SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA

SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Teori Perk embangan Moral Köhlberg) SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian studi S1 Untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Nama NIM Jurusan Oleh: : Pramita Agnes Wahareni : 1550401057 : Psikologi FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006 i

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi, tahun 2006. Judul Skripsi “ SIKAP REMAJA AWAL TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2004/2005 (Teori Perkembangan Moral Köhlberg ) ”. Telah dipertahankan di depan penguji skripsi FIP UNNES dan dinyatakan diterim a untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajad Sarjana Psi kologi. Hari : Selasa Tanggal : 22 Agustus 2006 Dewan Penguji

Penguji Utama Drs. Sugeng Hariyadi, M.S NIP.131472593 Penguji I Dra. Sri Maryati D, M.Si NIP. 131125886 Penguji II Drs. Sugiyarta SL, M.Si NIP. 131469637 …………………………… …………… Semarang, Oktober 2006 Mengesahkan : Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Drs. Siswanto, M.M NIP. 130515769 ii

ABSTRAK SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARA N MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Te ori Perkembangan Moral Köhlberg ) Oleh : Pramita Agnes Wahareni (1550401057) Abstr ak skripsi, di bawah bimbingan Dra. Sri Maryati Deliana, M.Si dan Drs. Sugiyarta SL, M.Si Siswa SMA kelas dua sebagai remaja (usia 16-17 tahun) mereka sudah mul ai berpacaran, sehingga mereka dipandang memerlukan informasi yang bertanggung j awab mengenai reproduksi sehat. Atas dasar pertimbangan dari pengamatan ini, ban yak siswa dipandang perlu mendapatkan tambahan wawasan yang lebih detail tentang hubungan antara laki-laki dengan perempuan, dan mengenai bagaimana pergaulan at au pacaran yang sehat. Kebanyakan siswa tidak berani menolak kalau pacarnya ingi n berbuat seks bebas, sehingga mereka melakukan hubungan seks yang bebas. Semua ini dapat terjadi karena kepribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang kura ng baik. Keberhasilan perkembangan penalaran moral remaja di masyarakat ikut men entukan keberhasilan remaja dalam menentukan pola pergaulannya di masyarakat. Ol eh sebab itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ini. Untuk mengkaji l ebih jauh, peneliti mengangkat permasalahan : adakah hubungan antara sikap remaj a terhadap perilaku seks bebas di tinjau dari tingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006. Penelitian ini merupakan peneli tian korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Se marang tahun ajaran 2005/2006 yang pada saat dilakukannya penelitian berusia 1617 tahun, sedang berpacaran, dan tahu akan baik-buruknya suatu perbuatan. Popula si yang ada dalam penelitian ini berjumlah 96 siswa. Karena populasi kurang dari 100 siswa maka semua anggota populasi diambil sebagai sampel penelitian (peneli tian populasi). Dua variabel dalam penelitian ini yaitu tingkat penalaran moral remaja sebagai variabel bebas, dan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas seb agai variabel terikat. Alat pengumpul data yang digunakan adalah angket pengungk ap pendapat tentang masalah-masalah sosial dan skala sikap remaja terhadap peril aku seks bebas. Angket ini terdiri dari 17 item angket pengungkap pendapat tenta ng masalahmasalah sosial dan 96 item skala sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas. Metode analisis data menggunakan metode statistik korelasional parametik, komputasi menggunakan bantuan komputer program (SPSS) versi 10.1 for window 00 H asil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu r = -0,368. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa“ada hubungan negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja“. Umumnya remaja mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolo ng tidak setuju terhadap perilaku seks bebas iii

mencapai 50,00%, 44,79% pada golongan sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas, 4,17% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas, dan 1,04% mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju. Untuk tingkat penalaran moral remaja 2.08% tergolong tingkat penalaran tahap 2 orientasi relat ivitas instrumental (tingkat prakonvensional), 68,75% pada tahap 3 orientasi kes epakatan antar pribadi (tingkat konvensional), 20,83% pada tahap 4 orientasi huk um dan ketertiban (tingkat konvensional), dan 8,33% berada pada tingkat penalara n tahap 5 orientasi konstrak sosial yang legatistik (tingkat pascakonvensional). Kebanyakan Siswa kelas II SMA Kesatrian 1 Semarang berani menolak kalau pacarny a ingin melakukan hubungan seks secara bebas. Semua ini dapat terjadi karena kep ribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang baik. Maka semakain tinggi penal aran moral remaja semakin negatif sikapnya terhadap perilaku seks bebas. Berdasa rkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan beberapa saran : perlu adanya pem binaan nilai-nilai moral sejak dini tanpa menggunakan larangan atau hukuman, nam un dengan jalan anak selalu diajak untuk berfikir, yang selalu menerangkan menga pa suatu perbuatan dilarang atau diperintahkan, apa maksudnya dan apa motivasiny a, sehingga mereka akan menjadi orang yang selalu terbuka terhadap sesuatu yang baru; termasuk pergaulan seks bebas dan yang akan bertindak berdasarkan tanggung jawab yang nyata, semakin baik tingkat penalaran moral, maka semakin negatif si kap remaja terhadap perilaku seks bebas. Kata kunci : sikap remaja, perilaku sek s bebas, penalaran moral, tingkat penalaran moral remaja iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto • Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesu dah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu u rusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS. AL-Insyiroh: 5 - 7) • Saat kita mendapatkan kesulitan, kondisi bahaya, dan kecewa karena tak m endapatkan sesuatu yang kita harapkan, yakinlah bahwa itu adalah jalan Allah unt uk menjadikan kita manusia yang bijaksana dan lebih baik. Persembahan Karya ini aku persembahkan untuk : 1. Ibu Warsiti, Bapak Soeharso da n Adikku Yusufia Lutfi Harwanto 2. Hermanto, yang selalu dapat kujadikan tempat bercermin, bertanya, berdialog, dan mencegahku merasa atau keletihan, menyerah berjalan pelan-pelan terlalu dini. 3. Teman-teman Psikologi angkatan 2001, atas semua semangatnya dan semoga perjuangan kita tidak hanya sampai di sini. Yang kesemuanya teramat kusa yangi, serta selalu memberikan doa, dukungan, rasa berbagi dan bahagia yang tulu s. v

Sri Maryati D.M. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang ya ng telah memberikan ijin penelitian kepada penulis. Skripsi ini mengambil judul “Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Ditinjau D ari Tingkat Penalaran Moral Pada Siswa Kelas Dua SMA Kesatrian 1 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Köhlberg)”. dan dukungan dari semua pihak terkait. Sugiyarta SL. bimbingan. M . perhatian. dan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa mendapatkan bimbingan. Hasil yang didapatkan dapat menunjukkan perlunya pembinaan nilai-nilai moral s ejak dini dan pendidikan disiplin yang dapat mengembangkan tingkat penalaran mor al pada remaja.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia dan nikmat serta petunjuk yang tiada terbatas dalam menjalani segala tug as-tugas di dalam kehidupan ini. Oleh karena itu dengan segenap hati dan kerendahan hati penulis ucapkan banyak terimakasih kepada : 1. Ketua Jurusan Psikologi sekaligus pembimbing I yang telah bersedia dan melu angkan waktu guna memberikan petunjuk. M. 3. Bapak Drs. arahan. pembi mbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan. vi . M. Siswanto. hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Skripsi ini untuk mengetahui adakah hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari t ingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 .Si. dan bimbingan sehingga penulis da pat menyelesaikan skripsi dengan lancar. dan mas ukan dari awal hingga akhir dalam penulisan skripsi. Ibu Dra. Bapak D rs.Si. Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis. 2. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ini ja uh dari sempurna.

8.Ibu dewan penguji yang telah meluangkan waktu guna menguji skripsi 6. Kepala Sekolah SMA Kesatrian 1 Semarang yang telah me mberikan ijin penelitian di sekolahnya. Agustus 2006 Pramita Agnes Wahareni vii . semoga karya sederhana ini dap at bermanfaat. dan doa y ang telah diberikan.Ibu Dosen. 5. seb agai rekan bertukar pikiran dan telah banyak membantu . penulis ucapkan terimakasih. Suparwi. Bapak Drs. yang telah memberika n ilmu dan pengetahuannya. Rekan-rekan jurusan Psikologi UNNES angkatan ’01. Atas bantuan.4. 7. Bapak . Semua pihak yang tela h menjadi bagian dari hari-hari penulis selama ini hingga masa studi penulis sel esai yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Bapak. Amien. Semarang. 9. HM. Ibu yang telah memberi semangat dan doa dal am menyelesaikan skripsi. dukungan. Bapak .

............................... Penalaran moral pada r emaja ................... 12 12 12 14 19 21 27 31 31 33 37 viii .. b................ ............. BAB I PENDAHULUAN A....................................................................... Perkembangan moral ................................ Moral .......................... Penalaran Moral .................... ............. Landasan Teori ... DAFTAR ISI ...................... E................. ..... .......... Penalaran moral ..... Komponen sikap ...... Sistema tika Penulisan ..................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................................................... .................... ABSTRAK......... C.................................................................... ... a........ Faktor – faktor yang mempengaruhi sikap ..................... HALAMAN PENGESAHAN ................. Perkembangan penalaran moral ..... DAFTAR LAMPIR AN ............................ 2...... DAFTAR GRAFIK ....................................... c.. ........................................... B........... e.......................................................... ... ................................................ i ii iii v vi viii xi xii xiv xv 1 9 9 10 10 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A................................................................................................................................................................................................ ....................... Tujuan Penelitian ............ a....................................................................................................................... Perumusan Masalah ............. .............................................................................................................................................................. c.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................. d............ . ............................... b............... Sikap ........................................................ ................................. DAFTAR TABEL ....................... D................ ............................. 1................. ........... DAFTAR BAGAN ................... KATA PENGANTAR ............. ............ Manfaat ................ .................................... ........... Alasan Pemilihan Judul .... Sikap Remaja Terhadap Perila ku Seks Bebas ...........................

..... B......................... ........................................................................ ........................... h............ ..................... f................................................... i................................................. k... ...... Perubahan sikap ...... Metode dan Alat Pengukuran Data .............. l............... Sikap remaja terhadap p erilaku seks bebas .............. Populasi dan Sampel Penelitian ..d..... E................................ ................ Perkembangan pada masa remaja .. ............. ............. Validita s dan Reliabilitas Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas .................... Variabel Penelitian ..... Fakt or – faktor yang mempengaruhi seks bebas ......... F................... j............... 1. Karakteristik remaja ............ Jenis Penelitian .................. .......................... 2....... Pengertian remaja .............................. Hipotesis Penelitian ..... 2............. Hubungan Antara Penalaran Moral Den gan Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas .. Sebab – sebab seks bebas ................................................................................................... C............................... ......................... Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur .. ..... ............. ......... Penalaran moral ....... Sampel ....... . e.. g............... Sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas .......................................................... 1. Perilaku seks bebas ......... Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Beba s .... D...... a................................................ 2...... 2........................................ ................................. Popu lasi .................................................................. . ... B......................................................... Sika p remaja .................................................... Definisi Operasional Variabel . BAB III METODE PENELITIAN A...................................................... 1............. Identitas Variabel .... Validitas dan Reliabilitas Angket Pengungkap Pendapat Te ntang Masalah – Masalah Sosial .. b.............................................................. 1...... Penalaran Moral Remaja ....... 3........................................................... .... Metode Analisis Data ............. 39 40 41 48 52 53 60 61 62 63 68 69 70 70 71 72 72 73 73 73 74 74 77 82 82 82 84 ix .......................

.......... Pelaksanaan Penelitian .. ........ B...... Pembahasan .................... D....... .............. 1................................ 4..... Hasil Uji Hipotesis .G.... LAMPIRAN .............. Simpulan .......................................... F............................. Persiapan Penelitian ..................................................................................... ......... c............................................. 96 97 98 98 98 99 101 105 111 115 116 116 117 119 120 BAB V PENUTUP A............................. B........................................ Aspek sosial . Skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ..... .... ... Hasil Uji Coba Instrumen .............................. a.......................................... H......... 2............................................... Pelaksanaan Uji Coba Instrumen ............... ........... Sikap Remaja terhadap Perilaku Seks Bebas .............................. DAFTAR PUSTAKA ............................................................ Penalara n Moral Remaja ............. ................... 3................. .......................... Uji Normalitas Data ..................................... I............................................................................................................... E... ........................ b..... Teknik Analisis Data ............. C....... 2........ Skala Sikap Rema ja Terhadap Perilaku Seks Bebas ....... .............................................................. ............... Analisi s Hasil Penelitian ...... Analisis Korelasi .......... ............ a............................. ..... ....... Aspek psikolo gis .......... ......................... 127 128 129 132 x ........ ............ Angk et pengungkap pendapat tentang masalah – masalah sosial ................ 1........................................................ Uji Homogenitas Data .... 86 86 86 87 89 89 93 93 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A................................ b.......... Prosedur Pengum pulan Data ......................................................................................................................................................................... Aspek biologis ................................... Uji Coba Instrumen ... ................. 1. Saran ................. Angket pengungkap pendapat ten tang masalah–masalah sosial ............. 1.................................. Deskripsi Jawaban Responden .......................... ........................................................ 2......................................................

....................................................................... 64 Bagan 2.......................... sikap..1 Halaman Model hubungan antara penalaran moral dengan tindakan moral ..........................................5 Kerangka konseptual dalam memprediksi sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ............ ......2 Hubungan antara perkembangan moral Köhlberg dan sikap terhadap seks bebas ........ 67 Bagan 2........... 65 66 Bagan 2..............3 Bagan 2....... 68 xi ...... intensi................... Model hub ungan antar keyakinan........ dan perilaku ....................4 Perkembangan moral Köhlberg ............................ ..DAFTAR BAGAN Bagan Bagan 2................................. ...........

................7 Persentase Jawaban Yang Menunjukkan Terhadap Penalaran Moral Remaja ..................... ...........2 Kriteria dan Nilai Alternatif Jawaban Pada Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ........5 Pengelompokan Kriteria Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ............................. 90 Tabel 3........... ....1 Tabel 4.1 Halaman Tahapan Penalaran Moral Menurut Köhlberg ....................................4 Sebaran Uji Coba Aitem I Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ............3 Blue Print Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ........................... 109 Tabel 4..6 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ........... Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( As pek Biologis ) ...................... ........... 107 Tabel 4.......... ..................... 100 Tabel 4..................DAFTAR TABEL Tabel Tabel 2....................................................................1 Tabel 3........ 92 97 Tabel 4.................... 80 Tabel 3........... 104 Tabel 4.................. ........... Jumlah s iswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005 / 2006 berusia 16 – 17 t ahun yang sedang berpacaran .......5 Sebaran Butir Aitem Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Setelah Dua Kali Uji Coba ..................... 81 Tabel 3........4 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( Aspek Sosial ) . 71 27 Tabel 3........................................................................................ 110 Tabel 4.3 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ( Aspek Psikologis ) ..............2 Rincian Diskripsi Subjek Penelitian .................

..................... 112 xii .......................................

......................................8 Tabel 4..................... Hasil Rekapitula si Analisis Persentase Tingkat Penalaran Moral ...............................Tabel 4..... xiii ......... .10 Analisis Korelasi .................................. 113 114 118 Tabel 4..9 Pengelompokan Kriteria Tingkat Penalaran Moral ........ ......................

.....................................................7 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas .....................6 Grafik 4.............1 Halaman Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Biologis) ...4 Grafik 4........... ......................... xiv ............3 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Sosial) .............. Uji Normalitas Data ......... Persentase Tingkat P enalaran Moral Remaja ....... .... ........ .. 100 Grafik 4....................... ............. 105 Grafik 4.................. 108 110 115 116 117 Grafik 4.............................................DAFTAR GRAFIK Grafik Grafik 4........................5 Grafik 4.............2 Persentase Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas (Aspek Psikologis) ............... Uji Homogenitas Data .......................

.. Sebaran Butir Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Be bas Setelah Uji Coba .......DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Lampiran 01..................................... Lampiran 12...................... ..... Sebaran Butir Aitem Ska la Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Sebelum Uji Coba .................. .............. Penentuan Kriteria Diskripsi .............. Lampi ran 09......................................... Permohonan Ijin Penelitian ...... ............................ Lampiran 20......... Catatan Revisi Dari Ujian Skripsi ................ Lampiran 13... ............ Lampiran 16...................... ....... Lampiran 03..... ........ L ampiran 05............ . Perhitungan Koefisien Korelasi ................... Lampiran 07........................ ........................... Hasil Analisis Deskripsi ....... Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian Dari SMA Kesatrian I Semarang ........... Lampiran 14. ......................................... Lampiran 19........... Lampiran 02...................................................................... Butir Item Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah – M asalah Sosial Sebelum Uji Coba ......... Lampiran 11.................. Skala Uji Coba .................... Lampiran 04........................ Contoh Perhitungan Validitas Dan Reliabilitas Untuk Angket Pengungkap Tentang Masalah-Masalah Sosia l ... 211 212 213 214 161 162 174 181 195 196 202 205 208 210 159 157 135 136 150 134 133 xv . Skala Penelitian ....... Surat Tugas Panitia dan Dosen Penguji Skripsi ... Rekapitulasi Hasil Analisis Diskripsi ........................ Tabulasi Skor Validitas Dan Reliabilitas ............. ....... Analisis Data SPSS ....................... Halaman Format Skala Peneliti an ....................... Analisis Skala ........................ ......... Persentase Jawaban Responden ................... ................................. Lampiran 10... Lampiran 18............... Contoh Perhitungan Validitas Dan Reliabilitas Untuk Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas ... Lampira n 15.. Lampiran 06............................... Lampiran 17........... .. ............ Lampiran 21.................................... Lampiran 08............... Pernyataan Selesai Bimbingan ..................

secara psikologis remaja mulai merasakan individualitasnya. 1 . menyadari perbed aannya dari jenis kelamin yang lain. De ngan perkembangan kognisi dan emosi-emosi yang menyertai perkembangan fisikseksu al. Sesuai dengan masa remaja yang memp unyai rentangan usia 11-24 tahun. peran. minat. 2 Mei 2005: 15). pola perilaku.2 mi liar jiwa sedang memasuki masa dewasa dalam dunia yang sedang berubah dengan cep at. Dengan jumlah yang tidak kecil ini. Dalam kondisi ini mereka mulai mempertanyakan identitasnya. seperti: meningginya emosi. Sedangkan remaja yang merupakan bagian dari pend uduk Indonesia angkanya mencapai 65. maka dipe rlukan perhatian yang cukup terhadap mereka. dan bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan (Hurlock. Alasan Pemilihan Judul Generasi remaja terbesar dalam sejarah – sebanyak 1.1 BAB I PENDAHULUAN A. 1999: 207). namun juga masih asing dengan duniany a. Selain mengalami perubahan fisik terdapat pul a perubahan psikologis yang hampir universal. masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa. Perubahan fisik yang cepat dan aktivitas hormon seksual kemudian menimbulkan perubahan-perubahan psikis maupun sosial. merasakan keterpisahan-keterasingan dari du nia kanak-kanak yang baru saja dilaluinya. nilai-nilai yang dianut. Pendidikan serta kesehatan remaja menjadi ‘kunci’ yang sangat menentukan masa de pan mereka sekaligus bangsanya.6 juta atau 30 persen dari total penduduk In donesia (Sustiwi.

1983: 107).2 Remaja berusaha menemukan jawaban atas kekaburan identitas itu melalui kelompok sosial di luar keluarga. Hal ini karena remaja tidak mengetahui cara bergaul dengan kawankawan dan orang dewasa lainnya. sekarang tidak sedikit remaja yang kurang mendapatkan bimbingan terlanjur meniru hal yang tidak baik dari teman-teman sebayanya tersebut ( Daradjat. Dalam masa ini orang tua perlu menyadari bahwa kelu arga juga merupakan bagian integral identitas sosial setiap anggotanya. Kelompok inilah yang merupakan bagian integral dari identitas s osial individu. jika tidak maka mungkin orang tua akan mengalami kesuli tan untuk memahami masalah remaja meskipun mereka berusaha dan benar-benar mempe rhatikan kesejahteraan anak mereka (Mussen. dan cara-cara yang dibutuhkan untuk menarik hati kawan-kawannya. Bahkan. remaja merasa menemukan ”identitas” dan berharap tidak mengalami penolakkan den gan konformitasnya tersebut. Dengan interaksi tersebut memberikan kesempatan pada remaja untu k belajar bagaimana mengendalikan perilaku sosial. 1994 : 511). Para ora ng tua harus sadar. yaitu kelompok teman sebaya (peer group). bahwa banyak dari bagian kehidupan remaja yang sulit untuk d ibagi bersama orang tua. mengembangkan minat yang sesu ai dengan usia. Teman sebaya memainkan peranan yang penting dalam perkembangan psikologis dan sosial sebagian besar remaja. Orang tua yang penuh kehangatan (penerimaan) dan memberikan landasan moral kepada anak-anaknya tentu menginginkan agar anak remajanya dapat melewati masa ini dengan mengemban gkan nilai-nilai yang diperoleh melalui . dan berbagi masalah dan perasaan bersama. Bersama kelompok nya. Pada masa ini remaja c enderung konform dan mengikuti sikap atau perilaku kelompoknya.

Secara alami setiap rema ja menerima tugas untuk menemukan identitas diri masing-masing. antara lain dapat melewatkan mas a pacaran secara sehat dan tidak melanggar norma susila. Remajapun mulai ingin berkenalan. terutama para o rang tua yang tidak mengerti ciri-ciri pertumbuhan remaja. persoalan yang lebih penting adalah bahwa secara biologis me reka telah dibekali dengan kematangan organ-organ seksual untuk bergerak menuju individu lain yang berlawanan jenis (persoalan seks). wajar pula bila dorongan s emacam ini disertai muatan emosi yang seringkali menimbulkan kecemasan orang tua . dan selanjutnya membentuk kesadaran akan identitas diri. Untuk itu mereka harus berg erak menuju orang lain. cara berpakaian. Namun. aga ma yang untuk sebagian remaja diartikan sebagai sejumlah kewajiban dan larangan belum cukup untuk mengatasi perilaku-perilaku menyimpang yang pada masa ini bany ak . Namun. dan mengenal pacaran. Ketertarikan terhadap lawa n jenis disertai dorongan seksual merupakan hal yang kodrati dialami oleh remaja .3 keluarga. Di samping masuk dalam interaksi sosial yang semakin lua s di luar keluarga. bergaul dengan teman-temannya dari jenis kel amin lain. Sebagai suatu motif. agar selanjutnya dapat memasuki masa dewasa secara sehat dan matang. Tingkah laku dan sikap remaja yang seperti di atas b iasanya menimbulkan teguran-teguran dan kritikan dari orang tua. berbicara. kadang ini tidak berjalan mulus seperti yang mereka harapkan. Nasihat yang paling ser ing diberikan oleh banyak orang tua pada masa ini adalah “perkuat agama“. yang seolah-olah disengaja berlebih-lebihan dan dibuat-buat untuk m enarik perhatian seks lain. Hal seperti ini biasa nya dilakukan untuk memenuhi harapan orang tua. dan sebagainya. Kecemasan ini timbul karena kelakuan-kelakuan.

Remaja juga mengalami perubahan moral yaitu dari tingkat pra-k onvensional meningkat ke tingkat konvensional. tidak sedikit tindakan oran g tua yang demikian itu menyebabkan remaja menentang orang tuanya atau berbuat a cuh tak acuh terhadap nasehat orang tuanya. ditud uh tidak sopan.4 dilakukan oleh remaja. 2 Mei 2005: 15). Pada masa-masa perubahan inilah yang menjadikan remaja mengalami masa krisis. sehingga kurang tahu bahaya atau dampak dari seks bebas. Pada masa remaja ini peran orang t ua bersama guru sangat berpengaruh besar untuk memberikan pengertian tentang mak na-makna seksualitas pada remaja yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berla ku di masyarakat. 2002 : 95). Singkawang. Remaja mulai dipersalahkan. Menurut Daradjat (1983: 108). Di mana individu mulai mengambil keputusan untuk m elakukan perubahan atau perbaikan dalam nilai dan tindakan yang pada akhirnya me mberi warna tersendiri terhadap kepribadian (Santrock. Remaja yang pada u mumnya mempunyai rasa ingin tahu yang besar tentang . tidak berakhlak bahkan sampai dikatakan tidak be ragama. Tingkat konvensional yang sedang dilalui oleh remaja ini berarti mereka cenderung menyetujui aturan dan harapan m asyarakat (Sarwono. remaja melakukan semua itu karena mereka tidak mendapatkan pendidikan kesehatan reprodu ksi. bahkan ada remaja yang merasa sedih dan merasa hidupnya penuh dengan penderitaan. Perilaku seks bebas sebagai salah satu perilaku menyimpang remaja dari tahun ke tahun semakin beresiko.89% rema ja di Kupang. Cirebon. Palembang. Tudingan yang diarahkan pada remaja pada pangkalnya sudah jelas. dan Tasik Malaya berhubungan seks dengan pacar mereka (Sustiwi. tidak bermoral. masyarakatpun mulai membicarakan ketika muncul fakta bahwa 74. 2002: 13).

dan penanaman moral. serta pemberian pengertian tentang norma-norma se kalipun sekarang tidak dapat langsung menjamin bahwa anak akan dengan otomatis m enjadi remaja yang bisa bersikap dan berperilaku baik. dan adanya anggapan bahwa kalau hanya melakukan hubungan seks satu kali tidak akan terjadi kehamilan dan tertular penyakit kelamin membuat remaja tidak takut terhadap dampak negatif dar i perilaku seks bebas. Penyebab seks bebas sendi ri menurut Kartono (2005: 196) disebabkan kerena disharmoni dalam kehidupan psik is dan disorganisasi serta disintegrasi dari kehidupan keluarga. Berbagai cara pencegahan kehamilan yang sangat mud ah dilakukan. adanya temp at aborsi dengan tenaga ahli medis yang dianggap aman. majalah-m ajalah porno. yang . Anak dari keluarga baik-baik. Pada penelitian ini peneliti tertarik untuk memilih perkembangan penalaran moral sebagai variab el bebas hal ini didasarkan pada asumsi bahwa moralitas seseorang dapat menjadi faktor determinan dalam perilaku-perilaku menyimpang yang terjadi dalam kehidupa nnya tersebut. termasuk mengenai perilaku seks bebas. dan tempat hiburan malam yang memberikan akses informasi ta npa sensor sehingga proses kematangan alat reproduksi pada remaja tidak diimbang i dengan informasi yang baik. seperti pemasaran alat kontrasepsi di masyarakat luas.5 seksualitas terpaksa mencari informasi sendiri guna memuaskan rasa keingintahuannya tersebut. Moral merupakan landasan d alam perilaku seks bebas. video. dengan pendidikan agama sej ak kecil. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang akhir-akhir i ni terjadi adalah karena remaja mencari pengetahuan dan informasi tentang seksua litas sendiri lewat teman yang sama-sama belum tahu akibat seks bebas.

sekolah. Pentingnya penalaran dalam mengembangkan moral yang tinggi bermakna bahwa pe nalaran moral sejak anak-anak harus disertai penjelasan yang masuk akal mengapa suatu tindakan boleh atau tidak boleh dilakukan. Köhlberg memandang seluruh proses perkemban gan moral sebagai urutan tahap atau sejumlah ekuilibrasi yang merupakan berbagai logika moral yang kurang lebih komprehensif. yang mana tahap-tahap yang satu se cara logis perlu menyusul tahap sebelumnya dan bahwa tidak satupun dapat dilonca ti.6 dimaksud di sini adalah tinggi rendahnya orientasi-orientasi pengaruh terhadap p erilakunya termasuk tingkah laku remaja. Penalaran moral berperan penting bag i pengembangan prinsip moral. yang sesuai dengan . Penalaran moral yang seperti ini dapat terbentuk karena penerimaan nilai moral yang diperoleh melalui lingkungan sosial. sehingga ia tidak melakukan hal-hal yan g bertentangan dengan pandangan masyarakat. melainkan satu jenis organisasi pikiran tertent u (pola atau struktur formal berpikir) yang mendasari segala respon tadi. Penala ran moral sendiri terjadi dalam dan melalui interaksi individu itu sendiri denga n seluruh kondisi sosial kehidupannya. Dengan penalaran moral diharapkan seorang remaja y ang menghadapi dilemadilema moral secara reflektif mengembangkan prinsip-prinsip moral pribadi yang dapat bertindak sesuai dasar moral yang diyakini dan bukan m erupakan tekanan sosial. di mana remaja berhasil menerapkan prinsip keadilan yang universal pada penilaian moralnya. Penalaran moral menurut Köhlberg (1995: 23-27) mencapai tahap tertinggi pada usia sekitar 16 tahun. Penalaran moral bukan merupakan respon spesifik terhadap suatu situasi. dan kelompok agama yang diproses melalui penalaran dan dicamkan da lam batin. seperti: kelua rga.

. sampai sekarang masih banyak orang tua dan guru yang kurang tanggap dan menganggap masalah seks ualitas pada remaja merupakan hal yang tabu dan memandang pendidikan seks sebaga i pelajaran hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan.7 kemampuan penalaran anak pada masa itu. guru. 2 Mei 2005: 15). T ingginya angka Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD). Ini berarti bahwa dengan penalaran moral seorang remaja tidak hanya sekedar tahu seks bebas itu baik atau buruk. seksual. mening katnya Infeksi Menular Seksual (IMS). tokoh masyarakat. Orang tua. Perilaku seksual remaja yang cenderung meningkat tanpa adanya akses informasi yang memadai mengenai seks. Namun sayangnya. Jum’at: 6 Mei 2005). Jawa Timur tidak perlu terjadi. korban unsafe abortion. Indosiar. dan pemerintah seharusnya menolong dan memberikan perhatian yang lebih pada perk embangan remaja dan bukan menghukum mereka pada saat mereka sedang memulai melak sanakan dan bertanggungjawab atas semua perbuatannya sebagai individu menuju ke kedewasaan. tokoh agama. Dia mencabuli balita tetangganya se ndiri setelah banyak menonton VCD porno (Patroli. Padahal di masa ini lah remaja betul-betul memerlukan banyak akses terutama akses informasi mengenai reproduksi sehat. HIV/AIDS diantaranya adalah karena ketidak tahuan remaja akibat tidak ada informasi bertanggung jawab mengenai reproduksi s ehat (Kedaulatan Rakyat. tapi me reka juga dapat berpikir dan sampai pada keputusan bahwa seks bebas itu baik ata u buruk sesuai dengan potensi yang dimilikinya. dan kesehatan reproduksi ini perlulah kiranya dicarikan jalan penyelesaian salah sa tunya melalui jalur pendidikan. Ini dapat dilihat dari kisah bocah belasan tahun. Imron Faizi n di Jember.

Terbentuknya kepribadian dan kode moral siswa yang kurang baik atau tingkat penalaran moral siswa yang renda h akan berpengaruh terhadap sikap mereka terhadap perilaku seks bebas. Hal ini karena siswa SMA k elas dua sebagai remaja (usia 16-17 tahun) mereka sudah mulai berpacaran. maupun masyarakat. seperti ditemukannya VCD porno di dalam tas siswa pada saat diadakan pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh guru BK. Te ntunya semua ini tidak berasal dari satu faktor saja tetapi dari beberapa faktor . membuat peneliti tertarik untuk melakukan pene litian pada siswa kelas dua SMA Kesatrian 1 Semarang. Akhirn ya. sehingga membentuk kepribadian dan kode moral siswa yang kurang baik. sehing ga mereka dipandang memerlukan informasi yang bertanggung jawab mengenai reprodu ksi sehat. Kebanyakan siswa perempuan tidak berani menolak kalau pacarnya ing in berbuat berlebihan. banyak sisw a dipandang perlu mendapatkan tambahan wawasan yang lebih detail tentang hubunga n antara laki-laki dengan perempuan. penulis tertarik untuk mencermati salah satu penyebab . Semua ini dapat t erjadi karena kepribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang kurang baik. baik dari rumah. sehingga melakukan hubungan yang bebas.8 Banyak hal yang terpapar di atas. Ini bisa disebabkan oleh kurangnya pendidikan moral yang diterima siswa. dan mengenai bagimana pergaulan atau pacara n yang sehat. Adalah pe rsoalan besar bagi remaja. mereka dianggap tidak susila. sekolah. Atas dasar pertimbangan dari pengamatan dan infomasi ini. jika karena minimnya pengetahuan tentang seksualitas. kesehatan reproduksi. dan penalaran moral. Ini juga dapat disebabkan oleh lingkunga n siswa yang kurang baik.

3. . 2. 2. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui sikap remaja terhadap perilaku seks beb as di SMA Kesatrian 1 Semarang.9 tersebut dan mengadakan penelitian dengan judul “SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SE KS BEBAS DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL PADA SISWA KELAS DUA SMA KESATRIA N 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Kölberg)”. B. Apakah ada hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap remaja terhada p perilaku seks bebas. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas. Bagaimanakah tingkat penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang. timbul suatu permasalahan : 1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatrian 1 Semarang. 3 . Untuk mengetahui tingkat penalaran moral rema ja di SMA Kesatrian 1 Semarang. B agaimanakah sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatrian 1 Semaran g. C.

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar se bagai berikut: Bagian awal berisi tentang halaman judul. tujuan penelitian. berisikan konsep-konsep dasar dan p rinsip-prinsip dasar yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan dalam . Penelitian diharapkan dapat memberi informasi kepada orang tua dan guru bahwa perkembangan moral mempunyai andil terjadinya ke nakalan remaja terutama masalah perilaku seks bebas yang akhir-akhir ini banyak terjadi sehingga bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegahnya dan memberi kan perhatian yang lebih pada remaja. halaman pengesahan. dan abstrak. daftar tabel. daftar lampiran. mot to dan persembahan. kata pengantar. perumusan masalah. E. b. Hasil penelitian bisa dijadikan pijakan dalam merencanakan dan mengembangkan program-program pembelajaran moral. daftar isi. daf tar bagan. pada bab ini membaha s alasan pemilihan judul. BAB I Pendahuluan. BAB II Landasan Teori Dan Hipotesis.10 D. Manfaat 1. dan manfaat yang menjelaskan secara spesifik hal-hal yang ingin dicapai setelah pelaksanaan pene litian. 2. Man faat Praktis Hasil yang didapatkan dari penelitian dapat memberikan sumbangan ke pada bidang psikologi perkembangan dan sosial tentang sikap remaja dalam menghad api perilaku seks bebas dengan dasar penalaran moral. daftar gambar. Manfaat Teoritis a.

yang membahas analisis hasil penelitian yang merupakan hasil analisis hubungan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral pada siswa kelas dua (II) SMA 1 Kesatrian Semarang. perkembangan pada ma sa remaja. faktor-fak tor yang mempengaruhi seks bebas. bab ini menjelaskan tentang jenis p enelitian. pe nalaran moral pada remaja. perilaku seks bebas. karakteristik remaja. uji coba instrumen. Simpulan dan Saran. perkembangan moral. BAB III Metodologi Penelitian. penalaran moral. dan hasil uji coba instrumen. populasi dan sampel penelitian. metode analisis data. komponen sikap. perkembangan penalaran moral. Pada bab ini berisikan uraian tentang pengert ian moral. variabel penelitian. Sebagai pelengkap disertakan daftar pustaka dan lampiran sebagai data penduk ung penelitian. yang merupaka n bab terakhir berisi simpulan yang memuat pernyataan singkat hasil peneliatian yang telah diperoleh serta saran untuk perbaikan dan masukan bagi instansi terka it. sikap. BAB IV Hasil dan Pembahasan. sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. pengertian remaja. metode dan alat pengukuran data. d an hipotesis. perubahan sikap. validitas dan reliabilitas alat ukur. sikap remaja.11 penelitian yang akan dilaksanakan. sebab-sebab seks bebas. hub ungan antara penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. . faktorfaktor yang mempengaruhi .

2) Ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok orang dengan perilaku pantas dan baik. moral bisa berarti: 1) Sesuatu yang menyinggung akhlak. Landasan Teori 1. 3) Sesuatu yang menyinggung hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. yang disertai rasa pe nuh tanggung jawab atas tindakan tersebut. Seorang individu sada r dan oleh karenanya ia bersikap dengan mentaati kewajibannya. Penalaran Moral a. 2001: 308).12 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. tingkah laku susila. Daradjad (1983: 83) mengemukakan bahwa moral adalah kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran atau nilai-nilai masyarakat yang timb ul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar. Moral Menurut Kamus Lengkap Psikologi (K artono. melainkan sebagai manusia. dan manusia akan memenuhi kewajibannya karena ia taat pada dirinya sendiri atau dengan kata lain otonomi moral. mori l. Suseno (1987: 19) menyatakan bahwa ka ta moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia dan bukan men genai baikburuknya begitu saja. melainkan bahwa tuntutan ketaa tan yang kita laksanakan adalah 12 . Otonomi moral di sini tidak berarti bahwa kita sebagai makhluk so sial menolak hukum yang dipasang oleh orang lain.

Kita sadar bahwa kita hidup bersama masyarakat yang d i dalam masyarakat itu ada orang lain. perilaku yang demikian tidak semata disebabkan karena ketidakacuhan akan harapan sosial saja melainkan karena ketidaksetujuan dengan standart sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Jad i.13 karena kita sendiri insaf. Karena itu merupakan tanda kepribadian yang dewasa. ada perilaku tidak bermoral. Selanjutnya dapat diambil kesimpulan bahwa moral adalah nilainilai perb uatan perilaku yang baik dan buruk yang berhubungan dengan kelompok sosial sesua i dengan nilai-nilai masyarakat yang timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan yang berasal dari luar dirinya. serta ada perilaku amoral. . Moral menurut Suseno tidak lain adalah keinsafan seseorang untuk berbuat sesuai denga n keinsafannya itu. yang lebih disebabkan oleh ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran terhadap standart k elompok. yaitu p erilaku yang sesuai dengan harapan sosial. namun di samping itu. Kemampuan untuk menyadari bahwa hidup ber sama itu memerlukan tatanan dan bahwa kitapun harus menyesuaikan diri dengannya. kita juga berhak untuk menyumbangkan sesuatu agar tatanan itu menjadi lebih baik. otonomi moral menuntut kerendahan hati untuk menerima bahwa kita menjadi bagi an dari masyarakat dan bersedia untuk hidup sesuai dengan aturanaturannya. yang mer upakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Hurlock (1990: 74) menulis bahwa ada perilaku moral.

sehingga dapat membangun suatu keyakinan dalam membuat keputusan-keputusan yang mandiri d an memperbesar rasa percaya diri serta rasa percaya kepada orang lain di sekitar nya. Kemampuan menyesuaikan diri dan kemampuan berpikir abstrak sendiri m erupakan unsur inteligensi. Dengan demikian.14 b. Sikap penolakan akan menghambat rasa kepercayaan diri dan teknik-teknik huk uman akan menumbuhkan kecemasan serta menimbulkan kondisikondisi yang membingung kan anak untuk mendapatkan dirinya. Perkembangan moral Moral sebagai salah satu aspek kehidupan jelas akan pengar uh mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain. Dengan kata lain lingkungan termasuk lingkun gan budaya dapat merangsang atau bahkan menghambat perkembangan moral seorang in dividu. Uraian di atas menjelaskan bahwa perkembangan moral merupakan hasil kemampuan yang semakin berkembang dalam memahami kenyataan sosial atau untuk menyusun dan mengintegras ikan pengalaman sosial. baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. untuk membuat keputusan-keputusan m oral seseorang harus memikirkan konsekuensi-konsekuensi atau akibat-akibat dari keputusan tersebut. Hasil penelitian Köhlberg (1995: 66). bahwa untuk mendapatkan tahap penala ran moral yang lebih tinggi diperlukan kemampuan menyesuaikan diri dan berperila ku abstrak. Salah satunya adalah aspek ling kungan sosial yang memberikan sikap penerimaan yang akan menyediakan kesempatan bagi individu untuk mengalami konsekuensikonsekuensi dari perilakunya. .

. Keluarga memegang peranan penting dalam perkembangan moral anak. Keluarga mema ng memegang peranan penting.15 Faktor-faktor penentu utama yang didapatkan dari pengalaman bagi perkembangan mo ral menurut Köhlberg (1995: 70) antara lain adalah jumlah dan keanekaragan pengala man sosial. 1995: 72). Anak-an ak yang telah maju dalam penalaran moral mempunyai orang tua yang juga maju pena laran moralnya. ini sesuai dengan s tudi Köhlberg yang memperlihatkan bahwa perbedaan dalan hal keanggotaan religius d an kehadiran dalam peribadatan tidak berhubungan dengan proses perkembangan moral (Köhlberg. Bahkan agama dan pendidikan keagamaan tampaknya ti dak memberikan peran khusus apapun dalam perkembangan moral. kecenderungan orang tua dalam merangsang proses pengambil an peran timbal-balik juga berhubungan dengan kematangan sianak. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak dan bisa mendorong terjadinya perbandingan pand angan lewat dialog merupakan anak yang lebih maju dalam hal moral. namun tersedianya kesempatan untuk mengambil peran moral dari teman sebaya. sekolah. Namun. kesempatan untuk mengambil sejumlah peran dan berjumpa dengan sudut pandang yang lain. d an masyarakat yang lebih luas akan memberikan akibat-akibat positif bagi perkemb angan moral seorang individu. Kesempatan untuk mengambil peran moral bagi perkembangan moral anak bisa diperoleh dari ke luarga.

Hal ini karena pada masa remaja ia harus dapat mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok pada dirinya dan kemudian membentuk perilakunya a gar sesuai dengan harapan sosial tanpa dibimbing apalagi diancam akan dikenai hu kuman seperti pada masa kanak-kanak. Disiplin merupakan cara yang akan mengajarkan pada a nak apa-apa saja yang dianggap oleh kelompok sosialnya. kehidupannya teratur dan mengikuti tata cara tertentu. Setelah memasuki masa remaja tindaktanduknya acapkali mengalami tantan gan baik dari teman sebaya maupun generasi yang lebih tua. Salah satu c ara yang bisa digunakan untuk mengembangkan moral seorang anak adalah dengan pem berian pendidikan disiplin. yaitu kontrol dar i orang tua. Maka pada masa remaja awal perkembangan moral sangat penting. dan mengusahakan agar anak-anak bertindak sesuai dengan pengetahuan yang telah diajarkan ini. Pada masa kanak-kanak disiplin dapat dilaku kan dengan tekanan yang harus diletakan pada aspek pendidikan disiplin. Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan kepada anak-anak menguasai benar dan salah. Setelah masa kanakkanak itu lewat bisa dengan pengendalian dari dal am bila ia sudah dapat mempertanggungjawabkan sendiri perilaku mereka. dan me mberikan hadiah berupa pujian atau perhatian pada saat mereka . Disiplin pada masa kanak-kanak dapat dicapai dengan cara pengendalian dari luar. peratu ran dan adat istiadat. baik itu tradisi. terutama orang tua me reka.16 Sebelum anak memasuki masa remaja. yaitu sek itar masa remaja. tentang benar dan salah.

Hukuman dalam penanaman kedisiplinan boleh dilakukan manakala hukuman itu mempunyai nilai mendidik.17 melakukan sesuatu yang benar atau pada saat anak belajar berperilaku sosial yang baik. ini mungkin karena anak salah mengartikan peraturan Pada awal re maja. Suara hati yang dimaks ud disini adalah suatu reaksi khawatir yang . Disi plin juga berperan penting dalam perkembangan suara hati. karena pada akhir kanakkanak dan masa remaja pelanggaran terhadap perat uran biasanya dilakukan karena anak tidak tahu apa yang diharap oleh lingkungan sosial darinya. dan rasa malu untu k mencegah kebencian seorang remaja pada orang tua atau standar masyarakat. Oleh karenanya dibutuhkan perkembangan suara hati. hukuman hanya boleh diberikan kalau memang benarbenar terbukti anak-anak me ngerti apa harapan dan lebih-lebih jika ia sengaja melanggar harapan-harapan mas yarakat. Dalam memberikan pendidikan disip lin. rasa bersalah. Oleh kar ena itu. Ini lebih baik jika dibanding dengan memberikan anakanak hukuman pada saa t mereka berperilaku salah. penggunaan teknik-teknik disiplin yang efektif ketika remaja masih kana kkanak cenderung menyebabkan kebencian pada saat anak memasuki masa remaja. kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok sebaya dan mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok sebaya agar tidak ditolak dan memper tahankan statusnya dalam kelompok sebaya tersebut. tetapi bukan berarti anak rem aja meninggalkan kode moral keluarga dan mengikuti kode moral kelompok.

dan tentang bagaimana manusia harus hidup dan mengambil tindakan). kita sadar bahwa pada akhirnya hanya kitalah yang mengetahui a pa yang harus kita lakukan. Rasa bersalah yang dima ksud adalah penilaian diri negatif pada individu yang mengakui bahwa apa yang te lah diperbuatnya bertentangan dengan nilai moral yang wajib ditaatinya. Rasa m alu ini tergantung pada sanksi eksternal yang diiringi oleh rasa bersalah. Sedangkan rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan dari individu terhadap panilaian negati f orang lain. tentang nilai-nilai dasar. kita sadar bagaimana dan apa yang dituntut dari kita. kita tidak dapat melempar tanggungjawab it u pada orang lain. Suara hati ini mendorong re maja untuk melakukan yang benar dan menghindari hukuman. Dalam pusat kepribad ian kita. Suara hati menurut Suseno (1987: 53) adalah kesadaran moral seseorang akan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai manusia dalam situasi konkret. secara sadar dan . Dengan suara hat ilah. kita tidak boleh begitu saja mengikuti pendapat para panutan. rasa ber salah tergantung pada sanksi eksternal dan internal. baik yang merupakan dugaan maupun yang benar-benar terjadi.18 terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentu yang telah dilakukan dengan ja lan menghubungkan perbuatan tertentu dengan hukuman. Bany ak sekali pihak yang mengatakan pada kita apa yang harus kita lakukan. Jadi secara moral pada akhirnya kita harus memutuska n sendiri apa yang akan kita lakukan. dan kita juga tidak boleh secara buta mentaati tuntutan sebuah ideologi (ideolo gi = segala macam ajaran tentang makna kehidupan. yaitu hati. tetapi di dalam hati kita.

tetapi situasi-situasi moral ditentukan secara kognitif oleh suara hati. . dan diancam hukuman seperti pada masa kanak-kanak. Sedangkan faktorfak tor penentu utama. Faktor-faktor afektif sep erti kemampuan untuk mengadakan empati dan kemampuan rasa diri bersalah turut berpera n dalam penalaran moral. tokoh masyarakat me nyangkut apa harapan masyarakat pada seorang individu. Dengan kata lain perkembangan moral merupakan suatu hasil kema mpuan yang semakin berkembang untuk memahami kenyataan sosial atau untuk menyusu n dan mengintegrasikan pengalaman sosial. Ura ian di atas lebih memperjelas bahwa penalaran moral pertamatama merupakan suatu fungsi dari kegiatan rasional. Untuk mendapatkan moralitas yang menga cu pada prinsip perlu adanya kemampuan untuk berpikir logis. guru. orang tua dan masyarakat. Penalaran moral Tugas perkembangan pada masa remaja salah satunya adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok kepada dirinya dan kemudian membe ntuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus terus dibimbing. kesempat an untuk mengambil sejumlah peran dan untuk berjumpa dengan sudut pandang yang l ain. diawasi. teman sebaya. berupa jumlah dan keanekaragaman pengalaman sosial. c. didorong.19 mandiri kita harus mencari kejelasan tentang kewajiban kita sebagai manusia. yang didapatkan dari pengalaman bagi perkembangan moral. seperti hasil dari disiplin yang telah diberikan oleh keluarga.

20 Konsep moral yang dikembangkan oleh Köhlberg lebih menekankan pada alasan yang menjadi dasar seseorang bisa melakukan suatu tindaka n. . Penalaran moral pert ama-tama merupakan suatu fungsi dari kegiatan rasional. Dengan demikian penalaran moral bukanlah apa yang baik atau yang buruk. Dalam a rtian bahwa penalaran moral tidak sekedar arti suatu tindakan. penalaran moral dipandang Köhlberg sebagai struktur. Menurut Setiono (1982: 43). Penilaiannya bersifat u niversal. akan tetapi situasi-situasi moralnya sendiri ditentukan secara kognitif oleh penalaran moral pribadi. Kem ampuan penalaran moral merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk me makai cara berpikir tertentu yang dapat menerangkan apa yang telah dipilihnya. sehingga dapat di nilai apakah tindakan itu baik atau buruk tetapi merupakan alasan dari suatu tid akan. 1999: 225). m engapa melakukan ataupun tidak melakukan suatu tindakan. Kemampuan untuk mengadak an empati dan kemampuan rasa diri bersalah (faktor-faktor afektif) ikut berperan dalam penalaran moral. Penalaran moral merupakan penilaia n tentang benar-salah atau baik-buruknya suatu tindakan. bukan suatu isi. konsisten dan didasarkan pada alasanalasan yang obyektif. Penalaran mo ral di sini terkait dengan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana seseora ng sampai pada keputusan bahwa sesuatu dianggap baik-buruk atau benar-salah. Alasan-alasan mengapa seseorang bisa melakukan suatu tindakan tersebut oleh Köh lberg disebut sebagai penalaran moral (Hurlock.

Tetapi bila penalaran moral dipandang sebagai struktur . apa yang dianggap baik at au yang seharusnya dilakukan dan buruk atau apa yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang pada stadium yang berbeda-beda. Pada perkemb angan penalaran moral ini orang tua dan guru perlu mengerti betul dan bertanggun g jawab atas penuntunan cara penyelesaian suatu masalah.21 Masih menurut Setiono (1982: 45). Perkembangan moral sendiri merupakan s uatu organisasi kognitif yang lebih baik daripada tahap sebelumnya. sehingga dapat dilakukan identifikasi terhadap perkembangan moral. d. yang d isertai rasa penuh tanggungjawab serta pengalaman sosial yang turut mempengaruhi perbedaan penilaian ataupun pertimbangan dalam diri individu tersebut. ya ng timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar dirinya. Perke mbangan penalaran moral Perkembangan penalaran moral adalah suatu proses pemasak an yang bertahap dari suatu proses ke proses lainnya yang dialami oleh setiap in dividu (universal). penalaran moral dipandang Köhlberg sebagai isi : yang baik atau yang buruk akan sangat tergantung kepada sosio-budaya tertentu s ehingga relatif sifatnya. maka dapat dikatakan adanya perbedaan penalaran moral antara seorang anak dan orang dewasa. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa penalaran moral adalah kemampuan yang dimil iki oleh seorang individu untuk melakukan suatu penilaian atau mempertimbangkan nilai-nilai perilaku mana yang benar dan salah atau mana yang baik dan buruk. yang diawali oleh penilaian moral. Pendidikan di rumah dan di sekolah juga dapat membantu .

Penalaran moral seorang i ndividu berkembang dari semenjak ia bayi sampai ia dewasa. Perkembangannya sendi ri merupakan suatu proses yang melalui pentahapan tertentu. maka individu dapat mencapai perkembangan p enalaran moral yang lebih tinggi (Setiono. Yaitu dengan disiplin yang tetap memberikan kesempata n pada remaja untuk membuat keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral. sedang akomodasi adalah kecenderungan in dividu untuk mengubah lingkungannya agar sesuai dengan dirinya. At kinson (1999: 188). kesimbangan (equilibrium) terpenuhi. dalam hal ini adalah remaja. Konflik akan men yebabkan individu merasa tidak seimbang (disequilibrium). dan konflik ini pulala h yang akan menyebabkan individu tersebut menggunakan suatu penalaran moralnya s ebagai usaha Pada untuk saat mendapatkan keadaan seimbang (equilibrium). Perkembangan penalar an moral sendiri lebih terlihat sebagai usaha seorang individu untuk memelihara keseimbangan (equilibrium) antara asimilasi dan akomodasi. 1982: 50-51). Hal ini be rarti bahwa individu yang berusia lebih tua lebih memikirkan konsep abstrak dan menarik kesimpulan yang lebih logis mengenai interaksi sosial dibandingkan denga n mereka yang masih muda.22 perkembangan moral remaja. Yang dimaksud asimila si disini adalah kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. juga mengemukakan bahwa kemampuan individu untuk mengambil k eputusan tentang moral berhubungan erat dengan perkembangan kognitif. .

Dalam mengembangkan teoriny a Köhlberg berpegang pada undangundang dan hukum yang merupakan tata tertib yang d isetujui oleh suatu masyarakat. dan bukan dari apa yang paling baik dan adil bag i masyarakat yang mempunyai sistem yang berbeda-beda (Pratidarmanastiti. 3) Tahap-tahap penalaran moral ini menunjukkan tingkatan seorang individu dalam memecahkan dilema moral yang terjadi kepadanya. 1995: 141-158) mengenai tahapan penalaran moral sebagai berikut : 1) Inti m oral adalah keadilan. 1991 : 52). Dengan demikian ini membuktikan bahwa tata tertib ideal dapat terwujud dari hasil akal pribadi yang otonom dan lepas dari pandangan-pandangan yang dianut m asyarakat. Keadilan disini mempunyai arti bahwa individu dituntut unt uk jujur. menghargai dan memperhatikan hak-hak pribadi. yaitu alasan yang di gunakan oleh seseorang dalam menilai suatu perilaku.23 Perkembangan penalaran dari Köhlberg menekankan penalarannya. Maka berdasar pemikiran ini dapat disimpulkan bahwa manusia atau seorang indiv idu itu adalah merupakan suatu pribadi yang mandiri. t ermasuk konsitensi penalarannya. Sikap otonomi inilah yang merupakan sikap etis dan moral yang adekuat . Pokok pemikiran Köhlberg (Köhlb erg. 2) Tahap-tahap penalaran menunjukkan cara individu dalam berpikir. Dan tahap-tahap penalara n moral yang diajukan selalu menuju kearah maju dalam menerapkan prinsip-prinsip keadailan. .

Perbedaannya hanya pada hal kecepatan dan sejauhmana tahap dapat dicapai. Akibat fisik dari suatu perbuata n yang dilakukan itu tanpa menentukan baik-buruknya perbuatan menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat perbuatan tersebut. yaitu : 1) Tingkat pra-konvensional Individu memandang kebaik an identik dengan kepatuhan terhadap otoritas dan menghindari hukuman.24 4) Tahap-tahap penalaran moral ini bersifat universal. Perkembangan penalaran moral menurut Köhlberg dibagi menj adi tiga tingkatan. maksudnya setiap individu akan melalui urutan tahap yang sama. yaitu : Tahap 1 : orien tasi hukuman dan kepatuhan (sekitar 0-7 tahun). . dimana tiap tingkatannya terbagi lagi menjadi dua tahap yang saling berkaitan. Baikburuknya perbuatan dinilai sebagai hal yang berharga dalam dirinya sendiri d an bukan karena rasa hormat terhadap tatanan moral yang melandasi dan yang diduk ung oleh hukuman dan otoritas. Tingkatan moral pra-konvensional dalam konteks interaksi antar individu dengan lingkungan sosialnya ditandai oleh baik-buruk yang berdasarkan pada keinginan diri sendiri . Anak pada tahap ini menghindari hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. Penalaran moral dalam konsep Köhlberg berkembang m elalui tahapan tertentu. Tingkatan pra-konvensional dibagi menjadi dua tahapan.

serta bertindak demi orang lain tetapi dengan mengharapkan suatu balasan. Tahap ini memadang perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Bahkan. Sikapnya sangat konformis terhadap harapan pribadi dan tata tertib s osial. Anak sudah lebih menyadari tenta ng kebutuhan-kebutuhan pribadi dan keinginan-keinginan. tidak mempedulikan lagi pada akibat-akibat yang langsung dan nyata ( kelihatan).25 Tahap 2 : orientasi relativitas instrumental (sekitar 10 tahun) Pada tahap ini a nak beranggapan bahwa perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri. Tingkat ini meliputi : Tahap 3 : orientasi kesepakata n antar pribadi (sekitar usia 13 tahun). mendukung. 2) T ingkat konvensinal Individu pada tingkat ini memandang bahwa memenuhi harapanhar apan keluarga dan kelompok dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga pada di ri sendiri. individu sangat loyal dan aktif mempertahankan. Tindakan seseorang direnca nakan untuk mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari lingkungan antar . Hubungan manusia kadang-kadang ditandai relasi timbal balik. dan me mbenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifikasikan diri dengan orang at au kelompok yang terlibat. Tahap ini biasa disebut sebagai orienta si “Anak Manis”.

hukum te tap dipandang sebagai sesuatu yang penting tetapi ada . dan penjagaan tata tertib sosial. Tingkatan ini terbagi menjadi : Tahap 5 : orienta si kontrak sosial yang legalistik (sekitar dewasa awal) Perbuatan yang baik cend erung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat. dan menjaga tata terti b sosial yang ada sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya sendiri. menghormati otoritas. 3) Tingka t paska-konvensional Pada tingkat paska-konvensional terdapat usaha yang jelas u ntuk mengartikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki keabsahan s erta dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpeganga n pada prinsip moral yang universal. Tahap 6 : orientasi prinsip etika universal (masa dewasa) Benar atas suatu perbuatan ditentukan oleh keputusan suara hati. atur an yang tetap. Pada tahap ini perilaku sering di nilai menurut niatnya. sesuai dengan prinsip etis yang dipilih sendiri. Pada tahap ini perilaku yang ba ik adalah yang melakukan kewajiban.26 sosial dan kelompoknya. yang tidak terkait dengan aturan-aturan set empat atau seluruh masyarakat. Tahap 4 : orientasi hukum dan ketertiban (sekitar 16 tahun) Tahap orientasi huk uman dan ketertiban ini berarti bahwa terdapat orientasi terhadap otoritas.

e. Tahap 6 Orientasi Asas E tis Keseluruhan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan penalaran moral merupakan proses perubahan yang terjadi secara bert ahap menuju kematangan dalam penilaian atau pertimbangan terhadap nilai-nilai pe rbuatan yang timbul dari hati nurani dan bukan merupakan paksaan dari luar. Tahapan Penalaran Moral Menurut Köhlberg (Atkinson. mendapatkan balas an budi.27 nilai-nilai yang lebih tinggi yaitu prinsip universal mengenai keadilan. Memastikan akan mendapatkan ganjaran. yang disertai pula dengan rasa tanggung jawab. Tabel 2. Penalaran moral pada remaja Köhlberg (Santrock.1. 1995: 231 -234). 1999 : 117) Tingkatan dan Tahapan Tingkat I Moralitas Prakonvensional Tahap 1 Orientasi Huku man Tahap 2 Orientasi Ganjaran Tingkat II Moralitas Konvensional Tahap 3 Orienta si Anak Manis Tahap 4 Orientasi Otoritas Gambaran Perilaku Mematuhi peraturan un tuk menghindari hukuman. Memastikan penghindaran rasa tidak setuju dari orang lain Memegang tegu h undang-undang dan kaidah sosial untuk menghindari ketidaksetujuan dari pemegan g otoritas serta perasaan bersalah tidak “melakukan tugas” Tingkat III Moralitas Tin dakan yang dibimbing oleh asas-asas yang biasa disetujui sebagai hal yang pentin g bagi Prakonvensional Tahap 5 Orientasi Kontrak kesejahteraan umum Tindakan dib imbing oleh asas-asas etis atas Sosial pilihan sendiri. 2002: 370-371) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada perspektif kognitif terutama pada . pertuka ran hak dan keamanan martabat manusia sebagai seorang pribadi (Köhlberg.

bahwa sebelum anak-anak usia 9 (sembilan) tahun mereka kebanyakan berpikir tentang dilema moral dengan cara pra-konvensional. Köhlberg (Hurlock. maka bayi menilai benar atau salahnya suatu tindakan menurut kese nangan atau kesakitan yang ditimbulkannya dan bukan menurut baik atau buruknya e fek suatu tindakan terhadap orang-orang lain. Anak-anak ini juga tidak mempuny ai dorongan untuk mengikuti aturan-aturan ataupun norma-norma karena tidak menge rti manfaatnya sebagai anggota kelompok sosial. Karena tidak memiliki norma yang pasti tentan g benar-salah. Köhlberg percaya bahwa ketiga ting katan dan keenam tahapan moral tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. 1999: 123) memperinci. dan baik-buruk. mereka tidak mempunyai hierarki nilai dan suara ha ti. Pada saat bayi. Bayi akan mempelajari kode moral dari orang tua dan lingkungan sosialnya serta belajar pen tingnya mengikuti kode-kode moral. Bayi menganggap suatu tindakan sal ah hanya bila ia sendiri mengalami akibat buruknya.28 penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Anak hanya belajar begai mana bertindak tanpa mengetahui mengapa dia melakukan tindakan tersebut. Oleh karenanya anak harus belaja r berperilaku moral dalam berbagai situasi yang khusus. I ni berarti individu pada tingkat pra-konvensional belum sampai pada . dalam artian bahwa perilakunya tidak dibimbing norma-norma moral. Ini karena perkembangan intelektual ana k belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari dan menerapkan prinsip-prins ip abstrak tentang benar-salah. Perkembangan moral pada masa kanak-kanak masih dalam tingkat rendah.

Kode moralnya sudah terbentuk meskipun m asih akan berubah bila ada tekanan sosial yang kuat. Remaja akan menemukan bahwa kelompok sosial terlibat dalam berbagai tingkat kesungguhan pada berbagai macam perbuatan. Ini akan beru bah dengan bertambah luasnya lingkup sosial anak. Mereka memahami atu ran-aturan masyarakat atau penguasa. dan konvensi masyarakat atau penguasa. anak-anak berorientasi patuh dan hukuman. Bila p erubahan terjadi. remaja berpikir dengan caracara yang lebih konvensional. Pada masa remaja. konsep-konsep moral yang digeneralisasikan yang mencerminkan nilai moral anak tidak statis. Sedangkan pada awal masa dewasa. s ejumlah kecil orang berpikir dengan cara paska-konvensional. konsep moral remaja tidak lagi sesempit sebelumnya. Dalam tahap kedua anak-anak mulai menyes uaikan diri dengan harapan sosial agar memperoleh pujian. Konsep benar-salah yan g ada pada tingkat prakonvensional masih bersifat umum. harapan-ha rapan. artin ya mereka melakukan dan mematuhi sesuatu sesuai dengan aturan-aturan. Pengetahuan ini kemudian akan digabungkan dalam konsep moral.29 pemahaman yang sesungguhnya mengenai kepatuhan terhadap konvensi atau aturan-atu ran masyarakat. ia menilai benar-salahnya perbuatan berdasarkan akibat-akibat fisik dari perubahan itu. Dalam tahap pertama. tetapi penerimaannya didasarkan atas peneri maan prinsip-prinsip moral yang mendasari aturan-aturan tersebut. Dengan kata la in individu pada tingkat paska-konvensional akan membuat .

30 keputusan moral dengan lebih mengutamakan prinsip-prinsip moral dari pada konven si atau aturan-aturan masyarakat dan penguasa. yang akhirnya menimbulkan kesulitan bagi hubungan antara orang tua den gan remaja itu sendiri. orang tua lebih mudah menerapkan nilai moral dan disiplin dibandingk an selama masa remaja. hasil dari mengatasi konflik terhadap peru bahan yang muncul dalam . serta peristiwa dan situasi-situ asi yang mereka alami akan menumbuhkan perasaan dan kepekaan mereka terhadap rea litas. Namun. 2001: 204) mengemukakan bahw a pada masa remaja seseorang mempunyai kemampuan kognitif untuk berpindah dari t ingkat konvensional ke tingkat paska-konvensional. dan mer eka cenderung kurang dapat menerima disiplin orang tua. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran moral pada r emaja merupakan kemampuan kognitif yang berpindah dari tingkat konvensional ke t ingkat paska konvensional yang dipengaruhi oleh nilai-nilai moral yang berasal d ari pengalaman-pengalaman lingkungan. menuntut kemandirian leb ih tegas. Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak. Interaksi yang sem akin luas. pada masa remaja. Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. perkembangan k ognitif anak sudah semakin matang sehingga memungkinkan orang tua untuk bermusya warah dengan mereka tentang penolakan penyimpangan dan pengendalian perilaku mer eka. penalaran anak-anak menjadi lebih canggih. Köhlberg dan Gilligan (Monks. pengalaman hidup bersama orang lain. Tetapi dalam perluasannya pen alaran ini pengalaman lain juga masuk dalam kehidupan mereka.

bahwa sikap. Sikap inilah yang berperan besar dalam kehidupan manusia karena sikap yang telah terbentuk dalam diri manusia turut menentukan cara-cara manusia itu memunculkan . Di jelaskan Walgito (1991: 109). Sikap merupakan organi sasi pendapat. Dengan mengetahui sikap seseor ang akan dapat memprediksi reaksi atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang . atau perbuatan manusia merupakan hal penting dalam kehidupan psikologis manusia. 2. Sikap yang ada pada diri manusia akan memberikan corak pa da tingkah laku atau perbuatan manusia tersebut. disertai oleh adanya suatu perasaan tertentu. yang pada akhirnya memberikan da sar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara yang ter tentu yang dipilihnya.31 perkembangan moral remaja dan interaksi yang semakin luas seperti pengalaman hid up bersama dengan orang lain serta peristiwa dan situasisituasi yang mereka alam i sehari-hari. Penerimaan atau penolakan yang dilakukan oleh seseorang dalam menangggapi suatu masalah dapat juga ditentukan o leh faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya. Menurut Gerungan (2000: 149) manusia tidak dilahirkan dengan sikap-sikap terte ntu. yang akhirnya akan menumbuhkan perasaan dan kepekaan mereka terha dap realitas. Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas a. tingkah laku. akan tetapi sikap tersebut dibentuk oleh seorang individu sepanjang perkemb angan hidupnya. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg . Sikap Dalam hidupn ya manusia mempunyai sikap untuk menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Sikap merupakan kesiapan individu untuk bereaksi terhadap obyek di lingk ungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. maupun lembaga-lembaga. perasaan-perasaannya. maka kognisikognisinya. namun hubungan antara keduanya sangat lemah karena pada kenyataannya acap kali perilaku seseorang terg antung pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pilihan yang diambil ses eorang. Menurut Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial (2005: 49). Atau dengan kata lain sikap menyebabkan manus ia bertindak secara khas terhadap obyeknya. sikap seseorang dianggap mempunyai perilakunya. bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. akan tetapi berupa pre-disposisi tingka h laku. Sec ara umum. Sikap menunjukkan penilaia n kita (baik positif maupun negatif) terhadap bermacam-macam entinitas. Mar’at (1982: 12) mengungkapkan. obyek-obyek. dengan keyakinan tentang sifat suatu obyek. Sedangkan sikap menurut Atkinson (1999: 371) sangat terkait dengan kogni si–khususnya. sikap merupakan masalah yang lebih banyak bersifat afektif. dan tendensi-tendensi tingkah lakunya berkenaa n dengan bermacam ragam obyek di dunianya terorganisasikan menjadi sistem-sistem yang tahan lama. Krech dan kawa n-kawan (1982: 25) menyatakan bahwa pada saat individu berkembang. dan inilah yang dinamakan sikap. misalnya : individu-individu. .32 tingkah laku terhadap suatu obyek. kelompok-kelompok.

b. dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya. kelompok. orang. ya itu : 1) Komponen kognitif Komponen kognitif merupakan kepercayaan seseorang men genai apa apa yang benar atau berlaku bagi obyek sikap. perasaan dan keyakinannya. b enda. 2) Komponen afeksi Merupakan komponen individu terhadap obyek sikap dan pera saan yang mengandung masalah emosional yang biasa disebut niatan. . Berdasarkan apa yang telah kit a lihat atau apa yang telah kita ketahui kemudian terbentuklah suatu ide atau ga gasan mengenai sifat atau karakteristik umum tentang hubungan seksual secara beb as. Sikap meliputi rasa suka dan tidak suka.33 Sikap juga berkaitan dengan tindakan yang kita ambil karena sifat obyek tersebut . Komponen kognitif dalam sikap terhadap hubungan seksual secara bebas adalah apa yang dipercaya seseorang mengenai hubungan seksual secara bebas tersebut. Komponen si kap Sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang (Azwar. Keseluruhan pendapat-pendapat di atas dap at disimpulkan bahwa sikap merupakan kesimpulan atau kecenderungan individu untu k bertindak terhadap obyek tertentu dengan didasari oleh pandangan. 2003: 17). Hal inilah yang menyebabkan sikap orang terhadap sesuatu hal berb eda satu dengan yang lainnya meskipun menghadapi obyek yang sama. termasuk gagasan abstrak dan kebijakan sosial. mendekati atau menghindari situasi.

. yang mana komponen ini menunjukkan bagaimana kecenderungan untuk mela kukan sesuatu dalam diri seorang individu sangat berkaitan dengan obyek sikap ya ng mengenainya. khususnya terhadap hubungan seksual se cara bebas. Pengertian perasaan seorang individu sering diartikan berbeda perwujudannya bil a dikaitkan dengan sikap. Setiap orang mempunyai alasan yang berbedabeda tentang mengap a mereka bersikap ataupun tidak bersikap. Apabila seorang individu percaya bahwa dengan berhubungan seksual se cara bebas dapat menimbulkan banyak masalah dan kerugian bagi individu yang menj alani maka seorang individu itu akan mempunyai perasaan yang negatif terhadap hu bungan seksual secara bebas. Dari ketiga komponen sikap ini.34 Komponen afeksi merupakan pengertian perasaan yang mengandung masalah emosional. Umumnya reaksi emosional ini ditentukan oleh kepercaya an atau apa yang kita percaya sebagai sesuatu yang mempunyai arti benar bagi oby ek sikap tersebut. komponen afeksi merupakan komponen sikap yang paling bertahan terhadap pengaruh yang mungkin dapat merubah seseoran g. Hal ini karena aspek emosional ini bisa berakar paling dalam sebagai komponen sikap. hal ini bisa dilakukan dengan terbentuknya perasaan tidak suka. 3) Komponen konatif Komponen konatif sering pula disebut dengan komponen perilaku.

3) Komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku .35 Krech dan kawan-kawan (1982: 25-26) mengungkapkan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen. 3) K omponen tendensi tingkah laku. ide. “favorable“ atau . Keyakinan-keyakinan yang ada pada komponen kognitif kebanyakan adalah keyakinan keyakinan evaluatif yang menyangkut atribusi kualitas-kualitas. suka ataupun tid ak suka. seperti ‚’’baik’’ atau ’’bu ’’dikehendaki“ “unfavorable“. seperti senang atau tidak senang. yaitu : 1) Komponen kognisi yang hubungannya d engan belief. dalam hal ini seperti. atau “tidak dikehendaki“. 2) Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emos ional seseorang. yaitu : 1) Komponen kognitif yang mencakup keyakinan-keyakinan atau ke percayaan-kepercayaan seorang individu tentang sasaran sikap individu tersebut. mencakup pada semua bentuk kesiapan untuk bertind ak yang ada hubungannya dengan sikap itu sendiri. cenderung mendukung perilaku se ks bebas atau cenderung menolak perilaku seks bebas. 2) Komponen perasaan ditunjukkan kepada emosi-emosi yang be rkaitan dengan sasaran sikap. dan konsep. Seseorang yang bersikap positi f terhadap suatu gerakan. si kap memiliki tiga komponen sikap. Menurut Mar’at (1982: 13). Muatan emosi ini kemudian menyebabkan sikap mempunyai daya dorong.

dan sekaligus dikaitka n dengan obyek-obyek lain disekitarnya (adanya penalaran pada diri seseorang ter hadap obyek mengenai karakteristiknya) yang akibat dari gambaran ini akan mengha silkan suatu keyakinan atau penilaian sehingga terjadilah kecenderungan untuk be rtingkah laku. yaitu komponen kognitif yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar. dan tindakan mencerminkan komponen peri laku. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa komponen sikap terdiri dari tiga kompo nen. Sedangkan Atkinson (1999: 371-372) mengkaji sikap sebagai kompone n dari sistem yang terdiri dari tiga bagian. sikap merupakan komponen afektif. . Sehingga komponen kognisi melukiskan obyek tersebut. sikap merupakan kumpul an dari berpikir. komp onen konatif atau komponen perilaku yang menunjukkan bagaimana kecenderungan per ilaku yang ada dalam diri seseorang. Keyakinan mencerminkan komponen kog nitif. dan pengetahuan sekaligus memiliki evaluasi negatif maupun positif yang bersifat emosional karena disebabkan oleh komponen afeksi y ang hubungannya dengan obyek sikap. Obyek yang dihadapi oleh seorang individu te rlebih dahulu berhubungan langsung dengan pemikiran dan penalaran individu terse but. keyakinan. komponen afektif merupakan niatan atau perasaan in dividu terhadap objek sikap dan perasaan yang mengandung masalah emosional.36 Untuk menjelaskan konteks sikap Mar’at mengungkapkan bahwa.

kebudayaan. Pada masyarakat Indonesia cenderung lebih mempunyai sikap yang searah atau konf ormis kepada orang yang di anggapnya penting. Kecenderungan seperti ini lebih di pengaruhi oleh . 1) Pengalaman pribadi Kesan yang kuat dapat menjadi dasar pembuatan sikap pengalaman pada diri individu. Di sadari atau tidak kebudayaan telah menanamkan arah sikap seseorang terhada p berbagai masalah yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila faktor emosional terlibat dalam pen galaman tersebut. Namun pengalaman tunggal jarang sekali menjadi dasar pembentuk an sikap. 2003: 30-38) adalah pengalaman pribadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Faktor-faktor sikap menurut Middlebrook (Azwar. institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama. 2) Pengaruh kebudayaan Kebudayaan yang ada dimana seseorang itu tinggal dan dibesarkan memiliki arti yang mendalam pada pembentukan sikap orang tersebu t. Pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama membekas jika situasinya sangat melibatkan emosi dan benar-benar di hayati oleh diri individu yang bersa ngkutan. orang lain yang dia nggap penting.37 c. serta faktor-faktor emosi dalam individu. media massa. 3) Pengaruh orang yang dianggap pent ing Orang lain yang hidup dan berada di sekitar kita merupakan bagian dari kompo nen sosial yang sedikit banyak dapat mempengaruhi sikap individu dalam bersikap.

berbagai bentuk media massa seperti : televisi. 5) Tingkat pendid ikan Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang individu bisa digunakan untuk mengetahui taraf kemampuannya. pengetahuan. radio. d an lain-lain mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. 4) Media massa Sebagai sarana komunikasi . surat kabar. M edia massa membawa perilaku pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengartik an opini individu. 6) Pengaruh emosional Emosi berf ungsi sebagai penyaluran pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. majalah. baik secara teoritis maupun praktis mengen ai obyek sikap yang mengenai individu tersebut. Pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi yang cukup kuat akan memberikan dasar efektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuknya arah sikap tertentu.38 motivasi berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang d ianggap penting oleh individu tersebut. Dengan pendidikan memungkinkan seseorang mendapatkan pengalaman. Adanya informasi baru mengenai suatu hal akan memberikan land asan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. . dari individu tersebut masuk sekolah hingga ting kat pendidikan terakhir yang dia capai.

situasi. serta dipeng aruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti : pengalaman. yaitu selektivitas sendiri. yaitu faktor fisiologis dan psikologis. hambatan. Interaksi sosial yang terjadi d i dalam dan di luar kelompok dapat mengubah sikap bahkan dapat membentuk sikap b aru. . norma-norma. Faktor eksternal ini dap at berwujud situasi yang dihadapi oleh individu serta norma-norma yang ada di ma syarakat. Perubahan sikap Menurut Gerungan (2000: 154-157) perubahan sika p tidak terjadi tanpa dasar yang jelas. norma-norma. Perubahan sikap berlangsung dalam intera ksi manusia dan berkenaan dengan obyek tertentu. daya pilihannya sendiri. 2) Faktor eksternal Terdiri dari pen galaman.39 Pendapat lain di kemukakan oleh Walgito (1991: 115-116). bahwa sikap dipengaruhi oleh : 1) Faktor internal Faktor internal di sini terdiri dari faktor biologis dan psikologis. situasi. Faktor–faktor lain yang yang turut memegang peranannya ialah faktor–faktor inte rn di dalam diri manusia. Keseluruhan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sikap dipeng aruhi oleh faktor internal. d. dan pendorong yang mempengaruhi bagaimana sikap remaja terhadap perilak u seks bebas. h ambatan. a tau minat perhatiannya untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya. dan pendorong. Ini berarti bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai sikap yang b erbeda secara fisiologis dan psikologisnya.

2001: 262). Meng enai faktor eksternal dalam perubahan sikap. Perubahan sikap dapat berl angsung dalam interaksi kelompok. Dan karena komunikasi. 2000: 156 ) mengemukakan bahwa sikap dapat dibentuk dan diubah. 1994: 478). Fase masa remaja secara global berlangsung natara usia 12-21 tahun. Pengertian remaja Masa remaja adala h masa yang menunjukkan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa sela njutnya yaitu masa dewasa. di mana pada masa tersebut t imbul gejolak dalam diri akibat pertentangan nilainilai akibat kebudayaan yang m akin modern. 18-21 tahun masa remaja akhir (Monks. di mana terdapat hubungan timbal balik yang la ngsung antar manusia. . yait u motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam diri pribadi itu. masa remaja merupakan masa topan badai. di mana terdapat pengaruh-pengaruh (hubungan) langsung dari satu pihak saja. sosial. psikologis. Pada masa remaja ini terjadi perkembangan-perkembanga n seperti perkembangan fisik. e. Menurut Hall (Mussen.40 Faktor–faktor internal sendiri masih ditentukan oleh faktor-faktor eksternal. dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal. dan secara moral. M Sherif (dalam Gerungan. 15-18 t ahun masa remaja pertengahan. 2002 : 23). Batasan usia untuk remaja (adolescence) menurut Hall antar usia 1225 tahun (Sarwono. Menurut Monks. remaja adalah suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa.

dan sosialnya.41 Batasan usia remaja menurut WHO adalah 10-20 tahun. Begitupun masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode masa kanak-kanak dan dewasa. Misalnya saja . Semua perkembang an itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap. kognis i. Ciri-ciri tersebut ant ara lain : 1) Masa remaja sebagai periode yang penting Masa remaja dipandang seb agai periode yang penting daripada periode lain karena akibatnya yang langsung t erhadap sikap dan perilaku. bahw a semua periode yang penting selama masa kehidupan mempunyai karakteristiknya se ndiri. rentang usia pada masa remaja tersebut adalah antar a 12-21 tahun. terutama pada masa remaja awal. serta akibat-akibat jangka panjangnya. hal ini di dasarkan atas kes ehatan remaja yang mana kehamilan pada usia-usia tersebut memang mempunyai resik o yang lebih tinggi daripada kehamilan dalam usia-usia diatasnya (Sarwono. dan minat baru. . 2002: 9). Karakteristik remaja Hurlock (1999: 207-209) berpendapat. baik yang bersifat fisiologis yang cepat dan disertai percepatan perkembangan mental yang cepat. perkembangan biologis menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan tertentu. nil ai. Selanjutnya yang dimaksud dengan remaja adalah individu yang sedang mengala mi masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dalam rentangannya t erjadi perubahan-perubahan dan perkembangan pada aspek fisik. f. Sedangkan. psikologis.

karena dorongan fisiologis ini ju ga. apa yang sudah terjadi pada masa sebelumnya akan menimbulkan bekasnya pada apa yang terjadi pada masa sekarang dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. A nak-anak yang beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa haruslah meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan harus mempelajari pola perilak u dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikapnya pada masa yang sudah d itinggalkan.42 Minat baru yang dominan muncul pada masa remaja adalah minatnya terhadap seks. 1999: 226). Dorongan untuk melakukan ini datang dari tekanantekanan sosial ak an tetapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang seks . statu s remaja yang tidak jelas ini menguntungkan karena status ini memberi waktu kepa da remaja untuk . Remaja lalu berusaha membangun relasi-relasi afektif yang baru dan y ang lebih matang dengan lawan jenis dan dalam memainkan peran yang lebih tepat d engan seksnya. Meskipun disadari bahwa apa yang telah terjadi akan meninggalkan be kasnya dan akan mempengaruhi pola perilaku dan sikap baru. P ada masa remaja ini mereka berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua. maka remaja berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. bercumbu. Karena meningkatnya minat pada seks inilah. Pada masa peralihan i ni remaja bukan lagi seorang anak-anak dan juga bukan orang dewasa. atau bersengg ama (Hurlock. Tidak jarang. remaja mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi. 2) Masa remaja sebagai periode peralihan Artinya. Namun.

minat. Perubahan itu a dalah : a) Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubaha n fisik dan psikologis yang terjadi b) Perubahan tubuh. Remaja akan tetap ditimbuni masalah. ketika perubahan terjadi dengan pesat ma ka perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung cepat. Misa lnya. nilai dan sifat ya ng paling sesuai bagi dirinya. Pada awal masa remaja. sebagian besar remaja tidak lagi menganggap bahwa banyak teman merupakan p etunjuk popularitas. Begitu pula jika perubah an fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga. c) Perubahan minat dan pola perilaku menyebabkan nilai-nilai juga berubah. d) Remaja bersikap ambivalen terhadap setiap peruba han. mereka mulai mengerti bahwa kualitas pertemanan lebih penti ng daripada kuantitas teman. dan peran yang di harapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan menimbulkan masalah. namun mereka belum berani untuk bertanggung jawab akan akibat perbuatan mereka dan . 3) Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja beriringan dengan tingkat perubahan fisik. sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuasannya. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan.43 mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku.

sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri. menolak bantuan orang tua dan gurugurunya sampai pada akhirnya remaja itu menemukan bahw a penyelesaian masalahnya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. 5) Masa rem aja sebagai masa mencari identitas Pada akhir masa kanak-kanak sampai pada awal masa remaja. dan ini menimbulkan ketakutan pada remaja. pada masa remaja mereka me rasa ingin mandiri.44 meragukan kemampuan mereka sendiri untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut . 4) Masa remaja sebagai usia bermasalah Masa remaja dikatakan sebagai usia berm asalah karena sepanjang masa kanak-kanak sebagian permasalahan anak-anak diseles aikan oleh guru atau orang tua mereka. sehingga pada masa remaja mereka tidak cu kup berpengalaman dalam menyelesaikan masalah. Namun. 6) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketaku tan Stereotip populer pada masa remaja mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya sendiri. Hal i ni menimbulkan pertentangan dengan orang tua sehingga membuat jarak bagi anak . pada masa remaja mereka mula i mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan tema n-temannya dalam segala hal. penyesuaian diri dengan standar kelompok jauh lebih penting bagi an ak yang lebih besar daripada individualitas. Remaja tak ut bila tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakat dan orang tuanya sendiri. Namun.

Kemarahan. yaitu m erokok. remaja yang sudah pada ambang remaja ini mulai berpakaian dan bertindak seperti orang-orang dewasa. 2002: 19-30): 1) Penyalahgunaan obat-obata n terlarang. dan terlibat dala m perbuatan seks dengan harapan bahwa perbuatan ini akan memberikan citra yang m ereka inginkan. Remaja menggunakan obatobatan terlarang sebagai suatu cara untuk me ngatasi stres. minum minuman keras. rasa sakit hati. Remaja mu lai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa. Persoalan remaja yang sering muncul karena karakteristik remaja sendiri antara lain adalah (Santrock. menggunakan obatobatan terlarang. 8) Masa remaja s ebagai ambang masa dewasa Meskipun belumlah cukup. Cita-cita yang tidak realistik ini tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain disekitarnya (keluarga dan temantem annya) yang akhirnya menyebabkan meningginya emosi.45 untuk meminta bantuan kepada orang tua guna mengatasi pelbagai masalahnya. dan perasaan kecewa ini akan lebih mendalam lagi jik a ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. 7) Ma sa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja cenderung melihat dirinya sen diri dan orang lain seperti yang mereka inginkan dan bukan sebagaimana adanya te rlebih dalam hal cita-cita. Tampak bahwa hal ini dipengaruhi oleh kurangnya keterampilan meng hadapi .

Kurangnya ke terbukaan dan pendidikan tentang reproduksi sehat serta anggapan remaja bahwa or ang tua mereka tidak akan memahami mereka. dukungan. pengaruh teman sebaya yang tidak dapat ditolak dan mempunyai pengaruh yang berat. 2) Ke nakalan remaja. nilai rapor yang rendah. pengendalian diri rendah. Keingintahuan ini malah dibagi dan dicoba-coba dengan teman-teman yang samasama tidak tahu tentang pendidikan seks dengan dalih kemandirian. menyebabkan semua keingintahuan mereka terhadap seks disembunyikan. Anoreksia nervosa dan bulimia terutama menimpa perempuan sel ama masa remaja dan awal dewasa.46 masalah secara kompeten dan pengambilan keputusan yang kurang bertanggungjawab. sehingga lebih berpeluang untuk mengalami kegagalan dalam peran-peran orang dewasa. 5) Gangg uan-gangguan makan. seperti: kehilanga n pacar. 3) Kehamilan pada remaja. 4) Bunuh diri pada remaja. Umumnya bunuh diri dik aitkan dengan dengan faktor-faktor saat ini yang menegangkan. serta kualit as lingkungan dengan tingginya kejahatan. Sebab- . harapanharapan bagi pendidikan yang rendah. Remaja seringkali memasuki peran orang dewasa seperti dalam pernikahan dan peker jaan secara prematur. Ini kebanyakan disebabkan oleh karena remaja mempunyai identitas negatif. dan disiplin yang tidak efektif dari orang tua. atau kehamilan yang tidak diinginkan. tanpa perkembangan sosio-emosional yang memadai. prestasi yang rendah pada kelas-kelas awal. kurangnya pe mantauan. komitmen yang rendah.

Citr a ideal masa remaja dan pesan-pesan ambivalen masyarakat kepada remaja tidak jar ang akan menambah persoalan bagi para remaja. dan fisiologis. 3) Undang-u ndang melarang remaja menggunakan alkohol. atau obat-obatan terlarang. tetapi berkeras bahwa remaja tidak mempunyai kedewasaan untuk mengambil keputusan-keputusan send iri yang kompeten tentang hidup mereka. 2002 : 31-33): 1) Banyak orang dewasa menghargai kemandirian remaja. secara khusus. Remaja dianggap lugu secara seksual tetapi memiliki pengetahuan yang banyak tentang seksual dari media. keinginan akan individualitas. tembakau. . Ketidakmampuan memenuhi standar orang tua ini menyebabkan mereka tidak mampu mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Faktor p sikologis meliputi motivasi untuk menarik perhatian lawan jenis. antara lain adalah (santrock. banyak orang dewasa memberikan cap dan mengkritik remaja atas penggunaan obat-a batan terlarang oleh remaja. Faktor sosia l yang mendorong adalah tren tubuh kurus yang digemari akhir-akhir ini. Pe nderita gangguan makan ini biasanya memiliki keluarga yang memberi tuntutan yang tinggi bagi mereka untuk berprestasi. psikologis. dan cara mengatasi kekangan orang tua. penolakan seksualitas. 2) Pesan-pesan seksual masyarakat kepada remaja.47 sebabnya meliputi faktor-faktor sosial. cukup membingungkan. namun orang-orang dewasa itu sendiri merupakan peny alahguna obatobat terlarang dan perokok berat.

Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan ke rangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. 2002: 8). Empat pe rubahan yang paling menonjol pada perempuan ialah menarche. pertambahan tinggi b adan yang cepat. dengan teori p sikoanalisisnya menggambarkan superego sebagai salah satu dari tiga struktur utama kepribadian. sedangk an empat perubahan tubuh yang paling menonjol pada laki-laki adalah pertumbuhan tinggi badan yang cepat. Awal timbulnya masa remaja ini dapat melibatkan perubahan-pe rubahan yang mendadak dalam tuntutan dan harapan sosial atau sekedar peralihan b ertahap dari peranan sebelumnya. 1) Perkembangan fisik Perkembangan fisik remaja didahul ui dengan perubahan pubertas. Freud (Santrock. 2002: 288). satu aspek remaja bersifat universal dan memisahkannya dari tahap-tahap perkembangan sebelumnya.48 g. berkembang ketika anak meng atasi konflik oedipus dan mengidentifikasi diri dengan orang tua yang berjenis k elamin sama karena ketakutan akan kehilangan kasih sayang orang . pertumbuhan testis. pertumbuhan penis. dan pertumbuhan rambut kemaluan (Santrock. yang dua lainnya adalah id dan ego. pertumbuhan buah dada. Dalam teori psikoanalisis-klasik Freud. Perkembangan pada masa remaja Periode yang disebut masa remaja akan dialami o leh semua individu. supe rego pada masa anak-anak sebagai cabang kepribadian. dan pertumbuhan rambut kemaluan. Meskipun bervariasi.

yang dialami secara tidak sadar (di luar kesadaran anak). .49 tua dan ketakutan akan dihukum karena keinginan seksual mereka yang tidak dapat diterima itu terhadap orang tua yang berbeda jenis kelamin pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak. Mereka disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka. Dibutuhkan waktu untuk mengintegrasikan perubahan dramatis ini menjadi perasaan memiliki identitas diri yang mapan dan penuh percaya diri. dan citra diri. 2) Perkembangan psikis Perkembangan remaja secara psikologis yang dimaksud di sini meliputi perkembangan minat. Dalam catatan perk embangan moral psikoanalisis. Permusuhan yang m engarah ke dalam ini sekarang dirasakan sebagai suatu kesalahan yang patut dihuk um. anak-anak menginterna lisasikan standar-standar benar dan salah orang tua yang mencerminkan larangan m asyarakat. remaja awal yang tumbuh pesat pada waktu-waktu tertentu cenderung merasa asing terhadap dir i mereka sendiri. Tidak seperti masa kan ak-kanak yang pertumbuhan fisiknya berlangsung perlahan dan teratur. Yaitu anak-anak me nyesuaikan diri dengan standar-standar masyarakat untuk menghindari rasa bersala h. Selanjutnya anak mengalihkan permusuhan ke dalam yang sebelumnya ditu jukan secara eksternal kepada orang tua berjenis kelamin sama. moral. penghukuman diri sendiri atas suatu kesalahan bert anggung jawab untuk mencegah anak dari melakukan pelanggaran. Karena mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis.

lalu ia berusaha membangun perasaan atau afeksi baru karena menemukan identifikasi denga n obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obye k yang lama. an ak muda belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan. seperti ketidakberaturan suasana hati. dan digantikan dengan re spek terhadap pribadi-pribadi lain yang dianggap lebih memenuhi kriteria . Diantaranya. iritabilitas. baik bersifat fisiologis maupun psikologis. namun karena ini pula mereka merasa kh awatir atau malu jika tidak dapat mengendalikan respon atas dorongan seksual (Mu ssen. Secara psikol ogis perkembangan tersebut menyebabkan anak remaja dihadapkan pada banyak masalah baru dan kesulitan yang kompleks. Remaja pria merasa punya dorongan s eksual yang lebih besar setelah pubertas. Perkembangan biologis di atas menyebabkan timbulnya peruba hanperubahan tertentu. Remaja berus aha keras melakukan adaptasi terhadap tuntunan lingkungan hidupnya. dan depresi sebelum menstruasi atau sewaktu menstruasi. Anak remaja ini kemudian mulai memekarkan sikap hidup kritis terhad ap dunia sekitar. penilaian ya ng amat tinggi terhadap orang tua kini makin berkurang. yang didukung oleh kemantapan kehidupan batinnya. ia berusaha melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama dengan orang tua dan obyek-obyek cintanya.50 Perempuan pasca-menarche cenderung agak lebih mudah tersinggung dan mempunyai pe rasaan negatif. 1994: 489-490).

. 1994: 493). menyesuaikan dengan pe matangan seksual. Dikatakan kualitatif dalam arti bahwa peru bahan yang bermakna juga terjadi dalam proses mental dasar yang digunakan untuk mendefinisikan dan menalar permasalahan (Mussen. 1994: 496). Remaja menjadi lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri. Kuantitatif artinya bahwa remaja mampu menyelesaikan tugas-tugas intelektual dengan lebih mudah. 2002: 10).51 afektif-intelektual remaja sendiri. logis dan idealistis. Untuk menjadi dewasa dan tidak hanya dewasa secara fisik. pemikiran orang lain. Contohnya adalah pribadi-pribadi ideal berwu jud seorang guru atau pemimpin. Dalam proses ini remaja secara bertahap mengembangkan sua tu filsafat kehidupan dan pengertian akan identitas diri (Mussen. dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka. lebih cepat dan efisie n dibanding ketika masih kanak-kanak. 3) Perkembangan kognisi Kemampuan kognitif pada masa remaja berkembang secara kuantitatif dan kualititatif. 4) Perkembangan sosial Salah satu tugas p erkembangan yang tersulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyes uaian sosial. serta cenderung menginterpretasikan dan meman tau dunia sosial (Santrock. Pemikiran remaja ya ng sedang berkembang semakin abstrak. dan membina hubungan kerjasama yang dapat dilaksanakan dengan teman-teman sebayanya. remaja s ecara bertahap harus memperoleh kebebasan dari orang tua.

Pada masa remaja. Sikap remaja Sikap menur ut Mappiare (1982: 58) adalah kecenderungan yang relatif stabil yang dimiliki se seorang dalam mereaksi (baik reaksi yang positif maupun negatif) yang merupakan suatu produk pengamatan dari pengalaman individu secara unik terhadap dirinya se ndiri. Dalam waktu yang singkat remaja mengalami perubahan yang bertolak b elakang dari masa kanak-kanak. Sikap penyesuaian diri (conform) dengan . Teman sebaya mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap. Semua perubahan yang terjadi dal am sikap dan perilaku sosial.52 Pada masa ini remaja cenderung menghabiskan waktu di luar rumah dan lebih bergan tung pada teman-temannya. Remaja juga berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. terutama sikap sosial yang ber bungan dengan teman sebaya. orang lain. dan tingkah lak u remaja dibandingkan dengan pengaruh keluarga. h. 1999: 214). Kegiatan dengan sesama jeni s ataupun dengan lawan jenis biasanya akan mencapai puncaknya selama tahun-tahun tingkat sekolah menengah atas (Hurlock. minat. yaitu dari tidak menyukai lawan jenis sebagai tem an menjadi lebih menyukai teman dari lawan jenisnya. sika p remaja yang menonjol adalah dalam sikap sosial. Sikap remaja ini berkembang setelah remaja mengenal adanya kepentingan dan kebutuhan yang sama. benda situasi atau kondisi sekitarnya. yang paling menonjol terjadi di bidang hubungan he teroseksual. penampilan.

2001: 11-12 ). Karena pengaruh lingkungan terutama orang tua. Hal ini karena remaja sangat takut jika dikucilka n atau terisolir dari kelompoknya (Mappiare. ajaran ag ama inilah yang mengatur tingkah laku “ich” dan mengatur tuntutan yang datang dari “es”. yaitu eros dan nafsu tanatos. Kekuatan ini “mengu asai” semua orang atau semua benda yang berarti bagi anak (Monks. 2001: 11). 1982: 5859). Pemuasan nafsu ditunda sampai pada saat yang sesuai dengan realita dan kadang pemuasan nafsu tersebut diubah bentuknya hingga dapat diterima oleh norma reali tas (Monks. Perilaku seks bebas Menurut teori psikodinamika. terben tuklah “das ueber-ich”. Hal ini berarti bahwa nafsu- . maka muncullah das ich (a ku) sebagai penentu diri. Pada saat kanak-kanak das es mendorong anak untuk memuaskan nafsu (prinsip kenikmatan ). pada perkembangannya anak berhadapan dengan realita di sekelilingnya h ingga terpaksa mengadakan kompromi (prinsip realitas). Kalau “ich” tidak berhasil untuk mengkompromikan tuntutan “es” dan tuntutan “ueber ich” ma a nafsunafsu dari “es” ditekan secara tidak sadar. “ueber-ich” seperti norma-norma.53 teman sebayanya akan tetap dipertahankan meskipun timbul pertentangan dengan ora ng tua karena perbedaan nilai. Namun. baik terhadap dunia luar maupun terhadap das es sendir i. peraturan masyarakat. i. Freud menyatakan bahwa seorang anak dilahirkan den gan dua macam kekuatan biologis.

Kesamaan keduanya terletak pada fakta akan adanya rasa sakit dan nikmat ya ng bisa terjadi sebagai respon terhadap rangsangan spesifik dari instink tersebu t. peran stimuli ekstern al dapat langsung dipahami. Libido tersebut dapat distimulasi oleh kekuatan-k ekuatan di luar diri manusia. Perkembangan tahapan seksual pada laki-laki dan perempuan dinyatakan sebagai momen-momen kontributif dalam pemahaman seksua litas manusia. Sependapat dengan teori psikoanalisa Freud. Keikatan erotik dan . Pada tahun pertama kehidupan manusia (0-18 bulan). saluran kepuasan libidinal nya adalah melalui mulut (fase oral) dan pemuasan terjadi dengan melakukan stimu lasi sendiri. menurut Supardi (2005: 1-10). akan tetapi pengaruhnya masih ada secara late n. Libido sebagai instink manusiawi didefinisikan Freud sebagai keku atan kuantitatif yang mengukur intensitas dari dorongan seksual. perkembangan perilaku seksual pada masa dewasa berawal dar i potensi-potensi yang tidak terdiferensiasi yang terjadi sejak masa kanak-kanak sebagai suatu proses yang kompleks. namun Freud juga dapat menjelaskan bahwa teori libid onya sebagai hal yang dapat dipahami mekanismenya pada masa kanak-kanak sebagai seksualitas infantil yang secara kualitatif sangat berbeda dengan seksualitas de wasa. se perti melakukan seks bebas. Untuk kehidupan masa dewasa. Instink tersebu t merupakan representasi dari perlawanan aspek psikis terhadap sumber biologis y ang berasal dari diri manusia.54 nafsu tadi tidak dimanifestasikan. Seseorang kemudian tanpa diketahui alasannya melakukan hal-hal menyimpang.

Aktivitas pengeluaran dan pengendalian pengeluaran feses merupakan sumber kenikmatan ters endiri. anak akan mulai memahami dunia dewasa. Ini erat kaitan nya dengan peluang perkembangan psikoseksual yang normal yang akan dilalui oleh anak tersebut dikemudian hari. Pada masa ini anak belajar mengendalikan hal tersebut.55 kenikmatan dari stimuli diri dan relasi dengan lingkungan dipenuhi oleh kepekaan . di mana dorongan libidinal terfokus pada area anus atau dubur. Pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-5 tahun). terdapat kesamaan pengalaman erotik dan representas i dari objek-objek yang diinternalisasikan dalam kehidupan mental baik bagi bayi laki-laki maupun bayi p erempuan. Karena bayi belum dapat menyampaikan perasaannya. Perbedaan perlakuan terhadap bayi lakilaki dan perempuan ini memberikan efek cetakan spesifik dalam pembentukan keprib adian anak. Salah sa tu perilaku yang dituntut oleh dunia dewasa adalah pengendalikan fungsi kandung kemih dan organ pengeluaran feses. Meskipun begitu. anak belajar untuk mengasosiasikan genitalia dengan kebersihan dan kejorokan. Pada masa toilet training. maka orang tua sebagai orang terdekatnyalah yang memperkirakan perasaan anak me lalui pendekatan deduktif dengan pemanfaatan hasil observasi perilaku bayi dan s ebagai lingkungan terdekat bayi. orang tua sudah membuat perbedaan perlakuan ter hadap bayi laki-laki dan bayi perempuan. perkembangan kemampuan bahasa dan otonomi psikomotorik. kecemasan. Fase ini disebut fas e anal. dan ketidakpastian yang berkembang dalam diri anak. sedangkan orang t ua mengajarkan bahwa .

anak . Apabila p enanganan permasalahan ini dilakukan melalui pola asuh yang tidak sensitif. Dua tahun terakhir dalam tahapan ini disebut fase genital. Efek ini akan berperan dalam penyer taan konflik emosional di masa yang akan datang yang terkait dengan aktivitas pe mberian dan penerimaan dalam kehidupan sosial. Baik laki-laki maupun perempuan pada saat yang bersamaan akan mempunya i fungsi ego yang optimal sehingga mampu mengelola dorongan-dorongan naluriah (i nstinktif) yang berperan dalam dirinya kelak. Jika fase ini d apat diatasi dan dilalui dengan mulus. Masa itu disebut masa laten (5-11 tahun). dan didominasi oleh sifat otoriter dari pihak orang tua maka perlakuan terseb ut akan memberikan efek traumatik pada anak. Pada perkembangan psikoseksual yang optimal. kegiatan dalam mempermainkan alat kelamin tetap merupakan suatu ancaman. Per tambahan usia menyebabkan keterlibatan orang tua terhadap masalah seksual menjad i lebih besar. anak memulai relasi khususnya dengan orang tua lawan j enis sebagai landasan kesehatan relasi dengan lawan jenis di kemudian hari. Oedi pus complex pada anak laki-laki dan electra complex pada anak perempuan merupaka n drama segitiga antara anak dengan pasangan sejenis dan berlawanan jenis pada f ase ini yang menentukan identitas seksual anak di kemudian hari. maka anak akan berkembang menjadi seorang yang independen dan memiliki hasil internalisasi super-ego yang optimal dalam f ungsinya.56 produk yang dihasilkan oleh organ-organ tersebut tidak baik dan kotor. anak dapat belajar di sekolah dan bermai n dengan baik. kera s. di mana dalam periode i ni.

Mereka akan mengembangkan relasi dengan teman sejenis melalui berbag i pengalaman dan permainan dalam kegiatan ynag menarik perhatian. Setelah melalui masa laten. sedangkan pada laki-laki. kelenja r hormon seksual berkembang dan membuat dorongan seksual menjadi lebih kuat dan sering mengancam keutuhan fungsi ego seseorang. komitmen terhadap antisipasi peran heteroseksual sebagai pacar. Pada masa pubertas. suami. Relasi homosos ial ini memberikan penekanan dan perbedaan hakikat laki-laki dan perempuan yang sebenarnya telah mereka peroleh melalui perbedaan perlakuan dan pengasuhan orang tua sesuai dengan jenis kelaminnya. tetapi inti dari interaksi sos ial pada perempuan adalah komitmen terhadap antisipasi peran heteroseksual sebag ai pacar. anak akan memil iki perasaan seksual dalam tingkatan yang minimum. Pada masa ini. secara umum perempuan sama dengan laki-laki. ditandai dengan perkembangan ciri seksual sekunder yang memiliki penga ruh langsung pada dorongan intrinsik.57 perempuan mulai mengkomunikasikan sikap-sikap seksual yang harus dikendalikan. I katan yang kuat akan terbentuk antara permasalahan psikologis dengan kesadaran a kan organ seksual sebagai sumber kenikmatan. Berkaitan dengan perilaku sosial yang terb uka. maka remaja akan selalu di hadapkan pada keterikatan seksual dengan orang t ua . istri. dan ayah. Bila oedipus complex tidak terat asi. dan ibu. anak akan beralih da ri lingkungan keluarga yang aman ke lingkungan sekolah sebagai lingkungan sosial yang baru. Masa selanjutnya adalah masa pubertas.

Deviasi seksual dapat dibagi atas dua kelompok. yang mana ked uanya ini merupakan gangguan perkembangan psikoseksual. konflik seksual dan konflik neorotik akhirnya me rupakan manifestasi dari mekanisme psikologis dalam kehidupan manusia. Kelompok yang kedua adalah deviasi seksual yang pola seksualnya seperti homoseksual atau bestialitas. atau perkosaan. sedangkan satyriasis dan nymphomania merupakan disfungsi seksua l yang disebabkan oleh keberadaan dorongan dan aktivitas seksual yang eksesif. remaja laki-laki terhadap ibunya dan remaja per empuan terhadap ayahnya sehingga remaja tersebut mengalami kesulitan sebayanya. U ntuk disfungsi seksual. Dengan kata lain. Kelompok yang pertama adalah deviasi seksual yang pada dasarnya memili ki pola biologis yang normal. dalam menjalani relasi ini heterososial dengan kelompok Hal semacam merupakan pangkal dari peluang perkembangan disfungsi dan deviasi seksual pada masa dewasa kelak. . namun dalam kondisi antisosial antara lain seperti free sex yang akan diteliti pada skripsi ini. yaitu laki-laki atau perempuan dewasa atau sebaya yang berlawanan jenis. sadisme. Impotensia seksual meru pakan suatu disfungsi seksual karena merupakan defisiensi dalam keinginan dan ak tivitas seksual.58 dari jenis kelamin yang berbeda. Disfungsi seksual adalah gangguan yang terkait dengan penyertaan a ktivitas dan dorongan seksual yang defisien dan eksesif. objek seksualnya normal.

Keseluruhan definisi yang tersebut di ata s dapat disimpulkan bahwa perilaku seks bebas yang dilakukan oleh seseorang meru pakan hubungan yang didorong oleh hasrat seksual. Pendapat lain yang dikemukakan Sarwono (2002: 137) bahwa yang dimaksud seks bebas adalah hubungan yang didorong oleh hasrat se ksual. . Menurut Kartono (1997: 188). tidak matang. dan tidak wajar.59 Free sex menurut Sarwono (1988: 8) didefinisikan sebagai perilaku hubungan seksu al yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan tanpa ikatan apa-apa selain suk a sama suka dan bebas dalam seks. Free sex ini biasa nya diawali dengan acara-acara yang cukup merangsang secara seksual dan pada tem pat yang dipandang “aman“ dari pengetahuan masyarakat. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis yang di lakukan pada p asangan tanpa adanya ikatan pernikahan. Free sex menurut Basri (2000: 10) merupa kan kegiatan seksual yang menyimpang. dilakukan dengan ter angterangan tanpa ada rasa malu sebab didorong oleh nafsu seks yang tidak terint egrasi. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. yang dimaksud seks bebas adalah hubungan seks secara bebas dengan banyak orang d an merupakan tindakan hubungan seksual yang tidak bermoral. tanpa adanya ikatan perkawinan. dan dapat dilakukan secara bebas dengan banyak orang. yang dilakukan baik secara individual maup un bergerombol pada waktu dan tempat yang disepakati bersama.

60 j. immoralitas seksual pada anakanak gadis pada umumnya bukanlah didorong oleh motif pemuasan nafsu seks se perti pada anak laki-laki umumnya. menjelas kan lebih lanjut perbuatan seks bebas yang dilakukan oleh remaja pada umumnya di sebabkan oleh disharmoni dalam kehidupan psikisnya. Maka tindakan immorilnya berlangsung secara liar dan tidak terkendali lagi. usia puber dan. Kartono (2005: 196). adolensens. 4) Immoralitas di rumah yang dilakuk an oleh orang tua atau salah seorang anggota keluarga. yaitu seksualitas yang terlalu cepat matang sebelum usia kemasakan psikis sebenarnya. Anggota keluarga itu memp romosikan tingkah laku seksual abnormal kepada anak remaja. yang ditandai dengan : 1) Be rtumpuknya konflik-konflik batin 2) Kurangnya rem terhadap nafsu-nafsu hewani 3) Kurang berfungsinya kemauan dan hati nurani 4) Kurang tajamnya intelek untuk me ngendalikan nafsu seksual yang bergelora . Tindak immoril yang dilakukan oleh gadis-gadis ini disebabkan oleh : 1) Kurang terkendalinya rem-rem psikis 2) Mele mahnya sistem pengontrol diri 3) Belum atau kurangnya pembentukan karakter pada usia pra-puber. yang akhirnya mengak ibatkan timbulnya seksualitas yang terlalu dini. Sebab-sebab seks bebas Menurut Kartono (2005: 193-194). Mereka biasanya lebih didorong oleh pemanjaan diri dan kompensasi terhadap labilitas kejiwaan yang disebabkan karena perasaan tidak senang dan tidak puas atas kondisi diri dan situasi lingkungannya.

61 5) Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga. Pola asuh keluarga yang otoriter atau or ang tua yang memberikan pendidikan seks dengan hanya memberikan laranganlarangan menurut ajaran agama dan norma-norma yang berlaku atau berupa kata-kata “tidak bo leh” tanpa adanya penjelasan yang lebih lanjut. ayah ata u ibu lari. Sedangkan menurut Dianawati (2003: 7-10). tidak bahagia. k. Sehingga anak mer asa sangat sengsara batinnya. Ini malah akan semakin menjerumuskan remaja pada aktivitas seksual lebih dini. Faktor-fakto r yang mempengaruhi perilaku seks bebas Kartono (2005: 196-197) mengungkapkan ba hwa perilaku seks bebas dipengaruhi oleh : 1) Belum adanya regulasi atau pengatu ran terhadap penyelenggaraan hubungan seks dengan peraturan tertentu. orang tua tidak membe rikan informasi yang sejelas-jelasnya dan terbuka akan segala sesuatu masalah se ks tanpa perasaan segan juga sangat tidak efektif untuk mempersiapkan para remaj a dalam menghadapi kehidupan dan pergaulannya yang semakin bebas. anggapan sebagian orang tua bahwa me mbicarakan masalah seks adalah sesuatu yang tabu dan sebaiknya dihilangkan adala h anggapan yang salah dan dapat menghambat penyampaian pengetahuan seks yang seh arusnya sudah dimulai dari segala usia. kawin lagi atau hidup bersama dengan partner lain. . dan ada keinginan untuk memberontak . kurangnya komunikasi dan tidak men gajak diskusi masalah seks yang ingin diketahui oleh anak. broken home.

minat. sehingga bertentangan dengan sistem regulasi seks yang konvens ional. pendidikan. perubahan fisik. alat kontrasepsi. Seks bisa me mbangun kepribadian. Perubahan sosial ini mempengaruhi kebiasaan hidup manusia. telah dicapainya tinggi badan se cara maksimal. pola perilaku. P ada masa ini ada enam perubahan yang sama dan hampir universal.62 Dorongan seks begitu dasyat dan besar pengaruhnya terhadap manusia. mekani sasi. peran. Karena perubahan sikap . demokratisasi fungsi wanita dalam masyarakat dan modernisasi. Seharusnya perubahan sikap s erta perilaku yang dialami pada masa remaja selaras dengan perubahan fisiknya. Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas Secara awam. dan pertumbuhan mental secara penuh. dan komunikasi menyebabkan perubahan sosial yang demikian cepat pada hampir semua kebudayaan ma nusia. 2) Perubahan sosial Perkembangan teknologi. l. Pelaksanaan seks bebas bany ak dipengaruhi oleh penyebab dari perubahan sosial. yaitu emosi yang tinggi. indi vidu bisa dikatakan remaja sejak mulainya individu menunjukkan tanda-tanda peber tas dan kemudian dicapainya kematangan seksual. termasuk mempe ngaruhi pola-pola seks yang konvensional menjadi keluar dari jalur-jalur konvens ional kebudayaan. ilmu pengetahuan. seperti : urbanisasi. dan bersifat ambivalen te rhadap setiap perubahan (Hurlock. dan terjadilah apa yang dinamakan seks bebas. tetapi juga bisa menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan. 1999: 207).

Thurstone (dikutip Wal gito. serta konatifnya. dan sikap ini harus sudah terdiri dari tiga k omponen sikap. baik yang ber sifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek-obyek psikologis. Keseluruhan disimpulkan ba hwa sikap remaja terhadap seks bebas adalah sikap menolak atau menerima perilaku seks bebas pada remaja. Hubungan Antara Penalaran Moral Dengan Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Penalaran moral menurut Köhlberg didasarkan pada pend ekatan kognitif. Afek yang positif yaitu afek senang yang ditunjukan dengan sikap menerima atau setuju. 3. sedangkan afek negati f ditunjukan dengan sikap menolak atau tidak senang. remaja dalam mengambil keputusan harus mempertimbangkan baik-buruk suatu tindakan yang akan dikerjakannya. maupun manusia. Pendekatan kognitif yang dipakai oleh Köhlberg akan selalu memper tanyakan bagaimana seseorang mengerti akan tanggung jawabnya terhadap lingkungan sosialnya dan bagaimana cara memandang tindakan yang seharusnya diambil bila me nghadapi masalah dalam situasi tertentu yang berhubungan dengan .63 inilah. ya itu simbol. ide. yaitu kognitif. institusi. Perilaku seks bebas adalah perilaku hubungan seksual tanpa ikatan pernika han yang di lakukan secara bebas dengan banyak orang. Salah satu perilaku remaja yang berhubungan dengan masalah seksual yang banyak terjadi yaitu perilaku seks bebas. afektif. 1991: 107) berpendapat bahwa sikap merupakan tingkatan afek. slogan.

Hakekat moralitas tidak seluruhnya berpangkal pada orang l ain yang menentukan suatu tindakan seseorang. seperti yang dikatakan Köhlberg bahwa sebuah tahap perkem bangan penalaran moral berisikan keyakinan-keyakinan (belief) yang dengan cara t ertentu saling berhubungan satu sama lain.1. Jika penalaran moral (keyakinan)-nya berbeda dengan tindakan moralnya. penun daan kebahagiaan Tindakan Moral Kognisi : Penalaran Moral Pilihan Bagan 2. Jika sikap seseorang te rhadap seks bebas negatif berarti individu tersebut sudah melakukan salah satu t indakan moral yang ada di masyarakat Indonesia. Dari penelitian ini diharapkan p erkembangan penalaran moral seseorang itu mempunyai pengaruh kepada sikapnya ter hadap seks bebas.64 lingkungan sosialnya. individu akan mengalami . Fungsi I Interpretasi dan seleksi prinsip II Pengambilan keputusan III Tindak lanjut (pertimbangan moral) Pertimbangan Pertanggungja waban/ rasa wajib IV Tindak lanjut (ketrampilan yang non-moral) Kontrol diri Misalnya : atensi. Sikap yang negatif terhadap seks bebas akan menunjukkan tanggu ng jawab individu terhadap konsekuensi yang mungkin didapatkan dari masyarakat d isekitarnya. Adapun alasan mengapa penelitian menggunakan variabel sikap adalah karena sikap merupakan suatu prediktor akan terjadinya sua tu perilaku. Selain itu. Sikap seseorang terhadap seks bebas ditentukan oleh bagaimana penil aian individu terhadap seks bebas. Model hubungan antara penalaran moral dengan tindakan moral Seks beba s merupakan suatu tindakan moral yang ada di masyarakat.

Sikap terhadap seks bebas tergantung pada hubungan individu dengan orang lain atau penilaian lingkungan terhadapnya. Tahap 3 Ciri : orientasi “anak manis”. Atau bersikap sesuai dengan harapan sosialnya. persaman derajat dan martabat Sikap Sikap menerima atau menolak perilaku seks bebas dipengaruhi oleh pertimbangan ya ng bernilai bagi dirinya sendiri. berusaha mempertahankan harapan-harapan dan memperole h persetujuan dari kelompoknya yang langsung. Gagasan mengenai timbal-balik mulai berkembang asal saling me nguntungkan (bertukar kebaikan). hukum dan kewajiban untuk mempertahankan tata te rtib yang tetap (baik bersifat sosial ataupun religius) yang dianggap sebagai su atu nilai utama. Tingkat I Pra-Konvensional Tahap 2 Ciri : orientasi hedonistis dengan suatu pandangan instrumental tentang hubungan -hubungan manusia. Hidup dinilai dalam hubungan hukum sosial atau religiusitas.65 disequilibrium. Hubungan antara perkembangan moral Kölhberg dan sikap terhadap seks beb as . Sikap Belum tahu Tahap 1 Ciri : orientasi pada hukuman dan ganjaran serta pada kekuasaan fisik dan materi al. terlepas dari semua pertimbangan lain. Sikap Sikapnya menerima atau menolak perilaku seks bebas tergantung pada nilai hidup y ang dimiliki. Individu akan berusaha untuk menjadikannya equilibrium. Tingkat III PascaKonvensional Tahap 6 Ciri : orientasi prinsip suara hati yang individual dan yang memiliki sifat komp rehensif logis dan universalitas. Hal ini karena untuk menghindari penghukuman diri Tahap 5 Ciri : orientasi kontrak-sosial dengan penekanan atas persamaan derajat dan kewa jiban timbal balik di dalam suatu tatanan yang ditetapkan secara demokratis. Nilai tertinggi diberikan pada hidup manusia. Tingkat II Konvensional Tahap 4 Ciri : orientasi pada otoritas. moralitas ditentukan oleh kekuatan individu dalam hubungan. Jika ini berhasil maka perkembangan moralnya akan setaraf lebih maju.2. Sikap Belum tahu Bagan 2. Sikap Sikap seseorang terhadap seks bebas lebih didasarkan pada hak-hak bersama dan uk uranukuran yang telah diuji sendiri secara kritis dan disepakati oleh seluruh ma syarakat. Sikap Kebutuhan atau dorongan seksual sudah ada. keputusan suara hati dan pada prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri.

.

Individu yang memiliki tahap perkembangan yan g lebih tinggi akan mempunyai sikap yang negetif terhadap seks bebas jika diband ingkan dengan individu yang memiliki tahap perkembangan yang lebih rendah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sikap terhadap seks bebas dapat diprediksi dari tahap perkembangan moralnya. Belief terhadap Tahap 6 seks bebas (orientasi hukuman asas etis) : Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 6 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 5 (orientasi kontrak sosial) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 5 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 4 (orientasi otoritas) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 4 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 3 (orientasi anak manis) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 3 (equilibrium) Disequilibrium Berusaha Tahap 2 (orientasi ganjaran) : Belief terhadap seks bebas Tahapan moral meningkat Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai tahapan moral 2 (equilibrium) Disequilibrium .66 Jadi dapat dilihat dari bagaimana hubungan antara perkembangan moral dan sikap.

Perkembangan moral Köhlberg .3.Berusaha Tahap 1 (orientasi hukuman) : Belief terhadap seks bebas Tingkah laku terhadap seks bebas sesuai dengan tahap moral 1 Manusia berusaha menjadi equilibrium Tingkah laku masih dibawah tahap I (manusia merasa disequilibrium Bagan 2.

norma subjektif dan keyakinan normatif akan mempengaruhi niat se seorang untuk melakukan seks bebas. Hubungan antara keyakinan. Model hubungan antara keyakinan. intensi. Jika individu memiliki keyakina n yang negatif maka individu tersebut akan mempunyai sikap yang negatif dan bila mempunyai keyakinan yang positif mengenai seks bebas maka sikapnya juga akan po sitif. sikap. Selain keyakinan akan konseku ensi dan sikap. baik itu yang positif maupun yang nega tif akan mempengaruhi sikap terhadap seks bebas. Sikap individu akan mempeng aruhi niatnya untuk melakukan perilaku seks bebas. yaitu akan menyetujui dilakukanya seks bebas.67 Perilaku seks bebas dapat diprediksi dari sikap. Keyakinan terhadap objek X Sikap terhadap Objek X Niat untuk melakukan sesuatu y ang berhubungan dengan Objek X Perilaku yang berhubungan dengan Objek X : Pengaruh : Umpan balik Bagan 2. sikap. Perilaku ini nantinya akan menjadi umpan balik pada keyaki nannya akan seks bebas. norm a. dan perilaku dapat digambarkan sebagai berikut. dan perilaku Jika disesuaikan dengan topik penelitian ini maka gambar dapat dijelaskan sebaga i berikut. inte nsi. Norma dalam penelitian ini adalah perkembang an moral dan niat individual-lah yang akan menentukan apakah ia akan melakukan s eks bebas atau tidak. Keyakinan terhadap seks bebas. .4.

Jadi. dapat disimpulkan bahwa perilaku seks bebas dapat diprediksi dari sikap te rhadap seks bebas dan perkembangan moral seseorang berpengaruh pada sikapnya.68 Keyakinan akan konsekuensi dari perilaku seks bebas Sikap terhadap perilaku seks bebas Intensi untuk melakukan seks bebas Perilaku Keyakinan normatif tentang perilaku seks bebas Norma subjektif tentang perilaku seks bebas Bagan 2. Semakin tinggi penalaran moral seorang re maja maka remaja tersebut akan bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan norma dan moralitas yang berlaku. yaitu semakin negatif sikap remaja terhadap perila ku seks bebas semakin tinggi tingkat penalaran moralnya.5 Kerangka konseptual dalam memprediksi sikap remaja terhadap perilaku s eks bebas. . Hipotesis Penelitian Ada hubungan negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di tinjau dari tingkat penalaran moral. B. da lam hal ini sikap terhadap seks bebas. Keseluruhan pengertian dari hubungan anta ra penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah bahwa tinggi rendahnya penalaran moral akan mempengaruhi remaja dalam mengambil sikap dalam menghadapi perilaku seks bebas.

bahwa metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti d alam mengumpulkan data penelitiannya. Arikunto (2002: 151 ) menyatakan. Pengertian tersebut dapat peneliti simpulk an bahwa metode penelitian adalah suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian guna memperoleh pengetahuan atau memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi. Penelitian korelasional karena dalam penelitian yang dilakukan berusaha mempelajari hubungan antara dua variabel. sesuai dengan objek dan tujuan penelitian. A.69 BAB III METODE PENELITIAN Suatu penelitian akan memperoleh hasil yang benar dan sesuai dengan yang diharap kan jika menerapkan metode penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarann ya secara ilmiah. yang selanjutnya akan dideskripsikan dengan 69 . Dalam ha l ini hubungan antara tingkat penalaran moral dan sikap remaja terhadap seks beb as. Data-data numerikal atau angka yang telah didapatkan kemudian diolah dengan metode statistik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adala h kuantitatif korelasional. Jenis Penelitian Berhasil tidaknya suatu penelitian dalam menguji kebenaran s uatu hipotesis tergantung pada ketepatan dalam menentukan metode yang digunakan dalam penelitiannya. sehingga dapat men ghasilkan sekaligus menguji hipotesis mengenai hubungan antar variabel.

Disebab kan karena keterbatasan dan sulitnya birokrasi di lapangan penelitian. dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan c. hasil angka yang diolah dengan B. . Semaki n banyak karakteristik siswa yang diisyaratkan sebagai populasi. Populasi Populasi didefinisikan sebagai kel ompok siswa yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar. Popula si adalah keseluruhan siswa yang dikenai penelitian (Arikunto. 1997: 77). Sedang berpacaran. Sebagai suatu populasi. Populasi dan Sampel Penelitian 1. seda ngkan menurut Hadi (2000: 220) populasi merupakan sejumlah kelompok siswa yang s etidaknya memiliki satu ciri atau sifat khas yang sama. maka semakin sp esifik karakteristik populasinya dan semakin homogen pulalah populasinya. 2002 : 108). Siswa k elas II (dua) SMA Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 b. Ciri-ciri atau karakteri stik siswa yang diambil sebagai populasi dalam penelitian ini. kelompok siswa dalam penelitian harus memiliki ciri ata u karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok siswa yang lain.70 menguraikan kesimpulan berdasarkan menggunakan metode statistik tadi. Berusia 16-17 t ahun. hanya dip eroleh populasi sejumlah 96 siswa yang memenuhi kriteria sebagai populasi peneli tian. yaitu: a.

71 Tabel 3. Dapat disimpulkan bahwa. sedangkan menurut Hadi (2000: 220) sampel adalah sebagian siswa dari populasi yang karakteristiknya hendak di selidiki.1 Jumlah siswa kelas II SMA kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006 berusia 16-17 tahun yang sedang berpacaran Kelas 2 IPA 1 2 IPA 2 2 IPA 3 2 IPA 4 2 IPS 1 2 IPS 2 2 IPS 3 2 1PS 4 2 BHS 1 2 BHS 2 Jumlah 96 Total Jumlah 9 15 8 1 1 9 10 8 9 10 7 2. Sampel Sampel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebagian siswa atau w akil populasi yang diteliti (Arikunto. Kesimpulan penelitian mengenai sampel nantinya akan digen eralisasikan terhadap populasi. 2002: 115). . sampel berarti sekelompok siswa yang bersifat sama dengan populasi.

Ini sesuai dengan besar populasi yang ada. dan tingkat paskakon vensional. 2002: 97). Namun. sebagai variabel bebas. Dalam penelitian ini karen a populasinya kurang dari 100 (seratus). dan biasa disebut penelitian populasi. yang masing-masing disebut variabel X da n variabel Y. 2002: 112). Variabel X Penalaran moral remaja di SMA Kesatrian 1 Semarang t ahun ajaran 2005/2006. yaitu tingkat pra-konvensional. Ada tiga tingkatan perkembangan m oral. tingkat konvensional. Variabel Penelitian 1. a. sebagai variabel terikat. Variabel Y Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di SMA Kesatr ian 1 Semarang tahun ajaran 2005/2006. maka tidak menggunakan sampel. . C. Identifikasi Variabel Variabel penelitian adalah objek penelitian yang bervariasi (Arikunto.72 Besarnya sampel yang diambil dalam suatu penelitian apabila populasinya kurang d ari 100 (seratus) diharapkan bisa mengambil semua anggota populasi sebagai sampe l penelitian. Penelitian ini memfokuskan dua variabel yang terdiri dari variabel penalaran moral remaja dengan variabel sika p remaja terhadap perilaku seks bebas . b. yaitu populasi hanya berjumlah 96 siswa . jika jumlah populasinya besar dapat diambil sampel antara 1 0%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto.

73 2. yang disertai pula dengan rasa penuh tanggung jawab. alat ini sudah baku untuk mengukur perkembangan penalaran moral. Tahap penalaran moral dalam penelitian ini mengacu pada ta hapan penalaran moral yang dikemukakan oleh Köhlberg. b. orientasi prinsip etis yang universal. Definisi Operasional Variabel a. orientasi kesepakatan antar pribadi. Tahapan-tahapan tersebut mel iputi orientasi relativitas instrumental. o rientasi hukum dan kepatuhan. orientasi hukum dan ketertiban. Semakin rendah skor yang didapatkan . Pengungkapan pena laran yang universal menggunakan Defining Issue Test (DIT). orientasi kelompok sosial yang legalitas. Sikap remaja terhadap perilaku sek s bebas Sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah kecenderungan pada para remaja untuk menyetujui atau menolak adanya perilaku seks bebas. Skor yang didapat dari penjuml ahan skor kasar dipergunakan sebagai indeks dari perkembangan penalaran moral da lam penelitian yang bersifat korelasional. Skor tergantung pada suatu tahap dalam pro filnya yang menunjukkan tahapan penalaran subyek. Sikap terhadap perilaku seks bebas ditunjukkan oleh skor yang diperoleh pada skala sikap terha dap perilaku seks bebas. Penalaran moral Penalaran moral adalah kemam puan yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan penilaian atau pertimba ngan terhadap nilai-nilai perbuatan atau perilaku yang baik dan buruk. Data yang diperoleh dari pengukuran tahapan penalaran moral berupa skor. yang timb ul dari hati nurani dan bukan paksaan dari luar.

Defining Issues Test (DIT) terdiri dari 9 (sembilan) buah cerita masalah sosial. 1. yaitu dengan 3 bua h cerita saja (Pratidarmanastiti. ini untuk mengurangi kejenuhan yang dapat mempengaruhi kesungguhan siswa dalam . dan seba liknya semakin tinggi skor yang didapatkan oleh subyek maka semakin positif sika pnya terhadap perilaku seks bebas. yang biasa disebut dengan nama Defining Issues Test (DIT). 1991: 56). DIT ini dapat pula digunakan dalam bentuk ringkas. yaitu tingkat penalaran moral dengan meng gunakan Defining Issue Test (DIT) yang berupa angket tipe isian dan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan menggunakan skala psikologi. Skala sikap terhadap seks bebas disusun berda sarkan komponen sikap sebagai berikut : a) Komponen kognisi b) Komponen afeksi c ) Komponen konasi D. Metode dan Alat Pengumpulan Data Dalam penelitian ini ada dua variabel data y ang membutuhkan alat untuk pengukuran. Penalaran M oral Remaja Untuk mengukur penalaran moral remaja digunakan angket tipe isian da ri Kohlberg.74 oleh subyek maka semakin negatif sikapnya terhadap perilaku seks bebas. yang da lam masing-masing cerita terdapat 17 (tujuh belas) pernyataan yang harus diisi o leh siswa.

Perhatian Köhlberg mengutamakan pada pertimbangan penalaran moral siswa yang dikenai penelitian mengenai apa yang dilakukan. sehingga tidak ada pembatasan waktu untuk . 1991: 62). Perti mbangan-pertimbangan inilah yang menjadi indikator dari tingkat atau tahap perke mbangan moral siswa (Pratidarmanastiti. dalam penelitian ini peneliti menggunakan semua cerita untuk mengungkap perkembangan penalaran da n prinsip moral siswa. Dia membuat dilema-dilema terse but dengan tujuan untuk menemukan pertimbangan-pertimbangan siswa mengenai tinda kan apa yang akan dilakukan siswa apabila siswa berada dalam situasi seperti yan g dalam cerita atau pernyataan. 1991: 56). maka peneliti mengganti nama alat tes DIT dengan “Angket Pengungkap Pendapat Tent ang Masalah-Masalah Sosial”. Jawaban yang diberikan siswa yang dikenai penelitian diharapkan menunjukkan secara jelas adanya perbedaan dal am pandangan moral. Administrasi DIT dapat diberikan paling rendah pada usia 12-14 tah un. tanpa mengubah substansinya. Pada dasarnya DIT berpijak pada dilema-dilema moral tahap perkembangan moral yang dicetuskan oleh Köhlberg. Di mana siswa adalah anak-anak sekolah lanju tan yang berusia antara 16-17 tahun. Dalam hal ini tahap 1 tidak diungkap karena penelitian tidak menggunakan siswa anak-anak kecil. Namun. karena alat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca (Pratidarmanastiti . di mana secara teoritis sudah tidak berada pada tahap 1. Angket Pengungkap Pendap at Tentang Masalah-Masalah Sosial bukan merupakan tes kecepatan. Agar dapat memenuhi tujuan sebagai alat untuk mengetahui moralitas.75 menjawab apabila disajikan lengkap 9 (sembilan) cerita.

Pertama. Prosedur sk oring menurut Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah-Masalah Sosial dalam be ntuk panjang (9 cerita) adalah sebagai berikut : Cara penilaian Angket Pengungka p Pendapat Tentang Masalah-Masalah Sosial bentuk panjang adalah setiap pertanyaa n dalam angket dilema moral diperlakukan sebagai 1 butir aitem. umumnya siswa menyelesaikanny a dalam waktu 60 menit dan dapat disajikan secara klasikal (Pratidarmanastiti. siswa membaca 1 (satu) cerita yan g diikuti dengan menentukan suatu keputusan (meskipun keputusan tidak diutamakan ). Namun. Tiap butir akan diberi nilai antara 1-6 berdasarkan 6 tahapan perkembangan moral menurut Köhlberg (1995: 81). Adapun teknik mengerjakan Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah-M asalah Sosial adalah sebagai berikut. 1 991: 62). Kemudian diberikan 17 (tujuh belas) pernyataan atau angket yang sudah dipergu nakan oleh Pratidarmanastiti dan diambil dari Köhlberg. Akibat-akibat fisik dan tindakan menentu kan baik atau buruk tindakan ini. . Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masal ah-Masalah Sosial dengan 9 (sembilan) buah cerita.76 menjawabnya. selanjutnya siswa diminta memberikan pertimbangan pada lembar yang disediakan. yaitu sebagai berikut : Nilai 1: apabila jawaban siswa mengandung un sur kepatuhan atau menghindari hukuman. dalam penyajiannya. Berdasarkan 6 (enam) pering kat pada masing-masing kasus tersebut selanjutnya dilakukan skoring.

etis. sesuai prinsip-prinsip etika yang dipilih sendiri. hormat pada otoritas . rasa terimakasih. atau rasa adil Nilai 3: apabila jawaban siswa mengandu ng unsur-unsur agar diterima lingkungan dengan bersikap “baik” atau “manis” Nilai 4 :apa bila jawaban siswa mengandung unsur melaksanakan kewajiban. dan universal mengenai keadilan. atau memelihara ketertiban sosial yang ada demi ketertiban itu sendiri Nilai 5 : apabila jawaban siswa mengandung unsur kesadaran yang jelas bahwa nilai-nilai dan pendapat pribadi itu relatif. berpedoman pada universalitas dan logis. bukan masalah kes etiaan. Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Skala psikologi merupakan ala t ukur aspek atau atribut afektif. Tindakan benar cenderung dimengerti dari segi hak-hak manusia yang umum dan disetujui masyarakat Nilai 6 : apabila jawaban sis wa mengandung unsur atau prinsip abstrak. Tindakan benar diartikan sesuai dengan suara hati. dan penghormatan kepada martabat manusia sebagai pr ibadi. Siswa yang akan dikenai penelitian tidak mengetahui arah jawaban yang dikehendaki oleh pertanyaan yang diajukan meskipun siswa yang diukur . kesamaan hak asasi manusia. maka perlu adanya peraturan untuk mencapai ko nsensus atau persetujuan bersama.77 Nilai 2 : apabila jawaban siswa mengandung unsur timbal balik. yaitu : a. Karakteristik skala sebagai alat ukur psikolo gis. 2.

Hasil ukur skala psikologi harus teruji reliabilitasnya secara psikometris. Membuat kawasan ukur dengan berda sarkan pada konstrak yang didefinisikan oleh teori-teori yang berkaitan dengan p enelitian c. Validitas dari skala psikologi ditentukan oleh kejel asan konsep yang hendak diukur dan operasionalisasinya (Azwar. c. Unt uk meminimalkan kelemahan-kelemahan skala psikologi seperti yang disebutkan di a tas. maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. b. Berisi banyak aitem karena atribut psikologisn ya diungkap secara tidak langsung lewat indikator–indikator perilaku sedangkan ind ikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem. Merumuskan indikator-indikator perilaku . Mengidentifikasi kawasan ukur dengan memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari ko nstrak atribut psikologi yang hendak diukur b. sehingga jawaban merupakan proyeksi dari perasaan atau kepribadiannya.7).78 memahami pertanyaan atau pernyataannya. Semua jawaban dapat diterim a sepanjang diberikan secara jujur dan sungguhsungguh (Azwar. Sedangka n kelemahan dari skala psikologi antara lain adalah a. Satu skala psikologi hany a bisa untuk mengukur satu atribut tunggal (unidimensional) b. 2003: 4). 2003: 5 . Ini karena relevansi konteks kalimat yang biasa digunakan sebagai stimulus dalam skala psikologi lebi h terbuka terhadap error c.

