P. 1
Artikel miras

Artikel miras

|Views: 2,136|Likes:
Published by maoku

More info:

Published by: maoku on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

Artikel : Ekonomi Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - NULL, Kode Etik Pengembangan Modal oleh : Prof.Dr.

Abdullah al-Mushlih & Prof.Dr.Shalah ash-Shawi Bahasan Pertama: Larangan Memperdagangkan Barang Haram Telah dijelaskan sebelumnya bahwa asal dari jual beli adalah halal, kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya, berdasarkan firman Allah, artinya: "Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba." (AlBaqarah: 275). Telah diriwayatkan nash-nash atau dalil tegas yang mengha-ramkan banyak bentuk jual beli, seperti jual beli minuman keras, bangkai, babi dan sejenisnya. Tidak diragukan lagi bahwa apabila Allah mengharamkan sesuatu, pasti Allah juga mengharamkan menjualnya. Maka semua keuntungan yang berasal dari penjualan itu juga haram, karena dianggap cara mencari rizki yang kotor, berasal dari usaha yang rusak. Di antara nash-nash yang menun-jukkan kesimpulan itu adalah sebagai berikut: Diriwayatkan oleh Jabir y bahwa ia pernah mendengar Rasulullah a bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual minuman keras, bangkai, daging babi dan patung." Dalam lanjutan hadits: "Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi (terdahulu). Ketika Allah mengharamkan lemak hewan, mereka melelehkannya kemudian menjual dan memakan hasilnya." Dari Ibnu Abbas y diriwayatkan bahwa Nabi a pernah bersabda: "Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi. Ketika Allah mengharamkan lemak hewan, mereka kemudian menjual dan memakan hasilnya. Dan sesungguhnya apabila Allah melarang suatu kaum memakan sesuatu maka Ia pun melarang hasilnya." Diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas y bahwa ada seorang lelaki yang memberi hadiah kepada Nabi satu wadah minuman keras. Nabi a bertanya kepadanya, "Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengharamkan minuman keras." Orang itu menjawab: "Tidak." Lalu lelaki itu membisikkan sesuatu kepa-da temannya. Rasulullah a

" Maka lelaki itupun membuka tutup wadah minuman itu dan menumpahkan seluruh isinya. Ketika Allah mengharamkan lemak hewan. 'Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi. bahwa ketika diturunkan ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah. Sejauh mana perdagangan itu diboleh-kan? Apakah hukumnya sudah pasti sehingga tidak pantas lagi diperdebatkan dan tidak ada lagi perselisihan di dalamnya? Atau masih termasuk perkara syubhat dan masalah yang menjadi objek ijtihad? Itulah yang kami . "Sesungguhnya yang telah diharamkan oleh Allah untuk diminum juga diharamkan untuk dijual. Amatlah jelas bahwa persoalan ini merupakan keistimewaan ekonomi Islam. mereka mengolahnya kemudian menjual dan memakan hasilnya. "Diharamkan memperdagangkan minuman keras. Perdagangan Perhiasan Emas dan Perak Termasuk yang berkaitan dengan pembicaraan tentang per-dagangan komoditi haram atau barang-barang syubhat yang amat perlu untuk diketahui dan dikaji secara mendetail hal-hal yang masih samar di antaranya adalah perdagangan yang amat populer sekarang ini dengan adanya trend kaum lelaki yang mengenakan (memakai) perhiasan emas." Komoditi yang diharamkan itu asalnya tidaklah memiliki nilai jual alias tidak berharga menurut syariat. Beliau berkata.bertanya lagi. bukan sekedar bisa diterima dan dinilai memiliki harga jual oleh masyarakat. Karena nilai jual itu ditentukan oleh penghalalan syariat. 'Semoga Allah melaknat si Fulan itu. baik itu emas murni atau sekedar sepuhan emas. "Apa yang engkau bisikkan kepadanya?" Lelaki itu menjawab. "Aku menyuruhnya menjualnya saja. Apa dia tidak mengetahui bahwa Rasulullah a telah bersabda. Rasulullah a keluar dan bersabda. Dari Aisyah i diriwayatkan. " Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas y bahwa Ibnu Abbas menceritakan. Karena ekonomi buatan manusia tidak membeda-kan antara yang halal dengan yang haram." Beliau bersabda. karena mereka telah mencampakkan segala macam kode etik dari perhi-tungan mereka secara total. "Umar y pernah mendengar berita bahwa ada seorang lelaki yang menjual minuman keras. Bagi mereka sama saja antara proyek perjudian dengan proyek pembangunan. Perdagangan itu menjadi sebuah perniagaan yang amat menguntungkan sekali dan memberikan banyak uang kepada para pedagangnya.' Arti mengolahnya di sini adalah melelehkannya.

kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya dua barang ini diharamkan untuk kaum lelaki umatku. atau kalung emas. dari al-Barra bin Azib bahwa ia menceritakan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim juga. . dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah a pernah mengambil sehelai sutera dan meletakkannya di tangan kanan. atau melekat di pakaian itu sendiri sehingga terlihat. Diharamkannya Emas Murni Bagi Kaum Lelaki Para ulama telah bersepakat tentang diharamkannya emas murni bagi kaum lelaki. mahkota dan sejenisnya. Allah q berfirman: "Hai anak Adam. sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. namun dihalalkan bagi kaum wanita mereka. model lain). Pakaian adalah yang biasa dikenakan. bahkan mengancam kaum lelaki yang mengenakannya. bahwa Nabi melarang me-ngenakan cincin emas. dibaj (sutera." Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan yang lainnya. dari Abu Hurairah. dari Abu Musa al-Asy'ari: "Diharamkan mengenakan sutera dan emas bagi kaum lelaki umatku. maitsirah berwarna merah. istibraq (sejenis sutera tebal). baik itu yang berbentuk cincin. Karena banyak hadits-hadits yang shahih dan tegas yang mengharamkan emas murni itu bagi mereka. Maka hendaklah kamu bersyukur(kepada Allah). gelang. guna memelihara kamu dalam peperangan. Di antara dalil-dalil itu misalnya: Rasulullah a melarang mengenakan cincin emas. "Rasulullah a melarang tujuh hal: mengenakan cincin emas. qassiy dan bejana perak. baik itu baju atau baju besi." (Al-A'raf: 26). Arti Memakai Arti pakaian atau perhiasan dalam konteks ini adalah segala sesuatu yang melekat di badan dan dikenakan." Para ahli hadits telah menjadikan pengharaman kedua barang itu sebagai judul bab dalam buku-buku mereka. Diri-wayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dengan sanad kedua perawi tersebut. sutera. lalu mengambil emas dan meletakkan di tangan kiri.canangkan untuk dijelaskan dalam lembar-lembar berikut ini."(Al-Anbiya’: 80). Allah juga berfirman: "Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu." Demikian juga sabda Nabi a yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya.

Abu Daud dan an-Nasa’i dari hadits Muawiyah bahwa Rasulullah a me-larang menggunakan emas kecuali yang terpotong-potong. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm. al-Gazhali dan sebagian ulama Syafi'iyah. bahwa ukurannya juga hanya empat jengkal saja atau kurang. bukan menjadi tujuan utama. Bab: Diharamkannya mengenakan emas dan diharamkannya emas bagi kaum lelaki. kalung dan antingnya? Atau yang sedikit dan menjadi hiasan tambahan bukan hiasan utama bagi kaum lelaki.Dalam Shahih Muslim disebutkan. Ada juga yang mengharamkannya secara mutlak. Bab: Diharamkannya cincin emas bagi kaum lelaki dan dihapusnya hukum pembo-lehannya di awal Islam. hiasan telapak tangan dan . Ini adalah pendapat kalangan Hanafiyah: Ada juga ulama yang membatasi hiasan yang sedikit dan hanya sampingan itu. dengan alasan-alasan sebagai berikut: Adapun dibolehkannya emas dalam jumlah sedikit adalah berdasarkan dalil-dalil berikut: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya. Bab: Larangan mengenakan cincin emas. Ada juga ulama yang mengharamkan hiasan emas secara mutlak. namun membolehkan perak bila jumlahnya sedikit. Ada beberapa pendapat di kala-ngan mereka: Ada yang berpendapat hukumnya boleh apabila hanya sedi-kit dan hanya sebagai hiasan sampingan. Ada juga yang membolehkan emas bila jumlahnya sedikit dan hanya sebagai hiasan tambahan. Dalam Sunan an-Nasa’I disebutkan. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan ulama yang mengikuti pendapat beliau. Menghiasi Pakaian dengan Emas dan Perak Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghiasi pakaian dengan emas dan perak. Dalam Sunan Ibnu Majah. pendapat ter-akhir inilah yang paling tepat. Ini adalah pendapat kalangan Syafi'iyah dan Malikiyah. namun membolehkan hiasan perak tanpa batasan sama sekali. Ada juga yang mengharamkan hiasan emas secara mutlak dan membolehkan hiasan perak juga tanpa batasan. kalau jumlahnya hanya pa-ling banyak empat jengkal atau kurang. seperti bendera. Para ulama berbeda pendapat tentang arti terpotong-potong: apakah artinya berjumlah sedikit sebesar cincin wanita. Sesuai dengan konsekuensi teori yang ada.

hiasan dan rumbai-rumbai (dari sutera) dibolehkan karena jumlahnya sedikit dan hanya merupakan hiasan tambahan. Indikator dalam kedua hadits ini bahwa masing-masing dari motif. tidak bagi kaum wanita." Demikian juga yang diriwayatkan oleh Muslim. dari Asma binti Abi Bakar bahwa Rasulullah pernah mengenakan jubah yang memiliki dua lubang lengan yang dihiasi dengan sutera tipis. baik itu yang terpotong-potong maupun yang utuh. tiga atau empat jari. jelas kesimpulan yang bertentangan dengan alur kalimat dan bertentangan juga dengan keumuman berbagai dalil yang menjelaskan dibolehkannya emas bagi kaum wanita. Bahwa berbagai riwayat lain dari hadits itu mengunggulkan pendapat bahwa yang dimaksud dalam hadits itu adalah kaum lelaki." Yang dalam bentuk potongan itu adalah emas dan perak." Emas yang hanya dijadikan sebagai hiasan tambahan dibo-lehkan sebagaimana sutera yang dijadikan sebagai hiasan tam-bahan. "Diharamkan mengenakan sutera dan emas bagi kaum lelaki umatku. bukan kaum wanita. Maka keringanan yang diberikan pada salah satunya bila jumlahnya sedikit. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Muawiyah bahwa Rasulullah a melarang menge-nakan sutera dan emas kecuali dalam bentuk potongan. Padahal jelas bahwa keduanya itu halal bagi kaum wanita. namun dihalalkan bagi kaum wanita mereka. Bahwasanya Nabi a menjadikan sutera dan emas dalam satu hukum melalui sabda beliau. juga berlaku bagi jenis lain-nya dengan cara yang sama. Emas adalah salah satu dari dua barang yang diseiringkan oleh Nabi dalam menyebutkan keharamannya bagi kaum lelaki.sejenisnya? Yang membuktikan bahwa artinya adalah yang sedikit dan menjadi hiasan tambahan bukan hiasan utama bagi kaum lelaki yaitu dalil berikut: Emas yang dibolehkan untuk kaum wanita bersifat umum. Karena di situ digabungkan antara haramnya sutera dengan haramnya emas. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar bin alKhaththab y bahwa Nabi a pernah melarang me-ngenakan sutera kecuali seukuran dua jari. Keringanan motif dan rumbai-rumbai dari sutera juga merupakan keringanan untuk emas dengan indikasi . Sehingga larangan dan pengecualian itu hanya untuk kaum lelaki. Emas dan sutera sama derajat keharamannya. Dialamatkan-nya larangan mengenakan sutera untuk kaum lelaki dan larangan mengenakan emas untuk kaum wanita.

bukan jumlah sedikit yang hanya menjadi hiasan sampingan. Kesimpulan demikian diambil untuk mengkompromikan antara nash-nash yang ada dan untuk dapat mengamalkan semua dalil yang ada. Gunakanlah perak itu untuk bermain-main. maka itu berdasarkan dalil-dalil berikut: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Daud dari hadits Abu Qatadah bahwa Nabi a pernah bersabda: "Barangsiapa yang ingin mengalungi orang yang dikasihinya dengan kalung dari api neraka. Syariat telah memberikan keringanan pada rumbai-rum-bai. hendaknya ia mengenakan kepadanya cincin dari emas. bahwa apabila sampai pada batas bermewah-mewahan. tetap dibolehkan. Sementara berkaitan dengan dibolehkannya mengenakan perhiasan perak tanpa batasan sebagai perhiasan mubah. Barangsiapa yang ingin mengenakan gelang dari api Neraka kepada orang yang dikasihinya. . Sementara alasan bahwa emas yang digunakan sebagai hiasan itu meskipun sedikit tetapi bisa menyebabkan terjadinya tabdzir dan sikap sombong. itu ditafsirkan bila cincin ter-sebut terbuat dari emas saja. sehingga tidak dapat dijadikan acuan. maka hendaknya ia mengalungi kekasihnya dengan kalung dari emas. Dalil-dalil umum yang dijadikan alasan oleh mereka yang melarangnya dikhususkan oleh hadits-hadits larangan terhadap emas selain yang terpotong-terpotong seperti disebut sebelumnya. Namun selain itu. hendaknya ia mengenakan kepadanya gelang dari emas. maka itu dilarang berdasarkan nash-nash umum yang mengharamkan (kaum lekaki) mengenakan emas. Adapun alasan dengan larangan Rasulullah terhadap orang yang mengenakan cincin dari emas." Artinya. tiga atau empat jengkal. Itu hanyalah dalil logika yang bertentangan dengan nash. Bisa dijawab. Dan barangsiapa yang ingin mengenakan cincin dari api Neraka kepada orang yang dikasihinya. Keumuman dalil-dalil yang mengharamkan sutera juga dikhusus-kan oleh riwayat yang memberi keringanan untuk sutera dengan ukuran dua. Namun hendaknya kalian mengenakan perak.dalil yang sama. Rumbairumbai itu sendiri terkadang terbuat dari campuran sutera dan terkadang dari campuran emas. silakan kalian gunakan sekehendak hati kalian.

Juga dibolehkan bagi kaum lelaki sebatas yang diperlukan saja. sementara orang dewasa menge-nakannya sendiri. menjadi fa'ilah atau habibah agar tidak menjadi rancu. Adapun hadits: "Silahkan buat dari perak. Kalau kata ini digunakan sebagaimana layaknya nama-nama biasa. seperti hiasan pada sebilah pedang. kata habib (kekasih) yang dise-butkan dalam hadits timbangan katanya adalah fa'il yang memi-liki arti sebagai objek (yang dikasihi). Emas sedikit yang hanya menjadi hiasan sampingan dibolehkan. Karena qiyas itu juga dengan perbedaan alasan yang jelas. Lemahnya qiyas perak dengan emas dalam keharaman. maka harus ditambahkan huruf ta' diakhirnya. atau hanya sebagai hiasan sam-pingan. Dalil lain adalah penggunaan kaidah istishab bara’ah ashliyah (asal dari segala sesuatu dihukumi dengan hukum terakhir yang melekat padanya sebelum mengalami perubahan). Sedangkan pembolehan perak secara bebas dalam masalah bejana adalah tidak ada. apalagi bila harus bertentangan dengan dalil-dalil umum lainnya. Maka mana mungkin bisa dibuat qiyas dengan adanya perbedaan yang jelas antara emas dan perak ini? Lemahnya alasan yang menyamakan antara pakaian berhias perak dengan emas karena kedua hiasan itu sama-sama diharam-kan dalam bentuk bejana. Bab tentang pakaian itu cakupannya lebih luas dari bab tentang bejana. bila yang diinginkan adalah jenis kelamin perempuan. tanpa ada perbedaan pendapat. Asal dari sega-la yang diciptakan oleh Allah adalah halal kecuali bila ada dalil yang mengalihkannya dari halal menjadi haram. bukan wanita. Sementara secara etimologi. Pakaian emas dan perak dibolehkan seca-ra mutlak bagi kaum wanita.Yang dimaksudkan dengan kekasih dalam hadits itu adalah anak bayi. seperti cincin." adalah hadits lemah yang tidak bisa dijadikan hujjah. tetapi tidak boleh lebih berat dari satu mitsqal. Karena anak kecillah yang biasanya dipakaikan perhiasan. bukan wanita atau istri. Semen-tara perak justru dibolehkan sebagai perhiasan tersendiri maupun sebagai hiasan sampingan. maka yang dimaksudkan adalah jenis kelamin laki-laki. Karena qiyas itu bertolakbelakang dengan nash. Karena di sini kata itu tidak menggunakan ta'. Dalam hadits sudah disebutkan dibolehkannya perak untuk dijadikan perhiasan secara terpisah. .

Menyepuh sesuatu.Pakaian Bercat Emas dan Perak Arti Sepuh dan Cat Serta Perbedaan Antara Keduanya Mayoritas ulama berpendapat bahwa sepuhan dengan cat itu sama saja. hukumnya haram bagi kaum lelaki tanpa ada perbedaan pendapat. Karena sepuhan itu adalah hiasan sampingan yang terkon-sumsi sehingga tidak dikatakan murni. karena dengan cara itu hilanglah sebab keharamannya. kalaupun warnanya tetap ada tetapi tidak dijadikan ukuran. berdasarkan pendapat dalam persoalan sebelumnya yang juga penulis unggulkan. Yang paling tepat menurut penulis adalah pendapat tera-khir. kecuali warnanya sudah luntur dan tidak tersisa sedikitpun dengan cara dibakar. Namun kalangan Hambaliyah membedakan antara kedua-nya. Pendapat kedua: Boleh. seperti kalung dan gelang lalu dikenakan oleh kaum lelaki. Hukum Mengenakan Sesuatu yang Disepuh dengan Emas dan Perak Ada dua pendapat di kalangan ahli fiqih: Pendapat pertama: haram. Adapun cat adalah mengubah emas atau perak men-jadi semacam lempengan tipis lalu digunakan untuk mengecat atau menyampul sesuatu. Mereka menyatakan. maka terkumpullah alasan keharaman lain. sikap sombong dan sikap yang menyakiti hati orang-orang yang miskin. Orang-orang yang meniru kaum wanita dilaknat melalui lisan Nabi a. Dengan dasar itu semua: Kalau dari emas murni seperti yang berbentuk jam misalnya. Kalau berasal dari perak murni. Malikiyah dan juga pendapat yang zhahir dari kalangan Syafi'iyah. Ini adalah madzhab Hanafiyah. bila tidak berupa emas atau perak murni. "Sepuh artinya menaruh sesuatu ke dalam emas atau perak yang sudah dicairkan untuk mengambil warnanya. Kalau berupa perhiasan wanita. seperti sikap berlebihan. artinya mencatnya dengan emas atau perak. Sesuatu yang terkonsumsi dianggap tidak ada. Lebih jelas lagi . tidak menjadi masalah me-nurut pendapat yang paling benar di kalangan ulama. Wallahu a'lam. Ini adalah pendapat yang kuat menurut kalangan Hambaliyah. yakni dibolehkannya mengenakan emas dengan jumlah sedikit dan dibolehkannya perak tanpa batasan ukuran. yakni menyerupai wanita.

maka juga haram dipa-kaikan kepada orang lain. Itulah pendapat yang dijadikan sandaran Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun dosanya ditanggung oleh orang yang memakaikan emas itu kepada si anak kecil. lalu kami buang ke selokan. puh. maka menjadi ha-ram hukumnya. Ibnu Mas'ud dan Hudzai-fah pernah merobek pakaian sutera yang dikenakan anak kecil. . Mereka tentu saja tidak secara nekat merobek dan merusak milik orang lain kalau barang itu adalah halal." Yakni agar anak itu melepehkan atau meludahkan kurma itu kembali. Namun kalau jumlahnya banyak. juga dibolehkan menurut pendapat ulama yang paling benar. Beliau bersabda. Memberi Hiasan Emas dan Perak Kepada Anak Kecil Yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak yang belum baligh dari kalangan kaum lelaki. Ada dua pendapat di kalangan mereka: Pertama: Haram. "Kami biasa mengeluarkan kembali makanan meski sudah berada di mulut anak-anak kecil. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan hiasan emas dan perak kepada mereka. haram diminum dan haram juga diminumkan kepada orang lain. karena kaum mus-limin diperintahkan untuk memelihara anak-anak mereka. Semua kisah di atas mengandung pelajaran perlunya mem-biasakan anak kecil berpegang pada hukum-hukum syariat sehingga ia terbiasa dan mengenalnya secara baik. Seperti halnya minuman keras. Di antara dalil mereka dalam hal itu yaitu: Dalil-dalil umum yang menunjukkan haramnya emas dan sutera bagi kaum lelaki. "Tidakkah engkau tahu bahwa kita dilarang memakan sedekah?" Diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Jabir bahwa ia berkata." Diriwayatkan juga bahwa Umar. Kalau sesuatu itu haram dikenakan.kehalalannya bila hanya berupa sepuhan perak saja. Pengharaman itu tidak dikecualikan bagi umur tertentu. Kalau hanya sepuhan emas atau hanya mengandung po-tongan emas kecil. "Puh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sabda Nabi a kepada Hasan bin Ali ketika anak kecil itu memakan sebi-ji kurma sedekah (sedekah itu haram bagi sanak keluarga Rasul).

php Versi Online : index. Diqiyaskannya memakai sutera dan emas ini dengan minuman keras dan babi jelas merupakan qiyas dengan alasan yang berbeda (qiyas batil). Karena minuman keras dan babi memang secara mutlak tidak boleh dimiliki. Yakni selama mereka masih anak-anak hingga mereka dewasa. Wallahu a'lam. peliharalah diri kalian dan keluar-gamu dari siksa Neraka. karena adanya nash-nash shahih yang menjelaskan bahwa wali anak kecil dituntut untuk mengajak si anak mening-galkan perbuatanperbuatan haram dan untuk melaksanakan per-buatan wajib. Allah q berfirman: Artinya. Kita telah menyaksikan bagaimana Rasulullah mencegah al-Hasan memakan kurma dari kurma sedekah bahkan beliau mengeluarkan kurma yang sudah berada dalam mulut al-Hasan. Lain halnya dengan emas dan sutera. Pendapat itu dibantah bahwa anak kecil itu meskipun belum mendapatkan beban taklif. Perbuatan para sahabat sendiri telah diriwayatkan sebagai contoh praktis dari bimbingan Nabi a yang mulia ini. Di antara dalil-dalil mereka terhadap keputusan itu adalah: Karena anak kecil belum mencapai usia taklif.Pendapat kedua: boleh." (At-Tahrim: 6). Ia terbebaskan dari beban hukum. Perbuatan anakanak kecil itu sama hukumnya dengan perbuatan orang dewasa.php/?pilih=indexekonomi&id=67&section=e008 . bahwa perbedaan tersebut sama sekali tidak berpengaruh. "Hai orang-orang yang beriman. akan tetapi walinya diperintahkan untuk membantu dirinya menegakkan hukum Allah dan RasulNya. Ini adalah pendapat kalangan Malikiyah dan Syafi'iyah. Hanya saja tanggungjawab dan dosanya ditang-gung oleh para wali mereka.. Yang jelas bagi kami melalui pemaparan ini adalah keung-gulan pendapat kalangan Hanafiyah dan Hambaliyah tentang ha-ramnya memberi hiasan emas dan sutera kepada anak kecil. Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index. Alasan ini dibantah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->