Budaya Jujur dalam Ujian Nasional

Oleh : Indhra Musthofa Mahasiswa UIN Maliki Malang Semester IV Maret 2010
Sesuai dengan agenda pemerintah, bahwasannya Ujian Nasional akan mulai dilaksanakan pada akhir bulan maret ini. Semakin mendekatnya waktu, maka siswa semakin gigih dalam menyiapkan strategi baik dalam segi pembelajaran yang efektif dan efisien ataupun persiapan yang lain, baik fisik atau mental. Melihat fenomena yang terjadi seiring Ujian Nasional yang dipakai satu-satunya tolok ukur kelulusan siswa, maka tidak menutup kemungkinan siswa itu melakukan hal apapun yang pada intinya mengarah pada hasil, yakni KELULUSAN. Akhir-akhir inipun terjadi penolakan akan dilaksanakannya Ujian Nasional. Kemarin saya membaca berita di Liputan6.com, Solo: Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa di Bundaran Gladak, Solo, Jawa Tengah, Rabu (17/3), menolak pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang akan digelar pekan depan. Menurut mereka, pemerintah tidak berhak menggelar UN karena putusan Mahkamah Agung membatalkan kebijakan itu. Para pengunjuk rasa terdiri atas para aktivis Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Kependidikan Seluruh Indonesia (Imakipsi) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Menurut mereka, pelaksanaan UN justru akan menimbulkan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Misalnya berbagai praktek kecurangan. Dalam putusannya, Mahkamah Agung meminta pemerintah tidak menggelar UN sebelum ada peningkatan kualitas guru dan sarana belajar. Namun dengan alasan sudah terlanjur mempersiapkan dana sebesar Rp 590 miliar, Menteri Pendidikan Nasional tetap bersikeras melakukan ujian nasional dan mengabaikan putusan Mahkamah Agung. Melihat fenomena diatas siswa akhirnya mau tidak mau harus menghad yang api Namanya Ujian Nasional, Sehingga mereka menyiapkan materi yang diujikan. Kalau bagi pihak panitia pelaksana mereka menyiapkan soal dan proses pelaksaannya nanti baik terkiait pendistribusian soal ataupun penjagaan bank soal agar tidak ada kebocoran. Sebenarnya fenomena kebocoran soal ataupun pelaksanaan Ujian Nasional yang sering terjadi kecurangan akibat contek mencontek antar siswa itu adalah hal yang harus kita kaji. Dan pertanyaanya adalah apa penyebab ini semua sehingga hal ini bias terjadi? Apakah pemerintah sudah tidak bias mencegah kebocoran soal? Ataukah memang sudah tidak ada pihak yang rela akan siswa atau anaknya yang tidak lulus?

siswalah yang menjadi sasaran utama. Kejujuran adalah harta yang paling mahal. Sehingga sulit didapat atau dilaksanakan. siswa adalah pemeran utama. karena hal itu akan mempengaruhi kualitas peserta didik dalam hal proses belajar dan evaluasi akhir. baik pemerintah ataupun pihak sekolah yang merupakan tempat pelaksaaan Ujian. amiin« Wallahu a¶lam«. mereka juga harus menyipkan fisik dan mentalnya. Proses pembelajaran itulah menjadi sarana penting dalam pemupukan kejujuran. Kalau menurut saya pemerintah sendiri harus memperbaiki sitem yang ada. artinya Ujian nasional dikatakan sukses kalau hasilnya baik bagi siswa dan menimbulkan dampak yang positif. Karena guru tidak hanya membekali materi akan tetapi mental juga butuh dibekali. Sehingga. Dan minimal kita jadi guru yang baiik pada anak-anak kita. Terlebih lagi guru yang ditugaskan dalam hal mengawasi. yang perlu kita soroti disini adalah proses dalam ujian nasional itu. mereka tidak khawatir akan kebocoran soal dari pihak dalam. yang pertama adalah pihak pelaksana Ujian Nasional. Kalau mereka faham akan diadakannya Ujian nasional yang bertujuan menciptakan siswa yang benar-benar mampu mnguasai materi yang telah diajarkan/diberikan. Bagaimana budaya jujur ini bias dilakukan pada waktu Ujian Nasional. selain mereka menyiapkan materi yang diujikan. pemerintah harus menyiapkan tenaga yang professional dan fasilitas yang memadahi. sehingga mereka tidak ceroboh dalam menentukan orang-orang yang berperan penting dalam penjagaan soal ataupun pendistribusiannya. Maka mereka akan mengerjakannya dengan senang hati dan tentunya mereka juga akan bertindak jujur. karena kejujuran itu berawal dari kepercayaan dan keyakinan diri sendiri. Lagi-lagi gurulah yang berperan penting dalam hal memupuk kepercayaan diri pada siswa. Apakah siswa benar-benar jujur dalam mengerjakan Ujian Nasional? tidak menutup kemungkinan mereka melakukan hal yang kurang benar demi tercapainya hasil yang ingin mereka capai yakni KELULUSAN dan keingininan mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maka dari itu. Sehingga tujuan untuk mencerdaskan Bangsa akan tercapai. Yang kedua adalah objek dilaksanakannya Ujian nasional yang dalam hal ini. . disini hanya merekalah ynag mampu manilai proses mengerjakan Ujian nasional tersebut. maka dari itu memang benar kalau dikatakan bahwa. Sehingga.Dalam hal ini ada dua pembahasan. semoga kita bias menjadi guru yang baik yang bias mengantarkan anak didik kita berbudaya jujur. Terlebih lagi mental kejujuran. Tapi. Dalam hal Uijan Nasional. Dan mental kejujuran dan budaya inilah yang harus kita pupuk dan kita siramkan ke hati para siswa agar mereka mampu melaksakannya dengan baik. Banyaknya siswa yang lulus daripada yang tidak lulus juga menjadi tolok ukur kesuksesan Ujian Nasional.

Wb .Terima kasih. Mohon Kritikan dan saran Dan Apa topik selanjutnya yang harus saya bahas? Wassalamu¶alaikum Wr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful