P. 1
TUGAS AGAMA HINDU

TUGAS AGAMA HINDU

2.0

|Views: 3,296|Likes:
Published by pranasiwi

More info:

Published by: pranasiwi on Mar 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2014

pdf

text

original

TUGAS AGAMA HINDU RINGKASAN BAB V

µKITAB SUCIµ

Oleh : Nama : I Dewa Gede Agung Pranasiwi No : 07 Kelas : XII IA3

SMA NEGERI 1 GIANYAR 2010/2011

KATA PENGANTAR
´Om Swastyastuµ Atas Asung Kertha Waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan laporan ringkasan materi Agama Hindu Bab V mengenai ´Kitab Suciµ dengan cukup baik. Melalui laporan ini saya harapkan para pembaca dapat lebih mudah menguasai materi Kitab Suci dan dapat mengamalkan apa yang ada didalamnya. Penyusun

KATA PENUTUP
Demikian laporan ringkasan materi Agama Hindu Bab V mengenai ´Kitab Suciµ yang saya buat. Saya menyadari saran kekurangan konstruktif yang dari terkandung pembaca dalam sangat laporan ini sangatlah banyak. Untuk itu, kritik dan yang diharapkan demi menyempurnakan laporan-laporan berikutnya. Semoga laporan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pembaca seperti yang saya harapkan. Akhir kata saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya. ´Om Shanti Shanti Shanti Omµ

KITAB SUCI
A. Pengertian Hukum Hindu

Hukum adalah perturan-peraturan yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik yang ditetapkan oleh penguasa, pemerintah maupun berlakunya secara alamiah. Unsur-unsur terpenting dalam peraturan hukum memuat dua hal, yaitu : a. Unsur yang bersifat mengatur atau normatif b. Unsur yang bersifat memaksa atau represif Kebutuhan akan pengetahuan tentang hukum Hindu dirasakan sangat perlu oleh umat Hindu untuk dipelajari dan dipahami, latar belakang kenapa hukum Hindu penting untuk dipelajari antara lain : a. Hukum Hindu merupakan bagian dari hukum positif yang berlaku bagi masyarakat Hindu di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya pasal 29 ayat 1 dan 2, serta pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. b. Untuk memahami bahwa berlakunya hukum Hindu di Indonesia dibatasi oleh filsafah negara Pancasila dan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Dasar 1945. c. Untuk dapat mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan antara hukum adat Bali dengan hukum agama Hindu atau hukum Hindu. d. Untuk dapat membedakan antara adat murni dengan adat yang bersumber kepada ajaran-ajaran agama Hindu. Bentuk hukum Tuhan yang murni dalam ajaran agama Hindu disebut Rta atau Rita, yaitu hukum Tuhan yang murni bersifat absolut transendental. Rta adalah hukum Tuhan yang bersifat abadi. Rta ini kemudian dijabarkan ke dalam tingkah laku manusia dan disebut Dharma. Dalam Weda, kitab Smrti dianggap sebagai kitab hukum Hindu karena didalamnya banyak memuat tentang syarat hukum yang disebut Dharma .Istilah lain tentang hukum dalam ajaran agama Hindu adalah Widhi, Dresta, Acara, Agama, Wyawahara, Nitisastra, Rajaniti, dan Artasastra. Namun, dari sekian banyak istilah tersebut yang paling umum dalam ilmu hukum adalah Dharma. Di sini, kata Dharma mengandung dua hal, yaitu : a. Dharma mengandung pengertian norma. b. Dharma mengandung pengertian keharusan, yang kalau dilanggar dapat dipaksakan dengan ancaman sanksi/denda.

B. Sumber Hukum Hindu Berdasarkan ilmu, peninjauan sumber hukum Hindu dapat disebutkan sebagai berikut : a. Peninjauan sumber hukum dalam arti sejarah b. Peninjauan sumber hukum dalam arti sosiologis c. Peninjauan sumber hukum dalam arti filsafat d. Peninjauan sumber hukum dalam arti formil
1. Peninjauan Sumber Hukum dalam Arti Sejarah

Peninjauan sumber hukum dalam arti sejarah (historis) ditujukan pada penelitian data-data mengenai berlakunya kaidah-kaidah hukum berdasarkan dokumen tertulis yang ada. Menurut bukti-bukti sejarah, dokumen tertua yang memuat pokok-pokok hukum Hindu, pertama-tama dijumpai pada dalam Weda Sruti. Ajaran hukum Hindu yang ada masih bersifat tradisional, yaitu seluruh isi Weda disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi yang baru. Fase berikutnya dalam sejarah pertumbuhan hukum Hindu adalah adanya kitab Dharmasastra yang merupakan kitab undang-undang murni dibandingkan kitab Sruti.Dharmasastra dinyatakan sebagai bagian dari kitab Kalpasutra. Kitab Kalpasutra ini dibagi menjadi empat, yaitu : a) Srautasutra isinya tentang berbagai cara pemujaan, pemeliharaan atau melakukan penghormatan kepada Triagni. b) Grhyasutra isinya memuat keterangan penting tentang berbagai upacara yang berlaku untuk golongan tertentu. c) Dharmasutra memuat tentang aturan-aturan dasar yang mencakup bidang hukum, agama, kebiasaan atau acara, dan sistacara. d) Sulwasutra isinya memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat bangunan yang berhubungan dengan ilmu arsitektur. Smrti sebagai sumber hukum Hindu lebih dikenal dengan sebutan Dharmasastra. Dalam ilmu sejarah, perkembangan dan pembagian berlakunya Dharmasastra, yaitu : a) Manawa Dharmasastra karya Manu berlaku pada zaman Kerta Yuga. b) Gautama Dharmasastra karya Gautama berlaku zaman Treta Yuga. c) Samkhalikhita Dharmasastra karya Samkhalikhita berlaku zaman Dwapara Yuga. d) Parasara Dharmasastra karya Parasara berlaku zaman Kali Yuga.
2. Peninjauan Sumber Hukum dalam Arti Sosiologis

Dalam mempelajari data-data tertentu yang bersumber pada Weda seperti Menawa Dharmasastra II.6. Secara tegas mengatakan bahwa sumber Dharma atau hukum tidak saja Sruti dan Smrti, tetapi juga Sila, Acara dan Atmanastuti. Sosiologi tidak saja mempelajari bentuk masyarakat tetapi juga kebiasaan dan moral dalam masyarakat itu. Dengan demikian, faktor sosiologi sangat besar pengaruhnya sebagai sumber hukum Hindu. Penerapan Dharma didasarkan pada asas-asas tertentu, yaitu berdasarkan Samaya (waktu), Desa (tempat), Acara (kebiasaan), Kula (keluarga), Warna (golongan), dan Samanya (sifat-sifat umum). Yang berarti ilmu sosiologis sangat berperan dalam menunjang sumber-sumber hukum Hindu itu.

3. Peninjauan Sumber Hukum dalam Arti Filsafat

Filsafat merupakan aspek rasional dari agama dan merupakan satu bagian integral dari agama. Filsafat membimbing manusia tidak saja menjadi pandai tetapi juga menuntun manusia untuk mencapai tujuan hidup, yaitu Jagadhita dan Moksa. Untuk mencapainya, ilmu filsafat Hindu menegaskan sistem dan metode pelaksanaannya sebagai berikut : a) Harus didasarkan pada Dharma. b) Harus didasarkan melalui keilmuan (Jnana). c) Hukum didasarkan pada kepercayaaan (Sadhana). d) Harus didasarkan pada usaha yang secara terus-menerus dengan pengendalian pikiran, ucapan, dan perilaku. e) Harus ditembus dengan usaha Prayascita (penyucian).
4. Peninjauan Sumber Hukum dalam Arti Formil

Sumber hukum dalam arti formil adalah sumber hukum yang berdasarkan bentuk yang dapat menimbulkan hukum positif itu. Artinya, dibuat oleh badan atau lembaga yang berwenang. Hal-hal yang merupakan sumber hukum dalam arti formil dan bersifat pasti, yaitu : a) Undang-undang b) Kebiasaan dan adat c) Traktat Sistem dan asas yang dipergunakan mengenai masalah sumber hukum terdapat pula dalam kitab Weda, terutama dalam kitab Manawa Dharmasastra II.6. Dari pasal ini diketahui sumber-sumber hukum menurut Manawa Dharmasastra, yaitu sebagai berikut : a) Weda b) Smrti c) Sila d) Acara (Sada cara) e) Atmanastuti Sruti menurut penafsiran yang otentik dalam kitab Smrti adalah Weda dalam arti murni, yaitu wahyu yang dihimpun dalam beberapa buah buku, disebut Mantra Samitha. Sila merupakan tingkah laku orang-orang beradab, dalam kaitannya dengan hukum. Acara adalah adat istiadat yang hidup dalam masyarakat yang merupakan hukum positif. Atmanastuti adalah rasa puas pada diri.

C. Upaya Mentaati Hukum Hindu Umat Hindu mempunyai dua kewajiban, yaitu melaksanakan dharma agama dan dharma negara. Dharma agama adalah kewajiban umat untuk melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar. Dharma negara adalah kewajiban umat beragama untuk menjadi warga negara yang baik dan mengabdi kepada negara dengan mendukung segala peraturan-peraturan pemerintah. Dalam melaksanakan Dharma agama, umat Hindu menjadikan kitab suci Weda sebagai sumber ajaran/pedoman hidup. Orang yang yakin dengan ajaran ini akan berfikir seribu kali untuk berbuat dosa karena takut akan hasil yang diterima. Mereka akan memegang teguh Dharma sebagai pedoman hidup untuk dapat menciptakan kehidupan yang harmonis, bahagia, lahir, dan batin. Upaya-upaya yang harus dilakukan umat Hindu untuk menegakkan hukum adalah melaksanakan ajaran agamanya dengan baik, seperti melaksanakan Panca Sradha, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan ajaran etika lainnya. Hukum Hindu merupakan bagian dari hukum nasional dan berlakunya bagi semua umat Hindu di Indonesia sepanjang ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->