P. 1
NKRI Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

NKRI Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

|Views: 1,520|Likes:
Published by Peter Kasenda
Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasar-dasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa.

Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik.

Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negara-bangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional.

Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917.

Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekank
Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasar-dasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa.

Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik.

Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negara-bangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional.

Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917.

Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekank

More info:

Published by: Peter Kasenda on Mar 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

NKRI dalam lintasan sejarah Indonesia

Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasardasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa. Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaanperbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa. Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk

www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com

1

sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik. Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negarabangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional. Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917. Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekankan disini bahwa lembaga ini, yang anggota pribuminya adalah mantan pejabat Hindia Belanda telah berfungsi sebagai alat deteksi keresahan pribumi yang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam proses budaya, paling kurang ada tiga faktor yang telah menyumbang terciptanya rasa persatuan Indonesia, Pertama, agama Islam sebagai agama mayoritas rakyat ; kedua; kenyataan bahwa di Hindia Belanda sejak abad ke
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 2

11, bahasa Melayu telah merupakan bahasa pergaulan (lingua franca) ; ketiga, diperkenalkan sistem pendidikan Belanda di awal abad ke 19. Rasa ke-Indonesia-an memang secara efektif disebarkan oleh para pedagang Islam mulai dari Aceh turun ke daerah Minangkabau, terus menyisir pesisir timur Sumatra ke selatan dan ke timur menyeberang ke Kalimantan dan Jawa Dari Gresik dan Tuban pun pedagang Islam kemudian menyeberang ke Sulawesi , Maluku Utara, dan berhenti di kepala Burung (Sorong) di Papua. Rasa keUmat-an yang kuat di kalangan Muslim telah berhasil mendekat suku-suku yang demikian beragam dan berjauhan satu dan yang lain. Bersamaan dengan itu, bahasa Melayu juga turut menyebar bersama dengan agama Islam. Bahasa Melayu tidak saja menjadi bahasa pergaulan di pasar-pasar tetapi juga di kantor-kantor pemerintahan kolonial, di kalangan penggemar buku-buku silat, roman dan novel. Introduksi sistem pendidikan Belanda di kalangan priyayi, santri, dan golongan Timur asing lainnya telah merangsang dua reaksi. Pertama, memicu semakin marak dibangunnya Sistem Pendidikan Tradisional (Pesantren) – terutama di pedesaan Banten – sebagai suatu mekanisme defensif. Di daerah perkotaan berbagai kelompok nasionalis mengembangkan Sistem Pendidikan Nasional, seperti Taman Siswa. Introduksi itu juga secara tidak sengaja mendorong anak-anak priyayi terdidik untuk memilih bahasa Melayu sebagai medium komunikasi mereka dengan bangsa Belanda karena kekagokan komunikasi yang tercipta. Masyarakat Belanda di Hindia Belanda enggan berbahasa Belanda dengan priyayi terdidik karena dengan demikian mensejajarkan mereka dengan anak para priyayi, sedangkan bahasa Jawa tidak dipilih karena sangat merendahkan derajat penjajah. Seperti diketahui bahwa bahasa Jawa yang bertingkat akan menempatkan warga Belanda sebagai orang asing setingkat lebih rendah dari para anak priyayi. Kapan dimulainya nasionalisme di Indonesia tidak dapat disebutkan atau dipraktekkan secara tepat. Ini merupakan suatu fase yang baru mulai disebut dengan jelas dan terorganisasi pada dasawarsa kedua abad ke 20, namun kebanyakan unsur pokoknya yang penting sudah ada jauh sebelumnya, mungkin bahkan beberapa sudah ada pada periode tatkala dampak pemerintahan Belanda mulai dirasakan. Dapat pula diperdebatkan bahwa sejak itu nasionalisme-nasionalisme laten yang bersifat embrio, telah ada di dalam masyarakat inti di Indonesia, dan bahkan pengajawantahan aktifnya telah begitu lama terkatung-katung, terutama karena tidak adanya kepemimpinan.
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 3

Sebagian orang besar orang menggunakan istilah “Indonesia” menunggununggu hari ketika Indonesia menjadi negara merdeka, memang daya tarik kata “Indonesia” sebagian datang dari kesegaran dan rasa pembebasannya, yang menarik bagi para pemuda pencari identitas baru, berikut betapa pasnya kata : “Indonesia” melingkupi kesatuan kepulauan Indonesia. Pada pertengahan 1918, Soeryo Poetro menyatakan bahwa “tanah Indonesia harus dikembalikan kepada bangsa Indonesia, yang memusatkan perhatian kepada Negara Indonesia yang akan terwujud ….nasionalisme Indonesia adalah tujuan mereka yang mengaku sebagai Hindia Poetra, dan republik adalah bentuk kesatuan Negara Hindia Poetra. Nama-nama lain bagi entitas politik yang tumbuh di Hindia telah memudar. Beberapa, seperti Hindia Timur (kurang menggigit dan canggung, serta tidak khas), Hindia Timur Belanda (sama sekali tak dapat diterima karena menegaskan dominasi penjajah bangsa lain), Inlander (ditolak, tidak hanya karena bersifat rasis dan merendahkan, tapi juga karena tidak mengandung makna khas Indonesia), Insulinde (tak pernah banyak disukai oleh kalangan orang Indonesia, mungkin sebagian karena berasal dari bahasa Jerman, serta lebih mungkin karena kesulitan membuat kata benda dan kata sifat untuk menjabarkan bangsa “Insulinder“ serta kegiatannya). Nusantara (karena tidak pernah bagian wacana Indologi, dan yang lebih parah, “Nusantara“ mengandung konotasi Jawa-sentris, kesatuan kepulauan di sekeliling Jawa. “ Indonesia” tak selalu diterima dengan antusias, Dwidjosewojo, seorang anggota BU, lebih suka mempertahankan istilah “Hindia Belanda“ karena istilah itu “sudah digunakan begitu lama“. Ratulangie mengatakan bahwa “bangsa Indonesia adalah adalah perpaduan banyak suku; mereka menunjukkan keragaman yang sama kalau kita gunakan kriteria budaya. Tugas kita : bagaimana caranya menyatukan keragaman ini? Satu artikel dalam suatu koran Jawa Barat menyatakan bahwa “jika nanti Hindia menjadi negara merdeka maka bentuknya pasti federasi.. Lalu orang Sunda, orang Jawa, dan lainnya akan harus mengirimkan perwakilan masing-masing untuk menyampaikan kepentingan tiap-tiap suku kepada Pemerintah. Federalisme tak pernah menjadi prioritas penting bagi para pemikir dan penggagas utama “Indonesia“. Mereka mencoba menciptakan kesatuan yang utuh, kesatuan bangsa dari keragaman yang ada di kepulauan Indonesia, kesadaran mendalam akan kesatuan. Federalisme, yang didasari gagasan
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 4

bahwa sebelum dan di dasar bangsa Indonesia sudah ada rasa identitas lokal khas yang perlu diakomodasi dan didukung, bukan dijauhi dan dibenci, sering ditolak begitu saja. Namun, Tan Malaka menyeruhkan “Republik Federal kepulauan Indonesia”. Pandangan Tan Malaka secara umum sejalan dengan pandangan Hatta, yang cenderung mengakomodasi perbedaan budaya dalam sistem politik, juga pandangan seorang mahasiswa lain, Sukiman, yang menambahkan bahwa “federalis atau kesatuan, yang penting pada saat itu kita harus menjadi seperti satu orang menghadapi dominasi Belanda. “ Latuharhary, yang sibuk membangun kembali versi Sarekat Ambon yang telah melakukan langkah menentukan dalam mengakui pentingnya bangsa Indonesia, juga cenderung kepada model federasi (walau tidak tegas), pandangan yang diajukan kebih dulu dan lebih samar lagi oleh pendahulunya, Patty. Di Minahasa, rasa takut tidak dianggap penting dalam Indonesia yang luas, berikut kemarahan terhadap kecenderungan mengabaikan atau seenaknya menyamaratakan perbedaan suku, terus mendorong dukungan bagi sistem federal. Ratulangie mendukung solusi federal sejak Kongres. Seluruh Hindia pada 1922, dan terus berpendapat demikian sesudahnya; pada tahun 1930 dia mengatakan bahwa “susunan negara masa depan harus berdasarkan prinsip federal, dengan pengakuan penuh atas hak tiap bangsa merdeka dalam kerangka Indonesia. “Menjelang akhir 1930-an, perkumpulan Sunda Paguyuban Pasundan menyatakan “ berjuang demi Negara Federal Indonesia yang merdeka, yang memiliki pemerintahan pusat kuat, berdiri di atas negara-negara bagian yang teratur rapi, yang masing-masing punya pemerintahan sendiri ’ Bagi orang-orang seperti politikus Minahasa, rasa identitas lokal lebih akrab, lebih mengikat, lebih nyata, lebih mendasar dibandingkan gagasan Indonesia itu sendiri. Indonesia, nilai mereka, sekedar sesuatu yang praktis dan perlu, hanya satu rekaan, yang paling baik dianggap terdiri atas entitas-entitas budaya lokal yang otonom, tapi tidak mendominasi dan tidak menuntut kesetiaan tanpa ragu dan mutlak. Seperti dikatakan Ratulangie pada 1923,” bangsa Hindia (masa depan?) akan terbentuk dari suku-suku, sebagai bangsa yang murni politis… kesatuan kehendak politis suku-suku itu sudah cukup …Federasi suku adalah bangsa politis Hindia.” Pesatnya kemenangan gagasan Indonesia perlu dijelaskan. Sebagian besar yang mendukungnya hanya sedikit mengenal daerah-daerah dan suku-suku yang mereka anggap termasuk negara mereka. Seorang aktivis menjabarkan
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 5

Boven Digul sebagai “daerah liar Papua Tengah, yang hanya dihuni orang pemakan orang”. Namun, orang yang sama berpendapat,” ketika Bendera Revolusi berkibar di Papua juga, barulah kita merayakan kemenangan” Soekarno, yang dibuang ke Flores pada 1934, juga terpukau saat menghadapi kenyataan Indonesia yang dikhayalkannya. ”Belum pernah,” tulis Dahm,” kata-kata Soekarno mengenai eksploitasi penjajah selama tiga ratus tahun di Indonesia tampak lebih meragukan daripada ketika mingguminggu pertamanya di pulau Flores, tempat peradaban yang begitu dihargainya hampir tidak ada.” Kemenangan akan gagasan Indonesia juga perlu penjelasan. Sebagian penyebabnya adalah makin matangnya kesadaran di kalangan pemimpin politik bahwa Indonesia ada sebagai gagasan politik yang bagus yang waktunya sudah tiba, dan mereka menemukan rasa identitas yang baru dan modern di dalamnya : “ Saya mulai menyadari bahwa ……saya termasuk dalam satu bangsa yang lebih besar, bangsa Indonesia .” Sutardjo mengakui, gagasan Indonesia adalah “karya terbesar Belanda”, yang menciptakan “ikatan antara berbagai suku di kepulauan ini… yang dengannya berbagai suku, meski berbeda bahasa, adat istiadat, agama, tingkat perkembangan, dan lain-lain, tidak hanya merasa sebagian satu kesatuan, tapi juga saling memperkuat kesatuan itu.” Salah satu isu penting yang muncul dalam sidang BPUPKI adalah apakah negara Indonesia merdeka akan berbentuk Republik atau Monarki. Debat tentang masalah itu berlangsung cukup panas sehingga harus diputuskan melalui voting. Hasilnya, 55 anggota mendukung Republik, 6 anggota memilih bentuk kerajaan, 2 anggota memilih bentuk lain, dan 1 suara blanko kosong. Hasil pemungutan suara itu tidak hanya memcerminkan kecenderungan sebagian besar peserta sidang BPUPKI yang memilih bentuk Republik, namun juga merefleksikan penolakan terhadap gagasan negara integralistik Soepomo. Pilihan terhadap bentuk Republik memang sudah sepantasnya sebab, sebagaimana argumentasi Mohammad Yamin, membentuk kembali sistem monarki bagi Indonesia merdeka adalah suatu kesia-sian. Pasalnya, hampir semua sistim monraki tradisional di Indonesia saat itu telah memudar. Lalu, atas dasar apakah monarkhi harus ditegakkan? Yamin dan beberapa tokoh lainnya mengusulkan agar memilih bentuk Republik. “ Saya yakin rakyat
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 6

Indonesia menghendaki republik dan republiklah yang memberi jiwa kepada bangsa Indonesia, bukannya bentuk lain yang manapun,” tegas Mohammad Yamin. Begitu pula dengan Soekarno yang sejak tahun 1926 mengangankan dan menganggap bentuk republik sebagai pilihan final. Bahkan, ketika dibujuk para pembesar Jepang pada Maret 1945 agar memilih bentuk monarkhi, Soekarno menolak dengan tegas : “ Saya senantiasa menentang segala macam bentuk selain daripada negara republik”, ujar Soekarno sebagaimana diceritakan kepada Cindy Adams. Karena bentuk Republik telah diterima, setiap warga negara Indonesia memiliki kesempatan sama untuk menjadi pemimpin negara. Itu berbeda dengan Monarki yang hanya memberi kesempatan kepada golongan tertentu untuk memimpin negara. Pada dasarnya, memberi kesempatan kepada seluruh warga untuk menjadi pemimpin negara negara sama dengan meletakkan kedaulatan di tangan rakyat. Pengertian dasar dari kedaulatan rakyat adalah sumber utama kekuasaan negara sepenuhnya berada di tangan rakyat. Apa pun corak kekuasaan atau sistem poleksos yang hendak dibangun harus mendapat persetujuan rakyat. Rakyat yang sepenuhnya berkuasa, termasuk dalam memilih dan menentukan pemimpin negara. Asumsi tersebut sangat penting karena merupakan bentuk penolakan langsung terhadap prinsip-prinsip kedaulatan negara, kedaulatan raja atau kedaulatan Tuhan. Prinsip lain yang dianut konsitusi 1945 adalah negara kesatuan atau negara utitaris. Dalam teori tata negara, negara kesatuan adalah negara yang tidak tersusun dari beberapa negara (federalis). Wewenang bersifat tunggal dipegang oleh pemerintah pusat, dan tidak ada badan lain yang berdaulat. Kewenangan pemerintah pusat seperti itu dapat didistribusikan ke daerahdaerah dalam bentuk desentralisasi. Sepintas lalu negara kesatuan tampak sangat sentralistis. Semua urusan harus ditangan pemerintah pusat. Gambaran itu tidak sepenuhnya benar, karena gejala sentralisasi kekuasaan sudah ditepis sejak 1945. Bahkan Pasal 18 UUD 1945 mengakui adanya sejumlah pemerintah daerah bersifat otonom maupun istimewa. Sekarang “pola: desentralisasi makin meluas. Bahkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah menyerahkan sebagian besar urusan dan atau wewenang pusat kepada daerah. Mengapa founding father memilih “negara kesatuan“ Alasannya lebih bersifat ideologis ketimbang teknis administratif. Muhammad Yamin,

www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com

7

misalnya, menganggap negara serikat sebagai negara yang tidak kuat dan mengandung aroma negara kapitalis.:
Negara federalisme akan memberi bahan untuk melepaskan persaan provincialism, yang boleh timbul oleh karena pembentukan negara serikat itu. Janganlah kita memberi persemaian kepada benih-benih jelek yang telah ada, melainkan harus kita bunuh dalam gerakan kita . Karena untuk provicialism kampungan, insularisme atau rasa kepulauan, tidak ada lagi tempatnya di negeri kita. Jadi, janganlah kita memberi tempat bagi perasaan yang telah kita lebur itu.

Pernyataan Yamin memperlihatkan dengan jelas bahwa bentuk negara federal atau serikat bertolak belakang dengan semangat nasionalisme atau persatuan Indonesia. Dengan demikian, konsep “negara kesatuan lebih bermakna ideologis. Makna “negara kesatuan“ disejajarkan dengan gagasan satu bangsa, satu tanah, dan satu tumpah darah : Indonesia. Itu berarti secara sosiologis, mewujudkan “negara kesatuan“ sama dengan mewujudkan satu kesatuan sebagai satu bangsa dan satu negara. Dalam periode antara 1905 hingga 1945, pulau-pulau Nusantara telah merupakan kesatuan politik di bawah kekuasaan Belanda, dan sebentar di bawah pendudukan Jepang. Begitu kuatnya hasil penyatuan pulau-pulau Nusantara itu, sehingga para pemuda Indonesia yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 pun meyakininya sebagai satu tanah air atau satu nusa yang tidak terbagi-bagi. Pidato Soekarno dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) juga menjelaskan keyakinan ini. Ringkasnya, semua pendiri negara pada waktu itu sepakat untuk mendirikan sebuah negara kesatuan yang bukan merupakan penjumlahan dari beberapa negara bagian. Wacana pendiri negara itu pun diyakini oleh sebagian besar rakyat Indonesia sebagai acuan nilai dalam upaya membangun semangat kebangsaan. Maka, strategi Belanda untuk mendelegitimasi negara hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu adalah dengan mendorong lahirnya negara-negara di luar formasi UUD 1945. Berdirinya negara Indonesia Timur, negara Pasundan, negara Sumatra Timur, dan sebagainya adalah hasil jerih payah Belanda untuk menunjukkan kepada dunia bahwa republik yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu sudah runtuh. Ia tidak lagi memiliki kedaulatan. Ketika Belanda berkesempatan memainkan kartunya dalam perundingan – perundingan. Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah bekas jajahannya ini, mereka bersikukuh
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 8

mengakui keberadaan negara-negara itu sebagai satuan-satuan politik yang independen. Karena itu. hasilnya adalah pembentukan negara Republik Indonesia Serikat. Negara Proklamasi telah direduksi menjadi salah satu negara dalam serikat itu. Inilah bentuk pemerintahan federal yang pernah kita miliki. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa umur dari proyek federalisme ini sangat pendek. Ia ditolak justru oleh para pemuda pejuang di negara-negara bagian bentukan Belanda tersebut. Kita kemudian sepakat kembali ke bentuk negara kesatuan. Contoh yang menarik adalah pembubaran Negara Indonesia Timur yang dilakukan oleh para pemuda Negara Indonesia Timur secara unilateral, dan sekaligus menyatakan bergabung kembali ke dalam Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Pernyataan pemudapemuda Negara Indonesia Timur tersebut kemudian diikuti oleh keputusan para pemimpin Negara Indonesia Timur (NIT) untuk kembali ke bentuk kesatuan dan menolak kelangsungan NIT. Dalam perjalanan selanjutnya, proyek negara kesatuan ternyata mengalami berbagai distorsi. Ia cenderung ditafsirkan identik dengan sentralisasi kekuasaan dan belakangan bahkan diberi warna uniformitas struktur pemerintahan. Kedua hal inilah yang kemudian menimbulkan berbagai masalah dalam hubungan pusat dan daerah. Otonomi daerah dikebiri dari waktu ke waktu, baik dalam artian politik, ekonomi, maupun administrasi. Keputusan tentang hajat hidup orang banyak tidak bisa tuntas di daerah. Hampir semua urusan harus diselesaikan di Jakarta. Kegagalan membangun sistem pemerintahan yang kewenangannya terdesentralisasikan secara lebih bermakna dari waktu ke waktu, menimbulkan keyakinan baru bagi masyarakat di daerah bahwa pusat bukan hanya mengeksploitir mereka, tetapi juga mengambil hak mrereka untuk mendapat pelayanan yang baik oleh sebuah pemerintahan yang baik. Kondisi ini berlangsung sangat lama, sehingga menimbulkan berbagai ketidakpuasan. Pada puncaknya, muncul gagasan untuk kembali ke bentuk pemerintahan federal. Setelah Orde Baru yang ditandai “lengsernya“ Soeharto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998, satu persatu terkuak berbagai keinginan. Di samping masalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) sebagai isu sentral, muncul pula pemikiran-pemikiran berbeda dengan apa yang selama ini dipaksakan pemerintahan Orde Baru.

www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com

9

Negara kesatuan, uniform”kesatuan dan persatuan “ mulai dipersoalkan dari banyak segi : efisiensi, efektifitas, keadilan, economic inequality, regional inequality dan seterusnya. Sebagai ilustrasi, Papua hanya mendapat empat persen dari seluruh hasil yang diterima dari pengelolahan sumber daya lokalnya, selebihnya ke pusat. Kalimantan Timur hanya mengkonsumsi satu persen dari seluruh hasil wilayahnya. Demikian pula Aceh hanya mengkonsumsi setengah persen dari seluruh penghasilan yang berasal dari daerahnya. Angka-angka di atas sudah menunjuklkan ketimpangan luar biasa. Sumber daya tidak berkembang. Dalam arti human recources, local leadership dan local natural resources, kalaupun ada, semuanya adalah milik pusat. Semua itu yang menghidupkan kembali, atau sekurangkurangnya membuka keinginan pemikiran ke arah sistem federal. Pada masa setelah kemerdekaan pun Indonesia menerapkan sistem federal dari tahun 1949-1950. Praktis hanya delapan bulan, sehingga tidak banyak memberikan perubahan karena jangka waktu yang begitu singkat. Setelah itu Indonesia menganut sistem unitarian, negara kesatuan selama 48 tahun. Setelah sekian lama negara kesatuan dipraktikan, yang dihasilkan kurang lebih adalah uniformisasi dalam segala bidang dan sentralisasi yang ketat, bahkan boleh dibilang over centralization. Secara ideologis semua dipaksakan dengan semboyan “kesatuan dan persatuan“ yang dalam dirinya juga membawa konsekunesi otoriter yang berbeda dari ideologi yang ditawarkan para pendiri bangsa ini yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang tidak lain berarti unity in diversity yang pertama kali menuju uniformitas dan otoriter, maka yang kedua sebenarnya lebih “realistis” memandang “perbedaan” menghormati ”perbedaan“ tetap tetap menjadi satu. Konsekuensi politik, adiministratif dan ekonomi dari dua hal di atas sangat berbeda. Federalisme sebagai wacana, termasuk dalam hal isi federalisme seperti dirumuskan Partai Amanat Nasional (PAN), terbatas pada perimbangan keuangan dan kelompok-kelompok yang tidak setuju realisasinya secara politis. Federalisme terbatas terutama pada pertimbangan keuangan daerah, dan belum sejauh kepada pemisahan negara-negara tersendiri dalam kesatuan persatuan negara RI. Sebenarnya gagasan federalisme itu lebih merupakan ledakan ketidakpuasan belaka daripada sebuah keinginan serius. Sebab, kalau kita akan terus bergerak ke arah perwujudan negara dengan bentuk federalisme, maka hanya ada satu jalan yang bisa kita lalui, yaitu membubarkan Negara
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 10

Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau secara lebih dramatis lagi membatalkan negara proklamasi. Kalau kita sepakat dengan ini, maka setelah pembubaran itu, daerah-daerah harus diberi waktu yang cukup untuk menyatakan kemerdekaannya, membentuk negara atau wilayah pemerintahan independen yang baru. Setelah itu, mereka melakukan konferensi untuk membentuk sebuah negara federal. Apa peralihan dari negara kesatuan menjadi negara federal bisa berjalan damai. Tuntutan negara federal, yang hampir pasti akan membuat garis batas kepentingan yang sangat jelas dan berseberangan antara daerah yang kaya dengan yang miskin? Daerah yang kaya akan sangat berpeluang memperoleh manfaat dari federalisme, sementara yang miskin akan menderita karena kewenangan pusat untuk mengembangkan kebijakan ekonomi dan keuangan yang bersifat subsidi silang akan menjadi lebih terbatas. Krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahknya tingkat kemampuan dan kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistis, di mana kewenangan dan pengelolahan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan suatu kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan pembabgian keungan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisme. Dalam pada itu, kebijakan otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari upaya politik Pemerintah Pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayah yang memiliki asset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan, pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab desentralisasi menjamin
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 11

penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentralisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta (Jakarta-centris). Sementara itu pembangunan di beberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata. Daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial (dalam makna seluas-luasnya) antara satu daerah dengan daerah lain sangat terasa. Pembangunan fisik di satu daerah berkembang pesat sekali, sedangkan pembangunan di banyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sebenarnya sudah beberapa kali disusun UU Pokok Pemerintahan Daerah yang menjanjikan “otonomi yang seluas-luasnya untuk mengurus rumah tangganya sendiri” atau “otonomi yang nyata dan bertanggung jawab”, namun sudah lebih dari setengah abad dalam praktiknya tetap merupakan kata-kata indah belaka tanpa wujud yang nyata. Lama kelamaan hal ini menimbulkan rasa tidak puas di daerah terutama daerah yang kaya dengan sumber daya alam, namun tetap miskin. Kalau tidak diselesaikan dengan bijaksana, tidak tertutup kemungkinan akan timbul gejolak. Sebagaimana yang diamati Vedi R Hadiz, dalam bukunya Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia (2010), Suasana pada masa-masa awal Indonesia pasca Soeharto memang cukup memberikan keyakinan bahwa terwujudnya desentralisasi sejati hanyalah soal waktu. Namun demikian, bersamaan dengan tahun-tahun reformasi yang terus berjalan, indikasi yang mengarah pada terwujudnya desentralisasi dalam arti sesungguhnya tak kunjung menjadi kenyataan, setidaknya hingga lebih dari satu dasawarsa ini. Fakta-fakta memperlihatkan bahwa meskipun era pasca-Soeharto ditandai oleh liberalisasi politik yang disertai dengan desentralisasi, namun kecenderungan semacam itu tidak dengan sendirinya mampu mengubah relasi kekuasaan politik secara signifikan. Hal ini terutama dapat diamati pada kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling bawah dalam struktur piramida sosial di Indonesia. Kelompokkelompok semacam ini – yakni buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin kota – pada dasarnya tetap sulit untuk mengartikulasikan kepentingannya sekalipun terdapat ruang politik relatif lebih terbuka dibanding era Soeharto.

www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com

12

Jatuhnya Soeharto di pertengahan tahun 1998 yang dianggap merupakan momentum awal memasuki era reformasi oleh kebanyakan analis diyakini sebagai motor penggerak yang akan membawa Indonesia mengakhiri politik terpusat menuju desentralisasi dan partispasi masyarakat lokal dalam pengambil keputusan. Secara ideal dapat diasumsikan bahwa terbukanya ruang politik di era pasca Soeharto yang, antara lain, dimungkinkan berkat desentralisasi tentu akan memberi kesempatan kepada kelompok yang selama ini termarjinalkan untuk mendesakkan kepentingannya. Namun, asumsi semacam itu terbukti keliru. Fakta memperlihatkan bahwa proses ekonomi politik yang terjadi umumnya tidak berada pada posisi berpihak pada kelompok-kelompok lapisan bawah. Dengan latar latar fakta semacam ini, tidak terlalu berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa lembaga-lembaga demokrasi, termasuk desentralisasi, bukan merupakan senjata ampuh yang dapat mengikis atau bahkan melenyapkan kepentingan ekonomi kelompok-kelompok dominan. Kelompok-kelompok dominan yang mengendalikan jalannya proses ekonomi dan politik di tingkat lokal ternyata bukan “pendatang baru “. Para era sebelum reformasi, kelompok-kelompok itu merupakan mata rantai tingkat lokal dari rezim neofasis Orde Baru. Kenyataan tetap terpinggirnya buruh, petani, nelayan dan kaum miskin kota menunjukkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan desentralisasi belum mampu melaksanakan cita-cita para founding father dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam perjalanannya tetap mendapat tantangan. Untuk meminimalkannya tantangan tentunya agenda reformasi desentralisasi dan otonomi daerah ke depan harus lebih berupaya membangun kapasitas negara. Upaya membangun kapasitas negara seperti ini tentunya harus disertai dengan upaya membangun kapasitas masyarakat sipil.

www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com

13

Bibliografi Ali, Asad Said. 2009. Negara Pancasila. Jalan Kemaslahatan Berbangsa. Jakarta : LP3ES Dhakidae, Daniel, “Pendahuluan–Federalisme Mungkinkah bagi Indonesia” dalam St Sularto dan T Jacob Koekerits, 1999. Federalisme untuk Indonesia. Jakarta Kompas. Hlm. xxvi – xxxi. Elson, R.E. 2009. The Idea of Indonesia. Jakarta, Serambi Ilmu Semesta Hidayat, Syarif . “ Mengurai Peristiwa – Merentas Karsa : Refleksi Satu Dasawarsa Reformasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah,” Prisma, Vol. 29, No 3, Juli 2010, Hlm. 3 – 22. Kahin, George McTurnan, 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia . Jakarta : Sinar Harapan. Mallarangeng , Andi A dan M Ryaas Rasyid,” Otonomi dan Federalisme,’ dalam St Sularto dan T Jacob Koekerits. Federalisme untuk Indonesia. Jakarta : Kompas ,Hlm. 17 – 31. Muliadi, Arif. 2010. Prinsip-prinsip Negara Kesatuan dan Desentralisasi dalam Negara Republik Indonesia. Jakarta. Prestasi Pustakataya. Rauf, Maswadi,” Dasar-Dasar Kesatuan Bangsa Indonesia.” Makalah yang disampaikan dalam Seminar Masalah Tinjauan Kritikal Tentang Integrasi Bangsa yang diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, Depok, pada tanggal 16 – 17 Januari 1986. Tim ICCE UIN.2003.Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia & Masyarakat Madani. Jakarta : Prenada Media. Wiratma, I Made Leo. ” Konsitusi Dari zaman ke Zaman.” dalam Indra J Pilliang et al. Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia. Jakarta : CSIS. Hal. 99 – 133. Wiratama, Rahadi T,” Dinamika Politik Lokal di Era Reformasi,” Prisma Vol. 29, No. 3, Juli 2010, Hlm. 136 – 140.
www.peterkasenda.wordpress Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@ymail.com 14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->