79 d. Untuk skala sik ap remaja terhadap seks bebas. j. Dalam penelitian ini untuk menentukan skor menggunakan penska laan model Likert. 19 97: 98). . yaitu item yang berben tuk pernyataan positif atau favorable dan item yang berbentuk pernyataan negatif atau unfavorable. Skala ini terdiri dari dua kelompok item. Melakukan uji coba aitem atau skala psikologi kepada responden penelitian h. aspek psikis. Melakukan seleksi aitem M elakukan pengujian reliabilitas k. Melakukan analisis aitem yang telah diujicobakan i. skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek sikap r emaja terhadap perilaku seks bebas. tanpa mempersulit responden untuk memb aca dan menjawab serta melengkapi dengan petunjuk pengerjaan skala psikologi Ska la psikologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap remaja terh adap seks bebas untuk mengukur sikap remaja terhadap seks bebas. Membuat blue print yang akan digunakan untuk menyusun aitem f. da n aspek sosial. Menampilkan format skala yang menarik. Melakukan review atau melakukan periksaan ulang aitem yang telah dituli s g. Menentukan format stimulus yang akan digunakan dan berkaitan dengan penskalaa n serta penentuan skor e. di mana model Likert ini merupakan penskalaan pernyataan yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar. yaitu aspek fisik/ biologi.

maka peneliti terlebih dahulu membuat blue print yang isinya mem uat tentang indikator dari sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang dapat memberikan gambaran mengenai isi dan dimensi kawasan ukur yang akan dijadikan ac uan dalam aitem penelitian. KR ITERIA Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Pernyataan Favorabe l 4 3 2 1 Pernyataan Unfavorabel 1 2 3 4 Guna menyusun dan mengembangkan instrumen pada skala sikap remaja terhadap peril aku seks bebas. TS = 2. yaitu sangat setuju (SS). tidak setuju (TS) dan s angat tidak setuju (STS). tiap butirnya disediakan empat ke mungkinan jawaban. Kriteria dan nilai alternatif jawaban untuk skala sikap remaja terhadap pe rilaku seks bebas terdapat pada tabel 3 . STS = 4. . sedangkan penilaian untuk butir unfavorable adalah SS = 1. Tabel 3. 4. S = 3. 2. 3. Subyek diminta untuk memilih salah satu dari empat kem ungkinan jawaban. Penilaian untuk favorable adalah SS = 4. yaitu s ikap remaja terhadap perilaku seks bebas. Blue print tersebut dibuat untuk variabel Y.2 Kriteria Dan Nilai Alternati f Jawaban Pada Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas No 1. S = 2. sutuju (S).80 Skala dalam penelitian ini berbentuk tertutup. STS = 1. TS = 3.

Butir Unfavorable Aspek Biolo gis Indikator 1.48. 5. Butir Favorable kogniti afektif konatif f 4. 29 44 30. Pengaruh l ingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 14.43 45 32. 17. 9 10 6. 19 20 21. 28.49 .35. 36 46 13 10 47.60 . Sikap dan perilaku menghormat i orang lain 7.33.7 Jumlah 10 Psiko logis 11. Citra diri (penilaian terhadap diri 5. Pand angan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat Kognitif 1 Afektif 2 konatif 3 No. 22 23 13 24 25 26 27. Minat remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. 15 16. 34. 12 13.58 59. Keadaan dorongan seksual terh adap tingkah laku seksual 2. Dorongan untuk berdiri sendiri 9.3 Blue Print Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas No.50 51. 18.5 3 54. 56 57. 31 37. 8.41 42.55.52. Pelaks anaan minat seksual 4.38. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6.81 Tabel 3.39 40.

85.84.76 77.88 89 90 91 92 93 7 94 95.61.81 82 83.96 97 98.64.65 66.67 68. 70 71 72 73 11 Sosial 74 75.62 16 63.78.86 13 87.69.99 100 101 . 79 80.

8 Jumlah 18 17 19 17 13 17 101 .

2001: 6). yaitu apabila t erdapat kesesuaian antara bagian–bagian instrumen dengan instrumen secara keseluru han. Oleh karena itu alat ukur ya ng digunakan harus memiliki validitas dan reliabilitas sebagai alat ukur.82 E. Teknik korelasi yang digunakan . 2. Validitas dan Reliabilitas Skala Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstrak. Cara yang akan digunakan untuk mengetahui indeks validitas dalam penel itian ini adalah dengan cara mengkorelasikan antara skor yang diperoleh dari has il penjumlahan dengan semua skor item. Val iditas dan Reliabilitas Angket Pengungkap Pendapat Tentang MasalahMasalah Sosial Untuk mengukur validitas Angket Pengungkap Pendapat Tentang MasalahMasalah Sosi al dari Köhlberg. Angket Pengungkap P endapat Tentang Masalah-Masalah Sosial telah digunakan oleh Pratidarmanastiti (1 991: 64) pada siswa SMA se-Yogyakarta dan didapatkan rtt = 0. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Setiap penelitian diharapkan dapat mempe roleh hasil yang benar-benar obyektif. 1. Suatu alat ukur dapat d ikatakan valid apabila alat ukur tersebut mempunyai ketepatan atau kecermatan da lam melakukan fungsi ukurnya dan memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar. 2001: 184). yaitu penelitian tersebut dapat menggamba rkan keadaan yang sebenarnya dari masalah yang diteliti. memakai internal validity (Arikunto.830. Yang berarti mengkorelasikan nilai aitem dengan nilai totalnya. yang berarti t es ini andal. Untuk mengu ji reliabilitasnya dengan Alpha Cronbach (Azwar. 2002: 147).

ΣY 2 ) − (ΣY ) 2 } (Arikunto. digunakan teknik Alpha Cronbach (Azwar. 2002: 162) Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar.83 adalah teknik korelasi product moment dari Pearson. Un tuk menguji tingkat reliabilitas skala. Hasil dari pengukuran hanya bisa dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang r elatif sama. 2001: 184). selama aspek yang diukur dalan diri subjek memang belum berubah. dengan rumus sebagai berikut : Κ α = Κ − 1 Σ j 2 1 − x 2   £ £ £ £ £ eter ng n : = oefisien reli bilit s Alph j = V ri ns skor tot l = Bil ng n konst n j2 x2 1 = V ri ns skor bel h n ke   Keterangan : rxy XY X Y Y2 N = Koefisien korelasi antara skor item dengan skor t otal = Jumlah perkalian antara skor item dengan skor total = Jumlah skor masing masing butir = Jumlah skor total = Jumlah skor masing masing butir kuadrat = Jum lah subyek   ¡ ¡ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ ¢ £ £ £ £ ¢ .(ΣX )(ΣY ) { N . 2 001: 4).ΣX 2 ) − (ΣX )2 }{( N . dengan rumus sebagai berikut : rxy= N (ΣXY ).

Metode An lisis D t An lisis d t d l h c r y ng digun k n d l m mengol h d t y ng diperoleh. deng n rumus: £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ . 3. sehingg unsur unsur s ubyektif d p t dihind ri. d l m rti semu peneliti n menggun k n ini. ngk ngk tersebut men unjuk n nil i t u h rg .84 Uji v lidit s d n reli bilit s ngket pengungk p pend p t tent ng m s l hm s l h sosi l d n sk l sik p rem j terh d p peril ku seks beb s p d peneliti n ini dil kuk n p d sisw kel s II (du ) t hun j r n 2005/2006 di MA es tri n 1 e m r ng b ik berjenis kel min perempu n m upun pri y ng p d s t peneliti n ber usi 16 17 t hun d n sed ng menj lin su tu hubung n p c r n. t tistik bersif t objektif. D l m peneliti n ini d t y ng k n dip eroleh k n di n lisis untuk menguji hipotetis d tid kny korel si nt r pen l r n mor l deng n sik p rem j terh d p pol peril ku seks beb s. y itu deng n menggun k n rumus korel si Pe rson. 2000: 22). deng n rti l in st tistik seb g i l t penil i n tid k d p t berbic r l in kecu li p d ny . elebih n metode st tistik untuk n lisis d t d l h : 1. 2. t tistik bersif t univers l. H l ini dil kuk n deng n mempertimb ng k n f ktor kes l h n (H di. t tistik bekerj deng n ngk ngk . Metode n lisis d t y ng digun k n d l h n lisis st tistik. sejuml h 25 sisw s eb g i subjek uji cob . sehingg did p tk n su tu kesimpul n. F.

ebal iknya. Membuat tabel kerja kor elasi 2. 2000: 294) (ΣΥ )2 ΣΧ ΣΥ − Ν Ν Keterangan: RXY X Y = Koefisien korelasi antara X dan Y = kor X = kor Y Langkah langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. maka selanjutnya menguji taraf signifika nsi. Harga rhitung yang diperoleh melalui rumus product moment dikonsultasikan d engan harga rtabel agar hasil koefisien korelasi (harga rhitung) dapat memberi j awaban secara objektif terhadap diterima atau tidaknya hipotesis yang diajukan d alam penelitian ini. Memasukkan data dari tabel ke dalam rumus korelasi product moment untuk menentukan koefisien korelasi 3. Apabila rhitung yang diperoleh dari perhitungan product mom ent sama atau lebih besar dari harga rtabel maka hipotesis kerja diterima. jika rhitung yang diperoleh dari perhitungan product moment lebih kecil d ari rtabel maka hipotesis kerja ditolak. ¡ ¡ ¡ ¡   . Taraf signifikansi yang peneliti gunaka n adalah 5% yang berarti peneliti mempunyai taraf kepercayaan 95%.85 rΧΥ = ΣΧΥ − (ΣΧ)(ΣΥ ) 2 (ΣΧ)2 (Hadi. Menentukan signifikansi etelah diketahui kore lasi product moment dengan angka kasar.

¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¡ ¥ ¡ ¡ ¡ ¤   . kala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ini terdiri dari 101 i tem yang terdiri dari 47 item favorable dan 54 item unfavorable. 1 for window’ 00. yaitu : a. kala sikap remaja terhadap perilaku seks beb as kala ini mengungkap tentang sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. ji oba Instrumen 1. Pene litian yang dilakukan ini menggunakan skala psikologis dan angket untuk pengambi lan data penelitiannya. G.86 Perhitungan analisis data dalam penelitian ini dihitung dengan bantuan komputer. etelah diketahui validitas dan reliabilitas instrumen tersebut maka item ka la ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas dan Angket Pengungkap Pendapat Tent ang Masalah masalah osial yang sahih dapat digunakan untuk mengambil data. yaitu dengan menggunakan tatistical Program for ocial cience ( P ) fersi 10 . ikap remaja terhadap perilaku seks bebas diukur dengan menggunakan skala psikologi y ang disusun berdasarkan aspek aspek terjadinya sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas. Pelaksanaan ji oba Instrumen ebelum instrumen peneli tian digunakan peneliti memandang perlu mengadakan uji coba instrumen agar benar benar diketahui kesahihan alat ukur. dalam hal ini kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas dan Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osia l.

87 kala sikap ini merupakan skala tertutup, di mana untuk aitem favorable penilaia nnya bergerak dari angka 4 yang berarti angat etuju ( ), 3 berarti etuju ( ) , 2 berarti Tidak etuju (T ), dan 1 untuk angat Tidak etuju ( T ). ntuk aite m unfavorable berlaku sebaliknya, yaitu angka 1 yang berarti angat etuju ( ), 2 untuk etuju ( ), 3 Tidak etuju (T ), dan 4 yang bearti angat Tidak etuju ( T ). ji coba penelitian ini berlangsung pada tanggal 7 April 2006 pada siswa MA Kesatrian 1 emarang. ji coba dilakukan pada 25 siswa sesuai dengan karakte ristik yaitu siswa MA kelas 2 (dua), sedang melakukan hubungan pacaran, dan tah u akan baik dan buruk suatu perbuatan. b. Angket pengungkap pendapat tentang mas alah masalah sosial ntuk mengukur penalaran moral remaja digunakan angket tipe isian dari Köhlberg, Defining Issue Test (DIT). yang biasa disebut dengan nama Ang ket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial. Angket Pengungkap Pendap at Tentang Masalah Masalah osial terdiri dari 9 (sembilan) buah cerita masalah sosial, yang dalam masing masing cerita terdapat 17 (tujuh belas) pernyataan yan g harus diisi. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial berpija k pada dilema dilema moral tahap perkembangan moral yang dicetuskan oleh Köhlberg. Agar dapat memenuhi tujuan sebagai alat untuk mengetahui moralitas, maka peneli ti mengganti nama alat tes DIT dengan “Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial”, tanpa mengubah substansinya.

 

¡

¡¡

¡

¤ ¡

¡

¡ ¡ ¡

¡

¡

 

¡ ¡¡

¡

¡

¡

¡

 

¡

¡

¡ ¡

¤

 

¤

¡

¡  

¡

¡

 

¡

¡

¤

 

¡ ¡ ¡

¡

88 Prosedur skoring adalah sebagai berikut : 1. etiap pertanyaan dalam angket dile ma moral diperlakukan sebagai 1 butir aitem. 2. Tiap butir aitem akan diberi nil ai antara 1 6 berdasarkan 6 tahapan perkembangan moral menurut Köhlberg (1995: 8 1), ilai 1: apabila jawaban siswa mengandung unsur kepatuhan atau menghindari h ukuman. Akibat akibat fisik dan tindakan menentukan baik atau buruk tindakan ini . ilai 2 : apabila jawaban siswa mengandung unsur timbal balik, bukan masalah k esetiaan, rasa terimakasih, atau rasa adil. ilai 3: apabila jawaban siswa menga ndung unsurunsur agar diterima lingkungan dengan bersikap “baik” atau “manis”. ilai 4 : apabila jawaban siswa mengandung unsur melaksanakan kewajiban, hormat pada otori tas, atau memelihara ketertiban sosial yang ada demi ketertiban itu sendiri. il ai 5 : apabila jawaban siswa mengandung unsur kesadaran yang jelas bahwa nilai n ilai dan pendapat pribadi itu relatif, maka perlu adanya peraturan untuk mencapa i konsensus atau persetujuan bersama. Tindakan benar cenderung dimengerti dari s egi hak hak manusia yang umum dan disetujui masyarakat. ilai 6 : apabila jawaba n siswa mengandung unsur atau prinsip abstrak, etis, dan universal mengenai kead ilan, kesamaan hak asasi manusia, dan penghormatan kepada martabat manusia sebag ai pribadi. Tindakan benar diartikan sesuai dengan suara hati, sesuai prinsip pr insip etika yang dipilih sendiri, berpedoman pada universalitas dan logis.

¦

 

 

¦

¦

¡

¦

 

 

 

¦

¦

89 H. Hasil ji oba Instrumen ntuk alat uji coba alat pengukur data, dari 25 ekse mplar skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dan angket pengungkap pend apat tentang masalahmasalah sosial yang disebar semuanya memenuhi syarat, dalam arti semuanya dijawab dengan lengkap oleh subjek, sehingga semuanya dapat dianal isis. Hasil uji coba alat pengumpul data adalah sebagai berikut : 1. kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas ntuk uji coba skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menunjukkan hasil sebagai berikut : tabel nilai product mome nt dengan taraf signifikansi 5 % dan = 25 diperoleh rtabel = 0,396. Ini berart i apabila harga hitung korelasi lebih besar dari harga rtabel maka aitem dikatak an valid demikian sebaliknya. Pada penelitian ini untuk uji validitasnya digunak an teknik statistik dengan rumus korelasi product moment. ntuk uji signifikansi guna menentukan valid tidaknya skala ini adalah dengan cara membandingkan r hit ung dengan rtabel pada taraf signifikansi 5% dan = 25. Berdasarkan hasil uji c oba instrumen pada variabel sikap remaja terhadap perilaku seks bebas (variabel Y) dari 101 butir item yang ada ditunjukkan dengan tabel di bawah ini.

¡

¡

¤

¦

¤

¦

¤

¡

¥

¤

90 Tabel 3.4 ebaran ji oba Item I ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas o. Butir nfavorable Aspek Indikator Kognitif 1 Afektif 2 konatif 3 o. Butir F avorable kogniti afektif konatif f 4, 5, 8, 9 10 6,7 Jumlah 10

Biologis 1. Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikolo gis 2 . Minat remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. Pelaksanaan minat seksual 4. itr a diri (penilaian terhadap diri 5. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. ik ap dan perilaku menghormat i orang lain 7. Pengaruh lingkungan (orang tua dan te man sebaya) 8. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. Pandangan remaja terhadap kehid upan bersama masyarakat 11, 12 13, 14, 15 16, 17, 18, 19 20 21, 22 23 13 24 25 26 27, 28, 29 44 30, 31 37,38,39 40,41 42,43 45 32,33, 34,35, 36 46 13 10 47,48,49 ,50 51,52,5 3 54,55, 56 57,58 59,60

¡

¥

¦

¡

¡

¥

¤

¤ ¡

¦

61,62 16 63,64,65 66,67 68,69, 70 71 72 73 11

74 75,76 77,78, 79 80,81 82 83,84, 85,86 13 87,88 89 90 91 92 93 7 94 95,96 97 98,99 100 101

¡

osial

8 Jumlah 18 17 19 17 13 *) item yang gugur adalah nomor 24, 26, 30, 40, 45, 70, 71 , 75, 83, 87, 92 17 101

Item yang tidak valid berjumlah 11 butir ya itu nomor 3. 50.857 > 0. ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 42. 79. sedangkan hasil perhitungan pada lampiran 5. Penyebaran butir b utir skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas setelah 2 kali uji coba ter dapat pada lampiran 4. 71. 81.857.626 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 49.396). 81. 69.91 Jumlah 90 item yang dinyatakan valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0.857.396 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 49. 77. omor item yang tidak valid tersebut kemudian dibuang d an tidak digunakan dalam penelitian karena sudah terwakili oleh item yang lain a tau dengan kata lain tidak menghilangkan indikator dalam instrumen. Pada uji co ba ke 2 didapatkan 6 butir yang valid. 42. ini menunjukkan rhitung lebih kecil dari rtabel ( 0. 77. dan 5 butir item yang tidak valid yaitu n omor 13.396). edangkan item yang tidak valid menunjukkan rhitung terendah s ebesar 0.626 > 0. ji coba ke 2 untuk instrumen item item yang tidak valid tersebut dilakukan pada tanggal 28 April 2 006 pada 25 subjek yang sama yang dikenai uji coba skala sebelumnya. 13. Butir butir yang memenuhi syarat kemudian disusun kembali ke urutan butirnya dan selanjutnya dapat digunakan sebagai alat pengumpul data yang sebenarnya.       ¤ ¦ ¦   ¡       . omor item yang tidak valid tersebut kemudian diubah atau diganti karena ada 3 item yang belum mewakili ata u jika dibuang akan menghilangkan indikator dalam instrumen. 41.

Buti r Favorable kogniti afektif konatif f 81. 9 72 12 51 5 3 44. 101.92 Tabel 3. 32. Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 82. 42 22. 99.93 ¡ ¡ ¥ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤ ¡ ¤ ¦ .95.85. 98 49. Dorongan untuk berdiri sendiri 9. itr a diri (penilaian terhadap diri 5. 73 46 48.94 66 6.69 35.91. Pandangan remaja terhada p kehidupan bersama masyarakat Jumlah 53. 84. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. 20.63 Jumlah 10 Biologis 1.79 55 13 9 68. Butir nfavorable Aspek Indikator Kognitif 52 Afektif 16 konatif 40 o.5 ebaran Butir Item kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas et elah 2 Kali ji oba o.33 . Pelaksanaan minat seksual 4. ik ap dan perilaku menghormat i orang lain osial 7.77. 43 41. Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikolo 2.75 27 80 36. 56 4 30.21. Mi nat gis remaja terhadap lawan jenis kelamin 3. 97 61.65 88.70 23.

13 59.38 39 31 86 10 19 7 47 57. 96 83 50 58 11 78 14.64 15 100.17.67.12 90.7 15 1.71. 54.37 11.76.89 8. 2 74 62 .28 11 25.87 29 60 18.

8 17 16 17 16 13 17 96

93 2. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial ntuk uji coba it em Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial, item yang dinyatak an valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0,507 dan rhitung sebesar 0,882. I ni berarti rhitung lebih besar rtabel. Ini berarti dari 17 item angket pengungka p pendapat tentang masalah masalah sosial semuanya valid. Butir butir yang memen uhi syarat kemudian disusun kembali ke urutan butirnya dan selanjutnya dapat dig unakan sebagai alat pengumpul data yang sebenarnya. Hasil perhitungan selengkapn ya dapat dilihat pada lampiran 5 uji validitas dan reliabilitas angket pengungka p pendapat tentang masalah masalah sosial. I. Teknik Analisis Data Guna menguji hipotesis dalam rangka penarikan kesimpulan, m aka dilakukan analisis data. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk memperole h data empiris mengenai korelasi antara sikap remaja terhadap perilaku seks beba s dengan tingkat penalaran remaja studi pada siswa kelas 2 MA Kesatrian 1 emar ang, berusia antara 16 17 tahun, dan sedang berpacaran. ntuk menganalisa data p ada penelitian ini, maka dilakukan uji secara kuantitatif, yaitu dengan metode s tatistik. Metode statistik ini dipilih karena disamping lebih mudah dibaca, meto de statistik juga lebih mudah diinterpretasikan. Di bawah ini merupakan dasar peneliti menggunakan metode stat istik :

¡

 

¤

¡

¡

¤

¡

 

   

 

94 1. tatistik paling praktis, untuk membuat deskripsi deskripsi suatu kejadian ya ng bersifat eksakta atau angka sebagai pengganti uraian uraian pengganti bahasa yang kadang terlalu panjang lebar. 2. tatistik membantu peneliti dalam meringka s hasil hasil penelitian dalam bentuk angka, sehingga mempermudah siapa saja yan g ingin mengetahuinya. 3. tatistik banyak membantu peneliti dalam menarik kesim pulan kesimpulan melalui cara yang dapat dipertanggungjawabkan, dan 4. Dengan la ngkah langkah statistik dapat ditentukan seberapa jauh kepercayaan yang bisa dib erikan dari hasil penarikan kesimpulan hasil penelitian ( udjana, 2002: 1 4). Gu na mengetahui dan menganalisis data tentang diskripsi korelasi sikap remaja terh adap perilaku seks bebas dan tingkat penalaran moral remaja, maka dalam peneliti an ini menggunakan rumus korelasi product moment. Adapun rumus product moment ad alah sebagai berikut: rXY = [ ΣX

(ΣXY ) − (ΣX )(ΣΥ ) 2 2 − (ΣX ) ΣY 2 − (ΣY )

[ ] 2 ] Keterangan : rXY = Koefisiensi korelasi antara sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas dengan penalaran moral remaja XY = Jumlah perkalian antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan penalaran moral remaja X Y = Jumlah skor penalaran moral remaja = Jumlah skor sikap remaja terhadap perilaku seks bebas = Jumlah subjek uji coba

 

¦

¡

 

 

¡

 

¡

¦

 

   

¡

¦

¦

95

¦

¦

¤

ntuk mengetahui signifikansi korelasinya maka r hitung dibandingkan dengan r ta bel product moment. Jika r hitung ≥ r tabel dengan jumlah subjek ( ) tertentu deng an tingkat signifikansi 5 %, maka hipotesis yang telah dirumuskan diterima. Dan sebaliknya jika r hitung ≤ r tabel dengan (jumlah subjek) tertentu dengan tingka t signifikansi 5 % maka hipotesis yang telah dirumuskan ditolak.

96 BAB IV HA IL PE ELITIA DA PEMBAHA A

uatu penelitian diharapkan akan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dite tapkan dalam penelitian, yang dimaksud hasil penelitian disini adalah data dari instrumen tertentu, kemudian dianalisis dengan teknik dan metode tertentu yang t elah ditentukan Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang mencakup : A. Persi apan Penelitian B. Pelaksanaan Penelitian . Prosedur Pengumpulan Data D. Deskri psi Jawaban Responden E. Analisis Hasil Penelitian 1. ji ormalitas Data 2. ji Homogenitas Data 3. Analisis Korelasi 4. Hasil ji Hipotesis F. Pembahasan A. Persiapan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas dua MA Kesatr ian 1 emarang tahun ajaran 2005/2006, berusia 16 17 tahun, dan sedang berpacara n ebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti mempersiapkan perijinan penelitian. Peneliti mempersiapkan surat pengantar penelitian untuk pengambilan data awal dari Jurusan Psikologi niversitas egeri emarang yang disertai denga n proposal penelitian. etelah disetujui oleh kepala sekolah MA 96

¤

¡

¡

¦

¤

¡

 

¤

¦

¥

¦ ¡

¤

¦

¡

¦

¦

¡

¡

¡

¡

peneliti meminta surat penelitian dari Fakultas Ilmu Pendi dikan niversitas egeri emarang yang kemudian diserahkan kepada kepala sekolah MA Kesatrian 1 emarang.00 WIB. terlebih dahulu mereka d iberikan penjelasan dan subjek diajak berdialog mengenai seks bebas oleh penelit i. usia. ebelum peneliti memberika n skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dan angket pengukur pendapat t entang masalah masalah sosial kepada subjek penelitian.97 Kesatrian 1 emarang.30 11. B.1 Rincian De skripsi ubjek Penelitian Aspek Jenis kelamin Keterangan Remaja putra Remaja putri 2 IPA 1 2 IPA 2 2 IPA 3 2 IPA 4 2 IP 1 2 IP 2 2 IP 3 2 IP 4 2 Bahasa 1 2 Bahasa 2 16 17 Jumlah subj ek 44 52 9 15 8 11 9 10 8 9 10 7 58 38 Kelas sia ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¦   ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡ ¤ . dan didampingi o leh dua orang guru Bimbingan Konseling. Hasilnya diperoleh sebagai berikut : Tabel 4. edangkan ruangan yang dipakai untuk pen elitian adalah ruang kelas 2 IPA 1 dan kelas 2 IP 1. peneliti meminta bantuan empat orang rekan. Pelaksanaan Penelitian Pengambilan data penelitian dilakukan pada tanggal 17 Mei 2006 mulai pukul 09. ntuk membantu kelancaran proses pengambil an data penelitian. dan kelas. etelah itu peneliti juga mengelompokkan subjek penelitian meliputi jenis kel amin.

yang mulanya berjum lah 101 aitem. aspek psikologis. dan aspek sosial. di mana berupa sembilan cerita dengan tujuh belas pertanyaan yang setelah satu kali try out kesemuanya valid. ikap Remaja Terhadap Perilaku eks B ebas ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang diungkap pada penelitian ini menggunakan 96 butir pernyataan dengan tiga aspek utama. Deskripsi Jawaban Responden Tujuan penelitian yang dilakukan ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai korelasi sikap remaja terhadap perilaku seks b ebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja.98 menggunakan kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas. ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ . Menentukan tingkat penalaran mor al remaja dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. etelah penelitian dilakukan. yaitu aspek biologis. yang pada penelitia n ini berupa “Angket Pengukur Pendapat Tentang MasalahMasalah osial” yang keduanya telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Prosedur Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan terhadap 96 subjek penelit ian dengan . namun setelah dua kali try out ada 96 aitem yang valid dan Defini ng Issue Test (DIT) untuk mengukur tingkat penalaran moral remaja menurut tingka t perkembangan moral Kohlberg. D. etelah penelitian terlaksana dan pe ngisian skala oleh subjek penelitian selesai. maka yang dilakukan peneliti selan jutnya adalah : 1. Memberi skor pada masing masing jawaban subjek penelitian 2. maka dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Mentabulasikan data berdasarkan jumlah aitem 3.

4% (lampiran 10.99 a. item nomor 20) remaja tersebut menyadari ba hwa mereka belum layak untuk melakukan hubungan seks dengan siapa saja sebelum a da ikatan pernikahan. Mereka juga tahu bahwa melakukan hubungan seks bebas denga n alat kontrasepsi tidak akan menimbulkan kehamilan. Persentase jawaban responden tentang sumbangan aspek biologis terhadap sikap remaja pada perilaku seks bebas dapat digambarkan sebagai berikut :   ¡ . item nomor 59) remaja tidak setuju dengan perbuatan tersebut dan 82. 75% (lampiran 10. item nomor 89) mera sa tertekan bila di dalam hubungan pacaran mereka tersebut terjadi hubungan seks tanpa menikah.5% (lampiran 10. item nomo r 37) remaja menganggapnya merupakan hal yang biasa atau tidak membuat mereka me rasa bersalah.2% (lam piran 10. meskipun begitu 85.3% (lampiran 10. item nomor 6) remaja tidak akan melakukan hubungan secara bebas meskip un mereka tahu dengan menggunakan alat kontrasepsi atau tindakan tindakan lain y ang mencegah kehamilan mereka tidak akan hamil sehingga tidak perlu mempertanggu ngjawabkan perbuatannya tersebut. Aspek biologis ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang didorong oleh a spek biologis dapat dilihat dari jawaban terhadap 10 butir pernyataan yang ditun jukkan dari petikan berikut : Remaja yang secara biologis sudah mulai tertarik d engan lawan jenisnya dan mulai berpacaran. Jika hanya berciuman dengan pacar. 88. akan tetapi 56. Pada data juga disebutkan bahwa mereka pada umumnya sudah tahu ba hwa pada masanya ini mereka mengalami perkembangan organ seksual dan reproduksi.

yang art inya menolak perilaku seks bebas.88% tergolong tidak setuju. Grafik 4.92% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas.88 29.17 22.92% 1.100 Tabel 4.04 T T ¡       ¡   Interval 10 17.1 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Biologis) 50 Frekuensi (%) 46.51 40 ¡ ¡ ¡ ikap Remaja Terhadap Perilaku ¡ ¡ ¡ ¡ .17% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah ter golong sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.88% 46. dan hanya 2.08% dari siswanya yang mempunyai ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 1.50 17. 22. 46.01 32.04% 100. yang artinya secara bio logis sangat menolak perilaku seks bebas.92 40 30 20 10 0 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Biologis) Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek biolog is menjelaskan bahwa 29.2 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase eks Bebas (Aspek Biologis) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah umber : h asil penelitian yang diolah Jumlah subjek 28 45 22 1 96 Persentase 29.50 32.00% Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas aspek biologis.88% 22.5 1 25 25.

item nomor 38) remaja juga tidak setuju jika ikut tidaknya mereka dalam pergaulan seks beba s dijadikan ukuran seseorang dapat dikatakan ketinggalan jaman atau tidak. elanjutnya. sedang berpacaran. item nomor 40) lebih beranggapan bahwa cinta yang tulus da n mendalam kepada pacar tidak perlu dimanifestasikan dengan perbuatan seks bebas . item nomor   ¡ ¡ ¡   ¡   .101 sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima pe rilaku seks bebas. sesuai hasil penelitian. Merek a 90. item nomor 49) remaja setuju bahw a pacaran dan kemudian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya. Remaja sebanyak 90.8% (lampiran 10.4% (lampiran 10. Aspek psikologis Aspek psikologis yang menjadi dasar sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dapat dilihat dari jawaban atas 57 butir pe rnyataan dengan jawaban seperti berikut ini : ecara psikologis 86. 84.6% (lampiran 10. mereka tidak setuju bahwa dengan ikut perg aulan seks bebas dapat menambah kepercayaan diri. b. 84. item nomor 42) siswa kelas 2 (dua) MA Kesatrian 1 emarang yang berusia 16 17 tahun. dan tahu akan baik buruknya seuatu perbuatan.5% (lampiran 10.4% (lampiran 10.4% (lampiran 10. tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.6% (lampiran 10. item nomor 47) akan mengarahkan dorongan seks bebas yang muncul pada bidang lain yang bermanfaat. 85. dan 57 . 85.6% (lampiran 10. Kemudian. item nomor 4) remaja pun tidak setuju bila seks bebas dianggap cara yang paling tepat untuk membuktikan rasa cinta. item nomor 3) remaja akan berolahraga untuk mengalihkan perhatian terhadap seks bebas.

2% (lampiran 10. 62. namun demikian 82.5%(lampiran 10.2% (lampiran 10.4% (lampiran 10. item nomor 46) akan sangat senang sekali jika orang tua mereka tahu dan tidak melarangnya untuk berpacaran.3%(lampiran 10. Kemudian. remaja ini menganggap bahwa orang tua seperti ini adalah seorang orang tua yang bijaks ana. 69.4% (lampiran 10.1%(lampiran 10. item nomor ) remaja juga tidak setuju jika dikatakan bahwa remaja yang melakukan seks bebas pasti berasal dari keluarga yang tidak harmonis. ebanyak 77. item nomor 64) remaja juga tidak setuju apabila remaja yam g ketahuan melakukan seks bebas dikucilkan oleh masyarakat. item nomor 22) remaja menolak atau tidak mau be rhubungan seksual di tempat yang sepi dan tak ada orang yang dikenal ¡ ¡ .102 71) remaja akan mengalihkan dorongan seks yang muncul dengan belajar lebih giat. item nomor 12) remaja beranggapan bahwa remaja yan g melakukan seks bebas mempunyai sifat yang egois.8% (lampiran 10. item nomor 73) remaja tidak setuju jika seorang remaja yang ketahuan melakukan seks bebas di keluarkan dari sekolah hanya untuk menghindari peniruan perbuatan oleh temannya yang lain . item nomor 55) remaja menganggap bahwa remaja yang melakukan seks bebas bel um tentu mempunyai sifat yang tidak mempedulikan perasaan orang lain apalagi per asaan orang tuanya sendiri. ebanyak 59. 80. item nomor 91) remaja juga tidak setuju apabila dikatakan bahwa seseorang yang b erasal dari keluarga yang mempunyai kontrol agama yang baik tidak akan melakukan seks bebas. namun mereka 58. 54.

103 meskipun itu dengan pacarnya sendiri. Kaum remaja sebanyak 79. item nomor 58) remaja akan bertanggungjawab atas akibat pergaulan seks bebas jika memang di a ikut dan melakukan pergaulan seks bebas dan atas akibat ini mereka tidak mempe dulikan pandangan orang lain terhadap dirinya. item nomor 32) remaja masih memegang keyakinan bahwa masih pera wan sampai saatnya menikah adalah suatu hal yang penting bagi mereka. item nomor 87) remaja. meskipun dengan ikut dalam pergaulan s eks bebas ada anggapan sebagian orang yang sudah masuk dalam pergaulan seks beba s bahwa pengalamannya akan bertambah. item nomor 66) tidak akan melakukan h ubungan seks tanpa ikatan perkawinan karena akan mendapatkan ¡ ¡ .6% (lampiran 10. item nomor 30) remaja tidak setuju bila perasaan saling mencintai diartikan sama den gan bersedia melakukan hubungan seksual dengan pacar. ebanyak 91. mereka 87.0% (lampiran 10.2% (lampiran 10. ebanyak 90.2% (lampiran 10. mereka 85. Hal ini mungkin karena 94. namun demikian. sama penti ngnya dengan menjaga keperjakaan bagi 84. item nomor 60) remaja tidak melakukan hubungan sek s secara bebas karena mereka sadar bahwa ini bertentangan dengan ajaran agama ya ng mereka anut.5% (lampiran 10. item nomor 65) remaja akan merasa besedih jika di a sampai ikut dalam pergaulan seks bebas.9% (lampiran 10. 76.4% (lampiran 10. i tem nomor 57) menganggap bahwa orang yang melakukan seks bebas akan mengalami ke sulitan dalam berkeluarga kelak. 54. item nomor 23) merasa akan mempunyai perasaan bersalah seumur hidup jika ikut dalam pergaulan s eks bebas. 8% (lampiran 10.7% (lampiran 10.

88% 4. 87. Menurut 87.26   ¡ ¡   ¦ ¡   ¡ ¡ ¡ 288 Jumlah . kesadaran remaja terhadap nilai dan norma norma yang ada di masyarakat i nilah yang mencegah 57.3 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologis) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah subjek 46 45 4 1 96 Persentase 47. 82.3% (lampiran 10. 78. item nomor 67) remaja untuk tidak berper ilaku seks bebas. Tabel 4. item nomor 64) remaja masa depan m ereka akan suram jika terjadi pernikan dini akibat seks bebas.5% (lampiran 1 0.2% (lampiran 10.50 142. Di samping itu.75 99.92% 46. item nomor 86) remaja juga menganggap bahwa dengan melakukan seks bebas sama saja dengan merusak masa depannya sendiri. item nomor 88) remaja beranggapan bahwa orang orang yang melakukan seks bebas b elum tentu mempunyai moral yang jelek.5% (lampiran 10. item nomor 72) remaja juga akan merasa bersalah jika mereka melakukan hubungan seks tanpa adanya ikatan perkawinan yan g syah.00% umber : hasil penelitian yang diolah Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas aspek psikologis. amun demikian.104 dosa besar karenanya.17% 1.76 – 142.51 – 185. i tem nomor 81) remaja menganggap bahwa kumpul kebo tidak boleh dilakukan karena p erbuatan ini melanggar norma norma yang ada.04% 100.4% (lampiran 10.1% (lampiran 10.   Interval 57 – 99.25 185. 51.

4% (lampiran 10.17% tergolong setuju terhadap perilaku sek s bebas.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku se ks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas.105 Grafik 4.88% tergolong tidak setuju. 46.2 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologi s) 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 47.17 T T ¡ ¡ ¡¡ ¡ . yang artinya secara b iologis sangat menolak perilaku seks bebas. 4. Ini ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ 4. dan hanya 1.04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Psikologis) Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek psikol ogis menjelaskan bahwa 47. 90. pada dasarnya 74% (lampiran 10. Aspe k sosial Menyangkut sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang didorong oleh aspek sosial.92 46.88 1. item nomor 01) remaja sadar bahwa seks bebas adalah salah satu perilaku yang sedang marak disoroti dalam kehidupa n modern. item nomor 07) remaja tidak takut dianggap kurang pergaulan jika tidak melakukan hubungan seks bebas.92% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah t ergolong sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas. c.yang a rtinya menolak perilaku seks bebas. amun.

item nomor 24) mereka juga tidak dapat menerima perilaku seks bebas ya ng dilakukan baik dengan pacar maupun dengan orang lain (teman. istri atau suami orang lain).106 karena mereka 81.8% (lampiran 10. amun d emikian. Remaja.7% (lampiran 10. item nom or 19) remaja juga tidak setuju bahwa seseorang yang telah mempunyai penghasilan tetap dan ekonomi yang matang wajar jika melakukan seks bebas. item nomor 70) remaja takut apabila dari hubungan seks secara bebas yang mereka lakukan lahir seorang anak di luar nikah.1% (lampiran 10. ebanyak 71. 69. Kemudian. 75% (lam piran 10. 58. ebanyak 80 . item nomor 80) remaja menyatakan senang berteman de ngan siapa saja meskipun itu adalah mereka yang mendukung pergaulan seks bebas. 89. item nomor 95) remaja menganggap bahwa remaja y ang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya diusir oleh keluarganya. item nomor 74) remaja bahkan akan menghindari teman teman mere ka yang suka mempengaruhi mereka untuk masuk dalam pergaulan seks bebas.6% (lampiran 10. dan 77.2% (lampiran 10. Lagi pula.4% (lampiran 10.4% (lampiran 10.7% (lampiran 10. ¦   ¡   ¡ . item nomor 45) sangat menghormati normanorma m asyarakat. Bahkan. item nomor 56) remaja tidak setuju dengan anggapan bahwa untuk menjajaki sifat masing masing pasangannya mereka diperbolehkan untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. 85. item nomor 43) remaja beranggapan bahwa denga n melakukan hubungan seks secara bebas berarti mereka telah merusak ketulusan ci nta.

Tabel 4.7% (lampiran 10.50 72. Mereka. ebanyak 92 . tidak a kan membuat 88.7% (lampiran 10. s eperti berpacaran lalu melakukan seks bebas. item no mor 53) masih menganggap bahwa hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang sah ad alah idaman semua orang untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus meneruskan ketur unan.107 elanjutnya.5% (lampiran 10.96% 5.   Interval 29 – 50.75 50. dan untuk menghindari perbuatan seks secara bebas 79.76 – 72. 93.51 – 94. item nomor 34) remaja juga merasa senang apabila dapat menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat dengan tidak melakukan perbuatan amoral.25 94. item nomor 36) remaja merasa bangga karena samp ai waktunya menikah mereka masih dalam keadaan perawan atau perjaka. item nomor 11) remaja terpengaruh untuk melakuka n seks bebas. item nomor 35) remaja menganggap sebaiknya kontak fisik dengan lawan jenis y ang bukan suami atau istri mereka hindari.7% (lampiran 10.26 116 Jumlah ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ .04% 100.2% (lampiran 10.79% 48. Fenomena perilaku seks bebas yang akhir akhir ini banyak disoroti.00 umber : hasil penelitian yang diolah Di mana X adalah skor yang diperoleh seora ng respoden untuk skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas aspek sosial. 93.21% 1.4 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek osial) Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Jumlah subjek 43 47 5 1 96 Persentase 44.

yang artin ya menolak perilaku seks bebas.96 1.79% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah tergo long sangat tidak setuju terhadap perilaku seks bebas.04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menurut aspek sosial menjelaskan bahwa 44. dan rentang maksimalnya adalah 96 X 4 = 384. yang tiap butirnya mempunyai skor minimal 1 (satu) dan skor maksimal 4 (empat).108 Grafik 4. edangkan u ntuk skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebasnya sendiri. 5. yang artinya secara biolo gis sangat menolak perilaku seks bebas. kategorisasi di peroleh dengan menentukan tiga bagian batasannya masing masing. 48.79 48.21 T T osial) ¡ ¡ ¡ osial) ¡ ¡¡ ¡ .21% tergolong setuju terhadap perilaku seks be bas.96% tergolong tidak setuju. kala sikap rema ja terhadap perilaku seks bebas ini terdiri dari 96 butir pernyataan.3 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas (Aspek 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 44. elanjutnya dari sini dapat ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 5.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku seks b ebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas. Jadi renta ng minimalnya adalah 96 X 1= 96. se hingga diketahui rentang minimal dan maksimalnya adalah antara 96 sampai dengan 384. dan hanya 1.

5 = = 384 = 96 = 240 = = 48.5 menjelaskan bahwa jika seorang remaja men dapatkan skor yang lebih dari 312.01 240.01 – 384 umber : Hasil penelitian y ang diolah Kriteria angat tidak setuju Tidak setuju etuju angat setuju Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas.109 diketahui kriteria pada hasil penelitian yang diperoleh melalui cara sebagai ber ikut : Kriteria sikap remaja terhadap perilaku seks bebas : kor tertinggi kor terendah Mean teoritis tandar deviasi = 96 X 4 = 96 X 1 = 96 X 2.00 Tabel 4. Tabel 4.01 240 240.01 312 maka responden mempunyai sikap tehadap perilaku seks bebas yang terg olong setuju.01 – 312 312. jika remaja memiliki skor antara 240. jika remaja memperoleh skor antara 168. maka berarti bahwa responden memiliki sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong tidak setu ju.5 Pengelompokan Kriteria ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Beb as Interval 96 – 168 168. dan jika ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   skor tertinggi skor terendah 6 384 − 96 6 ¡ ¡ ¡   .01 berarti subjek mempunyai sikap terhadap per ilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju.

04 ikap Remaja terhadap Perilaku eks Bebas ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.79 50.01 240 240.6 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas Kriteria angat tidak setuju Tidak setu ju etuju angat setuju Jumlah umber : hasil penelitian yang diolah Interval 96 168 168.00% 4.110 responden mendapatkan skor lebih kecil atau sama dengan 168.17% 1.04% 100. Grafik 4.79% 50. maka responden memp unyai sikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat tidak setu ju.01 – 384 Jumlah subjek 43 48 4 1 96 Persentase 4 4.00% Di mana X adalah skor yang diperoleh seorang respoden untuk skala sikap remaja t erhadap perilaku seks bebas.4 Persentase ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas 60 Frekuensi (%) 50 40 30 20 10 0 44.00 1.01 – 312 312. Hasil deskripsi tentang sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dapat dili hat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.17 T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡¡   ¡ .

dalam hal ini adalah penalaran moral. orientasi prinsip etis yang universal. 4. Defining Issue Test (DIT) ini sudah pernah digunakan ole h Pratidarmanastiti (1991 : 64) untuk mengukur perkembangan penalaran moral pada siswa MA se Yogyakarta dan ¡       ¡ . Tahap penalaran moral dalam penelitian ini mengacu pada tahapan pen alaran moral yang dikemukakan oleh Köhlberg. orientasi hukum dan ketertiban. yang disertai pula dengan rasa penuh tan ggung jawab. Penalaran Moral Remaja edan gkan untuk mengetahui tingkat penalaran moral remaja digunakan alat tes yang ber nama DIT (Defining Issue Test). yang artinya menolak perilaku seks bebas.111 Grafik persentase sikap remaja terhadap perilaku seks bebas menjelaskan bahwa 44 . Tahapan tahapan tersebut meliputi ori entasi relativitas instrumental.00% tergolong tidak setuju. orientasi kesepakatan antar pribadi.04% dari siswanya yang mempunyai sikap terhadap perilaku seks bebas yang tergolong sangat setuju atau menerima perilaku seks bebas. Pengungkapan penalaran yan g universal menggunakan Defining Issue Test (DIT). yang timbul dari h ati nurani dan bukan paksaan dari luar. 2.17% tergolong setuju terhadap perilaku seks bebas. 50. yang pada dasarnya adalah ala t ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu. orientasi hukum dan kepatuhan. yang artinya secara biologis sangat menolak pe rilaku seks bebas. Alat ini digunakan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan penilaian atau pertimbangan terh adap nilai nilai perbuatan atau perilaku yang baik dan buruk. orientasi kelompok sosial y ang legalitas. dan hanya 1.79% sikap remaja terhadap perilaku seks bebas adalah tergolong sangat tidak set uju terhadap perilaku seks bebas.

8 % Tahap5 8.0 % 0. dan pada penelitian ini tanp a mengubah substansi tes tersebut dinamakan sebagai “Angket Pengungkap Pendapat Te ntang Masalah Masalah osial”.0 % 34.5 % 17.0 % 0.0 % 0.0 % 54.0 % 0.1 % 7.8 % 13.0 % 0.3 % 4.0 % 0.0 % 1.0 % 0.1 % Tahap4 25.0 % 0.0 % 0.0 % 12.0 % 1.5 % 0.0 % 0.0 % 0.0 % 0.0 % 0.0 % 0.5 % 52.5 % 36.0 % 0.5 % 66.2 % 43.6 % 54.2 % 50.1 % 36.5 % 3.8 % 53.1 % 43.5 % 68.4 % 55.112 didapatkan rtt = 0.0 % 0.0 % 0.2 % 63.0 %     ¡ ¥   ¡   ¡ .0 % 0.1 % Tahap6 0.2 % 55.2 % 2.9 % 38.0 % 0. Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial ini berupa cerita cerita yang dilanjutkan dengan pertanyaan pertanyaan ya ng harus dijawab oleh responden.3 % 11.4 % 12.0 % 11.0 % 0.7 Persentase Jawaban Yang Menunjukkan Tahap Penalaran Moral Remaja erita Pertanyaan Tahap1 Tahap2 I 1 2 3 II III IV V VI 4 5 6 7 8 9 10 11 VII 12 13 14 15 VIII IX 16 17 0.3 % 8.0 % 2. ecara umum dapat dilihat dari persentase jawaban atas 17 pertanyaan dengan jawaban yang menunjukkan tahap pen alaran moralnya sebagai berikut : Tabel 4.5 % 41.0 % 8.8 % 51.0 % 0.830.5 % 53.0 % 0.0 % 0.2 % 6.1 % 9.0 % 0.7 % 29.0 % 27 .0 % Tahap3 62.3 % 3.0 % 0.3 % 11.0 % 1.0 % 4.7 % 72.0 % 0.1 % 5.3 % 1.5 % 41.2 % 4.5 % 3.5 % 65.9 % 75. yang berarti tes ini andal.0 % 0.0 % 0.0 % 0.2 % 22.7 % 25.05 % 0. dan skor yang didapatkan dapat dijadikan sebaga i dasar penetapan tingkat penalaran moral remaja.0 % 61.3 % 7.0 % 0.0 % 0.1 % 38.7 % 7.0 % 0.0 % 0.5 % 18.2 % 0.0 % 0.1 % 2.0 % 0.1 % 1.

113 Pada Angket Pengungkap Pendapat Tentang Masalah Masalah osial yang digunakan un tuk mengukur tingkat penalaran moral remaja. yang tiap butirnya m empunyai skor minimal 1 (satu) dan skor maksimal 6 (enam). kategorisasi diperoleh dengan menen tukan enam bagian batasannya masing masing. dan rentang maksimalnya adalah 17 X 6 = 102.8 Pengelompokan Kriteria Tingkat Penalaran Moral Remaja Interval 17 31 3 2 45 46 60 61 74 75 88 89 102 Kriteria Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV Tahap V Tahap VI Keterangan Berorientasi pada hukuman dan kepatuhan Berorientasi rela tivitas instrumental Berorientasi pada kesepakatan antar pribadi Berorientasi pa da hukum dan ketertiban Berorientasi pada kontrak sosial yang legalistik Berorie ntasi pada prinsip etika universal umber : hasil penelitian yang diolah                 skor tertinggi skor terendah 6 102 − 17 6 ¡ ¡ ¡   ¡   ¡ ¡         ¡     ¡ . elanj utnya dari sini dapat diketahui kriteria pada hasil penelitian yang diperoleh me lalui cara sebagai berikut: Kriteria sikap remaja terhadap perilaku seks bebas : kor tertinggi kor terendah Mean teoritis tandar deviasi = 17 X 6 = 17 X 1 = 17 X 2.5 = = 102 = 17 = 42.17 Tabel 4. ehingga dike tahui rentang minimal dan maksimalnya adalah antara 17 sampai dengan 102. Angket Pengungkap Pendapat Tentang M asalah Masalah osial ini terdiri dari 17 butir pertanyaan.5 = = 14. Jadi rentang minimaln ya adalah 17 X 1= 17.

dan jika res ponden mendapatkan skor antara 17 31 maka responden berada pada tingkat penalara n moral tahap I. jik a remaja memiliki skor dari 75 – 88 maka responden mempunyai tingkat penalaran mor al yang berada pada tahap V. jika responden mendapatkan skor antara 46 – 60 berarti responsen berada pada ti ngkat penalaran moral tahap III.9 Hasil Rekapitulasi Analisis Persentase Tingkat Penalaran Moral Remaja Interval 17 31 32 45 Kriteria Tah ap I Jumlah ubjek 0 Persen tase 0.83 IV Tahap 75 – 88 8 8 . Hasil deskripsi tentang sikap remaja terhadap perilaku seks beb as dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.33 V Tahap 0 0.8 menjelaskan bahwa jika seorang remaja mendapatkan skor antara 89 102 berarti subjek mempunyai tingkat penalaran moral yang berada pada tahap VI. jika remaja memiliki skor antara 32 – 45 maka res ponden mempunyai tingkat penalaran moral yang berada pada tahap II.00 89 – 102 VI Jumlah 96 100 umber : hasil penelitian yang diolah       ¡   ¡ .08 II Tahap 46 – 60 66 68. dan jika remaja memperoleh skor antara 61 – 74 .114 Tabel 4. maka berarti bahwa responden memiliki tingkat penalaran moral yang tergolong tahap V I.75 III Tahap 61 – 74 22 20.00 Keterangan Berorientasi pada hukuman dan k epatuhan Berorientasi relativitas instrumental Berorientasi pada kesepakatan ant ar pribadi Berorientasi pada hukum dan ketertiban Berorientasi pada kontrak sosi al yang legalistik Berorientasi pada prinsip etika universal Tahap 2 2.

08% moral pra konvensional tahap II.33 Th V 0. moral remaja di atas menjelaskan bahwa 2.00 Th I 2. ¡ ¡   Grafik persentase tingkat penalaran remaja mempunyai tingkat penalaran unyai tingkat penalaran moral tahap penalaran tahap IV (konvensional).33% yang mempunyai tingkat penalaran m               ¡   .5 Persentase Tingkat Penalaran Moral Remaja Frekuensi (%) 80 60 40 68.75% memp III (konvensional).08 Th II Th III Th IV 8.83 20 0 0. Analisis Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja pada siswa kelas 2 (dua) MA Kesatrian 1 emarang tahun a jaran 2005/2006. upaya kesimpulan yang diambil tidak menyimpang maka perlu dila kukan uji normalitas terhadap skala sikap remaja terhadap perilaku seks bebas da n angket pengungkap pendapat tentang masalah masalah sosial sebelum mencari kore lasi antara kedua variabel terbebut. 20. oral paska konvensional tahap V.75 20. 68.00 Th VI Penalaran Moral E.83% mempunyai tingkat dan 8.115 Grafik 4.

ji ormalitas Data ebagai salah satu syarat untuk analisis korelasi dan reg resi bahwa distribusi data harus normal. ji Homogen itas Data Kemudian analisis korelasi dan regresi distribusi datanya juga harus h omogen atau tidak mengandung heteroskesdastisitas.75 1. data diuji kenormalannya menggunakan o rmal P P Plot Regression menggunakan bantuan program P dengan hasil seperti p ada grafik 4.50 .00 .00 Observed um Prob Terlihat pada grafik di atas. titik titik tersebar mendekati garis diagonal. Model regresi tidak mengandun g heteroskedastisitas menurut Ghozali (2005: 147) apabila titik titik dari hasil cater Plot tersebar tidak teratur dan berada di atas maupun di bawah angka nol sumbu vertikal dapat disimpulkan bahwa model tidak mengandung ¦ ¡ ¤   ¡¡ ¡     ¡ ¡ ¥ ¥   ¦   ¤ ¡ ¦ .25 0.25 . Men urut Ghozali (2005: 145) apabila titik titik tidak jauh melenceng dari garis dia gonal dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal.75 Expected um Prob . 2.6 ormal P P Plot of Regression tandardized Residual Dependent Variable: ikap re maja terhadap perilaku seks bebas 1.00 0.116 1.00 .50 .

etelah itu nilai korelasi product moment yang telah ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤     ¡ ¡             3 2 1 0 1 2 3 4 ¡¡ ¡ P dapat dilihat pa ¡ ¡ ¡ ¡ . Hasil analisis dengan bantuan program da grafik 4.368. Analisis Korelasi ntuk menentukan derajat hubungan antar variabel maka perlu dicari koefisien korelasinya. 3.7 catterplot Dependent Variable: ikap remaja terhadap perilaku seks bebas 4 Regression tudentized Residual 3 2 1 0 1 2 Regression tandardized Predicted Value Terlihat bahwa titik titik dari hasil cater Plot tersebar tidak teratur dan ber ada di atas maupun di bawah angka nol sumbu vertikal. Dalam penelitian ini analisis korelasinya d ihitung menggunakan korelasi product moment yang penghitungannya menggunakan ban tuan komputer dengan tatistical Program For ocial cience ( P ) versi 10. sehingga dapat disimpulkan bahwa model tidak mengandung heteroskedastisitas. Hasil analisis korelasi menyatakan bahwa hasil koefisien korelasi (r xy) sebesar – 0. dengan kata lain bersifat hom ogen.1 fo r window ’00.117 heteroskedastisitas.

0001 jauh lebih kecil jika d ibandingkan dengan taraf signifikansi 0.10. (1tailed) umber : hasil penelitian yang diolah Kontribusi efektif sikap remaja terhadap p erilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja diperoleh koefis iensi determinan r2: 0. Angka angka tersebut me nunjukkan angka yang signifikan karena signifikan 0.5 %.000 . Karena hasil yang diperoleh yaitu indeks korelasi sebesar 0. ntuk lebih jelasnya dap at kita lihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.000 96 96 ig. Korelasi yang signifikan antara sika p remaja terhadap perilaku seks bebas (sebagai faktor) dan tingkat penalaran mor al (sebagai akibat) menunjukkan adanya hubungan antara sikap remaja terhadap per ilaku seks bebas dengan tingkat penalaran moral remaja.05.368 . Artinya besar kecilnya perubahan sikap remaja terhadap perilaku   ¡ ¤ ¡   ¦ ¥   ¡ ¡ ¡ ¡ ¦ .135 atau sebesar 13.000 . 96 96 ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Penalaran moral ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Penalaran moral ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Pe nalaran moral 1.368 1.118 didapatkan perlu di uji signifikansinya dengan rtabel dengan batas taraf signifi kansi 5% dengan =96.01 maka koefisiensi korelasinya dinyatakan signifikan. Analisis Korelasi ikap remaja terhadap perilaku seks bebas Pearson orrelation Penalaran moral .000 . .

725 dengan Fvalue 0.788 X.5% perubahan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditentukan oleh fa ktor yang lain. begit upun sebaliknya. Hasil ji Hi potesis Pada penelitian ini untuk menguji hipotesisnya menggunakan metode korela si product moment yang dipergunakan untuk menguji hubungan variabel (Y) sikap re maja terhadap perilaku seks bebas dan variabel (X) tingkat penalaran moral remaj a.05 i ni berarti hipotesis diterima.5 %.119 seks bebas karena faktor tingkat penalaran moral sebesar 13. edangkan. ¡ ¤ ¡ ¡ ¡   ¤ .000 ≤ 0.444 – 1. Model regresinya sendiri adalah Y = 283. Artinya signifikan. edangkan model regresinya diuji keberartiannya menggunakan uji F dan diperoleh Fhitung 14.05. 4. yang berdasarkan perhitungan korelasi tersebut dapat dis impulkan adanya hubungan yang negatif antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas dengan tingkat penalaran moral pada siswa kelas dua MA Kesatrian 1 emar ang tahun ajaran 2005/2006. semakin rendah tingkat penalaran moral remaja akan diikuti deng an tingginya sikap remaja terhadap perilaku seks bebas.368.05. sebe sar 86. dimana X adalah penalaran moral dan Y adalah sikap remaja terhadap perilaku seks bebas . ntuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16. p < 0. Atau dengan kata lain ada hub ungan antara sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat pen alaran moral remaja. Artinya semakin tinggi tingkat penalaran moral remaj a akan diikuti dengan rendahnya sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. Berdasarkan analisis korelasi product moment tersebut diperoleh koefisien kor elasi 0. karena Fhitung > 0. Atau dengan kata lain hi potesis yang diajukan dapat diterima.

5%. ataupun norma orang tua (lingku ngan keluarga) yang lebih menekankan pada norma norma yang ada di masyarakat dan norma agama. Ini berarti bahwa perkembangan moral saja tidak dapat dija dikan sebagai satu satunya alat untuk memprediksi bagaimana sikap seorang remaja terhadap hubungan seks bebas. Antara lain menurut useno (1987: 49 52) dapat disebabkan oleh pola asuh dalam keluarga . Individu dalam menjaga kek onsistenan sikapnya lebih dipengaruhi oleh tekanan kelompok atau masyarakat. Atau dengan kata lain masih ada 86.120 F. Pembahasan Hasil penelitian di atas menggambarkan adanya hubungan yang negati f antara perkembangan moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas (r = 0. Kecenderungan subjek menjawab tidak setuj u terhadap perilaku seks bebas disebabkan karena belum tentu setiap subjek mempu nyai kebebasan memilih seperti apa yang dia inginkan.5% faktor lain yang juga dapat mempengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks bebas. angka tersebut tergolong tidak setuju. p > 0. Rerata subjek penelitian pada sikap remaja terhadap perilaku seks bebas di MA Kesatrian 1 e marang 50. Dengan kontribusi efektif sikap remaja terhadap perilaku se ks bebas ditinjau dari tingkat penalaran moral remaja diperoleh koefisiensi dete rminan sebesar 13.00%.368. Ini berarti sikap individu secara keseluruhan masih tergolong tidak setuju yaitu sebagian besar remaja tid ak menyetujui dilakukannya seks bebas. pergaulan di luar rumah karena mereka bergabung dengan anggota sebayanya yang sering kali mempunyai norma yang dibuat sendiri. Ind ividu yang mengalami disonan yaitu ¡ ¡       ¡   .05). sehingga sikap mereka juga dipengaruhi oleh hal itu.

ntuk bisa menjadi konsonansi ada ke cenderungan individu untuk mengubah kognitifnya menjadi tidak setuju terhadap hu bungan seks bebas. Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa perilak u yang berlawanan dengan sikap akan mengakibatkan disonansi yang paling tinggi. walaupun seseorang pernah melakukan hubungan seks bebas . Hal ini sesuai dengan teori disonansi kognitif dari Festinger (Atkinson. amun. Demikian pula penerimaan seorang individu terhadap suatu perbuatan juga didasari oleh sik ap. kemungkinan besar akan mengubah kognitifnya dan bukan lingkungannya. penolakan seorang individu terhadap suatu tindakan didasari oleh suatu hal yang dinamakan sikap. 1999: 378). atau dengan kata lain. terlebih jika tidak ada alasan yang ses uai dalam melakukan perilaku itu. Hal in i karena masih ¡ ¤ ¦ . di sisi lain masyarakat mengatakan bahwa itu perbuatan dosa. 1975: 15). indivi du yang yakin bahwa hubungan seks bebas boleh dilakukan dan hanya masalah pergau lan.121 antara kognitif yang ada dipikirannya dan yang ada di sekelilingnya. dua kognisi yang tidak bersesuaian satu sama lain akan menimbulkan ketidaksenangan (discomfort) yang memotivasi seorang individu untuk menghilangkan disonansi tersebut dengan m enyesuaikan kedua kognisi itu. Jadi. Di dalam psikologi. tetapi apabila dia ditanya bagaimana sikapnya terhadap perilaku seks bebas ada kecenderungan untuk menjawab tidak setuju (Fishbein & Ajzen. ba hwa ada semacam dorongan untuk mencapai kekonsistenan kognitif. Dalam hal ini individu akan mengalami disonansi kognitif. ebagai contoh. yaitu perubahan sikap yang paling besar. sikap tidak selamanya dapat memprediksikan perilaku seseorang. tidak ada pembenaran ya ng memadai akan perbuatannya itu.

75% tergolong pada tahap III ti ngkat penalaran moral II (konvensional).8 3% pada tahap IV.75% pada tahap III. Jadi. Terdapat 2. Hal ini sesuai dengan ciri masa remaja.122 banyak intervening atau kendala kendala lain yang dipersepsikan oleh orang yang bersangkutan yang diperkirakan dapat menghambat atau mempengaruhi perilaku.75% subjek berada pada tahap ke tiga yang c enderung mempertimbangkan kepentingan umum tetapi tujuan mereka adalah untuk men dapatkan predikat sebagai anak baik. kep utusan mereka sudah mempertimbangkan ¡   ¡ ¤ .08% dari keseluruhan subjek tahap perkembangan moralnya berada pada tahap ke II. 20. Rerata subjek penelitian pada tingka t penalaran moral di MA Kesatrian 1 emarang 68.33 pada tahap perkembangan moral V. Hal lain yang dapat dilihat dari penelitian ini adalah di ketahuinya tahap perkembangan moral subjek. ntuk dapat mengetahui secara jelas peranan perkembangan moral terhadap peril aku seks bebas. yaitu dalam bentuk perilak u. Karena perkembangan moral itu berhubungan positif dengan tindakan moral. dan 8. walaupun sikapnya negatif terhadap suatu perbu atan belum tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut. peneliti dapat mengambil subjek penelitian yang pernah melakukan seks bebas ataupun mengambil topik perilaku seks bebas bukan sikap terhadap per ilaku seks bebas. Kare na adanya ketidakkonsistenan hubungan antara sikap dan perilaku maka mungkin pul a jika hubungan antara perkembangan moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks bebas tidak konsisten. 68. Data di atas memperl ihatkan bahwa sebagian besar atau 68. sehingga perkembangan moral dihubungkan dengan tindakan moral dan bukan hanya sikap.

penalaran moral tahap k e tiga ini masuk dalam tingkatan konvensional. Hal ini mungkin karena pemakaian tes perkembangan moral Köh lberg dilaksanakan secara tertulis. Menurut Köhlberg. yaitu dengan menyempurnakan bahasa y ang sulit dipahami oleh remaja karena membingungkan dan banyak ¡ ¡   ¦ . atau mencapai tingkat pasca konvensional ( etiono. perlu diingat bahwa alat ukur Definin g Issue Test (DIT) ini merupakan hasil adaptasi. Ketepatan hasil ukur sangat dip engaruhi oleh kemampuan pengadaptasian alat ukur. walaupun jawabannya bebas dan waktu pengerja annya tidak dibatasi namun kemungkinan subjek penelitian mempunyai hambatan untu k menulis jawaban secara lengkap. 1994). Jadi dapat disimpulkan bahwa tahap perkembanga n moral yang diharapkan dapat dicapai remaja pada subjek penelitian ini yaitu ti ngkat konvensional telah terpenuhi. Penelitian di Amerika juga menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat mencapai tahap yang lebih tinggi dari tingkat konv ensional.123 kepentingan orang lain akan tetapi dengan predikat anak baik mereka merasa aman karena akan diterima oleh lingkungannya. amun. Dikatakan oleh Pratidarmanasti ti (1991: 71) bahwa hasil adaptasi DIT ini masih kurang sempurna sehingga kemung kinan ketidaksempurnaan ini juga mempengaruhi hasil ukur. Remaja umumnya berada pada tingka tan konvensional juga pada orang dewasa. Dengan diketahuinya ke lemahan ini peneliti menyesuaikan lagi DIT. edikitnya j umlah subjek pada tingkat yang lebih tinggi dari tingkat konvensional ini adalah suatu hal yang wajar.

1995: 70). ingkawang. Melalui hasil penelitian yang ditemukan dari siswa kelas dua (II) MA Kesatrian 1 emarang tahun ajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa ada hubungan antar a sikap remaja terhadap perilaku seks bebas ditinjau dari tingkat penalaran mora l remaja. Keberbedaan ini menurut Köhlberg (1995: 66 ) bisa karena kemampuan menyesuaikan diri dan berperilaku abstrak yang berbeda. di situ menyebutkan bahwa remaja di Kupang. Pada artikel ”Ketika Pe rilaku eks Remaja Kian Beresiko”. ir ebon.89% melakukan h ubungan seks bebas dengan pacar mereka. kesempatan untuk m engambil peran dan berjumpa dengan sudut pandang yang yang berbedabeda antar ind ividu (Köhlberg. Palembang. ¥ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . Bisa jadi hasil penelitian perkembang an moral ini juga dipengaruhi oleh tingkat kemampuan membaca subjek dalam menela ah dan memahami soal atau ceritera yang ada di DIT. Dengan tingkat penalaran moral remaja pada tingkat kon vensional akan mendorong individu untuk bersikap terhadap perilaku seks bebas le bih baik. dan Tasik Malaya yang berpacaran 74. enin. Hasil yang diperoleh dari pe nelitian yang dilakukan di MA Kesatrian 1 emarang juga lain dengan apa yang di muat pada Kedaulatan Rakyat. Bisa juga karena jumlah dan keanekaragaman pengalaman sosial.124 pengulangan kata serta menyesuaikan lagi kurs mata uang yang sesuai di Indonesia karena alat aslinya memakai mata uang asing. 2 Mei 2005 halaman 15. hal ini pula yang diharapkan akan menjadi pertimbangan peneliti selanjutnya.

namun norma dan aturan sosial yan g ada di masyarakat melarangnya bahkan menganggap itu perbuatan dosa. jika sikap seorang remaja terhadap perilaku s eks bebas adalah menerima perilaku seks bebas. Hasil pe nelitian yang dilakukan pada siswa kelas II (dua) MA Kesatrian 1 emarang menun jukkan bahwa siswa di sana mempunyai sikap terhadap seks bebas yang baik. dan m empunyai keadaan psikis yang baik. yaitu menerima atau menolak perilaku seks bebas. mampu bertindak sesuai dengan peraturan yang ada dalam masyarakat. maka remaj a menyesuaikan sikap pribadinya tersebut dengan sikap yang diharapkan oleh lingk ungan sosialnya tersebut sehingga sikapnya menolak perilaku seks bebas. karena ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yan g baik dapat dijadikan sebagai tanda bahwa tingkat penalaran moral remaja itu ju ga baik. ikap so sial adalah sikap yang terjadi karena adanya norma dan aturan sosial yang ada di dalam masyarakat. eorang remaja dalam penelitian ini dituntut untuk dapat me nyikapi seks bebas dengan sikap yang tepat sehingga di dalam masyarakat dan kehi dupan pribadinya tidak akan menerima dampak negatif seks bebas karena melakukann ya. Mereka dapat memahami apa itu seks bebas dan bagaimana dampaknya jika hal tersebut dil akukan.125 ikap remaja terhadap seks bebas adalah sikap menolak atau menerima perilaku sek s bebas pada remaja. ikap remaja terhadap seks bebas mempunyai dua aspek yaitu sikap pribadi dan sikap sosial. ikap pribadi terhadap seks bebas adalah penerimaan secara pribad i terhadap seks bebas. ebagai contoh.

¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . Dengan tingkat penalaran mo ral konvensional ini siswa kelas dua MA Kesatrian 1 emarang yang berada pada t ingkat konvensional mendorong remaja kelas dua MA Kesatrian 1 emarang ini dapa t bersikap baik terhadap seks bebas.126 penalaran moral seseorang dapat dilihat dari perilakunya. Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar remaja kelas dua MA Kesatrian 1 emarang sudah memasuki penalaran moral tingkat konvensional.

impulan iswa kelas II (dua) MA Kesatrian I emarang tahun ajaran 2005/2006 . yang sedang berpacaran dan tahu akan baik buruknya s uatu perbuatan mempunyai tingkat penalaran moral tingkat konvensional. Tingkat penalaran konvensional yang dimiliki oleh siswa tersebut men yebabkan sikap terhadap perilaku seks bebas yang tidak menyetujui dilakukannya p erilaku seks bebas. ikap terhadap perilaku seks bebas pada siswa kelas II (dua) MA Kesatrian I emarang tahun ajaran 2005/2006. yang berusia 16 17 tahun.127 BAB V PE T P A. remaja setuju bahwa berpacaran dan kem udian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya. meskipun ada beberapa siswa yang mempunyai tingkat penalaran prakonvensional dan paska ko nvensional. dan meskipun mereka sadar bahwa perilaku seks bebas adalah salah satu perilaku yang sedang marak disoroti dalam kehidupan modern. dengan sko r rata rata 240. yang berusia 16 17 tahun. n amun. remaja menganggap bahwa melakukan hubungan seks tanpa adanya ikatan pernikahan adalah perbuatan yang mel anggar norma norma yang ada. dan sedang berpacaran ini tergolong tidak menyetujui perilaku seks bebas. remaja tidak setuju bila seks bebas dianggap cara yang palin g tepat untuk membuktikan perasaan cinta. ikap remaja terhadap perilaku seks bebas yang tergolong tidak menyetujui perilaku seks bebas ini ditandai dengan sikap menolak melakukan seks bebas dengan pacar. remaja tidak takut dianggap kurang pergaulan jika tidak melakukan hubungan seks bebas. 127       ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¤ ¤¦   ¡ ¡ .

yang selalu menerangkan mengapa suatu perbuatan dilarang atau diperintahkan. apa maksudnya dan apa motivasinya. praktisi. sehingga mereka akan menjadi orang yang selalu terbuka terhadap sesuatu yang ba ru Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah perkembangan moral dan s ikap remaja terhadap perilaku seks bebas serta ingin menelitinya lebih lanjut. namun dengan jalan anak selalu diajak untuk berfikir. aran impulan yang telah didapatkan oleh peneliti tentang ” ikap Remaja Terhad ap Perilaku eks Bebas Ditinjau Dari Tingkat Penalaran Moral Remaja Pada iswa K elas Dua (II) MA Kesatrian 1 emarang Tahun Ajaran 2005/2006 (Teori Perkembanga n Moral Köhlberg)”. ¡ ¡       ¡ ¡   ¡ ¡   ¡ ¡ . dan fasilitas fasilitas yang mendukung (seperti pengaruh me dia massa ataupun media elektronik yang banyak memberitakan tentang masalah seks ual). pola asuh orang tua. maka peneliti memberikan beberapa saran yang bisa diterapkan yai tu: Mengingatkan bahwa tingkat penalaran moral konvensional dan paskakonvensiona l akan membantu remaja dalam menyikapi perilaku seks bebas. dan pemerintah hendaknya mendidik putra putri penerus bangsa menggunakan cara cara yang dapat mengembangkan tingkat penalaran moral konvensi onal dan paska konvensional. eperti dengan pendidikan disiplin dan adanya pembi naan nilai nilai moral sejak dini tanpa menggunakan larangan atau hukuman. antara lain tempat tinggal. sekolah. maka bagi orang tua. d iharapkan lebih mengontrol variabel variabel lain yang mempunyai pengaruh pada s ikap seseorang terhadap seks bebas. status ekonomi.128 B.

W. Jakarta : Erlang ga Azwar. Imam. Psikologi osial. 2001.B. Alih Bahasa Istiwidayanti & oedjarwo. Alih Bahasa Meitasari Tjandrasa. 2000 . E. Jak arta : PT. Bandung: Refika Aditama Ghozali. emarang: Badan Penerbit niversitas Diponegoro Hadi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . Pendidikan eks ntuk Remaja. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Basri. . 1990. 1999. 2001. Penyusunan kala Psikologi. Kesehatan Mental. Pengantar Psikologi Jilid I. Edis i 6. 2003. uatu Pendekatan epanjang Rentang Kehidupan. Analisis Multivariate dp Pro gram P .L dkk. 1997. uharsimi. Jilid 2. tatis tik II. Psikologi Perkembangan Anak.A. 1983. Remaja Berkualitas Problematika Remaja Dan olusinya. Martin & Icek Ajzen. Jakar ta: Kawan Pustaka Fishbein. . 2003. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . 2003. R. Kamus Lengkap Psikologi. ikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jakarta: Erlangga . Jakarta : Erlang ga . Pengantar Psikologi Jilid II. 1999. Edisi 5.129 DAFTAR P TAKA Arikunto. 1999. Metode Penelitian. 2002. Hasan. Jakarta: G ramedia Pustaka tama Dianawati. Jakarta : PT Rhin eka ipta Atkinson. Penerjemah: Kartini Kartono. Jakarta: Erlangga . Psikologi Perkembangan. Z. Jakarta: Erlangga                                      ¡             ¡ ¡ ¤ ¡ ¤ ¡ ¡ ¡ ¤ ¡ ¡ ¡                    ¡ ¡                         ¥ ¤ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¥        ¡¤ . 2000. JP. Reliabilitas dan Validitas. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset Hurlock. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . nderstanding Attitudes A nd Practing ocial Behavior. 1980. Yogyakarta: Pustaka Pela jar haplin. Inc Gerungan. Prentice Hall. Ajen. 1999. Psikologi Perkembangan. Raja Grafindo Persada Daradjad. 2000.

Jakarta: . Metoda tatist ika. P atologi osial. P erkembangan Penalaran Moral Tinjauan dari udut Pandang Teori osio Kognitif. A. Jakarta: V Rajawali . 2. JW. Yo gyakarta: Kanisius Krech. Perkembangan Moral Remaja Delinkuen Dan on Delinkuen. hal. Jakarta: PT. etaka n ke 3. Kusdwiratri. Edisi I. 1995. urabaya: saha asional Monks. 1982. K. 1997. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Köhlberg. 1982. Bandung: Tarsito upardi. Psikologi Remaj a. Psikologi Remaja. Patologi osial 2 Kenakalan Remaja. o. 2005. 1994. Adam & Jessica Kuper. ikap Manusia Perubaha n erta Pengukuran. Indosiar Pratidarmanastiti. David dkk. Raja Grafindo Persada Mar’at. Jakarta: Arcan Patroli. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada etiono.J. Lif e pan Development Jilid 2. 5 Mei 2005.W. . 2005.M. Bunga Rampai Kasus Gangguan P sikoseksual. Ensiklopedi Ilmu Ilmu osial. Palembang: niversi tas riwijaya Kuper. Yogyakarta: Fakultas Psikologi niversitas Gajah Mada antrock. Paul Henry dkk. Jakarta: Erlangga arwono. Knoers.V Bulan . L. A. Pengantar Psik ologi mum. Ju rnal Psikologi Dan Masyarakat. 1991. 1988. Dr awitri . 47 54 udjana. Yogyakarta: Gajah Mada niversity Press Mussen. 1982. 1988. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada . 20 01.P. iti Rahayu Haditono. 2002. T ahap Tahap Perkembangan Moral (alih Bahasa: John de anto dan Agus remmers). F. E disi ke 2. Jakarta: Ghalia Indonesia Mappiare. Perkembangan dan Kepribadia n Anak. L. Tesis (tidak diterbitkan ).130 Kartono. Bandung: Refika Aditama ¥ ¡ ¡ ¤                                 ¥   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡                   ¡ ¤   ¥ ¡ ¡ ¦   ¡ ¦ ¡ ¦ ¦ ¤ ¡   ¤ ¤   ¡   ¡ ¡ ¡  ¡ . Psikologi osial. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. 2002. 1982. 2005. Psikologi Remaja. 2002.

Ketika Perilaku eks Remaja Kian Beresiko. emarang : Kedaulatan Rakyat. 1987. Yogyakarta: Andi Offset ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ . Etika Dasar Masalah Masalah Pokok Filsafat Moral. Franz Magnis. B. 2 Mei 2005. halaman 15 useno.131 ¡   ustiwi. Psikologi osial: uatu Pengantar. Yogyakarta: Kanisius Walgito. 1991. Fadmi.

132 .

Aspek 1. 6. Psikologis 7. Indikator Favorabel Keadaan dorongan seksual terhadap 3 tingkah laku seksual 9 Minat remaja terhadap lawan j enis kelamin 3 Pelaksanaan minat seksual 7 itra diri (penilaian terhadap diri 1 0 Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 8 ikap dan perilaku menghormati orang lain 6 Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 4 Dorongan untuk berdiri sendiri 4 Pandangan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat 54 nfavorabel 7 4 Jumlah 10 13 3. osial 8.Lampiran 01 133 Format kala Penelitian o. 10 3 6 3 13 10 16 11 2. 7 13 3. 4. 9. 1. Biologis 2. 5. 3 4 7 8 Total item 47 101 ¤ ¡ ¥ ¦ ¡ ¡ .

Dorongan untuk berdiri sendiri 9. 8.60 46 61.52. Kepatuhan terhadap norma dan peraturan 6. itra diri (pe nilaian terhadap diri 5. 14. Keadaan dorongan seksual terhadap tingkah laku seksual Psikologis 2.7 Aspek Biologis Indikator Jumlah 10 1.41 26 42. Butir Favorable kogniti f afektif konatif 4.58 30.39 25 40. Pelaksanaan minat seksual 4. 28. 17. Minat re maja terhadap lawan jenis kelamin 3. Pandangan remaja terhadap kehidupan bersama masyarakat Jumlah 11.43 27. 29 44 57.62 10 16 47. Pengaruh lingkungan (orang tua dan teman sebaya) 8. 50 51.5 3 ¥ ¡ ¤ ¥ ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ¦ .Lampiran 02 134 Butir Item kala ikap Remaja Terhadap Perilaku eks Bebas ebelum ji oba o. 22 23 13 24 37. ikap dan per ilaku menghormati orang lain osial 7. Butir nfavorable Kognitif Afektif konatif 1 2 3 o. 12 13.34 .49.48. 18.35. 19 20 21. 31 32. 5. 9 10 6.36 13 45 59. 15 16.33.38.

55.86 13 87.65 66. 56 63.84.81 82 83.99 100 101 8 18 .88 89 90 91 92 93 7 94 95.96 97 98.78.67 68. 70 71 72 73 11 74 75.64.76 77. 85.69. 79 80.54.

17 19 17 13 17 101 .

Lampiran 03 135 Butir item angket pengungkap pendapat tentang masalah masalah sosial sebelum uji coba erita Pertanyaan 1 I II III IV V 2 3 4 5 6 7 8 9 VI 10 11 12 13 VII VIII IX 14 15 16 17

 

¥

Lampiran 04 136 kala ji oba I H B GA IKAP REMAJA TERHADAP PERILAK EK BEBA DI TI JA DA RI TI GKAT PE ALARA MORAL PADA I WA KELA D A (II) M KE ATRIA 1 EMARA G ta hun ajaran 2005/2006 (Teori Perkembangan Moral Kölberg) J R A P IKOLOGI FAK LTA ILM PE DIDIKA IVER ITA EGERI EMARA G ( E ) Gedung a.2 Kampus ekaran, Telepon 024.3562685 Gunung Pati emarang 50229 Identitas sampel ama : sia : Je nis Kelamin : Assalamu’alaikum Wr. Wb. Di tengah kesibukan yang teman teman lakuka n, perkenankan aya, memohon bantuan teman teman untuk menjawab daftar pernyataa n dengan berbagai pilihan jawaban yang dianggap sesuai dengan kondisi teman tema n. Adapun petunjuk pengisian adanya sebagai berikut : Bacalah setiap pernyataan dengan teliti dan menjawab semua pernyataan tanpa ada yang terlewatkan dengan se jujurnya sesuai dengan kondisi yang temanteman alami. Pernyataan tersebut bukan merupakan tes, sehingga tidak ada jawaban yang dinyatakan sebagai jawaban benar atau salah. Pilihlah 1 (satu) dari 4 (empat) jawaban yang tersedia, dengan membe ri tanda silang (X) pada jawaban yang teman teman anggap sesuai dengan kondisi t eman teman. Alternatif jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut : : bila Anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut : bila Anda setuju dengan pernya taan tersebut T : bila Anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut T : bila Anda sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut Jika teman teman merasa bahw a jawaban yang telah teman teman pilih kurang tepat, maka berilah tanda sama den gan (=) pada jawaban yang kurang tepat, selanjutnya berikan tanda silang (X) pad a jawaban yang teman teman anggap sesuai. ontoh : X T X T Jawaban teman teman merupakan informasi yang sangat penting dan membantu dalam p enelitian aya. Terima kasih atas bantuan dan kerjasama yang teman teman berikan . Hormat aya PRAMITA AG E WAHARE I (Mahasiswa Jurusan Psikologi E ) ...... ELAMAT ME GERJAKA ......

¡

¡

¤

¦ ¤ ¦  

¤ ¡

¡¡

¡ ¡

¡ ¦¦¤  

¡  

¡

¡ ¦ ¡¤ ¤ ¦ ¤ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ¦  

¡ ¦¦¤ ¡

¤ ¡    

¦ ¥

¡

¡ ¡ ¦ ¡

¦ ¡

¦ ¡ ¦ ¦¤ ¤   ¡ ¦ ¡  

¦¤ ¦ ¦ ¡ ¡

¡ ¡

 

¦

¡

¥

¦ ¡

¡ ¡

¦

¦ ¤

 

¤

¡¡

¡

137

T

T

¡

¡

 

¡

¡

¡

¥

¡

¥

 

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡ ¡

¡¡

¡

¡

¡

¦

o. 1. 2. 3. 4.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Pernyataan Dorongan untuk melakukan seks yang muncul sebelum menikah seharusnya ditekan aya kecewa apabila dapat mencurahkan kasih sayang kepada kekasih dengan cara berhubungan seks dengannya Berciuman dengan kekasih membuat aya merasa be rsalah Menurut aya bercumbu dengan pacar tidak apaapa karena tidak mungkin terj adi kehamilan Tanpa menikah terlebih dahulu, seseorang yang organ seksualnya sud ah berkembang dan sudah dapat bereproduksi, sudah layak melakukan hubungan seksu al eseorang yang melakukan hubungan seks secara bebas dan tidak terjadi kehamil an karenanya tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya eks bebas yang dil akukan dengan alat kontrasepsi tidak akan menimbulkan akibat yang tidak diingink an Bercumbu dengan pacar merupakan saat yang paling menyenangkan Melakukan hubun gan seks tanpa ikatan perkawinan tidak membuat aya merasa tertekan aya mau mel akukan seks bebas dengan kekasih asal sesuai dengan batas batas norma yang ada aya pikir pacaran dan kemudian melakukan hubungan seksual itu tidak ada gunanya aya takut melakukan seks bebas, meskipun itu dengan pacar saya sendiri Melakuka n hubungan yang terlalu intim dengan pacar membuat aya tertekan aya mau melaku kan hubungan seksual dengan pacar, asal di tempat yag sepi inta yang tulus dan mendalam kepada pacar tidak perlu dimanifestasikan dengan seks bebas eks bebas dilakukan oleh kaum remaja agar tidak dianggap ketinggalan jaman inta tanpa sek s bagaikan sayur kurang garam aya lebih senang berteman dengan orang orang yang mendukung pergaulan seks bebas eks bebas dapat menimbulkan kesenangan yang tak terbayangkan eks bebas merupakan cara yang paling tepat untuk membuktikan rasa cinta

138 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. Menurut aya hidup bersama sebelum menikah boleh saja dilakukan agar aya dapat lebih menjajaki sifat pasangan Remaja putra/putri akan memiliki perasaan percaya diri yang tinggi bila ia melakukan seks bebas Jika teman aya pernah melakukan hubungan seks bebas dan tidak hamil, apa salahnya jika aya juga mencoba Doronga n seks bebas yang muncul sebaiknya diarahkan pada bidang lain yang bermanfaat a ya bisa mengontrol diri untuk tidak melakukan hubungan seks bebas dengan lawan j enis (pacar maupun teman), meskipun situasi memungkinkan aya akan berolah raga untuk mengalihkan perhatian terhadap seks bebas eks bebas dapat mengurangi keje nuhan dalam belajar Jika kedua belah pihak (laki laki dan perempuan) dapat mempe rtanggungjawabkan perbuatannya, maka seks bebas dapat dilakukan Karena takut ber cerai, banyak pasangan cinta yang kumpul kebo Meskipun tanpa ada ikatan pernikah an, perasaan cinta yang tulus dan mendalam sebaiknya diungkapkan dengan melakuka n hubungan seks Remaja yang telah melakukan hubungan seks secara bebas tidak per lu merasa sedih, karena dengan melakukan seks bebas berarti pengalamannya bertam bah Dalam pergaulan sah sah saja jika aya melakukan hubungan seks dengan bebas Dengan mempunyai pacar, hasrat seksual saya akan terpenuhi Karena tidak menggang gu prestasi belajar, maka seks bebas tetap saya lakukan Jika saya sangat mencint ai pacar aya, maka saya akan melakukan hubungan seks dengannya Jika aya terang sang melihat melihat gambargambar porno, aya akan melakukan hubungan seksual de ngan lawan jenis, meskipun itu bukan isteri/suami aya sendiri

¡

¡ ¡

¡

¡

¡

¡

  ¡

¡

¡

 

¡

¡

139 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. Masih perawan sampai saatnya menikah adalah suatu hal yang penting bagi aya Men jaga keperjakaan sampai saatnya menikah merupakan hal penting bagi aya Berganti ganti pasangan seksual dapat menyebabkan penyakit kelamin Menurut aya, masa de pan saya akan suram jika terjadi pernikan dini akibat seks bebas aat dorongan s eks muncul, aya akan mengalihkan dorongan itu dengan belajar lebih giat supaya orang lain lebih menghargai aya aat dorongan seks bebas muncul, keinginan aya untuk berolahraga besar Dengan melakukan hubungan seks bebas, aya akan mempuny ai resiko tertular penyakit seksual Pergaulan eks bebas dapat menambah kepercay aan diri aya merasa lebih mencintai dan dicintai oleh pacar setelah melakukan h ubungan seks dengannya aya akan menyerahkan keperawanan atau keperjakaan aya b ila aya yakin bahwa pacar aya adalah pendamping terbaik untuk aya Remaja yang melakukan seks bebas sudah sepantasnya dikucilkan oleh masyarakat Kumpul kebo t idak boleh dilakukan karena melanggar norma norma yang ada Bergandengan dan berp elukan dengan pacar pada saat kencan boleh saja eseorang yang berani melakukan hubungan seksual sebelum menikah berarti sanggup menanggung dosa besar Remaja ya ng pernah melakukan seks bebas akan mempunyai perasaan bersalah seumur hidup Rem aja yang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya dikeluarkan dari sekolah untuk menghindari peniruan perbuatan oleh temannya yang lain Anak yang dilahirkan dari hasil seks bebas akan ikut menanggung dosa orang tuanya

¡

¡

¡

¡ ¡

¡

¡

¡

¡

¡

 

¡

¡

¡

¡

¡

¡

¡

 

68. 56. walaupun bertentangan dengan ajaran agama ya ng aya anut Remaja yang ketahuan melakukan seks bebas sebaiknya di usir oleh ke luarganya Remaja yang melakukan seks bebas sudah pasti berasal dari keluarga yan g kurang harmonis Dengan melakukan seks bebas berarti orang tersebut tidak mengh argai ikatan perkawinan Remaja yang melakukan hubungan seks bebas mempunyai sifa t yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. 60. 61.140 54. terutama orang tuanya sendiri Re maja yang melakukan seks bebas mempunyai sifat yang egois Remaja yang melakukan seks bebas berarti merusak masa depannya sendiri Kesadaran remaja tentang nilai dan norma norma yang ada di masyarakat akan mencegah mereka untuk berperilaku se ks bebas eseorang yang berasal dari keluarga yang mempunyai kontrol agama yang baik tidak akan melakukan seks bebas Jika ada kesempatan untuk saya adan pacar u ntuk melakukan hubungan seks. Remaja yang melakukan seks bebas akan mengalami kesulitan dalam berkeluarga kela k Masyarakat perlu memperhatikan hubungan sepasang remaja. 70. 62. aya selalu memanfatkannya ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡   . 65. 69. 58. 63. misalnya pasangan pac aran. 55. 71. 57. meskipun ini dilarang aya tetap me lakukan hubungan seks secara bebas. sehingga seks bebas tidak terjadi Meskipun sepakat untuk menanggung resiko . sebaiknya seks bebas tidak dilakukan oleh sepasang kekasih sebelum syah menjad i suami istri Menurut aya dalam berpacaran tidak usah terlalu mempedulikan norm a norma yang ada Remaja yang melakukan seks bebas bukan berarti mempunyai moral yang jelek aya tidak merasa bersalah dengan hubungan seks bebas yang saya lakuk an aya senang melakukan seks bebas meskipun aya tahu itu dilarang oleh agama y ang aya anut eks bebas tetap saya lakukan. 59. 67. 66. 64.

82. 80. 78. Orang tua yang tahu dan tidak melarang anaknya berpacaran adalah orang tua yang bijaksana Masalah seksual adalah hak seseorang. 74. selayaknya m elakukan seks bebas supaya orang tua menjadi setuju dengan hubungan mereka Agar tidak direbut oleh orang lain seorang pemuda atau pemudi dapat mengajak pacarnya melakukan seks bebas eks bebas yang dilakukan baik dengan pacar maupun dengan orang lain (teman. sehingga aya tidak akan melakukannya Fenom ena perilaku seks bebas yang akhir akhir ini banyak disoroti. 87. 76. 79. 84. 86.141 72. seperti berpacaran dengan melakukan seks bebas Rasa cinta pada pacaran di dorong oleh rasa ingin melindungi Keluarga aya melarang seseora ng berhubungan seks sebelum menikah. 75. 83. maka tidak ada seorangpun yang b oleh melarang orang lain melakukan seks bebas Teman yang suka mempengaruhi kita untuk ikut dalam pergaulan seks bebas harus dihindari aya merasa tidak senang j ika ada teman yang mempengaruhi aya untuk melakukan seks bebas aya merasa sena ng apabila bisa menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat dengan tidak melaku kan perbuatan amoral. 85. istri/suami orang lain) merupakan tindakan yang tidak dapat aya terima ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ . 77. 81. tidak akan membuat aya terpengaruh untuk melakukannya Melakukan hubungan seks sekali saja tidak a kan menyebabkan kehamilan Menurut saya hidup bersama sebelum menikah boleh saja dilakukan agar aya lebih dapat menjajaki pasangan aya lebih senang berteman de ngan orang orang yang mendukung pergaulan seks bebas eks bebas sebaiknya dilaku kan oleh pasangan yang akan menikah untuk dapat lebih mengetahui sifat masing ma sing Berhubungan seksual akan aya lakukan sebagai bukti perasaan cinta pada pac ar epasang kekasih yang hubungannya tidak direstui oleh orang tua. 73.

71. wajar jika melakukan seks beba s Melakukan hubungan seks secara bebas berarti 94. meskipun itu dengan pacarnya sendiri eks bebas adalah hal yang w ajar dan biasa 98. melakukan hubungan seks sebelum menikah Dorongan seks yang muncu l sebaiknya dimanifestasikan dengan perilaku yang tidak 97. aya masih dalam keaadaan perawan/perjaka aya t idak bersedia melakukan hubungan seks 90. 81 . dilakukan dalam kehidupan modern Rasa cinta pada pacar merupa kan manifestasi dari 99. 69. dengan lawan jenis sekalipun dia orang yang sangat aya cintai Adalah salah jika kita melarang orang yang 91. dorongan seks yang ingin dipuaskan Tidak apa apa kalau dari hubungan seks secara 100. tetap dan ekonominya matang. 13. 77. 49. berpacar an untuk tidak melakukan hubungan seks eks bebas dapat dilakukan oleh sepasang remaja 92. 79. yang saling mencintai dalam ikatan pacaran eseorang yang sudah mempu nyai penghasilan 93. 50. seks bebas yang aya anut dan aya tidak peduli pandangan orang lain *) Item yang tidak valid pad a nomor : 3. 42. bebas yang saya lakukan. 88. karena sa mpai waktunya 89. aya menikah. menjurus pada perila ku seks bebas. 41. sebaiknya kontak fisik dengan lawan jenis yang bukan suami/istri kita dihindari aya merasa bangga. idaman semua orang untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus meneruskan keturunan aya takut dianggap kurang pergaulan bila tidak 96. merusak ketulusan cinta Hidup bersama dalam ikatan perkawinan adalah 95. lahir seorang anak di lu ar nikah aya akan bertanggungjawab atas akibat pergaulan 101.142 ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤ ntuk menghindari perbuatan seks secara bebas.

3.143 Petunjuk Pengisian Angket Angket ini adalah angket pengungkapan pendapat tentang masalahmasalah sosial. ada beberapa pert anyaan yang diajukan. Kerjakanlah dengan teliti dan jangan sampai ada yang terlewati. Da lam angket ini ada beberapa kasus. Anda diminta memberikan pendapat tentang kasu s tersebut. Pada bagian akhir setiap kasus. Bacalah baik baik setiap kasus yang disajikan 2. Tuliskan pertimbangan Anda pada lembar jawaban. Berikanlah pendapat Anda sesuai dengan pandangan dan pertimbangan An da sendiri. Anda dipersilahkan memberikan jawaban atau penyataan yang dianggap paling sesuai dengan pendapat Anda. Lang kah langkah pengerjaan angket ini adalah sebagai berikut : 1. elamat mengerjakan ! dan Terimakasih     ¡ .

Obat tersebu t diketemukan oleh seorang apoteker laki laki yang tinggal dalam kota yang sama. dan meminta padanya untuk menjual obat itu lebih murah atau membolehkannya membayar kemudian. Tetapi apoteker itu berka ta “ aya membuat obat itu dan aya akan mengharapkan uang yang banyak karena menem ukannya”. Dia hidup dalam pemukiman baru d engan nama Anto dan membuka sebuah usaha. Apakah bu Arman harus melaporkan Anto pada polisi ? ¡ ¡ ¡   ¡ ¡ ¡ . yaitu 10 juta rupiah. seorang wanita hampir mati karena sakit kanker. epatutnyakah Herman ber buat demikian ? mengapa ? 2. Herman. etelah 1 tah un mendekam di dalam penjara ia melarikan diri. Biaya pembuatan obat itu 2 juta rupiah. b erkeliling ke semua kenalannya untuk meminjam uang. tatapi ia menjualnya dengan harga 20 ju ta rupiah untuk satu dus kecil obat. apakah ia juga akan mencuri obat itu ? mengapa ? 3. 4. elama 8 tahun ia bekerja keras dan me nabung uang sehingga dia mampu mendirikan sebuah perusahaan. Apabila herman tidak mencintai istrinya. Dia mengatakan pada apoteker itu bahwa istrinya hampir mati. Ada sejenis ob at Radium yang menurut para dokter mungkin dapat menyelamatkan dia. bu Arman tentangga lama Anto mengenalinya sebagai orang yang melarikan diri dari penjara dan sedang dicari polisi. Akibatnya Herman menjadi putus asa dan ia mulai berpikir untu mendobrak apotek itu dan mencuri obat tersebut untuk istrinya.144 Kasus I Di Eropa. 1. Ia selalu jujur pad a langganan dan memberi upah yang tinggi pada para pekerjanya. Tetapi dia hanya mendapat pi njaman separuh dari yang ia butuhkan. Pada suatu hari. apakah penting bagi kita untuk melakuk an sesuatu dan menyelamatkan jiwa orang Kasus II Herman kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. uami wanita yang sakit tersebut.

Joko berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. keadaanya lemah sekali. Istri Herman dalam kesakitan yang luar biasa. sehingga obat penenang seperti TM atau morfin 1 dosis kecil saja akan mempercepat kematiaannya.145 Kasus III Pada akhirnya dokter mendapatkan sedikit obat Radium itu untuk istri H erman. Dan dalam saat saat tenang ia meminta s upaya para dokter memberinya TM cukup banyak saja agar ia cepat meninggal. Ia t idak tahan menanggung kesakitan. ia bekerja sebagai pengantar koran s ebelum berangkat sekolah. Bahkan istri Herman sering tida k sadar dan hampir gila karena sakitnya. Beberapa teman ayahnya mengajak ayak Di di pergi memancing dan ayah Didi hanya punya uang sedikit. eharusnya Didi menolak untuk menyerahkan uang itu ataukah ia menyerah ? mengapa ? 7. Jika berkeras hati u ntuk pergi berkemah. Dokter tahu bahwa hidup istri H erman itu kira kira tinggal 3 bulan lagi. hasil tabungannya sebagai pengantar koran. . Ayah didi kemudian me minta uang Didi. Haruskah dokter meluluskan apa yang diminta istri Herman tersebut ? dan m embuatnya meninggal. Ayahnya berjanji dia berhak berkemah kalau ia menabung sendiri untuk be rkemah. Oleh karena keinginannya yang kuat. Apakah kita harus selalu memenuhi janji kita ? mengapa ? ¡   ¥       ¥   . adalah seorang anak laki laki berumur 16 tahun. 6. 5. maka Didi merencanakan menolak permintaan ayahnya itu. Ia ingin sekali b erkemah. apalagi dia tahu bahwa umurnya tidak panjang la gi. supaya istri Herman segera dapat terlepas dari kesakitannya ? mengapa ? Kasus IV Didi. Tetapi sebelum bera ngkat berkemah ayahnya mengubah pikiran. uang ini cukup untuk biaya pergi berkemah dan lain lainnya.000. tetapi obat itu tidak mempan dan tidak ada cara pengobatan lain yang dike nal oleh ilmu kedokteran untuk menyelamatkannya. 60.

000. Manakah yang lebih jelek. Dari segi kebaikan masyarakat mana yang lebih j elek. Meskipu n orang tua itu tidak mengenal Bagio. . Bagio. Apa sebab orang tidak boleh mencuri barang di toko orang lain ? 13. mencuru seperti Karim ata u menipu seperti Bagio ? mengapa ? 10. Bagio berkata kepada orang tersebut bahwa ia dalam keadaan sakit bera t dan butuh uang Rp.000. e belum berkemah. 500. . 500. Didi memberi tahu kepada Joko mengenai uang itu. tetapi ia mau juga meminjamkan uang kepada Bagio. eandainya Bagio mendapat pinjaman dari b ank. kepada ayahnya. 60. Mereka secara diam diam mau meninggal kan kota dalam keadaaan tergesa gesadan membutuhkan uang. 9. 500. Apakah Joko harus memberi tahukan hal ini kepada ayahnya ? mengapa ? Kasus VI Dua pemuda mendapatkan kesulitan. 20. Karim. yang lebi h muda pergi pada seorang tua yang terkenal suka memberikan pertolongan kepada o rang lain. dan tidak bermaksud membayar kembali hutangnya itu. Apa kegunaan orang mempunyai hak milik ? 14. 8. unsur manakah yang paling jelek dalam menipu orang tua tadi ? mengapa ? 12. Menurut pendapat mu.untuk membiayai operasi.000 . menipu seperti Bagio atau mencuri seperti Karim ? mengapa demikian ? ¡       ¡       .000. lalu ia pergi berkemah dengan uang Rp. Didi mempunyai kakak bernama Joko. tanpa maksud mau mengembalikan pinjaman itu. bahwa ia berboh ong pada ayahnya.146 Kasus V : Didi berbohong mengatakan bahwa ia hanya mendapapatkan uang Rp. manakah yang lebih baik ? memi njam dari bank atau meminjam dari orang tua itu ? mengapa ? 11. Padahal sebenarnya ia tida k sakit sama sekali.000. yang lebih tua mendobarak sebuah toko dan mencuri uang sebanyak Rp.jumlah sebenarn ya yang diperolehnya dari mengantar koran. Akhirnya Karim dan Bagio dapat meninngalkan kota dengan masing masing me mbawa uang Rp.

tetapi musuh sebagian besar masih ada di sebernag sungai. dan mereka memil ih mundur. Benar atau salahkah kalau ia meninggalkan pos untuk melindungi k eluarganya ? mengapa ? Kasus VIII Pada saat perang kemerdekaan. Kompi tentara kita sudah menyeberang jembatan sebuah sungai yang memb elah kota urabaya. Hanya kapten itu sendiri yang paling tahu bagaimana memimpin penarikan mundur itu. ada salah satu kota yang se ring kali di bom bardir oleh panah. Akan tetapi. sesudah ada pemboman yang bukan main parahnya. tetapi pertama tama ia pulang menengok k eluarganya. Rumahnya cukup jauh dari situ. kemungkinan terbunuh ada dalam perbandingan 4 : 1. uatu hari. dekat tempat kerjanya. Ada seorang laki laki bernam a Diran yang mendapat tugas mengawasi sebuah pos pemadam kebakaran. di tengah jalan i a memutuskan menengok dulu keluarganya untuk melihat apakah anggota keluarganya selamat. Ka lau ada yang kembali ke jembatan dan meledakkan jembataan itu sewaktu musuh mele watinya. Diran meni nggalkan tempat perlindungan dan pergi ke posnya.147 Kasus VII Pada saat perang kemerdekaan di Indonesia. tentulah hal itu akan mengurangi kekuatan musuh. Kapten kompi ha rus memutuskan siapa yang harus kembali dan melaksanakan tugas itu. Tetap i orang yang kembali untuk meledakkan jembatan itu barangkali tidak dapat menyel amatkan diri.       ¡ ¡   ¡ ¡ . di urabaya ada 1 kompi tentara kita ka lah dalam jumlah jika dibandingkan dengan jumlah tentara musuh. Ia memint a sukarelawan tetapi tidak ada yang mau menjadi sukarelawan itu. 15. Dengan selisih jarak a ntara musuh dengan kompi barangkali mereka masih dapat menyelamatkan diri. emua orang laki laki di kota itu sering kal i mendapat tugas menjadi pos pos pemadam kebakaran.

Jika kapten menyuruh salah satu dari kedua orang itu.148 16. tetapi ia suka berbuat onar. Apakah kapten harus memberi perintah kepada seseorang untuk kembali dan mele dakan jembatan. apakah ia harus menyuruh si tukang pembuat onar itu. atau semuanya lari ? mengapa ? Kasus IX Kapten itu akhirnya memutuskan akan memerintahkan 1 dari 2 orangnya unt uk berhenti di belakang. Orang yang kedua yang akan dipilihnya kena penyakit kelamin (s iphilis) dan agaknya akan segera meninggal meskipun cukup kuat untuk melaksanaka n tugas itu. atau orang yang sakit kelamin ? meng apa ? ¡   . atau ia sendiri yang harus kembali. alah 1 dari 2 orang itu mempunyai tubuh kuat dan pembe rani. 17. Ia suka mengambil barang orang lain dan suka menolak tugasnya.

49. 77. 13. aya akan mengalihkan dorongan itu den gan belajar lebih giat supaya orang lain lebih menghargai aya aat dorongan sek s bebas muncul. 3. 71. tidak akan membuat aya terpengaruh untuk melakukannya aya senang berteman dengan ora ng orang yang mendukung pergaulan seks bebas T T 41. 77. 50. 81. aya sel alu memanfatkannya Dalam hubungan berpacaran harus dilandasi perasaan saling mel indungi Fenomena perilaku seks bebas yang akhirakhir ini banyak disoroti. 42. aya akan menghilangkannya dengan berolahraga supaya orang lebih menghargai aya Berciuman dengan pacar boleh saja asal sesuai dengan batas bata s norma yang ada eseorang yang berani melakukan hubungan seksual sebelum menika h berarti sanggup menanggung dosa besar Kesadaran remaja tentang nilai dan norma norma yang ada di masyarakat akan mencegah mereka untuk berperilaku seks bebas J ika ada kesempatan untuk saya adan pacar untuk melakukan hubungan seks. 42. 81   ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¥ ¤   ¡ ¡ . 49. 69.149 kala ji oba II o. Pernyataan Berciuman dengan kekasih membuat aya me rasa bersalah Melakukan hubungan seksual yang terlalu intim dengan pacar membuat aya tertekan aat dorongan seks muncul. Butir yang tidak valid yaitu nomor 13. 79.

JI VALIDITA DA RELIABILITA KALA IKAP REMAJA TERHADAP PERILAK EK BEBA o Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 1 6 17 18 19 20 21 22 23 24 25 1 3 3 1 2 2 3 4 2 2 2 3 3 2 4 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 3 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 4 2 4 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 4 2 2 3 1 1 1 2 1 3 1 1 6 2 1 2 2 1 4 4 2 2 2 2 3 2 4 2 4 1 1 2 2 3 1 1 2 3 7 4 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 8 2 2 1 1 1 2 4 1 2 1 2 3 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 2 2 2 1 1 3 4 1 2 1 2 3 1 4 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 10 4 3 2 1 1 4 2 2 2 1 3 4 4 4 3 2 1 1 2 2 2 1 3 1 1 o Item 11 12 1 1 1 1 1 1 3 1 2 1 1 2 1 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 1 3 3 4 3 2 2 1 4 1 2 1 2 1 1 13 1 2 1 1 2 4 1 1 3 2 1 2 3 4 4 2 1 1 2 1 3 1 2 1 1 14 1 2 2 1 2 1 1 1 3 2 1 2 4 4 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 15 1 3 2 1 2 1 4 1 2 1 2 2 3 4 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 16 1 2 2 3 2 1 3 1 2 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 2 3 1 3 1 1 17 3 2 2 2 3 4 2 2 3 1 3 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 18 1 2 1 2 2 4 4 2 2 4 4 4 3 1 4 2 2 1 1 2 4 1 3 1 1 19 2 3 1 1 1 4 4 2 2 3 2 3 1 1 1 2 1 2 2 2 4 1 2 1 1 ¦ ¡   ¥¤   ¥¤   ¥¤ ¥¤   ¥¤   ¥¤ ¡ ¡ ¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¡ ¡ ¡ ¦ ¡ ¤ ¦ .

687 0.396 0.633 0.529 0.446 0.415 0.752 0.396 .418 0.396 0.856 0.47 7 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.20 2 3 1 1 1 4 3 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 21 2 1 1 2 1 3 3 2 2 3 2 3 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 ΣX ΣX Validitas 2 50 122 51 115 38 66 43 99 38 76 55 145 42 92 38 78 44 98 56 156 33 57 47 111 47 115 43 99 46 104 47 107 51 123 58 170 49 121 48 114 44 90 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 10427 10166 7556 9173 7860 11194 8798 8170 9356 11669 6978 9686 9749 8788 9343 9 636 10167 11664 9856 10148 8730 0.581 0.723 0.396 0.396 0. 396 0.396 0.857 0.768 0.549 0.781 0.396 0.824 0.396 0.586 0.396 0.616 0.616 0.420 0.396 0.396 0.

746 0.998 0.002 0.438 0.396 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.822 1.880 0.222 0.397 0. 002 0.774 0.810 0.874 0.418 0.758 1.960 0.066 1.538 0.858 0.502 .906 1.0.330 1.730 0.

` No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 22 1 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 4 4 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 23 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 4 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 24 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 4 1 4 2 1 4 2 4 4 4 25 2 3 1 2 2 1 2 1 3 1 1 1 4 4 2 2 2 1 1 4 4 1 1 1 1 26 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 27 2 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 3 4 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 28 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 4 2 4 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 29 1 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 3 3 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 30 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 No Item 31 32 33 1 1 2 1 3 4 1 1 3 1 3 2 3 4 2 2 1 1 2 2 3 1 2 2 2 1 4 3 3 3 1 4 3 3 4 3 4 2 4 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 2 2 1 1 1 3 1 2 3 2 3 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 34 1 1 2 2 1 1 2 2 3 3 3 3 2 4 1 2 2 1 2 1 1 1 3 1 1 35 2 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 36 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 1 4 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 37 4 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 3 3 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 38 2 3 2 1 2 3 2 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 2 2 1 3 3 1 1 1 39 1 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 40 2 1 1 2 1 1 1 2 3 2 2 2 3 1 2 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 41 1 2 2 2 1 1 2 4 2 2 1 3 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 .

488 0.396 0.541 0.396 0.126 0.396 0.396 0.419 0.396 0.469 0. 536 0.529 0.39 6 0.396 0.396 Valid Valid Invalid Valid Invalid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid § ΣX ΣX Validita 2 .710 0.396 0.845 0.433 0.396 -0.396 0.500 0.396 0.396 -0.626 0.396 0.396 0.652 0.549 0.596 0.396 0.493 0.224 0.136 0.786 0.146 0.396 0.42 1 1 1 1 1 4 2 1 3 2 2 1 3 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 40 88 40 76 84 310 48 122 31 43 37 71 43 93 49 115 33 49 50 122 67 199 40 78 46 104 37 65 41 87 38 78 50 116 35 63 42 82 44 96 42 86 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8293 8051 15805 9714 5832 7544 9116 10192 6413 10158 13234 8262 9452 7476 8601 7 788 10119 7278 8118 8951 8460 0.686 0.396 0.396 0.396 0.396 0.

774 0.650 0.762 0.742 0.194 0.640 0.110 1.218 0.480 1.560 0.0.618 .758 0.810 0.880 0.778 0. 410 0.560 0.182 0.458 0.790 0.960 0.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 43 2 1 3 1 1 4 3 1 3 1 1 2 2 3 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 44 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 1 2 1 2 3 1 2 1 2 1 1 45 2 3 3 3 4 1 4 2 3 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 46 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 3 4 1 1 2 1 1 2 3 1 2 1 1 47 1 2 1 1 1 3 3 1 2 1 2 3 1 4 2 2 2 1 2 2 3 1 2 1 1 48 2 1 1 2 1 2 3 1 2 1 2 3 4 4 1 2 1 1 1 1 2 1 3 1 1 49 1 1 1 1 1 4 1 2 2 1 1 3 4 2 1 2 1 1 2 2 3 1 2 1 1 50 2 4 2 4 3 4 3 2 3 2 2 4 4 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 51 1 3 1 1 1 1 3 2 2 2 1 3 1 4 1 1 1 1 1 4 2 1 2 1 1 52 2 4 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 2 2 2 3 2 2 1 2 1 1 No Item 53 54 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 4 1 2 2 1 1 2 1 1 3 1 1 2 4 1 1 1 4 2 1 2 1 2 2 1 4 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 55 2 2 2 1 3 4 4 1 3 3 2 2 1 4 4 1 2 1 1 2 4 1 2 1 1 56 2 3 1 3 1 4 4 2 2 3 2 3 4 4 1 2 1 2 2 1 4 1 3 1 1 57 2 1 1 1 1 3 4 1 3 1 1 2 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 58 2 4 2 4 2 4 3 2 3 2 1 3 4 4 1 2 2 1 2 1 1 1 4 2 2 59 2 1 2 1 1 4 2 2 3 2 1 2 2 4 4 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 60 2 1 1 2 2 4 2 2 3 1 2 3 1 4 1 2 2 1 1 2 1 1 3 1 1 61 1 1 1 1 1 1 3 2 2 2 2 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 .

564 0. 396 0.642 0.396 0.73 3 0.567 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.741 0.780 0.396 0.607 0.396 0.396 0.471 0.506 0.630 0.396 0.670 0.613 0.834 0.624 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.396 0.676 0.520 0.486 0.639 0.715 0.132 0.396 0.396 § ΣX ΣX Validita 2 .62 3 4 3 3 1 4 2 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 2 3 2 4 1 2 1 1 63 2 3 3 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 4 2 2 2 2 3 3 1 1 2 2 1 41 87 43 95 55 137 44 98 45 99 44 100 42 92 68 204 42 94 50 116 37 69 43 97 54 148 57 161 37 73 59 169 48 114 46 106 41 81 63 181 60 160 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8556 8968 10601 9111 9459 9311 8563 13462 8765 10087 7621 9083 11161 11882 7814 12012 9860 9608 8278 12610 12066 0.730 0.396 0.396 0.

890 0.822 0.640 .858 0.922 1.720 0.730 1.Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.790 0.854 0.874 0.762 0.190 0.902 0.550 0.640 0.640 0.938 0.842 0.570 0.254 1. 242 0.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 64 2 1 2 1 1 2 4 1 2 1 2 4 1 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 65 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 66 2 2 2 2 1 4 4 2 2 2 3 3 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 3 1 1 67 1 2 2 1 1 4 1 1 3 3 2 4 2 3 2 1 1 1 1 2 3 1 2 1 1 68 2 2 2 3 1 3 3 1 3 1 2 1 1 4 2 3 1 2 1 2 1 2 3 1 1 69 2 3 2 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 4 1 2 2 1 3 3 1 3 1 1 70 1 2 1 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 4 3 1 1 71 3 2 1 2 1 1 4 2 3 2 2 1 1 4 2 2 1 3 3 2 1 4 3 2 1 72 1 3 1 2 1 4 1 1 2 2 2 4 2 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 73 2 2 2 3 1 4 3 1 2 2 2 3 4 4 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 1 No Item 74 75 1 1 1 1 1 4 4 1 2 2 2 4 1 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 3 3 3 1 3 1 1 3 3 3 3 2 1 1 4 4 2 3 4 2 3 4 3 4 4 76 2 3 1 1 1 1 4 1 3 2 2 3 1 4 1 2 1 1 2 3 2 1 2 1 1 77 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 3 2 1 4 2 2 3 1 1 2 1 1 2 1 1 78 2 2 1 1 1 2 3 1 3 2 3 2 1 4 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 79 2 2 1 2 1 4 3 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 2 1 1 80 2 2 1 3 1 3 4 2 3 2 1 3 2 4 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 81 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 2 4 4 4 2 1 3 2 2 2 1 1 3 1 1 82 3 3 1 2 3 1 3 2 2 2 3 3 2 4 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 .

819 0.598 0.570 0.396 0.39 6 0.396 0.747 0.162 0.213 0.396 -0.728 0.778 0.396 0.396 0.626 0.83 1 2 3 3 3 1 1 2 3 2 4 2 3 4 2 2 3 3 3 2 1 1 3 4 3 84 2 2 1 4 1 3 3 1 2 2 2 4 1 3 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 41 91 41 83 48 112 46 108 48 112 51 131 40 80 53 137 43 99 53 135 45 109 68 212 46 108 43 95 45 97 46 106 47 111 64 196 55 141 61 171 45 103 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8755 8233 9778 9626 9761 10492 7777 10355 9168 10963 9675 12118 9653 8981 9320 9 573 9931 13054 11158 11576 9326 0.396 0.700 0.396 § ΣX ΣX Validita 2 .396 0.396 -0.428 0.830 0.772 0.396 0.396 0.713 0.396 0.396 0. 396 0.028 0.6 87 0.610 0.396 0.555 0.735 0.396 0.396 0.396 0.642 0.396 0.609 0.396 0.

934 0.002 0.794 1.Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Invalid Valid Valid Valid Invalid Va lid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid 0.794 0.082 0.640 0.120 1.950 0. 842 0.630 0.906 1.906 1.800 0.078 0.934 0.286 0.986 1.640 0.886 0.880 .854 0.

No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 85 1 1 1 1 1 4 2 1 2 2 2 2 3 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 86 2 1 2 2 1 1 3 4 2 3 2 3 3 4 2 2 1 2 2 1 2 1 3 1 2 87 2 1 2 1 1 1 3 1 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 1 3 1 1 2 1 1 88 4 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4 2 1 4 2 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 89 1 3 1 1 1 1 3 1 4 1 2 4 2 4 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 90 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 4 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 91 1 3 1 1 1 1 4 1 1 1 4 1 1 4 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 92 2 3 2 1 2 4 2 2 1 1 3 2 1 1 1 3 2 3 2 1 2 3 1 3 3 No Item 93 94 3 3 3 2 3 1 2 2 3 2 4 4 4 4 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 3 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 95 4 1 1 2 1 3 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 96 1 2 3 2 1 1 4 1 2 3 3 4 1 4 1 1 3 2 2 2 1 1 3 3 2 97 2 2 4 4 3 4 3 3 1 3 2 4 3 4 2 3 3 1 2 2 4 1 3 2 3 98 3 2 2 1 1 4 2 1 1 1 4 3 1 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 99 3 2 1 3 1 1 3 2 4 3 2 4 4 4 1 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 100 4 2 2 3 2 4 2 2 2 1 3 4 3 4 3 3 3 2 1 1 1 2 3 1 2 101 1 1 1 2 1 1 2 1 4 2 3 4 2 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 Y 184 204 163 167 147 253 249 156 239 185 208 271 209 345 178 180 154 142 161 177 206 122 207 128 123 Y2 33856 41616 26569 27889 21609 64009 62001 24336 57121 34225 43264 73441 43681 11 .

396 0.396 0.396 0.715 0.440 0.790 0.396 0.396 0.495 0.9025 31684 32400 23716 20164 25921 31329 42436 14884 42849 16384 15129 40 84 52 128 40 82 40 90 46 110 36 72 39 87 51 123 60 166 42 90 43 99 53 139 68 208 42 94 51 137 60 168 42 96 4758 969538 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 8506 10454 7749 8219 9719 7422 8090 9422 11986 8791 8741 10656 13433 8545 10682 12068 8933 0.396 0.396 0.470 0.396 0.524 0.672 0.127 0.396 0.478 0.396 k Σσ 2 b = = = = 101 84.502 0.436 0.4 50 0.396 0.818 0.396 0.396 0.757 0.396 0.396 0.396 0.258 0. 396 -0.397 2559.736 0.405 0.977 2 Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Va § ΣX ΣX Validita 2 .516 0.

040 1.778 1.880 0.758 0.720 1.960 1.046 0.800 0.318 0.794 0.lid Valid Valid Valid Valid σ t 0.938 1.014 0.018 r11 .806 1.066 0.922 0.002 1.

UJI VALIDITA DAN RELIABILITA ANGKET MORAL No Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UC-01 UC-02 UC -03 UC-04 UC-05 UC-06 UC-07 UC-08 UC-09 UC-10 UC-11 UC-12 UC-13 UC-14 UC-15 UC-1 6 UC-17 UC-18 UC-19 UC-20 UC-21 UC-22 UC-23 UC-24 UC-25 1 3 2 4 5 4 3 3 4 3 3 2 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 5 3 2 3 3 4 5 4 3 3 4 3 3 2 3 3 2 3 4 3 3 4 4 3 4 2 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 2 3 4 5 4 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 4 4 6 3 3 3 5 4 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 5 3 3 3 7 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 8 4 3 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 3 4 4 3 4 3 3 3 No Item 9 10 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 5 3 3 4 4 3 4 3 4 4 11 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 12 3 3 5 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 2 3 4 3 3 4 4 3 4 3 5 4 13 3 3 5 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 5 3 3 4 4 3 5 4 5 4 14 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 4 4 4 3 4 3 4 4 15 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 5 4 3 4 3 4 4 16 3 3 4 5 4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 17 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 Y 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 Y2 2704 2500 4225 4489 3481 2809 2809 3481 2704 2916 2601 2916 2916 1849 2601 5776 3136 3025 4761 4356 2704 4900 2916 4624 3969 ¡ ¡ .

396 0.84 300 82 282 85 295 90 332 85 303 82 284 78 248 83 285 85 295 83 285 82 276 86 308 90 338 84 290 87 311 91 339 89 323 1446 85168 ΣXY rxy rtabel Kriteria σ 2 b 5004 4856 4989 5279 5042 4864 4569 4877 4984 4904 4825 5080 5321 4948 5093 5336 5197 0.507 0.396 0.396 0.254 0.859 0. 396 0.396 0.396 0.396 0.757 0.801 0.396 0.396 0.666 0.396 0.396 0.858 0.791 0.396 0.682 0.396 0.396 0.947 2 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid σ t § ΣX ΣX Validita 2 .705 0.396 k Σσ 2 b = = = = 17 6.788 0.396 0.82 0 0.396 0.775 0.882 0.542 0.663 0.798 0.634 0.659 61.

246 r11 .378 0.560 0.0.602 0.240 0.522 0.310 0.710 0.240 0.330 0.378 0.186 0.560 0.282 0.486 0.320 0.310 0.

574 ¥¤   ¥¤ £   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤     ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤   ¥¤ Kode 01 02 14 15 § § £ ¢ § £ £ ¦ £ § Perhitungan Validita kala ikap Remaja terhadap Perilaku ek ¡ ¡ ¡ Beba Rumu £ £ £ ¦ £ .396 ren r xy < r t bel. m k ngket no 1 tersebut inv lid.rxy = {N ∑ X N ∑ XY .345 Pada α = 5% deng n n = 25 diperoleh r t bel = 0.(∑ X )(∑ Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{ 2 } Kriteria Butir item valid jika rxy > r tabel Perhitungan Berikut ini contoh perh itungan validitas pada butir no 1 o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 03 16 04 05 06 17 18 19 07 20 08 21 09 22 10 11 12 23 24 25 13 ∑ Y 2 − (∑ Y ) X 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 4 1 4 2 1 4 2 4 4 4 Y 22 23 22 20 22 18 32 22 29 22 29 21 21 17 24 26 15 26 24 19 20 29 27 23 21 X2 16 16 16 16 16 16 16 16 9 9 16 16 9 1 16 16 1 16 4 1 16 4 16 16 16 Y2 484 529 484 400 484 324 1024 484 841 484 841 441 441 289 576 676 225 676 576 361 400 841 729 529 441 XY 88 92 88 80 88 72 128 88 87 66 116 84 63 17 96 104 15 104 48 19 80 58 108 92 84 Σ 84 574 310 13580 1965 Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh: 84 574 25 1965 rxy = 2 310 84 25 25 13580 = 0.

2 .

93 76. e d n dorong n seksu l terh d p tingk h l ku seksu l 2.9 8 49.70 23. Butir F vor ble kognitif fektif kon tif 81.79 55 13 9 68.33 . ik p d n peril ku menghorm ti or ng l in 7. Dorong n untuk berdiri osi l sendiri 9. 32. ep tuh n terh d p norm d n per tur n 6. 99. 97 61.91. 42 22. Pel ks n n min t seksu l No.85. 20.63 Juml h 10 Biologis 53. 13 59.L mpir n 08 161 eb r n Butir k l ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s Aspek Indik tor 1.21.75 44.69 80 36. 9 72 12 51 35. P nd ng n rem j terh d p kehidup n bers m m sy r k t Juml h £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¢ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¥ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ¢£ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ £ £ . 101. Butir Un f vor ble ognitif Afektif kon tif 52 16 40 No.95.94 66 6.65 5 88.17. 73 46 48.12 £ 4. itr diri (penil i n Psikologis terh d p diri 5. 43 41. 84. Peng ruh lingkung n (or ng tu d n tem n seb y ) 8.77.64 15 100. 56 3 27 4 30. 82. Min t rem j terh d p l w n jenis kel min 3.89 8.

9 6 83 50 58 11 78 14.90.7 15 1.38 39 31 86 10 7 47 57.37 11.87 29 60 18. 54.67. 2 74 62 8 17 16 17 16 13 .28 19 11 25.71.

17 96 .

L mpir n 09 162 ¡£ J w b n tem n tem n merup k n inform si y ng s ng t penting d n memb ntu d l m p eneliti n y . Di teng h kesibuk n y ng tem n tem n l kuk n. perken nk n y ..3562685 Gunung P ti em r ng 50229 Identit s s mpel N m : Usi : Je nis el min : Ass l mu’ l ikum Wr... sel njutny berik n t nd sil ng (X) p d j w b n y ng tem n tem n ngg p sesu i. Telepon 024. ELAMAT MENGERJA AN. ontoh : X T X T £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ £ ¡¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £   £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡ £ ¡ £ £   £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡   £ ¢ ¡ £¡ £ ¡ £¡ ¡¡£ £¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡¢ ¡ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¢ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡£ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¢ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¢ ¡ ¡ £ £ ¡ £ ¢ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £   £ £ ¢ £ £ £ ¢ £ £ £ £ ¡ . Ad pun petunjuk pengisi n d ny seb g i berikut : B c l h seti p perny t n deng n teliti d n menj w b semu perny t n t np d y ng terlew tk n deng n se jujurny sesu i deng n kondisi y ng tem ntem n l mi. Horm t y PRAMITA AGNE WAHARENI (M h sisw Jurus n Psikologi UNNE ) ... Wb. sehingg tid k d j w b n y ng diny t k n seb g i j w b n ben r t u s l h... Pilihl h 1 (s tu) d ri 4 (emp t) j w b n y ng tersedi .. Altern tif j w b n y ng tersedi d l h seb g i berikut : : bil And s ng t setuju deng n perny t n tersebut : bil And setuju deng n perny t n tersebut T : bil And tid k setuju deng n perny t n tersebut T : bil And s ng t tid k setuju deng n perny t n tersebut Jik s ud r mer s b hw j w b n y ng tel h tem n tem n pilih kur ng tep t. memohon b ntu n tem n tem n untuk menj w b d ft r perny t n deng n berb g i pilih n j w b n y ng di ngg p sesu i deng n kondisi tem n tem n..2 mpus ek r n. deng n membe ri t nd sil ng (X) p d j w b n y ng tem n tem n ngg p sesu i deng n kondisi t em n tem n. Perny t n tersebut buk n merup k n tes. m k beril h t nd s m deng n (=) p d j w b n y ng kur ng tep t. ¡ £ £ k l Peneliti n HUBUNGAN I AP REMAJA TERHADAP PERILA U E BEBA DI TINJAU DA RI TING AT PENALARAN MORAL PADA I WA ELA DUA (II) MU E ATRIAN 1 EMARANG t hun j r n 2005/2006 (Teori Perkemb ng n Mor l ölberg) JURU AN P I OLOGI FA ULTA ILMU PENDIDI AN UNIVER ITA NEGERI EMARANG (UNNE ) Gedung .. Terim k sih t s b ntu n d n kerj s m y ng tem n tem n berik n .

12. 10. 15. 05. 03. 17.163 No. 16. 14. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £¡ £ £ £ £ ££ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £  £ ¡¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ . 01. 11. 18. 19. 02. 08. sehingg y tid k k n mel kuk n hubung n seks t np menik h Rem j y ng mel kuk n seks beb s mempuny i sif t y ng egois Deng n mel kuk n seks beb s ber rti or ng tersebut tid k mengh rg i ik t n perk win n y mer s tid k sen ng jik d tem n y ng mempeng ruhi y untuk mel kuk n seks beb s D orong n seks y ng muncul seb ikny dim nifest sik n deng n peril ku y ng tid k m enjurus p d peril ku seks beb s. 04. meskipun ini dil r ng Rem j putr /putri k n memiliki per s n perc y diri y ng tinggi bil i mel kuk n seks beb s eks beb s d p t dil kuk n oleh sep s n g rem j y ng s ling mencint i d l m ik t n p c r n y s ng t menghorm ti norm norm m sy r k t. Perny t n eks beb s d l h s l h s tu peril ku y ng sed ng m r k di soroti d l m kehidup n modern R s cint p d p c r merup k n m nifest si d ri dorong n se ks y ng ingin dipu sk n y k n berol h r g untuk meng lihk n perh ti n terh d p seks beb s eks beb s merup k n c r y ng p ling tep t untuk membuktik n r s cint Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sek ol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in eseor ng y ng mel kuk n hubung n seks sec r beb s d n tid k terj di keh mil n k ren ny tid k perlu mempert nggungj w bk n perbu t nny y t kut di ngg p kur ng perg ul n bil tid k mel kuk n hubung n seks sebelum menik h eks beb s tet p s y l kuk n. 07. w j r jik mel kuk n seks T T 06. 09. meskipun itu deng n p c rny sendiri y kece w p bil d p t mencur hk n k sih s y ng kep d kek sih deng n c r berhubung n seks deng nny Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h p sti ber s l d ri kelu r g y ng kur ng h rmonis eks beb s seb ikny dil kuk n oleh p s ng n y ng k n m enik h untuk d p t lebih menget hui sif t m sing m sing eseor ng y ng sud h mem puny i pengh sil n tet p d n ekonominy m t ng. 13.

32. 23. 36. 22. k ren s mp i w ktuny y men ik h. 24. 31. h sr t seksu l y k n terpenuhi y m u mel kuk n hubung n seks u l deng n p c r. y k n mempuny i resiko tertul r peny kit seksu l Ag r tid k direbut oleh or ng l in seor ng pemud t u pemudi d p t meng j k p c rny mel kuk n seks beb s Mel kuk n hubung n seks sek li s j tid k k n menyeb bk n keh mil n y tid k bersedi mel kuk n hubung n seks deng n l w n jenis s ek lipun di or ng y ng s ng t y cint i Bercumbu deng n p c r merup k n s t y ng p ling menyen ngk n Jik y s ng t mencint i p c r y . l y k mel kuk n hubung n seksu l Deng n memp uny i p c r. s l di temp t y g sepi d n t k d or ng y ng di ken l Rem j y ng pern h mel kuk n seks beb s k n mempuny i per s n bers l h seumur hidup eks beb s y ng dil kuk n b ik deng n p c r m upun deng n or ng l in (tem n. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ££ ¡ £ £ £ £ £ £¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ beb s T np menik h terlebih d hulu. 25. ist ri/su mi or ng l in) merup k n tind k n y ng tid k d p t y terim Deng n mel kuk n hubung n seks beb s. 29. m k s y k n m el kuk n hubung n seks deng nny Menurut y hidup bers m sebelum menik h bole h s j dil kuk n g r y d p t lebih menj j ki sif t p s ng n M sih per w n s mp i s tny menik h d l h su tu h l y ng penting b gi y D l m perg ul n s h s h s j jik y mel kuk n hubung n seks deng n beb s y mer s sen ng p b il bis menj g keperc y n or ng tu d n m sy r k t deng n tid k mel kuk n per bu t n mor l. 38. seperti berp c r n deng n mel kuk n seks beb s Untuk menghind ri perbu t n seks sec r beb s. 30. 28. seb ikny kont k fisik deng n l w n jenis y ng buk n su mi/istri kit dihind ri y mer s b ngg . 34. 37. 33. y m sih d l m ke d n per w n/perj k Bercium n deng n kek sih membu t y mer s bers l h eks beb s dil kuk n oleh k um rem j g r tid k di ngg p ketingg l n j m n £ £ £ £ £ £ £ £ £ . seseor ng y ng org n seksu lny sud h berke mb ng d n sud h d p t bereproduksi. 26.164 20. 27. 21. 35.

47. m k tid k d seor ngpun y ng boleh mel r ng or ng l in mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n hubung n seks beb s mempuny i sif t y ng tid k mempedulik n per s n or ng l in. 53. 54. terut m or ng tu ny sendiri Menurut s y hidup bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y lebih d p t men j j ki p s ng n Rem j y ng mel kuk n seks beb s k n meng l mi kesulit n d l m berkelu rg kel k y k n bert nggungj w b t s kib t perg ul n seks beb s y ng y nut d n y tid k peduli p nd ng n or ng l in £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££¡£ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¥ . 44. 48. meskipun itu deng n p c r s y sendiri int y ng tulus d n mend l m kep d p c r tid k perlu dim nifest sik n deng n seks beb s eks beb s d p t mengur ngi kejenuh n d l m bel j r Perg ul n eks beb s d p t men mb h keperc y n diri Mel kuk n hubung n seks sec r beb s ber rti merus k ketulus n cint Meskipun t np d ik t n pernik h n. 55. 43. sel y kny mel kuk n seks beb s sup y or ng tu menj di setuju deng n hubung n merek y k n m enyer hk n keper w n n t u keperj k n y bil y y kin b hw p c r y d l h pend mping terb ik untuk y eks beb s d p t menimbulk n kesen ng n y ng t k terb y ngk n Hidup bers m d l m ik t n perk win n d l h id m n semu or ng untuk mend p tk n keb h gi n sek ligus menerusk n keturun n M s l h seksu l d l h h k seseor ng. 56. per s n cint y ng tulus d n mend l m bis diungk pk n deng n mel kuk n hubung n seks Menurut y d l m berp c r n tid k us h terl lu mempedulik n norm norm y ng d Or ng tu y ng t hu d n tid k mel r ng n kny berp c r n d l h or ng tu y ng bij ks n Dorong n seks beb s y ng muncul seb ikny di r hk n p d bid ng l in y ng berm nf t D orong n untuk mel kuk n seks y ng muncul sebelum menik h seh rusny ditek n y pikir p c r n d n kemudi n mel kuk n hubung n seksu l itu tid k d gun ny ep s ng kek sih y ng hubung nny tid k direstui oleh or ng tu . 42. 41. 52. £ £ y t kut mel kuk n seks beb s. 57. 45. 58. 51. 40.165 39. 46. 49. 50.

b ny k p s ng n cint y ng kumpul kebo Tid k p p k l u d ri hubung n seks sec r beb s y ng s y l kuk n. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡£ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ eks beb s y ng dil kuk n deng n l t kontr sepsi tid k k n menimbulk n kib t y ng tid k diingink n y tet p mel kuk n hubung n seks sec r beb s. w l upun bertent ng n deng n j r n g m y ng y nut Berg nti g nti p s ng n seksu l d p t menyeb bk n peny kit kel min Jik p c r y memint y m u berpeluk n d eng nny Berhubung n seksu l k n y l kuk n seb g i bukti per s n cint p d p c r Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h sep nt sny dikucilk n oleh m sy r k t Rem j y ng tel h mel kuk n hubung n seks sec r beb s tid k perlu mer s s edih. 76. 70. l hir seor ng n k di lu r nik h t dorong n seks muncul. k ren deng n mel kuk n seks beb s ber rti peng l m nny bert mb h eseor ng y ng ber ni mel kuk n hubung n seksu l sebelum menik h ber rti s nggup men ng gung dos bes r es d r n rem j tent ng nil i d n norm norm y ng d di m sy r k t k n menceg h merek untuk berperil ku seks beb s Jik tem n y pern h m el kuk n hubung n seks beb s d n tid k h mil. meskipun it u buk n isteri/su mi y sendiri y mer s lebih mencint i d n dicint i oleh p c r setel h mel kuk n hubung n seks deng nny £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ ¡ . 75. p s l hny jik y jug mencob ren t kut bercer i. 67. 66. 63.166 59. y k n meng lihk n dorong n itu deng n bel j r lebih gi t sup y or ng l in lebih mengh rg i y y tid k mer s bers l h deng n hubung n seks beb s y ng s y l kuk n Rem j y ng ket hu n mel kuk n s eks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in Tem n y ng suk mempeng ruhi kit untuk ikut d l m per g ul n seks beb s h rus dihind ri Jik y ter ngs ng melih t melih t g mb r g mb r porno. 62. 68. 74. 64. 65. 73. y k n mel kuk n hubung n seksu l deng n l w n jenis. 71. 72. 69. 61. 60.

94. 82. y sel lu mem nf tk nny y sen ng bertem n deng n or ng or ng y ng mendukung perg ul n seks beb s umpul kebo tid k boleh dil kuk n k ren mel ngg r norm norm y ng d Ad l h tid k tep t j ik kit mel r ng or ng y ng berp c r n untuk tid k mel kuk n hubung n seks Feno men peril ku seks beb s y ng khir khir ini b ny k disoroti. 78. 85. 83. 84. m s dep n s y k n sur m j ik terj di pernik n dini kib t seks beb s y sen ng mel kuk n seks beb s mes kipun y t hu itu dil r ng oleh g m y ng y nut Rem j y ng mel kuk n sek s beb s ber rti merus k m s dep nny sendiri Menj g keperj k n s mp i s tny menik h merup k n h l penting b gi y Rem j y ng mel kuk n seks beb s buk n ber rti mempuny i mor l y ng jelek Mel kuk n hubung n seks t np ik t n perk win n tid k membu t y mer s tertek n M sy r k t perlu memperh tik n hubung n se p s ng rem j . 80. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ££ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £  £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ Menurut y bercumbu deng n p c r tid k p p k ren tid k mungkin terj di ke h mil n Jik kedu bel h pih k (l ki l ki d n perempu n) d p t mempert nggungj w bk n perbu t nny . 81. 87. 96. 95. 90. 86. 79. tid k k n membu t y terpeng ruh untuk mel kuk nny Menurut y . 92. 91. 88. sehingg seks beb s tid k terj di ese or ng y ng ber s l d ri kelu rg y ng mempuny i kontrol g m y ng b ik tid k k n mel kuk n seks beb s An k y ng dil hirk n d ri h sil seks beb s k n ikut men nggung dos or ng tu ny Meskipun sep k t untuk men nggung resiko. 89.167 77. mis lny p s ng n p c r n. seb ikny se ks beb s tid k dil kuk n oleh sep s ng kek sih sebelum sy h menj di su mi istri int t np seks b g ik n s yur kur ng g r m Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny di usir oleh kelu rg ny ren tid k mengg nggu prest si bel j r. m k seks beb s tet p s y l kuk n £ . m k seks beb s d p t dil kuk n Jik d kesemp t n untuk s y d n p c r untuk mel kuk n hubung n seks. 93.

And dipersil hk n memberik n j w b n t u peny t n y ng di ngg p p ling sesu i deng n pend p t And . Tulisk n pertimb ng n And p d lemb r j w b n. 3. B c l h b ik b ik seti p k sus y ng dis jik n 2. d beber p pert ny n y ng di juk n. D l m ngket ini d beber p k sus. Berik nl h pend p t And sesu i deng n p nd ng n d n pertimb ng n An d sendiri. L ng k h l ngk h pengerj n ngket ini d l h seb g i berikut : 1.168 el m t mengerj k n ! d n Terim k sih £ Petunjuk Pengisi n Angket Angket ini d l h ngket pengungk p n pend p t tent ng m s l hm s l h sosi l. P d b gi n khir seti p k sus. £ £ £ £ ££ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ . And dimint memberik n pend p t tent ng k su s tersebut. erj k nl h deng n teliti d n j ng n s mp i d y ng terlew ti.

t t pi i menju lny deng n h rg 20 ju t rupi h untuk s tu dus kecil ob t.169 £ £ £ sus II Herm n kemudi n dij tuhi hukum n penj r sel m 10 t hun. Ap k h penting b gi kit untuk mel ku k n sesu tu d n menyel m tk n jiw or ng . Di meng t k n p d poteker itu b hw istriny h mpir m ti. el m 8 t hun i bekerj ker s d n me n bung u ng sehingg di m mpu mendirik n sebu h perus h n. ep tutny k h Herm n be rbu t demiki n ? meng p ? 2. Herm n. Tet pi di h ny mend p t pi nj m n sep ruh d ri y ng i butuhk n. b erkeliling ke semu ken l nny untuk meminj m u ng. y itu 10 jut rupi h. bu Arm n tent ngg l m Anto mengen liny seb g i or ng y ng mel rik n diri d ri penj r d n sed ng dic ri polisi. I sel lu jujur p d l ngg n n d n memberi up h y ng tinggi p d p r pekerj ny . seor ng w nit h mpir m ti k ren s kit k nker. Ap k h bu Arm n h rus mel pork n Anto p d polisi ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ sus I Di Erop . d n memint p d ny untuk menju l ob t itu lebih mur h t u membolehk nny memb y r kemudi n. Tet pi poteker itu berk t “ y membu t ob t itu d n y k n mengh r pk n u ng y ng b ny k k ren menem uk nny ”. P d su tu h ri. Ad sejenis ob t R dium y ng menurut p r dokter mungkin d p t menyel m tk n di . etel h 1 t h un mendek m di d l m penj r i mel rik n diri. Bi y pembu t n ob t itu 2 jut rupi h. u mi w nit y ng s kit tersebut. Ap bil herm n tid k mencint i istriny . 1. p k h i jug k n mencuri ob t itu ? meng p ? 3. Ob t tersebu t diketemuk n oleh seor ng poteker l ki l ki y ng tingg l d l m kot y ng s m . 4. Akib tny Herm n menj di putus s d n i mul i berpikir untuk mendobr k potek itu d n mencuri ob t tersebut untuk istriny . Di hidup d l m pemukim n b ru d eng n n m Anto d n membuk sebu h us h .

eh rusny Didi menol k untuk menyer hk n u ng itu t uk h i menyer h ? meng p ? 7.170 £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ sus IV Didi. sup y istri Herm n seger d p t terlep s d ri kes kit nny ? meng p ? . Istri Herm n d l m kes kit n y ng lu r bi s . p l gi di t hu b hw umurny tid k p nj ng l gi. Ay hny berj nji di berh k berkem h k l u i men bung sendiri untuk be rkem h. Dokter t hu b hw hidup istri H erm n itu kir kir tingg l 3 bul n l gi. I ingin sek li b erkem h. D n d l m s t s t ten ng i memint s up y p r dokter memberiny TM cukup b ny k s j g r i cep t meningg l. tet pi ob t itu tid k memp n d n tid k d c r pengob t n l in y ng dike n l oleh ilmu kedokter n untuk menyel m tk nny . Ap k h kit h rus sel lu memenuhi j nji kit ? meng p ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££   ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¢ sus III P d khirny dokter mend p tk n sedikit ob t R dium itu untuk istri H erm n. 6. 5. d l h seor ng n k l ki l ki berumur 16 t hun. . I t id k t h n men nggung kes kit n.000. ke d ny lem h sek li. Joko berh sil mengumpulk n u ng seb ny k Rp. sehingg ob t penen ng seperti TM t u morfin 1 dosis kecil s j k n mempercep t kem ti nny . B hk n istri Herm n sering tid k s d r d n h mpir gil k ren s kitny . u ng ini cukup untuk bi y pergi berkem h d n l in l inny . Beber p tem n y hny meng j k y k Di di pergi mem ncing d n y h Didi h ny puny u ng sedikit. m k Didi merenc n k n menol k permint n y hny itu. 60. i bekerj seb g i peng nt r kor n s ebelum ber ngk t sekol h. Ay h didi kemudi n me mint u ng Didi. Oleh k ren keingin nny y ng ku t. h sil t bung nny seb g i peng nt r kor n. H rusk h dokter melulusk n p y ng dimint istri Herm n tersebut ? d n m embu tny meningg l. Jik berker s h ti u ntuk pergi berkem h. Tet pi sebelum ber ngk t berkem h y hny mengub h pikir n.

l lu i pergi berkem h deng n u ng Rp. d n tid k berm ksud memb y r kemb li hut ngny itu.000. y ng lebi h mud pergi p d seor ng tu y ng terken l suk memberik n pertolong n kep d o r ng l in. e nd iny B gio mend p t pinj m n d ri b nk.untuk membi y i oper si. 500. e belum berkem h. Menurut pend p t mu. D ri segi keb ik n m sy r k t m n y ng lebih j elek. y ng lebih tu mendob r k sebu h toko d n mencuri u ng seb ny k Rp. menipu seperti B gio t u mencuri seperti rim ? meng p demiki n ? ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ ¢ sus V : Didi berbohong meng t k n b hw i h ny mend p p tk n u ng Rp. b hw i berboh ong p d y hny .000. 500. Didi memberi t hu kep d Joko mengen i u ng itu. Ap k h Joko h rus memberi t huk n h l ini kep d y hny ? meng p ? . t np m ksud m u mengemb lik n pinj m n itu. B gio berk t kep d or ng tersebut b hw i d l m ke d n s kit ber t d n butuh u ng Rp. kep d y hny . 500. Ap seb b or ng tid k boleh mencuri b r ng di toko or ng l in ? 13. 8. B gio. mencuru seperti rim t u menipu seperti B gio ? meng p ? 10. . tet pi i m u jug meminj mk n u ng kep d B gio. 9. 20.juml h seben rn y y ng diperolehny d ri meng nt r kor n. P d h l seben rny i tid k s kit s m sek li. Didi mempuny i k k k bern m Joko. m n k h y ng lebih b ik ? memi nj m d ri b nk t u meminj m d ri or ng tu itu ? meng p ? 11.000 . Merek sec r di m di m m u meningg l k n kot d l m ke d n terges ges d n membutuhk n u ng. .171 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £   £¢ £ £ sus VI Du pemud mend p tk n kesulit n.000. M n k h y ng lebih jelek. 60. Akhirny rim d n B gio d p t meninng lk n kot deng n m sing m sing me mb w u ng Rp.000. rim. unsur m n k h y ng p ling jelek d l m menipu or ng tu t di ? meng p ? 12. Meskipu n or ng tu itu tid k mengen l B gio. Ap kegun n or ng mempuny i h k milik ? 14.

Deng n selisih j r k nt r musuh deng n kompi b r ngk li merek m sih d p t menyel m tk n diri. d s l h s tu kot y ng se ring k li di bom b rdir oleh p n h. 15.172 £ sus VIII P d s t per ng kemerdek n. I memint suk rel w n tet pi tid k d y ng m u menj di suk rel w n itu. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ ££ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £   £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¢ sus VII P d s t per ng kemerdek n di Indonesi . d n merek memil ih mundur. tentul h h l itu k n mengur ngi keku t n musuh. Rum hny cukup j uh d ri situ. Ad seor ng l ki l ki bern m Dir n y ng mend p t tug s meng w si sebu h pos pem d m keb k r n. ompi tent r kit sud h menyeber ng jemb t n sebu h sung i y ng memb el h kot ur b y . di ur b y d 1 kompi tent r kit k l h d l m juml h jik dib ndingk n deng n juml h tent r musuh. tet pi musuh seb gi n bes r m sih d di sebern g sung i. dek t temp t kerj ny . Tet p i or ng y ng kemb li untuk meled kk n jemb t n itu b r ngk li tid k d p t menyel m tk n diri. pten kompi h rus memutusk n si p y ng h rus kemb li d n mel ks n k n tug s itu. tet pi pert m t m i pul ng menengok k elu rg ny . Dir n meni ngg lk n temp t perlindung n d n pergi ke posny . Ak n tet pi. emu or ng l ki l ki di kot itu sering k l i mend p t tug s menj di pos pos pem d m keb k r n. u tu h ri. Ben r t u s l hk h k l u i meningg lk n pos untuk melindungi k elu rg ny ? meng p ? . sesud h d pembom n y ng buk n m in p r hny . kemungkin n terbunuh d d l m perb nding n 4 : 1. di teng h j l n i memutusk n menengok dulu kelu rg ny untuk melih t p k h nggot kelu rg ny sel m t. H ny k pten itu sendiri y ng p ling t hu b g im n memimpin pen rik n mundur itu. l u d y ng kemb li ke jemb t n d n meled kk n jemb t n itu sew ktu musuh mele w tiny .

Or ng y ng kedu y ng k n dipilihny ken peny kit kel min (s iphilis) d n g kny k n seger meningg l meskipun cukup ku t untuk mel ks n k n tug s itu. tet pi i suk berbu t on r.173 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ sus IX pten itu khirny memutusk n k n memerint hk n 1 d ri 2 or ngny unt uk berhenti di bel k ng. l h 1 d ri 2 or ng itu mempuny i tubuh ku t d n pembe r ni. Ap k h k pten h rus memberi perint h kep d seseor ng untuk kemb li d n mele d k n jemb t n. p k h i h rus menyuruh si tuk ng pembu t on r itu. Jik k pten menyuruh s l h s tu d ri kedu or ng itu. t u i sendiri y ng h rus kemb li. I suk meng mbil b r ng or ng l in d n suk menol k tug sny . t u semu ny l ri ? meng p ? £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ . 17. t u or ng y ng s kit kel min ? meng p ? £ £ £ 16.

2 4.8 34. 9.6 £ £ £ £ £ perk win n tid k membu t y mer s tertek n £ £ £ ££ £ £ £ perbu t nny y kecew p bil d p t mencur hk n k sih 16.7 52.2 14. 48. beb s d n tid k terj di keh mil n k r en ny tid k perlu mempert nggungj w bk n 5.5 33.2 24. Perny t n eseor ng y ng mel kuk n hubung n seks sec r 6.3 16. Jik p c r y memint y m u berpeluk n deng nny Menurut y bercumbu deng n p c r tid k p p k ren tid k mungkin terj di keh mil n Mel kuk n hubung n seks t np ik t n 8.4 £ £ £ ¡ £ ¡£¡ ¡ ¡£¡¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ .3 30.4 43.5 77.0 15.6 29.8 41.8 33.1 7.0 29.2 89.1 20.3 19. seseor ng y ng 20. l y k mel kuk n hubung n seksu l 29. 17.3 38.4 31.6 45.3 25. 37.6 35.7 40. s y ng kep d kek s ih deng n c r berhubung n seks deng nny T np menik h terlebih d hulu.4 39. Bercumbu deng n p c r merup k n s t y ng p ling menyen ngk n Bercium n deng n kek sih y mer s bers l h Dorong n un tuk mel kuk n seks y ng muncul sebelum menik h seh rusny ditek n eks 59.2 10.6 34.4 34.3 41.L mpir n 10 174 Persent se J w b n Responden ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek Biologis) No.5 11.4 15.7 29.2 12. beb s y ng dil kuk n deng n l t 9.7 8.6 3.8 42.4 T T kontr sepsi tid k k n menimbulk n kib t y ng tid k diingink n 62. org n seksu lny sud h berkemb ng d n sud h d p t bereproduksi.

7 20.5 61.3 7.5 13.0 2.3 8.1 10. 17. meskipun itu deng n p c r s y sendiri int y ng tulus d n mend l m kep d p c r tid k perlu dim nifest sik n deng n seks beb s P erg ul n eks beb s d p t men mb h keperc y n diri 1.1 2.1 50.1 7.3 31.8 39. meski pun ini dil r ng Rem j putr /putri k n memiliki per s n perc y diri y ng tin ggi bil i mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n seks beb s mempuny i sif t y ng egois Deng n mel kuk n seks beb s ber rti or ng tersebut tid k mengh rg i ik t n perk win n Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h p sti ber s l d ri kel u rg y ng kur ng h rmonis Deng n mempuny i p c r.2 35.5 53.5 36.3 4.0 3. 0 ££ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek Psikologis) No.1 ¡ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ¡ £ £¡¡ £ £ £ £ £ £ £ ¥£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡£ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ ¡ £ ¡ . 23. 12.9 20. 10.5 56. 22. 40. 3.6 8. 13. 31. 42.7 42.2 37.3 21. 4.5 15.7 37.5 T 46 .0 49. 9.8 8.2 2.5 33.4 37.9 57.4 47.9 32. 32.0 51. 33.5 32.6 5.7 56.1 6. 38.4 74.3 30.3 32.3 T 37.1 34. 25. m k s y k n mel kuk n hubung n seks deng nny Menurut y hidup bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y d p t lebih menj j ki sif t p s ng n M sih per w n s mp i s tny menik h d l h su tu h l y ng penting b gi y D l m perg ul n s h s h s j jik y mel kuk n hubung n seks deng n beb s eks beb s dil kuk n oleh k um rem j g r tid k di ngg p ketingg l n j m n y t kut mel kuk n seks beb s. s l di temp t y g sepi d n t k d or ng y ng di ken l Rem j y ng pern h mel kuk n seks beb s k n mem puny i per s n bers l h seumur hidup Deng n mel kuk n hubung n seks beb s.3 9.4 1.3 36 .0 52.3 8.3 47.3 16.3 37.0 8.3 4.4 9.9 53.175 5.4 7.5 26. 3.1 3.1 64.1 14.9 7.3 11.4 22.8 3.1 9.6 41.5 14.3 22.6 11. 30.4 2. 21.5 41. h sr t seksu l s y k n terp enuhi y m u mel kuk n hubung n seksu l deng n p c r.9 47. y k n mempuny i resiko tertul r peny kit seksu l Jik s y s ng t mencint i p c r y .3 33.3 3.2 1. Perny t n y k n berol h r g untuk meng lihk n perh ti n terh d p seks beb s eks be b s merup k n c r y ng p ling tep t untuk membuktik n r s cint Rem j y ng ke t hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in eks beb s tet p s y l kuk n.9 9.1 8. 39.

6 41.4 22.3 9. 55. 52. 45.0 55.5 36. terut m or ng tu ny sendiri Rem j y ng mel kuk n seks beb s k n meng l mi kesulit n d l m berkelu rg kel k y k n bert nggungj w b t s kib t perg ul n seks beb s y ng y nut d n y tid k peduli p nd ng n or ng l in y tet p mel kuk n hubung n seks sec r beb s. 49.2 37. 61. 5.7 3. 54.1 47. 60.2 17.3 32.4 31.5 13.7 5. 47.5 36. 65. m k tid k d seor ngpun y ng boleh mel r ng or ng l in mel kuk n seks beb s Rem j y ng mel kuk n hubung n s eks beb s mempuny i sif t y ng tid k mempedulik n per s n or ng l in.3 30. k ren deng n mel kuk n seks beb s ber rti peng l m nny bert mb h eseor ng y ng ber n i mel kuk n hubung n seksu l sebelum menik h ber rti s nggup men nggung dos bes r es d r n rem j tent ng nil i d n norm norm y ng d di m sy r k t k n me nceg h merek untuk berperil ku seks beb s Jik tem n y pern h mel kuk n hubu ng n seks beb s d n tid k h mil. 51.4 8.5 37.176 44.8 31.5 13.3 35.2 10. 58.1 4.2 22. 67. 46.3 40.2 35.9 6.5 27.2 49. w l upun bertent ng n deng n j r n g m y ng y nut Berg nti g nti p s ng n seksu l d p t menyeb bk n peny kit kel min Rem j y ng mel kuk n seks beb s sud h sep nt sny dikucilk n oleh m sy r k t Rem j y ng tel h mel kuk n hubung n seks sec r beb s tid k perlu mer s sedih.4 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££¡£ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £¡£ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ Meskipun t np d ik t n pernik h n.1 9. per s n cint y ng tulus d n mend l m bis diungk pk n deng n mel kuk n hubung n seks Menurut y d l m berp c r n tid k us h terl lu mempedulik n norm norm y ng d Or ng tu y ng t hu d n tid k me l r ng n kny berp c r n d l h or ng tu y ng bij ks n Dorong n seks beb s y ng muncul seb ikny di r hk n p d bid ng l in y ng berm nf t y pikir p c r n d n kemudi n mel kuk n hubung n seksu l itu tid k d gun ny y k n menyer hk n keper w n n t u keperj k n y bil y y kin b hw p c r y d l h pend mping terb ik untuk y eks beb s d p t menimbulk n kesen ng n y ng t k t erb y ngk n M s l h seksu l d l h h k seseor ng. 66.5 11. 57.5 5. p s l hny jik y jug mencob .4 35. 64. 68.9 53.5 15.6 18.9 11.2 4.

3 5.1 35.8 42.3 34.5 6.5 29.2 61.3 34.7 22.6 43.4 55.2 25.8 33.9 36.2 4.2 37.5 22.3 32.9 3.15.0 32.3 59.0 21.3 29.2 19.9 4.3 42.7 7.2 6.2 12.2 4.4 51.3 7.5 .5 4.

2 47.8 43. 86. 72. 90.2 16. 96.7 42.5 18. 73.5 43. 84. 91. sehingg seks beb s tid k terj di eseor ng y ng ber s l d ri kelu rg y ng mempuny i kon trol g m y ng b ik tid k k n mel kuk n seks beb s An k y ng dil hirk n d ri h sil seks beb s k n ikut men nggung dos or ng tu ny Meskipun sep k t untuk me n nggung resiko. 92. m k seks beb s tet p s y l kuk n 9. 78.5 9. 85.2 11. b ny k p s ng n cint y ng kumpul kebo t dorong n seks muncul.0 5. 81. mis lny p s ng n p c r n.8 16. 94.7 36. 87. y k n meng lihk n dorong n itu deng n bel j r lebih gi t sup y or ng l in lebih mengh rg i y y tid k mer s bers l h deng n hubung n seks be b s y ng s y l kuk n Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks beb s seb ikny dikelu rk n d ri sekol h untuk menghind ri peniru n perbu t n oleh tem nny y ng l in y mer s lebih mencint i d n dicint i oleh p c r setel h mel kuk n hubung n s eks deng nny Jik kedu bel h pih k (l ki l ki d n perempu n) d p t mempert ngg ungj w bk n perbu t nny .7 13. m s dep n s y k n sur m jik terj di pernik n dini kib t seks beb s y sen ng mel kuk n seks beb s meskipun y t hu itu dil r ng oleh g m y ng y nut Rem j y ng mel kuk n seks beb s ber rti merus k m s dep nny sendiri Me nj g keperj k n s mp i s tny menik h merup k n h l penting b gi y Rem j y ng mel kuk n seks beb s buk n ber rti mempuny i mor l y ng jelek M sy r k t pe rlu memperh tik n hubung n sep s ng rem j . 93.5 £ £ £ ££ ¡ £ £ £ £ £ . 88. seb ikny seks beb s tid k dil kuk n oleh sep s ng kek sih sebe lum sy h menj di su miistri int t np seks b g ik n s yur kur ng g r m ren tid k mengg nggu prest si bel j r. £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ ££ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ ¢ ren t kut bercer i.5 34.4 30. y sel lu mem nf tk nny u mpul kebo tid k boleh dil kuk n k ren mel ngg r norm norm y ng d Menurut y .4 36.9 5.4 24.8 12. m k seks beb s d p t dil kuk n Jik d kesemp t n un tuk s y d n p c r untuk mel kuk n hubung n seks. 76. 71.177 69. 89.

4 7.3 18.3 55.9 24.5 26.4 25.2 25.5 29.3 10.3 4.4 17.2 36.3 5.3 4.3 28.2 7.5 31.8 28.7 30.1 10.7 8.2 27.3 21.1 7.1 5.4 32.4 6.1 32.3 44.8 60.2 38.2 6.0 7.3 51.5 .0 61.0 7.5 8.5 30.8 10.3 22.0 7.7 11.9 11.7 7.3 17.3 41.41.2 53.4 56.2 31.7 42.3 25.2 59.3 30.3 62.3 9.0 20.

2 18. 11. 8. sehingg y tid k k n mel kuk n hubung n seks t np menik h y mer s tid k sen ng jik d tem n y ng mempeng ruhi y untuk mel kuk n seks beb s Dorong n seks y ng muncul seb ikny dim nifest sik n deng n peril ku y ng tid k menjurus p d peril ku seks beb s.9 0.6 24.3 60. istri/su mi or ng l in) merup k n tind k n y ng tid k d p t y terim Ag r tid k direbut oleh or ng l in se or ng pemud t u pemudi d p t meng j k p c rny mel kuk n seks beb s Mel kuk n hubung n seks sek li s j tid k k n menyeb bk n keh mil n y tid k bersedi m el kuk n hubung n seks deng n l w n jenis sek lipun di or ng y ng s ng t y c int i y mer s sen ng p bil bis menj g keperc y n or ng tu d n m sy r k t deng n tid k mel kuk n perbu t n mor l.0 32.2 39.0 3.2 5.6 31.6 4.3 15.3 21.178 27.3 19. Perny t n eks beb s d l h s l h s tu peril ku y ng sed ng m r k di soroti d l m kehidup n modern R s cint p d p c r merup k n m nifest si d ri dorong n seks y ng ingin dipu sk n y t kut di ngg p kur ng perg ul n bil tid k mel ku k n hubung n seks sebelum menik h eks beb s d p t dil kuk n oleh sep s ng rem j y ng s ling mencint i d l m ik t n p c r n y s ng t menghorm ti norm norm m sy r k t. 19.3 30.3 33.2 20. 1. 47.1 19. meskipun itu deng n p c rny sendiri e ks beb s seb ikny dil kuk n oleh p s ng n y ng k n menik h untuk d p t lebih m enget hui sif t m sing m sing eseor ng y ng sud h mempuny i pengh sil n tet p d n ekonominy m t ng.8 15.2 £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £¡¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ¡ £ ¡ ¡ . seperti berp c r n deng n mel kuk n seks beb s 46. 14 .3 50.0 T T 6.4 8.1 8.9 27.4 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡  £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek osi l) No. 2.3 33.4 8. 9.0 6.2 35. w j r jik mel kuk n seks beb s eks beb s y ng dil kuk n b ik deng n p c r m upun deng n or ng l in (tem n.3 18.9 30.4 40.1 10.8 17.3 72. 7.9 51. 10.8 4.8 30.7 49.

6 24.6 5.6 26.2 3.1 14.14.2 2. 78.8 12.8 51.5 32.5 34.3 11.1 42. 27.0 45.0 20.5 39.1 .7 11. 5. 28.

63.3 5. 95.6 2. 80.2 12.7 49. 74. k ren s mp i w ktuny y menik h. 83. 36.0 40.7 37. 41.7 3. 82. 43.5 17.1 6.0 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £  £ £ £ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ££ ££ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ .5 20. 78. meskipu n itu buk n isteri/su mi y sendiri y sen ng bertem n deng n si p s j mes kipun itu d l h or ng or ng y ng mendukung perg ul n seks beb s Ad l h tid k te p t jik kit mel r ng or ng y ng berp c r n untuk tid k mel kuk n hubung n seks Fenomen peril ku seks beb s y ng khir khir ini b ny k disoroti.5 25.1 72.1 53. l hir seor ng n k di lu r nik h Tem n y ng suk mempeng ruhi kit untuk ikut d l m perg ul n seks beb s h rus dihind ri Jik y ter ngs ng melih t melih t g mb rg mb r porno. sel y kny mel kuk n seks beb s sup y or ng tu menj di setuju deng n hubung n merek Hidup bers m d l m ik t n perk win n d l h id m n semu or ng untuk mend p tk n keb h gi n sek ligus menerusk n keturun n Menurut s y hid up bers m sebelum menik h boleh s j dil kuk n g r y lebih d p t menj j ki p s ng n Berhubung n seksu l k n y l kuk n seb g i bukti per s n cint p d p c r Tid k p p k l u d ri hubung n seks sec r beb s y ng s y l kuk n.179 35. Untuk menghind ri perbu t n seks sec r beb s. 53.8 4.6 14.2 41. tid k k n m embu t y terpeng ruh untuk mel kuk nny Rem j y ng ket hu n mel kuk n seks b eb s seb ikny di usir oleh kelu rg ny 41. y k n mel kuk n hubung n seksu l deng n l w n jenis. 56.9 8.3 36. y m sih d l m ke d n per w n/perj k eks beb s d p t mengur ngi kejenuh n d l m bel j r Mel kuk n hubung n seks sec r beb s ber r ti merus k ketulus n cint ep s ng kek sih y ng hubung nny tid k direstui oleh or ng tu . 50. 70.2 4. seb ikny kont k fisik deng n l w n jenis y ng buk n su mi/istri kit dihind ri y mer s b ngg .

3 32.1 15.1 3.6 41.4 28.2 35.8 16.2 8.7 16.5 .3 6.7 40.7 60.3 54.6 8.5 24.1 32.7 35.2 53.7 78.2.2 29.3 41.3 8.3 5.4 5.1 11.1 16.4 42.3 9.5 38.2 3.7 32.7 30.3 8.9 16.4 44.0 47.2 3.3 5.1 7.

0 0.2 22.3 4.5 41.0 0.0 1.0 0.0 54.0 0.5 68.3 11.5 17.0 11.0 0.0 0.1 7.0 T h p 2 4.5 3.0 0.7 25.0 T h p 3 T h p 4 62.1 2.3 3.5 52.0 0.6 54.0 2.5 18.0 0.2 6.0 0.0 0.0 0.0 0.9 75.5 66.5 41.0 0.0 8.0 0.0 0.0 0.0 0.2 55.4 12.180 £ £ £ Persent se j w b n y ng menunjukk n t h p pen l r n mor l rem j erit Pert ny n 1 I 2 3 II III IV V 4 5 6 7 8 9 VI 10 11 12 13 VII 14 15 VIII IX 16 17 T h p 1 0.7 7.1 36.0 61.5 53.0 12.1 T h p 6 0.0 0.8 53.3 8.0 34.2 0.0 0.0 27.0 0.0 0.7 29.5 3.0 1.5 65.3 1.1 5.5 3 6.1 38.0 0.1 43.8 13.3 11.3 7.9 38.0 0.0 0.1 25.8 51.7 72.0 0.0 0.0 1.0 0.2 50.0 0.0 0.0 0.0 £ £ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ .2 4 3.0 0.2 63. 2 4.8 T h p 5 8.2 2.0 0.0 0.1 1.0 0.5 0.1 9.4 55.0 0.

5 T 20 50.0 T 3 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 3 1 3 1 2 2 2 2 4 2 4 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 4 2 2 3 1 1 1 2 1 3 1 1 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 8 2 2 1 1 1 2 4 1 2 1 2 3 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 4 1 2 9 2 2 2 1 1 3 4 1 2 1 2 3 1 4 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 Psikologis 12 1 3 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 4 2 1 1 1 3 3 1 2 1 1 3 2 3 3 4 4 3 4 2 2 2 1 1 1 4 2 1 1 2 3 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 4 1 3 2 1 2 3 1 1 1 3 3 1 1 2 1 3 1 2 1 3 2 17 3 2 2 2 3 4 2 2 3 1 3 1 1 4 2 2 2 3 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 21 2 1 1 2 1 3 3 2 2 3 2 3 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 22 1 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 4 4 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 23 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 4 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 3 1 1 1 1 2 27 2 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 3 4 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 33 1 2 2 1 1 1 3 2 2 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¢ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     £     £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡     ¢     ¡ ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £       ¡ ¡ £ ¡       ¡ ¡ ¡ .5 T 26 65.5 T 11 27.0 T 11 27.5 T 22 55.5 T 23 57.5 T 16 40.0 T 18 45.0 T 21 52.5 T 23 57 .5 17 42.0 T 25 62.5 T 21 52.5 T 10 25.5 T 11 27.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.5 T 18 45.0 T 13 32.0 T 11 27.0 20 50.5 T 18 45.0 21 52.0 T 20 50.5 T 19 47. 0 T 30 75.5 T 14 35.0 T 17 42.0 22 55.5 T 13 32.0 T 16 40.0 T 14 35.0 T 18 45.5 T 13 32.5 T 14 35.0 T 35 87.0 30 75.0 T 26 65. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 5 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 6 2 1 2 2 1 4 4 2 2 2 2 3 2 4 2 4 1 1 2 2 3 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 16 1 2 2 3 2 1 3 1 2 1 2 2 3 4 2 2 1 1 1 2 3 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 4 2 1 2 1 1 2 20 2 3 1 1 1 4 3 1 2 1 2 3 2 4 2 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 2 1 1 32 1 4 3 3 3 1 4 3 3 4 3 4 2 4 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 2 1 1 1 2 3 4 2 1 2 1 1 40 2 1 1 2 1 1 1 2 3 2 2 2 3 1 2 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 52 2 4 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 2 2 2 3 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 1 3 1 2 Biologis 63 2 3 3 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 4 2 2 2 2 3 3 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 3 1 2 2 2 1 3 66 2 2 2 2 1 4 4 2 2 2 3 3 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 3 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 81 1 3 3 4 2 4 4 3 3 4 2 4 4 4 2 1 3 2 2 2 1 1 3 1 1 1 2 1 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 94 kor 2 3 2 1 1 1 2 1 2 1 2 4 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 1 2 1 1 % skor riteri 17 42.0 T 22 55.

5 T 11 27 .5 T 18 45.0 28 70.5 T 25 62.0 20 50.5 23 57.5 32 80.5 T 27 67.0 28 70.0 T 23 57.0 T 21 52.5 20 50.5 T 26 65.0 26 65.0 20 50.0 17 42.5 T 1 9 47.5 T 16 40.0 27 67.5 T 16 40.5 3 2 2 2 3 1 1 1 3 2 3 1 2 1 2 1 2 2 4 2 2 3 3 1 1 3 3 1 1 1 2 1 1 3 2 1 2 2 2 3 1 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 4 2 2 1 2 2 2 3 2 5 1 1 1 2 1 4 1 1 2 2 2 2 1 1 1 3 3 4 1 2 3 3 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 4 1 4 4 2 3 4 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 3 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 9 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 4 1 2 2 3 2 3 1 Psikolo gis 12 13 2 2 1 1 2 1 2 2 3 1 3 1 3 1 2 2 1 1 3 1 4 1 3 1 3 1 1 1 2 3 3 2 3 2 4 4 2 1 3 2 4 4 4 4 2 1 3 3 2 2 3 3 2 2 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 17 2 2 3 3 3 3 4 3 2 3 4 4 2 1 4 3 3 1 2 1 3 4 2 2 1 3 3 3 2 3 3 4 2 3 2 2 3 1 1 3 21 1 1 2 1 1 2 1 1 1 3 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 3 1 1 3 3 3 3 2 3 4 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 22 1 2 1 1 1 4 1 1 1 3 3 1 1 1 1 2 3 3 1 2 2 4 1 3 3 3 3 3 2 3 2 1 2 3 1 4 3 2 3 2 23 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 3 1 1 1 2 2 1 4 1 2 2 4 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 1 3 1 2 3 2 3 3 27 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 2 3 3 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 2 2 2 2 1 3 2 33 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 3 2 3 1 2 3 4 1 2 3 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £       ¡       ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ £       ¡       ¢ ¡ £ £ ¡       ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡     ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡     ¡ .0 T 23 57.0 T 21 52.0 T 30 75.0 T 17 42.0 T 13 32.0 27 67.¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.5 T 25 62.5 20 50.5 T 18 45. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 5 0 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 6 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 2 2 1 3 3 3 2 2 2 2 2 1 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 16 4 2 2 2 1 4 1 1 1 2 1 3 3 4 4 2 2 3 2 2 3 3 4 1 2 2 3 2 3 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 20 1 2 2 1 1 2 4 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 4 1 2 2 2 1 2 2 3 2 3 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 32 1 1 2 1 1 3 2 2 3 3 3 1 2 1 1 4 4 1 2 2 3 4 2 3 3 3 4 4 2 4 2 1 3 3 3 3 3 2 4 3 40 1 2 1 2 1 2 1 2 2 4 2 1 1 1 2 3 3 1 1 2 3 4 2 1 1 2 2 2 4 1 2 2 3 2 1 2 3 1 1 2 52 4 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 2 4 2 2 3 3 4 2 2 2 2 1 3 1 2 3 2 2 1 3 2 1 2 3 Biologis 63 1 1 2 1 1 1 1 2 1 4 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 2 1 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3 66 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 1 2 1 2 1 3 3 4 4 3 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 2 1 3 2 2 3 3 2 1 3 81 1 2 2 1 2 2 1 2 3 4 1 1 3 4 2 3 3 3 1 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 4 2 1 3 2 2 3 3 2 4 3 94 kor 3 3 1 1 1 2 3 2 1 4 4 1 1 3 1 3 2 4 2 2 3 3 4 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 3 3 2 1 3 % skor riteri 18 45.5 T 26 65 .0 T 13 32 .0 T 18 45.5 T 19 47.5 T 29 72.0 T 18 45.5 T 19 47.0 T 26 65.5 T 27 67.5 27 67.

0 66 3 3 2 1 2 1 1 2 1 2 2 3 3 4 2 2 1 2 8 19 32 37 8.9 57.5 32.4 20 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 3 2 2 2 1 2 4 1 0 42 40 4.5 81 3 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 3 3 1 3 3 2 1 17 28 23 28 17.2 Biol ogis 63 3 2 2 1 3 4 1 2 1 3 2 3 2 1 2 3 2 1 9 33 30 24 9.0 T 26 65.3 53.5 52.2 14.6 30.3 39.5 37.5 41.4 9.9 17 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 2 3 9 35 36 16 9.5 4 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 3 2 3 2 2 1 1 1 3 11 31 51 3.6 35.5 21.7 32 3 4 2 2 2 4 1 2 1 2 2 3 3 2 3 3 2 2 15 29 32 20 15 .3 Psikologis 12 13 2 2 4 3 3 1 2 1 2 2 3 4 2 1 2 2 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 2 1 2 3 3 2 1 1 3 1 9 30 36 21 9.5 T 14 35.7 42.0 T 25 62.ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.5 41.9 37.8 34.0 29.7 29.8 41.4 43.3 11.4 31.0 T 26 65.2 8.3 20.1 2.7 47.5 10 25.0 T 18 45.5 53.3 16.0 T 10 25.0 9.3 38.6 30.5 T 22 55.5 14 35.0 T 20 50.1 33.8 40 1 3 1 1 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 3 1 2 3 12 40 41 3.6 34.3 19.7 21 2 4 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 3 1 2 2 1 1 2 13 40 41 2.3 15.4 15.7 52 2 2 1 2 4 2 1 3 1 1 2 2 2 3 2 2 1 4 7 11 50 28 7.5 9 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 2 3 2 2 1 1 1 3 8 31 54 3.8 33.0 T 18 45.1 5 4 1 1 1 1 3 1 1 1 4 2 2 2 1 2 2 1 1 10 9 22 55 10.4 34.0 27 67.4 16 2 2 1 4 1 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 3 1 3 8 16 39 33 8.9 27 2 2 1 2 1 2 1 3 1 1 2 2 3 2 2 2 1 2 1 9 40 46 1.0 14.1 Persent se ¡   ¡   ¡ ¡   ¡ £ ¡ ¡   ¡   ¢   ¡   ¡     £ ¡     ¡     ¢ £ ¡ ¡ ¡   ¡ £ £   ¡ ¡ ¡ £ £   ¡ ¡ £   £ ¡ ¡ ¡   ¡ .5 16.3 25.1 13.6 20.9 7 14 29 46 7.4 22.3 37. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 9 0 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 6 3 2 1 1 3 3 1 2 1 2 3 3 3 1 2 2 2 2 5 14 44 33 5.1 12.2 33.4 31.7 40.6 47.8 56.0 T 16 40.0 T 20 50.9 33 2 4 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 7 36 51 2.2 47.4 39.1 7.6 45. 7 42.6 % skor riteri 23 57.3 37.2 94 kor 2 3 1 2 3 4 1 2 1 2 2 3 2 3 2 2 1 1 9 15 34 38 9.3 14.3 56.0 T 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 3 2 2 2 3 1 1 14 45 36 1.5 T 21 52.4 41.1 8.1 11.3 8 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 32 59 3.3 61.0 25 62.2 24. 4 36.3 23 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 4 8 38 46 4.2 10.5 T 27 67 .6 46.3 32.7 22 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 3 2 1 4 2 1 1 7 15 20 54 7.1 29.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 2 9 30 31 32 33 34 35 36 37 38 61 1 1 1 1 1 1 3 2 2 2 2 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 3 2 2 2 2 3 62 3 4 3 3 1 4 2 2 3 3 3 3 3 2 1 3 3 2 3 2 4 1 2 2 1 1 3 1 3 2 1 4 2 3 1 3 2 1 64 2 1 2 1 1 2 4 1 2 1 2 4 1 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 65 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 68 2 2 2 3 1 3 3 1 3 1 2 1 1 4 2 3 1 2 1 2 1 2 3 1 1 3 1 1 1 1 2 1 3 2 2 1 2 1 69 2 3 2 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 4 1 2 2 1 3 3 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 70 1 2 1 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 4 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 71 3 2 1 2 1 1 4 2 3 2 2 1 1 4 2 2 1 3 3 2 1 4 3 2 1 4 2 4 1 2 3 2 2 3 4 3 4 2 72 1 3 1 2 1 4 1 1 2 2 2 4 2 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 73 2 2 2 3 1 4 3 1 2 2 2 3 4 4 1 1 1 2 2 2 3 1 2 2 1 1 2 1 4 1 1 1 2 2 1 2 1 3 75 3 3 3 1 3 1 1 3 3 3 3 2 1 1 4 4 2 3 4 2 3 4 3 4 4 4 3 4 1 4 3 1 4 3 1 3 4 2 76 2 3 1 1 1 1 4 1 3 2 2 3 1 4 1 2 1 1 2 3 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 77 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 3 2 1 4 2 2 3 1 1 2 1 1 2 1 1 4 1 1 4 1 1 2 3 1 1 1 4 1 £ £ £ £ £ £ ik p rem j 2 3 1 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 4 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 2 terh d p peril ku 1 1 1 2 1 2 2 1 1 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 3 2 3 4 2 1 1 1 2 2 3 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 seks beb s Psikologis 1 3 4 1 1 1 3 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 3 2 2 3 3 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 1 2 2 1 2 4 1 1 51 53 1 4 4 2 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 55 56 4 4 3 1 4 4 4 2 2 2 4 1 1 1 1 58 59 1 4 4 2 4 4 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 3 4 2 2 2 1 2 4 1 2 1 2 2 4 4 1 2                                                                         £     ¡ ¢ ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 34 1 1 2 2 1 1 2 2 3 3 3 3 2 4 1 2 2 1 2 1 1 1 3 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 35 2 1 1 1 1 1 2 1 3 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 36 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 1 4 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 41 1 2 2 2 1 1 2 4 2 2 1 3 2 4 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 1 42 1 1 1 1 1 4 2 1 3 2 2 1 3 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 43 2 1 3 1 2 4 2 1 3 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 46 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 3 4 1 1 2 1 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 48 2 1 1 2 1 2 3 1 2 1 2 3 4 4 1 2 1 1 1 1 2 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 49 1 1 1 1 1 4 1 2 2 1 1 3 4 2 1 2 1 1 2 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 50 2 4 2 4 3 4 3 2 3 2 2 4 4 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 1 2 4 2 3 1 4 4 3 3 3 1 1 2 1 4 4 1 2 2 1 1 1 1 1 .

39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 6 4 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 61 1 1 1 1 1 2 1 2 4 1 3 1 2 1 2 3 3 2 3 1 3 3 2 4 2 2 2 1 2 4 2 1 3 2 1 2 2 4 2 3 62 1 1 3 1 1 1 4 2 1 2 3 2 1 1 1 3 3 3 2 3 3 4 3 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 2 64 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 3 2 65 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 2 1 1 2 1 1 3 3 1 4 1 2 2 2 1 2 2 2 4 2 1 4 2 1 2 1 1 1 2 68 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1 1 2 3 3 3 3 1 4 4 2 3 3 3 3 1 2 3 3 2 4 2 3 2 3 1 1 3 69 1 1 1 1 1 2 3 1 1 3 3 2 1 2 1 2 1 3 3 1 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 70 4 4 1 1 1 2 1 3 4 4 2 2 1 1 2 1 4 2 3 3 1 1 2 1 2 2 2 1 4 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 71 1 3 3 4 2 3 1 1 3 2 2 2 1 2 2 1 3 2 3 3 2 4 3 1 2 2 2 1 1 3 3 3 2 3 4 2 1 2 1 3 72 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 2 1 1 2 1 2 2 2 3 1 1 2 1 1 2 3 2 3 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 73 1 1 2 1 1 2 4 2 1 1 2 3 2 2 1 2 2 1 4 1 3 1 1 2 2 2 2 1 3 1 2 1 2 2 1 2 2 4 3 3 75 1 1 3 1 4 1 1 1 1 3 3 3 3 3 4 2 3 4 3 4 2 4 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 4 3 2 2 2 3 2 2 76 1 3 2 1 1 2 1 1 1 3 3 4 1 1 1 1 3 2 4 1 2 2 2 2 3 3 2 1 4 1 2 3 3 2 1 2 3 2 3 3 £ £ £ £ £ £ ik p rem j 4 2 1 1 4 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 4 1 4 4 2 4 4 3 1 2 1 3 2 2 1 3 1 2 terh d p peril ku 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 1 4 3 4 3 4 3 1 1 2 2 3 3 3 2 2 1 1 2 1 1 2 4 3 4 1 1 1 4 4 1 2 2 3 3 3 1 2 3 3 seks beb s Psikologis 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 2 2 2 2 3 2 2 2 1 3 3 2 4 4 1 1 3 2 1 1 2 3 1 4 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 3 3 2 1 2 2 2 3 1 1 3 3 51 53 2 2 2 1 1 1 4 3 1 3 3 3 1 1 2 3 3 1 55 56 2 2 1 1 1 1 2 2 4 3 2 1 1 2 3 2 2 2 58 59 1 4 4 1 2 2 2 2 4 2 2 3 3 2 2 3 3 3 1 1 2 2 3 2 1 1 1 3 2 1 1 1 3 4 1 3                                                                             £     ¡ ¢ ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 34 4 2 2 1 1 2 2 2 2 4 2 1 2 1 1 4 1 3 1 3 3 4 2 3 2 2 3 2 3 1 2 2 3 3 4 3 3 2 3 2 35 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 4 1 2 3 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 36 2 2 1 1 1 1 1 1 1 3 3 3 1 1 1 1 2 4 1 2 3 2 2 2 2 2 2 3 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 41 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 2 4 1 1 2 2 2 2 3 3 2 1 4 1 2 2 3 2 1 2 3 2 4 3 42 2 2 1 2 1 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 3 1 1 3 3 2 1 1 2 3 1 3 1 1 2 3 4 2 2 3 1 1 2 43 4 2 2 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 3 2 1 1 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 3 2 1 1 46 4 1 2 1 1 2 1 1 1 4 3 1 2 1 1 2 1 3 1 1 2 2 1 4 2 3 2 2 3 1 2 2 2 2 1 2 3 2 1 2 48 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 4 1 1 1 3 3 2 1 2 3 2 1 4 2 2 3 3 3 3 2 1 2 1 2 2 3 2 2 2 49 4 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 4 3 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 50 3 1 2 1 3 2 3 1 4 3 2 1 1 2 1 3 4 1 4 3 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 2 2 4 1 3 3 3 4 2 3 2 1 1 2 3 2 1 1 2 4 2 1 .No.

77 1 1 1 2 1 1 1 2 1 4 3 2 1 4 1 3 3 2 2 2 4 4 1 2 2 2 2 1 2 1 2 3 1 4 2 4 3 2 2 4 .

3 26.1 43 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 2 7 25 62 2.5 53.4 43.5 69 2 2 1 1 2 3 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 1 4 19 32 41 4.5 15.3 37.4 55. 2 50 2 4 1 3 2 4 3 3 3 3 2 4 3 1 3 1 4 4 22 35 22 17 22.6 46 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 5 8 35 48 5.4 3 36.2 16.4 11.8 13.4 43.2 4.3 37.4 65 1 4 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 6 4 33 53 6.5 11 30 terh d p peril ku seks beb s Psikologis 51 53 55 56 58 59 3 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 2 3 1 1 4 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 1 2 1 3 3 2 3 6 36 51 3.3 59.0 32.2 36.3 36.2 34.0 49 2 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 3 1 1 2 1 2 4 5 34 53 4.0 43.3 4.5 75 4 2 3 4 1 3 3 4 1 3 4 1 3 3 3 3 3 3 23 42 13 18 24.5 21.0 71 2 2 4 3 2 3 3 2 4 3 3 2 1 2 2 3 1 3 12 28 35 21 12.5 47. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 Frekuensi 61 2 2 2 1 2 3 1 2 1 3 1 3 2 3 2 2 1 2 5 15 41 35 5.5 73 2 4 1 2 2 4 1 2 1 1 1 3 2 1 2 2 2 2 9 11 41 35 9.5 13 18 30 35 13.2 61.3 8.1 9 8 39 40 9.5 9.2 8.3 40.2 25.1 6.9 17.5 51.3 52.7 36.3 49.8 33.8 77 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 2 2 1 1 12 9 29 46 12.5 33.5 50.9 22.3 42.2 27.2 32.6 42.4 37.5 29.4 55.5 31.1 4 38.7 70 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 3 2 2 3 2 7 7 33 49 7.9 11 15 34 36 11.9 72 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 3 6 28 59 3.9 32.8 22.4 8.8 76 2 2 1 1 2 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 5 16 33 42 5.1 6.5 32.8 29 26 11.2 68 2 3 2 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 4 3 2 1 1 5 24 31 36 5.8 74.2 13.6 35.7 34.1 8.3 36.3 7.1 11.0 64.6 41.2 19.5 18.5 62 3 3 2 2 2 3 1 2 1 2 1 3 3 3 2 3 1 3 10 42 22 22 10.3 34.5 42.0 48 2 3 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 3 1 2 5 13 31 47 5.5 18.0 41 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 1 4 2 1 1 6 8 35 47 6.4 51.9 Persent se £ £ £ £ £ £ ik p rem j 1 1 4 3 3 4 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 7 46 4.2 35. .No.5 49.2 5.4 35 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 20 71 1.7 2 3 3 2 2 1 9 3 31.5 22.2 47.2 9.2 2 0.3 34.4 22.9 36.9 64 2 2 1 1 2 2 1 3 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 4 4 31 57 4.0 36 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 3 8 36 49 3.7                               £     £   ¡ ¢ ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 34 2 4 1 4 3 3 1 1 1 2 2 3 4 3 2 4 1 3 10 22 31 3 3 10.3 37.0 4.3 29.2 15.1 7.4 30.3 30.7 36.0 42 1 2 2 1 3 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 3 11 32 50 3.

4 T 1 82 36.3 T 1 99 43.0 T 1 80 35.9 T 2 98 43 .7 T 1 89 39.5 T 1 75 32.8 T 4 145 63.8 T 1 74 32.2 T 1 3 3 1 2 2 3 4 2 2 2 3 3 2 4 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 3 4 1 1 1 1 1 2 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 7 4 1 2 1 1 3 2 1 2 1 1 3 1 4 1 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 4 1 1 osi l 10 11 4 1 3 1 2 1 1 1 1 1 4 1 2 3 2 1 2 2 1 1 3 1 4 2 4 1 4 4 3 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 14 1 2 2 1 2 1 1 1 3 2 1 2 4 4 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 2 1 1 15 1 3 2 1 2 1 4 1 2 1 2 2 3 4 1 1 2 1 2 2 2 1 1 4 3 1 1 4 1 2 2 1 2 2 1 2 2 4 18 1 2 1 2 4 4 4 2 2 4 4 4 3 1 4 2 2 1 1 2 4 1 3 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 19 2 3 1 1 1 4 4 2 2 3 2 3 1 1 1 2 1 2 2 2 4 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 3 4 1 1 2 1 2 25 2 3 1 2 4 1 2 1 3 1 1 1 4 4 2 2 2 1 1 4 4 1 1 1 1 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 1 1 ¡ ¡       ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¢ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     ¡     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ £ ¢     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ £ £ ¡       £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ £ ¡ ¡       ¡¡ ¡ .0 T 1 110 48.9 T 1 75 1 70 30.9 T 4 197 86.6 T 1 134 58.1 T 3 118 51.7 T 2 121 53.0 T 2 93 40.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.6 2 116 50.9 T 1 93 40.8 T 1 79 34.5 T 1 92 40.3 T 1 84 36.8 T 1 84 36.6 T 2 105 46.2 T 1 70 30.4 T 1 89 39.4 T 1 94 41.7 T 1 9 2 40.0 T 1 84 36.3 T 1 111 48.8 T 4 136 59.8 T 1 97 42.1 T 32.0 T 1 93 40. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 5 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 80 2 2 1 3 1 3 4 2 3 2 1 3 2 4 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 82 3 3 1 2 3 1 3 2 2 2 3 3 2 4 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 1 2 1 1 1 1 4 1 2 1 2 1 1 83 1 2 3 3 3 1 1 2 3 2 4 2 3 4 2 2 3 3 3 2 1 1 3 4 3 2 3 2 2 3 2 1 3 2 4 1 1 1 85 1 1 1 1 1 4 2 1 2 2 2 2 3 4 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 4 1 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 1 88 4 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4 2 1 4 2 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 89 1 3 1 1 1 1 3 1 4 1 2 4 2 4 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 90 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 4 4 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 Psikologis 91 93 1 3 3 3 1 3 1 2 1 3 1 1 4 2 1 2 1 3 1 2 4 4 1 4 1 4 4 4 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 3 1 3 1 2 1 2 1 2 1 2 3 1 95 4 1 1 2 1 3 1 1 2 1 4 1 1 4 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 3 1 1 1 2 2 2 2 1 2 96 1 2 3 2 1 1 4 1 2 3 3 4 1 4 1 1 3 2 2 2 1 1 3 3 3 3 1 1 1 1 1 1 3 2 3 2 3 1 97 2 2 4 4 3 4 3 3 1 3 2 4 3 4 2 3 3 1 2 2 4 1 3 3 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 2 3 1 98 3 2 2 1 1 4 2 1 1 1 4 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 4 4 1 2 1 1 1 1 99 3 2 1 3 1 1 3 2 4 3 2 4 4 4 1 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 3 101 kor % skor riteri 1 101 44.1 T 1 91 39.2 T 1 73 32.8 T 2 133 58.8 T 3 94 41.4 1 101 44.

1 T 1 147 64. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 5 0 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 80 3 1 1 1 1 2 2 1 1 3 4 1 1 1 1 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 4 3 2 82 1 1 1 1 1 1 2 1 2 3 4 1 2 2 2 3 2 4 2 3 4 4 2 3 3 3 3 4 3 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 3 83 1 3 3 3 3 3 1 2 3 4 4 3 1 2 2 3 3 1 1 1 4 4 1 2 3 3 2 1 1 3 3 2 2 2 1 3 3 4 2 3 85 1 1 2 1 2 1 1 1 1 3 3 1 1 1 4 2 4 3 1 1 2 3 1 3 2 2 3 1 2 1 2 4 3 2 2 2 1 2 2 2 88 4 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 3 1 2 3 2 3 1 3 2 3 3 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 89 1 3 3 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 4 4 1 3 2 3 2 3 3 2 1 2 1 2 1 4 2 1 2 2 2 3 2 90 1 1 1 1 1 2 1 2 1 3 3 1 1 1 2 3 3 3 2 2 3 1 4 2 2 2 2 1 1 1 1 1 4 2 1 2 1 4 1 2 Psikolog is 91 93 1 2 3 2 1 2 1 1 1 3 1 3 1 3 1 2 1 1 1 3 3 4 1 3 1 3 1 3 1 4 2 3 4 3 4 4 2 1 1 2 2 3 2 3 4 3 2 3 3 3 3 3 2 3 1 4 4 3 1 3 1 2 2 2 1 3 2 2 1 2 2 3 2 3 2 2 2 1 2 3 95 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 3 1 1 3 2 2 3 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 3 2 1 4 2 96 1 2 3 3 1 2 1 3 3 3 2 4 2 2 2 3 3 1 2 1 4 4 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 1 2 1 3 2 1 1 2 97 1 1 3 1 3 2 4 2 3 4 2 1 2 3 3 3 3 1 1 2 2 4 1 2 3 3 2 3 4 4 3 4 2 3 2 2 2 2 4 2 98 2 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 4 1 1 4 3 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 3 1 2 1 1 3 1 1 1 2 4 1 99 3 2 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 3 1 4 2 2 3 3 4 3 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 1 1 3 2 1 2 101 kor % skor riteri 1 95 41.8 T 1 84 36.2 T 43.4 T 2 130 57.0 T 3 136 59.1 T 3 157 68.6 T 1 8 8 38.0 T 1 98 1 77 33.6 T 1 91 39.9 T 1 84 36.0 T 1 96 42.0 T 2 14 2 62.4 T 2 130 57.9 4 160 70.8 T 1 106 46.6 T 1 77 33.4 T 1 108 2 124 54.6 T 2 118 51.3 T 2 126 55.1 T 3 131 57.3 T 1 106 46.1 T 2 118 51.7 T 3 88 38.¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.8 T 1 105 46.8 T 1 82 36.5 T 2 133 58.8 T 3 141 61.4 T 2 131 57.5 T 1 128 56.9 T 1 92 40.3 T 1 112 49.9 T 2 123 53.8 T 1 76 33.5 T 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 4 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 3 3 2 1 2 3 2 3 1 3 2 1 3 2 2 3 3 2 4 3 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 3 2 1 2 1 1 1 2 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 3 1 1 2 3 2 2 2 osi l 10 11 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 4 2 2 3 1 1 4 1 1 2 2 3 2 4 3 2 1 3 1 3 1 3 2 3 2 4 1 2 2 1 1 2 1 2 1 3 2 2 2 2 1 3 3 3 1 2 2 4 1 2 2 14 4 1 1 1 1 3 1 1 1 2 2 1 2 1 2 3 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 2 1 2 1 4 2 1 2 2 2 2 2 15 2 2 2 2 1 1 2 1 3 2 2 3 2 1 4 3 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 2 4 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 18 2 1 2 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 1 1 2 4 1 2 3 3 4 2 4 3 3 4 2 3 1 2 4 3 2 2 2 4 4 4 3 19 1 1 1 1 1 1 2 1 1 4 1 1 2 1 1 2 2 3 2 2 3 2 2 4 3 3 3 4 1 4 2 1 3 3 3 3 3 2 2 2 25 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 4 2 2 1 3 4 4 1 2 1 2 2 3 1 4 4 2 4 3 3 2 3 3 2 2 2 ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ ¡     £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¡ ¡ £ ¡       ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¢ £       ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ £       ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ £ £ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       £ £ ¡ ¡ ¡     ¡ ¢ £ ¡ ¡     ¡ ¡ .8 T 2 135 59.5 T 2 132 57.2 47.5 3 109 47.8 T 1 124 54.3 T 1 104 45.

0 56.3 88 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 2 1 4 5 7 31 53 5.2 16.9 Persent se ¡ ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   ¡ ¡   ¡ ¡   ¡   ¡ ¡   ¡     £ ¡     ¡ ¡     ¢ £ ¡ ¡ £ ¡   ¡ £ £ ¡ £   ¡ ¡ £ £   ¡ ¢ ¡ ¡ £   £   ¡ ¡ .6 T 2 106 46.2 53.9 T 2 102 44.4 30.2 10.7 96 1 3 3 1 2 3 4 2 1 1 3 2 2 2 3 3 3 1 7 2 9 29 31 7.0 61.8 30.0 101 k or % skor riteri 2 112 49.7 T 53.4 26.6 T 1 98 43.4 osi l 10 11 3 4 3 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 3 1 1 1 3 2 3 1 1 1 1 1 8 20 29 39 8.3 20.6 31.5 41.0 T 2 122 53.7 36.2 8.8 42.2 40.9 T 3 123 1 120 52.3 17.1 T 1 141 61.3 28.8 72.2 4.3 35.4 8.1 85 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 2 1 1 2 7 10 25 5 4 7.8 T 1 90 39.5 1 4 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 2 2 1 3 1 1 3 6 19 26 45 6.7 95 2 1 2 2 1 2 1 2 1 1 3 2 2 2 3 2 1 2 4 8 43 41 4.3 7.4 99 2 2 1 1 2 3 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 6 20 21 49 6.0 60.6 10.3 18 3 3 3 2 4 2 1 2 1 2 3 3 4 1 2 2 1 2 19 15 30 32 19.5 T 1 121 53.3 30.1 T 2 117 51.3 25.2 39.8 98 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 3 1 2 2 1 1 7 7 24 58 7.3 T 1 75 32.7 T 4 10 23 59 4.2 89 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 6 10 29 51 6.3 55.3 10.3 25.9 14 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 5 8 34 49 5.0 15 1 1 2 2 3 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 4 2 2 9 8 48 31 9.2 7.4 24.3 7.6 4 4 18 70 4.4 51.0 33.3 44.2 31.7 49.9 2 2 3 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2 0 17 47 32 0.1 83 1 3 3 1 1 3 4 1 1 3 2 1 1 3 3 3 3 1 10 37 22 27 10.3 10.1 6.5 T 1 78 34.1 18.5 Psikologis 91 93 2 3 2 3 1 3 1 1 1 2 4 3 1 4 2 1 1 1 1 3 3 3 2 2 2 3 1 3 2 3 1 3 1 1 2 2 8 7 24 57 8. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 9 0 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 80 2 3 2 1 2 3 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 2 5 16 35 40 5.9 28.2 8.2 60.3 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 2 2 2 1 1 3 6 2 9 58 3.5 27.3 33.3 25.1 47.9 T 1 93 40.2 7.3 19 2 3 1 1 3 1 1 2 1 1 3 3 3 2 3 2 2 3 8 21 29 38 8.ik p rem j terh d p peril ku seks beb s No.8 T 3 102 44.5 29.0 T 1 66 28.1 46.0 32.9 30.0 62.2 32.3 21.4 41.4 27.2 18.7 82 3 4 3 1 2 3 1 3 1 2 2 3 2 2 2 3 1 3 11 28 30 27 11.8 21.3 97 3 3 4 4 3 1 4 3 1 2 2 4 2 3 3 3 2 3 17 35 26 18 17 .6 25 1 4 4 1 1 1 1 3 1 2 1 2 2 1 3 1 1 1 1 4 10 26 46 14.0 17.3 30.5 22.4 38.7 36.3 50.8 15.3 19.2 30.1 90 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 2 2 2 1 1 5 7 24 60 5.9 51.5 T 1 79 34.3 20.0 59.8 27.2 T 1 98 43.7 31.3 32 .4 9 40 30 17 9.

11 39.6 T 3 33 28.4 T 3 40 34.01 44.2 3 60 51.78 29.43 51.2 2 73 62.30 65.89 36.0 T kor 174 192 152 157 140 238 236 147 228 176 197 253 198 329 169 169 148 131 152 169 195 113 197 122 117 141 153 116 131 128 121 170 167 150 129 159 126 159 % skor 45.5 T 3 35 30.0 T 3 50 43.54 34.7 T 29.6 T 3 53 45.51 44.27 43.56 85.6 T 3 51 44.38 45.21 34.1 T 3 41 35.3 T 2 55 47.47 36.2 T 1 43 37.2 T 3 57 49.33 31.49 39.41 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ £ £ £ ¢ £ £ ik p rem j 1 2 1 2 2 1 1 3 3 3 2 3 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 3 terh d p peril ku 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 3 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 1 3 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 seks beb s 1 2 1 2 1 1 2 2 3 3 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 2 3 2 1 1 osi 1 1 4 4 1 1 1 1 4 1 l 1 2 1 2 4 57 60 4 4 4 4 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 67 74 2 4 4 2 1 1 1 2 2 4 1 1 1 1 2 78 79 2 1 4 2 1 4 2 2 2 3 2 1 1 1 2 2 3 3 1 1 1 2 3 4 1 1 1 1 1 4 3 1 1 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1                             ¡                                             ¡ £     ¡ ¡ ¡ ¢ ode R 01 R 02 R 03 R 04 R 05 R 06 R 07 R 08 R 09 R 10 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 R 20 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 R 30 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 28 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 4 2 4 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 29 1 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 3 3 4 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 31 1 1 2 1 3 4 1 1 3 1 3 2 3 4 2 2 1 1 2 2 3 1 2 2 2 4 2 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 37 4 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 38 2 3 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 4 2 2 2 2 2 1 3 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 3 2 2 1 1 1 39 1 1 1 1 1 1 3 2 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 2 1 1 1 1 4 1 1 2 2 1 3 2 4 1 2 1 2 3 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 3 1 1 47 1 2 1 1 1 3 3 1 2 1 2 3 1 4 2 2 2 1 2 2 3 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 54 2 4 1 1 1 4 2 1 2 1 2 2 1 4 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 4 1 2 2 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 T .3 T 1 34 2 34 29.7 T 4 51 44.3 T 2 35 30.2 T 3 43 37.11 33.01 50.4 T 1 31 26.4 T 2 42 36.2 T 2 32 27.68 44.30 31.59 41.6 3 51 44.6 T 2 42 36.7 T 4 97 83.58 44.2 T 2 54 46.No.00 39.9 2 43 37.31 50.58 40.5 T 2 34 29.0 T 2 40 34. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 2 9 30 31 32 33 34 35 36 37 38 84 2 2 1 4 1 3 3 1 2 2 2 4 1 3 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 86 2 1 2 2 1 1 3 4 2 3 2 3 3 4 2 2 1 2 2 1 2 1 3 1 2 1 2 1 1 1 1 4 2 1 3 1 2 3 87 2 1 2 1 1 1 3 1 3 2 2 1 1 1 4 2 1 1 1 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 3 100 kor % skor riteri 4 56 48.41 32.28 59.8 T 1 49 42.1 T 1 51 44.89 5 1.3 T 3 48 41.77 30.8 T 4 78 67.2 T 1 32 27.06 33.98 61.3 T 2 39 33.46 61.46 38.1 T 2 67 57.1 T 4 78 67.83 51.01 38.0 T 1 64 55.84 30.81 41. 72 39.1 T 2 45 38.

80 58.74 55.55 48.2 T 2 47 40.07 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡£ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ik p rem j 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 4 4 2 1 3 2 1 2 1 2 3 1 3 1 2 1 1 3 2 terh d p peril ku 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 3 3 2 2 1 2 2 1 3 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 4 4 1 1 1 3 1 1 3 4 1 2 2 3 2 1 2 3 2 3 2 seks beb s 1 1 1 1 1 1 4 2 3 4 1 2 1 3 3 1 3 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 4 2 3 1 1 osi 1 1 2 3 1 1 3 3 2 1 3 2 l 1 1 3 1 2 1 57 60 2 2 1 1 1 1 4 1 1 3 3 2 1 1 2 1 3 3 67 74 2 1 1 1 1 1 2 2 2 3 3 1 2 1 1 1 2 2 78 79 1 3 1 2 1 1 2 2 1 2 2 2 1 2 3 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 2 2 1 1 1 3 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1                             ¡                                           ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ £ ¡     ¡ ¡ ¡ ¢ ode R 39 R 40 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 R 50 R 51 R 52 R 53 R 54 R 55 R 56 R 57 R 58 R 59 R 60 R 61 R 62 R 63 R 64 R 65 R 66 R 67 R 68 R 69 R 70 R 71 R 72 R 73 R 74 R 75 R 76 R 77 R 78 28 1 3 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 2 4 2 1 3 4 2 3 2 3 2 3 2 1 2 1 2 3 1 2 3 1 4 2 29 2 1 1 1 1 2 1 1 1 4 2 1 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 3 3 3 1 1 1 2 1 2 3 2 2 3 3 2 2 31 1 1 1 1 1 2 3 4 2 3 4 1 1 1 4 3 2 4 1 2 3 4 1 2 3 3 3 2 2 1 1 3 3 4 1 3 3 2 2 4 37 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 4 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 38 1 1 1 1 2 2 1 1 1 3 2 2 2 1 1 3 2 1 2 2 1 4 1 3 3 2 2 1 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 3 3 39 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 3 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 44 1 1 1 1 1 4 1 1 1 4 4 1 2 1 1 3 1 3 1 1 3 1 1 2 3 2 2 4 3 3 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 47 2 2 2 2 1 1 1 2 2 4 3 1 1 1 2 3 3 3 1 1 3 4 1 2 3 2 1 2 4 1 2 1 3 2 2 2 3 2 4 2 54 1 2 2 1 3 1 2 2 1 1 3 2 2 1 1 3 1 1 3 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 4 1 2 1 1 4 2 1 1 1 1 2 .0 T kor 158 146 146 125 121 170 159 139 140 245 223 155 140 138 161 224 208 237 183 180 256 267 191 212 219 239 214 189 221 188 194 177 225 210 159 225 235 194 216 223 % skor 41.03 62.2 T 3 34 29.17 61.5 T 3 35 30. 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 6 4 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 84 4 1 1 1 1 2 1 1 1 2 4 1 1 1 1 2 2 3 4 1 3 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 2 1 2 1 3 2 4 2 2 86 1 2 2 1 1 2 4 2 4 4 3 4 3 2 1 2 3 1 3 2 3 2 4 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 87 1 1 2 1 1 2 2 1 2 2 1 3 2 1 2 2 2 3 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 4 1 2 100 kor % skor riteri 2 45 38.No.59 61.46 63.07 40.59 54.9 T 3 72 62.73 49.5 T 4 67 57.53 49.41 58.93 58.4 T 4 69 59.25 58.52 56.3 T 2 47 40.8 3 68 58.21 57.9 T 4 67 57.55 31.7 47.8 T 3 35 30.5 T 3 40 34.8 T 4 70 60.8 T 3 40 34.41 36.6 T 3 66 56.3 T 3 54 46.69 41.8 T 3 54 46.15 38.6 T 3 56 48.4 T 4 55 3 68 58.20 50.33 54.8 T 3 38 32.8 T 3 66 56.8 T 2 40 34.3 T 4 75 64.09 58.66 46.36 3 6.72 47.88 66. 24 55.67 69.52 46.46 35.6 T 37.5 T 3 74 63.4 T 3 52 44.22 57.1 T 3 62 53.51 44.5 T 4 52 44.9 T 3 64 55.3 T 3 55 47.9 T 2 44 2 45 38.2 T 1 59 50.3 T 4 61 52.6 T 2 52 44.96 50.4 T 2 56 48.8 T 4 65 56.02 38.02 32.20 36.5 T 3 71 61.6 T 4 63 54.27 41.94 41.2 T 3 4 8 41.

26 61.8 31 3 4 1 2 3 2 1 1 1 1 1 3 2 1 2 3 1 1 12 20 23 41 12.2 78 79 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 4 1 4 3 2 2 2 2 16.5 24.7 35.2 20.4 T 2 51 44.84 46.5 20.3 T 2 33 28.0 T 3 55 47.3 8.6 41.4 84 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 2 1 1 2 1 1 6 8 31 51 6.77 43.09 53.1 38 3 1 1 2 1 2 1 2 1 1 4 1 3 2 2 2 1 1 3 17 36 40 3.61 52.3 54.5 54 1 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 5 4 40 47 5.7 35.7 39 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 4 2 1 1 1 2 2 4 20 70 2.23 riteri T T T T T T T T T T T T T T T Persent se ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ 100 kor % skor riteri 55 47.1 47 1 2 2 2 1 3 1 2 2 4 1 2 2 2 2 3 1 2 6 14 39 3 7 6.1 4 7.2 14.14 52.0 29 2 1 2 1 3 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 3 11 38 44 3.4 28.0 53.5 26.7 78.5 3 9.2 60.0 87 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2 2 1 1 3 8 39 46 3.3 32.11 46.34 52.7 32.2 5.7 41.3 40.6 45.0 T 2 54 46.7 5 5 28 58 16 34 43 3.1 86 3 4 2 1 3 2 1 2 1 1 3 3 2 2 2 3 2 2 9 27 37 23 9.6 47.1 4. 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 Frekuensi ik p rem j terh d p peril ku seks beb s osi l 57 60 67 74 4 3 3 3 2 1 1 1 2 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 4 3 1 1 1 3 2 2 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 3 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 3 16 75 2.6 38.86 39.2 41 .9 kor 193 235 152 131 179 200 123 162 107 153 177 205 210 181 201 200 122 166 % skor 50.3 53.0 1 1 2 3 3 .8 5 8 31 52 5.4 44.6 78.1 7 15 40 5.5 T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡ ¡       ¡ ¡ ¡ ¡   £ ¡   £ ¡ ¡ ¡ ¡     £     ¡ £ £   ¢ ¡     £ £ ¡ ¡ ¡ £ £     ¡ £   ¡ ¡ ¢ ¢ ode R 79 R 80 R 81 R 82 R 83 R 84 R 85 R 86 R 87 R 88 R 89 R 90 R 91 R 92 R 93 R 94 R 95 R 96 4 3 2 1 4 3 2 1 28 1 2 1 1 2 1 1 3 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 5 11 31 49 5.1 17.9 44 1 3 3 1 1 2 4 4 1 2 1 1 2 3 1 2 1 2 8 12 25 51 8.03 42.7 37.2 4.20 39.5 32.08 32.3 42.7 37 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 3 1 1 1 1 2 5 14 75 2.3 12.3 32.2 T 3 65 56.5 41.69 47.8 T 4 48 41.4 T 48.8 24.3 15.6 T 3 58 50.2 8.19 27.58 34.0 T 3 58 50.4 T 1 44 37.1 16.1 38.2 11.39 5 4.1 8.08 31.3 T 3 46 39.7 49.4 8 16 31 41 8.1 5.7 30.3 14.1 3.9 2 2 56 T 58 50.0 42.2 29.0 T 3 67 57.6 40.1 11.8 72.No.2 11.9 T 2 34 29.3 16.4 T 1 37 31.7 T 2 31 26.3 51.7 T 3 42 36.0 T 1 16 40 29 11 16.

368 1. 96 96 £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ Perhitung n oefisien orrel tions ik p rem rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r n mor l 1.368 .L mpir n 12 195 d p peril ku seks beb s Pe rson orrel tion ik p beb s Pen l r n mor l ik p rem j terh d p peril ik p rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r 96 ig. m k sik p rem j terh d p peril ku seks beb s sem kin tinggi (menerim peril ku seks beb s ).000 96 £ £ ¡ ¥ . T nd n eg tif menunjukk n b hw jik tingk t pen l r n mor l rem j sem kin tinggi. d n seb likny . Pe rso n D t tersebut menunjukk n b hw bes rny korel si nt r sik p rem j terh d p peril ku seks beb s d n tingk t pen l r n mor l rem j sebes r 0.000 .000 . ed ngk n jik tingk t pen l r n mor l rem j rend h. ¢ £ ¡ ¢ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ orel si j terh ku seks n mor l . 368. m k sik p rem j terh d p peril ku seks beb s k n sem kin rend h (menol k peril k u seks beb s). £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ Pen l r n mor l . (1 t iled) N Hipotesis : Ad hubung n positif nt r tingk t pen l r n mor l deng n sik p rem j terh d p peril ku seks beb s.000 . y itu sem kin rend h tingk t pen l r n mor l s em kin positif sik p rem j terh d p peril ku seks beb s.

5 6 7 8 9 10 11 1 2 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 kor pen l r n mor l 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 72 52 52 57 riteri pen l r n mor l T h p III T h p III T h p IV T h p IV T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p II T h p III T h p V T h p III T h p III T h p IV T h p IV T h p III T h p IV T h p III T h p IV T h p IV T h p IV T h p III T h p III T h p III £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¢ £ £ ¡ £ £ £ ¢ . 2 3. 4.L mpir n 13 196 Penentu n riteri Deskripsi T bel kor Tingk t Pen l r n Mor l Rem j Responden 1.

197 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 54 79 56 85 51 71 79 62 58 60 60 61 62 75 79 54 58 56 45 54 57 75 55 56 56 51 55 53 56 53 52 54 59 53 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ T h p I T h p III III T II III T h p p III T h T h p III h p III T V T h p III T h p V T h p III T h p IV T h p V T h p IV T h p II p III T h p III T h p IV T h p V T h p V T h p IV T h p III T h T h p III T h p III T h p V T h p III T h p III T h p III T h p hp III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p III T h p I .

198 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 74 52 54 53 57 54 53 55 52 57 52 56 53 59 53 59 70 64 52 80 54 58 63 52 71 56 51 74 53 57 69 64 51 £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ T h p IV T h p III h p III T h p III h p IV T h p IV T IV T h p III T h p T h T h h p III p III p III III T T h p T h p III T h p III T h p III T T h p III T h p III T h p III T h p V T h p III T h p III T h p IV T h p III T h p III T h p IV h p III T h p III T h p III T h p III T IV T h p III T h p T h p IV T h p III .

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 16 1 6 14 12 10 24 21 12 16 14 19 22 15 27 15 16 16 12 13 14 14 9 16 11 13 11 11 8 13 11 13 17 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T Aspek Psikologis kor 104 117 92 93 83 142 139 86 136 106 115 160 126 197 100 95 87 76 88 102 124 61 110 69 67 84 89 68 83 76 69 105 kriteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T Aspek osi l kor 42 48 35 42 37 66 63 37 59 43 49 61 47 92 39 44 35 31 36 42 48 28 54 29 26 32 41 2 6 27 29 28 41 riteri T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ecenderung n sik p terh d p peril ku seks beb s T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡£ ¡ ¡£ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡£¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¡ ¡ £ ¡ £ ¡ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ ¡ £ ¡ .199 ik p Rem j Terh d p Peril ku eks Beb s Aspek Biologis isw kor 1.

200 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 17 14 12 16 11 14 13 14 15 14 10 16 14 16 16 16 19 15 13 11 15 20 19 20 16 13 21 24 19 21 18 19 18 14 20 17 18 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T 102 82 71 99 70 94 98 78 84 71 70 101 99 84 82 147 137 85 87 85 95 134 116 145 1 06 104 152 152 115 126 134 144 125 115 127 107 112 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T 35 42 33 33 32 40 38 40 34 28 29 40 39 29 27 63 53 41 31 32 37 58 55 59 46 48 68 72 44 55 54 62 58 49 61 51 50 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ .

00 185.76 – 72.75 29 – 50.50 142.51 185.25 72.50   etuju 25.201 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 15 19 19 12 21 17 15 22 20 15 17 14 9 18 17 12 15 9 14 17 19 20 15 20 18 11 14 T 101 134 124 91 134 140 117 127 133 122 141 86 79 104 115 72 93 63 85 101 124 126 103 116 117 72 99 T T T T T T T T T T T T T T T T T T 49 57 53 46 57 65 47 59 56 45 63 39 31 46 53 26 43 26 40 45 53 54 48 51 49 27 41 T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T ng t tid k setuju 10 – 17.01 – 32.50 57 99.75   Tid k setuju 17.25     ng t setuju 32.51 – 94.51 25 99.50 50.51 – 40.26 288 94.26 116 £ £ £ £ £ £ £ eter ng n : ik p rem j l terh d p peril ku seks beb s Biologis Psikologis osi ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ T T T T T T T T T T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £   ¡ £ £ £   £ T T T T T T T T T ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ £ £ ¡ £ £ ¡ ¡ ¢ .76 142.

5.L mpir n 14 202 H sil An lisis Deskripsi kor ik p rem j terh d p peril ku seks beb s Biologis Psikologis osi l 16 104 42 16 117 48 14 92 35 12 93 42 10 83 37 24 142 66 21 1 39 63 12 86 37 16 136 59 14 106 43 19 115 49 22 160 61 15 126 47 27 197 92 15 10 0 39 16 95 44 16 87 35 12 76 31 13 88 36 14 102 42 14 124 48 9 61 28 16 110 54 1 1 69 29 13 67 26 11 84 32 11 89 41 8 68 26 13 83 27 11 76 29 13 69 28 17 105 41 17 102 35 No. 2. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Pen l r n mor l rem j 52 50 65 67 59 53 53 59 52 54 51 54 54 43 51 76 56 55 69 66 52 70 54 68 63 72 52 52 57 54 79 56 85 £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ . 3. 1. 4.

203 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 14 12 16 11 14 13 14 15 14 10 16 14 16 16 16 19 15 13 11 15 20 19 20 16 13 21 24 19 21 18 19 18 14 20 17 18 15 82 71 99 70 94 98 78 84 71 70 101 99 84 82 147 137 85 87 85 95 134 116 145 106 1 04 152 152 115 126 134 144 125 115 127 107 112 101 42 33 33 32 40 38 40 34 28 29 40 39 29 27 63 53 41 31 32 37 58 55 59 46 48 68 72 44 55 54 62 58 49 61 51 50 49 51 71 79 62 58 60 60 61 62 75 79 54 58 56 45 54 57 75 55 56 56 51 55 53 56 53 52 54 59 53 74 52 54 53 57 54 53 .

17 102 17 £ Me n t nd r Devi si kor tertinggi kor terend h ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ .00 40 10 Psikologis 143 28.5 14.204 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 19 19 12 21 17 15 22 20 15 17 14 9 18 17 12 15 9 14 17 19 20 15 20 18 11 14 134 124 91 134 140 117 127 133 122 141 86 79 104 115 72 93 63 85 101 124 126 103 116 117 72 99 57 53 46 57 65 47 59 56 45 63 39 31 46 53 26 43 26 40 45 53 54 48 51 49 27 41 55 52 57 52 56 53 59 53 59 70 64 52 80 54 58 63 52 71 56 51 74 53 57 69 64 51 Biologis 25 5.5 228 57 osi l 72.5 14.50 116 29 Pen l r n mor l 42.

L mpir n 15 205 Rek pitul si H sil An lisis Deskripsi Thp II 2 riteri Thp Thp III IV 66 20 Thp V 8 Thp VI 0 Thp I 0.75 0 T h p I T h p II T h p III T h p IV T h p V T h pVI Pen l r n Mor l £ £   £ £ £ £ Gr fik Tingk t Pen l r n Mor l Rem j   £ £ £ £ Tingk t Pen l r n Mor l Rem j Tingk t Pen l r n Mor l Thp I 0 £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £   £ £ £ £ £ £ £ ¢ .83 20 0.08 8.00 68.75 20.83 Thp V 8.33 Thp VI 0.00 Thp II 2.00 Frekuensi (%) 80 60 40 20.00 2.08 D l m Persen Thp Thp III IV 68.33 0.

04 £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ 1.88 29.92 40 30 20 10 0 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek psikologi) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 4 45 46 1.17 22.206 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek biologis) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 22 45 28 1.88 29.04 T T eks Beb s (Aspek Biologis) £ £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j 50 Frekuensi (%) terh d p peril ku seks beb s ( spek biologis) £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j Terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £¡ £ £ £¡ £ ¡ £ ¡ eks Beb s ng t setuju ng t setuju .92 46.17 46.04 22.

4.04 £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.92 46.92 Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek psikologis) 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 47.17 T T eks Beb s (Aspek Psikologis) £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡¡ ¡ .88 47.17 46.88 1.

79 60 50 40 30 20 10 0 Frekuensi (%) 44.04 ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) 1 4 48 £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ ik p Rem j terh d p Peril ku eks Beb s (Aspek ¡ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 5.96 44.21 T T osi l) ng t setuju £ £ £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek sosi l) £ £ £ ¡ D l m Persen etuju Tid k setuju ng t tid k setuju £ £ ng t tid k setuju ¡ £ £ £ ¡ riteri ng t setuju etuju Tid k setuju £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £ ¡ ¢ £ £ ¡ ¡ £ £¡ £ £ £¡ £ ¡¡ ¡ ik p rem j terh d p peril ku seks beb s ( spek sosi l) ik p rem j terh d p peril ku seks beb s( spek biologis) ng t setuju .79 48.207 1 5 47 43 1.04 5.21 48.96 1.

04 4.17 50.00 47.79 50.00 1.17 T T eks Beb s £ £ £ £ £ £ Gr fik sik p rem j terh d p peril ku seks beb s £ £ £ ¡¡ ¡ .79 60 Frekuensi (%) 50 40 30 20 10 0 44.43 1.04 £ ik p Rem j terh d p Peril ku ¡ £ £ £ £ £ ¡ ¡ ¡ ¡ 4.

368 .466 . Error of R qu re R R qu re R qu re the Estim te h nge F h nge df1 df2 ig.368 .135 14.1042 41.126 39.368 £ t nd rdi zed Unst nd rdized oefficien ts oefficients Model B td. Error Bet t 1 ( onst nt) 283.9063 8. b. Pen l r n mor l b. Dependent V ri ble: erh d p peril ku seks beb s oefficients ik p rem j t £ h nge t tistics Adjusted td. 96 96 mor l ik p rem j terh d p £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ ¥ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡£ £ £ Descriptive t tistics Me n td.000 .1349 .368 1. .000 £ £ £ £ £ ¡   ¡ ¡ £ . Devi tion ik p rem 6 peril ku seks beb s Pen l r n mor l 58.000 .368 £ £ £ £ £ £ . All requested v ri bles entered.725 1 9 4 .6159 orrel tions ik p rem j terh d p peril ku seks beb rem j terh d p peril ku seks beb s Pen l r n mor l ku seks beb s Pen l r n mor l ik p rem j terh d p n mor l 1. .368 . Dependent V ri ble: peril ku seks beb s b Model umm ry £ £ ¡ £ ¡ £ £   £ £ £ £ £ £ ¡ ¥ £ £ £ £ £ ¥ £   £ ¥ £ £ £ £ V ri bles Entered Pen l r n ¡ ¡ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £   £ £   £ Pen l r n mor l .000 96 96 £ £ £ £ £ £ £ ¡ £   £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ ¡ ¡ £ £ L mpir n 16 An lisis D t ¡¡ ¡ P j terh d p 178.740 10.788 .444 27.000 P rt .866 ¥ £ £ £ £ ¥ £ £ £   ¡ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £¥ ¥ £ £   £ £ £ £ ¥£ £ £ £ £ ¡ £ £ ¡ £ ¡ £ ¥ ¥ ¥ . (1 t iled) N b V ri bles Entered/Removed Model 1 V ri bles Removed .208 s Pe rson orrel tion ik p ik p rem j terh d p peril peril ku seks beb s Pen l r N 96 96 ig. Method Enter Model 1 ig.368 3. F h nge .837 £ £   £ .218 Pen l r n mor l 1.000 .000 .135 . Predictors: ( onst nt). Dependent V ri ble: ik p rem j terh d p peril ku seks beb s   orrel tions Zero order P rti l .

Dependent V ri ble: erh d p peril ku seks beb s ¡ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ £ ¡ £ £ £ £ ¡ £ ¥     £ £ £ £ £   ¡ ¡ £ ig.209 ANOVA b um of qu res 22551.811 1531.00 ik p re £ £ ¡ £ . Pen l r n mor l b.50 .50 Expected um Prob . . Predictors: ( onst nt).0 Model 1 df 1 94 95 Regression Residu l Tot l Me n qu re 22551.000 £ £ £ ¡ ¥ ¥ ¡ £ ¡ £ £ £     £ £ £ £ ¡ ¡ £ ik p rem j t .75 .725 .25 0.00 .75 1.00 Observed um Prob Regression tudentized Residu l £ £ £ Regression t nd rdized Predicted V lue       £ £ £ £ £ £ c tterplot Dependent V ri ble: ik p rem j 4 3 2 1 0 1 2 terh d p peril ku seks beb s 4 3 2 1 0 1 2 3 £ Norm l P P Plot of Regression t nd rdized Residu l Dependent V ri ble: m j terh d p peril ku seks beb s 1.25 .00 0.544 F 14.1 166517.811 143965.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful