SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA

SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Teori Perk embangan Moral Köhlberg) SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian studi S1 Untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Nama NIM Jurusan Oleh: : Pramita Agnes Wahareni : 1550401057 : Psikologi FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006 i

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi, tahun 2006. Judul Skripsi “ SIKAP REMAJA AWAL TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2004/2005 (Teori Perkembangan Moral Köhlberg ) ”. Telah dipertahankan di depan penguji skripsi FIP UNNES dan dinyatakan diterim a untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajad Sarjana Psi kologi. Hari : Selasa Tanggal : 22 Agustus 2006 Dewan Penguji

Penguji Utama Drs. Sugeng Hariyadi, M.S NIP.131472593 Penguji I Dra. Sri Maryati D, M.Si NIP. 131125886 Penguji II Drs. Sugiyarta SL, M.Si NIP. 131469637 …………………………… …………… Semarang, Oktober 2006 Mengesahkan : Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Drs. Siswanto, M.M NIP. 130515769 ii

ABSTRAK SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARA N MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Te ori Perkembangan Moral Köhlberg ) Oleh : Pramita Agnes Wahareni (1550401057) Abstr ak skripsi, di bawah bimbingan Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si dan Drs. Sugiyarta SL, M.Si Siswa SMA kelas dua sebagai remaja (usia 16-17 tahun) mereka sudah mul ai berpacaran, sehingga mereka dipandang memerlukan informasi yang bertanggung j awab mengenai reproduksi sehat. Atas dasar pertimbangan dari pengamatan ini, ban yak siswa dipandang perlu mendapatkan tambahan wawasan yang lebih detail tentang hubungan antara laki-laki dengan perempuan, dan mengenai bagaimana pergaulan at au pacaran yang sehat. Kebanyakan siswa tidak berani menolak kalau pacarnya ingi n berbuat seks bebas, sehingga mereka melakukan hubungan seks yang bebas. Semua ini dapat terjadi karena kepribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang kura ng baik. Keberhasilan perkembangan penalaran moral remaja di masyarakat ikut men entukan keberhasilan remaja dalam menentukan pola pergaulannya di masyarakat. Ol eh sebab itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ini. Untuk mengkaji l ebih jauh, peneliti mengangkat permasalahan : adakah hubungan antara sikap remaj a terhadap perilaku seks bebas di tinjau dari tingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006. Penelitian ini merupakan peneli tian korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Se marang tahun ajaran 2005/2006 yang pada saat dilakukannya penelitian berusia 1617 tahun, sedang berpacaran, dan tahu akan baik-buruknya suatu perbuatan. Popula si yang ada dalam penelitian ini berjumlah 96 siswa. Karena populasi kurang dari 100 siswa maka semua anggota populasi diambil sebagai sampel penelitian (peneli tian populasi). Dua variabel dalam penelitian ini yaitu tingkat penalaran moral remaja sebagai variabel bebas, dan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas seb agai variabel terikat. Alat pengumpul data yang digunakan adalah angket pengungk ap pendapat tentang masalah-masalah sosial dan skala sikap remaja terhadap peril aku seks bebas. Angket ini terdiri dari 17 item angket pengungkap pendapat tenta ng masalahmasalah sosial dan 96 item skala sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas. Metode analisis data menggunakan metode statistik korelasional parametik, komputasi menggunakan bantuan komputer program (SPSS) versi 10.1 for window 00 H asil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu r = -0,368. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa“ada hubungan negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja“. Umumnya remaja mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolo ng tidak setuju terhadap perilaku seks bebas iii

mencapai 50,00%, 44,79% pada golongan sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas, 4,17% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas, dan 1,04% mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju. Untuk tingkat penalaran moral remaja 2.08% tergolong tingkat penalaran tahap 2 orientasi relat ivitas instrumental (tingkat prakonvensional), 68,75% pada tahap 3 orientasi kes epakatan antar pribadi (tingkat konvensional), 20,83% pada tahap 4 orientasi huk um dan ketertiban (tingkat konvensional), dan 8,33% berada pada tingkat penalara n tahap 5 orientasi konstrak sosial yang legatistik (tingkat pascakonvensional). Kebanyakan Siswa kelas II SMA Kesatrian 1 Semarang berani menolak kalau pacarny a ingin melakukan hubungan seks secara bebas. Semua ini dapat terjadi karena kep ribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang baik. Maka semakain tinggi penal aran moral remaja semakin negatif sikapnya terhadap perilaku seks bebas. Berdasa rkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan beberapa saran : perlu adanya pem binaan nilai-nilai moral sejak dini tanpa menggunakan larangan atau hukuman, nam un dengan jalan anak selalu diajak untuk berfikir, yang selalu menerangkan menga pa suatu perbuatan dilarang atau diperintahkan, apa maksudnya dan apa motivasiny a, sehingga mereka akan menjadi orang yang selalu terbuka terhadap sesuatu yang baru; termasuk pergaulan seks bebas dan yang akan bertindak berdasarkan tanggung jawab yang nyata, semakin baik tingkat penalaran moral, maka semakin negatif si kap remaja terhadap perilaku seks bebas. Kata kunci : sikap remaja, perilaku sek s bebas, penalaran moral, tingkat penalaran moral remaja iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto • Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesu dah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu u rusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS. AL-Insyiroh: 5 - 7) • Saat kita mendapatkan kesulitan, kondisi bahaya, dan kecewa karena tak m endapatkan sesuatu yang kita harapkan, yakinlah bahwa itu adalah jalan Allah unt uk menjadikan kita manusia yang bijaksana dan lebih baik. Persembahan Karya ini aku persembahkan untuk : 1. Ibu Warsiti, Bapak Soeharso da n Adikku Yusufia Lutfi Harwanto 2. Hermanto, yang selalu dapat kujadikan tempat bercermin, bertanya, berdialog, dan mencegahku merasa atau keletihan, menyerah berjalan pelan-pelan terlalu dini. 3. Teman-teman Psikologi angkatan 2001, atas semua semangatnya dan semoga perjuangan kita tidak hanya sampai di sini. Yang kesemuanya teramat kusa yangi, serta selalu memberikan doa, dukungan, rasa berbagi dan bahagia yang tulu s. v

Sri Maryati D. 2. Skripsi ini untuk mengetahui adakah hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari t ingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 . Siswanto. dan mas ukan dari awal hingga akhir dalam penulisan skripsi. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ini ja uh dari sempurna. Oleh karena itu dengan segenap hati dan kerendahan hati penulis ucapkan banyak terimakasih kepada : 1. bimbingan. Ketua Jurusan Psikologi sekaligus pembimbing I yang telah bersedia dan melu angkan waktu guna memberikan petunjuk. pembi mbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan. M.Si. Sugiyarta SL. Skripsi ini mengambil judul “Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Ditinjau D ari Tingkat Penalaran Moral Pada Siswa Kelas Dua SMA Kesatrian 1 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Köhlberg)”. vi . M .M.Si. dan bimbingan sehingga penulis da pat menyelesaikan skripsi dengan lancar. 3. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang ya ng telah memberikan ijin penelitian kepada penulis. hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia dan nikmat serta petunjuk yang tiada terbatas dalam menjalani segala tug as-tugas di dalam kehidupan ini. Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis. Bapak Drs. M. arahan. dan dukungan dari semua pihak terkait. Ibu Dra. perhatian. Bapak D rs. Hasil yang didapatkan dapat menunjukkan perlunya pembinaan nilai-nilai moral s ejak dini dan pendidikan disiplin yang dapat mengembangkan tingkat penalaran mor al pada remaja. dan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa mendapatkan bimbingan.

penulis ucapkan terimakasih. Bapak .Ibu dewan penguji yang telah meluangkan waktu guna menguji skripsi 6.Ibu Dosen. 7. 8. seb agai rekan bertukar pikiran dan telah banyak membantu . dukungan. Semua pihak yang tela h menjadi bagian dari hari-hari penulis selama ini hingga masa studi penulis sel esai yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semarang. Suparwi. Bapak. 9. semoga karya sederhana ini dap at bermanfaat. HM. dan doa y ang telah diberikan. Amien. Atas bantuan. Ibu yang telah memberi semangat dan doa dal am menyelesaikan skripsi. 5. Rekan-rekan jurusan Psikologi UNNES angkatan ’01. Bapak . Kepala Sekolah SMA Kesatrian 1 Semarang yang telah me mberikan ijin penelitian di sekolahnya.4. Bapak Drs. yang telah memberika n ilmu dan pengetahuannya. Agustus 2006 Pramita Agnes Wahareni vii .

............................................... Perumusan Masalah ....................... C... c.................................. ................................ Landasan Teori ................................................ Manfaat ............. Faktor – faktor yang mempengaruhi sikap ............................................................................................. a................................ 1. .DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................. Perkembangan moral ............... Tujuan Penelitian ........................ Penalaran Moral .......... Penalaran moral .............................................................. HALAMAN PENGESAHAN ........................................................ ............... DAFTAR GRAFIK ......... 2................................. i ii iii v vi viii xi xii xiv xv 1 9 9 10 10 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A............................... B....................... KATA PENGANTAR ......................... DAFTAR BAGAN ............. ............................ ....................... ......................................................................... DAFTAR ISI ....................... D................................... Perkembangan penalaran moral .............................................................. .................................. Moral ...... DAFTAR LAMPIR AN ................................................. BAB I PENDAHULUAN A........... c............. d....... .............. ................... ............................................... 12 12 12 14 19 21 27 31 31 33 37 viii .................. ..... ............ .................................. .............. ................................................................... DAFTAR TABEL ............. a................. ......................................................... e.................................................... b........................................................ Sistema tika Penulisan .......................... Sikap Remaja Terhadap Perila ku Seks Bebas . ....... ABSTRAK.. ............................ E................. Sikap ........................................................ ... Alasan Pemilihan Judul ............................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................ b............................................................ Komponen sikap ... Penalaran moral pada r emaja .........

... Karakteristik remaja .... 1.......... 1......................................... Definisi Operasional Variabel .............. ........ . f.. Penalaran Moral Remaja ........... 1..... Variabel Penelitian ............................. Hubungan Antara Penalaran Moral Den gan Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ................................. 2........... Metode dan Alat Pengukuran Data ............................. ........... ........................................... 2.................... 2......... j........................................ BAB III METODE PENELITIAN A........................... l............................... Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Beba s .................... ..... E.................. 1....................... Identitas Variabel ... .................. ................................................... ................................ Validitas dan Reliabilitas Angket Pengungkap Pendapat Te ntang Masalah – Masalah Sosial ................................. .................................... Perilaku seks bebas ......................................... Sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas .......... .............................................. Hipotesis Penelitian .... Validita s dan Reliabilitas Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ..... b... Penalaran moral ................................................................ Perubahan sikap ............ Sampel ................................. F. Perkembangan pada masa remaja ......... g....d....................... e........................ ............................... Popu lasi ...... ....................................... Jenis Penelitian ............ Populasi dan Sampel Penelitian .. Sika p remaja ..... Sebab – sebab seks bebas ............. ................. C....................... Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ................................................................................. k...... Metode Analisis Data .............. B................................................................................................................ h.................... 39 40 41 48 52 53 60 61 62 63 68 69 70 70 71 72 72 73 73 73 74 74 77 82 82 82 84 ix .. Pengertian remaja .............. .................. Fakt or – faktor yang mempengaruhi seks bebas . D....... .................. B............... ..... ...... 3.. i... 2.................... a...................................... Sikap remaja terhadap p erilaku seks bebas ...

.............................. Analisi s Hasil Penelitian ... Analisis Korelasi ............... Pelaksanaan Penelitian .................................................. DAFTAR PUSTAKA .... Deskripsi Jawaban Responden ..... ........ F............ D............................... .................................... Aspek psikolo gis ........... Prosedur Pengum pulan Data ........... LAMPIRAN .........G.... Angket pengungkap pendapat ten tang masalah–masalah sosial ... Pelaksanaan Uji Coba Instrumen .............. Teknik Analisis Data .... .. Skala Sikap Rema ja Terhadap Perilaku Seks Bebas ...................................... 2........................... .............. ........................................... Sikap Remaja terhadap Perilaku Seks Bebas ................. .... ....... .................. 2........... 1................... Angk et pengungkap pendapat tentang masalah – masalah sosial ..................................... 1.............. 127 128 129 132 x ............................................................... Uji Coba Instrumen .......................................... ........................................... Hasil Uji Coba Instrumen .................................................. Uji Normalitas Data ............................................ .......................... C................. ..................................................... Hasil Uji Hipotesis ..... ....................................................................................................... I............................................................................................ c.... ................................................................................... Aspek sosial ....... 4...... Penalara n Moral Remaja ............... H...................................... Skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ... b..................... Uji Homogenitas Data ........................ E............................................. ............................... 3............................. ............................ Aspek biologis .............. 96 97 98 98 98 99 101 105 111 115 116 116 117 119 120 BAB V PENUTUP A............ ....... Saran .. ............... ........................ 2....... 86 86 86 87 89 89 93 93 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A......................................... Simpulan ....... b. 1.................................. Persiapan Penelitian ....... 1........................................................................ B..... a........................................ Pembahasan ...... a.......... B................

......................5 Kerangka konseptual dalam memprediksi sikap remaja terhadap perilaku seks bebas .............. ............3 Bagan 2...........................DAFTAR BAGAN Bagan Bagan 2... 67 Bagan 2........2 Hubungan antara perkembangan moral Köhlberg dan sikap terhadap seks bebas ............................... 64 Bagan 2................................................................ ............................. ..... intensi........................................4 Perkembangan moral Köhlberg ..........1 Halaman Model hubungan antara penalaran moral dengan tindakan moral .......... 65 66 Bagan 2........................ Model hub ungan antar keyakinan......... sikap.. 68 xi ......... dan perilaku .......

...................... .... 81 Tabel 3............... 104 Tabel 4......................1 Tabel 3.......... 90 Tabel 3..................................................................2 Kriteria dan Nilai Alternatif Jawaban Pada Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas .............DAFTAR TABEL Tabel Tabel 2.4 Sebaran Uji Coba Aitem I Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ..................... ........ Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( As pek Biologis ) .................. 92 97 Tabel 4.................5 Sebaran Butir Aitem Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Setelah Dua Kali Uji Coba ................................................................ 107 Tabel 4..... ........................... 110 Tabel 4...................................................1 Tabel 4......... 71 27 Tabel 3.................... Jumlah s iswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005 / 2006 berusia 16 – 17 t ahun yang sedang berpacaran ........ 100 Tabel 4.......... ..........4 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( Aspek Sosial ) .....5 Pengelompokan Kriteria Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ..... 109 Tabel 4..................................................3 Blue Print Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ...1 Halaman Tahapan Penalaran Moral Menurut Köhlberg ..........6 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ...3 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( Aspek Psikologis ) ...2 Rincian Diskripsi Subjek Penelitian .7 Persentase Jawaban Yang Menunjukkan Terhadap Penalaran Moral Remaja ..... 80 Tabel 3............................................... ...........

........................................................ 112 xii ....

....... Hasil Rekapitula si Analisis Persentase Tingkat Penalaran Moral .......................................... xiii ............ ......8 Tabel 4..........................................9 Pengelompokan Kriteria Tingkat Penalaran Moral ................... ...........10 Analisis Korelasi ...... 113 114 118 Tabel 4...........Tabel 4...............

.............................................4 Grafik 4...............6 Grafik 4..1 Halaman Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Biologis) . ............5 Grafik 4............. .......... 108 110 115 116 117 Grafik 4...........................7 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ................................ ..........DAFTAR GRAFIK Grafik Grafik 4. xiv ..............3 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Sosial) ........................ 105 Grafik 4.............. Uji Normalitas Data .... ................. 100 Grafik 4..... Uji Homogenitas Data ............2 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Psikologis) ...................................... Persentase Tingkat P enalaran Moral Remaja ...................................... ......................

...... ... Tabulasi Skor Validitas Dan Reliabilitas ... Lampiran 21............... Surat Tugas Panitia dan Dosen Penguji Skripsi .............................................. Lampiran 13.............. . Lampiran 20............ Lampiran 08. Analisis Skala ................................. Lampiran 02............ ..... Catatan Revisi Dari Ujian Skripsi ......................................................... Penentuan Kriteria Diskripsi .... Lampiran 16....................... L ampiran 05....................... Persentase Jawaban Responden ....... Butir Item Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah – M asalah Sosial Sebelum Uji Coba ........ Sebaran Butir Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Be bas Setelah Uji Coba ........ 211 212 213 214 161 162 174 181 195 196 202 205 208 210 159 157 135 136 150 134 133 xv .............................................................. Pernyataan Selesai Bimbingan .................... Skala Penelitian .......... Lampi ran 09. Lampiran 10................ Skala Uji Coba ................... Lampiran 07. ........ Lampiran 17.... Lampira n 15........................ Lampiran 18...... ................................. Lampiran 03.............. ..... Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian Dari SMA Kesatrian I Semarang .................................. Rekapitulasi Hasil Analisis Diskripsi ................................. ................. Contoh Perhitungan Validitas Dan Reliabilitas Untuk Angket Pengungkap Tentang Masalah-Masalah Sosia l ...... Halaman Format Skala Peneliti an ..... Contoh Perhitungan Validitas Dan Reliabilitas Untuk Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas .................................................... ........... ....... Lampiran 12... Sebaran Butir Aitem Ska la Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Sebelum Uji Coba ............... Perhitungan Koefisien Korelasi .... Hasil Analisis Deskripsi ....... Lampiran 06.......... ... ........................................................ Lampiran 14...... ...DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Lampiran 01.......................................... .. . Analisis Data SPSS ........... Lampiran 11........... Lampiran 04.. Permohonan Ijin Penelitian .............. Lampiran 19.................................................

maka dipe rlukan perhatian yang cukup terhadap mereka.1 BAB I PENDAHULUAN A. 1 .2 mi liar jiwa sedang memasuki masa dewasa dalam dunia yang sedang berubah dengan cep at. Sedangkan remaja yang merupakan bagian dari pend uduk Indonesia angkanya mencapai 65. Sesuai dengan masa remaja yang memp unyai rentangan usia 11-24 tahun. pola perilaku. minat. merasakan keterpisahan-keterasingan dari du nia kanak-kanak yang baru saja dilaluinya. Dalam kondisi ini mereka mulai mempertanyakan identitasnya. secara psikologis remaja mulai merasakan individualitasnya. Selain mengalami perubahan fisik terdapat pul a perubahan psikologis yang hampir universal.6 juta atau 30 persen dari total penduduk In donesia (Sustiwi. Pendidikan serta kesehatan remaja menjadi ‘kunci’ yang sangat menentukan masa de pan mereka sekaligus bangsanya. De ngan perkembangan kognisi dan emosi-emosi yang menyertai perkembangan fisikseksu al. menyadari perbed aannya dari jenis kelamin yang lain. Alasan Pemilihan Judul Generasi remaja terbesar dalam sejarah – sebanyak 1. nilai-nilai yang dianut. dan bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan (Hurlock. 2 Mei 2005: 15). namun juga masih asing dengan duniany a. seperti: meningginya emosi. 1999: 207). masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa. Perubahan fisik yang cepat dan aktivitas hormon seksual kemudian menimbulkan perubahan-perubahan psikis maupun sosial. Dengan jumlah yang tidak kecil ini. peran.

dan cara-cara yang dibutuhkan untuk menarik hati kawan-kawannya. Bersama kelompok nya. Para ora ng tua harus sadar. 1983: 107). Bahkan. remaja merasa menemukan ”identitas” dan berharap tidak mengalami penolakkan den gan konformitasnya tersebut. jika tidak maka mungkin orang tua akan mengalami kesuli tan untuk memahami masalah remaja meskipun mereka berusaha dan benar-benar mempe rhatikan kesejahteraan anak mereka (Mussen. mengembangkan minat yang sesu ai dengan usia.2 Remaja berusaha menemukan jawaban atas kekaburan identitas itu melalui kelompok sosial di luar keluarga. Teman sebaya memainkan peranan yang penting dalam perkembangan psikologis dan sosial sebagian besar remaja. Pada masa ini remaja c enderung konform dan mengikuti sikap atau perilaku kelompoknya. Orang tua yang penuh kehangatan (penerimaan) dan memberikan landasan moral kepada anak-anaknya tentu menginginkan agar anak remajanya dapat melewati masa ini dengan mengemban gkan nilai-nilai yang diperoleh melalui . Kelompok inilah yang merupakan bagian integral dari identitas s osial individu. bahwa banyak dari bagian kehidupan remaja yang sulit untuk d ibagi bersama orang tua. Dengan interaksi tersebut memberikan kesempatan pada remaja untu k belajar bagaimana mengendalikan perilaku sosial. Hal ini karena remaja tidak mengetahui cara bergaul dengan kawankawan dan orang dewasa lainnya. yaitu kelompok teman sebaya (peer group). Dalam masa ini orang tua perlu menyadari bahwa kelu arga juga merupakan bagian integral identitas sosial setiap anggotanya. 1994 : 511). sekarang tidak sedikit remaja yang kurang mendapatkan bimbingan terlanjur meniru hal yang tidak baik dari teman-teman sebayanya tersebut ( Daradjat. dan berbagi masalah dan perasaan bersama.

antara lain dapat melewatkan mas a pacaran secara sehat dan tidak melanggar norma susila. Nasihat yang paling ser ing diberikan oleh banyak orang tua pada masa ini adalah “perkuat agama“. cara berpakaian. Ketertarikan terhadap lawa n jenis disertai dorongan seksual merupakan hal yang kodrati dialami oleh remaja . berbicara. Untuk itu mereka harus berg erak menuju orang lain. agar selanjutnya dapat memasuki masa dewasa secara sehat dan matang. yang seolah-olah disengaja berlebih-lebihan dan dibuat-buat untuk m enarik perhatian seks lain. Sebagai suatu motif. aga ma yang untuk sebagian remaja diartikan sebagai sejumlah kewajiban dan larangan belum cukup untuk mengatasi perilaku-perilaku menyimpang yang pada masa ini bany ak . wajar pula bila dorongan s emacam ini disertai muatan emosi yang seringkali menimbulkan kecemasan orang tua . Secara alami setiap rema ja menerima tugas untuk menemukan identitas diri masing-masing. Tingkah laku dan sikap remaja yang seperti di atas b iasanya menimbulkan teguran-teguran dan kritikan dari orang tua. Remajapun mulai ingin berkenalan. dan sebagainya. Namun. bergaul dengan teman-temannya dari jenis kel amin lain.3 keluarga. persoalan yang lebih penting adalah bahwa secara biologis me reka telah dibekali dengan kematangan organ-organ seksual untuk bergerak menuju individu lain yang berlawanan jenis (persoalan seks). Kecemasan ini timbul karena kelakuan-kelakuan. terutama para o rang tua yang tidak mengerti ciri-ciri pertumbuhan remaja. dan mengenal pacaran. Hal seperti ini biasa nya dilakukan untuk memenuhi harapan orang tua. kadang ini tidak berjalan mulus seperti yang mereka harapkan. Namun. dan selanjutnya membentuk kesadaran akan identitas diri. Di samping masuk dalam interaksi sosial yang semakin lua s di luar keluarga.

tidak bermoral. Pada masa-masa perubahan inilah yang menjadikan remaja mengalami masa krisis. 2 Mei 2005: 15). Pada masa remaja ini peran orang t ua bersama guru sangat berpengaruh besar untuk memberikan pengertian tentang mak na-makna seksualitas pada remaja yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berla ku di masyarakat. Menurut Daradjat (1983: 108). Remaja yang pada u mumnya mempunyai rasa ingin tahu yang besar tentang . sehingga kurang tahu bahaya atau dampak dari seks bebas. Di mana individu mulai mengambil keputusan untuk m elakukan perubahan atau perbaikan dalam nilai dan tindakan yang pada akhirnya me mberi warna tersendiri terhadap kepribadian (Santrock. Palembang. Tudingan yang diarahkan pada remaja pada pangkalnya sudah jelas. masyarakatpun mulai membicarakan ketika muncul fakta bahwa 74.89% rema ja di Kupang. ditud uh tidak sopan. remaja melakukan semua itu karena mereka tidak mendapatkan pendidikan kesehatan reprodu ksi. Tingkat konvensional yang sedang dilalui oleh remaja ini berarti mereka cenderung menyetujui aturan dan harapan m asyarakat (Sarwono. tidak sedikit tindakan oran g tua yang demikian itu menyebabkan remaja menentang orang tuanya atau berbuat a cuh tak acuh terhadap nasehat orang tuanya. Remaja juga mengalami perubahan moral yaitu dari tingkat pra-k onvensional meningkat ke tingkat konvensional. Cirebon. 2002: 13). tidak berakhlak bahkan sampai dikatakan tidak be ragama.4 dilakukan oleh remaja. Remaja mulai dipersalahkan. Perilaku seks bebas sebagai salah satu perilaku menyimpang remaja dari tahun ke tahun semakin beresiko. bahkan ada remaja yang merasa sedih dan merasa hidupnya penuh dengan penderitaan. 2002 : 95). Singkawang. dan Tasik Malaya berhubungan seks dengan pacar mereka (Sustiwi.

Pada penelitian ini peneliti tertarik untuk memilih perkembangan penalaran moral sebagai variab el bebas hal ini didasarkan pada asumsi bahwa moralitas seseorang dapat menjadi faktor determinan dalam perilaku-perilaku menyimpang yang terjadi dalam kehidupa nnya tersebut. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang akhir-akhir i ni terjadi adalah karena remaja mencari pengetahuan dan informasi tentang seksua litas sendiri lewat teman yang sama-sama belum tahu akibat seks bebas. Penyebab seks bebas sendi ri menurut Kartono (2005: 196) disebabkan kerena disharmoni dalam kehidupan psik is dan disorganisasi serta disintegrasi dari kehidupan keluarga. Moral merupakan landasan d alam perilaku seks bebas. dan tempat hiburan malam yang memberikan akses informasi ta npa sensor sehingga proses kematangan alat reproduksi pada remaja tidak diimbang i dengan informasi yang baik. video.5 seksualitas terpaksa mencari informasi sendiri guna memuaskan rasa keingintahuannya tersebut. Berbagai cara pencegahan kehamilan yang sangat mud ah dilakukan. seperti pemasaran alat kontrasepsi di masyarakat luas. serta pemberian pengertian tentang norma-norma se kalipun sekarang tidak dapat langsung menjamin bahwa anak akan dengan otomatis m enjadi remaja yang bisa bersikap dan berperilaku baik. dan adanya anggapan bahwa kalau hanya melakukan hubungan seks satu kali tidak akan terjadi kehamilan dan tertular penyakit kelamin membuat remaja tidak takut terhadap dampak negatif dar i perilaku seks bebas. dan penanaman moral. Anak dari keluarga baik-baik. adanya temp at aborsi dengan tenaga ahli medis yang dianggap aman. majalah-m ajalah porno. termasuk mengenai perilaku seks bebas. yang . dengan pendidikan agama sej ak kecil.

Penalaran moral menurut Köhlberg (1995: 23-27) mencapai tahap tertinggi pada usia sekitar 16 tahun. yang mana tahap-tahap yang satu se cara logis perlu menyusul tahap sebelumnya dan bahwa tidak satupun dapat dilonca ti. seperti: kelua rga. dan kelompok agama yang diproses melalui penalaran dan dicamkan da lam batin. Dengan penalaran moral diharapkan seorang remaja y ang menghadapi dilemadilema moral secara reflektif mengembangkan prinsip-prinsip moral pribadi yang dapat bertindak sesuai dasar moral yang diyakini dan bukan m erupakan tekanan sosial. Penala ran moral sendiri terjadi dalam dan melalui interaksi individu itu sendiri denga n seluruh kondisi sosial kehidupannya.6 dimaksud di sini adalah tinggi rendahnya orientasi-orientasi pengaruh terhadap p erilakunya termasuk tingkah laku remaja. di mana remaja berhasil menerapkan prinsip keadilan yang universal pada penilaian moralnya. sehingga ia tidak melakukan hal-hal yan g bertentangan dengan pandangan masyarakat. Pentingnya penalaran dalam mengembangkan moral yang tinggi bermakna bahwa pe nalaran moral sejak anak-anak harus disertai penjelasan yang masuk akal mengapa suatu tindakan boleh atau tidak boleh dilakukan. Penalaran moral berperan penting bag i pengembangan prinsip moral. yang sesuai dengan . melainkan satu jenis organisasi pikiran tertent u (pola atau struktur formal berpikir) yang mendasari segala respon tadi. Penalaran moral yang seperti ini dapat terbentuk karena penerimaan nilai moral yang diperoleh melalui lingkungan sosial. Penalaran moral bukan merupakan respon spesifik terhadap suatu situasi. Köhlberg memandang seluruh proses perkemban gan moral sebagai urutan tahap atau sejumlah ekuilibrasi yang merupakan berbagai logika moral yang kurang lebih komprehensif. sekolah.

Jawa Timur tidak perlu terjadi. Indosiar. Imron Faizi n di Jember. sampai sekarang masih banyak orang tua dan guru yang kurang tanggap dan menganggap masalah seks ualitas pada remaja merupakan hal yang tabu dan memandang pendidikan seks sebaga i pelajaran hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Ini dapat dilihat dari kisah bocah belasan tahun. T ingginya angka Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD). dan pemerintah seharusnya menolong dan memberikan perhatian yang lebih pada perk embangan remaja dan bukan menghukum mereka pada saat mereka sedang memulai melak sanakan dan bertanggungjawab atas semua perbuatannya sebagai individu menuju ke kedewasaan. Padahal di masa ini lah remaja betul-betul memerlukan banyak akses terutama akses informasi mengenai reproduksi sehat.7 kemampuan penalaran anak pada masa itu. HIV/AIDS diantaranya adalah karena ketidak tahuan remaja akibat tidak ada informasi bertanggung jawab mengenai reproduksi s ehat (Kedaulatan Rakyat. tokoh masyarakat. 2 Mei 2005: 15). mening katnya Infeksi Menular Seksual (IMS). dan kesehatan reproduksi ini perlulah kiranya dicarikan jalan penyelesaian salah sa tunya melalui jalur pendidikan. Namun sayangnya. korban unsafe abortion. guru. Dia mencabuli balita tetangganya se ndiri setelah banyak menonton VCD porno (Patroli. seksual. Orang tua. tapi me reka juga dapat berpikir dan sampai pada keputusan bahwa seks bebas itu baik ata u buruk sesuai dengan potensi yang dimilikinya. . Ini berarti bahwa dengan penalaran moral seorang remaja tidak hanya sekedar tahu seks bebas itu baik atau buruk. Jum’at: 6 Mei 2005). Perilaku seksual remaja yang cenderung meningkat tanpa adanya akses informasi yang memadai mengenai seks. tokoh agama.

kesehatan reproduksi. Ini juga dapat disebabkan oleh lingkunga n siswa yang kurang baik. Hal ini karena siswa SMA k elas dua sebagai remaja (usia 16-17 tahun) mereka sudah mulai berpacaran. jika karena minimnya pengetahuan tentang seksualitas. penulis tertarik untuk mencermati salah satu penyebab . seperti ditemukannya VCD porno di dalam tas siswa pada saat diadakan pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh guru BK. dan mengenai bagimana pergaulan atau pacara n yang sehat. sehingga melakukan hubungan yang bebas. mereka dianggap tidak susila. baik dari rumah. sehing ga mereka dipandang memerlukan informasi yang bertanggung jawab mengenai reprodu ksi sehat. sekolah. Terbentuknya kepribadian dan kode moral siswa yang kurang baik atau tingkat penalaran moral siswa yang renda h akan berpengaruh terhadap sikap mereka terhadap perilaku seks bebas. Atas dasar pertimbangan dari pengamatan dan infomasi ini. sehingga membentuk kepribadian dan kode moral siswa yang kurang baik. maupun masyarakat. Semua ini dapat t erjadi karena kepribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang kurang baik. membuat peneliti tertarik untuk melakukan pene litian pada siswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Semarang.8 Banyak hal yang terpapar di atas. dan penalaran moral. banyak sisw a dipandang perlu mendapatkan tambahan wawasan yang lebih detail tentang hubunga n antara laki-laki dengan perempuan. Adalah pe rsoalan besar bagi remaja. Akhirn ya. Ini bisa disebabkan oleh kurangnya pendidikan moral yang diterima siswa. Kebanyakan siswa perempuan tidak berani menolak kalau pacarnya ing in berbuat berlebihan. Te ntunya semua ini tidak berasal dari satu faktor saja tetapi dari beberapa faktor .

B. Untuk mengetahui sikap remaja terhadap perilaku seks beb as di SMA Kesatrian 1 Semarang. 3. 3 . timbul suatu permasalahan : 1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatrian 1 Semarang. Tujuan Penelitian 1. .9 tersebut dan mengadakan penelitian dengan judul “SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SE KS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIA N 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Kölberg)”. C. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas. 2. 2. Bagaimanakah tingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang. B agaimanakah sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatrian 1 Semaran g. Untuk mengetahui tingkat penalaran moral rema ja di SMA Kesatrian 1 Semarang. Apakah ada hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap remaja terhada p perilaku seks bebas.

Man faat Praktis Hasil yang didapatkan dari penelitian dapat memberikan sumbangan ke pada bidang psikologi perkembangan dan sosial tentang sikap remaja dalam menghad api perilaku seks bebas dengan dasar penalaran moral. tujuan penelitian. daftar gambar. daftar tabel. daftar lampiran. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar se bagai berikut: Bagian awal berisi tentang halaman judul. Hasil penelitian bisa dijadikan pijakan dalam merencanakan dan mengembangkan program-program pembelajaran moral. mot to dan persembahan. halaman pengesahan. daf tar bagan. E. BAB II Landasan Teori Dan Hipotesis.10 D. berisikan konsep-konsep dasar dan p rinsip-prinsip dasar yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan dalam . dan manfaat yang menjelaskan secara spesifik hal-hal yang ingin dicapai setelah pelaksanaan pene litian. Manfaat 1. b. kata pengantar. BAB I Pendahuluan. Penelitian diharapkan dapat memberi informasi kepada orang tua dan guru bahwa perkembangan moral mempunyai andil terjadinya ke nakalan remaja terutama masalah perilaku seks bebas yang akhir-akhir ini banyak terjadi sehingga bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegahnya dan memberi kan perhatian yang lebih pada remaja. perumusan masalah. daftar isi. 2. dan abstrak. Manfaat Teoritis a. pada bab ini membaha s alasan pemilihan judul.

11 penelitian yang akan dilaksanakan. perubahan sikap. Pada bab ini berisikan uraian tentang pengert ian moral. uji coba instrumen. metode dan alat pengukuran data. perilaku seks bebas. d an hipotesis. BAB III Metodologi Penelitian. karakteristik remaja. sikap remaja. yang merupaka n bab terakhir berisi simpulan yang memuat pernyataan singkat hasil peneliatian yang telah diperoleh serta saran untuk perbaikan dan masukan bagi instansi terka it. komponen sikap. perkembangan pada ma sa remaja. pe nalaran moral pada remaja. hub ungan antara penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. perkembangan penalaran moral. yang membahas analisis hasil penelitian yang merupakan hasil analisis hubungan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral pada siswa kelas dua (II) SMA 1 Kesatrian Semarang. perkembangan moral. Sebagai pelengkap disertakan daftar pustaka dan lampiran sebagai data penduk ung penelitian. faktor-fak tor yang mempengaruhi seks bebas. populasi dan sampel penelitian. BAB IV Hasil dan Pembahasan. . bab ini menjelaskan tentang jenis p enelitian. variabel penelitian. penalaran moral. pengertian remaja. sikap. sebab-sebab seks bebas. validitas dan reliabilitas alat ukur. Simpulan dan Saran. faktorfaktor yang mempengaruhi . metode analisis data. dan hasil uji coba instrumen. sikap remaja terhadap perilaku seks bebas.

Moral Menurut Kamus Lengkap Psikologi (K artono. mori l. 2) Ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok orang dengan perilaku pantas dan baik. Suseno (1987: 19) menyatakan bahwa ka ta moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia dan bukan men genai baikburuknya begitu saja. Seorang individu sada r dan oleh karenanya ia bersikap dengan mentaati kewajibannya. Penalaran Moral a. Otonomi moral di sini tidak berarti bahwa kita sebagai makhluk so sial menolak hukum yang dipasang oleh orang lain. dan manusia akan memenuhi kewajibannya karena ia taat pada dirinya sendiri atau dengan kata lain otonomi moral. 2001: 308). moral bisa berarti: 1) Sesuatu yang menyinggung akhlak. Landasan Teori 1. Daradjad (1983: 83) mengemukakan bahwa moral adalah kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran atau nilai-nilai masyarakat yang timb ul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar. melainkan sebagai manusia. melainkan bahwa tuntutan ketaa tan yang kita laksanakan adalah 12 . 3) Sesuatu yang menyinggung hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. tingkah laku susila.12 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. yang disertai rasa pe nuh tanggung jawab atas tindakan tersebut.

serta ada perilaku amoral. yang mer upakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. otonomi moral menuntut kerendahan hati untuk menerima bahwa kita menjadi bagi an dari masyarakat dan bersedia untuk hidup sesuai dengan aturanaturannya. Karena itu merupakan tanda kepribadian yang dewasa. . ada perilaku tidak bermoral. Kemampuan untuk menyadari bahwa hidup ber sama itu memerlukan tatanan dan bahwa kitapun harus menyesuaikan diri dengannya. namun di samping itu. yaitu p erilaku yang sesuai dengan harapan sosial. Kita sadar bahwa kita hidup bersama masyarakat yang d i dalam masyarakat itu ada orang lain. Hurlock (1990: 74) menulis bahwa ada perilaku moral. Moral menurut Suseno tidak lain adalah keinsafan seseorang untuk berbuat sesuai denga n keinsafannya itu. kita juga berhak untuk menyumbangkan sesuatu agar tatanan itu menjadi lebih baik. perilaku yang demikian tidak semata disebabkan karena ketidakacuhan akan harapan sosial saja melainkan karena ketidaksetujuan dengan standart sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Jad i. Selanjutnya dapat diambil kesimpulan bahwa moral adalah nilainilai perb uatan perilaku yang baik dan buruk yang berhubungan dengan kelompok sosial sesua i dengan nilai-nilai masyarakat yang timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan yang berasal dari luar dirinya.13 karena kita sendiri insaf. yang lebih disebabkan oleh ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran terhadap standart k elompok.

Kemampuan menyesuaikan diri dan kemampuan berpikir abstrak sendiri m erupakan unsur inteligensi. Dengan demikian. Perkembangan moral Moral sebagai salah satu aspek kehidupan jelas akan pengar uh mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain. Hasil penelitian Köhlberg (1995: 66). Salah satunya adalah aspek ling kungan sosial yang memberikan sikap penerimaan yang akan menyediakan kesempatan bagi individu untuk mengalami konsekuensikonsekuensi dari perilakunya. untuk membuat keputusan-keputusan m oral seseorang harus memikirkan konsekuensi-konsekuensi atau akibat-akibat dari keputusan tersebut. Sikap penolakan akan menghambat rasa kepercayaan diri dan teknik-teknik huk uman akan menumbuhkan kecemasan serta menimbulkan kondisikondisi yang membingung kan anak untuk mendapatkan dirinya. Dengan kata lain lingkungan termasuk lingkun gan budaya dapat merangsang atau bahkan menghambat perkembangan moral seorang in dividu. baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. . Uraian di atas menjelaskan bahwa perkembangan moral merupakan hasil kemampuan yang semakin berkembang dalam memahami kenyataan sosial atau untuk menyusun dan mengintegras ikan pengalaman sosial. sehingga dapat membangun suatu keyakinan dalam membuat keputusan-keputusan yang mandiri d an memperbesar rasa percaya diri serta rasa percaya kepada orang lain di sekitar nya.14 b. bahwa untuk mendapatkan tahap penala ran moral yang lebih tinggi diperlukan kemampuan menyesuaikan diri dan berperila ku abstrak.

Keluarga mema ng memegang peranan penting. . d an masyarakat yang lebih luas akan memberikan akibat-akibat positif bagi perkemb angan moral seorang individu. Anak-an ak yang telah maju dalam penalaran moral mempunyai orang tua yang juga maju pena laran moralnya. sekolah. ini sesuai dengan s tudi Köhlberg yang memperlihatkan bahwa perbedaan dalan hal keanggotaan religius d an kehadiran dalam peribadatan tidak berhubungan dengan proses perkembangan moral (Köhlberg. kesempatan untuk mengambil sejumlah peran dan berjumpa dengan sudut pandang yang lain. Kesempatan untuk mengambil peran moral bagi perkembangan moral anak bisa diperoleh dari ke luarga. namun tersedianya kesempatan untuk mengambil peran moral dari teman sebaya. Namun. Keluarga memegang peranan penting dalam perkembangan moral anak. kecenderungan orang tua dalam merangsang proses pengambil an peran timbal-balik juga berhubungan dengan kematangan sianak. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak dan bisa mendorong terjadinya perbandingan pand angan lewat dialog merupakan anak yang lebih maju dalam hal moral.15 Faktor-faktor penentu utama yang didapatkan dari pengalaman bagi perkembangan mo ral menurut Köhlberg (1995: 70) antara lain adalah jumlah dan keanekaragan pengala man sosial. Bahkan agama dan pendidikan keagamaan tampaknya ti dak memberikan peran khusus apapun dalam perkembangan moral. 1995: 72).

Maka pada masa remaja awal perkembangan moral sangat penting. yaitu sek itar masa remaja. baik itu tradisi. Salah satu c ara yang bisa digunakan untuk mengembangkan moral seorang anak adalah dengan pem berian pendidikan disiplin. kehidupannya teratur dan mengikuti tata cara tertentu. Hal ini karena pada masa remaja ia harus dapat mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok pada dirinya dan kemudian membentuk perilakunya a gar sesuai dengan harapan sosial tanpa dibimbing apalagi diancam akan dikenai hu kuman seperti pada masa kanak-kanak. dan me mberikan hadiah berupa pujian atau perhatian pada saat mereka . Setelah memasuki masa remaja tindaktanduknya acapkali mengalami tantan gan baik dari teman sebaya maupun generasi yang lebih tua. Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan kepada anak-anak menguasai benar dan salah. Disiplin merupakan cara yang akan mengajarkan pada a nak apa-apa saja yang dianggap oleh kelompok sosialnya. terutama orang tua me reka. Setelah masa kanakkanak itu lewat bisa dengan pengendalian dari dal am bila ia sudah dapat mempertanggungjawabkan sendiri perilaku mereka.16 Sebelum anak memasuki masa remaja. tentang benar dan salah. dan mengusahakan agar anak-anak bertindak sesuai dengan pengetahuan yang telah diajarkan ini. peratu ran dan adat istiadat. Disiplin pada masa kanak-kanak dapat dicapai dengan cara pengendalian dari luar. Pada masa kanak-kanak disiplin dapat dilaku kan dengan tekanan yang harus diletakan pada aspek pendidikan disiplin. yaitu kontrol dar i orang tua.

Oleh kar ena itu. Dalam memberikan pendidikan disip lin. rasa bersalah. Hukuman dalam penanaman kedisiplinan boleh dilakukan manakala hukuman itu mempunyai nilai mendidik. Oleh karenanya dibutuhkan perkembangan suara hati. dan rasa malu untu k mencegah kebencian seorang remaja pada orang tua atau standar masyarakat. kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok sebaya dan mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok sebaya agar tidak ditolak dan memper tahankan statusnya dalam kelompok sebaya tersebut. Ini lebih baik jika dibanding dengan memberikan anakanak hukuman pada saa t mereka berperilaku salah. karena pada akhir kanakkanak dan masa remaja pelanggaran terhadap perat uran biasanya dilakukan karena anak tidak tahu apa yang diharap oleh lingkungan sosial darinya. hukuman hanya boleh diberikan kalau memang benarbenar terbukti anak-anak me ngerti apa harapan dan lebih-lebih jika ia sengaja melanggar harapan-harapan mas yarakat.17 melakukan sesuatu yang benar atau pada saat anak belajar berperilaku sosial yang baik. Suara hati yang dimaks ud disini adalah suatu reaksi khawatir yang . penggunaan teknik-teknik disiplin yang efektif ketika remaja masih kana kkanak cenderung menyebabkan kebencian pada saat anak memasuki masa remaja. ini mungkin karena anak salah mengartikan peraturan Pada awal re maja. tetapi bukan berarti anak rem aja meninggalkan kode moral keluarga dan mengikuti kode moral kelompok. Disi plin juga berperan penting dalam perkembangan suara hati.

baik yang merupakan dugaan maupun yang benar-benar terjadi. dan tentang bagaimana manusia harus hidup dan mengambil tindakan). Rasa bersalah yang dima ksud adalah penilaian diri negatif pada individu yang mengakui bahwa apa yang te lah diperbuatnya bertentangan dengan nilai moral yang wajib ditaatinya. kita sadar bagaimana dan apa yang dituntut dari kita.18 terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentu yang telah dilakukan dengan ja lan menghubungkan perbuatan tertentu dengan hukuman. Jadi secara moral pada akhirnya kita harus memutuska n sendiri apa yang akan kita lakukan. Suara hati ini mendorong re maja untuk melakukan yang benar dan menghindari hukuman. Suara hati menurut Suseno (1987: 53) adalah kesadaran moral seseorang akan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai manusia dalam situasi konkret. tentang nilai-nilai dasar. kita tidak boleh begitu saja mengikuti pendapat para panutan. rasa ber salah tergantung pada sanksi eksternal dan internal. secara sadar dan . Bany ak sekali pihak yang mengatakan pada kita apa yang harus kita lakukan. Dengan suara hat ilah. Dalam pusat kepribad ian kita. kita tidak dapat melempar tanggungjawab it u pada orang lain. Rasa m alu ini tergantung pada sanksi eksternal yang diiringi oleh rasa bersalah. yaitu hati. kita sadar bahwa pada akhirnya hanya kitalah yang mengetahui a pa yang harus kita lakukan. dan kita juga tidak boleh secara buta mentaati tuntutan sebuah ideologi (ideolo gi = segala macam ajaran tentang makna kehidupan. tetapi di dalam hati kita. Sedangkan rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan dari individu terhadap panilaian negati f orang lain.

Faktor-faktor afektif sep erti kemampuan untuk mengadakan empati dan kemampuan rasa diri bersalah turut berpera n dalam penalaran moral. Dengan kata lain perkembangan moral merupakan suatu hasil kema mpuan yang semakin berkembang untuk memahami kenyataan sosial atau untuk menyusu n dan mengintegrasikan pengalaman sosial. tokoh masyarakat me nyangkut apa harapan masyarakat pada seorang individu.19 mandiri kita harus mencari kejelasan tentang kewajiban kita sebagai manusia. Ura ian di atas lebih memperjelas bahwa penalaran moral pertamatama merupakan suatu fungsi dari kegiatan rasional. diawasi. orang tua dan masyarakat. Penalaran moral Tugas perkembangan pada masa remaja salah satunya adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok kepada dirinya dan kemudian membe ntuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus terus dibimbing. teman sebaya. . berupa jumlah dan keanekaragaman pengalaman sosial. kesempat an untuk mengambil sejumlah peran dan untuk berjumpa dengan sudut pandang yang l ain. Untuk mendapatkan moralitas yang menga cu pada prinsip perlu adanya kemampuan untuk berpikir logis. didorong. c. guru. Sedangkan faktorfak tor penentu utama. tetapi situasi-situasi moral ditentukan secara kognitif oleh suara hati. yang didapatkan dari pengalaman bagi perkembangan moral. seperti hasil dari disiplin yang telah diberikan oleh keluarga. dan diancam hukuman seperti pada masa kanak-kanak.

bukan suatu isi. penalaran moral dipandang Köhlberg sebagai struktur. sehingga dapat di nilai apakah tindakan itu baik atau buruk tetapi merupakan alasan dari suatu tid akan. Penalaran moral merupakan penilaia n tentang benar-salah atau baik-buruknya suatu tindakan. akan tetapi situasi-situasi moralnya sendiri ditentukan secara kognitif oleh penalaran moral pribadi. konsisten dan didasarkan pada alasanalasan yang obyektif. Dengan demikian penalaran moral bukanlah apa yang baik atau yang buruk. Penalaran moral pert ama-tama merupakan suatu fungsi dari kegiatan rasional. .20 Konsep moral yang dikembangkan oleh Köhlberg lebih menekankan pada alasan yang menjadi dasar seseorang bisa melakukan suatu tindaka n. m engapa melakukan ataupun tidak melakukan suatu tindakan. Menurut Setiono (1982: 43). Alasan-alasan mengapa seseorang bisa melakukan suatu tindakan tersebut oleh Köh lberg disebut sebagai penalaran moral (Hurlock. Penalaran mo ral di sini terkait dengan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana seseora ng sampai pada keputusan bahwa sesuatu dianggap baik-buruk atau benar-salah. Dalam a rtian bahwa penalaran moral tidak sekedar arti suatu tindakan. Penilaiannya bersifat u niversal. 1999: 225). Kemampuan untuk mengadak an empati dan kemampuan rasa diri bersalah (faktor-faktor afektif) ikut berperan dalam penalaran moral. Kem ampuan penalaran moral merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk me makai cara berpikir tertentu yang dapat menerangkan apa yang telah dipilihnya.

sehingga dapat dilakukan identifikasi terhadap perkembangan moral. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa penalaran moral adalah kemampuan yang dimil iki oleh seorang individu untuk melakukan suatu penilaian atau mempertimbangkan nilai-nilai perilaku mana yang benar dan salah atau mana yang baik dan buruk. maka dapat dikatakan adanya perbedaan penalaran moral antara seorang anak dan orang dewasa. yang diawali oleh penilaian moral. d. apa yang dianggap baik at au yang seharusnya dilakukan dan buruk atau apa yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang pada stadium yang berbeda-beda. penalaran moral dipandang Köhlberg sebagai isi : yang baik atau yang buruk akan sangat tergantung kepada sosio-budaya tertentu s ehingga relatif sifatnya. yang d isertai rasa penuh tanggungjawab serta pengalaman sosial yang turut mempengaruhi perbedaan penilaian ataupun pertimbangan dalam diri individu tersebut.21 Masih menurut Setiono (1982: 45). Perkembangan moral sendiri merupakan s uatu organisasi kognitif yang lebih baik daripada tahap sebelumnya. Pendidikan di rumah dan di sekolah juga dapat membantu . Tetapi bila penalaran moral dipandang sebagai struktur . Pada perkemb angan penalaran moral ini orang tua dan guru perlu mengerti betul dan bertanggun g jawab atas penuntunan cara penyelesaian suatu masalah. ya ng timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar dirinya. Perke mbangan penalaran moral Perkembangan penalaran moral adalah suatu proses pemasak an yang bertahap dari suatu proses ke proses lainnya yang dialami oleh setiap in dividu (universal).

Yang dimaksud asimila si disini adalah kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. . Hal ini be rarti bahwa individu yang berusia lebih tua lebih memikirkan konsep abstrak dan menarik kesimpulan yang lebih logis mengenai interaksi sosial dibandingkan denga n mereka yang masih muda. Konflik akan men yebabkan individu merasa tidak seimbang (disequilibrium). Perkembangannya sendi ri merupakan suatu proses yang melalui pentahapan tertentu. sedang akomodasi adalah kecenderungan in dividu untuk mengubah lingkungannya agar sesuai dengan dirinya. Yaitu dengan disiplin yang tetap memberikan kesempata n pada remaja untuk membuat keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral.22 perkembangan moral remaja. Penalaran moral seorang i ndividu berkembang dari semenjak ia bayi sampai ia dewasa. dalam hal ini adalah remaja. juga mengemukakan bahwa kemampuan individu untuk mengambil k eputusan tentang moral berhubungan erat dengan perkembangan kognitif. kesimbangan (equilibrium) terpenuhi. dan konflik ini pulala h yang akan menyebabkan individu tersebut menggunakan suatu penalaran moralnya s ebagai usaha Pada untuk saat mendapatkan keadaan seimbang (equilibrium). 1982: 50-51). maka individu dapat mencapai perkembangan p enalaran moral yang lebih tinggi (Setiono. At kinson (1999: 188). Perkembangan penalar an moral sendiri lebih terlihat sebagai usaha seorang individu untuk memelihara keseimbangan (equilibrium) antara asimilasi dan akomodasi.

t ermasuk konsitensi penalarannya. 1995: 141-158) mengenai tahapan penalaran moral sebagai berikut : 1) Inti m oral adalah keadilan. dan bukan dari apa yang paling baik dan adil bag i masyarakat yang mempunyai sistem yang berbeda-beda (Pratidarmanastiti. . Sikap otonomi inilah yang merupakan sikap etis dan moral yang adekuat . Dalam mengembangkan teoriny a Köhlberg berpegang pada undangundang dan hukum yang merupakan tata tertib yang d isetujui oleh suatu masyarakat. 2) Tahap-tahap penalaran menunjukkan cara individu dalam berpikir. Pokok pemikiran Köhlberg (Köhlb erg. Maka berdasar pemikiran ini dapat disimpulkan bahwa manusia atau seorang indiv idu itu adalah merupakan suatu pribadi yang mandiri. 3) Tahap-tahap penalaran moral ini menunjukkan tingkatan seorang individu dalam memecahkan dilema moral yang terjadi kepadanya. yaitu alasan yang di gunakan oleh seseorang dalam menilai suatu perilaku. menghargai dan memperhatikan hak-hak pribadi. Keadilan disini mempunyai arti bahwa individu dituntut unt uk jujur.23 Perkembangan penalaran dari Köhlberg menekankan penalarannya. Dengan demikian ini membuktikan bahwa tata tertib ideal dapat terwujud dari hasil akal pribadi yang otonom dan lepas dari pandangan-pandangan yang dianut m asyarakat. Dan tahap-tahap penalara n moral yang diajukan selalu menuju kearah maju dalam menerapkan prinsip-prinsip keadailan. 1991 : 52).

Perkembangan penalaran moral menurut Köhlberg dibagi menj adi tiga tingkatan. Anak pada tahap ini menghindari hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. yaitu : 1) Tingkat pra-konvensional Individu memandang kebaik an identik dengan kepatuhan terhadap otoritas dan menghindari hukuman. maksudnya setiap individu akan melalui urutan tahap yang sama.24 4) Tahap-tahap penalaran moral ini bersifat universal. Penalaran moral dalam konsep Köhlberg berkembang m elalui tahapan tertentu. . Baikburuknya perbuatan dinilai sebagai hal yang berharga dalam dirinya sendiri d an bukan karena rasa hormat terhadap tatanan moral yang melandasi dan yang diduk ung oleh hukuman dan otoritas. Perbedaannya hanya pada hal kecepatan dan sejauhmana tahap dapat dicapai. Akibat fisik dari suatu perbuata n yang dilakukan itu tanpa menentukan baik-buruknya perbuatan menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat perbuatan tersebut. Tingkatan moral pra-konvensional dalam konteks interaksi antar individu dengan lingkungan sosialnya ditandai oleh baik-buruk yang berdasarkan pada keinginan diri sendiri . Tingkatan pra-konvensional dibagi menjadi dua tahapan. yaitu : Tahap 1 : orien tasi hukuman dan kepatuhan (sekitar 0-7 tahun). dimana tiap tingkatannya terbagi lagi menjadi dua tahap yang saling berkaitan.

Tahap ini memadang perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Hubungan manusia kadang-kadang ditandai relasi timbal balik. dan me mbenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifikasikan diri dengan orang at au kelompok yang terlibat. Bahkan. Tingkat ini meliputi : Tahap 3 : orientasi kesepakata n antar pribadi (sekitar usia 13 tahun). Tindakan seseorang direnca nakan untuk mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari lingkungan antar . 2) T ingkat konvensinal Individu pada tingkat ini memandang bahwa memenuhi harapanhar apan keluarga dan kelompok dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga pada di ri sendiri. Tahap ini biasa disebut sebagai orienta si “Anak Manis”. Sikapnya sangat konformis terhadap harapan pribadi dan tata tertib s osial. Anak sudah lebih menyadari tenta ng kebutuhan-kebutuhan pribadi dan keinginan-keinginan.25 Tahap 2 : orientasi relativitas instrumental (sekitar 10 tahun) Pada tahap ini a nak beranggapan bahwa perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri. mendukung. serta bertindak demi orang lain tetapi dengan mengharapkan suatu balasan. tidak mempedulikan lagi pada akibat-akibat yang langsung dan nyata ( kelihatan). individu sangat loyal dan aktif mempertahankan.

dan menjaga tata terti b sosial yang ada sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya sendiri. atur an yang tetap. Tahap 6 : orientasi prinsip etika universal (masa dewasa) Benar atas suatu perbuatan ditentukan oleh keputusan suara hati. sesuai dengan prinsip etis yang dipilih sendiri. 3) Tingka t paska-konvensional Pada tingkat paska-konvensional terdapat usaha yang jelas u ntuk mengartikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki keabsahan s erta dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpeganga n pada prinsip moral yang universal. Tingkatan ini terbagi menjadi : Tahap 5 : orienta si kontrak sosial yang legalistik (sekitar dewasa awal) Perbuatan yang baik cend erung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat.26 sosial dan kelompoknya. yang tidak terkait dengan aturan-aturan set empat atau seluruh masyarakat. dan penjagaan tata tertib sosial. Pada tahap ini perilaku sering di nilai menurut niatnya. Pada tahap ini perilaku yang ba ik adalah yang melakukan kewajiban. Tahap 4 : orientasi hukum dan ketertiban (sekitar 16 tahun) Tahap orientasi huk uman dan ketertiban ini berarti bahwa terdapat orientasi terhadap otoritas. hukum te tap dipandang sebagai sesuatu yang penting tetapi ada . menghormati otoritas.

1. mendapatkan balas an budi. Tahapan Penalaran Moral Menurut Köhlberg (Atkinson.27 nilai-nilai yang lebih tinggi yaitu prinsip universal mengenai keadilan. Tahap 6 Orientasi Asas E tis Keseluruhan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan penalaran moral merupakan proses perubahan yang terjadi secara bert ahap menuju kematangan dalam penilaian atau pertimbangan terhadap nilai-nilai pe rbuatan yang timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar. Penalaran moral pada remaja Köhlberg (Santrock. Memastikan akan mendapatkan ganjaran. 1999 : 117) Tingkatan dan Tahapan Tingkat I Moralitas Prakonvensional Tahap 1 Orientasi Huku man Tahap 2 Orientasi Ganjaran Tingkat II Moralitas Konvensional Tahap 3 Orienta si Anak Manis Tahap 4 Orientasi Otoritas Gambaran Perilaku Mematuhi peraturan un tuk menghindari hukuman. yang disertai pula dengan rasa tanggung jawab. pertuka ran hak dan keamanan martabat manusia sebagai seorang pribadi (Köhlberg. 2002: 370-371) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada perspektif kognitif terutama pada . Tabel 2. 1995: 231 -234). Memastikan penghindaran rasa tidak setuju dari orang lain Memegang tegu h undang-undang dan kaidah sosial untuk menghindari ketidaksetujuan dari pemegan g otoritas serta perasaan bersalah tidak “melakukan tugas” Tingkat III Moralitas Tin dakan yang dibimbing oleh asas-asas yang biasa disetujui sebagai hal yang pentin g bagi Prakonvensional Tahap 5 Orientasi Kontrak kesejahteraan umum Tindakan dib imbing oleh asas-asas etis atas Sosial pilihan sendiri. e.

Anak-anak ini juga tidak mempuny ai dorongan untuk mengikuti aturan-aturan ataupun norma-norma karena tidak menge rti manfaatnya sebagai anggota kelompok sosial. Karena tidak memiliki norma yang pasti tentan g benar-salah. mereka tidak mempunyai hierarki nilai dan suara ha ti. 1999: 123) memperinci. dalam artian bahwa perilakunya tidak dibimbing norma-norma moral. Köhlberg percaya bahwa ketiga ting katan dan keenam tahapan moral tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. Anak hanya belajar begai mana bertindak tanpa mengetahui mengapa dia melakukan tindakan tersebut. bahwa sebelum anak-anak usia 9 (sembilan) tahun mereka kebanyakan berpikir tentang dilema moral dengan cara pra-konvensional. Oleh karenanya anak harus belaja r berperilaku moral dalam berbagai situasi yang khusus. maka bayi menilai benar atau salahnya suatu tindakan menurut kese nangan atau kesakitan yang ditimbulkannya dan bukan menurut baik atau buruknya e fek suatu tindakan terhadap orang-orang lain. Bayi menganggap suatu tindakan sal ah hanya bila ia sendiri mengalami akibat buruknya. I ni berarti individu pada tingkat pra-konvensional belum sampai pada . Ini karena perkembangan intelektual ana k belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari dan menerapkan prinsip-prins ip abstrak tentang benar-salah. Pada saat bayi. Bayi akan mempelajari kode moral dari orang tua dan lingkungan sosialnya serta belajar pen tingnya mengikuti kode-kode moral. dan baik-buruk.28 penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Köhlberg (Hurlock. Perkembangan moral pada masa kanak-kanak masih dalam tingkat rendah.

29 pemahaman yang sesungguhnya mengenai kepatuhan terhadap konvensi atau aturan-atu ran masyarakat. ia menilai benar-salahnya perbuatan berdasarkan akibat-akibat fisik dari perubahan itu. Pada masa remaja. harapan-ha rapan. konsep-konsep moral yang digeneralisasikan yang mencerminkan nilai moral anak tidak statis. Remaja akan menemukan bahwa kelompok sosial terlibat dalam berbagai tingkat kesungguhan pada berbagai macam perbuatan. konsep moral remaja tidak lagi sesempit sebelumnya. Ini akan beru bah dengan bertambah luasnya lingkup sosial anak. anak-anak berorientasi patuh dan hukuman. Dalam tahap pertama. Pengetahuan ini kemudian akan digabungkan dalam konsep moral. remaja berpikir dengan caracara yang lebih konvensional. artin ya mereka melakukan dan mematuhi sesuatu sesuai dengan aturan-aturan. Mereka memahami atu ran-aturan masyarakat atau penguasa. Dengan kata la in individu pada tingkat paska-konvensional akan membuat . Konsep benar-salah yan g ada pada tingkat prakonvensional masih bersifat umum. tetapi penerimaannya didasarkan atas peneri maan prinsip-prinsip moral yang mendasari aturan-aturan tersebut. Dalam tahap kedua anak-anak mulai menyes uaikan diri dengan harapan sosial agar memperoleh pujian. Kode moralnya sudah terbentuk meskipun m asih akan berubah bila ada tekanan sosial yang kuat. dan konvensi masyarakat atau penguasa. s ejumlah kecil orang berpikir dengan cara paska-konvensional. Bila p erubahan terjadi. Sedangkan pada awal masa dewasa.

menuntut kemandirian leb ih tegas. orang tua lebih mudah menerapkan nilai moral dan disiplin dibandingk an selama masa remaja. Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak. Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. yang akhirnya menimbulkan kesulitan bagi hubungan antara orang tua den gan remaja itu sendiri. pada masa remaja. pengalaman hidup bersama orang lain. hasil dari mengatasi konflik terhadap peru bahan yang muncul dalam .30 keputusan moral dengan lebih mengutamakan prinsip-prinsip moral dari pada konven si atau aturan-aturan masyarakat dan penguasa. Köhlberg dan Gilligan (Monks. penalaran anak-anak menjadi lebih canggih. Namun. Tetapi dalam perluasannya pen alaran ini pengalaman lain juga masuk dalam kehidupan mereka. serta peristiwa dan situasi-situ asi yang mereka alami akan menumbuhkan perasaan dan kepekaan mereka terhadap rea litas. perkembangan k ognitif anak sudah semakin matang sehingga memungkinkan orang tua untuk bermusya warah dengan mereka tentang penolakan penyimpangan dan pengendalian perilaku mer eka. 2001: 204) mengemukakan bahw a pada masa remaja seseorang mempunyai kemampuan kognitif untuk berpindah dari t ingkat konvensional ke tingkat paska-konvensional. Interaksi yang sem akin luas. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran moral pada r emaja merupakan kemampuan kognitif yang berpindah dari tingkat konvensional ke t ingkat paska konvensional yang dipengaruhi oleh nilai-nilai moral yang berasal d ari pengalaman-pengalaman lingkungan. dan mer eka cenderung kurang dapat menerima disiplin orang tua.

yang pada akhirnya memberikan da sar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara yang ter tentu yang dipilihnya. tingkah laku. atau perbuatan manusia merupakan hal penting dalam kehidupan psikologis manusia. Di jelaskan Walgito (1991: 109). keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg . Sikap inilah yang berperan besar dalam kehidupan manusia karena sikap yang telah terbentuk dalam diri manusia turut menentukan cara-cara manusia itu memunculkan . Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas a. Penerimaan atau penolakan yang dilakukan oleh seseorang dalam menangggapi suatu masalah dapat juga ditentukan o leh faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya. yang akhirnya akan menumbuhkan perasaan dan kepekaan mereka terha dap realitas. Sikap yang ada pada diri manusia akan memberikan corak pa da tingkah laku atau perbuatan manusia tersebut. Menurut Gerungan (2000: 149) manusia tidak dilahirkan dengan sikap-sikap terte ntu. disertai oleh adanya suatu perasaan tertentu. Sikap merupakan organi sasi pendapat. bahwa sikap. Dengan mengetahui sikap seseor ang akan dapat memprediksi reaksi atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang . 2.31 perkembangan moral remaja dan interaksi yang semakin luas seperti pengalaman hid up bersama dengan orang lain serta peristiwa dan situasisituasi yang mereka alam i sehari-hari. akan tetapi sikap tersebut dibentuk oleh seorang individu sepanjang perkemb angan hidupnya. Sikap Dalam hidupn ya manusia mempunyai sikap untuk menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Sec ara umum. Sikap menunjukkan penilaia n kita (baik positif maupun negatif) terhadap bermacam-macam entinitas. sikap seseorang dianggap mempunyai perilakunya. .32 tingkah laku terhadap suatu obyek. Sedangkan sikap menurut Atkinson (1999: 371) sangat terkait dengan kogni si–khususnya. kelompok-kelompok. maka kognisikognisinya. Menurut Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial (2005: 49). dan tendensi-tendensi tingkah lakunya berkenaa n dengan bermacam ragam obyek di dunianya terorganisasikan menjadi sistem-sistem yang tahan lama. dengan keyakinan tentang sifat suatu obyek. bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. misalnya : individu-individu. Mar’at (1982: 12) mengungkapkan. dan inilah yang dinamakan sikap. Sikap merupakan kesiapan individu untuk bereaksi terhadap obyek di lingk ungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. namun hubungan antara keduanya sangat lemah karena pada kenyataannya acap kali perilaku seseorang terg antung pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pilihan yang diambil ses eorang. Atau dengan kata lain sikap menyebabkan manus ia bertindak secara khas terhadap obyeknya. sikap merupakan masalah yang lebih banyak bersifat afektif. akan tetapi berupa pre-disposisi tingka h laku. Krech dan kawa n-kawan (1982: 25) menyatakan bahwa pada saat individu berkembang. maupun lembaga-lembaga. perasaan-perasaannya. obyek-obyek.

mendekati atau menghindari situasi. Sikap meliputi rasa suka dan tidak suka. Berdasarkan apa yang telah kit a lihat atau apa yang telah kita ketahui kemudian terbentuklah suatu ide atau ga gasan mengenai sifat atau karakteristik umum tentang hubungan seksual secara beb as. ya itu : 1) Komponen kognitif Komponen kognitif merupakan kepercayaan seseorang men genai apa apa yang benar atau berlaku bagi obyek sikap. 2) Komponen afeksi Merupakan komponen individu terhadap obyek sikap dan pera saan yang mengandung masalah emosional yang biasa disebut niatan. b enda. Komponen kognitif dalam sikap terhadap hubungan seksual secara bebas adalah apa yang dipercaya seseorang mengenai hubungan seksual secara bebas tersebut. Komponen si kap Sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang (Azwar. Keseluruhan pendapat-pendapat di atas dap at disimpulkan bahwa sikap merupakan kesimpulan atau kecenderungan individu untu k bertindak terhadap obyek tertentu dengan didasari oleh pandangan. perasaan dan keyakinannya. termasuk gagasan abstrak dan kebijakan sosial. b. Hal inilah yang menyebabkan sikap orang terhadap sesuatu hal berb eda satu dengan yang lainnya meskipun menghadapi obyek yang sama. 2003: 17). . orang. kelompok.33 Sikap juga berkaitan dengan tindakan yang kita ambil karena sifat obyek tersebut . dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya.

Setiap orang mempunyai alasan yang berbedabeda tentang mengap a mereka bersikap ataupun tidak bersikap. hal ini bisa dilakukan dengan terbentuknya perasaan tidak suka. Apabila seorang individu percaya bahwa dengan berhubungan seksual se cara bebas dapat menimbulkan banyak masalah dan kerugian bagi individu yang menj alani maka seorang individu itu akan mempunyai perasaan yang negatif terhadap hu bungan seksual secara bebas. Umumnya reaksi emosional ini ditentukan oleh kepercaya an atau apa yang kita percaya sebagai sesuatu yang mempunyai arti benar bagi oby ek sikap tersebut. yang mana komponen ini menunjukkan bagaimana kecenderungan untuk mela kukan sesuatu dalam diri seorang individu sangat berkaitan dengan obyek sikap ya ng mengenainya.34 Komponen afeksi merupakan pengertian perasaan yang mengandung masalah emosional. Dari ketiga komponen sikap ini. khususnya terhadap hubungan seksual se cara bebas. komponen afeksi merupakan komponen sikap yang paling bertahan terhadap pengaruh yang mungkin dapat merubah seseoran g. Pengertian perasaan seorang individu sering diartikan berbeda perwujudannya bil a dikaitkan dengan sikap. 3) Komponen konatif Komponen konatif sering pula disebut dengan komponen perilaku. . Hal ini karena aspek emosional ini bisa berakar paling dalam sebagai komponen sikap.

3) K omponen tendensi tingkah laku. Seseorang yang bersikap positi f terhadap suatu gerakan. dalam hal ini seperti. “favorable“ atau . seperti ‚’’baik’’ atau ’’bu ’’dikehendaki“ “unfavorable“. seperti senang atau tidak senang. ide. Muatan emosi ini kemudian menyebabkan sikap mempunyai daya dorong. cenderung mendukung perilaku se ks bebas atau cenderung menolak perilaku seks bebas. Menurut Mar’at (1982: 13). dan konsep. yaitu : 1) Komponen kognisi yang hubungannya d engan belief. yaitu : 1) Komponen kognitif yang mencakup keyakinan-keyakinan atau ke percayaan-kepercayaan seorang individu tentang sasaran sikap individu tersebut. 2) Komponen perasaan ditunjukkan kepada emosi-emosi yang be rkaitan dengan sasaran sikap. 3) Komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku . mencakup pada semua bentuk kesiapan untuk bertind ak yang ada hubungannya dengan sikap itu sendiri. si kap memiliki tiga komponen sikap. Keyakinan-keyakinan yang ada pada komponen kognitif kebanyakan adalah keyakinan keyakinan evaluatif yang menyangkut atribusi kualitas-kualitas. 2) Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emos ional seseorang.35 Krech dan kawan-kawan (1982: 25-26) mengungkapkan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen. suka ataupun tid ak suka. atau “tidak dikehendaki“.

keyakinan. sikap merupakan kumpul an dari berpikir.36 Untuk menjelaskan konteks sikap Mar’at mengungkapkan bahwa. Sedangkan Atkinson (1999: 371-372) mengkaji sikap sebagai kompone n dari sistem yang terdiri dari tiga bagian. sikap merupakan komponen afektif. . yaitu komponen kognitif yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar. Sehingga komponen kognisi melukiskan obyek tersebut. dan pengetahuan sekaligus memiliki evaluasi negatif maupun positif yang bersifat emosional karena disebabkan oleh komponen afeksi y ang hubungannya dengan obyek sikap. Obyek yang dihadapi oleh seorang individu te rlebih dahulu berhubungan langsung dengan pemikiran dan penalaran individu terse but. komponen afektif merupakan niatan atau perasaan in dividu terhadap objek sikap dan perasaan yang mengandung masalah emosional. komp onen konatif atau komponen perilaku yang menunjukkan bagaimana kecenderungan per ilaku yang ada dalam diri seseorang. dan tindakan mencerminkan komponen peri laku. dan sekaligus dikaitka n dengan obyek-obyek lain disekitarnya (adanya penalaran pada diri seseorang ter hadap obyek mengenai karakteristiknya) yang akibat dari gambaran ini akan mengha silkan suatu keyakinan atau penilaian sehingga terjadilah kecenderungan untuk be rtingkah laku. Keyakinan mencerminkan komponen kog nitif. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa komponen sikap terdiri dari tiga kompo nen.

Oleh karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila faktor emosional terlibat dalam pen galaman tersebut. Pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama membekas jika situasinya sangat melibatkan emosi dan benar-benar di hayati oleh diri individu yang bersa ngkutan. Kecenderungan seperti ini lebih di pengaruhi oleh . Pada masyarakat Indonesia cenderung lebih mempunyai sikap yang searah atau konf ormis kepada orang yang di anggapnya penting. serta faktor-faktor emosi dalam individu. institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama. 1) Pengalaman pribadi Kesan yang kuat dapat menjadi dasar pembuatan sikap pengalaman pada diri individu.37 c. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Faktor-faktor sikap menurut Middlebrook (Azwar. Di sadari atau tidak kebudayaan telah menanamkan arah sikap seseorang terhada p berbagai masalah yang sedang dihadapinya. orang lain yang dia nggap penting. Namun pengalaman tunggal jarang sekali menjadi dasar pembentuk an sikap. kebudayaan. 2) Pengaruh kebudayaan Kebudayaan yang ada dimana seseorang itu tinggal dan dibesarkan memiliki arti yang mendalam pada pembentukan sikap orang tersebu t. media massa. 3) Pengaruh orang yang dianggap pent ing Orang lain yang hidup dan berada di sekitar kita merupakan bagian dari kompo nen sosial yang sedikit banyak dapat mempengaruhi sikap individu dalam bersikap. 2003: 30-38) adalah pengalaman pribadi.

dari individu tersebut masuk sekolah hingga ting kat pendidikan terakhir yang dia capai. M edia massa membawa perilaku pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengartik an opini individu. d an lain-lain mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. majalah. 5) Tingkat pendid ikan Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang individu bisa digunakan untuk mengetahui taraf kemampuannya. baik secara teoritis maupun praktis mengen ai obyek sikap yang mengenai individu tersebut. Adanya informasi baru mengenai suatu hal akan memberikan land asan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. berbagai bentuk media massa seperti : televisi. pengetahuan.38 motivasi berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang d ianggap penting oleh individu tersebut. radio. surat kabar. Pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi yang cukup kuat akan memberikan dasar efektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuknya arah sikap tertentu. 4) Media massa Sebagai sarana komunikasi . Dengan pendidikan memungkinkan seseorang mendapatkan pengalaman. 6) Pengaruh emosional Emosi berf ungsi sebagai penyaluran pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. .

d. situasi. situasi. 2) Faktor eksternal Terdiri dari pen galaman. bahwa sikap dipengaruhi oleh : 1) Faktor internal Faktor internal di sini terdiri dari faktor biologis dan psikologis. daya pilihannya sendiri.39 Pendapat lain di kemukakan oleh Walgito (1991: 115-116). Perubahan sikap berlangsung dalam intera ksi manusia dan berkenaan dengan obyek tertentu. . h ambatan. norma-norma. Faktor eksternal ini dap at berwujud situasi yang dihadapi oleh individu serta norma-norma yang ada di ma syarakat. yaitu selektivitas sendiri. Interaksi sosial yang terjadi d i dalam dan di luar kelompok dapat mengubah sikap bahkan dapat membentuk sikap b aru. Keseluruhan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sikap dipeng aruhi oleh faktor internal. Faktor–faktor lain yang yang turut memegang peranannya ialah faktor–faktor inte rn di dalam diri manusia. Ini berarti bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai sikap yang b erbeda secara fisiologis dan psikologisnya. hambatan. yaitu faktor fisiologis dan psikologis. serta dipeng aruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti : pengalaman. a tau minat perhatiannya untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya. dan pendorong. Perubahan sikap Menurut Gerungan (2000: 154-157) perubahan sika p tidak terjadi tanpa dasar yang jelas. norma-norma. dan pendorong yang mempengaruhi bagaimana sikap remaja terhadap perilak u seks bebas.

15-18 t ahun masa remaja pertengahan. yait u motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam diri pribadi itu. 1994: 478).40 Faktor–faktor internal sendiri masih ditentukan oleh faktor-faktor eksternal. dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal. . e. sosial. di mana terdapat pengaruh-pengaruh (hubungan) langsung dari satu pihak saja. Menurut Hall (Mussen. 18-21 tahun masa remaja akhir (Monks. Pada masa remaja ini terjadi perkembangan-perkembanga n seperti perkembangan fisik. 2000: 156 ) mengemukakan bahwa sikap dapat dibentuk dan diubah. Perubahan sikap dapat berl angsung dalam interaksi kelompok. Fase masa remaja secara global berlangsung natara usia 12-21 tahun. Meng enai faktor eksternal dalam perubahan sikap. Batasan usia untuk remaja (adolescence) menurut Hall antar usia 1225 tahun (Sarwono. 2002 : 23). Menurut Monks. Pengertian remaja Masa remaja adala h masa yang menunjukkan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa sela njutnya yaitu masa dewasa. psikologis. M Sherif (dalam Gerungan. Dan karena komunikasi. masa remaja merupakan masa topan badai. 2001: 262). dan secara moral. di mana pada masa tersebut t imbul gejolak dalam diri akibat pertentangan nilainilai akibat kebudayaan yang m akin modern. remaja adalah suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. di mana terdapat hubungan timbal balik yang la ngsung antar manusia.

perkembangan biologis menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan tertentu. Semua perkembang an itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap. Misalnya saja .41 Batasan usia remaja menurut WHO adalah 10-20 tahun. bahw a semua periode yang penting selama masa kehidupan mempunyai karakteristiknya se ndiri. Sedangkan. terutama pada masa remaja awal. f. dan sosialnya. Selanjutnya yang dimaksud dengan remaja adalah individu yang sedang mengala mi masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dalam rentangannya t erjadi perubahan-perubahan dan perkembangan pada aspek fisik. nil ai. . psikologis. 2002: 9). kognis i. rentang usia pada masa remaja tersebut adalah antar a 12-21 tahun. Ciri-ciri tersebut ant ara lain : 1) Masa remaja sebagai periode yang penting Masa remaja dipandang seb agai periode yang penting daripada periode lain karena akibatnya yang langsung t erhadap sikap dan perilaku. Karakteristik remaja Hurlock (1999: 207-209) berpendapat. serta akibat-akibat jangka panjangnya. baik yang bersifat fisiologis yang cepat dan disertai percepatan perkembangan mental yang cepat. Begitupun masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode masa kanak-kanak dan dewasa. dan minat baru. hal ini di dasarkan atas kes ehatan remaja yang mana kehamilan pada usia-usia tersebut memang mempunyai resik o yang lebih tinggi daripada kehamilan dalam usia-usia diatasnya (Sarwono.

Karena meningkatnya minat pada seks inilah. Pada masa peralihan i ni remaja bukan lagi seorang anak-anak dan juga bukan orang dewasa. Namun. remaja mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi. P ada masa remaja ini mereka berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua. apa yang sudah terjadi pada masa sebelumnya akan menimbulkan bekasnya pada apa yang terjadi pada masa sekarang dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Meskipun disadari bahwa apa yang telah terjadi akan meninggalkan be kasnya dan akan mempengaruhi pola perilaku dan sikap baru. statu s remaja yang tidak jelas ini menguntungkan karena status ini memberi waktu kepa da remaja untuk . Remaja lalu berusaha membangun relasi-relasi afektif yang baru dan y ang lebih matang dengan lawan jenis dan dalam memainkan peran yang lebih tepat d engan seksnya. Dorongan untuk melakukan ini datang dari tekanantekanan sosial ak an tetapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang seks . A nak-anak yang beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa haruslah meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan harus mempelajari pola perilak u dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikapnya pada masa yang sudah d itinggalkan. maka remaja berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Tidak jarang. atau bersengg ama (Hurlock. karena dorongan fisiologis ini ju ga. 2) Masa remaja sebagai periode peralihan Artinya.42 Minat baru yang dominan muncul pada masa remaja adalah minatnya terhadap seks. 1999: 226). bercumbu.

Misa lnya. dan peran yang di harapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan menimbulkan masalah. Pada awal masa remaja. ketika perubahan terjadi dengan pesat ma ka perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung cepat. Begitu pula jika perubah an fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga. Perubahan itu a dalah : a) Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubaha n fisik dan psikologis yang terjadi b) Perubahan tubuh. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan. d) Remaja bersikap ambivalen terhadap setiap peruba han. mereka mulai mengerti bahwa kualitas pertemanan lebih penti ng daripada kuantitas teman. c) Perubahan minat dan pola perilaku menyebabkan nilai-nilai juga berubah. nilai dan sifat ya ng paling sesuai bagi dirinya. sebagian besar remaja tidak lagi menganggap bahwa banyak teman merupakan p etunjuk popularitas. Remaja akan tetap ditimbuni masalah.43 mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku. sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuasannya. namun mereka belum berani untuk bertanggung jawab akan akibat perbuatan mereka dan . minat. 3) Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja beriringan dengan tingkat perubahan fisik.

menolak bantuan orang tua dan gurugurunya sampai pada akhirnya remaja itu menemukan bahw a penyelesaian masalahnya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. dan ini menimbulkan ketakutan pada remaja. 5) Masa rem aja sebagai masa mencari identitas Pada akhir masa kanak-kanak sampai pada awal masa remaja. Namun. Hal i ni menimbulkan pertentangan dengan orang tua sehingga membuat jarak bagi anak . sehingga pada masa remaja mereka tidak cu kup berpengalaman dalam menyelesaikan masalah. pada masa remaja mereka me rasa ingin mandiri. Namun. pada masa remaja mereka mula i mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan tema n-temannya dalam segala hal.44 meragukan kemampuan mereka sendiri untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut . 6) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketaku tan Stereotip populer pada masa remaja mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya sendiri. penyesuaian diri dengan standar kelompok jauh lebih penting bagi an ak yang lebih besar daripada individualitas. Remaja tak ut bila tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakat dan orang tuanya sendiri. 4) Masa remaja sebagai usia bermasalah Masa remaja dikatakan sebagai usia berm asalah karena sepanjang masa kanak-kanak sebagian permasalahan anak-anak diseles aikan oleh guru atau orang tua mereka. sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri.

Persoalan remaja yang sering muncul karena karakteristik remaja sendiri antara lain adalah (Santrock.45 untuk meminta bantuan kepada orang tua guna mengatasi pelbagai masalahnya. dan terlibat dala m perbuatan seks dengan harapan bahwa perbuatan ini akan memberikan citra yang m ereka inginkan. 7) Ma sa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja cenderung melihat dirinya sen diri dan orang lain seperti yang mereka inginkan dan bukan sebagaimana adanya te rlebih dalam hal cita-cita. 2002: 19-30): 1) Penyalahgunaan obat-obata n terlarang. Remaja mu lai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa. menggunakan obatobatan terlarang. Tampak bahwa hal ini dipengaruhi oleh kurangnya keterampilan meng hadapi . Kemarahan. remaja yang sudah pada ambang remaja ini mulai berpakaian dan bertindak seperti orang-orang dewasa. rasa sakit hati. dan perasaan kecewa ini akan lebih mendalam lagi jik a ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. minum minuman keras. 8) Masa remaja s ebagai ambang masa dewasa Meskipun belumlah cukup. Cita-cita yang tidak realistik ini tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain disekitarnya (keluarga dan temantem annya) yang akhirnya menyebabkan meningginya emosi. Remaja menggunakan obatobatan terlarang sebagai suatu cara untuk me ngatasi stres. yaitu m erokok.

pengaruh teman sebaya yang tidak dapat ditolak dan mempunyai pengaruh yang berat. komitmen yang rendah. dan disiplin yang tidak efektif dari orang tua. prestasi yang rendah pada kelas-kelas awal. Umumnya bunuh diri dik aitkan dengan dengan faktor-faktor saat ini yang menegangkan. menyebabkan semua keingintahuan mereka terhadap seks disembunyikan. 4) Bunuh diri pada remaja. nilai rapor yang rendah. pengendalian diri rendah. sehingga lebih berpeluang untuk mengalami kegagalan dalam peran-peran orang dewasa. kurangnya pe mantauan. atau kehamilan yang tidak diinginkan. serta kualit as lingkungan dengan tingginya kejahatan. 2) Ke nakalan remaja. Kurangnya ke terbukaan dan pendidikan tentang reproduksi sehat serta anggapan remaja bahwa or ang tua mereka tidak akan memahami mereka.46 masalah secara kompeten dan pengambilan keputusan yang kurang bertanggungjawab. Keingintahuan ini malah dibagi dan dicoba-coba dengan teman-teman yang samasama tidak tahu tentang pendidikan seks dengan dalih kemandirian. dukungan. tanpa perkembangan sosio-emosional yang memadai. harapanharapan bagi pendidikan yang rendah. seperti: kehilanga n pacar. Sebab- . 3) Kehamilan pada remaja. 5) Gangg uan-gangguan makan. Ini kebanyakan disebabkan oleh karena remaja mempunyai identitas negatif. Remaja seringkali memasuki peran orang dewasa seperti dalam pernikahan dan peker jaan secara prematur. Anoreksia nervosa dan bulimia terutama menimpa perempuan sel ama masa remaja dan awal dewasa.

atau obat-obatan terlarang. . 2002 : 31-33): 1) Banyak orang dewasa menghargai kemandirian remaja. antara lain adalah (santrock. dan fisiologis. dan cara mengatasi kekangan orang tua. cukup membingungkan. Remaja dianggap lugu secara seksual tetapi memiliki pengetahuan yang banyak tentang seksual dari media. penolakan seksualitas. Pe nderita gangguan makan ini biasanya memiliki keluarga yang memberi tuntutan yang tinggi bagi mereka untuk berprestasi. Faktor sosia l yang mendorong adalah tren tubuh kurus yang digemari akhir-akhir ini. psikologis. keinginan akan individualitas. namun orang-orang dewasa itu sendiri merupakan peny alahguna obatobat terlarang dan perokok berat. tembakau. 3) Undang-u ndang melarang remaja menggunakan alkohol. Ketidakmampuan memenuhi standar orang tua ini menyebabkan mereka tidak mampu mengendalikan kehidupan mereka sendiri. 2) Pesan-pesan seksual masyarakat kepada remaja. Faktor p sikologis meliputi motivasi untuk menarik perhatian lawan jenis.47 sebabnya meliputi faktor-faktor sosial. Citr a ideal masa remaja dan pesan-pesan ambivalen masyarakat kepada remaja tidak jar ang akan menambah persoalan bagi para remaja. secara khusus. banyak orang dewasa memberikan cap dan mengkritik remaja atas penggunaan obat-a batan terlarang oleh remaja. tetapi berkeras bahwa remaja tidak mempunyai kedewasaan untuk mengambil keputusan-keputusan send iri yang kompeten tentang hidup mereka.

yang dua lainnya adalah id dan ego. 2002: 8). Dalam teori psikoanalisis-klasik Freud. 2002: 288). Empat pe rubahan yang paling menonjol pada perempuan ialah menarche. sedangk an empat perubahan tubuh yang paling menonjol pada laki-laki adalah pertumbuhan tinggi badan yang cepat. dan pertumbuhan rambut kemaluan. berkembang ketika anak meng atasi konflik oedipus dan mengidentifikasi diri dengan orang tua yang berjenis k elamin sama karena ketakutan akan kehilangan kasih sayang orang . pertambahan tinggi b adan yang cepat. supe rego pada masa anak-anak sebagai cabang kepribadian. 1) Perkembangan fisik Perkembangan fisik remaja didahul ui dengan perubahan pubertas. Meskipun bervariasi. satu aspek remaja bersifat universal dan memisahkannya dari tahap-tahap perkembangan sebelumnya. pertumbuhan buah dada. Freud (Santrock. pertumbuhan testis. dan pertumbuhan rambut kemaluan (Santrock. Perkembangan pada masa remaja Periode yang disebut masa remaja akan dialami o leh semua individu. dengan teori p sikoanalisisnya menggambarkan superego sebagai salah satu dari tiga struktur utama kepribadian.48 g. Awal timbulnya masa remaja ini dapat melibatkan perubahan-pe rubahan yang mendadak dalam tuntutan dan harapan sosial atau sekedar peralihan b ertahap dari peranan sebelumnya. pertumbuhan penis. Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan ke rangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja.

49 tua dan ketakutan akan dihukum karena keinginan seksual mereka yang tidak dapat diterima itu terhadap orang tua yang berbeda jenis kelamin pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak. . moral. yang dialami secara tidak sadar (di luar kesadaran anak). dan citra diri. Mereka disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka. Dibutuhkan waktu untuk mengintegrasikan perubahan dramatis ini menjadi perasaan memiliki identitas diri yang mapan dan penuh percaya diri. Karena mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis. Tidak seperti masa kan ak-kanak yang pertumbuhan fisiknya berlangsung perlahan dan teratur. remaja awal yang tumbuh pesat pada waktu-waktu tertentu cenderung merasa asing terhadap dir i mereka sendiri. 2) Perkembangan psikis Perkembangan remaja secara psikologis yang dimaksud di sini meliputi perkembangan minat. Yaitu anak-anak me nyesuaikan diri dengan standar-standar masyarakat untuk menghindari rasa bersala h. Selanjutnya anak mengalihkan permusuhan ke dalam yang sebelumnya ditu jukan secara eksternal kepada orang tua berjenis kelamin sama. Permusuhan yang m engarah ke dalam ini sekarang dirasakan sebagai suatu kesalahan yang patut dihuk um. penghukuman diri sendiri atas suatu kesalahan bert anggung jawab untuk mencegah anak dari melakukan pelanggaran. Dalam catatan perk embangan moral psikoanalisis. anak-anak menginterna lisasikan standar-standar benar dan salah orang tua yang mencerminkan larangan m asyarakat.

seperti ketidakberaturan suasana hati. yang didukung oleh kemantapan kehidupan batinnya. an ak muda belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan. Remaja berus aha keras melakukan adaptasi terhadap tuntunan lingkungan hidupnya. Remaja pria merasa punya dorongan s eksual yang lebih besar setelah pubertas. Anak remaja ini kemudian mulai memekarkan sikap hidup kritis terhad ap dunia sekitar. ia berusaha melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama dengan orang tua dan obyek-obyek cintanya. dan digantikan dengan re spek terhadap pribadi-pribadi lain yang dianggap lebih memenuhi kriteria . namun karena ini pula mereka merasa kh awatir atau malu jika tidak dapat mengendalikan respon atas dorongan seksual (Mu ssen. Diantaranya. lalu ia berusaha membangun perasaan atau afeksi baru karena menemukan identifikasi denga n obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obye k yang lama. iritabilitas. Perkembangan biologis di atas menyebabkan timbulnya peruba hanperubahan tertentu.50 Perempuan pasca-menarche cenderung agak lebih mudah tersinggung dan mempunyai pe rasaan negatif. dan depresi sebelum menstruasi atau sewaktu menstruasi. Secara psikol ogis perkembangan tersebut menyebabkan anak remaja dihadapkan pada banyak masalah baru dan kesulitan yang kompleks. penilaian ya ng amat tinggi terhadap orang tua kini makin berkurang. baik bersifat fisiologis maupun psikologis. 1994: 489-490).

Untuk menjadi dewasa dan tidak hanya dewasa secara fisik. logis dan idealistis. remaja s ecara bertahap harus memperoleh kebebasan dari orang tua. 2002: 10). serta cenderung menginterpretasikan dan meman tau dunia sosial (Santrock. 4) Perkembangan sosial Salah satu tugas p erkembangan yang tersulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyes uaian sosial. pemikiran orang lain.51 afektif-intelektual remaja sendiri. menyesuaikan dengan pe matangan seksual. Kuantitatif artinya bahwa remaja mampu menyelesaikan tugas-tugas intelektual dengan lebih mudah. dan membina hubungan kerjasama yang dapat dilaksanakan dengan teman-teman sebayanya. Dalam proses ini remaja secara bertahap mengembangkan sua tu filsafat kehidupan dan pengertian akan identitas diri (Mussen. 1994: 496). 3) Perkembangan kognisi Kemampuan kognitif pada masa remaja berkembang secara kuantitatif dan kualititatif. Dikatakan kualitatif dalam arti bahwa peru bahan yang bermakna juga terjadi dalam proses mental dasar yang digunakan untuk mendefinisikan dan menalar permasalahan (Mussen. . lebih cepat dan efisie n dibanding ketika masih kanak-kanak. 1994: 493). dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka. Pemikiran remaja ya ng sedang berkembang semakin abstrak. Contohnya adalah pribadi-pribadi ideal berwu jud seorang guru atau pemimpin. Remaja menjadi lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri.

Sikap remaja Sikap menur ut Mappiare (1982: 58) adalah kecenderungan yang relatif stabil yang dimiliki se seorang dalam mereaksi (baik reaksi yang positif maupun negatif) yang merupakan suatu produk pengamatan dari pengalaman individu secara unik terhadap dirinya se ndiri. terutama sikap sosial yang ber bungan dengan teman sebaya. Pada masa remaja. orang lain. sika p remaja yang menonjol adalah dalam sikap sosial. minat. dan tingkah lak u remaja dibandingkan dengan pengaruh keluarga. Kegiatan dengan sesama jeni s ataupun dengan lawan jenis biasanya akan mencapai puncaknya selama tahun-tahun tingkat sekolah menengah atas (Hurlock. Remaja juga berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. Semua perubahan yang terjadi dal am sikap dan perilaku sosial. yang paling menonjol terjadi di bidang hubungan he teroseksual. 1999: 214).52 Pada masa ini remaja cenderung menghabiskan waktu di luar rumah dan lebih bergan tung pada teman-temannya. Dalam waktu yang singkat remaja mengalami perubahan yang bertolak b elakang dari masa kanak-kanak. benda situasi atau kondisi sekitarnya. Teman sebaya mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap. Sikap remaja ini berkembang setelah remaja mengenal adanya kepentingan dan kebutuhan yang sama. Sikap penyesuaian diri (conform) dengan . h. yaitu dari tidak menyukai lawan jenis sebagai tem an menjadi lebih menyukai teman dari lawan jenisnya. penampilan.

Freud menyatakan bahwa seorang anak dilahirkan den gan dua macam kekuatan biologis. i. 2001: 11-12 ). Kalau “ich” tidak berhasil untuk mengkompromikan tuntutan “es” dan tuntutan “ueber ich” ma a nafsunafsu dari “es” ditekan secara tidak sadar. Kekuatan ini “mengu asai” semua orang atau semua benda yang berarti bagi anak (Monks. Hal ini karena remaja sangat takut jika dikucilka n atau terisolir dari kelompoknya (Mappiare. maka muncullah das ich (a ku) sebagai penentu diri. Perilaku seks bebas Menurut teori psikodinamika. pada perkembangannya anak berhadapan dengan realita di sekelilingnya h ingga terpaksa mengadakan kompromi (prinsip realitas). Namun. Hal ini berarti bahwa nafsu- . Pemuasan nafsu ditunda sampai pada saat yang sesuai dengan realita dan kadang pemuasan nafsu tersebut diubah bentuknya hingga dapat diterima oleh norma reali tas (Monks. Karena pengaruh lingkungan terutama orang tua. baik terhadap dunia luar maupun terhadap das es sendir i.53 teman sebayanya akan tetap dipertahankan meskipun timbul pertentangan dengan ora ng tua karena perbedaan nilai. Pada saat kanak-kanak das es mendorong anak untuk memuaskan nafsu (prinsip kenikmatan ). peraturan masyarakat. ajaran ag ama inilah yang mengatur tingkah laku “ich” dan mengatur tuntutan yang datang dari “es”. terben tuklah “das ueber-ich”. 2001: 11). 1982: 5859). yaitu eros dan nafsu tanatos. “ueber-ich” seperti norma-norma.

akan tetapi pengaruhnya masih ada secara late n. namun Freud juga dapat menjelaskan bahwa teori libid onya sebagai hal yang dapat dipahami mekanismenya pada masa kanak-kanak sebagai seksualitas infantil yang secara kualitatif sangat berbeda dengan seksualitas de wasa.54 nafsu tadi tidak dimanifestasikan. menurut Supardi (2005: 1-10). Keikatan erotik dan . Seseorang kemudian tanpa diketahui alasannya melakukan hal-hal menyimpang. Pada tahun pertama kehidupan manusia (0-18 bulan). Libido sebagai instink manusiawi didefinisikan Freud sebagai keku atan kuantitatif yang mengukur intensitas dari dorongan seksual. Instink tersebu t merupakan representasi dari perlawanan aspek psikis terhadap sumber biologis y ang berasal dari diri manusia. se perti melakukan seks bebas. peran stimuli ekstern al dapat langsung dipahami. Sependapat dengan teori psikoanalisa Freud. saluran kepuasan libidinal nya adalah melalui mulut (fase oral) dan pemuasan terjadi dengan melakukan stimu lasi sendiri. Libido tersebut dapat distimulasi oleh kekuatan-k ekuatan di luar diri manusia. Perkembangan tahapan seksual pada laki-laki dan perempuan dinyatakan sebagai momen-momen kontributif dalam pemahaman seksua litas manusia. Untuk kehidupan masa dewasa. Kesamaan keduanya terletak pada fakta akan adanya rasa sakit dan nikmat ya ng bisa terjadi sebagai respon terhadap rangsangan spesifik dari instink tersebu t. perkembangan perilaku seksual pada masa dewasa berawal dar i potensi-potensi yang tidak terdiferensiasi yang terjadi sejak masa kanak-kanak sebagai suatu proses yang kompleks.

Pada masa toilet training. kecemasan. Salah sa tu perilaku yang dituntut oleh dunia dewasa adalah pengendalikan fungsi kandung kemih dan organ pengeluaran feses. Meskipun begitu. Aktivitas pengeluaran dan pengendalian pengeluaran feses merupakan sumber kenikmatan ters endiri. Perbedaan perlakuan terhadap bayi lakilaki dan perempuan ini memberikan efek cetakan spesifik dalam pembentukan keprib adian anak. sedangkan orang t ua mengajarkan bahwa . anak belajar untuk mengasosiasikan genitalia dengan kebersihan dan kejorokan. orang tua sudah membuat perbedaan perlakuan ter hadap bayi laki-laki dan bayi perempuan.55 kenikmatan dari stimuli diri dan relasi dengan lingkungan dipenuhi oleh kepekaan . terdapat kesamaan pengalaman erotik dan representas i dari objek-objek yang diinternalisasikan dalam kehidupan mental baik bagi bayi laki-laki maupun bayi p erempuan. Fase ini disebut fas e anal. di mana dorongan libidinal terfokus pada area anus atau dubur. Karena bayi belum dapat menyampaikan perasaannya. Ini erat kaitan nya dengan peluang perkembangan psikoseksual yang normal yang akan dilalui oleh anak tersebut dikemudian hari. anak akan mulai memahami dunia dewasa. dan ketidakpastian yang berkembang dalam diri anak. Pada masa ini anak belajar mengendalikan hal tersebut. perkembangan kemampuan bahasa dan otonomi psikomotorik. maka orang tua sebagai orang terdekatnyalah yang memperkirakan perasaan anak me lalui pendekatan deduktif dengan pemanfaatan hasil observasi perilaku bayi dan s ebagai lingkungan terdekat bayi. Pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-5 tahun).

Pada perkembangan psikoseksual yang optimal. Efek ini akan berperan dalam penyer taan konflik emosional di masa yang akan datang yang terkait dengan aktivitas pe mberian dan penerimaan dalam kehidupan sosial. Oedi pus complex pada anak laki-laki dan electra complex pada anak perempuan merupaka n drama segitiga antara anak dengan pasangan sejenis dan berlawanan jenis pada f ase ini yang menentukan identitas seksual anak di kemudian hari. anak . Baik laki-laki maupun perempuan pada saat yang bersamaan akan mempunya i fungsi ego yang optimal sehingga mampu mengelola dorongan-dorongan naluriah (i nstinktif) yang berperan dalam dirinya kelak. maka anak akan berkembang menjadi seorang yang independen dan memiliki hasil internalisasi super-ego yang optimal dalam f ungsinya. anak dapat belajar di sekolah dan bermai n dengan baik. kera s. Apabila p enanganan permasalahan ini dilakukan melalui pola asuh yang tidak sensitif.56 produk yang dihasilkan oleh organ-organ tersebut tidak baik dan kotor. Dua tahun terakhir dalam tahapan ini disebut fase genital. dan didominasi oleh sifat otoriter dari pihak orang tua maka perlakuan terseb ut akan memberikan efek traumatik pada anak. kegiatan dalam mempermainkan alat kelamin tetap merupakan suatu ancaman. Jika fase ini d apat diatasi dan dilalui dengan mulus. Masa itu disebut masa laten (5-11 tahun). di mana dalam periode i ni. Per tambahan usia menyebabkan keterlibatan orang tua terhadap masalah seksual menjad i lebih besar. anak memulai relasi khususnya dengan orang tua lawan j enis sebagai landasan kesehatan relasi dengan lawan jenis di kemudian hari.

secara umum perempuan sama dengan laki-laki. Masa selanjutnya adalah masa pubertas. tetapi inti dari interaksi sos ial pada perempuan adalah komitmen terhadap antisipasi peran heteroseksual sebag ai pacar. Bila oedipus complex tidak terat asi. istri. Mereka akan mengembangkan relasi dengan teman sejenis melalui berbag i pengalaman dan permainan dalam kegiatan ynag menarik perhatian. dan ibu. anak akan beralih da ri lingkungan keluarga yang aman ke lingkungan sekolah sebagai lingkungan sosial yang baru. dan ayah. suami. Pada masa ini. Pada masa pubertas. I katan yang kuat akan terbentuk antara permasalahan psikologis dengan kesadaran a kan organ seksual sebagai sumber kenikmatan. Berkaitan dengan perilaku sosial yang terb uka. ditandai dengan perkembangan ciri seksual sekunder yang memiliki penga ruh langsung pada dorongan intrinsik. sedangkan pada laki-laki.57 perempuan mulai mengkomunikasikan sikap-sikap seksual yang harus dikendalikan. maka remaja akan selalu di hadapkan pada keterikatan seksual dengan orang t ua . komitmen terhadap antisipasi peran heteroseksual sebagai pacar. kelenja r hormon seksual berkembang dan membuat dorongan seksual menjadi lebih kuat dan sering mengancam keutuhan fungsi ego seseorang. anak akan memil iki perasaan seksual dalam tingkatan yang minimum. Relasi homosos ial ini memberikan penekanan dan perbedaan hakikat laki-laki dan perempuan yang sebenarnya telah mereka peroleh melalui perbedaan perlakuan dan pengasuhan orang tua sesuai dengan jenis kelaminnya. Setelah melalui masa laten.

Deviasi seksual dapat dibagi atas dua kelompok. dalam menjalani relasi ini heterososial dengan kelompok Hal semacam merupakan pangkal dari peluang perkembangan disfungsi dan deviasi seksual pada masa dewasa kelak. yang mana ked uanya ini merupakan gangguan perkembangan psikoseksual.58 dari jenis kelamin yang berbeda. Dengan kata lain. sedangkan satyriasis dan nymphomania merupakan disfungsi seksua l yang disebabkan oleh keberadaan dorongan dan aktivitas seksual yang eksesif. atau perkosaan. sadisme. yaitu laki-laki atau perempuan dewasa atau sebaya yang berlawanan jenis. remaja laki-laki terhadap ibunya dan remaja per empuan terhadap ayahnya sehingga remaja tersebut mengalami kesulitan sebayanya. Disfungsi seksual adalah gangguan yang terkait dengan penyertaan a ktivitas dan dorongan seksual yang defisien dan eksesif. Kelompok yang pertama adalah deviasi seksual yang pada dasarnya memili ki pola biologis yang normal. objek seksualnya normal. . konflik seksual dan konflik neorotik akhirnya me rupakan manifestasi dari mekanisme psikologis dalam kehidupan manusia. U ntuk disfungsi seksual. Kelompok yang kedua adalah deviasi seksual yang pola seksualnya seperti homoseksual atau bestialitas. Impotensia seksual meru pakan suatu disfungsi seksual karena merupakan defisiensi dalam keinginan dan ak tivitas seksual. namun dalam kondisi antisosial antara lain seperti free sex yang akan diteliti pada skripsi ini.

baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. dan tidak wajar. dan dapat dilakukan secara bebas dengan banyak orang. tidak matang. . dilakukan dengan ter angterangan tanpa ada rasa malu sebab didorong oleh nafsu seks yang tidak terint egrasi. Free sex menurut Basri (2000: 10) merupa kan kegiatan seksual yang menyimpang. yang dimaksud seks bebas adalah hubungan seks secara bebas dengan banyak orang d an merupakan tindakan hubungan seksual yang tidak bermoral. Free sex ini biasa nya diawali dengan acara-acara yang cukup merangsang secara seksual dan pada tem pat yang dipandang “aman“ dari pengetahuan masyarakat. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis yang di lakukan pada p asangan tanpa adanya ikatan pernikahan.59 Free sex menurut Sarwono (1988: 8) didefinisikan sebagai perilaku hubungan seksu al yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan tanpa ikatan apa-apa selain suk a sama suka dan bebas dalam seks. Menurut Kartono (1997: 188). Keseluruhan definisi yang tersebut di ata s dapat disimpulkan bahwa perilaku seks bebas yang dilakukan oleh seseorang meru pakan hubungan yang didorong oleh hasrat seksual. yang dilakukan baik secara individual maup un bergerombol pada waktu dan tempat yang disepakati bersama. Pendapat lain yang dikemukakan Sarwono (2002: 137) bahwa yang dimaksud seks bebas adalah hubungan yang didorong oleh hasrat se ksual. tanpa adanya ikatan perkawinan.

yang akhirnya mengak ibatkan timbulnya seksualitas yang terlalu dini. Kartono (2005: 196). immoralitas seksual pada anakanak gadis pada umumnya bukanlah didorong oleh motif pemuasan nafsu seks se perti pada anak laki-laki umumnya. usia puber dan. 4) Immoralitas di rumah yang dilakuk an oleh orang tua atau salah seorang anggota keluarga. Sebab-sebab seks bebas Menurut Kartono (2005: 193-194). Tindak immoril yang dilakukan oleh gadis-gadis ini disebabkan oleh : 1) Kurang terkendalinya rem-rem psikis 2) Mele mahnya sistem pengontrol diri 3) Belum atau kurangnya pembentukan karakter pada usia pra-puber.60 j. Mereka biasanya lebih didorong oleh pemanjaan diri dan kompensasi terhadap labilitas kejiwaan yang disebabkan karena perasaan tidak senang dan tidak puas atas kondisi diri dan situasi lingkungannya. yaitu seksualitas yang terlalu cepat matang sebelum usia kemasakan psikis sebenarnya. adolensens. Maka tindakan immorilnya berlangsung secara liar dan tidak terkendali lagi. Anggota keluarga itu memp romosikan tingkah laku seksual abnormal kepada anak remaja. menjelas kan lebih lanjut perbuatan seks bebas yang dilakukan oleh remaja pada umumnya di sebabkan oleh disharmoni dalam kehidupan psikisnya. yang ditandai dengan : 1) Be rtumpuknya konflik-konflik batin 2) Kurangnya rem terhadap nafsu-nafsu hewani 3) Kurang berfungsinya kemauan dan hati nurani 4) Kurang tajamnya intelek untuk me ngendalikan nafsu seksual yang bergelora .

Sehingga anak mer asa sangat sengsara batinnya. Pola asuh keluarga yang otoriter atau or ang tua yang memberikan pendidikan seks dengan hanya memberikan laranganlarangan menurut ajaran agama dan norma-norma yang berlaku atau berupa kata-kata “tidak bo leh” tanpa adanya penjelasan yang lebih lanjut. kurangnya komunikasi dan tidak men gajak diskusi masalah seks yang ingin diketahui oleh anak. ayah ata u ibu lari. tidak bahagia. orang tua tidak membe rikan informasi yang sejelas-jelasnya dan terbuka akan segala sesuatu masalah se ks tanpa perasaan segan juga sangat tidak efektif untuk mempersiapkan para remaj a dalam menghadapi kehidupan dan pergaulannya yang semakin bebas. Ini malah akan semakin menjerumuskan remaja pada aktivitas seksual lebih dini. dan ada keinginan untuk memberontak .61 5) Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga. anggapan sebagian orang tua bahwa me mbicarakan masalah seks adalah sesuatu yang tabu dan sebaiknya dihilangkan adala h anggapan yang salah dan dapat menghambat penyampaian pengetahuan seks yang seh arusnya sudah dimulai dari segala usia. broken home. Sedangkan menurut Dianawati (2003: 7-10). . k. Faktor-fakto r yang mempengaruhi perilaku seks bebas Kartono (2005: 196-197) mengungkapkan ba hwa perilaku seks bebas dipengaruhi oleh : 1) Belum adanya regulasi atau pengatu ran terhadap penyelenggaraan hubungan seks dengan peraturan tertentu. kawin lagi atau hidup bersama dengan partner lain.

seperti : urbanisasi. termasuk mempe ngaruhi pola-pola seks yang konvensional menjadi keluar dari jalur-jalur konvens ional kebudayaan. yaitu emosi yang tinggi. l. P ada masa ini ada enam perubahan yang sama dan hampir universal. minat. dan komunikasi menyebabkan perubahan sosial yang demikian cepat pada hampir semua kebudayaan ma nusia. Perubahan sosial ini mempengaruhi kebiasaan hidup manusia. tetapi juga bisa menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan. demokratisasi fungsi wanita dalam masyarakat dan modernisasi. Karena perubahan sikap . ilmu pengetahuan. pendidikan. Seks bisa me mbangun kepribadian. pola perilaku. sehingga bertentangan dengan sistem regulasi seks yang konvens ional. Seharusnya perubahan sikap s erta perilaku yang dialami pada masa remaja selaras dengan perubahan fisiknya. Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas Secara awam. perubahan fisik. peran. indi vidu bisa dikatakan remaja sejak mulainya individu menunjukkan tanda-tanda peber tas dan kemudian dicapainya kematangan seksual. mekani sasi. telah dicapainya tinggi badan se cara maksimal. Pelaksanaan seks bebas bany ak dipengaruhi oleh penyebab dari perubahan sosial. 2) Perubahan sosial Perkembangan teknologi. dan terjadilah apa yang dinamakan seks bebas. alat kontrasepsi. 1999: 207).62 Dorongan seks begitu dasyat dan besar pengaruhnya terhadap manusia. dan pertumbuhan mental secara penuh. dan bersifat ambivalen te rhadap setiap perubahan (Hurlock.

Salah satu perilaku remaja yang berhubungan dengan masalah seksual yang banyak terjadi yaitu perilaku seks bebas. slogan. institusi. Thurstone (dikutip Wal gito. dan sikap ini harus sudah terdiri dari tiga k omponen sikap. 3. serta konatifnya. ide.63 inilah. baik yang ber sifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek-obyek psikologis. Pendekatan kognitif yang dipakai oleh Köhlberg akan selalu memper tanyakan bagaimana seseorang mengerti akan tanggung jawabnya terhadap lingkungan sosialnya dan bagaimana cara memandang tindakan yang seharusnya diambil bila me nghadapi masalah dalam situasi tertentu yang berhubungan dengan . maupun manusia. Afek yang positif yaitu afek senang yang ditunjukan dengan sikap menerima atau setuju. remaja dalam mengambil keputusan harus mempertimbangkan baik-buruk suatu tindakan yang akan dikerjakannya. afektif. sedangkan afek negati f ditunjukan dengan sikap menolak atau tidak senang. Keseluruhan disimpulkan ba hwa sikap remaja terhadap seks bebas adalah sikap menolak atau menerima perilaku seks bebas pada remaja. ya itu simbol. Hubungan Antara Penalaran Moral Dengan Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Penalaran moral menurut Köhlberg didasarkan pada pend ekatan kognitif. yaitu kognitif. 1991: 107) berpendapat bahwa sikap merupakan tingkatan afek. Perilaku seks bebas adalah perilaku hubungan seksual tanpa ikatan pernika han yang di lakukan secara bebas dengan banyak orang.

Adapun alasan mengapa penelitian menggunakan variabel sikap adalah karena sikap merupakan suatu prediktor akan terjadinya sua tu perilaku. Sikap yang negatif terhadap seks bebas akan menunjukkan tanggu ng jawab individu terhadap konsekuensi yang mungkin didapatkan dari masyarakat d isekitarnya. Jika penalaran moral (keyakinan)-nya berbeda dengan tindakan moralnya. penun daan kebahagiaan Tindakan Moral Kognisi : Penalaran Moral Pilihan Bagan 2. individu akan mengalami . Sikap seseorang terhadap seks bebas ditentukan oleh bagaimana penil aian individu terhadap seks bebas. Model hubungan antara penalaran moral dengan tindakan moral Seks beba s merupakan suatu tindakan moral yang ada di masyarakat. Hakekat moralitas tidak seluruhnya berpangkal pada orang l ain yang menentukan suatu tindakan seseorang.1. Jika sikap seseorang te rhadap seks bebas negatif berarti individu tersebut sudah melakukan salah satu t indakan moral yang ada di masyarakat Indonesia. Fungsi I Interpretasi dan seleksi prinsip II Pengambilan keputusan III Tindak lanjut (pertimbangan moral) Pertimbangan Pertanggungja waban/ rasa wajib IV Tindak lanjut (ketrampilan yang non-moral) Kontrol diri Misalnya : atensi. seperti yang dikatakan Köhlberg bahwa sebuah tahap perkem bangan penalaran moral berisikan keyakinan-keyakinan (belief) yang dengan cara t ertentu saling berhubungan satu sama lain. Selain itu. Dari penelitian ini diharapkan p erkembangan penalaran moral seseorang itu mempunyai pengaruh kepada sikapnya ter hadap seks bebas.64 lingkungan sosialnya.

moralitas ditentukan oleh kekuatan individu dalam hubungan. Tingkat III PascaKonvensional Tahap 6 Ciri : orientasi prinsip suara hati yang individual dan yang memiliki sifat komp rehensif logis dan universalitas. Individu akan berusaha untuk menjadikannya equilibrium. Gagasan mengenai timbal-balik mulai berkembang asal saling me nguntungkan (bertukar kebaikan). Sikap terhadap seks bebas tergantung pada hubungan individu dengan orang lain atau penilaian lingkungan terhadapnya. Sikap Belum tahu Tahap 1 Ciri : orientasi pada hukuman dan ganjaran serta pada kekuasaan fisik dan materi al. Hidup dinilai dalam hubungan hukum sosial atau religiusitas. Tingkat II Konvensional Tahap 4 Ciri : orientasi pada otoritas. keputusan suara hati dan pada prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri. persaman derajat dan martabat Sikap Sikap menerima atau menolak perilaku seks bebas dipengaruhi oleh pertimbangan ya ng bernilai bagi dirinya sendiri. Atau bersikap sesuai dengan harapan sosialnya. Sikap Sikap seseorang terhadap seks bebas lebih didasarkan pada hak-hak bersama dan uk uranukuran yang telah diuji sendiri secara kritis dan disepakati oleh seluruh ma syarakat. Sikap Kebutuhan atau dorongan seksual sudah ada. Hubungan antara perkembangan moral Kölhberg dan sikap terhadap seks beb as . Sikap Sikapnya menerima atau menolak perilaku seks bebas tergantung pada nilai hidup y ang dimiliki. Nilai tertinggi diberikan pada hidup manusia. Tahap 3 Ciri : orientasi “anak manis”. Tingkat I Pra-Konvensional Tahap 2 Ciri : orientasi hedonistis dengan suatu pandangan instrumental tentang hubungan -hubungan manusia. Sikap Belum tahu Bagan 2. Jika ini berhasil maka perkembangan moralnya akan setaraf lebih maju.2. hukum dan kewajiban untuk mempertahankan tata te rtib yang tetap (baik bersifat sosial ataupun religius) yang dianggap sebagai su atu nilai utama. terlepas dari semua pertimbangan lain. Hal ini karena untuk menghindari penghukuman diri Tahap 5 Ciri : orientasi kontrak-sosial dengan penekanan atas persamaan derajat dan kewa jiban timbal balik di dalam suatu tatanan yang ditetapkan secara demokratis.65 disequilibrium. berusaha mempertahankan harapan-harapan dan memperole h persetujuan dari kelompoknya yang langsung.

.

66 Jadi dapat dilihat dari bagaimana hubungan antara perkembangan moral dan sikap. Belief terhadap Tahap 6 seks bebas (orientasi hukuman asas etis) : Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 6 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 5 (orientasi kontrak sosial) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 5 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 4 (orientasi otoritas) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 4 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 3 (orientasi anak manis) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 3 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 2 (orientasi ganjaran) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 2 (equilibrium) Disequilibrium . Individu yang memiliki tahap perkembangan yan g lebih tinggi akan mempunyai sikap yang negetif terhadap seks bebas jika diband ingkan dengan individu yang memiliki tahap perkembangan yang lebih rendah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sikap terhadap seks bebas dapat diprediksi dari tahap perkembangan moralnya.

Berusaha Tahap 1 (orientasi hukuman) : Belief terhadap seks bebas Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai dengan tahap moral 1 Manusia berusaha menjadi equilibrium Tingkah laku masih dibawah tahap I (manusia merasa disequilibrium Bagan 2. Perkembangan moral Köhlberg .3.

Selain keyakinan akan konseku ensi dan sikap. Norma dalam penelitian ini adalah perkembang an moral dan niat individual-lah yang akan menentukan apakah ia akan melakukan s eks bebas atau tidak.4. Jika individu memiliki keyakina n yang negatif maka individu tersebut akan mempunyai sikap yang negatif dan bila mempunyai keyakinan yang positif mengenai seks bebas maka sikapnya juga akan po sitif. Keyakinan terhadap seks bebas. Hubungan antara keyakinan. Model hubungan antara keyakinan.67 Perilaku seks bebas dapat diprediksi dari sikap. . Perilaku ini nantinya akan menjadi umpan balik pada keyaki nannya akan seks bebas. norma subjektif dan keyakinan normatif akan mempengaruhi niat se seorang untuk melakukan seks bebas. norm a. sikap. intensi. baik itu yang positif maupun yang nega tif akan mempengaruhi sikap terhadap seks bebas. Sikap individu akan mempeng aruhi niatnya untuk melakukan perilaku seks bebas. dan perilaku Jika disesuaikan dengan topik penelitian ini maka gambar dapat dijelaskan sebaga i berikut. dan perilaku dapat digambarkan sebagai berikut. Keyakinan terhadap objek X Sikap terhadap Objek X Niat untuk melakukan sesuatu y ang berhubungan dengan Objek X Perilaku yang berhubungan dengan Objek X : Pengaruh : Umpan balik Bagan 2. yaitu akan menyetujui dilakukanya seks bebas. inte nsi. sikap.

da lam hal ini sikap terhadap seks bebas. dapat disimpulkan bahwa perilaku seks bebas dapat diprediksi dari sikap te rhadap seks bebas dan perkembangan moral seseorang berpengaruh pada sikapnya. Hipotesis Penelitian Ada hubungan negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di tinjau dari tingkat penalaran moral.68 Keyakinan akan konsekuensi dari perilaku seks bebas Sikap terhadap perilaku seks bebas Intensi untuk melakukan seks bebas Perilaku Keyakinan normatif tentang perilaku seks bebas Norma subjektif tentang perilaku seks bebas Bagan 2. B. . Keseluruhan pengertian dari hubungan anta ra penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah bahwa tinggi rendahnya penalaran moral akan mempengaruhi remaja dalam mengambil sikap dalam menghadapi perilaku seks bebas. yaitu semakin negatif sikap remaja terhadap perila ku seks bebas semakin tinggi tingkat penalaran moralnya. Semakin tinggi penalaran moral seorang re maja maka remaja tersebut akan bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan norma dan moralitas yang berlaku.5 Kerangka konseptual dalam memprediksi sikap remaja terhadap perilaku s eks bebas. Jadi.

Pengertian tersebut dapat peneliti simpulk an bahwa metode penelitian adalah suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian guna memperoleh pengetahuan atau memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi. bahwa metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti d alam mengumpulkan data penelitiannya. Penelitian korelasional karena dalam penelitian yang dilakukan berusaha mempelajari hubungan antara dua variabel. A. yang selanjutnya akan dideskripsikan dengan 69 . Dalam ha l ini hubungan antara tingkat penalaran moral dan sikap remaja terhadap seks beb as. sehingga dapat men ghasilkan sekaligus menguji hipotesis mengenai hubungan antar variabel.69 BAB III METODE PENELITIAN Suatu penelitian akan memperoleh hasil yang benar dan sesuai dengan yang diharap kan jika menerapkan metode penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarann ya secara ilmiah. Arikunto (2002: 151 ) menyatakan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adala h kuantitatif korelasional. sesuai dengan objek dan tujuan penelitian. Data-data numerikal atau angka yang telah didapatkan kemudian diolah dengan metode statistik. Jenis Penelitian Berhasil tidaknya suatu penelitian dalam menguji kebenaran s uatu hipotesis tergantung pada ketepatan dalam menentukan metode yang digunakan dalam penelitiannya.

yaitu: a. Semaki n banyak karakteristik siswa yang diisyaratkan sebagai populasi. dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan c. maka semakin sp esifik karakteristik populasinya dan semakin homogen pulalah populasinya. Popula si adalah keseluruhan siswa yang dikenai penelitian (Arikunto. Populasi dan Sampel Penelitian 1. . Ciri-ciri atau karakteri stik siswa yang diambil sebagai populasi dalam penelitian ini. Siswa k elas II (dua) SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 b. kelompok siswa dalam penelitian harus memiliki ciri ata u karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok siswa yang lain. Sedang berpacaran. hanya dip eroleh populasi sejumlah 96 siswa yang memenuhi kriteria sebagai populasi peneli tian. seda ngkan menurut Hadi (2000: 220) populasi merupakan sejumlah kelompok siswa yang s etidaknya memiliki satu ciri atau sifat khas yang sama. Disebab kan karena keterbatasan dan sulitnya birokrasi di lapangan penelitian. 2002 : 108).70 menguraikan kesimpulan berdasarkan menggunakan metode statistik tadi. 1997: 77). hasil angka yang diolah dengan B. Populasi Populasi didefinisikan sebagai kel ompok siswa yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar. Berusia 16-17 t ahun. Sebagai suatu populasi.

2002: 115).1 Jumlah siswa kelas II SMA kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 berusia 16-17 tahun yang sedang berpacaran Kelas 2 IPA 1 2 IPA 2 2 IPA 3 2 IPA 4 2 IPS 1 2 IPS 2 2 IPS 3 2 1PS 4 2 BHS 1 2 BHS 2 Jumlah 96 Total Jumlah 9 15 8 1 1 9 10 8 9 10 7 2. Sampel Sampel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebagian siswa atau w akil populasi yang diteliti (Arikunto.71 Tabel 3. sampel berarti sekelompok siswa yang bersifat sama dengan populasi. . Kesimpulan penelitian mengenai sampel nantinya akan digen eralisasikan terhadap populasi. Dapat disimpulkan bahwa. sedangkan menurut Hadi (2000: 220) sampel adalah sebagian siswa dari populasi yang karakteristiknya hendak di selidiki.

a. Namun. Identifikasi Variabel Variabel penelitian adalah objek penelitian yang bervariasi (Arikunto. yang masing-masing disebut variabel X da n variabel Y. dan biasa disebut penelitian populasi. Variabel X Penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang t ahun ajaran 2005/2006. b. tingkat konvensional.72 Besarnya sampel yang diambil dalam suatu penelitian apabila populasinya kurang d ari 100 (seratus) diharapkan bisa mengambil semua anggota populasi sebagai sampe l penelitian. sebagai variabel terikat. Penelitian ini memfokuskan dua variabel yang terdiri dari variabel penalaran moral remaja dengan variabel sika p remaja terhadap perilaku seks bebas . Variabel Penelitian 1. C. Variabel Y Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatr ian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006. Ada tiga tingkatan perkembangan m oral. Ini sesuai dengan besar populasi yang ada. 2002: 97). yaitu populasi hanya berjumlah 96 siswa . Dalam penelitian ini karen a populasinya kurang dari 100 (seratus). jika jumlah populasinya besar dapat diambil sampel antara 1 0%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto. sebagai variabel bebas. yaitu tingkat pra-konvensional. . maka tidak menggunakan sampel. 2002: 112). dan tingkat paskakon vensional.

orientasi hukum dan ketertiban. yang timb ul dari hati nurani dan bukan paksaan dari luar. alat ini sudah baku untuk mengukur perkembangan penalaran moral. orientasi prinsip etis yang universal. Penalaran moral Penalaran moral adalah kemam puan yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan penilaian atau pertimba ngan terhadap nilai-nilai perbuatan atau perilaku yang baik dan buruk.73 2. Skor yang didapat dari penjuml ahan skor kasar dipergunakan sebagai indeks dari perkembangan penalaran moral da lam penelitian yang bersifat korelasional. o rientasi hukum dan kepatuhan. Semakin rendah skor yang didapatkan . yang disertai pula dengan rasa penuh tanggung jawab. Tahapan-tahapan tersebut mel iputi orientasi relativitas instrumental. Skor tergantung pada suatu tahap dalam pro filnya yang menunjukkan tahapan penalaran subyek. b. Definisi Operasional Variabel a. orientasi kesepakatan antar pribadi. Tahap penalaran moral dalam penelitian ini mengacu pada ta hapan penalaran moral yang dikemukakan oleh Köhlberg. orientasi kelompok sosial yang legalitas. Pengungkapan pena laran yang universal menggunakan Defining Issue Test (DIT). Data yang diperoleh dari pengukuran tahapan penalaran moral berupa skor. Sikap remaja terhadap perilaku sek s bebas Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah kecenderungan pada para remaja untuk menyetujui atau menolak adanya perilaku seks bebas. Sikap terhadap perilaku seks bebas ditunjukkan oleh skor yang diperoleh pada skala sikap terha dap perilaku seks bebas.

yang da lam masing-masing cerita terdapat 17 (tujuh belas) pernyataan yang harus diisi o leh siswa. DIT ini dapat pula digunakan dalam bentuk ringkas. dan seba liknya semakin tinggi skor yang didapatkan oleh subyek maka semakin positif sika pnya terhadap perilaku seks bebas. 1991: 56). Penalaran M oral Remaja Untuk mengukur penalaran moral remaja digunakan angket tipe isian da ri Kohlberg. Metode dan Alat Pengumpulan Data Dalam penelitian ini ada dua variabel data y ang membutuhkan alat untuk pengukuran. Skala sikap terhadap seks bebas disusun berda sarkan komponen sikap sebagai berikut : a) Komponen kognisi b) Komponen afeksi c ) Komponen konasi D. yaitu tingkat penalaran moral dengan meng gunakan Defining Issue Test (DIT) yang berupa angket tipe isian dan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan menggunakan skala psikologi.74 oleh subyek maka semakin negatif sikapnya terhadap perilaku seks bebas. yaitu dengan 3 bua h cerita saja (Pratidarmanastiti. 1. Defining Issues Test (DIT) terdiri dari 9 (sembilan) buah cerita masalah sosial. ini untuk mengurangi kejenuhan yang dapat mempengaruhi kesungguhan siswa dalam . yang biasa disebut dengan nama Defining Issues Test (DIT).

sehingga tidak ada pembatasan waktu untuk .75 menjawab apabila disajikan lengkap 9 (sembilan) cerita. tanpa mengubah substansinya. Angket Pengungkap Pendap at Tentang Masalah-Masalah Sosial bukan merupakan tes kecepatan. Administrasi DIT dapat diberikan paling rendah pada usia 12-14 tah un. Perhatian Köhlberg mengutamakan pada pertimbangan penalaran moral siswa yang dikenai penelitian mengenai apa yang dilakukan. Dalam hal ini tahap 1 tidak diungkap karena penelitian tidak menggunakan siswa anak-anak kecil. Dia membuat dilema-dilema terse but dengan tujuan untuk menemukan pertimbangan-pertimbangan siswa mengenai tinda kan apa yang akan dilakukan siswa apabila siswa berada dalam situasi seperti yan g dalam cerita atau pernyataan. karena alat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca (Pratidarmanastiti . Jawaban yang diberikan siswa yang dikenai penelitian diharapkan menunjukkan secara jelas adanya perbedaan dal am pandangan moral. maka peneliti mengganti nama alat tes DIT dengan “Angket Pengungkap Pendapat Tent ang Masalah-Masalah Sosial”. 1991: 56). Di mana siswa adalah anak-anak sekolah lanju tan yang berusia antara 16-17 tahun. Pada dasarnya DIT berpijak pada dilema-dilema moral tahap perkembangan moral yang dicetuskan oleh Köhlberg. di mana secara teoritis sudah tidak berada pada tahap 1. dalam penelitian ini peneliti menggunakan semua cerita untuk mengungkap perkembangan penalaran da n prinsip moral siswa. Agar dapat memenuhi tujuan sebagai alat untuk mengetahui moralitas. Namun. Perti mbangan-pertimbangan inilah yang menjadi indikator dari tingkat atau tahap perke mbangan moral siswa (Pratidarmanastiti. 1991: 62).

Namun. Akibat-akibat fisik dan tindakan menentu kan baik atau buruk tindakan ini. Tiap butir akan diberi nilai antara 1-6 berdasarkan 6 tahapan perkembangan moral menurut Köhlberg (1995: 81). Berdasarkan 6 (enam) pering kat pada masing-masing kasus tersebut selanjutnya dilakukan skoring. Pertama. Kemudian diberikan 17 (tujuh belas) pernyataan atau angket yang sudah dipergu nakan oleh Pratidarmanastiti dan diambil dari Köhlberg. Prosedur sk oring menurut Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah-Masalah Sosial dalam be ntuk panjang (9 cerita) adalah sebagai berikut : Cara penilaian Angket Pengungka p Pendapat Tentang Masalah-Masalah Sosial bentuk panjang adalah setiap pertanyaa n dalam angket dilema moral diperlakukan sebagai 1 butir aitem. selanjutnya siswa diminta memberikan pertimbangan pada lembar yang disediakan. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masal ah-Masalah Sosial dengan 9 (sembilan) buah cerita. Adapun teknik mengerjakan Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah-M asalah Sosial adalah sebagai berikut. yaitu sebagai berikut : Nilai 1: apabila jawaban siswa mengandung un sur kepatuhan atau menghindari hukuman.76 menjawabnya. dalam penyajiannya. . 1 991: 62). umumnya siswa menyelesaikanny a dalam waktu 60 menit dan dapat disajikan secara klasikal (Pratidarmanastiti. siswa membaca 1 (satu) cerita yan g diikuti dengan menentukan suatu keputusan (meskipun keputusan tidak diutamakan ).

yaitu : a. Tindakan benar cenderung dimengerti dari segi hak-hak manusia yang umum dan disetujui masyarakat Nilai 6 : apabila jawaban sis wa mengandung unsur atau prinsip abstrak. berpedoman pada universalitas dan logis.77 Nilai 2 : apabila jawaban siswa mengandung unsur timbal balik. atau rasa adil Nilai 3: apabila jawaban siswa mengandu ng unsur-unsur agar diterima lingkungan dengan bersikap “baik” atau “manis” Nilai 4 :apa bila jawaban siswa mengandung unsur melaksanakan kewajiban. bukan masalah kes etiaan. Karakteristik skala sebagai alat ukur psikolo gis. sesuai prinsip-prinsip etika yang dipilih sendiri. dan penghormatan kepada martabat manusia sebagai pr ibadi. hormat pada otoritas . 2. maka perlu adanya peraturan untuk mencapai ko nsensus atau persetujuan bersama. Tindakan benar diartikan sesuai dengan suara hati. kesamaan hak asasi manusia. Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Skala psikologi merupakan ala t ukur aspek atau atribut afektif. dan universal mengenai keadilan. rasa terimakasih. Siswa yang akan dikenai penelitian tidak mengetahui arah jawaban yang dikehendaki oleh pertanyaan yang diajukan meskipun siswa yang diukur . atau memelihara ketertiban sosial yang ada demi ketertiban itu sendiri Nilai 5 : apabila jawaban siswa mengandung unsur kesadaran yang jelas bahwa nilai-nilai dan pendapat pribadi itu relatif. etis.

b. Sedangka n kelemahan dari skala psikologi antara lain adalah a. Berisi banyak aitem karena atribut psikologisn ya diungkap secara tidak langsung lewat indikator–indikator perilaku sedangkan ind ikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem. c. Mengidentifikasi kawasan ukur dengan memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari ko nstrak atribut psikologi yang hendak diukur b. maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. Hasil ukur skala psikologi harus teruji reliabilitasnya secara psikometris. 2003: 5 . Merumuskan indikator-indikator perilaku .78 memahami pertanyaan atau pernyataannya. 2003: 4).7). sehingga jawaban merupakan proyeksi dari perasaan atau kepribadiannya. Unt uk meminimalkan kelemahan-kelemahan skala psikologi seperti yang disebutkan di a tas. Semua jawaban dapat diterim a sepanjang diberikan secara jujur dan sungguhsungguh (Azwar. Satu skala psikologi hany a bisa untuk mengukur satu atribut tunggal (unidimensional) b. Membuat kawasan ukur dengan berda sarkan pada konstrak yang didefinisikan oleh teori-teori yang berkaitan dengan p enelitian c. Validitas dari skala psikologi ditentukan oleh kejel asan konsep yang hendak diukur dan operasionalisasinya (Azwar. Ini karena relevansi konteks kalimat yang biasa digunakan sebagai stimulus dalam skala psikologi lebi h terbuka terhadap error c.

Menentukan format stimulus yang akan digunakan dan berkaitan dengan penskalaa n serta penentuan skor e. Menampilkan format skala yang menarik. skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek sikap r emaja terhadap perilaku seks bebas. Membuat blue print yang akan digunakan untuk menyusun aitem f. Untuk skala sik ap remaja terhadap seks bebas. di mana model Likert ini merupakan penskalaan pernyataan yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar. aspek psikis. 19 97: 98). Melakukan uji coba aitem atau skala psikologi kepada responden penelitian h. Melakukan seleksi aitem M elakukan pengujian reliabilitas k. yaitu item yang berben tuk pernyataan positif atau favorable dan item yang berbentuk pernyataan negatif atau unfavorable. Skala ini terdiri dari dua kelompok item.79 d. j. Melakukan review atau melakukan periksaan ulang aitem yang telah dituli s g. da n aspek sosial. Dalam penelitian ini untuk menentukan skor menggunakan penska laan model Likert. yaitu aspek fisik/ biologi. tanpa mempersulit responden untuk memb aca dan menjawab serta melengkapi dengan petunjuk pengerjaan skala psikologi Ska la psikologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap remaja terh adap seks bebas untuk mengukur sikap remaja terhadap seks bebas. . Melakukan analisis aitem yang telah diujicobakan i.

KR ITERIA Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Pernyataan Favorabe l 4 3 2 1 Pernyataan Unfavorabel 1 2 3 4 Guna menyusun dan mengembangkan instrumen pada skala sikap remaja terhadap peril aku seks bebas. yaitu sangat setuju (SS). S = 3. tiap butirnya disediakan empat ke mungkinan jawaban.2 Kriteria Dan Nilai Alternati f Jawaban Pada Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas No 1.80 Skala dalam penelitian ini berbentuk tertutup. sutuju (S). TS = 2. Tabel 3. tidak setuju (TS) dan s angat tidak setuju (STS). STS = 4. S = 2. STS = 1. Subyek diminta untuk memilih salah satu dari empat kem ungkinan jawaban. 2. Blue print tersebut dibuat untuk variabel Y. yaitu s ikap remaja terhadap perilaku seks bebas. maka peneliti terlebih dahulu membuat blue print yang isinya mem uat tentang indikator dari sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang dapat memberikan gambaran mengenai isi dan dimensi kawasan ukur yang akan dijadikan ac uan dalam aitem penelitian. TS = 3. 4. sedangkan penilaian untuk butir unfavorable adalah SS = 1. Penilaian untuk favorable adalah SS = 4. 3. Kriteria dan nilai alternatif jawaban untuk skala sikap remaja terhadap pe rilaku seks bebas terdapat pada tabel 3 . .

29 44 30. Keadaan dorongan seksual terh adap tingkah laku seksual 2.35.48.60 . Butir Unfavorable Aspek Biolo gis Indikator 1.52. 36 46 13 10 47.41 42. 5. 34. 15 16.3 Blue Print Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas No.39 40.49 .5 3 54. Minat remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. 12 13. 14.7 Jumlah 10 Psiko logis 11.50 51. Pengaruh l ingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 17. 56 57.43 45 32. 19 20 21. 31 37.81 Tabel 3. Pand angan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat Kognitif 1 Afektif 2 konatif 3 No. Pelaks anaan minat seksual 4. Butir Favorable kogniti afektif konatif f 4.55. Sikap dan perilaku menghormat i orang lain 7. 28. 18. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. 22 23 13 24 25 26 27.38.58 59.33. 9 10 6. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. Citra diri (penilaian terhadap diri 5. 8.

65 66.96 97 98.78.76 77.61. 85.88 89 90 91 92 93 7 94 95.67 68.86 13 87.84.64.62 16 63.99 100 101 . 70 71 72 73 11 Sosial 74 75.81 82 83.69. 79 80.

8 Jumlah 18 17 19 17 13 17 101 .

Suatu alat ukur dapat d ikatakan valid apabila alat ukur tersebut mempunyai ketepatan atau kecermatan da lam melakukan fungsi ukurnya dan memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar. Teknik korelasi yang digunakan . Yang berarti mengkorelasikan nilai aitem dengan nilai totalnya. 2002: 147). 1. memakai internal validity (Arikunto. 2001: 184). Val iditas dan Reliabilitas Angket Pengungkap Pendapat Tentang MasalahMasalah Sosial Untuk mengukur validitas Angket Pengungkap Pendapat Tentang MasalahMasalah Sosi al dari Köhlberg. Cara yang akan digunakan untuk mengetahui indeks validitas dalam penel itian ini adalah dengan cara mengkorelasikan antara skor yang diperoleh dari has il penjumlahan dengan semua skor item. yang berarti t es ini andal. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Setiap penelitian diharapkan dapat mempe roleh hasil yang benar-benar obyektif.82 E. Untuk mengu ji reliabilitasnya dengan Alpha Cronbach (Azwar. 2.830. Oleh karena itu alat ukur ya ng digunakan harus memiliki validitas dan reliabilitas sebagai alat ukur. Validitas dan Reliabilitas Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstrak. 2001: 6). yaitu penelitian tersebut dapat menggamba rkan keadaan yang sebenarnya dari masalah yang diteliti. Angket Pengungkap P endapat Tentang Masalah-Masalah Sosial telah digunakan oleh Pratidarmanastiti (1 991: 64) pada siswa SMA se-Yogyakarta dan didapatkan rtt = 0. yaitu apabila t erdapat kesesuaian antara bagian–bagian instrumen dengan instrumen secara keseluru han.

2002: 162) Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar. dengan rumus sebagai berikut : rxy= N (ΣXY ).ΣY 2 ) − (ΣY ) 2 } (Arikunto. Un tuk menguji tingkat reliabilitas skala. digunakan teknik Alpha Cronbach (Azwar. 2001: 184). dengan rumus sebagai berikut : Κ α = Κ − 1 Σ j 2 1 − x 2   £ £ £ £ £ eter ng n : = oefisien reli bilit s Alph j = V ri ns skor tot l = Bil ng n konst n j2 x2 1 = V ri ns skor bel h n ke   Keterangan : rxy XY X Y Y2 N = Koefisien korelasi antara skor item dengan skor t otal = Jumlah perkalian antara skor item dengan skor total = Jumlah skor masing masing butir = Jumlah skor total = Jumlah skor masing masing butir kuadrat = Jum lah subyek   ¡ ¡ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ ¢ £ £ £ £ ¢ .(ΣX )(ΣY ) { N .ΣX 2 ) − (ΣX )2 }{( N . 2 001: 4). selama aspek yang diukur dalan diri subjek memang belum berubah.83 adalah teknik korelasi product moment dari Pearson. Hasil dari pengukuran hanya bisa dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang r elatif sama.

y itu deng n menggun k n rumus korel si Pe rson. ngk ngk tersebut men unjuk n nil i t u h rg . t tistik bersif t univers l. Metode n lisis d t y ng digun k n d l h n lisis st tistik. 2000: 22). deng n rumus: £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ .84 Uji v lidit s d n reli bilit s ngket pengungk p pend p t tent ng m s l hm s l h sosi l d n sk l sik p rem j terh d p peril ku seks beb s p d peneliti n ini dil kuk n p d sisw kel s II (du ) t hun j r n 2005/2006 di MA es tri n 1 e m r ng b ik berjenis kel min perempu n m upun pri y ng p d s t peneliti n ber usi 16 17 t hun d n sed ng menj lin su tu hubung n p c r n. elebih n metode st tistik untuk n lisis d t d l h : 1. D l m peneliti n ini d t y ng k n dip eroleh k n di n lisis untuk menguji hipotetis d tid kny korel si nt r pen l r n mor l deng n sik p rem j terh d p pol peril ku seks beb s. sejuml h 25 sisw s eb g i subjek uji cob . H l ini dil kuk n deng n mempertimb ng k n f ktor kes l h n (H di. sehingg unsur unsur s ubyektif d p t dihind ri. t tistik bersif t objektif. d l m rti semu peneliti n menggun k n ini. t tistik bekerj deng n ngk ngk . 3. deng n rti l in st tistik seb g i l t penil i n tid k d p t berbic r l in kecu li p d ny . 2. Metode An lisis D t An lisis d t d l h c r y ng digun k n d l m mengol h d t y ng diperoleh. sehingg did p tk n su tu kesimpul n. F.

Menentukan signifikansi etelah diketahui kore lasi product moment dengan angka kasar. Taraf signifikansi yang peneliti gunaka n adalah 5% yang berarti peneliti mempunyai taraf kepercayaan 95%. Memasukkan data dari tabel ke dalam rumus korelasi product moment untuk menentukan koefisien korelasi 3. 2000: 294) (ΣΥ )2 ΣΧ ΣΥ − Ν Ν Keterangan: RXY X Y = Koefisien korelasi antara X dan Y = kor X = kor Y Langkah langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Harga rhitung yang diperoleh melalui rumus product moment dikonsultasikan d engan harga rtabel agar hasil koefisien korelasi (harga rhitung) dapat memberi j awaban secara objektif terhadap diterima atau tidaknya hipotesis yang diajukan d alam penelitian ini. Membuat tabel kerja kor elasi 2. jika rhitung yang diperoleh dari perhitungan product moment lebih kecil d ari rtabel maka hipotesis kerja ditolak. ebal iknya.85 rΧΥ = ΣΧΥ − (ΣΧ)(ΣΥ ) 2 (ΣΧ)2 (Hadi. maka selanjutnya menguji taraf signifika nsi. Apabila rhitung yang diperoleh dari perhitungan product mom ent sama atau lebih besar dari harga rtabel maka hipotesis kerja diterima. ¡ ¡ ¡ ¡   .

etelah diketahui validitas dan reliabilitas instrumen tersebut maka item ka la ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas dan Angket Pengungkap Pendapat Tent ang Masalah masalah osial yang sahih dapat digunakan untuk mengambil data. yaitu dengan menggunakan tatistical Program for ocial cience ( P ) fersi 10 . ji oba Instrumen 1. dalam hal ini kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas dan Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osia l.86 Perhitungan analisis data dalam penelitian ini dihitung dengan bantuan komputer. kala sikap remaja terhadap perilaku seks beb as kala ini mengungkap tentang sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. yaitu : a. 1 for window’ 00. kala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ini terdiri dari 101 i tem yang terdiri dari 47 item favorable dan 54 item unfavorable. Pene litian yang dilakukan ini menggunakan skala psikologis dan angket untuk pengambi lan data penelitiannya. G. ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¡ ¥ ¡ ¡ ¡ ¤   . Pelaksanaan ji oba Instrumen ebelum instrumen peneli tian digunakan peneliti memandang perlu mengadakan uji coba instrumen agar benar benar diketahui kesahihan alat ukur. ikap remaja terhadap perilaku seks bebas diukur dengan menggunakan skala psikologi y ang disusun berdasarkan aspek aspek terjadinya sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas.

87 kala sikap ini merupakan skala tertutup, di mana untuk aitem favorable penilaia nnya bergerak dari angka 4 yang berarti angat etuju ( ), 3 berarti etuju ( ) , 2 berarti Tidak etuju (T ), dan 1 untuk angat Tidak etuju ( T ). ntuk aite m unfavorable berlaku sebaliknya, yaitu angka 1 yang berarti angat etuju ( ), 2 untuk etuju ( ), 3 Tidak etuju (T ), dan 4 yang bearti angat Tidak etuju ( T ). ji coba penelitian ini berlangsung pada tanggal 7 April 2006 pada siswa MA Kesatrian 1 emarang. ji coba dilakukan pada 25 siswa sesuai dengan karakte ristik yaitu siswa MA kelas 2 (dua), sedang melakukan hubungan pacaran, dan tah u akan baik dan buruk suatu perbuatan. b. Angket pengungkap pendapat tentang mas alah masalah sosial ntuk mengukur penalaran moral remaja digunakan angket tipe isian dari Köhlberg, Defining Issue Test (DIT). yang biasa disebut dengan nama Ang ket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial. Angket Pengungkap Pendap at Tentang Masalah Masalah osial terdiri dari 9 (sembilan) buah cerita masalah sosial, yang dalam masing masing cerita terdapat 17 (tujuh belas) pernyataan yan g harus diisi. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial berpija k pada dilema dilema moral tahap perkembangan moral yang dicetuskan oleh Köhlberg. Agar dapat memenuhi tujuan sebagai alat untuk mengetahui moralitas, maka peneli ti mengganti nama alat tes DIT dengan “Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial”, tanpa mengubah substansinya.

 

¡

¡¡

¡

¤ ¡

¡

¡ ¡ ¡

¡

¡

 

¡ ¡¡

¡

¡

¡

¡

 

¡

¡

¡ ¡

¤

 

¤

¡

¡  

¡

¡

 

¡

¡

¤

 

¡ ¡ ¡

¡

88 Prosedur skoring adalah sebagai berikut : 1. etiap pertanyaan dalam angket dile ma moral diperlakukan sebagai 1 butir aitem. 2. Tiap butir aitem akan diberi nil ai antara 1 6 berdasarkan 6 tahapan perkembangan moral menurut Köhlberg (1995: 8 1), ilai 1: apabila jawaban siswa mengandung unsur kepatuhan atau menghindari h ukuman. Akibat akibat fisik dan tindakan menentukan baik atau buruk tindakan ini . ilai 2 : apabila jawaban siswa mengandung unsur timbal balik, bukan masalah k esetiaan, rasa terimakasih, atau rasa adil. ilai 3: apabila jawaban siswa menga ndung unsurunsur agar diterima lingkungan dengan bersikap “baik” atau “manis”. ilai 4 : apabila jawaban siswa mengandung unsur melaksanakan kewajiban, hormat pada otori tas, atau memelihara ketertiban sosial yang ada demi ketertiban itu sendiri. il ai 5 : apabila jawaban siswa mengandung unsur kesadaran yang jelas bahwa nilai n ilai dan pendapat pribadi itu relatif, maka perlu adanya peraturan untuk mencapa i konsensus atau persetujuan bersama. Tindakan benar cenderung dimengerti dari s egi hak hak manusia yang umum dan disetujui masyarakat. ilai 6 : apabila jawaba n siswa mengandung unsur atau prinsip abstrak, etis, dan universal mengenai kead ilan, kesamaan hak asasi manusia, dan penghormatan kepada martabat manusia sebag ai pribadi. Tindakan benar diartikan sesuai dengan suara hati, sesuai prinsip pr insip etika yang dipilih sendiri, berpedoman pada universalitas dan logis.

¦

 

 

¦

¦

¡

¦

 

 

 

¦

¦

89 H. Hasil ji oba Instrumen ntuk alat uji coba alat pengukur data, dari 25 ekse mplar skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dan angket pengungkap pend apat tentang masalahmasalah sosial yang disebar semuanya memenuhi syarat, dalam arti semuanya dijawab dengan lengkap oleh subjek, sehingga semuanya dapat dianal isis. Hasil uji coba alat pengumpul data adalah sebagai berikut : 1. kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas ntuk uji coba skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menunjukkan hasil sebagai berikut : tabel nilai product mome nt dengan taraf signifikansi 5 % dan = 25 diperoleh rtabel = 0,396. Ini berart i apabila harga hitung korelasi lebih besar dari harga rtabel maka aitem dikatak an valid demikian sebaliknya. Pada penelitian ini untuk uji validitasnya digunak an teknik statistik dengan rumus korelasi product moment. ntuk uji signifikansi guna menentukan valid tidaknya skala ini adalah dengan cara membandingkan r hit ung dengan rtabel pada taraf signifikansi 5% dan = 25. Berdasarkan hasil uji c oba instrumen pada variabel sikap remaja terhadap perilaku seks bebas (variabel Y) dari 101 butir item yang ada ditunjukkan dengan tabel di bawah ini.

¡

¡

¤

¦

¤

¦

¤

¡

¥

¤

90 Tabel 3.4 ebaran ji oba Item I ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas o. Butir nfavorable Aspek Indikator Kognitif 1 Afektif 2 konatif 3 o. Butir F avorable kogniti afektif konatif f 4, 5, 8, 9 10 6,7 Jumlah 10

Biologis 1. Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikolo gis 2 . Minat remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. Pelaksanaan minat seksual 4. itr a diri (penilaian terhadap diri 5. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. ik ap dan perilaku menghormat i orang lain 7. Pengaruh lingkungan (orang tua dan te man sebaya) 8. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. Pandangan remaja terhadap kehid upan bersama masyarakat 11, 12 13, 14, 15 16, 17, 18, 19 20 21, 22 23 13 24 25 26 27, 28, 29 44 30, 31 37,38,39 40,41 42,43 45 32,33, 34,35, 36 46 13 10 47,48,49 ,50 51,52,5 3 54,55, 56 57,58 59,60

¡

¥

¦

¡

¡

¥

¤

¤ ¡

¦

61,62 16 63,64,65 66,67 68,69, 70 71 72 73 11

74 75,76 77,78, 79 80,81 82 83,84, 85,86 13 87,88 89 90 91 92 93 7 94 95,96 97 98,99 100 101

¡

osial

8 Jumlah 18 17 19 17 13 *) item yang gugur adalah nomor 24, 26, 30, 40, 45, 70, 71 , 75, 83, 87, 92 17 101

396). 81. 69. 13. edangkan item yang tidak valid menunjukkan rhitung terendah s ebesar 0. Penyebaran butir b utir skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas setelah 2 kali uji coba ter dapat pada lampiran 4. 50. Item yang tidak valid berjumlah 11 butir ya itu nomor 3. 77. 49.857 > 0. dan 5 butir item yang tidak valid yaitu n omor 13.626 > 0. 41.       ¤ ¦ ¦   ¡       .857. 42.857. ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. sedangkan hasil perhitungan pada lampiran 5.626 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 49. omor item yang tidak valid tersebut kemudian diubah atau diganti karena ada 3 item yang belum mewakili ata u jika dibuang akan menghilangkan indikator dalam instrumen.396 dan rhitung tertinggi sebesar 0. Pada uji co ba ke 2 didapatkan 6 butir yang valid. Butir butir yang memenuhi syarat kemudian disusun kembali ke urutan butirnya dan selanjutnya dapat digunakan sebagai alat pengumpul data yang sebenarnya. 71.396). 81. 77.91 Jumlah 90 item yang dinyatakan valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. omor item yang tidak valid tersebut kemudian dibuang d an tidak digunakan dalam penelitian karena sudah terwakili oleh item yang lain a tau dengan kata lain tidak menghilangkan indikator dalam instrumen. ji coba ke 2 untuk instrumen item item yang tidak valid tersebut dilakukan pada tanggal 28 April 2 006 pada 25 subjek yang sama yang dikenai uji coba skala sebelumnya. 42. ini menunjukkan rhitung lebih kecil dari rtabel ( 0. 79.

75 27 80 36. 84.21.69 35. 73 46 48.33 .77. 98 49. 97 61. itr a diri (penilaian terhadap diri 5.85. Pandangan remaja terhada p kehidupan bersama masyarakat Jumlah 53. 42 22.92 Tabel 3. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. Buti r Favorable kogniti afektif konatif f 81. Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikolo 2.95. 32.5 ebaran Butir Item kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas et elah 2 Kali ji oba o.65 88. 82. 101. 20. Butir nfavorable Aspek Indikator Kognitif 52 Afektif 16 konatif 40 o.94 66 6.79 55 13 9 68. ik ap dan perilaku menghormat i orang lain osial 7. Pelaksanaan minat seksual 4. Mi nat gis remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. 56 4 30.63 Jumlah 10 Biologis 1. Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 43 41. 99.91.93 ¡ ¡ ¥ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤ ¡ ¤ ¦ .70 23. 9 72 12 51 5 3 44.

38 39 31 86 10 19 7 47 57.7 15 1.89 8.71.28 11 25.67.37 11. 13 59. 2 74 62 .17.12 90.76.87 29 60 18. 54. 96 83 50 58 11 78 14.64 15 100.

8 17 16 17 16 13 17 96

93 2. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial ntuk uji coba it em Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial, item yang dinyatak an valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0,507 dan rhitung sebesar 0,882. I ni berarti rhitung lebih besar rtabel. Ini berarti dari 17 item angket pengungka p pendapat tentang masalah masalah sosial semuanya valid. Butir butir yang memen uhi syarat kemudian disusun kembali ke urutan butirnya dan selanjutnya dapat dig unakan sebagai alat pengumpul data yang sebenarnya. Hasil perhitungan selengkapn ya dapat dilihat pada lampiran 5 uji validitas dan reliabilitas angket pengungka p pendapat tentang masalah masalah sosial. I. Teknik Analisis Data Guna menguji hipotesis dalam rangka penarikan kesimpulan, m aka dilakukan analisis data. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk memperole h data empiris mengenai korelasi antara sikap remaja terhadap perilaku seks beba s dengan tingkat penalaran remaja studi pada siswa kelas 2 MA Kesatrian 1 emar ang, berusia antara 16 17 tahun, dan sedang berpacaran. ntuk menganalisa data p ada penelitian ini, maka dilakukan uji secara kuantitatif, yaitu dengan metode s tatistik. Metode statistik ini dipilih karena disamping lebih mudah dibaca, meto de statistik juga lebih mudah diinterpretasikan. Di bawah ini merupakan dasar peneliti menggunakan metode stat istik :

¡

 

¤

¡

¡

¤

¡

 

   

 

94 1. tatistik paling praktis, untuk membuat deskripsi deskripsi suatu kejadian ya ng bersifat eksakta atau angka sebagai pengganti uraian uraian pengganti bahasa yang kadang terlalu panjang lebar. 2. tatistik membantu peneliti dalam meringka s hasil hasil penelitian dalam bentuk angka, sehingga mempermudah siapa saja yan g ingin mengetahuinya. 3. tatistik banyak membantu peneliti dalam menarik kesim pulan kesimpulan melalui cara yang dapat dipertanggungjawabkan, dan 4. Dengan la ngkah langkah statistik dapat ditentukan seberapa jauh kepercayaan yang bisa dib erikan dari hasil penarikan kesimpulan hasil penelitian ( udjana, 2002: 1 4). Gu na mengetahui dan menganalisis data tentang diskripsi korelasi sikap remaja terh adap perilaku seks bebas dan tingkat penalaran moral remaja, maka dalam peneliti an ini menggunakan rumus korelasi product moment. Adapun rumus product moment ad alah sebagai berikut: rXY = [ ΣX

(ΣXY ) − (ΣX )(ΣΥ ) 2 2 − (ΣX ) ΣY 2 − (ΣY )

[ ] 2 ] Keterangan : rXY = Koefisiensi korelasi antara sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas dengan penalaran moral remaja XY = Jumlah perkalian antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan penalaran moral remaja X Y = Jumlah skor penalaran moral remaja = Jumlah skor sikap remaja terhadap perilaku seks bebas = Jumlah subjek uji coba

 

¦

¡

 

 

¡

 

¡

¦

 

   

¡

¦

¦

95

¦

¦

¤

ntuk mengetahui signifikansi korelasinya maka r hitung dibandingkan dengan r ta bel product moment. Jika r hitung ≥ r tabel dengan jumlah subjek ( ) tertentu deng an tingkat signifikansi 5 %, maka hipotesis yang telah dirumuskan diterima. Dan sebaliknya jika r hitung ≤ r tabel dengan (jumlah subjek) tertentu dengan tingka t signifikansi 5 % maka hipotesis yang telah dirumuskan ditolak.

96 BAB IV HA IL PE ELITIA DA PEMBAHA A

uatu penelitian diharapkan akan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dite tapkan dalam penelitian, yang dimaksud hasil penelitian disini adalah data dari instrumen tertentu, kemudian dianalisis dengan teknik dan metode tertentu yang t elah ditentukan Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang mencakup : A. Persi apan Penelitian B. Pelaksanaan Penelitian . Prosedur Pengumpulan Data D. Deskri psi Jawaban Responden E. Analisis Hasil Penelitian 1. ji ormalitas Data 2. ji Homogenitas Data 3. Analisis Korelasi 4. Hasil ji Hipotesis F. Pembahasan A. Persiapan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas dua MA Kesatr ian 1 emarang tahun ajaran 2005/2006, berusia 16 17 tahun, dan sedang berpacara n ebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti mempersiapkan perijinan penelitian. Peneliti mempersiapkan surat pengantar penelitian untuk pengambilan data awal dari Jurusan Psikologi niversitas egeri emarang yang disertai denga n proposal penelitian. etelah disetujui oleh kepala sekolah MA 96

¤

¡

¡

¦

¤

¡

 

¤

¦

¥

¦ ¡

¤

¦

¡

¦

¦

¡

¡

¡

¡

Pelaksanaan Penelitian Pengambilan data penelitian dilakukan pada tanggal 17 Mei 2006 mulai pukul 09. Hasilnya diperoleh sebagai berikut : Tabel 4.1 Rincian De skripsi ubjek Penelitian Aspek Jenis kelamin Keterangan Remaja putra Remaja putri 2 IPA 1 2 IPA 2 2 IPA 3 2 IPA 4 2 IP 1 2 IP 2 2 IP 3 2 IP 4 2 Bahasa 1 2 Bahasa 2 16 17 Jumlah subj ek 44 52 9 15 8 11 9 10 8 9 10 7 58 38 Kelas sia ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¦   ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡ ¤ . dan didampingi o leh dua orang guru Bimbingan Konseling. peneliti meminta surat penelitian dari Fakultas Ilmu Pendi dikan niversitas egeri emarang yang kemudian diserahkan kepada kepala sekolah MA Kesatrian 1 emarang. etelah itu peneliti juga mengelompokkan subjek penelitian meliputi jenis kel amin.97 Kesatrian 1 emarang. terlebih dahulu mereka d iberikan penjelasan dan subjek diajak berdialog mengenai seks bebas oleh penelit i. ntuk membantu kelancaran proses pengambil an data penelitian. usia. dan kelas. B. ebelum peneliti memberika n skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dan angket pengukur pendapat t entang masalah masalah sosial kepada subjek penelitian. peneliti meminta bantuan empat orang rekan.30 11. edangkan ruangan yang dipakai untuk pen elitian adalah ruang kelas 2 IPA 1 dan kelas 2 IP 1.00 WIB.

yang pada penelitia n ini berupa “Angket Pengukur Pendapat Tentang MasalahMasalah osial” yang keduanya telah teruji validitas dan reliabilitasnya. yang mulanya berjum lah 101 aitem. D. aspek psikologis. maka yang dilakukan peneliti selan jutnya adalah : 1. namun setelah dua kali try out ada 96 aitem yang valid dan Defini ng Issue Test (DIT) untuk mengukur tingkat penalaran moral remaja menurut tingka t perkembangan moral Kohlberg. Prosedur Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan terhadap 96 subjek penelit ian dengan . yaitu aspek biologis. Deskripsi Jawaban Responden Tujuan penelitian yang dilakukan ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai korelasi sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja. Menentukan tingkat penalaran mor al remaja dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas.98 menggunakan kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas. maka dapat diuraikan sebagai berikut : 1. etelah penelitian terlaksana dan pe ngisian skala oleh subjek penelitian selesai. di mana berupa sembilan cerita dengan tujuh belas pertanyaan yang setelah satu kali try out kesemuanya valid. ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ . etelah penelitian dilakukan. dan aspek sosial. Memberi skor pada masing masing jawaban subjek penelitian 2. Mentabulasikan data berdasarkan jumlah aitem 3. ikap Remaja Terhadap Perilaku eks B ebas ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang diungkap pada penelitian ini menggunakan 96 butir pernyataan dengan tiga aspek utama.

item nomor 6) remaja tidak akan melakukan hubungan secara bebas meskip un mereka tahu dengan menggunakan alat kontrasepsi atau tindakan tindakan lain y ang mencegah kehamilan mereka tidak akan hamil sehingga tidak perlu mempertanggu ngjawabkan perbuatannya tersebut.4% (lampiran 10. item nomor 20) remaja tersebut menyadari ba hwa mereka belum layak untuk melakukan hubungan seks dengan siapa saja sebelum a da ikatan pernikahan. 75% (lampiran 10. item nomo r 37) remaja menganggapnya merupakan hal yang biasa atau tidak membuat mereka me rasa bersalah. akan tetapi 56. Jika hanya berciuman dengan pacar.3% (lampiran 10.2% (lam piran 10. Aspek biologis ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang didorong oleh a spek biologis dapat dilihat dari jawaban terhadap 10 butir pernyataan yang ditun jukkan dari petikan berikut : Remaja yang secara biologis sudah mulai tertarik d engan lawan jenisnya dan mulai berpacaran. item nomor 59) remaja tidak setuju dengan perbuatan tersebut dan 82. item nomor 89) mera sa tertekan bila di dalam hubungan pacaran mereka tersebut terjadi hubungan seks tanpa menikah.5% (lampiran 10.99 a. meskipun begitu 85. Pada data juga disebutkan bahwa mereka pada umumnya sudah tahu ba hwa pada masanya ini mereka mengalami perkembangan organ seksual dan reproduksi. 88. Mereka juga tahu bahwa melakukan hubungan seks bebas denga n alat kontrasepsi tidak akan menimbulkan kehamilan. Persentase jawaban responden tentang sumbangan aspek biologis terhadap sikap remaja pada perilaku seks bebas dapat digambarkan sebagai berikut :   ¡ .

17% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah ter golong sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.01 32. 22.50 32. 46.50 17. Grafik 4. dan hanya 2.1 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Biologis) 50 Frekuensi (%) 46. yang artinya secara bio logis sangat menolak perilaku seks bebas.88% tergolong tidak setuju.88% 22.5 1 25 25.88% 46.00% Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas aspek biologis.92% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas.51 40 ¡ ¡ ¡ ikap Remaja Terhadap Perilaku ¡ ¡ ¡ ¡ .88 29.04 T T ¡       ¡   Interval 10 17.17 22.92 40 30 20 10 0 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Biologis) Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek biolog is menjelaskan bahwa 29.92% 1.08% dari siswanya yang mempunyai ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 1.yang art inya menolak perilaku seks bebas.04% 100.2 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase eks Bebas (Aspek Biologis) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah umber : h asil penelitian yang diolah Jumlah subjek 28 45 22 1 96 Persentase 29.100 Tabel 4.

Aspek psikologis Aspek psikologis yang menjadi dasar sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dapat dilihat dari jawaban atas 57 butir pe rnyataan dengan jawaban seperti berikut ini : ecara psikologis 86.6% (lampiran 10. 85.8% (lampiran 10. item nomor 38) remaja juga tidak setuju jika ikut tidaknya mereka dalam pergaulan seks beba s dijadikan ukuran seseorang dapat dikatakan ketinggalan jaman atau tidak.5% (lampiran 10. item nomor 42) siswa kelas 2 (dua) MA Kesatrian 1 emarang yang berusia 16 17 tahun. item nomor 4) remaja pun tidak setuju bila seks bebas dianggap cara yang paling tepat untuk membuktikan rasa cinta. 85. Kemudian. Merek a 90. Remaja sebanyak 90. dan 57 . dan tahu akan baik buruknya seuatu perbuatan. elanjutnya. sesuai hasil penelitian.4% (lampiran 10. item nomor 47) akan mengarahkan dorongan seks bebas yang muncul pada bidang lain yang bermanfaat. 84.6% (lampiran 10. 84. item nomor 40) lebih beranggapan bahwa cinta yang tulus da n mendalam kepada pacar tidak perlu dimanifestasikan dengan perbuatan seks bebas . b. mereka tidak setuju bahwa dengan ikut perg aulan seks bebas dapat menambah kepercayaan diri. tidak setuju terhadap perilaku seks bebas. item nomor 49) remaja setuju bahw a pacaran dan kemudian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya. item nomor   ¡ ¡ ¡   ¡   . sedang berpacaran.6% (lampiran 10. item nomor 3) remaja akan berolahraga untuk mengalihkan perhatian terhadap seks bebas.4% (lampiran 10.4% (lampiran 10.101 sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima pe rilaku seks bebas.

item nomor 12) remaja beranggapan bahwa remaja yan g melakukan seks bebas mempunyai sifat yang egois. Kemudian.102 71) remaja akan mengalihkan dorongan seks yang muncul dengan belajar lebih giat. item nomor 91) remaja juga tidak setuju apabila dikatakan bahwa seseorang yang b erasal dari keluarga yang mempunyai kontrol agama yang baik tidak akan melakukan seks bebas. namun mereka 58.5%(lampiran 10. namun demikian 82. item nomor 73) remaja tidak setuju jika seorang remaja yang ketahuan melakukan seks bebas di keluarkan dari sekolah hanya untuk menghindari peniruan perbuatan oleh temannya yang lain .4% (lampiran 10.8% (lampiran 10.1%(lampiran 10.4% (lampiran 10. 69. 54.2% (lampiran 10. ebanyak 59.2% (lampiran 10. remaja ini menganggap bahwa orang tua seperti ini adalah seorang orang tua yang bijaks ana. item nomor 55) remaja menganggap bahwa remaja yang melakukan seks bebas bel um tentu mempunyai sifat yang tidak mempedulikan perasaan orang lain apalagi per asaan orang tuanya sendiri. ebanyak 77. item nomor 22) remaja menolak atau tidak mau be rhubungan seksual di tempat yang sepi dan tak ada orang yang dikenal ¡ ¡ . item nomor 46) akan sangat senang sekali jika orang tua mereka tahu dan tidak melarangnya untuk berpacaran. item nomor 64) remaja juga tidak setuju apabila remaja yam g ketahuan melakukan seks bebas dikucilkan oleh masyarakat.3%(lampiran 10. 62. 80. item nomor ) remaja juga tidak setuju jika dikatakan bahwa remaja yang melakukan seks bebas pasti berasal dari keluarga yang tidak harmonis.

8% (lampiran 10.2% (lampiran 10. meskipun dengan ikut dalam pergaulan s eks bebas ada anggapan sebagian orang yang sudah masuk dalam pergaulan seks beba s bahwa pengalamannya akan bertambah.103 meskipun itu dengan pacarnya sendiri.0% (lampiran 10. i tem nomor 57) menganggap bahwa orang yang melakukan seks bebas akan mengalami ke sulitan dalam berkeluarga kelak. ebanyak 90. item nomor 66) tidak akan melakukan h ubungan seks tanpa ikatan perkawinan karena akan mendapatkan ¡ ¡ . item nomor 23) merasa akan mempunyai perasaan bersalah seumur hidup jika ikut dalam pergaulan s eks bebas. item nomor 58) remaja akan bertanggungjawab atas akibat pergaulan seks bebas jika memang di a ikut dan melakukan pergaulan seks bebas dan atas akibat ini mereka tidak mempe dulikan pandangan orang lain terhadap dirinya. item nomor 65) remaja akan merasa besedih jika di a sampai ikut dalam pergaulan seks bebas. item nomor 32) remaja masih memegang keyakinan bahwa masih pera wan sampai saatnya menikah adalah suatu hal yang penting bagi mereka.6% (lampiran 10. item nomor 60) remaja tidak melakukan hubungan sek s secara bebas karena mereka sadar bahwa ini bertentangan dengan ajaran agama ya ng mereka anut. namun demikian. item nomor 30) remaja tidak setuju bila perasaan saling mencintai diartikan sama den gan bersedia melakukan hubungan seksual dengan pacar. sama penti ngnya dengan menjaga keperjakaan bagi 84. Hal ini mungkin karena 94.2% (lampiran 10.5% (lampiran 10.7% (lampiran 10. mereka 87.9% (lampiran 10.4% (lampiran 10. item nomor 87) remaja. ebanyak 91. 54. mereka 85. 76. Kaum remaja sebanyak 79.

25 185.04% 100.88% 4.5% (lampiran 10. i tem nomor 81) remaja menganggap bahwa kumpul kebo tidak boleh dilakukan karena p erbuatan ini melanggar norma norma yang ada. kesadaran remaja terhadap nilai dan norma norma yang ada di masyarakat i nilah yang mencegah 57. item nomor 72) remaja juga akan merasa bersalah jika mereka melakukan hubungan seks tanpa adanya ikatan perkawinan yan g syah.26   ¡ ¡   ¦ ¡   ¡ ¡ ¡ 288 Jumlah .50 142.92% 46.   Interval 57 – 99. Tabel 4. amun demikian. item nomor 88) remaja beranggapan bahwa orang orang yang melakukan seks bebas b elum tentu mempunyai moral yang jelek.75 99.76 – 142. Di samping itu.3 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologis) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah subjek 46 45 4 1 96 Persentase 47. 51. item nomor 86) remaja juga menganggap bahwa dengan melakukan seks bebas sama saja dengan merusak masa depannya sendiri.4% (lampiran 10. item nomor 64) remaja masa depan m ereka akan suram jika terjadi pernikan dini akibat seks bebas.104 dosa besar karenanya. 87.5% (lampiran 1 0. Menurut 87.00% umber : hasil penelitian yang diolah Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas aspek psikologis.17% 1. 78.3% (lampiran 10.51 – 185.2% (lampiran 10.1% (lampiran 10. 82. item nomor 67) remaja untuk tidak berper ilaku seks bebas.

amun.88% tergolong tidak setuju. 46.17 T T ¡ ¡ ¡¡ ¡ . pada dasarnya 74% (lampiran 10.92 46.4% (lampiran 10. Ini ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ 4. dan hanya 1.105 Grafik 4. 90.88 1. item nomor 01) remaja sadar bahwa seks bebas adalah salah satu perilaku yang sedang marak disoroti dalam kehidupa n modern. item nomor 07) remaja tidak takut dianggap kurang pergaulan jika tidak melakukan hubungan seks bebas.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku se ks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas. c. Aspe k sosial Menyangkut sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang didorong oleh aspek sosial. yang artinya secara b iologis sangat menolak perilaku seks bebas.04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologis) Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek psikol ogis menjelaskan bahwa 47.2 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologi s) 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 47. 4.92% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah t ergolong sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.yang a rtinya menolak perilaku seks bebas.17% tergolong setuju terhadap perilaku sek s bebas.

item nomor 74) remaja bahkan akan menghindari teman teman mere ka yang suka mempengaruhi mereka untuk masuk dalam pergaulan seks bebas.8% (lampiran 10. ebanyak 80 .6% (lampiran 10. ¦   ¡   ¡ . Lagi pula. 58.4% (lampiran 10. item nom or 19) remaja juga tidak setuju bahwa seseorang yang telah mempunyai penghasilan tetap dan ekonomi yang matang wajar jika melakukan seks bebas. 69. item nomor 95) remaja menganggap bahwa remaja y ang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya diusir oleh keluarganya. 89.106 karena mereka 81.1% (lampiran 10. Bahkan. item nomor 80) remaja menyatakan senang berteman de ngan siapa saja meskipun itu adalah mereka yang mendukung pergaulan seks bebas. item nomor 70) remaja takut apabila dari hubungan seks secara bebas yang mereka lakukan lahir seorang anak di luar nikah. Kemudian.2% (lampiran 10. item nomor 56) remaja tidak setuju dengan anggapan bahwa untuk menjajaki sifat masing masing pasangannya mereka diperbolehkan untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. dan 77. istri atau suami orang lain).7% (lampiran 10. 85. 75% (lam piran 10. ebanyak 71.4% (lampiran 10. Remaja. item nomor 45) sangat menghormati normanorma m asyarakat.7% (lampiran 10. amun d emikian. item nomor 24) mereka juga tidak dapat menerima perilaku seks bebas ya ng dilakukan baik dengan pacar maupun dengan orang lain (teman. item nomor 43) remaja beranggapan bahwa denga n melakukan hubungan seks secara bebas berarti mereka telah merusak ketulusan ci nta.

93.2% (lampiran 10.107 elanjutnya. 93. ebanyak 92 .50 72. item nomor 34) remaja juga merasa senang apabila dapat menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat dengan tidak melakukan perbuatan amoral. item nomor 11) remaja terpengaruh untuk melakuka n seks bebas.7% (lampiran 10.51 – 94.5% (lampiran 10.00 umber : hasil penelitian yang diolah Di mana X adalah skor yang diperoleh seora ng respoden untuk skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas aspek sosial.04% 100. item nomor 35) remaja menganggap sebaiknya kontak fisik dengan lawan jenis y ang bukan suami atau istri mereka hindari.96% 5. item nomor 36) remaja merasa bangga karena samp ai waktunya menikah mereka masih dalam keadaan perawan atau perjaka.   Interval 29 – 50.26 116 Jumlah ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . item no mor 53) masih menganggap bahwa hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang sah ad alah idaman semua orang untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus meneruskan ketur unan.21% 1. tidak a kan membuat 88. dan untuk menghindari perbuatan seks secara bebas 79.7% (lampiran 10.4 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek osial) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah subjek 43 47 5 1 96 Persentase 44.75 50. s eperti berpacaran lalu melakukan seks bebas.7% (lampiran 10.25 94. Mereka. Fenomena perilaku seks bebas yang akhir akhir ini banyak disoroti.76 – 72.79% 48. Tabel 4.

elanjutnya dari sini dapat ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 5. yang tiap butirnya mempunyai skor minimal 1 (satu) dan skor maksimal 4 (empat).21 T T osial) ¡ ¡ ¡ osial) ¡ ¡¡ ¡ .79% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah tergo long sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.21% tergolong setuju terhadap perilaku seks be bas. edangkan u ntuk skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebasnya sendiri. Jadi renta ng minimalnya adalah 96 X 1= 96.108 Grafik 4. 48. yang artinya secara biolo gis sangat menolak perilaku seks bebas. 5.96 1. dan hanya 1.79 48. dan rentang maksimalnya adalah 96 X 4 = 384. se hingga diketahui rentang minimal dan maksimalnya adalah antara 96 sampai dengan 384.04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek sosial menjelaskan bahwa 44.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku seks b ebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas.yang artin ya menolak perilaku seks bebas.3 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 44. kategorisasi di peroleh dengan menentukan tiga bagian batasannya masing masing.96% tergolong tidak setuju. kala sikap rema ja terhadap perilaku seks bebas ini terdiri dari 96 butir pernyataan.

01 240 240. Tabel 4.109 diketahui kriteria pada hasil penelitian yang diperoleh melalui cara sebagai ber ikut : Kriteria sikap remaja terhadap perilaku seks bebas : kor tertinggi kor terendah Mean teoritis tandar deviasi = 96 X 4 = 96 X 1 = 96 X 2. jika remaja memiliki skor antara 240. maka berarti bahwa responden memiliki sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong tidak setu ju.01 312 maka responden mempunyai sikap tehadap perilaku seks bebas yang terg olong setuju.01 berarti subjek mempunyai sikap terhadap per ilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju.5 menjelaskan bahwa jika seorang remaja men dapatkan skor yang lebih dari 312. dan jika ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   skor tertinggi skor terendah 6 384 − 96 6 ¡ ¡ ¡   .01 – 384 umber : Hasil penelitian y ang diolah Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas.01 – 312 312.5 = = 384 = 96 = 240 = = 48.01 240.5 Pengelompokan Kriteria ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Beb as Interval 96 – 168 168.00 Tabel 4. jika remaja memperoleh skor antara 168.

04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.4 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas 60 Frekuensi (%) 50 40 30 20 10 0 44.79% 50.01 – 384 Jumlah subjek 43 48 4 1 96 Persentase 4 4.00 1. Hasil deskripsi tentang sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dapat dili hat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.17% 1.79 50.110 responden mendapatkan skor lebih kecil atau sama dengan 168.17 T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡¡   ¡ .04% 100.01 240 240.6 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas Kriteria angat tidak setuju Tidak setu ju etuju angat setuju Jumlah umber : hasil penelitian yang diolah Interval 96 168 168.01 – 312 312.00% 4. Grafik 4.00% Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas. maka responden memp unyai sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat tidak setu ju.

Penalaran Moral Remaja edan gkan untuk mengetahui tingkat penalaran moral remaja digunakan alat tes yang ber nama DIT (Defining Issue Test). orientasi hukum dan ketertiban. yang timbul dari h ati nurani dan bukan paksaan dari luar. orientasi kesepakatan antar pribadi. Tahapan tahapan tersebut meliputi ori entasi relativitas instrumental. Defining Issue Test (DIT) ini sudah pernah digunakan ole h Pratidarmanastiti (1991 : 64) untuk mengukur perkembangan penalaran moral pada siswa MA se Yogyakarta dan ¡       ¡ . orientasi hukum dan kepatuhan.79% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah tergolong sangat tidak set uju terhadap perilaku seks bebas. Pengungkapan penalaran yan g universal menggunakan Defining Issue Test (DIT). orientasi kelompok sosial y ang legalitas. 2.111 Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menjelaskan bahwa 44 . yang pada dasarnya adalah ala t ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu.00% tergolong tidak setuju. dan hanya 1. orientasi prinsip etis yang universal. yang artinya menolak perilaku seks bebas. yang artinya secara biologis sangat menolak pe rilaku seks bebas. 50. dalam hal ini adalah penalaran moral. yang disertai pula dengan rasa penuh tan ggung jawab.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas.17% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas. 4. Alat ini digunakan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan penilaian atau pertimbangan terh adap nilai nilai perbuatan atau perilaku yang baik dan buruk. Tahap penalaran moral dalam penelitian ini mengacu pada tahapan pen alaran moral yang dikemukakan oleh Köhlberg.

0 % 0.1 % 43. yang berarti tes ini andal.3 % 11.0 % 0.4 % 12.6 % 54.7 % 29.5 % 17.5 % 68.8 % 53.2 % 4.5 % 0.0 % 12.3 % 7.0 % 0.0 % 0.0 % 0.0 % 0.2 % 50.0 % 27 .7 % 7.0 % 0.0 % 0.0 % 0.5 % 18.7 % 25.0 % 0.0 % 1.1 % 7.1 % 38.1 % 5.2 % 22.1 % Tahap4 25.2 % 43.5 % 36.0 % 0.1 % Tahap6 0.2 % 0.0 % 0.0 % 0. dan skor yang didapatkan dapat dijadikan sebaga i dasar penetapan tingkat penalaran moral remaja. ecara umum dapat dilihat dari persentase jawaban atas 17 pertanyaan dengan jawaban yang menunjukkan tahap pen alaran moralnya sebagai berikut : Tabel 4.5 % 65.8 % 51.0 % 0.3 % 4.5 % 52.0 % Tahap3 62.5 % 66.1 % 9.2 % 6. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial ini berupa cerita cerita yang dilanjutkan dengan pertanyaan pertanyaan ya ng harus dijawab oleh responden.0 % 2. dan pada penelitian ini tanp a mengubah substansi tes tersebut dinamakan sebagai “Angket Pengungkap Pendapat Te ntang Masalah Masalah osial”.0 % 1.7 % 72.8 % 13.5 % 41.5 % 41.0 % 34.0 % 11.0 % 0.05 % 0.9 % 38.4 % 55.0 % 61.0 % 0.0 % 0.0 % 0.0 % 54.0 % 0.0 % 0.3 % 3.0 % 0.7 Persentase Jawaban Yang Menunjukkan Tahap Penalaran Moral Remaja erita Pertanyaan Tahap1 Tahap2 I 1 2 3 II III IV V VI 4 5 6 7 8 9 10 11 VII 12 13 14 15 VIII IX 16 17 0.112 didapatkan rtt = 0.0 % 0.5 % 53.0 % 0.5 % 3.1 % 36.9 % 75.0 % 0.0 % 0.0 % 0.5 % 3.0 % 8.0 % 0.2 % 55.8 % Tahap5 8.830.0 % 0.0 % 4.0 %     ¡ ¥   ¡   ¡ .3 % 8.1 % 2.0 % 0.0 % 1.0 % 0.2 % 63.3 % 1.3 % 11.0 % 0.0 % 0.0 % 0.1 % 1.0 % 0.0 % 0.2 % 2.

elanj utnya dari sini dapat diketahui kriteria pada hasil penelitian yang diperoleh me lalui cara sebagai berikut: Kriteria sikap remaja terhadap perilaku seks bebas : kor tertinggi kor terendah Mean teoritis tandar deviasi = 17 X 6 = 17 X 1 = 17 X 2. yang tiap butirnya m empunyai skor minimal 1 (satu) dan skor maksimal 6 (enam). ehingga dike tahui rentang minimal dan maksimalnya adalah antara 17 sampai dengan 102.113 Pada Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial yang digunakan un tuk mengukur tingkat penalaran moral remaja. kategorisasi diperoleh dengan menen tukan enam bagian batasannya masing masing.5 = = 102 = 17 = 42. Angket Pengungkap Pendapat Tentang M asalah Masalah osial ini terdiri dari 17 butir pertanyaan.8 Pengelompokan Kriteria Tingkat Penalaran Moral Remaja Interval 17 31 3 2 45 46 60 61 74 75 88 89 102 Kriteria Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV Tahap V Tahap VI Keterangan Berorientasi pada hukuman dan kepatuhan Berorientasi rela tivitas instrumental Berorientasi pada kesepakatan antar pribadi Berorientasi pa da hukum dan ketertiban Berorientasi pada kontrak sosial yang legalistik Berorie ntasi pada prinsip etika universal umber : hasil penelitian yang diolah                 skor tertinggi skor terendah 6 102 − 17 6 ¡ ¡ ¡   ¡   ¡ ¡         ¡     ¡ . Jadi rentang minimaln ya adalah 17 X 1= 17. dan rentang maksimalnya adalah 17 X 6 = 102.5 = = 14.17 Tabel 4.

maka berarti bahwa responden memiliki tingkat penalaran moral yang tergolong tahap V I. jika responden mendapatkan skor antara 46 – 60 berarti responsen berada pada ti ngkat penalaran moral tahap III.00 89 – 102 VI Jumlah 96 100 umber : hasil penelitian yang diolah       ¡   ¡ .8 menjelaskan bahwa jika seorang remaja mendapatkan skor antara 89 102 berarti subjek mempunyai tingkat penalaran moral yang berada pada tahap VI. Hasil deskripsi tentang sikap remaja terhadap perilaku seks beb as dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.08 II Tahap 46 – 60 66 68. dan jika remaja memperoleh skor antara 61 – 74 .75 III Tahap 61 – 74 22 20.114 Tabel 4.00 Keterangan Berorientasi pada hukuman dan k epatuhan Berorientasi relativitas instrumental Berorientasi pada kesepakatan ant ar pribadi Berorientasi pada hukum dan ketertiban Berorientasi pada kontrak sosi al yang legalistik Berorientasi pada prinsip etika universal Tahap 2 2.33 V Tahap 0 0.83 IV Tahap 75 – 88 8 8 . dan jika res ponden mendapatkan skor antara 17 31 maka responden berada pada tingkat penalara n moral tahap I. jika remaja memiliki skor antara 32 – 45 maka res ponden mempunyai tingkat penalaran moral yang berada pada tahap II.9 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Tingkat Penalaran Moral Remaja Interval 17 31 32 45 Kriteria Tah ap I Jumlah ubjek 0 Persen tase 0. jik a remaja memiliki skor dari 75 – 88 maka responden mempunyai tingkat penalaran mor al yang berada pada tahap V.

Analisis Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja pada siswa kelas 2 (dua) MA Kesatrian 1 emarang tahun a jaran 2005/2006.00 Th I 2.75 20.33 Th V 0. 68.75% memp III (konvensional).83 20 0 0. ¡ ¡   Grafik persentase tingkat penalaran remaja mempunyai tingkat penalaran unyai tingkat penalaran moral tahap penalaran tahap IV (konvensional).83% mempunyai tingkat dan 8. upaya kesimpulan yang diambil tidak menyimpang maka perlu dila kukan uji normalitas terhadap skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas da n angket pengungkap pendapat tentang masalah masalah sosial sebelum mencari kore lasi antara kedua variabel terbebut.00 Th VI Penalaran Moral E.5 Persentase Tingkat Penalaran Moral Remaja Frekuensi (%) 80 60 40 68.08 Th II Th III Th IV 8. moral remaja di atas menjelaskan bahwa 2. oral paska konvensional tahap V. 20.115 Grafik 4.08% moral pra konvensional tahap II.33% yang mempunyai tingkat penalaran m               ¡   .

Men urut Ghozali (2005: 145) apabila titik titik tidak jauh melenceng dari garis dia gonal dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal.00 .50 .75 1.00 . titik titik tersebar mendekati garis diagonal. data diuji kenormalannya menggunakan o rmal P P Plot Regression menggunakan bantuan program P dengan hasil seperti p ada grafik 4.75 Expected um Prob . 2.25 .50 . Model regresi tidak mengandun g heteroskedastisitas menurut Ghozali (2005: 147) apabila titik titik dari hasil cater Plot tersebar tidak teratur dan berada di atas maupun di bawah angka nol sumbu vertikal dapat disimpulkan bahwa model tidak mengandung ¦ ¡ ¤   ¡¡ ¡     ¡ ¡ ¥ ¥   ¦   ¤ ¡ ¦ . ji ormalitas Data ebagai salah satu syarat untuk analisis korelasi dan reg resi bahwa distribusi data harus normal.25 0.116 1.00 0.6 ormal P P Plot of Regression tandardized Residual Dependent Variable: ikap re maja terhadap perilaku seks bebas 1. ji Homogen itas Data Kemudian analisis korelasi dan regresi distribusi datanya juga harus h omogen atau tidak mengandung heteroskesdastisitas.00 Observed um Prob Terlihat pada grafik di atas.

etelah itu nilai korelasi product moment yang telah ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤     ¡ ¡             3 2 1 0 1 2 3 4 ¡¡ ¡ P dapat dilihat pa ¡ ¡ ¡ ¡ . Dalam penelitian ini analisis korelasinya d ihitung menggunakan korelasi product moment yang penghitungannya menggunakan ban tuan komputer dengan tatistical Program For ocial cience ( P ) versi 10.368. dengan kata lain bersifat hom ogen.7 catterplot Dependent Variable: ikap remaja terhadap perilaku seks bebas 4 Regression tudentized Residual 3 2 1 0 1 2 Regression tandardized Predicted Value Terlihat bahwa titik titik dari hasil cater Plot tersebar tidak teratur dan ber ada di atas maupun di bawah angka nol sumbu vertikal.117 heteroskedastisitas. 3. Analisis Korelasi ntuk menentukan derajat hubungan antar variabel maka perlu dicari koefisien korelasinya.1 fo r window ’00. sehingga dapat disimpulkan bahwa model tidak mengandung heteroskedastisitas. Hasil analisis korelasi menyatakan bahwa hasil koefisien korelasi (r xy) sebesar – 0. Hasil analisis dengan bantuan program da grafik 4.

.05. ntuk lebih jelasnya dap at kita lihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.000 .5 %. 96 96 ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Penalaran moral ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Penalaran moral ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Pe nalaran moral 1.000 96 96 ig. Analisis Korelasi ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Pearson orrelation Penalaran moral . Korelasi yang signifikan antara sika p remaja terhadap perilaku seks bebas (sebagai faktor) dan tingkat penalaran mor al (sebagai akibat) menunjukkan adanya hubungan antara sikap remaja terhadap per ilaku seks bebas dengan tingkat penalaran moral remaja. Karena hasil yang diperoleh yaitu indeks korelasi sebesar 0.000 . (1tailed) umber : hasil penelitian yang diolah Kontribusi efektif sikap remaja terhadap p erilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja diperoleh koefis iensi determinan r2: 0.01 maka koefisiensi korelasinya dinyatakan signifikan.118 didapatkan perlu di uji signifikansinya dengan rtabel dengan batas taraf signifi kansi 5% dengan =96.10.368 1. Artinya besar kecilnya perubahan sikap remaja terhadap perilaku   ¡ ¤ ¡   ¦ ¥   ¡ ¡ ¡ ¡ ¦ .0001 jauh lebih kecil jika d ibandingkan dengan taraf signifikansi 0. Angka angka tersebut me nunjukkan angka yang signifikan karena signifikan 0.368 .135 atau sebesar 13.000 .

begit upun sebaliknya.444 – 1. sebe sar 86.788 X.5% perubahan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditentukan oleh fa ktor yang lain. ntuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16. semakin rendah tingkat penalaran moral remaja akan diikuti deng an tingginya sikap remaja terhadap perilaku seks bebas.368.05. karena Fhitung > 0. edangkan. Hasil ji Hi potesis Pada penelitian ini untuk menguji hipotesisnya menggunakan metode korela si product moment yang dipergunakan untuk menguji hubungan variabel (Y) sikap re maja terhadap perilaku seks bebas dan variabel (X) tingkat penalaran moral remaj a. Berdasarkan analisis korelasi product moment tersebut diperoleh koefisien kor elasi 0. ¡ ¤ ¡ ¡ ¡   ¤ . Artinya semakin tinggi tingkat penalaran moral remaj a akan diikuti dengan rendahnya sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. dimana X adalah penalaran moral dan Y adalah sikap remaja terhadap perilaku seks bebas .5 %.000 ≤ 0. 4. Atau dengan kata lain ada hub ungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat pen alaran moral remaja.725 dengan Fvalue 0. Model regresinya sendiri adalah Y = 283.05 i ni berarti hipotesis diterima. yang berdasarkan perhitungan korelasi tersebut dapat dis impulkan adanya hubungan yang negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan tingkat penalaran moral pada siswa kelas dua MA Kesatrian 1 emar ang tahun ajaran 2005/2006.05. edangkan model regresinya diuji keberartiannya menggunakan uji F dan diperoleh Fhitung 14. p < 0.119 seks bebas karena faktor tingkat penalaran moral sebesar 13. Artinya signifikan. Atau dengan kata lain hi potesis yang diajukan dapat diterima.

Pembahasan Hasil penelitian di atas menggambarkan adanya hubungan yang negati f antara perkembangan moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas (r = 0. p > 0. Ini berarti bahwa perkembangan moral saja tidak dapat dija dikan sebagai satu satunya alat untuk memprediksi bagaimana sikap seorang remaja terhadap hubungan seks bebas. angka tersebut tergolong tidak setuju.120 F.368. Atau dengan kata lain masih ada 86.5%. Rerata subjek penelitian pada sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di MA Kesatrian 1 e marang 50. Kecenderungan subjek menjawab tidak setuj u terhadap perilaku seks bebas disebabkan karena belum tentu setiap subjek mempu nyai kebebasan memilih seperti apa yang dia inginkan. Individu dalam menjaga kek onsistenan sikapnya lebih dipengaruhi oleh tekanan kelompok atau masyarakat.5% faktor lain yang juga dapat mempengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. Ind ividu yang mengalami disonan yaitu ¡ ¡       ¡   .00%. Antara lain menurut useno (1987: 49 52) dapat disebabkan oleh pola asuh dalam keluarga . Dengan kontribusi efektif sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja diperoleh koefisiensi dete rminan sebesar 13. ataupun norma orang tua (lingku ngan keluarga) yang lebih menekankan pada norma norma yang ada di masyarakat dan norma agama.05). Ini berarti sikap individu secara keseluruhan masih tergolong tidak setuju yaitu sebagian besar remaja tid ak menyetujui dilakukannya seks bebas. pergaulan di luar rumah karena mereka bergabung dengan anggota sebayanya yang sering kali mempunyai norma yang dibuat sendiri. sehingga sikap mereka juga dipengaruhi oleh hal itu.

terlebih jika tidak ada alasan yang ses uai dalam melakukan perilaku itu. Hal ini sesuai dengan teori disonansi kognitif dari Festinger (Atkinson.121 antara kognitif yang ada dipikirannya dan yang ada di sekelilingnya. kemungkinan besar akan mengubah kognitifnya dan bukan lingkungannya. di sisi lain masyarakat mengatakan bahwa itu perbuatan dosa. Jadi. dua kognisi yang tidak bersesuaian satu sama lain akan menimbulkan ketidaksenangan (discomfort) yang memotivasi seorang individu untuk menghilangkan disonansi tersebut dengan m enyesuaikan kedua kognisi itu. 1975: 15). sikap tidak selamanya dapat memprediksikan perilaku seseorang. ntuk bisa menjadi konsonansi ada ke cenderungan individu untuk mengubah kognitifnya menjadi tidak setuju terhadap hu bungan seks bebas. atau dengan kata lain. Demikian pula penerimaan seorang individu terhadap suatu perbuatan juga didasari oleh sik ap. tetapi apabila dia ditanya bagaimana sikapnya terhadap perilaku seks bebas ada kecenderungan untuk menjawab tidak setuju (Fishbein & Ajzen. penolakan seorang individu terhadap suatu tindakan didasari oleh suatu hal yang dinamakan sikap. yaitu perubahan sikap yang paling besar. Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa perilak u yang berlawanan dengan sikap akan mengakibatkan disonansi yang paling tinggi. ba hwa ada semacam dorongan untuk mencapai kekonsistenan kognitif. Dalam hal ini individu akan mengalami disonansi kognitif. tidak ada pembenaran ya ng memadai akan perbuatannya itu. indivi du yang yakin bahwa hubungan seks bebas boleh dilakukan dan hanya masalah pergau lan. ebagai contoh. Di dalam psikologi. walaupun seseorang pernah melakukan hubungan seks bebas . Hal in i karena masih ¡ ¤ ¦ . amun. 1999: 378).

Hal lain yang dapat dilihat dari penelitian ini adalah di ketahuinya tahap perkembangan moral subjek.75% subjek berada pada tahap ke tiga yang c enderung mempertimbangkan kepentingan umum tetapi tujuan mereka adalah untuk men dapatkan predikat sebagai anak baik. sehingga perkembangan moral dihubungkan dengan tindakan moral dan bukan hanya sikap. peneliti dapat mengambil subjek penelitian yang pernah melakukan seks bebas ataupun mengambil topik perilaku seks bebas bukan sikap terhadap per ilaku seks bebas. dan 8. 68.75% pada tahap III. Data di atas memperl ihatkan bahwa sebagian besar atau 68.08% dari keseluruhan subjek tahap perkembangan moralnya berada pada tahap ke II. Rerata subjek penelitian pada tingka t penalaran moral di MA Kesatrian 1 emarang 68. kep utusan mereka sudah mempertimbangkan ¡   ¡ ¤ . ntuk dapat mengetahui secara jelas peranan perkembangan moral terhadap peril aku seks bebas.33 pada tahap perkembangan moral V. Kare na adanya ketidakkonsistenan hubungan antara sikap dan perilaku maka mungkin pul a jika hubungan antara perkembangan moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas tidak konsisten. Hal ini sesuai dengan ciri masa remaja. Karena perkembangan moral itu berhubungan positif dengan tindakan moral. Terdapat 2.8 3% pada tahap IV. Jadi. walaupun sikapnya negatif terhadap suatu perbu atan belum tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.122 banyak intervening atau kendala kendala lain yang dipersepsikan oleh orang yang bersangkutan yang diperkirakan dapat menghambat atau mempengaruhi perilaku.75% tergolong pada tahap III ti ngkat penalaran moral II (konvensional). yaitu dalam bentuk perilak u. 20.

penalaran moral tahap k e tiga ini masuk dalam tingkatan konvensional. Menurut Köhlberg.123 kepentingan orang lain akan tetapi dengan predikat anak baik mereka merasa aman karena akan diterima oleh lingkungannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa tahap perkembanga n moral yang diharapkan dapat dicapai remaja pada subjek penelitian ini yaitu ti ngkat konvensional telah terpenuhi. perlu diingat bahwa alat ukur Definin g Issue Test (DIT) ini merupakan hasil adaptasi. Remaja umumnya berada pada tingka tan konvensional juga pada orang dewasa. amun. 1994). yaitu dengan menyempurnakan bahasa y ang sulit dipahami oleh remaja karena membingungkan dan banyak ¡ ¡   ¦ . Ketepatan hasil ukur sangat dip engaruhi oleh kemampuan pengadaptasian alat ukur. walaupun jawabannya bebas dan waktu pengerja annya tidak dibatasi namun kemungkinan subjek penelitian mempunyai hambatan untu k menulis jawaban secara lengkap. Dikatakan oleh Pratidarmanasti ti (1991: 71) bahwa hasil adaptasi DIT ini masih kurang sempurna sehingga kemung kinan ketidaksempurnaan ini juga mempengaruhi hasil ukur. Penelitian di Amerika juga menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat mencapai tahap yang lebih tinggi dari tingkat konv ensional. atau mencapai tingkat pasca konvensional ( etiono. edikitnya j umlah subjek pada tingkat yang lebih tinggi dari tingkat konvensional ini adalah suatu hal yang wajar. Dengan diketahuinya ke lemahan ini peneliti menyesuaikan lagi DIT. Hal ini mungkin karena pemakaian tes perkembangan moral Köh lberg dilaksanakan secara tertulis.

Dengan tingkat penalaran moral remaja pada tingkat kon vensional akan mendorong individu untuk bersikap terhadap perilaku seks bebas le bih baik. Melalui hasil penelitian yang ditemukan dari siswa kelas dua (II) MA Kesatrian 1 emarang tahun ajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa ada hubungan antar a sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran mora l remaja. Palembang. Bisa jadi hasil penelitian perkembang an moral ini juga dipengaruhi oleh tingkat kemampuan membaca subjek dalam menela ah dan memahami soal atau ceritera yang ada di DIT. hal ini pula yang diharapkan akan menjadi pertimbangan peneliti selanjutnya. dan Tasik Malaya yang berpacaran 74. ingkawang. Bisa juga karena jumlah dan keanekaragaman pengalaman sosial. Keberbedaan ini menurut Köhlberg (1995: 66 ) bisa karena kemampuan menyesuaikan diri dan berperilaku abstrak yang berbeda. Hasil yang diperoleh dari pe nelitian yang dilakukan di MA Kesatrian 1 emarang juga lain dengan apa yang di muat pada Kedaulatan Rakyat. enin. 2 Mei 2005 halaman 15. ir ebon. 1995: 70).89% melakukan h ubungan seks bebas dengan pacar mereka. ¥ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . di situ menyebutkan bahwa remaja di Kupang. Pada artikel ”Ketika Pe rilaku eks Remaja Kian Beresiko”. kesempatan untuk m engambil peran dan berjumpa dengan sudut pandang yang yang berbedabeda antar ind ividu (Köhlberg.124 pengulangan kata serta menyesuaikan lagi kurs mata uang yang sesuai di Indonesia karena alat aslinya memakai mata uang asing.

maka remaj a menyesuaikan sikap pribadinya tersebut dengan sikap yang diharapkan oleh lingk ungan sosialnya tersebut sehingga sikapnya menolak perilaku seks bebas. dan m empunyai keadaan psikis yang baik. Hasil pe nelitian yang dilakukan pada siswa kelas II (dua) MA Kesatrian 1 emarang menun jukkan bahwa siswa di sana mempunyai sikap terhadap seks bebas yang baik. eorang remaja dalam penelitian ini dituntut untuk dapat me nyikapi seks bebas dengan sikap yang tepat sehingga di dalam masyarakat dan kehi dupan pribadinya tidak akan menerima dampak negatif seks bebas karena melakukann ya. karena ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . jika sikap seorang remaja terhadap perilaku s eks bebas adalah menerima perilaku seks bebas. ikap so sial adalah sikap yang terjadi karena adanya norma dan aturan sosial yang ada di dalam masyarakat.125 ikap remaja terhadap seks bebas adalah sikap menolak atau menerima perilaku sek s bebas pada remaja. namun norma dan aturan sosial yan g ada di masyarakat melarangnya bahkan menganggap itu perbuatan dosa. mampu bertindak sesuai dengan peraturan yang ada dalam masyarakat. Mereka dapat memahami apa itu seks bebas dan bagaimana dampaknya jika hal tersebut dil akukan. yaitu menerima atau menolak perilaku seks bebas. ikap pribadi terhadap seks bebas adalah penerimaan secara pribad i terhadap seks bebas. ebagai contoh. ikap remaja terhadap seks bebas mempunyai dua aspek yaitu sikap pribadi dan sikap sosial. ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yan g baik dapat dijadikan sebagai tanda bahwa tingkat penalaran moral remaja itu ju ga baik.

Dengan tingkat penalaran mo ral konvensional ini siswa kelas dua MA Kesatrian 1 emarang yang berada pada t ingkat konvensional mendorong remaja kelas dua MA Kesatrian 1 emarang ini dapa t bersikap baik terhadap seks bebas.126 penalaran moral seseorang dapat dilihat dari perilakunya. ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar remaja kelas dua MA Kesatrian 1 emarang sudah memasuki penalaran moral tingkat konvensional.

remaja tidak takut dianggap kurang pergaulan jika tidak melakukan hubungan seks bebas. dan sedang berpacaran ini tergolong tidak menyetujui perilaku seks bebas. n amun. Tingkat penalaran konvensional yang dimiliki oleh siswa tersebut men yebabkan sikap terhadap perilaku seks bebas yang tidak menyetujui dilakukannya p erilaku seks bebas.127 BAB V PE T P A. yang berusia 16 17 tahun. remaja menganggap bahwa melakukan hubungan seks tanpa adanya ikatan pernikahan adalah perbuatan yang mel anggar norma norma yang ada. remaja setuju bahwa berpacaran dan kem udian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya. impulan iswa kelas II (dua) MA Kesatrian I emarang tahun ajaran 2005/2006 . remaja tidak setuju bila seks bebas dianggap cara yang palin g tepat untuk membuktikan perasaan cinta. yang berusia 16 17 tahun. meskipun ada beberapa siswa yang mempunyai tingkat penalaran prakonvensional dan paska ko nvensional. 127       ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¤ ¤¦   ¡ ¡ . ikap terhadap perilaku seks bebas pada siswa kelas II (dua) MA Kesatrian I emarang tahun ajaran 2005/2006. yang sedang berpacaran dan tahu akan baik buruknya s uatu perbuatan mempunyai tingkat penalaran moral tingkat konvensional. ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang tergolong tidak menyetujui perilaku seks bebas ini ditandai dengan sikap menolak melakukan seks bebas dengan pacar. dan meskipun mereka sadar bahwa perilaku seks bebas adalah salah satu perilaku yang sedang marak disoroti dalam kehidupan modern. dengan sko r rata rata 240.

pola asuh orang tua.128 B. namun dengan jalan anak selalu diajak untuk berfikir. d iharapkan lebih mengontrol variabel variabel lain yang mempunyai pengaruh pada s ikap seseorang terhadap seks bebas. maka bagi orang tua. status ekonomi. maka peneliti memberikan beberapa saran yang bisa diterapkan yai tu: Mengingatkan bahwa tingkat penalaran moral konvensional dan paskakonvensiona l akan membantu remaja dalam menyikapi perilaku seks bebas. aran impulan yang telah didapatkan oleh peneliti tentang ” ikap Remaja Terhad ap Perilaku eks Bebas Ditinjau Dari Tingkat Penalaran Moral Remaja Pada iswa K elas Dua (II) MA Kesatrian 1 emarang Tahun Ajaran 2005/2006 (Teori Perkembanga n Moral Köhlberg)”. antara lain tempat tinggal. sehingga mereka akan menjadi orang yang selalu terbuka terhadap sesuatu yang ba ru Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah perkembangan moral dan s ikap remaja terhadap perilaku seks bebas serta ingin menelitinya lebih lanjut. praktisi. ¡ ¡       ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¡ . dan fasilitas fasilitas yang mendukung (seperti pengaruh me dia massa ataupun media elektronik yang banyak memberitakan tentang masalah seks ual). apa maksudnya dan apa motivasinya. dan pemerintah hendaknya mendidik putra putri penerus bangsa menggunakan cara cara yang dapat mengembangkan tingkat penalaran moral konvensi onal dan paska konvensional. sekolah. yang selalu menerangkan mengapa suatu perbuatan dilarang atau diperintahkan. eperti dengan pendidikan disiplin dan adanya pembi naan nilai nilai moral sejak dini tanpa menggunakan larangan atau hukuman.

Yogyakarta: Andi Offset Hurlock. Martin & Icek Ajzen.L dkk. Jakarta : Erlang ga . Pengantar Psikologi Jilid I. . Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . 2000. Alih Bahasa Istiwidayanti & oedjarwo. Imam. Bandung: Refika Aditama Ghozali. 2000 . Jakarta: Erlangga . 1999. Psikologi osial. W. uharsimi. Reliabilitas dan Validitas. 2001. Kamus Lengkap Psikologi. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . 1999. Alih Bahasa Meitasari Tjandrasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . Raja Grafindo Persada Daradjad. 1983. Penyusunan kala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Basri. Psikologi Perkembangan. Z. Jakar ta: Kawan Pustaka Fishbein.B. 2000. Pendidikan eks ntuk Remaja. Jilid 2. 2002. Inc Gerungan. Psikologi Perkembangan. 2001. tatis tik II. Prosedur Penelitian. 2005. Edisi 5. Jakarta: Erlangga                                      ¡             ¡ ¡ ¤ ¡ ¤ ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡ ¡                    ¡ ¡                         ¥ ¤ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¥        ¡¤ . Yogyakarta: Pustaka Pela jar haplin. Ajen. Psikologi Perkembangan Anak. Pengantar Psikologi Jilid II. 1980. Prentice Hall. JP. 1997. 2003. Jak arta : PT.129 DAFTAR P TAKA Arikunto. Jakarta : PT Rhin eka ipta Atkinson. nderstanding Attitudes A nd Practing ocial Behavior. Jakarta: G ramedia Pustaka tama Dianawati. Analisis Multivariate dp Pro gram P . 1999. Penerjemah: Kartini Kartono. ikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Remaja Berkualitas Problematika Remaja Dan olusinya. 2003. R. emarang: Badan Penerbit niversitas Diponegoro Hadi. Hasan. Edis i 6. 1999. 1990.A. Jakarta: Erlangga . E. . uatu Pendekatan epanjang Rentang Kehidupan. 2003. Jakarta : Erlang ga Azwar.

2005. etaka n ke 3. K. L. Dr awitri . Jakarta: PT. Indosiar Pratidarmanastiti. 1995. Psikologi Remaja. 2005.J. Perkembangan dan Kepribadia n Anak. F. 2002. L. hal. A. Yogyakarta: Gajah Mada niversity Press Mussen. Bandung: Refika Aditama ¥ ¡ ¡ ¤                                 ¥   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡                   ¡ ¤   ¥ ¡ ¡ ¦   ¡ ¦ ¡ ¦ ¦ ¤ ¡   ¤ ¤   ¡   ¡ ¡ ¡  ¡ . Raja Grafindo Persada Mar’at. 5 Mei 2005. Psikologi osial. Yo gyakarta: Kanisius Krech. Tesis (tidak diterbitkan ). Yogyakarta: Fakultas Psikologi niversitas Gajah Mada antrock.M. 2. Metoda tatist ika. 1982. A. E disi ke 2. 1988. Bunga Rampai Kasus Gangguan P sikoseksual. 2005. Lif e pan Development Jilid 2. Edisi I. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya.P. P atologi osial. 1994. David dkk. Adam & Jessica Kuper. . urabaya: saha asional Monks. Jakarta: Arcan Patroli. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada etiono. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada . 1982. 47 54 udjana.W. 2002. Psikologi Remaj a. ikap Manusia Perubaha n erta Pengukuran. 1991. Kusdwiratri. Patologi osial 2 Kenakalan Remaja.130 Kartono. JW. Ensiklopedi Ilmu Ilmu osial. Jakarta: Erlangga arwono. 2002. Palembang: niversi tas riwijaya Kuper. Bandung: Tarsito upardi. 1988. Paul Henry dkk. Psikologi Remaja. Jakarta: . Knoers. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Köhlberg. Jakarta: Ghalia Indonesia Mappiare. T ahap Tahap Perkembangan Moral (alih Bahasa: John de anto dan Agus remmers). 20 01. o. Perkembangan Moral Remaja Delinkuen Dan on Delinkuen. 1982. iti Rahayu Haditono. P erkembangan Penalaran Moral Tinjauan dari udut Pandang Teori osio Kognitif. 1982. Jakarta: V Rajawali . Pengantar Psik ologi mum.V Bulan . 1997. Ju rnal Psikologi Dan Masyarakat.

B. 1991.131 ¡   ustiwi. Yogyakarta: Andi Offset ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . 1987. Fadmi. Etika Dasar Masalah Masalah Pokok Filsafat Moral. emarang : Kedaulatan Rakyat. halaman 15 useno. Ketika Perilaku eks Remaja Kian Beresiko. 2 Mei 2005. Yogyakarta: Kanisius Walgito. Franz Magnis. Psikologi osial: uatu Pengantar.

132 .

osial 8. Aspek 1. Biologis 2. 5. 10 3 6 3 13 10 16 11 2.Lampiran 01 133 Format kala Penelitian o. Psikologis 7. 7 13 3. 4. 1. 9. 3 4 7 8 Total item 47 101 ¤ ¡ ¥ ¦ ¡ ¡ . 6. Indikator Favorabel Keadaan dorongan seksual terhadap 3 tingkah laku seksual 9 Minat remaja terhadap lawan j enis kelamin 3 Pelaksanaan minat seksual 7 itra diri (penilaian terhadap diri 1 0 Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 8 ikap dan perilaku menghormati orang lain 6 Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 4 Dorongan untuk berdiri sendiri 4 Pandangan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat 54 nfavorabel 7 4 Jumlah 10 13 3.

ikap dan per ilaku menghormati orang lain osial 7.41 26 42.39 25 40. 28.62 10 16 47. 14. Butir Favorable kogniti f afektif konatif 4.58 30. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. 8.60 46 61.34 . Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikologis 2. 18. 19 20 21. 17. 12 13.49. Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 9 10 6. Butir nfavorable Kognitif Afektif konatif 1 2 3 o.Lampiran 02 134 Butir Item kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas ebelum ji oba o. 5.33. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6.52.36 13 45 59.48.38.35. 15 16.7 Aspek Biologis Indikator Jumlah 10 1. Pandangan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat Jumlah 11.43 27. itra diri (pe nilaian terhadap diri 5.5 3 ¥ ¡ ¤ ¥ ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ¦ . Minat re maja terhadap lawan jenis kelamin 3. 22 23 13 24 37. Pelaksanaan minat seksual 4. 31 32. 50 51. 29 44 57.

79 80.76 77.78. 85. 56 63.65 66.64.84.54.96 97 98.99 100 101 8 18 . 70 71 72 73 11 74 75.67 68.88 89 90 91 92 93 7 94 95.81 82 83.86 13 87.55.69.

17 19 17 13 17 101 .

Lampiran 03 135 Butir item angket pengungkap pendapat tentang masalah masalah sosial sebelum uji coba erita Pertanyaan 1 I II III IV V 2 3 4 5 6 7 8 9 VI 10 11 12 13 VII VIII IX 14 15 16 17

 

¥

Lampiran 04 136 kala ji oba I H B GA IKAP REMAJA TERHADAP PERILAK EK BEBA DI TI JA DA RI TI GKAT PE ALARA MORAL PADA I WA KELA D A (II) M KE ATRIA 1 EMARA G ta hun ajaran 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Kölberg) J R A P IKOLOGI FAK LTA ILM PE DIDIKA IVER ITA EGERI EMARA G ( E ) Gedung a.2 Kampus ekaran, Telepon 024.3562685 Gunung Pati emarang 50229 Identitas sampel ama : sia : Je nis Kelamin : Assalamu’alaikum Wr. Wb. Di tengah kesibukan yang teman teman lakuka n, perkenankan aya, memohon bantuan teman teman untuk menjawab daftar pernyataa n dengan berbagai pilihan jawaban yang dianggap sesuai dengan kondisi teman tema n. Adapun petunjuk pengisian adanya sebagai berikut : Bacalah setiap pernyataan dengan teliti dan menjawab semua pernyataan tanpa ada yang terlewatkan dengan se jujurnya sesuai dengan kondisi yang temanteman alami. Pernyataan tersebut bukan merupakan tes, sehingga tidak ada jawaban yang dinyatakan sebagai jawaban benar atau salah. Pilihlah 1 (satu) dari 4 (empat) jawaban yang tersedia, dengan membe ri tanda silang (X) pada jawaban yang teman teman anggap sesuai dengan kondisi t eman teman. Alternatif jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut : : bila Anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut : bila Anda setuju dengan pernya taan tersebut T : bila Anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut T : bila Anda sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut Jika teman teman merasa bahw a jawaban yang telah teman teman pilih kurang tepat, maka berilah tanda sama den gan (=) pada jawaban yang kurang tepat, selanjutnya berikan tanda silang (X) pad a jawaban yang teman teman anggap sesuai. ontoh : X T X T Jawaban teman teman merupakan informasi yang sangat penting dan membantu dalam p enelitian aya. Terima kasih atas bantuan dan kerjasama yang teman teman berikan . Hormat aya PRAMITA AG E WAHARE I (Mahasiswa Jurusan Psikologi E ) ...... ELAMAT ME GERJAKA ......

¡

¡

¤

¦ ¤ ¦  

¤ ¡

¡¡

¡ ¡

¡ ¦¦¤  

¡  

¡

¡ ¦ ¡¤ ¤ ¦ ¤ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ¦  

¡ ¦¦¤ ¡

¤ ¡    

¦ ¥

¡

¡ ¡ ¦ ¡

¦ ¡

¦ ¡ ¦ ¦¤ ¤   ¡ ¦ ¡  

¦¤ ¦ ¦ ¡ ¡

¡ ¡

 

¦

¡

¥

¦ ¡

¡ ¡

¦

¦ ¤

 

¤

¡¡

¡

137

T

T

¡

¡

 

¡

¡

¡

¥

¡

¥

 

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡ ¡

¡¡

¡

¡

¡

¦

o. 1. 2. 3. 4.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Pernyataan Dorongan untuk melakukan seks yang muncul sebelum menikah seharusnya ditekan aya kecewa apabila dapat mencurahkan kasih sayang kepada kekasih dengan cara berhubungan seks dengannya Berciuman dengan kekasih membuat aya merasa be rsalah Menurut aya bercumbu dengan pacar tidak apaapa karena tidak mungkin terj adi kehamilan Tanpa menikah terlebih dahulu, seseorang yang organ seksualnya sud ah berkembang dan sudah dapat bereproduksi, sudah layak melakukan hubungan seksu al eseorang yang melakukan hubungan seks secara bebas dan tidak terjadi kehamil an karenanya tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya eks bebas yang dil akukan dengan alat kontrasepsi tidak akan menimbulkan akibat yang tidak diingink an Bercumbu dengan pacar merupakan saat yang paling menyenangkan Melakukan hubun gan seks tanpa ikatan perkawinan tidak membuat aya merasa tertekan aya mau mel akukan seks bebas dengan kekasih asal sesuai dengan batas batas norma yang ada aya pikir pacaran dan kemudian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya aya takut melakukan seks bebas, meskipun itu dengan pacar saya sendiri Melakuka n hubungan yang terlalu intim dengan pacar membuat aya tertekan aya mau melaku kan hubungan seksual dengan pacar, asal di tempat yag sepi inta yang tulus dan mendalam kepada pacar tidak perlu dimanifestasikan dengan seks bebas eks bebas dilakukan oleh kaum remaja agar tidak dianggap ketinggalan jaman inta tanpa sek s bagaikan sayur kurang garam aya lebih senang berteman dengan orang orang yang mendukung pergaulan seks bebas eks bebas dapat menimbulkan kesenangan yang tak terbayangkan eks bebas merupakan cara yang paling tepat untuk membuktikan rasa cinta

138 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. Menurut aya hidup bersama sebelum menikah boleh saja dilakukan agar aya dapat lebih menjajaki sifat pasangan Remaja putra/putri akan memiliki perasaan percaya diri yang tinggi bila ia melakukan seks bebas Jika teman aya pernah melakukan hubungan seks bebas dan tidak hamil, apa salahnya jika aya juga mencoba Doronga n seks bebas yang muncul sebaiknya diarahkan pada bidang lain yang bermanfaat a ya bisa mengontrol diri untuk tidak melakukan hubungan seks bebas dengan lawan j enis (pacar maupun teman), meskipun situasi memungkinkan aya akan berolah raga untuk mengalihkan perhatian terhadap seks bebas eks bebas dapat mengurangi keje nuhan dalam belajar Jika kedua belah pihak (laki laki dan perempuan) dapat mempe rtanggungjawabkan perbuatannya, maka seks bebas dapat dilakukan Karena takut ber cerai, banyak pasangan cinta yang kumpul kebo Meskipun tanpa ada ikatan pernikah an, perasaan cinta yang tulus dan mendalam sebaiknya diungkapkan dengan melakuka n hubungan seks Remaja yang telah melakukan hubungan seks secara bebas tidak per lu merasa sedih, karena dengan melakukan seks bebas berarti pengalamannya bertam bah Dalam pergaulan sah sah saja jika aya melakukan hubungan seks dengan bebas Dengan mempunyai pacar, hasrat seksual saya akan terpenuhi Karena tidak menggang gu prestasi belajar, maka seks bebas tetap saya lakukan Jika saya sangat mencint ai pacar aya, maka saya akan melakukan hubungan seks dengannya Jika aya terang sang melihat melihat gambargambar porno, aya akan melakukan hubungan seksual de ngan lawan jenis, meskipun itu bukan isteri/suami aya sendiri

¡

¡ ¡

¡

¡

¡

¡

  ¡

¡

¡

 

¡

¡

139 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. Masih perawan sampai saatnya menikah adalah suatu hal yang penting bagi aya Men jaga keperjakaan sampai saatnya menikah merupakan hal penting bagi aya Berganti ganti pasangan seksual dapat menyebabkan penyakit kelamin Menurut aya, masa de pan saya akan suram jika terjadi pernikan dini akibat seks bebas aat dorongan s eks muncul, aya akan mengalihkan dorongan itu dengan belajar lebih giat supaya orang lain lebih menghargai aya aat dorongan seks bebas muncul, keinginan aya untuk berolahraga besar Dengan melakukan hubungan seks bebas, aya akan mempuny ai resiko tertular penyakit seksual Pergaulan eks bebas dapat menambah kepercay aan diri aya merasa lebih mencintai dan dicintai oleh pacar setelah melakukan h ubungan seks dengannya aya akan menyerahkan keperawanan atau keperjakaan aya b ila aya yakin bahwa pacar aya adalah pendamping terbaik untuk aya Remaja yang melakukan seks bebas sudah sepantasnya dikucilkan oleh masyarakat Kumpul kebo t idak boleh dilakukan karena melanggar norma norma yang ada Bergandengan dan berp elukan dengan pacar pada saat kencan boleh saja eseorang yang berani melakukan hubungan seksual sebelum menikah berarti sanggup menanggung dosa besar Remaja ya ng pernah melakukan seks bebas akan mempunyai perasaan bersalah seumur hidup Rem aja yang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya dikeluarkan dari sekolah untuk menghindari peniruan perbuatan oleh temannya yang lain Anak yang dilahirkan dari hasil seks bebas akan ikut menanggung dosa orang tuanya

¡

¡

¡

¡ ¡

¡

¡

¡

¡

¡

 

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

 

57. Remaja yang melakukan seks bebas akan mengalami kesulitan dalam berkeluarga kela k Masyarakat perlu memperhatikan hubungan sepasang remaja. 66. 68. misalnya pasangan pac aran. 70. meskipun ini dilarang aya tetap me lakukan hubungan seks secara bebas. 60. 58. 61. 65. 55. walaupun bertentangan dengan ajaran agama ya ng aya anut Remaja yang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya di usir oleh ke luarganya Remaja yang melakukan seks bebas sudah pasti berasal dari keluarga yan g kurang harmonis Dengan melakukan seks bebas berarti orang tersebut tidak mengh argai ikatan perkawinan Remaja yang melakukan hubungan seks bebas mempunyai sifa t yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. 67. sehingga seks bebas tidak terjadi Meskipun sepakat untuk menanggung resiko . sebaiknya seks bebas tidak dilakukan oleh sepasang kekasih sebelum syah menjad i suami istri Menurut aya dalam berpacaran tidak usah terlalu mempedulikan norm a norma yang ada Remaja yang melakukan seks bebas bukan berarti mempunyai moral yang jelek aya tidak merasa bersalah dengan hubungan seks bebas yang saya lakuk an aya senang melakukan seks bebas meskipun aya tahu itu dilarang oleh agama y ang aya anut eks bebas tetap saya lakukan. terutama orang tuanya sendiri Re maja yang melakukan seks bebas mempunyai sifat yang egois Remaja yang melakukan seks bebas berarti merusak masa depannya sendiri Kesadaran remaja tentang nilai dan norma norma yang ada di masyarakat akan mencegah mereka untuk berperilaku se ks bebas eseorang yang berasal dari keluarga yang mempunyai kontrol agama yang baik tidak akan melakukan seks bebas Jika ada kesempatan untuk saya adan pacar u ntuk melakukan hubungan seks. 69. 71. 56. 64. 63. 59. aya selalu memanfatkannya ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡   . 62.140 54.

75. seperti berpacaran dengan melakukan seks bebas Rasa cinta pada pacaran di dorong oleh rasa ingin melindungi Keluarga aya melarang seseora ng berhubungan seks sebelum menikah. 85. maka tidak ada seorangpun yang b oleh melarang orang lain melakukan seks bebas Teman yang suka mempengaruhi kita untuk ikut dalam pergaulan seks bebas harus dihindari aya merasa tidak senang j ika ada teman yang mempengaruhi aya untuk melakukan seks bebas aya merasa sena ng apabila bisa menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat dengan tidak melaku kan perbuatan amoral. 82. 74. 81. 76. tidak akan membuat aya terpengaruh untuk melakukannya Melakukan hubungan seks sekali saja tidak a kan menyebabkan kehamilan Menurut saya hidup bersama sebelum menikah boleh saja dilakukan agar aya lebih dapat menjajaki pasangan aya lebih senang berteman de ngan orang orang yang mendukung pergaulan seks bebas eks bebas sebaiknya dilaku kan oleh pasangan yang akan menikah untuk dapat lebih mengetahui sifat masing ma sing Berhubungan seksual akan aya lakukan sebagai bukti perasaan cinta pada pac ar epasang kekasih yang hubungannya tidak direstui oleh orang tua. 78. 80. 73. Orang tua yang tahu dan tidak melarang anaknya berpacaran adalah orang tua yang bijaksana Masalah seksual adalah hak seseorang. 83. selayaknya m elakukan seks bebas supaya orang tua menjadi setuju dengan hubungan mereka Agar tidak direbut oleh orang lain seorang pemuda atau pemudi dapat mengajak pacarnya melakukan seks bebas eks bebas yang dilakukan baik dengan pacar maupun dengan orang lain (teman. 87. istri/suami orang lain) merupakan tindakan yang tidak dapat aya terima ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ .141 72. 77. 86. 84. 79. sehingga aya tidak akan melakukannya Fenom ena perilaku seks bebas yang akhir akhir ini banyak disoroti.

aya masih dalam keaadaan perawan/perjaka aya t idak bersedia melakukan hubungan seks 90. melakukan hubungan seks sebelum menikah Dorongan seks yang muncu l sebaiknya dimanifestasikan dengan perilaku yang tidak 97. 81 . berpacar an untuk tidak melakukan hubungan seks eks bebas dapat dilakukan oleh sepasang remaja 92. tetap dan ekonominya matang. 71. merusak ketulusan cinta Hidup bersama dalam ikatan perkawinan adalah 95. 77.142 ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ntuk menghindari perbuatan seks secara bebas. sebaiknya kontak fisik dengan lawan jenis yang bukan suami/istri kita dihindari aya merasa bangga. yang saling mencintai dalam ikatan pacaran eseorang yang sudah mempu nyai penghasilan 93. lahir seorang anak di lu ar nikah aya akan bertanggungjawab atas akibat pergaulan 101. karena sa mpai waktunya 89. menjurus pada perila ku seks bebas. 13. dilakukan dalam kehidupan modern Rasa cinta pada pacar merupa kan manifestasi dari 99. 42. 88. idaman semua orang untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus meneruskan keturunan aya takut dianggap kurang pergaulan bila tidak 96. wajar jika melakukan seks beba s Melakukan hubungan seks secara bebas berarti 94. meskipun itu dengan pacarnya sendiri eks bebas adalah hal yang w ajar dan biasa 98. bebas yang saya lakukan. 50. seks bebas yang aya anut dan aya tidak peduli pandangan orang lain *) Item yang tidak valid pad a nomor : 3. dorongan seks yang ingin dipuaskan Tidak apa apa kalau dari hubungan seks secara 100. 79. 69. 49. dengan lawan jenis sekalipun dia orang yang sangat aya cintai Adalah salah jika kita melarang orang yang 91. 41. aya menikah.

Anda diminta memberikan pendapat tentang kasu s tersebut. Berikanlah pendapat Anda sesuai dengan pandangan dan pertimbangan An da sendiri. Bacalah baik baik setiap kasus yang disajikan 2.143 Petunjuk Pengisian Angket Angket ini adalah angket pengungkapan pendapat tentang masalahmasalah sosial. elamat mengerjakan ! dan Terimakasih     ¡ . Pada bagian akhir setiap kasus. Lang kah langkah pengerjaan angket ini adalah sebagai berikut : 1. Tuliskan pertimbangan Anda pada lembar jawaban. ada beberapa pert anyaan yang diajukan. Da lam angket ini ada beberapa kasus. 3. Anda dipersilahkan memberikan jawaban atau penyataan yang dianggap paling sesuai dengan pendapat Anda. Kerjakanlah dengan teliti dan jangan sampai ada yang terlewati.

Tetapi apoteker itu berka ta “ aya membuat obat itu dan aya akan mengharapkan uang yang banyak karena menem ukannya”.144 Kasus I Di Eropa. Akibatnya Herman menjadi putus asa dan ia mulai berpikir untu mendobrak apotek itu dan mencuri obat tersebut untuk istrinya. seorang wanita hampir mati karena sakit kanker. apakah penting bagi kita untuk melakuk an sesuatu dan menyelamatkan jiwa orang Kasus II Herman kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. 4. Ia selalu jujur pad a langganan dan memberi upah yang tinggi pada para pekerjanya. yaitu 10 juta rupiah. Apabila herman tidak mencintai istrinya. Apakah bu Arman harus melaporkan Anto pada polisi ? ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ . 1. tatapi ia menjualnya dengan harga 20 ju ta rupiah untuk satu dus kecil obat. Biaya pembuatan obat itu 2 juta rupiah. elama 8 tahun ia bekerja keras dan me nabung uang sehingga dia mampu mendirikan sebuah perusahaan. uami wanita yang sakit tersebut. Tetapi dia hanya mendapat pi njaman separuh dari yang ia butuhkan. Pada suatu hari. Ada sejenis ob at Radium yang menurut para dokter mungkin dapat menyelamatkan dia. bu Arman tentangga lama Anto mengenalinya sebagai orang yang melarikan diri dari penjara dan sedang dicari polisi. etelah 1 tah un mendekam di dalam penjara ia melarikan diri. Herman. apakah ia juga akan mencuri obat itu ? mengapa ? 3. Dia mengatakan pada apoteker itu bahwa istrinya hampir mati. epatutnyakah Herman ber buat demikian ? mengapa ? 2. Obat tersebu t diketemukan oleh seorang apoteker laki laki yang tinggal dalam kota yang sama. b erkeliling ke semua kenalannya untuk meminjam uang. dan meminta padanya untuk menjual obat itu lebih murah atau membolehkannya membayar kemudian. Dia hidup dalam pemukiman baru d engan nama Anto dan membuka sebuah usaha.

Jika berkeras hati u ntuk pergi berkemah. 6. keadaanya lemah sekali. adalah seorang anak laki laki berumur 16 tahun. apalagi dia tahu bahwa umurnya tidak panjang la gi. supaya istri Herman segera dapat terlepas dari kesakitannya ? mengapa ? Kasus IV Didi. tetapi obat itu tidak mempan dan tidak ada cara pengobatan lain yang dike nal oleh ilmu kedokteran untuk menyelamatkannya. Dokter tahu bahwa hidup istri H erman itu kira kira tinggal 3 bulan lagi. Ia ingin sekali b erkemah.145 Kasus III Pada akhirnya dokter mendapatkan sedikit obat Radium itu untuk istri H erman. Bahkan istri Herman sering tida k sadar dan hampir gila karena sakitnya. 60. Beberapa teman ayahnya mengajak ayak Di di pergi memancing dan ayah Didi hanya punya uang sedikit. uang ini cukup untuk biaya pergi berkemah dan lain lainnya. Apakah kita harus selalu memenuhi janji kita ? mengapa ? ¡   ¥       ¥   . Ia t idak tahan menanggung kesakitan.000. Dan dalam saat saat tenang ia meminta s upaya para dokter memberinya TM cukup banyak saja agar ia cepat meninggal. maka Didi merencanakan menolak permintaan ayahnya itu. Haruskah dokter meluluskan apa yang diminta istri Herman tersebut ? dan m embuatnya meninggal. Oleh karena keinginannya yang kuat. hasil tabungannya sebagai pengantar koran. Istri Herman dalam kesakitan yang luar biasa. eharusnya Didi menolak untuk menyerahkan uang itu ataukah ia menyerah ? mengapa ? 7. Ayahnya berjanji dia berhak berkemah kalau ia menabung sendiri untuk be rkemah. 5. . Tetapi sebelum bera ngkat berkemah ayahnya mengubah pikiran. Ayah didi kemudian me minta uang Didi. ia bekerja sebagai pengantar koran s ebelum berangkat sekolah. Joko berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. sehingga obat penenang seperti TM atau morfin 1 dosis kecil saja akan mempercepat kematiaannya.

dan tidak bermaksud membayar kembali hutangnya itu. manakah yang lebih baik ? memi njam dari bank atau meminjam dari orang tua itu ? mengapa ? 11. tetapi ia mau juga meminjamkan uang kepada Bagio. Mereka secara diam diam mau meninggal kan kota dalam keadaaan tergesa gesadan membutuhkan uang. 8. 500.000. Didi memberi tahu kepada Joko mengenai uang itu. lalu ia pergi berkemah dengan uang Rp.000. menipu seperti Bagio atau mencuri seperti Karim ? mengapa demikian ? ¡       ¡       . eandainya Bagio mendapat pinjaman dari b ank. Dari segi kebaikan masyarakat mana yang lebih j elek. yang lebi h muda pergi pada seorang tua yang terkenal suka memberikan pertolongan kepada o rang lain. Didi mempunyai kakak bernama Joko. .untuk membiayai operasi. kepada ayahnya. 500. Apa kegunaan orang mempunyai hak milik ? 14. mencuru seperti Karim ata u menipu seperti Bagio ? mengapa ? 10. 20. Meskipu n orang tua itu tidak mengenal Bagio. . e belum berkemah. unsur manakah yang paling jelek dalam menipu orang tua tadi ? mengapa ? 12. Bagio berkata kepada orang tersebut bahwa ia dalam keadaan sakit bera t dan butuh uang Rp.jumlah sebenarn ya yang diperolehnya dari mengantar koran. Apa sebab orang tidak boleh mencuri barang di toko orang lain ? 13. Akhirnya Karim dan Bagio dapat meninngalkan kota dengan masing masing me mbawa uang Rp. tanpa maksud mau mengembalikan pinjaman itu. 9. Apakah Joko harus memberi tahukan hal ini kepada ayahnya ? mengapa ? Kasus VI Dua pemuda mendapatkan kesulitan. Bagio. Karim. 60. 500.000. Padahal sebenarnya ia tida k sakit sama sekali. yang lebih tua mendobarak sebuah toko dan mencuri uang sebanyak Rp.000. Manakah yang lebih jelek.000 .146 Kasus V : Didi berbohong mengatakan bahwa ia hanya mendapapatkan uang Rp. bahwa ia berboh ong pada ayahnya. Menurut pendapat mu.

      ¡ ¡   ¡ ¡ . Akan tetapi. Kapten kompi ha rus memutuskan siapa yang harus kembali dan melaksanakan tugas itu. tentulah hal itu akan mengurangi kekuatan musuh. Ka lau ada yang kembali ke jembatan dan meledakkan jembataan itu sewaktu musuh mele watinya. Ada seorang laki laki bernam a Diran yang mendapat tugas mengawasi sebuah pos pemadam kebakaran. Ia memint a sukarelawan tetapi tidak ada yang mau menjadi sukarelawan itu. Dengan selisih jarak a ntara musuh dengan kompi barangkali mereka masih dapat menyelamatkan diri. dekat tempat kerjanya. Rumahnya cukup jauh dari situ. tetapi musuh sebagian besar masih ada di sebernag sungai. Diran meni nggalkan tempat perlindungan dan pergi ke posnya. kemungkinan terbunuh ada dalam perbandingan 4 : 1. emua orang laki laki di kota itu sering kal i mendapat tugas menjadi pos pos pemadam kebakaran. Hanya kapten itu sendiri yang paling tahu bagaimana memimpin penarikan mundur itu. Kompi tentara kita sudah menyeberang jembatan sebuah sungai yang memb elah kota urabaya. tetapi pertama tama ia pulang menengok k eluarganya. uatu hari.147 Kasus VII Pada saat perang kemerdekaan di Indonesia. dan mereka memil ih mundur. di urabaya ada 1 kompi tentara kita ka lah dalam jumlah jika dibandingkan dengan jumlah tentara musuh. sesudah ada pemboman yang bukan main parahnya. di tengah jalan i a memutuskan menengok dulu keluarganya untuk melihat apakah anggota keluarganya selamat. 15. Tetap i orang yang kembali untuk meledakkan jembatan itu barangkali tidak dapat menyel amatkan diri. Benar atau salahkah kalau ia meninggalkan pos untuk melindungi k eluarganya ? mengapa ? Kasus VIII Pada saat perang kemerdekaan. ada salah satu kota yang se ring kali di bom bardir oleh panah.

atau ia sendiri yang harus kembali. Jika kapten menyuruh salah satu dari kedua orang itu. Ia suka mengambil barang orang lain dan suka menolak tugasnya. atau orang yang sakit kelamin ? meng apa ? ¡   . alah 1 dari 2 orang itu mempunyai tubuh kuat dan pembe rani. atau semuanya lari ? mengapa ? Kasus IX Kapten itu akhirnya memutuskan akan memerintahkan 1 dari 2 orangnya unt uk berhenti di belakang. 17. Apakah kapten harus memberi perintah kepada seseorang untuk kembali dan mele dakan jembatan. apakah ia harus menyuruh si tukang pembuat onar itu. tetapi ia suka berbuat onar.148 16. Orang yang kedua yang akan dipilihnya kena penyakit kelamin (s iphilis) dan agaknya akan segera meninggal meskipun cukup kuat untuk melaksanaka n tugas itu.

42. aya akan mengalihkan dorongan itu den gan belajar lebih giat supaya orang lain lebih menghargai aya aat dorongan sek s bebas muncul. 69. 79. 81. 3. Pernyataan Berciuman dengan kekasih membuat aya me rasa bersalah Melakukan hubungan seksual yang terlalu intim dengan pacar membuat aya tertekan aat dorongan seks muncul. 71. tidak akan membuat aya terpengaruh untuk melakukannya aya senang berteman dengan ora ng orang yang mendukung pergaulan seks bebas T T 41. 49. 77. 42. aya sel alu memanfatkannya Dalam hubungan berpacaran harus dilandasi perasaan saling mel indungi Fenomena perilaku seks bebas yang akhirakhir ini banyak disoroti. 50. 77.149 kala ji oba II o. aya akan menghilangkannya dengan berolahraga supaya orang lebih menghargai aya Berciuman dengan pacar boleh saja asal sesuai dengan batas bata s norma yang ada eseorang yang berani melakukan hubungan seksual sebelum menika h berarti sanggup menanggung dosa besar Kesadaran remaja tentang nilai dan norma norma yang ada di masyarakat akan mencegah mereka untuk berperilaku seks bebas J ika ada kesempatan untuk saya adan pacar untuk melakukan hubungan seks. Butir yang tidak valid yaitu nomor 13. 49. 13. 81   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤   ¡ ¡ .

JI VALIDITA DA RELIABILITA KALA IKAP REMAJA TERHADAP PERILAK EK BEBA o Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 1 6 17 18 19 20 21 22 23 24 25 1 3 3 1 2 2 3 4 2 2 2 3 3 2 4 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 3 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 4 2 4 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 4 2 2 3 1 1 1 2 1 3 1 1 6 2 1 2 2 1 4 4 2 2 2 2 3 2 4 2 4 1 1 2 2 3 1 1 2 3 7 4 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 8 2 2 1 1 1 2 4 1 2 1 2 3 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 2 2 2 1 1 3 4 1 2 1 2 3 1 4 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 10 4 3 2 1 1 4 2 2 2 1 3 4 4 4 3 2 1 1 2 2 2 1 3 1 1 o Item 11 12 1 1 1 1 1 1 3 1 2 1 1 2 1 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 1 3 3 4 3 2 2 1 4 1 2 1 2 1 1 13 1 2 1 1 2 4 1 1 3 2 1 2 3 4 4 2 1 1 2 1 3 1 2 1 1 14 1 2 2 1 2 1 1 1 3 2 1 2 4 4 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 15 1 3 2 1 2 1 4 1 2 1 2 2 3 4 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 16 1 2 2 3 2 1 3 1 2 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 2 3 1 3 1 1 17 3 2 2 2 3 4 2 2 3 1 3 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 18 1 2 1 2 2 4 4 2 2 4 4 4 3 1 4 2 2 1 1 2 4 1 3 1 1 19 2 3 1 1 1 4 4 2 2 3 2 3 1 1 1 2 1 2 2 2 4 1 2 1 1 ¦ ¡   ¥¤   ¥¤   ¥¤ ¥¤   ¥¤   ¥¤ ¡ ¡ ¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¡ ¡ ¡ ¦ ¡ ¤ ¦ .

20 2 3 1 1 1 4 3 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 21 2 1 1 2 1 3 3 2 2 3 2 3 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 ΣX ΣX Validitas 2 50 122 51 115 38 66 43 99 38 76 55 145 42 92 38 78 44 98 56 156 33 57 47 111 47 115 43 99 46 104 47 107 51 123 58 170 49 121 48 114 44 90 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 10427 10166 7556 9173 7860 11194 8798 8170 9356 11669 6978 9686 9749 8788 9343 9 636 10167 11664 9856 10148 8730 0.856 0.781 0.396 0.824 0.633 0. 396 0.396 0.396 0.420 0.529 0.446 0.857 0.396 0.549 0.768 0.396 .396 0.752 0.396 0.396 0.581 0.396 0.396 0.396 0.396 0.616 0.396 0.396 0.396 0.586 0.396 0.687 0.396 0.396 0.418 0.47 7 0.723 0.396 0.415 0.616 0.

0.222 0.960 0.418 0.538 0.874 0.822 1.746 0.858 0.906 1.810 0.502 .066 1.758 1.396 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.998 0.330 1.730 0.774 0.002 0.397 0.438 0.880 0. 002 0.

` No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 22 1 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 4 4 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 23 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 4 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 24 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 4 1 4 2 1 4 2 4 4 4 25 2 3 1 2 2 1 2 1 3 1 1 1 4 4 2 2 2 1 1 4 4 1 1 1 1 26 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 27 2 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 3 4 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 28 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 4 2 4 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 29 1 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 3 3 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 30 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 No Item 31 32 33 1 1 2 1 3 4 1 1 3 1 3 2 3 4 2 2 1 1 2 2 3 1 2 2 2 1 4 3 3 3 1 4 3 3 4 3 4 2 4 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 2 2 1 1 1 3 1 2 3 2 3 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 34 1 1 2 2 1 1 2 2 3 3 3 3 2 4 1 2 2 1 2 1 1 1 3 1 1 35 2 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 36 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 1 4 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 37 4 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 3 3 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 38 2 3 2 1 2 3 2 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 2 2 1 3 3 1 1 1 39 1 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 40 2 1 1 2 1 1 1 2 3 2 2 2 3 1 2 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 41 1 2 2 2 1 1 2 4 2 2 1 3 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 .

126 0.396 Valid Valid Invalid Valid Invalid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid § ΣX ΣX Validita 2 .488 0.396 0.529 0.396 0.786 0.396 0.396 0.224 0.396 -0.396 0.433 0.469 0.396 0.396 0.396 0.686 0.493 0. 536 0.500 0.396 0.419 0.396 0.396 0.652 0.136 0.626 0.845 0.396 0.396 -0.146 0.396 0.396 0.396 0.710 0.396 0.42 1 1 1 1 1 4 2 1 3 2 2 1 3 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 40 88 40 76 84 310 48 122 31 43 37 71 43 93 49 115 33 49 50 122 67 199 40 78 46 104 37 65 41 87 38 78 50 116 35 63 42 82 44 96 42 86 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8293 8051 15805 9714 5832 7544 9116 10192 6413 10158 13234 8262 9452 7476 8601 7 788 10119 7278 8118 8951 8460 0.396 0.549 0.541 0.596 0.39 6 0.

194 0.640 0.790 0.650 0.618 .778 0.774 0.762 0.758 0. 410 0.560 0.560 0.458 0.0.810 0.480 1.110 1.742 0.218 0.182 0.960 0.880 0.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 43 2 1 3 1 1 4 3 1 3 1 1 2 2 3 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 44 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 1 2 1 2 3 1 2 1 2 1 1 45 2 3 3 3 4 1 4 2 3 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 46 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 3 4 1 1 2 1 1 2 3 1 2 1 1 47 1 2 1 1 1 3 3 1 2 1 2 3 1 4 2 2 2 1 2 2 3 1 2 1 1 48 2 1 1 2 1 2 3 1 2 1 2 3 4 4 1 2 1 1 1 1 2 1 3 1 1 49 1 1 1 1 1 4 1 2 2 1 1 3 4 2 1 2 1 1 2 2 3 1 2 1 1 50 2 4 2 4 3 4 3 2 3 2 2 4 4 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 51 1 3 1 1 1 1 3 2 2 2 1 3 1 4 1 1 1 1 1 4 2 1 2 1 1 52 2 4 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 2 2 2 3 2 2 1 2 1 1 No Item 53 54 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 4 1 2 2 1 1 2 1 1 3 1 1 2 4 1 1 1 4 2 1 2 1 2 2 1 4 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 55 2 2 2 1 3 4 4 1 3 3 2 2 1 4 4 1 2 1 1 2 4 1 2 1 1 56 2 3 1 3 1 4 4 2 2 3 2 3 4 4 1 2 1 2 2 1 4 1 3 1 1 57 2 1 1 1 1 3 4 1 3 1 1 2 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 58 2 4 2 4 2 4 3 2 3 2 1 3 4 4 1 2 2 1 2 1 1 1 4 2 2 59 2 1 2 1 1 4 2 2 3 2 1 2 2 4 4 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 60 2 1 1 2 2 4 2 2 3 1 2 3 1 4 1 2 2 1 1 2 1 1 3 1 1 61 1 1 1 1 1 1 3 2 2 2 2 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 .

396 0.396 0.630 0.834 0.396 0.486 0.396 0.642 0.676 0.396 0.506 0.730 0.396 0.396 0.624 0.62 3 4 3 3 1 4 2 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 2 3 2 4 1 2 1 1 63 2 3 3 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 4 2 2 2 2 3 3 1 1 2 2 1 41 87 43 95 55 137 44 98 45 99 44 100 42 92 68 204 42 94 50 116 37 69 43 97 54 148 57 161 37 73 59 169 48 114 46 106 41 81 63 181 60 160 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8556 8968 10601 9111 9459 9311 8563 13462 8765 10087 7621 9083 11161 11882 7814 12012 9860 9608 8278 12610 12066 0.396 0.396 0.396 0.396 0.639 0.132 0.396 0.396 0.471 0.564 0.396 0.73 3 0.741 0.396 § ΣX ΣX Validita 2 .396 0. 396 0.396 0.780 0.396 0.396 0.607 0.715 0.396 0.567 0.613 0.520 0.670 0.

874 0.922 1.854 0.640 0.858 0.720 0.902 0.640 .890 0.190 0.730 1.254 1.822 0.Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.842 0.640 0.938 0.570 0.762 0.790 0. 242 0.550 0.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 64 2 1 2 1 1 2 4 1 2 1 2 4 1 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 65 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 66 2 2 2 2 1 4 4 2 2 2 3 3 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 3 1 1 67 1 2 2 1 1 4 1 1 3 3 2 4 2 3 2 1 1 1 1 2 3 1 2 1 1 68 2 2 2 3 1 3 3 1 3 1 2 1 1 4 2 3 1 2 1 2 1 2 3 1 1 69 2 3 2 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 4 1 2 2 1 3 3 1 3 1 1 70 1 2 1 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 4 3 1 1 71 3 2 1 2 1 1 4 2 3 2 2 1 1 4 2 2 1 3 3 2 1 4 3 2 1 72 1 3 1 2 1 4 1 1 2 2 2 4 2 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 73 2 2 2 3 1 4 3 1 2 2 2 3 4 4 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 1 No Item 74 75 1 1 1 1 1 4 4 1 2 2 2 4 1 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 3 3 3 1 3 1 1 3 3 3 3 2 1 1 4 4 2 3 4 2 3 4 3 4 4 76 2 3 1 1 1 1 4 1 3 2 2 3 1 4 1 2 1 1 2 3 2 1 2 1 1 77 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 3 2 1 4 2 2 3 1 1 2 1 1 2 1 1 78 2 2 1 1 1 2 3 1 3 2 3 2 1 4 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 79 2 2 1 2 1 4 3 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 2 1 1 80 2 2 1 3 1 3 4 2 3 2 1 3 2 4 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 81 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 2 4 4 4 2 1 3 2 2 2 1 1 3 1 1 82 3 3 1 2 3 1 3 2 2 2 3 3 2 4 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 .

728 0.396 0.778 0.396 0. 396 0.830 0.162 0.396 0.428 0.6 87 0.83 1 2 3 3 3 1 1 2 3 2 4 2 3 4 2 2 3 3 3 2 1 1 3 4 3 84 2 2 1 4 1 3 3 1 2 2 2 4 1 3 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 41 91 41 83 48 112 46 108 48 112 51 131 40 80 53 137 43 99 53 135 45 109 68 212 46 108 43 95 45 97 46 106 47 111 64 196 55 141 61 171 45 103 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8755 8233 9778 9626 9761 10492 7777 10355 9168 10963 9675 12118 9653 8981 9320 9 573 9931 13054 11158 11576 9326 0.735 0.819 0.396 0.772 0.396 0.396 § ΣX ΣX Validita 2 .700 0.396 0.396 0.396 0.39 6 0.396 0.028 0.396 0.713 0.396 0.396 -0.598 0.396 0.626 0.642 0.609 0.570 0.213 0.610 0.396 0.396 0.747 0.555 0.396 0.396 0.396 -0.

880 .640 0.800 0.906 1.986 1.078 0.854 0. 842 0.950 0.120 1.Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Invalid Valid Valid Valid Invalid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid 0.794 1.002 0.082 0.934 0.794 0.630 0.934 0.286 0.640 0.886 0.906 1.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 85 1 1 1 1 1 4 2 1 2 2 2 2 3 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 86 2 1 2 2 1 1 3 4 2 3 2 3 3 4 2 2 1 2 2 1 2 1 3 1 2 87 2 1 2 1 1 1 3 1 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 1 3 1 1 2 1 1 88 4 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4 2 1 4 2 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 89 1 3 1 1 1 1 3 1 4 1 2 4 2 4 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 90 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 4 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 91 1 3 1 1 1 1 4 1 1 1 4 1 1 4 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 92 2 3 2 1 2 4 2 2 1 1 3 2 1 1 1 3 2 3 2 1 2 3 1 3 3 No Item 93 94 3 3 3 2 3 1 2 2 3 2 4 4 4 4 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 3 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 95 4 1 1 2 1 3 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 96 1 2 3 2 1 1 4 1 2 3 3 4 1 4 1 1 3 2 2 2 1 1 3 3 2 97 2 2 4 4 3 4 3 3 1 3 2 4 3 4 2 3 3 1 2 2 4 1 3 2 3 98 3 2 2 1 1 4 2 1 1 1 4 3 1 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 99 3 2 1 3 1 1 3 2 4 3 2 4 4 4 1 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 100 4 2 2 3 2 4 2 2 2 1 3 4 3 4 3 3 3 2 1 1 1 2 3 1 2 101 1 1 1 2 1 1 2 1 4 2 3 4 2 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 Y 184 204 163 167 147 253 249 156 239 185 208 271 209 345 178 180 154 142 161 177 206 122 207 128 123 Y2 33856 41616 26569 27889 21609 64009 62001 24336 57121 34225 43264 73441 43681 11 .

396 -0.524 0.405 0.396 0.396 0.977 2 Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Va § ΣX ΣX Validita 2 .396 k Σσ 2 b = = = = 101 84.396 0.396 0.127 0.672 0.397 2559.396 0.396 0.790 0.495 0.396 0.715 0.258 0.396 0.396 0.396 0.9025 31684 32400 23716 20164 25921 31329 42436 14884 42849 16384 15129 40 84 52 128 40 82 40 90 46 110 36 72 39 87 51 123 60 166 42 90 43 99 53 139 68 208 42 94 51 137 60 168 42 96 4758 969538 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8506 10454 7749 8219 9719 7422 8090 9422 11986 8791 8741 10656 13433 8545 10682 12068 8933 0.516 0.436 0.736 0.502 0.440 0.396 0.396 0.818 0.4 50 0.396 0.478 0.470 0.396 0.757 0.396 0.

018 r11 .002 1.066 0.lid Valid Valid Valid Valid σ t 0.046 0.922 0.720 1.938 1.794 0.806 1.778 1.318 0.758 0.960 1.800 0.014 0.880 0.040 1.

UJI VALIDITA DAN RELIABILITA ANGKET MORAL No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 1 3 2 4 5 4 3 3 4 3 3 2 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 5 3 2 3 3 4 5 4 3 3 4 3 3 2 3 3 2 3 4 3 3 4 4 3 4 2 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 2 3 4 5 4 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 4 4 6 3 3 3 5 4 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 5 3 3 3 7 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 8 4 3 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 3 4 4 3 4 3 3 3 No Item 9 10 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 4 4 11 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 12 3 3 5 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 2 3 4 3 3 4 4 3 4 3 5 4 13 3 3 5 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 5 3 3 4 4 3 5 4 5 4 14 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 4 4 4 3 4 3 4 4 15 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 5 4 3 4 3 4 4 16 3 3 4 5 4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 17 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 Y 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 Y2 2704 2500 4225 4489 3481 2809 2809 3481 2704 2916 2601 2916 2916 1849 2601 5776 3136 3025 4761 4356 2704 4900 2916 4624 3969 ¡ ¡ .

254 0.663 0.396 0.882 0.757 0.396 0.396 0.396 k Σσ 2 b = = = = 17 6.396 0.705 0.396 0.858 0.947 2 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid σ t § ΣX ΣX Validita 2 .666 0.775 0.634 0.82 0 0.682 0.396 0.801 0.396 0.507 0.542 0.396 0.859 0.788 0.396 0.659 61.396 0.396 0.396 0.396 0.798 0.396 0.791 0. 396 0.396 0.84 300 82 282 85 295 90 332 85 303 82 284 78 248 83 285 85 295 83 285 82 276 86 308 90 338 84 290 87 311 91 339 89 323 1446 85168 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 5004 4856 4989 5279 5042 4864 4569 4877 4984 4904 4825 5080 5321 4948 5093 5336 5197 0.

240 0.560 0.486 0.0.522 0.310 0.282 0.330 0.560 0.378 0.186 0.320 0.602 0.710 0.246 r11 .378 0.310 0.240 0.

574 ¥¤   ¥¤ £   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤     ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤ Kode 01 02 14 15 § § £ ¢ § £ £ ¦ £ § Perhitungan Validita kala ikap Remaja terhadap Perilaku ek ¡ ¡ ¡ Beba Rumu £ £ £ ¦ £ .396 ren r xy < r t bel.(∑ X )(∑ Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{ 2 } Kriteria Butir item valid jika rxy > r tabel Perhitungan Berikut ini contoh perh itungan validitas pada butir no 1 o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 03 16 04 05 06 17 18 19 07 20 08 21 09 22 10 11 12 23 24 25 13 ∑ Y 2 − (∑ Y ) X 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 4 1 4 2 1 4 2 4 4 4 Y 22 23 22 20 22 18 32 22 29 22 29 21 21 17 24 26 15 26 24 19 20 29 27 23 21 X2 16 16 16 16 16 16 16 16 9 9 16 16 9 1 16 16 1 16 4 1 16 4 16 16 16 Y2 484 529 484 400 484 324 1024 484 841 484 841 441 441 289 576 676 225 676 576 361 400 841 729 529 441 XY 88 92 88 80 88 72 128 88 87 66 116 84 63 17 96 104 15 104 48 19 80 58 108 92 84 Σ 84 574 310 13580 1965 Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh: 84 574 25 1965 rxy = 2 310 84 25 25 13580 = 0.345 Pada α = 5% deng n n = 25 diperoleh r t bel = 0.rxy = {N ∑ X N ∑ XY . m k ngket no 1 tersebut inv lid.

2 .

95.79 55 13 9 68. 73 46 48.94 66 6.70 23. itr diri (penil i n Psikologis terh d p diri 5. Butir F vor ble kognitif fektif kon tif 81.33 .65 5 88. 13 59.77. 9 72 12 51 35.75 44. 82. 32. e d n dorong n seksu l terh d p tingk h l ku seksu l 2. 43 41.63 Juml h 10 Biologis 53. 42 22. Pel ks n n min t seksu l No.93 76. P nd ng n rem j terh d p kehidup n bers m m sy r k t Juml h £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¢ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¥ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ¢£ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ £ £ .12 £ 4.21. 84.85.64 15 100. Butir Un f vor ble ognitif Afektif kon tif 52 16 40 No.91. 56 3 27 4 30. 101. Peng ruh lingkung n (or ng tu d n tem n seb y ) 8.L mpir n 08 161 eb r n Butir k l ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s Aspek Indik tor 1. 99. ik p d n peril ku menghorm ti or ng l in 7. ep tuh n terh d p norm d n per tur n 6.89 8. 20. 97 61.69 80 36. Min t rem j terh d p l w n jenis kel min 3. Dorong n untuk berdiri osi l sendiri 9.17.9 8 49.

38 39 31 86 10 7 47 57.67.9 6 83 50 58 11 78 14.28 19 11 25. 2 74 62 8 17 16 17 16 13 .71.37 11.87 29 60 18.7 15 1.90. 54.

17 96 .

Di teng h kesibuk n y ng tem n tem n l kuk n.. Terim k sih t s b ntu n d n kerj s m y ng tem n tem n berik n . sel njutny berik n t nd sil ng (X) p d j w b n y ng tem n tem n ngg p sesu i.. Ad pun petunjuk pengisi n d ny seb g i berikut : B c l h seti p perny t n deng n teliti d n menj w b semu perny t n t np d y ng terlew tk n deng n se jujurny sesu i deng n kondisi y ng tem ntem n l mi.L mpir n 09 162 ¡£ J w b n tem n tem n merup k n inform si y ng s ng t penting d n memb ntu d l m p eneliti n y . Perny t n tersebut buk n merup k n tes. Horm t y PRAMITA AGNE WAHARENI (M h sisw Jurus n Psikologi UNNE ) .. Pilihl h 1 (s tu) d ri 4 (emp t) j w b n y ng tersedi .. sehingg tid k d j w b n y ng diny t k n seb g i j w b n ben r t u s l h.2 mpus ek r n. ¡ £ £ k l Peneliti n HUBUNGAN I AP REMAJA TERHADAP PERILA U E BEBA DI TINJAU DA RI TING AT PENALARAN MORAL PADA I WA ELA DUA (II) MU E ATRIAN 1 EMARANG t hun j r n 2005/2006 (Teori Perkemb ng n Mor l ölberg) JURU AN P I OLOGI FA ULTA ILMU PENDIDI AN UNIVER ITA NEGERI EMARANG (UNNE ) Gedung .... ontoh : X T X T £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ £ ¡¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £   £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡ £ ¡ £ £   £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡   £ ¢ ¡ £¡ £ ¡ £¡ ¡¡£ £¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡¢ ¡ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¢ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡£ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¢ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡ £ £ ¡ £ ¢ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £   £ £ ¢ £ £ £ ¢ £ £ £ £ ¡ ... m k beril h t nd s m deng n (=) p d j w b n y ng kur ng tep t. ELAMAT MENGERJA AN.3562685 Gunung P ti em r ng 50229 Identit s s mpel N m : Usi : Je nis el min : Ass l mu’ l ikum Wr. Altern tif j w b n y ng tersedi d l h seb g i berikut : : bil And s ng t setuju deng n perny t n tersebut : bil And setuju deng n perny t n tersebut T : bil And tid k setuju deng n perny t n tersebut T : bil And s ng t tid k setuju deng n perny t n tersebut Jik s ud r mer s b hw j w b n y ng tel h tem n tem n pilih kur ng tep t. perken nk n y . Telepon 024. memohon b ntu n tem n tem n untuk menj w b d ft r perny t n deng n berb g i pilih n j w b n y ng di ngg p sesu i deng n kondisi tem n tem n.. Wb. deng n membe ri t nd sil ng (X) p d j w b n y ng tem n tem n ngg p sesu i deng n kondisi t em n tem n.

11. 17. w j r jik mel kuk n seks T T 06. 09. 07. meskipun ini dil r ng Rem j putr /putri k n memiliki per s n perc y diri y ng tinggi bil i mel kuk n seks beb s eks beb s d p t dil kuk n oleh sep s n g rem j y ng s ling mencint i d l m ik t n p c r n y s ng t menghorm ti norm norm m sy r k t. 14. 16. 04. 02. 05. 19. 12. 13.163 No. 03. Perny t n eks beb s d l h s l h s tu peril ku y ng sed ng m r k di soroti d l m kehidup n modern R s cint p d p c r merup k n m nifest si d ri dorong n se ks y ng ingin dipu sk n y k n berol h r g untuk meng lihk n perh ti n terh d p seks beb s eks beb s merup k n c r y ng p ling tep t untuk membuktik n r s cint Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sek ol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in eseor ng y ng mel kuk n hubung n seks sec r beb s d n tid k terj di keh mil n k ren ny tid k perlu mempert nggungj w bk n perbu t nny y t kut di ngg p kur ng perg ul n bil tid k mel kuk n hubung n seks sebelum menik h eks beb s tet p s y l kuk n. 01. 18. sehingg y tid k k n mel kuk n hubung n seks t np menik h Rem j y ng mel kuk n seks beb s mempuny i sif t y ng egois Deng n mel kuk n seks beb s ber rti or ng tersebut tid k mengh rg i ik t n perk win n y mer s tid k sen ng jik d tem n y ng mempeng ruhi y untuk mel kuk n seks beb s D orong n seks y ng muncul seb ikny dim nifest sik n deng n peril ku y ng tid k m enjurus p d peril ku seks beb s. 10. 15. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £¡ £ £ £ £ ££ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £  £ ¡¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ . meskipun itu deng n p c rny sendiri y kece w p bil d p t mencur hk n k sih s y ng kep d kek sih deng n c r berhubung n seks deng nny Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h p sti ber s l d ri kelu r g y ng kur ng h rmonis eks beb s seb ikny dil kuk n oleh p s ng n y ng k n m enik h untuk d p t lebih menget hui sif t m sing m sing eseor ng y ng sud h mem puny i pengh sil n tet p d n ekonominy m t ng. 08.

25. 37. 38. 30. y k n mempuny i resiko tertul r peny kit seksu l Ag r tid k direbut oleh or ng l in seor ng pemud t u pemudi d p t meng j k p c rny mel kuk n seks beb s Mel kuk n hubung n seks sek li s j tid k k n menyeb bk n keh mil n y tid k bersedi mel kuk n hubung n seks deng n l w n jenis s ek lipun di or ng y ng s ng t y cint i Bercumbu deng n p c r merup k n s t y ng p ling menyen ngk n Jik y s ng t mencint i p c r y . 21. 26. 24. seb ikny kont k fisik deng n l w n jenis y ng buk n su mi/istri kit dihind ri y mer s b ngg . 32. 36. l y k mel kuk n hubung n seksu l Deng n memp uny i p c r. 29. k ren s mp i w ktuny y men ik h. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ££ ¡ £ £ £ £ £ £¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ beb s T np menik h terlebih d hulu. 33. 28. seperti berp c r n deng n mel kuk n seks beb s Untuk menghind ri perbu t n seks sec r beb s. 31.164 20. 23. 27. m k s y k n m el kuk n hubung n seks deng nny Menurut y hidup bers m sebelum menik h bole h s j dil kuk n g r y d p t lebih menj j ki sif t p s ng n M sih per w n s mp i s tny menik h d l h su tu h l y ng penting b gi y D l m perg ul n s h s h s j jik y mel kuk n hubung n seks deng n beb s y mer s sen ng p b il bis menj g keperc y n or ng tu d n m sy r k t deng n tid k mel kuk n per bu t n mor l. 34. seseor ng y ng org n seksu lny sud h berke mb ng d n sud h d p t bereproduksi. ist ri/su mi or ng l in) merup k n tind k n y ng tid k d p t y terim Deng n mel kuk n hubung n seks beb s. y m sih d l m ke d n per w n/perj k Bercium n deng n kek sih membu t y mer s bers l h eks beb s dil kuk n oleh k um rem j g r tid k di ngg p ketingg l n j m n £ £ £ £ £ £ £ £ £ . 22. s l di temp t y g sepi d n t k d or ng y ng di ken l Rem j y ng pern h mel kuk n seks beb s k n mempuny i per s n bers l h seumur hidup eks beb s y ng dil kuk n b ik deng n p c r m upun deng n or ng l in (tem n. h sr t seksu l y k n terpenuhi y m u mel kuk n hubung n seks u l deng n p c r. 35.

44. m k tid k d seor ngpun y ng boleh mel r ng or ng l in mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n hubung n seks beb s mempuny i sif t y ng tid k mempedulik n per s n or ng l in. 49. 51. 50. meskipun itu deng n p c r s y sendiri int y ng tulus d n mend l m kep d p c r tid k perlu dim nifest sik n deng n seks beb s eks beb s d p t mengur ngi kejenuh n d l m bel j r Perg ul n eks beb s d p t men mb h keperc y n diri Mel kuk n hubung n seks sec r beb s ber rti merus k ketulus n cint Meskipun t np d ik t n pernik h n. 46. terut m or ng tu ny sendiri Menurut s y hidup bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y lebih d p t men j j ki p s ng n Rem j y ng mel kuk n seks beb s k n meng l mi kesulit n d l m berkelu rg kel k y k n bert nggungj w b t s kib t perg ul n seks beb s y ng y nut d n y tid k peduli p nd ng n or ng l in £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££¡£ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¥ . 45. 56. 48. 43. 53. 52. 54. per s n cint y ng tulus d n mend l m bis diungk pk n deng n mel kuk n hubung n seks Menurut y d l m berp c r n tid k us h terl lu mempedulik n norm norm y ng d Or ng tu y ng t hu d n tid k mel r ng n kny berp c r n d l h or ng tu y ng bij ks n Dorong n seks beb s y ng muncul seb ikny di r hk n p d bid ng l in y ng berm nf t D orong n untuk mel kuk n seks y ng muncul sebelum menik h seh rusny ditek n y pikir p c r n d n kemudi n mel kuk n hubung n seksu l itu tid k d gun ny ep s ng kek sih y ng hubung nny tid k direstui oleh or ng tu . £ £ y t kut mel kuk n seks beb s. 42. 58. 40. sel y kny mel kuk n seks beb s sup y or ng tu menj di setuju deng n hubung n merek y k n m enyer hk n keper w n n t u keperj k n y bil y y kin b hw p c r y d l h pend mping terb ik untuk y eks beb s d p t menimbulk n kesen ng n y ng t k terb y ngk n Hidup bers m d l m ik t n perk win n d l h id m n semu or ng untuk mend p tk n keb h gi n sek ligus menerusk n keturun n M s l h seksu l d l h h k seseor ng. 41. 47.165 39. 55. 57.

71.166 59. meskipun it u buk n isteri/su mi y sendiri y mer s lebih mencint i d n dicint i oleh p c r setel h mel kuk n hubung n seks deng nny £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ ¡ . p s l hny jik y jug mencob ren t kut bercer i. 75. 72. 67. l hir seor ng n k di lu r nik h t dorong n seks muncul. w l upun bertent ng n deng n j r n g m y ng y nut Berg nti g nti p s ng n seksu l d p t menyeb bk n peny kit kel min Jik p c r y memint y m u berpeluk n d eng nny Berhubung n seksu l k n y l kuk n seb g i bukti per s n cint p d p c r Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h sep nt sny dikucilk n oleh m sy r k t Rem j y ng tel h mel kuk n hubung n seks sec r beb s tid k perlu mer s s edih. 60. y k n mel kuk n hubung n seksu l deng n l w n jenis. 65. b ny k p s ng n cint y ng kumpul kebo Tid k p p k l u d ri hubung n seks sec r beb s y ng s y l kuk n. k ren deng n mel kuk n seks beb s ber rti peng l m nny bert mb h eseor ng y ng ber ni mel kuk n hubung n seksu l sebelum menik h ber rti s nggup men ng gung dos bes r es d r n rem j tent ng nil i d n norm norm y ng d di m sy r k t k n menceg h merek untuk berperil ku seks beb s Jik tem n y pern h m el kuk n hubung n seks beb s d n tid k h mil. 73. 76. y k n meng lihk n dorong n itu deng n bel j r lebih gi t sup y or ng l in lebih mengh rg i y y tid k mer s bers l h deng n hubung n seks beb s y ng s y l kuk n Rem j y ng ket hu n mel kuk n s eks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in Tem n y ng suk mempeng ruhi kit untuk ikut d l m per g ul n seks beb s h rus dihind ri Jik y ter ngs ng melih t melih t g mb r g mb r porno. 66. 68. 61. 62. 70. 63. 64. 69. 74. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡£ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ eks beb s y ng dil kuk n deng n l t kontr sepsi tid k k n menimbulk n kib t y ng tid k diingink n y tet p mel kuk n hubung n seks sec r beb s.

79. 84. tid k k n membu t y terpeng ruh untuk mel kuk nny Menurut y . 90. 91. mis lny p s ng n p c r n. 95. 87. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ££ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £  £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ Menurut y bercumbu deng n p c r tid k p p k ren tid k mungkin terj di ke h mil n Jik kedu bel h pih k (l ki l ki d n perempu n) d p t mempert nggungj w bk n perbu t nny . 78. y sel lu mem nf tk nny y sen ng bertem n deng n or ng or ng y ng mendukung perg ul n seks beb s umpul kebo tid k boleh dil kuk n k ren mel ngg r norm norm y ng d Ad l h tid k tep t j ik kit mel r ng or ng y ng berp c r n untuk tid k mel kuk n hubung n seks Feno men peril ku seks beb s y ng khir khir ini b ny k disoroti. m k seks beb s d p t dil kuk n Jik d kesemp t n untuk s y d n p c r untuk mel kuk n hubung n seks. 83.167 77. 89. m k seks beb s tet p s y l kuk n £ . 80. 85. seb ikny se ks beb s tid k dil kuk n oleh sep s ng kek sih sebelum sy h menj di su mi istri int t np seks b g ik n s yur kur ng g r m Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny di usir oleh kelu rg ny ren tid k mengg nggu prest si bel j r. 88. 86. 82. 96. 81. 93. 94. sehingg seks beb s tid k terj di ese or ng y ng ber s l d ri kelu rg y ng mempuny i kontrol g m y ng b ik tid k k n mel kuk n seks beb s An k y ng dil hirk n d ri h sil seks beb s k n ikut men nggung dos or ng tu ny Meskipun sep k t untuk men nggung resiko. 92. m s dep n s y k n sur m j ik terj di pernik n dini kib t seks beb s y sen ng mel kuk n seks beb s mes kipun y t hu itu dil r ng oleh g m y ng y nut Rem j y ng mel kuk n sek s beb s ber rti merus k m s dep nny sendiri Menj g keperj k n s mp i s tny menik h merup k n h l penting b gi y Rem j y ng mel kuk n seks beb s buk n ber rti mempuny i mor l y ng jelek Mel kuk n hubung n seks t np ik t n perk win n tid k membu t y mer s tertek n M sy r k t perlu memperh tik n hubung n se p s ng rem j .

£ £ £ £ ££ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ . D l m ngket ini d beber p k sus. d beber p pert ny n y ng di juk n.168 el m t mengerj k n ! d n Terim k sih £ Petunjuk Pengisi n Angket Angket ini d l h ngket pengungk p n pend p t tent ng m s l hm s l h sosi l. And dimint memberik n pend p t tent ng k su s tersebut. B c l h b ik b ik seti p k sus y ng dis jik n 2. P d b gi n khir seti p k sus. And dipersil hk n memberik n j w b n t u peny t n y ng di ngg p p ling sesu i deng n pend p t And . 3. erj k nl h deng n teliti d n j ng n s mp i d y ng terlew ti. Tulisk n pertimb ng n And p d lemb r j w b n. L ng k h l ngk h pengerj n ngket ini d l h seb g i berikut : 1. Berik nl h pend p t And sesu i deng n p nd ng n d n pertimb ng n An d sendiri.

Di hidup d l m pemukim n b ru d eng n n m Anto d n membuk sebu h us h . Ap bil herm n tid k mencint i istriny .169 £ £ £ sus II Herm n kemudi n dij tuhi hukum n penj r sel m 10 t hun. 1. p k h i jug k n mencuri ob t itu ? meng p ? 3. bu Arm n tent ngg l m Anto mengen liny seb g i or ng y ng mel rik n diri d ri penj r d n sed ng dic ri polisi. etel h 1 t h un mendek m di d l m penj r i mel rik n diri. I sel lu jujur p d l ngg n n d n memberi up h y ng tinggi p d p r pekerj ny . Akib tny Herm n menj di putus s d n i mul i berpikir untuk mendobr k potek itu d n mencuri ob t tersebut untuk istriny . Ap k h bu Arm n h rus mel pork n Anto p d polisi ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ sus I Di Erop . el m 8 t hun i bekerj ker s d n me n bung u ng sehingg di m mpu mendirik n sebu h perus h n. Bi y pembu t n ob t itu 2 jut rupi h. seor ng w nit h mpir m ti k ren s kit k nker. Di meng t k n p d poteker itu b hw istriny h mpir m ti. d n memint p d ny untuk menju l ob t itu lebih mur h t u membolehk nny memb y r kemudi n. Ob t tersebu t diketemuk n oleh seor ng poteker l ki l ki y ng tingg l d l m kot y ng s m . u mi w nit y ng s kit tersebut. y itu 10 jut rupi h. P d su tu h ri. ep tutny k h Herm n be rbu t demiki n ? meng p ? 2. b erkeliling ke semu ken l nny untuk meminj m u ng. Tet pi di h ny mend p t pi nj m n sep ruh d ri y ng i butuhk n. 4. t t pi i menju lny deng n h rg 20 ju t rupi h untuk s tu dus kecil ob t. Ap k h penting b gi kit untuk mel ku k n sesu tu d n menyel m tk n jiw or ng . Ad sejenis ob t R dium y ng menurut p r dokter mungkin d p t menyel m tk n di . Herm n. Tet pi poteker itu berk t “ y membu t ob t itu d n y k n mengh r pk n u ng y ng b ny k k ren menem uk nny ”.

000. . Jik berker s h ti u ntuk pergi berkem h.170 £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ sus IV Didi. ke d ny lem h sek li. 5. sehingg ob t penen ng seperti TM t u morfin 1 dosis kecil s j k n mempercep t kem ti nny . H rusk h dokter melulusk n p y ng dimint istri Herm n tersebut ? d n m embu tny meningg l. d l h seor ng n k l ki l ki berumur 16 t hun. u ng ini cukup untuk bi y pergi berkem h d n l in l inny . Ap k h kit h rus sel lu memenuhi j nji kit ? meng p ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££   ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¢ sus III P d khirny dokter mend p tk n sedikit ob t R dium itu untuk istri H erm n. 60. p l gi di t hu b hw umurny tid k p nj ng l gi. I ingin sek li b erkem h. D n d l m s t s t ten ng i memint s up y p r dokter memberiny TM cukup b ny k s j g r i cep t meningg l. B hk n istri Herm n sering tid k s d r d n h mpir gil k ren s kitny . sup y istri Herm n seger d p t terlep s d ri kes kit nny ? meng p ? . Ay h didi kemudi n me mint u ng Didi. Oleh k ren keingin nny y ng ku t. Ay hny berj nji di berh k berkem h k l u i men bung sendiri untuk be rkem h. 6. Joko berh sil mengumpulk n u ng seb ny k Rp. i bekerj seb g i peng nt r kor n s ebelum ber ngk t sekol h. h sil t bung nny seb g i peng nt r kor n. Dokter t hu b hw hidup istri H erm n itu kir kir tingg l 3 bul n l gi. eh rusny Didi menol k untuk menyer hk n u ng itu t uk h i menyer h ? meng p ? 7. Tet pi sebelum ber ngk t berkem h y hny mengub h pikir n. Istri Herm n d l m kes kit n y ng lu r bi s . tet pi ob t itu tid k memp n d n tid k d c r pengob t n l in y ng dike n l oleh ilmu kedokter n untuk menyel m tk nny . Beber p tem n y hny meng j k y k Di di pergi mem ncing d n y h Didi h ny puny u ng sedikit. I t id k t h n men nggung kes kit n. m k Didi merenc n k n menol k permint n y hny itu.

unsur m n k h y ng p ling jelek d l m menipu or ng tu t di ? meng p ? 12. d n tid k berm ksud memb y r kemb li hut ngny itu. l lu i pergi berkem h deng n u ng Rp. D ri segi keb ik n m sy r k t m n y ng lebih j elek. . y ng lebi h mud pergi p d seor ng tu y ng terken l suk memberik n pertolong n kep d o r ng l in. Merek sec r di m di m m u meningg l k n kot d l m ke d n terges ges d n membutuhk n u ng. P d h l seben rny i tid k s kit s m sek li. 9. rim.000. 500. e nd iny B gio mend p t pinj m n d ri b nk. M n k h y ng lebih jelek. B gio berk t kep d or ng tersebut b hw i d l m ke d n s kit ber t d n butuh u ng Rp. Didi memberi t hu kep d Joko mengen i u ng itu. Meskipu n or ng tu itu tid k mengen l B gio. tet pi i m u jug meminj mk n u ng kep d B gio.untuk membi y i oper si.juml h seben rn y y ng diperolehny d ri meng nt r kor n. 500. menipu seperti B gio t u mencuri seperti rim ? meng p demiki n ? ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ ¢ sus V : Didi berbohong meng t k n b hw i h ny mend p p tk n u ng Rp. Didi mempuny i k k k bern m Joko. 60. m n k h y ng lebih b ik ? memi nj m d ri b nk t u meminj m d ri or ng tu itu ? meng p ? 11. 20. y ng lebih tu mendob r k sebu h toko d n mencuri u ng seb ny k Rp. 500. . Ap kegun n or ng mempuny i h k milik ? 14.171 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £   £¢ £ £ sus VI Du pemud mend p tk n kesulit n. t np m ksud m u mengemb lik n pinj m n itu. Ap k h Joko h rus memberi t huk n h l ini kep d y hny ? meng p ? . Akhirny rim d n B gio d p t meninng lk n kot deng n m sing m sing me mb w u ng Rp. 8. B gio. Ap seb b or ng tid k boleh mencuri b r ng di toko or ng l in ? 13.000.000 .000.000. kep d y hny . mencuru seperti rim t u menipu seperti B gio ? meng p ? 10. Menurut pend p t mu. b hw i berboh ong p d y hny . e belum berkem h.

tet pi musuh seb gi n bes r m sih d di sebern g sung i. pten kompi h rus memutusk n si p y ng h rus kemb li d n mel ks n k n tug s itu. dek t temp t kerj ny .172 £ sus VIII P d s t per ng kemerdek n. l u d y ng kemb li ke jemb t n d n meled kk n jemb t n itu sew ktu musuh mele w tiny . I memint suk rel w n tet pi tid k d y ng m u menj di suk rel w n itu. emu or ng l ki l ki di kot itu sering k l i mend p t tug s menj di pos pos pem d m keb k r n. di teng h j l n i memutusk n menengok dulu kelu rg ny untuk melih t p k h nggot kelu rg ny sel m t. d n merek memil ih mundur. Ad seor ng l ki l ki bern m Dir n y ng mend p t tug s meng w si sebu h pos pem d m keb k r n. ompi tent r kit sud h menyeber ng jemb t n sebu h sung i y ng memb el h kot ur b y . kemungkin n terbunuh d d l m perb nding n 4 : 1. tet pi pert m t m i pul ng menengok k elu rg ny . Tet p i or ng y ng kemb li untuk meled kk n jemb t n itu b r ngk li tid k d p t menyel m tk n diri. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ££ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £   £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¢ sus VII P d s t per ng kemerdek n di Indonesi . H ny k pten itu sendiri y ng p ling t hu b g im n memimpin pen rik n mundur itu. sesud h d pembom n y ng buk n m in p r hny . tentul h h l itu k n mengur ngi keku t n musuh. u tu h ri. Dir n meni ngg lk n temp t perlindung n d n pergi ke posny . di ur b y d 1 kompi tent r kit k l h d l m juml h jik dib ndingk n deng n juml h tent r musuh. 15. Ben r t u s l hk h k l u i meningg lk n pos untuk melindungi k elu rg ny ? meng p ? . d s l h s tu kot y ng se ring k li di bom b rdir oleh p n h. Deng n selisih j r k nt r musuh deng n kompi b r ngk li merek m sih d p t menyel m tk n diri. Ak n tet pi. Rum hny cukup j uh d ri situ.

p k h i h rus menyuruh si tuk ng pembu t on r itu. Ap k h k pten h rus memberi perint h kep d seseor ng untuk kemb li d n mele d k n jemb t n. t u or ng y ng s kit kel min ? meng p ? £ £ £ 16. I suk meng mbil b r ng or ng l in d n suk menol k tug sny . l h 1 d ri 2 or ng itu mempuny i tubuh ku t d n pembe r ni.173 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ sus IX pten itu khirny memutusk n k n memerint hk n 1 d ri 2 or ngny unt uk berhenti di bel k ng. Jik k pten menyuruh s l h s tu d ri kedu or ng itu. Or ng y ng kedu y ng k n dipilihny ken peny kit kel min (s iphilis) d n g kny k n seger meningg l meskipun cukup ku t untuk mel ks n k n tug s itu. 17. t u semu ny l ri ? meng p ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ . tet pi i suk berbu t on r. t u i sendiri y ng h rus kemb li.

6 34. 9.6 £ £ £ £ £ perk win n tid k membu t y mer s tertek n £ £ £ ££ £ £ £ perbu t nny y kecew p bil d p t mencur hk n k sih 16.4 43.6 29.1 20.6 3.3 30. beb s d n tid k terj di keh mil n k r en ny tid k perlu mempert nggungj w bk n 5.7 40.3 19.7 52.7 8.3 16. 48.4 31.6 35.5 33.4 £ £ £ ¡ £ ¡£¡ ¡ ¡£¡¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ .2 10.2 24.0 15.2 12.7 29.5 77. seseor ng y ng 20.L mpir n 10 174 Persent se J w b n Responden ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek Biologis) No.4 T T kontr sepsi tid k k n menimbulk n kib t y ng tid k diingink n 62. 17.4 39. l y k mel kuk n hubung n seksu l 29.5 11.6 45. Bercumbu deng n p c r merup k n s t y ng p ling menyen ngk n Bercium n deng n kek sih y mer s bers l h Dorong n un tuk mel kuk n seks y ng muncul sebelum menik h seh rusny ditek n eks 59.8 33.2 14. org n seksu lny sud h berkemb ng d n sud h d p t bereproduksi.1 7.8 41.3 25. s y ng kep d kek s ih deng n c r berhubung n seks deng nny T np menik h terlebih d hulu.2 4.8 34.4 15.2 89.0 29.3 38.3 41. Perny t n eseor ng y ng mel kuk n hubung n seks sec r 6. beb s y ng dil kuk n deng n l t 9. 37. Jik p c r y memint y m u berpeluk n deng nny Menurut y bercumbu deng n p c r tid k p p k ren tid k mungkin terj di keh mil n Mel kuk n hubung n seks t np ik t n 8.8 42.4 34.

7 20.4 1. m k s y k n mel kuk n hubung n seks deng nny Menurut y hidup bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y d p t lebih menj j ki sif t p s ng n M sih per w n s mp i s tny menik h d l h su tu h l y ng penting b gi y D l m perg ul n s h s h s j jik y mel kuk n hubung n seks deng n beb s eks beb s dil kuk n oleh k um rem j g r tid k di ngg p ketingg l n j m n y t kut mel kuk n seks beb s.9 57. 33. 30.3 47.5 14.3 8. 13.7 37.4 22. h sr t seksu l s y k n terp enuhi y m u mel kuk n hubung n seksu l deng n p c r.4 7.6 8.6 41. 3. y k n mempuny i resiko tertul r peny kit seksu l Jik s y s ng t mencint i p c r y .1 50.2 2.3 4. 25. 4.3 31.3 30.5 33.8 3. 17.3 3.5 56.5 41.1 10.9 20. 12.3 T 37.3 4.5 T 46 .2 37.2 35.0 52. 9. 23.175 5.8 8. 0 ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek Psikologis) No.3 11. 39.2 1.3 16.1 8.1 ¡ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ¡ £ £¡¡ £ £ £ £ £ £ £ ¥£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ ¡ £ ¡ .6 5.0 51.3 9.5 36.1 7.4 47.3 37.1 6.7 42.4 2. 21.5 61. 40.0 49. s l di temp t y g sepi d n t k d or ng y ng di ken l Rem j y ng pern h mel kuk n seks beb s k n mem puny i per s n bers l h seumur hidup Deng n mel kuk n hubung n seks beb s.1 34.4 9.1 9. 42.7 56.1 2.5 32.1 14.9 47.4 37. 38.0 3.0 2.5 26.4 74.1 3.3 8.9 7.3 36 .8 39.5 53.3 22. 10.5 15. meski pun ini dil r ng Rem j putr /putri k n memiliki per s n perc y diri y ng tin ggi bil i mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n seks beb s mempuny i sif t y ng egois Deng n mel kuk n seks beb s ber rti or ng tersebut tid k mengh rg i ik t n perk win n Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h p sti ber s l d ri kel u rg y ng kur ng h rmonis Deng n mempuny i p c r.3 21.9 53. 32. 31.1 64.3 7. 3. 22.5 13.3 33.9 32. Perny t n y k n berol h r g untuk meng lihk n perh ti n terh d p seks beb s eks be b s merup k n c r y ng p ling tep t untuk membuktik n r s cint Rem j y ng ke t hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in eks beb s tet p s y l kuk n.3 32.0 8. meskipun itu deng n p c r s y sendiri int y ng tulus d n mend l m kep d p c r tid k perlu dim nifest sik n deng n seks beb s P erg ul n eks beb s d p t men mb h keperc y n diri 1.9 9.6 11.

2 22. 52.2 10. w l upun bertent ng n deng n j r n g m y ng y nut Berg nti g nti p s ng n seksu l d p t menyeb bk n peny kit kel min Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h sep nt sny dikucilk n oleh m sy r k t Rem j y ng tel h mel kuk n hubung n seks sec r beb s tid k perlu mer s sedih.3 32. 57. 66.2 17.4 22.9 6. 49.2 4.0 55. 46. m k tid k d seor ngpun y ng boleh mel r ng or ng l in mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n hubung n s eks beb s mempuny i sif t y ng tid k mempedulik n per s n or ng l in.7 5. 64. 47.9 11.6 41.1 4.6 18.1 47.3 9.5 5. per s n cint y ng tulus d n mend l m bis diungk pk n deng n mel kuk n hubung n seks Menurut y d l m berp c r n tid k us h terl lu mempedulik n norm norm y ng d Or ng tu y ng t hu d n tid k me l r ng n kny berp c r n d l h or ng tu y ng bij ks n Dorong n seks beb s y ng muncul seb ikny di r hk n p d bid ng l in y ng berm nf t y pikir p c r n d n kemudi n mel kuk n hubung n seksu l itu tid k d gun ny y k n menyer hk n keper w n n t u keperj k n y bil y y kin b hw p c r y d l h pend mping terb ik untuk y eks beb s d p t menimbulk n kesen ng n y ng t k t erb y ngk n M s l h seksu l d l h h k seseor ng.8 31.5 36. 60. terut m or ng tu ny sendiri Rem j y ng mel kuk n seks beb s k n meng l mi kesulit n d l m berkelu rg kel k y k n bert nggungj w b t s kib t perg ul n seks beb s y ng y nut d n y tid k peduli p nd ng n or ng l in y tet p mel kuk n hubung n seks sec r beb s. p s l hny jik y jug mencob . 61.1 9. 58.2 37.3 40.4 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££¡£ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ Meskipun t np d ik t n pernik h n.5 36.5 11.5 15.5 13.176 44. 5.5 27.2 49.3 35. 55.3 30.4 8. 67.4 35.9 53. 54. 45.4 31. 65.7 3. 51.5 37.2 35.5 13. 68. k ren deng n mel kuk n seks beb s ber rti peng l m nny bert mb h eseor ng y ng ber n i mel kuk n hubung n seksu l sebelum menik h ber rti s nggup men nggung dos bes r es d r n rem j tent ng nil i d n norm norm y ng d di m sy r k t k n me nceg h merek untuk berperil ku seks beb s Jik tem n y pern h mel kuk n hubu ng n seks beb s d n tid k h mil.

0 32.15.3 42.4 55.8 42.9 36.2 25.3 34.3 7.0 21.3 59.2 61.2 12.1 35.3 34.6 43.4 51.2 4.5 22.7 7.5 4.9 4.3 29.9 3.2 4.5 6.5 .5 29.3 32.3 5.8 33.7 22.2 19.2 37.2 6.

89.8 43.7 42. m k seks beb s d p t dil kuk n Jik d kesemp t n un tuk s y d n p c r untuk mel kuk n hubung n seks. y sel lu mem nf tk nny u mpul kebo tid k boleh dil kuk n k ren mel ngg r norm norm y ng d Menurut y .4 24. sehingg seks beb s tid k terj di eseor ng y ng ber s l d ri kelu rg y ng mempuny i kon trol g m y ng b ik tid k k n mel kuk n seks beb s An k y ng dil hirk n d ri h sil seks beb s k n ikut men nggung dos or ng tu ny Meskipun sep k t untuk me n nggung resiko. 86.4 30.5 43. 87. 81.5 18. 94. m s dep n s y k n sur m jik terj di pernik n dini kib t seks beb s y sen ng mel kuk n seks beb s meskipun y t hu itu dil r ng oleh g m y ng y nut Rem j y ng mel kuk n seks beb s ber rti merus k m s dep nny sendiri Me nj g keperj k n s mp i s tny menik h merup k n h l penting b gi y Rem j y ng mel kuk n seks beb s buk n ber rti mempuny i mor l y ng jelek M sy r k t pe rlu memperh tik n hubung n sep s ng rem j . mis lny p s ng n p c r n.2 11.9 5. 72. 93.177 69. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ££ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ ¢ ren t kut bercer i. 96. 78.2 47.7 36.5 £ £ £ ££ ¡ £ £ £ £ £ . 73. 85. 91. seb ikny seks beb s tid k dil kuk n oleh sep s ng kek sih sebe lum sy h menj di su miistri int t np seks b g ik n s yur kur ng g r m ren tid k mengg nggu prest si bel j r. 92.8 12. 90.5 34.4 36. m k seks beb s tet p s y l kuk n 9.0 5.5 9.7 13.8 16. 76. y k n meng lihk n dorong n itu deng n bel j r lebih gi t sup y or ng l in lebih mengh rg i y y tid k mer s bers l h deng n hubung n seks be b s y ng s y l kuk n Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in y mer s lebih mencint i d n dicint i oleh p c r setel h mel kuk n hubung n s eks deng nny Jik kedu bel h pih k (l ki l ki d n perempu n) d p t mempert ngg ungj w bk n perbu t nny . 71. b ny k p s ng n cint y ng kumpul kebo t dorong n seks muncul.2 16. 88. 84.

5 29.8 28.2 36.7 7.1 10.1 32.7 42.8 60.0 20.2 59.5 .3 4.3 18.3 22.2 38.4 7.3 5.1 7.8 10.3 21.3 51.5 30.3 25.3 41.3 55.2 53.2 27.0 7.9 11.4 32.3 4.4 6.3 44.3 28.3 30.7 30.7 11.5 8.5 26.3 10.4 17.4 25.2 7.1 5.0 7.4 56.0 7.2 6.3 9.3 17.9 24.5 31.0 61.2 31.7 8.3 62.41.2 25.

8 30.6 31.7 49.9 27.2 39.3 72.4 8.0 32. istri/su mi or ng l in) merup k n tind k n y ng tid k d p t y terim Ag r tid k direbut oleh or ng l in se or ng pemud t u pemudi d p t meng j k p c rny mel kuk n seks beb s Mel kuk n hubung n seks sek li s j tid k k n menyeb bk n keh mil n y tid k bersedi m el kuk n hubung n seks deng n l w n jenis sek lipun di or ng y ng s ng t y c int i y mer s sen ng p bil bis menj g keperc y n or ng tu d n m sy r k t deng n tid k mel kuk n perbu t n mor l.4 8.3 50. meskipun itu deng n p c rny sendiri e ks beb s seb ikny dil kuk n oleh p s ng n y ng k n menik h untuk d p t lebih m enget hui sif t m sing m sing eseor ng y ng sud h mempuny i pengh sil n tet p d n ekonominy m t ng.3 18. 7. 10.3 33.3 30.0 T T 6. 19.2 5.6 4.2 18.9 51. 14 .3 19. 9.2 35. 8.1 19.6 24. sehingg y tid k k n mel kuk n hubung n seks t np menik h y mer s tid k sen ng jik d tem n y ng mempeng ruhi y untuk mel kuk n seks beb s Dorong n seks y ng muncul seb ikny dim nifest sik n deng n peril ku y ng tid k menjurus p d peril ku seks beb s.9 0.2 20. seperti berp c r n deng n mel kuk n seks beb s 46.3 60.9 30.4 40.3 15.0 3.4 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek osi l) No.2 £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £¡¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ ¡ ¡ .8 4.8 17. 1. w j r jik mel kuk n seks beb s eks beb s y ng dil kuk n b ik deng n p c r m upun deng n or ng l in (tem n.1 8. 11. 47.3 21.3 33.0 6.8 15.178 27. Perny t n eks beb s d l h s l h s tu peril ku y ng sed ng m r k di soroti d l m kehidup n modern R s cint p d p c r merup k n m nifest si d ri dorong n seks y ng ingin dipu sk n y t kut di ngg p kur ng perg ul n bil tid k mel ku k n hubung n seks sebelum menik h eks beb s d p t dil kuk n oleh sep s ng rem j y ng s ling mencint i d l m ik t n p c r n y s ng t menghorm ti norm norm m sy r k t. 2.1 10.

5 32.2 2.3 11.5 34.1 .0 20.5 39. 27.6 24.14. 5.8 12.0 45.1 42.6 5.7 11. 28. 78.8 51.6 26.2 3.1 14.

9 8.179 35.5 25.0 40. meskipu n itu buk n isteri/su mi y sendiri y sen ng bertem n deng n si p s j mes kipun itu d l h or ng or ng y ng mendukung perg ul n seks beb s Ad l h tid k te p t jik kit mel r ng or ng y ng berp c r n untuk tid k mel kuk n hubung n seks Fenomen peril ku seks beb s y ng khir khir ini b ny k disoroti.0 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ .2 12. 82.5 20. seb ikny kont k fisik deng n l w n jenis y ng buk n su mi/istri kit dihind ri y mer s b ngg . 53.2 41.6 14. sel y kny mel kuk n seks beb s sup y or ng tu menj di setuju deng n hubung n merek Hidup bers m d l m ik t n perk win n d l h id m n semu or ng untuk mend p tk n keb h gi n sek ligus menerusk n keturun n Menurut s y hid up bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y lebih d p t menj j ki p s ng n Berhubung n seksu l k n y l kuk n seb g i bukti per s n cint p d p c r Tid k p p k l u d ri hubung n seks sec r beb s y ng s y l kuk n. y k n mel kuk n hubung n seksu l deng n l w n jenis.7 49. 74. 56. Untuk menghind ri perbu t n seks sec r beb s. 70.1 6. 36.6 2.1 53.7 37.1 72. 80.5 17.8 4. 63. tid k k n m embu t y terpeng ruh untuk mel kuk nny Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks b eb s seb ikny di usir oleh kelu rg ny 41. l hir seor ng n k di lu r nik h Tem n y ng suk mempeng ruhi kit untuk ikut d l m perg ul n seks beb s h rus dihind ri Jik y ter ngs ng melih t melih t g mb rg mb r porno. 78. 83. 41.7 3. k ren s mp i w ktuny y menik h.3 36. 95.3 5. 50. y m sih d l m ke d n per w n/perj k eks beb s d p t mengur ngi kejenuh n d l m bel j r Mel kuk n hubung n seks sec r beb s ber r ti merus k ketulus n cint ep s ng kek sih y ng hubung nny tid k direstui oleh or ng tu . 43.2 4.

4 5.4 42.1 3.3 6.3 5.3 32.3 41.2 3.2 53.7 78.0 47.3 8.1 7.2 29.7 35.7 30.9 16.1 16.2 8.6 41.3 54.4 28.2.8 16.1 15.3 8.7 40.2 35.5 .5 24.1 11.5 38.3 9.3 5.7 60.7 16.6 8.7 32.4 44.1 32.2 3.

0 0.0 0.0 1.5 17.3 11.1 36.0 0.0 27.5 65.0 0.5 3.3 8.5 66.0 0.4 55.0 0.3 7.2 22.2 0.7 72.0 0.2 6.0 0.0 0.0 0.3 4.0 12.1 2.1 5.8 51.0 0.0 0.3 1.3 3.1 25.2 63.2 50.0 0.7 7.0 T h p 2 4.0 0.0 0.0 54.0 0.0 34.0 8.1 1.8 53.1 38.0 0.0 2.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.3 11.0 £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ .0 61.0 0.7 29.1 9.0 0.2 4 3.1 43.5 0.0 1.0 0.8 13.0 0.1 7.1 T h p 6 0.2 2.0 T h p 3 T h p 4 62.5 41.4 12.0 0.7 25.0 11.0 0.0 0.0 0.0 0.5 68.5 41.5 52.0 0.8 T h p 5 8.5 18. 2 4.5 3 6.2 55.9 38.0 0.0 0.0 0.180 £ £ £ Persent se j w b n y ng menunjukk n t h p pen l r n mor l rem j erit Pert ny n 1 I 2 3 II III IV V 4 5 6 7 8 9 VI 10 11 12 13 VII 14 15 VIII IX 16 17 T h p 1 0.9 75.0 1.6 54.5 53.5 3.

0 T 16 40.0 T 18 45.0 20 50.0 22 55.5 T 26 65.0 T 17 42.5 T 18 45.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.0 T 20 50.0 T 3 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 3 1 3 1 2 2 2 2 4 2 4 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 4 2 2 3 1 1 1 2 1 3 1 1 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 8 2 2 1 1 1 2 4 1 2 1 2 3 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 4 1 2 9 2 2 2 1 1 3 4 1 2 1 2 3 1 4 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 Psikologis 12 1 3 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 4 2 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 2 3 3 4 4 3 4 2 2 2 1 1 1 4 2 1 1 2 3 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 4 1 3 2 1 2 3 1 1 1 3 3 1 1 2 1 3 1 2 1 3 2 17 3 2 2 2 3 4 2 2 3 1 3 1 1 4 2 2 2 3 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 21 2 1 1 2 1 3 3 2 2 3 2 3 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 22 1 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 4 4 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 23 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 4 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 3 1 1 1 1 2 27 2 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 3 4 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 33 1 2 2 1 1 1 3 2 2 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¢ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     £     £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡     ¢     ¡ ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £       ¡ ¡ £ ¡       ¡ ¡ ¡ .5 T 14 35.0 T 11 27.5 T 13 32.5 T 10 25.5 T 11 27.5 T 16 40. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 5 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 6 2 1 2 2 1 4 4 2 2 2 2 3 2 4 2 4 1 1 2 2 3 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 16 1 2 2 3 2 1 3 1 2 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 2 3 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 4 2 1 2 1 1 2 20 2 3 1 1 1 4 3 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 2 1 1 32 1 4 3 3 3 1 4 3 3 4 3 4 2 4 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 2 1 1 1 2 3 4 2 1 2 1 1 40 2 1 1 2 1 1 1 2 3 2 2 2 3 1 2 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 52 2 4 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 2 2 2 3 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 1 3 1 2 Biologis 63 2 3 3 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 4 2 2 2 2 3 3 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 3 1 2 2 2 1 3 66 2 2 2 2 1 4 4 2 2 2 3 3 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 3 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 81 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 2 4 4 4 2 1 3 2 2 2 1 1 3 1 1 1 2 1 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 94 kor 2 3 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 1 2 1 1 % skor riteri 17 42.5 T 20 50.5 T 23 57.5 T 14 35.5 17 42.5 T 23 57 .5 T 22 55.0 T 26 65.5 T 11 27.0 21 52. 0 T 30 75.0 T 18 45.5 T 19 47.0 T 14 35.0 T 11 27.0 30 75.0 T 35 87.0 T 22 55.5 T 21 52.0 T 25 62.5 T 18 45.0 T 13 32.0 T 21 52.5 T 13 32.

5 23 57. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 5 0 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 6 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 2 2 1 3 3 3 2 2 2 2 2 1 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 16 4 2 2 2 1 4 1 1 1 2 1 3 3 4 4 2 2 3 2 2 3 3 4 1 2 2 3 2 3 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 20 1 2 2 1 1 2 4 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 4 1 2 2 2 1 2 2 3 2 3 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 32 1 1 2 1 1 3 2 2 3 3 3 1 2 1 1 4 4 1 2 2 3 4 2 3 3 3 4 4 2 4 2 1 3 3 3 3 3 2 4 3 40 1 2 1 2 1 2 1 2 2 4 2 1 1 1 2 3 3 1 1 2 3 4 2 1 1 2 2 2 4 1 2 2 3 2 1 2 3 1 1 2 52 4 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 2 4 2 2 3 3 4 2 2 2 2 1 3 1 2 3 2 2 1 3 2 1 2 3 Biologis 63 1 1 2 1 1 1 1 2 1 4 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 2 1 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3 66 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 1 2 1 2 1 3 3 4 4 3 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 2 1 3 2 2 3 3 2 1 3 81 1 2 2 1 2 2 1 2 3 4 1 1 3 4 2 3 3 3 1 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 4 2 1 3 2 2 3 3 2 4 3 94 kor 3 3 1 1 1 2 3 2 1 4 4 1 1 3 1 3 2 4 2 2 3 3 4 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 3 3 2 1 3 % skor riteri 18 45.0 20 50.0 T 23 57.5 T 18 45.0 T 21 52.0 T 21 52.5 27 67.0 17 42.0 27 67.5 T 11 27 .0 T 17 42.0 28 70.¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.5 32 80.0 T 30 75.5 T 16 40.5 T 19 47.5 T 1 9 47.0 26 65.0 27 67.5 T 19 47.5 T 27 67.5 T 18 45.0 T 23 57.5 20 50.5 T 26 65.5 T 26 65 .5 3 2 2 2 3 1 1 1 3 2 3 1 2 1 2 1 2 2 4 2 2 3 3 1 1 3 3 1 1 1 2 1 1 3 2 1 2 2 2 3 1 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 4 2 2 1 2 2 2 3 2 5 1 1 1 2 1 4 1 1 2 2 2 2 1 1 1 3 3 4 1 2 3 3 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 4 1 4 4 2 3 4 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 3 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 9 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 4 1 2 2 3 2 3 1 Psikolo gis 12 13 2 2 1 1 2 1 2 2 3 1 3 1 3 1 2 2 1 1 3 1 4 1 3 1 3 1 1 1 2 3 3 2 3 2 4 4 2 1 3 2 4 4 4 4 2 1 3 3 2 2 3 3 2 2 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 17 2 2 3 3 3 3 4 3 2 3 4 4 2 1 4 3 3 1 2 1 3 4 2 2 1 3 3 3 2 3 3 4 2 3 2 2 3 1 1 3 21 1 1 2 1 1 2 1 1 1 3 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 3 1 1 3 3 3 3 2 3 4 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 22 1 2 1 1 1 4 1 1 1 3 3 1 1 1 1 2 3 3 1 2 2 4 1 3 3 3 3 3 2 3 2 1 2 3 1 4 3 2 3 2 23 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 3 1 1 1 2 2 1 4 1 2 2 4 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 1 3 1 2 3 2 3 3 27 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 2 3 3 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 2 2 2 2 1 3 2 33 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 3 2 3 1 2 3 4 1 2 3 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £       ¡       ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ £       ¡       ¢ ¡ £ £ ¡       ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡     ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡     ¡ .0 T 13 32 .0 T 13 32.5 T 27 67.5 20 50.5 T 25 62.0 28 70.0 20 50.0 T 18 45.5 T 29 72.0 T 18 45.0 T 26 65.5 T 25 62.5 T 16 40.

1 13.8 41.5 14 35.4 20 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 3 2 2 2 1 2 4 1 0 42 40 4.9 7 14 29 46 7.5 53.6 % skor riteri 23 57.0 25 62. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 9 0 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 6 3 2 1 1 3 3 1 2 1 2 3 3 3 1 2 2 2 2 5 14 44 33 5.8 40 1 3 1 1 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 3 1 2 3 12 40 41 3.7 47.5 T 21 52.2 94 kor 2 3 1 2 3 4 1 2 1 2 2 3 2 3 2 2 1 1 9 15 34 38 9.3 25.3 16.9 17 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 2 3 9 35 36 16 9.5 T 14 35.2 Biol ogis 63 3 2 2 1 3 4 1 2 1 3 2 3 2 1 2 3 2 1 9 33 30 24 9.7 22 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 3 2 1 4 2 1 1 7 15 20 54 7.0 T 20 50.0 9.3 8 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 32 59 3.3 23 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 4 8 38 46 4.3 39.0 T 10 25.7 29.1 2.2 14.6 46.3 61.7 32 3 4 2 2 2 4 1 2 1 2 2 3 3 2 3 3 2 2 15 29 32 20 15 .5 4 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 3 2 3 2 2 1 1 1 3 11 31 51 3.2 24.5 T 27 67 .5 37.1 5 4 1 1 1 1 3 1 1 1 4 2 2 2 1 2 2 1 1 10 9 22 55 10.5 81 3 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 3 3 1 3 3 2 1 17 28 23 28 17.4 16 2 2 1 4 1 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 3 1 3 8 16 39 33 8.2 8.4 31.3 37.4 41.2 33.ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.4 43.3 32.0 T 18 45.8 33.5 41.5 9 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 2 3 2 2 1 1 1 3 8 31 54 3.6 35.1 29.1 7.0 27 67.5 T 22 55.5 21.4 22.0 T 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 3 2 2 2 3 1 1 14 45 36 1.0 T 26 65.3 38.5 10 25.2 10.0 T 16 40.0 66 3 3 2 1 2 1 1 2 1 2 2 3 3 4 2 2 1 2 8 19 32 37 8.0 T 25 62.9 33 2 4 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 7 36 51 2.6 30.0 29.0 14.3 11.0 T 20 50.3 53.8 56.3 56.9 27 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 2 2 3 2 2 2 1 2 1 9 40 46 1.4 9.1 Persent se ¡   ¡   ¡ ¡   ¡ £ ¡ ¡   ¡   ¢   ¡   ¡     £ ¡     ¡     ¢ £ ¡ ¡ ¡   ¡ £ £   ¡ ¡ ¡ £ £   ¡ ¡ £   £ ¡ ¡ ¡   ¡ .3 20.1 8. 7 42.5 32.9 57.3 19.3 Psikologis 12 13 2 2 4 3 3 1 2 1 2 2 3 4 2 1 2 2 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 2 1 2 3 3 2 1 1 3 1 9 30 36 21 9.5 52.0 T 26 65.4 15.6 45.7 21 2 4 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 3 1 2 2 1 1 2 13 40 41 2.1 33.3 37.4 31.3 14.7 52 2 2 1 2 4 2 1 3 1 1 2 2 2 3 2 2 1 4 7 11 50 28 7.2 47.7 40.1 12.7 42.9 37.5 16.4 34.6 30.6 47.6 34.5 41.4 39.0 T 18 45.8 34. 4 36.3 15.1 11.6 20.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 2 9 30 31 32 33 34 35 36 37 38 61 1 1 1 1 1 1 3 2 2 2 2 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 3 2 2 2 2 3 62 3 4 3 3 1 4 2 2 3 3 3 3 3 2 1 3 3 2 3 2 4 1 2 2 1 1 3 1 3 2 1 4 2 3 1 3 2 1 64 2 1 2 1 1 2 4 1 2 1 2 4 1 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 65 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 68 2 2 2 3 1 3 3 1 3 1 2 1 1 4 2 3 1 2 1 2 1 2 3 1 1 3 1 1 1 1 2 1 3 2 2 1 2 1 69 2 3 2 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 4 1 2 2 1 3 3 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 70 1 2 1 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 4 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 71 3 2 1 2 1 1 4 2 3 2 2 1 1 4 2 2 1 3 3 2 1 4 3 2 1 4 2 4 1 2 3 2 2 3 4 3 4 2 72 1 3 1 2 1 4 1 1 2 2 2 4 2 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 73 2 2 2 3 1 4 3 1 2 2 2 3 4 4 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 1 1 2 1 4 1 1 1 2 2 1 2 1 3 75 3 3 3 1 3 1 1 3 3 3 3 2 1 1 4 4 2 3 4 2 3 4 3 4 4 4 3 4 1 4 3 1 4 3 1 3 4 2 76 2 3 1 1 1 1 4 1 3 2 2 3 1 4 1 2 1 1 2 3 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 77 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 3 2 1 4 2 2 3 1 1 2 1 1 2 1 1 4 1 1 4 1 1 2 3 1 1 1 4 1 £ £ £ £ £ £ ik p rem j 2 3 1 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 4 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 2 terh d p peril ku 1 1 1 2 1 2 2 1 1 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 3 2 3 4 2 1 1 1 2 2 3 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 seks beb s Psikologis 1 3 4 1 1 1 3 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 3 2 2 3 3 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 1 2 2 1 2 4 1 1 51 53 1 4 4 2 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 55 56 4 4 3 1 4 4 4 2 2 2 4 1 1 1 1 58 59 1 4 4 2 4 4 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 4 1 2 1 2 2 4 4 1 2                                                                         £     ¡ ¢ ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 34 1 1 2 2 1 1 2 2 3 3 3 3 2 4 1 2 2 1 2 1 1 1 3 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 35 2 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 36 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 1 4 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 41 1 2 2 2 1 1 2 4 2 2 1 3 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 1 42 1 1 1 1 1 4 2 1 3 2 2 1 3 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 43 2 1 3 1 2 4 2 1 3 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 46 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 3 4 1 1 2 1 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 48 2 1 1 2 1 2 3 1 2 1 2 3 4 4 1 2 1 1 1 1 2 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 49 1 1 1 1 1 4 1 2 2 1 1 3 4 2 1 2 1 1 2 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 50 2 4 2 4 3 4 3 2 3 2 2 4 4 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 1 2 4 2 3 1 4 4 3 3 3 1 1 2 1 4 4 1 2 2 1 1 1 1 1 .

39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 6 4 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 61 1 1 1 1 1 2 1 2 4 1 3 1 2 1 2 3 3 2 3 1 3 3 2 4 2 2 2 1 2 4 2 1 3 2 1 2 2 4 2 3 62 1 1 3 1 1 1 4 2 1 2 3 2 1 1 1 3 3 3 2 3 3 4 3 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 2 64 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 3 2 65 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 2 1 1 2 1 1 3 3 1 4 1 2 2 2 1 2 2 2 4 2 1 4 2 1 2 1 1 1 2 68 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1 1 2 3 3 3 3 1 4 4 2 3 3 3 3 1 2 3 3 2 4 2 3 2 3 1 1 3 69 1 1 1 1 1 2 3 1 1 3 3 2 1 2 1 2 1 3 3 1 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 70 4 4 1 1 1 2 1 3 4 4 2 2 1 1 2 1 4 2 3 3 1 1 2 1 2 2 2 1 4 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 71 1 3 3 4 2 3 1 1 3 2 2 2 1 2 2 1 3 2 3 3 2 4 3 1 2 2 2 1 1 3 3 3 2 3 4 2 1 2 1 3 72 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 1 1 2 1 2 2 2 3 1 1 2 1 1 2 3 2 3 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 73 1 1 2 1 1 2 4 2 1 1 2 3 2 2 1 2 2 1 4 1 3 1 1 2 2 2 2 1 3 1 2 1 2 2 1 2 2 4 3 3 75 1 1 3 1 4 1 1 1 1 3 3 3 3 3 4 2 3 4 3 4 2 4 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 4 3 2 2 2 3 2 2 76 1 3 2 1 1 2 1 1 1 3 3 4 1 1 1 1 3 2 4 1 2 2 2 2 3 3 2 1 4 1 2 3 3 2 1 2 3 2 3 3 £ £ £ £ £ £ ik p rem j 4 2 1 1 4 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 4 1 4 4 2 4 4 3 1 2 1 3 2 2 1 3 1 2 terh d p peril ku 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 1 4 3 4 3 4 3 1 1 2 2 3 3 3 2 2 1 1 2 1 1 2 4 3 4 1 1 1 4 4 1 2 2 3 3 3 1 2 3 3 seks beb s Psikologis 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 2 2 2 2 3 2 2 2 1 3 3 2 4 4 1 1 3 2 1 1 2 3 1 4 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 3 3 2 1 2 2 2 3 1 1 3 3 51 53 2 2 2 1 1 1 4 3 1 3 3 3 1 1 2 3 3 1 55 56 2 2 1 1 1 1 2 2 4 3 2 1 1 2 3 2 2 2 58 59 1 4 4 1 2 2 2 2 4 2 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 2 2 3 2 1 1 1 3 2 1 1 1 3 4 1 3                                                                             £     ¡ ¢ ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 34 4 2 2 1 1 2 2 2 2 4 2 1 2 1 1 4 1 3 1 3 3 4 2 3 2 2 3 2 3 1 2 2 3 3 4 3 3 2 3 2 35 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 4 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 36 2 2 1 1 1 1 1 1 1 3 3 3 1 1 1 1 2 4 1 2 3 2 2 2 2 2 2 3 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 41 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 2 4 1 1 2 2 2 2 3 3 2 1 4 1 2 2 3 2 1 2 3 2 4 3 42 2 2 1 2 1 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 3 1 1 3 3 2 1 1 2 3 1 3 1 1 2 3 4 2 2 3 1 1 2 43 4 2 2 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 3 2 1 1 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 3 2 1 1 46 4 1 2 1 1 2 1 1 1 4 3 1 2 1 1 2 1 3 1 1 2 2 1 4 2 3 2 2 3 1 2 2 2 2 1 2 3 2 1 2 48 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 4 1 1 1 3 3 2 1 2 3 2 1 4 2 2 3 3 3 3 2 1 2 1 2 2 3 2 2 2 49 4 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 4 3 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 50 3 1 2 1 3 2 3 1 4 3 2 1 1 2 1 3 4 1 4 3 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 2 2 4 1 3 3 3 4 2 3 2 1 1 2 3 2 1 1 2 4 2 1 .No.

77 1 1 1 2 1 1 1 2 1 4 3 2 1 4 1 3 3 2 2 2 4 4 1 2 2 2 2 1 2 1 2 3 1 4 2 4 3 2 2 4 .

8 33.5 50.6 41.4 11.5 13 18 30 35 13.3 4.5 22.4 8.2 36.2 68 2 3 2 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 4 3 2 1 1 5 24 31 36 5.3 52.3 7.0 71 2 2 4 3 2 3 3 2 4 3 3 2 1 2 2 3 1 3 12 28 35 21 12. .5 9.2 34.0 49 2 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 3 1 1 2 1 2 4 5 34 53 4.2 5.3 37.8 29 26 11.2 2 0.3 36.9 32.1 6.9 Persent se £ £ £ £ £ £ ik p rem j 1 1 4 3 3 4 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 7 46 4.5 15.4 3 36.3 37. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 Frekuensi 61 2 2 2 1 2 3 1 2 1 3 1 3 2 3 2 2 1 2 5 15 41 35 5.0 64.2 13.2 9.2 8.5 62 3 3 2 2 2 3 1 2 1 2 1 3 3 3 2 3 1 3 10 42 22 22 10.2 19. 2 50 2 4 1 3 2 4 3 3 3 3 2 4 3 1 3 1 4 4 22 35 22 17 22.5 42.1 8.5 32.2 47.2 27.5 51.5 53.1 43 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 2 7 25 62 2.0 4.8 76 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 5 16 33 42 5.5 49.4 35 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 20 71 1.5 69 2 2 1 1 2 3 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 1 4 19 32 41 4.0 43.9 36.0 41 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 1 4 2 1 1 6 8 35 47 6.3 40.3 49.6 46 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 5 8 35 48 5.9 64 2 2 1 1 2 2 1 3 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 4 4 31 57 4.3 29.8 22.3 26.5 21.5 73 2 4 1 2 2 4 1 2 1 1 1 3 2 1 2 2 2 2 9 11 41 35 9.7 70 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 3 2 2 3 2 7 7 33 49 7.9 17.7 2 3 3 2 2 1 9 3 31.3 30.5 31.3 36.4 55.3 59.8 74.7                               £     £   ¡ ¢ ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 34 2 4 1 4 3 3 1 1 1 2 2 3 4 3 2 4 1 3 10 22 31 3 3 10.9 72 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 3 6 28 59 3.7 36.0 32.4 65 1 4 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 6 4 33 53 6.2 25.7 36.7 34.8 13.6 35.5 18.3 42.5 47.4 22.1 7.3 37.5 33.6 42.No.3 34.1 9 8 39 40 9.4 51.5 18.2 16.2 35.0 48 2 3 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 3 1 2 5 13 31 47 5.5 29.0 42 1 2 2 1 3 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 3 11 32 50 3.4 43.5 11 30 terh d p peril ku seks beb s Psikologis 51 53 55 56 58 59 3 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 2 3 1 1 4 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 1 2 1 3 3 2 3 6 36 51 3.2 15.4 55.3 8.5 75 4 2 3 4 1 3 3 4 1 3 4 1 3 3 3 3 3 3 23 42 13 18 24.1 11.4 37.9 22.2 4.9 11 15 34 36 11.8 77 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 2 2 1 1 12 9 29 46 12.2 32.4 30.1 4 38.3 34.2 61.4 43.1 6.0 36 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 3 8 36 49 3.

7 T 2 121 53.5 T 1 75 32.3 T 1 99 43.2 T 1 3 3 1 2 2 3 4 2 2 2 3 3 2 4 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 3 4 1 1 1 1 1 2 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 7 4 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 4 1 1 osi l 10 11 4 1 3 1 2 1 1 1 1 1 4 1 2 3 2 1 2 2 1 1 3 1 4 2 4 1 4 4 3 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 14 1 2 2 1 2 1 1 1 3 2 1 2 4 4 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 2 1 1 15 1 3 2 1 2 1 4 1 2 1 2 2 3 4 1 1 2 1 2 2 2 1 1 4 3 1 1 4 1 2 2 1 2 2 1 2 2 4 18 1 2 1 2 4 4 4 2 2 4 4 4 3 1 4 2 2 1 1 2 4 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 19 2 3 1 1 1 4 4 2 2 3 2 3 1 1 1 2 1 2 2 2 4 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 3 4 1 1 2 1 2 25 2 3 1 2 4 1 2 1 3 1 1 1 4 4 2 2 2 1 1 4 4 1 1 1 1 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 1 1 ¡ ¡       ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¢ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ £ ¢     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ £ £ ¡       £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ £ ¡ ¡       ¡¡ ¡ .8 T 4 145 63.3 T 1 111 48.4 T 1 82 36.9 T 1 75 1 70 30.2 T 1 73 32.8 T 1 74 32.7 T 1 9 2 40. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 5 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 80 2 2 1 3 1 3 4 2 3 2 1 3 2 4 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 82 3 3 1 2 3 1 3 2 2 2 3 3 2 4 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 1 2 1 1 1 1 4 1 2 1 2 1 1 83 1 2 3 3 3 1 1 2 3 2 4 2 3 4 2 2 3 3 3 2 1 1 3 4 3 2 3 2 2 3 2 1 3 2 4 1 1 1 85 1 1 1 1 1 4 2 1 2 2 2 2 3 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 4 1 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 1 88 4 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4 2 1 4 2 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 89 1 3 1 1 1 1 3 1 4 1 2 4 2 4 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 90 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 4 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 Psikologis 91 93 1 3 3 3 1 3 1 2 1 3 1 1 4 2 1 2 1 3 1 2 4 4 1 4 1 4 4 4 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 3 1 3 1 2 1 2 1 2 1 2 3 1 95 4 1 1 2 1 3 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 3 1 1 1 2 2 2 2 1 2 96 1 2 3 2 1 1 4 1 2 3 3 4 1 4 1 1 3 2 2 2 1 1 3 3 3 3 1 1 1 1 1 1 3 2 3 2 3 1 97 2 2 4 4 3 4 3 3 1 3 2 4 3 4 2 3 3 1 2 2 4 1 3 3 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 2 3 1 98 3 2 2 1 1 4 2 1 1 1 4 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 4 4 1 2 1 1 1 1 99 3 2 1 3 1 1 3 2 4 3 2 4 4 4 1 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 3 101 kor % skor riteri 1 101 44.4 1 101 44.4 T 1 94 41.6 T 2 105 46.8 T 1 79 34.8 T 4 136 59.5 T 1 92 40.9 T 2 98 43 .4 T 1 89 39.0 T 1 84 36.1 T 32.9 T 4 197 86.6 T 1 134 58.0 T 1 110 48.8 T 3 94 41.7 T 1 89 39.0 T 1 93 40.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.8 T 1 97 42.8 T 2 133 58.0 T 2 93 40.6 2 116 50.9 T 1 93 40.8 T 1 84 36.2 T 1 70 30.3 T 1 84 36.1 T 1 91 39.0 T 1 80 35.1 T 3 118 51.

1 T 1 147 64.6 T 2 118 51.4 T 2 130 57.8 T 2 135 59.1 T 3 157 68.3 T 1 112 49.4 T 2 131 57.5 T 2 133 58.2 T 43.8 T 3 141 61.9 T 1 84 36.8 T 1 76 33.3 T 1 104 45.8 T 1 82 36. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 5 0 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 80 3 1 1 1 1 2 2 1 1 3 4 1 1 1 1 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 4 3 2 82 1 1 1 1 1 1 2 1 2 3 4 1 2 2 2 3 2 4 2 3 4 4 2 3 3 3 3 4 3 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 3 83 1 3 3 3 3 3 1 2 3 4 4 3 1 2 2 3 3 1 1 1 4 4 1 2 3 3 2 1 1 3 3 2 2 2 1 3 3 4 2 3 85 1 1 2 1 2 1 1 1 1 3 3 1 1 1 4 2 4 3 1 1 2 3 1 3 2 2 3 1 2 1 2 4 3 2 2 2 1 2 2 2 88 4 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 3 1 2 3 2 3 1 3 2 3 3 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 89 1 3 3 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 4 4 1 3 2 3 2 3 3 2 1 2 1 2 1 4 2 1 2 2 2 3 2 90 1 1 1 1 1 2 1 2 1 3 3 1 1 1 2 3 3 3 2 2 3 1 4 2 2 2 2 1 1 1 1 1 4 2 1 2 1 4 1 2 Psikolog is 91 93 1 2 3 2 1 2 1 1 1 3 1 3 1 3 1 2 1 1 1 3 3 4 1 3 1 3 1 3 1 4 2 3 4 3 4 4 2 1 1 2 2 3 2 3 4 3 2 3 3 3 3 3 2 3 1 4 4 3 1 3 1 2 2 2 1 3 2 2 1 2 2 3 2 3 2 2 2 1 2 3 95 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 3 1 1 3 2 2 3 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 3 2 1 4 2 96 1 2 3 3 1 2 1 3 3 3 2 4 2 2 2 3 3 1 2 1 4 4 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 1 2 1 3 2 1 1 2 97 1 1 3 1 3 2 4 2 3 4 2 1 2 3 3 3 3 1 1 2 2 4 1 2 3 3 2 3 4 4 3 4 2 3 2 2 2 2 4 2 98 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 4 1 1 4 3 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 3 1 2 1 1 3 1 1 1 2 4 1 99 3 2 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 3 1 4 2 2 3 3 4 3 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 1 1 3 2 1 2 101 kor % skor riteri 1 95 41.5 T 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 4 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 3 3 2 1 2 3 2 3 1 3 2 1 3 2 2 3 3 2 4 3 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 3 2 1 2 1 1 1 2 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 3 1 1 2 3 2 2 2 osi l 10 11 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 4 2 2 3 1 1 4 1 1 2 2 3 2 4 3 2 1 3 1 3 1 3 2 3 2 4 1 2 2 1 1 2 1 2 1 3 2 2 2 2 1 3 3 3 1 2 2 4 1 2 2 14 4 1 1 1 1 3 1 1 1 2 2 1 2 1 2 3 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 2 1 2 1 4 2 1 2 2 2 2 2 15 2 2 2 2 1 1 2 1 3 2 2 3 2 1 4 3 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 2 4 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 18 2 1 2 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 1 1 2 4 1 2 3 3 4 2 4 3 3 4 2 3 1 2 4 3 2 2 2 4 4 4 3 19 1 1 1 1 1 1 2 1 1 4 1 1 2 1 1 2 2 3 2 2 3 2 2 4 3 3 3 4 1 4 2 1 3 3 3 3 3 2 2 2 25 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 4 2 2 1 3 4 4 1 2 1 2 2 3 1 4 4 2 4 3 3 2 3 3 2 2 2 ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ £ ¡       ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¢ £       ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ £       ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ £ £ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¢ £ ¡ ¡     ¡ ¡ .0 T 1 96 42.8 T 1 105 46.9 4 160 70.1 T 3 131 57.5 T 2 132 57.4 T 1 108 2 124 54.2 47.9 T 2 123 53.5 T 1 128 56.3 T 1 106 46.9 T 1 92 40.3 T 2 126 55.0 T 1 98 1 77 33.4 T 2 130 57.8 T 1 106 46.0 T 3 136 59.5 3 109 47.6 T 1 8 8 38.8 T 1 124 54.8 T 1 84 36.0 T 2 14 2 62.6 T 1 91 39.1 T 2 118 51.6 T 1 77 33.7 T 3 88 38.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.

3 35.1 83 1 3 3 1 1 3 4 1 1 3 2 1 1 3 3 3 3 1 10 37 22 27 10.3 17.2 30.0 32.1 T 2 117 51.0 T 2 122 53.7 36.8 30.2 31.5 29.0 33.3 10.3 T 1 75 32.2 40.0 61.0 17.9 51.1 47.4 osi l 10 11 3 4 3 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 3 1 1 1 3 2 3 1 1 1 1 1 8 20 29 39 8.5 T 1 121 53.3 19 2 3 1 1 3 1 1 2 1 1 3 3 3 2 3 2 2 3 8 21 29 38 8.3 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 2 2 2 1 1 3 6 2 9 58 3.3 88 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 2 1 4 5 7 31 53 5.2 10.3 20.2 8.3 19.6 4 4 18 70 4.6 T 2 106 46.4 8.1 90 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 2 2 2 1 1 5 7 24 60 5.8 27.5 Psikologis 91 93 2 3 2 3 1 3 1 1 1 2 4 3 1 4 2 1 1 1 1 3 3 3 2 2 2 3 1 3 2 3 1 3 1 1 2 2 8 7 24 57 8.1 85 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 2 1 1 2 7 10 25 5 4 7.9 T 1 93 40.7 T 53.3 44.2 89 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 6 10 29 51 6. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 9 0 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 80 2 3 2 1 2 3 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 2 5 16 35 40 5.4 41.5 22.0 T 1 66 28.8 72.3 55.3 30.5 T 1 78 34.1 18.4 99 2 2 1 1 2 3 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 6 20 21 49 6.2 53.4 26.1 46.9 2 2 3 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2 0 17 47 32 0.9 T 2 102 44.2 4.1 T 1 141 61.9 Persent se ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   ¡ ¡   ¡     £ ¡     ¡ ¡     ¢ £ ¡ ¡ £ ¡   ¡ £ £ ¡ £   ¡ ¡ £ £   ¡ ¢ ¡ ¡ £   £   ¡ ¡ .7 95 2 1 2 2 1 2 1 2 1 1 3 2 2 2 3 2 1 2 4 8 43 41 4.3 7.7 96 1 3 3 1 2 3 4 2 1 1 3 2 2 2 3 3 3 1 7 2 9 29 31 7.6 31.6 25 1 4 4 1 1 1 1 3 1 2 1 2 2 1 3 1 1 1 1 4 10 26 46 14.2 60.3 28.6 10.5 41.4 51.3 10.0 60.3 30.0 15 1 1 2 2 3 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 2 2 9 8 48 31 9.3 21.0 59.5 1 4 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 2 2 1 3 1 1 3 6 19 26 45 6.ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.8 42.5 27.4 30.7 31.7 T 4 10 23 59 4.3 7.4 38.1 6.2 32.4 24.4 9 40 30 17 9.9 T 3 123 1 120 52.7 82 3 4 3 1 2 3 1 3 1 2 2 3 2 2 2 3 1 3 11 28 30 27 11.9 30.2 T 1 98 43.2 18.9 14 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 5 8 34 49 5.3 97 3 3 4 4 3 1 4 3 1 2 2 4 2 3 3 3 2 3 17 35 26 18 17 .2 39.3 25.2 16.3 25.3 25.8 T 3 102 44.2 7.8 21.4 27.3 33.0 101 k or % skor riteri 2 112 49.3 32 .6 T 1 98 43.2 8.0 56.2 7.8 98 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 3 1 2 2 1 1 7 7 24 58 7.9 28.8 T 1 90 39.3 18 3 3 3 2 4 2 1 2 1 2 3 3 4 1 2 2 1 2 19 15 30 32 19.0 62.5 T 1 79 34.7 49.3 50.8 15.7 36.3 20.

27 43.2 2 73 62.51 44.30 65.58 40. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 2 9 30 31 32 33 34 35 36 37 38 84 2 2 1 4 1 3 3 1 2 2 2 4 1 3 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 86 2 1 2 2 1 1 3 4 2 3 2 3 3 4 2 2 1 2 2 1 2 1 3 1 2 1 2 1 1 1 1 4 2 1 3 1 2 3 87 2 1 2 1 1 1 3 1 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 1 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 3 100 kor % skor riteri 4 56 48.38 45.41 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ £ £ £ ¢ £ £ ik p rem j 1 2 1 2 2 1 1 3 3 3 2 3 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 3 terh d p peril ku 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 1 3 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 seks beb s 1 2 1 2 1 1 2 2 3 3 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 2 3 2 1 1 osi 1 1 4 4 1 1 1 1 4 1 l 1 2 1 2 4 57 60 4 4 4 4 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 67 74 2 4 4 2 1 1 1 2 2 4 1 1 1 1 2 78 79 2 1 4 2 1 4 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 3 3 1 1 1 2 3 4 1 1 1 1 1 4 3 1 1 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1                             ¡                                             ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¢ ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 28 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 4 2 4 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 29 1 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 3 3 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 31 1 1 2 1 3 4 1 1 3 1 3 2 3 4 2 2 1 1 2 2 3 1 2 2 2 4 2 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 37 4 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 38 2 3 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 4 2 2 2 2 2 1 3 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 3 2 2 1 1 1 39 1 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 1 2 1 2 3 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 3 1 1 47 1 2 1 1 1 3 3 1 2 1 2 3 1 4 2 2 2 1 2 2 3 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 54 2 4 1 1 1 4 2 1 2 1 2 2 1 4 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 4 1 2 2 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 T .No.9 2 43 37.43 51.1 T 4 78 67.0 T 1 64 55. 72 39.58 44.11 39.2 T 2 32 27.7 T 29.4 T 2 42 36.4 T 3 40 34.00 39.8 T 1 49 42.5 T 2 34 29.3 T 3 48 41.46 38.2 3 60 51.06 33.6 T 3 53 45.30 31.78 29.3 T 1 34 2 34 29.49 39.2 T 3 57 49.1 T 3 41 35.1 T 2 45 38.2 T 1 32 27.84 30.89 36.4 T 1 31 26.5 T 3 35 30.6 3 51 44.31 50.54 34.83 51.6 T 2 42 36.01 38.21 34.3 T 2 55 47.28 59.0 T 2 40 34.1 T 2 67 57.47 36.6 T 3 51 44.98 61.89 5 1.68 44.77 30.46 61.33 31.01 44.2 T 2 54 46.8 T 4 78 67.81 41.2 T 1 43 37.6 T 3 33 28.56 85.3 T 2 39 33.1 T 1 51 44.0 T kor 174 192 152 157 140 238 236 147 228 176 197 253 198 329 169 169 148 131 152 169 195 113 197 122 117 141 153 116 131 128 121 170 167 150 129 159 126 159 % skor 45.3 T 2 35 30.11 33.7 T 4 97 83.01 50.7 T 4 51 44.0 T 3 50 43.59 41.41 32.2 T 3 43 37.

96 50.2 T 2 47 40.59 61.52 56.5 T 3 35 30.8 T 3 40 34.69 41.67 69.88 66.5 T 3 74 63.73 49.03 62.15 38.22 57.4 T 3 52 44.6 T 2 52 44.2 T 1 59 50.53 49.6 T 3 66 56.51 44.6 T 4 63 54.3 T 4 75 64.27 41.2 T 3 34 29.41 58.4 T 2 56 48.9 T 3 64 55.17 61.74 55.4 T 4 55 3 68 58.09 58.5 T 3 40 34.33 54.55 31.8 T 4 70 60. 24 55.9 T 3 72 62.21 57.7 47.5 T 4 52 44.6 T 37.36 3 6.46 63.20 50.3 T 2 47 40.3 T 4 61 52.80 58.46 35.6 T 3 56 48.41 36.No.07 40.07 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡£ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ik p rem j 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 4 4 2 1 3 2 1 2 1 2 3 1 3 1 2 1 1 3 2 terh d p peril ku 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 3 3 2 2 1 2 2 1 3 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 4 4 1 1 1 3 1 1 3 4 1 2 2 3 2 1 2 3 2 3 2 seks beb s 1 1 1 1 1 1 4 2 3 4 1 2 1 3 3 1 3 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 4 2 3 1 1 osi 1 1 2 3 1 1 3 3 2 1 3 2 l 1 1 3 1 2 1 57 60 2 2 1 1 1 1 4 1 1 3 3 2 1 1 2 1 3 3 67 74 2 1 1 1 1 1 2 2 2 3 3 1 2 1 1 1 2 2 78 79 1 3 1 2 1 1 2 2 1 2 2 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 2 2 1 1 1 3 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1                             ¡                                           ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ £ ¡     ¡ ¡ ¡ ¢ ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 28 1 3 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 4 2 1 3 4 2 3 2 3 2 3 2 1 2 1 2 3 1 2 3 1 4 2 29 2 1 1 1 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 3 3 3 1 1 1 2 1 2 3 2 2 3 3 2 2 31 1 1 1 1 1 2 3 4 2 3 4 1 1 1 4 3 2 4 1 2 3 4 1 2 3 3 3 2 2 1 1 3 3 4 1 3 3 2 2 4 37 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 38 1 1 1 1 2 2 1 1 1 3 2 2 2 1 1 3 2 1 2 2 1 4 1 3 3 2 2 1 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 3 3 39 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 44 1 1 1 1 1 4 1 1 1 4 4 1 2 1 1 3 1 3 1 1 3 1 1 2 3 2 2 4 3 3 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 47 2 2 2 2 1 1 1 2 2 4 3 1 1 1 2 3 3 3 1 1 3 4 1 2 3 2 1 2 4 1 2 1 3 2 2 2 3 2 4 2 54 1 2 2 1 3 1 2 2 1 1 3 2 2 1 1 3 1 1 3 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 4 1 2 1 1 4 2 1 1 1 1 2 .55 48.8 T 3 35 30.8 T 3 66 56.5 T 3 71 61.59 54.20 36.66 46.8 T 3 38 32.9 T 4 67 57.72 47.2 T 3 4 8 41.9 T 2 44 2 45 38.8 3 68 58.93 58.25 58.52 46.02 32. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 6 4 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 84 4 1 1 1 1 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 2 2 3 4 1 3 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 2 1 2 1 3 2 4 2 2 86 1 2 2 1 1 2 4 2 4 4 3 4 3 2 1 2 3 1 3 2 3 2 4 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 87 1 1 2 1 1 2 2 1 2 2 1 3 2 1 2 2 2 3 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 4 1 2 100 kor % skor riteri 2 45 38.5 T 4 67 57.3 T 3 54 46.3 T 3 55 47.0 T kor 158 146 146 125 121 170 159 139 140 245 223 155 140 138 161 224 208 237 183 180 256 267 191 212 219 239 214 189 221 188 194 177 225 210 159 225 235 194 216 223 % skor 41.94 41.8 T 3 54 46.8 T 4 65 56.4 T 4 69 59.1 T 3 62 53.02 38.8 T 2 40 34.

2 20.69 47.1 16.1 47 1 2 2 2 1 3 1 2 2 4 1 2 2 2 2 3 1 2 6 14 39 3 7 6.5 24.14 52.0 42.1 86 3 4 2 1 3 2 1 2 1 1 3 3 2 2 2 3 2 2 9 27 37 23 9.4 T 1 44 37.7 30.9 2 2 56 T 58 50.8 T 4 48 41.2 T 3 65 56.0 53.7 41.9 T 2 34 29.4 8 16 31 41 8.No.0 T 3 55 47.4 T 2 51 44.7 35.5 3 9.5 26.1 8.4 28.6 47.5 32. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ik p rem j terh d p peril ku seks beb s osi l 57 60 67 74 4 3 3 3 2 1 1 1 2 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 4 3 1 1 1 3 2 2 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 3 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 3 16 75 2.7 49.61 52.8 72.3 42.0 87 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2 2 1 1 3 8 39 46 3.2 14.5 20.3 53.08 32.1 11.3 51.5 T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡   £ ¡   £ ¡ ¡ ¡ ¡     £     ¡ £ £   ¢ ¡     £ £ ¡ ¡ ¡ £ £     ¡ £   ¡ ¡ ¢ ¢ ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 28 1 2 1 1 2 1 1 3 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 5 11 31 49 5.1 3.0 T 3 67 57.8 5 8 31 52 5.39 5 4.84 46.3 40.2 29.2 78 79 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 4 1 4 3 2 2 2 2 16.7 78.34 52.86 39.1 38 3 1 1 2 1 2 1 2 1 1 4 1 3 2 2 2 1 1 3 17 36 40 3.2 4.3 15.4 84 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 2 1 1 6 8 31 51 6.1 7 15 40 5.1 38.2 41 .08 31.7 T 3 42 36.2 60.77 43.1 17.7 37 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 3 1 1 1 1 2 5 14 75 2.5 41.09 53.3 14.03 42.2 5.4 T 48.7 35.6 40.1 5.1 4 7.20 39.5 54 1 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 5 4 40 47 5.11 46.6 41.0 T 3 58 50.6 78.0 1 1 2 3 3 .2 8.6 38.3 8.7 5 5 28 58 16 34 43 3.3 32.7 T 2 31 26.3 T 2 33 28.3 12.26 61.0 T 1 16 40 29 11 16.9 kor 193 235 152 131 179 200 123 162 107 153 177 205 210 181 201 200 122 166 % skor 50.6 T 3 58 50.7 37.4 T 1 37 31.2 11.1 4.3 32.8 24.2 11.19 27.3 54.58 34.4 44.0 29 2 1 2 1 3 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 3 11 38 44 3.8 31 3 4 1 2 3 2 1 1 1 1 1 3 2 1 2 3 1 1 12 20 23 41 12.6 45.3 T 3 46 39.7 39 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 4 2 1 1 1 2 2 4 20 70 2.23 riteri T T T T T T T T T T T T T T T Persent se ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ 100 kor % skor riteri 55 47.9 44 1 3 3 1 1 2 4 4 1 2 1 1 2 3 1 2 1 2 8 12 25 51 8.0 T 2 54 46.7 32.3 16.

000 96 £ £ ¡ ¥ . (1 t iled) N Hipotesis : Ad hubung n positif nt r tingk t pen l r n mor l deng n sik p rem j terh d p peril ku seks beb s.368 1.000 . m k sik p rem j terh d p peril ku seks beb s sem kin tinggi (menerim peril ku seks beb s ).000 . T nd n eg tif menunjukk n b hw jik tingk t pen l r n mor l rem j sem kin tinggi. 368. ed ngk n jik tingk t pen l r n mor l rem j rend h. ¢ £ ¡ ¢ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ orel si j terh ku seks n mor l .L mpir n 12 195 d p peril ku seks beb s Pe rson orrel tion ik p beb s Pen l r n mor l ik p rem j terh d p peril ik p rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r 96 ig.368 . Pe rso n D t tersebut menunjukk n b hw bes rny korel si nt r sik p rem j terh d p peril ku seks beb s d n tingk t pen l r n mor l rem j sebes r 0. d n seb likny .000 . 96 96 £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ Perhitung n oefisien orrel tions ik p rem rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r n mor l 1. m k sik p rem j terh d p peril ku seks beb s k n sem kin rend h (menol k peril k u seks beb s). £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ Pen l r n mor l . y itu sem kin rend h tingk t pen l r n mor l s em kin positif sik p rem j terh d p peril ku seks beb s.

2 3. 4. 5 6 7 8 9 10 11 1 2 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 kor pen l r n mor l 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 72 52 52 57 riteri pen l r n mor l T h p III T h p III T h p IV T h p IV T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p II T h p III T h p V T h p III T h p III T h p IV T h p IV T h p III T h p IV T h p III T h p IV T h p IV T h p IV T h p III T h p III T h p III £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ ¡ £ £ £ ¢ .L mpir n 13 196 Penentu n riteri Deskripsi T bel kor Tingk t Pen l r n Mor l Rem j Responden 1.

197 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 54 79 56 85 51 71 79 62 58 60 60 61 62 75 79 54 58 56 45 54 57 75 55 56 56 51 55 53 56 53 52 54 59 53 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ T h p I T h p III III T II III T h p p III T h T h p III h p III T V T h p III T h p V T h p III T h p IV T h p V T h p IV T h p II p III T h p III T h p IV T h p V T h p V T h p IV T h p III T h T h p III T h p III T h p V T h p III T h p III T h p III T h p hp III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p I .

198 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 74 52 54 53 57 54 53 55 52 57 52 56 53 59 53 59 70 64 52 80 54 58 63 52 71 56 51 74 53 57 69 64 51 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ T h p IV T h p III h p III T h p III h p IV T h p IV T IV T h p III T h p T h T h h p III p III p III III T T h p T h p III T h p III T h p III T T h p III T h p III T h p III T h p V T h p III T h p III T h p IV T h p III T h p III T h p IV h p III T h p III T h p III T h p III T IV T h p III T h p T h p IV T h p III .

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 16 1 6 14 12 10 24 21 12 16 14 19 22 15 27 15 16 16 12 13 14 14 9 16 11 13 11 11 8 13 11 13 17 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T Aspek Psikologis kor 104 117 92 93 83 142 139 86 136 106 115 160 126 197 100 95 87 76 88 102 124 61 110 69 67 84 89 68 83 76 69 105 kriteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T Aspek osi l kor 42 48 35 42 37 66 63 37 59 43 49 61 47 92 39 44 35 31 36 42 48 28 54 29 26 32 41 2 6 27 29 28 41 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ecenderung n sik p terh d p peril ku seks beb s T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡£ ¡ ¡£ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡£¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ £ ¡ £ ¡ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ £ ¡ .199 ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s Aspek Biologis isw kor 1.

200 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 17 14 12 16 11 14 13 14 15 14 10 16 14 16 16 16 19 15 13 11 15 20 19 20 16 13 21 24 19 21 18 19 18 14 20 17 18 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T 102 82 71 99 70 94 98 78 84 71 70 101 99 84 82 147 137 85 87 85 95 134 116 145 1 06 104 152 152 115 126 134 144 125 115 127 107 112 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T 35 42 33 33 32 40 38 40 34 28 29 40 39 29 27 63 53 41 31 32 37 58 55 59 46 48 68 72 44 55 54 62 58 49 61 51 50 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ .

76 – 72.50 50.26 116 £ £ £ £ £ £ £ eter ng n : ik p rem j l terh d p peril ku seks beb s Biologis Psikologis osi ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £   ¡ £ £ £   £ T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ £ £ ¡ ¡ ¢ .01 – 32.50 142.50   etuju 25.51 25 99.50 57 99.25 72.51 185.51 – 40.00 185.75   Tid k setuju 17.76 142.25     ng t setuju 32.201 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 15 19 19 12 21 17 15 22 20 15 17 14 9 18 17 12 15 9 14 17 19 20 15 20 18 11 14 T 101 134 124 91 134 140 117 127 133 122 141 86 79 104 115 72 93 63 85 101 124 126 103 116 117 72 99 T T T T T T T T T T T T T T T T T T 49 57 53 46 57 65 47 59 56 45 63 39 31 46 53 26 43 26 40 45 53 54 48 51 49 27 41 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ng t tid k setuju 10 – 17.51 – 94.26 288 94.75 29 – 50.

L mpir n 14 202 H sil An lisis Deskripsi kor ik p rem j terh d p peril ku seks beb s Biologis Psikologis osi l 16 104 42 16 117 48 14 92 35 12 93 42 10 83 37 24 142 66 21 1 39 63 12 86 37 16 136 59 14 106 43 19 115 49 22 160 61 15 126 47 27 197 92 15 10 0 39 16 95 44 16 87 35 12 76 31 13 88 36 14 102 42 14 124 48 9 61 28 16 110 54 1 1 69 29 13 67 26 11 84 32 11 89 41 8 68 26 13 83 27 11 76 29 13 69 28 17 105 41 17 102 35 No. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Pen l r n mor l rem j 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 72 52 52 57 54 79 56 85 £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ . 2. 3. 5. 1. 4.

203 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 14 12 16 11 14 13 14 15 14 10 16 14 16 16 16 19 15 13 11 15 20 19 20 16 13 21 24 19 21 18 19 18 14 20 17 18 15 82 71 99 70 94 98 78 84 71 70 101 99 84 82 147 137 85 87 85 95 134 116 145 106 1 04 152 152 115 126 134 144 125 115 127 107 112 101 42 33 33 32 40 38 40 34 28 29 40 39 29 27 63 53 41 31 32 37 58 55 59 46 48 68 72 44 55 54 62 58 49 61 51 50 49 51 71 79 62 58 60 60 61 62 75 79 54 58 56 45 54 57 75 55 56 56 51 55 53 56 53 52 54 59 53 74 52 54 53 57 54 53 .

17 102 17 £ Me n t nd r Devi si kor tertinggi kor terend h ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ .204 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 19 19 12 21 17 15 22 20 15 17 14 9 18 17 12 15 9 14 17 19 20 15 20 18 11 14 134 124 91 134 140 117 127 133 122 141 86 79 104 115 72 93 63 85 101 124 126 103 116 117 72 99 57 53 46 57 65 47 59 56 45 63 39 31 46 53 26 43 26 40 45 53 54 48 51 49 27 41 55 52 57 52 56 53 59 53 59 70 64 52 80 54 58 63 52 71 56 51 74 53 57 69 64 51 Biologis 25 5.50 116 29 Pen l r n mor l 42.5 14.5 14.5 228 57 osi l 72.00 40 10 Psikologis 143 28.

00 Frekuensi (%) 80 60 40 20.00 2.83 Thp V 8.00 68.33 Thp VI 0.33 0.00 Thp II 2.L mpir n 15 205 Rek pitul si H sil An lisis Deskripsi Thp II 2 riteri Thp Thp III IV 66 20 Thp V 8 Thp VI 0 Thp I 0.08 D l m Persen Thp Thp III IV 68.75 0 T h p I T h p II T h p III T h p IV T h p V T h pVI Pen l r n Mor l £ £   £ £ £ £ Gr fik Tingk t Pen l r n Mor l Rem j   £ £ £ £ Tingk t Pen l r n Mor l Rem j Tingk t Pen l r n Mor l Thp I 0 £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¢ .08 8.83 20 0.75 20.

92 46.17 22.206 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek biologis) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 22 45 28 1.17 46.92 40 30 20 10 0 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek psikologi) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 4 45 46 1.88 29.88 29.04 £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 1.04 22.04 T T eks Beb s (Aspek Biologis) £ £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j 50 Frekuensi (%) terh d p peril ku seks beb s ( spek biologis) £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £¡ £ £ £¡ £ ¡ £ ¡ eks Beb s ng t setuju ng t setuju .

88 47.92 Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek psikologis) 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 47.04 £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.17 T T eks Beb s (Aspek Psikologis) £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡¡ ¡ .92 46.4.17 46.88 1.

04 5.21 48.207 1 5 47 43 1.04 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 4 48 £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 5.21 T T osi l) ng t setuju £ £ £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek sosi l) £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £¡ £ £ £¡ £ ¡¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek sosi l) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) ng t setuju .79 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 44.79 48.96 1.96 44.

79 60 Frekuensi (%) 50 40 30 20 10 0 44.43 1.00 47.79 50.17 50.00 1.04 4.17 T T eks Beb s £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s £ £ £ ¡¡ ¡ .04 £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.

000 .9063 8.1349 .000 P rt . Error of R qu re R R qu re R qu re the Estim te h nge F h nge df1 df2 ig. Method Enter Model 1 ig. F h nge . All requested v ri bles entered.218 Pen l r n mor l 1. Error Bet t 1 ( onst nt) 283.466 .725 1 9 4 .740 10. Predictors: ( onst nt). .126 39.368 .444 27.788 .135 14.368 1.135 .000 .837 £ £   £ . Dependent V ri ble: peril ku seks beb s b Model umm ry £ £ ¡ £ ¡ £ £   £ £ £ £ £ £ ¡ ¥ £ £ £ £ £ ¥ £   £ ¥ £ £ £ £ V ri bles Entered Pen l r n ¡ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £   £ £   £ Pen l r n mor l . Dependent V ri ble: erh d p peril ku seks beb s oefficients ik p rem j t £ h nge t tistics Adjusted td.866 ¥ £ £ £ £ ¥ £ £ £   ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¥ ¥ £ £   £ £ £ £ ¥£ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ £ ¡ £ ¥ ¥ ¥ .000 .368 3.000 £ £ £ £ £ ¡   ¡ ¡ £ . 96 96 mor l ik p rem j terh d p £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ Descriptive t tistics Me n td.368 . Dependent V ri ble: ik p rem j terh d p peril ku seks beb s   orrel tions Zero order P rti l . Devi tion ik p rem 6 peril ku seks beb s Pen l r n mor l 58.368 £ t nd rdi zed Unst nd rdized oefficien ts oefficients Model B td.368 .368 £ £ £ £ £ £ .208 s Pe rson orrel tion ik p ik p rem j terh d p peril peril ku seks beb s Pen l r N 96 96 ig.1042 41.6159 orrel tions ik p rem j terh d p peril ku seks beb rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r n mor l ku seks beb s Pen l r n mor l ik p rem j terh d p n mor l 1. (1 t iled) N b V ri bles Entered/Removed Model 1 V ri bles Removed .000 96 96 £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ L mpir n 16 An lisis D t ¡¡ ¡ P j terh d p 178. b. Pen l r n mor l b. .000 .

25 .50 Expected um Prob .811 143965.00 .75 1.0 Model 1 df 1 94 95 Regression Residu l Tot l Me n qu re 22551.000 £ £ £ ¡ ¥ ¥ ¡ £ ¡ £ £ £     £ £ £ £ ¡ ¡ £ ik p rem j t .00 Observed um Prob Regression tudentized Residu l £ £ £ Regression t nd rdized Predicted V lue       £ £ £ £ £ £ c tterplot Dependent V ri ble: ik p rem j 4 3 2 1 0 1 2 terh d p peril ku seks beb s 4 3 2 1 0 1 2 3 £ Norm l P P Plot of Regression t nd rdized Residu l Dependent V ri ble: m j terh d p peril ku seks beb s 1. Pen l r n mor l b.25 0. Dependent V ri ble: erh d p peril ku seks beb s ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ ¥     £ £ £ £ £   ¡ ¡ £ ig.725 .811 1531. .00 ik p re £ £ ¡ £ .50 .00 0.544 F 14.75 .209 ANOVA b um of qu res 22551.1 166517. Predictors: ( onst nt).