P. 1
KRITIK MATAN

KRITIK MATAN

|Views: 1,110|Likes:

More info:

Published by: Dian Pratiwi Sudarsono on Mar 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

KRITIK MATAN HADIS

MAKALAH
Ditulis Dalam Rangka Memenuhi Sebagian Tugas Mata Kuliah Studi Al-Qur¶an:Metodologi dan Tematik

Oleh :

NAMA NPM
Dosen Pembimbing

:SRI TATIK HANDAYANI : 1000491
: Prof.DR.Hj ENIZAR,M.Ag

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA (S2) STAIN JURAI SIWO METRO 2010 / 2011

Juhul al-Muhaddisin fi naqdi matni al-hadis al-nabawi al-syarif . juga karena fungsi sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan Al-Qur¶an yang mujmal. lambang perekat riwayat. dan antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan erat.1 Dalam studi hadis persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur yang penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis. Syarh Shahih Muslim. kitab yang mengkoleksi ) berkedudukan sebagai perangkat bagi proses pengutipan. 4. Bairut: Dar al-Kutub. pemeliharaan teks. Thahir al-jawabi. PENDAHULUAN A. sehingga kekosongan salah satunya akan berpegaruh. Karenaya suatu berita yang tidak memilki sanad tidak dapat disebut sebagai hadis. . Kedua unsur itu begitu penting artinya.2 I. 2 1 M. muasasah µabd karim 1986. vol. demikian sebaliknya matan. yang sangat memerlukan keberadaan sanad. Muthlaq. disamping sebagai sumber ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan mentaati Rasulullah saw. sedangkan yang lain ( sanad. Tunisia. dan bahkan merusak eksistensi dan kualitas suatu hadis. Latar Belakang Hadis (sunah) bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah Al-Qur¶an. dan sebagainya. 1994. dan kritiknya. hal 6 2 Al-Sanusi. Target akhir pengkajian ilmu hadis sesungguhnya terarah pada matan hadis. Kebutuhan umat Islam terhadap hadis (sunah) sebagai sumber ajaran agama terpusat pada subtansi doktrinal yang tersusun secara verbal dalam komposisi teks (redaksi) matan hadis. µamm.

B.3 Melihat hasil evaluasi ulama muhadisin terhadap kritik matan hadis befokus pada data dugaan syadz atau temuan ilat (sebab). mesir 1955. peran strategi sanad seperti penegasan Muhammad Ibn Sirrin (W. berkomposisi dengan pengantar matan berupa kisah (sabab wurudul hadis) dan rangkaian sanad. muqadimah al-jami¶ al-shahih jilid I. Parameter kritik matan hadis semakin mengundang hasil yang kontrofersial bila memperhadapkan substansi ajaran hadis dengan instrument aqli. (W. 181 H) sebagai pemberi legitimasi atas keberadaan matan hadis selaku bagaian integral dari ajaran Islam. 3 Muslim bin al-Hajjaj. perilaku perawi. 110 H) dan Abdullah bin Al-mubarak.3 Matan hadis dalam tradisi penyajiannya mencerminkan narasi verbal tentang sesuatu yang datang dari atau disandarkan kepada Rasulullah (hadis marfu¶) atau kepada narasumber sahabat (hadis) atau yang bersumber kepada Tabiin (hadis maqtu¶). Praktisi hukum Islam (fuqaha) justru menerapkan paradigma qath¶i zhanni yang pola dikotominya beroriantasi pada strata khabar mutawatir masyhur untuk kategori qath¶i dan khabar ahad untuk kategori zhanni. metodologi kritik hadis di kalangan orientalis dan contoh dari kritik hadis ilmuan muslim kontemporer. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk menghimpun kaidah-kaidah kritik internal hadis yang terfokus pada metode kritik matan hadis. praktek keagamaan penduduk madinah. seperti qiyas. asas-asas syariat dan lain-lain. hal 14-15 .

KRITIK MATAN HADIS A. krinein berarti ³menghakimi´. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) hlm. Juhud Al Muhaddisin fi Naqd Matn Al ± hadist Al ± Nabawi al ± Syarif ( Tunis : Muassat A. kata "Kritik" bisa diartikan upaya membedakan antara yang benar (asli) dan yang salah (palsu) . baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. ataupun tabi'in. 1987) hlm.multiply.. ada uraian baik buruk terhadap suatu karya.th]).7. yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. hal 88 . Lizan Al ± Arab Juz III. Pendidikan dan Kebudayaan.htm 7 Kata "kritik" berkonotasi pengertian bersifat tidak lekas percaya. yakni sabda Nabi Muhammad SAW. 466 8 Atar Semi.5 Matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad.6 Dalam literatur Arab kata ³an-naqd´ dipakai untuk arti ³kritik´ atau ³memisahkan yang baik dari yang buruk. tanah yang tinggi dan keras4. ( Dep. baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw.Kata ³an-naqd´ ini telah digunakan oleh beberapa ulama hadis sejak awal abad kedua Hijriah. kriterion berarti ³dasar penghakiman´. Matan menurut hadis adalah pengunjung sanad.roomforum.8 Dalam konteks tulisan ini kata ³kritik´ dipakai untuk menunjuk kepada kata an-naqd dalam studi hadis. hanya saja istilah ini belum populer di kalangan mereka.7 Kata ³kritik´ berasal dari bahasa Yunani krites yang artinya ³seorang hakim.89 6 http://kafilahcinta.com/journal/item/28 5 4 . tajam dalam penganalisaan. al ± KarimIbn Abdullah [t. 9 http://elkhalil. Hlm 434 .com/al-hadist-f3/arti-sanad-dan-matan-hadis-t9.4 II. Berdasarkan pada Ibn Mnzur. sahabat. Pengertian Matan dan Kritik Matan Hadis Menurut bahasa Matan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya panggung Jalan (muka jalan). Kritik Sastra (Bandung: Angkasa.435 Muhammad tahrir Al ± Jawabai.9 Dari arti kebahasaan tersebut.

10 11 Abbas.10 Sedangkan sebagai disiplin Ilmu Kritik hadits adalah: Penetapan status cacat atau adil pada perawi hadits dengan mengunakan idiom khusus berdasarkan bukti-bukti yang mudah diketahui oleh ahlinya.5 perumusan definisi kritik hadits di atas hakikatnya kritik hadits bukan digunakan untuk menilai salah atau membuktikan ketidak benaran sabda Rasulullah Saw. juhud al-Muhaditsin. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm. Hasjim. 10 Al-Jawabi. dan mencermati matam-matan hadits sepanjang sahih sanadnya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah dan upayta menyingkap kemuskilan pada matan hadits yang shahih serta mengatasi gejala kontrad iksi antar matan dengan mengaplikasikan tolok ukur yang detail. 11 Dari beberapa definisi diatas. karena otoritas nubuwwah dan penerimaan mandat risalah dijamin terhindar dari salah berkata atau melanggar norma. dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan kritik matan hadis (naqd al-matn) dalam konteks ini ialah usaha untuk menyeleksi matan-matan hadis sehingga dapat ditentukan antara matan-matan hadis yang sahih atau yang lebih kuat dan yang tidak. hlm 94 .

dan Terhindar dari Illat (cacat) y y Menururt Shalah al Din al Adlabi ada 4 tolak ukur penelitian keshohihan matan hadits: Tidak bertentangan dengan petunjuk Al Qur¶an. Adapun kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas shahih adalah sebagai berikut : Terhindar dari syudzudz (kejanggalan). Tidak bertentangan dengan akal sehat. Kaidah dalam Kritik Matan Syarat-syarat untuk menerima hadits-hadits Nabi yang shahih (baik) yang berhubungan dengan matan: Mengenai matan hadits itu sendiri. Menurut ulama hadis.6 B. ia harus tidak bersifat syadz. yaitu salah seorang perawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lain yang dianggap lebih akurat dan lebih dapat dipercaya. y y y . Tidak bertentangan dengan hadits yang kualitasnya lebih baik. yaitu cacat yang diketahui oleh para ahli hadits sehingga mereka menolaknya. suatu hadis dikatakan berkualitas shahih (dalam hal ini shahih li zatih) apabila sanad dan matannya sama-sama berkualitas shahih. y y Hadits tersebut tidaklah berilah qadinah.

