UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 41 TAHUN 2008 (41/2008) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; b. bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. bahwa APBN Tahun Anggaran 2009 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; d. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat; e. bahwa sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; f. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2009 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 33/DPD/2008 tanggal 2 Juli 2008; g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, e, dan f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; Mengingat :

1. 2. 3.

4. 5.

6.

7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

14.

15.

16. 17.

18. 19. 20.

21.

22.

23. 24.

25.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746); Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133,

Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini. 9.Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam. penerimaan negara bukan pajak lainnya. 6. dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN). 4. yang tidak perlu dibayar kembali. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri.Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea ke luar. pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. dan pajak lainnya. pajak bumi dan bangunan. serta tidak secara terus menerus. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah . yang dimaksud dengan : 1. 5. 7.Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). cukai. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009.Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. 2. 8.Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan oleh pihak swasta dalam negeri dan pemerintah daerah serta sumbangan oleh pihak swasta dan pemerintah luar negeri. 3.Cost recovery adalah pengembalian atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan (recoverable cost) oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan menggunakan hasil produksi minyak bumi dan gas bumi (migas) sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku.Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. penerimaan negara bukan pajak. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.

serta dalam bentuk fisik lainnya. 11. dan belanja lain-lain. peralatan dan mesin.Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal outstanding). atau mengimpor barang dan jasa. Badan Usaha Milik Daerah. atau lembaga/organisasi internasional yang tidak perlu dibayar kembali. fungsi agama. mengekspor. gedung dan bangunan. sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat yang membutuhkan. 12.Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah. bantuan sosial.Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa.Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada bahan bakar minyak dan tenaga listrik.Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat. dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat serta belanja perjalanan. atau jasa dari Pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara. 15. termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang. 17. 14. subsidi. belanja hibah. . fungsi ketertiban dan keamanan.pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga. fungsi pariwisata dan budaya. Pemerintah Negara lain. baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. fungsi lingkungan hidup.Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai. fungsi pendidikan. jaringan. fungsi ekonomi. barang. belanja barang. fungsi kesehatan. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. fungsi pertahanan. 13. baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri.Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. pensiunan. yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan untuk utang outstanding dan tambahan utang baru. 16. menjual. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. 10. fungsi perumahan dan fasilitas umum. pembayaran bunga utang. dan pejabat negara. sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. belanja modal.Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang. baik utang dalam negeri maupun luar negeri. dan fungsi perlindungan sosial. sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. 18.

Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah. dan dana alokasi khusus. 22. selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. serta hibah ke daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 23.Dana bagi hasil. yang terdiri atas dana bagi hasil. selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 20. 26. 21. dana otonomi khusus dan penyesuaian.Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga. . sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. dana alokasi umum.Dana alokasi khusus.Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial. 25. 24.bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. 19. selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. serta tidak secara terus menerus. dan dana cadangan umum.Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan.Dana alokasi umum.Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 12 (dua belas) sampai dengan angka 19 (sembilan belas).

adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. atau dapat disebut sukuk negara.Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari .27. dan dana bergulir. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha.Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan membantu mendukung percepatan pembangunan di daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.Surat utang negara.Surat berharga syariah negara. baik sebagian maupun seluruhnya. baik dalam matauang rupiah maupun valuta asing.Sisa lebih pembiayaan anggaran.Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi. 29.Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN. surat berharga negara. selanjutnya disingkat SBSN. selanjutnya disingkat SILPA. 35. dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah. yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. yang tidak perlu dibayar kembali. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 32.Restrukturisasi BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN. sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. 37. dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. hasil pengelolaan aset. serta tidak secara terus menerus.Hibah ke daerah adalah dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk rupiah. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. selanjutnya disingkat SBN meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah negara. 34. 33. 30. 28.Surat berharga negara. 36. 31. selanjutnya disingkat SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam matauang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. serta pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) yang diterushibahkan ke daerah. 38.Privatisasi adalah penjualan saham persero. adalah selisih lebih realisasi pembiayaan atas realisasi defisit anggaran yang terjadi.

Penerimaan perpajakan. dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri.000.000.970.000. (4)Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp938. (5)Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2).842. termasuk gaji pendidik.Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan berdasarkan Undang-Undang ini.800. (3)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258. namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan. 43.522. b.Tahun anggaran 2009 adalah masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2009. Pasal 2 (1)Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 diperoleh dari sumber-sumber: a. 41. .Penerimaan hibah. (2)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp725. dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp985.Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/ lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah.Pinjaman program adalah pinjaman yang diterima dalam bentuk tunai (cash financing) yang pencairannya mensyaratkan dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak seperti matriks kebijakan (policy matrix) atau dilaksanakannya kegiatan tertentu.Persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran belanja negara. dan c.Penerimaan negara bukan pajak.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). 39.000.00 (sembilan ratus tiga puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah).522.000.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).558. 40.penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek.725.000. untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.943. ayat (3). 42.328.

000. dan (ii) BBM bersubsidi (PT Pertamina/Persero) sebesar Rp10.400.508.00 (sepuluh triliun rupiah).000.Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp28.000.000.000.200.000.00 (lima ratus miliar rupiah).000.Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar Rp249.00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah).Pajak Penghasilan sebesar Rp357.00 (sepuluh triliun rupiah).000.970.470.000. b.000.700.000.600.00 (tiga ratus lima puluh tujuh triliun empat ratus miliar empat ratus tujuh puluh juta rupiah).00 (empat triliun dua ratus tujuh puluh tiga miliar dua ratus juta rupiah). termasuk PPh ditanggung Pemerintah atas: (i) komoditi panas bumi sebesar Rp800.00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah).494.000. c.000.000.000.000. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.346.000.000. termasuk BPHTB ditanggung pemerintah atas kekurangan DTP BPHTB PT Pertamina (Persero) tahun 2007 sebesar Rp500.Pasal 3 (1)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari : a.00 (dua ratus empat puluh sembilan triliun lima ratus delapan miliar tujuh ratus juta rupiah). yang terdiri dari : a.000.000. termasuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas: (i) sektor-sektor tertentu dalam rangka penanggulangan dampak perlambatan ekonomi global dan pemulihan sektor riil (counter cyclical) sebesar Rp10.000. (ii) bunga atas surat berharga negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp1.00 (empat puluh sembilan triliun empat ratus sembilan puluh empat miliar tujuh ratus juta rupiah).916.200.000.00 (dua puluh delapan triliun sembilan ratus enam belas miliar tiga ratus juta rupiah).000. (2)Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp697.000.000.700.Pajak lainnya sebesar Rp4.000.000. dan b. dan (iii) terminasi dini hak eksklusif PT Telkom (Pasal 25/29 badan) sebesar Rp250.000. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp7.00 (tujuh triliun tujuh ratus lima puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah). f.00 (enam ratus sembilan puluh tujuh triliun tiga ratus empat puluh enam miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).000.000.Pajak dalam negeri.Cukai sebesar Rp49.000. (3)Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada . e.273. d.000.000.00 (delapan ratus miliar rupiah).Pajak perdagangan internasional.300.753.

496. dan apabila terdapat temuan ketidakwajaran. serta swap Conoco dan Chevron.000. dan disampaikan dalam Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun .050.000.Penerimaan sumber daya alam. yang disebabkan oleh kenaikan lifting gas on stream Exxon dan Tangguh.335.00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh lima miliar enam ratus juta rupiah).Penerimaan negara bukan pajak lainnya. yang terdiri dari: a.000. b. (2)Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp173. maka BPK wajib melaporkan estimasi besaran kerugian negara yang timbul. terdiri dari : a. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.160. Pasal 4 (1)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari : a. b.400.Bea ke luar sebesar Rp9.496.000.000.473.000.000. dan d.000.000.000.00 (sepuluh miliar empat ratus tujuh puluh tiga juta dolar Amerika Serikat).00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah).Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara.000.123.000.00 (seratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar lima ratus dua puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah). (ii)Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditugaskan untuk melakukan audit atas kewajaran unsur biaya dalam cost recovery sejak tahun 1997.521.00 (dua puluh delapan triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar rupiah). naik dari besaran tahun 2008 sebesar US$10. dengan ketentuan: (i)Penerimaan SDA Migas tersebut memperhitungkan cost recovery sebesar US$11.00 (sebelas miliar lima puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar Amerika Serikat).Pendapatan BLU.750.ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp28.000. termasuk kerugian daerah dalam kerangka bagi hasil.00 (seratus enam puluh dua triliun seratus dua puluh tiga miliar tujuh puluh juta rupiah).500.Bea masuk sebesar Rp19.000.00 (sembilan belas triliun seratus enam puluh miliar empat ratus juta rupiah).Penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi (SDA Migas) sebesar Rp162. (4)Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.600.070.000.000.477. termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu sebesar Rp2. c.

801.Penerimaan sumber daya alam nonminyak bumi dan gas bumi (SDA Nonmigas) sebesar Rp11. namun juga disesuaikan dengan standar pembebanan yang berlaku umum sebagaimana dimaksud pada butir (2). b.797.451. .442. 4. (iv)Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) ditugaskan untuk memperkuat pengawasan dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor migas.000.235.000. (4)Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp49. (3)Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp30. (6)Penunjukan Gelora Bung Karno dan Kompleks Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum dalam rangka optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat ditinjau kembali sesuai peraturan perundang-undangan.Anggaran 2009 untuk dapat ditindaklanjuti.Standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery. (5)Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d direncanakan sebesar Rp5.Cost recovery senantiasa harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.000.248.210.000.Standar tersebut tidak hanya berpedoman pada Exhibit Contract. (iii)Pemerintah ditugaskan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang cost recovery.000.00 (sebelas triliun tiga ratus tujuh puluh tiga miliar empat ratus lima puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah). dalam hal ini terhadap sebagian aset yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Gelora Bung Karno dan sebagian atau seluruh aset yang dikelola Badan Layanan Umum Kompleks Kemayoran akan ditetapkan sebagai Penyertaan Modal Negara dalam suatu Badan Usaha Milik Negara.794. sehingga acuan cost recovery dalam Exhibit Contract perlu ditinjau kembali. yang antara lain memuat : 1.00 (lima triliun empat ratus empat puluh dua miliar dua ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah).00 (tiga puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh empat miliar rupiah).477.00 (empat puluh sembilan triliun dua ratus sepuluh miliar delapan ratus satu juta dua ratus empat puluh delapan ribu rupiah). 2.373.000.Pemberlakuan Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan efektif mulai 1 Januari 2009. 3. 5.Unsur biaya yang dapat dikategorikan dan diperhitungkan sebagai unsur cost recovery.

dan b.122.00 (tiga ratus dua puluh triliun enam ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta rupiah).00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).338.992. Pasal 6 (1)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas : a.000.122.000.122. (5)Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran.376.000. Pasal 5 (1)Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 terdiri dari : a.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).000.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).376.067. (4)Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp716.346.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).(7)Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. (2)Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716. dan ayat (5) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.000.Anggaran transfer ke daerah. fungsi.122.346. program.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).376.346.000.Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja.122. (6)Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2009 menurut .376.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi. dan c. (3)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp320. ayat (4). ayat (3).690. (3)Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp716. (2)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.346. kegiatan dan jenis belanja dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.Anggaran belanja pemerintah pusat. (4)Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp1.000.037.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi.

diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 Nopember 2008.Perluasan penerapan kebijakan tarif insentif dan disinsentif untuk pelanggan dengan daya di bawah 6.Penyediaan Domestic Market Obligation (DMO) batubara yang berasal dari kebutuhan ketersediaan inkind batubara. menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3). Pasal 7 Pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam tahun anggaran 2009 ditempuh dengan kebijakan penetapan besaran subsidi BBM sesuai dengan Undang-Undang APBN dengan toleransi alokasi maksimum dari realokasi cadangan risiko fiskal. d. Pasal 8 Pengendalian anggaran subsidi listrik dalam tahun anggaran 2009 dilakukan melalui : a.organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). e. b. pemerintah menjamin harga gas untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga domestik. dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). Pasal 10 (1)Dalam rangka kesinambungan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk . (3)Pemerintah Daerah diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).Penerapan tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pelanggan dengan daya 6.600 VA. c. Pasal 9 (1)Pemerintah menjamin kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan.Penerapan diversifikasi tarif regional seperti Batam dan Tarakan pada daerah-daerah lain.600 VA (volt ampere) ke atas.Penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) dari PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) dan KKKS berkoordinasi dengan BP MIGAS. (2)Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pangan terutama pupuk pada masa yang akan datang.

dan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK) dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2009. dapat diluncurkan sampai dengan akhir April 2010 sebagai anggaran belanja tambahan Tahun Anggaran 2010. Pasal 11 (1)Dalam rangka menjaga kesinambungan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009.mempercepat penanggulangan kemiskinan. (4)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2)Pengajuan usulan luncuran program/kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam bentuk konsep DIPA Luncuran (DIPA-L) paling lambat pada tanggal 16 Januari 2010. program pengembangan infrastruktur perdesaan (PPIP). maka program/kegiatan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009 yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan DIPA-L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4)Pemerintah dapat melakukan kontrak dan pembiayaan tahun jamak terbatas sampai dengan tahun 2010 untuk mengatasi keperluan mendesak dan belum terprogram. (2)Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari pagu kementerian negara/lembaga masing-masing dalam tahun anggaran 2009. yang pada tahap awal sumber dananya antara lain berasal dari bantuan sosial penanggulangan bencana. Pasal 12 (1)Kegiatan-kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (2)Pendanaan untuk program/kegiatan. ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari bagian anggaran 069 (belanja lain-lain) dalam tahun 2009. ditetapkan oleh Pemerintah. (3)Penyelesaian kegiatan-kegiatan tersebut yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa publik mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku. program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP). (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada . maka bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program/kegiatan nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) yang terdiri dari program pengembangan kecamatan (PPK).

(2)Kekurangan pembayaran pembelian tanah di luar peta area terdampak pada tiga desa (desa Besuki. b. dan/atau (iii)antarjenis belanja dalam satu kegiatan. dan Penjarakan) dilakukan setelah pembayaran pembelian tanah di dalam peta area terdampak selesai dilakukan. Pasal 15 (1)Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa : a. Kedung Cangkring. Pasal 13 (1)Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo. tunjangan hidup dan biaya evakuasi di luar peta terdampak pada tiga desa (desa Besuki.perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP).pergeseran anggaran belanja: (i)antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. (ii)antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi. biaya evakuasi dan relokasi pada sembilan rukun tetangga di tiga desa (Siring Barat. maka alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dapat digunakan untuk melunasi kekurangan pembayaran pembelian tanah. Kedung Cangkring. . serta untuk bantuan kontrak rumah. dan Penjarakan). (2)Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non-Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan BLU ditetapkan oleh Pemerintah.ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Pemerintah. tunjangan hidup. bantuan kontrak rumah. Pasal 14 Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengeluaran dalam rangka memenuhi setiap kewajiban yang timbul sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). dan Mindi). Jatirejo. dan c. atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. ditetapkan oleh Pemerintah.perubahan pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN. (3)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan.

Dana alokasi umum. dan c. Pasal 17 (1)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri dari : a. (4)Hibah ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c nihil.588.(4)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah.000. (3)Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp186. b. dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.200.000.413.819.Dana otonomi khusus dan penyesuaian.000.00 (dua puluh tiga triliun tujuh ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus tujuh puluh delapan juta dua ratus ribu rupiah).100.00 (delapan puluh lima triliun tujuh ratus delapan belas miliar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah). (3)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23.00 (seratus delapan puluh enam triliun empat ratus empat belas miliar seratus juta rupiah).800. (5)Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000.Dana perimbangan. Pasal 16 (1)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.578.952.Hibah ke daerah. .414.725.738. (2)Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp85.000. dan c.000.Dana alokasi khusus. (3).Dana bagi hasil.718. b. (4)Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp24. (2)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp296. (5)Perhitungan dan pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.000.00 (dua puluh empat triliun delapan ratus sembilan belas miliar lima ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah). (2).800.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).

Pasal 20 .600.448. ayat (3). sehingga dalam Tahun Anggaran 2009 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp51.Pembiayaan luar negeri neto sebesar negatif Rp9.328.037. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5).Dana otonomi khusus.338. (2)Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp8.725.000. dan b.522. b.342.790. dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.122. (2)Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber : a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4). (3)Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.882. Pasal 19 (1)Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp985. (3)Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14.009.000.200.000.(6)Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2).856.400.240.000.000. lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.014.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). Pasal 18 (1)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah).00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).250.000.000.067.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah).000.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah).Dana penyesuaian.000.564. yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah).Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp60.

(3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2009.413. Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan langkah-langkah : .338.0% (dua puluh koma nol persen).krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional yang membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).122. dan/atau c.Realisasi pembiayaan defisit anggaran.067. khususnya imbal hasil Surat Berharga Negara.Realisasi belanja negara.penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang menyebabkan turunnya pendapatan negara. b.763.000. yang merupakan perbandingan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran belanja negara sebesar Rp1. (2)Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya.1% (nol koma satu persen).00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).(1)Pada pertengahan Tahun Anggaran 2009. (2)Persentase anggaran pendidikan adalah sebesar 20.531.Realisasi pendapatan negara dan hibah.000. dan c.kenaikan biaya utang. apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : a. Pasal 21 (1)Anggaran Pendidikan adalah sebesar Rp207. untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah. Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2009 mengenai : a. Pasal 23 (1)Dalam keadaan darurat.037. Pasal 22 Anggaran belanja bunga utang yang merupakan bagian dari Belanja Pemerintah Pusat telah memperhitungkan hasil restrukturisasi tingkat bunga surat utang (SU) 002 dan SU-004 yang mengacu pada besaran tingkat bunga special rate Bank Indonesia (SRBI) 01 sebesar 0. secara signifikan. b.

1.pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2009; 2.pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu kementerian negara/lembaga dan/atau antar kementerian negara/lembaga; 3.penghematan belanja negara dalam rangka peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai; 4.penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral; 5.penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN tahun yang bersangkutan. (2)Pemerintah menyampaikan langkah-langkah kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Laporan Semester I Pelaksanaan APBN dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 24 (1)Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat ditalangi dari dana saldo anggaran lebih (SAL). (2)Pemerintah dapat menerbitkan Surat Berharga Negara untuk membiayai kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan awal tahun anggaran berikutnya. (3)Pemerintah dapat melakukan pembelian kembali SBN untuk kepentingan stabilisasi pasar, dengan tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang ditetapkan. Pasal 25 (1)Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, apabila terjadi : a.Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; b.Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; c.Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; d.Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan

anggaran Tahun Anggaran 2009. (2)Saldo anggaran lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tidak termasuk saldo anggaran lebih yang merupakan saldo kas di Badan Layanan Umum (BLU), yang penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. (3)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2009 berakhir. Pasal 26 (1)Setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir, Pemerintah menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. (2)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. (3)Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan belanja secara akrual. (4)Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual. (5)Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual dalam laporan keuangan tahun 2009 dilaksanakan secara bertahap pada badan layanan umum. (6)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. (7)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta

pada tanggal 10 Nopember 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 171

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 I.UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2009 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2009 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2009 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2009

Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2009. terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. Meskipun perlambatan perekonomian global akan menyebabkan menurunnya kinerja ekspor nasional. Sementara itu.5% (tujuh koma lima persen). Di lain pihak. Untuk itu. dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah. nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp9. Pemerintah menghadapi berbagai masalah dan tantangan. maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran US$80. sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2009 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. antara lain: (i) masih relatif tingginya jumlah penduduk miskin.0 (delapan puluh koma nol dolar Amerika Serikat) per barel. dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang sedikit melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok. tema pembangunan tahun 2009 adalah "Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan. (ii) terbatasnya akses dan . impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri.diperkirakan mencapai sekitar 6. moneter. dan perkembangan suku bunga perbankan. dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat. rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai 7. dan sektor riil yang terkoordinasi. Sementara itu. maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada tingkat 6. Melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi. pemerintah akan berupaya agar realisasi pertumbuhan ekonomi sesuai dengan asumsi tersebut. Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2009.2% (enam koma dua persen)." Dalam upaya mewujudkan tema pembangunan tersebut. yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Sejalan dengan itu.0% (enam koma nol persen). Dalam tahun 2009. dan iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 960 (sembilan ratus enam puluh) ribu barel per hari. (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis.400. Melalui kebijakan fiskal.00 (sembilan ribu empat ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat.

(ii) peningkatan pembangunan infrastruktur. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut. (iii) . Bantuan Operasional Sekolah (BOS). maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada:(i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/lembaga. pemantapan demokrasi. reformasi birokrasi. Di samping itu. dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Kedua. percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. dan Jamkesmas. Prioritas pembangunan nasional tersebut dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR. kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian. Untuk menghadapi masalah dan tantangan tersebut guna mewujudkan tema pembangunan dalam tahun 2009. kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2009 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan. Program Keluarga Harapan (PKH). terutama bandara dan pelabuhan. infrastruktur dan energi. dan (iv) masih lemahnya daya tarik investasi dan daya saing sektor riil. dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat. dan subsidi benih. Ketiga. menciptakan dan memperluas lapangan kerja. (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. telah ditetapkan prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 sebagai berikut: Pertama. (iii) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. di samping tetap menjaga stabilitas nasional. (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM. subsidi listrik.dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. (iii) pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran. serta pertahanan dan keamanan dalam negeri. peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan. subsidi pupuk. peningkatan upaya anti korupsi.

Selanjutnya. melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . yaitu mengenai anggaran pendidikan. Di samping itu. (ii) hidup sejahtera lahir dan batin. APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Menurut putusan Mahkamah Konstitusi. (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN Tahun Anggaran 2009 agar UU APBN Tahun Anggaran 2009 yang memuat anggaran pendidikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan sejalan dengan amanat UUD 1945. negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Selanjutnya. yang bertentangan dengan UUD 1945. bertempat tinggal. Hal tersebut harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. keseimbangan pembangunan. perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).meningkatkan alokasi program kementerian negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan. serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009. (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam.0% (dua puluh koma nol persen) untuk pendidikan. selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. juga dalam rangka memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 13 Agustus 2008 Nomor 13/PUU-VI/2008.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. sesuai dengan amanat UUD 1945. dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20. Selain itu. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20.0% (dua puluh koma nol persen) tersebut di samping untuk memenuhi amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. termasuk di dalamnya penganggaran. serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. agar Mahkamah Konstitusi tidak menyatakan bahwa keseluruhan APBN yang tercantum dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat yang disebabkan oleh adanya bagian dari UU APBN. Pemerintah dan DPR memprioritaskan pengalokasian anggaran pendidikan 20. dan mendapat pendidikan yang layak. Dalam kaitannya dengan penanganan bencana alam. Pemerintah dan DPR harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk menyediakan anggaran sekurang-kurangnya 20. infrastruktur dan energi alternatif.

Sementara itu. dan (iv) pengakhiran masa tugas BRR beserta akibat hukumnya ditetapkan dengan Perpres. Dalam kerangka tersebut. BRR NAD-Nias juga mengemban 2 (dua) tugas pokok. pelaksanaan lanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias akan diserahkan kewenangannya kepada kementerian negara/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. (iii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. Oleh karena itu. pembiayaan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak lagi dialokasikan pada bagian anggaran 094 (BRR NAD-Nias). jenis-jenis pengalihan aset. Dengan demikian. Berkaitan dengan berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias. (iii) pengalihan personel (SDM). tahun 2008 merupakan tahun terakhir dari pelaksanaan proyek-proyek fisik oleh BRR NAD-Nias. yaitu: (i) pengelolaan pendanaan pasca BRR NAD-Nias. Dengan demikian. serta (iv) pengalihan dokumen. Kementerian negara/lembaga yang akan melanjutkan kegiatan . BRR NAD-Nias masih dapat beroperasi hingga April 2009. Selain tugas melaksanakan kegiatan pemulihan. kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 26 menyebutkan bahwa: (i) masa tugas BRR akan berakhir setelah 4 (empat) tahun. pada tahun 2009. (ii) pengalihan peralatan dan perangkat (aset) melalui identifikasi terhadap: tahap pengalihan aset. (ii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. dan aset-aset lembaga/negara donor/NGO. dalam rangka melaksanakan proses administrasi penuntasan tugas. yaitu: (i) mengelola proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran (didanai oleh APBN). sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.(Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. dan (ii) mengkoordinasikan proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibiayai oleh lembaga/negara donor atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. biaya operasional BRR NAD-Nias akan dialokasikan pada bagian anggaran 069 (anggaran pembiayaan dan perhitungan). Sementara itu. segala kekayaannya menjadi kekayaan milik negara yang selanjutnya dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. mulai tahun 2008 sudah mulai dilakukan persiapan penuntasan masa tugas BRR NAD-Nias. Perpu Nomor 2 Tahun 2005. aset-aset BRR NAD-Nias. tetapi langsung dialokasikan kepada masing-masing K/L yang bersangkutan. telah dibentuk BRR NAD-Nias dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2004.

maka penyerahan. demokratis. pelimpahan. dan Bappenas. dan kebutuhan daerah melalui reformulasi kebijakan dana perimbangan dan kebijakan lain terkait dengan transfer ke daerah. pembagian. untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut. serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan. dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional. Departemen Pekerjaan Umum. Sejalan dengan hal tersebut. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif. Departemen Perhubungan. dan (iv) mengalihkan secara bertahap sebagian anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam APBN Tahun Anggaran 2009. dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggungjawab. dengan memperhatikan potensi. Selanjutnya. realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya. serta berbagai UU sektoral. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007 dan 2008. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian. kondisi. penerapan kebijakan transfer ke daerah dalam tahun 2009 ditujukan untuk: (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas . juga diikuti dengan pengaturan. UU Cukai. baik penerimaan perpajakan maupun PNBP. subyek dan obyek pengenaan. perubahan UU perpajakan yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan diperkirakan akan memberikan dampak pada penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss). (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. adil dan transparan. yaitu: kondisi ekonomi makro. Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2009. Badan Pertanahan Nasional. Undang-undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan. diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. UU Kepabeanan. baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Departemen Agama. Dalam jangka pendek.rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias antara lain Departemen Dalam Negeri.

(vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/lifting minyak mentah dan volume gas bumi. (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali. khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana serta re-evaluasi peraturan-peraturan tentang tata cara pengadaan/pengelolaan hibah sehingga seluruh pengelolaan hibah memiliki arah yang lebih jelas. dan tercatat dalam perhitungan APBN. (iv) melanjutkan harmonisasi tarif bea masuk impor. dengan lebih . PNBP lainnya. penelaahan. Selanjutnya. kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untuk mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA). evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. (ii) monitoring. dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). serta pendapatan badan layanan umum (BLU). (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga. Untuk menutupi defisit tersebut. Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/lembaga. untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. (iv) pemantauan. (vi) percepatan penyelesaian kewajiban Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas. (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan. bagian laba BUMN. kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. Sementara itu. dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. Di lain pihak. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas. dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran. evaluasi. dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window.Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah. Di samping itu. dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas.

kebijakan moneter yang kredibel. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. dipandang perlu dipersiapkan langkah-langkah di bidang kebijakan fiskal. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 telah dipersiapkan payung hukum apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan deviasi asumsi makro secara signifikan.memprioritaskan pendanaan yang tersedia. jika diperlukan. dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien. Selain itu. murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri. kenaikan biaya penerbitan SBN dan masalah sistemik di sektor keuangan. strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent. Terkait hal tersebut. untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan anggaran tahun 2009. penerbitan SBN akan dilakukan secara berhati-hati dan menjaga pada risiko sekecil mungkin. strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Pasal 2 Cukup jelas. II. Langkah-langkah penanggulangan berupa pembiayaan siaga yang berasal dari pemberi pinjaman lembaga keuangan multilateral dan bilateral. bahkan akan menambah.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. dan dialokasikan . Dalam kondisi pasar keuangan yang tidak stabil akibat ketatnya likuiditas global. Untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang memburuk yang dapat berdampak pada perekonomian nasional. Pemerintah bertekad untuk tidak mengurangi belanja prioritas. Dalam keadaan tersebut. sehingga dapat dijadikan cadangan terhadap rumahtangga dan sektor yang terkena dampaknya.

000.110.938. pelayaran.000. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain adalah sektor migas.560.470.00 411112 Pendapatan PPh gas alam 32.556. pangan.000. Ayat (4) Penerimaan perpajakan sebesar Rp725.000.00 411122 Pendapatan PPh Pasal 22 6.978.640.000.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) 411 Pendapatan pajak dalam negeri 697.00 411124 Pendapatan PPh Pasal 23 24.000.000.470.000.00 411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi 3.510.000. dan transportasi publik.935.00 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 impor 25.000. industri terpilih.000.sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.830.160. dan sektor-sektor publik.196.000.000.00 41111 Pendapatan PPh migas 56.842.500.000.00 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan 136.000.00 4111 Pendapatan pajak penghasilan (PPh) 357.00 411121 Pendapatan PPh Pasal 21 46. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas.000. industri terpilih. Ayat (3) Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto.370.755.000.000.000.000.00 .000.794.000.000.000.000.360. panas bumi.000.510.400.526.723.000.910.00 411111 Pendapatan PPh minyak bumi 24.000. penerbangan. dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.970.00 41112 Pendapatan PPh nonmigas 296. listrik.000.00 411127 Pendapatan PPh Pasal 26 22.346. energi.970.

000.000.100.000.000.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah) terdiri dari : .000.00 4114 Pendapatan BPHTB 7.000. Ayat (4) Cukup jelas.00 4115 Pendapatan Cukai 49. Ayat (3) Cukup jelas.000.00 4113 Pendapatan pajak bumi dan bangunan 28.600.400.496.247.000.600.700.000.000. Ayat (5) Cukup jelas.700.00 41151 Pendapatan Cukai 49.000.240. Ayat (7) Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp258.00 411513 Pendapatan Cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol 775.00 41113 Pendapatan PPh fiskal 3.000.490.522.753.000.412 411128 Pendapatan PPh final 30.273.00 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol 479.00 Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.494. Ayat (2) Cukup jelas.000.508.000.335.000.000.00 4121 Pendapatan bea masuk 19.000.000.000.160.558.600.00 411131 Pendapatan PPh fiskal luar negeri 3.00 Pendapatan pajak perdagangan internasional 28.000.000.000.943.494.200.00 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 48.490.000.738.000.000.000.000.916. Ayat (6) Cukup jelas.00 4122 Pendapatan bea ke luar 9.000.000.300.00 4116 Pendapatan pajak lainnya 4.00 4112 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah 249.000.000.000.700.738.700.

000.188.00 423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya 219.000.330.00 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 15.451.00 423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan 15.00 423116 Pendapatan penjualan informasi.00 423113 Pendapatan penjualan hasil tambang 6. kehutanan.496.00 4213 Pendapatan pertambangan umum 8.000.00 423117 Pendapatan penjualan dokumen-dokumen 422 423 .00 Pendapatan bagian laba BUMN 30.000.000.00 421111 Pendapatan minyak bumi 123.401.093.505.210.625.000.00 4212 Pendapatan gas bumi 39.00 4211 Pendapatan minyak bumi 123.000.000.00 4215 Pendapatan perikanan 150.432.740.00 421211 Pendapatan gas bumi 39.00 4214 Pendapatan kehutanan 2.412.000.000.500.093.(dalam rupiah) 421 Penerimaan sumber daya alam 173.000.330.248.000.577.00 421312 Pendapatan royalti 8.477.520.400.758.500.639.000.000.000.00 42142 Pendapatan provisi sumber daya hutan 1.235.133.740.000.018. pemetaan dan hasil cetakan lainnya 41.000.00 421511 Pendapatan perikanan 150.000.000.000.000.000.000.000.794.794.00 4231 Pendapatan penjualan dan sewa 14.000.000.801.483.000.00 42141 Pendapatan dana reboisasi 1.168.211.000.00 42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan 6.00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian.938.000.794.834.000.056.527.277.029.00 423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan 11.723.994.000.000.029. survey.249. film.600.000.521.600.677.000.000.000.00 421311 Pendapatan iuran tetap 84.00 Pendapatan PNBP lainnya 49.000. penerbitan.000. dan perkebunan 3.00 4221 Pendapatan bagian pemerintah atas laba BUMN 30.000.000.477.866.

gedung.000.226.000.000.000.00 42321 Pendapatan jasa I 11.00 4232 Pendapatan jasa 16.891.949.061.00 423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/ dihapuskan 1.241.000.pelelangan 220.000.355.260.000.00 423142 Pendapatan sewa gedung.268.997.533.964.160.374.000.332. paspor.217.000. bangunan.193.00 42312 Pendapatan penjualan aset 33.00 423122 Pendapatan penjualan kendaraan bermotor 1.00 42313 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas 7. SIM. visa.00 423121 Pendapatan penjualan rumah.00 423149 Pendapatan sewa bendabenda tak bergerak lainnya 5.270.054.00 423132 Pendapatan minyak mentah (DMO) 7.147.490.944.00 423215 Pendapatan sensor/ karantina.000.00 42314 Pendapatan sewa 102.000.000.502.00 423119 Pendapatan penjualan lainnya 78.659.00 423212 Pendapatan tempat hiburan/taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA) 14. STNK.00 423143 Pendapatan sewa bendabenda bergerak 6.00 423123 Pendapatan penjualan sewa beli 30.00 423211 Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya 38.557.991.429.393.381.944. dan gudang 70.000.612.097.00 423213 Pendapatan surat keterangan.490. dan BPKB 2.000.000.000.000.511.037.285.991.274.00 423214 Pendapatan hak dan perijinan 5.000.00 423141 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri 20.365. dan tanah 41.000.000. pengawasan/ .390.814.000.649. bangunan.000.000.

500.00 423225 Pendapatan biaya penagihan pajak negara dengan surat paksa 3.932.00 423231 Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia 285.000.274.000.662.081.489.947.00 423232 Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler 85. kepelabuhan.000.000.00 42323 Pendapatan jasa luar negeri 380.225.000.065.983. dan kenavigasian 317.500.903.906. pelatihan.391.660.00 423241 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.630.00 42325 Pendapatan atas pengelolaan .075.00 423228 Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara 61.000.00 423218 Pendapatan jasa bandar udara.190.000.pemeriksaan 58.000.000.157.00 42324 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.000. pendapatan BPN.007.00 423227 Pendapatan bea lelang 38.00 423216 Pendapatan jasa tenaga.555. pendapatan DJBC 2.261. pekerjaan.000.052.122.00 423226 Pendapatan uang pewarganegaraan 3.458.807.263.458.432.00 423229 Pendapatan registrasi dokter dan dokter gigi 2.000.000.000.00 423217 Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama 73.000.000. teknologi.249.00 423221 Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro) 42.199.000.659.307.00 423222 Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi 1.000.000.218.903.00 423239 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri 9.00 42322 Pendapatan jasa II 1.000.000. informasi.932.

917.000.00 423413 Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan) 721.642.00 423415 Pendapatan ongkos perkara 10.00 423313 Pendapatan bunga dari piutang dan penerusan pinjaman 1.000.935.00 423319 Pendapatan bunga lainnya 350.000.063.000.000.450.00 42351 Pendapatan pendidikan 5.163.000.000.633.000.794.555.494.00 42331 Pendapatan bunga 1. kenaikan tingkat. dan akhir pendidikan 174.00 423419 Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya 1.073.000.809.rekening tunggal Perbendaharaan (treasury single account) dan/atau atas penempatan uang negara 3.00 423414 Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya 18.00 423511 Pendapatan uang pendidikan 3.000.830.00 42329 Pendapatan jasa lainnya 20.450.809.000.00 4235 Pendapatan pendidikan 5.000.330.00 423291 Pendapatan jasa lainnya 20.000.943.000.000.00 423412 Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan 290.000.000.00 4233 Pendapatan bunga 1.00 42341 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.508.298.122.298.385.000.000.385.000.00 423512 Pendapatan uang ujian masuk.000.508.122.224.785.311.000.000.505.000.000.00 423519 Pendapatan pendidikan lainnya 1.633.662.000.000.937.330.000.000.00 423411 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.00 4234 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.862.560.00 .00 423513 Pendapatan uang ujian untuk menjalankan praktik 111.394.450.844.000.844.

267.00 423713 Iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 40.000.700.961.588.000.000.00 42373 Pendapatan dari perlindungan hutan dan konservasi alam 14.000.00 423731 Pendapatan iuran menangkap/mengambil/ mengangkut satwa liar/ mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup atau mati 7.000.000.000.4236 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.494.000.000.00 423612 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara 2.000.000.879.00 423614 Pendapatan uang pengganti tindak pidana korupsi yang ditetapkan di pengadilan 29.830.000.000.000.00 423752 Pendapatan denda keterlambatan .104.422.000.484.00 42375 Pendapatan denda 4.000.000.494.700.000.00 423721 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.336.00 423735 Pungutan masuk obyek wisata alam 7.00 4237 Pendapatan iuran dan denda 687.00 42371 Pendapatan iuran badan usaha 469.000.563.000.000.000.900.000.600.00 42361 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.000.00 423611 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadilan 6.000.00 423711 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM 355.000.00 42372 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.000.939.336.996.00 423712 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa 73.

000.473.000.000.086.000.000.531.000.00 423914 Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri TAYL 1.00 4239 Pendapatan lain-lain 10.00 423913 Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni TAYL 9.424 penyelesaian pekerjaan pemerintah 4.893.235.000.00 4241 Pendapatan jasa layanan umum 5.950.617.821.00 423999 Pendapatan anggaran lain-lain 6.982.527.00 423921 Pendapatan pelunasan piutang nonbendahara 9.238.00 424111 Pendapatan jasa pelayanan rumah sakit 3.235.00 423911 Penerimaan kembali belanja pegawai pusat TAYL 4.797.000.334.000.831.071.000.154.00 42392 Pendapatan pelunasan piutang 1.832.00 42411 Pendapatan penyediaan barang dan jasa kepada masyarakat 5.871.00 423919 Penerimaan kembali belanja lainnya TAYL 2.000.00 423912 Penerimaan kembali belanja pensiun TAYL 76.00 423991 Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji 16.420.482.000.00 423753 Pendapatan denda administrasi BPHTB 29.000.000.454.043.167.591.000.500.285.000.00 424113 Pendapatan jasa .442.000.251.347.975.750.851.007.010.000.00 Pendapatan badan layanan umum 5.509.575.00 424112 Pendapatan jasa pelayanan pendidikan 124.000.923.000.375.392.654.00 423922 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara 1.000.528.00 42391 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu 9.00 42399 Pendapatan lain-lain 22.

412.911.000.000.000. Pasal 7 Realokasi cadangan risiko fiskal adalah realokasi dana cadangan risiko perubahan parameter harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) setahun dan lifting minyak sebesar Rp6.266. informasi.00 424136 Pendapatan investasi 121.000.00 424139 Pendapatan pengelolaan dana khusus lainnya 54.00 424134 Pendapatan program dana bergulir sektoral 3.000.307.000.131.00 Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas.000.437. kepelabuhan.00 424135 Pendapatan program dana bergulir syariah 305.445.105.00 424115 Pendapatan jasa bandar udara.800.000. .309. dan kenavigasian 933. pelatihan dan teknologi 34.618.653.00 424312 Pendapatan hasil kerjasama lembaga/badan usaha 21.00 424116 Pendapatan jasa telekomunikasi 842.108.4243 pelayanan tenaga.437.000.00 (enam triliun rupiah).527.392.000.00 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.000.106.477.00 42413 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat 185.00 42431 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.266. pekerjaan.00 424117 Pendapatan jasa pelayanan pemasaran 21.000.000.618.000.00 424133 Pendapatan program modal ventura 5.541.266.000.000.621.000.625.000.00 424119 Pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya 27.287.367.618.

Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian negara/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Pasal 13 Cukup jelas. Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN Tahun Anggaran . Pasal 11 Cukup jelas.Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk hibah luar negeri yang diterima setelah APBN ditetapkan. Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai.

Ayat (5) Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2009 kepada DPR.022.000. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2009 setelah APBN Perubahan 2009 kepada DPR.413.952.00 a. Ayat (2) Cukup jelas.404.800.00 i.089. Pasal 16 Cukup jelas. yang bukan merupakan kelanjutan dari multiyears project.000. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (6) Dana perimbangan sebesar Rp296.204.00 . DBH Pajak 45.00 .00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).718. DBH Pajak Penghasilan 10. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.754.000.000.Pajak penghasilan Pasal 21 9.000.000.000.387. Dana Bagi Hasil (DBH) 85. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.000. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000. Ayat (2) Cukup jelas.725.2009 dan pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor. Ayat (5) Cukup jelas.

000.100. DBH Pajak Bumi dan Bangunan 27.00 ii.000.000.000.000.240.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar Rp2.798.000.500.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.00 (satu triliun seratus delapan belas miliar empat ratus delapan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah).00 . 3.2.00 iii.369.000.964.000.253.000.000.000.000.282.000.Iuran Hak Pengusahaan Hutan 12.600. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 7.207.856.000.118.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah) yang disepakati untuk dibagi masing-masing dengan proporsi 70 persen untuk Papua dan 30 persen untuk Papua Barat dengan rincian sebagai berikut: a.000.000.Royalti 6. DBH SDA Gas Bumi 12. DBH Cukai 964.000.978.000. .Provisi Sumber Daya Hutan 999.546.000.000.000.588.Dana Reboisasi 494.00 Dana Alokasi Khusus (DAK) 24.000.819. DBH SDA Pertambangan Umum 6.797. DBH SDA Kehutanan 1.300.00 iv.000.609.00 ii.00 .000. b.000.000.151.000.000.000. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan.Alokasi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat sebesar Rp3.000.000.00 i.000.800.321.00 .000. DBH SDA Perikanan 120.00 .760.000.182. sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang .728.Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi 702.00 Dana Alokasi Umum (DAU) 186.446. DBH SDA Minyak Bumi 19.000.215.505.00 v.00 b.414.000.Iuran Tetap 67.00 Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dana otonomi khusus sebesar Rp8.802.000. DBH Sumber Daya Alam 39.00 (dua triliun enam ratus sembilan miliar tujuh ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).911.761.152.000.000.00 iv.00 .400.000.600.564.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah) terdiri dari: 1.00 iii.484.

terutama ditujukan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Perencanaan sebagian besar dari penggunaan dana otonomi khusus tersebut direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi NAD dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota dalam Pemerintah Provinsi NAD serta merupakan lampiran dari APBA. Pencairan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat . Dana otonomi khusus NAD direncanakan. Dana Tambahan Infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi Provinsi Papua sebesar Rp800.Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. 2.000. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.00 (enam ratus miliar rupiah). dan kesehatan. Dana Otonomi Khusus Aceh diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.000. Dana Otonomi Khusus Propinsi Papua tersebut dibagikan kepada Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.000.000. dan untuk tahun keenambelas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. serta pendanaan pendidikan.00 (delapan ratus miliar rupiah) dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp600.000.Alokasi dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp3. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku.000. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional.000. dilaksanakan. yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. pengentasan kemiskinan.00 (satu triliun empat ratus miliar rupiah).00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah).000. 3.000.400. pemberdayaan ekonomi rakyat.Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.728.282. sosial. serta dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).000.000.

000. 4.00 (enam ratus miliar rupiah) tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan penyerapan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat tahun anggaran 2008.000.000.100.Dana tambahan DAU untuk guru pegawai negeri sipil daerah sebesar Rp7.000.000.000.000. Ayat (3) Dana penyesuaian sebesar Rp14.000.100.009.Kurang bayar dana prasarana infrastruktur lainnya tahun 2007 sebesar Rp96. Ayat (2) Cukup jelas.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) . Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas.014.000.000.00 (tujuh triliun rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal dan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.tahun anggaran 2009 sebesar Rp600. 3.342.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.490.747.000.882.Kurang bayar DAK tahun 2007 sebesar Rp295.000.000. Terdapat kekurangan dana tambahan otonomi khusus infrastruktur Provinsi Papua tahun anggaran 2008 sebesar Rp670.000.600.00 (dua ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus enam puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).200.Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp60.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1. 2.000.000.00 (sembilan puluh enam miliar tujuh ratus empat puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).000.000.00 (tujuh triliun empat ratus sembilan puluh miliar rupiah).250.267. yang diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan.00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dapat diusulkan untuk dialokasikan dalam APBN-P tahun 2009.000. Ayat (3) Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp51.Dana tambahan DAU sebesar Rp7.790.

622.000.00 (tiga triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) dan (ii) restrukturisasi BUMN negatif Rp1.000. dan pembelian kembali SBN. Rekening dana investasi 3.565.034.000.000.000.088.250.549.00 iv.000. Dana Investasi Pemerintah dan restrukturisasi BUMN -13.000.00 i. Perbankan dalam negeri 16. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan atas pinjaman PT PLN (Persero) tersebut di atas diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan memperhatikan peraturan .000.000.00 iii.000. Privatisasi 500. Pemerintah memberikan jaminan penuh atas kewajiban pembayaran pinjaman PT PLN (Persero) kepada kreditur perbankan.106.161.00 iv.000. Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2008 2.000.00 (satu triliun rupiah).400.696.000.911.161.000.00 ii.00 i.000.000. Pelunasan piutang negara (PT Pertamina) 9.966.966.00 iii.000.719.690.000.136.00 Non-perbankan dalam negeri 44. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) apabila terealisir. Hasil pengelolaan aset 2.361.966.599.565.000.000. tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan.000.00 (dua triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) terdiri dari: (i) penjualan aset Rp3. Surat berharga negara (neto) 54.945. Rekening pembangunan hutan 1. baik SBN konvensional maupun SBSN (Sukuk). Surat berharga negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali.000. Jaminan pemerintah dimaksud diberikan atas risiko/kemungkinan PT PLN (Persero) tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran terhadap kreditur (payment default). b.00 Hasil pengelolaan aset sebesar Rp2. pembayaran pokok.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batubara oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).000.400. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik.a.455.629.00 ii.000.565. akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar.000. sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.

240.00 Pinjaman program 26.00 (satu triliun rupiah).000.000.000. (iv) dana kontinjensi untuk PT PLN sebesar negatif Rp 1. dan (v) dana bergulir sebesar negatif Rp 1.000.000.000.160.00 (tiga belas triliun enam ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus sebelas juta empat ratus ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah) dialokasikan untuk: (i) investasi pemerintah sebesar negatif Rp500. Dalam rangka restrukturisasi utang PT Garuda dengan Export Credit Agency (ECA).911.000.00 Pinjaman proyek 25.609.966.945. (ii) penyertaan modal negara untuk PT Pertamina sebesar negatif Rp 9.00 (satu triliun sembilan ratus delapan puluh enam miliar lima ratus empat puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).000.448.000.00 (lima ratus miliar rupiah).000. 2.455.000.000.622.600.440.600.000.000.000.986.549.000.361. (iii) pendirian lembaga penjaminan infrastruktur (guarantee fund) sebesar negatif Rp 1. a. Pengeluaran dana bergulir yang bersumber dari rupiah murni dialokasikan sebagai pengeluaran pembiayaan dalam APBN.000.00 b. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -61.perundang-undangan yang berlaku.000.198.00 (sembilan triliun seratus tiga puluh enam miliar tiga ratus enam puluh satu juta sembilan ratus empat puluh lima ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah).957.00 (satu triliun rupiah).400.00 Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri selain dari surat berharga negara internasional. .400. Pemerintah melakukan penjaminan terhadap PT Garuda dalam bentuk jaminan Standby Letter of Credit kepada bank-bank BUMN.957.966. Dana investasi pemerintah dan restrukturisasi BUMN sebesar negatif Rp13.000.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) Penarikan pinjaman luar negeri bruto 52.720.136.000.Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp9.

Pasal 21 Ayat (1) Anggaran pendidikan sebesar Rp 207.00 k. Departemen Perhubungan 800.000. Badan Meteorologi .00 a.00 f.158.000. Departemen PU 42.00 h.000.000.000.00 b.218.550.275.000.476.000.377.000.00 j.413.730.000.951.00 ii.068. Departemen Kehutanan 14.950.000.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).300. Badan Pertanahan Nasional 24.Pasal 20 Cukup jelas.106.000.00 l.045.00 c.815.00 g. Kementerian Negara/ Lembaga lainnya 3.000.000. Perpustakaan Nasional 259. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 67.00 d.000.00 i.000.00 i.900.525.000.700.00 e.00 iii. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.388.100.000.763.000.000.000. Departemen Pendidikan Nasional 61.000. Departemen Agama 23.000. Departemen Kesehatan 1.000.000.000.000.000.531. Departemen Kelautan dan Perikanan 250. Departemen ESDM 23. Departemen Pertanian 75.228.000. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 89.000.853.00 m.223. Departemen Perindustrian 100. Departemen Keuangan 64.000.500.000.

060.000.000.00 i.000.705.982.678.000.000.iv.1% (nol koma satu persen). 2.00 iv.00 v.597.000.00 n.00 ii.000. Dana Otonomi Khusus Pendidikan 2.000.837. sedangkan prognosa indikator ekonomi makro lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh persen) dari asumsinya.000. DBH Pendidikan 817.000. DAU Pendidikan 97.900.000. Badan Tenaga Nuklir Nasional 7. Prognosa tersebut dihitung berdasarkan realisasi indikator ekonomi makro tahun 2008. dan Geofisika 16.000.490.00 iii. Dana Tambahan DAU 7.00 Bagian Anggaran 69 1.657.000.000.00 Pasal 22 Restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa beban bunga SU-002 dan SU-004 pada tahun 2009 dan selanjutnya didasarkan pada tingkat bunga hasil restrukturisasi yaitu sebesar 0.000. dan adanya perkiraan tambahan .941. dan/atau b.terjadi kecenderungan peningkatan yield sekurang-kurangnya sebesar 300 basis points (bps) dalam 1 (satu) bulan.Prognosa pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen) di bawah asumsi.000. Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosa penurunan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan PNBP. DAK Pendidikan 9.862.000.400. Pasal 23 Ayat (1) Keadaan darurat tersebut terjadi apabila: 1.Posisi nominal dana pihak ketiga di perbankan nasional menurun secara drastis. 3. 2. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer ke daerah 117.334.Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara yang menyebabkan tambahan biaya penerbitan SBN secara signifikan tercermin dalam: a.000.237.00 Ayat (2) Cukup jelas.000.tidak adanya yield penawaran yang dimenangkan dalam benchmark pemerintah dalam 2 (dua) kali lelang berturut-turut.

serta belanja lainnya. Laporan Arus Kas. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Yang dimaksud dengan persetujuan DPR adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang dilakukan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam sejak diterimanya usulan Pemerintah. Ayat (3) Informasi tentang pendapatan dan belanja secara akrual dimaksudkan sebagai tahap menuju pada penerapan anggaran yang dilengkapi dengan informasi hak dan kewajiban yang diakui sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Pemerintah dapat melakukan penempatan langsung atau private placement Surat Berharga Negara pada Bank Indonesia. subsidi BBM dan listrik.beban kewajiban negara yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang. Pasal 25 Cukup jelas. Ayat (2) Penerbitan Surat Berharga Negara dapat dilakukan dengan metode lelang maupun tanpa lelang (penempatan langsung atau private placement). Pasal 26 Ayat (1) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ayat (3) Cukup jelas. . Neraca. Untuk menutup kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran. Ayat (2) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. dan Catatan atas Laporan Keuangan.

Ayat (6) Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Ayat (5) Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual pada Tahun Anggaran 2009 diterapkan pada satuan kerja berstatus Badan Layanan Umum yang secara sistem telah mampu melaksanakannya.1 -1 .Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pasal 27 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4920 LAMPIRAN I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2009 BUKU I DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB 1PENDAHULUAN 1 I.

BAB 2TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 I.2 A. Kondisi Umum I.2 A.1. Pencapaian Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 I.2 -1 A.1.1. Agenda Aman dan Damai I.2 -1 A.1.2. Agenda Adil dan Demokratis I.2 -3 A.l.3. Agenda Kesejahteraan Rakyat I.2 A.2. Masalah dan Tantangan Pokok Tahun 2009 I.2 B. Tema Pembangunan Tahun 2009 dan Pengacusutamaan Pembangunan I.2 C. Prioritas Pembangunan Tahun 2009 I.2 -31 I. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan I.2 II. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi I.2 -46 III. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri I.2 BAB 3KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN A. Kondisi Ekonomi Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 B. Lingkungan Eksternal dan Internal Tahun 2009 C. Tantangan Pokok D. Arah Kebijakan Ekonomi Makro E. Sasaran Ekonomi Makro Tahun 2009

-1 -1

-5 -14 -29 -31

-66

I.3 -1 I.3 -1 I.3 -9 I.3 -10 I.3 -11 I.3 -12

BAB 4KAIDAH PELAKSANAAN I.4 -1 LAMPIRAN : MATRIKS PRIORITAS, FOKUS, DAN KEGIATAN PRIORITAS RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUTN 2009 II. -1 BAB 1 PENDAHULUAN Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan pelaksanaan

dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam hal ini, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. RKP Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Di dalam RPJMN Tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1.Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2.Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3.Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan tahun RKP, ditetapkan Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya. yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarbn ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Prioritas pembangunan nasional tahunan disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1.Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2.Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3.Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; 4.Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5.Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Dengan demikian RKP merupakan pedoman bagi penysunan Anggaran

Pendapatan dan belanja Negara (APBN), di mana kebijakan APBN ditetapkan secara bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Dengan cakupan dan cara penetapan tersebut, RKP mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1.Menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan, karena memuat seluruh kebijakan publik; 2.Menjadi pedoman dalam penyusunan APBN, karena memuat arah kebijakan pembangunan nasional satu tahun; dan 3.Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah. Lebih lanjut, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah, RKP juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP Daerah (RKPD). Sebagaimana RKP sebelumnya, dokumen RKP Tahun 2009 dilengkapi dengan Buku II yang berisi uraian tentang Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program. RKP Tahun 2009 ini belum sepenuhnya menampung kegiatan dalam RKA-KL mengingat masih dalam proses penyusunan. Namun, RKP Tahun 2009 ini telah disesuaikan dengan hasil pembahasan dalam Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009. BAB 2 TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 A. KONDISI UMUM

A.1.PENCAPAIAN TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Pelaksanaan pembangunan tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008 yang merupakan tahun ketiga dan tahun keempat RPJM Tahun 2004 - 2009 memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan ketiga agenda pembangunan yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Kemajuan penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. A.1.1. AGENDA AMAN DAN DAMAI Pelaksanaan Agenda Aman dan Damai telah mencapai kemajuan dengan terwujudnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang

Kerja sama internasional teknis profesional penanggulangan kejahatan telah dilakukan dengan Jerman (GSG). Jepang (JICA) . Filipina. kewenangan. Oleh karena itu diperlukan lembaga kepolisian yang efektif.semakin kondusif. kompetensi. doktrin. Timor Leste. efisien. penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis. agama dan golongan merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban terutama kontlik berdimensi kekerasan di beberapa daerah. konflik horizontal. dan aspek kultural (manajemen sumber daya. Penanganan berbagai tindak kriminal seperti kejahatan konvensional maupun transnasional. baik secara kuantitas maupun kualitas telah menunjukkan hasil yang signifikan. pencucian uang. organisasi. maka kerja sama internasional merupakan jawaban bagi seluruh penegak hukum di dunia untuk bangkit memerangi kejahatan yang bersifat transnasional. Selanjutnya. pengelolaan ketertiban masyarakat. penegakan hukum. dan iptek). Dalam rangka menjawab tantangan global dan semua bentuk gangguan keamanan yang tidak lagi mengenal batas negara (borderless crime). kemampuan. serta berbagai bentuk kriminalitas yang !ainnya. antara lain. maka telah ditempatkan perwira penghubung (LO/SLO) di berbagai negara. pengungkapan dan penanganan tindak kejahatan transnasional. serta kelambatan antisipasi penanganan kejahatan transnasional adalah lemahnya profesionalisme lembaga kepolisian. DEA). dan sistem pengamanan . perkembangan organisasi kejahatan internasional yang didukung oleh kemajuan teknoiogi komunikasi dan informasi serta teknologi persenjataan. dan Amerika Serikat (ICITAP. kesenjangan kesejahteraan ekonomi. Salah satu sebab utama belum optimalnya penanganan kriminalitas. Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi. Efektivitas intelijen dan pengamanan rahasia negara merupakan faktor penentu dalam pencegahan. menyebabkan kejahatan transnasional seperti narkoba. bahkan ancaman keselamatan. dalam rangka memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. konflik vertikal. Sementara itu. Faktor kompleksitas kepentingan sosial politik. ATA. keamanan. penyelundupan. manajemen operasional. susunan dan kedudukan). dan lalulintas nuklir dan sebagainya menjadikan kejahatan transnasional menjadi sulit tertangani. Arab Saudi. perdagangan perempuan dan anak. Upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. ketidakadilan. Globalisasi dan diberlakukannya pasar bebas akan meningkatkan mobilitas penduduk baik inter maupun antar negara. fungsi. Malaysia. dan Australia. Thailand. aspek instrumental (filosofi. dan akuntabel.

seperti pemberontakan bersenjata. Sejalan dengan tugas fungsi dan peran pertahanan negara tidak semata-mata hanya ditujukan kepada ancaman dari luar. retrofitting. tetapi juga memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di dalam menangani bencana di dalam negeri. dan pengadaan alutsista secara terbatas. dan budaya yang beragam. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial. Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI. Di samping itu. Dalam rangka penyiapan cetak baru pertahanan telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005-2009. Reformasi TNI telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya. secara geopolitik dan geostrategi. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Polri dalam mencegah dan menindak kejahatan terorisme dan narkoba. Peningkatan kemampuan Polri juga ditempuh melalui percepatan penambahan jumlah personil dan kualitas personil. polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. ekonomi. serta pemantapan reformasi TNI yang dihadapkan dengan supremasi sipil. peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan. telah . pemeliharan. Upaya peningkatan profesionalisme personel ditempuh melalui penataan organisasi. Peningkatan jumlah personil diupayakan melalui rekruitmen dengan sasaran 1 : 600 yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2009. dihadapkan dengan keterbatasan anggaran. Indonesia terletak pada posisi yang strategis dari menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. di setiap Polda telah terbentuk Den-88. maka pembangunan kemampuan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada tetapi hanya untuk mempertahankan kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki. serta Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. tidak saja akan menempatkan NKRI semakin disegani dan dihormati dalam pergaulan internasional. Kemampuan pertahanan yang kuat dan solid. tetapi juga berfungsi untuk mengatasi ancaman dalam negeri. dan dalam menangani dampak bencana. Di sisi lain. agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya. seperti bencana alam yang telah terjadi di beberapa wilayah. serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan. Untuk mengurangi ketergantungan sumber pengadaan alutsista kepada satu atau dua negara saja. sedangkan peningkatan kualitas personil diupayakan melalui pendidikan dan latihan. dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. bangsa.di masyarakat). kebijakan umum dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan. yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. antara lain melalui repowering.

AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS Dalam rangka pemberantasan korupsi. Adanya keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan rencana kebutuhan dalam pembangunan pertahanan sehingga pemenuhan kebutuhan pertahanan belum dapat mencapai pembentukan kekuatan pokok minimum (minimum essential force) TNI. Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Korupsi Tahun 2003 (UNCAC 2003). dunia usaha maupun masyarakat. Namun demikian. Untuk langkah pencegahan. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of the State Parties (CoSP) II UNCAC di Bali dengan memprioritaskan pada upaya pengembalian aset korupsi baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Langkah-langkah pencegahan dan penindakan dilakukan secara bersamaan agar benar-benar memperlihatkan efek jera di semua lini kehidupan masyarakat. sebagai salah satu bentuk komitmen dalam upaya pemberantasan korupsi.2. Pada awal tahun 2008. upaya pemberantasan korupsi tetap dilanjutkan melalui langkah pencegahan dan penindakan hukum. Sepanjang tahun 2007. sosialisasi RAN PK dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAN PK) telah dilakukan pada dua provinsi. Sedangkan untuk langkah penindakan baik yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung beserta jajarannya maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah memperlihatkan peningkatan yang semakin signifikan. Pada tahun 2007. A.ditempuh langkah-langkah ke arah diversifikasi dalam pengadaan alutsista yang bekerja sama dengan beberapa negara. Melalui UU No 7/2006. Salah satu sebabnya adalah cepatnya pemberian izin yang diberikan oleh Presiden kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap penyelenggara negara yang berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari hasil investigasi telah melakukan tindak pidana korupsi. Pada tahun 2008. melalui antara lain penyesuaian peraturan perundang-undangan nasional yang sejalan dengan Konvensi Anti Korupsi 2003. penindakan terhadap pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah dilakukan tanpa mengalami hambatan yang berarti. akan dilakukan kegiatan sosialisasi RAN PK dan penyusunan RAD PK . selama tahun 2007 langkah-langkah untuk menciptakan iklim takut korupsi semakin memperlihatkan perkembangan yang positif baik di lingkungan penyelenggara negara. yang antara lain menginstruksikan dibuatnya Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK). Untuk pencegahan korupsi.1. keterbatasan yang ada tidak menjadikan kendala dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. telah dilakukan upaya memperkuat pemberdayaan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.

berbagai kemajuan telah dicapai pada tahun 2007. dan dilakukannya penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM/aparat pengawas internal pemerintah. Fokus penindakan korupsi akan ditujukan pada kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat luas. ditandai antara lain: penerapan pelayanan satu pintu di berbagai daerah. Selain itu juga akan secara intensif dilakukan sosialisasi terhadap Konvensi Anti Korupsi 2003 dan strategi nasionalnya yang akan melibatkan semua aparat pemerintah pusat dan daerah. dan lainnya. seperti RUU Pelayanan Publik. yang akan diperkuat dengan dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan undang-undang tersendiri. Pada tahun 2008.di 4 (empat) provinsi. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan oleh Kejaksaan dan KPK. dan perbaikan tingkat kesejahteraan aparatur negara meskipun masih terbatas. RUU Administrasi Pemerintahan. beberapa pencapaian penting yang diharapkan . 65 Tahun 2005. RUU Etika Penyelenggara Negara. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Beberapa naskah RUU tersebut telah dibahas dengan DPR dan diharapkan pada tahun 2008 terdapat perkembangan yang berarti. telah diterbitkannya Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Permendagri No. RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah. beberapa instansi pemerintah di pusat telah melakukan inisiatif reformasi birokrasi seperti Depkeu. yang antara lain ditandai dengan: tersusunnya berbagai naskah RUU sebagai landasaan pelaksanaan reformasi birokrasi. 6 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan dari PP No. Inisiatif reformasi birokrasi telah dilaksanakan di lingkungan instansi pemerintah sebagai upaya meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan. serta pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS dan pengadaan PNS secara nasional. makin meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kompetensi auditor eksternal yang ditandai dengan dibukanya perwakilan BPK di provinsi sesuai mandat UU No 15/2006 tentang BPK dan rekruitmen tenaga auditor. peningkatan kompetensi aparatur negara melalui penyelenggaraan assesment center dan berbagai diklat baik struktural maupun fungsional. dunia usaha dan masyarakat luas. juga telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang cukup berarti. penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan publik (e-services) termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). RUU Kementerian Negara. dan telah diselenggarakan berbagai diklat manajemen SPM. MA dan BPK. terdapat kemajuan antara lain: upaya penyempurnaan regulasi di bidang SDM aparatur. Sedangkan di bidang sumber daya manusia (SDM) aparatur. Di bidang penataan kelembagaan. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara. Kemajuan di bidang pelayanan publik. antara lain: diterbitkannya PP No.

perpajakan dan kepabeanan. dilakukannya penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait. sisa 2 (dua) paket UU bidang politik yang belum dapat diselesaikan pembahasannya akan segera dibahas dan diundangkan. Untuk pembangunan SDM aparatur. yang didukung dengan meningkatnya kompetensi tenaga pengawas dan pemeriksa/auditor. diundangkannya UU Pelayanan Publik. tersusunnya SPM sektoral bidang kesehatan. ditingkatkannya kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan SPM. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya penataan kelembagaan atas lembaga non struktural (quasi birokrasi) agar berfungsi secara lebih efektif dan efisien. tahun 2008 diharapkan tersusun penyempurnaan sistem remunerasi PNS yang adil. pengadaan barang dan jasa pemerintah/publik. DPD. di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan. dan DPRD. 10 tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota DPR. 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik dan UU No. dan ditingkatkannya penerapan e-government untuk mendukung kualitas pelayanan publik. pada awal 2008 telah ditetapkan UU No. Diharapkan pula terwujud peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang pengawasan dan pemeriksaan. Hasil penting lainnya dalam pembangunan lembaga demokrasi pada tahun 2007 adalah terpilih dan terbentuknya keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru. investasi/penanaman modal. Dengan akan diselesaikannya semua pembahasan dan ditetapkan semua UU . sebagai landasan proses penguatan lembaga-lembaga demokrasi khususnya pelaksanaan Pemilu 2009. pertanahan. Secara bertahap. Pencapaian penting lainnya yang diharapkan dapat diwujudkan pada tahun 2008 adalah diselesaikannya Rencana Induk Reformasi Birokrasi.terwujud diantaranya: dilanjutkannya penyusunan dan pembahasan dengan DPR berbagai RUU yang terkait dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. pendidikan dan infrastruktur yang disesuaikan dengan PP No 65 Tahun 2005. Pada tahun 2008. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. adalah ditetapkannya UU No. layak. sebagai respon atas penerapan anggaran berbasis kinerja dan tuntutan atas peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. diharapkan tersusun pedoman sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. PNS yang lebih akuntabel sebagai pengganti sistem DP3. Pedoman Umum Reformasi Birokrasi beserta juklak dan juknisnya. dan mendorong peningkatan kinerja PNS. meningkatnya pelayanan publik di bidang kependudukan. tersusunnya standar pelayanan perkotaan (SPP). Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007. dan tersusun sistem penilaian kinerja. Kemajuan pelembagaan demokrasi yang juga perlu mendapat perharian pada tahun 2007 adalah keikutsertaan calon independen dalam pilkada melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan judicial review terhadap Pasal 59 Ayat 3 UU No. Di samping itu.

Pendapatan Negara dan hibah tahun 2007 lebih tinggi 11. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 2. penguatan lembaga keuangan. AGENDA KESEJAHTERAAN RAKYAT Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006.0 persen PDB).Realisasi pendapatan negara dan hibah sampai dengan akhir tahun 2007 diperkirakan mencapai sebesar Rp 708. lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN tahun 2006 yang mencapai 0.1 persen atau naik Rp 14.Defisit APBN tahun 2007 mencapai 1.1 triliun.7 triliun.9 triliun dari target APBN-P tahun 2007.3 triliun (6.5 persen atau meningkat sebesar Rp 90. Pencapaian penerimaan negara dan bibah tersebut terutama bersumber dan penerimaan perpajakan sebesar Rp 491. dan hibah sebesar Rp 1.3 persen PDB) dan belanja ke daerah sebesar Rp 253. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 215. Disamping itu juga diharapkan sudah dapat dilakukan penyempurnaan dan perbaikan data pemilih. dan sektor riil.9 persen . Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal.7 persen PDB). realisasi pengeluaran negara pada tahun 2007 lebih tinggi 13. kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. b. Defisit APBN diupayakan pada batas-batas aman keuangan negara melalui peningkatan pendapatan negara serta peningkatan efisiensi pengeluaran negara.0 persen PDB). pada tahun 2008 diharapkan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah dan KPU/KPUD sebagai lembaga penyelenggara pemilu di pusat dan daerah. maka pada tahun 2008 semua peraturan pelaksanaan/petunjuk teknis penyelenggaraan Pemilu 2009 sudah dapat diselesaikan penyusunannya. dan penyediaan logistik Pemilu 2009.2 triliun (20.0 triliun (5.7 persen PDB).4 triliun dari target APBN-P tahun 2007.7 persen PDB).5 triliun (18. yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 504. moneter. penyediaan sarana dan prasarana pendukung Pemilu 2009. veriftkasi peserta pemilu dan validasi calon anggota legislatif.3.5 triliun. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006.6 persen atau meningkat Rp 4. A.bidang politik.1. Hal lain yang sangat penting untuk dicapai pada tahun 2008 adalah peningkatan kapasitas dan kesiapan partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat pemilih. Secara kelembagaan.0 triliun (13.8 triliun (13.3 persen PDB. Hal-hal pokok terkait dengan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut: a.Realisasi pengeluaran negara sampai dengan 31 Desember 2007 mcncapai sebesar Rp 757. c. Realisasi tersebut lebih tinggi 0. Di sisi kebijakan fiskal.1 persen atau naik Rp70.

Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. Meskipun meningkat. d. namun lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar 1.5 persen pada bulan Januari 2007 menjadi 8. pada bulan April 2008.Nilai tukar yang melemah pada bulan Agustus 2007 menjadi Rp 9.000 . b. lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai 1.0 persen PDB.. 9.107. . Pencapaian sasaran di bidang moneter dan keuangan antara lain: a.3 persen PDB. Terjadinya krisis subprime mortgage pasar keuangan Amerika Serikat di bulan Juli 2007 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar uang Indonesia. Memasuki tahun 2008.7 persen PDB.4 persen (y-o-y) dan terus tumbuh mencapai 29.60 persen). mulai ditingkatkan bulan Mei 2008 menjadi 8. peran sektor keuangan dalam menjalankan fungsinya sebagai intermediasi keuangan juga semakin membaik.5 persen (y-o-y) pada Maret 2008.Sejalan dengan menguatnya kinerja pasar modal.. Secara keseluruhan.Dalam rangka meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.0 persen pada bulan Desember 2007 dan tetap dipertahankan hingga bulan April 2008.PDB.3 persen dibandingkan tahun 2006.300 per USD. laju inflasi diupayakan tetap terkendali. pertumbuhan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui bank umum juga terus meningkat. stabilitas moneter tetap dijaga sepanjang tahun 2007.25 persen. Tekanan inflasi yang meningkat sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna membantu penurunan ekspektasi inflasi. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 8. terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditi makanan dan makanan jadi. Hal ini tercermin dari meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan sebesar 26. Suku bunga acuan tetap dipertahankan sampai bulan April 2008. d. 9. Dari sisi kebijakan moneter. dengan tingginya harga komoditi pertanian di pasar dunia.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp. e. laju inflasi meningkat.96 persen.9.Defisit anggaran dalam APBN-P tahun 2008 diperkirakan mencapai 2. rata-rata harian nilai tukar sebesar Rp.367.pada tahun 2007 laju inflasi mencapai 6.59 persen (y-o-y).4 persen (y-o-y).per USD kembali menguat menjadi Rp 9.per USD pada bulan Oktober 2007. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. defisit APBN tersebut masih berada pada batas-batas aman keuangan negara. Suku bunga acuan (BI rate) diturunkan secara bertahap dari 9.140 per USD atau menguat 0. relatif sama dengan tahun 2006 (6. rata-rata nilai tukar rupiah harian pada tahun 2007 mencapai Rp 9.Stabilnya nilai tukar rupiah dan laju inflasi yang terkendali mendorong penurunan suku bunga perbankan secara bertahap. Penyaluran kredit UMKM sampai dengan akhir tahun 2007 tumbuh sebesar 22. c.

kopdisi ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang baik. 10. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9.6 persen.4 persen. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.0 persen.4 persen. Dari sisi produksi. Dari sisi permintaan. listrik. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. Sementara itu. gas dan air bersih.8 persen menjadi 6. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. dan 8.5 juta lapangan pekerjaan baru.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 5. Pada kurun waktu yang sama angkatan kerja meningkat dari 108. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.9 persen.0 persen dan 13. ekonomi tumbuh 6. Dalam tahun 2008. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6.0 persen.Februari 2008 meningkat sangat tinggi yaitu hampir 4.5 persen dan 2. Lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007 . sejalan dengan perekonomian yang terus meningkat.5 persen.1 juta menjadi 111.5 persen (y-o-y).Upaya-upaya yang ditempuh tersebut telah mampu mendukung perekonomian untuk dapat kembali tumbuh cukup tinggi. Sejak paruh kedua tahun 2007.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan komunikasi. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.5 .4 persen. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5. Dalam hal ketenagakerjaan. serta bangunan yang masing-masing tumbuh sebesar 14. Momentum pertumbuhan terus berlanjut pada triwulan I/2008.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3.0 persen. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. Dalam triwulan I/2008. Dengan memperhitungkan resiko gejolak eksternal yang cukup besar.2 persen dan 8. pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6.

Sebaliknya pada tahun tersebut produksi kedelai mengalami penurunan sebesar 20.76 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 592. pada tahun 2007 pertumbuhan sektor pertanian. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya luas panen sekitar 121.62 persen. pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor tanaman bahan makanan sekitar 5. 42.7 ribu ha atau 21 persen dibanding tahun sebelumnya. bahkan 2.4 ribu ton. penduduk usia 15-19 tahun yang menganggur mencapai 2.32 persen terhadap PDB Nasional atau naik sebesar 7. Keadaan ini cukup memprihatinkan karena usia mereka masih usia sekolah. Jumlah penganggur usia 20-24 tahun mencapai sekitar 3.4 juta orang atau 30. pada Agustus 2007 proporsi penganggur dengan pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah mencapai sekitar 5.14 persen.7 juta dari mereka atau 27. Penciptaan lapangan kerja bagi penduduk berlatar pendidikan relatif rendah.86 persen. kehutanan dan perdesaan. Demikian juga untuk produksi jagung meningkat 14. Pada tahun 2007 PDB pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) meningkat 4.7 persen.10 persen hanyalah lulusan SD ke bawah. perikanan.44 persen dibanding tahun sebelumnya dari 11. telah mulai dikembangkan dan dikonsolidasikan agar tenaga kerja yang dicakup semakin banyak dan merata. miskin dan tidak terampil telah diupayakan oleh Pemerintah.23 persen.42 persen. Dari jumlah penganggur usia 20-24 tahun tersebut. Pada Agustus 2007.75 persen pada Februari 2007 menjadi 8.6 persen dibandingkan tahun 2006.4 juta orang berada di perdesaan.5 persen.44 persen dan peternakan sekitar 2.3 juta orang. perikanan dan kehutanan mencapai sebesar 3.05 juta ton GKG yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir atau meningkat 4. .0 juta orang atau 49. perkebunan sekitar 2. Secara sektoral. Demikian pula PDB perikanan pada tahun 2007 kontribusinya naik menjadi sebesar 2. Pengangguran terbuka masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah. Target ini terlampaui karena adanya peningkatan produksi pertanian hingga melebihi sasaran yang telah dicanangkan antara lain produksi padi/beras yang mencapai sebesar 57.02 persen.58 persennya atau sekitar 1. Berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dibiayai oleh APBN.61 juta ton menjadi 13. yaitu dari 9. meskipun produktivitas mengalami kenaikan 0.29 juta ton. lebih tinggi dari target yang direncanakan sebesar 2. termasuk revitalisasi pertanian.juta atau meningkat sekitar 3.77 persen dibanding tahun 2006.2 juta orang atau 22. Penganggur usia muda masih merupakan proporsi terbesar dri keseluruhan penganggur terbuka.71 persen. Hal ini pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka.03 kuintal per hektar atau 0.46 persen orang pada Februan 2008. Pertumbuhan sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat.

Sebaliknya pertumbuhan sub sektor kehutanan mengalami penurunan karena masih banyaknya illegal logging yang mengakibatkan kerusakan hutan, sehingga berakibat pada menurunnya produksi kayu dari hutan alam yang belum dapat digantikan dengan produksi hasil hutan tanaman industri dan non kayu lainnya. Hal tersebut telah menyebabkan banyaknya industri hasil hutan yang tutup. Dalam rangka pelaksanaan revitalisasi, kegiatan di bidang perikanan difokuskan pada peningkatan produksi dan pengembangan tiga komoditas penting, yaitu udang, ikan tuna, dan rumput laut, dengan tetap melakukan upaya peningkatan mutu dan kegiatan optimalisasi pengelolaan perikanan sejak dari penangkapan ikan (on farm) hingga pemasaran. Untuk mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, pemerintah telah melakukan rehabilitasi, pembangunan, peningkatan fasilitas pendukung berupa Pelabuhan Perikanan Samudra, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan. Selain itu, dilaksanakan juga rehabilitasi dan pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan di 33 provinsi. Pada sub sektor kehutanan, upaya revitalisasi masih terus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain melalui kegiatan-kegiatan: (i) Pengembangan pemanfaatan hutan alam dengan meningkatkan manajemen Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHK); (ii) Penertiban peredaran hasil hutan dalam rangka mengoptimalkan PNBP dan Dana Reboisasi (DR); (iii) Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH); (iv) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); (v) Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak dibebani hak/ijin pemanfaatan; dan (vi) Restrukturisasi industri primer kehutanan. Di bidang infrastruktur, upaya peningkatan pelayanan infrastruktur sesuai standar pelayanan minimum pada tahun 2008 telah diwujudkan melalui pembangunan saluran air baku dengan kapasitas terpasang 1,00 m3 / detik, rehabilitasi sarana/ prasarana pengendali banjir di 62 lokasi pembangunan, pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km, prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan seluas 688 ha, kondisi jalan nasional telah mencapai 81 persen mantap dari panjang jalan nasional dengan peningkatan pelayanan prasarana jalan menjadi 45 km per jam; pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan pulau terluar sepanjang 100 km; pembangunan jalan di kawasan perbatasan sepanjang 110 km., pemberian subsidi operasi perintis angkutan jalan pada 153 lintas, pengadaan bus perintis sebanyak 340 unit, pelayanan pelayaran perintis untuk 62 trayek, subsidi operasi lintas penyeberangan perintis pada 80 lintasan, pelayanan penerbangan perintis untuk 90 rote, penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan angkutan penumpang KA kelas ekonomi sebanyak 70 KA dan angkutan laut kelas ekonomi pada 22 trayek, rehabilitasi dan pembangunan jalan poros desa melalui (DAK) sepanjang 88.205 km dan pengadaan sarana angkutan perdesaan; pengembangan

energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terlaksananya Program integrated micro hydro development and application program (IMIDAP), pembangunan listrik di perdesaan yaitu: PLTS 50 Wp sebanyak 59,000 unit, PLT bayu 80 kW sebanyak 14 Unit; PLTMH sebanyak 1,270 kW, Gardu Distribusi sebanyak 930 Buah/ 44,950 kVA, JTM sebanyak 1,803 kms, JTR sebanyak 1,453 kms; penyediaan PSO pos untuk 2.350 kantor pos cabang luar kota; pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 15.448 unit/30 kawasan, pengembangan Desa-desa Pusat Pertumbuhan di 146 kawasan di 32 provinsi, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 28.000 unit, pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1800 desa, Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 100 lokasi, peningkatan pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional di 35 kab/kota. Dalam rangka peningkatan daya saing sektor riil, pada program pembangunan bidang infrastruktur telah dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 210,73 ribu ha dan rawa seluas 207,67 ribu hektar; pembangunan 7 waduk dan 35 embung, pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang 145 km, pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 71,1 km, tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian, rehabilitasi jalan nasional sepanjang 4.000 km, pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa sepanjang 70 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km, rehabilitasi/peningkatan jalan provinsi/kabupaten/kota sepanjang 418.346 km melalui DAK, peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan Lintas sepanjang 4.410 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km pengadaan sarana KA Kelas Ekonomi, Kereta Rel Listrik, dan Kereta Rel Diesel/Kereta Rel Diesel Electric/Kereta Diesel Kelas 3 sebanyak 45 unit, rehabilitasi Dermaga Penyeberangan pada 36 Dermaga, pembangunan dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan pada 129 Dermaga, pengadaan kapal perintis dan bus air sejumlah 84 Buah, rehabilitasi landasan dan fasilitasnya 450.000 m2; pengembangan Energi Alternatif dan Teknologi Energi Baru Terbarukan, pengembangan wilayah distribusi gas bumi untuk rumah tangga, industri kecil, dan transportasi (gas kota) , pemberian insentif penyediaan energi alternatif, Land Mark penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (Koordinasi Pengembangan dan Pemanfaatan Biofuel), pengembangan teknologi pembangkit listrik lampu hemat energi; pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang dilakukan BUMN PT. PLN baik untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru ataupun rehabilitasi dan repowering pembangkit listrik berbahan bakar batubara, gas dan energi terbarukan hidro dan panas bumi, serta untuk pembangunan

jaringan penyaluran transmisi dan distribusinya, pengembangan regulasi dan pengawasan dalam rangka meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri serta meningkatkan pembinaan industri penunjang ketenagalistrikan dalam negeri melalui pembinaan usaha serta pengembangan standarisasi dan sertifikasi; pembahasan RUU Pos pengganti UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos, penyusunan RUU Telekomunikasi pengganti UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, pengembangan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dalam rangka pengamanan dan pengawasan jaringart internet di Indonesia, pembangunan prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access, penyediaan infrastruktur TIK melalui program Community Access Point (CAP) dan warung masyarakat informasi, penyediaan sarana dan prasarana air limbah sistem terpusat di 26 kawasan/kota, pembangunan sarana dan prasarana air minum pada 69 kawasan strategis, dan pengembangan sistem drainase di 11 kabupaten/kota. Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyediaan infrastruktur melalui kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha, hingga tahun 2006 telah dilaksanakan persiapan perlaksanaan Public-Private Partnership (PPP) untuk Penyediaan Air Baku Industri; persiapan pelaksanaan pembangunan jalan tol dan Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara; pemberian hak khusus pembangunan jaringan pipa gas dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah; penerbitan peraturan tentang penetapan tarif berbasis biaya melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Awal dan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar melalui Jaringan Tetap dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular; dan penetapan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Terkait fenomena global mengenai perubahan iklim, kebijakan pemerintah mengenai peningkatan kapasitas mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan sekaligus dalam rangka pengurangan risiko bencana telah diselesaikan, antara lain: pembangunan prasarana pengendali banjir seluas 500 ha dan panjang 954 km; pemeliharaan prasarana pengendali banjir sepanjang 1,387 km; pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 70 km; pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km; kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; upaya penanganan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) secara terpadu dengan penanganan daerah hulu dan hilir sungai. Sementara itu, setelah empat tahun pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias, serta hampir tiga tahun pelaksanaan tugas dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (BRR NAD-Nias), lembaga tersebut akan segera mengakhiri masa tugasnya pada bulan April 2009 yang akan datang. Dengan

Selain di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias. serta pemulihan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat. dan untuk pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah telah dialokasikan sebesar Rp 430. (3) masih . peningkatkan SDM. Namun demikian. meningkatkan koordinasi antar pelaku pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2009 dalam pembangunan daerah pasca rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada tahun 2007. penyelesaian perumahan dan permukiman bagi korban bencana. 9 tahun 2006. pemulihan perekonomian masyarakat. menunjukkan bahwa pemulihan perumahan korban bencana telah diselesaikan melalui pendanaan sebesar Rp 5. air bersih dan sanitasi. maka pada tahun 2009 penyelesaian dan keberlanjutan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias akan dilanjutkan oleh kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. sementara untuk pemulihan prasarana publik telah dialokasikan sebesar Rp 1. sarana dan prasarana wilayah. dan penyelesaian masalah pertanahan dan penataan ruang wilayah. serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan wilayah.4 miliar. (2) masih diperlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. Pelaksanaan pemulihan pasca bencana melalui pendanaan APBN sejak tahun 2006 hingga 2008.berakhirnya tugas dari BRR NAD-Nias tersebut. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. pasca kejadian gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. prasarana lingkungan permukiman. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga dilakukan selama hampir dua tahun terakhir ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah. terutama bagi kelompok rentan. dijadwalkan dapat diselesaikan pada bulan Juni 2008. serta Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di Provinsi Sumatera Utara. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi 27 Mei 2006. peningkatan kesejahteraan sosial. dan pengarusutamaan gender. pengelolaan lingkungan hidup. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. memperkuat kapasitas kelembagaan. pemenuhan pelayanan dasar. dengan memperkuat landasan perekonomian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. diantaranya: (1) penataan ruang permukiman dan pengembangan lahan skala besar yang memenuhi tata lingkungan yang baik dengan pendekatan pengurangan risiko bencana.2 triliun. pada tahun 2008 pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur.74 triliun. pencapaian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias yang telah dilaksanakan oleh BRR NAD-Nias mencakup beberapa kegiatan pokok yaitu: penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan melalui proses legalisasi peraturan daerah. pemulihan fasilitas pendukung kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan dan kesehatan.

02% pada tahun 2005 (Susenas 2007).9 persen (Susenas 2007). Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20% pada tahun 2009. serta (4) dukungan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana. status kesehatan masyarakat terus menunjukkan perbaikan.diperlukannya dukungan yang difokuskan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah serta pemulihan infrastruktur perekonomian lokal. serta peningkatan sarana prasarana transportasi.4% pada tahun 1999 menjadi 28. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang saat ini baru mencapai 71. Flu burung telah menjadi isu global dan nasional karena memiliki dampak besar pada kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa manusia. diperlukan upaya yang lebih keras. Dengan kondisi ini. pencegahan dan pengendalian flu burung memerlukan upaya menyeluruh dan terintegrasi dari segi tata laksana kesehatan hewan dan kesehatan manusia. memperbaiki pola asuh. data maupun peta wilayah rawan bencana yang memadai bagi analisa pola pemanfaatan ruang sekaligus menguatkan kelembagaan di tingkat daerah dalam pengendalian pemanfaatan rencana tata ruang wilayah. termasuk upaya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi pandemi.000 kelahiran hidup. telah ditetapkan program dan fokus kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pendayagunaan rencana tata ruang wilayah sebagai salah satu instrumen utama untuk mengurangi resiko bencana dan peningkatan kualitas informasi. Di bidang kesehatan. pendidikan ibu. Upaya penurunan AKI juga perlu didukung dengan perbaikan keadaan gizi ibu hamil. Jumlah kasus kematian ternak unggas akibat flu burung sangat tinggi dan tersebar di seluruh provinsi. penanggulangan kemiskinan. dan meningkatkan pelayanan kesehatan dasar. Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2006-2008 menjadi acuan kebijakan pelaksanaan upaya pengendalian flu burung dan saat ini . perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia juga cenderung terus meningkat. peran perempuan.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Sampai akhir Februari 2008 kasus flu burung pada manusia mencapai 129 kasus dan 105 diantaranya meninggal. hal ini antara lain dapat dinilai melalui perbaikan berbagai indikator kesehatan seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100. Demikian pula dengan status gizi anak balita mengalami perbaikan yang ditandai dengan menurunnya persentase balita yang mengalami kekurangan gizi dari 34. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008. Namun demikian untuk mencapai sasaran penurunan AKI pada tahun 2009 menjadi 226 per 100.

tahun 2008 menjadi 228 juta jiwa.4 juta orang (2007). peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. antara lain melalui kegiatan Keluarga . Cakupan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan kurang mampu melalui program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (JPK-MM)/Askeskin terus meningkat yaitu dari 36. Diperkirakan.2 persen (tahun 2008) dan terus menurun hingga mencapai titik terendah 44. dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun. penyernaan ruang isolasi perawatan di 100 rumah sakit rujukan. perlindungan bagi petugas yang berisiko tinggi. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah tertinggal. Penurunan angka kelahiran dan kematian bayi yang terjadi selama ini telah merubah struktur umur penduduk yaitu persentase penduduk usia produktif terus meningkat sementara persentase penduduk usia non-produktif.4 juta orang (2005) menjadi 76. khususnya penduduk muda (0-14 tahun) semakin menurun. pengendalian kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas.Renstranas tersebut sedang dalam proses perumusan kembali. serta melakukan kaji tindak. Selain itu. penyediaan obat Oseltamivir. surveilans epidemiologi. BD akan terentang hingga sekitar tahun 2020. Namun demikian kesempatan yang menguntungkan pembangunan itu tidak akan pernah tercapai bahkan akan merugikan bila laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dan kualitas penduduk tidak ditingkatkan secara terus menerus dan konsisten. Untuk itu pada tahun 2009 Askeskin perlu terus dilanjutkan dengan jaminan kesehatan pada masyarakat (jamkesmas) untuk meningkatkan akses penduduk miskin dan kurang mampu di kelas III RS dan peiayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di Puskesmas dan jaringannya.5 persen pada tahun 2017. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa. penguatan laboratorium pengujian. Rasio beban ketergantungan yang sebesar 48. Penurunan persentase penduduk muda mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk membiayai pembangunan bidang lainnya. terpencil. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun. daerah perbatasan. Keadaan ini di satu sisi mengindikasikan telah terjadi penurunan persentase penduduk sebagai beban pembangunan (dependenry ratio) sementara di sisi lain juga merupakan keuntungan ekonomi (Bonus Demografi/BD). Upaya pencegahan dan penanggulangan di bidang kesehatan manusia yang telah dilaksanakan mencakup penatalaksanaan kasus di rumah sakit. dan daerah bencana perlu ditingkatkan.9 persen (tahun 2006) diperkirakan turun menjadi 47. Pada waktu rasio beban ketergantungan mencapai angka terendah ini terbukalah jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk Indonesia.

Pemerintah secara terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. TNI AL. Sementara itu.4 persen. pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral. Selanjutnya. (3) implementasi penatausahaan SI-PUHH dan PSDH/DR berbasis TI (on-line) di 11 BP2HP. dan Universitas Terbuka (UT) adalah sebesar 17.90 persen. Pada tahun 2007 pelaksanaan kegiatan yang dilakukan telah menghasilkan berbagai pencapaian. (4) dilakukannya monev illegal logging dan monev hasil lelang basil hutan ilegal. penawaran 30 wilayah kerja migas. kelompok umur 13-15 tahun sebesar 84. dan (2) penguatan kapasitas kelembagaan Pengamanan Hutan (Pamhut) dan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di 10 lokasi. Sementara itu. angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI dan yang sederajat mencapai 94.52 persen dan 60.9 persen. selama tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan. Perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi dalam peningkatan kuantitas fasilitas layanan pendidikan. dan (5) pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan. perumusan kebijakan dan regulasi usaha penunjang migas beserta keberpihakannya.Berencana (KB). APK pada jenjang pendidikan tinggi (PT) yang mencakup pula perguruan tinggi agama (PTA). (2) uji coba Sistem Informasi-Penata Usahaan Hasil Hutan (SI-PUHH) dan penatausahaan Provisl Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR) berbasis Teknologi Informasi (TI) di 3 Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP). upaya penertiban peredaran hasil hutan telah mencapai hasil antara lain: (1) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kayu meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2006. Dalam pengamanan kawasan hutan telah dilaksanakan antara lain: (1) operasi pengamanan fungsional dan operasi khusus melalui kerja sama dengan POLRI.25 persen. PPATK di 10 provinsi rawan illegal logging.1 persen. Pada tahun 2007. Dalam hal perbaikan pengelolaan sumber daya hutan berbagai upaya untuk telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Sementara itu. Kesungguhan Pemerintah tersebut tercermin oleh hasil yang cukup menggembirakan seperti yang terlihat dari peningkatan angka partisipasi pendidikan pada semua jenjang. Pada saat yang sama.51 persen. Adapun angka partisipasi sekolah (APS) atau persentase penduduk yang mengikuti pendidikan formal untuk kelompok umur 7-12 tahun tercatat sebesar 97. Kejaksaan. Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA/SMALB/Paket C masing-masing mencapai 92. rasio murid per guru adalah 21 untuk SD/MI dan 13 untuk SMP/MTs. Rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI dan 40 untuk SMP/MTs. BIN. antara lain: penyelesaian blueprint peningkatan kapasitas nasional bidang minyak dan gas bumi (migas) sebagai upaya peningkatan kapasitas nasional dalam industri migas. baik secara . dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 53.

Sementara itu. masih banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. 22 tahun 2001 tentang Migas. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon melalui penghapusan pemakaian bahan perusak ozon (BPO) di berbagai mesin pendingin (chiller) dan memasyarakatkan penggunaan metered dosed inhaler (MDl). Kegiatan-kegiatan ini terutama berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keniagaan migas termasuk niaga umum BBM. program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER). pengendalian pencemaran air serta perlindungan sumber daya air. kegiatan pengusahaan migas terus meningkat secara berturut-turut.penawaran langsung ataupun penawaran melalui tender (regular dan direct offer). hasil olahan dan lain sebagainya. program langit biru. hasil pelaksanaan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat terus menunjukkan kemajuan. Sementara itu.31 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 50. tahun 2005 terlaksana 28 kegiatan usaha. Namun demikian. penegakan hukum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang terus akan dilakukan untuk memperluas cakupannya. telah disalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah. program menuju Indonesia hijau. LPG. pada tahun 2007. program pembangunan bersih yang dikoordinasi oleh Komnas Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB). Untuk meningkatkan kapasitas daerah di bidang lingkungan hidup. program kali bersih. program energi efisiensi di industri kecil dan menengah. telah dilaksanakan kegiatan Adipura. dari 3 (tiga) agenda pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009. tahun 2006 terlaksana 32 kegiatan usaha dan tahun 2007 terlaksana 35 kegiatan usaha. Masalah dan tantangan utama yang . serta kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. MASALAH DAN TANTANGAN POKOK TAHUN 2009 Dengan berbagai kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan perkiraan pada tahun 2008. pembinaan tim penilai AMDAL. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pemantauan kualitas air. program Debt for Nature Swap dengan Pemerintah Jerman. Hingga tahun 2007. A. Hal-hal tersebut di atas terus dilanjutkan pada tahun 2008 termasuk membangun fasilitas dan infrastruktur lingkungan. pembangunan bidang lingkungan hidup tetap dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pengendalian penggunaan sumber dara alam secara berkelanjutan serta pengendalian praktek perusakan/penurunan kualitas lingkungan. hasil pelaksanaan agenda pembangunan aman dan damai serta agenda pembangunan adil dan demokratis telah mengarah kepada keadaan yang diinginkan.2.53 juta. penandatanganan 26 kontrak kerja sama (KKS) dengan komitmen investasi untuk 3 tahun mendatang sebesar US$ 640. Sejak berlakunya UU No.

prasarana dan sarana fisik perekonomian yang memadai. Dukungan yang dibutuhkan terkait dengan jaminan lokasi usaha.5 juta penduduk lanjut usia. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap terus meningkat. Persentase penduduk miskin pada Triwulan I Tahun 2008 sebesar 15.8 juta anak telantar.8 juta jiwa korban bencana alam. perumahan serta air bersih dan sanitasi dasar masih terbatas. upaya pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial masih merupakan masalah dan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan. dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola usaha. 2.5 persen dari jumlah penduduk miskin tinggal di perdesaan. jwnlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin karena guncangan ekonomi maupun karena bencana alam masih cukup besar. MEMPERKUAT USAHA MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH. kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). serta 66 ribu tuna susila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial. Terkait dengan upaya penurunan jumlah penduduk miskin. dan persentase kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama Nusa Tenggara. Kesemuanya ini merupakan masalah dan tantangan yang harus ditangani agar efektifitas penurunan jumlah penduduk miskin dapat ditingkatkan. Selain itu.4 persen dan desa miskin/tertinggal mencapai lebih dari 46 persen. meliputi pendidikan. 64 ribu gelandangan dan pengemis. Tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan dukungan bagi perkembangan usaha mereka. MEMBANGUN DAN MENYEMPURNAKAN SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL KHUSUSNYA BAGI MASYARAKAT MISKIN. jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih besar dan penurunannya berjalan lambat. Padahal sebesar 63. 145 ribu anak jalanan dan 1. MENYEMPURNAKAN DAN MEMPERLUAS CAKUPAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT. Selain itu. upaya pembangunan yang dilakukan masih belum merata dan belum mencapai seluruh masyarakat. 2. yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat miskin. pelaksanaan program pembangunan masih bersifat parsial dan belum terfokus. khususnya bagi yang berada di perdesaan dan luar Jawa. Dukungan usaha masyarakat yang terbatas menimbulkan . Oleh sebab itu tantangan yang harus dihadapi adalah menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat.5 juta jiwa orang cacat.dihadapi pada tahun 2009 diantaranya adalah sebagai berikut. Ketiga. akses terhadap sumberdaya. Akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Kedua. kesehatan. Masalah pokok yang dihadapi dalam menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan berbasis masyarakat masih sangat terbatas. Saat ini terdapat 3. Maluku dan Papua juga lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa.

Salah satu unsur pelayanan dasar yang diperlukan masyarakat adalah pendidikan. pemerataan. . ekonomi dan politik yang terbatas. dan kualitas pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar. Selain tantangan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar. Besarnya kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi menjangkau kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah (kredit/pembiayaan di bawah Rp 5 juta) dan kebutuhan kelompok masyarakat yang usahanya terus berkembang (kredit/pembiayaan Rp 5 juta .52 persen pada tahun 2007. antarkota dan desa. akses terhadap pelayanan sosial. Efektivitas penyaluran KUR dan pendampingannya merupakan tantangan yang harus ditangani secara tepat untuk mendukung upaya perkuatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. Permasalahan utama yang dihadapi bidang pendidikan adalah masih diperlukannya peningkatan akses. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut pada umumnya tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit/pembiayaan perbankan. kemitraan dan/atau klaster yang layak untuk dibiayai namun belum menjadi nasabah bank. meskipun mereka memiliki usaha yang layak secara ekonomi untuk dibiayai. Program KUR juga dilengkapi dengan pendampingan mulai dari penyiapan proposal kredit sampai dengan penggunaan kredit (pengelolaan keuangan). Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat miskin. kewirausahaan dan kapasitas pengelolaan usaha yang rendah. khususnya pembiayaan. kelompok. serta arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang masih berorientasi pada "inward looking" sehingga menghambat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. serta antarpenduduk kaya dan miskin. Di samping itu.Rp 500 juta).permasalahan berupa tingkat pendapatan yang rendah. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang masih membutuhkan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2004-2009. masih ditemui adanya kesenjangan pencapaian APK yang cukup tinggi antar daerah. Kesenjangan antar daerah tersebut terlihat dari masih adanya 75 kabupaten/kota yang variasi pencapaian APK SMP/MTs/Sederajat kurang dari 75 persen. merupakan masalah yang paling mendesak untuk ditangani. Upaya keras ini perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat yang baru mencapai 92. kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi (Inpres 06/2007). KUR diberikan kepada UMKM dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang bersifat individu. dan 121 kabupaten/kota yang APK-nya sekitar 75-90 persen. hampir miskin dan tidak mampu yang memiliki kegiatan usaha produktif yang tersebar di berbagai lapangan usaha dan lokasi. MENINGKATKAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDlKAN. Keterbatasan dukungan akses terhadap sumberdaya. Kondisi tersebut mendorong dikeluarkannya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yaitu percepatan penyaluran kredit/pembiayaan yang berasal dari sumber dana perbankan dengan dukungan penjaminan untuk kredit usaha mikro.

Selain pendidikan. gangguan akibat kurang yodium. MENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN. kejadian demam berdarah dan kejadian luar biasa diare. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilakukan secara terus menerus. kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan. penderita TB. kesehatan juga merupakan unsur penting yang menjadi indikator dan sekaligus merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. maka upaya yang dilakukan harus lebih besar. dan kesejahteraannya yang masih terbatas. Dalam hal ini peran pendidikan nonformal menjadi sangat diperlukan dan harus dapat dimanfaatkan. masalah gizi utama masih memerlukan penanganan intensif seperti kurang energi protein pada ibu hamil. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang belum mencukupi. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian anak balita. kasus penyakit flu burung pada manusia. persebarannya belum merata. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat akibat ketersediaan pendidik berkualitas belum memadai. sehingga mereka lebih memilih bekeja dibandingkan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah.permasalahan dan tantangan lain yang dihadapi di bidang pendidikan adalah besarnya jumlah lulusan SMP/MTs yang karena alasan ekonomi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. kurang vitamin A dan kurang zat gizi mikro lainnya. namun mengingat proporsi buta aksara terjadi pada penduduk usia 45 tahun ke atas yang umumnya memiliki minat belajar yang rendah. jumlah dan distribusi tenaga kesehatan masih terbatas khususnya di daerah tertinggal. terpencil dan perbatasan. bayi.2 persen. Beberapa permasalahan dan tantangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. penyakit menular masih cukup tinggi antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah penderita malaria. Ketiga. terpencil. dan daerah bencana masih perlu ditingkatkan. akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan penduduk daerah tertinggal. serta berbagai masalah gizi lain seperti anemia gizi besi. Keempat. Permasalahan dan tantangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperkecil kesenjangan antara sasaran dan pencapaian angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 2. Kelima. dan balita. Keenam. Pertama. Secara persentase angka tersebut memang tidak terlalu besar. Kedua. namun masih terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kesehatan. misalnya dengan alasan ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga. dan jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan juga merupakan masalah dan tantangan yang harus diselesaikan. perbatasan. .

Hasil Supas 2005 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan Total Fertility Rate (TFR) di beberapa daerah baik di daerah yang TFR-nya masih di atas rata-rata nasional (Nusa Tenggara Timur. obat. (3) kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur transportasi terutama di daerah perdesaan. Pola serupa juga ditunjukkan oleh rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup pada perempuan yang pernah menikah yaitu pada kelompok termiskin sebanyak 3. dan Bali). Adapun tantangannya adalah ketersediaan air dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat untuk seluruh wilayah Indonesia. pedalaman. TFR pada kelompok termiskin sekitar 3. Jawa Timur. perlu disusun peraturan perundang-undangan untuk mendukung pelayanan kesehatan seperti peraturan perundang-undangan tentang Rumah Sakit.2. dan pulau-pulau kecil. dan Gorontalo) maupun di beberapa daerah yang TFR-nya sudah berada pada tingkat replacement level yaitu TFR kurang dari 2.1 (DKI Jakarta. (1) rendahnya akses terhadap pelayanan transportasi khususnya untuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan.7 orang. Sementara di bidang energi dan ketenagalistrikan. perbatasan. psikotropika. D. Yogyakarta. MENINGKATKAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR DI DESA SESUAI STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM). dan SDM kesehatan. Meskipun upaya peningkatan pelayanan infrastruktur perdesaan telah dilakukan. (2) kurangnya keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. MENGENDALIKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK.3 orang. Sulawesi Tengah. perbatasan.ketersediaan obat dan pemanfaatan obat generik serta pengawasan terhadap obat. Kesejahteraan masyarakat dan kegiatan perekonomian hanya akan dapat ditingkatkan apabila tersedia pelayanan infrastruktur yang memadai. Kalimantan Selatan. masalah pokok yang . Sulawesi Selatan. Disamping itu. pedalaman. makanan dan keamanan pangan masih perlu ditingkatkan.I. dan pulau-pulau kecil melalui pelayanan angkutan yang murah dan terjangkau untuk masyarakat miskin dan masyatakat yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. berdasarkan distribusi kelompok pengeluaran keluarga. Di bidang sumber daya air masalah pokok yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku perdesaan serta pengendalian daya rusak air. Ketujuh. namun masih diperlukan berbagai upaya lanjutan dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur perdesaan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Di bidang transportasi masalah pokok dan tantangan yang dihadapi antara lain. dibandingkan dengan kelompok terkaya sebanyak 2.0 lebih tinggi daripada kelompok terkaya yang besarnya 2.

masalah pokok dan tantangan yang dihadapi adalah rendahnya jumlah akses. Selain itu. jaringan air limbah. terutama masyarakat perdesaan. Pertama. menurunnya wilayah jangkauan penyiaran. dan jangkauan layanan pos dan telematika di perdesaan. masih lemahnya kelembagaan ekonomi dan organisasi perdesaan yang berbasis masyarakat untuk menggerakan sistem perekonomian dan memperkuat modal sosial.dihadapi. Kedua. persampahan. MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT PERDESAAN PADA LAHAN. Terkait dengan telekomunikasi tantangan utamanya adalah perluasan layanan telekomunikasi dan jangkauan penyiaran serta pos hingga ke seluruh pelosok tanah air. masih lemahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah desa khususnya dalam menciptakan inisiatif-inisiatif pengembangan perekonomian desa dan pelayanan masyarakat. MEMPERKUAT LEMBAGA MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DESA. Di bidang pos dan telematika. pemilikan. pada kenyataannya masih terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam penguasaan. merupakan tantangan yang dihadapi dalam perumahan. BERDAYA TAHAN. Keterbatsan akses masyarakat terhadap lahan lebih lanjut menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber permodalan. Untuk itu tantangannya adalah mengembangkan sumber energi dan kelistrikan yang disesuaikan dengan kondisi demografis dan geografis dengan layak secara finansial. . Disamping itu masih maraknya sengketa dan konflik pertanahan turut menghambat akses masyarakat perdesaan pada lahan. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam upaya penguatan lembaga masyarakat dan pemanfaatan kelembagaan pemerintah daerah antara lain sebagai berikut. ekonomis dan sosial budaya. rendahnya kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah serta harga rumah yang terus meningkat karena meningkatnya harga lahan serta masih adanya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dalam perijinan pembangunan perumahan. adalah rendahnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana energi dan belum memadainya fasilitas sistem ketenagalistrikan. kualitas. MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI YANG STABIL. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini memang tidak mudah karena kondisi demografis dan geografis yang bervariasi dengan persebaran penduduk tidak merata dan potensi energi yang sangat bervariasi. dan jaringan drainage. Masalah dan tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap lahan. Di bidang perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan prasarana-sarana permukiman seperti jaringan air minum. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T).

tantangan adalah meningkatkan diversifikasi pasar ekspor nonmigas. (iv) perlunya penyediaan berbagai skema insentif fiskal dan non fiskal guna meningkatkan daya saing usaha nasional. Pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. meskipun kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. MENINGKATKAN DAYA TARIK INVESTASI. 25/2007 tentang Penanaman Modal sehingga memberi kejelasan arahan bagi pelaku usaha. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan ketersediaan kebutuhan dasar dan pengembangan perdesaaan perlu didukung oleh perekonomian yang lebih maju yang diantaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan. Singapura. Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kemajuan sektor-sektor utamanya seperti industri dan pertanian. perkembangan perekonomian semakin baik. termasuk didukung oleh UKM yang memiliki produktifitas yang tinggi dengan lebih membuka aksesnya terhadap sumberdaya yang produktif. (iii) perlunya peningkatan ketersediaan energi. (viii) masih perlunya peningkatan koordinasi program peningkatan iklim investasi antar pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. sehingga ekspor nonmigas . (vii) perlu ditingkatkannya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Upaya untuk mendorong kemajuan perekonomian juga harus mempertimbangkan ketersediaan pangan. SERTA PARIWISATA. dan perekonomian yang stabil dan tahan menghadapi berbagai gejolak dan tekanan. perekonomian yang berkualitas. EKSPOR NONMIGAS. agar tidak bertumpu pada empat pasar ekspor tradisional (Jepang. (ii) perlunya peningkatan jumlah dan kualitas infrastruktur. dan (x) masih perlunya pengembangan potensi investasi di daerah. Dengan mengatasi tantangan ini. Dalam beberapa tahun terakhir. (v) perlu dilengkapinya peraturan pelaksanaan UU No. Dari sisi ekspor. namun kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan. (vi) masih diperlukannya optimalisasi penyederhanaan administrasi perpajakan dan kepabeanan.DAN BERKUALITAS. Amerika Serikat. dan Uni Eropa) yang pangsanya sekarang masih sebesar sekitar 50 persen. Sejalan dengan perbaikan tersebut. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan. Walaupun perkembangan investasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat namun upaya peningkatan investasi masih menghadapi permasalahan dan tantangan yang an tara lain: (i) perlunya peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan perijinan. tingkat ketergantungan ekspor nonmigas terhadap pasar tradisional akan berkurang. Perkembangan ekonomi juga harus didukung peningkatan daya saing sektor riil yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur. (ix) ditingkatkannya kualitas promosi di dalam dan luar negeri. investasi dan ekspor harus dapat ditingkatkan. berbagai permasalahan dan tantangan pokok masih harus dihadapi.

MENINGKATKAN MENDORONG KEMAJUAN SEKTOR INDUSTRI. bahan penolong. dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga maupun pusat dan daerah dalam pengembangan destinasi dan promosi pariwisata belum maksimal. untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.Indonesia akan lebih tangguh terhadap perubahan kondisi perekonomian global dan gejolak permintaan di keempat pasar ekspor tersebut. ekspor . Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata terutama dalam upaya peningkatan kontribusi devisa terhadap perolehan devisa dapat diatasi. serta rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata. (iii) belum mapannya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh kerja sama pelaku ekonomi-sosial-budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat belum berlangsung secara optimal. keterkaitan antara sektor industri hulu dan sektor industri hilir dengan sektor ekonomi lainnya yang relatif masih lemah. (ii) belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan terutama oleh pemanfaatan media massa dalam dan luar negeri baik elektronik maupun cetak serta teknologi informasi sebagai sarana promosi belum maksimal. dan belum seluruh pemerintah provinsi. kota. Namun demikian sektor industri masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. integrasi. Masalah dan tantangan pokok lainnya adalah masih perlunya upaya untuk meningkatkan diversifikasi produk ekspor. berbagai masalah dan tantangan yang masih harus dihadapi adalah: (i) belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan terutama oleh pembangunan pariwisata terutama antara kawasan Barat dan Timur yang belum merata dan kurangnya kenyamanan dalam berwisata karena antara lain sarana dan prasarana menuju destinasi pariwisata belum sepenuhnya memadai. agar pertumbuhan utama ekspor nonmigas Indonesia tidak hanya ditopang oleh ekspor komoditas primer yang relatif bernilai tambah lebih rendah dan harganya cenderung lebih berfluktuasi. masih besarnya hambatan non tarif di pasar ekspor baik tradisional maupun non tradisional. Dari sisi pariwisata. barang setengah jadi dan komponen. Sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian. dan kabupaten mendukung promosi daerahnya sebagai destinasi wisata dan masih adanya berbagai peraturan daerah yang menghambat pengembangan pariwisata. Permasalahan yang dihadapi sektor industri dan sekaligus merupakan tantangan yang harus diatasi antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku. struktur industri hanya didominasi beberapa cabang yang tahapan proses industri dan penciptaan nilai tambahnya pendek. masih perlu disempurnakannya proses penyederhanaan prosedur ekspor agar dapat mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mempercepat waktu penyelesaian dokumen ekspor-impor. koordinasi. serta masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung kelancaran arus barang ekspor.

namun secara absolut jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2008 masih tinggi yaitu mencapai 9. dan masih lemahnya peranan kelompok industri kecil dan menengah sebagai industri pendukung. 12. Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi oleh UKM saat ini adalah produktivitas UKM yang meningkat sangat lambat sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan yang masih lebar antar pelaku UKM dengan pelaku usaha besar. serta peningkatan kualitas pelayanan TKI yang akan bekerja di luar negeri. sangat kecil dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai sebesar Rp. Padahal UKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. antarindustri.1 juta. daya serap tenaga kerja yang mulai meningkat masih diserap oleh lapangan kerja informal. lebih dari 60% kegiatan sektor industri berada di Jawa. juga disebabkan karena masih besarnya biaya transaksi dalam kegiatan usaha. Keadaan ini menjadi penghambat . MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN AKSES UKM KEPADA SUMBERDAYA PRODUKTIF. tenaga kerja formal diharapkan memiliki produktivitas tinggi serta memiliki kualifikasi dan kompetensi seuai dengan permintaan pasar kerja. MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA. Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal yang mencakup 70 persen dari seluruh pekerja untuk memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara pekerja informal dengan pekerja formal. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dapat dilaksanakan antara lain dengan pelatihan berbasis kompetensi dan pelatihan melalui pemagangan di tempat kerja. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah menciptakan kesempatan kerja terutama lapangan kerja formal-seluas-luasnya.5 juta lapangan kerja baru. Masih rendahnya tingkat produktivitas UKM ini selain disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia. Meskipun jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007-Februari 2008 sangat tinggi yaitu sekitar 4. Tantangan ini diikuti dengan pentingnya pemberdayaan UMKM yang banyak menyerap tenaga kerja informal. Di samping itu kondisi permesinan di beberapa kelompok industri perlu diperbaharui agar tetap kompetitif di pasar internasional. 240. dan keterbatasan kepada akses sumber permodalan. Tantangan ini tidak mudah karena beberapa tahun terakhir.3 juta.4 juta atau 8. pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang banyak menyerap tenaga kerja informal. Tantangan kedua adalah mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi. teknologi dan pemasaran.produk industri didominasi oleh hanya beberapa cabang industri. antarsektor dan antar daerah.46 persen dari angkatan kerja. namun produktivitas UKM per tenaga kerja hanya sebesar Rp. produksi. Tantangan ini berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan yang memungkinkan pekerja untuk pindah antar perusahaan. Sebagai gambaran pada tahun 2006. meskipun UKM memberikan kontribusi yang cukup besar dalam PDB. Di sisi lain.

tetapi peningkatan akses pangan di tingkat rumah tangga masih perlu terus . Tersedianya basis data tentang pusat-pusat produksi.kemajuan UKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produk. Permasalahan dan tantangannya adalah meningkatkan penyediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan meningkatkan produksi. Akses pangan bagi rumah tangga relatif meningkat yang diindikasikan dengan semakin menurunnya kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga. pertanian dan suku bunga. baik yang didukung oleh sistem transportasi darat. beberapa bahan kebutuhan pokok masyarakat di beberapa daerah. ketahanan pangan masyarakat masih belum didukung dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap pangan. stok beserta matarantai distribusinya dan sistem pemantauan yang baik dapat menjaga kelancaran pasokan dan meredam terjadinya lonjakan harga bahan pokok secara berarti serta dapat menghindari terjadinya penimbunan dan penyelewengan distribusi yang mengurangi ketersediaannya. Perkembangan harga bahan pokok yang cepat ini memerlukan pemantauan intensif dan evaluasi seksama. termasuk terhadap sistem distribusi dan stok bahan pokok Pemerintah dan dunia usaha yang tersebar di berbagai daerah serta belum terdata dan terpantau dengan baik. relatifnya tingginya harga bahan pokok di berbagai daerah yang sulit dijangkau dapat diatasi dengan mempercepat pembangunan dan meningkatkan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. Selain itu. TDL. yang cukup memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. bahkan pada beberapa tahun terakhir rata-rata pertumbuhan produksinya masih lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Di samping itu. meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi tantangan yang perlu untuk diatasi dalam mempercepat pertumbuhan UKM. PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL. PENGAMANAN PASOKAN BAHAN POKOK. Sementara itu. Dalam tahun 2007 dan awal tahun 2008. Untuk itu. upaya stabilisasi harga bahan pokok memerlukan koordinasi kebijakan ekonomi makro seperti sasaran inflasi. persaingan dalam memperoleh berbagai sumberdaya produktif juga semakin meningkat yang diiringi dengan pesatnya mobilitas sumberdaya tersebut serta upaya untuk menumbuhkan wirausaha yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Selanjutnya. Meskipun akhir-akhir ini produksi pangan sudah meningkat secara signifikan. Ketahanan Pangan dalam negeri dinilai masih rentan karena pertumbuhan produksi pangan khususnya beras masih belum stabil. cukup sulit diperoleh dan harganya meningkat tajam. maka upaya untuk mendorong swasembada pangan pokok yang sangat rentan terhadap lonjakan harga dan ketersediaan dalam negeri perlu terus ditingkatkan. meningkatkan impor apabila diperlukan dan menyempurnakan sistem distribusi bahan pokok. kebijakan subsidi khususnya BBM. kebijakan tarif ekspor dan impor. laut maupun udara. tetapi permasalahan pangan khususnya masalah distribusi pangan di beberapa lokasi yang terisolir masih saja terjadi.

Dengan permasalahan pokok tersebut. (2) praktek penangkapan dan budidaya ikan yang tidak menggunakan kaidah keberlanjutan masih sering terjadi. perbaikan sistem distribusi dan tataniaga pangan. dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi yang berakibat pada frekwensi operasi nelayan melaut. peningkatan biaya input pembudidaya ikan/udang. dan kehutanan masih didominasi oleh komoditas bahan baku industri. perikanan. perikanan. kelembagaan. di sisi lain terjadi pula penurunan kuantitas dan kualitas perikanan tangkap. peningkatan produksi perikanan masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan oleh belum kondusifnya iklim usaha perikanan yang terkait dengan permodalan dan investasi. estuaria. Selain penguasaan teknologi. serta perbaikan diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat merupakan tantangan utama yang dihadapi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. dan pulau-pulau kecil akibat pengaruh limbah yang berasal dari daratan dan eksploitasi manusia yang berlebih juga belum dapat secara optimal ditangani. hutan bakau. upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan pertanian. yang ditunjukkan oleh tingkat utilisasi industri hasil pertanian yang masih sangat rendah. Akibatnya. Semenrara itu. PERIKANAN DAN KEHUTANAN. pendampingan teknologi. Masih rendahnya penguasaan teknologi pengolahan produk pertanian berakibat pada rendahnya nilai tambah produk pertanian. Penurunan kuantitas dan kualitas ini sebagai akibat dari: (1) kegiatan ilegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing dan kapal yang tidak memiliki ijin penangkapan. meskipun produksi komoditas pertanian dan perikanan tetap meningkat namun belum memberikan nilai tambah yang memadai untuk masyarakat petani dan nelayan karena kurang berkembangnya industri pertanian. baik di pusat maupun di tingkat daerah. Selanjutnya. pemanfaatan industri hasil pertanian juga relatif belum optimal. dan kehutanan masih perlu ditingkatkan. MENINGKATKAN KUALITAS PERTUMBUHAN PERTANIAN. Permasalahan lain yang dihadapi adalah sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran perikanan terutama yang berada di daerah masih belum memadai. dan lemahnya pengawasan. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. penguatan kemampuan produksi pangan dalam negeri. padang lamun. perikanan dan kehutanan dalam negeri yang menyebabkan ekspor komoditas pertanian. Dari sisi kehutanan.dilakukan agar kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga semakin jarang terjadi. kebutuhan akan produk hasil hutan terutama kayu . serta (3) kerusakan sumber daya pesisir terutama terumbu karang. pengembangan sistem insentif yang mampu mempertahankan lahan-lahan produktif dalam memproduksi bahan pangan. serta peningkatan biaya pengadaan sarana dan prasarana perikanan baru. serta belum memadainya kegiatan penyuluhan.

Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Oleh karena itu pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan harus dapat dikembangkan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat di dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam serta pengembangan taman nasional model. mengendalikan pembalakan liar dengan penegakan hukum terhadap pelaku dan peningkatan kemampuan polisi hutan. penyerap karbon.700 ribu ha/pertahun. dan penyedia air bersih belum dimanfaatkan secara maksimal. Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini diantaranya adalah: (i) melengkapi dan lebih mengakuratkan pendataan dan permodelan iklim regional untuk Indonesia untuk memudahkan para perencana pembangunan dan pelaksana pembangunan mengantisipasi dampak terjadinya perubahan iklim. tantangan yang dihadapi adalah mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan secara terus menerus dengan memaksimalkan sumber daya dan dana yang ada. perubahan iklim global menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan. meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran serta meningkatkan kelembagaan. perubahan musim tanam. (ii) memperbaiki pengintegrasikan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan . Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor yang cukup parah di hampir sebagian besar wilayah. Untuk itu. peningkatan suhu dan pasang air laut yang ekstrem yang menyebabkan ketidakpastian nelayan untuk melaut. sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kapasitas industri yang ada dengan kemampuan penyediaan bahan baku. hutan Tanaman Rakyat (HTR). sedangkan manfaat hutan lainya seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dengan fungsi sebagai penyedia udara bersih. keanekaragaman hayati. Degradasi hutan yang terus menerus terjadi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan pembalakan liar berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan secara umum. MENINGKATAN KAPASITAS MITIGAS DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL. Oleh karena itu sumber-sumber alternative bahan baku kayu bulat untuk industri harus dapat dikembangkan diantaranya melalui pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). Saat ini perspektif optimalisasi nilai manfaat hutan masih cenderung kepada pemanfaatan hasil hutan kayu yang merupakan sebagian kecil dari nilai manfaat hutan. ketimpangan tersebut menyebabkan semakin cepatnya kerusakan hutan dan lahan yang ada. Saat ini laju degradasi hutan telah mencapai 1. sumber daya air dan energi. hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan.dari tahun ke tahun semakin meningkat akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi oleh kemampuan menghasilkan sumber bahan baku yang dibutuhkan.08 juta ha/tahun sementara itu upaya rehabilitasinya sangat kecil yaitu sekitar 500 .

sumber daya manusia (SDM) dan budaya keselamatan. Dari sisi ketenagalistrikan. krisis listrik belum dapat teratasi. Di bidang transportasi masalah dan tantangan pokok yang dihadapi adalah: (1) meningkatkan jaminan keselamatan dan keamanan transportasi yang antara lain disebabkan oleh lemahnya regulasi dan kelembagaan. DUKUNGAN PENINGKATAN DAYA SAING SEKTOR RIlL. (3) menciptakan kondisi yang mendorong dunia swasta mau berinvestasi dalam penyelenggaraan melalui restrukturisasi perundang-undangan dan peraturan di bidang transportasi serta perbaikan iklim investasi sehingga tidak ada lagi monopoli dalam pelayanan transportasi. kelaikan prasarana dan sarana. (2) menciptakan kondisi agar keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi dapat memenuhi standar keselamatan dan keamanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. (4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi yang masih rendah. panas bumi dan batubara serta energi baru terbarukan yang masih rendah. (3) Harga energi konvensional/BBM yang belum mencerminkan keekonomiannya. (2) meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan. juga karena . panas bumi. dan pengembangan energi termasuk infrastruktur energi. kemampuan dan daya saing sektor rill perlu senantiasa ditingkatkan. batubara dan terbarukan) terhambat karena besarnya subsidi BBM. Sektor rill merupakan motor penggerak dalam perekonomian. serta meningkatan kinerja jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air usaha tani terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. meskipun tidak mudah. Terkait dengan bidang energi masalah dan tantangan yang dihadapi adalah. serta (6) meningkatkan investasi migas. Krisis ini terutama terjadi karena selain masih belum ada sistem ketenagalistrikan nasional untuk menopang peningkatan pembangunan ekonomi secara memadai. (5) Reguiasi yang masih dalam transisi (pembatalan UU Ketenagalistrikan dan penyempurnaan UU Migas). serta (iv) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam menangani perubahan iklim pengurangan risiko bencana dengan memanfaatkan struktur institusi yang telah ada. batubara. serta manajemen transportasi. sehingga pengembangan energi alternatif (gas bumi. (1) meningkatkan pemanfaatan energi primer non-BBM untuk kepentingan domestik seperri gas bumi. Di bidang sumber daya air permasalahan dan tantangan pokoknya adalah mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan industri serta pengendalian daya rusak air. Oleh sebab itu. (iii) meningkatkan dan menseragamkan kepedulian dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah yang masih rendah dan tidak seragam sehingga pembangunan sejalan dengan tujuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana. jaringan transmisi dan distribusi yang masih rendah.iklim temasuk pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Permasalahan pokok yang dihadapi pada peningkatan daya saing sektor riil antara lain sebagai berikut.

perdagangan. tingginya ketergantungan kepada teknologi proprietary. tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pos dan telematika yang memadai. Dari sisi pos dan telekomunikasi. Selanjutnya. serta menggeser pola penggunaan layanan pos dan telematika. rendahnya e-literasi. (2) sulitnya melakukan pembebasan lahan dan upaya mencapai titik temu kompensasi lahan yang terkena dampak pembangunan fasilitas ketenagalistrikan juga menjadi tantangan yang setiap tahun terus berlanjut.kurang efisiennya sistem dan pengelolaannya. MENINDAK DAN MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI. permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika yang masih rendah dalam menciptakan peluang ekonomi. Di samping berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang secara langsung terkait dengan kesejahteraan masyarakat. serta (3) keterbatasan dalam pendanaan karena kepercayaan perbankan internasional dalam menyalurkan pendanaannya dalam investasi pembangkit listrik swasta di Indonesia. keterbatasan ketersediaan pelayanan publik. serta masih perlunya penyempurnaan iklim demokrasi. kawasan pariwisata. terbatasnya pengembangan aplikasi dan konten Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lokal. yaitu dari hanya sebagai alat komunikasi (konsumtif) menjadi pencipta peluang usaha (produktif). Permasalahan dan tantangan pokok tersebut diantaranya adalah masih perlunya berbagai upaya untuk menekan tindak pidana korupsi. dan kurangnya dukungan dari industri dalam negeri. di sisi perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya dukungan prasarana-sarana dasar permukiman yang menunjang sektor industri. masih belum mengalami perkembangan yang berarti. Permasalahan dan tantangan yang yang dihadapi dalam rangka pemberantasan korupsi khususnya dalam upaya penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah mengoptimalkan penanganan kasus . serta tingkat konsumsi BBM yang masih cukup tinggi. dalam tahun 2009 masih harus dihadapi berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang terkait dengan hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat. mengingat terbatasnya ketersediaan produksi dalam negeri serta infrastruktur transportasinya. Oleh sebab itu tantangannya adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik non BBM serta mengembangkan jaringan penyalurannya secara tepat waktu. Hal ini tidak mudah karena upaya ini akan dihadapkan pada tantangan tersediri yaitu: (1) sulitnya mencari ketersediaan energi primer yang dibutuhkan seperti batubara dan gas. dan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan dalam mendukung peningkatan daya saing dalam sektor riil.

Masing-masing kementrian/lembaga diharapkan dapat segera menyusun Rencana Aksi Instansi (RAI) PK dan level pemerintah daerah dapat segera ditetapkan Rencana Aksi Daerah (RAD) PK. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesan tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. menyebabkan penanganannyapun memerlukan kerja keras dari aparat penegak hukum. Meskipun Indonesia telah meratifikasi UNCAC (United Nation Convention Against Corruption) melalui Undang-undang No. Oleh sebab itu budaya permisif dari masyarakat terhadap perilaku korupsi harus dapat dihilangkan agar fungsi pengawasan dari masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat terlaksana dengan baik. LSM dan Perguruan Tinggi. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya tergantung dalam hal penanganan kasus korupsi oleh aparat penegak hukum saja akan tetapi juga perlu adanya dukungan dari masyarakat luas dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi. Keadaan inilah yang antara lain menyebabkan adanya kesan tebang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini. pertanahan. telah dikeluarkan Inpres No. 7 Tahun 2006.korupsi. namun langkah-langkah tindak lanjut dan ratifikasi tersebut belum dilakukan secara optimal. Dalam upaya untuk mempercepat pemberantasan korupsi. Oleh sebab itu. Selain itu. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) 2004-2009 sebagai Living Document yang disusun oleh 92 instansi Pemerintah. MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. Peraturan perundang-undangan untuk mendorong pemberantasan korupsi di Indnonesia masih sangat terbatas dan perlu disempurnakan. pengadaan barang dan jasa. Oleh karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. perlu ada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan RAN PK baik pada level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. dalam kaitannya . Pemberantasan korupsi harus mengikutsertakan semua lapisan masyarakat yang ada. penyelenggaraan pelayanan system administrasi manunggal satu atap (samsat). MENYEMPURNAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNTUK MENDORONG UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI. baik itu yang berada di KPK maupun Kejaksaan. maka penanganan kasus korupsi dilakukan dengan melalui penentuan prioritas khususnya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. serta pajak. Oleh sebab itu. Banyaknya praktek korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang. untuk menghindari adanya kesan diskriminasi dalam hal penanganan kasus korupsi maka perlu dilakukan upaya penentuan prioritas kasus yang ditangani dengan lebih akuntabel. terutama untuk beberapa isu yang menjadi perhatian dalam penyusunan RAN PK dan RAD PK seperti perijinan di bidang investasi. Namun demikian pelaksanaan RAN PK pada ringkat kementrian/lembaga maupun RAD PK pada beberapa daerah belum dilaksanakan secara efektif.

Beberapa permasalahan yang dihadapi di bidang pelayanan publik.dengan perlindungan saksi dan korban dan keterbukaan informasi publik. dan (8) belum terintegrasinya sistem koneksi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem informasi Kementerian/Lembaga karena masih terbatasnya dukungan . 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. serta Permendagri No. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya juga menghambat pengembalian aset negara yang dikorupsi. diantaranya: (1) belum selesainya proses pembahasan RUU Pelayanan Publik yang merupakan landasan hukum dan kebijakan pelayanan publik secara lebih komprehensif. maka pemerintah harus melakukan penyesuaian hukum nasional dengan prinsip-prinsip UNCAC. (3) belum dikembangkannya secara maksimal sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on line di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Sebagai upaya tindak lanjut keanggotaan Indonesia dalam UNCAC tersebut. (6) masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik untuk pelayanan penduduk perkotaan akibat pesatnya pertambahan penduduk yang harus dilayani. dalam pelaksanaan reformasi birokrasi masih dihadapi berbagai permasalahan yang sekaligus menjadi tantangan yang harus dapat diatasi untuk memantapkan peran institusi pemerintah. (7) belum meratanya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. perpajakan dan kepabeanan dan pengadaan barang dan jasa publik/pemerintah. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah yang secara bertahap semakin memantapkan peran institusi birokrasi pemerintah agar mampu berkontribusi dalam mendorong keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional khususnya turut menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bidang lainnya. MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. Oleh sebab itu upaya untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan harus dapat dilakukan. sebagai penjabaran PP No 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM dan Permendagri No. serta memberikan dukungan pada peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan publik. (2) masih belum optimalnya pelayanan publik di bidang investasi. beberapa peraturan pelaksanaan dalam undang-undang nasional belum lengkap sehingga menyebabkan masih adanya hambatan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberantasan korupsi. Namun demikian. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. (4) belum efektif dan efisiennya pelayanan publik kepada masyarakat karena belum adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah disahkan. (5) masih belum memadainya kompetensi aparat pemerintah di daerah dalam penerapan SPM.

Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik. (3) menyusun dan menerapkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memantapkan pelaksanaan pendelegasian kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. transportasi. diantaranya adalah: (1) disahkannya UU Pelayanan Publik dan dilanjutkan dengan sosialisasi secara luas kepada masyarakat dan penyusunan peraturan pelaksanaannnya. serta mengembangkan sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on-line di daerah. dan (7) mengintegrasikan sistem koneksi nomor induk kependudukan antar instansi terkait sebagai basis data pelayanan publik khususnya pelayanan administrasi kependudukan. perpajakan dan kepabeanan. (2) kenaikan remunerasi bagi PNS termasuk anggota TNI dan POLRI selama ini masih terbatas pada penambahan penghasilan. tantangan pokok yang dihadapi. kurikulum dan . permasalahan yang dihadapi antara lain : (1) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PNS. MENINGKATAN KINERJA DAN KESEJAHTERAAN PNS. dalam rangka peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS. Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan ujung tombak dalam menyediakan pelayanan pada masyarakat yang perlu ditingkatkan kinerja dan kesejahteraannya. Dalam upaya peningkatan kinerja dan kesejahteraan aparatur negara khususnya PNS.dana dari pemerintah promosi dan kabupaten/kota dalam penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan masih perlu ditingkatkannya keakuratan atau validitas data kependudukan nasional. tantangan yang dihadapi pada tahun 2009 adalah (i) menyempurnakan sistem diklat. (6) melakukan optimalisasi dan perluasan penggunaan teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. (3) UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian perlu disempurnakan sejalan dengan perkembangan kebijakan di bidang penyelenggaraan negara dan tuntutan penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih terpadu. layak dan berbasis kinerja. baik diklat struktural maupun fungsional. dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan profesionalisme PNS dan peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. khususnya dari sisi kurikulum dan strategi pembelajarannya. belum mempertimbangkan penyempurnaan struktur penggajian secara adil. (5) meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik melalui penyusunan standar pelayanan perkotaan (SPP). Oleh sebab itu. termasuk membangun Unit Pelayanan Investasi Terpadu di daerah dan mengimplementasikan National Single Window (NSW). pengadaan barang dan jasa. (4) meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM). maka tantangan bagi pemerintah adalah menentukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan terfokus. (2) menyempurnakan dan mengembangkan manajemen pelayanan publik khususnya di bidang investasi. Dengan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas.

MEMPERKUAT LEMBAGA PENYELENGGARAAN PEMILU DAN MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF MASYARAKAT DALAM PEMILU 2009. MENINGKATKAN PENATAAN KELEMBAGAAN. agar lebih efektif dan mendukung fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. (4) perlunya diupayakannya sinergistas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan instansi pemerintah. (ii) mengembangkan sistem remunerasi pegawai negeri sipil termasuk juga bagi TNI dan POLRI. dengan berpedoman pada rencana induk (grand design) reformasi birokrasi dan pedoman-pedoman terkait lainnya. KETATALAKSANAAN DAN PENGAWASAN APARATUR NEGARA. (3) kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah masih ditandai tumpang tindih kewenangan. dan (3) mengembangkan sistem pengawasan nasional untuk mensinergikan pengawasan internal. dan masyarakat guna menjamin kualitas dan kinerja penyelenggaraan kepemerintahan. terbatas dan belum fokus. tantangan dalam penataan kelembagaan. sehingga berpotensi pada in-efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara adalah memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah pusat dan daerah. Dalam hal ini secara terperinci tantangan yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut : (1) menerapkan manajemen berbasis kinerja pada lingkungan instansi pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi. ketatalaksanaan. dan (2) mengurangi tumpang tindih fungsi lembaga quasi birokrasi/lembaga non struktural menuju terwujudnya efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. kinerja program dan individu pegawai. antara lain: (1) pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. sebagai pedoman bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme birokrasi pemerintah. Oleh sebab itu. Secara lebih rinci. yang mencerminkan sistem reward and punishment yang adil. sejalan dengan adanya kewajiban setiap instansi pemerintah harus memiliki key performance indicator (KPI)/Indikator Kinerja Utama (IKU). dan (iii) melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian khususnya UU No 43/1999. beberapa permasalahan yang masih dihadapi di bidang ini. Di sisi kelembagaan.pengembangan strategi pembelajaran untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja dan profesionalisme PNS. eksternal. sehingga menimbulkan penilaian publik bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi masih bersifat parsial. (2) masih perlu ditingkatkannya pemahaman aparat pemerintah tentang pelaksanaan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. layak dan berbasis kinerja. dan pengawasan aparatur negara masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang secara efektif dan efisien. belum didasarkan atas road map atau grand design yang sifatnya komprehensif. kedudukan dan fungsi. Pemantapan demokrasi pada tahun 2009 diperkirakan masih menghadapi sejumlah permasalahan .

saat ini dihadapkan pada masalah mendasar. ilegal logging. penyeludupan manusia atau senjata. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PEMILU 2009. juga berakibat pada kapabilitas TNI dan Polri dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat akibat bencana alam. bahkan belum mampu memenuhi kekuatan dan gelar minimum essential forces. Oleh karena itulah kapasitas. Oleh karena itu. serta dukungan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pemilu. belum tuntasnya penanganan pelaku dan jaringan terorisme yang beroperasi di Indonesia serta belum meredanya aksi-aksi terorisme skala regional maupun global berpeluang meningkatkan aksi-aksi terorisme di dalam negeri terutama dalam menghadapi Pemilu 2009. yaitu jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat utama (alut) Polri yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi. Di satu pihak masyarakat sangat mengharapkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil sehingga dapat mencerminkan secara jernih aspirasi politik rakyat. Kondisi tersebut diperburuk oleh kesiapan alutsista yang secara rata-rata hanya mencapai 45 persen dari yang dimiliki. bersih dan efisien. Pada Pemilu 2009 partisipasi politik diharapkan makin aktif berdasarkan kesadaran politik warga yang lebih tinggi. MEMANTAPKAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. Tindak kejahatan transnasional di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan masih cukup tinggi seperti narkoba. Kekurangan jumlah dan ketidaksiapan alutsista TNI dan Alut Polri ini selain berakibat pada melemahnya efek penggentar (deterent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi.dan tantangan. Keadaan yang tidak memadai pun terjadi pada alat utama Polri. TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan dan Polri sebagai komponen dasar keamanan dan ketertiban masyarakat. transparansi dan akuntabilitas kelembagaan penyelenggara pemilu perlu diingkatkan agar mampu bekerja secara lebih profesional. Tantangan lain adalah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung ketersediaan dan distribusi logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. tidak berdasarkan mobilisasi kelompok masyarakat. Di lain pihak tantangan KPU untuk memenuhi jadwal pelaksanaan pemilu dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pemilu juga tidak kecil. ilegal fishing. Di samping itu. tantangan bagi pemerintah adalah meningkatkan efektifitas koordinasi antar lembaga untuk memastikan keseluruhan persiapan dukungan Pemilu 2009 dapat dilaksanakan tepat waktu. Permasalahan dalam mendukung efektifitas pemilu terkait dengan keterbatasan waktu mempersiapkan berbagai proses tahapan akhir penyelenggaraan Pemilu 2009. . Kemampuan pertahanan nasional belum dapat memberikan efek detterence/penangkal. mengingat waktu yang tersisa menjelang pelaksanaan pemilu cukup terbatas.

B. TEMA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TAHUN 2009 DAN PENGARUSUTAMAAN Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008. kampanye. proses pemungutan dan perhitungan suara. Lingkungan hidup yang . dan mengupayakan pengamanan rangkaian proses pemilu 2009. Dengan demikian tantangan yang dihadapi untuk memecahkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas adalah: mewujudkan kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala minimum essential force guna mampu menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan termasuk dalam hal memberikan dukungan pencegahan dan penanggulangan terorisme. Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif. yaitu: . tema pembangunan pada tahun 2009 adalah: "PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN" Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah ini.Saat ini pemahaman politik masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa Pemilu tahun 2004. mencegah tindak kejahatan lintas negara khususnya di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan yang relatif masih cukup tinggi termasuk mencegah terjadinya demand dan supply narkoba.Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009.Pengarusutamaan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu. sosial. meningkatkan upaya penangkapan pelaku utama dan jaringan terorisme di Indonesia. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang. Namun hal ini dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap stabilitas keamanan dalam negeri dan jalannya proses Pemilu tahun 2009. apabila kurang disertai oleh kedewasaan sikap politik masyarakat. aparatur negara. dalam lingkungan yang saling menunjang dan terkait. Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat. terdapat 6 (enam) prinsip-prinsip pengarusutamaan menjadi landasan operasional bagi seluruh. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. . jujur dan demokratis adalah tercapainya stabilitas umum keamanaan dalam negeri dan terpenuhinya upaya-upaya khusus dalam mengamankan seluruh rangkaian proses pemilu dari masa persiapan. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi. serta tantangan yang dihadapi tahun 2008. tantangan mewujudkan Pemilu tahun 2009 yang berkualitas. tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya.

serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance). maka diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal . dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar.lestari merupakan modal dasir pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perobahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait.Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance). Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten. dan masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang.Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. dan kontrol. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah.Pengarusutamaan gender. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. dan memiliki akses. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Untuk itu pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan. dunia usaha. dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi. Strategi pengarusutamaan gender. . Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif. makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. . serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. . Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal. legislatif dan yudikatif. kesempatan.

Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating). dan lain-lain. Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan.Pengarusutamaan padat karya. dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan. maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut. PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2009 Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 -2009. PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. jembatan. C.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN . Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. setengah penganggur. kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008. fasilitas sanitasi.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DI DUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009. Sejalan dengan itu. I. jenis kegiatan. fasilitas air bersih. INFRASTRUKTUR. maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan. dan lokasi yang dipilih. serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. Prioritas pembangunan tahun 2009 ini ditempuh dengan sasaran.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasil-hasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. 2. yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. 3. maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah. . DAN ENERGI. Penetapan kelompok sasaran.termasuk kawasan perbatasan. jumlah. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah. . REFORMASI BIROKRASI. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN. Mekanisme sistem penyaluran dan dari pengelolaannya akan dilakukan secara transparan. dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty).Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah.

34 persen. 2. 2.64 persen. antara penduduk kaya dan penduduk miskin. 2. antara daerah maju dan daerah tertinggal. 3. 5.76 persen dan 95. 4.SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1. sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen.Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara perkotaan dan perdesaan. serta meningkatnya kesejahteraan pendidik.57 persen. 3.Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin).Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 115.Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.00 persen. 2. 4.Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menjadi 87 persen. bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca.00 persen.09 persen.Meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan. dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5. PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan. (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri. 3.Meningkatnya pemberdayaan ekonomi.Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat. meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 98.Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi. Pendidikan 1. Kesehatan 1. meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99. dan .Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan. serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.00 persen. sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 69.Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal (K4) menjadi 90 persen.Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Ekonomi Usaha Rakyat 1. dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18. khususnya masyarakat miskin. 5.

Meningkatnya persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan dan mendapat pertolongan Anti Retroviral Treatment (ART) menjadi 100 persen. Keluarga Berencana 1. 20. 6.000 desa siaga.16 per wanita. 10.Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang memenuhi standar mutu menjadi 90 persen. 2.Merungkatnya persentase balita yang mendapatkan Vitamin A mencapai 80 persen.Meningkatnya persentase penderita flu burung yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen. persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) menjadi 75 persen. 14.Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) menjadi sekitar 30. 7. 13.Tersedianya jumlah tenaga kesehatan dan kader kesehatan di 26.Meningkatnya persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi 80 persen.Meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe menjadi 90 persen. 3.Meningkatnya angka penemuan Acute Flaccid Paralysis menjadi ≥ 2 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun.Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita. 18.Meningkatnya persentase penderita malaria yang ditemukan dan diobati menjadi 100 persen.Meningkatnya persentase penderita demam berdarah (DBD) yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.1 juta peserta. 5. 16. 12.Menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1. meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi menjadi 75 persen.Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di puskesmas dan jaringannya menjadi 100 persen.cakupan kunjungan neonatus (KN) menjadi 87 persen dan cakupan kunjungan bayi menjadi 87 persen.Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) menjadi 45 persen. .Menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi sekitar 2. 15.Meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70 persen. 4. 19. 9. 8. 11.740 orang dan 300 orang senior residen yang didayagunakan. 17.Terlaksananya pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 97 ribu sampel.Tersedianyan dokter spesialis yang dididik sebanyak 1.2 persen.Meningkatnya persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) menjadi 98 persen.

Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan 5.Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan. melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro.6 persen dari peserta KB aktif. dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan.Menurunnya unmet-need menjadi sekitar 6.5 juta.Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi sekitar 21 tahun.Terbinanya peserta KB aktif miskin (KPS dan KSI) sekitar 12.Meningkatnya jumlah keluarga lansia yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi 1. 11. 9.Meningkatnya peserta KB Pria menjadi sekitar 3. . daerah terpencil. 5.9 juta.Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 2. 4.0 juta. dan 12.1 juta. Terbangunnya tampungan untuk air baku 3. pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO). serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. pedalaman dan kawasan perbatasan. 7.Optimalnya fungsi tampungan.3.Meningkatnya jumlah keluarga remaja yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) menjadi 1.Terlayaninya peserta KB baru dari keluarga miskin Keluarga Pra Sejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS 1) sekitar 2. 10. 8. angin.4 persen dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS). prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 4.Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan KS I anggota Usaha Penigkatatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang aktif berusaha menjadi sekitar 1.9 juta peserta. termasuk penyediaan angkutan massal.Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai Transportasi 1. surya. 6.3 juta keluarga Sumber Daya Air 1. perdesaan.Meningkatnya keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi 2.Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan.Terlayaninya peserta KB Baru (PB) sekitar 6.0 juta peserta. Energi 1.

Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat. fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya. desa tradisional. serta 3.Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya. pemilikan. Pertanahan 1. siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan.Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2. 2. 3. layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO. penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun. Perumahan dan Permukiman 1.Terfasilitasinya penguatan kelembagaan dan pemantauan unit pengaduan masyarakat. fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru. persampahan dan drainage) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat.Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan didaerahnya.Meningkatnya kapasitas aparatur Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pembangunan kawasan perdesaan. 2. 2.Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah masyarakat melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah terutama untuk membuka akses masyarakat miskin terhadap pemilikan sertifikat.Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah. perbaikan rumah. dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh. serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan.Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota.: . 4.Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis. Kelembagaan Masyarakat dan Pemerintah Desa 1. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang berkeadilan dan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah. skala regional dan sistem terpusat.Tertatanya struktur penguasaan tanah yang adil dan mendukung perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan penataan penguasaan.Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan. desa nelayan. Pos dan Telematika 1. dan desa eks-transmigrasi.Ketenagalistrikan 1.

n)Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang. t)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 998.060 tuna sosial.000 siswa. . e)Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/ Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota. 3. ARAH KEBIJAKAN. d)Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L.200 siswa.3. 11.Meningkatnya pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat desa. Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 50. Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 249.000 KK di 33 provinsi.000 jiwa dan Bahan Bangunan Rumah (BRR) 12. b)Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 750.000 RTSM di 13 provinsi.796. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: Fokus 1.086 penyandang cacat di 33 Provinsi. dan 5. 1)Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320. 14. korban bencana sosial 350. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat. 4. o)Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76.25 juta jiwa.800 siswa.922 siswa. h)Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640.000 anak.Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin a)Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5.320 korban napza. c)Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak.078 siswa.miskin. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat . j)Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 387. m)Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik. yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar. i)Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540.Meningkatnya kelembagaan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan.000 siswa. k)Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 512.231 mahasiswa. 10 provinsi & 50 kab/kota. FOKUS. g)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1.500 lanjut usia terlantar.000 siswa.4 juta penduduk miskin.

Konservasi lahan 500 ha.500 ha.1 juta masyarakat miskin. Konservasi DAS 15. e)Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota. pembukaan lahan kering 2. d)Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target pemberdayaan di 3. r)Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916. padang pengembalaan 500 ha. IDB. jalan produksi 300 km.072 kecamatan. irr bertekanan 135 unit. dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi.500 ha.000 ha. fasilitasi sertifikasi lahan petani 25.589.Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat a)Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2. peral horti 3. Fokus 2.000 ha.000 bdg. JUT 470 km. pil. pompa hydram 8 unit. embung 200 unit. cetak sawah 25. t)Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin. JIDES 40. b)Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target pemberdayaan di 1. Balai Subak 20 unit. irigasi tanah dangkal 400 unit. sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan. Pengembangan SRI 50 paket. peral bun 4. c)Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE.700 PA Miskin (suntik. Rumah Tangga Miskin. pendampingan cetak sawah 25 kab.000 ha. Optimalisasi lahan 21. f)Penanganan Rehab dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY & Jateng dengan target terlaksananya Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi Yogyakarta dan Jateng. POST TSUNAMI. TAM 20. MOP/MOW) dan 9.000 ha. s)Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19. IUD.000 ha.000 ha.p)Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya. Reklamasi lahan 4. PHLN (WISMP. irr tanah dalam 50 unit. pengembangan HMT 3. serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB. kondom). PISP. PLTB di lahan rawa 500 ha. g)Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70. q)Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. Sumur resapan 450 unit.200 desa.500 ha. pengembangan dampak SRI 50 unit.500 ha. PNPM) dengan target pemberdayaan di 237 kecamatan. Irigasi air permukaan 205 unit. NTB-WRMP. DRIP IRRIGATION) 6 paket.900 PB Miskin (Implant.000 ha. .886 kecamatan (BLM & T/A).

Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil a) Penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).448 peserta). e)Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1.000 Koperasi/LKM. m)Pemberdayaan keluarga. c)Penyediaan Dana Bergulir Untuk kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Termasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75.000 UMi/3.700 UMI. g)Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4. 6.850 unit PLTS di 952 desa tertinggal. 148 kabupaten. terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi.000 desa. j)Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal.500 UKM oleh 500 BDS.150 KK komunitas adat terpencil.044 desa tertinggal di 186 kecamatan. fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 101. 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2. dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil. LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp. pengembangan LM3 Peternakan 340 klp. 3. bantuan sosial ke 1.565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. dan pemberdayaan sosial melalui bantuan modal usaha KUBE. d)Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2. 29. 1.800 Koperasi/LKM. h)Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi.000 koperasi.h)Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3).234 KK fakir miskin. f)Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1.800 kader penggerak pembangunan.300 UMI.300 keluarga rentan sosial ekonomi. Fokus 3. l)Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14. b)Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target tersedianya pendampingan kepada 3. i)Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target fasilitasi dan pengembangan PUAP di 10. Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat . k)Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target penyediaan prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten. i)Pemberdayaan Ekonomi. 12.480 kelompok masyarakat.

d)Penyediaan Buku Pelajaran SD dengan target 19.000 ruang. pembukaan ULIB Baru 300 unit. n)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD-Nias ex. f)Penyediaan Buku Pelajaran jenjang Pendidikan Dasar (Bos Buku) MI dan MTs dengan target 6. UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp.292 siswa.440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal. pengolahan hasil ternak di 15 kab.100 ruang. k)Pembangunan RKB SMP dengan target 8. BRR) melalui 1. o)Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal.417 siswa. Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp. Pengolahan pakan temak di 15 Kab. l)Bantuan Pembangunan MI melalui MEDP (ADB) dengan target 205 MI. serta pemberdayaan perempuan pesisir /lembaga adat.pesisir di 100 kab/kota.Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang Berkualitas Khususnya Bagi Daerah yang Kinerja Pendidikannya Masih Tertinggal a)Melanjutkan Penyediaan BOS SD unruk 27. i)Pembangunan SD-SMP satu atap dengan target 750 unit. l)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 2 paket. j)Pengembangan Agroindustri Terpadu dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi.955 siswa. c)Penyediaan Bas Jenjang Pendidikan Dasar (MI/MTs) dengan target 6. Pengolahan hasil bun di 40 kab. e)Penyediaan Buku Pelajaran SMP dengan target 6.822 siswa.657. p)Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan).142. g)Rehabilitasi Sarana dan Prasarana SMP dengan target 5.130. m)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket.751 siswa. Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab. Fokus 4.142. . berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kab/kota. penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi.465. h)Rehabilitasi ruang kelas MI dan MTs dengan target 1. k)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan: target 1 paket. j)Pembangunan USB SMP dengan target 350 unit. pengolahan hasil horti di 50 kab.900 unit.751 siswa. b)Melanjutkan Penyediaan BOS SMP untuk 9.700. peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi.

700 PKT.786.693 siswa. s)Penyelenggaraan Paket B setara SMP dengan target 410.773 siswa.m)Bantuan Pembangunan MTs melalui MEDP (ADB) dengan target 237 MTs.500 ruang. e)Pembangunan USB SMK dengan target 225 lokasi.618.500 sekolah.139 siswa. b)Rehabilitasi Ruang Kelas SMK dengan target 1. Tinggi. d)Pembangunan USB SMA dengan target 50 paket. c)Rehabilitasi ruang ke1as MA dengan target 850 unit.727.396 sekolah. w)Akreditasi Sekolah Jenjang SD dengan target 32. p)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMP dengan target 3. k)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMA dengan target 50 paket. Dan Non Formal a) Rehabilitasi Ruang Kelas SMA dengan target 970 paket. j)Pembangunan Perpustakaan.559 siswa. o)Pembangunan Laboratorium IPA dan Perpustakaan SMP dengan target 3.750 ruang. g)Pembangunan RKB SMK dengan target 5. n)Penyediaan Peralatan Lab SMP dengan target 3. m)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMA (Sekolah) dengan target 1. Jurnal Internasional.000 orang.000 sekolah. v)Penyelenggaraan UN SMP dengan target 3. Teknologi Tepat Guna.000 ruang.200 paket.000 orang. x)Akreditasi Sekolah Jenjang SMP dengan target 8. l)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMK dengan target 50 PKT.Peningkatan Mutu Dan Relevansi Pendidikan Menengah. Foktus 5.548 sekolah. h)Bantuan Pembangunan MA me1alui MEDP (ADB) dengan target 549 unit. q)Pembangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar SD dengan target 6.000 paket.059. t)Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dengan target 84. o)Akreditasi Sekolah jenjang pendidikan Menengah dengan target 5. i)Pembangunan Perpustakaan.900 sekolah.854 Siswa. r)Pelaksanaan penelitian di Perguruan Tinggi (yang menghasilkan Patent. Kebijakan . Rekayasa Sosial. y)Penyusunan/Pengembangan kurikulum/Bahan ajar/model pembelajaran dengan target 461 Kab/Kota. q)Pengembangan bidang keilmuan (Rumah Sakit Pendidikan) PTN dengan target 13 PT. Laboratorium dan Workshop SMK dengan target 225 PKT. p)Penyelenggaraan UN Jenjang Pendidikan Menengah dengan target 3. f) Pembangunan RKB SMA dengan target 1. r)Penyelenggaraan Paket A setara SD dengan target 90. u)Penyelenggaraan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD dengan target 5. Laboratorium dan Workshop SMA dengan target 499 PKT. n)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK [siswa] dengan target 2.

Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik a)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (dikedas) dengan target 270.Publik.465 guru. w)Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan (paket C) dengan target 35. 50. x)Penyelenggaraan Kursus dan Magang dengan target 200. t)Pembangunan gedung dan lab baru PT dengan target 175.900 orang. g)Peningkatan Mutu dan Profesionalisme guru dengan target 11.000 orang.500 dosen. z)Perluasan akses dan mutu TK (subsidi TK-SD satu atap) dengan target 596 TK. l)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan Dasar) dengan target 341.000 dosen. b)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (menengah) dengan target 10.000 eksemplar bahan bacaan. aa)Penyediaan Fasilitas. c)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (DN) dengan target 17.000 orang.389 dosen dengan rincian lanjutan 11.000 lembaga. h)Pengembangan Kemitraan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah Untuk Mendukung Wajib Belajar 9 Tahun dengan target 11. y)Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pembangunan Lembaga PAUD dan Penyediaan Bahan Ajar dan Alat Permainan Edukasi dengan target 9. i)Percepatan Sertifikasi Akademik Bagi Guru dalam jabatan melalui sistem portfolio dengan target 200. bb)Bantuan Fasilitasi Perpustakaan Keliling kepada Perpustakaan Umum Kab/Kota dengan target terlaksananya fasilitasi 60 unit perpustakaan keliling di 60 kabupaten/kota. v)Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional dengan target 900.000 ORG. Karya Seni dan Buku Ajar) dengan target 445 Judul.000 ORG.0000 dosen. Pengadaan 1 perangkat e-library untuk 32 provinsi.790 orang. Koleksi dan Layanan Perpustakaan dengan target terlaksananya pembangunan gedung layanan perpustakaan terbuka Jl. m)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan . e)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S1 dengan target 2. Fokus 6. j)Percepatan Sertifikasi Guru Madrasah dengan target 90.000 m2. d)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S2 dengan target 2. k)Percepatan Sertifikasi Dosen (PTA) dengan target 2.000 dosen dan baru 1. s)Pengadaan Peralatan Laboratorium PT dengan target 164 paket.267 KK.000 orang. Merdeka Selatan tahap I.500 orang dengan rincian lanjutan 1. Metodologi.000 orang.143 orang.389 dosen dan baru 6. u)Pendirian dan Peningkatan Kapasitas Politeknik dengan target 41 politeknik.000 orang. f)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (LN) dengan target 2.

a)Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak (KIA) dengan target cakupan pelayanan antenatal (K4) 90%. dan 20 RS Lapangan di daerah terpencil dan perbatasan. terlaksananya pelayanan penanggulangan flu burung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI). pemberian vitamin A (80%). Malaria. e)Penanggulangan penyakit flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza dengan target 100% penderita flu burung yang ditemukan tertangani.831 orang. .101 orang. d)Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (penanggulangan Penyakit Menular) dengan target 100% penderita DBD.000 kader di desa siaga. c)Penanganan Masalah Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada ibu hamil dan menyusui. pencegahan GAKY diukur dengan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium yang cukup (80%). q)Tunjangan Profesi Guru (Madrasah) NonPNS dengan target 46. 33 RS Rujukan Unit Tranfusi Darah UID). p)Tunjangan profesi guru menengah dengan target 63.114 Puskesmas dan jaringannya. serta terlaksananya pelayanan kesehatan haji. dan 200 bidan komunitas.Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan a)Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Dasar termasuk biaya operasional dengan target tersedianya biaya operasional di 8.Menengah) dengan target 196.500 dosen.445 orang.349 orang. 75 RS rujukan Unit Gawat Darurat (UGD). n)Tunjangan Fungsional Guru Non PNS RA/MI/MTs/MA dengan target 501.Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak. d)Pemenuhan dan Peningkatan Fasilitas Sarana dan Prasarana dengan target tersedianya 4 RS World Class. dan cakupan kunjungan bayi 87%. 100% HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapat pengobatan. b)Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dengan target terlaksananya pendidikan 1. Fokus 8. kunjungan neonatus (KN) 87%.740 orang dokter spesialis dan dan 340 mitra dokter spesialis. Fokus 7. pemberian Fe (90%). c)Pembiayaan Jaminan Kesehatan dengan target 100% klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 87%. Kekurangan Gizi dan Pemberantasan Penyakit Menular.348 orang. b)Penanggulangan Krisis dengan target tertanggulanginya masalah kesehatan di daerah bencana. o)Tunjangan profesi guru dengan target 307. 80% angka kesembuhan TB dan 95% UCI desa. r)Tunjangan profesi dosen dengan target 12. 330 RS Rujukan PONEK. bayi dan anak balita dengan target penanganan gizi kurang dan gizi buruk (500 ribu anak 6-24 bulan). f)Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) desa siaga dengan target terlatihnya 52.

c)Peningkatan Sarana dan Prasarana termasuk peningkatan kapasitas SDM dengan target tersedianya 35 paket peralatan laboratorium. terselenggaranya 12 jenis diklat.Fokus 9. 1 juta keluarga menjadi anggota BKL aktif. d)Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. 47 ribu kader kesehatan. Pengelolaan dan Pelayanan KB Pemerintah dengan target (1) 4. obat flu burung.1 juta keluarga menjadi anggota BKR aktif. 1.500 orang. provinsi dan kabupaten/kota. f)Intensifikasi Advokasi dan KIE Program KB Nasional dengan target (1) . dan (2) terselenggaranya Advokasi dan KIE Program KBN melalui forum kerjasama LSM dan swasta di Pusat.728 bidan di desa siaga.000 tempat pelayanan KB memberikan promosi dan konseling. terlatihnya 29. b)Pengujian laboratorium Sampel obat. 11 sarana fisik gedung.5 juta keluarga menjadi anggota BKB aktif.871 penggerak KB di desa. obat program.Peningkatan Pemanfaatan obat. Pengawasan obat dan Makanan. terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya. tugas belajar 2. d)Penguatan Jejaring Operasional Lini Lapangan Yang Berbasis Masyarakat dengan target (1) terselenggaranya pembinaan operasional lini lapangan bagi sekitar 25.3 juta KPS dan KS I anggota UPPKS aktif berusaha.850 kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif dan berkualitas. b)Pembentukan. c)Peningkatan Akses Informasi dan Pelayanan Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dengan target (1) 2. Fokus 10. dan (2) terselenggaranya sistem informasi dan monitoring manajemen Program KB Nasional di pusat. terselenggaranya pendidikan 44 ribu calon tenaga kesehatan. dan vaksin. dan terlatihnya 7. obat haji. serta ditempatkannya 300 residen senior. Pemantapan Revitalisasi Program KB a)Peningkatan Jejaring Pelayanan KB Pemerintah dan Swasta/Non Pemerintah dengan target 70. e)Pendataan Keluarga dan Individu Dalam Keluarga dengan target (1) seluruh desa/kelurahan menggunakan hasil pendataan keluarga sebagai basis/dasar untuk pembinaan pengelolaan operasional program KB lini lapangan. Produk Komplemen. obat bencana. obat Tradisional. pengembangan center of exellent di 6 provinsi. dan 1. Prov dan Kab/Kota. dan (2) terlaksananya sosialisasi dan KIE KRR di 450 Kab/kota dan 33 prov.580 peserta. Makanan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dengan target 97 ribu sampel. dan terciptanya sistem jaminan ketersediaan alat kontrasepsi (JKK) dan pembiayaan program KB terutama bagi rakyat miskin. dan Penyediaan Tenaga Kesehatan a)Penyediaan dan pengolahan obat dan vaksin dengan target penyediaan obat generik esensial (buffer stock). serta RS kab/kota terutama di daerah terpencil dan bencana dengan target tersedia dan terlatihnya 12 ribu bidan. Pengembangan.

h)Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 49 lokasi. e)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 5 titik. B.871 PLKB/PKB serta pengelola KB agar memenuhi standar kompetensi. g)Peningkatan Kompetensi Petugas dan Pengelola Program KB dengan target (1) terlaksananya pelatihan dasar umum/LDU. terlaksananya peningkatan . d)Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 4 buah. Bidang Energi a)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan. provinsi dan kabupaten/kota.Toga/Toma tingkat desa berpartisipasi dalam kegiatan advokasi di 17. refreshing dan pelatihan teknis bagi 25.14 m3/det. dan pengembangan sarana dan prasarana termasuk melanjutkan sarana dan prasarana di wilayah pemekaran. h)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pengembangan sistem informasi program KB berbasis IT di Pusat dan 33 Propinsi.800 desa/kelurahan. dan (2) terselengaranya pendidikan jangka panjang/pendek bagi 580 orang. f)Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 34 lokasi. c)Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 20 buah. b)Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 35 buah. dan (2) terselenggaranya KIE program KB dan KS melalui media massa dan media luar ruang di pusat.Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) A. Fokus 11. g)Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan di 12 lokasi. Bidang Sumber Daya Air a)Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 4. i)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km.

Desa Tradisional. jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2. 74. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10. Desa Tradisional. Gardu Distribusi sebanyak 1. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. terwujudnya peralatan kegiatan produktif desa mandiri energi berbasis BBN dan non BBN. terlaksananya pendampingan kegiatan PWS (kerjasama dengan ADB) dan kegiatan pengembangan biogas untuk rumah tangga (kerjasama dengan Belanda). dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh.000 unit c)Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit.150 KMS. dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2. E. b)Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I).750 KMS. C. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos. 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 1.669 desa. Desa Tradisional.565 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 5O WP.100 KVA. e)Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan . Desa Nelayan. terlaksananya program IMIDAP. 15 unit PLT bayu berkekuatan 80 KW. Bidang Pos dan Telematika a)Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2. Desa Tradisional.100 buah/53. Desa Nelayan. Bidang Ketenagalistrikan a)Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan. jasa akses telekomunikasi di 38. Desa Nelayan.806 KW.471 desa dan internet di 500 desa. D. Desa Nelayan.Transmigrasi sebanyak 10.000 unit.aksesibilitas energi perdesaan kerjasama Indonesia. dan Desa Eks. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor transportasi terwujudnya pengembangan energi terbarukan non listrik di pulau kecil terluar. Belanda dan GTZ).

NTT. e)Pemberian Subsidi PSO PT KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi. g) Pemberian subsidi PT. Pelni Rp 850 M. Maluku. Penelitian.2 km sebanyak 1 paket jasa konstruksi. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10. antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah. Kaltim. Malut. Sultra.750 unit. g)Penyediaan Salafia dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil/Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil/terpencil di 32 kawasan. studi masalah .sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan. j)Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target 3. Kalteng. G. d)Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi. i)Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD. c)Penyelenggaraan. Sumbar. f)Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek. b)Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52km.200 desa. Sulteng. Bidang Transportasi a)Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 146 km. h)Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan. dan Pengembangan dengan target terlaksananya 1 kegiatan swakelola pemantauan dan penanganan dampak deformasi geologi. Sulsel. F. d)Bantuan Penanggulangan Bencana Alam dan Kerusuhan dengan target terlaksananya 4 kegiatan (pelatihan. Sulbar. Papua. dan Papua Barat. Sulut. Sumut. bantuan sosial. Penanggulangan Lumpur Sidoarjo a)Pembangunan Jalan Nasional dengan target terlaksananya relokasi jalan arteri tara Porong sepanjang kurang lebih 7. c)Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit.2 km terdiri atas 5 paket pekerjaan yaitu: 4 pekerjaan paket jasa konstroksi dan 1 paket jasa konsultasi supervisi/manajemen konstruksi serta pembangunan/pemasangan pipa air bersih sepanjang kurang lebih 7. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dengan target Terlaksananya 4 paket pekerjaan yaitu 3 paket jasa konstruksi dan 1 paket jasa konsultan.

rumah operator). serta Pengembangan Sistem Drainase di 4 kab/kota di NAD.sosial. d)Pembangunan Gedung Pendidikan Tinggi Agama melalui IDB dengan target terselesaikannya rehabilitasi rekonstruksi IAIN Ar-Raniry. dan Kelembagaan di 6 wilayah. Reformasi Agraria a)Pengaturan Penguasaan. Inventarisasi P4T 1 juta . Pejarakan. EDFF-Aceh. c)Fasilitasi Pembangunan Wilayah Tertinggal dengan target: (1) rehabilitasi dan rekonstruksi Kecamatan di NAD-Nias melalui pembangunan 5. g)Peningkatan kehidupan masyarakat dan pengembangan wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Pasca Bencana dengan target Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Kabupaten/Propinsi dan Infrastruktur lainnya. (4) terlaksananya lanjutan Pembangunan Pelabuhan Calang di Aceh Jaya. Transisi Pembangunan Ekonomi. Neraca PGT 100 Kab/Kota. Pemilikan. dan Besuki). 200 unit sekolah dan infrastruktur publik. termasuk di dalamnya Redistribusi dan Konsolidasi Tanah dengan target 310.8 km di NAD dan Nias. Nias-Provinsi Sumut). dan pustu. 25 Kab/Kota. serta Rehabilitasi Fasilitas Terminal untuk Pelabuhan Udara Sultan Iskandar Muda. gedung serba guna. H. sehingga terbangunnya infrastruktur ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan pasar.000 unit rumah. jembatan 140 m.000 bidang di Kep.NAD dan 2 Kab di Nias. dan proses verifikasi pembayaran tanah di 3 desa: Kedung-Cangkring. (2) terlaksananya lanjutan Pembangunan pelabuhan Lhokseumawe di Lhokseumawe. Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah. packing room.000 bidang. e)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah tertinggal (P2KPDT) dengan target melanjutkan Proyek SPADA. rumah sakit. dan (2) melalui IDB-Simeulue Reconstruction Project untuk perbaikan 15 unit sekolah. serta perbaikan infrastruktur lainnya (cold storage. f)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Melanjutkan dengan target terlaksananya Reconstruction of Aceh Land Administration System Project (RALAS) dengan rincian: (1) terlaksananya sertifikasi RALAS 140. Fokus 12. (3) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel di Kuala Langsa di Langsa. dan (2) terlaksananya sertifikasi RALAS 10. meningkatnya akses pelayanan sosial dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di 17 Kabupaten di Prov. Sosial Kemasyarakatan. Puskesmas Pembantu (pustu) 20 unit. dan LED Nias. b)Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut dengan target: (1) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar. pengadaan peralatan dan mebel air untuk sekolah. Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias a)Pembangunan Jalan baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 119. ruang generator.000 bidang di Provinsi NAD. perbaikan jalan 37 km. jalan dan parkir.

065.Penguatan Lembaga Masyarakat dan Pemanfaatan Kelembagaan Pemerintah Desa a)Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan dengan target Bimtek (12 angkatan). Pilot Project PDT (17 Desa). Penataan Sarpras (680 Orang). 24 kab. POKMASDAR TIBNAH 408 kelompok. Yogyakarta.320 Orang). operasi sidik 100 kasus. 500. aparatur dan kader dalam pembangunan perdesaan berbasis masyarakat.000 Ha. Orientasi (7 angkatan).980 Orang). dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut. d)Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan target 2. pelatihan pengelolaan sampah RT berbasis masyarakat di 15 kabupaten.000 kasus.072 Titik. Nelayan 2. b)Pengendalian dan Pemberdayaan Kepemilikan Tanah dengan target penertiban tanah terlantar 128 SF. fasilitasi penyusunan Perda tentang pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat.bidang.5 persen. pengkajian 1. Pertanian 8. Bintek Administrasi (1.226 bidang. INFRASTRUKTUR. Infrastruktur. c)Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dan Masyarakat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan dengan target terlaksananya pilot project pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat di 3 desa.065 bidang.710 Bidang (FRONA dan LMPDP sebanyak 1.228.Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12.419 bidang. Kegiatan PISEW/RISE di 9 provinsi. Bimtek Keuangan (600 Orang). Penyediaan Air Minum dan Sanimas/Pamsimas (15 Provinsi). c)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah dengan target 1. Fokus 13. Pelatihan Masyarakat kerjasama dengan Balai Pemberdayaan Masyarakat Malang.Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13.600 perkara. . dan Lampung. modul pelatihan Sumber Daya Pesisir Beb basis Masyarakat di 33 provinsi. II.000 bidang dan RALAS 150. Transmigrasi 3.000 Orang). penanganan perkara dan non-perkara 600 kasus. 1. mencakup operasi tuntas 900 kasus. b)Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan dengan target pengangkatan sekdes menjadi PNS (22. 3. DAN ENERGI SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian. Inventarisasi tanah bekas hak/kritis 120 SP.1 persen.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DIDUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Fasilitasi sosialisasi peraturan (1.000 bidang). fasilitasi pengembangan lembaga. 2.

9 persen. Mandarin. 4. Arab. information kit dalam 5 bahasa (Inggris.Tumbuhnya pertanian. peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru. Manado. g)Modernisasi Administrasi Kepabeanan dan Cukai dengan target . Bab 17. PP Fasilitas insentif pengembangan KEK. f)Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara . 5. PP Kelembagaan dalam pelaksanaan KEK. promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional. d)Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara. Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut EKONOMI-dengan fokus pertumbuhan Fokus 1. dan perikanan sebesar 5 persen.Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan. talk show 3 kali di dalam negeri. Bab 22. peternakan dan hasilnya sebesar 4. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16. 6.Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara. c)Strategi kebijakan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan target terlaksananya koordinasi perumusan kebijakan yang antara lain dalam bentuk PP Penetapan Wilayah KEK. koran nasional (bilingual). perkebunan sebesar 4. seminar 8 kali di dalam negeri. dan kehutanan sebesar 3. b)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait.4 persen. publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional. perikanan. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a)Penyederhanaan prosedur.3. Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara . Bab 19. dan Kendal. e)Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali. dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT. Bab 18.Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6.9 persen. FOKUS.7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4.0 persen.Menurunya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7-8 persen dari angkatan kerja ARAH KEBIJAKAN. Jepang. dan Indonesia).

5 lap raker. termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM. dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata. pembangunan dermaga. 5 rekomendasi rapat. g)Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional. d)Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor. dan multilateral. 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial. f)Koordinasi Pelaksanaan Tim National Single Window (NSW) dengan target 5 lap hasil peninjauan lapangan di negara maju. dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama. serta berdirinya 6 ITPC baru. 2 lap monitoring. h)Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam. serta tersusunnya 38 pedoman/manual/peraturan yang melandasi pengawasan. Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk. h)Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan/pemeriksaan/penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan. Conferences and Exhibitions .terbentuknya 2 kantor KPU dan penerapan National Single Window (NSW). e)Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online). pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum.Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar a)Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional. Incentives. Fokus 2. peningkatan kinerja kepabeanan dan cukai. budaya. 3 konsep per UU. b)Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri. c)Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata. sejarah. Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru. i)Peningkatan Kegiatan Meeting. dan terdaftarnya 1000 merek/produk.

(4) kedelai 4. produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi. Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional a)Peningkatan Produksi. l)Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1.000 ha). (2) Pengembangan kacang tanah. 60 BBI. operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis. k)Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi.(MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri. m)Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi. Kedua. Keempat. (3) jagung hibrida 1. Fokus 3. (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi. Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku. tal. pembinaan 1000 penangkar (5. Bongkar Ratoon Tebu 3. Ketiga. (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum.200 ha. rekrutmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang .125 ton (75.000 ton. Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi. (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi. terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan. terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang). b)Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama. gandum.760 Ha. (1) Peningkatan produksi. serta POPT inseminator. j)Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia. kacang hijau.000 ha). pembangunan Kebun Bibit Tebu 1. ubi kayu. Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan. tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25. 90 kab /kota. (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi. (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha). 90 kab/kota.000 Ha. perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi.BTPH. pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi. KTG 1. ubi jalar di 100 kab. Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi. Perluasan Areal Tebu 500 ha. terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPM.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan.000 ton (1 juta ha). 29 BPSBTPH.

000 ton dan kedelai 2. NPK sebanyak 1. Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi.051 POPT/PHP. bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional.800 ton jagung hibirda dan 12.Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang.500 unit. menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48. pasar 300 petugas dan sistem informasi harga/pasar di 110 kab.000 ton padi non hibrida. Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari. (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi. d)Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi e)Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton. 201 SD/MI. l)Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). penguatan kelembagaan pangan di pedesaan. (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup ketia meliputi 429 kab. dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elekttonik). Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit. Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan. pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi. (2) Operasional BPMPT. Lantai Jemur 138 Kab.300 ton kedelai. Penyakit Hewan. g)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tanaman Pangan. h)Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan. k)Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2. c)Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1. (6) pengawasan pestisida di 33 provinsi. Revitalisasi Silo 18 unit. Revitalisasi LDM 10 unit. Gudang pengering padi 139 kab. dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton t)Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95. i)Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam.300 THK-POPT. m)Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi AL 50 jt ds. distribusi dan rawan pangan. jagung komposit 2. (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi. Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit. pengadaan pangan dan infrastruktur pangan. (8) kontrak 1.5 juta ton. (7) insentif 3. ZA sebanyak 600 ribu ton. . jagung hibrida 3. j)Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton. SP-36 sebanyak 700 ribu ton. pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi).000 ton. ibu hamil.000 ton. Petugas informasi. Rehab pasar hewan 15 kab.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan. 6. Cold Room 24 lokasi.

6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan. 100 Kabupaten/Kota. Fokus 4.Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian. akar wangi. pengembangan teh 300 ha. t)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2. panili) seluas 2.000 ha. karet 14 provinsi. dan sagu) seluas 177 Ha.000 ha. Jambu Mete.200 ha. q)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi. Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang. Pengembangan komoditi spesifik (gambit. Karet. 4 kandidat padi. 4 paket pengelolaan plasma nutfah. Lada 800 ha. 8 paket data potensi SBL.000 ha. areal tanam 275. o)Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 239. u)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 535. (2) Meningkatnya kapasitas 183.000 ha. Kelapa rakyat 30. 12 varietas baru ton pangan. v)Koordinasi.000 ha. wijen. meningkatnya overall recovery di atas 85%. Rehab Bangunan UPP 27 unit. .000 ha.100.000 ha.000 ha. Penguatan Kelembagaan. n)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 68. produksi hablur 2. s)Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 170. Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi.000 ha. jambu mete 7 provinsi dan kelapa 8 provinsi.935 TCD. stabilisasi harga bahan pokok. cuaca dan lingkungan pertanian. lada 6 provinsi. Kopi dan Tembakau seluas 10. jarak kepyar. Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529. Kebun IP3. Pengembangan Komoditi Potensial (Kina.000 ton. Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi. 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan. Peremajaan Kelapa Rakyat 8.500 ha. Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang).000 ha. nilam. ha. Sepeda Motor 181 Unit. Pengembangan Kako Non Revit. lada 800 ha. kopi 15 provinsi.900 ha. Perikanan dan Kehutanan a)Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25.000 ha. Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2. Pinang. Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet. cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis. mendorong terbangunnya 8 PG baru. r)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 22. b)Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama. 25 Kabupaten/Kota. p)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi. cengkeh 700 ha dan pala 400 ha. Aren. monitoring & evaluasi. 5 komponen teknologi informasi iklim.300.Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi.

7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan. kopi. kapas. 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan.000 kelompok. SL-PTT padi hibrida 5. pengujian Mutu Alsintan.000 penyuluh kontrak. (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi.tomat. (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit. transgenik. e)Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama. tan serat. RPU 30 kabupaten.000 petugas. pemuliaan. 74 inovasi sistem produksi ton rempah-obat. 5 galur teroak unggul. 5 paket teknologi pasca panen. 30 kabupaten/kota. kakao dan karet). sebanyak 8 unit. Keempat. Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di . 5 paket teknologi pasca panen. terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan. terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial. rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit. (2) bantuan alat bengkel 250 paket. SL-PTT jagung hibrida 5. pembangunan RPUSK. 13 rekayasa alat mekamsasi pertaman. 18 BPTP penguatan kelembagaan. tebu di 24 prop. 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian. terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) Pada 33 provinsi. terdidik dan terlatihnya 10. pengelolaan plasma nutfah sayuran. sidik jari DNA 45 ton pangan. Ketiga. 13 rekayasa alat mektan. kakao. Kedua. the. (c) SL-Iklim 100 unit.000 kelompok. kentang. petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis. d)Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2. buah tropika. 24 paket teknologi sistem produksi sayuran. 33 paket teknologi spesifik lokasi. terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa & 5. metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan. kelapa. Kedua. rehab RPH.379 orang penyuluh PNS dan 26. terselenggaranya: (a) SL-PTT -Padi 40 ribu kel. karet. biofarmaka.000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan. f)Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31. 24 paket teknologi sistem produksi.000 kelompok. buah tropika dan tanaman hias. SL-PTT kedelai 10. (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit.600 unit. kina. (b) SLPHT 500 unit. kelembagaan pasca panen 45 kab. dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit. ton mas. 3 paket teknologi pakan ekonomis. 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan. 16 provinsi. c)Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan.

l)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya. meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI. PIP 50 paket. penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi. serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi. pemasaran hasil perikanan.200 Gapoktan. dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI). nila. pengawasan. j)Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota. intensifikasi usaha budidaya perikanan 871. verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi. 10 klaster industri perikanan.71 kabupaten/18 provinsi. (2) Pemberdayaan Kel. 6 lokasi buffer stock rumput laut. lele. 53 balai benih ikan dan balai benih udang. penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi. pengembangan seaweed center di Lombok. m)Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). peningkatan tenaga pendamping teknologi. pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan. Pembinaan 100. terbentuknya otorita kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi.000 ha. pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi. introduksi benih unggul. o)Penguatan dan pengembangan pemasaran da1am negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga .000 Poktan dan 3. peningkatan mutu. i)Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan. pengolahan. k)Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang. serta sertifikasi 1.. Tani 50 paket. kakap. berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan. g)Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi. Sekolah Lapang 50 paket. ikan mas. serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. rumput laut.500 persil lahan nelayan. h)Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi.. n)Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/ rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan. patin. dan gurame di 33 Provinsi.

r)Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu.3 juta ha. 50 unit HPH me1aksanakan sistem silvikultur intensif. z)Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota. x)Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%. y)Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2. terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor. berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi. terbentuknya 88 POKMASWAS. v)Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI se1uas 1.000 ha di 25 provinsi. pengembangan 5 UPT. q)Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan. operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih. terse1enggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi. dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan . dan HTR seluas 300..2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak/ijin dalam bentuk IUPHHK-HA. u)Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300. s)Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory. sentra rotan seluas 250 ha. dan terselenggaranya pembinaan eksportir. Pembangunan. sentra gaharu 800 ha. t)Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH.. tersedianya sarana dan prasarana pengawasan. dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU. dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL.pemasaran. terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum. sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha.000 orang penyuluh.605 ha di 12 provinsi. operasional 23 kapal pengawas. w)Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400. HTR dan IUPHHBK. diversifikasi produk olahan. HTI. meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008. dan HTR seluas 3. serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3.000 ha. IUPHHK-HT. 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi. aa)Perencanaan.000 ha. p)Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuiuhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Ba1ai pelatihan. sutera alam seluas 160 ha.

penanganan daerah rawan longsor di 15 kab/kota pada 5 provinsi. Kakao ternak 4 paket dan Kopi ternak 3 paket. Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir. biofisik. OKPO. dan Biogas dengan target: Pertama. DAS prioritas tahun sebelumnya. Sulawesi. Ketiga. b)Pengembangan Pertanian. j)Pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan target: (a) terlaksananya pencegahan dan pengendalian kebakaran di 10 provinsi rawan 314 daops. f)Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. Kedua. pembinaan mutu 33 provinsi. dan (b) menurunnya hot spot 0-10% dari tahun 2006. Fokus 5. terlaksananya pengembangan 3 TN dalam rangka DNS. Batamas sapi potong/perah 200 klp dan Denplot 30 klp. (2) Diterbitkannya sertiftkasi 30 produk pertanian. e)Pengembangan pengelolaan konservasi laut dan perairan dengan target berkembangnya pengelolaan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di 26 lokasi dan 2 UPT konservasi. dan NTT). (3) terselenggaranya koordinasi dan pengawalan dalam pengembangan pupuk organik di 33 provinsi. Pantai Utara Jawa. NTB. sosek). Maluku. terselenggaranya RHL sebagai pengendali banjir di Jabodetabekjur. k)Pengamanan Hutan dengan target operasi pengamanan hutan di 10 . mangrove. Berkembangnya usaha pengolahan kompos dan biogas di 100 kab.500 ha di 12 provinsi. h)Rehabilitasi Lahan Kritis dan Prioritas dengan target perencanaan Gerhan seluas 1. padang lamun.3 juta ha di lahan kritis . i)Perencanaan dan Pembinaan Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan target terbangunnya sumber benih seluas 1. estuari dan teluk dengan target terkelolanya dan terehabilitasinya terumbukarang di 15 kab /kota dan 8 provo serta 16 Kab /kota. c)Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dengan target Terlaksananya kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di 7 wilayah pesisir (pantai Barat Sumatera.target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS. g)Pengelolaan Taman Nasional Model dengan target terwujudnya kelembagaan pengelolaan kolaboratif di 21 taman nasional model. tersalurkannya bantuan untuk pembuatan pupuk organik di 300 kelompok tani. longsor. Organik dan Pertanian Berkelanjutan dengan target: (1) Berkembangnya hortikultura organik di 6 provinsi.Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global a)Integrasi Tanaman-Ternak. Kompos. (2) 150 unit rumah kompos. serta terselenggaranya rehabilitasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah. pengembangan Integrasi Kelapa Sawit Ternak 12 Paket. Bali. Operasionalisasi OKKPD. d)Peningkatan Pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan TPA/sanitary landfill/sistem regional di 86 kabupaten/kota.

penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan 50 % dari kasus yang ditangani Dephut. pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di 16 kota. recycle). q)Pengembangan Penelitian Meteorologi. r)Meteorological Early Warning System (MEWS) dengan target terbangunnya sistem peralatan MEWS yang meliputi 2 unit radar cuaca dan ground satelite receiver di 3 takagi. Meteorologi dan Geofisika dengan target terbangunnya sistem data dan informasi meteorologi. o)Pengembangan Sistem Observasi dan Telekomunikasi dengan target terbangunnya sistem observasi dan telekomunikasi serta instrumentasi dan kalibrasi. reuse. di 6 kota besar. terciptanya hubungan dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dalam proses penataan ruang. serta terlaksananya validasi AWS 7 sensor dalam rangka uji model numerik cuaca skala nasional dan provinsi. kualitas udara. 3 paket. klimatologi. dan perlindungan sumber daya air di 434 kab/kota. dan geofisika. AWS 33 lokasi dan automatic rain gauge di 11 lokasi serta 1 set sistem komunikasi dan integrasi. Klimatologi dan Geofisika dengan target tersusunnya laporan deteksi dan skenario perubahan iklim serta dampaknya di 33 provinsi dan model prakiraan trayektori polutan udara. pengendalian pencemaran air. pengendalian pencemaran lingkungan. serta reduksi timbunan sampah melalui pelaksanaan 3R (reduce. terutama meningkatnya status ketaatan 650 industri terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. p)Pengembangan Sistem Data dan Informasi Klimatologi. l)Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target menurunnya beban pencemaran lingkungan dari berbagai sumber pencemaran terkait perubahan iklim. t)Penguatan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang di Pusat dan Daerah dengan target meningkatkan koordinasi penataan ruang dan pemantapan kelembagaan BKTRN dan . serta terlaksananya penghapusan 30 metrik ton BPO di sektor chiller dan metered dose inbealer (MDI). pemantauan Udara Ambien Kontinyu (AQMS) di 10 kota dan Passive Sampler di 30 kota. termasuk pengawasan dan sistem insentif melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH). n)Penyedian Dana Alokasi Khusus untuk Mendukung Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target tersedianya sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan. s)Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Koordinasi Penataan Ruang Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang dengan'target tersedianya tenaga yang memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk mengelola penataan ruang di Provinsi dan kab/kota. 3 paket.provinsi. m)Pengendalian Kerusakan Lingkungan dengan target meningkatnya kapasitas dalam meningkatkan upaya pengendalian dampak perubahan iklim di pusat dan daerah. serta pengendalian kerusakan lingkungan daerah berbagai kegiatan.

c)Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional. x)Pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dengan target dukungan kegiatan JBIC Loan. PMO. kajian dan pemetaan geopolitik perbatasan nasional.BKPRD. regional dan global. v)Pembinaan Manajemen Penyelenggaraan Penataan Ruang dengan target terselenggaranya pembinaan manajemen penyelenggaraan penataan ruang dalam rangka mendukung turbinlakwas penataan ruang. data utilisasi. z)Pengembangan Sistem Manajemen Penanganan Bencana dengan target 7 paket. RTRWN. u)Operasionalisasi RTR Pulau. aa)Penanggulangan Pasca Bencana dan Kerusuhan Sosial dengan target 2 paket. RDTL. b)Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan termasuk revitalisasi industri gula. networking. Fokus 6. w)Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang dengan target tersedianya peta dasar rupabumi 1 :50 K Papua dan Pantai Barat Sumatera. Data Akuisisi dan Produksi. Survei. dan Malaysia serta pemeliharaan tanda batas negara dan pemetaan etnik perbatasan.Revitalisasi Industri Manufaktur a)Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten/kota. Konsultan Service II Networking. fasilitasi dan penyediaan peta batas dan wilayah pemerintahan daerah serta kajian penyelesaian konflik batas antar daerah. Kajian dan pemetaan batas maritime Indonesia dengan 10 negara tetangga. 80 kabupaten/kota. RTRWP. IGTE dan kerjasama ASEAN. RTR Kab/Kota dengan target terselenggaranya operasionalisasi RTRWN. h)Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 . RTR kab/kota serta terselenggaranya forum lintas pelaku penataan ruang. Kegiatan Konsultan service I. RTRWP. f)Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT g)Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan. e)Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi. RTR Pulau. d)Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan. y)Pemetaan Batas Wilayah dengan target terselenggaranya kajian dan pemetaan Batas Internasional. demarkasi dan pemetaan darat dengan PNG. dokumen submisi klaim LKI diluar 200 nm.

d)Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah. h)Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47.000 KUKM. j)Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru. i)Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. k)Penerapan Standardisasi. f)Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5. b)Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50. b)Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan. Akreditasi.Rancangan SNI.Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif a)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket. c)Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10. i)Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan. c)Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi. dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan.000 tenaga kerja. 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM. kondisi kerja dan syarat kerja.Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja a)Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD). d)Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi didaerah-daerah.500 bidang tanah UKM. Fokus 8. g)Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan. e)Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota .000 orang tenaga kerja terdidik. e)Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan target 3 paket kegiatan UMKM inovatif. Fokus 7.

serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan. Peningkatan Informasi. .di Pulau Jawa. 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif. i)Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500. b)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum. g)Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi. Melalui Peningkatan Kelembagaan. Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya infonnasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota. j)Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi. kelembagaan yang efisien dan pruden. f)Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri.Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter a)Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target tersusunnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. EKONOMI . c)Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan permintaan serta harga bahan pokok nasional. Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit. d)Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi.dengan fokus stabilisasi Fokus 9. b)Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton). perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar. h)Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja. Fokus 10.000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi.Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok a)Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan. dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi.

Bidang Sumber Daya Air a.25 km.37 km. .5 km. penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumii Jakarta. g)Penanggulangan Bencana/Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian. situ dan bangunan penampung air lainnya. INFRASTRUKTUR DAN ENERGI Fokus 12. Embung. monitoring. Fokus 11. b)Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan. d)Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD. situ dan bangunan penampung air lainnya. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk. j)Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1. dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan. Embung. h)Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung.Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil A. B. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 23 waduk. (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center).)Pembangunan Waduk. Embung. Pengamanan APBN a)Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan resiko fiskal.c)Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi. embung. c)Operasi dan Pemeliharaan Waduk.45 km. dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak. e)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 237. i)Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4. b)Rehabilitasi Waduk. 20 embung. Bidang Energi a)Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas. f)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 47.

pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha. peningkatan efisiensi pengusahaan dan pelayanan tenaga listrik TA. tersosialisasi perencanaan program pembangunan ketenagalistrikan Lisdes. Indonesia-Belanda. Terfasilitasinya pertemuan SOME-AMEM ke 27. Bidang Ketenagalistrikan a)Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik. Terwujudnya fasilitasi pertemuan bilateral antara Indonesia dg Belanda. analisa. serta pembangunan listrik swasta (IPP). monitoring dan review pelaksanaan aturan jaringan tenaga listrik sit.b)Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring. Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distribusi TL. monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU. Jawa bali dan sumatra. b)Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi. ASEM dan EAS. Terwjudnya Fasilitasi pertemuan regional pada forum APEC. d)Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target monitoring kesiapan dan kecukupan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Ikitring dan Pemda. monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara. Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati. PLN.000MW. Jepang (JICA) dan Korea (KOICA). ACD. kajian pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik (power wheeling) dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik Wilayah PT Cikarang Listrindo TA. Terlaksananya review terhadap implementasi program kerjasama energi dan ketenagalistrikan. e)Pembangunan Transmisi. terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan. c)Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terselenggaranya pertemuan internasional APEC EWG. terkoordinasinya pelaksanaan perizinan dengan Pemda. C. Distribusi. Terwujudnya fasilitasi kegiatan energi dan ketenagalistrikan pada sub sector network dan working group ASEAN. Tersusunnya program kerjasama pengelola pembangkit listrik non komersial. ASEAN SSN. .2009. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik sistem kalimantan. Terfasilitasinya pelaksanaan pertemuan ACE governing Cauncil. dan evaluasi data ketenagalistrikan. penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik wilayah PT PLN Batam TA 2009. pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. dengan Perda dan Instansi Terkait.2009. tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali.

175 kV sepanjang 150 km. terlaksananya Pembinaan dan Pengembangan Program Ketenagalistrikan. j)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan. termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10. Jawa Bali dan Nusa Tenggara. tersusunnya pola kebutuhan dan prioritas pembangunan JTM/JTR. terlaksananya sertifikasi baik operasi (SLO) . dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU. terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement. gardu induk 18 lokasi. termonitornya penanganan daerah krisis TL. terfasilitasinya tim keandalan sistem TL. g)Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km. terupdatenya RUKN. pembinaan dan pengawasan tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik kepada masyarakat TA 2009 kepada masyarakat TA 2009. terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. h)Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat TA 2009. terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembanguna TL. terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. Kalimantan dan Sulawesi (peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10. terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan. Aceh. terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. 150 kV sepanjang 1450 km. tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan. tersusunnya pedoman kualifikasi standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. i)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. tersusunnya pedoman pengawasan SLO. Sumbagsel. terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang. tersusunnya investasi penyediaan TL. tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes.f)Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan. di w11ayah distribusi Sumatera.000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional).000 MW. . terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. k)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi sektor ketenagalistrikan. terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL. terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan.

Regulasi. instalasi) di Kota Jogja. D. penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara. Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos. pemantauan dan verifikasi usulan harga beli tenaga listrik dari IPP. (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik. c)Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literary) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan. b)Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan. Keahlian SDM. dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime. . monitoring dan penghitungan BPP dan TDL-PLN. tersedianya data dan daftar Badan Usaha Jasa Penunjang Ketenagalistrikan di Indonesia yang dapat diakses masyarakat. (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran. (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi. penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL. terlaksananya Konvensi Hasil Penyusunan Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik. PLTG. koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian listrik ilegal. m)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam Bisnis Tenaga Listrik. fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam usaha penyediaan tenaga listrik. (5) RUU Cyber Crime.Bidang Pos Dan Telematika a)Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan.l)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terciptanya Lembaga dan Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik dalam negeri yang mampu mendukung kemandirian nasiona1 dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan. monitoring dan eva1uasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan PKUK. tersusunnya pedoman pemeriksaan dan pengujian pemanfaatan jaringan Tenaga Listrik untuk kepentingan Telematika. internet. tersusunnya Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (BUJPTL). penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional. tersusunnya pedoman tentang kriteria dan tata cara penilaian Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri (PDN) pada PLTA. Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri. n)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik. data center. penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK.

d)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi. (3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet. (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi.Bantul. E. (5) aplikasi sistem early warning. h)Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16. (2) konsep rencana roll out sistem e-learning. dan (7) Pemancar televisi dan radio. (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2. i)Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan .275 unit. Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan Jaringan Palapa Ring. Sleman. dan sistem untuk ICT Training Center di UIN. perangkat lunak. dan pengintegrasian). (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota. g)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan. instalasi. (3) warung masyarakat informasi di 50 lokasi. (2) penyelenggara Broadband Wireless Access. aplikasi dan infrastruktur open source. e)Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan. (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority. Kulon Progo dan Gunung Kidul. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota. c)Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota.0 kemitraan. (4) gedung ICT Training Center di Jababeka. (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan. e)Peningkatan Jangkauan.

guardrail 106. (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit. (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II. b)Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket). sped boat 12 unit. f)Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi. Maluku Utara. h)Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat . Kelas III 7 unit. bus air 30 unit. Sulawesi. (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya. Jawa. Kelas IV 33 unit. (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI). Maluku. serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit. c)Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab. Delineator 36. F. (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit. paku marka 15.Lingkungan Permukiman di 218 kawasan. (4) Pembangunan Rating School Ambon. 30 paket alat. NTT. warning Light 50 unit. Papua dan Papua Barat). (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok. RPPJ 1200 Bh.500 M. Kelas V 59 unit. j)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok.500 M. (3) Pembangunan Rating School NAD. (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit.736 unit RSH/Rusunami.360 M. dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit. d)Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73. Kalimantan. (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang. Diklat STPI Curug 10 Paket). k)Penyediaan Kredit Program-KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program-KPRSH dan Rusunami sebanyak 240. (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia.923. Rambu Lalulintas 29. Prasarana BRT 8 Lokasi.000 M2 tersebar di : Sumatera.477 buah. Traffic Light 110 Unit.500 buah. e)Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2. Cermin Tikungan 108 Bh. Bidang Transportasi a)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong. (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia. g)Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket. (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I.

(2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit). Pontianak. Makassar). r)Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dan: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT. (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya (24 Km). serta terlaksannya Public Ship Finance Program. 2 unit kapal 500 DWf. (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai-Cikarang (18 Km). (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya-Kutoarjo (76 Km). Ma. (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 -52 Km. l)Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dan: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket) . KRL.' s)Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan. Bitung. Ramsu : 123 unit. Palembang. q)Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) -Mensu: 42 Unit. m)Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis Gawa dan Sumatera)-(18 Paket). p)Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek-Padalarang. pengadaan peralatan SAR 18 unit. 2 unit kapal 350 DWT. Semarang-Solo. dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit.PKB). Bandung-Banjar-Kroya. 2 unit karat 750 DWT.1 Km. k)Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah. (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan. Benoa. Dumai. Tg. Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav).Sibusuk. Pinang. (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan (17 Km). Manada dan Bitung . (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir-Sidoarjo -18. t)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut). Pelsu : 100 unit. (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok-Pasoso (JICT-KOJA) 2. Kariangau (Kaltim).Kalaban-Pd. Depare (papua). Batu dan Palaihari (Kalsel). Lubukalung-Naras. i)Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi. Lintas Jawa-400 Km. j)Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di Lintas. o)Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket). n)Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong-Maja-Rangkasbitung (32 Km). Tj. Tlk Bayur.Enim-Prabumulih-Tarahan. selatan. Tg. (2) Pembangunan MRT Jakarta. Sumatera bagian utara. (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket). Telukbayur-Sawahlunto.5 Km (1 Paket). pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP).

8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau. Adpel Samarinda. dd)Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : . sungai 12 lokasi. NTB. Sulawesi Utara. Muara Bungo dan Waghete baru. Maluku Utara. z)Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara). dan Teluk Batang (Kalbar). Manokwari. Tlk. Namniwel. Maluku Utara. bb)Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425. Maluku Utara. (2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan. dan Manokwari (papua). Ende. Kanpel Seba. Papua dan Papua Barat. Kalimantan. x)Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi. Kalimantan. Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga. lbukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi.000 M2 tersebar di : Sumatera. Amuk (Bali).000 M2 tersebar di : Sumatera. Nusa Tenggara. danau 9 lokasi. Kanpel Manggar. Jawa. Tarakan (Kaltim). Papua dan Papua Barat. Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran). Melongguane. u)Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut. Kalimantan. Nunukan. Maluku. Lab. NTT. Sulawesi. Sulawesi. Bau-Bau (Sultra) . Sibolga. Jawa. (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin-Makasar Sulawesi Selatan. Naha. Tg. Garongkong (Sulsel). v)Pembangunan Dermaga Sungai. y)Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera. Yani (Malut). Maluku. Dumatubun-Langgur. Papua dan Papua Barat. Maluku. terpencil dan rawan bencana (11) lokasi di : Rembele. Buton (Riau). Arar (papua Barat). Rembang (Jateng).(Sulut). Maloy (Kaltim). Adpel Lhok Seumawe. Silangit. Rote. dan Haliwen). Enggano. dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi. Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. Kanpel Paloh/Sekura. Adpel Kuala Langsa. Belang-belang (Sulbar). Bojanegara (Banten) . aa)Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo. Jawa. Malarko (Kepri). Adpel Sampit. Kanpel Leok). Adpel Jambi. Seram Bagian Timur. Tapang (Sumbar). Panajam Pasir (Kaltim). Anggrek (Gorontalo). w)Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi. Sulawesi. cc)Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3. Saumlaki Baru. Sungai Nyamuk (Kaltim). NTT. Adpel Palembang. Sam Ratulangi-Manado. 5 dermaga penyeberangan.

ee)Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket. gg)Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2. Kalimantan. (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket). kk)Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 32.884 m. Batubara. nn)Pembangunan Fly-over dengan target 4. Sulawesi.8 km. (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari.685 m. rr)Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 63. mm)Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 34.163 km. ss)Pembangunan Jalan Akses dengan target 11.8 km dan 2. pp)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 335. uu)Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo-Kertasono sepanjang 12 km. Fokus 13.834.Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta a)Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan. NTT.2 m.Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas.000 unit. jj)Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1. 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur. qq)Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket.5 km.9 km. Fokus 14. Bitung.469 km dan 3. Maluku Utara.701 m. hh)Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu. c)Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah.9 km. (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket) . ff)Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi). b)Pembebasan Lahan. Manado).880. tt)Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 60. ii)Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan. Papua dan Papua Barat). Jawa. oo)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 2. Dan Mineral a)Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan .Sumatera. ll)Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 8.720 m.

seismic laut Flores sepanjang 1. b)Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan. b)Pengelolaan. terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi. Maluku Utara. terbitnya buletin energi hijau. terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi. terselenggaranya Bintek energi terbarukan dan konservasi energi. interpretasi potensi migas di laut Sulawesi. evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah. Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM a)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN. tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan. synopsis geologi WK. dan Papua untuk CDM. c)Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan dearing house energi terbarukan dan konservasi energi. pengembangan statistik minerbapabum. advokasi hukum. pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan Jepang dan Denmark). Sulawesi. terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik. penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan. perijinan usaha. terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil. Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang.harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum. tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan.500 km. kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung. tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi.Percepatan Diversifikasi Energi. Maluku. tersusunnya pedoman persyaratan uji kinerja pada pemanfaatan TL untuk rumah tangga dalam rangka labelisasi tanda hemat energi. termonitornya implementasi hasil audit energi. terlaksananya forum konsensus standar kompetensi auditor energi. perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum. penetapan WKP panas bumi. c)Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba. Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas. d)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional. Fokus 15. tersusunnya kebijakan . Reklamasi. tersusunnya standar kompetensi untuk audit energi.

b. adanya dukungan kompetensi sumber daya manusia aparatur dibidang pelayanan dan penegak hukum. b.Dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah. c. diterapkannya standar pelayanan minimal (SPM). f)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan. c. terselenggaranya pengarusutamaan gender di sektor energi. PERTAHANAN. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. 2.Menurunnya tindak pidana korupsi yang tercermin dari: a. g)Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM. yang mencakup antara lain: terselenggaranya pelayanan publik yang tidak diskriminatif. pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik. layak dan berbasis kinerja. serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana. perubahan kepemilikan saham.Tumbuhnya ik1im takut korupsi. REFORMASI BIROKRASI.Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang. yang antara lain ditandai dengan: a.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. tersusunnya kajian penurunan emisi sektor energi nasional. tersusunnya program pemanfaatan energi. DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai. pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum. d. pengawasan produksi penjualan.Dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil. . III. murah dan manusiawi. peningkatan aksesibilitas energy perdesaan.Ditingkatkannya kualitas pelayanan publik. e)Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi.Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada dasarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik. pengusahaan CBM di daerah Sumatera. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan. penetapan harga gas bumi.energi. dan diterapkannya teknologi informasi dan komunikasi (e-gov dan e-services).Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Reformasi Birokrasi serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. cepat. SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Upaya Anti Korupsi.Meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum termasuk lembaga pemberantasan korupsi.

Tercapainya kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala essential force dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pertahanan dan keamanan. adil. supervisi dan koordinasi penanganan TPK 40 kasus di 50 K/L. Bab 9.Dilaksanakannya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi-fungsi kepemerintahan. 35 perkara eksekusi keputusan inkracht.852 penanganan/penyelidikan kasus intelijen termasuk perkara korupsi. d. b. Bab 13. 5 Tahun 2004 di sebanyak 660 instansi (pusat dan daerah). 4. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. dan (2) terlaksananya sosialisasi RAN-PK oleh K/L dan penyusunan RAD-PK oleh . dan Bab 14 Buku II dengan Fokus dan Kegiatan prioritas sebagai berikut : Fokus 1. illegal logging. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 3. kampanye.Terputusnya jaringan demand dan supply penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia baik yang melibatkan jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. e.Penindakan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi a)Penanganan/Penyelidikan Kasus Intelejen dengan target 1. e. 40 perkara penuntutan. serta penyelundupan sumber daya negara. ARAH KEBIJAKAN. termasuk di dalamnya penanganan perkara korupsi baik yang ditangani oleh pengadilan umum maupun pengadilan Tipikor. 3. yang tercermin dari : a. 15 orang perlindungan saksi. c. Bab 8. (2) penanganan terhadap 1.967 perkara korupsi.Terselenggaranya pengamanan proses pemilu dari masa persiapan.Tertangkapnya pelaku utama aksi-aksi terorisme dan terbongkarnya jaringan utama terorisme di Indonesia secara tuntas. Pengumpulan bahan keterangan 1 paket.d. dan (3) Penyelidikan dan penyidikan terhadap subyek dan kasus tindak pidanan korupsi.Terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis.Ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan.Makin menguatnya kemampuan pertahanan dan mantapnya keamanan dalam negeri. Bab 10. d)Pelaksanaan Inpres No. 5 Tahun 2004 (Percepatan Pemberantasan Korupsi) dengan target: (1) tersusunnya laporan pelaksanaan Inpres No. dan aman. proses pemungutan dan perhitungan suara. 50 perkara penyidikan. b)Penindakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan target (1) penyelidikan 55 kasus. dan. jujur. Bab 6.Menurunnya secara signifikan tindak kejahatan lintas negara di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah perbatasan khususnya illegal fishing.000 perkara. Bab 5. FOKUS. c)Penanganan Perkara dengan target penanganan terhadap 250.

Fokus 2. revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi). pengkajian hukum 15 kegiatan. Fasum) bermasalah di 10 provinsi.380 aparat pemerintah daerah di 10 propinsi masing-masing 5 kab/kota dalam penerapan SPM di daerah. dan Peraturan pelaksanaan UU Penyitaan Aset. penyusunan naskah akademik 10 RUU. Kejaksaan di 31 Kejaksaan Tinggi. 99 Cabang Kejaksaan Negeri. Fokus 4. Fokus 3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik a)Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan target (1) tersusunnya RPP untuk UU Pelayanan Publik dan sosialisasi UU Pelayanan Publik dan (2) meningkatnya kualitas pelayanan terpadu Samsat. d)Pasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan dengan target terlaksananya fasilitasi standar pelayanan perkotaan di 11 provinsi. b)Penyuluhan Hukum dengan target terlaksananya penyuluhan hukum terutama yang terkait dengan Sosialisasi UU Perlindungan Saksi dan Korban. penelitian hukum 7 kegiatan. serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi. untuk pelayanan kepada masyarakat di daerah. kerjasama kota kembar (sister city). c)Penyuluhan Hukum dan Koordinasi RANHAM dengan target penyelenggaraan penyuluhan hukum pada 33 Kanwil Dephukham. 361 Kejaksaan Negeri. Penyusunan 15 Naskah RUU. dan Dirjen HAM. c)Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM) di daerah dengan target meningkatnya kapasitas 1.Pemda.Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan untuk Mendorong Upaya Pemberantasan Korupsi a)Penyusunan Naskah Perundang-undangan dengan target Pembahasan RUU 10 buah.000 orang. . kerjasama perkotaan bertetangga di 3 kota metropolitan. penyusunan UU pengadilan tindak pidana korupsi. b)Peningkatan/Pengkajian Kapasitas Kelembagaan dengan target tersusunnya 4 dokumen SPM dan Penerapan 2 SPM di 33 provinsi. dan (3) meningkatnya koordinasi pelaksanaan strategi nasional pemberantasan korupsi yang sejalan dengan KAK' 2003. BPHN. Rakor di 3 wilayah evaluasi 10 kawasan kumuh perkotaan di 10 provinsi.Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi a)Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana dengan target terlaksananya sosialisasi UU perlindungan saksi dan korban dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi dengan sasaran 45. Penyusunan 18 Naskah RPP (termasuk peraturan pelaksanaan UU perlindungan sanksi dan korban serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. evaluasi PSU (Fasus. dan 1 Kejaksaan Agung.

(2) tersusunnya Kurikulum Diklat Aparatur yang baru. dan (2) tersosialisasikannya Pedoman Implementasi Penerapan Sistem Manajemen Kinerja Instansi Pemerintah. h)Pilot Project Penerapan Identitas Tunggal untuk Pelayanan Publik dengan target terlaksananya ujicoba penerapan identitas tunggal untuk pelayanan publik di 3 lokasi (Jembrana. d)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-Undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Sistem Pengawasan Nasional dan RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara . f)Penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait dengan target penataan sistem koneksi NIK dengan sistem informasi departemen/lembaga melalui pembangunan dan pengembangan data warehouse berbasis NIK Nasional. Fokus 5. Fokus 6. (2) peraturan tentang pelaksanaan e-government di instansi pemerintah. Ketatalaksanaan dan Pengawasan Aparatur Negara a) Pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. Sragen dan Balikpapan) dengan 3 instansi (pemda.Penataan Kelembagaan. (3) tersusunnya Strategi Pembelajaran yang baru. b)Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja dengan target (1) tersusunnya rancangan kebijakan Penerapan Sistem Manajemen Kinerja untuk Instansi Pemerintah. g)Pengembangan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) Terpadu dengan target terimplementasinya SAK di 457 kab/kota.e)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target tersusunnya. (4) tersosialisasikannya sistem diklat aparatur yang baru. evaluasi atas pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. BKN). c)Evaluasi Organisasi dan Tata Kerja Unit Departemen/ LPND/Lembaga Non Struktural dengan target tersususnnya RPP tentang Pedoman Penyusunan Kelembagaan Non-struktural (quasi birokrasi) dan basil evaluasi kelembagaan birokrasi (struktural). (Survey/Studi kelayakan/Penyusunan Master Plan/DED/SID) dengan target terlaksananya sosialisasi/asistensi/ monitoring. c)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Kepegawaian Negara dengan legislatif. (1) model implementasi e-local government.Peningkatan Kinerja dan Kesejahteraan PNS a)Pengembangan Sistem Pendayagunaan SDM Aparatur Negara dengan target (1) tersusunnya Sistem Diklat Aparatur yang baru. b)Penyempurnaan sistem manajemen pengelolaan SDM Aparatur sesuai Sistem Karir dan Remunerasi dengan target tersusunnya RPP Sistem Remunerasi PNS berbasis kinerja dan merit. Menpan.

kesiapan alutsista TNI AL menjadi 41 persen dari jumlah yang ada saat ini. kesiapan alutsista TNI AD menjadi 38 persen dari jumlah saat ini.Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan Pemilu 2009 a)Fasilitasi Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2009 dengan target terlaksananya koordinasi setiap tahapan dan jadwal kegiatan Pemilu 2009 (desk Pemilu).Pemantapan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri a)Peningkatan kemampuan alutsista TNI dan Alut Polri dengan target (1) kesiapan alutsista integratif TNI menjadi 40 persen dari jumlah saat ini. dan KPPSLN untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu Presiden/WK Presiden putaran 1 dan putaran 2. Kegiatan dilakukan di 33 provinsi dan 470 KPU kab/kota. . 77.575 PPK. b)Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat (penyiapan Modul dan Memulai Voters Education and Information) dengan target (1) terlaksananya sosialisasi informasi pemilu. dan supervisi untuk PPK. dan (2) terlaksananya fasilitasi voters information dan fasilitasi pelaksanaan kampanye di 119 kantor perwakilan RI di luar negeri. PPS. Fokus 9. b)Penyediaan dan distribusi logistik pemilu dengan target tersedianya logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. c)Penguatan sarana dan prasarana pendukung Pelnilu 2009 dengan target tersedianya sarana dan prasarana gedung kantor KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota.636 KPPS. serta bimbingan dan supervisi teknis kepada panitia ad hoc pelaksana pemilu. serta tersedianya bahan tercetak dan instrumen bagi lembaga pemantau pemilu dari dalam negeri dan luar negeri. Fokus 7. d)Fasilitasi lembaga kemasyarakatan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah-daerah dengan target terlaksananya pendidikan politik mengenai kepemiluan oleh 500 ormas di kab/kota (khususnya untuk Pemilu Presiden). bimbingan teknis. dan 1 Kadin di luar negeri.Negara dengan legislatif.Penguatan Lembaga Penyelenggaraan Pemilu dan Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Pemilu 2009 a)Penguatan Organisasi Penyelenggara Pemilu dan Pilkada dengan target (1) terakreditasinya dan terlaksananya bimbingan teknis bagi pemantau pemilu. (KPU. 119 Kantor Perwakilan Luar Negeri. PPLN. (2) kesiapan peralatan Polri mencapai 70 persen dari kondisi yang ada saat ini. kesiapan alutsista TNI AU menjadi 43 persen dari jumlah yang ada saat ini.780 KPPSLN). 120 PPLN. Fokus 8.286 PPS. 1. 33 KPU provinsi. 6. pendidikan pemilih di dalam dan luar negeri. 611. (2) terlaksananya seleksi. KPPS. c)Fasilitasi Pelaksanaan Budaya Politik Demokratis dengan target terlaksananya pendidikan pemilih bagi masyarakat di 5 lokasi di daerah. 470 KPU kab/kota.

dengan target (1) meningkatnya kelembagaan Badan Koordinasi Penanganan Terorisme melalui peningkatan koordinasi penanganan tindak kejahatan terorisme. (3) meningkatnya kerjasama bilateral dan regional dalam hal penanggulangan dan pencegahan aksi-aksi terorisme melalui . pembentukan 132 kelompok masyarakat pengawas. penangkapan dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme melalui peningkatan jumlah penangkapan dan proses hukum tokoh-tokoh kunci terorisme. (2) terselenggaranya operasi bersama keamanan laut dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia dengan target meningkatnya intensifikasi operasi bersama keamanan laut. f)Penanggulangan dan pencegahan tindakan terorisme. (3) meningkatnya kerjasama bilateral pengamanan di wilayah-wilayah perbatasan. (2) meningkatnya operasional penjagaan dan pengawasan aktivitas aging di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan melalui penjagaan dan pengawasan aktivitas asing di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan. tepat tempat. d)Pengamanan batas negara pada sekitar pulau-pulau kecil terluar dan wilayah-wilayah perbatasan dengan target (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas pertahanan dalam rangka pencegahan terjadinya pelanggaran wilayah dan kedaulatan. pengadaan early warning system. e)Penanggulangan dan pencegahan gangguan keamanan laut dengan target (1) berkembangnya prasarana dan sarana termasuk early warning system dengan pengadaan kapal markas. (4) penguatan sinkronisasi dan sinergi instansi-instansi pemangku Maritime Surveilance System dengan target tercapainya efektivitas dan efisiensi Maritime Surveilance System diantara instansi-instansi terkait guna mendukung kemampuan dukungan informasi dan data secara lebih akurat. dan (4) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas keamanan dalam rangka pencegahan tindak kejahatan transnasional. dan tepat waktu (real time). penyelenggaraan pentaatan dan penegakan hukum di 5 unit kerja peradilan perikanan dan pengembangan 5 UPT pengawas. (2) meningkatnya upaya pencarian. terbangunnya stasiun koordinasi keamanan laut. pembentukan UPT di 6 provinsi. c)Pengembangan profesionalitas prajurit TNI dan anggota Polri dengan target terpeliharanya kekuatan dan kemampuan prajurit TNI dan anggota Polri. operasionalisasi 21 kapal pengawas. (3) berkembangnya sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penyelenggaraan operasi terpadu selama 180 hari. serta (2) pemanfaatan fasilitas pemeliharaan dan penyerapan secara signifikan produk industri pertahanan nasional dengan target meningkatnya jumlah dan jenis alutsista TNI dan alut Polri produk industri pertahanan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan.b)Pengembangan industri pertahanan nasional dengan target (1) ditetapkannya sejumlah : peraturan perundangan yang mengatur mekanisme pengembangan industri pertahanan.

mencegah dan menanggulangi konflik. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu. sasaran-sasaran pokok tahun 2009. separatisme. dan terorisme. proses pemungutan dan perhitungan suara. percepatan pembangunan jaringan komunikasi sandi nasional. BAB III KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2007. (4) terselenggaranya kampanye nasional dan sosialisasi anti narkoba serta tersosialisasinya pencegahan penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia. kriminalitas. konflik. dan menanggulangi kriminalitas. perkiraan tahun 2008. i)Pengamanan Pemilu 2009 dengan target (1) mantapnya kesiapan Polri dalam mengamankan proses pemilu dari masa persiapan. serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan. dengan target (1) meningkatnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri di bidang narkoba melalui peningkatan koordinasi dan kerjasama serta sinergi antara BNN dan BNP/BNK/BNKot maupun lintas negara dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. ketertiban. separatisme. kampanye. meningkatnya kemampuan intelijen Polri. (2) mantapnya kesiapan TNI dalam memberikan dukungan pengamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif. . (3) meningkatnya pelayanan terapi dan rehabilitasi kepada penyalahguna (korban) narkoba. serta teredamnya potensi gangguan keamanan. (2) meningkatnya kualitas penegakan hukum di bidang narkoba melalui peningkatan jumlah penyelesaian perkara kejahatan di bidang narkoba. serta (3) terselenggaranya operasi intelijen untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) di dalam dan luar negeri. Sasaran tahun 2009 tersebut dicapai melalui berbagai kegiatan dan kebijakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang digariskan.peningkatan penanganan terorisme yang bersifat lintas negara serta menurunnya potensi aksi terorisme lintas negara. dengan target (1) meningkatnya sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah melalui peningkatan kemampuan lembaga dan SDM intelijen pusat dan daerah. g)Penguatan institusi intelijen dan kontra intelijen. h)Peningkatan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. (3) terselenggaranya pembangunan jaringan komunikasi sandi negara melalui pembangunan dan pengembangan SDM persandian. terbangun sistem informasi intelejen pertahanan. dan terorisme. ketertiban. (2) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan. meningkatnya kemampuan intelijen TNI.

3 persen. Dalam triwulan 1/2008. Dengan memperhitungkan resiko gejolak ekstemal yang cukup besar. Kedua. lebih tinggi dari tahun 2006 (5. kemampuan ekspor barang dan jasa yang terjaga.0 persen dan 13. Sejak triwulan 111/2007.5 persen) didorong oleh investasi yang meningkat. stabilitas ekonomi tetap terjaga dari tekanan eksternal yang meningkat. kualitas pertumbuhan ekonomi membaik. Dalam bulan Februari 2008.8 persen menjadi 6.6 persen) atau berkurang 2.5 persen (y-o-y).4 persen.0 juta orang (9. Ketiga. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.3 persen dibandingkan . Momentum pertumbuhan terns berlanjut pada triwulan 1/2008.KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Kondisi ekonomi makro tahun 2007 dan perkiraannya tahun 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Dalam tahun 2007. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37. dampak dari krisis subprime mortgage di AS.A. ekonomi tumbuh 6. momentum pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2007 dan triwulan 1/2008 tetap terjaga. Keempat.5 persen.4 juta orang (8. Pertama.1 juta dibandingkan Maret 2006. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. ekonomi tumbuh 6.140 per dolar AS atau menguat 0. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15. Dalam keseluruhan tahun 2007. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin ditingkatkan pada tahun 2008.0 persen. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 24. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. Pada triwulan 1/2008. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga pada triwulan 1/2008 menurunkan lebih lanjut pengangguran terbuka.1 juta orang (16.3 persen) menjadi 10.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5. rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto meningkat dua digit serta konsumsi masyarakat tumbuh lebih dari 5 persen. Pada bulan Maret 2007.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. Dalam keseluruhan tahun 2007. Dalam Agustus 2006-Agustus 2007 tercipta lapangan kerja baru bagi 4. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 15. pengangguran terbuka menurun menjadi 9.9 juta orang (10. sejak paruh kedua tahun 2007.1 persen).8 persen (y-o-y). serta daya beli masyarakat yang semakin baik. Dalam tahun 2008.5 persen). perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya.

atau bertambah USD 14.tahun sebelumnya. ekonomi dunia tumbuh 4.6 persen. Dalam rangka mengurangi meluasnya dampak krisis subprime mortgage tersebut. Pada triwulan 1/2008. lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang tumbuh 3. sedangkan negara-negara maju hanya tumbuh 2.2 persen pada triwulan 1/2008. ekonomi AS tumbuh 2. Sejak triwulan II/2006. stabilitas keuangan dunia mengalami gejolak dipicu oleh krisis subprime mortgage AS.5 persen (yo-y) dengan kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga yang melambat serta penurunan investasi residensial yang makin pesat. laju inflasi keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. Dalam keseluruhan tahun 2007. kebijakan ekonomi AS diarahkan pada dua langkah pokok yaitu mengamankan sektor keuangan termasuk perbankan dengan penurunan suku bunga serta memberi stimulus fiskal dalam rangka mendorong ekonomi. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. Dalam kaitan itu. harga komoditi dunia yang meningkat memberi tekanan yang cukup besar terhadap inflasi di dalam negeri. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.0 persen). laju inflasi terjaga sebesar 6. Pada bulan April 2008.0 persen. Penurunan indeks saham tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap indeks saham di berbagai negara. EKONOMI DUNIA Dalam keseluruhan tahun 2007. ekonomi AS tumbuh 2. suku bunga Fed Funds diturunkan secara bertahap dari 5. serta melambatnya ekonomi AS. Ekonomi Asia tetap sebagai penggerak ekonomi dunia dengan tumbuh sekitar 9.000 sempat merosot menjadi di bawah 12.6 persen. investasi residensial di AS terus tumbuh negatif hingga menurun menjadi 21. bank sentral AS dan beberapa bank sentral di negara maju menempuh langkah pengamanan baik melalui bantuan likuiditas dan penurunan suku bunga. relatif sama dengan tahun 2006. Untuk mencegah ekonomi AS dari kemungkinan resesi pada tahun 2008.9 miliar. Dalam bulan Juli 2007. sedikit lebih rendah dari tahun 2006 (5. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 9.9 persen. ekonomi dunia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya.3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.2 persen. Ketiga resiko eksternal tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008. Indeks saham Dow Jones yang sebelumnya mencapai lebih dari 14. Runtuhnya pasar sub-prime mortgage di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2007 telah menimbulkan gejolak yang luas terhadap pasar modal global. Dalam semester II/2007. Terakhir. krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan dunia. Rendahnya kualitas kredit perumahan di AS telah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi AS.5 persen per tahun.000 dalam bulan Januari dan Maret 2008 dalam penutupan hariannya. serta cadangan devisa meningkat menjadi USD 56. bantuan likuiditas sekitar USD 30 miliar diberikan untuk menyelamatkan Bear Sterns dari kerugian yang dialami.25 persen pada bulan .6 persen.

rata-rata harian nilai tukar rupiah relatif stabil pada rentang Rp 9. dan memberi tekanan spekulasi yang besar terhadap peningkatan harga komoditi dunia. Poll of the Forecaster memperkirakan ekonomi AS dalam keseluruhan tahun 2008 tumbuh 1. Langkah-langkah untuk mengamankan sektor keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan penurunan suku bunga Fed Funds yang terus berlanjut. . April 2008).7 persen. kebijakan moneter pada banyak negara mulai beralih ke arah yang ketat dengan menaikkan suku bunga. nilai tukar rupiah berfluktuasi oleh pengaruh rambatan krisis subprime mortgage di AS. Sampai dengan lima bulan pertama tahun 2007. terutama minyak mentah.5 persen (IMF. DAN PASAR MODAL. Krisis subprime mortgage dan melemahnya nilai tukar dolar AS mengakibatkan likuiditas global yang berlebih beralih pada pasar komoditi. Mei 2008). Nilai tukar rupiah kembali stabil pada rentang Rp 9. program stabilisasi harga kebutuhan pokok. MONETER.9 persen) dengan ekonomi AS yang hanya tumbuh 0..Agustus 2007 hingga menjadi 2. mampu menjaga kembali stabilitas nilai tukar rupiah.1 persen (The Economist. primary commodity price.000-Rp 9. Ketiga gejolak eksternal tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008. Dalam rangka mengendalikan tekanan inflasi ini. Tekanan eksternal berupa tingginya harga komoditi dunia dan meluasnya dampak krisis subprime mortgage di AS berpengaruh pada stabilitas ekonomi di dalam negeri. Dalam tahun 2008 ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3. atau menguat 0. Mei 2008]. Harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya secara bertahap meningkat. World Economic Oudook. PERBANKAN.200 per dolar AS. Dalam keseluruhan tahun 2008.0 per barel. rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. lebih lambat dari tahun 2007 (4.140.8 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y) [IMF.00 persen pada akhir bulan April 2008 dan stimulus fiskal sebesar USD 162 miliar diberikan untuk menopang konsumsi masyarakat. Indeks harga komoditi dunia pada bulan April 2008 meningkat 46. Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi sejak tahun 2004 meningkatkan permintaan terhadap komoditi dunia termasuk energi. Kenaikan harga komoditi yang tinggi ini telah memberi tekanan inflasi global yang tinggi bagi semua negara. Dalam bulan Mei 2007 terjadi penguatan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh arus modal jangka pendek dalam bentuk investasi portfolio. Dengan kebijakan moneter yang berhati-hati.per dolar AS. Dalam bulan Juli 2007 hingga akhir tahun 2007.000-Rp 9.7 per barel dan dalam paruh pertama bulan Mei 2008 mencapai USD 122.200 per USD dan dalam keseluruhan tahun 2007. stabilitas ekonomi dapat dijaga.3 persen dibandingkan tahun 2006. serta pengamanan sektor keuangan di dalam negeri. harga minyak mentah WTI diperkirakan sekitar USD 110 per barel (EIA. Rata-rata harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga empat bulan pertama tahun 2008 mencapai USD 101. Mei 2008).

8 persen (y-o-y). Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong penyaluran kredit perbankan.00 persen sampai bulan April 2008 mulai ditingkatkan pada bulan Mei 2008 menjadi 8. 67. termasuk minyak mentah dunia. 15.0 persen. Suku bunga acuan yang tetap dipertahankan 8. Pada bulan Desember 2007. Pada bulan Desember 2007. harga keempat komoditi tersebut meningkat berturut-turut 120. minyak kelapa sawit. diperkirakan tetap tinggi. Dalam bulan April 2008. Suku bunga deposito dan kredit mcngikuti suku bunga acuan. harga gandum dan gandum. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil hingga semester 1/2007 berperan dalam menjaga laju inflasi.1 persen dari 15. dan 17. laju inflasi dalam keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 995.2 persen. harga gandum.Dalam empat bulan pertama tahun 2008. Dalam tahun 2007. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan laju inflasi yang terkendali dalam tahun 2007 memberi ruang bagi penurunan suku bunga di dalam negeri. Meningkatnya tekanan inflasi sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna memandu penurunan ekspektasi inflasi. Dalam bulan April 2008.00 persen pada bulan Desember 2007. Meningkatnya harga komoditi dunia sejak pertengahan tahun 2007 mendorong kembali laju inflasi. 9.300 per USD.9 persen. laju inflasi tahun kalender (y-t-d) mencapai 4.4 persen.6 persen. kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing menurun menjadi 13. Dalam tahun 2007. 102.9 persen.8 persen (y-o-y) pada bulan Juni 2007. Meningkatnya harga komoditi dunia pada empat bulan pertama tahun 2008 memberi tekanan bagi inflasi di dalam negeri.6 persen pada bulan Desember 2006. suku bunga kredit modal kerja. sedangkan harga beras meningkat tinggi. indeks harga komoditi pangan dunia meningkat sebesar 27. 79.4 persen dari 9.2 persen. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. dan 16.25 persen.1 persen. 13. dan 77.2 persen (y-o-y). dan 22. Pada bulan Desember 2007.1 triliun. kedelai. relatif sama dengan tahun 2006. bertambah Rp 208. 73.1 persen (IMF commodity price). harga komoditi dunia.0 . laju inflasi tahun 2007 dapat dijaga sebesar 6. Kenaikan ini terus berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2008.0 persen dan laju inflasi setahun (y-o-y) meningkat menjadi 9. rata-rata harian nilai tukar rupiah sebesar Rp. Dalam bulan April 2008.75 persen pada akhir tahun 2006 menjadi 8.0 persen. Dalam tekanan resiko eksternal yang meningkat sejak semester II/2007.000-Rp 9. kedelai. dan minyak kelapa sawit melunak. Penurunan suku bunga kredit berjalan lebih lambat.7 persen pada bulan Desembcr 2006.2 persen dan 7.1 persen. dan beras di pasar dunia meningkat berturut-turut sebesar 80.0 persen dan 9. suku bunga deposito 1 dan 3 bulan menurun menjadi 7.0 persen. Secara bertahap suku bunga acuan (B1 rate) diturunkan sebesar 175 bps dari 9. Sampai pertengahan tahun 2007 laju inflasi terkendali dan dapat ditekan menjadi 5.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp 9.0 persen. Dalam keseluruhan tahun 2008.

4 persen dan 15.5 persen dan 14. Perkembangan ini terus berlanjut hingga triwulan 1/2008.DR) pada bulan Februari 2008 mencapai 67. atau naik 15. loan-to-deposit ratio (I.3 triliun (3. Langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi menguatkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal. NERACA PEMBAYARAN.6 persen. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) menembus angka 2.O persen.5 triliun dan bulan Desember 2006.745. Stabilitas ekonomi yang terjaga.8 atau meningkat 52. gejolak bursa saham global masih berlanjut dan berdampak pada pasar modal di dalam negeri. dan ekspektasi yang baik.0 persen dibandingkan tahun 2006. triliun atau meningkat 29.1 persen dibandingkan akhir Desember 2007. Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 dan meningkatnya harga komoditi dunia ikut berperan dalam mendorong penerimaan ekspor nasional.5 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y).triliun atau meningkat 26. dan konsumsi dengan peningkatan berturut-turut 23.7 miliar. Meningkatnya penyaluran kredit perbankan diiringi oleh menurunnya non-peifonning loan. terhadap ekonomi dalam negeri telah mendorong kinerja bursa saham. atau berkurang Rp 7.029. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. Membaiknya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat meningkatkan kebutuhan impor. perkembangan pasar modal global yang dinamis.2. Pada akhir bulan April 2008. IHSG di BEI mencapai 2. Dalam bulan Maret 2008. Pada tahun 2007.2 miliar.4 miliar.000 pada bulan Mei 2007 dan terus meningkat hingga mencapai 2.1 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. modal kerja. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 16. NPL menurun menjadi Rp 38. total penerimaan ekspor mencapai USD 118. lebih rendah dan tahun 2006 (USD 2.348.4 persen. relatif sama dengan tahun 2006 (USD 10. Dalam tahun 2007. Dalam pada itu. atau naik 14. Gejolak bursa saham global berpengaruh terhadap Bursa Efek Indonesia.5 persen. impor meningkat menjadi USD 84. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2007 mencapai sekitar USD 10. didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 6.5 atau turun 16.7 persen). investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 1.0 triliun.0 miliar. posisi kredit perbankan mencapai Rp 1.9 miliar.2 miliar). Kenaikan kredit relatif berimbang antara kredit invetasi. Selanjutnya dalam bulan Maret 2008.3 persen. Arus masuk investasi portfolio yang meningkat hingga semester 1/2007 .304. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang meningkat menjadi USD 22. Secara keseluruhan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih baik didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang kuat. Indeks Harga Saham Gabungan di BEI pada akhir tahun 2007 mencapai 2.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.7 pada akhir bulan Juli 2007. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 8.6 miliar).7 miliar. Pada bulan Desember 2007.9 persen. 28. NPL menurun menjadi Rp 40. dan 24. Dengan perkembangan ini.4 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2006.

serta menurunnya defisit investasi lainnya. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2007 mengalami defisit sebesar USD 5.9 miliar atau 19. memenuhi pembayaran utang baik dalam maupun luar negeri.5 miliar dengan meningkatnya iklim investasi di dalam negeri.5 persen dibandingkan tahun 2006.0 bulan impor. neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.4 miliar. Dengan perkiraan tersebut.9 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 5.3 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 56.8 persen. cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 68.5 miliar atau cukup untuk memenuhi kebutuhan 6.0 persen 33.1 miliar. KEUANGAN NEGARA. serta dampak lanjutan subprime mortgage. lebih tinggi dari tahun 2007.0 miliar dengan investasi porto folio yang masuk sebesar USD 10. Belanja negara yang terdiri dari belanja pcmerintah pusat dan belanja ke daerah meningkat menjadi Rp 757. Dalam keseluruhan tahun 2008. Sedangkan investasi lainnya mengalami defisit USD 7. dan obligasi internasional.2 miliar. terjaganya investasi jangka pendek. didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat sebesar 12. Neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan terjaga dengan meningkatnya investasi jangka panjang. Adapun kebijakan belanja ke daerah diarahkan untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan membiayai kegiatan-kegiatan khusus yang . Pada tahun 2008. Investasi portfolio pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus USD 4.1 miliar. investasi porto folio neto mencapai USD 7. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2007 mengalami surplus USD 3. surplus neraca ttansaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 11. Kebijakan belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk belanja pegawai dan barang.6 miliar.2 triliun atau naik 13. kenaikan harga komoditi.8 bulan impor.5 persen dan ekspor migas meningkat sebesar 38.9 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 5.9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 didorong oleh impor nonmigas dan migas yang masing-masing meningkat sebesar 16. kondisi neraca pembayaran diperkirakan tetap terjaga dari perlambatan pertumbuhan dunia.8 miliar. melindungi hajat hidup masyarakat dalam bentuk subsidi yang lebih terarah.kemudian melambat oleh rambatan gejolak subprime mortgage sejak bulan Agustus 2007 yang berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) pada semester II/2007. Secara keseluruhan tahun 2007. Pengeluaran impor diperkirakan mencapai USD 101.9 persen. Dengan defisit jasa-jasa yang meningkat menjadi USD 25. Investasi langsung aging (neto) diperkirakan mencapai surplus USD 2. SBT.0 miliar.6 miliar dengan upaya mengurangi penerbitan SUN. kebijakan fiskal diarahkan untuk memberi dorongan pada perekonomian dengan tetap menjaga terkendalinya defisit anggaran. Dalam tahun 2007. naik 17. mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan infrastruktur dasar.0 persen. Total nilai ekspor pada tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 139.

(3) penghematan dan penajaman prioritas belanja K/L. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp 895. defisit anggaran pada tahun 2007 dapat dijaga sebesar Rp 48. mendorong untuk dilakukannya perubahan dalam APBN tahun 2008.0 persen PDB. Pemerintah diberi keleluasaan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan APBN lebih lanjut. penurunan lifting minyak bumi menjadi 927 ribu barel per hari atau lebih rendah 107 ribu barel per hari dibandingkan target APBN 2008 (1. maupun dividen BUMN. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai akibat dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat. Sesuai dengan APBN-P Tahun 2008. (v) penyewaan dana cadangan sebesar Rp 8. Perubahan tersebut diantaranya: (i) perubahan asumsi dasar untuk memberikan sinyal yang tepat kepada publik. Berbagai upaya untuk menjaga ketahanan dan kesinambungan fiskal dalam rangka pengamanan APBN Tahun 2008 dilakukan antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara yang bersumber dari sektor perpajakan. (ii) sejalan dengan perubahan asumsi dasar tersebut mendorong perubahan besaran APBN. kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk memberi stimulus kepada perekonomian dengan menjaga ketahanan fiskal. (4) perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik. Apabila dana cadangan tcrsebut tidak mencukupi. (7) penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program. (2) penggunaan dana cadangan APBN (contingency policy measure).034 ribu barel perhari).3 persen PDB.3 persen terutama didorong oleh rendahnya lifting minyak bumi dibandingkan target APBN-P. melemahnya mulai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. (6) pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang.8 triliun atau naik 20.merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Adapun penerimaan bukan pajak turun sebesar 5. Dengan perkembangan ini. naiknya harga minyak mentah di pasar dunia dan harga komoditas pangan dunia. menuntut dilakukannya perubahan APBN Tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam bulan April 2008. (iii) paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan dunia.0 triliun atau 20.3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga ke USD 100 per barel dan volume konsumsi BBM bersubsidi. PNBP. lebih tinggi Rp . (8) pengurangan beban pajak dan bea masuk atas komoditas pangan strategis. serta (9) penambahan subsidi pangan. penerimaan pajak meningkat menjadi Rp 491.2 persen terutama didorong oleh pajak dalam negeri yang meningkat 18.9 persen.8 triliun atau 1. Penerimaan negara diarahkan terutama untuk menggali sumber penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak. (5) peningkatan efisiensi di Pertamina dan PLN. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. Beratnya tekanan eksternal dan internal tersebut diatas. APBN Tahun 2008 mendapat tekanan yang sangat berat baik internal maupun eksternal. (iv) dilakukannya pemotongan terhadap anggaran belanja Kementerian/Lembaga sebesar rata-rata 10 persen. Pada tahun 2008. Pada tahun 2007.

8 triliun (20. Peningkatan anggaran belanja yang cukup signifikan tersebut terutama disebabkan oleh beban belanja subsidi yang mencapai Rp 234.5 triliun atau 22.1 persen PDB.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3.8 triliun dibandingkan dengan anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 854.1 persen PDB. Sejak semester II/2007.5 persen).5 triliun atau 139. Dari sisi permintaan. Keadaan ini akan meningkatkan beban subsidi energi yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan defisit anggaran. Dengan demikian. serta melindungi masyarakat miskin. PERTUMBUHAN EKONOMI. Dengan kecenderungan harga minyak mentah yang tinggi tersebut.113. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam serta peningkatan dividen BUMN. Perkembangan penerimaan dan belanja negara diatas.2 triliun. Dengan berbagai langkah tersebut. Setelah diundangkannya Undang-undang APBN Perubahan tahun 2008.8 persen PDB.8 triliun. harga minyak mentah di pasaran internasional terus mengalami kenaikan dan mencapai tingkat lebih dan USD 120 per barel pada paroh pertama bulan Mei 2008. mendorong peningkatan defisit anggaran dalam APBN-P Tahun 2008 sebesar 0. belanja negara diperkirakan mencapai Rp 989. konsultasi masyarakat tumbuh sebesar 5.9 triliun atau 2.9 persen. Selanjutnya stok utang pemerintah diperkirakan sebesar 32-34 persen PDB.1 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 42. Tingginya harga minyak mentah dunia tersebut dan adanya perbedaan harga BBM dalam negeri dengan luar negen yang semakin tinggi berpotensi memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. Sementara itu. meningkat Rp 136. Stabilitas ekonomi yang membaik dan gejolak tahun 2005 serta langkah-langkah yang ditempuh untuk mendorong kegiatan ekonomi mampu memulihkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi.4 triliun atau 5.9 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 30. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 35. Dan sisi produksi.4 persen PDB atau meningkat dan 1. belanja negara diperkirakan sebesar Rp 1. Sementara itu.6 triliun dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 781.4 triliun atau 17.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh dua digit dibandingkan semester II/2006.2 persen dan 8. lebih tinggi Rp 134. gambaran penerimaan negara dan hibah pada tahun 2008 diperkirakan menjadi Rp 937.7 triliun atau 19.0 persen.1 persen PDB. Pemerintah telah menyusun rencana pengamanan pelaksanaan APBN-P 2008 untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6.2 persen PDB.020.7 persen PDB menjadi 2. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong .2 persen PDB.4 persen dari alokasi belanja subsidi yang ditetapkan dalam APBN 2008 yang sebesar Rp 97.1 triliun (21.6 triliun.4 persen PDB. defisit APBN pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1. Sementara itu.

oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. gas.0 persen dan 9.7 persen.0 persen. dan restoran.9 juta orang (10.6 persen. Dalam bulan Februari 2008. Adapun sektor industri pengolahan terutama nonmigas tumbuh 4. . hotel. 6.7 persen dan 4. listrik. 13.3 persen (y-o-y). 10.0 persen (y-o-y). pertumbuhan ekonomi triwulan 1/2008 terutama didorong oleh pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 13. momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 6.0 persen. Momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga pada tahun 2007 telah menciptakan lapangan kerja yang cukup besar dan sekaligus menurunkan pengangguran terbuka. sektor pertanian yang meningkat 3.5 persen). dan jasa perusahaan.3 persen) menjadi 10. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3.3 persen (y-o-y). dan air bersih. pengangkutan dan telekomunikasi.0 persen.5 persen. gas dan air bersih.4 persen dan 10.4 persen.9 persen. Kegiatan ekonomi yang didukung oleh langkah-langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat diperkirakan meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar 4.9 persen. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik. perdagangan. serta 5.0 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. dan 8. Sementara itu impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 13.0 persen. Dari sisi pengeluaran.3 persen dan 15.1 persen). investasi serta ekspor barang dan jasa tetap didorong sebagai penggerak perekonomian dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11.7 persen. masih berlanjutnya pengaruh lanjutan dari subprime mortgage. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor pertanian dan sektor tersier yang tumbuh 6.4 persen. serta konsttuksi yang masing-masing tumbuh sebesar 14.2 juta jiwa (Maret 2007) ditingkatkan pada tahun 2008. Dalam bulan Agustus 2006 hingga Agustus 2007 telah tercipta lapangan kerja bagi 4. pertumbuhan ekonomi akan digerakan oleh industri pengolahan nonmigas yang diperkirakan tumbuh 5. Dari sisi produksi.5 persen. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. 7. Dalam triwulan 1/2008. dan perlambatan ekonomi AS menuntut perubahan sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 6.5 persen. Tekanan ekternal yang berat berupa harga komoditi termasuk minyak mentah yang meningkat tinggi. Dan sisi permintaan. konstruksi.5 persen (y-o-y).6 persen serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh negatif 2. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin yang masih berjumlah 37.2 persen.4 juta orang (8.5 persen dan 2. serta sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2. Dan sisi produksi.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10.4 persen.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi. keuangan.8 persen menjadi 6.4 persen yang kemudian disesuaikan lagi rnenjadi 6.0 juta orang (9. 7. real estat.5 persen seiring dengan perbaikan ik1im investasi dan meningkatnya ekspor.

World Economic Outlook. harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan menurun menjadi sekitar USD 103 per barel (Energy Information Administration.8 persen dengan ekonomi Asia yang tumbuh 8.4 persen). Mei 2008). Pertama. Dengan perekonomian Asia yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. stabilitas keamanan dan politik yang dijaga akan memberi ekspektasi yang positif bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi yang lebih baik. dan negara Asia lainnya didorong oleh perekonomiannya yang tumbuh pesat. April 2008). India. Volume perdagangan dunia pada tahun 2009 diperkirakan meningkat 5. Pertama. Mei 2008 memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2009 sebesar 1. harga komoditi dunia termasuk minyak mentah diperkirakan akan melunak. ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3. Resiko harga minyak yang lebih ringgi tetap ada apabila terjadi gangguan dalam produksi minyak mentah dunia dan memburuknya kondisi geo-politik di Timur Tengah dengan permintaan yang tetap tinggi dari China. Langkah-langkah yang ditempuh oleh negara-negara maju diperkirakan mampu memulihkan kembali sektor keuangan global yang pada gilirannya akan meningkatkan stabilitas moneter internasional yang lebih baik dan menggerakkan kembali bursa saham global. Peningkatan produksi baik OPEC maupun non-OPEC. perekonomian dunia pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi yang pada gilirannya akan meningkatkan perdagangan dunia. relatif sama dengan tahun 2008 (0. TANTANGAN POKOK Dengan kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan masalah yang .6 persen.4 persen (World Economic Outlook. sedangkan Poll of Forecasters. perekonomian AS diperkirakan mulai meningkat secara bertahap. April 2008 memperkirakan ekonomi AS pada tahun 2009 tumbuh 0.8 persen. LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL TAHUN 2009 Kondisi ekonomi tahun 2009 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang diperkirakan lebih baik dari tahun 2008.B. langkah-langkah perbaikan investasi dan percepatan sektor riil yang terus dilanjutkan akan memberi dorongan lebih kuat bagi meningkatnya investasi. serta stabilitas keuangan global yang membaik akan mengurangi tekanan terhadap harga komoditi dunia pada tahun 2009. Ketiga. Dalam tahun 2009.7 persen.1 persen). ekspor nonmigas. IMF. Kedua. respon produksi komoditi dunia lainnya terhadap peningkatan harga yang tinggi. Departemen Energi AS. C.5 persen). Pada tahun 2009. Adapun lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia tahun 2009 adalah sebagai berikut. Kedua. gejolak keuangan global diperkirakan mereda. dan kegiatan sektor riil. lebih tinggi dari peningkatan tahun 2008 (5. The Economist. sedikit lebih tinggi dari perkiraan tahun 2008 (1. EIA.

. Lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.5 persen) namun masih lebih rendah dari tahun 2004 dan 2005 yang tumbuh sebesar 14.5 persen). jumlahnya masih relatif besar. Dalam tahun 2007.MENJAGA STABILITAS EKONOMI. Pengangguran terbuka pada bulan Februari 2008 sebanyak 9.7 persen dan 10. infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi.9 persen. tantangan pokok yang dihadapi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. serta tingginya likuiditas ekonomi dunia dapat menimbulkan potensi yang mengakibatkan gejolak ekternal yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. Dorongan akan diberikan pada peningkatan investasi.MENDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI. jumlah pengangguran terbuka serta penduduk yang hidup di bawah yang kemiskinan mengalami penurunan. sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 37. Pada tahun 2007. Pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi.2 persen. industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 5. Beberapa kendala di dalam negeri yang menghambat peningkatan investasi dan ekspor serta lemahnya sektor industri pengolahan akan ditangani secara sungguh-sungguh.4 juta orang (8.MEMPERCEPAT PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN.6 persen).diperkirakan masih dihadapi pada tahun 2008. lebih tinggi dari tahun 2006 (2. Selanjutnya tingginya inflasi di dalam negeri pada tahun 2008 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar menurun pada tingkat yang memadai. peningkatan nilai ekspor nonmigas lebih banyak didorong oleh kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume ekspor.2 persen. lebih rendah dari tahun 2004 yang meningkat 7.2 juta orang miskin (16. Percepatan pertumbuhan ekonomi akan didorong untuk menurunkan tingkat pengangguran yang mulai menurun dan mengurangi jumlah penduduk miskin yang masih besar dengan mendorong kualitas pertumbuhannya.5 persen. gangguan produksi pada komoditi energi dan pangan. 3. Meskipun pada tahun 2007 dan awal tahun 2008. industri pengolahan nonmigas. 2. revitalisasi pertanian dan menggerakkan UKM. Dalam tahun 2007 investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 9. serta daya saing ekspor. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. ekspor. kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN. dan pengeluaran pemerintah serta mendorong peningkatan sektor industri pengolahan. D. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009.

dan ketahanan fiskal. mendorong pelaksanaan negosiasi bipatrit. dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan ditingkatkan dengan menyempurnakan peraturan ketenagakerjaan. pembahasan agraria nasional. serta peningkatan koordinasi dengan otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan. serta penyusulan standar kompetensi. Perhatian juga diberikan pada upaya untuk meningkatkan investasi dalam kegiatan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. E. memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Disamping itu. dan penerimaan devisa dari pariwisata dan TKI. Stabilitas ekonomi dijaga melalui pengamanan pasokan bahan makanan. fasilitasi industri hilir komoditi primer. perlindungan.Peningkatan investasi dan ekspor didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri. serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. serta penggunaan produksi dalam negeri: Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan produktivitas dan akses UKM pada sumberdaya produktivitas. serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga diberikan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan penyediaan energi termasuk listrik. antara lain dengan pengembangan kawasan industri khusus. kebutuhan pokok utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau. Pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. SASARAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2009 . meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat. restrukturisasi permesinan. Pasokan bahan makanan diupayakan dengan meningkatkan produksi bahan pokok dengan penyempurnaan sistem distribusi sehingga kebutuhan pokok rakyat dapat tersedia. produktivitas pertanian secara luas. sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. mengurangi hambatan prosedur perijinan. Perhatian juga diberikan pada penempatan. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan. Daya saing industrl manufaktur ditingkatkan. serta meningkatkan diversifikasi pasar ekspor. perlindungan dana masyarakat. administrasi perpajakan dan kepabeanan. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin. diversifikasi ekonomi pedesaan. mendorong komoditi nonmigas yang bernilai tambah tinggi. Pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan didorong melalui peningkatan produksi pangan.

8 persen.Dengan arah kebijakan ekonomi makro di atas serta dengan memperhatikan lingkungan eksternal dan internal. daya beli masyarakat membaik dengan konsumsi masyarakat diperkirakan tumbuh 5.5 persen. Dalam tahun 2009. serta 5.4 persen.3 persen" sedangkan pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5. STABILITAS EKONOMI Stabilitas ekonomi dalam tahun 2009 tetap dijaga.6. Untuk membiayai pertumbuhan ekonomi sebesar 6. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa didorong agar tumbuh masing-masing sebesar 12. keuangan. gas. impor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 13. Dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.0 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 .0 persen.1 persen dan 11. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 3.6 triliun dengan peran serta masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1. dibutuhkan investasi sebesar Rp 1.0 . real estat.5 persen.6. 1. Adapun industri pengolahan didorong tumbuh 1.9 triliun dan Rp 177. Dengan meningkatnya investasi. perdagangan. ditingkatkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi. moneter.4 persen. dan keuangan negara. dan jasa perusahaan.0 persen antara lain oleh perbaikan iklim investasi dan meningkatnya ekspor nonmigas.0 persen. konstruksi. menjaga ekspor nonmigas serta memberi stimulus fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara untuk menggerakkan semua sektor produksi. Pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 7. . Kebutuhan investasi 2009 dapat dilihat pada Tabel III. dan air bersih.2. 7. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. Dalam keseluruhan tahun 2009.9 persen.1 persen. pengangkutan dan telekomunikasi.7 persen dengan peningkatan yang lebih baik terutama.14 persen pada tahun 2009. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut. dan restoran.0 . moneter. 8.4 persen. terutama industri dan pertanian. dengan terjaganya stabilitas ekonomi. 2. Pertumbuhan PDB baik pada sisi pengeluaran maupun produksi dapat dilihat pada Tabel III.4 persen pada tahun 2009.4 persen. PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEBUTUHAN INVESTASI Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi. 7.3 persen dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 6.7 triliun.1.4 persen dan laju inflasi sebesar 5. untuk produksi tanaman bahan makanan. Koordinasi antara kebijakan fiskal.410.0 .8.6.232.6 persen. 14. tercermin dari kondisi neraca pembayaran. sasaran ekonomi makro tahun 2009 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6. pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin akan menurun. hotel. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik. perekonomian diperkirakan tumbuh sebesar 6.8 . dan sektor riil.

Secara keseluruhan.2 miliar.5 persen.9 miliar didorong oleh meningkatnya investasi langsung asing (neto) sebesar USD 2.8 persen PDB. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi pasar uang dunia.4 persen antara lain karena harga minyak dunia yang menurun dan program pengalihan ekspor gas untuk kebutuhan domestik. portfolio sebesar USD 6. MONETER Stabilitas neraca pembayaran yang terjaga.3 persen. suku bunga di dalam negeri diperkirakan menurun dan pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. neraca modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0. serta efektivitas kebijakan moneter yang semakin baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Dengan defisit sektor jasa-jasa yang masih tetap tinggi.9 miliar.7 . surplus neraca pembayaran pada tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 11.a. Dengan nilai tukar rupiah yang stabil serta pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga. stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga.1 persen PDB dan penerimaan bukan pajak sebesar 5.5.6 miliar. belanja negara diperkirakan sebesar 21.14. Sementara itu impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 17. ketersediaan cadangan devisa yang meningkat.5 bulan impor. Dalam tahun 2009. Gambaran neraca pembayaran tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III.5 .8 persen PDB. sedangkan investasi lainnya (neto) defisit sebesar USD 7. laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan sebesar 6. c. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 diperkirakan menurun menjadi USD 10. Dengan menurunnya laju inflasi dan stabilnya nilai tukar rupiah.9 miliar dan cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi USD 80. KEUANGAN NEGARA Kebijakan fiskal tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini. terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 13.0 persen.19.1 persen.5 persen sedangkan impor migas menurun sebesar 1. Dalam tahun 2009.0 . keselarasan program-program pembangunan di daerah dengan program prioritas nasional .4 miliar atau cukup untuk memenuhi 6.4 miliar.8 persen PDB. Dengan besarnya dorongan fiskal ke daerah. sedangkan ekspor migas diperkirakan turun 3. terutama didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar 13. b. NERACA PEMBAYARAN Penerimaan ekspor tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar 9. Sementara itu.3.7 . penerimaan negara dan hibah diperkirakan mencapai 19.21.

kesehatan dan pendidikan. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 . 3. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. serta berbagai kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran. pada APBN-P tahun 2008 rasio subsidi terhadap belanja negara diperkirakan sebesar 23. anak-anak terlantar. ketahanan fiskal tetap terjaga.Subsidi Bunga Kredit Program. Subsidi tersebut terbagi atas berbagai jenis. serta subsidi untuk menjaga agar produsen mampu berproduksi. jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka menurun.Subsidi Listrik. barang dan jasa seperti jaminan tersedianya kebutuhan pangan. ditutup oleh pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri. b. pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dengan proporsi yang cukup besar dalam keseluruhan belanja negara. sedangkan tingkat pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 6. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. dengan harga terjangkau.Subsidi Pangan. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan bantuan yang dibutuhkan antara lain transfer tunai. pemerintah wajib menjamin kehidupan fakir-miskin.2 persen dari PDB. Dengan perkiraan penerimaan dan pengeluaran tersebut.5 persen dari angkatan kerja. Dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. dalam bentuk penyediaan BBM dengan harga lebih murah. e. seperti . dalam bentuk penyediaan bunga di bawah bunga pasar untuk menunjang pencapaian program tertentu. khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat.14 persen.5 .2.Subsidi BBM. KEBIJAKAN SUBSIDI Sesuai amanat pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945.0 persen PDB. atau 4. mengembangkan sistem jaringan sosial.8 persen. Sementara itu. dalam bentuk penyediaan listrik murah. Defisit APBN tahun 2009 diupayakan sekitar 1.5 . stabilitas ekonomi yang terjaga. Pada tahun 2007 realisasi rasio subsidi terhadap belanja negara mencapai 19. dalam bentuk penyediaan pupuk murah untuk petani.7 persen atau 5. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat dalam mencukupi kebutuhan dasarnya.0 .0 persen dari PDB. dalam bentuk penyediaan dana untuk penerapan harga pembelian gabah dan beras oleh pemerintah (HPP) dan penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin).0 persen PDB pada tahun 2009. yaitu: a. d.perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional.Subsidi Pupuk. serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Ketahanan fiskal yang terjaga juga tercermin dari stok utang pemerintah yang menurun menjadi 32.7. 4. c.34.

dalam bentuk penyediaan benih unggul untuk padi. memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Secara umum. jagung komposit dan ikan budidaya dengan harga di bawah harga pasar. kedelai.Adanya mekanisme (delivery) yang jelas hingga komoditi tersebut dapat dipastikan sampai pada masyarakat yang layak menerima. seperti subsidi untuk Kereta Api Kelas Ekonomi. yang menjadi konsumen akhir dari komoditi yang disubsidi.Adanya pembenahan struktural yang menyertai pelaksanaan subsidi . namun pemberian subsidi tersebut akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran.Komoditi yang disubsidi agar dapat ikut menciptakan kestabilan harga. Kredit Koperasi. Kredit Koperasi Primer untuk Angota (KKPA). subsidi Pas. 2. Kelompok sasaran tersebut diutamakan masyarakat golongan berpendapatan rendah. Arah Kebijakan Subsidi Tahun 2009.Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam rangka mendorong kemampuan produsen nasional dalam memproduksi komoditi tertentu. pemberian subsidi dalam tahun 2009 diberikan untuk menghasilkan produk dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas.Kredit Ketahanan Pangan (KKP). serta dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah. 5. Sementara itu. dalam rangka meningkatkan efektifitas pengeluaran negara. f. Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana (KKRS). 7. dalam bentuk penyediaan pelayanan oleh BUMN tertentu kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar.Pengusulan subsidi harus disertai dengan alasan dan dasar perhitungan yang jelas mengenai besarnya subsidi yang diajukan.Subsidi Benih. dalam rangka memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak. subsidi untuk PELNI dan sejenisnya. pengusulan dan pemberian subsidi harus diatur lebih sistematis. 8. serta g. 4. pengusulnan subsidi baru dimungkinkan dengan memperhatikan bahwa pemberian subsidi merupakan pilihan kebijakan terbaik yang perlu dilakukan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus mendorong peningkatan perekonomian. Mengingat bahwa belanja negara dalam bentuk pemberian subsidi cukup besar. Kredit Kepemilikan Rumah Sangat Sederhana (KKRSS) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan.Pengajuan subsidi dalam harus kemampuan pembiayaan negara. Kriteria Subsidi.Adanya kelompok sasaran penerima subsidi yang jelas. 6.Memiliki jangka waktu yang jelas. subsidi yang sudah berjalan masih diperlukan atau belum berakhir jangka waktu pemberiannya akan terus dilanjutkan. Dalam hal ini pemberian subsidi tidak dapat diberikan selamanya dan oleh sebab itu pengajuannya harus disertai dengan target waktu subsidi tersebut berakhir. Kriteria pengusulan subsidi dalam tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. jagung hibrida. dan/atau masyarakat di wilayah terpencil atau terisolir agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. 3.Subsidi BUMN PSO.

*Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah. dan *Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. nyata dan bertanggung jawab. Dengan demikian. atau yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab kementerian/lembaga yang bersangkutan. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. kegiatan atau pengajuan subsidi secara lebih terperinci diuraikan pada kegiatan prioritas. kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas. dan/atau dalam kegiatan kementerian/Lembaga. DANA PERIMBANGAN Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. *Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dengan tujuan: *Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. Pengajuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengajuan kegiatan kementerian/lembaga yang bersangkutan. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah pusat dengan daerah dan antar daerah.tersebut agar penyalahgunaan subsidi semaksimal mungkin dapat dihindarkan. 5. Subsidi diajukan oleh Kementerian/Lembaga yang terkait dengan komoditi dalam bentuk barang dan jasa. dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang . *Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah *Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. (iv) pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. *Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. Sehubungan dengan itu. Mekanisme Pengajuan/Pemberian Subsidi. PENDANAAN MELALUI TRANSFER KE DAERAH Pendanaan pembangunan melalui transfer ke daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendanaan pembangunan secara nasional dengan arah kebijakan Transfer ke daerah tahun 2009.

hal-hal sebagai berikut menjadi perhatian dalam pengalokasian DAU Tahun 2009 : a.Penyedia dan jenis data yang digunakan dalam perhitungan DAU diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. . dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sebagai acuan utama dalam penetapan kebijakan DAU Tahun 2009 adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi dalam mendukung kebijakan desentralisasi fiskal guna memperbaiki kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (Vertical Fiscal Imbalance) serta antar daerah (Horizontal Fiscal Imbalance).Pengalokasian DAU kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAU dihitung atas dasar Celah Fiskal (CF) dan Alokasi Dasar (AD). dalam rangka mempercepat penyelesaian dokumen transfer yang diperlukan untuk penyaluran DBH ke daerah dan meningkatkan akuntabilitas/tanggung gugat dan efektivitas penggunaannya. b. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Bagi Hasil. CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (Kbf) dengan Kapasitas fiskal (Kpf) sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD. Dana Bagi Hasil Pajak. dan Dana Bagi Hasil SDA. Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Umum. c. antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan di atas. dan dana alokasi khusus (DAK).5 persen sebagai tambahan anggaran pendidikan dasar. dana alokasi umum (DAU). Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Langkah-langkah untuk penyempurnaan proses penghitungan. Disamping itu juga melaksanakan sosialissi penggunaan DBH migas 0. (iii) Indeks Kemahalan Konstruksi. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.Variabel Kebutuhan Fiskal Daerah yaitu: (i) jumlah penduduk. (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. (ii) luas wilayah. antara lain dari daerah dan Departemen Keuangan untuk Belanja PNSD. Variabel Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD. penetapan alokasi dan ketepatan waktu penyaluran DBH akan tetap dilanjutkan.

BPS untuk data Jumlah Penduduk. Selain itu. dalam pengalokasian diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. d. sedangkan untuk data DBH Pajak dan DBH SDA dari Departemen Keuangan. daerah perbatasan dengan negara lain. serta peningkatan akurasi data yang ditujukan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara alokasi DAK yang merupakan prioritas nasional dengan kebutuhan daerah. menggunakan formula DAU atas dasar Celah Fiskal. IPM dan PDRB per kapita. daerah tertinggal/terpencil. Depdagri dan Bakosurtanal untuk data luas wilayah darat dan laut. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. Pada tahun 2009. daerah pasca bencana. daerah perbatasan dengan negara lain.Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan.Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10% untuk semua Provinsi dan sebesar 90% untuk semua Kabupaten/Kota dari besaran DAU nasional. DAK dimaksudkan untuk membantu daerah tertentu dalam mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertingga1 yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan. melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan. Dalam proses perhitungan alokasi DAK kepada masing-masing daerah akan disempurnakan antara lain melalui peningkatan transparansi dan penyempurnaan metode penghitungan. arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. irigasi. Secara umum. IKK.dan PAD. Penetapan kebijakan DAK Tahun 2009 mengacu pada UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. dan daerah rawan bencana.Dalam hal realisasi harga minyak bumi melebihi 130% dari asumsi dasar minyak bumi dalam APBN tahun berjalan. e. kelebihan DBH-nya dibagikan kepada daerah sebagai DAU Tambahan. serta sarana dan . daerah pulau-pulau kecil terluar. daerah tertinggal/terpencil. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Khusus.Menunjang penguatan sistem distribusi nasional. 2. dan daerah pariwisata. terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan.

perdagangan. daerah perbatasan. 8. serta pembangunan perdesaan. mencegah kerusakan lingkungan hidup.Pendidikan. serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal. kesehatan. meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil. yang diperuntukkan bagi SD/SDLB.Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementenan/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK. yang diprioritaskan pada daerah tertinggal. kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar.prasarana perdesaan. 9.Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar. Penggunaan DAK Tahun 2009 diarahkan pada kegiatan-kegiatan di 11 bidang atau program DAK tahun 2008. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6.Kesehatan. infrastruktur. Dengan demikian. melalui kegiatan khusus di bidang pertanian. perikanan dan kelautan. MI/Salafiyah Ula. 7. serta 2 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. serta pembangunan perdesaan. baik negeri maupun swasta. bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a.Menyediakan serta meningkatkan cakupan. termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya. daerah terpencil. b. angkutan barang dan kebutuhan pokok.Mendorong peningkatan produktivitas. sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan. dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu. perbatasan dan . keluarga berencana. 4. daerah rawan bencana.Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD. yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009. tertinggal.Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). 3. infrastruktur.Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan. dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup. dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. 5. dan kehutanan. melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. kualitas pe1ayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan. perluasan kesempatan kerja.

persampahan. dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. e. dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB. peningkatan mutu.kepulauan. dan Edukasi (KJE)/advokasi Program KB. serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian. pemasaran. f. h. serta digunakan untuk pembangunan/ perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota. d.Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan. peningkatan.Kelautan dan perikanan. dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan. Informasi. dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB. khususnya untuk pengadaan.Pertanian. serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. i.Infrastruktur irigasi. dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. pengolahan. melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. yang diarahkan untuk meningkatkan kinelja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran. dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes. g. serta penyediaan sarana/ prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. barang dan jasa. dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi. sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi. industri.Prasarana pemerinta. dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional.han daerah. kabupaten. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. dan . dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional.Infrastruktur jalan dan jembatan.Keluarga Berencana (KB). c.

Lingkungan hidup. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemampuan keuangan daerah tersebut dihitung berdasarkan indeks fiskal netto (IFN) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Taman Hutan Raya (TAHURA). l. dengan arab kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS).pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD. dengan arah kebijakan untUk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air. k.Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. hutan kota.Pembangunan perdesaan daerah tertinggal. 11.Perdagangan. serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang. dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan. daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. daerah tertinggal/terpencil.Peraturan perundangan: *Daerah-daerah yang menurut ketentuan peraturan perundangan diberi status otonomi khusus.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut: *Kriteria Umum. yaitu: a. *Kriteria Khusus. serta daerah pasca bencana. m. 10. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus. dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK. meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai. j. pemantapan fungsi hutan lindung. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja pegawai negeri sipil daerah. pengendalian pencemaran air. bahan pokok. daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. diprioritaskan mendapat alokasi DAK *Seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapat alokasi DAK . dan karakteristik daerah. dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran.Kehutanan. serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan.

yang jumlahnya setara. dan untuk tahun keenam belas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. kinerja pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. dan kesehatan. Kota. sosial. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.b. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. Kriteria teknis dirumuskan berdasarkan indeks teknis yang ditetapkan oleh menteri/ kepala lembaga teknis terkait. pemberdayaan ekonomi rakyat. Dana Otonomi Khusus NAD diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. daerah perbatasan dengan negara lain. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Otonomi Khusus. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana. dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional. dialokasikan Dana Otonomi Khusus. daerah rawan bencana. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan. dan insentif bagi daerah yang mengalokasikan dana daerah diluar DAK untuk membiayai kegiatan serupa sesuai bidang DAK. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional.Karakteristik daerah : daerah pesisir dan Kepulauan.Kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. pengentasan kemiskinan. c. serta pendanaan pendidikan. Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan dalam rangka otonomi khusus yang diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. serta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Sebagai wujud pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas . dan Provinsi di Provinsi Papua dan Papua Barat. daerah tertinggal/terpencil. serta daerah yang termasuk Kategori daerah ketahanan pangan. dan daerah pariwisata. *Kriteria Teknis. Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat tersebut diperuntukkan bagi Kabupaten. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku.

7 5.7 3.7 17.0 3.8 8.0 2.6 4.9 7. 5.3 8. GAMBARAN EKONOMI MAKRO ----------------------------------------------------------------Realisasi Sasaran -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------PERTUMBUHAN EKONOMI (%) 5.5 7.0 6.4 2) Investasi 14. Real 7.2 5.0 13.0 7. Kehutanan.4 8.6 2) dan Restoran Pengangkutan dan 13.9 2. Hotel. Peternakan.4 3.9 2) Air Bersih Konstruksi 7.0 10.2 8.4 7.9 5.7 5.9 4.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Tabel III.5 6.7 8.0 4.5 5.6 9.5 6.0 2) Perdagangan.4 12.1 2) Ekspor Barang dan 13.4 12.5 6.5 3.2 1.7 5.8 2.4 4.5 3.5 9.3 5.5 11.7 2.5 8.3 6.4 1) 2004 PERTUMBUHAN PDB PENGELUARAN (%) Konsumsi Masyarakat 5.6 8.4 7.6 7.0 2) Jasa Impor Barang dan26.l.0 7.4 13.3 6.1 2) Telekomunikasi Keuangan.0 6.0 5.6 9.9 13.3 6.0 4.2 11. Gas dan 5.5 16.8 10.5 3.3 2) Konsumsi Pemerintah 4.7 5.5 2) .2 5.8 14.6 4.7 10.0 -6.7 2) Perkebunan.9 2) Penggalian Industri Pengolahan 6.4 2) Jasa PERTUMBUHANPDB PRODUKSI (%) Pertanian.4 8.0 5.7 14.5 8.6 3.3 5.7 6.3 2) Industri Bukan Migas 7. dan Perikanan Pertambangan dan -4.0 2) Listrik. 2.5 5.9 2.4 14.

Estat, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

5,4

5,2

6,2

6,6

5,7

5,8 2)

LAJU INFLASI (%) 6,4 17,1 6,6 6,6 11,2 5,8-6,5 1) KEUANGAN NEGARA Defisit APBN/PDB (%) 1,3 0,5 0,9 1,3 3) 1,8 1,5 - 2,0 Penerimaan Pajak/ 12,2 12,5 12,3 12,4 3) 13,2 13,7 - 14,1 PDB (%) Stok Utang 56,6 47,2 39,0 33,7 3) 33,5 32,0 - 34,0 Pemerintah/PDB (%) ----------------------------------------------------------------1)Berdasarkan Hasil Pembahasan RKP Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009, 16019 Juni 2008 2)Angka Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran dan Produksi merupakan rincian dari sasaran Pertumbuhan sebesar 6,4% 3)Berdasarkan perkiraan Realisasi Terakhir (Versi ke-4) Tabel III.2 KEBUTUHAN INVESTASI (Rp triliun) ----------------------------------------------------------------Realisasi Proyeksi -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 *) -----------------------------------------------------------------

2004

Kebutuhan 515,4 657,6 805,5 983,8 1.191,5 1.410,6 Investasi (Rp triliun) Pemerintah 76,4 90,2 108,2 125,4 146,0 177,7 (% PDB) 3,3 3,3 3,2 3,2 3,1 3,3 Masyarakat 438,9 567,4 697,2 858,5 1.045,5 1.232,9 (% PDB) 19,1 20,5 20,9 21,7 22,4 23,4 ----------------------------------------------------------------*)Dihitung berdasarkan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4% Tabel III.3. PERKIRAAN NERACA PEMBAYARAN (USD miliar) ----------------------------------------------------------------Realisasi --------------------------------------------------

Proyeksi

2004 2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------Neraca Transaksi 1,6 0,3 10,6 10,4 11,4 10,9 Berjalan Ekspor 70,8 87,0 103,5 118,0 139,1 152,1 Migas 16,3 20,2 22,9 24,9 34,3 33,1 Nonmigas 54,5 66,8 80,6 93,1 104,8 118,9 Impor -50,6 -69,5 -73,9 -84,9 -101,9 -115,0 Migas -11,2 -16,0 -16,2 -18,8 -25,2 -24,9 Nonmigas -39,5 -53,4 -57,7 -66,1 -76,7 -90,1 Jasa-jasa -18,6 -17,3 -19,0 -22,7 -25,8 -26,2 Pembayaran Bunga -2,8 -2,7 -2,6 -2,2 -2,1 -2,4 Pinjaman Neraca Modal dan 1,9 0,3 1,9 3,3 0,2 0,9 Finansial Neraca Modal 0,0 0,3 0,4 0,5 0,2 0,0 Neraca Finansial 1,9 0,0 1,5 2,7 0,0 0,9 Investasi -1,5 5,3 2,2 1,7 2,5 2,4 Langsung Arus Masuk 1,9 8,3 4,9 6,2 6,3 6,5 Arus Keluar -3,4 -3,1 -2,7 -4,5 -3,8 -4,1 Portfolio 4,4 4,2 4,1 7,0 4,6 6,2 Aset Swasta 0,4 -1,1 -1,9 -3,0 -3,2 -2,3 Liabilities 4,1 5,3 6,1 10,0 7,8 8,5 Pemerintah 2,3 4,8 4,5 5,3 4,8 5,1 dan BI Swasta 1,8 0,4 1,6 4,7 3,0 3,4 Lainnya -1,0 -9,4 -4,8 -5,9 -7,1 -7,6 Aset Swasta 1,0 -8,6 -2,6 -5,6 -6,9 -6,8 Liabilities -2,0 -0,8 -2,2 -0,3 -0,2 -0,8 Pemerintah -2,7 -0,8 -2,5 -2,4 -1,0 -1,3 dan BI Swasta 0,7 0,0 0,3 2,1 0,8 0,5 Total 3,4 0,6 12,5 13,7 11,6 11,9 Selisih Perhitungan -3,1 -0,2 2,0 -1,1 0,0 0,0 Neraca Keseluruhan 0,3 0,4 14,5 12,5 11,6 11,9 Cadangan Devisa 36,3 34,7 42,6 56,9 68,5 80,4 Dalam bulan impor 6,1 4,3 4,5 5,8 6,0 6,5 Memorandum Item Exceptional Financing IMF Neto -1,0 -1,1 -7,6 0,0 0,0 0,0 Penjadwalan Hutang 0,0 2,7 0,0 0,0 0,0 0,0 Pertumbuhan Ekspor 11,5 22,5 20,7 15,6 12,5 13,5 Nonmigas (%)

Pertumbuhan Impor Nonmigas (%)

24,4

36,0

8,0 14,5

16,0

17,5

---------------------------------------------------------------LAMPIRAN BAB 3 PEMUTAKHIRAN GAMBARAN EKONOMI MAKRO 2009 Sejalan dengan perubahan ekonomi nasional dan gejolak ekonomi global, maka gambaran ekonomi makro yang diuraikan dalam Perpres No 28 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR-RI, disepakati hal-hal sebagai berikut. Sasaran laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,0 persen hingga 6,4 persen. Tingkat inflasi diperkirakan sekitar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga diperkirakan berkisar antara 7,5 persen hingga 8,5 persen. Harga minyak mentah (ICP) diperkirakan berkisar antara US$ 95 hingga US$ 120 per barel. Rasio defisit anggaran APBN adalah sekitar 1,5-2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 yang merupakan lampiran dari UU APBN Tahun 2009 ini, sasaran ekonomi makro yang dicantumkan adalah sasaran ekonomi makro yang merupakan kesepakatan Pembicaraan Pendahuluan tersebut di atas. Pembicaraan pendahuluan dilanjutkan dengan penyusunan RAPBN 2009. Pada saat penyusunan RAPBN 2009, perekonomian diwarnai berbagai gejolak eksternal yang penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi. Ketidakpastian ini berawal dari krisis subprime mortgage, dan pada saat yang bersamaan harga-harga komoditi dunia mulai dari minyak bumi, minyak sawit, gandum, dan kedelai mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dengan gejolak eksternal yang diperkirakan berimbas kepada ekonomi domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2009 diperkirakan sebesar 6,2 persen, inflasi diperkirakan sebesar 6,5 persen, dan suku bunga diperkirakan akan mencapai 8,5 persen. Dengan perkiraan akan terjadi pelemahan US$ dan pengelolaan cadangan devisa yang baik, maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat dan mencapai Rp 9.100,0/US$. Selanjutnya, sehubungan dengan ketidakpastian politik internasional, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menyebabkan relatif tingginya harga minyak mentah internasional sehingga asumsi rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) diperkirakan akan meningkat menjadi $130. Dengan besaran ekonomi makro sedemikian dan dalam rangka terus memberikan stimulus fiskal bagi pembangunan, maka defisit APBN dinaikkan menjadi 1,9

Defisit APBN turun menjadi 1.3 persen. sejalan dengan krisis keuangan Amerika yang semakin menjalar keseluruh dunia. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal.400. Dengan demikian. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. defisit APBN menjadi 1 persen. serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi.2 persen. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7. Dari sisi produksi. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 8. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 sebesar 6.persen terhadap PDB. disepakati hal-hal sebagai berikut. Besaran ekonomi makro ini selanjutnya dibicarakan dalam pembahsan RUU tentang APBN Tahun 2009 beserta Nota Keuangan. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Dalam perkembangannya. pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertaman. termasuk indonesia.0 persen. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kecenderungan penurunan harga minyak dan komoditi. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.0 per barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun.5 persen. Pada akhirnya. sampai saat-saat terakhir pembahasan suasana ketidakpastian dalam perekonomian terus berlanjut.0/US$. masih ada potensi risiko akibat kenaikan inflasi yang disebabkan oleh imported inflation dari nilai tukar. maka Pemerintah dan DPR kembali merevisi angka ekonomi makro pada tanggal 13-15 Oktober 2008 dengan kesepakatan sebagai berikut.150. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut telah mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia serta mempertahankan prioritas program pembangunan yang telah direncanakan di RKP tahun 2009.7 persen terhadap PDB. Harga minyak mentah dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 95. serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat.0 per barel dengan melihat perkembangan harga minyak terkini serta prospek harga future.2 persen. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang. Namun demikian.0/US$ setelah mempertimbangkan koreksi nilai tukar yang tejadi akibat kelangkaan likuiditas ekonomi dunia. Harga minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 80. Dalam kesepakatan Pembicaraan Tingkat I. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan upaya mendorong sektor riil. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.0 persen. Perubahan Kerangka Ekonomi Makro 2009 .5 persen menurun dari 8. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus meningkat. manufaktur. pertambangan.

6.5 .8 .2.200 (Rp US$) Suku Bunga 7.0 95 6.120 ICP (US$/br) 6.2 1.5 130 6. dalam satu instansi dan antar instansi.9.5 80 ------------------------------------------------------------------------- BAB 4 KAIDAH PELAKSANAAN Dalam melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009.4 6.000 . dan kabupaten/kota.5 . baik dalam kerangka regulasi maupun dalam kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum.0 1. provinsi.2 6.6.2 1.-------------------------------------------------------------------------PEMBICARAAN RAPBN PEMBICARAAN TK I UU APBN PENDAHULUAN 2009 RUU APBN & TAHUN 2008 KERANGKA RKPPENYUSUNAN NOTA KEUANGAN EKONOMI 2009 RAPBN 2009 2009 MAKRO 16-19 Agustus 3-19 Oktober Juni 2008 2008 September 2008 2008 -------------------------------------------------------------------------Penumbuhan 6. efektivitas. transparansi. Pelaksanaan kegiatan. Kementerian.9 9.400 7.3 6.5 SBI (%) Harga Minyak 95 . dengan tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada masing-masing lembaga serta pembagian urusan antara pemerintah pusat. baik di antara-kegiatan dalam satu program maupun kegiatan antar program. sesuai dengan peraturan .0 6. mensyaratkan keterpaduan dan sinkronisasi antar kegiatan.0 9.0 APBN/PDB(%) Nilai Tukar .5-2.8.7 9. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.5 Defisit 1.100 8.150 8.5 1.0 .4 Ekonomi (%) Inflasl (%) 6 5. dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.9. akuntabilitas dan partisipasi.

serta masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan program-program RKP Tahun 2009 dengan sebaik-baiknya. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) di atas perlu menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. setelah menerima pagu sementara Tahun 2009. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. baik yang berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum.perundang-undangan yang berlaku. dan lembaga pemerintah non-departemen. seperti Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota. d. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP). b.Uraian rencana penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009.Uraian penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. Peraturan Presiden (perpres). maka masing-masing instansi pemerintah (kementerian/lembaga). dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009. tugas pembantuan.Lembaga Negara. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah pusat. departemen. Kementerian.RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman bagi Lembaga Negara. periu menyesuaikan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja-KL) menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (RKA-KL) sebagai berikut: a.Pemerintah wajib menyampaikan rancangan APBN Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing lembaga negara. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan program dalam rangka koordinasi perencanaan. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat. dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen dalam menyusun kebijakan publik. atau sudah menjadi kewenangan daerah. yang dilaksanakan melalui asas . atau Peraturan Menteri/Kepala Lembaga. tugas dekonsentrasi. Untuk mengupayakan keterpaduan. Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus). Sehubungan dengan itu. c. Kementerian. RKP Tahun 2009 merupakan acuan bagi Kementerian. ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan RKP 2009 sebagai berikut: 1. Pemerintah Daerah. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. telah dilaksanakan proses musyawarah antar pelaku pembangunan melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang. dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan. 2. Musrenbang Provinsi. dan Musrenbang Nasional (Musrenbangnas).

merumuskan matriks rencana tindak pada setiap bidang pembangunan (matriks rencana tindak menjadi lampiran dari setiap bidang pembangunan) menjadi dokumen RKP Tahun 2009. Untuk mengupayakan keterpaduan.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) diatas. RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun kebijakan publik. perlu juga menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. atau tugas pembantuan yang diterima pemerintah kabupaten/kota dari pemerintah pusat. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Daerah (perda) dan Peraturan Gubernur/Bupati/Wali Kota. 5.dekonsentrasi.Masyarakat luas dapat berperanserta seluas-luasnya dalam perancangan dan perumusan kebijakan yang nantinya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah.Pemerintah daerah wajib menyampaikan rancangan APBD Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing instansi daerah. 4. masyarakat luas dan dunia usaha dapat berperanserta dalam pelaksanaan program-program pembangunan berdasarkan rancangan peran serta masyarakat dalam kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ataupun yang dilaksanakan melalui tugas pembantuan. . sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan setiap program dalam rangka koordinasi perencanaan.Uraian penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. masing-masing instansi daerah perlu menyempurnakan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2009 sebagai berikut: a.Uraian rencana penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. yang dilaksanakan langsung sebagai kewenangan daerah. b. yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. Berkaitan dengan pendanaan pembangunan. 3. dengan mendapatkan masukan dari seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Masyarakat luas juga dapat berperanserta dalam pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan kegiatan dalam program-program pembangunan. d.Pemerintah Pusat. baik berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum dalam Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2009. di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah daerah. c. tugas dekonsentrasi yang diterima pemerintah provinsi dari pemerintah pusat.Bagi Pemerintah Daerah (provinsi/kabupaten/kota).

setiap Kementerian/Lembaga Pemerintah Non-Departemen dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan. kesesuaiannya dengan rencana alokasi anggaran yang ditetapkan dalam APBN/APBD. melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.6.Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program. serta kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan APBN/APBD dan peraturan-peraturan lainnya. setiap instansi pemerintah wajib melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang meliputi evaluasi terhadap pencapaian sasaran kegiatan yang ditetapkan. dan melaporkan hasil-hasil pemantauan secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7.Pada akhir tahun anggaran 2009. .