P. 1
doc(2)

doc(2)

1.0

|Views: 12,810|Likes:

More info:

Published by: Fanny Zaniadi Caniago on Mar 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • SKRIPSI
  • Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1
  • Oleh
  • Nama Mahasiswa : Erianawati
  • NIM : 1124000048
  • Program Studi : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan
  • PERSETUJUAN PEMBIMBING
  • PENGESAHAN
  • PERNYATAAN
  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN
  • ABSTRAK
  • Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • Hiperaktif
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  • BAB II KAJIAN PUSTAKA
  • BAB III METODE PENELITIAN
  • BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • BAB V SIMPULAN DAN SARAN
  • A. SIMPULAN ...162
  • DAFTAR TABEL
  • DAFTAR GAMBAR
  • DAFTAR BAGAN
  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang Permasalahan
  • B. Permasalahan
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Identifikasi Permasalahan
  • E. Pembatasan Permasalahan
  • F. Rumusan Permasalahan
  • G. Tujuan Penelitian
  • H. Manfaat Penelitian
  • I. Sistematika Skripsi
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A. Hakikat Pembelajaran
  • B. Media Pembelajaran
  • C. Anak Hiperaktif
  • D. Media Visual
  • E. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A. Pendekatan dan Prosedur Penelitian
  • B. Latar dan Sasaran Penelitian
  • C. Teknik Pengumpulan Data
  • D. Teknik Analisis Data
  • E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
  • BAB IV
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
  • 1. Deskripsi Setting Penelitian
  • 2. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif
  • dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Al Tisma Kudus
  • Informan Penelitian I
  • Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru
  • pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy
  • Informan Penelitian II
  • Nama : Ibu Pr, Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis)
  • Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin
  • Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali
  • Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika
  • Informan Penelitian III
  • Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa)
  • B. ANALISIS DATA
  • 1. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • 3. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • Khusnul Ma’ali
  • Galih
  • Ferdinan Troy
  • Alvin
  • Anis
  • Martika
  • C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • BAB V
  • SIMPULAN DAN SARAN
  • A. Simpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • 1. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • 4. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka
  • menurut pada anda?
  • C. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma
  • Kudus
  • 3. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • III. T. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • J. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001
  • Ibu Endang Sulastri
  • IV. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut
  • pada anda?
  • Ibu Nur
  • V. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • Ibu Utami
  • VI. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?

1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam. Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina.S.” (HR.” (Q.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater . Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR.

Pembimbing II Drs. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. look. Hardjono. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. terutama media visual. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan.6 ABSTRAK Erianawati. Si. energi. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. . salah satunya adalah dengan terapi. salah satunya adalah anak hiperaktif. 1987). dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. Untuk itu peran pendidik (orang tua. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Walaupun dibutuhkan kesabaran.. Pembimbing I Drs. 2005. listen and think’ (Abikoff. Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. guru. Suripto. M.

wawancara dan dokumentasi. ukuran. arah. jelas dan konsisten dan dengan suara netral . Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. mencocokkan (matching). Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. 2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. bentuk. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. identifikasi warna. Metode pengumpulan data adalah metode observasi. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid). Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif. identifikasi bentuk. besaran dan lain-lain. afektif dan psikomotorik pada anak. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. terutama media visual (gambar). identifikasi huruf. dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata. 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). kognitif. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat. sehingga anak dapat menangkap pesan. Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi.

seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. kognitif.. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). Apabila dalam pembelajaran. psikiater anak. Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. psikolog anak. dokter anak. orang tua siswa. guru pembimbing/terapis. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. . tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. afektif dan psikomotorik pada anak. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar.8 (cukup keras.

Drs. oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Drs. 2. Drs. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang. Suripto. MM. SH. Soegito. Msi. 5. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. Siswanto. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. . Haryanto. 3. tidak lepas dari peranan berbagai pihak.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. MM. maka dalam penyusunan skripsi ini. A T. Hardjono. Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan. Drs. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. 4.

Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. ilmunya kepada penulis. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. Bapak dan Ibu-ku. yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 7. 10. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. 8. Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. Penulis . Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.10 6. Semarang. Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. 9. Ibu Nur Halimah.

.... G.......................................................... vi KATA PENGANTAR .. Latar Belakang Permasalahan...........7 Pembatasan Permasalahan ....................................................................................................................6 Penegasan Istilah ........................1 Permasalahan . C................................ iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................................................... E.....................................................................................xi DAFTAR TABEL ..............9 .......................................................................................................................................... ix DAFTAR ISI ............. D..... F................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................................6 Identifikasi Permasalahan ................................ iii HALAMAN PERNYATAN ...........................................................v ABSTRAK ..........................11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................................................................................................................. XVIII BAB I PENDAHULUAN A........9 Rumusan Permasalahan .........................9 Tujuan Penelitian ................... B....... xvii DAFTAR LAMPIRAN ...... xvi DAFTAR GAMBAR ............................ ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................

.............. Ciri-ciri Hiperaktif .........................................................................16 5....26 C............................... I... Asumsi Proses Pembelajaran ....................................31 4......... Manfaat Media Pembelajaran .............................................24 4............................. Anak Hiperaktif ......................................................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ...........................................25 5......... Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran ....... Peranan Media Pembelajaran ........ Media Pembelajaran .............................................15 4..........18 1..................... Hakekat Pembelajaran ...................18 2.....17 B........10 Sistematika Skripsi ......... Manfaat Penelitian .....................27 2....12 1.16 6.......................29 3....................................... Pengertian Belajar dan Pembelajaran ........ Tujuan Pembelajaran .........19 3..........39 .. Cara Menangani Anak Hiperaktif .........................................27 1.............................. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya ............................ Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran ....................15 3............ Pengertian Media Pembelajaran .........10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A....................... Ciri-ciri Pembelajaran .....................12 2..... Pengertian Hiperaktif ...... Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran .....12 H......................

..........................13 D................................................................................................... Penggunaan Media Visual ....................91 C...................................... Teknik Analisis Data .................................48 5.........80 1.....................................50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E...........................45 4.................... Teknik Pengumpulan Data . Pengembangan Media Visual ........................... Evaluasi ...........................81 3.............................99 ......96 E...............45 3.80 2......................... Pengertian Media Visual ............................. Fungsi Media Visual ....................... Media Visual .................. Latar dan Sasaran Penelitian .............44 1........ Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data............. Pengembangan Kurikulum .................................................. Pelaksanaan Pembelajaran ..............................................................89 B..92 D...... Pendekatan dan Prosedur Penelitian ..... Bentuk Media Visual (Gambar) ...............................44 2...............................87 BAB III METODE PENELITIAN A... Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif ...................

........................ 123 1...................... 134 C............................ 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2.. 125 3.. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR .......... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ...... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ............... 107 B........................... 147 1............. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ..............101 1..................................................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ..................14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A...................... ANALISIS DATA ............. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ............................ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............................................................ 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .............101 2......

.............. 162 B...........................................................................................101 ............ DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D....................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................ SIMPULAN ................................................... 148 3....................................................................... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A......101 3................................. 163 DAFTAR PUSTAKA ........ Saran ................ DESKRIPSI SETTING PENELITIAN .........15 2............ Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .....................................................

147 ................ 124 5............................. 147 4................. 107 E.......................................... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............ 125 6....... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......................................... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ...................... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN .................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .. ANALISIS DATA ....... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............................... 134 F.................. 123 4.....................................................................................................16 4...................................................

........................................ Saran ............................................................................. 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A...................... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN ......... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ........ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ...................................... SIMPULAN ........................................................................... 163 DAFTAR PUSTAKA ...... 148 6....................................17 5... 162 B.........................

... Data Siswa Hiperaktif .......1...... Data Terapis Tahun 2004/2005 .......105 ........3.................103 4................104 4............ Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 .......2...............................................18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4...

....1.............. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal .......... 29 .............19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.............

. Bagan analisis data kualitatif .........................20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3....... 98 ...............1.............

............................... Hasil Wawancara ..............................167 2.................... Permohonan Ijin Penelitian .....169 4................... Pedoman Wawancara ............175 5............................214 8................................................................................168 3...............207 6................................................................................................... Hasil Dokumentasi ............ Surat Keterangan Penelitian ........... Lembar Penilaian ........................................... Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ..... Pedoman Kurikulum .......................................................215 .........21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1............213 7...................................................

selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional. Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan. tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan. tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. dan/atau kelainan perilaku.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. 72 Tahun 1991.” . 20 Tahun 2003.22 BAB I PENDAHULUAN A.

ketidak teraturan hormonal. tingkat kecerdasan (IQ). terburu-buru. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus. perkembangan otak saat perinatal. Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah. listen and think’ (Abikoff. sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. look. lingkungan fisik. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu. terjadinya disfungsi metabolisme. antara lain adalah hiperaktif. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. perkembangan otak saat kehamilan. dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas.23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. 1987). . tidak bisa duduk dengan tenang.

National Institute of Mental Health (2003). dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: . Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. Data dari NIMH (2001). Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak. menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak. problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). tidak dapat duduk dengan tenang. Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi. bergerak tanpa arah dan tujuan. yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah.24 James M. hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa. Perrin dkk.

gangguan hubungan personal. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. salah satunya adalah dengan terapi. Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. 4.25 1. Diperkirakan diderita 4. padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata. demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya. gangguan kecemasan. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. 3.1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. 5. 2. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita. .

namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif. energi. sedang. Amerika Serikat. dan berat). .. tidak lepas dari penggunaan media. guru. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Berdasarkan uraian di atas. Walaupun dibutuhkan kesabaran. sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak.26 Menurut penelitian di Virginia University. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. terutama media visual. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya. Untuk itu peran pendidik (orang tua. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran.

yaitu sebagai berikut: 1. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. 1993:27). Melalui media visual. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. (KBBI. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. lebih sempurna (Depdikbud. Penggunaan Secara harfiah. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu. Media ini dapat berupa: media bentuk papan. Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah. C. . timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. 1989:569). 1999:569) 2. Permasalahan Dari uraian diatas. penggunaan dapat diartikan proses. cara.27 B. diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa.

Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. salah satunya adalah anak hiperaktif. Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK. (b) bahan pengajaran. 5. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga. Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar. Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik. Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus. Org. Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan. 1999:8). 4. 1996:10). Kids Health. .28 3. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. D.

Berdasarkan uraian di atas. (d) penilaian pengajaran. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya. 2. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. 3. Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. . Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif. Di dalam pembelajaran. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar.29 (c) metodologi pengajaran. guru. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut. Pentingnya peran pendidik (orang tua. khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba.

maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan. Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus.30 E. pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja. F. Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan. 2. Merancang materi pembelajaran. Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar). dengan menggunakan G. sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa. maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1.

Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif. I. 2. Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya. Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. berisi: . 3. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini.31 1. yaitu: 1. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. H. 3. 2. 4. Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran.

Teknik Pengumpulan Data. berisi: BAB I. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. Halaman Pernyataan. Bagian Isi Skripsi. Istilah. Halaman Pengesahan. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. Halaman Motto dan Persembahan. Daftar Tabel. Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. BAB V. BAB II. Kata Pengantar. Anak Hiperaktif. Pembatasan Penegasan Permasalahan. Halaman Persetujuan Pembimbing. Penelitian. Permasalahan. Media Pembelajaran. Daftar Isi. berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. Abstrak.32 Halaman Judul. Identifikasi Permasalahan. dan Teknik Analisis Data. Latar dan Sasaran Penelitian. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi. Tujuan Rumusan Permasalahan. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan. BAB III. Daftar Gambar. . dan Daftar Lampiran.

Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan. bersifat positif serta bertujuan dan berarah.169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pembelajaran 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar. sikap dan tingkah laku ketrampilan. bersifat kontinyu. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar. kebiasaan. Artinya. ketrampilan maupun sikap. . bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. pemahaman. tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. kecakapan. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11). baik yang menyangkut pengetahuan.

maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. pengalaman. kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya. meniru dan lain sebagainya. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. Dari ketiga definisi di atas. to imitate. to try something themselves. c. . Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. to listen. latihan dan bukan secara kebetulan. Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. positif. mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a. mengamati. berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. mendengarkan. Juga belajar itu akan lebih baik. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. jadi tidak bersifat verbalistik. afektif dan psikomotor. to follow direction”. b. to read. Geoch.

sikap. . dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan. yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. ketrampilan. yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. penguasaan diri. (Tim MKDK. menguasai metode mengajar. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. Guru berfungsi sebagai fasilitator. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. mampu melakukan evaluasi belajar dll. Ia harus menguasai materi.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. 1996:10). Menurut para pakar pendidikan. kebiasaan. dan sikap. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran.

Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Tingkah laku itu meliputi pengetahuan. ketrampilan. c. . baik kuantitas maupun kualitas. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. baik secara fisik maupun psikologis. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a.172 2. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. 3. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. e. d. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. b. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. f.

yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. 1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 5.173 4. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa). a. alat bantu pembelajaran. Faktor internal. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses . dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. suasana pembelajaran. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri.

dan faktor waktu. c. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. d. e. Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. 6. b. daya ingat dan daya konsentrasi. b. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru.174 belajar. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal. faktor lingkungan sekolah. . Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. faktor lingkungan masyarakat. kemauan/minat. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. bakat.

Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. 2002:19). Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna. . Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. 2002: 6). Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. Media Pembelajaran 1. artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media.175 B.

Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. 2. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman.176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. perasaan. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. dilihat. didengar dan dibaca. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. memudahkan penafsiran data. dan memadatkan informasi. Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. menyajikan dengan menarik dan terpercaya. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Media hendaknya dapat dimanipulasi. .

Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. Pengajaran bisa lebih menarik. g. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik.177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. f. spesifik dan jelas. d. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. b. . Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. c. h. umpan balik dan penguatan. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.

i. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa. e. f. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. . d. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. b. h. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. c. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. j. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. g.

tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati. d. d. dan lain-lain. oleh karena itu mengurangi verbalisme. apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. b. mendemonstrasikan. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. memerankan. melakukan. oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c. yaitu: a. b. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Memperbesar perhatian siswa. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. Metode mengajar akan lebih bervariasi. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. . Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. c.

radio. slide disamping secara verbal. dan waktu. realita. c. foto. maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. ruang. Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. terutama melalui gambar hidup. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. film. atau model. . atau gambar. film. foto. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. b. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. g. slide. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. slide.180 e. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. film. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. f. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya.

Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. video. 1993:3) a. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. dan video. atau komputer. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. film. masyarakat. . Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. slide. slide. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. 3. b. gambar. atau simulasi komputer. Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer. d. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru.

182 c. jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik. d. f. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. detail kurang bisa dipahami). besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut. c. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. 4. Sumber belajar bagi siswa. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. . Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. pendekatan terhadap pokok masalah. b. direncanakan untuk perorangan atau kelompok. apakah ada pengganti yang relevan. Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. e.

183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. 5. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran. persoalan media dan sumber sangat penting. Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa. . tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media. Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil. yang mungkin mereka hadapi kelak. tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran).

gangguan perhatian. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. c. Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru. d. aktifitas yang berlebihan. . b. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. Anak Hiperaktif 1. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. membangkang dan destruktif yang menetap. pengasuhan dan penanganan secara khusus.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a. Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru. C. atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. Terbatasnya sumber pengajaran. dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. suka membuat keributan. perasaan yang meletup-letup.

tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya. Sering kurang memperhatikan. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. mudah marah. gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. kurang sopan. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. tidak bisa duduk dengan tenang. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: . guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah.185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya.

melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan.1. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a. 2. Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif .186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. tidak dapat . anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya.

Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. tidak bisa tetap duduk. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. c. Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’. selalu bergerak (melompat berlebihan). Seperti: tidak bisa duduk tenang. sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya. Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan).187 konsentrasi. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. Di lain pihak. mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. perlu banyak pengawasan. Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. gelisah (juga dalam tidur). kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal. baik aktivitas secara motoris maupun verbal. . Sering. b.

guru atau teman-temannya merasa khawatir. sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. emosinya menjadi mudah terangsang. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. tetapi tidak mampu mengendalikan diri. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya. 2000:138). Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. kemampuan belajar lemah. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua.188 3. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. misalnya: “m” dengan “w”. Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. kurang kendali diri. Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan. susah bergaul. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. antara lain: a. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. .

bulu. kedelai. debu dan bahan kosmetik. suka merusak. c. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. seperti berolah raga atau lompat tali. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. telor ayam. seperti: coklat. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. . daging.. misalnya bila disuruh menulis. tidak sabar menunggu. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia. dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. gula dan gandum. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. obat. bila berbaris selalu berebutan. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. dan emosional. babi.189 b. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. mengigau atau mengompol. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. mewarnai atau menggambar. jagung. kadang begitu senang dan ceria. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. kurang sabar. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. susu. tidak takut bahaya. suka berteriak dan ribut. bermain kasar. semangatnya kuat.

masuk ke kamar orang lain. seperti Ritalin. obat-obat di atas adalah obat penggiat. Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. 2000:139). obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. Namun. Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. Dekedrine. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. tidak mengembalikan barang yang dipinjam. Apabila orang yang normal menggunakannya. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. yang mengaktifkan bagian- . Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita. mencela pembicaraan orang.190 d. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif. Penggiat sistem saraf pusat. Misalnya. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. atau Cylert. antara lain: a. Sebaliknya.

ia tidak berhasil. kontrolnya setara dengan “motor”nya. Penampilannya buruk. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. Maka. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya. Pada umumnya. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan . Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak. Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. Dengan kata lain. tidak dapat konsentrasi. obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak. Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. ia tidak pernah menerima informasi. Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas.191 bagian badan tertentu. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama.

Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. Kalau ini terjadi. anak itu mungkin hiperaktif. Akhir-akhir ini.192 menampakkan perbaikan positif. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. Kalau terjadi. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak. . Kalau ini terjadi. 2) Tidak terjadi apa-apa. b. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan. Anak tidak menampakkan perubahan apa pun. 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. tetapi tidak menerima cukup obat. hubungilah dokter. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif.3 dan 4. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). Selama mengobati anak. Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. Kalau ini terjadi. dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV. dosis obat itu ditambah. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat. Maka jika terjadi reaksi 2.

Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. . makanan itu harus dihentikan. dapat ditambahkan jenis makanan lain. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. jeruk manis. dikalengkan. mentimun. dikeringkan. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. dibekukan. kismis. nektarin. Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). persik.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. tomat. ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran. murbei hitam. aberikos. ceri. murbei. anggur. makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu.

194 Dr. Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. 6) Dalam beberapa hal. diberi warna atau diawetkan. diproses. Smith Dr. Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas. dibakukan. diemulsikan. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu. Pendekatan Gizi Dr. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . Kalau meragukan. Namun. lebih baik jangan disantap. Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet. Disamping diet umum ini. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. 5) Kalau nampak ada perbaikan. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. ditambahai.

buncis. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. kacangkacangan. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak. air tebu. keju putih. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.195 diperkenankan. d. jagung. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. daging ayam. buah-buahan mentah. 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. tepung putih. diktator atau berhati baja. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. Hindarkan pemanjaan. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya. sirup. keras. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. . dan miju-miju). ikan. madu. dalam jumlah kecil. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. telur. gula tebu. es krim yang diperdagangkan. gandum yang dibungkus. misalnya: di kamar atau di ruang bermain. susu pasterisasi. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). c. sayur mayur (seperti kacang panjang. Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut).

f.196 e. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. terapi wicara. walaupun harus dilakukan berulang-ulang. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. terapi konsentrasi. Terapi perilaku. g. 1994:158). Bila orang tua tidak putus asa. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. 4. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. maka itu akan mengurangi keonaran. . Oleh sebab itu. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. Memang dibutuhkan kesabaran. namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. energi dan biaya yang tidak sedikit. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan.

dan belajar. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal. sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. orang tua. Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. Whalen & Henker. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial). walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. Selanjutnya. Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran. guru. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. pemecahan masalah. dokter dan psikologi. Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. Dengan pengobatan.197 a. Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif. Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak.

mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal). pemikiran dan tindakannya sendiri. 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa. dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif. terutama orang tua. karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. Selama terapi. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions).198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk. Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. Self-instruction training. . Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). . b. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. yaitu : a. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. dan diagram. artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. untuk itu harus jelas dan terang. c. bagan. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. kalau mungkin gerakan gambar. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar.. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca. karton. Visual tidak boleh meragukan.

. Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f. pikirkan atau katakan. khususnya diagram. kemiskinan. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. n. m. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. g. l. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas.204 d. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. e. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual. Visual. seperti lumpur. Hindari visual yang tak berimbang. Warna harus digunakan secara realistik. tempat atau obyek. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. memberi nama orang. k. h. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. i. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan.

Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. Bahan-bahan grafis. Elemen- . Bentuk. garis. dan keseimbangan. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. seperti majalah. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. informasi. ruang. antara lain prinsip kesederhanaan. Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. Tataan dapat dimengerti. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. keterpaduan. chart. tekstur. seperti foto. Sementara itu. iklan-iklan. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. papan informasi. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. gambar/ilustrasi. bagan. dibaca. sketsa/gambar garis. penekanan. grafik. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual.

perspektif. Oleh karena itu.206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian. Dengan menggunakan ukuran. . seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. hubungan-hubungan. warna. informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan.

yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. kuning. dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan. Disamping itu. foto. (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). dan sebagainya). Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna. . biru. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. menunjukkan persamaan dan perbedaan. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. gambar chart berseri (flipchart). tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. atau untuk membangun keterpaduan. 5.207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. dan menciptakan respons emosional tertentu. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan.

2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri . Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. 4) Semua guru bisa membuatnya. diagram. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang. angka. grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. tabel. Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan.208 a. Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. . atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio. 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis.

Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. mempercepat proses yang memakan waktu lama. b. 5) Perlu ketrampilan menggambar. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. memperbesar ukuran yang kecil. rengat. Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. . sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya. memperlama proses yang cepat dan sebagainya). 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan.209 5) Bisa mengatasi ruang. 6) Bisa memperjelas masalah. 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. 2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu. luka dan sobek). lembab.

kongkret. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. c. ilustrasi. Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. dramatisasi. majalah-majalah. waktu dan ukuran. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. akurat. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga. realistis. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. bacaan. berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. Gambar. kegiatan seni. alamiah. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. misalnya dari surat-surat kabar.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber. . lukisan. penulisan. brosur-brosur dan buku-buku. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. kartun. dimensi/skala benar dan akurat. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Foto dapat membatasi ruang. menulis dan menggambar.

sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu. pewarnaan yang efektif. mengembangkan kemampuan siswa berbahasa. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. kualitas artistik. Selanjutnya. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan. kejelasan dan ukuran yang memadai.211 Sebagai media pengajaran. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. Foto harus jelas . atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. misalnya. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. validitas. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. dan menarik. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. foto dapat digunakan dengan efektif.

karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa. Dengan memanfaatkan kalender bekas. majalah. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. boneka dan mainan. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. Namun demikian.” Disamping itu. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya. foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar. dan lain-lain. dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. kereta api.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya. . 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya.

beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar. dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek. Namun demikian. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua. Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan. . dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal. sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Menurut Edgar Dale. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu.

segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak. validitas serta menarik. memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran. bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai. Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. kejelasan dan ukuran yang cukup. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. . Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. kualitas artistik. 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran.

berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar. 2) Pewarnaan yang efektif. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda.215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik. pewarnaan yang bagus. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan. dan alamiah misalnya merah. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. misi. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. bayangan serta pewarnaan. Dalam pada itu.. . untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. biru. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu. Kedua. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. kedudukan dan arah garisgaris. pemakaian cahaya.

misalnya binatang-binatang. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. Ketiga. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan. karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam. antara lain: . kapal terbang dan sebagainya. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas.216 hijau dan violet. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. perahu. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. anakanak. adegan yang ideal. kereta api. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. validitas gambar. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa. Keempat. lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran.

sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan. 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. atau dalam menyajikan gagasan baru. akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif. lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal. oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. Keterampilan jenis . 5) Mendorong pernyataan yang kreatif.

Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar. bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. . kayu. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. d. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun.218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu.

menggambar. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. mengembangkan kreativitas. bentuk dan ukuran.E. Misalnya kertas. Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. bentuk. arah. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego. ukuran. koordinasi mata dengan tangan. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna. anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran. ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya. besaran dan lain-lain. mengisi waktu luang. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep .219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan.P. Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna. Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar. kayu dan sebagainya. Melalui kegiatan bermain dengan A. plastik. konsentrasi (pemusatan perhatian).

di bawah. Misalnya. 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. oval dan sebagainya). 5) Papan-papan pasak. posisi benda (di atas. jumlah. sekaligus melatih motorik halus. segi empat. bentuk dan ukuran. Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. segi tiga. bintang. yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja. belajar hukum sebab akibat. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu. dan di samping). anak diminta menyatukan kembali.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar. segi empat. 6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . warna. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). segi tiga dan segi enam. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna.

bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya. ketekunan. alat permainan LASY. dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. 10) Berbagai macam miniatur binatang. Misalnya: main rumah-rumahan. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. sejenis atau sama. melatih ketrampilan motorik halus. Kalau ia berhasil. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). misalnya balok meja. orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak. akan menimbulkan rasa puas. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. daya tahan. polisi dan penjahat. melatih konsentrasi. jadi batman atau kesatria baja hitam. . 12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. yaitu untuk mengembangkan kreativitas. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. Dengan alat permainan tersebut. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif).

Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. Kita bisa . 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas. lalu potong. Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. 2) Foto-foto berpasangan. pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto.

6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. saya berwarna kuning. Untuk anak yang lebih kecil.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut. saya rasanya asam. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. Misalnya: saya buah. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. Untuk buku atau kartu permainan. gambar . atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama. bantulah si kecil menentukan obyeknya. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet. Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. dan beri tiga atau empat petunjuk. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan.

lubangi pusat lingkaran itu. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang. Lalu. di ujung benang tadi. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton.224 merupakan suatu pesan. setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya. Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai. 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. dan anak panah bisa diputar. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. Setelah selesai. letakkan di atas lingkaran. sehingga posisinya seperti jarum jam. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. Meski hasil guntingannya tidak rapi.

Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus. Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya. (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Tanyakan pada anak. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil. 2) Kwartet angka. Kumpulkan bermacammacam benda.

Setelah itu. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. Lalu. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . atau menjadi persegi panjang. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. pada empat lembar kertas yang berbeda. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. 3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. Perkenalkanlah semua uang jenis logam. Siapkan beberapa tusuk gigi. 5) Menjiplak uang logam. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon. Misalnya. empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda.

suku kata. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat. kata. b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. b) Belajar menyusun kalimat. suku kata.227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya. c) Melatih kesabaran anak. serta kombinasinya. yang dilakukan oleh anak sendiri. 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. kata. dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan. .

d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran . putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. kuning. jingga. nila. ungu. hijau. biru.228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah.

buah nanas.229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon. alas pohon. masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua. buah kecil. . 6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka. dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga. daun dan sebagainya.

pensil-buku.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. raket-kok. meja-kursi. c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan. 10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar. penggorengan-sodet. papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . tatakan-cangkir. Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. sendok-garpu. rok-baju. kaos kaki-sepatu.

