TRAUMA BOLA MATA

I. TINJAUAN PUSTAKA Sebagai seorang klinisi umum, kita harus mampu memeriksa trauma bola mata dan orbita yang umum terjadi dan mampu menentukan apakah masalah tersebut membutuhkan perhatian yang lebih serius atau tidak. Dalam situasi seperti luka bakar kimia, kita harus mampu memberikan terapi ketika diperlukan.

Untuk mendapatkan tujuan ini kita harus: 1. Mengenali masalah mana yang penting untuk segera ditangani 2. Memperoleh riwayat penyakit yang menonjol 3. Memeriksa mata yang terkena trauma 4. Memeriksa ketajaman penglihatan seakurat mungkin 5. Menentukan kapan trauma tersebut harus ditangani atau dirujuk Kapan waktu yang tepat untuk memeriksa Pada umumnya pada trauma mata terdapat rasa nyeri dan mata kemerahan. Walaupun demikian, tidak semua trauma memiliki tanda seperti yang telah disebutkan tadi. Sebagai contoh, perforasi tajam mungkin hanya menimbulkan sedikit kemerahan pada mata dan tidak terlihat. Pemeriksa harus waspada terhadap trauma tembus yang disebabkan oleh pantulan kecil antara metal dengan metal. Benda asing intraokular tidak menghasilkan nyeri karena pada lensa, retina dan vitreus tidak terdapat ujung saraf yang menghantarkan sensasi nyeri. Jika kita sedang bertugas di pusat gawat darurat, kita akan dihadapkan dengan trauma okular tak terduga. Kemampuan kita dalam menghadapi trauma mata besar maupun kecil dapat membuat perbedaan dalam menyelamatkan penglihatan pasien. 1 Walaupun mata mempunyai system pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya reflex memejam dan mengedip, mata masih sering mendapatkan trauma dari dunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberi penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.
1

Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. 2 Trauma pada mata merupakan 34% dari seluruh kecelakaan kerja. Sebagian besar (84%) merupakan trauma kimia. Rasio frekuensi asam versus basa sebagai bahan penyebabnya pada trauma kimiawi bervariasi dari 1:1 sampai 1:4, berdasarkan beberapa penelitan. 1 Pada mata dapat terjadi trauma dalam bentuk-bentuk berikut: y y y y Trauma tumpul Trauma tembus bola mata Trauma kimia Trauma radiasi Trauma pada mata dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah atau menjadi gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan mata: kelopak, konjungtiva, kornea, uvea, lensa retina, papil saraf optic, dan orbita. 2

Anatomi Dan Fungsi Tulang orbita y y y Tepi tulang orbita melindungi bola mata dari pengaruh benturan objek yang besar Patah pada tepi tulang orbita biasanya tidak menimbulkan penurunan fungsi mata Dasar tulang orbita dapat µblow out¶ ke dalam sinus maxilaris akibat benturan tumpul, sebagai contoh akibat benturan bola tenis. y Patah pada medial tulang orbital dapat menyebabkan emfiema subcutan pada kelopak mata Kelopak mata y y Kelopak mata menutup secara reflex jika mata terancam Aksi mengedipkan mata menjaga kornea tetap bersih melalui produksi air mata
2

dan kadang menyebabkan pendangkalan bilik.Apparatus lakrimalis y Drainase air mata melalui bagian medial dari kelopak mata. Iris dan badan siliar y Iris dapat prolaps melalui luka bila terjadi laserasi pada kornea dan limbus menyebabkan pupil ireguer y Trauma tumpul pada bola mata dapat menyebabkan iritis. fotofobia dan miosis pupil y Lensa y y Cedera pada lensa biasanya berlanjut menjadi katarak Trauma tumpul pada bola mata dapat menyebabkan dislokasi parsial dari lensa Kontusi dapat menyebabkan deformitas pupil melalui robekan pada akar iris Humor vitreous y Berkurangnya kejernihan dapat ditemukan pada keadaan adanya perdarahan. melalui pungtum lakrimal dan berlanjut ke kanalikuli ke sakus lakrimal dan melalui duktus nasolakrimal ke hidung Konjungtiva dan kornea y y Epitel kornea biasanya sembuh dengan cepat setelah mengalami aberasi Laserasi kecil di konjungtiva sembuh dengan cepat dan mungkin dapat menutupi cedera penetrasi dari bola mata Bilik anterior y Humor aqueous sering keluar melalui cedera penetrasi. kemerahan. inlamasi atau infeksi 3 . menghasilkan nyeri.

Jika teregang atau ditembus oleh benda asing.Retina y Retina dilindungi oleh sclera (lapisan luar yang kuat) dan koroid (lapisan pembuluh darah) y retina merupakan lapisan yang tipis dan rentan. 1 4 . dapat terjadi pelepasan retina y y y perdarahan retina dapat terjadi akibat trauma langsung maupun tak langsung retina menjadi putih jika mengalami pembengkakan kerusakan macula dapat menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan tanpa menyebabkan kebutaan total.

korpus viterus. mata yang tidak tampak cedera juga harus diperiksa secara teliti. Kedalaman dan kejernihan kamera anterior dicatat. Pada pemeriksaan bedside. maka senter. PEMBAHASAN PEMERIKSAAN AWAL PADA TRAUMA MATA Anamnesis harus mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan segera sesudah cedera. luka. duktus optikus. konjungtiva palpebra. Harus dicatat apakah gangguan penglihatan bersifat progresif lambat atau berawitan mendadak. Oftalmoskop langsung dan tiak langsung digunakan untu mengamati lensa. dan retina. bentuk. Pemeriksaan fisik dimulai dengan adanya pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan. kaca pembesar. Periksa motilitas mata dan sensasi kulit periorbita. dan adanya defek pupil aferen. benda asing atau laserasi. Ukuran. Apabila tidak tersedia slit lamp di ruang darurat. 2 5 . diskriminasi dua titik. Cedera pada anak dengan riwayat yang tidak sesuai dengan cedera yang diderita harus menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan anak. maka kelopak. dan reaksi terhadap cahaya dari pupil harus dibandingkan dengan mata lain untuk memastikan apakah terdapat defek pupil aferen di mata yang cedera. adanya enoftalmus dapat ditentukan dengan melihat profil kornea dari atas alis. Pada semua kasus trauma mata. Harus dicurigai adanya benda asing intraocular apabila terdapat riwayat memalu. atau oftalmoskop langsung pada +10 (nomor gelap) dapat digunakan untuk memeriksa adanya cedera di permukaan tarsal kelopak dan segmen anterior Permukaan kornea diperiksa untuk mencari adanya benda asing. dan forniks dapat diperiksa secara lebih teliti. termasuk inspeksi setelah eversi kelopak mata atas. dan lakukan palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita. Apabila gangguan penglhatannya parah. Dokumentasi foto bermanfaat untuk tujuan medikolegal pada semu kasus trauma eksternal.II. mengasah atau ledakan. Dilakukan inspeksi konjungtiva bulbaris untuk mencari adanya perdarahan. Apabila bola mata tidak rusak. dan abrasi. maka periksa proyeksi cahaya.

trauma mekanik y y y y y y y y trauma palpebra trauma system lakrimalis laserasi konjungtiva benda asing kornea dan konjungtiva erosi kornea trauma non penetrasi dan trauma tumpul trauma dinding dasar orbita trauma penetrasi/trauma tajam 2. luka sayat. dan dan semua avulse palpebra akibat trauma tumpul biasanya melibatkan seluruh lapisan palpebra. 6 . Tipe dari trauma palpebra adalah: y y laserasi palpebra dengan terlibatnya margin palpebra avulsi palpebra pada kantus medialis dengan avulse kanalikulus akrimalis gambaran klinis: meningkatnya vaskularisasi dan jaringan palpebra yang rapuh menyebabkan palpebra mudah berdarah ketika terjadi trauma. TRAUMA PALPEBRA Etiologi: trauma palpebra dapat terjadi pada hampir semua trauma wajah. Abrasi biasanya hanya melibatkan lapisan atas kulit.Klasifikasi trauma mata 1. Luka gigitan (seperti gigitan anjing) biasanya diikuti dengan trauma pada system lakrimalis. trauma kimia y y trauma asam trauma alkali 3. Dapat terjadi hematom dan pembengkakkan yang berat. trauma fisik y y luka bakar luka akibat radiasi 1. namun luka tusuk.

Gejala klinis: sama seperti dakriosistitis Pengobatan: trauma system lakrimal dapat diperbaiki dengan pembedahan menggunakan mikroskop. Luka harus ditutup lapis demi lapis. Sebuah silicon berbentuk cincin dipasang di dalan kanalikulus menggunakan probe khusus. Terputusnya pungtum dan kanalikulus lakrimalis biasanya disebabkan akibat luka bakar dan trauma kimiawi. Dakriosistitis umumnya merupakan sekuele yang dapat diterapi dengan pembedahan. Silicon stent ini dibiarkan in situ selama 3-4 bulan kemudian diangkat. Hematoma Kelopak Hematoma palpebra yang merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. TRAUMA SISTEM LAKRIMALIS Etiologi: laserasi dan mata berair pada kantus medialis (seperti pada gigitan anjing atau pecahan kaca) dapat membelah duktus lakrimalis. Pembengkakan palpebra sebaiknya ditangani dengan bebat tekan dan kompres es.Terapi : pembedahan papebra. Trauma dapat akibat pukula tinju. Keadaan ini memberikan bentuk yang menakutkan pada pasien. dan tepinya harus disatukan dengan tepat untuk menghindari komplikasi seperti sikatriks ektropin. dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras (kencang) ataupun lambat. terutama pada laserasi yang mlibatkan margin palpebra. dapat tidak berbahaya ataupun sangat berbahaya karena mungkin ada kelainan lain di belakangnya. Pembedahan palpebra dan sitem lakrimal harus dilakukan oleh oftalmologis. 1. Hematoma kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak. TRAUMA TUMPUL PADA MATA Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak keras. Trauma sakus lakrimalis atau kelenjar lakrimal biasanya berhubungan dengan trauma craniofacial (seperti pada kecelakaan lalu lintas). harus dilakukan dengan hati-hati. 7 . (dakriosistorhinostomi). 3 3. ataupun benda-benda keras lainnya. 2.

1 Trauma Tumpul Konjungtiva Edema konjungtiva Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik pada setiap kelainannya. 2. Pada pecahnya a.2 Hematoma subkonjungtiva Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada atau di bawah konjungtiva. arteriosklerose. maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva. Hematoma kaca mata merupakan keadaan sangat gawat.oftalmika maka darah masuk ke dalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat batuk rejan. untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada kelopak mata. trauma tumpul basis kranii (hematoma kaca mata). Bila telah lama. demikian pula akibat trauma tumpul. 2. maka keadaan ini diseut sebagai hematoma kaca mata. hipertensi. Pada edema konjungtiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lendir konjungtiva. anemia. dan obat-obat tertentu.Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk kaca mata hitam yang sedang dipakai. seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah. Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan konjungtiva secara langsung kena angin tanpa dapat mengedip. Kadang-kadang hematoma 8 . Pada hematoma kelopak yang dini dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit. Hematoma kaca mata terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. konjungtiva meradang (konjungtivitis). Bila perdarahan ini terjadi akiba trauma tumpul maka perlu dipastikan bahwa tidak terdapat robekan di bawah jaringan konjungtiva atau sklera. Pembuluh darah akan rentan dan mudah pecah pada usia lanjut. Kemotik konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjugtiva. Akibat darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak maka akan berbentuk gambaran hitam pada kelopak seperti seseorang memakai kaca mata. 2. Pada kemotik konjungtiva berat dapat dilakukan insisi sehingga cairan konjungtiva kemotik keluar melali insisi tersebut.

Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membran basal. Pengobatan yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hipertonik 2-8%. Edema kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat.2 Erosi kornea Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Bila terdapat peninggian tekanan bola mata maka diberikan asetazolamida. Pemeriksaan funduskopi adalah perlu pada setiap penderita dengan perdarahan subkonjungtiva akibat trauma. Kornea akan terlihat keruh.descemet yang lama sehingga mengakibatkan keratopati bulosa yang akan memberikan keluhan rasa sakit dan menurunkan tajam penglihatan akibat astigmatisme iregular. 3.1 Trauma tumpul pada kornea Edema kornea Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat mengakibatkan edema kornea malahan ruptur membran descemet. Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya serbukan sel radang dan neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea. Penyulit trauma kornea yang berat berupa terjadinya kerusakan M. Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak ornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak. mata berair. Pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan dengan lensa kontak lembek dan mungkin akibat kerjanya menekan kornea terjadi pengurangan edema kornea.subkonjungtiva menutupi keadaan mata yang lebih buruk seperti perforasi bola mata. Pengobatan dini pada hematoma subkonjungtiva ialah dengan kompres hangat. 3. Dalam waktu yang pendek epitel sekitarnya dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel tersebut. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam 1-2 minggu tanpa diobati. dengan 9 . 3. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur bulbus okuli. glukose 40% dan larutan albumin. dengan uji plasido yang positif.

Pada erosi kornea perlu diperhatikan adalah adanya infeksi yang timbul kemudian. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka diberikan sikloplegik aksi-pendek seperti tropikamida. fotofobia. Pasien akan merasa lebih tertutup bila dibebat tekan selama 24 jam. Pengobatan biasanya dengan memberikan sikloplegik untuk menghilangkan rasa sakit ataupun untuk mengurangkan gejala radang uvea yang mungkin timbul. Sukarnya epitel menutupi kornea diakibatkan oleh terjadinya pelepasan membran basal epitel kornea tempat duduknya sel basal epitel kornea. Pada erosi kornea tidak diberi antibiotik dengan kombinasi steroid. Antibiotik diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat tumbuh epitel baru dan mencegah infeksi sekunder. Pengobatan terutama bertujuan melumas permukaan kornea sehingga regenerasi tidak cepat terlepas untuk membentuk membran basal kornea. dan sulfasetamid tetes mata. Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. Biasanya membran basal yang rusak akan kembali normal setelah 6 minggu.3 Erosi kornea rekuren Erosi rekuren biasanya terjadi akibat cedera yang merusak membran basal atau tukak metaherpetik.blefarospasme. Hati-hati bila memakai obat anestetik topikal untuk menghilangkan rasa sakit pada pemeriksaan karena dapat menambah kerusakan epitel. Epitel yang terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. 3. Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel kornea yang bila diberi pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam. kloramfenikol. Untuk mencegah infeksi bakteri diberikan antibiotika seperti antibiotika spektrum luas neosporin. lakrimasi. dan penglihatan akan terganggu oleh media kornea yang keruh. Biasanya bila tidak terjadi infeksi sekunder erosi kornea yang mengenai seluruh permukaan kornea akan sembuh dalam 3 hari. Epitel yang menutup kornea akan mudah lepas kembali di waktu bangun pagi. Terjadinya erosi kornea berulang akibat epitel tidak dapat bertahan pada defek epitel kornea. 10 .

5. silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil. Pupil terlihat tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi iregular.2 Iridodialisis Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah. 4. Pupil ini tidak bereaksi terhadap sinar. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas. dan mata ditutup. Pasien akan mengeluh sakit. Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi. disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat untuk mencegah terjadinya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.1 Trauma tumpul uvea Iridoplegia Trauma tumpul padda uvea dapat mengakibatkan kelumpuhan otot sfingter pupil atau iridoplegia sehingga pupil menjadi lebar atau midriasis. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan terbentuknya hifema. 11 . diberi koagulasi. karena dapat mempertahankan epitel berada di tempat dan tidak dipengaruhi kedipan kelopak mata. 4.Pemakaian lensa kontak lembek pada pasien dengan erosi rekuren sangat bermanfaat. Asetozolamida diberikan bila terjadi penyulit glaukoma. Pengobatan dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala. Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya. hifema akan terlihat berkumpul di bagian bawah bilik mata depan. 4. Bila pasien duduk. Hifema Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Pada iridodialisis akan terlihat pupil lonjong. dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Pada anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Iridoplegia akibat trauma akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.

Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan keluar. Sebaiknya pada mata ini diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan midriatika. Kadang-kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi perdarahan atau hifema baru yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Iridosiklitis Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea sehingga menimbulkan iridosiklitis atau radang uvea anterior.Biasanya hifema akan hilang sempurna. dengan teknik sebagai berikut : dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yg sejajar dengan permukaan iris. Bedah pada hifema Parasentesis Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan. Bila terlihat tanda radang berat maka dapat diberikan steroid sistemik. Pada mata akan terlihat mata merah. Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan. Pada uveitis anterior diberikan tetes mata midriatik dan steroid topikal. akibat adanya darah di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil yang mengecil dengan tajam penglihatan menurun. Hifema spontan pada anak sebaiknya dipikirkan kemungkinan leukemia dan retinoblastoma. Bila berjalan penyakit tidak berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Parasentesis atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit. Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata. 12 .

Bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudah terjadi glaukoma sekunder. muntah. dan mata akan menjadi lebih miopik. Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita kelainan pada zonula Zinn yang rapuh (sindrom Marphan). edema kornea. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar.3 Luksasi lensa anterior Bila seluruh zonula Zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. disertai rasa sakit yang sangat.1 Dislokasi lensa Trauma tumpul lensa dapat mengakibatkan dislokasi lensa. Subluksasi dapat mengakibatkan glaukoma sekunder dimana terjadi penutupan sudut bilik mata oleh lensa yang mencembung. Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. mata merah dengan blefarospasme. Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak. Subluksasi lenssa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis. 6. Tekanan bola mata sangat tinggi. lensa di dalam bilik mata depan. 6. Pada luksasi lensa anterior sebaiknya pasien secepatnya dikirim pada dokter mata untuk dikeluarkan lensanya dengan terlebih dahulu diberikan asetazolamida untuk menurunkan tekanan bola matanya.6. Bila tidak terjadi penyulit subluksasi lensa seperti glaukoma atau uveitis maka tidak dilakukan pengeluaran lensa dan diberi kaca mata koreksi yang sesuai. 13 . Trauma tumpul pada lensa 6.2 Subluksasi lensa Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya sebagian zonula Zinn sehingga lensa berpindah tempat. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastis akan menjdai cembung. Dislokasi lensa terjadi pada putusnya zonula Zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu. Lensa yg menjadi sangat cembung mendorong iris ke depa sehingga bilik mata tertutup. Akibat lensa terletak di dalam bilik mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. Terdapat injeksi siliar yang berat.

Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata depan. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan apa yang disebut sebagai cincin Soemering atau bilaepitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elsching. bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Bila luksasi lensa telah menimbulkan penyulit sebaiknya secepatnya dilakukan ekstraksi lensa. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang. Pasien akan melihat normal dengan lensa +12. Lensa yang terlalu lama berada pada polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat degenerasi lensa. dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.4 Luksasi lensa posterior Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli.0 dioptri untuk jauh. Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangnya akibat lensa mengganggu kampus. yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanafilaktik.6.5 Katarak trauma Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi ataupun tumpul terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun. perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan bercampur makrofag dengan cepatnya. berupa glaukoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik. 6. Bila terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat di pasang lensa intra okuler primer atau sekunder. Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat. 14 .

uveitis atau salah letak lensa. penglihatan akan sangat menurun. miopia. Cincin hanya menunjukkan tanda bahwa mata tersebut telah mengalami suatu trauma tumpul. 7. dan proses degenerasi retina 15 . 7. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas sehingga seluruh polus posterior fundus okuli berwarna abu-abu. Keadaan ini dapat disertai perdarahan.Pada katarak trauma apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Edema retina akibat trauma tumpul juga mengakibatkan edema makula sehingga tidak terdapat cherry red spot.1 Trauma tumpul retina dan koroid Edema retina dan koroid Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema retina. Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini seperti retina tipis akibat retinitis semata. uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. 6.6 Cincin Vossius Pada trauma lensa dapat terlihat apa yang disebut sebagai cincin Vossius yang merupakan cincin berpigmen yang terletak tepat di belakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma. Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Bila terjadi peyulit seperti glaukoma. ablasi retina. Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. 7. Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu. Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah terjadi edema makula atau edema Berlin. akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah makula oleh sel pigmen epitel.2 Ablasi retina Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlapasnya retina dari koroid pada penderita ablasi retina. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. seperti suatu stempel jari. yang merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah sesuatu trauma. sehingga pada keadaan ini akan terlihat cherry red spot yang berwarna merah. Berbeda dengan oklusi arteri retina sentral dimana terdapat edema retina kecuali daerah makula.

Papil saraf optik dapat normal beberapa minggu sebelum menjadi pucat. demikian pula perdarahan dan edema sekitar saraf optik. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah gangguan penglihatan warna dan lapangan pandang. Penglihatan akan berkurang setelah cedera mata.lainnya.1 Trauma tumpul saraf optik Avulsi papil saraf optik Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata yang disebut sebagai avulsi papil saraf optik. Kadang-kadang terlihat pembuluh darah seperti yang terputus-putus. 9. Bila ruptur koroid ini terletak atau mengenai daerah makula lutea maka tajam penglihatan akan turun dengan sangat. Pada pasien akan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir mengganggu lapang pandangnya. Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat akan tetapi bila darah tersebut telah diabsorpsi maka akan terlihat bagian ruptur berwarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid. Ruptur ini biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik. Terdapat reaksi defek aferen pupil tanpa adanya kelainan nyata pada retina. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terlihat terangkat dan berkelok-kelok. 8. Penderita ini perlu dirujuk untuk dinilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya. Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam penglihatn akan menurun.2 Optik neuropati traumatik Trauma tumpul dapat mengakibatkan kompresi pada saraf optik. Keadaan ini akan mengakibatkan turunnya tajam penglihatan yang berat dan sering berakhir dengan kebutaan. 16 . 9. Trauma Koroid Ruptur Koroid Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina yang dapat merupakan akibat ruptur koroid. 9. Pada pasien dengan ablasi retina maka secepatnya dirawat untuk dilakukan pembedahan oleh dokter mata.

atau konjungtiva tidak membutuhkan pembedahan. Bila penglihatan memburuk setelah steroid maka perlu dipertimbangkan untuk pembedahan. hemoragi bilik anterior (hyphema). Plester mata diberikan dengan tekanan yang kecil untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan membantu penyembuhan dengan cara mencegah gerakan bola mata pada daerah yang terkena cedera. Luka harus dibersihkan dari benda asing. nyeri yang disebabkan oleh abrasi dapat dikurangi dengan memberikan anestesi topical seperti solusio tetracain 0. Pemeriksaan yang hati-hati dan follow up yang adekuat harus dilakukan. trauma yang mengakibatkan kerusakan pada kiasam optik. tapi jarang mengalami infeksi. edema atau ruptur kornea. tapi pemberian rutin tetracain oleh pasien tidak diperbolehkan karena dapat mengganggu penyembuhan epithelium. kornea. Ointment antibiotik oftalmika dimasukkan ke dalam mata untuk mengurangi infeksi. perdarahan badan kaca. Untuk membantu pemeriksaan. dislokasi 17 . Abrasi kornea menyebabkan nyeri yang hebat dan dapat mengarah ke erosi kornea rekuren. paralisis atau spasme dari muskulus yang mengatur akomodasi. katarak traumatic. 2 4. Akibat dari cedera semacam itu bervariasi dan sering tidak kelihatan pada pemeriksaan superficial.5%. TRAUMA MATA NON PENETRASI Abrasi Abrasi dari kelopak mata. Pembalut mata harus diganti setiap hari dan luka diperiksa untuk melihat ada tidaknya pembentukan ulkus atau infeksi. hemoragik subkonjungtival. Kontusi Kontusi bola mata dan jaringan sekitarnya biasanya disebabkan oleh kontak traumatic dengan benda tumpul.resesi sudut bilik anterior dengan glaucoma sekunder. Pengobatan adalah dengan merawat pasien pada waktu akut dengan membei steroid. Akibat yang mungkin ditimbulkan dari cedera kontusi adalah hemoragi dan pembengkakan kelopak mata. traumatic paralisis dari pupil (midriasis). rupture dari akar iris (iridodialisis).Diagnosis banding penglihatan turun setelah sebuah cidera mata adalah trauma retina. rupture dari spingter iris.

maka tidak perlu dilakukan penjahitan. Bila trauma disebabkan oelh benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola mata maka akan terlihat tanda-tanda bola mata tembus. hemoragi vitreous. dan obat sistemik lain yang dapat enurunkan tekanan bola mata mungkin diperlukan 1 5. seperti: y y y y y tajam penglihatan menurun tekanan bola mata rendah bilik mata dangkal bentuk dan letak pupil berubah terlihat adanya rupture pada kornea atau sclera 18 . Bila robekan konjungtiva ini tidak melebihi 1 cm. yang dapat menyebabkan glaucoma dan kerusakan permanen bola mata. hemoragi retina. dan cedera nervus optikus. dan edema retina. Walaupun demikin setiap cedera dapat menjadi cukup berat untuk menyebabkan hemoragi intraocular dan dapat menyebabkan hemoragi sekunder yang tertunda dari pembuluh darah uveal. kebanyakan efek langsung dari kontusi bola mata tidak memerlukan pengobatan segera. rupture koroid. Kecuali cedera yang menyebabkan rupture bola mata. manitol. mungkin tidak berkembang dalam beberapa hari atau inggu setelah cedera. Pada setiap robekan konjungtiva perlu diperhatikan terdapatny robekan sclera bersama-sama dengan robekan konjungtiva tersebut. pelepasan retina. Pasien dengan hemoragi intraocular harus tirah baring total selama 4-5 hari dengan kedua mata diplester untuk mengurangi perdarahan lebih lanjut. Perdarahan sekunder jarang muncul setelah 72 jam. Kebanyakan dari cedera ini tidak dapat dilihat dengan mata biasa.beberapa sepeti katarak. Bila robekan konjungtiva lebih dari 1 cm diperlukan tindakan penjahitan untuk mencegah terjadinya glaucoma. Cyclopegic short-acting seperti hemotropine 5% dapat digunakan. TRAUMA TEMBUS PADA MATA Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja.lensa. Asetazolamid.

mata tidak diberi salep. Pada pasien dengan luka tembus mata sebaiknya diberikan antibiotika sistemik atau intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata. analgetika dan kalau perlu penenang.leh diberi steroid local. iris. badan kaca. Laserasi tanpa prolaps jaringan: jika bola mata ditembus dari depan tanpa adanya bukti prolaps intraocular dan jika lukanya bersih dan kelihatan bebas dari kontaminasi. lensa.y terdapat jaringan yang prolaps seperti cairan mata. A. atau retina y konjungtiva kemotis Bila terlihat salah satu tanda di atas atau dicurigai adanya perforasi bola mata maka secepatnya diberikan antibiotika topical dan mata ditutup dan segera dikirim pada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Jaringan uvea dalam jumlah 19 . karena salep dapat masuk ke dalam mata. Sebelum dirujuk. Lacerasi dengan prolaps: jika sebagian kecil dari iris prolaps melalui luka. Pasien juga diberi anti tetanus profilaktik. dll) cedera seperti ini dirawat dengan cara yang berbeda-beda tergantung dari ada atau tidaknya prolaps jaringan. Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke dalam mata dengan membuat foto. Bekuan darah dapat dibersihkan dengan mudah dari bilik depan dengan irigasi kemudian bilik di bentuk kembali setelah kornea diperbaiki dengan injeksi dari larutan salin atau air. maka harus dipegang dengan forsep dan dipotong tepat pada batas luka. Pasien tidak bo. biasanya dapat diperbaiki dengan jahitan interrupted menggunakan benang silk atau catgut. Benda asing di dalam bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan 2 Laserasi Laserasi biasanya disebabkan oleh benda tajam (pisau gunting. dan beban yang diberikan pada mata tidak menekan bola mata. B. Midriatik sebaiknya diberikan dan larutan antibiotic harus dimasukkan ke dalam kantung konjungtiva lalu pinggir mata diplester. Pasien harus tirah baring untuk beberapa hari dan antibiotik sistemik diberikan untuk mengurangi infeksi intraocular.

Jika berlokasi di belakang lensa dan di depan ekuator. sebaiknya disingkirkan melalui area pars plana yang terdekat dengan benda asing karena mengurangi kerusakan retina. Jika benda asing tersebut memiliki sifat magnetic. Jika benda asing terletak di posterior ekuator.oftalmoskopi dengan visualisasi langsung untuk benda asing intraocular mungkin dilakukan. Partikel besi dan tembaga harus segera dikeluarkan untuk mencegah disorganisasi dari jaringan okuler akibat perubahan degenerative (siderosis karena besi dan chalcosis karena tembaga). sebaiknya disingkirkan langsung dari dinding bola mata terdekat. sebaiknya disingkirkan melalui insisi ke dalam bilik depan melalui limbus. Jika benda asing terletak di anerior zonula.yang sedikit juga dapat dibuang dengan cara yang sama. Bagian anterior dari mata. Benda asing intraokular Benda asing yang tertanam di dalam mata harus diidentifikasi dan dilokalisasi secepat mungkin. Adanya keluhan tidak nyaman pada mata dengan penurunan tajam penglihatan dan adanya riwayat terkena pantulan baja harus dicurigai terdapat benda asing intraokular. Jika jaringan uvea mengalami cedera. Luka harus ditutup dengan cara yang sama seperti menutup luka pada laserasi tanpa prolaps. Bahan-bahan lain kurang bereaksi dan masih dapat ditoleransi. Partikel lain seperti kaca dan porselen mungkin sangat ditoleransi dan lebih baik dibiarkan saja. magnet yang sudah dsterilkan dapat digunakan didekat daerah keluar luka untuk membantu menyingkirkan benda asing tersebut. maka ophtalmia simpatetik kemungkinan akan muncul. forsep kecil dapat digunakan dengan trauma yang minimal. Jika lukanya luas dan kehilangan isi intraocular berat sehingga prognosis funsi mata buruk. iris. kecuali daerah tersebut adalah macula. Setiap kerusakan di retina harus diddiatermi atau fotokoagulasi untuk mencegah pelepasan retina. 1 20 . Jika bukan benda yang bersifat magnetic. dan lensa sebaiknya diperiksa menggunakan lup atau slitlamp untuk menentukan tempat masuk luka. termasuk kornea. maka eviserasi dan enukleasi diindikasikan sebagai prosedur pembedahan utama. X-ray dari jaringan lunak orbital harus diambil untuk memastikan adanya benda asing yang radioopak dan untuk alasan medikolegal.

Sebab jika penanganan terlambat dilakukan dapat memberikan penyulit yang lebih berat. berdasarkan beberapa penelitan. trauma basa atau alkali. Untuk bahan asam dapat digunakan larutan natrium bikarbonat 3%. Rasio frekuensi asam dibandingkan basa sebagai bahan penyebabnya pada trauma kimiawi bervariasi dari 1:1 sampai 1:4. Biasanya sempurna dalam waktu 3-7 hari. Pasien dengan trauma kimia pada mata pada umumnya melaporkan berbagai derajat nyeri. Anastesi topikal diberikan pada keadaan dimana terdapat blefarospasme berat. dan bebat mata selama mata masih sakit. sedangkan untuk larutan basa dapat digunakan asam borat. dan adanya halo berwarna disekitar cahaya. Dibandingkan bahan yang bersifat asam. pengelihatan kabur. Regenerasi epitel akibat asam lemah dan basa sangat lambat. atau bufer asam asetat pH 4.5% untuk menetralisir dan juga diperhatikan akan adanya benda asing penyebab luka tersebut. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal. pekerjaan yang menggunakan bahan kimia dan pertanian.5%. seperti diantaranya irigasi pada daerah mata yang terkena trauma kimia. Sebagian besar (84%) merupakan trauma kimia.4 Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di laboratorium. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat dibedakan dalam bentuk: trauma asam. kecepatan dan jumlah bahan kimia tersebut yang mengenai mata. industri. 80% dari trauma kimiawi pada mata dikarenakan oleh pajanan atau karena pekerjaan. TRAUMA KIMIA Trauma pada mata merupakan 3-4% dari seluruh kecelakaan kerja di Amerika serikat. Pengaruh bahan kimia terhadap mata bergantung pada: PH. Pembersihan dapat dilakukan dengan menggunakan larutan garam fisiologik ataupun air bersih lainnya selama mungkin dan paling sedikit dalam waktu 15-30 menit.6. Dalam satu laporan di negara berkembang.Ketika bahan kimia terkena mata maka harus segera diberikan tindakan. bahan yang bersifat basa lebih cepat dapat merusak dan menembus kornea. Pada trauma 21 .fotofobia. sikloplegik. asam asetat 0.

asam kromat. asam asetat. pengkilap aluminum.kimia ringan sampai sedang mata menjadi hiperemis dan mungkin terdapat kemosis konjungtiva dan juga edema palpebra. mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimiawi pada mata. asam hidroklorida. mata tidak menjadi merah namun akan tampak putih karena iskemia pada pembuluh darahkonjungtiva. Pada kornea dapat bervariasi mulai dari keratopati pungtata superfisial difusa sampai erosi epitel lokal dengan pengaburan ringan pada stroma. glass etching (pengukiran pada kaca dengan cairan 22 . o Ledakan baterai mobil. yang menyebabkan luka bakar asam sulfat. sulfurous acid. Pada anamnesa patut dipertimbangkan kemungkinan penyabab sebagai berikut : o Bahan kimia asam yang tersering menyebabkan trauma pada mata adalah asam sulfat. Industri tertentu menggunakan asam hidroflorida dalam pembersih dinding. dan adanya sel dan flare di bilik mata depan. dan terkadang opasiti total. dan asam hidroflorida. Pada trauma kimia mata yang berat. 2 Anamnesa Trauma kimiawi biasanya disebabkan akibat bahan-bahan yang tersemprot atau terpercik pada wajah. dan daerah sekitar wajah dapat menunjukkan luka bakar derajat dua bahkan tiga. asam nitrat. Pada luka bakar derajat satu pada kulit. dan cairan pembersih yang kuat. Kemosis pada palpebra dan konjungtiva terlihat jelas. Pada kornea dapat ditemukan erosi epitel total dengan edema dan perkabutan tebal pada stroma. o Asam hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat.

Oleh karena itu tidak seperti kondisi trauma pada mata yang lain. Penggolongan tingkatan dan prognosis dari luka bakar kimia ditentukan berdasarkan jumlah kerusakan kornea dan iskemia limbus. forniat) dan organik anhidrat ( asetat). dimana setiap hilangnya arsitektur pembuluh darah normal konjungtiva disekitar kornea. Alkali akan menembus kornea dengan cepat karena memiliki sifat baik hydrophilic dan lipophilic lalu menembus bilik mata depan dan sampai pada jaringan retina. Bahan asam dengan konsentrasi tinggi dapat bereaksi seperti pada trauma basa. mata yang pucat lebih berbahaya daripada mata yang merah.kimia). 4 Trauma Asam Bahan asam yang dapat merusak mata terutama asam yang bersifat anorganik. electropolishing. Trauma Basa atau Alkali Trauma akibat bahan kimia basa akan mengakibatkan kerusakan yang sangat berbahaya pada mata. Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secepatnya dan selama mungkin untuk menghilangkan dan melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma. Iskemia limbus adalah salah satu faktor klinis yang amat penting karena menunjukkan tingkat kerusakan pada pembuluh darah limbus dan mengindikasikan kemampuan sel induk kornea (yang terletak di limbus) untuk meregenerasi kornea yang rusak. Asam hidroflorida juga digunakan untuk pengendalian fermentasi pada breweries (pengolahan bir). Pada trauma 23 . Biasanya trauma yang disebabkan oleh asam akan normal kembali.Biasanya kerusakan terjadi pada bagian superfisial saja. Bila bahan asam mengenai mata akan segera terjadi pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan sehingga bila konsentrasi tidak tinggi makan tidak akan bersifat destruktif seperti pada trauma alkali. dan penyamakan kulit. sehingga kerusakan yang diakibatkan akan lebih dalam. o Toksisitas hidroflorida pada okuler dapat terjadi akibat pajanan cairan maupun gas. sehingga ketajaman penglihatan tidak banyak terganggu. organik (asetat.

Bahan akustik soda dapat menembus ke dalam bilik mata depan dalam waktu 7 detik. 24 . edema dan neovaskularisai kornea. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit segera setelah trauma. Derajat IV: konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%. Menurut klasifikasi Thoft trauma basa dapat dibedakan dalam: 1. antibiotika dan EDTA untuk mengikat basa. Bahan kimia alkali bersifat koagulasi sel dan akan mengakibatkan proses penyabunan disertai dehidrasi. kekeruhan kornea. penderita diberikan sikloplegi yang membantu dalam pencegahan spasme siliar dan untuk menstabilisasi permeabilitas pembuluh darah sehingga dapat mengurangi peradangan. Derajat II: hiperemi konjungtiva disertai hilangnya epitel kornea 3. 2.basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen korena. 4. Derajat I: hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata. Tindakan yang dilakukan bila terjadi trauma basa adalah dengan secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik. 2 Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah berat kerusakan kolagen kornea. Derajat III: hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea. 4 Penyulit yang dapat timbul pada trauma alkali adalah simblefaron. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali. disertai ftisis bola mata. Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh. Alkali yang menembus bola mata akan merusak retina sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita. katarak.

Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah terjadi.7. Kaca yang mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan kaca akan mengeluarkan sinar infra merah. mempunyai panjang gelombang antara 250-295 nM. 25 . dan menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari di atas salju. maka katarak muda terjadi pada pekerja industri gelas dan pemanggangan logam. Bila seseorang berada pada jarak satu kaki selama satu menit di depan kaca yang mencair dan pupilnya lebar atau midriasis. Bergantung pada beratnya lesi akan terdapat skotoma sementara atau permanen. Sinar infra merah akan mengakibatkan keratitis superfisial. kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah ini. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar infra merah terlihat. Sinar ultra violet banyak terdapat pada saat bekerja las. Sinar ultra violet akan segera merusak epitel kornea. Trauma sinar ultra violet ( sinar las ) Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat. Akibat sinar ini pada lensa. TRAUMA RADIASI ELEKTROMAGNETIK Trauma radiasi yang sering ditemukan adalah: Sinar infra merah Sinar Ultraviolet Sinar ±X dan sinar terionisasi Trauma sinar infra merah Akibat sinar infra merah dapat terjadi pada saat menatap gerhana matahari. dan pada saat bekerja di pemanggangan. Absorpsi sinar infra merah oleh lensa akan mengakibatkan katarak dan eksfoliasi kapsul lensa. maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat celsius. sehingga berakibat tidak baik terhadap kapsul lensa di dekatnya. Demikian pula iris yang mengabsorbsi sinar infra merah akan panas. Steroid sistemik dan lokal diberikan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut pada makula atau untuk mengurangi gejala radang yang timbul. katarak kortikal anterior-posterior dan koagulasi pada khoroid.

Akibat dari sinar ini pada lensa. antibiotika lokal. blefarospasme dan konjungtiva kemotik. Sedangkan sel baru yang berasal dar sel germinatif lensa tidak menjadi jarang. yang kadang-kadang disertai dengan kornea yang keruh dan uji floresensi positif. terjadi pemecahan diri sel epitel secara tidak normal. perdarahan. foto fobia. Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-10 jam setelah trauma. Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia. analgetik. Gambaran keratitis menjadi semakin berat akibat efek kumulatif radiasi sinar UV . sehinga kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. akan tetapi bila radiasi berjalan lama kerusakan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan pada kornea. Kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa waktu. mata seperti kelilipan atau seperti kemasukan pasir. dan mata ditutup selama 2-3 hari. dan tidak akan memberikan gangguan ketajaman pengelihatan yang menetap. Kornea akan menunjukan adanya infiltrat pada permukaannya. Pasien akan mrasa mata sangat sakit. 26 . lensa yang lebuh mudah dan lebih peka. Biasanya sembuh setelah 48 jam. Keratitis teutama terdapat pada fisura palpebra. Dosis katarak togenik bervariasi sesuai dengan energi dan tipe sinar. Sinar-x merusak retina dengan gambaran seperti kerusakan yang diakibatkan diabetes melitus berupa dilatasi kapilar. mikroaneuris mata . Sinar ionisasi dan sinar-X Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk: Sinar alfa yang dapat diabaikan Sinar beta yang dapat menembus 1cm jaringan Sinar gamma dan Sinar-x Sinar ionisasi dan sinar-x dapat menyebabkan katarak dan rusaknya retina.Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea. Keratitis ini akan sembuh tanpa cacat. dan eksudat. tajam penglihatan akan terganggu. Pupil akan terlihat miosis.

Pengobatan yang diberikan adalah antibiotik topikal dengan steroid 3 kali sehari dan sikloplegik 1 kali sehari. yang mengakibatkan kerusakan permanen yang sukar diamati. Biasanya akan terlihat sebagai keratitis dengan iridosiklitis ringan. Bila terjadi simblefaron pada konjungtifa dilakukan tindakan pembedahan.Luka bakar akibat sinar-x dapat merusak kornea.2 27 . Pada keadaan yang berat akan mengakibatkan parut konjungtiva atrofi sel goblet yang akan menggangu fungsi air mata.

maka prognosisnya akan semakin baik. kita harus mampu memeriksa trauma bola mata dan orbita yang umum terjadi dan mampu menentukan apakah masalah tersebut membutuhkan perhatian yang lebih serius atau tidak. KESIMPULAN 1. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberi penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. 28 . 3. Sebagai seorang klinisi umum. Trauma mata yang paling sering terjadi adalah trauma kimia. Semakin cepat penanganan trauma mata. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak.III. Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. 5. 4. saraf mata dan rongga orbita. Trauma terbagi atas: a) Trauma mekanik b) Trauma fisik c) Trauma kimiawi 2.

Diunduh dari: http://hsilkma. General ophthalmology.A pocket textbook atlas ophthalmology. p. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 508-9.com/2008/01/trauma-asam 29 . Trauma Asam [online]. 259-75. 241-4. p. 2006. Edisi ke-3. 8th ed. Lang.blog. 4. 1977. 2nd ed. 3. 2009. Vaughan D. Ilyas. Ilmu penyakit mata. Sidarta. Asbury T. Thieme. New York. California: Langs Medical Publication. p.DAFTAR PUSTAKA 1. G. 2. [2008?] [20 Mei 2010].friendster.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful