P. 1
08uu041

08uu041

|Views: 163|Likes:
Published by Max Hermanto

More info:

Published by: Max Hermanto on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2014

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 41 TAHUN 2008 (41/2008) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; b. bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. bahwa APBN Tahun Anggaran 2009 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; d. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat; e. bahwa sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; f. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2009 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 33/DPD/2008 tanggal 2 Juli 2008; g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, e, dan f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; Mengingat :

1. 2. 3.

4. 5.

6.

7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

14.

15.

16. 17.

18. 19. 20.

21.

22.

23. 24.

25.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746); Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133,

3. serta tidak secara terus menerus. dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. 2.Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. 8. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini.Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam. 7. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. pajak bumi dan bangunan.Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan.Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan oleh pihak swasta dalam negeri dan pemerintah daerah serta sumbangan oleh pihak swasta dan pemerintah luar negeri.Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah . 5. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri. pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. 6.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN). 9. yang tidak perlu dibayar kembali.Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. 4.Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea ke luar. yang dimaksud dengan : 1. penerimaan negara bukan pajak. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). cukai. penerimaan negara bukan pajak lainnya.Cost recovery adalah pengembalian atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan (recoverable cost) oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan menggunakan hasil produksi minyak bumi dan gas bumi (migas) sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. dan pajak lainnya.

dan pejabat negara.Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal outstanding). mengekspor. subsidi.Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat. gedung dan bangunan. fungsi perumahan dan fasilitas umum. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. bantuan sosial. baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri. 10. termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang. atau mengimpor barang dan jasa. dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat serta belanja perjalanan. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. 12. pembayaran bunga utang. menjual. yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan untuk utang outstanding dan tambahan utang baru.Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. baik utang dalam negeri maupun luar negeri.Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada bahan bakar minyak dan tenaga listrik.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. pensiunan. dan fungsi perlindungan sosial. fungsi ketertiban dan keamanan.Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah. belanja modal. sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan. fungsi pariwisata dan budaya. dan belanja lain-lain. atau lembaga/organisasi internasional yang tidak perlu dibayar kembali. sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. fungsi lingkungan hidup. fungsi agama. 11. fungsi kesehatan. 18.Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai. serta dalam bentuk fisik lainnya. jaringan. barang.Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa. . yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa. fungsi ekonomi.pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga. belanja hibah.Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang. 15. belanja barang. 14. sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat yang membutuhkan. 13. 16. fungsi pendidikan. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. fungsi pertahanan. baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Badan Usaha Milik Daerah. atau jasa dari Pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara. 17. peralatan dan mesin. Pemerintah Negara lain.

sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. 26.Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 12 (dua belas) sampai dengan angka 19 (sembilan belas). 22. selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan dana alokasi khusus.Dana alokasi umum. dan dana cadangan umum. 19. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. yang terdiri atas dana bagi hasil. guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial. . serta tidak secara terus menerus.bersifat tidak wajib dan tidak mengikat.Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan. selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dana alokasi umum. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah.Dana bagi hasil. serta hibah ke daerah. selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 20. 25.Dana alokasi khusus. 24. 21. dana otonomi khusus dan penyesuaian. 23.

adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. 28. selanjutnya disingkat SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam matauang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. dan dana bergulir.Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi. dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN.Surat berharga syariah negara. 29. 36.Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan membantu mendukung percepatan pembangunan di daerah. serta pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) yang diterushibahkan ke daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 30. 34. 31.Sisa lebih pembiayaan anggaran. yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. atau dapat disebut sukuk negara. surat berharga negara. 33.Privatisasi adalah penjualan saham persero. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. baik dalam matauang rupiah maupun valuta asing.Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari . 32. serta tidak secara terus menerus. dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah. yang tidak perlu dibayar kembali. 35. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat.Surat berharga negara. baik sebagian maupun seluruhnya.27. selanjutnya disingkat SBN meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah negara.Hibah ke daerah adalah dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk rupiah. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.Restrukturisasi BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN. 37. 38. sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN. hasil pengelolaan aset.Surat utang negara. selanjutnya disingkat SBSN. selanjutnya disingkat SILPA. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. adalah selisih lebih realisasi pembiayaan atas realisasi defisit anggaran yang terjadi.Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha.

dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri.00 (sembilan ratus tiga puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah).000.558.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).Penerimaan perpajakan. dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp985. dan c. Pasal 2 (1)Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 diperoleh dari sumber-sumber: a. ayat (3).000.Pinjaman program adalah pinjaman yang diterima dalam bentuk tunai (cash financing) yang pencairannya mensyaratkan dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak seperti matriks kebijakan (policy matrix) atau dilaksanakannya kegiatan tertentu.943. (3)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258. namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan.522.000. untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.000.328.Persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran belanja negara.Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/ lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah.725.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).000.842.penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek.970. b.522. 42. (5)Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). termasuk gaji pendidik.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).800. (4)Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp938. 40.Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan berdasarkan Undang-Undang ini. (2)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp725. 39.Penerimaan hibah. 43.000. 41. .Penerimaan negara bukan pajak.Tahun anggaran 2009 adalah masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2009.

000.Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp28.Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar Rp249.000.00 (tiga ratus lima puluh tujuh triliun empat ratus miliar empat ratus tujuh puluh juta rupiah).00 (empat puluh sembilan triliun empat ratus sembilan puluh empat miliar tujuh ratus juta rupiah).000.753. b.000. (ii) bunga atas surat berharga negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp1.000.000.000. dan (ii) BBM bersubsidi (PT Pertamina/Persero) sebesar Rp10.200.Pajak perdagangan internasional. f.700.00 (dua puluh delapan triliun sembilan ratus enam belas miliar tiga ratus juta rupiah).000.Cukai sebesar Rp49. e. d. yang terdiri dari : a. termasuk PPh ditanggung Pemerintah atas: (i) komoditi panas bumi sebesar Rp800.346.Pajak Penghasilan sebesar Rp357. termasuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas: (i) sektor-sektor tertentu dalam rangka penanggulangan dampak perlambatan ekonomi global dan pemulihan sektor riil (counter cyclical) sebesar Rp10.000.000.00 (empat triliun dua ratus tujuh puluh tiga miliar dua ratus juta rupiah).273.000.000.000.Pajak dalam negeri. c.000.000.970.494.00 (enam ratus sembilan puluh tujuh triliun tiga ratus empat puluh enam miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).470. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.916.000.400.00 (dua ratus empat puluh sembilan triliun lima ratus delapan miliar tujuh ratus juta rupiah).600.508.000.000.000.000.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp7.000.Pasal 3 (1)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari : a.000.000.00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah).00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah). termasuk BPHTB ditanggung pemerintah atas kekurangan DTP BPHTB PT Pertamina (Persero) tahun 2007 sebesar Rp500.000.200.000. dan b. (2)Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp697. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.Pajak lainnya sebesar Rp4.00 (lima ratus miliar rupiah).00 (sepuluh triliun rupiah).00 (tujuh triliun tujuh ratus lima puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah). (3)Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada .000.000.000.000. dan (iii) terminasi dini hak eksklusif PT Telkom (Pasal 25/29 badan) sebesar Rp250.000.300. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.00 (delapan ratus miliar rupiah).000.000.000.000.00 (sepuluh triliun rupiah).700.

Penerimaan negara bukan pajak lainnya.00 (sepuluh miliar empat ratus tujuh puluh tiga juta dolar Amerika Serikat).00 (sebelas miliar lima puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar Amerika Serikat). c.070.000.000.000.000. naik dari besaran tahun 2008 sebesar US$10.000.000.Penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi (SDA Migas) sebesar Rp162.496.496.00 (seratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar lima ratus dua puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah). maka BPK wajib melaporkan estimasi besaran kerugian negara yang timbul.00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah).000.00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh lima miliar enam ratus juta rupiah).050.521. (ii)Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditugaskan untuk melakukan audit atas kewajaran unsur biaya dalam cost recovery sejak tahun 1997.Pendapatan BLU. dan d.Penerimaan sumber daya alam.473. b. dan apabila terdapat temuan ketidakwajaran. yang terdiri dari: a. termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu sebesar Rp2.000. yang disebabkan oleh kenaikan lifting gas on stream Exxon dan Tangguh.000.000. terdiri dari : a. serta swap Conoco dan Chevron.000. yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. (2)Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp173. (4)Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.000.000. dan disampaikan dalam Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun .00 (dua puluh delapan triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar rupiah).600.Bea ke luar sebesar Rp9.160. Pasal 4 (1)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari : a.000.000.Bea masuk sebesar Rp19.123.Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara. termasuk kerugian daerah dalam kerangka bagi hasil.00 (sembilan belas triliun seratus enam puluh miliar empat ratus juta rupiah).750.00 (seratus enam puluh dua triliun seratus dua puluh tiga miliar tujuh puluh juta rupiah).500.335. dengan ketentuan: (i)Penerimaan SDA Migas tersebut memperhitungkan cost recovery sebesar US$11.400.000.477. b.ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp28.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan efektif mulai 1 Januari 2009.442. namun juga disesuaikan dengan standar pembebanan yang berlaku umum sebagaimana dimaksud pada butir (2).00 (tiga puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh empat miliar rupiah). (4)Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp49.Standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery.Anggaran 2009 untuk dapat ditindaklanjuti. (5)Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d direncanakan sebesar Rp5. dalam hal ini terhadap sebagian aset yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Gelora Bung Karno dan sebagian atau seluruh aset yang dikelola Badan Layanan Umum Kompleks Kemayoran akan ditetapkan sebagai Penyertaan Modal Negara dalam suatu Badan Usaha Milik Negara. yang antara lain memuat : 1.248.000. sehingga acuan cost recovery dalam Exhibit Contract perlu ditinjau kembali. (6)Penunjukan Gelora Bung Karno dan Kompleks Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum dalam rangka optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat ditinjau kembali sesuai peraturan perundang-undangan.Cost recovery senantiasa harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.794.00 (empat puluh sembilan triliun dua ratus sepuluh miliar delapan ratus satu juta dua ratus empat puluh delapan ribu rupiah).797.Standar tersebut tidak hanya berpedoman pada Exhibit Contract. 5. b. (iii)Pemerintah ditugaskan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang cost recovery. .373.Penerimaan sumber daya alam nonminyak bumi dan gas bumi (SDA Nonmigas) sebesar Rp11.00 (sebelas triliun tiga ratus tujuh puluh tiga miliar empat ratus lima puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah).00 (lima triliun empat ratus empat puluh dua miliar dua ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah).000. 2. 4.Unsur biaya yang dapat dikategorikan dan diperhitungkan sebagai unsur cost recovery.000. (iv)Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) ditugaskan untuk memperkuat pengawasan dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor migas.000.210. (3)Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp30.000.235. 3.477.801.451.000.

00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).122. (4)Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp716.Anggaran belanja pemerintah pusat.346. dan b. fungsi.000.122.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).992.122.000.346.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi. ayat (3).376.376.000. kegiatan dan jenis belanja dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Pasal 5 (1)Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 terdiri dari : a.690.Anggaran transfer ke daerah.346.067. (2)Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.122.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).000.338. (5)Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi.122. dan ayat (5) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.000. (4)Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp1.Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. (3)Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp716. dan c.000.037.000. program. b. (6)Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2009 menurut .00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).(7)Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 6 (1)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas : a.00 (tiga ratus dua puluh triliun enam ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta rupiah). ayat (4).376.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). (3)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp320. (2)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.376.346.

e. Pasal 8 Pengendalian anggaran subsidi listrik dalam tahun anggaran 2009 dilakukan melalui : a. menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3).Penyediaan Domestic Market Obligation (DMO) batubara yang berasal dari kebutuhan ketersediaan inkind batubara.600 VA (volt ampere) ke atas.Penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) dari PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) dan KKKS berkoordinasi dengan BP MIGAS. Pasal 9 (1)Pemerintah menjamin kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan.Penerapan tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pelanggan dengan daya 6. pemerintah menjamin harga gas untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga domestik. dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4).Penerapan diversifikasi tarif regional seperti Batam dan Tarakan pada daerah-daerah lain. (2)Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pangan terutama pupuk pada masa yang akan datang. b.organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). (3)Pemerintah Daerah diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 Nopember 2008. Pasal 10 (1)Dalam rangka kesinambungan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk . Pasal 7 Pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam tahun anggaran 2009 ditempuh dengan kebijakan penetapan besaran subsidi BBM sesuai dengan Undang-Undang APBN dengan toleransi alokasi maksimum dari realokasi cadangan risiko fiskal. d. c.600 VA.Perluasan penerapan kebijakan tarif insentif dan disinsentif untuk pelanggan dengan daya di bawah 6.

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari bagian anggaran 069 (belanja lain-lain) dalam tahun 2009. (2)Pendanaan untuk program/kegiatan. ditetapkan oleh Pemerintah. (4)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). maka program/kegiatan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009 yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (2)Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari pagu kementerian negara/lembaga masing-masing dalam tahun anggaran 2009. Pasal 11 (1)Dalam rangka menjaga kesinambungan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009. maka bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program/kegiatan nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) yang terdiri dari program pengembangan kecamatan (PPK). (3)Penyelesaian kegiatan-kegiatan tersebut yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa publik mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku. dapat diluncurkan sampai dengan akhir April 2010 sebagai anggaran belanja tambahan Tahun Anggaran 2010. dan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK) dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2009. (4)Pemerintah dapat melakukan kontrak dan pembiayaan tahun jamak terbatas sampai dengan tahun 2010 untuk mengatasi keperluan mendesak dan belum terprogram. yang pada tahap awal sumber dananya antara lain berasal dari bantuan sosial penanggulangan bencana. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan DIPA-L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2)Pengajuan usulan luncuran program/kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam bentuk konsep DIPA Luncuran (DIPA-L) paling lambat pada tanggal 16 Januari 2010. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada . ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 12 (1)Kegiatan-kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. program pengembangan infrastruktur perdesaan (PPIP). program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP).mempercepat penanggulangan kemiskinan.

dan Penjarakan). b.perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). ditetapkan oleh Pemerintah.ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Pemerintah. bantuan kontrak rumah. dan Mindi). tunjangan hidup dan biaya evakuasi di luar peta terdampak pada tiga desa (desa Besuki. dan Penjarakan) dilakukan setelah pembayaran pembelian tanah di dalam peta area terdampak selesai dilakukan. tunjangan hidup. dan/atau (iii)antarjenis belanja dalam satu kegiatan. Jatirejo. biaya evakuasi dan relokasi pada sembilan rukun tetangga di tiga desa (Siring Barat. Kedung Cangkring. (3)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan. atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi.perubahan pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN. (ii)antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi.pergeseran anggaran belanja: (i)antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. Pasal 13 (1)Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo. (2)Kekurangan pembayaran pembelian tanah di luar peta area terdampak pada tiga desa (desa Besuki. serta untuk bantuan kontrak rumah. . Pasal 15 (1)Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa : a. Kedung Cangkring. (2)Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non-Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan BLU ditetapkan oleh Pemerintah. maka alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dapat digunakan untuk melunasi kekurangan pembayaran pembelian tanah. dan c. Pasal 14 Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengeluaran dalam rangka memenuhi setiap kewajiban yang timbul sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht).

(2).952. (4)Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp24.000. (2)Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp85.00 (dua puluh empat triliun delapan ratus sembilan belas miliar lima ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah).Dana otonomi khusus dan penyesuaian.(4)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah.000. . (4)Hibah ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c nihil. (3)Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp186. (2)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp296. (3).00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).00 (seratus delapan puluh enam triliun empat ratus empat belas miliar seratus juta rupiah).578.414.Dana alokasi khusus. dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 17 (1)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri dari : a. (5)Perhitungan dan pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Pasal 16 (1)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.00 (delapan puluh lima triliun tujuh ratus delapan belas miliar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah).000.413.200.800.Hibah ke daerah.725. (5)Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. b.000.000.588.800. b.738.Dana alokasi umum.718.00 (dua puluh tiga triliun tujuh ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus tujuh puluh delapan juta dua ratus ribu rupiah).Dana perimbangan.Dana bagi hasil.000.100. dan c.819. (3)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23.000.

(2)Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp8.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah). dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.014.250.342.000.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).564.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah).00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). Pasal 20 . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5).000.725.882.(6)Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ayat (3).00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah).856.000. Pasal 19 (1)Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp985.338. (2)Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber : a.000.400.Dana penyesuaian. yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran. lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.037.200.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah).240.000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4).000.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah). sehingga dalam Tahun Anggaran 2009 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp51.067.122. b.328. dan b. Pasal 18 (1)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.448.Pembiayaan luar negeri neto sebesar negatif Rp9.000.600.Dana otonomi khusus.000.009.000.790.Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp60. (3)Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14. (3)Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.522.

dan c.penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang menyebabkan turunnya pendapatan negara.Realisasi belanja negara.763. b.338. (3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2009. Pasal 21 (1)Anggaran Pendidikan adalah sebesar Rp207. Pasal 23 (1)Dalam keadaan darurat.067.(1)Pada pertengahan Tahun Anggaran 2009.122.000. b.413.531.0% (dua puluh koma nol persen). Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2009 mengenai : a. yang merupakan perbandingan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran belanja negara sebesar Rp1. untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah. Pasal 22 Anggaran belanja bunga utang yang merupakan bagian dari Belanja Pemerintah Pusat telah memperhitungkan hasil restrukturisasi tingkat bunga surat utang (SU) 002 dan SU-004 yang mengacu pada besaran tingkat bunga special rate Bank Indonesia (SRBI) 01 sebesar 0.000.Realisasi pembiayaan defisit anggaran. Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan langkah-langkah : .037.1% (nol koma satu persen). dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan. apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : a.kenaikan biaya utang. secara signifikan.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional yang membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). (2)Persentase anggaran pendidikan adalah sebesar 20.Realisasi pendapatan negara dan hibah. (2)Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. dan/atau c. khususnya imbal hasil Surat Berharga Negara.

1.pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2009; 2.pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu kementerian negara/lembaga dan/atau antar kementerian negara/lembaga; 3.penghematan belanja negara dalam rangka peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai; 4.penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral; 5.penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN tahun yang bersangkutan. (2)Pemerintah menyampaikan langkah-langkah kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Laporan Semester I Pelaksanaan APBN dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 24 (1)Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat ditalangi dari dana saldo anggaran lebih (SAL). (2)Pemerintah dapat menerbitkan Surat Berharga Negara untuk membiayai kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan awal tahun anggaran berikutnya. (3)Pemerintah dapat melakukan pembelian kembali SBN untuk kepentingan stabilisasi pasar, dengan tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang ditetapkan. Pasal 25 (1)Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, apabila terjadi : a.Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; b.Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; c.Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; d.Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan

anggaran Tahun Anggaran 2009. (2)Saldo anggaran lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tidak termasuk saldo anggaran lebih yang merupakan saldo kas di Badan Layanan Umum (BLU), yang penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. (3)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2009 berakhir. Pasal 26 (1)Setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir, Pemerintah menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. (2)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. (3)Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan belanja secara akrual. (4)Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual. (5)Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual dalam laporan keuangan tahun 2009 dilaksanakan secara bertahap pada badan layanan umum. (6)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. (7)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta

pada tanggal 10 Nopember 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 171

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 I.UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2009 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2009 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2009 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2009

pemerintah akan berupaya agar realisasi pertumbuhan ekonomi sesuai dengan asumsi tersebut. impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri. dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok. (ii) terbatasnya akses dan . Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2009.0 (delapan puluh koma nol dolar Amerika Serikat) per barel. Melalui kebijakan fiskal. tema pembangunan tahun 2009 adalah "Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan. serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat.diperkirakan mencapai sekitar 6. dan iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 960 (sembilan ratus enam puluh) ribu barel per hari. maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran US$80. moneter.0% (enam koma nol persen). Melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi. yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah. sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2009 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. dan sektor riil yang terkoordinasi. Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2009. Pemerintah menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Sementara itu.5% (tujuh koma lima persen).2% (enam koma dua persen). nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp9. Sementara itu. Di lain pihak. (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Meskipun perlambatan perekonomian global akan menyebabkan menurunnya kinerja ekspor nasional. antara lain: (i) masih relatif tingginya jumlah penduduk miskin.00 (sembilan ribu empat ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat. Untuk itu." Dalam upaya mewujudkan tema pembangunan tersebut. maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada tingkat 6. Sejalan dengan itu.400. dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang sedikit melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. dan perkembangan suku bunga perbankan. rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai 7. Dalam tahun 2009. terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi.

subsidi pupuk. Untuk menghadapi masalah dan tantangan tersebut guna mewujudkan tema pembangunan dalam tahun 2009. maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada:(i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/lembaga. pemantapan demokrasi. (ii) peningkatan pembangunan infrastruktur. Kedua. percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. infrastruktur dan energi. Ketiga. serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. subsidi listrik. untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. peningkatan upaya anti korupsi. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut. Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. dan Jamkesmas.dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. telah ditetapkan prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 sebagai berikut: Pertama. terutama bandara dan pelabuhan. Program Keluarga Harapan (PKH). peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan. dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat. menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Dengan demikian. reformasi birokrasi. (iii) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. dan subsidi benih. kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Prioritas pembangunan nasional tersebut dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR. (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Di samping itu. serta pertahanan dan keamanan dalam negeri. (iii) pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran. dan (iv) masih lemahnya daya tarik investasi dan daya saing sektor riil. kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2009 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan. Bantuan Operasional Sekolah (BOS). (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM. (iii) . di samping tetap menjaga stabilitas nasional.

Dalam kaitannya dengan penanganan bencana alam. dan mendapat pendidikan yang layak.0% (dua puluh koma nol persen) tersebut di samping untuk memenuhi amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. agar Mahkamah Konstitusi tidak menyatakan bahwa keseluruhan APBN yang tercantum dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat yang disebabkan oleh adanya bagian dari UU APBN.meningkatkan alokasi program kementerian negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan. negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (ii) hidup sejahtera lahir dan batin. Pemerintah dan DPR harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk menyediakan anggaran sekurang-kurangnya 20. termasuk di dalamnya penganggaran. Selain itu. infrastruktur dan energi alternatif.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. sesuai dengan amanat UUD 1945. dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20. dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. Hal tersebut harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Pemerintah dan DPR memprioritaskan pengalokasian anggaran pendidikan 20. (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN. serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya. yaitu mengenai anggaran pendidikan. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20. serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009. Selanjutnya. keseimbangan pembangunan. bertempat tinggal. yang bertentangan dengan UUD 1945. selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009.0% (dua puluh koma nol persen) untuk pendidikan. Di samping itu. (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam. perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . juga dalam rangka memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 13 Agustus 2008 Nomor 13/PUU-VI/2008.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN Tahun Anggaran 2009 agar UU APBN Tahun Anggaran 2009 yang memuat anggaran pendidikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan sejalan dengan amanat UUD 1945. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Menurut putusan Mahkamah Konstitusi. APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Dengan demikian. biaya operasional BRR NAD-Nias akan dialokasikan pada bagian anggaran 069 (anggaran pembiayaan dan perhitungan). tetapi langsung dialokasikan kepada masing-masing K/L yang bersangkutan. dan (iv) pengakhiran masa tugas BRR beserta akibat hukumnya ditetapkan dengan Perpres. tahun 2008 merupakan tahun terakhir dari pelaksanaan proyek-proyek fisik oleh BRR NAD-Nias. pembiayaan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak lagi dialokasikan pada bagian anggaran 094 (BRR NAD-Nias). kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. Pasal 26 menyebutkan bahwa: (i) masa tugas BRR akan berakhir setelah 4 (empat) tahun. aset-aset BRR NAD-Nias. Oleh karena itu. Perpu Nomor 2 Tahun 2005. (ii) pengalihan peralatan dan perangkat (aset) melalui identifikasi terhadap: tahap pengalihan aset. yaitu: (i) mengelola proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran (didanai oleh APBN).(Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. pelaksanaan lanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias akan diserahkan kewenangannya kepada kementerian negara/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. BRR NAD-Nias masih dapat beroperasi hingga April 2009. Dengan demikian. BRR NAD-Nias juga mengemban 2 (dua) tugas pokok. jenis-jenis pengalihan aset. Berkaitan dengan berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias. telah dibentuk BRR NAD-Nias dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2004. pada tahun 2009. Sementara itu. Kementerian negara/lembaga yang akan melanjutkan kegiatan . Selain tugas melaksanakan kegiatan pemulihan. dan (ii) mengkoordinasikan proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibiayai oleh lembaga/negara donor atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. mulai tahun 2008 sudah mulai dilakukan persiapan penuntasan masa tugas BRR NAD-Nias. serta (iv) pengalihan dokumen. Sementara itu. (iii) pengalihan personel (SDM). dan aset-aset lembaga/negara donor/NGO. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. dalam rangka melaksanakan proses administrasi penuntasan tugas. Dalam kerangka tersebut. (iii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. yaitu: (i) pengelolaan pendanaan pasca BRR NAD-Nias. segala kekayaannya menjadi kekayaan milik negara yang selanjutnya dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. (ii) setelah berakhirnya masa tugas BRR.

perubahan UU perpajakan yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan diperkirakan akan memberikan dampak pada penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss). Badan Pertanahan Nasional. Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam APBN Tahun Anggaran 2009. dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggungjawab. pelimpahan. baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. maka penyerahan. yaitu: kondisi ekonomi makro. diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. Undang-undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. subyek dan obyek pengenaan. Departemen Pekerjaan Umum. dan Bappenas. pembagian. UU Kepabeanan. dengan memperhatikan potensi. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian. untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. dan (iv) mengalihkan secara bertahap sebagian anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007 dan 2008. Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas . Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2009. adil dan transparan. baik penerimaan perpajakan maupun PNBP. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. UU Cukai. dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional. dan kebutuhan daerah melalui reformulasi kebijakan dana perimbangan dan kebijakan lain terkait dengan transfer ke daerah. juga diikuti dengan pengaturan. Selanjutnya. Sejalan dengan hal tersebut. demokratis. kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif. realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya.rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias antara lain Departemen Dalam Negeri. serta berbagai UU sektoral. serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan. kondisi. penerapan kebijakan transfer ke daerah dalam tahun 2009 ditujukan untuk: (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. Departemen Perhubungan. Dalam jangka pendek. Departemen Agama.

Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran. dengan lebih . evaluasi. Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. Sementara itu. bagian laba BUMN. dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas. dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window. dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. (iv) pemantauan. (vi) percepatan penyelesaian kewajiban Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas. kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untuk mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA). (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali. dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan. (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga. optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana serta re-evaluasi peraturan-peraturan tentang tata cara pengadaan/pengelolaan hibah sehingga seluruh pengelolaan hibah memiliki arah yang lebih jelas. Untuk menutupi defisit tersebut. (iv) melanjutkan harmonisasi tarif bea masuk impor. dan tercatat dalam perhitungan APBN. Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/lembaga. Selanjutnya. penelaahan. (ii) monitoring. Di lain pihak. (vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/lifting minyak mentah dan volume gas bumi. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas. Di samping itu. kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. PNBP lainnya.

jika diperlukan. Pasal 2 Cukup jelas. Selain itu. Dalam keadaan tersebut. bahkan akan menambah. strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien. Untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang memburuk yang dapat berdampak pada perekonomian nasional. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 telah dipersiapkan payung hukum apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan deviasi asumsi makro secara signifikan. untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan anggaran tahun 2009. Langkah-langkah penanggulangan berupa pembiayaan siaga yang berasal dari pemberi pinjaman lembaga keuangan multilateral dan bilateral. kenaikan biaya penerbitan SBN dan masalah sistemik di sektor keuangan. strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent. kebijakan moneter yang kredibel. II. Pemerintah bertekad untuk tidak mengurangi belanja prioritas.memprioritaskan pendanaan yang tersedia. Terkait hal tersebut. Dalam kondisi pasar keuangan yang tidak stabil akibat ketatnya likuiditas global. dipandang perlu dipersiapkan langkah-langkah di bidang kebijakan fiskal.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri. sehingga dapat dijadikan cadangan terhadap rumahtangga dan sektor yang terkena dampaknya. dan dialokasikan . penerbitan SBN akan dilakukan secara berhati-hati dan menjaga pada risiko sekecil mungkin. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto.

pelayaran.196.000.500.470.000.000.000.000.00 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 impor 25.510.910. Ayat (4) Penerimaan perpajakan sebesar Rp725.400.000.110.160. dan sektor-sektor publik.000.00 .00 411127 Pendapatan PPh Pasal 26 22.000.970.00 411124 Pendapatan PPh Pasal 23 24.000.00 41111 Pendapatan PPh migas 56.00 411111 Pendapatan PPh minyak bumi 24.00 4111 Pendapatan pajak penghasilan (PPh) 357. energi. penerbangan. Ayat (3) Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. panas bumi.sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.935. industri terpilih. dan transportasi publik.526.470.000.000.755.970.00 411122 Pendapatan PPh Pasal 22 6.000.938.360.00 411112 Pendapatan PPh gas alam 32. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas.510.000. pangan.00 411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi 3.000.000.000.978. industri terpilih.000. dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.830.560.000.000.370.000.00 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan 136.556.000. listrik.000.000.346.000.00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) 411 Pendapatan pajak dalam negeri 697.000.723. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain adalah sektor migas.000.000.000.00 41112 Pendapatan PPh nonmigas 296.640.00 411121 Pendapatan PPh Pasal 21 46.000.842.794.

00 Pendapatan pajak perdagangan internasional 28.000.00 4113 Pendapatan pajak bumi dan bangunan 28.000.753.00 4116 Pendapatan pajak lainnya 4.700.916.335.000.00 4122 Pendapatan bea ke luar 9.000.490.000.490.400. Ayat (4) Cukup jelas.000.000.00 4121 Pendapatan bea masuk 19.558.412 411128 Pendapatan PPh final 30.000. Ayat (2) Cukup jelas.300.00 411131 Pendapatan PPh fiskal luar negeri 3. Ayat (6) Cukup jelas.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah) terdiri dari : .508.000.100.247.000.494.600.00 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 48.522.273.00 41151 Pendapatan Cukai 49.000.240. Ayat (7) Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp258.000.000. Ayat (5) Cukup jelas.000.000.00 4115 Pendapatan Cukai 49.000.200.000.000.943.000.738.496.700.000.738.000.000.000.000.00 4114 Pendapatan BPHTB 7.000.000.00 41113 Pendapatan PPh fiskal 3.000.00 411513 Pendapatan Cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol 775.494.000.000.000.000.600.160.00 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol 479.000.00 4112 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah 249.00 Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.000.600. Ayat (3) Cukup jelas.700.700.

000.000.00 4212 Pendapatan gas bumi 39.000.000.00 421511 Pendapatan perikanan 150.056.00 4211 Pendapatan minyak bumi 123.00 42141 Pendapatan dana reboisasi 1.00 421111 Pendapatan minyak bumi 123.520.000.794.677.000.000.505.625.000.401.00 423113 Pendapatan penjualan hasil tambang 6.00 4213 Pendapatan pertambangan umum 8.210.00 Pendapatan bagian laba BUMN 30.477. dan perkebunan 3.000.794. film. kehutanan.000.00 4215 Pendapatan perikanan 150.00 4231 Pendapatan penjualan dan sewa 14.029.000.330.577.235.000.(dalam rupiah) 421 Penerimaan sumber daya alam 173.00 421211 Pendapatan gas bumi 39.801.432.400.477.249.000.00 423117 Pendapatan penjualan dokumen-dokumen 422 423 .000.00 42142 Pendapatan provisi sumber daya hutan 1.451.00 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 15.527.00 4221 Pendapatan bagian pemerintah atas laba BUMN 30.000.277.740.000.211.000.483.000.000.740.168.994.133.248.000.093.00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian.639.188.496.866.000.000.000.093.00 423116 Pendapatan penjualan informasi.00 423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan 11.00 4214 Pendapatan kehutanan 2. penerbitan.000.00 421312 Pendapatan royalti 8.029.000.000.000.000.000.000.500.723.00 421311 Pendapatan iuran tetap 84.000.330.000.600.000.600. pemetaan dan hasil cetakan lainnya 41.00 423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya 219.000.000.500.794.00 42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan 6.018.000.758.834.938.000.00 423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan 15.000.000.000. survey.00 Pendapatan PNBP lainnya 49.412.521.

226.000.997.000.814.659.000.000. dan tanah 41.00 423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/ dihapuskan 1.991. SIM.000.511.949.000.000.000. STNK.037.612.00 42313 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas 7.000.00 423119 Pendapatan penjualan lainnya 78.000.00 42314 Pendapatan sewa 102. dan gudang 70.00 423211 Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya 38. paspor.00 42321 Pendapatan jasa I 11.00 423132 Pendapatan minyak mentah (DMO) 7.00 423142 Pendapatan sewa gedung.00 423143 Pendapatan sewa bendabenda bergerak 6.000.217.000.533.365.193.000.000.000.000.pelelangan 220.649.374.964.241.285.00 423215 Pendapatan sensor/ karantina.00 4232 Pendapatan jasa 16. pengawasan/ .268.260.00 423213 Pendapatan surat keterangan. dan BPKB 2.991.054.000.390.502.00 423214 Pendapatan hak dan perijinan 5.00 423141 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri 20.557.000.000. bangunan.00 423122 Pendapatan penjualan kendaraan bermotor 1.891.061.490. visa. gedung.274.355.944.097.000.00 423149 Pendapatan sewa bendabenda tak bergerak lainnya 5.381.00 42312 Pendapatan penjualan aset 33.00 423121 Pendapatan penjualan rumah.00 423123 Pendapatan penjualan sewa beli 30.000.00 423212 Pendapatan tempat hiburan/taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA) 14.332.429.147.393.944.490.160.000.270. bangunan.000.

00 423226 Pendapatan uang pewarganegaraan 3.00 423221 Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro) 42.00 42323 Pendapatan jasa luar negeri 380.000.000.00 423217 Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama 73.081.190.947.225.000.00 423241 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.00 423232 Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler 85.075.932.00 423225 Pendapatan biaya penagihan pajak negara dengan surat paksa 3.630. dan kenavigasian 317.274.052.000.660.263.000.157.500.007. pekerjaan.000.000.555.903.249.000.000.00 42324 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.000.218.458. teknologi.983.000.00 423216 Pendapatan jasa tenaga.903. pendapatan DJBC 2.489.00 42322 Pendapatan jasa II 1.000.199.00 423227 Pendapatan bea lelang 38.261.000.pemeriksaan 58.000.000.458.065.659.307. informasi.000.000.432.00 423239 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri 9.000.000.00 423231 Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia 285.00 423222 Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi 1.00 423229 Pendapatan registrasi dokter dan dokter gigi 2. pendapatan BPN.662. kepelabuhan.00 423228 Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara 61.906.500.122.00 423218 Pendapatan jasa bandar udara.807.000.000.391. pelatihan.00 42325 Pendapatan atas pengelolaan .932.

000.00 423411 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.00 423419 Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya 1.00 423519 Pendapatan pendidikan lainnya 1. kenaikan tingkat.00 423512 Pendapatan uang ujian masuk.00 423319 Pendapatan bunga lainnya 350.000.000.330.844.937.000.122.00 423415 Pendapatan ongkos perkara 10.00 423513 Pendapatan uang ujian untuk menjalankan praktik 111.809.00 423412 Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan 290.000.508.394.508.000.00 423414 Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya 18.385.862.000.000.298.000.073.505.122.00 4234 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.000.450.311.163.298.00 42331 Pendapatan bunga 1.rekening tunggal Perbendaharaan (treasury single account) dan/atau atas penempatan uang negara 3.000.662.00 42351 Pendapatan pendidikan 5.00 423511 Pendapatan uang pendidikan 3.000.00 423291 Pendapatan jasa lainnya 20.330.450.00 423413 Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan) 721.809.00 .633.00 42341 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.943.560.494.000.000.000.000.00 42329 Pendapatan jasa lainnya 20.063.000.00 4233 Pendapatan bunga 1.00 4235 Pendapatan pendidikan 5.000.000.00 423313 Pendapatan bunga dari piutang dan penerusan pinjaman 1.000.000.385.555.000.224.000.830.633.794.000.450.000.917.785.000.000.844.000.000.642. dan akhir pendidikan 174.000.935.

000.000.00 42375 Pendapatan denda 4.600.00 423735 Pungutan masuk obyek wisata alam 7.00 4237 Pendapatan iuran dan denda 687.00 423712 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa 73.000.00 423731 Pendapatan iuran menangkap/mengambil/ mengangkut satwa liar/ mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup atau mati 7.830.000.588.000.000.000.000.494.104.000.000.000.00 423713 Iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 40.000.00 423752 Pendapatan denda keterlambatan .563.000.00 423721 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.000.336.961.000.267.700.700.000.000.494.000.422.4236 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.00 42371 Pendapatan iuran badan usaha 469.000.484.00 423614 Pendapatan uang pengganti tindak pidana korupsi yang ditetapkan di pengadilan 29.000.000.900.000.00 423612 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara 2.879.000.336.00 42361 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.939.00 42373 Pendapatan dari perlindungan hutan dan konservasi alam 14.000.00 423611 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadilan 6.000.996.000.00 42372 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.000.00 423711 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM 355.

797.442.831.482.00 423999 Pendapatan anggaran lain-lain 6.392.00 423911 Penerimaan kembali belanja pegawai pusat TAYL 4.000.00 423753 Pendapatan denda administrasi BPHTB 29.000.00 423914 Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri TAYL 1.043.00 423913 Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni TAYL 9.832.00 423919 Penerimaan kembali belanja lainnya TAYL 2.975.154.591.00 Pendapatan badan layanan umum 5.851.071.000.000.950.251.167.531.000.00 42411 Pendapatan penyediaan barang dan jasa kepada masyarakat 5.575.923.285.000.334.00 424112 Pendapatan jasa pelayanan pendidikan 124.375.982.500.235.000.871.420.00 424113 Pendapatan jasa .000.00 423922 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara 1.528.617.527.000.00 42391 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu 9.000.007.00 423912 Penerimaan kembali belanja pensiun TAYL 76.010.000.000.347.00 4241 Pendapatan jasa layanan umum 5.893.00 423921 Pendapatan pelunasan piutang nonbendahara 9.821.00 423991 Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji 16.473.000.000.235.654.00 424111 Pendapatan jasa pelayanan rumah sakit 3.000.00 42399 Pendapatan lain-lain 22.424 penyelesaian pekerjaan pemerintah 4.086.000.509.00 42392 Pendapatan pelunasan piutang 1.454.000.750.000.000.000.238.00 4239 Pendapatan lain-lain 10.000.

266.000.437.00 424139 Pendapatan pengelolaan dana khusus lainnya 54.00 424119 Pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya 27.000.625.477.000.527.000.106.000.00 Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. pelatihan dan teknologi 34.4243 pelayanan tenaga.000.00 424133 Pendapatan program modal ventura 5.309.000.000.00 424135 Pendapatan program dana bergulir syariah 305.000.00 424136 Pendapatan investasi 121.00 424115 Pendapatan jasa bandar udara.287.000.000.266.412.541.392.105.00 42413 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat 185.367.618.00 (enam triliun rupiah). . kepelabuhan.445.307.108.000.000.000.000.00 424117 Pendapatan jasa pelayanan pemasaran 21. informasi.618.266.000.131.911. dan kenavigasian 933.00 424116 Pendapatan jasa telekomunikasi 842.000.618.00 424134 Pendapatan program dana bergulir sektoral 3.00 424312 Pendapatan hasil kerjasama lembaga/badan usaha 21. pekerjaan.000. Pasal 7 Realokasi cadangan risiko fiskal adalah realokasi dana cadangan risiko perubahan parameter harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) setahun dan lifting minyak sebesar Rp6.653.00 42431 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.621.800.00 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.437.

Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk hibah luar negeri yang diterima setelah APBN ditetapkan. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN Tahun Anggaran . Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai.Pasal 8 Cukup jelas. Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian negara/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku. Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama.

00 .000. Pasal 16 Cukup jelas.000.00 i.404. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.387. DBH Pajak Penghasilan 10. Ayat (6) Dana perimbangan sebesar Rp296.725.718. Ayat (5) Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2009 kepada DPR. DBH Pajak 45.754.00 a. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. yang bukan merupakan kelanjutan dari multiyears project.000.2009 dan pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor.000.022.089.000.000. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2009 setelah APBN Perubahan 2009 kepada DPR. Dana Bagi Hasil (DBH) 85.800. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.000.Pajak penghasilan Pasal 21 9. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.000.204. Ayat (2) Cukup jelas.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).00 .413.000. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.952.

Royalti 6.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah) terdiri dari: 1.00 i.819.505.240.00 .000.000.414.00 .000.00 Dana Alokasi Khusus (DAK) 24.00 .Dana Reboisasi 494.000.Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi 702.000.600.207.000.000.369.600.00 iv.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar Rp2.00 ii.Provisi Sumber Daya Hutan 999.2.Alokasi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat sebesar Rp3.000. b. DBH SDA Pertambangan Umum 6. DBH SDA Perikanan 120.000.00 b.400.728.588.00 ii.321.798.964.152.00 (dua triliun enam ratus sembilan miliar tujuh ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).000.000.000.151.000.100.000.00 iv.00 iii.300.000.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.00 .000.000. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 7.446.000.760.500.000.00 Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dana otonomi khusus sebesar Rp8. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan.Iuran Hak Pengusahaan Hutan 12.00 v. DBH SDA Gas Bumi 12.Iuran Tetap 67.000.000.564.802.609.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah) yang disepakati untuk dibagi masing-masing dengan proporsi 70 persen untuk Papua dan 30 persen untuk Papua Barat dengan rincian sebagai berikut: a.856.00 (satu triliun seratus delapan belas miliar empat ratus delapan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah).978. DBH Pajak Bumi dan Bangunan 27.546.000.000. .000.00 iii.182.797.000.00 Dana Alokasi Umum (DAU) 186.000.253. DBH SDA Minyak Bumi 19.000.000.00 . sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang .911.000.800.000.484.000. DBH Sumber Daya Alam 39.000.000.000.000.215.000.000.761. DBH Cukai 964.000.282. DBH SDA Kehutanan 1.118. 3.000.000.

berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008.728. 2.400. yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002.Alokasi dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp3. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. sosial.000.000. Perencanaan sebagian besar dari penggunaan dana otonomi khusus tersebut direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi NAD dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota dalam Pemerintah Provinsi NAD serta merupakan lampiran dari APBA. dilaksanakan.Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. 3. dan untuk tahun keenambelas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. terutama ditujukan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.000.000.00 (satu triliun empat ratus miliar rupiah).Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp1. dan kesehatan.000.000.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah). pemberdayaan ekonomi rakyat. serta pendanaan pendidikan.000.282.00 (delapan ratus miliar rupiah) dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp600. Dana otonomi khusus NAD direncanakan. serta dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).000.000.000.00 (enam ratus miliar rupiah). Dana Otonomi Khusus Propinsi Papua tersebut dibagikan kepada Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat. Dana Otonomi Khusus Aceh diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. Pencairan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat . Dana Tambahan Infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi Provinsi Papua sebesar Rp800.000. pengentasan kemiskinan.

00 (sembilan puluh enam miliar tujuh ratus empat puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).100.000.00 (dua ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus enam puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).Kurang bayar DAK tahun 2007 sebesar Rp295.000. Ayat (3) Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp51.000. 4.000.00 (enam ratus miliar rupiah) tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan penyerapan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat tahun anggaran 2008.000.000.267.000.747.000.Dana tambahan DAU untuk guru pegawai negeri sipil daerah sebesar Rp7.250. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas.Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp60.00 (tujuh triliun empat ratus sembilan puluh miliar rupiah).00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.000.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) .342.000.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.600.00 (tujuh triliun rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal dan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.790.Dana tambahan DAU sebesar Rp7.009. Ayat (3) Dana penyesuaian sebesar Rp14. 3.100. yang diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan.882.tahun anggaran 2009 sebesar Rp600. Ayat (2) Cukup jelas.000.000.000.000.Kurang bayar dana prasarana infrastruktur lainnya tahun 2007 sebesar Rp96.000. 2.000.014.000.00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dapat diusulkan untuk dialokasikan dalam APBN-P tahun 2009.000. Terdapat kekurangan dana tambahan otonomi khusus infrastruktur Provinsi Papua tahun anggaran 2008 sebesar Rp670.490.000.200.

Hasil pengelolaan aset 2.00 iv.000.00 iv.400.455.250.000. Rekening dana investasi 3.00 iii.136.629.000.945.000.696. Perbankan dalam negeri 16.00 (tiga triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) dan (ii) restrukturisasi BUMN negatif Rp1.088.000.000. tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.622.00 i.000.000.000.161. b.966. Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan atas pinjaman PT PLN (Persero) tersebut di atas diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan memperhatikan peraturan .000.00 (satu triliun rupiah).000. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. Jaminan pemerintah dimaksud diberikan atas risiko/kemungkinan PT PLN (Persero) tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran terhadap kreditur (payment default).565.565.00 i.000.000. dan pembelian kembali SBN.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batubara oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).000.599. Surat berharga negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali.966. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) apabila terealisir.690.000.00 iii. Pemerintah memberikan jaminan penuh atas kewajiban pembayaran pinjaman PT PLN (Persero) kepada kreditur perbankan.00 ii.400.106. Surat berharga negara (neto) 54.000. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan.a.034.719. sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.000.361.000. Privatisasi 500. baik SBN konvensional maupun SBSN (Sukuk).565. Rekening pembangunan hutan 1. Pelunasan piutang negara (PT Pertamina) 9.966. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik.000.00 ii. akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar.549. Dana Investasi Pemerintah dan restrukturisasi BUMN -13.161.000.00 Hasil pengelolaan aset sebesar Rp2.00 (dua triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) terdiri dari: (i) penjualan aset Rp3.000.000.000. pembayaran pokok.911.000.000.00 Non-perbankan dalam negeri 44. Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2008 2.

000. Pengeluaran dana bergulir yang bersumber dari rupiah murni dialokasikan sebagai pengeluaran pembiayaan dalam APBN.240.000.400.136.00 (satu triliun rupiah).00 (satu triliun rupiah).000.000.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) Penarikan pinjaman luar negeri bruto 52. Pemerintah melakukan penjaminan terhadap PT Garuda dalam bentuk jaminan Standby Letter of Credit kepada bank-bank BUMN.000. dan (v) dana bergulir sebesar negatif Rp 1. Dalam rangka restrukturisasi utang PT Garuda dengan Export Credit Agency (ECA).600.000. (ii) penyertaan modal negara untuk PT Pertamina sebesar negatif Rp 9.957.966.00 Pinjaman program 26.000.000.448.911. .957.000. a.440.00 Pinjaman proyek 25. (iv) dana kontinjensi untuk PT PLN sebesar negatif Rp 1. Dana investasi pemerintah dan restrukturisasi BUMN sebesar negatif Rp13.000.00 (lima ratus miliar rupiah).Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp9.00 (sembilan triliun seratus tiga puluh enam miliar tiga ratus enam puluh satu juta sembilan ratus empat puluh lima ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah).000.00 (tiga belas triliun enam ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus sebelas juta empat ratus ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah) dialokasikan untuk: (i) investasi pemerintah sebesar negatif Rp500.000.000.609.361.000. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -61.986.600.966.622.00 Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri selain dari surat berharga negara internasional. 2. (iii) pendirian lembaga penjaminan infrastruktur (guarantee fund) sebesar negatif Rp 1.perundang-undangan yang berlaku.455.00 (satu triliun sembilan ratus delapan puluh enam miliar lima ratus empat puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).400.000.000.549.00 b.198.000.000.720.160.945.000.000.

000.388.000.045.413.000.000.00 k.00 e. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000. Departemen Kelautan dan Perikanan 250. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 67.763.000.000.000.815.Pasal 20 Cukup jelas.00 c.158. Departemen PU 42.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).000.218.00 h. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 89.00 ii.000.00 l. Badan Meteorologi .550.100. Departemen Kesehatan 1.000.00 d.000. Badan Pertanahan Nasional 24.000.000.000.000.000. Departemen Agama 23.500. Kementerian Negara/ Lembaga lainnya 3.00 m. Departemen Pertanian 75. Perpustakaan Nasional 259.275.228.000.00 b.00 a.853.068.223.700.106.000.300.951.950.000.00 i. Departemen Perhubungan 800.000. Pasal 21 Ayat (1) Anggaran pendidikan sebesar Rp 207.525. Departemen Kehutanan 14.377.000.000. Departemen Pendidikan Nasional 61.000.00 j.000. Departemen ESDM 23.000.00 i.000. Departemen Keuangan 64.000.730.000.00 f.00 iii.00 g. Departemen Perindustrian 100.000.531.000.476.900.

Posisi nominal dana pihak ketiga di perbankan nasional menurun secara drastis. 2.00 Bagian Anggaran 69 1.657. DAU Pendidikan 97.000. Dana Otonomi Khusus Pendidikan 2.tidak adanya yield penawaran yang dimenangkan dalam benchmark pemerintah dalam 2 (dua) kali lelang berturut-turut. Dana Tambahan DAU 7.000.Prognosa pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen) di bawah asumsi. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer ke daerah 117.000.00 n.iv.00 Pasal 22 Restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa beban bunga SU-002 dan SU-004 pada tahun 2009 dan selanjutnya didasarkan pada tingkat bunga hasil restrukturisasi yaitu sebesar 0.334.000. dan/atau b.490. Pasal 23 Ayat (1) Keadaan darurat tersebut terjadi apabila: 1.000.Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara yang menyebabkan tambahan biaya penerbitan SBN secara signifikan tercermin dalam: a.00 iii.000.00 v.00 Ayat (2) Cukup jelas.000.000.678.1% (nol koma satu persen).000. Badan Tenaga Nuklir Nasional 7.000.000. sedangkan prognosa indikator ekonomi makro lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh persen) dari asumsinya. 3.941.000.400.705. dan Geofisika 16.000.000.982. dan adanya perkiraan tambahan . 2. DAK Pendidikan 9.597.862.00 i. Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosa penurunan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan PNBP. Prognosa tersebut dihitung berdasarkan realisasi indikator ekonomi makro tahun 2008.000.837.000.000.237.000.060.00 iv.000.00 ii.terjadi kecenderungan peningkatan yield sekurang-kurangnya sebesar 300 basis points (bps) dalam 1 (satu) bulan.900. DBH Pendidikan 817.

yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Laporan Arus Kas. Untuk menutup kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Pemerintah dapat melakukan penempatan langsung atau private placement Surat Berharga Negara pada Bank Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Neraca. Yang dimaksud dengan persetujuan DPR adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang dilakukan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam sejak diterimanya usulan Pemerintah. Pasal 25 Cukup jelas. subsidi BBM dan listrik.beban kewajiban negara yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang. Pasal 26 Ayat (1) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ayat (2) Penerbitan Surat Berharga Negara dapat dilakukan dengan metode lelang maupun tanpa lelang (penempatan langsung atau private placement). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. serta belanja lainnya. Ayat (3) Informasi tentang pendapatan dan belanja secara akrual dimaksudkan sebagai tahap menuju pada penerapan anggaran yang dilengkapi dengan informasi hak dan kewajiban yang diakui sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih. .

1 -1 . Ayat (6) Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Ayat (7) Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pasal 27 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4920 LAMPIRAN I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2009 BUKU I DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB 1PENDAHULUAN 1 I. Ayat (5) Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual pada Tahun Anggaran 2009 diterapkan pada satuan kerja berstatus Badan Layanan Umum yang secara sistem telah mampu melaksanakannya.Ayat (4) Cukup jelas.

BAB 2TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 I.2 A. Kondisi Umum I.2 A.1. Pencapaian Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 I.2 -1 A.1.1. Agenda Aman dan Damai I.2 -1 A.1.2. Agenda Adil dan Demokratis I.2 -3 A.l.3. Agenda Kesejahteraan Rakyat I.2 A.2. Masalah dan Tantangan Pokok Tahun 2009 I.2 B. Tema Pembangunan Tahun 2009 dan Pengacusutamaan Pembangunan I.2 C. Prioritas Pembangunan Tahun 2009 I.2 -31 I. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan I.2 II. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi I.2 -46 III. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri I.2 BAB 3KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN A. Kondisi Ekonomi Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 B. Lingkungan Eksternal dan Internal Tahun 2009 C. Tantangan Pokok D. Arah Kebijakan Ekonomi Makro E. Sasaran Ekonomi Makro Tahun 2009

-1 -1

-5 -14 -29 -31

-66

I.3 -1 I.3 -1 I.3 -9 I.3 -10 I.3 -11 I.3 -12

BAB 4KAIDAH PELAKSANAAN I.4 -1 LAMPIRAN : MATRIKS PRIORITAS, FOKUS, DAN KEGIATAN PRIORITAS RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUTN 2009 II. -1 BAB 1 PENDAHULUAN Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan pelaksanaan

dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam hal ini, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. RKP Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Di dalam RPJMN Tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1.Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2.Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3.Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan tahun RKP, ditetapkan Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya. yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarbn ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Prioritas pembangunan nasional tahunan disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1.Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2.Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3.Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; 4.Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5.Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Dengan demikian RKP merupakan pedoman bagi penysunan Anggaran

Pendapatan dan belanja Negara (APBN), di mana kebijakan APBN ditetapkan secara bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Dengan cakupan dan cara penetapan tersebut, RKP mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1.Menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan, karena memuat seluruh kebijakan publik; 2.Menjadi pedoman dalam penyusunan APBN, karena memuat arah kebijakan pembangunan nasional satu tahun; dan 3.Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah. Lebih lanjut, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah, RKP juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP Daerah (RKPD). Sebagaimana RKP sebelumnya, dokumen RKP Tahun 2009 dilengkapi dengan Buku II yang berisi uraian tentang Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program. RKP Tahun 2009 ini belum sepenuhnya menampung kegiatan dalam RKA-KL mengingat masih dalam proses penyusunan. Namun, RKP Tahun 2009 ini telah disesuaikan dengan hasil pembahasan dalam Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009. BAB 2 TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 A. KONDISI UMUM

A.1.PENCAPAIAN TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Pelaksanaan pembangunan tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008 yang merupakan tahun ketiga dan tahun keempat RPJM Tahun 2004 - 2009 memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan ketiga agenda pembangunan yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Kemajuan penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. A.1.1. AGENDA AMAN DAN DAMAI Pelaksanaan Agenda Aman dan Damai telah mencapai kemajuan dengan terwujudnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang

kompetensi. pencucian uang. Jepang (JICA) . dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis. serta kelambatan antisipasi penanganan kejahatan transnasional adalah lemahnya profesionalisme lembaga kepolisian. dan Amerika Serikat (ICITAP. Efektivitas intelijen dan pengamanan rahasia negara merupakan faktor penentu dalam pencegahan. kesenjangan kesejahteraan ekonomi. doktrin. Selanjutnya. Arab Saudi. Dalam rangka menjawab tantangan global dan semua bentuk gangguan keamanan yang tidak lagi mengenal batas negara (borderless crime). Globalisasi dan diberlakukannya pasar bebas akan meningkatkan mobilitas penduduk baik inter maupun antar negara. Oleh karena itu diperlukan lembaga kepolisian yang efektif. agama dan golongan merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban terutama kontlik berdimensi kekerasan di beberapa daerah. perdagangan perempuan dan anak. konflik horizontal. Kerja sama internasional teknis profesional penanggulangan kejahatan telah dilakukan dengan Jerman (GSG). pengungkapan dan penanganan tindak kejahatan transnasional. manajemen operasional. dan sistem pengamanan . antara lain. Sementara itu. aspek instrumental (filosofi. penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. serta berbagai bentuk kriminalitas yang !ainnya. fungsi. susunan dan kedudukan). Upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. dan aspek kultural (manajemen sumber daya. Faktor kompleksitas kepentingan sosial politik. pengelolaan ketertiban masyarakat. kemampuan. dan lalulintas nuklir dan sebagainya menjadikan kejahatan transnasional menjadi sulit tertangani. organisasi. keamanan. Salah satu sebab utama belum optimalnya penanganan kriminalitas. efisien. dan akuntabel. DEA). Penanganan berbagai tindak kriminal seperti kejahatan konvensional maupun transnasional. ATA. kewenangan. Filipina. maka telah ditempatkan perwira penghubung (LO/SLO) di berbagai negara. Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi. maka kerja sama internasional merupakan jawaban bagi seluruh penegak hukum di dunia untuk bangkit memerangi kejahatan yang bersifat transnasional. Malaysia. dalam rangka memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. dan Australia. penegakan hukum. menyebabkan kejahatan transnasional seperti narkoba. konflik vertikal. Timor Leste. baik secara kuantitas maupun kualitas telah menunjukkan hasil yang signifikan. ketidakadilan. dan iptek). bahkan ancaman keselamatan. penyelundupan. perkembangan organisasi kejahatan internasional yang didukung oleh kemajuan teknoiogi komunikasi dan informasi serta teknologi persenjataan. Thailand.semakin kondusif.

agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya. dan budaya yang beragam. dan dalam menangani dampak bencana. seperti bencana alam yang telah terjadi di beberapa wilayah. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Polri dalam mencegah dan menindak kejahatan terorisme dan narkoba. di setiap Polda telah terbentuk Den-88. seperti pemberontakan bersenjata. serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan. maka pembangunan kemampuan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada tetapi hanya untuk mempertahankan kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki. polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. Peningkatan kemampuan Polri juga ditempuh melalui percepatan penambahan jumlah personil dan kualitas personil. Peningkatan jumlah personil diupayakan melalui rekruitmen dengan sasaran 1 : 600 yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2009.di masyarakat). bangsa. Reformasi TNI telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial. yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. serta Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. secara geopolitik dan geostrategi. kebijakan umum dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan. Dalam rangka penyiapan cetak baru pertahanan telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005-2009. Indonesia terletak pada posisi yang strategis dari menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. Kemampuan pertahanan yang kuat dan solid. dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. Di samping itu. dan pengadaan alutsista secara terbatas. telah . retrofitting. sedangkan peningkatan kualitas personil diupayakan melalui pendidikan dan latihan. pemeliharan. Untuk mengurangi ketergantungan sumber pengadaan alutsista kepada satu atau dua negara saja. Sejalan dengan tugas fungsi dan peran pertahanan negara tidak semata-mata hanya ditujukan kepada ancaman dari luar. tidak saja akan menempatkan NKRI semakin disegani dan dihormati dalam pergaulan internasional. Di sisi lain. ekonomi. peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI. dihadapkan dengan keterbatasan anggaran. serta pemantapan reformasi TNI yang dihadapkan dengan supremasi sipil. Upaya peningkatan profesionalisme personel ditempuh melalui penataan organisasi. tetapi juga berfungsi untuk mengatasi ancaman dalam negeri. antara lain melalui repowering. tetapi juga memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di dalam menangani bencana di dalam negeri.

Pada tahun 2008. Pada awal tahun 2008.2. Untuk pencegahan korupsi. Pada tahun 2007. melalui antara lain penyesuaian peraturan perundang-undangan nasional yang sejalan dengan Konvensi Anti Korupsi 2003. dunia usaha maupun masyarakat. Salah satu sebabnya adalah cepatnya pemberian izin yang diberikan oleh Presiden kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap penyelenggara negara yang berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari hasil investigasi telah melakukan tindak pidana korupsi. Untuk langkah pencegahan. selama tahun 2007 langkah-langkah untuk menciptakan iklim takut korupsi semakin memperlihatkan perkembangan yang positif baik di lingkungan penyelenggara negara. telah dilakukan upaya memperkuat pemberdayaan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. sosialisasi RAN PK dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAN PK) telah dilakukan pada dua provinsi. AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS Dalam rangka pemberantasan korupsi. Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Korupsi Tahun 2003 (UNCAC 2003). upaya pemberantasan korupsi tetap dilanjutkan melalui langkah pencegahan dan penindakan hukum. Langkah-langkah pencegahan dan penindakan dilakukan secara bersamaan agar benar-benar memperlihatkan efek jera di semua lini kehidupan masyarakat. Melalui UU No 7/2006. keterbatasan yang ada tidak menjadikan kendala dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. akan dilakukan kegiatan sosialisasi RAN PK dan penyusunan RAD PK . sebagai salah satu bentuk komitmen dalam upaya pemberantasan korupsi. Namun demikian. Sedangkan untuk langkah penindakan baik yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung beserta jajarannya maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah memperlihatkan peningkatan yang semakin signifikan. yang antara lain menginstruksikan dibuatnya Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK). Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of the State Parties (CoSP) II UNCAC di Bali dengan memprioritaskan pada upaya pengembalian aset korupsi baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.ditempuh langkah-langkah ke arah diversifikasi dalam pengadaan alutsista yang bekerja sama dengan beberapa negara. Sepanjang tahun 2007. Adanya keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan rencana kebutuhan dalam pembangunan pertahanan sehingga pemenuhan kebutuhan pertahanan belum dapat mencapai pembentukan kekuatan pokok minimum (minimum essential force) TNI. A. penindakan terhadap pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah dilakukan tanpa mengalami hambatan yang berarti.1.

dan perbaikan tingkat kesejahteraan aparatur negara meskipun masih terbatas. dan dilakukannya penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM/aparat pengawas internal pemerintah. seperti RUU Pelayanan Publik. ditandai antara lain: penerapan pelayanan satu pintu di berbagai daerah. Upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan oleh Kejaksaan dan KPK. Inisiatif reformasi birokrasi telah dilaksanakan di lingkungan instansi pemerintah sebagai upaya meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan. RUU Etika Penyelenggara Negara. yang akan diperkuat dengan dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan undang-undang tersendiri. dan lainnya. Fokus penindakan korupsi akan ditujukan pada kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat luas. RUU Administrasi Pemerintahan. peningkatan kompetensi aparatur negara melalui penyelenggaraan assesment center dan berbagai diklat baik struktural maupun fungsional. telah diterbitkannya Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Permendagri No. berbagai kemajuan telah dicapai pada tahun 2007. beberapa pencapaian penting yang diharapkan . antara lain: diterbitkannya PP No. Beberapa naskah RUU tersebut telah dibahas dengan DPR dan diharapkan pada tahun 2008 terdapat perkembangan yang berarti. Selain itu juga akan secara intensif dilakukan sosialisasi terhadap Konvensi Anti Korupsi 2003 dan strategi nasionalnya yang akan melibatkan semua aparat pemerintah pusat dan daerah. makin meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kompetensi auditor eksternal yang ditandai dengan dibukanya perwakilan BPK di provinsi sesuai mandat UU No 15/2006 tentang BPK dan rekruitmen tenaga auditor. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara. Pada tahun 2008. RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah. yang antara lain ditandai dengan: tersusunnya berbagai naskah RUU sebagai landasaan pelaksanaan reformasi birokrasi. Sedangkan di bidang sumber daya manusia (SDM) aparatur. 6 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan dari PP No. dan telah diselenggarakan berbagai diklat manajemen SPM. juga telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang cukup berarti. beberapa instansi pemerintah di pusat telah melakukan inisiatif reformasi birokrasi seperti Depkeu. 65 Tahun 2005. terdapat kemajuan antara lain: upaya penyempurnaan regulasi di bidang SDM aparatur. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Kemajuan di bidang pelayanan publik. dunia usaha dan masyarakat luas. Di bidang penataan kelembagaan.di 4 (empat) provinsi. penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan publik (e-services) termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). serta pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS dan pengadaan PNS secara nasional. RUU Kementerian Negara. MA dan BPK.

meningkatnya pelayanan publik di bidang kependudukan. Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. diundangkannya UU Pelayanan Publik. Pedoman Umum Reformasi Birokrasi beserta juklak dan juknisnya. pendidikan dan infrastruktur yang disesuaikan dengan PP No 65 Tahun 2005. diharapkan tersusun pedoman sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. ditingkatkannya kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan SPM. sisa 2 (dua) paket UU bidang politik yang belum dapat diselesaikan pembahasannya akan segera dibahas dan diundangkan. pada awal 2008 telah ditetapkan UU No. Hasil penting lainnya dalam pembangunan lembaga demokrasi pada tahun 2007 adalah terpilih dan terbentuknya keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru. sebagai respon atas penerapan anggaran berbasis kinerja dan tuntutan atas peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. dan mendorong peningkatan kinerja PNS. layak. Pencapaian penting lainnya yang diharapkan dapat diwujudkan pada tahun 2008 adalah diselesaikannya Rencana Induk Reformasi Birokrasi. Secara bertahap. yang didukung dengan meningkatnya kompetensi tenaga pengawas dan pemeriksa/auditor. tersusunnya standar pelayanan perkotaan (SPP). di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan. pertanahan. investasi/penanaman modal. pengadaan barang dan jasa pemerintah/publik. sebagai landasan proses penguatan lembaga-lembaga demokrasi khususnya pelaksanaan Pemilu 2009. tersusunnya SPM sektoral bidang kesehatan. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. PNS yang lebih akuntabel sebagai pengganti sistem DP3. Pada tahun 2008.terwujud diantaranya: dilanjutkannya penyusunan dan pembahasan dengan DPR berbagai RUU yang terkait dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. Diharapkan pula terwujud peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang pengawasan dan pemeriksaan. Untuk pembangunan SDM aparatur. 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik dan UU No. dilakukannya penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait. Dengan akan diselesaikannya semua pembahasan dan ditetapkan semua UU . tahun 2008 diharapkan tersusun penyempurnaan sistem remunerasi PNS yang adil. dan DPRD. 10 tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota DPR. perpajakan dan kepabeanan. dan ditingkatkannya penerapan e-government untuk mendukung kualitas pelayanan publik. DPD. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya penataan kelembagaan atas lembaga non struktural (quasi birokrasi) agar berfungsi secara lebih efektif dan efisien. Di samping itu. adalah ditetapkannya UU No. Kemajuan pelembagaan demokrasi yang juga perlu mendapat perharian pada tahun 2007 adalah keikutsertaan calon independen dalam pilkada melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan judicial review terhadap Pasal 59 Ayat 3 UU No. dan tersusun sistem penilaian kinerja.

Defisit APBN tahun 2007 mencapai 1. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal.0 triliun (13.1.3 persen PDB.5 triliun. Pencapaian penerimaan negara dan bibah tersebut terutama bersumber dan penerimaan perpajakan sebesar Rp 491.3 triliun (6. pada tahun 2008 diharapkan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah dan KPU/KPUD sebagai lembaga penyelenggara pemilu di pusat dan daerah.Realisasi pendapatan negara dan hibah sampai dengan akhir tahun 2007 diperkirakan mencapai sebesar Rp 708. c. Hal-hal pokok terkait dengan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut: a.0 triliun (5. veriftkasi peserta pemilu dan validasi calon anggota legislatif.1 persen atau naik Rp 14. Disamping itu juga diharapkan sudah dapat dilakukan penyempurnaan dan perbaikan data pemilih. dan sektor riil.bidang politik. AGENDA KESEJAHTERAAN RAKYAT Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat.7 triliun.1 persen atau naik Rp70.7 persen PDB). Realisasi tersebut lebih tinggi 0. Secara kelembagaan. A. dan penyediaan logistik Pemilu 2009. yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 504. lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN tahun 2006 yang mencapai 0. Pendapatan Negara dan hibah tahun 2007 lebih tinggi 11. Di sisi kebijakan fiskal. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 2.9 triliun dari target APBN-P tahun 2007. Hal lain yang sangat penting untuk dicapai pada tahun 2008 adalah peningkatan kapasitas dan kesiapan partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat pemilih.7 persen PDB).8 triliun (13. b. penyediaan sarana dan prasarana pendukung Pemilu 2009. kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.7 persen PDB). penguatan lembaga keuangan.6 persen atau meningkat Rp 4. Defisit APBN diupayakan pada batas-batas aman keuangan negara melalui peningkatan pendapatan negara serta peningkatan efisiensi pengeluaran negara. dan hibah sebesar Rp 1. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006.2 triliun (20.5 triliun (18. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. realisasi pengeluaran negara pada tahun 2007 lebih tinggi 13. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 215.1 triliun. moneter.4 triliun dari target APBN-P tahun 2007.3 persen PDB) dan belanja ke daerah sebesar Rp 253.3.0 persen PDB).0 persen PDB).Realisasi pengeluaran negara sampai dengan 31 Desember 2007 mcncapai sebesar Rp 757.5 persen atau meningkat sebesar Rp 90. maka pada tahun 2008 semua peraturan pelaksanaan/petunjuk teknis penyelenggaraan Pemilu 2009 sudah dapat diselesaikan penyusunannya.9 persen .

per USD pada bulan Oktober 2007. e. Suku bunga acuan tetap dipertahankan sampai bulan April 2008.96 persen.300 per USD. laju inflasi meningkat. dengan tingginya harga komoditi pertanian di pasar dunia. namun lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar 1. peran sektor keuangan dalam menjalankan fungsinya sebagai intermediasi keuangan juga semakin membaik.9.. laju inflasi diupayakan tetap terkendali..0 persen pada bulan Desember 2007 dan tetap dipertahankan hingga bulan April 2008. Memasuki tahun 2008. 9. pertumbuhan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui bank umum juga terus meningkat.5 persen (y-o-y) pada Maret 2008.4 persen (y-o-y) dan terus tumbuh mencapai 29.5 persen pada bulan Januari 2007 menjadi 8.3 persen dibandingkan tahun 2006. rata-rata harian nilai tukar sebesar Rp. Terjadinya krisis subprime mortgage pasar keuangan Amerika Serikat di bulan Juli 2007 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar uang Indonesia. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 8.Defisit anggaran dalam APBN-P tahun 2008 diperkirakan mencapai 2.140 per USD atau menguat 0.Sejalan dengan menguatnya kinerja pasar modal.0 persen PDB. c. Penyaluran kredit UMKM sampai dengan akhir tahun 2007 tumbuh sebesar 22.pada tahun 2007 laju inflasi mencapai 6.3 persen PDB. Dari sisi kebijakan moneter.per USD kembali menguat menjadi Rp 9.Dalam rangka meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.000 .PDB. Suku bunga acuan (BI rate) diturunkan secara bertahap dari 9.60 persen). Tekanan inflasi yang meningkat sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna membantu penurunan ekspektasi inflasi.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp. defisit APBN tersebut masih berada pada batas-batas aman keuangan negara. rata-rata nilai tukar rupiah harian pada tahun 2007 mencapai Rp 9. relatif sama dengan tahun 2006 (6.367. terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditi makanan dan makanan jadi. b. Secara keseluruhan. d. lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai 1. .59 persen (y-o-y).Stabilnya nilai tukar rupiah dan laju inflasi yang terkendali mendorong penurunan suku bunga perbankan secara bertahap.Nilai tukar yang melemah pada bulan Agustus 2007 menjadi Rp 9. stabilitas moneter tetap dijaga sepanjang tahun 2007. mulai ditingkatkan bulan Mei 2008 menjadi 8.7 persen PDB. Meskipun meningkat.25 persen. Pencapaian sasaran di bidang moneter dan keuangan antara lain: a. pada bulan April 2008.4 persen (y-o-y). Hal ini tercermin dari meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan sebesar 26. 9. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati.107. d.

9 persen. Pada kurun waktu yang sama angkatan kerja meningkat dari 108. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan komunikasi.0 persen.6 persen.5 persen. serta bangunan yang masing-masing tumbuh sebesar 14. kopdisi ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang baik. Dengan memperhitungkan resiko gejolak eksternal yang cukup besar. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5.5 persen (y-o-y). pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. ekonomi tumbuh 6. konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.0 persen. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi.0 persen. listrik.5 . perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya.4 persen. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6.1 juta menjadi 111.0 persen dan 13. Dari sisi produksi. sejalan dengan perekonomian yang terus meningkat. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. dan 8.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3. Lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007 .4 persen. Sementara itu.5 persen dan 2.Februari 2008 meningkat sangat tinggi yaitu hampir 4. Dalam tahun 2008.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.2 persen dan 8. Dalam hal ketenagakerjaan.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.Upaya-upaya yang ditempuh tersebut telah mampu mendukung perekonomian untuk dapat kembali tumbuh cukup tinggi. Sejak paruh kedua tahun 2007. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. 10.5 juta lapangan pekerjaan baru. Momentum pertumbuhan terus berlanjut pada triwulan I/2008.8 persen menjadi 6.4 persen. Dari sisi permintaan. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. Dalam triwulan I/2008. gas dan air bersih.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 5.

Keadaan ini cukup memprihatinkan karena usia mereka masih usia sekolah. .71 persen.32 persen terhadap PDB Nasional atau naik sebesar 7.58 persennya atau sekitar 1.juta atau meningkat sekitar 3.0 juta orang atau 49. perikanan dan kehutanan mencapai sebesar 3. miskin dan tidak terampil telah diupayakan oleh Pemerintah.14 persen. Hal ini pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka.03 kuintal per hektar atau 0. penduduk usia 15-19 tahun yang menganggur mencapai 2.2 juta orang atau 22. lebih tinggi dari target yang direncanakan sebesar 2.7 juta dari mereka atau 27.23 persen.05 juta ton GKG yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir atau meningkat 4. Pengangguran terbuka masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah. Pada tahun 2007 PDB pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) meningkat 4. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya luas panen sekitar 121. Jumlah penganggur usia 20-24 tahun mencapai sekitar 3.4 ribu ton. Pada Agustus 2007. termasuk revitalisasi pertanian.10 persen hanyalah lulusan SD ke bawah.62 persen.77 persen dibanding tahun 2006.4 juta orang berada di perdesaan. Demikian pula PDB perikanan pada tahun 2007 kontribusinya naik menjadi sebesar 2. Dari jumlah penganggur usia 20-24 tahun tersebut. Target ini terlampaui karena adanya peningkatan produksi pertanian hingga melebihi sasaran yang telah dicanangkan antara lain produksi padi/beras yang mencapai sebesar 57.75 persen pada Februari 2007 menjadi 8. Sebaliknya pada tahun tersebut produksi kedelai mengalami penurunan sebesar 20.29 juta ton.3 juta orang. pada tahun 2007 pertumbuhan sektor pertanian. Pertumbuhan sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat.86 persen.5 persen. pada Agustus 2007 proporsi penganggur dengan pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah mencapai sekitar 5. perikanan. pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor tanaman bahan makanan sekitar 5.6 persen dibandingkan tahun 2006.61 juta ton menjadi 13. Berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dibiayai oleh APBN.76 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 592.02 persen. Penciptaan lapangan kerja bagi penduduk berlatar pendidikan relatif rendah. Demikian juga untuk produksi jagung meningkat 14. Secara sektoral.7 ribu ha atau 21 persen dibanding tahun sebelumnya. perkebunan sekitar 2. bahkan 2. yaitu dari 9.44 persen dan peternakan sekitar 2.4 juta orang atau 30.42 persen.46 persen orang pada Februan 2008. Penganggur usia muda masih merupakan proporsi terbesar dri keseluruhan penganggur terbuka. meskipun produktivitas mengalami kenaikan 0. 42.7 persen. kehutanan dan perdesaan. telah mulai dikembangkan dan dikonsolidasikan agar tenaga kerja yang dicakup semakin banyak dan merata.44 persen dibanding tahun sebelumnya dari 11.

Sebaliknya pertumbuhan sub sektor kehutanan mengalami penurunan karena masih banyaknya illegal logging yang mengakibatkan kerusakan hutan, sehingga berakibat pada menurunnya produksi kayu dari hutan alam yang belum dapat digantikan dengan produksi hasil hutan tanaman industri dan non kayu lainnya. Hal tersebut telah menyebabkan banyaknya industri hasil hutan yang tutup. Dalam rangka pelaksanaan revitalisasi, kegiatan di bidang perikanan difokuskan pada peningkatan produksi dan pengembangan tiga komoditas penting, yaitu udang, ikan tuna, dan rumput laut, dengan tetap melakukan upaya peningkatan mutu dan kegiatan optimalisasi pengelolaan perikanan sejak dari penangkapan ikan (on farm) hingga pemasaran. Untuk mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, pemerintah telah melakukan rehabilitasi, pembangunan, peningkatan fasilitas pendukung berupa Pelabuhan Perikanan Samudra, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan. Selain itu, dilaksanakan juga rehabilitasi dan pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan di 33 provinsi. Pada sub sektor kehutanan, upaya revitalisasi masih terus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain melalui kegiatan-kegiatan: (i) Pengembangan pemanfaatan hutan alam dengan meningkatkan manajemen Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHK); (ii) Penertiban peredaran hasil hutan dalam rangka mengoptimalkan PNBP dan Dana Reboisasi (DR); (iii) Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH); (iv) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); (v) Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak dibebani hak/ijin pemanfaatan; dan (vi) Restrukturisasi industri primer kehutanan. Di bidang infrastruktur, upaya peningkatan pelayanan infrastruktur sesuai standar pelayanan minimum pada tahun 2008 telah diwujudkan melalui pembangunan saluran air baku dengan kapasitas terpasang 1,00 m3 / detik, rehabilitasi sarana/ prasarana pengendali banjir di 62 lokasi pembangunan, pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km, prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan seluas 688 ha, kondisi jalan nasional telah mencapai 81 persen mantap dari panjang jalan nasional dengan peningkatan pelayanan prasarana jalan menjadi 45 km per jam; pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan pulau terluar sepanjang 100 km; pembangunan jalan di kawasan perbatasan sepanjang 110 km., pemberian subsidi operasi perintis angkutan jalan pada 153 lintas, pengadaan bus perintis sebanyak 340 unit, pelayanan pelayaran perintis untuk 62 trayek, subsidi operasi lintas penyeberangan perintis pada 80 lintasan, pelayanan penerbangan perintis untuk 90 rote, penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan angkutan penumpang KA kelas ekonomi sebanyak 70 KA dan angkutan laut kelas ekonomi pada 22 trayek, rehabilitasi dan pembangunan jalan poros desa melalui (DAK) sepanjang 88.205 km dan pengadaan sarana angkutan perdesaan; pengembangan

energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terlaksananya Program integrated micro hydro development and application program (IMIDAP), pembangunan listrik di perdesaan yaitu: PLTS 50 Wp sebanyak 59,000 unit, PLT bayu 80 kW sebanyak 14 Unit; PLTMH sebanyak 1,270 kW, Gardu Distribusi sebanyak 930 Buah/ 44,950 kVA, JTM sebanyak 1,803 kms, JTR sebanyak 1,453 kms; penyediaan PSO pos untuk 2.350 kantor pos cabang luar kota; pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 15.448 unit/30 kawasan, pengembangan Desa-desa Pusat Pertumbuhan di 146 kawasan di 32 provinsi, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 28.000 unit, pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1800 desa, Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 100 lokasi, peningkatan pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional di 35 kab/kota. Dalam rangka peningkatan daya saing sektor riil, pada program pembangunan bidang infrastruktur telah dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 210,73 ribu ha dan rawa seluas 207,67 ribu hektar; pembangunan 7 waduk dan 35 embung, pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang 145 km, pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 71,1 km, tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian, rehabilitasi jalan nasional sepanjang 4.000 km, pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa sepanjang 70 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km, rehabilitasi/peningkatan jalan provinsi/kabupaten/kota sepanjang 418.346 km melalui DAK, peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan Lintas sepanjang 4.410 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km pengadaan sarana KA Kelas Ekonomi, Kereta Rel Listrik, dan Kereta Rel Diesel/Kereta Rel Diesel Electric/Kereta Diesel Kelas 3 sebanyak 45 unit, rehabilitasi Dermaga Penyeberangan pada 36 Dermaga, pembangunan dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan pada 129 Dermaga, pengadaan kapal perintis dan bus air sejumlah 84 Buah, rehabilitasi landasan dan fasilitasnya 450.000 m2; pengembangan Energi Alternatif dan Teknologi Energi Baru Terbarukan, pengembangan wilayah distribusi gas bumi untuk rumah tangga, industri kecil, dan transportasi (gas kota) , pemberian insentif penyediaan energi alternatif, Land Mark penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (Koordinasi Pengembangan dan Pemanfaatan Biofuel), pengembangan teknologi pembangkit listrik lampu hemat energi; pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang dilakukan BUMN PT. PLN baik untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru ataupun rehabilitasi dan repowering pembangkit listrik berbahan bakar batubara, gas dan energi terbarukan hidro dan panas bumi, serta untuk pembangunan

jaringan penyaluran transmisi dan distribusinya, pengembangan regulasi dan pengawasan dalam rangka meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri serta meningkatkan pembinaan industri penunjang ketenagalistrikan dalam negeri melalui pembinaan usaha serta pengembangan standarisasi dan sertifikasi; pembahasan RUU Pos pengganti UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos, penyusunan RUU Telekomunikasi pengganti UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, pengembangan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dalam rangka pengamanan dan pengawasan jaringart internet di Indonesia, pembangunan prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access, penyediaan infrastruktur TIK melalui program Community Access Point (CAP) dan warung masyarakat informasi, penyediaan sarana dan prasarana air limbah sistem terpusat di 26 kawasan/kota, pembangunan sarana dan prasarana air minum pada 69 kawasan strategis, dan pengembangan sistem drainase di 11 kabupaten/kota. Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyediaan infrastruktur melalui kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha, hingga tahun 2006 telah dilaksanakan persiapan perlaksanaan Public-Private Partnership (PPP) untuk Penyediaan Air Baku Industri; persiapan pelaksanaan pembangunan jalan tol dan Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara; pemberian hak khusus pembangunan jaringan pipa gas dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah; penerbitan peraturan tentang penetapan tarif berbasis biaya melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Awal dan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar melalui Jaringan Tetap dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular; dan penetapan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Terkait fenomena global mengenai perubahan iklim, kebijakan pemerintah mengenai peningkatan kapasitas mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan sekaligus dalam rangka pengurangan risiko bencana telah diselesaikan, antara lain: pembangunan prasarana pengendali banjir seluas 500 ha dan panjang 954 km; pemeliharaan prasarana pengendali banjir sepanjang 1,387 km; pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 70 km; pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km; kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; upaya penanganan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) secara terpadu dengan penanganan daerah hulu dan hilir sungai. Sementara itu, setelah empat tahun pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias, serta hampir tiga tahun pelaksanaan tugas dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (BRR NAD-Nias), lembaga tersebut akan segera mengakhiri masa tugasnya pada bulan April 2009 yang akan datang. Dengan

dan pengarusutamaan gender. (2) masih diperlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. Namun demikian. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga dilakukan selama hampir dua tahun terakhir ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi 27 Mei 2006. air bersih dan sanitasi.74 triliun. terutama bagi kelompok rentan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. pemulihan fasilitas pendukung kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan dan kesehatan. Selain di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias. maka pada tahun 2009 penyelesaian dan keberlanjutan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias akan dilanjutkan oleh kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tahun 2007. serta pemulihan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat. sarana dan prasarana wilayah. serta Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di Provinsi Sumatera Utara. sementara untuk pemulihan prasarana publik telah dialokasikan sebesar Rp 1. menunjukkan bahwa pemulihan perumahan korban bencana telah diselesaikan melalui pendanaan sebesar Rp 5. dijadwalkan dapat diselesaikan pada bulan Juni 2008. peningkatan kesejahteraan sosial. memperkuat kapasitas kelembagaan.2 triliun. peningkatkan SDM. dengan memperkuat landasan perekonomian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan melalui proses legalisasi peraturan daerah. pemulihan perekonomian masyarakat. pasca kejadian gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. dan penyelesaian masalah pertanahan dan penataan ruang wilayah. diantaranya: (1) penataan ruang permukiman dan pengembangan lahan skala besar yang memenuhi tata lingkungan yang baik dengan pendekatan pengurangan risiko bencana. penyelesaian perumahan dan permukiman bagi korban bencana. Pelaksanaan pemulihan pasca bencana melalui pendanaan APBN sejak tahun 2006 hingga 2008. pada tahun 2008 pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur. masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2009 dalam pembangunan daerah pasca rehabilitasi dan rekonstruksi. (3) masih . pemenuhan pelayanan dasar.4 miliar. 9 tahun 2006. dan untuk pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah telah dialokasikan sebesar Rp 430. pencapaian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias yang telah dilaksanakan oleh BRR NAD-Nias mencakup beberapa kegiatan pokok yaitu: penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. pengelolaan lingkungan hidup. prasarana lingkungan permukiman. meningkatkan koordinasi antar pelaku pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan wilayah.berakhirnya tugas dari BRR NAD-Nias tersebut.

serta (4) dukungan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana. termasuk upaya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi pandemi. perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2006-2008 menjadi acuan kebijakan pelaksanaan upaya pengendalian flu burung dan saat ini . memperbaiki pola asuh. serta peningkatan sarana prasarana transportasi.000 kelahiran hidup.02% pada tahun 2005 (Susenas 2007). Flu burung telah menjadi isu global dan nasional karena memiliki dampak besar pada kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa manusia. Sampai akhir Februari 2008 kasus flu burung pada manusia mencapai 129 kasus dan 105 diantaranya meninggal. telah ditetapkan program dan fokus kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pendayagunaan rencana tata ruang wilayah sebagai salah satu instrumen utama untuk mengurangi resiko bencana dan peningkatan kualitas informasi. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang saat ini baru mencapai 71. hal ini antara lain dapat dinilai melalui perbaikan berbagai indikator kesehatan seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100. pendidikan ibu. Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia juga cenderung terus meningkat. data maupun peta wilayah rawan bencana yang memadai bagi analisa pola pemanfaatan ruang sekaligus menguatkan kelembagaan di tingkat daerah dalam pengendalian pemanfaatan rencana tata ruang wilayah.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). pencegahan dan pengendalian flu burung memerlukan upaya menyeluruh dan terintegrasi dari segi tata laksana kesehatan hewan dan kesehatan manusia. Demikian pula dengan status gizi anak balita mengalami perbaikan yang ditandai dengan menurunnya persentase balita yang mengalami kekurangan gizi dari 34. diperlukan upaya yang lebih keras.9 persen (Susenas 2007).4% pada tahun 1999 menjadi 28. Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20% pada tahun 2009. Dengan kondisi ini. peran perempuan. status kesehatan masyarakat terus menunjukkan perbaikan.diperlukannya dukungan yang difokuskan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah serta pemulihan infrastruktur perekonomian lokal. dan meningkatkan pelayanan kesehatan dasar. Di bidang kesehatan. penanggulangan kemiskinan. Namun demikian untuk mencapai sasaran penurunan AKI pada tahun 2009 menjadi 226 per 100. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008. Upaya penurunan AKI juga perlu didukung dengan perbaikan keadaan gizi ibu hamil. Jumlah kasus kematian ternak unggas akibat flu burung sangat tinggi dan tersebar di seluruh provinsi.

4 juta orang (2007). Penurunan persentase penduduk muda mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk membiayai pembangunan bidang lainnya. surveilans epidemiologi.2 persen (tahun 2008) dan terus menurun hingga mencapai titik terendah 44. pengendalian kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang.9 persen (tahun 2006) diperkirakan turun menjadi 47. peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Namun demikian kesempatan yang menguntungkan pembangunan itu tidak akan pernah tercapai bahkan akan merugikan bila laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dan kualitas penduduk tidak ditingkatkan secara terus menerus dan konsisten. Rasio beban ketergantungan yang sebesar 48. penyediaan obat Oseltamivir. khususnya penduduk muda (0-14 tahun) semakin menurun. Diperkirakan. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah tertinggal. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas. Selain itu. serta melakukan kaji tindak. Penurunan angka kelahiran dan kematian bayi yang terjadi selama ini telah merubah struktur umur penduduk yaitu persentase penduduk usia produktif terus meningkat sementara persentase penduduk usia non-produktif. dan daerah bencana perlu ditingkatkan. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa. BD akan terentang hingga sekitar tahun 2020. dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun.4 juta orang (2005) menjadi 76. tahun 2008 menjadi 228 juta jiwa. antara lain melalui kegiatan Keluarga . terpencil. perlindungan bagi petugas yang berisiko tinggi. daerah perbatasan. Upaya pencegahan dan penanggulangan di bidang kesehatan manusia yang telah dilaksanakan mencakup penatalaksanaan kasus di rumah sakit. Untuk itu pada tahun 2009 Askeskin perlu terus dilanjutkan dengan jaminan kesehatan pada masyarakat (jamkesmas) untuk meningkatkan akses penduduk miskin dan kurang mampu di kelas III RS dan peiayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di Puskesmas dan jaringannya. Pada waktu rasio beban ketergantungan mencapai angka terendah ini terbukalah jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk Indonesia. Cakupan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan kurang mampu melalui program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (JPK-MM)/Askeskin terus meningkat yaitu dari 36. Keadaan ini di satu sisi mengindikasikan telah terjadi penurunan persentase penduduk sebagai beban pembangunan (dependenry ratio) sementara di sisi lain juga merupakan keuntungan ekonomi (Bonus Demografi/BD).5 persen pada tahun 2017.Renstranas tersebut sedang dalam proses perumusan kembali. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun. penguatan laboratorium pengujian. penyernaan ruang isolasi perawatan di 100 rumah sakit rujukan.

Selanjutnya.1 persen. antara lain: penyelesaian blueprint peningkatan kapasitas nasional bidang minyak dan gas bumi (migas) sebagai upaya peningkatan kapasitas nasional dalam industri migas. Dalam hal perbaikan pengelolaan sumber daya hutan berbagai upaya untuk telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA/SMALB/Paket C masing-masing mencapai 92.Berencana (KB). Sementara itu.9 persen. (2) uji coba Sistem Informasi-Penata Usahaan Hasil Hutan (SI-PUHH) dan penatausahaan Provisl Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR) berbasis Teknologi Informasi (TI) di 3 Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP). Pada tahun 2007.25 persen. (4) dilakukannya monev illegal logging dan monev hasil lelang basil hutan ilegal. selama tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan. dan (2) penguatan kapasitas kelembagaan Pengamanan Hutan (Pamhut) dan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di 10 lokasi. penawaran 30 wilayah kerja migas. (3) implementasi penatausahaan SI-PUHH dan PSDH/DR berbasis TI (on-line) di 11 BP2HP. baik secara . Sementara itu. pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral. TNI AL. angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI dan yang sederajat mencapai 94. Pemerintah secara terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. APK pada jenjang pendidikan tinggi (PT) yang mencakup pula perguruan tinggi agama (PTA). Adapun angka partisipasi sekolah (APS) atau persentase penduduk yang mengikuti pendidikan formal untuk kelompok umur 7-12 tahun tercatat sebesar 97.51 persen. Kejaksaan. BIN. Pada tahun 2007 pelaksanaan kegiatan yang dilakukan telah menghasilkan berbagai pencapaian. Rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI dan 40 untuk SMP/MTs.4 persen. Pada saat yang sama. PPATK di 10 provinsi rawan illegal logging. dan (5) pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan. Sementara itu. dan Universitas Terbuka (UT) adalah sebesar 17.90 persen. rasio murid per guru adalah 21 untuk SD/MI dan 13 untuk SMP/MTs. Dalam pengamanan kawasan hutan telah dilaksanakan antara lain: (1) operasi pengamanan fungsional dan operasi khusus melalui kerja sama dengan POLRI. perumusan kebijakan dan regulasi usaha penunjang migas beserta keberpihakannya. dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 53.52 persen dan 60. upaya penertiban peredaran hasil hutan telah mencapai hasil antara lain: (1) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kayu meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2006. Perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi dalam peningkatan kuantitas fasilitas layanan pendidikan. Kesungguhan Pemerintah tersebut tercermin oleh hasil yang cukup menggembirakan seperti yang terlihat dari peningkatan angka partisipasi pendidikan pada semua jenjang. kelompok umur 13-15 tahun sebesar 84.

MASALAH DAN TANTANGAN POKOK TAHUN 2009 Dengan berbagai kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan perkiraan pada tahun 2008. telah dilaksanakan kegiatan Adipura. Untuk meningkatkan kapasitas daerah di bidang lingkungan hidup. Sejak berlakunya UU No.53 juta. A. Sementara itu. penandatanganan 26 kontrak kerja sama (KKS) dengan komitmen investasi untuk 3 tahun mendatang sebesar US$ 640. telah disalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah. Masalah dan tantangan utama yang . tahun 2005 terlaksana 28 kegiatan usaha. 22 tahun 2001 tentang Migas. Namun demikian. Hal-hal tersebut di atas terus dilanjutkan pada tahun 2008 termasuk membangun fasilitas dan infrastruktur lingkungan. LPG. pada tahun 2007. masih banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. hasil pelaksanaan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat terus menunjukkan kemajuan. Hingga tahun 2007. Sementara itu. hasil olahan dan lain sebagainya. program pembangunan bersih yang dikoordinasi oleh Komnas Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB). pembangunan bidang lingkungan hidup tetap dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pengendalian penggunaan sumber dara alam secara berkelanjutan serta pengendalian praktek perusakan/penurunan kualitas lingkungan. program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER).2. program Debt for Nature Swap dengan Pemerintah Jerman. kegiatan pengusahaan migas terus meningkat secara berturut-turut. pembinaan tim penilai AMDAL. program energi efisiensi di industri kecil dan menengah. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon melalui penghapusan pemakaian bahan perusak ozon (BPO) di berbagai mesin pendingin (chiller) dan memasyarakatkan penggunaan metered dosed inhaler (MDl). program menuju Indonesia hijau. Kegiatan-kegiatan ini terutama berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keniagaan migas termasuk niaga umum BBM. pengendalian pencemaran air serta perlindungan sumber daya air. program kali bersih. tahun 2006 terlaksana 32 kegiatan usaha dan tahun 2007 terlaksana 35 kegiatan usaha.31 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 50. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pemantauan kualitas air.penawaran langsung ataupun penawaran melalui tender (regular dan direct offer). program langit biru. dari 3 (tiga) agenda pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009. hasil pelaksanaan agenda pembangunan aman dan damai serta agenda pembangunan adil dan demokratis telah mengarah kepada keadaan yang diinginkan. penegakan hukum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang terus akan dilakukan untuk memperluas cakupannya. serta kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.

5 persen dari jumlah penduduk miskin tinggal di perdesaan. prasarana dan sarana fisik perekonomian yang memadai. Persentase penduduk miskin pada Triwulan I Tahun 2008 sebesar 15. Dukungan yang dibutuhkan terkait dengan jaminan lokasi usaha. kesehatan. jwnlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin karena guncangan ekonomi maupun karena bencana alam masih cukup besar. meliputi pendidikan. 2. 145 ribu anak jalanan dan 1. Ketiga. dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola usaha. khususnya bagi yang berada di perdesaan dan luar Jawa. Saat ini terdapat 3. serta 66 ribu tuna susila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial. dan persentase kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama Nusa Tenggara.8 juta anak telantar. Terkait dengan upaya penurunan jumlah penduduk miskin.5 juta penduduk lanjut usia. Akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.4 persen dan desa miskin/tertinggal mencapai lebih dari 46 persen. jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih besar dan penurunannya berjalan lambat. Kesemuanya ini merupakan masalah dan tantangan yang harus ditangani agar efektifitas penurunan jumlah penduduk miskin dapat ditingkatkan. MEMBANGUN DAN MENYEMPURNAKAN SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL KHUSUSNYA BAGI MASYARAKAT MISKIN. pelaksanaan program pembangunan masih bersifat parsial dan belum terfokus.dihadapi pada tahun 2009 diantaranya adalah sebagai berikut. Selain itu. 64 ribu gelandangan dan pengemis. perumahan serta air bersih dan sanitasi dasar masih terbatas. kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal sebesar 63. yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat miskin. MENYEMPURNAKAN DAN MEMPERLUAS CAKUPAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT. Oleh sebab itu tantangan yang harus dihadapi adalah menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan dukungan bagi perkembangan usaha mereka. Maluku dan Papua juga lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa. Selain itu. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap terus meningkat. akses terhadap sumberdaya. kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan berbasis masyarakat masih sangat terbatas.5 juta jiwa orang cacat. Dukungan usaha masyarakat yang terbatas menimbulkan .8 juta jiwa korban bencana alam. upaya pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial masih merupakan masalah dan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan. Kedua. Masalah pokok yang dihadapi dalam menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. 2. upaya pembangunan yang dilakukan masih belum merata dan belum mencapai seluruh masyarakat. MEMPERKUAT USAHA MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH.

antarkota dan desa. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat miskin. merupakan masalah yang paling mendesak untuk ditangani. masih ditemui adanya kesenjangan pencapaian APK yang cukup tinggi antar daerah.52 persen pada tahun 2007. Salah satu unsur pelayanan dasar yang diperlukan masyarakat adalah pendidikan. kemitraan dan/atau klaster yang layak untuk dibiayai namun belum menjadi nasabah bank. kewirausahaan dan kapasitas pengelolaan usaha yang rendah.permasalahan berupa tingkat pendapatan yang rendah. Besarnya kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi menjangkau kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah (kredit/pembiayaan di bawah Rp 5 juta) dan kebutuhan kelompok masyarakat yang usahanya terus berkembang (kredit/pembiayaan Rp 5 juta . Permasalahan utama yang dihadapi bidang pendidikan adalah masih diperlukannya peningkatan akses. Kesenjangan antar daerah tersebut terlihat dari masih adanya 75 kabupaten/kota yang variasi pencapaian APK SMP/MTs/Sederajat kurang dari 75 persen. Upaya keras ini perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat yang baru mencapai 92. serta antarpenduduk kaya dan miskin. kelompok. khususnya pembiayaan. Program KUR juga dilengkapi dengan pendampingan mulai dari penyiapan proposal kredit sampai dengan penggunaan kredit (pengelolaan keuangan). dan kualitas pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar. Efektivitas penyaluran KUR dan pendampingannya merupakan tantangan yang harus ditangani secara tepat untuk mendukung upaya perkuatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. akses terhadap pelayanan sosial. ekonomi dan politik yang terbatas. MENINGKATKAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDlKAN. KUR diberikan kepada UMKM dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang bersifat individu. Selain tantangan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar.Rp 500 juta). Kondisi tersebut mendorong dikeluarkannya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yaitu percepatan penyaluran kredit/pembiayaan yang berasal dari sumber dana perbankan dengan dukungan penjaminan untuk kredit usaha mikro. . meskipun mereka memiliki usaha yang layak secara ekonomi untuk dibiayai. Keterbatasan dukungan akses terhadap sumberdaya. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang masih membutuhkan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2004-2009. hampir miskin dan tidak mampu yang memiliki kegiatan usaha produktif yang tersebar di berbagai lapangan usaha dan lokasi. Di samping itu. kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi (Inpres 06/2007). dan 121 kabupaten/kota yang APK-nya sekitar 75-90 persen. pemerataan. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut pada umumnya tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit/pembiayaan perbankan. serta arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang masih berorientasi pada "inward looking" sehingga menghambat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Keenam. Ketiga. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat akibat ketersediaan pendidik berkualitas belum memadai. kurang vitamin A dan kurang zat gizi mikro lainnya. persebarannya belum merata. dan jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan juga merupakan masalah dan tantangan yang harus diselesaikan. Kelima. kesehatan juga merupakan unsur penting yang menjadi indikator dan sekaligus merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. penderita TB. misalnya dengan alasan ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga. penyakit menular masih cukup tinggi antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah penderita malaria. Permasalahan dan tantangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperkecil kesenjangan antara sasaran dan pencapaian angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 2. dan kesejahteraannya yang masih terbatas. namun mengingat proporsi buta aksara terjadi pada penduduk usia 45 tahun ke atas yang umumnya memiliki minat belajar yang rendah. . Keempat. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang belum mencukupi. kejadian demam berdarah dan kejadian luar biasa diare. Beberapa permasalahan dan tantangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. dan daerah bencana masih perlu ditingkatkan. Selain pendidikan. Secara persentase angka tersebut memang tidak terlalu besar. serta berbagai masalah gizi lain seperti anemia gizi besi. Pertama.2 persen. masalah gizi utama masih memerlukan penanganan intensif seperti kurang energi protein pada ibu hamil. terpencil dan perbatasan. jumlah dan distribusi tenaga kesehatan masih terbatas khususnya di daerah tertinggal.permasalahan dan tantangan lain yang dihadapi di bidang pendidikan adalah besarnya jumlah lulusan SMP/MTs yang karena alasan ekonomi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. bayi. dan balita. kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan. akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan penduduk daerah tertinggal. perbatasan. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilakukan secara terus menerus. maka upaya yang dilakukan harus lebih besar. Kedua. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian anak balita. Dalam hal ini peran pendidikan nonformal menjadi sangat diperlukan dan harus dapat dimanfaatkan. sehingga mereka lebih memilih bekeja dibandingkan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. namun masih terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kesehatan. gangguan akibat kurang yodium. kasus penyakit flu burung pada manusia. MENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN. terpencil.

I. dan pulau-pulau kecil melalui pelayanan angkutan yang murah dan terjangkau untuk masyarakat miskin dan masyatakat yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. pedalaman. obat. makanan dan keamanan pangan masih perlu ditingkatkan. dan SDM kesehatan. masalah pokok yang . Adapun tantangannya adalah ketersediaan air dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat untuk seluruh wilayah Indonesia. Di bidang transportasi masalah pokok dan tantangan yang dihadapi antara lain. dan Bali). dan pulau-pulau kecil. Meskipun upaya peningkatan pelayanan infrastruktur perdesaan telah dilakukan.1 (DKI Jakarta.2. Hasil Supas 2005 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan Total Fertility Rate (TFR) di beberapa daerah baik di daerah yang TFR-nya masih di atas rata-rata nasional (Nusa Tenggara Timur. MENINGKATKAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR DI DESA SESUAI STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM). Disamping itu. Pola serupa juga ditunjukkan oleh rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup pada perempuan yang pernah menikah yaitu pada kelompok termiskin sebanyak 3. (2) kurangnya keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional.3 orang. Sulawesi Tengah. TFR pada kelompok termiskin sekitar 3. Kesejahteraan masyarakat dan kegiatan perekonomian hanya akan dapat ditingkatkan apabila tersedia pelayanan infrastruktur yang memadai. (3) kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur transportasi terutama di daerah perdesaan. MENGENDALIKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK. Sementara di bidang energi dan ketenagalistrikan.0 lebih tinggi daripada kelompok terkaya yang besarnya 2. perbatasan. pedalaman. Di bidang sumber daya air masalah pokok yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku perdesaan serta pengendalian daya rusak air. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. berdasarkan distribusi kelompok pengeluaran keluarga. dibandingkan dengan kelompok terkaya sebanyak 2. perbatasan. D. perlu disusun peraturan perundang-undangan untuk mendukung pelayanan kesehatan seperti peraturan perundang-undangan tentang Rumah Sakit. (1) rendahnya akses terhadap pelayanan transportasi khususnya untuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan. Ketujuh. dan Gorontalo) maupun di beberapa daerah yang TFR-nya sudah berada pada tingkat replacement level yaitu TFR kurang dari 2.7 orang. Jawa Timur. Yogyakarta. psikotropika. namun masih diperlukan berbagai upaya lanjutan dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur perdesaan sesuai dengan standar pelayanan minimum.ketersediaan obat dan pemanfaatan obat generik serta pengawasan terhadap obat.

BERDAYA TAHAN. masalah pokok dan tantangan yang dihadapi adalah rendahnya jumlah akses. masih lemahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah desa khususnya dalam menciptakan inisiatif-inisiatif pengembangan perekonomian desa dan pelayanan masyarakat. dan jangkauan layanan pos dan telematika di perdesaan. Masalah dan tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap lahan. Keterbatsan akses masyarakat terhadap lahan lebih lanjut menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber permodalan.dihadapi. Di bidang perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan prasarana-sarana permukiman seperti jaringan air minum. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam upaya penguatan lembaga masyarakat dan pemanfaatan kelembagaan pemerintah daerah antara lain sebagai berikut. dan jaringan drainage. Selain itu. MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI YANG STABIL. adalah rendahnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana energi dan belum memadainya fasilitas sistem ketenagalistrikan. pemilikan. jaringan air limbah. Pertama. Kedua. Disamping itu masih maraknya sengketa dan konflik pertanahan turut menghambat akses masyarakat perdesaan pada lahan. Untuk itu tantangannya adalah mengembangkan sumber energi dan kelistrikan yang disesuaikan dengan kondisi demografis dan geografis dengan layak secara finansial. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini memang tidak mudah karena kondisi demografis dan geografis yang bervariasi dengan persebaran penduduk tidak merata dan potensi energi yang sangat bervariasi. Terkait dengan telekomunikasi tantangan utamanya adalah perluasan layanan telekomunikasi dan jangkauan penyiaran serta pos hingga ke seluruh pelosok tanah air. ekonomis dan sosial budaya. rendahnya kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah serta harga rumah yang terus meningkat karena meningkatnya harga lahan serta masih adanya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dalam perijinan pembangunan perumahan. menurunnya wilayah jangkauan penyiaran. merupakan tantangan yang dihadapi dalam perumahan. MEMPERKUAT LEMBAGA MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DESA. Di bidang pos dan telematika. MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT PERDESAAN PADA LAHAN. kualitas. . pada kenyataannya masih terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam penguasaan. masih lemahnya kelembagaan ekonomi dan organisasi perdesaan yang berbasis masyarakat untuk menggerakan sistem perekonomian dan memperkuat modal sosial. persampahan. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). terutama masyarakat perdesaan.

(vi) masih diperlukannya optimalisasi penyederhanaan administrasi perpajakan dan kepabeanan. sehingga ekspor nonmigas . MENINGKATKAN DAYA TARIK INVESTASI. investasi dan ekspor harus dapat ditingkatkan.DAN BERKUALITAS. (viii) masih perlunya peningkatan koordinasi program peningkatan iklim investasi antar pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. Upaya untuk mendorong kemajuan perekonomian juga harus mempertimbangkan ketersediaan pangan. Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kemajuan sektor-sektor utamanya seperti industri dan pertanian. Amerika Serikat. Dari sisi ekspor. (v) perlu dilengkapinya peraturan pelaksanaan UU No. (iii) perlunya peningkatan ketersediaan energi. tantangan adalah meningkatkan diversifikasi pasar ekspor nonmigas. Dalam beberapa tahun terakhir. meskipun kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. perkembangan perekonomian semakin baik. dan Uni Eropa) yang pangsanya sekarang masih sebesar sekitar 50 persen. termasuk didukung oleh UKM yang memiliki produktifitas yang tinggi dengan lebih membuka aksesnya terhadap sumberdaya yang produktif. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan ketersediaan kebutuhan dasar dan pengembangan perdesaaan perlu didukung oleh perekonomian yang lebih maju yang diantaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan. berbagai permasalahan dan tantangan pokok masih harus dihadapi. dan (x) masih perlunya pengembangan potensi investasi di daerah. (ii) perlunya peningkatan jumlah dan kualitas infrastruktur. Singapura. SERTA PARIWISATA. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan. Walaupun perkembangan investasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat namun upaya peningkatan investasi masih menghadapi permasalahan dan tantangan yang an tara lain: (i) perlunya peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan perijinan. perekonomian yang berkualitas. Dengan mengatasi tantangan ini. EKSPOR NONMIGAS. Sejalan dengan perbaikan tersebut. (iv) perlunya penyediaan berbagai skema insentif fiskal dan non fiskal guna meningkatkan daya saing usaha nasional. (ix) ditingkatkannya kualitas promosi di dalam dan luar negeri. namun kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan. tingkat ketergantungan ekspor nonmigas terhadap pasar tradisional akan berkurang. dan perekonomian yang stabil dan tahan menghadapi berbagai gejolak dan tekanan. Perkembangan ekonomi juga harus didukung peningkatan daya saing sektor riil yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur. Pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. (vii) perlu ditingkatkannya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. agar tidak bertumpu pada empat pasar ekspor tradisional (Jepang. 25/2007 tentang Penanaman Modal sehingga memberi kejelasan arahan bagi pelaku usaha.

Indonesia akan lebih tangguh terhadap perubahan kondisi perekonomian global dan gejolak permintaan di keempat pasar ekspor tersebut. Namun demikian sektor industri masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. Masalah dan tantangan pokok lainnya adalah masih perlunya upaya untuk meningkatkan diversifikasi produk ekspor. untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. serta rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata. dan kabupaten mendukung promosi daerahnya sebagai destinasi wisata dan masih adanya berbagai peraturan daerah yang menghambat pengembangan pariwisata. bahan penolong. berbagai masalah dan tantangan yang masih harus dihadapi adalah: (i) belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan terutama oleh pembangunan pariwisata terutama antara kawasan Barat dan Timur yang belum merata dan kurangnya kenyamanan dalam berwisata karena antara lain sarana dan prasarana menuju destinasi pariwisata belum sepenuhnya memadai. agar pertumbuhan utama ekspor nonmigas Indonesia tidak hanya ditopang oleh ekspor komoditas primer yang relatif bernilai tambah lebih rendah dan harganya cenderung lebih berfluktuasi. Dari sisi pariwisata. barang setengah jadi dan komponen. masih perlu disempurnakannya proses penyederhanaan prosedur ekspor agar dapat mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mempercepat waktu penyelesaian dokumen ekspor-impor. serta masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung kelancaran arus barang ekspor. keterkaitan antara sektor industri hulu dan sektor industri hilir dengan sektor ekonomi lainnya yang relatif masih lemah. Permasalahan yang dihadapi sektor industri dan sekaligus merupakan tantangan yang harus diatasi antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku. dan belum seluruh pemerintah provinsi. (iii) belum mapannya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh kerja sama pelaku ekonomi-sosial-budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat belum berlangsung secara optimal. ekspor . MENINGKATKAN MENDORONG KEMAJUAN SEKTOR INDUSTRI. dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga maupun pusat dan daerah dalam pengembangan destinasi dan promosi pariwisata belum maksimal. masih besarnya hambatan non tarif di pasar ekspor baik tradisional maupun non tradisional. (ii) belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan terutama oleh pemanfaatan media massa dalam dan luar negeri baik elektronik maupun cetak serta teknologi informasi sebagai sarana promosi belum maksimal. integrasi. struktur industri hanya didominasi beberapa cabang yang tahapan proses industri dan penciptaan nilai tambahnya pendek. kota. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata terutama dalam upaya peningkatan kontribusi devisa terhadap perolehan devisa dapat diatasi. Sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian. koordinasi.

antarindustri. lebih dari 60% kegiatan sektor industri berada di Jawa. sangat kecil dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai sebesar Rp. Padahal UKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dapat dilaksanakan antara lain dengan pelatihan berbasis kompetensi dan pelatihan melalui pemagangan di tempat kerja. tenaga kerja formal diharapkan memiliki produktivitas tinggi serta memiliki kualifikasi dan kompetensi seuai dengan permintaan pasar kerja.46 persen dari angkatan kerja. serta peningkatan kualitas pelayanan TKI yang akan bekerja di luar negeri. 12. Di sisi lain. Sebagai gambaran pada tahun 2006. Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal yang mencakup 70 persen dari seluruh pekerja untuk memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara pekerja informal dengan pekerja formal.3 juta. Keadaan ini menjadi penghambat . MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN AKSES UKM KEPADA SUMBERDAYA PRODUKTIF. Tantangan ini tidak mudah karena beberapa tahun terakhir. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah menciptakan kesempatan kerja terutama lapangan kerja formal-seluas-luasnya. Di samping itu kondisi permesinan di beberapa kelompok industri perlu diperbaharui agar tetap kompetitif di pasar internasional. produksi. juga disebabkan karena masih besarnya biaya transaksi dalam kegiatan usaha. dan keterbatasan kepada akses sumber permodalan. Tantangan kedua adalah mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi.produk industri didominasi oleh hanya beberapa cabang industri. Tantangan ini berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan yang memungkinkan pekerja untuk pindah antar perusahaan. daya serap tenaga kerja yang mulai meningkat masih diserap oleh lapangan kerja informal. dan masih lemahnya peranan kelompok industri kecil dan menengah sebagai industri pendukung. MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA. 240. Masih rendahnya tingkat produktivitas UKM ini selain disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia.4 juta atau 8.5 juta lapangan kerja baru. meskipun UKM memberikan kontribusi yang cukup besar dalam PDB. namun secara absolut jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2008 masih tinggi yaitu mencapai 9. Meskipun jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007-Februari 2008 sangat tinggi yaitu sekitar 4. teknologi dan pemasaran. pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang banyak menyerap tenaga kerja informal. Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi oleh UKM saat ini adalah produktivitas UKM yang meningkat sangat lambat sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan yang masih lebar antar pelaku UKM dengan pelaku usaha besar. Tantangan ini diikuti dengan pentingnya pemberdayaan UMKM yang banyak menyerap tenaga kerja informal.1 juta. namun produktivitas UKM per tenaga kerja hanya sebesar Rp. antarsektor dan antar daerah.

Meskipun akhir-akhir ini produksi pangan sudah meningkat secara signifikan. Akses pangan bagi rumah tangga relatif meningkat yang diindikasikan dengan semakin menurunnya kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga. beberapa bahan kebutuhan pokok masyarakat di beberapa daerah. relatifnya tingginya harga bahan pokok di berbagai daerah yang sulit dijangkau dapat diatasi dengan mempercepat pembangunan dan meningkatkan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. Untuk itu. meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi tantangan yang perlu untuk diatasi dalam mempercepat pertumbuhan UKM. Permasalahan dan tantangannya adalah meningkatkan penyediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan meningkatkan produksi. cukup sulit diperoleh dan harganya meningkat tajam. baik yang didukung oleh sistem transportasi darat.kemajuan UKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produk. stok beserta matarantai distribusinya dan sistem pemantauan yang baik dapat menjaga kelancaran pasokan dan meredam terjadinya lonjakan harga bahan pokok secara berarti serta dapat menghindari terjadinya penimbunan dan penyelewengan distribusi yang mengurangi ketersediaannya. meningkatkan impor apabila diperlukan dan menyempurnakan sistem distribusi bahan pokok. yang cukup memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. Selanjutnya. persaingan dalam memperoleh berbagai sumberdaya produktif juga semakin meningkat yang diiringi dengan pesatnya mobilitas sumberdaya tersebut serta upaya untuk menumbuhkan wirausaha yang berbasis pengetahuan dan teknologi. pertanian dan suku bunga. Dalam tahun 2007 dan awal tahun 2008. Tersedianya basis data tentang pusat-pusat produksi. maka upaya untuk mendorong swasembada pangan pokok yang sangat rentan terhadap lonjakan harga dan ketersediaan dalam negeri perlu terus ditingkatkan. Perkembangan harga bahan pokok yang cepat ini memerlukan pemantauan intensif dan evaluasi seksama. Di samping itu. Ketahanan Pangan dalam negeri dinilai masih rentan karena pertumbuhan produksi pangan khususnya beras masih belum stabil. upaya stabilisasi harga bahan pokok memerlukan koordinasi kebijakan ekonomi makro seperti sasaran inflasi. tetapi peningkatan akses pangan di tingkat rumah tangga masih perlu terus . ketahanan pangan masyarakat masih belum didukung dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap pangan. kebijakan subsidi khususnya BBM. PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL. bahkan pada beberapa tahun terakhir rata-rata pertumbuhan produksinya masih lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Sementara itu. TDL. Selain itu. termasuk terhadap sistem distribusi dan stok bahan pokok Pemerintah dan dunia usaha yang tersebar di berbagai daerah serta belum terdata dan terpantau dengan baik. tetapi permasalahan pangan khususnya masalah distribusi pangan di beberapa lokasi yang terisolir masih saja terjadi. kebijakan tarif ekspor dan impor. laut maupun udara. PENGAMANAN PASOKAN BAHAN POKOK.

hutan bakau. yang ditunjukkan oleh tingkat utilisasi industri hasil pertanian yang masih sangat rendah. pemanfaatan industri hasil pertanian juga relatif belum optimal. Permasalahan lain yang dihadapi adalah sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran perikanan terutama yang berada di daerah masih belum memadai. penguatan kemampuan produksi pangan dalam negeri. perikanan. dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi yang berakibat pada frekwensi operasi nelayan melaut. serta (3) kerusakan sumber daya pesisir terutama terumbu karang.dilakukan agar kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga semakin jarang terjadi. estuaria. pengembangan sistem insentif yang mampu mempertahankan lahan-lahan produktif dalam memproduksi bahan pangan. Akibatnya. serta perbaikan diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat merupakan tantangan utama yang dihadapi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Selanjutnya. dan pulau-pulau kecil akibat pengaruh limbah yang berasal dari daratan dan eksploitasi manusia yang berlebih juga belum dapat secara optimal ditangani. perbaikan sistem distribusi dan tataniaga pangan. peningkatan produksi perikanan masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan oleh belum kondusifnya iklim usaha perikanan yang terkait dengan permodalan dan investasi. meskipun produksi komoditas pertanian dan perikanan tetap meningkat namun belum memberikan nilai tambah yang memadai untuk masyarakat petani dan nelayan karena kurang berkembangnya industri pertanian. dan kehutanan masih didominasi oleh komoditas bahan baku industri. Semenrara itu. serta belum memadainya kegiatan penyuluhan. dan kehutanan masih perlu ditingkatkan. perikanan. pendampingan teknologi. Dengan permasalahan pokok tersebut. serta peningkatan biaya pengadaan sarana dan prasarana perikanan baru. kelembagaan. Penurunan kuantitas dan kualitas ini sebagai akibat dari: (1) kegiatan ilegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing dan kapal yang tidak memiliki ijin penangkapan. (2) praktek penangkapan dan budidaya ikan yang tidak menggunakan kaidah keberlanjutan masih sering terjadi. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Dari sisi kehutanan. peningkatan biaya input pembudidaya ikan/udang. dan lemahnya pengawasan. Masih rendahnya penguasaan teknologi pengolahan produk pertanian berakibat pada rendahnya nilai tambah produk pertanian. padang lamun. upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan pertanian. PERIKANAN DAN KEHUTANAN. MENINGKATKAN KUALITAS PERTUMBUHAN PERTANIAN. di sisi lain terjadi pula penurunan kuantitas dan kualitas perikanan tangkap. kebutuhan akan produk hasil hutan terutama kayu . Selain penguasaan teknologi. perikanan dan kehutanan dalam negeri yang menyebabkan ekspor komoditas pertanian. baik di pusat maupun di tingkat daerah.

hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini diantaranya adalah: (i) melengkapi dan lebih mengakuratkan pendataan dan permodelan iklim regional untuk Indonesia untuk memudahkan para perencana pembangunan dan pelaksana pembangunan mengantisipasi dampak terjadinya perubahan iklim. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. peningkatan suhu dan pasang air laut yang ekstrem yang menyebabkan ketidakpastian nelayan untuk melaut. dan penyedia air bersih belum dimanfaatkan secara maksimal. Saat ini laju degradasi hutan telah mencapai 1. hutan Tanaman Rakyat (HTR). Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor yang cukup parah di hampir sebagian besar wilayah. keanekaragaman hayati. Oleh karena itu sumber-sumber alternative bahan baku kayu bulat untuk industri harus dapat dikembangkan diantaranya melalui pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). tantangan yang dihadapi adalah mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan secara terus menerus dengan memaksimalkan sumber daya dan dana yang ada. mengendalikan pembalakan liar dengan penegakan hukum terhadap pelaku dan peningkatan kemampuan polisi hutan. sedangkan manfaat hutan lainya seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dengan fungsi sebagai penyedia udara bersih. penyerap karbon. Degradasi hutan yang terus menerus terjadi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan pembalakan liar berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan secara umum.dari tahun ke tahun semakin meningkat akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi oleh kemampuan menghasilkan sumber bahan baku yang dibutuhkan.08 juta ha/tahun sementara itu upaya rehabilitasinya sangat kecil yaitu sekitar 500 . Oleh karena itu pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan harus dapat dikembangkan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat di dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam serta pengembangan taman nasional model. perubahan iklim global menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Saat ini perspektif optimalisasi nilai manfaat hutan masih cenderung kepada pemanfaatan hasil hutan kayu yang merupakan sebagian kecil dari nilai manfaat hutan. meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran serta meningkatkan kelembagaan. MENINGKATAN KAPASITAS MITIGAS DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL. ketimpangan tersebut menyebabkan semakin cepatnya kerusakan hutan dan lahan yang ada. Untuk itu. sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kapasitas industri yang ada dengan kemampuan penyediaan bahan baku. perubahan musim tanam. sumber daya air dan energi.700 ribu ha/pertahun. (ii) memperbaiki pengintegrasikan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan .

(1) meningkatkan pemanfaatan energi primer non-BBM untuk kepentingan domestik seperri gas bumi. (2) menciptakan kondisi agar keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi dapat memenuhi standar keselamatan dan keamanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. serta (6) meningkatkan investasi migas. Permasalahan pokok yang dihadapi pada peningkatan daya saing sektor riil antara lain sebagai berikut. (iii) meningkatkan dan menseragamkan kepedulian dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah yang masih rendah dan tidak seragam sehingga pembangunan sejalan dengan tujuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana. serta manajemen transportasi. Di bidang transportasi masalah dan tantangan pokok yang dihadapi adalah: (1) meningkatkan jaminan keselamatan dan keamanan transportasi yang antara lain disebabkan oleh lemahnya regulasi dan kelembagaan. jaringan transmisi dan distribusi yang masih rendah. Sektor rill merupakan motor penggerak dalam perekonomian. meskipun tidak mudah. batubara dan terbarukan) terhambat karena besarnya subsidi BBM. sumber daya manusia (SDM) dan budaya keselamatan. (3) Harga energi konvensional/BBM yang belum mencerminkan keekonomiannya. kelaikan prasarana dan sarana. Oleh sebab itu. panas bumi. sehingga pengembangan energi alternatif (gas bumi. serta (iv) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam menangani perubahan iklim pengurangan risiko bencana dengan memanfaatkan struktur institusi yang telah ada. DUKUNGAN PENINGKATAN DAYA SAING SEKTOR RIlL. dan pengembangan energi termasuk infrastruktur energi. batubara. Dari sisi ketenagalistrikan. krisis listrik belum dapat teratasi. Terkait dengan bidang energi masalah dan tantangan yang dihadapi adalah. (3) menciptakan kondisi yang mendorong dunia swasta mau berinvestasi dalam penyelenggaraan melalui restrukturisasi perundang-undangan dan peraturan di bidang transportasi serta perbaikan iklim investasi sehingga tidak ada lagi monopoli dalam pelayanan transportasi. kemampuan dan daya saing sektor rill perlu senantiasa ditingkatkan. panas bumi dan batubara serta energi baru terbarukan yang masih rendah. (4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi yang masih rendah. juga karena . serta meningkatan kinerja jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air usaha tani terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. (5) Reguiasi yang masih dalam transisi (pembatalan UU Ketenagalistrikan dan penyempurnaan UU Migas). Di bidang sumber daya air permasalahan dan tantangan pokoknya adalah mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan industri serta pengendalian daya rusak air. (2) meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan.iklim temasuk pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Krisis ini terutama terjadi karena selain masih belum ada sistem ketenagalistrikan nasional untuk menopang peningkatan pembangunan ekonomi secara memadai.

serta (3) keterbatasan dalam pendanaan karena kepercayaan perbankan internasional dalam menyalurkan pendanaannya dalam investasi pembangkit listrik swasta di Indonesia.kurang efisiennya sistem dan pengelolaannya. di sisi perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya dukungan prasarana-sarana dasar permukiman yang menunjang sektor industri. Selanjutnya. (2) sulitnya melakukan pembebasan lahan dan upaya mencapai titik temu kompensasi lahan yang terkena dampak pembangunan fasilitas ketenagalistrikan juga menjadi tantangan yang setiap tahun terus berlanjut. Dari sisi pos dan telekomunikasi. yaitu dari hanya sebagai alat komunikasi (konsumtif) menjadi pencipta peluang usaha (produktif). keterbatasan ketersediaan pelayanan publik. Di samping berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang secara langsung terkait dengan kesejahteraan masyarakat. Permasalahan dan tantangan pokok tersebut diantaranya adalah masih perlunya berbagai upaya untuk menekan tindak pidana korupsi. serta menggeser pola penggunaan layanan pos dan telematika. rendahnya e-literasi. kawasan pariwisata. permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika yang masih rendah dalam menciptakan peluang ekonomi. serta tingkat konsumsi BBM yang masih cukup tinggi. MENINDAK DAN MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI. perdagangan. dalam tahun 2009 masih harus dihadapi berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang terkait dengan hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat. mengingat terbatasnya ketersediaan produksi dalam negeri serta infrastruktur transportasinya. dan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan dalam mendukung peningkatan daya saing dalam sektor riil. terbatasnya pengembangan aplikasi dan konten Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lokal. masih belum mengalami perkembangan yang berarti. tingginya ketergantungan kepada teknologi proprietary. serta masih perlunya penyempurnaan iklim demokrasi. Permasalahan dan tantangan yang yang dihadapi dalam rangka pemberantasan korupsi khususnya dalam upaya penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah mengoptimalkan penanganan kasus . tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pos dan telematika yang memadai. Oleh sebab itu tantangannya adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik non BBM serta mengembangkan jaringan penyalurannya secara tepat waktu. dan kurangnya dukungan dari industri dalam negeri. Hal ini tidak mudah karena upaya ini akan dihadapkan pada tantangan tersediri yaitu: (1) sulitnya mencari ketersediaan energi primer yang dibutuhkan seperti batubara dan gas.

maka penanganan kasus korupsi dilakukan dengan melalui penentuan prioritas khususnya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. Pemberantasan korupsi harus mengikutsertakan semua lapisan masyarakat yang ada. pertanahan. serta pajak. Dalam upaya untuk mempercepat pemberantasan korupsi. LSM dan Perguruan Tinggi. Banyaknya praktek korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya tergantung dalam hal penanganan kasus korupsi oleh aparat penegak hukum saja akan tetapi juga perlu adanya dukungan dari masyarakat luas dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi.korupsi. Masing-masing kementrian/lembaga diharapkan dapat segera menyusun Rencana Aksi Instansi (RAI) PK dan level pemerintah daerah dapat segera ditetapkan Rencana Aksi Daerah (RAD) PK. Keadaan inilah yang antara lain menyebabkan adanya kesan tebang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini. baik itu yang berada di KPK maupun Kejaksaan. telah dikeluarkan Inpres No. pengadaan barang dan jasa. MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. perlu ada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan RAN PK baik pada level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Oleh sebab itu. MENYEMPURNAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNTUK MENDORONG UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI. Peraturan perundang-undangan untuk mendorong pemberantasan korupsi di Indnonesia masih sangat terbatas dan perlu disempurnakan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesan tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) 2004-2009 sebagai Living Document yang disusun oleh 92 instansi Pemerintah. Oleh sebab itu budaya permisif dari masyarakat terhadap perilaku korupsi harus dapat dihilangkan agar fungsi pengawasan dari masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat terlaksana dengan baik. Oleh sebab itu. namun langkah-langkah tindak lanjut dan ratifikasi tersebut belum dilakukan secara optimal. dalam kaitannya . Selain itu. penyelenggaraan pelayanan system administrasi manunggal satu atap (samsat). terutama untuk beberapa isu yang menjadi perhatian dalam penyusunan RAN PK dan RAD PK seperti perijinan di bidang investasi. menyebabkan penanganannyapun memerlukan kerja keras dari aparat penegak hukum. Namun demikian pelaksanaan RAN PK pada ringkat kementrian/lembaga maupun RAD PK pada beberapa daerah belum dilaksanakan secara efektif. Meskipun Indonesia telah meratifikasi UNCAC (United Nation Convention Against Corruption) melalui Undang-undang No. 7 Tahun 2006. Oleh karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. untuk menghindari adanya kesan diskriminasi dalam hal penanganan kasus korupsi maka perlu dilakukan upaya penentuan prioritas kasus yang ditangani dengan lebih akuntabel.

Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah yang secara bertahap semakin memantapkan peran institusi birokrasi pemerintah agar mampu berkontribusi dalam mendorong keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional khususnya turut menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bidang lainnya. dalam pelaksanaan reformasi birokrasi masih dihadapi berbagai permasalahan yang sekaligus menjadi tantangan yang harus dapat diatasi untuk memantapkan peran institusi pemerintah. perpajakan dan kepabeanan dan pengadaan barang dan jasa publik/pemerintah. diantaranya: (1) belum selesainya proses pembahasan RUU Pelayanan Publik yang merupakan landasan hukum dan kebijakan pelayanan publik secara lebih komprehensif. (5) masih belum memadainya kompetensi aparat pemerintah di daerah dalam penerapan SPM. Sebagai upaya tindak lanjut keanggotaan Indonesia dalam UNCAC tersebut. serta Permendagri No. Beberapa permasalahan yang dihadapi di bidang pelayanan publik. (2) masih belum optimalnya pelayanan publik di bidang investasi. serta memberikan dukungan pada peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan publik. dan (8) belum terintegrasinya sistem koneksi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem informasi Kementerian/Lembaga karena masih terbatasnya dukungan . Namun demikian. maka pemerintah harus melakukan penyesuaian hukum nasional dengan prinsip-prinsip UNCAC. (3) belum dikembangkannya secara maksimal sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on line di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). (7) belum meratanya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya juga menghambat pengembalian aset negara yang dikorupsi.dengan perlindungan saksi dan korban dan keterbukaan informasi publik. 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. (6) masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik untuk pelayanan penduduk perkotaan akibat pesatnya pertambahan penduduk yang harus dilayani. Oleh sebab itu upaya untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan harus dapat dilakukan. beberapa peraturan pelaksanaan dalam undang-undang nasional belum lengkap sehingga menyebabkan masih adanya hambatan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberantasan korupsi. (4) belum efektif dan efisiennya pelayanan publik kepada masyarakat karena belum adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah disahkan. sebagai penjabaran PP No 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM dan Permendagri No.

perpajakan dan kepabeanan. Dengan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas. dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan profesionalisme PNS dan peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. permasalahan yang dihadapi antara lain : (1) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PNS. (2) kenaikan remunerasi bagi PNS termasuk anggota TNI dan POLRI selama ini masih terbatas pada penambahan penghasilan. (2) menyempurnakan dan mengembangkan manajemen pelayanan publik khususnya di bidang investasi. Dalam upaya peningkatan kinerja dan kesejahteraan aparatur negara khususnya PNS. (3) menyusun dan menerapkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memantapkan pelaksanaan pendelegasian kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. tantangan yang dihadapi pada tahun 2009 adalah (i) menyempurnakan sistem diklat. kurikulum dan . baik diklat struktural maupun fungsional.dana dari pemerintah promosi dan kabupaten/kota dalam penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan masih perlu ditingkatkannya keakuratan atau validitas data kependudukan nasional. pengadaan barang dan jasa. Oleh sebab itu. tantangan pokok yang dihadapi. MENINGKATAN KINERJA DAN KESEJAHTERAAN PNS. serta mengembangkan sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on-line di daerah. dan (7) mengintegrasikan sistem koneksi nomor induk kependudukan antar instansi terkait sebagai basis data pelayanan publik khususnya pelayanan administrasi kependudukan. belum mempertimbangkan penyempurnaan struktur penggajian secara adil. dalam rangka peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS. termasuk membangun Unit Pelayanan Investasi Terpadu di daerah dan mengimplementasikan National Single Window (NSW). khususnya dari sisi kurikulum dan strategi pembelajarannya. (5) meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik melalui penyusunan standar pelayanan perkotaan (SPP). maka tantangan bagi pemerintah adalah menentukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan terfokus. diantaranya adalah: (1) disahkannya UU Pelayanan Publik dan dilanjutkan dengan sosialisasi secara luas kepada masyarakat dan penyusunan peraturan pelaksanaannnya. (4) meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM). transportasi. layak dan berbasis kinerja. Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik. (6) melakukan optimalisasi dan perluasan penggunaan teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan ujung tombak dalam menyediakan pelayanan pada masyarakat yang perlu ditingkatkan kinerja dan kesejahteraannya. (3) UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian perlu disempurnakan sejalan dengan perkembangan kebijakan di bidang penyelenggaraan negara dan tuntutan penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih terpadu.

(3) kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah masih ditandai tumpang tindih kewenangan. kinerja program dan individu pegawai. dan (2) mengurangi tumpang tindih fungsi lembaga quasi birokrasi/lembaga non struktural menuju terwujudnya efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. MENINGKATKAN PENATAAN KELEMBAGAAN. Pemantapan demokrasi pada tahun 2009 diperkirakan masih menghadapi sejumlah permasalahan . dan pengawasan aparatur negara masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang secara efektif dan efisien. eksternal. MEMPERKUAT LEMBAGA PENYELENGGARAAN PEMILU DAN MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF MASYARAKAT DALAM PEMILU 2009.pengembangan strategi pembelajaran untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja dan profesionalisme PNS. Oleh sebab itu. (ii) mengembangkan sistem remunerasi pegawai negeri sipil termasuk juga bagi TNI dan POLRI. (4) perlunya diupayakannya sinergistas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan instansi pemerintah. Di sisi kelembagaan. KETATALAKSANAAN DAN PENGAWASAN APARATUR NEGARA. dan (3) mengembangkan sistem pengawasan nasional untuk mensinergikan pengawasan internal. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara adalah memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah pusat dan daerah. layak dan berbasis kinerja. (2) masih perlu ditingkatkannya pemahaman aparat pemerintah tentang pelaksanaan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. Dalam hal ini secara terperinci tantangan yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut : (1) menerapkan manajemen berbasis kinerja pada lingkungan instansi pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi. dengan berpedoman pada rencana induk (grand design) reformasi birokrasi dan pedoman-pedoman terkait lainnya. yang mencerminkan sistem reward and punishment yang adil. dan masyarakat guna menjamin kualitas dan kinerja penyelenggaraan kepemerintahan. terbatas dan belum fokus. sejalan dengan adanya kewajiban setiap instansi pemerintah harus memiliki key performance indicator (KPI)/Indikator Kinerja Utama (IKU). beberapa permasalahan yang masih dihadapi di bidang ini. tantangan dalam penataan kelembagaan. sehingga menimbulkan penilaian publik bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi masih bersifat parsial. Secara lebih rinci. dan (iii) melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian khususnya UU No 43/1999. ketatalaksanaan. agar lebih efektif dan mendukung fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. antara lain: (1) pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. sehingga berpotensi pada in-efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. kedudukan dan fungsi. sebagai pedoman bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme birokrasi pemerintah. belum didasarkan atas road map atau grand design yang sifatnya komprehensif.

Tantangan lain adalah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung ketersediaan dan distribusi logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. Kekurangan jumlah dan ketidaksiapan alutsista TNI dan Alut Polri ini selain berakibat pada melemahnya efek penggentar (deterent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi. Di lain pihak tantangan KPU untuk memenuhi jadwal pelaksanaan pemilu dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pemilu juga tidak kecil. tidak berdasarkan mobilisasi kelompok masyarakat. TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan dan Polri sebagai komponen dasar keamanan dan ketertiban masyarakat. transparansi dan akuntabilitas kelembagaan penyelenggara pemilu perlu diingkatkan agar mampu bekerja secara lebih profesional. Pada Pemilu 2009 partisipasi politik diharapkan makin aktif berdasarkan kesadaran politik warga yang lebih tinggi.dan tantangan. Tindak kejahatan transnasional di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan masih cukup tinggi seperti narkoba. Keadaan yang tidak memadai pun terjadi pada alat utama Polri. . tantangan bagi pemerintah adalah meningkatkan efektifitas koordinasi antar lembaga untuk memastikan keseluruhan persiapan dukungan Pemilu 2009 dapat dilaksanakan tepat waktu. serta dukungan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pemilu. penyeludupan manusia atau senjata. Di samping itu. MEMANTAPKAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. bahkan belum mampu memenuhi kekuatan dan gelar minimum essential forces. Oleh karena itu. bersih dan efisien. ilegal fishing. saat ini dihadapkan pada masalah mendasar. Oleh karena itulah kapasitas. yaitu jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat utama (alut) Polri yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi. mengingat waktu yang tersisa menjelang pelaksanaan pemilu cukup terbatas. Kondisi tersebut diperburuk oleh kesiapan alutsista yang secara rata-rata hanya mencapai 45 persen dari yang dimiliki. belum tuntasnya penanganan pelaku dan jaringan terorisme yang beroperasi di Indonesia serta belum meredanya aksi-aksi terorisme skala regional maupun global berpeluang meningkatkan aksi-aksi terorisme di dalam negeri terutama dalam menghadapi Pemilu 2009. ilegal logging. Permasalahan dalam mendukung efektifitas pemilu terkait dengan keterbatasan waktu mempersiapkan berbagai proses tahapan akhir penyelenggaraan Pemilu 2009. juga berakibat pada kapabilitas TNI dan Polri dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat akibat bencana alam. Di satu pihak masyarakat sangat mengharapkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil sehingga dapat mencerminkan secara jernih aspirasi politik rakyat. Kemampuan pertahanan nasional belum dapat memberikan efek detterence/penangkal. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PEMILU 2009.

Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi. dalam lingkungan yang saling menunjang dan terkait. serta tantangan yang dihadapi tahun 2008. Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif. Dengan demikian tantangan yang dihadapi untuk memecahkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas adalah: mewujudkan kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala minimum essential force guna mampu menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan termasuk dalam hal memberikan dukungan pencegahan dan penanggulangan terorisme. . Lingkungan hidup yang . B. jujur dan demokratis adalah tercapainya stabilitas umum keamanaan dalam negeri dan terpenuhinya upaya-upaya khusus dalam mengamankan seluruh rangkaian proses pemilu dari masa persiapan. tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya. mencegah tindak kejahatan lintas negara khususnya di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan yang relatif masih cukup tinggi termasuk mencegah terjadinya demand dan supply narkoba. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. kampanye. sosial. TEMA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TAHUN 2009 DAN PENGARUSUTAMAAN Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008. Oleh karena itu. yaitu: . aparatur negara. proses pemungutan dan perhitungan suara. tema pembangunan pada tahun 2009 adalah: "PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN" Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah ini.Saat ini pemahaman politik masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa Pemilu tahun 2004.Pengarusutamaan partisipasi masyarakat. terdapat 6 (enam) prinsip-prinsip pengarusutamaan menjadi landasan operasional bagi seluruh.Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan. tantangan mewujudkan Pemilu tahun 2009 yang berkualitas. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang. Namun hal ini dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap stabilitas keamanan dalam negeri dan jalannya proses Pemilu tahun 2009. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. meningkatkan upaya penangkapan pelaku utama dan jaringan terorisme di Indonesia. apabila kurang disertai oleh kedewasaan sikap politik masyarakat. dan mengupayakan pengamanan rangkaian proses pemilu 2009. Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat.

Pengarusutamaan gender. serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. kesempatan. makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. dan kontrol. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi.Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. . Untuk itu pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan. dunia usaha. . Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah. Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal. legislatif dan yudikatif. dan masyarakat. termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perobahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait. dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat. . Penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten. serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara. Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance). maka diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal . dan memiliki akses.Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance).lestari merupakan modal dasir pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. Strategi pengarusutamaan gender. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar. dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi.

kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah.termasuk kawasan perbatasan. guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasil-hasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. DAN ENERGI. maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan. Mekanisme sistem penyaluran dan dari pengelolaannya akan dilakukan secara transparan. jenis kegiatan. Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan. . PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2009 Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 -2009.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. I.Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah. serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. C. 3. PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. REFORMASI BIROKRASI. Penetapan kelompok sasaran.Pengarusutamaan padat karya. Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating).PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DI DUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran. INFRASTRUKTUR. fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut. maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah. fasilitas air bersih. yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. . maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. dan lokasi yang dipilih. setengah penganggur. Sejalan dengan itu. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN . serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009. fasilitas sanitasi. jumlah. 2. dan lain-lain. jembatan. Prioritas pembangunan tahun 2009 ini ditempuh dengan sasaran.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN. dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan. dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty).

2.00 persen.Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.00 persen. Kesehatan 1.76 persen dan 95.34 persen.Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin). antara penduduk kaya dan penduduk miskin. 3. 4.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 69.Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi. PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan. 5.Meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan. 2. bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca.Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menjadi 87 persen. serta meningkatnya kesejahteraan pendidik. dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96. Pendidikan 1.09 persen. dan .57 persen.SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1. sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen. khususnya masyarakat miskin.Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara perkotaan dan perdesaan.Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal (K4) menjadi 90 persen. 3.Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir.64 persen. serta antara penduduk laki-laki dan perempuan. meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99. antara daerah maju dan daerah tertinggal. 4.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5. 2. meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 98. 3.Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Ekonomi Usaha Rakyat 1. dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18. (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri. 5.Meningkatnya pemberdayaan ekonomi. 2.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat.00 persen.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 115.Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan.

2. 9.16 per wanita. . 18.Tersedianyan dokter spesialis yang dididik sebanyak 1.Meningkatnya angka penemuan Acute Flaccid Paralysis menjadi ≥ 2 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun.Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) menjadi sekitar 30. 8. 16.1 juta peserta.740 orang dan 300 orang senior residen yang didayagunakan.Meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70 persen.Tersedianya jumlah tenaga kesehatan dan kader kesehatan di 26. 19.Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di puskesmas dan jaringannya menjadi 100 persen.Meningkatnya persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) menjadi 98 persen. meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi menjadi 75 persen.Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang memenuhi standar mutu menjadi 90 persen.Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) menjadi 45 persen.2 persen.Meningkatnya persentase penderita demam berdarah (DBD) yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen. 15. 6. Keluarga Berencana 1. 13. 10. 12.Merungkatnya persentase balita yang mendapatkan Vitamin A mencapai 80 persen. 4.Meningkatnya persentase penderita flu burung yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen. 11.Meningkatnya persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi 80 persen.Terlaksananya pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 97 ribu sampel. 17.cakupan kunjungan neonatus (KN) menjadi 87 persen dan cakupan kunjungan bayi menjadi 87 persen.Meningkatnya persentase penderita malaria yang ditemukan dan diobati menjadi 100 persen. 14. 7.Menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi sekitar 2. 20.Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita.Menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1.Meningkatnya persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan dan mendapat pertolongan Anti Retroviral Treatment (ART) menjadi 100 persen. persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) menjadi 75 persen.Meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe menjadi 90 persen. 3. 5.000 desa siaga.

1 juta.4 persen dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS). perdesaan. 5. 4.Terlayaninya peserta KB Baru (PB) sekitar 6. surya.Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan.Meningkatnya keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi 2.Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan 5. angin.Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi sekitar 21 tahun.Optimalnya fungsi tampungan.Meningkatnya jumlah keluarga lansia yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi 1. dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. . melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro.Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai Transportasi 1. Energi 1. pedalaman dan kawasan perbatasan.Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 2.3 juta keluarga Sumber Daya Air 1.9 juta peserta. dan 12.9 juta. 10. 8.Terlayaninya peserta KB baru dari keluarga miskin Keluarga Pra Sejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS 1) sekitar 2.5 juta.Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan KS I anggota Usaha Penigkatatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang aktif berusaha menjadi sekitar 1.0 juta peserta. 9.3.Meningkatnya peserta KB Pria menjadi sekitar 3. 7.Terbinanya peserta KB aktif miskin (KPS dan KSI) sekitar 12. termasuk penyediaan angkutan massal. 11.6 persen dari peserta KB aktif.0 juta. daerah terpencil. Terbangunnya tampungan untuk air baku 3. 6.Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan.Menurunnya unmet-need menjadi sekitar 6.Meningkatnya jumlah keluarga remaja yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) menjadi 1. prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 4. serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO).

dan desa eks-transmigrasi. fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya.Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah. dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh. fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru. persampahan dan drainage) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat.Ketenagalistrikan 1.: .Meningkatnya kapasitas aparatur Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pembangunan kawasan perdesaan. layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO. 3. skala regional dan sistem terpusat. Perumahan dan Permukiman 1. 4. Kelembagaan Masyarakat dan Pemerintah Desa 1.Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah masyarakat melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah terutama untuk membuka akses masyarakat miskin terhadap pemilikan sertifikat. 2.Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan didaerahnya. 2.Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota. desa nelayan. serta 3. Pertanahan 1.Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya. siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan.Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2.Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan.Terfasilitasinya penguatan kelembagaan dan pemantauan unit pengaduan masyarakat.Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat.Tertatanya struktur penguasaan tanah yang adil dan mendukung perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan penataan penguasaan. serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan. Pos dan Telematika 1. perbaikan rumah. desa tradisional. 2.Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang berkeadilan dan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah. pemilikan. penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun.

14. n)Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang. 1)Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320. c)Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak.000 KK di 33 provinsi.200 siswa.796. e)Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/ Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota.4 juta penduduk miskin.800 siswa. ARAH KEBIJAKAN. t)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 998.000 RTSM di 13 provinsi.060 tuna sosial. 4. 10 provinsi & 50 kab/kota.miskin. o)Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76. korban bencana sosial 350. 3.086 penyandang cacat di 33 Provinsi.3. yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar. dan 5. k)Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 512. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat .000 siswa.000 siswa. g)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1.320 korban napza. Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 50. .078 siswa. Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 249. b)Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 750. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat.Meningkatnya pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat desa.231 mahasiswa. h)Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640.25 juta jiwa. 11.Meningkatnya kelembagaan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan. m)Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik.500 lanjut usia terlantar. FOKUS.Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin a)Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5.000 siswa. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: Fokus 1.000 jiwa dan Bahan Bangunan Rumah (BRR) 12. j)Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 387. d)Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L.922 siswa. i)Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540.000 anak.

TAM 20. DRIP IRRIGATION) 6 paket.200 desa. dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi. Rumah Tangga Miskin.886 kecamatan (BLM & T/A). Konservasi DAS 15.500 ha. PNPM) dengan target pemberdayaan di 237 kecamatan. Balai Subak 20 unit. Fokus 2. c)Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE. embung 200 unit. kondom). irigasi tanah dangkal 400 unit. r)Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916.500 ha. pengembangan HMT 3. .Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat a)Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2.900 PB Miskin (Implant. MOP/MOW) dan 9. t)Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin. cetak sawah 25.000 ha. PHLN (WISMP. PLTB di lahan rawa 500 ha.1 juta masyarakat miskin. s)Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19. f)Penanganan Rehab dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY & Jateng dengan target terlaksananya Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi Yogyakarta dan Jateng. Pengembangan SRI 50 paket. irr tanah dalam 50 unit. Sumur resapan 450 unit. g)Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70. peral bun 4.000 bdg. JIDES 40. IUD.500 ha. pembukaan lahan kering 2. Reklamasi lahan 4. Konservasi lahan 500 ha. serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB. jalan produksi 300 km. POST TSUNAMI. peral horti 3.589. irr bertekanan 135 unit. pengembangan dampak SRI 50 unit.000 ha.072 kecamatan.000 ha. JUT 470 km. fasilitasi sertifikasi lahan petani 25.000 ha. IDB.700 PA Miskin (suntik. NTB-WRMP. e)Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota.000 ha.500 ha. d)Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target pemberdayaan di 3. pendampingan cetak sawah 25 kab. sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan. pompa hydram 8 unit. Irigasi air permukaan 205 unit.000 ha. PISP. padang pengembalaan 500 ha. Optimalisasi lahan 21.000 ha. q)Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. pil. b)Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target pemberdayaan di 1.p)Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya.

000 desa.500 UKM oleh 500 BDS. 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2. fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 101. m)Pemberdayaan keluarga.h)Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3).850 unit PLTS di 952 desa tertinggal.448 peserta). 1.150 KK komunitas adat terpencil. dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil. e)Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1. pengembangan LM3 Peternakan 340 klp. b)Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target tersedianya pendampingan kepada 3. 6. h)Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi.000 Koperasi/LKM. i)Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target fasilitasi dan pengembangan PUAP di 10. terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi. 29.700 UMI. Fokus 3. c)Penyediaan Dana Bergulir Untuk kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Termasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75. Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat .000 UMi/3.800 kader penggerak pembangunan. 3. l)Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14. d)Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2. g)Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4. LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp.234 KK fakir miskin. k)Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target penyediaan prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten.565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. 148 kabupaten. i)Pemberdayaan Ekonomi.800 Koperasi/LKM. bantuan sosial ke 1.000 koperasi. j)Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal.300 keluarga rentan sosial ekonomi. dan pemberdayaan sosial melalui bantuan modal usaha KUBE.300 UMI. 12. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil a) Penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).480 kelompok masyarakat. f)Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1.044 desa tertinggal di 186 kecamatan.

berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kab/kota.955 siswa. Pengolahan hasil bun di 40 kab. m)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket.657.100 ruang. g)Rehabilitasi Sarana dan Prasarana SMP dengan target 5. Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp. f)Penyediaan Buku Pelajaran jenjang Pendidikan Dasar (Bos Buku) MI dan MTs dengan target 6. Fokus 4. . pengolahan hasil ternak di 15 kab.700. l)Bantuan Pembangunan MI melalui MEDP (ADB) dengan target 205 MI. UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp. l)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 2 paket. j)Pembangunan USB SMP dengan target 350 unit. peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi. d)Penyediaan Buku Pelajaran SD dengan target 19.751 siswa. k)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan: target 1 paket.900 unit. k)Pembangunan RKB SMP dengan target 8.822 siswa. p)Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan).pesisir di 100 kab/kota. c)Penyediaan Bas Jenjang Pendidikan Dasar (MI/MTs) dengan target 6. i)Pembangunan SD-SMP satu atap dengan target 750 unit. serta pemberdayaan perempuan pesisir /lembaga adat.751 siswa. pengolahan hasil horti di 50 kab. e)Penyediaan Buku Pelajaran SMP dengan target 6. pembukaan ULIB Baru 300 unit. BRR) melalui 1.417 siswa. h)Rehabilitasi ruang kelas MI dan MTs dengan target 1.142. j)Pengembangan Agroindustri Terpadu dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi. b)Melanjutkan Penyediaan BOS SMP untuk 9. o)Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal. Pengolahan pakan temak di 15 Kab.000 ruang.142.292 siswa. penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi. n)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD-Nias ex.130.465. Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab.440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal.Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang Berkualitas Khususnya Bagi Daerah yang Kinerja Pendidikannya Masih Tertinggal a)Melanjutkan Penyediaan BOS SD unruk 27.

750 ruang.139 siswa. e)Pembangunan USB SMK dengan target 225 lokasi. j)Pembangunan Perpustakaan. r)Pelaksanaan penelitian di Perguruan Tinggi (yang menghasilkan Patent. r)Penyelenggaraan Paket A setara SD dengan target 90.548 sekolah. x)Akreditasi Sekolah Jenjang SMP dengan target 8. k)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMA dengan target 50 paket.000 orang.618.200 paket. n)Penyediaan Peralatan Lab SMP dengan target 3. c)Rehabilitasi ruang ke1as MA dengan target 850 unit.700 PKT. q)Pengembangan bidang keilmuan (Rumah Sakit Pendidikan) PTN dengan target 13 PT. t)Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dengan target 84. Kebijakan . p)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMP dengan target 3. n)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK [siswa] dengan target 2. l)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMK dengan target 50 PKT.000 paket.727. Jurnal Internasional. Dan Non Formal a) Rehabilitasi Ruang Kelas SMA dengan target 970 paket. Laboratorium dan Workshop SMA dengan target 499 PKT.786.854 Siswa.773 siswa. p)Penyelenggaraan UN Jenjang Pendidikan Menengah dengan target 3. d)Pembangunan USB SMA dengan target 50 paket.000 ruang.500 sekolah.559 siswa. y)Penyusunan/Pengembangan kurikulum/Bahan ajar/model pembelajaran dengan target 461 Kab/Kota.500 ruang.396 sekolah.000 sekolah. Foktus 5. Tinggi. b)Rehabilitasi Ruang Kelas SMK dengan target 1. o)Akreditasi Sekolah jenjang pendidikan Menengah dengan target 5. w)Akreditasi Sekolah Jenjang SD dengan target 32. Rekayasa Sosial. q)Pembangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar SD dengan target 6.900 sekolah.693 siswa. u)Penyelenggaraan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD dengan target 5. s)Penyelenggaraan Paket B setara SMP dengan target 410. o)Pembangunan Laboratorium IPA dan Perpustakaan SMP dengan target 3. f) Pembangunan RKB SMA dengan target 1. h)Bantuan Pembangunan MA me1alui MEDP (ADB) dengan target 549 unit. g)Pembangunan RKB SMK dengan target 5. v)Penyelenggaraan UN SMP dengan target 3.Peningkatan Mutu Dan Relevansi Pendidikan Menengah. i)Pembangunan Perpustakaan.059.m)Bantuan Pembangunan MTs melalui MEDP (ADB) dengan target 237 MTs.000 orang. m)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMA (Sekolah) dengan target 1. Laboratorium dan Workshop SMK dengan target 225 PKT. Teknologi Tepat Guna.

000 orang. s)Pengadaan Peralatan Laboratorium PT dengan target 164 paket. Karya Seni dan Buku Ajar) dengan target 445 Judul.0000 dosen. m)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan .267 KK. y)Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pembangunan Lembaga PAUD dan Penyediaan Bahan Ajar dan Alat Permainan Edukasi dengan target 9.000 ORG. bb)Bantuan Fasilitasi Perpustakaan Keliling kepada Perpustakaan Umum Kab/Kota dengan target terlaksananya fasilitasi 60 unit perpustakaan keliling di 60 kabupaten/kota. Metodologi.000 orang.900 orang.000 eksemplar bahan bacaan. j)Percepatan Sertifikasi Guru Madrasah dengan target 90.000 m2.790 orang. g)Peningkatan Mutu dan Profesionalisme guru dengan target 11.000 lembaga. 50. u)Pendirian dan Peningkatan Kapasitas Politeknik dengan target 41 politeknik.000 dosen dan baru 1. w)Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan (paket C) dengan target 35. t)Pembangunan gedung dan lab baru PT dengan target 175. Pengadaan 1 perangkat e-library untuk 32 provinsi.500 dosen. v)Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional dengan target 900.000 dosen. x)Penyelenggaraan Kursus dan Magang dengan target 200. Merdeka Selatan tahap I. Koleksi dan Layanan Perpustakaan dengan target terlaksananya pembangunan gedung layanan perpustakaan terbuka Jl. i)Percepatan Sertifikasi Akademik Bagi Guru dalam jabatan melalui sistem portfolio dengan target 200. Fokus 6.000 ORG.465 guru. c)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (DN) dengan target 17. b)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (menengah) dengan target 10.500 orang dengan rincian lanjutan 1.389 dosen dengan rincian lanjutan 11.000 orang.000 orang. d)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S2 dengan target 2.Publik.Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik a)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (dikedas) dengan target 270.389 dosen dan baru 6.143 orang.000 orang. k)Percepatan Sertifikasi Dosen (PTA) dengan target 2. aa)Penyediaan Fasilitas. h)Pengembangan Kemitraan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah Untuk Mendukung Wajib Belajar 9 Tahun dengan target 11. e)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S1 dengan target 2. z)Perluasan akses dan mutu TK (subsidi TK-SD satu atap) dengan target 596 TK. f)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (LN) dengan target 2. l)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan Dasar) dengan target 341.

r)Tunjangan profesi dosen dengan target 12. dan 200 bidan komunitas. a)Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak (KIA) dengan target cakupan pelayanan antenatal (K4) 90%. o)Tunjangan profesi guru dengan target 307.500 dosen.101 orang. p)Tunjangan profesi guru menengah dengan target 63. pemberian vitamin A (80%). Kekurangan Gizi dan Pemberantasan Penyakit Menular. dan cakupan kunjungan bayi 87%. 80% angka kesembuhan TB dan 95% UCI desa. pencegahan GAKY diukur dengan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium yang cukup (80%). Fokus 7. d)Pemenuhan dan Peningkatan Fasilitas Sarana dan Prasarana dengan target tersedianya 4 RS World Class. f)Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) desa siaga dengan target terlatihnya 52. b)Penanggulangan Krisis dengan target tertanggulanginya masalah kesehatan di daerah bencana. q)Tunjangan Profesi Guru (Madrasah) NonPNS dengan target 46.348 orang.349 orang.831 orang. Malaria. c)Pembiayaan Jaminan Kesehatan dengan target 100% klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. terlaksananya pelayanan penanggulangan flu burung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI). dan 20 RS Lapangan di daerah terpencil dan perbatasan. 100% HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapat pengobatan.000 kader di desa siaga. serta terlaksananya pelayanan kesehatan haji. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 87%. 330 RS Rujukan PONEK. pemberian Fe (90%).740 orang dokter spesialis dan dan 340 mitra dokter spesialis. .Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan a)Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Dasar termasuk biaya operasional dengan target tersedianya biaya operasional di 8.445 orang. c)Penanganan Masalah Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada ibu hamil dan menyusui. e)Penanggulangan penyakit flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza dengan target 100% penderita flu burung yang ditemukan tertangani.114 Puskesmas dan jaringannya. Fokus 8. bayi dan anak balita dengan target penanganan gizi kurang dan gizi buruk (500 ribu anak 6-24 bulan).Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak. b)Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dengan target terlaksananya pendidikan 1. 33 RS Rujukan Unit Tranfusi Darah UID). n)Tunjangan Fungsional Guru Non PNS RA/MI/MTs/MA dengan target 501. d)Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (penanggulangan Penyakit Menular) dengan target 100% penderita DBD. 75 RS rujukan Unit Gawat Darurat (UGD).Menengah) dengan target 196. kunjungan neonatus (KN) 87%.

5 juta keluarga menjadi anggota BKB aktif. c)Peningkatan Sarana dan Prasarana termasuk peningkatan kapasitas SDM dengan target tersedianya 35 paket peralatan laboratorium. terlatihnya 29.Fokus 9. f)Intensifikasi Advokasi dan KIE Program KB Nasional dengan target (1) . tugas belajar 2. obat flu burung. Pengelolaan dan Pelayanan KB Pemerintah dengan target (1) 4. d)Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. dan Penyediaan Tenaga Kesehatan a)Penyediaan dan pengolahan obat dan vaksin dengan target penyediaan obat generik esensial (buffer stock). Pemantapan Revitalisasi Program KB a)Peningkatan Jejaring Pelayanan KB Pemerintah dan Swasta/Non Pemerintah dengan target 70. serta RS kab/kota terutama di daerah terpencil dan bencana dengan target tersedia dan terlatihnya 12 ribu bidan. dan (2) terselenggaranya sistem informasi dan monitoring manajemen Program KB Nasional di pusat. b)Pengujian laboratorium Sampel obat. dan 1.3 juta KPS dan KS I anggota UPPKS aktif berusaha.000 tempat pelayanan KB memberikan promosi dan konseling. obat haji.850 kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif dan berkualitas. c)Peningkatan Akses Informasi dan Pelayanan Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dengan target (1) 2. obat Tradisional. 47 ribu kader kesehatan. Prov dan Kab/Kota. 1 juta keluarga menjadi anggota BKL aktif. terselenggaranya 12 jenis diklat. 11 sarana fisik gedung. dan terciptanya sistem jaminan ketersediaan alat kontrasepsi (JKK) dan pembiayaan program KB terutama bagi rakyat miskin.500 orang. dan terlatihnya 7. dan vaksin.1 juta keluarga menjadi anggota BKR aktif. Makanan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dengan target 97 ribu sampel. dan (2) terlaksananya sosialisasi dan KIE KRR di 450 Kab/kota dan 33 prov. obat bencana. serta ditempatkannya 300 residen senior. provinsi dan kabupaten/kota. e)Pendataan Keluarga dan Individu Dalam Keluarga dengan target (1) seluruh desa/kelurahan menggunakan hasil pendataan keluarga sebagai basis/dasar untuk pembinaan pengelolaan operasional program KB lini lapangan. terselenggaranya pendidikan 44 ribu calon tenaga kesehatan. pengembangan center of exellent di 6 provinsi. Pengawasan obat dan Makanan. 1. d)Penguatan Jejaring Operasional Lini Lapangan Yang Berbasis Masyarakat dengan target (1) terselenggaranya pembinaan operasional lini lapangan bagi sekitar 25.580 peserta. Fokus 10. Pengembangan.Peningkatan Pemanfaatan obat. dan (2) terselenggaranya Advokasi dan KIE Program KBN melalui forum kerjasama LSM dan swasta di Pusat. terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya. obat program. b)Pembentukan.728 bidan di desa siaga.871 penggerak KB di desa. Produk Komplemen.

e)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 5 titik. f)Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 34 lokasi. Bidang Energi a)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan. i)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km.Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) A. Fokus 11. h)Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 49 lokasi.14 m3/det. dan (2) terselengaranya pendidikan jangka panjang/pendek bagi 580 orang. Bidang Sumber Daya Air a)Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 4. d)Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 4 buah. g)Peningkatan Kompetensi Petugas dan Pengelola Program KB dengan target (1) terlaksananya pelatihan dasar umum/LDU. c)Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 20 buah. B. dan pengembangan sarana dan prasarana termasuk melanjutkan sarana dan prasarana di wilayah pemekaran. h)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pengembangan sistem informasi program KB berbasis IT di Pusat dan 33 Propinsi.871 PLKB/PKB serta pengelola KB agar memenuhi standar kompetensi. terlaksananya peningkatan . provinsi dan kabupaten/kota. b)Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 35 buah. dan (2) terselenggaranya KIE program KB dan KS melalui media massa dan media luar ruang di pusat. refreshing dan pelatihan teknis bagi 25. g)Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan di 12 lokasi.Toga/Toma tingkat desa berpartisipasi dalam kegiatan advokasi di 17.800 desa/kelurahan.

C.aksesibilitas energi perdesaan kerjasama Indonesia. Desa Tradisional. dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I). D. 74. 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 1.669 desa.000 unit c)Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit. dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2. jasa akses telekomunikasi di 38. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh.565 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 5O WP. E. Desa Nelayan. Desa Nelayan. Desa Nelayan. 15 unit PLT bayu berkekuatan 80 KW. terwujudnya peralatan kegiatan produktif desa mandiri energi berbasis BBN dan non BBN. Belanda dan GTZ).750 KMS. jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2. Bidang Ketenagalistrikan a)Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan.100 buah/53. Bidang Pos dan Telematika a)Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2.471 desa dan internet di 500 desa. Desa Tradisional. b)Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh.150 KMS. dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10. terlaksananya pendampingan kegiatan PWS (kerjasama dengan ADB) dan kegiatan pengembangan biogas untuk rumah tangga (kerjasama dengan Belanda).Transmigrasi sebanyak 10.000 unit.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos. Desa Tradisional. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. dan Desa Eks. Desa Nelayan.806 KW. Gardu Distribusi sebanyak 1. Desa Tradisional. e)Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan . d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.100 KVA. terlaksananya program IMIDAP. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor transportasi terwujudnya pengembangan energi terbarukan non listrik di pulau kecil terluar.

b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dengan target Terlaksananya 4 paket pekerjaan yaitu 3 paket jasa konstruksi dan 1 paket jasa konsultan.2 km terdiri atas 5 paket pekerjaan yaitu: 4 pekerjaan paket jasa konstroksi dan 1 paket jasa konsultasi supervisi/manajemen konstruksi serta pembangunan/pemasangan pipa air bersih sepanjang kurang lebih 7. Sulsel. Sulut. antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah. Penanggulangan Lumpur Sidoarjo a)Pembangunan Jalan Nasional dengan target terlaksananya relokasi jalan arteri tara Porong sepanjang kurang lebih 7. Bidang Transportasi a)Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 146 km.2 km sebanyak 1 paket jasa konstruksi. c)Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit. bantuan sosial. dan Pengembangan dengan target terlaksananya 1 kegiatan swakelola pemantauan dan penanganan dampak deformasi geologi. G. Penelitian. d)Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi. d)Bantuan Penanggulangan Bencana Alam dan Kerusuhan dengan target terlaksananya 4 kegiatan (pelatihan. e)Pemberian Subsidi PSO PT KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi. Sumbar. NTT.200 desa. Sumut.750 unit. i)Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD.sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan. Malut. Maluku. F. Kalteng. j)Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target 3. c)Penyelenggaraan. Pelni Rp 850 M. g) Pemberian subsidi PT. Papua. dan Papua Barat. Sulteng. f)Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek. Kaltim. g)Penyediaan Salafia dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil/Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil/terpencil di 32 kawasan. Sultra. h)Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10. Sulbar. studi masalah . b)Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52km.

8 km di NAD dan Nias. dan Besuki). 25 Kab/Kota. c)Fasilitasi Pembangunan Wilayah Tertinggal dengan target: (1) rehabilitasi dan rekonstruksi Kecamatan di NAD-Nias melalui pembangunan 5. (4) terlaksananya lanjutan Pembangunan Pelabuhan Calang di Aceh Jaya. pengadaan peralatan dan mebel air untuk sekolah. d)Pembangunan Gedung Pendidikan Tinggi Agama melalui IDB dengan target terselesaikannya rehabilitasi rekonstruksi IAIN Ar-Raniry. dan (2) melalui IDB-Simeulue Reconstruction Project untuk perbaikan 15 unit sekolah. g)Peningkatan kehidupan masyarakat dan pengembangan wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Pasca Bencana dengan target Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Kabupaten/Propinsi dan Infrastruktur lainnya. Fokus 12. dan (2) terlaksananya sertifikasi RALAS 10.000 bidang di Kep.NAD dan 2 Kab di Nias. dan Kelembagaan di 6 wilayah. rumah operator).sosial. rumah sakit. ruang generator.000 bidang di Provinsi NAD. b)Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut dengan target: (1) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar. e)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah tertinggal (P2KPDT) dengan target melanjutkan Proyek SPADA. serta perbaikan infrastruktur lainnya (cold storage. Nias-Provinsi Sumut). serta Pengembangan Sistem Drainase di 4 kab/kota di NAD. perbaikan jalan 37 km. 200 unit sekolah dan infrastruktur publik. Puskesmas Pembantu (pustu) 20 unit. Sosial Kemasyarakatan. gedung serba guna. packing room. Transisi Pembangunan Ekonomi. EDFF-Aceh. termasuk di dalamnya Redistribusi dan Konsolidasi Tanah dengan target 310. sehingga terbangunnya infrastruktur ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. serta Rehabilitasi Fasilitas Terminal untuk Pelabuhan Udara Sultan Iskandar Muda. Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias a)Pembangunan Jalan baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 119. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan pasar. dan proses verifikasi pembayaran tanah di 3 desa: Kedung-Cangkring. Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah. Neraca PGT 100 Kab/Kota.000 unit rumah. (3) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel di Kuala Langsa di Langsa. meningkatnya akses pelayanan sosial dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di 17 Kabupaten di Prov. jalan dan parkir. Inventarisasi P4T 1 juta . jembatan 140 m. (2) terlaksananya lanjutan Pembangunan pelabuhan Lhokseumawe di Lhokseumawe. f)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Melanjutkan dengan target terlaksananya Reconstruction of Aceh Land Administration System Project (RALAS) dengan rincian: (1) terlaksananya sertifikasi RALAS 140.000 bidang. H. dan pustu. dan LED Nias. Pejarakan. Reformasi Agraria a)Pengaturan Penguasaan. Pemilikan.

modul pelatihan Sumber Daya Pesisir Beb basis Masyarakat di 33 provinsi. pelatihan pengelolaan sampah RT berbasis masyarakat di 15 kabupaten.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DIDUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. Bintek Administrasi (1. Penataan Sarpras (680 Orang).000 bidang).710 Bidang (FRONA dan LMPDP sebanyak 1. POKMASDAR TIBNAH 408 kelompok.1 persen. 1.226 bidang. fasilitasi pengembangan lembaga. Infrastruktur. Fokus 13. Inventarisasi tanah bekas hak/kritis 120 SP. Penyediaan Air Minum dan Sanimas/Pamsimas (15 Provinsi). c)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah dengan target 1. Bimtek Keuangan (600 Orang).Penguatan Lembaga Masyarakat dan Pemanfaatan Kelembagaan Pemerintah Desa a)Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan dengan target Bimtek (12 angkatan).419 bidang.980 Orang). operasi sidik 100 kasus.bidang. fasilitasi penyusunan Perda tentang pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat. mencakup operasi tuntas 900 kasus.228. DAN ENERGI SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian. d)Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan target 2. b)Pengendalian dan Pemberdayaan Kepemilikan Tanah dengan target penertiban tanah terlantar 128 SF.000 Ha. aparatur dan kader dalam pembangunan perdesaan berbasis masyarakat. b)Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan dengan target pengangkatan sekdes menjadi PNS (22. dan Lampung. Orientasi (7 angkatan).5 persen.065 bidang. pengkajian 1. 24 kab. Kegiatan PISEW/RISE di 9 provinsi. . 2.Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13. Fasilitasi sosialisasi peraturan (1. Pelatihan Masyarakat kerjasama dengan Balai Pemberdayaan Masyarakat Malang.065.000 Orang).600 perkara.Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12. c)Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dan Masyarakat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan dengan target terlaksananya pilot project pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat di 3 desa. penanganan perkara dan non-perkara 600 kasus.000 bidang dan RALAS 150. 3. Pilot Project PDT (17 Desa). Yogyakarta. Nelayan 2. 500.320 Orang). II.072 Titik.000 kasus. INFRASTRUKTUR. Pertanian 8. Transmigrasi 3. dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut.

DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16.Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan. g)Modernisasi Administrasi Kepabeanan dan Cukai dengan target . Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara . Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut EKONOMI-dengan fokus pertumbuhan Fokus 1. 5. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a)Penyederhanaan prosedur. dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT.3. peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru. Bab 18. perkebunan sebesar 4.9 persen. e)Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali. c)Strategi kebijakan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan target terlaksananya koordinasi perumusan kebijakan yang antara lain dalam bentuk PP Penetapan Wilayah KEK. talk show 3 kali di dalam negeri.Tumbuhnya pertanian. FOKUS.Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6. PP Kelembagaan dalam pelaksanaan KEK. dan Indonesia).Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara. Manado. Bab 17.0 persen. 6. peternakan dan hasilnya sebesar 4. Jepang. information kit dalam 5 bahasa (Inggris. koran nasional (bilingual). publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional. PP Fasilitas insentif pengembangan KEK. f)Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara . Arab. dan kehutanan sebesar 3. 4.9 persen. perikanan. seminar 8 kali di dalam negeri. d)Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara.7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4. Bab 22.4 persen. promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional. b)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait. dan Kendal. Bab 19.Menurunya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7-8 persen dari angkatan kerja ARAH KEBIJAKAN. dan perikanan sebesar 5 persen. Mandarin.

Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk.terbentuknya 2 kantor KPU dan penerapan National Single Window (NSW). 5 rekomendasi rapat. Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru. f)Koordinasi Pelaksanaan Tim National Single Window (NSW) dengan target 5 lap hasil peninjauan lapangan di negara maju. dan multilateral. h)Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan/pemeriksaan/penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan. pembangunan dermaga. budaya. 2 lap monitoring. terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM. peningkatan kinerja kepabeanan dan cukai. Conferences and Exhibitions . Incentives. pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum. 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial. dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata. d)Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor. b)Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri. dan terdaftarnya 1000 merek/produk. sejarah. h)Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam. 3 konsep per UU. termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. 5 lap raker. g)Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional. serta tersusunnya 38 pedoman/manual/peraturan yang melandasi pengawasan. dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama.Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar a)Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional. c)Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata. Fokus 2. e)Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online). i)Peningkatan Kegiatan Meeting. serta berdirinya 6 ITPC baru.

perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi.000 Ha. (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha). terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan. KTG 1. Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional a)Peningkatan Produksi. ubi kayu. (4) kedelai 4.000 ton (1 juta ha). 29 BPSBTPH. m)Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi. pembangunan Kebun Bibit Tebu 1.(MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri. Bongkar Ratoon Tebu 3. k)Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi. (1) Peningkatan produksi.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan. terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPM. Keempat. Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi. j)Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia. (3) jagung hibrida 1. b)Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama. terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang). Fokus 3.BTPH. gandum. operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis. kacang hijau.000 ha).000 ton. Kedua. Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi. 60 BBI. Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan. pembinaan 1000 penangkar (5. ubi jalar di 100 kab. (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi. (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi. (2) Pengembangan kacang tanah. Perluasan Areal Tebu 500 ha. l)Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1.760 Ha. serta POPT inseminator. tal. 90 kab/kota. Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku.125 ton (75. 90 kab /kota.200 ha. tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25. (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi. Ketiga. rekrutmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang .000 ha). (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum. produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi. pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi.

Lantai Jemur 138 Kab. (2) Operasional BPMPT. ZA sebanyak 600 ribu ton. 6. Penyakit Hewan. i)Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam.Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang. Gudang pengering padi 139 kab. j)Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton. (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup ketia meliputi 429 kab.500 unit. Revitalisasi LDM 10 unit. dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elekttonik). g)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tanaman Pangan.800 ton jagung hibirda dan 12. SP-36 sebanyak 700 ribu ton. Rehab pasar hewan 15 kab. 201 SD/MI. (6) pengawasan pestisida di 33 provinsi.000 ton.000 ton padi non hibrida. d)Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi e)Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan. bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional. Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi. ibu hamil.000 ton dan kedelai 2. (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi. . pasar 300 petugas dan sistem informasi harga/pasar di 110 kab. l)Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi. h)Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan. distribusi dan rawan pangan.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48. Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari. jagung komposit 2. Revitalisasi Silo 18 unit. pengadaan pangan dan infrastruktur pangan. penguatan kelembagaan pangan di pedesaan. Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit. menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota.300 ton kedelai. k)Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2. Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit. (7) insentif 3. Cold Room 24 lokasi. Petugas informasi.000 ton.5 juta ton. c)Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1. Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan. pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi).300 THK-POPT. NPK sebanyak 1. jagung hibrida 3. (8) kontrak 1. m)Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi AL 50 jt ds. pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi. dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton t)Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95.051 POPT/PHP.

000 ha. Fokus 4. karet 14 provinsi.000 ha. dan sagu) seluas 177 Ha. Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi. . Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi. Pengembangan komoditi spesifik (gambit. Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang). Jambu Mete. lada 6 provinsi. Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet. Lada 800 ha.900 ha. monitoring & evaluasi. Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529. Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2. o)Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 239. pengembangan teh 300 ha. nilam. (2) Meningkatnya kapasitas 183. Kopi dan Tembakau seluas 10. mendorong terbangunnya 8 PG baru. Kebun IP3. meningkatnya overall recovery di atas 85%. 4 kandidat padi.000 ha. n)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 68. Perikanan dan Kehutanan a)Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25. s)Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 170.000 ha.000 ha. Penguatan Kelembagaan. produksi hablur 2. p)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi.000 ha.000 ha. 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan. Sepeda Motor 181 Unit. cengkeh 700 ha dan pala 400 ha. v)Koordinasi. Pinang. ha. cuaca dan lingkungan pertanian.300. Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang. 8 paket data potensi SBL. Aren.935 TCD. cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis. areal tanam 275. q)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi. kopi 15 provinsi. u)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 535. jarak kepyar. lada 800 ha.Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian.000 ha.000 ton. Peremajaan Kelapa Rakyat 8. Pengembangan Kako Non Revit. panili) seluas 2. wijen.100. Kelapa rakyat 30. 100 Kabupaten/Kota. stabilisasi harga bahan pokok. jambu mete 7 provinsi dan kelapa 8 provinsi.000 ha. 6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan. 12 varietas baru ton pangan. Pengembangan Komoditi Potensial (Kina. t)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2. 5 komponen teknologi informasi iklim. Karet.000 ha. b)Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama. 25 Kabupaten/Kota. Rehab Bangunan UPP 27 unit. akar wangi.000 ha.200 ha.500 ha. 4 paket pengelolaan plasma nutfah. r)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 22.Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi.

000 kelompok. 5 paket teknologi pasca panen.tomat. the. (b) SLPHT 500 unit. pembangunan RPUSK. terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) Pada 33 provinsi. terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial. c)Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan. terdidik dan terlatihnya 10. terselenggaranya: (a) SL-PTT -Padi 40 ribu kel. e)Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama. 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan. 24 paket teknologi sistem produksi sayuran.000 kelompok. kina.379 orang penyuluh PNS dan 26. 5 paket teknologi pasca panen. rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit. kapas. metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan. f)Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31. (c) SL-Iklim 100 unit.000 petugas. 18 BPTP penguatan kelembagaan. terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan. kelembagaan pasca panen 45 kab. sidik jari DNA 45 ton pangan. SL-PTT padi hibrida 5. kelapa. buah tropika. terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa & 5. 33 paket teknologi spesifik lokasi. (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi. kakao dan karet).000 penyuluh kontrak.000 kelompok.000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan. 24 paket teknologi sistem produksi. 5 galur teroak unggul. 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian. pemuliaan. kentang. kopi. transgenik. d)Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2. rehab RPH. pengelolaan plasma nutfah sayuran. Ketiga. karet. (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit. dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit. pengujian Mutu Alsintan. (2) bantuan alat bengkel 250 paket. 74 inovasi sistem produksi ton rempah-obat. 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. SL-PTT jagung hibrida 5. SL-PTT kedelai 10. kakao. 13 rekayasa alat mektan. 7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan. (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit. tebu di 24 prop. sebanyak 8 unit. 3 paket teknologi pakan ekonomis. Kedua. ton mas. Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di . Keempat. Kedua. 16 provinsi. 13 rekayasa alat mekamsasi pertaman. biofarmaka. tan serat.600 unit. 30 kabupaten/kota. RPU 30 kabupaten. buah tropika dan tanaman hias. petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis.

intensifikasi usaha budidaya perikanan 871. 53 balai benih ikan dan balai benih udang. dan gurame di 33 Provinsi. patin. Pembinaan 100. dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI). i)Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan. pengolahan. serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi. pemasaran hasil perikanan. berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan. Tani 50 paket. PIP 50 paket.000 Poktan dan 3. serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi. penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi. k)Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang. j)Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota. terbentuknya otorita kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi. pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan. pengembangan seaweed center di Lombok. 10 klaster industri perikanan. h)Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi. lele. o)Penguatan dan pengembangan pemasaran da1am negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga .500 persil lahan nelayan. Sekolah Lapang 50 paket. 6 lokasi buffer stock rumput laut. rumput laut. (2) Pemberdayaan Kel. pengawasan.71 kabupaten/18 provinsi. meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI.200 Gapoktan. l)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya. peningkatan mutu.. kakap.. penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi. n)Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/ rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan. introduksi benih unggul. serta sertifikasi 1. peningkatan tenaga pendamping teknologi. pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi. g)Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi. m)Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). nila. ikan mas.000 ha.

dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU. terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor. HTR dan IUPHHBK. meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008. Pembangunan. w)Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400. dan terselenggaranya pembinaan eksportir. sentra rotan seluas 250 ha. y)Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2. operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih.. HTI. dan HTR seluas 3. terbentuknya 88 POKMASWAS. 50 unit HPH me1aksanakan sistem silvikultur intensif. pengembangan 5 UPT. dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan . 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi. q)Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan. terse1enggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi. r)Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu. dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL. berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi.000 ha. x)Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%. serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3.. sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha.2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak/ijin dalam bentuk IUPHHK-HA.000 ha di 25 provinsi. tersedianya sarana dan prasarana pengawasan. z)Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota.3 juta ha. sutera alam seluas 160 ha. terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum. t)Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH. u)Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300. s)Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory.pemasaran. operasional 23 kapal pengawas. diversifikasi produk olahan. dan HTR seluas 300. v)Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI se1uas 1. aa)Perencanaan.000 ha. sentra gaharu 800 ha. p)Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuiuhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Ba1ai pelatihan.000 orang penyuluh.605 ha di 12 provinsi. IUPHHK-HT.

Kedua. e)Pengembangan pengelolaan konservasi laut dan perairan dengan target berkembangnya pengelolaan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di 26 lokasi dan 2 UPT konservasi. d)Peningkatan Pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan TPA/sanitary landfill/sistem regional di 86 kabupaten/kota. terlaksananya pengembangan 3 TN dalam rangka DNS. Sulawesi. mangrove. NTB. Ketiga. serta terselenggaranya rehabilitasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah. Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir. Berkembangnya usaha pengolahan kompos dan biogas di 100 kab. tersalurkannya bantuan untuk pembuatan pupuk organik di 300 kelompok tani. dan Biogas dengan target: Pertama. h)Rehabilitasi Lahan Kritis dan Prioritas dengan target perencanaan Gerhan seluas 1. j)Pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan target: (a) terlaksananya pencegahan dan pengendalian kebakaran di 10 provinsi rawan 314 daops.Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global a)Integrasi Tanaman-Ternak. Kompos. g)Pengelolaan Taman Nasional Model dengan target terwujudnya kelembagaan pengelolaan kolaboratif di 21 taman nasional model. Operasionalisasi OKKPD. Bali. f)Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. padang lamun. (2) Diterbitkannya sertiftkasi 30 produk pertanian. Fokus 5. i)Perencanaan dan Pembinaan Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan target terbangunnya sumber benih seluas 1.target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS. k)Pengamanan Hutan dengan target operasi pengamanan hutan di 10 . Kakao ternak 4 paket dan Kopi ternak 3 paket.500 ha di 12 provinsi. b)Pengembangan Pertanian. estuari dan teluk dengan target terkelolanya dan terehabilitasinya terumbukarang di 15 kab /kota dan 8 provo serta 16 Kab /kota. DAS prioritas tahun sebelumnya. OKPO. penanganan daerah rawan longsor di 15 kab/kota pada 5 provinsi. longsor. dan NTT). Pantai Utara Jawa. pembinaan mutu 33 provinsi. biofisik. terselenggaranya RHL sebagai pengendali banjir di Jabodetabekjur. sosek). dan (b) menurunnya hot spot 0-10% dari tahun 2006. Maluku. c)Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dengan target Terlaksananya kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di 7 wilayah pesisir (pantai Barat Sumatera.3 juta ha di lahan kritis . (2) 150 unit rumah kompos. (3) terselenggaranya koordinasi dan pengawalan dalam pengembangan pupuk organik di 33 provinsi. Organik dan Pertanian Berkelanjutan dengan target: (1) Berkembangnya hortikultura organik di 6 provinsi. pengembangan Integrasi Kelapa Sawit Ternak 12 Paket. Batamas sapi potong/perah 200 klp dan Denplot 30 klp.

pemantauan Udara Ambien Kontinyu (AQMS) di 10 kota dan Passive Sampler di 30 kota. q)Pengembangan Penelitian Meteorologi. terutama meningkatnya status ketaatan 650 industri terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. l)Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target menurunnya beban pencemaran lingkungan dari berbagai sumber pencemaran terkait perubahan iklim. recycle). n)Penyedian Dana Alokasi Khusus untuk Mendukung Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target tersedianya sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan.provinsi. serta terlaksananya penghapusan 30 metrik ton BPO di sektor chiller dan metered dose inbealer (MDI). Klimatologi dan Geofisika dengan target tersusunnya laporan deteksi dan skenario perubahan iklim serta dampaknya di 33 provinsi dan model prakiraan trayektori polutan udara. 3 paket. t)Penguatan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang di Pusat dan Daerah dengan target meningkatkan koordinasi penataan ruang dan pemantapan kelembagaan BKTRN dan . pengendalian pencemaran air. r)Meteorological Early Warning System (MEWS) dengan target terbangunnya sistem peralatan MEWS yang meliputi 2 unit radar cuaca dan ground satelite receiver di 3 takagi. dan perlindungan sumber daya air di 434 kab/kota. pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di 16 kota. klimatologi. pengendalian pencemaran lingkungan. serta reduksi timbunan sampah melalui pelaksanaan 3R (reduce. m)Pengendalian Kerusakan Lingkungan dengan target meningkatnya kapasitas dalam meningkatkan upaya pengendalian dampak perubahan iklim di pusat dan daerah. kualitas udara. serta terlaksananya validasi AWS 7 sensor dalam rangka uji model numerik cuaca skala nasional dan provinsi. penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan 50 % dari kasus yang ditangani Dephut. di 6 kota besar. Meteorologi dan Geofisika dengan target terbangunnya sistem data dan informasi meteorologi. p)Pengembangan Sistem Data dan Informasi Klimatologi. serta pengendalian kerusakan lingkungan daerah berbagai kegiatan. dan geofisika. s)Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Koordinasi Penataan Ruang Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang dengan'target tersedianya tenaga yang memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk mengelola penataan ruang di Provinsi dan kab/kota. 3 paket. terciptanya hubungan dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dalam proses penataan ruang. termasuk pengawasan dan sistem insentif melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH). AWS 33 lokasi dan automatic rain gauge di 11 lokasi serta 1 set sistem komunikasi dan integrasi. o)Pengembangan Sistem Observasi dan Telekomunikasi dengan target terbangunnya sistem observasi dan telekomunikasi serta instrumentasi dan kalibrasi. reuse.

Survei. dokumen submisi klaim LKI diluar 200 nm. RTR kab/kota serta terselenggaranya forum lintas pelaku penataan ruang. PMO. x)Pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dengan target dukungan kegiatan JBIC Loan. kajian dan pemetaan geopolitik perbatasan nasional. Konsultan Service II Networking. Fokus 6.Revitalisasi Industri Manufaktur a)Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten/kota. dan Malaysia serta pemeliharaan tanda batas negara dan pemetaan etnik perbatasan. v)Pembinaan Manajemen Penyelenggaraan Penataan Ruang dengan target terselenggaranya pembinaan manajemen penyelenggaraan penataan ruang dalam rangka mendukung turbinlakwas penataan ruang. RTRWN. b)Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan termasuk revitalisasi industri gula. RTRWP. Kajian dan pemetaan batas maritime Indonesia dengan 10 negara tetangga. regional dan global. RTR Pulau. RTRWP. RDTL. networking. c)Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional. u)Operasionalisasi RTR Pulau. f)Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT g)Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan. IGTE dan kerjasama ASEAN. demarkasi dan pemetaan darat dengan PNG. Data Akuisisi dan Produksi. 80 kabupaten/kota. y)Pemetaan Batas Wilayah dengan target terselenggaranya kajian dan pemetaan Batas Internasional. e)Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi. fasilitasi dan penyediaan peta batas dan wilayah pemerintahan daerah serta kajian penyelesaian konflik batas antar daerah. h)Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 . aa)Penanggulangan Pasca Bencana dan Kerusuhan Sosial dengan target 2 paket. RTR Kab/Kota dengan target terselenggaranya operasionalisasi RTRWN. w)Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang dengan target tersedianya peta dasar rupabumi 1 :50 K Papua dan Pantai Barat Sumatera.BKPRD. d)Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan. data utilisasi. Kegiatan Konsultan service I. z)Pengembangan Sistem Manajemen Penanganan Bencana dengan target 7 paket.

c)Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10. b)Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan. j)Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru.000 KUKM. dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan. d)Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi didaerah-daerah. kondisi kerja dan syarat kerja. i)Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan. g)Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan. e)Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan target 3 paket kegiatan UMKM inovatif. Fokus 8.000 tenaga kerja. h)Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47. c)Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi. Akreditasi. k)Penerapan Standardisasi. f)Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5.000 orang tenaga kerja terdidik. b)Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50. i)Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. e)Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota . 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM.Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja a)Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD). d)Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah.500 bidang tanah UKM.Rancangan SNI. Fokus 7.Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif a)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket.

h)Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja. i)Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500. kelembagaan yang efisien dan pruden.dengan fokus stabilisasi Fokus 9. dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi. Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya infonnasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota. g)Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi. c)Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan permintaan serta harga bahan pokok nasional. b)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum. Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit. Fokus 10. . perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar. serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan. j)Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi. b)Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton).Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter a)Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target tersusunnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. f)Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri.Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok a)Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan. Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. Melalui Peningkatan Kelembagaan. Peningkatan Informasi. EKONOMI .000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi. d)Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi.di Pulau Jawa. 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif.

Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil A. f)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 47. c)Operasi dan Pemeliharaan Waduk. situ dan bangunan penampung air lainnya.5 km. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung. (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center). h)Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit.c)Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi. B. dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak. Bidang Sumber Daya Air a. b)Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan. INFRASTRUKTUR DAN ENERGI Fokus 12. b)Rehabilitasi Waduk.25 km. monitoring.45 km. Pengamanan APBN a)Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan resiko fiskal. e)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 237.)Pembangunan Waduk. d)Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD. situ dan bangunan penampung air lainnya. penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumii Jakarta. i)Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4. Embung. Embung. Fokus 11. Embung. . Bidang Energi a)Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas. embung.37 km. 20 embung. j)Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 23 waduk. dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan. g)Penanggulangan Bencana/Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian.

Distribusi. peningkatan efisiensi pengusahaan dan pelayanan tenaga listrik TA. monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU. Terwujudnya fasilitasi pertemuan bilateral antara Indonesia dg Belanda. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik Wilayah PT Cikarang Listrindo TA. C. c)Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terselenggaranya pertemuan internasional APEC EWG. . ACD. tersosialisasi perencanaan program pembangunan ketenagalistrikan Lisdes. ASEM dan EAS. monitoring dan review pelaksanaan aturan jaringan tenaga listrik sit. Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati. dan evaluasi data ketenagalistrikan.000MW. Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha. Ikitring dan Pemda. PLN. Jepang (JICA) dan Korea (KOICA). penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU. Terlaksananya review terhadap implementasi program kerjasama energi dan ketenagalistrikan. Terwjudnya Fasilitasi pertemuan regional pada forum APEC. Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distribusi TL. e)Pembangunan Transmisi. Indonesia-Belanda. d)Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target monitoring kesiapan dan kecukupan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Bidang Ketenagalistrikan a)Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik. Terfasilitasinya pelaksanaan pertemuan ACE governing Cauncil. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik wilayah PT PLN Batam TA 2009. terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan. Jawa bali dan sumatra. pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. Tersusunnya program kerjasama pengelola pembangkit listrik non komersial. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik sistem kalimantan. terkoordinasinya pelaksanaan perizinan dengan Pemda.2009.2009. ASEAN SSN. dengan Perda dan Instansi Terkait. Terfasilitasinya pertemuan SOME-AMEM ke 27. Terwujudnya fasilitasi kegiatan energi dan ketenagalistrikan pada sub sector network dan working group ASEAN. analisa. monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara. pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali. serta pembangunan listrik swasta (IPP). kajian pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik (power wheeling) dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum.b)Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring. b)Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi.

terupdatenya RUKN. tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan. tersusunnya pedoman pengawasan SLO.f)Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan. terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang. Kalimantan dan Sulawesi (peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10. terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10. g)Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km. 150 kV sepanjang 1450 km. gardu induk 18 lokasi. tersusunnya pedoman kualifikasi standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan. terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL. termonitornya penanganan daerah krisis TL. di w11ayah distribusi Sumatera. terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. i)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes. k)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi sektor ketenagalistrikan. Sumbagsel. Jawa Bali dan Nusa Tenggara. 175 kV sepanjang 150 km. terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan. tersusunnya pola kebutuhan dan prioritas pembangunan JTM/JTR. . Aceh. terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembanguna TL. terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement. terfasilitasinya tim keandalan sistem TL. tersusunnya investasi penyediaan TL. dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU. pembinaan dan pengawasan tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik kepada masyarakat TA 2009 kepada masyarakat TA 2009. h)Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat TA 2009. j)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan.000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional). terlaksananya sertifikasi baik operasi (SLO) . terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan.000 MW. terlaksananya Pembinaan dan Pengembangan Program Ketenagalistrikan.

b)Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan. m)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam Bisnis Tenaga Listrik. instalasi) di Kota Jogja. n)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik. dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime. c)Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literary) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan. monitoring dan eva1uasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan PKUK. (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran. (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi. Regulasi. (5) RUU Cyber Crime. koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian listrik ilegal. tersusunnya pedoman pemeriksaan dan pengujian pemanfaatan jaringan Tenaga Listrik untuk kepentingan Telematika. pemantauan dan verifikasi usulan harga beli tenaga listrik dari IPP. tersusunnya Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (BUJPTL).l)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terciptanya Lembaga dan Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik dalam negeri yang mampu mendukung kemandirian nasiona1 dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan. (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik. monitoring dan penghitungan BPP dan TDL-PLN. penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara. internet. Keahlian SDM. PLTG.Bidang Pos Dan Telematika a)Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan. . data center. D. Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos. fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam usaha penyediaan tenaga listrik. tersedianya data dan daftar Badan Usaha Jasa Penunjang Ketenagalistrikan di Indonesia yang dapat diakses masyarakat. terlaksananya Konvensi Hasil Penyusunan Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik. tersusunnya pedoman tentang kriteria dan tata cara penilaian Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri (PDN) pada PLTA. penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK. Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri. penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional. penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL.

(3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet. Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan Jaringan Palapa Ring. h)Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16. aplikasi dan infrastruktur open source. dan (7) Pemancar televisi dan radio. perangkat lunak.0 kemitraan. (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan. Kulon Progo dan Gunung Kidul. (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2. Sleman. e)Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan. (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. (5) aplikasi sistem early warning. (2) konsep rencana roll out sistem e-learning. (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota. dan pengintegrasian). i)Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan . d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota. E. c)Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota.275 unit. g)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok. (2) penyelenggara Broadband Wireless Access. (4) gedung ICT Training Center di Jababeka. instalasi. (3) warung masyarakat informasi di 50 lokasi.Bantul. d)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi. (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009. dan sistem untuk ICT Training Center di UIN. e)Peningkatan Jangkauan. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan.

500 M. (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia. guardrail 106. (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit.500 M. Rambu Lalulintas 29. k)Penyediaan Kredit Program-KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program-KPRSH dan Rusunami sebanyak 240. warning Light 50 unit. (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II. paku marka 15.923. (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit.000 M2 tersebar di : Sumatera.360 M. (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia. (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI). Maluku Utara. 30 paket alat. sped boat 12 unit. F. Papua dan Papua Barat). Kelas III 7 unit. (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya. NTT. h)Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat . serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit.Lingkungan Permukiman di 218 kawasan. (3) Pembangunan Rating School NAD. (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok. Cermin Tikungan 108 Bh. j)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok. Kelas V 59 unit. d)Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73. bus air 30 unit. (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I. (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit. Traffic Light 110 Unit. Delineator 36. Sulawesi. e)Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2. RPPJ 1200 Bh. (4) Pembangunan Rating School Ambon. b)Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket). Bidang Transportasi a)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong. Kalimantan. (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang. Kelas IV 33 unit. Maluku. g)Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket. Diklat STPI Curug 10 Paket).477 buah.500 buah. c)Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab. dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit.736 unit RSH/Rusunami. Prasarana BRT 8 Lokasi. Jawa. f)Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi.

Tj. selatan. (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan. 2 unit kapal 500 DWf. pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP). Pontianak. (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan (17 Km). (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 -52 Km. Pelsu : 100 unit. Dumai. Lintas Jawa-400 Km. q)Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) -Mensu: 42 Unit. Tg. dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit.Sibusuk. Pinang. Lubukalung-Naras. Bandung-Banjar-Kroya.PKB). Palembang. (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok-Pasoso (JICT-KOJA) 2. p)Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek-Padalarang. Ma. Bitung. n)Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong-Maja-Rangkasbitung (32 Km). j)Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di Lintas. 2 unit kapal 350 DWT.Kalaban-Pd. serta terlaksannya Public Ship Finance Program. (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya-Kutoarjo (76 Km). o)Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket). Tlk Bayur. Batu dan Palaihari (Kalsel). 2 unit karat 750 DWT. Kariangau (Kaltim). Benoa.' s)Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan. i)Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi. Depare (papua). Sumatera bagian utara. Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav). Telukbayur-Sawahlunto. l)Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dan: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket) . Tg. Semarang-Solo. m)Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis Gawa dan Sumatera)-(18 Paket).1 Km. pengadaan peralatan SAR 18 unit. (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir-Sidoarjo -18. (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya (24 Km). t)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut). (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai-Cikarang (18 Km). k)Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah. Manada dan Bitung . (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket). Ramsu : 123 unit. Makassar). (2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit). r)Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dan: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT.Enim-Prabumulih-Tarahan.5 Km (1 Paket). (2) Pembangunan MRT Jakarta. KRL.

(2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan. u)Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut. danau 9 lokasi. bb)Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425. Maluku. Melongguane. Muara Bungo dan Waghete baru. Jawa. Buton (Riau). Silangit. Kalimantan. 8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau. w)Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi. Sulawesi. Arar (papua Barat). Adpel Kuala Langsa. Garongkong (Sulsel). Kanpel Manggar. Sungai Nyamuk (Kaltim). Sulawesi.000 M2 tersebar di : Sumatera. Papua dan Papua Barat. Naha. Rembang (Jateng). Jawa. sungai 12 lokasi. Nunukan. Maloy (Kaltim). Bojanegara (Banten) . Nusa Tenggara. dan Manokwari (papua). z)Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara). Kanpel Paloh/Sekura. Manokwari. Seram Bagian Timur. Tapang (Sumbar). Maluku Utara. Papua dan Papua Barat. Kanpel Seba. Adpel Jambi. Maluku. Sulawesi Utara. NTB. Tlk. Belang-belang (Sulbar). Kalimantan. dan Haliwen). Tarakan (Kaltim). Malarko (Kepri). Amuk (Bali). Sulawesi. y)Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera. Bau-Bau (Sultra) . Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. Rote. Namniwel. Papua dan Papua Barat. cc)Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3. Maluku Utara. Sibolga. Saumlaki Baru. Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga. Enggano. dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi. NTT.000 M2 tersebar di : Sumatera. terpencil dan rawan bencana (11) lokasi di : Rembele. lbukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi. Adpel Sampit. v)Pembangunan Dermaga Sungai. Dumatubun-Langgur. Kanpel Leok). Yani (Malut). Maluku. Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran). Panajam Pasir (Kaltim). aa)Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo. Adpel Lhok Seumawe. Anggrek (Gorontalo). dan Teluk Batang (Kalbar). Jawa.(Sulut). Adpel Palembang. 5 dermaga penyeberangan. Ende. Lab. Kalimantan. Tg. Maluku Utara. dd)Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : . (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin-Makasar Sulawesi Selatan. Sam Ratulangi-Manado. Adpel Samarinda. x)Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi. NTT.

8 km.000 unit.Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta a)Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan.469 km dan 3.685 m. pp)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 335. qq)Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket. Bitung. Batubara.720 m. rr)Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 63.9 km. (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket) . nn)Pembangunan Fly-over dengan target 4. Sulawesi.701 m.163 km.2 m. (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket).880.884 m. Jawa. ss)Pembangunan Jalan Akses dengan target 11.9 km. kk)Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 32. jj)Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1.Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas. c)Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah. Papua dan Papua Barat). Fokus 14. Manado).834.Sumatera. tt)Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 60. hh)Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu. mm)Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 34. Dan Mineral a)Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan . gg)Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2. 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur. Kalimantan. ll)Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 8. Fokus 13. NTT. ii)Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan. oo)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 2.5 km.8 km dan 2. Maluku Utara. ee)Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket. uu)Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo-Kertasono sepanjang 12 km. (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari. ff)Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi). b)Pembebasan Lahan.

terselenggaranya Bintek energi terbarukan dan konservasi energi. tersusunnya standar kompetensi untuk audit energi. evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah. penetapan WKP panas bumi. tersusunnya kebijakan . Sulawesi. d)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional. penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan. Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas. terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil. pengembangan statistik minerbapabum. terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. tersusunnya pedoman persyaratan uji kinerja pada pemanfaatan TL untuk rumah tangga dalam rangka labelisasi tanda hemat energi. c)Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba. kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung. Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM a)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN. Reklamasi. tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan. dan Papua untuk CDM. synopsis geologi WK. b)Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan. terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik. perijinan usaha. terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi.harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum.500 km. Fokus 15. interpretasi potensi migas di laut Sulawesi. tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan. terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi. perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum. c)Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan dearing house energi terbarukan dan konservasi energi. pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan Jepang dan Denmark). advokasi hukum. seismic laut Flores sepanjang 1. Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang. tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi.Percepatan Diversifikasi Energi. terlaksananya forum konsensus standar kompetensi auditor energi. Maluku. terbitnya buletin energi hijau. b)Pengelolaan. termonitornya implementasi hasil audit energi. Maluku Utara.

d. layak dan berbasis kinerja. g)Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM. DAN KEAMANAN DALAM NEGERI.Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada dasarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik. SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Upaya Anti Korupsi.energi. diterapkannya standar pelayanan minimal (SPM). c.Dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah. pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik.Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum. yang mencakup antara lain: terselenggaranya pelayanan publik yang tidak diskriminatif. perubahan kepemilikan saham. yang antara lain ditandai dengan: a. pengusahaan CBM di daerah Sumatera. PERTAHANAN. tersusunnya kajian penurunan emisi sektor energi nasional. pengawasan produksi penjualan.Ditingkatkannya kualitas pelayanan publik. peningkatan aksesibilitas energy perdesaan. kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai. murah dan manusiawi. cepat. Reformasi Birokrasi serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. III. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI.Tumbuhnya ik1im takut korupsi. tersusunnya program pemanfaatan energi. 2. REFORMASI BIROKRASI.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. terselenggaranya pengarusutamaan gender di sektor energi. adanya dukungan kompetensi sumber daya manusia aparatur dibidang pelayanan dan penegak hukum. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan. dan diterapkannya teknologi informasi dan komunikasi (e-gov dan e-services). .Menurunnya tindak pidana korupsi yang tercermin dari: a. b.Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang.Meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum termasuk lembaga pemberantasan korupsi. f)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan. serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana.Dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil. b. penetapan harga gas bumi. e)Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi. c.

e. 5 Tahun 2004 di sebanyak 660 instansi (pusat dan daerah).852 penanganan/penyelidikan kasus intelijen termasuk perkara korupsi. dan (2) terlaksananya sosialisasi RAN-PK oleh K/L dan penyusunan RAD-PK oleh . FOKUS.Makin menguatnya kemampuan pertahanan dan mantapnya keamanan dalam negeri.d.Dilaksanakannya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi-fungsi kepemerintahan. serta penyelundupan sumber daya negara. jujur. Bab 9. ARAH KEBIJAKAN.Tertangkapnya pelaku utama aksi-aksi terorisme dan terbongkarnya jaringan utama terorisme di Indonesia secara tuntas. supervisi dan koordinasi penanganan TPK 40 kasus di 50 K/L. dan aman. (2) penanganan terhadap 1.Terselenggaranya pengamanan proses pemilu dari masa persiapan. Bab 13.Penindakan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi a)Penanganan/Penyelidikan Kasus Intelejen dengan target 1. d. 50 perkara penyidikan. Bab 5. termasuk di dalamnya penanganan perkara korupsi baik yang ditangani oleh pengadilan umum maupun pengadilan Tipikor. yang tercermin dari : a. Bab 6. d)Pelaksanaan Inpres No. adil. 3. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 3.Menurunnya secara signifikan tindak kejahatan lintas negara di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah perbatasan khususnya illegal fishing. dan (3) Penyelidikan dan penyidikan terhadap subyek dan kasus tindak pidanan korupsi. dan. Bab 10.Ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan. b. c)Penanganan Perkara dengan target penanganan terhadap 250.Terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis. 4. 40 perkara penuntutan.Terputusnya jaringan demand dan supply penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia baik yang melibatkan jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. c. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. 15 orang perlindungan saksi. kampanye. 5 Tahun 2004 (Percepatan Pemberantasan Korupsi) dengan target: (1) tersusunnya laporan pelaksanaan Inpres No. b)Penindakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan target (1) penyelidikan 55 kasus. Bab 8. 35 perkara eksekusi keputusan inkracht. Pengumpulan bahan keterangan 1 paket.000 perkara.Tercapainya kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala essential force dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pertahanan dan keamanan. e.967 perkara korupsi. dan Bab 14 Buku II dengan Fokus dan Kegiatan prioritas sebagai berikut : Fokus 1. proses pemungutan dan perhitungan suara. illegal logging.

c)Penyuluhan Hukum dan Koordinasi RANHAM dengan target penyelenggaraan penyuluhan hukum pada 33 Kanwil Dephukham. Fokus 4.Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi a)Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana dengan target terlaksananya sosialisasi UU perlindungan saksi dan korban dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi dengan sasaran 45. Penyusunan 15 Naskah RUU.Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan untuk Mendorong Upaya Pemberantasan Korupsi a)Penyusunan Naskah Perundang-undangan dengan target Pembahasan RUU 10 buah.Pemda.380 aparat pemerintah daerah di 10 propinsi masing-masing 5 kab/kota dalam penerapan SPM di daerah. b)Penyuluhan Hukum dengan target terlaksananya penyuluhan hukum terutama yang terkait dengan Sosialisasi UU Perlindungan Saksi dan Korban. dan 1 Kejaksaan Agung. pengkajian hukum 15 kegiatan. BPHN.000 orang. 361 Kejaksaan Negeri. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik a)Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan target (1) tersusunnya RPP untuk UU Pelayanan Publik dan sosialisasi UU Pelayanan Publik dan (2) meningkatnya kualitas pelayanan terpadu Samsat. penyusunan UU pengadilan tindak pidana korupsi. dan Dirjen HAM. revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi). untuk pelayanan kepada masyarakat di daerah. Rakor di 3 wilayah evaluasi 10 kawasan kumuh perkotaan di 10 provinsi. kerjasama kota kembar (sister city). d)Pasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan dengan target terlaksananya fasilitasi standar pelayanan perkotaan di 11 provinsi. dan (3) meningkatnya koordinasi pelaksanaan strategi nasional pemberantasan korupsi yang sejalan dengan KAK' 2003. penelitian hukum 7 kegiatan. c)Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM) di daerah dengan target meningkatnya kapasitas 1. . penyusunan naskah akademik 10 RUU. 99 Cabang Kejaksaan Negeri. Fokus 2. serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi. Fasum) bermasalah di 10 provinsi. Penyusunan 18 Naskah RPP (termasuk peraturan pelaksanaan UU perlindungan sanksi dan korban serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. kerjasama perkotaan bertetangga di 3 kota metropolitan. Fokus 3. evaluasi PSU (Fasus. b)Peningkatan/Pengkajian Kapasitas Kelembagaan dengan target tersusunnya 4 dokumen SPM dan Penerapan 2 SPM di 33 provinsi. Kejaksaan di 31 Kejaksaan Tinggi. dan Peraturan pelaksanaan UU Penyitaan Aset.

Ketatalaksanaan dan Pengawasan Aparatur Negara a) Pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. (1) model implementasi e-local government. evaluasi atas pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. (Survey/Studi kelayakan/Penyusunan Master Plan/DED/SID) dengan target terlaksananya sosialisasi/asistensi/ monitoring.Penataan Kelembagaan. Sragen dan Balikpapan) dengan 3 instansi (pemda. g)Pengembangan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) Terpadu dengan target terimplementasinya SAK di 457 kab/kota. dan (2) tersosialisasikannya Pedoman Implementasi Penerapan Sistem Manajemen Kinerja Instansi Pemerintah. d)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-Undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Sistem Pengawasan Nasional dan RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara . (2) tersusunnya Kurikulum Diklat Aparatur yang baru. Menpan. b)Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja dengan target (1) tersusunnya rancangan kebijakan Penerapan Sistem Manajemen Kinerja untuk Instansi Pemerintah. c)Evaluasi Organisasi dan Tata Kerja Unit Departemen/ LPND/Lembaga Non Struktural dengan target tersususnnya RPP tentang Pedoman Penyusunan Kelembagaan Non-struktural (quasi birokrasi) dan basil evaluasi kelembagaan birokrasi (struktural). c)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Kepegawaian Negara dengan legislatif. (3) tersusunnya Strategi Pembelajaran yang baru. b)Penyempurnaan sistem manajemen pengelolaan SDM Aparatur sesuai Sistem Karir dan Remunerasi dengan target tersusunnya RPP Sistem Remunerasi PNS berbasis kinerja dan merit. f)Penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait dengan target penataan sistem koneksi NIK dengan sistem informasi departemen/lembaga melalui pembangunan dan pengembangan data warehouse berbasis NIK Nasional.Peningkatan Kinerja dan Kesejahteraan PNS a)Pengembangan Sistem Pendayagunaan SDM Aparatur Negara dengan target (1) tersusunnya Sistem Diklat Aparatur yang baru.e)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target tersusunnya. Fokus 6. h)Pilot Project Penerapan Identitas Tunggal untuk Pelayanan Publik dengan target terlaksananya ujicoba penerapan identitas tunggal untuk pelayanan publik di 3 lokasi (Jembrana. BKN). Fokus 5. (2) peraturan tentang pelaksanaan e-government di instansi pemerintah. (4) tersosialisasikannya sistem diklat aparatur yang baru.

dan (2) terlaksananya fasilitasi voters information dan fasilitasi pelaksanaan kampanye di 119 kantor perwakilan RI di luar negeri. dan 1 Kadin di luar negeri. 77. 119 Kantor Perwakilan Luar Negeri.286 PPS. kesiapan alutsista TNI AL menjadi 41 persen dari jumlah yang ada saat ini. kesiapan alutsista TNI AU menjadi 43 persen dari jumlah yang ada saat ini.Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan Pemilu 2009 a)Fasilitasi Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2009 dengan target terlaksananya koordinasi setiap tahapan dan jadwal kegiatan Pemilu 2009 (desk Pemilu). 470 KPU kab/kota.575 PPK.Negara dengan legislatif. serta tersedianya bahan tercetak dan instrumen bagi lembaga pemantau pemilu dari dalam negeri dan luar negeri. . dan KPPSLN untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu Presiden/WK Presiden putaran 1 dan putaran 2.780 KPPSLN). PPS.Pemantapan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri a)Peningkatan kemampuan alutsista TNI dan Alut Polri dengan target (1) kesiapan alutsista integratif TNI menjadi 40 persen dari jumlah saat ini.Penguatan Lembaga Penyelenggaraan Pemilu dan Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Pemilu 2009 a)Penguatan Organisasi Penyelenggara Pemilu dan Pilkada dengan target (1) terakreditasinya dan terlaksananya bimbingan teknis bagi pemantau pemilu. serta bimbingan dan supervisi teknis kepada panitia ad hoc pelaksana pemilu. c)Fasilitasi Pelaksanaan Budaya Politik Demokratis dengan target terlaksananya pendidikan pemilih bagi masyarakat di 5 lokasi di daerah. Kegiatan dilakukan di 33 provinsi dan 470 KPU kab/kota. 1. 6. Fokus 8. 33 KPU provinsi. b)Penyediaan dan distribusi logistik pemilu dengan target tersedianya logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. (KPU. kesiapan alutsista TNI AD menjadi 38 persen dari jumlah saat ini. pendidikan pemilih di dalam dan luar negeri. (2) terlaksananya seleksi. dan supervisi untuk PPK. 120 PPLN. 611. b)Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat (penyiapan Modul dan Memulai Voters Education and Information) dengan target (1) terlaksananya sosialisasi informasi pemilu. c)Penguatan sarana dan prasarana pendukung Pelnilu 2009 dengan target tersedianya sarana dan prasarana gedung kantor KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota. Fokus 9. (2) kesiapan peralatan Polri mencapai 70 persen dari kondisi yang ada saat ini. d)Fasilitasi lembaga kemasyarakatan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah-daerah dengan target terlaksananya pendidikan politik mengenai kepemiluan oleh 500 ormas di kab/kota (khususnya untuk Pemilu Presiden). PPLN. bimbingan teknis.636 KPPS. Fokus 7. KPPS.

(3) meningkatnya kerjasama bilateral pengamanan di wilayah-wilayah perbatasan. serta (2) pemanfaatan fasilitas pemeliharaan dan penyerapan secara signifikan produk industri pertahanan nasional dengan target meningkatnya jumlah dan jenis alutsista TNI dan alut Polri produk industri pertahanan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan. penyelenggaraan pentaatan dan penegakan hukum di 5 unit kerja peradilan perikanan dan pengembangan 5 UPT pengawas. dan tepat waktu (real time). pembentukan 132 kelompok masyarakat pengawas. (3) meningkatnya kerjasama bilateral dan regional dalam hal penanggulangan dan pencegahan aksi-aksi terorisme melalui . pengadaan early warning system. (3) berkembangnya sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penyelenggaraan operasi terpadu selama 180 hari. (2) meningkatnya upaya pencarian. (4) penguatan sinkronisasi dan sinergi instansi-instansi pemangku Maritime Surveilance System dengan target tercapainya efektivitas dan efisiensi Maritime Surveilance System diantara instansi-instansi terkait guna mendukung kemampuan dukungan informasi dan data secara lebih akurat. dan (4) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas keamanan dalam rangka pencegahan tindak kejahatan transnasional. tepat tempat. dengan target (1) meningkatnya kelembagaan Badan Koordinasi Penanganan Terorisme melalui peningkatan koordinasi penanganan tindak kejahatan terorisme.b)Pengembangan industri pertahanan nasional dengan target (1) ditetapkannya sejumlah : peraturan perundangan yang mengatur mekanisme pengembangan industri pertahanan. (2) terselenggaranya operasi bersama keamanan laut dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia dengan target meningkatnya intensifikasi operasi bersama keamanan laut. (2) meningkatnya operasional penjagaan dan pengawasan aktivitas aging di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan melalui penjagaan dan pengawasan aktivitas asing di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan. operasionalisasi 21 kapal pengawas. f)Penanggulangan dan pencegahan tindakan terorisme. penangkapan dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme melalui peningkatan jumlah penangkapan dan proses hukum tokoh-tokoh kunci terorisme. pembentukan UPT di 6 provinsi. e)Penanggulangan dan pencegahan gangguan keamanan laut dengan target (1) berkembangnya prasarana dan sarana termasuk early warning system dengan pengadaan kapal markas. d)Pengamanan batas negara pada sekitar pulau-pulau kecil terluar dan wilayah-wilayah perbatasan dengan target (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas pertahanan dalam rangka pencegahan terjadinya pelanggaran wilayah dan kedaulatan. terbangunnya stasiun koordinasi keamanan laut. c)Pengembangan profesionalitas prajurit TNI dan anggota Polri dengan target terpeliharanya kekuatan dan kemampuan prajurit TNI dan anggota Polri.

peningkatan penanganan terorisme yang bersifat lintas negara serta menurunnya potensi aksi terorisme lintas negara. separatisme. kampanye. Sasaran tahun 2009 tersebut dicapai melalui berbagai kegiatan dan kebijakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang digariskan. (4) terselenggaranya kampanye nasional dan sosialisasi anti narkoba serta tersosialisasinya pencegahan penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia. percepatan pembangunan jaringan komunikasi sandi nasional. (3) terselenggaranya pembangunan jaringan komunikasi sandi negara melalui pembangunan dan pengembangan SDM persandian. dengan target (1) meningkatnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri di bidang narkoba melalui peningkatan koordinasi dan kerjasama serta sinergi antara BNN dan BNP/BNK/BNKot maupun lintas negara dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. terbangun sistem informasi intelejen pertahanan. perkiraan tahun 2008. BAB III KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2007. proses pemungutan dan perhitungan suara. . dan menanggulangi kriminalitas. serta (3) terselenggaranya operasi intelijen untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) di dalam dan luar negeri. serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan. (2) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan. serta teredamnya potensi gangguan keamanan. meningkatnya kemampuan intelijen Polri. ketertiban. separatisme. i)Pengamanan Pemilu 2009 dengan target (1) mantapnya kesiapan Polri dalam mengamankan proses pemilu dari masa persiapan. h)Peningkatan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. meningkatnya kemampuan intelijen TNI. kriminalitas. g)Penguatan institusi intelijen dan kontra intelijen. mencegah dan menanggulangi konflik. (2) meningkatnya kualitas penegakan hukum di bidang narkoba melalui peningkatan jumlah penyelesaian perkara kejahatan di bidang narkoba. dengan target (1) meningkatnya sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah melalui peningkatan kemampuan lembaga dan SDM intelijen pusat dan daerah. dan terorisme. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu. (2) mantapnya kesiapan TNI dalam memberikan dukungan pengamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif. ketertiban. konflik. dan terorisme. (3) meningkatnya pelayanan terapi dan rehabilitasi kepada penyalahguna (korban) narkoba. sasaran-sasaran pokok tahun 2009.

Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. Pada bulan Maret 2007. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. ekonomi tumbuh 6.KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Kondisi ekonomi makro tahun 2007 dan perkiraannya tahun 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Dalam tahun 2007.3 persen. Dalam keseluruhan tahun 2007. Momentum pertumbuhan terns berlanjut pada triwulan 1/2008. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin ditingkatkan pada tahun 2008. Dalam tahun 2008.0 persen dan 13.1 juta orang (16. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. Kedua. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya.3 persen dibandingkan .5 persen).140 per dolar AS atau menguat 0. lebih tinggi dari tahun 2006 (5. Keempat.9 juta orang (10. Dalam bulan Februari 2008. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto meningkat dua digit serta konsumsi masyarakat tumbuh lebih dari 5 persen. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.8 persen menjadi 6.5 persen (y-o-y).3 persen) menjadi 10. kemampuan ekspor barang dan jasa yang terjaga. Sejak triwulan 111/2007.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.A. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 15. stabilitas ekonomi tetap terjaga dari tekanan eksternal yang meningkat. Dengan memperhitungkan resiko gejolak ekstemal yang cukup besar. Dalam triwulan 1/2008. momentum pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2007 dan triwulan 1/2008 tetap terjaga.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10.5 persen) didorong oleh investasi yang meningkat.4 persen.0 persen. kualitas pertumbuhan ekonomi membaik.4 juta orang (8. Dalam Agustus 2006-Agustus 2007 tercipta lapangan kerja baru bagi 4. Pertama. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 24. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.6 persen) atau berkurang 2. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga pada triwulan 1/2008 menurunkan lebih lanjut pengangguran terbuka. Ketiga.1 persen). sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. sejak paruh kedua tahun 2007.0 juta orang (9.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15. Dalam keseluruhan tahun 2007. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. serta daya beli masyarakat yang semakin baik.1 juta dibandingkan Maret 2006.8 persen (y-o-y). rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. ekonomi tumbuh 6. Pada triwulan 1/2008.5 persen. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37.

Runtuhnya pasar sub-prime mortgage di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2007 telah menimbulkan gejolak yang luas terhadap pasar modal global.0 persen). Dalam keseluruhan tahun 2007. Penurunan indeks saham tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap indeks saham di berbagai negara. EKONOMI DUNIA Dalam keseluruhan tahun 2007. Dalam semester II/2007.2 persen. Indeks saham Dow Jones yang sebelumnya mencapai lebih dari 14. suku bunga Fed Funds diturunkan secara bertahap dari 5. kebijakan ekonomi AS diarahkan pada dua langkah pokok yaitu mengamankan sektor keuangan termasuk perbankan dengan penurunan suku bunga serta memberi stimulus fiskal dalam rangka mendorong ekonomi. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 9. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. stabilitas keuangan dunia mengalami gejolak dipicu oleh krisis subprime mortgage AS. harga komoditi dunia yang meningkat memberi tekanan yang cukup besar terhadap inflasi di dalam negeri.000 dalam bulan Januari dan Maret 2008 dalam penutupan hariannya. sedikit lebih rendah dari tahun 2006 (5. Untuk mencegah ekonomi AS dari kemungkinan resesi pada tahun 2008. Pada bulan April 2008. sedangkan negara-negara maju hanya tumbuh 2. Dalam bulan Juli 2007. serta cadangan devisa meningkat menjadi USD 56.9 persen. ekonomi dunia tumbuh 4. investasi residensial di AS terus tumbuh negatif hingga menurun menjadi 21. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.0 persen. ekonomi AS tumbuh 2. Dalam kaitan itu.3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. laju inflasi keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. serta melambatnya ekonomi AS. Dalam rangka mengurangi meluasnya dampak krisis subprime mortgage tersebut. ekonomi dunia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya.6 persen. atau bertambah USD 14. bantuan likuiditas sekitar USD 30 miliar diberikan untuk menyelamatkan Bear Sterns dari kerugian yang dialami.6 persen. Rendahnya kualitas kredit perumahan di AS telah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi AS.tahun sebelumnya. Ketiga resiko eksternal tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008.000 sempat merosot menjadi di bawah 12.6 persen.5 persen (yo-y) dengan kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga yang melambat serta penurunan investasi residensial yang makin pesat. lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang tumbuh 3.5 persen per tahun. relatif sama dengan tahun 2006. Sejak triwulan II/2006. Pada triwulan 1/2008. ekonomi AS tumbuh 2.9 miliar. krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan dunia.25 persen pada bulan .2 persen pada triwulan 1/2008. bank sentral AS dan beberapa bank sentral di negara maju menempuh langkah pengamanan baik melalui bantuan likuiditas dan penurunan suku bunga. Ekonomi Asia tetap sebagai penggerak ekonomi dunia dengan tumbuh sekitar 9. laju inflasi terjaga sebesar 6. Terakhir.

Indeks harga komoditi dunia pada bulan April 2008 meningkat 46. mampu menjaga kembali stabilitas nilai tukar rupiah. . April 2008). harga minyak mentah WTI diperkirakan sekitar USD 110 per barel (EIA. Kenaikan harga komoditi yang tinggi ini telah memberi tekanan inflasi global yang tinggi bagi semua negara. Mei 2008). Dalam tahun 2008 ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3.200 per USD dan dalam keseluruhan tahun 2007.7 per barel dan dalam paruh pertama bulan Mei 2008 mencapai USD 122. Ketiga gejolak eksternal tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008.140. Dalam keseluruhan tahun 2008.3 persen dibandingkan tahun 2006.9 persen) dengan ekonomi AS yang hanya tumbuh 0. lebih lambat dari tahun 2007 (4. Tekanan eksternal berupa tingginya harga komoditi dunia dan meluasnya dampak krisis subprime mortgage di AS berpengaruh pada stabilitas ekonomi di dalam negeri. PERBANKAN. Rata-rata harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga empat bulan pertama tahun 2008 mencapai USD 101. Langkah-langkah untuk mengamankan sektor keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan penurunan suku bunga Fed Funds yang terus berlanjut.000-Rp 9. Nilai tukar rupiah kembali stabil pada rentang Rp 9. MONETER.7 persen.1 persen (The Economist. World Economic Oudook. DAN PASAR MODAL. Harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya secara bertahap meningkat. Dalam rangka mengendalikan tekanan inflasi ini. Mei 2008). Poll of the Forecaster memperkirakan ekonomi AS dalam keseluruhan tahun 2008 tumbuh 1.8 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y) [IMF.per dolar AS.Agustus 2007 hingga menjadi 2..0 per barel. Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi sejak tahun 2004 meningkatkan permintaan terhadap komoditi dunia termasuk energi.200 per dolar AS.000-Rp 9. Sampai dengan lima bulan pertama tahun 2007. primary commodity price.00 persen pada akhir bulan April 2008 dan stimulus fiskal sebesar USD 162 miliar diberikan untuk menopang konsumsi masyarakat.5 persen (IMF. kebijakan moneter pada banyak negara mulai beralih ke arah yang ketat dengan menaikkan suku bunga. stabilitas ekonomi dapat dijaga. serta pengamanan sektor keuangan di dalam negeri. rata-rata harian nilai tukar rupiah relatif stabil pada rentang Rp 9. terutama minyak mentah. Krisis subprime mortgage dan melemahnya nilai tukar dolar AS mengakibatkan likuiditas global yang berlebih beralih pada pasar komoditi. atau menguat 0. rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. Dengan kebijakan moneter yang berhati-hati. Mei 2008]. Dalam bulan Mei 2007 terjadi penguatan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh arus modal jangka pendek dalam bentuk investasi portfolio. dan memberi tekanan spekulasi yang besar terhadap peningkatan harga komoditi dunia. program stabilisasi harga kebutuhan pokok. Dalam bulan Juli 2007 hingga akhir tahun 2007. nilai tukar rupiah berfluktuasi oleh pengaruh rambatan krisis subprime mortgage di AS.

Secara bertahap suku bunga acuan (B1 rate) diturunkan sebesar 175 bps dari 9. dan 77. Meningkatnya tekanan inflasi sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna memandu penurunan ekspektasi inflasi. sedangkan harga beras meningkat tinggi.000-Rp 9. dan 22. Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong penyaluran kredit perbankan. 79.Dalam empat bulan pertama tahun 2008. Suku bunga acuan yang tetap dipertahankan 8. laju inflasi tahun 2007 dapat dijaga sebesar 6. indeks harga komoditi pangan dunia meningkat sebesar 27. kedelai. Dalam keseluruhan tahun 2008.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp 9. Dalam tahun 2007. 9. Dalam tahun 2007.2 persen (y-o-y).9 persen. 73.1 persen (IMF commodity price). Penurunan suku bunga kredit berjalan lebih lambat.1 persen. Pada bulan Desember 2007.75 persen pada akhir tahun 2006 menjadi 8. Pada bulan Desember 2007.8 persen (y-o-y). dan 16.0 persen. harga keempat komoditi tersebut meningkat berturut-turut 120.6 persen.0 persen. Dalam tekanan resiko eksternal yang meningkat sejak semester II/2007. minyak kelapa sawit.25 persen.9 persen. 15. Kenaikan ini terus berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2008.00 persen sampai bulan April 2008 mulai ditingkatkan pada bulan Mei 2008 menjadi 8. suku bunga deposito 1 dan 3 bulan menurun menjadi 7.8 persen (y-o-y) pada bulan Juni 2007.0 persen dan 9. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. dan beras di pasar dunia meningkat berturut-turut sebesar 80. 13. bertambah Rp 208.6 persen pada bulan Desember 2006. harga gandum. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan laju inflasi yang terkendali dalam tahun 2007 memberi ruang bagi penurunan suku bunga di dalam negeri. 67. dan minyak kelapa sawit melunak. harga gandum dan gandum.300 per USD. penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 995.2 persen. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil hingga semester 1/2007 berperan dalam menjaga laju inflasi. laju inflasi dalam keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. diperkirakan tetap tinggi.4 persen dari 9. 102. Dalam bulan April 2008. kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing menurun menjadi 13.1 triliun. relatif sama dengan tahun 2006.2 persen. laju inflasi tahun kalender (y-t-d) mencapai 4. Dalam bulan April 2008. dan 17.1 persen.1 persen dari 15.0 persen. Sampai pertengahan tahun 2007 laju inflasi terkendali dan dapat ditekan menjadi 5.0 persen. Pada bulan Desember 2007.4 persen. harga komoditi dunia. kedelai. Meningkatnya harga komoditi dunia pada empat bulan pertama tahun 2008 memberi tekanan bagi inflasi di dalam negeri. suku bunga kredit modal kerja.0 .7 persen pada bulan Desembcr 2006.2 persen dan 7. termasuk minyak mentah dunia.00 persen pada bulan Desember 2007. Dalam bulan April 2008. Meningkatnya harga komoditi dunia sejak pertengahan tahun 2007 mendorong kembali laju inflasi.0 persen dan laju inflasi setahun (y-o-y) meningkat menjadi 9. Suku bunga deposito dan kredit mcngikuti suku bunga acuan. rata-rata harian nilai tukar rupiah sebesar Rp.

Dalam pada itu. atau naik 14. Pada tahun 2007.304. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. Pada bulan Desember 2007.0 persen dibandingkan tahun 2006.6 miliar).6 persen.0 miliar.5 atau turun 16. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang meningkat menjadi USD 22.1 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. 28.1 persen dibandingkan akhir Desember 2007.9 persen. lebih rendah dan tahun 2006 (USD 2.2 miliar). posisi kredit perbankan mencapai Rp 1. NPL menurun menjadi Rp 40. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 16. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2007 mencapai sekitar USD 10. didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 6.0 triliun. dan 24. triliun atau meningkat 29.8 atau meningkat 52. modal kerja. loan-to-deposit ratio (I. Dengan perkembangan ini. IHSG di BEI mencapai 2.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. terhadap ekonomi dalam negeri telah mendorong kinerja bursa saham.2 miliar.DR) pada bulan Februari 2008 mencapai 67.4 persen dan 15.triliun atau meningkat 26.7 miliar. total penerimaan ekspor mencapai USD 118.9 miliar.348.029. Secara keseluruhan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih baik didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang kuat. Meningkatnya penyaluran kredit perbankan diiringi oleh menurunnya non-peifonning loan.5 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y). atau berkurang Rp 7. Indeks Harga Saham Gabungan di BEI pada akhir tahun 2007 mencapai 2. Kenaikan kredit relatif berimbang antara kredit invetasi. Gejolak bursa saham global berpengaruh terhadap Bursa Efek Indonesia. relatif sama dengan tahun 2006 (USD 10.5 persen.7 persen). NPL menurun menjadi Rp 38.7 pada akhir bulan Juli 2007. Membaiknya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat meningkatkan kebutuhan impor. Perkembangan ini terus berlanjut hingga triwulan 1/2008. investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 1.4 persen. Dalam tahun 2007. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 8. atau naik 15. dan ekspektasi yang baik. Selanjutnya dalam bulan Maret 2008.745.5 persen dan 14.5 triliun dan bulan Desember 2006.7 miliar.3 persen. Pada akhir bulan April 2008. Arus masuk investasi portfolio yang meningkat hingga semester 1/2007 . impor meningkat menjadi USD 84.2. Dalam bulan Maret 2008.O persen. Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 dan meningkatnya harga komoditi dunia ikut berperan dalam mendorong penerimaan ekspor nasional.4 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2006. NERACA PEMBAYARAN.4 miliar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) menembus angka 2. Langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi menguatkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal.3 triliun (3. gejolak bursa saham global masih berlanjut dan berdampak pada pasar modal di dalam negeri. Stabilitas ekonomi yang terjaga.000 pada bulan Mei 2007 dan terus meningkat hingga mencapai 2. dan konsumsi dengan peningkatan berturut-turut 23. perkembangan pasar modal global yang dinamis.

Secara keseluruhan tahun 2007. terjaganya investasi jangka pendek.5 persen dan ekspor migas meningkat sebesar 38.0 miliar dengan investasi porto folio yang masuk sebesar USD 10.0 bulan impor. Dengan perkiraan tersebut. didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat sebesar 12. Adapun kebijakan belanja ke daerah diarahkan untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan membiayai kegiatan-kegiatan khusus yang . investasi porto folio neto mencapai USD 7. neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.1 miliar. mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan infrastruktur dasar. kebijakan fiskal diarahkan untuk memberi dorongan pada perekonomian dengan tetap menjaga terkendalinya defisit anggaran. Dalam keseluruhan tahun 2008. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2007 mengalami surplus USD 3. lebih tinggi dari tahun 2007. Kebijakan belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk belanja pegawai dan barang. kondisi neraca pembayaran diperkirakan tetap terjaga dari perlambatan pertumbuhan dunia. Investasi portfolio pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus USD 4.5 miliar atau cukup untuk memenuhi kebutuhan 6. melindungi hajat hidup masyarakat dalam bentuk subsidi yang lebih terarah. Dalam tahun 2007. surplus neraca ttansaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 11.6 miliar dengan upaya mengurangi penerbitan SUN.2 triliun atau naik 13.0 persen. serta dampak lanjutan subprime mortgage.9 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 5.9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 didorong oleh impor nonmigas dan migas yang masing-masing meningkat sebesar 16.4 miliar.8 persen.9 miliar atau 19.2 miliar.0 persen 33. kenaikan harga komoditi. Belanja negara yang terdiri dari belanja pcmerintah pusat dan belanja ke daerah meningkat menjadi Rp 757. Sedangkan investasi lainnya mengalami defisit USD 7.1 miliar.8 bulan impor. dan obligasi internasional.0 miliar. Investasi langsung aging (neto) diperkirakan mencapai surplus USD 2.9 persen. memenuhi pembayaran utang baik dalam maupun luar negeri.6 miliar. SBT. KEUANGAN NEGARA. Neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan terjaga dengan meningkatnya investasi jangka panjang. Dengan defisit jasa-jasa yang meningkat menjadi USD 25.kemudian melambat oleh rambatan gejolak subprime mortgage sejak bulan Agustus 2007 yang berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) pada semester II/2007. cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 68.8 miliar. Pada tahun 2008. naik 17.9 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 5.5 persen dibandingkan tahun 2006. serta menurunnya defisit investasi lainnya. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2007 mengalami defisit sebesar USD 5. Pengeluaran impor diperkirakan mencapai USD 101.3 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 56.5 miliar dengan meningkatnya iklim investasi di dalam negeri. Total nilai ekspor pada tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 139.

APBN Tahun 2008 mendapat tekanan yang sangat berat baik internal maupun eksternal. (v) penyewaan dana cadangan sebesar Rp 8. (2) penggunaan dana cadangan APBN (contingency policy measure). melemahnya mulai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pemerintah diberi keleluasaan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan APBN lebih lanjut. Adapun penerimaan bukan pajak turun sebesar 5. Dengan perkembangan ini. Penerimaan negara diarahkan terutama untuk menggali sumber penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak.2 persen terutama didorong oleh pajak dalam negeri yang meningkat 18.0 persen PDB. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai akibat dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat. Pada tahun 2007.merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.3 persen terutama didorong oleh rendahnya lifting minyak bumi dibandingkan target APBN-P. Perubahan tersebut diantaranya: (i) perubahan asumsi dasar untuk memberikan sinyal yang tepat kepada publik. mendorong untuk dilakukannya perubahan dalam APBN tahun 2008.034 ribu barel perhari). kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk memberi stimulus kepada perekonomian dengan menjaga ketahanan fiskal. penurunan lifting minyak bumi menjadi 927 ribu barel per hari atau lebih rendah 107 ribu barel per hari dibandingkan target APBN 2008 (1.8 triliun atau 1.3 persen PDB.9 persen. PNBP. Pada tahun 2008.8 triliun atau naik 20. lebih tinggi Rp . Apabila dana cadangan tcrsebut tidak mencukupi. Berbagai upaya untuk menjaga ketahanan dan kesinambungan fiskal dalam rangka pengamanan APBN Tahun 2008 dilakukan antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara yang bersumber dari sektor perpajakan.0 triliun atau 20. (8) pengurangan beban pajak dan bea masuk atas komoditas pangan strategis. naiknya harga minyak mentah di pasar dunia dan harga komoditas pangan dunia. penerimaan pajak meningkat menjadi Rp 491. (6) pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang. (4) perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik. (iii) paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan dunia. defisit anggaran pada tahun 2007 dapat dijaga sebesar Rp 48. (3) penghematan dan penajaman prioritas belanja K/L. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp 895. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. (7) penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program. serta (9) penambahan subsidi pangan. menuntut dilakukannya perubahan APBN Tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam bulan April 2008. (ii) sejalan dengan perubahan asumsi dasar tersebut mendorong perubahan besaran APBN. Beratnya tekanan eksternal dan internal tersebut diatas. Sesuai dengan APBN-P Tahun 2008. (iv) dilakukannya pemotongan terhadap anggaran belanja Kementerian/Lembaga sebesar rata-rata 10 persen. maupun dividen BUMN. (5) peningkatan efisiensi di Pertamina dan PLN.3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga ke USD 100 per barel dan volume konsumsi BBM bersubsidi.

4 persen dari alokasi belanja subsidi yang ditetapkan dalam APBN 2008 yang sebesar Rp 97.4 triliun atau 5.8 triliun dibandingkan dengan anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 854. gambaran penerimaan negara dan hibah pada tahun 2008 diperkirakan menjadi Rp 937. PERTUMBUHAN EKONOMI. Sementara itu.1 persen PDB.4 persen PDB atau meningkat dan 1.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5.2 persen dan 8. Selanjutnya stok utang pemerintah diperkirakan sebesar 32-34 persen PDB. belanja negara diperkirakan sebesar Rp 1.4 persen PDB.1 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 42.6 triliun. Sementara itu. Setelah diundangkannya Undang-undang APBN Perubahan tahun 2008. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 35.2 persen PDB. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. meningkat Rp 136.1 persen PDB.6 triliun dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 781. Sejak semester II/2007. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam serta peningkatan dividen BUMN. mendorong peningkatan defisit anggaran dalam APBN-P Tahun 2008 sebesar 0. serta melindungi masyarakat miskin.9 persen. Keadaan ini akan meningkatkan beban subsidi energi yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan defisit anggaran. Dengan berbagai langkah tersebut.9 triliun atau 2. konsultasi masyarakat tumbuh sebesar 5.5 triliun atau 139. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong .5 persen). defisit APBN pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3.113. Tingginya harga minyak mentah dunia tersebut dan adanya perbedaan harga BBM dalam negeri dengan luar negen yang semakin tinggi berpotensi memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. Sementara itu.1 triliun (21. Dengan demikian.020. Pemerintah telah menyusun rencana pengamanan pelaksanaan APBN-P 2008 untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Stabilitas ekonomi yang membaik dan gejolak tahun 2005 serta langkah-langkah yang ditempuh untuk mendorong kegiatan ekonomi mampu memulihkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. Perkembangan penerimaan dan belanja negara diatas. Dengan kecenderungan harga minyak mentah yang tinggi tersebut. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh dua digit dibandingkan semester II/2006.5 triliun atau 22.0 persen. Dan sisi produksi. Peningkatan anggaran belanja yang cukup signifikan tersebut terutama disebabkan oleh beban belanja subsidi yang mencapai Rp 234. harga minyak mentah di pasaran internasional terus mengalami kenaikan dan mencapai tingkat lebih dan USD 120 per barel pada paroh pertama bulan Mei 2008.7 persen PDB menjadi 2.4 triliun atau 17.8 triliun (20.7 triliun atau 19. lebih tinggi Rp 134.8 triliun.2 persen PDB. belanja negara diperkirakan mencapai Rp 989.8 persen PDB.1 persen PDB.2 triliun.9 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 30.

4 persen dan 10. listrik. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik. serta 5. hotel.0 persen.0 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5. pertumbuhan ekonomi akan digerakan oleh industri pengolahan nonmigas yang diperkirakan tumbuh 5. Dalam bulan Februari 2008. Momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga pada tahun 2007 telah menciptakan lapangan kerja yang cukup besar dan sekaligus menurunkan pengangguran terbuka.1 persen). konstruksi.4 persen. gas dan air bersih.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi.5 persen.3 persen) menjadi 10. 13. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor pertanian dan sektor tersier yang tumbuh 6.0 juta orang (9.9 juta orang (10. masih berlanjutnya pengaruh lanjutan dari subprime mortgage. 7.4 persen yang kemudian disesuaikan lagi rnenjadi 6.5 persen. gas.2 juta jiwa (Maret 2007) ditingkatkan pada tahun 2008.oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. 10. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7.9 persen. Dan sisi permintaan. momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 6.7 persen. dan restoran.9 persen. pengangkutan dan telekomunikasi. serta konsttuksi yang masing-masing tumbuh sebesar 14. real estat. .4 persen.5 persen (y-o-y). pertumbuhan ekonomi triwulan 1/2008 terutama didorong oleh pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 13. Dalam bulan Agustus 2006 hingga Agustus 2007 telah tercipta lapangan kerja bagi 4.3 persen dan 15. dan 8. Sementara itu impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 13. 6. Dari sisi produksi.0 persen.8 persen menjadi 6.6 persen serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh negatif 2. sektor pertanian yang meningkat 3. Dan sisi produksi. serta sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2.5 persen.5 persen dan 2. perdagangan.5 persen seiring dengan perbaikan ik1im investasi dan meningkatnya ekspor. dan jasa perusahaan. pengangguran terbuka menurun menjadi 9.4 persen.6 persen.0 persen (y-o-y).5 persen). Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin yang masih berjumlah 37. Adapun sektor industri pengolahan terutama nonmigas tumbuh 4. keuangan.3 persen (y-o-y). Dari sisi pengeluaran.0 persen. 7.0 persen.4 juta orang (8.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. dan perlambatan ekonomi AS menuntut perubahan sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 6.3 persen (y-o-y).7 persen dan 4. Dalam triwulan 1/2008. investasi serta ekspor barang dan jasa tetap didorong sebagai penggerak perekonomian dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11.7 persen.2 persen.0 persen dan 9. dan air bersih. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. Tekanan ekternal yang berat berupa harga komoditi termasuk minyak mentah yang meningkat tinggi. Kegiatan ekonomi yang didukung oleh langkah-langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat diperkirakan meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar 4.

serta stabilitas keuangan global yang membaik akan mengurangi tekanan terhadap harga komoditi dunia pada tahun 2009. India. perekonomian AS diperkirakan mulai meningkat secara bertahap. gejolak keuangan global diperkirakan mereda. EIA. Dengan perekonomian Asia yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. Ketiga. Volume perdagangan dunia pada tahun 2009 diperkirakan meningkat 5. Pertama. Mei 2008). dan negara Asia lainnya didorong oleh perekonomiannya yang tumbuh pesat. LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL TAHUN 2009 Kondisi ekonomi tahun 2009 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang diperkirakan lebih baik dari tahun 2008. Pertama. ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3. perekonomian dunia pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi yang pada gilirannya akan meningkatkan perdagangan dunia. World Economic Outlook. Kedua.6 persen. Resiko harga minyak yang lebih ringgi tetap ada apabila terjadi gangguan dalam produksi minyak mentah dunia dan memburuknya kondisi geo-politik di Timur Tengah dengan permintaan yang tetap tinggi dari China. Mei 2008 memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2009 sebesar 1. sedangkan Poll of Forecasters. Dalam tahun 2009. April 2008). langkah-langkah perbaikan investasi dan percepatan sektor riil yang terus dilanjutkan akan memberi dorongan lebih kuat bagi meningkatnya investasi. IMF. April 2008 memperkirakan ekonomi AS pada tahun 2009 tumbuh 0. Adapun lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia tahun 2009 adalah sebagai berikut. stabilitas keamanan dan politik yang dijaga akan memberi ekspektasi yang positif bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi yang lebih baik. TANTANGAN POKOK Dengan kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan masalah yang . ekspor nonmigas. relatif sama dengan tahun 2008 (0.4 persen (World Economic Outlook.7 persen. Langkah-langkah yang ditempuh oleh negara-negara maju diperkirakan mampu memulihkan kembali sektor keuangan global yang pada gilirannya akan meningkatkan stabilitas moneter internasional yang lebih baik dan menggerakkan kembali bursa saham global.B.5 persen). sedikit lebih tinggi dari perkiraan tahun 2008 (1. lebih tinggi dari peningkatan tahun 2008 (5. harga komoditi dunia termasuk minyak mentah diperkirakan akan melunak. Kedua. Pada tahun 2009. respon produksi komoditi dunia lainnya terhadap peningkatan harga yang tinggi.8 persen dengan ekonomi Asia yang tumbuh 8.1 persen). Departemen Energi AS. The Economist. dan kegiatan sektor riil. C.4 persen).8 persen. Peningkatan produksi baik OPEC maupun non-OPEC. harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan menurun menjadi sekitar USD 103 per barel (Energy Information Administration.

2 persen. . D. Pengangguran terbuka pada bulan Februari 2008 sebanyak 9.9 persen. jumlahnya masih relatif besar.MENJAGA STABILITAS EKONOMI.6 persen). Dorongan akan diberikan pada peningkatan investasi. lebih tinggi dari tahun 2006 (2. serta tingginya likuiditas ekonomi dunia dapat menimbulkan potensi yang mengakibatkan gejolak ekternal yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. jumlah pengangguran terbuka serta penduduk yang hidup di bawah yang kemiskinan mengalami penurunan. Lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.MENDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI. industri pengolahan nonmigas. revitalisasi pertanian dan menggerakkan UKM. Meskipun pada tahun 2007 dan awal tahun 2008. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009. industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 5. gangguan produksi pada komoditi energi dan pangan. tantangan pokok yang dihadapi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN.MEMPERCEPAT PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. lebih rendah dari tahun 2004 yang meningkat 7. 3.4 juta orang (8.2 juta orang miskin (16.2 persen. infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi. dan pengeluaran pemerintah serta mendorong peningkatan sektor industri pengolahan.7 persen dan 10. Percepatan pertumbuhan ekonomi akan didorong untuk menurunkan tingkat pengangguran yang mulai menurun dan mengurangi jumlah penduduk miskin yang masih besar dengan mendorong kualitas pertumbuhannya. peningkatan nilai ekspor nonmigas lebih banyak didorong oleh kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume ekspor. Dalam tahun 2007. Pada tahun 2007. Selanjutnya tingginya inflasi di dalam negeri pada tahun 2008 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar menurun pada tingkat yang memadai. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian.5 persen). ekspor. 2. Dalam tahun 2007 investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 9. Pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi.diperkirakan masih dihadapi pada tahun 2008. sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 37.5 persen) namun masih lebih rendah dari tahun 2004 dan 2005 yang tumbuh sebesar 14.5 persen. Beberapa kendala di dalam negeri yang menghambat peningkatan investasi dan ekspor serta lemahnya sektor industri pengolahan akan ditangani secara sungguh-sungguh. serta daya saing ekspor.

serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. mendorong komoditi nonmigas yang bernilai tambah tinggi. Perhatian juga diberikan pada penempatan. produktivitas pertanian secara luas. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan ditingkatkan dengan menyempurnakan peraturan ketenagakerjaan. Pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. perlindungan dana masyarakat. Disamping itu. E. sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat. SASARAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2009 . dan penerimaan devisa dari pariwisata dan TKI. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan. memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. diversifikasi ekonomi pedesaan. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga diberikan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan penyediaan energi termasuk listrik. dan ketahanan fiskal. administrasi perpajakan dan kepabeanan. serta penggunaan produksi dalam negeri: Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan produktivitas dan akses UKM pada sumberdaya produktivitas.Peningkatan investasi dan ekspor didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri. mengurangi hambatan prosedur perijinan. serta penyusulan standar kompetensi. Stabilitas ekonomi dijaga melalui pengamanan pasokan bahan makanan. Daya saing industrl manufaktur ditingkatkan. restrukturisasi permesinan. antara lain dengan pengembangan kawasan industri khusus. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. serta peningkatan koordinasi dengan otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan. Pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan didorong melalui peningkatan produksi pangan. fasilitasi industri hilir komoditi primer. mendorong pelaksanaan negosiasi bipatrit. kebutuhan pokok utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau. Pasokan bahan makanan diupayakan dengan meningkatkan produksi bahan pokok dengan penyempurnaan sistem distribusi sehingga kebutuhan pokok rakyat dapat tersedia. pembahasan agraria nasional. serta meningkatkan diversifikasi pasar ekspor. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin. perlindungan. Perhatian juga diberikan pada upaya untuk meningkatkan investasi dalam kegiatan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan.

dengan terjaganya stabilitas ekonomi. dan jasa perusahaan. real estat.0 .0 persen. untuk produksi tanaman bahan makanan.6. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut. gas. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.3 persen" sedangkan pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa didorong agar tumbuh masing-masing sebesar 12. Dalam keseluruhan tahun 2009. terutama industri dan pertanian. Dengan meningkatnya investasi. ditingkatkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi. dan sektor riil.0 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 .7 persen dengan peningkatan yang lebih baik terutama.14 persen pada tahun 2009.5 persen. 2.0 . menjaga ekspor nonmigas serta memberi stimulus fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara untuk menggerakkan semua sektor produksi. hotel. PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEBUTUHAN INVESTASI Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi.6.232.5 persen.Dengan arah kebijakan ekonomi makro di atas serta dengan memperhatikan lingkungan eksternal dan internal.6.6 persen.410.0 . 1. tercermin dari kondisi neraca pembayaran. perdagangan. Pertumbuhan PDB baik pada sisi pengeluaran maupun produksi dapat dilihat pada Tabel III.4 persen.1. Untuk membiayai pertumbuhan ekonomi sebesar 6. konstruksi.1 persen dan 11. Dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6. 8. 7. dibutuhkan investasi sebesar Rp 1. moneter.4 persen. Dalam tahun 2009.4 persen pada tahun 2009. perekonomian diperkirakan tumbuh sebesar 6.8 persen. impor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 13. serta 5. .4 persen. dan keuangan negara.1 persen. keuangan. pengangkutan dan telekomunikasi.0 persen. Kebutuhan investasi 2009 dapat dilihat pada Tabel III.7 triliun. Koordinasi antara kebijakan fiskal. 14.9 persen.8.3 persen dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 6. Pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 7.8 .2. STABILITAS EKONOMI Stabilitas ekonomi dalam tahun 2009 tetap dijaga. daya beli masyarakat membaik dengan konsumsi masyarakat diperkirakan tumbuh 5. sasaran ekonomi makro tahun 2009 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 3. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7.6 triliun dengan peran serta masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1. 7. dan restoran. pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin akan menurun. Adapun industri pengolahan didorong tumbuh 1.0 persen antara lain oleh perbaikan iklim investasi dan meningkatnya ekspor nonmigas.4 persen. moneter.9 triliun dan Rp 177.4 persen dan laju inflasi sebesar 5. dan air bersih.

4 miliar atau cukup untuk memenuhi 6. Dengan defisit sektor jasa-jasa yang masih tetap tinggi. penerimaan negara dan hibah diperkirakan mencapai 19. portfolio sebesar USD 6.8 persen PDB.7 .5 . serta efektivitas kebijakan moneter yang semakin baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Dalam tahun 2009. sedangkan investasi lainnya (neto) defisit sebesar USD 7. Gambaran neraca pembayaran tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III. Dengan nilai tukar rupiah yang stabil serta pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga.5.14.5 bulan impor. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi pasar uang dunia. Sementara itu impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 17. neraca modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.21. Dengan menurunnya laju inflasi dan stabilnya nilai tukar rupiah.6 miliar.3. Sementara itu. keselarasan program-program pembangunan di daerah dengan program prioritas nasional . surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 diperkirakan menurun menjadi USD 10. suku bunga di dalam negeri diperkirakan menurun dan pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.0 .1 persen. ketersediaan cadangan devisa yang meningkat. belanja negara diperkirakan sebesar 21. KEUANGAN NEGARA Kebijakan fiskal tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini.5 persen.8 persen PDB. MONETER Stabilitas neraca pembayaran yang terjaga. surplus neraca pembayaran pada tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 11.4 persen antara lain karena harga minyak dunia yang menurun dan program pengalihan ekspor gas untuk kebutuhan domestik.0 persen.9 miliar dan cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi USD 80.7 .4 miliar. terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 13.a.5 persen sedangkan impor migas menurun sebesar 1.8 persen PDB. NERACA PEMBAYARAN Penerimaan ekspor tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar 9. stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga.9 miliar didorong oleh meningkatnya investasi langsung asing (neto) sebesar USD 2.1 persen PDB dan penerimaan bukan pajak sebesar 5.3 persen. sedangkan ekspor migas diperkirakan turun 3. Secara keseluruhan.19. terutama didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar 13. laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan sebesar 6.2 miliar. b. Dalam tahun 2009.9 miliar. Dengan besarnya dorongan fiskal ke daerah. c.

0 persen dari PDB. KEBIJAKAN SUBSIDI Sesuai amanat pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945. dalam bentuk penyediaan dana untuk penerapan harga pembelian gabah dan beras oleh pemerintah (HPP) dan penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin). anak-anak terlantar. dalam bentuk penyediaan bunga di bawah bunga pasar untuk menunjang pencapaian program tertentu.perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional.Subsidi BBM. sedangkan tingkat pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 6. Sementara itu.Subsidi Bunga Kredit Program. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. dalam bentuk penyediaan listrik murah.14 persen.8 persen. Pada tahun 2007 realisasi rasio subsidi terhadap belanja negara mencapai 19.2. 3. stabilitas ekonomi yang terjaga.7. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 . e. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan bantuan yang dibutuhkan antara lain transfer tunai.7 persen atau 5. c.34. serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.5 . Dengan perkiraan penerimaan dan pengeluaran tersebut. seperti . Dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut.Subsidi Pangan.2 persen dari PDB. dalam bentuk penyediaan BBM dengan harga lebih murah. kesehatan dan pendidikan.Subsidi Listrik.0 persen PDB pada tahun 2009. serta berbagai kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran.0 persen PDB. pada APBN-P tahun 2008 rasio subsidi terhadap belanja negara diperkirakan sebesar 23. b. ditutup oleh pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri. yaitu: a. khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.0 . dalam bentuk penyediaan pupuk murah untuk petani. Subsidi tersebut terbagi atas berbagai jenis. Ketahanan fiskal yang terjaga juga tercermin dari stok utang pemerintah yang menurun menjadi 32. Defisit APBN tahun 2009 diupayakan sekitar 1.5 persen dari angkatan kerja.5 . ketahanan fiskal tetap terjaga. atau 4. barang dan jasa seperti jaminan tersedianya kebutuhan pangan. d. mengembangkan sistem jaringan sosial. serta subsidi untuk menjaga agar produsen mampu berproduksi. dengan harga terjangkau. jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka menurun. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. 4. pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dengan proporsi yang cukup besar dalam keseluruhan belanja negara.Subsidi Pupuk. subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat dalam mencukupi kebutuhan dasarnya. pemerintah wajib menjamin kehidupan fakir-miskin.

dalam rangka meningkatkan efektifitas pengeluaran negara.Adanya mekanisme (delivery) yang jelas hingga komoditi tersebut dapat dipastikan sampai pada masyarakat yang layak menerima. dan/atau masyarakat di wilayah terpencil atau terisolir agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. 4. Mengingat bahwa belanja negara dalam bentuk pemberian subsidi cukup besar. subsidi Pas. subsidi yang sudah berjalan masih diperlukan atau belum berakhir jangka waktu pemberiannya akan terus dilanjutkan. Kredit Kepemilikan Rumah Sangat Sederhana (KKRSS) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan. subsidi untuk PELNI dan sejenisnya. pengusulnan subsidi baru dimungkinkan dengan memperhatikan bahwa pemberian subsidi merupakan pilihan kebijakan terbaik yang perlu dilakukan. Secara umum.Subsidi Benih. 5. pemberian subsidi dalam tahun 2009 diberikan untuk menghasilkan produk dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas. 7.Memiliki jangka waktu yang jelas. 2. Kredit Koperasi. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus mendorong peningkatan perekonomian. Kelompok sasaran tersebut diutamakan masyarakat golongan berpendapatan rendah.Pengusulan subsidi harus disertai dengan alasan dan dasar perhitungan yang jelas mengenai besarnya subsidi yang diajukan. Arah Kebijakan Subsidi Tahun 2009. Kriteria Subsidi. namun pemberian subsidi tersebut akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran.Subsidi BUMN PSO. 3.Komoditi yang disubsidi agar dapat ikut menciptakan kestabilan harga. f. Sementara itu. jagung komposit dan ikan budidaya dengan harga di bawah harga pasar.Adanya kelompok sasaran penerima subsidi yang jelas. Kredit Koperasi Primer untuk Angota (KKPA). seperti subsidi untuk Kereta Api Kelas Ekonomi. Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana (KKRS). 6.Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam rangka mendorong kemampuan produsen nasional dalam memproduksi komoditi tertentu. dalam bentuk penyediaan pelayanan oleh BUMN tertentu kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar. dalam bentuk penyediaan benih unggul untuk padi. pengusulan dan pemberian subsidi harus diatur lebih sistematis. serta g. 8.Pengajuan subsidi dalam harus kemampuan pembiayaan negara. serta dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah.Adanya pembenahan struktural yang menyertai pelaksanaan subsidi . Kriteria pengusulan subsidi dalam tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1.Kredit Ketahanan Pangan (KKP). kedelai. yang menjadi konsumen akhir dari komoditi yang disubsidi. memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Dalam hal ini pemberian subsidi tidak dapat diberikan selamanya dan oleh sebab itu pengajuannya harus disertai dengan target waktu subsidi tersebut berakhir. jagung hibrida. dalam rangka memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak.

dan/atau dalam kegiatan kementerian/Lembaga. kegiatan atau pengajuan subsidi secara lebih terperinci diuraikan pada kegiatan prioritas. Subsidi diajukan oleh Kementerian/Lembaga yang terkait dengan komoditi dalam bentuk barang dan jasa. DANA PERIMBANGAN Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. *Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah *Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. *Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. atau yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab kementerian/lembaga yang bersangkutan. 5. Dengan demikian. Mekanisme Pengajuan/Pemberian Subsidi. *Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah. dengan tujuan: *Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. (iv) pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. nyata dan bertanggung jawab. dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. Sehubungan dengan itu. *Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang . kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas. (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah pusat dengan daerah dan antar daerah. PENDANAAN MELALUI TRANSFER KE DAERAH Pendanaan pembangunan melalui transfer ke daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendanaan pembangunan secara nasional dengan arah kebijakan Transfer ke daerah tahun 2009.tersebut agar penyalahgunaan subsidi semaksimal mungkin dapat dihindarkan. Pengajuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengajuan kegiatan kementerian/lembaga yang bersangkutan. dan *Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional.

dan Dana Bagi Hasil SDA. Disamping itu juga melaksanakan sosialissi penggunaan DBH migas 0. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.Penyedia dan jenis data yang digunakan dalam perhitungan DAU diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Variabel Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD. dan dana alokasi khusus (DAK). Dana Bagi Hasil Pajak. hal-hal sebagai berikut menjadi perhatian dalam pengalokasian DAU Tahun 2009 : a. (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. penetapan alokasi dan ketepatan waktu penyaluran DBH akan tetap dilanjutkan. antara lain dari daerah dan Departemen Keuangan untuk Belanja PNSD. c. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Bagi Hasil. (ii) luas wilayah. Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. (iii) Indeks Kemahalan Konstruksi. CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (Kbf) dengan Kapasitas fiskal (Kpf) sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD.5 persen sebagai tambahan anggaran pendidikan dasar. merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi dalam mendukung kebijakan desentralisasi fiskal guna memperbaiki kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (Vertical Fiscal Imbalance) serta antar daerah (Horizontal Fiscal Imbalance). Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Sebagai acuan utama dalam penetapan kebijakan DAU Tahun 2009 adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Umum. b. Sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan di atas. Langkah-langkah untuk penyempurnaan proses penghitungan.dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. .Variabel Kebutuhan Fiskal Daerah yaitu: (i) jumlah penduduk. antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data sesuai dengan peraturan yang berlaku. dalam rangka mempercepat penyelesaian dokumen transfer yang diperlukan untuk penyaluran DBH ke daerah dan meningkatkan akuntabilitas/tanggung gugat dan efektivitas penggunaannya. dana alokasi umum (DAU).Pengalokasian DAU kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAU dihitung atas dasar Celah Fiskal (CF) dan Alokasi Dasar (AD).

Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan. kelebihan DBH-nya dibagikan kepada daerah sebagai DAU Tambahan. IPM dan PDRB per kapita.Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10% untuk semua Provinsi dan sebesar 90% untuk semua Kabupaten/Kota dari besaran DAU nasional. air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertingga1 yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan. daerah perbatasan dengan negara lain. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. serta peningkatan akurasi data yang ditujukan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara alokasi DAK yang merupakan prioritas nasional dengan kebutuhan daerah. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Khusus. Secara umum. daerah tertinggal/terpencil. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. daerah pasca bencana. daerah perbatasan dengan negara lain. 2. d.Menunjang penguatan sistem distribusi nasional. terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan. e. Pada tahun 2009. Penetapan kebijakan DAK Tahun 2009 mengacu pada UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. DAK dimaksudkan untuk membantu daerah tertentu dalam mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. menggunakan formula DAU atas dasar Celah Fiskal. Selain itu. IKK. daerah pulau-pulau kecil terluar. BPS untuk data Jumlah Penduduk. irigasi. dan daerah pariwisata. dalam pengalokasian diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. daerah tertinggal/terpencil. Depdagri dan Bakosurtanal untuk data luas wilayah darat dan laut. arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1.Dalam hal realisasi harga minyak bumi melebihi 130% dari asumsi dasar minyak bumi dalam APBN tahun berjalan. alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK. melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. serta sarana dan . dan daerah rawan bencana.dan PAD. Dalam proses perhitungan alokasi DAK kepada masing-masing daerah akan disempurnakan antara lain melalui peningkatan transparansi dan penyempurnaan metode penghitungan. dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. sedangkan untuk data DBH Pajak dan DBH SDA dari Departemen Keuangan.

yang diperuntukkan bagi SD/SDLB. 8. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). baik negeri maupun swasta. Penggunaan DAK Tahun 2009 diarahkan pada kegiatan-kegiatan di 11 bidang atau program DAK tahun 2008.Pendidikan. dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. b. dan kehutanan.Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan.Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar. 4. kualitas pe1ayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan. daerah rawan bencana. perdagangan. 9. Dengan demikian. yang diprioritaskan pada daerah tertinggal. 7. 5. kesehatan. sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan. dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu. tertinggal. meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil. perikanan dan kelautan. melalui kegiatan khusus di bidang pertanian. serta 2 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. perluasan kesempatan kerja. MI/Salafiyah Ula. 3. serta pembangunan perdesaan.Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD. daerah terpencil. melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. daerah perbatasan.Mendorong peningkatan produktivitas. dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup. angkutan barang dan kebutuhan pokok. infrastruktur. kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar. termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya.Kesehatan. infrastruktur.prasarana perdesaan. 6. bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a.Menyediakan serta meningkatkan cakupan. mencegah kerusakan lingkungan hidup.Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009. serta pembangunan perdesaan. keluarga berencana.Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementenan/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK. perbatasan dan . sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal.

khususnya untuk pengadaan. dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional. persampahan. dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional. peningkatan. dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.Pertanian. pengolahan. kabupaten. dan . melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. barang dan jasa. f. Informasi.Infrastruktur jalan dan jembatan. g. industri. pemasaran. h. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi. serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian.han daerah.Kelautan dan perikanan.Keluarga Berencana (KB). serta penyediaan sarana/ prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota.Prasarana pemerinta. dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan. i. sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB. peningkatan mutu.kepulauan. serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi. dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah. dan Edukasi (KJE)/advokasi Program KB. dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008.Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan. dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. serta digunakan untuk pembangunan/ perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota. d. c. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB.Infrastruktur irigasi. dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. e. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi. yang diarahkan untuk meningkatkan kinelja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran.

pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD. dengan arab kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS). hutan kota. serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja pegawai negeri sipil daerah. l. dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran. pemantapan fungsi hutan lindung.Pembangunan perdesaan daerah tertinggal. diprioritaskan mendapat alokasi DAK *Seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapat alokasi DAK .Kehutanan. 11. j. serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan. Taman Hutan Raya (TAHURA). 10. daerah tertinggal/terpencil. k.Peraturan perundangan: *Daerah-daerah yang menurut ketentuan peraturan perundangan diberi status otonomi khusus. daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.Perdagangan.Lingkungan hidup. dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK. yaitu: a. m. meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai. dengan arah kebijakan untUk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut: *Kriteria Umum. bahan pokok.Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. *Kriteria Khusus. Kemampuan keuangan daerah tersebut dihitung berdasarkan indeks fiskal netto (IFN) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. pengendalian pencemaran air. serta daerah pasca bencana. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan. dan karakteristik daerah. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus.

Kriteria teknis dirumuskan berdasarkan indeks teknis yang ditetapkan oleh menteri/ kepala lembaga teknis terkait. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Otonomi Khusus. dan untuk tahun keenam belas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat tersebut diperuntukkan bagi Kabupaten.Karakteristik daerah : daerah pesisir dan Kepulauan. dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional. dan Provinsi di Provinsi Papua dan Papua Barat. serta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. pengentasan kemiskinan. yang jumlahnya setara. Dana Otonomi Khusus NAD diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. Kota. dan daerah pariwisata. daerah tertinggal/terpencil. c. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana.Kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. pemberdayaan ekonomi rakyat. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. daerah rawan bencana. kinerja pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. Sebagai wujud pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan dalam rangka otonomi khusus yang diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. *Kriteria Teknis. serta daerah yang termasuk Kategori daerah ketahanan pangan. dan kesehatan. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas . daerah perbatasan dengan negara lain. serta pendanaan pendidikan.b. sosial. dialokasikan Dana Otonomi Khusus. dan insentif bagi daerah yang mengalokasikan dana daerah diluar DAK untuk membiayai kegiatan serupa sesuai bidang DAK. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan.

3 6.0 6.4 2) Investasi 14.4 1) 2004 PERTUMBUHAN PDB PENGELUARAN (%) Konsumsi Masyarakat 5.6 4.4 13.5 11.8 14.4 4.7 5. 2.3 5.0 6.5 8.9 2.7 2) Perkebunan.2 11.8 8.7 3.5 8. dan Perikanan Pertambangan dan -4.0 7.6 9.3 6.1 2) Telekomunikasi Keuangan.5 6.7 14.7 17.5 7.3 8. GAMBARAN EKONOMI MAKRO ----------------------------------------------------------------Realisasi Sasaran -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------PERTUMBUHAN EKONOMI (%) 5.5 6.5 2) .5 3.0 4.0 -6.2 5. Real 7.0 2) Listrik.0 3.4 12.5 16.6 3.9 7.4 3. Peternakan.0 5.4 7.7 5.9 2.5 3.4 8.3 6.7 8.0 5.3 2) Industri Bukan Migas 7.9 13. 5.0 2) Perdagangan.5 5.5 5. Gas dan 5.1 2) Ekspor Barang dan 13.7 10. Kehutanan.4 12.7 5.9 2) Air Bersih Konstruksi 7.5 3.6 7.9 5.0 4.4 2) Jasa PERTUMBUHANPDB PRODUKSI (%) Pertanian.0 2) Jasa Impor Barang dan26.7 5.0 10.l.0 13.6 8.9 4.8 2.3 5.2 8.0 2.5 6. Hotel.4 14.8 10.4 7.4 8.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.7 6.3 2) Konsumsi Pemerintah 4.6 2) dan Restoran Pengangkutan dan 13.7 2.2 5.5 9.9 2) Penggalian Industri Pengolahan 6.2 1.6 4.0 7. Tabel III.6 9.

Estat, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

5,4

5,2

6,2

6,6

5,7

5,8 2)

LAJU INFLASI (%) 6,4 17,1 6,6 6,6 11,2 5,8-6,5 1) KEUANGAN NEGARA Defisit APBN/PDB (%) 1,3 0,5 0,9 1,3 3) 1,8 1,5 - 2,0 Penerimaan Pajak/ 12,2 12,5 12,3 12,4 3) 13,2 13,7 - 14,1 PDB (%) Stok Utang 56,6 47,2 39,0 33,7 3) 33,5 32,0 - 34,0 Pemerintah/PDB (%) ----------------------------------------------------------------1)Berdasarkan Hasil Pembahasan RKP Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009, 16019 Juni 2008 2)Angka Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran dan Produksi merupakan rincian dari sasaran Pertumbuhan sebesar 6,4% 3)Berdasarkan perkiraan Realisasi Terakhir (Versi ke-4) Tabel III.2 KEBUTUHAN INVESTASI (Rp triliun) ----------------------------------------------------------------Realisasi Proyeksi -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 *) -----------------------------------------------------------------

2004

Kebutuhan 515,4 657,6 805,5 983,8 1.191,5 1.410,6 Investasi (Rp triliun) Pemerintah 76,4 90,2 108,2 125,4 146,0 177,7 (% PDB) 3,3 3,3 3,2 3,2 3,1 3,3 Masyarakat 438,9 567,4 697,2 858,5 1.045,5 1.232,9 (% PDB) 19,1 20,5 20,9 21,7 22,4 23,4 ----------------------------------------------------------------*)Dihitung berdasarkan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4% Tabel III.3. PERKIRAAN NERACA PEMBAYARAN (USD miliar) ----------------------------------------------------------------Realisasi --------------------------------------------------

Proyeksi

2004 2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------Neraca Transaksi 1,6 0,3 10,6 10,4 11,4 10,9 Berjalan Ekspor 70,8 87,0 103,5 118,0 139,1 152,1 Migas 16,3 20,2 22,9 24,9 34,3 33,1 Nonmigas 54,5 66,8 80,6 93,1 104,8 118,9 Impor -50,6 -69,5 -73,9 -84,9 -101,9 -115,0 Migas -11,2 -16,0 -16,2 -18,8 -25,2 -24,9 Nonmigas -39,5 -53,4 -57,7 -66,1 -76,7 -90,1 Jasa-jasa -18,6 -17,3 -19,0 -22,7 -25,8 -26,2 Pembayaran Bunga -2,8 -2,7 -2,6 -2,2 -2,1 -2,4 Pinjaman Neraca Modal dan 1,9 0,3 1,9 3,3 0,2 0,9 Finansial Neraca Modal 0,0 0,3 0,4 0,5 0,2 0,0 Neraca Finansial 1,9 0,0 1,5 2,7 0,0 0,9 Investasi -1,5 5,3 2,2 1,7 2,5 2,4 Langsung Arus Masuk 1,9 8,3 4,9 6,2 6,3 6,5 Arus Keluar -3,4 -3,1 -2,7 -4,5 -3,8 -4,1 Portfolio 4,4 4,2 4,1 7,0 4,6 6,2 Aset Swasta 0,4 -1,1 -1,9 -3,0 -3,2 -2,3 Liabilities 4,1 5,3 6,1 10,0 7,8 8,5 Pemerintah 2,3 4,8 4,5 5,3 4,8 5,1 dan BI Swasta 1,8 0,4 1,6 4,7 3,0 3,4 Lainnya -1,0 -9,4 -4,8 -5,9 -7,1 -7,6 Aset Swasta 1,0 -8,6 -2,6 -5,6 -6,9 -6,8 Liabilities -2,0 -0,8 -2,2 -0,3 -0,2 -0,8 Pemerintah -2,7 -0,8 -2,5 -2,4 -1,0 -1,3 dan BI Swasta 0,7 0,0 0,3 2,1 0,8 0,5 Total 3,4 0,6 12,5 13,7 11,6 11,9 Selisih Perhitungan -3,1 -0,2 2,0 -1,1 0,0 0,0 Neraca Keseluruhan 0,3 0,4 14,5 12,5 11,6 11,9 Cadangan Devisa 36,3 34,7 42,6 56,9 68,5 80,4 Dalam bulan impor 6,1 4,3 4,5 5,8 6,0 6,5 Memorandum Item Exceptional Financing IMF Neto -1,0 -1,1 -7,6 0,0 0,0 0,0 Penjadwalan Hutang 0,0 2,7 0,0 0,0 0,0 0,0 Pertumbuhan Ekspor 11,5 22,5 20,7 15,6 12,5 13,5 Nonmigas (%)

Pertumbuhan Impor Nonmigas (%)

24,4

36,0

8,0 14,5

16,0

17,5

---------------------------------------------------------------LAMPIRAN BAB 3 PEMUTAKHIRAN GAMBARAN EKONOMI MAKRO 2009 Sejalan dengan perubahan ekonomi nasional dan gejolak ekonomi global, maka gambaran ekonomi makro yang diuraikan dalam Perpres No 28 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR-RI, disepakati hal-hal sebagai berikut. Sasaran laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,0 persen hingga 6,4 persen. Tingkat inflasi diperkirakan sekitar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga diperkirakan berkisar antara 7,5 persen hingga 8,5 persen. Harga minyak mentah (ICP) diperkirakan berkisar antara US$ 95 hingga US$ 120 per barel. Rasio defisit anggaran APBN adalah sekitar 1,5-2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 yang merupakan lampiran dari UU APBN Tahun 2009 ini, sasaran ekonomi makro yang dicantumkan adalah sasaran ekonomi makro yang merupakan kesepakatan Pembicaraan Pendahuluan tersebut di atas. Pembicaraan pendahuluan dilanjutkan dengan penyusunan RAPBN 2009. Pada saat penyusunan RAPBN 2009, perekonomian diwarnai berbagai gejolak eksternal yang penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi. Ketidakpastian ini berawal dari krisis subprime mortgage, dan pada saat yang bersamaan harga-harga komoditi dunia mulai dari minyak bumi, minyak sawit, gandum, dan kedelai mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dengan gejolak eksternal yang diperkirakan berimbas kepada ekonomi domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2009 diperkirakan sebesar 6,2 persen, inflasi diperkirakan sebesar 6,5 persen, dan suku bunga diperkirakan akan mencapai 8,5 persen. Dengan perkiraan akan terjadi pelemahan US$ dan pengelolaan cadangan devisa yang baik, maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat dan mencapai Rp 9.100,0/US$. Selanjutnya, sehubungan dengan ketidakpastian politik internasional, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menyebabkan relatif tingginya harga minyak mentah internasional sehingga asumsi rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) diperkirakan akan meningkat menjadi $130. Dengan besaran ekonomi makro sedemikian dan dalam rangka terus memberikan stimulus fiskal bagi pembangunan, maka defisit APBN dinaikkan menjadi 1,9

Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat. maka Pemerintah dan DPR kembali merevisi angka ekonomi makro pada tanggal 13-15 Oktober 2008 dengan kesepakatan sebagai berikut. pertambangan.3 persen. defisit APBN menjadi 1 persen.0/US$. dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. disepakati hal-hal sebagai berikut. sejalan dengan krisis keuangan Amerika yang semakin menjalar keseluruh dunia. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 sebesar 6.0/US$ setelah mempertimbangkan koreksi nilai tukar yang tejadi akibat kelangkaan likuiditas ekonomi dunia.0 per barel dengan melihat perkembangan harga minyak terkini serta prospek harga future. Dengan demikian. Pada akhirnya. Perubahan Kerangka Ekonomi Makro 2009 . masih ada potensi risiko akibat kenaikan inflasi yang disebabkan oleh imported inflation dari nilai tukar. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kecenderungan penurunan harga minyak dan komoditi. Dalam perkembangannya. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut telah mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia serta mempertahankan prioritas program pembangunan yang telah direncanakan di RKP tahun 2009.400.2 persen. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7.7 persen terhadap PDB. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.persen terhadap PDB. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. termasuk indonesia. Dari sisi produksi. Harga minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 80. sampai saat-saat terakhir pembahasan suasana ketidakpastian dalam perekonomian terus berlanjut.5 persen. manufaktur.0 persen. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal. Namun demikian.2 persen.0 persen. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan upaya mendorong sektor riil.0 per barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun. Besaran ekonomi makro ini selanjutnya dibicarakan dalam pembahsan RUU tentang APBN Tahun 2009 beserta Nota Keuangan. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 8.5 persen menurun dari 8. pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertaman. Defisit APBN turun menjadi 1. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus meningkat.150. Harga minyak mentah dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 95. serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi. Dalam kesepakatan Pembicaraan Tingkat I.

000 .8 .4 6. efektivitas. dan kabupaten/kota.7 9.2 1. transparansi. dalam satu instansi dan antar instansi.6.5 .200 (Rp US$) Suku Bunga 7.9 9.2.150 8.5 . mensyaratkan keterpaduan dan sinkronisasi antar kegiatan. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.3 6. baik dalam kerangka regulasi maupun dalam kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum.0 APBN/PDB(%) Nilai Tukar .5-2.6.400 7.9. akuntabilitas dan partisipasi.9.0 .2 6.0 9.5 130 6. Kementerian.5 1.0 6. dengan tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada masing-masing lembaga serta pembagian urusan antara pemerintah pusat.0 95 6.120 ICP (US$/br) 6.5 SBI (%) Harga Minyak 95 . dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.8. Pelaksanaan kegiatan. sesuai dengan peraturan .4 Ekonomi (%) Inflasl (%) 6 5. provinsi.5 80 ------------------------------------------------------------------------- BAB 4 KAIDAH PELAKSANAAN Dalam melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009.100 8.0 1.5 Defisit 1.2 1. baik di antara-kegiatan dalam satu program maupun kegiatan antar program.-------------------------------------------------------------------------PEMBICARAAN RAPBN PEMBICARAAN TK I UU APBN PENDAHULUAN 2009 RUU APBN & TAHUN 2008 KERANGKA RKPPENYUSUNAN NOTA KEUANGAN EKONOMI 2009 RAPBN 2009 2009 MAKRO 16-19 Agustus 3-19 Oktober Juni 2008 2008 September 2008 2008 -------------------------------------------------------------------------Penumbuhan 6.

ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan RKP 2009 sebagai berikut: 1. b. RKP Tahun 2009 merupakan acuan bagi Kementerian. Kementerian. baik yang berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan. dan lembaga pemerintah non-departemen. Kementerian. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah pusat. Pemerintah Daerah. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009.Uraian rencana penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. Peraturan Presiden (perpres). dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP). seperti Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota. telah dilaksanakan proses musyawarah antar pelaku pembangunan melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang. Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus).RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman bagi Lembaga Negara. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat. dan Musrenbang Nasional (Musrenbangnas).perundang-undangan yang berlaku. atau Peraturan Menteri/Kepala Lembaga. maka masing-masing instansi pemerintah (kementerian/lembaga).Pemerintah wajib menyampaikan rancangan APBN Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing lembaga negara. Musrenbang Provinsi. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan program dalam rangka koordinasi perencanaan. setelah menerima pagu sementara Tahun 2009. periu menyesuaikan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja-KL) menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (RKA-KL) sebagai berikut: a. d. atau sudah menjadi kewenangan daerah. c. 2.Lembaga Negara. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. tugas pembantuan. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen dalam menyusun kebijakan publik. Sehubungan dengan itu. yang dilaksanakan melalui asas . tugas dekonsentrasi. Untuk mengupayakan keterpaduan. departemen.Uraian penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) di atas perlu menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. serta masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan program-program RKP Tahun 2009 dengan sebaik-baiknya.

c. masyarakat luas dan dunia usaha dapat berperanserta dalam pelaksanaan program-program pembangunan berdasarkan rancangan peran serta masyarakat dalam kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. atau tugas pembantuan yang diterima pemerintah kabupaten/kota dari pemerintah pusat. Masyarakat luas juga dapat berperanserta dalam pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan kegiatan dalam program-program pembangunan.Masyarakat luas dapat berperanserta seluas-luasnya dalam perancangan dan perumusan kebijakan yang nantinya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan setiap program dalam rangka koordinasi perencanaan. merumuskan matriks rencana tindak pada setiap bidang pembangunan (matriks rencana tindak menjadi lampiran dari setiap bidang pembangunan) menjadi dokumen RKP Tahun 2009. perlu juga menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. 4. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Daerah (perda) dan Peraturan Gubernur/Bupati/Wali Kota. b. 5.dekonsentrasi. RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun kebijakan publik.Uraian penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009.Bagi Pemerintah Daerah (provinsi/kabupaten/kota). yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) diatas. masing-masing instansi daerah perlu menyempurnakan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2009 sebagai berikut: a. di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). yang dilaksanakan langsung sebagai kewenangan daerah. Berkaitan dengan pendanaan pembangunan. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah daerah.Uraian rencana penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. ataupun yang dilaksanakan melalui tugas pembantuan. . baik berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum dalam Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2009. dengan mendapatkan masukan dari seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Untuk mengupayakan keterpaduan. 3.Pemerintah daerah wajib menyampaikan rancangan APBD Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing instansi daerah. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah.Pemerintah Pusat. tugas dekonsentrasi yang diterima pemerintah provinsi dari pemerintah pusat.

melakukan tindakan koreksi yang diperlukan. 7.Pada akhir tahun anggaran 2009. .Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program. setiap Kementerian/Lembaga Pemerintah Non-Departemen dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan. serta kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan APBN/APBD dan peraturan-peraturan lainnya.6. kesesuaiannya dengan rencana alokasi anggaran yang ditetapkan dalam APBN/APBD. setiap instansi pemerintah wajib melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang meliputi evaluasi terhadap pencapaian sasaran kegiatan yang ditetapkan. dan melaporkan hasil-hasil pemantauan secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->