Pengaruh Reaksi antara Bahan Bakar dan Matriks Pelat Elemen Bakar U3Si2/Al pada Temperatur tinggi terhadap

Panjang Pelat.
Suwardi Pusat Teknologi Bahan Bahan Nuklir - BATAN, Kawasan Puspiptek, Serpong suwardi@batan.go.id Abstrak Reaktor Serba Guna GA Siwabessy telah menggantikan bahan bakar dengan bahan bakar jenis silisida yang mampu memuat uranium yang lebih rapat, pada waktu ini densitas urnium 2.92 g/mL. Salah satu usaha peningkatkan ekonomi bahan bakar, dilakukan dengan mempertinggi densitas U dengan meningkatkan fraksi bahan bakar dalam daging dispersi U3Si2/Al. Masalah timbul terkait antara lain konduktivitas termal menurun oleh pembentukan reaksi bahan bakarmatriks yang lebih besar. Reaksi antara U3Si2 dan Al menghasilkan senyawa-senyawa aluminida yang densitasnya rendah dfaripada kombinasi densitas dari unsur penyusun. Ini berakibat pada penurunan konduktivitas termal serta penggembungan termal tinggi yang dapat mempersempit celah air pendingin. Mereka meningkatkan suhu bahan bakar.Pada penelitian ini dilakukan analisa pengaruh bengkak termal pada bahan bakar dengan angka muat yang lebih tinggi, yaitu 4.2 gU/mL pada suhu 170, 350, dan 550 oC. Pengukuran dilakukan sampai waktu pemanasan sampai 96 jam. Dari data eksperimen dapat dihitung laju pembengkakan termal linear sejajar arah pelat yaitu, rerata pada 12 jam pertama adalah 0.00125 0.0025, 0.00458 µ m/jam, dan sedangkan mulai 12 jam hingga 96 jam adalah 0.00104, 0.00115, dan 0.00126 µ m/jam berurut untuk seri temperatur tersebut. Data pemanjangan ini lebih rendah dibandingkan dengan perhitungan pembengkakan yang diperoleh dari kinetika reaksi pembentukan senyawa aluminida pada bahan dispersi yang sama oleh penelitian lain. Hal ini dapat dijelaskan dengan adanya pengereman oleh kelongsong Al, sebagaimana telah disebut oleh Kim pada jenis bahan bakar dispersi yang sama. Disarankan untuk melengkapi penentuan bengkak termal arah transversal, atau tegaklurus dengan bidang plat. Kata-kunci: reaksi fasa padat, dispersi U3Si2 / Al, bengkak termal
Abstract. Multi Purpose Reactor GA Siwabessy initially use uranium aluminide fuel and uranium oxide fuel. Start in 1999 have replaced it with the fuel of type silicide, which capable to load denser uranium, now the U loading is 2.92 g / mL. Technically, this fuel can be made as dense as 6 g-U / mL. The fuel density may be augmented by increasing fuel volume fraction of dispersive fuel to improve its economy. Some problem rise when the denser fuel is irradiated at high temperature, by the formation of uranium aluminide reaction layer. The thermal conductivity of the layer is lower than the original material. Reaction between U3Si2 and Al yield the compound aluminide which lower thermal conductivity. This cause degradation of thermal conductivity and also high thermal swelling which can decrease the canal dimension of coolant flowing. This research is conducted by to analyse thermal swelling of higher U density fuel, that is 4.2 g-U / mL at temperature 170, 350, and 550 oC. Experiment is conducted for aniling time of 96 hours. The longitudinal swelling rate has been determined from experimental data. During the first , 12 hours the rate is 0.00125 0.0025, 0.00458 um / hours, from 12 to 96 hours is 0.00104, 0.00115, and 0.00126 um / hours for the above serial temperature. This expansion data is lower compared to swelling calculated from reaction kinetics of aluminide formation of similar research. This is explainable with the existence of resistance of Al cladding, as this matter have been noted by Kim of same fuel type. It is suggested to complete the experiment of thermal swelling in transversal direction, or perpendicular with the plate area. Key words: Solid state reaction, U3Si2/Al dispersion, thermal swelling.

dan 5. Dalam makalah ini ditinjau hasil penentuan koefisien muai termal dan perubahan panjang sebagai fungsi suhu dan waktu pada pelat elemen mini..] hasil.. Selain itu dari tabel hasil/perhitungan tampak hasil akhir tanpa hasil antara tanpa didahului atau diberi penjelasan rumus yang dipergunakan. Di Indonesia. 4. Suparjo dkk. Adata ini diperlukan pada analisis keselamatan eksperimen iradiasi.. Untuk melengkapi Laporan Analisis Keselamatan sekaligus data kualifikasi. khusunya termofisik bahan : konduktivitas termal. 525. termasuk untuk analisis keselamatan uji iradiasi. 500..96 g-U/mL yaitu densitas elemen bakar yang sedang digunakan dalam reaktor RSG-GAS. Selain itu diperlukan karakterisasi pelat elemen bakar pra-iradiasi. dengan waktu mencapai…. diperlukan pengujian pra-iradiasi atau uji dingin.4. CNEA xx. dengan mengacu persyaratan pabrikasi dan uji. Tinjauan ini dilakukan karena dalam abstraknya disebutkan data koefisien muai termal yang tergantung dari suhu. Dengan demikian diperlukan penentuan karakteristik termal dari bahan bakar yang akan diprediksi. antara lain uji termal bahan bakar dispersi itu..2. penelitian yang mirip dengan itu telah dilakukan untuk bahan bakar U3Si2/Al yang dikembangkan Batan sebagaimana telah dipublikasikan dalam PIIDBBN=2000 xx].2. 0x]..]. Penerapan data ini untuk keperluan prediksi bahan bakar produksi Batan menemui kendala antara lain perbedaan stuktur. koefisien muai panjang dengan pengamatan dilatometrik (dL/(Lo. Batan bekerjasama dengan PT Batan Teknologi telah berhasil dibuat prototipe pelat elemen bakar U3Si2-Al dengan densitas U..2 g-U/mL.Pendahuluan Dalam rangka pengembangan bahan bakar dengan densitas lebih tinggi untuk memenuhi permintaan peningkatan ekonomi bahan bakar. Waktu yang digunakan mencapai 4 hari. 3. Pengujian dimaksudkan untuk menentukan pengaruh reaksi antara bahan bakar dan matriks Al pada kondisi temperatur dan waktu fabrikasi serta suhu dan waktu dalam reaktor tanpa radiasi dan tanpa reaksi fisi. terhadap kinerja bahan bakar.6. Sementara pengamatan densitas dan perubahan dimensi juga telah . difusivitas termal.2. dan ekspansi termal baik muai maupun bengkak untuk memprediksi kinerja khususnya keselamatan bahan bakar dalam reaktor. mikrostruktur dan geometri kedua bahan bakar.8.dT). Pengujian ini lazim disebut dengan uji kompatibilitas termal 1. yang hanya melibatkan reaksi yang disebabkan oleh perubahan suhu dan dalam jangka waktu sebagaimana dalam reaktor. ANL …. Prototipe itu dimaksudkan untuk uji iradiasi di RS-GAS Suparjo dkk-96. Park…. Penelitian di sebelumnya yaitu uji kompatibilitas termal dilakukan pada suhu 350.. Uji iradiasi diperlukan sebagai langkah kualifikasi untuk mendapatkan lisensi bahan bakar yang dikembangkan. Hal ini disebabkan dalam reaktor selain suhu dan waktu pengruh beban iradiasi netron cepat dan netron termal serta tenaga kinetis tinggi dari recoil inti berat hasil belah dan reaksi nuklir yang jauh lebih rumit dari sekedar efek suhu dan waktu. Di Luar Negeri Kim dkk 4] melakukan uji kompatibiltas termal U3Si2/Al pada suhu …. Daa yang diperoleh antara lain dibutuhkan untuk prediksi perilaku bahan bakar.3.3. 4. 400. Densitas tersebut lebih tinggi daripada 2. Pada umumnya uji dilakukan pada suhu melebihi suhu di reaktor dan demikian pula waktunya. perubahan entalpi dengan menggunakan DTA. bahan bakar U3Si2/Al berdensitas xx g-U/mL. hasil eksperimen iradiasi selanjutnya digunakan untuk menguji dan memperbaiki model kinerja setidaknya data untuk analisis yang lebih lengkap yaitu dengan adanya tambahan data kinerja iradiasi.. 550 oC dengan waktu bervariasi dari 1600 jam hingga 2000 jam 1.

berdasarkan pada proses perolan dan perbandingan dimensi tebal-lebar-panjang. Asumsi yang digunakan dalam analisis ini adalah data publikasi [1] Hipotesis : atas dasar definisi koefisien. dengan demikian penambahan lebar maupun panjang pelat tidak berpengaruh terhadap termohidrolika teras. secara menyeluruh densitas hasil reaksi lebih kecil daripada densitas komponen pembentuknya. Sampai dilakukan peninjauan ini. tetapi metodologinya jauh berbeda. Sehingga terjadi reaksi antara bahan bakar dan matriks dan menghasilkan porositas disekitar fasa senyawa antar logam (U. sifat yang tidak lazim. bukannya pelat daging komposist. Dalam kaitannya dengan keselamatan reaktor. dan dikendalikan oleh proses interdifusi dengan Al lebih dominan. sementara reaksi kimia fasa padat pada umumnya dikategorikan irreversibel. dkk]. dan evolusinya dengan waktu. Disebutkan data sangat berguna bagi fabrikator elemen bakar. selajutnya untuk perhitungan disain prototipe pelat atau berkas bahan bakar. serta analisis kualitatif perubahan dimensi oleh perubahan reversibel – perubahan disebabkan transformasi fasa dan reaksi kimia fasa padat dengan difusi sebagai pengontrol kinetika. Sementara penambahan panjang pelat diakomodasi dengan celah atas sedangkan penambahan lebar pelat hanya menambah kelengkungan pelat kearah yang sama oleh karena pelatpelat dalam berkas bahan bakar dipasang melengkung kearah yang sama. Metodologi Bahan penelitian ini adalah prosedur dan hasil eksperimen [1] khususnya hasil eksperimen dan prosedur eksperimen. belum ditemukan hasil atau rencana penelitian lanjutan perihal perubahan tebal pelat elemen bakar sebagai fungsi waktu dan suhu simulasi dalam reaktor. Hal ini disebabkan perubahan penambahan tebal akan mengurangi luas celah pendingin berakibat penurunan aliran air pendingin. Sifat termomekanika bahan komposit. menaikkan suhu pelat.dilakukan pada penelitian berbeda xxx]. yaitu waktu hanya beberapa menit bukan ratusan jam dan bahan yang diuji adalah campuran serbuk.atau suhu. perubahan tebal pelat merupakan parameter utama dari perubahan volume selama dalam reaktor. maka kecenderungan prosen muai arah tebal melebihi prosen arah lebar maupun panjang. Penentuan koefisien muai termal dilakukan dengan waktu yang amat panjang. Data hasil perhitungan tidak didahului atau diberi definisi. Kemudian dilakukan perhitungan evolusi bengkak termal. sementara nilainya tergantung dari temperatur. Penelitian yang dilakukan adalah pada prinsipnya penentuan (koefisien) muai panjang PEB mini sebagai fungsi suhu dengan waktu yang relatif panjang. Reaksi fasa bersifat reversibel. Analisis pemuaian termal dan pembengkakan termal pelat elemen bakar (mini) U3Si2-Al produk Batan. Pendekatan masalah dilakukan dengan perhitungan koefisien muai termal dari definisi konvensional dan hasil penelitian lain yang telah dilakukan yang lebih lengkap untuk bahan bakar U3Si2-Al bukan produksi Batan. hanya diperoleh penelitian semacam sebelumnya. Selain itu. Batan telah melakukan penelitian berjudul kestabilan termal bahan bakar U3Si2-Al aslina. Dilakukan perhitungan muai termal. Pertama-tama data yang diperoleh dimanfaatkan untuk analisis keselamatan eksperimen iradiasi. .Si)Alx karena Al berdifusi kearah U3Si2. tetapi tidak dijelaskan dapat digunakan untuk apa. rumus atau cara menghitung. baik serbuk U3Si2 diperoleh secara mekanik maupun atomisasi. demikian pula bahan U3Si dan U-Mo.

kimia yang dapat tidak kelangsungannya merupakan fungsi suhu.: Hubungan waktu dengan dL PEB mini pada 3 tingkatan suhu pemanasan. khusus untuk iradiasi netron dengan bahan fisi. Dalam hal bahan isotrop kaitan aL=aP=aT. Pembengkakan iradiatif : Interaksi netron cepat hingga lambat dan sinar atau partikel radioaktif dengan materi. Pemuaian termal bahan murni mempunyi karakter konstanta yang disebut koefisien muai termal linear dan volumik. dalam arti bila radiasi dihentikan sifat bahan tidak akan kembali pada sifat sebelumiradiasi. . : (1+aV) = (1+aL)^3. disertai grafik. linear atau volumik. Data yang diperoleh disajikan pada tabel-1. partikel hasil belah dengan energi kinetik sangat besar. sehingga besarannya tergantung suhu dan waktu. aV = dV/(Vo. atau transformasi metalurgi yang dapat terjadinya dan lajunya tergantung pada suhu. P tetap (1) Salah satu karakteristik termomekanik benda padat adalah koefisien muai termal linear : aL = dL/Lo.. menghasilkan netron. Untuk bahan isotrop ketiga ciri memiliki nilai yang sama. Koefisien muai termal didefinisikan sebagai perubahan dimensi per kenaikan suhu : Untuk benda umunya. dapat mempengaruhi sifat bahan melalui bermacam proses . Prosedur eksperimental secara singkat sbb. Salah satu sifat termomekanik bahan padat bentuk pelat dicirikan dengan koefisien muai termal memanjang (aP). aP=aL=aT=aL Pada bahan isotrop. aV ~ 3aL (4) (5) (3) Pembengkakan: pertambahan panjang atau besar volume disebabkan oleh perubahan fisis ireversibel atau proses kimia Pembengkakan termal : terjadi reaksi kimia. Proses metalurgis.Berdasarkan makalah yang telah diterbitkan dalam prosiding PII-DBBN 2000 [1]. dapat ditentukan hubungan antara aL dan aV sbb.dT. dan koefisien muai termal menebal (aT). P tetap (2) dengan aL tidak tergantung suhu. iradiasi dapat menyebabkan reaksi pembelahan.Bersifat permanen atau tetap. sementara lajunya juga dipengaruhi oleh temperature. Pemuaian termal bahan murni dicirikan dengan satu sifat termomekanik yang disebut koefisien termal. khususnya benda cair dan gas karakteristik termomekanik adalah koefisien muai termal volumik. koefisien muai termal melebar (aL).dT).

25.5 3 3. Bengkak termal dihitung dari pemanjangan total dikurangi dengan pemuaian termal.24.28. Dalam abstrak dan pengolahan hasil disebutkan bahwa koefisien muai PEB adalah 24.5 4 aL Pemuaian memanjang (um).6-28.3+0.4+0.3.3 mm plat <Al + U3Si2/Al + Al>). Disimpulkan bahwa :…. Apabila benda mendapatkan beban tarik tetap.6 (E06/C) pada 550 oC.2-24. [1] Waktu.3 (E-06/C) pada 170 K. tidak bertambah dengan waktu.3 (E-06/C) 25.2 .2 (E-06/C) pada 350 oC.5 .2 26. hari 0. Dari data evolusi pembengkakan. dan 4 tabel dan data ukuran PEB dapat dihitung aL=dL/(Lo. dan 26. Perhitungan koefisien muai termal memanjang.(dT)]/dt (7) (6) . Pertambahan panjang pelat U3Si2/Al berkelongsong Al (dimensi 50 mm x 20 mm x (0.5-26. krip yang diderita berupa perubahan panjang. Pemanjangan bengkak termal didefinisikan sebagai pemanjangan oleh transformasi fasa atau/dan reaksi kimiawi. Bengklak termal dihasilkan oleh reaksi antara bahan bakar dan matriks.5 2 Pemuaian memanjang (um). mikrografi semacam itu tetapi untuk PEB setelah dipanaskan pada 170 oC dengan pembesaran 50. L0 panjang saat T=T0 serta dianggap To = 30 oC. 3 macam suhu (oC) 170 350 550 83 333 433 158 370 625 167 416 678 176 423 683 184 423 691 191 441 697 Waktu. Yang dihitung dengan dL/(Lo.5 1 1. pembesaran ~ 200. Dari dL pada kolom 2.Sifat termomekanik lain yang sedikit mirip untuk benda pada khususnya logam dan paduan adalah krip.dT) ~ (L-L0)/Lo x 1/(T-To) dengan notasi seperti diatas L tebal saat t dan suhu T. Bahan yang bersuhu tinggi rentan terhadap deformasi oleh krip. Apabila salah satu atau keduanya telah habis bereaksi maka pembengkakan akan berhenti.dT) sebagai fungsi t dan T. 3 macam suhu (oC) 170 350 550 191 441 697 197 455 704 202 463 711 205 471 717 212 475 725 24. yaitu dengan rumus : aL = DL/(Lo.25 0.26.1 0. Didefinisikan sebagai deformasi permanent yang berlangsung lambat pada benda yang mendapatkan beban tetap. Tabel-1. diturunkan menjadi laju reaksi pembengkakan : (dl/Lodt). Reaksi tergantung pada suhu dan aktivitas komponen. diangap setelah anil 4 hari serta gambar mikrografi mikroskop elektron (BS) menggambarkan map unsur dengan 2 macam pembesaran.dt) = dL/Lo – alpha. hari 2 2.6 (E-06/C) (E-06/C) Catatan : aL = koefisien ekspansi termal Mikrografi potongan melintang PEB segar.6 . 300 dan 1000.

dT) x10^6 3 macam suhu (oC) 350 550 62.42308 85.38027 3.07692 27. kesetimbangan mekanikal daging dan kelongsong lebih berperan.65385 16. Dimensi 50 x 20 x (0.35+0.28571 26.65385 Rerata 37.1 11.9375 27.24496 0.28594 ANOVA : suhu.% 35 30 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 170oC 350oC 550oC 0. hari 170 35.07692 52.57143 67.57143 75.07692 25.16346 52.46635 47.375 72.23077 79. Tampak dalam gambar-1.3125 81. hari w aktu anil.85714 90. Reaksi ini dikendalikan oleh proses interdifusi.57143 87.76671 4 30.73077 82.28571 29.8125 82.11538 78 78.28365 57.6875 80.26923 25. dengan waktu menahan pada suhu tersebut bervariasi.37019 55.57692 26.25 22.8125 16.5 23. dL/Lo. 0.85714 84.01442 57. sehingga cepat pada suhu tinggi.35.3 dalam mm (dL/(Lo.3125 78. waktu mana signifikan? Jawab: Waktu Waktu.88462 29.dT)) x 10^6 3 macam suhu (oC) 170 350 550 Rerata 0. 10^6/K (2) 170 C 0. sedangkan koefisien ekspansi termal volumik.12 0. yaitu U3Si2-Al.71429 71.45.85714 26 26.31136 1 25.03846 88.42857 86. KOEFISIEN MUAI PANJANG KOMPOSIT.14286 28. Pada awalnya pemuaian tertahan oleh daging komposit.73077 89.28571 29. Koefisien muai termal memanjang aL dan muai volumik aV komposist PEB ukuran 50 x 20 x 1.57143 23.28571 27.09 0.5 28.51442 56. ha ri Gambar-1. kesetimbangan termal-mekanikal kelongsong PEB tercapai kurang dari 1 jam setelah suhu operasi tercapai.4375 26. Ini terlihat bahwa pada suhu tinggi kondisi setimbang lebih cepat tercapai.Hasil dan Bahasan Hasil perhitungan koefisien ekspansi termal linear aL. yaitu berturut-turut 0.85714 81. disajikan pada Tabel 2 kolom 1-5. dan 1 hari untuk suhu 550.80769 27.4375 26.4375 49.3125 79.125 24.01442 54.15 350 C 550 C Perubahan Panjang.5625 26.0625 83. Pembentukan aluminida yang menghasilkan sruktur lebih rendah densitasnya selanjutnya akan melebihi kesetimbangan termal mekanikal kelongsong.34615 28.80769 79.integral dT. dengan pengandaian bahan isotrop disajikan pada Tabel-2 kolom 6-10. Kesetimbangan termal-mekanikal kelongsong tercapai bila pemuaian telah mengikuti persamaan : integral dL = Lo expth.4375 27.43338 2 27.85714 20.42857 78.35) Koefsien ekspansi linear.85714 3dL/(Lo.96154 69.88576 3 28.03846 23.44116 0. .57692 28.5 26.94986 1. tetapi pada suhu tinggi terjadi reaksi antara matriks dan dispersan (Al dan U3Si2) membentuk aluminida.03 0 0 1 2 3 4 5 Waktu. Koefisien muai termal memanjang aL komposit kelongsong fungsi waktu dengan aL kelongsong 25E-06/K. 350 dan 170 oC.85714 28.3125 82.4375 27.5 29.57212 Tabel 2 kolom -1-5 diplotkan pada gambar-1.06 0.23077 86.70673 53. Tabel-2.6875 27.14286 26.65+0.21864 2.

dan 27. jam Gambar-3. termasuk pula pada kelongsong dengan uranium atau U3Si2 butir dispersan. karena dapat berdampak pada kinerja termal hidroliknya dan dapat merambat lainnya. sebagai fungsi suhu dan waktu dinilai tidak kompatibel. memegang peran.88461538 per juta K (tabel-2 dan gambar-1).28571429. jam Waktu. Penelitian lain mengenai pengaruh termal telah dilakukan untuk bahan bakar dispersi U3Si2-Al. seterusnya pada saat 4 hari nilai koefisein menurut tinggi suhu dari terendah adalah 30. terlihat kecenderungan mereka adalah linear erhadap waktu dengan nilai kemiringan yang urutannya terbalik dengan suhu. Anggapan ini terlalu simplistis mengingat konfigurasi pelat tidak sekedar triplek dengan lapisan tengah bahan komposit. dan yang bertemu pada saat yang sama 1.6875. Reaksi yang menimbulkan perubahan dimensi melebihi batas toleransi. : mula-mula energi dipakai untuk mengnulir tegangan sisa hasil perolan. tetapi ada bingkai dari lapisan komposit. ganti penggembungan reaksi pembentukan aluminida pada arah memanjang dari inti pelat dihambat oleh kelongsong. karena perubahan yang mengakibatkan perubahan dimensi pelat dibatasi. Karena dilakukan anggapan bahwa bahan adalah isotrop. Pemuaian dibawah nilai muai kelongsong dapat dikaitkan dengan mekanisme sbb. dengan demikian Al 6061 dan AlMg2 sebagai bahan fram dan kelongsong dapat didekati dengan Al dan Mg yang sama sifat ekspansi termalnya. Dalam hal ini yang dipelajari bukan koefisien akan tetapi stabilitas termal bahan bakar komposit atau dispersi. maka koefisien muai termal volumik dihitung dengan persamaan-xx. Selain itu pengereman memanjangnya pelat oleh inti pelat yaitu daging U3Si2/Al khususnya U3Si2 dan antarmuka butir bahan bakar–matrik Al. Setelah kesetimbangan dicapai. 29. KHKim dkk tahun 1999 dalam makalah penelitiannya kim99] menunjukkan pengaruh suhu dan waktu terhadap perubahan dimensi bahan bakar bentuk batang silindris. Perubahan volume sebagai fungsi waktu dan suhu anil batang bahan bakar U3Si2-Al. namun untuk mendapatkan gambaran. seperti ditunjukkan pada gambar-2 .6 hari. baik bahan bakar diperoleh dengan cara atomisasi maupun dengan cara mekanik. Waktu.Setelah ketiga kurva mencapai >/= nilai kesetimbangan (25E-06/K). Untuk Al dan Mg nilai expth adalah 25 x 10^-6/K mathcad Pro 2001]. tegangan kompresi arah tebal. atau kompatibilitas rendah. yaitu reaksi antara Al pada matriks.

yaitu xx-yy. Mengapa perbedaan jauh sekali ~100 kali ?. atau muai panjang 2 % . dL/(Lo. Perbedaan ini tentu saja terjadi oleh karena bahan yang diteliti oleh KAERI adalah bahan bakar disperse tanpa kelongsong. sementara Kim mendapatkan muai volum (termasuk sweling termal) bahan bakar U3Si2/Al 12%v U3Si2 pada suhu kamar setelah dianil 530 C selama 98 jam sebesar 50%. perbedaannya masih amat besar. Tidak disertakan satu data otentik plot dilatometri. misalnya pada 10 menit setelah suhu yang dikehendaki diperoleh. yang pertama adalah geometri dan ada-tidaknya kelongsong.1 K/s. Juga tidak disebutkan suhu basisnya. Sementara bahan yang dipakai memiliki kesaman yaitu U3Si2 yang diperoleh dari proses mekanik. tetapi ada perbedaan mendasar dalam metoda dan objektif atau tujuan p enelitian.15% Tabel-xx. . yaitu beda ukuran antar suhu yang berbeda. Interval pembacaan pemuaian pada semakin lebar dengan berjalannya waktu. atau muai panjang 15% Aslina mendapatkan muai termal memanjang pelat mini dengan daging mengandung xx gU/mL pada suhu 370 C pemanasan 4 hari atau 98 jam sebesar < xx % Tabel-2. Dalam hal KAERI pengukuran dimensi dilakukan pada suhu yang sama. Batan meneliti pemuaian termal. Namun demikian apabila dianalisa dengan menggunakan asumsi bahwa setelah didinginkan dalam tungku ukuran akan menyusut sebesar ekspansi termal. Andaikan setelah didinginkan kembali panjang PEB tidak berkurang. bukan sekedar dL/(Lo. dengan mengurangkannya sebesar: dL = 25E-06 x dT (8) Aslina mendapatkan muai termal memanjang pelat mini dengan daging mengandung xx gU/mL pada suhu 550 C pemanasan 4 hari atau 98 jam sebesar < 0. namun saling melengkapi dan menyilang. tetapi untuk saat awal akan lebih baik diperhalus atau dipersempit. Selain itu sedikit perbedaan dalam rentang suhu dan waktu serta fraksi volume dispersa.Terdapat perbedaan antara penelitian KAERI dan BATAN. Pada penelitian dalam negeri itu ada beberapa hal yang dapat diperbaiki : hasil yang diperoleh perlu dibandingkan dengan penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain.T) seperti halnya perubahan panjang. Tidak dijelaskan bagaimana dari data pengukuran yang disajikan dalam tabel dapat diperoleh 3 macam harga koefisien muai panjang. bisa dianggap adalah suhu kamar (24-30 oC). Sementara penelititan KAERI meneliti perubahan dimensi atau volume antara sebelum dan sesudah proses termal (anil) dengan variabel suhu dan waktu. maka dapat diperhitungkan perubahan panjang PEB setelah dingin.dt)]Ti oleh efek transformasi atau reaksi bahan sebagai fungsi (t. sedangkan yang diteliti di Batan adalah bahan bakar disperse yang telah dilapisi kelongsong dengan teknik rol. diperlukan waktu yang lebih disesuaikan dengan keadaan atau kondisi waktu dan suhu dalam reaktor. Untuk pangujian kestabilan termal. sementara Kim mendapatkan muai volum (termasuk sweling termal) bahan bakar U3Si2/Al 12%v U3Si2 pada suhu kamar setelah dianil 400 C selama 98 jam sebesar 6 %. Terlepas dari bahan dan kondisi suhu dan waktu yang banyak mirip.dT)Tt<300K/jam atau Tt < 0.

353–360. Suparjo. Buku II.. Mater. Nucl. Aggraini. Teknologi Proses. T. 205-215 2. Nucl. ABG dkk Pengaruh suhu pemanasan terhadap pemuaian dan mikrostruktur PEBMini U3Si2-Al dg TMU 3. Thermal compatibility of centrifugally atomized U–Mo powders with aluminium in a dispersion fuel.F. oleh pembentukan lapisan aluminida. antara lain : Acuan. ‘The effect of the uranium loading on the U sub 3 Si sub 2 -Al fuel plates’. p. Chang Kyu Kim . H. Kyung-Wook Paik. Sardjono. Boybul. Tech. 62. hingga waktu pemanasan 24 jam. Al dan U3Si2.. Pengereman oleh butir dan antarfasa butir-matrik berakhir pada pemanasan selama sehari. Gerard L.-Br. Hofman . Hasbullah.6 g/cm3. Kyung Wook Paik. Thermal compatibility studies of U3Si2 dispersion fuels prepared with centrifugally atomized powder. Chang-Kyu Kim . bengkat makin besar dengan suhu.. 1983.. 1. S. Kimia Nuklir.65 dan tebal daging 0.4 mm dan daging (U3Si2/Al dea fraksi volume Al 0.-N. dimensi 50 mm x 20 mm dan tebal 1 mm terdiri dari kelongsong tebal 0. Nilai koefisen termal dihitung pada pengamatan pertama 8 jam setelah pemanasan memperlihatkan kenaikan yang tajam. 1984.. Wiencek. National Atomic Energy Agency Jun 1996 405 p. Gerard L.Ki-Hwan Kim . Laju bengkak yang tampak pada hari kedua hingga hari akhir hari keempat secara monoton. Jong-Man Park . Journal of Nuclear Materials 270 (1999) 315-321 5 Ki Hwan Kim . Proceeding of Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir. pemuaian termal didominasi oleh keduanya bahan. .-D. Don Bae Lee . 220-225 4.C. Setelah sehari dipanaskan muai termal matriks Al dan kelongson tidak mendapatkan pengerman dari bahan bakar dan antaramuka dispersan-matriks. Karakteristik Termal Kelongsong AIMg2 Dan Pelat Elemen Bakar U3Si2-AI Variasi Tingkat Muat Uranium. National Atomic Energy Agency Feb 1998 395 p.-G. Prosiding: Presentasi ilmiah daur bahan bakar nuklir 3 Jakarta (Indonesia) Nuclear Fuel Elements Development Centre. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian lain.R. Hofman . 124. Aslina. kecuali pada hari pertama. Tresh. Laju bengkak pada hasil eksperimen Batan tidak dipengaruhi oleh suhu. 7 Nazare´.. dan Pengolahan Limbah Radioaktif dan Lingkungan Yogyakarta (Indonesia) Yogyakarta Nuclear Research Centre..Kesimpulan dan Saran Muai termal pelat elemen bakar U3Si2-Al berkelongsong Al. R. Nuclear Engineering and Design 178 (1997) 111–117 6 Domagala. Pada hari pertama pemanasan. 14–24. Bengkak termal dapat diamati secara visual setelah sehari. Ppi-dbbn-v-2000 3 Supardjo. Maka disarankan unatuk melengkapi eksperimen menentukan perilaku termal lemen bakar U3Si2/Al.3 mm) tidak isotrop . kemudian naik dengan pelan hingga 4 hari memperlihatkan sifat dominan dari muai termal Al. p.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful