PROSES KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN A. PENGERTIAN Pengkajian keperawatan adalah proses sistimatis dari pengumpulan, perivikasi dan komunikasi data tentang klien.

B. TUJUAN Menetapkan dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang berkaitan, praktik kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien.

C. AKTIVITAS 1. Pengumpulan data a. Tipe data
1) Data subjektif adalah persepsi klien tentang masalah kesehatan

mereka. 2) Data Objektif adalah pengamatan atau pengukuran yang di buat oleh pengumpulan data. b. Sumber-sumber data 1. Klien 2. Keluarga dan orang terdekat 3. Anggota tim perawatan kesehatan

1

4. Catatan medis c. Metode pengumpulan data Wawancara Bisa juga disebut dengan anamnesa adalah mennyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. Macam macam wawancara 1. Auto anamnesa : wawancara dengan klien langsung 2. Allo anamnesa : wawancara dengan keluarga/orang terdekat. 2. Pengkajian fisik Pemeriksaan fisik adalah mengukur tanda-tanda fital dan pengukuran lainnya serta pemeriksaan semua bagian tubuh dengan menggunakan teknik inpeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi. 3. Data diagnostik dan laboratorium Sumber data pengkajian yang terakhir adalah hasil dari pemeriksaan diagnostik dan laboratorium. Pemeriksaan ini di pesankan oleh dokter atau oleh perawat yang prakteknya yang telah lanjut

D. PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN YANG HARUS DIMILIKI PERAWAT Kemampuan yang harus di miliki oleh perawat dapat meliputi : 1. 2. Kemampuan melakukan obserpasi secara sistematis Kemampuan berkomunikasi secara verbal dan non verbal

2

3. Kemampuan menjadi pendengar yang baik 4. Kemampuan dalam menciptakan hubungan saling membantu 5. Kemampuan dalam membangun suatu kepercayaan 6. Kemampuan mengadakan wawancara 7. Kemampuan dalam melakukian pengkajian atau pemeriksaan fisik keperawatan 2. DIAGNOSA A. PENGERTIAN Menurut Nanda (1990) : diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar intervensi keperawatan untuk mencapai hasil dimana perawat bertanggung gugat. Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi,dimana pemecahannya dapat dilalukan dalam batas wewenang perawat.

B. KOPETEN Rumusan utama,yaitu: 1. Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawtan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi. diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen

3

Penyebabnya meliputi : prilaku. akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah b) Situasional : personal dan lingkungan ( kurang pengetahuan. isolasi sosial. c) Meningkatkan kerjasama perawat dalam mengidentifikasi diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan. Doengoes. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standar yang telah disepakati ( NANDA.dl). dll) c) Medikasi ( berhubungan dengan program pengobatan / perawatan : keterbatasan institusi atau rumah sakit.adolesent:ketergantungan dalam kelompok 4 . lingkungan. supaya: a) Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan b) Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedeaan masalah keperawatan dengan masalah medis. Etiologi (E/Penyebab). sehingga tidak mampu memberikan perawatan d) Maturasional: 1.Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. interaksi antara prilaku dan lingkungan Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi: a) Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit. keadaan ini menunjukan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawtan . Carpenito. sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan 2.Gordon.

hamil.menjadi orang tua 3.dapat diatasi dengan intervensi keperawatan 4.dewasa :tekanan karier . Klasifikasi dan analisis data 5 .menyatakan masalah kesehatan individu.young adult:menikah.yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merummuskan diagnosis keperawatan. perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi .keluarga dan masyarakat 2. spesifi dan akurat (pasti) 3.serta faktor-faktor E. memberikan arahan pada asuhan keperawatan 5. peyebab timbulnya masalah tersebut. 2. sign dan symtom(S/tanda & gejala) Adalah ciri tanda atau gejala . dapat meripakan pernyataan dari penyebab 4. dapat dilaksanakan oleh perawat 6. PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1.tanda2 pubertas 3. Berorientasi kepada klien .keluarga dan masyarakat. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. mencerminkan keadaan kesehatan klien D.jadi rumus diagnosis keperawatan adalah: PE/PES C.2.bersifat aktual atau potensial 3.

faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor menunjang dan mempengaruhi status kesehatan yang berhubungan dengan 4 komponen : patofisiologis. batasan karakteristik karakterristik yang mengacu pada petunjuk klinis. situasional. label merupakan deskrifsi tentang deskrifsi diagnosis dan batasan karakteristik b. dan maturasional. memvalidasi diagnosis keperawatan 4.Pengelompokan data adalah pengelompokan data-data klien atau keadaan tertentu di manaa klien mengalami permasalahan kesehatan atau kepperawatan berdasarkan kriteria permasalahanya 2. 2. Masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual: a. /Menentukan masalah klien c. tanda subjektif dan ojektif d. Diagnosis keperawatan resiko Diagnosa keperrawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu. Penentuan keputusan 3. keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk 6 . Menentukan kelebihan klien b.atau meninggal dengan damai yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuanya daan wewenang yang di milikinya. menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya G. Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien d. tindakan yang berhubungan. arti tetap untuk diagnosa c. KATEGORI DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. Diagnosis keperawatan aktual dan faktor yang berhubungan: a. definisi menentukan pada kejelasan. Mengidentifikasi masalah klien Masalah klien merupakaan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya.

kelompok. tidak merumuskan diagnosa keperawatan sebagai suatu diagnosa medis. I. MENCEGAH KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN a. Diagnosis keperawatan sejahteraan Diagnosa keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenei individu. b.mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama. atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesejahtera khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. H. Diagnosis keperawatan kemungkinan Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memestikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko 5. tidak menggunakan istilah medis. diatasi dengan tindakan keperawatan yang bersifat koloboratif. 3. 7 . MASALAH KOLABORATIF Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata atau bmasalah yang nyata atau resiko yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan akibat pengobatan yang masalah tersebut hanya bisa dicegah. Diagnosis keperawatan sindrom Diagnosa keperawatan sindrom merupakan diagnosis keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosis keperawatan aktual atau resiko yang diduga akan muncul karena satu kejadian atau situasi tertentu. 6.

Mengidentifikasi masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan c. KOMPETEN RENCANA KEPERAWATAN a. Mengkomunikasikan masalah klien pada tim kesehatan b. mendemonstrasikan tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien 3. DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN a. TUJUAN DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN a. INTERVENSI KEPERAWATAN A.c. B. Diagnosa Keperawatan 8 . Jangan merumuskan dua masalah pada saat yang sama J. d. Jangan menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter. masukan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah K. PENGERTIAN Menurut Perry. Gunakan format PES untuk masalah aktual dan PE untuk masalah resiko b. catat diagnosis keperawatan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan c. Potter : 2005 intervensi keperawatan adalah kategori perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut. e. Jangan menggunakan istilah yang tidak jelas.

diskusi tim kesehatan. perencanan umumnya bersifat permanen b. Tujuan langsungperawatan dan koordinasi perawat pasien b. Kriteria Hasil (Tujuan) c. Intervensi Keperawatan C. menentukan kebutuhan pasien dan biaya perawatan E. dicapai dan disetujuin e. KARAKTERISTIK RENCANA KEPERAWATAN YANG SUKSES a. Perlu ditulis dengan detail b. TUJUAN PERENCANAAN KEPERAWATAN a. melibatkan kekuatan dan hambatan pencapaian tujuan d. KARAKTERISTIK RENCANA KEPERAWATAN YANG SUKSES a. adanya rentang : masalah dapat dibandingkan dengan standar atau norma-norma yang dapat didefinisikan atau norma pasien yang spesifik c. kriteria hasil yang ditetapkan dapat diukur. danrencana pulang c.b. mengikut sertakan permintaan pasien atau keluarga d. Bersifat individualis dan berfokus pada pasien b. ketepatan perawat dan pembiayaan (pembayaran) perawatan D. PENGGUNAAN PERENCANAAN PERAWATAN PASIEN a. kesinambungan perawatan c. merefleksikan prioritas keperawatan. melibatkan seluruh tim kesehatan G. PERENCANAAN YANG DIREVISI 9 . dasar pembiayaa perawat yang akan datang e. komunikasi antar perawat d. E. laporan penggantian sift. realistis c. rencana keperawatan dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam ronde keperawatan.

KONTRIBUSI INTERVENSI DAN KRITERRIA HASIL Dilakukannya pendokumentasian intervensi dan kriteria hasil yang baikdapat memberikan kontribusi padda : a. Tradisional Narative Care Plan (Perencanaan Keperawatan Narative Tradisional) a.Perencanaan keperawatan terkadang perlu direvetisi hal ini dikarnakan : a. Menentukanpemberi pelayanan dan penentuan biaya yang dibutuhkan f. Efisien dan mebuat perawat baru (belum ad pengalaman) c. Implementasi keperawatan e. pasien tidak mengalami kemajuan dalam mencapai kriterria hasil yang telah ditetapkan H. TIPE-TIPE PERENCANAAN KEPERAWATAN 1. INTERVENSI PERKEMBANGAN Macam intervensi keperawatan yang dituliskan dalam catatan perkembangn dapat berupa: a. Tindakan keperawatan yang merupakan medikal order (intruksi dokter) b. protap atau buku setandar 2. Membantu program peningkatan mutu pelayanan I. Menentukan pemberi pelayanan dalam rangka proteksi legal KEPERAWATAN DALAM CATATAN 10 . intervensi tidak dapat dilakukan b. Evaluasi tercapainya tujuan keperawatan b. kesempatan berkomunikasi bagi semua staf d. Tindakan kepeeawatan yang merupakan nursing order (instruksi perawat kepada perawat lain) c. Tindakan keperawatan yang merupakan tindakan kaloborasi dengan tim kesehatan lain J. Bentuk formatnya cek list b. Bentuk format terrbuka b. Penentuan perkembangan pasien secara langsung c. Pengisian oleh perrawat berdasar texbook. Standar Care Plan (Perencanaan Keperawatan Standard) a.

SOAPIER (data subjektif. implementasi. pengetahuan. revisi) b. planing. PENGERTIAN Menurut Effendy. evaluasi. keahlian dan pengenalan rutinitas institusi 11 . B.g. Mengidentifikasi prioritas tindakan keperawatan yang diberikan b. analisa. 1995 Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun padda tahap perencanaan. objektif. KOMPETEN DALAM CATATAN PERKEMBANGAN KLINIS Unsur-unsur / urttan yang harus ada dalam catatan perkembangan klinis harus mereflekkasikan yang mana terdiri dari : a. TRADISIONAL NARATIF c. PIE (problem. IDENTIFIKASI PRIORITAS PERRAWATAN a. Data klinis pasien d. BENTUK PENULISAN CATATAN PERKEMBANGAN a. Mengevaluasi dan merevisi renpra C. Intervensi keperawatan e. Tujuan / respon pasien f. Diagnosa keperawatan b. Mengkomunikasikan kepada penyediaan perawatan kesehatan lain d. Memberikan asuhan keperawatan c. Data yang baik yang dapat dapat digunakan dalam riset K. Segala sesuatu yang akan terjdai setiap hari pada pasien tidak dapat diberikan dengan pasti b. TUJUAN a. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN A. intervention. Apa saja yang telah dikaji c. evaluastion) 4. Rencana lebih lanjut L.

Aktifitas ini memerlukan perawatan yang menggunakan tangan secara langsung c. mulai tugas-tugas sederhana sampai prosedur kompleks b.c. perawatan yang diberikan. Semua tatanan perawatan kesehatan kesehatan secara hukum perlu mencatat observasi keperawatan. Interrvensi terdiri banyak aktivitas. Fleksibilitas untuk berradaptasi terhadap kebutuhan pasien sambil mendengarkan dengan teliti laporan penggantian sift d. Tidak melibatkan orang-orang yang tidak terrlibat dalam perawatan. dan respon pasien b. Kerahasiaan pasien sangat penting diperhatikan c. Ronmde keperawatan b.berfungsi sebagai alat komunikasi dan sumber untuk membantu menyusun prioritas keperawatan berkesinambungkomunikasi verbal dengan tim perawatan melaporkan kepada perrawatan lain meninjau dengan dokter. c. dan perhatian mengenai keamanan g. Sajikan informasi dalam cara subjektif dan akurat G. Petunjuk pertama tentang dimana akan melalui pada lembar kerja : catat informasi spesifik e. Tinjau renpra hasil yang harus dievaluasi selama sift. Setelah usai laporan shif : lakukan pengkajian dasar setiap pasienpetunjuk status fisik secara umum. LAPORAN PERGANTIAN SHIFT MELIPUTI : a. Melatih pasien terdekat mengenai penanganan perawatan dan mengawasi hasil intervensi F. MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN a. DOKUMENTASI a. dan pemberian obat f. Dapat mengenali perubahan pada signifikasi atau keparahan masalah pasien yang dapat mempengaruhi renpra E. 12 . peralatan yang diperlukan. prosedur rutin.

PENGERTIAN Tahap penilaian atau evaluasi dalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan. B. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan C. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan b. Untuk menilai efektifitas. Manajemen asuhan keperawatan secara optimal b. TUJUAN 1. efesien dan produktifitas asuhan keperawatan yang diberikan c.5. dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan umum : a. Meningkatkan kualitas asuhan keperawatn 2. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien b. MANFAAT a. Meneruskan rencana tindakan keperawatan d. Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. sebagai umpan balik untuk memberikan atau menyusun siklus baru dalam proses keperawatan 13 . Tujuan khusus : a. Menyatakn apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum c. untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan d. EVALUASI KEPERAWATAN A.

persediaan alat. mengontrol gejala. E. kertas dan pensil 2. pencegahan. resiko komplikasi. Kognitif mliputi pengetahuan klien terhadap penyakit. HASIL EVALUASI a. Pengamatan c. KRITERIA a. TEKNIK PENILAIAN a. Kriteria Proses (evaluasi roses) : memulai jalannya jalannya proses keperawatan sesuai dengan situasi. Affektif meliputi tukar menukar perasaan. MENGUKUR PENCAPAIAN TUJUAN 1. a. pengobatan. Menunjang tanggung gugat dan tnggung jawab dalam pelaksanaan keperawatan D. gejala yang harus dilaporkan. Studi dokumentasi F. kondisi dan kebutuhan pasien b. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan G. Mengumpulkan data baru tentang klien c. Kriteria keberhasilan (evaluasi hasil/sumatif): menilai hasil asuhan keperawatan yang diberikan dengan perubahan tingkah laku klien. Tujuan terrcapai : jika klien menunjukan perubahan sesuai dengan setandar yang telah ditetapkan 14 . kemauan berkomunikasi 3. diet. pengukuran dan lainya. Wawancara b. Membandingkan data baru dengan standar yang berlaku e. interview b. LANGKAH-LANGKAH EVALUASI a. standar danpertanyaan evaluasi b. Pisikomotor : observasi secara langsung apa yang telah dilakukan oleh klien 4.e. Menafsirkan data baru d. Menentukan kriteria. cemas yang berulang. Perubahan fungsi tubuh dan gejala H. aktifitas.

interstisial dan intraseluler. Mengetahui konsep dasar kelebihan volume cairan d. Mengetahui asuhan keperawatan kelebihan volume cairan. Tujuan tidak tercapai : jika klien tidak menunjukan perrubahan dan kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru. Latar Belakang Gangguan volume cairan dalah suatu keadaan ketika individu beresiko mengalami penurunan.b. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan cairan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Tujuan tercapai sebagaian : jika klien menunjukan perubahan sebagian dari standar dan kereteria yang telah ditetapkan c. 2. Tujuan 1. Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. 2000). Mengetahui asuhan keperawatan kekurangan volume cairan c. 2000). peningkatan. B. Tujuan Khusus Tujuan umum mempelajari asuhan keperawatn gangguan volume cairan. 15 . Tujuan Umum Mengetahui gambaran umum mengenai asuhan keperawatan gangguan volume cairan. (Carpenito. BAB I PENDAHULUAN A. (Carpenito. Mengetahui konsep dasar kekurangan volume cairan b. atau perpindahan cepat dari satu kelainan cairan intravaskuler. a.

Diare sekresi (secretory diarrhoe). diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.O Asnil (1998). Suraatmaja dan P. penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu: 1.BAB II PEMBAHASAN `I. disebabkan oleh: 16 .S.O Asdil (1998). Suraatmaja dan P. ditinjau dari sudut patofisiologi.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus. diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.L Betz & L. Menurut Suradi & Rita (2001). Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi. DEFINISI. B. S. buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus. Sedangkan menurut C. PENYEBAB Menurut Haroen N. ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIARE A. Menurut Haroen N.

b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida. hawa dingin. 17 . alergi dan sebagainya. Faktor infeksi a) Infeksi enteral Merupakan penyebab utama diare pada anak. lemak (LCT). bronkopeneumonia. stapylococus aureus. gugup). vitamin dan mineral. Sedangkan menurut Ngastiyah (1997). lemak dan protein. 2.a) Infeksi virus. protein. 2. gangguan psikis (ketakutan. Cereus. c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh: a) malabsorpsi makanan: karbohidrat. Adeno virus. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun. strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica. trichuris. Faktor malaborsi Malaborsi karbohidrat. terlalau asam). clostridium perfarings. salmonela. Coli. b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits. ensefalitis dan sebagainya. gangguan saraf. makanan yang pedas. kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella. penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu: 1. comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan. rota virus. b) Kurang kalori protein. polimyelitis. astrovirus. giardia lamblia. virus echo coxsackie). yang meliputi: infeksi bakteri. E. B. dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris. trichomonas homunis) jamur (canida albicous). oxyuris. infeksi virus (enteovirus. golongan vibrio.

Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input). kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Selain itu diare juga dapat terjadi. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis) Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam 18 . akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi. PATOFISIOLOGI Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik. sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus. terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut: 1. isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Faktor psikologis C. mikroorganisme tersebut berkembang biak. Faktor makanan 4. 2.3. merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.

asidosis bertambah berat. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer. sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. suhu tubuh mungkin meningkat. MANIFESTASI KLINIS DIARE 1. terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. 19 . Walaupun susu diteruskan. 4. akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. kadang disertai wial dan wiata. dapat mengakibatkan perdarahan otak. 2. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Gangguan sirkulasi Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik. nafsu makan berkurang. Gangguan gizi Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak. D.tubuh. hal ini disebabkan oleh: Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat. 5. Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare. kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa. 3.

Perubahan tanda-tanda vital. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi. 5. usus halus. 7. sedang. 2. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. D. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na. 3. 4. isotonik atau hipertonik). K.3. berat. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. hipotonik. 8. 4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). denyut jantung cepat. Introleransi laktosa sekunder. E. sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik. Kalsium dan Posfat. sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa. 3. lemah. nadi dan respirasi cepat tekan darah turun. dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah. Hipoglikemia. (Kusmaul). 6. 4. ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan. turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun). 20 . Hipokalemia (dengan gejala mekorismus. bradikardi. samnolen. Dehidrasi (ringan. 5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. perubahan pada elektro kardiagram). Pemeriksaan tinja a) Makroskopis dan mikroskopis b) PH dan kadar gula dalam tinja c) Bila perlu diadakan uji bakteri 2. KOMPLIKASI 1. Renjatan hipovolemik. hiptoni otot. kesadaran menurun (apatis. pasien sangat lemas.

2) Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2. 7.5%. F. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik. ngantuk Sedikit kurang Sedikit cekung Sedikit cekung Kering Sedang (120-140) Mengigau.6.5-5%. DERAJAT DEHIDRASI Menurut banyaknya cairan yang hilang. koma. cengeng Apatis. protein. karena selain diare dan muntah. penderita juga mengalami kelaparan. Malnutrisi energi. Kehilangan berat badan 1) Tidak ada dehidrasi. 3) Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10% b. Skor Mavrice King Bagian tubuh Yang diperiksa Keadaan umum Kekenyalan kulit Mata Ubun-ubun besar Mulut Denyut nadi/mata Keterangan Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat 0 Sehat Normal Normal Normal Normal Kuat <120 Nilai untuk gejala yang ditemukan 1 2 Gelisah. derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan: a. atau syok Sangat kurang Sangat cekung Sangat cekung Kering & sianosis Lemas >40 21 . bila terjadi penurunan berat badan 2.

Pada anak pemasukan dan pengeluaran harus seimbang. bila terganmggu harus dilakukan koreksi mungkin dengan cairan parentral.c. secara matematis keseimbangan cairan pada anak dapat di gambarkan sebagai berikut : Cekung Cekung Agak kurang Oliguri Agak kering Cekung sekali Cekung sekali Kurang sekali Anuri Kering/asidosis Biasa Agak cepat Kusz maull N (120) Cepat Cepat sekali Baik (CM) + Gelisah ++ Apatis-koma +++ Ringan Gejala klinis Sedang Berat 22 . Gejala klinis Gejala klinis Keadaan umum Kesadaran Rasa haus Sirkulasi Nadi Respirasi Pernapasan Kulit Uub Agak cekung Agak cekung Biasa Normal Normal G. KEBUTUHAN CAIRAN ANAK Tubuh dalam keadaan normal terdiri dari 60 % air dan 40 % zat padat seperti protein. lemak dan mineral.

Kebutuhan Umur 3 hari 10 hari 3 bulan 6bulan 9 bulan 1 tahun 2 tahun 4 tahun 6 tahun 10 tahun 14 tahun 18 tahun Berat Badan 3. Haroen N.8 16.0 54. Aswitha.4 7.O Asnil 1998).0 3. Suraatmaja dan P.0 28. Halimun (1998) dan Bagian Ilmu Kesehatan anak FK UI (1988). Suharyono.3 8.7 45. menyatakan Derajat Dehidrasi Ringan Sedang Berat Keterangan : PWL : Previous Water loss (ml/kg BB) NWL : Normal Water losses (ml/kg BB) CWL : Concomitant Water losses (ml/kg BB) bahwa jumlah cairan yang hilang menurut derajat PWL 50 75 125 NWL 100 100 100 CWL 25 25 25 Jumlah 175 200 250 dehidrasi pada anak di bawah 2 tahun adalah sebagai berikut : 23 .5 11.6 9.2 20.2 5.S.0 Total/24 jam 250-300 400-500 750-850 950-1100 1100-1250 1150-1300 1350-1500 1600-1800 1800-2000 2000-2500 2000-2700 2200-2700 Cairan/Kg BB/24 jam 80-100 125-150 140-160 130-155 125-165 120-135 115-125 100-1100 90-100 70-85 50-60 40-50 Whaley and Wong (1997).

H. PATHWAYS Faktor infeksi Endotoksin merusak mukosa usus Pergeseran cairan dan elektrolit ke lumen usus Makanan tidak Pertumbuhan bakteri sempat diserap Endotoksin berlebih Hipersekresi cairan dan elektrolit Isi lumen usus ↑ Rangsangan pengeluaran Hiperperistaltik Diare Gangguan keseimbangan cairan Kurang volume cairan (dehidrasi) Pusing, lemah, letih, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, oliguri, turgor kulit kurang, mukosa mulut kering, mata dan ubun-ubun cekung, peningkatan suhu tubuh, penurunan berat badan Hipotensi postural, kulit dingin, tremor kejang, peka rangsang, denyut jantung cepat dan lemah Gangguan keseimbangan elektrolit Hiponatremia Hipokalemia Penurunan klorida serum Faktor malabsorbsi Tekanan osmotik ↑ Gangguan peristaltik Hiperperistaltik Hipoperistaltik

24

I. PENTALAKSANAAN 1. Medis Dasar pengobatan diare adalah: a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya. 1) Cairan per oral Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa. 2) Cairan parentral Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut: a. Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg  1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).  7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).  16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit b. Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg • c. kg 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

25

• • • d. •

1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral. Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250

ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts). • Untuk bayi berat badan lahir rendah Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %). e. Pengobatan dietetik Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan: f. g. tim) h. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh. i. Obat-obatan Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. 2. Keperawatan Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi dan lemak tak jenuh

26

usus dengan mikroorganisme. Mengingat diare sebagian besar menular. prosedur yang dilaksanakan. Tenesmus b. Kekauan o. tidak mengenal lingkungan. frekuensi. 27 . kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit. Muntah-jumlah. Membran mukosa l. Intervensi 1) Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit Pantau cairan IV kurangnya pengetahuan. Feses-jumlah. maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain. Turgor kulit k. Diagnosa keperawatan Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua. Data fokus 1) Hidrasi j. a. dan karakteristik r. c. Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau dengan ketidakseimbangan antara intake dan out put. Nyeri n. frekuensi dan karakteristik q. Asupan dan haluaran 2) Abdomen m. disebabkan oleh peningkatan frekuensi BAB. Bising usus p.rasa aman dan nyaman. Kram s.

nasi. roti atau asi.- Kaji asupan dan keluaran Kaji status hidrasi Pantau berat badan harian Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi Melalui mulut Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut 2) Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral. 7) Rencana pemulangan. Sediakan mainan sesuai usia. 4) Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi). 28 . Beri kenyamanan fisik dan psikologis. Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi. 6) Berikan dukungan emosional keluarga. Rujuk layanan sosial bila perlu. 5) Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi. Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan. Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses 3) Cegah iritasi dan kerusakan kulit - terhadap udara. Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya. yang bersifat asam akan mengiritasi kulit). Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia. kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang. Hindari memberikan susu produk. Ganti popok dengan sering. kaji kondisi kulit setiap saat.

3. Cemas pada klien teratasi. 6. 5. Integritas kulit kembali normal. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan. 29 . lingkungan. Pengetahuan kelurga meningkat. - d.- Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan Kuatkan informasi tentang diet. Evaluasi 1. 2. 4. Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang. Rasa nyaman terpenuhi. tua.

nafsu makan berkurang. Klasifikasi DHF menurut WHO: Derajat Demam disertai gejala tidak khas. Dengue merupakan serotype yang paling banyak beredar. bersifat termolabil. tekanan nadi menurun ( 20 mmhg. lembab. retroorbita. batuk. stabil pada suhu 700 C. nadi cepat dan lemah.1995 ). nyeri kepala menyeluruh atau berpusat pada supraorbita. Derajat II Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain. hipotensi ). suara sesak. disuria. nyeri pada otot seluruh tubuh. muntah.III. ASUHAN KEPERAWATAN DENGUE HAEMORHAGIC FEVER DHF atau dikenal dengan istilah demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty ) Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie Efendy. sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat. mual. Virus dengue berbentuk batang. Derajat IV 30 . Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. terdapat manifestasi perdarahan ( uji tourniquet positif). Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-III. Derajat III Kegagalan sirkulasi darah. kulit dingin. gelisah. epitaksis. sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954. Tanda dan gejala penyakit DHF adalah : meningkatnya suhu tubuh.

Pemeriksaan Diagnostik Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih ) Thrombocitopeni ( 100. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-III. 1990). 1995). nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. bersifat termolabil. Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test ). Virus dengue berbentuk batang. DEFINISI Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy.nadi tak teraba.1995 ). 31 . Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam. sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954. tekanan darah tak dapat diukur. Rontgen Thorac = Effusi Pleura A. Dengue merupakan serotype yang paling banyak beredar. stabil pada suhu 700 C. sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat. 000/ mm3 atau kurang ). DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman. ETIOLOGI Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. DHF (Dengue Haemoragic fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). B. (Christantie Effendy.

denyut nadi terasa cepat. kadang-kadang muntah dan batuk ringan. ujung jari. mual. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan. serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. mula – mula berbentuk makula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki. tetapi rata-rata 5 – 8 hari. terlihat jelas di muka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien. nyeri pada otot dan tulang. lakrimasi. ekimosis. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi anatara 13 – 15 hari.C. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. hematemesis. Pada saat suhu turun ke normal. telinga. otot-otot sekitar mata terasa pegal. ruam ini berkurang dan cepat menghilang. hidung teraba dingin dan lembab. kemudian menjalar ke seluruh tubuh. epistaksis. mula-mula pada awal demam (6 – 12 jam sebelum suhu naik pertama kali). fotofobia. Gejala klinik timbul secara mendadak berupa suhu tinggi. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah. Ruam berikutnya mulai antara hari 3 – 6. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan. 32 . Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan retroorbital. kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang. bekas bekasnya kadang terasa gatal. Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia. Nadi pasien mula-mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. purpura. Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase.

PATOFISIOLOGI Virus dengue Viremia Hipertermi Hepatomagali Depresi sumsum Tulang Permeabilitas kapiler meningkat Anorexia Muntah efusi Perubahan nutrisi pleura kurang dari -ascites kebutuhan -hemokonstrasi volume cairan Resti kekurangan manifestasi perdarahan Resiko kehilangan vol cairan perdarahan - hipovolemia resiko syok hipovolemia syok kematian perubahan perfusi jaringan 33 .D.

hemokonsentrasi. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum. sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup. dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler. ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie). peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi. pegal-pegal diseluruh tubuh. nyeri otot. dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus. terjadi hipotensi. sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan. penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. pleura. Setelah pemberian cairan intravena. pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali). Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma. sakit kepala. mual. Hal pertama yang terjadi stelah virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam. hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening. metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan 34 .

Derajat III 35 . Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi F. saluran pencernaan dan jaringan adrenal. Epistaksis. Demam akut. Manifestasi perdarahan : a. Derajat II Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain. perdarahan gusi d. ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh. 1986) : 1. Petekia. Uji tourniquet positif b. Hematemesis. Pada otopsi penderita DHF. seperti anoreksia. 3. DIAGNOSIS Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai berikut : 1. purpura. Derajat 1 Demam disertai gejala klinis lain. paru. tanpa ikterus. nyeri. lemah. Pembesaran hati yang nyeri tekan. 2. uji tourniquet trombositopenia dan hemokonsentrasi. tanpa perdarahan spontan. 3. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis buruk. yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari kemudian turun secara lisis demam disertai gejala tidak spesifik. Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7 sakit ). 4. seperti di kulit. KLASIFIKASI DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit. 2. melena. trombositopenia dan gangguan koagulasi. E. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler. secara klinis dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO. 5. ekimosis c. Dengan atau tanpa renjatan.baik.

36 .000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nilai hematokrit pada masa konvalesen. Periksa Hb. 4. yaitu nadi cepat dan lemah. G. 5. gelisah. 2. 3. NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut : 1. Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF dengan tepat.5 liter/24 jam) dapat berupa : susu. pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.Ditemukan kegagalan sirkulasi. Minum banyak (2 – 2. Tirah baring atau istirahat baring. hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan). tensi. H. Dejarat IV Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali. nadi. pernafasan) jika kondisi pasien memburuk. tekanan daerah rendah (hipotensi). Ht dan trombosit setiap hari. teh manis. 6. cyanosis sekitar mulut. sirup dan beri penderita sedikit oralit. 4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Tes Laboratorium Terjadi trombositopenia (100. Diet makan lunak. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu. observasi ketat tiap jam. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat.

hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. 37 . Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF. 9. perubahan tanda-tanda vital. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas. Pasien terus menerus muntah. PENCEGAHAN Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut : 1. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua.7. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. I. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila : 1. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. 11. 8. tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi. Hematokrit yang cenderung mengikat. 2. tekanan sistolik 20 mmHg. 10. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum. amplitudo nadi cukup besar. Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam.

pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah. botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang. J. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air. 38 . tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari). Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain : 1. rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarangsarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih.2. Pengkajian Keperawatan Dalam memberikan asuhan keperawatan. Menguras bak mandi. Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). c. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan. b. Menggunakan insektisida. 2. Tanpa insektisida Caranya adalah : a. 3. Adapun metode atau cara tinggi. 4. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1.

 Mukosa mulut kering. 7. sakit saat menelan.) Sakit kepala. data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy.) Pegal-pegal pada seluruh tubuh. Data obyektif : Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. 8. rontgen).) Lemah. 2. hematemesis. hipotensi. pemeriksaan (fisik. 3.  Nyeri tekan pada epigastrik.  Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah. 39 . lidah kotor. menggigil. epistaksis.  Tampak bintik merah pada kulit (petekia). ekstremitas dingin. nafas dangkal. wajah tampak kemerahan.) Nyeri pada otot dan sendi. gelisah. a. konsultasi. 4. uji torniquet (+). ekimosis.  Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa. b. melena.) Anoreksia. observasi. 5.) Nyeri ulu hati.pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara. mual. hematoma. 1995 yaitu : 1. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :  Suhu tubuh tinggi.) Panas atau demam.) Konstipasi (sembelit). Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :   Ig G dengue positif. sianosis perifer. haus. Data subyektif Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF. perdarahan gusi. laboratorium.  Hiperemia pada tenggorokan. Trombositopenia. 6.

netropenia. hipokloremia. Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan. SGOT/SGPT mungkin meningkat. Asidosis metabolik. Ureum dan pH darah mungkin meningkat.3 terjadi leukopenia. hipoproteinemia. Keluhan Utama : 08024966 : Dengue Haemorhagic Fever (DHF) : Jl. Waktu perdarahan memanjang.2 dan ke. Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat). Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan Pada hari ke. hiponatremia. A : 20 Tahun : Laki-laki : Belum menikah : Islam : SMU : Sunda/ Indonesia Tanggal Masuk RS : 20 Februari 2011 Tanggal Pengkajian : 22 Februari 2011 No Medrec Diagnosa Medis Alamat 2) Riwayat Penyakit a.   Hemoglobin meningkat > 20 %. Pengkajian a. dan basofil      A.  aneosinofilia. Pengumpulan data 1) 2) Nama Umur Jenis Kelamin Sitatus Marital Agama Pendidikan Suku/ Bangsa Biodata Identitas Klien : Tn. peningkatan limfosit. monosit. 32 RT: 01 RW: 03 Warung muncang bandung kulon 40 . Terusan Suryani No.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). kemudian puskesmas mendiagnosa klien menderita Dengue Haemorhagic Fever (DHF). muntah dan diperiksa di puskesmas. dan muntah dan dibawa kepuskesmas.HIV.hipertensi dan asma disangkal keluarga. 3) Riwayat Kesehatan Dahulu Sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit klien merasakan pusing. b. 4) Riwayat kesehatan keluarga Keluarga klien mengatakan di keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit yang sama dengan klien dan penyakit keturunan seperti penyakit jantung. mual. Nyeri pada otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan dengan skala nyeri 2 dari skala 0-5 (McGill). 1995 yaitu : a.diabetes melitus.00 WIB klien mengeluh nyeri kepala. yaitu nyeri sedang. mual.dan TBC. Riwayat Penyakit sekarang 1) Keluhan utama saat masuk rumah sakit Sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. 2. 41 . Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.flu burung. sehingga klien di rujuk ke Rumah Sakit Efarina Etaham Purwakarta. dan muntah b. klien merasakan nyeri kepala. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut Christiante Effendy.Dan tidak mempunyai riwayat penyakit menular seperti penyakit hepatitis. mual. 2) Keluhan Utama Saat Dikaji Pada saat dikaji tanggal 25 Februari 2011 jam 08. mual. Sekitar mata ditemukan pembengkakan dan otot-otot mata terasa pegal. Gejala timbul secara mendadak kadang-kadang nyeri pada otot dan batuk ringan.dan muntah.Klien mengeluh nyeri kepala.

h. Intervensi : 1. e. Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. 3. pasien bebas dari demam. Perencanaan Keperawatan a. Tujuan : Suhu tubuh normal (36 – 370C). Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.c. muntah. 2. f. d. Kaji saat timbulnya demam. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. jam. tensi. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2. anoreksia.5 liter/24 jam. i. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). 3. Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien. g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus). pernafasan) setiap 3 42 . nadi. Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.± 7) Observasi tanda vital (suhu. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.

muntah. Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh. c. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan 43 . Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. tebal. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. usahakan situasi ruangan yang tenang. Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. Berikan obat-obat analgetik Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien. 4. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. 2. Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami. program suhu tinggi. nyeri berkurang atau hilang. 4. Berikan kompres hangat. Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi. Berikan posisi yang nyaman. 5. Intervensi : 1. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. 6. Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri 3. b. anoreksia. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dokter.

Tujuan : Volume cairan terpenuhi. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan. d. 3. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. 7. 6. meningkatkan asupan makanan . Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur. Kaji keluhan mual. Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. setiap Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi. Kaji keadaan umum pasien (lemah. Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya. Rasional : Untuk menghindari mual. Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien. 44 . Intervensi : 1. dan muntah yang dialami pasien. Intervensi : 1. 5. pasien mampu menghabiskan /dibutuhkan. Ukur berat badan pasien setiap minggu. Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter. pucat. makanan sesuai dengan posisi yang diberikan 2. sakit menelan. takikardi) serta tanda-tanda vital. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien hari. : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan Rasional 4.

Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh. Berikan cairan intravena sesuai program dokter Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah. 4. e. Tujuan : Pasien mampu mandiri setelah bebas demam. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien. Anjurkan pasien untuk banyak minum. 2. Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat. 5. Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien. 45 . Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien. Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok. Catat intake dan output.Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya. Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi Intervensi : 1. 3. Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. 2. 3. Kaji keluhan pasien. Observasi tanda-tanda syock.

5. Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik. 4. trombosit Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.4. 3. Chek haemoglobin. g. Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Berikan transfusi sesuai program dokter. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus). Tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi : 1. 46 . Monitor keadaan umum pasien Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien. Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin. Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik. 2. Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam. Keadaan umum baik. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik. hematokrit. Monitor tanda perdarahan. f. 6.

Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis. Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin. h. Rasional : Menetapkan data dasar pasien. 2.Tujuan : Tidak terjadi infeksi pada pasien. Observasi tanda-tanda vital. 3. 4. 3. 2. Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus. Tujuan : Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. 47 . Observasi daerah pemasangan infus. terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis. Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi. 4. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah. Intervensi : 1. Intervensi : 1. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. Jumlah trombosit meningkat.

Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien. Intake dan out put kembali normal / seimbang. d. 4. Pengetahuan keluarga bertambah. Tujuan : Kecemasan berkurang. Suhu tubuh dalam batas normal. Pemenuhan nutrisi yang adekuat. c. Shock hopovolemik teratasi 48 . Evaluasi : a. Perdarahan tidak terjadi / teratasi. Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat. Tunjukkan sifat empati Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik. 2. Jalin hubungan saling percaya dengan pasien. Kaji rasa cemas yang dialami pasien. f. 4. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan. 5. 3. Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Meringankan beban pikiran pasien. Evaluasi. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. b.Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. Gunakan komunikasi terapeutik Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif. e. Intervensi : 1. i.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS I. hal ini terjadi bila laju filtrasi glomerular kurang dari 50 mL/min. gout. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik. DEFINISI Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun. (Smeltzer & Bare. hiperparatiroidisme) 49 . Penyakit peradangan (glomerulonefritis) 3. et al. 2001) Gagal ginjal kronis merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia. KONSEP GAGAL GINJAL KRONIS A. Gangguan jaringan penyambung (SLE. stenosis arteri renalis) 4. Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis) 2. asidosis tubulus ginjal) 6. ETIOLOGI Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain : 1. berlangsung progresif dan cukup lanjut. poliarteritis nodusa. (Suyono. Penyakit metabolik (DM. 2001) B. Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis. sklerosis sitemik) 5.

Terjadi bila GFR menjadi kurang dari 5% dari normal. PATOFISIOLOGI & PATHWAYS 1. Stadium gagal ginjal kronis didasarkan pada tingkat GFR(Glomerular Filtration Rate) yang tersisa dan mencakup : a. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima. Penurunan cadangan ginjal. Derajat insufisiensi dibagi menjadi ringan. Nefron yang sehat mengkompensasi nefron yang sudah rusak. tetapi tidak ada akumulasi sisa metabolic. Patofisiologi Gagal ginjal kronis selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR. edema. Gagal ginjal. Penyakit gagal ginjal stadium akhir. sehingga perlu pengobatan medis c. Yang terjadi bila GFR turun 50% dari normal (penurunan fungsi ginjal). d. Ginjal sudah tidak mampu mempertahankan homeostatis dan pengobatannya dengan dialisa atau penggantian ginjal. Nefropati toksik 8. Insufisiensi ginjal. sedang dan berat. 1994) 50 . 1994) C. Akumulasi sisa metabolic dalam jumlah banyak seperti ureum dan kreatinin dalam darah. Hanya sedikit nefron fungsional yang tersisa. Penurunan respon terhadap diuretic.7. Mulai terjadi akumulai sisa metabolic dalam darah karena nefron yang sehat tidak mampu lagi mengkompensasi. menyebabkan nocturia dan poliuri. Di seluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubuluS. tergantung dari GFR. Pemeriksaan CCT 24 jam diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi b. dan penurunan kemampuan mengkonsentrasi urin. (Corwin. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih) (Price & Wilson. menyebabkan oliguri. yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal. Terjadi apabila GFR turun menjadi 20 – 35% dari normal.

Pathways 51 .2.

gagal jantung kongestif.D. sacrum)¬ Edema periorbital¬ 52 . Kardiovaskuler Hipertensi. perikarditis¬ Pitting edema (kaki. tangan. MANIFESTASI KLINIK 1. udema pulmoner.

muntah. mual. Dermatologi Warna kulit abu-abu mengkilat¬ Kulit kering bersisik¬ Pruritus¬ Ekimosis¬ Kuku tipis dan rapuh¬ Rambut tipis dan kasar¬ 3. cegukan¬ Nafas berbau ammonia¬ Ulserasi dan perdarahan mulut¬ Konstipasi dan diare¬ Perdarahan saluran cerna¬ 5. Pulmoner Krekels¬ Sputum kental dan liat¬ Nafas dangkal¬ Pernafasan kussmaul¬ 4. Neurologi Tidak mampu konsentrasi¬ Kelemahan dan keletihan¬ Konfusi/ perubahan tingkat kesadaran¬ Disorientasi¬ Kejang¬ Rasa panas pada telapak kaki¬ Perubahan perilaku¬ 53 .Friction rub pericardial¬ Pembesaran vena leher¬ 2. Gastrointestinal Anoreksia.

Phospat). ureter proksimal. SDM. Renal Biopsi. kandung kemih serta prostate 4. pemeriksaan rontgen tulang. BJ. Pemeriksaan EKG Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri. elektrolit (Na. tebal korteks ginjal. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Muskuloskeletal Kram otot¬ Kekuatan otot hilang¬ Kelemahan pada tungkai¬ Fraktur tulang¬ Foot drop¬ 2. protein. aritmia. SDP. 2001) E. Intravenous Pyelography. CT Scan. trombosit. pemeriksaan rontgen dada. glukosa. anatomi system pelviokalises. TKK/CCT 2.6. protein. Kreatinin. dan gangguan elektrolit (hiperkalemi. Retrograde Pyelography. Pemeriksaan Radiologi Renogram. PH. sedimen. foto polos abdomen 54 . Renal Aretriografi dan Venografi. Ca. kepadatan parenkim ginjal. hipokalsemia) 3. kekeruhan. K. tanda perikarditis. volume. keton. Pemeriksaan USG Menilai besar dan bentuk ginjal. MRI. Hematologi (Hb. Reproduktif Amenore¬ Atrofi testekuler¬ (Smeltzer & Bare. antibody (kehilangan protein dan immunoglobulin) o Pemeriksaan Urin Warna. Leukosit). Ht. Pemeriksaan Laboratorium o Laboratorium darah : BUN.

3. 2001) II. protein. Hiperkalemia 2. Roux. Restriksi konsumsi cairan. Perikarditis 3. hipotensi orthostatic. Sirkulasi Riwayat hipertensi lama atau berat. alumunium hidroksida untuk terapi hiperfosfatemia. Hipertensi 4. kelemahan. 2001) G. Aktifitas dan Istirahat Kelelahan. Transplantasi ginjal (Reeves. friction rub 55 . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan terhadap gagal ginjal meliputi : 1. malaise. anti hipertensi untuk terapi hipertensi serta diberi obat yang dapat menstimulasi produksi RBC seperti epoetin alfa bila terjadi anemia. Dialisis 4. Lockhart. nyeri dada Peningkatan JVP. PENGKAJIAN 1. ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL KRONIS B. penurunan ROM 2. Obat-obatan : diuretik untuk meningkatkan urinasi.F. tachycardia. gangguan tidur Kelemahan otot dan tonus. Anemia 5. Penyakit tulang (Smeltzer & Bare. palpitasi. dan fosfat. KOMPLIKASI Komplikasi yang mungkin timbul akibat gagal ginjal kronis antara lain : 1. 2.

Nyeri/Kenyamanan Nyeri panggul. penurunan BB karena malnutrisi. muntah. konstipasi. nyeri kaki Distraksi. kehilangan memori. Pernafasan Pernafasan Kussmaul (cepat dan dangkal). ROM terbatas 10. demam (sepsis dan dehidrasi). kejang. penurunan tingkat kesadaran. anuri. irritable 4. infertilitas 11. infeksi berulang.3. 1) Pengumpulan data Biodata 56 . marah. Eliminasi Penurunan frekuensi urin. sakit kepala. tidak mampu menjalankan peran seperti biRRRRTYUIP[]\Contoh Format Pengkajian pada pasien Gagal Ginjal a. koma 7. amenore. berawan. penurunan lemak subkutan 6. Keamanan Kulit gatal. anoreksia. cemas. Seksualitas Penurunan libido. pruritus. kebas. urin pekat warna merah/coklat. fraktur tulang. kram otot. oliguri. Makanan/Cairan Peningkatan BB karena edema. ekimosis. diare. mual. deposit fosfat kalsieum pada kulit. Interaksi Sosial Tidak mampu bekerja. penglihatan kabur. kacau.penurunan lapang perhatian. rasa logam pada mulut. petekie. Integritas Ego Faktor stress. kram otot. gelisah 8. perasaan tak berdaya. perubahan warna urin. asites Penurunan otot. takut. ketidakmampuan berkonsentrasi. abdomen kembung 5. Neurosensori Sakit kepala. kesemutan Gangguan status mental. Paroksismal Nokturnal Dyspnea (+) Batuk produkrif dengan frotty sputum bila terjadi edema pulmonal 9. tak ada kekuatan Menolak.

Terusan Suryani No. b) Riwayat Penyakit Sekarang (1) Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit Warung Muncang Bandung Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. klien Tidak bisa buang air kecil dan sakit pinggang sebelah kanan. dan 2 hari yang lalu klien tidak bisa buang air besar kemudian klien menggunakan dulcolax 57 . 2. A : 85 Tahun : Perempuan : Menikah : Islam :S1 : Sunda/ Indonesia : 30 Januari 2011 : 34 Januari 2011 : 08024968 : Gagal Ginjal : Jl. Keluhan Utama Klien mengeluh Tidak bisa buang air kecil dan sakit pinggang sebelah kanan.32 Rt:01 Rw:03 Kulon.Riwayat Penyakit a.a) Identitas Klien Nama Umur Jenis Kelamin Status Marital Agama Pendidikan Suku/ Bangsa Tanggal Masuk RS Tanggal Pengkajian No Medrec Diagnosa Medis Alamat : Ny.

selalu berbaring ditempat tidur.suppositoria selama 2 hari berturut-turut dan klien bisa BAB. walau mengejan air kencing tidak bisa keluar.tidak bertenaga. walau mengejan air kencing tidak bisa keluar. (2) Keluhan Utama Saat Dikaji Saat pengkajian klien telah dirawat selama 3 hari data focus yang diperoleh: Keadaan umum klien agak lemah. (4) Riwayat Kesehatan Keluarga 58 . ativitas sehari. Tonus otot kurang. Sehari kemudian klien susah kencing. kain pengalas basah dan berbau. lalu keluarga membawanya ke Rumah Sakit. klien Tidak bisa buang air kecil dan sakit pinggang sebelah kanan. tungkai bawah lemas. Sesampai di Rumah Sakit dipasang Kateter dan air kencing lancer keluar keluar berwarna agak merah kemudian yang keluar berwarna agak coklat seperti air teh. lalu keluarga membawanya ke Rumah Sakit. odema pretibial. kulit keriput tidak elastis. Sehari kemudian klien susah kencing. dan 2 hari yang lalu klien tidak bisa buang air besar kemudian klien menggunakan dulcolax suppositoria selama 2 hari berturutturut dan klien bisa BAB. terpasang kateter urine warna coklat seperti air teh. (3) Riwayat Kesehatan Dahulu Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. hari dibantu oleh anaknya.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Tgl. Pengukuran pertumbuhan TB BB : 160 cm : 56 Kg d.Tanda-tanda vital Tekanan darah: 160/ 90 mmHg. Pemeriksaan Fisik a. dan penyakit keturunan seperti penyakit jantung.Keluarga mengatakan dikeluarganya tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan klien. 2/5 2005 Ureum : 202. Pengkajian Head To Toe 4. flu burung dan TBC. Data Penunjang a. Dan tidak mempunyai riwayat penyakit menular seperti penyakit hepatitis. Suhu Nadi Respirasi : 36. Keadaan Umum Kesadaran Nilai GCS : Compos Mentis : 15 (E:4 M:6 V:5) Penampilan : Klien tampak lemah b.2 0C : 82 x/menit : 26 x/menit c. diabetes melitus. hipertensi dan asma disangkal keluarga. HIV.32 59 . 3.

mual dan muntah. anemia.8 x 2. diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.5% GDS : 161 b. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien.Hasil USG: Ginjal : Tampak kedua ginjal mengecil dengan echodifferensiasi tidak jelas ( ginjal kanan 5.90 HGB : 10. retensi. dan rencana tindakan. pemeriksaan diagnostik.Terapi Medis Obat – obatan : IVFD NaCl 0. dan perubahan membrane mukosa mulut.7 HCT : 32. Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan. pembatasan diet. Kemungkinan diagnosa keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah sebagai berikut : • • • • Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine. c.1 cm. 93 SGOT : 19 SGPT : 30 WBC lµ : 5.9 x 3.9 % 20 tts/ menit Allopurinol 300mg 1-0-0 Zonidip 10mg 0-0-1 Fibrat 300mg 0-0-1 Inj. Kesan : PNC bilateral.Kreatinin : 3. Neurosanbe 1 amp/ hari/ drips.5 cm ). produk sampah. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 2.5 x 103 / RBC : 3. ginjal kiri 5. 60 . Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi.

mual dan muntah. 3. 4. Kriteria hasil : • • • • • Menunjukkan pemasukan dan pengeluaran mendekati seimbang Turgor kulit baik Membran mukosa lembab Berat badan dan tanda vital stabil Elektrolit dalam batas normal Intervensi 1. Diagnosa I Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine. hal 1452). (Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.3. Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. hal 1452). diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium. Barbara Ensram. Batasi masukan cairan : Pembatasan cairan akan menentukan berat badan ideal. vol 1. hal 1452). haluaran urine dan respons terhadap terapi. hal 156). Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. 61 . denyut dan irama nadi Pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi. Pantau kreatinin dan BUN serum Perubahan ini menunjukkan kebutuhan dialisa segera. 2. Tujuan : mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan. Brunner & Suddart. Brunner & Suddart. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. hal 1452). Brunner & Suddart. pembatasan diet perubahan membran mukosa mulut. Kaji status cairan : o Timbang berat badan harian o Keseimbangan masukan dan haluaran o Turgor kulit dan adanya oedema o Distensi vena leher o Tekanan darah. Diagnosa II Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Brunner & Suddart.

Marylinn E. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet Mendorong peningkatan masukan diet 7. Kaji pola diet nutrisi pasien o Riwayat diet o Makanan kesukaan o Hitung kalori Pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu. (Rencana Asuhan Keperawatan. hal 620). 6. 4. Doenges. Kondisi fisik umum gejala uremik dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan. Berikan makan sedikit tapi sering Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya peristaltik. Marylinn E. hal 620). Berikan pasien / orang terdekat daftar makanan / cairan yang diizinkan dan dorong terlibat dalam pilihan menu. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Makanan dan rumah dapat meningkatkan nafsu makan. 2. Brunner & Suddart. Kaji / catat pemasukan diet Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. hal 620). Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi o Anoreksia. mual dan muntah o Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien o Depresi o Kurang memahami pembatasan diet Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet. Tinggikan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi : telur. daging. 5. Memberikan pasien tindakan kontrol dalam pembatasan diet. hal 1452). 62 . susu. Doenges.Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : • • Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu. Doenges. (Rencana Asuhan Keperawatan. (Rencana Asuhan Keperawatan. 3. Bebas oedema Intervensi 1. Marylinn E.

Diagnosa III Intoleran aktifitas berhubungan dengan kelelahan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis.Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan. Diagnosa IV 63 . 3. Brunner & Suddart. 4. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Brunner & Suddart. hal 1452). (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Timbang berat badan harian. Intervensi 1. bantu jika keletihan terjadi. Brunner & Suddart. anemia dan retensi produk sampah Tujuan : Berpartisipasi dalam aktifitas yang dapat ditoleransi Kriteria hasil : • • • • Berkurangnya keluhan lelah Peningkatan keterlibatan pada aktifitas social Laporan perasaan lebih berenergi Frekuensi pernapasan dan frekuensi jantung kembali dalam rentang normal setelah penghentian aktifitas. hal 1454). yang bagi banyak pasien sangat melelahkan. hal 1454). Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat. 8. Meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri. Brunner & Suddart. hal 1454). Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat. 2. Untuk memantau status cairan dan nutrisi. Kaji faktor yang menimbulkan keletihan o Anemia o Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit o Retensi produk sampah o Depresi Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi.

Pengekspresian perasaan membantu mengurangi ansietas. Sedikit melaporkan perasaan gugup atau takut. Bila mungkin atur untuk kunjungan dari individu yang mendapat terapi. pemeriksaan diagnostic. Kriteria hasil : • • Mengungkapkan pemahaman tentangkondisi. Barbara Engram hal 159). 64 . pemeriksaan diagnostic dan rencana tindakan. Memberi pasien informasi mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan membantu mengembangkan kepatuhan dan kemandirian maksimum. Indiviodu yang berhasil dalam koping dapat pengaruh positif untuk membantu pasien yang baru didiagnosa mempertahankan harapan dan mulai menilai perubahan gaya hidup yang akan diterima. Tindakan untuk gagal ginjal berdampak pada seluruh keluarga. Pasien sering tidak memahami bahwa dialisa akan diperlukan selamanya bila ginjal tak dapat pulih. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. Berikan informasi tentang : o Sifat gagal ginjal. Barbara Engram hal 159).Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondis. o Sediakan waktu untuk pasien dan orng terdekat untuk membicarakan tentang masalah dan perasaan tentang perubahan gaya hidup yang akan diperlukan untuk memiliki terapi. o Pemeriksaan diagnostic termasuk :  Tujuan  Diskripsi singkat  Persiapan yang diperlukan sebelum tes  Hasil tes dan kemaknaan hasil tes. 2. Jamin pasien memahami bahwa gagal ginjal kronis adalah tak dapat pulih dan bahwa lama tindakan diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. Intervensi 1. rencana tindakan dan prognosis. Barbara Engram hal 160). (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. Tujuan : Ansietas berkurang dengan adanya peningkatan pengetahuan tentang penykit dan pengobatan.

Memberikan suplemen vitamin dan mineral menurut yang dipesankan. • Mengusahakan Kenyamanan 1. Konsultasi dan Penyuluhan 1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya. 2. 5.o o Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar. Mengusahakan hangat dan message otot yang kejang dari tangan dan kaki bawah. • Membantu Meraih Tujuan Terapi 1. 3. 2. Mengkaji lingkungan klien dan melindungi dari cedera dengan cara yang seksama. Mengusahakan istirahat bila kecapaian. 8. Mengusahakan mengurangi gatal. phosphorus dan protein. Menyiapkan air matol buatan untuk iritasi okuler. • 65 . Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya. potassium. 5. Mencegah perdarahan saluran cerna yang lebih hebat dengan menggunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pemberian antacid. Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai pantangan sodium. 7.Implementasi Asuhan Keperawatan pada klien dengan kegagalan ginjal kronis. Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air yang sudah dipesankan. memberi obat anti pruritis menurut kebutuhan. 2. Melindungi pasien dari infeksi. Menyiapkan orang yang bisa memberi kesempatan untuk membahas berbagai perasaan tentang kronisitas dari penyakit. Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid. 3. 4. Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan yang mengganggu terapi. Tenekuni makanan bahan yang mengikat fosfat. Mengusahakan agar klien dapat tidur dengan cara yang bijaksana. 4. 4. 6. Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit.

Pengantar Keperawatan Profesional. 66 . Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Ed. EGC. aturan obat-obatan dan keperluan melanjutkan pengobatan. London DAFTAR PUSTAKA DR. Tidak diterbitkan.Ratna Sitorus S. EGC. 2006 Makalah Kuliah .Kp. 2. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit.Kp. rasional terapi. EGC. (Keperawatan Medikal Bedah. 1999 Potter & Perry. Barbara C. 4.4 vol. Jakarta. Membesarkan harapan orang dengan memberikan bantuan bagaimana caranya mengelola cara hidup baru.3. Jakarta. 2006 La Ode Jumadi Gaffar S. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful