UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 41 TAHUN 2008 (41/2008) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; b. bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. bahwa APBN Tahun Anggaran 2009 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; d. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat; e. bahwa sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; f. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2009 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 33/DPD/2008 tanggal 2 Juli 2008; g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, e, dan f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; Mengingat :

1. 2. 3.

4. 5.

6.

7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

14.

15.

16. 17.

18. 19. 20.

21.

22.

23. 24.

25.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746); Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN). 9.Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri. serta tidak secara terus menerus. yang dimaksud dengan : 1.Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea ke luar. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. 8. yang tidak perlu dibayar kembali.Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. 2.Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan. dan pajak lainnya. 4. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009. 7. 3. pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). 5. penerimaan negara bukan pajak. dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu.Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam. 6.Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan oleh pihak swasta dalam negeri dan pemerintah daerah serta sumbangan oleh pihak swasta dan pemerintah luar negeri.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah . pajak bumi dan bangunan. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. cukai. penerimaan negara bukan pajak lainnya.Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan.Cost recovery adalah pengembalian atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan (recoverable cost) oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan menggunakan hasil produksi minyak bumi dan gas bumi (migas) sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini.

Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal outstanding). sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. dan pejabat negara. baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. 16. yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan untuk utang outstanding dan tambahan utang baru.Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang. fungsi ketertiban dan keamanan.Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah. gedung dan bangunan. atau mengimpor barang dan jasa. fungsi pertahanan. sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat yang membutuhkan. belanja modal. fungsi pariwisata dan budaya. fungsi agama. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. . 15. 11. jaringan. pensiunan. fungsi perumahan dan fasilitas umum. serta dalam bentuk fisik lainnya. dan belanja lain-lain. fungsi lingkungan hidup.Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat. 10. pembayaran bunga utang. menjual. belanja barang. bantuan sosial.Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. belanja hibah. termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang. subsidi. fungsi kesehatan.Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada bahan bakar minyak dan tenaga listrik. sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa. mengekspor. atau jasa dari Pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara. sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan. atau lembaga/organisasi internasional yang tidak perlu dibayar kembali. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. barang. baik utang dalam negeri maupun luar negeri. fungsi pendidikan.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. Badan Usaha Milik Daerah. fungsi ekonomi. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa. 17.pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga.Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai. 18. Pemerintah Negara lain. dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat serta belanja perjalanan. 12. baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri. dan fungsi perlindungan sosial. 14. peralatan dan mesin. 13.

serta hibah ke daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 21. selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. serta tidak secara terus menerus. dana otonomi khusus dan penyesuaian. 20. guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial. .Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan. 23. selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga. 22. 26.Dana alokasi umum. 19.Dana alokasi khusus. dan dana cadangan umum.Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. yang terdiri atas dana bagi hasil. 24.Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.bersifat tidak wajib dan tidak mengikat.Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 12 (dua belas) sampai dengan angka 19 (sembilan belas).Dana bagi hasil. dana alokasi umum. dan dana alokasi khusus. 25. selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

baik dalam matauang rupiah maupun valuta asing. selanjutnya disingkat SILPA. adalah selisih lebih realisasi pembiayaan atas realisasi defisit anggaran yang terjadi. atau dapat disebut sukuk negara. sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN. 38.Privatisasi adalah penjualan saham persero. yang tidak perlu dibayar kembali. 32. 33. adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah.Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha. serta pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) yang diterushibahkan ke daerah.Surat berharga syariah negara. selanjutnya disingkat SBSN. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. 30.Surat utang negara.Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN.Restrukturisasi BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN. hasil pengelolaan aset. surat berharga negara. yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. 29. selanjutnya disingkat SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam matauang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi. 34.Surat berharga negara. 31. 35.Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari . bersifat tidak wajib dan tidak mengikat.Hibah ke daerah adalah dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk rupiah.Sisa lebih pembiayaan anggaran. 37.27. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. dan dana bergulir. dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. baik sebagian maupun seluruhnya.Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan membantu mendukung percepatan pembangunan di daerah. selanjutnya disingkat SBN meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah negara. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. serta tidak secara terus menerus. 36. dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah. 28.

842.943. dan c.Pinjaman program adalah pinjaman yang diterima dalam bentuk tunai (cash financing) yang pencairannya mensyaratkan dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak seperti matriks kebijakan (policy matrix) atau dilaksanakannya kegiatan tertentu.Penerimaan negara bukan pajak.522.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).558. namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan.Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan berdasarkan Undang-Undang ini.000.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). .522. dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp985. 40. 42. (2)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp725. 43.Persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran belanja negara. ayat (3).328.800.970. (4)Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp938.725. dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri. Pasal 2 (1)Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 diperoleh dari sumber-sumber: a.Tahun anggaran 2009 adalah masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2009.penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek. (3)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258. untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah. termasuk gaji pendidik.000.Penerimaan hibah.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).000.Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/ lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah.Penerimaan perpajakan. (5)Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2).000. b.00 (sembilan ratus tiga puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah). 41.000.000. 39.

000.000.000. dan b.000.000.970. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah).000.000.916.346.000.Cukai sebesar Rp49.000.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp7.Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar Rp249.000.000.494. b.700. e.000. (ii) bunga atas surat berharga negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp1. f.Pasal 3 (1)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari : a.000. yang terdiri dari : a. dan (ii) BBM bersubsidi (PT Pertamina/Persero) sebesar Rp10.Pajak Penghasilan sebesar Rp357.00 (dua ratus empat puluh sembilan triliun lima ratus delapan miliar tujuh ratus juta rupiah).200.200. termasuk BPHTB ditanggung pemerintah atas kekurangan DTP BPHTB PT Pertamina (Persero) tahun 2007 sebesar Rp500. (2)Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp697.753. dan (iii) terminasi dini hak eksklusif PT Telkom (Pasal 25/29 badan) sebesar Rp250.000.000.Pajak perdagangan internasional. d.300.Pajak lainnya sebesar Rp4.000.700.000. termasuk PPh ditanggung Pemerintah atas: (i) komoditi panas bumi sebesar Rp800. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.00 (dua puluh delapan triliun sembilan ratus enam belas miliar tiga ratus juta rupiah).000.000.00 (lima ratus miliar rupiah).000.00 (enam ratus sembilan puluh tujuh triliun tiga ratus empat puluh enam miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).000.273.000.000. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000. c.000.470.00 (tiga ratus lima puluh tujuh triliun empat ratus miliar empat ratus tujuh puluh juta rupiah).00 (sepuluh triliun rupiah).400.000.508.00 (empat puluh sembilan triliun empat ratus sembilan puluh empat miliar tujuh ratus juta rupiah).00 (delapan ratus miliar rupiah). termasuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas: (i) sektor-sektor tertentu dalam rangka penanggulangan dampak perlambatan ekonomi global dan pemulihan sektor riil (counter cyclical) sebesar Rp10.00 (sepuluh triliun rupiah).00 (tujuh triliun tujuh ratus lima puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah).000.00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah).000.000.600.000.00 (empat triliun dua ratus tujuh puluh tiga miliar dua ratus juta rupiah).000.Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp28.000. (3)Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada .000.Pajak dalam negeri.

000.000.750.335. (2)Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp173.00 (sebelas miliar lima puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar Amerika Serikat).000.Bea ke luar sebesar Rp9.600. b. b. yang disebabkan oleh kenaikan lifting gas on stream Exxon dan Tangguh.123.Bea masuk sebesar Rp19.496. terdiri dari : a. maka BPK wajib melaporkan estimasi besaran kerugian negara yang timbul.070.00 (seratus enam puluh dua triliun seratus dua puluh tiga miliar tujuh puluh juta rupiah).496.050. (4)Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.000.521. c. Pasal 4 (1)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari : a. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.000.Pendapatan BLU. naik dari besaran tahun 2008 sebesar US$10. serta swap Conoco dan Chevron.Penerimaan sumber daya alam.000. termasuk kerugian daerah dalam kerangka bagi hasil.000. dan apabila terdapat temuan ketidakwajaran.00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh lima miliar enam ratus juta rupiah).160. termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu sebesar Rp2.000.Penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi (SDA Migas) sebesar Rp162.000.477.00 (seratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar lima ratus dua puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah).00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah).000.00 (sembilan belas triliun seratus enam puluh miliar empat ratus juta rupiah).000. yang terdiri dari: a.000.00 (dua puluh delapan triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar rupiah). dengan ketentuan: (i)Penerimaan SDA Migas tersebut memperhitungkan cost recovery sebesar US$11.000.500.473. dan d. (ii)Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditugaskan untuk melakukan audit atas kewajaran unsur biaya dalam cost recovery sejak tahun 1997.ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp28.000.000.00 (sepuluh miliar empat ratus tujuh puluh tiga juta dolar Amerika Serikat).Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara. dan disampaikan dalam Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun .Penerimaan negara bukan pajak lainnya.400.

00 (empat puluh sembilan triliun dua ratus sepuluh miliar delapan ratus satu juta dua ratus empat puluh delapan ribu rupiah).000. yang antara lain memuat : 1.451. (5)Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d direncanakan sebesar Rp5.000.00 (sebelas triliun tiga ratus tujuh puluh tiga miliar empat ratus lima puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah).442.235. (3)Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp30.000.00 (lima triliun empat ratus empat puluh dua miliar dua ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah). b. 5.000.Penerimaan sumber daya alam nonminyak bumi dan gas bumi (SDA Nonmigas) sebesar Rp11.000.801.794.Standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery.Pemberlakuan Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan efektif mulai 1 Januari 2009.Standar tersebut tidak hanya berpedoman pada Exhibit Contract.Unsur biaya yang dapat dikategorikan dan diperhitungkan sebagai unsur cost recovery. (4)Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp49. (iv)Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) ditugaskan untuk memperkuat pengawasan dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor migas. . (iii)Pemerintah ditugaskan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang cost recovery.373. dalam hal ini terhadap sebagian aset yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Gelora Bung Karno dan sebagian atau seluruh aset yang dikelola Badan Layanan Umum Kompleks Kemayoran akan ditetapkan sebagai Penyertaan Modal Negara dalam suatu Badan Usaha Milik Negara.477. 4. 2.797.248. 3. sehingga acuan cost recovery dalam Exhibit Contract perlu ditinjau kembali.Cost recovery senantiasa harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.00 (tiga puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh empat miliar rupiah).000.Anggaran 2009 untuk dapat ditindaklanjuti.210. (6)Penunjukan Gelora Bung Karno dan Kompleks Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum dalam rangka optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat ditinjau kembali sesuai peraturan perundang-undangan. namun juga disesuaikan dengan standar pembebanan yang berlaku umum sebagaimana dimaksud pada butir (2).

Belanja pemerintah pusat menurut organisasi.000.992. (6)Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2009 menurut .376.376.690.000. kegiatan dan jenis belanja dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). dan c. (3)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp320. dan b.000.376.Anggaran belanja pemerintah pusat.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).346.00 (tiga ratus dua puluh triliun enam ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta rupiah).000.037. b.122.000. fungsi.122.Anggaran transfer ke daerah.376. program.122.122. (2)Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716. (4)Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp1.346.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi.346. (3)Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp716. (5)Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran. Pasal 5 (1)Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 terdiri dari : a. (4)Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp716. Pasal 6 (1)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas : a.Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. dan ayat (5) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.122. ayat (4).000.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). ayat (3).00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).000.338.067. (2)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.(7)Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2).346.

organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). e.Penerapan diversifikasi tarif regional seperti Batam dan Tarakan pada daerah-daerah lain. Pasal 8 Pengendalian anggaran subsidi listrik dalam tahun anggaran 2009 dilakukan melalui : a.600 VA (volt ampere) ke atas. d.600 VA.Penerapan tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pelanggan dengan daya 6.Penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) dari PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) dan KKKS berkoordinasi dengan BP MIGAS.Penyediaan Domestic Market Obligation (DMO) batubara yang berasal dari kebutuhan ketersediaan inkind batubara. b. dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). Pasal 9 (1)Pemerintah menjamin kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan.Perluasan penerapan kebijakan tarif insentif dan disinsentif untuk pelanggan dengan daya di bawah 6. (3)Pemerintah Daerah diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Pasal 10 (1)Dalam rangka kesinambungan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk . pemerintah menjamin harga gas untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga domestik. menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3). diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 Nopember 2008. Pasal 7 Pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam tahun anggaran 2009 ditempuh dengan kebijakan penetapan besaran subsidi BBM sesuai dengan Undang-Undang APBN dengan toleransi alokasi maksimum dari realokasi cadangan risiko fiskal. c. (2)Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pangan terutama pupuk pada masa yang akan datang.

maka bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program/kegiatan nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) yang terdiri dari program pengembangan kecamatan (PPK).mempercepat penanggulangan kemiskinan. ditetapkan oleh Pemerintah. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan DIPA-L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP). program pengembangan infrastruktur perdesaan (PPIP). (2)Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari pagu kementerian negara/lembaga masing-masing dalam tahun anggaran 2009. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada . (2)Pendanaan untuk program/kegiatan. dapat diluncurkan sampai dengan akhir April 2010 sebagai anggaran belanja tambahan Tahun Anggaran 2010. (3)Penyelesaian kegiatan-kegiatan tersebut yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa publik mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku. Pasal 12 (1)Kegiatan-kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. Pasal 11 (1)Dalam rangka menjaga kesinambungan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009. maka program/kegiatan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009 yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari bagian anggaran 069 (belanja lain-lain) dalam tahun 2009. (4)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK) dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2009. (2)Pengajuan usulan luncuran program/kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam bentuk konsep DIPA Luncuran (DIPA-L) paling lambat pada tanggal 16 Januari 2010. (4)Pemerintah dapat melakukan kontrak dan pembiayaan tahun jamak terbatas sampai dengan tahun 2010 untuk mengatasi keperluan mendesak dan belum terprogram. ditetapkan oleh Pemerintah. yang pada tahap awal sumber dananya antara lain berasal dari bantuan sosial penanggulangan bencana.

dan/atau (iii)antarjenis belanja dalam satu kegiatan. tunjangan hidup. dan Mindi). b. dan Penjarakan) dilakukan setelah pembayaran pembelian tanah di dalam peta area terdampak selesai dilakukan. . Pasal 13 (1)Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo. (3)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan. tunjangan hidup dan biaya evakuasi di luar peta terdampak pada tiga desa (desa Besuki. dan Penjarakan). Kedung Cangkring. Pasal 15 (1)Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa : a. Kedung Cangkring. bantuan kontrak rumah. maka alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dapat digunakan untuk melunasi kekurangan pembayaran pembelian tanah.pergeseran anggaran belanja: (i)antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. serta untuk bantuan kontrak rumah. (ii)antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi. Pasal 14 Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengeluaran dalam rangka memenuhi setiap kewajiban yang timbul sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). biaya evakuasi dan relokasi pada sembilan rukun tetangga di tiga desa (Siring Barat.perubahan pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN. dan c.ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Pemerintah. (2)Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non-Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan BLU ditetapkan oleh Pemerintah.perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. Jatirejo. ditetapkan oleh Pemerintah. (2)Kekurangan pembayaran pembelian tanah di luar peta area terdampak pada tiga desa (desa Besuki.

000.100.00 (delapan puluh lima triliun tujuh ratus delapan belas miliar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah).725. Pasal 17 (1)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri dari : a. (2)Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp85. dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. b.(4)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah. .800. Pasal 16 (1)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.Hibah ke daerah.000.00 (dua puluh empat triliun delapan ratus sembilan belas miliar lima ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah).738.718. dan c.588.800.000. (3).952. (3)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23. (4)Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp24.414. b.819.000.Dana bagi hasil.000. (3)Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp186.Dana otonomi khusus dan penyesuaian.Dana alokasi khusus. (4)Hibah ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c nihil.00 (seratus delapan puluh enam triliun empat ratus empat belas miliar seratus juta rupiah).000.413.Dana perimbangan.00 (dua puluh tiga triliun tujuh ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus tujuh puluh delapan juta dua ratus ribu rupiah). (2)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp296. dan c. (5)Perhitungan dan pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. (2).Dana alokasi umum.200.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).578. (5)Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000.

Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp60. sehingga dalam Tahun Anggaran 2009 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp51.856.067. dan b.522.564.014.037.338. (2)Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber : a.000.Dana otonomi khusus.000. b.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah).009.000.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah).Pembiayaan luar negeri neto sebesar negatif Rp9. (3)Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.200.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah).000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5).000.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah). ayat (3).Dana penyesuaian.000.725.448. lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.342. (3)Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).000. Pasal 19 (1)Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp985.(6)Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran. dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. Pasal 18 (1)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b terdiri dari : a. (2)Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp8. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4). Pasal 20 .328.122.400.600.000.882.790.000.250.240.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).

00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).Realisasi pendapatan negara dan hibah.Realisasi belanja negara. khususnya imbal hasil Surat Berharga Negara. dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).067. b.Realisasi pembiayaan defisit anggaran. (3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2009. Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan langkah-langkah : .1% (nol koma satu persen).penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang menyebabkan turunnya pendapatan negara. Pasal 23 (1)Dalam keadaan darurat. dan/atau c.413.037.(1)Pada pertengahan Tahun Anggaran 2009. (2)Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah.000. Pasal 22 Anggaran belanja bunga utang yang merupakan bagian dari Belanja Pemerintah Pusat telah memperhitungkan hasil restrukturisasi tingkat bunga surat utang (SU) 002 dan SU-004 yang mengacu pada besaran tingkat bunga special rate Bank Indonesia (SRBI) 01 sebesar 0. yang merupakan perbandingan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran belanja negara sebesar Rp1. dan c. secara signifikan.122.0% (dua puluh koma nol persen).000. b. Pasal 21 (1)Anggaran Pendidikan adalah sebesar Rp207.531.krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional yang membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).338. (2)Persentase anggaran pendidikan adalah sebesar 20.kenaikan biaya utang. apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : a.763. Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2009 mengenai : a.

1.pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2009; 2.pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu kementerian negara/lembaga dan/atau antar kementerian negara/lembaga; 3.penghematan belanja negara dalam rangka peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai; 4.penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral; 5.penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN tahun yang bersangkutan. (2)Pemerintah menyampaikan langkah-langkah kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Laporan Semester I Pelaksanaan APBN dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 24 (1)Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat ditalangi dari dana saldo anggaran lebih (SAL). (2)Pemerintah dapat menerbitkan Surat Berharga Negara untuk membiayai kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan awal tahun anggaran berikutnya. (3)Pemerintah dapat melakukan pembelian kembali SBN untuk kepentingan stabilisasi pasar, dengan tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang ditetapkan. Pasal 25 (1)Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, apabila terjadi : a.Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; b.Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; c.Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; d.Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan

anggaran Tahun Anggaran 2009. (2)Saldo anggaran lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tidak termasuk saldo anggaran lebih yang merupakan saldo kas di Badan Layanan Umum (BLU), yang penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. (3)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2009 berakhir. Pasal 26 (1)Setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir, Pemerintah menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. (2)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. (3)Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan belanja secara akrual. (4)Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual. (5)Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual dalam laporan keuangan tahun 2009 dilaksanakan secara bertahap pada badan layanan umum. (6)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. (7)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta

pada tanggal 10 Nopember 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 171

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 I.UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2009 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2009 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2009 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2009

400. (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. dan iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok. maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran US$80. maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada tingkat 6. Di lain pihak. (ii) terbatasnya akses dan .00 (sembilan ribu empat ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat. Meskipun perlambatan perekonomian global akan menyebabkan menurunnya kinerja ekspor nasional. Melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi. serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat. sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2009 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Melalui kebijakan fiskal. pemerintah akan berupaya agar realisasi pertumbuhan ekonomi sesuai dengan asumsi tersebut.0 (delapan puluh koma nol dolar Amerika Serikat) per barel. Pemerintah menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Sementara itu. antara lain: (i) masih relatif tingginya jumlah penduduk miskin.diperkirakan mencapai sekitar 6. Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2009." Dalam upaya mewujudkan tema pembangunan tersebut. impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri. Untuk itu. rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai 7. dan perkembangan suku bunga perbankan. dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. moneter. dan sektor riil yang terkoordinasi. dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang sedikit melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah. Sementara itu.0% (enam koma nol persen). Dalam tahun 2009. yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai.5% (tujuh koma lima persen).2% (enam koma dua persen). sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 960 (sembilan ratus enam puluh) ribu barel per hari. terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2009. Sejalan dengan itu. nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp9. tema pembangunan tahun 2009 adalah "Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan.

Bantuan Operasional Sekolah (BOS). percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada:(i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/lembaga. Ketiga. serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. (ii) peningkatan pembangunan infrastruktur. dan subsidi benih. Kedua. (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). terutama bandara dan pelabuhan. kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian. Di samping itu. kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2009 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan. telah ditetapkan prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 sebagai berikut: Pertama. pemantapan demokrasi. Untuk menghadapi masalah dan tantangan tersebut guna mewujudkan tema pembangunan dalam tahun 2009. dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat. subsidi pupuk. di samping tetap menjaga stabilitas nasional. infrastruktur dan energi. peningkatan upaya anti korupsi. subsidi listrik. menciptakan dan memperluas lapangan kerja. (iii) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. dan Jamkesmas. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut. dan (iv) masih lemahnya daya tarik investasi dan daya saing sektor riil. (iii) . (iii) pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran. serta pertahanan dan keamanan dalam negeri. reformasi birokrasi. (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM. Program Keluarga Harapan (PKH). peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan.dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. Prioritas pembangunan nasional tersebut dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR. untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . Dalam kaitannya dengan penanganan bencana alam. Selanjutnya. dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. Pemerintah dan DPR harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk menyediakan anggaran sekurang-kurangnya 20. Pemerintah dan DPR memprioritaskan pengalokasian anggaran pendidikan 20. (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam. (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN. yang bertentangan dengan UUD 1945. Di samping itu. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. infrastruktur dan energi alternatif. serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya. termasuk di dalamnya penganggaran. juga dalam rangka memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 13 Agustus 2008 Nomor 13/PUU-VI/2008. Menurut putusan Mahkamah Konstitusi. Hal tersebut harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.0% (dua puluh koma nol persen) tersebut di samping untuk memenuhi amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. (ii) hidup sejahtera lahir dan batin. serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN Tahun Anggaran 2009 agar UU APBN Tahun Anggaran 2009 yang memuat anggaran pendidikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan sejalan dengan amanat UUD 1945. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20.0% (dua puluh koma nol persen) untuk pendidikan. perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Selain itu. yaitu mengenai anggaran pendidikan.meningkatkan alokasi program kementerian negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan. dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20. agar Mahkamah Konstitusi tidak menyatakan bahwa keseluruhan APBN yang tercantum dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat yang disebabkan oleh adanya bagian dari UU APBN. APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. bertempat tinggal. dan mendapat pendidikan yang layak. sesuai dengan amanat UUD 1945. keseimbangan pembangunan. selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009.

tahun 2008 merupakan tahun terakhir dari pelaksanaan proyek-proyek fisik oleh BRR NAD-Nias. dan (ii) mengkoordinasikan proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibiayai oleh lembaga/negara donor atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. mulai tahun 2008 sudah mulai dilakukan persiapan penuntasan masa tugas BRR NAD-Nias. Oleh karena itu. jenis-jenis pengalihan aset. aset-aset BRR NAD-Nias. Selain tugas melaksanakan kegiatan pemulihan. (iii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. dan aset-aset lembaga/negara donor/NGO. serta (iv) pengalihan dokumen.(Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. dalam rangka melaksanakan proses administrasi penuntasan tugas. dan (iv) pengakhiran masa tugas BRR beserta akibat hukumnya ditetapkan dengan Perpres. BRR NAD-Nias juga mengemban 2 (dua) tugas pokok. Dengan demikian. telah dibentuk BRR NAD-Nias dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2004. (ii) pengalihan peralatan dan perangkat (aset) melalui identifikasi terhadap: tahap pengalihan aset. pelaksanaan lanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias akan diserahkan kewenangannya kepada kementerian negara/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 26 menyebutkan bahwa: (i) masa tugas BRR akan berakhir setelah 4 (empat) tahun. BRR NAD-Nias masih dapat beroperasi hingga April 2009. Perpu Nomor 2 Tahun 2005. yaitu: (i) pengelolaan pendanaan pasca BRR NAD-Nias. Dalam kerangka tersebut. segala kekayaannya menjadi kekayaan milik negara yang selanjutnya dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. tetapi langsung dialokasikan kepada masing-masing K/L yang bersangkutan. Dengan demikian. Sementara itu. (iii) pengalihan personel (SDM). pada tahun 2009. Kementerian negara/lembaga yang akan melanjutkan kegiatan . pembiayaan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak lagi dialokasikan pada bagian anggaran 094 (BRR NAD-Nias). Sementara itu. Berkaitan dengan berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias. biaya operasional BRR NAD-Nias akan dialokasikan pada bagian anggaran 069 (anggaran pembiayaan dan perhitungan). sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. yaitu: (i) mengelola proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran (didanai oleh APBN). (ii) setelah berakhirnya masa tugas BRR.

subyek dan obyek pengenaan. demokratis. Selanjutnya. juga diikuti dengan pengaturan. yaitu: kondisi ekonomi makro. realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya. diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas . dengan memperhatikan potensi. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan. penerapan kebijakan transfer ke daerah dalam tahun 2009 ditujukan untuk: (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. Departemen Perhubungan. Dalam jangka pendek. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. Badan Pertanahan Nasional. Departemen Agama. baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. UU Kepabeanan. Sejalan dengan hal tersebut. Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2009. yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007 dan 2008. UU Cukai. kondisi. maka penyerahan. kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif. Undang-undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan. Departemen Pekerjaan Umum. dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggungjawab. pelimpahan. perubahan UU perpajakan yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan diperkirakan akan memberikan dampak pada penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss). Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam APBN Tahun Anggaran 2009. dan (iv) mengalihkan secara bertahap sebagian anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. dan kebutuhan daerah melalui reformulasi kebijakan dana perimbangan dan kebijakan lain terkait dengan transfer ke daerah. dan Bappenas. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian. dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut. adil dan transparan.rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias antara lain Departemen Dalam Negeri. baik penerimaan perpajakan maupun PNBP. serta berbagai UU sektoral. pembagian.

Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. (iv) melanjutkan harmonisasi tarif bea masuk impor.Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran. dengan lebih . khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana serta re-evaluasi peraturan-peraturan tentang tata cara pengadaan/pengelolaan hibah sehingga seluruh pengelolaan hibah memiliki arah yang lebih jelas. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan. Di samping itu. (ii) monitoring. Untuk menutupi defisit tersebut. (vi) percepatan penyelesaian kewajiban Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas. (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali. Sementara itu. Selanjutnya. evaluasi. dan tercatat dalam perhitungan APBN. dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). PNBP lainnya. untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. (iv) pemantauan. Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/lembaga. kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untuk mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA). dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas. dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. penelaahan. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas. (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). (vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/lifting minyak mentah dan volume gas bumi. (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga. Di lain pihak. optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah. bagian laba BUMN.

Dalam keadaan tersebut. Pemerintah bertekad untuk tidak mengurangi belanja prioritas. dan dialokasikan . Selain itu. strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Langkah-langkah penanggulangan berupa pembiayaan siaga yang berasal dari pemberi pinjaman lembaga keuangan multilateral dan bilateral. strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent. Dalam kondisi pasar keuangan yang tidak stabil akibat ketatnya likuiditas global. Untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang memburuk yang dapat berdampak pada perekonomian nasional. II. kenaikan biaya penerbitan SBN dan masalah sistemik di sektor keuangan. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. penerbitan SBN akan dilakukan secara berhati-hati dan menjaga pada risiko sekecil mungkin. murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri. untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan anggaran tahun 2009.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. sehingga dapat dijadikan cadangan terhadap rumahtangga dan sektor yang terkena dampaknya. bahkan akan menambah. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 telah dipersiapkan payung hukum apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan deviasi asumsi makro secara signifikan.memprioritaskan pendanaan yang tersedia. dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien. jika diperlukan. kebijakan moneter yang kredibel. dipandang perlu dipersiapkan langkah-langkah di bidang kebijakan fiskal. Terkait hal tersebut. Pasal 2 Cukup jelas.

Ayat (4) Penerimaan perpajakan sebesar Rp725.00 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 impor 25.000.970.000.000.00 4111 Pendapatan pajak penghasilan (PPh) 357.000.470.000.000.000. listrik.500.000.346.910.000.526. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas. dan sektor-sektor publik. dan transportasi publik.640.00 41111 Pendapatan PPh migas 56.000.00 41112 Pendapatan PPh nonmigas 296.000. panas bumi. dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.560.000.000.00 411112 Pendapatan PPh gas alam 32.000.00 411124 Pendapatan PPh Pasal 23 24.000.400.723.978.00 411111 Pendapatan PPh minyak bumi 24.000.00 411121 Pendapatan PPh Pasal 21 46.000.000.000.370.00 .00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) 411 Pendapatan pajak dalam negeri 697.160.000.196. industri terpilih.360.00 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan 136.830.000.510.755.794. penerbangan.000.000.510.938. pangan. pelayaran.000.sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.000.556. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain adalah sektor migas.000.470.000.00 411122 Pendapatan PPh Pasal 22 6. energi. Ayat (3) Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. industri terpilih.935.970.110.00 411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi 3.000.000.842.00 411127 Pendapatan PPh Pasal 26 22.

600.000.000.00 411513 Pendapatan Cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol 775.00 41113 Pendapatan PPh fiskal 3.00 4112 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah 249.00 Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.494.000.000.000.700.00 41151 Pendapatan Cukai 49.000.000.000.000. Ayat (5) Cukup jelas.522.000.00 4114 Pendapatan BPHTB 7.943.000.600.000.000.00 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 48.00 4113 Pendapatan pajak bumi dan bangunan 28.100.494.00 411131 Pendapatan PPh fiskal luar negeri 3.000. Ayat (7) Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp258.000.160.247.000.000.490.738.000.490.000.558.00 Pendapatan pajak perdagangan internasional 28.000.000.000.00 4122 Pendapatan bea ke luar 9.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah) terdiri dari : .753.00 4115 Pendapatan Cukai 49.00 4116 Pendapatan pajak lainnya 4. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.000.496.000.200.000.738.000.000.000.916.508.000.700.412 411128 Pendapatan PPh final 30. Ayat (6) Cukup jelas.273.000.00 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol 479. Ayat (2) Cukup jelas.00 4121 Pendapatan bea masuk 19.700.000.240.000.600.300.400.700.335.000.

029.000.277.330.000.00 4215 Pendapatan perikanan 150.00 42142 Pendapatan provisi sumber daya hutan 1.133.00 423113 Pendapatan penjualan hasil tambang 6.00 421111 Pendapatan minyak bumi 123.029.000.000.00 4211 Pendapatan minyak bumi 123.168.000.00 423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan 11.000.000.000.600.00 4213 Pendapatan pertambangan umum 8.330.000.000.000.520.000.577.723.248.00 423117 Pendapatan penjualan dokumen-dokumen 422 423 .000.000.00 42141 Pendapatan dana reboisasi 1.00 421312 Pendapatan royalti 8.000.00 421511 Pendapatan perikanan 150.00 4221 Pendapatan bagian pemerintah atas laba BUMN 30.801.00 423116 Pendapatan penjualan informasi.794.000.235.00 421311 Pendapatan iuran tetap 84.401.400.211.483.600.000.496.451.505.00 4214 Pendapatan kehutanan 2.000.000.00 423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya 219.938.527.000.00 Pendapatan PNBP lainnya 49. survey. kehutanan.500.000.000.000.794.677.794.000.477.000.758.056.210.500.00 42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan 6.000.477.000.740.000.000.00 421211 Pendapatan gas bumi 39.000.(dalam rupiah) 421 Penerimaan sumber daya alam 173.994.00 4231 Pendapatan penjualan dan sewa 14.000.521. film.000.018.834.412.00 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 15.000.000.00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian.093.000. penerbitan.188.000.093.740.249.000.625.639.432.000.00 4212 Pendapatan gas bumi 39.866.00 423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan 15. pemetaan dan hasil cetakan lainnya 41. dan perkebunan 3.000.00 Pendapatan bagian laba BUMN 30.000.

659.160.000.00 42314 Pendapatan sewa 102.000. pengawasan/ .061.000.429.270.268. bangunan.381.00 4232 Pendapatan jasa 16. STNK.217.490.944.226.000.997.274.000. SIM.991.00 423121 Pendapatan penjualan rumah.000.097.00 42321 Pendapatan jasa I 11.000.000.374.260.00 423132 Pendapatan minyak mentah (DMO) 7.000.147.285.390.00 423141 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri 20.pelelangan 220.00 423149 Pendapatan sewa bendabenda tak bergerak lainnya 5.612.241. dan gudang 70.00 423142 Pendapatan sewa gedung.533.00 423123 Pendapatan penjualan sewa beli 30.964.814.355.000.557.000.00 423213 Pendapatan surat keterangan. dan BPKB 2.000.00 423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/ dihapuskan 1.00 423212 Pendapatan tempat hiburan/taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA) 14.000. visa.00 423122 Pendapatan penjualan kendaraan bermotor 1.000.000.193.054.000. dan tanah 41.891.944.00 423214 Pendapatan hak dan perijinan 5.00 423143 Pendapatan sewa bendabenda bergerak 6.502.949.649.00 423119 Pendapatan penjualan lainnya 78.365.000.00 423211 Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya 38. paspor.511.037.000.000.393.000. bangunan.00 42312 Pendapatan penjualan aset 33. gedung.332.490.00 423215 Pendapatan sensor/ karantina.000.00 42313 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas 7.991.000.000.

903. teknologi. pelatihan.000.000.00 423231 Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia 285.500. pekerjaan.00 423216 Pendapatan jasa tenaga.00 423228 Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara 61.00 423221 Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro) 42.500.489.00 423225 Pendapatan biaya penagihan pajak negara dengan surat paksa 3.00 42322 Pendapatan jasa II 1.00 423229 Pendapatan registrasi dokter dan dokter gigi 2.00 423232 Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler 85.00 42323 Pendapatan jasa luar negeri 380.000.000.000.458. informasi.660.pemeriksaan 58.932. pendapatan DJBC 2.00 42325 Pendapatan atas pengelolaan .263.307.662.157.00 423218 Pendapatan jasa bandar udara.00 423227 Pendapatan bea lelang 38.000.458.000. kepelabuhan. dan kenavigasian 317.432.081.000.00 423226 Pendapatan uang pewarganegaraan 3.052.000.065.00 423217 Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama 73.249.00 42324 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.932.000. pendapatan BPN.000.000.947.225.000.00 423222 Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi 1.659.00 423241 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.807.555.274.983.630.000.218.122.000.000.261.000.391.000.903.007.000.000.075.906.00 423239 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri 9.190.000.199.

000.000.633.809.000.000.00 4233 Pendapatan bunga 1.662.00 423513 Pendapatan uang ujian untuk menjalankan praktik 111.00 4234 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.000. kenaikan tingkat.00 42329 Pendapatan jasa lainnya 20.830.494.809.00 423412 Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan 290.000.862.937.000.385.785.00 42331 Pendapatan bunga 1. dan akhir pendidikan 174.00 423419 Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya 1.450.00 42341 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.450.917.000.794.642.000.00 423413 Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan) 721.385.505.122.00 423414 Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya 18.000.943.00 423415 Pendapatan ongkos perkara 10.000.000.224.000.00 423411 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.000.000.000.394.000.00 .298.000.298.000.000.rekening tunggal Perbendaharaan (treasury single account) dan/atau atas penempatan uang negara 3.311.000.000.000.073.633.000.555.330.00 423512 Pendapatan uang ujian masuk.508.000.000.00 423319 Pendapatan bunga lainnya 350.844.000.00 423313 Pendapatan bunga dari piutang dan penerusan pinjaman 1.000.330.00 42351 Pendapatan pendidikan 5.063.000.00 423519 Pendapatan pendidikan lainnya 1.560.508.163.000.450.00 423511 Pendapatan uang pendidikan 3.844.935.122.00 423291 Pendapatan jasa lainnya 20.00 4235 Pendapatan pendidikan 5.

000.000.00 423612 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara 2.000.000.336.00 42373 Pendapatan dari perlindungan hutan dan konservasi alam 14.000.000.00 42372 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.00 423721 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.879.000.588.00 423713 Iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 40.000.000.700.000.000.600.00 423735 Pungutan masuk obyek wisata alam 7.000.494.00 423711 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM 355.000.00 423752 Pendapatan denda keterlambatan .996.00 42371 Pendapatan iuran badan usaha 469.000.000.000.000.000.00 423611 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadilan 6.484.000.000.000.104.000.494.830.000.000.563.900.00 4237 Pendapatan iuran dan denda 687.000.000.939.422.700.000.00 42361 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.000.00 423614 Pendapatan uang pengganti tindak pidana korupsi yang ditetapkan di pengadilan 29.267.00 423712 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa 73.00 423731 Pendapatan iuran menangkap/mengambil/ mengangkut satwa liar/ mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup atau mati 7.4236 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.336.961.00 42375 Pendapatan denda 4.000.

00 423991 Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji 16.797.000.043.00 42411 Pendapatan penyediaan barang dan jasa kepada masyarakat 5.000.235.000.00 423999 Pendapatan anggaran lain-lain 6.482.000.832.442.347.454.509.00 42399 Pendapatan lain-lain 22.392.654.000.000.950.000.00 423921 Pendapatan pelunasan piutang nonbendahara 9.00 4239 Pendapatan lain-lain 10.000.251.424 penyelesaian pekerjaan pemerintah 4.420.821.238.923.000.000.575.500.831.375.982.000.167.975.000.00 423919 Penerimaan kembali belanja lainnya TAYL 2.235.473.000.893.00 42392 Pendapatan pelunasan piutang 1.071.00 423912 Penerimaan kembali belanja pensiun TAYL 76.00 423922 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara 1.000.000.591.531.000.010.000.007.750.00 Pendapatan badan layanan umum 5.00 424111 Pendapatan jasa pelayanan rumah sakit 3.00 424113 Pendapatan jasa .00 4241 Pendapatan jasa layanan umum 5.00 423911 Penerimaan kembali belanja pegawai pusat TAYL 4.00 42391 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu 9.000.851.000.086.00 423914 Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri TAYL 1.285.528.617.00 423913 Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni TAYL 9.871.000.334.527.154.00 424112 Pendapatan jasa pelayanan pendidikan 124.000.00 423753 Pendapatan denda administrasi BPHTB 29.

266.477.000.000.00 424116 Pendapatan jasa telekomunikasi 842.000.000.000.266.392.437.106.00 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.000. dan kenavigasian 933.000.00 424135 Pendapatan program dana bergulir syariah 305.000.00 424139 Pendapatan pengelolaan dana khusus lainnya 54.00 424136 Pendapatan investasi 121.00 42413 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat 185.445.309.000.000.105. kepelabuhan.00 424312 Pendapatan hasil kerjasama lembaga/badan usaha 21.625.653.618.621.541.4243 pelayanan tenaga.412.00 Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Realokasi cadangan risiko fiskal adalah realokasi dana cadangan risiko perubahan parameter harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) setahun dan lifting minyak sebesar Rp6.000.00 424134 Pendapatan program dana bergulir sektoral 3.000. .266.000.367.000.108. pekerjaan.000.911.000.000.00 424115 Pendapatan jasa bandar udara.287.307.00 42431 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.618.00 424117 Pendapatan jasa pelayanan pemasaran 21. informasi.00 424119 Pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya 27.527.437.000.00 (enam triliun rupiah).618. pelatihan dan teknologi 34.00 424133 Pendapatan program modal ventura 5.131.800.

Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian negara/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku. Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN Tahun Anggaran . Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama. Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk hibah luar negeri yang diterima setelah APBN ditetapkan. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai.Pasal 8 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Pasal 12 Cukup jelas.

204.725. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2009 setelah APBN Perubahan 2009 kepada DPR. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas.800.00 . Ayat (5) Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2009 kepada DPR.000.718.022. Ayat (2) Cukup jelas.000.952.387.404.000.00 .000.2009 dan pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor. DBH Pajak 45. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000.Pajak penghasilan Pasal 21 9. Ayat (6) Dana perimbangan sebesar Rp296. Ayat (3) Cukup jelas.754.000.000.00 a. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. DBH Pajak Penghasilan 10.089.413.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).00 i. Dana Bagi Hasil (DBH) 85. Ayat (2) Cukup jelas.000. yang bukan merupakan kelanjutan dari multiyears project.000.

798. DBH SDA Pertambangan Umum 6.000.300.760.000.911.00 .00 Dana Alokasi Umum (DAU) 186.000.500.484.000.000.564.000.000.000.2.151.00 iii.00 iii.152.000.00 .Royalti 6.609.000.00 Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dana otonomi khusus sebesar Rp8.761.000. sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang .Provisi Sumber Daya Hutan 999.Alokasi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat sebesar Rp3.Dana Reboisasi 494.282.000. DBH SDA Gas Bumi 12.240.588.000.00 .182. 3.000.Iuran Hak Pengusahaan Hutan 12.000.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar Rp2. DBH SDA Minyak Bumi 19.000.100.600.000.600.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah) yang disepakati untuk dibagi masing-masing dengan proporsi 70 persen untuk Papua dan 30 persen untuk Papua Barat dengan rincian sebagai berikut: a.000. .00 .00 iv.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.00 (satu triliun seratus delapan belas miliar empat ratus delapan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah).000. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 7.321.000.00 .000. b.546. DBH SDA Perikanan 120.000.Iuran Tetap 67. DBH Sumber Daya Alam 39.253.978.00 (dua triliun enam ratus sembilan miliar tujuh ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).00 iv.000.000.802.964. DBH Pajak Bumi dan Bangunan 27.000.00 v.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah) terdiri dari: 1.446.000.000.000.800.819.000.414.000.000.000.207.00 Dana Alokasi Khusus (DAK) 24. DBH SDA Kehutanan 1.118. DBH Cukai 964.000.400.Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi 702.000.215.00 b.000.856.728.505.000.00 ii.00 i.00 ii.369.000. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan.000.000.797.000.

000. Dana otonomi khusus NAD direncanakan.00 (satu triliun empat ratus miliar rupiah). dan kesehatan. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. dan untuk tahun keenambelas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. pengentasan kemiskinan.000. terutama ditujukan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional.000.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah).000. Dana Otonomi Khusus Aceh diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. pemberdayaan ekonomi rakyat. Pencairan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat .00 (enam ratus miliar rupiah).000. yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002.282.000. Dana Otonomi Khusus Propinsi Papua tersebut dibagikan kepada Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.000. 3. serta pendanaan pendidikan. Perencanaan sebagian besar dari penggunaan dana otonomi khusus tersebut direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi NAD dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota dalam Pemerintah Provinsi NAD serta merupakan lampiran dari APBA.000.Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.00 (delapan ratus miliar rupiah) dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp600. dilaksanakan. sosial. serta dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).000. Dana Tambahan Infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi Provinsi Papua sebesar Rp800.Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.000. 2.400.000.728.Alokasi dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp3.

yang diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan.790.000.490. Ayat (3) Dana penyesuaian sebesar Rp14.000.009.Kurang bayar dana prasarana infrastruktur lainnya tahun 2007 sebesar Rp96. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas.000. 3.000. 2.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) .014.342.250.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1. 4.267.000.00 (dua ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus enam puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).000.200.00 (tujuh triliun empat ratus sembilan puluh miliar rupiah).882.000.00 (tujuh triliun rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal dan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.000.000.000.000. Ayat (2) Cukup jelas.Dana tambahan DAU sebesar Rp7.000.00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dapat diusulkan untuk dialokasikan dalam APBN-P tahun 2009.747.00 (sembilan puluh enam miliar tujuh ratus empat puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).100.000.000.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.600.Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp60.000. Ayat (3) Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp51.Dana tambahan DAU untuk guru pegawai negeri sipil daerah sebesar Rp7.000.000. Terdapat kekurangan dana tambahan otonomi khusus infrastruktur Provinsi Papua tahun anggaran 2008 sebesar Rp670.000.000.00 (enam ratus miliar rupiah) tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan penyerapan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat tahun anggaran 2008.Kurang bayar DAK tahun 2007 sebesar Rp295.tahun anggaran 2009 sebesar Rp600.100.

629.000.000.966.400.000.000.549. tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.00 Non-perbankan dalam negeri 44. b.911. pembayaran pokok.945. Pemerintah memberikan jaminan penuh atas kewajiban pembayaran pinjaman PT PLN (Persero) kepada kreditur perbankan.400.00 iii.000.000. Hasil pengelolaan aset 2.719.000.000.000.000.000.690.000. Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2008 2.106.136.00 (satu triliun rupiah).000. Rekening pembangunan hutan 1.a.000.622. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) apabila terealisir.696. Privatisasi 500.000.00 ii. Pelunasan piutang negara (PT Pertamina) 9. Dana Investasi Pemerintah dan restrukturisasi BUMN -13.00 iv.161. dan pembelian kembali SBN.565.00 i. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik.000.00 (tiga triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) dan (ii) restrukturisasi BUMN negatif Rp1.088.000.000. Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan atas pinjaman PT PLN (Persero) tersebut di atas diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan memperhatikan peraturan . Surat berharga negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali.000. Rekening dana investasi 3.00 Hasil pengelolaan aset sebesar Rp2.000.565. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan. baik SBN konvensional maupun SBSN (Sukuk).00 iii.00 i.00 (dua triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) terdiri dari: (i) penjualan aset Rp3.00 ii.966. Jaminan pemerintah dimaksud diberikan atas risiko/kemungkinan PT PLN (Persero) tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran terhadap kreditur (payment default). Perbankan dalam negeri 16. Surat berharga negara (neto) 54.000. akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar.000.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batubara oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).034.565.966.455.000.000.161. sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.599.000.250. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.361.00 iv.

Pengeluaran dana bergulir yang bersumber dari rupiah murni dialokasikan sebagai pengeluaran pembiayaan dalam APBN.00 (tiga belas triliun enam ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus sebelas juta empat ratus ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah) dialokasikan untuk: (i) investasi pemerintah sebesar negatif Rp500.440. (iii) pendirian lembaga penjaminan infrastruktur (guarantee fund) sebesar negatif Rp 1.549.911.00 (lima ratus miliar rupiah).957.00 Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri selain dari surat berharga negara internasional.198.00 (satu triliun sembilan ratus delapan puluh enam miliar lima ratus empat puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).000.000.000.160. a.966.600.perundang-undangan yang berlaku. 2.986.000.000. Dalam rangka restrukturisasi utang PT Garuda dengan Export Credit Agency (ECA).000.400.000.966. (ii) penyertaan modal negara untuk PT Pertamina sebesar negatif Rp 9. Pemerintah melakukan penjaminan terhadap PT Garuda dalam bentuk jaminan Standby Letter of Credit kepada bank-bank BUMN.720.945.00 (satu triliun rupiah).000.00 Pinjaman proyek 25.957.00 Pinjaman program 26.000.600.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) Penarikan pinjaman luar negeri bruto 52.361. (iv) dana kontinjensi untuk PT PLN sebesar negatif Rp 1.Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp9.000.136.000.00 b.000. Dana investasi pemerintah dan restrukturisasi BUMN sebesar negatif Rp13. dan (v) dana bergulir sebesar negatif Rp 1.622.00 (satu triliun rupiah).000.000.448.240.00 (sembilan triliun seratus tiga puluh enam miliar tiga ratus enam puluh satu juta sembilan ratus empat puluh lima ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah).000.000.000.609.000. .400.455.000. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -61.000.

00 l.388.476.000. Departemen Perindustrian 100. Departemen Kesehatan 1.068.000.000. Pasal 21 Ayat (1) Anggaran pendidikan sebesar Rp 207. Badan Meteorologi .00 b.763. Perpustakaan Nasional 259.531.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).218.000.951.730.000.000.00 i.000. Departemen Kelautan dan Perikanan 250.158. Badan Pertanahan Nasional 24.223.900.106.00 k.500.000.815.950.000.000.000.550.00 m. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 89. Departemen ESDM 23.000.000. Departemen Keuangan 64.00 f.00 c. Departemen PU 42.000.Pasal 20 Cukup jelas.700. Departemen Agama 23.000.228.000.853.377.000.100.00 e. Departemen Pendidikan Nasional 61.045.000.00 a.00 iii.00 g.000.00 ii. Departemen Kehutanan 14. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 67.00 i. Departemen Pertanian 75.275.000.000.000.00 h. Departemen Perhubungan 800.00 d.000.413.000.000.000.000.525.000.000.00 j. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000. Kementerian Negara/ Lembaga lainnya 3.000.300.

00 v.941.000.000.000.400.678.334.000.490. Badan Tenaga Nuklir Nasional 7.837.000.terjadi kecenderungan peningkatan yield sekurang-kurangnya sebesar 300 basis points (bps) dalam 1 (satu) bulan.000. Prognosa tersebut dihitung berdasarkan realisasi indikator ekonomi makro tahun 2008.000.982.000. 3.00 Bagian Anggaran 69 1.00 iv.00 Ayat (2) Cukup jelas. DAK Pendidikan 9.Prognosa pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen) di bawah asumsi.tidak adanya yield penawaran yang dimenangkan dalam benchmark pemerintah dalam 2 (dua) kali lelang berturut-turut. DAU Pendidikan 97.060.000.000.597.iv. Dana Tambahan DAU 7. DBH Pendidikan 817. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer ke daerah 117. Pasal 23 Ayat (1) Keadaan darurat tersebut terjadi apabila: 1.657.000.862.Posisi nominal dana pihak ketiga di perbankan nasional menurun secara drastis.000.237. dan adanya perkiraan tambahan . 2.000.900.00 Pasal 22 Restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa beban bunga SU-002 dan SU-004 pada tahun 2009 dan selanjutnya didasarkan pada tingkat bunga hasil restrukturisasi yaitu sebesar 0.000.00 ii.00 iii.000.000. Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosa penurunan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan PNBP. 2. Dana Otonomi Khusus Pendidikan 2.1% (nol koma satu persen).000. dan/atau b. sedangkan prognosa indikator ekonomi makro lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh persen) dari asumsinya.00 n.705.00 i.000.000.Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara yang menyebabkan tambahan biaya penerbitan SBN secara signifikan tercermin dalam: a. dan Geofisika 16.

yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Neraca. Ayat (2) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Pemerintah dapat melakukan penempatan langsung atau private placement Surat Berharga Negara pada Bank Indonesia. serta belanja lainnya. Yang dimaksud dengan persetujuan DPR adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang dilakukan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam sejak diterimanya usulan Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Ayat (3) Informasi tentang pendapatan dan belanja secara akrual dimaksudkan sebagai tahap menuju pada penerapan anggaran yang dilengkapi dengan informasi hak dan kewajiban yang diakui sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih.beban kewajiban negara yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang. Ayat (2) Penerbitan Surat Berharga Negara dapat dilakukan dengan metode lelang maupun tanpa lelang (penempatan langsung atau private placement). Pasal 25 Cukup jelas. subsidi BBM dan listrik. . Pasal 26 Ayat (1) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Untuk menutup kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran. Ayat (3) Cukup jelas. Laporan Arus Kas.

Ayat (7) Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pasal 27 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4920 LAMPIRAN I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2009 BUKU I DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB 1PENDAHULUAN 1 I. Ayat (5) Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual pada Tahun Anggaran 2009 diterapkan pada satuan kerja berstatus Badan Layanan Umum yang secara sistem telah mampu melaksanakannya.1 -1 .Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

BAB 2TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 I.2 A. Kondisi Umum I.2 A.1. Pencapaian Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 I.2 -1 A.1.1. Agenda Aman dan Damai I.2 -1 A.1.2. Agenda Adil dan Demokratis I.2 -3 A.l.3. Agenda Kesejahteraan Rakyat I.2 A.2. Masalah dan Tantangan Pokok Tahun 2009 I.2 B. Tema Pembangunan Tahun 2009 dan Pengacusutamaan Pembangunan I.2 C. Prioritas Pembangunan Tahun 2009 I.2 -31 I. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan I.2 II. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi I.2 -46 III. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri I.2 BAB 3KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN A. Kondisi Ekonomi Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 B. Lingkungan Eksternal dan Internal Tahun 2009 C. Tantangan Pokok D. Arah Kebijakan Ekonomi Makro E. Sasaran Ekonomi Makro Tahun 2009

-1 -1

-5 -14 -29 -31

-66

I.3 -1 I.3 -1 I.3 -9 I.3 -10 I.3 -11 I.3 -12

BAB 4KAIDAH PELAKSANAAN I.4 -1 LAMPIRAN : MATRIKS PRIORITAS, FOKUS, DAN KEGIATAN PRIORITAS RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUTN 2009 II. -1 BAB 1 PENDAHULUAN Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan pelaksanaan

dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam hal ini, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. RKP Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Di dalam RPJMN Tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1.Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2.Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3.Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan tahun RKP, ditetapkan Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya. yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarbn ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Prioritas pembangunan nasional tahunan disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1.Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2.Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3.Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; 4.Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5.Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Dengan demikian RKP merupakan pedoman bagi penysunan Anggaran

Pendapatan dan belanja Negara (APBN), di mana kebijakan APBN ditetapkan secara bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Dengan cakupan dan cara penetapan tersebut, RKP mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1.Menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan, karena memuat seluruh kebijakan publik; 2.Menjadi pedoman dalam penyusunan APBN, karena memuat arah kebijakan pembangunan nasional satu tahun; dan 3.Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah. Lebih lanjut, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah, RKP juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP Daerah (RKPD). Sebagaimana RKP sebelumnya, dokumen RKP Tahun 2009 dilengkapi dengan Buku II yang berisi uraian tentang Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program. RKP Tahun 2009 ini belum sepenuhnya menampung kegiatan dalam RKA-KL mengingat masih dalam proses penyusunan. Namun, RKP Tahun 2009 ini telah disesuaikan dengan hasil pembahasan dalam Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009. BAB 2 TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 A. KONDISI UMUM

A.1.PENCAPAIAN TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Pelaksanaan pembangunan tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008 yang merupakan tahun ketiga dan tahun keempat RPJM Tahun 2004 - 2009 memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan ketiga agenda pembangunan yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Kemajuan penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. A.1.1. AGENDA AMAN DAN DAMAI Pelaksanaan Agenda Aman dan Damai telah mencapai kemajuan dengan terwujudnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang

perdagangan perempuan dan anak. aspek instrumental (filosofi. dan iptek). Arab Saudi. Timor Leste. Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi. penyelundupan. penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. pengungkapan dan penanganan tindak kejahatan transnasional. maka telah ditempatkan perwira penghubung (LO/SLO) di berbagai negara. perkembangan organisasi kejahatan internasional yang didukung oleh kemajuan teknoiogi komunikasi dan informasi serta teknologi persenjataan. konflik vertikal. Jepang (JICA) . ATA. dan aspek kultural (manajemen sumber daya. dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis. agama dan golongan merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban terutama kontlik berdimensi kekerasan di beberapa daerah. serta berbagai bentuk kriminalitas yang !ainnya. Thailand. pencucian uang. Sementara itu. maka kerja sama internasional merupakan jawaban bagi seluruh penegak hukum di dunia untuk bangkit memerangi kejahatan yang bersifat transnasional. Penanganan berbagai tindak kriminal seperti kejahatan konvensional maupun transnasional. dan Australia. Faktor kompleksitas kepentingan sosial politik. dan sistem pengamanan . konflik horizontal. kemampuan. kesenjangan kesejahteraan ekonomi. Filipina. Malaysia. Oleh karena itu diperlukan lembaga kepolisian yang efektif. dan akuntabel. Globalisasi dan diberlakukannya pasar bebas akan meningkatkan mobilitas penduduk baik inter maupun antar negara. kewenangan. baik secara kuantitas maupun kualitas telah menunjukkan hasil yang signifikan. efisien. bahkan ancaman keselamatan. menyebabkan kejahatan transnasional seperti narkoba. antara lain. Upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. manajemen operasional. susunan dan kedudukan). ketidakadilan. penegakan hukum. Dalam rangka menjawab tantangan global dan semua bentuk gangguan keamanan yang tidak lagi mengenal batas negara (borderless crime).semakin kondusif. serta kelambatan antisipasi penanganan kejahatan transnasional adalah lemahnya profesionalisme lembaga kepolisian. pengelolaan ketertiban masyarakat. Selanjutnya. dan Amerika Serikat (ICITAP. Efektivitas intelijen dan pengamanan rahasia negara merupakan faktor penentu dalam pencegahan. Salah satu sebab utama belum optimalnya penanganan kriminalitas. keamanan. dan lalulintas nuklir dan sebagainya menjadikan kejahatan transnasional menjadi sulit tertangani. fungsi. dalam rangka memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. organisasi. doktrin. Kerja sama internasional teknis profesional penanggulangan kejahatan telah dilakukan dengan Jerman (GSG). DEA). kompetensi.

dan budaya yang beragam. polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. Kemampuan pertahanan yang kuat dan solid. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial. Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI. Peningkatan jumlah personil diupayakan melalui rekruitmen dengan sasaran 1 : 600 yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2009. pemeliharan. tetapi juga memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di dalam menangani bencana di dalam negeri. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Polri dalam mencegah dan menindak kejahatan terorisme dan narkoba. antara lain melalui repowering. Dalam rangka penyiapan cetak baru pertahanan telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005-2009. ekonomi. di setiap Polda telah terbentuk Den-88. sedangkan peningkatan kualitas personil diupayakan melalui pendidikan dan latihan. Untuk mengurangi ketergantungan sumber pengadaan alutsista kepada satu atau dua negara saja. Di sisi lain. tetapi juga berfungsi untuk mengatasi ancaman dalam negeri. agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya. retrofitting. telah . dihadapkan dengan keterbatasan anggaran. Upaya peningkatan profesionalisme personel ditempuh melalui penataan organisasi. dan pengadaan alutsista secara terbatas. Sejalan dengan tugas fungsi dan peran pertahanan negara tidak semata-mata hanya ditujukan kepada ancaman dari luar. dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. bangsa. peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan. serta Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. dan dalam menangani dampak bencana. maka pembangunan kemampuan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada tetapi hanya untuk mempertahankan kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki. seperti bencana alam yang telah terjadi di beberapa wilayah. Indonesia terletak pada posisi yang strategis dari menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. Reformasi TNI telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya. serta pemantapan reformasi TNI yang dihadapkan dengan supremasi sipil. secara geopolitik dan geostrategi. yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. kebijakan umum dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan.di masyarakat). Peningkatan kemampuan Polri juga ditempuh melalui percepatan penambahan jumlah personil dan kualitas personil. seperti pemberontakan bersenjata. Di samping itu. tidak saja akan menempatkan NKRI semakin disegani dan dihormati dalam pergaulan internasional.

melalui antara lain penyesuaian peraturan perundang-undangan nasional yang sejalan dengan Konvensi Anti Korupsi 2003. Untuk pencegahan korupsi. Pada tahun 2008.ditempuh langkah-langkah ke arah diversifikasi dalam pengadaan alutsista yang bekerja sama dengan beberapa negara. Salah satu sebabnya adalah cepatnya pemberian izin yang diberikan oleh Presiden kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap penyelenggara negara yang berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari hasil investigasi telah melakukan tindak pidana korupsi. Untuk langkah pencegahan. A. keterbatasan yang ada tidak menjadikan kendala dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Pada tahun 2007. Sedangkan untuk langkah penindakan baik yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung beserta jajarannya maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah memperlihatkan peningkatan yang semakin signifikan. Langkah-langkah pencegahan dan penindakan dilakukan secara bersamaan agar benar-benar memperlihatkan efek jera di semua lini kehidupan masyarakat. Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Korupsi Tahun 2003 (UNCAC 2003). AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS Dalam rangka pemberantasan korupsi. selama tahun 2007 langkah-langkah untuk menciptakan iklim takut korupsi semakin memperlihatkan perkembangan yang positif baik di lingkungan penyelenggara negara. Namun demikian. akan dilakukan kegiatan sosialisasi RAN PK dan penyusunan RAD PK . upaya pemberantasan korupsi tetap dilanjutkan melalui langkah pencegahan dan penindakan hukum. penindakan terhadap pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah dilakukan tanpa mengalami hambatan yang berarti. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of the State Parties (CoSP) II UNCAC di Bali dengan memprioritaskan pada upaya pengembalian aset korupsi baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.2. Sepanjang tahun 2007. sosialisasi RAN PK dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAN PK) telah dilakukan pada dua provinsi. sebagai salah satu bentuk komitmen dalam upaya pemberantasan korupsi. Pada awal tahun 2008. yang antara lain menginstruksikan dibuatnya Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK). dunia usaha maupun masyarakat. Adanya keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan rencana kebutuhan dalam pembangunan pertahanan sehingga pemenuhan kebutuhan pertahanan belum dapat mencapai pembentukan kekuatan pokok minimum (minimum essential force) TNI. telah dilakukan upaya memperkuat pemberdayaan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Melalui UU No 7/2006.1.

RUU Kementerian Negara. beberapa instansi pemerintah di pusat telah melakukan inisiatif reformasi birokrasi seperti Depkeu.di 4 (empat) provinsi. dan perbaikan tingkat kesejahteraan aparatur negara meskipun masih terbatas. 65 Tahun 2005. beberapa pencapaian penting yang diharapkan . terdapat kemajuan antara lain: upaya penyempurnaan regulasi di bidang SDM aparatur. dan dilakukannya penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM/aparat pengawas internal pemerintah. yang akan diperkuat dengan dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan undang-undang tersendiri. antara lain: diterbitkannya PP No. telah diterbitkannya Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Permendagri No. berbagai kemajuan telah dicapai pada tahun 2007. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. peningkatan kompetensi aparatur negara melalui penyelenggaraan assesment center dan berbagai diklat baik struktural maupun fungsional. ditandai antara lain: penerapan pelayanan satu pintu di berbagai daerah. RUU Administrasi Pemerintahan. RUU Etika Penyelenggara Negara. seperti RUU Pelayanan Publik. Kemajuan di bidang pelayanan publik. Upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan oleh Kejaksaan dan KPK. 6 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan dari PP No. serta pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS dan pengadaan PNS secara nasional. RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah. dan telah diselenggarakan berbagai diklat manajemen SPM. yang antara lain ditandai dengan: tersusunnya berbagai naskah RUU sebagai landasaan pelaksanaan reformasi birokrasi. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara. Di bidang penataan kelembagaan. dan lainnya. Pada tahun 2008. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Selain itu juga akan secara intensif dilakukan sosialisasi terhadap Konvensi Anti Korupsi 2003 dan strategi nasionalnya yang akan melibatkan semua aparat pemerintah pusat dan daerah. dunia usaha dan masyarakat luas. juga telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang cukup berarti. makin meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kompetensi auditor eksternal yang ditandai dengan dibukanya perwakilan BPK di provinsi sesuai mandat UU No 15/2006 tentang BPK dan rekruitmen tenaga auditor. Inisiatif reformasi birokrasi telah dilaksanakan di lingkungan instansi pemerintah sebagai upaya meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan. MA dan BPK. Sedangkan di bidang sumber daya manusia (SDM) aparatur. Fokus penindakan korupsi akan ditujukan pada kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat luas. Beberapa naskah RUU tersebut telah dibahas dengan DPR dan diharapkan pada tahun 2008 terdapat perkembangan yang berarti. penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan publik (e-services) termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement).

Di samping itu. Untuk pembangunan SDM aparatur. DPD. sebagai landasan proses penguatan lembaga-lembaga demokrasi khususnya pelaksanaan Pemilu 2009. Pencapaian penting lainnya yang diharapkan dapat diwujudkan pada tahun 2008 adalah diselesaikannya Rencana Induk Reformasi Birokrasi. tersusunnya SPM sektoral bidang kesehatan. Hasil penting lainnya dalam pembangunan lembaga demokrasi pada tahun 2007 adalah terpilih dan terbentuknya keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru. dan ditingkatkannya penerapan e-government untuk mendukung kualitas pelayanan publik. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya penataan kelembagaan atas lembaga non struktural (quasi birokrasi) agar berfungsi secara lebih efektif dan efisien. adalah ditetapkannya UU No. diundangkannya UU Pelayanan Publik.terwujud diantaranya: dilanjutkannya penyusunan dan pembahasan dengan DPR berbagai RUU yang terkait dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. dan mendorong peningkatan kinerja PNS. pertanahan. pendidikan dan infrastruktur yang disesuaikan dengan PP No 65 Tahun 2005. ditingkatkannya kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan SPM. Kemajuan pelembagaan demokrasi yang juga perlu mendapat perharian pada tahun 2007 adalah keikutsertaan calon independen dalam pilkada melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan judicial review terhadap Pasal 59 Ayat 3 UU No. Dengan akan diselesaikannya semua pembahasan dan ditetapkan semua UU . sisa 2 (dua) paket UU bidang politik yang belum dapat diselesaikan pembahasannya akan segera dibahas dan diundangkan. diharapkan tersusun pedoman sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. meningkatnya pelayanan publik di bidang kependudukan. tahun 2008 diharapkan tersusun penyempurnaan sistem remunerasi PNS yang adil. PNS yang lebih akuntabel sebagai pengganti sistem DP3. pengadaan barang dan jasa pemerintah/publik. Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007. Pada tahun 2008. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. pada awal 2008 telah ditetapkan UU No. Diharapkan pula terwujud peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang pengawasan dan pemeriksaan. tersusunnya standar pelayanan perkotaan (SPP). 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik dan UU No. investasi/penanaman modal. yang didukung dengan meningkatnya kompetensi tenaga pengawas dan pemeriksa/auditor. layak. Pedoman Umum Reformasi Birokrasi beserta juklak dan juknisnya. sebagai respon atas penerapan anggaran berbasis kinerja dan tuntutan atas peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. dan DPRD. dilakukannya penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait. dan tersusun sistem penilaian kinerja. di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan. perpajakan dan kepabeanan. Secara bertahap. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. 10 tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota DPR.

2 triliun (20.4 triliun dari target APBN-P tahun 2007. yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 504. Secara kelembagaan. maka pada tahun 2008 semua peraturan pelaksanaan/petunjuk teknis penyelenggaraan Pemilu 2009 sudah dapat diselesaikan penyusunannya. kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.1.7 persen PDB). Di sisi kebijakan fiskal.0 persen PDB). dan penyediaan logistik Pemilu 2009. moneter.1 persen atau naik Rp70. realisasi pengeluaran negara pada tahun 2007 lebih tinggi 13.5 persen atau meningkat sebesar Rp 90. pada tahun 2008 diharapkan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah dan KPU/KPUD sebagai lembaga penyelenggara pemilu di pusat dan daerah.5 triliun (18. AGENDA KESEJAHTERAAN RAKYAT Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Pendapatan Negara dan hibah tahun 2007 lebih tinggi 11.0 triliun (5.7 triliun. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 2. b. Disamping itu juga diharapkan sudah dapat dilakukan penyempurnaan dan perbaikan data pemilih. penyediaan sarana dan prasarana pendukung Pemilu 2009.3 persen PDB) dan belanja ke daerah sebesar Rp 253. Hal lain yang sangat penting untuk dicapai pada tahun 2008 adalah peningkatan kapasitas dan kesiapan partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat pemilih. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal.3.7 persen PDB). Hal-hal pokok terkait dengan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut: a.8 triliun (13. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 215. Pencapaian penerimaan negara dan bibah tersebut terutama bersumber dan penerimaan perpajakan sebesar Rp 491. c.6 persen atau meningkat Rp 4.0 triliun (13.9 triliun dari target APBN-P tahun 2007. Realisasi tersebut lebih tinggi 0.3 triliun (6.3 persen PDB.Realisasi pendapatan negara dan hibah sampai dengan akhir tahun 2007 diperkirakan mencapai sebesar Rp 708. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. dan hibah sebesar Rp 1.0 persen PDB). lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN tahun 2006 yang mencapai 0.1 persen atau naik Rp 14.7 persen PDB). A.bidang politik.9 persen . penguatan lembaga keuangan. veriftkasi peserta pemilu dan validasi calon anggota legislatif.Realisasi pengeluaran negara sampai dengan 31 Desember 2007 mcncapai sebesar Rp 757.1 triliun.Defisit APBN tahun 2007 mencapai 1. Defisit APBN diupayakan pada batas-batas aman keuangan negara melalui peningkatan pendapatan negara serta peningkatan efisiensi pengeluaran negara.5 triliun. dan sektor riil.

Defisit anggaran dalam APBN-P tahun 2008 diperkirakan mencapai 2. Suku bunga acuan (BI rate) diturunkan secara bertahap dari 9.25 persen. Pencapaian sasaran di bidang moneter dan keuangan antara lain: a. Hal ini tercermin dari meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan sebesar 26.Nilai tukar yang melemah pada bulan Agustus 2007 menjadi Rp 9. terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditi makanan dan makanan jadi. defisit APBN tersebut masih berada pada batas-batas aman keuangan negara. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.9. pertumbuhan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui bank umum juga terus meningkat. stabilitas moneter tetap dijaga sepanjang tahun 2007. b. pada bulan April 2008. Penyaluran kredit UMKM sampai dengan akhir tahun 2007 tumbuh sebesar 22.3 persen PDB. lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai 1. peran sektor keuangan dalam menjalankan fungsinya sebagai intermediasi keuangan juga semakin membaik..7 persen PDB. Tekanan inflasi yang meningkat sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna membantu penurunan ekspektasi inflasi.0 persen pada bulan Desember 2007 dan tetap dipertahankan hingga bulan April 2008. namun lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar 1.per USD pada bulan Oktober 2007. Meskipun meningkat.367. relatif sama dengan tahun 2006 (6.4 persen (y-o-y). .140 per USD atau menguat 0.59 persen (y-o-y).300 per USD. Terjadinya krisis subprime mortgage pasar keuangan Amerika Serikat di bulan Juli 2007 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar uang Indonesia. e.96 persen.pada tahun 2007 laju inflasi mencapai 6. d. Memasuki tahun 2008. Secara keseluruhan. rata-rata nilai tukar rupiah harian pada tahun 2007 mencapai Rp 9.per USD kembali menguat menjadi Rp 9. mulai ditingkatkan bulan Mei 2008 menjadi 8. Dari sisi kebijakan moneter. 9.5 persen pada bulan Januari 2007 menjadi 8. 9.60 persen). laju inflasi meningkat. Suku bunga acuan tetap dipertahankan sampai bulan April 2008. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. rata-rata harian nilai tukar sebesar Rp.Stabilnya nilai tukar rupiah dan laju inflasi yang terkendali mendorong penurunan suku bunga perbankan secara bertahap.0 persen PDB.3 persen dibandingkan tahun 2006.107.4 persen (y-o-y) dan terus tumbuh mencapai 29.000 .246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp.Dalam rangka meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi. d. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 8.Sejalan dengan menguatnya kinerja pasar modal.PDB. dengan tingginya harga komoditi pertanian di pasar dunia. laju inflasi diupayakan tetap terkendali. c..5 persen (y-o-y) pada Maret 2008.

5 juta lapangan pekerjaan baru. Pada kurun waktu yang sama angkatan kerja meningkat dari 108.Februari 2008 meningkat sangat tinggi yaitu hampir 4.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. sejalan dengan perekonomian yang terus meningkat. pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. kopdisi ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang baik. dan 8. listrik. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. gas dan air bersih.Upaya-upaya yang ditempuh tersebut telah mampu mendukung perekonomian untuk dapat kembali tumbuh cukup tinggi.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 5.5 persen. Dalam tahun 2008.4 persen. Dari sisi produksi. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008. Dengan memperhitungkan resiko gejolak eksternal yang cukup besar.1 juta menjadi 111.5 persen (y-o-y). Dalam triwulan I/2008.8 persen menjadi 6. Momentum pertumbuhan terus berlanjut pada triwulan I/2008. Lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007 .4 persen.6 persen.0 persen. Sejak paruh kedua tahun 2007.0 persen dan 13.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.5 . 10. Dari sisi permintaan. Dalam hal ketenagakerjaan. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.5 persen dan 2. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. Sementara itu.4 persen. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3.0 persen. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. serta bangunan yang masing-masing tumbuh sebesar 14. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5. ekonomi tumbuh 6.0 persen. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan komunikasi.9 persen. ekonomi diperkirakan tumbuh 6.2 persen dan 8.

Pengangguran terbuka masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah. perkebunan sekitar 2. 42.23 persen. bahkan 2.0 juta orang atau 49.86 persen.7 persen. Sebaliknya pada tahun tersebut produksi kedelai mengalami penurunan sebesar 20. Pertumbuhan sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Dari jumlah penganggur usia 20-24 tahun tersebut.juta atau meningkat sekitar 3.05 juta ton GKG yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir atau meningkat 4. Berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dibiayai oleh APBN.71 persen. Secara sektoral. Pada tahun 2007 PDB pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) meningkat 4.76 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 592. Target ini terlampaui karena adanya peningkatan produksi pertanian hingga melebihi sasaran yang telah dicanangkan antara lain produksi padi/beras yang mencapai sebesar 57. Demikian pula PDB perikanan pada tahun 2007 kontribusinya naik menjadi sebesar 2.7 juta dari mereka atau 27.3 juta orang.61 juta ton menjadi 13.32 persen terhadap PDB Nasional atau naik sebesar 7.4 juta orang berada di perdesaan. Pada Agustus 2007. telah mulai dikembangkan dan dikonsolidasikan agar tenaga kerja yang dicakup semakin banyak dan merata. Keadaan ini cukup memprihatinkan karena usia mereka masih usia sekolah. lebih tinggi dari target yang direncanakan sebesar 2.46 persen orang pada Februan 2008.44 persen dibanding tahun sebelumnya dari 11.44 persen dan peternakan sekitar 2.7 ribu ha atau 21 persen dibanding tahun sebelumnya.77 persen dibanding tahun 2006.42 persen. pada Agustus 2007 proporsi penganggur dengan pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah mencapai sekitar 5. miskin dan tidak terampil telah diupayakan oleh Pemerintah. Penganggur usia muda masih merupakan proporsi terbesar dri keseluruhan penganggur terbuka. Demikian juga untuk produksi jagung meningkat 14.03 kuintal per hektar atau 0. pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor tanaman bahan makanan sekitar 5. penduduk usia 15-19 tahun yang menganggur mencapai 2.02 persen. yaitu dari 9. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya luas panen sekitar 121.62 persen.4 ribu ton. kehutanan dan perdesaan.5 persen.29 juta ton. meskipun produktivitas mengalami kenaikan 0. Hal ini pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka.14 persen. perikanan dan kehutanan mencapai sebesar 3. Jumlah penganggur usia 20-24 tahun mencapai sekitar 3.75 persen pada Februari 2007 menjadi 8.4 juta orang atau 30. termasuk revitalisasi pertanian. . Penciptaan lapangan kerja bagi penduduk berlatar pendidikan relatif rendah. perikanan.58 persennya atau sekitar 1. pada tahun 2007 pertumbuhan sektor pertanian.6 persen dibandingkan tahun 2006.2 juta orang atau 22.10 persen hanyalah lulusan SD ke bawah.

Sebaliknya pertumbuhan sub sektor kehutanan mengalami penurunan karena masih banyaknya illegal logging yang mengakibatkan kerusakan hutan, sehingga berakibat pada menurunnya produksi kayu dari hutan alam yang belum dapat digantikan dengan produksi hasil hutan tanaman industri dan non kayu lainnya. Hal tersebut telah menyebabkan banyaknya industri hasil hutan yang tutup. Dalam rangka pelaksanaan revitalisasi, kegiatan di bidang perikanan difokuskan pada peningkatan produksi dan pengembangan tiga komoditas penting, yaitu udang, ikan tuna, dan rumput laut, dengan tetap melakukan upaya peningkatan mutu dan kegiatan optimalisasi pengelolaan perikanan sejak dari penangkapan ikan (on farm) hingga pemasaran. Untuk mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, pemerintah telah melakukan rehabilitasi, pembangunan, peningkatan fasilitas pendukung berupa Pelabuhan Perikanan Samudra, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan. Selain itu, dilaksanakan juga rehabilitasi dan pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan di 33 provinsi. Pada sub sektor kehutanan, upaya revitalisasi masih terus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain melalui kegiatan-kegiatan: (i) Pengembangan pemanfaatan hutan alam dengan meningkatkan manajemen Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHK); (ii) Penertiban peredaran hasil hutan dalam rangka mengoptimalkan PNBP dan Dana Reboisasi (DR); (iii) Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH); (iv) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); (v) Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak dibebani hak/ijin pemanfaatan; dan (vi) Restrukturisasi industri primer kehutanan. Di bidang infrastruktur, upaya peningkatan pelayanan infrastruktur sesuai standar pelayanan minimum pada tahun 2008 telah diwujudkan melalui pembangunan saluran air baku dengan kapasitas terpasang 1,00 m3 / detik, rehabilitasi sarana/ prasarana pengendali banjir di 62 lokasi pembangunan, pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km, prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan seluas 688 ha, kondisi jalan nasional telah mencapai 81 persen mantap dari panjang jalan nasional dengan peningkatan pelayanan prasarana jalan menjadi 45 km per jam; pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan pulau terluar sepanjang 100 km; pembangunan jalan di kawasan perbatasan sepanjang 110 km., pemberian subsidi operasi perintis angkutan jalan pada 153 lintas, pengadaan bus perintis sebanyak 340 unit, pelayanan pelayaran perintis untuk 62 trayek, subsidi operasi lintas penyeberangan perintis pada 80 lintasan, pelayanan penerbangan perintis untuk 90 rote, penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan angkutan penumpang KA kelas ekonomi sebanyak 70 KA dan angkutan laut kelas ekonomi pada 22 trayek, rehabilitasi dan pembangunan jalan poros desa melalui (DAK) sepanjang 88.205 km dan pengadaan sarana angkutan perdesaan; pengembangan

energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terlaksananya Program integrated micro hydro development and application program (IMIDAP), pembangunan listrik di perdesaan yaitu: PLTS 50 Wp sebanyak 59,000 unit, PLT bayu 80 kW sebanyak 14 Unit; PLTMH sebanyak 1,270 kW, Gardu Distribusi sebanyak 930 Buah/ 44,950 kVA, JTM sebanyak 1,803 kms, JTR sebanyak 1,453 kms; penyediaan PSO pos untuk 2.350 kantor pos cabang luar kota; pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 15.448 unit/30 kawasan, pengembangan Desa-desa Pusat Pertumbuhan di 146 kawasan di 32 provinsi, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 28.000 unit, pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1800 desa, Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 100 lokasi, peningkatan pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional di 35 kab/kota. Dalam rangka peningkatan daya saing sektor riil, pada program pembangunan bidang infrastruktur telah dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 210,73 ribu ha dan rawa seluas 207,67 ribu hektar; pembangunan 7 waduk dan 35 embung, pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang 145 km, pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 71,1 km, tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian, rehabilitasi jalan nasional sepanjang 4.000 km, pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa sepanjang 70 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km, rehabilitasi/peningkatan jalan provinsi/kabupaten/kota sepanjang 418.346 km melalui DAK, peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan Lintas sepanjang 4.410 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km pengadaan sarana KA Kelas Ekonomi, Kereta Rel Listrik, dan Kereta Rel Diesel/Kereta Rel Diesel Electric/Kereta Diesel Kelas 3 sebanyak 45 unit, rehabilitasi Dermaga Penyeberangan pada 36 Dermaga, pembangunan dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan pada 129 Dermaga, pengadaan kapal perintis dan bus air sejumlah 84 Buah, rehabilitasi landasan dan fasilitasnya 450.000 m2; pengembangan Energi Alternatif dan Teknologi Energi Baru Terbarukan, pengembangan wilayah distribusi gas bumi untuk rumah tangga, industri kecil, dan transportasi (gas kota) , pemberian insentif penyediaan energi alternatif, Land Mark penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (Koordinasi Pengembangan dan Pemanfaatan Biofuel), pengembangan teknologi pembangkit listrik lampu hemat energi; pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang dilakukan BUMN PT. PLN baik untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru ataupun rehabilitasi dan repowering pembangkit listrik berbahan bakar batubara, gas dan energi terbarukan hidro dan panas bumi, serta untuk pembangunan

jaringan penyaluran transmisi dan distribusinya, pengembangan regulasi dan pengawasan dalam rangka meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri serta meningkatkan pembinaan industri penunjang ketenagalistrikan dalam negeri melalui pembinaan usaha serta pengembangan standarisasi dan sertifikasi; pembahasan RUU Pos pengganti UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos, penyusunan RUU Telekomunikasi pengganti UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, pengembangan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dalam rangka pengamanan dan pengawasan jaringart internet di Indonesia, pembangunan prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access, penyediaan infrastruktur TIK melalui program Community Access Point (CAP) dan warung masyarakat informasi, penyediaan sarana dan prasarana air limbah sistem terpusat di 26 kawasan/kota, pembangunan sarana dan prasarana air minum pada 69 kawasan strategis, dan pengembangan sistem drainase di 11 kabupaten/kota. Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyediaan infrastruktur melalui kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha, hingga tahun 2006 telah dilaksanakan persiapan perlaksanaan Public-Private Partnership (PPP) untuk Penyediaan Air Baku Industri; persiapan pelaksanaan pembangunan jalan tol dan Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara; pemberian hak khusus pembangunan jaringan pipa gas dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah; penerbitan peraturan tentang penetapan tarif berbasis biaya melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Awal dan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar melalui Jaringan Tetap dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular; dan penetapan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Terkait fenomena global mengenai perubahan iklim, kebijakan pemerintah mengenai peningkatan kapasitas mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan sekaligus dalam rangka pengurangan risiko bencana telah diselesaikan, antara lain: pembangunan prasarana pengendali banjir seluas 500 ha dan panjang 954 km; pemeliharaan prasarana pengendali banjir sepanjang 1,387 km; pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 70 km; pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km; kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; upaya penanganan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) secara terpadu dengan penanganan daerah hulu dan hilir sungai. Sementara itu, setelah empat tahun pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias, serta hampir tiga tahun pelaksanaan tugas dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (BRR NAD-Nias), lembaga tersebut akan segera mengakhiri masa tugasnya pada bulan April 2009 yang akan datang. Dengan

masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2009 dalam pembangunan daerah pasca rehabilitasi dan rekonstruksi. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi 27 Mei 2006. memperkuat kapasitas kelembagaan. prasarana lingkungan permukiman. dan pengarusutamaan gender. sarana dan prasarana wilayah. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. maka pada tahun 2009 penyelesaian dan keberlanjutan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias akan dilanjutkan oleh kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (3) masih . pencapaian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias yang telah dilaksanakan oleh BRR NAD-Nias mencakup beberapa kegiatan pokok yaitu: penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. Pada tahun 2007. pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan pemulihan pasca bencana melalui pendanaan APBN sejak tahun 2006 hingga 2008. serta Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di Provinsi Sumatera Utara. pasca kejadian gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. dan untuk pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah telah dialokasikan sebesar Rp 430. air bersih dan sanitasi. sementara untuk pemulihan prasarana publik telah dialokasikan sebesar Rp 1. serta pemulihan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat. Namun demikian. terutama bagi kelompok rentan. dengan memperkuat landasan perekonomian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. pemenuhan pelayanan dasar. dan penyelesaian masalah pertanahan dan penataan ruang wilayah. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan melalui proses legalisasi peraturan daerah.4 miliar. Selain di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias. diantaranya: (1) penataan ruang permukiman dan pengembangan lahan skala besar yang memenuhi tata lingkungan yang baik dengan pendekatan pengurangan risiko bencana.berakhirnya tugas dari BRR NAD-Nias tersebut. serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan wilayah. penyelesaian perumahan dan permukiman bagi korban bencana.74 triliun. pemulihan perekonomian masyarakat. (2) masih diperlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. menunjukkan bahwa pemulihan perumahan korban bencana telah diselesaikan melalui pendanaan sebesar Rp 5. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga dilakukan selama hampir dua tahun terakhir ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah. peningkatkan SDM. meningkatkan koordinasi antar pelaku pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. pemulihan fasilitas pendukung kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan dan kesehatan. dijadwalkan dapat diselesaikan pada bulan Juni 2008.2 triliun. pada tahun 2008 pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur. peningkatan kesejahteraan sosial. 9 tahun 2006.

data maupun peta wilayah rawan bencana yang memadai bagi analisa pola pemanfaatan ruang sekaligus menguatkan kelembagaan di tingkat daerah dalam pengendalian pemanfaatan rencana tata ruang wilayah. Flu burung telah menjadi isu global dan nasional karena memiliki dampak besar pada kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa manusia. Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2006-2008 menjadi acuan kebijakan pelaksanaan upaya pengendalian flu burung dan saat ini . diperlukan upaya yang lebih keras. Namun demikian untuk mencapai sasaran penurunan AKI pada tahun 2009 menjadi 226 per 100. Sampai akhir Februari 2008 kasus flu burung pada manusia mencapai 129 kasus dan 105 diantaranya meninggal. Dengan kondisi ini. pencegahan dan pengendalian flu burung memerlukan upaya menyeluruh dan terintegrasi dari segi tata laksana kesehatan hewan dan kesehatan manusia. serta (4) dukungan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana. dan meningkatkan pelayanan kesehatan dasar. hal ini antara lain dapat dinilai melalui perbaikan berbagai indikator kesehatan seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang saat ini baru mencapai 71. Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20% pada tahun 2009. status kesehatan masyarakat terus menunjukkan perbaikan. pendidikan ibu. Upaya penurunan AKI juga perlu didukung dengan perbaikan keadaan gizi ibu hamil. Di bidang kesehatan.4% pada tahun 1999 menjadi 28.000 kelahiran hidup. serta peningkatan sarana prasarana transportasi. memperbaiki pola asuh.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). termasuk upaya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia juga cenderung terus meningkat.diperlukannya dukungan yang difokuskan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah serta pemulihan infrastruktur perekonomian lokal. Demikian pula dengan status gizi anak balita mengalami perbaikan yang ditandai dengan menurunnya persentase balita yang mengalami kekurangan gizi dari 34.02% pada tahun 2005 (Susenas 2007).9 persen (Susenas 2007). perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Jumlah kasus kematian ternak unggas akibat flu burung sangat tinggi dan tersebar di seluruh provinsi. penanggulangan kemiskinan. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008. peran perempuan. telah ditetapkan program dan fokus kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pendayagunaan rencana tata ruang wilayah sebagai salah satu instrumen utama untuk mengurangi resiko bencana dan peningkatan kualitas informasi.

penyediaan obat Oseltamivir. BD akan terentang hingga sekitar tahun 2020.2 persen (tahun 2008) dan terus menurun hingga mencapai titik terendah 44. Keadaan ini di satu sisi mengindikasikan telah terjadi penurunan persentase penduduk sebagai beban pembangunan (dependenry ratio) sementara di sisi lain juga merupakan keuntungan ekonomi (Bonus Demografi/BD). Untuk itu pada tahun 2009 Askeskin perlu terus dilanjutkan dengan jaminan kesehatan pada masyarakat (jamkesmas) untuk meningkatkan akses penduduk miskin dan kurang mampu di kelas III RS dan peiayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di Puskesmas dan jaringannya. penguatan laboratorium pengujian.4 juta orang (2007). Selain itu.5 persen pada tahun 2017. Diperkirakan. Upaya pencegahan dan penanggulangan di bidang kesehatan manusia yang telah dilaksanakan mencakup penatalaksanaan kasus di rumah sakit. Cakupan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan kurang mampu melalui program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (JPK-MM)/Askeskin terus meningkat yaitu dari 36. khususnya penduduk muda (0-14 tahun) semakin menurun. daerah perbatasan. Penurunan persentase penduduk muda mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk membiayai pembangunan bidang lainnya. surveilans epidemiologi. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas. penyernaan ruang isolasi perawatan di 100 rumah sakit rujukan. antara lain melalui kegiatan Keluarga . perlindungan bagi petugas yang berisiko tinggi. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun.9 persen (tahun 2006) diperkirakan turun menjadi 47.Renstranas tersebut sedang dalam proses perumusan kembali. dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun. Rasio beban ketergantungan yang sebesar 48.4 juta orang (2005) menjadi 76. Namun demikian kesempatan yang menguntungkan pembangunan itu tidak akan pernah tercapai bahkan akan merugikan bila laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dan kualitas penduduk tidak ditingkatkan secara terus menerus dan konsisten. serta melakukan kaji tindak. pengendalian kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang. peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah tertinggal. Penurunan angka kelahiran dan kematian bayi yang terjadi selama ini telah merubah struktur umur penduduk yaitu persentase penduduk usia produktif terus meningkat sementara persentase penduduk usia non-produktif. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa. terpencil. tahun 2008 menjadi 228 juta jiwa. Pada waktu rasio beban ketergantungan mencapai angka terendah ini terbukalah jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk Indonesia. dan daerah bencana perlu ditingkatkan.

PPATK di 10 provinsi rawan illegal logging. dan (2) penguatan kapasitas kelembagaan Pengamanan Hutan (Pamhut) dan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di 10 lokasi. Sementara itu. Pada saat yang sama. Selanjutnya. upaya penertiban peredaran hasil hutan telah mencapai hasil antara lain: (1) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kayu meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2006. penawaran 30 wilayah kerja migas. rasio murid per guru adalah 21 untuk SD/MI dan 13 untuk SMP/MTs.1 persen. (3) implementasi penatausahaan SI-PUHH dan PSDH/DR berbasis TI (on-line) di 11 BP2HP. Dalam pengamanan kawasan hutan telah dilaksanakan antara lain: (1) operasi pengamanan fungsional dan operasi khusus melalui kerja sama dengan POLRI. Sementara itu. (2) uji coba Sistem Informasi-Penata Usahaan Hasil Hutan (SI-PUHH) dan penatausahaan Provisl Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR) berbasis Teknologi Informasi (TI) di 3 Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP). angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI dan yang sederajat mencapai 94. antara lain: penyelesaian blueprint peningkatan kapasitas nasional bidang minyak dan gas bumi (migas) sebagai upaya peningkatan kapasitas nasional dalam industri migas.9 persen. Pada tahun 2007 pelaksanaan kegiatan yang dilakukan telah menghasilkan berbagai pencapaian. Kesungguhan Pemerintah tersebut tercermin oleh hasil yang cukup menggembirakan seperti yang terlihat dari peningkatan angka partisipasi pendidikan pada semua jenjang. Dalam hal perbaikan pengelolaan sumber daya hutan berbagai upaya untuk telah banyak dilakukan oleh pemerintah. TNI AL. dan (5) pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan. selama tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan. Kejaksaan. kelompok umur 13-15 tahun sebesar 84. (4) dilakukannya monev illegal logging dan monev hasil lelang basil hutan ilegal.Berencana (KB).52 persen dan 60. Rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI dan 40 untuk SMP/MTs.90 persen. Sementara itu. pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral. Pada tahun 2007. dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 53.4 persen.51 persen.25 persen. Pemerintah secara terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. BIN. baik secara . Perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi dalam peningkatan kuantitas fasilitas layanan pendidikan. APK pada jenjang pendidikan tinggi (PT) yang mencakup pula perguruan tinggi agama (PTA). Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA/SMALB/Paket C masing-masing mencapai 92. perumusan kebijakan dan regulasi usaha penunjang migas beserta keberpihakannya. Adapun angka partisipasi sekolah (APS) atau persentase penduduk yang mengikuti pendidikan formal untuk kelompok umur 7-12 tahun tercatat sebesar 97. dan Universitas Terbuka (UT) adalah sebesar 17.

hasil olahan dan lain sebagainya. program menuju Indonesia hijau. A. penandatanganan 26 kontrak kerja sama (KKS) dengan komitmen investasi untuk 3 tahun mendatang sebesar US$ 640. program langit biru. program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER). program kali bersih. Namun demikian. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pemantauan kualitas air. hasil pelaksanaan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat terus menunjukkan kemajuan. tahun 2005 terlaksana 28 kegiatan usaha. LPG. MASALAH DAN TANTANGAN POKOK TAHUN 2009 Dengan berbagai kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan perkiraan pada tahun 2008. Untuk meningkatkan kapasitas daerah di bidang lingkungan hidup. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon melalui penghapusan pemakaian bahan perusak ozon (BPO) di berbagai mesin pendingin (chiller) dan memasyarakatkan penggunaan metered dosed inhaler (MDl). hasil pelaksanaan agenda pembangunan aman dan damai serta agenda pembangunan adil dan demokratis telah mengarah kepada keadaan yang diinginkan.31 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 50. Hingga tahun 2007. program pembangunan bersih yang dikoordinasi oleh Komnas Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB).penawaran langsung ataupun penawaran melalui tender (regular dan direct offer). program Debt for Nature Swap dengan Pemerintah Jerman. serta kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.2. telah dilaksanakan kegiatan Adipura. Sementara itu. tahun 2006 terlaksana 32 kegiatan usaha dan tahun 2007 terlaksana 35 kegiatan usaha. penegakan hukum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang terus akan dilakukan untuk memperluas cakupannya. Kegiatan-kegiatan ini terutama berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keniagaan migas termasuk niaga umum BBM. pada tahun 2007. dari 3 (tiga) agenda pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009. pembangunan bidang lingkungan hidup tetap dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pengendalian penggunaan sumber dara alam secara berkelanjutan serta pengendalian praktek perusakan/penurunan kualitas lingkungan. telah disalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah. program energi efisiensi di industri kecil dan menengah. Masalah dan tantangan utama yang . kegiatan pengusahaan migas terus meningkat secara berturut-turut. pengendalian pencemaran air serta perlindungan sumber daya air. Hal-hal tersebut di atas terus dilanjutkan pada tahun 2008 termasuk membangun fasilitas dan infrastruktur lingkungan. 22 tahun 2001 tentang Migas.53 juta. Sejak berlakunya UU No. Sementara itu. masih banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. pembinaan tim penilai AMDAL.

4 persen dan desa miskin/tertinggal mencapai lebih dari 46 persen.8 juta anak telantar.5 persen dari jumlah penduduk miskin tinggal di perdesaan.5 juta jiwa orang cacat. Saat ini terdapat 3. Padahal sebesar 63. Persentase penduduk miskin pada Triwulan I Tahun 2008 sebesar 15. MEMBANGUN DAN MENYEMPURNAKAN SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL KHUSUSNYA BAGI MASYARAKAT MISKIN. Terkait dengan upaya penurunan jumlah penduduk miskin. yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat miskin. Dukungan usaha masyarakat yang terbatas menimbulkan . khususnya bagi yang berada di perdesaan dan luar Jawa. dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola usaha. kesehatan. Dukungan yang dibutuhkan terkait dengan jaminan lokasi usaha. akses terhadap sumberdaya. pelaksanaan program pembangunan masih bersifat parsial dan belum terfokus. Masalah pokok yang dihadapi dalam menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. Maluku dan Papua juga lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa. Selain itu. dan persentase kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama Nusa Tenggara. 2. Kedua. Selain itu. Kesemuanya ini merupakan masalah dan tantangan yang harus ditangani agar efektifitas penurunan jumlah penduduk miskin dapat ditingkatkan. Akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. serta 66 ribu tuna susila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial. 2. MEMPERKUAT USAHA MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH. 145 ribu anak jalanan dan 1. prasarana dan sarana fisik perekonomian yang memadai.8 juta jiwa korban bencana alam. kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap terus meningkat. upaya pembangunan yang dilakukan masih belum merata dan belum mencapai seluruh masyarakat. 64 ribu gelandangan dan pengemis.dihadapi pada tahun 2009 diantaranya adalah sebagai berikut. jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih besar dan penurunannya berjalan lambat. jwnlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin karena guncangan ekonomi maupun karena bencana alam masih cukup besar. Ketiga. Oleh sebab itu tantangan yang harus dihadapi adalah menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. perumahan serta air bersih dan sanitasi dasar masih terbatas.5 juta penduduk lanjut usia. kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan berbasis masyarakat masih sangat terbatas. MENYEMPURNAKAN DAN MEMPERLUAS CAKUPAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT. meliputi pendidikan. upaya pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial masih merupakan masalah dan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan. Tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan dukungan bagi perkembangan usaha mereka.

Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut pada umumnya tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit/pembiayaan perbankan. dan 121 kabupaten/kota yang APK-nya sekitar 75-90 persen.permasalahan berupa tingkat pendapatan yang rendah. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang masih membutuhkan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2004-2009. kemitraan dan/atau klaster yang layak untuk dibiayai namun belum menjadi nasabah bank. antarkota dan desa.Rp 500 juta). Keterbatasan dukungan akses terhadap sumberdaya. Salah satu unsur pelayanan dasar yang diperlukan masyarakat adalah pendidikan. serta arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang masih berorientasi pada "inward looking" sehingga menghambat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. kewirausahaan dan kapasitas pengelolaan usaha yang rendah. pemerataan. Efektivitas penyaluran KUR dan pendampingannya merupakan tantangan yang harus ditangani secara tepat untuk mendukung upaya perkuatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat miskin. dan kualitas pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar. ekonomi dan politik yang terbatas. Di samping itu. kelompok. Kesenjangan antar daerah tersebut terlihat dari masih adanya 75 kabupaten/kota yang variasi pencapaian APK SMP/MTs/Sederajat kurang dari 75 persen. MENINGKATKAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDlKAN. masih ditemui adanya kesenjangan pencapaian APK yang cukup tinggi antar daerah. meskipun mereka memiliki usaha yang layak secara ekonomi untuk dibiayai. khususnya pembiayaan. Selain tantangan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar. Kondisi tersebut mendorong dikeluarkannya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yaitu percepatan penyaluran kredit/pembiayaan yang berasal dari sumber dana perbankan dengan dukungan penjaminan untuk kredit usaha mikro. Besarnya kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi menjangkau kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah (kredit/pembiayaan di bawah Rp 5 juta) dan kebutuhan kelompok masyarakat yang usahanya terus berkembang (kredit/pembiayaan Rp 5 juta . KUR diberikan kepada UMKM dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang bersifat individu. Program KUR juga dilengkapi dengan pendampingan mulai dari penyiapan proposal kredit sampai dengan penggunaan kredit (pengelolaan keuangan). merupakan masalah yang paling mendesak untuk ditangani. akses terhadap pelayanan sosial. . serta antarpenduduk kaya dan miskin.52 persen pada tahun 2007. kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi (Inpres 06/2007). hampir miskin dan tidak mampu yang memiliki kegiatan usaha produktif yang tersebar di berbagai lapangan usaha dan lokasi. Upaya keras ini perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat yang baru mencapai 92. Permasalahan utama yang dihadapi bidang pendidikan adalah masih diperlukannya peningkatan akses.

dan kesejahteraannya yang masih terbatas.permasalahan dan tantangan lain yang dihadapi di bidang pendidikan adalah besarnya jumlah lulusan SMP/MTs yang karena alasan ekonomi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. penyakit menular masih cukup tinggi antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah penderita malaria. Ketiga. . perbatasan. terpencil. Keenam. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian anak balita. Selain pendidikan. bayi. serta berbagai masalah gizi lain seperti anemia gizi besi. maka upaya yang dilakukan harus lebih besar. dan jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan. Beberapa permasalahan dan tantangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. kesehatan juga merupakan unsur penting yang menjadi indikator dan sekaligus merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. kurang vitamin A dan kurang zat gizi mikro lainnya. kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan. persebarannya belum merata. kasus penyakit flu burung pada manusia. dan balita. Kedua. gangguan akibat kurang yodium. terpencil dan perbatasan. Keempat. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang belum mencukupi. akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan penduduk daerah tertinggal. namun masih terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kesehatan. jumlah dan distribusi tenaga kesehatan masih terbatas khususnya di daerah tertinggal. kejadian demam berdarah dan kejadian luar biasa diare. Permasalahan dan tantangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperkecil kesenjangan antara sasaran dan pencapaian angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 2. Kelima.2 persen. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat akibat ketersediaan pendidik berkualitas belum memadai. penderita TB. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilakukan secara terus menerus. masalah gizi utama masih memerlukan penanganan intensif seperti kurang energi protein pada ibu hamil. misalnya dengan alasan ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga. namun mengingat proporsi buta aksara terjadi pada penduduk usia 45 tahun ke atas yang umumnya memiliki minat belajar yang rendah. Secara persentase angka tersebut memang tidak terlalu besar. sehingga mereka lebih memilih bekeja dibandingkan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Pertama. dan daerah bencana masih perlu ditingkatkan. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan juga merupakan masalah dan tantangan yang harus diselesaikan. Dalam hal ini peran pendidikan nonformal menjadi sangat diperlukan dan harus dapat dimanfaatkan. MENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN.

dan pulau-pulau kecil melalui pelayanan angkutan yang murah dan terjangkau untuk masyarakat miskin dan masyatakat yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. berdasarkan distribusi kelompok pengeluaran keluarga. Kalimantan Selatan.3 orang. Di bidang sumber daya air masalah pokok yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku perdesaan serta pengendalian daya rusak air. pedalaman. perlu disusun peraturan perundang-undangan untuk mendukung pelayanan kesehatan seperti peraturan perundang-undangan tentang Rumah Sakit. TFR pada kelompok termiskin sekitar 3. pedalaman. Sulawesi Tengah. Yogyakarta. Sementara di bidang energi dan ketenagalistrikan. perbatasan. dan Gorontalo) maupun di beberapa daerah yang TFR-nya sudah berada pada tingkat replacement level yaitu TFR kurang dari 2. dan Bali). MENINGKATKAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR DI DESA SESUAI STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM). (2) kurangnya keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. psikotropika. dan pulau-pulau kecil. obat. Meskipun upaya peningkatan pelayanan infrastruktur perdesaan telah dilakukan.ketersediaan obat dan pemanfaatan obat generik serta pengawasan terhadap obat. masalah pokok yang . makanan dan keamanan pangan masih perlu ditingkatkan. Sulawesi Selatan.I. namun masih diperlukan berbagai upaya lanjutan dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur perdesaan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Pola serupa juga ditunjukkan oleh rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup pada perempuan yang pernah menikah yaitu pada kelompok termiskin sebanyak 3.2.7 orang. Hasil Supas 2005 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan Total Fertility Rate (TFR) di beberapa daerah baik di daerah yang TFR-nya masih di atas rata-rata nasional (Nusa Tenggara Timur.1 (DKI Jakarta. dibandingkan dengan kelompok terkaya sebanyak 2. D. Jawa Timur. Kesejahteraan masyarakat dan kegiatan perekonomian hanya akan dapat ditingkatkan apabila tersedia pelayanan infrastruktur yang memadai. Ketujuh. Disamping itu.0 lebih tinggi daripada kelompok terkaya yang besarnya 2. perbatasan. Di bidang transportasi masalah pokok dan tantangan yang dihadapi antara lain. Adapun tantangannya adalah ketersediaan air dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat untuk seluruh wilayah Indonesia. (1) rendahnya akses terhadap pelayanan transportasi khususnya untuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan. (3) kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur transportasi terutama di daerah perdesaan. dan SDM kesehatan. MENGENDALIKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK.

persampahan. Di bidang pos dan telematika. masalah pokok dan tantangan yang dihadapi adalah rendahnya jumlah akses. pemilikan. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini memang tidak mudah karena kondisi demografis dan geografis yang bervariasi dengan persebaran penduduk tidak merata dan potensi energi yang sangat bervariasi. rendahnya kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah serta harga rumah yang terus meningkat karena meningkatnya harga lahan serta masih adanya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dalam perijinan pembangunan perumahan. . ekonomis dan sosial budaya. MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT PERDESAAN PADA LAHAN. Disamping itu masih maraknya sengketa dan konflik pertanahan turut menghambat akses masyarakat perdesaan pada lahan. Kedua. dan jaringan drainage. Untuk itu tantangannya adalah mengembangkan sumber energi dan kelistrikan yang disesuaikan dengan kondisi demografis dan geografis dengan layak secara finansial. masih lemahnya kelembagaan ekonomi dan organisasi perdesaan yang berbasis masyarakat untuk menggerakan sistem perekonomian dan memperkuat modal sosial. MEMPERKUAT LEMBAGA MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DESA. Keterbatsan akses masyarakat terhadap lahan lebih lanjut menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber permodalan. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). BERDAYA TAHAN.dihadapi. Pertama. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam upaya penguatan lembaga masyarakat dan pemanfaatan kelembagaan pemerintah daerah antara lain sebagai berikut. menurunnya wilayah jangkauan penyiaran. MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI YANG STABIL. Selain itu. merupakan tantangan yang dihadapi dalam perumahan. jaringan air limbah. kualitas. dan jangkauan layanan pos dan telematika di perdesaan. pada kenyataannya masih terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam penguasaan. Masalah dan tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap lahan. Terkait dengan telekomunikasi tantangan utamanya adalah perluasan layanan telekomunikasi dan jangkauan penyiaran serta pos hingga ke seluruh pelosok tanah air. terutama masyarakat perdesaan. Di bidang perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan prasarana-sarana permukiman seperti jaringan air minum. adalah rendahnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana energi dan belum memadainya fasilitas sistem ketenagalistrikan. masih lemahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah desa khususnya dalam menciptakan inisiatif-inisiatif pengembangan perekonomian desa dan pelayanan masyarakat.

berbagai permasalahan dan tantangan pokok masih harus dihadapi. Pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. perekonomian yang berkualitas. dan Uni Eropa) yang pangsanya sekarang masih sebesar sekitar 50 persen. meskipun kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Sejalan dengan perbaikan tersebut. Amerika Serikat. (vi) masih diperlukannya optimalisasi penyederhanaan administrasi perpajakan dan kepabeanan. EKSPOR NONMIGAS. Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kemajuan sektor-sektor utamanya seperti industri dan pertanian. tingkat ketergantungan ekspor nonmigas terhadap pasar tradisional akan berkurang. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan ketersediaan kebutuhan dasar dan pengembangan perdesaaan perlu didukung oleh perekonomian yang lebih maju yang diantaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan. Singapura. tantangan adalah meningkatkan diversifikasi pasar ekspor nonmigas. Walaupun perkembangan investasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat namun upaya peningkatan investasi masih menghadapi permasalahan dan tantangan yang an tara lain: (i) perlunya peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan perijinan. Dengan mengatasi tantangan ini. SERTA PARIWISATA. (v) perlu dilengkapinya peraturan pelaksanaan UU No. Perkembangan ekonomi juga harus didukung peningkatan daya saing sektor riil yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur. Dari sisi ekspor. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan. (ix) ditingkatkannya kualitas promosi di dalam dan luar negeri. (iv) perlunya penyediaan berbagai skema insentif fiskal dan non fiskal guna meningkatkan daya saing usaha nasional. (iii) perlunya peningkatan ketersediaan energi. MENINGKATKAN DAYA TARIK INVESTASI. dan (x) masih perlunya pengembangan potensi investasi di daerah. dan perekonomian yang stabil dan tahan menghadapi berbagai gejolak dan tekanan. (ii) perlunya peningkatan jumlah dan kualitas infrastruktur.DAN BERKUALITAS. agar tidak bertumpu pada empat pasar ekspor tradisional (Jepang. termasuk didukung oleh UKM yang memiliki produktifitas yang tinggi dengan lebih membuka aksesnya terhadap sumberdaya yang produktif. (viii) masih perlunya peningkatan koordinasi program peningkatan iklim investasi antar pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. 25/2007 tentang Penanaman Modal sehingga memberi kejelasan arahan bagi pelaku usaha. sehingga ekspor nonmigas . Upaya untuk mendorong kemajuan perekonomian juga harus mempertimbangkan ketersediaan pangan. perkembangan perekonomian semakin baik. namun kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan. (vii) perlu ditingkatkannya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Dalam beberapa tahun terakhir. investasi dan ekspor harus dapat ditingkatkan.

agar pertumbuhan utama ekspor nonmigas Indonesia tidak hanya ditopang oleh ekspor komoditas primer yang relatif bernilai tambah lebih rendah dan harganya cenderung lebih berfluktuasi. masih besarnya hambatan non tarif di pasar ekspor baik tradisional maupun non tradisional. dan kabupaten mendukung promosi daerahnya sebagai destinasi wisata dan masih adanya berbagai peraturan daerah yang menghambat pengembangan pariwisata. bahan penolong. barang setengah jadi dan komponen. Namun demikian sektor industri masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. Sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian. integrasi. kota. (iii) belum mapannya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh kerja sama pelaku ekonomi-sosial-budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat belum berlangsung secara optimal. serta masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung kelancaran arus barang ekspor. dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga maupun pusat dan daerah dalam pengembangan destinasi dan promosi pariwisata belum maksimal. keterkaitan antara sektor industri hulu dan sektor industri hilir dengan sektor ekonomi lainnya yang relatif masih lemah. struktur industri hanya didominasi beberapa cabang yang tahapan proses industri dan penciptaan nilai tambahnya pendek. koordinasi. Dari sisi pariwisata. untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. dan belum seluruh pemerintah provinsi. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata terutama dalam upaya peningkatan kontribusi devisa terhadap perolehan devisa dapat diatasi. berbagai masalah dan tantangan yang masih harus dihadapi adalah: (i) belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan terutama oleh pembangunan pariwisata terutama antara kawasan Barat dan Timur yang belum merata dan kurangnya kenyamanan dalam berwisata karena antara lain sarana dan prasarana menuju destinasi pariwisata belum sepenuhnya memadai. Permasalahan yang dihadapi sektor industri dan sekaligus merupakan tantangan yang harus diatasi antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku. ekspor . serta rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata. Masalah dan tantangan pokok lainnya adalah masih perlunya upaya untuk meningkatkan diversifikasi produk ekspor. masih perlu disempurnakannya proses penyederhanaan prosedur ekspor agar dapat mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mempercepat waktu penyelesaian dokumen ekspor-impor.Indonesia akan lebih tangguh terhadap perubahan kondisi perekonomian global dan gejolak permintaan di keempat pasar ekspor tersebut. MENINGKATKAN MENDORONG KEMAJUAN SEKTOR INDUSTRI. (ii) belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan terutama oleh pemanfaatan media massa dalam dan luar negeri baik elektronik maupun cetak serta teknologi informasi sebagai sarana promosi belum maksimal.

4 juta atau 8. tenaga kerja formal diharapkan memiliki produktivitas tinggi serta memiliki kualifikasi dan kompetensi seuai dengan permintaan pasar kerja. Tantangan ini diikuti dengan pentingnya pemberdayaan UMKM yang banyak menyerap tenaga kerja informal. serta peningkatan kualitas pelayanan TKI yang akan bekerja di luar negeri.3 juta. Di sisi lain. dan masih lemahnya peranan kelompok industri kecil dan menengah sebagai industri pendukung. Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal yang mencakup 70 persen dari seluruh pekerja untuk memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara pekerja informal dengan pekerja formal. Tantangan ini tidak mudah karena beberapa tahun terakhir. Keadaan ini menjadi penghambat . produksi. meskipun UKM memberikan kontribusi yang cukup besar dalam PDB. Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi oleh UKM saat ini adalah produktivitas UKM yang meningkat sangat lambat sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan yang masih lebar antar pelaku UKM dengan pelaku usaha besar.produk industri didominasi oleh hanya beberapa cabang industri. MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN AKSES UKM KEPADA SUMBERDAYA PRODUKTIF. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dapat dilaksanakan antara lain dengan pelatihan berbasis kompetensi dan pelatihan melalui pemagangan di tempat kerja.46 persen dari angkatan kerja. 240. namun secara absolut jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2008 masih tinggi yaitu mencapai 9. sangat kecil dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai sebesar Rp. namun produktivitas UKM per tenaga kerja hanya sebesar Rp.5 juta lapangan kerja baru. Di samping itu kondisi permesinan di beberapa kelompok industri perlu diperbaharui agar tetap kompetitif di pasar internasional. antarindustri. Tantangan ini berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan yang memungkinkan pekerja untuk pindah antar perusahaan. Meskipun jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007-Februari 2008 sangat tinggi yaitu sekitar 4. teknologi dan pemasaran. dan keterbatasan kepada akses sumber permodalan. antarsektor dan antar daerah. Padahal UKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Tantangan kedua adalah mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi.1 juta. juga disebabkan karena masih besarnya biaya transaksi dalam kegiatan usaha. daya serap tenaga kerja yang mulai meningkat masih diserap oleh lapangan kerja informal. MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA. Sebagai gambaran pada tahun 2006. 12. pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang banyak menyerap tenaga kerja informal. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah menciptakan kesempatan kerja terutama lapangan kerja formal-seluas-luasnya. Masih rendahnya tingkat produktivitas UKM ini selain disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia. lebih dari 60% kegiatan sektor industri berada di Jawa.

Meskipun akhir-akhir ini produksi pangan sudah meningkat secara signifikan. PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL. meningkatkan impor apabila diperlukan dan menyempurnakan sistem distribusi bahan pokok. Di samping itu. beberapa bahan kebutuhan pokok masyarakat di beberapa daerah. Dalam tahun 2007 dan awal tahun 2008. Untuk itu. Tersedianya basis data tentang pusat-pusat produksi. Selain itu. upaya stabilisasi harga bahan pokok memerlukan koordinasi kebijakan ekonomi makro seperti sasaran inflasi. meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi tantangan yang perlu untuk diatasi dalam mempercepat pertumbuhan UKM. pertanian dan suku bunga.kemajuan UKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produk. persaingan dalam memperoleh berbagai sumberdaya produktif juga semakin meningkat yang diiringi dengan pesatnya mobilitas sumberdaya tersebut serta upaya untuk menumbuhkan wirausaha yang berbasis pengetahuan dan teknologi. termasuk terhadap sistem distribusi dan stok bahan pokok Pemerintah dan dunia usaha yang tersebar di berbagai daerah serta belum terdata dan terpantau dengan baik. relatifnya tingginya harga bahan pokok di berbagai daerah yang sulit dijangkau dapat diatasi dengan mempercepat pembangunan dan meningkatkan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. yang cukup memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. Ketahanan Pangan dalam negeri dinilai masih rentan karena pertumbuhan produksi pangan khususnya beras masih belum stabil. stok beserta matarantai distribusinya dan sistem pemantauan yang baik dapat menjaga kelancaran pasokan dan meredam terjadinya lonjakan harga bahan pokok secara berarti serta dapat menghindari terjadinya penimbunan dan penyelewengan distribusi yang mengurangi ketersediaannya. Permasalahan dan tantangannya adalah meningkatkan penyediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan meningkatkan produksi. tetapi permasalahan pangan khususnya masalah distribusi pangan di beberapa lokasi yang terisolir masih saja terjadi. TDL. ketahanan pangan masyarakat masih belum didukung dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap pangan. Perkembangan harga bahan pokok yang cepat ini memerlukan pemantauan intensif dan evaluasi seksama. cukup sulit diperoleh dan harganya meningkat tajam. laut maupun udara. bahkan pada beberapa tahun terakhir rata-rata pertumbuhan produksinya masih lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. baik yang didukung oleh sistem transportasi darat. kebijakan tarif ekspor dan impor. PENGAMANAN PASOKAN BAHAN POKOK. kebijakan subsidi khususnya BBM. Sementara itu. maka upaya untuk mendorong swasembada pangan pokok yang sangat rentan terhadap lonjakan harga dan ketersediaan dalam negeri perlu terus ditingkatkan. Akses pangan bagi rumah tangga relatif meningkat yang diindikasikan dengan semakin menurunnya kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga. tetapi peningkatan akses pangan di tingkat rumah tangga masih perlu terus . Selanjutnya.

peningkatan produksi perikanan masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan oleh belum kondusifnya iklim usaha perikanan yang terkait dengan permodalan dan investasi. hutan bakau. dan kehutanan masih didominasi oleh komoditas bahan baku industri. perikanan.dilakukan agar kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga semakin jarang terjadi. yang ditunjukkan oleh tingkat utilisasi industri hasil pertanian yang masih sangat rendah. PERIKANAN DAN KEHUTANAN. pengembangan sistem insentif yang mampu mempertahankan lahan-lahan produktif dalam memproduksi bahan pangan. Akibatnya. upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan pertanian. Selain penguasaan teknologi. MENINGKATKAN KUALITAS PERTUMBUHAN PERTANIAN. meskipun produksi komoditas pertanian dan perikanan tetap meningkat namun belum memberikan nilai tambah yang memadai untuk masyarakat petani dan nelayan karena kurang berkembangnya industri pertanian. serta peningkatan biaya pengadaan sarana dan prasarana perikanan baru. perikanan. estuaria. perbaikan sistem distribusi dan tataniaga pangan. serta perbaikan diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat merupakan tantangan utama yang dihadapi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. pendampingan teknologi. peningkatan biaya input pembudidaya ikan/udang. baik di pusat maupun di tingkat daerah. Semenrara itu. (2) praktek penangkapan dan budidaya ikan yang tidak menggunakan kaidah keberlanjutan masih sering terjadi. perikanan dan kehutanan dalam negeri yang menyebabkan ekspor komoditas pertanian. Penurunan kuantitas dan kualitas ini sebagai akibat dari: (1) kegiatan ilegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing dan kapal yang tidak memiliki ijin penangkapan. serta belum memadainya kegiatan penyuluhan. Dari sisi kehutanan. kelembagaan. pemanfaatan industri hasil pertanian juga relatif belum optimal. dan pulau-pulau kecil akibat pengaruh limbah yang berasal dari daratan dan eksploitasi manusia yang berlebih juga belum dapat secara optimal ditangani. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. di sisi lain terjadi pula penurunan kuantitas dan kualitas perikanan tangkap. Permasalahan lain yang dihadapi adalah sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran perikanan terutama yang berada di daerah masih belum memadai. Selanjutnya. penguatan kemampuan produksi pangan dalam negeri. dan lemahnya pengawasan. kebutuhan akan produk hasil hutan terutama kayu . serta (3) kerusakan sumber daya pesisir terutama terumbu karang. dan kehutanan masih perlu ditingkatkan. Dengan permasalahan pokok tersebut. dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi yang berakibat pada frekwensi operasi nelayan melaut. padang lamun. Masih rendahnya penguasaan teknologi pengolahan produk pertanian berakibat pada rendahnya nilai tambah produk pertanian.

perubahan musim tanam. Oleh karena itu pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan harus dapat dikembangkan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat di dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam serta pengembangan taman nasional model.dari tahun ke tahun semakin meningkat akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi oleh kemampuan menghasilkan sumber bahan baku yang dibutuhkan. sedangkan manfaat hutan lainya seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dengan fungsi sebagai penyedia udara bersih. sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kapasitas industri yang ada dengan kemampuan penyediaan bahan baku. Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini diantaranya adalah: (i) melengkapi dan lebih mengakuratkan pendataan dan permodelan iklim regional untuk Indonesia untuk memudahkan para perencana pembangunan dan pelaksana pembangunan mengantisipasi dampak terjadinya perubahan iklim. Saat ini laju degradasi hutan telah mencapai 1. (ii) memperbaiki pengintegrasikan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan . Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor yang cukup parah di hampir sebagian besar wilayah. Untuk itu. peningkatan suhu dan pasang air laut yang ekstrem yang menyebabkan ketidakpastian nelayan untuk melaut. perubahan iklim global menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Oleh karena itu sumber-sumber alternative bahan baku kayu bulat untuk industri harus dapat dikembangkan diantaranya melalui pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). penyerap karbon. keanekaragaman hayati. mengendalikan pembalakan liar dengan penegakan hukum terhadap pelaku dan peningkatan kemampuan polisi hutan.08 juta ha/tahun sementara itu upaya rehabilitasinya sangat kecil yaitu sekitar 500 . Saat ini perspektif optimalisasi nilai manfaat hutan masih cenderung kepada pemanfaatan hasil hutan kayu yang merupakan sebagian kecil dari nilai manfaat hutan. hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. dan penyedia air bersih belum dimanfaatkan secara maksimal. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan.700 ribu ha/pertahun. Degradasi hutan yang terus menerus terjadi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan pembalakan liar berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan secara umum. hutan Tanaman Rakyat (HTR). ketimpangan tersebut menyebabkan semakin cepatnya kerusakan hutan dan lahan yang ada. sumber daya air dan energi. tantangan yang dihadapi adalah mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan secara terus menerus dengan memaksimalkan sumber daya dan dana yang ada. meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran serta meningkatkan kelembagaan. MENINGKATAN KAPASITAS MITIGAS DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL.

DUKUNGAN PENINGKATAN DAYA SAING SEKTOR RIlL. kelaikan prasarana dan sarana. sehingga pengembangan energi alternatif (gas bumi. serta meningkatan kinerja jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air usaha tani terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. (2) meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan. dan pengembangan energi termasuk infrastruktur energi. (5) Reguiasi yang masih dalam transisi (pembatalan UU Ketenagalistrikan dan penyempurnaan UU Migas). krisis listrik belum dapat teratasi. batubara dan terbarukan) terhambat karena besarnya subsidi BBM. serta (iv) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam menangani perubahan iklim pengurangan risiko bencana dengan memanfaatkan struktur institusi yang telah ada. meskipun tidak mudah. serta manajemen transportasi. Sektor rill merupakan motor penggerak dalam perekonomian. sumber daya manusia (SDM) dan budaya keselamatan. jaringan transmisi dan distribusi yang masih rendah. juga karena . panas bumi dan batubara serta energi baru terbarukan yang masih rendah. (3) menciptakan kondisi yang mendorong dunia swasta mau berinvestasi dalam penyelenggaraan melalui restrukturisasi perundang-undangan dan peraturan di bidang transportasi serta perbaikan iklim investasi sehingga tidak ada lagi monopoli dalam pelayanan transportasi. kemampuan dan daya saing sektor rill perlu senantiasa ditingkatkan. Di bidang sumber daya air permasalahan dan tantangan pokoknya adalah mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan industri serta pengendalian daya rusak air. (4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi yang masih rendah. Dari sisi ketenagalistrikan. Di bidang transportasi masalah dan tantangan pokok yang dihadapi adalah: (1) meningkatkan jaminan keselamatan dan keamanan transportasi yang antara lain disebabkan oleh lemahnya regulasi dan kelembagaan. Terkait dengan bidang energi masalah dan tantangan yang dihadapi adalah. Oleh sebab itu. (1) meningkatkan pemanfaatan energi primer non-BBM untuk kepentingan domestik seperri gas bumi. panas bumi. (3) Harga energi konvensional/BBM yang belum mencerminkan keekonomiannya. (2) menciptakan kondisi agar keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi dapat memenuhi standar keselamatan dan keamanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. Krisis ini terutama terjadi karena selain masih belum ada sistem ketenagalistrikan nasional untuk menopang peningkatan pembangunan ekonomi secara memadai. serta (6) meningkatkan investasi migas. Permasalahan pokok yang dihadapi pada peningkatan daya saing sektor riil antara lain sebagai berikut. batubara. (iii) meningkatkan dan menseragamkan kepedulian dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah yang masih rendah dan tidak seragam sehingga pembangunan sejalan dengan tujuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana.iklim temasuk pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah.

serta (3) keterbatasan dalam pendanaan karena kepercayaan perbankan internasional dalam menyalurkan pendanaannya dalam investasi pembangkit listrik swasta di Indonesia. tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pos dan telematika yang memadai. permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika yang masih rendah dalam menciptakan peluang ekonomi. serta tingkat konsumsi BBM yang masih cukup tinggi.kurang efisiennya sistem dan pengelolaannya. serta menggeser pola penggunaan layanan pos dan telematika. mengingat terbatasnya ketersediaan produksi dalam negeri serta infrastruktur transportasinya. di sisi perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya dukungan prasarana-sarana dasar permukiman yang menunjang sektor industri. Selanjutnya. kawasan pariwisata. terbatasnya pengembangan aplikasi dan konten Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lokal. Oleh sebab itu tantangannya adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik non BBM serta mengembangkan jaringan penyalurannya secara tepat waktu. (2) sulitnya melakukan pembebasan lahan dan upaya mencapai titik temu kompensasi lahan yang terkena dampak pembangunan fasilitas ketenagalistrikan juga menjadi tantangan yang setiap tahun terus berlanjut. Permasalahan dan tantangan yang yang dihadapi dalam rangka pemberantasan korupsi khususnya dalam upaya penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah mengoptimalkan penanganan kasus . dalam tahun 2009 masih harus dihadapi berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang terkait dengan hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat. tingginya ketergantungan kepada teknologi proprietary. dan kurangnya dukungan dari industri dalam negeri. masih belum mengalami perkembangan yang berarti. dan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan dalam mendukung peningkatan daya saing dalam sektor riil. perdagangan. Permasalahan dan tantangan pokok tersebut diantaranya adalah masih perlunya berbagai upaya untuk menekan tindak pidana korupsi. rendahnya e-literasi. keterbatasan ketersediaan pelayanan publik. yaitu dari hanya sebagai alat komunikasi (konsumtif) menjadi pencipta peluang usaha (produktif). MENINDAK DAN MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI. Dari sisi pos dan telekomunikasi. serta masih perlunya penyempurnaan iklim demokrasi. Di samping berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang secara langsung terkait dengan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak mudah karena upaya ini akan dihadapkan pada tantangan tersediri yaitu: (1) sulitnya mencari ketersediaan energi primer yang dibutuhkan seperti batubara dan gas.

Oleh sebab itu. pengadaan barang dan jasa. MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. Masing-masing kementrian/lembaga diharapkan dapat segera menyusun Rencana Aksi Instansi (RAI) PK dan level pemerintah daerah dapat segera ditetapkan Rencana Aksi Daerah (RAD) PK. baik itu yang berada di KPK maupun Kejaksaan. Meskipun Indonesia telah meratifikasi UNCAC (United Nation Convention Against Corruption) melalui Undang-undang No. menyebabkan penanganannyapun memerlukan kerja keras dari aparat penegak hukum. Oleh sebab itu budaya permisif dari masyarakat terhadap perilaku korupsi harus dapat dihilangkan agar fungsi pengawasan dari masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat terlaksana dengan baik. telah dikeluarkan Inpres No. dalam kaitannya . Namun demikian pelaksanaan RAN PK pada ringkat kementrian/lembaga maupun RAD PK pada beberapa daerah belum dilaksanakan secara efektif. terutama untuk beberapa isu yang menjadi perhatian dalam penyusunan RAN PK dan RAD PK seperti perijinan di bidang investasi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesan tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. Pemberantasan korupsi harus mengikutsertakan semua lapisan masyarakat yang ada. serta pajak. 7 Tahun 2006. Oleh karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. namun langkah-langkah tindak lanjut dan ratifikasi tersebut belum dilakukan secara optimal. penyelenggaraan pelayanan system administrasi manunggal satu atap (samsat). Banyaknya praktek korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang. Keadaan inilah yang antara lain menyebabkan adanya kesan tebang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini. perlu ada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan RAN PK baik pada level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya tergantung dalam hal penanganan kasus korupsi oleh aparat penegak hukum saja akan tetapi juga perlu adanya dukungan dari masyarakat luas dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi. Peraturan perundang-undangan untuk mendorong pemberantasan korupsi di Indnonesia masih sangat terbatas dan perlu disempurnakan. pertanahan. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) 2004-2009 sebagai Living Document yang disusun oleh 92 instansi Pemerintah. Oleh sebab itu. Dalam upaya untuk mempercepat pemberantasan korupsi. LSM dan Perguruan Tinggi. MENYEMPURNAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNTUK MENDORONG UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI.korupsi. maka penanganan kasus korupsi dilakukan dengan melalui penentuan prioritas khususnya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. untuk menghindari adanya kesan diskriminasi dalam hal penanganan kasus korupsi maka perlu dilakukan upaya penentuan prioritas kasus yang ditangani dengan lebih akuntabel. Selain itu.

sebagai penjabaran PP No 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM dan Permendagri No. (7) belum meratanya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah yang secara bertahap semakin memantapkan peran institusi birokrasi pemerintah agar mampu berkontribusi dalam mendorong keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional khususnya turut menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bidang lainnya. 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. beberapa peraturan pelaksanaan dalam undang-undang nasional belum lengkap sehingga menyebabkan masih adanya hambatan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberantasan korupsi. dan (8) belum terintegrasinya sistem koneksi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem informasi Kementerian/Lembaga karena masih terbatasnya dukungan . Beberapa permasalahan yang dihadapi di bidang pelayanan publik. (6) masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik untuk pelayanan penduduk perkotaan akibat pesatnya pertambahan penduduk yang harus dilayani. diantaranya: (1) belum selesainya proses pembahasan RUU Pelayanan Publik yang merupakan landasan hukum dan kebijakan pelayanan publik secara lebih komprehensif. (3) belum dikembangkannya secara maksimal sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on line di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). serta Permendagri No. (4) belum efektif dan efisiennya pelayanan publik kepada masyarakat karena belum adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah disahkan. dalam pelaksanaan reformasi birokrasi masih dihadapi berbagai permasalahan yang sekaligus menjadi tantangan yang harus dapat diatasi untuk memantapkan peran institusi pemerintah. perpajakan dan kepabeanan dan pengadaan barang dan jasa publik/pemerintah. Sebagai upaya tindak lanjut keanggotaan Indonesia dalam UNCAC tersebut.dengan perlindungan saksi dan korban dan keterbukaan informasi publik. MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. serta memberikan dukungan pada peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan publik. Namun demikian. maka pemerintah harus melakukan penyesuaian hukum nasional dengan prinsip-prinsip UNCAC. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. (2) masih belum optimalnya pelayanan publik di bidang investasi. (5) masih belum memadainya kompetensi aparat pemerintah di daerah dalam penerapan SPM. Oleh sebab itu upaya untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan harus dapat dilakukan. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya juga menghambat pengembalian aset negara yang dikorupsi.

termasuk membangun Unit Pelayanan Investasi Terpadu di daerah dan mengimplementasikan National Single Window (NSW). (6) melakukan optimalisasi dan perluasan penggunaan teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. belum mempertimbangkan penyempurnaan struktur penggajian secara adil. dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan profesionalisme PNS dan peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. serta mengembangkan sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on-line di daerah. tantangan yang dihadapi pada tahun 2009 adalah (i) menyempurnakan sistem diklat. layak dan berbasis kinerja. (3) UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian perlu disempurnakan sejalan dengan perkembangan kebijakan di bidang penyelenggaraan negara dan tuntutan penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih terpadu. permasalahan yang dihadapi antara lain : (1) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PNS. (4) meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM). transportasi.dana dari pemerintah promosi dan kabupaten/kota dalam penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan masih perlu ditingkatkannya keakuratan atau validitas data kependudukan nasional. tantangan pokok yang dihadapi. Dengan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas. (2) menyempurnakan dan mengembangkan manajemen pelayanan publik khususnya di bidang investasi. khususnya dari sisi kurikulum dan strategi pembelajarannya. Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik. Dalam upaya peningkatan kinerja dan kesejahteraan aparatur negara khususnya PNS. diantaranya adalah: (1) disahkannya UU Pelayanan Publik dan dilanjutkan dengan sosialisasi secara luas kepada masyarakat dan penyusunan peraturan pelaksanaannnya. dalam rangka peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS. (3) menyusun dan menerapkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memantapkan pelaksanaan pendelegasian kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. baik diklat struktural maupun fungsional. (5) meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik melalui penyusunan standar pelayanan perkotaan (SPP). perpajakan dan kepabeanan. (2) kenaikan remunerasi bagi PNS termasuk anggota TNI dan POLRI selama ini masih terbatas pada penambahan penghasilan. MENINGKATAN KINERJA DAN KESEJAHTERAAN PNS. kurikulum dan . dan (7) mengintegrasikan sistem koneksi nomor induk kependudukan antar instansi terkait sebagai basis data pelayanan publik khususnya pelayanan administrasi kependudukan. maka tantangan bagi pemerintah adalah menentukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan terfokus. pengadaan barang dan jasa. Oleh sebab itu. Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan ujung tombak dalam menyediakan pelayanan pada masyarakat yang perlu ditingkatkan kinerja dan kesejahteraannya.

Secara lebih rinci. MENINGKATKAN PENATAAN KELEMBAGAAN. dan (3) mengembangkan sistem pengawasan nasional untuk mensinergikan pengawasan internal. (3) kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah masih ditandai tumpang tindih kewenangan. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara adalah memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah pusat dan daerah. agar lebih efektif dan mendukung fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. yang mencerminkan sistem reward and punishment yang adil. KETATALAKSANAAN DAN PENGAWASAN APARATUR NEGARA. sehingga menimbulkan penilaian publik bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi masih bersifat parsial. Pemantapan demokrasi pada tahun 2009 diperkirakan masih menghadapi sejumlah permasalahan . sehingga berpotensi pada in-efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam hal ini secara terperinci tantangan yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut : (1) menerapkan manajemen berbasis kinerja pada lingkungan instansi pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi. kedudukan dan fungsi. dengan berpedoman pada rencana induk (grand design) reformasi birokrasi dan pedoman-pedoman terkait lainnya. antara lain: (1) pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. Oleh sebab itu. (4) perlunya diupayakannya sinergistas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan instansi pemerintah.pengembangan strategi pembelajaran untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja dan profesionalisme PNS. sejalan dengan adanya kewajiban setiap instansi pemerintah harus memiliki key performance indicator (KPI)/Indikator Kinerja Utama (IKU). tantangan dalam penataan kelembagaan. terbatas dan belum fokus. Di sisi kelembagaan. sebagai pedoman bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme birokrasi pemerintah. beberapa permasalahan yang masih dihadapi di bidang ini. dan pengawasan aparatur negara masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang secara efektif dan efisien. dan masyarakat guna menjamin kualitas dan kinerja penyelenggaraan kepemerintahan. ketatalaksanaan. eksternal. belum didasarkan atas road map atau grand design yang sifatnya komprehensif. layak dan berbasis kinerja. MEMPERKUAT LEMBAGA PENYELENGGARAAN PEMILU DAN MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF MASYARAKAT DALAM PEMILU 2009. (2) masih perlu ditingkatkannya pemahaman aparat pemerintah tentang pelaksanaan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. (ii) mengembangkan sistem remunerasi pegawai negeri sipil termasuk juga bagi TNI dan POLRI. dan (iii) melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian khususnya UU No 43/1999. kinerja program dan individu pegawai. dan (2) mengurangi tumpang tindih fungsi lembaga quasi birokrasi/lembaga non struktural menuju terwujudnya efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi.

ilegal fishing. MEMANTAPKAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. transparansi dan akuntabilitas kelembagaan penyelenggara pemilu perlu diingkatkan agar mampu bekerja secara lebih profesional. yaitu jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat utama (alut) Polri yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi. ilegal logging. bersih dan efisien. Kekurangan jumlah dan ketidaksiapan alutsista TNI dan Alut Polri ini selain berakibat pada melemahnya efek penggentar (deterent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi. Oleh karena itulah kapasitas. bahkan belum mampu memenuhi kekuatan dan gelar minimum essential forces. Di samping itu. Permasalahan dalam mendukung efektifitas pemilu terkait dengan keterbatasan waktu mempersiapkan berbagai proses tahapan akhir penyelenggaraan Pemilu 2009. tantangan bagi pemerintah adalah meningkatkan efektifitas koordinasi antar lembaga untuk memastikan keseluruhan persiapan dukungan Pemilu 2009 dapat dilaksanakan tepat waktu. mengingat waktu yang tersisa menjelang pelaksanaan pemilu cukup terbatas. Di lain pihak tantangan KPU untuk memenuhi jadwal pelaksanaan pemilu dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pemilu juga tidak kecil. serta dukungan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pemilu. Keadaan yang tidak memadai pun terjadi pada alat utama Polri. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PEMILU 2009. . saat ini dihadapkan pada masalah mendasar. Pada Pemilu 2009 partisipasi politik diharapkan makin aktif berdasarkan kesadaran politik warga yang lebih tinggi. tidak berdasarkan mobilisasi kelompok masyarakat. Oleh karena itu. Tantangan lain adalah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung ketersediaan dan distribusi logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. Di satu pihak masyarakat sangat mengharapkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil sehingga dapat mencerminkan secara jernih aspirasi politik rakyat. TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan dan Polri sebagai komponen dasar keamanan dan ketertiban masyarakat. Tindak kejahatan transnasional di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan masih cukup tinggi seperti narkoba. belum tuntasnya penanganan pelaku dan jaringan terorisme yang beroperasi di Indonesia serta belum meredanya aksi-aksi terorisme skala regional maupun global berpeluang meningkatkan aksi-aksi terorisme di dalam negeri terutama dalam menghadapi Pemilu 2009. penyeludupan manusia atau senjata. Kondisi tersebut diperburuk oleh kesiapan alutsista yang secara rata-rata hanya mencapai 45 persen dari yang dimiliki.dan tantangan. juga berakibat pada kapabilitas TNI dan Polri dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat akibat bencana alam. Kemampuan pertahanan nasional belum dapat memberikan efek detterence/penangkal.

Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan.Pengarusutamaan partisipasi masyarakat. apabila kurang disertai oleh kedewasaan sikap politik masyarakat. . mencegah tindak kejahatan lintas negara khususnya di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan yang relatif masih cukup tinggi termasuk mencegah terjadinya demand dan supply narkoba. tema pembangunan pada tahun 2009 adalah: "PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN" Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah ini. Oleh karena itu. Dengan demikian tantangan yang dihadapi untuk memecahkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas adalah: mewujudkan kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala minimum essential force guna mampu menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan termasuk dalam hal memberikan dukungan pencegahan dan penanggulangan terorisme. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. sosial. terdapat 6 (enam) prinsip-prinsip pengarusutamaan menjadi landasan operasional bagi seluruh. tantangan mewujudkan Pemilu tahun 2009 yang berkualitas. Namun hal ini dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap stabilitas keamanan dalam negeri dan jalannya proses Pemilu tahun 2009. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi.Saat ini pemahaman politik masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa Pemilu tahun 2004. meningkatkan upaya penangkapan pelaku utama dan jaringan terorisme di Indonesia. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. aparatur negara. dan mengupayakan pengamanan rangkaian proses pemilu 2009. jujur dan demokratis adalah tercapainya stabilitas umum keamanaan dalam negeri dan terpenuhinya upaya-upaya khusus dalam mengamankan seluruh rangkaian proses pemilu dari masa persiapan. TEMA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TAHUN 2009 DAN PENGARUSUTAMAAN Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008. serta tantangan yang dihadapi tahun 2008. Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat. kampanye. B. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang. dalam lingkungan yang saling menunjang dan terkait. yaitu: . Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif. tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya. Lingkungan hidup yang . proses pemungutan dan perhitungan suara.

legislatif dan yudikatif.Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance). maka diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal . ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.lestari merupakan modal dasir pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. dunia usaha. Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal.Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. . dan kontrol. Penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perobahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait. . . makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten. dan memiliki akses.Pengarusutamaan gender. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar. dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. dan masyarakat. dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi. serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance). Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif. Untuk itu pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan. kesempatan. Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi. Strategi pengarusutamaan gender.

Prioritas pembangunan tahun 2009 ini ditempuh dengan sasaran. dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN. I. dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty). Sejalan dengan itu. REFORMASI BIROKRASI. Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DI DUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating). setengah penganggur. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran. dan lokasi yang dipilih. fasilitas sanitasi.termasuk kawasan perbatasan. serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. dan lain-lain. guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasil-hasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009. maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan.Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah. Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. INFRASTRUKTUR. Mekanisme sistem penyaluran dan dari pengelolaannya akan dilakukan secara transparan. PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2009 Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 -2009. Penetapan kelompok sasaran.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. . C. maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah. DAN ENERGI.Pengarusutamaan padat karya. 2. jenis kegiatan. . kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN . yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. 3. jembatan. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. jumlah. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah. fasilitas air bersih. fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut.

Kesehatan 1. 3. Pendidikan 1. antara penduduk kaya dan penduduk miskin.Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi. (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri. bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca. 5. dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96. 4. dan . sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen. PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan. 5. 4. 2. 2.SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1. meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 98.64 persen.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 69.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 115.00 persen. meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99.Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Ekonomi Usaha Rakyat 1.Meningkatnya pemberdayaan ekonomi. serta meningkatnya kesejahteraan pendidik.57 persen. sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir.Meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan.34 persen.Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan. khususnya masyarakat miskin.76 persen dan 95.00 persen.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5.Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. 2.09 persen.Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat.Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal (K4) menjadi 90 persen. 3.Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara perkotaan dan perdesaan. dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18. antara daerah maju dan daerah tertinggal.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat. serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.00 persen. 2. 3.Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menjadi 87 persen.Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin).

8. 10. 7.Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) menjadi sekitar 30. 13. 14.1 juta peserta. 17.Meningkatnya persentase penderita demam berdarah (DBD) yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.Menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1.Menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi sekitar 2. 12.740 orang dan 300 orang senior residen yang didayagunakan. 4. persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) menjadi 75 persen.cakupan kunjungan neonatus (KN) menjadi 87 persen dan cakupan kunjungan bayi menjadi 87 persen. 20.Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang memenuhi standar mutu menjadi 90 persen.000 desa siaga.Meningkatnya persentase penderita malaria yang ditemukan dan diobati menjadi 100 persen.Terlaksananya pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 97 ribu sampel.Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) menjadi 45 persen.16 per wanita.Meningkatnya angka penemuan Acute Flaccid Paralysis menjadi ≥ 2 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun.Merungkatnya persentase balita yang mendapatkan Vitamin A mencapai 80 persen.Meningkatnya persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) menjadi 98 persen. 15.Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita.Meningkatnya persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi 80 persen. 9. 11. meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi menjadi 75 persen.Meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe menjadi 90 persen.2 persen.Meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70 persen.Tersedianyan dokter spesialis yang dididik sebanyak 1. 3.Meningkatnya persentase penderita flu burung yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen. .Meningkatnya persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan dan mendapat pertolongan Anti Retroviral Treatment (ART) menjadi 100 persen. 5. 18. Keluarga Berencana 1.Tersedianya jumlah tenaga kesehatan dan kader kesehatan di 26.Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di puskesmas dan jaringannya menjadi 100 persen. 19. 6. 2. 16.

0 juta peserta.Optimalnya fungsi tampungan.Menurunnya unmet-need menjadi sekitar 6. Terbangunnya tampungan untuk air baku 3.Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan KS I anggota Usaha Penigkatatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang aktif berusaha menjadi sekitar 1. 4.Meningkatnya keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi 2. pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO).Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan. dan 12. angin. 6. 8. daerah terpencil. melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro. termasuk penyediaan angkutan massal.3.Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai Transportasi 1. 11.Meningkatnya jumlah keluarga remaja yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) menjadi 1. 10. perdesaan. Energi 1.Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan 5.3 juta keluarga Sumber Daya Air 1.Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan.4 persen dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS).9 juta.5 juta.6 persen dari peserta KB aktif. dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. .1 juta. serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional.Meningkatnya peserta KB Pria menjadi sekitar 3.Meningkatnya jumlah keluarga lansia yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi 1.Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi sekitar 21 tahun. pedalaman dan kawasan perbatasan.9 juta peserta.Terlayaninya peserta KB baru dari keluarga miskin Keluarga Pra Sejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS 1) sekitar 2.Terlayaninya peserta KB Baru (PB) sekitar 6. 9. 7.Terbinanya peserta KB aktif miskin (KPS dan KSI) sekitar 12. 5.0 juta. prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 4. surya.Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 2.

Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah. layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO. siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan.Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis.Meningkatnya kapasitas aparatur Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pembangunan kawasan perdesaan. 2. serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan. Kelembagaan Masyarakat dan Pemerintah Desa 1.Ketenagalistrikan 1.: . 2.Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan.Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan didaerahnya.Terfasilitasinya penguatan kelembagaan dan pemantauan unit pengaduan masyarakat. perbaikan rumah. 2. 4. dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh. Pertanahan 1. 3. dan desa eks-transmigrasi. persampahan dan drainage) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat. penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun. fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru.Tertatanya struktur penguasaan tanah yang adil dan mendukung perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan penataan penguasaan. fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya. skala regional dan sistem terpusat.Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2.Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya. Perumahan dan Permukiman 1.Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah masyarakat melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah terutama untuk membuka akses masyarakat miskin terhadap pemilikan sertifikat. desa tradisional. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang berkeadilan dan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah.Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat. serta 3.Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota. desa nelayan. pemilikan. Pos dan Telematika 1.

000 anak.796.4 juta penduduk miskin. dan 5. 1)Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320.25 juta jiwa.500 lanjut usia terlantar. g)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1.922 siswa.086 penyandang cacat di 33 Provinsi. FOKUS.000 jiwa dan Bahan Bangunan Rumah (BRR) 12. n)Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang. 3. d)Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L.000 siswa.3. yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar.000 siswa.000 RTSM di 13 provinsi. 10 provinsi & 50 kab/kota.Meningkatnya kelembagaan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan. 14.200 siswa. m)Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik. e)Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/ Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota. j)Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 387.060 tuna sosial. k)Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 512. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat .320 korban napza. 11.231 mahasiswa.miskin. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat. Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 249.000 siswa. . t)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 998. i)Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540. korban bencana sosial 350. o)Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76. Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 50. b)Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 750. ARAH KEBIJAKAN. c)Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: Fokus 1.078 siswa.000 KK di 33 provinsi.800 siswa.Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin a)Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5. h)Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640.Meningkatnya pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat desa. 4.

embung 200 unit. DRIP IRRIGATION) 6 paket. cetak sawah 25.500 ha.000 ha. Optimalisasi lahan 21. padang pengembalaan 500 ha. serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB. pengembangan dampak SRI 50 unit. peral bun 4.1 juta masyarakat miskin. Pengembangan SRI 50 paket. Balai Subak 20 unit. IDB. t)Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin. MOP/MOW) dan 9. PNPM) dengan target pemberdayaan di 237 kecamatan. s)Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19.000 ha. irr bertekanan 135 unit.000 ha. d)Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target pemberdayaan di 3. pendampingan cetak sawah 25 kab. . Reklamasi lahan 4. pompa hydram 8 unit.000 ha. PISP. Konservasi DAS 15.000 ha.p)Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya. irigasi tanah dangkal 400 unit. q)Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. c)Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE.072 kecamatan. irr tanah dalam 50 unit.886 kecamatan (BLM & T/A). f)Penanganan Rehab dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY & Jateng dengan target terlaksananya Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi Yogyakarta dan Jateng. Irigasi air permukaan 205 unit. b)Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target pemberdayaan di 1.000 ha. kondom). Rumah Tangga Miskin. POST TSUNAMI.000 ha. JUT 470 km. IUD. e)Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota. jalan produksi 300 km. pembukaan lahan kering 2. PHLN (WISMP. pengembangan HMT 3. Konservasi lahan 500 ha.700 PA Miskin (suntik. Sumur resapan 450 unit.589.Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat a)Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2. r)Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916.000 bdg.900 PB Miskin (Implant.500 ha.200 desa.500 ha. g)Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70. JIDES 40. fasilitasi sertifikasi lahan petani 25. PLTB di lahan rawa 500 ha. sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan. NTB-WRMP. pil. TAM 20. Fokus 2. peral horti 3.500 ha. dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi.

dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil. 1. 29. k)Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target penyediaan prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten. 148 kabupaten.044 desa tertinggal di 186 kecamatan.300 keluarga rentan sosial ekonomi.000 desa. i)Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target fasilitasi dan pengembangan PUAP di 10. 12. j)Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal. dan pemberdayaan sosial melalui bantuan modal usaha KUBE.480 kelompok masyarakat. 6.h)Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3). pengembangan LM3 Peternakan 340 klp. Fokus 3. i)Pemberdayaan Ekonomi. l)Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14.000 koperasi. g)Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4.565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. f)Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1. 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2. e)Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1.700 UMI. b)Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target tersedianya pendampingan kepada 3. Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat .850 unit PLTS di 952 desa tertinggal. bantuan sosial ke 1. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil a) Penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). d)Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2. m)Pemberdayaan keluarga. terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi.448 peserta).800 Koperasi/LKM. LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp.300 UMI. fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 101.150 KK komunitas adat terpencil. c)Penyediaan Dana Bergulir Untuk kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Termasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75. 3. h)Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi.800 kader penggerak pembangunan.000 Koperasi/LKM.500 UKM oleh 500 BDS.000 UMi/3.234 KK fakir miskin.

pembukaan ULIB Baru 300 unit.100 ruang. serta pemberdayaan perempuan pesisir /lembaga adat. l)Bantuan Pembangunan MI melalui MEDP (ADB) dengan target 205 MI. Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp.751 siswa. j)Pengembangan Agroindustri Terpadu dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi.pesisir di 100 kab/kota. Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab. penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi. d)Penyediaan Buku Pelajaran SD dengan target 19.142. l)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 2 paket.292 siswa. j)Pembangunan USB SMP dengan target 350 unit. k)Pembangunan RKB SMP dengan target 8.657. k)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan: target 1 paket.900 unit. c)Penyediaan Bas Jenjang Pendidikan Dasar (MI/MTs) dengan target 6. UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp. .142.417 siswa. g)Rehabilitasi Sarana dan Prasarana SMP dengan target 5. i)Pembangunan SD-SMP satu atap dengan target 750 unit.465. m)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket. o)Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal. Fokus 4. e)Penyediaan Buku Pelajaran SMP dengan target 6. berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kab/kota. pengolahan hasil ternak di 15 kab. Pengolahan pakan temak di 15 Kab. b)Melanjutkan Penyediaan BOS SMP untuk 9. BRR) melalui 1. peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi. p)Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan).440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal.751 siswa. n)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD-Nias ex. Pengolahan hasil bun di 40 kab.000 ruang. f)Penyediaan Buku Pelajaran jenjang Pendidikan Dasar (Bos Buku) MI dan MTs dengan target 6.700.130.955 siswa. h)Rehabilitasi ruang kelas MI dan MTs dengan target 1. pengolahan hasil horti di 50 kab.822 siswa.Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang Berkualitas Khususnya Bagi Daerah yang Kinerja Pendidikannya Masih Tertinggal a)Melanjutkan Penyediaan BOS SD unruk 27.

Kebijakan . r)Penyelenggaraan Paket A setara SD dengan target 90. m)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMA (Sekolah) dengan target 1.000 ruang. b)Rehabilitasi Ruang Kelas SMK dengan target 1.000 orang. o)Pembangunan Laboratorium IPA dan Perpustakaan SMP dengan target 3. v)Penyelenggaraan UN SMP dengan target 3.786.854 Siswa. p)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMP dengan target 3. e)Pembangunan USB SMK dengan target 225 lokasi. w)Akreditasi Sekolah Jenjang SD dengan target 32.000 sekolah. Rekayasa Sosial.618. Teknologi Tepat Guna. Foktus 5. j)Pembangunan Perpustakaan. p)Penyelenggaraan UN Jenjang Pendidikan Menengah dengan target 3.200 paket. Laboratorium dan Workshop SMA dengan target 499 PKT. Tinggi.500 ruang.700 PKT.m)Bantuan Pembangunan MTs melalui MEDP (ADB) dengan target 237 MTs. q)Pengembangan bidang keilmuan (Rumah Sakit Pendidikan) PTN dengan target 13 PT. h)Bantuan Pembangunan MA me1alui MEDP (ADB) dengan target 549 unit. t)Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dengan target 84.000 orang.500 sekolah. o)Akreditasi Sekolah jenjang pendidikan Menengah dengan target 5. n)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK [siswa] dengan target 2. Laboratorium dan Workshop SMK dengan target 225 PKT. u)Penyelenggaraan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD dengan target 5.000 paket. g)Pembangunan RKB SMK dengan target 5. l)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMK dengan target 50 PKT. k)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMA dengan target 50 paket. r)Pelaksanaan penelitian di Perguruan Tinggi (yang menghasilkan Patent.693 siswa.396 sekolah. c)Rehabilitasi ruang ke1as MA dengan target 850 unit. d)Pembangunan USB SMA dengan target 50 paket. Dan Non Formal a) Rehabilitasi Ruang Kelas SMA dengan target 970 paket. x)Akreditasi Sekolah Jenjang SMP dengan target 8. i)Pembangunan Perpustakaan.900 sekolah. n)Penyediaan Peralatan Lab SMP dengan target 3.773 siswa.139 siswa.Peningkatan Mutu Dan Relevansi Pendidikan Menengah.750 ruang. q)Pembangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar SD dengan target 6.059.559 siswa.548 sekolah. y)Penyusunan/Pengembangan kurikulum/Bahan ajar/model pembelajaran dengan target 461 Kab/Kota.727. Jurnal Internasional. s)Penyelenggaraan Paket B setara SMP dengan target 410. f) Pembangunan RKB SMA dengan target 1.

790 orang. Metodologi. s)Pengadaan Peralatan Laboratorium PT dengan target 164 paket. t)Pembangunan gedung dan lab baru PT dengan target 175. Fokus 6.465 guru. m)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan . 50.143 orang.000 orang. i)Percepatan Sertifikasi Akademik Bagi Guru dalam jabatan melalui sistem portfolio dengan target 200. u)Pendirian dan Peningkatan Kapasitas Politeknik dengan target 41 politeknik.267 KK.000 ORG.000 ORG. Karya Seni dan Buku Ajar) dengan target 445 Judul.000 eksemplar bahan bacaan. l)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan Dasar) dengan target 341. k)Percepatan Sertifikasi Dosen (PTA) dengan target 2.000 dosen.500 orang dengan rincian lanjutan 1. e)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S1 dengan target 2. Pengadaan 1 perangkat e-library untuk 32 provinsi.000 orang.000 m2. f)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (LN) dengan target 2. z)Perluasan akses dan mutu TK (subsidi TK-SD satu atap) dengan target 596 TK. g)Peningkatan Mutu dan Profesionalisme guru dengan target 11. x)Penyelenggaraan Kursus dan Magang dengan target 200.389 dosen dengan rincian lanjutan 11.000 orang. b)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (menengah) dengan target 10. Merdeka Selatan tahap I. h)Pengembangan Kemitraan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah Untuk Mendukung Wajib Belajar 9 Tahun dengan target 11.500 dosen. c)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (DN) dengan target 17. bb)Bantuan Fasilitasi Perpustakaan Keliling kepada Perpustakaan Umum Kab/Kota dengan target terlaksananya fasilitasi 60 unit perpustakaan keliling di 60 kabupaten/kota. Koleksi dan Layanan Perpustakaan dengan target terlaksananya pembangunan gedung layanan perpustakaan terbuka Jl. y)Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pembangunan Lembaga PAUD dan Penyediaan Bahan Ajar dan Alat Permainan Edukasi dengan target 9. d)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S2 dengan target 2.Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik a)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (dikedas) dengan target 270.000 dosen dan baru 1. aa)Penyediaan Fasilitas. w)Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan (paket C) dengan target 35.000 orang.000 lembaga.389 dosen dan baru 6.0000 dosen.000 orang.900 orang. j)Percepatan Sertifikasi Guru Madrasah dengan target 90. v)Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional dengan target 900.Publik.

dan 20 RS Lapangan di daerah terpencil dan perbatasan.348 orang. 100% HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapat pengobatan. c)Pembiayaan Jaminan Kesehatan dengan target 100% klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. pemberian vitamin A (80%).740 orang dokter spesialis dan dan 340 mitra dokter spesialis.000 kader di desa siaga. o)Tunjangan profesi guru dengan target 307. terlaksananya pelayanan penanggulangan flu burung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI). 80% angka kesembuhan TB dan 95% UCI desa. kunjungan neonatus (KN) 87%. Fokus 7. bayi dan anak balita dengan target penanganan gizi kurang dan gizi buruk (500 ribu anak 6-24 bulan). a)Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak (KIA) dengan target cakupan pelayanan antenatal (K4) 90%. dan cakupan kunjungan bayi 87%.Menengah) dengan target 196. d)Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (penanggulangan Penyakit Menular) dengan target 100% penderita DBD. dan 200 bidan komunitas. q)Tunjangan Profesi Guru (Madrasah) NonPNS dengan target 46. 75 RS rujukan Unit Gawat Darurat (UGD).114 Puskesmas dan jaringannya. b)Penanggulangan Krisis dengan target tertanggulanginya masalah kesehatan di daerah bencana. p)Tunjangan profesi guru menengah dengan target 63.500 dosen. r)Tunjangan profesi dosen dengan target 12. 330 RS Rujukan PONEK. Kekurangan Gizi dan Pemberantasan Penyakit Menular.Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak.Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan a)Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Dasar termasuk biaya operasional dengan target tersedianya biaya operasional di 8.101 orang. Fokus 8.831 orang. b)Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dengan target terlaksananya pendidikan 1. f)Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) desa siaga dengan target terlatihnya 52. n)Tunjangan Fungsional Guru Non PNS RA/MI/MTs/MA dengan target 501. c)Penanganan Masalah Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada ibu hamil dan menyusui.445 orang. pemberian Fe (90%). Malaria.349 orang. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 87%. pencegahan GAKY diukur dengan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium yang cukup (80%). d)Pemenuhan dan Peningkatan Fasilitas Sarana dan Prasarana dengan target tersedianya 4 RS World Class. . 33 RS Rujukan Unit Tranfusi Darah UID). e)Penanggulangan penyakit flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza dengan target 100% penderita flu burung yang ditemukan tertangani. serta terlaksananya pelayanan kesehatan haji.

terlatihnya 29. 11 sarana fisik gedung. Pengawasan obat dan Makanan.580 peserta. Fokus 10. Pengelolaan dan Pelayanan KB Pemerintah dengan target (1) 4. dan vaksin. pengembangan center of exellent di 6 provinsi. b)Pengujian laboratorium Sampel obat. b)Pembentukan. dan (2) terlaksananya sosialisasi dan KIE KRR di 450 Kab/kota dan 33 prov. e)Pendataan Keluarga dan Individu Dalam Keluarga dengan target (1) seluruh desa/kelurahan menggunakan hasil pendataan keluarga sebagai basis/dasar untuk pembinaan pengelolaan operasional program KB lini lapangan. Pemantapan Revitalisasi Program KB a)Peningkatan Jejaring Pelayanan KB Pemerintah dan Swasta/Non Pemerintah dengan target 70. obat program. dan Penyediaan Tenaga Kesehatan a)Penyediaan dan pengolahan obat dan vaksin dengan target penyediaan obat generik esensial (buffer stock). dan terlatihnya 7. 1 juta keluarga menjadi anggota BKL aktif. d)Penguatan Jejaring Operasional Lini Lapangan Yang Berbasis Masyarakat dengan target (1) terselenggaranya pembinaan operasional lini lapangan bagi sekitar 25. Makanan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dengan target 97 ribu sampel. dan (2) terselenggaranya sistem informasi dan monitoring manajemen Program KB Nasional di pusat.Fokus 9. dan 1. serta RS kab/kota terutama di daerah terpencil dan bencana dengan target tersedia dan terlatihnya 12 ribu bidan. 47 ribu kader kesehatan. tugas belajar 2. Pengembangan. dan terciptanya sistem jaminan ketersediaan alat kontrasepsi (JKK) dan pembiayaan program KB terutama bagi rakyat miskin.000 tempat pelayanan KB memberikan promosi dan konseling.3 juta KPS dan KS I anggota UPPKS aktif berusaha. obat haji.Peningkatan Pemanfaatan obat. terselenggaranya pendidikan 44 ribu calon tenaga kesehatan.728 bidan di desa siaga. terselenggaranya 12 jenis diklat. d)Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan.850 kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif dan berkualitas. terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya. obat flu burung. 1.5 juta keluarga menjadi anggota BKB aktif. obat Tradisional. c)Peningkatan Akses Informasi dan Pelayanan Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dengan target (1) 2. Produk Komplemen.871 penggerak KB di desa.500 orang. c)Peningkatan Sarana dan Prasarana termasuk peningkatan kapasitas SDM dengan target tersedianya 35 paket peralatan laboratorium. provinsi dan kabupaten/kota. serta ditempatkannya 300 residen senior. f)Intensifikasi Advokasi dan KIE Program KB Nasional dengan target (1) .1 juta keluarga menjadi anggota BKR aktif. Prov dan Kab/Kota. obat bencana. dan (2) terselenggaranya Advokasi dan KIE Program KBN melalui forum kerjasama LSM dan swasta di Pusat.

b)Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 35 buah. c)Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 20 buah. dan (2) terselengaranya pendidikan jangka panjang/pendek bagi 580 orang. Bidang Sumber Daya Air a)Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 4.Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) A. refreshing dan pelatihan teknis bagi 25. dan pengembangan sarana dan prasarana termasuk melanjutkan sarana dan prasarana di wilayah pemekaran. d)Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 4 buah. terlaksananya peningkatan . B. provinsi dan kabupaten/kota. dan (2) terselenggaranya KIE program KB dan KS melalui media massa dan media luar ruang di pusat. Fokus 11.800 desa/kelurahan. g)Peningkatan Kompetensi Petugas dan Pengelola Program KB dengan target (1) terlaksananya pelatihan dasar umum/LDU. e)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 5 titik. Bidang Energi a)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan.Toga/Toma tingkat desa berpartisipasi dalam kegiatan advokasi di 17. g)Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan di 12 lokasi.871 PLKB/PKB serta pengelola KB agar memenuhi standar kompetensi. h)Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 49 lokasi. f)Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 34 lokasi. i)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km.14 m3/det. h)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pengembangan sistem informasi program KB berbasis IT di Pusat dan 33 Propinsi.

dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh.100 KVA.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos.000 unit. 15 unit PLT bayu berkekuatan 80 KW. terlaksananya pendampingan kegiatan PWS (kerjasama dengan ADB) dan kegiatan pengembangan biogas untuk rumah tangga (kerjasama dengan Belanda). tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor transportasi terwujudnya pengembangan energi terbarukan non listrik di pulau kecil terluar. dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2. Desa Tradisional. Desa Nelayan. dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. dan Desa Eks. jasa akses telekomunikasi di 38. Bidang Ketenagalistrikan a)Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan. terwujudnya peralatan kegiatan produktif desa mandiri energi berbasis BBN dan non BBN. Gardu Distribusi sebanyak 1. C. Desa Nelayan.000 unit c)Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. Belanda dan GTZ).Transmigrasi sebanyak 10. b)Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. terlaksananya program IMIDAP. 74.100 buah/53.806 KW. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.aksesibilitas energi perdesaan kerjasama Indonesia. dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I).150 KMS. E. 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 1. e)Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan . Desa Tradisional.750 KMS. Bidang Pos dan Telematika a)Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2. Desa Tradisional.565 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 5O WP. Desa Tradisional. Desa Nelayan.669 desa. Desa Nelayan. jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2.471 desa dan internet di 500 desa. D.

Bidang Transportasi a)Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 146 km. G. Sulteng. studi masalah . bantuan sosial.sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan. Malut. Sultra. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10. Sulbar. d)Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi. dan Pengembangan dengan target terlaksananya 1 kegiatan swakelola pemantauan dan penanganan dampak deformasi geologi. f)Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek. Sumut. Maluku. Kalteng.750 unit. Penelitian. e)Pemberian Subsidi PSO PT KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi. NTT. Penanggulangan Lumpur Sidoarjo a)Pembangunan Jalan Nasional dengan target terlaksananya relokasi jalan arteri tara Porong sepanjang kurang lebih 7. Papua. g) Pemberian subsidi PT. h)Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan.2 km sebanyak 1 paket jasa konstruksi.2 km terdiri atas 5 paket pekerjaan yaitu: 4 pekerjaan paket jasa konstroksi dan 1 paket jasa konsultasi supervisi/manajemen konstruksi serta pembangunan/pemasangan pipa air bersih sepanjang kurang lebih 7. Sumbar. j)Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target 3. antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah. d)Bantuan Penanggulangan Bencana Alam dan Kerusuhan dengan target terlaksananya 4 kegiatan (pelatihan. i)Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD. Sulut. dan Papua Barat. F. c)Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit. c)Penyelenggaraan. Sulsel. Pelni Rp 850 M. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dengan target Terlaksananya 4 paket pekerjaan yaitu 3 paket jasa konstruksi dan 1 paket jasa konsultan. b)Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52km. g)Penyediaan Salafia dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil/Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil/terpencil di 32 kawasan. Kaltim.200 desa.

serta Pengembangan Sistem Drainase di 4 kab/kota di NAD. Neraca PGT 100 Kab/Kota. meningkatnya akses pelayanan sosial dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di 17 Kabupaten di Prov. dan LED Nias. Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias a)Pembangunan Jalan baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 119. jalan dan parkir. rumah sakit. d)Pembangunan Gedung Pendidikan Tinggi Agama melalui IDB dengan target terselesaikannya rehabilitasi rekonstruksi IAIN Ar-Raniry.000 bidang di Provinsi NAD.000 unit rumah. jembatan 140 m. Transisi Pembangunan Ekonomi. dan Kelembagaan di 6 wilayah. dan pustu. gedung serba guna. b)Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut dengan target: (1) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar. Sosial Kemasyarakatan. pengadaan peralatan dan mebel air untuk sekolah. 25 Kab/Kota. 200 unit sekolah dan infrastruktur publik. rumah operator).000 bidang. Pejarakan. f)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Melanjutkan dengan target terlaksananya Reconstruction of Aceh Land Administration System Project (RALAS) dengan rincian: (1) terlaksananya sertifikasi RALAS 140. serta perbaikan infrastruktur lainnya (cold storage.NAD dan 2 Kab di Nias. g)Peningkatan kehidupan masyarakat dan pengembangan wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Pasca Bencana dengan target Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Kabupaten/Propinsi dan Infrastruktur lainnya. termasuk di dalamnya Redistribusi dan Konsolidasi Tanah dengan target 310. (3) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel di Kuala Langsa di Langsa. Nias-Provinsi Sumut). (4) terlaksananya lanjutan Pembangunan Pelabuhan Calang di Aceh Jaya. H. Inventarisasi P4T 1 juta . EDFF-Aceh. (2) terlaksananya lanjutan Pembangunan pelabuhan Lhokseumawe di Lhokseumawe.sosial. packing room. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan pasar. dan (2) melalui IDB-Simeulue Reconstruction Project untuk perbaikan 15 unit sekolah. dan (2) terlaksananya sertifikasi RALAS 10.8 km di NAD dan Nias. Reformasi Agraria a)Pengaturan Penguasaan.000 bidang di Kep. ruang generator. dan proses verifikasi pembayaran tanah di 3 desa: Kedung-Cangkring. perbaikan jalan 37 km. Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah. sehingga terbangunnya infrastruktur ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. c)Fasilitasi Pembangunan Wilayah Tertinggal dengan target: (1) rehabilitasi dan rekonstruksi Kecamatan di NAD-Nias melalui pembangunan 5. serta Rehabilitasi Fasilitas Terminal untuk Pelabuhan Udara Sultan Iskandar Muda. Fokus 12. e)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah tertinggal (P2KPDT) dengan target melanjutkan Proyek SPADA. Puskesmas Pembantu (pustu) 20 unit. dan Besuki). Pemilikan.

fasilitasi pengembangan lembaga. Penyediaan Air Minum dan Sanimas/Pamsimas (15 Provinsi). 24 kab. Infrastruktur.000 kasus. c)Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dan Masyarakat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan dengan target terlaksananya pilot project pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat di 3 desa. POKMASDAR TIBNAH 408 kelompok.600 perkara.bidang. INFRASTRUKTUR. Bimtek Keuangan (600 Orang). DAN ENERGI SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian. c)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah dengan target 1.065 bidang.710 Bidang (FRONA dan LMPDP sebanyak 1. d)Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan target 2.228. 500. Penataan Sarpras (680 Orang). dan Lampung. aparatur dan kader dalam pembangunan perdesaan berbasis masyarakat. pengkajian 1.419 bidang. dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut. pelatihan pengelolaan sampah RT berbasis masyarakat di 15 kabupaten. Yogyakarta.072 Titik. Orientasi (7 angkatan). Pertanian 8. Pelatihan Masyarakat kerjasama dengan Balai Pemberdayaan Masyarakat Malang. Bintek Administrasi (1.1 persen.065. b)Pengendalian dan Pemberdayaan Kepemilikan Tanah dengan target penertiban tanah terlantar 128 SF.000 Ha. penanganan perkara dan non-perkara 600 kasus.226 bidang.000 bidang). Inventarisasi tanah bekas hak/kritis 120 SP. Pilot Project PDT (17 Desa). II.000 bidang dan RALAS 150. Fasilitasi sosialisasi peraturan (1. fasilitasi penyusunan Perda tentang pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat. Nelayan 2. Transmigrasi 3.320 Orang). Fokus 13.Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12. 3. Kegiatan PISEW/RISE di 9 provinsi.000 Orang). 1.Penguatan Lembaga Masyarakat dan Pemanfaatan Kelembagaan Pemerintah Desa a)Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan dengan target Bimtek (12 angkatan). b)Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan dengan target pengangkatan sekdes menjadi PNS (22. operasi sidik 100 kasus. 2. .Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13. modul pelatihan Sumber Daya Pesisir Beb basis Masyarakat di 33 provinsi.5 persen.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DIDUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. mencakup operasi tuntas 900 kasus.980 Orang).

information kit dalam 5 bahasa (Inggris. 5. b)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16. Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara . FOKUS.4 persen. 6. dan kehutanan sebesar 3. Arab.7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4. koran nasional (bilingual). dan perikanan sebesar 5 persen. peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru.Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara. dan Kendal. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a)Penyederhanaan prosedur. d)Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara. Bab 22. seminar 8 kali di dalam negeri. c)Strategi kebijakan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan target terlaksananya koordinasi perumusan kebijakan yang antara lain dalam bentuk PP Penetapan Wilayah KEK.Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan. Manado. dan Indonesia). peternakan dan hasilnya sebesar 4. dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT. PP Kelembagaan dalam pelaksanaan KEK. Jepang.3. Bab 18.Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6. talk show 3 kali di dalam negeri. Mandarin. f)Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara . publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional. perikanan. 4. Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut EKONOMI-dengan fokus pertumbuhan Fokus 1.0 persen. promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional. e)Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali. g)Modernisasi Administrasi Kepabeanan dan Cukai dengan target . perkebunan sebesar 4.Menurunya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7-8 persen dari angkatan kerja ARAH KEBIJAKAN.Tumbuhnya pertanian. Bab 17.9 persen. Bab 19. PP Fasilitas insentif pengembangan KEK.9 persen.

dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama. g)Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional. Incentives. h)Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan/pemeriksaan/penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan. b)Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri. 5 lap raker. e)Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online). dan multilateral. f)Koordinasi Pelaksanaan Tim National Single Window (NSW) dengan target 5 lap hasil peninjauan lapangan di negara maju. peningkatan kinerja kepabeanan dan cukai. h)Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam. c)Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata. 3 konsep per UU. serta tersusunnya 38 pedoman/manual/peraturan yang melandasi pengawasan.terbentuknya 2 kantor KPU dan penerapan National Single Window (NSW). Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk. serta berdirinya 6 ITPC baru. i)Peningkatan Kegiatan Meeting. 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial. termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. dan terdaftarnya 1000 merek/produk. budaya.Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar a)Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional. Conferences and Exhibitions . 5 rekomendasi rapat. pembangunan dermaga. Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru. 2 lap monitoring. sejarah. terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM. Fokus 2. dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata. d)Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor. pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum.

760 Ha.BTPH. pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi.000 Ha. serta POPT inseminator. Keempat. produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi.000 ha).000 ton (1 juta ha). terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan.000 ton. m)Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi. (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi. Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku. (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi. pembinaan 1000 penangkar (5. tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25. ubi jalar di 100 kab. 90 kab /kota. Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan. (4) kedelai 4. k)Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi. Bongkar Ratoon Tebu 3. kacang hijau. pembangunan Kebun Bibit Tebu 1. (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum. rekrutmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang . Kedua.125 ton (75. (3) jagung hibrida 1. Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi. terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPM. 29 BPSBTPH. (1) Peningkatan produksi.(MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri. (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha). KTG 1. tal. Fokus 3. operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis. b)Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama. perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan. Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi. l)Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1. j)Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia.000 ha). Perluasan Areal Tebu 500 ha. (2) Pengembangan kacang tanah.200 ha. 60 BBI. 90 kab/kota. gandum. terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang). Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional a)Peningkatan Produksi. ubi kayu. Ketiga. (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi.

000 ton.000 ton padi non hibrida.5 juta ton.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48. (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup ketia meliputi 429 kab. Penyakit Hewan. dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton t)Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95. c)Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan. Revitalisasi Silo 18 unit. g)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tanaman Pangan. pasar 300 petugas dan sistem informasi harga/pasar di 110 kab. Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit. menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota. (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi. pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi). (8) kontrak 1. (2) Operasional BPMPT. 201 SD/MI. k)Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2. (7) insentif 3. Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit.500 unit. penguatan kelembagaan pangan di pedesaan. Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari. h)Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan.000 ton dan kedelai 2. jagung komposit 2. bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional. Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan. (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi. Lantai Jemur 138 Kab. m)Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi AL 50 jt ds. (6) pengawasan pestisida di 33 provinsi. pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi. l)Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). ibu hamil. Revitalisasi LDM 10 unit.Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang. 6. Cold Room 24 lokasi.300 THK-POPT. SP-36 sebanyak 700 ribu ton. jagung hibrida 3. NPK sebanyak 1. Gudang pengering padi 139 kab. dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elekttonik). distribusi dan rawan pangan.300 ton kedelai. d)Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi e)Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton.000 ton. Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi.800 ton jagung hibirda dan 12. ZA sebanyak 600 ribu ton. Petugas informasi. . Rehab pasar hewan 15 kab.051 POPT/PHP. j)Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton. pengadaan pangan dan infrastruktur pangan. i)Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam.

Kopi dan Tembakau seluas 10.000 ha. cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis.000 ha. karet 14 provinsi. q)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi. r)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 22. p)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi. Pinang. ha.000 ha. Aren. Pengembangan Komoditi Potensial (Kina. .100.000 ha. (2) Meningkatnya kapasitas 183. stabilisasi harga bahan pokok.000 ha. 8 paket data potensi SBL.300. Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2.935 TCD.000 ha.500 ha. monitoring & evaluasi. mendorong terbangunnya 8 PG baru.000 ton.000 ha. 12 varietas baru ton pangan. lada 6 provinsi. pengembangan teh 300 ha.000 ha. Jambu Mete. o)Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 239. Kelapa rakyat 30. Fokus 4. nilam. Pengembangan komoditi spesifik (gambit. v)Koordinasi. panili) seluas 2. cengkeh 700 ha dan pala 400 ha. Lada 800 ha. b)Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama.000 ha. s)Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 170. Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet. Penguatan Kelembagaan. cuaca dan lingkungan pertanian. u)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 535. Perikanan dan Kehutanan a)Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25. Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang. akar wangi. Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang). n)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 68. 100 Kabupaten/Kota. Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi. Karet. dan sagu) seluas 177 Ha.900 ha. jarak kepyar. Sepeda Motor 181 Unit. 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan. Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529. Kebun IP3. Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi.200 ha.Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi. kopi 15 provinsi.000 ha. wijen. 5 komponen teknologi informasi iklim. areal tanam 275.Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian. 4 paket pengelolaan plasma nutfah. meningkatnya overall recovery di atas 85%. lada 800 ha. Rehab Bangunan UPP 27 unit. 6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan.000 ha. Peremajaan Kelapa Rakyat 8. 4 kandidat padi. jambu mete 7 provinsi dan kelapa 8 provinsi. 25 Kabupaten/Kota. Pengembangan Kako Non Revit. produksi hablur 2. t)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2.

karet. sebanyak 8 unit. ton mas. terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) Pada 33 provinsi. buah tropika dan tanaman hias. 5 galur teroak unggul. metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan. c)Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan. kakao dan karet). Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di .tomat. transgenik. (b) SLPHT 500 unit. rehab RPH.000 kelompok. the. SL-PTT jagung hibrida 5.000 kelompok.000 penyuluh kontrak. terselenggaranya: (a) SL-PTT -Padi 40 ribu kel. terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa & 5. kina. buah tropika. 13 rekayasa alat mektan. 5 paket teknologi pasca panen. (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi. f)Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31. 33 paket teknologi spesifik lokasi. SL-PTT padi hibrida 5. pengujian Mutu Alsintan. kapas. pembangunan RPUSK.000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan. Ketiga. 16 provinsi. (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit. sidik jari DNA 45 ton pangan. kakao. e)Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama. dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit. 18 BPTP penguatan kelembagaan. kelembagaan pasca panen 45 kab. pengelolaan plasma nutfah sayuran. tan serat. kopi. terdidik dan terlatihnya 10. (2) bantuan alat bengkel 250 paket. 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan. tebu di 24 prop. 74 inovasi sistem produksi ton rempah-obat. 24 paket teknologi sistem produksi. terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial. Kedua. SL-PTT kedelai 10. (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit. Keempat. biofarmaka. 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian.600 unit. RPU 30 kabupaten. Kedua. kelapa. (c) SL-Iklim 100 unit. rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit.000 petugas. kentang. 13 rekayasa alat mekamsasi pertaman. petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis. d)Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2. pemuliaan. 5 paket teknologi pasca panen. 30 kabupaten/kota.000 kelompok. 3 paket teknologi pakan ekonomis. terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan. 7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan. 24 paket teknologi sistem produksi sayuran.379 orang penyuluh PNS dan 26. 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan.

000 ha. g)Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi. pemasaran hasil perikanan.71 kabupaten/18 provinsi. pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi. serta sertifikasi 1. pengembangan seaweed center di Lombok. 6 lokasi buffer stock rumput laut. l)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya.. pengawasan.200 Gapoktan. verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi. kakap. berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan. j)Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota. penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi. o)Penguatan dan pengembangan pemasaran da1am negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga .000 Poktan dan 3. dan gurame di 33 Provinsi. m)Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). peningkatan tenaga pendamping teknologi. intensifikasi usaha budidaya perikanan 871. serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi. ikan mas. Sekolah Lapang 50 paket. h)Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi. n)Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/ rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan. peningkatan mutu. pengolahan.500 persil lahan nelayan. serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI). 53 balai benih ikan dan balai benih udang. i)Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan. (2) Pemberdayaan Kel. meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI. 10 klaster industri perikanan. PIP 50 paket. Pembinaan 100.. terbentuknya otorita kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi. k)Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang. lele. introduksi benih unggul. rumput laut. patin. nila. pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan. Tani 50 paket. penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi.

sentra gaharu 800 ha. z)Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota. dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL.. dan HTR seluas 3. operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih. pengembangan 5 UPT. terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum. p)Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuiuhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Ba1ai pelatihan.000 ha. 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi.3 juta ha.000 ha di 25 provinsi. sentra rotan seluas 250 ha.000 ha. t)Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH. sutera alam seluas 160 ha. Pembangunan. x)Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%. terbentuknya 88 POKMASWAS. 50 unit HPH me1aksanakan sistem silvikultur intensif. berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi. sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha. r)Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu. operasional 23 kapal pengawas. HTR dan IUPHHBK. dan terselenggaranya pembinaan eksportir. HTI. dan HTR seluas 300.2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak/ijin dalam bentuk IUPHHK-HA. meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008.000 orang penyuluh. dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU. v)Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI se1uas 1. IUPHHK-HT. diversifikasi produk olahan. dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan . y)Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2. terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor. q)Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan. s)Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory. w)Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400.pemasaran. u)Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300. serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3. tersedianya sarana dan prasarana pengawasan.. terse1enggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi.605 ha di 12 provinsi. aa)Perencanaan.

terlaksananya pengembangan 3 TN dalam rangka DNS. serta terselenggaranya rehabilitasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah. (2) Diterbitkannya sertiftkasi 30 produk pertanian. Pantai Utara Jawa. e)Pengembangan pengelolaan konservasi laut dan perairan dengan target berkembangnya pengelolaan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di 26 lokasi dan 2 UPT konservasi. sosek). h)Rehabilitasi Lahan Kritis dan Prioritas dengan target perencanaan Gerhan seluas 1. Maluku.Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global a)Integrasi Tanaman-Ternak. Organik dan Pertanian Berkelanjutan dengan target: (1) Berkembangnya hortikultura organik di 6 provinsi. d)Peningkatan Pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan TPA/sanitary landfill/sistem regional di 86 kabupaten/kota. (2) 150 unit rumah kompos. (3) terselenggaranya koordinasi dan pengawalan dalam pengembangan pupuk organik di 33 provinsi. mangrove. tersalurkannya bantuan untuk pembuatan pupuk organik di 300 kelompok tani. Kompos. dan NTT). DAS prioritas tahun sebelumnya. Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir.500 ha di 12 provinsi. dan Biogas dengan target: Pertama. Berkembangnya usaha pengolahan kompos dan biogas di 100 kab. Batamas sapi potong/perah 200 klp dan Denplot 30 klp. Operasionalisasi OKKPD. g)Pengelolaan Taman Nasional Model dengan target terwujudnya kelembagaan pengelolaan kolaboratif di 21 taman nasional model. Kedua. penanganan daerah rawan longsor di 15 kab/kota pada 5 provinsi. dan (b) menurunnya hot spot 0-10% dari tahun 2006. Sulawesi. pembinaan mutu 33 provinsi. longsor. NTB. Kakao ternak 4 paket dan Kopi ternak 3 paket. terselenggaranya RHL sebagai pengendali banjir di Jabodetabekjur. Ketiga. f)Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. pengembangan Integrasi Kelapa Sawit Ternak 12 Paket. padang lamun. Fokus 5. b)Pengembangan Pertanian. Bali. j)Pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan target: (a) terlaksananya pencegahan dan pengendalian kebakaran di 10 provinsi rawan 314 daops. c)Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dengan target Terlaksananya kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di 7 wilayah pesisir (pantai Barat Sumatera.target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS. i)Perencanaan dan Pembinaan Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan target terbangunnya sumber benih seluas 1. k)Pengamanan Hutan dengan target operasi pengamanan hutan di 10 . estuari dan teluk dengan target terkelolanya dan terehabilitasinya terumbukarang di 15 kab /kota dan 8 provo serta 16 Kab /kota. OKPO. biofisik.3 juta ha di lahan kritis .

serta pengendalian kerusakan lingkungan daerah berbagai kegiatan. Meteorologi dan Geofisika dengan target terbangunnya sistem data dan informasi meteorologi. o)Pengembangan Sistem Observasi dan Telekomunikasi dengan target terbangunnya sistem observasi dan telekomunikasi serta instrumentasi dan kalibrasi. 3 paket. terciptanya hubungan dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dalam proses penataan ruang. serta reduksi timbunan sampah melalui pelaksanaan 3R (reduce. pemantauan Udara Ambien Kontinyu (AQMS) di 10 kota dan Passive Sampler di 30 kota. m)Pengendalian Kerusakan Lingkungan dengan target meningkatnya kapasitas dalam meningkatkan upaya pengendalian dampak perubahan iklim di pusat dan daerah. serta terlaksananya penghapusan 30 metrik ton BPO di sektor chiller dan metered dose inbealer (MDI). 3 paket. klimatologi. p)Pengembangan Sistem Data dan Informasi Klimatologi. r)Meteorological Early Warning System (MEWS) dengan target terbangunnya sistem peralatan MEWS yang meliputi 2 unit radar cuaca dan ground satelite receiver di 3 takagi. dan perlindungan sumber daya air di 434 kab/kota. pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di 16 kota. di 6 kota besar. penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan 50 % dari kasus yang ditangani Dephut. AWS 33 lokasi dan automatic rain gauge di 11 lokasi serta 1 set sistem komunikasi dan integrasi. n)Penyedian Dana Alokasi Khusus untuk Mendukung Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target tersedianya sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan. recycle). pengendalian pencemaran lingkungan.provinsi. t)Penguatan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang di Pusat dan Daerah dengan target meningkatkan koordinasi penataan ruang dan pemantapan kelembagaan BKTRN dan . dan geofisika. s)Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Koordinasi Penataan Ruang Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang dengan'target tersedianya tenaga yang memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk mengelola penataan ruang di Provinsi dan kab/kota. kualitas udara. q)Pengembangan Penelitian Meteorologi. pengendalian pencemaran air. termasuk pengawasan dan sistem insentif melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH). terutama meningkatnya status ketaatan 650 industri terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. reuse. Klimatologi dan Geofisika dengan target tersusunnya laporan deteksi dan skenario perubahan iklim serta dampaknya di 33 provinsi dan model prakiraan trayektori polutan udara. serta terlaksananya validasi AWS 7 sensor dalam rangka uji model numerik cuaca skala nasional dan provinsi. l)Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target menurunnya beban pencemaran lingkungan dari berbagai sumber pencemaran terkait perubahan iklim.

z)Pengembangan Sistem Manajemen Penanganan Bencana dengan target 7 paket. y)Pemetaan Batas Wilayah dengan target terselenggaranya kajian dan pemetaan Batas Internasional. RTR Pulau. c)Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional. kajian dan pemetaan geopolitik perbatasan nasional. Fokus 6. fasilitasi dan penyediaan peta batas dan wilayah pemerintahan daerah serta kajian penyelesaian konflik batas antar daerah. v)Pembinaan Manajemen Penyelenggaraan Penataan Ruang dengan target terselenggaranya pembinaan manajemen penyelenggaraan penataan ruang dalam rangka mendukung turbinlakwas penataan ruang. b)Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan termasuk revitalisasi industri gula. Data Akuisisi dan Produksi. RTR kab/kota serta terselenggaranya forum lintas pelaku penataan ruang. demarkasi dan pemetaan darat dengan PNG. networking. Kegiatan Konsultan service I. f)Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT g)Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan. u)Operasionalisasi RTR Pulau. regional dan global. dan Malaysia serta pemeliharaan tanda batas negara dan pemetaan etnik perbatasan. w)Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang dengan target tersedianya peta dasar rupabumi 1 :50 K Papua dan Pantai Barat Sumatera. Konsultan Service II Networking. Kajian dan pemetaan batas maritime Indonesia dengan 10 negara tetangga. d)Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan. 80 kabupaten/kota. e)Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi. IGTE dan kerjasama ASEAN. RTRWP. aa)Penanggulangan Pasca Bencana dan Kerusuhan Sosial dengan target 2 paket. RTRWP. Survei. data utilisasi. PMO.BKPRD. x)Pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dengan target dukungan kegiatan JBIC Loan. dokumen submisi klaim LKI diluar 200 nm. RTR Kab/Kota dengan target terselenggaranya operasionalisasi RTRWN. h)Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 .Revitalisasi Industri Manufaktur a)Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten/kota. RDTL. RTRWN.

Fokus 7. h)Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47. d)Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi didaerah-daerah.500 bidang tanah UKM. Fokus 8. 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM.000 orang tenaga kerja terdidik. b)Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50. dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan. f)Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5.000 tenaga kerja.Rancangan SNI. c)Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi. c)Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10. i)Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. kondisi kerja dan syarat kerja.Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif a)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket. d)Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah. i)Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan. k)Penerapan Standardisasi. j)Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru. Akreditasi.000 KUKM. e)Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota .Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja a)Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD). g)Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan. b)Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan. e)Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan target 3 paket kegiatan UMKM inovatif.

serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan. Melalui Peningkatan Kelembagaan. EKONOMI .Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter a)Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target tersusunnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro.di Pulau Jawa.000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi. Peningkatan Informasi. b)Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton). c)Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan permintaan serta harga bahan pokok nasional. . f)Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri. g)Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi. b)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum. j)Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi. Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya infonnasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota. perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar. Fokus 10.Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok a)Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan. 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif. h)Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja. kelembagaan yang efisien dan pruden. d)Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi. Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit. Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi. i)Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500.dengan fokus stabilisasi Fokus 9.

Embung. B. INFRASTRUKTUR DAN ENERGI Fokus 12. embung. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk. Embung.25 km. dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan. Embung. i)Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4. . situ dan bangunan penampung air lainnya. dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak. penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumii Jakarta. j)Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1. f)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 47. g)Penanggulangan Bencana/Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian.Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil A.)Pembangunan Waduk. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 23 waduk.c)Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi.45 km. (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center). d)Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD. 20 embung. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung.37 km. monitoring. situ dan bangunan penampung air lainnya. b)Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan. e)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 237. b)Rehabilitasi Waduk. h)Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit. Bidang Sumber Daya Air a. c)Operasi dan Pemeliharaan Waduk.5 km. Fokus 11. Bidang Energi a)Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas. Pengamanan APBN a)Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan resiko fiskal.

ASEAN SSN.2009. dengan Perda dan Instansi Terkait. Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati.2009. C. Terlaksananya review terhadap implementasi program kerjasama energi dan ketenagalistrikan. c)Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terselenggaranya pertemuan internasional APEC EWG. Bidang Ketenagalistrikan a)Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik. Terwujudnya fasilitasi pertemuan bilateral antara Indonesia dg Belanda. dan evaluasi data ketenagalistrikan.b)Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring. Jepang (JICA) dan Korea (KOICA). . penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU. Terfasilitasinya pelaksanaan pertemuan ACE governing Cauncil. d)Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target monitoring kesiapan dan kecukupan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Indonesia-Belanda.000MW. pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik wilayah PT PLN Batam TA 2009. tersosialisasi perencanaan program pembangunan ketenagalistrikan Lisdes. Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha. ASEM dan EAS. Terwjudnya Fasilitasi pertemuan regional pada forum APEC. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik sistem kalimantan. Distribusi. monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU. serta pembangunan listrik swasta (IPP). PLN. peningkatan efisiensi pengusahaan dan pelayanan tenaga listrik TA. kajian pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik (power wheeling) dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Ikitring dan Pemda. pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. Terfasilitasinya pertemuan SOME-AMEM ke 27. b)Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi. terkoordinasinya pelaksanaan perizinan dengan Pemda. Terwujudnya fasilitasi kegiatan energi dan ketenagalistrikan pada sub sector network dan working group ASEAN. analisa. monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik Wilayah PT Cikarang Listrindo TA. Tersusunnya program kerjasama pengelola pembangkit listrik non komersial. e)Pembangunan Transmisi. terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan. tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali. ACD. Jawa bali dan sumatra. Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distribusi TL. Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. monitoring dan review pelaksanaan aturan jaringan tenaga listrik sit.

pembinaan dan pengawasan tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik kepada masyarakat TA 2009 kepada masyarakat TA 2009. g)Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km. terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10. terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan. j)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan. 175 kV sepanjang 150 km. dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU. tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes. terlaksananya Pembinaan dan Pengembangan Program Ketenagalistrikan. 150 kV sepanjang 1450 km. h)Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat TA 2009.f)Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan. tersusunnya pedoman pengawasan SLO. tersusunnya pedoman kualifikasi standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terfasilitasinya tim keandalan sistem TL. terupdatenya RUKN. Sumbagsel. terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembanguna TL. Jawa Bali dan Nusa Tenggara. Kalimantan dan Sulawesi (peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10. terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang. . termonitornya penanganan daerah krisis TL. gardu induk 18 lokasi. i)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan. k)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi sektor ketenagalistrikan. terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement. Aceh. tersusunnya investasi penyediaan TL. terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan.000 MW. terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL. di w11ayah distribusi Sumatera. terlaksananya sertifikasi baik operasi (SLO) .000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional). tersusunnya pola kebutuhan dan prioritas pembangunan JTM/JTR.

tersusunnya Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (BUJPTL). m)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam Bisnis Tenaga Listrik. data center.l)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terciptanya Lembaga dan Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik dalam negeri yang mampu mendukung kemandirian nasiona1 dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan. tersedianya data dan daftar Badan Usaha Jasa Penunjang Ketenagalistrikan di Indonesia yang dapat diakses masyarakat. fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam usaha penyediaan tenaga listrik. c)Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literary) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan. (5) RUU Cyber Crime. (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik. tersusunnya pedoman pemeriksaan dan pengujian pemanfaatan jaringan Tenaga Listrik untuk kepentingan Telematika. penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK. pemantauan dan verifikasi usulan harga beli tenaga listrik dari IPP. (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi. (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran. Regulasi. D. PLTG. Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos.Bidang Pos Dan Telematika a)Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan. tersusunnya pedoman tentang kriteria dan tata cara penilaian Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri (PDN) pada PLTA. monitoring dan eva1uasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan PKUK. penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional. monitoring dan penghitungan BPP dan TDL-PLN. Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri. dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime. terlaksananya Konvensi Hasil Penyusunan Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik. instalasi) di Kota Jogja. n)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik. internet. koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian listrik ilegal. Keahlian SDM. penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara. penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL. . b)Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan.

Bantul. d)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi. e)Peningkatan Jangkauan. (2) konsep rencana roll out sistem e-learning. (2) penyelenggara Broadband Wireless Access. g)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok.275 unit. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan. E. dan pengintegrasian). (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2. e)Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan. (5) aplikasi sistem early warning. (3) warung masyarakat informasi di 50 lokasi. i)Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan . dan (7) Pemancar televisi dan radio. aplikasi dan infrastruktur open source.0 kemitraan. (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota. Sleman. (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority. dan sistem untuk ICT Training Center di UIN. (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan. h)Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16. Kulon Progo dan Gunung Kidul. (4) gedung ICT Training Center di Jababeka. Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan Jaringan Palapa Ring. instalasi. perangkat lunak. c)Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi. (3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota. (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009.

477 buah. (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok. Sulawesi. j)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok. Delineator 36. e)Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2.360 M. Kalimantan. Cermin Tikungan 108 Bh. Papua dan Papua Barat).736 unit RSH/Rusunami. (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang. F. paku marka 15. sped boat 12 unit.500 M.000 M2 tersebar di : Sumatera. NTT. d)Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73. Kelas III 7 unit. Rambu Lalulintas 29. b)Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket).500 buah.923. k)Penyediaan Kredit Program-KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program-KPRSH dan Rusunami sebanyak 240. Jawa. h)Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat .Lingkungan Permukiman di 218 kawasan. Prasarana BRT 8 Lokasi. (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II. Maluku Utara. f)Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi. Diklat STPI Curug 10 Paket). (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit. (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia. guardrail 106. RPPJ 1200 Bh. bus air 30 unit. dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit. c)Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab. (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit. (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI). Traffic Light 110 Unit. (3) Pembangunan Rating School NAD. (4) Pembangunan Rating School Ambon. warning Light 50 unit. 30 paket alat. (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya. (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia. serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit. Maluku. (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I. Bidang Transportasi a)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong. g)Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket. (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit.500 M. Kelas IV 33 unit. Kelas V 59 unit.

serta terlaksannya Public Ship Finance Program. Pinang. Bitung. (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 -52 Km. Lubukalung-Naras.Kalaban-Pd.Enim-Prabumulih-Tarahan. q)Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) -Mensu: 42 Unit. Tg.Sibusuk. selatan. Lintas Jawa-400 Km. (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya (24 Km). (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai-Cikarang (18 Km). (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok-Pasoso (JICT-KOJA) 2. Ma. n)Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong-Maja-Rangkasbitung (32 Km). Pelsu : 100 unit. (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir-Sidoarjo -18. (2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit).' s)Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan. dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit. Manada dan Bitung . Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav). (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket). Depare (papua). Makassar). m)Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis Gawa dan Sumatera)-(18 Paket). i)Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi. 2 unit karat 750 DWT. pengadaan peralatan SAR 18 unit.1 Km. Benoa.5 Km (1 Paket). p)Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek-Padalarang. (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan. r)Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dan: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT. o)Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket). Batu dan Palaihari (Kalsel). Palembang. (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya-Kutoarjo (76 Km). Tj. k)Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah. 2 unit kapal 350 DWT. Kariangau (Kaltim).PKB). l)Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dan: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket) . t)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut). Ramsu : 123 unit. (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan (17 Km). KRL. j)Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di Lintas. Tg. Semarang-Solo. Dumai. (2) Pembangunan MRT Jakarta. Tlk Bayur. Pontianak. pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP). Telukbayur-Sawahlunto. Sumatera bagian utara. 2 unit kapal 500 DWf. Bandung-Banjar-Kroya.

Jawa. Adpel Jambi. dd)Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : . Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. Manokwari. Tg. w)Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi. sungai 12 lokasi. dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi. Maloy (Kaltim). Dumatubun-Langgur. Lab. Papua dan Papua Barat. Rote. v)Pembangunan Dermaga Sungai. Maluku Utara. Namniwel. Adpel Samarinda. Arar (papua Barat). Kanpel Manggar. Kalimantan. Sulawesi Utara. x)Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi. Sibolga. Jawa. Kalimantan. Kanpel Seba. danau 9 lokasi. Rembang (Jateng). Nusa Tenggara. dan Haliwen). Kalimantan. Muara Bungo dan Waghete baru. Adpel Sampit. Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga. Sulawesi. Ende. Kanpel Paloh/Sekura. Belang-belang (Sulbar). dan Teluk Batang (Kalbar). Adpel Palembang. Buton (Riau). Adpel Kuala Langsa. Nunukan. Naha. 5 dermaga penyeberangan. cc)Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3. Tapang (Sumbar). lbukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi. Kanpel Leok). Sam Ratulangi-Manado. u)Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut. bb)Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425. Adpel Lhok Seumawe. Yani (Malut). y)Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera. Maluku.000 M2 tersebar di : Sumatera. NTT.(Sulut). terpencil dan rawan bencana (11) lokasi di : Rembele. dan Manokwari (papua). Papua dan Papua Barat. Tlk. Maluku Utara. Amuk (Bali). NTT. Garongkong (Sulsel). Enggano. Melongguane. Panajam Pasir (Kaltim). (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin-Makasar Sulawesi Selatan. Sulawesi. Bau-Bau (Sultra) . Seram Bagian Timur. z)Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara). Malarko (Kepri). aa)Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo. Sulawesi. (2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan. 8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau.000 M2 tersebar di : Sumatera. Saumlaki Baru. Tarakan (Kaltim). Papua dan Papua Barat. Maluku. Anggrek (Gorontalo). Jawa. Silangit. Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran). Maluku. Bojanegara (Banten) . Maluku Utara. NTB. Sungai Nyamuk (Kaltim).

NTT. oo)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 2. mm)Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 34. Maluku Utara. hh)Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu.469 km dan 3. Papua dan Papua Barat). ll)Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 8. gg)Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2.000 unit. Fokus 13. ss)Pembangunan Jalan Akses dengan target 11.8 km. ee)Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket. Bitung. Batubara. (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket).685 m.9 km.163 km. nn)Pembangunan Fly-over dengan target 4. b)Pembebasan Lahan. Dan Mineral a)Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan . Fokus 14.Sumatera.701 m. pp)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 335. (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari. uu)Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo-Kertasono sepanjang 12 km.9 km. kk)Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 32. Manado).Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas. ii)Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan. Sulawesi.880. 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur. jj)Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1. Kalimantan.8 km dan 2.834. ff)Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi). c)Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah. (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket) . tt)Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 60.2 m.Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta a)Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan.720 m. qq)Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket.5 km.884 m. rr)Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 63. Jawa.

tersusunnya pedoman persyaratan uji kinerja pada pemanfaatan TL untuk rumah tangga dalam rangka labelisasi tanda hemat energi. d)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional. terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik. c)Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba. Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM a)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN. termonitornya implementasi hasil audit energi. Sulawesi. advokasi hukum. Maluku Utara. perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum. terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi. synopsis geologi WK. b)Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan. perijinan usaha. terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. seismic laut Flores sepanjang 1. tersusunnya standar kompetensi untuk audit energi. Fokus 15. penetapan WKP panas bumi. Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas.Percepatan Diversifikasi Energi. terselenggaranya Bintek energi terbarukan dan konservasi energi.500 km. terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil. Maluku. b)Pengelolaan. pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan Jepang dan Denmark). tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan. tersusunnya kebijakan .harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum. Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang. interpretasi potensi migas di laut Sulawesi. evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah. kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung. pengembangan statistik minerbapabum. terlaksananya forum konsensus standar kompetensi auditor energi. terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi. terbitnya buletin energi hijau. dan Papua untuk CDM. tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan. penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan. tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. c)Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan dearing house energi terbarukan dan konservasi energi. Reklamasi.

pengawasan produksi penjualan. c.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. PERTAHANAN. terselenggaranya pengarusutamaan gender di sektor energi.Meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum termasuk lembaga pemberantasan korupsi.Menurunnya tindak pidana korupsi yang tercermin dari: a. adanya dukungan kompetensi sumber daya manusia aparatur dibidang pelayanan dan penegak hukum.Ditingkatkannya kualitas pelayanan publik. murah dan manusiawi. Reformasi Birokrasi serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. penetapan harga gas bumi. cepat. SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Upaya Anti Korupsi. tersusunnya program pemanfaatan energi. b. peningkatan aksesibilitas energy perdesaan. pengusahaan CBM di daerah Sumatera. yang mencakup antara lain: terselenggaranya pelayanan publik yang tidak diskriminatif. yang antara lain ditandai dengan: a.Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada dasarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik. REFORMASI BIROKRASI. DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. . f)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan. kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai. e)Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi. d. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan.Tumbuhnya ik1im takut korupsi. serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana.Dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah. layak dan berbasis kinerja. g)Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM. III. pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum.energi. pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik. dan diterapkannya teknologi informasi dan komunikasi (e-gov dan e-services). tersusunnya kajian penurunan emisi sektor energi nasional. 2. diterapkannya standar pelayanan minimal (SPM). b. c.Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang.Dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil.Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. perubahan kepemilikan saham.

ARAH KEBIJAKAN. Bab 8. b. supervisi dan koordinasi penanganan TPK 40 kasus di 50 K/L.852 penanganan/penyelidikan kasus intelijen termasuk perkara korupsi. termasuk di dalamnya penanganan perkara korupsi baik yang ditangani oleh pengadilan umum maupun pengadilan Tipikor. 5 Tahun 2004 di sebanyak 660 instansi (pusat dan daerah). 50 perkara penyidikan.Penindakan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi a)Penanganan/Penyelidikan Kasus Intelejen dengan target 1. Bab 6. e. Pengumpulan bahan keterangan 1 paket. serta penyelundupan sumber daya negara. e. dan (2) terlaksananya sosialisasi RAN-PK oleh K/L dan penyusunan RAD-PK oleh . Bab 5. dan aman. 35 perkara eksekusi keputusan inkracht.000 perkara. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. d. yang tercermin dari : a. Bab 10. d)Pelaksanaan Inpres No. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 3. Bab 13.Tertangkapnya pelaku utama aksi-aksi terorisme dan terbongkarnya jaringan utama terorisme di Indonesia secara tuntas.Tercapainya kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala essential force dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pertahanan dan keamanan. dan (3) Penyelidikan dan penyidikan terhadap subyek dan kasus tindak pidanan korupsi.Dilaksanakannya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi-fungsi kepemerintahan. dan Bab 14 Buku II dengan Fokus dan Kegiatan prioritas sebagai berikut : Fokus 1. c. jujur. 4. adil. FOKUS.Menurunnya secara signifikan tindak kejahatan lintas negara di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah perbatasan khususnya illegal fishing. 5 Tahun 2004 (Percepatan Pemberantasan Korupsi) dengan target: (1) tersusunnya laporan pelaksanaan Inpres No. proses pemungutan dan perhitungan suara. dan.Terselenggaranya pengamanan proses pemilu dari masa persiapan.d.Ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan.Terputusnya jaringan demand dan supply penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia baik yang melibatkan jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. Bab 9. (2) penanganan terhadap 1. 3. b)Penindakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan target (1) penyelidikan 55 kasus.Makin menguatnya kemampuan pertahanan dan mantapnya keamanan dalam negeri.967 perkara korupsi. kampanye. 15 orang perlindungan saksi. illegal logging. c)Penanganan Perkara dengan target penanganan terhadap 250.Terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis. 40 perkara penuntutan.

Fokus 2. 99 Cabang Kejaksaan Negeri. .Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan untuk Mendorong Upaya Pemberantasan Korupsi a)Penyusunan Naskah Perundang-undangan dengan target Pembahasan RUU 10 buah.380 aparat pemerintah daerah di 10 propinsi masing-masing 5 kab/kota dalam penerapan SPM di daerah. Fokus 3. Penyusunan 18 Naskah RPP (termasuk peraturan pelaksanaan UU perlindungan sanksi dan korban serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi). dan Dirjen HAM. c)Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM) di daerah dengan target meningkatnya kapasitas 1. Fokus 4. b)Peningkatan/Pengkajian Kapasitas Kelembagaan dengan target tersusunnya 4 dokumen SPM dan Penerapan 2 SPM di 33 provinsi. pengkajian hukum 15 kegiatan. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik a)Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan target (1) tersusunnya RPP untuk UU Pelayanan Publik dan sosialisasi UU Pelayanan Publik dan (2) meningkatnya kualitas pelayanan terpadu Samsat. evaluasi PSU (Fasus. penyusunan UU pengadilan tindak pidana korupsi. Penyusunan 15 Naskah RUU. Rakor di 3 wilayah evaluasi 10 kawasan kumuh perkotaan di 10 provinsi. Fasum) bermasalah di 10 provinsi. b)Penyuluhan Hukum dengan target terlaksananya penyuluhan hukum terutama yang terkait dengan Sosialisasi UU Perlindungan Saksi dan Korban. dan Peraturan pelaksanaan UU Penyitaan Aset. d)Pasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan dengan target terlaksananya fasilitasi standar pelayanan perkotaan di 11 provinsi. penelitian hukum 7 kegiatan. c)Penyuluhan Hukum dan Koordinasi RANHAM dengan target penyelenggaraan penyuluhan hukum pada 33 Kanwil Dephukham. serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi. kerjasama kota kembar (sister city). Kejaksaan di 31 Kejaksaan Tinggi. BPHN.000 orang. dan (3) meningkatnya koordinasi pelaksanaan strategi nasional pemberantasan korupsi yang sejalan dengan KAK' 2003. penyusunan naskah akademik 10 RUU. kerjasama perkotaan bertetangga di 3 kota metropolitan. 361 Kejaksaan Negeri.Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi a)Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana dengan target terlaksananya sosialisasi UU perlindungan saksi dan korban dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi dengan sasaran 45. dan 1 Kejaksaan Agung. untuk pelayanan kepada masyarakat di daerah.Pemda.

Ketatalaksanaan dan Pengawasan Aparatur Negara a) Pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. BKN). (3) tersusunnya Strategi Pembelajaran yang baru. dan (2) tersosialisasikannya Pedoman Implementasi Penerapan Sistem Manajemen Kinerja Instansi Pemerintah. c)Evaluasi Organisasi dan Tata Kerja Unit Departemen/ LPND/Lembaga Non Struktural dengan target tersususnnya RPP tentang Pedoman Penyusunan Kelembagaan Non-struktural (quasi birokrasi) dan basil evaluasi kelembagaan birokrasi (struktural).Peningkatan Kinerja dan Kesejahteraan PNS a)Pengembangan Sistem Pendayagunaan SDM Aparatur Negara dengan target (1) tersusunnya Sistem Diklat Aparatur yang baru. d)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-Undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Sistem Pengawasan Nasional dan RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara . f)Penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait dengan target penataan sistem koneksi NIK dengan sistem informasi departemen/lembaga melalui pembangunan dan pengembangan data warehouse berbasis NIK Nasional. Fokus 5. b)Penyempurnaan sistem manajemen pengelolaan SDM Aparatur sesuai Sistem Karir dan Remunerasi dengan target tersusunnya RPP Sistem Remunerasi PNS berbasis kinerja dan merit. (2) tersusunnya Kurikulum Diklat Aparatur yang baru. Sragen dan Balikpapan) dengan 3 instansi (pemda. c)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Kepegawaian Negara dengan legislatif. g)Pengembangan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) Terpadu dengan target terimplementasinya SAK di 457 kab/kota. Menpan. (2) peraturan tentang pelaksanaan e-government di instansi pemerintah.Penataan Kelembagaan. evaluasi atas pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. (4) tersosialisasikannya sistem diklat aparatur yang baru. b)Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja dengan target (1) tersusunnya rancangan kebijakan Penerapan Sistem Manajemen Kinerja untuk Instansi Pemerintah. Fokus 6. h)Pilot Project Penerapan Identitas Tunggal untuk Pelayanan Publik dengan target terlaksananya ujicoba penerapan identitas tunggal untuk pelayanan publik di 3 lokasi (Jembrana.e)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target tersusunnya. (Survey/Studi kelayakan/Penyusunan Master Plan/DED/SID) dengan target terlaksananya sosialisasi/asistensi/ monitoring. (1) model implementasi e-local government.

kesiapan alutsista TNI AU menjadi 43 persen dari jumlah yang ada saat ini. (2) kesiapan peralatan Polri mencapai 70 persen dari kondisi yang ada saat ini. Fokus 7. d)Fasilitasi lembaga kemasyarakatan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah-daerah dengan target terlaksananya pendidikan politik mengenai kepemiluan oleh 500 ormas di kab/kota (khususnya untuk Pemilu Presiden). 470 KPU kab/kota. b)Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat (penyiapan Modul dan Memulai Voters Education and Information) dengan target (1) terlaksananya sosialisasi informasi pemilu. 6.575 PPK. KPPS. bimbingan teknis. PPLN. (2) terlaksananya seleksi. c)Fasilitasi Pelaksanaan Budaya Politik Demokratis dengan target terlaksananya pendidikan pemilih bagi masyarakat di 5 lokasi di daerah. b)Penyediaan dan distribusi logistik pemilu dengan target tersedianya logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. 611. pendidikan pemilih di dalam dan luar negeri. kesiapan alutsista TNI AD menjadi 38 persen dari jumlah saat ini. (KPU. 77. PPS.780 KPPSLN). dan 1 Kadin di luar negeri. 119 Kantor Perwakilan Luar Negeri.Pemantapan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri a)Peningkatan kemampuan alutsista TNI dan Alut Polri dengan target (1) kesiapan alutsista integratif TNI menjadi 40 persen dari jumlah saat ini.Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan Pemilu 2009 a)Fasilitasi Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2009 dengan target terlaksananya koordinasi setiap tahapan dan jadwal kegiatan Pemilu 2009 (desk Pemilu). dan supervisi untuk PPK. 1. serta bimbingan dan supervisi teknis kepada panitia ad hoc pelaksana pemilu. 120 PPLN.Penguatan Lembaga Penyelenggaraan Pemilu dan Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Pemilu 2009 a)Penguatan Organisasi Penyelenggara Pemilu dan Pilkada dengan target (1) terakreditasinya dan terlaksananya bimbingan teknis bagi pemantau pemilu. Fokus 8.636 KPPS. kesiapan alutsista TNI AL menjadi 41 persen dari jumlah yang ada saat ini.286 PPS. dan KPPSLN untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu Presiden/WK Presiden putaran 1 dan putaran 2. serta tersedianya bahan tercetak dan instrumen bagi lembaga pemantau pemilu dari dalam negeri dan luar negeri. Kegiatan dilakukan di 33 provinsi dan 470 KPU kab/kota. . dan (2) terlaksananya fasilitasi voters information dan fasilitasi pelaksanaan kampanye di 119 kantor perwakilan RI di luar negeri. c)Penguatan sarana dan prasarana pendukung Pelnilu 2009 dengan target tersedianya sarana dan prasarana gedung kantor KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota. 33 KPU provinsi. Fokus 9.Negara dengan legislatif.

terbangunnya stasiun koordinasi keamanan laut.b)Pengembangan industri pertahanan nasional dengan target (1) ditetapkannya sejumlah : peraturan perundangan yang mengatur mekanisme pengembangan industri pertahanan. tepat tempat. (2) terselenggaranya operasi bersama keamanan laut dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia dengan target meningkatnya intensifikasi operasi bersama keamanan laut. penyelenggaraan pentaatan dan penegakan hukum di 5 unit kerja peradilan perikanan dan pengembangan 5 UPT pengawas. pengadaan early warning system. f)Penanggulangan dan pencegahan tindakan terorisme. (3) berkembangnya sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penyelenggaraan operasi terpadu selama 180 hari. serta (2) pemanfaatan fasilitas pemeliharaan dan penyerapan secara signifikan produk industri pertahanan nasional dengan target meningkatnya jumlah dan jenis alutsista TNI dan alut Polri produk industri pertahanan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan. pembentukan 132 kelompok masyarakat pengawas. pembentukan UPT di 6 provinsi. penangkapan dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme melalui peningkatan jumlah penangkapan dan proses hukum tokoh-tokoh kunci terorisme. dengan target (1) meningkatnya kelembagaan Badan Koordinasi Penanganan Terorisme melalui peningkatan koordinasi penanganan tindak kejahatan terorisme. operasionalisasi 21 kapal pengawas. (2) meningkatnya operasional penjagaan dan pengawasan aktivitas aging di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan melalui penjagaan dan pengawasan aktivitas asing di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan. dan (4) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas keamanan dalam rangka pencegahan tindak kejahatan transnasional. (2) meningkatnya upaya pencarian. (3) meningkatnya kerjasama bilateral pengamanan di wilayah-wilayah perbatasan. (3) meningkatnya kerjasama bilateral dan regional dalam hal penanggulangan dan pencegahan aksi-aksi terorisme melalui . dan tepat waktu (real time). (4) penguatan sinkronisasi dan sinergi instansi-instansi pemangku Maritime Surveilance System dengan target tercapainya efektivitas dan efisiensi Maritime Surveilance System diantara instansi-instansi terkait guna mendukung kemampuan dukungan informasi dan data secara lebih akurat. d)Pengamanan batas negara pada sekitar pulau-pulau kecil terluar dan wilayah-wilayah perbatasan dengan target (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas pertahanan dalam rangka pencegahan terjadinya pelanggaran wilayah dan kedaulatan. c)Pengembangan profesionalitas prajurit TNI dan anggota Polri dengan target terpeliharanya kekuatan dan kemampuan prajurit TNI dan anggota Polri. e)Penanggulangan dan pencegahan gangguan keamanan laut dengan target (1) berkembangnya prasarana dan sarana termasuk early warning system dengan pengadaan kapal markas.

(3) terselenggaranya pembangunan jaringan komunikasi sandi negara melalui pembangunan dan pengembangan SDM persandian. Sasaran tahun 2009 tersebut dicapai melalui berbagai kegiatan dan kebijakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang digariskan. (2) mantapnya kesiapan TNI dalam memberikan dukungan pengamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu. (3) meningkatnya pelayanan terapi dan rehabilitasi kepada penyalahguna (korban) narkoba. serta (3) terselenggaranya operasi intelijen untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) di dalam dan luar negeri. dan terorisme. (2) meningkatnya kualitas penegakan hukum di bidang narkoba melalui peningkatan jumlah penyelesaian perkara kejahatan di bidang narkoba. (2) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan. ketertiban. proses pemungutan dan perhitungan suara. konflik. separatisme. BAB III KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2007. separatisme. h)Peningkatan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. dan menanggulangi kriminalitas. (4) terselenggaranya kampanye nasional dan sosialisasi anti narkoba serta tersosialisasinya pencegahan penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia.peningkatan penanganan terorisme yang bersifat lintas negara serta menurunnya potensi aksi terorisme lintas negara. serta teredamnya potensi gangguan keamanan. kriminalitas. . mencegah dan menanggulangi konflik. sasaran-sasaran pokok tahun 2009. dengan target (1) meningkatnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri di bidang narkoba melalui peningkatan koordinasi dan kerjasama serta sinergi antara BNN dan BNP/BNK/BNKot maupun lintas negara dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. meningkatnya kemampuan intelijen Polri. terbangun sistem informasi intelejen pertahanan. perkiraan tahun 2008. g)Penguatan institusi intelijen dan kontra intelijen. percepatan pembangunan jaringan komunikasi sandi nasional. dengan target (1) meningkatnya sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah melalui peningkatan kemampuan lembaga dan SDM intelijen pusat dan daerah. kampanye. i)Pengamanan Pemilu 2009 dengan target (1) mantapnya kesiapan Polri dalam mengamankan proses pemilu dari masa persiapan. ketertiban. serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan. meningkatnya kemampuan intelijen TNI. dan terorisme.

5 persen) didorong oleh investasi yang meningkat.3 persen) menjadi 10. lebih tinggi dari tahun 2006 (5.8 persen (y-o-y).4 juta orang (8. kemampuan ekspor barang dan jasa yang terjaga.140 per dolar AS atau menguat 0. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Momentum pertumbuhan terns berlanjut pada triwulan 1/2008. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. sejak paruh kedua tahun 2007. stabilitas ekonomi tetap terjaga dari tekanan eksternal yang meningkat. Dalam tahun 2007. ekonomi tumbuh 6.1 juta dibandingkan Maret 2006.0 persen dan 13.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. ekonomi tumbuh 6. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto meningkat dua digit serta konsumsi masyarakat tumbuh lebih dari 5 persen.6 persen) atau berkurang 2.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10.5 persen.8 persen menjadi 6.1 juta orang (16. kualitas pertumbuhan ekonomi membaik.1 persen).5 persen). Dalam Agustus 2006-Agustus 2007 tercipta lapangan kerja baru bagi 4. Pertama. Dalam keseluruhan tahun 2007. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 24. Keempat. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 15. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya.3 persen dibandingkan . serta daya beli masyarakat yang semakin baik.4 persen. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga pada triwulan 1/2008 menurunkan lebih lanjut pengangguran terbuka. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi.9 juta orang (10. Dengan memperhitungkan resiko gejolak ekstemal yang cukup besar. Kedua. Pada bulan Maret 2007. Dalam tahun 2008.KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Kondisi ekonomi makro tahun 2007 dan perkiraannya tahun 2008 dapat diringkas sebagai berikut. momentum pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2007 dan triwulan 1/2008 tetap terjaga. Dalam bulan Februari 2008.3 persen. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37.0 juta orang (9.A. rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.5 persen (y-o-y). Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin ditingkatkan pada tahun 2008. Dalam triwulan 1/2008.0 persen. Sejak triwulan 111/2007. Pada triwulan 1/2008. Ketiga. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008. Dalam keseluruhan tahun 2007.

000 sempat merosot menjadi di bawah 12.2 persen. Pada bulan April 2008. Dalam kaitan itu. harga komoditi dunia yang meningkat memberi tekanan yang cukup besar terhadap inflasi di dalam negeri.2 persen pada triwulan 1/2008. stabilitas keuangan dunia mengalami gejolak dipicu oleh krisis subprime mortgage AS. Dalam rangka mengurangi meluasnya dampak krisis subprime mortgage tersebut. Dalam bulan Juli 2007.9 miliar. ekonomi AS tumbuh 2. Pada triwulan 1/2008.000 dalam bulan Januari dan Maret 2008 dalam penutupan hariannya. serta cadangan devisa meningkat menjadi USD 56. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 9. laju inflasi keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. Indeks saham Dow Jones yang sebelumnya mencapai lebih dari 14. bantuan likuiditas sekitar USD 30 miliar diberikan untuk menyelamatkan Bear Sterns dari kerugian yang dialami. relatif sama dengan tahun 2006.5 persen (yo-y) dengan kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga yang melambat serta penurunan investasi residensial yang makin pesat. suku bunga Fed Funds diturunkan secara bertahap dari 5. Rendahnya kualitas kredit perumahan di AS telah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi AS.6 persen.6 persen. Ekonomi Asia tetap sebagai penggerak ekonomi dunia dengan tumbuh sekitar 9.3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. Penurunan indeks saham tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap indeks saham di berbagai negara.6 persen. lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang tumbuh 3. ekonomi AS tumbuh 2. Terakhir.5 persen per tahun. kebijakan ekonomi AS diarahkan pada dua langkah pokok yaitu mengamankan sektor keuangan termasuk perbankan dengan penurunan suku bunga serta memberi stimulus fiskal dalam rangka mendorong ekonomi.tahun sebelumnya. bank sentral AS dan beberapa bank sentral di negara maju menempuh langkah pengamanan baik melalui bantuan likuiditas dan penurunan suku bunga.0 persen.25 persen pada bulan . Dalam keseluruhan tahun 2007. ekonomi dunia tumbuh 4. ekonomi dunia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya. Runtuhnya pasar sub-prime mortgage di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2007 telah menimbulkan gejolak yang luas terhadap pasar modal global.9 persen. atau bertambah USD 14. Untuk mencegah ekonomi AS dari kemungkinan resesi pada tahun 2008. krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan dunia. sedangkan negara-negara maju hanya tumbuh 2. Ketiga resiko eksternal tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008. sedikit lebih rendah dari tahun 2006 (5.0 persen). laju inflasi terjaga sebesar 6. investasi residensial di AS terus tumbuh negatif hingga menurun menjadi 21. serta melambatnya ekonomi AS. EKONOMI DUNIA Dalam keseluruhan tahun 2007. Sejak triwulan II/2006. Dalam semester II/2007. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi sejak tahun 2004 meningkatkan permintaan terhadap komoditi dunia termasuk energi. atau menguat 0. Dalam keseluruhan tahun 2008.00 persen pada akhir bulan April 2008 dan stimulus fiskal sebesar USD 162 miliar diberikan untuk menopang konsumsi masyarakat. Dalam bulan Juli 2007 hingga akhir tahun 2007.3 persen dibandingkan tahun 2006. Indeks harga komoditi dunia pada bulan April 2008 meningkat 46. Dalam bulan Mei 2007 terjadi penguatan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh arus modal jangka pendek dalam bentuk investasi portfolio. harga minyak mentah WTI diperkirakan sekitar USD 110 per barel (EIA. DAN PASAR MODAL. serta pengamanan sektor keuangan di dalam negeri.Agustus 2007 hingga menjadi 2.140.000-Rp 9. MONETER.200 per dolar AS.0 per barel. stabilitas ekonomi dapat dijaga. terutama minyak mentah. rata-rata harian nilai tukar rupiah relatif stabil pada rentang Rp 9. Langkah-langkah untuk mengamankan sektor keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan penurunan suku bunga Fed Funds yang terus berlanjut.5 persen (IMF.200 per USD dan dalam keseluruhan tahun 2007. nilai tukar rupiah berfluktuasi oleh pengaruh rambatan krisis subprime mortgage di AS. Ketiga gejolak eksternal tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008.7 persen. PERBANKAN. World Economic Oudook. Kenaikan harga komoditi yang tinggi ini telah memberi tekanan inflasi global yang tinggi bagi semua negara. Mei 2008].8 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y) [IMF.7 per barel dan dalam paruh pertama bulan Mei 2008 mencapai USD 122. Sampai dengan lima bulan pertama tahun 2007. Nilai tukar rupiah kembali stabil pada rentang Rp 9.000-Rp 9. mampu menjaga kembali stabilitas nilai tukar rupiah. Poll of the Forecaster memperkirakan ekonomi AS dalam keseluruhan tahun 2008 tumbuh 1. lebih lambat dari tahun 2007 (4. Dalam rangka mengendalikan tekanan inflasi ini. Dalam tahun 2008 ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3.9 persen) dengan ekonomi AS yang hanya tumbuh 0. Mei 2008). Tekanan eksternal berupa tingginya harga komoditi dunia dan meluasnya dampak krisis subprime mortgage di AS berpengaruh pada stabilitas ekonomi di dalam negeri.1 persen (The Economist. Harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya secara bertahap meningkat. Mei 2008). dan memberi tekanan spekulasi yang besar terhadap peningkatan harga komoditi dunia. . Rata-rata harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga empat bulan pertama tahun 2008 mencapai USD 101.per dolar AS. primary commodity price.. Krisis subprime mortgage dan melemahnya nilai tukar dolar AS mengakibatkan likuiditas global yang berlebih beralih pada pasar komoditi. program stabilisasi harga kebutuhan pokok. kebijakan moneter pada banyak negara mulai beralih ke arah yang ketat dengan menaikkan suku bunga. April 2008). Dengan kebijakan moneter yang berhati-hati. rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.

Sampai pertengahan tahun 2007 laju inflasi terkendali dan dapat ditekan menjadi 5. harga keempat komoditi tersebut meningkat berturut-turut 120. Meningkatnya tekanan inflasi sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna memandu penurunan ekspektasi inflasi.0 persen. kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing menurun menjadi 13. suku bunga kredit modal kerja.0 .2 persen.8 persen (y-o-y) pada bulan Juni 2007. 73. 13.6 persen.1 triliun. Suku bunga deposito dan kredit mcngikuti suku bunga acuan. Kenaikan ini terus berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2008.2 persen. Dalam keseluruhan tahun 2008.1 persen.4 persen. penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 995.9 persen.7 persen pada bulan Desembcr 2006. Meningkatnya harga komoditi dunia sejak pertengahan tahun 2007 mendorong kembali laju inflasi. dan 77.0 persen dan laju inflasi setahun (y-o-y) meningkat menjadi 9. Dalam tahun 2007. termasuk minyak mentah dunia. kedelai. 15. dan beras di pasar dunia meningkat berturut-turut sebesar 80.75 persen pada akhir tahun 2006 menjadi 8. Pada bulan Desember 2007.6 persen pada bulan Desember 2006.25 persen.1 persen dari 15.8 persen (y-o-y). relatif sama dengan tahun 2006.0 persen. suku bunga deposito 1 dan 3 bulan menurun menjadi 7.1 persen. Penurunan suku bunga kredit berjalan lebih lambat.1 persen (IMF commodity price).9 persen. Pada bulan Desember 2007. 9. laju inflasi tahun 2007 dapat dijaga sebesar 6. dan 22. minyak kelapa sawit. Pada bulan Desember 2007. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan laju inflasi yang terkendali dalam tahun 2007 memberi ruang bagi penurunan suku bunga di dalam negeri. dan minyak kelapa sawit melunak. 79. harga gandum. Secara bertahap suku bunga acuan (B1 rate) diturunkan sebesar 175 bps dari 9.300 per USD. harga gandum dan gandum.Dalam empat bulan pertama tahun 2008.00 persen sampai bulan April 2008 mulai ditingkatkan pada bulan Mei 2008 menjadi 8.00 persen pada bulan Desember 2007. Dalam tekanan resiko eksternal yang meningkat sejak semester II/2007. laju inflasi tahun kalender (y-t-d) mencapai 4. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati.4 persen dari 9. 67. sedangkan harga beras meningkat tinggi.0 persen dan 9. bertambah Rp 208. Dalam bulan April 2008. dan 17. dan 16. harga komoditi dunia.0 persen. laju inflasi dalam keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp 9. kedelai.0 persen. Suku bunga acuan yang tetap dipertahankan 8. 102. diperkirakan tetap tinggi.000-Rp 9. Meningkatnya harga komoditi dunia pada empat bulan pertama tahun 2008 memberi tekanan bagi inflasi di dalam negeri. Dalam bulan April 2008.2 persen dan 7. rata-rata harian nilai tukar rupiah sebesar Rp. Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong penyaluran kredit perbankan. Dalam bulan April 2008.2 persen (y-o-y). indeks harga komoditi pangan dunia meningkat sebesar 27. Dalam tahun 2007. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil hingga semester 1/2007 berperan dalam menjaga laju inflasi.

Indeks Harga Saham Gabungan di BEI pada akhir tahun 2007 mencapai 2. Pada bulan Desember 2007. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) menembus angka 2. Membaiknya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat meningkatkan kebutuhan impor.triliun atau meningkat 26.029. Selanjutnya dalam bulan Maret 2008. Langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi menguatkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal.DR) pada bulan Februari 2008 mencapai 67. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 8. Dalam bulan Maret 2008.8 atau meningkat 52.O persen. IHSG di BEI mencapai 2.7 miliar. NERACA PEMBAYARAN.2 miliar. dan 24. NPL menurun menjadi Rp 38.9 persen. investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 1. Dalam tahun 2007. Dalam pada itu. modal kerja.5 persen.4 miliar.4 persen. Pada akhir bulan April 2008.1 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. NPL menurun menjadi Rp 40. atau naik 14.6 miliar). Kenaikan kredit relatif berimbang antara kredit invetasi. loan-to-deposit ratio (I.2 miliar). Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 dan meningkatnya harga komoditi dunia ikut berperan dalam mendorong penerimaan ekspor nasional. Pada tahun 2007. posisi kredit perbankan mencapai Rp 1. Perkembangan ini terus berlanjut hingga triwulan 1/2008. relatif sama dengan tahun 2006 (USD 10. atau berkurang Rp 7.9 miliar.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.7 pada akhir bulan Juli 2007. perkembangan pasar modal global yang dinamis. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. 28. triliun atau meningkat 29. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang meningkat menjadi USD 22.1 persen dibandingkan akhir Desember 2007. gejolak bursa saham global masih berlanjut dan berdampak pada pasar modal di dalam negeri. Secara keseluruhan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih baik didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang kuat.5 triliun dan bulan Desember 2006.0 triliun.5 atau turun 16. atau naik 15. Gejolak bursa saham global berpengaruh terhadap Bursa Efek Indonesia.3 persen. didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 6. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 16.0 miliar. total penerimaan ekspor mencapai USD 118. Dengan perkembangan ini.5 persen dan 14.7 persen). dan ekspektasi yang baik.304. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2007 mencapai sekitar USD 10. Arus masuk investasi portfolio yang meningkat hingga semester 1/2007 . Stabilitas ekonomi yang terjaga.745. lebih rendah dan tahun 2006 (USD 2. dan konsumsi dengan peningkatan berturut-turut 23.6 persen. Meningkatnya penyaluran kredit perbankan diiringi oleh menurunnya non-peifonning loan.000 pada bulan Mei 2007 dan terus meningkat hingga mencapai 2.2.3 triliun (3. impor meningkat menjadi USD 84.4 persen dan 15. terhadap ekonomi dalam negeri telah mendorong kinerja bursa saham.4 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2006.348.5 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y).7 miliar.0 persen dibandingkan tahun 2006.

5 miliar dengan meningkatnya iklim investasi di dalam negeri. surplus neraca ttansaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 11.0 miliar. memenuhi pembayaran utang baik dalam maupun luar negeri.2 triliun atau naik 13. melindungi hajat hidup masyarakat dalam bentuk subsidi yang lebih terarah. kenaikan harga komoditi. Belanja negara yang terdiri dari belanja pcmerintah pusat dan belanja ke daerah meningkat menjadi Rp 757.5 persen dan ekspor migas meningkat sebesar 38.9 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 5. Dengan perkiraan tersebut.9 miliar atau 19.1 miliar. didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat sebesar 12.1 miliar.2 miliar. Kebijakan belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk belanja pegawai dan barang. investasi porto folio neto mencapai USD 7. kondisi neraca pembayaran diperkirakan tetap terjaga dari perlambatan pertumbuhan dunia. kebijakan fiskal diarahkan untuk memberi dorongan pada perekonomian dengan tetap menjaga terkendalinya defisit anggaran. KEUANGAN NEGARA.8 persen.8 miliar. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2007 mengalami surplus USD 3. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2007 mengalami defisit sebesar USD 5.9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 didorong oleh impor nonmigas dan migas yang masing-masing meningkat sebesar 16. Adapun kebijakan belanja ke daerah diarahkan untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan membiayai kegiatan-kegiatan khusus yang .0 persen 33. lebih tinggi dari tahun 2007. Neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan terjaga dengan meningkatnya investasi jangka panjang. dan obligasi internasional.9 persen. neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.3 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 56. naik 17. Investasi portfolio pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus USD 4. Secara keseluruhan tahun 2007.0 miliar dengan investasi porto folio yang masuk sebesar USD 10.6 miliar. SBT.5 miliar atau cukup untuk memenuhi kebutuhan 6. Pada tahun 2008. Dalam keseluruhan tahun 2008.6 miliar dengan upaya mengurangi penerbitan SUN. serta menurunnya defisit investasi lainnya. Total nilai ekspor pada tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 139. Sedangkan investasi lainnya mengalami defisit USD 7.0 persen.5 persen dibandingkan tahun 2006. terjaganya investasi jangka pendek. Pengeluaran impor diperkirakan mencapai USD 101. cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 68.0 bulan impor.8 bulan impor. Dengan defisit jasa-jasa yang meningkat menjadi USD 25.9 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 5.kemudian melambat oleh rambatan gejolak subprime mortgage sejak bulan Agustus 2007 yang berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) pada semester II/2007. serta dampak lanjutan subprime mortgage. mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan infrastruktur dasar. Dalam tahun 2007. Investasi langsung aging (neto) diperkirakan mencapai surplus USD 2.4 miliar.

(iii) paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan dunia.3 persen PDB.0 triliun atau 20. Adapun penerimaan bukan pajak turun sebesar 5. (3) penghematan dan penajaman prioritas belanja K/L. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp 895. Berbagai upaya untuk menjaga ketahanan dan kesinambungan fiskal dalam rangka pengamanan APBN Tahun 2008 dilakukan antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara yang bersumber dari sektor perpajakan. (iv) dilakukannya pemotongan terhadap anggaran belanja Kementerian/Lembaga sebesar rata-rata 10 persen. APBN Tahun 2008 mendapat tekanan yang sangat berat baik internal maupun eksternal.2 persen terutama didorong oleh pajak dalam negeri yang meningkat 18. Sesuai dengan APBN-P Tahun 2008. Beratnya tekanan eksternal dan internal tersebut diatas. naiknya harga minyak mentah di pasar dunia dan harga komoditas pangan dunia. penurunan lifting minyak bumi menjadi 927 ribu barel per hari atau lebih rendah 107 ribu barel per hari dibandingkan target APBN 2008 (1. mendorong untuk dilakukannya perubahan dalam APBN tahun 2008. serta (9) penambahan subsidi pangan. kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk memberi stimulus kepada perekonomian dengan menjaga ketahanan fiskal. (7) penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program. melemahnya mulai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Apabila dana cadangan tcrsebut tidak mencukupi. lebih tinggi Rp . Pemerintah diberi keleluasaan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan APBN lebih lanjut. penerimaan pajak meningkat menjadi Rp 491.8 triliun atau naik 20.3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga ke USD 100 per barel dan volume konsumsi BBM bersubsidi. maupun dividen BUMN. Pada tahun 2008. (6) pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang. Perubahan tersebut diantaranya: (i) perubahan asumsi dasar untuk memberikan sinyal yang tepat kepada publik. Pada tahun 2007. Penerimaan negara diarahkan terutama untuk menggali sumber penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak. (v) penyewaan dana cadangan sebesar Rp 8. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai akibat dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat. (4) perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik. Dengan perkembangan ini.3 persen terutama didorong oleh rendahnya lifting minyak bumi dibandingkan target APBN-P.9 persen. (8) pengurangan beban pajak dan bea masuk atas komoditas pangan strategis. PNBP.merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.8 triliun atau 1. defisit anggaran pada tahun 2007 dapat dijaga sebesar Rp 48. (2) penggunaan dana cadangan APBN (contingency policy measure). menuntut dilakukannya perubahan APBN Tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam bulan April 2008.034 ribu barel perhari). (ii) sejalan dengan perubahan asumsi dasar tersebut mendorong perubahan besaran APBN.0 persen PDB. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. (5) peningkatan efisiensi di Pertamina dan PLN.

Tingginya harga minyak mentah dunia tersebut dan adanya perbedaan harga BBM dalam negeri dengan luar negen yang semakin tinggi berpotensi memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. mendorong peningkatan defisit anggaran dalam APBN-P Tahun 2008 sebesar 0. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 35.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3.8 triliun. Sementara itu. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam serta peningkatan dividen BUMN.020. Selanjutnya stok utang pemerintah diperkirakan sebesar 32-34 persen PDB.5 triliun atau 22.4 persen PDB. meningkat Rp 136. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh dua digit dibandingkan semester II/2006.4 persen PDB atau meningkat dan 1.1 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 42. gambaran penerimaan negara dan hibah pada tahun 2008 diperkirakan menjadi Rp 937.1 persen PDB. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong .5 triliun atau 139. Stabilitas ekonomi yang membaik dan gejolak tahun 2005 serta langkah-langkah yang ditempuh untuk mendorong kegiatan ekonomi mampu memulihkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi.6 triliun. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. Sejak semester II/2007.8 persen PDB. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. Sementara itu. belanja negara diperkirakan sebesar Rp 1. serta melindungi masyarakat miskin. Dari sisi permintaan.9 triliun atau 2.5 persen).0 persen. Dengan kecenderungan harga minyak mentah yang tinggi tersebut.6 triliun dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 781. Dan sisi produksi.7 persen PDB menjadi 2. Sementara itu.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5.2 persen PDB.113.4 persen dari alokasi belanja subsidi yang ditetapkan dalam APBN 2008 yang sebesar Rp 97.4 triliun atau 17.1 persen PDB. Keadaan ini akan meningkatkan beban subsidi energi yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan defisit anggaran. konsultasi masyarakat tumbuh sebesar 5.2 persen dan 8. Perkembangan penerimaan dan belanja negara diatas. Peningkatan anggaran belanja yang cukup signifikan tersebut terutama disebabkan oleh beban belanja subsidi yang mencapai Rp 234. PERTUMBUHAN EKONOMI. harga minyak mentah di pasaran internasional terus mengalami kenaikan dan mencapai tingkat lebih dan USD 120 per barel pada paroh pertama bulan Mei 2008. Dengan demikian. Setelah diundangkannya Undang-undang APBN Perubahan tahun 2008. belanja negara diperkirakan mencapai Rp 989.7 triliun atau 19.4 triliun atau 5.1 triliun (21.2 triliun.8 triliun (20.1 persen PDB. lebih tinggi Rp 134. Dengan berbagai langkah tersebut.9 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 30.9 persen. defisit APBN pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1.2 persen PDB. Pemerintah telah menyusun rencana pengamanan pelaksanaan APBN-P 2008 untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.8 triliun dibandingkan dengan anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 854.

3 persen (y-o-y).4 persen. Dari sisi pengeluaran. Dan sisi produksi.3 persen) menjadi 10.oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5.5 persen. dan 8.0 persen. 7.0 persen. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN.0 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5.4 persen yang kemudian disesuaikan lagi rnenjadi 6.6 persen serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh negatif 2. perdagangan. real estat. Adapun sektor industri pengolahan terutama nonmigas tumbuh 4.9 juta orang (10.5 persen dan 2. pengangguran terbuka menurun menjadi 9.4 juta orang (8. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.2 persen. dan restoran. dan air bersih. Kegiatan ekonomi yang didukung oleh langkah-langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat diperkirakan meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar 4. pertumbuhan ekonomi triwulan 1/2008 terutama didorong oleh pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 13. keuangan.9 persen. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. pertumbuhan ekonomi akan digerakan oleh industri pengolahan nonmigas yang diperkirakan tumbuh 5.8 persen menjadi 6. serta sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2. listrik. dan perlambatan ekonomi AS menuntut perubahan sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 6.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi.9 persen. sektor pertanian yang meningkat 3. dan jasa perusahaan. gas dan air bersih. investasi serta ekspor barang dan jasa tetap didorong sebagai penggerak perekonomian dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11.3 persen dan 15. Dari sisi produksi. 7. Dalam triwulan 1/2008.5 persen seiring dengan perbaikan ik1im investasi dan meningkatnya ekspor. 10.0 persen (y-o-y).5 persen.4 persen. Tekanan ekternal yang berat berupa harga komoditi termasuk minyak mentah yang meningkat tinggi.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. serta 5.3 persen (y-o-y). pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor pertanian dan sektor tersier yang tumbuh 6.5 persen. masih berlanjutnya pengaruh lanjutan dari subprime mortgage. 13. 6. gas.4 persen dan 10.2 juta jiwa (Maret 2007) ditingkatkan pada tahun 2008.6 persen.5 persen).7 persen dan 4. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin yang masih berjumlah 37. Sementara itu impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 13.5 persen (y-o-y). Dalam bulan Februari 2008.7 persen.0 juta orang (9. hotel.7 persen. Dan sisi permintaan. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. Dalam bulan Agustus 2006 hingga Agustus 2007 telah tercipta lapangan kerja bagi 4.4 persen. konstruksi. momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 6.0 persen dan 9.0 persen. pengangkutan dan telekomunikasi. . Momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga pada tahun 2007 telah menciptakan lapangan kerja yang cukup besar dan sekaligus menurunkan pengangguran terbuka. serta konsttuksi yang masing-masing tumbuh sebesar 14.1 persen).0 persen.

5 persen). LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL TAHUN 2009 Kondisi ekonomi tahun 2009 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang diperkirakan lebih baik dari tahun 2008. Volume perdagangan dunia pada tahun 2009 diperkirakan meningkat 5. Departemen Energi AS. sedangkan Poll of Forecasters. langkah-langkah perbaikan investasi dan percepatan sektor riil yang terus dilanjutkan akan memberi dorongan lebih kuat bagi meningkatnya investasi. perekonomian dunia pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi yang pada gilirannya akan meningkatkan perdagangan dunia.1 persen). stabilitas keamanan dan politik yang dijaga akan memberi ekspektasi yang positif bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi yang lebih baik. respon produksi komoditi dunia lainnya terhadap peningkatan harga yang tinggi. Resiko harga minyak yang lebih ringgi tetap ada apabila terjadi gangguan dalam produksi minyak mentah dunia dan memburuknya kondisi geo-politik di Timur Tengah dengan permintaan yang tetap tinggi dari China.6 persen. Kedua. lebih tinggi dari peningkatan tahun 2008 (5. Dalam tahun 2009. Langkah-langkah yang ditempuh oleh negara-negara maju diperkirakan mampu memulihkan kembali sektor keuangan global yang pada gilirannya akan meningkatkan stabilitas moneter internasional yang lebih baik dan menggerakkan kembali bursa saham global. India. Dengan perekonomian Asia yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. Pada tahun 2009. IMF. gejolak keuangan global diperkirakan mereda. dan kegiatan sektor riil.B.7 persen. perekonomian AS diperkirakan mulai meningkat secara bertahap. April 2008).8 persen dengan ekonomi Asia yang tumbuh 8. Peningkatan produksi baik OPEC maupun non-OPEC.4 persen). Mei 2008 memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2009 sebesar 1. harga komoditi dunia termasuk minyak mentah diperkirakan akan melunak. April 2008 memperkirakan ekonomi AS pada tahun 2009 tumbuh 0.4 persen (World Economic Outlook. C. The Economist. dan negara Asia lainnya didorong oleh perekonomiannya yang tumbuh pesat. TANTANGAN POKOK Dengan kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan masalah yang . EIA. Ketiga. ekspor nonmigas. sedikit lebih tinggi dari perkiraan tahun 2008 (1. Adapun lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia tahun 2009 adalah sebagai berikut.8 persen. Pertama. serta stabilitas keuangan global yang membaik akan mengurangi tekanan terhadap harga komoditi dunia pada tahun 2009. Kedua. Mei 2008). ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3. Pertama. World Economic Outlook. relatif sama dengan tahun 2008 (0. harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan menurun menjadi sekitar USD 103 per barel (Energy Information Administration.

Selanjutnya tingginya inflasi di dalam negeri pada tahun 2008 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar menurun pada tingkat yang memadai. dan pengeluaran pemerintah serta mendorong peningkatan sektor industri pengolahan.6 persen). Pada tahun 2007. . serta tingginya likuiditas ekonomi dunia dapat menimbulkan potensi yang mengakibatkan gejolak ekternal yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. Dalam tahun 2007. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi.MENJAGA STABILITAS EKONOMI.2 persen. lebih tinggi dari tahun 2006 (2. Beberapa kendala di dalam negeri yang menghambat peningkatan investasi dan ekspor serta lemahnya sektor industri pengolahan akan ditangani secara sungguh-sungguh. revitalisasi pertanian dan menggerakkan UKM. 2.MEMPERCEPAT PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. lebih rendah dari tahun 2004 yang meningkat 7.9 persen.5 persen. gangguan produksi pada komoditi energi dan pangan. tantangan pokok yang dihadapi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. D. 3.diperkirakan masih dihadapi pada tahun 2008.2 persen. Dalam tahun 2007 investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 9. Lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 37.5 persen).2 juta orang miskin (16. jumlah pengangguran terbuka serta penduduk yang hidup di bawah yang kemiskinan mengalami penurunan. Pengangguran terbuka pada bulan Februari 2008 sebanyak 9.5 persen) namun masih lebih rendah dari tahun 2004 dan 2005 yang tumbuh sebesar 14. industri pengolahan nonmigas.4 juta orang (8.7 persen dan 10. peningkatan nilai ekspor nonmigas lebih banyak didorong oleh kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume ekspor. Percepatan pertumbuhan ekonomi akan didorong untuk menurunkan tingkat pengangguran yang mulai menurun dan mengurangi jumlah penduduk miskin yang masih besar dengan mendorong kualitas pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi. serta daya saing ekspor. Meskipun pada tahun 2007 dan awal tahun 2008. jumlahnya masih relatif besar. industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 5. ekspor. Dorongan akan diberikan pada peningkatan investasi. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009. kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN.MENDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI.

administrasi perpajakan dan kepabeanan. diversifikasi ekonomi pedesaan. memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. serta penggunaan produksi dalam negeri: Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan produktivitas dan akses UKM pada sumberdaya produktivitas. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin. serta penyusulan standar kompetensi. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga diberikan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan penyediaan energi termasuk listrik. Pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan didorong melalui peningkatan produksi pangan. sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. Perhatian juga diberikan pada penempatan. Stabilitas ekonomi dijaga melalui pengamanan pasokan bahan makanan. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan. serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. restrukturisasi permesinan. E. kebutuhan pokok utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau. pembahasan agraria nasional. Pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. dan ketahanan fiskal. perlindungan dana masyarakat. meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat. SASARAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2009 . perlindungan. mendorong pelaksanaan negosiasi bipatrit. Pasokan bahan makanan diupayakan dengan meningkatkan produksi bahan pokok dengan penyempurnaan sistem distribusi sehingga kebutuhan pokok rakyat dapat tersedia. antara lain dengan pengembangan kawasan industri khusus. Disamping itu. serta meningkatkan diversifikasi pasar ekspor. fasilitasi industri hilir komoditi primer. mengurangi hambatan prosedur perijinan. Perhatian juga diberikan pada upaya untuk meningkatkan investasi dalam kegiatan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. dan penerimaan devisa dari pariwisata dan TKI. serta peningkatan koordinasi dengan otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan. serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. produktivitas pertanian secara luas. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan ditingkatkan dengan menyempurnakan peraturan ketenagakerjaan. dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri.Peningkatan investasi dan ekspor didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri. mendorong komoditi nonmigas yang bernilai tambah tinggi. Daya saing industrl manufaktur ditingkatkan.

0 persen.6. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 3.7 persen dengan peningkatan yang lebih baik terutama. dengan terjaganya stabilitas ekonomi. untuk produksi tanaman bahan makanan. serta 5.8 . 1. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.6. moneter. terutama industri dan pertanian. Dengan meningkatnya investasi. 14. Pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 7.4 persen dan laju inflasi sebesar 5. .9 triliun dan Rp 177.4 persen.0 persen antara lain oleh perbaikan iklim investasi dan meningkatnya ekspor nonmigas. real estat. moneter.6.0 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 . 7. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut.9 persen. perdagangan. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa didorong agar tumbuh masing-masing sebesar 12.3 persen" sedangkan pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5.1 persen. STABILITAS EKONOMI Stabilitas ekonomi dalam tahun 2009 tetap dijaga. perekonomian diperkirakan tumbuh sebesar 6. Kebutuhan investasi 2009 dapat dilihat pada Tabel III. Dalam tahun 2009. konstruksi.8. menjaga ekspor nonmigas serta memberi stimulus fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara untuk menggerakkan semua sektor produksi.0 . daya beli masyarakat membaik dengan konsumsi masyarakat diperkirakan tumbuh 5. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7.14 persen pada tahun 2009. dibutuhkan investasi sebesar Rp 1. impor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 13.4 persen. Pertumbuhan PDB baik pada sisi pengeluaran maupun produksi dapat dilihat pada Tabel III.4 persen.4 persen pada tahun 2009. tercermin dari kondisi neraca pembayaran.5 persen. gas.232. keuangan.8 persen. pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin akan menurun. pengangkutan dan telekomunikasi. Adapun industri pengolahan didorong tumbuh 1. Dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.410.0 .0 persen. dan sektor riil. dan air bersih.1.3 persen dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 6. 2.1 persen dan 11.2. 8.Dengan arah kebijakan ekonomi makro di atas serta dengan memperhatikan lingkungan eksternal dan internal. sasaran ekonomi makro tahun 2009 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6. dan restoran.7 triliun. Untuk membiayai pertumbuhan ekonomi sebesar 6.0 . dan keuangan negara. dan jasa perusahaan.6 persen. Dalam keseluruhan tahun 2009. Koordinasi antara kebijakan fiskal. ditingkatkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi.4 persen. PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEBUTUHAN INVESTASI Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi.5 persen. hotel. 7.6 triliun dengan peran serta masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1.

5 . penerimaan negara dan hibah diperkirakan mencapai 19.8 persen PDB. Dengan menurunnya laju inflasi dan stabilnya nilai tukar rupiah.1 persen PDB dan penerimaan bukan pajak sebesar 5. sedangkan investasi lainnya (neto) defisit sebesar USD 7.21. c. NERACA PEMBAYARAN Penerimaan ekspor tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar 9.0 .4 miliar atau cukup untuk memenuhi 6.8 persen PDB. KEUANGAN NEGARA Kebijakan fiskal tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini. laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan sebesar 6. serta efektivitas kebijakan moneter yang semakin baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Gambaran neraca pembayaran tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III. terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 13. MONETER Stabilitas neraca pembayaran yang terjaga. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 diperkirakan menurun menjadi USD 10.7 .7 .1 persen. Secara keseluruhan.9 miliar didorong oleh meningkatnya investasi langsung asing (neto) sebesar USD 2.4 persen antara lain karena harga minyak dunia yang menurun dan program pengalihan ekspor gas untuk kebutuhan domestik. b. Sementara itu.5 bulan impor.14. suku bunga di dalam negeri diperkirakan menurun dan pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Dengan nilai tukar rupiah yang stabil serta pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga.3 persen. neraca modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0. stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga.5 persen sedangkan impor migas menurun sebesar 1. Dengan defisit sektor jasa-jasa yang masih tetap tinggi.8 persen PDB. surplus neraca pembayaran pada tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 11.4 miliar. Dalam tahun 2009.6 miliar. terutama didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar 13. ketersediaan cadangan devisa yang meningkat. Dalam tahun 2009. Dengan besarnya dorongan fiskal ke daerah.0 persen.5.2 miliar. portfolio sebesar USD 6. keselarasan program-program pembangunan di daerah dengan program prioritas nasional .3.5 persen.9 miliar dan cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi USD 80. belanja negara diperkirakan sebesar 21. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi pasar uang dunia. Sementara itu impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 17.9 miliar. sedangkan ekspor migas diperkirakan turun 3.19.a.

Subsidi Pupuk.0 persen PDB pada tahun 2009. Sementara itu. serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. sedangkan tingkat pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 6. Ketahanan fiskal yang terjaga juga tercermin dari stok utang pemerintah yang menurun menjadi 32. Dengan perkiraan penerimaan dan pengeluaran tersebut. serta berbagai kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran. subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat dalam mencukupi kebutuhan dasarnya. pemerintah wajib menjamin kehidupan fakir-miskin.0 . dengan harga terjangkau.perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional. atau 4.5 persen dari angkatan kerja. 3. ketahanan fiskal tetap terjaga.Subsidi BBM. khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. KEBIJAKAN SUBSIDI Sesuai amanat pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945. 4.Subsidi Listrik. stabilitas ekonomi yang terjaga. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 . dalam bentuk penyediaan BBM dengan harga lebih murah.Subsidi Pangan. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan bantuan yang dibutuhkan antara lain transfer tunai. ditutup oleh pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri. b. pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dengan proporsi yang cukup besar dalam keseluruhan belanja negara. d. jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka menurun.0 persen dari PDB. kesehatan dan pendidikan.2 persen dari PDB. Defisit APBN tahun 2009 diupayakan sekitar 1. barang dan jasa seperti jaminan tersedianya kebutuhan pangan. anak-anak terlantar.7 persen atau 5. Subsidi tersebut terbagi atas berbagai jenis. serta subsidi untuk menjaga agar produsen mampu berproduksi. yaitu: a. seperti .8 persen.0 persen PDB. mengembangkan sistem jaringan sosial.Subsidi Bunga Kredit Program. pada APBN-P tahun 2008 rasio subsidi terhadap belanja negara diperkirakan sebesar 23.7. dalam bentuk penyediaan pupuk murah untuk petani.14 persen. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. dalam bentuk penyediaan dana untuk penerapan harga pembelian gabah dan beras oleh pemerintah (HPP) dan penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin). c.5 .2. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. Pada tahun 2007 realisasi rasio subsidi terhadap belanja negara mencapai 19. dalam bentuk penyediaan listrik murah.5 . e. Dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. dalam bentuk penyediaan bunga di bawah bunga pasar untuk menunjang pencapaian program tertentu.34.

pengusulnan subsidi baru dimungkinkan dengan memperhatikan bahwa pemberian subsidi merupakan pilihan kebijakan terbaik yang perlu dilakukan. Kredit Koperasi. jagung komposit dan ikan budidaya dengan harga di bawah harga pasar.Memiliki jangka waktu yang jelas. namun pemberian subsidi tersebut akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran.Pengusulan subsidi harus disertai dengan alasan dan dasar perhitungan yang jelas mengenai besarnya subsidi yang diajukan. 6. Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana (KKRS).Pengajuan subsidi dalam harus kemampuan pembiayaan negara. Kriteria Subsidi. yang menjadi konsumen akhir dari komoditi yang disubsidi. dalam rangka meningkatkan efektifitas pengeluaran negara. Secara umum. Arah Kebijakan Subsidi Tahun 2009.Adanya mekanisme (delivery) yang jelas hingga komoditi tersebut dapat dipastikan sampai pada masyarakat yang layak menerima. Mengingat bahwa belanja negara dalam bentuk pemberian subsidi cukup besar. subsidi Pas. jagung hibrida.Komoditi yang disubsidi agar dapat ikut menciptakan kestabilan harga. subsidi untuk PELNI dan sejenisnya. 8. Kelompok sasaran tersebut diutamakan masyarakat golongan berpendapatan rendah. Kredit Kepemilikan Rumah Sangat Sederhana (KKRSS) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan. dalam rangka memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus mendorong peningkatan perekonomian. subsidi yang sudah berjalan masih diperlukan atau belum berakhir jangka waktu pemberiannya akan terus dilanjutkan.Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam rangka mendorong kemampuan produsen nasional dalam memproduksi komoditi tertentu. Kredit Koperasi Primer untuk Angota (KKPA). Sementara itu.Kredit Ketahanan Pangan (KKP). seperti subsidi untuk Kereta Api Kelas Ekonomi. dan/atau masyarakat di wilayah terpencil atau terisolir agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. pengusulan dan pemberian subsidi harus diatur lebih sistematis. 3. Kriteria pengusulan subsidi dalam tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. kedelai. dalam bentuk penyediaan pelayanan oleh BUMN tertentu kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar. serta dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah.Subsidi Benih. pemberian subsidi dalam tahun 2009 diberikan untuk menghasilkan produk dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas. serta g. 4. 2. dalam bentuk penyediaan benih unggul untuk padi. f. 5.Adanya kelompok sasaran penerima subsidi yang jelas.Adanya pembenahan struktural yang menyertai pelaksanaan subsidi . Dalam hal ini pemberian subsidi tidak dapat diberikan selamanya dan oleh sebab itu pengajuannya harus disertai dengan target waktu subsidi tersebut berakhir. memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.Subsidi BUMN PSO. 7.

Mekanisme Pengajuan/Pemberian Subsidi. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah pusat dengan daerah dan antar daerah. (iv) pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang . kegiatan atau pengajuan subsidi secara lebih terperinci diuraikan pada kegiatan prioritas. (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas. *Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah. Dengan demikian. PENDANAAN MELALUI TRANSFER KE DAERAH Pendanaan pembangunan melalui transfer ke daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendanaan pembangunan secara nasional dengan arah kebijakan Transfer ke daerah tahun 2009. nyata dan bertanggung jawab. *Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah *Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. 5. dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dan/atau dalam kegiatan kementerian/Lembaga. dengan tujuan: *Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah.tersebut agar penyalahgunaan subsidi semaksimal mungkin dapat dihindarkan. Sehubungan dengan itu. *Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. *Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. Pengajuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengajuan kegiatan kementerian/lembaga yang bersangkutan. atau yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab kementerian/lembaga yang bersangkutan. DANA PERIMBANGAN Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Subsidi diajukan oleh Kementerian/Lembaga yang terkait dengan komoditi dalam bentuk barang dan jasa. dan *Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional.

dalam rangka mempercepat penyelesaian dokumen transfer yang diperlukan untuk penyaluran DBH ke daerah dan meningkatkan akuntabilitas/tanggung gugat dan efektivitas penggunaannya. . hal-hal sebagai berikut menjadi perhatian dalam pengalokasian DAU Tahun 2009 : a. antara lain dari daerah dan Departemen Keuangan untuk Belanja PNSD.Penyedia dan jenis data yang digunakan dalam perhitungan DAU diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. dana alokasi umum (DAU). Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Bagi Hasil. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan Dana Bagi Hasil SDA. b. Langkah-langkah untuk penyempurnaan proses penghitungan.5 persen sebagai tambahan anggaran pendidikan dasar. Sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan di atas. antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data sesuai dengan peraturan yang berlaku. penetapan alokasi dan ketepatan waktu penyaluran DBH akan tetap dilanjutkan. (iii) Indeks Kemahalan Konstruksi. dan dana alokasi khusus (DAK).Pengalokasian DAU kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAU dihitung atas dasar Celah Fiskal (CF) dan Alokasi Dasar (AD). c. Disamping itu juga melaksanakan sosialissi penggunaan DBH migas 0. Variabel Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD.Variabel Kebutuhan Fiskal Daerah yaitu: (i) jumlah penduduk.dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. (ii) luas wilayah. CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (Kbf) dengan Kapasitas fiskal (Kpf) sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi dalam mendukung kebijakan desentralisasi fiskal guna memperbaiki kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (Vertical Fiscal Imbalance) serta antar daerah (Horizontal Fiscal Imbalance). Dana Bagi Hasil Pajak. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Umum. Sebagai acuan utama dalam penetapan kebijakan DAU Tahun 2009 adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH).

2.Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10% untuk semua Provinsi dan sebesar 90% untuk semua Kabupaten/Kota dari besaran DAU nasional. daerah perbatasan dengan negara lain. sedangkan untuk data DBH Pajak dan DBH SDA dari Departemen Keuangan.Dalam hal realisasi harga minyak bumi melebihi 130% dari asumsi dasar minyak bumi dalam APBN tahun berjalan. air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertingga1 yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. IPM dan PDRB per kapita. daerah tertinggal/terpencil. dan daerah pariwisata.dan PAD. Penetapan kebijakan DAK Tahun 2009 mengacu pada UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. serta peningkatan akurasi data yang ditujukan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara alokasi DAK yang merupakan prioritas nasional dengan kebutuhan daerah. daerah pasca bencana. BPS untuk data Jumlah Penduduk. Secara umum. Depdagri dan Bakosurtanal untuk data luas wilayah darat dan laut. dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. dan daerah rawan bencana.Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan. kelebihan DBH-nya dibagikan kepada daerah sebagai DAU Tambahan. e. arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. Pada tahun 2009. daerah perbatasan dengan negara lain. daerah tertinggal/terpencil. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Khusus. daerah pulau-pulau kecil terluar. menggunakan formula DAU atas dasar Celah Fiskal. Dalam proses perhitungan alokasi DAK kepada masing-masing daerah akan disempurnakan antara lain melalui peningkatan transparansi dan penyempurnaan metode penghitungan. IKK.Menunjang penguatan sistem distribusi nasional. serta sarana dan . alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK. irigasi. terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan. melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan. DAK dimaksudkan untuk membantu daerah tertentu dalam mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. Selain itu. d. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dalam pengalokasian diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah.

Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. dan kehutanan. dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup. baik negeri maupun swasta. angkutan barang dan kebutuhan pokok. perluasan kesempatan kerja. 9. kesehatan. 8. meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil. melalui kegiatan khusus di bidang pertanian. termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya.Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar. yang diperuntukkan bagi SD/SDLB. serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal.Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementenan/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK. daerah perbatasan. serta pembangunan perdesaan. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kualitas pe1ayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan.Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD.Kesehatan. dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu. tertinggal. sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan. serta pembangunan perdesaan. infrastruktur. MI/Salafiyah Ula. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). 6. b.Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan. 7. Penggunaan DAK Tahun 2009 diarahkan pada kegiatan-kegiatan di 11 bidang atau program DAK tahun 2008. 4.Mendorong peningkatan produktivitas. dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar. daerah terpencil. perbatasan dan . bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a. serta 2 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. daerah rawan bencana. 5. Dengan demikian. infrastruktur.Pendidikan. 3. yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009. mencegah kerusakan lingkungan hidup. yang diprioritaskan pada daerah tertinggal. perdagangan. perikanan dan kelautan.Menyediakan serta meningkatkan cakupan. keluarga berencana.prasarana perdesaan.

Informasi. peningkatan mutu. serta penyediaan sarana/ prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. f.Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan.Kelautan dan perikanan. c. dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang. sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB. persampahan. dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. yang diarahkan untuk meningkatkan kinelja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran. kabupaten. serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian. i.Pertanian. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional. industri. barang dan jasa.Keluarga Berencana (KB).kepulauan.han daerah. dan . dan Edukasi (KJE)/advokasi Program KB. dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008. dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes. melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. pemasaran. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional. khususnya untuk pengadaan.Infrastruktur jalan dan jembatan. peningkatan. dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan. dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB. g. sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi.Prasarana pemerinta. d. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah. pengolahan. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi. serta digunakan untuk pembangunan/ perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota. e. h. serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga.Infrastruktur irigasi.

bahan pokok. pemantapan fungsi hutan lindung.Lingkungan hidup. m.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut: *Kriteria Umum.Pembangunan perdesaan daerah tertinggal. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus. dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran. serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan.Kehutanan. yaitu: a. j. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja pegawai negeri sipil daerah. 11.pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD. serta daerah pasca bencana. dan karakteristik daerah. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang. dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan. dengan arah kebijakan untUk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air. daerah tertinggal/terpencil.Perdagangan. diprioritaskan mendapat alokasi DAK *Seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapat alokasi DAK . Kemampuan keuangan daerah tersebut dihitung berdasarkan indeks fiskal netto (IFN) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK. Taman Hutan Raya (TAHURA). serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan. *Kriteria Khusus.Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. dengan arab kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS). 10. l.Peraturan perundangan: *Daerah-daerah yang menurut ketentuan peraturan perundangan diberi status otonomi khusus. pengendalian pencemaran air. k. daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. hutan kota. meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

serta daerah yang termasuk Kategori daerah ketahanan pangan. Sebagai wujud pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. dan insentif bagi daerah yang mengalokasikan dana daerah diluar DAK untuk membiayai kegiatan serupa sesuai bidang DAK. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. daerah tertinggal/terpencil.b. pengentasan kemiskinan. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional.Kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Otonomi Khusus. dan kesehatan. serta pendanaan pendidikan. dialokasikan Dana Otonomi Khusus. Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat tersebut diperuntukkan bagi Kabupaten. Kriteria teknis dirumuskan berdasarkan indeks teknis yang ditetapkan oleh menteri/ kepala lembaga teknis terkait. c. pemberdayaan ekonomi rakyat. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan dalam rangka otonomi khusus yang diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas . Dana Otonomi Khusus NAD diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. sosial. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. dan daerah pariwisata. Kota. dan untuk tahun keenam belas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. kinerja pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. serta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.Karakteristik daerah : daerah pesisir dan Kepulauan. yang jumlahnya setara. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana. *Kriteria Teknis. dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional. daerah perbatasan dengan negara lain. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan. daerah rawan bencana. dan Provinsi di Provinsi Papua dan Papua Barat.

4 14.0 10.5 5.3 2) Industri Bukan Migas 7.4 8.3 6.9 5.6 9.7 10.4 8.0 2) Listrik.7 3.3 8. Gas dan 5.4 2) Investasi 14. 2.6 4.7 5.9 4.3 6.2 5.6 8. Peternakan.7 14.5 16.5 3.5 9.5 7.0 13.9 13.4 4.6 2) dan Restoran Pengangkutan dan 13.7 8.6 4. Tabel III.9 2.6 7.0 4.5 3.4 12.4 3.7 5.5 6.0 7.1 2) Telekomunikasi Keuangan.0 2.0 2) Perdagangan.5 2) . 5.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Hotel.5 5.9 2) Air Bersih Konstruksi 7.6 3.0 -6.8 14.5 6.6 9.0 3.7 2.l. Real 7.4 13.8 10.5 11.0 2) Jasa Impor Barang dan26. Kehutanan.4 7.8 2.3 2) Konsumsi Pemerintah 4.5 8.4 2) Jasa PERTUMBUHANPDB PRODUKSI (%) Pertanian.4 7.7 5.3 5.3 5.0 7.0 6.2 11.0 6.5 8.0 4.8 8.9 2.7 5.9 2) Penggalian Industri Pengolahan 6. dan Perikanan Pertambangan dan -4.7 6.0 5.4 12.2 8.1 2) Ekspor Barang dan 13.7 17.9 7.3 6.2 1.5 6.2 5.7 2) Perkebunan. GAMBARAN EKONOMI MAKRO ----------------------------------------------------------------Realisasi Sasaran -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------PERTUMBUHAN EKONOMI (%) 5.0 5.5 3.4 1) 2004 PERTUMBUHAN PDB PENGELUARAN (%) Konsumsi Masyarakat 5.

Estat, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

5,4

5,2

6,2

6,6

5,7

5,8 2)

LAJU INFLASI (%) 6,4 17,1 6,6 6,6 11,2 5,8-6,5 1) KEUANGAN NEGARA Defisit APBN/PDB (%) 1,3 0,5 0,9 1,3 3) 1,8 1,5 - 2,0 Penerimaan Pajak/ 12,2 12,5 12,3 12,4 3) 13,2 13,7 - 14,1 PDB (%) Stok Utang 56,6 47,2 39,0 33,7 3) 33,5 32,0 - 34,0 Pemerintah/PDB (%) ----------------------------------------------------------------1)Berdasarkan Hasil Pembahasan RKP Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009, 16019 Juni 2008 2)Angka Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran dan Produksi merupakan rincian dari sasaran Pertumbuhan sebesar 6,4% 3)Berdasarkan perkiraan Realisasi Terakhir (Versi ke-4) Tabel III.2 KEBUTUHAN INVESTASI (Rp triliun) ----------------------------------------------------------------Realisasi Proyeksi -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 *) -----------------------------------------------------------------

2004

Kebutuhan 515,4 657,6 805,5 983,8 1.191,5 1.410,6 Investasi (Rp triliun) Pemerintah 76,4 90,2 108,2 125,4 146,0 177,7 (% PDB) 3,3 3,3 3,2 3,2 3,1 3,3 Masyarakat 438,9 567,4 697,2 858,5 1.045,5 1.232,9 (% PDB) 19,1 20,5 20,9 21,7 22,4 23,4 ----------------------------------------------------------------*)Dihitung berdasarkan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4% Tabel III.3. PERKIRAAN NERACA PEMBAYARAN (USD miliar) ----------------------------------------------------------------Realisasi --------------------------------------------------

Proyeksi

2004 2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------Neraca Transaksi 1,6 0,3 10,6 10,4 11,4 10,9 Berjalan Ekspor 70,8 87,0 103,5 118,0 139,1 152,1 Migas 16,3 20,2 22,9 24,9 34,3 33,1 Nonmigas 54,5 66,8 80,6 93,1 104,8 118,9 Impor -50,6 -69,5 -73,9 -84,9 -101,9 -115,0 Migas -11,2 -16,0 -16,2 -18,8 -25,2 -24,9 Nonmigas -39,5 -53,4 -57,7 -66,1 -76,7 -90,1 Jasa-jasa -18,6 -17,3 -19,0 -22,7 -25,8 -26,2 Pembayaran Bunga -2,8 -2,7 -2,6 -2,2 -2,1 -2,4 Pinjaman Neraca Modal dan 1,9 0,3 1,9 3,3 0,2 0,9 Finansial Neraca Modal 0,0 0,3 0,4 0,5 0,2 0,0 Neraca Finansial 1,9 0,0 1,5 2,7 0,0 0,9 Investasi -1,5 5,3 2,2 1,7 2,5 2,4 Langsung Arus Masuk 1,9 8,3 4,9 6,2 6,3 6,5 Arus Keluar -3,4 -3,1 -2,7 -4,5 -3,8 -4,1 Portfolio 4,4 4,2 4,1 7,0 4,6 6,2 Aset Swasta 0,4 -1,1 -1,9 -3,0 -3,2 -2,3 Liabilities 4,1 5,3 6,1 10,0 7,8 8,5 Pemerintah 2,3 4,8 4,5 5,3 4,8 5,1 dan BI Swasta 1,8 0,4 1,6 4,7 3,0 3,4 Lainnya -1,0 -9,4 -4,8 -5,9 -7,1 -7,6 Aset Swasta 1,0 -8,6 -2,6 -5,6 -6,9 -6,8 Liabilities -2,0 -0,8 -2,2 -0,3 -0,2 -0,8 Pemerintah -2,7 -0,8 -2,5 -2,4 -1,0 -1,3 dan BI Swasta 0,7 0,0 0,3 2,1 0,8 0,5 Total 3,4 0,6 12,5 13,7 11,6 11,9 Selisih Perhitungan -3,1 -0,2 2,0 -1,1 0,0 0,0 Neraca Keseluruhan 0,3 0,4 14,5 12,5 11,6 11,9 Cadangan Devisa 36,3 34,7 42,6 56,9 68,5 80,4 Dalam bulan impor 6,1 4,3 4,5 5,8 6,0 6,5 Memorandum Item Exceptional Financing IMF Neto -1,0 -1,1 -7,6 0,0 0,0 0,0 Penjadwalan Hutang 0,0 2,7 0,0 0,0 0,0 0,0 Pertumbuhan Ekspor 11,5 22,5 20,7 15,6 12,5 13,5 Nonmigas (%)

Pertumbuhan Impor Nonmigas (%)

24,4

36,0

8,0 14,5

16,0

17,5

---------------------------------------------------------------LAMPIRAN BAB 3 PEMUTAKHIRAN GAMBARAN EKONOMI MAKRO 2009 Sejalan dengan perubahan ekonomi nasional dan gejolak ekonomi global, maka gambaran ekonomi makro yang diuraikan dalam Perpres No 28 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR-RI, disepakati hal-hal sebagai berikut. Sasaran laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,0 persen hingga 6,4 persen. Tingkat inflasi diperkirakan sekitar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga diperkirakan berkisar antara 7,5 persen hingga 8,5 persen. Harga minyak mentah (ICP) diperkirakan berkisar antara US$ 95 hingga US$ 120 per barel. Rasio defisit anggaran APBN adalah sekitar 1,5-2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 yang merupakan lampiran dari UU APBN Tahun 2009 ini, sasaran ekonomi makro yang dicantumkan adalah sasaran ekonomi makro yang merupakan kesepakatan Pembicaraan Pendahuluan tersebut di atas. Pembicaraan pendahuluan dilanjutkan dengan penyusunan RAPBN 2009. Pada saat penyusunan RAPBN 2009, perekonomian diwarnai berbagai gejolak eksternal yang penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi. Ketidakpastian ini berawal dari krisis subprime mortgage, dan pada saat yang bersamaan harga-harga komoditi dunia mulai dari minyak bumi, minyak sawit, gandum, dan kedelai mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dengan gejolak eksternal yang diperkirakan berimbas kepada ekonomi domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2009 diperkirakan sebesar 6,2 persen, inflasi diperkirakan sebesar 6,5 persen, dan suku bunga diperkirakan akan mencapai 8,5 persen. Dengan perkiraan akan terjadi pelemahan US$ dan pengelolaan cadangan devisa yang baik, maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat dan mencapai Rp 9.100,0/US$. Selanjutnya, sehubungan dengan ketidakpastian politik internasional, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menyebabkan relatif tingginya harga minyak mentah internasional sehingga asumsi rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) diperkirakan akan meningkat menjadi $130. Dengan besaran ekonomi makro sedemikian dan dalam rangka terus memberikan stimulus fiskal bagi pembangunan, maka defisit APBN dinaikkan menjadi 1,9

Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.400. pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertaman.5 persen. dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang. Harga minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 80. defisit APBN menjadi 1 persen. Dalam perkembangannya. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus meningkat.150. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut telah mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia serta mempertahankan prioritas program pembangunan yang telah direncanakan di RKP tahun 2009. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 8. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal. Dengan demikian. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 sebesar 6. Harga minyak mentah dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 95. Defisit APBN turun menjadi 1. masih ada potensi risiko akibat kenaikan inflasi yang disebabkan oleh imported inflation dari nilai tukar.0 persen.2 persen.persen terhadap PDB. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. Pada akhirnya.2 persen. termasuk indonesia. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil.3 persen. sampai saat-saat terakhir pembahasan suasana ketidakpastian dalam perekonomian terus berlanjut. serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat. Dalam kesepakatan Pembicaraan Tingkat I.0 per barel dengan melihat perkembangan harga minyak terkini serta prospek harga future.7 persen terhadap PDB. serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi. sejalan dengan krisis keuangan Amerika yang semakin menjalar keseluruh dunia. disepakati hal-hal sebagai berikut. maka Pemerintah dan DPR kembali merevisi angka ekonomi makro pada tanggal 13-15 Oktober 2008 dengan kesepakatan sebagai berikut. Dari sisi produksi. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7.0 per barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun.0 persen. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Perubahan Kerangka Ekonomi Makro 2009 .0/US$ setelah mempertimbangkan koreksi nilai tukar yang tejadi akibat kelangkaan likuiditas ekonomi dunia. Namun demikian. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan upaya mendorong sektor riil. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.5 persen menurun dari 8. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kecenderungan penurunan harga minyak dan komoditi.0/US$. pertambangan. Besaran ekonomi makro ini selanjutnya dibicarakan dalam pembahsan RUU tentang APBN Tahun 2009 beserta Nota Keuangan. manufaktur.

Pelaksanaan kegiatan. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.5 .9.8.-------------------------------------------------------------------------PEMBICARAAN RAPBN PEMBICARAAN TK I UU APBN PENDAHULUAN 2009 RUU APBN & TAHUN 2008 KERANGKA RKPPENYUSUNAN NOTA KEUANGAN EKONOMI 2009 RAPBN 2009 2009 MAKRO 16-19 Agustus 3-19 Oktober Juni 2008 2008 September 2008 2008 -------------------------------------------------------------------------Penumbuhan 6.120 ICP (US$/br) 6.0 APBN/PDB(%) Nilai Tukar . dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. dan kabupaten/kota.3 6.9 9. provinsi.8 . dalam satu instansi dan antar instansi.100 8.5-2.0 9. akuntabilitas dan partisipasi.200 (Rp US$) Suku Bunga 7.5 130 6.5 80 ------------------------------------------------------------------------- BAB 4 KAIDAH PELAKSANAAN Dalam melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009. transparansi. mensyaratkan keterpaduan dan sinkronisasi antar kegiatan.0 .6. dengan tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada masing-masing lembaga serta pembagian urusan antara pemerintah pusat. baik di antara-kegiatan dalam satu program maupun kegiatan antar program.6. baik dalam kerangka regulasi maupun dalam kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum.150 8.5 SBI (%) Harga Minyak 95 .0 95 6.4 6.000 . Kementerian.2 6.2 1.4 Ekonomi (%) Inflasl (%) 6 5.2.2 1.5 Defisit 1. efektivitas. sesuai dengan peraturan .400 7.9.0 1.0 6.5 .7 9.5 1.

sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan program dalam rangka koordinasi perencanaan.Pemerintah wajib menyampaikan rancangan APBN Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing lembaga negara. yang dilaksanakan melalui asas . c. maka masing-masing instansi pemerintah (kementerian/lembaga). Kementerian. telah dilaksanakan proses musyawarah antar pelaku pembangunan melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang.perundang-undangan yang berlaku. dan Musrenbang Nasional (Musrenbangnas). dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah pusat. Musrenbang Provinsi. setelah menerima pagu sementara Tahun 2009. atau sudah menjadi kewenangan daerah. Pemerintah Daerah. dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan. tugas pembantuan.Uraian penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. Untuk mengupayakan keterpaduan. serta masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan program-program RKP Tahun 2009 dengan sebaik-baiknya. ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan RKP 2009 sebagai berikut: 1. Peraturan Presiden (perpres). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat. Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus). departemen. RKP Tahun 2009 merupakan acuan bagi Kementerian. dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen dalam menyusun kebijakan publik. atau Peraturan Menteri/Kepala Lembaga.Lembaga Negara. dan lembaga pemerintah non-departemen. 2. seperti Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya.RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman bagi Lembaga Negara. periu menyesuaikan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja-KL) menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (RKA-KL) sebagai berikut: a. d. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan. dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009. Sehubungan dengan itu. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. baik yang berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum. Kementerian.Uraian rencana penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) di atas perlu menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. tugas dekonsentrasi. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP). b. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.

Untuk mengupayakan keterpaduan. Masyarakat luas juga dapat berperanserta dalam pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan kegiatan dalam program-program pembangunan.dekonsentrasi.Pemerintah daerah wajib menyampaikan rancangan APBD Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing instansi daerah. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah daerah. . 5. RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun kebijakan publik. dengan mendapatkan masukan dari seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Berkaitan dengan pendanaan pembangunan. 4. yang dilaksanakan langsung sebagai kewenangan daerah. perlu juga menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. masyarakat luas dan dunia usaha dapat berperanserta dalam pelaksanaan program-program pembangunan berdasarkan rancangan peran serta masyarakat dalam kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Daerah (perda) dan Peraturan Gubernur/Bupati/Wali Kota. 3.Uraian rencana penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan setiap program dalam rangka koordinasi perencanaan.Masyarakat luas dapat berperanserta seluas-luasnya dalam perancangan dan perumusan kebijakan yang nantinya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan.Pemerintah Pusat. masing-masing instansi daerah perlu menyempurnakan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2009 sebagai berikut: a. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah. di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).Bagi Pemerintah Daerah (provinsi/kabupaten/kota). baik berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum dalam Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2009. tugas dekonsentrasi yang diterima pemerintah provinsi dari pemerintah pusat. ataupun yang dilaksanakan melalui tugas pembantuan. b. d.Uraian penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. atau tugas pembantuan yang diterima pemerintah kabupaten/kota dari pemerintah pusat. yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) diatas. c. merumuskan matriks rencana tindak pada setiap bidang pembangunan (matriks rencana tindak menjadi lampiran dari setiap bidang pembangunan) menjadi dokumen RKP Tahun 2009.

serta kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan APBN/APBD dan peraturan-peraturan lainnya.Pada akhir tahun anggaran 2009. setiap Kementerian/Lembaga Pemerintah Non-Departemen dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan.6. melakukan tindakan koreksi yang diperlukan. 7. . setiap instansi pemerintah wajib melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang meliputi evaluasi terhadap pencapaian sasaran kegiatan yang ditetapkan.Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program. kesesuaiannya dengan rencana alokasi anggaran yang ditetapkan dalam APBN/APBD. dan melaporkan hasil-hasil pemantauan secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful