UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK PADA POKOK BAHASAN GAYA

DAN PERCEPATAN KELAS VII SMP NEGERI 2 BUKATEJA TAHUN AJARAN 2005/2006

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Desi Sadiati NIM 4201401021

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FISIKA 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan di sidang panitia ujian skripsi.

Semarang,

2006

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Sri Hendratto NIP 130367992

Dr. Putut Marwoto, M. S NIP 131764029

Mengetahui, Ketua Jurusan Fisika

Drs. M. Sukisno, M. Si NIP 1330529522

PENGESAHAN

Skripsi telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada Hari Tanggal : Selasa : 11 April 2006 Panitia Ujian: Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, MS NIP. 130781011

Drs M. Sukisno, M. Si NIP. 1330529522

Pembimbing I

Anggota Penguji 1.

Drs. Sri Hendratto NIP. 130367992

Dr. Sugianto M.Si NIP. 132046850 2.

Pembimbing II

Drs. Sri Hendratto NIP. 130367992 3.

Dr. Putut Marwoto M. Si NIP. 1330529522

Dr. Putut Marwoto M. Si NIP. 1330529522

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

2006

Desi Sadiati

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Al Insyiroh : 6)

Skripsi ini saya peruntukkan: Bapak dan ibuku tercinta yang senantiasa memberikan motivasi, curahan kasih sayang, perhatian dan doa restunya, kakak-kakakku tersayang yang selalu memberi dorongan dan kasih sayangnya, teman-teman trisanja kost yang selalu menjadi sahabat yang baik.

Purbalingga. Sri Hendratto selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan. 3. 2. Dr. selaku kepala SMP Negeri 2 Bukateja Purbalingga. . Si. M. M. saran dan petunjuk. S. Si. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada: 1. selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan. Drs. Nurhadi . Putut Marwoto. Drs. saran dan arahannya. Kasmadi IS.KATA PENGANTAR Alhamdulilah puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala kekuatan dan perlindungan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Investigasi Kelompok Pada Pokok Bahasan Gaya dan Percepatan Kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja Tahun Ajaran 2005/2006”. SH. 5. 4. selaku Guru mata pelajaran Fisika SMP Negeri 2 Bukateja vii . Dr. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan pernah terwujud. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata I yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang. motivasi. 6. M. sebagai Ketua Jurusan Fisika FMIPA. 7. Drs. M. selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. Drs. H. selaku Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang.AT Soegito. Sukisno. MM.

Namun demikian. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. masih banyak kelemahan dan kekurangan. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.8. Penulis viii . penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

II. Dengan demikian. Drs. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Investigasi Kelompok Pada Pokok Bahasan Gaya dan Percepatan kelas VII-B SMP Negeri 2 Bukateja Tahun Ajaran 2005/2006.74% berarti ada 33 siswa yang tuntas belajar psikomotorik.Si. di SMP Negeri 2 Bukateja tahun ajaran 2005/2006 dalam proses pembelajaran jarang dilakukan praktikum/percobaan dan hasil belajar siswa masih rendah sehingga perlu ditingkatkan. perencanaan kooperatif.72% berarti siswa yang tuntas belajar kognitif ada 36 siswa. yaitu perencanaan. Desi.37% yang berarti ada 38 siswa yang tuntas hasil belajarnya dan hasil belajar psikomotorik mencapai 76. Sri Hendratto. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dalam pelaksanaannya terdiri dari empat tahapan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja tahun ajaran 2005/2006. presentase hasil final dan evaluasi. Dr. dapat diketahui bahwa nilai hasil belajar siswa meningkat Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan penerapan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar Fisika. Universitas Negeri Semarang. Dari populasi sebanyak 6 kelas diambil 1 kelas sebagai sampel karena kelas tersebut adalah kelas yang mempunyai rata-rata nilai rendah dibandingkan dengan kelas yang lain. Sampel diambil secara purposive sampling.SARI Sadiati. Oleh karena itu penulis menyarankan agar model pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dapat diterapkan pada konsep lain ataupun pada mata pelajaran lain. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. ii . Berdasarkan hasil observasi awal. Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif pada pokok bahasan Gaya dan Percepatan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar Fisika siswa kelas VII-B tahun ajaran 2005/2006. tetapi dengan perbaikan pada proses pembelajarannya dan guru harus lebih memotivasi siswa terutama untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran pada saat diskusi kelompok maupun kelas. Jurusan Fisika. 2006. Untuk hasil belajar afektif mencapai 88. Langkah-langkah dalam pembelajaran Kooperatif Investigasi kelompok adalah sebagai berikut: pemilihan topik. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Investigasi Kelompok. Pembimbing : I. pelaksanaan. Skripsi. Model pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil yaitu. analisis dan sintesis. implementasi. Dari penelitian didapatkan bahwa hasil belajar kognitif keberhasilan kelasnya mencapai 83. Data hasil belajar afektif dan psikomotorik diambil dari hasil observasi selama proses pembelajaran. observasi dan refleksi. Data hasil belajar kognitif siswa diambil dari nilai tes yang dilaksanakan pada tiap akhir siklus.Putut Marwoto M. siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif. Upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

.... Cara Pemecahan Masalah ............................................................ vii DAFTAR ISI.........................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . ix DAFTAR LAMPIRAN...... 4 D.................................. xi BAB I PENDAHULUAN A............................................................................. 17 C................................................ 6 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN A....... Manfaat Penelitian ............................................ Landasan Teori ............................................ Materi Tentang Gaya dan Percepatan ...................................................................................... 8 B................................................................. vi KATA PENGANTAR ............................. 1 B..................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................................... 5 E....... 5 F............................... 5 G........................................................................................ iii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................. 24 ix .. Latar Belakang Masalah ............................................................................................. 4 C...................................................................................................................................................................................................... Sistematika Skripsi ....................................... Rumusan Masalah ................................................................................................................ Hipotesis tindakan ................................... Tujuan Penelitian ........................................... Penegasan Istilah ............ v MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........... i SARI ......

.. 34 G.............................................................BAB III METODE PENELITIAN A....... 25 C... Teknik Pengumpulan Data....... Saran . Instrumen Penelitian .............................................................................................................................................. 25 B................................................................................................................ 43 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN x ................ Kesimpulan ....................................................................................................................................................................................................................................................... 26 D............... Prosedur Penelitian .... Teknik pengolahan Data ............. 35 H..... 37 B... 28 E............... Faktor yang Diteliti ................ 29 F..................... Lokasi Penelitian dan Kelas yang Diteliti..................................... Hasil Penelitian ..................................................................................... Indikator Keberhasilan ............. Pembahasan ................... 39 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A............................................................... 42 B....... 36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A........... Rencana Penelitian .........

Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial. dan efektivitas metode pembelajaran. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. yang lebih memberdayakan potensi siswa. tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. . relevan dan mampu mengakomodasikan keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.BAB I PENDAHULUAN A. peningkatan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan dan secara khusus harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Latar Belakang Masalah Dalam konteks pendidikan ada tiga hal utama yang perlu disoroti. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek. yaitu merupakan suatu konsep belajar dengan cara guru mengaitkan situasi dunia nyata siswa ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya. yaitu perbaikan kurikulum.

Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif (belajar melalui konteks komunikasi personal.2 Fisika sebagai ilmu dasar dimanfaatkan untuk memahami ilmu lain dan ilmu terapan sebagai landasan pengembangan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata ulangan sebelumnya yang hanya mencapai rata-rata nilai 52 dan 58. Dalam pembelajaran kontekstual terdapat tiga model pembelajaran bagi pendidik dalam rangka penerapannya. Agar siswa dapat mencapai kualitas yang optimal. melalui penanganan benda yang benar-benar nyata. Penyampaian fisika di SMP Negeri 2 Bukateja Purbalingga selama ini telah diupayakan agar memperoleh hasil guna dan menumbuhkan minat peserta didik terhadap pelajaran Fisika. pelajaran Fisika bermakna dalam membina segi intelektual. . Akibatnya siswa hanya menghafalkan rumus tersebut dengan benar dan dalam kegiatan pembelajaran jarang dilakukan praktikum/percobaan sedangkan nilai ulangan Fisika masih rendah. contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dengan mempraktikkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik. Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak akan mudah memahami konsep–konsep yang sulit apabila disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit. sikap. minat dan kreativitas bagi peserta didik. pemakaian bersama dan sebagainya). Selama ini guru menyampaikan pelajaran secara singkat baik dengan diagram atau gambar kemudian dilengkapi dengan rumusrumus dan perhitungan mekanis.

Dominasi guru berceramah sudah sangat kurang dan telah beralih pada aktivitas membimbing dan memotivasi siswa. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mutaqien Mafaza (2004). dan Pendekatan Struktural.17. Metode kooperatif ini ada beberapa bentuk. Sementara itu aktivitas siswa lebih banyak berupa bekerja. Investigasi Kelompok. dan diskusi antar siswa (Sutardi dkk:2001). melalui model pembelajaran STAD pada mata pelajaran Biologi.90 dibandingkan rata-rata nilai kelas sebelumnya yaitu sebesar 7. Beberapa ahli menyatakan bahwa model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. . termasuk untuk bidang IPA. Jigsaw. didapatkan hasil bahwa rata-rata nilai kelas menjadi 81.17 dibandingkan nilai ratarata kelas sebelumnya sebesar 75. dan Bilogi. Kimia. tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kerjasama.50. Hasil dari penelitian para ahli adalah telah terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil produk. membaca.3 Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang akhir-akhir ini sangat populer. antara lain: Student Teams Achievment (STAD). Selain itu kualitas proses belajar juga dapat ditingkatkan. tentang hasil belajar Matematika dengan menggunakan model koperatif Jigsaw dari hasil penelitian didapatkan bahwa ratarata nilai kelas naik menjadi 7. proses. kemampuan membantu teman dan sebagainya. dan psikomotorik siswa baik SMU maupun SMP untuk ketiga mata pelajaran Fisika. Beberapa peneliti juga membuktikan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan hasil belajar seperti yang dilakukan oleh Susilowati Hadiningsih(2004). hal ini dilihat dari hasil pengamatan aktivitas siswa.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian penerapan model pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar Fisika pokok bahasan Gaya dan Percepatan. misalnya mengapa ban mobil selalu dibuat bergerigi atau sandal permukaan alasnya dibuat tidak rata. Dengan Investigasi Kelompok siswa mengalami sendiri usaha pada penemuan sesuatu. B. . Siswa memperoleh pengertian dan pemahaman lebih mendalam tentang Fisika dan yang telah dipelajari akan tetap melekat padanya. maka yang menjadssi masalah pada penelitian ini adalah apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok hasil belajar Fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja dapat meningkat dan seberapa besar peningkatannya.4 Dalam hal ini peneliti menerapkan model pembelajaran Investigasi Kelompok dalam pembelajaran Fisika karena mata pelajaran Fisika adalah pelajaran yang membutuhkan pemahaman tentang konsep-konsep yang mendasar dimana dalam Investigasi Kelompok ini siswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). dengan pertimbangan bahwa SMP Negeri 2 Bukateja bukan sekolah unggulan sehingga perlu diadakan perlakuan yang baru agar siswa tidak jenuh.

D. 2. 3. penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam menyusun dan mengembangkan pengajaran Fisika yang berorientasi pada pendekatan kooperatif. . E. manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1.5 C. Bagi siswa adalah sebagai upaya untuk dapat meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan pemahaman siswa dan peran aktif siswa dalam kelas. Bagi Sekolah. Cara Pemecahan Masalah Permasalahan tentang upaya meningkatkan hasil belajar Fisika kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja akan dipecahkan dengan penerapan pembelajaran “kooperatif Investigasi Kelompok”. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar Fisika dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok. Bagi guru. hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya untuk perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran. yaitu tipe pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil yaitu siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif. Manfaat Penelitian Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas.

6 F. akibat. Belajar adalah usaha yang dilakukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. . Penegasan Istilah Penegasan istilah dalam skripsi ini dimaksudkan agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap judul skripsi dan memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. yaitu siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif. perencanaan kooperatif. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran koopertif adalah suatu pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerja dalam kelompok yang mempunyai tanggung jawab individual maupun kelompok terhadap ketuntasan tugas-tugas. pikiran. akibat hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar Fisika pokok bahasan Gaya dan Percepatan yang ditunjukkan dengan nilai tes. Investigasi Kelompok Investigasi kelompok merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil. dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas. dijadikan. dan sebagainya oleh usaha. 3. 2. dibuat. Hasil belajar Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil adalah sesuatu yang diadakan. Istilah-istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut: 1.

pengumpulan data. Dalam landasan teori dikemukakan uraian teoritis pendapat para ahli tentang teoriteori yang ada hubungannya dengan judul skripsi. 2. daftar isi dan daftar lampiran. Pada bab ini diuraikan tentang data hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian. dan sistematika skripsi. kata pengantar. BAB II Landasan teori dan hipotesis. Bagian isi memuat: BAB I Pendahuluan berisi tentang alasan pemilihan judul. BAB IV Berisi hasil penelitian dan pembahasan.faktor yang diteliti. Bagian awal memuat halaman judul. analisis data dan indikator keberhasilan. Sistematika Skripsi Sistematika skripsi ini terdiri dari tiga bagian: 1. rancangan penelitian. 3. penegasan istilah. abstrak. Dari landasan teori dikemukakan hipotesis. BAB V Berisi simpulan dan saran dari hasil penelitian. permasalahan. halaman motto dan persembahan. prosedur penelitian. manfaat penelitian. . BAB III Berisi lokasi penelitian dan kelas yang diteliti. halaman pengesahan. Bagian akhir memuat daftar pustaka dan lampiran. tujuan penelitian.7 G.

Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. disengaja atau tidak disengaja. di sekolah dan di masyarakat. Perubahan ini relatif konstan dan berbekas (TIM MKDK IKIP Semarang. Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Winkel (1989: 36) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan. Pada pola tradisional. . pengalaman. baik disadari maupun tidak disadari. 2000:4). Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. Menurut WS. Landasan Teori Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. ketrampilan dan nilai sikap.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. misalnya di lingkungan keluarga. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana.

apabila tujuan pembelajaran tercapai maka akan nampak pada diri siswa perubahan- . kemampuan ketrampilan dan sikap siswa akibat dari hasil belajar yang telah dilakukan siswa (Arikunto. maka pembelajaran itu bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Sesuai dengan pengertian belajar yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. baik kuantitas maupun kualitas. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (TIM MKDK IKIP Semarang. Tujuan-tujuan belajar diusahakan untuk dicapai dalam proses atau kegiatan belajar pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan. Diharapkan dengan penggunaan istilah pembelajaran guru akan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. 2002: 132).9 Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teachers centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Jadi. 2000:24). Karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. agar proses belajar dapat berjalan dengan maksimal. maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa secara sadar dan sengaja. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan.

agar konsep dan teori yang disajikan dapat menjadi bagian dari struktur kognitif siswa. Sistem lingkungan belajar ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa komponen yang masing-masing saling mempengaruhi. jika guru menerapkan metode yang kurang tepat maka hasil yang dicapai kurang memuaskan. Metode merupakan hal penting dalam proses belajar pembelajaran karena sebagai sarana untuk mendukung kegiatan guru dan siswa di dalam kelas. sikap/minat maupun Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. materi yang diajarkan. 1998:29). Oleh karena itu diperlukan suatu cara/metode yang digunakan. jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar dan pembelajaran yang tersedia (Sutomo dkk. Jadi seorang guru dalam pembelajaran harus sudah memiliki rencana dan menetapkan strategi belajar pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk pencapaian tujuan tersebut tidak cukup guru berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir pada setiap KBM. peran serta guru dan siswa dalam pembelajaran. dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar . yang meliputi kemampuan intelektual.10 perubahan ketrampilan. Strategi belajar diperlukan agar belajar dapat mencapai tujuannya. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. dan sebaliknya jika guru menerapkan metode yang tepat maka hasil yang dicapai memuaskan. Metode juga berperan sebagai alat untuk menciptakan proses belajar pembelajaran. Akan tetapi siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis dalam bentuk percobaan atau penelitian.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 4. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa. 3. Motivasi belajar siswa tidak selalu timbul dalam diri siswa sebagian siswa mempunyai motivasi yang tinggi. besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuannya. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa. Oleh karena itu upaya menimbulkan dan meningkatkan motivasi belajar khususnya oleh guru. Faktor-faktor ini bisa bersifat instrinsik maupun ekstrinsik. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan yang bersifat ekstrinsik yaitu kemauan belajar sangat bergantung pada kondisi di luar dirinya. merupakan suatu hal yang perlu dan wajar. Dengan upaya-upaya motivasi belajar yang dilakukan di atas. Yang bersifat intrinsik yaitu kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak bergantung pada faktor luar dirinya. tetapi sebagian rendah atau bahkan tidak ada sama sekali.11 siswa yang dapat memotivasi siswa untuk belajar. namun dalam kenyataanya motivasi ekstrinsik yang sering terjadi. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. 2. Motivasi belajar siswa dapat berubah-ubah disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Bagi siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar. kualitas . kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu. Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut: 1. Jadi.

Apabila dicapai kualitas pembelajaran yang baik maka akan dicapai pula hasil belajar yang baik.12 pembelajaran dapat diartikan sebagai tingkat baik buruknya suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Ranah Psikomotorik Berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemauan bertindak. Bloom dalam Sudjana membagi tiga ranah hasil belajar yaitu: 1. jawaban atau reaksi penilaian. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek yaitu penerimaan. sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur pada proses pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan siswa. pemahaman. aplikasi. ketrampilan gerakan dasar. 2. yaitu pengetahuan atau ingatan. ketrampilan komplek dan komunikasi. ada enam aspek yaitu gerakan refleks. Ranah kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek. analisis. ketrampilan membedakan secara visual. 1989:22). Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir pembelajaran. 3. ketrampilan dibidang fisik. . Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya (Sudjana. sintesis dan evaluasi. organisasi dan internalisasi.

Sebenarnya pembelajaran kooperatif merupakan ide lama.13 Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal. . Pada awal abad pertama seorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar. Herbert Thelan. Mereka berlatih ketrampilan-ketrampilan untuk bekerja sama dengan baik. adalah model pembelajaran kooperatif (Suradi. siswa ditempatkan pada kelompok-kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa minggu atau bulan. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kurikulum 2004. mengembangkan prosedur yang lebih tepat untuk membantu siswa bekerja dalam kelompok. Thelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan laboratorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi (Fida Rachmadiarti. serta metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Pada pembelajaran kooperatif. seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien. dengan suasana yang tidak membosankan siswa. 2004). 2003:10). seseorang harus memiliki pasangan/teman. Dari situlah ide pembelajaran koopertif itu dikembangkan. membantu teman dalam kelompoknya masing-masing. Adapun ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerja dalam kelompok yang mempunyai tanggung jawab individual maupun kelompok terhadap ketuntasan tugas-tugas.

sedang dan rendah.14 2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi. jenis kelamin yang berbeda-beda. yaitu hasil belajar akademik. Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. 3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. suku. 4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. 2) Menyajikan informasi Fase ini diikuti oleh penyajian informasi. 3) Bilamana mungkin. budaya. penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial (Fida Rachmadiati: 2003: 7). seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. anggota kelompok berasal dari ras. . Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. yaitu: 1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. 4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting.

Keberhasilan individu dalam belajar diorientasikan oleh keberhasilan kelompok. Investigasi Kelompok adalah salah satunya. keahlian kerjasama dan proses kelompok. tanggung jawab individual. siswa tergabung dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari empat sampai enam anggota. siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif bercirikan penemuan).15 5) Evaluasi Pada tahap ini pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang mereka pelajari. Dalam metode ini. Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif. diskusi kelompok dan perencanaan kooperatif. Di dalam pembelajaran ini. kelompok-kelompok itu memecahkan . 1993). Jadi sistem pengajaran cooperatif learning bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. 2002:17). yaitu saling ketergantungan yang positif. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama dalam tugas-tugas yang terstruktur (Lie. Setelah memilih subtopik dari sebuah topik yang sedang dipelajari seluruh kelas. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab tidak hanya untuk mempelajari konsep yang diajarkan. 6) Memberi penghargaan Pada tahap akhir guru memberi penghargaan terhadap usaha-usaha dan hasil belajar kelompok maupun individu. interaksi personal. Yang termasuk dalam struktur ini ada lima unsur pokok (Johnson&Johnson. tetapi juga untuk bekerjasama dalam belajar.

Dalam hal ini siswa memilih lembar kegiatan yang disediakan oleh guru. Menurut Sharan dkk. Guru yang menggunakan Investigasi kelompok memiliki sedikitnya tiga tujuan. yaitu:(1). tugas dan tujuan khusus tentang subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan ketrampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenisjenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun diluar sekolah.(1984). (3). (2). yang biasanya ditetapkan oleh guru. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis. Setiap kelompok kemudian membuat presentasi/peragaan untuk mengkomunikasikan temuanya kepada seluruh kelas. Invetigasi Kelompok membantu siswa belajar bagaimana menyelidiki suatu topik secara sistematis dan analitis (proses inkuiri). . Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi empat sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. 2) Perencanaan kooperatif Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran.16 subtopik mereka. terdapat enam tahapan Investigasi Kelompok yaitu sebagai berikut: 1) Pemilihan topik Siswa memilih subtopik dari topik yang dipelajari. Pemahaman yang mendalam atas suatu materi. Diskusi belajar bagaimana bekerjasama dalam memecahkan suatu masalah. 3) Implementasi Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan didalam tahap kedua.

Materi Tentang Gaya dan Percepatan 1. . Pengaruh gaya terhadap benda. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok. 4) Analisis dan sintesis Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas. dengan tujuan agar siswa yang lain terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Mengubah arah gerak benda. misalnya bola yang dipukul oleh pemain. Pengertian Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan perubahan gerak dan atau bentuk suatu benda. misalnya benda yang bergerak lambat didorong tambah cepat. Mengubah gerak suatu benda. misalnya benda diam menjadi bergerak. 5) Presentasi hasil final Beberapa kelompok menyajikan hasil penyelidikannya kepada seluruh kelas. c. b. 6) Evaluasi Siswa dan guru mengevaluasi tiap konstibusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. B. Mengubah kecepatan benda.17 Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan. antara lain sebagai berikut: a.

Berdasarkan sifatnya. yaitu gaya yang berasal dari magnet. Gaya tak sentuh Gaya tak sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda dimana titik kerjanya tidak langsung bersentuhan dengan bendanya. dan gaya gravitasi. Gaya sentuh Gaya sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda di mana titik kerjanya langsung bersentuhan dengan bendanya. gaya gesekan. d. .18 d. Gaya magnet. seperti mistar lurus bila ditekan salah satu ujungnya maka mistar akan melengkung. dan gaya dorong. Gaya mesin. Gaya pegas. Contohnya anatara lain: gaya otot. yaitu gaya yang berasal dari mesin b. b. Mengubah bentuk benda. Contohnya antara lain: gaya listrik. yaitu gaya yang ditimbulkan oleh pegas. c. Gaya listrik. yaitu gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik. Macam-macam Gaya Berdasarkan penyebabnya. gaya pegas. gaya dikelompokkan sebagai berikut: a. e. 2. gaya mesin. Gaya gravitasi. gaya dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: a. gaya magnet. yaitu gaya tarik yang diakibatkan oleh benda yang memiliki massa (misal: bumi).

1 N = 1 kg m/s2 = 1 kg x 1 m/s2 = 1000 gram x 100 cm/s2 = 100. 1 dyne adalah besarnya gaya yang bekerja pada benda yang massanya 1 gram sehingga menimbulkan percepatan sebesar 1 cm/s2. 1 newton adalah besarnya gaya yang bekerja pada benda yang massanya 1 kilogram sehingga menimbulkan percepatan sebesar 1 meter/sekon2. 1N = 1 kg m/s2 Dalam sistem CGS. 1 dn = 1 gram cm/s2 Hubungan satuan gaya dalam SI dengan sistem CGS dapat ditentukan sebagai berikut. gaya dinyatakan dengan satuan dyne (dn). maka 1N = 105 dyne . Satuan gaya Dalam satuan SI (Sistem Internasional) gaya dinotasikan dengan F berasal dari kata force yang berarti gaya dan dinyatakan dengan satuan newton (N).000 gram cm/s2 = 105 gram cm/s2 Karena 1 gram cm/s2 = 1 dyne.19 3.

Memadu Gaya Sejajar dan Searah F2 F1 Jika gaya yang bekerja pada balok searah dan sejajar. pada benda bekerja sebuah gaya pengganti yang disebut gaya resultan. Dengan demikian. Jadi: R = F1 + F2 = 20 N + 15 N = 35 N . 1. gaya-gaya itu dapat dipadukan atau dijumlahkan.20 4. dan OP menyatakan besarnya gaya. mata anak panah P menyatakan arah gaya. Resultan Gaya Jika pada sebuah benda dalam waktu bersamaan bekerja beberapa gaya. Besaran gaya termasuk besaran vektor karena memiliki nilai atau besar dan arah. Menggambar Gaya Gaya dapat digambarkan dengan sebuah anak panah. 5. maka resultan kedua gaya adalah R yang merupakan jumlah aljabar dari setiap gaya. dan panjang anak panah menyatakan besarnya gaya. F O P Pada gambar di atas sebuah gaya digambarkan dengan anak panah OP. misalnya F1=20 N ke kanan dan F2=15 N ke kanan. arah mata anak panah menyatakan arah gaya. titik O merupakan titik tangkap gaya. Titik pangkal anak panah menyatakan titik tangkap gaya.

benda tidak mengalami perubahan garak dan dikatakan dalam keadaan seimbang. Keseimbangan Gaya Jika pada sebuah benda bekerja dua gaya yang sama besar.F2 3. Resultan gaya sejajar segaris dan searah sama dengan jumlah aljabar dari setiap gaya. resultan kedua gaya adalah R = F1 .F2 Karena F1 = F2 maka R = 0 Karena resultan gaya yang bekerja pada benda nol. R = F1 + F2 2.21 2.F2 = 20 N – 15 N =5N Kesimpulan: 1. benda dalam keadaan seimbang jika resultan gaya yang bekerja pada benda sama dengan nol. Resultan gaya sejajar segaris dan berlawanan arah sama dengan selisih kedua gaya. misalnya F1 = 20 N ke kanan dan F2 = 15 N ke kiri. F2 F1 . dengan menyatakan bahwa arah ke kanan bernilai positif dan arah ke kiri bernilai negatif. Memadu Gaya Sejajar dan Berlawanan Arah Jika gaya yang bekerja pada balok berlawanan arah. Jadi. R = F1 . resultan kedua gaya adalah R = F1 + (-F2) = F1 . segaris dan berlawananan arah.

F fs b. antara lain sebagai berikut: 1. Gaya gesekan kinetis. Balok ditarik bergerak dengan kecepatan v bekerja gaya gesekan kinetik. Gaya gesekan dibagi menjadi dua macam berikut ini. 2. yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda dalam keadaan diam atau hampir bergerak. Luas permukaan benda yang bergesekan 3. Gaya gesekan ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Gesekan antara ban mobil dengan aspal jalan sehingga mobil berjalan. 2. Gaya gesekan yang menguntungkan. yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda bergerak. 1. v fk F Tiga faktor yang mempengaruhi besar kecilnya gaya gesekan adalah sebagai berikut: 1. Gaya Gesekan Gaya gesekan adalah gaya yang timbul karena gesekan permukaan dari dua benda atau lebih. . Kekasaran atau kehalusan benda yang bergesekan. disimbolkan fs. Arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan atau dorongan) yang bekerja pada benda tersebut. disimbolkan fk. arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan dan dorongan) yang bekerja pada benda tersebut.22 6. Gaya gesekan gesekan statis. Balok ditarik masih dalam keadaan diam bekerja gaya gesekan statis. a. Gaya benda yang bergesekan.

W=m. Gesekan pada rem untuk memperlambat jalannya kendaraan. Besarnya gaya gravitasi bergantung pada letak benda atau ketinggian benda dari planet yang menimbulkan gaya gravitasi. Untuk menghitung berat benda digunakan rumus berikut.23 2. Gesekan antara telapak kaki dengan permukaan jalan sehingga kita tidak tergelincir.g Keterangan: W = berat benda (N) m = massa benda (kg) g = percepatan gravitasi bumi (m/s2) . Misalnya. Gaya gesekan yang merugikan. Berat benda adalah besarnya gaya gravitasi yang bekerja pada benda. Gaya Berat Berat dan massa mempunyai pengertian yang berbeda. 3. Gesekan pada komponen-komponen mesin. 2. Massa benda di mana-mana besarnya selalu tetap. Gesekan kopling dengan mesin mobil menimbulkan panas. Satuan berat adalah newton (N). antara lain sebagai berikut: 1. 3. berat benda di bumi sama dengan besarnya gaya gravitasi bumi pada benda. Gesekan antara ban mobil dengan aspal sehingga ban mobil cepat halus. Massa adalah banyaknya zat yang dikandung oleh suatu benda. 7. Berat benda di bulan sama dengan besarnya gaya gravitasi bulan pada benda.

Berat jenis benda dapat dirumuskan sebagai berikut. Hipotesis Tindakan Berdasarkan landasan teori di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Gaya dan Percepatan”.24 Berat jenis suatu benda adalah berat benda tersebut tiap satuan volume. S= W V atau S = ρ . .g Keterangan: S = berat jenis benda (N/m3) W= berat benda (N) V = volume benda (m3) ρ = massa jenis benda (kg/m3) g= percepatan gravitasi bumi (m/s2). C.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-B SMP Negeri 2 Bukateja yang berjumlah 43 orang. Lokasi Penelitian dan Kelas yang diteliti Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Negeri 2 Bukateja. Faktor yang Diteliti Ada beberapa faktor yang diteliti dalam penelitian ini. Faktor pelaksanaan proses pembelajaran: melakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran dengan mengamati aktivitas siswa pada saat kegiatan kelompok. Faktor siswa: akan diselidiki kondisi awal siswa sebelum dilakukan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dan kondisi setelah dilakukan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok. B.BAB III METODE PENELITIAN A. 2. Dipilihnya kelas VII-B dipilih dari 6 kelas yang terdapat di SMP Negeri 2 Bukateja dengan cara Purposive sampling disebabkan karena pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang bagi siswa kelas VII-B tingkat penguasaannya rendah dibandingkan kelas yang lain. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. . terdiri dari 25 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.

observasi dan refleksi. Rencana Penelitian Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dilaksanakan dengan langkah- langkah sebagai berikut: perencanaan. sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mempelajari pokok bahasan Gaya dan Percepatan. 2. Perencanaan Perencanaan dalam penelitian ini meliputi identifikasi masalah. Tindakan Tindakan yaitu pelaksanaan dari rencana yang telah disiapkan. Kemudian dilakukan analisa untuk mempertimbangkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah. Tindakan yang akan dilakukan adalah melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe . Untuk mengidentifikasi masalah dan penyebab masalah maka beberapa data digunakan antara lain nilai harian siswa. Perincian langkah-langkah penelitian ini adalah: 1. menganalisis penyebab masalah dan mempertimbangkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah. tindakan.26 C. hasil wawancara dengan guru pelajaran dan hasil observasi pembelajaran di kelas. Selanjutnya perencanaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menyusun instrumen penelitian dan mempersiapkan alat serta bahan untuk proses pembelajaran. Bentuk pemecahan masalah yang digunakan adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Investigasi Kelompok.

Hasil refleksi dari siklus I digunakan sebagai dasar untuk perbaikan dan merencanakan tindakan pada siklus berikutnya apabila peneliti merasa belum adanya peneingkatan seperti yang diharapkan. yaitu menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok. Refleksi Refleksi merupakan suatu kegiatan menganalisis hasil evaluasi dan hasil observasi tentang kekurangan dan kelebihan model pembelajaran kooperatif yang telah dilaksanakan.27 Investigasi Kelompok. Observasi Observasi yaitu suatu kegiatan mengamati jalannya proses pelaksanaan tindakan. 1999:20) . Proses pengamatan ini dilakukan pada saat siswa sedang melakukan kegiatan belajar atau saat sedang melakukan percobaan pada pokok bahasan Gaya dan Percepatan. Secara ringkas penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Perencanaan siklus selanjutnya Perencanaan Tindakan Refleksi Observasi Daur penelitian tindakan kelas (Depdikbud. pelaksanaan untuk tiap siklusnya sama. 3. 4.

2) Guru menyampaikan Garis Besar materi yang akan dipelajari siswa dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok 3) Memberi tindakan kelas dengan metode pembelajaran kooperetif Investigasi Kelompok melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. lembar observasi dan soal evaluasi serta menyiapkan alat dan bahan sebagai sarana pedukung kegiatan belajar. Perencanaan Membuat rancangan pembelajaran yang terdiri dari LKS. 2. Prosedur Penelitian Secara rinci. . Tiap kelompok terdiri dari 6-7 orang siswa yang heterogen berdasarkan kemampuan siswa dan jenis kelamin.28 D. Langkah-langkah pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan tujuan belajar yang akan dicapai siswa meliputi indikator-indikator dan standar kompetensi yang telah dirumuskan dalam rencana pembelajaran. Menentukan tempat duduk tiap kelompok belajar. terdiri dari tujuh kelompok. guru memberi penjelasan tentang pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dan menetapkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. penelitian ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pelaksanaan Beberapa hari sebelum pelaksanaan tindakan.

29 b. Kemudian setiap kelompok melaksanakan diskusi dan kegiatan sesuai dengan lembar kegiatan siswa. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini terdiri dari tes tertulis dan lember observasi. E. c. Refleksi Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis kemudian diadakan refleksi apakah tindakan yang dilakukan telah berhasil mencapai tujuan atau belum. 3. diadakan perbaikan-perbaikan bilamana perlu berdasarkan hasil evaluasi. Setiap kelompok memilih subtopik dari topik yang dipelajari. Siswa meringkas tentang materi yang didapat dari hasil diskusi sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas. Kemudian untuk siklus berikutnya (siklus II). 4. Observasi Pada tahap ini peneliti dibantu oleh rekannya sebagai kolaborator dalam melaksanakan observasi terhadap tindakan. Observasi dilakukan terhadap siswa sesuai dengan lembar penilaian psikomotorik dan afektif yang telah dibuat oleh peneliti. .

800-1. 2002: 198). Sedangkan untuk butir soal bentuk essay adalah butir soal nomor 1.600-0. 27.200-0. pengetahuan. intelegensi. 29.400 0. Tes tertulis Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan. . 2. 21.00 0.10. 7. 14. dan sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti kevalidannya kurang. suatu instrumen dikatakan valid jika mempunyai validitas tinggi. 7. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian. 9.600 0. Menurut Arikunto(1998:160). 23.200 sangat tinggi tinggi cukup rendah sangat rendah Hasil perhitungan validitas pada instrumen ujicoba diperoleh butir soal dengan kriteria valid untuk butir soal bentuk objektif adalah butir soal nomor 1.400-0. untuk mendapatkan perangkat tes yang valid. 28.30 1. reliabel dan mempunyai taraf kesukaran. 5.800 0. 19. 13. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto. serta daya pembeda soal yang baik. Untuk menghitung validitas soal digunakan rumus product moment yaitu: rxy = NΣXY − (ΣX )(ΣY ) {NΣX − (ΣX 2 )}{NΣY 2 − (ΣY ) 2 } 2 dengan kriteria: 0. 16. Validitas Suatu instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan. 8. 4. 20. a. 31. instrumen tes diujicobakan terlebih dahulu. 11.00-0. 35.

Untuk menghitung reliabilitas soal objektif digunakan rumus K-R 21: ⎛ k ⎞⎛ M (k − M ) ⎞ ⎟ r11 = ⎜ ⎟⎜1 − ⎟ kVt ⎝ k − 1 ⎠⎜ ⎠ ⎝ dimana ΣX 2 − (ΣX ) 2 N N Vt = (Arikunto. Karena hasilnya tetap maka instrumen itu dapat dipercaya (reliabel atau dapat terandalkan). Suatu instrumen mempunyai reliabilitas yang tinggi apabila memberikan hasil yang relatif konstan pada penggunaan ulang bagi subjek yang berbeda (Arikunto.31 b. 1998: 142). Reliabilitas Reliabilitas instrumen merujuk kepada konsistensi hasil pengukuran kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok yang sama dalam waktu yang berlainan atau kalau instrumen ini digunakan oleh orang atau kelompok orang yang berbeda dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang berlainan (Suryabrata. 2002:97) dengan r11 k Vt M = reliabilitas instrumen = banyaknya butir soal/pertanyaan = varians total = skor rata-rata Soal dikatakan reliabel jika r11>rtabel. Sedangkan untuk butir soal essay reliabilitas soal diuji dengan rumus alpha: 2 ⎡ k ⎤ ⎡ Σσ b ⎤ r11 = ⎢ 1− ⎥⎢ 2 ⎥ ⎣ (k − 1) ⎦ ⎢ Σσ t ⎥ ⎦ ⎣ . 2002:154). dengan taraf signifikasi 5 %.

14. 26. 2.528. sehingga r11> rtabel yang berarti instrumen tersebut reliabel. 4. soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. 2002:207). Untuk mendapatkan tingkat kesukaran menggunakan rumus sebagai berikut: P= B JS (Arikunto.312. . Sedangkan rtabel didapat sebesar 0.7 adalah soal sedang Soal dengan 0.3 adalah soal sukar Soal dengan 0. 13. Tingkat Kesukaran Ditinjau dari tingkat kesukaran.11.697 untuk soal objektif dan soal essay diperoleh r11 sebesar 0. 12. 9. 5.00 adalah soal mudah Hasil perhitungan tingkat kesukaran pada instrumen ujicoba untuk butir soal objektif dengan kriteria soal mudah adalah butir soal nomor 1. dengan B JS P = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul = jumlah seluruh peserta tes = indeks kesukaran Klasifikasi indeks kesukaran adalah sebagai berikut: Soal dengan 0.00 ≤ P ≤ 0.30 ≤ P ≤ 0.70 ≤ P ≤ 1. 10. Butir soal dengan kriteria sedang adalah butir soal nomor 3. c. 8.32 dimana ΣX 2 − (ΣX ) 2 N N σ2 = dengan r11 k ∑σb2 ∑σt2 = reliabilitas instrumen = banyaknya butir soal/pertanyaan = jumlah varian butir = varians total Berdasarkan uji reliabilitas diperoleh koefisien r11 sebesar 0. 6.

10. 27. 9. 6. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (kemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (kemampuan rendah) (Arikunto. 22.70 baik 0. 8. 21. 25. 7. 5. 20. d. 30. 24.70 < DP ≤ 1.40 < DP ≤ 0. 28.0 < DP ≤ 0. 19. Serta butir soal dengan kriteria sukar adalah nomor 15. 32.35. Sedangkan hasil perhitungan tingkat kesukaran pada instrumen ujicoba untuk butir soal essay dengan kriteria soal mudah adalah nomor 1 dan soal sedang adalah nomor 2. 29.20 jelek 0.20 < DP ≤ 0. 17. 23. 31. 11 serta soal dengan kriteria sukar adalah nomor 3. 12. 2002: 211).40 cukup 0. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi disingkat D dan dinyatakan dengan : DP = B A BB − JA JB dengan J = jumlah peserta tes JA= banyaknya peserta kelompok atas JB= banyaknya peserta kelompok bawah BA= banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB= banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar DP= daya pembeda Klasifikasi daya pembeda soal: DP ≤ 0.33 16. 18.00 sangat baik Sedangkan untuk menghitung daya pembeda soal essay digunakan rumus sebagai berikut ini: .00 Sangat jelek 0. 4. 34. 33.

26.34 t= MH − ML ΣX 1 + ΣX 2 n1 (n2 − 1) 2 2 dengan MH = rata-rata kelompok atas ML = rata-rata kelompok bawah ∑X12 = jumlah kuadrat dari deviasi individual dari kelompok atas 2 ∑X2 = jumlah kuadrat dari deviasi individual dari kelompok bawah n1 = 27% x N dk = (n1-1)(n2-2). F. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh dari hasil belajar kognitif dengan memberikan tes pada siswa yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Dilihat dari daya pembeda butir soal tes objektif didapatkan 9 butir soal yaitu 6. 18. 35 mempunyai daya pembeda yang jelek. 15. Sedangkan untuk butir soal objektif terdapat 2 butir soal yaitu nomor 6 dan 12. 12. 2. 10. . 22. Data hasil afektif dan psikomotorik diperoleh dari hasil observasi yang diisi pada lembar observasi. α = 5% Jika thitung > ttabel maka soal signifikan (Zainal Arifin. Lembar Observasi Lembar observasi digunakan sebagai lembar penilaian afektif dan psikomotorik siswa selama proses pembelajaran berlangsung tentang proses pembelajaran pada saat dilaksanakan tindakan.1991:141). 11.

Nilai yang dihasilkan merupakan hasil belajar afektif dan psikomotorik dari hasil observasi. Data Hasil Tes Pencapaian= jumlah skor yang dijawab benar × 100% skor maksimum Nilai = jumlah skor yang dijawab benar × 100 skor maksimum (Diknas. Data yang diperoleh dihitung dengan cara sebagai berikut: 1. Dengan kategori untuk hasil belajar afektif Sama atau >24 = sangat baik 18≤ x <23 = baik 12≤ x <18 = kurang baik 6≤ x <12 = amat kurang Untuk hasil belajar psikomotorik Sama atau > 19 = sangat terampil 15≤ x <19 = terampil 11≤ x <15 = kurang terampil 5 ≤ x <11 = tidak terampil . Nilai tes yang dihasilkan merupakan hasil belajar kognitif siswa.2003). 2003).35 G. Teknik Pengolahan Data Metode pengolahan data pada penelitian ini adalah dengan cara membandingkan hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa setelah tindakan. 2. Data Hasil Observasi Pencapaian = Σ skor yang diperoleh × 100% skor maksimum Nilai = Σ skor yang diperoleh × 100 skor maksimal (Diknas.

Indikator Keberhasilan Untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar siswa ditunjukan indikator sebagai berikut: 1. Perhitungan Rata-Rata Kelas Untuk mengetahui nilai rata-rata kelas masing-masing siklus digunakan rumus: rata − rata nilai siswa = jumlah nilai semua siswa banyak siswa (Arikunto. . untuk hasil belajar kognitif siswa mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar ≥85%.36 3. Setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif hasil belajar siswa pada pokok bahasan Gaya dan Percepatan meningkat.2005:264). untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik ketuntasan klasikal sebesar ≥75% pada pokok bahasan Gaya dan Percepatan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pada akhir siklus. H. 2.

72%. Hasil Penelitian 1.20% 83. Nilai terendah 20 30 50 2. Tes Dalam pembelajaran pokok bahasan Gaya dan Percepatan dengan menerapkan model pembelajaran Investigasi Kelompok didapatkan hasil bahwa nilai rata-rata siswa mencapai 71. Persentase ketuntasan belajar 25. Data hasil belajar kognitif siswa sebelum diterapkan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dan setelah diterapkan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok pada siklus I dan II.72% secara klasikal Perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dapat dilihat pada grafik berikut: .50 dengan presentase ketuntasan belajar klasikal adalah 83. Nilai tertinggi 85 90 90 3.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.58% 37.5 4. Perbandingan nilai hasil belajar siswa sebelum dan setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. No Hasil tes Fisika Data awal Data Akhir 1. Rata-rata nilai tes 52 58 71.

72%. 2. Tabel 2.62% - .13% 11. Untuk hasil belajar afektif dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok selama 4 kali pertemuan dapat dilihat pada tabel berikut: .20%. Data hasil belajar afektif siswa pada akhir siklus II Kategori penilaian hasil No Jumlah siswa belajar afektif siswa 1 Amat baik 13 2 Baik 25 3 Kurang 5 4 Amat kurang - persentase 30.38 100 80 60 40 20 0 Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai ratarata Presentase ketuntasan belajar nilai ulangan 1 nilai ulangan 2 nilai setelah pembelajaran kooperatif Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata siswa sebelum tindakan kelas dilaksanakan mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 52 menjadi 58.58% menjadi 37. Lembar Observasi Observasi terhadap proses pembelajaran siswa dilakukan setiap proses pembelajaran dilaksanakan.5 dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 83. sedangkan setelah dilaksanakan tindakan kelas dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif Investigasi Kelompok nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 71. dengan ketuntasan belajar hanya 25.23% 58.

60% 4. Data hasil belajar psikomotorik Kategori penilaian hasil No Jumlah siswa belajar psikomotorik siswa 1 Sangat terampil 2 Terampil 33 3 Kurang terampil 8 4 Tidak terampil 2 persentase 76. Ketuntasan hasil belajar kognitif siswa setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok mencapai 83. Untuk hasil belajar psikomotorik siswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Berarti ketuntasan klasikal hasil belajar afektif mencapai 88.39 Pada tabel hasil belajar afektif di atas ada 38 siswa yang mencapai ketuntasan belajar afektif ≥60%. Data awal sebelum dilaksanakan tindakan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas mencapai 52 dan 58.65% Pada tabel hasil belajar Psikomotorik di atas ada 33 siswa yang mencapai ketuntasan belajar ≥75%.74% 18. B. pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model pembelajaran Investigasi Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa.74%.72% banyaknya siswa yang . Setelah dilaksanakan tindakan nilai rata-rata kelas menjadi 71.49. Pembahasan Berdasarkan data hasil penelitian. Dengan demikian ketuntasan klasikal hasil belajar psikomotorik siswa mencapai 76. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes siswa sebelum dilaksanakan pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dan setelah dilaksanakan.37%. walaupun mengalami peningkatan tetapi ketuntasan belajar klasikal yang dicapai masih jauh dari indikator yang diharapkan.

terampil 33 siswa. Dengan demikian hasil belajar afektif siswa sudah memenuhi indikator yang ditetapkan. tidak terampil 2 siswa. Dari pengamatan terhadap proses pembelajaran pada pertemuan pertama didapatkan permasalahan antara lain siswa kurang dapat menerima pembagian . yaitu sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut mencapai ketuntasan belajar afektif 75% atau nilai minimal 75.13%) dan kurang baik 5 siswa (11.40 mendapat nilai ≥65 ada 36 siswa.37% dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 38 siswa dengan rincian sebagai berikut: kategori amat baik ada 13 siswa (30. gaya gesekan dan gaya gravitasi.74% dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 33 siswa dengan rincian sebagai berikut: sangat terampil tidak ada. Dengan demikian pembelajaran yang dilaksanakan belum mencapai ketuntasan belajar sebesar 85% dar keseluruhan siswa. Dengan demikian hasil belajar psikomotorik siswa sudah memenuhi indikator yang ditetapkan. Pembelajaran berlangsung selama 4 kali pertemuan pada pokok bahasan gaya dan percepatan dengan sub pokok bahasan gaya dan macam-macam gaya. Untuk hasil belajar afektif ketuntasan klasikal mencapai 88. baik 25 siswa (58.62%). resultan gaya. yaitu sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut mencapai ketuntasan belajar afektif 60% atau nilai minimal 60. kurang terampil 8 siswa.23%). Untuk hasil belajar psikomotorik ketuntasan klasikal mencapai 76.

Oleh karena itu pada pembelajaran selanjutnya guru lebih memotivasi siswa untuk lebih berperan aktif dalam diskusi kelompok maupun kelas. . Sehingga guru terus-menerus memotivasi siswa untuk mau berperan aktif dan bekerjasama dengan teman sekelompoknya. tiap kelompok sudah mau mempresentasikan hasil kerja kelompoknya secara bergiliran. penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan proses (Rachmadiarti. Hal ini sesuai dengan tujuan pemebalajaran kooperatif yang ingin dicapai yaitu hasil belajar akademik. Pada pertemuan ke-3 dan ke-4 permasalahan-permasalahan di atas sudah banyak berkurang terutama pada peran aktif siswa dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas serta dalam hal presentasi di depan kelas. Pada pertemuan ke-2 masih banyak ditemukan permasalahan- permasalahan seperti diatas. 2000:7). dalam proses pembelajaran masih banyak siswa yang sibuk sendiri dan membuat keramaian kelas.41 kelompok yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam hal presentasi hasil kerja kelompok siswa masih malu dan tidak mau mempresentasikannya di depan kelas. Dari pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu karena terbiasa dengan proses pembelajaran yang lalu siswa masih banyak yang bingung dan kurang dapat mencermati/mengerjakan LKS karena mereka masih asing dengan proses pembelajaran kooperatif serta masih suka bermain-main dengan alat percobaan serta yang berperan aktif dalam diskusi kelompok maupun kelas adalah siswa-siswa yang tergolong pandai. ternyata pembelajaran kooperatif Investigasi kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

yang berarti telah memenuhi indikator yaitu sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada dikelas tersebut. Hal ini masih terlihat pada suasana yang agak gaduh. sedangkan ketuntasan belajar siswa secara klasikal hanya mencapai 62.79%. Peneliti merasa hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I masih rendah karena masih jauh dalam memenuhi harapan peneliti yaitu ketuntasan belajar klasikal ≥85%. . Simpulan Berdasarkan hasil seluruh penelitian tindakan kelas di kelas VII-B SMP Negeri 2 Bukateja.BAB V PENUTUP A. Untuk hasil belajar psikomotorik ketuntasan belajarnya hanya mencapai 39. Untuk hasil belajar afektif ketuntasan belajarnya mencapai 76. yang berarti belum memenuhi indikator yaitu sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada dikelas tersebut mencapai nilai atau ketuntasan minimal 60 atau 60%. kadang alat percobaan digunakan siswa tidak semestinya.53% dengan rincian siswa yang mendapat kategori sangat terampil tidak ada dan kategori terampil ada 17 siswa. nilai rata-ratanya yaitu mencapai 63% dengan nilai terendah 45 dan nilai tertinggi 80. dapat disimpulkan: 1. Pada pelaksanaan kegiatan di siklus I diperoleh data hasil belajar kognitif siswa. Di samping itu dari hasil pengamatan pada proses pembelajaran masih kurang efektif.74% dengan rincian siswa yang mendapat kategori amat baik 6 siswa dan kategori baik ada 27 siswa.

46 Dominasi anak yang pandai dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan maupun dalam diskusi kelompok. Sehingga pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif di siklus II lebih kondusif dan efektif.37% dengan rincian siswa yang mendapat nilai amat baik ada 13 siswa. 2.5%. Pada pelaksanaan siklus II data yang diperoleh adalah sebagai berikut: ratarata nilai kelas yang dicapai adalah 71. Di samping itu dari hasil pengamatan proses belajar siswa bahwa suasana belajar sudah cukup teratur. walaupun hasil belajar kognitif belum memenuhi indikator yaitu sebesar 85% tetapi peneliti mengganggap pelaksanaan penelitian cukup di siklus II.72%. Oleh karena itu. kategori baik ada 25 siswa dan untuk hasil belajar psikomotorik mencapai 76. Hal ini menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II. . sedangkan ketuntasan belajar klasikal yang dicapai siswa sebesar 83. Untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik telah memenuhi indikator yang diharapkan yaitu untuk afektif mencapai 88. dominasi siswa yang pandai juga berkurang karena siswa yang kurang pandai sudah mau bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan. siswa-siswa tidak lagi ramai. dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90.74% dengan rincian siswa yang mendapatkan kategori amat terampil tidak ada dan terampil ada 33 siswa. Oleh karena itu peneliti berusaha untuk lebih meningkatkan motivasi di siklus berikutnya.

2. . ada beberapa saran peneliti: 1. Saran Berdasarkan simpulan penelitian tindakan di kelas VII-B SMP Negeri Bukateja tahun ajaran 2005/2006. Pembelajaran kooperatif Investigasi Kelompok dapat diterapkan pada konsep lain dan mata pelajaran lain tetapi dengan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran yaitu motivasi guru agar siswa lebih berperan aktif dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. sehingga diharapkan hasil belajar siswa lebih optimal. efektif dan menyenangkan sehingga mata pelajaran Fisika tidak lagi dianggap seabagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Dalam pembelajaran Fisika guru harus lebih kreatif dalam menggunakan model-model pembelajaran agar suasana kelas lebih kondusif.47 B.

Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. Bandung: Sinar Baru Agresindo. Nana. Belajar dan Pembelajaran. Nurhadi. Bandung: Rosda Karya. Semarang: Dinas Pendidikan Kota Semarang. M. 2004. 2003.44 DAFTAR PUSTAKA Arifin. Anita. 2004. Jakarta: PT. Mempraktikkan Cooperatife Learning di Ruang-ruang Kelas. Khalim. Hadiningsih. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divison) Pada Konsep Invertebrata Kelas I SMA Negeri 12 Semarang. Fisika SMP. 2003. Evaluasi Instruksional. Sudjana. “Apa yang Dikatakan Peneliti tentang Modelling Pembelajaran Kooperatif?”. Jakarta: Rineka Cipta Darsono. Surabaya: Unesa University Press. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Perbandingan dengan Metode Kooperatif Jigsaw Siswa Kelas I SLTPN 2 Kudus Semester I Tahun Ajaran 2003/2004. Fida. Gramedia Widyasarana Indonesia. 44 . Semarang: IKIP Semarang Press. Mafaza. 2002. Rachmadiarti. Jakarta: Depdikbud. Universitas Negeri Malang. Depdiknas. . Depdikbud. Ibrahim. Jurnal Matematika. Semarang: UNNES. 1997. Ilmu Pengetahuan Alam dan Pengajarannya. Jakarta: Depdiknas. Arikunto. Muttaqien. 2000. Malang. Penelitian Tindakan. Semarang: UNNES. Abdul dkk. Sulistiowati. 2001. 1999. 2002. M. Pembelajaran Kooperatif. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. 2004. S. 1991. Jakarta : Bumi Aksara. 1989. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. 2001. . Penilaian Berbasis Kelas. Zaenal. Jakarta: Rineka Cipta. Lie. Prosedur Penelitian. Konteks dan Penerapannya dalam KBK.

Jakarta: Depdiknas. Pedoman Penulisan Skripsi Mahasiswa Program Strata I. Pedoman Penilaian Afektif. Jurusan Biologi. Semarang:UNNES.45 Suradi & Djadir. 45 . 2003. Mugiharso. Sutomo. Profesi Kependidikan. Tim Penyusun.14. http://72. Model Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.203. 2004. Tim Peneliti Program Pasca Sarjana UNY. Sumadi. Imam Tadjri & Nurhalim. Suprihatin. Semarang: IKIP Semarang Press. 2003.104/search?q=cache:_iSuryabrata. Metodologi Penelitian. 1997.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful