UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 41 TAHUN 2008 (41/2008) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; b. bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. bahwa APBN Tahun Anggaran 2009 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; d. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat; e. bahwa sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; f. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2009 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 33/DPD/2008 tanggal 2 Juli 2008; g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, e, dan f, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; Mengingat :

1. 2. 3.

4. 5.

6.

7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

14.

15.

16. 17.

18. 19. 20.

21.

22.

23. 24.

25.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746); Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133,

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009. serta pendapatan badan layanan umum (BLU).Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam. 7. bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN). dan pajak lainnya.Cost recovery adalah pengembalian atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan (recoverable cost) oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan menggunakan hasil produksi minyak bumi dan gas bumi (migas) sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini. 4.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). penerimaan negara bukan pajak lainnya. 3.Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan. pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. penerimaan negara bukan pajak. yang dimaksud dengan : 1. dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. 5.Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. pajak bumi dan bangunan. serta tidak secara terus menerus.Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah.Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan oleh pihak swasta dalam negeri dan pemerintah daerah serta sumbangan oleh pihak swasta dan pemerintah luar negeri. yang tidak perlu dibayar kembali.Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah .Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. 6.Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea ke luar. cukai. 9. 8. 2.

14. yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan untuk utang outstanding dan tambahan utang baru. atau mengimpor barang dan jasa. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. jaringan.Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal outstanding).Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai. fungsi kesehatan. 13.Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang. sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. . yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa. peralatan dan mesin. Badan Usaha Milik Daerah. 15. baik utang dalam negeri maupun luar negeri. serta dalam bentuk fisik lainnya.Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat.pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga. atau lembaga/organisasi internasional yang tidak perlu dibayar kembali. atau jasa dari Pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara. gedung dan bangunan.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. 18. belanja hibah. fungsi pariwisata dan budaya.Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. 10.Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah. dan fungsi perlindungan sosial. barang. termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang. fungsi lingkungan hidup. belanja modal. pensiunan. 11. menjual. 17. fungsi ekonomi. belanja barang. fungsi pendidikan. 16. mengekspor. Pemerintah Negara lain. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat yang membutuhkan. dan pejabat negara. fungsi perumahan dan fasilitas umum. baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri. fungsi pertahanan. subsidi. sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan.Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa. fungsi ketertiban dan keamanan. dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat serta belanja perjalanan.Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada bahan bakar minyak dan tenaga listrik. fungsi agama. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. dan belanja lain-lain. baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. 12. bantuan sosial. pembayaran bunga utang.

yang terdiri atas dana bagi hasil. selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. serta tidak secara terus menerus. 26.Dana alokasi khusus. dan dana cadangan umum.Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga.bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. serta hibah ke daerah.Dana alokasi umum. 23.Dana bagi hasil. dana otonomi khusus dan penyesuaian. 25. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial. 21. .Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan. selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dana alokasi umum. dan dana alokasi khusus. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 12 (dua belas) sampai dengan angka 19 (sembilan belas). 19.Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah. 22. 24. 20.

Surat berharga syariah negara.27. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat.Surat utang negara.Sisa lebih pembiayaan anggaran. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. dan dana bergulir. 37. yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. adalah selisih lebih realisasi pembiayaan atas realisasi defisit anggaran yang terjadi.Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan membantu mendukung percepatan pembangunan di daerah. 28. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. 34. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah. 38. yang tidak perlu dibayar kembali. atau dapat disebut sukuk negara. dan dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu. hasil pengelolaan aset. 33. selanjutnya disingkat SBSN. adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat.Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari .Privatisasi adalah penjualan saham persero. 29. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. serta tidak secara terus menerus. baik sebagian maupun seluruhnya. 35. 36. 30. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi. selanjutnya disingkat SBN meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah negara. baik dalam matauang rupiah maupun valuta asing.Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN. 31. serta pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) yang diterushibahkan ke daerah. selanjutnya disingkat SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam matauang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.Hibah ke daerah adalah dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk rupiah.Restrukturisasi BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN.Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha.Surat berharga negara. sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN. 32. surat berharga negara. selanjutnya disingkat SILPA.

00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek.000. untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Pasal 2 (1)Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 diperoleh dari sumber-sumber: a. termasuk gaji pendidik.970.000.Penerimaan hibah.522.328.000.000. 40. b. (3)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258.943. dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).558.Tahun anggaran 2009 adalah masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2009.Penerimaan perpajakan.522.Penerimaan negara bukan pajak.000. dan c. namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan.Pinjaman program adalah pinjaman yang diterima dalam bentuk tunai (cash financing) yang pencairannya mensyaratkan dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak seperti matriks kebijakan (policy matrix) atau dilaksanakannya kegiatan tertentu.000.800. dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp985.842.Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan berdasarkan Undang-Undang ini. (5)Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 42. 41.725.00 (sembilan ratus tiga puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah).Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/ lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).Persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran belanja negara. 43. ayat (3). (2)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp725. (4)Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp938. 39. .

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar Rp249.970.200.200.000.000.916.00 (lima ratus miliar rupiah).00 (tiga ratus lima puluh tujuh triliun empat ratus miliar empat ratus tujuh puluh juta rupiah).700.000.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp7. dan (iii) terminasi dini hak eksklusif PT Telkom (Pasal 25/29 badan) sebesar Rp250.000. d.000.Pasal 3 (1)Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari : a.000.000.000.000. b.000.000.400.000.00 (empat triliun dua ratus tujuh puluh tiga miliar dua ratus juta rupiah).00 (empat puluh sembilan triliun empat ratus sembilan puluh empat miliar tujuh ratus juta rupiah).Pajak Penghasilan sebesar Rp357. dan b.00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah).00 (tujuh triliun tujuh ratus lima puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah). (2)Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp697.000.000. termasuk PPh ditanggung Pemerintah atas: (i) komoditi panas bumi sebesar Rp800. (3)Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada . yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.Pajak lainnya sebesar Rp4.000.Pajak dalam negeri.Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp28.00 (sepuluh triliun rupiah).470.000.346.Cukai sebesar Rp49.000. e.000.508.000.000.000. f.000.753.00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah). yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000.000.700.273.000.000.300. c. dan (ii) BBM bersubsidi (PT Pertamina/Persero) sebesar Rp10.000.000.494.00 (delapan ratus miliar rupiah). yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. (ii) bunga atas surat berharga negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp1.000.Pajak perdagangan internasional. yang terdiri dari : a.000.00 (enam ratus sembilan puluh tujuh triliun tiga ratus empat puluh enam miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah).600. termasuk BPHTB ditanggung pemerintah atas kekurangan DTP BPHTB PT Pertamina (Persero) tahun 2007 sebesar Rp500.000. termasuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas: (i) sektor-sektor tertentu dalam rangka penanggulangan dampak perlambatan ekonomi global dan pemulihan sektor riil (counter cyclical) sebesar Rp10.000.00 (dua ratus empat puluh sembilan triliun lima ratus delapan miliar tujuh ratus juta rupiah).00 (dua puluh delapan triliun sembilan ratus enam belas miliar tiga ratus juta rupiah).00 (sepuluh triliun rupiah).000.000.

496. (2)Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp173.000.000.070. dan apabila terdapat temuan ketidakwajaran.Penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi (SDA Migas) sebesar Rp162.00 (sembilan belas triliun seratus enam puluh miliar empat ratus juta rupiah).400.000. termasuk kerugian daerah dalam kerangka bagi hasil. b. terdiri dari : a.00 (sebelas miliar lima puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar Amerika Serikat). dengan ketentuan: (i)Penerimaan SDA Migas tersebut memperhitungkan cost recovery sebesar US$11. serta swap Conoco dan Chevron. dan d.160. (4)Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.477.Bea ke luar sebesar Rp9.000. naik dari besaran tahun 2008 sebesar US$10.000.00 (sepuluh miliar empat ratus tujuh puluh tiga juta dolar Amerika Serikat).050. (ii)Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditugaskan untuk melakukan audit atas kewajaran unsur biaya dalam cost recovery sejak tahun 1997.Penerimaan sumber daya alam. maka BPK wajib melaporkan estimasi besaran kerugian negara yang timbul.123.000. yang disebabkan oleh kenaikan lifting gas on stream Exxon dan Tangguh.000. Pasal 4 (1)Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari : a.Penerimaan negara bukan pajak lainnya.00 (dua puluh delapan triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar rupiah). c.000.000.Bea masuk sebesar Rp19.00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah).000.000.00 (seratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus sembilan puluh enam miliar lima ratus dua puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah).00 (seratus enam puluh dua triliun seratus dua puluh tiga miliar tujuh puluh juta rupiah). yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.000. yang terdiri dari: a. b.ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp28.Pendapatan BLU.000.Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara.00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh lima miliar enam ratus juta rupiah).000. dan disampaikan dalam Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun .500.000.000.496.521.600. termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu sebesar Rp2.750.335.473.

Anggaran 2009 untuk dapat ditindaklanjuti.477. .Penerimaan sumber daya alam nonminyak bumi dan gas bumi (SDA Nonmigas) sebesar Rp11. (3)Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp30. namun juga disesuaikan dengan standar pembebanan yang berlaku umum sebagaimana dimaksud pada butir (2).373.235.000. 5. (5)Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d direncanakan sebesar Rp5. yang antara lain memuat : 1.442.00 (sebelas triliun tiga ratus tujuh puluh tiga miliar empat ratus lima puluh satu juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah).000.210. (4)Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp49.797.Unsur biaya yang dapat dikategorikan dan diperhitungkan sebagai unsur cost recovery. 3. sehingga acuan cost recovery dalam Exhibit Contract perlu ditinjau kembali. (iii)Pemerintah ditugaskan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang cost recovery.000.Standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery. b.794.Cost recovery senantiasa harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. 4.451.00 (empat puluh sembilan triliun dua ratus sepuluh miliar delapan ratus satu juta dua ratus empat puluh delapan ribu rupiah).248.000.00 (tiga puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh empat miliar rupiah). dalam hal ini terhadap sebagian aset yang dikelola oleh Badan Layanan Umum Gelora Bung Karno dan sebagian atau seluruh aset yang dikelola Badan Layanan Umum Kompleks Kemayoran akan ditetapkan sebagai Penyertaan Modal Negara dalam suatu Badan Usaha Milik Negara.00 (lima triliun empat ratus empat puluh dua miliar dua ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah). (iv)Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) ditugaskan untuk memperkuat pengawasan dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor migas.000.Pemberlakuan Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan efektif mulai 1 Januari 2009. (6)Penunjukan Gelora Bung Karno dan Kompleks Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum dalam rangka optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat ditinjau kembali sesuai peraturan perundang-undangan.Standar tersebut tidak hanya berpedoman pada Exhibit Contract.801.000. 2.

037.346. (3)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp320. ayat (3).00 (tiga ratus dua puluh triliun enam ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta rupiah).00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).Belanja pemerintah pusat menurut organisasi.(7)Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4)Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp716.122.376. program. (6)Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2009 menurut .000.992.067.376.122.346.Belanja pemerintah pusat menurut fungsi.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). (3)Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp716.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).000. b.Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja.346.000. ayat (4). fungsi. dan b.690. (2)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716. (5)Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran.Anggaran transfer ke daerah.376.000.000.376. dan c. dan ayat (5) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. (4)Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp1.346. kegiatan dan jenis belanja dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).122. (2)Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp716.122. Pasal 6 (1)Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas : a.Anggaran belanja pemerintah pusat.122.338.000.00 (tujuh ratus enam belas triliun tiga ratus tujuh puluh enam miliar tiga ratus empat puluh enam juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). Pasal 5 (1)Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 terdiri dari : a.000.

Pasal 9 (1)Pemerintah menjamin kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan.Penyediaan Domestic Market Obligation (DMO) batubara yang berasal dari kebutuhan ketersediaan inkind batubara. dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). b. Pasal 7 Pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam tahun anggaran 2009 ditempuh dengan kebijakan penetapan besaran subsidi BBM sesuai dengan Undang-Undang APBN dengan toleransi alokasi maksimum dari realokasi cadangan risiko fiskal. menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3).organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).Perluasan penerapan kebijakan tarif insentif dan disinsentif untuk pelanggan dengan daya di bawah 6. (3)Pemerintah Daerah diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 Nopember 2008. pemerintah menjamin harga gas untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga domestik.Penerapan tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pelanggan dengan daya 6.600 VA (volt ampere) ke atas.Penerapan diversifikasi tarif regional seperti Batam dan Tarakan pada daerah-daerah lain. c. (2)Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pangan terutama pupuk pada masa yang akan datang. e.600 VA. Pasal 8 Pengendalian anggaran subsidi listrik dalam tahun anggaran 2009 dilakukan melalui : a.Penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) dari PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) dan KKKS berkoordinasi dengan BP MIGAS. Pasal 10 (1)Dalam rangka kesinambungan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk . d.

(2)Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari pagu kementerian negara/lembaga masing-masing dalam tahun anggaran 2009. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada . maka program/kegiatan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009 yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (2)Pengajuan usulan luncuran program/kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam bentuk konsep DIPA Luncuran (DIPA-L) paling lambat pada tanggal 16 Januari 2010. program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP). ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 12 (1)Kegiatan-kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur yang dilakukan dalam tahun 2008 namun belum dapat diselesaikan sampai dengan akhir Desember 2008 dapat dilanjutkan penyelesaiannya ke tahun 2009. (4)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). yang pada tahap awal sumber dananya antara lain berasal dari bantuan sosial penanggulangan bencana.mempercepat penanggulangan kemiskinan. Pasal 11 (1)Dalam rangka menjaga kesinambungan penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009. ditetapkan oleh Pemerintah. (3)Pengaturan lebih lanjut pelaksanaan DIPA-L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2)Pendanaan untuk program/kegiatan. dan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK) dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2009. maka bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program/kegiatan nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) yang terdiri dari program pengembangan kecamatan (PPK). (4)Pemerintah dapat melakukan kontrak dan pembiayaan tahun jamak terbatas sampai dengan tahun 2010 untuk mengatasi keperluan mendesak dan belum terprogram. dapat diluncurkan sampai dengan akhir April 2010 sebagai anggaran belanja tambahan Tahun Anggaran 2010. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersumber dari bagian anggaran 069 (belanja lain-lain) dalam tahun 2009. program pengembangan infrastruktur perdesaan (PPIP). (3)Penyelesaian kegiatan-kegiatan tersebut yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa publik mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku.

bantuan kontrak rumah. tunjangan hidup. Pasal 15 (1)Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa : a. (2)Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non-Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan BLU ditetapkan oleh Pemerintah. . maka alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dapat digunakan untuk melunasi kekurangan pembayaran pembelian tanah.perubahan pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN. Kedung Cangkring. ditetapkan oleh Pemerintah. (ii)antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi.perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). (3)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan. dan Mindi). biaya evakuasi dan relokasi pada sembilan rukun tetangga di tiga desa (Siring Barat.ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Pemerintah. atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. dan Penjarakan).pergeseran anggaran belanja: (i)antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. Pasal 13 (1)Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo. dan/atau (iii)antarjenis belanja dalam satu kegiatan. serta untuk bantuan kontrak rumah. b. dan Penjarakan) dilakukan setelah pembayaran pembelian tanah di dalam peta area terdampak selesai dilakukan. dan c. Jatirejo. Kedung Cangkring. Pasal 14 Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengeluaran dalam rangka memenuhi setiap kewajiban yang timbul sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). (2)Kekurangan pembayaran pembelian tanah di luar peta area terdampak pada tiga desa (desa Besuki. tunjangan hidup dan biaya evakuasi di luar peta terdampak pada tiga desa (desa Besuki.

738.000. (5)Perhitungan dan pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.00 (dua puluh empat triliun delapan ratus sembilan belas miliar lima ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah).00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah). (3). dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.000.00 (delapan puluh lima triliun tujuh ratus delapan belas miliar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah).Dana alokasi umum.718.Hibah ke daerah. dan c. Pasal 16 (1)Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.00 (seratus delapan puluh enam triliun empat ratus empat belas miliar seratus juta rupiah).952. . b.000.800.000.Dana otonomi khusus dan penyesuaian. (4)Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp24.000. (2).Dana bagi hasil.100.00 (dua puluh tiga triliun tujuh ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus tujuh puluh delapan juta dua ratus ribu rupiah). (2)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp296. (5)Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1)Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri dari : a. (3)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23.413.(4)Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah.200.Dana perimbangan.578.800.Dana alokasi khusus. dan c.414.819.000. (3)Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp186.725. (4)Hibah ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c nihil. b.588. (2)Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp85.000.

Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp60.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah). sehingga dalam Tahun Anggaran 2009 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp51.(6)Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. (2)Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp8.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4).564.328. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5).Pembiayaan luar negeri neto sebesar negatif Rp9.000.014. lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.000.00 (sembilan ratus delapan puluh lima triliun tujuh ratus dua puluh lima miliar tiga ratus dua puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah).448.790.000.882.200.000. yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran. dan b. Pasal 19 (1)Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp985.000.725.250.000.240.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah).00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah).000. Pasal 18 (1)Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b terdiri dari : a.122.Dana otonomi khusus. (3)Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah).856.037.067.000.338. dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. ayat (3).400. Pasal 20 . (3)Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini. (2)Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber : a.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah).Dana penyesuaian.522.009.342.600.

1% (nol koma satu persen). dan/atau c. Pasal 22 Anggaran belanja bunga utang yang merupakan bagian dari Belanja Pemerintah Pusat telah memperhitungkan hasil restrukturisasi tingkat bunga surat utang (SU) 002 dan SU-004 yang mengacu pada besaran tingkat bunga special rate Bank Indonesia (SRBI) 01 sebesar 0. Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2009 mengenai : a. Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan langkah-langkah : . secara signifikan. (2)Persentase anggaran pendidikan adalah sebesar 20. dan c.penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang menyebabkan turunnya pendapatan negara.000.kenaikan biaya utang. khususnya imbal hasil Surat Berharga Negara.763.413.00 (seribu tiga puluh tujuh triliun enam puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh delapan juta seratus dua puluh dua ribu rupiah).(1)Pada pertengahan Tahun Anggaran 2009.Realisasi pembiayaan defisit anggaran.037.122.Realisasi belanja negara. b. yang merupakan perbandingan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran belanja negara sebesar Rp1. Pasal 21 (1)Anggaran Pendidikan adalah sebesar Rp207. (3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2009.Realisasi pendapatan negara dan hibah. apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : a.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah).067.000.0% (dua puluh koma nol persen). b. Pasal 23 (1)Dalam keadaan darurat.338. dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan.krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional yang membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).531. untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah. (2)Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya.

1.pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2009; 2.pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu kementerian negara/lembaga dan/atau antar kementerian negara/lembaga; 3.penghematan belanja negara dalam rangka peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai; 4.penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral; 5.penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN tahun yang bersangkutan. (2)Pemerintah menyampaikan langkah-langkah kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Laporan Semester I Pelaksanaan APBN dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pasal 24 (1)Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat ditalangi dari dana saldo anggaran lebih (SAL). (2)Pemerintah dapat menerbitkan Surat Berharga Negara untuk membiayai kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan awal tahun anggaran berikutnya. (3)Pemerintah dapat melakukan pembelian kembali SBN untuk kepentingan stabilisasi pasar, dengan tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang ditetapkan. Pasal 25 (1)Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, apabila terjadi : a.Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009; b.Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; c.Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; d.Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan

anggaran Tahun Anggaran 2009. (2)Saldo anggaran lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tidak termasuk saldo anggaran lebih yang merupakan saldo kas di Badan Layanan Umum (BLU), yang penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. (3)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2009 berakhir. Pasal 26 (1)Setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir, Pemerintah menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. (2)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. (3)Laporan Realisasi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan belanja secara akrual. (4)Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual. (5)Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual dalam laporan keuangan tahun 2009 dilaksanakan secara bertahap pada badan layanan umum. (6)Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. (7)Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2009 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta

pada tanggal 10 Nopember 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 171

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 I.UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2009 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2009 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2009 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2009

dan perkembangan suku bunga perbankan.diperkirakan mencapai sekitar 6. dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah.400. Pemerintah menghadapi berbagai masalah dan tantangan. rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai 7. Dalam tahun 2009. (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. antara lain: (i) masih relatif tingginya jumlah penduduk miskin. Di lain pihak. tema pembangunan tahun 2009 adalah "Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan. Sementara itu. impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri.00 (sembilan ribu empat ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat. (ii) terbatasnya akses dan ." Dalam upaya mewujudkan tema pembangunan tersebut. Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2009. dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang sedikit melambat seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.0% (enam koma nol persen). sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2009 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009.0 (delapan puluh koma nol dolar Amerika Serikat) per barel. Sementara itu. Melalui kebijakan fiskal. moneter.5% (tujuh koma lima persen). Untuk itu. dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. dan iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi. pemerintah akan berupaya agar realisasi pertumbuhan ekonomi sesuai dengan asumsi tersebut. yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2009. dan sektor riil yang terkoordinasi. sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 960 (sembilan ratus enam puluh) ribu barel per hari. maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran US$80.2% (enam koma dua persen). maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada tingkat 6. dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok. nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp9. Sejalan dengan itu. terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat. Meskipun perlambatan perekonomian global akan menyebabkan menurunnya kinerja ekspor nasional.

dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat. kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Untuk menghadapi masalah dan tantangan tersebut guna mewujudkan tema pembangunan dalam tahun 2009. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut. pemantapan demokrasi. Program Keluarga Harapan (PKH). reformasi birokrasi. terutama bandara dan pelabuhan. (iii) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. (iii) . menciptakan dan memperluas lapangan kerja. (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM. peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan. di samping tetap menjaga stabilitas nasional. telah ditetapkan prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 sebagai berikut: Pertama. Di samping itu. subsidi listrik. maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada:(i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/lembaga. Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2009 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan. serta pertahanan dan keamanan dalam negeri. Kedua. (ii) peningkatan pembangunan infrastruktur. (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Dengan demikian. Ketiga. subsidi pupuk. peningkatan upaya anti korupsi. percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian. serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Prioritas pembangunan nasional tersebut dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR. dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). dan Jamkesmas. infrastruktur dan energi. Bantuan Operasional Sekolah (BOS).dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. dan subsidi benih. untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. dan (iv) masih lemahnya daya tarik investasi dan daya saing sektor riil. (iii) pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran.

Di samping itu. serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pemerintah dan DPR memprioritaskan pengalokasian anggaran pendidikan 20. Selain itu.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. (ii) hidup sejahtera lahir dan batin. termasuk di dalamnya penganggaran. selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009. melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . keseimbangan pembangunan. dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. yaitu mengenai anggaran pendidikan. agar Mahkamah Konstitusi tidak menyatakan bahwa keseluruhan APBN yang tercantum dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat yang disebabkan oleh adanya bagian dari UU APBN.meningkatkan alokasi program kementerian negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan.0% (dua puluh koma nol persen) tersebut di samping untuk memenuhi amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. Pemerintah dan DPR harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk menyediakan anggaran sekurang-kurangnya 20. dan mendapat pendidikan yang layak. APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.0% (dua puluh koma nol persen) untuk pendidikan. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20.0% (dua puluh koma nol persen) dari APBN Tahun Anggaran 2009 agar UU APBN Tahun Anggaran 2009 yang memuat anggaran pendidikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan sejalan dengan amanat UUD 1945. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. yang bertentangan dengan UUD 1945. Hal tersebut harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Menurut putusan Mahkamah Konstitusi. Selanjutnya. sesuai dengan amanat UUD 1945. (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN. (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam. dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20. bertempat tinggal. juga dalam rangka memenuhi Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 13 Agustus 2008 Nomor 13/PUU-VI/2008. infrastruktur dan energi alternatif. serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009. Dalam kaitannya dengan penanganan bencana alam. negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Selanjutnya.

terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. segala kekayaannya menjadi kekayaan milik negara yang selanjutnya dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. Oleh karena itu. BRR NAD-Nias masih dapat beroperasi hingga April 2009. Dengan demikian. Pasal 26 menyebutkan bahwa: (i) masa tugas BRR akan berakhir setelah 4 (empat) tahun. Berkaitan dengan berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Selain tugas melaksanakan kegiatan pemulihan. pelaksanaan lanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias akan diserahkan kewenangannya kepada kementerian negara/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. mulai tahun 2008 sudah mulai dilakukan persiapan penuntasan masa tugas BRR NAD-Nias. Sementara itu. pada tahun 2009. dan aset-aset lembaga/negara donor/NGO. dan (ii) mengkoordinasikan proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibiayai oleh lembaga/negara donor atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing.(Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. tetapi langsung dialokasikan kepada masing-masing K/L yang bersangkutan. Dalam kerangka tersebut. Sementara itu. (iii) setelah berakhirnya masa tugas BRR. pembiayaan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak lagi dialokasikan pada bagian anggaran 094 (BRR NAD-Nias). Dengan demikian. biaya operasional BRR NAD-Nias akan dialokasikan pada bagian anggaran 069 (anggaran pembiayaan dan perhitungan). (iii) pengalihan personel (SDM). BRR NAD-Nias juga mengemban 2 (dua) tugas pokok. dalam rangka melaksanakan proses administrasi penuntasan tugas. serta (iv) pengalihan dokumen. yaitu: (i) mengelola proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran (didanai oleh APBN). (ii) pengalihan peralatan dan perangkat (aset) melalui identifikasi terhadap: tahap pengalihan aset. yaitu: (i) pengelolaan pendanaan pasca BRR NAD-Nias. telah dibentuk BRR NAD-Nias dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2004. kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. jenis-jenis pengalihan aset. aset-aset BRR NAD-Nias. Kementerian negara/lembaga yang akan melanjutkan kegiatan . tahun 2008 merupakan tahun terakhir dari pelaksanaan proyek-proyek fisik oleh BRR NAD-Nias. dan (iv) pengakhiran masa tugas BRR beserta akibat hukumnya ditetapkan dengan Perpres. Perpu Nomor 2 Tahun 2005. (ii) setelah berakhirnya masa tugas BRR.

pelimpahan. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian. perubahan UU perpajakan yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan diperkirakan akan memberikan dampak pada penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss). adil dan transparan. pembagian. Dalam jangka pendek. Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam APBN Tahun Anggaran 2009. dengan memperhatikan potensi. dan (iv) mengalihkan secara bertahap sebagian anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Undang-undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan. penerapan kebijakan transfer ke daerah dalam tahun 2009 ditujukan untuk: (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. subyek dan obyek pengenaan. UU Cukai. maka penyerahan. Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2009. Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas . diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. UU Kepabeanan.rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias antara lain Departemen Dalam Negeri. realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya. Badan Pertanahan Nasional. yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007 dan 2008. juga diikuti dengan pengaturan. dan kebutuhan daerah melalui reformulasi kebijakan dana perimbangan dan kebijakan lain terkait dengan transfer ke daerah. Departemen Agama. dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional. Departemen Perhubungan. dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggungjawab. Selanjutnya. serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan. yaitu: kondisi ekonomi makro. kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif. kondisi. serta berbagai UU sektoral. demokratis. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. baik penerimaan perpajakan maupun PNBP. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. Sejalan dengan hal tersebut. untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut. dan Bappenas. Departemen Pekerjaan Umum.

(vi) percepatan penyelesaian kewajiban Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas. (iv) pemantauan. (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali. untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window. dan tercatat dalam perhitungan APBN. dengan lebih . dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran. penelaahan. (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan. dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. Selanjutnya. (vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/lifting minyak mentah dan volume gas bumi. Di samping itu. evaluasi. serta pendapatan badan layanan umum (BLU). Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas. optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah. kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untuk mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA). Sementara itu. Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. Untuk menutupi defisit tersebut. dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas. bagian laba BUMN. (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga. Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/lembaga. khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana serta re-evaluasi peraturan-peraturan tentang tata cara pengadaan/pengelolaan hibah sehingga seluruh pengelolaan hibah memiliki arah yang lebih jelas.Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. Di lain pihak. (ii) monitoring. (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga. (iv) melanjutkan harmonisasi tarif bea masuk impor. PNBP lainnya.

untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan anggaran tahun 2009. kenaikan biaya penerbitan SBN dan masalah sistemik di sektor keuangan. dan dialokasikan . dipandang perlu dipersiapkan langkah-langkah di bidang kebijakan fiskal.memprioritaskan pendanaan yang tersedia. bahkan akan menambah. penerbitan SBN akan dilakukan secara berhati-hati dan menjaga pada risiko sekecil mungkin. strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri. Pemerintah bertekad untuk tidak mengurangi belanja prioritas. Selain itu. kebijakan moneter yang kredibel. sehingga dapat dijadikan cadangan terhadap rumahtangga dan sektor yang terkena dampaknya. II. Untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang memburuk yang dapat berdampak pada perekonomian nasional. Terkait hal tersebut. dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto. Dalam kondisi pasar keuangan yang tidak stabil akibat ketatnya likuiditas global. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2009 telah dipersiapkan payung hukum apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan deviasi asumsi makro secara signifikan. strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent. Pasal 2 Cukup jelas. jika diperlukan. Langkah-langkah penanggulangan berupa pembiayaan siaga yang berasal dari pemberi pinjaman lembaga keuangan multilateral dan bilateral.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Dalam keadaan tersebut.

00 (tujuh ratus dua puluh lima triliun delapan ratus empat puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) 411 Pendapatan pajak dalam negeri 697.000.00 4111 Pendapatan pajak penghasilan (PPh) 357. pangan.000.978.196.000.000.000.00 411122 Pendapatan PPh Pasal 22 6.000.110.794.000.346.00 411111 Pendapatan PPh minyak bumi 24.000.000.00 411112 Pendapatan PPh gas alam 32.000. listrik.400. pelayaran. industri terpilih.00 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 impor 25.556. panas bumi.723. Ayat (4) Penerimaan perpajakan sebesar Rp725. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain adalah sektor migas.000. Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas.470.00 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan 136.500.000. dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.000.830.560.00 41112 Pendapatan PPh nonmigas 296. dan transportasi publik.000.00 411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi 3.00 41111 Pendapatan PPh migas 56.00 .000.sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.510. Ayat (3) Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran penerimaan dalam negeri neto.938.000.000.935.00 411127 Pendapatan PPh Pasal 26 22.640.470.370.000. energi.160.000.970.970.755.910.526.000.000.000.842.510. dan sektor-sektor publik.00 411124 Pendapatan PPh Pasal 23 24.000.360.000.000.000.000.000.000. industri terpilih.00 411121 Pendapatan PPh Pasal 21 46. penerbangan.

000.000.00 Pendapatan pajak perdagangan internasional 28.522.700.600.247.00 4114 Pendapatan BPHTB 7.000.000.490.000.738. Ayat (7) Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp258.700.00 41113 Pendapatan PPh fiskal 3.00 4122 Pendapatan bea ke luar 9.000. Ayat (3) Cukup jelas.000.494. Ayat (2) Cukup jelas.000.000.160. Ayat (5) Cukup jelas.00 4121 Pendapatan bea masuk 19.000.00 4112 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah 249.000.240.600.000.000.916. Ayat (4) Cukup jelas.000.00 411513 Pendapatan Cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol 775.00 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 48.000.00 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol 479.496.494.738.000.200.000.335.700.000.700.00 4115 Pendapatan Cukai 49.000.300.000.00 411131 Pendapatan PPh fiskal luar negeri 3.000.400.000.000.000.490.000.00 4113 Pendapatan pajak bumi dan bangunan 28.000.00 4116 Pendapatan pajak lainnya 4. Ayat (6) Cukup jelas.000.00 (dua ratus lima puluh delapan triliun sembilan ratus empat puluh tiga miliar lima ratus lima puluh delapan juta lima ratus dua puluh dua ribu rupiah) terdiri dari : .943.000.000.000.508.412 411128 Pendapatan PPh final 30.100.00 41151 Pendapatan Cukai 49.753.000.600.000.00 Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.273.558.000.

451.000.188.723.00 421111 Pendapatan minyak bumi 123.000.000.000.249.000.00 4231 Pendapatan penjualan dan sewa 14.093.248.000.000.000.794.994.330.00 4212 Pendapatan gas bumi 39. penerbitan.600.740.000.496.00 421211 Pendapatan gas bumi 39.639.00 4215 Pendapatan perikanan 150.000.000.018.168.00 4211 Pendapatan minyak bumi 123.000.505.000.000.740.056.521.477.000. kehutanan.000.401.794.577.00 42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan 6.00 421511 Pendapatan perikanan 150.758.00 4213 Pendapatan pertambangan umum 8. film.000.000.00 421311 Pendapatan iuran tetap 84.000.000.00 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 15.00 423116 Pendapatan penjualan informasi.412.500.00 421312 Pendapatan royalti 8.000.000.400.000.000.000.000.000.029.000.477.000.00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian.00 423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan 11.000.00 423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan 15.520.000.834.235.00 42142 Pendapatan provisi sumber daya hutan 1.938.330.00 4221 Pendapatan bagian pemerintah atas laba BUMN 30.677.00 42141 Pendapatan dana reboisasi 1.600.00 423113 Pendapatan penjualan hasil tambang 6.000.483.000.000.00 423117 Pendapatan penjualan dokumen-dokumen 422 423 .029.000.000.277.527.000. pemetaan dan hasil cetakan lainnya 41.00 4214 Pendapatan kehutanan 2. dan perkebunan 3.(dalam rupiah) 421 Penerimaan sumber daya alam 173.00 423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya 219.211.133.00 Pendapatan PNBP lainnya 49.801.625.000.210.794.000.866.00 Pendapatan bagian laba BUMN 30.500. survey.432.093.000.

949.00 423143 Pendapatan sewa bendabenda bergerak 6.964.00 423149 Pendapatan sewa bendabenda tak bergerak lainnya 5.000.557.533.000. bangunan.241.000. dan BPKB 2.00 42321 Pendapatan jasa I 11.285.490.pelelangan 220.00 42314 Pendapatan sewa 102.270.000.944.147.037.365.000.374.000.355.054.00 423142 Pendapatan sewa gedung.160.000.000.000.000.268.991.00 423122 Pendapatan penjualan kendaraan bermotor 1.000.193.000.00 423214 Pendapatan hak dan perijinan 5. SIM.000.393. STNK.381.000.659.00 423123 Pendapatan penjualan sewa beli 30.00 423121 Pendapatan penjualan rumah. bangunan.00 42313 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas 7.000. dan tanah 41.000.260.00 423211 Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya 38.390.000.000.000.000.944.00 4232 Pendapatan jasa 16.502.332.00 423213 Pendapatan surat keterangan.490.061.274.511.00 423215 Pendapatan sensor/ karantina.217.814.097.00 42312 Pendapatan penjualan aset 33.997. dan gudang 70.000. gedung.429. visa.612.00 423141 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri 20.00 423212 Pendapatan tempat hiburan/taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA) 14.000. paspor.00 423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/ dihapuskan 1. pengawasan/ .000.991.226.891.00 423132 Pendapatan minyak mentah (DMO) 7.649.00 423119 Pendapatan penjualan lainnya 78.

807.00 42325 Pendapatan atas pengelolaan .000.660.983.075.000.pemeriksaan 58.225.274.065. pelatihan.458.000.000.000.903.000.00 423218 Pendapatan jasa bandar udara.000.199.00 42323 Pendapatan jasa luar negeri 380.263.000.662.659.00 423228 Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara 61.00 423221 Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro) 42.906.00 423217 Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama 73.00 423226 Pendapatan uang pewarganegaraan 3.000.000.432.00 423222 Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi 1.000. teknologi.932. dan kenavigasian 317. pendapatan DJBC 2.00 42322 Pendapatan jasa II 1.00 423231 Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia 285.000.00 423225 Pendapatan biaya penagihan pajak negara dengan surat paksa 3.00 423229 Pendapatan registrasi dokter dan dokter gigi 2.307.000.081. pekerjaan.000.00 423216 Pendapatan jasa tenaga.052.00 423232 Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler 85.500.007.190.00 423241 Pendapatan layanan jasa perbankan 8.000.947.218.932.00 423227 Pendapatan bea lelang 38.903.489. pendapatan BPN.157.630.00 42324 Pendapatan layanan jasa perbankan 8. kepelabuhan. informasi.122.000.249.458.000.500.391.555.261.000.00 423239 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri 9.000.000.000.

794.450.00 4234 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.00 423415 Pendapatan ongkos perkara 10.00 423411 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.000.844.000.494.000.00 423519 Pendapatan pendidikan lainnya 1.00 423414 Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya 18.000.000.00 423419 Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya 1.508.000.00 423413 Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan) 721.450.00 423511 Pendapatan uang pendidikan 3.00 42341 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 33.560.00 423313 Pendapatan bunga dari piutang dan penerusan pinjaman 1.809.385.00 423512 Pendapatan uang ujian masuk.000.000.00 .830.00 42331 Pendapatan bunga 1.000.000.00 4235 Pendapatan pendidikan 5. dan akhir pendidikan 174.000.785.000.943.450.555.224.000.642.662.000.000.000.000.505.937.000.163.311.862.330.385.000.000.rekening tunggal Perbendaharaan (treasury single account) dan/atau atas penempatan uang negara 3.000.809.00 423291 Pendapatan jasa lainnya 20.000.073.298.122.000.394.000.000.633.00 423319 Pendapatan bunga lainnya 350. kenaikan tingkat.00 42329 Pendapatan jasa lainnya 20.000.00 42351 Pendapatan pendidikan 5.000.330.508.122.000.000.000.00 4233 Pendapatan bunga 1.633.935.298.063.844.00 423412 Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan 290.917.00 423513 Pendapatan uang ujian untuk menjalankan praktik 111.

000.000.104.000.267.000.000.000.000.00 423614 Pendapatan uang pengganti tindak pidana korupsi yang ditetapkan di pengadilan 29.000.000.00 4237 Pendapatan iuran dan denda 687.000.00 423711 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM 355.000.000.588.00 42371 Pendapatan iuran badan usaha 469.422.000.000.4236 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.000.000.000.996.000.336.000.00 42361 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi 38.484.000.700.830.00 423752 Pendapatan denda keterlambatan .900.000.00 423712 Pendapatan iuran badan usaha dari kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa 73.000.000.00 423721 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.00 42373 Pendapatan dari perlindungan hutan dan konservasi alam 14.000.336.600.00 42372 Pendapatan dana pengamanan hutan 199.000.700.961.000.563.494.494.00 423612 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara 2.000.000.00 423713 Iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 40.00 423731 Pendapatan iuran menangkap/mengambil/ mengangkut satwa liar/ mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup atau mati 7.939.879.00 423735 Pungutan masuk obyek wisata alam 7.000.00 42375 Pendapatan denda 4.00 423611 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadilan 6.

000.00 424111 Pendapatan jasa pelayanan rumah sakit 3.482.071.000.617.007.000.00 42399 Pendapatan lain-lain 22.000.591.392.00 424112 Pendapatan jasa pelayanan pendidikan 124.575.00 423921 Pendapatan pelunasan piutang nonbendahara 9.00 423912 Penerimaan kembali belanja pensiun TAYL 76.00 423911 Penerimaan kembali belanja pegawai pusat TAYL 4.893.347.00 423999 Pendapatan anggaran lain-lain 6.334.750.797.821.975.000.871.454.000.000.950.473.154.982.00 4241 Pendapatan jasa layanan umum 5.235.00 Pendapatan badan layanan umum 5.251.509.527.531.00 42392 Pendapatan pelunasan piutang 1.000.010.528.832.000.000.000.167.851.420.00 423913 Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni TAYL 9.375.000.00 42391 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu 9.000.000.00 424113 Pendapatan jasa .285.654.00 423753 Pendapatan denda administrasi BPHTB 29.043.000.086.235.000.000.000.500.000.923.00 42411 Pendapatan penyediaan barang dan jasa kepada masyarakat 5.000.00 423914 Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri TAYL 1.831.000.442.00 4239 Pendapatan lain-lain 10.00 423991 Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji 16.238.00 423922 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara 1.00 423919 Penerimaan kembali belanja lainnya TAYL 2.424 penyelesaian pekerjaan pemerintah 4.

106.000.00 424133 Pendapatan program modal ventura 5.541.000.00 42431 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.4243 pelayanan tenaga.00 424134 Pendapatan program dana bergulir sektoral 3.621.000. pekerjaan.287.00 424135 Pendapatan program dana bergulir syariah 305.108.00 Pendapatan hasil kerja sama BLU 21.800.00 424117 Pendapatan jasa pelayanan pemasaran 21.000.309.618.00 424116 Pendapatan jasa telekomunikasi 842.00 424115 Pendapatan jasa bandar udara.266.000.131.000. Pasal 7 Realokasi cadangan risiko fiskal adalah realokasi dana cadangan risiko perubahan parameter harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) setahun dan lifting minyak sebesar Rp6.445.618. kepelabuhan.437.00 (enam triliun rupiah).00 Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas.00 424119 Pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya 27.618.00 424139 Pendapatan pengelolaan dana khusus lainnya 54. pelatihan dan teknologi 34.000.000.412.000.527. .000.000.000.000.000.000. informasi.266.000.00 424136 Pendapatan investasi 121.105.437.653.392.625.477.266.911.307.000.00 424312 Pendapatan hasil kerjasama lembaga/badan usaha 21.000.367.00 42413 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat 185. dan kenavigasian 933.

Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN Tahun Anggaran . Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk hibah luar negeri yang diterima setelah APBN ditetapkan. Pasal 10 Cukup jelas. Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama. Pasal 9 Cukup jelas.Pasal 8 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian negara/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku. Pasal 12 Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas.800.Pajak penghasilan Pasal 21 9.000.00 .000. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.754.952.089. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.000.204. DBH Pajak 45.387.725. terdiri dari: (dalam rupiah) 1. Ayat (6) Dana perimbangan sebesar Rp296.2009 dan pinjaman yang bersumber dari pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2009 setelah APBN Perubahan 2009 kepada DPR.000.00 a.000.718. Ayat (5) Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran anggaran belanja pemerintah pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2009 kepada DPR. DBH Pajak Penghasilan 10. Dana Bagi Hasil (DBH) 85.022.000.00 (dua ratus sembilan puluh enam triliun sembilan ratus lima puluh dua miliar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah).00 i.000.404.000.413.00 . Pasal 16 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. yang bukan merupakan kelanjutan dari multiyears project.000.

000.546.Dana Reboisasi 494.118.000.00 Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dana otonomi khusus sebesar Rp8.00 b.215. b. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 7.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.000.856.500.00 .Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi 702.00 (delapan triliun delapan ratus lima puluh enam miliar lima ratus enam puluh empat juta rupiah) terdiri dari: 1.152.00 iv.505.00 (dua triliun enam ratus sembilan miliar tujuh ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).00 iii. DBH SDA Kehutanan 1.2.000.000. DBH SDA Minyak Bumi 19.300.000. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan. DBH Pajak Bumi dan Bangunan 27.00 iv.000.00 Dana Alokasi Khusus (DAK) 24.000.000.Alokasi dana otonomi khusus Papua dan Papua Barat sebesar Rp3.00 (satu triliun seratus delapan belas miliar empat ratus delapan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah).240.000.600.446.588.000.000. DBH SDA Pertambangan Umum 6.000. DBH Sumber Daya Alam 39.000.00 .000.100.564.978.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah) yang disepakati untuk dibagi masing-masing dengan proporsi 70 persen untuk Papua dan 30 persen untuk Papua Barat dengan rincian sebagai berikut: a.000.Iuran Hak Pengusahaan Hutan 12.600.798.000.Iuran Tetap 67.000.182.000.400.000.000.802. .000.369.253.000.964.207.Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar Rp2.000.760.000.000. DBH SDA Perikanan 120.484.00 .728. 3.000.911.414.000.000.000. DBH SDA Gas Bumi 12.000.00 .282.000.00 iii.761.00 ii.Royalti 6.Provisi Sumber Daya Hutan 999.00 i.151.609.00 v.000.000. sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang .00 .000.000.000.00 Dana Alokasi Umum (DAU) 186.000.800.00 ii. DBH Cukai 964.819.797.000.321.000.

sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dana Otonomi Khusus Propinsi Papua tersebut dibagikan kepada Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat. 2.000.00 (tiga triliun tujuh ratus dua puluh delapan miliar dua ratus delapan puluh dua juta rupiah).400.000. 3.000.Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp1.Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. dan untuk tahun keenambelas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. Dana otonomi khusus NAD direncanakan.000.000. Dana Otonomi Khusus Aceh diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.00 (enam ratus miliar rupiah).Alokasi dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp3. Dana Tambahan Infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi Provinsi Papua sebesar Rp800. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku.728.000. serta dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).000. Perencanaan sebagian besar dari penggunaan dana otonomi khusus tersebut direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi NAD dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota dalam Pemerintah Provinsi NAD serta merupakan lampiran dari APBA. pemberdayaan ekonomi rakyat.000. Pencairan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat .00 (satu triliun empat ratus miliar rupiah).00 (delapan ratus miliar rupiah) dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp600. dilaksanakan. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. terutama ditujukan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008.000. pengentasan kemiskinan. sosial.000. dan kesehatan. serta pendanaan pendidikan.000.282.

3.882. 4.200.00 (tujuh triliun rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal dan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.100.Dana tambahan DAU sebesar Rp7.100.000. Ayat (3) Dana penyesuaian sebesar Rp14.342.Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp60.00 (empat belas triliun delapan ratus delapan puluh dua miliar empat belas juta dua ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.267.250. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas.000.000.000.00 (tujuh triliun empat ratus sembilan puluh miliar rupiah).014.490.000.Dana tambahan DAU untuk guru pegawai negeri sipil daerah sebesar Rp7.000.000.000.Kurang bayar DAK tahun 2007 sebesar Rp295. Terdapat kekurangan dana tambahan otonomi khusus infrastruktur Provinsi Papua tahun anggaran 2008 sebesar Rp670. yang diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan.600. 2.00 (enam puluh triliun tujuh ratus sembilan puluh miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) .000.00 (enam ratus miliar rupiah) tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan penyerapan dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua Barat tahun anggaran 2008.00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dapat diusulkan untuk dialokasikan dalam APBN-P tahun 2009.000.Kurang bayar dana prasarana infrastruktur lainnya tahun 2007 sebesar Rp96.000.00 (lima puluh satu triliun tiga ratus empat puluh dua miliar sembilan juta enam ratus ribu rupiah) terdiri dari: 1.000.747.000. Ayat (3) Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp51.tahun anggaran 2009 sebesar Rp600.790.000. Ayat (2) Cukup jelas.009.000.000.000.00 (sembilan puluh enam miliar tujuh ratus empat puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).00 (dua ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus enam puluh tujuh juta seratus ribu rupiah).000.000.

000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batubara oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).250.00 Non-perbankan dalam negeri 44.000. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik.000.00 ii.00 i.000.000. pembayaran pokok.00 ii.000.565. dan pembelian kembali SBN. Sisa Anggaran Lebih (SAL) 2008 2.966.00 i. Hasil pengelolaan aset 2. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. Dana Investasi Pemerintah dan restrukturisasi BUMN -13. Pemerintah memberikan jaminan penuh atas kewajiban pembayaran pinjaman PT PLN (Persero) kepada kreditur perbankan.088. Surat berharga negara (neto) 54.000.599. tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional. baik SBN konvensional maupun SBSN (Sukuk).000. Rekening pembangunan hutan 1. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan.000.629. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) apabila terealisir.00 Hasil pengelolaan aset sebesar Rp2.000.549.719.361.000.966.00 iii.000.106.00 iii. sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.622.000.565.690. Perbankan dalam negeri 16.000. Privatisasi 500.161.565.000.000.400.136.000.161.000.000.00 iv.400.00 iv.945.00 (satu triliun rupiah). Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan atas pinjaman PT PLN (Persero) tersebut di atas diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan memperhatikan peraturan .00 (dua triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) terdiri dari: (i) penjualan aset Rp3.000.00 (tiga triliun lima ratus enam puluh lima miliar rupiah) dan (ii) restrukturisasi BUMN negatif Rp1.911. akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar.696.966. Pelunasan piutang negara (PT Pertamina) 9. Jaminan pemerintah dimaksud diberikan atas risiko/kemungkinan PT PLN (Persero) tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran terhadap kreditur (payment default).455.000.000. b.000.000.a.000. Surat berharga negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali.034.000. Rekening dana investasi 3.

Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -61.000.240.000.945.perundang-undangan yang berlaku.000.720.400.00 (satu triliun rupiah).000.000.00 (satu triliun sembilan ratus delapan puluh enam miliar lima ratus empat puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp9.361. .00 (satu triliun rupiah).440. Dalam rangka restrukturisasi utang PT Garuda dengan Export Credit Agency (ECA).00 b.000.00 Pinjaman proyek 25.198.00 Pinjaman program 26.957. dan (v) dana bergulir sebesar negatif Rp 1. Pemerintah melakukan penjaminan terhadap PT Garuda dalam bentuk jaminan Standby Letter of Credit kepada bank-bank BUMN. (ii) penyertaan modal negara untuk PT Pertamina sebesar negatif Rp 9.911.000.000.000.986.455.600.966.000. a. (iii) pendirian lembaga penjaminan infrastruktur (guarantee fund) sebesar negatif Rp 1.609. (iv) dana kontinjensi untuk PT PLN sebesar negatif Rp 1.600. Dana investasi pemerintah dan restrukturisasi BUMN sebesar negatif Rp13.000.400.000.136.000.000.00 (lima ratus miliar rupiah). 2.000.000.000.000.00 (sembilan triliun seratus tiga puluh enam miliar tiga ratus enam puluh satu juta sembilan ratus empat puluh lima ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah).000.957.160. Pengeluaran dana bergulir yang bersumber dari rupiah murni dialokasikan sebagai pengeluaran pembiayaan dalam APBN.00 (tiga belas triliun enam ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus sebelas juta empat ratus ribu sembilan ratus enam puluh enam rupiah) dialokasikan untuk: (i) investasi pemerintah sebesar negatif Rp500.00 Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri selain dari surat berharga negara internasional.448.000.549.00 (sembilan triliun empat ratus empat puluh delapan miliar dua ratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah) terdiri dari: (dalam rupiah) Penarikan pinjaman luar negeri bruto 52.966.622.

068.000.000.000.000.900.218. Departemen PU 42.531.000. Departemen Kelautan dan Perikanan 250.700.950. Perpustakaan Nasional 259.045.Pasal 20 Cukup jelas.100.000.000.00 i.00 iii. Badan Pertanahan Nasional 24. Departemen Agama 23.000.853.000.413.00 k.000. Departemen Keuangan 64. terdiri dari: (dalam rupiah) 1.000. Departemen Perhubungan 800.000.00 g.763.00 ii.377.00 a.275. Departemen Pendidikan Nasional 61.00 e.000.00 m.158.00 i. Pasal 21 Ayat (1) Anggaran pendidikan sebesar Rp 207.730.815.000. Badan Meteorologi .00 h.388.000.476.000.00 d.000. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 89.300.000.00 c.00 (dua ratus tujuh triliun empat ratus tiga belas miliar lima ratus tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu rupiah). Departemen ESDM 23.00 f. Kementerian Negara/ Lembaga lainnya 3.000. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 67.223.000.00 j.000.000.951.106.550.000. Departemen Kehutanan 14.000.000.000.000.000.00 l. Departemen Perindustrian 100.500.00 b.000. Departemen Kesehatan 1.228. Departemen Pertanian 75.000.525.000.

3.862.Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara yang menyebabkan tambahan biaya penerbitan SBN secara signifikan tercermin dalam: a.000. Dana Tambahan DAU 7.900.00 i.000. Dana Otonomi Khusus Pendidikan 2.00 iv.060.837.00 ii.000.000.000.237.400. Pasal 23 Ayat (1) Keadaan darurat tersebut terjadi apabila: 1.iv. 2.657.00 Ayat (2) Cukup jelas.000.00 v.490.000.tidak adanya yield penawaran yang dimenangkan dalam benchmark pemerintah dalam 2 (dua) kali lelang berturut-turut.00 Bagian Anggaran 69 1.000.941.705.678.000. Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosa penurunan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan PNBP.00 iii. Prognosa tersebut dihitung berdasarkan realisasi indikator ekonomi makro tahun 2008.000.000. 2.Posisi nominal dana pihak ketiga di perbankan nasional menurun secara drastis.terjadi kecenderungan peningkatan yield sekurang-kurangnya sebesar 300 basis points (bps) dalam 1 (satu) bulan. DBH Pendidikan 817.000.334. dan adanya perkiraan tambahan . dan/atau b. dan Geofisika 16. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer ke daerah 117.000.000.1% (nol koma satu persen).000.00 Pasal 22 Restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa beban bunga SU-002 dan SU-004 pada tahun 2009 dan selanjutnya didasarkan pada tingkat bunga hasil restrukturisasi yaitu sebesar 0. Badan Tenaga Nuklir Nasional 7.982. DAK Pendidikan 9.000.000.000.00 n.000. sedangkan prognosa indikator ekonomi makro lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh persen) dari asumsinya.597.Prognosa pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen) di bawah asumsi. DAU Pendidikan 97.

Ayat (2) Penerbitan Surat Berharga Negara dapat dilakukan dengan metode lelang maupun tanpa lelang (penempatan langsung atau private placement). . yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Ayat (3) Informasi tentang pendapatan dan belanja secara akrual dimaksudkan sebagai tahap menuju pada penerapan anggaran yang dilengkapi dengan informasi hak dan kewajiban yang diakui sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih. Pasal 26 Ayat (1) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pasal 25 Cukup jelas. Ayat (2) Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. subsidi BBM dan listrik. Laporan Arus Kas. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Untuk menutup kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas.beban kewajiban negara yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang. Pemerintah dapat melakukan penempatan langsung atau private placement Surat Berharga Negara pada Bank Indonesia. serta belanja lainnya. Neraca. Ayat (3) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan persetujuan DPR adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang dilakukan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam sejak diterimanya usulan Pemerintah.

Pasal 27 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4920 LAMPIRAN I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2009 BUKU I DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB 1PENDAHULUAN 1 I. Ayat (6) Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Ayat (7) Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.Ayat (4) Cukup jelas.1 -1 . Ayat (5) Penerapan pendapatan dan belanja secara akrual pada Tahun Anggaran 2009 diterapkan pada satuan kerja berstatus Badan Layanan Umum yang secara sistem telah mampu melaksanakannya.

BAB 2TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 I.2 A. Kondisi Umum I.2 A.1. Pencapaian Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 I.2 -1 A.1.1. Agenda Aman dan Damai I.2 -1 A.1.2. Agenda Adil dan Demokratis I.2 -3 A.l.3. Agenda Kesejahteraan Rakyat I.2 A.2. Masalah dan Tantangan Pokok Tahun 2009 I.2 B. Tema Pembangunan Tahun 2009 dan Pengacusutamaan Pembangunan I.2 C. Prioritas Pembangunan Tahun 2009 I.2 -31 I. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan I.2 II. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi I.2 -46 III. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri I.2 BAB 3KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN A. Kondisi Ekonomi Tahun 2007 dan Perkiraan Tahun 2008 B. Lingkungan Eksternal dan Internal Tahun 2009 C. Tantangan Pokok D. Arah Kebijakan Ekonomi Makro E. Sasaran Ekonomi Makro Tahun 2009

-1 -1

-5 -14 -29 -31

-66

I.3 -1 I.3 -1 I.3 -9 I.3 -10 I.3 -11 I.3 -12

BAB 4KAIDAH PELAKSANAAN I.4 -1 LAMPIRAN : MATRIKS PRIORITAS, FOKUS, DAN KEGIATAN PRIORITAS RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUTN 2009 II. -1 BAB 1 PENDAHULUAN Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan pelaksanaan

dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam hal ini, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. RKP Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Di dalam RPJMN Tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1.Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2.Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3.Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan tahun RKP, ditetapkan Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya. yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarbn ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Prioritas pembangunan nasional tahunan disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1.Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2.Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3.Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; 4.Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5.Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Dengan demikian RKP merupakan pedoman bagi penysunan Anggaran

Pendapatan dan belanja Negara (APBN), di mana kebijakan APBN ditetapkan secara bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Dengan cakupan dan cara penetapan tersebut, RKP mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1.Menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan, karena memuat seluruh kebijakan publik; 2.Menjadi pedoman dalam penyusunan APBN, karena memuat arah kebijakan pembangunan nasional satu tahun; dan 3.Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah. Lebih lanjut, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah, RKP juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP Daerah (RKPD). Sebagaimana RKP sebelumnya, dokumen RKP Tahun 2009 dilengkapi dengan Buku II yang berisi uraian tentang Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program. RKP Tahun 2009 ini belum sepenuhnya menampung kegiatan dalam RKA-KL mengingat masih dalam proses penyusunan. Namun, RKP Tahun 2009 ini telah disesuaikan dengan hasil pembahasan dalam Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009. BAB 2 TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2009 A. KONDISI UMUM

A.1.PENCAPAIAN TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Pelaksanaan pembangunan tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008 yang merupakan tahun ketiga dan tahun keempat RPJM Tahun 2004 - 2009 memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan ketiga agenda pembangunan yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Kemajuan penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. A.1.1. AGENDA AMAN DAN DAMAI Pelaksanaan Agenda Aman dan Damai telah mencapai kemajuan dengan terwujudnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang

Kerja sama internasional teknis profesional penanggulangan kejahatan telah dilakukan dengan Jerman (GSG). Dalam rangka menjawab tantangan global dan semua bentuk gangguan keamanan yang tidak lagi mengenal batas negara (borderless crime). Selanjutnya. kemampuan. DEA). maka telah ditempatkan perwira penghubung (LO/SLO) di berbagai negara. Thailand. menyebabkan kejahatan transnasional seperti narkoba. kesenjangan kesejahteraan ekonomi. konflik vertikal. dalam rangka memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. susunan dan kedudukan). Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi. dan Australia. Efektivitas intelijen dan pengamanan rahasia negara merupakan faktor penentu dalam pencegahan. agama dan golongan merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban terutama kontlik berdimensi kekerasan di beberapa daerah. doktrin. Faktor kompleksitas kepentingan sosial politik. ketidakadilan. dan iptek). ATA. kompetensi. Filipina. kewenangan. pengungkapan dan penanganan tindak kejahatan transnasional.semakin kondusif. Malaysia. aspek instrumental (filosofi. fungsi. dan Amerika Serikat (ICITAP. dan akuntabel. pengelolaan ketertiban masyarakat. Sementara itu. manajemen operasional. Oleh karena itu diperlukan lembaga kepolisian yang efektif. penyelundupan. Salah satu sebab utama belum optimalnya penanganan kriminalitas. Globalisasi dan diberlakukannya pasar bebas akan meningkatkan mobilitas penduduk baik inter maupun antar negara. dan aspek kultural (manajemen sumber daya. pencucian uang. dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis. antara lain. perkembangan organisasi kejahatan internasional yang didukung oleh kemajuan teknoiogi komunikasi dan informasi serta teknologi persenjataan. Arab Saudi. Penanganan berbagai tindak kriminal seperti kejahatan konvensional maupun transnasional. dan lalulintas nuklir dan sebagainya menjadikan kejahatan transnasional menjadi sulit tertangani. organisasi. penegakan hukum. Timor Leste. efisien. serta kelambatan antisipasi penanganan kejahatan transnasional adalah lemahnya profesionalisme lembaga kepolisian. konflik horizontal. Upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. bahkan ancaman keselamatan. keamanan. maka kerja sama internasional merupakan jawaban bagi seluruh penegak hukum di dunia untuk bangkit memerangi kejahatan yang bersifat transnasional. Jepang (JICA) . penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. serta berbagai bentuk kriminalitas yang !ainnya. dan sistem pengamanan . perdagangan perempuan dan anak. baik secara kuantitas maupun kualitas telah menunjukkan hasil yang signifikan.

Dalam rangka penyiapan cetak baru pertahanan telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005-2009. seperti bencana alam yang telah terjadi di beberapa wilayah. Upaya peningkatan profesionalisme personel ditempuh melalui penataan organisasi. dihadapkan dengan keterbatasan anggaran. secara geopolitik dan geostrategi. bangsa. Peningkatan jumlah personil diupayakan melalui rekruitmen dengan sasaran 1 : 600 yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2009. peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan. tidak saja akan menempatkan NKRI semakin disegani dan dihormati dalam pergaulan internasional.di masyarakat). tetapi juga berfungsi untuk mengatasi ancaman dalam negeri. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Polri dalam mencegah dan menindak kejahatan terorisme dan narkoba. Sejalan dengan tugas fungsi dan peran pertahanan negara tidak semata-mata hanya ditujukan kepada ancaman dari luar. serta Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. Di samping itu. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial. dan pengadaan alutsista secara terbatas. Reformasi TNI telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya. retrofitting. Peningkatan kemampuan Polri juga ditempuh melalui percepatan penambahan jumlah personil dan kualitas personil. dan dalam menangani dampak bencana. polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. Indonesia terletak pada posisi yang strategis dari menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. Di sisi lain. pemeliharan. agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya. dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. tetapi juga memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di dalam menangani bencana di dalam negeri. maka pembangunan kemampuan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada tetapi hanya untuk mempertahankan kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki. ekonomi. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. seperti pemberontakan bersenjata. serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan. sedangkan peningkatan kualitas personil diupayakan melalui pendidikan dan latihan. Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI. Kemampuan pertahanan yang kuat dan solid. Untuk mengurangi ketergantungan sumber pengadaan alutsista kepada satu atau dua negara saja. dan budaya yang beragam. kebijakan umum dan kebijakan penyelenggaraan pertahanan. yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. telah . antara lain melalui repowering. di setiap Polda telah terbentuk Den-88. serta pemantapan reformasi TNI yang dihadapkan dengan supremasi sipil.

telah dilakukan upaya memperkuat pemberdayaan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Untuk langkah pencegahan.2. Salah satu sebabnya adalah cepatnya pemberian izin yang diberikan oleh Presiden kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada setiap penyelenggara negara yang berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari hasil investigasi telah melakukan tindak pidana korupsi. sosialisasi RAN PK dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAN PK) telah dilakukan pada dua provinsi. melalui antara lain penyesuaian peraturan perundang-undangan nasional yang sejalan dengan Konvensi Anti Korupsi 2003.1. A. Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Korupsi Tahun 2003 (UNCAC 2003).ditempuh langkah-langkah ke arah diversifikasi dalam pengadaan alutsista yang bekerja sama dengan beberapa negara. Sedangkan untuk langkah penindakan baik yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung beserta jajarannya maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah memperlihatkan peningkatan yang semakin signifikan. upaya pemberantasan korupsi tetap dilanjutkan melalui langkah pencegahan dan penindakan hukum. Adanya keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan rencana kebutuhan dalam pembangunan pertahanan sehingga pemenuhan kebutuhan pertahanan belum dapat mencapai pembentukan kekuatan pokok minimum (minimum essential force) TNI. Melalui UU No 7/2006. penindakan terhadap pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah dilakukan tanpa mengalami hambatan yang berarti. keterbatasan yang ada tidak menjadikan kendala dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Conference of the State Parties (CoSP) II UNCAC di Bali dengan memprioritaskan pada upaya pengembalian aset korupsi baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. sebagai salah satu bentuk komitmen dalam upaya pemberantasan korupsi. selama tahun 2007 langkah-langkah untuk menciptakan iklim takut korupsi semakin memperlihatkan perkembangan yang positif baik di lingkungan penyelenggara negara. dunia usaha maupun masyarakat. Untuk pencegahan korupsi. Sepanjang tahun 2007. akan dilakukan kegiatan sosialisasi RAN PK dan penyusunan RAD PK . Namun demikian. Pada awal tahun 2008. Pada tahun 2007. AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS Dalam rangka pemberantasan korupsi. Langkah-langkah pencegahan dan penindakan dilakukan secara bersamaan agar benar-benar memperlihatkan efek jera di semua lini kehidupan masyarakat. Pada tahun 2008. yang antara lain menginstruksikan dibuatnya Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK).

dan dilakukannya penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM/aparat pengawas internal pemerintah. RUU Administrasi Pemerintahan. Di bidang penataan kelembagaan. ditandai antara lain: penerapan pelayanan satu pintu di berbagai daerah. Pada tahun 2008. beberapa pencapaian penting yang diharapkan . Upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan oleh Kejaksaan dan KPK. Inisiatif reformasi birokrasi telah dilaksanakan di lingkungan instansi pemerintah sebagai upaya meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan. Kemajuan di bidang pelayanan publik. dunia usaha dan masyarakat luas. Fokus penindakan korupsi akan ditujukan pada kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat luas. juga telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang cukup berarti. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 6 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan dari PP No. RUU Kementerian Negara. seperti RUU Pelayanan Publik. dan lainnya. terdapat kemajuan antara lain: upaya penyempurnaan regulasi di bidang SDM aparatur.di 4 (empat) provinsi. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. 65 Tahun 2005. MA dan BPK. RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara. telah diterbitkannya Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Permendagri No. berbagai kemajuan telah dicapai pada tahun 2007. yang akan diperkuat dengan dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan undang-undang tersendiri. RUU Etika Penyelenggara Negara. yang antara lain ditandai dengan: tersusunnya berbagai naskah RUU sebagai landasaan pelaksanaan reformasi birokrasi. beberapa instansi pemerintah di pusat telah melakukan inisiatif reformasi birokrasi seperti Depkeu. dan telah diselenggarakan berbagai diklat manajemen SPM. antara lain: diterbitkannya PP No. makin meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kompetensi auditor eksternal yang ditandai dengan dibukanya perwakilan BPK di provinsi sesuai mandat UU No 15/2006 tentang BPK dan rekruitmen tenaga auditor. peningkatan kompetensi aparatur negara melalui penyelenggaraan assesment center dan berbagai diklat baik struktural maupun fungsional. penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan publik (e-services) termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). Selain itu juga akan secara intensif dilakukan sosialisasi terhadap Konvensi Anti Korupsi 2003 dan strategi nasionalnya yang akan melibatkan semua aparat pemerintah pusat dan daerah. Beberapa naskah RUU tersebut telah dibahas dengan DPR dan diharapkan pada tahun 2008 terdapat perkembangan yang berarti. Sedangkan di bidang sumber daya manusia (SDM) aparatur. dan perbaikan tingkat kesejahteraan aparatur negara meskipun masih terbatas. serta pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS dan pengadaan PNS secara nasional.

22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. sebagai respon atas penerapan anggaran berbasis kinerja dan tuntutan atas peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 10 tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota DPR. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya penataan kelembagaan atas lembaga non struktural (quasi birokrasi) agar berfungsi secara lebih efektif dan efisien. diundangkannya UU Pelayanan Publik. Pada tahun 2008. Hasil penting lainnya dalam pembangunan lembaga demokrasi pada tahun 2007 adalah terpilih dan terbentuknya keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru. DPD. Dengan akan diselesaikannya semua pembahasan dan ditetapkan semua UU . ditingkatkannya kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan SPM. pertanahan. Di samping itu. perpajakan dan kepabeanan. pendidikan dan infrastruktur yang disesuaikan dengan PP No 65 Tahun 2005. sebagai landasan proses penguatan lembaga-lembaga demokrasi khususnya pelaksanaan Pemilu 2009. pengadaan barang dan jasa pemerintah/publik. Secara bertahap. PNS yang lebih akuntabel sebagai pengganti sistem DP3. Diharapkan pula terwujud peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang pengawasan dan pemeriksaan. diharapkan tersusun pedoman sistem manajemen kinerja instansi pemerintah. pada awal 2008 telah ditetapkan UU No.terwujud diantaranya: dilanjutkannya penyusunan dan pembahasan dengan DPR berbagai RUU yang terkait dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. meningkatnya pelayanan publik di bidang kependudukan. Kemajuan pelembagaan demokrasi yang juga perlu mendapat perharian pada tahun 2007 adalah keikutsertaan calon independen dalam pilkada melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan judicial review terhadap Pasal 59 Ayat 3 UU No. adalah ditetapkannya UU No. tersusunnya standar pelayanan perkotaan (SPP). yang didukung dengan meningkatnya kompetensi tenaga pengawas dan pemeriksa/auditor. dan DPRD. investasi/penanaman modal. dan mendorong peningkatan kinerja PNS. dan ditingkatkannya penerapan e-government untuk mendukung kualitas pelayanan publik. tahun 2008 diharapkan tersusun penyempurnaan sistem remunerasi PNS yang adil. di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan. Untuk pembangunan SDM aparatur. sisa 2 (dua) paket UU bidang politik yang belum dapat diselesaikan pembahasannya akan segera dibahas dan diundangkan. Pencapaian penting lainnya yang diharapkan dapat diwujudkan pada tahun 2008 adalah diselesaikannya Rencana Induk Reformasi Birokrasi. layak. dan tersusun sistem penilaian kinerja. tersusunnya SPM sektoral bidang kesehatan. 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik dan UU No. Pedoman Umum Reformasi Birokrasi beserta juklak dan juknisnya. Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. dilakukannya penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait.

c. dan penyediaan logistik Pemilu 2009.1 triliun. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. Disamping itu juga diharapkan sudah dapat dilakukan penyempurnaan dan perbaikan data pemilih. penguatan lembaga keuangan.bidang politik. dan hibah sebesar Rp 1.7 persen PDB). Hal lain yang sangat penting untuk dicapai pada tahun 2008 adalah peningkatan kapasitas dan kesiapan partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat pemilih.3 triliun (6.9 triliun dari target APBN-P tahun 2007.9 persen .5 persen atau meningkat sebesar Rp 90. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 2.7 persen PDB). Realisasi tersebut lebih tinggi 0. dan sektor riil. lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN tahun 2006 yang mencapai 0.1 persen atau naik Rp 14. Secara kelembagaan.7 triliun.1 persen atau naik Rp70. yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 504.7 persen PDB). penyediaan sarana dan prasarana pendukung Pemilu 2009.Defisit APBN tahun 2007 mencapai 1. b. pada tahun 2008 diharapkan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah dan KPU/KPUD sebagai lembaga penyelenggara pemilu di pusat dan daerah. AGENDA KESEJAHTERAAN RAKYAT Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Pendapatan Negara dan hibah tahun 2007 lebih tinggi 11. maka pada tahun 2008 semua peraturan pelaksanaan/petunjuk teknis penyelenggaraan Pemilu 2009 sudah dapat diselesaikan penyusunannya.0 persen PDB).2 triliun (20. Jika dibandingkan dengan APBN tahun 2006. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 215.Realisasi pengeluaran negara sampai dengan 31 Desember 2007 mcncapai sebesar Rp 757. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal.5 triliun (18. Defisit APBN diupayakan pada batas-batas aman keuangan negara melalui peningkatan pendapatan negara serta peningkatan efisiensi pengeluaran negara. kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. moneter. veriftkasi peserta pemilu dan validasi calon anggota legislatif.3. Hal-hal pokok terkait dengan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut: a. A.0 persen PDB).4 triliun dari target APBN-P tahun 2007.3 persen PDB.6 persen atau meningkat Rp 4.0 triliun (5. realisasi pengeluaran negara pada tahun 2007 lebih tinggi 13.3 persen PDB) dan belanja ke daerah sebesar Rp 253.0 triliun (13. Pencapaian penerimaan negara dan bibah tersebut terutama bersumber dan penerimaan perpajakan sebesar Rp 491.8 triliun (13.Realisasi pendapatan negara dan hibah sampai dengan akhir tahun 2007 diperkirakan mencapai sebesar Rp 708. Di sisi kebijakan fiskal.1.5 triliun.

. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati. rata-rata nilai tukar rupiah harian pada tahun 2007 mencapai Rp 9. rata-rata harian nilai tukar sebesar Rp.9. Secara keseluruhan.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp. Hal ini tercermin dari meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan sebesar 26. d. Pencapaian sasaran di bidang moneter dan keuangan antara lain: a. stabilitas moneter tetap dijaga sepanjang tahun 2007. defisit APBN tersebut masih berada pada batas-batas aman keuangan negara. Dalam empat bulan pertama tahun 2008.25 persen. Dari sisi kebijakan moneter. peran sektor keuangan dalam menjalankan fungsinya sebagai intermediasi keuangan juga semakin membaik. Memasuki tahun 2008.3 persen dibandingkan tahun 2006.pada tahun 2007 laju inflasi mencapai 6. 9. Tekanan inflasi yang meningkat sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna membantu penurunan ekspektasi inflasi. b..0 persen pada bulan Desember 2007 dan tetap dipertahankan hingga bulan April 2008. d. dengan tingginya harga komoditi pertanian di pasar dunia.Sejalan dengan menguatnya kinerja pasar modal. lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai 1. laju inflasi diupayakan tetap terkendali.60 persen).0 persen PDB. e.107.5 persen (y-o-y) pada Maret 2008.Defisit anggaran dalam APBN-P tahun 2008 diperkirakan mencapai 2.4 persen (y-o-y).. Suku bunga acuan tetap dipertahankan sampai bulan April 2008.5 persen pada bulan Januari 2007 menjadi 8. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 8. mulai ditingkatkan bulan Mei 2008 menjadi 8. laju inflasi meningkat.per USD kembali menguat menjadi Rp 9.Stabilnya nilai tukar rupiah dan laju inflasi yang terkendali mendorong penurunan suku bunga perbankan secara bertahap. Penyaluran kredit UMKM sampai dengan akhir tahun 2007 tumbuh sebesar 22.4 persen (y-o-y) dan terus tumbuh mencapai 29.per USD pada bulan Oktober 2007. namun lebih rendah dari yang ditargetkan dalam APBN-P tahun 2007 sebesar 1. Terjadinya krisis subprime mortgage pasar keuangan Amerika Serikat di bulan Juli 2007 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar uang Indonesia. pada bulan April 2008.PDB. Meskipun meningkat.7 persen PDB.000 .96 persen. Suku bunga acuan (BI rate) diturunkan secara bertahap dari 9.300 per USD. c. pertumbuhan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui bank umum juga terus meningkat.3 persen PDB.140 per USD atau menguat 0. terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditi makanan dan makanan jadi.367.59 persen (y-o-y). 9. relatif sama dengan tahun 2006 (6.Nilai tukar yang melemah pada bulan Agustus 2007 menjadi Rp 9.Dalam rangka meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.

1 juta menjadi 111.4 persen.5 juta lapangan pekerjaan baru. Dari sisi produksi.0 persen.5 persen. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. ekonomi tumbuh 6. konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5.8 persen menjadi 6. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3. gas dan air bersih.3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5.4 persen.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 5.5 persen (y-o-y). listrik. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. sejalan dengan perekonomian yang terus meningkat. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan.Upaya-upaya yang ditempuh tersebut telah mampu mendukung perekonomian untuk dapat kembali tumbuh cukup tinggi.2 persen dan 8.0 persen dan 13. Sejak paruh kedua tahun 2007.5 . pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9. Dengan memperhitungkan resiko gejolak eksternal yang cukup besar. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. Sementara itu.4 persen.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan komunikasi. dan 8. Momentum pertumbuhan terus berlanjut pada triwulan I/2008.6 persen. pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007 .9 persen.0 persen. 10.Februari 2008 meningkat sangat tinggi yaitu hampir 4. Dalam hal ketenagakerjaan.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3. Pada kurun waktu yang sama angkatan kerja meningkat dari 108. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.5 persen dan 2. serta bangunan yang masing-masing tumbuh sebesar 14. Dari sisi permintaan. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. Dalam triwulan I/2008. Dalam tahun 2008. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. kopdisi ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang baik.0 persen.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15.

Penganggur usia muda masih merupakan proporsi terbesar dri keseluruhan penganggur terbuka. kehutanan dan perdesaan. perikanan.10 persen hanyalah lulusan SD ke bawah.7 persen.44 persen dan peternakan sekitar 2.76 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 592. Secara sektoral. perikanan dan kehutanan mencapai sebesar 3.4 ribu ton.4 juta orang atau 30. Penciptaan lapangan kerja bagi penduduk berlatar pendidikan relatif rendah. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya luas panen sekitar 121.42 persen.46 persen orang pada Februan 2008.7 ribu ha atau 21 persen dibanding tahun sebelumnya. lebih tinggi dari target yang direncanakan sebesar 2.4 juta orang berada di perdesaan.23 persen. Target ini terlampaui karena adanya peningkatan produksi pertanian hingga melebihi sasaran yang telah dicanangkan antara lain produksi padi/beras yang mencapai sebesar 57. Dari jumlah penganggur usia 20-24 tahun tersebut.05 juta ton GKG yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir atau meningkat 4.44 persen dibanding tahun sebelumnya dari 11.32 persen terhadap PDB Nasional atau naik sebesar 7. Demikian juga untuk produksi jagung meningkat 14.6 persen dibandingkan tahun 2006. Keadaan ini cukup memprihatinkan karena usia mereka masih usia sekolah. Pertumbuhan sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat.62 persen. pada tahun 2007 pertumbuhan sektor pertanian. penduduk usia 15-19 tahun yang menganggur mencapai 2. pada Agustus 2007 proporsi penganggur dengan pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah mencapai sekitar 5. Berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dibiayai oleh APBN.14 persen.0 juta orang atau 49. meskipun produktivitas mengalami kenaikan 0. .29 juta ton. Pengangguran terbuka masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah. Hal ini pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka. miskin dan tidak terampil telah diupayakan oleh Pemerintah. Sebaliknya pada tahun tersebut produksi kedelai mengalami penurunan sebesar 20.juta atau meningkat sekitar 3. Pada tahun 2007 PDB pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) meningkat 4.77 persen dibanding tahun 2006. yaitu dari 9.71 persen. pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor tanaman bahan makanan sekitar 5. termasuk revitalisasi pertanian.03 kuintal per hektar atau 0.3 juta orang.5 persen.86 persen.2 juta orang atau 22.61 juta ton menjadi 13.02 persen. perkebunan sekitar 2.7 juta dari mereka atau 27.75 persen pada Februari 2007 menjadi 8. Jumlah penganggur usia 20-24 tahun mencapai sekitar 3. Pada Agustus 2007. 42.58 persennya atau sekitar 1. telah mulai dikembangkan dan dikonsolidasikan agar tenaga kerja yang dicakup semakin banyak dan merata. Demikian pula PDB perikanan pada tahun 2007 kontribusinya naik menjadi sebesar 2. bahkan 2.

Sebaliknya pertumbuhan sub sektor kehutanan mengalami penurunan karena masih banyaknya illegal logging yang mengakibatkan kerusakan hutan, sehingga berakibat pada menurunnya produksi kayu dari hutan alam yang belum dapat digantikan dengan produksi hasil hutan tanaman industri dan non kayu lainnya. Hal tersebut telah menyebabkan banyaknya industri hasil hutan yang tutup. Dalam rangka pelaksanaan revitalisasi, kegiatan di bidang perikanan difokuskan pada peningkatan produksi dan pengembangan tiga komoditas penting, yaitu udang, ikan tuna, dan rumput laut, dengan tetap melakukan upaya peningkatan mutu dan kegiatan optimalisasi pengelolaan perikanan sejak dari penangkapan ikan (on farm) hingga pemasaran. Untuk mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, pemerintah telah melakukan rehabilitasi, pembangunan, peningkatan fasilitas pendukung berupa Pelabuhan Perikanan Samudra, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan. Selain itu, dilaksanakan juga rehabilitasi dan pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan di 33 provinsi. Pada sub sektor kehutanan, upaya revitalisasi masih terus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain melalui kegiatan-kegiatan: (i) Pengembangan pemanfaatan hutan alam dengan meningkatkan manajemen Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHK); (ii) Penertiban peredaran hasil hutan dalam rangka mengoptimalkan PNBP dan Dana Reboisasi (DR); (iii) Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH); (iv) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); (v) Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak dibebani hak/ijin pemanfaatan; dan (vi) Restrukturisasi industri primer kehutanan. Di bidang infrastruktur, upaya peningkatan pelayanan infrastruktur sesuai standar pelayanan minimum pada tahun 2008 telah diwujudkan melalui pembangunan saluran air baku dengan kapasitas terpasang 1,00 m3 / detik, rehabilitasi sarana/ prasarana pengendali banjir di 62 lokasi pembangunan, pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km, prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan seluas 688 ha, kondisi jalan nasional telah mencapai 81 persen mantap dari panjang jalan nasional dengan peningkatan pelayanan prasarana jalan menjadi 45 km per jam; pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan pulau terluar sepanjang 100 km; pembangunan jalan di kawasan perbatasan sepanjang 110 km., pemberian subsidi operasi perintis angkutan jalan pada 153 lintas, pengadaan bus perintis sebanyak 340 unit, pelayanan pelayaran perintis untuk 62 trayek, subsidi operasi lintas penyeberangan perintis pada 80 lintasan, pelayanan penerbangan perintis untuk 90 rote, penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan angkutan penumpang KA kelas ekonomi sebanyak 70 KA dan angkutan laut kelas ekonomi pada 22 trayek, rehabilitasi dan pembangunan jalan poros desa melalui (DAK) sepanjang 88.205 km dan pengadaan sarana angkutan perdesaan; pengembangan

energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terlaksananya Program integrated micro hydro development and application program (IMIDAP), pembangunan listrik di perdesaan yaitu: PLTS 50 Wp sebanyak 59,000 unit, PLT bayu 80 kW sebanyak 14 Unit; PLTMH sebanyak 1,270 kW, Gardu Distribusi sebanyak 930 Buah/ 44,950 kVA, JTM sebanyak 1,803 kms, JTR sebanyak 1,453 kms; penyediaan PSO pos untuk 2.350 kantor pos cabang luar kota; pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 15.448 unit/30 kawasan, pengembangan Desa-desa Pusat Pertumbuhan di 146 kawasan di 32 provinsi, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 28.000 unit, pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1800 desa, Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 100 lokasi, peningkatan pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional di 35 kab/kota. Dalam rangka peningkatan daya saing sektor riil, pada program pembangunan bidang infrastruktur telah dilakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 210,73 ribu ha dan rawa seluas 207,67 ribu hektar; pembangunan 7 waduk dan 35 embung, pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang 145 km, pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 71,1 km, tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian, rehabilitasi jalan nasional sepanjang 4.000 km, pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa sepanjang 70 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km, rehabilitasi/peningkatan jalan provinsi/kabupaten/kota sepanjang 418.346 km melalui DAK, peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan Lintas sepanjang 4.410 km, pembangunan jalan baru dan peningkatan jalan strategis sepanjang 150 km pengadaan sarana KA Kelas Ekonomi, Kereta Rel Listrik, dan Kereta Rel Diesel/Kereta Rel Diesel Electric/Kereta Diesel Kelas 3 sebanyak 45 unit, rehabilitasi Dermaga Penyeberangan pada 36 Dermaga, pembangunan dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan pada 129 Dermaga, pengadaan kapal perintis dan bus air sejumlah 84 Buah, rehabilitasi landasan dan fasilitasnya 450.000 m2; pengembangan Energi Alternatif dan Teknologi Energi Baru Terbarukan, pengembangan wilayah distribusi gas bumi untuk rumah tangga, industri kecil, dan transportasi (gas kota) , pemberian insentif penyediaan energi alternatif, Land Mark penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (Koordinasi Pengembangan dan Pemanfaatan Biofuel), pengembangan teknologi pembangkit listrik lampu hemat energi; pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang dilakukan BUMN PT. PLN baik untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru ataupun rehabilitasi dan repowering pembangkit listrik berbahan bakar batubara, gas dan energi terbarukan hidro dan panas bumi, serta untuk pembangunan

jaringan penyaluran transmisi dan distribusinya, pengembangan regulasi dan pengawasan dalam rangka meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri serta meningkatkan pembinaan industri penunjang ketenagalistrikan dalam negeri melalui pembinaan usaha serta pengembangan standarisasi dan sertifikasi; pembahasan RUU Pos pengganti UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos, penyusunan RUU Telekomunikasi pengganti UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, pengembangan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dalam rangka pengamanan dan pengawasan jaringart internet di Indonesia, pembangunan prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access, penyediaan infrastruktur TIK melalui program Community Access Point (CAP) dan warung masyarakat informasi, penyediaan sarana dan prasarana air limbah sistem terpusat di 26 kawasan/kota, pembangunan sarana dan prasarana air minum pada 69 kawasan strategis, dan pengembangan sistem drainase di 11 kabupaten/kota. Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyediaan infrastruktur melalui kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha, hingga tahun 2006 telah dilaksanakan persiapan perlaksanaan Public-Private Partnership (PPP) untuk Penyediaan Air Baku Industri; persiapan pelaksanaan pembangunan jalan tol dan Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara; pemberian hak khusus pembangunan jaringan pipa gas dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah; penerbitan peraturan tentang penetapan tarif berbasis biaya melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Awal dan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar melalui Jaringan Tetap dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular; dan penetapan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Terkait fenomena global mengenai perubahan iklim, kebijakan pemerintah mengenai peningkatan kapasitas mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan sekaligus dalam rangka pengurangan risiko bencana telah diselesaikan, antara lain: pembangunan prasarana pengendali banjir seluas 500 ha dan panjang 954 km; pemeliharaan prasarana pengendali banjir sepanjang 1,387 km; pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 70 km; pemeliharaan prasarana pengaman pantai sepanjang 20 km; kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; upaya penanganan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Jabodetabekjur) secara terpadu dengan penanganan daerah hulu dan hilir sungai. Sementara itu, setelah empat tahun pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias, serta hampir tiga tahun pelaksanaan tugas dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (BRR NAD-Nias), lembaga tersebut akan segera mengakhiri masa tugasnya pada bulan April 2009 yang akan datang. Dengan

2 triliun. pemulihan perekonomian masyarakat. (2) masih diperlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan wilayah. Namun demikian. serta Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di Provinsi Sumatera Utara. memperkuat kapasitas kelembagaan. pada tahun 2008 pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur. prasarana lingkungan permukiman. peningkatan kesejahteraan sosial. pengelolaan lingkungan hidup.4 miliar. dan untuk pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah telah dialokasikan sebesar Rp 430. dijadwalkan dapat diselesaikan pada bulan Juni 2008. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. penyelesaian perumahan dan permukiman bagi korban bencana. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga dilakukan selama hampir dua tahun terakhir ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2007. dan pengarusutamaan gender. peningkatkan SDM.74 triliun. pencapaian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias yang telah dilaksanakan oleh BRR NAD-Nias mencakup beberapa kegiatan pokok yaitu: penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. dan penyelesaian masalah pertanahan dan penataan ruang wilayah.berakhirnya tugas dari BRR NAD-Nias tersebut. terutama bagi kelompok rentan. pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi 27 Mei 2006. meningkatkan koordinasi antar pelaku pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pelaksanaan pemulihan pasca bencana melalui pendanaan APBN sejak tahun 2006 hingga 2008. air bersih dan sanitasi. menunjukkan bahwa pemulihan perumahan korban bencana telah diselesaikan melalui pendanaan sebesar Rp 5. pemenuhan pelayanan dasar. diantaranya: (1) penataan ruang permukiman dan pengembangan lahan skala besar yang memenuhi tata lingkungan yang baik dengan pendekatan pengurangan risiko bencana. (3) masih . Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan melalui proses legalisasi peraturan daerah. 9 tahun 2006. pasca kejadian gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. Selain di wilayah Provinsi NAD dan Kepulauan Nias. sementara untuk pemulihan prasarana publik telah dialokasikan sebesar Rp 1. dengan memperkuat landasan perekonomian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. sarana dan prasarana wilayah. pemulihan fasilitas pendukung kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan dan kesehatan. masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2009 dalam pembangunan daerah pasca rehabilitasi dan rekonstruksi. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. maka pada tahun 2009 penyelesaian dan keberlanjutan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD dan Kepulauan Nias akan dilanjutkan oleh kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. serta pemulihan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat.

Upaya penurunan AKI juga perlu didukung dengan perbaikan keadaan gizi ibu hamil. hal ini antara lain dapat dinilai melalui perbaikan berbagai indikator kesehatan seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100.diperlukannya dukungan yang difokuskan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah serta pemulihan infrastruktur perekonomian lokal. penanggulangan kemiskinan. peran perempuan. Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2006-2008 menjadi acuan kebijakan pelaksanaan upaya pengendalian flu burung dan saat ini . Di bidang kesehatan. data maupun peta wilayah rawan bencana yang memadai bagi analisa pola pemanfaatan ruang sekaligus menguatkan kelembagaan di tingkat daerah dalam pengendalian pemanfaatan rencana tata ruang wilayah. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang saat ini baru mencapai 71. termasuk upaya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008. serta peningkatan sarana prasarana transportasi. Dengan kondisi ini.9 persen (Susenas 2007).000 kelahiran hidup. Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20% pada tahun 2009. perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Demikian pula dengan status gizi anak balita mengalami perbaikan yang ditandai dengan menurunnya persentase balita yang mengalami kekurangan gizi dari 34. dan meningkatkan pelayanan kesehatan dasar. pendidikan ibu.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Sampai akhir Februari 2008 kasus flu burung pada manusia mencapai 129 kasus dan 105 diantaranya meninggal. Namun demikian untuk mencapai sasaran penurunan AKI pada tahun 2009 menjadi 226 per 100.4% pada tahun 1999 menjadi 28. status kesehatan masyarakat terus menunjukkan perbaikan. Flu burung telah menjadi isu global dan nasional karena memiliki dampak besar pada kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa manusia. Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia juga cenderung terus meningkat.02% pada tahun 2005 (Susenas 2007). serta (4) dukungan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana. diperlukan upaya yang lebih keras. memperbaiki pola asuh. Jumlah kasus kematian ternak unggas akibat flu burung sangat tinggi dan tersebar di seluruh provinsi. telah ditetapkan program dan fokus kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pendayagunaan rencana tata ruang wilayah sebagai salah satu instrumen utama untuk mengurangi resiko bencana dan peningkatan kualitas informasi. pencegahan dan pengendalian flu burung memerlukan upaya menyeluruh dan terintegrasi dari segi tata laksana kesehatan hewan dan kesehatan manusia.

2 persen (tahun 2008) dan terus menurun hingga mencapai titik terendah 44. terpencil. serta melakukan kaji tindak. Selain itu. Cakupan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan kurang mampu melalui program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (JPK-MM)/Askeskin terus meningkat yaitu dari 36. surveilans epidemiologi. Pada waktu rasio beban ketergantungan mencapai angka terendah ini terbukalah jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk Indonesia. dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah tertinggal.9 persen (tahun 2006) diperkirakan turun menjadi 47. perlindungan bagi petugas yang berisiko tinggi. dan daerah bencana perlu ditingkatkan. Untuk itu pada tahun 2009 Askeskin perlu terus dilanjutkan dengan jaminan kesehatan pada masyarakat (jamkesmas) untuk meningkatkan akses penduduk miskin dan kurang mampu di kelas III RS dan peiayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di Puskesmas dan jaringannya. Upaya pencegahan dan penanggulangan di bidang kesehatan manusia yang telah dilaksanakan mencakup penatalaksanaan kasus di rumah sakit. daerah perbatasan. peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.4 juta orang (2005) menjadi 76. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas.4 juta orang (2007). Penurunan persentase penduduk muda mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk membiayai pembangunan bidang lainnya. pengendalian kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang. Rasio beban ketergantungan yang sebesar 48. Keadaan ini di satu sisi mengindikasikan telah terjadi penurunan persentase penduduk sebagai beban pembangunan (dependenry ratio) sementara di sisi lain juga merupakan keuntungan ekonomi (Bonus Demografi/BD).5 persen pada tahun 2017. Diperkirakan. antara lain melalui kegiatan Keluarga .Renstranas tersebut sedang dalam proses perumusan kembali. penyediaan obat Oseltamivir. tahun 2008 menjadi 228 juta jiwa. Penurunan angka kelahiran dan kematian bayi yang terjadi selama ini telah merubah struktur umur penduduk yaitu persentase penduduk usia produktif terus meningkat sementara persentase penduduk usia non-produktif. penguatan laboratorium pengujian. khususnya penduduk muda (0-14 tahun) semakin menurun. BD akan terentang hingga sekitar tahun 2020. Namun demikian kesempatan yang menguntungkan pembangunan itu tidak akan pernah tercapai bahkan akan merugikan bila laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dan kualitas penduduk tidak ditingkatkan secara terus menerus dan konsisten. penyernaan ruang isolasi perawatan di 100 rumah sakit rujukan. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa.

52 persen dan 60. Pada saat yang sama. kelompok umur 13-15 tahun sebesar 84. dan (5) pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan.9 persen. Rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI dan 40 untuk SMP/MTs. Dalam pengamanan kawasan hutan telah dilaksanakan antara lain: (1) operasi pengamanan fungsional dan operasi khusus melalui kerja sama dengan POLRI. penawaran 30 wilayah kerja migas.Berencana (KB).25 persen. Selanjutnya. Pada tahun 2007 pelaksanaan kegiatan yang dilakukan telah menghasilkan berbagai pencapaian. Sementara itu. Pemerintah secara terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. baik secara . Adapun angka partisipasi sekolah (APS) atau persentase penduduk yang mengikuti pendidikan formal untuk kelompok umur 7-12 tahun tercatat sebesar 97. Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA/SMALB/Paket C masing-masing mencapai 92. Pada tahun 2007.51 persen. angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI dan yang sederajat mencapai 94. antara lain: penyelesaian blueprint peningkatan kapasitas nasional bidang minyak dan gas bumi (migas) sebagai upaya peningkatan kapasitas nasional dalam industri migas. dan Universitas Terbuka (UT) adalah sebesar 17. Kesungguhan Pemerintah tersebut tercermin oleh hasil yang cukup menggembirakan seperti yang terlihat dari peningkatan angka partisipasi pendidikan pada semua jenjang. BIN. APK pada jenjang pendidikan tinggi (PT) yang mencakup pula perguruan tinggi agama (PTA). TNI AL. pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral. rasio murid per guru adalah 21 untuk SD/MI dan 13 untuk SMP/MTs.1 persen. Sementara itu. dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 53. Perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi dalam peningkatan kuantitas fasilitas layanan pendidikan. dan (2) penguatan kapasitas kelembagaan Pengamanan Hutan (Pamhut) dan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di 10 lokasi. selama tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan. upaya penertiban peredaran hasil hutan telah mencapai hasil antara lain: (1) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kayu meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2006. Kejaksaan.4 persen. (3) implementasi penatausahaan SI-PUHH dan PSDH/DR berbasis TI (on-line) di 11 BP2HP. Dalam hal perbaikan pengelolaan sumber daya hutan berbagai upaya untuk telah banyak dilakukan oleh pemerintah.90 persen. Sementara itu. (4) dilakukannya monev illegal logging dan monev hasil lelang basil hutan ilegal. PPATK di 10 provinsi rawan illegal logging. perumusan kebijakan dan regulasi usaha penunjang migas beserta keberpihakannya. (2) uji coba Sistem Informasi-Penata Usahaan Hasil Hutan (SI-PUHH) dan penatausahaan Provisl Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR) berbasis Teknologi Informasi (TI) di 3 Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP).

Hingga tahun 2007. Sejak berlakunya UU No. program kali bersih. hasil olahan dan lain sebagainya. pembangunan bidang lingkungan hidup tetap dilaksanakan dengan menitikberatkan pada pengendalian penggunaan sumber dara alam secara berkelanjutan serta pengendalian praktek perusakan/penurunan kualitas lingkungan. serta kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. pada tahun 2007. Masalah dan tantangan utama yang . program pembangunan bersih yang dikoordinasi oleh Komnas Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB).53 juta. 22 tahun 2001 tentang Migas. pembinaan tim penilai AMDAL. program Debt for Nature Swap dengan Pemerintah Jerman. telah disalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah. Hal-hal tersebut di atas terus dilanjutkan pada tahun 2008 termasuk membangun fasilitas dan infrastruktur lingkungan. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon melalui penghapusan pemakaian bahan perusak ozon (BPO) di berbagai mesin pendingin (chiller) dan memasyarakatkan penggunaan metered dosed inhaler (MDl). telah dilaksanakan kegiatan Adipura. Untuk meningkatkan kapasitas daerah di bidang lingkungan hidup. kegiatan pengusahaan migas terus meningkat secara berturut-turut. penegakan hukum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang terus akan dilakukan untuk memperluas cakupannya. Sementara itu. program menuju Indonesia hijau. program energi efisiensi di industri kecil dan menengah. program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER). pengendalian pencemaran air serta perlindungan sumber daya air. LPG. dari 3 (tiga) agenda pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009. hasil pelaksanaan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat terus menunjukkan kemajuan. Kegiatan-kegiatan ini terutama berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keniagaan migas termasuk niaga umum BBM.31 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 50.2. Sementara itu.penawaran langsung ataupun penawaran melalui tender (regular dan direct offer). A. hasil pelaksanaan agenda pembangunan aman dan damai serta agenda pembangunan adil dan demokratis telah mengarah kepada keadaan yang diinginkan. Namun demikian. tahun 2006 terlaksana 32 kegiatan usaha dan tahun 2007 terlaksana 35 kegiatan usaha. program langit biru. tahun 2005 terlaksana 28 kegiatan usaha. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pemantauan kualitas air. MASALAH DAN TANTANGAN POKOK TAHUN 2009 Dengan berbagai kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan perkiraan pada tahun 2008. penandatanganan 26 kontrak kerja sama (KKS) dengan komitmen investasi untuk 3 tahun mendatang sebesar US$ 640. masih banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan.

serta 66 ribu tuna susila yang membutuhkan bantuan dan jaminan sosial. kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). upaya pembangunan yang dilakukan masih belum merata dan belum mencapai seluruh masyarakat. MEMPERKUAT USAHA MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH. Masalah pokok yang dihadapi dalam menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. Padahal sebesar 63. 64 ribu gelandangan dan pengemis. 2. Kedua. pelaksanaan program pembangunan masih bersifat parsial dan belum terfokus. prasarana dan sarana fisik perekonomian yang memadai. Persentase penduduk miskin pada Triwulan I Tahun 2008 sebesar 15. khususnya bagi yang berada di perdesaan dan luar Jawa. meliputi pendidikan. 2.dihadapi pada tahun 2009 diantaranya adalah sebagai berikut. Selain itu. dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola usaha. Akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Dukungan yang dibutuhkan terkait dengan jaminan lokasi usaha. 145 ribu anak jalanan dan 1. Saat ini terdapat 3. upaya pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial masih merupakan masalah dan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan. MEMBANGUN DAN MENYEMPURNAKAN SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL KHUSUSNYA BAGI MASYARAKAT MISKIN.8 juta anak telantar. kesehatan. Kesemuanya ini merupakan masalah dan tantangan yang harus ditangani agar efektifitas penurunan jumlah penduduk miskin dapat ditingkatkan. Terkait dengan upaya penurunan jumlah penduduk miskin. Oleh sebab itu tantangan yang harus dihadapi adalah menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. akses terhadap sumberdaya.5 juta jiwa orang cacat. Dukungan usaha masyarakat yang terbatas menimbulkan . MENYEMPURNAKAN DAN MEMPERLUAS CAKUPAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT.5 juta penduduk lanjut usia. Maluku dan Papua juga lebih tinggi dibanding di Pulau Jawa.8 juta jiwa korban bencana alam. yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat miskin. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap terus meningkat. jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih besar dan penurunannya berjalan lambat. kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan berbasis masyarakat masih sangat terbatas. jwnlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin karena guncangan ekonomi maupun karena bencana alam masih cukup besar. Selain itu.5 persen dari jumlah penduduk miskin tinggal di perdesaan. Ketiga. Tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan dukungan bagi perkembangan usaha mereka. perumahan serta air bersih dan sanitasi dasar masih terbatas.4 persen dan desa miskin/tertinggal mencapai lebih dari 46 persen. dan persentase kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama Nusa Tenggara.

KUR diberikan kepada UMKM dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang bersifat individu. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang masih membutuhkan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2004-2009. kemitraan dan/atau klaster yang layak untuk dibiayai namun belum menjadi nasabah bank. kewirausahaan dan kapasitas pengelolaan usaha yang rendah. dan kualitas pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar. hampir miskin dan tidak mampu yang memiliki kegiatan usaha produktif yang tersebar di berbagai lapangan usaha dan lokasi. merupakan masalah yang paling mendesak untuk ditangani. pemerataan. Selain tantangan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat miskin.permasalahan berupa tingkat pendapatan yang rendah. antarkota dan desa. Salah satu unsur pelayanan dasar yang diperlukan masyarakat adalah pendidikan. meskipun mereka memiliki usaha yang layak secara ekonomi untuk dibiayai. ekonomi dan politik yang terbatas. serta antarpenduduk kaya dan miskin.Rp 500 juta). akses terhadap pelayanan sosial. Besarnya kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi menjangkau kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah (kredit/pembiayaan di bawah Rp 5 juta) dan kebutuhan kelompok masyarakat yang usahanya terus berkembang (kredit/pembiayaan Rp 5 juta . Program KUR juga dilengkapi dengan pendampingan mulai dari penyiapan proposal kredit sampai dengan penggunaan kredit (pengelolaan keuangan). serta arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang masih berorientasi pada "inward looking" sehingga menghambat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. . khususnya pembiayaan. masih ditemui adanya kesenjangan pencapaian APK yang cukup tinggi antar daerah. MENINGKATKAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDlKAN. Keterbatasan dukungan akses terhadap sumberdaya.52 persen pada tahun 2007. Efektivitas penyaluran KUR dan pendampingannya merupakan tantangan yang harus ditangani secara tepat untuk mendukung upaya perkuatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut pada umumnya tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit/pembiayaan perbankan. kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi (Inpres 06/2007). kelompok. Di samping itu. Permasalahan utama yang dihadapi bidang pendidikan adalah masih diperlukannya peningkatan akses. dan 121 kabupaten/kota yang APK-nya sekitar 75-90 persen. Kesenjangan antar daerah tersebut terlihat dari masih adanya 75 kabupaten/kota yang variasi pencapaian APK SMP/MTs/Sederajat kurang dari 75 persen. Kondisi tersebut mendorong dikeluarkannya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yaitu percepatan penyaluran kredit/pembiayaan yang berasal dari sumber dana perbankan dengan dukungan penjaminan untuk kredit usaha mikro. Upaya keras ini perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat yang baru mencapai 92.

maka upaya yang dilakukan harus lebih besar. Pertama. namun masih terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kesehatan. penyakit menular masih cukup tinggi antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah penderita malaria. Dalam hal ini peran pendidikan nonformal menjadi sangat diperlukan dan harus dapat dimanfaatkan. terpencil. persebarannya belum merata. dan kesejahteraannya yang masih terbatas. penderita TB.2 persen. kurang vitamin A dan kurang zat gizi mikro lainnya. dan balita. masalah gizi utama masih memerlukan penanganan intensif seperti kurang energi protein pada ibu hamil. . perbatasan. kejadian demam berdarah dan kejadian luar biasa diare. Kelima. Keempat. Secara persentase angka tersebut memang tidak terlalu besar. dan daerah bencana masih perlu ditingkatkan. misalnya dengan alasan ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang belum mencukupi. kasus penyakit flu burung pada manusia. akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin dan penduduk daerah tertinggal. MENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilakukan secara terus menerus. gangguan akibat kurang yodium. Permasalahan dan tantangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperkecil kesenjangan antara sasaran dan pencapaian angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 2. Ketiga. Beberapa permasalahan dan tantangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan. jumlah dan distribusi tenaga kesehatan masih terbatas khususnya di daerah tertinggal. sehingga mereka lebih memilih bekeja dibandingkan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Keenam. kesehatan juga merupakan unsur penting yang menjadi indikator dan sekaligus merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain pendidikan. Kedua. terpencil dan perbatasan. serta berbagai masalah gizi lain seperti anemia gizi besi. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian anak balita. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat akibat ketersediaan pendidik berkualitas belum memadai. namun mengingat proporsi buta aksara terjadi pada penduduk usia 45 tahun ke atas yang umumnya memiliki minat belajar yang rendah.permasalahan dan tantangan lain yang dihadapi di bidang pendidikan adalah besarnya jumlah lulusan SMP/MTs yang karena alasan ekonomi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan juga merupakan masalah dan tantangan yang harus diselesaikan. dan jumlah kumulatif kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan. bayi.

(1) rendahnya akses terhadap pelayanan transportasi khususnya untuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan. pedalaman. namun masih diperlukan berbagai upaya lanjutan dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur perdesaan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Di bidang transportasi masalah pokok dan tantangan yang dihadapi antara lain. makanan dan keamanan pangan masih perlu ditingkatkan. Disamping itu. TFR pada kelompok termiskin sekitar 3. psikotropika. Jawa Timur. dan pulau-pulau kecil melalui pelayanan angkutan yang murah dan terjangkau untuk masyarakat miskin dan masyatakat yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. MENINGKATKAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR DI DESA SESUAI STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM). perbatasan. Kesejahteraan masyarakat dan kegiatan perekonomian hanya akan dapat ditingkatkan apabila tersedia pelayanan infrastruktur yang memadai. berdasarkan distribusi kelompok pengeluaran keluarga. Kalimantan Selatan. Pola serupa juga ditunjukkan oleh rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup pada perempuan yang pernah menikah yaitu pada kelompok termiskin sebanyak 3.I. dan pulau-pulau kecil.1 (DKI Jakarta. Hasil Supas 2005 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan Total Fertility Rate (TFR) di beberapa daerah baik di daerah yang TFR-nya masih di atas rata-rata nasional (Nusa Tenggara Timur. (3) kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur transportasi terutama di daerah perdesaan. MENGENDALIKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK. Di bidang sumber daya air masalah pokok yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku perdesaan serta pengendalian daya rusak air. Sulawesi Selatan.7 orang. dan Gorontalo) maupun di beberapa daerah yang TFR-nya sudah berada pada tingkat replacement level yaitu TFR kurang dari 2. obat. masalah pokok yang . Sementara di bidang energi dan ketenagalistrikan. perbatasan. Meskipun upaya peningkatan pelayanan infrastruktur perdesaan telah dilakukan.0 lebih tinggi daripada kelompok terkaya yang besarnya 2. Yogyakarta. Adapun tantangannya adalah ketersediaan air dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat untuk seluruh wilayah Indonesia. Ketujuh.3 orang. Sulawesi Tengah. D. perlu disusun peraturan perundang-undangan untuk mendukung pelayanan kesehatan seperti peraturan perundang-undangan tentang Rumah Sakit. dan Bali).ketersediaan obat dan pemanfaatan obat generik serta pengawasan terhadap obat. pedalaman.2. dan SDM kesehatan. (2) kurangnya keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. dibandingkan dengan kelompok terkaya sebanyak 2.

pada kenyataannya masih terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam penguasaan. Di bidang pos dan telematika. terutama masyarakat perdesaan. menurunnya wilayah jangkauan penyiaran. masalah pokok dan tantangan yang dihadapi adalah rendahnya jumlah akses. masih lemahnya kelembagaan ekonomi dan organisasi perdesaan yang berbasis masyarakat untuk menggerakan sistem perekonomian dan memperkuat modal sosial. Pertama. Terkait dengan telekomunikasi tantangan utamanya adalah perluasan layanan telekomunikasi dan jangkauan penyiaran serta pos hingga ke seluruh pelosok tanah air. Kedua. kualitas. merupakan tantangan yang dihadapi dalam perumahan.dihadapi. ekonomis dan sosial budaya. . Masalah dan tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap lahan. dan jangkauan layanan pos dan telematika di perdesaan. dan jaringan drainage. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). rendahnya kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah serta harga rumah yang terus meningkat karena meningkatnya harga lahan serta masih adanya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dalam perijinan pembangunan perumahan. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam upaya penguatan lembaga masyarakat dan pemanfaatan kelembagaan pemerintah daerah antara lain sebagai berikut. adalah rendahnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana energi dan belum memadainya fasilitas sistem ketenagalistrikan. Selain itu. jaringan air limbah. pemilikan. MEMPERKUAT LEMBAGA MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DESA. Disamping itu masih maraknya sengketa dan konflik pertanahan turut menghambat akses masyarakat perdesaan pada lahan. MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI YANG STABIL. Untuk itu tantangannya adalah mengembangkan sumber energi dan kelistrikan yang disesuaikan dengan kondisi demografis dan geografis dengan layak secara finansial. persampahan. BERDAYA TAHAN. masih lemahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah desa khususnya dalam menciptakan inisiatif-inisiatif pengembangan perekonomian desa dan pelayanan masyarakat. Di bidang perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan prasarana-sarana permukiman seperti jaringan air minum. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini memang tidak mudah karena kondisi demografis dan geografis yang bervariasi dengan persebaran penduduk tidak merata dan potensi energi yang sangat bervariasi. MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT PERDESAAN PADA LAHAN. Keterbatsan akses masyarakat terhadap lahan lebih lanjut menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber permodalan.

dan Uni Eropa) yang pangsanya sekarang masih sebesar sekitar 50 persen. investasi dan ekspor harus dapat ditingkatkan. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan ketersediaan kebutuhan dasar dan pengembangan perdesaaan perlu didukung oleh perekonomian yang lebih maju yang diantaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan. tantangan adalah meningkatkan diversifikasi pasar ekspor nonmigas. Amerika Serikat. dan (x) masih perlunya pengembangan potensi investasi di daerah. Dalam beberapa tahun terakhir. perekonomian yang berkualitas. perkembangan perekonomian semakin baik.DAN BERKUALITAS. sehingga ekspor nonmigas . berbagai permasalahan dan tantangan pokok masih harus dihadapi. Singapura. 25/2007 tentang Penanaman Modal sehingga memberi kejelasan arahan bagi pelaku usaha. (iii) perlunya peningkatan ketersediaan energi. dan perekonomian yang stabil dan tahan menghadapi berbagai gejolak dan tekanan. (iv) perlunya penyediaan berbagai skema insentif fiskal dan non fiskal guna meningkatkan daya saing usaha nasional. Perkembangan ekonomi juga harus didukung peningkatan daya saing sektor riil yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur. (ii) perlunya peningkatan jumlah dan kualitas infrastruktur. namun kondisi tersebut masih perlu ditingkatkan. Pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. (viii) masih perlunya peningkatan koordinasi program peningkatan iklim investasi antar pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. termasuk didukung oleh UKM yang memiliki produktifitas yang tinggi dengan lebih membuka aksesnya terhadap sumberdaya yang produktif. Dari sisi ekspor. (v) perlu dilengkapinya peraturan pelaksanaan UU No. Dengan mengatasi tantangan ini. tingkat ketergantungan ekspor nonmigas terhadap pasar tradisional akan berkurang. Upaya untuk mendorong kemajuan perekonomian juga harus mempertimbangkan ketersediaan pangan. agar tidak bertumpu pada empat pasar ekspor tradisional (Jepang. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan. (ix) ditingkatkannya kualitas promosi di dalam dan luar negeri. (vi) masih diperlukannya optimalisasi penyederhanaan administrasi perpajakan dan kepabeanan. Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kemajuan sektor-sektor utamanya seperti industri dan pertanian. SERTA PARIWISATA. MENINGKATKAN DAYA TARIK INVESTASI. Walaupun perkembangan investasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat namun upaya peningkatan investasi masih menghadapi permasalahan dan tantangan yang an tara lain: (i) perlunya peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan perijinan. (vii) perlu ditingkatkannya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. meskipun kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Sejalan dengan perbaikan tersebut. EKSPOR NONMIGAS.

(iii) belum mapannya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh kerja sama pelaku ekonomi-sosial-budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat belum berlangsung secara optimal. serta masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung kelancaran arus barang ekspor. masih besarnya hambatan non tarif di pasar ekspor baik tradisional maupun non tradisional. keterkaitan antara sektor industri hulu dan sektor industri hilir dengan sektor ekonomi lainnya yang relatif masih lemah. untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. barang setengah jadi dan komponen. Namun demikian sektor industri masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. masih perlu disempurnakannya proses penyederhanaan prosedur ekspor agar dapat mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mempercepat waktu penyelesaian dokumen ekspor-impor. struktur industri hanya didominasi beberapa cabang yang tahapan proses industri dan penciptaan nilai tambahnya pendek. Permasalahan yang dihadapi sektor industri dan sekaligus merupakan tantangan yang harus diatasi antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku. MENINGKATKAN MENDORONG KEMAJUAN SEKTOR INDUSTRI. koordinasi. Masalah dan tantangan pokok lainnya adalah masih perlunya upaya untuk meningkatkan diversifikasi produk ekspor. ekspor . agar pertumbuhan utama ekspor nonmigas Indonesia tidak hanya ditopang oleh ekspor komoditas primer yang relatif bernilai tambah lebih rendah dan harganya cenderung lebih berfluktuasi. serta rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata.Indonesia akan lebih tangguh terhadap perubahan kondisi perekonomian global dan gejolak permintaan di keempat pasar ekspor tersebut. Dari sisi pariwisata. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tersebut diharapkan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata terutama dalam upaya peningkatan kontribusi devisa terhadap perolehan devisa dapat diatasi. dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga maupun pusat dan daerah dalam pengembangan destinasi dan promosi pariwisata belum maksimal. dan belum seluruh pemerintah provinsi. (ii) belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan terutama oleh pemanfaatan media massa dalam dan luar negeri baik elektronik maupun cetak serta teknologi informasi sebagai sarana promosi belum maksimal. berbagai masalah dan tantangan yang masih harus dihadapi adalah: (i) belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan terutama oleh pembangunan pariwisata terutama antara kawasan Barat dan Timur yang belum merata dan kurangnya kenyamanan dalam berwisata karena antara lain sarana dan prasarana menuju destinasi pariwisata belum sepenuhnya memadai. bahan penolong. kota. dan kabupaten mendukung promosi daerahnya sebagai destinasi wisata dan masih adanya berbagai peraturan daerah yang menghambat pengembangan pariwisata. integrasi. Sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian.

46 persen dari angkatan kerja. tenaga kerja formal diharapkan memiliki produktivitas tinggi serta memiliki kualifikasi dan kompetensi seuai dengan permintaan pasar kerja. namun secara absolut jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2008 masih tinggi yaitu mencapai 9. Tantangan ini diikuti dengan pentingnya pemberdayaan UMKM yang banyak menyerap tenaga kerja informal. dan keterbatasan kepada akses sumber permodalan.5 juta lapangan kerja baru. Di samping itu kondisi permesinan di beberapa kelompok industri perlu diperbaharui agar tetap kompetitif di pasar internasional. Keadaan ini menjadi penghambat . namun produktivitas UKM per tenaga kerja hanya sebesar Rp. 12. MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN AKSES UKM KEPADA SUMBERDAYA PRODUKTIF. pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang banyak menyerap tenaga kerja informal. daya serap tenaga kerja yang mulai meningkat masih diserap oleh lapangan kerja informal.4 juta atau 8. Padahal UKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Di sisi lain. Tantangan ini tidak mudah karena beberapa tahun terakhir. Meskipun jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2007-Februari 2008 sangat tinggi yaitu sekitar 4.produk industri didominasi oleh hanya beberapa cabang industri. serta peningkatan kualitas pelayanan TKI yang akan bekerja di luar negeri. dan masih lemahnya peranan kelompok industri kecil dan menengah sebagai industri pendukung. teknologi dan pemasaran. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah menciptakan kesempatan kerja terutama lapangan kerja formal-seluas-luasnya.3 juta. Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal yang mencakup 70 persen dari seluruh pekerja untuk memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara pekerja informal dengan pekerja formal. sangat kecil dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai sebesar Rp. MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA. Masih rendahnya tingkat produktivitas UKM ini selain disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia. antarsektor dan antar daerah. lebih dari 60% kegiatan sektor industri berada di Jawa. antarindustri. 240. meskipun UKM memberikan kontribusi yang cukup besar dalam PDB. Sebagai gambaran pada tahun 2006. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dapat dilaksanakan antara lain dengan pelatihan berbasis kompetensi dan pelatihan melalui pemagangan di tempat kerja. Tantangan ini berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan yang memungkinkan pekerja untuk pindah antar perusahaan. Tantangan kedua adalah mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi.1 juta. Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi oleh UKM saat ini adalah produktivitas UKM yang meningkat sangat lambat sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan yang masih lebar antar pelaku UKM dengan pelaku usaha besar. produksi. juga disebabkan karena masih besarnya biaya transaksi dalam kegiatan usaha.

kemajuan UKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produk. Meskipun akhir-akhir ini produksi pangan sudah meningkat secara signifikan. tetapi peningkatan akses pangan di tingkat rumah tangga masih perlu terus . Akses pangan bagi rumah tangga relatif meningkat yang diindikasikan dengan semakin menurunnya kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga. Perkembangan harga bahan pokok yang cepat ini memerlukan pemantauan intensif dan evaluasi seksama. yang cukup memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. bahkan pada beberapa tahun terakhir rata-rata pertumbuhan produksinya masih lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. beberapa bahan kebutuhan pokok masyarakat di beberapa daerah. meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi tantangan yang perlu untuk diatasi dalam mempercepat pertumbuhan UKM. upaya stabilisasi harga bahan pokok memerlukan koordinasi kebijakan ekonomi makro seperti sasaran inflasi. kebijakan subsidi khususnya BBM. meningkatkan impor apabila diperlukan dan menyempurnakan sistem distribusi bahan pokok. Di samping itu. Selanjutnya. Dalam tahun 2007 dan awal tahun 2008. stok beserta matarantai distribusinya dan sistem pemantauan yang baik dapat menjaga kelancaran pasokan dan meredam terjadinya lonjakan harga bahan pokok secara berarti serta dapat menghindari terjadinya penimbunan dan penyelewengan distribusi yang mengurangi ketersediaannya. tetapi permasalahan pangan khususnya masalah distribusi pangan di beberapa lokasi yang terisolir masih saja terjadi. termasuk terhadap sistem distribusi dan stok bahan pokok Pemerintah dan dunia usaha yang tersebar di berbagai daerah serta belum terdata dan terpantau dengan baik. cukup sulit diperoleh dan harganya meningkat tajam. persaingan dalam memperoleh berbagai sumberdaya produktif juga semakin meningkat yang diiringi dengan pesatnya mobilitas sumberdaya tersebut serta upaya untuk menumbuhkan wirausaha yang berbasis pengetahuan dan teknologi. TDL. laut maupun udara. maka upaya untuk mendorong swasembada pangan pokok yang sangat rentan terhadap lonjakan harga dan ketersediaan dalam negeri perlu terus ditingkatkan. Ketahanan Pangan dalam negeri dinilai masih rentan karena pertumbuhan produksi pangan khususnya beras masih belum stabil. Tersedianya basis data tentang pusat-pusat produksi. baik yang didukung oleh sistem transportasi darat. pertanian dan suku bunga. PENGAMANAN PASOKAN BAHAN POKOK. PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL. kebijakan tarif ekspor dan impor. relatifnya tingginya harga bahan pokok di berbagai daerah yang sulit dijangkau dapat diatasi dengan mempercepat pembangunan dan meningkatkan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. ketahanan pangan masyarakat masih belum didukung dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap pangan. Sementara itu. Permasalahan dan tantangannya adalah meningkatkan penyediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan meningkatkan produksi. Untuk itu. Selain itu.

(2) praktek penangkapan dan budidaya ikan yang tidak menggunakan kaidah keberlanjutan masih sering terjadi. dan kehutanan masih perlu ditingkatkan. peningkatan biaya input pembudidaya ikan/udang. dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi yang berakibat pada frekwensi operasi nelayan melaut. di sisi lain terjadi pula penurunan kuantitas dan kualitas perikanan tangkap. serta perbaikan diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat merupakan tantangan utama yang dihadapi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. peningkatan produksi perikanan masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan oleh belum kondusifnya iklim usaha perikanan yang terkait dengan permodalan dan investasi.dilakukan agar kasus rawan pangan di tingkat rumah tangga semakin jarang terjadi. penguatan kemampuan produksi pangan dalam negeri. Dari sisi kehutanan. serta peningkatan biaya pengadaan sarana dan prasarana perikanan baru. perbaikan sistem distribusi dan tataniaga pangan. serta (3) kerusakan sumber daya pesisir terutama terumbu karang. Selain penguasaan teknologi. perikanan. Masih rendahnya penguasaan teknologi pengolahan produk pertanian berakibat pada rendahnya nilai tambah produk pertanian. serta belum memadainya kegiatan penyuluhan. yang ditunjukkan oleh tingkat utilisasi industri hasil pertanian yang masih sangat rendah. perikanan dan kehutanan dalam negeri yang menyebabkan ekspor komoditas pertanian. meskipun produksi komoditas pertanian dan perikanan tetap meningkat namun belum memberikan nilai tambah yang memadai untuk masyarakat petani dan nelayan karena kurang berkembangnya industri pertanian. hutan bakau. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan pertanian. Selanjutnya. estuaria. dan pulau-pulau kecil akibat pengaruh limbah yang berasal dari daratan dan eksploitasi manusia yang berlebih juga belum dapat secara optimal ditangani. Akibatnya. Dengan permasalahan pokok tersebut. perikanan. baik di pusat maupun di tingkat daerah. Penurunan kuantitas dan kualitas ini sebagai akibat dari: (1) kegiatan ilegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing dan kapal yang tidak memiliki ijin penangkapan. kebutuhan akan produk hasil hutan terutama kayu . pendampingan teknologi. MENINGKATKAN KUALITAS PERTUMBUHAN PERTANIAN. pemanfaatan industri hasil pertanian juga relatif belum optimal. PERIKANAN DAN KEHUTANAN. dan kehutanan masih didominasi oleh komoditas bahan baku industri. padang lamun. dan lemahnya pengawasan. pengembangan sistem insentif yang mampu mempertahankan lahan-lahan produktif dalam memproduksi bahan pangan. kelembagaan. Semenrara itu. Permasalahan lain yang dihadapi adalah sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran perikanan terutama yang berada di daerah masih belum memadai.

MENINGKATAN KAPASITAS MITIGAS DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL. perubahan musim tanam. Saat ini laju degradasi hutan telah mencapai 1.700 ribu ha/pertahun.08 juta ha/tahun sementara itu upaya rehabilitasinya sangat kecil yaitu sekitar 500 . hutan Tanaman Rakyat (HTR). Saat ini perspektif optimalisasi nilai manfaat hutan masih cenderung kepada pemanfaatan hasil hutan kayu yang merupakan sebagian kecil dari nilai manfaat hutan. dan penyedia air bersih belum dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu. penyerap karbon. sehingga terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kapasitas industri yang ada dengan kemampuan penyediaan bahan baku. tantangan yang dihadapi adalah mengupayakan rehabilitasi hutan dan lahan secara terus menerus dengan memaksimalkan sumber daya dan dana yang ada. sumber daya air dan energi.dari tahun ke tahun semakin meningkat akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi oleh kemampuan menghasilkan sumber bahan baku yang dibutuhkan. Erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Oleh karena itu sumber-sumber alternative bahan baku kayu bulat untuk industri harus dapat dikembangkan diantaranya melalui pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). mengendalikan pembalakan liar dengan penegakan hukum terhadap pelaku dan peningkatan kemampuan polisi hutan. keanekaragaman hayati. hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Degradasi hutan yang terus menerus terjadi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan pembalakan liar berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan secara umum. meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran serta meningkatkan kelembagaan. Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor yang cukup parah di hampir sebagian besar wilayah. Oleh karena itu pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan harus dapat dikembangkan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat di dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam serta pengembangan taman nasional model. Tantangan yang dihadapi untuk mengatasi masalah ini diantaranya adalah: (i) melengkapi dan lebih mengakuratkan pendataan dan permodelan iklim regional untuk Indonesia untuk memudahkan para perencana pembangunan dan pelaksana pembangunan mengantisipasi dampak terjadinya perubahan iklim. (ii) memperbaiki pengintegrasikan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan . ketimpangan tersebut menyebabkan semakin cepatnya kerusakan hutan dan lahan yang ada. perubahan iklim global menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan kekeringan. peningkatan suhu dan pasang air laut yang ekstrem yang menyebabkan ketidakpastian nelayan untuk melaut. sedangkan manfaat hutan lainya seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dengan fungsi sebagai penyedia udara bersih.

(4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi yang masih rendah. batubara. kemampuan dan daya saing sektor rill perlu senantiasa ditingkatkan. serta (6) meningkatkan investasi migas. DUKUNGAN PENINGKATAN DAYA SAING SEKTOR RIlL. (5) Reguiasi yang masih dalam transisi (pembatalan UU Ketenagalistrikan dan penyempurnaan UU Migas). Sektor rill merupakan motor penggerak dalam perekonomian. (3) menciptakan kondisi yang mendorong dunia swasta mau berinvestasi dalam penyelenggaraan melalui restrukturisasi perundang-undangan dan peraturan di bidang transportasi serta perbaikan iklim investasi sehingga tidak ada lagi monopoli dalam pelayanan transportasi. juga karena . (2) menciptakan kondisi agar keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi dapat memenuhi standar keselamatan dan keamanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan standar internasional. Oleh sebab itu. kelaikan prasarana dan sarana. (1) meningkatkan pemanfaatan energi primer non-BBM untuk kepentingan domestik seperri gas bumi. serta manajemen transportasi. serta meningkatan kinerja jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air usaha tani terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. serta (iv) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam menangani perubahan iklim pengurangan risiko bencana dengan memanfaatkan struktur institusi yang telah ada. Di bidang sumber daya air permasalahan dan tantangan pokoknya adalah mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya air dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dan industri serta pengendalian daya rusak air. Krisis ini terutama terjadi karena selain masih belum ada sistem ketenagalistrikan nasional untuk menopang peningkatan pembangunan ekonomi secara memadai. panas bumi dan batubara serta energi baru terbarukan yang masih rendah. krisis listrik belum dapat teratasi. Terkait dengan bidang energi masalah dan tantangan yang dihadapi adalah. meskipun tidak mudah. (iii) meningkatkan dan menseragamkan kepedulian dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah yang masih rendah dan tidak seragam sehingga pembangunan sejalan dengan tujuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana. Permasalahan pokok yang dihadapi pada peningkatan daya saing sektor riil antara lain sebagai berikut. panas bumi. batubara dan terbarukan) terhambat karena besarnya subsidi BBM. Di bidang transportasi masalah dan tantangan pokok yang dihadapi adalah: (1) meningkatkan jaminan keselamatan dan keamanan transportasi yang antara lain disebabkan oleh lemahnya regulasi dan kelembagaan. sumber daya manusia (SDM) dan budaya keselamatan.iklim temasuk pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. jaringan transmisi dan distribusi yang masih rendah. Dari sisi ketenagalistrikan. sehingga pengembangan energi alternatif (gas bumi. (2) meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan. (3) Harga energi konvensional/BBM yang belum mencerminkan keekonomiannya. dan pengembangan energi termasuk infrastruktur energi.

serta masih perlunya penyempurnaan iklim demokrasi. perdagangan. Selanjutnya. (2) sulitnya melakukan pembebasan lahan dan upaya mencapai titik temu kompensasi lahan yang terkena dampak pembangunan fasilitas ketenagalistrikan juga menjadi tantangan yang setiap tahun terus berlanjut. dan kurangnya dukungan dari industri dalam negeri. keterbatasan ketersediaan pelayanan publik. mengingat terbatasnya ketersediaan produksi dalam negeri serta infrastruktur transportasinya. Dari sisi pos dan telekomunikasi. dan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan dalam mendukung peningkatan daya saing dalam sektor riil. MENINDAK DAN MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI. serta (3) keterbatasan dalam pendanaan karena kepercayaan perbankan internasional dalam menyalurkan pendanaannya dalam investasi pembangkit listrik swasta di Indonesia.kurang efisiennya sistem dan pengelolaannya. tingginya ketergantungan kepada teknologi proprietary. Hal ini tidak mudah karena upaya ini akan dihadapkan pada tantangan tersediri yaitu: (1) sulitnya mencari ketersediaan energi primer yang dibutuhkan seperti batubara dan gas. Permasalahan dan tantangan yang yang dihadapi dalam rangka pemberantasan korupsi khususnya dalam upaya penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah mengoptimalkan penanganan kasus . serta menggeser pola penggunaan layanan pos dan telematika. terbatasnya pengembangan aplikasi dan konten Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) lokal. tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pos dan telematika yang memadai. dalam tahun 2009 masih harus dihadapi berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang terkait dengan hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat. Permasalahan dan tantangan pokok tersebut diantaranya adalah masih perlunya berbagai upaya untuk menekan tindak pidana korupsi. di sisi perumahan dan permukiman masalah dan tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya dukungan prasarana-sarana dasar permukiman yang menunjang sektor industri. kawasan pariwisata. permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan tingkat pemanfaatan infrastruktur dan layanan pos dan telematika yang masih rendah dalam menciptakan peluang ekonomi. Di samping berbagai permasalahan dan tantangan pokok yang secara langsung terkait dengan kesejahteraan masyarakat. rendahnya e-literasi. yaitu dari hanya sebagai alat komunikasi (konsumtif) menjadi pencipta peluang usaha (produktif). Oleh sebab itu tantangannya adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik non BBM serta mengembangkan jaringan penyalurannya secara tepat waktu. serta tingkat konsumsi BBM yang masih cukup tinggi. masih belum mengalami perkembangan yang berarti.

Dalam upaya untuk mempercepat pemberantasan korupsi. perlu ada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan RAN PK baik pada level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. dalam kaitannya . serta pajak. Banyaknya praktek korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang.korupsi. MENYEMPURNAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNTUK MENDORONG UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI. Selain itu. namun langkah-langkah tindak lanjut dan ratifikasi tersebut belum dilakukan secara optimal. untuk menghindari adanya kesan diskriminasi dalam hal penanganan kasus korupsi maka perlu dilakukan upaya penentuan prioritas kasus yang ditangani dengan lebih akuntabel. Meskipun Indonesia telah meratifikasi UNCAC (United Nation Convention Against Corruption) melalui Undang-undang No. Namun demikian pelaksanaan RAN PK pada ringkat kementrian/lembaga maupun RAD PK pada beberapa daerah belum dilaksanakan secara efektif. Pemberantasan korupsi harus mengikutsertakan semua lapisan masyarakat yang ada. terutama untuk beberapa isu yang menjadi perhatian dalam penyusunan RAN PK dan RAD PK seperti perijinan di bidang investasi. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya tergantung dalam hal penanganan kasus korupsi oleh aparat penegak hukum saja akan tetapi juga perlu adanya dukungan dari masyarakat luas dalam mendorong upaya pemberantasan korupsi. maka penanganan kasus korupsi dilakukan dengan melalui penentuan prioritas khususnya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. Oleh sebab itu. pertanahan. Oleh sebab itu. Keadaan inilah yang antara lain menyebabkan adanya kesan tebang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini. Peraturan perundang-undangan untuk mendorong pemberantasan korupsi di Indnonesia masih sangat terbatas dan perlu disempurnakan. pengadaan barang dan jasa. Masing-masing kementrian/lembaga diharapkan dapat segera menyusun Rencana Aksi Instansi (RAI) PK dan level pemerintah daerah dapat segera ditetapkan Rencana Aksi Daerah (RAD) PK. MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. menyebabkan penanganannyapun memerlukan kerja keras dari aparat penegak hukum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesan tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. LSM dan Perguruan Tinggi. baik itu yang berada di KPK maupun Kejaksaan. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) 2004-2009 sebagai Living Document yang disusun oleh 92 instansi Pemerintah. 7 Tahun 2006. Oleh karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. penyelenggaraan pelayanan system administrasi manunggal satu atap (samsat). Oleh sebab itu budaya permisif dari masyarakat terhadap perilaku korupsi harus dapat dihilangkan agar fungsi pengawasan dari masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat terlaksana dengan baik. telah dikeluarkan Inpres No.

MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. Oleh sebab itu upaya untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan harus dapat dilakukan. (4) belum efektif dan efisiennya pelayanan publik kepada masyarakat karena belum adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah disahkan. (7) belum meratanya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik pada instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. dan (8) belum terintegrasinya sistem koneksi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem informasi Kementerian/Lembaga karena masih terbatasnya dukungan . (5) masih belum memadainya kompetensi aparat pemerintah di daerah dalam penerapan SPM. serta Permendagri No. maka pemerintah harus melakukan penyesuaian hukum nasional dengan prinsip-prinsip UNCAC. Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah yang secara bertahap semakin memantapkan peran institusi birokrasi pemerintah agar mampu berkontribusi dalam mendorong keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional khususnya turut menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bidang lainnya. diantaranya: (1) belum selesainya proses pembahasan RUU Pelayanan Publik yang merupakan landasan hukum dan kebijakan pelayanan publik secara lebih komprehensif. Namun demikian. (6) masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik untuk pelayanan penduduk perkotaan akibat pesatnya pertambahan penduduk yang harus dilayani. Beberapa permasalahan yang dihadapi di bidang pelayanan publik. dalam pelaksanaan reformasi birokrasi masih dihadapi berbagai permasalahan yang sekaligus menjadi tantangan yang harus dapat diatasi untuk memantapkan peran institusi pemerintah. (3) belum dikembangkannya secara maksimal sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on line di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). beberapa peraturan pelaksanaan dalam undang-undang nasional belum lengkap sehingga menyebabkan masih adanya hambatan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberantasan korupsi.dengan perlindungan saksi dan korban dan keterbukaan informasi publik. perpajakan dan kepabeanan dan pengadaan barang dan jasa publik/pemerintah. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. Sebagai upaya tindak lanjut keanggotaan Indonesia dalam UNCAC tersebut. 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. sebagai penjabaran PP No 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM dan Permendagri No. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya juga menghambat pengembalian aset negara yang dikorupsi. serta memberikan dukungan pada peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan publik. (2) masih belum optimalnya pelayanan publik di bidang investasi.

(5) meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik melalui penyusunan standar pelayanan perkotaan (SPP). tantangan yang dihadapi pada tahun 2009 adalah (i) menyempurnakan sistem diklat. MENINGKATAN KINERJA DAN KESEJAHTERAAN PNS. pengadaan barang dan jasa. termasuk membangun Unit Pelayanan Investasi Terpadu di daerah dan mengimplementasikan National Single Window (NSW). Oleh sebab itu. Dengan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas. khususnya dari sisi kurikulum dan strategi pembelajarannya. dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan profesionalisme PNS dan peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. (2) kenaikan remunerasi bagi PNS termasuk anggota TNI dan POLRI selama ini masih terbatas pada penambahan penghasilan.dana dari pemerintah promosi dan kabupaten/kota dalam penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan masih perlu ditingkatkannya keakuratan atau validitas data kependudukan nasional. (6) melakukan optimalisasi dan perluasan penggunaan teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. (2) menyempurnakan dan mengembangkan manajemen pelayanan publik khususnya di bidang investasi. perpajakan dan kepabeanan. permasalahan yang dihadapi antara lain : (1) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PNS. (3) UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian perlu disempurnakan sejalan dengan perkembangan kebijakan di bidang penyelenggaraan negara dan tuntutan penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih terpadu. Dalam upaya peningkatan kinerja dan kesejahteraan aparatur negara khususnya PNS. dalam rangka peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS. (3) menyusun dan menerapkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memantapkan pelaksanaan pendelegasian kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. belum mempertimbangkan penyempurnaan struktur penggajian secara adil. Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik. tantangan pokok yang dihadapi. dan (7) mengintegrasikan sistem koneksi nomor induk kependudukan antar instansi terkait sebagai basis data pelayanan publik khususnya pelayanan administrasi kependudukan. layak dan berbasis kinerja. serta mengembangkan sistem pelayanan informasi dan perizinan penanaman modal terpadu satu pintu secara on-line di daerah. maka tantangan bagi pemerintah adalah menentukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan terfokus. Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan ujung tombak dalam menyediakan pelayanan pada masyarakat yang perlu ditingkatkan kinerja dan kesejahteraannya. baik diklat struktural maupun fungsional. (4) meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM). diantaranya adalah: (1) disahkannya UU Pelayanan Publik dan dilanjutkan dengan sosialisasi secara luas kepada masyarakat dan penyusunan peraturan pelaksanaannnya. kurikulum dan . transportasi.

tantangan dalam penataan kelembagaan. antara lain: (1) pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. kinerja program dan individu pegawai. Oleh sebab itu. layak dan berbasis kinerja. terbatas dan belum fokus. KETATALAKSANAAN DAN PENGAWASAN APARATUR NEGARA. (4) perlunya diupayakannya sinergistas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan instansi pemerintah. kedudukan dan fungsi. dan masyarakat guna menjamin kualitas dan kinerja penyelenggaraan kepemerintahan.pengembangan strategi pembelajaran untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja dan profesionalisme PNS. beberapa permasalahan yang masih dihadapi di bidang ini. sebagai pedoman bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme birokrasi pemerintah. dan (3) mengembangkan sistem pengawasan nasional untuk mensinergikan pengawasan internal. sejalan dengan adanya kewajiban setiap instansi pemerintah harus memiliki key performance indicator (KPI)/Indikator Kinerja Utama (IKU). dan (iii) melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian khususnya UU No 43/1999. Di sisi kelembagaan. sehingga berpotensi pada in-efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. eksternal. MENINGKATKAN PENATAAN KELEMBAGAAN. Dalam hal ini secara terperinci tantangan yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut : (1) menerapkan manajemen berbasis kinerja pada lingkungan instansi pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi. dan pengawasan aparatur negara masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang secara efektif dan efisien. MEMPERKUAT LEMBAGA PENYELENGGARAAN PEMILU DAN MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF MASYARAKAT DALAM PEMILU 2009. (3) kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah masih ditandai tumpang tindih kewenangan. sehingga menimbulkan penilaian publik bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi masih bersifat parsial. dengan berpedoman pada rencana induk (grand design) reformasi birokrasi dan pedoman-pedoman terkait lainnya. Pemantapan demokrasi pada tahun 2009 diperkirakan masih menghadapi sejumlah permasalahan . Secara lebih rinci. agar lebih efektif dan mendukung fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara adalah memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi pada instansi pemerintah pusat dan daerah. belum didasarkan atas road map atau grand design yang sifatnya komprehensif. yang mencerminkan sistem reward and punishment yang adil. (ii) mengembangkan sistem remunerasi pegawai negeri sipil termasuk juga bagi TNI dan POLRI. dan (2) mengurangi tumpang tindih fungsi lembaga quasi birokrasi/lembaga non struktural menuju terwujudnya efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. ketatalaksanaan. (2) masih perlu ditingkatkannya pemahaman aparat pemerintah tentang pelaksanaan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah.

ilegal logging. juga berakibat pada kapabilitas TNI dan Polri dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat akibat bencana alam. Di satu pihak masyarakat sangat mengharapkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil sehingga dapat mencerminkan secara jernih aspirasi politik rakyat. bersih dan efisien. Kemampuan pertahanan nasional belum dapat memberikan efek detterence/penangkal. Permasalahan dalam mendukung efektifitas pemilu terkait dengan keterbatasan waktu mempersiapkan berbagai proses tahapan akhir penyelenggaraan Pemilu 2009. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PEMILU 2009. Di samping itu. Keadaan yang tidak memadai pun terjadi pada alat utama Polri. Kondisi tersebut diperburuk oleh kesiapan alutsista yang secara rata-rata hanya mencapai 45 persen dari yang dimiliki. tidak berdasarkan mobilisasi kelompok masyarakat. yaitu jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat utama (alut) Polri yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi. Oleh karena itulah kapasitas. TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan dan Polri sebagai komponen dasar keamanan dan ketertiban masyarakat. mengingat waktu yang tersisa menjelang pelaksanaan pemilu cukup terbatas. MEMANTAPKAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. Tindak kejahatan transnasional di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan masih cukup tinggi seperti narkoba. Pada Pemilu 2009 partisipasi politik diharapkan makin aktif berdasarkan kesadaran politik warga yang lebih tinggi. belum tuntasnya penanganan pelaku dan jaringan terorisme yang beroperasi di Indonesia serta belum meredanya aksi-aksi terorisme skala regional maupun global berpeluang meningkatkan aksi-aksi terorisme di dalam negeri terutama dalam menghadapi Pemilu 2009. saat ini dihadapkan pada masalah mendasar. Kekurangan jumlah dan ketidaksiapan alutsista TNI dan Alut Polri ini selain berakibat pada melemahnya efek penggentar (deterent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi. transparansi dan akuntabilitas kelembagaan penyelenggara pemilu perlu diingkatkan agar mampu bekerja secara lebih profesional. . Oleh karena itu. tantangan bagi pemerintah adalah meningkatkan efektifitas koordinasi antar lembaga untuk memastikan keseluruhan persiapan dukungan Pemilu 2009 dapat dilaksanakan tepat waktu.dan tantangan. penyeludupan manusia atau senjata. Tantangan lain adalah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung ketersediaan dan distribusi logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. ilegal fishing. Di lain pihak tantangan KPU untuk memenuhi jadwal pelaksanaan pemilu dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pemilu juga tidak kecil. bahkan belum mampu memenuhi kekuatan dan gelar minimum essential forces. serta dukungan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pemilu.

B. TEMA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TAHUN 2009 DAN PENGARUSUTAMAAN Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008. Dengan demikian tantangan yang dihadapi untuk memecahkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas adalah: mewujudkan kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala minimum essential force guna mampu menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan termasuk dalam hal memberikan dukungan pencegahan dan penanggulangan terorisme. dan mengupayakan pengamanan rangkaian proses pemilu 2009. meningkatkan upaya penangkapan pelaku utama dan jaringan terorisme di Indonesia. proses pemungutan dan perhitungan suara. Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat. Lingkungan hidup yang . mencegah tindak kejahatan lintas negara khususnya di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah-wilayah perbatasan yang relatif masih cukup tinggi termasuk mencegah terjadinya demand dan supply narkoba. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. yaitu: . apabila kurang disertai oleh kedewasaan sikap politik masyarakat. dalam lingkungan yang saling menunjang dan terkait. Oleh karena itu. serta tantangan yang dihadapi tahun 2008. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi.Pengarusutamaan partisipasi masyarakat.Saat ini pemahaman politik masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan masa Pemilu tahun 2004. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang. aparatur negara. Namun hal ini dapat menjadi hal yang kontraproduktif terhadap stabilitas keamanan dalam negeri dan jalannya proses Pemilu tahun 2009. tema pembangunan pada tahun 2009 adalah: "PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN" Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah ini. . tantangan mewujudkan Pemilu tahun 2009 yang berkualitas. terdapat 6 (enam) prinsip-prinsip pengarusutamaan menjadi landasan operasional bagi seluruh. kampanye. Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif. sosial. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya.Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan. jujur dan demokratis adalah tercapainya stabilitas umum keamanaan dalam negeri dan terpenuhinya upaya-upaya khusus dalam mengamankan seluruh rangkaian proses pemilu dari masa persiapan.

Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. dan kontrol. Untuk itu pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. . Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif. . Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten. termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perobahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait. dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi. Strategi pengarusutamaan gender.Pengarusutamaan gender. kesempatan. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi. serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. maka diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal . Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. dan memiliki akses. serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara. dunia usaha. ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance). . legislatif dan yudikatif. Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya.Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance). makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat. dan masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang.lestari merupakan modal dasir pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar.

Prioritas pembangunan tahun 2009 ini ditempuh dengan sasaran. maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan. yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN.Pengarusutamaan padat karya. jembatan. DAN ENERGI. 3. Sejalan dengan itu. setengah penganggur. Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating). kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah. jenis kegiatan. dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty). dan lain-lain. serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009. C. maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah. PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2009 Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 -2009. fasilitas air bersih. maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1.Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah. dan lokasi yang dipilih. Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan. guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasil-hasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DI DUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN. I. fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut. dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan.PENINGKATAN PELAYANAN DASAR DAN PEMBANGUNAN PERDESAAN . Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI. fasilitas sanitasi. 2. .PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran. serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. Penetapan kelompok sasaran. REFORMASI BIROKRASI. Mekanisme sistem penyaluran dan dari pengelolaannya akan dilakukan secara transparan. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI.termasuk kawasan perbatasan. jumlah. . INFRASTRUKTUR.

PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan.09 persen. 2. (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri. sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen.Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. 4.Meningkatnya pemberdayaan ekonomi.57 persen.00 persen.Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. khususnya masyarakat miskin. Pendidikan 1.SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1.Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menjadi 87 persen. 3. 5. antara daerah maju dan daerah tertinggal. meningkatnya APK jenjang SMP/MTs/Paket B setara SMP menjadi 98.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat.Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Ekonomi Usaha Rakyat 1. dan meningkatnya APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96. 3.Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan. 2. bersamaan dengan makin berkembangnya budaya baca.34 persen. 5.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket C setara SMA menjadi 69.Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin).Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara perkotaan dan perdesaan. meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99.00 persen. 2.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5.Meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan. antara penduduk kaya dan penduduk miskin. Kesehatan 1.64 persen. dan . 3. serta meningkatnya kesejahteraan pendidik.Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal (K4) menjadi 90 persen. serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.76 persen dan 95. 4. 2.Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi.Meningkatnya partisipasi jenjang pendidikan dasar yang diukur dengan meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jenjang SD termasuk SDLB/MI/Paket A setara SD menjadi 115. dan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18.00 persen. sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir.

Merungkatnya persentase balita yang mendapatkan Vitamin A mencapai 80 persen.000 desa siaga. 4. 16. 12. 14.Tersedianya jumlah tenaga kesehatan dan kader kesehatan di 26. Keluarga Berencana 1.2 persen.Meningkatnya persentase penderita flu burung yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) menjadi sekitar 30. 8. 10. 9. 11.Terlaksananya pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 97 ribu sampel. 2. 15. 6.Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk di puskesmas dan jaringannya menjadi 100 persen. 20. 19. 18.Tersedianyan dokter spesialis yang dididik sebanyak 1.Menurunnya Case Fatality Rate diare saat KLB mencakup < 1. 13.Meningkatnya Case Detection Rate TB mencakup > 70 persen. 5.Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dalam rangka cara pembuatan obat yang baik (CPOB) menjadi 45 persen.Meningkatnya persentase penderita malaria yang ditemukan dan diobati menjadi 100 persen.Meningkatnya persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan dan mendapat pertolongan Anti Retroviral Treatment (ART) menjadi 100 persen.Menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi sekitar 2.1 juta peserta.Meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe menjadi 90 persen. persentase rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) menjadi 75 persen.740 orang dan 300 orang senior residen yang didayagunakan.cakupan kunjungan neonatus (KN) menjadi 87 persen dan cakupan kunjungan bayi menjadi 87 persen. meningkatnya persentase rumah sakit yang terakreditasi menjadi 75 persen.16 per wanita.Meningkatnya persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi 80 persen. 17.Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita.Meningkatnya persentase penderita demam berdarah (DBD) yang ditemukan dan ditangani menjadi 100 persen.Meningkatnya angka penemuan Acute Flaccid Paralysis menjadi ≥ 2 per 100 ribu anak usia kurang dari 15 tahun. 3. .Meningkatnya persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) menjadi 98 persen. 7.Meningkatnya persentase rumah sakit yang memiliki pelayanan gawat darurat yang memenuhi standar mutu menjadi 90 persen.

3 juta keluarga Sumber Daya Air 1. 4. prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 4.9 juta. dan 12. 10. surya.3. 9.6 persen dari peserta KB aktif.Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku 2.4 persen dari seluruh Pasangan Usia Subur (PUS).Meningkatnya jumlah keluarga lansia yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi 1. .Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan. Energi 1. dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan.1 juta.Meningkatnya keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi 2.0 juta. serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. 8. 6.Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai Transportasi 1.Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan. 5.Optimalnya fungsi tampungan.Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan 5.Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi sekitar 21 tahun.Meningkatnya peserta KB Pria menjadi sekitar 3. melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro. 11.Menurunnya unmet-need menjadi sekitar 6. perdesaan.Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan KS I anggota Usaha Penigkatatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang aktif berusaha menjadi sekitar 1. 7.Terbinanya peserta KB aktif miskin (KPS dan KSI) sekitar 12. daerah terpencil. termasuk penyediaan angkutan massal.Meningkatnya jumlah keluarga remaja yang aktif mengikuti kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) menjadi 1. pedalaman dan kawasan perbatasan. Terbangunnya tampungan untuk air baku 3. pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO).5 juta. angin.0 juta peserta.Terlayaninya peserta KB Baru (PB) sekitar 6.9 juta peserta.Terlayaninya peserta KB baru dari keluarga miskin Keluarga Pra Sejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS 1) sekitar 2.

2.Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis. serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan. 4.Ketenagalistrikan 1. perbaikan rumah.Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2.Terfasilitasinya penguatan kelembagaan dan pemantauan unit pengaduan masyarakat. persampahan dan drainage) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat. serta 3. Pertanahan 1.Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah masyarakat melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah terutama untuk membuka akses masyarakat miskin terhadap pemilikan sertifikat.Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan didaerahnya. 2. skala regional dan sistem terpusat.: . desa nelayan. 3.Tertatanya struktur penguasaan tanah yang adil dan mendukung perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan penataan penguasaan.Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota. penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang berkeadilan dan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah.Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya. desa tradisional. Pos dan Telematika 1.Meningkatnya kapasitas aparatur Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pembangunan kawasan perdesaan. Kelembagaan Masyarakat dan Pemerintah Desa 1. dan desa eks-transmigrasi. Perumahan dan Permukiman 1. layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO. dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh.Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah. fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru. pemilikan. 2. fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya. siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan.Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat.Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan. penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun.

4. c)Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak.000 KK di 33 provinsi. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat. Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 249. o)Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76.500 lanjut usia terlantar. h)Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640. 14. Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 50. d)Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L.Meningkatnya pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat desa. k)Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 512. korban bencana sosial 350. m)Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik.060 tuna sosial.231 mahasiswa. ARAH KEBIJAKAN.miskin.086 penyandang cacat di 33 Provinsi.Meningkatnya kelembagaan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan. yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar.000 RTSM di 13 provinsi. n)Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang.922 siswa.078 siswa.000 jiwa dan Bahan Bangunan Rumah (BRR) 12. FOKUS. 3. t)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 998.25 juta jiwa.000 anak.200 siswa. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: Fokus 1.000 siswa.4 juta penduduk miskin.000 siswa. 1)Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320. .000 siswa. g)Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1. i)Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat .800 siswa. 10 provinsi & 50 kab/kota. 11. e)Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/ Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota. dan 5.320 korban napza. b)Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 750. j)Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 387.3.Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin a)Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5.796.

d)Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target pemberdayaan di 3.000 ha. Rumah Tangga Miskin. JIDES 40. pendampingan cetak sawah 25 kab. cetak sawah 25. fasilitasi sertifikasi lahan petani 25. Pengembangan SRI 50 paket. q)Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. irr tanah dalam 50 unit. irr bertekanan 135 unit. embung 200 unit. peral horti 3. irigasi tanah dangkal 400 unit. pompa hydram 8 unit.072 kecamatan. serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB.500 ha. Irigasi air permukaan 205 unit. NTB-WRMP. kondom). IDB. Balai Subak 20 unit.200 desa. Reklamasi lahan 4. Konservasi DAS 15. b)Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target pemberdayaan di 1. PHLN (WISMP.700 PA Miskin (suntik.589. Sumur resapan 450 unit.000 ha.500 ha. dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi. sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan. pengembangan HMT 3. pembukaan lahan kering 2.Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat a)Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2. IUD. pil. Optimalisasi lahan 21. f)Penanganan Rehab dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY & Jateng dengan target terlaksananya Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi Yogyakarta dan Jateng.500 ha.000 bdg. POST TSUNAMI.000 ha.000 ha.900 PB Miskin (Implant. r)Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916. e)Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota.000 ha. pengembangan dampak SRI 50 unit. c)Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE.000 ha.000 ha. PLTB di lahan rawa 500 ha. peral bun 4. t)Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin. TAM 20. g)Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70. PISP. s)Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19.500 ha. JUT 470 km.1 juta masyarakat miskin.p)Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya. DRIP IRRIGATION) 6 paket.886 kecamatan (BLM & T/A). jalan produksi 300 km. . padang pengembalaan 500 ha. PNPM) dengan target pemberdayaan di 237 kecamatan. Fokus 2. MOP/MOW) dan 9. Konservasi lahan 500 ha.

dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil.300 keluarga rentan sosial ekonomi.300 UMI.500 UKM oleh 500 BDS. Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat .800 kader penggerak pembangunan.044 desa tertinggal di 186 kecamatan.h)Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3). fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 101. 1. pengembangan LM3 Peternakan 340 klp.800 Koperasi/LKM. i)Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target fasilitasi dan pengembangan PUAP di 10. 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2.000 UMi/3. terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi. Fokus 3. h)Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi. k)Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target penyediaan prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten. bantuan sosial ke 1. 12.850 unit PLTS di 952 desa tertinggal. 6.000 Koperasi/LKM.480 kelompok masyarakat.234 KK fakir miskin. i)Pemberdayaan Ekonomi. m)Pemberdayaan keluarga.700 UMI. l)Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14. dan pemberdayaan sosial melalui bantuan modal usaha KUBE. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil a) Penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).000 koperasi. 3.448 peserta). LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp.150 KK komunitas adat terpencil. f)Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1. g)Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4.565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. b)Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan target tersedianya pendampingan kepada 3.000 desa. d)Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2. e)Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1. j)Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal. 148 kabupaten. 29. c)Penyediaan Dana Bergulir Untuk kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Termasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75.

700. k)Pembangunan RKB SMP dengan target 8. h)Rehabilitasi ruang kelas MI dan MTs dengan target 1. f)Penyediaan Buku Pelajaran jenjang Pendidikan Dasar (Bos Buku) MI dan MTs dengan target 6. m)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket. BRR) melalui 1.751 siswa.292 siswa.130. e)Penyediaan Buku Pelajaran SMP dengan target 6.440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal.100 ruang. n)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD-Nias ex. b)Melanjutkan Penyediaan BOS SMP untuk 9. Fokus 4. p)Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan). UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp.657. l)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 2 paket. Pengolahan pakan temak di 15 Kab. d)Penyediaan Buku Pelajaran SD dengan target 19.417 siswa. peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi.822 siswa. g)Rehabilitasi Sarana dan Prasarana SMP dengan target 5. pengolahan hasil ternak di 15 kab. c)Penyediaan Bas Jenjang Pendidikan Dasar (MI/MTs) dengan target 6. Pengolahan hasil bun di 40 kab.751 siswa. pengolahan hasil horti di 50 kab.142.955 siswa. Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab.Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang Berkualitas Khususnya Bagi Daerah yang Kinerja Pendidikannya Masih Tertinggal a)Melanjutkan Penyediaan BOS SD unruk 27. j)Pengembangan Agroindustri Terpadu dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi. Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp. j)Pembangunan USB SMP dengan target 350 unit.900 unit. o)Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal. k)Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan: target 1 paket. pembukaan ULIB Baru 300 unit. .pesisir di 100 kab/kota. i)Pembangunan SD-SMP satu atap dengan target 750 unit. l)Bantuan Pembangunan MI melalui MEDP (ADB) dengan target 205 MI. serta pemberdayaan perempuan pesisir /lembaga adat.465. penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi.000 ruang.142. berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kab/kota.

773 siswa. Kebijakan . r)Pelaksanaan penelitian di Perguruan Tinggi (yang menghasilkan Patent. s)Penyelenggaraan Paket B setara SMP dengan target 410.200 paket.618. i)Pembangunan Perpustakaan.900 sekolah.139 siswa. w)Akreditasi Sekolah Jenjang SD dengan target 32.Peningkatan Mutu Dan Relevansi Pendidikan Menengah. Jurnal Internasional. y)Penyusunan/Pengembangan kurikulum/Bahan ajar/model pembelajaran dengan target 461 Kab/Kota.750 ruang. p)Penyelenggaraan UN Jenjang Pendidikan Menengah dengan target 3. c)Rehabilitasi ruang ke1as MA dengan target 850 unit. b)Rehabilitasi Ruang Kelas SMK dengan target 1. d)Pembangunan USB SMA dengan target 50 paket. k)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMA dengan target 50 paket.500 sekolah.786. p)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMP dengan target 3. Teknologi Tepat Guna. q)Pembangunan Perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar SD dengan target 6. l)Pembangunan Pusat Sumber Belajar SMK dengan target 50 PKT.693 siswa. Dan Non Formal a) Rehabilitasi Ruang Kelas SMA dengan target 970 paket.500 ruang.m)Bantuan Pembangunan MTs melalui MEDP (ADB) dengan target 237 MTs. n)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK [siswa] dengan target 2. Rekayasa Sosial.000 orang. v)Penyelenggaraan UN SMP dengan target 3.727. h)Bantuan Pembangunan MA me1alui MEDP (ADB) dengan target 549 unit. f) Pembangunan RKB SMA dengan target 1. Laboratorium dan Workshop SMA dengan target 499 PKT.396 sekolah. g)Pembangunan RKB SMK dengan target 5. j)Pembangunan Perpustakaan. Tinggi.000 sekolah.559 siswa.548 sekolah. t)Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dengan target 84. x)Akreditasi Sekolah Jenjang SMP dengan target 8.854 Siswa.700 PKT. Laboratorium dan Workshop SMK dengan target 225 PKT.000 orang. o)Akreditasi Sekolah jenjang pendidikan Menengah dengan target 5. Foktus 5. u)Penyelenggaraan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD dengan target 5. q)Pengembangan bidang keilmuan (Rumah Sakit Pendidikan) PTN dengan target 13 PT. o)Pembangunan Laboratorium IPA dan Perpustakaan SMP dengan target 3. n)Penyediaan Peralatan Lab SMP dengan target 3.059. r)Penyelenggaraan Paket A setara SD dengan target 90. e)Pembangunan USB SMK dengan target 225 lokasi.000 paket.000 ruang. m)Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMA (Sekolah) dengan target 1.

000 orang. w)Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan (paket C) dengan target 35.000 orang. l)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan Dasar) dengan target 341.389 dosen dan baru 6.000 m2. k)Percepatan Sertifikasi Dosen (PTA) dengan target 2.000 ORG. e)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S1 dengan target 2. Pengadaan 1 perangkat e-library untuk 32 provinsi.000 lembaga. y)Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pembangunan Lembaga PAUD dan Penyediaan Bahan Ajar dan Alat Permainan Edukasi dengan target 9.000 orang. c)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (DN) dengan target 17. Karya Seni dan Buku Ajar) dengan target 445 Judul.000 ORG. m)Subsidi Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (Jenjang Pendidikan .000 orang. h)Pengembangan Kemitraan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah Untuk Mendukung Wajib Belajar 9 Tahun dengan target 11. s)Pengadaan Peralatan Laboratorium PT dengan target 164 paket. j)Percepatan Sertifikasi Guru Madrasah dengan target 90. f)Peningkatan kualifikasi akademik dosen PT (LN) dengan target 2.Publik.389 dosen dengan rincian lanjutan 11.267 KK. Metodologi. 50. Koleksi dan Layanan Perpustakaan dengan target terlaksananya pembangunan gedung layanan perpustakaan terbuka Jl.000 eksemplar bahan bacaan.143 orang.790 orang. u)Pendirian dan Peningkatan Kapasitas Politeknik dengan target 41 politeknik. d)Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Program S2 dengan target 2.500 orang dengan rincian lanjutan 1. v)Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional dengan target 900. z)Perluasan akses dan mutu TK (subsidi TK-SD satu atap) dengan target 596 TK.465 guru. t)Pembangunan gedung dan lab baru PT dengan target 175. Merdeka Selatan tahap I.Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik a)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (dikedas) dengan target 270.500 dosen.000 orang.000 dosen. aa)Penyediaan Fasilitas. Fokus 6.0000 dosen. g)Peningkatan Mutu dan Profesionalisme guru dengan target 11. x)Penyelenggaraan Kursus dan Magang dengan target 200. i)Percepatan Sertifikasi Akademik Bagi Guru dalam jabatan melalui sistem portfolio dengan target 200.900 orang.000 dosen dan baru 1. bb)Bantuan Fasilitasi Perpustakaan Keliling kepada Perpustakaan Umum Kab/Kota dengan target terlaksananya fasilitasi 60 unit perpustakaan keliling di 60 kabupaten/kota. b)Percepatan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik (menengah) dengan target 10.

n)Tunjangan Fungsional Guru Non PNS RA/MI/MTs/MA dengan target 501. 75 RS rujukan Unit Gawat Darurat (UGD). f)Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) desa siaga dengan target terlatihnya 52. b)Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dengan target terlaksananya pendidikan 1. Fokus 8.349 orang.Menengah) dengan target 196. 33 RS Rujukan Unit Tranfusi Darah UID). d)Pemenuhan dan Peningkatan Fasilitas Sarana dan Prasarana dengan target tersedianya 4 RS World Class. pencegahan GAKY diukur dengan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium yang cukup (80%). a)Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak (KIA) dengan target cakupan pelayanan antenatal (K4) 90%. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 87%. o)Tunjangan profesi guru dengan target 307. dan cakupan kunjungan bayi 87%. bayi dan anak balita dengan target penanganan gizi kurang dan gizi buruk (500 ribu anak 6-24 bulan). c)Penanganan Masalah Gizi Kurang dan Gizi Buruk pada ibu hamil dan menyusui.500 dosen.000 kader di desa siaga. d)Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (penanggulangan Penyakit Menular) dengan target 100% penderita DBD.348 orang. e)Penanggulangan penyakit flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza dengan target 100% penderita flu burung yang ditemukan tertangani. q)Tunjangan Profesi Guru (Madrasah) NonPNS dengan target 46.101 orang. . Kekurangan Gizi dan Pemberantasan Penyakit Menular.831 orang. 330 RS Rujukan PONEK. p)Tunjangan profesi guru menengah dengan target 63. Malaria. Fokus 7. dan 20 RS Lapangan di daerah terpencil dan perbatasan. 100% HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapat pengobatan. serta terlaksananya pelayanan kesehatan haji. c)Pembiayaan Jaminan Kesehatan dengan target 100% klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. pemberian Fe (90%). pemberian vitamin A (80%).740 orang dokter spesialis dan dan 340 mitra dokter spesialis. r)Tunjangan profesi dosen dengan target 12. dan 200 bidan komunitas. terlaksananya pelayanan penanggulangan flu burung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI).Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan a)Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Dasar termasuk biaya operasional dengan target tersedianya biaya operasional di 8.114 Puskesmas dan jaringannya. b)Penanggulangan Krisis dengan target tertanggulanginya masalah kesehatan di daerah bencana. 80% angka kesembuhan TB dan 95% UCI desa.Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak. kunjungan neonatus (KN) 87%.445 orang.

580 peserta. pengembangan center of exellent di 6 provinsi. 1 juta keluarga menjadi anggota BKL aktif. Fokus 10. Pengelolaan dan Pelayanan KB Pemerintah dengan target (1) 4. dan 1. terselenggaranya pendidikan 44 ribu calon tenaga kesehatan. obat bencana. dan Penyediaan Tenaga Kesehatan a)Penyediaan dan pengolahan obat dan vaksin dengan target penyediaan obat generik esensial (buffer stock). dan (2) terlaksananya sosialisasi dan KIE KRR di 450 Kab/kota dan 33 prov. obat flu burung. b)Pengujian laboratorium Sampel obat. dan (2) terselenggaranya Advokasi dan KIE Program KBN melalui forum kerjasama LSM dan swasta di Pusat. obat Tradisional. terselenggaranya 12 jenis diklat. provinsi dan kabupaten/kota. Makanan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dengan target 97 ribu sampel.850 kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif dan berkualitas. 1. tugas belajar 2. obat program. d)Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. c)Peningkatan Akses Informasi dan Pelayanan Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dengan target (1) 2.Fokus 9. e)Pendataan Keluarga dan Individu Dalam Keluarga dengan target (1) seluruh desa/kelurahan menggunakan hasil pendataan keluarga sebagai basis/dasar untuk pembinaan pengelolaan operasional program KB lini lapangan. d)Penguatan Jejaring Operasional Lini Lapangan Yang Berbasis Masyarakat dengan target (1) terselenggaranya pembinaan operasional lini lapangan bagi sekitar 25. obat haji. b)Pembentukan. Pemantapan Revitalisasi Program KB a)Peningkatan Jejaring Pelayanan KB Pemerintah dan Swasta/Non Pemerintah dengan target 70.871 penggerak KB di desa. f)Intensifikasi Advokasi dan KIE Program KB Nasional dengan target (1) .Peningkatan Pemanfaatan obat. Pengawasan obat dan Makanan. Produk Komplemen.5 juta keluarga menjadi anggota BKB aktif. terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya. serta RS kab/kota terutama di daerah terpencil dan bencana dengan target tersedia dan terlatihnya 12 ribu bidan. Pengembangan.500 orang.3 juta KPS dan KS I anggota UPPKS aktif berusaha. c)Peningkatan Sarana dan Prasarana termasuk peningkatan kapasitas SDM dengan target tersedianya 35 paket peralatan laboratorium. 47 ribu kader kesehatan.1 juta keluarga menjadi anggota BKR aktif. dan terlatihnya 7. Prov dan Kab/Kota.728 bidan di desa siaga. dan (2) terselenggaranya sistem informasi dan monitoring manajemen Program KB Nasional di pusat.000 tempat pelayanan KB memberikan promosi dan konseling. serta ditempatkannya 300 residen senior. dan vaksin. 11 sarana fisik gedung. terlatihnya 29. dan terciptanya sistem jaminan ketersediaan alat kontrasepsi (JKK) dan pembiayaan program KB terutama bagi rakyat miskin.

i)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km.800 desa/kelurahan. refreshing dan pelatihan teknis bagi 25. Bidang Sumber Daya Air a)Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 4. provinsi dan kabupaten/kota.Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) A. terlaksananya peningkatan . g)Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan di 12 lokasi. dan (2) terselenggaranya KIE program KB dan KS melalui media massa dan media luar ruang di pusat. e)Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 5 titik. h)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pengembangan sistem informasi program KB berbasis IT di Pusat dan 33 Propinsi. Fokus 11.14 m3/det. dan (2) terselengaranya pendidikan jangka panjang/pendek bagi 580 orang. g)Peningkatan Kompetensi Petugas dan Pengelola Program KB dengan target (1) terlaksananya pelatihan dasar umum/LDU. B. dan pengembangan sarana dan prasarana termasuk melanjutkan sarana dan prasarana di wilayah pemekaran.Toga/Toma tingkat desa berpartisipasi dalam kegiatan advokasi di 17. Bidang Energi a)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan. b)Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 35 buah. c)Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 20 buah. h)Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 49 lokasi.871 PLKB/PKB serta pengelola KB agar memenuhi standar kompetensi. d)Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 4 buah. f)Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 34 lokasi.

471 desa dan internet di 500 desa. terlaksananya pendampingan kegiatan PWS (kerjasama dengan ADB) dan kegiatan pengembangan biogas untuk rumah tangga (kerjasama dengan Belanda). E. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos. Desa Tradisional.100 KVA. dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10. 74.000 unit c)Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit. Bidang Ketenagalistrikan a)Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan. Desa Nelayan.669 desa.aksesibilitas energi perdesaan kerjasama Indonesia. dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2. dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. Desa Nelayan. 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 1. Gardu Distribusi sebanyak 1. D. 15 unit PLT bayu berkekuatan 80 KW.100 buah/53. Bidang Pos dan Telematika a)Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2. terlaksananya program IMIDAP.150 KMS. tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor transportasi terwujudnya pengembangan energi terbarukan non listrik di pulau kecil terluar. Desa Tradisional. Desa Tradisional. dan Desa Eks. Desa Nelayan. jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2.Transmigrasi sebanyak 10. terwujudnya peralatan kegiatan produktif desa mandiri energi berbasis BBN dan non BBN.750 KMS. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh. b)Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh.565 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 5O WP.806 KW. jasa akses telekomunikasi di 38. Desa Tradisional. C. e)Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan .000 unit. Desa Nelayan. Belanda dan GTZ). dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I).

Kalteng. dan Papua Barat. g) Pemberian subsidi PT. i)Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD. j)Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP /RIS-PNPM) dengan target 3.200 desa. antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah. Penanggulangan Lumpur Sidoarjo a)Pembangunan Jalan Nasional dengan target terlaksananya relokasi jalan arteri tara Porong sepanjang kurang lebih 7. h)Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan. Sulut. g)Penyediaan Salafia dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil/Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil/terpencil di 32 kawasan. Sulteng. c)Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit. b)Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52km. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10. Sultra. bantuan sosial.2 km sebanyak 1 paket jasa konstruksi. Malut. Pelni Rp 850 M. Maluku. G. d)Bantuan Penanggulangan Bencana Alam dan Kerusuhan dengan target terlaksananya 4 kegiatan (pelatihan. dan Pengembangan dengan target terlaksananya 1 kegiatan swakelola pemantauan dan penanganan dampak deformasi geologi. Sulbar. Papua. Kaltim. d)Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi. Sulsel. e)Pemberian Subsidi PSO PT KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dengan target Terlaksananya 4 paket pekerjaan yaitu 3 paket jasa konstruksi dan 1 paket jasa konsultan.750 unit.sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan. Sumut.2 km terdiri atas 5 paket pekerjaan yaitu: 4 pekerjaan paket jasa konstroksi dan 1 paket jasa konsultasi supervisi/manajemen konstruksi serta pembangunan/pemasangan pipa air bersih sepanjang kurang lebih 7. Sumbar. studi masalah . Penelitian. c)Penyelenggaraan. NTT. Bidang Transportasi a)Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 146 km. f)Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek. F.

e)Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah tertinggal (P2KPDT) dengan target melanjutkan Proyek SPADA.000 bidang. (4) terlaksananya lanjutan Pembangunan Pelabuhan Calang di Aceh Jaya. rumah operator). serta Pengembangan Sistem Drainase di 4 kab/kota di NAD. jembatan 140 m. Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah. sehingga terbangunnya infrastruktur ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan.sosial. EDFF-Aceh. d)Pembangunan Gedung Pendidikan Tinggi Agama melalui IDB dengan target terselesaikannya rehabilitasi rekonstruksi IAIN Ar-Raniry. Fokus 12. c)Fasilitasi Pembangunan Wilayah Tertinggal dengan target: (1) rehabilitasi dan rekonstruksi Kecamatan di NAD-Nias melalui pembangunan 5. f)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Melanjutkan dengan target terlaksananya Reconstruction of Aceh Land Administration System Project (RALAS) dengan rincian: (1) terlaksananya sertifikasi RALAS 140. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan pasar. perbaikan jalan 37 km. dan pustu. Pemilikan. Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias a)Pembangunan Jalan baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 119.8 km di NAD dan Nias. jalan dan parkir. gedung serba guna.000 bidang di Provinsi NAD. ruang generator. 200 unit sekolah dan infrastruktur publik. b)Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut dengan target: (1) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar. dan Kelembagaan di 6 wilayah. g)Peningkatan kehidupan masyarakat dan pengembangan wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Pasca Bencana dengan target Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Kabupaten/Propinsi dan Infrastruktur lainnya. serta Rehabilitasi Fasilitas Terminal untuk Pelabuhan Udara Sultan Iskandar Muda. dan proses verifikasi pembayaran tanah di 3 desa: Kedung-Cangkring. Pejarakan. 25 Kab/Kota. (2) terlaksananya lanjutan Pembangunan pelabuhan Lhokseumawe di Lhokseumawe. Nias-Provinsi Sumut). Transisi Pembangunan Ekonomi. Sosial Kemasyarakatan.000 unit rumah. dan Besuki). meningkatnya akses pelayanan sosial dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di 17 Kabupaten di Prov.000 bidang di Kep. (3) terlaksananya lanjutan Pembangunan dermaga dan Trestel di Kuala Langsa di Langsa.NAD dan 2 Kab di Nias. dan (2) melalui IDB-Simeulue Reconstruction Project untuk perbaikan 15 unit sekolah. Inventarisasi P4T 1 juta . rumah sakit. H. packing room. pengadaan peralatan dan mebel air untuk sekolah. termasuk di dalamnya Redistribusi dan Konsolidasi Tanah dengan target 310. dan LED Nias. dan (2) terlaksananya sertifikasi RALAS 10. Neraca PGT 100 Kab/Kota. Reformasi Agraria a)Pengaturan Penguasaan. serta perbaikan infrastruktur lainnya (cold storage. Puskesmas Pembantu (pustu) 20 unit.

POKMASDAR TIBNAH 408 kelompok.000 Orang). fasilitasi penyusunan Perda tentang pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat. dan Lampung.Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13. Fasilitasi sosialisasi peraturan (1. aparatur dan kader dalam pembangunan perdesaan berbasis masyarakat.1 persen. DAN ENERGI SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian. Orientasi (7 angkatan). d)Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan target 2. fasilitasi pengembangan lembaga.Penguatan Lembaga Masyarakat dan Pemanfaatan Kelembagaan Pemerintah Desa a)Pemberdayaan Lembaga dan Organisasi Masyarakat Perdesaan dengan target Bimtek (12 angkatan). Bimtek Keuangan (600 Orang). operasi sidik 100 kasus. mencakup operasi tuntas 900 kasus. Transmigrasi 3.065.228. Penyediaan Air Minum dan Sanimas/Pamsimas (15 Provinsi).710 Bidang (FRONA dan LMPDP sebanyak 1. dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut. 24 kab. Kegiatan PISEW/RISE di 9 provinsi.072 Titik.419 bidang.PERCEPATAN PERTUMBUHAN YANG BERKUALITAS DENGAN MEMPERKUAT DAYA TAHAN EKONOMI YANG DIDUKUNG OLEH PEMBANGUNAN PERTANIAN.980 Orang). Nelayan 2. Pilot Project PDT (17 Desa). c)Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dan Masyarakat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan dengan target terlaksananya pilot project pembangunan kawasan perdesaan berbasis masyarakat di 3 desa. pelatihan pengelolaan sampah RT berbasis masyarakat di 15 kabupaten.Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12. Bintek Administrasi (1. Pertanian 8.000 kasus. Pelatihan Masyarakat kerjasama dengan Balai Pemberdayaan Masyarakat Malang. .000 bidang).000 bidang dan RALAS 150. 500. pengkajian 1. Penataan Sarpras (680 Orang).320 Orang). b)Pengendalian dan Pemberdayaan Kepemilikan Tanah dengan target penertiban tanah terlantar 128 SF. Yogyakarta.600 perkara. 2. INFRASTRUKTUR. 3.065 bidang.000 Ha. c)Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah dengan target 1. II.5 persen. Inventarisasi tanah bekas hak/kritis 120 SP.bidang. penanganan perkara dan non-perkara 600 kasus. 1. modul pelatihan Sumber Daya Pesisir Beb basis Masyarakat di 33 provinsi. Fokus 13. b)Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan dengan target pengangkatan sekdes menjadi PNS (22.226 bidang. Infrastruktur.

dan Kendal.4 persen. e)Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali. Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara . Bab 18. Bab 22. dan Indonesia). Bab 17.Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara.Tumbuhnya pertanian. talk show 3 kali di dalam negeri. dan perikanan sebesar 5 persen. perikanan. PP Fasilitas insentif pengembangan KEK. g)Modernisasi Administrasi Kepabeanan dan Cukai dengan target .7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4. Arab.Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan. publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional.Menurunya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7-8 persen dari angkatan kerja ARAH KEBIJAKAN. 6. Mandarin. c)Strategi kebijakan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan target terlaksananya koordinasi perumusan kebijakan yang antara lain dalam bentuk PP Penetapan Wilayah KEK. d)Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara.0 persen. Manado. seminar 8 kali di dalam negeri. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a)Penyederhanaan prosedur. 4. promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional. Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut EKONOMI-dengan fokus pertumbuhan Fokus 1. koran nasional (bilingual). PP Kelembagaan dalam pelaksanaan KEK. f)Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara .3. 5. b)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait. FOKUS. peternakan dan hasilnya sebesar 4.9 persen. Jepang.9 persen. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16. dan kehutanan sebesar 3. Bab 19. peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru. information kit dalam 5 bahasa (Inggris. perkebunan sebesar 4. dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT.Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6.

Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk. d)Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor. serta berdirinya 6 ITPC baru. 5 lap raker. Incentives.terbentuknya 2 kantor KPU dan penerapan National Single Window (NSW). 3 konsep per UU. terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM. budaya. g)Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional. termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial. h)Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam. i)Peningkatan Kegiatan Meeting. 5 rekomendasi rapat. dan multilateral.Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar a)Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional. h)Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan/pemeriksaan/penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan. 2 lap monitoring. dan terdaftarnya 1000 merek/produk. pembangunan dermaga. pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum. b)Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri. Conferences and Exhibitions . Fokus 2. f)Koordinasi Pelaksanaan Tim National Single Window (NSW) dengan target 5 lap hasil peninjauan lapangan di negara maju. dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama. e)Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online). Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru. sejarah. dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata. peningkatan kinerja kepabeanan dan cukai. serta tersusunnya 38 pedoman/manual/peraturan yang melandasi pengawasan. c)Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata.

125 ton (75. Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional a)Peningkatan Produksi. 90 kab/kota. (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum.BTPH. Ketiga. (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi. Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan. tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25. terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPM. KTG 1.000 Ha.000 ha). Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku. (4) kedelai 4. j)Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia. produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi. (1) Peningkatan produksi. Kedua. (2) Pengembangan kacang tanah. kacang hijau. terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan. ubi kayu.200 ha. Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi. Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi. pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi. (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha). gandum. operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis.760 Ha. pembinaan 1000 penangkar (5. 60 BBI. l)Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1.000 ton.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan. ubi jalar di 100 kab. terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang). 90 kab /kota. rekrutmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang .(MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri. Bongkar Ratoon Tebu 3. perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi. tal. (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi.000 ton (1 juta ha). serta POPT inseminator. 29 BPSBTPH. m)Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi. k)Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi. Fokus 3. pembangunan Kebun Bibit Tebu 1.000 ha). b)Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama. (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi. Perluasan Areal Tebu 500 ha. (3) jagung hibrida 1. Keempat.

Cold Room 24 lokasi.051 POPT/PHP. (2) Operasional BPMPT.300 ton kedelai. Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit. d)Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi e)Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton. jagung komposit 2. SP-36 sebanyak 700 ribu ton. Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi. Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan.000 ton. . Petugas informasi.5 juta ton. h)Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan. Lantai Jemur 138 Kab. ibu hamil. l)Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Rehab pasar hewan 15 kab. Gudang pengering padi 139 kab. c)Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1.800 ton jagung hibirda dan 12.300 THK-POPT. j)Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton. (6) pengawasan pestisida di 33 provinsi. pasar 300 petugas dan sistem informasi harga/pasar di 110 kab. (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup ketia meliputi 429 kab.Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang. g)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tanaman Pangan. pengadaan pangan dan infrastruktur pangan. Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari. 201 SD/MI. penguatan kelembagaan pangan di pedesaan. bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48. jagung hibrida 3. i)Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam. (7) insentif 3. Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan.000 ton. (8) kontrak 1. 6.000 ton dan kedelai 2. (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi. ZA sebanyak 600 ribu ton. m)Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi AL 50 jt ds. menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota. Penyakit Hewan. dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elekttonik). NPK sebanyak 1. Revitalisasi Silo 18 unit. pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi. k)Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2.500 unit. (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi.000 ton padi non hibrida. pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi). dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton t)Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95. Revitalisasi LDM 10 unit. distribusi dan rawan pangan.

meningkatnya overall recovery di atas 85%.000 ha. Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2. 25 Kabupaten/Kota. Pengembangan komoditi spesifik (gambit. Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang. t)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2. pengembangan teh 300 ha.000 ha. ha. stabilisasi harga bahan pokok. mendorong terbangunnya 8 PG baru. Lada 800 ha.000 ha. lada 6 provinsi. Pengembangan Komoditi Potensial (Kina. . u)Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 535.Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi. o)Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 239. Pengembangan Kako Non Revit. areal tanam 275. p)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi. jarak kepyar. Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi. b)Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama. Pinang. Kopi dan Tembakau seluas 10. r)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 22. Kelapa rakyat 30. Aren.900 ha.500 ha.000 ha. panili) seluas 2. Jambu Mete.000 ha. n)Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 68.000 ton. Rehab Bangunan UPP 27 unit.000 ha. q)Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi. cuaca dan lingkungan pertanian. 12 varietas baru ton pangan. lada 800 ha. monitoring & evaluasi. Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet. 100 Kabupaten/Kota. Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang). s)Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 170. produksi hablur 2. 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan.300. dan sagu) seluas 177 Ha. v)Koordinasi.000 ha. Perikanan dan Kehutanan a)Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25. Peremajaan Kelapa Rakyat 8. 4 kandidat padi. 8 paket data potensi SBL. nilam.200 ha. Fokus 4. Sepeda Motor 181 Unit. Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529. cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis. akar wangi. Karet. kopi 15 provinsi. karet 14 provinsi.000 ha.000 ha. 4 paket pengelolaan plasma nutfah. 6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan.100. (2) Meningkatnya kapasitas 183.935 TCD. wijen. Penguatan Kelembagaan. Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi.Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian. Kebun IP3. 5 komponen teknologi informasi iklim. cengkeh 700 ha dan pala 400 ha. jambu mete 7 provinsi dan kelapa 8 provinsi.000 ha.000 ha.

pembangunan RPUSK. kentang.000 kelompok. Keempat. Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di . metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan. 5 paket teknologi pasca panen. 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan. terdidik dan terlatihnya 10. buah tropika.000 kelompok. (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit. rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit. 18 BPTP penguatan kelembagaan.tomat. pemuliaan. SL-PTT padi hibrida 5. e)Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama. pengelolaan plasma nutfah sayuran. 13 rekayasa alat mekamsasi pertaman. Kedua. f)Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31. 24 paket teknologi sistem produksi sayuran. transgenik. sidik jari DNA 45 ton pangan. 3 paket teknologi pakan ekonomis.000 petugas. kakao. 5 galur teroak unggul. (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit. dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit. Kedua. biofarmaka. 24 paket teknologi sistem produksi. kopi. (c) SL-Iklim 100 unit. SL-PTT jagung hibrida 5. pengujian Mutu Alsintan. buah tropika dan tanaman hias. terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) Pada 33 provinsi. kelapa. SL-PTT kedelai 10. 30 kabupaten/kota. terselenggaranya: (a) SL-PTT -Padi 40 ribu kel.000 penyuluh kontrak. ton mas. karet. 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian.000 kelompok. (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi. terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial. tebu di 24 prop. kina. (2) bantuan alat bengkel 250 paket. tan serat.379 orang penyuluh PNS dan 26. Ketiga. c)Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan. d)Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2. sebanyak 8 unit. kakao dan karet).000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan. rehab RPH. kelembagaan pasca panen 45 kab. terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan. 7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan.600 unit. RPU 30 kabupaten. 16 provinsi. (b) SLPHT 500 unit. 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. kapas. 33 paket teknologi spesifik lokasi. petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis. 5 paket teknologi pasca panen. 74 inovasi sistem produksi ton rempah-obat. 13 rekayasa alat mektan. the. terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa & 5.

(2) Pemberdayaan Kel. terbentuknya otorita kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi. 10 klaster industri perikanan. Tani 50 paket.500 persil lahan nelayan. verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi. kakap.71 kabupaten/18 provinsi. meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI. pengawasan. Sekolah Lapang 50 paket. PIP 50 paket.. nila. ikan mas. penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi. pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi. rumput laut. peningkatan mutu. introduksi benih unggul. serta sertifikasi 1. 53 balai benih ikan dan balai benih udang. dan gurame di 33 Provinsi. k)Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang.000 ha. serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi. l)Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya. intensifikasi usaha budidaya perikanan 871. Pembinaan 100. berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan. o)Penguatan dan pengembangan pemasaran da1am negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga . pengolahan.200 Gapoktan. peningkatan tenaga pendamping teknologi. n)Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/ rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan. g)Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi. j)Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota.. pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan.000 Poktan dan 3. lele. penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi. m)Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI). pemasaran hasil perikanan. h)Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi. i)Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan. serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. 6 lokasi buffer stock rumput laut. pengembangan seaweed center di Lombok. patin.

3 juta ha. aa)Perencanaan.000 ha. operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih. y)Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2.605 ha di 12 provinsi. serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3. sentra gaharu 800 ha. sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha. HTI. IUPHHK-HT. terse1enggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi.2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak/ijin dalam bentuk IUPHHK-HA. dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL. diversifikasi produk olahan. terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor. meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008. terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum. dan HTR seluas 300. 50 unit HPH me1aksanakan sistem silvikultur intensif.000 orang penyuluh. x)Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%. dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan . 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi. z)Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota.pemasaran. pengembangan 5 UPT. sentra rotan seluas 250 ha. terbentuknya 88 POKMASWAS. HTR dan IUPHHBK. w)Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400.000 ha di 25 provinsi. berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi. s)Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory. v)Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI se1uas 1. dan terselenggaranya pembinaan eksportir. p)Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuiuhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Ba1ai pelatihan. t)Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH. operasional 23 kapal pengawas. dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU.. sutera alam seluas 160 ha.000 ha. Pembangunan. u)Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300. dan HTR seluas 3. tersedianya sarana dan prasarana pengawasan.. q)Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan. r)Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu.

dan (b) menurunnya hot spot 0-10% dari tahun 2006. Pantai Utara Jawa. Fokus 5. mangrove. dan Biogas dengan target: Pertama. pembinaan mutu 33 provinsi. padang lamun. f)Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. i)Perencanaan dan Pembinaan Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan target terbangunnya sumber benih seluas 1. Batamas sapi potong/perah 200 klp dan Denplot 30 klp. Berkembangnya usaha pengolahan kompos dan biogas di 100 kab. terselenggaranya RHL sebagai pengendali banjir di Jabodetabekjur. pengembangan Integrasi Kelapa Sawit Ternak 12 Paket. Operasionalisasi OKKPD. estuari dan teluk dengan target terkelolanya dan terehabilitasinya terumbukarang di 15 kab /kota dan 8 provo serta 16 Kab /kota. Bali. sosek). penanganan daerah rawan longsor di 15 kab/kota pada 5 provinsi.3 juta ha di lahan kritis . d)Peningkatan Pengelolaan TPA/Sanitary Landfill/Sistem Regional dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan TPA/sanitary landfill/sistem regional di 86 kabupaten/kota. Kompos.500 ha di 12 provinsi.target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS. (3) terselenggaranya koordinasi dan pengawalan dalam pengembangan pupuk organik di 33 provinsi. tersalurkannya bantuan untuk pembuatan pupuk organik di 300 kelompok tani. OKPO. dan NTT). j)Pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan target: (a) terlaksananya pencegahan dan pengendalian kebakaran di 10 provinsi rawan 314 daops. (2) 150 unit rumah kompos. Sulawesi. Ketiga. NTB. Organik dan Pertanian Berkelanjutan dengan target: (1) Berkembangnya hortikultura organik di 6 provinsi.Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global a)Integrasi Tanaman-Ternak. (2) Diterbitkannya sertiftkasi 30 produk pertanian. k)Pengamanan Hutan dengan target operasi pengamanan hutan di 10 . Maluku. g)Pengelolaan Taman Nasional Model dengan target terwujudnya kelembagaan pengelolaan kolaboratif di 21 taman nasional model. h)Rehabilitasi Lahan Kritis dan Prioritas dengan target perencanaan Gerhan seluas 1. e)Pengembangan pengelolaan konservasi laut dan perairan dengan target berkembangnya pengelolaan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di 26 lokasi dan 2 UPT konservasi. longsor. biofisik. Kedua. Kakao ternak 4 paket dan Kopi ternak 3 paket. terlaksananya pengembangan 3 TN dalam rangka DNS. DAS prioritas tahun sebelumnya. b)Pengembangan Pertanian. serta terselenggaranya rehabilitasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah. c)Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dengan target Terlaksananya kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di 7 wilayah pesisir (pantai Barat Sumatera. Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir.

n)Penyedian Dana Alokasi Khusus untuk Mendukung Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target tersedianya sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan. penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan 50 % dari kasus yang ditangani Dephut. t)Penguatan Koordinasi Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang di Pusat dan Daerah dengan target meningkatkan koordinasi penataan ruang dan pemantapan kelembagaan BKTRN dan . pengendalian pencemaran lingkungan. q)Pengembangan Penelitian Meteorologi. serta reduksi timbunan sampah melalui pelaksanaan 3R (reduce. r)Meteorological Early Warning System (MEWS) dengan target terbangunnya sistem peralatan MEWS yang meliputi 2 unit radar cuaca dan ground satelite receiver di 3 takagi. 3 paket. Meteorologi dan Geofisika dengan target terbangunnya sistem data dan informasi meteorologi. recycle). 3 paket. terciptanya hubungan dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dalam proses penataan ruang. serta terlaksananya penghapusan 30 metrik ton BPO di sektor chiller dan metered dose inbealer (MDI). l)Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan target menurunnya beban pencemaran lingkungan dari berbagai sumber pencemaran terkait perubahan iklim. m)Pengendalian Kerusakan Lingkungan dengan target meningkatnya kapasitas dalam meningkatkan upaya pengendalian dampak perubahan iklim di pusat dan daerah. s)Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Koordinasi Penataan Ruang Dalam Rangka Mendukung Upaya Pengendalian Penataan Ruang dengan'target tersedianya tenaga yang memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk mengelola penataan ruang di Provinsi dan kab/kota. termasuk pengawasan dan sistem insentif melalui Program Menuju Indonesia Hijau (MIH). klimatologi. serta terlaksananya validasi AWS 7 sensor dalam rangka uji model numerik cuaca skala nasional dan provinsi. o)Pengembangan Sistem Observasi dan Telekomunikasi dengan target terbangunnya sistem observasi dan telekomunikasi serta instrumentasi dan kalibrasi. dan geofisika. dan perlindungan sumber daya air di 434 kab/kota.provinsi. AWS 33 lokasi dan automatic rain gauge di 11 lokasi serta 1 set sistem komunikasi dan integrasi. pengendalian pencemaran air. kualitas udara. serta pengendalian kerusakan lingkungan daerah berbagai kegiatan. pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di 16 kota. terutama meningkatnya status ketaatan 650 industri terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. Klimatologi dan Geofisika dengan target tersusunnya laporan deteksi dan skenario perubahan iklim serta dampaknya di 33 provinsi dan model prakiraan trayektori polutan udara. di 6 kota besar. pemantauan Udara Ambien Kontinyu (AQMS) di 10 kota dan Passive Sampler di 30 kota. p)Pengembangan Sistem Data dan Informasi Klimatologi. reuse.

e)Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi. v)Pembinaan Manajemen Penyelenggaraan Penataan Ruang dengan target terselenggaranya pembinaan manajemen penyelenggaraan penataan ruang dalam rangka mendukung turbinlakwas penataan ruang. c)Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional. networking. 80 kabupaten/kota. kajian dan pemetaan geopolitik perbatasan nasional. u)Operasionalisasi RTR Pulau. RTRWP. x)Pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dengan target dukungan kegiatan JBIC Loan. IGTE dan kerjasama ASEAN. RTR Pulau. RTRWN. aa)Penanggulangan Pasca Bencana dan Kerusuhan Sosial dengan target 2 paket. PMO. y)Pemetaan Batas Wilayah dengan target terselenggaranya kajian dan pemetaan Batas Internasional. fasilitasi dan penyediaan peta batas dan wilayah pemerintahan daerah serta kajian penyelesaian konflik batas antar daerah. f)Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT g)Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan.Revitalisasi Industri Manufaktur a)Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten/kota. h)Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 . RTR Kab/Kota dengan target terselenggaranya operasionalisasi RTRWN. w)Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang dengan target tersedianya peta dasar rupabumi 1 :50 K Papua dan Pantai Barat Sumatera. regional dan global. dan Malaysia serta pemeliharaan tanda batas negara dan pemetaan etnik perbatasan. Survei. RTR kab/kota serta terselenggaranya forum lintas pelaku penataan ruang. Kajian dan pemetaan batas maritime Indonesia dengan 10 negara tetangga. dokumen submisi klaim LKI diluar 200 nm. data utilisasi. Data Akuisisi dan Produksi. d)Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan. b)Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan termasuk revitalisasi industri gula. RTRWP. RDTL. z)Pengembangan Sistem Manajemen Penanganan Bencana dengan target 7 paket.BKPRD. demarkasi dan pemetaan darat dengan PNG. Fokus 6. Kegiatan Konsultan service I. Konsultan Service II Networking.

c)Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi.500 bidang tanah UKM. d)Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi didaerah-daerah.Rancangan SNI. k)Penerapan Standardisasi. h)Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47. b)Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50. dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan.000 orang tenaga kerja terdidik. b)Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan. j)Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru. i)Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan.Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif a)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket. kondisi kerja dan syarat kerja.000 tenaga kerja. i)Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. Fokus 7. g)Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan. d)Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah. e)Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan target 3 paket kegiatan UMKM inovatif. e)Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota .000 KUKM.Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja a)Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD). Fokus 8. c)Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10. Akreditasi. 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM. f)Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5.

Fokus 10. Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. kelembagaan yang efisien dan pruden.Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok a)Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan. Melalui Peningkatan Kelembagaan. 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif. h)Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja.Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter a)Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target tersusunnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. c)Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan permintaan serta harga bahan pokok nasional. . g)Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi. dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi.dengan fokus stabilisasi Fokus 9. d)Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi. Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit. f)Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri.000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi. Peningkatan Informasi. b)Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton). EKONOMI . i)Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500. Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya infonnasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota. j)Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi.di Pulau Jawa. b)Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum. serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan. perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar.

Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil A. b)Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan. Bidang Energi a)Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas. Embung. e)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 237. Pengamanan APBN a)Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan resiko fiskal. situ dan bangunan penampung air lainnya. . embung. 20 embung. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 23 waduk. g)Penanggulangan Bencana/Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian. INFRASTRUKTUR DAN ENERGI Fokus 12. (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center). Bidang Sumber Daya Air a.25 km. h)Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit. penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumii Jakarta. situ dan bangunan penampung air lainnya.c)Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi. Embung. dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak. j)Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1.37 km.)Pembangunan Waduk. f)Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 47. i)Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4. c)Operasi dan Pemeliharaan Waduk. Fokus 11. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung. b)Rehabilitasi Waduk. d)Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD.5 km. B.45 km. monitoring. Embung. Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk. dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan.

Terwujudnya fasilitasi kegiatan energi dan ketenagalistrikan pada sub sector network dan working group ASEAN. Distribusi. e)Pembangunan Transmisi. ACD. Bidang Ketenagalistrikan a)Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik. analisa. Jepang (JICA) dan Korea (KOICA).2009. Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10. . terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan. Terfasilitasinya pertemuan SOME-AMEM ke 27. Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha. tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali. b)Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi. dengan Perda dan Instansi Terkait. PLN.000MW. Jawa bali dan sumatra. monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU. kajian pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik (power wheeling) dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Ikitring dan Pemda. pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. d)Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target monitoring kesiapan dan kecukupan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. ASEM dan EAS. ASEAN SSN. Terwujudnya fasilitasi pertemuan bilateral antara Indonesia dg Belanda. Indonesia-Belanda. peningkatan efisiensi pengusahaan dan pelayanan tenaga listrik TA. monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara. serta pembangunan listrik swasta (IPP). monitoring dan review pelaksanaan aturan jaringan tenaga listrik sit. Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distribusi TL.b)Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring. Tersusunnya program kerjasama pengelola pembangkit listrik non komersial. Terlaksananya review terhadap implementasi program kerjasama energi dan ketenagalistrikan. dan evaluasi data ketenagalistrikan.2009. C. Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati. tersosialisasi perencanaan program pembangunan ketenagalistrikan Lisdes. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik sistem kalimantan. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik Wilayah PT Cikarang Listrindo TA. c)Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terselenggaranya pertemuan internasional APEC EWG. terkoordinasinya pelaksanaan perizinan dengan Pemda. penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU. tersusunnya aturan jaringan tenaga listrik wilayah PT PLN Batam TA 2009. pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. Terwjudnya Fasilitasi pertemuan regional pada forum APEC. Terfasilitasinya pelaksanaan pertemuan ACE governing Cauncil.

. terlaksananya sertifikasi baik operasi (SLO) . Jawa Bali dan Nusa Tenggara. terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang. tersusunnya investasi penyediaan TL. terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. tersusunnya pedoman pengawasan SLO. k)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi sektor ketenagalistrikan. terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL. tersusunnya pola kebutuhan dan prioritas pembangunan JTM/JTR. terupdatenya RUKN. terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terfasilitasinya tim keandalan sistem TL. 175 kV sepanjang 150 km. tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan. tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes. i)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan.000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional). terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembanguna TL. terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan. j)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan. Aceh.000 MW. gardu induk 18 lokasi. Kalimantan dan Sulawesi (peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10. di w11ayah distribusi Sumatera. h)Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat TA 2009. termonitornya penanganan daerah krisis TL. termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10. dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU. pembinaan dan pengawasan tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik kepada masyarakat TA 2009 kepada masyarakat TA 2009. Sumbagsel. terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan. terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan.f)Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan. tersusunnya pedoman kualifikasi standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. 150 kV sepanjang 1450 km. g)Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km. terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan. terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement. terlaksananya Pembinaan dan Pengembangan Program Ketenagalistrikan.

n)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik. data center. tersusunnya pedoman pemeriksaan dan pengujian pemanfaatan jaringan Tenaga Listrik untuk kepentingan Telematika. fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam usaha penyediaan tenaga listrik. Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos. PLTG. . c)Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literary) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan. instalasi) di Kota Jogja.Bidang Pos Dan Telematika a)Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan. (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi. koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian listrik ilegal. penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL. penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK. (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik. penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara. tersusunnya Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (BUJPTL). Regulasi. penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional. D. (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran. internet. tersedianya data dan daftar Badan Usaha Jasa Penunjang Ketenagalistrikan di Indonesia yang dapat diakses masyarakat. Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri. pemantauan dan verifikasi usulan harga beli tenaga listrik dari IPP.l)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terciptanya Lembaga dan Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik dalam negeri yang mampu mendukung kemandirian nasiona1 dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan. tersusunnya pedoman tentang kriteria dan tata cara penilaian Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri (PDN) pada PLTA. monitoring dan eva1uasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan PKUK. Keahlian SDM. dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime. m)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam Bisnis Tenaga Listrik. b)Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan. (5) RUU Cyber Crime. monitoring dan penghitungan BPP dan TDL-PLN. terlaksananya Konvensi Hasil Penyusunan Pedoman Sertifikasi dan Regristrasi Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik.

(2) penyelenggara Broadband Wireless Access. dan pengintegrasian). instalasi. aplikasi dan infrastruktur open source.275 unit. g)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok. c)Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota. (3) warung masyarakat informasi di 50 lokasi. (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority. perangkat lunak.Bantul. (2) konsep rencana roll out sistem e-learning. (5) aplikasi sistem early warning. Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan Jaringan Palapa Ring. dan (7) Pemancar televisi dan radio. Sleman. (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2. f)Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan. d)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi. h)Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16. (3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet. d)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi.0 kemitraan. e)Peningkatan Jangkauan. Bidang Permukiman dan Perumahan a)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota. E. e)Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan. i)Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan . (4) gedung ICT Training Center di Jababeka. Kulon Progo dan Gunung Kidul. (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan. (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009. dan sistem untuk ICT Training Center di UIN. b)Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota.

NTT.500 M. h)Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat . (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang. (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit. dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit. Rambu Lalulintas 29. Jawa. (4) Pembangunan Rating School Ambon. Traffic Light 110 Unit.923.360 M. (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I. Diklat STPI Curug 10 Paket). warning Light 50 unit. F. Cermin Tikungan 108 Bh. g)Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket. sped boat 12 unit. 30 paket alat. (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia. Prasarana BRT 8 Lokasi.Lingkungan Permukiman di 218 kawasan. serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit. Maluku. e)Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2. guardrail 106. paku marka 15. Maluku Utara.000 M2 tersebar di : Sumatera. RPPJ 1200 Bh. d)Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73. (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II. Delineator 36. k)Penyediaan Kredit Program-KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program-KPRSH dan Rusunami sebanyak 240. Papua dan Papua Barat). Kelas V 59 unit. (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit. Kelas III 7 unit. (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya. b)Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket). Sulawesi. Bidang Transportasi a)Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong.736 unit RSH/Rusunami. (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit. (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI). c)Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab. Kalimantan.500 M. Kelas IV 33 unit. (3) Pembangunan Rating School NAD. bus air 30 unit. (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok.477 buah. f)Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi.500 buah. j)Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok. (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia.

2 unit kapal 500 DWf. selatan. Batu dan Palaihari (Kalsel). (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya (24 Km).Kalaban-Pd. r)Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dan: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT. Benoa.Sibusuk.' s)Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan.PKB). i)Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi.5 Km (1 Paket). Pontianak. Lubukalung-Naras. (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok-Pasoso (JICT-KOJA) 2. Makassar). m)Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis Gawa dan Sumatera)-(18 Paket). Palembang.1 Km. Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav). 2 unit karat 750 DWT. (2) Pembangunan MRT Jakarta. pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP). Bandung-Banjar-Kroya. pengadaan peralatan SAR 18 unit. Dumai. KRL. k)Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah. Pelsu : 100 unit. n)Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong-Maja-Rangkasbitung (32 Km). serta terlaksannya Public Ship Finance Program. Depare (papua). q)Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) -Mensu: 42 Unit. Lintas Jawa-400 Km. Tj. Telukbayur-Sawahlunto. Pinang. Sumatera bagian utara. (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket). (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan (17 Km). Kariangau (Kaltim). p)Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek-Padalarang. Tlk Bayur. (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan. (2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit). (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir-Sidoarjo -18. Bitung. Ma. Tg.Enim-Prabumulih-Tarahan. (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 -52 Km. t)Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut). l)Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dan: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket) . (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai-Cikarang (18 Km). Tg. dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit. (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya-Kutoarjo (76 Km). Semarang-Solo. Manada dan Bitung . Ramsu : 123 unit. j)Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di Lintas. 2 unit kapal 350 DWT. o)Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket).

Adpel Jambi. Maluku.000 M2 tersebar di : Sumatera. Tarakan (Kaltim). danau 9 lokasi. Belang-belang (Sulbar). Kanpel Paloh/Sekura. Anggrek (Gorontalo). Papua dan Papua Barat. Maluku Utara. dan Manokwari (papua). lbukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi. Rote.000 M2 tersebar di : Sumatera. Maluku. Tlk. Seram Bagian Timur. Adpel Kuala Langsa. sungai 12 lokasi. Kalimantan. Amuk (Bali). cc)Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3. Kanpel Seba. x)Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi. NTT. w)Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi. Rembang (Jateng). Kalimantan. terpencil dan rawan bencana (11) lokasi di : Rembele. Lab. Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. y)Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera. 5 dermaga penyeberangan. Jawa. Sulawesi. Adpel Samarinda. Naha. dan Haliwen). v)Pembangunan Dermaga Sungai. Dumatubun-Langgur. dd)Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : . Kanpel Leok). Buton (Riau). Maloy (Kaltim). Sulawesi Utara. Ende. Saumlaki Baru. Panajam Pasir (Kaltim). bb)Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425. Namniwel. (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin-Makasar Sulawesi Selatan. NTT. Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga. Kanpel Manggar. Maluku Utara. Adpel Palembang. Arar (papua Barat). Sungai Nyamuk (Kaltim). NTB. Bau-Bau (Sultra) . Maluku. Melongguane. Muara Bungo dan Waghete baru. Sulawesi. Jawa. Tapang (Sumbar). Silangit. dan Teluk Batang (Kalbar). Malarko (Kepri). Adpel Sampit. dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi. Manokwari. Adpel Lhok Seumawe. aa)Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo. Nunukan. Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran). Sam Ratulangi-Manado. Bojanegara (Banten) . (2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan. z)Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara). 8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau. Maluku Utara. Garongkong (Sulsel). Papua dan Papua Barat.(Sulut). Tg. Enggano. Jawa. Papua dan Papua Barat. u)Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut. Nusa Tenggara. Yani (Malut). Kalimantan. Sibolga. Sulawesi.

tt)Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 60.000 unit.685 m.Sumatera. 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur. (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari. Kalimantan. pp)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 335. rr)Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 63. gg)Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2. Dan Mineral a)Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan .5 km. hh)Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu.2 m. Manado).Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas.701 m.Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta a)Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan. Sulawesi. ee)Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket. (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket). oo)Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 2. uu)Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo-Kertasono sepanjang 12 km. Fokus 13. ll)Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 8. Papua dan Papua Barat).8 km.720 m. Bitung. kk)Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 32. (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket) . NTT. Maluku Utara. Fokus 14. b)Pembebasan Lahan.880. mm)Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 34.884 m.8 km dan 2. jj)Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1. ff)Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi).163 km. nn)Pembangunan Fly-over dengan target 4.9 km. c)Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah.469 km dan 3. qq)Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket.834. Jawa. ii)Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan. ss)Pembangunan Jalan Akses dengan target 11. Batubara.9 km.

terselenggaranya Bintek energi terbarukan dan konservasi energi. b)Pengelolaan. perijinan usaha. Maluku. evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah. tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. terlaksananya forum konsensus standar kompetensi auditor energi. terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi. c)Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba. interpretasi potensi migas di laut Sulawesi. tersusunnya pedoman persyaratan uji kinerja pada pemanfaatan TL untuk rumah tangga dalam rangka labelisasi tanda hemat energi. Fokus 15. Reklamasi. tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan. d)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional. terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi. Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM a)Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN. terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil. penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan. Sulawesi. terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. seismic laut Flores sepanjang 1.500 km. tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan. terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik. Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang. dan Papua untuk CDM. advokasi hukum.Percepatan Diversifikasi Energi.harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum. termonitornya implementasi hasil audit energi. tersusunnya standar kompetensi untuk audit energi. synopsis geologi WK. kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung. penetapan WKP panas bumi. Maluku Utara. b)Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan. perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum. pengembangan statistik minerbapabum. c)Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan dearing house energi terbarukan dan konservasi energi. terbitnya buletin energi hijau. pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan Jepang dan Denmark). tersusunnya kebijakan . Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas.

g)Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM. pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik. b. yang antara lain ditandai dengan: a. c. diterapkannya standar pelayanan minimal (SPM). terselenggaranya pengarusutamaan gender di sektor energi. DAN KEAMANAN DALAM NEGERI.Dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah.Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada dasarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik. REFORMASI BIROKRASI. III. adanya dukungan kompetensi sumber daya manusia aparatur dibidang pelayanan dan penegak hukum. kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai.PENINGKATAN UPAYA ANTI KORUPSI. pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum. c.energi. serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana. layak dan berbasis kinerja.Meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum termasuk lembaga pemberantasan korupsi. peningkatan aksesibilitas energy perdesaan. yang mencakup antara lain: terselenggaranya pelayanan publik yang tidak diskriminatif. SASARAN Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Upaya Anti Korupsi. pengusahaan CBM di daerah Sumatera. b. perubahan kepemilikan saham. tersusunnya program pemanfaatan energi.Tumbuhnya ik1im takut korupsi. 2. f)Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan. Reformasi Birokrasi serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1.Dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil.Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang. d. tersusunnya kajian penurunan emisi sektor energi nasional.Menurunnya tindak pidana korupsi yang tercermin dari: a. dan diterapkannya teknologi informasi dan komunikasi (e-gov dan e-services). PERTAHANAN.Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. penetapan harga gas bumi. murah dan manusiawi. pengawasan produksi penjualan. . tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan. e)Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi. SERTA PEMANTAPAN DEMOKRASI. cepat.Ditingkatkannya kualitas pelayanan publik.

000 perkara. d. jujur.Terselenggaranya pengamanan proses pemilu dari masa persiapan. supervisi dan koordinasi penanganan TPK 40 kasus di 50 K/L.967 perkara korupsi. Bab 9. c)Penanganan Perkara dengan target penanganan terhadap 250. Pengumpulan bahan keterangan 1 paket. termasuk di dalamnya penanganan perkara korupsi baik yang ditangani oleh pengadilan umum maupun pengadilan Tipikor. Bab 8. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu tahun 2009. FOKUS. e.Tertangkapnya pelaku utama aksi-aksi terorisme dan terbongkarnya jaringan utama terorisme di Indonesia secara tuntas.Terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis.Penindakan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi a)Penanganan/Penyelidikan Kasus Intelejen dengan target 1.Terputusnya jaringan demand dan supply penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia baik yang melibatkan jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. e. b. yang tercermin dari : a. 50 perkara penyidikan. c.Makin menguatnya kemampuan pertahanan dan mantapnya keamanan dalam negeri.Tercapainya kapasitas alutsista pertahanan dan keamanan skala essential force dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pertahanan dan keamanan. illegal logging.Menurunnya secara signifikan tindak kejahatan lintas negara di wilayah yurisdiksi laut dan wilayah perbatasan khususnya illegal fishing. (2) penanganan terhadap 1. proses pemungutan dan perhitungan suara. dan Bab 14 Buku II dengan Fokus dan Kegiatan prioritas sebagai berikut : Fokus 1. d)Pelaksanaan Inpres No. dan (3) Penyelidikan dan penyidikan terhadap subyek dan kasus tindak pidanan korupsi. Bab 5.Ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan. 15 orang perlindungan saksi. ARAH KEBIJAKAN. Bab 13. 5 Tahun 2004 di sebanyak 660 instansi (pusat dan daerah). dan (2) terlaksananya sosialisasi RAN-PK oleh K/L dan penyusunan RAD-PK oleh . adil. 3. Bab 10. b)Penindakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan target (1) penyelidikan 55 kasus. 35 perkara eksekusi keputusan inkracht. serta penyelundupan sumber daya negara. kampanye. DAN KEGIATAN PRIORITAS Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 3. Bab 6. 4.Dilaksanakannya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi-fungsi kepemerintahan. dan aman. 40 perkara penuntutan.d.852 penanganan/penyelidikan kasus intelijen termasuk perkara korupsi. dan. 5 Tahun 2004 (Percepatan Pemberantasan Korupsi) dengan target: (1) tersusunnya laporan pelaksanaan Inpres No.

Rakor di 3 wilayah evaluasi 10 kawasan kumuh perkotaan di 10 provinsi. penelitian hukum 7 kegiatan. dan Peraturan pelaksanaan UU Penyitaan Aset. b)Penyuluhan Hukum dengan target terlaksananya penyuluhan hukum terutama yang terkait dengan Sosialisasi UU Perlindungan Saksi dan Korban. dan 1 Kejaksaan Agung. penyusunan UU pengadilan tindak pidana korupsi. 361 Kejaksaan Negeri. Penyusunan 18 Naskah RPP (termasuk peraturan pelaksanaan UU perlindungan sanksi dan korban serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. dan Dirjen HAM. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik a)Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan target (1) tersusunnya RPP untuk UU Pelayanan Publik dan sosialisasi UU Pelayanan Publik dan (2) meningkatnya kualitas pelayanan terpadu Samsat. untuk pelayanan kepada masyarakat di daerah. Fokus 2. Fokus 4. kerjasama kota kembar (sister city). pengkajian hukum 15 kegiatan. c)Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam penerapan standar pelayanan minimal (SPM) di daerah dengan target meningkatnya kapasitas 1. c)Penyuluhan Hukum dan Koordinasi RANHAM dengan target penyelenggaraan penyuluhan hukum pada 33 Kanwil Dephukham.Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi a)Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana dengan target terlaksananya sosialisasi UU perlindungan saksi dan korban dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi dengan sasaran 45. BPHN. . kerjasama perkotaan bertetangga di 3 kota metropolitan. dan (3) meningkatnya koordinasi pelaksanaan strategi nasional pemberantasan korupsi yang sejalan dengan KAK' 2003. 99 Cabang Kejaksaan Negeri. Penyusunan 15 Naskah RUU. Fokus 3. penyusunan naskah akademik 10 RUU. b)Peningkatan/Pengkajian Kapasitas Kelembagaan dengan target tersusunnya 4 dokumen SPM dan Penerapan 2 SPM di 33 provinsi. revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi).000 orang.Pemda.380 aparat pemerintah daerah di 10 propinsi masing-masing 5 kab/kota dalam penerapan SPM di daerah. d)Pasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan dengan target terlaksananya fasilitasi standar pelayanan perkotaan di 11 provinsi. Kejaksaan di 31 Kejaksaan Tinggi. serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan korupsi. Fasum) bermasalah di 10 provinsi. evaluasi PSU (Fasus.Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan untuk Mendorong Upaya Pemberantasan Korupsi a)Penyusunan Naskah Perundang-undangan dengan target Pembahasan RUU 10 buah.

d)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-Undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Sistem Pengawasan Nasional dan RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara .Peningkatan Kinerja dan Kesejahteraan PNS a)Pengembangan Sistem Pendayagunaan SDM Aparatur Negara dengan target (1) tersusunnya Sistem Diklat Aparatur yang baru.Penataan Kelembagaan. (3) tersusunnya Strategi Pembelajaran yang baru. evaluasi atas pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. Fokus 5. Menpan. b)Penyempurnaan sistem manajemen pengelolaan SDM Aparatur sesuai Sistem Karir dan Remunerasi dengan target tersusunnya RPP Sistem Remunerasi PNS berbasis kinerja dan merit. Fokus 6. (2) peraturan tentang pelaksanaan e-government di instansi pemerintah. h)Pilot Project Penerapan Identitas Tunggal untuk Pelayanan Publik dengan target terlaksananya ujicoba penerapan identitas tunggal untuk pelayanan publik di 3 lokasi (Jembrana. (2) tersusunnya Kurikulum Diklat Aparatur yang baru. Ketatalaksanaan dan Pengawasan Aparatur Negara a) Pelaksanaan Rencana Induk Reformasi Birokrasi. (Survey/Studi kelayakan/Penyusunan Master Plan/DED/SID) dengan target terlaksananya sosialisasi/asistensi/ monitoring. (4) tersosialisasikannya sistem diklat aparatur yang baru. (1) model implementasi e-local government. b)Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja dengan target (1) tersusunnya rancangan kebijakan Penerapan Sistem Manajemen Kinerja untuk Instansi Pemerintah.e)Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target tersusunnya. c)Evaluasi Organisasi dan Tata Kerja Unit Departemen/ LPND/Lembaga Non Struktural dengan target tersususnnya RPP tentang Pedoman Penyusunan Kelembagaan Non-struktural (quasi birokrasi) dan basil evaluasi kelembagaan birokrasi (struktural). c)Penyusunan/Penyempurnaan/Pengkajian Peraturan Perundang-undangan dengan target terlaksananya uji materi dan pembahasan RUU Kepegawaian Negara dengan legislatif. f)Penyempurnaan Sistem Koneksi (interphase) Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi antar instansi yang terkait dengan target penataan sistem koneksi NIK dengan sistem informasi departemen/lembaga melalui pembangunan dan pengembangan data warehouse berbasis NIK Nasional. g)Pengembangan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) Terpadu dengan target terimplementasinya SAK di 457 kab/kota. Sragen dan Balikpapan) dengan 3 instansi (pemda. dan (2) tersosialisasikannya Pedoman Implementasi Penerapan Sistem Manajemen Kinerja Instansi Pemerintah. BKN).

bimbingan teknis. Fokus 8. d)Fasilitasi lembaga kemasyarakatan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah-daerah dengan target terlaksananya pendidikan politik mengenai kepemiluan oleh 500 ormas di kab/kota (khususnya untuk Pemilu Presiden). Kegiatan dilakukan di 33 provinsi dan 470 KPU kab/kota.Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan Pemilu 2009 a)Fasilitasi Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2009 dengan target terlaksananya koordinasi setiap tahapan dan jadwal kegiatan Pemilu 2009 (desk Pemilu). kesiapan alutsista TNI AU menjadi 43 persen dari jumlah yang ada saat ini. c)Fasilitasi Pelaksanaan Budaya Politik Demokratis dengan target terlaksananya pendidikan pemilih bagi masyarakat di 5 lokasi di daerah. (2) kesiapan peralatan Polri mencapai 70 persen dari kondisi yang ada saat ini. 120 PPLN. dan 1 Kadin di luar negeri. .636 KPPS. b)Penyediaan dan distribusi logistik pemilu dengan target tersedianya logistik pemilu tepat waktu dan tepat lokasi. pendidikan pemilih di dalam dan luar negeri. 611. Fokus 9. kesiapan alutsista TNI AD menjadi 38 persen dari jumlah saat ini.Penguatan Lembaga Penyelenggaraan Pemilu dan Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Pemilu 2009 a)Penguatan Organisasi Penyelenggara Pemilu dan Pilkada dengan target (1) terakreditasinya dan terlaksananya bimbingan teknis bagi pemantau pemilu. (2) terlaksananya seleksi. 77.575 PPK. 33 KPU provinsi. serta bimbingan dan supervisi teknis kepada panitia ad hoc pelaksana pemilu. 6. dan (2) terlaksananya fasilitasi voters information dan fasilitasi pelaksanaan kampanye di 119 kantor perwakilan RI di luar negeri.Pemantapan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri a)Peningkatan kemampuan alutsista TNI dan Alut Polri dengan target (1) kesiapan alutsista integratif TNI menjadi 40 persen dari jumlah saat ini. PPS. serta tersedianya bahan tercetak dan instrumen bagi lembaga pemantau pemilu dari dalam negeri dan luar negeri.780 KPPSLN). b)Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat (penyiapan Modul dan Memulai Voters Education and Information) dengan target (1) terlaksananya sosialisasi informasi pemilu. kesiapan alutsista TNI AL menjadi 41 persen dari jumlah yang ada saat ini. 119 Kantor Perwakilan Luar Negeri. (KPU. c)Penguatan sarana dan prasarana pendukung Pelnilu 2009 dengan target tersedianya sarana dan prasarana gedung kantor KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota. 470 KPU kab/kota. dan KPPSLN untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu Presiden/WK Presiden putaran 1 dan putaran 2. KPPS. 1.286 PPS. dan supervisi untuk PPK.Negara dengan legislatif. PPLN. Fokus 7.

c)Pengembangan profesionalitas prajurit TNI dan anggota Polri dengan target terpeliharanya kekuatan dan kemampuan prajurit TNI dan anggota Polri. penangkapan dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme melalui peningkatan jumlah penangkapan dan proses hukum tokoh-tokoh kunci terorisme. dan (4) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas keamanan dalam rangka pencegahan tindak kejahatan transnasional. terbangunnya stasiun koordinasi keamanan laut. (3) berkembangnya sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penyelenggaraan operasi terpadu selama 180 hari. (3) meningkatnya kerjasama bilateral dan regional dalam hal penanggulangan dan pencegahan aksi-aksi terorisme melalui . dengan target (1) meningkatnya kelembagaan Badan Koordinasi Penanganan Terorisme melalui peningkatan koordinasi penanganan tindak kejahatan terorisme. f)Penanggulangan dan pencegahan tindakan terorisme. pembentukan UPT di 6 provinsi. dan tepat waktu (real time). (2) meningkatnya operasional penjagaan dan pengawasan aktivitas aging di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan melalui penjagaan dan pengawasan aktivitas asing di pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah perbatasan. (2) meningkatnya upaya pencarian. (2) terselenggaranya operasi bersama keamanan laut dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia dengan target meningkatnya intensifikasi operasi bersama keamanan laut. pembentukan 132 kelompok masyarakat pengawas. serta (2) pemanfaatan fasilitas pemeliharaan dan penyerapan secara signifikan produk industri pertahanan nasional dengan target meningkatnya jumlah dan jenis alutsista TNI dan alut Polri produk industri pertahanan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan. d)Pengamanan batas negara pada sekitar pulau-pulau kecil terluar dan wilayah-wilayah perbatasan dengan target (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas pas-pas pertahanan dalam rangka pencegahan terjadinya pelanggaran wilayah dan kedaulatan. e)Penanggulangan dan pencegahan gangguan keamanan laut dengan target (1) berkembangnya prasarana dan sarana termasuk early warning system dengan pengadaan kapal markas. (3) meningkatnya kerjasama bilateral pengamanan di wilayah-wilayah perbatasan. operasionalisasi 21 kapal pengawas.b)Pengembangan industri pertahanan nasional dengan target (1) ditetapkannya sejumlah : peraturan perundangan yang mengatur mekanisme pengembangan industri pertahanan. (4) penguatan sinkronisasi dan sinergi instansi-instansi pemangku Maritime Surveilance System dengan target tercapainya efektivitas dan efisiensi Maritime Surveilance System diantara instansi-instansi terkait guna mendukung kemampuan dukungan informasi dan data secara lebih akurat. tepat tempat. penyelenggaraan pentaatan dan penegakan hukum di 5 unit kerja peradilan perikanan dan pengembangan 5 UPT pengawas. pengadaan early warning system.

g)Penguatan institusi intelijen dan kontra intelijen. serta teredamnya potensi gangguan keamanan. hingga selesainya seluruh rangkaian kegiatan Pemilu. separatisme. mencegah dan menanggulangi konflik. terbangun sistem informasi intelejen pertahanan. konflik. separatisme. h)Peningkatan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. dengan target (1) meningkatnya sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah melalui peningkatan kemampuan lembaga dan SDM intelijen pusat dan daerah. (3) meningkatnya pelayanan terapi dan rehabilitasi kepada penyalahguna (korban) narkoba. kriminalitas. ketertiban. ketertiban. . (2) meningkatnya kualitas penegakan hukum di bidang narkoba melalui peningkatan jumlah penyelesaian perkara kejahatan di bidang narkoba. i)Pengamanan Pemilu 2009 dengan target (1) mantapnya kesiapan Polri dalam mengamankan proses pemilu dari masa persiapan. (2) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan. serta (3) terselenggaranya operasi intelijen untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) di dalam dan luar negeri. dengan target (1) meningkatnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri di bidang narkoba melalui peningkatan koordinasi dan kerjasama serta sinergi antara BNN dan BNP/BNK/BNKot maupun lintas negara dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan. proses pemungutan dan perhitungan suara. perkiraan tahun 2008. (4) terselenggaranya kampanye nasional dan sosialisasi anti narkoba serta tersosialisasinya pencegahan penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia. Sasaran tahun 2009 tersebut dicapai melalui berbagai kegiatan dan kebijakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang digariskan. meningkatnya kemampuan intelijen Polri. (3) terselenggaranya pembangunan jaringan komunikasi sandi negara melalui pembangunan dan pengembangan SDM persandian. sasaran-sasaran pokok tahun 2009. dan terorisme. kampanye. meningkatnya kemampuan intelijen TNI. dan menanggulangi kriminalitas. BAB III KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2007. (2) mantapnya kesiapan TNI dalam memberikan dukungan pengamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif.peningkatan penanganan terorisme yang bersifat lintas negara serta menurunnya potensi aksi terorisme lintas negara. dan terorisme. percepatan pembangunan jaringan komunikasi sandi nasional.

0 persen. perekonomian Indonesia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia lainnya. Pada triwulan 1/2008.3 persen) menjadi 10.1 persen).3 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 5. Dalam keseluruhan tahun 2007.5 persen (y-o-y).6 persen) atau berkurang 2.5 persen). Dalam triwulan 1/2008. Besarnya resiko dari gejolak eksternal tersebut menuntut langkah-langkah jangka pendek yang harus ditempuh serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan dalam rangka mengamankan pembangunan. Sejak triwulan 111/2007.9 juta orang (10.KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2007 DAN PERKIRAAN TAHUN 2008 Kondisi ekonomi makro tahun 2007 dan perkiraannya tahun 2008 dapat diringkas sebagai berikut. dampak dari krisis subprime mortgage di AS. termasuk APBN 2008 dengan perubahan yang dilakukan pada awal-awal tahun 2008.3 persen (y-o-y) didorong oleh ekspor barang dan jasa serta pembentukan modal tetap bruto yang meningkat 15. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto meningkat dua digit serta konsumsi masyarakat tumbuh lebih dari 5 persen. rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37.8 persen (y-o-y). Dalam tahun 2008.4 persen. ekonomi tumbuh 6.4 juta orang (8.0 juta orang (9. Keempat. serta melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Dalam tahun 2007.3 persen dibandingkan . serta daya beli masyarakat yang semakin baik. Momentum pertumbuhan terns berlanjut pada triwulan 1/2008. kualitas pertumbuhan ekonomi membaik. Dalam bulan Februari 2008.0 persen dan 13. ekonomi diperkirakan tumbuh 6. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 24. Dalam keseluruhan tahun 2007.5 persen) didorong oleh investasi yang meningkat. momentum pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2007 dan triwulan 1/2008 tetap terjaga.1 juta orang (16.A. Kedua. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga pada triwulan 1/2008 menurunkan lebih lanjut pengangguran terbuka. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. ekonomi tumbuh 6. sejak paruh kedua tahun 2007. sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dalam awal-awal tahun 2008 disesuaikan dari 6. Meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dalam keseluruhan tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya serta tekanan inflasi yang besar berpotensi lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi. kemampuan ekspor barang dan jasa yang terjaga.1 juta dibandingkan Maret 2006. Dengan memperhitungkan resiko gejolak ekstemal yang cukup besar.8 persen menjadi 6. Pada bulan Maret 2007. penerimaan ekspor nonmigas meningkat 15. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin ditingkatkan pada tahun 2008. Ketiga.3 persen.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10. Dalam Agustus 2006-Agustus 2007 tercipta lapangan kerja baru bagi 4. stabilitas ekonomi tetap terjaga dari tekanan eksternal yang meningkat.140 per dolar AS atau menguat 0.5 persen. lebih tinggi dari tahun 2006 (5. Pertama.

investasi residensial di AS terus tumbuh negatif hingga menurun menjadi 21. Pada bulan April 2008.5 persen per tahun.25 persen pada bulan . bantuan likuiditas sekitar USD 30 miliar diberikan untuk menyelamatkan Bear Sterns dari kerugian yang dialami. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati.2 persen. sedangkan negara-negara maju hanya tumbuh 2. serta cadangan devisa meningkat menjadi USD 56. lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang tumbuh 3. Pada triwulan 1/2008. krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan dunia. suku bunga Fed Funds diturunkan secara bertahap dari 5. Dalam rangka mengurangi meluasnya dampak krisis subprime mortgage tersebut. Rendahnya kualitas kredit perumahan di AS telah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi AS.0 persen). Runtuhnya pasar sub-prime mortgage di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2007 telah menimbulkan gejolak yang luas terhadap pasar modal global. sedikit lebih rendah dari tahun 2006 (5. atau bertambah USD 14. laju inflasi setahun (y-o-y) mencapai 9.9 persen. serta melambatnya ekonomi AS.000 dalam bulan Januari dan Maret 2008 dalam penutupan hariannya. Dalam bulan Juli 2007. harga komoditi dunia yang meningkat memberi tekanan yang cukup besar terhadap inflasi di dalam negeri.tahun sebelumnya.6 persen.0 persen. ekonomi dunia dihadapkan pada tiga gejolak eksternal yaitu meningkatnya harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya. ekonomi AS tumbuh 2. Terakhir. Indeks saham Dow Jones yang sebelumnya mencapai lebih dari 14. Dalam semester II/2007. Penurunan indeks saham tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap indeks saham di berbagai negara. kebijakan ekonomi AS diarahkan pada dua langkah pokok yaitu mengamankan sektor keuangan termasuk perbankan dengan penurunan suku bunga serta memberi stimulus fiskal dalam rangka mendorong ekonomi. relatif sama dengan tahun 2006. ekonomi dunia tumbuh 4. Dalam keseluruhan tahun 2007. ekonomi AS tumbuh 2.3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.2 persen pada triwulan 1/2008.9 miliar.6 persen. Dalam kaitan itu. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. laju inflasi terjaga sebesar 6. Ketiga resiko eksternal tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008.000 sempat merosot menjadi di bawah 12. laju inflasi keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali.5 persen (yo-y) dengan kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga yang melambat serta penurunan investasi residensial yang makin pesat. Untuk mencegah ekonomi AS dari kemungkinan resesi pada tahun 2008.6 persen. stabilitas keuangan dunia mengalami gejolak dipicu oleh krisis subprime mortgage AS. Sejak triwulan II/2006. Ekonomi Asia tetap sebagai penggerak ekonomi dunia dengan tumbuh sekitar 9. bank sentral AS dan beberapa bank sentral di negara maju menempuh langkah pengamanan baik melalui bantuan likuiditas dan penurunan suku bunga. EKONOMI DUNIA Dalam keseluruhan tahun 2007.

Harga minyak mentah dunia dan komoditi dunia lainnya secara bertahap meningkat. rata-rata harian nilai tukar rupiah relatif stabil pada rentang Rp 9.140. Tekanan eksternal berupa tingginya harga komoditi dunia dan meluasnya dampak krisis subprime mortgage di AS berpengaruh pada stabilitas ekonomi di dalam negeri. terutama minyak mentah. atau menguat 0. Dalam tahun 2008 ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh 3.8 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y) [IMF. Dalam bulan Juli 2007 hingga akhir tahun 2007. Ketiga gejolak eksternal tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008. World Economic Oudook.7 per barel dan dalam paruh pertama bulan Mei 2008 mencapai USD 122..5 persen (IMF. Dalam keseluruhan tahun 2008. Sampai dengan lima bulan pertama tahun 2007. April 2008).1 persen (The Economist. Dalam rangka mengendalikan tekanan inflasi ini.9 persen) dengan ekonomi AS yang hanya tumbuh 0. Indeks harga komoditi dunia pada bulan April 2008 meningkat 46. Dengan kebijakan moneter yang berhati-hati.3 persen dibandingkan tahun 2006. harga minyak mentah WTI diperkirakan sekitar USD 110 per barel (EIA. .200 per dolar AS. rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp 9. lebih lambat dari tahun 2007 (4. PERBANKAN. primary commodity price. serta pengamanan sektor keuangan di dalam negeri. Mei 2008). mampu menjaga kembali stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah-langkah untuk mengamankan sektor keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan penurunan suku bunga Fed Funds yang terus berlanjut.Agustus 2007 hingga menjadi 2. Mei 2008). kebijakan moneter pada banyak negara mulai beralih ke arah yang ketat dengan menaikkan suku bunga.0 per barel. Nilai tukar rupiah kembali stabil pada rentang Rp 9.000-Rp 9. Mei 2008]. Rata-rata harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga empat bulan pertama tahun 2008 mencapai USD 101. Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi sejak tahun 2004 meningkatkan permintaan terhadap komoditi dunia termasuk energi. nilai tukar rupiah berfluktuasi oleh pengaruh rambatan krisis subprime mortgage di AS.000-Rp 9.00 persen pada akhir bulan April 2008 dan stimulus fiskal sebesar USD 162 miliar diberikan untuk menopang konsumsi masyarakat.7 persen. stabilitas ekonomi dapat dijaga. MONETER.per dolar AS.200 per USD dan dalam keseluruhan tahun 2007. Kenaikan harga komoditi yang tinggi ini telah memberi tekanan inflasi global yang tinggi bagi semua negara. DAN PASAR MODAL. Krisis subprime mortgage dan melemahnya nilai tukar dolar AS mengakibatkan likuiditas global yang berlebih beralih pada pasar komoditi. Dalam bulan Mei 2007 terjadi penguatan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh arus modal jangka pendek dalam bentuk investasi portfolio. dan memberi tekanan spekulasi yang besar terhadap peningkatan harga komoditi dunia. program stabilisasi harga kebutuhan pokok. Poll of the Forecaster memperkirakan ekonomi AS dalam keseluruhan tahun 2008 tumbuh 1.

0 . laju inflasi tahun 2007 dapat dijaga sebesar 6. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan laju inflasi yang terkendali dalam tahun 2007 memberi ruang bagi penurunan suku bunga di dalam negeri. Pada bulan Desember 2007. harga keempat komoditi tersebut meningkat berturut-turut 120.4 persen.2 persen (y-o-y). suku bunga deposito 1 dan 3 bulan menurun menjadi 7.8 persen (y-o-y) pada bulan Juni 2007. 102. Dalam keseluruhan tahun 2008. Meningkatnya harga komoditi dunia sejak pertengahan tahun 2007 mendorong kembali laju inflasi. sedangkan harga beras meningkat tinggi.7 persen pada bulan Desembcr 2006. 73. penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 995.0 persen.75 persen pada akhir tahun 2006 menjadi 8. Sampai pertengahan tahun 2007 laju inflasi terkendali dan dapat ditekan menjadi 5.0 persen. suku bunga kredit modal kerja. harga komoditi dunia.1 persen. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil hingga semester 1/2007 berperan dalam menjaga laju inflasi. dan 22. Dengan program stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat didukung oleh kebijakan moneter yang berhati-hati.1 persen.00 persen sampai bulan April 2008 mulai ditingkatkan pada bulan Mei 2008 menjadi 8. Meningkatnya harga komoditi dunia pada empat bulan pertama tahun 2008 memberi tekanan bagi inflasi di dalam negeri. harga gandum. Suku bunga deposito dan kredit mcngikuti suku bunga acuan. Secara bertahap suku bunga acuan (B1 rate) diturunkan sebesar 175 bps dari 9. Dalam tahun 2007. kedelai.2 persen.8 persen (y-o-y).9 persen. Kenaikan ini terus berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2008. Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong penyaluran kredit perbankan. indeks harga komoditi pangan dunia meningkat sebesar 27. Dalam tekanan resiko eksternal yang meningkat sejak semester II/2007.2 persen dan 7. dan 77.2 persen.9 persen.25 persen.Dalam empat bulan pertama tahun 2008.1 persen (IMF commodity price). dan beras di pasar dunia meningkat berturut-turut sebesar 80.4 persen dari 9. kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing menurun menjadi 13. dan 16. Suku bunga acuan yang tetap dipertahankan 8. laju inflasi dalam keseluruhan tahun 2008 diupayakan tetap terkendali. diperkirakan tetap tinggi. rata-rata harian nilai tukar rupiah sebesar Rp. 79. termasuk minyak mentah dunia.0 persen dan 9. 9. Meningkatnya tekanan inflasi sejak bulan Desember 2007 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati guna memandu penurunan ekspektasi inflasi. 13. Penurunan suku bunga kredit berjalan lebih lambat. Dalam bulan April 2008. Dalam tahun 2007.246 dengan trend tetap terjaga pada rentang Rp 9. minyak kelapa sawit.0 persen dan laju inflasi setahun (y-o-y) meningkat menjadi 9. Dalam bulan April 2008.000-Rp 9.00 persen pada bulan Desember 2007.1 triliun.0 persen. dan 17.6 persen pada bulan Desember 2006. Dalam bulan April 2008.300 per USD. Pada bulan Desember 2007. bertambah Rp 208. Pada bulan Desember 2007. relatif sama dengan tahun 2006.1 persen dari 15. harga gandum dan gandum. dan minyak kelapa sawit melunak.6 persen. 67. 15. kedelai. laju inflasi tahun kalender (y-t-d) mencapai 4.0 persen.

total penerimaan ekspor mencapai USD 118.9 persen. Gejolak bursa saham global berpengaruh terhadap Bursa Efek Indonesia.5 persen.0 triliun. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 16. Stabilitas ekonomi yang terjaga.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.745. Selanjutnya dalam bulan Maret 2008.7 miliar.5 atau turun 16.2.304.3 persen.6 persen. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang meningkat menjadi USD 22. Meningkatnya penyaluran kredit perbankan diiringi oleh menurunnya non-peifonning loan. triliun atau meningkat 29. Langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi menguatkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal.DR) pada bulan Februari 2008 mencapai 67. Kenaikan kredit relatif berimbang antara kredit invetasi. modal kerja. Dalam bulan Maret 2008. perkembangan pasar modal global yang dinamis. Pada bulan Desember 2007.5 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 (y-o-y). atau berkurang Rp 7.1 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. dan ekspektasi yang baik. Pada akhir bulan April 2008. Secara keseluruhan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih baik didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang kuat. Dengan perkembangan ini.7 persen). lebih rendah dan tahun 2006 (USD 2. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 8. Arus masuk investasi portfolio yang meningkat hingga semester 1/2007 . dan 24. Dalam empat bulan pertama tahun 2008. dan konsumsi dengan peningkatan berturut-turut 23. NPL menurun menjadi Rp 38.0 persen dibandingkan tahun 2006. gejolak bursa saham global masih berlanjut dan berdampak pada pasar modal di dalam negeri.4 miliar.2 miliar. NERACA PEMBAYARAN.4 persen dan 15.4 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2006. didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 6. terhadap ekonomi dalam negeri telah mendorong kinerja bursa saham.000 pada bulan Mei 2007 dan terus meningkat hingga mencapai 2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) menembus angka 2. investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 1.348.5 persen dan 14.3 triliun (3.1 persen dibandingkan akhir Desember 2007.4 persen.6 miliar). IHSG di BEI mencapai 2.9 miliar. loan-to-deposit ratio (I. atau naik 14. Indeks Harga Saham Gabungan di BEI pada akhir tahun 2007 mencapai 2. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2007 mencapai sekitar USD 10. relatif sama dengan tahun 2006 (USD 10. impor meningkat menjadi USD 84. Membaiknya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat meningkatkan kebutuhan impor.8 atau meningkat 52. 28.5 triliun dan bulan Desember 2006.triliun atau meningkat 26. Dalam tahun 2007. Dalam pada itu.7 miliar.2 miliar). Perkembangan ini terus berlanjut hingga triwulan 1/2008. posisi kredit perbankan mencapai Rp 1. NPL menurun menjadi Rp 40. Pada tahun 2007. Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 dan meningkatnya harga komoditi dunia ikut berperan dalam mendorong penerimaan ekspor nasional.0 miliar. atau naik 15.7 pada akhir bulan Juli 2007.O persen.029.

5 miliar dengan meningkatnya iklim investasi di dalam negeri.9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 didorong oleh impor nonmigas dan migas yang masing-masing meningkat sebesar 16. serta menurunnya defisit investasi lainnya. Sedangkan investasi lainnya mengalami defisit USD 7. Adapun kebijakan belanja ke daerah diarahkan untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan membiayai kegiatan-kegiatan khusus yang .3 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 56. Investasi portfolio pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus USD 4.kemudian melambat oleh rambatan gejolak subprime mortgage sejak bulan Agustus 2007 yang berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) pada semester II/2007.9 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 5. didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat sebesar 12. kebijakan fiskal diarahkan untuk memberi dorongan pada perekonomian dengan tetap menjaga terkendalinya defisit anggaran. naik 17.4 miliar. Neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan terjaga dengan meningkatnya investasi jangka panjang. KEUANGAN NEGARA.9 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 5. neraca modal dan finansial pada tahun 2008 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0. Dalam keseluruhan tahun 2008. serta dampak lanjutan subprime mortgage. Dengan defisit jasa-jasa yang meningkat menjadi USD 25.6 miliar.8 persen. terjaganya investasi jangka pendek. investasi porto folio neto mencapai USD 7. Secara keseluruhan tahun 2007. Dengan perkiraan tersebut.2 triliun atau naik 13. melindungi hajat hidup masyarakat dalam bentuk subsidi yang lebih terarah.5 persen dan ekspor migas meningkat sebesar 38.0 miliar.8 bulan impor.0 persen. Investasi langsung aging (neto) diperkirakan mencapai surplus USD 2. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2007 mengalami defisit sebesar USD 5.2 miliar. kondisi neraca pembayaran diperkirakan tetap terjaga dari perlambatan pertumbuhan dunia. memenuhi pembayaran utang baik dalam maupun luar negeri. Belanja negara yang terdiri dari belanja pcmerintah pusat dan belanja ke daerah meningkat menjadi Rp 757.9 miliar atau 19. SBT. Pengeluaran impor diperkirakan mencapai USD 101. mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan infrastruktur dasar. Kebijakan belanja pemerintah pusat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk belanja pegawai dan barang.8 miliar.5 persen dibandingkan tahun 2006.6 miliar dengan upaya mengurangi penerbitan SUN. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2007 mengalami surplus USD 3.0 miliar dengan investasi porto folio yang masuk sebesar USD 10.0 bulan impor.1 miliar. Dalam tahun 2007. surplus neraca ttansaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 11. dan obligasi internasional.5 miliar atau cukup untuk memenuhi kebutuhan 6.9 persen.0 persen 33. cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 68. Pada tahun 2008. lebih tinggi dari tahun 2007. kenaikan harga komoditi. Total nilai ekspor pada tahun 2008 diperkirakan mencapai USD 139.1 miliar.

APBN Tahun 2008 mendapat tekanan yang sangat berat baik internal maupun eksternal.3 persen PDB. Adapun penerimaan bukan pajak turun sebesar 5. Dengan perkembangan ini. (7) penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program. Apabila dana cadangan tcrsebut tidak mencukupi.8 triliun atau 1.034 ribu barel perhari). (6) pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang. (5) peningkatan efisiensi di Pertamina dan PLN. penurunan lifting minyak bumi menjadi 927 ribu barel per hari atau lebih rendah 107 ribu barel per hari dibandingkan target APBN 2008 (1. Berbagai upaya untuk menjaga ketahanan dan kesinambungan fiskal dalam rangka pengamanan APBN Tahun 2008 dilakukan antara lain: (1) optimalisasi pendapatan negara yang bersumber dari sektor perpajakan. Pemerintah diberi keleluasaan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan APBN lebih lanjut.0 persen PDB. penerimaan pajak meningkat menjadi Rp 491. kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk memberi stimulus kepada perekonomian dengan menjaga ketahanan fiskal.3 persen terutama didorong oleh rendahnya lifting minyak bumi dibandingkan target APBN-P. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai akibat dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat. Pada tahun 2007. PNBP. Pada tahun 2008. (v) penyewaan dana cadangan sebesar Rp 8. (ii) sejalan dengan perubahan asumsi dasar tersebut mendorong perubahan besaran APBN.8 triliun atau naik 20. (8) pengurangan beban pajak dan bea masuk atas komoditas pangan strategis. (iii) paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dan pangan dunia. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008.2 persen terutama didorong oleh pajak dalam negeri yang meningkat 18. lebih tinggi Rp . (3) penghematan dan penajaman prioritas belanja K/L. maupun dividen BUMN. Penerimaan negara diarahkan terutama untuk menggali sumber penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak. naiknya harga minyak mentah di pasar dunia dan harga komoditas pangan dunia.merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.3 triliun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga ke USD 100 per barel dan volume konsumsi BBM bersubsidi. serta (9) penambahan subsidi pangan. menuntut dilakukannya perubahan APBN Tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam bulan April 2008. mendorong untuk dilakukannya perubahan dalam APBN tahun 2008. (2) penggunaan dana cadangan APBN (contingency policy measure). Sesuai dengan APBN-P Tahun 2008. Perubahan tersebut diantaranya: (i) perubahan asumsi dasar untuk memberikan sinyal yang tepat kepada publik. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp 895. melemahnya mulai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.9 persen. (4) perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik. Beratnya tekanan eksternal dan internal tersebut diatas. defisit anggaran pada tahun 2007 dapat dijaga sebesar Rp 48. (iv) dilakukannya pemotongan terhadap anggaran belanja Kementerian/Lembaga sebesar rata-rata 10 persen.0 triliun atau 20.

Sementara itu. lebih tinggi Rp 134.1 persen PDB.6 triliun.4 persen PDB. defisit APBN pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 1. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 35.4 persen PDB atau meningkat dan 1. meningkat Rp 136.113.4 triliun atau 5. Tingginya harga minyak mentah dunia tersebut dan adanya perbedaan harga BBM dalam negeri dengan luar negen yang semakin tinggi berpotensi memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi.7 persen PDB menjadi 2. Sementara itu. belanja negara diperkirakan mencapai Rp 989.8 triliun dibandingkan dengan anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 854.1 triliun (21.9 triliun atau 2.2 persen dan 8.1 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 42.7 triliun atau 19. Selanjutnya stok utang pemerintah diperkirakan sebesar 32-34 persen PDB.5 triliun atau 139.4 persen dari alokasi belanja subsidi yang ditetapkan dalam APBN 2008 yang sebesar Rp 97.3 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5. Pemerintah telah menyusun rencana pengamanan pelaksanaan APBN-P 2008 untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.9 persen PDB) atau meningkat sebesar Rp 30. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 9.2 triliun.2 persen PDB. Sejak semester II/2007.5 persen). Peningkatan anggaran belanja yang cukup signifikan tersebut terutama disebabkan oleh beban belanja subsidi yang mencapai Rp 234.2 persen PDB.0 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 3. serta melindungi masyarakat miskin.1 persen PDB.8 triliun (20.4 triliun atau 17.9 persen.6 triliun dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 781. belanja negara diperkirakan sebesar Rp 1.8 persen PDB. gambaran penerimaan negara dan hibah pada tahun 2008 diperkirakan menjadi Rp 937. PERTUMBUHAN EKONOMI. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh sebesar 6. Dengan berbagai langkah tersebut.020. Dan sisi produksi. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh dua digit dibandingkan semester II/2006. Dengan kecenderungan harga minyak mentah yang tinggi tersebut. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak khususnya penerimaan minyak bumi dan gas alam serta peningkatan dividen BUMN.1 persen PDB.5 triliun atau 22. Sementara itu. Dengan demikian. Perkembangan penerimaan dan belanja negara diatas. Keadaan ini akan meningkatkan beban subsidi energi yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan defisit anggaran. Setelah diundangkannya Undang-undang APBN Perubahan tahun 2008. Dari sisi permintaan. mendorong peningkatan defisit anggaran dalam APBN-P Tahun 2008 sebesar 0. konsultasi masyarakat tumbuh sebesar 5.0 persen.8 triliun. harga minyak mentah di pasaran internasional terus mengalami kenaikan dan mencapai tingkat lebih dan USD 120 per barel pada paroh pertama bulan Mei 2008. Stabilitas ekonomi yang membaik dan gejolak tahun 2005 serta langkah-langkah yang ditempuh untuk mendorong kegiatan ekonomi mampu memulihkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi. pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 terutama didorong .

7.0 persen. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.5 persen (y-o-y). 13. masih berlanjutnya pengaruh lanjutan dari subprime mortgage. pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor pertanian dan sektor tersier yang tumbuh 6.7 persen. dan jasa perusahaan.8 persen menjadi 6. 10. Adapun sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 3.5 persen seiring dengan perbaikan ik1im investasi dan meningkatnya ekspor.4 persen. perdagangan. 7. keuangan.2 juta jiwa (Maret 2007) ditingkatkan pada tahun 2008. Tekanan ekternal yang berat berupa harga komoditi termasuk minyak mentah yang meningkat tinggi. sektor pertanian yang meningkat 3.2 persen dan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi. Dan sisi produksi.7 persen dan 4. pengangkutan dan telekomunikasi.5 persen dan 2.0 persen serta ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5. pengangguran terbuka menurun menjadi 9. hotel. Dari sisi produksi.4 juta orang (8. serta konsttuksi yang masing-masing tumbuh sebesar 14. Adapun sektor industri pengolahan terutama nonmigas tumbuh 4.7 persen. PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. . 6.9 juta orang (10.4 persen yang kemudian disesuaikan lagi rnenjadi 6.5 persen.4 persen dan 10. serta sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2. Sementara itu impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 13. Dalam bulan Februari 2008.5 juta orang sehingga pengangguran terbuka menurun dari 10.3 persen dan 15.9 persen. dan air bersih. gas dan air bersih. Kegiatan ekonomi yang didukung oleh langkah-langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat diperkirakan meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar 4.4 persen.2 persen.5 persen. listrik.0 persen (y-o-y). investasi serta ekspor barang dan jasa tetap didorong sebagai penggerak perekonomian dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11. dan perlambatan ekonomi AS menuntut perubahan sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 6. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. real estat.oleh sektor industri pengolahan terutama nonmigas yang tumbuh sebesar 5. Dari sisi pengeluaran.0 persen. dan restoran. Dalam bulan Agustus 2006 hingga Agustus 2007 telah tercipta lapangan kerja bagi 4. pertumbuhan ekonomi akan digerakan oleh industri pengolahan nonmigas yang diperkirakan tumbuh 5. gas.4 persen. konstruksi.6 persen serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh negatif 2. pertumbuhan ekonomi triwulan 1/2008 terutama didorong oleh pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 13.3 persen) menjadi 10.3 persen (y-o-y). momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 6.9 persen.3 persen (y-o-y). Dan sisi permintaan.0 persen. dan 8. Kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin yang masih berjumlah 37.1 persen). Momentum pertumbuhan ekonomi yang terjaga pada tahun 2007 telah menciptakan lapangan kerja yang cukup besar dan sekaligus menurunkan pengangguran terbuka.5 persen). Dalam triwulan 1/2008.6 persen.0 persen.5 persen.0 persen dan 9.0 juta orang (9. serta 5.

Adapun lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia tahun 2009 adalah sebagai berikut. perekonomian dunia pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi yang pada gilirannya akan meningkatkan perdagangan dunia. sedangkan Poll of Forecasters. April 2008 memperkirakan ekonomi AS pada tahun 2009 tumbuh 0. Pertama. Kedua.4 persen).8 persen. Dalam tahun 2009. LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL TAHUN 2009 Kondisi ekonomi tahun 2009 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang diperkirakan lebih baik dari tahun 2008. ekspor nonmigas. dan negara Asia lainnya didorong oleh perekonomiannya yang tumbuh pesat. langkah-langkah perbaikan investasi dan percepatan sektor riil yang terus dilanjutkan akan memberi dorongan lebih kuat bagi meningkatnya investasi.7 persen. Volume perdagangan dunia pada tahun 2009 diperkirakan meningkat 5. Mei 2008 memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2009 sebesar 1. Mei 2008).6 persen. respon produksi komoditi dunia lainnya terhadap peningkatan harga yang tinggi. IMF. C.5 persen). Departemen Energi AS. Pertama. harga komoditi dunia termasuk minyak mentah diperkirakan akan melunak. relatif sama dengan tahun 2008 (0. April 2008). Peningkatan produksi baik OPEC maupun non-OPEC. dan kegiatan sektor riil. serta stabilitas keuangan global yang membaik akan mengurangi tekanan terhadap harga komoditi dunia pada tahun 2009. EIA. ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3. gejolak keuangan global diperkirakan mereda. TANTANGAN POKOK Dengan kemajuan yang dicapai pada tahun 2007 dan masalah yang .8 persen dengan ekonomi Asia yang tumbuh 8.B. harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan menurun menjadi sekitar USD 103 per barel (Energy Information Administration. Ketiga. Langkah-langkah yang ditempuh oleh negara-negara maju diperkirakan mampu memulihkan kembali sektor keuangan global yang pada gilirannya akan meningkatkan stabilitas moneter internasional yang lebih baik dan menggerakkan kembali bursa saham global.1 persen). sedikit lebih tinggi dari perkiraan tahun 2008 (1. The Economist. Resiko harga minyak yang lebih ringgi tetap ada apabila terjadi gangguan dalam produksi minyak mentah dunia dan memburuknya kondisi geo-politik di Timur Tengah dengan permintaan yang tetap tinggi dari China. Dengan perekonomian Asia yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. stabilitas keamanan dan politik yang dijaga akan memberi ekspektasi yang positif bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi yang lebih baik. World Economic Outlook. lebih tinggi dari peningkatan tahun 2008 (5.4 persen (World Economic Outlook. perekonomian AS diperkirakan mulai meningkat secara bertahap. India. Kedua. Pada tahun 2009.

gangguan produksi pada komoditi energi dan pangan. lebih tinggi dari tahun 2006 (2. serta daya saing ekspor. industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 5. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009. Dorongan akan diberikan pada peningkatan investasi. 2. Selanjutnya tingginya inflasi di dalam negeri pada tahun 2008 menuntut kebijakan moneter yang berhati-hati untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar menurun pada tingkat yang memadai. Pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi.MEMPERCEPAT PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN. revitalisasi pertanian dan menggerakkan UKM. kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN. jumlahnya masih relatif besar. Pada tahun 2007. peningkatan nilai ekspor nonmigas lebih banyak didorong oleh kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume ekspor. industri pengolahan nonmigas. Beberapa kendala di dalam negeri yang menghambat peningkatan investasi dan ekspor serta lemahnya sektor industri pengolahan akan ditangani secara sungguh-sungguh. Dalam tahun 2007.MENDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI. serta tingginya likuiditas ekonomi dunia dapat menimbulkan potensi yang mengakibatkan gejolak ekternal yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. 3. dan pengeluaran pemerintah serta mendorong peningkatan sektor industri pengolahan. jumlah pengangguran terbuka serta penduduk yang hidup di bawah yang kemiskinan mengalami penurunan. Meskipun pada tahun 2007 dan awal tahun 2008. ekspor. .4 juta orang (8.6 persen).5 persen). Lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian.2 persen.2 juta orang miskin (16.MENJAGA STABILITAS EKONOMI. tantangan pokok yang dihadapi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 1. Pengangguran terbuka pada bulan Februari 2008 sebanyak 9.2 persen. Percepatan pertumbuhan ekonomi akan didorong untuk menurunkan tingkat pengangguran yang mulai menurun dan mengurangi jumlah penduduk miskin yang masih besar dengan mendorong kualitas pertumbuhannya. lebih rendah dari tahun 2004 yang meningkat 7.diperkirakan masih dihadapi pada tahun 2008.5 persen. D. Dalam tahun 2007 investasi berupa pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 9.7 persen dan 10.5 persen) namun masih lebih rendah dari tahun 2004 dan 2005 yang tumbuh sebesar 14.9 persen. sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sekitar 37.

serta meningkatkan diversifikasi pasar ekspor. serta pengembangan kota kecil dan menengah pendukung ekonomi perdesaan. produktivitas pertanian secara luas. pembahasan agraria nasional. administrasi perpajakan dan kepabeanan. mendorong komoditi nonmigas yang bernilai tambah tinggi. Daya saing industrl manufaktur ditingkatkan. memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. Stabilitas ekonomi dijaga melalui pengamanan pasokan bahan makanan. serta penggunaan produksi dalam negeri: Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan produktivitas dan akses UKM pada sumberdaya produktivitas. perlindungan dana masyarakat. Pasokan bahan makanan diupayakan dengan meningkatkan produksi bahan pokok dengan penyempurnaan sistem distribusi sehingga kebutuhan pokok rakyat dapat tersedia. dan ketahanan fiskal. mendorong pelaksanaan negosiasi bipatrit.Peningkatan investasi dan ekspor didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri. Kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan terus didorong. restrukturisasi permesinan. dan penerimaan devisa dari pariwisata dan TKI. SASARAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2009 . mengurangi hambatan prosedur perijinan. Perhatian juga diberikan pada upaya untuk meningkatkan investasi dalam kegiatan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan. serta penyusulan standar kompetensi. Upaya untuk menurunkan jumlah penduduk miskin juga akan didorong oleh berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pro-rakyat miskin. Pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. fasilitasi industri hilir komoditi primer. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan. Pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan didorong melalui peningkatan produksi pangan. serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. E. diversifikasi ekonomi pedesaan. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan ditingkatkan dengan menyempurnakan peraturan ketenagakerjaan. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga diberikan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan penyediaan energi termasuk listrik. kebutuhan pokok utamanya beras yang berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat miskin akan dijamin ketersediaannya dengan akses dan harga yang terjangkau. antara lain dengan pengembangan kawasan industri khusus. Perhatian juga diberikan pada penempatan. Disamping itu. perlindungan. sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. serta peningkatan koordinasi dengan otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan. meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat.

3 persen" sedangkan pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 5.4 persen pada tahun 2009.410. Adapun industri pengolahan didorong tumbuh 1. PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEBUTUHAN INVESTASI Pertumbuhan ekonomi didorong dengan meningkatkan investasi.4 persen. Dalam keseluruhan tahun 2009. dan restoran.8 .14 persen pada tahun 2009. Dalam tahun 2009.5 persen.3 persen dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 6.1 persen dan 11. dan air bersih. untuk produksi tanaman bahan makanan. impor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 13. tercermin dari kondisi neraca pembayaran.0 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 . Koordinasi antara kebijakan fiskal.Dengan arah kebijakan ekonomi makro di atas serta dengan memperhatikan lingkungan eksternal dan internal. perdagangan. keuangan. 14. Pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 7. daya beli masyarakat membaik dengan konsumsi masyarakat diperkirakan tumbuh 5. sasaran ekonomi makro tahun 2009 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6.6.7 persen dengan peningkatan yang lebih baik terutama. Dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6. 7.5 persen.9 triliun dan Rp 177. serta 5.0 persen. Sedangkan sektor tersier yang meliputi listrik.9 persen. 8.1. Kebutuhan investasi 2009 dapat dilihat pada Tabel III.232.0 .0 .4 persen dan laju inflasi sebesar 5.6.8. menjaga ekspor nonmigas serta memberi stimulus fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara untuk menggerakkan semua sektor produksi. dibutuhkan investasi sebesar Rp 1.4 persen. 7. pengangkutan dan telekomunikasi. pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin akan menurun. perekonomian diperkirakan tumbuh sebesar 6. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 3. moneter.6 triliun dengan peran serta masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1. serta jasa-jasa diperkirakan tumbuh berturut-turut sebesar 7. Dengan meningkatnya investasi. 1.0 persen.0 . dengan terjaganya stabilitas ekonomi. moneter. .6 persen. hotel.8 persen.7 triliun. terutama industri dan pertanian.1 persen. Untuk membiayai pertumbuhan ekonomi sebesar 6.0 persen antara lain oleh perbaikan iklim investasi dan meningkatnya ekspor nonmigas.4 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut. gas. 2. ditingkatkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi. STABILITAS EKONOMI Stabilitas ekonomi dalam tahun 2009 tetap dijaga. dan keuangan negara.4 persen.2. dan jasa perusahaan. investasi berupa pembentukan modal tetap bruto serta ekspor barang dan jasa didorong agar tumbuh masing-masing sebesar 12. konstruksi.6. dan sektor riil. Pertumbuhan PDB baik pada sisi pengeluaran maupun produksi dapat dilihat pada Tabel III. real estat.

b. NERACA PEMBAYARAN Penerimaan ekspor tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar 9. surplus neraca pembayaran pada tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 11.9 miliar. Dengan nilai tukar rupiah yang stabil serta pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga. surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 diperkirakan menurun menjadi USD 10. neraca modal dan finansial diperkirakan mengalami surplus sebesar USD 0.8 persen PDB.6 miliar.5 .8 persen PDB. Gambaran neraca pembayaran tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III. Sementara itu impor nonmigas diperkirakan tetap tumbuh tinggi sebesar 17.5 persen.9 miliar didorong oleh meningkatnya investasi langsung asing (neto) sebesar USD 2. Secara keseluruhan.5. Dalam tahun 2009. MONETER Stabilitas neraca pembayaran yang terjaga.7 . portfolio sebesar USD 6.2 miliar. c. belanja negara diperkirakan sebesar 21. sedangkan investasi lainnya (neto) defisit sebesar USD 7. sedangkan ekspor migas diperkirakan turun 3. Seiring dengan mulai membaiknya kondisi pasar uang dunia.4 miliar atau cukup untuk memenuhi 6.4 miliar. terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 13. Dalam tahun 2009.1 persen PDB dan penerimaan bukan pajak sebesar 5.5 bulan impor.3.a. serta efektivitas kebijakan moneter yang semakin baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Dengan besarnya dorongan fiskal ke daerah. Dengan defisit sektor jasa-jasa yang masih tetap tinggi. stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga.1 persen. terutama didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar 13.3 persen.19.0 persen.8 persen PDB. keselarasan program-program pembangunan di daerah dengan program prioritas nasional . Dengan menurunnya laju inflasi dan stabilnya nilai tukar rupiah. KEUANGAN NEGARA Kebijakan fiskal tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini. laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan sebesar 6.14.21.0 . Sementara itu. penerimaan negara dan hibah diperkirakan mencapai 19.4 persen antara lain karena harga minyak dunia yang menurun dan program pengalihan ekspor gas untuk kebutuhan domestik. suku bunga di dalam negeri diperkirakan menurun dan pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.5 persen sedangkan impor migas menurun sebesar 1.9 miliar dan cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi USD 80. ketersediaan cadangan devisa yang meningkat.7 .

serta berbagai kegiatan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran.0 persen dari PDB. 3.0 persen PDB. b.34. atau 4. seperti .0 . baik untuk konsumen maupun produsen tertentu.Subsidi Pupuk. Dengan perkiraan penerimaan dan pengeluaran tersebut.2 persen dari PDB. baik untuk konsumen maupun produsen tertentu. Defisit APBN tahun 2009 diupayakan sekitar 1. yaitu: a. e. KEBIJAKAN SUBSIDI Sesuai amanat pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945. Dalam menjalankan amanat konstitusi tersebut. Subsidi tersebut terbagi atas berbagai jenis. ditutup oleh pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri.perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional. Ketahanan fiskal yang terjaga juga tercermin dari stok utang pemerintah yang menurun menjadi 32. subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat dalam mencukupi kebutuhan dasarnya. 4. mengembangkan sistem jaringan sosial. c.Subsidi Pangan. pada APBN-P tahun 2008 rasio subsidi terhadap belanja negara diperkirakan sebesar 23. d.14 persen. barang dan jasa seperti jaminan tersedianya kebutuhan pangan. pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dengan proporsi yang cukup besar dalam keseluruhan belanja negara.7 persen atau 5. khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. sedangkan tingkat pengangguran terbuka diperkirakan turun menjadi 6.8 persen.5 . PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pada tahun 2007 realisasi rasio subsidi terhadap belanja negara mencapai 19. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan bantuan yang dibutuhkan antara lain transfer tunai.2.Subsidi BBM.5 .Subsidi Listrik.0 persen PDB pada tahun 2009. anak-anak terlantar. dalam bentuk penyediaan pupuk murah untuk petani. jumlah penduduk miskin dan pengangguran terbuka menurun.7. dalam bentuk penyediaan BBM dengan harga lebih murah. ketahanan fiskal tetap terjaga. Sementara itu. serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. dalam bentuk penyediaan bunga di bawah bunga pasar untuk menunjang pencapaian program tertentu. dalam bentuk penyediaan listrik murah.5 persen dari angkatan kerja. stabilitas ekonomi yang terjaga. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin diperkirakan turun menjadi 12 .Subsidi Bunga Kredit Program. dengan harga terjangkau. kesehatan dan pendidikan. pemerintah wajib menjamin kehidupan fakir-miskin. serta subsidi untuk menjaga agar produsen mampu berproduksi. dalam bentuk penyediaan dana untuk penerapan harga pembelian gabah dan beras oleh pemerintah (HPP) dan penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin).

6. serta dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah.Komoditi yang disubsidi agar dapat ikut menciptakan kestabilan harga. Kriteria pengusulan subsidi dalam tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Kriteria Subsidi. pengusulan dan pemberian subsidi harus diatur lebih sistematis. 4.Subsidi Benih.Pengusulan subsidi harus disertai dengan alasan dan dasar perhitungan yang jelas mengenai besarnya subsidi yang diajukan. jagung hibrida. dalam rangka memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak. dalam bentuk penyediaan pelayanan oleh BUMN tertentu kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar. 8. 5. Kelompok sasaran tersebut diutamakan masyarakat golongan berpendapatan rendah.Kredit Ketahanan Pangan (KKP).Adanya kelompok sasaran penerima subsidi yang jelas. dalam rangka meningkatkan efektifitas pengeluaran negara.Subsidi BUMN PSO. subsidi yang sudah berjalan masih diperlukan atau belum berakhir jangka waktu pemberiannya akan terus dilanjutkan. yang menjadi konsumen akhir dari komoditi yang disubsidi. namun pemberian subsidi tersebut akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran. Kredit Koperasi. pengusulnan subsidi baru dimungkinkan dengan memperhatikan bahwa pemberian subsidi merupakan pilihan kebijakan terbaik yang perlu dilakukan. Secara umum. Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana (KKRS). jagung komposit dan ikan budidaya dengan harga di bawah harga pasar. dalam bentuk penyediaan benih unggul untuk padi. Kredit Kepemilikan Rumah Sangat Sederhana (KKRSS) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan. Sementara itu. dan/atau masyarakat di wilayah terpencil atau terisolir agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. Arah Kebijakan Subsidi Tahun 2009.Memiliki jangka waktu yang jelas. Kredit Koperasi Primer untuk Angota (KKPA). kedelai. 2. Dalam hal ini pemberian subsidi tidak dapat diberikan selamanya dan oleh sebab itu pengajuannya harus disertai dengan target waktu subsidi tersebut berakhir. f. serta g. subsidi Pas. 7. seperti subsidi untuk Kereta Api Kelas Ekonomi.Adanya pembenahan struktural yang menyertai pelaksanaan subsidi . Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus mendorong peningkatan perekonomian.Pengajuan subsidi dalam harus kemampuan pembiayaan negara. Mengingat bahwa belanja negara dalam bentuk pemberian subsidi cukup besar. 3. pemberian subsidi dalam tahun 2009 diberikan untuk menghasilkan produk dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas. subsidi untuk PELNI dan sejenisnya.Adanya mekanisme (delivery) yang jelas hingga komoditi tersebut dapat dipastikan sampai pada masyarakat yang layak menerima.Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam rangka mendorong kemampuan produsen nasional dalam memproduksi komoditi tertentu. memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

*Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah *Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. Sehubungan dengan itu. (i) terus melaksanakan desentralisasi fiskal untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah secara konsisten. PENDANAAN MELALUI TRANSFER KE DAERAH Pendanaan pembangunan melalui transfer ke daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendanaan pembangunan secara nasional dengan arah kebijakan Transfer ke daerah tahun 2009. *Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah. Mekanisme Pengajuan/Pemberian Subsidi. dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dengan tujuan: *Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. 5.tersebut agar penyalahgunaan subsidi semaksimal mungkin dapat dihindarkan. *Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. DANA PERIMBANGAN Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan *Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. Dengan demikian. Subsidi diajukan oleh Kementerian/Lembaga yang terkait dengan komoditi dalam bentuk barang dan jasa. atau yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab kementerian/lembaga yang bersangkutan. (ii) mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah pusat dengan daerah dan antar daerah. Pengajuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengajuan kegiatan kementerian/lembaga yang bersangkutan. dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang . nyata dan bertanggung jawab. (iii) mengurangi kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik di daerah. dan/atau dalam kegiatan kementerian/Lembaga. (iv) pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. *Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. kegiatan atau pengajuan subsidi secara lebih terperinci diuraikan pada kegiatan prioritas. kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas.

5 persen sebagai tambahan anggaran pendidikan dasar. dalam rangka mempercepat penyelesaian dokumen transfer yang diperlukan untuk penyaluran DBH ke daerah dan meningkatkan akuntabilitas/tanggung gugat dan efektivitas penggunaannya. hal-hal sebagai berikut menjadi perhatian dalam pengalokasian DAU Tahun 2009 : a. dana alokasi umum (DAU). Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Bagi Hasil. (iii) Indeks Kemahalan Konstruksi. b.dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Umum.Penyedia dan jenis data yang digunakan dalam perhitungan DAU diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). (ii) luas wilayah. Sebagai acuan utama dalam penetapan kebijakan DAU Tahun 2009 adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. . Sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan di atas.Variabel Kebutuhan Fiskal Daerah yaitu: (i) jumlah penduduk. CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (Kbf) dengan Kapasitas fiskal (Kpf) sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD. Dana Bagi Hasil Pajak. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. c. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).Pengalokasian DAU kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAU dihitung atas dasar Celah Fiskal (CF) dan Alokasi Dasar (AD). Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. antara lain dari daerah dan Departemen Keuangan untuk Belanja PNSD. penetapan alokasi dan ketepatan waktu penyaluran DBH akan tetap dilanjutkan. dan Dana Bagi Hasil SDA. Langkah-langkah untuk penyempurnaan proses penghitungan. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dan dana alokasi khusus (DAK). antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data sesuai dengan peraturan yang berlaku. merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi dalam mendukung kebijakan desentralisasi fiskal guna memperbaiki kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (Vertical Fiscal Imbalance) serta antar daerah (Horizontal Fiscal Imbalance). Disamping itu juga melaksanakan sosialissi penggunaan DBH migas 0. Variabel Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD.

Pada tahun 2009. daerah tertinggal/terpencil. 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. dan daerah pariwisata.Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10% untuk semua Provinsi dan sebesar 90% untuk semua Kabupaten/Kota dari besaran DAU nasional. Depdagri dan Bakosurtanal untuk data luas wilayah darat dan laut. air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertingga1 yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan. daerah tertinggal/terpencil. kelebihan DBH-nya dibagikan kepada daerah sebagai DAU Tambahan. daerah perbatasan dengan negara lain. arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Alokasi Khusus. melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan.dan PAD. daerah perbatasan dengan negara lain. Secara umum. 2.Dalam hal realisasi harga minyak bumi melebihi 130% dari asumsi dasar minyak bumi dalam APBN tahun berjalan. BPS untuk data Jumlah Penduduk. dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. e. DAK dimaksudkan untuk membantu daerah tertentu dalam mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. dan daerah rawan bencana. serta sarana dan . d. dalam pengalokasian diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan. Penetapan kebijakan DAK Tahun 2009 mengacu pada UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dan PP No. menggunakan formula DAU atas dasar Celah Fiskal. IPM dan PDRB per kapita. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. IKK.Menunjang penguatan sistem distribusi nasional. Selain itu. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. serta peningkatan akurasi data yang ditujukan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara alokasi DAK yang merupakan prioritas nasional dengan kebutuhan daerah. daerah pulau-pulau kecil terluar. irigasi.Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan. sedangkan untuk data DBH Pajak dan DBH SDA dari Departemen Keuangan. daerah pasca bencana. Dalam proses perhitungan alokasi DAK kepada masing-masing daerah akan disempurnakan antara lain melalui peningkatan transparansi dan penyempurnaan metode penghitungan. alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK.

daerah perbatasan. 6. 3. Penggunaan DAK Tahun 2009 diarahkan pada kegiatan-kegiatan di 11 bidang atau program DAK tahun 2008.Pendidikan.Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan. yang diperuntukkan bagi SD/SDLB.Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementenan/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK. kualitas pe1ayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan.Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.Mendorong peningkatan produktivitas. 4. melalui kegiatan khusus di bidang pertanian. 9. 8. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). b. melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. serta pembangunan perdesaan. serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal. dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. kesehatan. serta pembangunan perdesaan. daerah rawan bencana. kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar. Dengan demikian. keluarga berencana.Menyediakan serta meningkatkan cakupan. dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup.Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD. termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya. infrastruktur. baik negeri maupun swasta. yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009. meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil.Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar. dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu. sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan. MI/Salafiyah Ula.Kesehatan. perdagangan. tertinggal. angkutan barang dan kebutuhan pokok. bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a. serta 2 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. 5. perbatasan dan . perluasan kesempatan kerja.prasarana perdesaan. yang diprioritaskan pada daerah tertinggal. mencegah kerusakan lingkungan hidup. daerah terpencil. 7. dan kehutanan. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. perikanan dan kelautan. infrastruktur.

dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional. sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB. peningkatan mutu. serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah.Pertanian. serta penyediaan sarana/ prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. peningkatan. dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. f. i. sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi.han daerah. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi. kabupaten. serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. yang diarahkan untuk meningkatkan kinelja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB. dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi. dan Edukasi (KJE)/advokasi Program KB.Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan. persampahan. khususnya untuk pengadaan. dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008.kepulauan. dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. g. dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang. h. barang dan jasa.Keluarga Berencana (KB). dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. industri. e.Kelautan dan perikanan. c.Infrastruktur jalan dan jembatan.Infrastruktur irigasi.Prasarana pemerinta. dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. d. dan . melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional. dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes. pemasaran. serta digunakan untuk pembangunan/ perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota. Informasi. dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan. pengolahan.

serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan. daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. pemantapan fungsi hutan lindung. daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran.Pembangunan perdesaan daerah tertinggal. daerah tertinggal/terpencil. dengan arah kebijakan untUk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air. meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai. l. serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan. dengan arab kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS). Kemampuan keuangan daerah tersebut dihitung berdasarkan indeks fiskal netto (IFN) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.Kehutanan. pengendalian pencemaran air. dan karakteristik daerah.Lingkungan hidup.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut: *Kriteria Umum. serta daerah pasca bencana. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang. yaitu: a. *Kriteria Khusus. m. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja pegawai negeri sipil daerah.Peraturan perundangan: *Daerah-daerah yang menurut ketentuan peraturan perundangan diberi status otonomi khusus. hutan kota.Perdagangan.pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD. j. bahan pokok. k. dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan.Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. 10. diprioritaskan mendapat alokasi DAK *Seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapat alokasi DAK . Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus. Taman Hutan Raya (TAHURA). 11. dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK.

*Kriteria Teknis. sosial. Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat dimaksud tetap mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. dan Provinsi di Provinsi Papua dan Papua Barat. Kriteria teknis dirumuskan berdasarkan indeks teknis yang ditetapkan oleh menteri/ kepala lembaga teknis terkait. Kota. daerah rawan bencana. Sebagai wujud pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. daerah perbatasan dengan negara lain. dialokasikan Dana Otonomi Khusus. Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan dalam rangka otonomi khusus yang diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. c. Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat tersebut diperuntukkan bagi Kabupaten. serta pendanaan pendidikan. serta dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.b.Karakteristik daerah : daerah pesisir dan Kepulauan. yang jumlahnya setara.Kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak tahun 2008. pengentasan kemiskinan. sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas . serta daerah yang termasuk Kategori daerah ketahanan pangan. dan kesehatan. daerah tertinggal/terpencil. dan insentif bagi daerah yang mengalokasikan dana daerah diluar DAK untuk membiayai kegiatan serupa sesuai bidang DAK. dan untuk tahun keenam belas sampai tahun keduapuluh besarnya setara dengan 1 (satu) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional. dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan. kinerja pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dan pagu Dana Alokasi Umum (DAU) secara nasional. Dana Otonomi Khusus NAD diarahkan penggunaannya untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Arah Kebijakan Pengalokasian Dana Otonomi Khusus. pemberdayaan ekonomi rakyat. dan daerah pariwisata. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana.

5 8.9 2.0 7.8 2.5 6.3 6.6 8.5 7. Real 7.4 4.5 5.4 13.4 3. Hotel.7 6.7 5. 2. Tabel III.7 17.4 2) Investasi 14.2 8.6 9.0 6.0 10. dan Perikanan Pertambangan dan -4.9 2) Air Bersih Konstruksi 7.0 5.4 7.0 -6.9 13.2 5.0 4.5 3.5 6. 5.4 12.1 2) Telekomunikasi Keuangan.4 1) 2004 PERTUMBUHAN PDB PENGELUARAN (%) Konsumsi Masyarakat 5.3 2) Konsumsi Pemerintah 4. Peternakan.0 5.3 5.6 4.4 2) Jasa PERTUMBUHANPDB PRODUKSI (%) Pertanian.5 16.9 2) Penggalian Industri Pengolahan 6.7 2) Perkebunan. Kehutanan.7 5.0 6.7 5.8 14.3 6.5 8.1 2) Ekspor Barang dan 13.2 1.7 5.7 14.7 10.7 3.9 5.0 2) Listrik.4 8.0 2) Jasa Impor Barang dan26.4 12.6 3.3 6.l.6 2) dan Restoran Pengangkutan dan 13. GAMBARAN EKONOMI MAKRO ----------------------------------------------------------------Realisasi Sasaran -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------PERTUMBUHAN EKONOMI (%) 5.5 3.0 2. Gas dan 5.5 11.5 6.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.5 5.5 3.5 2) .8 8.0 3.0 2) Perdagangan.0 7.9 7.2 11.5 9.7 8.9 2.6 9.8 10.2 5.6 4.3 8.6 7.4 8.0 4.3 2) Industri Bukan Migas 7.4 7.4 14.9 4.7 2.3 5.0 13.

Estat, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa

5,4

5,2

6,2

6,6

5,7

5,8 2)

LAJU INFLASI (%) 6,4 17,1 6,6 6,6 11,2 5,8-6,5 1) KEUANGAN NEGARA Defisit APBN/PDB (%) 1,3 0,5 0,9 1,3 3) 1,8 1,5 - 2,0 Penerimaan Pajak/ 12,2 12,5 12,3 12,4 3) 13,2 13,7 - 14,1 PDB (%) Stok Utang 56,6 47,2 39,0 33,7 3) 33,5 32,0 - 34,0 Pemerintah/PDB (%) ----------------------------------------------------------------1)Berdasarkan Hasil Pembahasan RKP Tahun 2009 dan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN TA 2009, 16019 Juni 2008 2)Angka Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran dan Produksi merupakan rincian dari sasaran Pertumbuhan sebesar 6,4% 3)Berdasarkan perkiraan Realisasi Terakhir (Versi ke-4) Tabel III.2 KEBUTUHAN INVESTASI (Rp triliun) ----------------------------------------------------------------Realisasi Proyeksi -------------------------------------------------2005 2006 2007 2008 2009 *) -----------------------------------------------------------------

2004

Kebutuhan 515,4 657,6 805,5 983,8 1.191,5 1.410,6 Investasi (Rp triliun) Pemerintah 76,4 90,2 108,2 125,4 146,0 177,7 (% PDB) 3,3 3,3 3,2 3,2 3,1 3,3 Masyarakat 438,9 567,4 697,2 858,5 1.045,5 1.232,9 (% PDB) 19,1 20,5 20,9 21,7 22,4 23,4 ----------------------------------------------------------------*)Dihitung berdasarkan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4% Tabel III.3. PERKIRAAN NERACA PEMBAYARAN (USD miliar) ----------------------------------------------------------------Realisasi --------------------------------------------------

Proyeksi

2004 2005 2006 2007 2008 2009 ----------------------------------------------------------------Neraca Transaksi 1,6 0,3 10,6 10,4 11,4 10,9 Berjalan Ekspor 70,8 87,0 103,5 118,0 139,1 152,1 Migas 16,3 20,2 22,9 24,9 34,3 33,1 Nonmigas 54,5 66,8 80,6 93,1 104,8 118,9 Impor -50,6 -69,5 -73,9 -84,9 -101,9 -115,0 Migas -11,2 -16,0 -16,2 -18,8 -25,2 -24,9 Nonmigas -39,5 -53,4 -57,7 -66,1 -76,7 -90,1 Jasa-jasa -18,6 -17,3 -19,0 -22,7 -25,8 -26,2 Pembayaran Bunga -2,8 -2,7 -2,6 -2,2 -2,1 -2,4 Pinjaman Neraca Modal dan 1,9 0,3 1,9 3,3 0,2 0,9 Finansial Neraca Modal 0,0 0,3 0,4 0,5 0,2 0,0 Neraca Finansial 1,9 0,0 1,5 2,7 0,0 0,9 Investasi -1,5 5,3 2,2 1,7 2,5 2,4 Langsung Arus Masuk 1,9 8,3 4,9 6,2 6,3 6,5 Arus Keluar -3,4 -3,1 -2,7 -4,5 -3,8 -4,1 Portfolio 4,4 4,2 4,1 7,0 4,6 6,2 Aset Swasta 0,4 -1,1 -1,9 -3,0 -3,2 -2,3 Liabilities 4,1 5,3 6,1 10,0 7,8 8,5 Pemerintah 2,3 4,8 4,5 5,3 4,8 5,1 dan BI Swasta 1,8 0,4 1,6 4,7 3,0 3,4 Lainnya -1,0 -9,4 -4,8 -5,9 -7,1 -7,6 Aset Swasta 1,0 -8,6 -2,6 -5,6 -6,9 -6,8 Liabilities -2,0 -0,8 -2,2 -0,3 -0,2 -0,8 Pemerintah -2,7 -0,8 -2,5 -2,4 -1,0 -1,3 dan BI Swasta 0,7 0,0 0,3 2,1 0,8 0,5 Total 3,4 0,6 12,5 13,7 11,6 11,9 Selisih Perhitungan -3,1 -0,2 2,0 -1,1 0,0 0,0 Neraca Keseluruhan 0,3 0,4 14,5 12,5 11,6 11,9 Cadangan Devisa 36,3 34,7 42,6 56,9 68,5 80,4 Dalam bulan impor 6,1 4,3 4,5 5,8 6,0 6,5 Memorandum Item Exceptional Financing IMF Neto -1,0 -1,1 -7,6 0,0 0,0 0,0 Penjadwalan Hutang 0,0 2,7 0,0 0,0 0,0 0,0 Pertumbuhan Ekspor 11,5 22,5 20,7 15,6 12,5 13,5 Nonmigas (%)

Pertumbuhan Impor Nonmigas (%)

24,4

36,0

8,0 14,5

16,0

17,5

---------------------------------------------------------------LAMPIRAN BAB 3 PEMUTAKHIRAN GAMBARAN EKONOMI MAKRO 2009 Sejalan dengan perubahan ekonomi nasional dan gejolak ekonomi global, maka gambaran ekonomi makro yang diuraikan dalam Perpres No 28 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR-RI, disepakati hal-hal sebagai berikut. Sasaran laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,0 persen hingga 6,4 persen. Tingkat inflasi diperkirakan sekitar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga diperkirakan berkisar antara 7,5 persen hingga 8,5 persen. Harga minyak mentah (ICP) diperkirakan berkisar antara US$ 95 hingga US$ 120 per barel. Rasio defisit anggaran APBN adalah sekitar 1,5-2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009 yang merupakan lampiran dari UU APBN Tahun 2009 ini, sasaran ekonomi makro yang dicantumkan adalah sasaran ekonomi makro yang merupakan kesepakatan Pembicaraan Pendahuluan tersebut di atas. Pembicaraan pendahuluan dilanjutkan dengan penyusunan RAPBN 2009. Pada saat penyusunan RAPBN 2009, perekonomian diwarnai berbagai gejolak eksternal yang penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi. Ketidakpastian ini berawal dari krisis subprime mortgage, dan pada saat yang bersamaan harga-harga komoditi dunia mulai dari minyak bumi, minyak sawit, gandum, dan kedelai mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dengan gejolak eksternal yang diperkirakan berimbas kepada ekonomi domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2009 diperkirakan sebesar 6,2 persen, inflasi diperkirakan sebesar 6,5 persen, dan suku bunga diperkirakan akan mencapai 8,5 persen. Dengan perkiraan akan terjadi pelemahan US$ dan pengelolaan cadangan devisa yang baik, maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat dan mencapai Rp 9.100,0/US$. Selanjutnya, sehubungan dengan ketidakpastian politik internasional, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menyebabkan relatif tingginya harga minyak mentah internasional sehingga asumsi rata-rata minyak mentah indonesia (ICP) diperkirakan akan meningkat menjadi $130. Dengan besaran ekonomi makro sedemikian dan dalam rangka terus memberikan stimulus fiskal bagi pembangunan, maka defisit APBN dinaikkan menjadi 1,9

150.2 persen. Harga minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 80. serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi. Dalam perkembangannya. sejalan dengan krisis keuangan Amerika yang semakin menjalar keseluruh dunia. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 8.0/US$ setelah mempertimbangkan koreksi nilai tukar yang tejadi akibat kelangkaan likuiditas ekonomi dunia. Besaran ekonomi makro ini selanjutnya dibicarakan dalam pembahsan RUU tentang APBN Tahun 2009 beserta Nota Keuangan. Namun demikian.0 persen. manufaktur. Harga minyak mentah dalam tahun 2009 disepakati sebesar US$ 95. maka Pemerintah dan DPR kembali merevisi angka ekonomi makro pada tanggal 13-15 Oktober 2008 dengan kesepakatan sebagai berikut. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Pada akhirnya.7 persen terhadap PDB. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan upaya mendorong sektor riil. Dengan demikian.400. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal.0 per barel dengan melihat perkembangan harga minyak terkini serta prospek harga future. Perubahan Kerangka Ekonomi Makro 2009 . Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6. Nilai tukar rupiah dalam tahun 2009 disepakati sebesar Rp 9.5 persen menurun dari 8. disepakati hal-hal sebagai berikut. pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertaman. Dari sisi produksi. sampai saat-saat terakhir pembahasan suasana ketidakpastian dalam perekonomian terus berlanjut. masih ada potensi risiko akibat kenaikan inflasi yang disebabkan oleh imported inflation dari nilai tukar.2 persen. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut telah mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia serta mempertahankan prioritas program pembangunan yang telah direncanakan di RKP tahun 2009. Defisit APBN turun menjadi 1. Inflasi dalam tahun 2009 disepakati sebesar 6.0 per barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun. termasuk indonesia. pertambangan. serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat. sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil.persen terhadap PDB. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kecenderungan penurunan harga minyak dan komoditi.0/US$. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2009 sebesar 6.5 persen. Suku Bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7. dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang.3 persen. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus meningkat. Dalam kesepakatan Pembicaraan Tingkat I.0 persen. defisit APBN menjadi 1 persen.

provinsi.0 . akuntabilitas dan partisipasi. dan kabupaten/kota. baik dalam kerangka regulasi maupun dalam kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum. Pelaksanaan kegiatan.5 .0 6. Lembaga Pemerintah Non-Departemen.5-2.-------------------------------------------------------------------------PEMBICARAAN RAPBN PEMBICARAAN TK I UU APBN PENDAHULUAN 2009 RUU APBN & TAHUN 2008 KERANGKA RKPPENYUSUNAN NOTA KEUANGAN EKONOMI 2009 RAPBN 2009 2009 MAKRO 16-19 Agustus 3-19 Oktober Juni 2008 2008 September 2008 2008 -------------------------------------------------------------------------Penumbuhan 6.4 6.100 8. Kementerian.0 APBN/PDB(%) Nilai Tukar .5 1.400 7. dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.5 130 6.6.6. sesuai dengan peraturan .5 80 ------------------------------------------------------------------------- BAB 4 KAIDAH PELAKSANAAN Dalam melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009.2 1.0 1.9 9. dengan tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada masing-masing lembaga serta pembagian urusan antara pemerintah pusat.0 95 6. efektivitas.200 (Rp US$) Suku Bunga 7.2.4 Ekonomi (%) Inflasl (%) 6 5.0 9.2 6.8. baik di antara-kegiatan dalam satu program maupun kegiatan antar program.5 SBI (%) Harga Minyak 95 .8 .120 ICP (US$/br) 6.000 .3 6. dalam satu instansi dan antar instansi.9. mensyaratkan keterpaduan dan sinkronisasi antar kegiatan.9.5 .5 Defisit 1. transparansi.150 8.2 1.7 9.

Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat. 2. maka masing-masing instansi pemerintah (kementerian/lembaga). sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan program dalam rangka koordinasi perencanaan. RKP Tahun 2009 merupakan acuan bagi Kementerian. dan lembaga pemerintah non-departemen. baik yang berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP). dan Musrenbang Nasional (Musrenbangnas). Peraturan Presiden (perpres). yang dilaksanakan melalui asas . setelah menerima pagu sementara Tahun 2009. d.Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) di atas perlu menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan. Sehubungan dengan itu. ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan RKP 2009 sebagai berikut: 1. telah dilaksanakan proses musyawarah antar pelaku pembangunan melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang. atau sudah menjadi kewenangan daerah. Pemerintah Daerah. periu menyesuaikan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja-KL) menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (RKA-KL) sebagai berikut: a. tugas dekonsentrasi. tugas pembantuan. c. Kementerian. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. atau Peraturan Menteri/Kepala Lembaga. Musrenbang Provinsi. Kementerian.RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman bagi Lembaga Negara. b. seperti Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota.Lembaga Negara.perundang-undangan yang berlaku. Untuk mengupayakan keterpaduan. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya.Pemerintah wajib menyampaikan rancangan APBN Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing lembaga negara. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah pusat. serta masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan program-program RKP Tahun 2009 dengan sebaik-baiknya. dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen dalam menyusun kebijakan publik. dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2009.Uraian penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009.Uraian rencana penggunaan APBN Tahun Anggaran 2009. Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan. dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan. departemen.

d. masing-masing instansi daerah perlu menyempurnakan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2009 sebagai berikut: a. RKP Tahun 2009 menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun kebijakan publik. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah yang berupa kerangka regulasi sesuai dengan kewenangannya dalam bentuk Peraturan Daerah (perda) dan Peraturan Gubernur/Bupati/Wali Kota. 4. Berkaitan dengan pendanaan pembangunan. atau tugas pembantuan yang diterima pemerintah kabupaten/kota dari pemerintah pusat.Pemerintah daerah wajib menyampaikan rancangan APBD Tahun Anggaran 2009 dari masing-masing instansi daerah. perlu juga menguraikan kewenangan pengguna anggaran yang bersangkutan.Uraian rencana penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. sinkronisasi dan harmonisasi pelaksanaan setiap program dalam rangka koordinasi perencanaan. masyarakat luas dan dunia usaha dapat berperanserta dalam pelaksanaan program-program pembangunan berdasarkan rancangan peran serta masyarakat dalam kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Bagi Pemerintah Daerah (provinsi/kabupaten/kota).Uraian penggunaan APBD Tahun Anggaran 2009. baik berupa kerangka regulasi maupun kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum dalam Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2009. .Uraian sebagaimana yang dimaksud butir (b) diatas. dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah daerah. di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Masyarakat luas juga dapat berperanserta dalam pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan kegiatan dalam program-program pembangunan. tugas dekonsentrasi yang diterima pemerintah provinsi dari pemerintah pusat. yang merupakan kegiatan untuk mencapai prioritas pembangunan nasional/daerah.dekonsentrasi. b. 3. dengan mendapatkan masukan dari seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah.Masyarakat luas dapat berperanserta seluas-luasnya dalam perancangan dan perumusan kebijakan yang nantinya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. 5. yang berupa kerangka investasi pemerintah dan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya. merumuskan matriks rencana tindak pada setiap bidang pembangunan (matriks rencana tindak menjadi lampiran dari setiap bidang pembangunan) menjadi dokumen RKP Tahun 2009. yang dilaksanakan langsung sebagai kewenangan daerah. ataupun yang dilaksanakan melalui tugas pembantuan.Pemerintah Pusat. c. Untuk mengupayakan keterpaduan.

setiap instansi pemerintah wajib melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang meliputi evaluasi terhadap pencapaian sasaran kegiatan yang ditetapkan. setiap Kementerian/Lembaga Pemerintah Non-Departemen dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan.6. . melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.Pada akhir tahun anggaran 2009. 7. dan melaporkan hasil-hasil pemantauan secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program. kesesuaiannya dengan rencana alokasi anggaran yang ditetapkan dalam APBN/APBD. serta kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan APBN/APBD dan peraturan-peraturan lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful