P. 1
8. Dasar-dasar Keinstrukturan by DN

8. Dasar-dasar Keinstrukturan by DN

|Views: 1,189|Likes:
Published by Sigit Suryawan

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Sigit Suryawan on Mar 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2015

pdf

text

original

DASAR-DASAR KEINSTRUKTURAN

By Dipa Nusantara Suryawan

I.

PENDAHULUAN Dalam penulisan materi ini penulis tidak mengkaji sebuah dasar-dasar keinstrukturan

dalam pendekatan yang pure akademik, namun penulisan ini nsya Allah akan lebih ditekankan kepada pendekatan yang praktis (skill). Disini tidak menemukan (dibahas) mengenai sejarah keinstrukturan maupun pembahasan keinstrukturan yang mendalam. Materi ini hanya menyajikan garis-garis besar (dasar) yang harus dimiliki (diperlukan) oleh individu dalam usaha menghadapi audience (baik personal maupun massa) disaat membawakan sebuah tema bahasan. Semoga penulisa yang sederhana ini mampu menghantarkan kita kepada sebuah pebentukan skill dalam hal keinstrukturan (minimum sebagai batu loncatan). II. DEFINISI KEINSTRUKTURAN Sebelum mengarah kepada pengertian tentang sebuah keinstrukturan (yang berarti sebuah sifat/bidang) maka terlebih dahulu kita akan menarik sebuah pengertian dari kata bendanya, yaitu Instruktur. Dari makna etimologinya ‘instruktur’ berasal dari kata instruksi, menurut kamus Oxford Dictionary ----> In – Struct – yang berarti: teach a scholl subject, a skill -- give order or direction (mengajarkan sebuah

pelajaran

dan

memberikan

perintah

atau

arah

(pengertian/pemahaman) yang berarti seorang instruktur adalah orang yang memberikan atau mengajarkan sebuah pelajaran , perintah (instruksi) dan arahan. Untuk membahas arti keinstrukturan secara lebih empirisnya, maka kita mencoba membahas sebuah tema keinstrukturan melalui pendekatan disiplin ilmu komunikasi. Keinstrukturan adalah suatu bidang dimana tujuan dari bidang ini adalah memberikan pengertian-pengertian terhadap suatu masalah atau materi sekaligus menginternalisasikan pengertian-pengertian tersebut kepada audiencenya dan biasanya dalam waktu yang relatif singkat. “Bagaimana dengan seorang guru ?”, mungkin selama ini masih ada yang menyamaratakan pengertian antara guru dan instruktur dan untuk menghindari ini maka penulis akan mencoba menguraikan perbedaannya. Guru adalah seorang pendidik yang memiliki pola penyampaian pesan (school subject) yang intens dan gradual, biasanya dalam jangka waktu yang cukup lama karena tujuan guru
*∗)bentuk pelajaran disini bukan hanya dalam artian pelajaran sekolah (akademik) namun dalam bentuk pelajaran yang luas. 1

adalah tujuan pendidikan (kurikulum) yang berarti mengarah kepada pembentukan dan perubahan tingkah laku atau karakter insan didiknya. Sedangkan instruktur memiliki pengertian yang lebih sempit dari itu. Pola penyampaian instruktur lebih singkat dan biasanya mengarah kepada sistem modul (TIU dan TIK) untuk setiap penyampaian pesannya, dikarenakan durasi penyampaian pesan semaksimal mungkin. Oleh karena itu sebagai seorang instruktur diharapkan mampu memiliki skill dan physikologi (mental) yang kuat demi suksesnya penyampaian pesan tersebut (proses komunikasi). III. PERAN DAN FUNGSI INSTRUKTUR Mungkin peran instruktur sedikit banyak telah diuraikan dalam pembahasan diatas dan pada segmen penulis akan mencoba menyajikan secara sistematis. Instruktur berperan dan berfungsi sebagai komunikator (penyampai materi) yang menggunakan penyampaian dengan durasi dan estimasi waktu yang cukup singkat dan diharapkan mampu untuk memberikan sebuah internalisasi terhadap audiencenya, yang berarti harus mengetahui kondisi hadapannya. Dalam proses komunikasi, komunikator (instruktur) mempunyai sebuah perang yang cukup vital dalam lencar atau tidaknya proses penyampaian pesan (komunikasi). Seorang instruktur akan efektif dalam menyampaikan pesannya jika ia; berorientasi (interest) kepada audience, memiliki kredibilitas, percaya diri, meyakinkan dan mengenal nilai kebudayaan dan status sosial audiencenya. 3.1 Kemampuan yang harus Dimiliki Instruktur Dalam menunjang dan mendukung performance seorang instruktur dia harus memiliki kemampuan-kemampuan (skill), secara praktisnya adalah dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya :  Percaya diri, yaitu mampu memebrikan sugesti awal pada diri sendiri bahwa kitalah yang paling tahu dan kitalah tempat mereka bertanya. Yang mendukung kepercayaan diri kita adalah penampilan diri, kondisi fisik, dan kondisi mental.  Tata bahasa (retorik) yang baik, yaitu kemampuan untuk memformulasikan bahasa dalam berbagai kondisi dan menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap kalimat-kalimat yang dianggap penting.  Penguasaan materi (pesan yang disampaikan), bertujuan agar pembicaraan instruktur mudah dipahami oleh audience, maka materi atau pesan tersebut harus disusun sedemikian rupa
2

sehingga dapat menimbulkan perhatian. Pesan atau materi harus dirumuskan sedemikian rupa, sehingga ia mencakup pengertian yang sama dan dengan lambang-lambang yang dapat dimengerti.  Memperhatikan audience, penerima (audience) yang baik adalah harus sehat jasmani dan ruhani, menjadi pendengar yang baik dan bersikap positip. Disamping itu instruktur juga harus mengenal karakteristik audiencenya dengan baik dan juga siapa dihadapannya. Hal ini dapat disesuaikan, pola apa yang akan dipakai.  Memiliki wawasan yang luas, jika wawasan seorang instruktur luas maka dengan mudah ia dapat melakukan inovasi dan variasi (improvisasi) dalam penyampaian materinya. Kemudian instruktur juga perlu memperhatikan bagaimana agar penyajian materi itu dapat lancar, efektif, komunikatif, dan menimbulkan simpatik untuk itu diperlukan beberapa hal : a. Tahu pokok pembicaraan (kuasai materi), kita perlu mengetahui apa yang menjadi pokok pembicaraan. Jika kita mengetahui pokok pembicaraan maka penyampaian akan lancar. b. Kenali siapa sasaran (lawan bicara), dalam penyampaian materi kita sebisa mungkin mengetahui latar belakang, status sosial, hobby, kesenangan, suku, dan sebagainya yang berhubungan dengan audience. Jika kita mengetahui semua latar belakang yang ada dalam proses penyampainya akan lancar. c. Jadilah pendengar yang baik, seorang instruktur menjadi pendengar bukan berarti menjadi pasif. Tapi diperlukan kesabaran supaya dalam feed backnya akan lebih tepat, dan menjadi pendengar yang baik akan menimbulkan rasa simpatik dari audience. d. Selami pikiran dan perasaan lawan (empathi), dalam penyampaian materi kita dipacu untuk mengetahui pikiran dan perasaan lawan bicara, sehingga apa yang diinginkannya kita sudah ketahui lebih dahulu. Jika hal ini sudah terjadi maka dalam penyampaian materinya kita akan disebut sebagai penolong. e. Terampil dalam mengajukan pertanyaan, merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam sebuah forum. Dengan mengajukan pertanyaan kita dapat mengetahui kebutuhan seseorang dan juga hal-hal yang tidak disukainya. Disamping itu pertanyaan dapat menghidupkan suasana forum. f. Mampu memberikan tanggapan (feed back), artinya kita mengulang kembali apa yang dikatakan oleh lawan bicara dengan menggunakan kata-kata kita sendiri dan menanyakan yang dimaksud olehnya. g. Jangan mengkritik audience (pendapat). Apabila anda dalam penyampaian materi sering
3

melakukan kritik terhadap pendapat audience, berarti anta tidak membuat hubungan yang harmonis, anda boleh saja tidak setuju dengan pendapat audience, tetapi gunakan cara yang lebih halus untuk mengatakan pendapat anda. h. Latih diri untuk bisa humor, percakapan yang slelau serius bisa membuat audience merasa tegang. Humor diprulukan untuk membuat suasana percakapan menjadi riang, hidup dan berahabat. Bila perlu anda perhatikan, jangan sampai humor tersebut menjadi bumerang atau membuat audience kecewa. i. Jangan memonopoli pembicaraan dalam jangka waktu yang lama. Jangan sekali-kali menguasai atau memonopoli pembicaraan tanpa memberikan kesempatan kepada audience. Jika anda memiliki tipe seperti ini, sebisa mungkin anda latih untuk menjadi pendengar yang baik. j. Jangan memotong pembicaraan audience, dalam proses pemberian materinya jangan sampai kita memotong pembicaraan audience disamping tidak etis, juga terkesan anda tidak menghargai lawan bicara. k. Selalu menyebut nama diri lawan bicara apabila dalam penyampaian materi. Usahakan untuk menyebut nama lawan bicara kita (audience), sebab seseorang jika sering dipanggil dengan nama dia (audience) akan merasa diperhatikan, seperti kata Dale Carnegie: “bahwa nama bagi seseorang adalah kata terindah dan terpenting”. l. Tunjukkan antusiasme dalam membawakan materi, apabila anda berbicara tanpa antusiasme, maka anda sedang mengkomunikasikan suatu sikap bahwa anda tidak tertarik atau anda tidak ingin berbicara lama-lama. m. Tunjukkan sikap bersahabat, dalam forum anda harus menunjukkan persahabatan, yaitu dengan kata-kata yang lembut dan enak didengar. Maka proses penyampaian materi akan lebih terasa harmonis. 3.2 Beberapa Metode Dialog Dialog dapat diartikan sebagai pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab dan didalamnya terdapat kesatuan topik atau tujuan pembicaraan. Dengan demikian dialog merupakan jembatan yang menghubungkan pemikiran seseorang denganorang lain. Sebuah dialog akan melahirkan paling tidak dua kemungkinan: kedua belah pihak terpuaskan dan hanya pihak tertentu saja yang terpuaskan. Bagaimanapun hasilnya, dialog sangat menguntungkan orang ketiga, yaitu si penyimak atau pembaca (contoh: jika komunikan sedang
4

membaca atau mendengarkan hasil dari forum sumbang saran). Lewat dialog seorang pembaca yang betul-betul memperhatikan materi dialog akan memperoleh nilai lebih, baik berupa penambahan wawasan atau penegasan identitas diri. Keuntungan yang diperoleh pihak pembaca sangat berhubungan dengan karakteristik yang dimiliki dialog, yaitu: Pertama, biasanya topik dialog tersaji secara sistematis karena kedua belah pihak “menarik dan mengulur” materi sehingga tidak membosankan. Bahkan kondisi itu akan mendorong pembaca mengikuti seluruh pembicaraan. Kedua, lewat metode dialog, pembicara akan tertuntut untuk mengikuti dialog hingga selesai agar dia dapat mengetahui kesimpulan apa yang dihasilkan dari dialog tersebut. Dan biasanya, keinginan untuk mengetahui kesimpulan merupakan penetral rasa bosan atau jenuh. Ketiga, lewat dialog, perasaan dan emosi lawan bicara (pembaca/pendengar) akan terbangkitkan dan terarah sehingga idealismenya terbina danpola pikirnya betul-betul merupakan pancaran jiwa. Keempat, topik pembicaraan disajikan secara realistis dan manusiawi sehingga dapat menggiring manusia pada kehidupan dan perilaku yang lebih baik lagi. Proses seperti sangat menunjang terwujudnya tujuan sebuah pendidikan/pengajaran khususnya pendidikan Islam/pengajaran islami (dakwah). Kemudian dibawah ini penulis akan menyajikan beberapa macam metode dialog yang akan dibahas secara praktis dan lebih dikontekskan kepada Alqur’an dan As sunnah. 1) Dialog Deskriptif Dalam bahasa Indonesia deskriptif berarti : menggambarkan secara gamblang dan objektif. Dialog deskriptif disajikan dengan deskripsi atau gambaran orang yang tengah berdialog. Pendeskripsian itu meliputi gambaran kondisi hidup dan psikologis orang-orang yang berdialog sehingga kita dapat memahami kebaikan dan keburukan. Selain itu, pendeskripsian itu berpengaruh juga pada mentalitas seseorang sehingga perasaan ketuhanan atau perilaku positip manusia akan berkembang. Dan Al qur’an sangat banyak memberikan contohnya, antara lain: surat Ash-shaffat, 20-32. Melalui deskripsi ayat diatas maka kita dapat menyimpulkan dampak edukatip dari dialog deskriptif itu adalah:
5

Dialog deskriptif menyajikan kehidupan psikologis penghuni neraka dan penghuni surga. Dialog tersebut memeberikan citra kepada pembacanya tentang gambaran pengakuan para ahli surga dan neraka, sehingga dapat menimbulkan perasaan ketuhanan dan mampu menyentuh mentalitas pembacanya (dengan gambaran yang cukup jelas) yang nantinya dapat memberikan pemahaman bagi diri mereka manakah deskripsi yang mereka ambil ?

Seperti halnya dialog sindiran, dialog deskriptifpun bertumpu pada pemberian sugesti. Ayatayat diatas memberikan peringatan kepada kita melalui deskripsi tempat kembali orangorang dzalim. Seperti yang telah disebutkan tadi pengarush sugesti ebih besar daripada pemberitahuan yang langsung. Namun dalam pemberiannya tak salah jika kita menanyakan langsung kepada audience, misalnya tempat kembalinya kaum kafir dari segala penyebabnya. Hal ini dilakukan agar dapat menjadi ukuran sampai sejauh mana mereka menyimak dan memahami gambaran yang kita berikan. Dan hal ini dituntut agar sang penyaji mampu untuk mengembangkan perasaan dan emosi audience. Selain menyajikan deskripsi mengenai penghuni neraka, Alqur’an juga menyajikan deskripsi mengenai penghuni surga, dan pendeskripsian ini berguna agar audience mampu melihat alternatif yang disajikan (surga) sebagai jalan keluar (solusi) yang terbaik untuk menentukan sikapnya. Contoh: surat As Shaffat, 50-57. 2) Dialog Naratif Dialog naratif berarti pemberian sebuah alur cerita yang jelas (dramatik). Dialog ini berarti memeberikan sebuah alur cerita terhadap pokok bahasan bagi audience yang nantinya dapat memberikan perhatian. Dalam penyajian naratif ini biasanya audience lebih dapat mengerti tentang pembahasan karena penyajiannya lebih fleksibel. Dan tentunya penyajian secara naratif, diakhir cerita diberikan sebuah penjelasan tentang pokok pelajaran yang harus diambil/ secara tersurat (bisa juga secara tersurat/implisit). Sebagai contohnya biasa dilihat dalam surat Hud, 84-95. Dialog naratif memberikan dampak edukatif yang sangat menakjubkan, disamping dapat memeprngaruhi penalaran, dialog naratifpun mampu mempengaruhi mentalitas daya tahan seseorang. Dalam ayat diatas dialog naratif memberikan kesimpulan yang jelas sehingga jelas pulalah
6

tempat kembali orang-orang yang dzalim dan orang-orang yang beriman kelak melalui dialog dan tahapan yang terjalin kuat dan utuh. Hal tersebut ini akan memotivasi audience/pembaca untuk menyimak kisah tersebut untuk merenungkan makna yang terdapat didalamnya. Melalui dialog tersebut audience dapat dibengkitkan dalam hal jiwa maupun pemikiran dan imaji ketuhanan, terutama yang berhubungan dengan persoalan dunia dan ikatan kehidupan kemasyarakatan. 3) Dialog Argumentatif Dialog argumentatif berarti mengadakan sebuah proses dialog yang didasari dengan argumen-argumen yang kuat (hujjah), yang nantinya mampu menghasilkan pengertian yang lebih dapat dipertanggungjawabkan (karena disertai dengan bukti-bukti yang jelas). Kita mengadakan dialog argumentatif dengan landasan Qur’an maka kita akan menemukan diskusi atau perdebatan yang diarahkan kepada pengokohan argumen (hujjah) atas kaum musyrikin (jahiliyah) agar mereka mengakui pentingnya keimanan dan keesaanNya serta mengakui bahwa Islam adalah agama yang Haq. Sebagai contohnya kita dapat lihat surat An Najm, 1-18, 19-20, 21-23. Dalam prosesnya dialog argumentatif memiliki dampak edukatif berikut ini (sesuai dengan ayat diatas): a) Dialog argumentatif membina semangat untuk membela yang haq, dan memilih kebenaran dan senantiasa mencari argumentasi yang betul-betu kuat dalam setiap pernyataan ketuhanannya (da’wah). Hal inilah yang harus dikembangkan. b) Melalui pemberian sugesti, dialog argumentatif mampu mendidik penyimaknya untuk membenci kebathilan, ide-ide kemusyrikan, atheisme, serta kedunguan dan kebathilan ide-ide tersebut (pengauatan Hujjah). c) Dialog argumentatif dapat membina akal agar manusia dapat berfikir sehat dan mencapai berbagai kebenaran melalui metode yang valid berikut ini ;  Pertama, metode konklusi (penyimpulan). Jika kita menemukan sebuah premis yang memliki tiga buah preposisi lantas ternyata prreposisi yang pertama dan kedua gugur, pastilah bahwa preposisi yang ketiga yang benar dan harus dipertimbangkan lebih jauh lagi. Contoh: surat At Thur : 35-37.  Kedua, metode analogi (perumpamaan) yang shahih. Contoh: surat Al
7

Isra: 49-51.  Ketiga, metode berfikir yang topikal dan realistis serta penarikan argumentasi dari hal-hal yang konkret untuk ememcahkan sesuatu hal yang ghoib. Contoh peristiwa Ibrahim dengan raja Namrudz dalam surat Al Baqarah: 258. sebagai contoh konkretnya lagi dengan menjelaskan fenomena-fenomena alam yang ada; karena hal tersebut pasti diatur oleh kekuatan di luar batas kemampuan manusia, dengan hal ini manusia diajak untuk berfikir logis bahwa ada sebuah kekuatan besar di balik semua itu, yaitu Tuhan. Dengan beberapa metode dialog yang mampu memberikan sebuah internalisasi secara mendalam, sebenarnya masih ada lagi beberapa metode dialog yang belum dijelaskan, diantaranya adalah: dialog Ta’abudi dan Khitabi (karena lebih spesifik masuk ke dalam Islam), dialog persuasif (pendekatan emosional) dan dialog Nabawi (lebih dispesifikasikan kepada teladan nabi Muhammad sebagai pengejawantahan nilai-nilai Qur’an). Untuk lebih jelasnya anda dapat membaca buku pendidikan Islam di rumah, Sekolah dan Masyarakat (pengarang: Abdurrahman An Nahlawi --- Gema Insani Press).

IV.

ASPEK-ASPEK YANG HARUS DICAPAI

Setelah panjang lebar kita sama-sama memahami sebuah peran dan fungsi seorang instruktur dan mengetahui sebagian trik-trik dalam hal komunikasi terhadap lawan bicara, tentunya ada sebuah target yang diharapkan dari proses penyampaian tersebut. Aspek-aspek apa sajakah yang harus kita capai dalam proses komunikasi sebagai seorang instruktur terhadap audience. Ada tiga buah aspek yang harus kita capai agar proses keinstrukturan tersebut berhasil, yaitu: 1) Aspek koginitif 2) Aspek affektif : yang berarti mampu memberikan pemahaman terhadap lawan : yang berarti dalam membawakan materi, kita mampu bicara terhadap materi yang kita tawarkan. memberikan sebuah kerangka pemahaman yang nantinya akan merangsang audience untuk memikirkan, menelaah lagi, terhadap materi yang kita sampaikan. Singkatnya lagi kita mampu memberikan sebuah internalisasi (penyadaran diri). 3) Aspek motorik: yang merupakan wujud dari kedua aspek diatas, yaitu dimana audience
8

melakukan tindakan yang selaras sebagaimana diharapkan dengan penyampaian materi/pesan tersebut,; yaitu untuk melakukan atau untuk tidak melakukan. Atau secara dekatnya kita bisa melihat sebuah tujuan dari setiap proses komunikasi, yaitu adalah :  Menciptakan pengertian yang sama atas setiap lambang-lambang yang disampaikan.  Merangsang pemikiran pihak receptor organisme untuk memikirkan pesan dan ransangan yang ia terima.  Melakukan sesuatu tindakan yang selaras sebagaimana diharapkan dengan penyampaian pesan tersebut, yaitu melakukan atau untuk tidak melakukan.  Mempengaruhi komunikan untuk bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kominikator.  Agar terjadi komunikan timbal balik atau dua arah yang dinamis. Jika ketiga aspek diatas tercapai maka sebuah proses penyampaian materi akan mencapai sebuah tanggapan yang maksimal dan sebagai instruktur maka dia mampu melakukan peran dan fungsinya secara sukses….

V.

PENUTUP

“Demi masa………………..sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salah….” (Al Ashr, 1-3). Semoga dalam materi ini kita sama-sama mampu meningkatkan kualitas diri kita dalam hal keinstrukturan dan juga semoga kita sama-sama memahami bahwa setelah membaca dan merenungi materi ini kita akan lebih berani lagi untuk tampil di masyarakat kit dalam menyampaikan amanah dan sebagai aktualisasi dan keimanan kita dan juga hal yang perlu kita tanamkan benar-benar. “ Bahwa keimanan kita berbanding lurus dengan amal ibadah kita dalam masyarakat kita”. Billahi taufik walhidaah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Penulis, 14 Agustus 1996

9

REFERENSI     Etika Komunikasi, pengarang: Drs. Poniman dan Drs. Darlin Turnip. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, pengarang: Abdurrahman An Nahlawi, Gema Insani Press. Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of of Current English, pengarang: AS. Hornby, Oxford. Tafsir Alqur’an terbitan Deparemen Agama.

WAKTU

:

3 jam

TUJUAN MATERI : Memberikan pemahaman mengenai dasar-dasar keinstrukturan sebagai dasar aktualisasi di masyarakat. TIU : 1. Peserta dapat memahami definisi keinstrukturan. 2. Peserta dapat memahami peran dan fungsi seorang instruktur. 3. Peserta dapat mengetahui aspek-aspek yang harus dicapai dalam keinstrukturan. 4. Peserta dapat memahami bahwa Al qur’an (Islam) merupakan konsep pengajaran yang jelas dan benar. TIK : 1. Peserta dapat membedakan peran antara guru dan instruktur. 2. Peserta dapat menjelaskan peran dan fungsi instruktur. 3. Peserta dapat menguasai kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang instruktur. 4. Peserta dapat memahami peran dan fungsi dialog dalam kientrukturan.
10

5. Peserta dapat menjadikan al qur’an dan sunnah sebagai landasan keinstrukturan 6. Peserta dapat memahami aspek-aspek dari tujuan keinstrukturan.

Selamat mencoba

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->