidah dengan makna ini dapat ditemukan dalam firman Allah berikut: ‫وَإ ِذ ْ ي َرفَعُ إ ِب ْراهيم ال ْقواعد َ من ال ْب َي ْت وَإ ِسماعيل رب ّنا ت َقب ّل منا‬ ّ ِ ْ َ َ َ ُ ِ َ ْ ِ َ ِ ِ َ َ ُ ِ َ ْ َ‫إنك أن‬ ْ ‫ِ ّ َ ْت السميعُ ال‬ ‫عَليم‬ ِ ّ ُ ِ َ . Apabila ada masalah fiqh yang dapat dijangkau oleh suatu kaidah fiqh. Pendahuluan Sejak dahulu sampai saat ini tidak ada ulama yang mengingkari akan penting peranan alqawaid al-fiqhiyyah dalam kajian ilmu syariah. yaitu qawaid al-bait yang berarti dasar atau pondasi rumah. Sementara kata qaidah yang berarti dasar dalam bentuk maknawi dapat diamati dalam ungkapan qowa’id al-din yang berarti dasar atau asas agama. Para ulama menghimpun sejumlah persoalan fiqh yang ditempatkan pada suatu al-qawaid al-fiqhiyyah. Meskipun demikian. Melalui al-qawaid al-fiqhiyyah atau kaidah fiqh yang bersifat umum memberikan peluang bagi orang yang melakukan studi terhadap fiqh untuk dapat menguasai fiqh dengan lebih mudah dan tidak memakan waktu relatif lama. masalah fiqh itu ditempatkan di bawah kaidah fiqh tersebut. Kata qaidah yang berarti dasar dalam bentuk inderawi dapat diamati dalam ungkapan bahasa Arab. yang menjadi persoalan apakah al-qawaid al-fiqhiyyah dapat dipakai sebagai dalil dalam mengistinbath hukum. Pengertian al-qawaid al-fiqhiyyah Kata qawaid merupakan bentuk jama’ dari kata qaidah yang secara bahasa berarti asas atau dasar. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan tersebut dengan berupaya mencari terobosan baru terhadap pendapat ulama yang pernah ada dalam memfungsikan al-qawaid fiqhiyyah dalam penetapan hukum.

11:91.” (QS. Kata fiqh juga digunakan untuk menunjukkan pemahaman terhadap sesuatu dengan baik secara lahir maupun batin. Kata faqaha atau yang seakar dengannya muncul dalam Qur’an sebanyak 20 kali yang sebagian besarnya mengacu kepada makna pemahaman mendalam. para ulama (kalangan sahabat dan tabi’in) memahami fiqh dengan pengetahuan atau pemahaman tentang agama Islam yang terdapat dalam Qur’an dan Hadis. sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Makna ini sejalan dengan firman Allah berikut: “Perhatikanlah.Dan (ingatlah). Orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang fiqh disebut faqîh. Pada masa selanjutnya. yaitu mengetahui tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah yang digali dari dalil-dalil terperinci. 2: 127).)يفقه‬berarti paham. Sementara kata fiqh secara etimologi berasal dari kata fiqhan ( ‫ )فقها‬yang merupakan masdar dari fi’il madhi faqiha (‫ )فقه‬dan fi’il mudhori’nya yafqahu (‫ . Dari pendekatan bahasa terhadap kata qaidah dan fiqh. Dalam kaitan ini. Pada periode awal Islam. Musthafâ Ahmad Zarqa’. Ibn Subki mengemukakan definisi kaidah fiqh seperti dikutip al-Nadawi yaitu: ‫المر الكلي الذي ينطبق عليه جزئيات كهثيرة تفههم احكامهها‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫منها‬ Suatu kaidah kulli (bersifat umum) yang sesuai dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak. betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahaminya. para ulama memahami fiqh sebagai pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah. dengan mengutip pendapat para ahli nahwu menegaskan bahwa qawaid secara bahasa mengandung pengertian hukum yang dapat diterapkan pada semua bagian-bagiannya. Abd al-Wahhab al-Khallaf mendefinisikan fiqh. ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami). kaidah umum itu dapat diterapkan pada . Kedua arti fiqh ini dipakai para ulama dan masing-masingnya mempunyai alasan yang kuat. Kata fiqh dengan arti paham atau memahami didukung firman Allah surat Hud. Definisi ini menggambarkan ada beberapa unsur penting dalam definisi al-qawaid fiqhiyyah.6:65) Kata fiqh yang berkembang di kalangan ulama secara khusus berarti paham secara mendalam. Definisi ini menggambarkan bahwa fiqh merupakan hasil ijtihad para ulama melalui pengkajian terhadap dalil-dalil tentang suatu persoalan hukum yang terdapat dalam Qur’an dan Sunnah. dapat mempermudah dalam memahami definisi al-qawaid fiqhiyyah secara terminologi. Ini mengisyaratkan fiqh bukan dihasilkan para ulama melalui taqlîd. yang melaluinya diketahui hukum-hukum juz’iyyah. ada beberapa definisi kaidah fiqh secara terminologi yang dikemukakan para ulama. Dalam pengertian terakhir ini. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Ibrahim dan Ismail diberi amanah oleh Allah untuk meninggikan dan membina dasar-dasar (al-qawaid) atau pondasi baitullah. (QS. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata fiqh berarti paham mendalam untuk sampai kepadanya perlu mengerahkan pemikiran secara sungguh-sungguh. yaitu kaidahnya bersifat umum.

Melalui definisi itu Zarqa’ mengemukakan sejumlah unsur yang terdapat pada al-qawaid fiqhiyyah yaitu. meskipun secara umum mempunyai isyarat yang sama. Menurut Ali al-Nadawi. Kedua displin ilmu ini mempunyai kaidah-kaidah tersendiri yang satu sama lain berbeda. Al-Qarafi menegaskan bahwa syariah yang agung diberikan Allah kemuliaan dan ketinggian melalui ushul dan furu’. Setelah mempelajari definisi al-qawaid fiqhiyyah yang dikemukakan para ahli fiqh. Pertama. Namun. Jadi. Jumlah kaidah tersebut cukup banyak dan lapangannya luas yang mengandung rahasia-rahasia dan hikmah syariat. dan sighat khusus untuk maksud umum. Dengan demikian. ushul fiqh. Setiap kaidah diambil dari furu’ yang terdapat dalam syariah yang tidak terbatas jumlahnya. Al-qawaid al-ushuliyyah atau ushul fiqh merupakan metode untuk mengistinbathkan hukum secara benar dan terhindar dari kesalahan. Kedua. Al-qawaid al-ushuliyyah adalah kaidah-kaidah bersifat kulli (umum) yang dapat diterapkan pada semua bagian-bagian dan objeknya. qawaid ushuliyyah membicarakan tentang dalil-dalil yang bersifat umum. 1. Al-qawaid . Ushul fiqh memuat kaidah-kaidah istinbath hukum yang diambil dari lafal-lafal berbahasa Arab.bagian-bagiannya. kehendak lafal amar untuk wajib dan kehendak lafal nahi untuk menunjukkan haram. Kedudukannya persis sama dengan ilmu nahwu yang berfungsi melahirkan pembicaraan dan tulisan yang benar. Zarqa’ merumuskan definisi al-qawaid fiqhiyyah. imam Syihab al-Din al-Qarafi merupakan ulama yang pertama kali membedakan antara kaidah ushuliyyah dan kaidah fiqhiyyah. Diantara yang dirumuskan dari lafal bahasa Arab itu kaidah tentang nasakh. tersusun dalam teks-teks (nash) yang singkat lagi mendasar mengandung hukum-hukum syara’ yang bersifat umum tentang sejumlah peristiwa yang masuk dalam objeknya. al-qawaid fiqhiyyah adalah suatu kaidah yang bersifat umum meliputi sejumlah masalah fiqh dan melaluinya dapat diketahui hukum sejumlah masalah yang berada dalam lingkupnya. kaidahnya bersifat umum. tetapi berbeda secara perinciannya. dan melalui kaidah umum itu dapat diketahui hukum-hukum juz’iyyah. Perbedaan al-qawaid fiqhiyyah dan kaidah ushul fiqh secara lebih rinci dan jelas dapat diamati dalam uraian di bawah ini. sebagaimana ushul fiqh yang merupakan disiplin ilmu tersendiri. Qawaid ushuliyyah membahas tentang dalil-dalil umum. tarjih. kadangkala ada pengecualian dari kebiasaan yang berlaku umum tersebut. Sementara al-qawaid fiqhiyyah adalah himpunan hukum-hukum yang biasanya dapat diterapkan pada mayoritas bagianbagiannya. Adapun ushul dari syariah tersebut ada dua macam. Dalam penilaian Ibn Taimiyyah. tersusun dalam teks-teks singkat dan meliputi sejumlah masalah fiqh yang menjadi objeknya atau berada di bawah lingkupnya. 2. Perbedaan al-qawâid al-fiqhiyyah dengan al-qawâid al-ushuliyyah Dalam kajian keislaman. Sementara qawaid fiqhiyyah merupakan kaidah-kaidah yang membahas tentang hukum yang bersifat umum. Hal itu tidak disebutkan dalam kajian ushul fiqh. fiqh merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri. al-qawaid fiqhiyyah yang bersifat kulli (umum). ada perbedaan mendasar antara qawaid ushuliyyah dengan qawaid fiqhiyyah. sedangkan qawaid fiqhiyyah membicarakan tentang hukum-hukum yang bersifat umum. yaitu kaidah fiqh yang bersifat umum.

dan menerangkan maslahat-maslahat ibadah agar para hamba berada dalam kebaikan karenanya. Betapa pentingnya ilmu ini sehingga al-Qarâfî menggambarkan bahwa al-qawaid fiqhiyyah memberikan manfaat besar terhadap fiqh. Sebab. Sementara ¬al-qawaid al-fiqhiyyah merupakan himpunan sejumlah hukum-hukum fiqh yang serupa dengan ada satu illat (sifat) untuk menghimpunnya secara bersamaan. al-qawaid al-ushuliyyah adalah himpunan sejumlah persoalan yang meliputi tentang dalil-dalil yang dapat dipakai untuk menetapkan hukum. Al-qawaid al-ushuliyyah sebagai pintu untuk mengistinbathkan hukum syara’ yang bersifat amaliyyah. Ia menegaskan bahwa ilmu al-Asbâh wa al-Nazhâir atau kaidah fiqh merupakan ilmu yang agung. setiap amar atau perintah menunjukkan wajib dan setiap larangan menunjukkan untuk hukum haram. keberadaan al-qawaid al-fiqhiyyah mempunyai arti penting. 4. bukan hal-hal yang di luar kemampuannya yang tidak ada jalan untuk menuju kepadanya. al-qawaid al-ushuliyyah digunakan ahli fiqh untuk melahirkan hukum (furu’). Pernyataan hampir senada ditegaskan pula oleh imam Suyuthi dalam bukunya al-Asbâh wa al-Nazhâir. Tujuan adanya qawaid fiqhiyyah untuk menghimpun dan memudahkan memahami fiqh. Dari satu sisi al-qawaid al-fiqhiyyah memiliki persamaan dengan al-qawaid alushuliyyah. Dengan menguasai kaidah fiqh dapat menambah pengetahuan ahli fiqh sehingga ia dapat memahami fiqh dengan baik dan melalui al-qawaid fiqhiyyah akan tersingkap metode fatwa. Sementara alqawaid al-fiqhiyyah adalah ketentuan (hukum) yang bersifat kulli (umum) atau kebanyakan yang bagian-bagiannya meliputi sebagian masalah fiqh. al-qawaid al-fiqhiyyah berasal dari kumpulan sejumlah masalah fiqh yang serupa. hukum Islam dan fiqh. Ulama ini menjelaskan tujuan penyusunan kitab tersebut untuk menerangkan maslahat-maslahat ketaatan. Misalnya. tempat . ada hubungan dan sama substansinya. Namun. serta menerangkan apa yang termasuk dalam kemampuan usaha hamba. Objek kajian alqawaid al-fiqhiyyah selalu menyangkut perbuatan mukallaf. dan menerangkan maslahat mana yang harus didahulukan dan mafsadat mana yang harus dikemudiankan. keduanya sama-sama memiliki bagian-bagian yang berada di bawahnya. menerangkan maksud-maksud kemudharatan agar hamba berusaha untuk menolaknya. Adapun segi persamaannya. 5. Sementara perbedaannya. Sedangkan al-qawaid al-fiqhiyyah muncul dan ada setelah ada furu’ (fiqh). 3. Sedangkan al-qawaid al-fiqhiyyah merupakan himpunan sejumlah masalah yang meliputi hukum-hukum fiqh yang berada di bawah cakupannya semata. dari sisi lain ada perbedaan antara keduanya. Signifikansi al-Qawaid al-Fiqhiyyah Sebagai suatu kajian tersendiri bagi mereka yang menekuni dan melakukan studi terhadap ilmu syariah. muamalat dan seluruh tasyaruf untuk pedoman usaha daya-upaya hamba dalam rangka menghasilkan maslahat-maslahat tersebut.al-ushuliyyah sebagai metode melahirkan hukum dari dalil-dalil terperinci sehingga objek kajiannya selalu berkisar tentang dalil dan hukum. Al-qawaid al-ushuliyyah ada sebelum ada furu’ (fiqh). Isyarat ini ditegaskan Izzuddin Abd al-Salam dalam tujuan penulisan kitabnya Qawâid alAhkâm fi Mashâlih al-Anam. Melaluinya dapat diketahui hakikat fiqh. Sebab. Abdul Mudjib dengan mengutip pendapat Izzuddin bin Abd al-Salam menyatakan bahwa al-qawaid fiqhiyyah sebagai jalan untuk mendapatkan maslahah dan menolak mafsadah.

Al-qawaid al-fiqhiyyah mempunyai kedudukan penting untuk mempermudah dalam mempelajari fiqh. Apabila tidak ada al-qawaid al-fiqhiyyah. Sedangkan hibah adalah akad untuk memiliki suatu benda tanpa membayar gantinya. 5. akad al-bay’u atau jual beli adalah transaksi pemindahan milik suatu benda dengan membayar nilai ganti benda itu. 4. Sejalan dengan itu. Hasbi Ash-Shiddieqy mengemukakan dalam bukunya “Pengantar Hukum Islam” bahwa tidak diragukan lagi seeorang yang hendak melakukan ijtihad membutuhkan kaidahkaidah kulli (bersifat umum) atau al-qawaid fiqhiyyah yang menjadi pedomannya dalam menetapkan hukum Islam. hukum peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang tidak habis-habisnya sepanjang masa. arti penting al-qawaid al-fiqhiyyah secara lebih rinci dapat diamati dalam uraian berikut: 1. Penerapan kaidah ini dapat diamati dalam sejumlah kasus muamalah yang berada dalam lingkupnya. Hal ini menuntutnya untuk menguasai rincian persoalan fiqh yang banyak tersebut. 2. Sementara ijarah adalah transaksi untuk mengambil manfaat suatu benda dengan disertai bayaran terhadap pengambilan manfaat tersebut. Membantu kalangan yang melakukan studi fiqh untuk membahas bagian hukum dan mengeluarkan hukum dari topik-topik yang berbeda dan meletakkannya pada satu topik dengan tetap memelihara pengecualian (istisna’i) dari setiap kaidah. Melaluinya furû’(cabang) fiqh yang demikian banyak dapat dipisahkan dalam kaidah fiqh tertentu. Mengetahui al-qawaid al-fiqhiyyah penting untuk memperkuat jalan mengetahui furû’ fiqh yang demikian banyak. Sebab. Zarqa’ mengakui arti penting dan manfaat al-qawaid fiqhiyyah terhadap fiqh. al-qawaid al-fiqhiyyah sebagai jembatan dan sarana melahirkan hukum-hukum. 3. sebagian ulama menyatakan bahwa fiqh ialah mengetahui persamaan-persamaan atau bandingan-bandingan. Dengan ilmu itu pula orang akan lebih menonjol dalam pemahaman dan penghayatannya terhadap fiqh dan mampu untuk menghubungkan dan mengeluarkan hukum-hukum dan mengetahui hukum masalah-masalah yang tidak tertulis. Hal ini tergambar dalam al-qawaid fiqhiyyah yang menegaskan bawa: “sesungguhnya ungkapan dalam suatu akad mengandung sejumlah makna”. Ini tentu sulit dan menghabiskan waktu yang lama bagi orang tersebut. tentu persoalan hukum yang demikian banyak tetap berserakan di berbagai kitab fiqh sehingga sulit untuk dipelajari ahli fiqh dengan mudah dan baik. Hal ini akan menghindarkan terjadi pertentangan hukum yang kelihatan sama. Mempelajari al-qawaid al-fiqhiyyah dapat membantu untuk menguasai fiqh dengan masalah-masalahnya yang demikian banyak. Dengan mengetahui dan menguasai al-qawaid al-fiqhiyyah dapat menambah kemampuan ahli fiqh dan memperjelas bagi mereka metode-metode melahirkan fatwa. Orang yang berpegang kepada furu’ fiqh tanpa memperhatikan alqawaid al-fiqhiyyah akan menemukan pertentangan yang banyak dalam masalah furu’ fiqh. Dengan mengikatkan hukum-hukum yang berserakan pada satu ikatan menunjukkan bahwa hukum-hukum fiqh membawa misi untuk mewujudkan kemaslahatan yang sejalan dengannya atau mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar. Dengan alasan ini pula para ulama sejak dahulu dari semua mazhab fiqh memberikan perhatian besar dalam rangka . tempat pengambilan dan rahasia-rahasianya. Selain itu. Misalnya.diperolehnya. Oleh karena itu. Dari uraian di atas tampak bahwa al-qawaid fiqhiyyah mempunyai arti penting bagi fiqh dan mempunyai peranan signifikan dalam bidang tasyri’.

terutama terutama terhadap pengecualianpengecualian dari kaidah itu. Al-Hamawî dengan ungkapan lebih tegas menyatakan penetapan fatwa tidak boleh didasarkan kepada kaidah fiqh karena ia tidak bersifat kulli. Ini isyarat dari imam Haramain untuk tidak menggunakan kaidah fiqh sebagai dalil istinbath hukum. Peran al-Qawaid al-Fiqhiyyah dalam Istinbath Hukum Dalam memposisikan al-qawaid al-fiqhiyyah sebagai dalil istinbath hukum dapat diamati dari berbagai pendapat ulama tentang masalah tersebut. yakin adalah ketetapan dan ketenangan tentang hakikat sesuatu sehingga tiada lagi keragu-raguan. yakin adalah mengetahui dengan pasti tentang suatu persoalan sehingga menghilangkan adanya keraguan. baik sikap ragu itu sama atau ada salah satu dari keduanya yang lebih kuat. Sementara ahli ushul fiqh mendefinisikan syak adalah adanya dua kemungkinan yang sama. Pertama.merumuskan dan menyusun kaidah-kaidah fiqh sehingga tersusun kitab-kitab khusus yang membahas tentang kaidah-kaidah tersebut. Sebab. Alî al-Nadawî memaparkan sejumlah pendapat ulama tentang masalah ini. kaidah yang menegaskan bahwa sesuatu yang sudah yakin tidak dapat dihapus oleh keraguan. apabila . syak adalah sikap ragu antara ada atau tidak adanya sesuatu. Kaidah fiqh itu berbunyi: ‫اليقين ل يزول بالشك‬ Sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh keraguan Kaidah ini menegaskan sesuatu yang meyakinkan tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu yang meragukan. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa banyak ulama yang tidak membolehkan pemakaian al-qawaid fiqhiyyah sebagai dalil-dalil dalam menetapkan hukum. Yakin adalah puncak pemahaman yang disertai dengan tetapnya hukum. Isyarat serupa dikemukakan pula oleh Alî Khaidar dalam syarah al-Majallah al-Adliyyah bahwa mereka yang berwenang menetapkan hukum tidak boleh menetapkan hukum dengan semata-mata berpijak pada al-qawaid al-fiqhiyyah. tidak logis menjadikan sesuatu yang merupakan himpunan dari sejumlah persoalan furû’ (fiqh) sebagai dalil dari dalil syara’. Menurut ibn Manzûr. diperlukan sikap teliti dan hati-hati dalam penerapan kaidah fiqh tersebut. Sedangkan syak secara bahasa berarti sikap ragu antara ada atau tidak ada sesuatu dan ia merupakan lawan dari yakin. kesimpulan ini tidak dapat diberlakukan secara umum. Ini menunjukkan semua tindakan mesti berdasarkan pada yang diyakini. Dalam kaitan ini. tetapi bersifat aqlabiyyah (kebanyakan). Imam Haramain al-Juwaini dalam kitabnya al-Ghayâtsî ketika menjelaskan tentang kaidah ibahah dan bara’ah zimmah menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menggunakan kedua kaidah tersebut sebagai dalil. Dalam penilaian Alî alNadawî. Namun. mengingat sebagian al-qawaid fiqhiyyah ada yang langsung didasarkan dan disandarkan pada dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah (nash). Bagi mereka yang mempelajari dan mengunakan al-qawaid fiqhiyyah dalam kajian mereka perlu memperhatikan secara seksama. kecuali yang meragukan meningkat menjadi meyakinkan. Dalam konteks ini. Ada beberapa al-qawaid fiqhiyyah yang dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum. Hal ini penting agar terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam penerapan kaidah-kaidah fiqh. Menurut ahli fiqh.

Kaidah fiqh di atas menghimpun sejumlah masalah fiqh. maka hendaklah yang bersangkutan memilih bilangan rakat sholat yang paling sedikit karena itulah yang yakin atau pasti. antara dua dan tiga. Kaidah ini mendorong untuk menghilangkan kesulitan selama didasarkan atas keyakinan. Kaidah fiqh tersebut didasarkan pada dalil yang kuat. apakah telah satu rakaat atau dua rakaat sholatnya. bahwa beliau bersabda: apabila ragu salah seorang kamu dalam sholat. Dalam kasus. Dan apabila ia ragu antara dua atau tiga rakaat sholat yang telah dilakukan. sementara bilangan yang tertinggi dari rakaat sholat itu yang dikeragui. kemudian ia ragu apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. maka hendaklah ia menetapkan dua rakaat yang telah dilakukan. Hadis ini menginformasikan kepada muslim.R. apabila merasakan sesuatu dalam perutnya sehingga ia ragu apakah telah keluar sesuatu dari perut yang menyebabkan batal wudhu atau tidak ada yang keluar.R. diantaranya hadis berikut: ّ َ ُ ُ َ َ َ َ َ َ َ ‫عَن أ َبي هُري ْرةَ قال قال رسول الل ّهِ صلى الل ّهه عَل َي ْههِ وَس هل ّم‬ َ َ ُ ِ ْ َ ‫إذا وجد أ َحدك ُم في بط ْن ِه شيئا فَأ َشك َل عَل َيه أ‬ ًْ َ ِ َ ْ ٌ‫ْ ِ خرج من ْه ش هيء‬ ِ ْ ُ َ َ َ َ َ َ ْ َ ُ ِ َ َ َ َ ‫ِ أ َم ل فَل يخرجن من ال ْمسجد حتى يسمع صوتا أ‬ ‫َ ْ ِ ِ َ ّ َ ْ َ َ َ ْ ً وْ ي َجد َ ريحا‬ ً ِ ِ ْ ِ ّ َ ُ ْ َ َ َ ْ Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah SAW. ia tidak perlu keluar masjid untuk berwudhu sampai mendengar secara pasti suara (kentut) atau merasakan bau. Muslim). maka hendaklah ia menetapkan satu rakaat sholat yang telah dilakukan. Hadis ini mengisyaratkan orang yang ragu tentang bilangan rakaat sholat. Ini penting karena keraguan banyak muncul akibat penyakit was-was (bisikan setan). .قَبل أ‬ ّ ‫ْ َ ن ي ُسل‬ ‫ْ َم‬ َ Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi SAW.ada salah satu yang lebih kuat disebut zhan (praduga) dan yang lain disebut wahm (dugaan yang kurang kuat). maka janganlah ia keluar masjid sehingga mendengar suara atau mendapatkan bau (memperoleh bukti telah batal wudhunya) (H. Melalui kaidah ini juga tergambar kemudahan dan kelapangan dalam hukum Islam. Tirmidzi). Hendaklah ia melakukan dua kali sujud sebelum salam (H. bersabda: apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu di dalam perutnya. Kaidah fiqh di atas juga didasarkan pada hadis Nabi berikut: ّ َ ّ ّ َ َ َ ‫ُ ه‬ ‫وَقَد ْ روِيَ عَن الن ّب ِي صلى الل ّه عَل َي ْهِ وَسل ّم أ َن ّهه قَ هال إ ِذا ش هك‬ َ َ ُ ْ ُ ّ‫أ َحد ُك ُم في ال ْواحد َةِ والث ّن ْت َي ْن فَل ْي َجعَل ْهُما واحد َةً وَإ ِذا ش هك‬ َ َ ‫فِ هي‬ ‫ه‬ ِ َ َ ِ َ ِ ْ ْ َ َ ِ ْ ‫الث ّن ْت َي ْن والث ّلث فَل ْي َجعَل‬ َ َ ‫ْ هُما ث ِن ْت َي ْن وَي َس هجد ْ فِ هي ذ َل ِهك س هجد َت َي ْن‬ ‫ْ ُ ه‬ ِ ْ َ َ َ ِ ِ ِ َ ‫. ini orang yang ragu tentang bilangan rakaat sholat diperintahkan (sunat) untuk melakukan sujud sahwi sebelum ia salam sebagai penutup sholatnya. yang biasa terjadi dalam masalah bersuci dan sholat.

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". seperti pada firman-Nya berikut: َ ‫وَل ت َب ْغ ال ْفساد َ في ال َرض إ ِن الل ّه ل ي ُحب ال ْمفسدين‬ ِ ّ ِ َ َ ّ ِ ْ ْ َ َ َ ِ ِ ْ ُ ِ Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. maupun jinayat. Dalam bidang . kaidah fiqh yang menegaskan kemudharatan harus dihilangkan dari kehidupan manusia. menetapkan tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain (H. Kaidah fiqh itu berbunyi: : ‫الضرر يزال‬ Kemudharatan itu harus dihilangkan Kaidah ini mengisyaratkan bahwa kemudharatan selalu ada dan terjadi dalam kehidupan manusia. Allah menegaskan bahwa Ia tidak mencintai orangorang yang berbuat kerusakan.7:85) Ayat ini melarang muslim berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. (QS.Mengingat kaidah fiqh tentang “sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh keraguan” langsung didasarkan pada nash.28:77). Kemampuan mentaati ketentuan ini sebagai bukti kebenaran iman seorang mukmin. Kaidah ini dibangun atas dasar dan dalil yang cukup kuat. Ibn Majah) Kaidah fiqh ini mencakup banyak masalah fiqh dan dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum. baik pada saat sekarang maupun akan datang. Kaidah fiqh di atas juga didasarkan pada hadis Nabi berikut: ّ َ َ ُ َ ّ ِ ِ ّ ‫عَن عُباد َةَ ب ْن الصامت أ َن رسول الل ّهِ صلى الل ّه عَل َي ْهِ وَسههل ّم‬ َ ْ َ َ ُ ِ َ ‫قَضى أ‬ َ‫َ ن ل ضرر وَل‬ َ ْ ‫ضرار‬ َ َ ِ َ َ َ Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah SAW. munakahat. baik bidang muamalat. diantaranya firman Allah berikut: ْ ‫وَل ت ُفسدوا في ال َرض ب َعْد َ إ ِصلحها ذ َل ِك ُم خي ْر ل َكههم إ ِن ك ُن ْتههم‬ ِ ْ ْ ُ ٌ َ ْ ُ ِ ْ َ ْ ُ َ ِ َ ْ ِ ْ ‫مؤْمنين‬ َ ِ ِ ُ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. ia dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum.R. Kedua. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Islam menginginkan agar kemudharatan itu dihilangkan dari kehidupan manusia. Disamping itu.

S. menurut Al-Jurjânî ‘urf adalah semua yang telah tetap dalam jiwa. Kata ‘urf dan ma’rûf dalam Qur’an dipandang sebagai bagian dari sikap ihsan. yaitu aspek ibadah. 7:199. mengganti rugi kerusakan. Kaidah itu berbunyi: ‫العادة محكمة‬ Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum Dalam penilaian al-Râghib kata ‘urf yang seakar dengan kata ma’rûf merupakan nama bagi suatu perbuatan yang dinilai baik oleh akal dan agama. Pertimbangan utama diberlakukan ketentuan-ketentuan ini untuk menghindarkan semaksimal mungkin kemudharatan yang merugikan pihak-pihak yang terkait dengan transaksi tersebut. Diantaranya. kaidah fiqh ini menjadi dalil pula dalam menetapkan hukum masalah jinayah. masalah muamalah cukup banyak diatur dalan bentuk prinsip-prinsip dasar dalam Qur’an dan Hadis sehingga berpeluang dimasuki unsur ‘urf di mana umat Islam berada. Sementara adat merupakan segala yang dipraktekkan manusia secara terus menerus yang sejalan dengan akal sehat dan telah menjadi kebiasaan mereka. Qur’an dan Hadis lengkap diturunkan. Sementara sesuatu yang disebut adat bukan semata-mata sejalan dengan akal sehat. dan dapat diterima tabiat. 3: 104. Sebaliknya. Selain itu. kaidah fiqh yang menegaskan bahwa adat kebiasaan dapat dijadikan hukum. hudud. Al-Jurjânî membedakan antara ‘urf dan adat. Mushthafâ Ahmad Zarqâ’ menyimpulkan bahwa ‘urf bersumber dari adat kebanyakan kaum dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Menurut Ibn al-Najar kata al-‘urf yang terdapat dalam ayat ini meliputi segala sesuatu yang disenangi oleh jiwa manusia dan sejalan dengan nilai-nilai syarî’ah. Ketiga. tetapi juga telah dipraktekkan manusia secara terus menerus sehingga menjadi tradisi di kalangan mereka. tetapi juga harus sejalan dengan akal manusia. Muamalah yang dimaksud ulama ini sebagai bandingan dari bagian hukum Islam yang lain. Sesuatu yang disebut ‘urf bukan semata karena dapat diterima tabiat. Makna ini dapat ditemukan dalam diantaranya dalam Q. Sebab. didukung akal.S. Islam membolehkan perceraian dalam situasi dan kondisi kehidupan rumah tangga yang tidak berjalan mulus dan serasi. Disamping itu. Pembatasan ini tentu didasarkan pada pertimbangan bahwa umumnya ‘urf terkait dengan kegiatan muamalah. kaidah fiqh tersebut meliputi persoalan munakahah. mengangkat para penguasa untuk membasmi pemberontak dan memberikan sanksi hukum terhadap pelaku kriminal. agar suami-istri tidak selalu berada dalam tekanan batin.muamalat. penderitaan dan tidak mungkin dapat mewujudkan rumah tangga bahagia. Ia tampaknya tidak mensyaratkan sesuatu . Secara istilah. Islam menetapkan adanya hukum qishash. Isyarat ini dapat ditemukan dalam Q. safih (orang dungu) untuk melakukan transaksi dan hak syuf’ah. masalah ibadah yang sudah dijelaskan secara rinci kecil kemungkinan dimasuki unsur ‘urf setelah sumber hukum Islam. kaffarat. kaidah fiqh ini dapat dijadikan dalil untuk mengembalikan barang yang dibeli karena ada cacat dan memberlakukan khiyar dengan berbagai macamnya dalam suatu transaksi jual beli karena terdapat beberapa sifat yang tidak sesuai dengan yang telah disepakati. membatasi melakukan tindakan hukum bagi muflis (orang yang jatuh pailit). Misalnya. Begitu pula dapat dijadikan sebagai dalil untuk melarang mahjur alaih membelanjakan harta kekayaannya. Abû Zahrah membatasi ‘urf menyangkut kebiasaan manusia dalam kegiatan muamalah mereka.

Kaidah ini mengisyaratkan adat dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam ketika nash tidak ada. (H. hakim dan mufti tidak boleh menetapkan putusan dan fatwanya dengan semata-mata berpegang pada al-qawaid al-fiqhiyyah. Adat atau ‘urf berbentuk umum dapat berlaku dari masa sahabat hingga masa kini yang diterima oleh para mujtahid dan mereka beramal dengannya. diantaranya penentuan usia haid. tetapi cukup dilakukan oleh mayoritas kaum atau masyarakat. . Ahmad) ّ َ ُ ُ َ َ َ َ َ ٍ ْ ‫عَن عَب ْدِ الل ّهِ ب ْن عَمرو قال قال رسول الل ّهِ صلى الل ّهه عَل َي ْهه‬ ِ ُ ْ ِ َ ‫وَسل ّم ل ي َحل سل َف وَب َي ْعٌ وَل شرطان في ب َي ْع وَل رِب ْح مهها‬ َ َ ْ َ َ َ َ َ ‫ُ َ لههم‬ ٌ َ ّ ِ ِ ِ ْ ٍ َ ْ َ ْ َ ‫)ي ُضمن وَل ب َي ْعُ ما ل َي ْس عن ْد َك. bay’ al-wafâ’. Sejalan dengan penjelasan terdahulu. memanfaatkan harta sewaan. Hal ini muncul karena para pemilik modal tidak mau memberi hutang kepada mereka yang membutuhkan dana. Makna adat dalam kaidah fiqh di atas meliputi ‘urf dalam bentuk perkataan dan perbuatan atau bersifat umum maupun khusus. mengambil keuntungan yang tidak disertai jaminan. Dalam hal ini. mereka menciptakan transaksi sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan keinginan orang kaya pun tercapai. bersabda: tidak halal jual beli salam. batasan sedikit najis yang dapat dimaafkan. Bagi mayoritas ulama mazhab Hanafi pembolehan bay’ al-wafâ’ karena membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan masyarakat dalam kegiatan muamalah mereka. ia berkata: Rasulullah SAW. Jual beli ini sebagai jalan keluar menghindarkan diri dari riba. usia baligh.R. banyak sekali masalah hukum Islam yang didasarkan pada kaidah ini. Untuk itu. dan menerima hadiah bagi hakim. Hakim dan mufti tersebut boleh menggunakan al-qawaid al-fiqhiyyah dalam menjalankan tugasnya apabila menemukan dalil (nash) fiqh yang dapat dijadikan sebagai sandaran dalam menyelesaikan kasus yang dihadapinya. merawat bumi yang tidak bertuan (ihyâ’ al-mawât). )رواه احمد‬ ِ َ َ Larangan melakukan jual beli yang diiringi dengan syarat dalam Hadis ini bersifat umum yang kemudian ditakhsis oleh ‘urf. jarak waktu ijâb dan qabûl. Atas dasar ini. Sementara ‘urf khusus hanya berlaku pada lingkungan masyarakat tertentu yang terkait dengan ‘urf itu. masalah titipan. keterpeliharaan harta di tempat penyimpanan dalam masalah pencurian. dua syarat dalam satu akad jual beli. Kaidah fiqh tentang urf’ atau adat di atas dapat dijadikan sebagai dalil yang mengkhususkan keumuman nash. jual beli mu’âthah. Ini alasan mereka membolehkan bay’ al-wafâ’. apabila mereka tidak mendapat imbalan. batasan berturut-turut (muwalat) dalam wudhu. Praktek bay’ al-wafâ’ berasal dari tradisi masyarakat Bukhâra dan Balkh pada pertengahan abad ke 5 H. masalah hidangan yang boleh dimakan ketika bertamu. lama masa nifas. dapat pula berupa perkataan. dimana merupakan jual beli yang diiringi dengan syarat dibolehkan hukum Islam. Situasi ini menyulitkan masyarakat yang membutuhkan dana. lama masa suci dan haid.yang disebut ‘urf dilakukan oleh semua orang. ‘urf tidak hanya cukup dalam bentuk perbuatan. dan jual beli sesuatu yang tidak ada padamu. Dalam nash dijelaskan tentang larangan melakukan jual beli yang diiringi dengan syarat seperti yang ditegaskan Hadis berikut: Dari Abdullah bin Umar. Menurut al-Suyûthî. jual beli salam.

tetapi ada kaidah fiqh yang dapat mencakup peristiwa atau kasus itu. membolehkan praktek jual beli buah-buahan yang sebagiannya telah tampak. ia dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum. maka ia akan lapang. Ketika imam Syafi’i ditanya orang kenapa ia memberikan solusi yang demikian. imam Syafi’i memberikan solusi terbaik terhadap persoalan yang dihadapi seorang wanita. Dalam sebuah kaidah fiqh yang cukup populer ditegaskan bahwa situasi yang sulit memberikan peluang bagi muslim memperoleh kelapangan dan kemudahan dalam menjalankan urusannya. Misalnya. Dengan berpegang pada kaidah fiqh ini. sementara yang lain belum tampak. didasarkan pula pada pertimbangan berupa aturan main seperti itu telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat. ia boleh mewakilkan walinya kepada laki-laki yang dipercayai dan dipandangnya memiliki sifat amanah. para ulama tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia Pusat (MUI) dalam menetapkan hukum terhadap sejumlah kasus yang diajukan masyarakat seringkali merujuk pada kaidah fiqh sebagai penguat pendapat mereka setelah mengemukakan sejumlah ayat Qur’an dan hadis. Secara faktual terbukti sebagian kaidah fiqh yang terdapat dalam al-qawaid al-fiqhiyyah dipakai para ulama dalam menetapkan hukum dan melahirkan berbagai fatwa untuk menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang terjadi di masyarakat. Disamping itu. Imam Abd al-Aziz bin Ahmad al-Kalawani. Alqawaid al-fiqhiyyah yang dirumuskan para ulama yang tidak langsung terambil dan berdasarkan nash tidak dapat dipakai sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam. apabila kaidah fiqh itu langsung didasarkan dan disandarkan pada dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah (nash). Dengan telah tampak sebagian buah-buahan itu semakin mendekatkan kepada hasil buah-buahan itu apabila telah matang nanti. dalam situasi demikian dibenarkan melandaskan fatwa dan putusan hakim di pengadilan menggunakan kaidah fiqh. Namun. Penerapan hal ini dapat diamati secara seksama dari contoh kasus yang dikemukakan di bawah ini.Apabila suatu kasus tidak ditemukan nash fiqh sebagai dasarnya karena tidak diketahui bahasan fuqaha tentang hal itu. Sebab. dimana ketika tidak ada wali wanita yang sedang melakukan perjalanan bersamanya.31 0 komentar: Poskan Komentar . Diposkan oleh LPPBI di 00. tidak logis menjadikan sesuatu yang merupakan himpunan dari sejumlah persoalan furû’ (fiqh) sebagai dalil dari dalil syara’. Hal itu diungkapkan kaidah fiqh berikut: ‫اذا ضاق المر اتسع‬ Suatu urusan apabila telah sempit ia akan lapang. Ulama ini menegaskan bahwa apabila suatu urusan sempit. Kesimpulan Al-qawaid al-fiqhiyyah merupakan kaidah bersifat umum meliputi sejumlah masalah fiqh dan melaluinya dapat diketahui hukum masalah fiqh yang berada dalam lingkupnya.

.... + Naskah Fakih Saghir ‘Alamiyah Tuanku Saming Syekh . sejarah.. + Mata Uang dalam Tinjauan Arkeologi : Upaya Rekonst.... + Dinasti Muwahhidun (524-667 H.Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Tentang LPPBI : LPPBI Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Budaya Islam (LPPBI) merupakan lembaga non struktural yang menjadi perpanjangan tangan fakultas Ilmu Budaya-Adab dalam rangka pengembangan keilmuan. diskusi.. + "Mencurigai" Soeharto di Balik Gerakan 30 Septembe. Sastrawan Mendaki o ► Oktober (7) + Panggil Aku Kartini Saja + PERS BUMIPUTERA MASA PERGERAKAN NASIONAL 1927-1930. + Pengaruh Arsitektur Rumah Gadang Terhadap Masjid K..... o ► September (3) + Pola Keberagamaan Pengikut Front Pembela Islam Dal. o ► Agustus (3) . LPPBI bertujuan untuk melaksanakan berbagai kegiatan ilmiah seperti penelitian. o ► November (7) + Wanita dan Kemiskinan dalam Perspektif Sejarah Gen. + Perkembangan Ilmu Geografi Dalam Tradisi Intelektu../1130-1269 M. Lihat profil lengkapku Halaman Muka : * Fiba's Site Makalah-Makalah * ► 2010 (55) o ► Desember (1) + Efektifitas Pelaksanaan Undang-undang No. seni dan informasi.) + Kritikus Menurun... penelitian dan pengabdian masyarakat. LPPBI sekaligus menjadi wadah pengembangan konsorsium budaya sastra. + Pemindahan Jambul Dalam Bintang Empat + Indrapura dan Brunei Darussalam + Islam Minangkabau Dalam Lingkaran Peradaban Dunia . dan seminar ilmiah bidang kebudayaan Islam serta mewadahi berbagai kegiatan seni dan budaya Islam dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Islam di tengahtengah masyarakat.... + Surau Sebagai Skriptorium Naskah Minangkabau : St. + Membangun Citra Perpustakaan Perguruan Tinggi + Failure in Intercultural Communication : Pragmatic..... 4 Tahun ..

. + Kaligrafi Islam Kontemporer : Antara ‘Ijtihad’ dan. Tradisi dan Naskah.+ Dasar Historis Lahirnya Kerajaan Mughal + Tuanku Rao @ Pongki Nangolngolan Sinambela : "Gene. + Tuanku Nan Tuo dan Gerakan Keagamaan Islam Minangk... o ► Maret (3) + Refleksi Sejarah Pergulatan Etnisitas di Pemerinta.. Etnik dan Sejarah + Modern Arab and Swahili Poetry : A Brief Compariso. o ► Juli (6) + The Taliban.. + Digitalisasi dan Transliterasi Naskah Islam Mesjid.... + Snouck Hourgronje : Kolonialisme yang Berlindung D....... o ► April (3) + Keadilan Hukum Waris Islam (Bagian Pertama) + Akar Kesadaran Nasionalisme Indonesia + Muslim Sebagai Penemu Amerika : Perspektif Sumber ... + Islam dan Kebangsaan : Ideologi Politik PERMI o ► Februari (5) + Kaligrafi Kontemporer Indonesia : Fenomena dan Rea.... + Perkembangan Kaligrafi di Sumatera Barat o ► Januari (2) * ▼ 2009 (154) o ► Desember (8) o ► November (4) o ► Oktober (13) o ► September (1) o ► Agustus (5) .. + Dinasti-Dinasti Kecil Era Dinasti Abbasiyah + Surau Bintungan Tinggi : Tokoh.... o ► Juni (5) + Kontribusi Islam Dalam Sejarah + Dinasti Muwahhidun + Sains dan Teknologi di Era Dinasti Umaiyyah + Teori Sosial dan Epistimologi Keilmuan Islam + Teori Motivasi Dalam Pendekatan Sejarah Budaya o ► Mei (10) + Menakar Nasionalisme BO dan SDI + Ruqyah sebagai Media Pengobatan Gangguan Jin Menu. + Syekh Djalaluddin (lahir : 1882) : "Sang Apologeti... Burqa and Fundamentalism + Ras. + Dinamika Kaligrafi di Sumatera Barat (Sebuah Penga... + Epistimologi Sebuah Pendekatan Islam + Perkembangan Arsitektur Masjid di Dunia Islam + Khawarij : Fundamentalisme Awal Islam + Orisinalitas Al-Qur'an + Kitab Sifat Dua Puluh : Telaah Filologis Naskah Mi..

.. + Terorisme Islam di Indonesia : Sebuah Konspirasi B......... + Analisis Pemikiran Politik Islam dan Implementasin. + Membangun Pemerintahan yang Bersih : Perspektif Sy... + Lebanon : Kuntum Mawar dari Tuhan + Perang Salib dan Implikasinya Terhadap Budaya Timu.. + Al-Nida' dalam Ayat-Ayat Do'a + Dampak Wirid Remaja Terhadap Perubahan Nilai-nilai. + Kedudukan al-Qawa'id al-Fiqhiyyah dalam Penetapan . + Hukum Pemanfaatan dan Jual Beli Jarahan + Hukum Etika Berpakaian Menurut Al-Qur'an o ► Januari (42) KATEGORI TULISAN * Al-Qur'an-Hadits (3) * Antropologi (14) * Arkeologi (5) * Bahasa Arab (6) * Dokumentasi (1) * Esei (2) * Filologi (10) * Filsafat Sejarah (1) * Fiqh (2) * Hukum Islam (1) * Ilmu Informasi (5) * Ilmu Kalam (2) * Ilmu Komunikasi (4) * Ilmu Tasauf (2) * Kaligrafi (5) * Lingkungan Hidup (1) * Linguistik (7) * Metode Penelitian (2) * Minangkabau (17) * Perpustakaan (11) * Politik (10) .o ► Juli (3) o ► Juni (6) o ► Mei (6) o ► April (19) o ► Maret (32) o ▼ Februari (15) + Islam dan Kebudayaan + Agama Bangsa Arab Jahiliyah dalam Syiir + Hikayat Kalilah wa Dimnah + Koleksi dan Konservasi Naskah Pada Museum Daerah S... + Kenalkan : Nama Saya Zainal bin Khaidir.. Pekerjaan.

1) * IIP (S.* Sastra Arab (9) * Sastra Indonesia (6) * Sejarah (42) * Sejarah Islam (32) * Sosio-Linguistik (4) * Sosiologi (13) * Tafsir (1) * Tarbiyah (3) Irhash's Cluster * Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) * Sumatera Barat di Masa Pendudukan Jepang * Menakar Nasionalisme BO dan SDI * Refleksi Sejarah Pergulatan Etnisitas di Pemerintah Daerah Sumatera Barat (3) : Gubernur Hasan Basri Durin (1987-1997) * Refleksi Sejarah Pergulatan Etnisitas di Pemerintah Daerah Sumatera Barat (2) : Gubernur Azwar Anas (1977-1987) Muhammad Ilham BLOG * Ketika Bola Begitu Merakyat * Optimisme 2011 : "Keajaiban itu Hanya Berpihak pada Kaum yang Bertindak.3) * SIK (D.2) Lihat program lainnya : * Jurnal Fikr wa Adab * Jurnal TABUAH * Perpustakaan * Labor Bahasa * Studio Sastra * Labor Sejarah .1) * SKI (S.1) * BSI (S.1) * PAD (D. * "Ayam Gadang" Minangkabau * Ketika Sejarah Berseragam * Kisah Rahasia Sang Pemimpin Iran Lihat Jurusan dan Prodi : * BSA (S.

Ilham A. Ilham Saifullah SA . Bakri Dusar Firdaus Firdaus Firdaus Firdaus Herman/Mhd. Shamad Irhash A. Syafwan Nawawi Muhapril Musri Gusnar Zen Saifullah SA/Mhd.* Labor Multimedia * Sanggar Kaligrafi * PSIF * Alumni Gallery Buku Karya Dosen FIB-Adab Gallery Buku Karya Dosen FIB-Adab Irhash A. Shamad Ahmad Busyrowi Ahmad Busyrowi Ahmad Busyrowi H. Ilham Chairusdi Rusydi Ramli/Mhd. Ilham Herman/Mhd.

Sutan Mamad Tafiati Yasmadi Syafrinal Yulizal Yunus Yulizal Yunus Yulizal Yunus Yulizal Yunus Hetti Waluati Triana Rusydi Ramli Yulizal Yunus Gusnar Zen A. Shafwan Nawawi Gusnar Zen Sismarni Maksum Yulizal Yunus Lukmaul Hakim Syamsir Yulizal Yunus .Tafiati Saifullah SA Yulizal Yunus Firdaus Dt.

Kampus Lubuk Lintah.Suhefri Saharman Syamsir Roust Yulizal Yunus Nurhayati Zein Nurhayati Zein Syamsir Roust Desmaniar Pengikut Contact Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Budaya Islam (LPPBI) Fakultas Ilmu Budaya-Adab. IAIN Imam Bonjol.com .fiba@gmail. Padang. INDONESIA Phone/Fax : (0751) 30071 e-mail : lppbi.