P. 1
Kertas Kebijakaan Strategi pembangunan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim: status dan kebijakan saat ini

Kertas Kebijakaan Strategi pembangunan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim: status dan kebijakan saat ini

|Views: 2,303|Likes:
Published by FNFIndonesia
Kesadaran bahwa perubahan iklim merupakan masalah pembangunan yang penting
dan harus segera mendapatkan penanganan telah ditunjukkan oleh semua kalangan
di Indonesia. Termasuk kelompok generasi muda dan masyarakat terdampak
langsung di berbagai pelosok Nusantara. Kesadaran tersebut berkembang dari berbagai
momentum kebijakan pemerintah sejak tahun 2007 dan gejala-gejala alam yang
ekstrem beberapa tahun belakangan yang telah menimbulkan dampak-dampak buruk
terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Di tengah kesadaran yang makin deras tersebut, pengembangan sains dan kebijakan. Untuk menangani masalah perubahan iklim perlu terus ditingkatkan.

Kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai perubahan iklim tentu tidak serta
merta menyelesaikan masalah. Keduanya harus diikuti dengan kerjasama yang mantap
antarlembaga dan kelompok terkait, khususnya antara lembaga pemerintah dan
legislatif¸ sehingga kebijakan yang dibuat akan mencapai sasaran secara efektif, yaitu
masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan
iklim dan yang menjalankan kegiatan ekonomi dengan emisi gas rumah kaca serendah
mungkin
Kesadaran bahwa perubahan iklim merupakan masalah pembangunan yang penting
dan harus segera mendapatkan penanganan telah ditunjukkan oleh semua kalangan
di Indonesia. Termasuk kelompok generasi muda dan masyarakat terdampak
langsung di berbagai pelosok Nusantara. Kesadaran tersebut berkembang dari berbagai
momentum kebijakan pemerintah sejak tahun 2007 dan gejala-gejala alam yang
ekstrem beberapa tahun belakangan yang telah menimbulkan dampak-dampak buruk
terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Di tengah kesadaran yang makin deras tersebut, pengembangan sains dan kebijakan. Untuk menangani masalah perubahan iklim perlu terus ditingkatkan.

Kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai perubahan iklim tentu tidak serta
merta menyelesaikan masalah. Keduanya harus diikuti dengan kerjasama yang mantap
antarlembaga dan kelompok terkait, khususnya antara lembaga pemerintah dan
legislatif¸ sehingga kebijakan yang dibuat akan mencapai sasaran secara efektif, yaitu
masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan
iklim dan yang menjalankan kegiatan ekonomi dengan emisi gas rumah kaca serendah
mungkin

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: FNFIndonesia on Mar 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2013

pdf

text

original

Sections

MENGATASI perubahan iklim merupakan agenda utama bagi

pembangunan dunia internasional saat ini. Negara besar yang

sedang berkembang seperti Indonesia menjadi salah satu kontributor

terbesar emisi Gas Rumah Kaca (GHG/ Greenhouse Gas emissions),

tetapi juga menjadi korban yang terkena dampak langsung dari

perubahan iklim itu. Untuk menghadapi masalah ini, para pembuat

kebijakan berbasis lingkungan di Indonesia harus memperhatikan

keseimbangan dua hal. Pertama adalah perlunya pertumbuhan

ekonomi yang baik untuk mencapai tujuan tradisional pembangunan

ekonomi yaitu; menciptakan kesejahteraan, membuka lapangan

1

Kurnya Roesad, RMAP/ Crawford School of Economics and Government, ANU

Kebijakan berbasis Lingkungan
Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi
di Indonesia:
Tantangan dan Kesempatan1

Kurnya Roesad
Supervised by Mubariq Ahmad

buku-2-pruf-4.indd 79

3/6/2011 11:41:15 PM

80

pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan. Yang kedua adalah

menjaga kualitas lingkungan hidup untuk mempertahankan

kelangsungan sumber daya alam yang ada.

Makalah ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan hidup

yang komprehensif – dalam kerangka strategi per tumbuhan ekonomi

rendah karbon- menjadi penting untuk mencapai dua tujuan tadi.

Bagian pertama makalah ini akan menjelaskan latar belakang

kebijakan pertumbuhan ekonomi rendah karbon dan bagaimana

profl dan proyeksi emisi Indonesia menentukan kemungkinan dan

tantangan mitigasi iklim. Bagian ke dua membahas secara khusus

segi ekonomi- keuntungan yang mungkin diperoleh dan biaya

yang harus dikeluarkan baik secara keseluruhan maupun sektoral,

apabila kebijakan mitigasi iklim itu diterapkan di Indonesia. Bagian

ke tiga akan menguraikan tantangan yang harus dihadapi dalam

penerapan kebijakan dengan prioritas pada sektor tertentu-

adaptasi, kehutanan dan energi. Bagian terakhir merangkum semua

hasil temuan.

buku-2-pruf-4.indd 80

3/6/2011 11:41:15 PM

81

MENGATASI perubahan iklim global telah menjadi agenda utama

dalam pembangunan dunia saat ini. Hampir seluruh lembaga

pembangunan dan keuangan multilateral mengakui kesimpulan

ilmiah dari Panel Antarbangsa Mengenai Perubahan Iklim (IPCC/

Intergovernmental Panel on Climate Change) yang menyatakan

bahwa perubahan iklim sedang terjadi dan emisi yang dihasilkan

dari aktivitas manusia (antropogenik) menjadi penyebab utama.

Seperti dikemukakan dalam catatan IPCC 2007 dibawah ini:

“Kenaikan suhu dalam sistem iklim adalah hal yang tidak dapat
dipungkiri lagi. Observasi telah membuktikan adanya peningkatan
temperatur atmosfer dan laut di seluruh dunia, mencairnya salju dan
es dalam spektrum luas, dan naiknya rata-rata suhu dan permukaan

Pembangunan
Indonesia Sebagai
Gerakan Menuju
Ekonomi Rendah
Karbon

1

buku-2-pruf-4.indd 81

3/6/2011 11:41:15 PM

82

air laut <….> Sebagian besar dari pemanasan global yang terjadi
dalam kurun waktu 50 tahun terakhir disebabkan meningkatnya emisi
gas gumah kaca dan besar kemungkinan adanya peningkatan suhu
rata-rata yang disebabkan aktivitas manusia (antropogenik) di setiap
benua (kecuali Antartika) <….> Pemanasan antropogenik yang terjadi
dalam tiga dekade terakhir sangat mungkin karena adanya pengaruh

berskala global di mana perubahan fsik dan sistem biologis banyak

terjadi” (IPCC, halaman 72).

Tinjauan terbaru tentang emisi CO2 menunjukkan bahwa

tanpa usaha mitigasi yang kolaboratif, dunia akan mengalami

bencana besar di mana temperatur air laut rata-rata menjadi 50

Celsius lebih tinggi dibandingkan masa pra-industri (IPCC 2009).

Dengan kearifan konvensional hal itu di atasi dengan menstabilkan

emisi gas rumah kaca global pada angka 450 ppm dari ekuivalen

CO2 untuk menjaga pemanasan global tetap pada 20

Celsius, atau

pada tingkatan di mana kebudayaan manusia dapat beradaptasi

dari akibat terburuk perubahan iklim dengan biaya relatif rendah

(Stern 2006, World Bank 2010c)

Konsekuensi fsik dari perubahan iklim global termasuk

perubahan pola curah hujan, naiknya permukaan air laut (diperburuk

dengan adanya gelombang badai), terjadinya cuaca ekstrim dengan

intensitas dan frekuensi yang makin tinggi, dan meningkatnya

prevalensi penyakit akibat vektor (organisma seperti nyamuk aedes

aegypti sebagai perantara penyakit Demam Berdarah/ vector-borne

buku-2-pruf-4.indd 82

3/6/2011 11:41:15 PM

83

disease)- dan juga terjadinya peningkatan fenomena bencana

berskala dunia, seperti perputaran balik Arus Teluk (Gulf Stream)

atau men cairnya lapisan es Greenland.

Kegagalan ekonomi yang disebabkan pemanasan global

cukup besar dan substansial. Tinjauan (Review) Stern (2006)

mengemukakan dalam kerangka business-as-usual (BAU); bila

langkah-langkah serius menuju mitigasi iklim tidak dilakukan, maka

dunia harus menginvestasikan satu persen dari total GDP (Gross

Domestic Products) per tahun untuk memitigasi akibat terburuk dari

perubahan iklim. Bank Dunia memperhitungkan bahwa 75 sampai

80% dari kerusakan lingkungan yang disebabkan perubahan iklim

harus ditanggung negara-negara berkembang (Bank Dunia 2010c)

Akibat ekonomis yang harus ditanggung negara-negara

berkembang terlihat jelas dengan adanya penurunan produktivitas

ekonomi. Penurunan ini khususnya dialami sektor perikanan dan

pertanian, dalam bentuk penurunan produktivitas perikanan

dan pertanian, kerusakan infra struktur, hilangnya area dan

pemukiman produktif karena tergenangnya lahan, punahnya

spesies mahluk hidup, dan menurunnya integritas ekosistem

sebagai sistem pendukung kehidupan (Ahmad, 2010). Akibat lain

adalah meningkatnya tekanan-tekanan pada sistem pengelolaan

kesehatan dan air, perubahan pola perdagangan, perubahan aliran

dana investasi internasional, dan peningkatan pola migrasi. Semua

faktor ini akan meningkatkan kerentanan negara berkembang

terhadap kemungkinan adanya guncangan.

buku-2-pruf-4.indd 83

3/6/2011 11:41:15 PM

84

Akibat dari perubahan iklim global memang sangat nyata,

dan Indonesia harus menghadapi komunitas internasional di mana

sebagian besar perekonomian negara-negara maju ini bertitik tolak

dari jalur pertumbuhan ekonomi rendah karbon. Sebagian besar

negara dunia, terutama yang berekonomi maju, telah memiliki

komitmen untuk mengusahakan reduksi emisi. Walaupun COP 15

di Copenhagen gagal mendapatkan titik temu dalam membuat

kebijakan yang mengikat dalam hal penanggulangan perubahan iklim

setelah periode pertama Protokol Kyoto berakhir tahun 2012 nanti,

komunitas inter nasional tidak mencoret masalah perubahan iklim

dari agenda utama mereka. Komunike Copenhagen (Copenhagen

Accord?) berhasil membuat negara-negara berkembang (developing

economies) menyusun komitmen baru untuk mereduksi emisi, di

mana mereka memiliki tujuan yang sama dengan negara-negara

maju (developed economies). Semua menyusun target ambisius

menyangkut energi terbarukan untuk mencapai target emisi yang

telah ditetapkan sebelumnya.

Tabel 1 : Target Emisi dan Energi Terbarukan di Negara Tertentu.

Target Reduksi Emisi

Target Energi Terbarukan

Australia 5-25% di bawah emisi pada
tahun 2000

20% pada tahun 2020, dari 8% di
tahun 2007

China 40-45% di bawah emisi 2005
dalam intensitas emisi

15% pada tahun 2020, dari 8% di
tahun 2006

Indonesia 26-41% di bawah BAU
(business as usual)

15% pada tahun 2025 (termasuk
nuklir)

buku-2-pruf-4.indd 84

3/6/2011 11:41:15 PM

85

Japan 25 % di bawah emisi 1990 16TwH pada tahun 2014
Korea 30% di bawah BAU

6.08 % pada tahun 2020, dari 2.7 %
di tahun 2009

Malaysia

Target akan diumumkan pada tahun
2011

Singapore 16% di bawah BAU
Thailand

30% di bawah BAU

20% pada tahun 2022

Philippines

perbaikan100%

dibandingkan

angka 2005 – 2015

USA

17% di bawah BAU

Tidak Ada Target Nasional, 30
negara bagian telah punya target
masing-masing yang ditentukan
sebelumnya

Vietnam

5% pada tahun 2020, dari 3% di
tahun 2010

Sumber: Rangkuman yang disarikan dari dokumen nasional, usulan kepada
UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate
Change) dan “Olz and Beerepoot” (2010), sebagaimana diuraikan
dalam data Bank Dunia, (2010c)

Komitmen untuk mereduksi emisi gas rumah kaca perlu

didukung oleh kebijakan politik yang kongkrit untuk mencapai

tujuan ambisius itu. Semua negara harus mengadopsi strategi

ekonomi rendah karbon dengan membuat dan memakai produk

berkarbon rendah atau dengan intensitas karbon yang rendah, dan

menghitung faktor lingkungan dalam menentukan harga produk

(pricing environmental externalities).

buku-2-pruf-4.indd 85

3/6/2011 11:41:15 PM

86

Tren emisi menunjukkan bahwa usaha mereduksi emisi

merupakan hal yang sulit dicapai. Yang harus digaris-bawahi di

sini adalah emisi harus dilihat sebagai akibat (corollary) dari hasil

pertumbuhan. Emisi selalu mengacu pada pertumbuhan GDP di

hampir semua negara (lihat Tabel 2). Untuk menurunkan emisi

ke tingkatan di bawah angka skenario BAU (business-as-usual),

pertumbuhan ekonomi, pada tatanan tertentu, harus dipisahkan

dari emisi. Untuk mencapainya, ada dua hal yang harus dilakukan.

Pertama, pola produksi harus decarbonized (produk yang dihasilkan

rendah karbon atau kandungan karbonnya dikeluarkan). Hal ini

dicapai dengan efsiensi energi dan diarahkan supaya sumber

energi bersih lebih banyak digunakan. Kedua, perbaikan perilaku

konsumtif harus diarahkan pada tingkatan berkelanjutan.

Tabel 2: GDP, Pertumbuhan Emisi dan Energi (%)

Angka Pertumbuhan Tahunan Rata-
rata

1971-1990 1990-2000 2000-

2005

Dunia

Pertumbuhan Emisi

2.1

1.1

2.9

Pertumbuhan GDP

3.4

3.2

3.8

Pertumbuhan Energi

2.4

1.4

2.7

OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development)

buku-2-pruf-4.indd 86

3/6/2011 11:41:15 PM

87

Pertumbuhan Emisi

0.9

1.2

0.7

Pertumbuhan GDP

3.2

2.7

2.1

Pertumbuhan Energi

1.5

1.6

0.8

Non-OECD

Pertumbuhan Emisi

4.2

0.9

5.5

Pertumbuhan GDP

3.8

4

6.2

Pertumbuhan Energi

3.8

1

4.6

Sumber: Garnaut, Howes, Jotzo, Sheehan (2008)

Strategi pertumbuhan rendah karbon di suatu negara

tergantung dari mitigasi iklim dan kemampuannya beradaptasi,

yang juga bergantung dari profl emisi negara itu.

Indonesia menjadi korban, tapi juga kontributor per ubahan

iklim. Sektor pertanian negara ini masih signifkan. Hal ini membuat

Indonesia rentan terhadap pola perubahan cuaca ekstrim. Usaha

untuk mengurangi kemiskinan akan sangat bergantung pada

langkah-langkah adaptasi dengan menjaga sistem produksi

cadangan pangan. Dengan kata lain, Indonesia, berada paling

buku-2-pruf-4.indd 87

3/6/2011 11:41:16 PM

88

depan sebagai negara yang memiliki hutan hujan terbesar di dunia,

dengan aktivitas pengrusakan hutan (deforestation) yang menjadi

penyebab utama tingginya emisi gas rumah kaca.

Gambar 1: 25 Negara dengan Emisi CO2 Tertinggi (2004)
Sumber: International Energy Agency (2007) [www.iea.org]

Data tren emisi menunjukkan bahwa Indonesia termasuk

dalam 25 negara penghasil emisi terbesar, bila emisi berbasis

hutan termasuk dalam perhitungan penyebab emisi. Berdasarkan

pada hitungan pembakaran bahan bakar fosil, Indonesia termasuk

dalam 25 negara penghasil emisi CO2 terbesar, atau pada urutan

ke 16 bila Uni Eropa dihitung sebagai satu negara. Tetapi bila

pengrusakan hutan dan perubahan tata guna lahan (land use

change) dimasukkan dalam perhitungan penyebab tingginya emisi

buku-2-pruf-4.indd 88

3/6/2011 11:41:17 PM

89

CO2 yang dihasilkan satu negara, maka Indonesia menjadi salah

satu negara penghasil emisi CO2 terbesar di dunia2
.

Profl emisi Indonesia menunjukkan bahwa tata guna

lahan dan perubahan tata guna lahan dan kehutanan (LULUCF)

mengambil porsi terbesar, diikuti oleh kebakaran lahan gambut,

dan penggunaan energi.

Gambar 2: Sektor Emisi 2005 Source:

Indonesia Second National

Communication to the UNFCCC, 2009.

2

Banyak keraguan yang menyertai pendataan emisi dari sumber-sumber berbasis
kehutanan. Data terkini dari Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa pengrusakan
hutan (deforestation) yang terjadi saat ini hanya sepertiga dari angka rata-rata sekitar
akhir 1990an.

buku-2-pruf-4.indd 89

3/6/2011 11:41:19 PM

90

Catatan:

• Peat fre: kebakaran lahan gambut

• LULUCF (Land Use, Land Use Change and Forestry):
Penggunaan Lahan, Perubahan Tata guna lahan dan

Kehutanan

• Waste: buangan/ sampah

• Agriculture: pertanian

• Industry: Industri

• Energy: Energi

Emisi CO2 per kapita Indonesia memang tidak terlalu tinggi

bila dibandingkan dengan angka internasional, yaitu 2t CO2 per

kapita. Tapi data ini juga menunjukkan bahwa Indonesia masih

harus mengejar ketinggalan di bidang pertumbuhan ekonomi.

Fakta juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia

menggunakan intensitas karbon yang lebih tinggi. Hal ini

ditunjukkan dari data pertumbuhan emisi CO2 per kapita yang

lebih cepat dibandingkan pertumbuhan GDP per kapita. Angka

pertumbuhan per tahun emisi CO2 per kapita naik 3,3 kali lipat

selama tahun 1980 sampai 2004. Dalam kurun waktu yang sama

angka pertumbuhan tahunan GDP per kapita meningkat hanya

2,3 kali lipat, sementara peningkatan pemakaian energi per orang

meningkat 2,1 kali lipat (lihat Gambar 3). Berarti intensitas karbon

dari pemakaian energi itu meningkat pula.

buku-2-pruf-4.indd 90

3/6/2011 11:41:19 PM

91

Gambar 3: Angka Pertumbuhan Tahunan GDP, Penggunaan Energi dan
Emisi per Kapita

Sumber: International Energy Agency (2007) [http://www.iea.org/]

Kita akan melihat lebih jauh lagi kenapa hal ini terjadi. Tabel 3

menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas karbon dari produksi

dan konsumsi listrik disebabkan meningkatnya penggunaan

bahan bakar batubara. Sektor industri dan listrik berperan paling

besar dalam menyebabkan tingginya emisi karena penggunaan

batubara.

buku-2-pruf-4.indd 91

3/6/2011 11:41:20 PM

92

Tabel 3: Emisi CO2 di Indonesia thn 2006 (dalam juta t CO2)

Sumber Bahan Bakar Fosil

Kelompok
Konsumsi Batubara BBM Gas Total
Emisi

Total
Persentase
(%)

Pertumbuhan
Emisi 1990-
2006 (%)

Industri

50.73 23.08 22.32 96.13

29

192

Listrik

57.49 23.22 9.12 89.82

27

309

Transportasi

72.35 0.01 72.36

22

127

Lainnya*

0.06 44.95 31.29 76.3

23

60

Diantaranya;
Residensial

0.06 25.76 0.04 25.86

8

41

Total

86.8 179.6 69.6 334.61

100

Catatan: * ‘Lainnya’ termasuk produsen yang tidak teralokasi dalam

kelompok di atas, dan industri yang menggunakan energi
lainnya.

Sumber: IEA 2008 Annexes

buku-2-pruf-4.indd 92

3/6/2011 11:41:20 PM

93

Gambaran tren emisi ini menunjukkan bahwa Indonesia harus

menghadapi dua tantangan besar. Pertama; dalam jangka pendek

dan menengah, masalah utama adalah bagaimana mereduksi

emisi dari LULUCF (Tata guna lahan, Perubahan Tata guna lahan

dan Kehutanan), termasuk didalamnya penanggulangan kebakaran

lahan gambut. Kedua; dalam jangka panjang, mitigasi emisi yang

berhubungan dengan penggunaan energi akan jadi hal penting di

masa depan, dengan catatan bahwa pemerintah dapat menjaga

keseimbangan pasokan energi- yang didapat dari usaha yang

bergantung pada penggunaan bahan bakar batubara yang lebih

murah- dan mengusahakan target energi terbarukan.

Indonesia sudah berkomitmen untuk mereduksi emisi menjadi

26% lebih rendah dari skenario BAU pada tahun 2020. Tabel 4

merupakan ilustrasi skenario itu. Dimulai dengan angka emisi

tahun 2005, menurut scenario BAU, emisi total akan meningkat

dari 2,12 menjadi 2,95 giga ton (gt) pada tahun 2020. Reduksi emisi

menjadi 26% lebih rendah dari angka BAU pada tahun 2020. Hal

ini akan membuat sektor kehutanan menjadi kontributor terbesar

dalam mengurangi total emisi, diikuti oleh lahan gambut, sampah/

limbah, dan energi. Sebanyak 15% reduksi emisi dapat dicapai

bila bantuan internasional diberikan secara substansial. Hal ini

dilakukan khususnya untuk proyek-proyek berbiaya besar seperti

instalasi geothermal, yang memerlukan investor asing berskala

global untuk pembangunannya (Ahmad 2010a).

buku-2-pruf-4.indd 93

3/6/2011 11:41:20 PM

94

Tabel 4:

Proyeksi Emisi Indonesia di tahun 2020

Emisi (Gt)

Target

Reduksi

(26%)

Target

Reduksi

(15%)

Skenario

Emisi

2005

BAU 2020Giga ton% dari BAU

Giga ton

% dari BAU

26%

41%

Gambut

0.83

1.09

0.280

9.5

0.057

2.03

0.81

0.75

Sampah

0.17

0.25

0.040

1.6

0.030

1.07

0.2

0.17

Kehutanan

0.65

0.49

0.392

13.3

0.310

11.02

0.1

-0.21

Pertanian

0.05

0.06

0.008

0.3

0.003

0.11

0.05

0.05

Industri

0.05

0.06

0.001

0

0.004

0.14

0.06

0.06

Transportasi

0.008

0.3

0.008

0.28

-0.01

-0.02

Energi

0.37

1

0.030

1

0.010

0.36

0.97

0.96

Total

2.12

2.95

0.767

26

0.422

15.01

2.18

1.76

Source: Ahmad

(2010a)

buku-2-pruf-4.indd 94

3/6/2011 11:41:20 PM

95

Tabel 4:

Proyeksi Emisi Indonesia di tahun 2020

Emisi (Gt)

Target

Reduksi

(26%)

Target

Reduksi

(15%)

Skenario

Emisi

2005

BAU 2020Giga ton% dari BAU

Giga ton

% dari BAU

26%

41%

Gambut

0.83

1.09

0.280

9.5

0.057

2.03

0.81

0.75

Sampah

0.17

0.25

0.040

1.6

0.030

1.07

0.2

0.17

Kehutanan

0.65

0.49

0.392

13.3

0.310

11.02

0.1

-0.21

Pertanian

0.05

0.06

0.008

0.3

0.003

0.11

0.05

0.05

Industri

0.05

0.06

0.001

0

0.004

0.14

0.06

0.06

Transportasi

0.008

0.3

0.008

0.28

-0.01

-0.02

Energi

0.37

1

0.030

1

0.010

0.36

0.97

0.96

Total

2.12

2.95

0.767

26

0.422

15.01

2.18

1.76

Source: Ahmad

(2010a)

YANG menjadi pertanyaan besar sekarang adalah; Apakah reduksi

emisi ini bisa dilakukan tanpa mengganggu per ekonomian dan

kesejahteraan masyarakat? Berapa biaya yang harus dikeluarkan

dan apa keuntungan menggunakan strategi pertumbuhan rendah

karbon bagi perekonomian Indonesia?

Para ahli ekonomi akan setuju bahwa implementasi

kebijakan berbasis lingkungan dan pertumbuhan ekonomi

akan saling melengkapi, bila biaya memadai dari konsekuensi

sosial dan lingkungan sudah diperhitungkan. Carbon pricing

(penetapan harga karbon) dianggap sebagai instrumen penting

untuk mencapai tujuan itu. Dengan membayar untuk emisi

karbon (dan komponen gas rumah kaca lainnya), sistem insentif

dirubah sedemikian rupa sehingga produsen/ individu pemangku

Tantangan dan
Kesempatan untuk
Berbagai Sektor
di Indonesia

2

buku-2-pruf-4.indd 95

3/6/2011 11:41:20 PM

96

kepentingan harus menanggung resiko kerusakan lingkungan

karena aktivitas ekonomi mereka. Harga barang dengan intensitas

karbon tinggi akan terdorong naik, sehingga emisi bisa ditekan.

Pertama, karena kebutuhan konsumen akan bergerak ke arah

produk dengan intensitas emisi yang lebih rendah. Kedua, para

pemasok harus mencari produk yang menghasilkan emisi lebih

rendah, misalnya produk yang menggunakan teknologi efsiensi

energi, atau menggunakan listrik berbahan dasar energi terbarukan.

Ketiga, para investor harus berinvestasi pada proyek-proyek yang

menghasilkan produk dengan intensitas emisi lebih rendah. Sistem

carbon pricing akan memberikan insentif fnansial bagi wiraswasta

yang mengembangkan produk baru dengan intensitas emisi lebih

rendah (Sterner 2003, Helm dan Hepburn 2009, IMF 2008).

Pemasukkan dari carbon pricing akan dapat digunakan untuk

mengganti biaya yang harus dikeluarkan untuk program mitigasi.

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemasukkan itu

dapat digunakan untuk mengurangi pajak lain, dan mungkin

akan mengubah biaya menjadi keuntungan. Pemasukkan ini,

paling tidak, dapat mengganti sebagian dari biaya pengawasan

terhadap kemungkinan terjadinya polusi, dan meningkatkan

prospek mendapatkan keuntungan ganda (double dividend) melalui

introduksi penerapan pajak karbon/ carbon tax (IMF 2008).

buku-2-pruf-4.indd 96

3/6/2011 11:41:20 PM

97

Boks 1: Pengalaman Internasional
menerapkan carbon pricing

Skema European Emissions Trading (ETS) adalah skema bisnis/
perdagangan emisi gas rumah kaca (GHG) terbesar di dunia. Didirikan
pada tahun 2005 bersamaan dengan mulai diberlakukannya target
reduksi emisi gas rumah kaca menurut Protokol Kyoto. ETS membatasi
emisi dari 11.500 instalasi energi dan industri di 25 negara yang terbagi
dalam enam sektor industri utama. ETS terkendala beberapa masalah,
yang berujung pada ketidakstabilan harga produk, tetapi beberapa
temuan menunjukkan bahwa skema itu membantu mereduksi emisi
(sebanyak 2 s/d 5% dibawah angka business-as-usual BAU, menurut
Ellerman, et al., 2010).

Lembaga di luar ETS adalah RGGI (Regional Greenhouse Gas Initiative)
yang didirikan pada tahun 2005 oleh tujuh negara bagian di Amerika
Utara untuk pertama kali membentuk program yang mengatur
pembatasan dan perdagangan untuk mengurangi emisi CO2 di Amerika
Serikat. Berbeda dengan Uni Eropa, perizinan dikeluarkan dengan
cara dilelang. Harga penawaran ditetapkan sangat rendah mulai dari
US$1.86 di tahun 2008 sampai US$ 3.51 dengan kelonggaran penetapan
batas akhir periode pemberlakuan izin (2009-2011). Selandia Baru sudah
meregulasi penerapan skema ETS mulai tahun 2008 dan memberlakukan
skema transisi mulai 1 Juli 2010. Pada periode transisi ini (1 Juli 2010–
31 Desember 2012), peserta ETS dapat membeli unit emisi dengan
harga tetap, yaitu NZ$ 25 per unit. Sektor-sektor energi dan industri

buku-2-pruf-4.indd 97

3/6/2011 11:41:20 PM

98

yang menggunakan bahan bakar fosil cair dapat membelinya setengah
harga.

Penerapan pajak karbon secara global memang baru terbatas di negara-
negara Eropa. Sejumlah negara di Eropa (seperti Jerman, semua negara
di Semenanjung Skandinavia, dan Perancis) telah menerapkan pajak
bahan bakar, dan pajak energi dan emisi untuk bahan-bahan dengan
kandungan karbon. Denmark adalah negara yang pertama kali di
dunia, memberlakukan pajak karbon untuk bahan bakar fosil pada awal
1990an. Penerapan regulasi ini yang antara lain menyebabkan Denmark
berhasil menurunkan 5% emisinya sejak 1990, walaupun rata-rata
pertumbuhan tahunan sedikit di atas 2%. Jerman memberlakukan pajak
listrik. Di negara-negara tersebut, berbagai kemudahan/ potongan pajak
diberlakukan untuk industri. Di sektor perlistrikan, dua negara yaitu
Finlandia dan Jerman mencoba memberlakukan pajak berdasarkan
jenis dan sumber produksi tenaga listrik. Tetapi Pengadilan Uni Eropa
memutuskan hal itu sebagai diskriminasi terhadap penggunaan energi
import (Sumber: Bank Dunia, 2010 dan Sterner, 2003).

Usaha terkini untuk membuat model makroekonomis

mensimulasi akibat dari implementasi kebijakan mitigasi terhadap

perekonomian Indonesia. Kementrian Keuangan melalui Green

Paper (2009) mensimulasi efek penerapan pajak karbon bagi

perekonomian Indonesia. Pajak karbon untuk pembakaran bahan

bakar fosil akan mereduksi emisi, dan pada saat yang sama

mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.

buku-2-pruf-4.indd 98

3/6/2011 11:41:21 PM

99

Beberapa kebijakan perlu menyertai implementasi pajak tersebut.

Pertama; pajak itu diberlakukan pada konsumen pengguna listrik

dan bahan bakar. Kedua; pemasukan digunakan untuk mengurangi

pajak lainnya dan penyediaan dana untuk langkah-langkah

pengurangan kemiskinan. Secara spesifk, pemasukan dari pajak

karbon dapat digunakan lagi untuk mengurangi pajak penjualan.

Pajak karbon akan ditetapkan sejumlah Rp 80.000,- per ton

emisi CO2. Regulasi ini diharapkan dapat mereduksi emisi yang

diakibatkan pembakaran bahan bakar fosil sebanyak kurang lebih

10% di bawah angka business-as-usual BAU. Tambahan reduksi

dapat dihasilkan melalui pemberlakuan kebijakan khusus seperti

dukungan terhadap penggunaan tenaga geothermal atau penjualan

izin ekspor karbon, yang diharapkan dapat menghasilkan antara US$

2 sampai 3 miliar pada tahun 2020, dalam bentuk pendapatan per

tahun pajak ekspor, dengan perhitungan dolar saat ini (Kementrian

Keuangan, 2009).

Berbagai model upaya reduksi emisi pemerintah dan proyek-

proyek usaha pengembangan emisi rendah karbon dari Bank

Dunia, dilakukan berdasarkan berbagai skenario kebijakan untuk

mensimulasi dampak ekonominya3

. Pertama, beberapa model

penetapan harga karbon digunakan untuk memperhitungkan

dampak sosial dan ekonomis dari REDD (Reduction of Emissions

from Deforestation and Forest Degradation) yang bertujuan

3

Penjelasan berikut ini sangat tergantung pada (validitas) data Ahmad (2010b)

buku-2-pruf-4.indd 99

3/6/2011 11:41:21 PM

100

mengurangi emisi akibat deforestasi dan kerusakan hutan. Hasil

terbaik adalah Indonesia mendapat pemasukan dari REDD dengan

menetapkan harga US$ 20 untuk setiap ton emisi ekuivalen CO2

(tCO2e). Perhitungan ini mengasumsikan distribusi pemasukan

dengan pembagian yang proporsional antara pemerintah dengan

rumah tangga, dengan memperhatikan perbandingan rumah

tangga di daerah dan kota besar, di lokasi di Jawa dan luar Jawa.

Walaupun melambat dalam skala nasional, ekonomi tumbuh positif

di beberapa daerah, menandakan aliran distribusi pendapatan dari

pusat ke daerah.

Kedua, kebijakan untuk secara bertahap mengurangi subsidi

bahan bakar mulai tahun 2010 dan benar-benar menghapus subsidi

itu di tahun 2015, menghasilkan per tumbuhan positif, pengurangan

kemiskinan, dan penurunan emisi. Hal ini mengasumsikan bahwa

satu penerapan kebijakan dapat menjamin 100% dari pengeluaran

yang dihemat dapat dikembalikan dalam bentuk pertumbuhan

ekonomi melalui belanja pemerintah.

Ketiga, kebijakan untuk meningkatkan efsiensi energi-

dengan mengurangi intensitas karbon- di sektor penggunaan listrik

dapat memberikan hasil positif, bila biaya teknologi ditanggung

pemerintah, dengan menggunakan anggaran negara untuk

“membayar” penerapan pengetahuan dari luar negeri.

Keempat, peningkatan efsiensi energi di sektor manufaktur

swasta juga dapat memberikan manfaat bila berdasarkan asumsi

buku-2-pruf-4.indd 100

3/6/2011 11:41:21 PM

101

tertentu. Bila efsiensi energi bisa ditingkatkan 10% dari tahun

2010 sampai 2015 dengan biaya sampai 0,5% dari total hasil pada

tahun 2015, maka tujuan mendorong pertumbuhan (ekonomi),

mengurangi kemiskinan dan mereduksi emisi dapat dicapai. Biaya

investasi diasumsikan dibayarkan kepada investor asing oleh

pemerintah. Sektor-sektor yang termasuk di sini adalah tekstil,

makanan dan minuman, semen, logam dan karet.

Tabel 5:

Hasil dari Model Analisa CGE (Computable General Equilibrium)

Kajian Model Ekonomi GDP (% relatif
untuk kasus
dasar)

Kemiskinan

(%) Reduksi emisi (%
relatif untuk
kasus dasar)

MoF Green Paper 2009
(Indonesia 3-E Model)
0.4

-0.6

-10.1

Skenario Ekonomi
Rendah Karbon 2010
(Dynamic Inter-Regional
CGE Model)

- REDD

-0.04

-2.54

-0.32

- Penghapusan subsidi
bertahap

3.46

-7.61

-0.01

- Sektor Listrik
- Peningkatan efsiensi

energi

0.45

-2.81

-0.02

buku-2-pruf-4.indd 101

3/6/2011 11:41:21 PM

102

- Efsiensi energi sektor

swasta

0.05

-1.04

-0.06

Sumber: MoF (2009), Ahmad (2010b)
Catatan: - Skenario terbaik dipilih untuk dimasukkan dalam tabel ini.
- MoF (Minister of Finance)
- REDD (Reduction of Emissions from Deforestation and Forest
Degradation)

Model ini mengilustrasi bahwa tujuan menghasilkan

pertumbuhan (ekonomi) rendah karbon dapat dicapai me lalui

berbagai cara. Implementasi kebijakan berdasarkan beragam

pilihan penggabungan instrumen fskal (baik dengan penerapan

pajak karbon, maupun penghapusan subsidi energi) dan teknologi

(misalnya melalui investasi pada teknologi peningkatan efsiensi

energi di sektor pembangkit tenaga dan manufaktur) dapat

memberikan hasil ekonomi positif dan peningkatan kesejahteraan

sosial.

Serangkaian simulasi itu memperlihatkan satu temuan

bahwa setiap kebijakan harus didukung oleh kebijakan tambahan

untuk melengkapinya, untuk menjamin adanya kompensasi sosial

dan distribusi hasil yang adil. Penghapusan subsidi harus dibarengi

dukungan yang tepat sasaran untuk rakyat miskin. Kebijakan REDD

yang efektif memerlukan mekanisme yang efektif pula dalam

transfer fskal antar daerah, dan penerapan kebijakan berbasis

hutan yang tegas dan koheren dari pemerintah.

buku-2-pruf-4.indd 102

3/6/2011 11:41:21 PM

103

Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI 2009) juga menghitung

potensi biaya dan keuntungan berbagai sektor dalam melakukan

upaya mitigasi. DNPI memperkirakan bahwa Indonesia berpotensi

untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca (GHG) sampai 2,3 Gt

per tahun pada tahun 2030. Hitungan itu diproyeksikan sebagai 7

persen dari total emisi (dunia) di tahun 2030.

Kajian itu menemukan lebih dari 150 kemungkinan

pengurangan emisi gas untuk enam sektor utama yaitu; kehutanan

dan lahan gambut, semen, pembangkit tenaga, pertanian,

transportasi, dan bangunan. Lebih dari 80% dari kemungkinan ini

berasal dari sektor kehutanan dan lahan gambut. Tidak seperti di

banyak negara, biaya pengurangan emisi itu relatif rendah atau

hanya sekitar 3 Euro per ton ekuivalen CO2 pada tahun 2030 (DNPI

2009)4

. Tabel 6 menunjukkan biaya pengurangan masing-masing

sektor. Yang perlu diketahui adalah Indonesia akan menjadi target

yang sangat menarik bagi investor energi bersih, bila hanya melihat

dari rendahnya biaya pengurangan emisi.

4

Estimasi biaya ini tidak termasuk biaya implementasi dan transaksi, di mana untuk

beberapa upaya pengurangan emisi, perhitungannya akan sangat signifkan (DNPI 2009,

hal. 13).

buku-2-pruf-4.indd 103

3/6/2011 11:41:21 PM

104

Tabel 6 : Potensi dan Biaya Penurunan Emisi

Potensi Reduksi

Biaya Reduksi Rata-rata

MtCO2e/tahun

EUR/MtCO2 e

Kehutananan

1100

7

L. Gambut

700

6

Pembangkit

220

19

Pertanian

105

5

Transportasi

100

-80

Bangunan

50

-38

Semen

10

-5

Sumber: DNPI 2009

buku-2-pruf-4.indd 104

3/6/2011 11:41:22 PM

105

RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Indonesia-

dokumen kebijakan utama pemerintah menyangkut rencana

pembangunan ekonomi- memasukkan mitigasi dan adaptasi

terhadap perubahan iklim dalam proses pembuatan kebijakan.

Dokumen perencanaan pemerintah itu mencatat dalam agenda

pengembangan program jangka panjangnya, pentingnya hubungan

antara pertumbuhan ekonomi dengan masalah pengelolaan

lingkungan. Secara umum dapat dikatakan pengrusakan lingkungan

dibatasi sebagai akibat pengelolaan yang tidak efektif atas sumber

daya alam. Terkurasnya sumber daya alam secara cepat dan

polusi yang terjadi akan menimbulkan akibat sosial dalam bentuk

penurunan kualitas hidup, khususnya kesehatan, dan berkurangnya

keamanan cadangan pangan. Bidang-bidang yang diprioritaskan

termasuk pengurangan degradasi lingkungan dan polusi, pembuatan

sistem peringatan dini menyangkut prediksi atas bencana besar

Tantangan
Penerapan Kebijakan
dalam Program Adaptasi,
Kehutanan dan Energi

3

buku-2-pruf-4.indd 105

3/6/2011 11:41:22 PM

106

seperti tsunami, dan peningkatan kapasitas institusi terkait dalam

penanggulangan bencana alam (Bappenas 2009, hal. 1-45).

Tantangan adaptasi terhadap akibat kerusakan lingkungan

diprioritaskan pada sektor-sektor5

berikut; pertanian, yang

diutamakan adalah masalah keamanan cadangan pangan. Hilangnya

produktivitas- terutama dalam produksi beras- dikhawatirkan

terjadi karena berubahnya kondisi cuaca, sementara kegagalan

panen disebabkan konversi lahan.

Sektor kesehatan perlu berinvestasi dalam memperkuat

kapasitas institusional untuk mengantisipasi merebaknya penyakit

yang berhubungan dengan perubahan cuaca, seperti penyakit

gangguan pernapasan atas dan penyakit yang disebabkan virus

(viral-based diseases). Hal ini juga memerlukan investasi memadai

di bidang infrastruktur sanitasi.

Pengelolaan resiko bencana perlu membangun sistem

peringatan dini untuk mengantisipasi terjadinya bencana seperti

banjir atau bencana lain yang berhubungan dengan perubahan

cuaca.

5

Penjelasan berikut berdasarkan rangkuman yang disusun Ahmad (2010).

buku-2-pruf-4.indd 106

3/6/2011 11:41:22 PM

107

Masalah pengelolaan air termasuk memperbaiki pengelolaan

dan perlindungan terhadap batas perairan (watershed). Perubahan

pola hujan memerlukan peningkatan efsiensi sistem pengelolaan,

penyimpanan dan distribusi air.

Dari profl emisi dan skenario proyeksi emisi yang telah dibahas

di atas, jelas terlihat bahwa masalah-masalah sektor kehutanan

dan mitigasi energi harus menjadi prioritas bagi Indonesia.

Sebagai dokumen perencanaan utama pemerintah, RPJM

memprioritaskan sektor kehutanan pada program penanggulangan

perubahan iklim. Kebijakan yang diterapkan bertujuan untuk

memperkuat kapasitas institusi dan kerjasama antar lembaga untuk

menangani lahan gambut dan rehabilitasi hutan, dengan target

500.000 hektar per tahun. Juga melalui penerapan kebijakan yang

tepat, meningkatkan usaha menurunkan tingkat deforestasi, dan

mengoptimalkan pendanaan melalui mekanisme yang ada seperti

IHPH (Izin Hak Pengelolaan Hutan), PSDH dan Dana Reboisasi/

penanaman kembali (Bappenas 2009, halaman I-56).

Skema REDD+ (program pengurangan emisi akibat deforestasi

dan kerusakan hutan) memungkinkan Indonesia menerima insentif

fnancial dari negara-negara maju untuk menghentikan perubahan

penggunaan hutan untuk mencegah terlepasnya karbon ke

atmosfer. Pemerintah sedang mengembangkan proyek percobaan

dengan skema REDD di hutan-hutan di propinsi Kalimantan Tengah,

Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Sejumlah

buku-2-pruf-4.indd 107

3/6/2011 11:41:22 PM

108

proyek tersebut akan mengukur usaha deforestasi, kerangka institusi

dan legalitasnya, dan pembentukan mekanisme insentif REDD.

Indonesia telah menanda-tangani perjanjian dengan

pemerintah Norwegia untuk bekerja sama mengurangi pengrusakan/

deforestasi di hutan dan lahan gambut Indonesia. Norwegia berjanji

untuk menyediakan US$ 1 milyar yang akan dibayarkan berdasarkan

tingkat reduksi emisi di sektor kehutanan. Pemerintah saat ini

sedang dalam proses membentuk badan khusus untuk menangani

aliran dana dari REDD+ dan lembaga keuangan Norwegia.

Yang patut dipertanyakan adalah; sampai sejauh mana

dana yang berasal dari skema REDD dapat digunakan untuk

memberdayakan masyarakat setempat dan mendorong mereka

berpartisipasi dalam program perlindungan hutan. Sekitar 10 juta

dari 35 juta penduduk miskin Indonesia tinggal di sekitar area

hutan. Kurang lebih seperempat bagian dari penghasilan mereka

bergantung pada sumber-sumber hutan, termasuk keragaman

hayati (biodiversity) di dalamnya (Ahmad, 2010). Proyek- proyek

REDD di masa depan perlu memperhatikan hak komunitas lokal

untuk mengakses sumber daya hutan dan perlunya menjaga fungsi

pemisahan karbon (carbon sequestration functions) hutan itu

(Ahmad, 2010).

Sejumlah kebijakan yang pernah maupun yang sedang

diterapkan sekarang ini kurang berhasil mencapai tujuan itu.

Distorsi (penyimpangan) penerapan kebijakan menyebabkan insentif

buku-2-pruf-4.indd 108

3/6/2011 11:41:22 PM

109

yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk program konservasi

dan pendayagunaan (panen) hasil hutan yang berkesinambungan.

Sebagai contoh, penghasilan yang didapat dari pajak dan insentif

tidak digunakan sebagai instrumen insentif, tetapi hanya sebagai

sarana pengumpulan dana. Sementara sistem pajak kehutanan

tidak melindungi usaha pemeliharaan lingkungan lahan hutan

dan produktivitas hutan di masa depan, tetapi hanya untuk

mendapatkan keuntungan dari penebangan hutan jangka pendek

(short-run forest depletion) (Bank Dunia, 2006). Skema REDD+

dapat membuat kerangka institusional untuk mengubah struktur

insentif dan arah pengelolaan hutan Indonesia.

Kementrian Keuangan (2009) merekomendasi pem bentukan

mekanisme keuangan regional untuk aktivitas penanganan

perubahan iklim, dan secara khusus untuk membuat mekanisme

aliran dana REDD. Mekanisme ini mengatur pembayaran berdasarkan

performa pemerintahan regional (terutama tingkat kecamatan),

melalui perbaikan sistem DAK (Dana Alokasi Khusus). Pembayaran

dihubungkan dengan keberhasilan yang dicapai dan akibat yang

ditimbulkan dari pelaksanaan program. Pemerintah regional

memiliki otoritas penuh untuk membuat dan mengimplementasi

proyek tersebut, sementara pemerintah pusat berfungsi sebagai

penghubung utama dengan aspek internasional maupun nasional

skema itu (Kementrian Keuangan, 2009).

Tantangan yang dihadapi sektor energi adalah mengamankan

ekspansi jaringan dan pasokan listrik, tapi pada saat yang sama,

buku-2-pruf-4.indd 109

3/6/2011 11:41:22 PM

110

mengurangi intensitas karbon dari aktivitas pembangkit tenaga

(listrik). Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, emisi dan energi

per kapita Indonesia meningkat, terutama karena meningkatnya

pemakaian batu bara untuk campuran energi. Bila dilihat hanya

dari sudut pandang fnansial, batubara adalah pilihan yang paling

baik dan berkelanjutan, karena ketersediaan batubara yang cukup

banyak di Indonesia.

Realitas yang ada di Indonesia adalah; pemadaman listrik adalah

hal biasa. Perusahaan yang beroperasi menemui banyak hambatan

infrastruktur, yang mempengaruhi keputusan menyangkut investasi.

Penjatahan penggunaan tenaga listrik menyebabkan ketidakpastian

investasi dan hasil keputusannya, dan pada akhirnya berimbas pada

hasil emisi. Manifestasi dari ketidakpastian ini adalah proporsi dari

perusahaan yang berinvestasi di bidang pengadaan tenaga listrik

(captive power), yaitu yang memiliki kapasitas pembangkit tenaga

listrik sendiri. Tenaga listrik yang dijual ke PLN berjumlah 6620

MW di tahun 2005, dibandingkan dengan kapasitas instalasi PLN

yang berjumlah 22.284 MW (IEA 2008). Prevalensi dari pengadaan

listrik swasta di Indonesia ini juga berkontribusi pada angka emisi

yang lebih tinggi, karena hampir semua pasokan listrik dari luar

jaringan PLN itu bergantung pada sumber daya tidak terbarukan

(non-renewable sources).

Tetapi ketergantungan pada pembangkit tenaga berbahan

dasar batubara ini tidaklah berkesinambungan dan Indonesia perlu

lebih memberdayakan berbagai sumber-sumber non-fosil yang

buku-2-pruf-4.indd 110

3/6/2011 11:41:22 PM

111

ada. Termasuk sumber-sumber geothermal atau micro-hydro, yang

menunjukkan potensi pengembangan paling baik. Saat ini, hanya

sekitar dua persen dari potensi energi terbarukan yang digunakan.

Dalam Energy Blueprint 2005-2025, pemerintah menyusun target

ambisius memberdayakan energi terbarukan. Pada tahun 2025,

ditargetkan 17% dari total penggunaan energi harus berasal dari

sumber-sumber energi terbarukan, dengan fokus perhatian pada

pengembangan energi geothermal (IEA 2008).

Pemerintah berencana untuk meningkatkan kapasitas

produksi energi geothermal dari 1.100 MW di tahun 2010 ke

5.000 MW di tahun 2014 (RPJM 2009). Beberapa kebijakan telah

diterapkan untuk meningkatkan investasi di bidang pengembangan

geothermal. Pertama, insentif pajak bagi investasi geothermal dan

energi terbarukan lainnya telah diberlakukan. Kedua, ada dukungan

fnansial melalui anggaran negara untuk eksplorasi energi terbarukan.

Ketiga, aturan penetapan harga jual dari pasokan energi geothermal

tersebut sudah dikeluarkan6

. Kebijakan-kebijakan ini juga dibarengi

rencana pemerintah untuk membuka jalan mekanisme pendanaan

6

Keputusan Presiden No. 4/ 2010 menugaskan PLN untuk mempercepat pembangunan

instalasi pembangkit tenaga menggunakan energi terbarukan, batubara dan gas, dan

memberi mandat pada PLN untuk mengembangkan dan membeli tenaga listrik dari

sumber energi terbarukan (Januari 2010). Peraturan Menteri ESDM (Energi dan Sumber

Daya Mineral) No. 32/ 2009 tentang Standar Harga Jual Tenaga Listrik oleh PT PLN
dari Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Geothermal (Desember 2009). Peraturan Menteri

ESDM No. 31/ 2009 tentang harga pembelian tenaga listrik dengan energi terbarukan
(November 2009). Peraturan Menteri Keuangan No. 24/ 2010 tentang insentif pajak untuk
pengembangan energi terbarukan yang dikeluarkan pada Januari 2010 (Bank Dunia
2010b).

buku-2-pruf-4.indd 111

3/6/2011 11:41:22 PM

112

perubahan iklim dari komunitas internasional. Pinjaman sejumlah

US$ 400 juta akan disalurkan ke Indonesia melalui CTF (Clean

Technology Fund) sebagai usaha menarik dana dari pihak lainnya

untuk investasi geothermal (Ahmad 2010, Bank Dunia 2010).

Hal yang menghubungkan ke tiga prioritas penanganan

masalah kehutanan, energi dan adaptasi adalah penyediaan

investasi dan peraturan yang jelas untuk proyek infrastruktur.

Masalah investasi berbasis iklim di Indonesia masih menjadi

perhatian. Walaupun Indonesia memperbaiki peringkatnya menurut

penilaian Doing Business Ratings-Indonesia berada di peringkat 122

tahun 2010, naik dari peringkat 129 di tahun 2009- masih banyak

kekhawatiran pihak investor khususnya yang berhubungan dengan

masalah pelaksanaan kontrak dan penegakan peraturan (Bank Dunia

2010a). Korupsi masih menjadi hambatan besar, walaupun Indeks

Transparency International menunjukkan bahwa Indonesia sedikit

memperbaiki peringkatnya (RPJM 2009). Kualitas infrastruktur di

Indonesia juga berada di peringkat yang relatif rendah, seperti yang

terlihat di Tabel 7 (ADB, ADBI 2009).

Tabel 7:

Kualitas Infrastruktur, Negara-negara Tertentu

Negara

Jalan Rel

KA Pela

buhan Bandara Tenaga

Listrik Kese

luruhan

Dunia

3.8 3.0

4.0

4.7 4.6

3.8

buku-2-pruf-4.indd 112

3/6/2011 11:41:22 PM

113

G7

5.7 5.4

5.4

5.8 6.4

5.7

Asia

3.7 3.6

3.9

4.6 4.1

3.8

Asia Timur

4.7 4.8

4.8

5.1 5.3

4.6

Asia Tenggara 4.2 3.2

4.3

5.1 4.7

4.2

Singapura

6.6 5.6

6.8

6.9 6.7

6.7

Hong Kong

6.4 6.2

6.6

6.7 6.7

6.3

Malaysia

5.7 5.0

5.7

6.0 5.8

5.6

Korea

5.8 5.8

5.2

5.9 6.2

5.6

Thailand

5.0 3.1

4.4

5.8 5.5

4.8

China

4.1 4.1

4.3

4.4 4.7

3.9

Indonesia

2.5 2.8

3.0

4.4 3.9

2.8

Vietnam

2.6 2.4

2.8

3.9 3.2

2.7

Skor: 1 = belum berkembang, 7 = ekstensif, standard internasional

Sumber: ADB dan ADBI (2009)

buku-2-pruf-4.indd 113

3/6/2011 11:41:22 PM

114

Mengatasi ketidakpastian peraturan dan implementasi

kebijakan sangat penting untuk investasi di bidang energi

terbarukan. Proyek berbiaya besar seperti pengembangan energi

geothermal dihitung dengan penetapan harga awal yang tinggi

(high initial fxed costs), dan pelaksanaannya perlu mengikuti

aturan kontrak yang rumit. Investor memerlukan jaminan bahwa

investasi mereka akan kembali dan mekanisme resiko mitigasi di

antara pihak terkait perlu diterapkan.

Sebagai tambahan, adanya pengurangan harga energi jelas

mendistorsi upaya memberikan isyarat yang tepat bagi para

investor. Subsidi bahan bakar dan listrik yang diterapkan sekarang

tidak hanya meningkatkan pemborosan konsumsi energi, tetapi

juga mendistorsi tujuan pemberian insentif untuk produksi energi

bersih. Selama pengadaan tenaga listrik berbahan bakar fosil dan

batubara diproduksi dengan biaya rendah- yang tidak mencerminkan

“harga sebenarnya dari pengadaan tenaga listrik”, dan dengan

memasukkan biaya pemeliharaan lingkungan untuk pengadaan

tenaga listrik- maka energi terbarukan tidak akan kompetitif.

Karena pemerintah Indonesia menghadapi kendala anggaran,

maka investasi energi terbarukan bergantung pada investasi

swasta domestik dan asing. Memperbaiki iklim investasi menjadi

hal yang sangat penting. Mekanisme subsidi internasional seperti

CTF bisa menyediakan sumber daya yang bermanfaat untuk mulai

membuka jalan investasi energi terbarukan berskala besar, dan

dapat digunakan untuk membiayai penetapan harga awal yang

buku-2-pruf-4.indd 114

3/6/2011 11:41:23 PM

115

tinggi dari produksi energi terbarukan, juga membantu pemerintah

menerapkan program kompensasi sosial untuk masyarakat miskin.

Pada akhirnya, faktor-faktor ekonomi yang bersifat politis

dan political will akan menentukan dalam menggerakkan reformasi

kebijakan dan peraturan. Implementasi yang efektif dari reformasi itu

adalah proses politik yang membutuhkan negosiasi dan koordinasi

anggaran, dan pelaksanaan proyek pada berbagai tingkatan di

lintas lembaga, antara pemerintah Jakarta dan daerah, dan antara

pemerintah dan parlemen. Pengawasan arus uang dan sumber

daya pada tingkatan berbeda ini, dapat menjadi sumber kekuasaan

dan korupsi. Hal ini bisa terjadi terutama dalam proyek-proyek

pembangunan rendah karbon seperti REDD dan energi terbarukan.

Mengusahakan transparansi dalam pengelolaan arus uang dari

sumber internasional, dan efektivitas pelaksanaan proyek, menjadi

tantangan utama yang harus diatasi para pembuat kebijakan.

buku-2-pruf-4.indd 115

3/6/2011 11:41:23 PM

116

MAKALAH ini menunjukkan dan membuktikan bahwa kebijakan

berbasis lingkungan yang komprehensif- dalam kerangka strategi

ekonomi rendah karbon- adalah hal yang penting untuk mencapai

tujuan pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia.

Bagian pertama makalah ini menjelaskan bagaimana

kebijakan pertumbuhan ekonomi rendah karbon, dan profl dan

skenario proyeksi emisi Indonesia menentukan kemungkinan dan

tantangan mitigasi yang harus dihadapi.

Bagian kedua menyoroti segi khusus dari ekonomi-

keuntungan dan biaya secara keseluruhan dan sektoral bila

kebijakan mitigasi diiplementasikan di Indonesia. Berbagai pilihan

penerapan kebijakan ekonomi dapat mendorong pertumbuhan dan

mengurangi kemiskinan dan emisi. Pengelolaan emisi dari hutan

dan lahan gambut dapat menghasilkan kemungkinan mitigasi

terbaik bagi Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->