Motivasi Pembelajaran Seni Tari

20 Jul 2010
• •

Pendidikan Pikiran Rakyat

Oleh DYAH PUTRI ARDINI, S.Pd. Minat generasi muda terhadap kebudayaan daerah sendiri sangat memprihatinkan. Walau telah ditunjang oleh fasilitas dan infrastruktur yang memadai, hal itu masih kalah dengan pengaruh dari luar. APALAGI yang di sekolahnya masih belum tersedia tenaga pengajar seni tari. Walau tetap kebijakan dikembalikan lagi kepada pemerintah, kita memaklumi prosedural pemerintah terhadap skala prioritas kebutuhan pengajar bidang studi di masing-masing sekolah. Mudah-mudahan ke depan, kebutuhan akan guru pengajar seni tari di Indonesia mulai memasuki skala prioritas tersebut. Rasanya, seni tari kurang menjadi pembicaraan yang menarik, umumnya pada kalangan generasi muda. Pada saat perkenalan dalam pembelajaran, banyak yang berapriori terlebih dahulu. Mereka menganggap seni tari itu kampungan, menjenuhkan, dan tidak menarik. Namun, hal ini dibantah oleh tayangan grup tari Rumingkang di stasiun televisi swasta baru-baru ini. Setelah ada pertunjukan tari jaipong grup Rumingkang di stasiun televisi swasta tersebut, artinya ada perkembangan respons di ma-syarakat. Seni tari mulai menjadi topik pembicaraan di mana-mana, dan ter-nyata hasil dari gerak tari jaipong sangat menarik untuk kawula muda dan anak-anak, bahkan sesuai dengan gejolak usia anak dan remaja. Umumnya, gerak tari jaipong lebih variatif, energik, dan menghentak. Bahkan pada acara pentas seni dan perpisahan di sekolah, tari jaipong sudah masuk dalam menu utama pada acara hiburan di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Hal itu merupakan nilai perkembangan yang sangat mengagumkan. Hal tersebutberarti seni tari sudah mendapat respons yang positif di masyarakat dan dapat dikembangkan lagi secara intrakurikuler ataupun ekstra-kurikuler di sekolah. Jangan sampai kesempatan ini hilang dan tenggelam karena kita terlambat memupuknya secepat mungkin. Kita ketahui pengertian seni tari me-nurut Soedarsono adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak jang ritmis dan indah. Seni tari di Jawa Barat terdiri atas beberapa rumpun, yaitu rumpun tari keurseus, rumpun tari klasik, rumpun tari rakyat, dan rumpun tari topeng. Adapun tari jaipong termasuk salah satu tarian dalam rumpun tari rakyat Jadi tari jaipong itu merupakan sebagian kecil dari keanekaragaman rumpun tari. Namun, hal ini bisa dipakai sebagai umpan minat siswa untuk mengail umpan yang lebih besar lagi, yaitu siswa mau dan tertarik mempelajari seni tari. Setelah itu, kita bisa

kenaikan seni tari lainnya dan arahkan ke mana minat siswa untuk mempelajarinya menurut rumpun tarinya. Lebih luasnya lagi, di sini juga kita bisa mengembangkan sayap kepada tarian nusantara, seperti dari Sumatra, Kalimantan, Bali, NTT, Papua, dan daerah lain di Indonesia. Selain itu, kita juga bisa mengembangkan pengetahuan terha-dap perkenalan dan pemahaman musik pengiring tari yang menggunakan nada pentatonis (tradisional) beserta busana dan properti tradisional yang dikenakan dalam tari-tarian tersebut. Pengembangan dan pelestarian seni tari di kalangan generasi muda bisa dilakukan di sekolah melalui pembelajaran. Lebih-lebih dengan adanya perkembangan industri pariwisata yang begitu pesat dewasa ini, kebutuhan untuk mengemas tari tradisional untuk ini semakin terasa. Semoga kelak tayangan televisi swasta bisa lebih marak lagi menaikkan pamor seni tradisional daerah sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia yang sangat kaya dengan keanekaragamannya. Ingat jika kita tidak melestarikan budaya, itu sama dengan kita membunuh budaya sebagai identitas bangsa.*** Penults, Guru SMPN 4 Cimahi, Jawa Barat. Entitas terkaitAdapun | APALAGI | Indonesia | Ingat | Jawa | Minat | Pengembangan | Rumingkang | Semoga | Seni | Soedarsono | Walau | Guru SMPN | Jawa Barat | Oleh DYAH PUTRI | Motivasi Pembelajaran Seni Tari | Ringkasan Artikel Ini Seni tari mulai menjadi topik pembicaraan di mana-mana, dan ter-nyata hasil dari gerak tari jaipong sangat menarik untuk kawula muda dan anak-anak, bahkan sesuai dengan gejolak usia anak dan remaja. Bahkan pada acara pentas seni dan perpisahan di sekolah, tari jaipong sudah masuk dalam menu utama pada acara hiburan di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Seni tari di Jawa Barat terdiri atas beberapa rumpun, yaitu rumpun tari keurseus, rumpun tari klasik, rumpun tari rakyat, dan rumpun tari topeng. Adapun tari jaipong termasuk salah satu tarian dalam rumpun tari rakyat Jadi tari jaipong itu merupakan sebagian kecil dari keanekaragaman rumpun tari. Jumlah kata di Artikel : 538 Jumlah kata di Summary : 108 Ratio : 0,201 *Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net. Penerapan Model Discovery Learning Dalam Pembelajaran Seni Tari Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Di Sd Istiqamah Bandung Pengarang WILDASARI, Eka Subjek Abstrak Dalam proses pendidikan, motivasi belajar sangat diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Motivasi belajar menentukan tingkat keberhasilan perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sulit untuk

berhasil karena motivasi merupakan hal yang sangat fundamental hingga mempengaruhi setiap pekerjaan yang akan dilakukan Model Discovery Learning adalah model pembelajaran yang berorientasi pada proses dan membimbing diri sendiri. Dengan kata lain, model pembelajaran ini merupakan sebuah proses studi individual dimana siswa dihadapkan pada suatu permasalahan dan dibiarkan menemukan sendiri cara belajarnya. Model ini dapat menjadi alternatif dalam penggunaan model pembeljaran di dalam kelas. Permasalahan yang ditemukan di lapangan, kemudian dirumuskan dalam beberapa identifikasi masalah yaitu : 1) Bagaimana motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran seni tari? 2) Bagaimana proses penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran seni tari di SD Istiqamah Bandung? 3) Bagaimana peningkatan motivasi siswa dalam penggunaan model Discovery Learning? dan 4) Bagaimana hasil penerapan model Discovery Learning dalam pembelajaran seni tari di SD Istiqamah Bandung? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan desain one group pretest-posttest dimana penelitian hanya dilakukan pada suatu kelompok dan tidak menggunakan kelompok lain sebagai pembanding. Tehnik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi,wawancara, dan studi dokumentasi, sedangkan data yang telah terkumpul diolah secara kualitatif dan kuantitatif melalui teknik analisis dengan menggunakan pre-test and post-test one group design untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada pembelajaran seni tari dalam penerapan model Discovery Learning. Penelitian dilakukan di SD Istiqamah Bandung, dengan mengambil populasi siswa kelas 5, Sedangkan sampel yang digunakan adalah sampel terpilih atau Purposive Sample dengan cara mencari kelas yang memiliki nilai rata-rata terkurang. Adapun sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 5C, yang berjumlah sebanyak 30 orang siswa. Dalam hasil penilaian melalui indikator motivasi dan indikator kreativitas sebelum dilakukan treatment dan sesudah dilakukan treatmen terlihat adanya perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelum treatment nilai pre-test nya adalah 5.94, sedangkan sesudah treatment nilai post-test nya adalah 7.95. Dengan demikian dapat disimpulkan apabila penelitian dengan judul Penerapan Model Discovery Learning Dalam Pembelajaran Seni Tari di SD Istiqamah ini berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa, dan dapat membuktikan hipotesis sebelumnya yaitu penerapan model Discovery Learning dalam pembelajaran seni tari dapat meningkatkan hasil belajar siswa . KATA PENGANTAR Permalink http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1107106-091917/

PEMBELAJARAN SENI TARI BAGI SISWA TUNA RUNGU DI SLB BAGASKARA SRAGEN
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Oleh: Nama : Novi Windri Hastanti NIM : 2501401008 Prodi : Pendidikan Seni Tari Jurusan : Pendidikan Sendratasik

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007
ii PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang pada Hari : Tanggal : Panitia ujian skripsi Ketua Sekretaris Prof. Dr. Rustono Drs. Syahrul Syah Sinaga, M. Hum NIP 131281222 NIP 131931634 Pembimbing I Penguji I Drs. Hartono, M.Pd Drs. Agus Cahyono, M. Hum NIP 131962589 NIP 132058805 Pembimbing II Penguji II Joko Wiyoso, S.Kar.M.Hum Joko Wiyoso, S.Kar.M.Hum NIP 131764034 NIM 131764034 Penguji III Drs. Hartono, M.Pd NIP 131962589 iii PERNYATAAN Dengan ini saya: Nama : Novi Windri Hastanti NIM : 2501401008 Prodi/Jurusan : Pendidikan Seni Tari S1/Pendidikan Sendratasik Fakultas : Bahasa dan Seni Menyatakan bahwa sesungguhnya Skripsi yang berjudul “Pembelajaran Seni Tari Bagi Siswa Tuna Rungu di SLB Bagaskara Sragen”, yang saya tulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ini benar-benar karya saya sendiri, yang saya hasilkan setelah memenuhi penelitian, bimbingan, diskusi dan pemaparan ujian. Semua kutipan, baik yang diperoleh dalam sumber pustaka, wawancara, wahana elektronik langsung maupun sumber lainnya, telah disertai keterangan mengenai identitas narasumbernya dengan cara sebagaimana yang lazim dalam penulisan karya ilmiah. Dengan demikian walaupun tim penguji dan pembimbing penulisan. Skripsi ini telah membubuhkan tanda tangan sebagai keabsahannya, seluruh karya ilmiah ini tetap menjadi tanggung jawab saya sendiri jika kemudian ditemukan ketidakberesan, saya bersedia bertanggung jawab. Demikian, harap pernyatan ini dapat digunakan seperlunya. Semarang, Juni 2007 Yang membuat pernyataan, Novi Windri Hastanti iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO Jangan batasi dirimu. Banyak orang telah membatasi dirinya pada apa yang bisa

S. Drs. Hum. yang tak terhingga budi dan jasanya. 6. Bp Joko Wiyoso.dilakukan. dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Kepala Sekolah SLB Bagaskara Sragen yang telah memberikan ijin kepada peneliti dalam rangka penyusunan skripsi. 2. Universitas Negeri Semarang yang telah memberi izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian dalam bidang seni tari. Si. 4. Prof. Dosen pembimbing II. Bapak / Ibu guru. M. Hartono. sehingga dapat terselesaikannya penyusunan skripsi yang berjudul “Pembelajaran Seni Tari Bagi Siswa Tuna Rungu di SLB Bagaskara Sragen”. Ayah dan Bunda tercinta. S. mencurahkan segala kasih sayang dan dorongan tanpa pamrih. terima kasih atas motivasinya. Ketua Jurusan Sendratasik. Dosen pembimbing I. 8. atas kesabaran dalam membimbing serta mengarahkan selama proses penelitian. Drs. M. 3. atas segala rahmat dan karunia-Nya. Hartono. Dr. Syahrul Syah Sinaga. Keluarga besar Bp. M. yang telah banyak memberikan arahan demi keberhasilan penyusunan laporan penelitian. Dr. penulisan skripsi ini tidak akan selesai. yang selalu memberi motivasi dan semangat dalam penelitian ini. H. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. kesabaran. 2. 4. M. vi 6. 5. Bapak / Ibu dosen yang turut memberi spirit dan semangat demi terarahnya proses penelitian. pd. terima kasih atas segala bantuan dan doanya. v PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Kar. Hum. serta dorongan semangat yang diberikan. Kar. dek eka dan semuanya. dan Bp Joko Wiyoso. Teman-teman cost-ku. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang yang telah memberi izin dalam pengumpulan data yang diperlukan. karyawan dan siswa SLB Bagaskara Sragen atas kerja samanya . Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari beberapa pihak. M. M. Apa yang kamu yakini pasti bisa kamu raih. Mas Yuliantoro tersayang. Rustono. Kamu bisa melangkah sepanjang pikiranmu mengijinkan. Almamater-ku tercinta. Drs. 5. Pof. Fakultas Bahasa dan Seni. (Mary Kay Ash) PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada: 1. Sudijono Sastroatmodjo. Oleh karena itu. Hum. Pd. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi izin untuk penyusunan skripsi ini. Kakak dan keponakanku tersayang. terima kasih atas kesetiaan. 3. 7.

di SLB Bagaskara tidak tersedia VCD player. Hasil penelitian ialah deskripsi pembelajaran seni tari pada SLB Bagaskara. Pembelajaran seni tari bagi anak cacat tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen meliputi tujuan. penyajian data. interpretasi data. media. Para siswa kurang maksimal dalam menangkap instruksi dari guru. Teman-teman serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu dan mendukung terlaksananya penelitian. 2007. klasifikasi data. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data. (c) jumlah siswa yang mengikuti tari tidak tetap. wawancara. materi dan bahan. Dalam penelitian ini dilakukan observasi. dan dapat melatih keberanian dan percaya diri melalui olah gerak (tari). metode. Pembelajaran Seni Tari Bagi Siswa Tuna Rungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagaskara Sragen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembelajaran seni tari pada SLB Bagaskara Sragen serta hambatan yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seni tari. Saran-saran yang dapat penulis kemukakan ialah (a) penggunaan metode dalam pembelajaran di SLB Bagaskara pada khususnya dan di SLB yang lain pada umumnya ini hendaknya lebih mengefektifkan metode demonstrasi. Subyek penelitian ini adalah anak tuna rungu SLB Bagaskara Sragen. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. (b) para siswa juga tidak mempunyai bakat menari sehingga mereka kurang berminat untuk belajar tari. pembelajaran tari bagi anak-anak yang menyandang tuna rungu menjadi suatu hal yang luar biasa. serta (d) media pembelajaran yang ada hanyalah tape recorder. Selain itu. 9. Alat dan teknik pencatatan data pada penelitian ini adalah : catatan harian. Penulis vii SARI Novi Windri Hastanti.sehingga proses pelaksanaan penelitian dapat berjalan lancar. Walaupun memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Amin. ruang yang digunakan untuk pembelajaran tari adalah ruang serba guna yang juga digunakan untuk belajar sablon dan tenis meja. namun demikian betapapun kecilnya semoga skripsi ini bermanfaat bagi dunia pendidikan dan para pembaca. Beberapa kesulitan yang dialami dalam pembelajaran tari ialah (a) siswa tidak memperhatikan pelajaran karena daya dengar siswa yang kurang. Selain itu juga supaya anak senang dalam menerima pelajaran dan dapat menumbuhkan minat si anak dalam bidang tari serta mengetahui kesulitan-kesulitan yang diperoleh guru dalam mengajar seni tari. dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Metode penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penulis menyadari bahwa skripsi ini banyak kekurangan. Pembelajaran tari di SLB memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan pembelajaran tari di sekolah-sekolah biasa. Manfaatnya anak dapat menambah pengalaman dalam bidang kesenian khususnya seni tari. serta penarikan simpulan atau verifikasi. foto. Pembelajaran tari bagi kita sebagai orang normal merupakan hal yang biasa. Hal ini disebabkan karena daya dengar siswa yang kurang. SLB Bagaskara dapat melaksanakan pembelajaran tari dengan cukup efektif. Namun. wawancara. metode latihan . dan evaluasi.

........................................ 43 4.............................................1 Pembelajaran ................ 4 1................................ (c) sarana dan prasarana di SLB Bagaskara hendaknya dapat ditambah........ xi DAFTAR LAMPIRAN ........................................2 Pembelajaran Tari Bagi Anak Tuna Rungu di SLB Bagaskara ............................................................... (b) jumlah siswa yang mengikuti tari hendaknya ditetapkan............................................................ ii PERNYATAAN.................... 39 4.............................................................3... 32 3......................... 35 4.....................................................5 Kondisi Guru SLB Bagaskara................................................................2 Ketunarunguan .................. LANDASAN TEORI 2.............. 45 ..................... 36 4........................ Sehingga pembelajaran tari tidak hanya cukup dengan menggunakan tape recorder saja..... xii BAB I.........................................................1.. 37 4.................... 18 2.... METODE PENELITIAN 3.............6 Prestasi yang Pernah Diraih ..1.....7 Peraturan dan Tata Tertib Sekolah.................................................................. 35 4.............................................................................................................. 31 3..........................................................................................................................................................................................................2 Sejarah Singkat Sekolah Luar Biasa B Bagaskara Sragen.........iii MOTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................................................3 Teknik Pengumpulan Data............................. 4 1....................4 Kondisi siswa SLB Bagaskara ...............1 Latar Belakang Masalah ......3 Tujuan Penelitian ......................viii DAFTAR TABEL .....................................................2 Teknik Wawancara............................................ 25 BAB III..................... x DAFTAR GAMBAR ......................................................................1 Gambaran Umum Sekolah Luar Biasa B Bagaskara Sragen .......... 42 4.............. PENDAHULUAN 1...1 Lokasi dan Lingkungan Sekitar ...... 1 1............ 30 3................................ 29 3...............3.................... 6 2........................................................................3............................................ 5 BAB II.. vii DAFTAR ISI........................................4 Manfaat Penelitian ...................................................................1........................................................ v SARI .......dan metode tugas.................................................1 Pendekatan Penelitian ...............................................1 Teknik Observasi .1........................... serta (d) guru dapat meningkatkan minat siswa dengan cara memperlihatkan CD tari pada saat pembelajaran.................. 44 4.. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.......................................... 29 3............................1.2 Permasalahan .............4 Teknik Analisis Data ................ iv PRAKATA.......2 Lokasi dan Sasaran Penelitian............................................................... viii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN...................................................... 30 3..................................3 Teknik Dokumentasi ..3 Sarana dan Prasarana.3 Seni Tari ...................... 33 ix BAB IV................................................................................1..1............................

.......................... 40 Tabel 3....... PENUTUP 5.............................. 79 Gambar 7....... Pedoman Wawancara ..................................... 78 Gambar 6............. 77 Gambar 2. 74 Lampiran 3..........4...................................... Pendidikan luar biasa bertujuan untuk membantu peserta didik yang menyandang kelainan ....... Gambar ..... 79 xii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1................. 47 4................................................................ Guru Sedang Memberi Isyarat Gerak Jalan Kenser ke Kiri.. 43 xi DAFTAR GAMBAR Gambar 1.. 75 Lampiran 4.........................................................................................................4 Media ................. 77 Gambar 3........ agama..................................2. Praktik Menari di Dalam Kelas...1 Simpulan ................................................................ 60 4.............. 70 x DAFTAR TABEL Tabel 1...63 4... Jumlah Siswa SLB Bagaskara Sragen ............. 63 BAB V. 77 Gambar 4.......................1 Latar Belakang Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan................................. Pendidikan anak berkelainan dikelola oleh sekolah-sekolah luar biasa yang disesuaikan dengan jenis kelamin. Gedung SLB Bagaskara Sragen ....2 Materi ................... 77 Lampiran 5..... Permohonan Izin Penelitian....................................... 39 Tabel 2............... Pembagian Tugas Mengajar Guru SLB Bagaskara Tahun Pelajaran 2006/2007............ Guru Sedang Menjelaskan Materi Dengan Memberi Contoh di Depan 78 Gambar 5............ 80 Lampiran 6.........2...................... kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan lulusan sekolah dasar................................... Kesempatan memperoleh pendidikan itu tidak di beda-bedakan menurut jenis kelamin................ 55 4................................................................................................................. Deskripsi Tari Merak............................... 72 Lampiran 2.................................................................... status sosial..........5 Evaluasi………………………………………………………….. 69 DAFTAR PUSTAKA.......................... Denah SLB Bagaskara........ Praktik Menari di Dalam Kelas....2.......... 48 4....... Pedoman Observasi ......................................................2 Saran......1 Tujuan ..............................................................2.................................................... dan keadaan fisik dan mental seseorang...... Anak berkelainan meskipun dalam jumlah yang sedikit.....................................2.......................................................................................3 Metode .......................... 68 5.................... mempunyai hak yang sama pula untuk memperoleh pendidikan guna meningkatkan pengetahuan............................................................... Pentas Perpisahan Murid Kelas VI......... letak geografis... 81 1 BAB I PENDAHULUAN 1............................ Guru Sedang Memberi Isyarat Gerak Jalan Kenser ke Kiri...................................... Sarana Pengajaran Seni Tari ............................3 Kesulitan Guru dalam Mengajar Seni Tari di SLB Bagaskara Sragen ...............................................

Program pengajaran di SLB Bagaskara Sragen mengacu pada kurikulum. Proses belajar mengajar pada anak tuna rungu berbeda dengan kelas anak-anak normal. hal ini karena didukung dengan sikap siswa yang sangat antusias dalam belajar. Akibat kehilangan daya pendengarannya ini. yang ada di Sragen yang menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak-anak tuna rungu atau tuli. agar mampu mengembangkan kemampuannya dalam dunia kerja. Kelinci. SLB Bagaskara Sragen diperuntukkan untuk anak-anak baik putra maupun putri yang memiliki kelainan atau kecacatan (tuna rungu) dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah umum. isi mana materi pembelajarannya tidak jauh berbeda dan diupayakan sama dengan materi pembelajaran di sekolah dasar biasa. . maka anak tuna rungu mengalami kesulitan dan hambatan dalam bersosialisasi di masyarakat. serta metode mengajar yang digunakan oleh tenaga pengajar.fisik dan mental. Seorang guru hanya berhadapan dengan 4-10 orang anak supaya guru lebih berkonsentrasi dan terarah. Pendengaran merupakan indera yang dipergunakan oleh anak yang berkembang secara normal untuk mengasimilasi pola-pola komunikasi dari masyarakat sebagai komunitas bahasanya. Piring dan tidak menutup kemungkinan sesekali diberikan tari klasik misal Bondan Tani. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu dimodifikasikan seperti yang menyangkut teknik penyampaian materi pelajaran. maka materi yang diberikan pada anakanak tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen cenderung pada tari kreasi sebagai contoh tari Merak. Tuna rungu merupakan salah satu dari sekian anak berkelainan yaitu mereka yang kehilangan daya pendengarannya. karena anak cacat (tuna rungu) perlu cara khusus dalam mengajar dan mendidik. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen bisa berjalan dengan baik. 3 Seni tari merupakan salah satu pelajaran yang diberikan dari berbagai pelajaran yang ada di SLB Bagaskara Sragen. ketertiban dalam mengikuti pelajaran. biasanya dalam bentuk kelas kecil. tidak mampu berperan secara independent dalam masyarakat dewasa. Dalam pemberian materi ataupun praktik seni tari dipilih tarian yang sederhana atau ragam geraknya tidak terlalu sulit dan banyak pengulangan supaya anak dapat dengan mudah mengingat dan menghafal. sebab anak-anak cacat tuna rungu memerlukan perhatian khusus. diharapkan siswa SLB Bagaskara senang dalam pelajaran kesenian dan dapat mendukung pelajaran umum. Dengan adanya pelajaran seni tari yang diberikan. SLB (sekolah luar biasa) Bagaskara Sragen merupakan salah satu sekolah luar biasa bagian B. Mengingat keterbatasan mental dan fisik tersebut. Kekurangan dalam indera pendengaran dan ketiadaan pendidikan 2 kompensatoris (pengganti) akan menyebabkan seorang anak yang tumbuh tuli secara bisu. Materi seni tari yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan dan keadaan fisik peserta didik. Dengan memberikan pendidikan seseorang tuna rungu dapat menguasai keterampilan komunikasi sehingga ia dapat pula berfungsi dengan sukses sebagai individu yang independent atau mandiri.

2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. maka peneliti ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang diperoleh guru dalam mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen. penulis berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat.khususnya dalam metode pembelajaran seni tari bagi siswa tuna rungu. dan dapat melatih keberanian dan percaya diri melalui . Kesulitan-kesulitan apa yang diperoleh guru dalam mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen? 1. 5 1. Bagaimana pembelajaran seni tari pada SLB Bagaskara Sragen? 2.4 Manfaat Penelitian Dengan diadakan penelitian ini. kelincahan.2 Manfaat Praktis Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah: (a) Bagi guru seni tari SLB Bagaskara Sragen khususnya dan guru-guru kelas pada umumnya hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan masukan dalam menentukan strategi belajar mengajar seni tari. karena meskipun anak cacat dapat menguasai sebagaimana anak yang normal.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoritis. 1. Wujud kongkret keberhasilan ini adalah mengadakan pentas setiap acara perpisahan dan bila ada kunjungan dari pemerintah yang sifatnya resmi. yaitu dengan memberikan sumbangan pikiran dan tolak ukur kajian pada penelitian lebih lanjut. Keberhasilan dalam pembelajaran tari didukung dengan adanya bakat serta kemauan siswa dalam bidang tari.selain itu juga faktor utama dari guru yang bisa menerapkan metode yang tepat bagi siswa tuna rungu.4. Adapun manfaatnya adalah: 1. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang penerapan metode yang tepat bagi anak tuna rungu serta kesulitan guru dalam mengajar mata pelajaran seni tari di SLB Bagaskara Sragen. 1. Manfaat teoritis lainnya adalah untuk menambah khasanah pengembangan teori keilmuan kesenian seni tari bagi anak tuna rungu serta sebagai pertimbangan penelitian lain yang sejenis. Namun demikian 4 proses pembelajaran tari di SLB Bagaskara Sragen adalah berhasil. Kemampuan anak dalam melakukan gerak tari tidak kalah dengan anak-anak normal pada umumnya misalnya: keluwesan. baik secara teoretis maupun secara praktis. hafalan hanya mereka terhambat dalam pendengaran yaitu iringan tari.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah di atas.4. 2. yaitu beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha penyampaian materi pada anak tuna rungu. Mengetahui pembelajaran seni tari di SLB Bagaskara sragen. (b) Bagi siswa SLB Bagaskara dapat menambah pengalaman dalam bidang kesenian khususnya seni tari. maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut: 1.

untuk mencapai suatu tujuan. dan sebagainya. Pembelajaran ini berasal dari kata belajar. (c) Bagi masyarakat sekitar SLB Bagaskara akan lebih mengetahui dan dapat memberikan informasi pada masyarakat umum. namun bagaimana proses perubahan tersebut terjadi berbeda antara ahli yang satu dengan yang lain (Darsono 2000:5). kapur. dan tenaga lainnya. Perubahan dari hasil proses belajar mengajar dapat ditujukan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan. kebiasaan. papan tulis. Aktivitas belajar sesungguhnya berasal dari dalam diri peserta didik. praktik. Manusia yang terlibat dalam sistem pengajaran terdiri siswa. Sedangkan menurut Sudjana (1989:25) belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Menurut Darsono (2000:32) belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara keseluruhan. ujian. 6 7 Pada hakikatnya sistem belajar adalah perubahan. bahwa anak-anak cacat tuli pun dapat bersaing dalam bidang seni tari. baik fisik maupun psikis. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran. pemahaman. Tujuan belajar secara umum ialah untuk mencapai perubahan dalam tingkah laku orang yang belajar. sementara prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Perubahan yang dimaksud tentu yang bersifat positif yang membantu proses perkembangan. guru harus mampu memimpin dan membimbing siswa belajar bekerja dalam bengkel sekolah. sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. kecakapan. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas dan perlengkapan audio visual.1 Pembelajaran Pembelajaran dalam arti pengajaran adalah usaha guru membentuk perilaku siswa sesuai tujuan yang diinginkan dengan cara menyediakan lingkungan agar terjadi interaksi dengan siswa. kemudian menyusun rencana lengkap bersama para siswa .olah gerak (tari). Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu. Sesuai dengan tujuan tersebut sekolah merupakan ruangan workshop. Dengan kata lain pembelajaran diartikan sebagai suatu proses menciptakan lingkungan sebaikbaiknya agar terjadi kegiatan belajar yang berdaya guna (Sugandi dan Haryanto 2003:35). dan sebagainya. Guru-guru harus menguasai program keterampilan serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai kesibukan yang bermakna. Istilah belajar dan mengajar adalah suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan (Djamarah 1995:10). guru. Oleh karena itu. Guru mempersiapkan rencana awal keterampilan serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai kesibukan yang bermakna. sikap dan tingkah laku. 6 BAB II LANDASAN TEORI 2. Material merupakan sistem pembelajaran yang meliputi buku-buku.

Pembelajaran 9 lebih menekankan pada cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu. seorang guru dituntut mampu mengorganisasikan lingkungan siswa dan faktor lainnya agar terjadi proses belajar. Pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimana subyek didik” bukan pada “apa yang dipelajari subyek didik”. Pada era sekarang ini pendidikan di sekolah-sekolah telah memandang . tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai hakikat belajar mengajar. apersepsi. Dengan proses mendesain sistem pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sistem pembelajaran seperti yang diharapkan. keterampilan dan sikap sesuai isi proses pembelajaran tersebut (Sugandi 2003:16-17). seorang guru dituntut mampu mengorganisasikan lingkungan. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. kegiatan yang banyak seginya. Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari 8 praktik atau latihan (Sudjana 1989:5). mendengar dan sejumlah kegiatan yang lain. mengajar mengandung pemberian informasi. sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono 2000:24). Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar di dalam kehidupan. Berkaitan dengan hal tersebut. korelasi dapat dilaksanakan secara terintegrasi. dimana prinsip peragaan. memperkembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dikerjakan oleh pelajar. Sebagaimana mengajar merupakan suatu kegiatan. yaitu suatu tuntutan agar subyek belajar setelah mengikuti proses pembelajaran. menguasai sejumlah pengetahuan. Tujuan utama sistem pembelajaran adalah agar siswa belajar. Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. pengajaran. pertanyaan. siswa dan faktor lainnya agar terjadi proses belajar. Tugas seorang perancang sistem adalah mengorganisasi tenaga. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang tersusun atas unsur-unsurnya dalam kegiatan belajar mengajar. penjelasan. Yakni membimbing. dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif. Belajar yang berhasil adalah bila anak dalam melakukan belajar dapat berlangsung secara intensif dan optimal sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang lebih bersifat permanen ( Sugandi dan Haryanto 2003:9). Untuk itu guru dalam mengajar harus dapat menimbulkan aktivitas mental dan fisik atau cara belajar siswa aktif (CBSA) proses belajar yang demikian itu akan terwujud bila ada dukungan dari situasi belajar. Membahas mengenai pembelajaran. Karena dalam setiap proses pembelajaran terjadi peristiwa belajar dan peristiwa mengajar. Menurut Slameto (2003:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. dimana guru dan siswa berkaitan erat.sebagai persiapan pelaksanaan di lapangan. Berkaitan dengan hal tersebut. Tanpa adanya guru dan siswa maka pembelajaran tidak mungkin terjadi. Peristiwa belajar mengajar berkaitan erat antara guru dengan siswa. Berdasarkan uraian tentang pembelajaran. sehingga guru berupaya sedemikian rupa guna merubah siswa ke arah yang lebih baik. material.

Perubahan itu harus dituntut dengan komponen yang saling berkaitan dan mempunyai kedudukan yang sama penting. 2. guru sebagai pengelola kelas. Telah jelas bahwa peranan guru telah berubah yang sebelumnya hanya sebagai pengajar menjadi direktur pengarah belajar. metode. penilai hasil belajar. tujuan menyatakan apa yang harus . dan memberi fasilitas belajar. sehingga terjalin suatu interaksi timbal balik yang bermakna dengan tujuan menjadikan perubahan tingkah laku pada siswa yang belajar. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Oleh siswa sering dijadikan tokoh teladan. sebagai motivator belajar dan sebagai pembimbing (Slameto 2003:98). guru sebagai evaluator disamping itu guru harus berkualifikasi tinggi. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa.3 Tujuan Kegiatan belajar mengajar dalam kelas sebagian besar didasarkan pada pencapaian tujuan pembelajaran. Diperkirakan sangat penting untuk dipersiapkan secara mantap oleh siswa yaitu mengenai tujuan dan bahan pembelajaran. membimbing. seyogyanya memiliki perilaku yang memadai untuk dapat mengembangkan diri siswa secara utuh. tujuan. tanpa adanya siswa maka pembelajaran tidak akan terjadi. 2. karena hasil dari bahan pelajaran itu dapat mempengaruhi tujuan yang akan dicapai..2 Guru Peranan guru dalam proses belajar mengajar sangat penting yaitu guru sebagai moderator.1. Adapun faktor yang mendukung adalah persiapan siswa yang mana masing-masing siswa tersebut dituntut terlebih dahulu mempersiapkan diri semaksimal mungkin. materi. Sebagai direktur belajar tugas dan tanggung jawab turut menjadi lebih meningkat yang kedalamnya termasuk fungsifungsi guru sebagai perencana pengajaran.1. guru sebagai ahli 11 media. Oleh karena itu. Sedangkan faktor yang menghambat proses belajar mengajar siswa yaitu belum dikuasai sepenuhnya hasil dari menyerap bahan pelajaran. pengelola pengajaran. Ada dua komponen utama dalam proses belajar mengajar yakni guru dan siswa.1.1 Siswa Siswa merupakan komponen penting dalam pembelajaran. selain itu guru juga memiki tugas untuk mendorong. bagi siswa untuk mencapai tujuan. 2. karena siswa subyek didik dari pengajaran. Dalam hal pembelajaran terdapat unsur-unsur yang berperan dalam proses pembelajaran yaitu unsur siswa.pendidikan sebagai suatu sistem dimana di dalam pendidikan terdapat komponen-komponen yang saling berkaitan dan mempunyai kedudukan yang 10 sama pentingnya. Guru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh pribadi siswa. guru. media dan evaluasi. dapat menyelenggarakan dan menilai program pengajaran. Siswa mempunyai dua faktor yang dapat mendukung dan menghambat proses belajar mengajar khususnya seni.

diketahui. baik kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan dan melaksanakan suatu pembelajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat. sedangkan bahan pembelajaran merupakan isi dari pembelajaran.1. Tujuan pembelajaran adalah langkah pertama yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran.1 Metode Ceramah Metode ceramah ialah cara penyampaian materi pelajaran dengan memberi penjelasan atau deskripsi secara sepihak oleh seorang guru yang bertujuan agar siswa memahami kesatuan bahan pelajaran tersebut.5. keterampilan dan nilai-nilai atau normal yang berfungsi sebagai pengendalian sikap dan perilaku siswa. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. Bahan pembelajaran ini mendukung tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik. Menurut Muhibbin (2000:201) metode secara harfiah berarti “cara” dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis.5 Metode Cara atau teknik pembelajaran merupakan komponen proses belajar mengajar yang banyak menentukan keberhasilan pembelajaran.4 Materi atau Bahan Bahan pembelajaran harus menunjang tujuan yang telah ditetapkan.1. Apabila penggunaannya disertai dengan metode yang lain misalnya metode tanya jawab. khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran pada siswa.1.dikuasai. Dengan pengalaman tingkah laku siswa bertambah. 2. sedangkan tujuan pembelajaran adalah membantu siswa memperoleh pengalaman. Darsono (2000:26) mengatakan pembelajaran 12 adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. atau dilakukan oleh siswa setelah mereka melakukan kegiatan belajar mengajar. namun metode yang diterapkan tergantung dari pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan setiap sub pokok bahasan. Metode pembelajaran merupakan salah satu prosedur yang ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. 2. baik untuk pengembangan pengetahuannya atau untuk keperluan tugas di lapangan. metode ceramah dilaksanakan oleh guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa mengenal . Menurut Roestiyah (1986:53) metode-metode tersebut dijabarkan sebagai berikut: 2. Selanjutnya yang dimaksud dengan metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan. maka metode ini disebut metode ceramah bervariasi. Terdapat 13 banyak metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. menarik dan merangsang serta berguna bagi siswa. Bahan pembelajaran harus pula sesuai dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa. Dalam pengajaran praktik tari.

1. Metode kerja kelompok yaitu cara penyajian bahan pelajaran dengan memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa untuk dikerjakan secara kelompok.4 Metode Kerja Kelompok.2 Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dan menjawab pertanyaan dari siswa. Dalam praktik gerak tari.3 Metode Demonstrasi Metode demonstrasi ialah penyajian bahan pelajaran dengan menggunakan contoh berupa tingkah laku oleh guru. praktik gerak tari hendaknya dilaksanakan berkali-kali.tentang gerak dan menjelaskan teknik menggerakkannya.5. siswa diberi kesempatan untuk menirukan gerak tari tersebut. 16 Peranan metode pengajaran sebagai alat untuk menciptakan proses . Setelah tugas selesai. 2.1. Dalam praktik tari banyak kemungkinan adanya kesalahan yang dilakukan oleh siswa. 2. 14 2. guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih gerak tari secara berulangulang. 2.1.5.1. siswa harus bertanggung jawab atas pekerjaannya. sehingga siswa akan menguasai gerak tari tersebut. Oleh karena itu. gerakan srisig guru dapat melambangkan burung yang sedang terbang di awan.5. Setelah melihat cara gerak tari tertentu yang diperagakan oleh guru. Dalam praktik gerak tari diperlukan kerjasama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. gerak tari dapat dilakukan secara kelompok atau bersama-sama. Oleh karena itu. Cara guru menyampaikan materi dengan bahasa isyarat. 15 2. Dalam hal ini guru mendemonstrasikan cara gerak yang benar dan siswa memperhatikan.1.6 Metode Keterampilan dan Latihan Yang dimaksud dengan metode keterampilan dan latihan ialah cara penyajian materi pelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru berupa tingkah laku.5.1.5 Metode Pemberian Tugas Metode pemberian tugas adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas-tugas kepada siswa secara kelompok atau individual. Dalam praktik gerak. Oleh karena itu.5.5. dengan adanya metode tanya jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya sehingga guru secara langsung memberikan jawaban yang dimaksud. metode pemberian tugas dilaksanakan oleh guru untuk memberikan kesempatan kepada siswa berlatih dan bertanggung jawab dengan tugas yakni melakukan gerak baik secara kelompok maupun secara individu. 2.7 Metode Isyarat Metode isyarat adalah bahasa satu-satunya yang digunakan bagi anak tuna rungu.

Dalam hal ini dapat dibedakan lagi antara metode komunikasi yang menggunakan kode yang bersifat verbal atau non verbal. Efektif tidaknya penggunaan metode pembelajaran untuk mencapai tujuan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memilih metode yang tepat. Media berfungsi untuk memperjelas materi yang disampaikan pada siswa. Dengan . Arti metode yang dikaitkan dengan kode yang digunakan untuk berkomunikasi. Untuk itu dalam rangka mencapai tujuan kegiatan pembelajaran yang ditetapkan diperlukan cara atau teknik yang ditempuh pada langkah kegiatan atau dengan kata lain diperlukan metode. dan metode abjad jari (dactylology). dapat dalam bentuk sederhana seperti papan planel. biasanya kita berusaha mengambil cuplikan 18 saja yang diharapkan mencerminkan keseluruhan perilaku itu. 2. dapat pula dalam bentuk seperti radio. 2. Menilai pengajaran yang dilakukan guru adalah nilai relevansi antara tujuan pengajaran dan bahan yang disajikan serta strategi dan alat pengajaran yang digunakan. Seperti yang dikemukakan oleh Darsono (2000:15) yaitu evaluasi merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Yang digolongkan metode komunikasi verbal adalah antara lain metode bicara (oral). Selain itu evaluasi berkaitan dengan segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang yang mengetahui sampai seberapa jauh tujuan atau sasaran pendidikan yang dapat dicapai. televisi. film.7 Evaluasi Menilai hasil pengajaran adalah langkah terakhir dalam prosedur pengajaran. Salah satu tugas pokok guru adalah mengevaluasi taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Macam media beraneka ragam. Dengan mengunakan media proses belajarmengajar dapat terlaksana dengan baik. Evaluasi dapat memberikan umpan balik bagi guru dalam rangka perbaikan setiap komponen proses belajar-mengajar. Evaluasi dapat ditujukan pada prestasi belajar siswa. Sedangkan metode isyarat tergolong metode komunikasi non verbal (Sardjono 1995:55). dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara atau teknik yang dipakai guru untuk menyampaikan materi kepada siswa dan siswa dapat menerima pelajaran dengan jelas. Oleh karena itu. kita memerlukan informasi yang didukung oleh data yang obyektif dan memadai tentang indikator-indikator perubahan perilaku dan pribadi peserta didik.1. metode menulis (graphic). Berdasarkan uraian tentang metode.6 Media Media pembelajaran berfungsi untuk menjelaskan materi yang disampaikan kepada siswa.belajar mengajar. Rohani (1997:2) mengemukakan media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang merangsang 17 sesuai untuk belajar. Untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan mengajar guru dan hasil belajar peserta didik secara tepat (valid) dan dapat dipercaya (reliable).1. karena dalam proses pendidikan guru perlu mengetahui seberapa jauh proses pendidikan telah mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. kertas karton.

Pendengaran yang berkurang akan menghambat seorang tuna rungu bersosialisasi dengan masyarakat. yaitu pertama adalah pengukuran dan tahap berikutnya ialah penilaian dan akhirnya pengambilan keputusan. Beberapa orang tuna rungu masih mempunyai sisa pendengaran walaupun itu tidak jelas karena berbagai faktor.1 Pengertian Tuna Rungu Bayak orang menganggap bahwa tuna rungu adalah orang yang tidak dapat mendengar namun kenyataannya tidaklah demikian. Dengan demikian perlu adanya pendidikan bagi tuna rungu supaya dapat menguasai keterampilan komunikasi sehingga ia dapat pula berfungsi dengan sukses sebagai individu yang mandiri. suara dan bahasa seolah-olah hilang.2 Ciri-Ciri Ketunarunguan 2.1 Ciri-Ciri fisik Secara sekilas seseorang penyandang tuna rungu tidak ada bedanya dengan anak-anak normal.2. 19 Pengertian tuna rungu disamakan dengan tuli. 2. 20 2. keobyektifan.demikian sudah jelas sejauh mana kecermatan evaluasi atas taraf keberhasilan proses belajar-mengajar itu akan banyak tergantung pada tingkat ketepatan. kepercayaan. Fungsi dari sebagian atau keseluruhan alatalat pendengaran (Sastrawinata 1977:10).2.2 Ketunarunguan 2. bentuk daun telingadan anggota tubuh lainnya hampir sama dengan anak-anak normal. dan kerepresentatifan informasi yang didukung oleh data yang diperoleh. Menurut Sardjono (1995:8) tuna rungu adalah anak yang kehilangan pendengaran sejak lahir atau yang kehilangan pendengaran sebelum belajar bicara atau kehilangan pendengaran demikian anak sudah mulai belajar bicara karena suatu gangguan pendengaran.2. Pendengaran adalah menangkap bunyi-bunyi (suara) dengan indera pendengaran (Suryabrata 2004:28).2. dengan adanya evaluasi maka guru dapat melihat seberapa jauh siswa mencapai hasil pelajaran yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Istilah tuna rungu sekarang dipergunakan dalam lingkungan pendidikan luar sekolah. Bagi guru evaluasi sangat penting karena untuk mengetahui berhasil dan tidaknya proses belajar mangajar. . Tanpa adanya evaluasi guru tidak dapat mengerti kekurangan siswa. sedangkan pengertian ketunarunguan berarti kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan dari mal/dis/non (bawaan sejak lahir/penyakit/turunan). Darsono (2000:106) mengatakan bahwa untuk mengambil keputusan sesuai dengan tujuan evaluasi secara sistematik kegiatan evaluasi harus dilakukan tahap demi tahap. Pendengaran dan suara itu memelihara komunikasi vokal antara mahluk yang satu dengan yang lainnya. Bardasarkan uraian tentang tuna rungu dapat disimpulkan bahwa tuna rungu merupakan salah satu kelainan fisik yang diderita seseorang karena tidak atau kurang berfungsinya indera pendengaran.

sehingga dapat mengadakan pencegahan agar tidak terjadi 22 kelahiran yang abnormal dan anak-anak tidak tumbuh menjadi abnormal.2.2 Ciri-ciri Psikologis Ketunarunguan Akibat kekurangan pendengaran atau kehilangan sama sekali/tuli total dapat menyebabkan seseorang penyandanag tuna rungu cenderung memiliki perasaan yang mudah tersinggung.1 Tuna Rungu Konduksi Telinga bagian luar dan tengah yang mengalami kerusakan. perlu diketahui oleh setiap orang tua dan pendidik luar biasa.2. maupun dalam.Tuna rungu merupakan kecacatan yang tidak tampak.3. 2.4 Penyebab Ketunarunguan Faktor-faktor penyebab anak menjadi tuna rungu atau kurang pendengaran. untuk 21 berkomunikasi penyandang tuna rungu merasa dirinya tidak dapat bergaul karena keterbatasan akan kemampuan berbicara. Para penderita tuna rungu juga akan merasa rendah diri. 2. Getaran-getaran udara tidak ditangkap oleh membrane tympani dan getaran suara tidak dapat mencapai saraf pendengaran. Menurut Muh Amin dkk (1979:23) anak tuna rungu atau kurang pendengaran dapat terjadi 2. tengah.2.2 Tuna Rungu Perceptif Telinga bagian dalammengalami kerusakan sehingga serabut-serabut saraf tidak dapat berfungsi normal akibatnya getaran-getaran suara tidak dapat diteruskan atau disampaikan ke pusat syaraf pendengaran di otak. Mereka merasa tidak dapat menemukan dan menjamin relasi dengan kelompok teman sebaya atau kaum dewasa.3 Gejala tuli campuran Pada jenis ini organ pendengarnya rusak.2.2.3. Hal ini disebabkan oleh ketidakjelasan dalam menerima respon dari orang lain dan tidak mampu mengungkapkan apa yang dikehendaki maka sering timbul tidak berkenan dan mudah tersinggung akhirnya timbullah marah. 2.3. Kemarahan juga muncul sebagai akibat dari kehilangan daya kontrol. baik bagian luar. 2. Menurut Sam Isbani dan Isbani (1979:45) jenis gangguan pendengaran dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut: 2. Kecacatan yang ditimbulkan mungkin merupakan kecacatan yang paling sedikit dimengerti oleh mereka.1 Sebelum anak dilahirkan atau masih dalam kandungan (prenatal). Tetapi bila kita bertemu dan kita mengajak berbicara barulah kita akan tahu bahwa dia adalah seorang tuna rungu atau bila berbicara menggunakan bahasa isyarat/tangan. 2.3 Klasifikasi Ketunarunguan Berdasarkan jenisnya gangguan pendengaran dapat dibagi menjadi beberapa bagian tergantung dari sudut pandangan. .2.2.2.4.

cacar air. Hal ini sering disebut tuli genetic. Kekurangan oxygen (anoxia) Anoxia dapat mengakibatkan kerusakan pada inti brain stem dan bangsal ganglia. Toxaemia (keracunan darah) Pada waktu mengandung menderita keracunan darah. Penyebabnya ialah rumah siput tidak berkembang secara normal dan ini menyebabkan kelainan pada corti (selaputselaput).4. jaringan-jaringan tubuhnya lemah dan mudah terserang anoxia (kurang oxygen). Organ yang diserang adalah saraf-saraf pendengaran. Hal ini dapat mengakibatkan ketulian pada anak yang dilahirkan. Nicrotis liang telinga sempit. Akibat placenta (ari-ari) menjadi rusak. sehingga anak dilahirkan menderita tuli mustimas (tak dapat bicara secara lisan). Faktor rhesus ibu dan anak tidak sejenis. Anak lahir premature atau sebelum kurang lebih dua bulan dalam kandungan. Kemudian anak menjadi tuna rungu atau kurang pendengaran pada taraf yang berat. Faktor keturunan Anak mengalami tuna rungu atau kurang pendengaran/tuli sejak dilahirkan. g. 23 c. mempunyai gejala-gejala yang sama dengan anak yang Rh-nya tidak sejenis dengan Rh ibunya.Dalam masa prenatal tuna rungu atau kelainan pendengaran dapat dibedakan oleh: a. tetapi ternyata kandungannya tidak gugur. sesudah anak dilahirkan menjadi tuli.3 Sesudah anak dilahirkan. Anak yang mengalami kelainan organ pendengaran sejak lahir. Cacar air. Hal ini sangat berpengaruh pada janin. 2. d. b. karena ada diantara anggota keluarga terutama ayah dan ibu yang menderita tuna rungu atau kurang pendengaran. Selain itu juga dapat berakibat kerusakan pada cochlea. Infectie. e. yaitu menderita anemia dan mengakibatkan anoxia. maka terjadilah tuli perceptif. b.2 Pada waktu proses kelahiran dan baru dilahirkan. Kelahiran premature Bayi-bayi yang dilahirkan premature berat badannya dibawah normal. 24 2. .4. campak Pada waktu mengandung menderita penyakit campak. Penggunaan pil kina dalam jumlah besar Ada beberapa ibu yang ingin menggugurkan kandungannya dengan jalan minum pil kina dalam jumlah besar. yaitu kerusakan cochlea (rumah siput). Anak yang dilahirkan premature. a.2. sehingga anak mengalami ketulian konduksi penerusan. a. Hal ini merusakkan inti cochlea. f.2.

Tuli perceptif yang bersifat keturunan Ketulian macam ini sulit dilihat. Lebih lanjut Jazuli (1994:3) menguraikan bahan baku dari tari serta aspek-aspek yang terkandung di dalam pengertian seni tari. Kehadiran bentuk didalam tari akan tampak pada desain gerak. anak dapat menderita tuli preceptic. misalnya pembesaran tonsil adenoid dapat menyebabkan tuli konduktif (media penghantar suara tidak berfungsi normal) 2. dan jiwa. gerak. sehingga dapat menggetarkan perasaan atau emosi penonton (Jazuli 1994:4 ) . pola kesinambungan gerak dan didukung oleh unsur-unsur pendukung penampilan tari. irama. Ketulian ini digolongkan ketulian herede degeneratif nerve (degerasi syaraf yang diturunkan). merupakan serangkaian gerak-gerik yang rumit. meliputi 26 gerak-gerik mengangkat kaki secara bergantian dipadu dengan gerakan tangan dan dan posisi kepala tertentu. Ada pengertian yang lain mengenai tari yaitu bentuk gerak yang indah dan lahir dari tubuh yang bergerak. yaitu gerak dan ritme. Meningitis (peradangan selaput otak).3 Seni Tari. d. pernyataan. Penderita meningitis mengalami ketulian yang perseptif. yang bias merasuk di benak penikmatnya setelah pertunjukan selesai. virus akan menyerang cairan cochles. b. Biasanya yang mengalami kelainan ialah pusat syaraf pendengaran. Brakell (1991:35) mengemukakan gerak dalam ‘jogedan’ (tari). Tari merupakan alat ekspresi ataupun sarana komunikasi seseorang seniman kepada orang lain (penonton/penikmat). sehingga memerlukan observasi yang cukup lama. Gerak dalam seni tari telah diubah sedemikian rupa. Apabila tari dianalisis secara teliti. akan tampak dua elemen tari yang paling penting. Tari adalah sebuah ungkapan.Sesudah anak lahir dia menderita infectie campak. c. dan ekspresi dalam gerak yang memuat komentarkomentar mengenai realitas kehidupan. karena dapat memberikan berbagai manfaat. Seni tari mempunyai arti dalam kehidupan manusia. Sejak lahir seni tari mempunyai ekspresi melalui bahasa tubuh sebagai sarana komunikasi dengan orang lain. Otitis media yang kronis Cairan otitis media yang kekuning-kuningan menyebabkan kehilangan pendengaran secara konduktif. berirama dan berjiwa sesuai dengan maksud dan tujuan tari (Jazuli 1994:3). Seni tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang telah dikenal manusia sejak dahulu. tubuh. Gerak sebagai elemen pokok dalam seni tari bukanlah sekadar gerak yang wantah. sehingga menghasilkan gerak yang ekspresif. 25 e. adalah bentuk. Sebagai alat ekspresi tari mampu menciptakan untaian gerak yang dapat membuat penikmatnya peka terhadap sesuatu yang ada dan terjadi disekitarnya. Terjadi infeksi pada alat-alat pernafasan Infeksi pada alat-alat pernafasan.

koreografi kelompok. Penguasaan irama terhadap irama merupakan jembatan penampilan sebuah sajian tari. Penulis bermaksud meneliti pembelajaran seni tari bagi anak tuna rungu. Pembelajaran seni tari berarti suatu kegiatan yang dilakukan guru dalam memberikan materi seni tari kepada siswa agar dapat menerima materi sesuai dengan minat dan kebutuhannya. tata rias. maka harus memenuhi elemen-elemen komposisi tari yang meliputi desain lantai. Pemberian materi dan praktik bagi anak tuna rungu dipilih tari yang sekiranya mudah dan dapat diingat. Tarian ini sangat sederhana dan tidak mengindahkan norma-norma keindahan dan bentuk yang standar. Seni tari dapat dinikmati dan memiliki keindahan apabila didukung oleh unsur-unsur yang meliputi iringan. tarian klasik. rias dan busana. Sebagaimana dijabarkan oleh Soedarsono (1977:40-41) yang menambahkan bahwa seni tari jika dinilai sebagai satu bentuk seni. desain atas. dan tarian kreasi baru (Soedarsono 1972:19). Di dalam tari kita dapat memproyeksikan munculnya keindahan melalui gerakan-gerakan yang bersamaan dengan rasa kepuasan dalam diri kita. tata lampu dan penyusunan acara. Tari kreasi yaitu tarian yang mempunyai keindahan tersendiri dari sang koreografer dimana dalam penciptaannya berbeda dengan koreografer yang satu dengan yang lain.Menurut Jazuli (1994:5) timbulnya gerak dalam tari berasal dari proses pengolahan yang telah mengalami stilisasi dan distorsi. musik. 29 BAB III METODE PENELITIAN 3. 27 Berdasarkan atas bentuk koreografinya tari-tarian di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga yaitu tarian rakyat. Tari-tarian rakyat adalah tarian yang sudah mengalami perkembangan sejak zaman primitif sampai sekarang. tata panggung.1 Pendekatan Penelitian Penelitian merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia untuk menemukan jawaban atau memecahkan masalah atau sesuatu yang . tema. dinamika. ruang pentas dan tata lampu. Tari yang kita lakukan dapat membentuk suatu gerak tari yang indah. tema. desain dramatik. agar sajian tari lebih memiliki greget dan tidak terkesan monoton. rias dan busana. dan busana. gerak tari. properti tari. Tari klasik mempunyai gerak dan hitungan yang baku. ruang pentas dan tata lampu. Tari klasik adalah tarian yang telah mencapai kristalisasi keindahan yang tinggi dan mulai ada sejak zaman rakyat feodal. Gerakan yang diberikan dilakukan berulang-ulang sampai anak didik dapat menangkap pelajaran dan mempraktikkannya. tema. Berdasarkan uraian tentang seni tari dapat disimpulkan bahwa seni tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang dilakukan secara sadar dan disengaja melalui gerak-gerak yang ritmis dan indah. Gerak yang mudah dan tidak dirasa sulit bagi peserta didik mengingat mereka berbeda dengan anak normal. Seni tari dapat dinikmati dan memiliki keindahan apabila didukung oleh unsur-unsur yang meliputi iringan. 28 Dengan demikian yang dimaksud seni tari dalam penelitian ini yaitu lebih berorientasi pada pendidikan.

langsung ditempat dimana suatu peristiwa. Observasi diartikan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan disengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala yang diselidik (Hendrarto 1987:76). Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan narasumber yaitu pihak yang . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif artinya prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif.2.2 Lokasi dan Sasaran Penelitian 3. bahwa penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah (Jazuli 2001:7-8).3. Observasi yang dilakukan untuk mengetahui dan mengamati kegiatan belajar seni tari di lingkungan sekolah dengan menggunakan alat bantu berupa kamera foto dan daftar cek. Dengan kata lain. Adapun aspek-aspek yang diobservasi dalam penelitian ini adalah: Kondisi fisik SLB BAGASKARA Sragen dan Proses pembelajaran tari bagi anak-anak SLB Bagaskara Sragen.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yang berjudul ‘pembelajaran seni tari bagi siswa tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen’ adalah di sekolah luar biasa (SLB)/B BAGASKARA. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 3. Tuna rungu di sragen masih jarang mengenal dan mempelajari seni tari. Teknik observasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data yang lebih.1 Teknik Observasi Observasi merupakan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Peneliti mengambil lokasi SLB BAGASKARA dengan pertimbangan bahwa SLB BAGASKARA merupakan salah satu sekolah yang menampung para penyandang cacat tuna rungu di 29 30 Sragen. kelurahan Sragen Kulon kecamatan Sragen kota Sragen.2.dipermasalahkan yang dihadapi berdasarkan kebenaran ilmiah. 3. 3.2 Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah metode pengajaran dan kesulitankesulitan dalam pengajaran seni tari di SLB Bagaskara Sragen. ucapan atau lisan dan perilaku yang dapat diamati dan orang-orang atau subyek itu sendiri (Furchan 1992:21).3. diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian. keadaan dan situasi yang sedang terjadi. 31 3. Menurut Moleong (1990:135) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.2 Teknik Wawancara Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis 1999:64).

d. orang tua/wali murid. dan siswa SLB Bagaskara Sragen. guru-guru.3 Teknik Dokumentasi Goba dan Lincholn dalam Moleong (1990: 161) menyatakan bahwa teknik dokumentasi merupakan cara pengumpulan data yang berupa pertanyaan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa seperti sumber tertulis. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah khususnya dalam bidang tari. daftar siswa. film. Wawancara pada Kepala Sekolah Sejarah berdirinya SLB Bagskara Sragen. yang belum diperoleh melalui wawancara dan observasi. fasilitas yang dimiliki sekolah. guru seni tari. Wawancara untuk memperoleh informasi dilaksanakan dengan melihat situasi dan kondisi guru-guru serta karyawan SLB Bagaskara Sragen. staf tata usaha. Pertanyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari.diwawancarai dan yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Senangkah dengan pelajaran tari. Daerah asal siswa SLB Bagaskara Sragen. Wawancara dilakukan pada kepala sekolah. Wawancara pada murid Hubungan siswa dengan siswa. daftar nilai. 3. Hubungan siswa dengan siswa. Metode yang banyak digunakan dalam pengajaran seni tari.4 Teknik Analisis Data . Tata tertip sekolah. Kesulitan guru dalam menghadapi siswa tuna rungu. guru atau karyawan SLB Bagaskara Sragen. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar pendidikan seni tari berupa satuan pelajaran. Kesulitan atau hambatan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan seni tari bagi siswa tuna rungu. b. Prestasi yang pernah diraih. 33 data. Wawancara yang dilakukan untuk mengungkap permasalahan yang dibahas yang sifatnya mendalam antara lain : 32 a. Wawancara pada wali murid Peran serta orang tua terhadap prestasi di bidang seni tari. 3. Jumlah siswa. Wawancara pada guru-guru Hubungan guru dengan siswa. foto kegiatan di SLB Bagaskara Sragen. Wawancara pada guru tari Kurikulum yang digunakan dalam proses belajar mengajar. c. Teknik dokumentasi ini dilaksanakan untuk memperoleh data sekunder guna melengkapi data yang belum ada. sehingga hubungan antara pewawancara dengan yang diwawancarai berlangsung biasa dan wajar. Teknik wawancara yang digunakan adalah dengan pembicaraan informal artinya pertanyaan yang diajukan tergantung pada wawancara dengan mempertimbangkan pokok-pokok yang akan dipertanyakan.3. e. kurikulum.

dan siswa. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti. proses. dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. 3. Penyajian data yang baik merupakan cara utama bagi analisis sahih. Teknik analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber yaitu kepala sekolah. . pengabstrakan. 3. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN 4. intuisi atau kriteria tertentu dikaji dan ditelaah secara seksama untuk mendapatkan simpulan (verifikasi).1 Gambaran Umum Sekolah Luar Biasa B Bagaskara Sragen.1 Reduksi Data Reduksi data dapat diartikan sebagai pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan.3 Interprestasi Data Untuk menganalisis data lebih lanjut. staf tata usaha. sehingga dapat ditentukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong 1993:103). orang tua/wali murid. Proses yang berkaitan dengan penarikan kembali selama menulis terhadap hal-hal yang melintas dalam pemikiran baik berupa pendapat.1. 3. 3. data yang sudah dikelompokkan menurut kategorisasi diasumsikan atau ditafsir sesuai dengan tujuan penelitian. 4.1 Lokasi dan Lingkungan Sekitar Sekolah Luar Biasa bagian B Bagaskara Sragen merupakan sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak penyandang cacat tuna rungu.2 Klasifikasi Data Data yang diperoleh dipisah-pisahkan dan dikelompokan menurut kategori tertentu untuk memudahkan pencatatan. guru seni tari.Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola.4. terletak di Jalan Mawar 469 Sragen Jawa Tengah. Langkah selanjutnya adalah menyusun dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan dengan pengkodean. guru-guru.4.4. kemudian diadakan penafsiran data dengan mengolah hasil sementara menjadi teori substantive.5 Penarikan Simpulan atau Verifikasi Penarikan simpulan merupakan bagian dari kegiatan dalam konfigurasi (susunan) yang utuh. Langkah akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Pada penelitian ini data yang telah terkumpul dipelajari dan ditelaah dengan mengadakan reduksi data (penyederhanaan) yaitu dengan membuat abstraksi.4. Setelah tahap analisis data selesai dilaksanakan. 34 Secara rinci hal-hal yang dimaksud dalam proses analisis data dapat dijelaskan sebagai berikut: 3. dan satuan uraian dasar.4.4 Penyajian Data Penyajian data dapat diartikan sebagai kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. kategori. pertanyaanpertanyaan yang perlu dijaga.

2 Sejarah Singkat SLB/B Bagaskara Sragen Sekolah Luar Biasa Bagaskara Sragen berdiri pada tanggal 19 September 1969. Tahap demi tahap yayasan mendapatkan bantuan sehingga dapat membangun gedung kelas dan gedung asrama. Dengan harapan anak-anak tuna rungu yang belum mendapatkan pendidikan yang layak dapat dihimpun untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di yayasan tersebut. dan lokasi sekolah ini berdekatan dengan perumahan penduduk yang penduduknya lumayan padat. Bapak Suparto. Ibu Ristamsi. Berdirinya SLB Bagaskara Sragen berawal dari kegiatan belajar mengajar yang terdiri dari anak-anak gelandangan yang bertempat di Kantor Sosial Sragen. mulai tanggal 12 Mei 1975 SLB Bagaskara Sragen menempati gedung baru yang bertempat di desa Beloran Sragen Kulon dengan sarana dan prasarana seadanya 1 gedung 3 ruang yaitu: satu untuk ruang kantor dan dua untuk ruang kelas. Sekolah Luar Biasa Bagaskara Sragen berjajar dengan perempatan dan lingkungan sekitar perumahan penduduk. SLB Bagaskara sragen tidak .1. Seiring dengan dibukanya SLB Bagaskara Sragen tersebut ada beberapa guru PLB yang melamar menjadi guru yayasan. ke utara kira-kira 100 meter dan letak SLB Bagaskara dari perempatan jalan Mawar ke barat. hingga keadaan sampai sekarang. Pada saat itu.Di sebelah Selatan kurang lebih 50 meter terdapat Kantor Kepala Desa Sragen Kulon. Halaman depan sekolah cukup luas untuk bermain-main anak-anak SLB Bagaskara Sragen. 37 Pelayanan pendidikan yang dilaksanakan yayasan adalah pelayanan pendidikan bagi anak-anak tuna rungu tingkat dasar. Gedung SLB Bagaskara Sragen menghadap ke utara dan halaman depan terdapat pohon-pohonan yang rindang dan pagar tembok yang tingginya kira-kira dua meter. 35 36 4. membina dan mengembangkan pendidikan secara khusus bagi anak-anak yang mengalami hambatan belajar karena kurangnya daya dengar. Dari arah jalan raya Solo Sragen. meskipun termasuk sekolah baru. dan Ibu Surtinah. Kegiatan belajar mengajar ini ditangani oleh guru SD sebanyak 5 orang yaitu: Bp Marsuki. Jarak antara jalan raya sampai SLB Bagaskara Sragen kurang lebih 100 meter. Maksud dan tujuan menempati gedung baru yaitu supaya dapat menyelenggarakan. Sekolah Luar Biasa Bagaskara Sragen didirikan oleh Ibu Sajid Abas istri Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Sragen. sehingga mereka dapat menikmati kesempurnaan belajar. seiring dengan berjalannya waktu SLB Bagaskara Sragen juga menerima anak-anak cacat tuna rungu atau tuna wicara. yang bersebelahan dengan SD N 13 Sragen dan depannya terdapat SMP N 5 Sragen dan STM Sukowati Sragen. Bp Subandi. karena pada tahun tersebut banyak ditemukan anak-anak tuna rungu yang belum mendapatkan pendidikan khusus.

Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SLB Bagaskara 38 Sragen antara lain: gedung sekolah. Untuk memasuki lokasi SLB Bagaskara Sragen dari Jalan Mawar 469 melewati halaman yang cukup luas. dan perawatan ruangan-ruangan yang teratur dan bersih. 4.boneka . depannya terdapat lapangan upacara dan olah raga.sampur .kaset tari piring Properti-properti yang ada. kantor. sebelah Barat meliputi ruang kesenian dan menjahit. 39 Sarana pendidikan khususnya untuk pelajaran seni tari yang dimiliki SLB Bagaskara Sragen untuk memperlancar dan mendukung KBM baik teori maupun praktik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.mengalami kekurangan siswa maupun guru. sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar seperti sekolah-sekolah pada umumnya. kantor serta ruang kepala sekolah dan dibelakangnya terdapat ruang praktik memasak.1. hal tersebut terbukti dengan adanya penataan taman yang cukup indah. Keindahan dan kebersihan lingkungan belajar cukup diperhatikan.kaset tari bondan tani . berpagar besi serta bertembok di sisi kanan kirinya. ruang keterampilan pertukangan dan sablon. Sebelah Selatan terdapat ruang kelas. ruang makan dan dapur asrama SLB. Tape recorder Kaset tari-tarian masing-masing . penanaman pohon-pohon di sisi depan sekolah. Halaman biasanya digunakan untuk kegiatan upacara dan olah raga.kaset tari merak . ruang kesenian. kamar tidur dan kamar belajar asrama SLB. Sarana Pengajaran Seni Tari No Jenis Alat Jumlah 1. Gedung SLB Bagaskara Sragen terdiri dari bangunan di sebelah Timur yang meliputi ruang kelas-kelas sebanyak 5 ruang. Semenjak mulai didirikan SLB Bagaskara tersebut pihak yayasan bersama dengan tenaga edukatif mulai bekerja serius dan dibawah pimpinan Ibu Sri Sujiyanti yang menjabat sebagai Kepala Sekolah tidak henti-hentinya dan selalu memperjuangkan yayasan Bagaskara supaya tetep maju dan berkembang. asrama. kamar mandi dan WC. Tabel 1.3 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana merupakan salah satu penunjang yang sangat mendukung dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM). . Rumah dinas Ibu Asrama SLB. 2. UKS. Denah SLB Bagaskara dapat dilihat pada lampiran. lapangan upacara.

.P yaitu kelas pemula atau taman kanak-kanak. Mei 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .... Feb 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .1 10 12 22 Sumber: Statistik Keadaan Siswa SLB Bagaskara Sragen.. Aprl 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .. kelas 1 ada tiga orang.1 10 12 22 6. kelas 5 tidak ada.1 10 12 22 12.. . Mar 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .. kelas 6 tidak ada.. kelas 2 ada lima orang.. Nov 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .1 10 12 22 10..1 10 12 22 2. 41 . ... kelas 3 ada empat orang... Okt 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 . Juni 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .1 10 12 22 7. Sept 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 ... 40 Secara lebih rinci keadaan siswa SLB Bagaskara Sragen tahun pelajaran 2006/2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini. ..D4 yaitu kelas empat. Juli 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 .... Jumlah Siswa SLB Bagaskara Sragen Banyaknya siswa awal bulan Mutasi P D1 D2 D3 D4 D5 D6 Keadaan Akhir Bulan No Nama Bulan LPLPLPLPLPLPLP Klr Msk P L Jml 1.1 10 12 22 11.. Tabel 2. .piring/lepek 1 buah 1 buah 10 buah 8 buah 8 buah 5 pasang 4.....D6 yaitu kelas enam. Keterangan tabel 2 yaitu jumlah siswa SLB Bagaskara Sragen..1 10 12 22 4... . Jan 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 . .1 10 12 22 8. Des 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 ..1 10 12 22 9.D3 yaitu kelas tiga.1 10 12 22 5.D2 yaitu kelas dua.....1 10 12 22 3. .1. Agu st 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 . kelas 4 ada lima orang.D1 yaitu kelas satu.payung .D5 yaitu kelas lima....4 Kondisi Siswa SLB Bagaskara Siswa SLB Bagaskara Sragen pada tahun pelajaran 2006/2007 berjumlah 22 orang dengan perincian sebagai berikut: kelas persiapan ada lima orang.

Pd. disiplin dalam berpakaian. baik pada waktu kegiatan belajar di kelas maupun kegiatan di luar kelas. Ditinjau dari waktu terjadinya ketunarunguan. dan yang menganut agama Kristen ada 1 orang dan yang 7 orang menganut agama Islam. pegawai. mereka berasal dari beberapa kota di Jawa Tengah antara lain: Sragen.Klr yaitu keluar. Hubungan antara guru sangatlah akrab dan penuh kekeluargaan. dengan teman tampak sangat baik.Jml yaitu jumlah. Hal tersebut terlihat pada saat bertemu dengan guru atau tamu. Berpakaian seragam lengkap dengan atributnya. dan dua orang berpendidikan SGPLB-C. empat guru DPK artinya guru PNS yang diperbantukan di SLB Bagaskara Sragen. Sistem pembelajaran yang ditetapkan di SLB Bagaskara dengan menggunakan sistem guru kelas. maupun wiraswasta. tiga orang lagi berpendidikan S1-PKH. Bagi siswa yang telah menamatkan pendidikan di SLB Bagaskara dapat melanjutkan pendidikannya di SLTPLB atau sekolah-sekolah terpadu. seni tari. dari buruh. Mata pelajaran olah raga diampu oleh guru bidang studi olah raga yaitu Mulyanto S. Mereka sangat ramah dan senang membantu termasuk membantu penulis dalam mengumpulkan data. mereka selalu memberi salam dan berjabat tangan. Secara lebih rinci pembagian tugas mengajar masingmasing guru dapat dilihat pada tabel berikut ini: 43 Tabel 3.1. semua ketunarunguan siswa dialami sejak lahir. Tiga orang guru SLB Bagaskara berpendidikan SGPLB-B.5 Kondisi Guru SLB Bagaskara Tenaga pengajar di SLB Bagaskara berjumlah delapan orang. Hubungan dengan guru. ikat pinggang. kecuali mata pelajaran olah raga. dan mau bekerja sama dengan teman. Dari 22 anak.L yaitu laki-laki. guru. . . . agama. Mereka sangat menghormati dan menghargai guru. pedagang. kaos kaki.P yaitu perempuan. Dilihat dari asal daerah. dan tiga guru yang diangkat oleh yayasan.Msk yaitu masuk. Semarang. Wonogiri. mereka berasal dari kota Sragen dengan kondisi perekonomian keluarga yang beraneka ragam dari pekerjaan orang tua bermacam-macam pula dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas. terdiri dari seorang kepala sekolah. Pembagian Tugas Mengajar Guru SLB Bagaskara Tahun Pelajaran 2006/2007 No Nama guru/karyawan L/P Ijazah Jabatan Gol Mulai bekerja . 42 4. sedangkan mata pelajaran seni tari diampu oleh Anik Sulistyowati. Setiap guru mengajarkan semua mata pelajaran untuk kelasnya. sedangkan mata pelajaran agama diampu oleh Ida Susanti. serta sepatu hitam.. .

4. 3. S. 5.Pd Suprapto Ida Susanti W. S.Mengajar kelas/BS Ket 1. 6. S. 8.R Anik Suprapti.Pd Siti Maryam Mulyanto.Pd Tri Winarsih Anik Sulistyowati P P L L P P P P S1-PKH SGPLBB S1-PKH SGPLBB SPGLBC S1-PKH SPGLBB SPGLBC Kepsek Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru IV/a IV/a IV/a III/b III/b 1976 1982 1980 1989 1986 2000 2003 1986 D3 B5 D4 D1/B5 D1 D2 . 7. 2. Sri Sujiyanti.

09. 44 Dalam bidang seni Kabupaten Sragen jarang sekali mengadakan lomba. hari Senin s. Selama istirahat siswa hanya boleh jajan di sekitar sekolah dan itu dalam pengawasan guru. Siswa persiapan sampai kelas tingkat dasar. Prestasi yang pernah diraih SLB Bagaskara Sragen selama tiga tahun terakhir di bidang olah raga.00 WIB. Istirahat 45 ada dua kali yaitu istirahat pertama pukul 09. Para guru diharuskan memakai seragam PSH atau Safari. Siswa harus sudah datang sebelum pelajaran dimulai.12. hari Jum’at pukul 07.00.d.30.1.15 WIB. Selama proses belajar mengajar siswa tidak diperkenankan keluar ruangan kelas atau berada di luar kelas.11.10.3010. Kamis pembelajaran berlangsung antara pukul 07.00 WIB. dengan petugas para siswa.00.30 WIB dan itu diikuti dari kelas persiapan dan tingkat dasar. dukungan orang tua dan sarana dan prasarana yang sangat mendukung. olah raga tenis meja yang paling menonjol dan disegani lawan. dan hari Sabtu pukul 07.00 WIB.1. pada hari Senin dan Selasa mereka memakai seragam merah putih. 4. hari Rabu dan Kamis memakai seragam dari yayasan. Kelas persiapan sampai tingkat dasar. sekolah mengadakan upacara bendera yang wajib diikuti oleh guru dan siswa. Keberhasilan ini tidak semata-mata dari anak-anak tetapi juga berkat dedikasi guru yang membimbing dengan sabar.15. walaupun tidak mempunyai tropi atau piala SLB Bagaskara juga pernah diundang untuk mengisi acara pentas tari dalam rangka hari ulang tahun Pramuka di Pendopo Rumah Dinas Bupati dan di gedung Korpri dalam rangka seminar tentang anak-anak cacat. sehingga SLB Bagaskara Sragen tidak memiliki tropi atau piala yang berhubungan dengan seni. sedangkan hari Jum’at dan Sabtu memakai seragam pramuka.6 Prestasi yang Pernah Diraih Kecacatan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi tetapi justru mendorong dan memacu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. . patut dibanggakan karena mereka tidak kalah dengan anak-anak normal.30.11. Setiap hari Senin dan hari-hari peringatan nasional.B5 DPK DPK DPK DPK DPK GB GB GB Sumber: Statistik Keadaan Guru SLB Bagaskara Sragen 4.7 Peraturan dan Tata Tertib Sekolah Tata tertib yang diberlakukan di sekolah diperuntukkan bagi siswa dan guru supaya proses belajar mengajar dapat tercapai semaksimal mungkin. Setiap lomba mereka tidak mau kalah. Para guru juga diberlakukan aturan yang sama dengan para siswa.30 WIB dan istirahat kedua pukul 11. Jadwal pelajaran tari dilaksanakan pada hari Jum’at 09.

Kurikulum yang digunakan SLB Bagaskara Sragen adalah kurikulum berbasis kompetensi yang mempergunakan sistem semesteran. Berikut ini akan diuraikan secara rinci tentang pembelajaran tari kreasi yang dilakukan pada anak cacat tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen. Pembelajaran seni tari diikuti oleh siswa kelas persiapan sampai tingkat D6. ternyata tidak hanya diperoleh dari hasil belajar siswanya di bidang akademik saja. menentukan alat dan media pembelajaran serta menentukan evaluasi yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar guna mencapai tujuan pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Guru dalam mengajar dan memilih metode harus sabar dan tepat bagi anak-anak tuna rungu. Kegiatan ekstrakurikuler yang dimaksud adalah yang berkaitan dengan drama dan seni tari. 4. Hal itulah yang mendukung keberhasilan siswa dalam mata pelajaran kesenian di sekolah.2. Kurikulum ini sudah disesuaikan dengan keadaan siswa di SLB Bagaskara tersebut. Untuk itu diberikan materi tari kreasi atau tari klasik yang sekiranya mudah ditangkap anak tuna rungu dan gerakannya sederhana sehingga tidak membahayakan si anak didik. 47 4. bahwa tujuan umum dalam belajar tari kreasi di SLB adalah . Menurut ibu Anik Sulistyowati dalam wawancaranya pada tanggal 5 Mei 2006 sebagai guru pengampu seni tari. Hal ini untuk menjaga stamina dan ketahanan tubuh dari masing-masing siswa. sehingga dengan tujuan yang jelas akan semakin jelas dan terarah pula pembelajaran yang dilaksanakan. tetapi dalam kegiatan ekstrakurikuler pun sangat menentukan bagi sekolah-sekolah tersebut untuk menyandang predikat sekolah yang diunggulkan. 46 Tujuan didirikan SLB Bagaskara di Sragen adalah untuk menampung anak-anak yang mempunyai kelainan (cacat) untuk mendapatkan pendidikan layaknya seperti anak-anak lain (normal) yang ada di Sragen dan sekitarnya. Mengingat keadaan fisik siswa. Mata pelajaran seni tari untuk kelas persiapan sampai kelas D6 diberikan tiap hari Jum’at dengan jatah waktu satu jam pelajaran. Guru pengampu mata pelajaran kesenian dalam kesehariannya juga memegang guru kelas dan mengajar mata pelajaran umum.Sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai guru harus sudah datang.1 Tujuan Dalam setiap kegiatan belajar mengajar.2 Pembelajaran Tari Bagi Anak Cacat Tuna Rungu di SLB Bagaskara Sragen Pembelajaran teknologi khususnya bidang seni sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan. Hal ini terbukti dengan adanya sekolah-sekolah yang dikategorikan memiliki predikat sebagai sekolah unggulan. memilih materi pembelajaran. maka pembelajaran seni tari diberikan hanya satu jam. Dengan tujuan yang jelas semakin mudah bagi guru untuk menentukan metode. faktor tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan. Selain itu juga sebagai upaya untuk menyukseskan wajib belajar 9 (sembilan) tahun bagi anak usia sekolah. Pelajaran tari yang diberikan pada peserta didik yang mempunyai kecacatan (tuna rungu) sebaiknya diberikan tari kreasi.

melatih motorik siswa melalui olah gerak dan tari. Tujuan khusus diberikan tari kreasi bagi anak cacat tuna rungu SLB Bagaskara Sragen adalah . h. keterampilan dan sikap untuk menjadi manusia seutuhnya. Hal ini diwujudkan oleh siswa dalam pementasan seni acara “HUT Pramuka” yang diselenggarakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati. a. 48 g.2. e. Materi atau bahan pelajaran yang diberikan pada siswa telah memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: a. d. dimana dalam pembelajaran tari ditinjau dari segi pengajarannya adalah kegiatan dalam pelajaran teori. memberikan bekal keterampilan untuk hidup di masyarakat. praktik dan apresiasi seni tari. Ditinjau dari segi bahan pengajarannya kegiatan belajar seni tari dapat dibedakan menjadi kegiatan dalam pembelajaran teori dan apresiasi seni tari. Berdasarkan uraian tujuan tersebut dapat dianalisis bahwa pembelajaran tari kreasi bagi anak cacat tuna rungu sangat penting dan banyak kegunaannya. membina dan memperdalam keimanan serta pembentukan sikap dalam menghargai seni. i. melatih intelegensi siswa melalui hitungan gerak atau gerak tari yang sederhana. Siswa dapat bertingkah laku positif dalam mencintai dan melestarikan kesenian. Bahan-bahan 49 pelajaran yang sesuai dengan sasaran yang sudah ditetapkan pelajaran teori dan apresiasi seni tari termasuk ke dalam rumpun kegiatan yang menitikberatkan pada aktivitas fisiknya. menambah rasa cinta dan tanggung jawab dalam upaya melestarikan kesenian. Materi yang diberikan dipilih materi yang sederhana berupa gerak . memenuhi program kurikulum pendidikan. melatih sosialisasi siswa melalui pelatihan bersama-sama. c. 4.2 Materi atau Bahan Untuk materi dan bahan pembelajaran seni tari dititikberatkan pada olah fisik dan sistem berapresiasi pada seni. Sementara itu pihak sekolah mempunyai bekal keterampilan dan pengetahuan yang bermanfaat. melatih emosional siswa dalam kepekaan rasa menangkap gerak tari. serta kegiatan dalam pelajaran praktik materi tari kreasi maupun klasik yang diberikan bagi siswa yang mempunyai kecacatan harus disesuaikan dahulu dengan keadaan fisik yang dimiliki siswa. Tujuan pembelajaran yang ditetapkan melalui pembelajaran tari kreasi yang diberikan sudah tercapai. Memberikan pengayaan kepada siswa yang menyangkut aspek pengetahuan. j.pemberian suatu kegiatan berkreasi dalam olah gerak bagi anak cacat tuna rungu supaya mampu menarikan seperti halnya anak yang normal. mendidik siswa dalam kegiatan seni. Semua itu diterapkan dalam pogram sekolah. b. f.

Penilaian yang digunakan Ibu Anik meliputi tiga aspek penilaian yaitu penilaian tingkah laku. Setelah itu dilanjutkan dengan pemanasan atau olah tubuh. Berikut materi penyampaian yang bersifat praktik : . Materi-materi yang diberikan dapat diterima oleh siswa dan tidak menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan siswa yang tidak normal seperti halnya siswa tuna rungu dan tuna wicara.yang tersusun /terpola sederhana mengingat keadaan fisik siswa. Materi yang diberikan untuk menambah keterampilan siswa khususnya materi yang berhubungan dengan praktik tari. c. Materi yang diberikan selama 1 jam ini diselingi dengan istirahat sekitar 5 menit. Misalnya: tangan direntangkan kepala mengangguk bergantian. Perlu ditegaskan lagi bahwa materi pelajaran yang diberikan bagi siswa SLB Bagaskara Sragen pada dasarnya mempunyai materi bersifat praktik dan teori yang saling berkesinambungan. Dilihat dari segi kondisi dan keadaan siswa yang berbeda dengan anak normal materi yang diberikan tidak hanya mengacu pada praktik latihan tetapi juga pemberian materi teori 50 sebelum praktik. penilaian bahan dan materi. pembelajaran selesai tepat pukul 10:00 WIB. Interaksi antara guru dan siswa SLB Bagaskara Sragen. b. Guru menanyakan tugas rumah yang diberikan kemarin dan membahas bersama-sama. Guru tidak memberikan evaluasi dan tidak menuntut kesempurnaan gerak dalam pembelajaran ini. Materi yang diberikan dapat menambah perbendaharaan pengetahuan bagi siswa. sepuluh menit berikutnya siswa diperkenalkan dengan ragam gerak secara lisan dan praktik. senantiasa akan lebih banyak dilakukan dengan perbuatan/peragaan dari pada dengan lisan. menthang : kedua tangan lurus ke samping) 51 dan mudah ditangkap oleh siswa. Pemberian materi teori diberikan kata-kata yang mudah dipahami dan tidak menyulitkan bagi siswa dalam menerima pelajaran. siswa lebih senang diberikan materi teori atau praktik dengan satu kata yang berarti untuk suatu gerak. Untuk media komunikasi dalam pembelajaran praktik tari pelaksanaannya menitikberatkan pada aktivitas fisik.05 WIB guru memberi salam secara lisan dengan isyarat dan senyuman. Pemberian materi diberikan pada siswa menggunakan kata-kata yang sederhana (srisig : terbang. Materi yang diajarkan dapat dikuasai dan diperagakan oleh siswa dengan tidak menuntut kesempurnaan mengingat keadaan yang dimiliki siswa. terjadi pada saat komunikasi antara guru dan siswa. serta penilaian secara menyeluruh. Pukul 09. Dari hasil penelitian. Misalnya: gerakan srisig (lari kecil-kecil kaki jinjit) diibaratkan burung yang sedang terbang mengepakkan sayapnya dan sambil lari kecil-kecil. Komunikasi yang terjadi saat pelajaran berlangsung banyak mengalami hambatan karena siswa terhambat dalam pendengaran.

gi. f.. b.!” (bagi anak yang bisa mengucap. Pelaksanaan pembelajaran ini terkadang tidak seperti yang diharapkan. 52 Menurut pengamatan. Berikut ilustrasi percakapan kegiatan yang dilakukan oleh guru pada kegiatan membuka pelajaran: Guru : “Selamat pagi anak-anak !” Siswa : “Se. dia akan mengucap tapi tidak mengeluarkan suara melainkan membuka mulutnya dengan lafal selamat 53 pagi. Guru tidak menggunakan perangkat pembelajaran seperti rencana pembelajaran atau yang sejenisnya serta tidak mempunyai .la.. Penyajian inti pelajaran Kegiatan penyampaian materi pelajaran sesuai dengan program yang akan diajarkan. buu.. b. pa. Membahas / memperagakan tugas rumah yang diberikan hari sebelumnya.. Penyampaian materi pelajaran tari Merak ini lebih bersifat fleksibel. Menghafal / melakukan gerak-gerak yang diberikan. Memberi tugas gerak tari untuk latihan di rumah. misalnya materi yang disampaikan tidak tersampaikan semua. 1 jam untuk melakukan 3 kegiatan tersebut di atas sebelum masuk selalu menyita waktu sekitar 5 menit. c.. tapi sambil melihat temannya yang menari. Siswa harus pindah ruangan dari ruangan kelas ke ruangan praktek. e.mat. Materi tari yang diberikan yaitu tari Merak tari kreasi yang menggambarkan aktivitas burung merak yang gembira menepakkan keindahan sayapnya. Setelah siswa sudah masuk dalam kelas. Hal ini karena waktu yang diberikan terlalu pendek. kemudian melepas sepatu. yaitu tari Merak.. Membuka pelajaran Kegiatan membuka pelajaran ini dilakukan guru sebelum penyajian inti pelajaran. bagi yang tidak bisa dia Cuma menganggukkan kepala) atau guru menggunakan bahasa isyarat. Pemberian materi gerak dan memperagakannya. Untuk itu siswa sudah harus siap sebelum jatah waktu yang ditentukan. sesuai dengan kemampuan siswa. guru mulai pelajaran dengan membuka pelajaran dengan salam dan tak lupa menanyakan keadaan siswa apakah siap untuk menerima pelajaran. Tari ini adalah tari kreasi yang telah diolah garapan geraknya supaya siswa dengan mudah menangkapnya. dalam setiap kegiatan belajar mengajar SLB Bagaskara Sragen secara garis besar dapat digolongkan tiga kegiatan pokok yaitu : a. d. Pemanasan sebelum mulai ke gerak tari.” Setelah ini dilanjutkan dengan kegiatan inti pelajaran. Guru : “Siapa yang capek atau sakit boleh istirahat ya.a.” Siswa : “Iya buu…. Mengenal gerak-gerak dasar. Dalam kegiatan membuka pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah dan isyarat. Materi gerak yang diberikan sangat sederhana dan diulang-ulang gerakkannya.

” Guru : “Iya pinter... Dalam kegiatan menutup pelajaran guru lebih serin menggunkana metode ceramah.3 Metode Menurut Sudjana (1989:76) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan metode mengajar ialah : cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dalam penyajian inti pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah.” Guru : “Iya bagus sekali ! apakah ada yang belum bisa?” “kita ulangi ya. ” Guru : “Selamat siang anak-anak.” “bisa…” Siswa : “Bisaaa…..” “gii... Jangan tabrakan sama temennya. yuk pemanasan dulu.ni buu…. Berikut ilustrasi percakapan kegiatan yang dilakukan oleh guru pada kegiatan menutup pelajaran: Guru : “Gimana enak kan…? Untuk gerakan tadi buat PR ya.” Siswa : “Iya….” “siapa masih ingat. Berikut ilustrasi percakapan kegiatan yang dilakukan oleh guru pada kegiatan penyajian inti pelajaran: Guru : “Sebelum mulai pelajaran tari. tangannya ditepakkan jangan lupa bawa sampur.” “besuk sebelum mulai ibu akan tanya PR-nya ” “latihan di rumah ya…” Siswa : “Iya… bu.” “ayo pinter…. tangannya lurus..” Guru : “Ibu tambah satu gerak lagi ya.” Siswa : “Ukeel…seblak sampur…. Oleh karena itu.” Siswa : “Iyaa bu….” Guru : “Pinter…” “jalan kecil-kecil sambil putar. 55 tugas serta isyarat.” Setelah kegiatan inti pelajaran ini selesai maka akan dilanjutkan dengan kegiatan penutup. yuk bareng-bareng. tunjuk jari.” 4.” “pelan-pelan ya……. Ayo……” Siswa : “Iya buu…. Bu…. peranan metode mengajar sebagai alat .” “kaki geser (kengser) tangan di depan dada naik turun bergantian.2.” “kalau sudah lurus di putar ya…. demonstrasi dan latihan.. c. Menutup pelajaran Kegiatan yang dilakukan guru dalam penutup pelajaran dan guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.target-target yang harus dicapai oleh siswa.” “ayo jalan yok…. isyarat.” 54 “sekarang ibu mau tanya apa hayo PR-nya kemarin.

metode tugas dan metode ceramah. 57 4. sesuai dengan kemampuan anak tuna rungu untuk menerima dan mengeluarkan pikiran-pikiran melalui lambang visual sesuai dengan bahasa ibunya. dan membatasi anak tuna rungu pada lingkungan yang dapat mengerti isyarat-isyarat.untuk menciptakan proses belajar mengajar. metode latihan (drill). akan tetapi mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran. (Jamalus 1981:30). Dari berbagai metode tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. metode latihan. Tugas guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan 56 proses belajar mengajar. metode diskusi. Adapun penjelasan dan penerapan merode tersebut adalah: . metode tugas. metode-metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah kecil. Masing-masing metode ada kelemahan serta keuntungannya.2. . hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode mengajar secara bergantian atau saling bahu-membahu satu sama lain. guru bidang studi tersebut dalam mengajarkan materi tidak hanya menggunakan satu metode saja. Ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung kepada tujuan. isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mangajar. yaitu dunia tanpa suara. tidak semua pengertian (terutama pengertian yang abstrak) dapat diisyaratkan. metode tanya jawab. metode tugas. metode demonstrasi. Proses belajar mengajar yang baik. metode kerja kelompok. metode demontrasi. Seluruh metode tersebut dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran seni tari secara menyeluruh dari kegiatan awal hingga kegiatan penutup. Dari hasil penelitian di lapangan metode yang digunakan ibu Anik Sulistyowati pada pembelajaran seni tari di SLB Bagaskara Sragen adalah metode isyarat. Sesuai dengan pemikiran Jamulus. metode ceramah. Metode pelaksanaannya tidak diterapkan sendiri-sendiri secara terpisah melainkan dikombinasikan. Ditinjau dari segi penerapannya.3. Ada juga yang tepat digunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Metode yang banyak digunakan dalam pembelajaran adalah metode ceramah. metode eksperimen. Keuntungan metode isyarat ialah sesuai dengan dunia anak tuna rungu. Metode pembelajaran tari bagi siswa yang memiliki ketunaan hampir sama dengan metode bagi siswa yang normal yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi.1 Metode Isyarat Metode ini didasari oleh pandangan yang menyatakan bahwa sesuai dengan kodratnya bahasa yang paling cocok untuk anak tuna rungu ialah bahasa isyarat (Sastrawinata 1977 :32). Kelemahankelemahan metode ini ialah tidak efisien karena banyaknya isyarat yang harus dipelajari. keragaman isyarat sesuai dengan daerah dan kehendak si pembuat isyarat. metode latihan. Ada bermacam-macam metode yang dipergunakan dalam pemberian suatu materi pelajar kepada siswa.

Dengan satu kata namun berarti untuk banyak gerak. Terbang disini mempunyai olahan gerak yang menggambarkan burung sedang terbang. Misalnya dalam pertemuan pertama guru memberi penggalan gerak tari yang dirasa sulit dilakukan oleh siswa maka gerak tersebut dijadikan tugas di rumah untuk latihan berulangulang dan dibahas pada pertemuan berikutnya. Setelah guru memberikan contoh siswa disuruh menirukan gerakan yang baru saja guru peragakan.3.3.2.4 Metode Tugas Metode pemberian tugas ini tujuannya untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah dipelajari. gedeg (kepala geleng ke kanan dan ke kiri). Contoh : guru mendemonstrasikan terbang. mengingat keadaan siswa SLB Bagaskara yang kurang normal. Metode latihan sangat baik dilakukan karena sebelum anak memulai pelajaran dia bisa melakukan pemanasan terlebih dahulu. Olah tubuh diberikan pada awal pelajaran hal ini untuk melatih motorik siswa supaya tidak kaku.3.2 Metode Demonstrasi Guru memperagakan/memberi materi gerak dan bentuk tari. Sebelum pelajaran dimulai anak biasanya latihan terlebih dahulu sambil mengingat-ingat gerak yang disampaikan guru. Satu penggalan kata seperti terbang lebih mudah ditangkap siswa di banding dengan mendemostrasikan deskripsi gerak tari yang lazim pengajarannya untuk anak yang normal. Cacat bukan berarti diam dan tidak bisa bergerak. Metode latihan (driil) ini sangat bagus diberikan mengingat keadaan siswa. ukel (gerak pergelangan tangan yang 59 di putar). Hal ini mengingat ketidaksempurnaan siswa dalam menerima pelajaran.Metode isyarat ini adalah bahasa satu-satunya yang digunakan bagi anak tuna rungu. 4. Cara guru menyampaikan materi dengan bahasa isyarat. Gerakan srisig dalam tari Merak. Siswa lebih bisa memahami dan menggerakkan kata-kata yang diperintahkan oleh guru.2. Bila diuraikan dalam deskripsi gerak tari Merak. 4. Contoh : dalam gerak tari. guru melambangkan burung yang sedang terbang dan menapakkan kedua sayapnya. disini diambil contoh gerak srisig (lari kecil-kecil kaki jinjit). dan ekspresi tari yang diajarkan. 4.3 Metode Latihan (driil) Metode latihan (driil) ini baik sekali digunakan untuk halhal yang bersifat motorik. mendak (ke dua kaki merendah dengan sedikit di tekuk). Contoh: gerak yang .badan doyong ke kanan dan ke kiri).2. Dalam pembelajaran tari kreasi yang akan diberikan untuk metode demonstrasi guru sengaja memberikan gerak yang sederhana dan dipadukan dengan kata-kata 58 yang sederhana pula. Guru memperagakan gerak srisig tersebut dan memberikan gambaran seolah-olah gerakan itu menggambarkan burung yang sedang terbang di angkasa dan mengepakkan kedua sayapnya. Contoh : hoyok (kaki mendak.

4. alat belajar. Berikut ini adalah penjelasan mengenai tempat belajar. tugas serta latihan. Guru memberikan 60 pertanyaan siswa menjawab atau siswa menanyakan hal-hal/gerak tari yang dirasa sulit diterimanya. ruangan yang dipakai adalah ruangan serba guna yang biasa dipakai untuk ketrampilan sablon atau kadang dipakai untuk tenis meja. Untuk metode ceramah ini sangat sulit karena siswa yang diajar adalah tuna rungu dan menggunakan bahasa isyarat.2. Dalam ruangan tersebut telah tersedia tape recorder dan alat penunjang untuk menari seperti sampur. dan waktu. Guru menerangkan sedangkan siswa mendengarkan atau memahami dengan teliti. alat dan waktu belajar. Misalnya pada saat latihan praktek tari hanya menggunakan tape recorder saja.5 Metode Ceramah Metode ceramah adalah pemberian keterangan secara lisan oleh guru kepada siswa.2. namun perlu pula bagi guru untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. 61 Menurut ibu Anik Sulistyowati dalam wawancarannya pada tanggal 12 Mei 2006 penggunaan media sangat diperlukan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efisien.2. kaki lari dengan jangkah kecil-kecil dan kedua tangan dikepakkan ke atas dan ke bawah. Maksud dari pernyataan tersebut ialah bahwa guru tari tidak hanya menggunakan metode ceramah saja tetapi juga menggunakan metode demonstrasi. Pelajaran yang disampaikan tersebut masih belum lancar guru memberikan tugas untuk di rumah supaya berlatih gerakan yang diajarkan tersebut. dan tempat belum mempunyai ruangan sendiri. Media pembelajaran ini meliputi tempat belajar. Misalnya dalam kegiatan praktik musik/latihan iringan tari sangat diperlukan adanya suatu media. isyarat.sudah dilakukan murid. dan besok bila ada pelajaran tari diharapkan siswa sudah bisa semua. 4. Walaupun ruangannya . Tempat belajar akan dipergunakan untuk menyampaikan materi pelajaran praktik tari dan keterampilan sablon. Ruang ini sering mereka sebut dengan ruang praktik serba guna. 4.3.1 Tempat belajar Kegiatan pembelajaran sangat memerlukan adanya suatu wadah/tempat belajar. Ketiga bagian tersebut berperan penting dalam suatu pembelajaran. Gerak srisig dalam tari Merak. 4. Dalam proses pembelajaran tari tersebut baik dari kegiatan pembukaan hingga kegiatan penutup pelajaran ini guru tari menggunakan seluruh metode yang dikombinasikan. Meskipun sudah berlangsung lama adanya kegiatan pembelajaran kesenian (tari) di SLB namun media yang tersedia kurang lengkap.4 Media Media adalah sarana terpenting untuk pembelajaran. Metode-metode tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan sebuah kesatuan.

Selain itu juga dengan tape recorder sebagai iringan musiknya.00 WIB. Memakai sampur sendiri dan keterampilan memainkan sampur juga diajarkan oleh guru dan siswa mengikuti. dan semangat seperti hari-hari sebelumnya. Sudah siap dan mampukah siswa untuk menerima pelajaran atau tidak. Pada saat penelitian berlangsung. 4. maka sudah jelas waktu untuk belajarnya dapat dilaksanakan pada jam pelajaran seni tari serta pada jam ekstra. Hal ini perlu diingat untuk setiap memulai pelajaran hendaknya para siswa diperhatikan kondisinya. 4. Evaluasi dalam konteks belajar adalah hasil belajar dan pembelajaran (Darsono 2000:106). Anik Sulistyowati sebagai g0uru tari menggunakan alat peraga berupa sampur.dipakai untuk dua atau tiga kegiatan tidak menjadi penghalang dalam pembelajaran tari. Dalam penilaian seni tari menggunakan penilaian perbuatan. maka dengan penilaian perbuatan akan diperoleh penilaian kemampuan keterampilan dan sikap dari peserta didik pada waktu melakukan praktik. Tepat pukul 09. efisien.00 WIB siswa melepas sepatu masing-masing dan guru mengamati kondisi siswa. 62 Alat belajar sangat dibutuhkan karena untuk menunjang jalannya pembelajaran seni tari.2.2 Alat belajar Alat belajar atau dengan kata lain akan semakin efektif.3 Waktu Waktu belajar dengan mempertimbangkan wadah kegiatan dengan media cara belajar seni tari dapat dilaksanakan dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. 4. Pembelajaran tari kreasi yaitu tari Merak dilaksanakan pada waktu pelajaran kesenian. lebih menunjang. Hal tersebut dilakukan karena kondisi kecacatan yang dimiliki siswa akan lebih sulit pemberian materi dibandingkan dengan anak yang normal. lebih memperlancar di dalam meningkatkan penguasaan hasil belajarnya jika peralatan belajar tersedia lengkap dan memenuhi. Pembelajaran tari Merak diberikan hanya satu jam agar kondisi dan mental terjaga dan tidak mengalami hambatan fisik yang kurang diinginkan.2.2. dimana peserta didik banyak melakukan praktik. 4. Tujuan dari evaluasi ini yaitu untuk menarik simpulan seberapa jauh peningkatan kemampuan para siswa dalam menguasai hasil belajarnya itu. Misalnya: 63 apakah badan siswa dipandang lemes atau tidak.5 Evaluasi Setelah terlaksana semua mata pelajaran tari yang diberikan hendaknya terjadi atau diberikan suatu evaluasi sehingga guru mampu mengetahui sejauh mana keberhasilan pemberian materi yang disampaikan kepada siswa. Dari hasil pengamatan dan hasil wawancara dalam penelitian ini . yaitu setiap hari Jum’at pagi pukul 09.4.4.3 Kesulitan Guru dalam Mengajar Seni Tari di SLB Bagaskara Sragen.

asesoris lain tentunya ada yaitu anting-anting atau suweng (asesoris telinga). Dari Ibu Kepala Sekolah sangat antusias dan senang kalau peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar tari di SLB Bagaskara. Dari hasil wawancara langsung peneliti dengan siswa. Dukungan guru-guru lain dan Kepala Sekolah menambah keberanian siswa dalam berlatih. Motivasi terus diberikan hal ini sebagai pendorong minat siswa dalam mempelajari tari yang 65 diajarkan. Sebelum melaksanakan penelitian. Untuk rias yaitu cantik dan disesuaikan dengan busana. sayap. dan orang tua siswa masingmasing. binggel atau gelang kaki. guru bidang studi. epek timang (sabuk). kalung. sampur (kain/selendang panjang).05 menit. irah-irahan (asesoris kepala) yang berbentuk burung .Maridi Dkk yang menceritakan tentang aktivitas burung merak yaitu burung merak yang sedang gembira dan memperlihatkan keindahan bulunya. Motivasi dan kesabaran sangat diutamakan dalam pembelajaran seni tari bagi anak cacat yaitu siswa SLB Bagaskara Sragen. Kesulitan guru pun juga tampak karena guru sudah menyampaikan materi tapi . peneliti mengadakan wawancara kepada Kepala Sekolah. gelang. Kemampuan guru dalam meggunakan metode mengajar yaitu dengan cara mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar. Untuk kaset tari merak ada dalam kaset tari merak produksi LOKANANTA no seri ACD 134. Busana untuk tari merak diambil busana sederhana seperti halnya burung yaitu jarik (kain panjang yang bermotif) kreasi/celana. mekak dan ilat-ilatannya (kain yang dipakai untuk menutupi dada). Tari merak merupakan tari yang riang dengan iringan musik gamelan atau gendhing-gendhing tari Jawa kreasi. Dorongan dan kasih sayang orang tua yang selalu mengiringi anaknya menatap masa depan. hanya sebagian kecil yang suka dengan mata pelajaran menari. Kesulitan belajar bagi siswa yang kurang karena kecacatan yang jelas terlihat yaitu tuna rungu. sehingga siswa terhambat dalam pendengaran. merupakan tari perorangan namun lebih bagus ditarikan oleh banyak penari atau berpasangan. Tari Merak merupakan tari kreasi garapan S. Dari hasil wawancara dengan orang tua siswa merasa terharu dan bangga anaknya bisa menari seperti halnya anak normal.peneliti sengaja mengambil permasalahan tentang kesulitan guru dalam mengajar seni tari. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat. Mata pelajaran tari juga diberikan. menurut ibu Anik Sulistyowati yang sering diberikan tari kreasi dan tidak menutup kemungkinan sekali-kali juga diberi 64 tari klasik. Tari merak ditarikan dalam durasi 08. penggunaan metode yang tepat dan sesuai tersebut dikarenakan pengalaman guru yang lebih dari 15 tahun dalam kegiatan mengajar di SLB. Kesabaran seorang guru dalam membimbing siswa akan lebih memberi nilai arti lebih bagi diri siswa untuk tidak malu dan mampu memperlihatkan dirinya tidak kalah dengan yang normal. Di sekolah tersebut ada mata pelajaran kesenian dalam hal ini tari. klat bahu (asesoris yang dipakai di lengan tangan).

Kesulitan dan hambatan sangat dirasakan bagi anak yang cacat. Oleh karena itu. Tari memang bagus ditarikan bagi anak yang normal tapi belum tentu yang cacat tidak bisa berkarya. jadi dalam penyampaian materi guru harus mengulang-ulang materi yang disampaikan ke siswa sampai siswa benar-benar bisa. maka guru itu pun juga ikut sulit dalam menyampaikan materi. Banyak sanggar tari berdiri tetapi itu semua untuk anak yang normal. sulit berteman dan sulit menerima pelajaran tari. dalam penyampaian materi guru memberi contoh di depan dan siswa mengikuti. Bagi anak yang cacat pendengarannya total maka guru harus sabar dan berulang-ulang mengajarnya karena materi yang disampaikan guru belum tentu anak itu langsung bisa menerima pelajaran. Sementara bagi yang tidak sempurna atau cacat 67 belum ada sanggar tari yang menampungnya.tetapi siswa tidak memperhatikan maka guru harus mengulang lagi pelajaran itu dan siswa tidak mempunyai bakat menari. karena penyandang cacat fisik mau tidak mau harus menyesuaikan diri terhadap kecacatan yang dialaminya. Sulit menyesuaikan diri. siswa tetap sulit dalam menerima pelajaran karena siswa tidak mempunyai bakat atau rasa senang dengan pelajaran seni tari. Kesulitan guru dalam mengajar tari terlihat jelas misalnya: dengan jelas siswa yang diajar adalah anak-anak cacat tuna rungu maka dalam menerima pelajaran tidak bisa menangkap dengan cepat karena siswa 66 terhambat dalam pendengaran. Kesulitan mengajar tari hendaknya mendapat perhatian lebih dari semua guru. Penyandang cacat fisik pada umumnya juga banyak menghadapi tantangan yang berat daripada orang normal. Kesulitan mengajar bagi guru merupakan suatu tantangan dalam menyampaikan materi supaya anak tetap mau mengikuti pelajaran tari dan merasa senang dengan pelajaran seni tari. Siswa yang sulit menerima pelajaran. Walau guru sudah mengajarkan dengan berbagai cara atau metode. 68 BAB V PENUTUP 5. guru harus menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi atau penyampaian materi. Kesulitan guru dalam mengajar dapat diatasi dengan kesabaran dan memberi contoh berulang-ulang dan memberi dorongan atau sanjungan kepada siswa. siswa bersemangat atau percaya diri bila orang-orang terdekatnya memberikan dorongan atau support. Kesulitan guru dalam menyampaikan materi adalah guru sudah melakukan semaksimal mungkin menyampaikan materi pelajaran.1 Simpulan .siswa belum tentu bisa menangkap apa yang diajarkan guru. Siswa tidak mau diperlakukan keras tapi siswa lebih suka disanjung. karena tidak semua guru tari mampu mengajar tari bagi anak-anak cacat. selain itu siswa juga tidak mendengar musik sebagai pengiring tari. Untuk mengajar anak cacat harus hati-hati dalam menuangkan kata. karena terhambat dalam pendengaran. setelah itu guru baru memperbaiki gerakan anak satu persatu. begitu pula bagi siswa. Dalam hal ini peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen.

dkk.4 Guru dapat meningkatkan minat siswa dengan cara memperlihatkan CD tari pada saat pembelajaran. . Darsono. b. Surabaya: Usaha Nasional. 5. Hal ini dapat meningkatkan konsentrasi siswa pada satu keterampilan saja. Siswa tidak memperhatikan pelajaran karena daya dengar siswa yang kurang.2 Saran 5.Berdasarkan hasil pengamatan.2. metode latihan dan metode tugas. Media pembelajaran yang ada hanyalah tape recorder. Max. Pembagian ini juga harus sesuai dengan keinginan para siswa. di SLB Bagaskara tidak tersedia VCD player.1. Arif.1 Metode yang digunakan dalam pembelajaran di SLB Bagaskara pada khususnya dan di SLB yang lain pada umumnya ini hendaknya lebih mengefektifkan metode demonstrasi. 1992. sehingga pembelajaran tari tidak hanya cukup dengan menggunakan tape recorder saja. 5. 5.2. c. Bahri. Furchan. 1995.3 Sarana dan prasarana di SLB Bagaskara hendaknya dapat ditambah. metode. Belajar dan Pembelajaran. Siswa tidak akan terganggu dengan pembelajaran yang lain.1. materi dan bahan.2 Jumlah siswa yang mengikuti tari hendaknya ditetapkan. media. Jakarta: Rineka Cipta. Hal ini akan menghambat pembelajaran karena pengalaman belajar tari dari masing-masing siswa berbeda (ada siswa yang ketinggalan materi pelajaran) d. Jakarta: ILDEP-RULL. penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut : 5. dkk. Oleh karena itu. ruang yang 68 69 digunakan untuk pembelajaran tari adalah ruang serba guna yang juga digunakan untuk belajar sablon dan tenis meja. 5. Para siswa juga tidak mempunyai bakat menari sehingga kurang berminat untuk belajar tari. Djamarah. Seni Tari Jawa Tradisi Surakarta dan Peristilahannya. Selain itu. pmbelajaran tidak dapat berjalan secara efektif. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Eddy. Misalnya dengan menambah ruang praktik agar siswa dapat berkonsentrasi penuh pada minat masing-masing. 1991. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press. 2000. Srategi Belajar Mengajar. Ngaliman. Semarang: IKIP Semarang Press. Hendrarto.2.1 Pembelajaran seni tari bagi anak cacat tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen meliputi tujuan.2 Kesulitan yang dialami oleh guru dalam mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen meliputi: a. dan evaluasi. Jumlah siswa yang mengikuti tari tidak tetap. 1987. dkk. 5. 70 DAFTAR PUSTAKA Brakell. Clara dan S.2.

Semarang : IKIP Semarang Press. 1989. Kondisi guru secara umum (Latar belakang pendidikannya dan pengalaman mengajar). 1990. Pengantar Pendidikan Anak Luar Biasa. 1972. Jakarta: Departemen P dan K. Emon. Roestiyah. 1995. Surakarta: UNS. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Darwis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pengambilan foto tentang kegiatan belajar mengajar seni tari. 1994. 1977. Metode Penelitian Kualitatif. Moh. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Departemen P dan K. M. Didaktik Metodik. A. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. 5. Pendidikan Anak Tuna Rungu. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Tari-Tarian Indonesia 1.Jamalus. -----------------. Suryabrata. Semarang: IKIP Semarang Press. Bandung: Sinar Baru. Jakarta: Bina Aksara. . 1979. Pokok-pokok amatan dalam kegiatan observasi meliputi : A. 4. Sugandi. Moleong. Pedoman Praktis Penyelenggaraan Sekolah Luar Biasa Bagian B Tuna Rungu-Wicara. 1979. Psikologi Pendidikan. K.Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Sudjana. 1989. Sumadi. Sardjono. Jakarta: Balai Pustaka. Ahmad. Surakarta: UNS. Prestasi-prestasi yang pernah diraih dalam bidang tari. 2003. 2003. 3. Nana. Metode Penelitian Kualitatif. Acmad dan Haryanto. Syah. N. Jakarta: Rineka Cipta. Orthopaedagogik B (Tuna Rungu-Wicara). 1999. 71 Slameto. Media Instruksional Edukatif. 2000. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sastrawinata. 1. 1979. Sam dan R Isbani. Muhibin. Pengantar Kepada Teori dan Praktek Pengajaran. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Soedarsono. 2001. 72 Lampiran I PEDOMAN OBSERVASI Judul : Pembelajaran seni tari bagi siswa tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen. Lexy J. Lokasi dan kondisi fisik SLB Bagaskara Sragen. Djawa dan Bali Dua Sosok Perkembangan Drama Tari Tradisional Indonesia. Soelaiman. Kurikulum seni tari yang diberlakukan. Jakarta: Bumi Akasara. Teori Pembelajaran. 1986. ----------. 1977. Jazuli. Gambaran umum mengenai SLB Bagaskara Sragen. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. 1977. 1988. Jakarta: Rineka Cipta. 2004. Semarang: IKIP Semarang Press. Semarang: Sendratasik FBS UNNES. -------------. gedung sekolah dan gedung asrama siswa. Amin. 2. dkk. Rohani. Isbani. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Telaah Teoritis Seni Tari. Mardalis. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Tahap perencanaan pengajaran. 2. Cara guru dalam mengevaluasi pengajaran. Kegiatan guru yang diamati antara lain : 1. Setelah langkah kegiatan belajar mengajar ditempuh. b. Upaya-upaya sekolah untuk prestasi dalam bidang tari. misalnya menyediakan alat-alat bantu mengajar. Tahap akhir program pengajaran. atau situasi yang menunjang pada saat proses belajar mengajar berlangsung. guru-guru. Hubungan antara siswa dengan guru. termasuk materi yang disampaikan serta metode yang digunakan. siswa dan orang tua atau wali siswa. misalnya berupa satuan pelajaran. Dalam kegiatan ini penulis mengamati secara langsung proses pengajaran seni tari di dalam kelas di SLB Bagaskara Sragen yang meliputi: 1. Tindak lanjut pengajaran (perbaikan). Dalam tahap ini juga di amati tentang : a. Penggunaan alat bantu atau alat peraga dalam pengajaran. Proses belajar mengajar. 3. b. Respon siswa terhadap pengajaran seni tari. 3. 74 Lampiran II PEDOMAN WAWANCARA Pedoman wawancara ini sebagai petunjuk untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumber: kepala sekolah. Cara guru dalam membimbing siswa. Dalam tahap ini penulis mengamati : a. Metode yang banyak digunakan dalam pengajaran seni tari. .B. serta mengelola dan mengorganisir kelas. b. 5. Persiapan tak tertulis yang dilakukan guru. 4. Pokok pikiran yang dikembangkan antara lain: 1. Dalam tahap ini penulis mengamati pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang meliputi kegiatan guru dan siswa. 2. guru seni tari. 4. Sejarah berdirinya SLB Bagaskara Sragen. Tahap pelaksanaan pengajaran. 3. Keaktifan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Daerah asal siswa SLB Bagaskara Sragen. Pengadaan tenaga pengajar dan administrasi. a. Fasilitas yang dimiliki sekolah. Persiapan secara tertulis yang dilakukan guru. Hubungan antara siswa dengan siswa. program semester dan rencana pengajaran. 6. Kegiatan siswa yang meliputi : 1. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah khususnya dalam bidang tari. 7 Kesulitan atau hambatan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan seni tari bagi siswa tuna rungu. 8. Penyelenggaraan pengajaran seni tari di SLB Bagaskara Sragen. 73 2. 3. 2.

samping kiri maju kanan ke dua tangan digerakkan tangan kanan di tekuk di depan dada tangan kiri lurus gerakan sama. 76 13. mendak kemudian berdiri pelan-pelan sambil menggerakkan bahu (dilakukan 4x). guru dan lembaga. Cara menindak lanjuti hasil evaluasi pengajaran seni tari. gejug kanan dua tangan membuka ke samping. Hubungan antara guru dengan siswa. kaki kanan maju kanan lepas ke dua sampur. ke dua tangan lurus ke depan hadap kanan maju kiri ke dua tangan digerakkan. ke dua kaki jejer ke dua tangan digerakkan ke depan puser. tangan kiri tekuk di depan dada tangan kanan lurus.9. Gerakan sama no 3 7. 8. Membangkitkan motivasi siswa. Cara menangani anak yang tingkat kesulitannya tinggi. ganti kaki kiri melangkah ke dua tangan dipinggul. 5. buka ke samping. Maju kanan. 12. Langkah ke kanan ke dua tangan di pinggul. pacak gulu. 13. 14. Mundur. putar. maju kiri ke dua tangan lurus ke depan hadap depan. Gerakan sama no 5 dan 3. Ukel ke dua tangan kesamping kirikaki kanan maju. 10. Kedua tangan ngiting di depan. Mundur ke dua tangan di depan ngiting. 2. 16. (dilakukan berulang-ulang). mendak kemudian berdiri pelanpelan sambil menggerakkan bahu. ke dua tangan di depan ngiting mundur kaki kanan ambil sampur maju kaki kanan. 12. Kedua tangan di gerakkan ke depan bergantian. Peran serta orang tua terhadap prestasi di bidang tari. 75 Lampiran III Diskripsi Tari Merak Gerakan : 1. 4. 11. Gerakan sama no 1 3. Loncat ke kanan 3x kemudian gerakan sama dengan no 4 pada hit 3 loncat lagi gerakan sama kemudian mundur kaki kanan maju kanan kedua tangan menthang ke samping kemudian lepas jalan ke depan 4x gerakan tangan kanan ke atas bolak balik tangan kiri di pinggang kemudian loncat dan lakukan gerakkan yang sama. 10. Hubungan antara siswa dengan siswa. kemudian kaki kanan mundur seblak ke dua tangan. Gerakan sama no 5 dan 3. 6. pacak gulu. 15. mundur kanan pancat kedua tangan menthang ke samping geleng kepala. mundur. 11. turun sampai hit 8 kemudian berdiri hingga hit 3. kemudian gejug kiri kedua tangan membuka ke samping dengan memegang sampur. 9. Gerakan sama no 5 dan 3. jalan putar. Hubungan antara orang tua dengan siswa. Kesulitan siswa dalam menerima pelajaran seni tari. . Kesulitan guru dalam menghadapi siswa tuna rungu. 17.

77 Lampiran IV Gambar 1. Maju kanan kiri. Pentas Perpisahan Murid Kelas VI 79 Gambar 6. kebyak kebyok sampur. Kengser ke samping hadap serong kanan mundur ngembat kedua sampur. maju kanan kiri. Gerakan sama no 5 dan 3. 17. masuk…. kebyak kebyok sampur. 18. Guru Sedang Memberi Isyarat Gerak Jalan Kenser ke Kiri 78 Gambar 4. 20. Gerakan sama no 5 dan 3. Praktik Menari di Dalam Kelas Gambar 7. Guru Sedang Menjelaskan Materi dengan Memberi Contoh di Depan Gambar 5. Mundur kaki kanan maju kanan ngembat terbang putar. kengser ke kanangejug kiri buka ke dua tangan ke samping lenggut kepala. Gedung SLB Bagaskara Sragen Gambar 2.. 22.14. Praktik Menari di Dalam Kelas . Kengser ke kanan-kiri-kanan loncat ke kiri ke dua tangan di depan puser mundur kaki kanan maju kanan ke dua tangan mengikuti kemudian terbang. geleng kepala jalan putar. 19. 16. kengser ke kanan gejug kiri buka ke dua tangan ke samping (gerakan sama dengan no 1). kebyak kebyok sampur. Gerakan sama no 17 namun beda kaki. Guru Sedang Memberi Isyarat Gerak Jalan Kenser ke Kiri Gambar 3. 15. Gerakan sama no 5 dan 3. Gerakan sama no 5 dan 3. Maju kiri kanan. 21. kengser ke kiri gejug kanan buka ke dua tangan ke samping lenggut kepala.