P. 1
Penanganan Pasca Panen Buah Salak

Penanganan Pasca Panen Buah Salak

|Views: 2,228|Likes:
Published by Natasya Al Muchdar

More info:

Published by: Natasya Al Muchdar on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

Penanganan Pasca Panen Buah Salak

BAB. I PENDAHULUAN Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempunyai prospek baik untuk diusahakan. Daerah asal nya tidak jelas, tetapi diduga dari Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa tanaman salak (Salacca edulis) berasal dari Pulau Jawa. Pada masa penjajahan biji-biji salak dibawa oleh para saudagar hingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Filipina, Malaysia, Brunei dan Muangthai. A. Latar Belakang Buah salak (Salaca edulis Reinw.) adalah komoditas indegenous Indonesia dan merupakan salah satu buah unggulan daerah Bali dan juga telah dimasukkan sebagai unggulan nasional karena potensinya yang tinggi untuk dipasarkan dalam negeri, kemungkinan untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor, potensinya yang baik untuk agribisnis dan agroindustri, telah memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani. Disamping itu keragaman genetiknya yang tinggi memungkinkan tanaman dikembangkan untuk memperoleh varietas-varietas unggulan . Salak adalah produk organik yang di dalam pengembangannya pada umumnya tidak menggunakan bahan kimia buatan, baik berupa pestisida maupun pupuk. Buah salak mempunyai kekhasan tersendiri dalam citarasa dibandingkan dengan buah lainnya di Indonesia (Anonim, 2009). Salah satu kendala di dalam pemasaran buah salak adalah adanya rasa sepet (astringent) yang relatif cukup tinggi terkecuali salak varietas gula pasir. Tampaknya rasa sepat inilah yang juga menjadi kendala pengembangan untuk bisa masuk pasar internasional. Di jepang, rasa sepat buah persimon telah mampu dikurangi dengan cara memberikan perlakuan ethanol (Anonim,2009). Disini dapat dilihat bahwa terjadi konflik antara kebutuhan manusia dengan sifat alamiah biologis dari produk buah salak yang telah dipanen tersebut. Konsekwensi langsung dari konflik antara kebutuhan hidup dari bagian tanaman tersebut dan kebutuhan manusia untuk mendistribusikan dan memasarkan serta menjaga mutu produk itu sedapat mungkin dalam jangka waktu tertentu sampai saatnya dikonsumsi, adalah adanya keharusan untuk melakukan kompromi-kompromi. Kompromi-kompromi adalah elemen dasar dari setiap tingkat penanganan pascapanen produk-produk tanaman yang ringkih sayuran dan buah-buahan. Dapat dalam bentuk kompromi suhu untuk meminimumkan aktivitas metabolisme namun dihindari adanya kerusakan dingin, atau kompromi dalah hal konsentrasi oksigen untuk meminimumkan respirasi namun dihindari terjadinya respirasi anaerobik, atau kompromi dalam keketatan pengemasan untuk meminimumkan kerusakan karena tekanan namun dihindari adanya kerusakan karena fibrasi dan sebagainya. Pemahaman tentang sifat alami produk panen dan pengaruh cara penanganannya adalah sangat penting untuk melakukan kompromi terbaik untuk menjaga kondisi optimum dari produk. Sehingga untuk mendapatkan bentuk kompromi yang optimal maka beberapa pertimbangan penting harus diperhatikan, yaitu pertimbangan fisiologis, fisik, patologis dan ekonomis (Anonim,2009). B. Masalah Dan Sub Masalah

. serta pertimbangan-pertimbangan penting dalam penangan pasca panen pada buah. khususnya buah salak. Berbagai produk mempunyai laju respirasi berbeda. Respirasi berlangsung untuk memperoleh energi untuk aktivitas hidupnya. sel-sel muda yang tumbuh aktif cenderung mempunyai laju respirasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih tua atau sel-sel yang lebih dewasa. dan pada kondisi ini etilen yang dilepaskan oleh satu komoditi dapat merusak komoditi lainnya. Dalam proses respirasi ini. Kerusakan fisik dapat terjadi pada seluruh tahapan dari kegiatan sebelum panen.Makalah ini membahas tentang penanganan pasca panen dan hal-hal setelah pasca panen terhadap buah salak. Laju respirasi menentukan potensi pasar dan masa simpan yang berkaitan erat dengan. Sehingga laju respirasi sering digunakan sebagai index yang baik untuk menentukan masa simpan pascapanen produk segar. C6H12O6 + O2 ————-> CO2 + H2O + Energi + panas Produksi etilen4 Etilen adalah senyawa organic hidrokarbon paling sederhana (C2H4) berupa gas berpengaruh terhadap proses fisiologis tanaman. sehingga meminimalisir. Etilen dalam ruang penyimpanan dapat berasal dari produk atau sumber lainnya. kehilangan kenampakan yang baik. uap air dan panas. bahan tanaman terutama kompleks karbohidrat dirombak menjadi bentuk karbohidrat yang paling sederhana (gula) selanjutnya dioksidasi untuk menghasilkan energi. Gas hasil bakaran minyak kendaraan bermotor mengandung etilen dan kontaminasi terhadap produk yang disimpan dapat menginisiasi pemasakan dalam buah dan memacu kemunduran pada produk non-klimakterik dan bunga-bungaan atau bahan tanaman hias. dan menjaga kelembaban nisbi yang mencukupi dari udara sekitar produk tersebut. mengurangi ketersediaan O2 atau meningkatkan konsentrasi CO2 . Hasil sampingan dari respirasi ini adalah CO2. Sering selama pemasaran. Secara umum. kehilangan nilai nutrisi dan berkurangnya nilai cita rasa. Masa simpan produk segar dapat diperpanjang dengan menempatkannya dalam lingkunngan yang dapat memeperlambat laju respirasi dan transpirasi melalui penurunan suhu produk. Kebanyakan bunga potong sensitive terhadap etilen. penanganan. Etilen dikategorikan sebagai hormon alami untuk penuaan dan pemasakan dan secara fisiologis sangat aktif dalam konsentarsi sangat rendah (<0. Semakin tinggi laju respirasi maka semakin cepat pula perombakan-perombakan tersebut yang mengarah pada kemunduran dari produk tersebut. kehilangan air.005 uL/L). beberapa jenis komoditi disimpan bersama. atau memperlambat kerusakan terhadap buah salak tersebut dan meningkatkan nilai ekonomisnya. Air yang dihasilkan ditranspirasikan dan jika tidak dikendalikan produk akan cepat menjadi layu. umumnya tergantung pada struktur morfologi dan tingkat perkembangan jaringan bagian tanaman tersebut.Diantara pertimbangan-pertimbangan tersebut adalah sebagai berikut: Pertimbangan Fisiologis Laju Respirasi Secara fisiologis bagian tanaman yang dipanen dan dimanfaatkan untuk konsumsi segar adalah masih hidup. dicirikan dengan adanya aktivitas metabolisme yang dinamakan respirasi. grading. selanjutnya pemanenan. Pertimbangan Fisik Buah dan sayuran mengandung air sangat banyak antara 80-95% sehingga sangatlah mudah mengalami kerusakan karena benturan-benturan fisik.

hanya berada di dalam jaringan. Infeksi awal dapat terjadi selama pertumbuhan dan perkembangan produk tersebut masih dilapangan akibat adanya kerusakan mekanis selama operasi pemanenan. yang di akumulasikan dan diendapkan mengelilingi bagian luka. pelukaan pada permukaan dan stadia kematangan). Melalui lentisel ini pula terjadi pertukaran gas dan uap air. lecet dan abrasi. Buah yang baru dipanen sebenarnya telah dilabuhi oleh berbagai macam mikroorganisme (mikroflora) dari yang tidak menyebabkan pembusukan sampai yang menyebabkan pembusukan.5) atau keasamannya yang tinggi dibandingkan dengan sayuran yang pH nya rata-rata lebih besar dari 5. menginduksi produksi gas etilen yang memacu proses kemunduran produk. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh pH yang rendah (kurang dari 4. Kerusakan dapat pula ditunjukkan oleh dihasilkannya stress metabolat (seperti getah). Infeksi mikroorganisme terhadap produk dapat terjadi semasih buah-dan sayuran tersebut tumbuh dilapangan. Pada permukaan produk terdapat jaringan yang mengandung lilin yang dinamakan cuticle yang dapat berperan sebagai barier penguapan air berlebihan. Secara morfologis pada jaringan luar permukaan produk segar dapat mengandung bukaanbukaan (lubang) alami yang dinamakan stomata dan lentisel. serangan atau infeksi mikroorganisme pembusuk. Mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan susut pascapanen buah dan sayuran secara umum disebabkan oleh jamur dan bakteri. Sehingga secara umum infeksi mikroorganisme pembusuk terjadi melalui bagianbagian yang luka dari jaringan tersebut. nisbah luas permukaan dan volume. Bahan seperti lignin dan suberin. Mikroorganisme pembusuk dapat tumbuh bila kondisinya memungkinkan seperti adanya pelukaan-pelukaan. Jaringan tanaman dapat menghasilkan bahan pelindung sebagai respon dari adanya pelukaan. Kehilangan air dari produk secara potensial terjadi melalui bukaan-bukaan alami ini. transportasi. lenticel tidak dapat menutup. kelembaban. CO2 dan O2 dengan udara sekitar produk. Pertimbangan Patologis Buah dan sayuran mengandung air dalam jumlah yang banyak dan juga nutrisi yang mana sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Pembusukan pada buah-buahan umumnya sebagai akibat infeksi jamur sedangkan pada sayur-sayuran lebih banyak diakibatkan oleh bakteri. terjadinya perubahan warna coklat dari jaringan rusak. dan factor eksternal atau factor-faktor lingkungan (suhu. kondisi suhu dan kelembaban yang sesuai dan sebagainya. namun mikroorganisme tersebut tidak tumbuh dan berkembang. Infeksi mikroorganisme di atas di namakan infeksi laten. Kerusakan yang umum terjadi adalah memar. bagian yang pecah.pengemasan. penyimpanan. Tidak seperti stomata yang dapat membuka dan menutup. Adanya mikroorganisme pembusuk pada buah dan sayuran adalah merupakan factor pembatas utama di dalam memperpanjang masa simpan buah dan sayuran. Contoh mikroorganisme yang . atau melalui kerusakan fisiologis akibat dari kondisi penyimpanan yang tidak baik. terpotong. Kerusakan fisik juga memacu kerusakan baik fisiologis maupun patologis (serangan mikroorganisme pembusuk). aliran udara dan tekanan atmosfer). dapat sebagai pelindung dari serangan mikroorganisme pembusuk. maka mikroorganisme tersebut segera dapat tumbuh dan berkembang dan menyebabkan pembusukan yang serius. Stomata adalah bukaan alami khusus yang memberikan jalan adanya pertukaraan uap air. Laju transpirasi atau kehilangan air dipengaruhi oleh factor-faktor internal (karakteristik morfologi dan anatomi. Bila kondisinya memungkinkan terutama setelah produk tersebut dipanen dan mengalami penanganan dan penyimpanan lebih lanjut. adanyatusukan-tusukan. dan akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Dalam kondisi ini. Tanda-tanda kehilangan air bervariasi pada produk yang berbeda. penurunan O2 dan peningkatan CO2 yang berakibat tidak baik terhadap komoditi. karena konsumen tidak mampu menyerap biaya tambahan. menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan fisiologis. Bila 8 interval waktu jauh lebih panjang dengan lika-liku pemasaran yang lebih kompleks. dan tanda-tanda kerusakan baru tampak saat jumlah kehilangan air berbeda-beda pula.2009). Setiap peningkatan 10oC laju kemunduran meningkat dua sampai tiga kali. Infeksi baru dilakukan bila ada pelukaanpelukaan akibat operasi pemanenan. pasca panen dan pendistribusiannya. Hal ini menunjukkan bahwa pnerapan metode penanganan sangat ditentukan oleh sejauh mana konsumen mau membayar lebih dengan tingkat penanganan yang lebih baik. maka diperlukan penanganan-penanganan yang lebih kompleks pula atau dilibatkan teknologi yang lebih banyak. Jarak antara kebun dan pasar adalah salah satu penentu utama di dalam memutuskan apakah suatu teknologi akan digunakan. Pertimbangan Ekonomis Kondisi ekonomis dan standard kehidupan konsumen adalah merupakan factor penting di dalam menentukan kompromi-kompromi yang dilakukan melalui metode penanganan dan penyediaan fasilitas. . Investasi berlebihan untuk penanganan buah dapat mengakibatkan economic loss.(Anonim. Ada pula mikroorganisme seperti bakteri pembusuk. Ada pula mikroorganisme yang hanya berlabuh pada bagian permukaan produk namun belum mampu menginfeksi. Tetapi dalam realitanya. Sebagai contoh. prosedur penyimpanan dengan atmosfer terkendali yang dikembangkan dengan konsentrasi etilen rendah dapat menjaga mutu buah lebih lama dengan kondisi lebih baik. seperti Erwinia carotovora dan Pseudomonas marginalis (penyebab penyakit busuk lunak) pada sayuran mampu menghasilkan enzim yang mampu melunakkan jaringan dan setelah jaringan tersebut lunak baru infeksi dilakukannya. Kehilangan air tidak dapat dihindarkan namun dapat ditoleransi. dan jumlah yeng lebih besar dari factor manusia dan ekonomi harus dipertimbangkan. Diperkirakan teknologi ini akan diadopsi secepatnya oleh petani di AS untuk meningkatkan mutu apel yang kemudian dapat dijual pada saat tidak musimnya. Terkadang interval waktu antara panen dan penjualan hanyalah berlangsung beberapa jam. Pertimbangan kondisi lingkungan Suhu adalah factor sangat penting yang paling berpengaruh terhadap laju kemunduran dari komoditi pascapanen. pepaya dan pisang. Kelembaban ruang adalah salah satu penyebab kehilangan air setelah panen. namun infeksi akan sangat jauh lebih memudahkan bila ada pelukaan-pelukaan. dan cara paling efektif untuk mengurangi kerusakan adalah mengajarkan petani untuk memanen dan menangani produknya secara hati-hati. Perkecambahan spora dan laju pertumbuhan mikroorganisme lainnya sangat dipengaruhi oleh suhu. hanya sedikit perlakuan pascapanen yang diperlukan. Bila jaraknya dekat. Umumnya tanda-tanda kerusakan jelas terlihat bila kehilangan air antara 3-8% dari beratnya. Komoditi yang dihadapkan pada suhu yang tidak sesuai dengan suhu penyimpanan optimal. petani sangat ragu untuk melakukan investasi untuk mengadopsi metode baru tersebut karena pasar belum siap membayar lebih untuk mutu apel yang tinggi.melakukan infeksi laten adalah Colletotrichum spp yang menyebabkan pembusukan pada buah mangga. maka metode penanganan akan lebih sederhana. Kehilangan air berarti kehilangan berat dan kenampakan. Jadi jenis mikroorganisme ini tidak perlu menginfeksi lewat pelukaan. Suhu juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi etilen.

kecuali harus bekerja pada malam hari. Sehingga buah salak tidak dapat disimpan lama dalam keadaan segar. . seperti di bawah pohon atau naungan. masa panen kecil pada periode Februari – April. Kebersihan salak berpengaruh terhadap masa simpan buah salak. Setelah dipetik buah salak masih meneruskan proses hidupnya berupa proses fisiologi (perubahan warna. Buah salak yang belum masak. proses biokimia dan perombakan fungsional dengan adanya pembusukan oleh jasad renik). Beberapa petani maju menggunakan peti plastik jenis HDPE (high density polyethylene) untuk membawa salak dari kebun ke kios atau toko yang sekaligus sebagai tempat pengumpulan dan pengemasan. sedangkan bila pada sore hari dapat berakibat lamanya waktu menunggu. Untuk salak pondoh. pernafasan. Tandan salak sering diletakkan dekat dengan permukaan tanah sehingga kotoran dapat menempel pada buah salak dan menyebabkan binatang-binatang kecil yang menyukai tempat lembab sering bersembunyi di antara buah dalam tandan. Maka pemanenan dilakukan dengan cara petik pilih. 2 Pengumpulan Dan Pembersihan Buah salak yang dipanen dimasukkan ke dalam keranjang bambu atau peti kayu yang diberi alas daun-daunan. buah salak mudah rusak dan tidak tahan lama. Tujuan Makalah ini ditujukan untuk para pembaca khususnya penulis sendiri agar dapat mengetahui dan melakukan penanganan pasca panen terhadap buah salak secara tepat dan cermat. Bila panen dilakukan pada siang hari. untuk melindungi dari sengatan matahari yang dapat meningkatkan suhu buah salak sehingga mempercepat kerusakan . tidak cacat. Kerusakan ditandai dengan bau busuk dan daging buah menjadi lembek serta berwarna kecoklat-coklatan. Buah yang masih dapat dipanen pada masa istirahat disebut buah slandren. dan masa istirahat (kosong) terjadi pada periode Agustus – Oktober. 3 Sortasi Dan Penggolongan Sortasi bertujuan memilih buah yang baik. Bersamaan dengan pembersihan dapat dilakukan sortasi dan penggolongan (grading). panen raya terjadi pada periode November – Januari. Jika panen dilakukan pada saat terlalu pagi dan buah masih berembun maka buah akan mudah kotor dan bila luka sangat rentan terserang penyakit. Buah salak diletakkan di tempat yang teduh. 1 .Pemanenan Mutu buah salak yang baik diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat kemasakan yang baik. Pembersihan buah salak dilakukan dengan menyikat buah menggunakan sikat ijuk atau plastik dengan gerakan searah susunan sisik sehingga buah salak bersih dari kotoran dan sisa-sisa duri. dan dipisahkan dari buah yang busuk. Jadi kita harus benar-benar tahu buah salak yang sudah tua tetapi belum masak. BAB II PENANGANAN PASCA PANEN BUAH SALAK Seperti buah-buahan lainnya. masa panen sedang terjadi pada Mei – Juli. maka diperlukan penanganan pascapanen. Panen buah salak dilakukan dalam keadaan cuaca kering (tidak hujan) pada pagi hari (pukul 9 – 10 pagi) saat buah sudah tidak berembun. bila dipungut akan terasa sepet dan tidak manis. Salak dipanen saat berumur 5 – 6 bulan umur bunga. buah akan mengalami penguapan sehingga susut lebih banyak. disinilah letak kesukarannya.C.

3. Khusus pada salak bali dengan tujuan pasar lokal tidak dilakukan sortasi. bentuk.Penggolongan buah salak bali didasarkan kepada besar. sehat.1 Tujuan grading/penggolongan a). persyaratan mutu lebih tinggi dengan mengikuti persyaratan yang ditetapkan pembeli luar negeri. mikrobiologis ataupun bau asing. bebas dari kerusakan fisik.mendapat hasil buah yang seragam (ukuran dan kualitas) b). tergores atau tertusuk. 5 Pengangkutan (transportasi) dan pengemasan Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan. Pasar Eropa menetapkan persyaratan keutuhan buah. Penggolongan bertujuan menyeragamkan ukuran dan mutu buah sehingga mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. dan 20 kilogram.seperti tabel di bawah ini : Kelas Mutu Ciri – ciri AA (super) 12 buah/ kg. Salak bali biasanya dikemas dalam peti kayu yang dialasi tikar pandan untuk bantalan. bebas dari penyakit dan ada tidaknya cacat/luka. derajat ketuaan yang tepat dan keadaan yang baik sampai tujuan (Anonim. rupa. bebas penyakit dan tidak cacat atau luka.mendapatkan harga yang lebih tinggi d). Buah yang telah disortasi dan digolongkan dikemas ke dalam karung anyaman pandan atau keranjang menunggu dimuat ke sarana pengangkutan. mempermudah dalam penyusunan.pecah. 4 Penyimpanan Penyimpanan yang dilakukan petani atau pedagang hanya bersifat sementara dan dilakukan di lapangan. corak. Petani/ pedagang belum melakukan kegiatan penyimpanan yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan buah salak sebelum dipasarkan. baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan. Salak sidimpuan biasanya dikemas dalam karung anyaman pandan yang disebut sumpit . Semua itu dimasukkan kedalam kelas dan golongan sendiri-sendiri. Sebelum dikemas dalam karunganyaman pandan. bentuk.merangsang minat untuk membeli e). Juga berguna untuk membersihkan buah salak dari kotoran. pecah Untuk pasar ekspor. warna. penampilan. kehalusan permukaan kulit buah. kesegaran.Biasanya buah salak dikemas dalam keranjang bambu (besek) berkapasitas 5. 10. Pada kemasan salak pondoh. buah salak yang masih utuh pada tandan diletakkan di tengah dan di sekelilingnya diletakkan butiran salak yang sudah lepas dari tandan. buah salak sidimpuan digolongkan secara manual ke dalam 2 (dua) kelas yaitu kelas ukuran besar dan kelas ukuran sedang yang dicampur dengan ukuran kecil . sehat C (kecil) 25 – 30 buah/ kg. bahan baku manisan BS (tidak diperdagangkan) Busuk. tangkai dan ranting.mempermudah penyusunan dalam wadah/peti/alat kemas c). sisa – sisa duri.2009). warna kulit kekuningan AB (sedang) 15 – 19 buah/ kg. warna. corak. untuk menaksir pendapatan sementara.agar perhitungannya lebih mudah f). Penggolongan ini dapat berdasarkan pada : berat. besar.

maka kardus tidak mampu lagi menahan beban dan . Gambar 2. sedangkan isi kemasan yang terlalu kurang akan menyebabkan buah yang terletak pada bagian atas saling berbenturan dan terlempar karena getaran maupun benturan yang berlangsung selama transportasi.2. karakteristik kulit buah serta kondisi lingkungan di sekitar buah. varietas. 6 Pengemasan buah-buahan 6. tingkat kematangan. memar dan luka pada buah. susut mutu dan susut bobot.dengan kapasitasyang bervariasi sekitar 35 sampai 50 kg/ karung menggunakan kemasan pengisi (bantalan) berupa serat pelepah kering tanaman salak (Gambar 2). Karung anyaman pandan (sumpit). buah salak diangkut menggunakan sarana angkutan mobil pick – up dan biaya transportasi ditanggung oleh petani. Untuk pasar ekspor. digunakan daun pisang kering maupun potongan kertas koran sebagai kemasan pengisi. stirofoam. Buah yang akan diangkut dapat dikemas menggunakan berbagai jenis kemasan. Kerusakan buah dan kemasan selama transportasi Selama transportasi. dapat berupa kerusakan kimiawi. Pengangkutan salak sidimpuan dari kebun ke tempat pengumpulan berjarak sekitar 1 km. Selain itu jika isi kardus terlalu padat atau RH lingkungan tinggi. Disamping itu. Kerusakan ini diakibatkan oleh benturan (shock) dan getaran (vibration) selama transportasi. bobot dan ukuran buah. tray dari stirofoam dan plastik film. buah-buahan yang dikemas mengalami kerusakan. kardus. misalnya kemasan karung anyaman bambu (sumpit) pada transportasi buah salak sidimpuan. Kapasitas Truk Fuso sekitar 7 ton (± 300 karung anyaman pandan). perlindungan produk. Untuk pemasaran di luar daerah Padang Sidimpuan. Sedangkan pengemasan eceran (retail) lebih dititik – beratkan pada fungsi kegunaan dan informasi produk. dan melindungi produk dari pencemaran. beban tekanan yang dialami buah (stress). Kerusakan kimiawi ditandai dengan adanya perubahan warna buah (discoloration) dan busuk (karat) pada buah akibat terinfeksi mikroorganisme. seperti karung goni. fungsi pengemasan lebih diutamakan untuk pemuatan dan perlindungan.1. pengemasan berfungsi untuk pemuatan produk pada suatu wadah (containment). Fungsi proteksi terhadap buah dapat dipenuhi dengan baik dalam penggunaan kemasan peti kayu. digunakan truk Fuso dan Colt Diesel yang dilengkapi dengan penutup terpal. keranjang plastik atau bambu. dan informasi. Kerusakan fisik dapat juga disebabkan oleh isi kemasan terlalu penuh (over packing) ataupun terlalu kurang (under packing) dan penumpukan kemasan yang terlalu tinggi. Secara umum. Tujuan dan fungsi pengemasan Pengemasan dilakukan untuk meningkatkan keamanan produk selama transportasi. Dalam kemasan ini. kegunaan (utility). Untuk keperluan transportasi. dan keranjang plastik yang keras (crates). Untuk penjualan ke pasar lokal setempat. Kerusakan fisik ditandai dengan adanya pecah (kulit terkelupas). 6. sedangkan pada kardus (kotak karton gelombang) hanya mampu bila ditumpuk setinggi 6 – 7 tumpukan saja. terdapat juga jenis kemasan yang khas sentra produksi buah. Penumpukan kemasan yang terlalu tinggi menyebabkan buah pada lapisan dasar dalam kemasan yang paling bawah dari tumpukan akan mengalami kerusakan tekan akibat penambahan tekanan dari tumpukan kemasan. dan peti kayu. buah salak dikemas dengan karton bergelombang yang berkapasitas 10 – 11 kg. serta memudahkan dalam penggunaan produk yang dikemas. Isi kemasan yang terlalu penuh mengakibatkan bertambahnya tekanan (compression) pada buah. fisik dan mikrobiologis.

Selain itu pengisian buah diatur sedemikian rupa sehingga keranjang tidak terlalu padat (overfilled) Pada pengemasan buah salak. Permukaan bagian dalam kemasan harus halus sehingga produk tidak rusak selama pengangkutan. Selain itu. Agar keranjang bambu dapat lebih baik melindungi buah. juga dapat menahan laju transpirasi dan respirasi dari produk. Dengan kata lain. suasana yang lembab dan hangat dalam kemasan selama pengangkutan mendorong pembusukan berlangsung lebih cepat. Aspek teknis perancangan mencakup pemilihan bahan kemasan. Pemilihan bahan kemasan juga mengutamakan bahan yang dapat melindungi produk dari kerusakan fisik selama transportasi. retak/ pecah dan luka) dan kerusakan mikrobiologis. Mikroorganisme yang terbawa dari kebun. BAB. bentuk dan dimensi kemasan. serta getaran dan benturan selama perjalanan. Ventilasi kemasan harus cukup. Hal tersebut sejalan dengan Marcondes (1992) yang menyatakan bahwa RH yang tinggi akan menurunkan compressive strength bahan-bahan dari papan serat korugasi (corrugated fibreboard). pengemasan dirancang untuk mengatasi faktor getaran dan benturan selama transportasi. Kemasan harus benar – benar berfungsi sebagai wadah yang dapat diisi produk. khususnya buah. Kemasan harus tahan dan tidak berubah bentuk selama pengangkutan. maka pada bagian atas keranjang ditambahkan penahan sehingga bentuk penampang keranjang tidak mengalami perubahan (deformasi) saat dikenai beban tekanan.mentransfer beban tersebut kepada buah. sehingga memberikan tampilan yang buruk untuk dijual. III PERANCANGAN KEMASAN TRANSPORTASI BUAH SALAK 1. maka aspek teknis menjadi pertimbangan utama dalam perancangan kemasan tersebut. Dalam merancang kemasan transportasi untuk komoditi hortikultura perlu diperhatikan persyaratan – persyaratan berikut diacu dalam : 1. 5. sehingga dapat mengeluarkan gas hasil metabolisme produk dan menurunkan panas yang timbul. Penggunaan keranjang bambu kurang efektif sebagai kemasan transportasi. Kemasan harus mampu menahan beban tumpukan. kerusakan yang terjadi umumnya adalah kerusakan fisik (pememaran. 2. atau cukup pada bagian dalam kemasan agar lebih ekonomis. serta uji-uji sifat fisik dan reologi yang berkaitan dengan aspek tersebut dan tetap mempertimbangkan sifat-sifat kritis komoditi hortikultura yang mempengaruhi perubahan mutu komoditi tersebut selama transportasi. kemasan harus mampu menahan beban dan bersifat kaku (rigid) sehingga tidak mentransfer beban apapun kepada buah. goresan. 4. 3. daripada kemasan lain yang berpenampang segi empat seperti kayu dan kardus. Penurunan kemampuan kardus dalam menahan beban akibat RH yang tinggi dapat diatasi dengan pemberian lapisan lilin (waxing) pada bagian dalam dan luar kemasan kardus. Bahan untuk kemasan harus cukup kering sehingga beratnya tetap (konstan). lebih ditujukan untuk melindungi buah dari kerusakan yang dapat menurunkan mutu buah. Buah yang mengalami luka fisik juga lebih cepat busuk. Bentuk penampang lingkaran pada keranjang bambu menyebabkan keranjang bambu bersifat fleksibel saat dikenai beban tumpukan terutama bila diisi penuh (padat) sehingga buah juga akan menerima beban tumpukan tersebut. dan tidak .Syarat-syarat perancangan Kemasan transportasi untuk komoditi hortikultura. karena penampang kemasan yang berbentuk lingkaran. dampak pemuatan dan pembongkaran buah dari sarana transportasi. Compressive strength kardus menurun sekitar 35% jika kadar air meningkat dari 10% ke 15%.

Standar Mutu Salak Standar mutu salak Indonesia tercantum pada SNI 01 – 3167 – 1992. Kemasan harus bersih dan tidak memindahkan infeksi penyakit ke produk. Tabel Kelas mutu salak berdasarkan SNI 01–3167–1992 Tingkat Mutu I Mutu II Ketuaan Seragam tua Kurang seragam Kekerasan Keras Keras Kerusakan kulit buah Utuh Kurang utuh Ukuran Seragam Seragam Busuk (bobot/bobot) 1% 1% Kotoran Bebas Bebas BAB. penyortiran dan penggolongan. prosesnya seperti pengumpulan. Teknik pascapanen khusus terkadang digunakan tergantung pada bagaimana produk tersebut dipersiapkan untuk pasar. penyimpanan lalu barulah tahap pengemasan. gigitan serangga dan tikus.) adalah komoditas indegenous Indonesia dan merupakan salah satu buah unggulan daerah Bali dan juga telah dimasukkan sebagai unggulan nasional karena potensinya yang tinggi untuk dipasarkan dalam negeri. bahan kemasan juga harus tahan serangan jamur. Ukuran berat dibagi atas ukuran besar untuk salak yang berbobot 61 gram atau lebih per buah. Karena jika tidak. 2. dan ukuran kecil berbobot 32 gram atau kurang per buah. Kemasan harus mudah diangkat dan dapat disusun pada bak – bak alat angkut dengan sistem pallet (khusus untuk ekspor). ukuran sedang berbobot 33 – 60 gram/ buah. telah memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani. yaitu mutu I dan mutu II (Tabel 2). 8. buah salak akan rusak sehingga mutu buah tersebutpun menjadi turun. IV PEMBAHASAN Buah salak (Salaca edulis Reinw.mengabsorpsi air dan perisa (flavour) produk. Tahapan tersebut harus dilaksanakan dengan benar dan hati-hati. 7. Banyak tahapan proses yang harus dilalui agar buah melon dapat bernilai ekonomis tinggi hingga dipasarkan. Kemasan harus ekonomis dan bahan kemasan terdapat di sentra produksi. tidak semua buah melon bisa diperlakukan seperti hal tersebut. potensinya yang baik untuk agribisnis dan agroindustri. . Salak dibagi atas 2 (dua) kelas mutu. Berbagai ragam proses perlakuan sebelum didistribusikan. 6. Buah ini bisa menjadi sangat mahal bila dikemas dengan ekslusif. kemungkinan untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor.

Spesialisasi geografi. Alternatif pengemasan buah salak menggunakan kemasan atmosfir termodifikasi (MAP) untuk transportasi dengan kereta api telah diteliti oleh Mohamad (1990). secara organoleptik buah salak pondoh masih disukai konsumen sampai penyimpanan hari ke – 20 dan mengandung total padatan terlarut 17. semakin lama periode antara panen dan konsumsi. Karena mutu buah puncaknya adalah pada saat panen. Musiman. Buah umumnya mempunyai kandungan air tinggi. Pada musim berbuah umumnya produk melimpah. Buah merupakan produk tanaman hortikultura yang dikenal mudah rusak. Setelah simulasi transportasi.8% setelah transportasi dari Bali ke Malang. sehingga memerlukan ruang besar atau perlakuan khusus di dalam transportasi maupun di penyimpanan. kerusakan fisik dalam bentuk tandan sebesar 6.7289 dan 0.066 untuk suhu penyimpanan 10 oC. maka semakin besar pula penyusutan mutunya. Resiko besar. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi konsentrasi gas CO2 dan O2 yang optimal adalah 10% O2 dan 2.6% sedangkan pada bentuk butiran mencapai 11.3% dan dalambentuk butiran 6. Dengan demikian dalam pendistribusiannya harus dilakukan dengan baik dan cermat karena kerusakan mutu berlangsung dengan cepat. Kerusakan fisik pada cara susun tersebut lebih kecil daripada cara susun butiran. Pada salak manonjaya. Pada salak bali yang disusun dalam peti kayu dalam bentuk tandan kerusakan fisik yang terjadi sebesar 9. 5.0041t dan M10 = 100e-0.5624 dan 0. Misalnya perubahan cuaca. Buah salak bali disusun sama dengan cara susun salak. Kekerasan buah salak yang memar menurun dengan bertambahnya umur simpan dengan koefisien determinasi hubungan kekerasan dan luas memar untuk suhu 26 oC adalah 0. sehingga fluktuasi harga tinggi. Tanaman buah membutuhkan agroklimat tertentu untuk menghasilkan buah dengan kuantitas dan kualitas tertentu khususnya salak (Anonim. masing – masing adalah M26 = 100e-0. namun kemasan yang digunakan adalah peti kayu dengan berat kotor 10 kg (50 x 30 x 30 cm). sehingga berbuah adalah musiman yang berakibat tidak tersedia setiap saat. Mudah rusak (perishable).0016t. Salak pondoh juga dikemas dalam keranjang bambu berbobot 5. Pada salak bali.8%. 4. Suhardjo et al. dengan koefisien determinasi hubungan kadar gula dan luas memar untuk suhu 26 oC adalah 0.0% CO2. Bulky. Dari penelitian ini didapatkan persamaan laju kerusakan memar buah salak pada suhu 26 oC dan suhu penyimpanan 10 oC. . Kadar gula buah salak yang memar mengalami peningkatan dengan bertambahnya waktu. adanya serangan hama atau penyakit tertentu akan mempengaruhi produksi baik kuantitas maupun kualitas. Buah dengan sifat mudah rusak akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan permintaan pasar. (1995) memaparkan beberapa informasi mengenai kerusakan fisik buah salak akibat transportasi di Indonesia yang berkaitan dengan kondisi transportasi dan jenis kemasan. sehingga diperlukan suatu teknologi untuk dapat menampung produk tersebut. sehingga diperlukan suatu teknologi untuk mempertahankan mutu buah.Karena Sifat produk tanaman buah adalah: 1.5% setelah transportasi dari Yogyakarta ke Malang. 10 dan 20 kg dan disusun dengan meletakkan buah salak yang masih melekat pada tandannya di tengah-tengah kemasan dan di sekelilingnya diletakkan buah salak yang berbentuk butiran. 3. buah salak dikemas dengan keranjang bambu (besek) yang berkapasitas 30 – 40 kg dan disusun secara acak.8991 untuk suhu penyimpanan 10 oC.Faktor yang sebenarnya sangat penting berpengaruh terhadap mutu keseluruhan buah adalah waktu. 2. Berdasarkan penelitian tentang pengukuran tingkat kememaran buah Salak menggunakan pengolahan citra. Tanaman buah umumnya tanaman berumur panjang (prennial).2009). Hal tersebut akan menyebabkan biaya tinggi.

. .Pada tempat penyimpanan untuk diekspor. B. IV PENUTUP A. Kemasan yang dirancang Dalimunthe (2002) adalah kemasan berbentuk kotak dengan bingkai (kerangka) kemasan dari kayu dan dinding kemasan dari pelepah-pelepah salak segar.Buah yang sudah siap dipasarkan kemasannya sebaiknya diberi label produksi sehinga kelas pada buah tersebut jelas.id/files/Agroteknologi%20Tanaman%20Buahbuahan_Final_web.2009.ac.Faktor yang sebenarnya sangat penting berpengaruh terhadap mutu keseluruhan buah adalah waktu.usu.Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan. pecah. . Saran .Proses Panen dilakukan dalam keadaan cuaca kering (tidak hujan) pada pagi hari (pukul 9 – 10 pagi) saat buah sudah tidak berembun.Tanaman Buah buahan.Waktu antara panen dan pemasaran sebaiknya diperhitungkan dengan cermat. sebaiknya dilengkapi dengan control atmosfir agar buah dapat bertahan lama. .Penyimpanan yang dilakukan petani atau pedagang hanya bersifat sementara dan dilakukan di lapangan. namun di dalam laporan penelitiannya tidak terdapat informasi tentang dimensi dan kekuatan (mekanis) kemasan. Dari hasil uji transportasi menggunakan truk selama 10 jam (Padang Sidimpuan – Medan) ditunjukkan bahwa kerusakan fisik buah salak yang paling rendah yaitu sebesar 8.Penggolongan bertujuan menyeragamkan ukuran dan mutu buah sehingga mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. .Hasil penelitian Dalimunthe (2002) menunjukkan bahwa kemasan transportasi buah salak dapat dibuat dari pelepah-pelepah salak segar. . .Pdf.2% didapatkan pada kemasan berbobot 10 kg dengan masa penyimpanan 2 (dua) hari dibandingkan dengan kemasan berbobot 15 kg dan 20 kg dan masa simpan 4 (empat) dan 6 (enam) hari setelah transportasi. . tidak cacat. tergores atau tertusuk.Sortasi bertujuan memilih buah yang baik. dan dipisahkan dari buah yang busuk. . Tanggal akses 29-12-2009.3 – 9.dan bertujuan untuk memperpanjang masa simpan buah salak sebelum dipasarkan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. . baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan.http://usupress.Buah yang sudah siap dipasarkan kemasannya sebaiknya diberi label produksi sehinga kelas pada buah tersebut jelas.Pembersihan buah salak dilakukan dengan menyikat buah menggunakan sikat ijuk atau plastik dengan gerakan searah susunan sisik sehingga buah salak bersih dari kotoran dan sisa-sisa duri. mempermudah dalam penyusunan. BAB. Kesimpulan .

salak . Anonim.http://www.salak.http://staff.pdf Tanggal akses 2912-2009.id/~madeutama/wp-content/uploads /2009/06/2-pengendalian-organisme-pengganggu-pascapanenproduk-hortikultura -dalam-mendukung-gap.go. Anonim.2009.penanganan pasca panen. penanganan buah salak.bi.unud.2009.pdf.id/~madeutama/wpcontent/uploads/2009/06/5-penanganan-pascapanen. Tanggal akses 29-12-2009.ac.damandiri.bantulkab. Budidaya Salak Unggul .pdf Tanggal akses 29-12-2009.id/NR/rdonlyres/92B 8DB1B-29DC-494B-B03C-F861D2E50 0AA/15904/ Budi daya SalakUnggul1.2009. Tanggal akses 29-12-2009.php?mod=basisdata&kat =1&sub=2&file=174. Anonim.unud.Anonim. 2009. Tanggal akses 29-12-2009.http://www.http://staff. Anonim.or.id/web.go.pdf.2009. .ac.http://warintek.id/file/ wiyana levisantisiregaripbbab2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->