Isinya bertentangan dengan sejarah pasti. hlm. op. Manhaj Naql matn. Cit. (Beirut : Dar ± al Afaq al ± Jadidah. oleh karena itu kecerdasan pengetahuan dan kecermatan dalam penelitian. H 128. h 237 ± 238 dalam M syuhudi Isma¶il. Cit.13 Meskipun tolak ukur tersebut tampak menyeluruh tetapi tingkat ukurannya ditentukan oleh ketetapan metodologis dalam penerapannya.7 y Susunan pernyataanmya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. y Isinya barada diluar kewajaran diukur dari petunjuk umum ajaran Islam. y y y y y y Isinya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam. Isinya bertentangan dengan petunjuk Al Qur¶an ataupun hadits mutawatir yang telah menjadi suatu petunjuk secara pasti. 238 Salahud-Din bin Ahmad Al-Adabi.12 Menurut ulama jumhur 4 unsur tolak ukur di atas adalah tolak ukur unsur untuk meneliti kepalsuan suatu hadits. 1403 H/ 1983 M). Isinya bertentangan dengan hukum dan sunnatullah. 12 y y y Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi. Metodelogi PenelitianHadis Nabi. Al Khatib al Baghdadi menjelaskan bahwa hadits yang yang maqbul haruslah: Tidak bertentangan dengan akal sehat. tanda-tanda matan hadits yang palsu (maudlu) adalah: Susunannya bahasa rancu. Tidak bertentangan dengan hukum al qur¶an yang telah muhkam. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir.. Op. Isinya bertentangan dengan akal sehat dan sangat sulit diinterpretasikan secara rasional. 13 .

Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas keshohihan lebih kuat. Manhaj Naqd al Matn (Beirut : Dara al ± Afaq al ± Jadidah. Dar el-Fikr. (Beirut. Seorang periwayat hadis disebut hafiz dan 'alim. hlm. 305 .8 y Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (ulama salaf). Dia juga harus menjaga hafalannya semenjak dia mendengar hadis tersebut dari gurunya (tahammul) sampai dia membacakan kembali pada orang lain ( alAda'). 1998). apabila dia meriwayatkan hadis dari hafalannya yang didengar. Persyaratan Dasar Kritikus Salah satu persyaratan hadis shahih yang harus dipenuhi oleh seorang reriwayat hadis adalah dhabit. 126 15 Muhammad 'Ajjaj al-Khatib. h.15 Seorang kritikus pasti mengetahui hal tersebut dan hal itu dapat dijadikan dasar persyaratan seorang kritikus matan hadis. Pengertian dhabit adalah seorang periwayat memahami apa yang didengar dan menghafalnya ketika dibacakan. menambah. Seorang periwayat juga harus dapat memelihara catatan hadisnya dari perubahan.Ushul al-Hadis.14 C. baik mengurangi. y y Tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti. Seorang periwayat dikatakan fahim apabila meriwayatkan hadis dari pengertian dan pemahannya (ma'nawi). mengganti atau menukar dari aslinya. 14 Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi. 1403 H/1983 M).

Adanya riwayat bi al-ma'na yang berkonskuensi pada adanya riwayat yang maknanya jauh dari apa yang disabdakan Nabi saw. Kedua. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy¶as. Keempat. membedakan antara alam gaib dan alam kasat mata. memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakangnya situasi. Semarang: Toha Putra. 3. memahami hadis hendaknya harus sesuai dengan petunjuk Alquran. tidak sekadar memahami hadis -hadis yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Sunan Abi Dawud. menghimpun hadis yang terjalin dalam tema yang sama. Keenam. membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan yang bersifat majaz.9 D. Ketiga. Adanya upaya perawi untuk merafa'kan hadits hingga sampai pada Nabi dari apa yang sebenarnya merupakan perkataan sahabat. Dikoreksi dan diberi nomor oleh Sidqi Muhammad Jamil. Kelima. Ketujuh. Juz I. Al-Sijastani.16 Dalam konteks yang lebih luas. Upaya Mengatasi Hadis yang Kontradiktif Menurut Hamzah Abu al-Fath. yakni : pertama.th. penggabungan atau pen-tarjih-an antara hadis yang tampak bertentangan. t. membedakan antara sarana yang berubah dan sasaran yang tetap. pada dasarnya tidak ada sabda-sabda Rasulullah saw. Bagaimana Memahami Hadits Nabi. yang saling bertentangan. Adapun pertentangan-pertentangan yang nampak tersebut dipicu oleh hal-hal berikut: 1. Kesalahan dalam menukil 2. dll. ada beberapa petunjuk yang mesti menjadi pegangan dalam memahami hadis-hadis Nabi seperti yang ditulis oleh Yusuf Qardhawi dalam bukunya. dan kondisinya ketika diucapkan serta tujuannya. 16 .

52 20 Ahmad Fudhaili. Terj. Jakarta: Pustaka Hidayah. Op. adalah sikap kritis para sahabat terhadap segala sesuatu yang dinilai janggal pada pemahaman mereka.17 Memahami hadis dengan memerhatikan delapan hal itu dengan catatan bahwa sumber-sumbernya sudah dipastikan keshahihannya. 17 . Meneliti susunan. Studies in Hadith Metodology and Literature. Metodelogi Peneiitia Hadis Nabi. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya. dan dalam konteks hadis-hadis shahih inilah pemahaman terhadap hadis dilakukan. 19 Yang dimaksud kritik matan pada masa Nabi SAW.10 Kedelapan. 2.18 Dalam menyikapi perbedaan lafal dapat diteliti dengan metode perbandingan (muqarranah)/comparison. Syuhudi Ismail mengungkapkan langkah ± langkah dalam kegiatan penelitian matan hadis. M Syuhudi Ismail.. Cit. setidaknya sudah taraf shahih. 1977). memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadis. A.( Indiana: Islamic Teaching Center Indianapolis. Loc. Metodologi Kritik Hadis. dan pertanyaan silang atau rujuk silang dan tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense. h. namun shahih matannya. meski tidak shahih seratus persen. antara lain sebagai berikut : 1.20 Azami. 1992. Meneliti kandungan matan. matan lafal yang semakna. Muhammad Musthafa. 3. E. Metodologi Kritik Hadis di Kalangan Orientalis M.cit hal 121 19 Muhammad Mustafa Azami. minimal hasan. Yamin. Tidak hanya shahih sanadnya. 18 H.

(Riyadh: tt. Studies in Hadith Metodology and Literatur. Perbandingan antara hadis dengan ayat-ayat al-Qur'an 2. 62-161 22 Muhammad Mustafa Azami. dan pertanyaan silang dan rujuk silang atau tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense adalah metode kritik matan hadis yang telah dibakukan oleh ulama-ulama ahli hadis. 3. 52 . Perbandingan antara pernyataan-pernyataan dari seorang ulama yang dikeluarkan pada waktu yang berlainan. Perbandingan antara beberapa riwayat (jalur sanad) yang mempunyai tema yang sama.22 Metode perbandingan (muqarranah)/comparrison. Perbandingan antara satu hadis dengan hadis yang lain yang terkesan kontradiktif.11 Metode perbandingan (muqarranah)/comparrison dan pertanyaan silang dan rujuk silang atau tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense dapat dilakukan dengan cara : 1. 3. Maqayis Naqd Matn al-Sunnah.21 Sedangkan menurut Muhammad Musthafa Azami metode ini diterapkan dengan empat cara: 1. H. Cit. Op. 1984). Perbandingan antara hadis dengan ayat al-Qur'an yang berkaitan. 4. Ke-I. h. 21 Musfir 'Azamullah al-Dumainy. Perbandingan antara hadis-hadis dari berbagai murid seorang guru (syeikh) 2. Perbandingan antara tradisi lisan dengan dokumen tertulis. Cet.

terdapat dalam kitab janaiz.Bani) Keterhindaran dari sydz dan illat. Demikian pula tentang keterhindaran sanad dari syaz dan illat sebagai salah satu syarat kesahihan sanad hadis sudah merupakan kesepakatan Muhadditsin. dalam hal ini muhaddisi terbagi dua. bab al mayyit yu¶ azzab bibuka¶i ahlih : : . Dngan adanya jalur pendukung baik pada tingkat sahabat (musyahid) maupun pada tingkat (mutabi¶) sampai pada tingkat musanif . Selain itu Muhammad Al ± Ghazali tidak mensyaratkan kesambungan sanad sebagai salah satu syarat kesahihan sanad hadis. . menurut Muhammad Al ± Ghazali merupakan persyaratan kesahihan matan. ada yang ketat dalam menvonis suatu sanad hadis. Hadis yang terdapat dalam Sahih Al Bukhari. ³Orang yang meninggal diazab karna di tangisi yang hidup (keluarganya)´ Hadis diatas telah memenuhi kriteria kesahihan sanad. baik dilihat dari kebersambungan sanad maupun dari kapasitas dan kwalitas parawi. Namun. maka dapat disimpulkan bahwa hadis itu diriwayatkan secara makna. ada juga yang agak longgar. Dari 37 jalur sanad hadis yang di teliti terlihat bahwa redaksi matan hadis tersbut memiliki perbdaan satu dengan lainnya. maka sanad hadis tersebut semakin baik dan kuat. dan sanad hadis tersbut mmiliki musyahid dan muttabi¶ .12 F. Kritik Hadis Ilmuan Muslim Kontemporer (Muhammad Al ± Ghazali dan Nashiruddin Al .

Metode yang ditempuh aisyah dalam menentukan kualitas hadis kemudian oleh ulama¶ hadis . dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". Karena itu Muhammad Alghazali. metode yang ditempuh oleh aisyah dapat dijadikan dasar untuk menguji kesahihan disebuah hadis. padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dari 37 jalur sanad hadis diatas hanya dua jalur yang dapat diterima. dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. bukan orang mukmin.Menurut Aisyah riwayat mereka bertentangan dengan pesan Alquran surat Al An¶am : 164 Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah. Argumen Muhammad Al Ghazali ini didasari oleh pendapat Aisy ah yang mengkritik sahabat yang meriwayatkan hadis diatas. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri. Demikianlah aisyah dengan tegas dan berani menolak periwayatan suatu hadis yang bertentang dengan Alquran. dan yang lainnya harus ditolak. yaitu jalur kelima dan ketujuh yang terdapat dalam sahih muslim . riwayat dari Aisyah. (QS Al ± An¶am : 164) Dalam riwayat aisyah disebutkan bahwa mayit yang disiksa dalam kubur adalah orang yahudi. yaitu menghadapkannya dnganh nas-nas Alquran. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali.13 Sementara menurut Muhammad Al Ghazali.

. Muhammad Al-Ghazali berusaha meluruskan pendapat yang mengutamakan hadis dari pada Alquran. Sebaliknya apabila redaksi matan hadis itu memiliki perbedaan dan perbedaan itu tidak menyebabkan perubahan makna itulah kemudian yang dikenal dengan hadis riwayat bi al-ma¶na. Didalam karyakaryanya kelihatan betul bahwa ia ingin membawa hadis kembali kebawah pengayoman prinsip-prinsip Alquran. kegiatan kritik matan hadis berupa perbandingan atau mencocokkan matan hadis yang diketahui oleh seorang sahabat dengan sahabat yang lainnya. Al syafi¶i dengan ikhtilaf al hadis-nya. Sebagai pelapor pendapat tersebut. maka dikumpulkan bahwa hadis itu diriwayatkan bi al-lafaz. berusaha menta¶wil hadis-hadis yang kelihatan bertentangan. muhadditsin klasik justru meletakkan hadis sebagai penjelasan wahyu yang tidak mungkin salah dan tidak mungkin dibatalakan oleh Alquran.14 dikembangkannya menjadi metode kritik matan hadis. atau membandingkannya dengan Alquran. kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada hadis yang bertentangan. Menurut Muhammmad Al-ghazali. baik terhadap sesama hadis maupun dengan Alquran. menurut AlGhazali adalah imam al-syafi¶i. Pada masa sahabat. Apabila hadis yang diperbandingkan itu sama redaksinya.

³Selagi kamu telah diberi kitab Allah. Hadis yang ada sanadnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Apabila tidak ada keterangan dalam Sunnah. Apabila tidak ada keterangan dalam kitab Allah. Hadis yang dibicarakan ini belum pernah ditemukan sanadnya. Syekh Nashiruddin al-Albani (1986: 80) menilai bahwa hadis ini tidak ada dasar dan sumbernya ( ). Berikut ini adalah contoh hadis : "Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat". Sesungguhnya para sahabatku itu ibarat bintang-bintang di langit.15 Sedangkan menurut Nashiruddin Al ± Bani. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkannya. Dan perbedaan (pendapat) para sahabatku itu merupakan rahmat bagi kamu´. sebab memang bukan sabda Nabi SAW. Mana yang kamu ambil pendapatnya. maka ia harus diamalkan. penilaiannya terhadap hadis dapat dicontohkan melalui hadis berikut. maka (kamu harus memakai) pendapat para sahabatku. . maka (kamu harus memakai) Sunnah daripadaku yang berjalan. kamu akan mendapatkan petunjuk. Sebuah hadis harus terdiri dari unsur sanad dan matan.

. dan dzâhib al-hadîts (pemalsu hadis). padahal ia tidak pernah bertemu dengan Ibn Abbas. Ibn Hajar al-`Asqalânî (852 H/1449 M) dalam Tahdzîb at-Tahdzîb (1404 H/1984 M. Dalam ilmu fiqh ada lembaga ijtihad sebagai bentuk pengakuan adanya perbedaan pendapat itu. sebab boleh jadi perbedaan pendapat justru menjadi laknat. matrûk. Sedang perbedaan pendapat dalam masalah fiqh yang bersifat furu`iyah (bukan prinsip) adalah boleh saja.16 Hadis ini diriwayatkan Baihaqi (458 H/1067 M) dalam kitabnya al-Madkhal ilâ as-Sunan al-Kubrâ. Hal ini belum tentu. hadis tersebut kualitasnya sangat daif. al-Khathib al-Baghdadî (463 H/1072 M) dalam kitabnya al-Kifâyah fî `Ilm ar-Riwâyah. II: 123) dan adz-Dzahabî (748 H/1347 M) dalam Mîzân al-I`tidâl fî Naqd ar-Rijâl (1382 H/1963 M. Di antara periwayat dalam sanadnya bernama Juwaibir dan adh-Dhahhak. Bahkan al-Albani menilainya sebagai hadis palsu. khususnya mengenai kesaan Allah adalah tidak boleh. I: 427) menyebutkan bahwa Juwaibir dinilai sebagai munkar. Dilihat dari segi kandungannya. Adh-Dhahhâk diklaim menerima hadis tersebut dari Ibn Abbas. bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Pertentangan membuka peluang terjadinya perpecahan. Perbedaan pendapat dalam masalah aqidah dan tauhid. yakni matrûk (tertolak). sehingga tidak mau bekerja sama apalagi bersatu. Dengan demikian. Bukankah perbedaan pendapat itu biasanya merupakan pemicu awal terjadinya pertentangan.

. 3. A. ataupun tabi'in. 2. Sedangkan Syekh Nashiruddin al-Albani menilai sebuah hadis harus terdiri dari unsur sanad dan matan. sahabat. . baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw. Dalam literatur Arab kata ³an-naqd´ dipakai untuk arti ³kritik´ atau ³memisahkan yang baik dari yang buruk.17 III. Kesimpulan PENUTUP Dari isi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu : 1. baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. Para ulama¶ hadits menetapkan beberapa syarat untuk menyeleksi antara hadis-hadis yang sahih dan yang maudhuµ para pakar hadis menetapkan ciri-ciri hadis shahih sebagai tolok ukurnya. Dalam meriwayatkan matan hadis argumen Muhammad Al Ghazali didasari oleh pendapat Aisyah yang mengkritik sahabat yang meriwayatkan hadis dengan menggunakan perbandingan Alquran. Matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad.

Syuhudi Ismail. (Yogyakarta: Pilar Media. (Beirut.com/al-hadist-f3/arti-sanad-dan-matan-hadist9. 2005). 1403 H/1983 M). Musfir 'Azamullah al-Dumainy. Diberi nomor oleh Muhammad Fu¶ad µAbd al-Baqi.multiply.(Riyadh: tt. http://elkhalil. Dep.htm Ibn Mnzur. .roomforum. Cet. Metodologi Kritik Hadis. Beirut: dar all-Fikr. 1992. Juhul al-Muhaddisin fi naqdi matni al-hadis al-nabawi al-syarif . Maqayis Naqd Matn al-Sunnah. Studies in Hadith Metodology and Literature. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi.( Indiana: Islamic Teaching Center Indianapolis.18 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Fudhaili. Terj. Kritik atas hadis-hadis shaheh. 1977). Thahir al-jawabi. 1992. M. Juz I. Studies in Hadith Metodology and Literatur. Sahih Muslim.th]). Gema Insani Press. Manhaj Naqd al Matn (Beirut : Dara al ± Afaq al ± Jadidah. 1998). Sunan Abi Dawud. Ke. Al-Sijastani. Semarang: Toha Putra Azami. Jakarta: Pustaka Hidayah. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) hlm. Dr. Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya. Yamin. Muhammad Musthafa. al ± KarimIbn Abdullah [t. Tunisia. Dar el-Fikr. H. Muhammad Mustafa Azami. muasasah µabd karim 1986 Muhammad 'Ajjaj al-Khatib. Juz I. Cet. Perempuan di Lembaran Suci. Ke-I Muslim bin al-Hajjaj.I Al-Naisaburi. 1984). Jakarta : 1995. 466 M. A. Muhammad Mustafa Azami. Dikoreksi dan diberi nomor oleh Sidqi Muhammad Jamil. muqadimah al-jami¶ al-shahih jilid I. mesir 1955 Prof. Muhammad tahrir Al ± Jawabai. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy¶as. Pendidikan dan Kebudayaan.com/journal/item/28 http://kafilahcinta. Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi. Lizan Al ± Arab Juz III.Ushul al-Hadis. Juhud Al Muhaddisin fi Naqd Matn Al ± hadist Al ± Nabawi al ± Syarif ( Tunis : Muassat A.

1985. Hlm.19 Subhi Shalih. .VIII Syaikh Muhammad Al Ghazali. Lihat juga dalam Mahmud Tahhan. Muhammad Al Baqir.145. Taysir Musthalah Al-Hadits. Penj. (Bandung: Mizan. (Surabaya: al-Hidayah). 1993). Ulum Al-Hadits Wa Mustholahuhu. 1997). (Beirut: Dar Al-Ilm Li AlMalayin. cet. Studi Kritik Atas Hadits Nabi SAW : Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->