MAKALAH PENGANTAR EPIDEMIOLOGI RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT Disusun oleh : Kelompok 8 • • • • • • Dewi Sartika ( 10091001045 ) Ahmad Rizani (100910046 ) Elmayana ( 10091001047 ) Desrina sitompul (10091001048 ) Fori Herfina (10091001049 ) Erli Yuni br Manalu ( 10091001050) Dosen Pengasuh : RIJO JANUAHAR SITORUS, S. K.M. , M. Kes.(Epid) FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2009/2010 PENDAHULUAN Latar Belakang Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit serta determinan-determinan yang mempengaruhi penyakit tersebut. Secara umum, ada empat tujuan epidemiologi yaitu : Pertama, menjelaskan status kesehatan masyarakat dengan cara menghitung kejadian penyakit, frekuensi relatif berbagai masalah kesehatan di dalam kelompok serta kencenderungankecenderungan tertentu. kedua, menjelaskan etiologi penyakit/ masalah kesehatan, dengan menentukan berbagai faktor yang menyebabkan penyakit dan menemukan mekanisme penyebarannya. Ketiga, memprediksi jumlah kasus-kasus penyakit yang terjadi dan distribusi status kesehatan didalam populasi dengan cara mencegah terjadinya kasus baru dan memberantas kasus yang telah ada , memperpanjang hidup atau memperbaiki status kesehatan si pengidap penyakit. Sehubungan dengan keempat tujuan tersebut diatas , level pelaksanaan studi epidemiologi, dibedakan atas dua kelompok yaitu level pemahaman dan level intervensi. Beberapa ahli menggunaklan istilah dihehotomi berikut , oreantasi, explanatori atau scientific untuk level pemahaman dan orientasi , pragmatik atau aksi untuk level intervensi. level pemahaman bermula dari pengamatan sampai penarikan keputusan (inference) yang menghimpun pengetahuan tentang kejadian dan etiologi penyakit . Pada level intervensi , berbagai informasi empirik dikumpulkan untuk digunakan dalam membuat berbagai keputuswan di bidang kesehatan masyarakat. kedua level tersebut dapat dipahami melalui serangkaian hubungan hipotesis antara empat peristiwa yang berhubungan dengan riwayat alami penyakit yaitu : 1. inisiasi proses etiologi dengan masuknya faktor penyebab 2. inisiasi proses patologik dengan tercapainya keadaan yang irreversible 3. terdeteksinya penyakit melaui tanda dan gejala klinik 4. akhir dari penyakit yang meliputi sembuh , remisi, perubahan tingkat keganasan atau mati Tujuan penelitian pada tingkat pemahaman adalah untuk membuat deneralisasi yang signifikan tentang riwayat alami penyakit , yang dibedakan atas 3 sekuensi proses, yaitu induksi, promosi dan ekspresi yang masing-masing ditandai oleh lamanya periode keempat peristiwa tersebut diatas . Mengingat periode penyakit menjadi irreversible umumya tidak diketahui , maka pada penelitian empiris biasanya promosi dan ekspresi dianggap sebagai satu proses .Selain itu masuknya penyebab pertama kali biasanya terjadi pada saat bersamaan dengan terjadinya proses patologis atau sebelum itu. maka untuk menandai periode antara onset masuknya agen penyebab dan terdeteksinya penyakit, para ahli epidemiologi menggunakan istilah latency . Pada penyakit infeksi parameter empirik ini disebut masa inkubasi yang sepadan dengan latensi. Periode expresi yang terentang antara saat terdeteksinya penyakit sampai dengan terdeminasi penyakit secara khusus disebut juga sebagai periode durasi penyakit. Ada kecenderungan untuk memandang keadaan sehat dan sakit sebagai variabel digotomi , seperti cahaya lampu listrik yang hanya mempunyai dua allternatif pilihan , menyala atau tidak . Banyak studi epidemiologi yang memandang kesehatan sebagai dua alternatif pilihan sederhana yaitu sakit dan sehat . Padahal, analogis kehadiran matahari yang hadir setiap hari akan lebih tepat digunakan . Matahari terbit di ufuk timur dan secara bertahap muncul pada pagi, siang , sore, untuk kemudian tenggelam di ufuk barat kerika menjelang malam . penyakit pada dasarnya terjadi melalui proses yang berkembang melalui suatu seri pentahapab yang terangkai dalam simpul-simpul perjalanan penyakit yang sinambung.penyetaraan ini dinapikan ketika melihat kenyataan perkembanganm penyakit sangat bervariasi,berbedadengan siklus perjalana matahari yang rutin dan seragam,pada kasus tertentu penyakit berkembang sangat perlahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun.sementara,pada kasus yang lain penyakit berkembang sangat cepat hanya dalam bilangan hari dan pekan .ada masanya penyakit berkembang sempurna melampaui garis imaginer horison klinik,menampilkan gejala/tanda klinik,cacad atau bahkan sampai berakhir dengan kematian,Ada masanya pula penyakit tampil sebagai kasus abortif yang tidak sempurna,karena tak mampu menggapai garis horison klinik,dan akhirnya sembuh sempurna sebelum sempat memperhatikan tanda dan gejala. PEMBAHASAN A. PROSES PERKEMBANGAN PENYAKIT Riwayat alamiah penyakit adalah perkembangan proses penyakit pada individu sepanjang waktu tertentu, tanpa intervensi. Masing-masing penyakit mempunyai perjalanan alaminya tersendiri jika tidak diganggu dengan intervensi medis atau jika penyakit dibiarkan sampai melengkapi perjalannanya. Proses suatu penyakit dimulai dari seseorang yang rentan terhadap penyakit dan diserang oleh agen patogenik yang mampu menimbulkan penyakit. Kejadian penyakit, tidak terkecuali penyakit akut (mendadak) mempunyai masa perlangsungan tersendiri. Bagaimanapun mendadaknya, perlu waktu, yang memang mungkin singkat, untuk tercetusnya suatu penyakit. Dalam mengetahui keberadaan (diagnosis) penyakit, diperlukan perhatian dan perhitungan terhadap faktor waktu perlangsungan penyakit. Untuk setiap penyakit, diinginkan untuk melakukan diagnosis benar, tepat waktu ataupun secepatnya. Untuk membuat diagnosis, salah satu hal yang perlu diketahui adalah riwayat alamiah penyakit (natural history of disease). Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit itu campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara alamiah (Fletcher, 22). Proses penyakit adalah proses penyakit bermula dengan pemajan suatu faktor yang masuk atau akumulasi faktor yang mampu menyebabkan penyakit. Perjalanan penyakit mulai dari keterpajanan seseorang yang rentan terhadap patogen. Patogen akan memperbanyak dirinya dalam tubuh penjamu. Setiap penyakit, setiap patogen dan setiap penjamu mempunyai perbedaaan dalam hal respon pada penyakit, cara penyakit menyebar, dan pengaruh penyakit dalam tubuh. Perkembangan penyakit dapat dihentikan di titik mana pun, baik oleh kekuatan respon yang diberikan sistem imun alami tubuh. Tubuh pertama kali merespon perubahan yang tidak terdeteksi dan tidak dirasakan. Begitu patogen memperbanyak diri, penjamu mulai merasakan perubahan yang ditandai dengan gejala seperti, demam, sakit kepala, kelemahan, sakit otot dan perut tersa tidak nyaman. Didalam tubuh akan memberikan reaksi yang sebenarnya ganjil bagi tubuh itu sendiri. Kemudian, tubuh akan merespons dan penderita pada umumnya mulai sembuh atau membaik, atau sebaliknya semakin sakit. Jika sakit memburuk, pada akhirnya penyakit akan menguasai tubuh, dan penderita menjadi semakin lemah atau bahkan meninggal. Tanpa intervensi pengobatan maka proses akhir dari suatu penyakit adalah sembuh, cacat, meninggal. B. TAHAP-TAHAP RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT 1. Fase prepatogenesis - Periode suseptibilitas ( tingkat kerentanan ) Pada tahap ini, • individu berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit (stage of suseptibility), • sebenarnya telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit, tetapi interaksi masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada di luar tubuh penjamu dimana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang penjamu. • belum ada tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh penjamu masih kuat namun, begitu penjamu nya lengah ataupun memang bibit penyakit menjadi lebih ganas, ditambah kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan penjamu, maka keadaan segara dapat berubah. Pada tahap suseptibel proses penyakit belum terjadi, tetapi faktor-faktor yang mendahuli terjadinya penyakit sudah hadir, pada tahap in belum ditenukan adanya tandatanda gejala penyakit. sebagai contoh dalam perjalanan penyakit jantung koroner ( PJK ), sesorang yang berada dalam tingkat rentan belum pernah mendapat PJK tetapi berbagai faktor seperti kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, penyimpangan kadar kolesterol darah yang menyediakan dasar bagi terjadinya PJK telah ada. Farktor-faktor yang mengisaratkan tentang kehadiran penyakit ini disebut sebagai faktor risiko. Meskipun kehadiran faktor ini tidak . 2. Fase prepatogenesis − Periode inkubasi Dimulai dari masuknya bibit penyakit hingga sampai sesaat sebelum timbulnya gejala. Pada tahap ini mulai terjadi ketidak seimbangan antara agen penyakit, manusia, lingkungan. Pada penyakit kronis periode inkubasi disebut periode latensi. Tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbemenjamin hadirnya penyakit, tetapi kehadiran tersebut akan memperbesar kemungkinan terjadinya penyakit.beda-beda, beberapa jam, hari, minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun Berbagai Penyakit Menular dan Masa Inkubasinya Jenis Penyakit AIDS Amoebiasis Anthrax Botulism Chikungunya Kholera Dipteri Filariasis Hepatitis A Hepatitis B Leptospirosis Campak Poliomyelitis Tetanus Masa Inkubasi 2 bulan – 10 tahun 2 – 4 minggu 2 – 7 hari 12 – 36 jam 3 – 12 hari 1 – 5 hari 2 – 5 hari 3 – 12 bulan 15 – 50 hari 7 – 26 minggu 4 -18 hari 10 – 14 hari 5 – 30 hari 4 – 21 hari • • • • • • • • • • • • • • − Periode subklinis Perubahan patologik yang tidak muncul beserta pemajan, berakhir dengan waktu maulai timbulnya gejala. Selama periode ini penjamu belum menyadari tentang proses penyakit ( perubahan patologik ) yang sedang berlangsung. Intensitas perubahan belum cukup besar dirasakan untuk menjadi gejala penyakit. Karena penjamu tidak sadar tentang kehadiran penyakit, maka tidak ada upaya penjamu untuk mencari pengobatan. Pada periode ini dapat dideteksi perubahan patologik melalui pemeriksaan laboratorium, radiografik dan metode skrining. Umumnya pengobatan pada tahap subklinis ini akan menghasilkan peluang kesembuhan yang lebih besar ketimbang pengobatan yang diberikan pada tahap klinis. Pada periode subklinis penyakit belum terdeteksi namun mampu menularkan penyakit, contohnya HIV/AIDS. Hal ini merupakan tantangan bagi profesi Kesehatan yang tidak Masyarakat dan Klinisi, dimana terdapat orang yang terinfeksi penyakit bagi orang lain. − Periode klinis Ditandai dengan waktu mulai ( onset ) timbulnya gejala penyakit. Selama periode ini penderita mulai menyadari tentang kelainan fungsi dan struktur yang dihasiklan oleh proses penyakit yang dialaminya. Kelainan tersebut dipandang sebagai kumpulan gejala penyakit. Meskipun penderita merasakan adanya keluhan subjektif, mereka tidak selalu mengaggap itu adalah gejala penyakit. Periode klinis dari yang ringan samapai tahap yang berat ( tahap dini sampai tahap lanjut ). • Tahap dini mempunyai gejala ( asimptomatik ) atau tidak terdiagnosis dan dapat menularkan mulai munculnya gejala penyakit yang kelihatannya ringan, sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada gangguan patologis (pathologic changes), walaupun penyakit masih dalam masa subklinik (stage of subclinical diseases). Seandainya memungkinkan, pada tahap ini sudah diharapkan diagnosis dapat ditegakkan secara dini. Penderita masih bisa melakukan aktifitasnya. • Tahap lanjut merupakan tahap dimana penyakit bertambah jelas dan mungkin tambah berat dengan segala kelainan patologis dan gejalanya (stage of clinical disease). Pada tahap ini peyakit sudah menunjukkan gejala dan kelainan klinik yang jelas, sehingga diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan. Saatnya pula, setelah diagnosis ditegakkan, diperlukan pengobatan yang tepat untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik. • Berakhirnya perjalanan kondisi/keadaan, yaitu: 1. Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi pulih, sehat kembali. 2. Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat. 3. Karier, dimana tubuh penjamu pulih kembali, namun bibit penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit. 4. Penyakit tetap berlangsung secara kronik perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya penjamu tetap berada dalam keadaan sakit 5. Meninggal dunia terhentinya perjalanan penyakitnya disini, bukan karena sembuh, tetapi karena penjamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan keperawatan Tahap akhir penyakit dapat berada dalam lima pilihan RIWAYAT PENYAKIT BERDASARKAN (CATATAN MEDIS) Pengobatan hanya dapat dipertanggungjawabkan dan mempunyai arti apabila diagnosis pasti; atau paling tidak diagnosis banding dari penyakit sudah diketahui sebelumnya. Diagnosis terdiri atas 4 bagian, yaitu : a. Pemeriksaan riwayat perjalanan penyakit (anamnesis); b. Pemeriksaan jasmani; c. Pemeriksaan laboratorium sederhana, yang kadang-kadang diatambah dengan pemeriksaan kimia darah rutin; d. Pemeriksaan yang mempergunakan metode khusus. Dengan anamnesis yang baik, banyak diagnosis yang benar/tepat. Dengan melakukakn anamnesis saja, lebih dari 60% diagnosis kasus Penyakit Dalam dapat dilakukan secara tepat. Dengan pemeriksaan jasmani, diagnosis dapat ditentukan sebanyak 20%. Semua pengamatan yang diperoleh dari keempat pemeriksaan tersebut harus ditulis dalam catatan medis(status). Riwayat Perjalanan Penyakit atau Catatan Medis Riwayat perjalanan penyakit adalah sumber yang paling penting untuk menjadi dasar diagnosis dan pengobatan yang baik. Tindakan medis yang dilakukan di rumah sakit maupun tempat praktek pribadi tanpa adanya catatan medis tidaklah dapat dipertanggungjawabkan. Bagian yang utama dari catatan medis ialah anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan jasmani atau pemeriksaan fisik. Ringkasan dari hal-hal yang ditentukan, dugaan serta penalaran mengenai diagnosis, rencana pemeriksaan lanjutan dan terapi, juga termasuk dalam catatan medis; tetapi baru dilaksanakan pada tahap berikutnya dalam rangka menambah pengalaman C. Agen Penyakit (Penyebab infeksi) Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan factor mekanis.kadang-kadang,untuk penyakit tertentu,penyebabnya tidak diketahui seperti penyakit ulkus peptiku,coronaryheart diseases,dan lain-lain.Agen penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu: 1. Agen fisik 2. Agen nutrien : virus,bakteri,fungi,riketsia,protozoa,dan metazoan. :protein,lemak,karbohidrat,vitamin,mineral,dan air. :panas,radiasi,dingin,kelembaban,tekanan. bersifat endogenous eksogenous seperti asidosis,diabetes seperti zat 3. Agen fisik 4. Agen Chemis :dapat (hiperglikimia),uremia,,dan kimia,allergen,gas,debu,dan lain-lain. 5. Agen Mekanis gessekan,benturan,pukulan kerusakan jaringan tubuh. Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting dalam epidemiologi yang merupakan penyebab pennyakit adalah sebagai berikut: a. Golongan virus ,misalnya influenza,trachoma,cacar,dan sebagainnya. b. Golongan riketsia,misalnya tifus. c. Golongan bakteri,misalnya disentri. d. Golongan protozoa,misalnya malaria,filarial,schistosoma,dan sebagainya. e. Golongan jamur yakni bermacam-macampanu,kurap,dan sebagainya. f. Golongan cacing ,yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing gelang),cacing kremi,cacing pita,cacing tambang,dan sebagainya. yang dapat menimbulkan Agar agen atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive),maka perlu persyaratan-persyaratan sebagai berikut : • • • • Berkembang baik. Bergerak atau berpindah dari induk semaang. Mencapai induk semang baru. Menginfeksi induk semang baru tersebut. Kemampuan agent penyakit ni untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu factor penting dalam epidemiologi infeksi.setiap bibit penyakit (penyebab penyakitt) mempunyai habitat sendiri-sendiri,sehingga ia dapat tetap hidup.dari sini timbul istilah reservoir,yang diartikan sebagai berikut: • • Habitat,tempat bibit penyakit tersebut hidup dan berkembang Survival ,tempat bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat,sehingga ia dapat tetap hidup. Reservooir tersebut dapat berupa manusia,binatang atau benda-benda: Rantai infeksi  Agen meninggalkan reservoir melalui pintu keluar (portal of exit)  Agen ditransmisikan dengan model tertentu agar dapat masuk ke pejamu melalui pintu masuk (portal of entry) sehingga menginfeksi pejamu yang rentan.  Reservoir portal keluar mode transmisi portal masuk pejamu yang rntan (suseptibel). Reservoir Habitat tempat agen infeksius biasa hidup dan memperbanyak diri Macam reservoir  Manusia  Hewan  Lingkungan  Benda mati  Reservoir di dalam manusia Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir dalam tubuh manusia antara lain : • Campak (mesles) • • • • • Cacar air (small pox) tifus (typhoid) miningitis gonoirhoea sifilis manusia sebagai reservoir dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier. carrier carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit dalam tubuhnya.tanpa menunjukkan adanya gejala penyakit,tetapi orang tersebut dapat menularkanpenyakitnyakepada orang lain.Convalent carriers adalah orang masih mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari sebuah penyakit. Carriers • adalah sangat penting dalam epidemiologi penyakit-penyakit polio,tifus,meningococcal meningitis dan amebiasis.hal ini disebabkan oleh: jumlah (banyaknya carriers jauh lebih banyak daripada orang yang sakitnya). • Carriers maupun orang yang ditulari sama sekali tidak tahu bahwa mereka menderita/kena penyakit. • Carries tidak menurunkan kesehatannya karena nasih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari. • Carriers mungkin sebagai sumber infeksi untuk jangka waktu yang relatif lama. Tipe reservoir pada manusia • • Orang dengan penyakit asimptomatik Carrier (karier) o Karier asimptomatik o Karier inkubasi o Karier konvalesen  Reservoir pada binatang Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada binatang umumnya adalah penyakit zoonosis.zoonosis alah penyakit pada binatang vertebrata yang dapat menular pada manusia.penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara,yaitu: 1. Orang makan daging binatang yang menderita penyakit misalnya,cacing pita. 2. Melalui gigitan binatang sebagai vektornya,misalnya pes melalui pinjal tikus,malaria,filariasis,demam berdarah melalui gigitan nyamuk. 3. Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang,misalnya rabies. Tipe reservoir pada binatang • • Sapi brucellosis anthrax Domba atau kambing • • • • Tikus Cacing plaq trichinosis rabies Kelelawar,rakun,anjing,manusia Mammalia lain  Reservoir pada lingkungan • • • Tanaman Tanah Air Contoh : Agen tunggal penyebab histoplasmosis,hidup dan multiplikasi dalam tanah.Bacillus legionnaire muncul pada kolam air,termasuk yang dihasilkan oleh menara pendingin dan kondensor penguapan.  Benda-benda mati sebagai reservoir Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada benda-benda mati pada dasarnya adalah suprofit hidup dalam tanah.Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan yang cocok untuknya.oleh karena itu,bila terjadi perubahan temperatur atau kelembaban dari kondisi di mana ia dapat hidup,maka ia berkembang biak dan siap infektif. Contoh : Clostradium tetani penyebab tetanus,cotulinum penyebab keracunan makanan.dan sebagainya. Portal exit (portal ke luar) Jalan agen meninggalkan pejamu sumber,biasanya berhubungan dengan agen yang terlokalisasi. • Sistem respirasi • Urin • Feses • Lesi kulit tubercule bacilli,influenza schistosoma vibrio cholera sarcoptes scabiei,enterovirus 70 agen hemoragik konjunktivitis rubella,toksoplasmosis,sifilis. • Sikresi konjunktiva • Agen melalui darah lewat plasenta • Jalur kulit (perkutaneus ) luka sayat dan terkena jarum (hepatitis B),isapan darah antropoda (malaria). Mode transmisi • • Langsung (direk) Tidak langsung (indirek) Transmisi langsung Transfer agen segera dari reservoir ke pejamu yang rentan dengan cara  Kontak langsung (kontak direk) Contoh : mononucleosis infeksius,gonore,cacingan(karena cacing tambang).  Penyebaran droplet Semprotan relatif besar,seperti bersin,batuk,bicara. Transmisi tidak langsung   Airbone Vechicleborne  • • Vectorborne Mekanis Biologis Airbone Transmisi melalui udara • Partikel yang berada di udara : debu dan droplet nuclei(residu droplet yang dikeringkan) • Missal : penyakit tuberkulosis ,histoplasmosis. Vechicleborne Transmisi secara tidak langsung oleh suatu agen yang masuk dalam makanan,air,produk biologic (darah),fomites (objek yang tidak bergerak). Vektorborne Transmisi mekanis • Agen tidak mengalami perubahan fisiologik Transmisi biologik • Agen mengalami perubahan dalam tubuh vector. Portal entri (portal ke dalam) Sama dengan portal eksit • Kulit cacing tanah influenza • Sistem respirasi • Enterik “fecal-oral”(makanan,air,peralatan masak) (sifilis,trachoma) • Membrana mukosa • Darah hepatitis B Pejamu yang suseptibel (rentan) Suseptibel bergantung pada • • • • Faktor genetik Imunitas yang di dapat Kemampuan bertahan terhadap infeksi atau membatasi patogenenisitas Membrane mukosa Susepsibilitas juga bergantung pada: • • • Malnutrisi Alkoholisme Penyakit atau tetapi yang melemahkan respon imun non fisik D. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT Kamus mendefinisikan pencegahan sebagai tindakan menjauhi kejadian . langkah-langkah klinisi mempunyai tujuan mencegah kejadian dari 6D, death(kematian), disease(penyakit), disability(ketidakmampuan), discomfort (ketidaknyamanan), dissatisfaction(kekecewaan) dan destitution. Tergantung dari saat langkah-langkah klinis dibuat, tiga macam pencegahan biasanya amat memungkinkan pencegahan primer menjauhkan kejadian sakit dengan cara menghilangkan faktor risiko.Imunisasi untuk penyakit2 menular merupakan contoh pencegahan macam itu, sebagai misal membantu orang agar berhenti merokok . Pencegahan sekunder adalah menemukan penyakit secara awal, saat masih tanpa gejala (asymptomatik) dan saat pengobatan awal dapat menghentikan perjalanan penyakit; usapan pap smear dan uji 2 yang lain untuk menetapkan keganasan kanker adalah beberapa contohnya. Pencegahan tersier merupakan aktifitas klinik yang mencegah perusakan lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit nya berhenti .sebagai contoh adalah batas penggunaan obat betaa-bloker untuk menurunkan risiko kematian pada pasien yang sembuh dari infark miokard. 1. Pencegahan Penyakit Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni Pencegahan tingkat pertama ( primay prevention ) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga ( tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi.  Pencegahan tingkat pertama Pencegahan tingkat pertama berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap pprepatogenesis. Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan serta faktor penjamu. Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain: desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, yang bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit, penyemprotan dalam menurunkan dan memutus sumber penularan. Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan serta bentuk pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial masyarakat. Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi perbaikan status gizi, status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan status psikologis, persiapan perkawinan serta usaha menghindari pengaruh faktor keturunan dan peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi setra olahraga kesehatan.  Pencegahan tingkat kedua Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan pada mereka yang menderita atau dianggap menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat kedua ini yang meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta mencegah terjadinya komplikasi. Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha surveilans penyakit tertentu, pemeriksaan berkala serta pemeriksaan kelompok tertentu, penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang efektif. Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai berada pada proses prepatogenesis penyakit tertentu.  Pencegahan tingkat ketiga Sasaran pencegahan tingkat ketiga ini adalah penderita penyakit tertentu dengan tujuan mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanen, mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Pada tingkat ini dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyembuhan suatu penyakit tertentu. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan sosialseoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis, rehabilitasi metal/sikologis serta rehabilitasi sosial. 2. Penanggulangan Penyakit Penanggulangan penyakit menular adalah upaya untuk menekan peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga tidak merupakan gangguan kesehatan bagi masyarakat tersebut. Upaya penanggulangan penyakit menular dapat dikelompokkan pada tiga kelompok sesuai dengan sasaran utamanya yang meliputi sasaran langsung melawan sumber penularan atau reservoir, sasaran ditujukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran yang ditujukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu.  Sasaran langsung pada sumber penularan pejamu Bila sumber penularan terdapat pada binatang peliharaan (dometik) maka upaya untuk mengatasi penularan dilakukan dengan memusnahkan binatang yang terinfeksi serta melindungi binatang lainnya dari penyakit tersebut (imunisasi dan pemeriksaan berkala). Tetapi bilasumber penyakit dijumpai pada binatang liar maka keadaannya akan lebih sulit. Penanganan penyakit rabies akan lebih mudah pada daerah perkotaan dengan hampir seluruh anjing yang ada merupakan anjing peliharaan. Sedangkan penanganan penyakit ini di daerah pedesaan dilakukan dengan kombinasi cara lain, dengan kerjasama instansi lain yang terkait. Bila sumber penularan adalah manusia, maka cara penanggulangan penyakit dapat dilakukan dengan isolasi dan karantina, pengobatan dalam berbagai bentuk atau menghilangan fokus infeksi yang ada pada sumber (bedah saluran empedu atau cholecystectomy) pada carrier typhoid menahun. Karantina adalah pembatasan gerak seseorang atau sekelompok orang sehat atau binatang yang dicurigai menderita atau akan menderita penyakit menular tertentu. Bentuk karantina biasanya dengan menempatkan orang atau binatang tersebut pada lokasi tertentu dengan pengawasan yang ketat selama satu masa tunas tertinggi.  Sasaran ditujukan pada cara penularan Cara penularan penyakit meliputi kontak langsung, melalui udara, melalui makanan serta melalui vektor perantara. Upaya pencegahan penularan melalui kontak langsung biasanya dititikberatkan pada penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan bersama-sama dengan usaha menghilangkan sumber penularan. Upaya mencegah penularan penyakit melalui udara dilakukan dengan desinfektasi udara dengan bahan kimia atau dengan sinar ultraviolet, perbaikan sistem ventilasi serta aliran udara dalam ruangan. Adapun upaya perbaikan lingkungan dalam upaya mencegah penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman dikembangkan dengan memberantas bahan-bahan yang mengalami kontaminasi, pasteurisasi susu, sera pengawasan terhadap semua pengobatan bahan makanan dan minuman. Pencegahan dan penanggulangan penyakit yang ditularkan oleh vektor terutama serangga dilakukan melalui pemberantasan serangga serta binatang lainnya. Sedangkan penularan penyakit malaria dan filariasis dilakukan dengan kerja sama instansi dalam setiap program pembangunan terutama pembangunan yang dapat menimbulkan perubahan rekosistem setempat.  Sasaran ditujukan pada pejamu potensial Faktor yang berpengaruh pada pejamu potensial adalah tingkat kekebalan serta tingkat kerentanan/kepekaan yang dipengaruhi oleh status gizi, keadaan umum serta faktor genetika.  Penapisan dan pencaharian kasus (screening and case finding) “Penapisan” didefinisikan sebagai : mengindetifikasikan penyakit yang tidak diketahui atau kelainan dengan melakukan test, pemeriksaan, atau prosedur lain yang dapat dilaksanakan secara cepat. Penapisan memisahkan secara jelas subjek yang mempunyai penyakit dari yang mungkin tidak mempunyai penyakit. Uji penapisan tidak diarahkan untuk menegakkan diagnostik. Subyek dengan hasil pemeriksaan positif atau dicurigai positif harus dirujuk ke dokter untuk diagnostik dan pengobatan. Jika uji penapisan diterapkan pada populasi yang tanpa seleksi dan dengan jumlah besar, maka proses tersebut dinamakan Penapisan massal, pengukuran tekanan darah pada pengunjung pusat swalayan merupakan contoh dari penapisan massal. Klinisi, sebaliknya, mereka menggunakan uji penapisan dalam konteks yang lain. Perhatian mereka tentang penyakit yang tidak diketahui hanya diperuntukkan bagi pasien mereka dan tidak banyak perhatian pada suatu populasi. “Pencaharian Kasus” (case finding) terjadi bila dokter memeriksa untuk menentukan penyakit dengan menggunakan uji penapisan diantara pasien-pasien yang datang berkonsultasi untuk gejala-gejala yang tidak berhubungan. Perbedaan antara penapisan massal dan pencaharian kasus yang kecil, tetapi amat penting. Di pusat swalayan mereka yang memeriksa pasien tidak mempunyai tanggung jawab pribadi untuk melakukan tindak lanjut dengan pengobatan yang benar. Namun, subyek akan dirujuk ke dokternya untuk mendapatkan tata laksana lebih lanjut. Banyak penelitian telah membuktikan adanya tindak lanjut yang tidak sempurna diantara mereka yang ditemukan abnormal dalam penapisan massal. Di lain pihak, dalam suatu pencaharian kasus, dokter mempunyai tanggung jawab yang jelas untuk melakukan tindak lanjut pada hasil yang abnormal. Jika dokter tidak bermaksud melanjutkan pemeriksaan pada hasil abnormal dan memberi pengobatan yang dibutuhkan, maka uji tersebut sebenarnya kurang sempurna secara keseluruhannya. PENUTUP A. KESIMPULAN  Riwayat alamiah penyakit adalah perkembangan proses penyakit pada individu sepanjang waktu tertentu tanpa intervensi.  Tahapan riwayat alamiah penyakit Riwayat alamiah suatu penyakit pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. b. Tahap Prepatogenesis, Tahap Patogenesis, • • • • •  1) 2) 3) 4) Sembuh sempurna Sembuh cacat Karier Kronik Meniggal dunia Yang dapat berlanjut menjadi beberapa kemungkinan berupa : Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan factor mekanis Agen fisik Agen nutrien Agen fisik Agen Chemis : virus,bakteri,fungi,riketsia,protozoa,dan metazoan. :protein,lemak,karbohidrat,vitamin,mineral,dan air. :panas,radiasi,dingin,kelembaban,tekanan. :dapat bersifat endogenous seperti asidosis,diabetes Agen penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu: (hiperglikimia),uremia,,dan eksogenous seperti zat kimia,allergen,gas,debu,dan lain-lain. 5) Agen Mekanis gessekan,benturan,pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.  o Tingkat pencegahan penyakit: Pencegahan tingkat pertama ( Primary Prevention ): −Promosi kesehatan −Perlindungan khusus o Pencegahan tingkat kedua ( Secondary Prevention ): Diagnosis dini dan pengobatan segera Pembatasan ketidakmampuan o Tingkat Pencegahan Tersier ( Tertiary Prevention ) −Rehabilitasi B. SARAN Setelah mempelajari riwayat alamiah suatu penyakit, kita dapat mengetahui akhir dari suatu penyakit. Pada beberapa kasus penyakit orang yang sudah terinfeksi yang tidak mempunyai gejala penyakit ( asimptomatik ) tetapi dapat menularkan penyakit tersebut, hal ini merupakan suatu tantangan bagi para klinisi dan ahli kesehatan masyarakat untuk bisa mendeteksi orang-orang yang sudah terinfeksi tersebut sehingga penyakit tersebut dapatdisembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut . Selain itu upaya pencegahan penyakit perlu ditingkatkan melalui promosi kesehatan, penyuluhan kesehatan dan tak kalah pentingnya yaitu upaya perlindungan kesehatan agar tidak sakit melalui peningkatan sistem antibodi tubuh yang salah satu caranya dapat dilakukan dengan imunisasi. DAFTAR PUSTAKA Azwar, azrul. 2004. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Binarupa Aksara. Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta. Bustan, M.N. Cipta. Chandra, Budiman. 1996. Pengantar Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta: EGC Frenkel, M. Dkk. 1996. Riwayat Penyakit & Pemeriksaan Jasmani. Jakarta: Rineka Cipta Kodim, Nasrin. Dkk. 2010. Himpunan Bahan Kuliah Penyakit Tidak Menular. Jakarta: UI Mubarak, Wahid & Chayatin, Nurul. 2009. Ilmu Kesehatan Masyaraka Teori & Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika. Nasri Noor, Noor. 1996. Dasar epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmojo, Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. Suzanne w, Fletcher. 1991. Sari Epidemiologi Klinik. 1991. Yogjakarta: Gajah Mada University Press Timmreck, Thomas C. 2004. Epidemiologi Suatu Pengantar Wilyanto, Iwan. 2005. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta: Veteriner. http : Blog dyankunthi@yahoo.co.id diakses pada 10 mei 2010 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful