P. 1
analisis penerapan total preventive maintenance untuk meningkatkan availability dan reliability pada mesin injeks melalui minimasi downtime

analisis penerapan total preventive maintenance untuk meningkatkan availability dan reliability pada mesin injeks melalui minimasi downtime

|Views: 380|Likes:
Published by 910za

More info:

Published by: 910za on Mar 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

ANALISIS PENERAPAN TOTAL PREVENTIVE MAINTENANCE UNTUK MENINGKATKAN AV AILABILITYDAN RELIABILITY P ADA MESIN INJEKSI MELALUI MINIMASI DOWNTIME

Gunawarman Hartono1; Syakti Dewi2

ABSTRACT

Maintenance department takes an important role in industry, especially in keeping the production process. Preventive maintenance method is a considerable solution to . the available engine performance, in which a regular treatment is able to develop the engine performance that gives effect in the product quality and lessen the broken engine break down.

Keywords: total preventive maintenance, engine, down time

ABSTRAK

Dalam suatu industri, bagian maintenance memegang peranan yang sangat penting, terutama da/am menjamin kelancaran proses produksi. Metode preventive maintenance merupakan suatu solusi yang dapat dipertimbangkan dalam memperbaiki kinerja mesin yang ada. Hal itu karena perawatan yang teratur (sesuai jadwal) dapat meningkatkan kinerja mesin yang naminya berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan dan dapat mengurangi tingkat kerusakan mesin.

Kala kunci: total preventive maintenance, mesin, down time

1 StafPengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik UBiNus. Jakarta

2 Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik UBiNus, Jakarta

Anofls/s Penerapan TofaIPretentlve ... (Gunawarmon Hartono; Syakti Dewl]

PENDAHULUAN

Saat ini, setiap industri yang ingin maju dituntut untuk dapat memenuhi keinginan konsumen dan mulai dianjurkan untuk memperhatikan segi kualitas maupun segi kuantitasnya, Penggunaan sumber daya daIam industri juga harus dapat diatur seefisien dan seefektif mungkin sehingga terdapat banyak faktor yang perlu untuk dipertimbangkan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan, yaitu faktor perawatan terhadap peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Perawatan yang tidak diJakukan secara periodik akan membawa dampak yang tidak baik kepada mesin dan peralatan pabrik. Apabila mesin tersebut rusak, produksi akan berhenti sehingga industri tersebut tidak dapat memenuhi kuantitas produk yang diinginkan oleh konsumen pada waktu yang telah disepakati. Selain itu, hal tersebut dapat berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan,

Tidak ada industri yang ingin mengalami kerugian akibat adanya keputusan atau langkah yang salah sehingga dampak tersebut harus dihindari karena hal itu dapat mengecewakan konsumen atau pelanggan, Terutama, bila diingat kembali bahwa era ini merupakan era persaingan yang sangat ketat. Saat ini, ada industri yang belum melaksanakanpreventive maintenance dan ada yang sudah. Namun, pelaksanaannya tidak dilakukan secara teratur. Apabila salah satu dari kedua hal tersebut diterapkan oleh suatu industri maka kelak hal tersebut dapat membawa masalah bagi industri yang bersangkutan.

Memang pada awalnya, penerapan corrective maintenance tidak memerlukan biaya yang besar, lagipula pelaksanaannya juga tidak terlalu sulit. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang panjang, biaya yang dikeluarkan oIeh suatu industri yang menerapkan corrective maintenance akan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan oleh suatu industri yang menerapkan preventive maintenance. Begitu juga hainya dengan industri yang menerapkan preventive maintenance yang tidak secara terjadwal. Apabila terdapat industri yang sudah meJaksanakan preventive maintenance namun belum sepenuhnya, hal itu sangat disayangkan. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis mencoba menguraikan langkah yang perlu dilakukan untuk menerapkan preventive maintenance dengan dan tanpa perawatan yang dilakukan secara teratur dan tindakan penggantian pencegahan berdasarkan kriteria minimasi downtime.

PEMBAHASAN

Pengumpulan Data

Pengumpulan 'data merupakan tahap yang penting untuk dilaksanakan karena hanya dengan tersedianya data dari perusahaan kemudian analisis dapat dilakukan. Data

2

INASEA Vol. 4 No.1, April 2003: 1-11

yang dimaksud disini terutama adalah data yang bersifat khusus, antara lain (I) Data downtime untuk setiap mesin yang ada untuk beberapa periode (misalnya 1 tahun), (2) Frekuensi kerusakan komponen mesin injeksi yang ada; dan (3) Kalender produksi. Data untuk time to failure diperoleh dari data downtime sedangkan data untuk time to . repair diperoleh dati selang waktu antara perbaikan kerusakan yang terakhir kali teJjadi dengan kerusakan berikutnya yang terjadi pada komponen mesin yang dimaksud.

Penentuan Mesin Kritis

Langkah selanjutnya adalah menentukan mesin kritis yang dilakukan dengan diagram Pareto. Dengan diagram pareto maka terlihat dengan jeJas mesin yang merupakan mesin kritis, Mesin kritis adalah mesin yang seringkali mengalami kerusakan sehingga mesin itu dapat menghambat produksi yang sedang dijalankan.

Penentuan Komponen Kritis untuk Setiap Mesin Kritis

Setelah mengetahui mesin yang tennasuk dalam mesin kritis, selanjutnya ditentukan komponen kritis mesin kritis tersebut. Penentuan komponen kritis itu juga dilakukan dengan diagram Pareto.

Perhitungan MTTR~ MTTF, dan Kondisi Wear Out

. Tahap ini dimuJai dengan menentukan sebaran time to failure dan time to repair.

Pemilihan sebaran time to failure dan untuk time to repair didasarkan atas index to fit. Empat distribusi dicoba untuk data time to failure dan data time to repair. yaitu distribusi We/bull, exponential, lognormal, dan normal. Sebaran dengan index of fit terbesar digunakan dalam pengoJahan data selanjutnya. Langkab uji-suai secara rinei dapat dilihat dalam Syakti Dewi (2003).

Selanjutnya, dilakukan perhitungan untuk MITF q..,fean Time to Failure) dan MTTR (Mean Time To Repair) kemudian ditentukan kondisi wear out komponen berdasarkan distribusi kerusakannya. Apabila identifikasi distribusi menunjukkan bahwa interval waktu kerusakan merniliki laju kerusakan yang konstan atau menurun (berdistribusi exponential atau Weibull dengan ~$1) maka penggantian pencegahan kerusakan tidak akan efektif untuk dilaksanakan karena tidak akan meningkatkan keandalan mesin sehingga usulan tindakan preventive maintenance yang diJakukan hanya berupa pemeriksaan saja. Sebaliknya, bila interval kerusakan memiliki laju kerusakan meningkat (berdistribusi Weibull dengan ~ 1, normal, dan lognormal) maka tindakan preventive maintenance yang diusulkan ada dua, yaitu penggantian pencegahan kerusakan dan pemeriksaan.

Anal/sis Penerapan Total Preventive ... (Gunawarman Hartono; Syaldl Dewi)

3

Penentuan Interval Waktu Penggantian Pencegahan

Penentuan interval waktu penggantian pencegahan dilakukan berdasarkan umur komponen dan penentuan umur komponen yang optimal itu akan diperoleh berdasarkan kriteria minimasi downtime. Dihitung pula avatlabtltty mesin jika diJakukan penggantian pencegahan tersebut, Perawatan berdasarkan umur komponen memerlukan metode perhitungan sebagai berikut,

I. Block Replacement. Jike pada selang waktu tp tidak terdapat kerusakan maka tindakan penggantian dilakukan pada suatu interval Ip yangtetap. Jika sistem rusak sebelum jangka waktu tp, maka dilakukan penggantian kerusakan dan penggantian selanjutnya akan tetap dilakukan pada saat tp., dengan mengabaikan penggantian perbaikan sebelumnya.

2. Age Replacement. Dalam metode itu, tindakan penggantian dilakukan pads saat pengoperasiannya sudah mencapai umur yang ditetapkan, yaitu sebesar tp. Jika pada selang waktu tp tidak terdapat kerusakan maka dilakukan penggantian sebagai tindakan korektif. Perhitungan umur tindakan penggantian tp dimulai dari awal lagi dengan mengambil acuan dari waktu mulai bekerjanya sistem kembali setelah dilakukan tindakan perawatan korektif tersebut, Nilai tengah distribusi kerusakan sebagai berikut

Total downtime per satu siklus (D(lp)) sebagai berikut,

Tp.R(f p) + Tf (1- R(t p»

D(t p) = I

p

(I p +Tp )R(tp) + f t.f(t)dt + Tf(l- R(t p»

o .

Jika laju kerusakan yang terpilih dari suatu komponen kritis adalah bukan laju kerusakan yang meningkat maka tidak perlu dilakukan penggantian pencegahan . kerusakan.

Penentuan Interval Waktu Pemeriksaan

.-'" -p"-."', •

• ~ 1.\ I-~, .'_,:" • ." _ -' "ij • _ t· ".' ,.'- " ',;' "f .'. _ ."~ " ' .

; ...... :r,.;Y,l.~~,~,.~elIDijiiiriya ~~i*~:~enentuan interval waktu pemeriksaan sehingga melalui ~al ~in;i nantiilYll;akan' 4jp~h'j1¢ll' ftekuensi waktu pemeriksaan yang optimum.

~ :., .~ . ~.' ,}!~~~·,t~ .~.,-' r.:;~~· ,

.. ?"" .... '~,~........ '

~, ~ .. ~ ..... ~-I!',

. . .. "'''''~ l' '.

4

INASEA, Vol. 4 No.1, April 2003: 1-11

Selain itu juga kita akan memperoleh jadwal pemeriksaan mesin kritis tersebut dan availability pemeriksaan.

Perbandingan Realibilitas Saat ini Dengan Kondisi Usulan

Pada tahap itu, dilakukan perhitungan terhadap relialibilitas pada kondisi usulan dan dilakukan perbandingan terhadap reliabilitas pada kondisi yang sedang berjalan saat ini. Melalui tersebut, diketahui meningkat atau tidaknya reliabilitas mesin pada kondisi usuIan. Rumus yang digunakan sebagai berikut.

R(t)sekarang = 1 - F(t) R(t-nT)usutan = 1 - F(t-nT)

n adalah jumlah penggantian peneegahan yang telah dilakukan sampai kurun waktu t; T adalah interval pemeriksaan; dan F(t) adalah fungsi sebaran kumulatif peluang time to faiture pada waktu t.

Perhitungan Tingkat Ketersediaan Total

Tujuan perhitungan ketersediaan total (Total Vatlabiltty) adalah menentukan peluang beroperasinya mesin untuk setiap siklus penggantian peneegahan dan pemeriksaan komponen kritis. Perhitungan itu dilakukan dengan mengalikan availability penggantian pencegahan dengan availability pemeriksaan karena availability penggantian pencegahan dan avai/ability pemeriksaan merupakan kejadian yang saling bebas.

Dari sejumlah mesin injeksiyang digunakan, ternyata terdapat satu mesin kritis, yaitu mesin injeksi dengan tipe JSW 450 ED. Pengolahan data selanjutnya akan berhubungan dengan data dari mesin ituDari sejumlah komponen yang ada pada mesin injeksi dengan tipe JSW 450 ED, temyata terdapat satu komponen kritis, yaitu komponen hidrolik. Dari perhitungan data kerusakan yang telah diketahui dengan langkah uii-suai, diketahui bahwa TIR berdistribusi lognormal (index to fit = 0.9008) dan TTF yang juga berdistribusi lognormal (index tofit = 0.9856).

Karena distribusi kerusakan yang terpilih dari komponen hidrolik pada me sin injeksi dengan tipe JSW 450 ED berdistribusi lognormal, berarti Iaju kerusakan dari komponen tersebut mempunyai siklus yang meningkat. Oleh karena ito, perIu diterapkan optimasi interval waktu penggantian pencegahan kemsakan yang simulasinya disajikan pada Lampiran 1. Dari basil simulasi, diperoleh age replacement = 450 jam, D(tp) min = 0.02201 dan availability = 1 - 0.02201 = 0.97799,

Hasil perhitungan frekuensi pemeriksaan optimal menunjukkan selang waktu untuk melakukan pemeriksaan adalah setiap 120 jam setelah pemeriksaan yang terakhir. Hasil perhitungan secara rinei disajikan pada Lampiran 2. Atas frekuensi optimal tersebut, diperoleh penjadwalan harian selama 6 bulan seperti pada Lampiran 3, Dengan

Analisls Penerapan Total Preventive ... (Gunawarman Hartono; Syaktl Dewl)

5

jadwal pemeriksaan tersebut, perbandingan reliabilitas sekarang dengan usulan diperoleh seperti pada Lampiran 4. Berdasarkan perhitungan, diperoleh bahwa availability interval penggantian untuk komponen hidrolik dari mesin injeksi dengan tipe JSW 450 ED adalah sebesar 0.97799 dan availability pemeriksaannya adalah sebesar 0.99469 maka total availability adalah (0.97799) (0.99469) = 0.97279.

PENUTUP

Melalui berbagai penjelasan yang ada, dapat ditarik simpulan bahwa preventive' maintenance dengan pelaksanaan perawatan yang teratur dan tindakan penggantian pencegahan tentunya akan lebih baik daripada perawatan preventive maintenance tanpa perawatan yang teratur dan tanpa tindakan penggantian pencegahan. Selain itu, perawatan preventive maintenance dengan perawatan yang teratur dan tindakan penggantian pencegahan dapat meningkatkan kinerja mesin yang digunakan sehingga pemenuhan keinginan konsumen dapat dipenuhi, baik secara kualitas maupun kuantitas.

DAFTAR PUSTAKA

Amrine, H.T. 1992. Manufacturing Organization and Management. New York: Prentice Hall.

Assauri, S. 1993. Manajemen Produksi dan Operasi, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Bkonomi Universitas Indonesia.

Bossche, A. and D.J. Sherwin. 1993. The Reliability, Availability, and Productiveness of Systems. Chapman & Hall.

Corder, A.S. 1988. TeknikManajemen Pemeliharaan. Jakarta: Erlangga.

Daryanto. 1986. Teknik Pemeliharaan Mesin dan Keselamatan Kerja Bengkel. Bandung:

Tarsito.

Dewi, Syakti. 2003. "Analisis Penerapan Total Preventive Maintenance untuk Meningkatkan Availability dan Reliability pada Mesin Injeksi Berdasarkan Minimasi Downtime." Skrpisi 81 Teknik Industri. Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Dhillon, B.8. 1983. Reliability Engineering in System Design and Operation. New York:

Van Nostrand Reinhold Company Inc.

6

INASEA Vol. 4 No.1, April 2003: 1-11

Ebeling, C.E. 1997. An Introduction to Reliability and Maintainability Engineering.

Singapore: The McGrawMHill Companies, Inc.

Jardine, A.K.S. 1973. Maintenance, Replacement, and Reliability. Canada: Pittman Publishing Corporation.

Kapur. 1997. Availability. Singapore: The McGrawMHill Companies, Inc.

Nahmias, S. 2001 ~ Production and Operations Analysis. Singapore: McGraw Hill.

Schroeder, R. 2000. Operations Management. North America: McGraw Hill.

Walpole, R.E. 1995. Pengantar Statistika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Anal/Sis Penerapan Total Prevenftl/e ... (Gunawarman Hartono; Syoldt Dew/)

7

I:,

LAMPIRANl
Interval Penggantian Komponen Hidrolik padaMesin Injeksi
dengan Tipe JSW 450 ED
tpQam) lIS*ln(tltmed) F{tp) R{tp) M(tp} D(tp}
50 -3.86 0.00006 0.99994 1.2E+07 0.02811
0 100 -2.71 0.00336 0.99664 210528 0.02642
00
150 -2.04 0.02067 0.97933 34222.3 0.02500
200 -1.57 0.05821 0.94179 12152.1 0.02387
250 -1.20 0.11507 0.88493 6147.35 0.02304
300 -0.90 0.18406 0.81594 3843.18 0.02249
350 -0.64 0.26109 0.73891 2709.32 0.02217
400 -0.42 0.33724 0.66276 2097.54 0.02203
450 -0.23 0.40905 0.59095 1729.31 0.02201 ". ~
500 -0.05 0.48006 0.51994 1473.51 0.02214
550 0.10 0.53983 0.46017 1310.37 0.02230
/: , 600 0.25 0.59871 0.40129 1181.5 0.02258
650 0.38 0.64803 0.35197 1091.58 0.02286
: 700 0.50 0.69146 0.30854 1023.02 0.02317
I 750 0.61 0.72907 0.27093 970.243 0.02349
800 0.72 0.76424 0.23576 925.593 0.02386
, . 850 0.82 0.79389 0.20611 891.024 0.02422
I, 900 0.92 0.82121 0.17879 861.382 0.02461
950 1.00 0.84134 0.15866 840.772 0.02489 8

INASEA, Vol. 4 No. 1, AprIl 2003: 1-11

-j

LAMPlRAN2

Perhitungan Interval Waktu Pemeriksaan Optimal

• Kerusakan rata-rata dalam I bulan (k).

Jumlah kerusakan dalam 12 bulan = 6 kerusakan.

Rata-rata kerusakan dalam satu bulan = ~= 0.50, sehingga k = 0.50. 12

• Waktu rata-rata perbaikan kerusakan (u).

Basil perhitungan time to repair = 20.9045 jam. Jumlah kerja dalam 1 bulan = 720 jam.

Waktu rata-rata 1 kali perbaikan = 0.0290, sehingga parameter Il sebesar 32.8700.

• Rata-rata waktu pemeriksaan(l/i).

Dari perusahaan diperoleh keterangan bahwa untuk memeriksa komponen ini diperlukan waktu 20 menit. Perhitungannya:

Rata-rata waktu pemeriksaan == 20 bulan:::: _I-bulan.

60x 720 2160

Parameter i =2160.

• Interval waktu pemeriksaan.

Frekuensi pemeriksaan optimal:

n::::~kXi:::: 0.5x2160 ::::5.73~6kali/

11 32.8700 Ibulan.

Interval waktu pemeriksaan = _!_ x waktu produktif dalam 1 bulan. n

1 . .

= - x 720 Jam = 120 Jam.

6

Anallsls Penerapon Total Preventive ... (Gunawarman Hartono; Syakti Dawl)

9

l

II

LAMPlRAN3

PenjualanHarian Selama 6 Bulan

4 Oktober : Nabi Muhammad SAW

I

6 - 7 Desember : Idul Fitri 25 Desember : Natal

Keterangan: Kotak biro = kegiatan pemeriksaan yang dilakukan pada pukul 17; 00

10

INASEA, Vol. 4 No.1, April 2003: 1-11

~

I

I

I

1

!

J . ___..

LAMPlRAN4

Perbandingan Rebialitas Sekarangdan Reliabilitas Susulan

Rumus yang digunakan untuk reliabilitas kondisi sekarang sebagai berikut.

R( t) = 1 - <l>[.!.ln _t_)

S 'med

Rumus yang digunakan untuk reliabilitas kondisi usulan sebagai berikut.

. (I t-nT)

R(t -nT) = l-cI> -In--

S (mad

1.2
JJ 1
:a 0.8
II 0.6
&! 0.4
0.2
0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 2325 Jam Operas!

Gamba! I Grafik Reliabilitas Komponen Hidrolik Mesin Injeksi Tipe JSW 450 ED (yang di atas adalah reliabilitas usulan, yang di bawah reliabilitas sekarang)

Anaflsls Penerapon Total PreventNe ... (Gunaworman Hortono: Syaktl Dewl)

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->