BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Konsistensi Islam sebagai agama samawi termodern dari sekian banyak agama samawi lainnya, ikut tertantang menghadapi berbagai perubahan peradaban manusia dari zaman jahiliah sebagai era teologi masyarakat penyembah berhala sampai zaman sekarang suatu era teknologi globalisasi dunia yang serba rasional. Seiring dengan perkembagan zaman itulah yang datang dan pergi setiap hari dengan membawa berbagai peradaban baru yang jauh berbeda dari situasi dan kondisi masa lalu itu Islam menampilkan ajaran-ajarannya yang bersifat tetap dari sang pencerah Rosulullah sampai dekade zaman dikatakan modern atau past modern dan konsep itu tidak akan pernah berubah dari zaman ke zaman sampai dunia ini tinggal nama belaka. Disisi lain zaman merupakan sesuatu yang senantiasa menuntun perubahan dan pembaharuan dari pola piker, pola sikap dan pola hidup masyarakat dunia dan tidak ketinggalan di dalamnya masyarakat muslim sebagai kaum yang berserah diri keharibaan Sang Maha Pencipta. Kita manusia penikmat peradaban teknologi dunia barat akan merasakan betul perbedaan dan perubahan dari waktu ke waktu, dikala zaman belum tersentuh oleh berbagai produk teknologi dan elektronik yang serba otomatis dan instant itu dengan peradaban tempo dulu yang operasional kinerjanya selalu butuh banyak waktu. Dengan kenyataan zaman modern

1

seperti itulah pergeseran pola piker dari yang sifatnya kultur menjadi pola piker yang sifatnya rasional, cenderung kebendaan (materialistis) semakin tumbuh subur pada pola hidup masyarakat dengan sedikit menggeser pola tradisional yang serba kerjasama dan saling menghormati dan perhatian diantara sesame menjadi apriori kurang kepedulian terhadap gejolak social dan cenderung egois dengan mementingkan diri sendiri. Dan juga kita mengalami betul masa dimana/anak menjadi tidak berpengaruh, pokoknya serba praktis dan banyak hal yang dimasa orang tua apalagi kakek kita dulu belum pernah ada, hari ini dengan segala kecanggihannya hadir di depan mata, tiap hari ilmu pengetahuan membawa sesuatu yang baru dan informasi yang aktual bagi peradaban manusia. Islam sebagai agama yang diridoi Allah SWT, seperti yang difirmankan pada surat Ali Imron ayat 19.



      





Yang artinya : sesungguhnya agama yang dioridoi Allah SWT adalah agama Islam. (H. Salim Bahreis, 1984:33).

Dengan keyakinan penuh jika kita mengikuti dan mengamalkan ajarannya kita akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagai dasar konsep teologi satu-satunya, Islam harus senantiasa berada selalu didada kita, sekalipun perubahan dan pergerakan dunia semakin hari semakin sulit untuk dibendung, tidak hanya dalam ranah teknologi, namun juga merambah masuk ke dalam sisi-sisi kehidupan lainnya. Seperti

2

Tujuan Penulisan 1. maka tersusunlah rumusan sebagai berikut : 1. semuanya secara serta merta terkena dampak dari derasnya laju perubahan dunia kontemporer ini. social dan budaya.politik. 2. Akibatnya para penganut agama secara keseluruhan mulai mempertanyakan bagaimana posisi agama dalam kancah perubahan global ini. 3 . Bagaimanakah konsep ajaran Islam memandang perubahan zaman itu ? 2. Ingin mengetahui ruang lingkup tantangan zaman Ingin mengetahui konsep ajaran Islam memandang dan perubahan modernitas dunia. Bagaimanakah tantangan zaman dan perubahan Modernitas dunia itu ? 3. hokum. Masihkah Islam sanggup menjalankan perannya dalam menjawab segala tantangan zaman yang selalu menghendaki perubahan dan pembaharuan di berbagai sector kehidupan manusia ? B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah seperti itu. perubahan zaman. Bagaimanakah Islam menjawab tantangan zaman yang banyak memberikan perubahan pada tatanan social itu ? C.

1993:19). BAB II PEMBAHASAN A. yaitu agama yang percaya adanya satu Tuhan. 1992:20). Ingin mengetahui jawaban Islam terhadap tantangan zaman yang banyak memberikan perubahan pada tatanan social masyarakat dunia. Pengertian Islam Agama Islam adalah wahyu yang diturunkan oleh AllAh SWT. Islam atau Al Islam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berpedoman kepada kitab suci Al Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SSWT. Namun menurut Abu A’la Al 4 . kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persawa (Endang Saifuddin Anshari. Islam adalah berserah diri kepada Tuhan. Sedangkan definisi lain pernah disampaikan oleh salah seorang ulama Mesir yang pernah menjadi Rektor Universitas Al Azhar Kairo yaitu Syaikh Mahmud Syaltut : Islam itu adalah Agama Allah yang diperintahkannya untuk mengajarkan tentang pokok-pokok serta peraturan-peraturannya kepada Nabi Muhammad SAW dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada seluruh manusia dan mengajak mereka untuk memeluknya (Endang Saifuddin Anshari.3. Menurut ensiklopedia Indonesia.

Ketika zaman perubahan bergulir cepat. Ibrohim. perkembangan ilmu dan teknologi semakin dahsyat. Terperanjat karena kemajuan it uterus saja bergerak maju tanpa kompromi.Mauduni. untuk tidak menyatakannya takluk kepada barat dengan kondisi yang seperti itu Tesis Ibnu 5 . Nuh. harus diakui bahwa putaran roda umat Islam sedang berada di bawah. Al Qur’an telah menyatakan secara sangat jelas bahwa Islam adalah pemasrahan diri yang sempurna kepada Allah SWT sebagi satu-satunya keyakinan yang terus diwahyukan sejak awal kejadiannya. Mereka bukanlah para pendiri dari keyakinan yang berbeda. Oleh karena itu. sementara mereka yakin bahwa Islam harus memiliki jawaban untuk semuanya itu. Sebagian pemikiran Islam tiba-tiba terperanjat harus menghadapinya. Dari berbagai pendapat di atas kita mendapatkan gambaran bahwa Islam merupakan agama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia agar dapat hidup sesuai perintah Allah sehingga tugas manusia sebagai kholifah di muka bumi dapat tercapai. Musa dan Isa. Muhammad SAW tidak dapat disebut sebagai pendiri agama Islam. Islam bukanlah nama dari suatu keyakinan yang unik yang untuk pertama kalinya oleh Muhammad SAW. Hegemoni barat dan takluknya banyak wilayah Islam secara politis maupun budaya justru semakin memperparah keterperanjatan mereka saaat renaissance “meledak” di barat. para Nabi tampil dimasa dan tempat yang berbeda semuanya menyampaikan hal yang sama. Masing-masing dari mereka mengulangi kembali keyakinan yang telah disampaikan oleh pendahulunya.

Kholdun dalam Muqaddimah-nya. Setelah melalui zaman pra-sejarah dan zaman agrarian di Lembah Mesopotamia (bangsa Sumeria) sekitar 5000 tahun yang lalu. suara-suara yang menggunakan isu pembaharuan terhadap Islam menggema diberbagai wilayah kaum muslimin. niat baik dan usaha keras itu seringkali berdampak negative. Mereka ingin menunjukkan bahwa Islam tidak ketinggalan zaman. Ini adalah makna obyektif modern. B. yang dimulai oleh bangsa Eropa Barat lautsekitar dua abad yang lalu (Majid. Sayangnya. 2000:450) Zaman baru ini menurut Arnold 6 . liberalisme dan pluralisme yang marak belakang ini. umat manusia memasuki tahapan zaman baru. Secara subyektif makna modern terkait erat dengan konteks ruang waktu terjadinya proses modernisasi. Ide-ide seperti sekularisme. zaman modern. Zaman Modern Modern berarti baru. Nurcholis Majid melihat zaman modern merupakan kelanjutan yang wajar pada sejarah manusia. Hal ini kemudian banyak pemikir Islam yang hingga kini berusaha keras untuk membuktikan bahwa Islampun sejalan dengan perkembangan zaman itu. saat ini. Akibatnya banyak nilai-nilai Islam yang bersifat prinsipil dinafikan bahkan karena dianggap mengganggu kemajuan peradaban modern harus dibuang. tanpa disadari upaya peruabahan yang mereka lakukan justru membaratkan Islam dan bukan mengislamkan nilai-nilai barat. menyatakan bahwa bangsa yang takluk hampir bisa dipastikan akan mengekor setidaknya secara psikologis pada bangsa pemenang. up to date.

dimulai sejak menjelang akhir abad ke 15 M ketika orang Barat berterim kasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan. Sebagai kritik atas masa lalu.Toynbee seperti yang dikutip oleh Majid. 1) Teologis. Doktrin teosentris (kekuasaan Tuan) yang dihegemonikan gereja selama abad pertengahan diganti dengan doktrin manusia sebagai pusat kehidupan (antroposentrisme). Tahap ini terbagi dalam tiga sub: animisme. dan monoteisme. Di era ini manusia mencipta pola hidup baru yang berbeda dengan era sebelumnya. manusia menjadi penguasa atas diri dan hidupnya sendiri. Pengetahuan tersebut menjadi kritik terhadap gereja dan berujung pada sikap anti gereja. Maka. di era ini. dimana manusia memahami alam sebagai hasil campur tangan Tuhan. mengakui bahwa sejarah peradaban manusia mengalami tiga tahap perkembangan. August Comte. politeisme. Kepercayaan diri manusia modern membuat banyak dari mereka yang mengasumsikan zaman modern sebagai puncak perkembangan sejarah kemanusiaan. Tentang hal ini David Kolb menyatakan “we are developing something new in history” (Kolb. Pencapaian tersebut berimbas pada terbukanya selubung kesalahan dogma gereja setelah manusia berhasil mengenal hukum-hukum alam dan menguasainya. 7 . salah seorang ilmuan positivis. Zaman modern merupakan hasil dari kemajuan yang dicapai masyarakat Eropa dalam sains dan teknologi. zaman modern banyak memutus nilai-nilai dan jalan hidup tradisional dan digantikan dengan nilainilai baru berdasar sains yang dicapai manusia. 1986:2).

Kolonialisasi menjadi pilihan yang diambil bangsabangsa penguasa baru tersebut. terjadilah pergesekan antara nilai baru yang dibawa oleh bangsa kolonial dengan kultur asli bangsa muslim. Oleh 8 . seperti kodrat. Pada tahap ini peran Tuhan di alam digantikan oleh prinsipprinsip metafisika. oleh karena itu. dunia modern diartikan dalam makalah ini adalah dunia yang didominasi oleh pandangan-dunia modern. Maka.2) Metafisika. ideologi dan kultur. Sekali lagi. dunia modern merupakan pengejawantahan prinsipprinsip modern dalam kehidupan manusia atau masyarakat. Kolonialisme dilakukan bukan hanya dengan senjata mesin. Manusia tidak lagi mencari sebab absolut ilahiah dan berpaling pada pemahaman hukum-hukum yang menguasai alam.(Donny Gahral Adian. 3) Adalah positif. Penguasaan atas sains dan teknologi membawa bangsa-bangsa Eropa ke arah kemajuan luar biasa hingga mampu menandingi dan menguasai bangsa-bangsa Islam. pergeseran tersebut merupakan suatu hal khas Barat atau dunia Kristiani. Menurut ahli sejarah peristwa modern awal kali terjadi ditandai dengan pergeseran teosentris ke antroposentris dalam kehidupan masyarakat. melainkan pandangan-dunia atau prinsip metafisis (ontologis). Dalam kata lain. 2002:65-66). Tahap ini diwarnai oleh keyakinan yang cukup besar pada kemampuan sains dan teknologi. Modernisme Modern bukanlah sekadar suatu periode. 1. tetapi juga tata nilai.

Masyarakat prasejarah yang hidup penuh harmonis dengan alam disebut uncivilized karena tidak melakukan domestifikasi penuh terhadap substansi alam. Oleh karena itu. masyarakat melakukan domestifikasi alam hanya untuk keperluan tempat tinggal dan konsumsi. Sebelum pandangan-dunia modern muncul sebagai fenomena mainstream. melainkan alam secara substansial pun didomestifikasi.karena itu. lepas atau tercerabutnya dimensi spiritual dalam kehidupan masyarakat. alam dan juga perempuan harus ditundukkan atau ditaklukkan. Ketika pandangan-dunia modern hadir sebagai suatu hal niscaya di tengah masyarakat. Dari sinilah muncul gagasan civilized dan uncivilized. jika menggunakan sudut pandang kalangan perenialis. domestifikasi alam tidak hanya sekadar untuk memenuhi keperluan tempat tinggal menetap dan konsumsi. Sains modern pada prinsipnya merupakan narasi penaklukkan atau penundukkan. 2) Revolusi Prancis. Alam dilihat sebagai suatu yang kacau dan tidak tertala serta irasional. sejak zaman neolitikum. 9 . Sedangkan dari karakter sains modern. Hal yang disebut di atas adalah ciri dari dimensi metafisis dan filosofis modern. pergeseran tersebut bisa dimaknai. pergeseran terjadi dari pelacakan jejak Tuhan (vestigia Dei) di alam ke penaklukkan alam. Tapi. Penanda modern lain di antaranya ialah: 1) Munculnya kolonialisme atas nama civilization. Persoalan domestifikasi alam ini pun turut menjadi suatu penanda progresifitas. pergeseran tersebut sama saja dengan mengatakan terjadi pergeseran otoritas yang awalnya dimonopoli oleh Gereja kemudian ke individu. secara umum.

Secara historis. Dalam Islam. menjadi kompleks dengan latar belakang yang sudah disebutkan di bagian-bagian sebelumnya. Dalam Islam sains dan agama tidak pernah dipertentangkan sebagai hal mainstream. 2. 4) Kapitalisme. Ketika teologi Islam memasuki diskursus ini. negara). Konsep teologi secara historis merupakan term khas Kristen atau perspektif Barat (Western worldview). maka mau tidak mau telah muncul asumsi (hidden assumption) bahwa sains dan agama. Untuk menjawab tantangan dunia modern. theology dengan kalam memiliki perbedaan. Karakter-karakter tersebut pada akhirnya turut memengaruhi bagaimana teologi dalam Islam diperbincangkan dan dimaknai. dikenal konsep atau disiplin kalam yang biasanya dipadankan dengan theology. gagasan konflik antara sains dan agama merupakan fenomena Barat. bertentangan. dan 7) Mekanisasi kehidupan.3) Revolusi Industri. teologi Islam tidak hanya berurusan dengan 10 . dalam hal ini Islam. Relevansi Teologi Islam dalam Dunia Modern Pertanyaan apakah teologi Islam dapat menjawab tantangan dunia modern atau dalam kata lain apakah teologi Islam relevan dalam menjawab tantangan zaman. 6) Mediasi dalam relasi sosial (ie. Misalnya. 5) Komodifikasi.

harus disadari oleh teologi Islam. Dan itu mau tidak mau mengandaikan perubahan dan pengembangan dalam teologi Islam itu sendiri. Ketika kacamata-kacamata tersebut diabaikan. Jika tidak. Dunia modern hadir tidak hanya dengan dimensi teologis. geografis. Dunia 11 . Dunia modern dibangun dengan banyak dimensi. teologi Islam harus dapat memahami ekomplesitasan permasalahan dunia modern. sedangkan teologi adalah salahsatu dimensi. melainkan juga dengan tindakan hegemonik dan penaklukkan. Tapi. dll. Teologi Islam menjadi terhegemoni. irelevansi tersebut dikarenakan teologi Islam tidak dapat melihat persoalannya secara menyeluruh. Naturalisasi diskursus yang selama ini teologi Islam terlibat di dalamnya. Dan. Untuk menjawab tantangan tersebut. kultural. teologi Islam menjadi salah arah dalam menyambut tantangan tersebut.pemikiran atau penalaran saja.. Dan. tentu saja. mulai dari kacamata politis. pada akhirnya. Untuk relevan. jelas teologi Islam menjadi tidak relevan. persoalan atau pertanyaan relevansi/irelevansi bagi teologi Islam menjadi salah arah dan keliru. teologi Islam harus menggunakan banyak kacamata. teologi Islam harus mengembangkan dirinya dalam sinaran integralistik dan holistik. Relasi sosial dan infrastruktur-suprastruktur 100 tahun lalu dengan sekarang jelas berbeda. melainkan kompleks.

menjadi suatu hal yang tidak tepat. melainkan banyak wajah. pada sisi kultur. Teologi merupakan satu wajah atau dimensi. Krisis atau tantangan modern pada kenyataanya lebih pada persoalan prinsip metafisis atau ontologis. Richard Dawkins mengenalkan gagasan meme untuk membaca evolusi kultur. Untuk kelanjutan hipotesa makalah ini bahwa teologi Islam diperbincangkan dalam konteks hegemonik. prinsip-prinsip Islam pun serupa: ia menjelma dalam pelbagai wajah atau dimensi. dalam hal ini teologis. hanya prinsip-prinsip metafisis yang dapat menjawabnya secara menyeluruh. Karena teologi merupakan 12 . maka kertas kerja yang spesifik membahas naturalisasi diskursus akan sangat bermanfaat. Oleh karena itu.modern beserta tantangan dan krisisnya hadir tidak hanya dengan satu wajah. Ketika teologi Islam hendak menyambut dunia modern. lain lagi soalnya jika prinsipprinsip Islam dihadapkan dengan persoalan dunia modern. salah satu kerja mendatang mengenai pokok permasalahan (subjectmatter) yang diangkat dalam makalah ini bisa menggunakan konsep meme Dawkins tersebut. Kiranya. Kemudian. Kertas kerja (working paper) mengenai permasalahan naturalisasi diskursus atau historisitas evolutif dari teologi belumlah banyak dilakukan. Tapi. Sebagaimana dunia modern yang memiliki banyak wajah atau dimensi.

suatu peristiwa yang dilakukan oleh manusia dan teologi itu sendiri mengalami perkembangan sejalan dengan perubahan relasi sosial dan infrastruktur-suprastruktur yang terjadi di dalam masyarakat. hal itu dapat lebih menjelaskan soalan naturalisasi diskursus dan juga dapat memperlihatkan apakah persebaran pokok permasalahan teologis pada satu tempat itu berbeda di tempat lain dan bagaimana factor relasi sosial dan infrastruktur-suprastruktur itu di tiap tempat memengaruhi pokok permasalahan yang dibincangkan dalam teologi. Pada wilayah ini nilai-nilai Islam bertemu dan berdialog secara intens dengan kenyataan hidup duniawi yang selalu berubah dalam partikularitas konteksnya. realitas sosial kemanusiaan. kertas kerja yang memetakan peristiwa historis diskursus teologis secara geografis belumlah dilakukan. Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat ilahiah (transenden). pembacaan masalah tersebut dengan teori meme menjadi cukup penting untuk masukan. Kemudian. Islam dan Tantangan Modernitas Secara teologis. Meski demikian. Iislam merupakan fenomena peradaban. Pada posisi ini Islam adalah pandangan dunia (weltanschaung) yang memberikan kacamata pada manusia dalam memahami realitas. secara sosiologis. Jika kertas kerja mendatang dapat melakukan pemetaan tersebut. Dialog antara universalitas 13 . C.

Menurutnya. bukan gerakan modernisme Islam. Baik dalam makna obyektif atau subyektifnya. modernisme memiliki konteksnya sebagai gerakan yang berawal dari dunia Barat bertujuan menggantikan ajaran agama Katolik dengan sains dan filsafat modern. Apa yang disampaikan Azra adalah kenyataan modernisme dalam makna subyektifnya. Memang harus diakui. Azyumardi Azra lebih suka memakai istilah modern dari pada pembaruan. Azra beralasan penggunaan istilah pembaruan Islam tidak selalu sesuai dengan kenyataan sejarah. modernitas 14 . Pembaruan dalam dunia Islam modern tidak selalu mengarah pada reaffirmasi Islam dalam kehidupan muslim. Ketidakmampuan berdialog dapat menjebak agama pada posisi keusangan (kehilangan relevansi) atau pada posisi lain kehilangan otentitasnya sebagai pedoman hidup. tetapi juga tata nilai dan pola hidup mereka yang sering kali berbeda dengan tradisi yang dianut masyarakat obyek ekspansi. Sebaliknya. ekspansi gagasan modern oleh bangsa Barat tidak hanya membawa sains dan teknologi. yang sering terjadi adalah westernisasi dan sekularisasi seperti pada kasus Turki. 1975:11). Gerakan ini berpuncak pada proses sekularisasi dunia Barat (Nasution. Harun Nasution menyebut upaya tersebut sebagai gerakan pembaruan Islam. sedangkan Nasution mencoba melihat modern dengan makna obyektif. Berbeda dengan Nasution.nilai dan partikularitas konteks menjadi penting dan harus selalu dilakukan agar misi Islam sebagai rahmat semesta alam dapat diwujudkan. Pergulatan modernitas dan tradisi dalam dunia Islam melahirkan upaya-upaya pembaharuan terhadap tradisi yang ada.

Yahudi. Ini terjadi jika upaya tersebut berhsil dengan baik. Tetapi. Respons ini kemudian melahirkan gerakan-gerakan pembaruan. Pada titik ini umat Islam dipaksa memikirkan kembali tradisi yang pegangnya berkaitan dengan perubahan yang sedang terjadi. Islam memiliki potensi kuat untuk menjawab tantangan tersebut. ketidakberhasilan proses tersebut dapat membuat agama kehilangan relevansinya di zaman modern. Degradasi kehidupan keagamaan masyarakat muslim juga menjadi faktor penting terjadinya gerakan pembaruan. Islam Dan Perubahan Muara yang diharapkan dari proses dialektika nilai-nilai Islam dengan modernitas adalah keberlakuan Islam di era modern. Peristiwa penolakan terhadap geraja di awal zaman modern di Eropa dapat terulang kembali dalam konteks yang berbeda. skripturalisme (ajaran bahwa kitab suci dapat dibaca dan dipahami oleh siapa saja. dunia Islam. seperti yang dikutip Majid. Sebaliknya. di segala bidang. tidak ada kelas tertentu yang memonopoli pemahaman kitab suci dalam hierarki keagamaan). hanya Islamlah yang paling dekat dengan modernitas. ajaran tentang 15 .yang diimpor dari bangsa Barat membuat perubahan dalam masyarakat muslim. menyatakan bahwa di antara tiga agama monoteis. Banyak tokoh-tokoh umat yang menyerukan revitalisasi kehidupan keagamaan dan membersihkan praktekpraktek keagamaan dari tradisi-tradisi yang dianggap tidak islami. 1. Ini karena ajaran Islam tentang universalisme. Kristen dan Islam. pembaruan Islam bukan sekedar reaksi muslim atas perubahan tersebut. Ernest Gellner.

masyarakat secara luas spiritual (Islam (tidak mendukung ada sistem participatory kerahiban- egalitarianisme kependetaan). pemeluk Islam difasilitasi dengan intitusi tajdid (pembaruan. waqiiyah (kontekstual). Ada dua model tajdid yang dilakukan kaum muslim: seruan kembali kepada fundamen agama (al-Qur’an dan hadith). wasthiyyah (moderat-mengambil jalan tengah). dan mengajarkan sistematisasi rasional kehidupan sosial (Majid. 1995). insaniyah (sesuai dengan fitrah dan demi kepentingan manusia). Model pertama 16 . Dua model ini merupakan respons terhadap kondisi internal umat Islam dan tantangan perubahan zaman akibat modernitas.partisipasi democracy). Yusuf Qardhawi menilai kemampuan Islam berdialog secara harmoni dengan perubahan terdapat dalam jati diri Islam itu sendiri. tetapi aktualitas potensi tersebut membutuhkan peran pemeluknya. Ungkapan yang sering dipakai para pembaru Islam untuk menggambarkan hal ini adalah “al-Islam mahjub bi al-muslimin”. dan menggalakkan aktivitas ijtihad. Dalam mengaktualisasikan potensi tersebut. modernisasi). Pembaruan Islam Meski Islam potensial menghadapi perubahan. Potensi tersebut terlihat dari karakteristik Islam sebagai agama rabbaniyah (bersumber dari Tuhan dan terjaga otentitasnya). jelas dan harmoni antara perubahan dan ketetapan (Qardhawi. 467). 2. Ketidakmampuan pemeluk Islam dapat berimbas pada tidak berkembangnya potensi yang ada.

upaya pemurnian akidah dan ajaran Islam dari percampuran tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam. aspek muamalah (interaksi sosial) merupakan wilayah gerak tajdid dengan sedikit tabu di dalamnya. pernah menyatakan bahwa ulama merupakan pewarisnya. peran tersebut diambil alih oleh umat Islam sendiri. Di sini berlaku kaidah "semua dilarang kecuali yang diperintah".disebut purifikasi. Di sini. Pada aspek ini nilainilai Islam mewujudkan dirinya berupa paradigma (cara pandang) kehidupan. Sedang model kedua disebut dengan pembaruan Islam atau modernisme Islam (Achmad Jainuri. setiap ajaran Islam mengalami pembaruan yang berbeda-beda. Ajaran Islam menyediakan pedoman-pedoman dasar yang harus diterjemahkan pemeluknya sesuai dengan konteks ruang waktu yang melingkupinya. Pada wilayah ini yang berlaku adalah kaidah "semua 17 . peranan menjaga dan melestarikan risalah kerasulan selalu dilaksanakan oleh nabi atau rasul baru. pasca Muhammad SAW. Yang bisa dilakukan dalam kedua wilayah tersebut adalah pembersihan dari aspek-aspek luar yang tidak berasal dari doktrin Islam. dan di lain kesempatan ia menyatakan akan hadirnya mujaddid di setiap seratus tahun. Rasul Muhammad SAW. Jika sebelum Muhammad SAW. Ketiadaan rasul pasca Muhammad SAW. 1995:38). bukan berarti tiadanya pihak-pihak yang akan menjaga otentitas dan melestarikan risalah Islam. Dalam proses tersebut. Tajdid memiliki peranan yang signifikan. Aqidah dan ibadah merupakan domain yang sangat tabu tersentuh proses perubahan. Berbeda dengan itu. bahkan ada yang tidak boleh disentuh sama sekali.

Di sinilah. tidak bisa berubah maka yang terjadi adalah ketidakmampuan agama mempertahankan diri menghadapi zaman. maka agama akan kehilangan otentitasnya sebagai pedoman hidup manusia. Yang pertama berangkat dari nilai ajaran langsung ke wilayah praktis. Ini seperti yang terjadi pada gereja di abad pertengahan. Islam mengandungi ketetapan-ketetapan di satu sisi. 1997:170) penerjemahan nilai-nilai tersebut bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. dan 18 . kekhasan Islam seperti yang disebut Qardhawi di atas berperan. abadi dan tidak berubah tersebut tidak ada dalam agama.dibolehkan kecuali yang dilarang". Islam berdiri di tengah-tengah. abadi. Sebagai contoh adalah ayat yang menjelaskan Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak merubah dirinya sendiri. kemudian menjadi teori perubahan dan baru melangkah di wilayah perubahan sosial. Keberadaan tajdid menjadi bukti penting penghargaan Islam terhadaap kemampuan manusia. Menurut Kuntowijoyo (Kuntowijoyo. Ilmu fiqh merupakan salah satu perwujudan yang pertama ini. tetapi sebagai media mempertahankan otentisitas risalah kenabian. Batas-batas yang ada dalam proses tajdid bukan merupakan pengekangan terhadap kemampuan manusia. Nilai perubahan ini harus diterjemahkan menjadi filsafat perubahan sosial. Sementara yang kedua berangkat dari nilai ke wilayah praktis dengan melalui proses filsafat sosial dan teori sosial terlebih dahulu (nilai-filsafat sosial-teori sosial). Akibatnya. Ketika agama hanya menghadirkan aspek-aspek yang tetap. jika aspek-aspek yang tetap. Sebaliknya. agama akan kehilangan relevansinya.

menjadi tantangan yang harus dihadapi umat Islam di tengah kondisi keterpurukannya. Muhammad Iqbal. dengan segala efek positifnegatifnya. Gerakan lain dilakukan oleh Muhammad Abdul Wahab di Arabia pada abad ke 18 M yang menolak dengan keras tradisi yang tidak Islami (Jainuri. Taymiyah banyak mengkritik praktek-praktek islam populer yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan menyerukan kembali kepada syariat. dll. bahkan. 2002:15-17). dan sebagian yang lain condong pada modernitas. Jika pembaharuan pra-modern dilakukan sebagai otokritik praktek keagamaan populer masyarakat muslim. Rasyid Ridha. Sebagian pemikir tampak wajah puritanismenya. Dengan sikap terebut Islam bisa tetap eksis di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan otentitasnya sebagai agama ilahiah. Sayyid Sabiq. pembaruan era modern merupakan respons umat Islam terhadap tantangan yang ditawarkan oleh modernitas Barat. Di era ini tercatat beberapa tokoh yang cukup populer seperti alAfghani. terjebak pada pengagungan nilai-nilai modern (seperti sekularisme). Keinginan harmonisasi Islam dengan modernitas melahirkan banyak pemikir dengan karakteristik yang berbedaa-beda. Proses pembaharuan era modern mengalami dinamikaa yang cukup kompleks. Abduh.keluwesan-keluwesan di sisi lainnya. Umat Islam dituntut bekerja ekstra keras 19 . Modernitas yang melanda dunia Islam. Gagasan pembaharuan Islam dapat dilacak di era pra-modern pada pemikiran Ibn Taymiyah (abad 7-8 H/13-14 M).

mengembangkan seagala potensinya untuk menyelesaikan permasalahannya. Wallahu a`lam 20 . tidak boleh berhenti meski memerlukan cost yang besar. Tajdid sebagai upaya menjaga dan melsetarikan ajaran Islam menjadi pilihan yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh umat Islam. Upaya tajdid harus terus dilakukan.

3. Saran-Saran Dari kesimpulan di atas. Islam tidak menolak perubahan dan pembaharuan zaman. Kesimpulan 1. Islam merupakan agama yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta Allah SWT kepada manusia agar dapat hidup sesuai perintah-Nya sehingga tugas manusia sebagai kholifah di muka bumi dapat terlaksana setelah melakukan kerja keras menghadapi perubahan dan pembaharuan zaman sebagai dampak modernitas. maka kebijakan berikutnya saran pemikiran sebagai berikut : 21 . umatnya mampu Islam mampu menjawab berbagai tantangan zaman jika memandang secara menyeluruh konsep ajaran didalamnya sebagai teologi satu-satunya yang harus dipatuhi dan dilaksanakan dalam menghadapi perubahan peradaban dunia. B.BAB III PENUTUP A. sepanjang perubahan dan pembaharuan itu tidak mengurangi nilainilai syari’at yang baku sebagai jalan yang lurus untuk menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. 2.

umat Islam harus mampu memilah untuk memilih struktur komponen produk publik dengan barometer teologi Islam.1. Untuk menghadapi perubahan dan pembaharuan peradaban dunia sebagai efek arus globalisasi modern. Memandang Islam secara kafah (menyeluruh) merupakan harga mati yang harus dilakukan oleh umat dalam menghadapi perubahan dan peradaban dunia untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa barat yang jauh lebih maju dalam memberikan kontribusi terhadap dunia. 2. Untuk menerima hasil perubahan dan peradaban dunia sebagai tantangan zaman. 3. 22 . umat Islam harus senantiasa meningkatkan usaha dan kerja kerasnya dalam memberikan sumbangan publik dengan karya monumental dalam bentuk teknologi baru yang sesuai syariat teologi Islam.

.....................................................................Tujuan penyusunan ....12 1.........................................................................................................................................................................................................................................Islam dan Perubahan ................................................3 BAB II PEMBAHASAN ............................................................Rumusan Masalah ......................................6 1..............................................................................................................................................1 B.... A.... C.....................3 C..... KATA PENGANTAR .........................................................................................4 B...................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pengertian Islam .14 i ii 1 4 8 10 23 ................................................................. Modernisme ................................. A.....................................................DAFTAR ISI DAFTAR ISI ........................... Revolusi Teologi Islam Dalam Dunia Modern ................... BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................................................................................................................................................Latar belakang .............. 2.................................................................................................................................................Zaman Modern ..........................................Tantangan Modernitas ..............

.............. Atas Rahmat dan Ridho-Nya lah Makalah ini bisa diselesaikan dengan judul “ISLAM DALAM MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN”..........................Kesimpulan ........ Dalam penyusunan makalah ini......15 BAB III PENUTUP .................... A................ Rohmat dan Salam semoga tercurah kehadapan Baginda Rosulullah SAW.............................................2........................................................................................Pembaharuan Islam .................. keluarga dan umatnya................................... Fakultas Agama Islam Universitas Majalengka Tahun Akademik 2009-2010..................................................................... penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 24 ...................................................... shahabat..20 DAFTAR PUSTAKA 20 KATA PENGANTAR i Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan keharibaan Sang Maha Kuasa pencipta alam semesta Allah Ajawajala................................................................ Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kalam Pendidikan Guru Raudhatul Athfal................Saran-Saran .............................................................................................................20 B...........................

Dalam penyusunan makalah ini. Bapak Dekan Fakultas Agama Islam. 3. Atas Rahmat dan Ridho-Nya lah Makalah ini bisa diselesaikan dengan judul “ISLAM ADALAH MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN”. Bapak Rektor Universitas Majalengka. Fakultas Agama Islam Universitas Majalengka Tahun Akademik 2009-2010. untuk hal itulah saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Dengan kesadaran penuh penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. September 2010 Penyusun. KATA PENGANTAR ii Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan keharibaan Sang Maha Kuasa pencipta alam semesta Allah Ajawajala. M. Majalengka. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kalam Pendidikan Guru Raudhatul Athfal. Rohmat dan Salam semoga tercurah kehadapan Baginda Rosulullah SAW. Ibrohim. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 25 . H. Bapak Drs.Si (Dosen Ilmu Kalam) 4. Semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini. keluarga dan umatnya. shahabat. 2.1.

Harun. September 2010 Penyusun. Rajawali.Jakarta. Mimbar Demokrasi. untuk hal itulah saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Bapak Dekan Fakultas Agama Islam. Modernisasi ialah Rasionalisasi Bukan Westernisasi. Nasution. Dengan kesadaran penuh penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. 7. PT. Bandung. Kuntowijoyo.5. 2000. DAFTAR PUSTAKA ii Anshari. Semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini. Ibrohim. CV. 6. Pembaruan Dalam Islam. Jakarta Madjid. 26 . Bapak Rektor Universitas Majalengka. M. Saifuddin. Majalengka. Mizan Publika.Bulan Bintang : 1975.Si (Dosen Ilmu Kalam) 8. Bapak Drs.1997. Nurcholis. H.Paradigma Islam. Jakarta. 1993. Endang H. Wawasan Islam.

ISLAM ADALAH MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam 27 .

3.Disusun Oleh : NURWANTI NPM : 08.12.099 PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MAJALENGKA 2010 ISLAM DALAM MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam 28 .

099 PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MAJALENGKA 2010 29 .3.Disusun Oleh : NURWANTI NPM : 08.12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful