UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 41 TAHUN 2008 (41/2008) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; b. bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. bahwa APBN Tahun Anggaran 2009 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; d. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat; e. bahwa sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; f. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2009 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 33/DPD/2008 tanggal 2 Juli 2008; g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, e, dan f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; Mengingat :

1. 2. 3.

4. 5.

6.

7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

14.

15.

16. 17.

18. 19. 20.

21.

22.

23. 24.

25.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746); Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133,

Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. cukai.Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan oleh pihak swasta dalam negeri dan pemerintah daerah serta sumbangan oleh pihak swasta dan pemerintah luar negeri. 4.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah . 5. 2. yang tidak perlu dibayar kembali. 6. serta tidak secara terus menerus. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. 7.Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN).Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893).Cost recovery adalah pengembalian atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan (recoverable cost) oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan menggunakan hasil produksi minyak bumi dan gas bumi (migas) sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri. pajak bumi dan bangunan.Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam. penerimaan negara bukan pajak lainnya. yang dimaksud dengan : 1. 8. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009.Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. 9. pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. 3. serta pendapatan badan layanan umum (BLU).Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea ke luar. penerimaan negara bukan pajak. dan pajak lainnya. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini.Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah.

serta dalam bentuk fisik lainnya.Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang. barang. fungsi ketertiban dan keamanan. baik utang dalam negeri maupun luar negeri. 13. atau mengimpor barang dan jasa. pembayaran bunga utang. fungsi kesehatan. dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat serta belanja perjalanan. fungsi ekonomi. jaringan. bantuan sosial. 18.Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal outstanding). 12. fungsi perumahan dan fasilitas umum. subsidi. mengekspor. belanja modal. termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang. belanja hibah. baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri.pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga. fungsi pendidikan.Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai. 10.Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah.Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada bahan bakar minyak dan tenaga listrik. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. dan fungsi perlindungan sosial. gedung dan bangunan. 11. . atau jasa dari Pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa. Pemerintah Negara lain. dan pejabat negara. sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan. fungsi agama. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan untuk utang outstanding dan tambahan utang baru. sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. pensiunan.Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa. fungsi pertahanan. fungsi pariwisata dan budaya. menjual. 16. atau lembaga/organisasi internasional yang tidak perlu dibayar kembali.Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat. sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat yang membutuhkan. dan belanja lain-lain. belanja barang. 15.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. 17. fungsi lingkungan hidup.Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. peralatan dan mesin. Badan Usaha Milik Daerah. 14.

serta hibah ke daerah. selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. 22. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan dana alokasi khusus.Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan dana cadangan umum. 24.Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah. sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. 23. 19. 25. 26. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan.Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 12 (dua belas) sampai dengan angka 19 (sembilan belas). guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial. dana otonomi khusus dan penyesuaian. serta tidak secara terus menerus. dana alokasi umum. yang terdiri atas dana bagi hasil. 21. .Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga.Dana alokasi umum.bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. 20.Dana bagi hasil. selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.Dana alokasi khusus. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Hibah ke daerah adalah dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk rupiah.Privatisasi adalah penjualan saham persero.Surat berharga syariah negara. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha. yang tidak perlu dibayar kembali. 36. serta pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) yang diterushibahkan ke daerah. 34. adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. 33. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.27. 38. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 37.Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi. 32. surat berharga negara. selanjutnya disingkat SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam matauang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. baik dalam matauang rupiah maupun valuta asing. selanjutnya disingkat SBN meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah negara. 31. dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah. hasil pengelolaan aset. 30. 35. yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan.Surat utang negara.Restrukturisasi BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN.Surat berharga negara. atau dapat disebut sukuk negara. adalah selisih lebih realisasi pembiayaan atas realisasi defisit anggaran yang terjadi. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. serta tidak secara terus menerus. selanjutnya disingkat SILPA.Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN.Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari . 29. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. 28. dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu.Sisa lebih pembiayaan anggaran.Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan membantu mendukung percepatan pembangunan di daerah. dan dana bergulir. selanjutnya disingkat SBSN. baik sebagian maupun seluruhnya. sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN.

Persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran belanja negara. Pasal 2 (1)Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 diperoleh dari sumber-sumber: a.Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/ lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah.Penerimaan hibah.943. dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp985. 41.522.Tahun anggaran 2009 adalah masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2009.842.522.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). 43.00 (sembilan ratus tiga puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah). 42. namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan. (5)Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258.000.000.000. (2)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp725.558. 39.Pinjaman program adalah pinjaman yang diterima dalam bentuk tunai (cash financing) yang pencairannya mensyaratkan dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak seperti matriks kebijakan (policy matrix) atau dilaksanakannya kegiatan tertentu.Penerimaan negara bukan pajak. termasuk gaji pendidik.000.000. 40. (4)Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp938. dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri.Penerimaan perpajakan.Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan berdasarkan Undang-Undang ini.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).970.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). . untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah. ayat (3).725. b.000. dan c.800.penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek.328.

000. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.00 (enam ratus sembilan puluh tujuh triliun tiga ratus empat puluh enam miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah). e.00 (sepuluh triliun rupiah).00 (tujuh triliun tujuh ratus lima puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah). d.000.000.470. termasuk PPh ditanggung Pemerintah atas: (i) komoditi panas bumi sebesar Rp800.600.000. b.700.000. termasuk BPHTB ditanggung pemerintah atas kekurangan DTP BPHTB PT Pertamina (Persero) tahun 2007 sebesar Rp500.000.Cukai sebesar Rp49.000. dan (iii) terminasi dini hak eksklusif PT Telkom (Pasal 25/29 badan) sebesar Rp250.000.346.000.000.753.000.000. yang terdiri dari : a.Pajak perdagangan internasional.000.000.00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah).Pajak dalam negeri.00 (dua ratus empat puluh sembilan triliun lima ratus delapan miliar tujuh ratus juta rupiah).00 (delapan ratus miliar rupiah). (2)Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp697.00 (empat triliun dua ratus tujuh puluh tiga miliar dua ratus juta rupiah).00 (lima ratus miliar rupiah).000.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp7.000.000.916. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. dan (ii) BBM bersubsidi (PT Pertamina/Persero) sebesar Rp10. dan b.200. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.000.508.00 (sepuluh triliun rupiah).400.Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp28.00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah).300.000.000.200.000.000.494.Pasal 3 (1)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari : a.000.000.000. c.Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar Rp249. (3)Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada . termasuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas: (i) sektor-sektor tertentu dalam rangka penanggulangan dampak perlambatan ekonomi global dan pemulihan sektor riil (counter cyclical) sebesar Rp10.Pajak lainnya sebesar Rp4.00 (dua puluh delapan triliun sembilan ratus enam belas miliar tiga ratus juta rupiah).Pajak Penghasilan sebesar Rp357. f.00 (tiga ratus lima puluh tujuh triliun empat ratus miliar empat ratus tujuh puluh juta rupiah).00 (empat puluh sembilan triliun empat ratus sembilan puluh empat miliar tujuh ratus juta rupiah).000.273.700.000.000.000.000.000.970.000. (ii) bunga atas surat berharga negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp1.

00 (dua puluh delapan triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar rupiah). b. dan disampaikan dalam Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun .000.000.Bea ke luar sebesar Rp9.000.070.123.496.00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah).000.600. termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu sebesar Rp2.000. dan d.000.000.000. (ii)Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditugaskan untuk melakukan audit atas kewajaran unsur biaya dalam cost recovery sejak tahun 1997. Pasal 4 (1)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari : a.Pendapatan BLU.ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp28.473.00 (seratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar lima ratus dua puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah). b. (4)Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara.000.000.00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh lima miliar enam ratus juta rupiah).496.000. maka BPK wajib melaporkan estimasi besaran kerugian negara yang timbul.000.400. serta swap Conoco dan Chevron.Bea masuk sebesar Rp19.Penerimaan negara bukan pajak lainnya. yang terdiri dari: a. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.00 (sebelas miliar lima puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar Amerika Serikat). termasuk kerugian daerah dalam kerangka bagi hasil.00 (seratus enam puluh dua triliun seratus dua puluh tiga miliar tujuh puluh juta rupiah). dengan ketentuan: (i)Penerimaan SDA Migas tersebut memperhitungkan cost recovery sebesar US$11.Penerimaan sumber daya alam.000.000.160. yang disebabkan oleh kenaikan lifting gas on stream Exxon dan Tangguh. terdiri dari : a.750.000.335.521. naik dari besaran tahun 2008 sebesar US$10. (2)Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp173. c.Penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi (SDA Migas) sebesar Rp162.000.00 (sepuluh miliar empat ratus tujuh puluh tiga juta dolar Amerika Serikat).477.050.00 (sembilan belas triliun seratus enam puluh miliar empat ratus juta rupiah). dan apabila terdapat temuan ketidakwajaran.500.

Standar tersebut tidak hanya berpedoman pada Exhibit Contract.235.451.Penerimaan sumber daya alam nonminyak bumi dan gas bumi (SDA Nonmigas) sebesar Rp11.373.210.794.Unsur biaya yang dapat dikategorikan dan diperhitungkan sebagai unsur cost recovery. dalam hal ini terhadap sebagian aset yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Gelora Bung Karno dan sebagian atau seluruh aset yang dikelola Badan Layanan Umum Kompleks Kemayoran akan ditetapkan sebagai Penyertaan Modal Negara dalam suatu Badan Usaha Milik Negara. 5. (6)Penunjukan Gelora Bung Karno dan Kompleks Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum dalam rangka optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat ditinjau kembali sesuai peraturan perundang-undangan.000.Standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery.00 (lima triliun empat ratus empat puluh dua miliar dua ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah). 2. (5)Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d direncanakan sebesar Rp5.442.00 (sebelas triliun tiga ratus tujuh puluh tiga miliar empat ratus lima puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah). namun juga disesuaikan dengan standar pembebanan yang berlaku umum sebagaimana dimaksud pada butir (2).000.000.477. 4. yang antara lain memuat : 1.000. sehingga acuan cost recovery dalam Exhibit Contract perlu ditinjau kembali.00 (tiga puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh empat miliar rupiah).801.Anggaran 2009 untuk dapat ditindaklanjuti.000. b. 3.Cost recovery senantiasa harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.248.000. (iv)Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) ditugaskan untuk memperkuat pengawasan dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor migas.Pemberlakuan Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan efektif mulai 1 Januari 2009.00 (empat puluh sembilan triliun dua ratus sepuluh miliar delapan ratus satu juta dua ratus empat puluh delapan ribu rupiah). (iii)Pemerintah ditugaskan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang cost recovery. . (3)Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp30.797. (4)Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp49.

00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).037. ayat (3). (3)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp320.00 (tiga ratus dua puluh triliun enam ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta rupiah).00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).122.067. dan b. ayat (4).Belanja pemerintah pusat menurut fungsi.122.338.122. (4)Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp1.376. (5)Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).122.346.000. dan ayat (5) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. kegiatan dan jenis belanja dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.346.(7)Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). fungsi.690.376. program.346.000.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). Pasal 5 (1)Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 terdiri dari : a. (2)Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja.Anggaran transfer ke daerah. (4)Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp716. dan c.376.122. (6)Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2009 menurut . (2)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716. b.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).376.992.000.346.000.Anggaran belanja pemerintah pusat.000. (3)Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp716. Pasal 6 (1)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas : a.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi.000.000.

Pasal 9 (1)Pemerintah menjamin kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan.600 VA (volt ampere) ke atas. pemerintah menjamin harga gas untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga domestik.Perluasan penerapan kebijakan tarif insentif dan disinsentif untuk pelanggan dengan daya di bawah 6.Penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) dari PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) dan KKKS berkoordinasi dengan BP MIGAS.organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).Penerapan tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pelanggan dengan daya 6.Penyediaan Domestic Market Obligation (DMO) batubara yang berasal dari kebutuhan ketersediaan inkind batubara. diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 Nopember 2008. c. dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). (3)Pemerintah Daerah diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). b. Pasal 10 (1)Dalam rangka kesinambungan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk . e. Pasal 8 Pengendalian anggaran subsidi listrik dalam tahun anggaran 2009 dilakukan melalui : a.600 VA. (2)Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pangan terutama pupuk pada masa yang akan datang. d. Pasal 7 Pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam tahun anggaran 2009 ditempuh dengan kebijakan penetapan besaran subsidi BBM sesuai dengan Undang-Undang APBN dengan toleransi alokasi maksimum dari realokasi cadangan risiko fiskal.Penerapan diversifikasi tarif regional seperti Batam dan Tarakan pada daerah-daerah lain. menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3).

mempercepat penanggulangan kemiskinan. dan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK) dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2009. (2)Pengajuan usulan luncuran program/kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam bentuk konsep DIPA Luncuran (DIPA-L) paling lambat pada tanggal 16 Januari 2010. yang pada tahap awal sumber dananya antara lain berasal dari bantuan sosial penanggulangan bencana. maka program/kegiatan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009 yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. maka bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program/kegiatan nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) yang terdiri dari program pengembangan kecamatan (PPK). Pasal 12 (1)Kegiatan-kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan DIPA-L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari bagian anggaran 069 (belanja lain-lain) dalam tahun 2009. dapat diluncurkan sampai dengan akhir April 2010 sebagai anggaran belanja tambahan Tahun Anggaran 2010. ditetapkan oleh Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah. program pengembangan infrastruktur perdesaan (PPIP). (3)Penyelesaian kegiatan-kegiatan tersebut yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa publik mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku. (4)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2)Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari pagu kementerian negara/lembaga masing-masing dalam tahun anggaran 2009. (2)Pendanaan untuk program/kegiatan. Pasal 11 (1)Dalam rangka menjaga kesinambungan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009. (4)Pemerintah dapat melakukan kontrak dan pembiayaan tahun jamak terbatas sampai dengan tahun 2010 untuk mengatasi keperluan mendesak dan belum terprogram. program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP). (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada .

perubahan pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN.ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Pemerintah. Kedung Cangkring.pergeseran anggaran belanja: (i)antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. Kedung Cangkring. Pasal 14 Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengeluaran dalam rangka memenuhi setiap kewajiban yang timbul sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). ditetapkan oleh Pemerintah. tunjangan hidup dan biaya evakuasi di luar peta terdampak pada tiga desa (desa Besuki. Jatirejo. dan Penjarakan) dilakukan setelah pembayaran pembelian tanah di dalam peta area terdampak selesai dilakukan. bantuan kontrak rumah. dan Mindi). (2)Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non-Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan BLU ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 13 (1)Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo. (3)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan. . dan Penjarakan).perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). (2)Kekurangan pembayaran pembelian tanah di luar peta area terdampak pada tiga desa (desa Besuki. biaya evakuasi dan relokasi pada sembilan rukun tetangga di tiga desa (Siring Barat. Pasal 15 (1)Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa : a. dan/atau (iii)antarjenis belanja dalam satu kegiatan. serta untuk bantuan kontrak rumah. dan c. atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. (ii)antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi. maka alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dapat digunakan untuk melunasi kekurangan pembayaran pembelian tanah. b. tunjangan hidup.

952.413.00 (dua puluh tiga triliun tujuh ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus tujuh puluh delapan juta dua ratus ribu rupiah). dan c.Dana alokasi khusus.Dana bagi hasil. (5)Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23. (2)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp296. (2)Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp85.00 (dua puluh empat triliun delapan ratus sembilan belas miliar lima ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah). Pasal 17 (1)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri dari : a.000. . Pasal 16 (1)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.200.588. b.578.738.725.414.Dana alokasi umum.000. (3). (4)Hibah ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c nihil.000.100.00 (seratus delapan puluh enam triliun empat ratus empat belas miliar seratus juta rupiah). b.800.00 (delapan puluh lima triliun tujuh ratus delapan belas miliar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah). (5)Perhitungan dan pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.819.000.Hibah ke daerah.800.Dana otonomi khusus dan penyesuaian.Dana perimbangan. dan c. dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah). (3)Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp186.000. (2). (4)Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp24.000.000.718.(4)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah.

400.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah). dan b.000.(6)Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2)Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber : a.200. lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4).522.037.000.Dana otonomi khusus.240. (3)Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp60.338.Pembiayaan luar negeri neto sebesar negatif Rp9. dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran.790.600.000.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah). Pasal 19 (1)Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp985.000.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah). ayat (3).009. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5). b.014. Pasal 20 .Dana penyesuaian. Pasal 18 (1)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.342.000.000.882. (2)Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp8. sehingga dalam Tahun Anggaran 2009 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp51.448.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).725.564.000.328.000. (3)Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14.250.000.856.067.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah).122.

Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2009 mengenai : a. yang merupakan perbandingan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran belanja negara sebesar Rp1. b.krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional yang membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah). b.1% (nol koma satu persen).Realisasi belanja negara. dan c.763.000. (3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2009.122. Pasal 22 Anggaran belanja bunga utang yang merupakan bagian dari Belanja Pemerintah Pusat telah memperhitungkan hasil restrukturisasi tingkat bunga surat utang (SU) 002 dan SU-004 yang mengacu pada besaran tingkat bunga special rate Bank Indonesia (SRBI) 01 sebesar 0. (2)Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya.413.531. dan/atau c.penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang menyebabkan turunnya pendapatan negara. (2)Persentase anggaran pendidikan adalah sebesar 20.067. apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : a.kenaikan biaya utang.Realisasi pembiayaan defisit anggaran. secara signifikan.Realisasi pendapatan negara dan hibah.338.037. untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah. Pasal 21 (1)Anggaran Pendidikan adalah sebesar Rp207. Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan langkah-langkah : .000. Pasal 23 (1)Dalam keadaan darurat.(1)Pada pertengahan Tahun Anggaran 2009.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).0% (dua puluh koma nol persen). dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan. khususnya imbal hasil Surat Berharga Negara.

1.pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2009; 2.pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu kementerian negara/lembaga dan/atau antar kementerian negara/lembaga; 3.penghematan belanja negara dalam rangka peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai; 4.penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral; 5.penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN tahun yang bersangkutan. (2)Pemerintah menyampaikan langkah-langkah kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Laporan Semester I Pelaksanaan APBN dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 24 (1)Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat ditalangi dari dana saldo anggaran lebih (SAL). (2)Pemerintah dapat menerbitkan Surat Berharga Negara untuk membiayai kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan awal tahun anggaran berikutnya. (3)Pemerintah dapat melakukan pembelian kembali SBN untuk kepentingan stabilisasi pasar, dengan tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang ditetapkan. Pasal 25 (1)Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, apabila terjadi : a.Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; b.Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; c.Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; d.Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan

anggaran Tahun Anggaran 2009. (2)Saldo anggaran lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tidak termasuk saldo anggaran lebih yang merupakan saldo kas di Badan Layanan Umum (BLU), yang penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. (3)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2009 berakhir. Pasal 26 (1)Setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir, Pemerintah menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. (2)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. (3)Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan belanja secara akrual. (4)Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual. (5)Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual dalam laporan keuangan tahun 2009 dilaksanakan secara bertahap pada badan layanan umum. (6)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. (7)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta

pada tanggal 10 Nopember 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 171

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 I.UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2009 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2009 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2009 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2009

pemerintah akan berupaya agar realisasi pertumbuhan ekonomi sesuai dengan asumsi tersebut. maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada tingkat 6. dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang sedikit melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.diperkirakan mencapai sekitar 6. Meskipun perlambatan perekonomian global akan menyebabkan menurunnya kinerja ekspor nasional. rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai 7. Dalam tahun 2009. Di lain pihak. (ii) terbatasnya akses dan . antara lain: (i) masih relatif tingginya jumlah penduduk miskin.5% (tujuh koma lima persen). Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2009. sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 960 (sembilan ratus enam puluh) ribu barel per hari. impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri. sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2009 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. dan perkembangan suku bunga perbankan.0% (enam koma nol persen). Sementara itu. Pemerintah menghadapi berbagai masalah dan tantangan. dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok. Melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi. moneter. yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai.00 (sembilan ribu empat ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat." Dalam upaya mewujudkan tema pembangunan tersebut. maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran US$80. dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah. terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu.0 (delapan puluh koma nol dolar Amerika Serikat) per barel. Sementara itu.2% (enam koma dua persen). dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Melalui kebijakan fiskal. serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat. (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis.400. dan iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. tema pembangunan tahun 2009 adalah "Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan. nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp9. Sejalan dengan itu. dan sektor riil yang terkoordinasi. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2009.

dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. (iii) pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran. kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2009 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan. pemantapan demokrasi. dan (iv) masih lemahnya daya tarik investasi dan daya saing sektor riil. terutama bandara dan pelabuhan. Kedua. Dengan demikian. subsidi listrik. (iii) . telah ditetapkan prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 sebagai berikut: Pertama. dan subsidi benih. dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Program Keluarga Harapan (PKH). infrastruktur dan energi. (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM. (iii) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. di samping tetap menjaga stabilitas nasional. menciptakan dan memperluas lapangan kerja. peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan. Untuk menghadapi masalah dan tantangan tersebut guna mewujudkan tema pembangunan dalam tahun 2009. percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. serta pertahanan dan keamanan dalam negeri. kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Prioritas pembangunan nasional tersebut dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR. dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat. reformasi birokrasi. Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut. untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. subsidi pupuk. Di samping itu. Bantuan Operasional Sekolah (BOS). peningkatan upaya anti korupsi. (ii) peningkatan pembangunan infrastruktur. serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Ketiga. dan Jamkesmas. maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada:(i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/lembaga.

Selanjutnya. agar Mahkamah Konstitusi tidak menyatakan bahwa keseluruhan APBN yang tercantum dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat yang disebabkan oleh adanya bagian dari UU APBN. termasuk di dalamnya penganggaran. Pemerintah dan DPR harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk menyediakan anggaran sekurang-kurangnya 20. dan mendapat pendidikan yang layak.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN Tahun Anggaran 2009 agar UU APBN Tahun Anggaran 2009 yang memuat anggaran pendidikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan sejalan dengan amanat UUD 1945. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20. negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. (ii) hidup sejahtera lahir dan batin. (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam.0% (dua puluh koma nol persen) tersebut di samping untuk memenuhi amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20. keseimbangan pembangunan.0% (dua puluh koma nol persen) untuk pendidikan. infrastruktur dan energi alternatif. dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. Selain itu. bertempat tinggal. yaitu mengenai anggaran pendidikan. juga dalam rangka memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 13 Agustus 2008 Nomor 13/PUU-VI/2008. melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . Menurut putusan Mahkamah Konstitusi. Selanjutnya. sesuai dengan amanat UUD 1945. serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009. Pemerintah dan DPR memprioritaskan pengalokasian anggaran pendidikan 20. perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.meningkatkan alokasi program kementerian negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan. Dalam kaitannya dengan penanganan bencana alam. (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN. yang bertentangan dengan UUD 1945. Di samping itu. serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009. Hal tersebut harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh.

(iii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. serta (iv) pengalihan dokumen. aset-aset BRR NAD-Nias. Oleh karena itu. biaya operasional BRR NAD-Nias akan dialokasikan pada bagian anggaran 069 (anggaran pembiayaan dan perhitungan). yaitu: (i) pengelolaan pendanaan pasca BRR NAD-Nias. dan (iv) pengakhiran masa tugas BRR beserta akibat hukumnya ditetapkan dengan Perpres. Dengan demikian. (ii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. dan (ii) mengkoordinasikan proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibiayai oleh lembaga/negara donor atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. tetapi langsung dialokasikan kepada masing-masing K/L yang bersangkutan. kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tahun 2008 merupakan tahun terakhir dari pelaksanaan proyek-proyek fisik oleh BRR NAD-Nias. dalam rangka melaksanakan proses administrasi penuntasan tugas. Pasal 26 menyebutkan bahwa: (i) masa tugas BRR akan berakhir setelah 4 (empat) tahun. pada tahun 2009. mulai tahun 2008 sudah mulai dilakukan persiapan penuntasan masa tugas BRR NAD-Nias. (iii) pengalihan personel (SDM). Sementara itu. Kementerian negara/lembaga yang akan melanjutkan kegiatan .(Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. segala kekayaannya menjadi kekayaan milik negara yang selanjutnya dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. telah dibentuk BRR NAD-Nias dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2004. Selain tugas melaksanakan kegiatan pemulihan. pelaksanaan lanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias akan diserahkan kewenangannya kepada kementerian negara/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. dan aset-aset lembaga/negara donor/NGO. yaitu: (i) mengelola proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran (didanai oleh APBN). BRR NAD-Nias masih dapat beroperasi hingga April 2009. Dalam kerangka tersebut. Dengan demikian. jenis-jenis pengalihan aset. Berkaitan dengan berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias. Perpu Nomor 2 Tahun 2005. pembiayaan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak lagi dialokasikan pada bagian anggaran 094 (BRR NAD-Nias). terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. BRR NAD-Nias juga mengemban 2 (dua) tugas pokok. Sementara itu. (ii) pengalihan peralatan dan perangkat (aset) melalui identifikasi terhadap: tahap pengalihan aset.

Dalam jangka pendek. penerapan kebijakan transfer ke daerah dalam tahun 2009 ditujukan untuk: (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. pelimpahan. yaitu: kondisi ekonomi makro. Undang-undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan. realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian. subyek dan obyek pengenaan. Departemen Perhubungan. dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggungjawab. juga diikuti dengan pengaturan. pembagian. Departemen Pekerjaan Umum. untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut. baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007 dan 2008. dan (iv) mengalihkan secara bertahap sebagian anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. serta berbagai UU sektoral. perubahan UU perpajakan yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan diperkirakan akan memberikan dampak pada penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss). demokratis. Departemen Agama. serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan. kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif. kondisi. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional. diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. Selanjutnya. baik penerimaan perpajakan maupun PNBP. maka penyerahan. UU Cukai. adil dan transparan. Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas . Badan Pertanahan Nasional.rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias antara lain Departemen Dalam Negeri. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam APBN Tahun Anggaran 2009. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. dan kebutuhan daerah melalui reformulasi kebijakan dana perimbangan dan kebijakan lain terkait dengan transfer ke daerah. UU Kepabeanan. dengan memperhatikan potensi. dan Bappenas. Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2009.

kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untuk mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA). (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. Sementara itu. dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). dengan lebih . penelaahan. (vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/lifting minyak mentah dan volume gas bumi. evaluasi. untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. dan tercatat dalam perhitungan APBN. Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/lembaga. bagian laba BUMN. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas. dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali.Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window. Selanjutnya. PNBP lainnya. kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. Di samping itu. khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana serta re-evaluasi peraturan-peraturan tentang tata cara pengadaan/pengelolaan hibah sehingga seluruh pengelolaan hibah memiliki arah yang lebih jelas. (ii) monitoring. Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. (iv) melanjutkan harmonisasi tarif bea masuk impor. dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan. (vi) percepatan penyelesaian kewajiban Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas. (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga. Untuk menutupi defisit tersebut. Di lain pihak. (iv) pemantauan. optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah.

untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan anggaran tahun 2009. bahkan akan menambah. Langkah-langkah penanggulangan berupa pembiayaan siaga yang berasal dari pemberi pinjaman lembaga keuangan multilateral dan bilateral. Terkait hal tersebut.memprioritaskan pendanaan yang tersedia. Untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang memburuk yang dapat berdampak pada perekonomian nasional. dan dialokasikan . kebijakan moneter yang kredibel. kenaikan biaya penerbitan SBN dan masalah sistemik di sektor keuangan. strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Selain itu. Dalam kondisi pasar keuangan yang tidak stabil akibat ketatnya likuiditas global. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri. jika diperlukan. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 telah dipersiapkan payung hukum apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan deviasi asumsi makro secara signifikan. dipandang perlu dipersiapkan langkah-langkah di bidang kebijakan fiskal. II.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. sehingga dapat dijadikan cadangan terhadap rumahtangga dan sektor yang terkena dampaknya. Dalam keadaan tersebut. dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien. Pasal 2 Cukup jelas. strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent. penerbitan SBN akan dilakukan secara berhati-hati dan menjaga pada risiko sekecil mungkin. Pemerintah bertekad untuk tidak mengurangi belanja prioritas.

842. Ayat (4) Penerimaan perpajakan sebesar Rp725.560. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain adalah sektor migas.000.00 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 impor 25.000.970.978.00 411127 Pendapatan PPh Pasal 26 22.000.830.00 4111 Pendapatan pajak penghasilan (PPh) 357.000.000. pangan.510.sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.526.000.000. panas bumi.510.00 411112 Pendapatan PPh gas alam 32.000.000.794.000.000.000.00 411111 Pendapatan PPh minyak bumi 24. pelayaran.000.00 .755. industri terpilih.723.000.470.935.000.938. penerbangan. industri terpilih.000.110.00 411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi 3.970.500.640.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) 411 Pendapatan pajak dalam negeri 697.000.196. dan transportasi publik.360.000.400.00 411121 Pendapatan PPh Pasal 21 46.000. dan sektor-sektor publik.910.000.556.000.000.000.470.000.00 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan 136.000.160.000. dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama. energi.00 41112 Pendapatan PPh nonmigas 296.000.00 411122 Pendapatan PPh Pasal 22 6. Ayat (3) Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. listrik.000.346.00 41111 Pendapatan PPh migas 56.370.00 411124 Pendapatan PPh Pasal 23 24. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas.000.

000.00 Pendapatan pajak perdagangan internasional 28.490.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah) terdiri dari : .600.600.100.943.200. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.000.700.000.000.000.00 41113 Pendapatan PPh fiskal 3.000.522.000.000.00 4121 Pendapatan bea masuk 19.000.000.000.247.000.000.000.000.738.700.000.000. Ayat (4) Cukup jelas.916.000.273. Ayat (2) Cukup jelas.00 Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.00 411513 Pendapatan Cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol 775.000.412 411128 Pendapatan PPh final 30.490.00 4113 Pendapatan pajak bumi dan bangunan 28.000.000.000.00 4112 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah 249.494.496.00 4115 Pendapatan Cukai 49.558.240.300.000.494.160.000.000.000.000.00 4114 Pendapatan BPHTB 7.700.00 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 48.000.00 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol 479.738.00 411131 Pendapatan PPh fiskal luar negeri 3.600.753.00 4116 Pendapatan pajak lainnya 4.000.700.000.000.400.508.335.00 41151 Pendapatan Cukai 49.00 4122 Pendapatan bea ke luar 9. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (7) Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp258.000.000.

000.834.938.277.000.056.00 Pendapatan PNBP lainnya 49.00 4215 Pendapatan perikanan 150.000. penerbitan.000.000. dan perkebunan 3.794.000.600.625.000.000.000.00 421511 Pendapatan perikanan 150.235.00 423113 Pendapatan penjualan hasil tambang 6.000.093.866.00 42141 Pendapatan dana reboisasi 1.000.000.00 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 15.210.00 4214 Pendapatan kehutanan 2.000.500.000.000.00 421311 Pendapatan iuran tetap 84.00 4231 Pendapatan penjualan dan sewa 14.000. kehutanan.451.432.00 4221 Pendapatan bagian pemerintah atas laba BUMN 30.000.520.740.00 423116 Pendapatan penjualan informasi.000.000.133.000.994.521.577.401.000.000.211.000.496.(dalam rupiah) 421 Penerimaan sumber daya alam 173.00 423117 Pendapatan penjualan dokumen-dokumen 422 423 .029.000.330.330.00 Pendapatan bagian laba BUMN 30.000.000.029.248.00 421211 Pendapatan gas bumi 39.000.639.093.188.500.000.000.000.000.000.00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian.000.505.794.00 421111 Pendapatan minyak bumi 123.723.000.483.740.249.00 421312 Pendapatan royalti 8.000.00 423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan 15.000.801.477.00 4211 Pendapatan minyak bumi 123.00 42142 Pendapatan provisi sumber daya hutan 1. film.794.000.758.168.000.477.00 4213 Pendapatan pertambangan umum 8. survey.00 42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan 6. pemetaan dan hasil cetakan lainnya 41.400.000.018.600.00 423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan 11.00 4212 Pendapatan gas bumi 39.527.00 423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya 219.677.412.000.

000. paspor.365. dan BPKB 2.000.511.000.000.00 423211 Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya 38.00 423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/ dihapuskan 1.268.000.000.00 423212 Pendapatan tempat hiburan/taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA) 14.00 42314 Pendapatan sewa 102.00 423121 Pendapatan penjualan rumah.000.502.000.355.000.659.037.944.270.00 423213 Pendapatan surat keterangan. dan tanah 41.000.00 423142 Pendapatan sewa gedung.00 423119 Pendapatan penjualan lainnya 78.000.390. STNK.00 423132 Pendapatan minyak mentah (DMO) 7.374.00 423143 Pendapatan sewa bendabenda bergerak 6.891.000.061.393.00 423141 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri 20.00 423214 Pendapatan hak dan perijinan 5.00 423122 Pendapatan penjualan kendaraan bermotor 1.160.814.429. dan gudang 70.000.533. pengawasan/ .000.000.490.000.332.147.241.991.00 423215 Pendapatan sensor/ karantina.000.949.997. gedung.pelelangan 220.964.00 4232 Pendapatan jasa 16. bangunan.991. SIM.000.097.274.612.193.944.00 42312 Pendapatan penjualan aset 33.00 423149 Pendapatan sewa bendabenda tak bergerak lainnya 5.557. bangunan.285.226.381.00 42321 Pendapatan jasa I 11.000.000.217.000.490.260.000. visa.00 42313 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas 7.054.000.649.00 423123 Pendapatan penjualan sewa beli 30.

00 423229 Pendapatan registrasi dokter dan dokter gigi 2.00 423232 Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler 85.190.903.000.903.000.659.00 42324 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.932.052.00 423216 Pendapatan jasa tenaga.500.662.00 423226 Pendapatan uang pewarganegaraan 3.000.274.000.000.00 423218 Pendapatan jasa bandar udara.00 42322 Pendapatan jasa II 1.00 423221 Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro) 42.630.000. informasi.00 42323 Pendapatan jasa luar negeri 380.432.807.391.00 423231 Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia 285.007.307.000.660. kepelabuhan.000.00 423222 Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi 1.947.075.00 423227 Pendapatan bea lelang 38.000.000.00 423225 Pendapatan biaya penagihan pajak negara dengan surat paksa 3.000.00 423239 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri 9.00 423217 Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama 73.458.225. dan kenavigasian 317.000. pekerjaan.00 423228 Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara 61.263.000. pelatihan.249.000.122.261.199.pemeriksaan 58.000.000.00 423241 Pendapatan layanan jasa perbankan 8. pendapatan BPN.000.932.218.906.065.983.000. pendapatan DJBC 2.000.00 42325 Pendapatan atas pengelolaan .500.081.157.555.000.489. teknologi.000.458.

rekening tunggal Perbendaharaan (treasury single account) dan/atau atas penempatan uang negara 3.00 .00 42331 Pendapatan bunga 1.000.00 4235 Pendapatan pendidikan 5.000.000.330.000.000.000.00 423413 Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan) 721.00 423512 Pendapatan uang ujian masuk.809.000.000.494.122.063.224.000.000.450.000.785.000.00 42341 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.844.000. dan akhir pendidikan 174.450.794.935. kenaikan tingkat.937.00 423414 Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya 18.00 423411 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.385.00 423513 Pendapatan uang ujian untuk menjalankan praktik 111.844.163.000.000.000.00 423511 Pendapatan uang pendidikan 3.000.633.943.555.00 423415 Pendapatan ongkos perkara 10.000.073.298.505.830.00 4233 Pendapatan bunga 1.00 423519 Pendapatan pendidikan lainnya 1.000.00 42329 Pendapatan jasa lainnya 20.00 423291 Pendapatan jasa lainnya 20.00 423412 Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan 290.642.000.000.385.394.00 4234 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.917.000.560.00 423319 Pendapatan bunga lainnya 350.298.000.00 423419 Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya 1.330.00 423313 Pendapatan bunga dari piutang dan penerusan pinjaman 1.000.633.000.00 42351 Pendapatan pendidikan 5.000.662.000.000.311.000.809.122.000.862.508.508.450.

563.000.961.939.000.879.00 423713 Iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 40.00 423752 Pendapatan denda keterlambatan .00 423614 Pendapatan uang pengganti tindak pidana korupsi yang ditetapkan di pengadilan 29.000.104.494.996.000.00 423735 Pungutan masuk obyek wisata alam 7.00 423721 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.000.00 423712 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa 73.000.000.00 42372 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.830.700.588.000.900.484.4236 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.00 423711 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM 355.600.000.336.000.336.000.000.000.000.000.267.000.000.494.00 42361 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.00 423731 Pendapatan iuran menangkap/mengambil/ mengangkut satwa liar/ mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup atau mati 7.000.000.422.000.000.000.000.00 42375 Pendapatan denda 4.000.00 423611 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadilan 6.000.000.700.000.00 42373 Pendapatan dari perlindungan hutan dan konservasi alam 14.00 42371 Pendapatan iuran badan usaha 469.00 4237 Pendapatan iuran dan denda 687.00 423612 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara 2.

043.851.00 42411 Pendapatan penyediaan barang dan jasa kepada masyarakat 5.00 4241 Pendapatan jasa layanan umum 5.086.000.000.00 423921 Pendapatan pelunasan piutang nonbendahara 9.509.00 423914 Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri TAYL 1.482.442.797.00 4239 Pendapatan lain-lain 10.00 424112 Pendapatan jasa pelayanan pendidikan 124.893.950.000.454.527.000.420.010.238.375.982.00 42399 Pendapatan lain-lain 22.00 423913 Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni TAYL 9.831.071.832.00 423912 Penerimaan kembali belanja pensiun TAYL 76.000.424 penyelesaian pekerjaan pemerintah 4.500.000.000.00 Pendapatan badan layanan umum 5.591.000.334.000.531.167.392.00 424113 Pendapatan jasa .347.00 42392 Pendapatan pelunasan piutang 1.00 424111 Pendapatan jasa pelayanan rumah sakit 3.000.251.750.00 423991 Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji 16.000.007.00 423919 Penerimaan kembali belanja lainnya TAYL 2.528.00 423999 Pendapatan anggaran lain-lain 6.000.617.00 423922 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara 1.871.000.00 42391 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu 9.923.575.154.000.235.000.000.000.821.473.975.235.654.000.000.00 423911 Penerimaan kembali belanja pegawai pusat TAYL 4.000.00 423753 Pendapatan denda administrasi BPHTB 29.285.000.

625.309.287.541.618.000.477. .00 42431 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.000.445. informasi.00 (enam triliun rupiah).621.00 424117 Pendapatan jasa pelayanan pemasaran 21.105.266.266.392.000.108.131. dan kenavigasian 933.00 Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas.653.106.00 424136 Pendapatan investasi 121.000.000.000.000.000.00 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.00 424139 Pendapatan pengelolaan dana khusus lainnya 54.000.800.00 424115 Pendapatan jasa bandar udara.000.00 424133 Pendapatan program modal ventura 5.000.000.266.618.000.437.00 42413 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat 185.367.911.618.000.412.4243 pelayanan tenaga. kepelabuhan. Pasal 7 Realokasi cadangan risiko fiskal adalah realokasi dana cadangan risiko perubahan parameter harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) setahun dan lifting minyak sebesar Rp6.000.437.000.527.00 424312 Pendapatan hasil kerjasama lembaga/badan usaha 21. pelatihan dan teknologi 34.00 424116 Pendapatan jasa telekomunikasi 842.00 424135 Pendapatan program dana bergulir syariah 305.307. pekerjaan.000.00 424119 Pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya 27.000.00 424134 Pendapatan program dana bergulir sektoral 3.

Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Pasal 10 Cukup jelas.Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN Tahun Anggaran . Pasal 14 Cukup jelas. Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama. Pasal 9 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk hibah luar negeri yang diterima setelah APBN ditetapkan. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai. Pasal 13 Cukup jelas. Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian negara/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku.

000.204.800. Ayat (6) Dana perimbangan sebesar Rp296. Pasal 16 Cukup jelas.00 .000.022.Pajak penghasilan Pasal 21 9. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2009 setelah APBN Perubahan 2009 kepada DPR.413. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.000. Ayat (3) Cukup jelas. DBH Pajak Penghasilan 10.00 .089.000. Ayat (5) Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2009 kepada DPR.000. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.000. yang bukan merupakan kelanjutan dari multiyears project. Dana Bagi Hasil (DBH) 85. DBH Pajak 45. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).725. Ayat (4) Cukup jelas.952.00 i.000.2009 dan pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor.387.718.000. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.404.000. Ayat (5) Cukup jelas.754.00 a.

000.00 (dua triliun enam ratus sembilan miliar tujuh ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).182.484.800.728.856.240.500.564.00 Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dana otonomi khusus sebesar Rp8.609. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 7.000.00 ii.000.000.Iuran Tetap 67.600.964.000. DBH SDA Perikanan 120.000.00 iv.00 (satu triliun seratus delapan belas miliar empat ratus delapan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah). sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang .760.797.588.00 Dana Alokasi Khusus (DAK) 24.000.000.000.00 . DBH SDA Pertambangan Umum 6. 3.00 b.000.00 iii.000.000.546.000.Dana Reboisasi 494. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan.978.000.282.00 .100.000.000.911.000.215.505.761.Alokasi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat sebesar Rp3.00 .118.000.000.000.000.Royalti 6.00 iv.000.600.00 iii.369.300.Provisi Sumber Daya Hutan 999.000.446.000.00 v.798.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.00 ii.400.000. DBH SDA Gas Bumi 12.152.000. .000. DBH Cukai 964. b.000.321. DBH Pajak Bumi dan Bangunan 27.000.000.000.000.00 i. DBH SDA Minyak Bumi 19.Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi 702.414.000.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah) terdiri dari: 1.00 . DBH Sumber Daya Alam 39.000.151.819.Iuran Hak Pengusahaan Hutan 12. DBH SDA Kehutanan 1.000.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar Rp2.00 .000.000.00 Dana Alokasi Umum (DAU) 186.253.2.000.000.802.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah) yang disepakati untuk dibagi masing-masing dengan proporsi 70 persen untuk Papua dan 30 persen untuk Papua Barat dengan rincian sebagai berikut: a.207.000.

dan untuk tahun keenambelas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. dan kesehatan. sosial.000.000.00 (satu triliun empat ratus miliar rupiah).000. dilaksanakan.000.728. serta pendanaan pendidikan.Alokasi dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp3. pemberdayaan ekonomi rakyat.000. yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. 2. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah). Dana otonomi khusus NAD direncanakan. 3.000.400. Perencanaan sebagian besar dari penggunaan dana otonomi khusus tersebut direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi NAD dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota dalam Pemerintah Provinsi NAD serta merupakan lampiran dari APBA.000.000.00 (delapan ratus miliar rupiah) dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp600. Dana Tambahan Infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi Provinsi Papua sebesar Rp800.000.00 (enam ratus miliar rupiah). Dana Otonomi Khusus Aceh diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.282. pengentasan kemiskinan. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008.000. serta dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). terutama ditujukan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.000. Dana Otonomi Khusus Propinsi Papua tersebut dibagikan kepada Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat. Pencairan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat .Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

250.490.790.000.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.000.00 (tujuh triliun empat ratus sembilan puluh miliar rupiah).000.000.200.000.100.000. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas. 2.000.000.100.00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dapat diusulkan untuk dialokasikan dalam APBN-P tahun 2009.000. 3.00 (sembilan puluh enam miliar tujuh ratus empat puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp60.882.009.000.600.Dana tambahan DAU sebesar Rp7.00 (enam ratus miliar rupiah) tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan penyerapan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat tahun anggaran 2008.000.342. 4. yang diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan.000.014. Terdapat kekurangan dana tambahan otonomi khusus infrastruktur Provinsi Papua tahun anggaran 2008 sebesar Rp670. Ayat (3) Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp51.267. Ayat (2) Cukup jelas.000.000. Ayat (3) Dana penyesuaian sebesar Rp14.Kurang bayar DAK tahun 2007 sebesar Rp295.00 (tujuh triliun rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal dan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.Kurang bayar dana prasarana infrastruktur lainnya tahun 2007 sebesar Rp96.000.000.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) .00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.000.Dana tambahan DAU untuk guru pegawai negeri sipil daerah sebesar Rp7.tahun anggaran 2009 sebesar Rp600.747.00 (dua ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus enam puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).000.000.

966.000.a.000.00 iii.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batubara oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).106.000.000. b. Rekening pembangunan hutan 1.000.00 iv. Perbankan dalam negeri 16. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000.455.565.00 Hasil pengelolaan aset sebesar Rp2. dan pembelian kembali SBN. Hasil pengelolaan aset 2.000. Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2008 2.966. tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.161.000.400.000. Dana Investasi Pemerintah dan restrukturisasi BUMN -13.000.000. Surat berharga negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali.622.565.00 ii.000.629.719.549.250. Surat berharga negara (neto) 54. Jaminan pemerintah dimaksud diberikan atas risiko/kemungkinan PT PLN (Persero) tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran terhadap kreditur (payment default). pembayaran pokok.161. Pemerintah memberikan jaminan penuh atas kewajiban pembayaran pinjaman PT PLN (Persero) kepada kreditur perbankan.000.945.00 i.000. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan.690.911.00 (dua triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) terdiri dari: (i) penjualan aset Rp3.000.000.034.00 Non-perbankan dalam negeri 44.00 iii.088.361.565.000.000. akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar.400.000.000.00 iv.000.00 i.00 ii.966. Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan atas pinjaman PT PLN (Persero) tersebut di atas diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan memperhatikan peraturan .000.000. Privatisasi 500. Pelunasan piutang negara (PT Pertamina) 9. Rekening dana investasi 3.136.00 (tiga triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) dan (ii) restrukturisasi BUMN negatif Rp1.696.599.00 (satu triliun rupiah). baik SBN konvensional maupun SBSN (Sukuk). Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) apabila terealisir.000.000. sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.

198.000.000.609.00 Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri selain dari surat berharga negara internasional.000.549.400.000. Pengeluaran dana bergulir yang bersumber dari rupiah murni dialokasikan sebagai pengeluaran pembiayaan dalam APBN.000. (ii) penyertaan modal negara untuk PT Pertamina sebesar negatif Rp 9.000.00 (tiga belas triliun enam ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus sebelas juta empat ratus ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah) dialokasikan untuk: (i) investasi pemerintah sebesar negatif Rp500. Dalam rangka restrukturisasi utang PT Garuda dengan Export Credit Agency (ECA).00 (satu triliun rupiah).000. (iii) pendirian lembaga penjaminan infrastruktur (guarantee fund) sebesar negatif Rp 1.000.000.000.986.600.000.00 (satu triliun rupiah). Dana investasi pemerintah dan restrukturisasi BUMN sebesar negatif Rp13.000.000.perundang-undangan yang berlaku.00 Pinjaman proyek 25.000.000.Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp9.911. dan (v) dana bergulir sebesar negatif Rp 1.966.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) Penarikan pinjaman luar negeri bruto 52.000.000.966.957.440.600.136.000. (iv) dana kontinjensi untuk PT PLN sebesar negatif Rp 1.000. Pemerintah melakukan penjaminan terhadap PT Garuda dalam bentuk jaminan Standby Letter of Credit kepada bank-bank BUMN.00 b.448.240.160.00 (lima ratus miliar rupiah).361.622.455.957.945. . a.400. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -61.00 Pinjaman program 26.00 (satu triliun sembilan ratus delapan puluh enam miliar lima ratus empat puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).00 (sembilan triliun seratus tiga puluh enam miliar tiga ratus enam puluh satu juta sembilan ratus empat puluh lima ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah). 2.000.720.

00 b.000.106.388.300.000.531.000. Pasal 21 Ayat (1) Anggaran pendidikan sebesar Rp 207.000.218.000. Departemen Perindustrian 100.228.00 l.550. Kementerian Negara/ Lembaga lainnya 3.000.00 i.500. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 89.00 k.000.068.00 ii.950.000.000.377.000.000.000.000.000.763.158.223.00 m.951.700. Departemen Perhubungan 800. Departemen PU 42. Departemen Kesehatan 1.000.000.Pasal 20 Cukup jelas. Departemen ESDM 23.000. Badan Pertanahan Nasional 24.00 iii. Departemen Kehutanan 14.045. Badan Meteorologi .00 h.00 j.100.00 g.00 i. Departemen Pendidikan Nasional 61.000.815.000.00 e.000. Departemen Pertanian 75. Perpustakaan Nasional 259.00 c.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).476.413. Departemen Keuangan 64.000.000.000.00 d.275.000. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000.000.853.000. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 67.000. Departemen Kelautan dan Perikanan 250.000.000.525.00 a.00 f.900.000. Departemen Agama 23.730.

000. dan adanya perkiraan tambahan . dan Geofisika 16.000.000.705.000. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer ke daerah 117.000.982. Dana Otonomi Khusus Pendidikan 2.00 iv.000.237.00 v. sedangkan prognosa indikator ekonomi makro lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh persen) dari asumsinya.400.060. Pasal 23 Ayat (1) Keadaan darurat tersebut terjadi apabila: 1.597.000.837.00 ii. Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosa penurunan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan PNBP.334.000.Prognosa pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen) di bawah asumsi.000. DAU Pendidikan 97.000.657. DAK Pendidikan 9. Badan Tenaga Nuklir Nasional 7.900.000. Dana Tambahan DAU 7. 2.00 Ayat (2) Cukup jelas.terjadi kecenderungan peningkatan yield sekurang-kurangnya sebesar 300 basis points (bps) dalam 1 (satu) bulan.iv.000. Prognosa tersebut dihitung berdasarkan realisasi indikator ekonomi makro tahun 2008.1% (nol koma satu persen). DBH Pendidikan 817. dan/atau b.000.000.941.Posisi nominal dana pihak ketiga di perbankan nasional menurun secara drastis. 2.00 i.Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara yang menyebabkan tambahan biaya penerbitan SBN secara signifikan tercermin dalam: a.000.tidak adanya yield penawaran yang dimenangkan dalam benchmark pemerintah dalam 2 (dua) kali lelang berturut-turut.678.862.490.000. 3.00 n.00 iii.00 Pasal 22 Restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa beban bunga SU-002 dan SU-004 pada tahun 2009 dan selanjutnya didasarkan pada tingkat bunga hasil restrukturisasi yaitu sebesar 0.00 Bagian Anggaran 69 1.000.000.000.

dan Catatan atas Laporan Keuangan. Ayat (3) Cukup jelas. . Ayat (3) Informasi tentang pendapatan dan belanja secara akrual dimaksudkan sebagai tahap menuju pada penerapan anggaran yang dilengkapi dengan informasi hak dan kewajiban yang diakui sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih. Laporan Arus Kas.beban kewajiban negara yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang. Ayat (2) Penerbitan Surat Berharga Negara dapat dilakukan dengan metode lelang maupun tanpa lelang (penempatan langsung atau private placement). serta belanja lainnya. subsidi BBM dan listrik. Neraca. Untuk menutup kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran. Pasal 26 Ayat (1) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Pemerintah dapat melakukan penempatan langsung atau private placement Surat Berharga Negara pada Bank Indonesia. Pasal 25 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan persetujuan DPR adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang dilakukan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam sejak diterimanya usulan Pemerintah. Ayat (2) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.

Ayat (7) Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.1 -1 . Ayat (5) Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual pada Tahun Anggaran 2009 diterapkan pada satuan kerja berstatus Badan Layanan Umum yang secara sistem telah mampu melaksanakannya. Pasal 27 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4920 LAMPIRAN I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2009 BUKU I DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB 1PENDAHULUAN 1 I.Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

BAB 2TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 I.2 A. Kondisi Umum I.2 A.1. Pencapaian Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 I.2 -1 A.1.1. Agenda Aman dan Damai I.2 -1 A.1.2. Agenda Adil dan Demokratis I.2 -3 A.l.3. Agenda Kesejahteraan Rakyat I.2 A.2. Masalah dan Tantangan Pokok Tahun 2009 I.2 B. Tema Pembangunan Tahun 2009 dan Pengacusutamaan Pembangunan I.2 C. Prioritas Pembangunan Tahun 2009 I.2 -31 I. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan I.2 II. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi I.2 -46 III. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri I.2 BAB 3KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN A. Kondisi Ekonomi Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 B. Lingkungan Eksternal dan Internal Tahun 2009 C. Tantangan Pokok D. Arah Kebijakan Ekonomi Makro E. Sasaran Ekonomi Makro Tahun 2009

-1 -1

-5 -14 -29 -31

-66

I.3 -1 I.3 -1 I.3 -9 I.3 -10 I.3 -11 I.3 -12

BAB 4KAIDAH PELAKSANAAN I.4 -1 LAMPIRAN : MATRIKS PRIORITAS, FOKUS, DAN KEGIATAN PRIORITAS RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUTN 2009 II. -1 BAB 1 PENDAHULUAN Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan pelaksanaan

dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam hal ini, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. RKP Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Di dalam RPJMN Tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1.Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2.Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3.Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan tahun RKP, ditetapkan Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya. yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarbn ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Prioritas pembangunan nasional tahunan disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1.Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2.Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3.Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; 4.Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5.Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Dengan demikian RKP merupakan pedoman bagi penysunan Anggaran

Pendapatan dan belanja Negara (APBN), di mana kebijakan APBN ditetapkan secara bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Dengan cakupan dan cara penetapan tersebut, RKP mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1.Menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan, karena memuat seluruh kebijakan publik; 2.Menjadi pedoman dalam penyusunan APBN, karena memuat arah kebijakan pembangunan nasional satu tahun; dan 3.Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah. Lebih lanjut, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah, RKP juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP Daerah (RKPD). Sebagaimana RKP sebelumnya, dokumen RKP Tahun 2009 dilengkapi dengan Buku II yang berisi uraian tentang Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program. RKP Tahun 2009 ini belum sepenuhnya menampung kegiatan dalam RKA-KL mengingat masih dalam proses penyusunan. Namun, RKP Tahun 2009 ini telah disesuaikan dengan hasil pembahasan dalam Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009. BAB 2 TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 A. KONDISI UMUM

A.1.PENCAPAIAN TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Pelaksanaan pembangunan tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008 yang merupakan tahun ketiga dan tahun keempat RPJM Tahun 2004 - 2009 memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan ketiga agenda pembangunan yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Kemajuan penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. A.1.1. AGENDA AMAN DAN DAMAI Pelaksanaan Agenda Aman dan Damai telah mencapai kemajuan dengan terwujudnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang

DEA). Selanjutnya. Timor Leste. pengungkapan dan penanganan tindak kejahatan transnasional. Thailand. susunan dan kedudukan). dan Amerika Serikat (ICITAP. Malaysia. pengelolaan ketertiban masyarakat. pencucian uang. Globalisasi dan diberlakukannya pasar bebas akan meningkatkan mobilitas penduduk baik inter maupun antar negara. kemampuan. perkembangan organisasi kejahatan internasional yang didukung oleh kemajuan teknoiogi komunikasi dan informasi serta teknologi persenjataan. doktrin. Dalam rangka menjawab tantangan global dan semua bentuk gangguan keamanan yang tidak lagi mengenal batas negara (borderless crime). dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis. penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. bahkan ancaman keselamatan. serta berbagai bentuk kriminalitas yang !ainnya.semakin kondusif. dan aspek kultural (manajemen sumber daya. baik secara kuantitas maupun kualitas telah menunjukkan hasil yang signifikan. Upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. menyebabkan kejahatan transnasional seperti narkoba. Sementara itu. manajemen operasional. serta kelambatan antisipasi penanganan kejahatan transnasional adalah lemahnya profesionalisme lembaga kepolisian. kesenjangan kesejahteraan ekonomi. ATA. penyelundupan. Salah satu sebab utama belum optimalnya penanganan kriminalitas. dan sistem pengamanan . kompetensi. fungsi. konflik horizontal. Oleh karena itu diperlukan lembaga kepolisian yang efektif. Filipina. maka telah ditempatkan perwira penghubung (LO/SLO) di berbagai negara. dalam rangka memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. dan akuntabel. dan Australia. maka kerja sama internasional merupakan jawaban bagi seluruh penegak hukum di dunia untuk bangkit memerangi kejahatan yang bersifat transnasional. efisien. Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi. Efektivitas intelijen dan pengamanan rahasia negara merupakan faktor penentu dalam pencegahan. aspek instrumental (filosofi. ketidakadilan. organisasi. dan lalulintas nuklir dan sebagainya menjadikan kejahatan transnasional menjadi sulit tertangani. Arab Saudi. dan iptek). Jepang (JICA) . Penanganan berbagai tindak kriminal seperti kejahatan konvensional maupun transnasional. kewenangan. Kerja sama internasional teknis profesional penanggulangan kejahatan telah dilakukan dengan Jerman (GSG). Faktor kompleksitas kepentingan sosial politik. penegakan hukum. perdagangan perempuan dan anak. antara lain. konflik vertikal. agama dan golongan merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban terutama kontlik berdimensi kekerasan di beberapa daerah. keamanan.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan Polri dalam mencegah dan menindak kejahatan terorisme dan narkoba. maka pembangunan kemampuan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada tetapi hanya untuk mempertahankan kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki. Peningkatan kemampuan Polri juga ditempuh melalui percepatan penambahan jumlah personil dan kualitas personil. Kemampuan pertahanan yang kuat dan solid. dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. Untuk mengurangi ketergantungan sumber pengadaan alutsista kepada satu atau dua negara saja. secara geopolitik dan geostrategi. ekonomi. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Indonesia terletak pada posisi yang strategis dari menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. retrofitting. telah . Sejalan dengan tugas fungsi dan peran pertahanan negara tidak semata-mata hanya ditujukan kepada ancaman dari luar. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial. yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI. dan budaya yang beragam. bangsa. seperti pemberontakan bersenjata. Upaya peningkatan profesionalisme personel ditempuh melalui penataan organisasi. di setiap Polda telah terbentuk Den-88. Dalam rangka penyiapan cetak baru pertahanan telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005-2009. dihadapkan dengan keterbatasan anggaran. tetapi juga memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di dalam menangani bencana di dalam negeri. peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan. kebijakan umum dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan. serta Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. antara lain melalui repowering. agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya. sedangkan peningkatan kualitas personil diupayakan melalui pendidikan dan latihan. polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. Reformasi TNI telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya. Peningkatan jumlah personil diupayakan melalui rekruitmen dengan sasaran 1 : 600 yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2009. seperti bencana alam yang telah terjadi di beberapa wilayah. dan dalam menangani dampak bencana. tetapi juga berfungsi untuk mengatasi ancaman dalam negeri. Di samping itu. serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan. pemeliharan. Di sisi lain. serta pemantapan reformasi TNI yang dihadapkan dengan supremasi sipil.di masyarakat). dan pengadaan alutsista secara terbatas. tidak saja akan menempatkan NKRI semakin disegani dan dihormati dalam pergaulan internasional.

sebagai salah satu bentuk komitmen dalam upaya pemberantasan korupsi. A.1. Pada tahun 2007. Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Korupsi Tahun 2003 (UNCAC 2003). keterbatasan yang ada tidak menjadikan kendala dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. akan dilakukan kegiatan sosialisasi RAN PK dan penyusunan RAD PK . Namun demikian. Pada tahun 2008. Sedangkan untuk langkah penindakan baik yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung beserta jajarannya maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah memperlihatkan peningkatan yang semakin signifikan. Adanya keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan rencana kebutuhan dalam pembangunan pertahanan sehingga pemenuhan kebutuhan pertahanan belum dapat mencapai pembentukan kekuatan pokok minimum (minimum essential force) TNI. Melalui UU No 7/2006. Pada awal tahun 2008. Langkah-langkah pencegahan dan penindakan dilakukan secara bersamaan agar benar-benar memperlihatkan efek jera di semua lini kehidupan masyarakat. penindakan terhadap pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah dilakukan tanpa mengalami hambatan yang berarti.ditempuh langkah-langkah ke arah diversifikasi dalam pengadaan alutsista yang bekerja sama dengan beberapa negara. melalui antara lain penyesuaian peraturan perundang-undangan nasional yang sejalan dengan Konvensi Anti Korupsi 2003. selama tahun 2007 langkah-langkah untuk menciptakan iklim takut korupsi semakin memperlihatkan perkembangan yang positif baik di lingkungan penyelenggara negara. Sepanjang tahun 2007. upaya pemberantasan korupsi tetap dilanjutkan melalui langkah pencegahan dan penindakan hukum.2. Untuk pencegahan korupsi. dunia usaha maupun masyarakat. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of the State Parties (CoSP) II UNCAC di Bali dengan memprioritaskan pada upaya pengembalian aset korupsi baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS Dalam rangka pemberantasan korupsi. Untuk langkah pencegahan. sosialisasi RAN PK dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAN PK) telah dilakukan pada dua provinsi. Salah satu sebabnya adalah cepatnya pemberian izin yang diberikan oleh Presiden kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap penyelenggara negara yang berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari hasil investigasi telah melakukan tindak pidana korupsi. yang antara lain menginstruksikan dibuatnya Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK). telah dilakukan upaya memperkuat pemberdayaan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.

Selain itu juga akan secara intensif dilakukan sosialisasi terhadap Konvensi Anti Korupsi 2003 dan strategi nasionalnya yang akan melibatkan semua aparat pemerintah pusat dan daerah. MA dan BPK. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Sedangkan di bidang sumber daya manusia (SDM) aparatur. dunia usaha dan masyarakat luas. dan dilakukannya penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM/aparat pengawas internal pemerintah. serta pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS dan pengadaan PNS secara nasional. penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan publik (e-services) termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). Inisiatif reformasi birokrasi telah dilaksanakan di lingkungan instansi pemerintah sebagai upaya meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan. 65 Tahun 2005. Fokus penindakan korupsi akan ditujukan pada kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat luas. makin meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kompetensi auditor eksternal yang ditandai dengan dibukanya perwakilan BPK di provinsi sesuai mandat UU No 15/2006 tentang BPK dan rekruitmen tenaga auditor. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. seperti RUU Pelayanan Publik. dan lainnya. peningkatan kompetensi aparatur negara melalui penyelenggaraan assesment center dan berbagai diklat baik struktural maupun fungsional. beberapa pencapaian penting yang diharapkan . Di bidang penataan kelembagaan. Pada tahun 2008. berbagai kemajuan telah dicapai pada tahun 2007. RUU Etika Penyelenggara Negara. yang akan diperkuat dengan dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan undang-undang tersendiri. juga telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang cukup berarti. antara lain: diterbitkannya PP No. telah diterbitkannya Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Permendagri No. yang antara lain ditandai dengan: tersusunnya berbagai naskah RUU sebagai landasaan pelaksanaan reformasi birokrasi. RUU Kementerian Negara. RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah. terdapat kemajuan antara lain: upaya penyempurnaan regulasi di bidang SDM aparatur. dan perbaikan tingkat kesejahteraan aparatur negara meskipun masih terbatas. Beberapa naskah RUU tersebut telah dibahas dengan DPR dan diharapkan pada tahun 2008 terdapat perkembangan yang berarti. dan telah diselenggarakan berbagai diklat manajemen SPM. Upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan oleh Kejaksaan dan KPK. beberapa instansi pemerintah di pusat telah melakukan inisiatif reformasi birokrasi seperti Depkeu. ditandai antara lain: penerapan pelayanan satu pintu di berbagai daerah. 6 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan dari PP No. Kemajuan di bidang pelayanan publik. RUU Administrasi Pemerintahan.di 4 (empat) provinsi.

sebagai respon atas penerapan anggaran berbasis kinerja dan tuntutan atas peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. diundangkannya UU Pelayanan Publik. Secara bertahap. dan ditingkatkannya penerapan e-government untuk mendukung kualitas pelayanan publik. Kemajuan pelembagaan demokrasi yang juga perlu mendapat perharian pada tahun 2007 adalah keikutsertaan calon independen dalam pilkada melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan judicial review terhadap Pasal 59 Ayat 3 UU No. tersusunnya SPM sektoral bidang kesehatan. Untuk pembangunan SDM aparatur. adalah ditetapkannya UU No. dilakukannya penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait. Dengan akan diselesaikannya semua pembahasan dan ditetapkan semua UU . tersusunnya standar pelayanan perkotaan (SPP). dan tersusun sistem penilaian kinerja. Pedoman Umum Reformasi Birokrasi beserta juklak dan juknisnya. pendidikan dan infrastruktur yang disesuaikan dengan PP No 65 Tahun 2005. yang didukung dengan meningkatnya kompetensi tenaga pengawas dan pemeriksa/auditor. 10 tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota DPR. DPD. Pencapaian penting lainnya yang diharapkan dapat diwujudkan pada tahun 2008 adalah diselesaikannya Rencana Induk Reformasi Birokrasi. investasi/penanaman modal. di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan. meningkatnya pelayanan publik di bidang kependudukan. Pada tahun 2008. dan mendorong peningkatan kinerja PNS. sebagai landasan proses penguatan lembaga-lembaga demokrasi khususnya pelaksanaan Pemilu 2009. tahun 2008 diharapkan tersusun penyempurnaan sistem remunerasi PNS yang adil. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya penataan kelembagaan atas lembaga non struktural (quasi birokrasi) agar berfungsi secara lebih efektif dan efisien. Hasil penting lainnya dalam pembangunan lembaga demokrasi pada tahun 2007 adalah terpilih dan terbentuknya keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru. 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik dan UU No. pertanahan. PNS yang lebih akuntabel sebagai pengganti sistem DP3. ditingkatkannya kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan SPM. perpajakan dan kepabeanan. diharapkan tersusun pedoman sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. sisa 2 (dua) paket UU bidang politik yang belum dapat diselesaikan pembahasannya akan segera dibahas dan diundangkan. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu.terwujud diantaranya: dilanjutkannya penyusunan dan pembahasan dengan DPR berbagai RUU yang terkait dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. layak. pada awal 2008 telah ditetapkan UU No. Di samping itu. pengadaan barang dan jasa pemerintah/publik. Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007. dan DPRD. Diharapkan pula terwujud peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang pengawasan dan pemeriksaan.

3. veriftkasi peserta pemilu dan validasi calon anggota legislatif. Pencapaian penerimaan negara dan bibah tersebut terutama bersumber dan penerimaan perpajakan sebesar Rp 491. maka pada tahun 2008 semua peraturan pelaksanaan/petunjuk teknis penyelenggaraan Pemilu 2009 sudah dapat diselesaikan penyusunannya. b. dan penyediaan logistik Pemilu 2009.3 triliun (6. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. Hal-hal pokok terkait dengan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut: a.7 persen PDB).9 persen . Pendapatan Negara dan hibah tahun 2007 lebih tinggi 11. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 2.7 triliun.7 persen PDB).6 persen atau meningkat Rp 4.7 persen PDB).5 triliun. Di sisi kebijakan fiskal. moneter.1 persen atau naik Rp70.5 persen atau meningkat sebesar Rp 90. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006.Realisasi pengeluaran negara sampai dengan 31 Desember 2007 mcncapai sebesar Rp 757.0 triliun (5.4 triliun dari target APBN-P tahun 2007.0 persen PDB).bidang politik. Hal lain yang sangat penting untuk dicapai pada tahun 2008 adalah peningkatan kapasitas dan kesiapan partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat pemilih. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 215. dan hibah sebesar Rp 1.9 triliun dari target APBN-P tahun 2007.8 triliun (13.3 persen PDB) dan belanja ke daerah sebesar Rp 253. A.3 persen PDB. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal. penguatan lembaga keuangan.5 triliun (18. Realisasi tersebut lebih tinggi 0. Disamping itu juga diharapkan sudah dapat dilakukan penyempurnaan dan perbaikan data pemilih. yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 504. lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN tahun 2006 yang mencapai 0.2 triliun (20. pada tahun 2008 diharapkan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah dan KPU/KPUD sebagai lembaga penyelenggara pemilu di pusat dan daerah.1 triliun. penyediaan sarana dan prasarana pendukung Pemilu 2009. kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. realisasi pengeluaran negara pada tahun 2007 lebih tinggi 13.1 persen atau naik Rp 14. dan sektor riil.Defisit APBN tahun 2007 mencapai 1.Realisasi pendapatan negara dan hibah sampai dengan akhir tahun 2007 diperkirakan mencapai sebesar Rp 708. AGENDA KESEJAHTERAAN RAKYAT Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Secara kelembagaan.0 persen PDB).1. c.0 triliun (13. Defisit APBN diupayakan pada batas-batas aman keuangan negara melalui peningkatan pendapatan negara serta peningkatan efisiensi pengeluaran negara.

laju inflasi meningkat.7 persen PDB. Dari sisi kebijakan moneter.60 persen).0 persen PDB. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 8.9. pada bulan April 2008. Pencapaian sasaran di bidang moneter dan keuangan antara lain: a.Defisit anggaran dalam APBN-P tahun 2008 diperkirakan mencapai 2. Tekanan inflasi yang meningkat sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna membantu penurunan ekspektasi inflasi. lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai 1.96 persen.0 persen pada bulan Desember 2007 dan tetap dipertahankan hingga bulan April 2008.3 persen PDB.per USD pada bulan Oktober 2007.3 persen dibandingkan tahun 2006.367.Dalam rangka meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.25 persen. c. e. Secara keseluruhan.140 per USD atau menguat 0.PDB. mulai ditingkatkan bulan Mei 2008 menjadi 8. stabilitas moneter tetap dijaga sepanjang tahun 2007.5 persen (y-o-y) pada Maret 2008. rata-rata nilai tukar rupiah harian pada tahun 2007 mencapai Rp 9.59 persen (y-o-y).. Suku bunga acuan (BI rate) diturunkan secara bertahap dari 9. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditi makanan dan makanan jadi.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp. Suku bunga acuan tetap dipertahankan sampai bulan April 2008. namun lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar 1. Hal ini tercermin dari meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan sebesar 26.Stabilnya nilai tukar rupiah dan laju inflasi yang terkendali mendorong penurunan suku bunga perbankan secara bertahap.. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. d. .300 per USD. Memasuki tahun 2008. b. Penyaluran kredit UMKM sampai dengan akhir tahun 2007 tumbuh sebesar 22. relatif sama dengan tahun 2006 (6.per USD kembali menguat menjadi Rp 9. peran sektor keuangan dalam menjalankan fungsinya sebagai intermediasi keuangan juga semakin membaik. Terjadinya krisis subprime mortgage pasar keuangan Amerika Serikat di bulan Juli 2007 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar uang Indonesia.Nilai tukar yang melemah pada bulan Agustus 2007 menjadi Rp 9. 9.107. laju inflasi diupayakan tetap terkendali.4 persen (y-o-y) dan terus tumbuh mencapai 29.pada tahun 2007 laju inflasi mencapai 6.000 .4 persen (y-o-y).Sejalan dengan menguatnya kinerja pasar modal. Meskipun meningkat.5 persen pada bulan Januari 2007 menjadi 8. d. defisit APBN tersebut masih berada pada batas-batas aman keuangan negara. 9. rata-rata harian nilai tukar sebesar Rp. dengan tingginya harga komoditi pertanian di pasar dunia. pertumbuhan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui bank umum juga terus meningkat.

ekonomi diperkirakan tumbuh 6. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. ekonomi tumbuh 6.0 persen.6 persen. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. Dalam hal ketenagakerjaan. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. Lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007 .3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.1 juta menjadi 111. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan.Upaya-upaya yang ditempuh tersebut telah mampu mendukung perekonomian untuk dapat kembali tumbuh cukup tinggi.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.Februari 2008 meningkat sangat tinggi yaitu hampir 4. Sejak paruh kedua tahun 2007. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pada kurun waktu yang sama angkatan kerja meningkat dari 108.0 persen.5 persen (y-o-y). pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. gas dan air bersih.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3. listrik.0 persen. Dari sisi permintaan.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 5. Dalam tahun 2008.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan komunikasi. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.5 juta lapangan pekerjaan baru. 10. dan 8. sejalan dengan perekonomian yang terus meningkat. Momentum pertumbuhan terus berlanjut pada triwulan I/2008.4 persen.8 persen menjadi 6. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008. kopdisi ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang baik.5 persen.4 persen. Dengan memperhitungkan resiko gejolak eksternal yang cukup besar. pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6.5 .2 persen dan 8. Dari sisi produksi. Dalam triwulan I/2008. Sementara itu.5 persen dan 2.0 persen dan 13.9 persen.4 persen. serta bangunan yang masing-masing tumbuh sebesar 14. dampak dari krisis subprime mortgage di AS.

pada tahun 2007 pertumbuhan sektor pertanian. Keadaan ini cukup memprihatinkan karena usia mereka masih usia sekolah.62 persen.03 kuintal per hektar atau 0. Berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dibiayai oleh APBN.5 persen. Dari jumlah penganggur usia 20-24 tahun tersebut. perikanan.2 juta orang atau 22. meskipun produktivitas mengalami kenaikan 0.4 juta orang berada di perdesaan. pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor tanaman bahan makanan sekitar 5. pada Agustus 2007 proporsi penganggur dengan pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah mencapai sekitar 5.7 juta dari mereka atau 27. Target ini terlampaui karena adanya peningkatan produksi pertanian hingga melebihi sasaran yang telah dicanangkan antara lain produksi padi/beras yang mencapai sebesar 57.6 persen dibandingkan tahun 2006.3 juta orang.75 persen pada Februari 2007 menjadi 8.77 persen dibanding tahun 2006.76 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 592. 42.7 persen. perikanan dan kehutanan mencapai sebesar 3.86 persen. Secara sektoral.0 juta orang atau 49. Hal ini pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka.23 persen. perkebunan sekitar 2. Pada tahun 2007 PDB pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) meningkat 4.14 persen. lebih tinggi dari target yang direncanakan sebesar 2.4 juta orang atau 30.71 persen.29 juta ton. . Jumlah penganggur usia 20-24 tahun mencapai sekitar 3.42 persen. Sebaliknya pada tahun tersebut produksi kedelai mengalami penurunan sebesar 20. Penciptaan lapangan kerja bagi penduduk berlatar pendidikan relatif rendah.58 persennya atau sekitar 1. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya luas panen sekitar 121.46 persen orang pada Februan 2008. kehutanan dan perdesaan. Penganggur usia muda masih merupakan proporsi terbesar dri keseluruhan penganggur terbuka. bahkan 2.juta atau meningkat sekitar 3.4 ribu ton. Pengangguran terbuka masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah.10 persen hanyalah lulusan SD ke bawah.7 ribu ha atau 21 persen dibanding tahun sebelumnya. miskin dan tidak terampil telah diupayakan oleh Pemerintah. Demikian juga untuk produksi jagung meningkat 14.44 persen dibanding tahun sebelumnya dari 11. penduduk usia 15-19 tahun yang menganggur mencapai 2.05 juta ton GKG yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir atau meningkat 4. yaitu dari 9.44 persen dan peternakan sekitar 2.02 persen. termasuk revitalisasi pertanian. Pertumbuhan sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat.32 persen terhadap PDB Nasional atau naik sebesar 7.61 juta ton menjadi 13. Demikian pula PDB perikanan pada tahun 2007 kontribusinya naik menjadi sebesar 2. telah mulai dikembangkan dan dikonsolidasikan agar tenaga kerja yang dicakup semakin banyak dan merata. Pada Agustus 2007.

Sebaliknya pertumbuhan sub sektor kehutanan mengalami penurunan karena masih banyaknya illegal logging yang mengakibatkan kerusakan hutan, sehingga berakibat pada menurunnya produksi kayu dari hutan alam yang belum dapat digantikan dengan produksi hasil hutan tanaman industri dan non kayu lainnya. Hal tersebut telah menyebabkan banyaknya industri hasil hutan yang tutup. Dalam rangka pelaksanaan revitalisasi, kegiatan di bidang perikanan difokuskan pada peningkatan produksi dan pengembangan tiga komoditas penting, yaitu udang, ikan tuna, dan rumput laut, dengan tetap melakukan upaya peningkatan mutu dan kegiatan optimalisasi pengelolaan perikanan sejak dari penangkapan ikan (on farm) hingga pemasaran. Untuk mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, pemerintah telah melakukan rehabilitasi, pembangunan, peningkatan fasilitas pendukung berupa Pelabuhan Perikanan Samudra, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan. Selain itu, dilaksanakan juga rehabilitasi dan pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan di 33 provinsi. Pada sub sektor kehutanan, upaya revitalisasi masih terus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain melalui kegiatan-kegiatan: (i) Pengembangan pemanfaatan hutan alam dengan meningkatkan manajemen Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHK); (ii) Penertiban peredaran hasil hutan dalam rangka mengoptimalkan PNBP dan Dana Reboisasi (DR); (iii) Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH); (iv) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); (v) Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak dibebani hak/ijin pemanfaatan; dan (vi) Restrukturisasi industri primer kehutanan. Di bidang infrastruktur, upaya peningkatan pelayanan infrastruktur sesuai standar pelayanan minimum pada tahun 2008 telah diwujudkan melalui pembangunan saluran air baku dengan kapasitas terpasang 1,00 m3 / detik, rehabilitasi sarana/ prasarana pengendali banjir di 62 lokasi pembangunan, pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km, prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan seluas 688 ha, kondisi jalan nasional telah mencapai 81 persen mantap dari panjang jalan nasional dengan peningkatan pelayanan prasarana jalan menjadi 45 km per jam; pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan pulau terluar sepanjang 100 km; pembangunan jalan di kawasan perbatasan sepanjang 110 km., pemberian subsidi operasi perintis angkutan jalan pada 153 lintas, pengadaan bus perintis sebanyak 340 unit, pelayanan pelayaran perintis untuk 62 trayek, subsidi operasi lintas penyeberangan perintis pada 80 lintasan, pelayanan penerbangan perintis untuk 90 rote, penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan angkutan penumpang KA kelas ekonomi sebanyak 70 KA dan angkutan laut kelas ekonomi pada 22 trayek, rehabilitasi dan pembangunan jalan poros desa melalui (DAK) sepanjang 88.205 km dan pengadaan sarana angkutan perdesaan; pengembangan

energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terlaksananya Program integrated micro hydro development and application program (IMIDAP), pembangunan listrik di perdesaan yaitu: PLTS 50 Wp sebanyak 59,000 unit, PLT bayu 80 kW sebanyak 14 Unit; PLTMH sebanyak 1,270 kW, Gardu Distribusi sebanyak 930 Buah/ 44,950 kVA, JTM sebanyak 1,803 kms, JTR sebanyak 1,453 kms; penyediaan PSO pos untuk 2.350 kantor pos cabang luar kota; pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 15.448 unit/30 kawasan, pengembangan Desa-desa Pusat Pertumbuhan di 146 kawasan di 32 provinsi, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 28.000 unit, pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1800 desa, Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 100 lokasi, peningkatan pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional di 35 kab/kota. Dalam rangka peningkatan daya saing sektor riil, pada program pembangunan bidang infrastruktur telah dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 210,73 ribu ha dan rawa seluas 207,67 ribu hektar; pembangunan 7 waduk dan 35 embung, pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang 145 km, pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 71,1 km, tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian, rehabilitasi jalan nasional sepanjang 4.000 km, pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa sepanjang 70 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km, rehabilitasi/peningkatan jalan provinsi/kabupaten/kota sepanjang 418.346 km melalui DAK, peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan Lintas sepanjang 4.410 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km pengadaan sarana KA Kelas Ekonomi, Kereta Rel Listrik, dan Kereta Rel Diesel/Kereta Rel Diesel Electric/Kereta Diesel Kelas 3 sebanyak 45 unit, rehabilitasi Dermaga Penyeberangan pada 36 Dermaga, pembangunan dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan pada 129 Dermaga, pengadaan kapal perintis dan bus air sejumlah 84 Buah, rehabilitasi landasan dan fasilitasnya 450.000 m2; pengembangan Energi Alternatif dan Teknologi Energi Baru Terbarukan, pengembangan wilayah distribusi gas bumi untuk rumah tangga, industri kecil, dan transportasi (gas kota) , pemberian insentif penyediaan energi alternatif, Land Mark penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (Koordinasi Pengembangan dan Pemanfaatan Biofuel), pengembangan teknologi pembangkit listrik lampu hemat energi; pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang dilakukan BUMN PT. PLN baik untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru ataupun rehabilitasi dan repowering pembangkit listrik berbahan bakar batubara, gas dan energi terbarukan hidro dan panas bumi, serta untuk pembangunan

jaringan penyaluran transmisi dan distribusinya, pengembangan regulasi dan pengawasan dalam rangka meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri serta meningkatkan pembinaan industri penunjang ketenagalistrikan dalam negeri melalui pembinaan usaha serta pengembangan standarisasi dan sertifikasi; pembahasan RUU Pos pengganti UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos, penyusunan RUU Telekomunikasi pengganti UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, pengembangan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dalam rangka pengamanan dan pengawasan jaringart internet di Indonesia, pembangunan prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access, penyediaan infrastruktur TIK melalui program Community Access Point (CAP) dan warung masyarakat informasi, penyediaan sarana dan prasarana air limbah sistem terpusat di 26 kawasan/kota, pembangunan sarana dan prasarana air minum pada 69 kawasan strategis, dan pengembangan sistem drainase di 11 kabupaten/kota. Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyediaan infrastruktur melalui kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha, hingga tahun 2006 telah dilaksanakan persiapan perlaksanaan Public-Private Partnership (PPP) untuk Penyediaan Air Baku Industri; persiapan pelaksanaan pembangunan jalan tol dan Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara; pemberian hak khusus pembangunan jaringan pipa gas dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah; penerbitan peraturan tentang penetapan tarif berbasis biaya melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Awal dan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar melalui Jaringan Tetap dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular; dan penetapan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Terkait fenomena global mengenai perubahan iklim, kebijakan pemerintah mengenai peningkatan kapasitas mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan sekaligus dalam rangka pengurangan risiko bencana telah diselesaikan, antara lain: pembangunan prasarana pengendali banjir seluas 500 ha dan panjang 954 km; pemeliharaan prasarana pengendali banjir sepanjang 1,387 km; pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 70 km; pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km; kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; upaya penanganan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) secara terpadu dengan penanganan daerah hulu dan hilir sungai. Sementara itu, setelah empat tahun pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias, serta hampir tiga tahun pelaksanaan tugas dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (BRR NAD-Nias), lembaga tersebut akan segera mengakhiri masa tugasnya pada bulan April 2009 yang akan datang. Dengan

serta pemulihan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat. Pada tahun 2007.74 triliun. dijadwalkan dapat diselesaikan pada bulan Juni 2008. meningkatkan koordinasi antar pelaku pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. (2) masih diperlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. terutama bagi kelompok rentan. pemenuhan pelayanan dasar.4 miliar. pencapaian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias yang telah dilaksanakan oleh BRR NAD-Nias mencakup beberapa kegiatan pokok yaitu: penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. prasarana lingkungan permukiman. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga dilakukan selama hampir dua tahun terakhir ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah. sementara untuk pemulihan prasarana publik telah dialokasikan sebesar Rp 1. pemulihan perekonomian masyarakat. (3) masih . sarana dan prasarana wilayah. Pelaksanaan pemulihan pasca bencana melalui pendanaan APBN sejak tahun 2006 hingga 2008. diantaranya: (1) penataan ruang permukiman dan pengembangan lahan skala besar yang memenuhi tata lingkungan yang baik dengan pendekatan pengurangan risiko bencana.2 triliun. dengan memperkuat landasan perekonomian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. dan penyelesaian masalah pertanahan dan penataan ruang wilayah. pada tahun 2008 pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur. air bersih dan sanitasi. 9 tahun 2006. pengelolaan lingkungan hidup. maka pada tahun 2009 penyelesaian dan keberlanjutan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias akan dilanjutkan oleh kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. dan pengarusutamaan gender. serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan wilayah. Namun demikian. menunjukkan bahwa pemulihan perumahan korban bencana telah diselesaikan melalui pendanaan sebesar Rp 5. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. pemulihan fasilitas pendukung kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan dan kesehatan. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan melalui proses legalisasi peraturan daerah.berakhirnya tugas dari BRR NAD-Nias tersebut. penyelesaian perumahan dan permukiman bagi korban bencana. peningkatan kesejahteraan sosial. serta Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di Provinsi Sumatera Utara. memperkuat kapasitas kelembagaan. Selain di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias. peningkatkan SDM. masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2009 dalam pembangunan daerah pasca rehabilitasi dan rekonstruksi. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi 27 Mei 2006. pasca kejadian gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. dan untuk pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah telah dialokasikan sebesar Rp 430.

Dengan kondisi ini. Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20% pada tahun 2009. Di bidang kesehatan. data maupun peta wilayah rawan bencana yang memadai bagi analisa pola pemanfaatan ruang sekaligus menguatkan kelembagaan di tingkat daerah dalam pengendalian pemanfaatan rencana tata ruang wilayah. pencegahan dan pengendalian flu burung memerlukan upaya menyeluruh dan terintegrasi dari segi tata laksana kesehatan hewan dan kesehatan manusia. Namun demikian untuk mencapai sasaran penurunan AKI pada tahun 2009 menjadi 226 per 100. status kesehatan masyarakat terus menunjukkan perbaikan. Demikian pula dengan status gizi anak balita mengalami perbaikan yang ditandai dengan menurunnya persentase balita yang mengalami kekurangan gizi dari 34. diperlukan upaya yang lebih keras. Upaya penurunan AKI juga perlu didukung dengan perbaikan keadaan gizi ibu hamil. telah ditetapkan program dan fokus kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pendayagunaan rencana tata ruang wilayah sebagai salah satu instrumen utama untuk mengurangi resiko bencana dan peningkatan kualitas informasi.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Sampai akhir Februari 2008 kasus flu burung pada manusia mencapai 129 kasus dan 105 diantaranya meninggal. penanggulangan kemiskinan.diperlukannya dukungan yang difokuskan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah serta pemulihan infrastruktur perekonomian lokal. Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2006-2008 menjadi acuan kebijakan pelaksanaan upaya pengendalian flu burung dan saat ini . memperbaiki pola asuh. serta (4) dukungan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana.02% pada tahun 2005 (Susenas 2007). pendidikan ibu. dan meningkatkan pelayanan kesehatan dasar. Jumlah kasus kematian ternak unggas akibat flu burung sangat tinggi dan tersebar di seluruh provinsi. perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang saat ini baru mencapai 71. termasuk upaya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi pandemi.4% pada tahun 1999 menjadi 28. peran perempuan.000 kelahiran hidup.9 persen (Susenas 2007). serta peningkatan sarana prasarana transportasi. Flu burung telah menjadi isu global dan nasional karena memiliki dampak besar pada kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa manusia. Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia juga cenderung terus meningkat. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008. hal ini antara lain dapat dinilai melalui perbaikan berbagai indikator kesehatan seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100.

Rasio beban ketergantungan yang sebesar 48. Penurunan persentase penduduk muda mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk membiayai pembangunan bidang lainnya. Keadaan ini di satu sisi mengindikasikan telah terjadi penurunan persentase penduduk sebagai beban pembangunan (dependenry ratio) sementara di sisi lain juga merupakan keuntungan ekonomi (Bonus Demografi/BD). Pada waktu rasio beban ketergantungan mencapai angka terendah ini terbukalah jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk Indonesia. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa. penyediaan obat Oseltamivir. Upaya pencegahan dan penanggulangan di bidang kesehatan manusia yang telah dilaksanakan mencakup penatalaksanaan kasus di rumah sakit. daerah perbatasan. dan daerah bencana perlu ditingkatkan. dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun. surveilans epidemiologi. Penurunan angka kelahiran dan kematian bayi yang terjadi selama ini telah merubah struktur umur penduduk yaitu persentase penduduk usia produktif terus meningkat sementara persentase penduduk usia non-produktif. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun. tahun 2008 menjadi 228 juta jiwa. Untuk itu pada tahun 2009 Askeskin perlu terus dilanjutkan dengan jaminan kesehatan pada masyarakat (jamkesmas) untuk meningkatkan akses penduduk miskin dan kurang mampu di kelas III RS dan peiayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di Puskesmas dan jaringannya. Selain itu. serta melakukan kaji tindak. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas.4 juta orang (2005) menjadi 76. BD akan terentang hingga sekitar tahun 2020.4 juta orang (2007). penyernaan ruang isolasi perawatan di 100 rumah sakit rujukan.Renstranas tersebut sedang dalam proses perumusan kembali.9 persen (tahun 2006) diperkirakan turun menjadi 47. antara lain melalui kegiatan Keluarga . Diperkirakan. peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Cakupan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan kurang mampu melalui program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (JPK-MM)/Askeskin terus meningkat yaitu dari 36. terpencil. khususnya penduduk muda (0-14 tahun) semakin menurun. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah tertinggal. Namun demikian kesempatan yang menguntungkan pembangunan itu tidak akan pernah tercapai bahkan akan merugikan bila laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dan kualitas penduduk tidak ditingkatkan secara terus menerus dan konsisten. pengendalian kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang.5 persen pada tahun 2017. penguatan laboratorium pengujian. perlindungan bagi petugas yang berisiko tinggi.2 persen (tahun 2008) dan terus menurun hingga mencapai titik terendah 44.

PPATK di 10 provinsi rawan illegal logging. dan (5) pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan. (2) uji coba Sistem Informasi-Penata Usahaan Hasil Hutan (SI-PUHH) dan penatausahaan Provisl Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR) berbasis Teknologi Informasi (TI) di 3 Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP). Dalam pengamanan kawasan hutan telah dilaksanakan antara lain: (1) operasi pengamanan fungsional dan operasi khusus melalui kerja sama dengan POLRI.9 persen. dan (2) penguatan kapasitas kelembagaan Pengamanan Hutan (Pamhut) dan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di 10 lokasi.1 persen. Perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi dalam peningkatan kuantitas fasilitas layanan pendidikan. Pada saat yang sama. Pada tahun 2007. APK pada jenjang pendidikan tinggi (PT) yang mencakup pula perguruan tinggi agama (PTA).51 persen. kelompok umur 13-15 tahun sebesar 84. Kesungguhan Pemerintah tersebut tercermin oleh hasil yang cukup menggembirakan seperti yang terlihat dari peningkatan angka partisipasi pendidikan pada semua jenjang. Pada tahun 2007 pelaksanaan kegiatan yang dilakukan telah menghasilkan berbagai pencapaian. rasio murid per guru adalah 21 untuk SD/MI dan 13 untuk SMP/MTs. Sementara itu. Kejaksaan.4 persen. antara lain: penyelesaian blueprint peningkatan kapasitas nasional bidang minyak dan gas bumi (migas) sebagai upaya peningkatan kapasitas nasional dalam industri migas. Sementara itu. (4) dilakukannya monev illegal logging dan monev hasil lelang basil hutan ilegal. perumusan kebijakan dan regulasi usaha penunjang migas beserta keberpihakannya. (3) implementasi penatausahaan SI-PUHH dan PSDH/DR berbasis TI (on-line) di 11 BP2HP.52 persen dan 60. baik secara . penawaran 30 wilayah kerja migas. TNI AL. angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI dan yang sederajat mencapai 94. Adapun angka partisipasi sekolah (APS) atau persentase penduduk yang mengikuti pendidikan formal untuk kelompok umur 7-12 tahun tercatat sebesar 97. dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 53. Pemerintah secara terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. Rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI dan 40 untuk SMP/MTs. Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA/SMALB/Paket C masing-masing mencapai 92. Sementara itu. upaya penertiban peredaran hasil hutan telah mencapai hasil antara lain: (1) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kayu meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2006. Dalam hal perbaikan pengelolaan sumber daya hutan berbagai upaya untuk telah banyak dilakukan oleh pemerintah. selama tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan. BIN.Berencana (KB). dan Universitas Terbuka (UT) adalah sebesar 17.25 persen.90 persen. pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral. Selanjutnya.

MASALAH DAN TANTANGAN POKOK TAHUN 2009 Dengan berbagai kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan perkiraan pada tahun 2008. program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER). A. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pemantauan kualitas air. Masalah dan tantangan utama yang . Untuk meningkatkan kapasitas daerah di bidang lingkungan hidup. program energi efisiensi di industri kecil dan menengah. pembangunan bidang lingkungan hidup tetap dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pengendalian penggunaan sumber dara alam secara berkelanjutan serta pengendalian praktek perusakan/penurunan kualitas lingkungan. 22 tahun 2001 tentang Migas. Sejak berlakunya UU No. kegiatan pengusahaan migas terus meningkat secara berturut-turut. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon melalui penghapusan pemakaian bahan perusak ozon (BPO) di berbagai mesin pendingin (chiller) dan memasyarakatkan penggunaan metered dosed inhaler (MDl). program pembangunan bersih yang dikoordinasi oleh Komnas Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB).penawaran langsung ataupun penawaran melalui tender (regular dan direct offer). program kali bersih. Sementara itu. Hingga tahun 2007. penandatanganan 26 kontrak kerja sama (KKS) dengan komitmen investasi untuk 3 tahun mendatang sebesar US$ 640. telah disalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah. tahun 2005 terlaksana 28 kegiatan usaha. masih banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Hal-hal tersebut di atas terus dilanjutkan pada tahun 2008 termasuk membangun fasilitas dan infrastruktur lingkungan.31 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 50. hasil olahan dan lain sebagainya. telah dilaksanakan kegiatan Adipura. program langit biru. LPG. program Debt for Nature Swap dengan Pemerintah Jerman. penegakan hukum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang terus akan dilakukan untuk memperluas cakupannya. Namun demikian. pembinaan tim penilai AMDAL. pengendalian pencemaran air serta perlindungan sumber daya air. tahun 2006 terlaksana 32 kegiatan usaha dan tahun 2007 terlaksana 35 kegiatan usaha. hasil pelaksanaan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat terus menunjukkan kemajuan.53 juta. Kegiatan-kegiatan ini terutama berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keniagaan migas termasuk niaga umum BBM. serta kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. Sementara itu.2. program menuju Indonesia hijau. hasil pelaksanaan agenda pembangunan aman dan damai serta agenda pembangunan adil dan demokratis telah mengarah kepada keadaan yang diinginkan. pada tahun 2007. dari 3 (tiga) agenda pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009.

prasarana dan sarana fisik perekonomian yang memadai. jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih besar dan penurunannya berjalan lambat. Akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Dukungan yang dibutuhkan terkait dengan jaminan lokasi usaha. 2. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap terus meningkat. khususnya bagi yang berada di perdesaan dan luar Jawa. pelaksanaan program pembangunan masih bersifat parsial dan belum terfokus. Padahal sebesar 63. kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Masalah pokok yang dihadapi dalam menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. upaya pembangunan yang dilakukan masih belum merata dan belum mencapai seluruh masyarakat. yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat miskin. kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan berbasis masyarakat masih sangat terbatas. dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola usaha. 64 ribu gelandangan dan pengemis. dan persentase kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama Nusa Tenggara. Oleh sebab itu tantangan yang harus dihadapi adalah menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Ketiga.5 juta penduduk lanjut usia. jwnlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin karena guncangan ekonomi maupun karena bencana alam masih cukup besar.5 juta jiwa orang cacat. Dukungan usaha masyarakat yang terbatas menimbulkan . upaya pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial masih merupakan masalah dan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan. meliputi pendidikan. MENYEMPURNAKAN DAN MEMPERLUAS CAKUPAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT. serta 66 ribu tuna susila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial. Tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan dukungan bagi perkembangan usaha mereka. perumahan serta air bersih dan sanitasi dasar masih terbatas. 145 ribu anak jalanan dan 1. Selain itu. Kesemuanya ini merupakan masalah dan tantangan yang harus ditangani agar efektifitas penurunan jumlah penduduk miskin dapat ditingkatkan. MEMPERKUAT USAHA MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH. akses terhadap sumberdaya. Selain itu. Saat ini terdapat 3. Kedua.8 juta anak telantar. kesehatan. MEMBANGUN DAN MENYEMPURNAKAN SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL KHUSUSNYA BAGI MASYARAKAT MISKIN.dihadapi pada tahun 2009 diantaranya adalah sebagai berikut. Maluku dan Papua juga lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa. Persentase penduduk miskin pada Triwulan I Tahun 2008 sebesar 15.8 juta jiwa korban bencana alam. 2.4 persen dan desa miskin/tertinggal mencapai lebih dari 46 persen.5 persen dari jumlah penduduk miskin tinggal di perdesaan. Terkait dengan upaya penurunan jumlah penduduk miskin.

kelompok.Rp 500 juta). antarkota dan desa. Keterbatasan dukungan akses terhadap sumberdaya. KUR diberikan kepada UMKM dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang bersifat individu. serta arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang masih berorientasi pada "inward looking" sehingga menghambat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. kewirausahaan dan kapasitas pengelolaan usaha yang rendah. MENINGKATKAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDlKAN.permasalahan berupa tingkat pendapatan yang rendah. Salah satu unsur pelayanan dasar yang diperlukan masyarakat adalah pendidikan. Permasalahan utama yang dihadapi bidang pendidikan adalah masih diperlukannya peningkatan akses. masih ditemui adanya kesenjangan pencapaian APK yang cukup tinggi antar daerah. Besarnya kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi menjangkau kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah (kredit/pembiayaan di bawah Rp 5 juta) dan kebutuhan kelompok masyarakat yang usahanya terus berkembang (kredit/pembiayaan Rp 5 juta . kemitraan dan/atau klaster yang layak untuk dibiayai namun belum menjadi nasabah bank. dan 121 kabupaten/kota yang APK-nya sekitar 75-90 persen. akses terhadap pelayanan sosial. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang masih membutuhkan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2004-2009. Di samping itu. merupakan masalah yang paling mendesak untuk ditangani. pemerataan. serta antarpenduduk kaya dan miskin. Kesenjangan antar daerah tersebut terlihat dari masih adanya 75 kabupaten/kota yang variasi pencapaian APK SMP/MTs/Sederajat kurang dari 75 persen. Selain tantangan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar. ekonomi dan politik yang terbatas. khususnya pembiayaan. . kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi (Inpres 06/2007). dan kualitas pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut pada umumnya tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit/pembiayaan perbankan. Kondisi tersebut mendorong dikeluarkannya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yaitu percepatan penyaluran kredit/pembiayaan yang berasal dari sumber dana perbankan dengan dukungan penjaminan untuk kredit usaha mikro. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat miskin. meskipun mereka memiliki usaha yang layak secara ekonomi untuk dibiayai. Program KUR juga dilengkapi dengan pendampingan mulai dari penyiapan proposal kredit sampai dengan penggunaan kredit (pengelolaan keuangan).52 persen pada tahun 2007. Efektivitas penyaluran KUR dan pendampingannya merupakan tantangan yang harus ditangani secara tepat untuk mendukung upaya perkuatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. hampir miskin dan tidak mampu yang memiliki kegiatan usaha produktif yang tersebar di berbagai lapangan usaha dan lokasi. Upaya keras ini perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat yang baru mencapai 92.

namun masih terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kesehatan. namun mengingat proporsi buta aksara terjadi pada penduduk usia 45 tahun ke atas yang umumnya memiliki minat belajar yang rendah. Dalam hal ini peran pendidikan nonformal menjadi sangat diperlukan dan harus dapat dimanfaatkan. kasus penyakit flu burung pada manusia. misalnya dengan alasan ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga. masalah gizi utama masih memerlukan penanganan intensif seperti kurang energi protein pada ibu hamil. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat akibat ketersediaan pendidik berkualitas belum memadai. kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan. terpencil. Pertama. sehingga mereka lebih memilih bekeja dibandingkan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. MENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN. Permasalahan dan tantangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperkecil kesenjangan antara sasaran dan pencapaian angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 2.2 persen. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang belum mencukupi. serta berbagai masalah gizi lain seperti anemia gizi besi. Secara persentase angka tersebut memang tidak terlalu besar. dan kesejahteraannya yang masih terbatas. dan balita. Kelima. dan jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian anak balita. bayi.permasalahan dan tantangan lain yang dihadapi di bidang pendidikan adalah besarnya jumlah lulusan SMP/MTs yang karena alasan ekonomi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Selain pendidikan. jumlah dan distribusi tenaga kesehatan masih terbatas khususnya di daerah tertinggal. dan daerah bencana masih perlu ditingkatkan. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilakukan secara terus menerus. penderita TB. kurang vitamin A dan kurang zat gizi mikro lainnya. penyakit menular masih cukup tinggi antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah penderita malaria. maka upaya yang dilakukan harus lebih besar. Keenam. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan juga merupakan masalah dan tantangan yang harus diselesaikan. perbatasan. Keempat. Ketiga. Beberapa permasalahan dan tantangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. gangguan akibat kurang yodium. kejadian demam berdarah dan kejadian luar biasa diare. akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan penduduk daerah tertinggal. Kedua. kesehatan juga merupakan unsur penting yang menjadi indikator dan sekaligus merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. terpencil dan perbatasan. persebarannya belum merata. .

perbatasan. Ketujuh. Jawa Timur. obat. (2) kurangnya keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. Kesejahteraan masyarakat dan kegiatan perekonomian hanya akan dapat ditingkatkan apabila tersedia pelayanan infrastruktur yang memadai. Sementara di bidang energi dan ketenagalistrikan. Pola serupa juga ditunjukkan oleh rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup pada perempuan yang pernah menikah yaitu pada kelompok termiskin sebanyak 3.0 lebih tinggi daripada kelompok terkaya yang besarnya 2. dan Gorontalo) maupun di beberapa daerah yang TFR-nya sudah berada pada tingkat replacement level yaitu TFR kurang dari 2. makanan dan keamanan pangan masih perlu ditingkatkan. Di bidang transportasi masalah pokok dan tantangan yang dihadapi antara lain. Di bidang sumber daya air masalah pokok yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku perdesaan serta pengendalian daya rusak air. Sulawesi Selatan. perlu disusun peraturan perundang-undangan untuk mendukung pelayanan kesehatan seperti peraturan perundang-undangan tentang Rumah Sakit. D. perbatasan. Meskipun upaya peningkatan pelayanan infrastruktur perdesaan telah dilakukan. dan pulau-pulau kecil melalui pelayanan angkutan yang murah dan terjangkau untuk masyarakat miskin dan masyatakat yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. dibandingkan dengan kelompok terkaya sebanyak 2. berdasarkan distribusi kelompok pengeluaran keluarga. Adapun tantangannya adalah ketersediaan air dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat untuk seluruh wilayah Indonesia. Yogyakarta. Disamping itu. dan SDM kesehatan.3 orang. dan pulau-pulau kecil. Sulawesi Tengah. MENGENDALIKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK. masalah pokok yang . pedalaman.7 orang.2. dan Bali). TFR pada kelompok termiskin sekitar 3. MENINGKATKAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR DI DESA SESUAI STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM). Kalimantan Selatan. Hasil Supas 2005 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan Total Fertility Rate (TFR) di beberapa daerah baik di daerah yang TFR-nya masih di atas rata-rata nasional (Nusa Tenggara Timur. namun masih diperlukan berbagai upaya lanjutan dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur perdesaan sesuai dengan standar pelayanan minimum.1 (DKI Jakarta. (3) kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur transportasi terutama di daerah perdesaan. (1) rendahnya akses terhadap pelayanan transportasi khususnya untuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan.I. psikotropika. pedalaman.ketersediaan obat dan pemanfaatan obat generik serta pengawasan terhadap obat.

BERDAYA TAHAN. persampahan. MEMPERKUAT LEMBAGA MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DESA. masalah pokok dan tantangan yang dihadapi adalah rendahnya jumlah akses. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam upaya penguatan lembaga masyarakat dan pemanfaatan kelembagaan pemerintah daerah antara lain sebagai berikut. Untuk itu tantangannya adalah mengembangkan sumber energi dan kelistrikan yang disesuaikan dengan kondisi demografis dan geografis dengan layak secara finansial. Kedua. pemilikan. Masalah dan tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap lahan. kualitas. Selain itu. ekonomis dan sosial budaya. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT PERDESAAN PADA LAHAN.dihadapi. dan jangkauan layanan pos dan telematika di perdesaan. Pertama. . Keterbatsan akses masyarakat terhadap lahan lebih lanjut menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber permodalan. jaringan air limbah. rendahnya kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah serta harga rumah yang terus meningkat karena meningkatnya harga lahan serta masih adanya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dalam perijinan pembangunan perumahan. MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI YANG STABIL. Di bidang pos dan telematika. Terkait dengan telekomunikasi tantangan utamanya adalah perluasan layanan telekomunikasi dan jangkauan penyiaran serta pos hingga ke seluruh pelosok tanah air. menurunnya wilayah jangkauan penyiaran. dan jaringan drainage. Disamping itu masih maraknya sengketa dan konflik pertanahan turut menghambat akses masyarakat perdesaan pada lahan. Di bidang perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan prasarana-sarana permukiman seperti jaringan air minum. masih lemahnya kelembagaan ekonomi dan organisasi perdesaan yang berbasis masyarakat untuk menggerakan sistem perekonomian dan memperkuat modal sosial. merupakan tantangan yang dihadapi dalam perumahan. pada kenyataannya masih terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam penguasaan. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini memang tidak mudah karena kondisi demografis dan geografis yang bervariasi dengan persebaran penduduk tidak merata dan potensi energi yang sangat bervariasi. terutama masyarakat perdesaan. masih lemahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah desa khususnya dalam menciptakan inisiatif-inisiatif pengembangan perekonomian desa dan pelayanan masyarakat. adalah rendahnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana energi dan belum memadainya fasilitas sistem ketenagalistrikan.

(vi) masih diperlukannya optimalisasi penyederhanaan administrasi perpajakan dan kepabeanan. SERTA PARIWISATA. Walaupun perkembangan investasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat namun upaya peningkatan investasi masih menghadapi permasalahan dan tantangan yang an tara lain: (i) perlunya peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan perijinan. Pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. perkembangan perekonomian semakin baik. Singapura. (iv) perlunya penyediaan berbagai skema insentif fiskal dan non fiskal guna meningkatkan daya saing usaha nasional. (ix) ditingkatkannya kualitas promosi di dalam dan luar negeri. tingkat ketergantungan ekspor nonmigas terhadap pasar tradisional akan berkurang. berbagai permasalahan dan tantangan pokok masih harus dihadapi. Amerika Serikat. Dengan mengatasi tantangan ini. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan. (viii) masih perlunya peningkatan koordinasi program peningkatan iklim investasi antar pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. dan Uni Eropa) yang pangsanya sekarang masih sebesar sekitar 50 persen. Dalam beberapa tahun terakhir.DAN BERKUALITAS. agar tidak bertumpu pada empat pasar ekspor tradisional (Jepang. dan perekonomian yang stabil dan tahan menghadapi berbagai gejolak dan tekanan. (ii) perlunya peningkatan jumlah dan kualitas infrastruktur. investasi dan ekspor harus dapat ditingkatkan. Sejalan dengan perbaikan tersebut. EKSPOR NONMIGAS. MENINGKATKAN DAYA TARIK INVESTASI. 25/2007 tentang Penanaman Modal sehingga memberi kejelasan arahan bagi pelaku usaha. Dari sisi ekspor. dan (x) masih perlunya pengembangan potensi investasi di daerah. (iii) perlunya peningkatan ketersediaan energi. perekonomian yang berkualitas. namun kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan. (v) perlu dilengkapinya peraturan pelaksanaan UU No. sehingga ekspor nonmigas . meskipun kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Perkembangan ekonomi juga harus didukung peningkatan daya saing sektor riil yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur. termasuk didukung oleh UKM yang memiliki produktifitas yang tinggi dengan lebih membuka aksesnya terhadap sumberdaya yang produktif. Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kemajuan sektor-sektor utamanya seperti industri dan pertanian. tantangan adalah meningkatkan diversifikasi pasar ekspor nonmigas. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan ketersediaan kebutuhan dasar dan pengembangan perdesaaan perlu didukung oleh perekonomian yang lebih maju yang diantaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan. (vii) perlu ditingkatkannya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Upaya untuk mendorong kemajuan perekonomian juga harus mempertimbangkan ketersediaan pangan.

masih besarnya hambatan non tarif di pasar ekspor baik tradisional maupun non tradisional. bahan penolong. struktur industri hanya didominasi beberapa cabang yang tahapan proses industri dan penciptaan nilai tambahnya pendek. Permasalahan yang dihadapi sektor industri dan sekaligus merupakan tantangan yang harus diatasi antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku. masih perlu disempurnakannya proses penyederhanaan prosedur ekspor agar dapat mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mempercepat waktu penyelesaian dokumen ekspor-impor. berbagai masalah dan tantangan yang masih harus dihadapi adalah: (i) belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan terutama oleh pembangunan pariwisata terutama antara kawasan Barat dan Timur yang belum merata dan kurangnya kenyamanan dalam berwisata karena antara lain sarana dan prasarana menuju destinasi pariwisata belum sepenuhnya memadai. keterkaitan antara sektor industri hulu dan sektor industri hilir dengan sektor ekonomi lainnya yang relatif masih lemah. Masalah dan tantangan pokok lainnya adalah masih perlunya upaya untuk meningkatkan diversifikasi produk ekspor. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata terutama dalam upaya peningkatan kontribusi devisa terhadap perolehan devisa dapat diatasi.Indonesia akan lebih tangguh terhadap perubahan kondisi perekonomian global dan gejolak permintaan di keempat pasar ekspor tersebut. dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga maupun pusat dan daerah dalam pengembangan destinasi dan promosi pariwisata belum maksimal. Namun demikian sektor industri masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. barang setengah jadi dan komponen. (iii) belum mapannya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh kerja sama pelaku ekonomi-sosial-budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat belum berlangsung secara optimal. integrasi. dan belum seluruh pemerintah provinsi. serta masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung kelancaran arus barang ekspor. Sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian. ekspor . Dari sisi pariwisata. (ii) belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan terutama oleh pemanfaatan media massa dalam dan luar negeri baik elektronik maupun cetak serta teknologi informasi sebagai sarana promosi belum maksimal. untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. agar pertumbuhan utama ekspor nonmigas Indonesia tidak hanya ditopang oleh ekspor komoditas primer yang relatif bernilai tambah lebih rendah dan harganya cenderung lebih berfluktuasi. kota. dan kabupaten mendukung promosi daerahnya sebagai destinasi wisata dan masih adanya berbagai peraturan daerah yang menghambat pengembangan pariwisata. MENINGKATKAN MENDORONG KEMAJUAN SEKTOR INDUSTRI. serta rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata. koordinasi.

namun produktivitas UKM per tenaga kerja hanya sebesar Rp.3 juta. teknologi dan pemasaran. Tantangan ini tidak mudah karena beberapa tahun terakhir. dan masih lemahnya peranan kelompok industri kecil dan menengah sebagai industri pendukung. Meskipun jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007-Februari 2008 sangat tinggi yaitu sekitar 4. 240. produksi. Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal yang mencakup 70 persen dari seluruh pekerja untuk memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara pekerja informal dengan pekerja formal. Di samping itu kondisi permesinan di beberapa kelompok industri perlu diperbaharui agar tetap kompetitif di pasar internasional.1 juta. Tantangan ini berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan yang memungkinkan pekerja untuk pindah antar perusahaan. lebih dari 60% kegiatan sektor industri berada di Jawa. MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN AKSES UKM KEPADA SUMBERDAYA PRODUKTIF. meskipun UKM memberikan kontribusi yang cukup besar dalam PDB.46 persen dari angkatan kerja. Keadaan ini menjadi penghambat . pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang banyak menyerap tenaga kerja informal. antarsektor dan antar daerah. Masih rendahnya tingkat produktivitas UKM ini selain disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia.4 juta atau 8. daya serap tenaga kerja yang mulai meningkat masih diserap oleh lapangan kerja informal. dan keterbatasan kepada akses sumber permodalan. Di sisi lain. sangat kecil dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai sebesar Rp.5 juta lapangan kerja baru. 12. Tantangan kedua adalah mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi. tenaga kerja formal diharapkan memiliki produktivitas tinggi serta memiliki kualifikasi dan kompetensi seuai dengan permintaan pasar kerja.produk industri didominasi oleh hanya beberapa cabang industri. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah menciptakan kesempatan kerja terutama lapangan kerja formal-seluas-luasnya. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dapat dilaksanakan antara lain dengan pelatihan berbasis kompetensi dan pelatihan melalui pemagangan di tempat kerja. MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA. antarindustri. Tantangan ini diikuti dengan pentingnya pemberdayaan UMKM yang banyak menyerap tenaga kerja informal. juga disebabkan karena masih besarnya biaya transaksi dalam kegiatan usaha. namun secara absolut jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2008 masih tinggi yaitu mencapai 9. Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi oleh UKM saat ini adalah produktivitas UKM yang meningkat sangat lambat sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan yang masih lebar antar pelaku UKM dengan pelaku usaha besar. Sebagai gambaran pada tahun 2006. Padahal UKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. serta peningkatan kualitas pelayanan TKI yang akan bekerja di luar negeri.

tetapi peningkatan akses pangan di tingkat rumah tangga masih perlu terus . kebijakan subsidi khususnya BBM. TDL. laut maupun udara. Selain itu. bahkan pada beberapa tahun terakhir rata-rata pertumbuhan produksinya masih lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Di samping itu. Permasalahan dan tantangannya adalah meningkatkan penyediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan meningkatkan produksi. Meskipun akhir-akhir ini produksi pangan sudah meningkat secara signifikan. PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL. relatifnya tingginya harga bahan pokok di berbagai daerah yang sulit dijangkau dapat diatasi dengan mempercepat pembangunan dan meningkatkan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. Tersedianya basis data tentang pusat-pusat produksi. upaya stabilisasi harga bahan pokok memerlukan koordinasi kebijakan ekonomi makro seperti sasaran inflasi. persaingan dalam memperoleh berbagai sumberdaya produktif juga semakin meningkat yang diiringi dengan pesatnya mobilitas sumberdaya tersebut serta upaya untuk menumbuhkan wirausaha yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Ketahanan Pangan dalam negeri dinilai masih rentan karena pertumbuhan produksi pangan khususnya beras masih belum stabil. baik yang didukung oleh sistem transportasi darat. Perkembangan harga bahan pokok yang cepat ini memerlukan pemantauan intensif dan evaluasi seksama. tetapi permasalahan pangan khususnya masalah distribusi pangan di beberapa lokasi yang terisolir masih saja terjadi. ketahanan pangan masyarakat masih belum didukung dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap pangan. Untuk itu. Selanjutnya. kebijakan tarif ekspor dan impor. termasuk terhadap sistem distribusi dan stok bahan pokok Pemerintah dan dunia usaha yang tersebar di berbagai daerah serta belum terdata dan terpantau dengan baik. meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi tantangan yang perlu untuk diatasi dalam mempercepat pertumbuhan UKM. Akses pangan bagi rumah tangga relatif meningkat yang diindikasikan dengan semakin menurunnya kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga.kemajuan UKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produk. beberapa bahan kebutuhan pokok masyarakat di beberapa daerah. pertanian dan suku bunga. cukup sulit diperoleh dan harganya meningkat tajam. yang cukup memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. stok beserta matarantai distribusinya dan sistem pemantauan yang baik dapat menjaga kelancaran pasokan dan meredam terjadinya lonjakan harga bahan pokok secara berarti serta dapat menghindari terjadinya penimbunan dan penyelewengan distribusi yang mengurangi ketersediaannya. Sementara itu. maka upaya untuk mendorong swasembada pangan pokok yang sangat rentan terhadap lonjakan harga dan ketersediaan dalam negeri perlu terus ditingkatkan. PENGAMANAN PASOKAN BAHAN POKOK. Dalam tahun 2007 dan awal tahun 2008. meningkatkan impor apabila diperlukan dan menyempurnakan sistem distribusi bahan pokok.

serta (3) kerusakan sumber daya pesisir terutama terumbu karang. pendampingan teknologi. Selanjutnya. perikanan. kelembagaan. Dari sisi kehutanan. perikanan. Dengan permasalahan pokok tersebut. upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan pertanian. meskipun produksi komoditas pertanian dan perikanan tetap meningkat namun belum memberikan nilai tambah yang memadai untuk masyarakat petani dan nelayan karena kurang berkembangnya industri pertanian.dilakukan agar kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga semakin jarang terjadi. perbaikan sistem distribusi dan tataniaga pangan. padang lamun. estuaria. serta perbaikan diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat merupakan tantangan utama yang dihadapi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. peningkatan biaya input pembudidaya ikan/udang. dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi yang berakibat pada frekwensi operasi nelayan melaut. pengembangan sistem insentif yang mampu mempertahankan lahan-lahan produktif dalam memproduksi bahan pangan. dan pulau-pulau kecil akibat pengaruh limbah yang berasal dari daratan dan eksploitasi manusia yang berlebih juga belum dapat secara optimal ditangani. dan lemahnya pengawasan. dan kehutanan masih perlu ditingkatkan. kebutuhan akan produk hasil hutan terutama kayu . pemanfaatan industri hasil pertanian juga relatif belum optimal. penguatan kemampuan produksi pangan dalam negeri. baik di pusat maupun di tingkat daerah. serta peningkatan biaya pengadaan sarana dan prasarana perikanan baru. peningkatan produksi perikanan masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan oleh belum kondusifnya iklim usaha perikanan yang terkait dengan permodalan dan investasi. serta belum memadainya kegiatan penyuluhan. yang ditunjukkan oleh tingkat utilisasi industri hasil pertanian yang masih sangat rendah. Akibatnya. Masih rendahnya penguasaan teknologi pengolahan produk pertanian berakibat pada rendahnya nilai tambah produk pertanian. MENINGKATKAN KUALITAS PERTUMBUHAN PERTANIAN. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. perikanan dan kehutanan dalam negeri yang menyebabkan ekspor komoditas pertanian. (2) praktek penangkapan dan budidaya ikan yang tidak menggunakan kaidah keberlanjutan masih sering terjadi. Permasalahan lain yang dihadapi adalah sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran perikanan terutama yang berada di daerah masih belum memadai. Semenrara itu. Selain penguasaan teknologi. PERIKANAN DAN KEHUTANAN. dan kehutanan masih didominasi oleh komoditas bahan baku industri. di sisi lain terjadi pula penurunan kuantitas dan kualitas perikanan tangkap. Penurunan kuantitas dan kualitas ini sebagai akibat dari: (1) kegiatan ilegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing dan kapal yang tidak memiliki ijin penangkapan. hutan bakau.

peningkatan suhu dan pasang air laut yang ekstrem yang menyebabkan ketidakpastian nelayan untuk melaut. tantangan yang dihadapi adalah mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan secara terus menerus dengan memaksimalkan sumber daya dan dana yang ada. Oleh karena itu sumber-sumber alternative bahan baku kayu bulat untuk industri harus dapat dikembangkan diantaranya melalui pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). dan penyedia air bersih belum dimanfaatkan secara maksimal.dari tahun ke tahun semakin meningkat akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi oleh kemampuan menghasilkan sumber bahan baku yang dibutuhkan. hutan Tanaman Rakyat (HTR). perubahan iklim global menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan. sumber daya air dan energi.08 juta ha/tahun sementara itu upaya rehabilitasinya sangat kecil yaitu sekitar 500 . Oleh karena itu pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan harus dapat dikembangkan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat di dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam serta pengembangan taman nasional model. Saat ini laju degradasi hutan telah mencapai 1. MENINGKATAN KAPASITAS MITIGAS DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. ketimpangan tersebut menyebabkan semakin cepatnya kerusakan hutan dan lahan yang ada.700 ribu ha/pertahun. keanekaragaman hayati. (ii) memperbaiki pengintegrasikan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan . Saat ini perspektif optimalisasi nilai manfaat hutan masih cenderung kepada pemanfaatan hasil hutan kayu yang merupakan sebagian kecil dari nilai manfaat hutan. hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kapasitas industri yang ada dengan kemampuan penyediaan bahan baku. Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor yang cukup parah di hampir sebagian besar wilayah. sedangkan manfaat hutan lainya seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dengan fungsi sebagai penyedia udara bersih. Degradasi hutan yang terus menerus terjadi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan pembalakan liar berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan secara umum. Untuk itu. meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran serta meningkatkan kelembagaan. penyerap karbon. Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini diantaranya adalah: (i) melengkapi dan lebih mengakuratkan pendataan dan permodelan iklim regional untuk Indonesia untuk memudahkan para perencana pembangunan dan pelaksana pembangunan mengantisipasi dampak terjadinya perubahan iklim. perubahan musim tanam. mengendalikan pembalakan liar dengan penegakan hukum terhadap pelaku dan peningkatan kemampuan polisi hutan.

kemampuan dan daya saing sektor rill perlu senantiasa ditingkatkan. serta meningkatan kinerja jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air usaha tani terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. panas bumi dan batubara serta energi baru terbarukan yang masih rendah. Sektor rill merupakan motor penggerak dalam perekonomian. juga karena . (3) Harga energi konvensional/BBM yang belum mencerminkan keekonomiannya. batubara dan terbarukan) terhambat karena besarnya subsidi BBM. serta (6) meningkatkan investasi migas. (1) meningkatkan pemanfaatan energi primer non-BBM untuk kepentingan domestik seperri gas bumi. sumber daya manusia (SDM) dan budaya keselamatan. kelaikan prasarana dan sarana. meskipun tidak mudah. Dari sisi ketenagalistrikan. dan pengembangan energi termasuk infrastruktur energi.iklim temasuk pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. batubara. serta (iv) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam menangani perubahan iklim pengurangan risiko bencana dengan memanfaatkan struktur institusi yang telah ada. (iii) meningkatkan dan menseragamkan kepedulian dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah yang masih rendah dan tidak seragam sehingga pembangunan sejalan dengan tujuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana. Krisis ini terutama terjadi karena selain masih belum ada sistem ketenagalistrikan nasional untuk menopang peningkatan pembangunan ekonomi secara memadai. (2) menciptakan kondisi agar keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi dapat memenuhi standar keselamatan dan keamanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. (5) Reguiasi yang masih dalam transisi (pembatalan UU Ketenagalistrikan dan penyempurnaan UU Migas). Terkait dengan bidang energi masalah dan tantangan yang dihadapi adalah. serta manajemen transportasi. sehingga pengembangan energi alternatif (gas bumi. panas bumi. (2) meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan. DUKUNGAN PENINGKATAN DAYA SAING SEKTOR RIlL. Oleh sebab itu. (4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi yang masih rendah. Di bidang sumber daya air permasalahan dan tantangan pokoknya adalah mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan industri serta pengendalian daya rusak air. krisis listrik belum dapat teratasi. Permasalahan pokok yang dihadapi pada peningkatan daya saing sektor riil antara lain sebagai berikut. Di bidang transportasi masalah dan tantangan pokok yang dihadapi adalah: (1) meningkatkan jaminan keselamatan dan keamanan transportasi yang antara lain disebabkan oleh lemahnya regulasi dan kelembagaan. (3) menciptakan kondisi yang mendorong dunia swasta mau berinvestasi dalam penyelenggaraan melalui restrukturisasi perundang-undangan dan peraturan di bidang transportasi serta perbaikan iklim investasi sehingga tidak ada lagi monopoli dalam pelayanan transportasi. jaringan transmisi dan distribusi yang masih rendah.

dan kurangnya dukungan dari industri dalam negeri. terbatasnya pengembangan aplikasi dan konten Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lokal. Hal ini tidak mudah karena upaya ini akan dihadapkan pada tantangan tersediri yaitu: (1) sulitnya mencari ketersediaan energi primer yang dibutuhkan seperti batubara dan gas. mengingat terbatasnya ketersediaan produksi dalam negeri serta infrastruktur transportasinya. Dari sisi pos dan telekomunikasi. kawasan pariwisata. MENINDAK DAN MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI. serta menggeser pola penggunaan layanan pos dan telematika. Permasalahan dan tantangan pokok tersebut diantaranya adalah masih perlunya berbagai upaya untuk menekan tindak pidana korupsi.kurang efisiennya sistem dan pengelolaannya. Permasalahan dan tantangan yang yang dihadapi dalam rangka pemberantasan korupsi khususnya dalam upaya penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah mengoptimalkan penanganan kasus . serta tingkat konsumsi BBM yang masih cukup tinggi. serta (3) keterbatasan dalam pendanaan karena kepercayaan perbankan internasional dalam menyalurkan pendanaannya dalam investasi pembangkit listrik swasta di Indonesia. (2) sulitnya melakukan pembebasan lahan dan upaya mencapai titik temu kompensasi lahan yang terkena dampak pembangunan fasilitas ketenagalistrikan juga menjadi tantangan yang setiap tahun terus berlanjut. dalam tahun 2009 masih harus dihadapi berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang terkait dengan hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat. perdagangan. Di samping berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang secara langsung terkait dengan kesejahteraan masyarakat. permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika yang masih rendah dalam menciptakan peluang ekonomi. rendahnya e-literasi. yaitu dari hanya sebagai alat komunikasi (konsumtif) menjadi pencipta peluang usaha (produktif). keterbatasan ketersediaan pelayanan publik. masih belum mengalami perkembangan yang berarti. serta masih perlunya penyempurnaan iklim demokrasi. tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pos dan telematika yang memadai. di sisi perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya dukungan prasarana-sarana dasar permukiman yang menunjang sektor industri. dan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan dalam mendukung peningkatan daya saing dalam sektor riil. Oleh sebab itu tantangannya adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik non BBM serta mengembangkan jaringan penyalurannya secara tepat waktu. tingginya ketergantungan kepada teknologi proprietary. Selanjutnya.

pertanahan. MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) 2004-2009 sebagai Living Document yang disusun oleh 92 instansi Pemerintah. telah dikeluarkan Inpres No. Oleh sebab itu budaya permisif dari masyarakat terhadap perilaku korupsi harus dapat dihilangkan agar fungsi pengawasan dari masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat terlaksana dengan baik. penyelenggaraan pelayanan system administrasi manunggal satu atap (samsat). Selain itu. Peraturan perundang-undangan untuk mendorong pemberantasan korupsi di Indnonesia masih sangat terbatas dan perlu disempurnakan. serta pajak. 7 Tahun 2006. terutama untuk beberapa isu yang menjadi perhatian dalam penyusunan RAN PK dan RAD PK seperti perijinan di bidang investasi. baik itu yang berada di KPK maupun Kejaksaan.korupsi. Oleh karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. Meskipun Indonesia telah meratifikasi UNCAC (United Nation Convention Against Corruption) melalui Undang-undang No. Banyaknya praktek korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang. untuk menghindari adanya kesan diskriminasi dalam hal penanganan kasus korupsi maka perlu dilakukan upaya penentuan prioritas kasus yang ditangani dengan lebih akuntabel. LSM dan Perguruan Tinggi. Namun demikian pelaksanaan RAN PK pada ringkat kementrian/lembaga maupun RAD PK pada beberapa daerah belum dilaksanakan secara efektif. Masing-masing kementrian/lembaga diharapkan dapat segera menyusun Rencana Aksi Instansi (RAI) PK dan level pemerintah daerah dapat segera ditetapkan Rencana Aksi Daerah (RAD) PK. MENYEMPURNAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNTUK MENDORONG UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI. Dalam upaya untuk mempercepat pemberantasan korupsi. namun langkah-langkah tindak lanjut dan ratifikasi tersebut belum dilakukan secara optimal. Pemberantasan korupsi harus mengikutsertakan semua lapisan masyarakat yang ada. pengadaan barang dan jasa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesan tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya tergantung dalam hal penanganan kasus korupsi oleh aparat penegak hukum saja akan tetapi juga perlu adanya dukungan dari masyarakat luas dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi. dalam kaitannya . perlu ada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan RAN PK baik pada level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. maka penanganan kasus korupsi dilakukan dengan melalui penentuan prioritas khususnya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. menyebabkan penanganannyapun memerlukan kerja keras dari aparat penegak hukum. Keadaan inilah yang antara lain menyebabkan adanya kesan tebang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini.

(3) belum dikembangkannya secara maksimal sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on line di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). maka pemerintah harus melakukan penyesuaian hukum nasional dengan prinsip-prinsip UNCAC.dengan perlindungan saksi dan korban dan keterbukaan informasi publik. (6) masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik untuk pelayanan penduduk perkotaan akibat pesatnya pertambahan penduduk yang harus dilayani. serta memberikan dukungan pada peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan publik. Sebagai upaya tindak lanjut keanggotaan Indonesia dalam UNCAC tersebut. serta Permendagri No. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah yang secara bertahap semakin memantapkan peran institusi birokrasi pemerintah agar mampu berkontribusi dalam mendorong keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional khususnya turut menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bidang lainnya. (2) masih belum optimalnya pelayanan publik di bidang investasi. MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. Namun demikian. (5) masih belum memadainya kompetensi aparat pemerintah di daerah dalam penerapan SPM. Oleh sebab itu upaya untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan harus dapat dilakukan. perpajakan dan kepabeanan dan pengadaan barang dan jasa publik/pemerintah. beberapa peraturan pelaksanaan dalam undang-undang nasional belum lengkap sehingga menyebabkan masih adanya hambatan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberantasan korupsi. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. diantaranya: (1) belum selesainya proses pembahasan RUU Pelayanan Publik yang merupakan landasan hukum dan kebijakan pelayanan publik secara lebih komprehensif. 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. dalam pelaksanaan reformasi birokrasi masih dihadapi berbagai permasalahan yang sekaligus menjadi tantangan yang harus dapat diatasi untuk memantapkan peran institusi pemerintah. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya juga menghambat pengembalian aset negara yang dikorupsi. Beberapa permasalahan yang dihadapi di bidang pelayanan publik. (4) belum efektif dan efisiennya pelayanan publik kepada masyarakat karena belum adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah disahkan. dan (8) belum terintegrasinya sistem koneksi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem informasi Kementerian/Lembaga karena masih terbatasnya dukungan . (7) belum meratanya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. sebagai penjabaran PP No 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM dan Permendagri No.

maka tantangan bagi pemerintah adalah menentukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan terfokus. (6) melakukan optimalisasi dan perluasan penggunaan teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. (5) meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik melalui penyusunan standar pelayanan perkotaan (SPP). baik diklat struktural maupun fungsional. termasuk membangun Unit Pelayanan Investasi Terpadu di daerah dan mengimplementasikan National Single Window (NSW). kurikulum dan . dalam rangka peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS. dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan profesionalisme PNS dan peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. transportasi. tantangan pokok yang dihadapi. serta mengembangkan sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on-line di daerah. (4) meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM). perpajakan dan kepabeanan. pengadaan barang dan jasa. Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan ujung tombak dalam menyediakan pelayanan pada masyarakat yang perlu ditingkatkan kinerja dan kesejahteraannya. permasalahan yang dihadapi antara lain : (1) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PNS. (3) UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian perlu disempurnakan sejalan dengan perkembangan kebijakan di bidang penyelenggaraan negara dan tuntutan penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih terpadu. Dalam upaya peningkatan kinerja dan kesejahteraan aparatur negara khususnya PNS.dana dari pemerintah promosi dan kabupaten/kota dalam penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan masih perlu ditingkatkannya keakuratan atau validitas data kependudukan nasional. (3) menyusun dan menerapkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memantapkan pelaksanaan pendelegasian kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. tantangan yang dihadapi pada tahun 2009 adalah (i) menyempurnakan sistem diklat. MENINGKATAN KINERJA DAN KESEJAHTERAAN PNS. Oleh sebab itu. Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik. layak dan berbasis kinerja. dan (7) mengintegrasikan sistem koneksi nomor induk kependudukan antar instansi terkait sebagai basis data pelayanan publik khususnya pelayanan administrasi kependudukan. Dengan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas. belum mempertimbangkan penyempurnaan struktur penggajian secara adil. diantaranya adalah: (1) disahkannya UU Pelayanan Publik dan dilanjutkan dengan sosialisasi secara luas kepada masyarakat dan penyusunan peraturan pelaksanaannnya. (2) kenaikan remunerasi bagi PNS termasuk anggota TNI dan POLRI selama ini masih terbatas pada penambahan penghasilan. (2) menyempurnakan dan mengembangkan manajemen pelayanan publik khususnya di bidang investasi. khususnya dari sisi kurikulum dan strategi pembelajarannya.

antara lain: (1) pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. dan (iii) melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian khususnya UU No 43/1999. yang mencerminkan sistem reward and punishment yang adil. dan pengawasan aparatur negara masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang secara efektif dan efisien. agar lebih efektif dan mendukung fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. layak dan berbasis kinerja. dan (3) mengembangkan sistem pengawasan nasional untuk mensinergikan pengawasan internal. dan (2) mengurangi tumpang tindih fungsi lembaga quasi birokrasi/lembaga non struktural menuju terwujudnya efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. Pemantapan demokrasi pada tahun 2009 diperkirakan masih menghadapi sejumlah permasalahan . Secara lebih rinci. dengan berpedoman pada rencana induk (grand design) reformasi birokrasi dan pedoman-pedoman terkait lainnya. KETATALAKSANAAN DAN PENGAWASAN APARATUR NEGARA. beberapa permasalahan yang masih dihadapi di bidang ini. MEMPERKUAT LEMBAGA PENYELENGGARAAN PEMILU DAN MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF MASYARAKAT DALAM PEMILU 2009. (2) masih perlu ditingkatkannya pemahaman aparat pemerintah tentang pelaksanaan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara adalah memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah pusat dan daerah. belum didasarkan atas road map atau grand design yang sifatnya komprehensif. (3) kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah masih ditandai tumpang tindih kewenangan. MENINGKATKAN PENATAAN KELEMBAGAAN. terbatas dan belum fokus. kinerja program dan individu pegawai. sejalan dengan adanya kewajiban setiap instansi pemerintah harus memiliki key performance indicator (KPI)/Indikator Kinerja Utama (IKU). (ii) mengembangkan sistem remunerasi pegawai negeri sipil termasuk juga bagi TNI dan POLRI. eksternal. tantangan dalam penataan kelembagaan. kedudukan dan fungsi.pengembangan strategi pembelajaran untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja dan profesionalisme PNS. sebagai pedoman bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme birokrasi pemerintah. Dalam hal ini secara terperinci tantangan yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut : (1) menerapkan manajemen berbasis kinerja pada lingkungan instansi pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi. sehingga berpotensi pada in-efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. (4) perlunya diupayakannya sinergistas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan instansi pemerintah. sehingga menimbulkan penilaian publik bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi masih bersifat parsial. ketatalaksanaan. Di sisi kelembagaan. Oleh sebab itu. dan masyarakat guna menjamin kualitas dan kinerja penyelenggaraan kepemerintahan.

TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan dan Polri sebagai komponen dasar keamanan dan ketertiban masyarakat. belum tuntasnya penanganan pelaku dan jaringan terorisme yang beroperasi di Indonesia serta belum meredanya aksi-aksi terorisme skala regional maupun global berpeluang meningkatkan aksi-aksi terorisme di dalam negeri terutama dalam menghadapi Pemilu 2009. Di samping itu. ilegal logging. Kekurangan jumlah dan ketidaksiapan alutsista TNI dan Alut Polri ini selain berakibat pada melemahnya efek penggentar (deterent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi. yaitu jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat utama (alut) Polri yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi. ilegal fishing.dan tantangan. Kondisi tersebut diperburuk oleh kesiapan alutsista yang secara rata-rata hanya mencapai 45 persen dari yang dimiliki. Oleh karena itu. penyeludupan manusia atau senjata. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PEMILU 2009. transparansi dan akuntabilitas kelembagaan penyelenggara pemilu perlu diingkatkan agar mampu bekerja secara lebih profesional. serta dukungan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pemilu. Permasalahan dalam mendukung efektifitas pemilu terkait dengan keterbatasan waktu mempersiapkan berbagai proses tahapan akhir penyelenggaraan Pemilu 2009. . Oleh karena itulah kapasitas. Pada Pemilu 2009 partisipasi politik diharapkan makin aktif berdasarkan kesadaran politik warga yang lebih tinggi. mengingat waktu yang tersisa menjelang pelaksanaan pemilu cukup terbatas. Tantangan lain adalah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung ketersediaan dan distribusi logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. Di satu pihak masyarakat sangat mengharapkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil sehingga dapat mencerminkan secara jernih aspirasi politik rakyat. Kemampuan pertahanan nasional belum dapat memberikan efek detterence/penangkal. tantangan bagi pemerintah adalah meningkatkan efektifitas koordinasi antar lembaga untuk memastikan keseluruhan persiapan dukungan Pemilu 2009 dapat dilaksanakan tepat waktu. tidak berdasarkan mobilisasi kelompok masyarakat. bersih dan efisien. juga berakibat pada kapabilitas TNI dan Polri dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat akibat bencana alam. MEMANTAPKAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. Keadaan yang tidak memadai pun terjadi pada alat utama Polri. Di lain pihak tantangan KPU untuk memenuhi jadwal pelaksanaan pemilu dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pemilu juga tidak kecil. Tindak kejahatan transnasional di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan masih cukup tinggi seperti narkoba. saat ini dihadapkan pada masalah mendasar. bahkan belum mampu memenuhi kekuatan dan gelar minimum essential forces.

tantangan mewujudkan Pemilu tahun 2009 yang berkualitas. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi.Pengarusutamaan partisipasi masyarakat. . jujur dan demokratis adalah tercapainya stabilitas umum keamanaan dalam negeri dan terpenuhinya upaya-upaya khusus dalam mengamankan seluruh rangkaian proses pemilu dari masa persiapan. TEMA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TAHUN 2009 DAN PENGARUSUTAMAAN Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008. tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya. yaitu: . B. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. apabila kurang disertai oleh kedewasaan sikap politik masyarakat. kampanye. Lingkungan hidup yang . Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat.Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan. Namun hal ini dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap stabilitas keamanan dalam negeri dan jalannya proses Pemilu tahun 2009. tema pembangunan pada tahun 2009 adalah: "PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN" Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah ini. dan mengupayakan pengamanan rangkaian proses pemilu 2009. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang. terdapat 6 (enam) prinsip-prinsip pengarusutamaan menjadi landasan operasional bagi seluruh. Dengan demikian tantangan yang dihadapi untuk memecahkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas adalah: mewujudkan kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala minimum essential force guna mampu menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan termasuk dalam hal memberikan dukungan pencegahan dan penanggulangan terorisme.Saat ini pemahaman politik masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa Pemilu tahun 2004. mencegah tindak kejahatan lintas negara khususnya di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan yang relatif masih cukup tinggi termasuk mencegah terjadinya demand dan supply narkoba. meningkatkan upaya penangkapan pelaku utama dan jaringan terorisme di Indonesia. Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. serta tantangan yang dihadapi tahun 2008. sosial. Oleh karena itu. proses pemungutan dan perhitungan suara. dalam lingkungan yang saling menunjang dan terkait. aparatur negara.

Untuk itu pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi. maka diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal . dan masyarakat. makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. . . dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi. dunia usaha. . serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara. Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance). dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat.lestari merupakan modal dasir pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten. dan kontrol. dan memiliki akses. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. Penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. legislatif dan yudikatif. Strategi pengarusutamaan gender.Pengarusutamaan gender. termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perobahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait. Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan.Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance). kesempatan. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah.

DAN ENERGI. setengah penganggur. dan lain-lain. kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. jenis kegiatan.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN . PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2009 Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 -2009.Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. Sejalan dengan itu. C. Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty). jumlah. guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasil-hasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. . serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009. fasilitas air bersih. 3.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DI DUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah. dan lokasi yang dipilih. PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran. REFORMASI BIROKRASI.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN.Pengarusutamaan padat karya. 2. I. fasilitas sanitasi. Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan. dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan. fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut. Mekanisme sistem penyaluran dan dari pengelolaannya akan dilakukan secara transparan. maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Prioritas pembangunan tahun 2009 ini ditempuh dengan sasaran. maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan. jembatan. yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah. Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating). serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. . INFRASTRUKTUR.termasuk kawasan perbatasan. Penetapan kelompok sasaran.

meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 98. 2. meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99. PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan. 3. 3. antara penduduk kaya dan penduduk miskin. 5.00 persen. khususnya masyarakat miskin.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 69.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 115. 4. 2.76 persen dan 95.64 persen.SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1.Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Ekonomi Usaha Rakyat 1.Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara perkotaan dan perdesaan. bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca.34 persen. sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen. Kesehatan 1. 5. antara daerah maju dan daerah tertinggal.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat. 2.Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal (K4) menjadi 90 persen.Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5.00 persen. 4.Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi.Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menjadi 87 persen. 3.Meningkatnya pemberdayaan ekonomi.Meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan. dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18. (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri. 2.57 persen.00 persen.Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. Pendidikan 1. dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96. serta meningkatnya kesejahteraan pendidik.09 persen. serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin). sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir. dan .

19. 17. 12.Meningkatnya persentase penderita demam berdarah (DBD) yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.Meningkatnya persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) menjadi 98 persen.740 orang dan 300 orang senior residen yang didayagunakan. 18. 9.Meningkatnya persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan dan mendapat pertolongan Anti Retroviral Treatment (ART) menjadi 100 persen.000 desa siaga.Meningkatnya angka penemuan Acute Flaccid Paralysis menjadi ≥ 2 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun. 14. 16. 6. persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) menjadi 75 persen. 10.1 juta peserta. 7.Menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi sekitar 2.Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di puskesmas dan jaringannya menjadi 100 persen.Meningkatnya persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi 80 persen.Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang memenuhi standar mutu menjadi 90 persen.Terlaksananya pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 97 ribu sampel.Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) menjadi 45 persen.16 per wanita. 13. 2. 4.Tersedianya jumlah tenaga kesehatan dan kader kesehatan di 26. 11.Meningkatnya persentase penderita flu burung yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita.Meningkatnya persentase penderita malaria yang ditemukan dan diobati menjadi 100 persen.Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) menjadi sekitar 30.Meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70 persen.Merungkatnya persentase balita yang mendapatkan Vitamin A mencapai 80 persen.Meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe menjadi 90 persen.Menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1. meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi menjadi 75 persen. Keluarga Berencana 1.Tersedianyan dokter spesialis yang dididik sebanyak 1.2 persen.cakupan kunjungan neonatus (KN) menjadi 87 persen dan cakupan kunjungan bayi menjadi 87 persen. 3. 15. 8. 5. . 20.

6 persen dari peserta KB aktif. 7. 9.Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan.Meningkatnya keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi 2.9 juta peserta. melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro.Meningkatnya peserta KB Pria menjadi sekitar 3.Meningkatnya jumlah keluarga remaja yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) menjadi 1.Terlayaninya peserta KB baru dari keluarga miskin Keluarga Pra Sejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS 1) sekitar 2.3.Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai Transportasi 1.Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan.Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan 5. perdesaan.5 juta. dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan.9 juta. pedalaman dan kawasan perbatasan. prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 4. daerah terpencil. Energi 1. termasuk penyediaan angkutan massal. .3 juta keluarga Sumber Daya Air 1. 11. 5.Terlayaninya peserta KB Baru (PB) sekitar 6. serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. 4.Terbinanya peserta KB aktif miskin (KPS dan KSI) sekitar 12.1 juta. dan 12.0 juta.Meningkatnya jumlah keluarga lansia yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi 1. 8. surya. 10.Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 2.Menurunnya unmet-need menjadi sekitar 6.Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan KS I anggota Usaha Penigkatatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang aktif berusaha menjadi sekitar 1.Optimalnya fungsi tampungan.0 juta peserta. angin. 6. pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO). Terbangunnya tampungan untuk air baku 3.Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi sekitar 21 tahun.4 persen dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS).

skala regional dan sistem terpusat. desa nelayan.: .Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan. dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh. Perumahan dan Permukiman 1. persampahan dan drainage) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat.Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis.Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya.Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat.Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah masyarakat melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah terutama untuk membuka akses masyarakat miskin terhadap pemilikan sertifikat. 2. serta 3. fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru. perbaikan rumah. Kelembagaan Masyarakat dan Pemerintah Desa 1. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang berkeadilan dan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah. pemilikan. 2.Ketenagalistrikan 1. Pertanahan 1.Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah. 4. Pos dan Telematika 1. layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO. 3.Terfasilitasinya penguatan kelembagaan dan pemantauan unit pengaduan masyarakat.Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota.Meningkatnya kapasitas aparatur Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pembangunan kawasan perdesaan. fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya. serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan. siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan.Tertatanya struktur penguasaan tanah yang adil dan mendukung perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan penataan penguasaan. desa tradisional.Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2. penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun.Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan didaerahnya. 2. dan desa eks-transmigrasi.

DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat . 3. korban bencana sosial 350. t)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 998.000 anak.3.500 lanjut usia terlantar. 10 provinsi & 50 kab/kota. yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar.25 juta jiwa.Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin a)Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5. g)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1. 11. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat. m)Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik. i)Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540. h)Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640.231 mahasiswa. e)Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/ Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota. ARAH KEBIJAKAN. j)Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 387.922 siswa. d)Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L. FOKUS. k)Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 512.000 siswa.200 siswa.800 siswa. .miskin. 4.000 KK di 33 provinsi. b)Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 750.Meningkatnya pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat desa.086 penyandang cacat di 33 Provinsi.4 juta penduduk miskin.796. 14.000 RTSM di 13 provinsi. Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 50. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: Fokus 1.060 tuna sosial.000 siswa. c)Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak. dan 5. o)Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76.320 korban napza. n)Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang. Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 249.000 jiwa dan Bahan Bangunan Rumah (BRR) 12. 1)Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320.000 siswa.078 siswa.Meningkatnya kelembagaan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan.

NTB-WRMP. e)Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota. irigasi tanah dangkal 400 unit. Konservasi lahan 500 ha. IUD. dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi. c)Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE.200 desa. t)Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin.Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat a)Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2.000 ha. peral horti 3. irr tanah dalam 50 unit.000 bdg. cetak sawah 25.000 ha. JUT 470 km.000 ha. irr bertekanan 135 unit. r)Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916. Fokus 2. POST TSUNAMI.p)Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya. q)Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. Optimalisasi lahan 21.900 PB Miskin (Implant. pengembangan dampak SRI 50 unit.1 juta masyarakat miskin. Irigasi air permukaan 205 unit. PNPM) dengan target pemberdayaan di 237 kecamatan. fasilitasi sertifikasi lahan petani 25.500 ha. pengembangan HMT 3.000 ha. IDB. DRIP IRRIGATION) 6 paket. f)Penanganan Rehab dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY & Jateng dengan target terlaksananya Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi Yogyakarta dan Jateng. padang pengembalaan 500 ha. PLTB di lahan rawa 500 ha. . d)Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target pemberdayaan di 3.000 ha. pembukaan lahan kering 2. TAM 20. b)Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target pemberdayaan di 1. pompa hydram 8 unit.700 PA Miskin (suntik. Reklamasi lahan 4. sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan. Pengembangan SRI 50 paket.000 ha. Rumah Tangga Miskin. Balai Subak 20 unit. JIDES 40. kondom). serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB. Konservasi DAS 15.500 ha. pil. MOP/MOW) dan 9. jalan produksi 300 km. peral bun 4.000 ha.589.500 ha. PHLN (WISMP.886 kecamatan (BLM & T/A). pendampingan cetak sawah 25 kab.072 kecamatan. embung 200 unit. g)Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70.500 ha. PISP. Sumur resapan 450 unit. s)Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19.

234 KK fakir miskin. fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 101. i)Pemberdayaan Ekonomi. h)Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi.000 koperasi. i)Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target fasilitasi dan pengembangan PUAP di 10.044 desa tertinggal di 186 kecamatan.500 UKM oleh 500 BDS. 148 kabupaten. l)Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14. 1. e)Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1.700 UMI.h)Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3).300 UMI. pengembangan LM3 Peternakan 340 klp. 6. b)Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target tersedianya pendampingan kepada 3.850 unit PLTS di 952 desa tertinggal. Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat . g)Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4. 29. bantuan sosial ke 1. d)Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2. m)Pemberdayaan keluarga.448 peserta).565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. k)Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target penyediaan prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten. 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2.480 kelompok masyarakat.000 Koperasi/LKM.300 keluarga rentan sosial ekonomi. 12. 3. c)Penyediaan Dana Bergulir Untuk kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Termasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil a) Penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fokus 3. j)Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal. f)Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1.000 UMi/3.000 desa. terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi.800 kader penggerak pembangunan.800 Koperasi/LKM. dan pemberdayaan sosial melalui bantuan modal usaha KUBE. dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil. LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp.150 KK komunitas adat terpencil.

berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kab/kota.pesisir di 100 kab/kota.900 unit. e)Penyediaan Buku Pelajaran SMP dengan target 6.440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal. d)Penyediaan Buku Pelajaran SD dengan target 19. l)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 2 paket. Fokus 4.Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang Berkualitas Khususnya Bagi Daerah yang Kinerja Pendidikannya Masih Tertinggal a)Melanjutkan Penyediaan BOS SD unruk 27.142.822 siswa. pengolahan hasil horti di 50 kab.142. UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp. c)Penyediaan Bas Jenjang Pendidikan Dasar (MI/MTs) dengan target 6.955 siswa. k)Pembangunan RKB SMP dengan target 8. peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi. l)Bantuan Pembangunan MI melalui MEDP (ADB) dengan target 205 MI.657. j)Pengembangan Agroindustri Terpadu dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi. h)Rehabilitasi ruang kelas MI dan MTs dengan target 1. k)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan: target 1 paket. BRR) melalui 1. serta pemberdayaan perempuan pesisir /lembaga adat.292 siswa.751 siswa.000 ruang. Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab.417 siswa. . b)Melanjutkan Penyediaan BOS SMP untuk 9.100 ruang. j)Pembangunan USB SMP dengan target 350 unit. Pengolahan hasil bun di 40 kab.465. pembukaan ULIB Baru 300 unit. g)Rehabilitasi Sarana dan Prasarana SMP dengan target 5. p)Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan). i)Pembangunan SD-SMP satu atap dengan target 750 unit. m)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket. Pengolahan pakan temak di 15 Kab. f)Penyediaan Buku Pelajaran jenjang Pendidikan Dasar (Bos Buku) MI dan MTs dengan target 6.130. o)Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal. Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp. pengolahan hasil ternak di 15 kab. penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi. n)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD-Nias ex.700.751 siswa.

u)Penyelenggaraan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD dengan target 5.500 sekolah. r)Pelaksanaan penelitian di Perguruan Tinggi (yang menghasilkan Patent.000 paket. t)Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dengan target 84.000 orang. j)Pembangunan Perpustakaan. e)Pembangunan USB SMK dengan target 225 lokasi.059. l)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMK dengan target 50 PKT. d)Pembangunan USB SMA dengan target 50 paket.750 ruang. Rekayasa Sosial.139 siswa. b)Rehabilitasi Ruang Kelas SMK dengan target 1. r)Penyelenggaraan Paket A setara SD dengan target 90. p)Penyelenggaraan UN Jenjang Pendidikan Menengah dengan target 3. Jurnal Internasional.m)Bantuan Pembangunan MTs melalui MEDP (ADB) dengan target 237 MTs. h)Bantuan Pembangunan MA me1alui MEDP (ADB) dengan target 549 unit.854 Siswa.693 siswa.559 siswa.000 sekolah. p)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMP dengan target 3.200 paket. v)Penyelenggaraan UN SMP dengan target 3.900 sekolah. n)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK [siswa] dengan target 2. y)Penyusunan/Pengembangan kurikulum/Bahan ajar/model pembelajaran dengan target 461 Kab/Kota.786. f) Pembangunan RKB SMA dengan target 1. i)Pembangunan Perpustakaan.727. Tinggi.548 sekolah.773 siswa. s)Penyelenggaraan Paket B setara SMP dengan target 410.500 ruang. c)Rehabilitasi ruang ke1as MA dengan target 850 unit. m)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMA (Sekolah) dengan target 1.000 orang. g)Pembangunan RKB SMK dengan target 5. Laboratorium dan Workshop SMK dengan target 225 PKT.700 PKT.618.396 sekolah. k)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMA dengan target 50 paket. Laboratorium dan Workshop SMA dengan target 499 PKT. o)Akreditasi Sekolah jenjang pendidikan Menengah dengan target 5. o)Pembangunan Laboratorium IPA dan Perpustakaan SMP dengan target 3. q)Pembangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar SD dengan target 6. n)Penyediaan Peralatan Lab SMP dengan target 3. Teknologi Tepat Guna.000 ruang. Dan Non Formal a) Rehabilitasi Ruang Kelas SMA dengan target 970 paket. Kebijakan . x)Akreditasi Sekolah Jenjang SMP dengan target 8. w)Akreditasi Sekolah Jenjang SD dengan target 32.Peningkatan Mutu Dan Relevansi Pendidikan Menengah. Foktus 5. q)Pengembangan bidang keilmuan (Rumah Sakit Pendidikan) PTN dengan target 13 PT.

500 dosen. g)Peningkatan Mutu dan Profesionalisme guru dengan target 11. m)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan . s)Pengadaan Peralatan Laboratorium PT dengan target 164 paket.000 dosen.900 orang.Publik.000 orang.000 eksemplar bahan bacaan.0000 dosen.Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik a)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (dikedas) dengan target 270.500 orang dengan rincian lanjutan 1. Metodologi.000 orang. 50.267 KK.465 guru. b)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (menengah) dengan target 10.143 orang. f)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (LN) dengan target 2.389 dosen dengan rincian lanjutan 11. w)Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan (paket C) dengan target 35.000 dosen dan baru 1.000 orang. aa)Penyediaan Fasilitas. x)Penyelenggaraan Kursus dan Magang dengan target 200.000 ORG. l)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan Dasar) dengan target 341. u)Pendirian dan Peningkatan Kapasitas Politeknik dengan target 41 politeknik. bb)Bantuan Fasilitasi Perpustakaan Keliling kepada Perpustakaan Umum Kab/Kota dengan target terlaksananya fasilitasi 60 unit perpustakaan keliling di 60 kabupaten/kota. Fokus 6. i)Percepatan Sertifikasi Akademik Bagi Guru dalam jabatan melalui sistem portfolio dengan target 200. y)Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pembangunan Lembaga PAUD dan Penyediaan Bahan Ajar dan Alat Permainan Edukasi dengan target 9. Pengadaan 1 perangkat e-library untuk 32 provinsi. h)Pengembangan Kemitraan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah Untuk Mendukung Wajib Belajar 9 Tahun dengan target 11. c)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (DN) dengan target 17. Koleksi dan Layanan Perpustakaan dengan target terlaksananya pembangunan gedung layanan perpustakaan terbuka Jl. j)Percepatan Sertifikasi Guru Madrasah dengan target 90. k)Percepatan Sertifikasi Dosen (PTA) dengan target 2.790 orang.000 m2.000 lembaga. d)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S2 dengan target 2. z)Perluasan akses dan mutu TK (subsidi TK-SD satu atap) dengan target 596 TK. e)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S1 dengan target 2.000 orang.000 ORG. Karya Seni dan Buku Ajar) dengan target 445 Judul.000 orang. Merdeka Selatan tahap I. v)Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional dengan target 900.389 dosen dan baru 6. t)Pembangunan gedung dan lab baru PT dengan target 175.

Kekurangan Gizi dan Pemberantasan Penyakit Menular. 100% HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapat pengobatan.740 orang dokter spesialis dan dan 340 mitra dokter spesialis. d)Pemenuhan dan Peningkatan Fasilitas Sarana dan Prasarana dengan target tersedianya 4 RS World Class.Menengah) dengan target 196. 33 RS Rujukan Unit Tranfusi Darah UID). e)Penanggulangan penyakit flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza dengan target 100% penderita flu burung yang ditemukan tertangani. a)Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak (KIA) dengan target cakupan pelayanan antenatal (K4) 90%. c)Penanganan Masalah Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada ibu hamil dan menyusui. Fokus 7. c)Pembiayaan Jaminan Kesehatan dengan target 100% klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. . kunjungan neonatus (KN) 87%.500 dosen. 330 RS Rujukan PONEK. 75 RS rujukan Unit Gawat Darurat (UGD). p)Tunjangan profesi guru menengah dengan target 63. pencegahan GAKY diukur dengan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium yang cukup (80%).348 orang. dan 20 RS Lapangan di daerah terpencil dan perbatasan. dan 200 bidan komunitas.Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan a)Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Dasar termasuk biaya operasional dengan target tersedianya biaya operasional di 8.349 orang.445 orang. Fokus 8. terlaksananya pelayanan penanggulangan flu burung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI). d)Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (penanggulangan Penyakit Menular) dengan target 100% penderita DBD. 80% angka kesembuhan TB dan 95% UCI desa.114 Puskesmas dan jaringannya.101 orang.000 kader di desa siaga. serta terlaksananya pelayanan kesehatan haji. bayi dan anak balita dengan target penanganan gizi kurang dan gizi buruk (500 ribu anak 6-24 bulan).Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak. pemberian vitamin A (80%). b)Penanggulangan Krisis dengan target tertanggulanginya masalah kesehatan di daerah bencana. Malaria. o)Tunjangan profesi guru dengan target 307.831 orang. r)Tunjangan profesi dosen dengan target 12. pemberian Fe (90%). dan cakupan kunjungan bayi 87%. n)Tunjangan Fungsional Guru Non PNS RA/MI/MTs/MA dengan target 501. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 87%. f)Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) desa siaga dengan target terlatihnya 52. q)Tunjangan Profesi Guru (Madrasah) NonPNS dengan target 46. b)Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dengan target terlaksananya pendidikan 1.

500 orang.Peningkatan Pemanfaatan obat.3 juta KPS dan KS I anggota UPPKS aktif berusaha. Pengembangan. dan 1. terselenggaranya 12 jenis diklat. obat bencana. obat Tradisional. Makanan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dengan target 97 ribu sampel. f)Intensifikasi Advokasi dan KIE Program KB Nasional dengan target (1) . obat haji. dan Penyediaan Tenaga Kesehatan a)Penyediaan dan pengolahan obat dan vaksin dengan target penyediaan obat generik esensial (buffer stock). dan (2) terselenggaranya Advokasi dan KIE Program KBN melalui forum kerjasama LSM dan swasta di Pusat. pengembangan center of exellent di 6 provinsi.580 peserta.850 kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif dan berkualitas. Pemantapan Revitalisasi Program KB a)Peningkatan Jejaring Pelayanan KB Pemerintah dan Swasta/Non Pemerintah dengan target 70. serta ditempatkannya 300 residen senior. Produk Komplemen. dan vaksin.871 penggerak KB di desa. Fokus 10.728 bidan di desa siaga. serta RS kab/kota terutama di daerah terpencil dan bencana dengan target tersedia dan terlatihnya 12 ribu bidan. terlatihnya 29. 47 ribu kader kesehatan. d)Penguatan Jejaring Operasional Lini Lapangan Yang Berbasis Masyarakat dengan target (1) terselenggaranya pembinaan operasional lini lapangan bagi sekitar 25. b)Pembentukan. terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya.5 juta keluarga menjadi anggota BKB aktif. dan terlatihnya 7. b)Pengujian laboratorium Sampel obat. Prov dan Kab/Kota.000 tempat pelayanan KB memberikan promosi dan konseling. c)Peningkatan Akses Informasi dan Pelayanan Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dengan target (1) 2. terselenggaranya pendidikan 44 ribu calon tenaga kesehatan. 1 juta keluarga menjadi anggota BKL aktif. e)Pendataan Keluarga dan Individu Dalam Keluarga dengan target (1) seluruh desa/kelurahan menggunakan hasil pendataan keluarga sebagai basis/dasar untuk pembinaan pengelolaan operasional program KB lini lapangan. 1. c)Peningkatan Sarana dan Prasarana termasuk peningkatan kapasitas SDM dengan target tersedianya 35 paket peralatan laboratorium. d)Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. obat program. dan (2) terlaksananya sosialisasi dan KIE KRR di 450 Kab/kota dan 33 prov. dan terciptanya sistem jaminan ketersediaan alat kontrasepsi (JKK) dan pembiayaan program KB terutama bagi rakyat miskin. obat flu burung.Fokus 9. 11 sarana fisik gedung. Pengelolaan dan Pelayanan KB Pemerintah dengan target (1) 4. dan (2) terselenggaranya sistem informasi dan monitoring manajemen Program KB Nasional di pusat. tugas belajar 2. provinsi dan kabupaten/kota. Pengawasan obat dan Makanan.1 juta keluarga menjadi anggota BKR aktif.

h)Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 49 lokasi. i)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km. d)Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 4 buah. refreshing dan pelatihan teknis bagi 25. Fokus 11. h)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pengembangan sistem informasi program KB berbasis IT di Pusat dan 33 Propinsi. dan (2) terselenggaranya KIE program KB dan KS melalui media massa dan media luar ruang di pusat. e)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 5 titik. g)Peningkatan Kompetensi Petugas dan Pengelola Program KB dengan target (1) terlaksananya pelatihan dasar umum/LDU. Bidang Energi a)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan. B.Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) A. g)Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan di 12 lokasi.871 PLKB/PKB serta pengelola KB agar memenuhi standar kompetensi. dan pengembangan sarana dan prasarana termasuk melanjutkan sarana dan prasarana di wilayah pemekaran. c)Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 20 buah.14 m3/det.800 desa/kelurahan. terlaksananya peningkatan . f)Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 34 lokasi. provinsi dan kabupaten/kota.Toga/Toma tingkat desa berpartisipasi dalam kegiatan advokasi di 17. Bidang Sumber Daya Air a)Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 4. dan (2) terselengaranya pendidikan jangka panjang/pendek bagi 580 orang. b)Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 35 buah.

dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2.565 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 5O WP. Desa Nelayan.471 desa dan internet di 500 desa. Desa Tradisional. 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 1. jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.000 unit c)Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos. b)Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. Desa Nelayan.669 desa.100 KVA. dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I). terlaksananya pendampingan kegiatan PWS (kerjasama dengan ADB) dan kegiatan pengembangan biogas untuk rumah tangga (kerjasama dengan Belanda). Desa Nelayan. Bidang Ketenagalistrikan a)Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan. dan Desa Eks. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. Desa Tradisional.806 KW. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. Desa Tradisional. E.750 KMS. terlaksananya program IMIDAP. Bidang Pos dan Telematika a)Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2. terwujudnya peralatan kegiatan produktif desa mandiri energi berbasis BBN dan non BBN. dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10. 74.150 KMS.100 buah/53. C.000 unit. D. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor transportasi terwujudnya pengembangan energi terbarukan non listrik di pulau kecil terluar. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. Gardu Distribusi sebanyak 1.Transmigrasi sebanyak 10. e)Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan .aksesibilitas energi perdesaan kerjasama Indonesia. Belanda dan GTZ). Desa Tradisional. 15 unit PLT bayu berkekuatan 80 KW. Desa Nelayan. jasa akses telekomunikasi di 38.

d)Bantuan Penanggulangan Bencana Alam dan Kerusuhan dengan target terlaksananya 4 kegiatan (pelatihan. c)Penyelenggaraan. F. Sulut. Malut. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dengan target Terlaksananya 4 paket pekerjaan yaitu 3 paket jasa konstruksi dan 1 paket jasa konsultan. Pelni Rp 850 M. Maluku. i)Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10. e)Pemberian Subsidi PSO PT KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi. bantuan sosial.2 km terdiri atas 5 paket pekerjaan yaitu: 4 pekerjaan paket jasa konstroksi dan 1 paket jasa konsultasi supervisi/manajemen konstruksi serta pembangunan/pemasangan pipa air bersih sepanjang kurang lebih 7. G. f)Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek. Penanggulangan Lumpur Sidoarjo a)Pembangunan Jalan Nasional dengan target terlaksananya relokasi jalan arteri tara Porong sepanjang kurang lebih 7. Sultra.750 unit. Penelitian. g)Penyediaan Salafia dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil/Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil/terpencil di 32 kawasan. j)Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target 3. dan Papua Barat. d)Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi. NTT. Kalteng.sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan.2 km sebanyak 1 paket jasa konstruksi. b)Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52km. h)Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan. antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah. Papua. Sumbar. Sulteng.200 desa. c)Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit. Bidang Transportasi a)Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 146 km. dan Pengembangan dengan target terlaksananya 1 kegiatan swakelola pemantauan dan penanganan dampak deformasi geologi. Sulbar. Kaltim. Sulsel. g) Pemberian subsidi PT. studi masalah . Sumut.

dan pustu. Transisi Pembangunan Ekonomi. jembatan 140 m. sehingga terbangunnya infrastruktur ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. H. gedung serba guna. dan Besuki). serta Pengembangan Sistem Drainase di 4 kab/kota di NAD. rumah sakit. termasuk di dalamnya Redistribusi dan Konsolidasi Tanah dengan target 310. Sosial Kemasyarakatan. dan proses verifikasi pembayaran tanah di 3 desa: Kedung-Cangkring. dan (2) terlaksananya sertifikasi RALAS 10. g)Peningkatan kehidupan masyarakat dan pengembangan wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Pasca Bencana dengan target Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Kabupaten/Propinsi dan Infrastruktur lainnya. Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias a)Pembangunan Jalan baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 119. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan pasar. Pejarakan. perbaikan jalan 37 km. jalan dan parkir. dan Kelembagaan di 6 wilayah. 25 Kab/Kota. serta perbaikan infrastruktur lainnya (cold storage. 200 unit sekolah dan infrastruktur publik. f)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Melanjutkan dengan target terlaksananya Reconstruction of Aceh Land Administration System Project (RALAS) dengan rincian: (1) terlaksananya sertifikasi RALAS 140. Nias-Provinsi Sumut). rumah operator). meningkatnya akses pelayanan sosial dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di 17 Kabupaten di Prov. d)Pembangunan Gedung Pendidikan Tinggi Agama melalui IDB dengan target terselesaikannya rehabilitasi rekonstruksi IAIN Ar-Raniry. Puskesmas Pembantu (pustu) 20 unit. packing room. Pemilikan.NAD dan 2 Kab di Nias. (2) terlaksananya lanjutan Pembangunan pelabuhan Lhokseumawe di Lhokseumawe. dan (2) melalui IDB-Simeulue Reconstruction Project untuk perbaikan 15 unit sekolah.8 km di NAD dan Nias. (4) terlaksananya lanjutan Pembangunan Pelabuhan Calang di Aceh Jaya. (3) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel di Kuala Langsa di Langsa. Neraca PGT 100 Kab/Kota. e)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah tertinggal (P2KPDT) dengan target melanjutkan Proyek SPADA.000 unit rumah. Reformasi Agraria a)Pengaturan Penguasaan. EDFF-Aceh. serta Rehabilitasi Fasilitas Terminal untuk Pelabuhan Udara Sultan Iskandar Muda. c)Fasilitasi Pembangunan Wilayah Tertinggal dengan target: (1) rehabilitasi dan rekonstruksi Kecamatan di NAD-Nias melalui pembangunan 5.000 bidang di Provinsi NAD. Inventarisasi P4T 1 juta . pengadaan peralatan dan mebel air untuk sekolah.000 bidang di Kep. Fokus 12. ruang generator. Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah.000 bidang.sosial. b)Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut dengan target: (1) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar. dan LED Nias.

500. DAN ENERGI SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian.000 Orang).226 bidang. pelatihan pengelolaan sampah RT berbasis masyarakat di 15 kabupaten. b)Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan dengan target pengangkatan sekdes menjadi PNS (22. Nelayan 2. dan Lampung.000 Ha.710 Bidang (FRONA dan LMPDP sebanyak 1. INFRASTRUKTUR. operasi sidik 100 kasus. Fokus 13. c)Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dan Masyarakat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan dengan target terlaksananya pilot project pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat di 3 desa.065 bidang.Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13. Penataan Sarpras (680 Orang).1 persen. 3.Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12.000 bidang). Pelatihan Masyarakat kerjasama dengan Balai Pemberdayaan Masyarakat Malang. Penyediaan Air Minum dan Sanimas/Pamsimas (15 Provinsi). Pilot Project PDT (17 Desa).PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DIDUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Pertanian 8.000 kasus.000 bidang dan RALAS 150. II. Infrastruktur.419 bidang.Penguatan Lembaga Masyarakat dan Pemanfaatan Kelembagaan Pemerintah Desa a)Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan dengan target Bimtek (12 angkatan).bidang. 1. fasilitasi pengembangan lembaga. Fasilitasi sosialisasi peraturan (1.320 Orang). . fasilitasi penyusunan Perda tentang pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat. Yogyakarta. Bintek Administrasi (1.5 persen. d)Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan target 2. Bimtek Keuangan (600 Orang).065. penanganan perkara dan non-perkara 600 kasus. 24 kab. b)Pengendalian dan Pemberdayaan Kepemilikan Tanah dengan target penertiban tanah terlantar 128 SF. Transmigrasi 3. c)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah dengan target 1. 2. Kegiatan PISEW/RISE di 9 provinsi. pengkajian 1. mencakup operasi tuntas 900 kasus.980 Orang).600 perkara.228. aparatur dan kader dalam pembangunan perdesaan berbasis masyarakat. Orientasi (7 angkatan). Inventarisasi tanah bekas hak/kritis 120 SP. dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut.072 Titik. modul pelatihan Sumber Daya Pesisir Beb basis Masyarakat di 33 provinsi. POKMASDAR TIBNAH 408 kelompok.

Jepang. publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional.9 persen. Bab 18. c)Strategi kebijakan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan target terlaksananya koordinasi perumusan kebijakan yang antara lain dalam bentuk PP Penetapan Wilayah KEK. 6. PP Fasilitas insentif pengembangan KEK.Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan. 4. promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional. koran nasional (bilingual). Bab 19. Manado.Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6. PP Kelembagaan dalam pelaksanaan KEK. perikanan.Tumbuhnya pertanian. Bab 22. Bab 17. e)Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16.7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4. b)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait. Mandarin. dan Kendal. peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru. peternakan dan hasilnya sebesar 4. seminar 8 kali di dalam negeri. perkebunan sebesar 4. Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara . d)Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara.Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara. Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut EKONOMI-dengan fokus pertumbuhan Fokus 1. FOKUS.Menurunya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7-8 persen dari angkatan kerja ARAH KEBIJAKAN. Arab. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a)Penyederhanaan prosedur. g)Modernisasi Administrasi Kepabeanan dan Cukai dengan target . dan perikanan sebesar 5 persen.0 persen.3. dan kehutanan sebesar 3. information kit dalam 5 bahasa (Inggris. f)Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara .4 persen.9 persen. dan Indonesia). talk show 3 kali di dalam negeri. dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT. 5.

dan multilateral. 3 konsep per UU. Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk. dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata. f)Koordinasi Pelaksanaan Tim National Single Window (NSW) dengan target 5 lap hasil peninjauan lapangan di negara maju. termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. 2 lap monitoring.terbentuknya 2 kantor KPU dan penerapan National Single Window (NSW). h)Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan/pemeriksaan/penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan. b)Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri. terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM. pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum. 5 rekomendasi rapat. 5 lap raker. budaya. Incentives. pembangunan dermaga. sejarah. d)Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor. Fokus 2. Conferences and Exhibitions . peningkatan kinerja kepabeanan dan cukai. i)Peningkatan Kegiatan Meeting. serta tersusunnya 38 pedoman/manual/peraturan yang melandasi pengawasan. g)Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional.Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar a)Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional. 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial. serta berdirinya 6 ITPC baru. h)Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam. dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama. c)Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata. Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru. e)Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online). dan terdaftarnya 1000 merek/produk.

000 ha).125 ton (75. perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi. 90 kab /kota. Ketiga. Keempat. 29 BPSBTPH. (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi. (4) kedelai 4. produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi. gandum. 60 BBI. (3) jagung hibrida 1. l)Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1. Kedua.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan. Perluasan Areal Tebu 500 ha.000 Ha.000 ha).000 ton. terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang). tal. serta POPT inseminator. (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha). (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi. pembangunan Kebun Bibit Tebu 1. Fokus 3. KTG 1. 90 kab/kota. Bongkar Ratoon Tebu 3. Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku. tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25.000 ton (1 juta ha). j)Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia. pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi. Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional a)Peningkatan Produksi.BTPH. k)Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi. operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis.760 Ha. ubi kayu. pembinaan 1000 penangkar (5. b)Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama. (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum. m)Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi. Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan. rekrutmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang . kacang hijau. (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi.200 ha. ubi jalar di 100 kab. Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi. (2) Pengembangan kacang tanah. terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan. terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPM. Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi.(MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri. (1) Peningkatan produksi.

i)Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam.000 ton. Gudang pengering padi 139 kab. (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup ketia meliputi 429 kab. Petugas informasi. Rehab pasar hewan 15 kab. penguatan kelembagaan pangan di pedesaan. j)Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton. (6) pengawasan pestisida di 33 provinsi.300 THK-POPT. k)Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2.Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang.300 ton kedelai. Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari.5 juta ton. Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit.500 unit. Lantai Jemur 138 Kab.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48. c)Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1. (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi. Cold Room 24 lokasi. SP-36 sebanyak 700 ribu ton. Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit. distribusi dan rawan pangan. dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton t)Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95. l)Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). 6. pasar 300 petugas dan sistem informasi harga/pasar di 110 kab. ibu hamil. dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elekttonik). d)Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi e)Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton. g)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tanaman Pangan.800 ton jagung hibirda dan 12. jagung hibrida 3. ZA sebanyak 600 ribu ton. Penyakit Hewan. NPK sebanyak 1. menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota. 201 SD/MI.000 ton. (8) kontrak 1. pengadaan pangan dan infrastruktur pangan.051 POPT/PHP. bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional. Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan. Revitalisasi LDM 10 unit. h)Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan. (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi. jagung komposit 2.000 ton dan kedelai 2. pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi. Revitalisasi Silo 18 unit. . (2) Operasional BPMPT.000 ton padi non hibrida. pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi). m)Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi AL 50 jt ds. (7) insentif 3.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan. Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi.

produksi hablur 2.000 ha. Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529. (2) Meningkatnya kapasitas 183. jarak kepyar. Perikanan dan Kehutanan a)Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25.Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian. 4 paket pengelolaan plasma nutfah. meningkatnya overall recovery di atas 85%.000 ha. stabilisasi harga bahan pokok.900 ha. Lada 800 ha. monitoring & evaluasi. karet 14 provinsi. Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang. o)Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 239. jambu mete 7 provinsi dan kelapa 8 provinsi. p)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi. cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis. Kebun IP3.000 ha. lada 6 provinsi. Rehab Bangunan UPP 27 unit. Pengembangan komoditi spesifik (gambit. cuaca dan lingkungan pertanian.000 ha. Jambu Mete. 100 Kabupaten/Kota. Karet.000 ha. Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2. q)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi.000 ha. Penguatan Kelembagaan.Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi. 5 komponen teknologi informasi iklim. Aren.100. 8 paket data potensi SBL. u)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 535. Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang).300. 25 Kabupaten/Kota. 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan.000 ha. Fokus 4. b)Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama.500 ha. n)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 68. lada 800 ha. v)Koordinasi.000 ha. Kelapa rakyat 30. 6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan. kopi 15 provinsi. dan sagu) seluas 177 Ha. wijen. r)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 22. Pengembangan Komoditi Potensial (Kina. ha. 12 varietas baru ton pangan. areal tanam 275.000 ton.935 TCD. akar wangi.000 ha. s)Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 170. 4 kandidat padi. Pinang. Kopi dan Tembakau seluas 10.000 ha. cengkeh 700 ha dan pala 400 ha.000 ha. Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet. Pengembangan Kako Non Revit. Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi.200 ha. panili) seluas 2. t)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2. pengembangan teh 300 ha. Sepeda Motor 181 Unit. Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi. nilam. . Peremajaan Kelapa Rakyat 8. mendorong terbangunnya 8 PG baru.

the. ton mas. kelembagaan pasca panen 45 kab. metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan. buah tropika dan tanaman hias. pembangunan RPUSK. e)Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama. rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit. Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di . rehab RPH. tebu di 24 prop. f)Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31. 5 paket teknologi pasca panen.600 unit. Ketiga. tan serat. 13 rekayasa alat mektan. Kedua. 18 BPTP penguatan kelembagaan. petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis. kentang. SL-PTT padi hibrida 5. kakao. kapas.000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan. (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit. (2) bantuan alat bengkel 250 paket. 24 paket teknologi sistem produksi. kopi. biofarmaka. terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa & 5. 33 paket teknologi spesifik lokasi.000 penyuluh kontrak.000 petugas. 3 paket teknologi pakan ekonomis. terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial.000 kelompok.379 orang penyuluh PNS dan 26. 24 paket teknologi sistem produksi sayuran. 30 kabupaten/kota. 16 provinsi. 5 galur teroak unggul. terselenggaranya: (a) SL-PTT -Padi 40 ribu kel. sebanyak 8 unit.000 kelompok. terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) Pada 33 provinsi. pengelolaan plasma nutfah sayuran. 7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan. c)Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan. RPU 30 kabupaten. d)Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2. sidik jari DNA 45 ton pangan. Keempat. pengujian Mutu Alsintan. 5 paket teknologi pasca panen. 13 rekayasa alat mekamsasi pertaman.000 kelompok. (c) SL-Iklim 100 unit. transgenik. buah tropika. dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit. kina. Kedua. terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan. kelapa. 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian. (b) SLPHT 500 unit. terdidik dan terlatihnya 10. (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit. 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan. SL-PTT kedelai 10. karet. kakao dan karet). SL-PTT jagung hibrida 5. (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi. 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. pemuliaan.tomat. 74 inovasi sistem produksi ton rempah-obat.

pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan. PIP 50 paket. peningkatan tenaga pendamping teknologi. berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan. serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI). (2) Pemberdayaan Kel.200 Gapoktan. meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI. n)Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/ rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan. terbentuknya otorita kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi. penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi. rumput laut. 6 lokasi buffer stock rumput laut. kakap. patin. lele. pengembangan seaweed center di Lombok. m)Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP).000 ha. j)Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota. intensifikasi usaha budidaya perikanan 871. i)Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan.500 persil lahan nelayan. ikan mas. dan gurame di 33 Provinsi. Tani 50 paket. penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi. g)Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi. h)Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi.. pengawasan.71 kabupaten/18 provinsi. introduksi benih unggul. l)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya. verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi.. pemasaran hasil perikanan.000 Poktan dan 3. 53 balai benih ikan dan balai benih udang. pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi. pengolahan. nila. serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi. Pembinaan 100. 10 klaster industri perikanan. peningkatan mutu. o)Penguatan dan pengembangan pemasaran da1am negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga . serta sertifikasi 1. k)Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang. Sekolah Lapang 50 paket.

r)Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu. sentra gaharu 800 ha..pemasaran.605 ha di 12 provinsi.3 juta ha. w)Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400. berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi. terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum. operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih. 50 unit HPH me1aksanakan sistem silvikultur intensif. dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan .000 ha. dan HTR seluas 300. z)Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota. sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha. operasional 23 kapal pengawas. aa)Perencanaan. sentra rotan seluas 250 ha. t)Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH. serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3.. sutera alam seluas 160 ha. terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor. dan terselenggaranya pembinaan eksportir. HTR dan IUPHHBK. x)Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%. terse1enggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi. diversifikasi produk olahan.000 orang penyuluh. Pembangunan. meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008. IUPHHK-HT. p)Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuiuhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Ba1ai pelatihan. y)Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2. dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL. dan HTR seluas 3. 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi. tersedianya sarana dan prasarana pengawasan. HTI. dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU. s)Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory. u)Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300. q)Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan.000 ha di 25 provinsi.000 ha. pengembangan 5 UPT. v)Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI se1uas 1.2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak/ijin dalam bentuk IUPHHK-HA. terbentuknya 88 POKMASWAS.

pengembangan Integrasi Kelapa Sawit Ternak 12 Paket. dan Biogas dengan target: Pertama. terlaksananya pengembangan 3 TN dalam rangka DNS. Organik dan Pertanian Berkelanjutan dengan target: (1) Berkembangnya hortikultura organik di 6 provinsi. Maluku. (2) 150 unit rumah kompos. Kedua. Kompos. dan NTT). j)Pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan target: (a) terlaksananya pencegahan dan pengendalian kebakaran di 10 provinsi rawan 314 daops. Batamas sapi potong/perah 200 klp dan Denplot 30 klp. estuari dan teluk dengan target terkelolanya dan terehabilitasinya terumbukarang di 15 kab /kota dan 8 provo serta 16 Kab /kota. Berkembangnya usaha pengolahan kompos dan biogas di 100 kab. pembinaan mutu 33 provinsi. (3) terselenggaranya koordinasi dan pengawalan dalam pengembangan pupuk organik di 33 provinsi. NTB. f)Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. Kakao ternak 4 paket dan Kopi ternak 3 paket. g)Pengelolaan Taman Nasional Model dengan target terwujudnya kelembagaan pengelolaan kolaboratif di 21 taman nasional model. Pantai Utara Jawa. Sulawesi. longsor. d)Peningkatan Pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan TPA/sanitary landfill/sistem regional di 86 kabupaten/kota. k)Pengamanan Hutan dengan target operasi pengamanan hutan di 10 . e)Pengembangan pengelolaan konservasi laut dan perairan dengan target berkembangnya pengelolaan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di 26 lokasi dan 2 UPT konservasi. padang lamun.500 ha di 12 provinsi. penanganan daerah rawan longsor di 15 kab/kota pada 5 provinsi. (2) Diterbitkannya sertiftkasi 30 produk pertanian. dan (b) menurunnya hot spot 0-10% dari tahun 2006. terselenggaranya RHL sebagai pengendali banjir di Jabodetabekjur. Operasionalisasi OKKPD. Bali.3 juta ha di lahan kritis .Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global a)Integrasi Tanaman-Ternak. Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir. OKPO. biofisik. serta terselenggaranya rehabilitasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah. i)Perencanaan dan Pembinaan Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan target terbangunnya sumber benih seluas 1. b)Pengembangan Pertanian. h)Rehabilitasi Lahan Kritis dan Prioritas dengan target perencanaan Gerhan seluas 1.target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS. Ketiga. c)Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dengan target Terlaksananya kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di 7 wilayah pesisir (pantai Barat Sumatera. Fokus 5. mangrove. DAS prioritas tahun sebelumnya. sosek). tersalurkannya bantuan untuk pembuatan pupuk organik di 300 kelompok tani.

pengendalian pencemaran air. AWS 33 lokasi dan automatic rain gauge di 11 lokasi serta 1 set sistem komunikasi dan integrasi. Klimatologi dan Geofisika dengan target tersusunnya laporan deteksi dan skenario perubahan iklim serta dampaknya di 33 provinsi dan model prakiraan trayektori polutan udara. termasuk pengawasan dan sistem insentif melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH). o)Pengembangan Sistem Observasi dan Telekomunikasi dengan target terbangunnya sistem observasi dan telekomunikasi serta instrumentasi dan kalibrasi. p)Pengembangan Sistem Data dan Informasi Klimatologi. kualitas udara. serta pengendalian kerusakan lingkungan daerah berbagai kegiatan. pengendalian pencemaran lingkungan. q)Pengembangan Penelitian Meteorologi. di 6 kota besar. dan geofisika. l)Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target menurunnya beban pencemaran lingkungan dari berbagai sumber pencemaran terkait perubahan iklim. t)Penguatan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang di Pusat dan Daerah dengan target meningkatkan koordinasi penataan ruang dan pemantapan kelembagaan BKTRN dan . 3 paket. Meteorologi dan Geofisika dengan target terbangunnya sistem data dan informasi meteorologi. m)Pengendalian Kerusakan Lingkungan dengan target meningkatnya kapasitas dalam meningkatkan upaya pengendalian dampak perubahan iklim di pusat dan daerah. terutama meningkatnya status ketaatan 650 industri terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. klimatologi. serta reduksi timbunan sampah melalui pelaksanaan 3R (reduce. serta terlaksananya validasi AWS 7 sensor dalam rangka uji model numerik cuaca skala nasional dan provinsi. dan perlindungan sumber daya air di 434 kab/kota. serta terlaksananya penghapusan 30 metrik ton BPO di sektor chiller dan metered dose inbealer (MDI). r)Meteorological Early Warning System (MEWS) dengan target terbangunnya sistem peralatan MEWS yang meliputi 2 unit radar cuaca dan ground satelite receiver di 3 takagi. recycle). 3 paket. penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan 50 % dari kasus yang ditangani Dephut.provinsi. reuse. pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di 16 kota. terciptanya hubungan dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dalam proses penataan ruang. pemantauan Udara Ambien Kontinyu (AQMS) di 10 kota dan Passive Sampler di 30 kota. s)Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Koordinasi Penataan Ruang Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang dengan'target tersedianya tenaga yang memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk mengelola penataan ruang di Provinsi dan kab/kota. n)Penyedian Dana Alokasi Khusus untuk Mendukung Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target tersedianya sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan.

RTRWP. Survei. Kegiatan Konsultan service I. v)Pembinaan Manajemen Penyelenggaraan Penataan Ruang dengan target terselenggaranya pembinaan manajemen penyelenggaraan penataan ruang dalam rangka mendukung turbinlakwas penataan ruang. Kajian dan pemetaan batas maritime Indonesia dengan 10 negara tetangga. demarkasi dan pemetaan darat dengan PNG. dan Malaysia serta pemeliharaan tanda batas negara dan pemetaan etnik perbatasan. aa)Penanggulangan Pasca Bencana dan Kerusuhan Sosial dengan target 2 paket. IGTE dan kerjasama ASEAN. c)Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional. u)Operasionalisasi RTR Pulau. 80 kabupaten/kota.BKPRD. x)Pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dengan target dukungan kegiatan JBIC Loan. RTR Kab/Kota dengan target terselenggaranya operasionalisasi RTRWN. RTRWN. w)Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang dengan target tersedianya peta dasar rupabumi 1 :50 K Papua dan Pantai Barat Sumatera. RTR kab/kota serta terselenggaranya forum lintas pelaku penataan ruang. Konsultan Service II Networking. PMO. fasilitasi dan penyediaan peta batas dan wilayah pemerintahan daerah serta kajian penyelesaian konflik batas antar daerah. b)Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan termasuk revitalisasi industri gula. d)Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan. z)Pengembangan Sistem Manajemen Penanganan Bencana dengan target 7 paket. e)Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi. Fokus 6. f)Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT g)Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan. h)Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 .Revitalisasi Industri Manufaktur a)Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten/kota. Data Akuisisi dan Produksi. regional dan global. data utilisasi. RDTL. kajian dan pemetaan geopolitik perbatasan nasional. RTR Pulau. dokumen submisi klaim LKI diluar 200 nm. RTRWP. networking. y)Pemetaan Batas Wilayah dengan target terselenggaranya kajian dan pemetaan Batas Internasional.

c)Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10.Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif a)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket. i)Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM. dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan. Fokus 8. i)Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan. j)Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru. b)Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan. c)Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi.500 bidang tanah UKM.Rancangan SNI. g)Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan. e)Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota .000 KUKM.000 tenaga kerja. Fokus 7. h)Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47. Akreditasi. e)Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan target 3 paket kegiatan UMKM inovatif. d)Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi didaerah-daerah. kondisi kerja dan syarat kerja. f)Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5. d)Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah.000 orang tenaga kerja terdidik.Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja a)Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD). b)Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50. k)Penerapan Standardisasi.

Peningkatan Informasi. perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar.di Pulau Jawa.dengan fokus stabilisasi Fokus 9. dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi. . i)Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500. kelembagaan yang efisien dan pruden. Melalui Peningkatan Kelembagaan. Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya infonnasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota. 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif. serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan. f)Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri.Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter a)Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target tersusunnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. j)Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi. Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit. c)Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan permintaan serta harga bahan pokok nasional. b)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum. Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. EKONOMI . b)Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton).Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok a)Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan. Fokus 10. g)Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi.000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi. d)Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi. h)Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja.

20 embung. embung. dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak. monitoring. b)Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan. .5 km. Embung.25 km. (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center). g)Penanggulangan Bencana/Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 23 waduk. Embung. penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumii Jakarta. j)Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk.c)Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi. h)Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit. f)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 47. Pengamanan APBN a)Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan resiko fiskal. c)Operasi dan Pemeliharaan Waduk. situ dan bangunan penampung air lainnya. Fokus 11. Embung. i)Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4. dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan. Bidang Sumber Daya Air a.Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil A. b)Rehabilitasi Waduk. B. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung. Bidang Energi a)Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas. d)Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD. e)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 237.37 km.)Pembangunan Waduk.45 km. situ dan bangunan penampung air lainnya. INFRASTRUKTUR DAN ENERGI Fokus 12.

monitoring dan review pelaksanaan aturan jaringan tenaga listrik sit. e)Pembangunan Transmisi. terkoordinasinya pelaksanaan perizinan dengan Pemda. Indonesia-Belanda. peningkatan efisiensi pengusahaan dan pelayanan tenaga listrik TA.000MW. Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha. Bidang Ketenagalistrikan a)Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik. Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distribusi TL. penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU. Ikitring dan Pemda. dan evaluasi data ketenagalistrikan. ASEAN SSN. ACD. tersosialisasi perencanaan program pembangunan ketenagalistrikan Lisdes. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik sistem kalimantan. Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati.b)Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring. Jepang (JICA) dan Korea (KOICA). serta pembangunan listrik swasta (IPP). monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara. Jawa bali dan sumatra. Terlaksananya review terhadap implementasi program kerjasama energi dan ketenagalistrikan. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik Wilayah PT Cikarang Listrindo TA. Terwjudnya Fasilitasi pertemuan regional pada forum APEC. Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU. pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. Terwujudnya fasilitasi pertemuan bilateral antara Indonesia dg Belanda. terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan. b)Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi. . Terfasilitasinya pertemuan SOME-AMEM ke 27. kajian pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik (power wheeling) dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum.2009. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik wilayah PT PLN Batam TA 2009. Terwujudnya fasilitasi kegiatan energi dan ketenagalistrikan pada sub sector network dan working group ASEAN. Terfasilitasinya pelaksanaan pertemuan ACE governing Cauncil. C.2009. d)Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target monitoring kesiapan dan kecukupan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali. analisa. ASEM dan EAS. c)Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terselenggaranya pertemuan internasional APEC EWG. pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. PLN. Tersusunnya program kerjasama pengelola pembangkit listrik non komersial. Distribusi. dengan Perda dan Instansi Terkait.

dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU. termonitornya penanganan daerah krisis TL. tersusunnya pola kebutuhan dan prioritas pembangunan JTM/JTR. tersusunnya pedoman kualifikasi standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. Sumbagsel.000 MW. terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan. h)Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat TA 2009. pembinaan dan pengawasan tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik kepada masyarakat TA 2009 kepada masyarakat TA 2009. terupdatenya RUKN. k)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi sektor ketenagalistrikan. Jawa Bali dan Nusa Tenggara.f)Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan. terlaksananya sertifikasi baik operasi (SLO) . termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10.000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional). 175 kV sepanjang 150 km. Aceh. i)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan. terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL. j)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan. 150 kV sepanjang 1450 km. terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes. gardu induk 18 lokasi. terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan. terlaksananya Pembinaan dan Pengembangan Program Ketenagalistrikan. terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembanguna TL. tersusunnya investasi penyediaan TL. tersusunnya pedoman pengawasan SLO. terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. . g)Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km. terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement. terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang. Kalimantan dan Sulawesi (peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10. di w11ayah distribusi Sumatera. terfasilitasinya tim keandalan sistem TL.

Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri. monitoring dan eva1uasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan PKUK. tersusunnya pedoman tentang kriteria dan tata cara penilaian Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri (PDN) pada PLTA.l)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terciptanya Lembaga dan Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik dalam negeri yang mampu mendukung kemandirian nasiona1 dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan. (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran. tersusunnya pedoman pemeriksaan dan pengujian pemanfaatan jaringan Tenaga Listrik untuk kepentingan Telematika. Regulasi. n)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik. data center. penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL. internet. monitoring dan penghitungan BPP dan TDL-PLN. Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos. (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi. . c)Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literary) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan. D. PLTG. instalasi) di Kota Jogja. terlaksananya Konvensi Hasil Penyusunan Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik. penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional. m)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam Bisnis Tenaga Listrik. koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian listrik ilegal.Bidang Pos Dan Telematika a)Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan. b)Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan. dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime. Keahlian SDM. penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK. penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara. (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik. tersedianya data dan daftar Badan Usaha Jasa Penunjang Ketenagalistrikan di Indonesia yang dapat diakses masyarakat. (5) RUU Cyber Crime. fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam usaha penyediaan tenaga listrik. pemantauan dan verifikasi usulan harga beli tenaga listrik dari IPP. tersusunnya Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (BUJPTL).

Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan Jaringan Palapa Ring. instalasi. (3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet. (5) aplikasi sistem early warning. (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital.0 kemitraan. (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009. (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan. c)Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota. perangkat lunak. (2) konsep rencana roll out sistem e-learning. (4) gedung ICT Training Center di Jababeka.Bantul. Kulon Progo dan Gunung Kidul. h)Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan. dan pengintegrasian). d)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi. E. g)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok. (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota. (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority. e)Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan.275 unit. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota. Sleman. dan sistem untuk ICT Training Center di UIN. (2) penyelenggara Broadband Wireless Access. e)Peningkatan Jangkauan. (3) warung masyarakat informasi di 50 lokasi. aplikasi dan infrastruktur open source. dan (7) Pemancar televisi dan radio. i)Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan .

RPPJ 1200 Bh. Kelas V 59 unit. Jawa.360 M. (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II. paku marka 15. Prasarana BRT 8 Lokasi. Papua dan Papua Barat).000 M2 tersebar di : Sumatera. bus air 30 unit. Diklat STPI Curug 10 Paket).736 unit RSH/Rusunami. k)Penyediaan Kredit Program-KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program-KPRSH dan Rusunami sebanyak 240. f)Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi. (4) Pembangunan Rating School Ambon. Kelas IV 33 unit. g)Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket. warning Light 50 unit. e)Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2. Rambu Lalulintas 29. Kalimantan.923. Maluku Utara.500 M. sped boat 12 unit. (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok. (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI). (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang. (3) Pembangunan Rating School NAD. Kelas III 7 unit. (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I. (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit. (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit. c)Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab.477 buah.500 M. j)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok. d)Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73.500 buah. dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit. 30 paket alat. guardrail 106. Delineator 36. Maluku. b)Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket). (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit. Bidang Transportasi a)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong. (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia. h)Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat . serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit. (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia. F. Sulawesi. (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya. Cermin Tikungan 108 Bh. NTT.Lingkungan Permukiman di 218 kawasan. Traffic Light 110 Unit.

Dumai. i)Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi. (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai-Cikarang (18 Km). Telukbayur-Sawahlunto. dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit.5 Km (1 Paket). (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket). Benoa. (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya-Kutoarjo (76 Km). t)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut). p)Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek-Padalarang. n)Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong-Maja-Rangkasbitung (32 Km). Ma. Ramsu : 123 unit. (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan (17 Km).1 Km. (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan. Pontianak.Enim-Prabumulih-Tarahan. Bandung-Banjar-Kroya. Pinang. (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir-Sidoarjo -18.Sibusuk. j)Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di Lintas. pengadaan peralatan SAR 18 unit. Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav). Tg. (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok-Pasoso (JICT-KOJA) 2. serta terlaksannya Public Ship Finance Program. Lubukalung-Naras. Batu dan Palaihari (Kalsel). Sumatera bagian utara. Bitung. Pelsu : 100 unit. Lintas Jawa-400 Km. l)Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dan: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket) . (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 -52 Km. selatan. 2 unit kapal 350 DWT. Manada dan Bitung .PKB). Tj. Tg. pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP). Semarang-Solo. k)Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah. (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya (24 Km). Depare (papua).' s)Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan. Tlk Bayur. Kariangau (Kaltim). 2 unit karat 750 DWT.Kalaban-Pd. Palembang. r)Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dan: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT. KRL. 2 unit kapal 500 DWf. Makassar). (2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit). q)Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) -Mensu: 42 Unit. o)Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket). (2) Pembangunan MRT Jakarta. m)Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis Gawa dan Sumatera)-(18 Paket).

Tapang (Sumbar). lbukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi. Namniwel. sungai 12 lokasi. Naha. Maloy (Kaltim). Maluku. Muara Bungo dan Waghete baru. Kanpel Leok). Sulawesi Utara. Tarakan (Kaltim). Kalimantan. Sam Ratulangi-Manado. z)Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara). Malarko (Kepri). Belang-belang (Sulbar). Adpel Palembang. Melongguane.000 M2 tersebar di : Sumatera. 5 dermaga penyeberangan. Adpel Sampit. Maluku Utara. u)Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut. Maluku Utara. Nunukan. NTB. Tg. Sungai Nyamuk (Kaltim). Arar (papua Barat). (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin-Makasar Sulawesi Selatan. bb)Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425. Kanpel Seba. Sulawesi. dan Haliwen). Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga.000 M2 tersebar di : Sumatera. Adpel Samarinda. Papua dan Papua Barat. x)Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi. Kalimantan. Enggano. NTT. terpencil dan rawan bencana (11) lokasi di : Rembele. Maluku. Manokwari. Adpel Lhok Seumawe. v)Pembangunan Dermaga Sungai. Papua dan Papua Barat. cc)Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3. Seram Bagian Timur. dan Manokwari (papua). Saumlaki Baru. Lab. Nusa Tenggara. Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. Rote. Anggrek (Gorontalo). Jawa. Dumatubun-Langgur. Sibolga. Buton (Riau). Sulawesi. Garongkong (Sulsel). Maluku. (2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan. Tlk. dan Teluk Batang (Kalbar). w)Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi. Adpel Kuala Langsa. Bau-Bau (Sultra) . danau 9 lokasi. Yani (Malut). Rembang (Jateng). Sulawesi. NTT. Ende. dd)Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : . Jawa. Adpel Jambi. Maluku Utara. Amuk (Bali). Bojanegara (Banten) .(Sulut). Kalimantan. Silangit. Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran). dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi. 8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau. y)Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera. aa)Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo. Papua dan Papua Barat. Panajam Pasir (Kaltim). Kanpel Paloh/Sekura. Jawa. Kanpel Manggar.

Bitung.880.8 km dan 2.000 unit.834. pp)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 335.163 km. oo)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 2.469 km dan 3. (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari. ff)Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi). uu)Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo-Kertasono sepanjang 12 km. ll)Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 8.2 m. hh)Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu.685 m. mm)Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 34.9 km. Fokus 14. Manado).5 km. Papua dan Papua Barat).Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas. jj)Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1. (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket).701 m. Dan Mineral a)Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan .884 m. Batubara. 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur. Jawa. NTT. (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket) . gg)Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2. nn)Pembangunan Fly-over dengan target 4. Kalimantan. ss)Pembangunan Jalan Akses dengan target 11. Fokus 13.8 km. tt)Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 60. Sulawesi. b)Pembebasan Lahan.Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta a)Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan. kk)Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 32. rr)Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 63.720 m. qq)Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket.9 km. ii)Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan. c)Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah. ee)Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket.Sumatera. Maluku Utara.

terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi. synopsis geologi WK. tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan. dan Papua untuk CDM. termonitornya implementasi hasil audit energi. seismic laut Flores sepanjang 1. Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang. Sulawesi. b)Pengelolaan. advokasi hukum. Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas. tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah. pengembangan statistik minerbapabum. terbitnya buletin energi hijau. tersusunnya kebijakan . tersusunnya pedoman persyaratan uji kinerja pada pemanfaatan TL untuk rumah tangga dalam rangka labelisasi tanda hemat energi. tersusunnya standar kompetensi untuk audit energi. penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan. d)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional.500 km. Reklamasi. tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan. Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM a)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN. b)Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan. interpretasi potensi migas di laut Sulawesi. kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung. terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil. perijinan usaha. pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan Jepang dan Denmark). terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. penetapan WKP panas bumi. perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum.harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum. terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik. terselenggaranya Bintek energi terbarukan dan konservasi energi. terlaksananya forum konsensus standar kompetensi auditor energi. c)Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba.Percepatan Diversifikasi Energi. Fokus 15. Maluku Utara. Maluku. c)Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan dearing house energi terbarukan dan konservasi energi. terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi.

SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan. DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. penetapan harga gas bumi. tersusunnya kajian penurunan emisi sektor energi nasional.energi. e)Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi. III.Dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah. diterapkannya standar pelayanan minimal (SPM). g)Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM. serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana. pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik. Reformasi Birokrasi serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. b. peningkatan aksesibilitas energy perdesaan.Menurunnya tindak pidana korupsi yang tercermin dari: a. pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum. pengusahaan CBM di daerah Sumatera. pengawasan produksi penjualan. b.Tumbuhnya ik1im takut korupsi. c. terselenggaranya pengarusutamaan gender di sektor energi. REFORMASI BIROKRASI. . layak dan berbasis kinerja. murah dan manusiawi. yang antara lain ditandai dengan: a. f)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan. cepat.Ditingkatkannya kualitas pelayanan publik. yang mencakup antara lain: terselenggaranya pelayanan publik yang tidak diskriminatif.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. PERTAHANAN. SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Upaya Anti Korupsi. 2. c. perubahan kepemilikan saham.Meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum termasuk lembaga pemberantasan korupsi.Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada dasarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik.Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi.Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang. d. tersusunnya program pemanfaatan energi.Dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil. adanya dukungan kompetensi sumber daya manusia aparatur dibidang pelayanan dan penegak hukum. dan diterapkannya teknologi informasi dan komunikasi (e-gov dan e-services).

Bab 13.Terputusnya jaringan demand dan supply penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia baik yang melibatkan jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. termasuk di dalamnya penanganan perkara korupsi baik yang ditangani oleh pengadilan umum maupun pengadilan Tipikor. 3.Tertangkapnya pelaku utama aksi-aksi terorisme dan terbongkarnya jaringan utama terorisme di Indonesia secara tuntas. Bab 6. kampanye.d. 15 orang perlindungan saksi. dan (2) terlaksananya sosialisasi RAN-PK oleh K/L dan penyusunan RAD-PK oleh . Bab 5. (2) penanganan terhadap 1. FOKUS. b)Penindakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan target (1) penyelidikan 55 kasus. dan.967 perkara korupsi.Penindakan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi a)Penanganan/Penyelidikan Kasus Intelejen dengan target 1. dan Bab 14 Buku II dengan Fokus dan Kegiatan prioritas sebagai berikut : Fokus 1. Bab 10.Terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis. c. serta penyelundupan sumber daya negara.000 perkara. e. dan aman. illegal logging. jujur. b. yang tercermin dari : a. 5 Tahun 2004 (Percepatan Pemberantasan Korupsi) dengan target: (1) tersusunnya laporan pelaksanaan Inpres No. Bab 8. ARAH KEBIJAKAN. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. d. c)Penanganan Perkara dengan target penanganan terhadap 250. dan (3) Penyelidikan dan penyidikan terhadap subyek dan kasus tindak pidanan korupsi.Menurunnya secara signifikan tindak kejahatan lintas negara di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah perbatasan khususnya illegal fishing. e. d)Pelaksanaan Inpres No. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 3. supervisi dan koordinasi penanganan TPK 40 kasus di 50 K/L.Ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan. proses pemungutan dan perhitungan suara. 50 perkara penyidikan. Pengumpulan bahan keterangan 1 paket. 40 perkara penuntutan. Bab 9. adil.Tercapainya kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala essential force dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pertahanan dan keamanan.Dilaksanakannya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi-fungsi kepemerintahan. 35 perkara eksekusi keputusan inkracht. 5 Tahun 2004 di sebanyak 660 instansi (pusat dan daerah).Terselenggaranya pengamanan proses pemilu dari masa persiapan. 4.Makin menguatnya kemampuan pertahanan dan mantapnya keamanan dalam negeri.852 penanganan/penyelidikan kasus intelijen termasuk perkara korupsi.

c)Penyuluhan Hukum dan Koordinasi RANHAM dengan target penyelenggaraan penyuluhan hukum pada 33 Kanwil Dephukham. pengkajian hukum 15 kegiatan.380 aparat pemerintah daerah di 10 propinsi masing-masing 5 kab/kota dalam penerapan SPM di daerah. Rakor di 3 wilayah evaluasi 10 kawasan kumuh perkotaan di 10 provinsi. Penyusunan 15 Naskah RUU. dan 1 Kejaksaan Agung. . c)Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM) di daerah dengan target meningkatnya kapasitas 1. dan Dirjen HAM. evaluasi PSU (Fasus. penelitian hukum 7 kegiatan. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik a)Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan target (1) tersusunnya RPP untuk UU Pelayanan Publik dan sosialisasi UU Pelayanan Publik dan (2) meningkatnya kualitas pelayanan terpadu Samsat. revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi). Kejaksaan di 31 Kejaksaan Tinggi. Penyusunan 18 Naskah RPP (termasuk peraturan pelaksanaan UU perlindungan sanksi dan korban serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. penyusunan naskah akademik 10 RUU. dan Peraturan pelaksanaan UU Penyitaan Aset. BPHN. penyusunan UU pengadilan tindak pidana korupsi. Fokus 2. 361 Kejaksaan Negeri. b)Peningkatan/Pengkajian Kapasitas Kelembagaan dengan target tersusunnya 4 dokumen SPM dan Penerapan 2 SPM di 33 provinsi. b)Penyuluhan Hukum dengan target terlaksananya penyuluhan hukum terutama yang terkait dengan Sosialisasi UU Perlindungan Saksi dan Korban. kerjasama kota kembar (sister city). serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi. Fokus 4. dan (3) meningkatnya koordinasi pelaksanaan strategi nasional pemberantasan korupsi yang sejalan dengan KAK' 2003.000 orang.Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi a)Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana dengan target terlaksananya sosialisasi UU perlindungan saksi dan korban dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi dengan sasaran 45. Fokus 3. d)Pasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan dengan target terlaksananya fasilitasi standar pelayanan perkotaan di 11 provinsi.Pemda. kerjasama perkotaan bertetangga di 3 kota metropolitan. untuk pelayanan kepada masyarakat di daerah. 99 Cabang Kejaksaan Negeri. Fasum) bermasalah di 10 provinsi.Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan untuk Mendorong Upaya Pemberantasan Korupsi a)Penyusunan Naskah Perundang-undangan dengan target Pembahasan RUU 10 buah.

Penataan Kelembagaan. Fokus 6. (2) tersusunnya Kurikulum Diklat Aparatur yang baru. b)Penyempurnaan sistem manajemen pengelolaan SDM Aparatur sesuai Sistem Karir dan Remunerasi dengan target tersusunnya RPP Sistem Remunerasi PNS berbasis kinerja dan merit. (Survey/Studi kelayakan/Penyusunan Master Plan/DED/SID) dengan target terlaksananya sosialisasi/asistensi/ monitoring. f)Penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait dengan target penataan sistem koneksi NIK dengan sistem informasi departemen/lembaga melalui pembangunan dan pengembangan data warehouse berbasis NIK Nasional. g)Pengembangan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) Terpadu dengan target terimplementasinya SAK di 457 kab/kota. Sragen dan Balikpapan) dengan 3 instansi (pemda. c)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Kepegawaian Negara dengan legislatif. BKN). d)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-Undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Sistem Pengawasan Nasional dan RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara . (3) tersusunnya Strategi Pembelajaran yang baru.Peningkatan Kinerja dan Kesejahteraan PNS a)Pengembangan Sistem Pendayagunaan SDM Aparatur Negara dengan target (1) tersusunnya Sistem Diklat Aparatur yang baru. b)Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja dengan target (1) tersusunnya rancangan kebijakan Penerapan Sistem Manajemen Kinerja untuk Instansi Pemerintah.e)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target tersusunnya. c)Evaluasi Organisasi dan Tata Kerja Unit Departemen/ LPND/Lembaga Non Struktural dengan target tersususnnya RPP tentang Pedoman Penyusunan Kelembagaan Non-struktural (quasi birokrasi) dan basil evaluasi kelembagaan birokrasi (struktural). (2) peraturan tentang pelaksanaan e-government di instansi pemerintah. dan (2) tersosialisasikannya Pedoman Implementasi Penerapan Sistem Manajemen Kinerja Instansi Pemerintah. Menpan. h)Pilot Project Penerapan Identitas Tunggal untuk Pelayanan Publik dengan target terlaksananya ujicoba penerapan identitas tunggal untuk pelayanan publik di 3 lokasi (Jembrana. Ketatalaksanaan dan Pengawasan Aparatur Negara a) Pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. Fokus 5. (4) tersosialisasikannya sistem diklat aparatur yang baru. (1) model implementasi e-local government. evaluasi atas pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi.

(KPU. b)Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat (penyiapan Modul dan Memulai Voters Education and Information) dengan target (1) terlaksananya sosialisasi informasi pemilu. c)Fasilitasi Pelaksanaan Budaya Politik Demokratis dengan target terlaksananya pendidikan pemilih bagi masyarakat di 5 lokasi di daerah. bimbingan teknis. kesiapan alutsista TNI AD menjadi 38 persen dari jumlah saat ini. KPPS. . 119 Kantor Perwakilan Luar Negeri. b)Penyediaan dan distribusi logistik pemilu dengan target tersedianya logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi.Penguatan Lembaga Penyelenggaraan Pemilu dan Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Pemilu 2009 a)Penguatan Organisasi Penyelenggara Pemilu dan Pilkada dengan target (1) terakreditasinya dan terlaksananya bimbingan teknis bagi pemantau pemilu. serta bimbingan dan supervisi teknis kepada panitia ad hoc pelaksana pemilu.Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan Pemilu 2009 a)Fasilitasi Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2009 dengan target terlaksananya koordinasi setiap tahapan dan jadwal kegiatan Pemilu 2009 (desk Pemilu).780 KPPSLN). dan (2) terlaksananya fasilitasi voters information dan fasilitasi pelaksanaan kampanye di 119 kantor perwakilan RI di luar negeri. d)Fasilitasi lembaga kemasyarakatan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah-daerah dengan target terlaksananya pendidikan politik mengenai kepemiluan oleh 500 ormas di kab/kota (khususnya untuk Pemilu Presiden). Kegiatan dilakukan di 33 provinsi dan 470 KPU kab/kota. kesiapan alutsista TNI AU menjadi 43 persen dari jumlah yang ada saat ini. Fokus 9. c)Penguatan sarana dan prasarana pendukung Pelnilu 2009 dengan target tersedianya sarana dan prasarana gedung kantor KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota. 470 KPU kab/kota. dan KPPSLN untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu Presiden/WK Presiden putaran 1 dan putaran 2. kesiapan alutsista TNI AL menjadi 41 persen dari jumlah yang ada saat ini. PPS. 120 PPLN. dan 1 Kadin di luar negeri.575 PPK.Pemantapan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri a)Peningkatan kemampuan alutsista TNI dan Alut Polri dengan target (1) kesiapan alutsista integratif TNI menjadi 40 persen dari jumlah saat ini.636 KPPS. PPLN. 6. (2) terlaksananya seleksi. 77. 1.Negara dengan legislatif.286 PPS. (2) kesiapan peralatan Polri mencapai 70 persen dari kondisi yang ada saat ini. serta tersedianya bahan tercetak dan instrumen bagi lembaga pemantau pemilu dari dalam negeri dan luar negeri. Fokus 8. Fokus 7. pendidikan pemilih di dalam dan luar negeri. dan supervisi untuk PPK. 611. 33 KPU provinsi.

dan tepat waktu (real time). (2) terselenggaranya operasi bersama keamanan laut dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia dengan target meningkatnya intensifikasi operasi bersama keamanan laut. serta (2) pemanfaatan fasilitas pemeliharaan dan penyerapan secara signifikan produk industri pertahanan nasional dengan target meningkatnya jumlah dan jenis alutsista TNI dan alut Polri produk industri pertahanan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan. penyelenggaraan pentaatan dan penegakan hukum di 5 unit kerja peradilan perikanan dan pengembangan 5 UPT pengawas. f)Penanggulangan dan pencegahan tindakan terorisme. dengan target (1) meningkatnya kelembagaan Badan Koordinasi Penanganan Terorisme melalui peningkatan koordinasi penanganan tindak kejahatan terorisme. dan (4) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas keamanan dalam rangka pencegahan tindak kejahatan transnasional. c)Pengembangan profesionalitas prajurit TNI dan anggota Polri dengan target terpeliharanya kekuatan dan kemampuan prajurit TNI dan anggota Polri. tepat tempat. pembentukan UPT di 6 provinsi. pembentukan 132 kelompok masyarakat pengawas. penangkapan dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme melalui peningkatan jumlah penangkapan dan proses hukum tokoh-tokoh kunci terorisme. (4) penguatan sinkronisasi dan sinergi instansi-instansi pemangku Maritime Surveilance System dengan target tercapainya efektivitas dan efisiensi Maritime Surveilance System diantara instansi-instansi terkait guna mendukung kemampuan dukungan informasi dan data secara lebih akurat. (3) berkembangnya sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penyelenggaraan operasi terpadu selama 180 hari. d)Pengamanan batas negara pada sekitar pulau-pulau kecil terluar dan wilayah-wilayah perbatasan dengan target (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas pertahanan dalam rangka pencegahan terjadinya pelanggaran wilayah dan kedaulatan. (2) meningkatnya upaya pencarian. terbangunnya stasiun koordinasi keamanan laut. (3) meningkatnya kerjasama bilateral dan regional dalam hal penanggulangan dan pencegahan aksi-aksi terorisme melalui .b)Pengembangan industri pertahanan nasional dengan target (1) ditetapkannya sejumlah : peraturan perundangan yang mengatur mekanisme pengembangan industri pertahanan. (3) meningkatnya kerjasama bilateral pengamanan di wilayah-wilayah perbatasan. pengadaan early warning system. (2) meningkatnya operasional penjagaan dan pengawasan aktivitas aging di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan melalui penjagaan dan pengawasan aktivitas asing di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan. operasionalisasi 21 kapal pengawas. e)Penanggulangan dan pencegahan gangguan keamanan laut dengan target (1) berkembangnya prasarana dan sarana termasuk early warning system dengan pengadaan kapal markas.

(4) terselenggaranya kampanye nasional dan sosialisasi anti narkoba serta tersosialisasinya pencegahan penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu. dan terorisme. sasaran-sasaran pokok tahun 2009. serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan. (2) meningkatnya kualitas penegakan hukum di bidang narkoba melalui peningkatan jumlah penyelesaian perkara kejahatan di bidang narkoba. (3) terselenggaranya pembangunan jaringan komunikasi sandi negara melalui pembangunan dan pengembangan SDM persandian. konflik. ketertiban. perkiraan tahun 2008. dengan target (1) meningkatnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri di bidang narkoba melalui peningkatan koordinasi dan kerjasama serta sinergi antara BNN dan BNP/BNK/BNKot maupun lintas negara dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. serta teredamnya potensi gangguan keamanan. separatisme. (2) mantapnya kesiapan TNI dalam memberikan dukungan pengamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif. meningkatnya kemampuan intelijen Polri. . i)Pengamanan Pemilu 2009 dengan target (1) mantapnya kesiapan Polri dalam mengamankan proses pemilu dari masa persiapan. separatisme. dengan target (1) meningkatnya sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah melalui peningkatan kemampuan lembaga dan SDM intelijen pusat dan daerah. terbangun sistem informasi intelejen pertahanan. meningkatnya kemampuan intelijen TNI. ketertiban. percepatan pembangunan jaringan komunikasi sandi nasional. kriminalitas. Sasaran tahun 2009 tersebut dicapai melalui berbagai kegiatan dan kebijakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang digariskan. proses pemungutan dan perhitungan suara. g)Penguatan institusi intelijen dan kontra intelijen.peningkatan penanganan terorisme yang bersifat lintas negara serta menurunnya potensi aksi terorisme lintas negara. serta (3) terselenggaranya operasi intelijen untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) di dalam dan luar negeri. dan terorisme. (3) meningkatnya pelayanan terapi dan rehabilitasi kepada penyalahguna (korban) narkoba. dan menanggulangi kriminalitas. mencegah dan menanggulangi konflik. h)Peningkatan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. BAB III KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2007. (2) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan. kampanye.

5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin ditingkatkan pada tahun 2008.A. Keempat. rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.0 juta orang (9. Dalam triwulan 1/2008. Kedua.1 persen). Dalam bulan Februari 2008.5 persen). ekonomi tumbuh 6. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.0 persen.5 persen (y-o-y). penerimaan ekspor nonmigas meningkat 24.3 persen) menjadi 10. Dalam keseluruhan tahun 2007. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.3 persen dibandingkan .5 persen. kualitas pertumbuhan ekonomi membaik. Dalam keseluruhan tahun 2007.9 juta orang (10. Momentum pertumbuhan terns berlanjut pada triwulan 1/2008.8 persen (y-o-y). Sejak triwulan 111/2007. kemampuan ekspor barang dan jasa yang terjaga. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. momentum pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2007 dan triwulan 1/2008 tetap terjaga. ekonomi tumbuh 6.4 persen. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. Dengan memperhitungkan resiko gejolak ekstemal yang cukup besar.1 juta orang (16. stabilitas ekonomi tetap terjaga dari tekanan eksternal yang meningkat.KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Kondisi ekonomi makro tahun 2007 dan perkiraannya tahun 2008 dapat diringkas sebagai berikut.1 juta dibandingkan Maret 2006. sejak paruh kedua tahun 2007.140 per dolar AS atau menguat 0.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.4 juta orang (8. Ketiga. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 15. Pada bulan Maret 2007.3 persen. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto meningkat dua digit serta konsumsi masyarakat tumbuh lebih dari 5 persen. Dalam Agustus 2006-Agustus 2007 tercipta lapangan kerja baru bagi 4. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37. Dalam tahun 2007. Pada triwulan 1/2008. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga pada triwulan 1/2008 menurunkan lebih lanjut pengangguran terbuka. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.0 persen dan 13. serta daya beli masyarakat yang semakin baik. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. Pertama.8 persen menjadi 6. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. Dalam tahun 2008.5 persen) didorong oleh investasi yang meningkat.6 persen) atau berkurang 2. lebih tinggi dari tahun 2006 (5.

6 persen. Dalam kaitan itu. kebijakan ekonomi AS diarahkan pada dua langkah pokok yaitu mengamankan sektor keuangan termasuk perbankan dengan penurunan suku bunga serta memberi stimulus fiskal dalam rangka mendorong ekonomi. serta melambatnya ekonomi AS. Indeks saham Dow Jones yang sebelumnya mencapai lebih dari 14. Untuk mencegah ekonomi AS dari kemungkinan resesi pada tahun 2008. Sejak triwulan II/2006. krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan dunia. Dalam semester II/2007.6 persen. ekonomi dunia tumbuh 4. investasi residensial di AS terus tumbuh negatif hingga menurun menjadi 21. Penurunan indeks saham tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap indeks saham di berbagai negara. laju inflasi terjaga sebesar 6.2 persen pada triwulan 1/2008. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. Pada bulan April 2008. bantuan likuiditas sekitar USD 30 miliar diberikan untuk menyelamatkan Bear Sterns dari kerugian yang dialami. EKONOMI DUNIA Dalam keseluruhan tahun 2007. Dalam keseluruhan tahun 2007. relatif sama dengan tahun 2006.25 persen pada bulan . Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. stabilitas keuangan dunia mengalami gejolak dipicu oleh krisis subprime mortgage AS.000 dalam bulan Januari dan Maret 2008 dalam penutupan hariannya. laju inflasi keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. suku bunga Fed Funds diturunkan secara bertahap dari 5. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 9.5 persen (yo-y) dengan kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga yang melambat serta penurunan investasi residensial yang makin pesat. Rendahnya kualitas kredit perumahan di AS telah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi AS. sedangkan negara-negara maju hanya tumbuh 2. bank sentral AS dan beberapa bank sentral di negara maju menempuh langkah pengamanan baik melalui bantuan likuiditas dan penurunan suku bunga.3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.9 miliar. ekonomi AS tumbuh 2. ekonomi AS tumbuh 2.000 sempat merosot menjadi di bawah 12. Dalam rangka mengurangi meluasnya dampak krisis subprime mortgage tersebut. Dalam bulan Juli 2007.tahun sebelumnya.2 persen. Ekonomi Asia tetap sebagai penggerak ekonomi dunia dengan tumbuh sekitar 9.0 persen). harga komoditi dunia yang meningkat memberi tekanan yang cukup besar terhadap inflasi di dalam negeri. Ketiga resiko eksternal tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008.6 persen. serta cadangan devisa meningkat menjadi USD 56. ekonomi dunia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya. lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang tumbuh 3. Runtuhnya pasar sub-prime mortgage di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2007 telah menimbulkan gejolak yang luas terhadap pasar modal global.0 persen. sedikit lebih rendah dari tahun 2006 (5. Terakhir.9 persen. atau bertambah USD 14. Pada triwulan 1/2008.5 persen per tahun.

terutama minyak mentah. Rata-rata harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga empat bulan pertama tahun 2008 mencapai USD 101. program stabilisasi harga kebutuhan pokok. Indeks harga komoditi dunia pada bulan April 2008 meningkat 46.140. stabilitas ekonomi dapat dijaga. primary commodity price. Kenaikan harga komoditi yang tinggi ini telah memberi tekanan inflasi global yang tinggi bagi semua negara. April 2008).0 per barel. Poll of the Forecaster memperkirakan ekonomi AS dalam keseluruhan tahun 2008 tumbuh 1. Dalam keseluruhan tahun 2008. serta pengamanan sektor keuangan di dalam negeri. Sampai dengan lima bulan pertama tahun 2007.00 persen pada akhir bulan April 2008 dan stimulus fiskal sebesar USD 162 miliar diberikan untuk menopang konsumsi masyarakat.200 per USD dan dalam keseluruhan tahun 2007. Krisis subprime mortgage dan melemahnya nilai tukar dolar AS mengakibatkan likuiditas global yang berlebih beralih pada pasar komoditi. Dalam bulan Juli 2007 hingga akhir tahun 2007. DAN PASAR MODAL.. Dengan kebijakan moneter yang berhati-hati. PERBANKAN.000-Rp 9. World Economic Oudook. Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi sejak tahun 2004 meningkatkan permintaan terhadap komoditi dunia termasuk energi. Mei 2008]. rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. nilai tukar rupiah berfluktuasi oleh pengaruh rambatan krisis subprime mortgage di AS. Dalam tahun 2008 ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3.Agustus 2007 hingga menjadi 2. harga minyak mentah WTI diperkirakan sekitar USD 110 per barel (EIA.per dolar AS. rata-rata harian nilai tukar rupiah relatif stabil pada rentang Rp 9.200 per dolar AS. Tekanan eksternal berupa tingginya harga komoditi dunia dan meluasnya dampak krisis subprime mortgage di AS berpengaruh pada stabilitas ekonomi di dalam negeri. Mei 2008). MONETER. Ketiga gejolak eksternal tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008. lebih lambat dari tahun 2007 (4. Nilai tukar rupiah kembali stabil pada rentang Rp 9. Harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya secara bertahap meningkat.3 persen dibandingkan tahun 2006.9 persen) dengan ekonomi AS yang hanya tumbuh 0.1 persen (The Economist. kebijakan moneter pada banyak negara mulai beralih ke arah yang ketat dengan menaikkan suku bunga. dan memberi tekanan spekulasi yang besar terhadap peningkatan harga komoditi dunia. Mei 2008).000-Rp 9.8 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y) [IMF.7 persen. . Langkah-langkah untuk mengamankan sektor keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan penurunan suku bunga Fed Funds yang terus berlanjut.5 persen (IMF. Dalam rangka mengendalikan tekanan inflasi ini. atau menguat 0. mampu menjaga kembali stabilitas nilai tukar rupiah.7 per barel dan dalam paruh pertama bulan Mei 2008 mencapai USD 122. Dalam bulan Mei 2007 terjadi penguatan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh arus modal jangka pendek dalam bentuk investasi portfolio.

73. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. harga keempat komoditi tersebut meningkat berturut-turut 120. diperkirakan tetap tinggi.9 persen. Sampai pertengahan tahun 2007 laju inflasi terkendali dan dapat ditekan menjadi 5. Suku bunga acuan yang tetap dipertahankan 8. termasuk minyak mentah dunia.0 persen. bertambah Rp 208. dan 77. kedelai. Pada bulan Desember 2007.1 persen dari 15.1 triliun.6 persen. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan laju inflasi yang terkendali dalam tahun 2007 memberi ruang bagi penurunan suku bunga di dalam negeri. dan beras di pasar dunia meningkat berturut-turut sebesar 80.0 persen dan 9.00 persen sampai bulan April 2008 mulai ditingkatkan pada bulan Mei 2008 menjadi 8. 67.0 persen dan laju inflasi setahun (y-o-y) meningkat menjadi 9. Meningkatnya harga komoditi dunia pada empat bulan pertama tahun 2008 memberi tekanan bagi inflasi di dalam negeri.4 persen dari 9. Dalam tahun 2007. penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 995. harga komoditi dunia.2 persen (y-o-y). Meningkatnya harga komoditi dunia sejak pertengahan tahun 2007 mendorong kembali laju inflasi. Kenaikan ini terus berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2008.0 persen. Pada bulan Desember 2007. Dalam bulan April 2008. kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing menurun menjadi 13. rata-rata harian nilai tukar rupiah sebesar Rp. Meningkatnya tekanan inflasi sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna memandu penurunan ekspektasi inflasi.0 persen.9 persen. Dalam tekanan resiko eksternal yang meningkat sejak semester II/2007. laju inflasi tahun kalender (y-t-d) mencapai 4. relatif sama dengan tahun 2006. Dalam bulan April 2008. suku bunga kredit modal kerja. sedangkan harga beras meningkat tinggi.8 persen (y-o-y). 102. Dalam tahun 2007.1 persen. Penurunan suku bunga kredit berjalan lebih lambat.00 persen pada bulan Desember 2007. harga gandum. Suku bunga deposito dan kredit mcngikuti suku bunga acuan.0 persen. harga gandum dan gandum. 13.000-Rp 9. dan 16.4 persen. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil hingga semester 1/2007 berperan dalam menjaga laju inflasi. 79.8 persen (y-o-y) pada bulan Juni 2007. Dalam keseluruhan tahun 2008. kedelai. Secara bertahap suku bunga acuan (B1 rate) diturunkan sebesar 175 bps dari 9.Dalam empat bulan pertama tahun 2008. laju inflasi tahun 2007 dapat dijaga sebesar 6.25 persen. suku bunga deposito 1 dan 3 bulan menurun menjadi 7.2 persen dan 7. 15. Dalam bulan April 2008. Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong penyaluran kredit perbankan.6 persen pada bulan Desember 2006.2 persen. dan minyak kelapa sawit melunak. laju inflasi dalam keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. dan 22.300 per USD.7 persen pada bulan Desembcr 2006. indeks harga komoditi pangan dunia meningkat sebesar 27. Pada bulan Desember 2007. 9.2 persen. dan 17. minyak kelapa sawit.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp 9.75 persen pada akhir tahun 2006 menjadi 8.1 persen.1 persen (IMF commodity price).0 .

Dalam pada itu.745.5 atau turun 16.1 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya.4 persen. dan 24. loan-to-deposit ratio (I. Indeks Harga Saham Gabungan di BEI pada akhir tahun 2007 mencapai 2. Arus masuk investasi portfolio yang meningkat hingga semester 1/2007 .8 atau meningkat 52. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2007 mencapai sekitar USD 10. terhadap ekonomi dalam negeri telah mendorong kinerja bursa saham. investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 1. total penerimaan ekspor mencapai USD 118. lebih rendah dan tahun 2006 (USD 2. modal kerja.029.4 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2006. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 16.0 persen dibandingkan tahun 2006.6 persen. atau naik 14. Gejolak bursa saham global berpengaruh terhadap Bursa Efek Indonesia. Perkembangan ini terus berlanjut hingga triwulan 1/2008. Pada tahun 2007. relatif sama dengan tahun 2006 (USD 10. NPL menurun menjadi Rp 38. triliun atau meningkat 29. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.2. impor meningkat menjadi USD 84.0 miliar.DR) pada bulan Februari 2008 mencapai 67.3 persen. Secara keseluruhan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih baik didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang kuat.7 persen). Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 dan meningkatnya harga komoditi dunia ikut berperan dalam mendorong penerimaan ekspor nasional. posisi kredit perbankan mencapai Rp 1.O persen.000 pada bulan Mei 2007 dan terus meningkat hingga mencapai 2. Dalam bulan Maret 2008.7 miliar. NERACA PEMBAYARAN.6 miliar). Pada akhir bulan April 2008.5 persen. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang meningkat menjadi USD 22. Selanjutnya dalam bulan Maret 2008.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.2 miliar). dan ekspektasi yang baik. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 8.0 triliun.2 miliar. Dalam tahun 2007. Meningkatnya penyaluran kredit perbankan diiringi oleh menurunnya non-peifonning loan. 28.7 pada akhir bulan Juli 2007.5 triliun dan bulan Desember 2006.1 persen dibandingkan akhir Desember 2007.9 miliar. Kenaikan kredit relatif berimbang antara kredit invetasi. Pada bulan Desember 2007.4 miliar.5 persen dan 14. perkembangan pasar modal global yang dinamis. Stabilitas ekonomi yang terjaga. IHSG di BEI mencapai 2. NPL menurun menjadi Rp 40. gejolak bursa saham global masih berlanjut dan berdampak pada pasar modal di dalam negeri. atau berkurang Rp 7. Dengan perkembangan ini.7 miliar.304. atau naik 15. dan konsumsi dengan peningkatan berturut-turut 23.348.triliun atau meningkat 26. Membaiknya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat meningkatkan kebutuhan impor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) menembus angka 2.5 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y).4 persen dan 15. didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 6.3 triliun (3. Langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi menguatkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal.9 persen.

kebijakan fiskal diarahkan untuk memberi dorongan pada perekonomian dengan tetap menjaga terkendalinya defisit anggaran.9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 didorong oleh impor nonmigas dan migas yang masing-masing meningkat sebesar 16. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2007 mengalami surplus USD 3. dan obligasi internasional.3 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 56.0 persen 33.kemudian melambat oleh rambatan gejolak subprime mortgage sejak bulan Agustus 2007 yang berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) pada semester II/2007. Dalam tahun 2007. memenuhi pembayaran utang baik dalam maupun luar negeri. Investasi langsung aging (neto) diperkirakan mencapai surplus USD 2. investasi porto folio neto mencapai USD 7.9 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 5. Kebijakan belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk belanja pegawai dan barang.2 miliar.9 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 5. Dengan perkiraan tersebut. kenaikan harga komoditi.5 persen dibandingkan tahun 2006. mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan infrastruktur dasar. Adapun kebijakan belanja ke daerah diarahkan untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan membiayai kegiatan-kegiatan khusus yang . Dengan defisit jasa-jasa yang meningkat menjadi USD 25.0 bulan impor. Dalam keseluruhan tahun 2008. Secara keseluruhan tahun 2007. didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat sebesar 12.9 miliar atau 19.6 miliar. Total nilai ekspor pada tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 139.6 miliar dengan upaya mengurangi penerbitan SUN.8 persen.0 persen. Belanja negara yang terdiri dari belanja pcmerintah pusat dan belanja ke daerah meningkat menjadi Rp 757. Sedangkan investasi lainnya mengalami defisit USD 7. terjaganya investasi jangka pendek.5 miliar atau cukup untuk memenuhi kebutuhan 6. Pada tahun 2008. naik 17.5 persen dan ekspor migas meningkat sebesar 38. surplus neraca ttansaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 11.2 triliun atau naik 13. serta dampak lanjutan subprime mortgage.0 miliar. KEUANGAN NEGARA. SBT. Neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan terjaga dengan meningkatnya investasi jangka panjang. Investasi portfolio pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus USD 4. serta menurunnya defisit investasi lainnya.8 bulan impor. neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.0 miliar dengan investasi porto folio yang masuk sebesar USD 10. Pengeluaran impor diperkirakan mencapai USD 101.8 miliar. kondisi neraca pembayaran diperkirakan tetap terjaga dari perlambatan pertumbuhan dunia.1 miliar. lebih tinggi dari tahun 2007. cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 68. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2007 mengalami defisit sebesar USD 5.5 miliar dengan meningkatnya iklim investasi di dalam negeri.9 persen.1 miliar.4 miliar. melindungi hajat hidup masyarakat dalam bentuk subsidi yang lebih terarah.

pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp 895. Perubahan tersebut diantaranya: (i) perubahan asumsi dasar untuk memberikan sinyal yang tepat kepada publik. Adapun penerimaan bukan pajak turun sebesar 5. (ii) sejalan dengan perubahan asumsi dasar tersebut mendorong perubahan besaran APBN. (4) perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik. lebih tinggi Rp . Sesuai dengan APBN-P Tahun 2008.8 triliun atau naik 20.3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga ke USD 100 per barel dan volume konsumsi BBM bersubsidi. penurunan lifting minyak bumi menjadi 927 ribu barel per hari atau lebih rendah 107 ribu barel per hari dibandingkan target APBN 2008 (1. Beratnya tekanan eksternal dan internal tersebut diatas. (v) penyewaan dana cadangan sebesar Rp 8.2 persen terutama didorong oleh pajak dalam negeri yang meningkat 18. Berbagai upaya untuk menjaga ketahanan dan kesinambungan fiskal dalam rangka pengamanan APBN Tahun 2008 dilakukan antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara yang bersumber dari sektor perpajakan. Pemerintah diberi keleluasaan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan APBN lebih lanjut. Apabila dana cadangan tcrsebut tidak mencukupi. mendorong untuk dilakukannya perubahan dalam APBN tahun 2008. melemahnya mulai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. naiknya harga minyak mentah di pasar dunia dan harga komoditas pangan dunia. (8) pengurangan beban pajak dan bea masuk atas komoditas pangan strategis. menuntut dilakukannya perubahan APBN Tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam bulan April 2008. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai akibat dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat. serta (9) penambahan subsidi pangan. Pada tahun 2008. (iv) dilakukannya pemotongan terhadap anggaran belanja Kementerian/Lembaga sebesar rata-rata 10 persen. (6) pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang.8 triliun atau 1.merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. (iii) paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan dunia. (2) penggunaan dana cadangan APBN (contingency policy measure). kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk memberi stimulus kepada perekonomian dengan menjaga ketahanan fiskal. maupun dividen BUMN. (5) peningkatan efisiensi di Pertamina dan PLN. penerimaan pajak meningkat menjadi Rp 491.0 persen PDB.0 triliun atau 20. PNBP.034 ribu barel perhari). Pada tahun 2007.3 persen PDB.3 persen terutama didorong oleh rendahnya lifting minyak bumi dibandingkan target APBN-P. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. Penerimaan negara diarahkan terutama untuk menggali sumber penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak. defisit anggaran pada tahun 2007 dapat dijaga sebesar Rp 48.9 persen. APBN Tahun 2008 mendapat tekanan yang sangat berat baik internal maupun eksternal. (7) penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program. (3) penghematan dan penajaman prioritas belanja K/L. Dengan perkembangan ini.

9 persen.2 persen PDB.2 triliun. Sementara itu. Dengan demikian. konsultasi masyarakat tumbuh sebesar 5. Setelah diundangkannya Undang-undang APBN Perubahan tahun 2008.113.1 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 42. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. Keadaan ini akan meningkatkan beban subsidi energi yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan defisit anggaran.8 persen PDB. Sementara itu. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6.6 triliun. Pemerintah telah menyusun rencana pengamanan pelaksanaan APBN-P 2008 untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Sementara itu. Dan sisi produksi. serta melindungi masyarakat miskin.4 persen PDB atau meningkat dan 1.7 triliun atau 19. mendorong peningkatan defisit anggaran dalam APBN-P Tahun 2008 sebesar 0. Perkembangan penerimaan dan belanja negara diatas. belanja negara diperkirakan mencapai Rp 989. Dengan berbagai langkah tersebut.8 triliun. lebih tinggi Rp 134.8 triliun dibandingkan dengan anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 854.4 persen dari alokasi belanja subsidi yang ditetapkan dalam APBN 2008 yang sebesar Rp 97.5 persen).0 persen.6 triliun dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 781. defisit APBN pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1.8 triliun (20. Sejak semester II/2007.1 triliun (21.9 triliun atau 2.4 triliun atau 5. Dengan kecenderungan harga minyak mentah yang tinggi tersebut.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5. harga minyak mentah di pasaran internasional terus mengalami kenaikan dan mencapai tingkat lebih dan USD 120 per barel pada paroh pertama bulan Mei 2008.5 triliun atau 139. Dari sisi permintaan. Peningkatan anggaran belanja yang cukup signifikan tersebut terutama disebabkan oleh beban belanja subsidi yang mencapai Rp 234. belanja negara diperkirakan sebesar Rp 1. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam serta peningkatan dividen BUMN.1 persen PDB.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh dua digit dibandingkan semester II/2006. Stabilitas ekonomi yang membaik dan gejolak tahun 2005 serta langkah-langkah yang ditempuh untuk mendorong kegiatan ekonomi mampu memulihkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi.4 persen PDB. Selanjutnya stok utang pemerintah diperkirakan sebesar 32-34 persen PDB.7 persen PDB menjadi 2. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong .5 triliun atau 22. PERTUMBUHAN EKONOMI.2 persen dan 8.1 persen PDB.2 persen PDB. meningkat Rp 136.1 persen PDB.4 triliun atau 17.020.9 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 30. Tingginya harga minyak mentah dunia tersebut dan adanya perbedaan harga BBM dalam negeri dengan luar negen yang semakin tinggi berpotensi memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 35. gambaran penerimaan negara dan hibah pada tahun 2008 diperkirakan menjadi Rp 937.

Dalam bulan Februari 2008.oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. Kegiatan ekonomi yang didukung oleh langkah-langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat diperkirakan meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar 4.9 persen. serta konsttuksi yang masing-masing tumbuh sebesar 14.6 persen serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh negatif 2. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.4 persen yang kemudian disesuaikan lagi rnenjadi 6.5 persen.0 persen (y-o-y).5 persen dan 2.0 persen.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. Dari sisi pengeluaran. gas. dan restoran. gas dan air bersih. real estat. Dari sisi produksi.5 persen seiring dengan perbaikan ik1im investasi dan meningkatnya ekspor.0 persen.7 persen. pengangkutan dan telekomunikasi. serta sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2.5 persen (y-o-y).1 persen). dan jasa perusahaan.2 juta jiwa (Maret 2007) ditingkatkan pada tahun 2008.8 persen menjadi 6.4 juta orang (8. Sementara itu impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 13. . sektor pertanian yang meningkat 3. Momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga pada tahun 2007 telah menciptakan lapangan kerja yang cukup besar dan sekaligus menurunkan pengangguran terbuka. masih berlanjutnya pengaruh lanjutan dari subprime mortgage.5 persen.0 persen dan 9.5 persen. perdagangan. 6. serta 5. hotel.9 persen.3 persen) menjadi 10.0 juta orang (9. pertumbuhan ekonomi triwulan 1/2008 terutama didorong oleh pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 13.2 persen. keuangan. Dan sisi permintaan.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi.4 persen.7 persen. Dan sisi produksi. konstruksi. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor pertanian dan sektor tersier yang tumbuh 6. Tekanan ekternal yang berat berupa harga komoditi termasuk minyak mentah yang meningkat tinggi.6 persen.0 persen.7 persen dan 4.5 persen). 7. 7. dan 8. pertumbuhan ekonomi akan digerakan oleh industri pengolahan nonmigas yang diperkirakan tumbuh 5.3 persen (y-o-y). dan air bersih. 13.3 persen dan 15. Dalam triwulan 1/2008. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN.4 persen. Adapun sektor industri pengolahan terutama nonmigas tumbuh 4. pengangguran terbuka menurun menjadi 9.3 persen (y-o-y). momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 6.0 persen.9 juta orang (10. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin yang masih berjumlah 37.4 persen dan 10. listrik. dan perlambatan ekonomi AS menuntut perubahan sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 6. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. investasi serta ekspor barang dan jasa tetap didorong sebagai penggerak perekonomian dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11.0 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. Dalam bulan Agustus 2006 hingga Agustus 2007 telah tercipta lapangan kerja bagi 4.4 persen. 10.

Adapun lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia tahun 2009 adalah sebagai berikut. sedangkan Poll of Forecasters. Pertama. Mei 2008). perekonomian AS diperkirakan mulai meningkat secara bertahap. Kedua. stabilitas keamanan dan politik yang dijaga akan memberi ekspektasi yang positif bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi yang lebih baik. ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3. ekspor nonmigas. sedikit lebih tinggi dari perkiraan tahun 2008 (1.7 persen. Resiko harga minyak yang lebih ringgi tetap ada apabila terjadi gangguan dalam produksi minyak mentah dunia dan memburuknya kondisi geo-politik di Timur Tengah dengan permintaan yang tetap tinggi dari China. respon produksi komoditi dunia lainnya terhadap peningkatan harga yang tinggi. Langkah-langkah yang ditempuh oleh negara-negara maju diperkirakan mampu memulihkan kembali sektor keuangan global yang pada gilirannya akan meningkatkan stabilitas moneter internasional yang lebih baik dan menggerakkan kembali bursa saham global. relatif sama dengan tahun 2008 (0. Departemen Energi AS. Kedua. The Economist. Ketiga. lebih tinggi dari peningkatan tahun 2008 (5. TANTANGAN POKOK Dengan kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan masalah yang . dan negara Asia lainnya didorong oleh perekonomiannya yang tumbuh pesat.6 persen.4 persen).8 persen dengan ekonomi Asia yang tumbuh 8. harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan menurun menjadi sekitar USD 103 per barel (Energy Information Administration. Dalam tahun 2009. India. Peningkatan produksi baik OPEC maupun non-OPEC. World Economic Outlook. Mei 2008 memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2009 sebesar 1. Dengan perekonomian Asia yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. gejolak keuangan global diperkirakan mereda.B. Pertama.5 persen). harga komoditi dunia termasuk minyak mentah diperkirakan akan melunak. dan kegiatan sektor riil. Pada tahun 2009. April 2008). IMF. langkah-langkah perbaikan investasi dan percepatan sektor riil yang terus dilanjutkan akan memberi dorongan lebih kuat bagi meningkatnya investasi.4 persen (World Economic Outlook. perekonomian dunia pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi yang pada gilirannya akan meningkatkan perdagangan dunia. LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL TAHUN 2009 Kondisi ekonomi tahun 2009 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang diperkirakan lebih baik dari tahun 2008. Volume perdagangan dunia pada tahun 2009 diperkirakan meningkat 5. C. serta stabilitas keuangan global yang membaik akan mengurangi tekanan terhadap harga komoditi dunia pada tahun 2009. EIA. April 2008 memperkirakan ekonomi AS pada tahun 2009 tumbuh 0.8 persen.1 persen).

2 persen. dan pengeluaran pemerintah serta mendorong peningkatan sektor industri pengolahan. industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 5. Pengangguran terbuka pada bulan Februari 2008 sebanyak 9. industri pengolahan nonmigas. infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi.5 persen) namun masih lebih rendah dari tahun 2004 dan 2005 yang tumbuh sebesar 14.MENDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI.2 persen. . sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 37.5 persen). Pada tahun 2007. 3. peningkatan nilai ekspor nonmigas lebih banyak didorong oleh kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume ekspor. lebih rendah dari tahun 2004 yang meningkat 7. Dalam tahun 2007. Selanjutnya tingginya inflasi di dalam negeri pada tahun 2008 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar menurun pada tingkat yang memadai.2 juta orang miskin (16.MENJAGA STABILITAS EKONOMI. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian.4 juta orang (8. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009.9 persen. 2. Pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi. Percepatan pertumbuhan ekonomi akan didorong untuk menurunkan tingkat pengangguran yang mulai menurun dan mengurangi jumlah penduduk miskin yang masih besar dengan mendorong kualitas pertumbuhannya. Dalam tahun 2007 investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 9. Beberapa kendala di dalam negeri yang menghambat peningkatan investasi dan ekspor serta lemahnya sektor industri pengolahan akan ditangani secara sungguh-sungguh. kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN.7 persen dan 10. revitalisasi pertanian dan menggerakkan UKM. Lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. serta daya saing ekspor. Dorongan akan diberikan pada peningkatan investasi. jumlah pengangguran terbuka serta penduduk yang hidup di bawah yang kemiskinan mengalami penurunan.MEMPERCEPAT PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. serta tingginya likuiditas ekonomi dunia dapat menimbulkan potensi yang mengakibatkan gejolak ekternal yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. jumlahnya masih relatif besar.6 persen). Meskipun pada tahun 2007 dan awal tahun 2008. gangguan produksi pada komoditi energi dan pangan.diperkirakan masih dihadapi pada tahun 2008. lebih tinggi dari tahun 2006 (2. tantangan pokok yang dihadapi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1.5 persen. D. ekspor.

Perhatian juga diberikan pada upaya untuk meningkatkan investasi dalam kegiatan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan. produktivitas pertanian secara luas. sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. mengurangi hambatan prosedur perijinan. SASARAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2009 . Stabilitas ekonomi dijaga melalui pengamanan pasokan bahan makanan. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan ditingkatkan dengan menyempurnakan peraturan ketenagakerjaan.Peningkatan investasi dan ekspor didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri. mendorong pelaksanaan negosiasi bipatrit. Perhatian juga diberikan pada penempatan. serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. pembahasan agraria nasional. diversifikasi ekonomi pedesaan. Pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan didorong melalui peningkatan produksi pangan. serta peningkatan koordinasi dengan otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan. Disamping itu. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin. dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. kebutuhan pokok utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau. Pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. Daya saing industrl manufaktur ditingkatkan. administrasi perpajakan dan kepabeanan. E. serta penyusulan standar kompetensi. restrukturisasi permesinan. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga diberikan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan penyediaan energi termasuk listrik. meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat. perlindungan dana masyarakat. Pasokan bahan makanan diupayakan dengan meningkatkan produksi bahan pokok dengan penyempurnaan sistem distribusi sehingga kebutuhan pokok rakyat dapat tersedia. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan. perlindungan. fasilitasi industri hilir komoditi primer. dan penerimaan devisa dari pariwisata dan TKI. mendorong komoditi nonmigas yang bernilai tambah tinggi. dan ketahanan fiskal. serta meningkatkan diversifikasi pasar ekspor. antara lain dengan pengembangan kawasan industri khusus. memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. serta penggunaan produksi dalam negeri: Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan produktivitas dan akses UKM pada sumberdaya produktivitas. serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.

4 persen. 7. moneter. perdagangan.4 persen. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7.9 triliun dan Rp 177.5 persen. pengangkutan dan telekomunikasi. ditingkatkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi. impor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 13.2. dibutuhkan investasi sebesar Rp 1.4 persen.0 persen.6 persen.8 .410. perekonomian diperkirakan tumbuh sebesar 6.Dengan arah kebijakan ekonomi makro di atas serta dengan memperhatikan lingkungan eksternal dan internal. Koordinasi antara kebijakan fiskal.0 .6. Pertumbuhan PDB baik pada sisi pengeluaran maupun produksi dapat dilihat pada Tabel III. moneter.7 persen dengan peningkatan yang lebih baik terutama.9 persen.14 persen pada tahun 2009. gas. PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEBUTUHAN INVESTASI Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi. konstruksi. terutama industri dan pertanian. . dengan terjaganya stabilitas ekonomi. dan keuangan negara. Dengan meningkatnya investasi. hotel. 1. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 3.0 . dan sektor riil.6. 7. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa didorong agar tumbuh masing-masing sebesar 12. daya beli masyarakat membaik dengan konsumsi masyarakat diperkirakan tumbuh 5.0 persen antara lain oleh perbaikan iklim investasi dan meningkatnya ekspor nonmigas.8 persen. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik. real estat. Untuk membiayai pertumbuhan ekonomi sebesar 6. Adapun industri pengolahan didorong tumbuh 1.4 persen dan laju inflasi sebesar 5. dan restoran. keuangan.5 persen. sasaran ekonomi makro tahun 2009 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6.1. dan jasa perusahaan. Dalam keseluruhan tahun 2009.0 .3 persen dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 6. STABILITAS EKONOMI Stabilitas ekonomi dalam tahun 2009 tetap dijaga.6.8. menjaga ekspor nonmigas serta memberi stimulus fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara untuk menggerakkan semua sektor produksi.0 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut. 2. Dalam tahun 2009. 8.4 persen.7 triliun. Dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6. 14. Pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 7.232. serta 5. dan air bersih. tercermin dari kondisi neraca pembayaran.0 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 .3 persen" sedangkan pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5.1 persen. untuk produksi tanaman bahan makanan.1 persen dan 11.6 triliun dengan peran serta masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1. pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin akan menurun.4 persen pada tahun 2009. Kebutuhan investasi 2009 dapat dilihat pada Tabel III.

0 .19. stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga.9 miliar didorong oleh meningkatnya investasi langsung asing (neto) sebesar USD 2.8 persen PDB.2 miliar. Dengan defisit sektor jasa-jasa yang masih tetap tinggi.6 miliar.9 miliar. serta efektivitas kebijakan moneter yang semakin baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Sementara itu.1 persen PDB dan penerimaan bukan pajak sebesar 5. belanja negara diperkirakan sebesar 21.7 .a. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 diperkirakan menurun menjadi USD 10. Dengan nilai tukar rupiah yang stabil serta pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga. Secara keseluruhan.4 miliar atau cukup untuk memenuhi 6. neraca modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.8 persen PDB.5 . Dengan menurunnya laju inflasi dan stabilnya nilai tukar rupiah.5 bulan impor. sedangkan investasi lainnya (neto) defisit sebesar USD 7. KEUANGAN NEGARA Kebijakan fiskal tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi pasar uang dunia.3 persen. NERACA PEMBAYARAN Penerimaan ekspor tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar 9. Dalam tahun 2009. suku bunga di dalam negeri diperkirakan menurun dan pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.0 persen. Dengan besarnya dorongan fiskal ke daerah. terutama didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar 13. laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan sebesar 6.4 miliar. Dalam tahun 2009. sedangkan ekspor migas diperkirakan turun 3. surplus neraca pembayaran pada tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 11.8 persen PDB.14.5.9 miliar dan cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi USD 80.1 persen. MONETER Stabilitas neraca pembayaran yang terjaga. c. portfolio sebesar USD 6.7 .21.3. Sementara itu impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 17. penerimaan negara dan hibah diperkirakan mencapai 19. keselarasan program-program pembangunan di daerah dengan program prioritas nasional .5 persen sedangkan impor migas menurun sebesar 1.4 persen antara lain karena harga minyak dunia yang menurun dan program pengalihan ekspor gas untuk kebutuhan domestik. terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 13. ketersediaan cadangan devisa yang meningkat. Gambaran neraca pembayaran tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III. b.5 persen.

Ketahanan fiskal yang terjaga juga tercermin dari stok utang pemerintah yang menurun menjadi 32. dalam bentuk penyediaan listrik murah. seperti .5 . 3. 4. stabilitas ekonomi yang terjaga. c. pada APBN-P tahun 2008 rasio subsidi terhadap belanja negara diperkirakan sebesar 23. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu.0 . PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. b. serta berbagai kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran. d. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 .Subsidi Listrik. Sementara itu.2. Pada tahun 2007 realisasi rasio subsidi terhadap belanja negara mencapai 19. dalam bentuk penyediaan dana untuk penerapan harga pembelian gabah dan beras oleh pemerintah (HPP) dan penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin). Dengan perkiraan penerimaan dan pengeluaran tersebut. serta subsidi untuk menjaga agar produsen mampu berproduksi. dengan harga terjangkau. Subsidi tersebut terbagi atas berbagai jenis.14 persen.5 persen dari angkatan kerja.8 persen. ditutup oleh pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri.34. KEBIJAKAN SUBSIDI Sesuai amanat pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945.7 persen atau 5. Defisit APBN tahun 2009 diupayakan sekitar 1. pemerintah wajib menjamin kehidupan fakir-miskin.perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional. barang dan jasa seperti jaminan tersedianya kebutuhan pangan. anak-anak terlantar. subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat dalam mencukupi kebutuhan dasarnya. kesehatan dan pendidikan. e.Subsidi BBM.Subsidi Bunga Kredit Program. dalam bentuk penyediaan pupuk murah untuk petani.Subsidi Pangan. jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka menurun.0 persen PDB.Subsidi Pupuk. khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. yaitu: a. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan bantuan yang dibutuhkan antara lain transfer tunai.2 persen dari PDB.7. pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dengan proporsi yang cukup besar dalam keseluruhan belanja negara. ketahanan fiskal tetap terjaga. atau 4.0 persen dari PDB. Dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. mengembangkan sistem jaringan sosial. serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.5 . dalam bentuk penyediaan bunga di bawah bunga pasar untuk menunjang pencapaian program tertentu. dalam bentuk penyediaan BBM dengan harga lebih murah. sedangkan tingkat pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 6.0 persen PDB pada tahun 2009.

Kredit Ketahanan Pangan (KKP).Pengusulan subsidi harus disertai dengan alasan dan dasar perhitungan yang jelas mengenai besarnya subsidi yang diajukan. serta g. 5. Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana (KKRS). subsidi untuk PELNI dan sejenisnya. dalam bentuk penyediaan pelayanan oleh BUMN tertentu kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar. Kelompok sasaran tersebut diutamakan masyarakat golongan berpendapatan rendah. dalam rangka meningkatkan efektifitas pengeluaran negara. namun pemberian subsidi tersebut akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran.Komoditi yang disubsidi agar dapat ikut menciptakan kestabilan harga.Subsidi BUMN PSO. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus mendorong peningkatan perekonomian. subsidi yang sudah berjalan masih diperlukan atau belum berakhir jangka waktu pemberiannya akan terus dilanjutkan. pengusulan dan pemberian subsidi harus diatur lebih sistematis. pemberian subsidi dalam tahun 2009 diberikan untuk menghasilkan produk dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas. yang menjadi konsumen akhir dari komoditi yang disubsidi.Memiliki jangka waktu yang jelas. Arah Kebijakan Subsidi Tahun 2009.Adanya kelompok sasaran penerima subsidi yang jelas. subsidi Pas. jagung komposit dan ikan budidaya dengan harga di bawah harga pasar.Pengajuan subsidi dalam harus kemampuan pembiayaan negara. 4. Sementara itu. 2. Secara umum. kedelai. Kredit Koperasi Primer untuk Angota (KKPA). serta dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah. dan/atau masyarakat di wilayah terpencil atau terisolir agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. 3. Kriteria pengusulan subsidi dalam tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1.Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam rangka mendorong kemampuan produsen nasional dalam memproduksi komoditi tertentu. Mengingat bahwa belanja negara dalam bentuk pemberian subsidi cukup besar. 7. jagung hibrida.Adanya mekanisme (delivery) yang jelas hingga komoditi tersebut dapat dipastikan sampai pada masyarakat yang layak menerima. Kriteria Subsidi. dalam bentuk penyediaan benih unggul untuk padi. Dalam hal ini pemberian subsidi tidak dapat diberikan selamanya dan oleh sebab itu pengajuannya harus disertai dengan target waktu subsidi tersebut berakhir. seperti subsidi untuk Kereta Api Kelas Ekonomi. Kredit Koperasi. 6. 8. Kredit Kepemilikan Rumah Sangat Sederhana (KKRSS) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan.Subsidi Benih. memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. pengusulnan subsidi baru dimungkinkan dengan memperhatikan bahwa pemberian subsidi merupakan pilihan kebijakan terbaik yang perlu dilakukan. dalam rangka memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak.Adanya pembenahan struktural yang menyertai pelaksanaan subsidi . f.

dengan tujuan: *Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. Dengan demikian. *Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah.tersebut agar penyalahgunaan subsidi semaksimal mungkin dapat dihindarkan. dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. nyata dan bertanggung jawab. atau yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab kementerian/lembaga yang bersangkutan. dan *Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. kegiatan atau pengajuan subsidi secara lebih terperinci diuraikan pada kegiatan prioritas. Mekanisme Pengajuan/Pemberian Subsidi. (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. *Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. *Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah *Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. PENDANAAN MELALUI TRANSFER KE DAERAH Pendanaan pembangunan melalui transfer ke daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendanaan pembangunan secara nasional dengan arah kebijakan Transfer ke daerah tahun 2009. Pengajuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengajuan kegiatan kementerian/lembaga yang bersangkutan. kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas. DANA PERIMBANGAN Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan/atau dalam kegiatan kementerian/Lembaga. (iv) pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. 5. Subsidi diajukan oleh Kementerian/Lembaga yang terkait dengan komoditi dalam bentuk barang dan jasa. Sehubungan dengan itu. dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang . *Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah pusat dengan daerah dan antar daerah.

5 persen sebagai tambahan anggaran pendidikan dasar. (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. dan Dana Bagi Hasil SDA.Pengalokasian DAU kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAU dihitung atas dasar Celah Fiskal (CF) dan Alokasi Dasar (AD). Langkah-langkah untuk penyempurnaan proses penghitungan. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Bagi Hasil. dan dana alokasi khusus (DAK).dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. (iii) Indeks Kemahalan Konstruksi. . Dana Bagi Hasil Pajak. antara lain dari daerah dan Departemen Keuangan untuk Belanja PNSD. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. b. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). penetapan alokasi dan ketepatan waktu penyaluran DBH akan tetap dilanjutkan. Variabel Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD.Penyedia dan jenis data yang digunakan dalam perhitungan DAU diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (Kbf) dengan Kapasitas fiskal (Kpf) sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD. Dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). Sebagai acuan utama dalam penetapan kebijakan DAU Tahun 2009 adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Disamping itu juga melaksanakan sosialissi penggunaan DBH migas 0. Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan di atas. hal-hal sebagai berikut menjadi perhatian dalam pengalokasian DAU Tahun 2009 : a.Variabel Kebutuhan Fiskal Daerah yaitu: (i) jumlah penduduk. dalam rangka mempercepat penyelesaian dokumen transfer yang diperlukan untuk penyaluran DBH ke daerah dan meningkatkan akuntabilitas/tanggung gugat dan efektivitas penggunaannya. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Umum. (ii) luas wilayah. c. dana alokasi umum (DAU). merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi dalam mendukung kebijakan desentralisasi fiskal guna memperbaiki kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (Vertical Fiscal Imbalance) serta antar daerah (Horizontal Fiscal Imbalance).

Penetapan kebijakan DAK Tahun 2009 mengacu pada UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No.Dalam hal realisasi harga minyak bumi melebihi 130% dari asumsi dasar minyak bumi dalam APBN tahun berjalan. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. daerah perbatasan dengan negara lain. dan daerah pariwisata. serta peningkatan akurasi data yang ditujukan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara alokasi DAK yang merupakan prioritas nasional dengan kebutuhan daerah. IPM dan PDRB per kapita. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Khusus.Menunjang penguatan sistem distribusi nasional. irigasi.Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10% untuk semua Provinsi dan sebesar 90% untuk semua Kabupaten/Kota dari besaran DAU nasional. arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Secara umum. Dalam proses perhitungan alokasi DAK kepada masing-masing daerah akan disempurnakan antara lain melalui peningkatan transparansi dan penyempurnaan metode penghitungan.Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan. daerah perbatasan dengan negara lain. kelebihan DBH-nya dibagikan kepada daerah sebagai DAU Tambahan. dalam pengalokasian diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. serta sarana dan . dan daerah rawan bencana. Depdagri dan Bakosurtanal untuk data luas wilayah darat dan laut. BPS untuk data Jumlah Penduduk. 2. menggunakan formula DAU atas dasar Celah Fiskal. alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK. melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan. dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. IKK. DAK dimaksudkan untuk membantu daerah tertentu dalam mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. Pada tahun 2009. air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertingga1 yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan.dan PAD. sedangkan untuk data DBH Pajak dan DBH SDA dari Departemen Keuangan. e. daerah tertinggal/terpencil. daerah tertinggal/terpencil. daerah pasca bencana. d. Selain itu. terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan. daerah pulau-pulau kecil terluar.

kualitas pe1ayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan. melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. 4. kesehatan. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). 7. tertinggal. dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup. yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009.Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar. infrastruktur. b. perbatasan dan .Pendidikan. keluarga berencana.Mendorong peningkatan produktivitas. serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal.Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. 5. infrastruktur. perikanan dan kelautan.Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan. serta 2 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan. dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu. dan kehutanan. yang diperuntukkan bagi SD/SDLB. serta pembangunan perdesaan. mencegah kerusakan lingkungan hidup. yang diprioritaskan pada daerah tertinggal. termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya. Dengan demikian.Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementenan/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK. daerah terpencil.Menyediakan serta meningkatkan cakupan. MI/Salafiyah Ula. Penggunaan DAK Tahun 2009 diarahkan pada kegiatan-kegiatan di 11 bidang atau program DAK tahun 2008.Kesehatan. baik negeri maupun swasta. perdagangan. 8. meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil. 3. dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. serta pembangunan perdesaan. angkutan barang dan kebutuhan pokok. 9.prasarana perdesaan. daerah perbatasan. perluasan kesempatan kerja. daerah rawan bencana. bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a. kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar. melalui kegiatan khusus di bidang pertanian. 6.

Infrastruktur jalan dan jembatan. melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi. Informasi. dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. kabupaten. industri. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi. i.Kelautan dan perikanan. barang dan jasa.han daerah. serta penyediaan sarana/ prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan. d. g. serta digunakan untuk pembangunan/ perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota. dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional. peningkatan. dan .kepulauan. pemasaran.Keluarga Berencana (KB).Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan. persampahan. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. pengolahan. sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional. khususnya untuk pengadaan. f. c. serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian. dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008. dan Edukasi (KJE)/advokasi Program KB.Pertanian. peningkatan mutu.Infrastruktur irigasi. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi.Prasarana pemerinta. dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah. dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang. dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. e. serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB. yang diarahkan untuk meningkatkan kinelja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran. h. dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes.

m. daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang.pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD. dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK. pengendalian pencemaran air.Peraturan perundangan: *Daerah-daerah yang menurut ketentuan peraturan perundangan diberi status otonomi khusus. serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan. dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan. k. daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.Pembangunan perdesaan daerah tertinggal. hutan kota. daerah tertinggal/terpencil.Kehutanan. 10. yaitu: a. dan karakteristik daerah.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut: *Kriteria Umum. serta daerah pasca bencana. serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan.Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. 11.Perdagangan. *Kriteria Khusus. dengan arah kebijakan untUk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air. diprioritaskan mendapat alokasi DAK *Seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapat alokasi DAK . Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja pegawai negeri sipil daerah. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus.Lingkungan hidup. pemantapan fungsi hutan lindung. dengan arab kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS). meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai. Kemampuan keuangan daerah tersebut dihitung berdasarkan indeks fiskal netto (IFN) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Taman Hutan Raya (TAHURA). j. dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran. bahan pokok. l.

dialokasikan Dana Otonomi Khusus. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana. Sebagai wujud pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. serta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dana Otonomi Khusus NAD diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. pengentasan kemiskinan. daerah rawan bencana. yang jumlahnya setara.Kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait.Karakteristik daerah : daerah pesisir dan Kepulauan. dan untuk tahun keenam belas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. kinerja pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. dan kesehatan. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Otonomi Khusus. daerah perbatasan dengan negara lain. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan dalam rangka otonomi khusus yang diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. dan insentif bagi daerah yang mengalokasikan dana daerah diluar DAK untuk membiayai kegiatan serupa sesuai bidang DAK. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. serta daerah yang termasuk Kategori daerah ketahanan pangan. *Kriteria Teknis. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas . dan Provinsi di Provinsi Papua dan Papua Barat. Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat tersebut diperuntukkan bagi Kabupaten. c. serta pendanaan pendidikan. sosial.b. Kriteria teknis dirumuskan berdasarkan indeks teknis yang ditetapkan oleh menteri/ kepala lembaga teknis terkait. dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional. pemberdayaan ekonomi rakyat. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. dan daerah pariwisata. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan. Kota. daerah tertinggal/terpencil.

8 8.5 11.5 3.5 3.7 2) Perkebunan.7 17.2 8.5 2) .3 8.5 3.7 5.3 2) Industri Bukan Migas 7. 2.0 5.0 4.3 2) Konsumsi Pemerintah 4.6 7.6 2) dan Restoran Pengangkutan dan 13.7 6.6 8.5 6.4 1) 2004 PERTUMBUHAN PDB PENGELUARAN (%) Konsumsi Masyarakat 5.9 2) Air Bersih Konstruksi 7. Tabel III.5 5.4 14.0 13. Gas dan 5. Hotel.7 5.8 2.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.7 2.6 4.5 7.4 7.5 16.4 2) Jasa PERTUMBUHANPDB PRODUKSI (%) Pertanian.6 9.4 3.0 2) Listrik.0 7.8 10.9 4.5 5.4 4.0 3.7 3.9 2.2 5. Kehutanan.9 2) Penggalian Industri Pengolahan 6.0 2) Jasa Impor Barang dan26.4 12.0 10.9 7.6 9.7 5. Peternakan.0 2) Perdagangan.7 5.5 9. 5.4 7.5 8.4 13.3 5.7 10.9 5.0 2.6 3.1 2) Ekspor Barang dan 13.5 8.0 7.0 -6.3 6.7 14.2 1.0 6. GAMBARAN EKONOMI MAKRO ----------------------------------------------------------------Realisasi Sasaran -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------PERTUMBUHAN EKONOMI (%) 5.7 8.0 4.2 5.8 14. dan Perikanan Pertambangan dan -4.1 2) Telekomunikasi Keuangan.3 6.3 5.3 6.4 8.4 8.5 6.5 6.4 12.l.0 6.4 2) Investasi 14.0 5.2 11.9 2.6 4. Real 7.9 13.

Estat, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

5,4

5,2

6,2

6,6

5,7

5,8 2)

LAJU INFLASI (%) 6,4 17,1 6,6 6,6 11,2 5,8-6,5 1) KEUANGAN NEGARA Defisit APBN/PDB (%) 1,3 0,5 0,9 1,3 3) 1,8 1,5 - 2,0 Penerimaan Pajak/ 12,2 12,5 12,3 12,4 3) 13,2 13,7 - 14,1 PDB (%) Stok Utang 56,6 47,2 39,0 33,7 3) 33,5 32,0 - 34,0 Pemerintah/PDB (%) ----------------------------------------------------------------1)Berdasarkan Hasil Pembahasan RKP Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009, 16019 Juni 2008 2)Angka Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran dan Produksi merupakan rincian dari sasaran Pertumbuhan sebesar 6,4% 3)Berdasarkan perkiraan Realisasi Terakhir (Versi ke-4) Tabel III.2 KEBUTUHAN INVESTASI (Rp triliun) ----------------------------------------------------------------Realisasi Proyeksi -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 *) -----------------------------------------------------------------

2004

Kebutuhan 515,4 657,6 805,5 983,8 1.191,5 1.410,6 Investasi (Rp triliun) Pemerintah 76,4 90,2 108,2 125,4 146,0 177,7 (% PDB) 3,3 3,3 3,2 3,2 3,1 3,3 Masyarakat 438,9 567,4 697,2 858,5 1.045,5 1.232,9 (% PDB) 19,1 20,5 20,9 21,7 22,4 23,4 ----------------------------------------------------------------*)Dihitung berdasarkan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4% Tabel III.3. PERKIRAAN NERACA PEMBAYARAN (USD miliar) ----------------------------------------------------------------Realisasi --------------------------------------------------

Proyeksi

2004 2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------Neraca Transaksi 1,6 0,3 10,6 10,4 11,4 10,9 Berjalan Ekspor 70,8 87,0 103,5 118,0 139,1 152,1 Migas 16,3 20,2 22,9 24,9 34,3 33,1 Nonmigas 54,5 66,8 80,6 93,1 104,8 118,9 Impor -50,6 -69,5 -73,9 -84,9 -101,9 -115,0 Migas -11,2 -16,0 -16,2 -18,8 -25,2 -24,9 Nonmigas -39,5 -53,4 -57,7 -66,1 -76,7 -90,1 Jasa-jasa -18,6 -17,3 -19,0 -22,7 -25,8 -26,2 Pembayaran Bunga -2,8 -2,7 -2,6 -2,2 -2,1 -2,4 Pinjaman Neraca Modal dan 1,9 0,3 1,9 3,3 0,2 0,9 Finansial Neraca Modal 0,0 0,3 0,4 0,5 0,2 0,0 Neraca Finansial 1,9 0,0 1,5 2,7 0,0 0,9 Investasi -1,5 5,3 2,2 1,7 2,5 2,4 Langsung Arus Masuk 1,9 8,3 4,9 6,2 6,3 6,5 Arus Keluar -3,4 -3,1 -2,7 -4,5 -3,8 -4,1 Portfolio 4,4 4,2 4,1 7,0 4,6 6,2 Aset Swasta 0,4 -1,1 -1,9 -3,0 -3,2 -2,3 Liabilities 4,1 5,3 6,1 10,0 7,8 8,5 Pemerintah 2,3 4,8 4,5 5,3 4,8 5,1 dan BI Swasta 1,8 0,4 1,6 4,7 3,0 3,4 Lainnya -1,0 -9,4 -4,8 -5,9 -7,1 -7,6 Aset Swasta 1,0 -8,6 -2,6 -5,6 -6,9 -6,8 Liabilities -2,0 -0,8 -2,2 -0,3 -0,2 -0,8 Pemerintah -2,7 -0,8 -2,5 -2,4 -1,0 -1,3 dan BI Swasta 0,7 0,0 0,3 2,1 0,8 0,5 Total 3,4 0,6 12,5 13,7 11,6 11,9 Selisih Perhitungan -3,1 -0,2 2,0 -1,1 0,0 0,0 Neraca Keseluruhan 0,3 0,4 14,5 12,5 11,6 11,9 Cadangan Devisa 36,3 34,7 42,6 56,9 68,5 80,4 Dalam bulan impor 6,1 4,3 4,5 5,8 6,0 6,5 Memorandum Item Exceptional Financing IMF Neto -1,0 -1,1 -7,6 0,0 0,0 0,0 Penjadwalan Hutang 0,0 2,7 0,0 0,0 0,0 0,0 Pertumbuhan Ekspor 11,5 22,5 20,7 15,6 12,5 13,5 Nonmigas (%)

Pertumbuhan Impor Nonmigas (%)

24,4

36,0

8,0 14,5

16,0

17,5

---------------------------------------------------------------LAMPIRAN BAB 3 PEMUTAKHIRAN GAMBARAN EKONOMI MAKRO 2009 Sejalan dengan perubahan ekonomi nasional dan gejolak ekonomi global, maka gambaran ekonomi makro yang diuraikan dalam Perpres No 28 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR-RI, disepakati hal-hal sebagai berikut. Sasaran laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,0 persen hingga 6,4 persen. Tingkat inflasi diperkirakan sekitar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga diperkirakan berkisar antara 7,5 persen hingga 8,5 persen. Harga minyak mentah (ICP) diperkirakan berkisar antara US$ 95 hingga US$ 120 per barel. Rasio defisit anggaran APBN adalah sekitar 1,5-2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 yang merupakan lampiran dari UU APBN Tahun 2009 ini, sasaran ekonomi makro yang dicantumkan adalah sasaran ekonomi makro yang merupakan kesepakatan Pembicaraan Pendahuluan tersebut di atas. Pembicaraan pendahuluan dilanjutkan dengan penyusunan RAPBN 2009. Pada saat penyusunan RAPBN 2009, perekonomian diwarnai berbagai gejolak eksternal yang penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi. Ketidakpastian ini berawal dari krisis subprime mortgage, dan pada saat yang bersamaan harga-harga komoditi dunia mulai dari minyak bumi, minyak sawit, gandum, dan kedelai mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dengan gejolak eksternal yang diperkirakan berimbas kepada ekonomi domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2009 diperkirakan sebesar 6,2 persen, inflasi diperkirakan sebesar 6,5 persen, dan suku bunga diperkirakan akan mencapai 8,5 persen. Dengan perkiraan akan terjadi pelemahan US$ dan pengelolaan cadangan devisa yang baik, maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat dan mencapai Rp 9.100,0/US$. Selanjutnya, sehubungan dengan ketidakpastian politik internasional, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menyebabkan relatif tingginya harga minyak mentah internasional sehingga asumsi rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) diperkirakan akan meningkat menjadi $130. Dengan besaran ekonomi makro sedemikian dan dalam rangka terus memberikan stimulus fiskal bagi pembangunan, maka defisit APBN dinaikkan menjadi 1,9

sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. Dengan demikian. Namun demikian. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi. Dalam perkembangannya. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil.400. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan upaya mendorong sektor riil. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7.persen terhadap PDB. masih ada potensi risiko akibat kenaikan inflasi yang disebabkan oleh imported inflation dari nilai tukar. serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat. defisit APBN menjadi 1 persen. Defisit APBN turun menjadi 1. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 8.2 persen. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kecenderungan penurunan harga minyak dan komoditi.0/US$. maka Pemerintah dan DPR kembali merevisi angka ekonomi makro pada tanggal 13-15 Oktober 2008 dengan kesepakatan sebagai berikut. pertambangan. Harga minyak mentah dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 95. Dalam kesepakatan Pembicaraan Tingkat I. Harga minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 80.0 per barel dengan melihat perkembangan harga minyak terkini serta prospek harga future. dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 sebesar 6. pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertaman. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. manufaktur. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut telah mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia serta mempertahankan prioritas program pembangunan yang telah direncanakan di RKP tahun 2009. disepakati hal-hal sebagai berikut.0 persen.0 per barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun.7 persen terhadap PDB. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal.5 persen.0 persen. sejalan dengan krisis keuangan Amerika yang semakin menjalar keseluruh dunia.150. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus meningkat. Pada akhirnya. termasuk indonesia. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9.0/US$ setelah mempertimbangkan koreksi nilai tukar yang tejadi akibat kelangkaan likuiditas ekonomi dunia. sampai saat-saat terakhir pembahasan suasana ketidakpastian dalam perekonomian terus berlanjut. Dari sisi produksi. Besaran ekonomi makro ini selanjutnya dibicarakan dalam pembahsan RUU tentang APBN Tahun 2009 beserta Nota Keuangan.5 persen menurun dari 8. Perubahan Kerangka Ekonomi Makro 2009 .3 persen.2 persen.

Pelaksanaan kegiatan.4 6. akuntabilitas dan partisipasi. efektivitas.6.5 SBI (%) Harga Minyak 95 .4 Ekonomi (%) Inflasl (%) 6 5. Kementerian.5 Defisit 1. provinsi.5-2.2 1.150 8.400 7.0 95 6.120 ICP (US$/br) 6.2 1.5 .5 1. transparansi. dalam satu instansi dan antar instansi. baik dalam kerangka regulasi maupun dalam kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum.6. dengan tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada masing-masing lembaga serta pembagian urusan antara pemerintah pusat.0 1. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.-------------------------------------------------------------------------PEMBICARAAN RAPBN PEMBICARAAN TK I UU APBN PENDAHULUAN 2009 RUU APBN & TAHUN 2008 KERANGKA RKPPENYUSUNAN NOTA KEUANGAN EKONOMI 2009 RAPBN 2009 2009 MAKRO 16-19 Agustus 3-19 Oktober Juni 2008 2008 September 2008 2008 -------------------------------------------------------------------------Penumbuhan 6. mensyaratkan keterpaduan dan sinkronisasi antar kegiatan.2 6. sesuai dengan peraturan .9 9.7 9.8.0 .2. dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.9.9.0 9.000 .8 .3 6.5 80 ------------------------------------------------------------------------- BAB 4 KAIDAH PELAKSANAAN Dalam melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009.5 .0 APBN/PDB(%) Nilai Tukar . baik di antara-kegiatan dalam satu program maupun kegiatan antar program.5 130 6.200 (Rp US$) Suku Bunga 7.100 8.0 6. dan kabupaten/kota.

RKP Tahun 2009 merupakan acuan bagi Kementerian. dan Musrenbang Nasional (Musrenbangnas). Peraturan Presiden (perpres). atau Peraturan Menteri/Kepala Lembaga. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah pusat. d. tugas dekonsentrasi. atau sudah menjadi kewenangan daerah. Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus). tugas pembantuan. Pemerintah Daerah. Untuk mengupayakan keterpaduan. Musrenbang Provinsi. baik yang berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum. dan lembaga pemerintah non-departemen. dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen dalam menyusun kebijakan publik. periu menyesuaikan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja-KL) menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (RKA-KL) sebagai berikut: a. c. setelah menerima pagu sementara Tahun 2009. yang dilaksanakan melalui asas . Kementerian.Lembaga Negara.perundang-undangan yang berlaku. Kementerian. departemen. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. 2. seperti Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota. dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat. dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan.Pemerintah wajib menyampaikan rancangan APBN Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing lembaga negara.Uraian rencana penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. b. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan program dalam rangka koordinasi perencanaan. serta masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan program-program RKP Tahun 2009 dengan sebaik-baiknya. ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan RKP 2009 sebagai berikut: 1.RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman bagi Lembaga Negara. maka masing-masing instansi pemerintah (kementerian/lembaga). Sehubungan dengan itu.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) di atas perlu menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan.Uraian penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. telah dilaksanakan proses musyawarah antar pelaku pembangunan melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP).

yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. c. di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). b. Masyarakat luas juga dapat berperanserta dalam pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan kegiatan dalam program-program pembangunan. merumuskan matriks rencana tindak pada setiap bidang pembangunan (matriks rencana tindak menjadi lampiran dari setiap bidang pembangunan) menjadi dokumen RKP Tahun 2009. ataupun yang dilaksanakan melalui tugas pembantuan. dengan mendapatkan masukan dari seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) diatas. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah daerah.Uraian penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. masyarakat luas dan dunia usaha dapat berperanserta dalam pelaksanaan program-program pembangunan berdasarkan rancangan peran serta masyarakat dalam kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3.Uraian rencana penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. Untuk mengupayakan keterpaduan. d. RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun kebijakan publik. atau tugas pembantuan yang diterima pemerintah kabupaten/kota dari pemerintah pusat.Bagi Pemerintah Daerah (provinsi/kabupaten/kota). Berkaitan dengan pendanaan pembangunan. perlu juga menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Daerah (perda) dan Peraturan Gubernur/Bupati/Wali Kota. tugas dekonsentrasi yang diterima pemerintah provinsi dari pemerintah pusat. 5.Pemerintah Pusat. 4.Pemerintah daerah wajib menyampaikan rancangan APBD Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing instansi daerah.Masyarakat luas dapat berperanserta seluas-luasnya dalam perancangan dan perumusan kebijakan yang nantinya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. baik berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum dalam Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2009. yang dilaksanakan langsung sebagai kewenangan daerah. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah. . sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan setiap program dalam rangka koordinasi perencanaan. masing-masing instansi daerah perlu menyempurnakan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2009 sebagai berikut: a.dekonsentrasi.

dan melaporkan hasil-hasil pemantauan secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. setiap instansi pemerintah wajib melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang meliputi evaluasi terhadap pencapaian sasaran kegiatan yang ditetapkan. serta kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan APBN/APBD dan peraturan-peraturan lainnya. kesesuaiannya dengan rencana alokasi anggaran yang ditetapkan dalam APBN/APBD.Pada akhir tahun anggaran 2009. melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.6. .Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program. 7. setiap Kementerian/Lembaga Pemerintah Non-Departemen dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful