NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PUSAT KURIKULUM
2007

KATA PENGANTAR
Pemberlakuan UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menuntut cara pandang yang berbeda tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dulu, pengembangan kurikulum dilakukan oleh pusat dalam hal ini Pusat Kurikulum sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh satuan pendidikan. Pengembangan kurikulum yang dilakukan langsung oleh satuan pendidikan memberikan harapan tidak ada lagi permasalahan berkenaan dengan pelaksanaannya. Hal ini karena penyusunan kurikulum satuan pendidikan seharusnya telah mempertimbangkan segala potensi dan keterbatasan yang ada. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) terutama Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Hingga saat ini belum ditetapkan Standar Nasonal Pendidikan untuk satuan Pendidikan Anak Usia Dini. Oleh sebab itu, kajian kebijakan kurikulum PAUD dilakukan terhadap Standar Kompetensi TK/RA 2004 dan Menu Pembelajaran Generik 2002 serta permasalahannya baik dokumen maupun implementasinya. Di samping itu juga dilakukan kajian pustaka (kajian teoritik) yang menjadi landasan PAUD. Salah satu tugas Pusat Kurikulum adalah melakukan kajian terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan kurikulum termasuk implentasinya di lapangan serta kajian teoritik sebagai bahan pertimbangan bagi BSNP dalam menetapkan atau menyempurnakan Standar Nasional Pendidikan. Hasil kajian kebijakan kurikulum berupa naskah akademik, meliputi: 1. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD 2. Kajian Kebijakan Kurikulum SD 3. Kajian Kebijakan Kurikulum SMP 4. Kajian Kebijakan Kurikulum Kesetaraan Dikdas 5. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Agama 6. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kewarganegaraan 7. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa 8. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Matematika 9. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA 10. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPS 11. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Keterampilan 12. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kesenian 13. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK 14. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Salah satu hasil kajian tersebut di atas adalah Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum PAUD. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan kurikululum PAUD yang berlaku saat ini dan pelaksanaannya serta permasalahannya. Naskah ini juga memberikan informasi tentang kajian teoritik yang berkaitan dengan PAUD yang dapat dijadikan landasan PAUD yang penting untuk diperhatikan bagi perumus kebijakan PAUD lebih lanjut. Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, kepala sekolah, pengawas, guru, dan praktisi pendidikan, serta Depag. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari mereka, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas,

Diah Harianti

Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007

i

ABSTRAK Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa usia dini, semua potensi anak berkembang sangat cepat. Fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi, menyatakan bahwa sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun dan 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun. Pertumbuhan fungsional sel-sel syaraf tersebut membutuhkan berbagai situasi pendidikan yang mendukung, baik situasi pendidikan keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, pemerintah sudah mengembangkan Kurikulum PAUD dan perangkatnya yang dijadikan acuan bagi penyelenggaraan PAUD. Kurikulum PAUD hendaknya disusun berdasarkan landasan teoritik, yuridis, dan empiric. Hingga saat ini belum ditetapkan Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD sebagai acuan penyusunan KTSP. Untuk itu perlu disusun naskah akademik kajian kebijakan kurikulum PAUD. Penyusunan naskah akademik kajian kebijakan kurikulum PAUD bertujuan untuk memberikan landasan teoritik (keilmuan) dan empirik bagi perumus kebijakan dan penyelenggara PAUD pada berbagai kelembagaan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan secara konseptual akademik dalam mengembangkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) terutama Standar Kompetensi Lulusan (untuk PAUD disebut Standar Kompetensi Akhir Usia) dan Standar Isi Perkembangan (SIP). Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD meliputi kajian dokumen dan kajian pelaksanaan kurikulum PAUD serta permasalahannya. Selain itu juga dilakukan kajian pustaka (kajian teoritis) berbagai landasan keilmuan yang dapat mendasari atau menjadi pijakan PAUD. Peserta yang terlibat dalam kajian ini terdiri atas ahli PAUD dari perguruan tinggi, Guru dan Kepala Sekolah TPA/KB/TK/RA. Kajian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan, meliputi: penyusunan desain, seminar, studi dokumen, workshop dan presentasi. Dari hasil kajian dokumen dan kajian pelaksanaan kurikulum PAUD ditemukan banyak masalah yang meliputi semua dokumen kurikulum dan pelaksanaannya. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa Standar Kompetensi TK/RA dan Menu Pembel Generik belum sesuai dengan landasan teoritis (landasan psikologis), terutama dalam hal penyusunan gradasi perkembangan dan lingkup perkembangan. Kajian ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu perlu dilakukan riset perkembangan anak usia dini Indonesia sebagai acuan empirik dalam menyusun SKAU (Standar Kompetensi Akhir Usia) dan SIP (Standar Isi Perkembangan), perlu disusun tahapan perkembangan anak mulai dari lahir sampai usia delapan tahun sebagai dasar penentuan SK dan KD sehingga ada kesinambungan kompetensi dari TB/KB, TK/RA, hingga SD kelas awal; dan perlu dikembangkan Standar Nasional Pendidikan untuk anak usia dini yang didasarkan pada naskah akademik.

Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007

ii

DAFTAR ISI Hal i ii iii 1 2 3

KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Landasan Yuridis C. Tujuan BAB II LANDASAN PAUD A. Landasan Akademik (Teoritis) B. Landasan Yuridis C. Landasan Empirik TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Kajian Dokumen B. Kajian Lapangan C. Pembahasan KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Rekomendasi

4 26 28

BAB III

30 33 36 38 39

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007

iii

BAB I PENDAHULUAN A. Pada sisi lain. masa identifikasi/imitasi. (2) memberikan pendidikan yang berkualitas. proses pembelajaran yang belum mengakomodasi kebutuhan anak dan kualitas serta kualifikasi tenaga pendidik anak usia dini yang masih tergolong rendah. Para ahli pendidikan sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun. 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun. terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. Latar Belakang Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar dalam sepanjang rentang pertumbuhan serta perkembangan kehidupan manusia. Walapun berbagai upaya secara konseptual maupun praktis telah diupayakan dalam membangun anak usia dini namun masih banyak anak usia dini di Indonesia yang belum terlayani kebutuhannya pada bidang pendidikan (sensus BPS terbaru 2005 mencapai 26 juta). (3) memberikan perlindungan terhadap penganiayaan. masyarakat dan bangsa jika mengabaikan masa-masa penting yang berlangsung pada anak usia dini. Pertumbuhan fungsional sel-sel syaraf tersebut membutuhkan berbagai situasi pendidikan yang mendukung. Beberapa konsep yang disandingkan untuk masa anak usia dini adalah masa eksplorasi. Beberapa kesepakatan yang diperoleh adalah (1) mencanangkan kehidupan yang sehat. Adapun komitmen antara bangsa secara internasional lainnya adalah kesepakatan antar negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyepakati ”Dunia yang layak bagi anak 2002” atau dikenal dengan ”world fit for children 2002”. Salah satunya adalah Deklarasi Dakkar yang diantaranya menyepakati bahwa perlunya upaya memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini. Hal ini diperburuk dengan masih rendahnya kualitas penyelenggaraan lembaga pendidikan anak usia dini yang dilihat dari aspek standar program yang diberikan. kelembagaan pendidikan anak usia dini yang ada baru dapat menampung sebesar 27% Angka Partisipasi Kasar (APK). Konsep tersebut diperkuat oleh fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi yang menyatakan bahwa pada saat lahir otak bayi mengandung 100 sampai 200 milyar neuron atau sel syaraf yang siap melakukan sambungan antar sel. Sebagai komitmen dan keseriusan antar bangsa terhadap pendidikan anak usia dini telah dicapai berbagai momentum dan kesepakatan penting yang telah digalang secara internasional. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 1 . di mana semua potensi anak berkembang paling cepat. masyarakat maupun sekolah. masa bermain dan masa trozt alter 1 (masa membangkang tahap 1). baik dalam situasi pendidikan keluarga. Banyak konsep dan fakta yang ditemukan memberikan penjelasan periode keemasan pada masa usia dini. Hal ini menunjukkan bahwa betapa meruginya suatu keluarga. dan mencapai titik kulminasi 100% ketika anak berusia 8 sampai 18 tahun. Salah satu periode yang menjadi penciri masa usia dini adalah the Golden Ages atau periode keemasan. eksploitasi dan kekerasan. Pada masa ini ditandai oleh berbagai periode penting yang fundamen dalam kehidupan anak selanjutnya sampai periode akhir perkembangannya. masa peka.

Dalam rangka membantu memenuhi kebutuhan anak usia dini pada bidang pendidikan. 2. Standar Isi (Standar Kompetensi Perkembangan atau Standar Perkembangan). Standar Sarana dan Prasarana. Di samping itu lapangan juga diperkenalkan dengan draft Kerangka Dasar Kurikulum PAUD dan Standar Perkembangan Anak Lahir s. b. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diksriminasi. sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Dalam undang-undang nomor 23 tahun 2002 ditegaskan beberapa hal penting sebagai berikut. tumbuh. Hingga saat ini belum ditetapkan Standar Nasional Pendidikan (8 Standar) untuk PAUD. Undang-Undang Nomor 20 telah memberikan payung hukum untuk perlunya diselenggarakan pendidikan anak usia dini pada ketiga jalur pendidikan. dan Pedoman Penilaian. 1). KB. B. khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). lembaga pendidikan masyarakat (non formal) dan lembaga pendidikan anak usia dini formal (TK/RA) dalam memperoleh akses konsep kurikulum anak usia dini. Landasan Yuridis 1. Pedoman Pengembangan Silabus untuk TK/RA. berkembang. Pada pasal Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 2 . Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.d 6 tahun. Pasal 4 mengungkapkan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup. Pedoman Pembelajaran untuk TK/RA. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD. Standar Pengelolaan dan Standar Pembiayaan. Standar Penilaian. a. Kurikulum PAUD dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan perkembangan (standar performence) anak pada segala aspek perkembangan sehingga dapat membantu mempersiapkan anak beradaptasi secara kreatif dengan lingkungan masa kini dan masa depan kehidupannya. Hasil kajian ini berupa “Naskah Akademik” yang diharapkan menjadi masukan dalam merumuskan Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD yang berkaitan dengan Standar Kompetensi Lulusan (untuk anak usia dini disebut Standar Kompetensi Akhir Usia). pemerintah berusaha menfasilitasi dengan dikembangkannya Kurikulum PAUD yang diharapkan dapat membantu memberikan pendidikan yang berkualitas pada anak usia dini. Kurikulum PAUD yang menjadi rujukan sebagian besar TK/RA. Standar Proses. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD yang meliputi kajian pelaksanaan kurikulum PAUD di lapangan dan kajian dokumen serta kajian teoritis berbagai landasan keilmuan yang dapat mendasari atau menjadi pijakan Pendidikan Anak Usia Dini. Dengan rujukan kurikulum ini diharapkan dapat membantu lembaga pendidikan keluarga (informal). dan TPA saat ini adalah Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA (dari Direktorat TK/SD). Menu Pembelajaran Generik (dari Direktorat PAUD). Pasal 9 mengungkapkan dua hal pokok yaitu. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. 2).

Memberikan guideline secara konseptual akademik dalam menyusun standar pendidik yang dipersyaratkan untuk dapat menyelenggarakan pendidikan pada anak usia dini secara profesional. Memberikan acuan (guideline) secara konseptual akademik dalam menyusun standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi (SI) sebagai bagian intergral kurikulum. Kajian ini juga dimaksudkan memberikan pemahaman tentang pentingnya penguasaan konsep keilmuan yang membangun dan mendukung penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Adapun tujuan khusus kajian ini diarahkan pada : 1. Memberikan guideline secara konseptual akademik dalam menyusun standar penilaian yang dapat dijadikan alternatif untuk melakukan asesmen dan pemantauan tumbuh kembang anak. Memberikan guideline secara konseptual akademik dalam menyusun standar proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan (Developmentally Appropriate) dan berbagai kebutuhan anak usia dini. 3. Tujuan Kajian kurikulum PAUD ini disusun untuk memberikan landasan keilmuan dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini pada berbagai kelembagaan. Memberikan guideline secara konseptual akademik dalam menyusun standar pengelolaan pembelajaran pada anak usia dini dengan berbagai seting dan situasi. Memberikan analisis konsep dasar filosofis dan keilmuan pendidikan serta ilmu bantu lainnya sebagai dasar pengembangan seluruh komponen kurikulum. jalur non formal (seperti Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak) dan jalur formal (Taman Kanakkanak dan Raudhatul Atfal). C. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 3 . 4. 2. 5. Upaya ini sekaligus dapat membangun kebiasaan berpikir dan bertindak praksis dalam menjalankan profesi tenaga pendidik anak usia dini. 6.28 undang-undang nomor 20 tahun 2003 ditegaskan tentang penyelenggaraan pendidikan anak usia dini pada jalur informal (keluarga).

Pendidikan menurut idealisme diartikan sebagai upaya terencana untuk mewujudkan manusia ideal yaitu manusia yang dapat mencapai keselarasan individual yang terpadu dalam keselarasan alam semesta. penyusunan langkah pembelajaran dan penilaian yang mendidik. watak. Sehubungan dengan teori pengetahuannya. menusia yang berbudi luhur. sifatnya maya. pengembangan bakat insani dan kebajikan sosial Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 4 . Idealisme. Filosofis-Pedagogis Filosofi pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik. David Hume. banyak ragam konsep cara pandang pelaksanaan pendidikan yang digagas oleh para filosof. Dari sudut filosofis pendidikan. Kerangka filosofis harus menjadi kerangka berpikir guru atau mind set guru dalam menyelenggarakan praksis pembelajaran. yaitu kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta. termasuk didalamnya adalah pola pengasuhan anak. tidak lengkap. dan sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat. Dan hal-hal yang bersifat materil bersumber kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan. Upaya pendidikan harus ditujukan pada pembentukan karakter. Kerangka filosofis memberikan gambaran tentang cara pandang guru terhadap pendidikan itu sendiri (termasuk didalamnya kurikulum. Landasan Akademis (Teoritis) 1. anak didik dan proses pembelajaran. Beberapa konsep filosofis tersebut dapat dirangkum sebagai berikut : a. Standar tingkah laku manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan dari kenyataan sebenarnya atau metafisik. penggunaan media dan sumber belajar. model pembelajaran. Tokoh aliran ini antara lain Plato. hal zat atau substansi yang kekal dan abadi dalam dunia ini bersifat keijiwaan. Pandangannya tentang hakikat pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali. karena dunia materi hanyalah tipuan belaka. Idealisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta ini adalah perwujudan intelegensi dan kemauan. Hanya satu kebenaran. Hakikat nilai menurut pandangan idealisme bersifat absolut. karena menurut aliran ini manusia akan dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran cemerlang. Pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti. intelek dan akal memegang peranan yang sangat penting atau menentukan proses belajar mengajar. Adapun landasan pedagogis memberikan sejumlah pemahaman konseptual dan praktis tentang bagaimana proses pendidikan itu terjadi dalam berbagai lingkungan. metode pembelajaran dan teknik pembelajaran. Dengan demikian pengetahuan yang diajarkan di sekolah harus bersifat intelektual. dan menyimpang dari keadaan lingkungan yang lebih sempurna. spiritual atau rohaniah.BAB II LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI A. dan Hegel. tujuan pendidikan dan isi pendidikan).

dan (3) pendidikan negatif. Pendidikan Emile adalah pendidikan naturalistik atau alami dalam arti: (1) pendidikan yang mengembangkan kemampuan-kemampuan alami atau bakat/pembawaan anak. Yang mendasar bagi teori Rousseau adalah kembalinya kepada pandangan Descartes bahwa anak-anak dilahirkan dengan membawa pengetahuan dan ide. Tokoh aliran ini antara lain Aristoteles (realisme klasik). dan Thomas Aquino (realisme religius). Gagasan ini mempengaruhi konsepsi Rousseau tentang anak. Rousseau mampu menggambarkan pandangan teoritisnya tentang perkembangan anak dan memberikan saran-saran mengenai metode yang paling tepat tentang cara merawat dan mendidik anak. (2) pendidikan yang berlangsung dalam alam. Pengetahuan bawaan anak meliputi hal-hal seperti prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran. Rousseau menggambarkan perawatan dan pemantauan seorang anak laki-laki bernama Emile dari masa bayi hingga dewasa muda. dihasilkan melalui suatu rangkaian tahapan yang dibimbing oleh suatu proses sejak dilahirkan. realisme menyatakan bahwa standar tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam. “Rouseau juga memandang bahwa anak Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 5 . tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskan di Perancis dimana dia menjadi filsuf terpimpin pada masanya. Emile adalah teori pendidikan yang ditujukan kepada bangsawan kaya pada zamannya yang biasanya hidup artifisial dipenuhi dengan segala macam tata cara hidup ningrat. tetapi segala sesuatu menjadi rusak karena tangan manusia. Teori pengetahuan realisme. dan yang berada di atas semuanya yaitu rasa kesadaran. menyatakan adanya prinsip ketidaktergantungan pengetahuan. Realisme Realisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa ada alam semesta yang bersifat materil yang tidak bergantung kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan. Perkembangan dalam pandangan ini. dan dapat diketahui secara langsung melalui pengalaman pendriaan dengan mempergunakan pikiran. Dengan menggunakan sarana berupa sastra. Dalam karyanya yang tersohor ini. Pengetahuan yang benar adalah yang sesuai dengan fakta. daya kraetif dan sosial individu yang mendorong pada terciptanya kesejahteraan umum. Pandangan Rousseau tentang perkembangan anak disajikan dalam novelnya Emile (1762). c. Pendidikan yang berdasarkan realisme konsisten dengan teori belajar S-R. Ajaran filsafat naturalisme romantik Rousseau dalam Emile antara lain berisi gagasan sebagai berikut: “Segala sesuatu yang berasal dari Sang Pencipta adalah baik. dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebijaksanaan yang telah teruji dalam kehidupan Pendidikan dalam pandangan realisme adalah proses perkembangan intelegensi. kealamiahan/kewajaran. yang berkembang secara alamiah dengan usianya. tidak bergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia. Kenyataan hadir dengan sendirinya dan bersifat obyektif. Dia dilahirkan di Switzerland. yaitu suatu gerakan di mana para seniman dan para penulis menekankan tema-tema yang sentimentil. Rousseau diakui sebagai bapak romantisisme. Pengetahuan yang benar diperoleh melalui pengalaman pendriaan. Naturalisme Romantik Tokoh aliran filsafat ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Dalam kaitannya dengan hakikat nilai.b. dan kemurnian. Pengetahuan itu diperoleh secara bertahap melalui interaksi dengan lingkungannya yang diarahkan oleh minat dan perkembangannya sendiri. Dengan demikian pendidikan juga dapat diartikan sebagai upaya pembentukan tingkah laku oleh lingkungan.

Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak dewasa dan tak berdaya. maka pendidikan adalah pengembangan bakat anak secara maksimal melalui pembiasaan. Sesuai dengan pandangannya bahwa anak dilahirkan membawa bakat yang baik. Pertama. Pragmatisme adalah salah satu aliran filsafat yang anti metafisika. Pragmatisme Aliran filsafat ini disebut juga instrumentalisme atau eksperimentalisme. Rousseau menyarankan bahwa untuk mendidik Emile paling sedikit harus mengandung tiga gagasan yang saat ini didukung oleh beberapa ahli pendidikan. Pengetahuan bersifat hipotetis dan relatif yang kebenarannya tergantung pada kegunaannya dalam kehidupan dan praktek. karena disiplin kaku tidak sesuai dengan pandangan yang lebih romantis tentang anak. hakikat segala sesuatu adalah perubahan itu sendiri. Segala sesuatu dalam alam dan kehidupan ini berubah (becoming). perawatan dan pendidikan anak harus membantu perkembangan secara permisif dari pada menggunakan jenis interaksi yang mengandung disiplin kaku. Disebut instrumentalisme karena memandang bahwa tujuan pendidikan bukanlah terminal. maka pendekatan untuk mendidik anak bukanlah dengan mengajar anak secara formal atau melalui pengajaran langsung. Standar tingkah laku perseorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman hidup. Anak dipandang sebagai individu yang aktif. keyakinan-keyakinan. d. interaksi dengan alam. permainan. Kedua. dan dia menganjurkan pendidikan itu harus natural. manusia dipandang sebagai mahluk yang dinamis. Etika tidak diturunkan dari hukum tertinggi yang bersumber dari zat supernatural. akan tetapi dengan memberi kesempatan kepada mereka belajar melalui proses eksplorasi dan diskoveri. 1994:15). Dan dikatakan eksperimentalisme karena untuk membuktikan kebenaran digunakan metode eksperimen. “Anak harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman positif. psikis dan sosial. Dalam biografinya Emile. Rousseau mengkritik pendidikan yang sifatnya artifisial atau dibuat-buat . Sesuai dengan pandangan di atas. 1994:15). psikologis. partisipasi dalam kehidupan. partikular (khusus). tanpa dibekali dengan bahasa. Hal ini mengandung arti bahwa setiap manusia tumbuh secara berangsur-angsur mencapai kemampuan-kemampuan biologis. akan tetapi alat atau instrumen untuk mencapai tujuan berikutnya. diberi kebebasan dan mengikuti minat-minat spontannya. dan ada dalam proses. Hakikat pengetahuan menurut pragmatisme terus berkembang. anak-anak belajar sebaik mungkin apabila mereka didorong secara mudah kepada informasi atau gagasan dan dilibatkan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang dirinya melalui proses penemuan oleh dirinya sendiri.pada dasarnya adalah baik karena Tuhan membuat segala sesuatu baik (Krogh. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik. Pengetahuan adalah instrumen untuk bertindak sedangkan dalam membahas hakikat nilai pragmatisme menyatakan bahwa tidak ada nilai yang berlaku secara universal atau absolut. Etika pragmatisme memiliki karakteristik: empiris. gagasan-gagasan atau norma-norma sosial. (Krogh. dan sosial. Manusia adalah hasil evolusi biologis. serta penyediaan kesempatan belajar dan belajar selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak. Tokoh aliran filsafat ini antara lain John Dewey dan Williams James. relatif. anak-anak dapat didorong untuk mempelajari disiplin ilmu (body of knowledge) hanya apabila mereka telah memiliki kesiapan kognitif untuk mempelajarinya. Sesuai dengan pandangannya tentang hakikat realitas. tumbuh dan berkembang. latihan. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 6 . Ketiga.

Proses pendidikan bersifat kontinu. Jadi pendidikan itu juga berarti kehidupan. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Dalam arti yang luas pendidikan menurut pragmatisme dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah segala bentuk pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan hidup dan sepanjang hidup. and life. Setiap fase perkembangan kehidupan. reorganisasi dan rekonstruksi. semua yang dipelajari pada fase-fase tersebut mempunyai arti sebagai pengalaman belajar. dengan lain perkataan. melainkan juga berfungsi sebagai pembaharu hidup atau renewal of life. Menurut Dewey. Yang menyebabkan pendidikan sebagai kebutuhan untuk hidup. yaiti (1) pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup. berubah. Pragmatisme tidak mengenal adanya tujuan umum atau tujuan akhir pendidikan. Di samping pandangan di atas. melainkan sebagai cara hidup bersama. Pendidikan berfungsi membantu anak untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang tersembunyi tersebut. sesuai dengan pandangannya tentang hakikat realitas yang terus mengalir. sebagai Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 7 . atau di lingkungan masyarakat luas.Pendidikan diartikan sebagai proses reorganisasi dan rekonstruksi (penyusunan kembali) pengalaman sehingga dapat menambah efisiensi individu dalam interaksinya dengan lingkungan dan dengan demikian mempunyai nilai sosial untuk memajukan kehidupan masyarakat. semuanya adalah fase pendidikan. development. masa kanak-kanak. berkembang. Tokoh aliran Pragmatisme antara lain John Dewey dan Williams James. di lingkungan sekitar. (2) pendidikan sebagai pertumbuhan. selalu menuju kepada pembaharuan. sekolah harus menyajikan kehidupan nyata dan penting bagi anak sebagaimana yang terdapat di dalam rumah. Hidup itu ialah a self renewing process through action upon environment. education is growth. Hidup itu selalu berubah. Dewey mengemukakan bahwa pendidikan berarti perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian. Pendidikan memiliki fungsi sosial jika mampu mengembangkan jiwa sosial pada anak karena sebagai individu anak juga sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi dengan individu lainnya. (Dewey dalam Krogh. Beberapa pandangan Dewey tentang pendidikan dapat dirangkum sebagai berikut. Dewey dalam bukunya Democracy and Education menekankan pentingnya pendidikan karena berdasarkan tiga pokok pemikiran. Bagi Dewey. dan pengubahan pengalaman hidup. Pendidikan sebagai agen pertumbuhan terjadi bilamana mampu mengembangkan potensi anak yang tersembunyi yang disebut potensialitas pertumbuhan. pengalaman pendidikan. 1994) Tujuan pendidikan diarahkan untuk mencapai suatu kehidupan yang demokratis. adalah karena adanya anggapan bahwa selain pendidikan sebagai alat. Masa pemuda dan masa dewasa. dan (3) pendidikan sebagai fungsi sosial. 2) Pendidikan adalah proses hidup itu sendiri dan bukan persiapan untuk hidup. Melalui tuntutan sosial ini anak dirangsang untuk mampu bertindak sebagai anggota suatu unit sosial tertentu. Demokrasi bukan dalam arti politik. 1) Insting dan potensi-potensi anak menjadi titik tolak untuk semua pendidikan. yang ada hanyalah tujuan instrumental karena tercapainya tujuan yang satu adalah alat untuk mencapai tujuan berikutnya. pendidikan adalah hidup itu sendiri. pendidikan yang benar hanya akan muncul dengan menggali keunggulan-keunggulan anak yang timbul dari tuntutan situasi sosial di mana dia menemukan dirinya sendiri. Artinya proses pendidikan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya tetatpi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu dalam hal ini pendidikan harus mampu memfasilitasi anak dalam melakukan proses sosialisasi sehingga dapat menjadi warga masyarakat yang diharapkan. 3) Sebagai lembaga sosial.

Ada lima langkah berpikir reflektif menurut Dewey (1994). Syarat pertumbuhan adalah adanya kebelumdewasaan atau kebelummatangan (immaturity). maka proses belajar pun berlangsung terus-menerus sejak lahir dan berakhir pada saat kematian. 1) merasakan adanya keraguan. Dengan demikian dari langkah kesatu sampai dengan langkah keempat terdapat gabungan berpikir deduktif dan induktif yang Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 8 . Pendidikan sama dengan pertumbuhan. Learning by doing ini berlaku bagi semua tingkatan usia anak. Pengalaman yang efektif adalah pengalaman yang reflektif. sedangkan kalau mengikuti sesuatu kita memperoleh akibat atau hasil belajar. Plastisitas mengandung pengertian kemampuan untuk berubah. Dewey menekankan pentingnya prinsip learning by doing atau belajar dengan bekerja. 2) Tujuan pendidikan harus mampu menimbulkan suatu metode yang dapat mempersatukan aktifitas pengajaran yang sedang berlangsung. karena belajar dengan bekerja adalah dua kegiatan yang tidak dapat dipisahklan seperti halnya pendidikan dengan kehidupan atau seperti halnya anak dengan masyarakat. bahwa pendidikan adalah pertumbuhan itu sendiri. 3) Pendidik harus tetap menjaga jangan sampai ada tujuan umum dan tujuan akhir. bersifat aktif mengubah lingkungan. ia memiliki semangat untuk berbuat. Pengalaman itu bersifat aktif dan pasif. Sesuai dengan pandangan Dewey. yaitu suatu proses yang berlangsung secara terusmenerus. Belajar dari pengalaman adalah menghubungkan pengalaman kita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang. Dewey mengemukakan beberapa karakteristik tujuan pendidikan yang baik sebagai berikut. dan kekuatan untuk tumbuh. 1) Tujuan pendidikan hendaknya ditentukan berdasarkan kegiatan dan kebutuhan intrinsik peserta didik. Kebergantungan berarti kemampuan untuk menyatakan hubungan sosial dan ini akan menyebabkan individu itu matang dalam hubungan sosial. Immaturity tidak berarti negatif tetapi positif. Ini menunjukkan bahwa anak didik adalah hidup. Kalau kita mengalami sesuatu maka kita berbuat. Langkah pertama dan kedua bersumber dari berpikir deduktif. 2) mengadakan interpretasi tentatif (merumuskan hipotesis). Pendidikan adalah pengalaman. kebingungan yang menimbulkan masalah. Pengalaman yang bersifat aktif berarti berusaha. Sebagai hasilnya. 4) memperoleh hasil dari pengujian hipotesis tentatif. Untuk mengetahui bagaimanakah proses belajar terjadi pada anak didik. Dalam proses belajar. dan 5) hasil pembuktian sebagai sesuatu yang dijadikan dasar untuk berbuat Metode berpikir reflektif atau problem solving yang dikemukakan di atas merupakan metode mengajar utama yang disarankan Dewey. Belajar dari pengalaman berarti mempergunakan daya pikir reflektif (reflective thinking) dalam pengalaman kita. sedangkan pengalaman pasif berarti menerima dan mengikuti saja. sebagai berikut. akan tumbuh kemampuan interdependensi atau saling kebergantungan antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain. yaitu kemampuan. yang berarti kemampuan untuk berkembang. Kapankah proses belajar itu dimulai dan kapankah berakhir. kecakapan. Plastisitas berarti juga habitat yaitu kecakapan menggunakan keadaan lingkungan sebagai alat untuk mencapai tujuan. pengalaman dan berpikir. Terdapat hubungan yang erat antara proses belajar. belajar melalui praktek. 3) mengadakan penelitian atau pengumpulan data yang cermat. akan tetapi sesuatu yang harus mereka lakukan sendiri. Pertumbuhan bukan sesuatu yang harus kita berikan. mencoba dan mengubah. sedangkan langkah ketiga dan keempat merupakan tahap berpikir induktif. pengalaman bersama dan komunikasi bersama. yakni kebergantungan dan plastisitas.way of life. kita lihat bagaimana syarat-syarat untuk pertumbuhan. Ada dua sifat immaturity.

Pengujian terakhir inilah yang paling menentukan karena kebenaran pragmatis ditentukan dalam realitas hidup manusia yang sebenarnya. dan memberikan rangsangan kepada anak untuk bereksperimen. hendaknya guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing atau peserta didik. berpikir dan menarik kesimpulan sendiri sesuai dengan minat yang ada pada dirinya. bagian dari lingkungan manusia yang mempunyai peranan dan fungsi khusus sebagai berikut. 2) Pendidik hendaknya menciptakan suatu situasi. Dalam penyusunan bahan ajar menurut Dewey hendaknya memperhatikan syaratsyarat sebagai berikut: (1) bahan ajar hendaknya kongkrit. Dengan demikian metode mengajar harus bersifat fleksibel. Pragmatisme tidak menolak metode mengajar lain selain problem solving sepanjang metode tersebut relevan dan dapat menimbulkan aktivitas serta inisiatif anak. anak didik tidak mungkin dapat memahami seluruh masyarakat yang sangat kompleks. Demikian pula. akan tetapi harus bersifat interdisipliner. maka peran guru adalah memberikan dorongan kepada peserta didik untuk bekerja bersama-sama. Bahan pelajaran harus merupakan kegiatan yang berkenaan dengan sesuatu masalah (problem). 1) Pendidik tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. dipilih yang betul-betul berguna dan dibutuhkan. Itulah sebabnya lembaga pendidikan merupakan masyarakat atau lingkungan hidup manusia yang disederhanakan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 9 . Sekolah harus menjadi laboratorium belajar yang hidup dan suatu model kerja demokrasi. Peranan pendidik menurut pragmatisme bukanlah sebagai instruktur yang mendominasi kegiatan pembelajaran. Hal yang terakhir memberikan implikasi bahwa sekolah perlu membuat kurikulum darurat untuk memenuhi minat dan kebutuhan anak. Melalui cara ini anak akan belajar dengan bekerja. Di sini para siswa dapat mengkaji masalah-masalah sosial yang pada umumnya sering dihadapi masyarakat. sehingga anak merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi. Tidak mungkin kita memasuk-kan seluruh peradaban manusia yang sangat kompleks ke dalam sekolah. dipersiapkan secara sistematis dan mendetil. harus mendorong anak untuk bergiat dan berbuat. Bertolak dari pernyataan di atas. sehingga timbul minat untukmemecahkan masalah tersebut. berisikan kemungkinan-kemungkinan. (2) pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar. hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru dan kegiatan yang lebih menyeluruh. Secara rinci peranan pendidik menurut pragmatisme adalah sebagai berikut. 4) Pendidik hendaknya dapat menciptakan siatusi yang menimbulkan kerja sama dalam belajar. Bahan-bahan pelajaran bagi anak didik tidak bisa semata-mata diambil dari buku-buku pelajaran yang diklasifikasikan dalam bentuk disiplin ilmu yang ketat. Lembaga pendidikan merupakan suatu lingkungan khusus. Lembaga pendidikan khususnya sekolah dipandang sebagai sebuah mikrokosmos dari masyarakat yang lebih luas. Lembaga pendidikan mempunyai fungsi-fungsi khusus sebagai berikut. 1) Menyediakan lingkungan yang disederhanakan. Bahan ajar harus berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji serta minatminat dan kebutuhan-kebutuhan anak. 3) Untuk membangkitkan minat anak. akan tetapi sebagai fasilitator. menyelidiki dan mengamati sendiri. antara murid dengan murid begitu pula natara guru dengan murid.kemudian hasil gabungan berpikir itu harus diuji kembali dalam implementasi.

e. Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Menurut pandangan eksistensialisme kebebasan adalah sahabat terbaik manusia. Eksistensialisme Pokok pemikiran filsafat eksistensialisme dicurahkan kepada pemecahan yang kongkrit terhadap persoalan “berada” mengenai manusia. bertransendensi ke atas. tertuju kepada mempertahankan diri dan mencari kepuasan. Prinsip-prinsip umum filsafat eksistensialisme dapat dikemukakan sebagai berikut. Karena keberadaan benda-benda tersebut tidak sadar akan dirinya sendiri. manusia memperlakukan dirinya sebagai obyek. merasakan ketiadaan dan keputusasaan. hakikat kepribadian. Eksistensialisme memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan. Berdasarkan pandangan filsafat pendidikan yang digambarkan di atas terdapat dua aliran filsafat yang dapat dijadikan landasan filosofis yang relatif dominan dalam pengembangan kurikulum PAUD. daya kreatif dan sosial individu yang mendorong kepada terciptanya kesejahteraan umum. dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. sedangkan manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya dan apa yang akan diperbuatnya. namun kebebasan dalam konteks eksistensialisme adalah kebebasan yang dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Anak didik tidak belajar dari masa lampau tetapi belajar dari masa sekarang untuk memperbaiki masa yang akan datang. karena keduanya membahas manusia. Pendidikan diartikan sebagai upaya mewujudkan diri sendiri melalui proses penghayatan dan belajar sendiri. Hakikat realitas adalah sesuatu yang independen. dan mewujudkannya dalam bentuk kebudayaan. dan kemerdekaan. dunia fisik ada dan ini dapat merupakan ancaman bagi realisasi dari tujuan personal. Manusia bukan semata-mata objek tetapi juga subjek yang dapat memberikan arti pada dirinya sendiri serta terhadap benda-benda lain karena manusia dapat memperlakukan obyek yang ada di luar dirinya sendiri. hubungan antar manusia. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 10 . Caranya manusia berada di dunia ini berbeda dengan caranya benda-benda lain di dunia. Lembaga pendidikan memberi kesempatan kepada setiap individu/ anak didik untuk memperluas lingkungan hidupnya. kesenian. menciptakan gagasan. dan (2) aliran pragmatisme yang memandang pendidikan sebagai proses reorganisasi dan rekonstruksi pengalaman individu sehingga dapat menambah efisiensi individu dalam interaksi dengan lingkungan dan dengan demikian mempunyai nilai sosial untuk memajukan kehidupan masyarakat. Manusia hidup di dunia ini berlangsung dalam keberadaan yang tidak sebenarnya (tidak autentik) dan dalam keberadaan yang sebenarnya. masalah hidup. 3) Mencari keseimbangan dari bermacam-macam unsur yang ada di dalam lingkungan. dan sebagainya. Hakikat pengetahuan cenderung kepada skeptisisme.2) Membentuk masyarakat yang akan datang yang lebih baik. tetapi ada beberapa standar moral yang imperatif. seseorang bebas memilih standar moral. Eksistensi adalah cara manusia berada. Hakikat manusia adalah dualisme tubuh dan jiwa dengan perhatian utama kepada jiwa. Dalam keberadaan yang sebenarnya manusia memperlakukan dirinya sebagai subyek. Realitas spiritual dapat atau tidak untuk ada. Tetapi tetap mengakui kemungkinan mencapai kebenaran sedangkan hakikat nilai menyatakan bahwa standar moral bersifat majemuk. yaitu (1) aliran realisme yang memandang pendidikan sebagai proses perkembangan intelegensi. moral. Dalam keberadaan yang tidak sebenarnya.

Standar normatif perkembangan ini akan menjadi kerangka acuan dalam menyusun standar kompetensi perkembangan sesuai dengan usia kelender masing-masing murid. Studi psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya. sosiologik maupun studi kasus. pengalaman interaksi anak dalam keluarga (termasuk kondisi spiritual-keagamaan. terutama pada masa kanak-kanak (balita). seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Studi ini lebih banyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya. cross sectional (cross lateral). Hal ini pernah dilakukan oleh Arnold Gessel. Terdapat perbedaan kondisi psikologis (mental ages) yang telah dimiliki dan dicapai setiap anak didik dibandingkan dengan standar perkembangan yang sesuai dengan usia kalender (sesuai usia). Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst yang mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. dari saat lahir sampai dengan dewasa. Studi longitudinal telah memperoleh sejumlah informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan. Walaupun secara normatif anak memiliki standar perkembangan yang relatif sama namun dalam proses pencapaiannya. kondisi ekonomi. setiap anak memiliki keunikan. tempo dan irama perkembangan masing-masing. ragam pemahaman kondisi psikologis pendidik dan anak didik menjadi konsep penting untuk memberikan acuan dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum. pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita dapat mengganggu perkembangan pada masamasa berikutnya. Kondisi psikologis pendidik dan anak didik ini akan digambarkan dalam landasan psikologis. Ia mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia. Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai individu dalam setiap tahap perkembangan. psikoanalitik. Beberapa konsep generik psikologi perkembangan dan perkembangan anak yang dijadikan landasan psikologis dalam naskah akademik ini diantaranya seperti berikut ini. kondisi sosial-antropologi yang dimiliki keluarga). Dalam konteks psikologi perkembangan dan perkembangan anak.2. baik yang bersifat longitudinal. Tuntutan akan tugas-tugas kehidupan masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Pemahaman tentang konsep perkembangan anak didik dapat diperoleh melalui studi perkembangan. a. Perbedaan tersebut dalam konsep perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor heriditas (faktor bawaan). Metode cross sectional (cross lateral) melakukan pengamatan dan pengkajian terhadap berbagai kelompok selama suatu periode yang singkat. Menurut Freud. Bagaimana cara anak belajar (psikologi belajar) dan faktor yang mempengaruhi belajar anak (psikologi pendidikan). mencatat ciri-ciri fisik dan mental. Metode studi kasus dilakukan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 11 . pola-pola perkembangan dan kemampuan serta perilaku mereka. setiap anak didik memiliki karakteristik dan tahapan perkembangan normatif yang relatif sama sesuai dengan usia kalender (cronological ages). Olson. Landasan psikologis merupakan acuan konseptual akademis yang berisi kajian konsep psikologi yang memberikan pemahaman berbagai konsep tentang perkembangan anak (psikologi perkembangan dan perkembangan anak). Landasan Psikologis Pendidikan anak usia dini pada berbagai kelembagaan sesungguhnya merupakan proses interaksi antara pendidik dengan anak didik untuk membantu anak mencapai tugas-tugas perkembangannya dan/atau memperoleh optimalisasi berbagai ragam potensi perkembangan. Dalam konteks interaksi edukatif.

dengan mempelajari kasus-kasus tertentu. moral. masa manusia belum beradab. Rousseau membagi seluruh masa perkembangan anak atas empat tahap perkembangan. pertama. masa anak (childhood). Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya. yaitu pendekatan pentahapan (stage approach). Masa anak (childhood). seperti kelompok individu berdasarkan jenis kelamin. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut. para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu. pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan. status sosial-ekonomi dan sebagainya. Hall menerapkan teori rekapitulasi. Havighurst. Studi seperti ini pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak. yaitu masa bayi (infancy). salah satu konsep dalam teori evolusi. pendekatan ipsatif adalah suatu pendekatan yang berusaha melihat individu berdasarkan karakteristiknya. Selain itu. agama. Masa remaja (adolescence). usia 0-4 tahun. Masa remaja awal (pubercence). Havighurst menyusun fase-fase perkembangan atas dasar problema-problema yang harus dipecahkannya dalam setiap fase. Dalam pentahapan yang bersifat menyeluruh dikenal tahap-tahap perkembangan dari Jean Jacques Rousseau. sosial. usia 4-8 tahun. Stanley Hall adalah salah seorang ahli psikologi Perkembangan penganut teori evolusi. ras. usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik. usia 15-25 tahun. Stanley Hall. G. masa perkembangan sebagai manusia primitif. sosial. usia 2-12 tahun. intelektual. b. usia 12-15 tahun. Menurut teori rekapitulasi. masa hidup sebagai manusia yang beradab. Tuntutan akan kemampuan memecahkan problema dalam setiap fase perkembangan ini oleh Havighurst disebutnya sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Dalam pendekatan pentahapan. moral dan kata hati. usia 12/13 tahun sampai dewasa. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki kesamaan dan perbedaan. yang merupakan masa kehidupan sebagai binatang melata dan berjalan. individu dikatagorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. perkembangan individu merupakan rekapitulasi dari perkembangan spesiesnya (ontogeny recapitulates phylogeny). yang mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja. Pendekatan ini lebih disenangi karena lebih jelas menggambarkan proses urutan perkembangan dan kemajuan individu. masa pertumbuhan seksual. Hall membagi keseluruhan masa perkembangan anak atas empat tahap. Dari ketiga pendekatan itu yang banyak dianut oleh para ahli psikologi perkembangan adalah pendekatan pentahapan. emosional. Masa puer (youth). masa manusia pemburu. seperti perkembangan fisik dan gerakan motorik. Havighurst membagi seluruh masa perkembangan anak atas lima fase. perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. dan masa Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 12 . masa anak awal (early childhood) 2/3 – 5/7 tahun masa anak (late childhood) dari 5/7 – masa pubersen. usia 8-12 tahun. dari 0-1/2 tahun. Masa kanak-kanak (infancy). pendekatan diferensial (differential approach) dan pendekatan ipsatif (ipsative approach). Masa remaja (adolescence). merupakan masa manusia beradab. dikenal dua variasi. yaitu masa bayi (infancy). masa adolesen awal (early adolescence) dari pubersen ke pubertas. masa bertualang yang ditandai dengan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yang pesat. dan lain-lain. Kedua. Robert J. religi dan sebagainya. Menurut pendekatan pentahapan. pendekatan yang bersifat khusus. pada perkembangan anak.

Bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuh bias menimbulkan rasa otonomi. menderetkan. yang terpenting adalah penguasaan dan kategori konsep-konsep. ♦ Tahap praoperasional. Erikson. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif. yaitu : ♦ Tahap I : Basic Trust vs Mistrust (0 – 1 tahun) Anak mendapat rangsangan dari lingkungan. Mereka sudah mampu berpikir secara deduktif. Melalui penguasaan konsep-konsep itu. Ia memusatkan studinya terhadap perkembangan psikososial. menyintesis. Dikuasai atau tidaknya tugas-tugas perkembangan pada suatu fase berpengaruh bagi penguasaan tugas pada fase-fase berikutnya. Tahap sensorimotor disebut juga sebagai masa descriminating and labeling. Untuk setiap fase perkembangan. Pada masa ini. anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi. Masa praoperasional atau masa prakonseptual disebut juga sebagai masa intuitif dengan kemampuan menerima perangsang yang terbatas. Ada delapan tahap perkembangan psikososial. usia 0-2 tahun. anak harus dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. induktif. ♦ Tahap konkret operasional. Erick Homburger Erikson merupakan salah seorang tokoh psikoanalisis pengikut Sigmund Freud. menganalisis. bahasa awal. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugastugas menggabungkan. dikenal pentahapan dari Piaget. Dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep Piaget. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks. waktu sekarang dan ruang yang dekat saja. Havighurst menghimpun sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai anak. sebaliknya menimbulkan rasa curiga ♦ Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (2 – 3 tahun) Anak sudah harus mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. usia 7-11 tahun. memisahkan. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan dari kemampuan kognitif anak. dan sebagainya. persepsi waktu dan tempat masih terbatas. Masa formal operasional disebut juga sebagai masa proportional thinking. ♦ Tahap formal operasional. mampu berpikir abstrak dan berpikir reflektif serta memecahkan berbagai persoalan. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya. usia 2-4 tahun. Bila dalam merespon rangsangan anak mendapat pengalaman yang menyenangkan akan tumbuh rasa percaya diri. anak mengenal lingkungan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapi dalam kehidupannya. ♦ Tahap 3 : Initiative vs Guilt (4 – 5 tahun) Pada masa ini anak harus dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua. usia 11-15 tahun. yaitu sebagai berikut. walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak. Dalam pendekatan pentahapan yang bersifat khusus. meyusun. Masa konkret operasional disebut juga masa performing operation. sebaliknya menimbulkan rasa bersalah.adolesen (late adolescence) dari masa pubertas sampai dewasa. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 13 . melipat dan membagi. sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menumbuhkan rasa malu dan ragu-ragu. ♦ Tahap sensorimotor.

♦ Tahap 8 : Integrity vs Despair (masa tua) Seseorang harus hidup dengan apa yang telah dijalaninya selama ini. Bigge dan Murice P Hunt (1980 : 226-227) ada tiga rumpun teori belajar yang memberikan penjelasan tentang bagaimana belajar itu terjadi. Seorang remaja akan berhasil memperoleh identitas diri jika ia dapat memenuhi tuntutan biologis. memiliki rasa bahwa ia adalah bagian dari sejarah kehidupan. termasuk tentang bagaimana cara anak usia dini melakukan aktivitas yang dinamakan belajar tersebut. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil. sebaliknya bila tidak menguasai. dalam dirinya akan tumbuh perasaan ingin berkarya. yaitu teori disiplin mental. menimbulkan rasa putus asa. takut menghadapi kematian.♦ Tahap 4 : Industry vs Inferiority ( 6 tahun – pubertas) Anak harus dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Dalam proses interaksi dengan lingkungan. behaviorisme dan cognitive gestalt field. psikologis dan sosial yang ada dalam kehidupan. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 14 . Sebaliknya. Perkembangan karena faktor belajar dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan dimana terjadi interaksi anak dengan manusia (orang dewasa. Jika seseorang gagal menjalin hubungan yang bersifat intim. Menurut Morris L. Secara ideal seyogyanya ia telah mencapai integritas diri. ♦ Tahap 5 : Identity & Repudiation vs Identity Diffusion (masa remaja) Masa remaja adalah masa mencari identitas diri. menyesali hidup. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan menumbuhkan keintiman dengan orang lain. ♦ Tahap 6 : Intimacy & Solidarity vs Isolation ( masa dewasa muda) Orang yang berhasil mencapai integritas identitas diri akan mampu menjalin keintiman dengan orang lain maupun diri sendiri. yang mampu menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi masyarakat. Seseorang yang berhasil melaksanakan perannya seperti yang dituntut oleh masyarakat. berarti ia belum mampu melebur identitas dirinya bersama orang lain. Pemahaman konsep tentang bagaimana anak belajar pada berbagai kondisi lingkungan tersebut dapat ditelaah dan digambarkan melalui psikologi belajar. Berbagai perkembangan yang terjadi pada anak usia dini diperoleh melalui kematangan dan belajar. banyak konsep psikologi belajar memberikan penjelasan dari berbagai perspektif sesuai kajian para ahli. Integritas diri adalah menerima segala keterbatasan yang ada dalam kehidupan. Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen sebagai hasil interaksi individu (anak) dengan lingkungannya. maka akan mengucilkan diri. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. masa mencari dan mendapatkan peran dalam masyarakat. Jika seorang dewasa muda masih takut kehilangan diri sendiri bila menjalin hubungan erat (intim) dengan orang lain. ♦ Tahap 7 : Generativity vs Stagnation (masa dewasa) Berperan sebagai orang dewasa yang produktif. jika tidak berhasil maka terburai identitasnya. teman dan adik) dan dengan lingkungan alam sekitar. sebaliknya jika tidak mampu berperan akan berkembang perasaan mandeg/stagnasi. Sebaliknya bila ia merasa tidak berbuat apa-apa dalam hidup. menimbulkan rasa rendah diri.

latihan bagian atau aspek tertentu. bersumber pada psikologi strukturalisme dengan tokoh utamanya Herbart. religi yang Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 15 . alam. dari kelahirannya atau secara herediter. yang jelas. Menurut aliran ini belajar adalah membentuk masa apersepsi. Demikian seterusnya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Teori disiplin mental theistic berasal dari psikologi daya. Melalui situasi demikian. Lingkungan. anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. berpikir. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau mengasai pengetahuan selanjutnya. semakin tinggi pula masa apersepsinya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan. disebut juga Herbartisme. mengingat. Bila daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.1) Menurut rumpun teori disiplin mental. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. budaya. Pendidikannya menekankan pendidikan umum (general eduation). Ada beberapa teori yang termasuk rumpun disiplin mental yaitu : disiplin mental theistic. tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan berkembang sendiri. Teori naturalisme atau natural unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic dengan tokoh utamanya Jean Jecques Rousseau. 2) Rumpun atau kelompok teori belajar yang kedua adalah Behaviorisme. Teori disiplin mental humanistic lebih menekankan keseluruhan. Menurut teori ini. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya. Potensipotensi perlu dilatih agar berkembang. disiplin mental humanistic. ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal. Kelebihan dari teori ini adalah mereka berasumsi bahwa individu bukan saja mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas. lingkungan manusia. Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki potensi-potensi. Teori disiplin mental humanistic bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles. keutuhan. Sama dengan kedua teori sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. menanggap. Teori belajar yang keempat adalah teori apersepsi. teori ini menekankan bagian-bagian. Reinforcement. pendidik atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif. Kalau seseorang menguasai hal-hal yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau diaplikasikan kepada hal-hal lain yang bersifat khusus. individu atau anak mempunyai sejumlah daya mental seperti untuk mengamati. semakin tinggi perkembangan anak. sekolah atau masyarakat. dan sebagainya. naturalisme dan apersepsi. Conditioning. Kelompok ini mencakup tiga teori yaitu SR Bond. Perbedaannya dengan teori disiplin mental theistic. apakah lingkungan keluarga. yang biasa disebut S-R Stimulus-Respon. Kelompok teori ini berangkat dari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensi apaapa dari kelahirannya. memecahkan masalah.

termasuk struktur tubuhnya sendiri. yaitu Law of readness. Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat diamati.membentuknya. pujian. Bila pada teori conditioning. hubungan stimulus dan respons akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan. Law of exercise or repetition dan Law of effect (Bigge & Thurst. yaitu untuk mencegah atau menghilangkan suatu perbuatan yang kurang baik atau tidak disetujui masyarakat. Menurut hukum latihan atau pengulangan (law of exercise or repetition). Reinforcement dapat berupa angka tinggi. Aliran ini bersumber dari psikologi gestalt field. eksploratif. sebelum anak-anak masuk kelas dibunyikan bel. Teori belajar dari rumpun ini adalah teori insight. sehingga setiap anak mendengar bunyi bel berarti tandanya masuk kelas. reinforcement. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan. sanksi. Di samping reinforcement positif dikenal pula reinforcement negatif. Tokoh utama teori ini adalah Edward L.L. Tokoh utama dari teori ini adalah Watson. Menurut hukum kesiapan (law of readness). Belajar atau pembentukan hubungan antara stimulus dan respons perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Ada tiga hukum belajar yang sangat terkenal dari Thorndike ini. imajinatif.Hull. Teori kedua dari rumpun behaviorisme adalah conditioning atau stimulusresponse with conditioning. Menurut teori ini belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Contohnya. Demikian halnya dengan belajar. Kesan indah yang diterima individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespon memetik bunga tersebut. Teori S-R Bond bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan teori pertama dari rumpun behaviorisme. hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang. terdiri atas rentetan hubungan stumulus respons. bunyi bel ini merupakan kondisioning bagi anak. Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat mental. 3) Rumpun yang ketiga adalah cognitive gestalt field. kondisi diberikan pada stimulus. ancaman. Teori ini berkembang dari teori psikologi. Gestalt field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan. Reinforcement ini berupa : peringatan. 1980 : 273). Selanjutnya. atau berupa hukuman. maka pada reinforcement kondisi diberikan pada respons. teguran. Thorndike. menurut hukum akibat (law of effect). yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori S-R Bond dan conditioning. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 16 . Menurut teori ini. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus respons sebanyak-banyaknya. Setangkai mawar merah dapat merupakan suatu stimulus dan direspon oleh mata dengan cara meliriknya. atau hadiah dengan maksud agar kegiatan yang dilakukan anak lebih giat dan sungguh-sungguh. dilihat. Teori ketiga adalah reinforcement dengan tokoh utamanya C. hubungan antara stimulus dan respon akan terbentuk atau mudah terbentuk apabila telah ada kesiapan pada system syaraf individu. kehidupan ini tunduk kepada hokum stimulus respon atau aksi-reaksi.

1) Perkembangan anak merupakan salah satu sasaran utama dalam kegiatan pendidikan atau pembelajaran pada berbagai satuan. terutama kegiatan Halfday dan fullday school. metode. bahkan sekalipun ia dalam keadaan sakit secara fisik biasanya anak akan tetap berusaha menunjukkan aktivitasnya terutama dalam melakukan kegiatan bermain. Keseluruhan masa tersebut diakui para ahli sebagai masa keemasan atau the golden ages pada anak usia dini. tahapan dan karakteristik perkembangan anak yang menjadi subjek didik. Selain konsep psikologi perkembangan. Model pembelajaran sentra memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dengan cara berpindah (bergerak) dari satu sentra ke sentra lainnya. Anak cenderung menunjukkan aktivitas berlebihan pada berbagai waktu dan kesempatan serta aktivitas seolah tidak mengenal lelah. Konsep perkembangan seperti inilah yang menjadi salah satu dasar pengembangan pembelajaran pada anak usia dini menggunakan konsep “moving class” atau kelas bergerak atau kelas berpindah dengan waktu bermain (dan belajar) lebih lama. secara psikologi proses interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik akan melibatkan kondisi psikologis lain seperti motivasi. Kondisi psikologis ini biasanya dipelajari dalam kajian konsep psikologi pendidikan. teknik dan proses pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan pada aspek perkembangan yang dialami anak. masa eksplorasi. kreatifitas. jenis dan jenjang pendidikan. karakteristik perkembangan anak yang perlu menjadi perhatian adalah terjadinya masa “over activity” . Konsep tersebut juga menjadi dasar dalam mengembangkan model pembelajaran sentra atau area. perkembangan anak dan psikologi belajar. Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari kajian landasan psikologis ini diantaranya adalah seperti berikut ini. masa bermain dan masa terjadinya aktivitas berlebihan atau over activity . 4) Melalui kegiatan moving in class anak-anak menunjukkan keaktifannya dalam bermain dan belajar sehingga secara bertahap akan merasakan dan mengalami kebutuhan langsung terhadap belajar. 3) Pada anak usia dini. Tahapan dimensi perkembangan akan memberikan acuan bagi pendidik untuk memperhatikan dan penyesuaikan berbagai komponen program. keberbakatan. 2) Kerangka landasan psikologis lainnya yang menjadi dasar dalam kurikulum ini adalah tahapan perkembangan anak pada berbagai dimensi perkembangan. Melalui kegiatan sentra anak akan selalui menunjukkan keaktifannya dalam belajar Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 17 . proses pembelajaran dan penilaian kemajuan anak (perkembangan anak).dan kreatif. Karakteristik perkembangan yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa sepanjang rentang perkembangan anak usia dini. Pemahaman atau insight merupakan citra diri atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan harus diperhatikan berbagai aspek/dimensi. Masa keemasan ini merupakan masa yang paling penting dan menjadi dasar bagi perkembangan anak selanjutnya sampai anak mencapai tingkat dewasa. masa yang menunjukkan terjadinya aktivitas yang berlebihan pada anak. Dengan demikian guru akan selalu menyesuaikan strategi pmbelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan anak sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan proses pembelajaran yang appropriate. khususnya pada usia 3-6 tahun ditandai oleh masa-masa penting seperti masa peka. minat.

perkembangan otaknya 20% atau 30% lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu. Penelitian terbaru menemukan bahwa apabila anak-anak jarang diajak bermain atau jarang disentuh. Letupan tersebut merangsang bertambahnya produksi myelin yang dihasilkan oleh zat perekat glial. otak akan memusnahkan sambungan (sinapsis) yang jarang digunakan. Pada fase perkembangan ini anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan berbagai kemampuannya yang meliputi kemampuan berbahasa. Optimalisasi kecerdasan dimungkinkan apabila sejak usia dini. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya.3. kognitif. Bila anak tidak mendapat lingkungan yang merangsangnya. Semakin banyaknya zat myelin yang diproduksi maka semakin banyak dendrit-dendrit yang tumbuh. Lingkungan kehidupan sosial dan kultur yang ada di sekitar anak akan memberikan pengaruh pada proses belajar anak dan perubahan potensi sebagai hasil dari proses belajar itu sendiri. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 18 . Sesudah kelahiran. Melalui persaingan alami. Temuan yang dimaksud diantaranya dikemukakan oleh Wittrock (dalam Clack. Berbagai penelitian telah dilakukan para ahli dimulai dari Binet-Simon (19081911) hingga Gardner (1998) yang berbicara pada fokus yang sama yaitu fungsi otak yang terkait dengan kecerdasan. Pemantanpan sambungan terjadi apabila neuron mendapatkan informasi yang mampu menghasilkan letupan-letupan listrik. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi kualitas kemampuan otak sepanjang hidupnya. 1983) menemukan bahwa terdapat tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat yaitu serabut dendrit. Synap ini akan bekerja secara cepat sampai usia anak lima-enam tahun. terutama pengalaman yang menyenangkan. anak telah mendapatkan stimulasi yang tepat untuk perkembangan otaknya. kegiatan otak dipengaruhi dan tergantung pada kegiatan neuron dan cabang-cabangnya dalam membentuk bertriliun-triliun sambungan antar neuron. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung dari banyaknya neuron yang membentuk unit-unit. sosialisasi dan sebagainya. Landasan Neurosains Neurosains merupakan salah satu lompatan keilmuan pendukung yang sangat memberikan kontribusi dalam menelaah dan memahami perkembangan psikologis melalui kajian keilmuan tentang sel syaraf. sehingga akan semakin banyak synap yang berarti lebih banyak neuronneuron yang menyatu membentuk unit-unit. Sambungan-sambungan antar neuron inilah yang akan membentuk pengalaman yang akan dibawa anak seumur hidupnya. Landasan Sosio-Antropologi Perkembangan anak pada berbagai dimensi perkembangan tidak pernah terlepas dasi konteks kehidupan sosial dan kultural yang melatar belakanginya. motorik. Begitu pentingnya fungsi otak sehingga banyak ahli untuk meneliti dan menggali optimalisasi fungsi kerja otak dalam mengembangkan sumber daya manusia. Otak yang berada di dalam organ kepala memiliki peran yang sangat penting selain sebagai pusat sistem syaraf juga berperan penting dalam menentukan kecerdasan seseorang. kompleksitas hubungan dendrit dan pembagian sel syaraf. Kehidupan sosio-kultural yang paling dekat dengan anak adalah lingkungan keluarga. Pada saat kelahiran. 4. maka perkembangan otaknya tidak akan berkembang dan anak akan menderita. otak bayi mengandung 100 milyar neuron dan satu triliun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk sambungan antar neuron.

Oleh karenanya PAUD diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan belajar dan bimbingan belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas genetisnya. Pembentukan sel syaraf otak. terjadi saat anak dalam kandungan. Perilaku anak juga beragam. Ki Hadjar Dewantara(1957) merangkum semua potensi anak menjadi cipta. yaitu sejak dalam kandungan. dan 80% pada usia delapan tahun. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 19 . Pertumbuhan dan perkembangan telah dimulai sejak prenatal. demikian pula langgam belajarnya. cara berpikir. Kurikulum yang dikembangkan harus mengakomodasi dan mempertimbangkan secara cermat berbagai kondisi sosio-kultural seperti itu. bakat dan minat sendiri. rasa. Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengenal pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus. kehidupan beragama dan bermoral dan kebiasaan mengendalikan emosi serta kemandirian. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak tidak sama. dan ada yang kurang cerdas. Hakikat Anak Usia Dini a. Oleh karena itu guru harus memahami kebutuhan khusus dan kebutuhan individual anak. Memang disadari ada faktor-faktor pembatas. ada yang sangat cerdas. tetapi hubungan antar sel syaraf otak (sinap) terus berkembang. matematika. Ada anak yang berbakat menyanyi. terutama TV. ada pula yang berbakat menari. Teori Multiple Intelligencies (Kecerdasan Ganda) dari Gardner (1998) menyatakan ada delapan tipe kecerdasan. PAUD bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi setiap anak agar dapat berkembang secara optimal sesuai tipe kecerdasannya. sebagai modal pembentukan kecerdasan. dan adapula yang berbakat olah raga. Konteks sosio-kultural dapat menyajikan sejumlah pengetahuan. yaitu faktor-faktor yang sulit atau tidak dapat diubah dalam diri anak yaitu faktor genetis. ada yang biasa saja. 5.tetangga dan lembaga sosial serta lembaga kependidikan lain yang mengasuhnya. Anak usia dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Dengan memahami kebutuhan khusus setiap anak diharapkan para guru mampu mengembangkan potensi anak dengan baik. tetapi amat jarang yang memiliki secara sempurna delapan kecerdasan tersebut. Seiring dengan pengalaman interaksional anak dengan kehidupan sosial dan kulturalnya. desakan untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak azasi anak juga menjadi salah satu koridor yang perlu dan mendesak untuk dipertimbangkan dalam menata serta mengembangkan kurikulum utuh untuk PAUD. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda. dan karsa. kehidupan sosial anak dibangun juga oleh kehadiran berbagai media masa. Biasanya seorang anak memiliki satu atau lebih kecerdasan. Video Games dan Film sebagai produk kultural manusia akan menjadi faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Begitu pentingnya usia dini. Keunikan Anak Usia Dini Setiap anak bersifat unik. tidak ada dua anak yang sama sekalipun kembar siam. Pada dimensi yang luas. nilainilai dan pengalaman hidup yang beragam sehingga anak akan memiliki sejumlah preferency dalam membangun kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri atau secara bersama-sama dengan orang lain. Setelah lahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak. bahasa. memiliki kelebihan. sampai ada teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai. Pengalaman sosial dan kultural akan menjadi pengisi perspektif kehidupan anak dalam berbagai aspek potensi perkembangannya mencakup cara berbahasa. keterampilan.

Montessori. Vygotsky. Untuk itu orangtua dan guru anak usia dini perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat PAUD agar dapat memberi pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak. perkembangan moral (termasuk kepribadian. b. seperti melarang anak untuk bermain. sebaliknya banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak. dan akhlak). salah satunya ialah PAUD yang membahas pendidikan untuk anak usia 0-8 tahun. diperlukan berbagai kegiatan yang dilandasi dengan ilmu psikologi. PAUD adalah ilmu multi dan interdisipliner. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ilmu Pendidikan telah berkembang pesat dan terspesialisasi. dan Smilansky menjelaskan cara belajar anak dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Cara Belajar Anak Usia Dini Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. 6. ilmu Biologi perkembangan anak. emosional. beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu usia dini (usia 0-8 tahun) juga disebut tahun emas atau golden age. Selanjutnya setelah lahir terjadi proses mielinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antar sel syaraf. ilmu matematika untuk anak. Anak tipe auditif. ilmu Bahasa. bahkan pada saat lahir jumlah sel otak tidak bertambah lagi. Makanan bergizi dan seimbang serta stimulai pikiran sangat diperlukan untuk mendukung proses tersebut. ilmu pendidikan.. sosial. Bruner. Untuk mengembangkan kemampan intelektual anak. PAUD telah berkembang dengan pesat dan mendapat perhatian yang luar biasa terutama di negaranegara maju karena mengembangkan sumberdaya manusia lebih mudah jika dilakukan sejak usia dini. Berbagai teori belajar pada anak seperti teori Piaget. ilm Seni. dua hal yang sangat penting dalam pembentukan kecerdasan. misalnya. Sel-sel tubuh anak tumbuh dan berkembang amat cepat. dan bahasa juga berlangsung amat pesat. watak. Oleh karena itu jika ingin mengembangkan bangsa yang cerdas. Sering guru dan orangtua mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. artinya tersusun oleh banyak disiplin ilmu yang saling terkait. serta berbudi luhur hendaklah dimulai dari PAUD. intelektual. Anak usia tersebut dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia di atasnya sehingga pendidikan untuk anak usia tersebut dipandang perlu untuk dikhususkan. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami karakteristik anak agar dapat memberi bantuan belajar yang paling tepat. tidak dianggap sebagai pelengkap. Itulah sebabnya negara-negara maju amat serius mengembangkan PAUD. Oleh karena itu teori belajar tersebut perlu dipilih dan disesuaikan dengan karakteristk anak serta materi ajarnya. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik. Bandura. ilmu Pendidikan. dan ilmu-ilmu terkait lainnya saling erintegrasi untuk membahas setiap persoaan PAUD. Case. ilmu Gizi. Ilmu Psikologi perkembangan.Anak usia dini juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat. berbeda cara belajarnya dengan tipe visual dan kinestetik. sains Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 20 . Bermain erupakan cara belajar yang sangat penting bagi anak usia dini. Neurosains. Tahap awal perkembangan janin sangat penting untuk pengembangan sel-sel otak. tetapi sama pentingnya dengan pendidikan SD atau sekolah menengah. Modalitas belajar anak juga berbeda-beda. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit diterima anak dan banyak hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orangtua. sehingga cara anak belajar berbeda pula.

Interaksi anak dengan benda dan dengan orang lain diperlukan untuk belajar agar anak mampu mengembangkan kepribadian.untuk anak. dan sosial-komunal. Pembelajaran mengembangkan semua aspek perkembangan. Seting Lingkungan Belajar Untuk membelajarkan anak. a.emosional. Ia belum mengetahui tatakrama. menghargai dirinya (self esteem). sehingga anak secara tidak sadar telah belajar berbagai hal. Banyak pertanyaan dari guru dan orangtua tentang bolehkan mengajarkan anak berhitung. aturan. seni. yaitu siap belajar berhitung. dimana esensi bermain menjiwai setiap kegiatan pembelajaran amat penting bagi PAUD. ke arah prososial. dan intelektual. Materi pembelajaran PAUD juga amat variatif. membuat anak tertarik untuk ikut serta. norma. aktif. Esensi bermain meliputi perasaan senang. dan berbagai hal tentang dunia. dan seterusnya. Beberapa komponen yang terkait dengan pendidikan anak usia dini adlah sebagai berikut. budaya. demokratis. (3) kognitif (intelektual). Adapula yang menyatakan bahwa PAUD juga mempersiapkan anak untuk siap belajar (ready to learn). meliputi (1) moral dan nilai-nilai agama. menulis. berperilaku. Pembelajaran PAUD Pembelajaran bersifat holistik dan terpadu. moral. tidak terpaksa. (4) bahasa. emosional. Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. dan kemampuan akan dirinya (self efficacy). tetapi yang penting ialah anak sudah siap dan guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk belajar anak. Penataan lingkungan belajar dan fasilitas belajar untuk anak usia dini amat penting Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 21 . Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Usia dini merupakan saat yang amat berharga untuk menenamkan nilai-nilai nasionalisme. PAUD membimbing anak yang premoral agar berkembang ke arah moral realism dan moral relativism. c. (2) sosial. sopan-santun. dan berkreasi. (5) Fisik-motorik. agama. b. membaca. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mulai mengenal dunia. Pembelajaran juga melatih anak menganal jati dirinya (self identity). Bermain sambil belajar. dan menulis. dan akhlak yang mulia. watak. Guru memasukkan unsur-unsur edukatif dalam kegiatan bermain tersebut. Kurikulum PAUD Kurikulum PAUD bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh seuai kultur. dan merdeka menjadi jiwa setiap kegiatan. fisik-motorik. Ada pendapat yang menyatakan bahwa PAUD hanya mengembangkan logika berpikir. lingkungan perlu ditata agar kondusif untuk belajar. kemampuan berbahasa. Pembelajaran membimbing anak dari yang bersifat egosentris-individual. Satu kegiatan dapat menjadi wahana belajar berbagai hal bagi anak. dan falsafah suatu bangsa. yang penting PAUD mengembangkan aspek moral-agama. Ada pula yang menyatakan bahwa materi pembelajaran bebas. etika. Pembelajaran bersifat terpadu yaitu tidak mengajarkan bidang studi secara terpisah. Bukannya tidak boleh mengajarkan semua itu. sosial. dan tidak terpaksa. (6) Seni. kebangsaan. etika. membaca. dan sosial yang berguna untuk kehidupannya dan strategis bagi pengembangan suatu bangsa. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. Pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan.

juga memiliki segi negatif bila tidak digunakan dengan benar. Produk teknologi. sekolah perlu bekerjasama dengan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah. ahli komputer. kucing. isi kelas. dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak. Di sekolah anak-anak juga perlu mainan yang aman dan baik untuk belajar. keseimbangan. catatan narative (narrative record). menyirami. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami seting lingkungan belajar anak usia dini. Berbagai jenis alat permainan yang mengembangkan motorik kasar atau otot-otot besar yang diperlukan untuk membentuk fisik anak agar tumbuh dengan baik. Di TK dan SD awal anak-anak belajar dalam kelas dan di luar kelas. Motor. kecekatan/ketangkasan. Dispenser. Mobil. Salah satu ciri masyarakat modern ialah melek teknologi. Sesuai dengan bakat dan minatnya kelak anak ada yang menjadi ahli pertanian. catatan cepat (running record). Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 22 . dan bagaimana penggunaannya. ahli motor bakar. Demikian pula pengalaman menanam. dan sebagainya. Asesmen Otentik Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar anak usia dini digunakan Asesmen Otentik. apa saja isinya. d. DVD program dan internat yang tidak baik untuk anak usia dini. TV. dan memupuk tanaman. Melalui pemantauan secara terus menerus. Untuk mengenalkan teknologi kepada anak. Di rumah. Penataan kelas. atau hewan yang lain amat menarik bagi anak. dalam berbagai konteks.untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. bagaimana cara menyusunnya. dan koordinasi sangat diperlukan. program tayangan dalam bentuk VCD. ahli radio. Lingkungan belajar juga harus memberi pengalaman belajar yang menarik dan kaya ragam bagi anak. Kalkulator. dan Komputer merupakan barang keseharian yang dijumpai anak. Pemanfaatan Teknologi Pemanfaatan teknologi untuk optimalisasi pembelajaran anak di era global juga disertakan untuk membekali para calon guru bagaimana menggunakan teknologi canggih untuk membelajarkan anak. e. Banyak acara TV. Penataan kelas juga amat penting. seperti catatan anekdot (anecdotal record). ketahanan. Untuk itu sejak anak-anak mereka perlu diperkenalkan dengan produk teknologi agar dapat beradaptasi secara aman dan ketertarikan untuk mengembangkannya kelas. Hasil karya anak. hasil pengamatan guru. dan fungsinya sangat mempengaruhi kegiatan belajar anak. guru dan orangtua dapat memberi bantuan belajar yang pas sehingga anak dapat belajar secara optimal. Kulkas. Para guru perlu memahami peranan “Pojok Belajar” (Learning Center dan Learning Area). di samping segi positifnya. Akuarium dan terarium sama menariknya bagi anak dengan pasel dan game. Oleh karena itu asesmen otentik dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Mengamati perkembangan anak ayam. dan informasi dari orangtua diperlukan untuk memotret perkembangan belajar anak. Video. Kompor gas. Berbagai teknik dan instrumen asesmen. Berbagai alat permainan dan fungsinya bagi PAUD perlu dipahami dan digunakan dengan cara yang benar. Radio. anak-anak memerlukan mainan yang tidak perlu mahal tetapi baik dan aman untuk belajar anak. Halaman sekolah didisain dengan baik agar berfungsi sebagai tempat bermain dan belajar anak. Kamera. Pengenalan teknologi diharapkan akan memberi wawasan dan juga menarik anak untuk mengembangkan cita-cita (learning to be) untuk menjadi ahli dalam teknologi atau ahli dalam bidang tertentu. dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak. Alat permainan untuk mengembangkan kemampuan dasar anak seperti kekuatan. sample kegiatan (event sampling).

Oleh karena itu kerjasama yang baik ketiga unsur tersebut dalam PAUD sangat diperlukan g. Model-model Kurikulum PAUD Pendidikan anak usia dini (early childhood education) merupakan suatu disiplin ilmu pendidikan yang secara khusus memperhatikan.bagaimana cara menggunakan produk teknologi dengan benar agar tidak memberi efek negatif pada anak. dan instansi lainnya sangat penting untuk PAUD. seperti Bina Keluarga Balita. Posyandu. sekolah. bengkel. dan masyarakat. menelaah dan mengembangkan berbagai interaksi edukatif antara anak usia dini dengan pendidik untuk mencapai tumbuh kembang potensi anak secara optimal. masyarakat dan sekolah). dan dengan masyarakat. pertanian. Ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis dan praksis tentang isi dan proses pendidikan yang terjadi antara anak usia dini dengan lingkungan masyarakat. Sekolah amat terbatas dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak. Pendidikan anak usia dini secara akademik dan praksis dapat dipelajari. f. Taman Bermain. baik dengan kelompok profesional PAUD. dalam profesi. Kerangka ontologis pendidikan anak usia dini mencakup berbagai interaksi edukatif pada wilayah situasi pendidikan (keluarga. seperti kebun. perikanan. epistimologis dan aksiologis yang merupakan dasar suatu ilmu. Sebagai rumpum keilmuan. Untuk itu kerjasama antar guru di dalam satu sekolah. dan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat sangat diperlukan. Trilogi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga. Sanggar Kreatvitas anak dan Taman Pengasuhan Anak. pendidikan anak usia dini memiliki kerangka ontologis. Nilai aksiologis dari gambaran isi dan proses pendidikan anak usia dini dalam keluarga dapat dijadikan panduan dan perbandingan bagi orang tua maupun calon orang tua untuk membimbing dan membina tumbuh kembang anak secara optimal dalam lingkungan keluarga. Kajian ontologis ini memberikan keluasan wilayah terapan dan pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini sehingga akan memiliki nilai guna (aksiologis) yang luas untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Interaksi edukatif antara anak usia dini dengan orang dewasa dalam keluarga merupakan salah satu bentuk kajian khusus yang memberikan gambaran tentang isi dan proses pendidikan yang dapat diterapkan dan dikembangkan dalam seting keluarga. Uraian pada bab 3 telah memberikan beberapa model yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini pada berbagai seting kelembagaan. dengan doketer atau Puskesmas. Studi literatur menunjukkan bahwa ilmu pendidikan anak usia dini menyajikan berbagai kajian akademik tentang berbagai model isi dan proses pendidikan yang dapat diberikan dan dikembangkan pada anak usia dini. stasiun kereta api. bank. ditelah dan diterapkan serta dikembangkan dalam seting keluarga. Posyandu. dengan orangtua anak. perpustakaan. Lembaga semi formal ini sudah tentu perlu dan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 23 . tetapi harus menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai elemen. Berbagai fasilitas yang ada di masyarakat. Pada lingkungan masyarakat ini sudah mulai muncul berbagai lembaga pendidikan non formal yang memberikan perhatian khusus pada pengembangan anak usia dini. PAUD sebaiknya memberi kaya pengalaman belajar pada anak dengan multikonteks seperti tersebut. Kerjasama Sekolah-Masyarakat Institusi dan Guru PAUD tidak bias bekerja sendiri. Peranan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah maupun secara luas amat diperlukan.

harus mempelajari dan menerapkan berbagai isi dan proses pendidikan pada anak usia dini dengan benar sesuai dengan rujukan akademis yang secara khusus mempelajari hal tersebut. Pendekatan pertama dilakukan dengan model proses pematangan (maturitional models). Baer. Freud dan Erikson. Anak-anak dibentuk dalam suatu kelompok yang heterogen. diteliti dan dikembangkan oleh para ahli dengan menggunakan kerangka filosofis. Penjajakan pada kemampuan anak dilakukan melalui observasi secara keseluruhan yang mencakup hal-hal yang bersifat fisik. rumpun ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis dan praksis tentang isi dan proses pendidikan dalam seting persekolahan. termasuk didalamnya adalah kajian tentang model kurikulum untuk anak usia dini. Disamping itu. pengembangan kurikulum anak usia dini secara garis besar dikelompokan dalam tiga model. Perlengkapan ruangan diisi dengan bahan-bahan multi dimensi yang melayani berbagai kegiatan ekpresi seperti bahasa. Anak-anak bebas memilih aktivitas yang diinginkan. matematika. pendekatan dan model yang beraneka ragam. model dan pendekatan yang beraneka ragam. a) Aspek Administrasi Lingkungan ruangan diperhitungkan untuk memberikan mobilitas maksimal bagi perkembangan anak. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari kematangan psikologis (kesiapan) dan situasi lingkungan yang mengandung tingkah laku tertentu (tugas-tugas perkembangan). Ketiga pendekatan tersebut dapat dijelaskan secara global sebagai berikut : 1) Pendekatan Model Pematangan (Maturations Models) Menurut pandangan ini. Pendekatan kedua dikenal dengan model tingkah laku-lingkungan yang didasarkan pada teori Skinner. gerak dan estetika. b) Aspek Pendidikan Aktivitas terdiri dari unit dan tema yang luas yang didasarkan pada studi minat anak. anak-anak memiliki blueprint (cetak biru) pola tingkah laku tertentu. kognitif dan afektif. Susunan kegiatan belajar yang fleksibel dirancang untuk memenuhi kebutuhan dn minat anak-anak. Bijou dan Bandura. Dari sudut epistimologi. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 24 . Paradigma sekolah pada anak usia ini telah dipelajari. kajian tentang metodologi pembelajaran anak usia dini telah dikembangkan dengan acuan filosofis. Pendekatan ini didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Gessel. Untuk menggunakan model tersebut beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut. Sesuai dengan kerangka landasar filsafat yang telah dibahas sebelumnya. Pendekatan ketiga dilakukan dengan menggunakan model interaksi yang didasarkan pada teori Piaget dan Vygotsky. Penyusunan aktivitas didasarkan pada tema yang disusun melalui berbagai permainan. Pusat-pusat pembelajaran hanya segala sesuatu yang telah dibatasi (ditentukan) memiliki dampak terhadap perkembangan anak. kognitif dan efektif. Pada saat tertentu dilakukan secara homogen berdasarkan pada usia/tahap perkembangan. Keragaman ini memberikan pilihan model untuk diterapkan dan dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini yang bekerja pada seting sekolah seperti Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Kelas awal (primary grade). c) Evaluasi Program Program dianggap berhasil jika anak-anak memperoleh kemajuan dalam hal fisik. Strategi pemberian motivasi dilakukan melalui motivasi instrinsik verbal misalnya do’a (harapan).

memecahkan persoalan serta menemukan berbagai cara mengembangkan gagasan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 25 . a) Komponen Administratif Lingkungan ruangan dirancang untuk memberikan keuntungan pada anak-anak dalam mencapai berbagai aktivitas. Perlengkapan ruangan ditata berdasarkan penajaman pada beberapa pusat perhatian serta terdiri bahan-bahan unidimensional model yang menyajikan program tersendiri sesuai sasaran dan melayani satu bentuk kegiatan ekspresi tertentu (misalnya bahasa). Materi pembelajaran yang sama seringkali menjadi harapan untuk dikuasai oleh seluruh murid. Menurut model tersebut. 3) Model Interaksi Model pengembangan kurikulum ini didasarkan pada konsep teori Piaget. Pengelompokan anak disusun berdasarkan kelompok homogen dari segi kemampuan yang dimiliki anak. Baer. Pengajaran dilakukan langsung secara ekspositori pada sejumlah unit kecil dari bahan-bahan materi yang diperoleh dari tugas-tugas besar dan berjenjang (sequensial). c) Evaluasi Program Program dianggap berhasil jika anak-anak memiliki prestasi belajar secara khusus yang seringkali bersifat akademik seperti persipan untuk mengikuti sekolah selanjutnya. Dalam melaksanakan model kurikulum seperti ini pada anak usia dini perlu diperhatikan halhal berikut. Staf berkedudukan sebagai perencana dan pengendali berbagai situasi lingkungan.2) Model Aliran Tingkah Laku-Lingkungan Model ini didasarkan pada teori Skinner. anak-anak dilahirkan dengan suatu batu tulis kosong (blank slate). Bijou dan Bandura. a) Komponen Administratif Lingkungan ruangan diperhitungkan pada pusat perhatian anak serta menghindari hal-hal yang akan mengganggunya. Perlengkapan pada setiap ruangan terdiri atas berbagai bahan multi dimensi yang dapat dipergunakan anak melakukan eksplorasi. Pengelompokan anak disusun berdasarkan kelompok homogen dari segi kemampuan yang dimiliki anak. Model ini beranggapan bahwa perkembangan anak merupakan hasil perpaduan antara heriditas dan pengaruh lingkungan. Strategi pemberian motivasi dilakukan dengan menggunakan sistem insentif. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari penguatan peristiwa yang terencana dan yang tidak terencana. tingkah laku anak yang pasif dibentuk oleh kondisi lingkungan. Berbagai aktivitas yang dilakukan orang dewasa hampir seluruhnya digambarkan sebagai miniatur tingkah laku. Pusat-pusat pembelajaran lebih dibatasi dibandingkan dengan model pematangan tetapi anak-anak dapat berinteraksi antara berbagai pusat pembelajaran. Berbagai aktivitas dihasilkan oleh bentuk pengajaran langsung yang dilakukan guru. b) Aktivitas Pendidikan Berbagai aktivitas yang berorientasi pada tujuan dirancang untuk mencapai pembelajaran budaya secara khusus (biasanya budaya akademik yang alamiah). Perkembangan akan terjadi pada seseorang ketika orang melakukan pengorganisasian diri yang dicapai pada tahap optimal oleh peristiwa yang dieksperientasikan. Daerah antara ruangan dibatasi secara jelas yang seringkali dengan pembatas yang tinggi. misalnya melalui latihan atau drill.

pengetahuan logika matematika. misalnya ‘epistemic curiosity ‘. 3. misalnya pengetahuan fisik. Staf bertindak sebagai pemerhati munculnya berbagai pengalaman muncul pada anak pada tahapan perkembangan tertentu. baik di tingkat negara (pemerintah) sebagai pemegang amanah untuk memenuhi hak-hak dasar anak maupun tingkat pelaksana PAUD. misalnya strategi pemecahan masalah. elaborasi keterampilan dan teknik bertanya. Undang Undang RI No. Penentuan batas waktu yang lama pada setiap situasi pembelajaran yang memungkinkan anak melakukan berbagai kegiatan eksploratif. orang dewasa bertindak aktif misalnya memberikan berbagai pengalaman baru pada anak namun pada kesempatan lain bertindak pasif menunggu anak-anak mencapai tahapan pembelajaran yang stabil. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. khususnya dalam memenuhi kebutuhan anak pada aspek pendidikan. Landasan yuridis ini diharapkan akan membantu proses pengembangan kurikulum PAUD dengan memperhatikan dan mengakomodasi kesepakatan yuridis. Berbagai rancangan aktivitas pembelajaran ditunjukkan oleh strategi pemecahan masalah. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 14 Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 26 . Orang dewasa juga sering menekankan bahasa yang harus dimiliki anak untuk mengembangkan berbagai konsep. c) Evaluasi program Program dianggap berhasil jika anak-anak mencapai kemajuan pada tahap perkembangan yang tinggi. Pembukan UUD 1945 …. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Anak-anak banyak bekerja secara individual. Pengelompokan anak dilakukan secara heterogen (kelompok yang berbeda) dari berbagai sudut pandangan. 1. Situasi akademik sering dihadirkan melalui suatu unit atau tema. tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. … Hak Asasi Manusia Pasal 28 B ayat 2. kesehatan dan perlindungan anak. Pada suatu waktu. Berbagai rancangan aktivitas an dengan menggunakan motivasi instriksik. B. Perlengkapan yang disusun harus memenuhi kebutuhan anak pada bahan-bahan kongkrit dan representatif. elaborasi keterampilan dan teknik bertanya. Landasan Yuridis Fomal Landasan yuridis digunakan sebagai dasar hukum kerangka kebijakan dalam mengembangkan kurikukum PAUD. pengetahuan pembagian waktu temporal dan pengetahuan sosial. Beberapa landasan yuridis yang dijadikan acuan adalah sebagai berikut. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Situasi akademik sering dihadirkan melalui suatu unit atau tema. Susunan aktivitas pembelajaran anak dilakukan untuk mencapai penguasaan konsep yang bersifat temporal. b) Komponen Pendidikan Aktivitas pendidikan menekankan pada pembelajaran yang bersifat heuristik.yang bersifat konseptual. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.

Pasal 9 (1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. ayat (3). Deklarasi Dakar Tentang Pendidikan Untuk Semua (1) Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diksriminasi. World Fit For Children 2002 (1) Mencanangkan kehidupan yang sehat (2) Memberikan pendidikan berkualitas (3) Perlindungan terhadap aniaya. 5. (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 27 . (4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB). khususnya anak perempuan. dan/ atau informal. Raudhatul Athfal (RA). sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. terutama bagi kaum perempuan. (4) Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa menjelang tahun 2015. Undang Undang No. ayat (2). dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. nonformal. (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. tumbuh. Taman Penitipan Anak (TPA). Pasal 28 (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa. (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK). eksploitasi dan kekerasan (4) Memerangi HIV/AIDS 6. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 4 Setiap anak berhak untuk dapat hidup. (3) Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup (life skills) yang sesuai. atau bentuk lain yang sederajat. (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. (2) Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak. berkembang. 4. atau bentuk lain yang sederajat. mempunyai akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. (2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). anak-anak dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk minoritas etnik.rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

sehingga hasil-hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua. Penelitian Erikson mengungkapkan bahwa perlakuan terhadap anak usia dini memiliki efek jangka panjang.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 29 (1) Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki: a. atau sedang galau batinnya menunjukkan motivasi yang rendah. Berbagai penelitian PAUD telah dilakukan untuk mengungkap bagaimana pendidikan yang baik bagi anak usia dini. dan motivasi belajarnya tinggi. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA. dan c. c. atau psikologi. Di satuan PAUD yang memberi jaminan anakanak memperoleh makanan dan minuman yang cukup dan bergizi menunjuk-kan anakanak tampak lebih sehat.(5) Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun 2005 dan mencapai persamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015 dengan suatu fokus jaminan bagi perempuan atas akses penuh dan sama pada prestasi dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik. (6) Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini. angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting. dan d. Pasal 30 (1) Pendidik pada TK/RA sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan. dan pemurung. Berstatus sebagai guru TK/RA. b. C. Perlakuan yang baik yang sesuai keinginan anak pada usia satu tahun akan menyebabkan anak berkembang Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 28 . kependidikan lain. kualifikasi akdemik minimum difloma empat (D-IV) atau sarjana (S1) b. serta batin yang senang menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. serfikatprofesi guru untu PAUD. sebagaimana diungkapkan dalam teori Maslow. aktif. Pasal 38 (1) Kriteria untuk menjadi kepala TK/RA meliputi: a. Landasan Empirik Anak-anak memiliki berbagai kebutuhan mulai dari kebutuhan dasar sampai kebutuhan lanjut. 7. dan Pemerintah perlu memperhatikan dan memastikan bahwa kebutuhan dasar anak terpenuhi. tidak aktif. cukup tidur dan istirahat. satuan PAUD. dan ceria. Sebaliknya anak-anak yang ke sekolah dalam kondisi lapar. terutama dalam keaksaraan. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan. Peraturan Pemerintah RI No. Oleh karena itu orangtua. Anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam kondisi kenyang. aktif. kurang tidur.

Sebaliknya jika kegiatan yang sama dan diulang-ulang akan membuat anak cepat bosan dan ingin keluar dari kegiatan yang dilakukan. dan mentalnya kalah jauh dengan anak panti asuhan penjara. Bantuan orangtua. Anak-anak belajar memakai dan menali sepatu. memakai celana dan baju dengan memasang kancing dan menutup resleting (zipper). guru harus mampu menyakinkan setiap anak bahwa ia diterima. Oleh karena itu kegiatan yang konkret. Banyak kasus di TK di mana anak-anak yang dicaci hasil karyanya di depan kelas menyebabkan anak-anak tersebut ngambek tidak mau masuk kelas atau mau masuk kelas tetapi harus ditunggui oleh orangtuanya. Anak-anak dapat belajar kecakapan hidup menuju kemandirian jika dilatih dengan baik. Stimulasi yang tepat atau sesuai dengan perkembangan anak akan merangsang anak untuk belajar. dan stimulasi amat penting bagi perkembangan anak. seperti anak ayam. dan mengaktifkan fungsi-fungsi otaknya. dan menimbulkan rasa ingin tahu. dan pemeriksaan kesehatan. Mereka belum bisa berjalan dan berbicara dengan baik pada usia tiga tahun. Di satuan PAUD yang senantiasa menghadirkan obyek belajar yang menarik. Perbedaan antara keduanya adalah pada sentuhan kasih sayang ibu. Hal ini menunjukkan bahwa asuhan. kasih sayang.menjadi orang yang mampu mempercayai orang lain. Ternyata hasilnya anakanak cepat mandiri dan mampu menolong dirinya sendiri. dan dilindungi sehingga ia merasa aman dan nyaman agar anak dapat mengaktualisasikan potensinya dengan baik. dan sebaliknya jika perlakuan tidak menyenangkan akan menyebabkan anak tidak mempercayai orang lain. terutama ibu dalam kegiatan belajar anak sangat penting bagi pendidikan anak usia dini. emosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di panti asuhan yatim piatu dan anak hilang memperlihatkan perkembangan fisik. disayangi. hands on. Untuk itu pada tahap awal. pakaian. Mereka juga dilatih makan dan minum. membersihkan dan merapikan diri serta memakai berbagai peralatan sederhana. Kedua kelompok mendapat makanan. menanam biji dan mengamati bagaimana ia tumbuh menjadikan anak-anak bersemangat melakukan kegiatan. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 29 . banyak bertanya. Anak-anak TK Montessori di Amerika Serikat dilatih dengan baik kecakapan hidup yang diperlukan untuk hidup sehari-hari. menumbuhkan rasa ingin tahu. menarik dan menantang akan menstimulasi anak untuk aktif berpikir dan terlibat. anak kucing. Rene Spitz membandingkan dua kelompok anak yang diasuh di taman pengasuhan anak di penjara dan taman pengasuhan anak hilang dan yatim piatu.

Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 30 .2 kedua aspek tersebut dikelompokkan ke dalam bidang pengembangan pembiasaan. dan rambu-rambu. 6. Standar Perkembangan Dasar PAUD (Draft PAUD 2006) 5. 10. yaitu: Moral dan nilai-nilai Agama. fungsi dan tujuan. Pedoman Penilaian di TK (2005). Dokumen PKB TK (1994) Hasil kajian terhadap masing-masing dokumen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Kompetensi dasar. 2005). Dokumen No. Acuan Menu Pembelajaran Generik (Direktorat PAUD. Kerangka Dasar Kurikulum PAUD (Draft 17 Nop 2006) 7. Dokumen ini hanya ditujukan untuk lembaga PAUD jalur formal (TK dan RA) sesuai dengan direktorat teknis yang menghasilkannya. Sosial. Pedoman Pembelajaran di TK/RA (2005) 9. 8. standar kompetensi TK dan RA. Fisik/motorik dan Seni. 1. Pada kedua dokumen tersebut ruang lingkup kurikulum TK dan RA meliputi 6 (enam) aspek perkembangan. Pada dokumen No.BAB III TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Standar Perkembangan Anak Lahir s/d 6 Tahun (Draft 17 Nop 2006). Dokumen Standar Kompetensi PAUD TK & RA (Dokumen 1. perasaan/emosi dan kemasyarakatan) dan dalam standar kompetensi dikelompokkan menjadi dua. fisik-motorik dan seni. Kajian Dokumen Dokumen yang dikaji dalam kegiatan ini mencakup : 1. misalnya dalam GBPKB TK 1994 dikenal pengembangan sikap/perilaku (disiplin.1. Kognitif. 2 merupakan penyempurnaan dari dokumen No. 4. moral Pancasila. Pedoman Pengembangan Silabus di TK/RA (2005). kognitif. Emosional dan Kemandirian. 2004) 2. Emosional dan Kemandirian dikelompokkan ke dalam pembentukan perilaku dan pembiasaan. pendekatan pembelajaran dan penilaian.1 maka secara keseluruhan substansinya sama. aspek perkembangan Moral dan nilai-nilai Agama. pengertian. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA (Direktorat TK/SD. seperti terlihat pada pendahuluan yang meliputi rasional. dan indikator juga sama. yaitu bidang pengembangan moral-agama dan sosial emosi. Hampir 80% isi standar kompetensi TK/RA tersebut mengadopsi standar perkembangan dalam GBPKB TK 1994 hanya saja terjadi beberapa perubahan nama dan pengelompokan kemampuan. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi PAUD TK/RA (Puskur. Selain dua bidang pengembangan tersebut. Berbahasa.2 dan 10) Secara umum isi dokumen ini hanya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif dalam merumuskan standar kompetensi lulusan dan standar isi untuk PAUD dan beberapa konsep dapat dijadikan dasar untuk standar proses. Aspek perkembangan dikelompokkan menjadi dua kelompok. kognitif. standar kompetensi lintas kurikulum. Sedangkan aspek perkembangan berbahasa. pada dokumen No. 2002). terdapat 4 bidang pengembangan lainnya. hanya ada sedikit perbedaan pada rumusan indikator dan peristilahan dalam mengelompokkan aspek perkembangan. ruang lingkup. yakni bidang pengembangan bahasa. Sosial. hasil belajar. 3. sikap beragama.

Dalam bagian lain di setiap bidang pengembangan terdapat urutan kompetensi. terutama pada pengembangan kognitif (matematika) dan seni (motorik halus). PAUD yang dipandang mengakomodasi kebutuhan anak usia sejak lahir sampai dengan 6 tahun (khusus lahir . padahal kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. HB dan Indikator pada bidang pengembangan fisik motorik (khususnya motorik kalus) dengan pengembangan seni (halaman 23-25 dan 34-35). yaitu kemampuan berbahasa. prinsip pengembangan dan ruang lingkup standar perkembangannya. Selain bidang pengembangan pembiasaan. hal ini karena kriteria penilaian dalam bidang pengembangan pembiasaan ini belum ada. dokumen silabus baru diperuntukkan bagi TK/RA belum menjangkau PAUD. kognitif. Pedoman Pembelajaran dan Pedoman Penilaian belum terintegrasi secara menyeluruh. model pembelajaran dan penilaian dibuat merujuk satu SK tertentu sehingga menyatu. pra-membaca dan pra-menulis). Pedoman Pembelajaran di TK/RA dan Pedoman Penilaian di TK/RA.fisik/motorik. Di dalam dokumen ini diuraikan tentang dua model pembelajaran TK. i. Selain dokumen Kurikulum 2004 Standar Kompetensi juga dianalisis dokumen penyerta lainnya. Untuk itu keempat dokumen tersebut perlu disinkronisasi. tujuan. fisik-motorik dan seni perlu diperjelas indikator-indikatornya agar sesuai dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak. dan seni pada kedua dokumen dikelompokkan ke dalam kemampuan dasar. terutama tentang makna. Rumusan kompetensi dasar pada masing-masing bidang pengembangan belum memperhatikan tata cara dan syarat dari rumusan kompetensi yang benar karena terdapat satu rumusan mengandung dua atau lebih kompetensi yang diinginkan. Pedoman Pengembangan Silabus. Untuk memberi contoh kepada guru. bidang pengembangan kemampuan dasar. namun belum jelas bagaimana 31 Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 . Secara khusus dokumen tersebut belum memberikan gambaran pada masing-masing bidang pengembangan.4 tahun) belum terakomodasi dalam kurikulum ini. Bidang pengembangan pembiasaan sebagai aspek yang dikembangkan guru masih sulit untuk diukur. berbicara. Dokumen Pedoman Pengembangan Silabus di TK/RA Silabus merupakan bentuk penjabaran kurikulum ke dalam bentuk program pembelajaran yang lebih konrkit. Untuk itu perlu ada kajian mendalam tentang tugas perkembangan anak Indonesia untuk usia lahir – 4 tahun. Oleh karena itu esensi silabus yang perlu diberikan. Cakupan aspek dari suatu dimensi perkembangan yang diakomodasi oleh hasil belajar (HB) belum mencerminkan aspek yang sesuai dengan kajian akademik pada bidang tersebut (misalnya bidang Bahasa mencakup aspek mendengar/menyimak. Hasil kajian dokumen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Dokumen Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. HB dan indikator yang belum tertata secara gradatif. Kurikulum 2004 baru diperuntukkan bagi TK yang hanya menjangkau anak-anak usia 4 – 6 tahun. Selain itu. sedangkan format silabus boleh beragam. Dalam dokumen ini masih ditemukan kurang lengkapnya aspek-aspek standar kompetensi kurikulum 2004. nampak dokumen ini masih terpisah-pisah (mungkin dibuat oleh Tim yang tersendiri). Dalam dokumen ini juga terdapat standar kompetensi yang tumpang tindih atau overlap antara isi KD. yaitu: dokumen Pedoman Pengembangan Silabus di TK/RA.

Contoh SKH dan SKM dalam pedoman pengembangan silabus ini belum jelas sehingga guru-guru mengalami kesulitan dalam membuat program pembelajaran. 2. Untuk TB/KB pengalaman belajar lebih penting dibanding hasil belajarnya. Dokumen ini memberikan penjelasan tentang standar perkembangan dan proses pembelajaran yang disarankan untuk anak usia dini. pemetaan program semester yang ada hanya program pembiasaan saja. Pemanfaatan potensi alam di sekitar satuan pendidikan perlu dioptimalkan agar anak belajar dari konteks kehidupan kesehariannya. namun harus dilakukan secara hati-hati mengingat tingkat perkembangan mereka berbeda. guru belum memahami seutuhnya penilaian seperti apa yang dimaksudkan dalam pedoman ini. Acuan Menu Pembelajaran Generik pada PAUD Dokumen Acuan Menu Pembelajaran Generik merupakan salah satu dokumen yang dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini yang dipergunakan dalam lingkup PAUD non formal. esensi penilaian menjadi amat penting untuk dipahami guru. Teknikteknik penilaian otentik yang lebih banyak menggunakan observasi dan antibias lebih penting untuk dipahami guru ketimbang format-format tersebut. belum menjangkau PAUD. Dalam pedoman ini ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu perlu kajian perkembangan anak Indonesia. sedangkan program pengembangan kemampuan dasar belum terpetakan secara jelas. sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia. iii. selain itu. Dalam dokumen ini ditemukan terlalu banyak buku pedoman sehingga cukup menyulitkan kerja guru di lapangan. Dokumen Pedoman Pembelajaran di TK/RA Pedoman pembelajaran ini baru diperuntukkan bagi TK/RA usia 4 – 6 tahun. Di lapangan guru cukup mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian karena dipandang terlalu banyak format instrumen penilaian yang harus dibuat dan dilaksanakan. Ide Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 32 . Anak-anak di hutan pedalaman lebih mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan. ii. Pembelajaran yang mengundang rasa ingin tahu anak dan mengajak anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sangat diharapkan. Selain penjelasan penggunaan format tersebut. 3. Anak-anak di daerah pantai di Papua umumnya sudah biasa main air dan berenang di laut sejak kecil.pelaksanaannya. di mana pola pikir dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan spesifiknya. Dokumen Pedoman Penilaian di TK/RA Dokumen pedoman penilaian di TK/RA ini juga baru diperuntukkan bagi anak usia 4 – 6 tahun belum menjangkau PAUD. Teori ekologis memperkuat hal litu. Standar Perkembangan Dasar PAUD Acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing. Secara umum metode-metode pembelajaran untuk anak TK bisa saja diadaptasikan untuk pembelajaran anak-anak TB/KB. Selain itu. Banyaknya format penilaian dipandang menyulitkan dan contoh-contoh penilaian yang dituangkan dalam pedoman tersebut seringkali dianggap sebagai sebuah ketentuan atau suatu keharusan yang harus diikuti.

1998) mengacu pada dua hal yaitu kelompok usia dan kebutuhan individual. Pedoman Pembelajaran. standar perkembangan telah disusun secara bergradasi berdasarkan tahapan usia anak walaupun dalam beberapa aspek perkembangan belum tertata secara jelas perbedaan standar perkembangan dari satu tahapan usia ke tahapan usia berikutnya. Pada landasan filosofis belum memberikan pilihan alternatif filosofis yang dapat diadopsi dan diadaptasi oleh para penyelenggara PAUD. SKP merupakan padanan istilah Standar kompetensi dan KP (kompetensi perkembangan) menjadi padanan dari kompetensi dasar (KD). perlu ada contoh-contoh penerapan menu pembelajaran generik tersebut dalam pembelajaran. SKH. terdapat isi rasional pada bab Pendahuluan seharusnya memberikan dan menjadi dasar pemikiran pemilihan aspek perkembangan serta isi perkembangan yang menjadi fokus pembahasan didalamnya. Beberapa indikator kemampuan suatu bidang pengembangan tidak memperlihatkan karakteristik kompetensi perkembangan melainkan menggambarkan program atau stimulasi perkembangan (halaman 30). 5. Selain itu. Pedoman Pengembangan Silabus. tema. penjelasan tentang landasan PAUD masih belum menyentuh esensi berbagai landasan dalam menyelenggaraan PAUD. 4. baik terkait dengan standar isi. Istilah Standar Perkembangan Akhir Usia (SKAU) dapat dijadikan pilihan istilah untuk memadankan dengan istilah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Dalam dokumen ini. Dalam dokumen ini belum dirumuskan tujuan pengembangan dokumen secara jelas (halaman 3). misalnya tentang prinsip dan kurikulum). Dalam dokumen ini terdapat penjelasan yang masih rancu antara bidang pengembangan dengan materi pembelajaran (halaman 13-15). Disamping itu. beberapa sub bab juga tidak sesuai ditempatkan dalam dokumen ini. Selain itu. Menu pembelajaran generik merupakan konsep dasar pembelajaran yang masih harus diadaptasikan dengan kebutuhan anak pada rentang usia tertentu dan dengan kebutuhan individual anak. Standar Perkembangan Dasar PAUD Judul ini dinilai masih rancu karena belum ditemukan peristilahan perkembangan dasar. Konsep SKAU akan menjadi dasar dalam penyusunan Standar Isi Perkembangan (SIP) yang dijabarkan lagi menjadi Standar Kompetensi Perkembangan (SKP) dan kompetensi perkembangan (KP). standar pengelolaan. Kerangka Dasar Kurikulum PAUD Dokumen ini memberikan gambaran tentang beberapa konsep yang dapat dijadikan bahan kajian dalam dokumen KTSP PAUD. KAJIAN LAPANGAN Komponen-komponen yang terkait dengan kajian lapangan adalah hal-hal yang terkait dengan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. landasan keilmuan PAUD seharusnya lebih ditekankan pada kajian ilmu pembelajaran yang sesuai (appropriate) dengan anak usia dini. Landasan keilmuan ini sebaiknya dipisahkan dengan landasan psikologis yang akan dijadikan landasan isi perkembangan dan proses pembelajaran pada anak usia dini. Dalam dokumen ini. SKM. Namun demikian perlu diberi pemahaman pada guru PAUD bahwa menurut DAP (NAEYC.mengembangkan menu pembelajaran generik cukup baik terutama sebagai acuan minimal bagi kegiatan pembelajaran untuk anak usia dini. program pembelajaran di taman penitipan anak. B. Oleh karena itu. standar penilaian dan standar pendidik. dan penanganan Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 33 . standar proses. Oleh karena itu. dan Pedoman Penialian termasuk alat dan cara penilaian. istilah umum yang harus dipertimbangkan adalah Standar Kompetensi Perkembangan atau Standar Perkembangan.

Kurangnya pemahaman guru dan orang tua tentang aspek-aspek yang harus dikembangkan dalam berbahasa serta kurangnya pemahaman guru tentang metode-metode pembelajaran berbahasa membuat kemampuan berbahasa anak masih belum berkembang dengan baik. para guru juga mengalami kesulitan dalam menjabarkan dan memetakan susunan standar kompetensi. Dalam pengembangan kemampuan dasar berbahasa. ukuran. hasil belajar dan indikator karena belum diperhatikan gradasi perkembangannya. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 34 . guru kurang mengakomodasi kebutuhan anak khususnya dalam mengeksplorasi lingkungan sekitar anak. pembiasaan-pembiasaan yang diberikan atau dilakukan di sekolah tidak berkesinambungan dengan pelaksanaan di rumah. 2. Disamping itu. kompetensi dasar dan indikator dengan tema-tema kehidupan ke dalam silabus pembelajaran maupun rencana pelaksanaan pembelajaran. pertama bidang pengembangan pembiasaan dan kedua pengembangan kemampuan dasar yang terdiri atas kemampuan berbahasa. guru juga kurang memahami empat kegiatan dalam pembiasaan yaitu: kegiatan rutin. selain itu. Dalam pengembangan kemampuan kognitif. statistik dan geometri). Para praktisi juga mengalami kesulitan dalam menghubungkan antara standar kompetensi. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang permasalahan anak menjadi aspek lain yang perlu mendapat perhatian karena perlakuan guru di sekolah perlu disesuaikan dengan apa yang dilakukan orang tua di rumah. estimasi. kognitif. dan seni Dalam pelaksanaan kegiatan bidang pengembangan pembiasaan di lapangan guru masih mengalami kesulitan mengukur atau melakukan penilaian terutama dalam kegiatan spontan dan tauladan. Berikut lapangan berbagai dokumen. bilangan. guru masih mendominasi pembicaraan dan kurang memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya secara lisan. tahapan perkembangan kognitif anak. teladan dan terprogram. sain. Selain itu. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran terbagi dalam dua aspek. menarik dan tidak ada unsur sain dalam pembelajaran menjadikan anak masih minim dalam kemampuan sainsnya. minimnya pemahaman guru tentang 7 jalur matematika (bentuk.anak berkebutuhan khusus. pola. Dalam pengembangan kemampuan dasar sains. ini digambarkan hasil kajian pelaksanaan di 1. Akibatnya pembelajaran belum berkembang secara optimal. guru masih minim menguasai konsepkonsep tentang matematika untuk anak. fisik-motorik. Selain itu penyajian yang kurang kreatif. spontan. masih banyak sekolah yang tidak mempunyai lahan bermain yang luas sehingga kemampuan dan kebutuhan anak dalam fisik motorik belum berkembang optimal. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 pada umumnya guru kurang memahami setiap indikator yang telah ditentukan. Dalam pengembangan kemampuan dasar fisik motorik. kompetensi dasar.

mereka cenderung sulit menerima perubahan pembelajaran yang dilakukan guru. 4. guru masih mengalami kesulitan dalam penyusunan rencana pembelajaran. guru belum mampu menentukan atau membuat kegiatan-kegiatan yang bervariatif sehingga kegiatan dirasakan membosankan bagi anak. Disamping itu. Alat dan Cara Penilaian Dalam alat dan cara penilaian.Dalam pengembangan kemampuan dasar seni. masih ditemukan kurangnya dukungan orang tua dan masyakarat atau lingkungan sekitar bagi pengembangan model-model pembelajaran yang inovatif. Satuan Kegiatan Mingguan (SKM) Dalam menyusun Satuan Kegiatan Mingguan (SKM). 5. selain itu guru juga kurang memberikan kesempatan pada anak untuk berekspresi. Kenyataan di lapangan ditemukan banyak SD yang memperioritaskan kemampuan calistung sebagai syarat awal masuk SD. 6. guru-guru masih mengalami kesulitan dalam memilih metode-metode yang tepat bagi pelaksanaan suatu kegiatan. Model pengelolaan proses pembelajaran di lapangan hanya terbatas pada model sudut atau area kegiatan (untuk PAUD formal) dan model pembelajaran BCCT (untuk PAUD non formal). ditemukan adanya format-format evaluasi yang kurang efektif untuk dilakukan di lapangan mengingat keterbatasan kemampuan guru dalam melakukan penilaian. kurangnya kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang menarik dan terintegrasi. para guru juga mengalami kesulitan menghubungkan tema dengan indikator (dari Hasil Belajar dan Kompetensi Dasar) bidang pengembangan. 3. dalam perencanaan SKM belum dicantumkan kolom media/referensi yang dapat mendukung tema secara detail. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 35 . para guru juga mengalami kesulitas dalam mengembangkan SKH (RPP) yang menggunakan berbagai model yang variatif. Disamping itu. Terlebih lagi jika acuan yang dipergunakan dalam mengembangkan tema adalah acuan menu pembelajaran yang belum memberikan ilustrasi pengembangan silabusnya. Tema Dalam pengembangan tema-tema pembelajaran. Guru mengehendaki format penilaian yang disederhanakan dan memudahkan membuat rekapitulasi perkembangan anak dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. masih ditemukan kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan subtema yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. guru kurang memahami tahapantahapan motorik halus anak. Dalam proses kegiatan belajar mengajar/pembelajaran. Selain itu. Satuan Kegiatan Harian (SKH) Dalam menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH). menulis dan berhitung (calistung). Selain itu. adanya tuntutan atau target pencapaian yang berlebihan dari orang tua dan masyarakat khususnya Sekolah Dasar (SD) tertentu yang mensyaratkan tamatan TK sudah mampu membaca. Selain itu.

Buku ”INDUK” tersebut tentu dilandasi oleh berbagai acuan dasar seperti filosofi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana termaktub dalam GBHN. PEMBAHASAN Dokumen PAUD yang berkaitan dengan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. Direktorat PAUD. Hal ini menuntut kemampuan guru untuk mempelajarinya. serta Direktorat Mapenda) untuk menyusun suatu dokumen ”INDUK” pengembangan PAUD di Indonesia yang menjadi dasar bersama seluruh institusi pengembangan PAUD dan Pendidikan Guru-PAUD. Ditemukan anak-anak berkebutuhan khusus belum mendapatkan layanan yang maksimal.7. Kurangnya kemampuan guru dalam membimbing anak berkebutuhan khusus dan masih rendahnya kepedulian dan pemahaman orang tua tentang anak berkebutuhan khusus menjadi belum tepatnya pendidikan dan pelayanan yang diberikan kepada mereka. C. Direktorat Dikti. Direktorat TK-SD. Sebagai akibatnya banyak hal yang berbeda dari berbagai dokumen tersebut untuk aspek yang sama. khususnya tentang bidang pengembangan anak usia dini di Indonesia. Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Penanganan anak berkebutuhan khusus belum dilakukan secara memadai di lapangan. Diperlukan penelitian tentang perkembangan anak Indonesia pada umumnya dan tiap daerah dan suku khususnya agar PAUD memiliki acuan yang lebih sesuai dengan perkembangan anak Indonesia. Ketidakjelasan konsep dan aturan bagi sasaran PAUD menimbulkan masalah saling tarik menarik peserta didik. hasil-hasil penelitian tentang perkembangan anak Indonesia di berbagai aspek perkembangan. Program Pembelajaran di Taman Penitipan Anak Untuk program pembelajaran di Taman Penitipan Anak. 8. kurikulum PAUD belum tersosialisasikan dengan baik di lapangan. Direktorat TK-SD serta Direktorat PAUD. Persoalan dasarnya dokumen tersebut dibuat oleh banyak Tim dari berbagai otoritas seperti Puskur. Dokumen PAUD yang banyak jumlahnya tersebut berbeda-beda karena mangacu pada referensi yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan suatu kerjasama antar otoritas tersebut (Puskur. perlu ada keseragaman acuan. Pedoman Pengembangan Silabus. Kesalahan dalam penentuan perkembangan anak Indonesia menyebabkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang disusun tidak valid karena tidak sesuai dengan kondisi riil anak Indonesia. Perbedaan tesebut terjadi karena belum adanya ”blueprint” yang sama yang menjadi acuan bersama pengembangan PAUD di Indonesia. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 36 . Pedoman Pembelajaran dan Pedoman Penilaian banyak digunakan di lembaga PAUD formal (TK/RA) sedangkan Menu Pembelajaran Generik digunakan di lembaga PAUD non formal (Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak). serta analisis kondisional PAUD di Indonesia. Oleh karena itu. Masih banyak tenaga-tenaga pengajar PAUD yang belum memiliki ijazah atau berlatar belakang PAUD. PAUD menganggap anak usia 0-8 tahun sebagai sasaran pendidikan sementara pada jalur formal TK/RA menganggap usia 4-6 tahun menjadi sasaran pendidikannya.

Standar Penilaian dan Standar lainnya. Standar Proses. banyaknya naskah PAUD menimbulkan kebingungan bagi para guru. KB. Banyak guru dan lembaga PAUD formal (TK/RA) dan PAUD non formal(TPA dan KB) tidak menerima dan mempelajari berkas Kurikulum secara utuh. Berdasarkan kajian tersebut dapat disusun dan dikembangkan Standar Kompetensi Akhir Usia PAUD (SKAU PAUD). Untuk itu. sehingga ada benang merah atau kesinambungan kompetensi antara PAUD (TPA. Beberapa dokumen yang dimaksud adalah GBPKB TK. Acuan Menu Pembelajaran dan Kerangka Dasar Kurikulum PAUD. Standar Isi (Standar Isi Perkembangan PAUD). Sebagai akibatnya pemahaman akan kurikulum bersifat parsial. Dalam penyusunan dan pengembangan panduan KTSP PAUD perlu menelusuri berbagai pedoman dan referensi pendukung. Di samping itu naskah dan perubahan kurikulum beserta perangkat untuk implementasinya memerlukan penjelasan lebih lanjut melalui sosialisasi kepada lembaga dan guru PAUD. Pedoman Pengembangan Silabus saja. terutama landasan akademik yang dijadikan acuan. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 37 . dan 3 Sekolah Dasar. atau Pedoman Penilaian saja. Direktorat TK-SD. dan Puskur dalam mewujudkan hal tersebut.Penentuan Standar Kompetensi Akhir Usia (SKAU) di PAUD yang sepadan dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) selain didasarkan hasil penelitian perkembangan anak Indonesia juga sebaiknya dibuat secara utuh mulai lahir sampai 8 tahun. dan TK/RA) dengan kelas 1. Standar Kompetensi TK/RA. Untuk itu perlu kerjasama antara Direktorat PAUD. Sebagai akibatnya. naskah yang ada perlu disertai penjelasan dan contoh yang konkrit di samping adanya program sosialisasi. Ada yang hanya memperoleh Kurikulum (Standar Kompetensi) saja. 2.

Emosional dan Kemandirian dikelompokkan ke dalam Pembentukan Perilaku dan Pembiasaan. Fisik/ motorik. Secara substansi aspek perkembangan pada Menu Pembelajaran Generik sama dengan aspek perkembangan pada Kurikulum 2004 Standar Kompetensi (dokumen versi Puskur dan versi Direktorat TK/SD). Emosional dan Kemandirian. Namun ada sedikit perbedaan pada pengelompokan aspek perkembangan. Di samping itu. Kompetensi (indikator) anak usia dini pada dokumen Menu Pembelajaran Generik dari Direktorat PAUD sudah tersusun secara gradual berdasarkan usia anak. Pada ketiga dokumen. aspek perkembangan Moral dan Nilai-nilai Agama.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. hasil belajar. Sedangkan versi Direktorat TK/SD kedua aspek perkembangan tersebut dikelompokkan ke dalam Bidang Pengembangan Pembiasaan. yaitu Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA versi Puskur dan versi Direktorat TK/SD serta Menu Pembelajaran Generik terdapat 6 (enam) aspek perkembangan yang sama substansinya. Pada dokumen versi Puskur. yaitu pada Menu Pembelajaran Generik hanya ada indikator kemampuan yang sudah disusun secara bergradasi sesuai dengan usia perkembangan anak (lahir s. dan Seni. Sosial. Sosial. sains. matematika dan seni. kognitif. Urutan kompetensi pada Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA belum tersusun secara gradual (berurutan) sesuai tahapan perkembangan anak khususnya dalam bidang kognitif. Aspek perkembangan dikelompokkan menjadi dua kelompok. Dalam Standar Kompetensi TK/RA terdapat tumpang tindih (overlapping) antara kompetensi pada bidang pengembangan fisik motorik dengan bidang pengembangan seni. 2. Berbahasa. ruang lingkup dan struktur kompetensi pada masing-masing bidang pengembangan.d. pada menu pembelajaran generik juga memuat program layanan kesehatan dan gizi anak dini usia (lahir – 6 tahun) yang mencakup Gizi Seimbang dan Deteksi Dini Pertumbuhan Anak. Dokumen Kurikulum 2004 Standar Kompetensi dari direktorat TK SD. tujuan. Kesimpulan 1. 4. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 38 . Demikian juga yang dikeluarkan oleh Puskur dan direktorat PAUD. fisik/motorik. Namun belum tersusun sesuai dengan aspek perkembangan dan tahapan perkembangan pada setiap bidang pengembangan. 5. 6 tahun) pada masing-masing bidang pengembangan. 3. belum diungkapkan konsep yang lengkap tentang bidang pengembangan yang mencakup pengertian. dan indikator. terutama dalam hal penyusunan gradasi perkembangan dan lingkup perkembangan. yaitu Moral dan Nilai-nilai Agama. tetapi ada perbedaan dalam perumusan kemampuan. Aspek perkembangan berbahasa. Disamping itu juga belum sesuai dengan landasan teoritis (landasan psikologis). Kognitif. dan seni pada kedua dokumen (versi Puskur dan Direktorat) dikelompokkan ke dalam Kemampuan Dasar. Sedangkan pada Kurikulum 2004 terdapat kompetensi dasar.

7. c. b. hanya terdapat 1 (satu) kompetensi dasar yang meliputi aspek-aspek perkembangan yang banyak. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 39 . Buku ini menjadi acuan bagi semua instansi terkait seperti Direktorat TK SD. e. Direktorat PAUD. Dokumen Standar Perkembangan Anak Lahir – 6 Tahun PAUD perlu diperbaikai secara menyeluruh dan disesuaikan dengan naskah akademik (tinjauan teoritik). 9. Jangka Pendek a. Terlalu banyak format penilaian sehingga membingungkan para praktisi di lapangan. Perlu adanya buku “INDUK” yang merupakan “blueprint” pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Dokumen pedoman pengembangan silabus untuk PAUD seharusnya menjadi bagian dari dokumen standar proses pembelajaran yang mencakup (1) perencanaan proses pembelajaran. Bidang pengembangan jasmani (motorik kasar) secara konseptual. Misalnya: dalam bidang pengembangan kemampuan berbahasa. 8. dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. f. Perlu dilakukannya riset perkembangan anak usia dini Indonesia sebagai acuan empirik dalam menyusun SKAU dan SIP. Jangka Panjang a. Perlu dilakukan revisi terhadap kerangka dasar kurikulum PAUD dan judulnya sebaiknya diubah menjadi Panduan/Pedoman Penyelenggaraan PAUD sesuai dengan isinya. Perlu segera dituntaskan naskah SKAU (SKL PAUD) dan SIP (SI PAUD) yang didasarkan pada landasan akademik (landasan teoritis) & hasil kajian lapangan. B. Hal ini tidak sesuai dengan hakikat kurikulum berbasis kompetensi khususnya dalam pengertian kompetensi sehingga bisa terukur. seharusnya berada dalam bidang pengembangan tersendiri seperti GBPKB TK tahun 1994 tidak digabung atau dicampuradukkan. dan Puskur serta Perguruan Tinggi dalam merancang dan mengembangkan PAUD. Naskah akademik PAUD seharusnya disusun dalam naskah tersendiri sehingga menjadi landasan yang kuat untuk pengembangan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD. Pengelompokan kompetensi pada seluruh naskah (3 naskah) belum menggambarkan lingkup aspek perkembangan pada setiap bidang pengembangan. (3) Standar proses pembelajaran TK dapat mengakomodasi dokumen pembelajaran di TK dan dokumen perencanaan dan proses pembelajaran di TK. penyusunan silabus pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik. yang meliputi pengembangan tema dan jaringannya. Beberapa komponen dari 8 SNP telah disusun dalam bentuk kerangka dasar kurikulum PAUD namun masih perlu disempurnakan. 2. (2) pelaksanaan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan acuan pengembangan proses pengembangan yang dilakukan masing-masing satuan pendidikan anak usia dini. d. Rekomendasi 1.6.

Perlu disusun tahapan perkembangan anak mulai dari usia lahir sampai 8 (delapan) tahun sebagai dasar penentuan SK dan KD untuk SD kelas awal sehingga ada kesinambungan kompetensi antara TB/KB.b. c. Perlu dikembangkan model-model KTSP PAUD agar dapat menjadi pilihan bagi lembaga penyelenggara PAUD. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 40 . pengelolaan & penilaian). TK/RA. Perlu dikembangkan komponen Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD yang didasarkan pada naskah akademik (misalnya standar proses. d.

E. NJ: Merrill Publishing Company. (1981). Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak Dan Raudhatul Athfal. Brazelton. Departeman Pendidikan Nasional (2004). Pedoman Pembelajaran Di Taman KanakKanak. T. Bredekamp. J. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 41 . Jakarta: Diektorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Dan Pemuda. (1989). Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional Departeman Pendidikan Nasional (2007). Reaching Potentials: appropriate Curriculum and Assessment for Young Children.K. & Leong. L. The Learning Theory of Piaget and Inhelder. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional Departeman Pendidikan Nasional (2007). Standar Perkembangan Anak Lahir S. & Reid. Jakarta:Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (2002). New York. Standar Perkembangan Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional Departeman Pendidikan Nasional (2005). Tools of the Mind: A Vygotskian approach to early childhood education. NY: Penguin Book. CA: Brooks/Cole.D 6 Tahun. Acuan Menu Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Dini Usia. Use both sides of your brain. Washington.: NAEYC. (Eds). J. New York: Allyn & Bacon Buzan. A. (1992). J. Jakarta:Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional (2005). (1996). NY: Batam Books. Black. et all. S. Pedoman Pengembangan Silabus Di Taman Kanak-Kanak. Englewood Cliffs. Jakarta:Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional (2007). Berry. (199). Gallagher. How the brain and mind develop in the first five years. Kerangka Dasar Kurikulum PAUD. D.M. DC. (1995). New York. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak Dan Raudhatul Athfal. Monterey. The Young child: Development from Birth through Age Eight. T. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional Departeman Pendidikan Nasional (2005).DAFTAR PUSTAKA Bodrova. T. J. (1995). V-1. New York: Merrill Publishing Co. Brewer. Introduction to Early Childhood Education: prekindergarten to primary grades. & Rosegrant.

Yogyakarta: PT Andi. NY: Grossman. Gardner. Portsmouth. Lev S. Anak ajaib: temukan dan kembangkan keajaiban anak anda melalui kecerdasan majemuk. NH. New York: Macmillan. Slamet Suyanto (2005).L. Dan Alim. The Science of Education and the Psychology of the Child. Bandung: PT. S. The Emergence of Literacy. Authentic Assessment of The Young Child.Gessell. Kindergarten: Exploring the knowledge-base expanding the curriculum. B. J. M. Piaget. New York: Basic Books.org/vygotksky. (1983). Sugeng Santoso (2002). & Jalongo. http://tip.psychology. (1987). Howard (2004). Slamet Suyanto (2005).: Heineman. C. Gardner. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 42 . Jakarta: Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.M.R. Spodek. Howard (1983). Pembelajaran Untuk Anak TK. Child’s garden: The kindergarten movement from Froebel to Dewey. (1994).html Hall. M. J. (2002). (Ed. Meliala. Frames of Mind. http://tip. B & Black. The mental growth of preschool child.org/gardner. Semiawan. A. Remaja Rosdakarya. Puckett. Science and Mathematics in Early Childhood Education. Isenberg. N.html Wolfinger. (1970). (1993). Pensylvania: The Pensylvania State University Press.) (1986). (1994).(2004) Social Development Theory. K. New York: Harper Collins College Publisher.P. New York: Macmillan Publishing Co. A. New York: Macmillan College Publishing Company. University Park. Vygotsky. F. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. New York: Teachers College Press. Dj. Creative Expression and Play in The Early childhood Curriculum. Saphiro. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Petunjuk layanan dan pembinaan kecedersan anak. & Ames.psychology. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. “Multiple Intelligences”. J. (1940). (2004). R. M. Pendidikan Anak Usia Dini.