Vol. 15 No.

2 Tahun 2007

Kecernaan, Retensi Nitrogen

Kecernaan, Retensi Nitrogen dan Hubungannya dengan Produksi Susu Pada Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) yang diberi Pakan Pollard dan Bekatul Sri Susanti dan Eko Marhaeniyanto Fakultas Peternakan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Email: marhaeniyanto@yahoo.co.id Abstrak Latar Belakang: Bagi ternak perah, produksi susu yang tinggi terkait erat dengan kualitas pakan yang dikonsumsi terutama protein. Pemanfaatan protein pada ternak dapat didekati melalui retensi Nitrogen (N). Namun demikian, retensi N pada masing-masing bahan pakan selain dipengaruhi oleh kandungan N pakan juga dipengaruhi oleh kandungan energinya. Retensi N dalam jaringan ditentukan oleh besarnya pasokan energi dan N dalam jaringan. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari penggunaan pollard dan bekatul terhadap nilai kecernaan pakan, dan hubungan retensi N dengan produksi susu pada sapi perah laktasi. Metode: Materi yang digunakan dalam penelitian adalah delapan ekor sapi PFH masa laktasi 2-3 bulan dengan bobot badan berkisar antara 310-504 kg. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross over design. Periode pendahuluan selama 15 hari untuk adaptasi pakan percobaan. Periode pengumpulan data selama 15 hari yaitu 10 hari koleksi feses dan 5 hari koleksi urin. Parameter yang diukur meliputi kecernaan nutrient (bahan kering, bahan organik, dan protein kasar), dan produksi susu. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik, namun terdapat perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05) pada kecernaan protein kasar. Penggunaan pollard memberikan nilai kecernaan yang lebih baik daripada bekatul, terutama pada nilai konsumsi tercerna dari protein kasar. Rata-rata sekitar 40% produksi susu dipengaruhi oleh nilai retensi nitrogen. Kata kunci : pollard – bekatul –kecernaan –retensi nitrogen Abstract Background: For dairy cattle, high milk production relate closely with feed quality intake especially protein content. Protein usage could be seen from nitrogen retention point of view. Furthermore N retention for each feedstuff is inflenced by its energy content. N retention in tissue is determined by energy supply and N. Research was conducted to study pollard and bran into feed digetibility, and correlation between N retention with milk production. Method: Eight dairy cattle in 2-3 lactation period with 310-504 kg body weight were used as research material. Cross Over Design used for this reseach, 15 days as preliminary for feed adaptation and 15 days for collected data (10 days for feces collection and 5 days for urine) for each periode. Measured parameter included feed digestibility (dry matter, organic matter, and crude protein), and milk production. Result: Research showed that treatment have non significant (P>0,05) into dry matter and organic matter digestibility, but gave significant (P<0,05) effect into crude protein digestibility. The usage wheat pollard gave betterdigestibility than rice bran, especially at digestible crude protein. Fourty percent in average of milk production was influenced by nitrogen retention. Key word: wheat pollard – rice bran –digestibility – nitrogen retention

141

65% pada pollard. jumlah ransum yang diberikan dan nilai nutrisi pakan.10% dan 92. bentuk fisik dari ransum. komposisi ransum. serta 39. Pemanfaatan protein pada ternak dapat didekati melalui retensi Nitrogen (N). produksi susu yang tinggi terkait erat dengan kualitas pakan yang dikonsumsi terutama protein. hemiselulosa. Church (1980) menyatakan bahwa pollard memiliki sifat bulky.46% pada bekatul. serta 95. lemak. Selain itu bahan pakan ternak ini banyak tersedia karena tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Hasil penelitian Chuzaemi. tetapi jika diberikan dalam jumlah besar (lebih dari 40-50%) dalam ransum dapat menurunkan konsumsi pakan. laxantive dan palatable bagi sapi. Retensi N negatif menunjukkan bahwa N yang diekskresikan lebih banyak daripada N yang dikonsumsi. Soebarinoto dan Sudarwati (1997) mendapatkan kandungan bahan kering (BK) dan bahan organik (BO) pada pollard dan bekatul berturut-turut adalah : 90. zat-zat mineral dan vitamin-vitamin dibandingkan dengan biji keseluruhan. Jurnal PROTEIN PENDAHULUAN Sebagian besar pakan ruminansia adalah bahan pakan yang berserat tinggi dengan kecernaan rendah. retensi N pada masing-masing bahan pakan selain dipengaruhi oleh kandungan N pakan juga dipengaruhi oleh kandungan energinya. selebiosa. 1983). varietas. Namun demikian. Bahan pakan yang mengandung serat kasar tinggi sukar dicerna sehingga kecepatan alirannya rendah (Tillman.Susanti. Kecepatan pengeluaran makan dari saluran pencernaan dipengaruhi oleh absorbsi bahan-bahan yang dapat dicerna.84% dan 78. Sementara itu bekatul mempunyai nilai nutrisi yang berbeda–beda tergantung dari asal biji padinya. lignin dan silica oleh karena itu bahan ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia (Maynard dan Loosli. Polisakarida struktural tersebut terdiri dari selulosa. Hartadi. oleh karena itu harus diusahakan agar ternak sebanyak mungkin mengkonsumsi makanan untuk mencukupi kebutuhannya akan zat-zat makanan (Mc Donald. Nitrogen dalam keadaan seimbang apabila jumlah N dikonsumsi sama dengan jumlah N yang diekskresikan. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecernaan pakan antara lain : faktor ternak.49 %BK. Prawirokusumo dan Lebdosukojo.49%. Sementara nilai kecernaan BK dan BO adalah sebesar 78. Percobaan pengukuran retensi N dapat dilakukan bersama-sama dengan percobaan kecernaan secara invivo ditambah dengan pengukuran urin yang diekskresikan ternak percobaan (Harris. cara penanaman padi dan cara pengolahan/mesin yang digunakan. 1973). Edwards dan Greenhalgh. Faktor bahan pakan selain menentukan kecernaan juga menentukan kecepatan aliran pakan meninggalkan rumen. sedangkan apabila jumlah N yang dikonsumsi lebih banyak 142 . akan tetapi banyak mengandung polikasarida struktural dalam jumlah yang banyak. Hermanto. Pollard dan bekatul merupakan bahan pakan konsentrat untuk sapi perah yang banyak digunakan oleh peternak sebagai sumber energi dan protein.73 %BK dan 84. 1970). kaya akan protein.42 % dan 41. Bagi ternak perah. Pollard adalah hasil sisa penggilingan dari gandum yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. 1973). Pada ternak ruminansia kecernaan pakan akan berpengaruh pada pasokan nutrisi baik untuk mikroba rumen maupun untuk ternak itu sendiri. Reksohadiprodjo.

3……. Donald. Besarnya pasokan energi untuk ternak Ruminansia yang dimaksud adalah produksi Volatile Fatty Acid (VFA) dari rumen (Ørskov. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari : (1) penggunaan pollard dan bekatul terhadap nilai kecernaan pakan pada sapi PFH . Kandungan bahan kering (BK).98 Bekatul 92. BO dan PK dari bahan pakan yang digunakan dalam penelitian. – Periode pengumpulan data selama 15 hari yaitu 10 hari koleksi feses dan 5 hari koleksi urin.76 8.3……. Edwards dan Greenhalgh. bahan organik (BO). dan konsentrat terdiri dari Pollard dan Bekatul.2. 2 Tahun 2007 Kecernaan. Tabel 1.92 Tebon 92.2………. Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat. Kandungan BK. Kedua material ini merupakan hasil aktivitas dari mikroba rumen yang merupakan fungsi dari pasokan N dan konsumsi bahan organik tercerna (Hermanto. ulangan ke–k yang mendapat perlakuan ke-i μ = Nilai tengah umum αj = Pengaruh dari periode waktu ke–j 143 . 1988).73 17.10 95.2.18 91. dan protein kasar (PK) bahan pakan yang digunakan disajikan pada Tabel 1. j = 1. 1982).49 84. 15 No. Dimana : Y ijk = Pengamatan pada periode waktu ke–j.49 9. Bahan Dan Metoda Materi yang digunakan dalam penelitian adalah delapan ekor sapi peranakan FH masa laktasi 2-3 bulan dengan bobot badan berkisar antara 310-504 kg. Fakultas Peternakan Unibraw. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross over design dengan model sebagai berikut : Yijk = μ + αj + βk + εijk i =1. Retensi Nitrogen daripada jumlah N yang diekskresikan maka akan terjadi Retensi N yang positif (Mc. terdiri dari : – Periode pendahuluan selama 15 hari untuk adaptasi pakan percobaan. Bahan Pakan BK (%) BO (%BK) PK (%BK) Pollard 90. edangkan pasokan N berasal dari sintesa N mikroba rumen (Strom dan Ørskov. 1992).45 Keterangan : Hasil analisis di Laboratorium Nutrisi Makanan Ternak. Bines dan Balch (1973) menyatakan bahwa retensi N dalam jaringan ditentukan oleh besarnya pasokan energi dan N dalam jaringan. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan kecernaan dan retensi N dengan menggunakan metode koleksi total sesuai petunjuk Harris (1970).Vol. (2) hubungan retensi N dengan produksi susu pada sapi PFH. Hijauan berupa daun jagung muda (tebon). k = 1. 1996).

hari. dilanjutkan dengan pemberian hijauan.68 % dalam BK.  Pada akhir koleksi selama 24 jam.Susanti. tanggal. feses ditimbang untuk mengetahui berat totalnya.Perlakuan B : sapi nomor lima sampai dengan delapan mendapat pakan bekatul dan hijauan dengan imbangan 40. Cara mengoleksi feses tersebut adalah :  Feses diambil setiap kali ternak membuang feses dan dikumpulkan pada bak penampung.Perlakuan A : sapi nomor satu sampai dengan empat mendapat pakan pollard dan hijauan dengan imbangan 38.32 % dan 61. periode koleksi data dilakukan selama 15 hari terdiri dari 10 hari untuk koleksi feses dilanjutkan dengan koleksi urin selam 5 hari terakhir. Pola pemberian pakan selama penelitian yaitu pakan konsentrat diberikan ± 15 menit sebelum dilakukan pemerahan sapi. Pada setiap periode I & II.59 % dan 59. periode.  Feses diaduk sampai merata. Feses segar tersebut disemprot dengan formalin 10%. kemudian disaring dengan Glass wool untuk diambil sampel kira-kira 10 ml. Cara mengoleksi urin tersebut adalah sebagai berikut :  Tempat penampungan urin sebelumnya disi dengan H2SO4 10% sebanyak kurang lebih 100 ml. .  Urin yang sudah diencerkan tersebut diaduk dan diukur total volume urin harian. dan PK.Perlakuan A : sapi nomor lima sampai dengan delapan mendapat pakan Pollard dan hijauan dengan imbangan 38.32 % dan 61.41 % dalam BK. Jurnal PROTEIN βk = Pengaruh dari ulangan ke–k Sesuai dengan rancangan yang digunakan maka selama penelitian delapan ekor sapi dibagi menjadi 2 kelompok sehingga masing-masing kelompok terdiri dari empat ekor sapi yaitu : Periode I : . . Periode II : . 144 . Selanjutnya diambil sampel untuk dianalisis kandungan BK.41 % dalam BK.68 % dalam BK. dan bulan koleksi kemudian disimpan dalam lemari pendingin untuk dianalisis kandungan N-nya. kemudian diambil sampel sebesar 300 gram untuk kemudian dimasukkan oven 60 0C untuk analisis BK udara kemudian dikomposit sampai periode koleksi selesai.  Pada setiap akhir koleksi harian urin sebelumnya disi dengan H2SO4 10% sedikit demi sedikit sampai pH urin di bawah 3.59 % dan 59.  Sub sampel yang diperoleh diberi label kode sapi.Perlakuan B : sapi nomor satu sampai dengan empat mendapat pakan bekatul dan hijauan dengan imbangan 40. BO. Koleksi Sampel Urin Pengambilan sampel urin dilakukan yaitu dengan menggunakan total koleksi urin dalam satu hari (24 jam) dan terpisah dengan feses. Koleksi Sampel Feses Koleksi sampel feses sesuai dengan petunjuk Harris (1970) yaitu dengan menggunakan koleksi total feses dalam satu hari (24 jam).

2 Tahun 2007 Kecernaan.  Pengambilan sampel susu untuk diuji kadar lemak dilakukan secara proporsi sampling dengan interval 10 hari. Untuk mengetahui bentuk hubungan antara retensi N dengan produksi susu di gunakan persamaan regresi linier sederhana : Y = a + bX Dimana : Y = Nilai produksi susu X = Nilai retensi nitrogen a = bilangan konstanta b = Koefisien regresi r = Koefisien korelasi  n   n  n  n ∑ XiYi −  ∑ Xi  ∑ Yi  b =  i =1 n   i =1 n  i =1      n ∑ X 2  −  ∑ X   i =1   i =1  a= ∑Yi − b∑ Xi i =1 i =1 n n r= n n  n   n   n  n ∑ XiYi −  ∑ Xi  −  ∑ Yi   i =1   i =1   i =1   n  n∑ Xi −  n.Vol.  Metode analisa kadar lemak yang dipakai adalah metode Garben.∑ Yi −  ∑ Yi  i =1  i =1  n 2 2 tI εijk = Pengaruh dari perlakuan ke –i = Galat percobaan pada periode waktu ke–j ulangan ke–k yang mendapat perlakuan ke-i 145 .∑ Xi  i =1  i =1  2 2  n  n. Retensi Nitrogen Koleksi Sampel Susu  Pengukuran produksi susu dilakukan di kandang ternak dengan timba ukuran berskala 1 -10 liter. 15 No.

100b 6. Kedua bahan pollard dan bekatul mempunyai kandungan BK dan BO yang hampir sama sehingga meskipun jumlah pakan yang dikonsumsi ternak semakin tinggi namun kandungan BK dan BO dari kedua bahan pakan tidak jauh berbeda sehingga mengakibatkan banyaknya BK dan BO yang dapat dicerna tidak berbeda pula. Rataan KcBK.792 ± 0. Rataan KBKT. Seperti tampak pada Tabel 2 secara keseluruhan perlakuan A dengan bahan pakan pollard menghasilkan KcBK.05) Karakteristik pakan sebaiknya disesuaikan dengan fungsi rumen sebagai tempat pencernaan bahan pakan berserat kasar tinggi.946 ± 0. Sementara itu nilai kecernaan PK (KcPK) menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.380a a BO 60.75 (g/kgBB ) BK 67. KBOT dan KPKT pada masing-masing perlakuan Kecernaan Tercerna Perlakuan A (pollard) Perlakuan B (bekatul) 0.126 59. artinya bahan pakan tersebut harus merangsang pertumbuhan mikroba karena besarnya kecernaan pakan pada ternak ruminansia sekitar 65 persen tergantung dari mikroba rumen (ARC.139a PK 8.744a Keterangan : a-b Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.264 ± 0. KcBO dan KcPK pada masing-masing perlakuan Kecernaan (%) Perlakuan A (pollard) Perlakuan B (bekatul) a BK 58.123 ± 4.352 ± 4. 1984).021 ± 4.05) 146 .938 ± 4.098 64.264 ± 0.110a a BO 67.Susanti.076 ± 3. 1990).929b 56.535a PK 63. Kecernaan juga sangat tergantung pada komposisi zat makanan yang terkandung dalam pakan dan laju aliran pakan meninggalkan rumen (Ørskov dan Ryle. Hasil perhitungan konsumsi tercerna BK (KBKT).307 56.05) karena kandungan PK pollard lebih tinggi daripada PK bekatul.449 ± 0. Menurut Maynard dan Loosli (1973) kuantitas pakan merupakan hal yang berpengaruh terhadap kecernaan. KcBO dan KcPK yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan bekatul. Jurnal PROTEIN HASIL DAN PEMBAHASAN Kecernaan Nutrisi Pakan Dari hasil penelitian terdapat perbedaan yang tidak nyata (P>0. karena masingmasing mikroba tersebut mempunyai peran yang sangat spesifik dalam mendegradasi pakan. BO (KBOT) dan PK (KPKT) selama penelitian disajikan pada Tabel 3 berikut : Tabel 3.05) pada kecernaan BK (KcBK) dan kecernaan BO (KcBO).511 ± 0. Kecernaan tertinggi dicapai pada saat pemberian pakan sebesar 80-90 persen dari kemampuan ternak mengkonsumsi pakan.133a Keterangan : a-b Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.088a 67. Tabel 2.539 ± 4. Hungate (1996) mengemukakan bahwa aktifitas fermentasi mikroba rumen sangat ditentukan oleh komposisi jenis mikroba dalam rumen.

726 0.044 X Keterangan : Y = produksi susu (l/ekor/hari). X = retensi N (g/ekor/hari) 147 . namun ternyata konsumsi N total pada pollard lebih tinggi dari bekatul.80 169.638 2 R 0.02 67.041 0.91 88.601+ 0.) menunjukkan bahwa rata-rata 40 persen produksi susu dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi.54 Produksi susu 6.407 b 0. hal ini memberikan implikasi bahwa bahan pakan pada perlakuan A yaitu pollard mengindikasikan dapat meningkatkan sintesis protein mikroorganisme.545 0. Hubungan Retensi N dengan Produksi Susu pada Sapi Peranakan FH Laktasi Berdasarkan hasil analisis regresi dan korelasi antara retensi N dengan produksi susu pada sapi perah laktasi yang diberi pakan pollard dan bekatul (seperti yang tersaji pada Tabel 5. Hal ini disebabkan pollard mengandung N yang tidak mudah terdegradasi dalam rumen lebih tinggi dibandingkan bekatul. 15 No.601 4.26 7.045 X Y = 3.044 a 3. Hasil analisis regresi dan korelasi retensi N dengan produksi susu sapi perah pada masing-masing perlakuan Variabel diukur Perlakuan A Perlakuan B Pollard dan (pollard) (bekatul) bekatul r 0. 2 Tahun 2007 Kecernaan.50 (l/ekor/hari) Pada dasarnya penelitian ini merupakan penelitian Rumen Degradable Nitrogen (RDN) yaitu jumlah pakan diatur agar RDN yang merupakan N yang dapat didegradasi dalam rumen sama besrnya antar perlakuan.21 Total 177.05) pada nilai KPKT.474 3. Retensi Nitrogen Berdasarkan data pada Tabel 3 tersebut tampak bahwa adanya perbedaan pengaruh yang nyata (P<0.041 X Y = 4.Vol. Tabel 4.297 0. Oleh karena itu hasil penelitian ini masih perlu dilengkapi dengan data sintesis protein mikroorganisme yang dapat berpengaruh terhadap produksi ternak.921+ 0.553 0. Tabel 5.474+ 0.921 Persamaan regresi Y = 3.89 80.47 Konsentrat 86. mengingat bahwa dari pollard tersebut pasokan N lebih tinggi dibandingkan dengan bekatul. Rataan Retensi N dan Produksi susu pada sapi perah pada masing-masing perlakuan Konsumsi N Perlakuan A (pollard) Perlakuan B (bekatul) (g N/ekor/hari) Hijauan 90.045 0.17 Retensi N 66. Retensi N Hasil analisis retensi N dan produksi susu pada sapi perah laktasi yang diberi pakan pollard dan bekatul menunjukkan bahwa konsumsi total N pada perlakuan A lebih tinggi daripada perlakuan B.

Dari hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dengan retensi N yang rendah ternyata pemanfaatan N lebih efisien dibandingkan dengan retensi N yang tinggi. Sekitar 40 persen besarnya produksi susu dipengaruhi oleh retensi N. Dengan adanya keterbatasan pasokan energi. Relatives Retention of The N of Urea and Groundnut in Diets for Growing Heifers. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : Penggunaan pollard memberikan nilai kecernaan yang cenderung lebih baik daripada bekatul. Selanjutnya dikemukakan bahwa pada ternak masa laktasi masih dapat memproduksi susu meskipun terdapat kekurangan N pada pakannya.044. 148 . maka retensi N yang rendah ternyata menghasilkan pemanfaatan N yang lebih efisien untuk produksi susu dibandingkan dengan retensi N yang tinggi 1. DAFTAR PUSTAKA ARC. Slough. Jurnal PROTEIN Pada perlakuan B (bekatul) 55 persen produksi susu dipengaruhi oleh retensi N sedangkan pada perlakuan A (pollard) hanya sebesar 30 persen.Susanti. Nut. sebagaimana yang dijelaskan dari nilai koefisien regresi yang rata-ratanya sebesar 0. J. Bines. 1973. Menurut Schmidt dan Van Vlack (1974) produksi susu lebih banyak dipengaruhi oleh energi dibandingkan protein. 1984. J. terutama pada nilai kecernaan dan konsumsi tercerna PK sehingga pollard dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein bagi sapi perah. 2. menunjukkan bahwa N yang berhasil diretensi dalam tubuh ternak tersimpan di dalam jaringan. Melihat fenomena ini maka dimungkinkan retensi N yang besar dapat digunakan untuk produksi susu bila disertai dengan konsumsi energi yang tinggi. England. Balch. padahal kandungan PK dan besarnya retensi N pada pollard lebih besar dibandingkan bekatul. Brit. tetapi ternak berhenti memproduksi susu bila terjadi defisiensi energi. The Nutrient Requirement Of Ruminant Livestock.A. Melihat besarnya retensi N pada sapi yang mengkonsumsi pollard yang tidak diikuti dengan produksi susu. Commonwealth Agricultural Bureaux. Namun demikian dari hasil penelitian ini tergambarkan bahwa setiap kenaikan retensi N pada sapi perah masih terus diikuti peningkatan produksi susu.C. Kondisi ini menggambarkan bahwa produksi susu bukan hanya dipengaruhi oleh besarnya retensi N tetapi banyak faktor sepert besarnya energi. and C. Pemanfaatan energi lebih diprioritaskan untuk produksi susu sedangkan protein digunakan untuk meningkatkan kualitas susu. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada Saudara Elizabeth Ema dan I Made Paryoko Adi yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian di lapangan.

A. 1970. K. Animal Nutrition. Ørskov.Donald. 1983. Fakultas Peternakan. D. Soebarinoto dan Sudarwati. Sta.. Hungate. S. H. 2. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak.. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. and E. and Company.. Burn Mill.A. London.. 1996.S. Principle of Dairy Science.EXP. Maynard L. Fourth Edition. Evaluasi Protein Pakan Ruminan melalui Pendekatan Sintesis Protein Mikrobal : Evaluasi Kandungan RDP dan UDP pada beberapa Jenis Hijauan Segar. Protein Nutrition In Ruminants. SENTRA PETERNAKAN 149 . A. Reksohadiprodjo. S. I.. 15 No. San Francisco. Greenhalgh. 1988.Donald. E. Sixth Edition. 1988.D. Published By IFI Utah Agric. S. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan.Vol.D. A. SCOLAND. Ørskov. Animal Nutrition. Retensi Nitrogen Chuzaemi. Tillman.E.. Yogyakarta. Biological Value and Digestibility of Rumen Microbial Protein in Lamb Small Intestine. Pakan yang sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan dan konsentrat (makanan penguat).. USA. Edwards And J. Haris. Academic Press. Soc.R. Utah Sate University. Hermanto. jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. H. 41 : 78 Tillman. Mc.E. University Of Florida. Animal Nutrition. Academic Press. dan Lebdoseokojo. Van Vlack.D. London And New York. anak. Harris. Graw Hill Publishing Company Ltd. Mc. Longman. Proc. Malang. London and New York. The Rumen And Its Microbes. Freeman. Gansville. Edwards And J. Limbah Pertanian dan Konsentrat. Kearl And L. Laporan Studi Liberatur dan Hasil Training di Rowwet Research Institute Aberdeen. 1974.H.. England. P. L. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat. Loosli. Elsevier Applied Science. and J. Ekskresi Derivat Purin Dalam Urin Sebagai Estimator Mikroba Rumen.. Ilmu Makanan Ternak Dasar.Prawirokusumo.. W. Fourth Edition. 1982. Energi Nutrition In Ruminats. Unibraw. Hartadi.R. Ørskov. 1997. Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Hayati 9:77-90. R. Longman Group Limited. Hermanto. Inc. Strom. London... S. baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu. 1993. And Ryle. P. Tabel-tabel Dari Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk Indonesia. S. Tata Mc.R. 1973. SEJARAH SINGKAT Ternak-ternak dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga/diambil hasilnya dengan cara mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani. 1990. Longman House. 1. 2 Tahun 2007 Kecernaan. New Delhi. E. Nutr. Chemical And Biological Methods For Feed Analiysis. daging) serta tenaga bagi ternak dewasa.R.F. Gadjah Mada University Press. Harlow. 1973. L. 1980. Schmidt and L. sangat diperlukan pemberian pakan.C.F. Essex. Greenhalgh. E. Reksohadiprojo..D.... H. A. Lebedosukojo. Hartadi.D.

hay dan kulit biji kacang-kacangan). 2) Jerami dan hijauan kering Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. sorgum) b. terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. daun petai cina dll. tanaman bijibijian/ jenis kacang-kacangan. pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi. Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana. Jurnal PROTEIN Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan. yaitu: a. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah. J E N I S 1) Hijauan Segar Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar. centro (Centrocema pubescens). Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami. rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar. a. Pueraria phaseoloides. Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala). rumput Setaria (Setaria sphacelata). 150 . rumput benggala dan rumput setaria). 3. daun pisang. c. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan) c. Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.Susanti. Rumput-rumputan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi. 3) Silase Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan. MANFAAT 1) Sumber energi Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%. stylo (Sty-losantes guyanensis). 4. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa. daun turi. atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. b. Daun-daunan: daun nangka. bungkil kelapa.Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak. dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. garam dan mineral. bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok. Kelompok umbi (ketela rambat. 2) Sumber protein Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). rumput Benggala (Penicum maximum). gandum. Berdasarkan jenisnya. ketela pohon dan hasil sampingannya) d. rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens). jagung giling. baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). 4) Konsentrat (pakan penguat) Contoh: dedak padi. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung.

5. umur. tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan. tepung tulang dan sebagainya). Maka. ganggang dan bungkil) b. 3) Sumber vitamin dan mineral Hampir semua bahan pakan ternak. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. pengolahan. Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan. 5. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam. bunting. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 5. a) Temperatur Lingkungan Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya. fase (pertumbuhan. baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan. oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya. 151 . perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya. tingkat kegemukan. yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan. dewasa. Konsumsi Pakan Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi). penyimpanan. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak. umur. 2 Tahun 2007 Kecernaan. menyusui).1. kapur. Ca2PO4 dan beberapa mineral.Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan. jenis dan bagianbagiannya (biji. bobot badan. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka. turi kaliandra. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan.Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. misalnya premix. baik yang berasal dari tanaman maupun hewan. bulu). misalnya lamtoro. kondisi tubuh (normal. Kebutuhan Pakan Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak.2. mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan. setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula. keadaan penutup tubuh (kulit. sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur. konsumsi pakannya pun akan meningkat pula. daun dan batang). daun pisang. 15 No.Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri). kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. daun ketela rambat. gamal dan sentero c. umur.Vol. Retensi Nitrogen Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok: a.

konduksi. sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya. Oleh karena itu. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya. Dalam praktek di lapangan. Sebaliknya. Sebaliknya.Susanti. konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah. ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Meskipun demikian. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm. pahit). Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula:Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661 152 . Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. e) Konsentrasi Nutrisi Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas. c) Selera Selera sangat bersifat internal. jenis kelamin. kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengancara radiasi. tekstur dan temperaturnya. tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. konveksi dan evaporasi. b) Palatabilitas Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan. pada temperatur lingkungan yang lebih rendah. Makin tinggi bobot tubuh. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya. Pada ternak ruminansia. maka jumlah konsumsinya akan menurun. makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Jurnal PROTEIN Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya. manis. Dalam hal ini. kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri. kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. f) Bentuk Pakan Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. bau. asin. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi. g) Bobot Tubuh Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. rasa (hambar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya. d) Status fisiologi Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur. selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar.

baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri. Tower Silo: silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup rapat. d. 5. ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal. produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong). c. Retensi Nitrogen Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0. 5. Mineral=37 kg.75 Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0. 153 . Makin tinggi produk yang dihasilkan. Setelah dikonsumsi oleh ternak.Vol. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. 15 No. Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V. lemak. Protein=570 gram. air susu (ternak perah).3. 2 Tahun 2007 Kecernaan. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya.4 Kg. Beberapa silo yang sudah dikenal adalah: a. Peralatan Pembuatan Pakan Ternak 1) Macam-Macam Silo Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi. mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi. Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi : Bahan Kering=6. perlu menggunakan Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan). tergantung pada jenis. makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. mineral. Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu. kapasitas.4. b. membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi sebagai berikut: a. protein. Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak. e.75 h) Produksi Ternak ruminansia. tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Kandungan Nutrisi Pakan Ternak Setiap bahan pakan atau pakan ternak. setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dalam penyusunan ransum bagi sapi perah adalah sebagai berikut : Sapi perah betina muda berat 350 kg. karbohidrat dan vitamin. 2) Cara Memformulasi Pakan Dalam memformulasikan penyusunan ransum atau pakan. ME=13 Mcal. bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.

Bungkil kelapa: Bahan Kering=86%. Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan di lapangan adalah: a.Susanti.4 kg = 5. Protein=18.92 X 100/16 kg = 37 kg Bungkil kedelai = 1.41 kg BK. Mineral=5.56 gram protein.6 gram.07 kg BK.48 kg. Rumput Kedele: Bahan Kering=93.07 X 100/93. Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 19.48 kg = 0. meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan. Laktasi I : Bahan Kering=1.3 X 1. terutama dalam penerapannya di tingkat peternak. Protein=93.26/26. Maka kandungan protein yang sudah dapat dipenuhi rumput adalah: sebanyak = 1. Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya. ME=3.3 gram %BK c.3 X 1. Misalnya bahan-bahan pakan yang tersedia adalah: a. jumlah bahan pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dengan kondisi tersebut di atas adalah: Rumput gajah = 5.56) gram = 557.8 gram%BK.5%.14 kg Bungkil kelapa = 0.106. Sehingga jumlah Bahan Kering=7. berupa rumputrumputan/ leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air: 20-30%. Mineral=6.5 gram%BK Rumput gajah akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering sebanyak 80% = 80/100X7. c. Mineral=5 kg. ME=0.6 gram%BK. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman yang semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya. Protein=663. Mineral=2.64%. Dari kebutuhan nutrisi tersebut. Kekurangan: Bahan kering = 7.6 . Mineral=42 gram.04 kg atau 557. ME=2.02 Mcal. Protein=1.6 gram.92 kg = 106.Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak yang mengkonsumsinya. Jurnal PROTEIN b.9 gram%BK. akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tidak ekonomis dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya.8/100 X 5.5 kg = 1.04/1480 X 100% = 37.0 Kg.92 kg = 1. Jadi.5 gram%BK b.86 Mcal.4 kg. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi produk yang berdaya guna. Protein=44. ME=15.44 Mcal. Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis dan tropis.48 kg Protein = (663. Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 7.33 Mcal.92 kg BK. ME=2.48 kg = 1. sebab tanaman yang seragam akan memilik daya 154 . Pembuatan HayHay adalah tanaman hijauan pakan ternak. 3) Teknologi Pakan Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi.4 5. Rumput gajah: Bahan Kering=16%.41 X 100/86 kg = 0.04/26. kebutuhan pakannya dapat diformulasikan dengan suatu metode.02 kg.

asam klorida. Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi. mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk. yakni: a) mempunyai tekstur segar b) berwarna kehijau-hijauan c) tidak berbau d) disukai ternak e) tidak berjamur f) tidak menggumpal Beberapa metode dalam pembuatan silase: 1. dedak padi. garam. 2 Tahun 2007 Kecernaan. asam propionat). dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Metode Pemotongan Hijauan dipotong-potong dahulu. asam sulfat. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering.3 hari (kadar air ±50%). menir /onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut: asam organik: 4-6kg molases/tetes: 40kg garam : 30kg dedak padi: 40kg 155 . Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu: a) Metode Hamparan Merupakan metode sederhana. Retensi Nitrogen cerna yang lebih tinggi. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan. 15 No. b) Metode Pod Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 . Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat. menghasilkan kualitas yang sangat baik.. Metode Pencampuran Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi. serat kasar dan kandungan air optimal). c) menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik. b) Pembuatan SilaseSilase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. ukuran 3-5 cm Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak) Tutup dengan plastik dan tanah 2. meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Tujuan khusus pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.Vol.30% (tanda: warna kecoklat-coklatan). sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas. molases/tetes. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 . b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara. Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C. Prinsip utama pembuatan silase: a) menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.

Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2.Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat C. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah. mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. II. III yang diaduk merata. protein 24%.Susanti. 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata. Jumlah pemberian pakan pemacu disesuaikan dengan jenis dan berat badan ternak. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak. Kualitas Nutrisi Hasil analisis proksimat. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. dedak padi 18%. . Metode Pelayuan . 3. sehingga dapat merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi. garam 9%).Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% 50%) Lakukan seperti metode pemotongan c) AmoniasiAmoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH). Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. kapur 4%. Jurnal PROTEIN menir: 35kg onggok: 30kg Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. . Buat campuran III (tepung tulang 5% dan mineral 1%). bungkil kedelai 13%).Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan padatkan. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan.Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dalam molases. Simpan di tempat teduh dan kering. 3. 1.83% dan fosfor 0. Proses Pembuatan Dilakukan dalam suasana hangat dan bertahap : . 2. . Jumlah dan Metode Pemberian Pemberian pakan pamacu dapat meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter.5%. kalsium 2.8 gram untuk kerbau.Buat campuran IV dari campuran I. d) Pakan PemacuMerupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen.Buat campuran I (tapioka 16%. diaduk hingga merata (±15 menit). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna. . Pemberian 156 . Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat badan dan 3.25X46%). Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami). Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi.88 kg protein kasar (6. Buat campuran II (urea: 5%. pakan pamacu yang dibuat dengan formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal.

tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan). Sedangkan yang dimaksud dengan bahan pakan adalah komponen ransum yang dapat memberikan manfaat bagi ternak yang mengkonsumsinya Ransum merupakan factor yang sangat penting di dalam suatu usaha peternakan.blogspot. setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein. http://rumpunilmu. Memformulasi. 4. metode konstan kontrol. karena ransum berpengaruh langsung terhadap produksi ternak. 3. Perubahan ransum baik secara kualitas maupun kuantitas maupun perubahan pada komponennya akan dapat menyebabkan 157 .com/2009/04/manfaat-dan-fungsi-pakan-bagi-ternak. dengan harga bervariasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat: 1. Kcal energi. vitamin dan mineral). .Vol.Jumlahkan (% bahan. metode ekuasi atau metode grafik.Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat. sumber protein jenis bungkil. dilakukan pada form formulasi. sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu. Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah. 2.Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral. . Metode dan Teknik Pembuatan Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan. Mudah dicerna. sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. harga per unit berat. Standar kualitas Pakan Penguat Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. kandungan nutrisinya (energi. metode aljabar. e) Pakan PenguatPakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. . Sebagai pedoman. 15 No. Prosedur Memformulasi . serat kasar 12%. .html Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada ternak selama 24 jam. potein). 2 Tahun 2007 Kecernaan. maka 50% formula sudah diperoleh. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lain. tetapi harga per unit proteinnya paling murah. .Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat. kacang-kacangan. Retensi Nitrogen pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang digembalakan dan diberi sisa tanaman pangan seperti jerami atau bahan pakan berkadar protein rendah.Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan. harga per unit energi dan harga per unit protein. .Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat. metode segiempat bertingkat.Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat. % protein dan harganya). karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian.

Umumnya terdiri dari biji-bijian (jagung. Klasifikasi ini penting berkaitan dengan formulasi ransum. yang akan dicerna di dalam rumen melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme (bakteri dan protozoa).silase limbah pertanian (jerami padi. akar atau umbi-umbian. onggok. Konsentrat. bungkil kedelai. dedak.umbi Sumber Energi. bahan pewarna. 5. bungkil kelapa. Sumber mineral 7. 4. Merupakan campuran dari beberapa bahan makanan dan berfungsi sebagai makanan penguat sumber protein. biji-bijian. legume dsb) tidak termasuk silase ikan. Kelompok ini terbatas hanya pada silase hijauan (rumput. Semua jenis hijauan dan jerami yang dipotong dan dikeringkan.akar2an. sapi potong. yaitu sbb: 1.html 158 . Jurnal PROTEIN penurunan produksi yang cukup serius. pengharum dan obat-obatan.Susanti. antibiotik. Kelompok ini adalah semua jenis hijauan yang diberikan dalam bentuk segar baik dipotong maupun tidak. gaplek bungkil-bungkil lainnya) dan Molases. 3. jerami jagung) dan tanaman lain.com/edufarming/952-ransum-dan-bahan-pakan-ternak-sapi. Hijauan merupakan makanan pokok untuk ternak ruminansia (sapi perah. Bahan pakan yang mengandung protein kasar kurang dari 20 % dan serat kasar kurang dari 18 % atau kandungan dinding selnya kurang dari 35 %. Contoh : biji-bijian. kerbau. Bahan pakan dikelompokkan dalam 8 kelas berdasarkan karakteristik fisik dan kimianya. rumput. bahan ini dapat berasal dari hewan maupun tumbuhan 2. Hijauan kering dan jerami (Dry forages dan Roughages). Sumber protein.Dapat berasal dari . • Hijauan (pakan serat). Air untuk minum sapi diberikan secara ad-libitum dan harus tersedia setiap saat. kelas ini mengandung serat kasar lebih dari 10 % atau kandungan dinding sel lebih dari 35 % Hijauan yang diberikan segar (pasture). Sumber Vitamin 8. Misalnya. hay. • http://duniasapi. Terdiri dari bahan yang mengandung protein kasar lebih dari 20 %. Silase. kambing dan domba). Additives. Sehingga untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum perubahan ransum cukup sulit dicapai dan akan memakan waktu cukup lama. 6. Pemberian ransum untuk sapi terdiri dari dua jenis yaitu : hijauan (pakan serat) dan konsentrat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful