P. 1
ANGGARAN+DASAR+KORPS+MENWA

ANGGARAN+DASAR+KORPS+MENWA

|Views: 263|Likes:
Published by Slamet Hery Wibowo

More info:

Published by: Slamet Hery Wibowo on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2015

pdf

text

original

ANGGARAN DASAR KORPS NASIONAL MENWA INDONESIA. PEMBUKAAN.

Bahwa Resimen Mahsiswa dan Purna Resimen Mahasiswa Indonesia yang merupakan kelanjutan tradisi semangat kejuangan dan perjuangan Resimen Mahasiswa berkewajiban untuk ikut berperan serta dalam mewujudkan cita-cita Bangsa yang dilandasi oleh Doktrin Pengabdian “Widya Castrena Dharma Siddha”. Bahwa perkembangan dunia di era globalisasi, yang ditandai oleh perubahan mendasar dan pesatnya di segala bidang kehidupan manusia, telah bergesernya tatanan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perubahan yang juga dipicu oleh reformasi total tersebut, terasa semakin pesat dan problematis, sebab sistem kenegaraan yang selama lebih dari dua dasawarsa bercirikan otoriter, beralih ke sistem yang demokratis. Bahwa dengan timbulnya semangat primordialisme yang marak dalam kehidupan Nasional yang multi kultural, multi agama, multi rasial, dan multi etnis maka gejala disintegrasi bangsa cenderung menjadi sangat aktual. Gejala tersebut kemudian menjadi faktual akibat timbulnya konflik sosial yang bersifat vertikal dan horisontal pada tubuh Bangsa, hal ini membawa akibat yang cukup parah dan memprihatinkan. Bahwa dengan memperhatikan kenyataan diatas, maka tidak ada pilihan lain bagi bangsa kita selain membangkitkan kembali semangat dan wawasan kebangsaan, disertai dengan pengembangan wacana budaya politik bangsa kemasa depan yang berciri demokratis, kepedulian, solidaritas, dan menghindari kekerasan, serta siap menerima dan menghadapi setiap perbedaan. Bahwa Pengabdian Resimen Mahasiswa dan Purna Resimen Mahasiswa Indonesia adalah dengan pendayagunaan potensi dan kekuatan juang sebagai perwujudan hak dan kewajiban serta kehormatan dalam pembelaan Negara secara bertanggung jawab untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia. Maka dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, dan dilandasi dengan ketulusan budi untuk ikut dalam mempertahankan bentuk Negara persatuan dan kesatuan Republik Indoneia yang dijiwai oleh Falsafah Pancasila, serta mengisi wawasan kebangsaan dalam pembinaan dan pembangunan, kami Resimen Mahasiswa dan Purna Resimen Mahasiswa Indonesia bersepakat untuk mendirikan sebuah wadah dengan nama “Korps Nasional Menwa Indonesia” dengan doktrin “Widya Castrena Dharma Siddha”

NAMA. . Pasal 4. Pasal 5. LANDASAN PERJUANGAN DAN WAWASAN. Organisasi ini adalah organisasi kemasyarakatan yang mengacu kepada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 1. S T A T U S. Dasar perjuangan organisasi adalah kebenaran. (3) Pengurus Pusat Korps Nasional Menwa Indonesia (Korps Menwa) berkedudukan di Ibukota Republik Indonesia. Organisasi ini berwawasan kebangsaan Indonesia. DASAR PERJUANGAN. Asas organisasi ini adalah Pancasila. WAKTU DAN KEDUDUKAN. untuk jangka wakktu yang tidak ditentukan. Organisasi ini bernama Korps Nasional Menwa Indonesia. BAB II. A S A S. yang selanjutnya disingkat dengan Korps Menwa. (1) Korps Nasional Menwa Indonesia (Korps Menwa) didirikan di Jakarta sebagai perwujudan gagasan para Resimen Mahsiswa dan Purna Resimen Mahasiswa se-Indonesia. Pasal 6. ASAS. W A W A S A N. TEMPAT. WAKTU DAN KEDUDUKAN. BAB I. kejujuran dan Peranan Ilmu Pengetahuan serta sejarah peranan Cendekiawan Pejuang Indonesia. Pasal 3. TEMPAT. Pasal 2. (2) Korps Nasional Menwa Indonesia (Korps Menwa) yang dideklarasikan pada tanggal 31 Oktober 2009. STATUS. N A M A.ANGGARAN DASAR.

Organisasi ini merupakan organisasi pengabdian yang bertujuan untuk : (1) Membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. golongan. yang bertujuan meningkatkan kehidupan dalam segala aspek. (2) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai manusia spiritual. (3) Pengurus Harian organisasi ini tidak menjadi salah satu Pengurus Partai Politik manapun. membudayakan. yang secara filosofis dan historis mempunyai kesamaan visi dan misi dalam menggerakkan dan menumbuhkan wawasan kebangsaan. S I F A T. T U J U A N. teknologi. (4) Mengadakan kegiatan seminar. (3) Membina persatuan dan kesatuan bangsa dengan semangat kekeluargaan. Pasal 9. Pasal 8. sosial demi kepentingan Bangsa dan Negara. tanpa melihat asal usul. dan professional. menumbuhkan. di dalam pengamalan ilmu pengetahuan. F U N G S I. (2) Organisasi ini terbuka bagi para Resimen Mahasiswa dan Purna Resimen Mahasiswa secara perorangan. SIFAT. diskusi. Pasal 10. intelektual. (2) Pengemban aspirasi dan pemikiran para anggota untuk membantu memecahkan permasalahan yang timbul demi mewujudkan tujuan Nasional. tunggal tidak berafiliasi pada organisasi kemasyarakatan dan organisasi sosial politik apapun. (2) Mendorong dan meningkatkan peran anggota sebagai pemikir dan penggerak dalam rangka melanjutkan perjuangan bangsa dangan semangat membangun demi tercapainya tujuan Nasional. mengamalkan dan melestarikan Pancasila dan UUD 1945. agama dan profesi. Organisasi ini berfungsi sebagai : (1) Wadah bagi para anggotanya dalam meningkatkan wawasan dan kualitas keilmuannya untuk menggalang persatuan dan kesatuan. (1) Organisasi ini bersifat mandiri. symposium. (3) Terbinanya anggota untuk taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkan tujuannya organisasi ini melakukan upaya-upaya : (1) Mempertahankan. (3) Sarana penggerak dan pemasyarakatan serta penumbuhan kesadaran Bela Negara. lokakarya dan program pelatihan.BAB III. kesetiakawanan dan kegotong-royongan. keturunan. pengamalan Pancasila dan UUD 1945 pada seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga keutuhan Bangsa. U P A Y A. . Pasal 7. TUJUAN. meningkatkan. mempunyai cita-cita yang luhur. FUNGSI DAN UPAYA. budaya. (5) Mengadakan kerjasama kemitraan dengan lembaga kewenangan.

(1) Anggota Korps Nasional Menwa Indonesia terdiri atas : a. BAB IV. Dhuaja. yang tidak bertentangan dengan AD/ART Korps Nasional Menwa Indonesia.(6) Mengadakan kerjasama dan hubungan dengan organsasi lain. Pasal 12. Anggota kehormatan. (2) Ketentuan mengenai keanggotaan. serta mengadakan tukar menukar informasi tentang kemjuan dan perkembangan disegala aspek kehidupan masyarakat. dan Seragam. baik di dalam maupun diluar negeri yang melakukan kegiatan serupa. IKRAR Organisasi ini mempunyai Ikrar kejiwaan yang bersumber dari nilai moral yaitu “PANCA DHARMA SATYA“ Pasal 14. (2) Ketentuan mengenai atribut ditetapkan dengan keputusan Musyawarah Nasional (MUNAS). DOKTRIN Organisasi ini mempunyai Doktrin Pengabdian yang disebut “WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA” Pasal 13. Anggota luar biasa. KEANGGOTAAN. b. (7) Mengadakan upaya lain yang sah. BAB V. DOKTRIN IKRAR DAN ATRIBUT. (1) Korps Nasional Menwa Indonesia mempunyai atribut yang terdiri atas Lambang. Pataka. ATRIBUT. Pasal 11. Anggota biasa. . Mars. c. hak dan kewajibannya diatur dalm Aggaran Rumah Tangga. KEANGGOTAAN.

Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota berkewajiban untuk mengelola organisasi Daerah Tigkat Kabupaten/Kota. b. Unsur Pelaksana Harian Darerah Tingkat Kabupaten/Kota. (9) Kewajiban dan tanggung jawab Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota : a. SUSUNAN ORGANISASI. Unsur Pelaksana Harian. b. Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. (4) Pengurus organisasi Daerah Tingkat Propinsi adalah Pengurus Organisasi tertinggi di Daerah Tingkat Propinsi. Pasal 16. (2) Pembentukan dan pengesahan Pengurus organisasi : a. b. (5) Pengurus organisasi Daerah Tingkat Provinsi terdiri atas : a. SUSUNAN ORGANISASI DAN KEPENGURUSAN. Pengurus Daerah Tingkat Propinsi berkewajiban untuk mengelola organisasi Daerah Tingkat Propinsi. . KEPENGURUSAN. Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. c. Pengurus Dareah Tingkat Kabupaten/Kota. Pengurus Darah Tingkat Kabupaten/Kota dibentuk oleh Musyawrah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota dan disahkan oleh Pengurus Daerah Tingkat Provinsi melalui Surat Keputusan. Unsur Pelaksana Harian Tingkat Provinsi. (8) Pengurus organisasi Daerah Tingkat Kabupaten/Kota terdiri atas : a. c. (7) Pengurus organisasi Daerah Tingkat Kabupaten/Kota adalah Pengurus Tertinggi organisasi di Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dewan Pengurus Pusat organisasi terdiri atas : a. Pengurus Pusat berkewajiban untuk mengelola organisasi sesuai dengan Keputusan MUNAS. (1) Pengurus Pusat organisasi adalah Pengurus Organisasi yang tertinggi. b. Pusat. Dalam melaksanakan kewajibannya Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota bertanggung jawab kepada MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota. b. b.BAB VI. Pengurus Pusat. Daerah Tingkat Provinsi. b. (6) Kewajiban dan Tanggung jawab Pengurus Daerah Tingkat Provinsi : a. (1) Organisasi ini disusun berjenjang sebagai berikut : a. Dalam melaksanakan kewajibannya Pengurus Daerah Tingkat Propinsi bertanggung jawab kepada MUSDA Tingkat Propinsi. Pasal 15. Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dibentuk oleh Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi dan disahkan oleh Pengurus Pusat melalui Surat Keputusan. Dalam melaksanakan kewajibannya Pengurus Pusat bertanggung jawab kepada MUNAS. b. (3) Pengurus Pusat dapat membentuk Badan dan atau Lembaga untuk melakukan tugas khusus tertentu. Pengurus Pusat dibentuk dan disahkan oleh Musyawarah Nasional. (3) Kewajiban dan tanggung jawab Pengurus Pusat : a.

(4) MUSDA dihadiri oleh utusan Daerah Tingkat. (3) MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota memilih Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota melalui mekanisme pemilihan langsung. MUSYAWARAH NASIONAL.Provinsi melalui mekanisme pemilihan langsung. . (2) MUSDA Tingkat Provinsi diadakan 4 (empat) tahun sekali. (5) MUSDA tingkat Kabupaten/Kota dinyatakan sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota di lingkungan Daerahnya. (1) MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota adalah lembaga tertinggi organisasi di Daerah Tingkat Kabupaten/Kota . namun dalam keadaan luar biasa MUSPDA dapat dipercepat atau ditunda atas persetujuan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dan 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (2) MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota diadakan setiap 4 (empat) tahun sekali. (6) MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota membuat keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan keputusan tersebut mengikat. (6) MUNAS dinyatakan sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah organisasi Daerah Tingkat Propinsi. Pasal 18. (7) MUNAS membuat keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat. (1) Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi adalah lembaga tertinggi organisasi di Daerah Tingkat Provinsi. MUSYAWARAH DAERAH TINGKAT KABUPATEN/KOTA. (3) MUSDA memilih Pengurus Daerah Tingkat. dan keputusan tersebut sah dan mengikat. MUSYAWARAH DAERAH TINGKAT PROVINSI.Kabupaten/Kota. (4) MUNAS berhak merubah dan menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.BAB VII. Pasal 19. dan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. (4) MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota dihadiri oleh anggota di Daerahnya dan Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (5) MUNAS diikuti oleh utusan Daerah Tingkat Provinsi dan Tingkat Kabupaten/Kota serta Pengurus Pusat. namun dalam keadaan luar biasa dapat dipercepat atau ditunda atas persetujuan Pengurus Daerah Kabupaten/Kota dan 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota yang ada di Daerahnya. namun dalam keadaan luar biasa dapat dipercepat atau ditunda atas persetujuan Pengurus Pusat dan 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah Daerah Tingkat Provinsi (3) MUNAS memilih Ketua Umum sekaligus menjadi Ketua Formatur melalui mekanisme pemilihan langsung. (2) MUNAS ditetapkan setiap 4 (empat) tahun sekali. (6) MUSDA Tingkat Provinsi membuat keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan keputusan tersebut sah dan mengikat. MUSYAWARAH. (5) MUSDA Tingkat Provinsi dinyatakan sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya 1/2 (setengh) ditambah 1 (satu) dari jumlah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Pasal 17. (1) Musyawarah Nasional (MUNAS) adalah lembaga tertinggi organisasi. SIDANG PARIPURNA DAN RAPAT-RAPAT.

b. b. (4) Sidang Paripurna di setiap tingkatan dihadiri oleh : a. Rapat-rapat lain yang dianggap perlu. Pasal 21.Pasal 20. Pengurus Pusat. b. Pasal 22. Rapat Pengurus Pusat. antara Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Pengurus Daerah Kabupaten/Kota. dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (3) Sidang Paripurna Daerah Tingkat Kabupaten/Kota merupakan forum tertinggi kedua setelah MUSDA antara Anggota yang berada dilingkungannya dengan Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. c. Pengurus Daerah Provinsi. Menurut tingkatannya. SIDANG PARIPURNA NASIONAL. Pengurus Tingkat Kabupaten/Kota (5) Sidang Paripurna diadakan sedikitnya sekali dalam 2 (dua) tahun. Pengurus Tingkat Provinsi d. (1) Jenis Rapat : a. KEUANGAN. (1) Sidang Paripurna Nasional (SIPURNAS) merupakan forum Nasional tertinggi kedua setelah MUNAS. BAB VIII. c. Rapat Kerja Nasional. Pengurus Lembaga dengan Pengurus Pusat. Rapat Kerja Daerah Tingkat Provinsi dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota adalah Rapat Kerja Daerah sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Rapat Pengurus Nasional. Rapat-rapat lain dapat diadakan untuk membicarakan masalah organisasi yang lebih khusus. dalam lingkup tingkatannya masing-masing. RAPAT-RAPAT. (2) Besarnya uang pangkal dan iuran anggota seluruh Indonesia ditetapkan oleh Pengurus Pusat setelah mendengar saran Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (2) Kewenangan Rapat : a. berwenang untuk membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah teknis organisasi dalam lingkup tingkatannya. tidak bertentangan dengan AD/ART. (2) Sidang Paripurna Daerah Tingkat Provinsi merupakan forum musyawarah tertinggi kedua setelah MUSDA Tingkat Provinsi antara Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota dengan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. b. Menurut tingkatannya . Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota . K E U A N G A N. adalah rapat Pengurus untuk membicarakan masalah umum organisasi terutama yang menyangkut pengambilan kebijaksanaan Pengurus dalam lingkup tingkatannya. (1) Keuangan Korps Nasional Menwa Indonesia diperoleh dari usaha-usaha sebagai berikut : a. c. c. Dewan Pertimbangan. Sumbangan-sumbangan yang sah dan tidak mengikat. Rakernas adalah Rapat Kerja bersifat Nasional. Daerah Tingkat Provinsi. Iuran anggota. . Usaha-usaha yang sah.

(2) Pembubaran Korps Nasional Menwa Indonesia hanya dapat dilakukan apabila diusulkan oleh sekurangkurangnya ½ (setengah) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota biasa. PERUBAHAN ANGGARAN DASAR. Ditetapkan di : Jakarta. Pasal 24. Pasal 25. PEMBUBARAN ORGANISASI. LAIN-LAIN. Pada Tanggal : 6 Pebruari 2010. . secara berjenjang tingkatan organisasi. Perubahan Anggaran Dasar /Musyawarah Nasional/. (1) Pembubaran Korps Nasional Menwa Indoenesia hanya dapat dilakukan oleh Musyawarah Nasional yang diselenggarakan khusus untuk maksud tersebut. organisasi ini hanya dapat dilakukan oleh Musyawarah Nasional Luar Biasa. BAB X. P E M B U B A R A N. Pasal 23. (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga serta Peraturan Organiasi yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar. (2) Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. KETENTUAN PENUTUP.BAB IX.

(1) Syarat-syarat sebagai anggota Korps Nasional Menwa Indoneia ialah : a. (1) Anggota Korps Nasional Menwa Indonesia terdiri atas : a. BAB I. Anggota Kehormatan. Pasal 2. KEANGGOTAAN. f. Dengan ikhlas dapat menerima Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. (2) Yang dimaksud dengan anggota organisasi ini adalah seseorang yang telah lulus pendidikan dan latihan dasar kemiliteran yang diselenggarakan oleh Resimen Mahasiswa. PENGERTIAN. d. . b. (2) Organisasi adalah pemersatu bangsa dengan wawasan kebangsaan yang kuat. Pasal 3. Memenuhi dan melaksanakan ketentuan-ketentuan organisasi Korps Menwa. Anggota biasa. Purna Resimen Mahasiswa anggota Resimen Mahasiswa yang tidak berstatus lagi sebagai Mahasiswa. tetapi pernah terlibat dalam kegiatan organisasi Korps Menwa dan memenuhi syarat-syarat sesuai ketentuan yang ditetapkan. Tidak pernah melakukan penghianatan terhadap Bangsa dan Negara. Aktif selektif. PENGERTIAN UMUM KORPS MENWA. Anggota Resimen Mahasiswa yang telah menjalani masa aktif dan mempunyai kondite yang baik selama menjadi anggota Menwa. b.ANGGARAN RUMAH TANGGA. dan bagian dari pejuang bangsa yang memiliki kemampuan serta kesadaran berbangsa dan bernegara. g. BAB II. c. Menyatakan diri menjadi anggota secara perorangan dan sukarela. (3) Yang dimaksud dengan Purna Resimen Mahasiswa adalah anggota Resimen Mahasiswa yang telah meninggalkan bangku kuliah. e. distorsi dan stagnasi dalam masyarakat. (5) Yang dimaksud dengan anggota kehormatan adalah Warga Negara Indonesia yang ditetapkan oleh Musyawarah Nasional sebagai anggota kehormatan. Pasal 1. Anggota luar biasa. (1) Organisasi ini adalah sebagian dari masyarakat bangsa yang berkesempatan mendapatkan pendidikan formal maupun pendidikan keprajuritan yang dapat mengantarkan masyarakat menuju modernisasi dan kemajuan dengan tidak menimbulkan friksi. (2) Pengaturan lebih lanjut tentang tata cara pengangkatan dan penetapan keanggotaan diatur dalam peraturan organisasi. c. (4) Yang dimaksud dengan anggota luar biasa adalah mereka yang tidak termasuk dalam katagori tersebut dalam ayat (2) dan (3) diatas.

(1) Mentaati dan melaksanakan ketentuan yang terdapat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. dan semua peraturan organisasi Korps Menwa. KEWAJIBAN. (4) Mengahdiri pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh Korps Menwa berdasarkan undangan. Pasal 5.BAB III. dan saran bagi anggota kehortmatan. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Hak Hak Hak Hak Hak Hak Hak bicara bagi anggota biasa. unrtuk mendapatkan Kartu Tanda Anggota. Pasal 6. HAK. (2) Tata cara pemberian/pengenaan sanksi diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. anggota luar biasa. KARTU TANDA ANGGOTA. mendapatkan perlakuan yang sama. (2) Anggota yang terkena sanksi pemberhentian dapat mengajukan pembelaan diri pada MUNAS. (1) Keanggotaan seseorang anggota Korps Nasional Menwa Indonesia dapat berakhir karena : a. c. Atas permintaan sendiri. (2) Tata cara pemberian KTA akan diatur dan ditentukan lebih rinci oleh Pengurus Pusat organisasi ini. (2) Menjaga persatuan dan kesatuan serta kesetiaan kepada organisasi dan membela kehormatan Korps Menwa. . memilih dan dipilih hanya bagi anggota biasa. KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA KEANGGOTAAN. Pasal 7. Pasal 4. suara. Pasal 8. (3) Tata cara pemberhentian anggota diatur dalam aturan tersendiri. b. (5) Memberikan masukan-masukan dan membantu pelakasanaan program Koprs Menwa. Diberhentikan karena melanggar AD/ART Organisasi. untuk mendapatkan perlindungan. (1) Kartu Tanda Anggota dibuat seragam oleh Pengurus Pusat Korps Nasional Menwa Indonesia untuk seluruh Indonesia. membela diri. dan anggota kehormatan. Meninggal dunia. (3) Membayar uang iuran. memberi nasihat. (1) Pelanggaran terhadap kewajiban sebagaimana tersebut pada pasal 5 diatas dapat dikenakan sanksi. BERAKHIRNYA KEANGGOTAAN. HAK ANGGOTA. (6) Setiap anggota wajib memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA).

Departemen Bela Negara. e. Departemen Pengembangan Keahlian dan Profesi. Wakil Bendahara. h. Wakil Bendahara. Penelitian dan Pengembangan. Wakil Ketua. Bendahara Umum. b. e. b. d. b. Sekretaris. . (1) Susunan Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya terdiri atas : a. b. Biro Organisasi. Biro Bela Negara. Departemen Penelitian dan Pengembangan. Ketua. Bendahara. g. b. c. f. c. Ketua-Ketua Biro dan Wakil Ketua Biro. c. i.4. Biro Pengabdian Masyarakat. Keanggotaan. Bidang Komcad. Departemn Pengabdian Masyarakat. f. g.3. Departemen Organisasi. b. Departemen Lingkungan Hidup. Wakil Bendahara. Sekretaris Jenderal. Ketua. Bidang Pendidikan Kualifikasi Perwira. Sekretaris. Kaderaisasi. (3) Susunan dan Personalia Pengurus Daerah Tingkat Provinsi ditetapkan dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat. Pasal 11. Wakil Sekretaris. f. g. c. Departemen Sumber Daya Manusia. Wakil Sekretaris Jenderal. d. c. Wakil Sekretaris. f. (2) Ruang lingkup Biro-Biro sekurang-kurangnya meliputi : a. Ketua-Ketua Departemen dan Wakil Ketua Departemen. Ketua-ketua Bidang. Wakil Ketua. e. (1) Susunan Pengurus Pusat sekurng-kurangnyaterdiri atas : a. Bidang Alumni (Profesi). d. SUSUNAN PENGURUS. (1) Susunan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi sekurang-kurangnya terdiri atas : a. d. Ketua Umum. b. Pasal 10. b. Kaderisasi dan Keanggotaan. Ketua-Ketua Bagian. (2) Ruang lingkup Departemen-Departemen meliputi sekurang-kurangnya : a. Departemen Operasi Informasi.BAB IV. Departemen Hubungan Antar Lembaga. Pasal 9. g. Bendahara. d. b. Bidang Mahasiswa. e.2.1.

d. Pasal 15. (1) Musyawarah Nasional yang merupakan Musyawarah antara utusan Daerah Tingkat Provinsi. b. Memilih Pengurus Pusat. BAB VI. Pasal 14. Kaderaisasi. Tingkat Provinsi dan Tingkat Kabupaten/Kota. Pasal 12. Sekretaris. Kewajiban dan Wewenang Dewan Pertimbangan di masing-masing tingkatan. MUSYAWARAH. Dalam rangka mencapai tujuan organisasi Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah dapat membentuk Badan/Lembaga yang sesuai dengan kebutuhan. (1) Dewan Pertimbangan adalah suatu badan yang terdiri dari individu-individu yang ditunjuk secara berjenjang oleh Pengurus Pusat. b. Ketua. c. Daerah Tingkat Kabupaten/Kota dan Pengurus Pusat memegang kekuasaan tertinggi. MUSYAWARAH DAN SIDANG PARIPURNA. b. (3) Susunan dan Personalia Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Surat Keputusan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi.(2) Ruang lingkup Bagian-Bagian sekurang-kurangnya meliputi : a. DEWAN PERTIMBANGAN. Keanggotaan. Bagian Organisasi. Bagian Bela Negara. f. (2) Musyawarah Nasional berwenang untuk : a. . c. Pasal 13. e. (3) Pengurus Pusat. Menetapkan Keputusan-keputusan lainnya. Anggota. Menetapkan dan atau mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Menilai Pertanggung jawaban Pengurus Pusat. c. Bersidang sekali dalam empat tahun. terdiri dari : a. (2) Susunan Dewan Pertimbangan ada di Tingkat Pusat. Pengurus Tingkat Provinsi dan Pengurus Tingkat Kabupaten Kota yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan guna pencapaian tujuan organisasi. Ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan badan atau lembaga pada pasal 12 diatur dalam Peraturan Organisasi. Menetapkan Program Umum Organisasi. Pengurus Tingkat Provinsi dan Pengurus Tingkat Kabupaten Kota menetapkan Susunan dan Personalia serta Tata Kerja. BAB V. Bagian Pengabdian Masyarakat.

Pasal 18. (1) Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi berwenang untuk : a. d. b. d. Utusan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Rapat Kerja Daerah Tingkat Provinsi : a. Menilai pertanggung jawaban Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. b. (2) Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi dihadiri oleh : a. d. Diadakan apabila kelangsungan hidup organisasi dalam keadaan khusus c. Menetapkan keputusan-keputusan lainnya dalam batas kewenangannya. Bersidang sedikitnya sekali dalam 4 (empat) tahun. Pembina organisasi Daerah Tingkat Provinsi. Mempunyai wewenang atau kekuasaan sama dengan Musyawrah Nasional. Musyawarah Nasional Luar Biasa : e. c. Pasal 17. Diadakan oleh Pengurus Daerah Tingkat Provinsi atas permintaan sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. b. Menetapkan dan mengesahkan Program Daerah yang merupakan penjabaran Program Umum Organisasi. Pasal 19. e. Pengurus Daerah Tingkat Provinsi.(3) Musyawarah Nasional dihadiri oleh : a. Menetapkan dan mengesahkan program Daerah yang merupakan penjabaran Program Umum Organisasi. Pasal 16. Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi Luar Biasa : a. Memilih Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. Dilaksanakan sedikitnya sekali dalam dua tahun. Mengadakan penilaian dan pemantapan terhadap pelaksanaan Program Daerah Tingkat Provinsi serta menjabarkan dan menetapkan pelaksanaan selanjutnya. e. Utusan Daerah Tingkat Provinsi dan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Memilih Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Bersidang sedikitnya sekali dalam 4 (empat) tahun. (1) Musyawarah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota : a. Diadakan apabila kelangsungan hidup organisasi dalam keadaan khusus g. Mempunyai wewenang atau kekuasaan sama dengan Musyawarah Daerah Tingkat Provinsi. Peninjau yang diundang oleh Pengurus Pusat. c. Menilai pertanggung jawaban Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Menetapkan keputusan-keputusan lainnya dalam batas wewenangnya. Dewan Pertimbangan Tingkat Pusat. Pininjau yang diundang oleh Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. b. e. Pengurus Pusat. d. c. Dihadiri oleh peserta yang ditentukan oleh Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. b. Dewan Pertimbangan Daerah Tingkat Provinsi c. (2) Musyawarah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota dihadiri oleh : . c. Diadakan oleh Pengurus Pusat atas permintaan sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. Pasal 20. b. f.

Undangan yang dianggap perlu. Pasal 21. Pengurus Daerah Tingkat Provinsi. b. b. Dihadiri oleh peserta yang ditentukan oleh Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Pengurus Pusat. Musyawarah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota Luar Biasa : a. c. b. Anggota dilingkungan Daerahnya. Rapat Kerja Daerah Tingkat Kabupaten/Kota : a. c. (1) Sidang Paripurna Nasional adalah Sidang tertinggi kedua setelah MUNAS dan bertugas untuk : a. Pengurus Daerah Kabupaten/Kota. b. Membahas dan memutuskan hal-hal yang amat penting dan mendesak. Membahas dan mengesahkan usulan Program Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Diadakan oleh Pimpinan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota atas permintaan sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) dari anggota dilingkungan Daerahnya. Pasal 25. Diadakan apabila kelangsungan organisasi dalam keadaan khusus. (2) Peserta Sidang Paripurna Nasional adalah : a. Membahas dan mengesahkan usulan Program Pengurus Daerah Tingkat Provinsi.a. (2) Peserta Sidang Paripurna Daerah Tingkat Provinsi adalah : a. Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang setiap Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. (1) Sidang Paripurna Daerah Tingkat Provinsi adalah Sidang tertinggi kedua setelah MUSDA Tingkat Provinsi dan bertugas untuk : a. Dilaksanakan sedikit-dikitnya sekali dalam dua tahun. Mengadakan penilaian dan pemantapan pelaksanaan Program Daerah Tingkat Kabupaten/Kota serta menjabarkan dan menetapkan pelaksanaan selanjutnya. Membahas dan memutuskan hal-hal yang amat penting dan mendesak. c. Pengurus Daerah Tingkat Provinsi dan Tingkat Kabupaten/Kota sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang setiap Daerah. Dewan Pertimbangan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. SIDANG PARIPURNA DAERAH TINGKAT KABUPATEN/KOTA. Pembina organisasi Tingkat Kabupaten/Kota. b. Pasal 23. SIDANG PARIPURNA DAERAH TINGKAT PROVINSI. Membahas dan mengesahkan usulan Program Pengurus Pusat. (1) Sidang Paripurna Daerah Tingkat Kabupaten/Kota adalah Sidang tertinggi kedua setelah MUSDA Tingkat Kabupaten/Kota dan bertugas untuk : a. Pasal 22. . Mempunyai wewenang atau kekuasaan sama dengan Musyawarah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. c. SIDANG PARIPURNA NASIONAL. b. Pasal 24. d. b.

: 6 Pebruari 2010. BAB IX. PE N U T U P. Pasal 28. RAPIMDA Tingkat Propinsi dan Tingkat Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya diadakan sekali dalam 1 (satu) tahun. menurut tingkatnnya.b. (3) Rapat-rapat lain dapat diadakan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan organisasi menurut tingkatannya. HAK BICARA DAN HAK SUARA. dilakukan melalui Pengurus Daerah Tingkat Propinsi atau Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Setiap peserta mempunyai hak bicara sesuai dengan aturan tata tertib persidangan. b. (1) RAKERNAS. Hak suara yang dimiliki oleh peserta yang digunakan untuk mengambil keputusan. Pasal 27. (1) Dalam Musyawarah dan Rapat-rapat hak bicara dan hak suara diatur sebagai berikut : a. (1) Hal-hal yang belum diatur dan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan ditentukan kemudian dengan Peraturan Organisasi. RAPAT-RAPAT. BAB VII. Membahas dan memutuskan hal-hal yang amat penting dan mendesak. b. RAKERDA Tingkat Propinsi dan Tingkat Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya diadakan sekali dalam 2 (dua) tahun. . (2) Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. (2) RAPIMNAS. K E U A N G A N. (2) Hal-hal yang menyangkut pemasukan danm pengeluaran keuangan dari dan untuk organisasi dipertanggug jawabkan dalam forum yang diatur dalam peraturan organisasi. BAB VIII. Ditetapkan di Pada Tanggal : Jakarta. Pasal 29. Pasal 26. Anggota yang ada di Daerahnya. (2) Peserta a. (1) Keuangan organisasi ini diatur menurut ketentuan sesuai dengan keuangan yang ada. Sidang Paripurna Daerah Tingkat Kabupaten/Kota adalah : Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->