14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) . kuning dan coklat.231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna. merah. hijau. kuning dan biru.

jingga. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. biru.kuning. jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik. kuning. Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu. biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu.232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah. ungu. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton. hijau. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali. hijau. .

Alat ini bersifat self corrective. Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya. dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam. Tiap kartu terdiri dari dua bagian. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. Agar ikan dapat dikail. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. 4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata.233 2) Gambar penghubung. jika benar ikan boleh ditahan. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya. ikatkan sebuah magnet kecil. . ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan. Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu.

234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman. tidak menghiraukan gambar. Ia menyusun kata atas strukturnya. Tugas anak adalah menyusun kata. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian. Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf. kata disusunnya menurut gambar. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang. Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. Bagi anak yang lambat. dsb . 2) Satu set mainan kwartet. Sedangkan anak yang telah maju. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat.

dibungkus dengan kain dril. . Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. au dll. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. Lemari ini diberikan sebuah dasar. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. anak membaca dari atas ke bawah. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak. tiap laci diberi manyi. Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai. dibuat dari karton. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. agar kuat dan awet. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata. Justru disinilah terletak kemajuan anak. 5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja.235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. e. ai.

236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. 9) Teknik strip story. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata. Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm. yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata. ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat . anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. Setelah pekerjaan selesai. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama. saling membantu dan mengoreksi.

237 E. dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b. dan . Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih. Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. yaitu: a. Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. Kemampuan dasar bina diri. Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a. Kemampuan dasar kognitif b. Kurikulum SLB Tuna Rungu e. serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. dengan modifikasi. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi. Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. Kurikulum Sekolah Dasar d. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini).

2. sehingga anak dapat menangkap pesan. atau dengan kata “tidak”).238 d. Stimuli dari guru agar anak berespons b. dan matematika (berhitung). Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. Respon anak c. Konsekwensi d. Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. menulis. meliputi kemampuan: membaca. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik. hukuman. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. yaitu: a. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan.

dan kartu gambar c. gambar huruf. terutama media visual (gambar). gambar warna. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. meliputi: 1) Identifikasi Benda a. gambar bentuk. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b. Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak .239 tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . gambar angka dan gambar kata kerja. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.

Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. kartu huruf. benda berwarna. dan beri reinforcer (hadiah/pujian). Kurangi sedikit . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. dan berbagai bentuk. 2) Mencocokkan (Matching) a. Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. 3) Identifikasi warna a. c.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. kartu angka. b. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar.

4) Identifikasi Bentuk a. Katakan “Bentuk apa (ini)?”. Kurangi sedikit demi . Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Katakan “Warna apa (ini)?”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.

Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. 6) Identifikasi angka a. Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Proses/Prosedur pembelajaran: . 5) Identifikasi huruf a. Katakan “Huruf apa (ini)?”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.

Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja. 7) Identifikasi kata kerja a. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”.

Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan . Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga.244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). Katakan “Gambar apa (ini)?”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. 3.

Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program. . maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak. Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung. c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh.245 konkrit. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak.

Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar). penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. 2000:5). pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data . pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. kreativitas. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong. Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif. 2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan. Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan.246 BAB III METODE PENELITIAN A.

diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. Untuk memperoleh data perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait. Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). untuk menyaring data tentang perencanaan. berkenaan dengan informasi . Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus.247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya.

Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. B.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual . latar penelitian ditentukan secara purposif. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dengan mempertimbangkan hal ini. Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas.

pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. 1996:66). observasi partisipan dan dokumentasi. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar). Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian. pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. Secara khusus. materi pendidikan. . Kedua. Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian. Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. 2. karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). wawancara mendalam.249 (gambar). pola komunikasi siswa. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). C. Ketiga. yang meliputi bangunan fisik sekolah. alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. 1.

Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam. yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan. maka dibuat suatu pedoman wawancara. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. 2001:135). . pengetahuan tentang proses belajar mengajar. Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). perencanaan. Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya.250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar).

2001:126). Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain. sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan. Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian. . Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian. Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci. 3. 1996:60). terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. pengalaman dan wawasan yang cukup luas. selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif.251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua.

Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran. Berkaitan dengan penelitian ini. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid. 4.252 Dalam mengumpulkan informasi. maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. 2001:161). Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi. . dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. yaitu setting latar. berkaitan dengan berdirinya. pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran.

difokuskan pada hal yang penting. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. dan dicari tema atau polanya. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. kategori dan satu uraian dasar. dirangkum.253 D. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi. menganalisis. Analisis data dilakukan secara induktif. . mengorganisasikannya kedalam suatu pola. mempelajari. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan. menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. dipilih hal-hal yang pokok. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data.

2000:19). persamaan.254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. kekokohannya dan kecocokannya. diagram. halhal yang sering muncul. . Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. chart network. grafik. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula. misalnya gambar. model. hubungan. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. matrik. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi. tema. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. hipotesis dan sebagainya. Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan.

. Analisis Data Kualitatif. Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data.1. Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3.

Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. .256 E. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang. Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan. 2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). kegiatan ketika proses belajar berlangsung. Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi. maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang. bahan belajar.

257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dari kegiatan ini. sebagai latar dalam penelitian ini. (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan. sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder).. maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain. . Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya.

Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus. 06 / RW. dan kurang stimulasi. Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam). Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. b. retardasi mental (idiot).258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian a. down sindrome. c. microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). 07 No. speech delayed (terlambat bicara). dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. gangguan konsentrasi. hiperaktif. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. 259 Gebog Kudus. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. . IQ rendah. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi. seperti autisme.

259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. dokter spesialis syaraf. dlsb. 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. . Siswa. 1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. d. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. 2004). meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Keadaan Guru. dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis.

00 – 10.00 WIB .00 – 17. Alvin dan Galih Terapis 4.2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. Andi Kumala. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10.00 – 15. Mikail Hima. 6. Sari Naja. dan Fahmi Qoulani Terapis 5. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3.260 Tabel 4. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. 2.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. 7.1. Purwati Dimas. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1.00 – 12.

Kds Langgar Dalam. 12. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. NAMA ALAMAT KEL. 8. 13. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. Kds Gebog. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. 4. 5. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. Kds Mejobo. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. 10. 2. 11. Kds Mejobo. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. 3.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini. Kds Bae. Andy Kumala Ferdinan Troy M.2. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. Kds Gebog. Adinda Ayu Ditya Gebog. Jpr Kudus Kota Pati Loram. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. 9. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. Kds Besito. 7. Kds Pr 5 th Down Sindrome . Kds Bae. Mejobo. Tabel 4. Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong.

3. 6. 4. Kds Gebog. . Fachrul Meka Firanita Martika Besito. Kds Langgar dalam. Kds Besito. NAMA KEL. Kds Bae. 20. Kds Prambatan. 23.262 15. 18. Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. 19. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. 17. 5. 22. Kds Jepara Langgar dalam. Kds Gebog. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. 3. 24. Kds Gebog. 16. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. Data Siswa Hiperaktif NO 1. 21. 2. yakni sebagai berikut: Tabel 4.

hiperaktif. balok kayu dlsb. Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. speech delayed. seperti gambar angka. gambar sayur-sayuran. gambar benda-benda disekitar kita. Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. papan planel. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar. maupun media pembelajaran seperti papan tulis. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). gambar huruf. buku-buku cerita. . disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. gambar alat transpotasi.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. gambar binatang. down sindrome dan gangguan lainnya. gambar warna. buku-buku pelajaran. gambar buah-buahan. Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle.

maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi. wawancara dan dokumentasi. Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. . 2. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder.264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. yaitu kepala terapi. kamera. data dari hasil observasi. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. wawancara dan dokumentasi. berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. wawancara dan dokumentasi.

sehingga anak dapat menangkap pesan. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh. (Ibu Nh.265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. Ed. Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. Ut. Nr. Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. (Ibu Nh. manajemen keuangan. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan . 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . 6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya. Yl.pembelajaran satu guru satu murid). penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Pr.

4. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif. ketelatenan. ventilasi dan penerangan yang cukup). Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. (Ibu Nh. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. 2. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain.266 menggunakan media visual (gambar-gambar). . b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. alat-alat belajar. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif.

16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. “bola” dan “merah”. Setelah . Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. (Ibu Nh. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. dapat menarik perhatian siswa. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan.267 5. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. keuletan. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. ketelatenan. Setelah kemampuan tersebut dikuasai. (lamp) (Ibu Nh.

Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya. dan waktu. supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. Orang tua pun dituntut konsisten . Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal. tetap dalam bersikap. ruang. bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang. Konsisten bagi guru pembimbing berarti. maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan). b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif.268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). Namun. c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi.

binatang. 17) Sarana belajar sangat diperlukan. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . program pendidikan dan pelaksanaannya. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). huruf dan angka. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran.269 dalam pendidikan bagi anaknya. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. (Ibu Nh. Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. bentuk. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. benda-benda sekitar. yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. buah. Kesimpulannya. terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan. kendaraan.

dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. mewarna. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. padat dan konsisten. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. menggunting. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. (Ibu Nh. dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. instruksi yang jelas. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dengan alat visual/gambar/kartu. tali. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola.

Mengendalikan perilaku anak dikelas 3.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini. Menjembatani instruksi guru dan anak 2. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5. 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. (Ibu Nh. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4.

disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. metode. 22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. (Ibu Nh. kurikulum. Berat-ringannya kelainan/gejala 2. sekolah dan masyarakat). Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5. Usia pada saat diagnosis 3.272 bermasalah pada saat diperlukan. Kecerdasan/IQ 6. sarana pendidikan. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis. lingkungan (keluarga. yaitu: 1. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu . Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7.

Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat. tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif. 21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh.

tentunya ini harus dengan prompt. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi. karena .274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr. Kalau Anis. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita.

Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr). Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. Pegang kedua tangannya dengan lembut. harus diulang-ulang. Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. kemudian ajaklah untuk duduk diam. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran. alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. walaupun sebenarnya anak itu . baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Setelah bisa duduk lebih lama.

jelas. buah-buahan.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. binatang. Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah. tegas. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. lalu kita tingkatkan tahap demi . alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar. (Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. diluar rumah. membaca (mengenal huruf). mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle.

Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. (Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. apalagi jika gambar-gambar itu berwarna. tetapi harus satu terlebih dahulu.277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. sulit memperhatikan. (Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai . Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak.

walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. (Ibu Yl) . Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. (Ibu Ed).278 ditangani. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. putih menjadi uti. dia bisa mengikuti dengan baik. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga.

Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi.(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara. perilakunya. Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter. walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi. biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya. . baik itu di tempat terapi maupun dirumah. Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya.(Ibu Ut). kontak matanya. Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut). manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri.279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun.

Setelah dibaca. hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. Nr dan Ut). 1998: 103). menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr). B. Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. foto. Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri. biografi.280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara. artikel dan sebagainya (Moleong. gambar. . dokumen berupa laporan. Yl. Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). Ed. Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. catatan lapangan dan komentar peneliti. Pr.

kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp). dan tidak mampuannya. Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. Setelah pemrosesan satuan (unityzing). serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1. Kategori perencanaan. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi. Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu. . usia anak. langkah selanjutnya adalah analisis data.

Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. alat-alat belajar. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang .282 2. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. ventilasi dan penerangan yang cukup). Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang.

Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). sehingga anak dapat menangkap pesan. Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. sehingga anak dapat menangkap pesan.pembelajaran satu guru satu murid). informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . anak akan jadi lebih tertarik untuk .283 “sesuatu”. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif. dan dengan gambar-gambar yang berwarna. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif.

. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). dan berbagai bentuk. terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu.284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan. 2. tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. benda berwarna. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dan kartu gambar. kartu huruf. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). kartu angka. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda.

Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak .285 3. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Identifikasi kata kerja. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5.

sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. applaus. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan. Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer. tepuk tangan dan acungan jempol. bukannya ditertawakan karena lucu. Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. bisa berupa imbalan/hadiah. antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. .286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”.

Sedangkan berdasarkan hasil observasi.. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. . tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. Setelah bisa duduk lebih lama. kemudian ajaklah untuk duduk diam. Pegang kedua tangannya dengan lembut. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming.

. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. hemat kata dan hemat gerakan. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”.288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang.

Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. Apabila dalam pembelajaran. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming. . tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. kemudian diajak untuk duduk diam. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Dalam identifikasi kata kerja. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. melepas sepatu. yaitu: 1. .. 2. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). 3. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru.290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan. dlsb). tetapi diluar jangkauan anak. Jika anak meminta benda tersebut. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). menggosok gigi.

dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. Hal ini dapat . Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.291 3. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah.

maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. gambar sayuran dan alat transportasi. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching binatang. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A . Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching buahbuahan dan matching sayuran. gambar buah-buahan. matching huruf besar.292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+. matching bentuk. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). 3. 2.

kotak. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. .293 4. oval. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. 5. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. wajik. segitiga.

P+. matching binatang.294 Galih 1. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. 2. matching huruf besar. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan . Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching bentuk. alat transportasi. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. gambar buah-buahan. Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa. P++ dan sampai mendapatkan nilai A.

3. kotak. untuk angka 1. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.4.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang.9. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ . wajik. 3.6. segitiga.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.2. oval.7.

7. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A .296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. membaca. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. meniup harmonika dlsb. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2. lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. Ferdinan Troy 1.

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. kotak menjadi otak dlsb. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. putih menjadi uti. seperti biru menjadi bi u.301 5. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang. akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. 7. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. .

302 Martika 1. matching binatang. 3. bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. wajik. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. segitiga. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. kotak. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. . 2. oval. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. angsa. matching huruf besar. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+. matching bentuk.

Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.303 5. dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. Dari hasil wawancara diatas. . Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.

Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih. usia anak. 1. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan.304 C. Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. 1992:200) . pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak. dan tidak mampuannya. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. (Bryn.

alatalat belajar. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid. yang memudahkan beralih perhatian. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster.305 2. Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis. ventilasi dan penerangan yang cukup). penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang. Misalnya.

Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . terutama media visual (gambar). Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan. sehingga anak dapat menangkap pesan. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar.306 konsentrasi. Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. setiap kali dimulai dengan tiga menit. Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu. Misal. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Itu sudah bagus. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya). Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. lalu ditambah menjadi empat menit dst. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Bila latihan ini dilakukan secara intensif.

Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. alat-alat dapur. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. dan kartu gambar. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. perkakas rumah. . Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1. Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. bisa berupa kuartet buah-buahan. binatang. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat. seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. 1986:259). dan sebagainya. tumbuh-tumbuhan.

Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. kartu angka. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. benda berwarna. kartu huruf. dengan berusaha menenangkan mereka. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak. Identifikasi kata kerja. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. 3. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. kemudian diajak untuk duduk diam. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar.308 2. dan berbagai bentuk. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.

work while you work.” Artinya.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar. and study while you study. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong.309 konsentrasi si anak. dan bisa duduk lebih lama. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. (75). jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. “Waktu bermain bermainlah.

Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). hemat kata dan hemat gerakan. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. yaitu: . Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Sebaliknya. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. (Fontenelle. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku.310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan.

Jika anak meminta benda tersebut. 6. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. tetapi diluar jangkauan anak. 5. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna.. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. menggosok gigi. melepas sepatu. dlsb). Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Apabila dalam pembelajaran.311 4. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada . Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. Dalam identifikasi kata kerja.

bukan penyuapan. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. senyuman. . karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. teladan dan contoh. Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar. ganjaran. (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). pelukan atau beberapa patah kata. Alat itu antara lain: pujian. Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. hukuman. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. hadiah. Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas. sentuhan.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa . hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. bukannya ditertawakan karena lucu. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. suasana sekitar. biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul.

Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . Inilah yang dimaksud dengan disiplin. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”. dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima. cukup kita katakan “ya”. Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming.

Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian.” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. . Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian).. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif . Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. 3.Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.

. Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. alat transportasi. matching huruf besar. gambar buah-buahan. 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching bentuk. matching binatang. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan. yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan).316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar.

huruf “s” sebagai “es”. menulis itu pekerjaan yang sukar. yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi.317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. Ia sukar . Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit. Tulisan tangannya biasanya jelek. kotak. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. wajik. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca. oval. bukan dengan bunyinya. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. dan seterusnya. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad. Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”. Bagi anak ini. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. huruf “e” sebagai “e”. Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. segitiga. maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata.

lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. kotak menjadi otak dlsb. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. tetapi makin lama makin jelek. ditengah. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan. ia “lambat” dalam menulis.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. meniup harmonika dlsb. 7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. putih menjadi uti. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8. . anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. membaca. Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis.

penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. identifikasi warna. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. identifikasi angka. Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. dan identifikasi kata kerja. 2. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. mencocokkan (matching). Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. . sehingga anak dapat menangkap pesan. identifikasi huruf. identifikasi bentuk. Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.

pelaksanaan dan evaluasi. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. kognitif. . Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4. Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan. afektif dan psikomotorik pada anak. 3. maka disarankan sebagai berikut: 1. 2. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. B.320 3. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini.

Tarsito Bandung. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 1993. Tingkah Laku Abnormal. 1992. Jakarta: Rineka Cipta. Belajar Secara Efektif. Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Jakarta: Gunung Mulia. Thursan. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif. Arsyad. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Media Pembelajaran. 1997. Azhar. 2000. 1996. Suharsimi. Jakarta: Raja Grafindo. Suharsimi. Syaiful Bahri dan Zain. Strategi Belajar Mengajar. 2002. Jakarta: Gunung Mulia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 1996. Gunarsa. Daryanto. Singgih D. Jakarta: Puspa Swara. Aswan 2000. Jakarta: Bina Aksara Arikunto. Ahmad. Clerq. Teori-teori Belajar. . Media Visual untuk Pengajaran Teknik. 1991.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Badawi. Suharsimi. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah. Depdiknas. Jakarta: Grasindo. Don H. Fontenelle. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. Linda De. Wilis. 1985. Dahar. 1994. Jakarta: Erlangga. Hakim. 1986. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto. 2002.

Bryn. Mary Go. 2001. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Mengatasi Perilaku yang Buruk. John. Nur’aeni. Metodelogi Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Setiawani. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. Ahmad. Osman. Soemiarti. Jakarta: Gramedia. Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Ngatidriatun. 2003. Bandung: Angkasa . Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda. Lemah Belajar dan ADHD. 1990. 2002. Menerobos Dunia Anak. Soepartinah. Moleong. Sadiman. Patmonodewo. Arief. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah.322 Lask. Bagaimana Binarupa Aksara. 1996. 1981. Anak Masa Depan. 1997. Metodelogi Penelitian Kualitatif. 2000. Dian Retno. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. Sobur. Jakarta: Rohani. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. 2000. Lexy. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. Media Pendidikan. 1984. Betty B. Jakarta: Grasindo Pakasi. 1997. Pendidikan Anak Prasekolah. Alex. Media Instruksional Edukatif. 1986. 1989. Jakarta: Rineka Cipta. Pearce.

Anak yang Hiperaktif. Semarang. 2003. 1992. http//www. 2000.com. Ventura. 1998. Media Pengajaran. Mayke. Sunday School Smart Pages. 1988. Gospel Light. Kids Healt. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. 1997. http//www. http//www. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. Bandung: Sinar Baru. Jakarta: Graha Sucof. Edward T. Sudjana. Hal 65. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial. Mainan dan Permainan.com Tan dan Chan. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara. Yayasan Autisma Indonesia.323 Soemardji & Sutaryadi. Ahmad. Wes & Sheryl Haystead. 1999. . Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga. Jakarta: Primamedia Pustaka. 2004. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. Mary.google. UNS Surakarta. 2001. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia. 2000. Bermain. Sudjana. Mengatasi Problem Psikologi Balita. Taylor. Jakarta: Prestasi Pustaka. Nana dan Rivai. Eric. 1995. Org. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Weaver. Unika.com. 1994. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Jakarta: Puspa Swara.google. Unika.google.

3. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. Sebelumnya saya mau tanya. Melihat cerita anda tadi. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. 7. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. 8. 1. 6. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. .

SMP. SD. menurut anda? 23. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19. para guru/terapis dan siswanya? 24. lalu bagaimana hasilnya? 22. gedung/perlengkapannya. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar).325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? .

Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. 8. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif.326 4. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal.

Apakah disamping anak anda diterapi disini. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. meja kursi . Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4.327 17. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. 2. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. 5. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19.

setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya.328 15. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18. tentunya ini dengan bantuan para pengajar. . Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani. mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. T. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J.

00 – 15. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini. Di desain sih nggak. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. Psikiater anak.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. T. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J. Ada. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini. T. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J. dokter spesialis metabolitas. dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. dokter spesialis syaraf. Guru yang mengajar disini ada 6. dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dlsb. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus. T.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. diantaranya: Psikolog anak. Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J.00 – 12. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Dokter.00 – 10. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran. dan kebetulan mereka perempuan semua.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. Departemen Pendidikan Nasional. T. T. otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya. baik itu sebagai administrator. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J.329 T. Ada 5 kelas. fasilitator.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan .00 – 17.

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . lalu bagaimana hasilnya? J. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. T. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. dengan alat visual/gambar/kartu. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). Benar. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. padat dan konsisten. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. instruksi yang jelas.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. SMP. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. SD. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. T. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal.

dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala. dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. usia pada saat diagnosis. kecerdasan/IQ. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. T. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. kurangnya tenaga pengajar. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. para guru/terapis dan siswanya? J. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. menurut anda? J. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa. kurikulum. yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah. metode. kesehatan dan kestabilan emosi anak. gedung/perlengkapannya. sekolah dan masyarakat). sarana pendidikan. T. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) . tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. T. lingkungan (keluarga.

T. T. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. Ada. T.336 Ibu Purwati T. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. applaus. tegas dan bermakna. T. apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? . Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). tepuk tangan dan acungan jempol. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. sehingga ia autis dan hiperaktif. Disampaikan secara tegas. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. autis. T. Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan. hiperaktif dan gangguan konsentrasi.

Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. . T. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. T. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah. media itu berupa kertas. anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. terus dengan gambar-gambar yang berwarna. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. sulit memperhatikan. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. tetapi harus satu terlebih dahulu. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi.337 J. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. Ya. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. Ya. binatang. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. buah-buahan. diluar rumah. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran.

mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Ya. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. T. ciuman. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. Tidak. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda. T. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Ya. tetapi diganti dengan pujian. tepuk tangan. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. Tidak. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. tidak .338 T. Tidak ada. justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual. T. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. tahap demi tahap. semua anak disini disamping penanganan terapi.

Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif. T. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. Ya saya rasa sudah cukup berhasil. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih. . Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. T. Ada.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. jika tidak aktif apa yang dihasilkan. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda. T.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

. tentunya mainan edukatif T. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. Hanya saja kalau Anis. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. T. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya.344 J. T. Ada. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya. Ya. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. materi pembelajarannya. karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. tapi keduanya mudah diatur koq. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. siswanya dalam berkonsentrasi. Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas. Ya. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu.

Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. tepuk tangan. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Tidak ada. T. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak.345 T. T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. T. Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani. tetapi bisa diganti dengan pujian. T. Tergantung dari kondisi anak. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. ciuman. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. T. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Tidak.

mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Ya. kegiatan dapat dilanjutkan. tantrum dsb. tidak menyakiti diri. putih menjadi uti. Dan untuk . memberontak.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. Ada. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. tertawa tanpa sebab yang jelas. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. berteriak. mengamuk. Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. T. misalnya: menangis. Alhamdulillah cukup berhasil. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar. banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. destruktif. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik.

Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. Ya. Dari koran. sering. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah. T. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. kontak matanya. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. perilakunya. T. tidak ada yang dia tirukan. Ya. ada 3 T. Dari gerakan-gerakannya. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J.347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. T. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. Ya T. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. Sejak usia mendekati 2 tahun T. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter.5 tahun. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. V. dia mengoceh sendiri T. Punya. khususnya hiperaktif/autisma. Umur berapa anak anda diterapi disini? . T. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. T. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). kalau nggak salah usia 4. Anak pertama T.

alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. T. jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J.348 J. T. meja kursi . Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. T. T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Ada. Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami. anak cenderung lebih tidak konsentrasi. Ya. Ya tentu. Perubahannya memang sangat mencolok sekali. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J. Ya. T. Umur 4. T. berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya.5 tahun T. T. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik.

Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. jadi harus menghormatinya. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. T.349 J. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. Ya. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama. T. karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. Ya. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. T. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. ada 2 orang. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. sudah sembuh. T. VI. . Anak no. T. Tidak. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. Kurang lebih berumur 2 tahun. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. T. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja. T. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet.2 T. Ya. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Ibu Utami T.

Ya T. Ya. perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. meja kursi . Apakah disamping anak anda diterapi disini. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. Umur berapa anak anda diterapi disini? J. T. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . T. dan tidak seaktif dulu. Ya. Ya. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. T. T. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J.350 T. T. mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. Dulu sih tidak pernah. T. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. Umur 5 tahun T. T. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah.

Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. T. Kalau dengan teman sebaya sih enggak. T. Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. tidak di depan anak saya yang hiperaktif. tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J.351 J. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi. Ya. T. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

Mengikuti perintah sederhana (satutahap) . Kemampuan Bahasa Reseptif 1. Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1. 2. 3. 2. 3. 4. 4.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1.

4. Mencocokkan 2. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. 12. 11. 10. 14. huruf. 7. 3. 7. Kemampuan Bantu-diri 1. Benda dengan gambar Warna. 6. 3. Melepas baju 7. 10. 6. 9. 12. 8. Minum dari gelas 2. 5. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. orang lain. Melepas kaos kaki 5. 13. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. 11. 9. 5. 11. 13. Kemampuan Pre-Akademik 1. 2. 4. 12. bentuk. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. 5. 9. Melepas celana 6. 15. 10. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 14. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. 6. 8. Menggunakan serbet/tissue 8. 7. Melepas sepatu 4.358 2. Gambar-gambar yang identik . Benda-benda yang identik 3.

Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua). : ……………………………………………………………………. untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). Dapat juga digunakan kode misalnya APP.-. atau P+. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. atau A-.359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : ……………………………………………………………………. . 4. 3. Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. dinilai P. aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian. 2. tetapi harus konsisten). Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A.. P++. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). A. Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A... Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus. 1/lebih respons salah. Catatan : 1. : ……………………………………………………………………. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua.

kemudian imbalan. kemudian dengan instruksi #3 + prompot.360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->