P. 1
sejarah

sejarah

|Views: 11,717|Likes:
Published by Luthfi Bimo Satrio

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Luthfi Bimo Satrio on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2015

pdf

text

original

´ INS Kayu Tanam didirikan oleh Mohammad

Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926.

Tujuannya adalah untuk mendidik dan

menanamkan tradisi semangat kerja dan

kemandirian. Dengan kemandirian

tersebut diharapkan golongan pemuda

dapat menyadari akan arti pentingnya

semangat nasionalisme sebagai modal

perjuangan kemerdekaan. Asas INS Kayu

Tanam adalah menolong diri sendiri.

F . DOMINASI EKONOMI KAUM CINA DI INDONESIA

´ Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya

kaum pedagang Cina semakin membuat kesal para
pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang
pribumi terjadi ketika keturunan Cina mendirikan
perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada
tahun 1901. Kekesalan tersebut diciptakan oleh

Belanda untuk menimbulkan rasa iri hati rakyat

Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi
kesempatan untuk menguasai bisnis eceran,
pertokoan, dan menjadi kolektor pajak dari
pemerintah Belanda. Akibatnya kaum Cina menjadi
lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan
persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang
pribumi untuk menghadapi secara bersama pengaruh
dari pedagang Cina.

G . PERANAN BAHASA MELAYU

´ Di samping mayoritas beragama Islam,

bangsa Indonesia juga memiliki bahasa

pergaulan umum (Lingua Franca) yakni

bahasa Melayu. Dalam perkembangannya,

bahasa Melayu berubah menjadi bahasa

persatuan nasional Indonesia. Dengan

posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa

Melayu menjadi sarana penting untuk

menyosialisasikan semangat kebangsaan

dan nasionalisme ke seluruh pelosok

Indonesia.

H. ISTILAH INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS
NASIONAL

´ Istilah µIndonesiaµ berasal dari kata

India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata
nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan),
sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan
Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch dan
Indonesier makin tersebar luas
pemakaiannya setelah banyak dipakai oleh
kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf

Bastian, van Vollen Hoven, Snouck

Hurgronje, dan lain-lain. Dalam tabel
berikut akan diuraikan perkembangan
penggunaan istilah Indonesia. Lihat tabel
5.3.

Tabel 5.3 Perkembangan Penggunaan Istilah

Indonesia

2. FAKTOR EKSTERN

´Timbulnya pergerakan nasional

Indonesia di samping disebabkan

oleh kondisi dalam negeri, juga

ada faktor yang berasal dari luar

(ekstern). Berikut ini faktor-

faktor ekstern yang memberi

dorongan dan energi terhadap

lahirnya pergerakan nasional di

Indonesia.

A. KEMENANGAN JEPANG ATAS RUSIA

´ Selama ini sudah menjadi suatu

anggapan umum jika keperkasaan
Eropa (bangsa kulit putih)
menjadi simbol superioritas atas
bangsa-bangsa lain dari kelompok
kulit berwarna. Hal itu ternyata
bukan suatu kenyataan sejarah.
Perjalanan sejarah dunia
menunjukkan bahwa ketika pada
tahun 1904-1905 terjadi
peperangan antara Jepang melawan
Rusia, ternyata yang keluar
sebagai pemenang dalam peperangan
itu adalah Jepang. Hal ini
memberikan semangat juang
terhadap para pelopor pergerakan
nasional di Indonesia.

B . PARTAI KONGRES INDIA

´ Dalam melawan Inggris di India, kaum

pergerakan nasional di India membentuk
All India National Congress (Partai
Kongres India), atas inisiatif seorang
Inggris Allan Octavian Hume pada tahun
1885. Di bawah kepemimpinan Mahatma
Gandhi, partai ini kemudian menetapkan
garis perjuangan yang meliputi Swadesi,
Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat
ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha
mengandung makna yang memberi banyak
inspirasi terhadap perjuangan di
Indonesia.

C . FILIPINA DI BAWAH JOSE RIZAL

´ Filipina merupakan jajahan Spanyol yang

berlangsung sejak 1571 ± 1898. Dalam perjalanan
sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama
Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional
dengan mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892
Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah
terhadap penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin
dicapai adalah bagaimana membangkitkan
nasionalisme Filipina dalam menghadapi
penjajahan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose
Rizal dihukum mati pada tanggal 30 Desember
1896, setelah gagal dalam pemberontakan
Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme
yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan
semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi
para cendekiawan di Indonesia .

D . GERAKAN NASIONALISME CINA

´ Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di

Cina sejak tahun 1644 sampai 1912. Dinasti ini
dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina karena
dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina.
Masuknya pengaruh Barat menyebabkan munculnya
gerakan rakyat yang menuduh bahwa Dinasti Manchu
sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialis

Barat. Oleh karena itu muncul gerakan rakyat

Cina untuk menentang penguasa asing yaitu para
imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang juga
dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan
nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya
pemberontakan Tai Ping (1850 ± 1864) dan
kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer.
Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di
tanah air Indonesia.

E . GERAKAN TURKI MUDA

´ Gerakan nasionalisme di Turki pada

tahun 1908 dipimpin oleh Mustafa
Kemal Pasha. Gerakannya dinamakan
Gerakan Turki Muda. Ia menuntut
adanya pembaruan dan modernisasi di
segala sektor kehidupan
masyarakatnya. Gerakan Turki Muda
memberikan pengaruh politis bagi
pergerakan bangsa Indonesia sebab
mengarah pada pembaruan-pembaruan
dan modernisasi .

B. PERKEMBANGAN PERGERAKAN

NASIONAL

´ Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan

berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa
pergerakan nasional (1908 - 1942), dibagi dalam tiga
tahap berikut.

´ 1. Masa pembentukan (1908 - 1920) berdiri organisasi

seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische
Partij.
2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 - 1930), berdiri
organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI),
Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional
Indonesia (PNI).
3. Masa moderat/kooperasi (1930 - 1942), berdiri
organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di
samping itu juga berdiri organisasi keagamaan,
organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

1. BUDI UTOMO (BU)

´ Pada tahun 1906 Mas Ngabehi

Wahidin Sudirohusodo, merintis
mengadakan kampanye menghimpun
dana pelajar (Studie Fund) di
kalangan priyayi di Pulau Jawa.
Upaya dr. Wahidin ini bertujuan
untuk meningkatkan martabat
rakyat dan membantu para pelajar
yang kekurangan dana. Dari
kampanye tersebut akhirnya pada
tanggal 20 Mei 1908 berdiri
organisasi Budi Utomo dengan
ketuanya Dr. Sutomo. Organisasi

Budi Utomo artinya usaha mulia.

´ Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah

partai politik. Tujuan utamanya adalah
kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini
terlihat dari tujuan yang hendak dicapai
yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-
sekolah, mendirikan badan wakaf yang
mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan
belanja anak-anak bersekolah, membuka
sekolah pertanian, memajukan teknik dan
industri, menghidupkan kembali seni dan
kebudayaan bumi putera, dan menjunjung
tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka
mencapai kehidupan rakyat yang layak.

´ Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di

Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober ± 5 Oktober

1908. Kongres ini dihadiri beberapa cabang yaitu

Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya II, Magelang,

Surabaya, dan Batavia. Dalam kongres yang

pertama berhasil diputuskan beberapa hal

berikut.

a. Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk

Jawa dan Madura.

b. Tidak melibatkan diri dalam politik.

c. Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan

budaya.

d. Menyusun pengurus besar organisasi yang

diketuai oleh R.T. Tirtokusumo.

e. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu

kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa.

´ Terpilihnya R.T. Tirtokusumo yang seorang bupati

sebagai ketua rupanya dimaksudkan agar lebih
memberikan kekuatan pada Budi Utomo. Kedudukan
bupati memberi dampak positif dalam rangka
menggalang dana dan keanggotaan dari Budi Utomo.
Untuk usaha memantapkan keberadaan Budi Utomo
diusahakan untuk segera mendapatkan badan hukum
dari pemerintah Belanda. Hal ini terealisasi
pada tanggal 28 Desember 1909, anggaran dasar

Budi Utomo disahkan. Dalam perkembangannya, di

tubuh Budi Utomo muncul dua
aliran berikut.

a. Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dibatasi

pada golongan terpelajar saja, tidak bergerak dalam

lapangan politik dan hanya membatasi pada pelajaran

sekolah saja.

b. Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari

kaum muda berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang

demokratis, lebih memerhatikan nasib rakyat yang

menderita.

´ Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo

menyebabkan terjadinya perpecahan. Dr. Cipto
Mangunkusumo yang mewakili kaum muda keluar dari
keanggotaan. Akibatnya gerak Budi Utomo semakin
lamban. Berikut ini ada beberapa faktor yang
menyebabkan semakin lambannya Budi Utomo.

a. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan
untuk kalangan priyayi daripada penduduk
umumnya.
b. Lebih mementingkan pemerintah kolonial

Belanda dari pada kepentingan rakyat Indonesia.

c. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih
mengutamakan jabatan menyebabkan kaum terpelajar
tersisih.

´ Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914,

Budi Utomo mulai terjun dalam bidang

politik. Berikut ini beberapa bentuk peran

politik Budi Utomo.

a. Melancarkan isu pentingnya pertahanan

sendiri dari serangan bangsa lain.

b. Menyokong gagasan wajib militer pribumi.

c. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke

Belanda untuk pertahanan Hindia.

d. Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan

Rakyat).

e. Membentuk Komite Nasional untuk

menghadapi pemilihan anggota volksraad

´ Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914,

Budi Utomo mulai terjun dalam bidang

politik. Berikut ini beberapa bentuk peran
politik Budi Utomo.
a. Melancarkan isu pentingnya pertahanan
sendiri dari serangan bangsa lain.
b. Menyokong gagasan wajib militer
pribumi.
c. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke

Belanda untuk pertahanan Hindia.

d. Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan
Rakyat).
e. Membentuk Komite Nasional untuk
menghadapi pemilihan anggota volksraad

2. SAREKAT ISLAM (SI)

´ Pada mulanya Sarekat Islam

adalah sebuah perkumpulan para
pedagang yang bernama Sarekat
Dagang Islam (SDI). Pada tahun
1911, SDI didirikan di kota Solo
oleh H. Samanhudi sebagai suatu
koperasi pedagang batik Jawa.
Garis yang diambil oleh SDI
adalah kooperasi, dengan tujuan
memajukan perdagangan Indonesia
di bawah panji-panji Islam.
Keanggotaan SDI masih terbatas
pada ruang lingkup pedagang,
maka tidak memiliki anggota yang
cukup banyak. Oleh karena itu
agar memiliki anggota yang
banyak dan luas ruang
lingkupnya, maka pada tanggal 18
September 1912, SDI diubah
menjadi SI (Sarekat Islam).

Organisasi Sarekat Islam (SI)

didirikan oleh beberapa tokoh SDI

seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul

Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat

Islam berkembang pesat karena

bermotivasi agama Islam. Latar

belakang ekonomi berdirinya

Sarekat Islam adalah:

a. perlawanan terhadap para

pedagang perantara (penyalur) oleh

orang Cina,

b. isyarat pada umat Islam bahwa

telah tiba waktunya untuk

menunjukkan kekuatannya, dan

c. membuat front melawan semua

penghinaan terhadap rakyat bumi

putera.

Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran

dasarnya adalah:

a. mengembangkan jiwa berdagang,

b. memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami

kesukaran,

c. memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat

naiknya derajat bumi putera,

d. menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang

agama Islam,

e. tidak bergerak dalam bidang politik, dan

f. menggalang persatuan umat Islam hingga saling

tolong menolong.

Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas

secara horizontal. SI merupakan organisasi massa

pertama di Indonesia. Antara tahun 1917 sampai

dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam

politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda

perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat

kabar yang bernama Utusan Hindia.

Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan

dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI

berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913,

yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan

hukum. Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial

Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang

ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial Belanda dalam

memecah belah persatuan SI. Bayangan perpecahan muncul dari

pandangan yang berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun

mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki pandangan

sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres

SI yang dilaksanakan tahun 1921, ditetapkan adanya disiplin

partai rangkap anggota. Setiap anggota SI tidak boleh merangkap

sebagai anggota organisasi lain terutama yang beraliran komunis.

Akhirnya SI pecah menjadi dua yaitu SI Putih dan SI Merah.

a. SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan Islam.

Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan

Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.

b. SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis).

Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang.

Dalam kongresnya di Madiun, SI

Putih berganti nama menjadi Partai

Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada

tahun 1927 berubah lagi menjadi

Partai Sarekat Islam Indonesia

(PSII). Sementara itu, SI

Sosialis/Komunis berganti nama

menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang

merupakan pendukung kuat Partai

Komunis Indonesia (PKI).

3. Indische Partij (IP)

IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di

Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E

Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan

Suwardi Suryaningrat. Pendirian IP ini

dimaksudkan untuk mengganti Indische Bond yang

merupakan organisasi orang-orang Indo dan

Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya

keganjilan-keganjilan yang terjadi

(diskriminasi) khususnya antara keturunan

Belanda totok dengan orang Belanda campuran

(Indo). IP sebagai organisasi campuran

menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan

bumi putera. Hal ini disadari benar karena

jumlah orang Indo sangat sedikit, maka

diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera

agar kedudukan organisasinya makin bertambah

kuat.

Di samping itu juga disadari betapa pun

baiknya usaha yang dibangun oleh orang Indo,

tidak akan mendapat tanggapan rakyat tanpa

adanya bantuan orang-orang bumi putera. Perlu

diketahui bahwa E.F.E Douwes Dekker dilahirkan

dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu

seorang Indo. Indische Partij merupakan satu-

satunya organisasi pergerakan yang secara

terang-terangan bergerak di bidang politik dan

ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan

Indische Partij adalah untuk membangunkan

patriotisme semua indiers terhadap tanah air.

IP menggunakan media majalah Het Tijdschrifc

dan surat kabar µDe Expres¶ pimpinan E.F.E

Douwes Dekker sebagai sarana untuk

membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah

air Indonesia. Tujuan dari partai ini benar-

benar revolusioner karena mau mendobrak

kenyataan politik rasial yang dilakukan

pemerintah kolonial.

Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu

pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun

bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte

(Prancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga

oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang

pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara

peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa

yang dia sebagai penjajahnya. Hal yang ironis ini

mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin

Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis

artikel bernada sarkastis yang berjudul µAls ik een

Nederlander was¶, Andaikan aku seorang Belanda. Akibat

dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap.

Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat

dalam De Express tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul

Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan,

dan ketakutan. Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat

rekan dalam Tiga Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker turut

mengkritik dalam tulisannya di De Express tanggal 5

Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto

Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat, Pahlawan kita:

Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat.

Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda

menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij

ditangkap. Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke

Belanda. Namun pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo

dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan

Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru

kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi

Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal

sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan

Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga mengabdikan

diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan

pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada

tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes

Dekker ditangkap lagi dan

dibuang ke Suriname, Amerika Latin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->