P. 1
03 Makalah Mr. Amin Filsafat Pendidikan

03 Makalah Mr. Amin Filsafat Pendidikan

|Views: 15,889|Likes:
Published by rusdi

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: rusdi on Mar 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2013

pdf

text

original

Persoalan bagaimana pendidikan akan diselenggarakan secara ideal/semestinya,
sangat tergantung dari cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai moral dan politik
yang kemudian melahirkan ideologi pendidikannya. Untuk itu perlu dipahami apa yang

23

melandasi praktek-praktek pendidikan dewasa ini, sehingga kita tidak terjebak ke dalam
penafsiran yang keliru mengenai pendidikan sebagai sebuah sistem dan sebagai manifes
dari kehidupan manusia itu sendiri.
Rasionalisme menganggap bahwa kecerdasan yang terlatih adalah penyedia cara
terbaik untuk hidup, pemikiran ini cenderung kearah pemerintahan yang terbuka dan
liberal, serta ke arah corak yang serupa dengan (dan mendukung) system-sistem
pemerintahan yang liberal. Sebaliknya, non-rasional menganggap bahwa kebanyakan
kebenaran yang punya arti penting hanya bisa diakses melalui cara-cara non-rasional;
misalnya lewat wahyu, iman, atau intuisi mistis, atau menganggap bahwa penalaran aktif,
kurang dapat dipercaya ketimbang pola-pola keyakinan dan perilaku social yang
konvensional. Orientasi-orientasi semacam itu hampir pasti memilih pula ‘pendidikan
yang keras’

Konservatisme pendidikan menganggap bahwa nalar adalah baik, namun nalar
mesti tetap menjadi subordinat atau bawahan dari pola-pola keyakinan dan perilaku
social yang lebih dulu dinalar (atau yang memiliki potensi kenalaran), yang muncul dari
penyesuaian-penyesuaian budaya terhadap keadaan-keadaan yang muncul sepanjang
sejarah sebuah masyarakat yang sebelumnya tidak dinalat (namun yang diprakirakan
berkualitas nalar).

Liberalisme, Liberasionisme dan Anarkisme (ketiga-tiganya) menganggap bahwa
kebaikan tertinggi adalah untuk hidup sedemikian rupa hingga memungkinkan
pengungkapan sepenuh-penuhnya dari kecerdasan terlatih, yakni pemikiran kritis yang
dipandang sebagai penerapan praktis dari proses-proses penyelesaian masalah personal
maupun social secara ilmiah. Ketiganya berbeda dalam hal bagaimana mereka
memandang kondisi-kondisi yang diperlukan bagi terjadinya pemikiran kritis semacam
itu.

Liberalisme menekankan pemikiran kritis individu sebagai asal-usul dan landasan
bagi semua perubahan social yang tercerahkan. Seorang liberalis meragukan ideology-
ideologi social yang tidak lahir dari temuan penyelidikan yang berdasarkan objektivitas
ilmiah. Dalam hal ini, ia memprioritaskan yang personal (individu) di atas yang social
(termasuk yang politis). Sementara itu, seorang liberasionis merasa bahwa pemikiran
kritis individual itu mustahil berlangsung dalam ketiadaan sebuah system politik yang
mendorong dan memelihara kondisi-kondisi social dan intelektual yang merupakan

24

prasyarat bagi kecerdasan umum yang sepenuhnya berkembang. Sebaliknya juga,
seorang anarkis merasa bahwa, bias dikatakan semua system politik dan pendidikan pasti
merupakan kekuatan yang mengasingkan dan menindas, dan berada di antara
kecenderungan alamiah individu ke arah perwujudan diri, dengan kecenderungan yang
juga sama alamiahnya untuk menjadi terlibat secara budaya (namun tidak secara social)
dalam semua corak pemikiran kritis yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan
social yang dihidupkan oleh kecerdasan dan kerjasama.
Satu dari sekian problem yang berat dalam berbicara mengenai keterkaitan yang
ada antara pendidikan dengan sudut pandang filosofis yang melandasinya adalah
persoalan melacak pola yang relative jelas dan langsung mencerminkan hubungan antara
berbagai perbedaan fundamental di wailayah etika serta filosofi politik di satu sisi dan
berbagai perbedaan ideology pendidikan di sisi yang lain.
Secara umum, O’neill (2002:125-126) menguraikan adanya tiga pola keterkaitan
yang berlangsung antara posisi-posisi dasar dalam etika social serta teori pendidikan.
1.Keteraitan logis, yang terjadi di mana ada hubungan yang relative jelas dan
perlu, yang tersimpul di antara posisi-posisi moral dan politis; atau keterkaitan
yang jelas antara posisi-posisi itu (yang secara umum dipandang dalam
perpaduan, sebagai etika social) dengan ideology pendidikan. Ada umpamanya,
sebuah hubungan logis yang cukup jelas antara rasionalisme filosofis atau
teologis di ranah moral dengan sebuah komitmen politis dalam salah satu
bentuk meritokrasi, seperti juga ada hubungan yang cukup terbuka antara
meritokrasi politis dengan pemakaian sekolah-sekolah untuk mengembangkan
sebuah elit intelektual atau elit moral.
2.Keterkaitan psikologis yang terjadi di mana, seperti telah diungkapkan tadi,
mungkin tidak ada kepastian hubungan logis antara sebuah filosofi sosial
tertentu dengan pendirian tertentu di bidang pendidikan; namun ada hubungan
timbal-balik yang cukup jelas terlihat antara keduanya, yang muncul dengan
lebih dihubungkan dengan dinamika kejiwaan (psikodinamika) yang mengatur
pilihan atas keduanya (atau mungkin ditentukan oleh sesuatu yang lain sama
sekali, namun tetap bersifat penentu dari luar), ketimbang adanya hubungan
alamiah apa pun yang inheren antara keduanya.

25

3.Keterkaitan sosial adalah asosiasi yang nampak jelas yang ada di antara posisi
moral dan filosofis di dalam budaya tertentu di suatu saat tertentu dalam
sejarah. Posisi-posisi konservatif tertentu (seperti fundamentalisme secular dan
jenis-jenis konservatisme secular) khususnya merumuskan diri sendiri dalam
peristilahan ‘tradisi-tradisi budaya’ atau ‘pola-pola keyakinan dan perilaku yang
lestari’. Keduanya terkenal sulit dirumuskan dengan ketepatan dan ketegasan,
dan keduanya jelas sekali sangat dikondisikan oleh wajah budaya tertentu di
suatu saat tertentu. Sudut pandang semacam itu hanya bias didiskusikan secara
cerdas di dalam kerangka kerja batasan-batasan budaya dan sejarah yang
dirumuskan lebih dulu dengan tegas. Jadi, program tertentu yang diajukan oleh
banyak konservatifis social, dalam kaitannya dengan politik pendidikan,
cenderung untuk jauh berbeda dalam budaya yang berbeda dan dalam era yang
berbeda meski budaya pokoknya sama. Misalnya, seorang Amerika yang
berpandangan politik konservatif di tahun 1783 akan menjadi seorang individu
yang berlainan dengan seorang Amerika yang berpandangan konservatif di
tahun 1876 atau 1978.
Untuk itu kita perlu kembali kepada persoalan mendasar tentang pendidikan dan
manusia. Pendidikan tidak lain (kalau boleh dikatakan demikian) menurut pandangan di
atas, sebenarnya adalah proses perwujudan diri individu manusia untuk mencapai
kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki melalui garis intelektualitas dan moralitas yang
dimilikinya.

Ada tiga dalil pokok mengenai nilai sebagai perwujudan diri manusia, yaitu:
1)Petunjuk-petunjuk moral hanya berlaku tentang hal-hal yang bagi manusia
adalah mungkin (untuk dilakukan atau tidak dilakukan, untuk menjadi atau
untuk tidak menjadi);
2)Seluruh kemungkinan merujuk pada potensi-potensi tertentu dalam diri
manusia, yang bisa dikenali, untuk bertindak atau untuk menjadi.
3)Dengan demikian, ‘hidup yang baik’ pada puncaknya bisa dirumuskan (meski
perumusan ini dilakukan pada tingkat generalisasi yang tinggi) sehubungan
dengan potensi-potensi manusia yang ada untuk disempurnakan atau
diwujudkan.

26

Dari tiga dalil pokok ini, kita dapat membedakan mana perilaku yang termasuk
mewujud (bermoral) yang dilakukan oleh seseorang dan mana yang tidak bermoral
(potensi-potensi pada diri individu tidak mewujud-imoral).
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mungkin manusia menjalani hidup yang
baik, atau hidup di mana dirinya mewujud. Secara umum, ada enam sudut pandang
fundamental tentang bagaimana caranya hidup secara baik, dan keenam sudut pandang
ini juga merupakan dasar dari pandangan filosofis bagi munculnya aliran-aliran filsafat
pendidikan (hal ini mendominasi kebudayaan Barat kontemporer), O’neill (2002:94-95):
1.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap
berbagai tolok ukur (standar) intuitif dan/atau yang terungkap pada keyakinan
dan perilaku.
2.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari pencerahan filosofis
dan/atau keagamaan yang didasarkan pada penalaran spekulatif serta
kebijaksanaan metafisis.
3.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap
berbagai tolok ukur yang mapan (konvensional) tentang keyakinan dan perilaku.
4.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari kecerdasan praktis
(yakni pemecahan masalah secara efektif)
5.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari pengembangan
lembaga-lembaga sosial yang baru dan lebih manusiawi (humanistik).
6.Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari penghapusan
pembatasan-pembatasan kelembagaan, sebagai sebuah cara untuk memajukan
perwujudan kebebasan personal yang sepenuh-penuhnya.
Keenam filosofi moral di atas, kemudian dibagi lagi ke dalam ranah filosofi politik
dasar, tiga diantaranya merupakan ungkapan politis mendasar dari sudut pandang
Konservatif.

1)Konservatisme reaksioner (otoritarianisme anti-intelektual)
2)Konservatisme filosofis (otoritarianisme intelektual)
3)Konservatisme sosial (konvensionalisme otoritarian)
Di samping itu ada tiga ungkapan politis dari sudut pandang Liberal, yaitu:
1)Liberalisme politis
2)Liberasionisme politis

Ketaatan Terhadap Tolok Ukur
Keyakinan dan Perilaku yang
Intuitif dan/atau Diwahyukan

Totalitarian Teleologis
Nasionalisme Fundamentalis
Amerika
Populisme “Akal Sehat”
Fundamentalisme Kristen dan
Tradisi-tradisi yang terkait

Kebahagiaan Personal
(perwujudan diri)

FILOSOFI MORAL

Dapat dicapai dengan mengikuti sebuah filosofi moral yang didasarkan pada

Pencerahan filosofis dan/atau
Religius Berdasarkan Penalaran
Spekulatif dan Kebijaksanaan
Metafisis

Plato
Aristoteles
St. Thomas Aquinas
Moses Maimonides
St. Ignatius Loyola
Rene Descartes
Ralph Waldo Emerson

Ketaatan Terhadap Tolok Ukur
Keyakinan dan Perilaku Yang
Sudah Mapan

Santo Agustinus
Aliran utama Kristen Protestan
Berbasis Pembaharuan
(Reformis)
Thomas Hobbes
Thomas Harrington
John Adams
James Madison
John C. Calboun
Niccola Machiavelli
Herbert Spencer
Georg W.F. Hegel
Emile Durkheim
Winston Churchill
Charles de Gaulle
Milton Friedman
Ayn Rand

Yang mengungkapkan diri dalam tingkat politis sebagai

27

3)Anarkisme politis
Dasar-dasar filosofis bagi landasan pendidikan sebagaimana diungkap di atas, dapat
diringkas ke dalam bentuk bagan sebagaimana berikut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->